CARA MEMPERLUAS DUNIA


Dunia setiap orang berbeda-beda. Ada yang “luas” namun ada pula yang “sempit”. Semuanya tergantung pilihan.

Kita sering melewatkan kata “dunia” ini, seakan kita sudah tahu artinya secara benar. Biasanya kita mengartikan “dunia” dengan bumi dan planet, dan jagad raya seisinya. Namun benarkan makna dunia memang seperti itu?

Mengartikan dunia yang seperti itu konon terlalu sempit dan dangkal. Dunia tidak bisa disamakan dengan benda-benda fisik atau tempat beradanya benda-benda fisik. Dunia juga bukan lawan dari akhirat, sebagaimana biasa dipahami oleh kaum agamawan. Kalau dunia dipahami seperti itu, maka akan terjadi kekacauan bila nanti kita diharapkan pada masalah-masalah ketuhanan yang metafisik.

Sering kita mengamati betapa ada seseorang yang merasa bahwa dunia ini sangat luas. Namun ada juga seseorang yang merasa bahwa dunia ini terlalu sempit. Merenungkan hasil pengamatan itu, tidak salah bila dikatakan bahwa sesungguhnya dunia setiap orang itu berbeda-beda “luas dan ukurannya.”

Jadi, dunia bukanlah sebuah hal yang obyektif yang keluasannya bisa diukur dengan meteran. Dunia adalah sesuatu yang sangat subyektif. “Besar kecilnya” dunia, “indah buruknya” dunia semua tergantung pada masing-masing orang. Ada seorang bos kenalan saya yang setiap hari glebar-gleber ke luar negeri. Dari Jepang, langsung ke Italia. Dari Italia menuju Amerika mampir dulu di Inggris. Perjalanan keliling dunia dilakukan dalam hitungan jam. Suatu hari dia mengatakan kepada saya; “ndonyo saiki sempit,” ujarnya dengan mimik serius.

Bagi Cheng Hoo, Colombus, Marco Polo, dan lain-lain dunia mungkin dianggap sebuah wilayah yang sangat luas dan menggairahkan. Sedemikian luasnya hingga dia merasa perlu membuktikan kebenaran keyakinan tersebut. Juga bagi saya yang belum pernah sekalipun ke luar negeri, dunia adalah luas. Karena saya belum kemana-mana, jadi ya merasa bahwa dunia adalah wilayah yang belum sepenuhnya berhasil saya petakan di ingatan. Jadi bagi saya, dunia adalah sebuah wilayah yang belum dikenal (terra in cognita)

Meskipun pemahaman masing-masing orang tentang istilah dunia itu tidak simetris dan sama, namun kebanyakan kita meyakini bahwa dunia adalah sesuatu yang lebih bersifat psikologis dan filosofis dibanding yang fisis. Hampir semua sepakat bahwa setiap manusia memiliki cara pandang terhadap makna dunia yang berbeda-beda. Dan mengartikan makna dunia dalam frame sebuah cara pandang tentu saja lebih memberikan arti dan nilai yang lebih daripada sekedar mengartikan dunia sebagai “bumi dan seisinya”.

Dalam khasanah ilmu pengetahuan, makna dunia ternyata juga kebanyakan merujuk sebagai cara pandang. Orang jerman mengartikan pandangan dunia dengan istilah weltanschauung: (welt : dunia dan anschauung : persepsi), berarti persepsi tentang dunia. Di Italia digunakan istilah “konsepsi tentang dunia”, di Perancis kata “weltanschauung” dipinjam dan diartikan dengan “pandangan metafisis tentang dunia dan konsepsi kehidupan”, di Rusia disebut “mirovozzrenie” berarti pandangan dunia.

Dan semua setuju bahwa kata “worldview” harus diikat oleh predikat kultural, religius, ataupun saintifik. Jadilah, misalnya istilah Christian Worldview, Medieval Worldview, Scientific Worldview, Modern worldview dan the Worldview of Islam. Semua mempunyai cara pandang dunia yang ekslusif. Tapi semua orang tahu disitu bahwa dunia adalah sebuah cara pandang yang sifatnya subyektif.

Banyak lapisan makna didalam pandangan dunia (worldview). Membahas “worldview” seperti berlayar kelautan tak bertepi (journey into landless-sea) kata Nietsche. Meskipun begitu di Barat, dunia tetap hanya dibatasi sejauh jangkauan panca indera. Luasnya worldview bagi Kant, Hegel dan juga Goethe, hanya sebatas dunia inderawi (mundus sensibilis).Tapi bagi Shaykh Atif al-Zayn bukan luasnya yang penting, tapi darimana ia bermula, maka worldview adalah tempat bermula. Disitu dapat diketahui spektrum makna worldview. Sedangkan worldview bagi kaum waskita dan winasis pasti tidak sesempit luasnya lautan dalam planet bumi, tapi seluas skala wujud.

Nah, pandangan dunia yang mana sekarang yang kita pilih? Apakah mengartikan dunia dalam sebuah tempat yang sempit, ataukah cara pandang yang skala luasnya meliputi yang berwujud/ berada? Bila kita mengartikan dunia dalam arti yang pertama maka kita perlu bersiap untuk memasuki sebuah tempat yang sumpek dan pengap. Namun mengartikan dunia dalam arti yang kedua akan memberikan sebuah keluasan dan kelonggaran.

Dalam hidup di “dunia” ini akan lebih bijaksana kita merangkum pandangan dunia dengan cara menggunakan RASA SEJATI. Rasa sejati adalah alat epistemologis paling hakiki yang dimiliki manusia untuk memetakan sangkan paraning dumadi ini. Maka, manusia tidak bisa hanya menggunakan panca indera dan akal untuk memetakan kehidupannya dan bila ini yang terjadi maka manusia akan tercebur dalam ruang psikologis yang sempit. Dengan menggunakan RASA SEJATI YANG MELINGKUPI DIRI SEJATI MAKA SKALA UKURAN “DUNIA” MENJADI BEGITU LUAS TIDAK TERUKUR.

Bagaimana memperluas dunia? Di atas telah dijelaskan bahwa dengan menggunakan rasa sejati, maka dunia terasa begitu indah dan luas. Kita memandang manusia sebagai sahabat, bukan musuh. Kita memandang alam semesta sebagai satu kesatuan wujud ruh yang satu sehingga tidak ada kata lain selain harus menjaga, melindungi, menyayangi. Menyakiti satu unsur ruh, hakikatnya sama dengan menyakiti diri sendiri.

Ada cara yang paling mudah untuk semakin memperluas “ukuran” dunia rasa sejati ini. Yaitu dengan beramal. Beramal adalah mendermakan tenaga, doa, harta benda, uang, makanan minuman. Kepada siapapun, apakah itu kepada teman, sahabat, kerabat, saudara, tetangga, sedulur, atau bahkan orang yang tidak dikenal maka dermakanlah apa yang kita punya. Di sinilah kita juga dituntut untuk memiliki pemahaman bahwa arti MEMILIKI BUKAN TERLETAK PADA SEBERAPA BANYAK KITA MENGUMPULKAN SESUATU, NAMUN TERLETAK PADA SEBERAPA BANYAK KITA MEMBERI.

Derma atau amal akan memperbanyak sahabat dan saudara. Yang awalnya membenci dan memusuhi kita pun akhirnya bisa melembut dan menjadikan kita teman. Betapa nikmat hidup ini bila kemana pun kita bepergian akan berjumpa dengan sahabat, rekan atau saudara. Maka, dunia kita terasa begitu luas dan nyaman.

Ini tentu saja berbeda bila kemana-mana kita menganggap orang lain sebagai “musuh”, “penjahat”, “maling” yang akan menggerogoti harta benda kita. Orang yang seperti ini dunianya sangat sempit dan akhirnya kelak jika sudah meninggal, bumi pun enggan menerima jasadnya. Akhirnya kita bisa menyimpulkan. Bahwa ukuran dunia bagi Hitler dan Budha pasti berbeda. Berbeda pula luasnya antara dunia Muhammad SAW dengan dunia Westerling.  Bagaimana dengan  luasnya dunia Anda ????***

@wongalus. 2009

Categories: CARA MEMPERLUAS DUNIA | 11 Komentar

MENCARI GURU SEJATI (2)


pelatihan5Dengan Guru Sejati, kita mampu membaca secara mendalam dan menyeluruh apa hakikat segala sesuatu termasuk bencana alam.

Hari Kedua, Jumat Malam: Saya bertemu dengan Ki Sabda Langit di Gedung Hotel Orchids Garden, Batu Malang. Jam menunjuk pukul 19.00 Wib. Sejak pagi saya bersama dia berkoordinasi tentang persiapan-persiapan yang diperlukan untuk perhelatan pelatihan yang akan dibuka oleh Bupati Sidoarjo. Malam yang mendebarkan itu pun datang. Acara pelatihan Pengembangan Motivasi Spiritual dibuka dengan sambutan Drs. H. Win Hendrarso M.Si. Sambutan Bupati menggarisbawahi pentingnya manajemen stress dan pentingnya hidup dalam keseimbangan jasmani dan ruhani.

Selanjutnya, pelatihan dimulai dengan diputarkannya kaset sebuah serat kidung “Serat Wedhatama” dari Ki Narto Sabdo. Bulu kuduk saya berdiri mendengarkan suara magis yang dilantunkan. Bisik-bisik dengan Ki Sabda Langit, dia mengatakan bahwa saat itu Kanjeng Ratu Kidul juga hadir di tempat itu. Menurut Ki Sabda Langit, akal manusia sangat terbatas untuk memasuki pemahaman tentang hakikat segala yang ada. Manusia dikuasai oleh nafsu jasadnya sehingga susah untuk mengenali diri sejatinya. Kini, seseorang kebanyakan beribadah, namun belum mampu menembus hakikat ibadah tersebut. Pemahaman agamanya masih sebatas syariat. Oleh sebab itu, kita haruslah meneruskan proses syariat itu agar mencapai taraf hakikat dan bisa mencicipi makrifat.

