TUJUH GURU PARANORMAL PROFESIONAL KWA GENERASI KEDELAPAN: SEMBUNYIKANLAH KEWALIANMU…


by wongalus

KWA2

Assalamualaikum wr wb

Inilah sepenggal kisah tentang tujuh sosok manusia yang bermandikan cahaya kewalian, yang terbungkus oleh badan kasar manusia, yang ditugaskan oleh Allah SWT berkarya dan hidup di dunianya masing-masing..

Mas Lu, seorang direktur perusahaan dari Jawa Timur dengan ratusan karyawan yang amaliahnya luar biasa, dengan baju kaos sederhana. Di dalam hati ikhlasnya menginginkan bahwa hidupnya adalah untuk memberikan yanng terbaik untuk sesama

Mas Su, seorang usahawan dari Bali yang dalam hidupnya sudah kenyang dengan asam garam pengalaman menghadapi masalah. Di dalam jiwanya menginginkan kedamaian bersemayam dalam samudra hakekat-hakekat.

Mas Yu, seorang usahawan dari Jogja. Dalam hidupnya saat ini sudah tidak silau lagi oleh berbagai tipu muslihat dan menginginkan guru yang benar-benar sejati

Mas Ya, seorang ahli teknis dari Ibu Kota. Dia datang untuk mentadaburi ilmu-ilmu yang selama ini sudah banyak dimilikinya

Mas Bu, seorang usahawan dari Jawa Timur. Menunggu, menunggu dan senantiasa menunggu ketajaman mata hati, karena dia sudah menjalani tharikat sejati dalam hidupnya.

Mas Do, seorang sufi dari ibu kota yang hidupnya sarat dengan ujian demi ujian. Ketegaran menaunginya seumur hidup. Kesabaran menjadi cahaya hatinya

Mas Ro, ahli tarikat dari Jawa Barat yang menggabung karena kebenaran akan selalu memiliki magnet untuk saling menyatu dan menggabung dalah wilayah kebenaran, keindahan dan kedamaian absolut-NYA

Ketujuh sosok ini akhirnya kami kumpulkan di satu rumah sederhana di sekitar Parangkusumo, sebuah pantai di Daerah Istimewa Yogyakarta yang sakral.

Saya jemput mereka satu persatu di terminal, di stasiun kereta api dan di Bandara pagi/siang itu. Kita berangkat ke pantai dan tiba di pantai tiada lain awalnya adalah untuk saling kenal mengenal…

Malamnya kami mulai satu proses katarsis… hingga satu fase, kita semua berada di wilayah bawah sadar, trance, menyatukan gelombang dzikirnya alam semesta… kita tinggalkan fase keduniawian masing-masing… menuju cahaya-cahaya…

“Sembunyikan cahaya kewalianmu rapat-rapat… biarkan orang mengenal apa adanya… damaikan diri mu dan sejenak saja mari kita jadikan momentum ini momentum perubahan hingga akhir masa”…. ujarku saat itu.

Paginya kita mulai…. beruntun enam belas (16) ilmu titipan Allah SWT, kita ijasahkan dan semua mohon ijin pada Maha Guru Sejati… siapa lagi yang memberikan ilmu kalau bukan sang pemilik Ilmu itu sendiri, Allah SWT.

Ketika akhirnya, malam hari, di pinggir pantai yang menggetarkan hati itu, kami mengijasahkan ilmu pamungkas, kami didatangi sosok wali tanah Jawa: Kanjeng Sunan Kalijaga yang berkenan menyaksikan prosesi mulia ini.

“le, aku seksimu kabeh, iki tetenger nandur kabecikan kanggo wong liyo”

“Sendhiko dawuh Kanjeng, kulo nyuwun pengayoman donga pangestu”

Begitu berhasrat kami ditemui sosok beliau yang mulia, kami pun bertekad untuk menempuh disiplin ruhani yang berat, berkhalwat sepanjang hidup kami… mengikuti sebuah saran, bahwa barangsiapa yang dapat menuntaskan langkah yang berat dalam menggenggam kebenaran maka doa akan dikabulkan dan langkah kaki akan diridhoi. Sebab ketika kita mendekati NYA, maka DIA akan lebih dulu mendekati kami….

Dalam hatiku berkata:  “Jika utusan-Nya begitu indah, pastilah Dia jauh lebih indah!”

La ilaha ilallah… hu Allah… Allah…. hu…..

Tiada apapun di dunia ini kecuali DIA…. dari lisan dan hatiku hanya keluar suara: “Aku hanya pasrah pada kehendak NYA….. bersujud kepada DIA… yaitu Engkau, Duh Gusti!”

Hawa nafsu dan keinginan adalah penjara hijab; ketika kita mengendalikannya, ketika kita kita mengindarinya… disanalah sakti bersemayam….talak tiga dunia, maka akhirat dan dunia justeru akan mendekati kita ……

Sang malaikat, yakni Jibril as. mengarahkan kami untuk selalu mengucapkan sholawat dan salam kepada Rasulullah SAW dan Nabi Khidir guru ruhani yang senantiasa membimbing kami saat melaut di lautan ilmu-NYA, samudra makrifat, dzikrullah….

Pelatihan kami tuntaskan malam itu juga dan kami akan setia kepada janji bahwa kami adalah hamba NYA…… manusia biasa dengan kewajiban dharma yaitu untuk berbakti kepada sesama…..

saya memberikan mereka nama gelar sebagai tali cinta dunia akhirat kepada ketujuh pendekar guru KWA ini….

KIMAS LU KUSUMO YUDHO NEGORO

KIMAS SU KUSUMO YUDHO NEGORO

KIMAS YU KUSUMO YUDHO NEGORO

KIMAS YA KUSUMO YUDHO NEGORO

KIMAS BU KUSUMO YUDHO NEGORO

KIMAS DO KUSUMO YUDHO NEGORO

KIMAS RO KUSUMO YUDHO NEGORO

(mohon maaf sedulurku pembaca KWA, mereka memilih untuk tidak mempublikasikan diri, ingin menyelinap ditengah masyarakat, bertekad menjadi wali-NYA)

Terima kasih dan wassalamualaikum wr wb…. salam asah asih dan asuh.. rahayu..rahayu..rahayu…

Parangkusumo, Akhir Suro, 30 November 2013

@wongalus,2013

Categories: Pelatihan Paranormal KWA (TINGKAT GURU), PELATIHAN PROGRAM PARANORMAL PROFESIONAL KWA

LEBIH BERAT LAKU DI MALL DARIPADA DI GUA, TERNYATA….


wongalus

wongalusJAGONGAN ALIAS NGOBROL RINGAN ANTARA SAYA (WONGALUS) DENGAN SAHABAT SAYA, MAS KUMITIR, KETIKA DIAJAK OLEH SEORANG SESEPUH PADEPOKAN HERBAL KE SEBUAH CAFE DI MALL DI WILAYAH KOTA SURABAYA. TIDAK SEPERTI BIASANYA, KALI INI MAS KUMITIR MEMAKAI KOPYAH DAN TERLIHAT ISLAMI. GANTENG BERSERI.  

Wongalus: Kita ini kok sering mengalami hal seperti ini mas… kabur kanginan. Kita nggak punya rencana ke sini kan?, niat kita cuma menemani sesepuh tersebut.. eh kok akhirnya duduk di cafe ini, berjam-jam tanpa ada kepastian mau apa dan kenapa disini….

Mas Kumitir: Seperti hidup kita, tidak pernah berniat lahir tapi kita dilahirkan. Tidak punya keinginan menjadi laki-laki atau perempuan tapi kita diberi jenis kelamin laki-laki. Memang semua ini pemberian sehingga diterima saja apapun itu..

Wongalus: Wajib disyukuri kalau begitu ya.. Apapun pemberian, baik atau buruk tentu saja ada tujuan di baliknya yang perlu kita yakini dan imani. Tidak mungkin kita diciptakan tanpa ada tujuan. Insinyur saja menciptakan sesuatu pasti ada tujuannya.

Mas Kumitir: Benar. Masing-masing orang memiliki keyakinan yang tidak bisa didebat. Benar dan salah, baik atau buruk, indah dan tidak indah pada akhirnya ada dalam keyakinan di hati. Tolok ukurnya adalah hati nurani masing-masing karena hati nurani dalam maknanya yang batin sesungguhnya adalah kitab yang hidup.

Wongalus: Sepakat… untuk meraih keyakinan sampai benar-benar yakin, tentu membutuhkan proses yang panjang. Tidak sekali atau dua kali momentum saja dilatih namun sepanjang hayat keyakinan kita akan terus berproses. Keyakinan itu adalah sintesa dari tesa dan antitesa yang berlawanan. Sintesa akan menjadi tesa dan ada antitesa baru, hingga menjadi keyakinan baru lagi. Begitu seterusnya sampai akhir hayat, keyakinan akan terus berkembang…

Mas Kumitir: Makanya yang lebih pas sesungguhnya semua itu proses. Seorang biasa yang sangat sangat biasa seperti kita— wong cilik menthik lungguh dhingklik oklak aklik—atau kah para saudara kita yang memiliki maqom ustadz, kyai, aulia, wali dan nabi pun terus berproses sampai akhir hayat mereka. Ada perang suci, jihad akbar, di dalam dirinya, peperangan abadi antara baik atau buruk, benar atau salah, indah atau tidak indah, dan itu adalah perjuangan yang tiada pernah selesai, unfinished process

Wongalus: jadi pada hakekatnya semua ini adalah laku. Tidak ada orang yang tidak laku. Jadi tidak pas bila dikatakan laku itu hanya mereka yang bertapa di hutan atau di dalam gua. Saya, anda, dan juga semua sedulur pembaca KWA atau yang tidak sedang membaca, semua sedang bergulat dan bergelut dengan kehidupannya sehari-hari

Mas Kumitir: Inti, substansi, isi dari bertapa itu apa? Itulah yang harus diketahui. Sebenarnya laku bertapa itu kan memenej keinginan dan menyatukan antara ucapan, rasa batin dan tindakan agar benar-benar menjadi satu… Ngesti ke satu titik….pembulatan rasa… Simbol dari Bima (Werkudara) yang berperang dengan hawa-hawa nafsunya sehingga bertemu dengan diri sejatinya yang disimbolisasikan dengan meminum air perwitasari.

Wongalus: Siapa sebenarnya werkudara? Dalam perwayangan disebutkan dia adalah adalah anaknya Pandhu Dewanata dan Dewi Kunthi yang nomer dua. Sebetulnya werkudara ini titisan dari Bathara Bayu. Dia merupakan salah satu dari pendawa lima. Memiliki jejuluk Bratasena, Bimasena, Haryasena, Bayusiwi, Jagal Abilawa, Kusumadilaga, Jayalaga. Merupakan kesatria Jodhipati atawa Tunggul Pamenang. Monggo dilanjut mas…

 Mas kumitir: Begitulah… bima memiliki tiga istri tiga yaitu Dewi Nagagini, Dewi Arimbi, dan Dewi Urangayu. Bersama Nagagini melahirkan Antareja, dengan Arimbi mendapatkan Gatotkaca, dengan Urangayu punya anak yaitu Antasena. Dia punya pusaka kuku pancanaka, gada rujakpala, dan gada lambitamuka.  Ajiannya adalah Bandung Bandawasa, Ungkal bener, Blabag Pangantol-antol, Bayu Bajra.

