BILA (TERPAKSA) MENJADI PERAMAL TOGEL


Lima belas tahun yang lalu, tahun 2001, saat saya bekerja sebagai redaktur di sebuah media nasional, saya diminta untuk menulis di satu artikel tetap mingguan yaitu ramalan bintang/zodiak. Meski tidak pernah belajar  ilmu falak yang ada  hubungannya dengan perilaku manusia (astrologi), banyak orang yang membaca artikel tersebut merasa bahwa ramalan saya itu banyak tepatnya. Kok bisa?

Awalnya adalah tidak sengaja. Gara-gara pengasuh tetap rubrik ramalan bintang tidak bisa memenuhi jadwal deadline pada hari Rabu malam, karena Kamis dini hari sudah harus masuk cetak. Tim redaktur kebingungan, sebab rubrik yang panjangnya satu halaman itu menurut survey sangat disukai oleh pembaca dan masuk dalam lima besar rubrik yang paling disukai.

Keempat redaktur dan satu redaktur pelaksana memutuskan keputusan darurat dan strategis: “Pokoknya artikel harus ada dan siap untuk dilayout sehingga besok tidak ada alasan media kami tidak ada ramalan bintang”

Beban menulis ramalan bintang itu jatuh ke pundak saya yang memang diberi amanah mengasuh rubrik tersebut. Tanpa panjang diskusi, jari saya pun mengetuk-ngetuk tuts keyboard komputer dengan kecepatan tinggi. Tidak lebih dari 30 menit, artikel ramalan bintang itu sudah masuk ke layouter dan langsung dicetak sejam kemudian.

Sebagai media nasional dengan oplah ratusan ribu eksemplar, saya yakin bahwa  artikel ramalan bintang yang saya tulis dibaca jutaan orang. Asumsinya satu eksemplar dibaca 5 orang.

Respon pembaca biasanya saya dapatkan dari informasi dari bagian pemasaran. Merekalah garda depan perusahaan media. Baik buruknya isu yang dijual dan apakah tulisan kita itu diminati atau tidak, bagian pemasaran yang paling mengetahui.

Lima hari setelah media terbit, saya mendapatkan informasi bahwa artikel yang saya tulis itu diminati pembaca.  Bahkan dalam artikel tentang jenis ramalan angka keberuntungan untuk masing-masing bintang itu, konon menurut informasi pemasaran, sangat disukai karena banyak  cocoknya dengan angka togel.

Ah.. kok bisa begitu? Dalam batin saya sendiri pun tidak yakin akan kemampuan meramal saya. Soalnya selama ini kalau urusan ramal meramal atau memprediksi sesuatu sebelum kejadian, malah kebanyakan melesetnya. Saya tertawa dalam hati akan kejadian unik ini.

Singkatnya, karena ‘kejadian’ meramal secara  tidak sengaja yang saya tuangkan ke artikel di media tersebut  membuat saya dipercaya untuk ‘memegang’ ramalan  bintang selama sekitar satu tahun. Dan dari kegiatan menulis tetap artikel ramalan bintang itu saya jadi tahu bahwa ramalan itu ada yang benar-benar dapat terjadi atau sebaliknya. Tidak terjadi atau mungkin juga belum terjadi.

Semenjak itu, saya yang sebelumnya awam dengan dunia ramal meramal mulai sedikit demi sedikit belajar tentang dasar-dasar meramal dengan berbagai metode (mimpi, tarot, I’ching, biji-bijian, alquran dan sebagainya).

Satu hal yang patut anda waspadai ketika anda membaca sebuah prediksi/ramalan.  Bahkan misalnya anda ingin mendalami profesi meramal sekalipun. Hindari untuk melakukan dan mempercayai ramalan yang buruk dan waspadalah jangan sampai anda tersugesti olehnya.

Jadikan ramalan itu sebagai ‘permen’ saja, yang derajat kebenarannya bisa jadi “kosong” namun bisa jadi ada “isi”nya. Sebab begini, ramalan pasti bukan  kitab suci yang harus kita yakini kebenarannya seribu persen. Dan sebuah ramalan pun banyak macamnya. Ada ramalan/prediksi ekonomi dengan dasar-dasar argumentasi  berdasarkan kaidah ilmu ekonomi. Ada ramalan/prediksi politik dengan dasar ilmu politik.

Dari pengamatan saya,  masih banyak saja peramal yang memberikan ramalan buruk dan membuat pembaca tersugesti oleh hal-hal buruk yang ia berikan.  Ini berarti sang peramal ini tidak memahami bahwa dengan menyampaikan isi ramalan yang buruk, akan membuat situasi klien bertambah buruk. Membuat klien/pembaca ramalannya semakin tersugesti dan repotnya  justeru dijadikan sarana untuk mencari-cari keuntungan pribadi.

Padahal kita diajari oleh para kyai sepuh yang mata batinnya sudah terbuka dengan sungguh-sungguh: peramalan sangat dimungkinkan bila mata batin kita terbuka dengan sendirinya (otomatis) seiring dengan perbaikan ibadah dan perbaikan perilaku yang kita lakukan. Namun kita harus arif bijaksana dan dewasa untuk menyampaikan kepada pihak lain.