Ki Sabda melanjutkan ada empat tingkat ibadah manusia untuk manembah dengan Gusti Allah SWT. Yang pertama adalah SEMBAH RAGA yaitu tapaning badan jasad kita. Yang kedua SEMBAH CIPTA, di Islam dinamai Tarekat, sembahnya hati yang luhur. Yang ketiga SEMBAH JIWA. di Islam dinamai Hakekat. Kalau sudah bisa melaksanakan sembah cipta baru bisa melaksanakan sembah jiwa. Artinya: rasakan dengan menggunakan rasa “kasukman” yang bisa ditemui dalam eneng, ening dan eling tadi. Tandanya adalah semua sembah, panembah batin yang tulus tidak tercampuri oleh rasa lahir sama sekali. Yang keempat adalah SEMBAH RASA, di Islam dinamai Makrifat. Sembah rasa itu adalah mengalami Rasa Sejati. Rasa sejati adalah apa yang dirasakan diri sejati dan diri sejati yang merupakan wahana Tuhan bersemayam di dalam diri manusia. Maka, pada tingkat makrifat ini, segala perilaku kita akan dituntun oleh Guru Sejati.

Hari Ketiga, Sabtu pagi: Saya mengontak Ki Sabda Langit agar bersiap senam pagi dilanjutkan dengan latihan meditasi olah pernafasan tenaga dalam dan meditasi samadhi. Bertempat di alam terbuka, sebelah kolam renang lobby Hotel Orchids Garden, Batu Malang. Awalnya, peserta diajak berjalan mengelilingi hotel. Selanjutnya peserta berkumpul dan dilakukan peregangan otot sambil menarik nafas dari hidung dan mengeluarkannya melalui mulut. Untuk meditasi samadhi, peserta bersila dalam posisi meditasi. Tangan berada di atas pangkuan menengadah ke atas dengan jempol disatukan dengan jari telunjuk. Selanjutnya tarik nafas dan mengeluarkan melalui mulut. “Konsentrasi pada satu hal saja. Misalnya pada Tuhan, saat menarik nafas kita bilang hu… saat mengeluarkan nafas, kita bilang Allah.. Inlah sholat Daim.” Ujar Ki Sabda.

Peregangan, meditasi olah pernafasan tenaga dalam dan meditasi samadhi dilaksanakan sekitar satu jam. Peserta merasakan banyak manfaat mengikuti sesi pagi ini. Banyak yang mengaku awalnya sakit dan capek-capek justeru menjadi bugar setelah mengikuti meditasi pernafasan tahap awal ini. Acara selanjutnya adalah pemberian materi. Dipaparkan Ki Sabda bahwa ada beberapa tahap sebelum pikiran benar-benar bisa merasakan titik yang paling hening tempat kesadaran diri sejati berada. Dimulai saat gelombang otak kita memasuki fase gelombang gamma, alta, teta, delta… dan akhirnya aktivitas biolistrik di otak benar-benar bergelombang paling rendah. Saat di gelombang terendah itulah “kita ini seperti tidur namun kita sebenarnya sadar penuh. Kita bisa mendengar dengkuran sendiri. Kita bisa melihat diri sejati kita yang sama persis dengan kita.” Ujar Ki sabda.

Masih banyak materi pelatihan yang menarik namun tidak bisa dipaparkan di kesempatan kali ini. Seperti, kunci agar doa bisa dikabulkan Tuhan. “Kita berdoa tidak seperti kita pesan makanan di restoran fastfood. Pesan langsung diantar. Ini doa yang sok tahu, sebab apa kita tahu bahwa keinginan kita ini lebih bagus dari keinginan Tuhan pada kita. Kita perlu pahami bahwa Tuhan bekerja dengan cara-cara yang misterius…” Acara disela dengan coffre break, sambil menunggu peserta yang ada di luar, peserta mendapatkan terapi pengobatan tenaga dalam dari K Sabda Langit. Banyak peserta mendapatkan penanganan langsung dari sang master. Sementara Nyai Untari melayani konsultasi nasib, peruntungan dan lain-lain. Nyai Untari sejak kecil memiliki bakat khusus dan talenta. “Saya ini tergolong indigo sejak anak-anak. Sejak kecil bisa melihat makhluk halus, dan peruntuntan nasib seseorang. Ini kemampuan dari Tuhan jadi harus saya syukuri agar bermanfaat untuk orang lain,” ungkap Nyai Untari. Acara dilanjutkan.

Ki Sabda mengatakan bahwa kita harusnya memperbanyak rasa sukur pada Gusti yang Maha Welas Asih. “Perbanyaklah bersyukur. Apa kita bisa menghitung pemberian Tuhan perdetik saja yang begitu banyak… Otak kita, udara, nafas, denyut nadi, tubuh semuanya bekerja normal. Belum lagi keluarga, saudara, teman yang sehat, silaturahim dan lain-lain… Perdetik ini… coba hitung berapa banyak pemberian-Nya?” Ki Sabda mengingatkan untuk mencapai keluhuran hidup dan kejayaan pasti ada tebusannya. Tidak ada yang gratis di dunia ini. “Laku prihatin harus dilakukan agar kita bisa mencapai kejayaan. Kini bangsa kita sedang krisis di segala bidang. Bencana ada dimana-mana. Inilah hakikat bencana, yaitu momentum laku prihatin yang nanti pasti ada tebusannya. Yaitu kejayaan bangsa,” ujar Ki Sabda Langit optimis.

Akhirnya, Sabtu siang pukul 12.00 WIB acara diakhiri. Peserta dan panitia sudah mendapatkan banyak ilmu dari dua trainer yang waskita dari Yogyakarta ini. Kami pun berpamitan. Saya pulang ke Sidoarjo bersama rombongan keluarga besar Pemkab Sioarjo dan Ki Sabda Langit-Nyai Untari pamit pulang ke Yogya melewati Kediri. Terima kasih Ki dan Nyai, selamat jalan dan dari panjenengan berdua kami mendapatkan input yang berharga untuk mengenali diri sejati yang merupakan guru sejati masing-masing. pelatihan8 pelatihan3

pelatihan1

pelatihan4

@.Wong Alus. 2009

Categories: MENCARI GURU SEJATI 2 | 22 Komentar

SILATURAHIM KWA 2009 (1)


mas kumitir & sabda langitTiga hari tiga malam, kami bertemu untuk sebuah tugas berat. Tugas yang dituntun oleh guru sejati itu bermaksud untuk berbagi pengalaman apa yang kami alami dalam olah rasa pangrasa, yang mungkin berbeda dengan yang dialami para sedulur yang lain. Tujuannya: mengembalikan kejayaan nusantara yang kini dilanda krisis budaya, moralitas, mental dan spiritual. Inilah laporan tiga hari bersama KI SABDA LANGIT.

Hari Pertama, Kamis Sore: Saya bertemu dengan Ki Sabda Langit di Balai Diklat Pemkab Sidoarjo pukul 16.00 Wib. Ini adalah pertemuan kedua kali setelah sebelumnya saya bertemu di Yogyakarta sehari sebelum lebaran. Ini adalah pertemuan reuni kedua kali setelah sekian lama terputus oleh jarak dan waktu. Sekilas flashback: Dulu, kami berjumpa untuk pertama kali pada tahun 1990 di Kampus Universitas Gadjah Mada. Kami sama-sama menuntut Ilmu Filsafat di universitas ndeso itu. Inlah masa-masa dimana kami berproses bersama untuk mencari tahu, apa hakikat hidup yang sebenarnya. Karena ilmu filsadat adalah ilmu yang mengandalkan olah akal/rasio maka kami pun mencoba untuk menjawab hakikat hidup dengan akal. Ditempa oleh lingkungan kampus yang begitu idealis, kami menjadi pribadi-pribadi yang punya niat kuat untuk terus mencari hakikat hidup. Tidak lekas percaya pada mitos, kepercayaan, ajaran yang tidak bisa dibuktikan dengan pengalaman. Bagi kami, ajaran apapun tidak ada yang sakral dan magis. Semuanya ajaran harus dibongkar dan dibaca ulang kembali. Tuhan harus dicari dengan akal. Hati nurani untuk sementara disisihkan/dikalahkan. Tidak jarang, kami para mahasiswa dituduh kafir dan sesat karena ideology terbuka ini. Bagi kami, tuduhan dan cercaan adalah cambuk bagi kami untuk membuktikan diri bahwa meskipun Tuhan kami “tiadakan” untuk sementara waktu tapi kami yakin bahwa Tuhan akan memberi petunjuk pada orang-orang yang sesat. Saya dan Ki Sabda Langit adalah salah satu dari beberapa teman Mahasiswa Filsafat yang dipilihkan untuk mendapatkan bimbingan studi dari Prof Dr Damardjati Supadjar. Pikiran-pikiran Pak Damardjati yang begitu inspiratif ternyata menaburkan benih-benih kreativitas untuk menemukan Tuhan dengan cara yang berbeda-beda. Ini sesuai dengan sifat Tuhan yang Maha Terbuka, Maha Kreatif dan Maha Bisa Ditemukan dengan Cara Apapun Juga. Apakah itu Bejo yang menganut Hindu, apakah itu Nuraji yang beragama Katolik, apakah itu Ahmad yang beragama Islam, atau Kamdali yang tidak mengenal agama…semuanya berhak untuk bertemu dengan Tuhan. Semuanya tidak ada yang kebetulan. Ada blue print rencana-rencana-Nya yang kadang awalnya kami tidak tahu hakikatnya. Namun hakikat itu akhirnya ditemukan setelah kejadian.