 Wongalus: Semua senjata, aji-ajian yang kamu sebutkan tadi sesungguhnya penuh simbol mas. Monggo dilanjutkan…

Mas kumitir: Bima lahir dalam wujud terbungkus seperti telur. Semua senjata tidak bisa untuk membukanya. Yang bisa membedah hanya Gajah Sena. Habis dibedah, Bratasena ini dinjak-injak oleh gajah ini. Tapi aneh bin ajaib malah sang bayi tambah besar. Lantas gajah ini ditusuknya pakai Kuku Pancanaka hingga tewas dalam sekejap mata dan nyawanya bersatu dengan Bima.

Wongalus: Kita semua mengetahui bahwa perwatakan Bima ini adalah penggambaran sifat yang perlu dimiliki setiap pejalan spiritual yaitu: yang apa adanya, opo anane, jujur, tidak banyak topeng. Nah, penggambarannya Bima ini tidak bisa tata krama secara halus, siapa saja disapanya dengan bahasa jawa kasar kecuali dengan Sang Hyang Wenang dan Dewa Ruci.

Mas kumitir: Walaupun begitu, dia punya sifat setia, loyal dan hormat kepada guru, berbakti kepada ibunya, dan selalu menepati janji. Watak setia kepada guru ditunjukkannya ketika dia diutus oleh guru Durna untuk mengambil air suci tirta mahening suci, atau tirta Perwitasari di tengah samudera. Karena kesetiaannya pada sang guru, semua halangan dan perang dijalaninya dengan teguh, dan mendapatkan anugerah bertemu dengan sang guru sejati, aku sejati yang wujudnya adalah dirinya sendiri namun kecil yang dikenal dengan sebutan Dewa Ruci…

Wongalus:  Kisah perwayangan menyebutkan tanda bakti kepada sang ibu ditunjukkan dengan mengalahkan Dursasana, darahnya untuk keramas rambut Ibu Dewi Kunthi. Hal ini karena karena Dewi Kunthi pernah diganggu Dursasana. Selain itu dia juga cinta pada saudaranya. Akan tetapi jika keluarganya yang salah dia juga akan menghukumnya, seperti Gatotkaca yang dihajar oleh bapaknya. Di perang Bharatayuda, Bima jadi jagonya para Pandawa. Dia bisa membunuh Dursasana, Sengkuni, dan Duryudana. Sesudah perang, Parikesit naik tahta, dia bersama Pandawa lainnya meninggal bersama-sama…Menarik sekali mempelajari Bima, bagaimana sejatinya perwatakan yang harus dimiliki seorang pejalan spiritual.

Mas kumitir: Ya, bukankah kita semua pada diri sendiri sesungguhnya tidak bisa berbohong dan apa adanya.  Kita bisa berbohong pada siapapun namun tidak bisa berbohong pada diri sendiri. Hanya ada KEJUJURAN bahwa hati nurani kita sebenarnya adalah tolok ukur. Kita bisa mengetahui benar dan salah, kita bisa mengetahui isi batin kita dan ke arah mana tujuan hidup sejati kita.

Wongalus: bagaimana bila hati nurani kita buram sehingga fungsi al furqan (pembeda) di dalam hati tersebut tidak berfungsi alias macet mas?

Mas kumitir: itulah fungsi dan manfaat dari laku bertapa dalam maknanya yang substansial. Kita berlatih mengendalikan diri, mengendalikan keinginan, mengendalikan hawa nafsu. Hawa nafsu itu ibarat kuda, kita perlu memegang tali kendali sehingga laju kuda akan sampai pada tujuan dengan selamat. Hati nurani yang terbiasa diasah dan dibersihkan akan lebih jernih dibanding yang tidak pernah diasah.

Wongalus: kendali kita adalah tiga senjata yaitu akal pikiran dan juga senjata kepasrahan serta senjata keikhlasan. Sekuat godaan apapun kalau manusia masih menggunakan akal sehat, ditambah kepasrahan dan keikhlasan maka insya allah dia masih bisa bertahan.

Mas kumitir: saya rasa akan lebih lebih berat bertapa di mall seperti sekarang ini daripada di hutan belantara atau di gua yang tidak ada godaan. Dalam TAPA NGRAME, godaan tidak hanya dari dalam diri tapi ada stimulus dari luar yang sangat kuat. Hidup bersama saudara-saudara yang punya haluan dan ragam macam kehendak dan keinginan. Bila kita punya niat menuju tujuan tertentu, bisa dengan mudah berbelok ke arah lain. Apalagi kita laki-laki, makhluk visual dan wanita adalah makhluk auditori dan kinestetik. Keinginan akan cepat muncul karena stimulus dari luar merangsek memenuhi aliran darah.

wongalus2Wongalus: Seperti Arjuna yang sedang bertapa di gunung Indrakila. Namun, sebelum Arjuna dijadikan perwakilan para dewa untuk mengalahkan raksasa penghancur surga yang bernama Niwatakewaca, dia harus diuji sebelumnya dengan berbagai godaan. Arjuna digoda oleh tujuh bidadari, di antara mereka adalah Tilotama dan Supraba. Mereka diperintahkan untuk menguji Arjuna dengan menggoda dan merayunya.

Mas kumitir: ya… tujuh bidadari perlambang tujuh hijab langit itu turun ke bumi dan menuju gua itu untuk menggoda Arjuna. Berbagai cara digunakan oleh para bidadari tetapi tidak ada satupun yang berhasil menggoda tapa sang Arjuna. Kemudian para bidadari kembali ke surga dan melapor pada Indra bahwa mereka gagal. Kegagalan para bidadari tersebut tidak menjadikan para dewa sedih, melainkan para dewa bahagia karena Arjuna memang adalah manusia terpilih. Kemudian Indra turun dari surga menuju tempat Arjuna. Indra menjenguk Arjuna dengan menyamar menjadi orang tua yang bijak. Orang tua itu disambut dengan penuh hormat oleh Arjuna. Mereka pun berbicara panjang lebar dan terpaparlah suatu uraian mengenai kekuasaan dan kenikmatan dalam makna sejati.

Wongalus: Yang saya ingat bahwa ketika itu Arjuna diwejang tentang kesejatian…. bahwa surga adalah kebahagiaan sejati…. sedangkan kekuasaan dan nikmat di dunia itu hanyalah semu, karena bersifat sementara. Arjuna yang sudah bertapa tentu sangat waskita dan memahami akan hal yang dipaparkan oleh penyamaran Indra itu, dan tujuan dia bertapa karena ingin memenuhi kewajibannya selaku ksatria serta membantu kakaknya, Yudhistira untuk merebut kembali kerajaannya demi kesejahteraan dunia.

Mas kumitir: Akhirnya….. Arjuna berhasil mengalahkan para raksasa kemudian diberi hadiah oleh Dewa Indra untuk menikmati surga beserta bidadari-bidadarinya. Namun, Arjuna memikirkan saudara-saudaranya yang berada di hutan pengasingan. Kemudian dia memohon kepada Indra untuk berangkat pergi menemui saudara-saudaranya para Pandawa. Kepergian Arjuna kembali ke tempat asalnya ditangisi oleh para bidadari-bidadari yang ditinggalkannya. Tapi tangisan mereka tidak membuat Arjuna lemah, dia tetap pada tekad dan niatnya melanjutkan hidupnya.. memenuhi DHARMA sebagai seorang ksatria.

Wongalus: Oke mas eyang, monggo disruput dulu kopinya… ntar keburu dingin….

Mas kumitir: monggo mbah….

@wongalus,2013

Categories: >>PERPUSTAKAAN UTAMA | 25 Komentar

ASMAK SAYYIDINA UMAR


naz Ad-dalail
muhtar_annas@ymail.com

Assalamu’alaikum,,
mohon maaf untuk para sesepeuh di KWA, saya hanya ingin berbagi sedikit ilmu untuk saudara-saudara disini yang membutuhkan. Bismilllahirrahmaanirrahim, saya ijazahkan Asma’ Sayyidina Umar kepada saudara-saudara di KWA dengan sempurna,,, (untuk penerimaan ijazah silahkan ucapkan qobiltu wa rodhitu di hati).
tawassul : 1. Nabi Muhammad SAW, 2. Sayyidina Umar, 3. Syekh ‘Abdul Qodir Al-Jailani, 4. KHR. Syamsul Arifin Sukorejo-Sotubondo, KHR. As’ad Syamsul Arifin Sukorejo Situbondo.

bacaannya :

“BISSMILLAAHIRRAHMANIRRAHIIM, QOOLA ‘UMARUL FARUQ BAINAL HAQQI WAL BATIN”.

baca 7x tanpa nafas setiap selesai sholat fardhu.

kegunaan: Dengan idzin Allah kita akan memenangkan semua persaingan, baik usaha, cinta, dll.

wassalamu’alaikum…

@@@

Categories: ASMAK SAYYIDINA UMAR | 70 Komentar

ILMU REZEKI


Mang Ujang
ujangkartiwa@ymail.com

berikut doanya………….

” ALLOHUMMA YAA ROBBI QULLI SYAI’IN
WA ILLAHA QULLI SYAI’IN
WA WALIYA QULLI SYAI’IN
WA KHOLIQA QULLI SYAI’IN
WA KHOHIRA QULLI SYAI’IN
BIQUDRATIKA YA MALIKA QULLI SYAI’IN
WAL ‘ALIMU BI QULLI SYAI’IN
WAL HAKIMU ALA QULLI SYAI’IN
WAL QOHIRU ALA QULLI SYAI’IN
QUDROTUKA ALA QULLI SYAI’IN
FAGHFIRLII QULLA SYAI’IN
WAKHDIRLII QULLA SYAI’IN
WAHABLII QULLA SYAI’IN
WAL AATAS ALNI AN SYAI’IN
WA TUHASIBNII BI SYAI’IN
BIRAHMATIKA YAA ARHAMA RAHIMIN…
Di baca 7x tiap malam selama 7 hari berturut turut. Semoga barokah. amin.

@@@

Categories: >>PERPUSTAKAAN UTAMA | 43 Komentar

AMALAN MENDAPATKAN ILMU


Cokro Wardana

ASSALAMUALAIKUM WR.WB

Ilmu ini saya dapat dari Bapak Wirasa . Kata beliau ilmu ini
didapatkan dari ringkasan sebuah hadist Rasulullah SAW .

Fadhilah :

– Memudahkan menyerap ilmu
– Memudahkan mengingat ilmu yang telah dipelajari
– Mudah dalam pergaulan masyarakat
– Mudah dalam segala keilmuan
dll.