Saya ingat sebuah cerita ketika ada seseorang tamu yang sakit datang ke kyai untuk minta dilihat bagaimana kondisi sakitnya. Kyai itu hanya menjawab dengan memberikan sebuah pisang yang sudah membusuk. Itu bahasa paling santun dari perlambang bahwa sakitnya sudah parah dan tidak bisa disembuhkan lagi.

Itulah kode etik  yang harusnya dipegang oleh peramal. Tidak boleh mengumbar informasi yang nantinya akan memperburuk situasi yang dihadapi oleh klien.

Bila ia tidak memakai kode etik dalam meramal artinya dia tidak peduli akan nasib dari si klien (orang yang diramal) bila ia nantinya jadi ke fikiran atau khawatir terhadap ramalan buruk yang ia peroleh. Peramal yang tidak memakai kode etik dalam meramal sama halnya seorang dokter yang sedang melakukan mal praktik, dimana klien dibuat bahan uji coba saja dalam menentukan benar-tidaknya ramalan yang ia berikan kepada si klien.

Peramal yang tidak memakai kode etik akan selalu meyakinkan si klien kalau ramalannya adalah jitu atau akan benar-benar kejadian dengan gaya meramalnya yang seakan-akan ia memiliki indra ke enam, sementara peramal yang memakai kode etik akan selalu menganggap dan juga mengatakan kepada kliennya bahwa ramalan hanyalah untuk memotivasi dan mengantisipasi bukan untuk dipercaya sepenuhnya.

Banyak peramal dengan sikapnya yang angkuh dan merasa dirinya paling benar lantaran ia merasa dirinya memiliki indera ke enam, meyakinkan klien kalau ramalan buruk yang ia berikan akan menjadi kenyataan, faktanya ramalan adalah masih dapat dipatahkan dan dapat dicari jalan keluarnya juga dengan media ramal tersebut pula.

Menjadi seorang peramal yang handal adalah bukan ditentukan lagi oleh benar-tidaknya ramalan buruk yang ia berikan, melainkan ramalan yang baik yang dapat membawa klien kepada kebaikan, bukankah orang yang datang kepada peramal itu untuk mencari solusi dan jalan keluar?

Maka, jadilah motivator atau spiritual healer bagi setiap klien yang ingin menemukan solusi pada setiap masalah yang dihadapinya. Coba saja tengok beberapa peramal yang tidak memakai kode etik, mereka tidak mencarikan jawabannya atau solusinya untuk klien yang sedang dihadapi masalah, justru terkesan senang dan merasa bangga ketika kliennya mulai panik karena mempercayai ramalannya, bahkan masih saja ada peramal yang berusaha mencari kesempatan dalam kesempitan pada diri si klien.

Mungkin itulah mengapa nabi Muhammad SAW melarang umatnya mendatangi seorang ahli nujum atau peramal, karena mungkin memang kebanyakan peramal hanya memberikan sugesti-sugesti yang buruk saja dan tidak memberikan solusinya.

Ingatlah Law of Attraction atau hukum magnetik/ketertarikan  Michael Losier  tahun 1906 dan di popularkan kembali Rhonda Byrnie dalam buku the Secret-nya: apa yang kamu fikirkan (ramalan buruk) akan menarik ramalan buruk yang difikirkan secara terus-menerus ke dalam dirinya sehingga akan menjadi kenyataan.

Itulah mekanisme dari ramalan yang dapat menjadi kenyataan….

Nabi kita Nabi Muhammad SAW telah mengingatkan jauh sebelumnya hal ini.  Beliau melarang umatnya agar tidak menjumpai peramal dan memberikan ancaman akan tidak diterimanya Sholat selama 40 hari lamanya. Kenapa selama 40 hari? atau sebulan lebih 10 hari?

Mungkin 40 hari itulah orang yang datang kepada peramal akan selalu teringat apa yang dikatakan peramal (ramalan buruk), sehingga pada saat berdo’a selepas sholat yang klien lakukan hanyalah memikirkan atau membayangkan agar hal buruk yang dikatakan peramal agar tidak kejadian. Dan dalam buku the Secret dikatakan “Apa yang kamu coba hindari, akan selalu kamu dapati”.

Fungsi visualisasi amatlah memegang peranan penting untuk menentukan keberhasilan ramalan, baik itu ramalan yang buruk maupun yang baik sekalipun, dan sayangnya banyak peramal yang hanya membuat klien membayangkan atau memvisualisasikan hal-hal yang buruk saja dan bila benar-benar terjadi menjadi kenyataan maka yang menjadi senang adalah peramalnya sendiri karena merasa hebat ramalannya benar-benar jitu.

Mulai sekarang mari kita belajar dan mencoba untuk menebarkan pikiran positif dengan kekuatan fikiran bersama. Dan bagi sedulur yang memiliki “kelebihan” mata batinnya yang cocok jadi peramal, sudah seharusnya menjadikan ramalan membuat klien menjadi lebih baik dan bukan lebih buruk. Peramal yang dapat memotivasi dan mencarikan solusi untuk si klien dibutuhkan kematangan, kedewasaan pendidikan dan wawasan yang luas, sehingga klien merasa nyaman atau bahagia setelah diramal.

Salam paseduluran.

@kwa,2016

Iklan