Pertemuan sore ini dengan Ki Sabdalangit juga merupakan pertemuan yang tidak kebetulan. Suatu ketika, di suatu malam saya mendapatkan “pencerahan” bahwa sumber semua malapetaka adalah lupa pada sangkan paraning dumadi. Bahwa semua sumber keberadaan manusia ini sejatinya adalah YANG MAHA SATU. Yang Maha Satu (disebut banyak sebutan: Tuhan, Gusti Alah, Allah SWT, Yahweh, Hyang Widi dll) memberi pengajaran bahwa manusia akan mendapatkan malapetaka (bencana alam dll) bila melupakan hukum sebab akibat/hukum karma/sunatullah. Maka, diperlukan sebuah pencerahan bersama agar manusia kembali awas, eling lan waspada dan mampu membaca bahasa alam yang merupakan sastra jendra/kitab suci yang sesungguhnya/papan tanpo tulis ini.

Setelah kontemplasi dan meditasi yang tidak sebentar pilihan saya jatuh pada Ki Sabda Langit jadi narasumber Pelatihan Motivasi Spiritual untuk pejabat eselon di Kabupaten Sidoarjo. Sebagaimana diketahui bersama, Sidoarjo adalah daerah yang sedang kena “musibah” bencana lumpur Lapindo yang belum mampet hingga saat ini. Tujuh desa hilang dari peta, dan masih banyak wilayah di Kecamatan Porong yang kena dampak lumpur. Tidak terhitung kerugian masyarakat. Tidak hanya Sidoarjo, namun juga Jawa Timur dan Indonesia akibat adanya lumpur yang merupakan “keajaiban dunia” ini.

Dipilihnya Ki Sabda bukan tanpa alasan. Alasan saya: beliau sangat berkompeten untuk berbagi kawruh tentang pencerahan spiritual lintas agama dan pemahamannya yang universal membantu untuk memberikan penjelasan tentang spiritualitas tanpa terkotak-kotak dalam pandangan yang sempit. Dia tidak hanya berteori namun nglakoni dengan pengalaman pribadi. Latar belakang hidupnya yang kental dengan budaya Jawa akan turut serta menyebarluaskan perlunya kembali nguri-uri kabudayal lokal yang penuh kearifan (local genius).

Kami pun kontak-kontakan dan kami sepakati bahwa sebelum pelatihan yang digelar 16-17 Oktober 2009 tersebut, akan diadakan sekaligus SARESEHAN MENGGALI BUDAYA LOKAL” bertema REFLEKSI BENCANA ALAM SEBAGAI PERINGATAN MANUSIA AGAR KEMBALI KE JATI DIRI YANG MENGHARGAI KEARIFAN BUDAYA NUSANTARA pada tanggal 15 Oktober.

Diklat Pemkab Sidoarjo, 15 Oktober 2009. Pukul 19.00. Gedung Balai Diklat tempat saresehan masih sepi. Hanya terlihat ramai di salah satu ruangan dosen. Di situ, tampak Ki Sabdalangit, Nyai Untari (Isteri), Mas Kumitir dan Ki Camat bercengkrama sambil menunggu datangnya peserta saresehan. Awalnya, saya ragu apakah saresehan informal ini jadi terselenggara atau tidak. Maklum saja, tidak ada konformasi kehadiran resmi sebegaimana biasanya disyaratkan oleh panitia sebelum digelarnya sebuah perhelatan. Sehingga saat saya ditanya Ki Sabda, berapa peserta yang hadir saya tidak bisa menjawab. “Lha nggak tahu ki, tidak ada yang konformasi kehadiran kecuali hanya dua orang menulis di komentar blog wongalus dan menyatakan akan hadir,” jawab saya sekenanya. Maka, acara ini benar-benar diselenggarakan secara “gaib.” Betapa tidak, acara terselenggara tanpa ada panitia. Saya hanya meminta Pak Jaini dan Bu Jaini (penjaga Diklat) untuk membikinkan minuman teh hangat, merebus kacang dan singkong, serta membelikan dus aqua gelas. Sementara Ki Sabda membawa makanan khas Yogya: Bakpia Pathok dan beberapa makanan lain.

Mas Kumitir hanya tersenyum-senyum saat yang terlihat hadir hanya satu orang. Namun, saya tetap tenang. “Nggak jadi saresehan juga nggak masalah kok, Tuhan pasti punya rencana yang lain,”. Begitu pikir saya yang mencoba sumeleh dengan apa yang telah kita upayakan. Namun, saya malah punya ide lain bila acara ini tidak dihadiri manusia. Yaitu akan mengundang wong-wong alus di Sidoarjo untuk mendengarkan arahan Ki Sabda. “Kalau manusia sudah enggan diajak belajar olah rasa bersama, maka biarlah para makhluk halus/gaib saja yang belajar. Biarlah nantinya mereka lebih pintar dari manusia… hehe” Kata saya dalam hati setengah berkelakar. Ternyata dugaan keliru. Satu persatu peserta datang dari berbagai daerah. Mulai Lumajang, Probolinggo, Malang, Surabaya dan kota-kota lain di Jawa Timur. Mereka sengaja datang jauh-jauh dari berbagai kota untuk ngangsu kawruh bersama. Sayangnya, karena acara saresehan ini tidak ada panitianya, maka saya tidak sempat menyediakan buku tamu. Jadi mohon maaf! Nah, estimasi yang hadir saresehan sampai selesai akhirnya berjumlah sekitar empat puluh orang. Para peserta inilah yang punya niat dan tekad yang kuat untuk membaca fenomena alam dengan kebeningan hati nurani.

Bagi saya pribadi, tidak jadi soal berapapun jumlah peserta. Yang jelas saya percaya pasti Tuhan tidak akan tinggal diam. Dia akan mengutus manusia (berapapun jumlahnya) untuk belajar memahami misteri bencana alam dengan sudut pandang rasa pangrasa.

Dimoderatori oleh Ki Camat Krian Kab Sidoarjo, H.M Bahrul Amig, S.Sos, MM acara dibuka dengan salam. Ki Camat yang terkenal karena karya-karya kreatif, brilian dan menggunakan rasa pangrasa untuk membuat kebijakan publik semasa bertugas ini menyampaikan bahwa apapun yang lahir dari nurani yang tulus dan bersih akan dirasakan sebagai karya yang baik, tidak membuat residu (sampah) sebagaimana alam semesta yang berdiri di atas prinsip keikhlasan. Namun sebaliknya, residu hadir ketika hadir manusia yang tidak ikhlas. “Sumber kerusakan bumi adalah perbuatan manusia yang punya kecenderungan mengeksploitasi alam sak karepe dhewe” ujar Ki Camat.

Mendengarkan hal ini, Mas Kumitir (nama Aslinya Ali Aqsa) yang duduk di sebelah Ki Sabda Langit mengangguk-angguk tanda setuju. Mas Kumitir memang orang yang pendiam, banyak senyum, ramah bersahabat dan ringan tangan. Di balik wajahnya yang ganteng dan meditatif, sejatinya dia manusia terpilih karena kemampuannya untuk bersabar dalam ujian yang tidak tanggung-tanggung. Dia adalah seorang yang sampai sekarang memiliki guru pembimbing dari leluhur yang sudah ada di alam kelanggengan. Mas Kumitir terbiasa untuk mendapatkan petunjuk dari leluhur dengan cara yang bagi kalangan kebanyakan dianggap tidak masuk akal; melalui telepon dan SMS. Kadang nomor telpon si penelpon/pengirim SMS itu pun aneh dua, tiga, atau Cuma empat digit. Bahkan tak jarang nomor penelponnya 0 (nol). Perintah kepada Mas Kumitir pun kadang membuat jidat berkerut. Misalnya, diminta mengosongkan dompet tanpa uang sepersenpun untuk diberikan pada pengemis dan seterusnya. Atau pernah suatu ketika diminta bepergian dari kota ke kota tanpa tujuan yang jelas. Sang Pembimbing ini sudah menemani Mas Kumitir selama belasan tahun lalu. Itu sebabnya, dia sampai sekarang termasuk manusia yang dipandang mampu mengemban amanah sebagai jembatan penghubung alam nyata dengan alam ghaib. Aneh tapi nyata bagi kebanyakan orang. Namun bagi Ki Sabda dan sedikit para waskita/winasis apa yang dilakoni Mas Kumitir adalah sebuah tugas mulia. “Waktu yang akan membuktikan…” ujar Ki Sabda.

Nara sumber Ki Sabda Langit mulai dengan paparannya. Bencana alam terjadi di mana-mana. Bencana ini bukan sebagai cobaan bagi manusia. Namun teguran agar kita kembali harmoni dengan alam berdasarkan atas hukum alam/hukum sebab akibat. Manusia harus mampu membaca kehendak alam dan kehendak Tuhan. Kehendak Tuhan hanya bisa dibaca dengan mata batin yang bersih dari hawa nafsu yang mengotori manusia. Manusia yang hanya mengandalkan akal saja untuk menganalisa fenomena alam tidak akan mampu membaca kehendak alam. “Lumpur Lapindo sudah seharusnya terjadi. Akibat manusia yang mengabaikan hukum sebab akibat. Sebabnya, manusia tidak lagi menghargai alam. Awalnya terjadinya kenapa lumpur lapindo meluber adalah karena manusia tidak mengetahui dan menghargai keberadaan alam gaib. Di atas bumi ada mahluk gaib, di bawah bumi juga ada.