Tata cara :

1. ( Wajib )

Baca doa ini seikhlasnya sesudah salat fardhu atau salat lainya .

2 . ( Wajib )

Baca 1x saja saat ingin melakukan aktifitas khususnya saat mau menuntut ilmu .

3 . ( Sunah sesuai keinginan )

Baca doa ini seikhlasnya sesuai keinginan dimana pun dan kapanpun .

Berikut doanya :

” ALLAHUMMA AGHNINII BIL ‘ILMI WA ZAYYINNII BIL KHILMI WA AKRIMNIL BIT
TAQWA WA JAMMILNII BI ‘AFIYAH ”

Insya allah anda akan diberi kemudahan atas ijin ALLAH S.W.T .

Saya ikhlaskan untuk semua yang mau mengamalkan .

Jika ada salah kata mohon dimaafkan , jika ada salah ketik mohon
dibenarkan , karena saya masih awam .

SALAM ASAH ASIH ASUH

WASSALAM

Categories: >>PERPUSTAKAAN UTAMA | 58 Komentar

ASMAK PAMUNGKAS


Jatiraga

Bismillahirrohmanirrohim, salam saling sungkem untuk sedulurku semua. Tak lupa salam kangen penulis haturkan kepada keluarga besar KWA dimanapun berada. Pada kesempatan kali ini ijinkan penulis berbagi amalan yang menjadi pegangan penulis dalam menjalani dan menelusuri kehidupan ini untuk semua hajat. Amalan ini diijasahkan oleh Ustadz Junaidi Jambi. Amalan ini bisa untuk penglarisan, pengasihan (asalkan dengan niat baik dan sunnah nabi), pengobatan dan lain sebagainya.

tata cara:

Jalankan setelah sholat hajat 2 rokaat   dilanjut dengan tawasulan/ kirim al fatihah seperti biasa

niat saya untuk mengamalkan Asmak Pamungkas dengan hajat supaya ……………. (isi hajat sedulur apa)

ALIF LAM MIM 7 x

LA ILAHA ILALLAH 4444 x  (setiap dapat 100 x baca ulang hajat sedulur)

Demikian amalan ini, bila hajat sedulur sudah terwujud jangan lupa shodakoh sebagai rasa syukur kita. Semoga amalan ini berguna bagi saudara yang sedang bermasaha dalam mengarungi kehidupan ini. Rahayu rahayu rahayu, wassalamualaikum wr wb.

@JATIRAGA,2013

Categories: ASMAK PAMUNGKAS | 131 Komentar

ASMAK QUWWATUKA


wongalus

Assalamualaikum.

Setelah pengijasahan dari saya, seorang anggota KWA ditugaskan ke Papua. Kebetulan dia  seorang tentara yang ditugaskan untuk menjadi bagian dari upaya mendamaikan dua etnik suku yang berkonflik.  Saat situasi memanas, dua suku itu berhadap-hadapan dan dia kebetulan berada di garis depan….. tiba-tiba serangan panah bertubi-tubi tepat mengenai tubuhnya yang dibalut seragam. Allahu Akbar! Tidak ada satupun panah menancap di tubuhnya. Panah rontok ke tanah satu persatu. Usai ditugaskan dia bertemu saya dan menceriterakan rahasia: ketika maju ke medan laga, dia menahan napas dan membaca asmak ini. Ini sekedar satu contoh pengalaman saja. Sesungguhnya ini amalan multifungsi, yang insya allah banyak manfaat lain selain untuk kekuatan tubuh, kekebalan, namun juga keselamatan, pengobatan, kerejekian dan sebagainya.

Berikut ini saya ijasahkan doa asmak wirid qolbu ini kepada yang membutuhkan.

tata caranya:

kirim Tawasul biasa/ kirim al fatihah ke Nabi Muhammad Saw, Syekh Abdul Qodir al Jilani, dst….

Bismillahirrohmanirrohim

QUWWATA QUWWATUKA

==Usahakan 1000 x atau sebanyak banyaknya. Tidak usah dihitung berapa hari anda harus mengamalkannnya. Pokoknya sebanyak banyaknya==

KUNCINYA: Saat membaca wirid qolbu asmak ini anda tahan napas sambil lidah diletakkan di langit-langit mulut.

Artinya Quwwata Quwwatuka adalah kekuatan itu kekuatan-MU (Allah SWT). Nah… untuk mengamalkannya, silahkan dibaca sambil tahan napas dan usahakan menyukai wirid ini dimanapun anda berada sambil menahan napas. Kalau tidak kuat, bernapas lagi dan lanjutkan wirid.

Demikian semoga pagi hari yang mendung ini, apa yang kita lakukan mendapatkan ridho Allah SWT. Terima kasih. wassalamualaikum wr wb.

@wongalus, 2013

Categories: ASMAK QUWWATUKA | 95 Komentar

MOKSA DI MADAKARIPURA


Madakaripura-waterfalls-smallWongalus

kwa2Tubuhnya gempal dan sorot matanya setajam Majapahit dalam mempersatukan nusantara. Tanpa kawan, dan tiada lagi musuh. Sebab…. musuh terbesar manusia…… adalah dirinya sendiri…Gadjah Mada duduk tenang dalam posisi meditasi.

Sebuah arca Gadjah Mada menandai pintu masuk Air terjun Madakaripura. Mentari di ufuk timur, betapapun garang ia membakar bumi tepat di siang hari, ketika senja membayang, toh ia perlahan tenggelam juga.

Saya bersama Mas Kumitir, menyusur sungai. Batu demi batu kami injak, lompati dan sesekali harus mencebur diri di air dingin karena jarak tidak memungkinkan untuk dilompati. Kanan kiri sungai adalah hutan belantara yang sudah sejak ratusan bahkan mungkin ribuan tahun menjadi saksi adanya manusia yang masuk ke wilayah yang terletak di Probolinggo, 40 kilometer dari Gunung Bromo.

Siapa lagi kalau bukan sang “pahlawan” tokoh pemersatu nusantara dalam arti yang sesungguhnya yang moksa alias menghilang di air terjun yang sangat amat magis tersebut. Jalan menuju Madakaripura berkelok-kelok, menyusur sungai yang terkadang menjadi air bah yang sanggup melongsorkan apa saja yang dilaluinya. Namun tidak menyurutkan semangat sang Maha Patih Gadjah Mada, pengawal utama kepemimpinan Prabu Hayam Wuruk Majapahit nan perkasa untuk menuju ke satu titik: Madakaripura.

Saya merekonstruksi perjalanan spiritualnya. Meskipun tak bisa utuh, atau paling tidak nol koma nol sekian persen, setidaknya vibrasi semangat bajanya insya allah sedikit banyak tertangkap oleh kita. Meski kita mahfum dengan sangat amat bahwa siapalah saya ini? hanya setitik debu ditengah gelora nasionalisme Keindonesiaan kita saat ini.

Sesampai di dekat air terjun rasa-rasanya kita memasuki sebuah dunia yang sama sekali berbeda. Ditandai dengan diguyurnya tubuh kita oleh hujan abadi dari air terjun memanjang dari atas sepanjang lima puluh meter sehingga siapapun dia, apapun pangkat, kedudukan, status sosialnya, berapapun kekayaannya harus rela untuk basah secara alamiah. Maka, kalau engkau ingin menjadi dirimu sendiri… satukan dirimu dengan alam… berbasah-basahlah oleh kenyataan dan jangan takut, apalagi menghindar dan memakai payung. Begitulah kira-kira saya memaknai perjalanan.

Satu tahap terakhir yang harus dilalui adalah mendaki sebuah lereng bebatuan. Di bawah sana ada sungai yang dalam. Kita perlahan memilih batu demi batu yang aman untuk didaki. Hingga sampailah kita ke air terjun yang begitu mengagumkan.

Kita terasa berada di dalam sumur… dengan dinding air yang menghunjam ke dasar bumi… namun kita tetap terlindung karena berada di tengah-tengahnya… Nah, di balik air terjun utama ada sebuah lobang dimana dulu Gadjah Mada duduk diam mematung, hamukti moksa…..

Ratusan tahun silam, usia Gadjah Mada saat itu telah beranjak senja. Keputusan untuk mengasingkan diri dari kancah perpolitikan Majapahit yang riuh rendah oleh sabetan pedang parang, tombak, keris dan penaklukan kerajaan-kerajaan lain. Saking bersemangatnya Majapahit, sampai-sampai akhirnya harus menemui tragedi perang Bubat yang telah melukai begitu banyak hati nurani dan  tidak terkecuali Sang Prabu Hayam Wuruk terluka karena cintanya yang sedang mekar tiba-tiba dihadapkan pada mautnya sang kekasih.

Keluarga Raja Majapahit terluka karena akar sejarahnya yang begitu dekat dengan Sunda Galuh mendadak dipangkas dengan paksa. Namun tentu saja Sunda Galuh adalah pihak yang paling terluka, bukan saja karena harga diri yang dilecehkan tanpa ampun, melainkan juga karena semangat perdamaian, harapan, dan kepercayaan mereka terhadap Majapahit dinodai hingga titik paling hitam.

Begitulah faktanya: sebuah acara perkawinan dua kerajaan besar nusantara dengan menempatkan Raja Majapahit Hayam Wuruk dan Calon Permaisuri dari Sunda Galuh Dyah Pitaloka berakhir dengan tragis. Perang Bubat!  Perang di lapangan Bubat telah lewat ratusan tahun yang lalu. Namun, dendam dari kisah lama itu masih terlihat jejaknya hingga sekarang. Warisan emosional itu rupanya masih terjaga, entah kapan akan pudar. Kisah itu menimbulkan banyak mitos buruk, di antaranya adalah sebaiknya perempuan Sunda jangan mau diperistri orang Jawa.

1461126_10200111269503642_2008450153_nCeburkan tubuhmu yang kering…. selamilah hakikat-hakikat… masukilah medan kesejatian… bersihkanlah dirimu dari kulit-kulit yang merasakan berbagai macam sensasi hingga engkau mendapatkan satu sensasi saja; fokus pada satu rasa saja… yaitu rasa tanpa rasa…. tan keno kinoyongopo….. manunggaling roso…….. begitu yang dirasakan teman saya Mas Kumitir ketika njegur selama seharian ing telenging kedung, tengahnya air berkubang air terjun yang dinginnya mencapai nol derajat celcius dimalam hari… edaaannnnn!!!!

Gadjah Mada lah dianggap yang paling bertanggungjawab. Ia dihujat, dicaci, dan disingkirkan. Namun, dibalik kesendiriannya di Madakaripura…. di dalam perenungannya…. di dalam samudra dzikirnya…. sesungguhnya sang hero ini juga merasa terluka. Ia terluka karena merasa kerja kerasnya selama dua puluhan tahun lebih pada akhirnya tak  dihargai. Segala pengorbanan yang ia berikan untuk dapat menyatukan seluruh wilayah Nusantara di bawah panji-panji Majapahit justru gagal di langkah terakhir.

Sejarah bukanlah drama teater di panggung sempit yang bisa diubah skenarionya. Kalau sudah terjadi..siapa yang mampu membelokkannya? Betapapun kecewa Gajah Mada mendapati kenyataan cita-citanya tak terwujud secara sempurna, ia mengaku dengan setulusnya dan sejujurnya bahwa dia bersalah yang telah menyebabkan ratusan orang terbantai.

Ia bersalah telah mengubah lengkung janur kuning menjadi ratap tangis perkabungan. Gadjah Mada pun harus menerima itu semua dengan cara mengasingkan diri….. menghilangkan diri…… melewati hari tua di air terjun Madakaripura yang sepi sunyi untuk mendekatkan diri pada Ilahi.

Akan tetapi, sekali lagi sejarah membuktikan kesaktian Gadjah Mada adalah pondasi kekuatan Majapahit. Sepeninggal Gadjah Mada, kerajaan yang berpusat di Trowulan Mojokerto— yang kini sisa-sisa situsnya terancam tergusur oleh pembangunan Pabrik Baja—- mulai dilanda kemerosotan akibat ancaman disintegrasi. Tanpa Gadjah Mada, negara-negara bawahan Majapahit tak lagi hormat dan mulai berani memperjuangkan pemerdekaan dirinya.

Prabu Hayam Wuruk akhirnya harus kembali mengandalkan Gadjah Mada. Setelah setahun menyepi di Madakaripura, Gadjah Mada dipanggil untuk menduduki jabatannya kembali. Hanya saja, semua ada masanya. Sepertinya, puncak kejayaan memang sudah saatnya berlalu dari Majapahit karena Gadjah Mada tetaplah manusia biasa. Gajah Mada tidak mungkin dapat membendung laju takdir. Gajah Mada tidak mungkin pula dapat melawan kodrat.

Dari tiada menjadi ada, lalu kembali ke tiada. Semua yang hidup pasti berhadapan pada malaikat maut. Begitulah yang bakal terus terjadi. Gadjah Mada dengan segala romantika dan gegap gempitanya usai sudah. Majapahit adalah cermin yang merefleksikan betapa tidak ada manusia yang sempurna. Seorang Gadjah Mada yang sakti mandraguna dan telah teruji membawa Majapahit memenangkan perang demi perang pada akhirnya harus mengakui bahwa ambisi harus dikendalikan dan kerendahan hati mesti dimiliki oleh siapapun.

Perang Bubat menjadi renungan agar generasi kini dan seterusnya mampu dengan bijak menyikapinya, lalu menempatkannya dalam titik proses sejarah yang tidak boleh lagi terulang dimasa depan…… Gadjah Mada Madakaripura Hamukti Moksa….. Tiba saatnya kita semua moksa dari dunia ini, kita moksa, menghilangkan diri untuk selalu mawas diri bahwa dunia dengan segala perhiasannya adalah hanya sekedar permainan dan senda gurau. Hanya sebuah sarana untuk menuju tujuan yang azali.

Kembalilah ke diri, kembalikan kepada yang sejati. Kembalilah untuk meraih yang engkau anggap mimpi dan tidak nyata. Padahal yang tidak nyata itulah sesungguhnya yang sungguh-sungguh nyata. Bukalah kosmos kesadaran kita bahwa kita ini sejatinya tiada. Yang sungguh-sungguh ada hanyalah apa yang selama ini kita anggap sebagai mimpi, ilusi, khayalan dan lamunan.

@Wongalus,2013

Categories: MADAKARIPURA | 23 Komentar

TELENGING BUDI KANG LUHUR


 Wongalus

 Sangat menarik menelusuri pasir-pasir di pegunungan Bromo sambil merenungkan kenapa para leluhur kita di masa silam berdiam diri di kawasan dingin ini…

 Perjalanan dari Markas KWA di Sidoarjo ke pegunungan Bromo, wilayah kabupaten probolinggo memakan waktu sekitar 4 jam. Berangkat pukul 13.30 WIB sampai kawasan Bromo pada pukul 17.30 WIB. Jalan naik menanjak berkelok-kelok menembus sekat demi sekat ruang dan waktu. Hingga sampai ke deretan gunung-gunung menjulang menyerupai dinding-dinding raksasa.

 Terasa jauh perjalanan kali ini… padahal saya sudah beberapa  kali ke Bromo, namun tetap saja saya merasakan ada sesuatu yang berbeda di setiap kali singgah di bumi tengger yang magis itu.

 Terasa seperti Tibet, negeri di atas awan… itulah Bromo… karena di sini kita dilemparkan ke atas awan tinggi dan (bisa jadi) tempat tinggi akan membuat jiwa raga kita semakin luruh. Begitu kira-kita yang ada di hati.

 Syahdan, kehidupan di Bromo dimulai saat kerajaan Majapahit kurang lebih pada abad 16 (851 saka) yaitu saat kehidupan keraton kerajaan majapahit  tidak menentu kemudian mengalami goncangan politik yang di sertai dengan perebutan kekuasaan.

 Terjadinya Perang perebutan kekuasaan, atau disebut dengan paregrek ….membuat penduduk majapahit mengungsi…. Menjauh… naluri manusia adalah untuk mencari kedamaian dan keselamatan…. Termasuk menghindari perang tersebut dan juga menghindari diri adanya konflik…

 Warga majapahit berangkat berbondong-bondong dengan jumlah yang tidak begitu besar menembus hutan belantara… ada yang naik kuda dan ada yang berjalan kaki hingga terasa mereka menemukan sebuah tempat di tengah hutan yang dikelilingi gunung dan tentu saja jauh dari Trowulan Mojokerto..pusat kerajaan Majapahit.

bromo63(1)
Di tempat itulah… mereka menemukan sebuah istana agung yaitu gunung bromo dan menetap di sana. Karena tempatnya aman tenang dan damai dan jauh dari hingar bingar perebutan kekuasaan dan jauh dari peperangan maka kawasan baru itu disebut tanah Hila – Hila (tanah suci).

Di sebuah desa yang bernama ” Walandit ” yang sekarang dihuni penduduk Tengger tinggal seorang Ulun Hyang yang memuja Shang Hyang Swayambu disebut juga  Shang Hyang Brahma. Penduduk walandit dibebaskan dari membayar titileman (pajak upacara kenegaraaan), dan penduduk walandit hanya di wajibkan untuk melakukan kegiatan upacara-upacara kegamaan Agama Hindu sebagai Abdi Dewata, dan melakukan pemujaan di gunung bromo.

 Adanya prasasti walandit yang di buat oleh kerajaan Majapahit membuktikan bahwa setelah kedatangan gelombang masyarakat maka justeru diapresiasi oleh Hayam Wuruk dengan penetapan kawasan Bromo sebagai “hadiah”. Walandit — empu prapanca dalam kakawin negarakertagama menyebutkan makna walandit adalah tempat suci di mana penduduknya menghabiskan hidupnya sebagai Abdi Dewata, Abdi Tuhan, Hamba sang Hyang Widi.

 Empu prapanca adalah pujangga kenamaan kerajaan majapahit yang di sebutkan dalam Prasasti yang pertama berumur kurang lebih tahun 851 saka (929 m) kemudian prasasti yang kedua kurang lebih pada tahun  1327 saka ( 1407 m ) yang di temukan di daerah penanjakan yang termasuk Desa wonokitri pasuruan, dimana di dalam prasasti menunjukan adanya peradaban kehidupan spiritual di  kawasan bumi tengger “Walandit”,

 Di  dalam prasasti tersebut terdapat tulisan Bahasa Jawa Kawi Kuno kerajaan majapahit di tegaskan bahwa : ” aneninggih teteloman ring walandit kajebeh kajobong tanah hila-hila Shang Hyang Swayambu”. Shang Hyang Brahma atau Shang Hyang Swayambu ( Dewa Brahma… ” Bromo ” dalam bahasa jawa kawi kuno ).

Di situ di sebutkan bahwa gunung bromo adalah merupakan tanah suci dan tanah wangi dan merupakan pelinggih atau tempat beristananya Shang Hyang Brahma yang di gunakan sebagai tempat pemujaan oleh Ulun Hyang atau abdi Tuhan dan dari situlah nama gunung Bromo berasal.

 Orang tengger pasti mengenal leluhur mereka yaitu Roro Anteng dan Jogo Seger yang hidup di tanah suci Hila-hila setelah menghindarkan perang parekrek di kerajaan majapahit. Pasangan ini dipercaya bukanlah sekedar cerita sejarah melainkan dipercaya sebagai tetenger atau pengingat untuk anak cucu Tengger dan seluruh Jagad.

 Roro Anteng yang aslinya adalah seorang putri bangsawan Majapahit….  ” Anteng ” artinya dalam bahasa jawa : tenang, kokoh, tentram…sementara Joko Seger  adalah putra seorang Brahmana….. ” Seger ” artinya dalam bahasa jawa : segar, subur, makmur. Nama tengger sendiri di bentuk dari kedua nama tersebut ” teng ” dan ” ger ” jadilah TENGGER nama ini juga apabila di artikan lebih jauh mempunyai makna yang mendasar , pedoman dan sebagai ciri khas Tengger yaitu ” tengering budi kang luhur ” yang tidak jauh dari arti walandit itu sendiri .

Beliau berdua menetap di kawasan rata cemara sewu dan di angkat sebagai anak oleh Sang Maha Resi Dadap putih dan kemudian di nikahkan. Karena lama Beliau tidak mendapatkan keturunan dan  apabila orang berkeluarga tentu apabila belum mendapatkan keturunan maka kurang lengkap. Kemudian Beliau melakukan tapa brata di watu kuta memohon kepada Shang Hyang Widhi agar di karuniai keturunan, kemudian beliau di restui oleh Shang Hyang Widhi dan di karunia anak 25, sebagai awal mula cikal bakal Tengger. 

bromo

 Mereka memiliki tempat beristananya sendiri sendiri….. Tumenggung Kliwung (Gunung Ringgit ), Kaki Dukun (Watu Wungkuk), Ki Pranoto (Sanggar Poten), Nini Perniti (Mbajangan), Tunggul Ametung (Tunggu’an), Raden Mesigit (Gunung Batok), Puspo Ki Gentong (Widodaren), Kaki Teku Nini Teku (Guyangan), Ki Dadung Awuk, Ki Dumeling (Pusung Lingker), Ki Sindu Joyo (Wanangkara), Raden Sapu Jagad (Pudak Lembu), Ki Jenggot (Gunung Rujak), Ki Demang Diningrat (Gunung Semeru), Kusuma (Kawah Gunung Bromo), Sinta Wiji (Gunung Ranten), Ki Baru Klinting (Lemah Kuning), Ki Kawit (Sumber Semanik), Jiting Jinah (Gunung Jemahan), Ical Prabu Siwah (Gunung Lingga), Cokro Pranoto Aminoto (Gunung Gender), Tunggul Wulung (Cemara Lawang), Tumenggung Klinter, Raden Bagus Waris (Watu Balang).