Suatu ketika, mata bor di sumur Banjar Panji 1 (pusat semburan Lumpur Lapindo) mengenai tubuh mahluk gaib perempuan (orang jawa menyebut makhluk ini naga perempuan). Makhluk gaib, naga laki-laki marah dan kemudian merusak lobang sumur pengeboran selama tiga bulan. Berbagai upaya penutupan pusat semburan dengan mengandalkan ilmu pengetahuan rasional terbukti gagal total,” ujar Ki Sabda.

Ki Sabda melanjutkan, bahwa bila saat itu pengambil kebijakan publik menggunakan rasa pangrasa maka penanganan secepatnya bisa menghentikan semburan lumpur. Namun apa yang terjadi? Pengambil kebijakan masih belum mampu membaca fenomena ini dengan kebeningan jiwa. “Jogjakarta dulu adalah kawasan semburan lumpur juga. Para pendahulu menggunakan rasa pangrasa untuk menutup lobang semburan ini dengan logam yang berbentuk gong. Jenis logam yang digunakan sebagai penutup adalah logam yang bisa bersenyawa dengan lumpur” jelasnya. Namun, bila upaya ini dilakukan sekarang pasti sudah sangat terlambat. Lumpur sudah menyembur tiga tahun lamanya. Artinya, hukum alam adalah hukum sebab akibat dan tidak bisa diulang lagi. (BERSAMBUNG)

kumitir, sabda

sarasehan1

sarasehan4

sarasehan5

sarasehan8

ki camat & ajid@wongalus, 2009

Categories: >>PERPUSTAKAAN UTAMA | 38 Komentar

AMALAN BERTEMU BUTO IJO


Jenis makhluk halus ini biasa dimintai bantuan oleh para dukun dan paranormal untuk mempercepat mendatangkan uang dan kekayaan materi dengan hebat.

Saat kita bernegosiasi bisnis, mereka akan menggedor hati lawan bisnis untuk menyerahkan pada kita. Saat kita berjualan rumah, mobil dst mereka akan membantu kita mendapatkan keuntungan sebanyak-banyaknya. Saat kita berjualan, maka pembeli akan dirayu buto ijo untuk membeli di di tempat kita. Tidak ke tempat penjual lain. Buto ijo bisa Anda temukan di bank-bank. Buto ijo adalah satpam gaib yang setia menunggui lembaga keuangan agar terbebas dari pencurian tuyul.

Namun sayangnya sebagaimana yang terjadi saat kita bermufakat dan meminta sesuatu dengan jenis makhluk halus apapun maka mereka akan minta tumbal atau imbalan baik yang ringan maupun yang berat. Begitu juga dengan buto ijo, apabila kita sudah meminta bantuan maka mereka akan meminta imbalan baik berupa sesajen atau nyawa. Ya, di alam gaib pun tidak ada sesuatu yang gratis. Mereka akan bertransaksi dengan kita. Persis dunia bisnis era sekarang.

Saya sama sekali tidak menyarankan Anda untuk berhubungan dengan Buto Ijo karena kebanyakan mereka memiliki watak yang brangasan, ngawur dan tidak terkontrol. Tapi bila Anda sekedar ingin membuktikan apa dan bagaimana kehidupan mereka dan cara mencari informasi langsung dengan bercakap-cakap dengannya, atau ingin membuktikan bahwa dunia gaib itu benar-benar ada untuk mendukung kepercayaan pada Gusti Allah SWT, maka amalannya sebagai berikut:

Sesajen yang perlu disiapkan: kembang setaman, menyan arab, dupa cina (sebelas biji) dinyalakan sambil baca mantra berulang-ulang sampai buto ijo datang, ayam kampung (tujuh ekor), air putih di kendi, wewangian lain, madat yang mahal. Semuanya diletakkan di nampan anyaman bambu tradisional dan diletakkan di tempat beradanya buto ijo.  Mantra yang biasa saya baca:

Aku si Wong Alus, aku teko ngger
Lengkap karo kakang kawah adi ari-ariku
Keblat papat limo pancerku yo iku aku
Tumekaning si jabang bayi
Buto Ijo kancaku sing bagus
tak jaluk mreneyo
Iku aku si wong alus
Ono sing perlu tak omongke
Marang awakmu.
Tak tunggu saiki tekoo mrene…

Sesaat kemudian menunggu, buto ijo akan datang dan memakan sesajen yang kita siapkan. Lalu, setelah kenyang mereka akan siap ngobrol atau melayani apapun permintaan kita.

Ini hanya sekedar informasi saja. Bila ingin memanfaatkan jasa Buto Ijo, yang perlu dipertimbangkan untung ruginya bagi kehidupan kita, dunia akhirat. Terima kasih.

@ wongalus. 2009

Categories: AMALAN KETEMU BUTO IJO | 45 Komentar

ILMU SEJATI


Ilmu sejati menerangkan bahwa manusia benar-benar abadi tidak bisa mati, kebal segala macam bahaya apapun dan bahagia tidak pernah duka, kaya tidak pernah miskin. Ilmu sejati adalah ilmu mengenali diri sejati. Inilah kunci ilmu kesaktian yang sesungguhnya.

Falsafah hidup yang ideal tidak hanya menjadi pedoman hidup di dunia fisik ini saja, melainkan harus masuk ke kehidupan yang sejati yang metafisik. Bila diminta memilih dunia: fisik atau metafisik, maka jatuhkan pilihan pada yang terakhir saja. Sebab dunia fisik akan lenyap seiring dengan dimasukkannya jasad ke dalam kubur, sementara dunia metafisik kita akan langgeng abadi sepanjang masa.

Tujuan hidup manusia adalah mengisi hidup dengan diri yang sejati. Dunia adalah persinggahan sementara diri sejati sebelum menempuh perjalanan-perjalanan lain yang sangat panjang. Sayangnya, di persinggahannya yang sementara ini kebanyakan justeru diisi oleh diri-diri palsu. Maka hidup di dunia yang menekankan pada diri-diri palsu, harus bersiaplah untuk terseok dan tersungkur kapan saja.

Pada diri yang palsu, keakuan atau ego SANGAT DOMINAN dalam mengambil keputusan-keputusan. Saat kita dihadapkan pada pilihan, memilih isteri yang cantik atau memilih isteri yang moralnya baik, maka kita langsung menjatuhkan pilihan pada isteri cantik. Saat kita dihadapkan pada pilihan mengambil uang negara (korupsi) sehingga cepat kaya atau hidup miskin namun tenang, kita langsung menjatuhkan pilihan pada jadi koruptor. Kita saat itu sadar, resiko jadi koruptor adalah masuk penjara. Namun kesadaran kita hanya mucul dari lapisan jiwa terluar saja. Belum muncul dari lapisan jiwa yang terdalam dimana DIRI SEJATI berada.

Keputusan yang muncul akibat tidak mendengarkan suara diri sejati yang tergencet oleh akal sehat dan nafsu ego, adalah penyesalan. Kenapa menyesal? Sebab akibatnya fatal. Seluruh wujud kita akan mengalami akibat yang mengerikan. Akibat fatal ini bagi setiap orang berbeda-beda tergantung pada peristiwa apa diri palsu itu mendominasi kita.

Pada suatu ketika, kita dihadapkan pada pilihan menyalip atau tidak ketika ada truk gandeng melaju perlahan sehingga menghalangi laju kendaraan kita. Pikiran sadar mengatakan JANGAN, karena berbahaya menyalip. Apalagi jalur kendaraan hanya ada dua. Namun, nafsu ego mengatakan TERUSKAN menyalip agar cepat sampai tujuan. Pilihan akhirnya dijatuhkan dengan cepat oleh gerakan refleks bawah sadar…. brakkkkk…. kendaraan kita dihantam kendaraan lain dari jalur berlawanan.

Menuruti diri palsu ego kadang memuaskan (untuk sementara waktu), namun kepuasan itu sifatnya hanya sementara. Akan lahir berkembang keinginan demi keinginan lain yang harus dipuaskan. Itulah watak diri palsu: senang sesaat, tidak pernah puas… Memuaskan keinginan nafsu ego, maka perkembangan spiritual dan mental berada pada posisi stagnan, mandeg. Bahkan mengalami kemunduran.

Hal ini berbeda ketika kita banyak menuruti DIRI SEJATI. Diri yang sejati akan membuat perkembangan spiritual kita bergerak aktif dan dinamis. Bila ulat mampu bermetamorfisis menjadi kupu yang indah, maka diri sejati akan bermetamorfosis menjadi diri yang MOKSA. Diri yang manunggal dengan iradat-Nya. Duh, alangkah indahnya manusia yang sampai pada tahap ini?….

Kita perlu sadar bahwa di dalam terkadang pilihan alternatif yang tersedia tidak banyak. Mungkin ada dua, tiga, lima. Mungkin pula kadang hanya ada satu bahkan tidak ada alternatif sama sekali. Perlu dipahami, bahwa sesungguhnya ada tidaknya alternatif itu tergantung pada sumber mana yang kita akses: diri palsu ego atau diri sejati? Pada diri palsu ego, alternatifnya hanya sekedar apa yang teralami dengan indera saja. Kenikmatan, kesuksesan, kejayaan jasad/fisik adalah hukum alam dari hasil akhir proses menuruti diri palsu.

Belajar dari sejarah kepemimpinan, tidak ada satupun pemimpin sebuah komunitas bangsa yang lahir dari diri palsu akan mampu bertahan abadi melintasi jaman. Kejayaan dan kelanggengan nilai-nilai yang ditebar pemimpin bobrok akan membawa kehancuran dan degradasi nilai-nilai kemanusiaan. Baca riwayat Hitler, bagaimana sang diktator ini harus mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri secara tragis. Dan contoh-contoh lain yang lebih mengerikan lagi.