 Pada Hari Raya Yadya Kasada, warga Bromo tengger merayakan  upacara sesembahan berupa persembahan sesajen kepada Sang Hyang Widhi. Setiap bulan Kasada hari-14 dalam penanggalan Jawa, yaitu upacara sesembahan atau sesajen kepada Dewa Brahma dan para leluhur. Mereka mengingat dan mengenang  leluhur Roro Anteng dan Joko Seger membangun pemukiman dan kemudian memerintah di kawasan Tengger dengan sebutan Purbowasesa Mangkurat Ing Tengger, “Penguasa Tengger yang Budiman”.

Mereka tidak di karunia anak sehingga mereka melakukan semedi atau bertapa kepada Sang Hyang Widhi, tiba-tiba ada suara gaib yang mengatakan bahwa semedi mereka akan terkabul namun dengan syarat bila telah mendapatkan keturunan, anak yang bungsu harus dikorbankan ke kawah Bromo.

Pasangan Roro Anteng dan Jaka Seger menyanggupinya dan kemudian didapatkannya 25 orang putra-putri, namun naluri orangtua tetaplah tidak tega bila kehilangan putra-putrinya. Pendek kata pasangan Rara Anteng dan Jaka Seger ingkar janji, Dewa menjadi marah dengan mengancam akan menimpakan malapetaka, kemudian terjadilah prahara keadaan menjadi gelap gulita kawah Gunung Bromo menyemburkan api.

Kesuma, anak bungsunya lenyap dari pandangan terjilat api dan masuk ke kawah Bromo, bersamaan hilangnya Kesuma terdengarlah suara gaib, “Saudara-saudaraku yang kucintai, aku telah dikorbankan oleh orangtua kita dan Sang Hyang Widhi menyelamatkan kalian semua. Hiduplah damai dan tenteram, sembahlah Sang Hyang Widhi. Aku ingatkan agar kalian setiap bulan Kasada pada hari ke-14 mengadakan sesaji kepada Sang Hyang Widhi di kawah Gunung Bromo”. Kebiasaan ini diikuti secara turun temurun oleh masyarakat Tengger dan setiap tahun diadakan upacara Kasada di Poten lautan pasir dan kawah Gunung Bromo.

Sebagai pemeluk agama Hindu, Suku Tengger tidak seperti pemeluk agama Hindu pada umumnya, memiliki candi-candi sebagai tempat peribadatan, namun bila melakukan peribadatan bertempat di punden, danyang dan poten.

pura luhur poten bromo (2)

Poten merupakan sebidang lahan di lautan pasir sebagai tempat berlangsungnya upacara Kasada. Sebagai tempat pemujaan bagi masyarakat Tengger yang beragama Hindu, Pura Luhur Poten Bromo terdiri dari beberapa bangunan yang ditata dalam suatu susunan komposisi di pekarangan yang dibagi menjadi tiga mandala atau zona.

 Pertama. Mandala Utama disebut juga jeroan yaitu tempat pelaksanaan pemujaan persembahyangan. Mandala itu sendiri terdiri dari Padma berfungsi sebagai tempat pemujaan Tuhan Yang Maha Esa. Padma bentuknya serupa candi yang dikembangkan lengkap dengan pepalihan, tidak memakai atap yang terdiri dari bagian kaki yang disebut tepas, badan batur dan kepala yang disebut sari dilengkapi dengan Bedawang, Nala, Garuda, dan Angsa.

Beawang Nala melukiskan kura-kura raksasa mendukung padmasana, dibelit oleh seekor atau dua ekor naga, garuda dan angsa posisi terbang di belakang badan padma yang masing-masing menurut mitologi melukiskan keagungan bentuk dan fungsi padmasana.

Bangunan Sekepat (tiang empat) atau yang lebih besar letaknya di bagian sisi sehadapan dengan bangunan pemujaan padmasana, menghadap ke timur atau sesuai dengan orientasi bangunan pemujaan dan terbuka keempat sisinya. Fungsinya untuk penyajian sarana upacara atau aktivitas serangkaian upacara. Bale Pawedan serta tempat dukun sewaktu melakukan pemujaan.  Kori Agung Candi Bentar, bentuknya mirip dengan tugu kepalanya memakai gelung mahkota segi empat atau segi banyak bertingkat-tingkat mengecil ke atas dengan bangunan bujur sangkar segi empat atau sisi banyak dengan sisi-sisi sekitar depa alit, depa madya atau depa agung. Tinggi bangunan dapat berkisar sebesar atau setinggi tugu sampai sekitar 100 meter memungkinkan pula dibuat lebih tinggi dengan memperhatikan keindahan proporsi candi.

Kedua Mandala Madya disebut juga jaba tengah, tempat persiapan dan pengiring upacara terdiri dari Kori Agung Candi Bentar, bentuknya serupa dengan tugu, kepalanya memakai gelung mahkota segi empat atau segi banyak bertingkat-tingkat mengecil ke atas dengan bangunan bujur sangkar, segi empat atau segi banyak dengan sisi-sisi sekitar satu depa alit, depa madya, depa agung. Bale Kentongan, disebut bale kul-kul letaknya di sudut depan pekarangan pura, bentuknya susunan tepas, batur, sari dan atap penutup ruangan kul-kul/kentongan.

Fungsinya untuk tempat kul-kul yang dibunyikan awal, akhir dan saat tertentu dari rangkaian upacara. Bale Bengong, disebut juga pewarengan suci letaknya di antara jaba tengah mandala madya, mandala nista jaba sisi. Bentuk bangunannya empat persegi atau memanjang deretan tiang dua-dua atau banyak luas bangunan untuk dapur. Fungsinya untuk mempersiapkan keperluan sajian upacara yang perlu dipersiapkan di pura yang umumnya jauh dari desa tempat pemukiman.

Ketiga. Mandala Nista disebut juga jaba sisi yaitu tempat peralihan dari luar ke dalam pura yang terdiri dari bangunan candi bentar bangunan penunjang lainnya. Pekarangan pura dibatasi oleh tembok penyengker batas pekarangan pintu masuk di depan atau di jabaan tengah sisi memakai candi bentar dan pintu masuk ke jeroan utama memakai Kori Agung.

Tembok penyengker candi bentar dan kori agung ada berbagai bentuk variasi dan kreasinya sesuai dengan keindahan arsitekturnya. Bangunan pura pada umumnya menghadap ke barat, memasuki pura menuju ke arah timur demikian pula pemujaan dan persembahyangan menghadap ke arah timur ke arah terbitnya matahari.

Di lautan pasir yang sepi…. Sendiri.. tiba-tiba  saya mendengar lantunan lirih “Bhagavad gita” di sanubari….

kepada Tuhanku yang Maha Pecinta dan Tercinta namun tak terlihat oleh mataku kusampaikan…. Senja di sore itu menemani kepergianmu… Saat kau ucap kata kau tak lagi bersamaku… Perih yang ku rasa mungkin takkan pernah kau gubah… Cinta yang dulu ada kini telah kau bawa…Cinta jangan tinggalkan aku… Karena takkan pernah ada cinta selain dirimu…. Cinta kau duakan aku takkan sanggup ku menghapus… Segala bayangmu oh kekasihku kekasihku…. Cinta jangan tinggalkan aku… Karena takkan pernah ada cinta selain dirimu…. Cinta kau duakan aku takkan sanggup ku menghapus…..Segala bayangmu oh kekasihku kekasihku…….Cinta jangan tinggalkan aku….Karena takkan pernah ada cinta selain dirimu……….Jika kau tinggalkan aku takkan sanggup ku menghapus……Segala bayangmu oh kekasihku kembalilah…..Cinta jangan tinggalkan aku……..Karena takkan pernah ada cinta selain dirimu….. Jika kau tinggalkan aku takkan sanggup ku menghapus….Segala bayangmu oh kekasihku kembalilah,….

@Wongalus, 2013

 

 

 

Categories: >>PERPUSTAKAAN UTAMA | 12 Komentar

PEMBANGKITAN TENAGA DALAM POROS BUMI DARI TIBET


wongalus

Belajar bisa dimana saja dan apa saja. Semua bahan pelajaran itu baik asalkan kita bisa mengambil hikmah dan manfaat darinya. KAMPUS WONG ALUS, adalah kampus maya.. boleh belajar apa saja termasuk belajar dari khasanah budaya lain tak terkecuali dari Tibet.

Tibet adalah negara yang terapit dua peradaban besar: China dan India, dengan pegunungan Himalaya yang memisahkan keduanya. Karena letak Tibet yang tinggi menjulang angkasa, pantaslah bila dijuluki atap dunia dengan salju yang selalu melingkupinya sepanjang tahun.

Negeri  ini memiliki keunikan dengan banyaknya kepercayaan terkait dengan manusia, dunia dan Tuhan. Misalnya: rakyat Tibet yakin bahwa Raja-raja Tibet tetap terhubung ke langit melalui kabel goib sehingga para raja hidupnya abadi dan tidak pernah mati. Kalaupun sudah tidak kelihatan di dunia, mereka ini naik langsung ke surga.

Contoh unik lain: Untuk mendapatkan vision (terawangan) untuk mengetes kejujuran seseorang para pengawal pribadi Dalai Lama berlatih keras bertahun-tahun dan dahinya (cakra ajna) di bor.

dan sederet keyakinan lainnya….

Kita tidak perlu berprasangka apapun terhadap keyakinan semacam ini.

Toleransi dan menyikapi sesuatu yang berbeda dengan dewasa adalah hal yang bijaksana. Sebab setiap budaya memiliki kekhasannya masing-masing. Setiap peradaban memiliki alur logikanya sendiri. Setiap orang memiliki ciri khas kepribadian yang membedakan dengan orang lain. Biarlah bulan bergerak sesuai orbitnya sendiri, begitu juga matahari, planet-planet dan bumi… tidak saling menabrak dan menyakiti.  Inilah fakta dan kenyataan. Inilah sunatullah atau hukum alam.

Para guru Tibet memiliki cara khas untuk menggapai kesadaran spiritual, kekuatan fisik metafsik, dan untuk memperpanjang usia. Salah satunya adalah dengan membangkitkan tenaga dalam serta melatih nafas dengan lima jurus tenaga dalam poros bumi yang sudah kami mulai tadi malam, Kamis 7 Nopember 2013 dalam acara rutin CANGKRUKAN KWA.

Selanjutnya setiap Kamis, kami akan biasakan setiap ketemu untuk latihan tenaga dalam ini sebagai latihan olah nafas, olah konsentrasi dan sugesti dan olah fisik,  sementara olah batin/olah rasa akan kami tambahi dengan dengan wirid/dzikir.

1424484_458535154264407_1094535726_nFoto: wongalus.