Pada suatu ketika, manusia akan mengalami penyesalan. Kenapa menyesal? Penyesalan adalah pemberontakan dari diri sejati yang sudah begitu lama dikubur dan dimatikan. Namun, ia tidak benar-benar bisa tewas. Diri sejati akan tetap hidup. Ia menyuarakan kehendak untuk kembali ke jalan yang benar. Tidak sesat dan sasar. Sayangnya, di dalam hidup kita lebih suka mendustai bahkan menolak hadirnya suara dari dalam diri sejati.

DIRI SEJATI bisa dirasakan pada TITIK PALING HENING MEDITASI, SEMEDHI, MALADIHENING. Pada DIRI SEJATI munculnya KESAKTIAN merupakan hal yang sangat biasa. SEGALA DIMENSI GAIB DAN METAFISIK TERBUKA TERANG BENDERANG.

Namun, pada hakikatnya diri sejati tidak boleh hanya dirasakan da disadari belaka. Sebalinya, jadikan seluruh kemanusiaan kita ini dengan totalitas DIRI SEJATI YANG MENYINARI BERPERILAKU SEPANJANG HIDUP MANUSIA. Yaitu bila perjalanan (tarekat) mengolah rasa sudah sampai ke pendakian tertinggi perjalanan spiritual. Mencapai makrifat yang merupakan wujud diri sejati inilah yang harusnya menjadi tujuan hidup kita.

Salah satu ajaran mistik Jawa yang membabar soal menjadi diri sejati terkandung dalam serat Dewaruci. Serat Dewaruci merupakan karya sastra suluk yang secara keseluruhan bernilai mistis. Nilai-nilai yang termuat dalam alur cerita Sang Bima mencari diri sejati disimbolkan dengan pencarian “Air Perwitasari.” oleh Bima. Yaitu air yang membuat abadi bagi peminumnya.

Serat ini menceriterakan upaya bagaimana manusia dalam kehidupannya dapat mencapai diri sejati. Yitu diri yang mampu menciptakan keasrian, ketentraman dan kelestarian dunia. Salah satu moralitas ajarannya yaitu memayu hayuning bawana dan memayu hayuningrat. Suradira jayaningrat lebur dening pangastuti: sifat pengasih akan meleburkan segala kejahatan.

Serat Dewa Ruci membeberkan konsep ngelmu “MANUNGGALING KAWULA GUSTI, PAMORING KAWULA GUSTI, JUMBUHING KAWULA GUSTI, WARANGKA MANJING CURIGA CURIGA MANJING WARANGKA.” Yaitu diri sejato yang tidak lagi mengalami suka duka. Ia akan berseri bagaikan bulan purnama menyinari bumi, membuat dunia menjadi indah. Di dunia ia menjadi wakil Tuhan (wakiling Gusti), menjalankan kewajiban-kewajiban-Nya dan memberi inspirasi kepada manusia yang lain.

Ia mampu mendengar, merasa, dan melihat apa yang tidak dapat dikerjakan oleh manusia yang masih diselubungi oleh kebendaan, syahwat, dan segala kesibukan dunia yang fana. Tindakan diri manusia semata-mata menjadi laku karena Tuhan

Bima telah mencapai tahap makrifat, di antaranya ia merasakan: keadaan dirinya dengan Tuhannya bagaikan air dengan ombak, nikmat dan bermanfaat, segala yang dimaksud olehnya tercapai, hidup dan mati tidak ada bedanya, serta berseri bagaikan sinar bulan purnama menyinari bumi.

Wujud diri sejati meliputi segala yang ada di dunia, yang hidup tidak ada yang menghidupi, yang tidak terikat oleh waktu, yaitu Yang Ada telah berada pada Bima, telah menunggal menjadi satu. Jika telah manunggal penglihatan dan pendengaran Bima menjadi penglihatan dan pendengaran-Nya.  Badan lahir dan badan batin Suksma telah ada pada Bima, hamba dengan Tuhan bagaikan api dengan asapnya, bagaikan air dengan ombak, bagaikan minyak di atas air susu.

Setelah manunggal dengan Gusti, dia tidak merasakan rasa khawatir, tidak berniat makan dan tidur, tidak merasakan lapar dan mengantuk, tidak merasakan kesulitan, hanya nikmat yang memberi berkah karena segala yang dimaksud dapat tercapai. Hal ini menyebabkan Bima ingin manunggal terus. Ia telah memperoleh kebahagiaan nikmat rahmat yang terkandung pada kejadian dunia dan akhirat. Sinar Ilahi yang melahirkan kenikmatan jasmani dan kebahagian rohani telah ada pada Bima. Itulah surga.

Pada tahap ini, apa yang diniatkan diri sejati akan terwujud. KUN FAYAKUN. Bahkan, hukum alam taklum dalam hukum Ilahi. Keajaiban itu terjadi sewaktu hamba dalam kendali Ilahi.

Hidup dan mati tidak ada bedanya karena dalam hidup di dunia hendaklah manusia dapat mengendalikan atau mematikan nafsu yang tidak baik dalam dalam kematian manusia akan kembali menjadi satu dengan Tuhannya. Mati merupakan perpindahan rohani dari sangkar kecil menuju kepada kebebasan yang luas, kembali kepada-Nya. Dalam kematian raga nafsu yang tidak sempurna dan yang menutupi kesempurnaan akan rusak. Yang tinggal hanyalah Suksma. Ia kemudian bebas merdeka sesuai kehendaknya kembali manunggal kepada Yang Kekal.

Setelah mengetahui, menghayati, dan mengalami manunggal sempurna antara diri sejati dengan SANG DIRI SEJATI karena mendapatkan wejangan Dewaruci, hatinya terang seperti kuncup bunga yang mekar. Dewaruci kemudian muksa. Bima kembali kepada alam dunia semula.. Sebab, bagaimana pun kita masih manusia yang punya jasad/ tubuh. Nafsu jasad/kebutuhan biologis tidak dihilangkan namun dimenej dengan sebaik-baiknya untuk dituntun dengan diri sejati. @@@

Categories: ILMU SEJATI | 24 Komentar

EMPAT PENDEKAR GAIB SUNAN KALIJAGA


Siang dan malam keempat pendekar gaib ini setia menunggu kita. Saat genting dan bahaya, dia menyeret kita ke tempat yang aman. Saudara penjaga gaib ini bukan jin bukan pula gendruwo.

Semakin lama belajar ajaran-ajaran leluhur Jawa, kita akan semakin terkagum-kagum pada para nenek moyang. Ilmu yang mereka ajarkan tidak bertentangan dengan agama, bahkan sesuai dan memperkaya pemahaman agama yang kita anut.

Sayangnya banyak yang masih memandang sebelah mata ajaran para leluhur Jawa ini. Bahkan ada yang menuduhnya sebagai syirik, khurofat dan takhayul. Para penuduh ini mungkin lupa, bahwa ajaran Jawa disampaikan secara sederhana agar mudah dipahami orang Jawa. Memang, para leluhur kita kadang tidak fasih melafalkan kata-kata Arab. Para leluhur ini juga orang yang masih gagap iptek. Namun, jangan salah sangka dulu.

Dari segi kebijaksanaan, ngelmu batin dan olah rasa para nenek moyang kita dulu bisa diandalkan. Mereka adalah para waskita yang mampu membangun candi Borobudur, Prambanan dan mampu membuat sebuah bangunan dengan ketepatan geometris dan geologis. Tidak kalah oleh nenek moyang bangsa Mesir yang mampu membangun piramida, atau nenek moyang suku Inca, bangsa Peru yang bisa membangun Manchu Picchu.

Saat agama Islam masuk ke nusantara, sementara di Jawa saat itu sudah berkembang agama Hindu, Budha dan berbagai kepercayaan animisme, dinamisme, politeisme. Islam melebur secara pelan dan damai, berasimilasi serta berosmosis tanpa pertumpahan darah. Islam agama damai dan tidak memaksa. Orang Jawa bersifat pasrah, sumeleh, sumarah, ikhlas dan mengandalkan rasa pangrasa. Jadi? Klop sudah!

Bagi orang Jawa, masuknya Agama Islam yang kaya dengan aspek kebatinan (tasawuf) sangatlah tepat. Orang Jawa pun tidak kebingungan dengan ajaran-ajaran mistik yang ada di dalamnya. Namun orang Jawa berhasil menyederhanakan ajaran-ajaran mistik ini dengan terminologi dan kalimat-kalimat sederhana dan mudah dimengerti. Harap maklum saja, orang Jawa dulu mayoritas hidup di pedesaan yang sederhana dan tidak banyak berwacana ilmiah.

Salah satu ajaran Kejawen yang membahas tentang adanya malaikat pendamping hidup manusia adalah SEDULUR PAPAT LIMO PANCER. Pancer adalah tonggak hidup manusia yaitu dirinya sendiri. Diri kita dikelilingi oleh empat makhluk gaib yang tidak kasat mata (metafisik). Mereka adalah saudara yang setia menemani hidup kita. Mulai dilahirkan di dunia hingga kita nanti meninggal dunia menuju alam barzakh (alam kelanggengan).

Sebelum hadirnya agama Islam, orang Jawa tidak memahami konsep malaikat. Maka mereka menyebut malaikat penjaga manusia dengan sedulur papat. Konsep “sedulur papat” ini oleh orang Jawa ditamsilkan melalui sebuah pengamatan/niteni.

Mulai saat janin tumbuh di perut ibu, janin dilindungi di dalam rahim oleh ketuban. Selanjutnya adalah ari-ari, darah dan pusar. Itulah saudara manusia sejak awal dia hidup dan selanjutnya “empat saudara” ini kemudian dikubur. Namun orang Jawa Percaya bahwa “empat saudara” ini tetap menemani diri manusia hingga ke liang lahat.

Karena Air Ketuban adalah yang pertama kali keluar saat ibu melahirkan, orang Jawa menyebutnya SAUDARA TUA. Saudara ini melindungi jasad fisik dari bahaya. Maka ia adalah SANG PELINDUNG FISIK.

Selanjutnya yang lebih MUDA adalah ari-ari, tembuni atau plasenta. Pembungkus janin dalam rahim. Ia melingkupi tindakan janin dalam rahim yang kemudian mengantarkan kita ke tujuan. Maka ia adalah SANG PENGANTAR.

Saudara kita selanjutnya adalah DARAH. Darah ini membantu janin kecil untuk tumbuh berkembang menjadi bayi lengkap. Darah adalah SARANA DAN WAHANA IRADAT-NYA pada manusia. Darah bisa disebut nyawa bagi janin. Maka, darah disebut dengan PEMBANTU SETIA MANUSIA MENEMUKAN JATI DIRINYA SEBAGAI HAMBA TUHAN, CERMIN TUHAN (Imago Dei).

Saudara gaib kita terakhir adalah pusar. Menurut pemahaman Kejawen, pusar adalah NABI. Pusar secara biologis adalah tali yang menghubungkan perut bayi dalam rahim dan ari-ari. Pusar mendistribusikan makanan yang dikonsumsi ibu ke bayi. Pusar dengan demikian MENDISTRIBUSIKAN WAHYU “IBU” MANUSIA yaitu Gusti Allah SWT kepada diri kita.

Keempat saudara gaib ini sesungguhnya adalah EMPAT MALAIKAT PENJAGA manusia. Yang berada di kanan-kiri, depan-belakang kita. Maka, tidak salah bila Anda menyapa dan bersahabat akrab dengan mereka. Secara gaib, Tuhan mmeberikan pengajaran tidak langsung kepada hati kita. Namun melalui mereka pengajaran itu disampaikan.

Keempat penjaga (malaikat) itu adalah:

JIBRIL (Penerus informasi Tuhan untuk kita),
IZRAFIL (Pembaca Buku Rencana Tuhan untuk kita),
MIKAIL (Pembagi Rezeki untuk kita) dan
IZRAIL (Penunggu berakhirnya nyawa untuk kita).

Keempat malaikat itu oleh orang Jawa dianggap sebagai SEDULUR karib hidup manusia. Bila kita paham bahwa perjalanan hidup untuk bertemu dengan Tuhan hakikatnya adalah perjalanan menuju “ke dalam” bukan “ke luar”. Perjalanan menembus langit ketujuh hakikatnya adalah perjalanan “diri palsu” menuju “diri sejati” dan menemukan SANG AKU SEJATI, YAITU DIRI PRIBADI/ TUHAN.

Untuk menemukan SANG AKU SEJATI (limo pancer) itulah kita ditemani oleh EMPAT SAUDARA GAIB/MALAIKAT PENUNGGU (sedulur papat). Lantas dimana mereka sekarang? Mereka sekarang sedang mengawasi Anda. Berdzikir mengagungkan asma-Nya. Kita bisa menjadikan mereka sedulur paling akrab bila paham bagaimana cara berkomunikasi dengan mereka. Caranya? Pejamkan mata, matikan seluruh aktivitas listrik di otak kiri dan kanan dan hidupkan sang AKU SEJATI yang ada di dalam diri Anda. Ya, hanya diri sendirilah yang mampu untuk berkomunikasi dengan para sedulur gaib nan setia ini.

Bagaimana tidak setia, bila kemanapun kita berada disitu keempatnya berada. Bila kita berjalan, mereka terbang. Bila jasad kita tidur, mereka akan tetap melek ngobrol dengan ruh kita. Maka, saat bangun tidur di siang hari pikiran kita akan merasa fresh sebab ruh kita akan kembali menjejerkan diri kita dengan iradat-Nya. Sayang, saat waktu beranjak siang polusi nafsu/ego lebih dominan sehingga kebeningan akal pikiran semakin tenggelam.

Bagaimana agar hidup kita selalu ingat oleh kehadiran sedulur papat ini yang setia menjaga kita? Sunan Kalijaga memiliki kidung bagus:

Ana kidung akadang premati
Among tuwuh ing kuwasanira
Nganakaken saciptane
Kakang kawah puniku
Kang rumeksa ing awak mami
Anekakaken sedya
Pan kuwasanipun adhi ari-ari ika
Kang mayungi ing laku kuwasaneki
Anekaken pangarah

Ponang getih ing rahina wengi
Angrowangi Allah kang kuwasa
Andadekaken karsane
Puser kuwasanipun
Nguyu uyu sambawa mami
Nuruti ing panedha
Kuwasanireku
Jangkep kadang ingsun papat
Kalimane pancer wus dadi sawiji
Nunggal sawujudingwang

(Ada nyanyian tentang saudara kita yang merawat dengan hati-hati. Memelihara berdasarkan kekuasaannya. Apa yang dicipta terwujud. Ketuban itu menjaga badan saya. Menyampaikan kehendak dengan kuasanya. Adik ari-ari tersebut memayungi perilaku berdasar arahannya.

Darah siang malam membantu Allah Yang Kuasa. Mewujudkan kehendak-Nya. Pusar kekuasaannya memberi perhatian dengan kesungguhan untuk saya. Memenuhi permintaan saya. Maka, lengkaplah empat saudara itu. Kelimanya seagai pusat sudah jadi satu. Manunggal dalam perwujudan saya saat ini)

@.wongalus.2009

Categories: SEDULUR PAPAT LIMO PANCER | 76 Komentar

TATA CARA NGELMU SANGKAN PARAN


“Ingsun tojalining Dzat Kang Maha Suci, Kang murba amasesa, Kang kuwasa Angandika Kun Fayakun mandi sakucapingsun, dadi saksiptaningsun, katurutan sakarsaningsun, kasembadan saksedyaningsun karana saka Kodratingsun. Ingsun Dzating manungsa sejati, saiki eling besuk ya eling. Saningmaya araning Muhamad , Sirkumaya araningsun, Sir Dzat dadi sak sirku, yaiku sejatining manungsa, urip tan kena ing pati,langgeng tan keno owah gingsir ing kahanan jati, ing donya tumeka jagad langgeng. Ingsun mertobat lan nalangsa marang Dzat ingsun dewe, regede badaningsun, gorohe atiningsun, laline uripingsun, salahe panggaweningsun, ing salawas lawase dosaningsun kabeh sampurna saka kodratingsun.”

“Ilmu iku kalakone kanthi laku”: ilmu itu terlaksana karena dilakukan di dalam perbuatan yang nyata. Dalam konteks khasanah falsafah Jawa, kata “ngelmu” menunjuk pada ajaran hidup menuju kesempurnaan diri pribadi. Ajaran itu teori dan teori tidak akan membawa manfaat apa-apa bila tidak dipkraktekkan dalam hidup sehari-hari.

Di dalam sebuah ajaran ada perintah dan larangannya. Tujuan perintah larangan adalah untuk mendisiplinkan diri agar diri yang sebelumnya “liar” menjadi “jinak”, diri yang sebelumnya memperturutkan keinginan “diri”/ego/keakuan menjadi diri yang bisa menurut dengan diri-Nya/Ego-Nya.

Kenapa diri ini harus manut dengan keinginan atau kehendak-Nya? Ada sebuah analogi yang gampang dicerna. Misalnya, sebuah mobil BMW diciptakan dan diproduksi oleh pabrik BMW di Jerman. Pabrik sudah mengeluarkan petunjuk penggunaan, aturan perintah dan larangan.

Pabrik tidak asl bikin petunjuk penggunaan. Sang insinyurnya sudah memiliki prediksi agar mesin dan bodi mobil itu awet, maka oli harus dignti saat mobil sudah mencapai sekian kilometer. Insinyur juga memiliki prediksi bahwa usia efektif mobil tersebut sekian tahun. Hingga mencapai batas usia tertentu, maka mobil akan digolongkan istimewa dan menjadi barang antik.

Begitu pula manusia. Manusia diciptakan oleh Tuhan dan Sang Insinyur Manusia ini sudah mengeluarkan buku panduan lengkap, tata cara hidup dan berkelakuan agar dipedomani sebagai arahan hidup mulai o tahun hingga semilyar tahun mendatang.

Beda dengan benda yang “ada”nya begitu sederhana. “Adanya” manusia ini sungguh luar biasa. Manusia diberikan kebijaksanaan untuk menentukan masa depannya sendiri sebelum dia dilahirkan di dunia. Manusia diberi kekuasaan-Nya untuk merancang sendiri dia nantinya akan jadi apa, akan kemana, apa tujuan hidupnya. Ya, karena Tuhan Maha Pemurah, maka manusia dijinkan menjadi insinyur yang bebas merancang dirinya sendiri.

Ruh yang merupakan “manusia sejati” dan “sejatinya manusia” itu, sebelum ada di dunia telah merancang dirinya sendiri dengan menulis di buku kitabnya masing-masing. Tuhan hanya memberikan kata “ACC” dan membubuhkan “stempel” saja. Tuhan pun menekankan bahwa yang berlaku nanti di bumi adalah hukum sebab akibat. Hukum karma, sunatullah atau disebut juga dengan hukum alam.

Jadi, salah bila dikatakan bahwa adanya sial, bencana, bahaya, ketidaksuksesan hidup itu karena Tuhan. Tuhan tidak cawe-cawe sama sekali. Itu murni urusan manusia yang tidak paham dan malah mungkin melanggar pantangan hukum sebab akibat.

Keberhasilan dan kesuksesan adalah akibat dari sebuah sebab. Sebab keberhasilan/kesuksesan adalah kerja keras. Untuk bekerja keras butuh motivasi kerja yang tinggi dan niat yang teguh. Tubuh/Raga yang rajin bergerak mencari rezeki yang halal, asalnya adalah jiwa/batin yang tenang, nyaman dan bahagia.