1396040_10200569463427775_417895705_nFoto: wak kasan

1395969_10200569467067866_1440194131_nFoto: wak kasan

1374893_10200569465747833_1314261282_nFoto: wak kasan

1392013_458536437597612_570939482_nFoto: wongalus

Setelah berlatih, kami juga mempraktekkan tenaga dalam ini untuk berbagai fungsi seperti untuk pengobatan medis dan non medis, pengiriman energi jarak jauh maupun jarak dekat, kekuatan tubuh fisik maupun tubuh metafisik (eterik) dan kesehatan. Sedulur  yang mengalami gangguan kesehatan kita terapi bersama-sama.

Kepada sedulur yang belum sempat hadir, monggo hadir setiap Kamis untuk berlatih bersama kami sekaligus memperpanjang tali silaturahim, menambah saudara dan handai tolan  — tujuan acara rutin cangkrukan. Demikian apa yang bisa kami sampaikan dan terima kasih. Salam asah asih dan asuh.

@wongalus,2013

Categories: >>PERPUSTAKAAN UTAMA | 24 Komentar

AGENDA CANGKRUKAN RUTIN TIAP KAMIS MALAM


ACARA SPESIAL SURO:

KWA

PENGIJASAHAN DAN PEMBANGKITAN TENAGA DALAM POROS BUMI DARI TIBET OLEH KI WONGALUS

HARI/TANGGAL: KAMIS MALAM, 7 Nopember 2013

PUKUL 20.00 WIB S/D PUKUL 23.00 WIB

TEMPAT: RUMAH KELUARGA KWA, MUSHOLA BALAI DIKLAT KAB SIDOARJO, JL MAJAPAHIT 5 (SEBELAH KOMPI SENAPAN, 100 METER SELATAN RSUD SIDOARJO).

SAUDARA KWA, SEDULUR SENASIB SEPENANGGUNGAN… MONGGO PINARAK, MONGGO MAMPIR, SILAHKAN HADIR…. KITA BERBAGI CANDA, SUKA, DUKA, BERKELUH KESAH, BERBAGI HIKMAH, BERBAGI CAHAYA DAN ILMU, SEKALIGUS REFRESHING LAHIR DAN BATIN. SEKEDAR UNTUK MELEPAS LELAH PUN BOLEHLAH…. SIAPA TAHU DISINILAH OASE PELEPAS DAHAGA HIDUP YANG SEJATI DI TENGAH KERINGNYA HIDUP YANG PENUH ANGKARA DUNIAWI

——————————————————————————————————————

TIDAK DIPUNGUT BIAYA/GRATIS. UNTUK KEGIATAN MEREKATKAN PERSAUDARAAN DAN SOSIAL KEMANUSIAAN.

=============================================

Categories: >>PERPUSTAKAAN UTAMA | 19 Komentar

INTERMEZO BUDAYA: ARISAN KEMATIAN


Yth sedulur pembaca KWA yang budiman, sebagaimana yang sudah diketahui bersama bahwa blog kita ini sangat perduli dengan pengembangan budaya di tanah air. Kita juga secara rutin mengadakan kegiatan-kegiatan yang ada di aras budaya dengan maksud agar budaya bangsa kita tetap lestari dan terjaga, termasuk agar budaya bisa terproses kreatif dan menjadi agenda buat daya cipta. Nah, dalam konteks itulah kami ingin kembali —setelah sekian lama terkubur oleh artikel-artikel amalan dan ilmu-ilmu metafisika praktis– menampilkan salah satu artikel budaya. Tidaklah muluk-muluk apa yang diharapkan, kecuali kami ingin sekedar sebagai jembatan lintas budaya di arus informasi saat ini. Terima kasih dan salam budaya. (WONG ALUS)

ARISAN KEMATIAN

sumber: TEMPO

Tana Toraja terkenal akrab dengan kematian, tradisi yang melekat sejak animisme masih dianut. Salah satu kegiatan yang masih berlangsung sehubungan dengan itu adalah ma’nene, ziarah kubur dengan membersihkan dan mengganti pakaian para jasad. Wartawan Tempo, Irmawati, berkesempatan mengikuti warisan aluk todolo (adat orang dulu) ini di Desa Bululangkan, Kecamatan Rindingallo, Kabupaten Toraja Utara, Sulawesi Selatan, September lalu.

Jasad Esra Lumbaa yang masih utuh, meninggal 11 tahun lalu. (Irmawati)

PULUHAN peti jenazah beraneka usia berjejer di depan setiap patane atau rumah makam keluarga. Setelah tiga tahun, baru peti-peti itu dikeluarkan. Wujudnya macam-macam. Ada yang polos, ada yang berukir khas Toraja. Beberapa jasad dalam peti masih terbungkus rapi, sebagian lainnya ada yang kotor berdebu. Nama-nama yang tercantum di masing-masing kain sulit dibaca.

Di samping puluhan peti itu, terdapat bungkusan jenazah lain tanpa peti. Bentuknya seukuran tubuh manusia yang dibalut kain tebal. ”Nek Banaa tak suka dikasih peti,” kata Sarlota Sanda, putrinya.
ritual-toraja

Di patane sebelah, tiba-tiba terdengar sorak-sorai. Keluarga yang sedang membuka peti mayat para leluhurnya itu tampak kegirangan. Satu mumi laki-laki sedang dipegang dalam posisi berdiri. Ia tampak utuh. Massa tubuhnya sedikit mengecil, meski tingginya bak orang normal. Namanya: Bapak Esra Lumbaa. Menurut keluarga, ia wafat pada 1998.

Jeprat-jepret kamera langsung terjadi, baik dengan kamera saku, handycam, maupun telepon seluler. Beberapa orang minta difoto bersama mumi-mumi itu. Tak ada rasa takut. Ada yang menciumi mumi-mumi tersebut berulang-ulang.

Tapi, dalam hitungan menit, ekspresi kegirangan itu segera berganti. Tawa berubah menjadi tangisan. Lambat-laun tangisan saling bersambut hingga terdengar seolah berkejaran satu sama lain. Setelah senang melihat wujud jasad yang masih utuh, kali ini mereka mengutarakan rindu dan kesedihan mereka, sepeninggal orang-orang kesayangan itu ke alam baka. Suasananya seperti drama sebuah arisan berkala dengan mereka yang telah pergi selamanya.

***

Jasad Markus moli, yang wafat 2002. (Irmawati)

’Arisan’ berkala itu adalah ma’nene atau upacara penggantian kain jenazah yang menjadi wujud rasa hormat kepada para leluhur, atau semacam ziarah kubur. Ma’nene, yang artinya menanam bunga, adalah warisan aluk todolo (adat orang dulu) saat masyarakat masih menganut kepercayaan animisme. Prosesi ini digelar setelah pesta rambu solo, upacara pemakaman yang sering juga disebut pesta kematian, dan sebelum rambu tu’ka atau pesta naik rumah Tongkonan—rumah asli Toraja dengan atap menyerupai perahu.

Kepada antropolog Toby Alice Volkman, yang menuliskannya dalam buku Feast of Honor, Ritual and Change in The Toraja Highlands, seorang warga Toraja mengatakan bahwa dalam tradisi ma’nene, mereka yang masih mempercayai tradisi aluk ini harus ikut serta, yang paling miskin sekalipun. Ia biasanya diadakan pada Agustus, setelah mereka yang mati dikuburkan dan sebelum musim tanam dimulai. Di sejumlah daerah upacara ini diadakan hanya lima atau sepuluh tahun sekali.

Kali ini penyelenggaranya adalah Desa Bululangkan, Kecamatan Rindingallo, Kabupaten Toraja Utara, Sulawesi Selatan. Toraja Utara adalah kabupaten baru, hasil pemisahan dari Kabupaten Tana Toraja. Beberapa kecamatan di Toraja Utara yang masih menggelar prosesi ini adalah Rindingallo, Ampang Batu, Kantun Poya, Baruppu, Awan, dan Sesean.

Desa Bululangkan berjarak sekitar 50 kilometer dari Kota Rantepao, pintu masuk wilayah Tana Toraja. Jarak ini jika kita menempuh jalur Tikala yang saat ini hanya bisa dilalui dengan kendaraan roda dua. Jika bermobil, jalan yang harus dipilih adalah berputar melalui Lolai sehingga jaraknya lebih jauh dan medannya pun lebih berat karena kondisi jalan yang rusak. Di desa ini ma’nene disepakati digelar setiap tiga tahun.

1441266_690377080980434_1434779709_nMenurut Yunus Lumbaa, 53 tahun, tujuan prosesi ma’nene zaman dulu adalah menyembelih kerbau bagi mereka yang saat pemakaman belum melakukannya. Kini ma’nene tetap digelar, meski tujuannya lebih untuk mengingat leluhur dan menjaga silaturahmi keluarga. Apalagi ma’nene sering digunakan untuk ajang berkumpul mereka yang merantau.

Menumpang Toyota Avanza, Tempo dan tiga wartawan lain pada akhir Agustus lalu bergerak menuju Desa Bululangkan. Matahari sudah tampak, meski udara terasa dingin. Mobil mendaki dataran tinggi berbelok-belok, melalui banyak persimpangan dengan kondisi jalan yang hanya kadang-kadang mulus. Kontur daerahnya berbukit-bukit dengan vegetasi yang rapat. Udara sungguh segar. Kabut tebal menyelimuti meski waktu sudah menunjukkan lewat pukul tujuh pagi.

Setiba di Lembang (Desa) Bululangkan, suasana terasa sunyi. Tak banyak warga lalu-lalang di rumah-rumah seperti lazimnya permukiman. Menyusuri jalan menuju bukit, sebagian orang mulai tampak. Di sisi sebelah kiri jalan terdapat enam buah patane: satu dari kayu, lima lainnya dari bangunan beton. Di situ banyak warga desa berkumpul. Mereka mengeluarkan peti-peti jenazah dan jasad yang terbungkus kain tebal dari dalam makam. Tak ada yang terganggu oleh kedatangan orang asing atau turis di lokasi.

Foto keluarga dengan mereka yang diganti kain jasadnya. (Irmawati)

Sebagian warga sudah mulai membuka lapisan-lapisan kain yang berisi jasad keluarga mereka. Tampak potongan tulang dari bagian tubuh ataupun kepala. Sambil dibersihkan, sebagian ditebar dan dijemur di bawah terik matahari pagi. Beberapa warga nongkrong, menikmati bekal mereka. Kaum lelaki mengisap rokok dan meminum kopi hitam. Nyaris tak ada bau apa pun dari jasad yang terbuka itu. Kalaupun ada yang tercium oleh hidung, yang terasa menyengat adalah bau kemenyan dan kapur barus.

Sarlota Sanda, 54 tahun, hadir di situ dengan tiga saudaranya, Debora Tumba’ (56), Samaa Moli’ (52), dan Benyamin Bondo (40). Namun, tak seperti keluarga Lumbaa, keluarga Sarlota hanya membuka sebagian. Jasad kedua orang tua mereka, Moli Sesa’ dan Nek Banaa, dikeluarkan dari peti, kemudian dibuka sepertiga pada bagian atas saja, sehingga yang kelihatan hanya muka dan kepala.