Kembali ke tema awal. Apa saja tata cara ngelmu sangkan paran? Di dalam khasanah Kejawen, dalam buku “Cipta Brata Manunggal” karangan Ki Brotokesawa disebutkan laku yang perlu dijalani:

1. Sabar, tawakal, tekun, dan nrimo

2. Jaga kebersihan lahir batin

3. Olah raga

4. Olah nafas

5. Berpakaian yang pantas dan bersih.

7. Olah cipta, banyak membaca dan menggali ilmu pengetahuan

8. Bekerja rajin

9. Sore hari belajar untuk tambahan pengetahuan

10. Makan teratur dan higienis.

11. Minum air putih dingin pagi, siang, malam

13. Istirahat selama 6 atau 8 jam sehari semalam.

14. Perasaan dan pikiran terarah.

16. Tidak terlalu banyak bicara. Tidak bicara kotor dan berbicara seperlunya. Bila akan tidur hendaklah instropeksi diri sambil berdoa sebagaimana yang tertera di kalimat pembuka.

Dalam buku “Cipta Brata Manunggal” juga dipaparkan proses tingkat-tingkat manembah/sembah kepada Gusti. Berikut tingkatan itu:

A. SEMBAH RAGA yaitu tapaning badan jasad kita. Tubuh, jasad bergerak atas perintah batin. Batin diperintah oleh dua unsur, baik (nur Ilhiah) dan buruk (nar Iblis). Agar tubuh disiplin, terarah dan terkendali maka perlu dilatih. Tingkatnya adalah syariat. Tubuh tetap melakukan disiplin ibadah.

B. SEMBAHING CIPTA, di Islam dinamai Tarekat, sembahnya hati yang luhur. Untuk mencapai hati luhur perlu kesadaran nalar (logika). Diperlukan olah nalar yang bagus sesuai dengan prinsip-prinsip logika. Tujuan sembah cipta adalah  mengerti akan “kasunyatan”. Ilmu pengetahuan harus dikuasai agar memiliki perbandingan baik dan buruk. Kebijaksanaan akan lahir bila kita mampu menekan dan mengendalikan hawa nafsu. Memahami Ilmu Ketuhanan diperlukan syarat berupa cipta yang bersih dari hawa nafsu dan olah nalar yang mumpuni. Ilmu Ketuhanan adalah ilmu yang “sangat halus” yang bisa ditangkap dengan kegigihan memperhalus batin dan mentaati prinsip-prinsip berpikir yang lurus.

Tujuan dari sembah cipta itu mengendalikan dua macam sifat: angkara( yang menimbulkan watak adigang, adigung, adiguna, kumingsun dsb.) dan watak keinginan mengusai akan kepunyaan orang lain (kemelikan-jw). Cipta yang bersih yaitu kalau sudah bisa mengendalikan angkara murka, Tandanya bila cipta sudah “manembah”, yaitu waspada terhadap bisikan jiwa.

Jadi sembah itu intinya melatih cara kerja cipta, dengan cara Tata, Titi, Ngati ati, Telaten, dan Atul. Atul adalah pembiasaan diri agar mendarah daging menjadi kebiasaan dan watak yang akhirnya terbiasa mengetahui sejatinya penglihatan (sejatine tingal) yaitu Pramana, bisa dikatakan sampai kepada jalan sejati, yaitu penglihatan pramana (tingal pramana).

Tanda sudah sempurna sembah cipta adalah berda di dalam kondisi kejiwaan sepi dari pamrih apapun.  Seperti tidak ingat apapun itu pertanda sudah sampai batas, yaitu batas antara tipuan dan kenyataan (kacidran lan kasunyatan – jw), jadi sudah ganti jaman, dari jaman tipuan menjadi jaman kenyataan.

Rasa badan ketiga (saka penggorohan maring kasunyatan Rasaning badan tetelu), wadag astral dan mental tadi seketika tidak bekerja. Disitulah lupa, tetapi masih dikuati oleh kesadaran jiwa (elinging jiwa), dan waktu itu menjadi eneng, ening, dan eling.  Artinya eneng: diamnya raga, Ening : heningnya cipta, Eling: ingatnya budi rasa yang sejati.

C. SEMBAH JIWA. di Islam dinamai Hakekat. Kalau sudah bisa melaksanakan sembah cipta baru bisa melaksanakan sembah jiwa. Artinya: rasakan dengan menggunakan rasa “kasukman” yang bisa ditemui dalam eneng, ening dan eling tadi. Tandanya adalah semua sembah, panembah batin yang tulus tidak tercampuri oleh rasa lahir sama sekali.

Bila sudah melihat cahaya yang terang tanpa bisa dibayangkan tetapi tidak silau, pertanda telah sampai kepada kekuasaan “kasunyatan”(kesejatian), yang juga disebut Nur Muhamad, yaitu tiada lain Cahaya Pramana sendiri, karena dinamai pramana karena cahayanya yang saling bertautan dengan rasa sejati dan budi, disitu rasa jati dan budi akan berkuasa(jumeneng), sudah sampai kepada kebijaksanaan. Artinya kebijaksanaan merasa sampai mengerti yang melakukan semadi tadi, saling berkaitan tak terpisahkan dengan cahaya yang terang benderang yang tidak bisa dibayangkan.

D. SEMBAH RASA, di Islam dinamai Makrifat. Sembah rasa itu adalah mengalami Rasa Sejati. Inilah rasa manusia yang paling halus, tempat semua rasa dan perasaan dan bisa merasakan perlunya menjadi manusia  yang berbudi luhur dan menyadari bahwa dia adalah pribadi yang merupakan Wakil-Nya. Bahkan pada tahap akhir pemahaman makrifat, dia akan “menjadi” Tuhan itu sendiri (Gusti amor ing Kawulo). Rasa hidup adalah rasa Tuhan, rasa Ada, ya diri pribadi, bersatu tanpa batas dengan rasa semua ciptaan Nya. Tanda bila sudah mencapai kasunyatan, sudah hilang ilah-ilah yang lain hingga sampai mencapai TAUHID MURNI.  @@@

@.wongalus.2009

Categories: TATA CARA NGELMU SANGKAN PARAN | 16 Komentar

AMALAN MENEMBUS ALAM KELANGGENGAN


Ini amalan untuk menembus alam gaib secara cepat dan bertemu dengan roh orang yang telah meningal di alam kelanggengan

Sholat sunnah 13 rokaat sekaligus. Lanjutkan dengan mengambil/menggunakan benda-benda milik orang yang telah meninggal (baju, cincin, topi dll) dan baca doa ini dengan hati dan batin yang penuh kesungguhan mengharapkan uluran tangan-Nya.

“Duh Gusti, kulo nyuwun bertemu dan silaturahim kaliyan ruh pak/bu/mbak/mbah…….. (nama orang yang telah meninggal) ingkang manfaat kagem  kulo dunia akhirat”

Selesai berdoa, lanjutkan dengan tidur dan Insya Allah Anda akan cepat menemui orang tersebut di alam kelanggengan. Sapa dia dengan rendah hati, ramah dan santun dan doakan dia agar ruhnya selalu aman sentausa dalam genggaman “tangan” Allah SWT.

@.wongalus.2009

Categories: AMALAN MENEMBUS ALAM KELANGGENGAN | 30 Komentar

AMALAN SEMAR MESEM


Ini amalan untuk meluluhkan hati seseorang yang membenci kita, misalnya bos/atasan/kekasih pujaan hati.

Amalannya:  Sholat sunnah 5 rokaat sekaligus. Lanjutkan dengan melihat foto orang yang akan dituju dan baca doa ini dengan hati dan batin yang penuh kesungguhan mengharapkan uluran tangan-Nya.

“Duh Gusti, kulo nyuwun silaturahim raket kaliyan …….. (nama orang yang akan dituju) ingkang manfaat kagem sukses kulo dunia akhirat”

Selesai berdoa, lanjutkan dengan menemui orang tersebut. Sapa dia dengan rendah hati, ramah dan santun. Insya Allah, hatinya akan luluh dan penuh belas kasih pada Anda atas ijin Allah SWT.

@.wongalus.2009

Categories: AMALAN SEMAR MESEM | 208 Komentar

AMALAN BANYAK REZEKI


Sholat sunnah 7 rakaat sekaligus. Lanjutkan dengan mengambil segenggam tanah di depan rumah dan baca doa ini dengan hati dan batin yang penuh kesungguhan mengharapkan uluran tangan-Nya.

“Duh Gusti, kulo nyuwun rezeki ingkang manfaat kagem keluarga kulo lan kaliyan sesami”

Selesai berdoa, lanjutkan dengan menyebarkan tanah tersebut ke depan pagar/pintu rumah. Insya Allah, doa panjenengan semua akan diijabahi Allah SWT.  Ingat, jangan lupa beramal sebanyak-banyaknya juga.

@wongalus, 2009

Categories: AMALAN BANYAK REZEKI | 94 Komentar

AJARAN MISTIS DALAM SULUK PESISIRAN


sulukAsal kata “suluk” yaitu kata Arab “salaka thoriq” yang berarti menempuh jalan (tasawuf) atau tarikat. Ilmunya sering disebut ilmu suluk . Namun di Jawa, “suluk”  diartikan sebuah ajaran mistik yang diungkapkan dalam bentuk tembang/lagu sedangkan bila diungkapkan dalam bentuk prosa, umumnya dinamakan wirid.

Suluk Pesisiran adalah sebuah buku terjemahan suluk-suluk klasik Jawa yang ditulis dalam bentuk puisi oleh Emha Ainun Nadjib. Kumpulan suluk itu merupakan terjemahan naskah suluk cirebonan berkode LOr 7375. Lor singkatan dari Codese Leidse Orientalis, yakni istilah bagi kumpulan naskah yang berasal dari belahan dunia timur yang masih tersimpan di perpustakaan Universitas Leiden, Belanda.