Dari penglihatan Tempo, bagian kepala jasad Moli Sesa’ terlihat agak basah. Ada balutan perban. Semacam daun-daunan sirih dan tembakau yang agak halus memenuhi beberapa pancaindranya, seperti di bagian mulut, hidung, telinga, dan mata. Jasad istrinya, Nek Banaa, terlihat kering-keropos, berwarna cokelat tua, dan rapuh seperti kertas. Semasa hidup Moli Sesa’ bertani serta berdagang kerbau dan kopi. Kini diteruskan oleh Samaa, anak lelakinya.

Di patane sebelah, kini giliran ibunda mumi laki-laki tadi yang dibuka petinya. Namanya Mama Sara. Agar semua warga bisa melihat, mumi perempuan tua ini juga dipegang oleh keluarga dalam keadaan berdiri. Ia terlihat masih sangat utuh, bahkan hingga ke wajah. Drama itu pun terulang kembali, dari suasana gembira dan tertawa-tawa hingga ke tangisan menyayat yang dilakukan keras-keras.

1

Kepala Lembang Bululangkan, E Ungke Toding Allo, 40 tahun, mengatakan sorak-sorai itu terjadi karena keluarga gembira menemukan jasad yang masih utuh dan bisa dikenali. ”Kondisi jasad yang utuh itu kebanggaan bagi keluarga yang ditinggal,” katanya. Adapun suasana haru dan sedih yang menyusulnya adalah pertanda para keluarga mengenang kehidupan tubuh-tubuh yang mati itu kala masih bersama mereka.

Banyak cerita bisa diperoleh dari peti-peti itu. Misalnya warna kain pembungkus jasad: ada yang polos, bermotif, tapi yang dominan adalah warna merah polos. Dalam penggunaan kain, merah menempati status sosial tertinggi. Untuk bisa menggunakan kain merah polos, keluarga harus memotong minimal tujuh ekor kerbau saat upacara rambu solo atau upacara pemakaman.

2

Yunus Lumbaa memberi contoh. Saat orang tua Thomas Seba, 69 tahun, wafat pada 1960, keluarganya belum mampu sehingga hanya memotong seekor kerbau. Mereka tak berhak menggunakan kain merah sebagai pembungkus jasad. Baru pada 1981, ketika Thomas yang merantau ke Papua sudah punya uang, ia mengorbankan delapan ekor kerbau untuk orang tuanya. Dengan kata lain, jasad orang tuanya sudah berhak mengenakan kain merah polos. Kini aturan soal kain itu sudah tak terlampau ketat lagi karena jenis kain yang tampak sudah beraneka ragam: ada pakaian bekas, sarung, seprai, bahkan karung terigu.

Ada lagi cerita tentang ukurannya, yang berbeda-beda karena sesuai dengan bentuk tubuh orang yang wafat. Seperti jasad-jasad di patane milik keluarga Ajun Komisaris Polisi Simon Moli. Jumlahnya ada sebelas—enam jasad orang dewasa dan lima jasad anak-anak berbagai usia. Yang paling kecil berukuran seperti bantal guling kecil dengan panjang 40 sentimeter. Kata Ne’ Maria, 70 tahun, jasad terkecil itu adalah anaknya yang meninggal saat masih dalam kandungan, berusia 5 bulan. ”Saat itu saya keguguran,” katanya. Setiap ma’nene, jasad yang satu itu hanya dijemur tanpa pernah dibuka kain bungkusannya.

Ma'nene Ritual Cleaning of Tanah Toraja Mummy

Di patane lain, tampak keluarga memegang dengan gembira tiga jasad orang tua yang masih utuh, meski sudah wafat lebih dari dua dasawarsa lalu. Salah satunya perempuan, terlihat dari rambutnya yang panjang. Mumi tua ini bernama Nek Sombo Allo, yang meninggal di usia 80 tahun.

Setelah dibersihkan dan sedikit dijemur di bawah sinar matahari, bungkusan jasad-jasad itu kemudian dirapikan kembali. Kain-kain yang sudah kurang bagus dibuang dan kain yang masih bagus tetap dipakai, ditambah beberapa helai kain baru. Setelah rapi, sebagian kemudian diikat dengan tali rafia atau tali dari sobekan sarung bekas. Yang tidak diikat langsung dimasukkan kembali ke peti.

***

Setelah ”arisan” dengan jenazah itu rampung, berikutnya adalah ”arisan” dengan handai taulan. Ini biasa disebut ne pare lapuk atau acara bersyukur bersama menutup ma’nene. Ini digelar di Rante, lapangan khusus yang memiliki batu-batu menhir di sekelilingnya. Batu-batu ini konon simbol tokoh masyarakat kampung yang telah wafat. ”Semakin besar batu,” kata E Ungke Toding Allo, Kepala Lembang Bululangkan, ”semakin tinggi kedudukannya.”

Penutupan prosesi yang sedianya digelar pada Minggu ditunda karena hari itu adalah jadwal warga mengikuti kebaktian. Di sore hari, beberapa anak muda tampak bermain sepak takraw di lapangan Rante. Dekat dari situ terdapat rumah Tongkonan yang berusia ratusan tahun. Tongkonan ini sudah berlumut dan pada bagian atapnya sudah ditumbuhi tanaman pakis atau semacam benalu yang cukup lebat.

Para orang tua memanggil anak-anak agar membantu mereka membuat pa’piong, masakan dari daging babi yang dimasukkan ke bambu lalu dibakar—makanan wajib Mappakende. Anak-anak membantu mengangkat babi yang telah diikat dan memegang kakinya ketika badik menikam ternak itu tepat pada jantungnya. Darah yang mengalir ditampung di botol. Setelah itu, mereka berlarian menyiapkan kayu dan ranting bambu untuk membakar babi yang sudah disembelih tersebut. Anak-anak perempuan lalu menyiapkan bumbu pa’piong, seperti daun bawang, bawang putih, cabai, merica, garam, dan daun-daunan setempat. Kurang dari 30 menit, bulu-bulu babi tadi bersih dilahap api dan babi itu tampak kaku dengan tubuh yang hitam gosong. Setelah dikeluarkan isi perutnya dan dipotong kecil-kecil, potongan-potongan itu kemudian dimasukkan ke beberapa batangan bambu berukuran setengah meter, lalu dibakar.

5

Keesokan harinya, pagi-pagi, warga terlihat mulai berdatangan ke Rante. Mereka menggelar tikar. Di atasnya mereka menata makanan yang akan disantap bersama. Acara akan dimulai pukul 08.00 Waktu Indonesia Tengah. Hadirin dari anak-anak hingga mereka yang berusia lanjut hadir. Salah satunya Nek Rande, tokoh masyarakat yang usianya lebih dari 100 tahun. Tampak juga beberapa tamu dari desa tetangga, seperti rombongan dari Lembang Punglu, Kecamatan Buntu Pepasa. Rombongan ini dipimpin Bapak Pore, 40 tahun.

Kerabat melakukan foto bersama dengan salah satu jasad.

Sempat terjadi diskusi pembagian daging; beberapa orang berpendapat daging dibagi rata untuk semua, ada pula yang berpendapat daging dibagi untuk mereka yang menyumbang saja. ”Ta bagi ratai to, ri ma sumbang,” kata Yunus Lumbaa. Kerbau dibeli seharga Rp 6,5 juta, sedangkan total sumbangan mencapai dua pertiganya. Penyumbang memberi dengan nilai nominal yang berbeda-beda, mulai Rp 40 ribu hingga Rp 2 juta—nilai nominal terbesar yang disumbang Thomas Seba. Kerbau yang dikorbankan dalam upacara penutupan ini tak boleh utangan. Mesti lunas.

Akhirnya disepakati daging kerbau dibagi rata untuk semua. Daging lantas dipotong-potong seukuran setengah sampai satu kilo, lalu ”plok!” dilemparkan ke hadapan masing-masing warga. Di tempat lain boleh jadi hal ini kurang sopan, tapi begitulah adat di Bululangkan.

7

Daging habis, yang tersisa tinggal kepala kerbau di tengah lapangan. Kini giliran kepala babi, bagi mereka yang membuat pa’piong, yang dikumpulkan. Totalnya 37 ekor. Semuanya kemudian dilelang dengan harga bervariasi, dari Rp 50 ribu hingga Rp 200 ribu. Setelah semuanya terjual, dana yang terkumpul mencapai Rp 4,35 juta, yang disumbangkan untuk enam gereja di Bululangkan.

Sang pemandu acara, Yunus Lumbaa, sejenak beristirahat. Ia minum tuak nira dari batang bambu sebagai pengganti gelas. Setelah itu, ia kembali berdiri di tengah Rante dan berdialog. Kini ia menagih utang dan janji-janji warga yang belum diselesaikan. Hasil tagihan dan sumbangan, sebesar Rp 26 juta, dikumpulkan untuk pembangunan fasilitas umum desa.

A family member cleans a mummy before giving it new clothes in a ritual in the Toraja district of Indonesia's South Sulawesi Province

Thomas Seba, sebagai anak rantau yang pulang dengan harta melimpah, lantas mengumumkan: ma’nene berikutnya akan digelar pada 2012. Pengumuman ini dilanjutkan dengan kebaktian bersama yang dipimpin seorang pendeta Bululangkan. Acara pun ditutup dengan makan bersama. Warga membuka bekal masing-masing, yakni pa’piong dalam berbagai rupa—ada yang bumbunya agak hitam, ada yang cokelat pucat, ada juga yang kekuningan. Tamu seperti Pore mendapat pa’piong utuh, masih dalam batang bambunya. Jumlahnya hingga 17 buah. ”Akan kami bawa pulang untuk dibagi-bagi kepada warga desa kami,” katanya.

Setelah makan, ”arisan” pun ditutup dengan warga beramai-ramai berjalan menuju tanah lapang tepat di halaman gereja, sekitar 1 km dari Rante. Di situ, para pria dewasa, minimal 12 tahun, beradu kaki sebagai perlambang kejantanan dalam olahraga sisemba. Siapa pun yang ikut harus menanggung akibatnya sendiri bila terluka, patah, atau bahkan meninggal dunia. Sekitar seratusan orang terlibat. Dalam riuhnya gerak tubuh dan kaki mereka yang beradu, beberapa orang sempat hampir adu jotos meski kemudian dapat didamaikan. Dengan damai seluruh prosesi ”arisan” pun usai. (By Irmawati–Intermezo, Majalah Tempo vol. 38 no. 34, Edisi Oktober 2009)

Categories: >>PERPUSTAKAAN UTAMA | 14 Komentar

SELAMAT TAHUN BARU


(*)

Janganku suaraku, ya ‘Aziz
Sedangkan firmanMupun diabaikan

Jangankan ucapanku, ya Qawiy
Sedangkan ayatMupun disepelekan

Jangankan cintaku, ya Dzul Quwwah
Sedangkan kasih sayangMupun dibuang

Jangankan sapaanku, ya Matin
Sedangkan solusi tawaranMupun diremehkan

Betapa naifnya harapanku untuk diterima oleh mereka
Sedangkan jasa penciptaanMupun dihapus

Betapa lucunya dambaanku untuk didengarkan oleh mereka
Sedangkan kitabMu diingkari oleh seribu peradaban

Betapa tidak wajar aku merasa berhak untuk mereka hormati
Sedangkan rahman rahimMu diingat hanya sangat sesekali

Betapa tak masuk akal keinginanku untuk tak mereka sakiti
Sedangkan kekasihMu Muhammad dilempar batu

Sedangkan IbrahimMu dibakar
Sedangkan YunusMu dicampakkan ke laut
Sedangkan NuhMu dibiarkan kesepian

Akan tetapi wahai Qadir Muqtadir
Wahai Jabbar Mutakabbir
Engkau Maha Agung dan aku kerdil
Engkau Maha Dahsyat dan aku picisan
Engkau Maha Kuat dan aku lemah
Engkau Maha Kaya dan aku papa
Engkau Maha Suci dan aku kumuh
Engkau Maha Tinggi dan aku rendah serendah-rendahnya
Akan tetapi wahai Qahir wahai Qahhar
Rasul kekasihMu maíshum dan aku bergelimang hawaí
Nabi utusanmu terpelihara sedangkan aku terjerembab-jerembab

Wahai Mannan wahai Karim
Wahai Fattah wahai Halim
Aku setitik debu namun bersujud kepadaMu
Aku sehelai daun kering namun bertasbih kepadaMu
Aku budak yang kesepian namun yakin pada kasih sayang dan pembelaanMu.

(*) Doa sehelai daun kering karya Emha Ainun najib

****

Assalamualaikum wr wb.

Atas nama Keluarga KAMPUS WONG ALUS,

saya mengucapkan Selamat tahun baru Hijriyah 1 Muharram 1435 H.

Marilah ini kita jadikan MOMENTUM untuk berefleksi diri.

Semoga kita senantiasa menambah keimanan

dan ketaqwaan kepada Allah SWT.

Terima kasih dan salam asah asih dan asuh.

Wassalamualaikum wr wb.

@wongalus,2013

*****

 

Categories: >>PERPUSTAKAAN UTAMA | 32 Komentar

ILMU MENCARI SUMBER AIR


PESERTA PELATIHAN PRIVATE PARANORMAL KWA MENDETEKSI SUMBER AIR

PESERTA PELATIHAN PRIVATE PARANORMAL KWA MENDETEKSI SUMBER AIR

wongalus

Assalamualaikum wr wb. Saya menggunakan amalan ini untuk mencari sumber air untuk membuat sumur. Caranya sebagai berikut: carilah sebuah ranting yang ujungnya bercabang mirip huruf Y. Selanjutnya anda berada di tanah yang akan dicari sumber mata airnya. Berjalanlah perlahan sambil MEMEGANG RANTING dan ARAAHKAN UJUNG Y tersebut ke ranah dan gerakkan ke kanan dan kiri sambil mewiridkan dalam hati.

Baca 1 x:

Audzubillahiminasyaitonirrojim
Bismilahirrohmanirrohim
ANNA AL QUWWATA LILLAHI JAMI’AN

lanjutkan dengan

baca berulangkali  wirid di bawah ini sambil TAHAN NAFAS dan berjalanlah….

ya Allah Ya Latif

Ya Allah Ya Khobir

Ya latif Ya Khobir

Ala Ya’lamu Man Kholaqo Wahuwal Latiful Khobir

bila tidak kuat bernafas normal dan berjalan lagi sambil tahan nafas lagi dan mulai wirid lagi…

Insya allah nanti akan ada bisikan dalam hati bahwa di situlah sumber mata air itu berada. Berhentilah dan di ujung ranting tersebut silahkan digali untuk membuat sumur.  Silahkan dipraktekkan, saya ijasahkan bagi siapa saja yang membutuhkannya. Salam asah asih dan asuh. rahayu. @@@

@wongalus,2013

Categories: ILMU MENCARI SUMBER AIR | 41 Komentar

MEMANFAATKAN ASMAK SUNGE RAJEH UNTUK DATANGKAN HUJAN


Secara umum saat ini musim panas, meski di beberapa daerah sudah mulai hujan. Nah, agar musim panas tidak berkepanjangan dan kekeringan maka sebuah daerah/kawasan memerlukan hujan. Kita bisa memanfaatkan amalan Asmak Sunge Rajeh untuk menurunkan hujan. Cara yang biasa saya lakukan untuk menurunkan hujan sebagai berikut.

1. Cari tempat yang  lapang. Misalnya lapangan atau bukit. Pandanglah langit dalam posisi berdiri.

2. Anda sudah pernah mengamalkan Asmak Sunge Rajeh Madura Utara. (Cara pengamalan ada di blog kita)

3. Hembuskan nafas sampe udara di dada habis lalu tarik udara melalui hidung dan baca dalam hati doa ASR : INNA QUWWATIH NAKABAN NATAH KITABAN NATAH

4. Kembali ke nafas biasa dan tambahi dengan doa ini cukup dalam hati. Doanya:

WANAZZALNAA MINASSAMAA’I MAAAN MUBAAROKAN FA’ANBATNAA BIHI JANNAATIN WAHABBA ALHASHIIDI.

Doa ini ada dalam QS Qaaf ayat 9 yang artinya: “Dan Kami turunkan dari langit air yang banyak manfaatnya lalu Kami tumbuhkan dengan air itu pohon-pohon dan biji-biji tanaman yang diketam”

5. Setelah melaksanakan ritual di atas, segera mandi sampai bersih. Tunggu dengan sabar, tawakal dan pasrah sebab doa sudah kita laksanakan.

Demikian satu cara dan masih banyak cara lain pemanfaatan yang bisa dilakukan dengan ASR maupun dengan amalan-amalan lain. Anda punya kebiasaan dan cara lain? silahkan berbagi disini. Terima kasih. salam asah asih dan asuh.

@wongalus,2013

Categories: ASMAK SUNGE RAJEH | 37 Komentar

AL QURAN WASHILAH PETUNJUK DAN REZEKI


wongalus

DSCN1458

Dawamkan doa sebanyak 3 x ini setelah anda mengaji surat apapun, sambil anda mencium Al Qur’an yang ada di rumah masing-masing. Insya allah rejeki mengalir melalui washilah/lantaran kitab suci yang kita miliki. Monggo ini doanya:

ALLOHUMMAGHFIRLII BI ALQUR’AANI.
ALLOHUMMARHAMNII BI ALQUR’AANI.
ALLOHUMMAHDINII BI ALQUR’AANI.
ALLOHUMMARZUQNII BI ALQUR’AANI

Ya Allah, ampunilah aku dengan Al-Quran
Ya Allah, kasihilah aku dengan Al-Quran
Ya Allah, berilah petunjuk kepadaku dengan Al-Quran
Ya Allah, berilah rezeki kepadaku dengan Al-Quran.

@Wongalus,2013

Categories: AL QUR'AN WASHILAH REJEKI | 105 Komentar

Diproteksi: SEMBILAN ILMU HIKMAH PATRAP LAKU 63 HARI


Konten ini diproteksi dengan kata sandi. Untuk melihatnya cukup masukkan kata sandi Anda di bawah ini:

Categories: SEMBILAN ILMU HIKMAH PATRAP LAKU 63 HARI | Masukkan kata sandi Anda untuk melihat komentar.

AGENDA CANGKRUKAN RUTIN SETIAP KAMIS MALAM


ACARA SPESIAL:

1. PENGIJASAHAN  ILMU SHOLAWAT PENGGETAR  LANGIT  SAP PITU
2. PENGIJASAHAN ILMU MENGHILANG

HARI/TANGGAL: KAMIS MALAM, 17 OKTOBER 2013

PUKUL 20.00 WIB S/D SELESAI

TEMPAT: RUMAH KELUARGA KWA, MUSHOLA BALAI DIKLAT KAB SIDOARJO, JL MAJAPAHIT 5 (SEBELAH KOMPI SENAPAN, 100 METER SELATAN RSUD SIDOARJO).

SAUDARA KWA, SEDULUR SENASIB SEPENANGGUNGAN… MONGGO PINARAK, MONGGO MAMPIR, SILAHKAN HADIR…. KITA BERBAGI CANDA, SUKA, DUKA, BERKELUH KESAH, BERBAGI HIKMAH, BERBAGI CAHAYA DAN ILMU, SEKALIGUS REFRESHING LAHIR DAN BATIN. SEKEDAR UNTUK MELEPAS LELAH PUN BOLEHLAH…. SIAPA TAHU DISINILAH OASE PELEPAS DAHAGA HIDUP YANG SEJATI DI TENGAH KERINGNYA HIDUP YANG PENUH ANGKARA DUNIAWI

——————————————————————————————————————

TIDAK DIPUNGUT BIAYA/GRATIS. UNTUK KEGIATAN SOSIAL KEMANUSIAAN.

==================================================================1379388_573285846042358_928587703_nDSCN1152

DSCN1153

Categories: >>PERPUSTAKAAN UTAMA | 29 Komentar

IJAZAH ILMU PENGGERAK BHUMI


wongalus

Di tanah borneo, kita mengenal ilmu ini dengan nama ilmu saborat bhumi. Tahap sempurna pengamalan, semua kehendak Allah SWT akan menyatu dalam hidup perilaku kita.

Fadhilah: semua kebutuhan

TATA CARA:

TAWASSUL kirim al fatihah untuk Rasulullah SAW dst hingga pengijazah ilmu.

Wiridkan sebagai berikut

=============================================

BISMILLAHIRROHMANIRROHIM

KUP TANGAN KANAN KUP TANGAN KIRI

ALLAH MENGGERAKKAN BUMI DAN LANGIT

BOLEH BERGERAK BARULAH ENGKAU

LEPAS DARI TANGANKU

BERKAT DOA LAA ILAHA ILALLAH

BERKAT MUHAMMADARRASULULLAH

==================

SELAMA 1000 X selama 7 hari

Setiap selesai wirid 1000 x buka telapak tangan kanan dan kiri anda, lalu ludahi dengan ludah anda mulai tangan kanan terlebih dulu dan jangan dibersihkan hingga mengering sendiri.

=cara pengamalan=

baca doa di atas lalu ludahi kedua telapak tangan anda dan arahkan kepada obyek apapun yang anda hajatkan. Misalnya anda ingin banyak rejeki maka arahkan tangan anda ke selembar uang dan tunggu sehari dua hari. Bila butuh pengobatan maka arahkan tangan ke obyek yang sakit dan seterusnya.

Silahkan diamalkan. Bagi anda yang sudah terdaftar sebagai ANGGOTA KAMPUS WONG ALUS, saya ikhlaskan memiliki ilmu ini, salam persaudaraan selalu.

@wongalus,2013

Categories: ILMU PENGGERAK BHUMI | 143 Komentar

Blog di WordPress.com. The Adventure Journal Theme.