Naskah asli Suluk Cirebonan ditulis dalam hurup arab pegon dan huruf Jawa dengan pengarang “anonim”. Naskah suluk cirebonan itu adalah sedikit naskah Islam klasik yang berhasil “dibawa” pulang ke negeri kita setelah sekian lama “tercuri” di Universitas Leiden, Belanda.

Menurut seorang peneliti Islam Klasik Mufti Ali, PhD., hanya 7 % dari 2 juta naskah Islam klasik dalam bahasa Arab maupun Persia yang terdapat di Timur Tengah, Turki, India, dan di beberapa negara yang sudah diedit dan dipublikasikan. 93 % sisanya masih menumpuk di rak-rak penyimpanan naskah.

Naskah islam Klasik itu telah menjadi komoditas yang punya nilai jual tinggi untuk diperjualbelikan. Puluhan juta Euro uang ditransfer dari beberapa perpustakaan di beberapa negeri Teluk, seperti Qatar, Bahrain, Uni Emirat Arab yang kaya minyak, ke beberapa Toko Buku Antik yang menjual naskah-naskah Islam klasik di Belanda.

Berbagai naskah Arab Islam klasik yang unik dan sangat tua, berpindah tangan dari satu kolektor kepada kolektor lain. Karena concern terhadap naskah yang sedemikian tinggi tersebut maka wajar sejumlah perpustakaan dan Museum di Eropa memiliki koleksi naskah yang sangat kaya. Perpustakaan Universitas Leiden saja memiliki lebih dari 50 ribu koleksi naskah Islam klasik yang diakuisisi dalam jangka waktu lebih dari 400 tahun.

Perpustakaan Nasional Jerman di Berlin menyimpan lebih dari 80 ribu naskah Islam klasik. Puluhan ribu naskah Islam klasik lainnya disimpan di beberapa perpustakaan di Prancis, Rusia, Spanyol, Italia, dll. Karena ‘kekayaan’ ini, ribuan peneliti (sejarah) Islam datang dari berbagai negara ke Eropa untuk membaca dan meneliti serta memiliki reproduksi naskah.

Demikian sedikit uraian mengeni naskah Islam Klasik yang menjadi pembuka artikel ini. Berikut beberapa Suluk dalam buku “Suluk Pesisiran” yang mengajarkan ajaran-ajaran mistis yang bernilai sangat tinggi. Termasuk apa dan bagaimana sesungguhnya makrifat itu.

SULUK SELOBRANGTI

Selobrangti terbangun karena kaget

Oleh burung yang bergembira ria

Tegak tubuhnya, memesona pandangan matanya

Seperti telah begitu terlatih hidupnya

Burung itu seolah menegurnya

Menegur birahinya

Kepada Allah yang Agung

Sehingga seperti pendeta raja yang berkelana

Dan tatkala sampai di hutan ia kekang nafsunya

Nyi Selobrangti turun perlahan-lahan

Akan mengambil air sembahyang

Shalat ashar hendak ditegakkan

Nyi Centini mengikuti

Telah diambilnya air pamujan

Mengikutinya bersembahyang

Siap memuja, sajadah dihamparkan

Berdiri dengan bersidekap tangan

Tawajjuh, yang lain disingkirkan

Yang lain tak diperhatikan

Hati terpusat kesatu tujuan

Sempurna berdirinya

Menghadap kiblat

Tatakrama sempurna

Kepada amar dihadapkan hatinya

Menyadari puji-puja

Semoga sembahnya diterima

Tepat sudah niatnya Dipusatkan maksud dan tujuannya

Bersamaan dengan takbirnya

Hanya huruf 8 yang tampak olehnya

Pikiran berhenti pada Nama

Dan Allah yang perkasa

Dekat dengan yang disembah

Sembahnya telah mi’raj tanpa terlihat

Tanpa tertabiri oleh keinginan menyembah

Seucapan rindu nantinya

Akan sebanyak puji yang terbilang-bilang

Itu sebagi sembahnya

Sembah hamba

Tujuan yang sebenarnya

Menyebut diri

Pada dirinya sendiri

Itulah sembah yang menikmatkan

Seperti angin bertiup sepoi

Dalam menyembah dan memuji

Itulah yang disebut tubadil

Adapun maknanya

Ialah sembah berhenti,diganti

Karena tertimpa oleh kasih

Sembah hamba menjadi hilang

Seperti awan dan matahari

Ibaratnya

Ia sama dengan matahari

Namun dalam tidurnya

Awan tak menjadi matahari

Demikianlah sembah utama

Setelah Selobrangti mengucapkan

Bacaan takbir

Mukanyapun dihadapkan

Kepada Mahabesar Tuhan

Yang membuat langit dan bumi

Kemudian sesudahnya

Fatihah wajib dibaca

Ialah yang dimulai dengan menyebut nama

Yang kasih di dunia, kasih kepada mukmin

Kelak di akhirat

Al hamdu segala puji

Dipanjatkan kepada Tuhan

Allah semesta alam

Yang kasih kepada orang mukmin

Yang memberi surga

Ialah Raja

Raja di hari kiamat

Yang disembah dan dimintai tolong

Yang Mahaagung dan senantiasa Santun

Tunjukkan jalan kebenaran

Tuntun ke tempat yang terang

Seperti jalanan

Hamba yang patuh

Orang saleh dan para wali

Dan para Nabi

Jangan Seperti

Langkah orang yang kau benci

Orang yang sesat dan kau murkai

Hendaklah paduka Allah terima ini

Bacaan Fatihah mudah dilakukan

Selobrangti lantas membaca ayat-ayat

Itu sunnat

Kemudian ia be ruku’,wajib

Kemudian Selobrangti duduk

Menenangkan badan

Sambil memenuhi

Menyerah pada perintah Tuhan

Ikhlas dan diberi ampunan

Dan akhirnya ia angkat kepala

Selobrangti tegak dan mengangkat kepala

Hendaklah Allah mendengar

Hatur hamba

Sujud tanpa henti

Pasrah raga untuk mengenali dunia

Yang tujuh macamnya

Dan sungguh-sungguh merendahkan

Anggota badan yang utama

Direndahkan seperti air turun ke dunia

Memasuki samudera

Mengangkat kepala,kemudian duduk

Tenang duduknya

Ikhlas segala tingkah lakunya

Percaya kepada Tuhan

Yang adil dan penuh ampunan

Kemudian sujud yang kedua

Kemudian berdiri,rakaat yang pertama

Lengkap,menuju rakaat kedua

Dengan sunnat dimulainya

Ketahuilah perbuatan sunnah af’al

Yakni tahiyyat awal

Bahwa perbuatan sunnat

Tiga macamnya

Kalau terlupa, sujud sahwi gantinya

Hal ini termuat dalam surat

Hendaklah diketahui denga cermat

Bahwa duduk tahiyyat dan shalawat

Itu yang disebut af’al sejati

Sehingga lengkaplah tiga perkara tadi

Dengan nama-Nya engkau memulai

Rakaat yang semula

Dua rakaat banyaknya

Adapun shalat ashar

Empat rakaat maka jadilah

Empat rakaat, kemudian

Tahiyyat wajib

Rukun enam wajib yaitu

Duduk di antara tahiyyat dan tertib

Salam disertai niat

Selobrangti mengakhiri shalat

Salam memungkasinya

Salam itu wajib kedudukannya.

Adapun bangun pada malamnya

Sunnah,dan sesudah salam akhir

Yakni seusai sembahyang

Memuji dengan lirih

Membaca tasbih,berdo’a

Pengucapan perlahan-lahan

Namun hati penuh gelombang

Itulah sembah utama

Nabi terpilih berkata

Ketahuilah jangan memuji dengan suara

Yang keras bunyinya

Demikianlah tuntunan Rasul duta

Jangan engkau keras-keras memuja

Sedang Allah

Telah mendengarnya

Tuhan mendengar hati bersuara

Bukan lahiriah, Ia mendengar dan mengetahui

Tak pilih kasih, tak jatuh hati

Nyi Centini juga melakukan takbir

Namun hatinya tertutup oleh panca indera

Tampak segala gerak-geriknya

Diikuti oleh hatinya

Niat diulang-ulang

Sedang dalam niat

Dalam ucapan

Mesti bersama dengan takbir

Ihramnya jauh mendahului hatinya

Ia baru shalat ditengah-tengahnya

Sebagian orang melakukan shalat

Tak mengerti sempurnanya sembah

Tak tahu liku-likunya

Salah ucapannya

Sunnah wajib tak dibedakannya

Tak mau bertanya

Batin orang bodoh adanya

Menghadap ke masalah dunia

Tak tahu ditolak sembahnya

Terhalang puja-pujinya

Adapun bagaimana mengelola birahi

Selobrangti menyirnakan keinginan

Yang peluang tumbuhnya tak diberi

Hutan belantara dimasuki

Centini si pembantu mengikuti

Dari belakang selalu mengikuti

Menghilangkan rasa cinta dunia

Mematikan badan sebelum mati

Kepada Allah percaya sekali

Dengan menatap batu di tepian jurang

Nyi Selobrangti bertapa

Di dalam gua istirahatnya

Malam tak tidur

Siang tak makan

Keras berusaha

Memerangi nafsunya

Lupa akan badan dan jiwa

Menjadi lesu raganya

Seperti mayat disiksa

Dengan sungguh-sungguh memusatkan pandang

Pucuk hidung yang kelihatan

Napasnya ditahan

Tak mengetahui keluar masuknya

Tak terasa lagi zikirnya

Tak berhenti pujinya

Hening pikirannya

Empat alam dikuasai

Segala arah menyatu

Itu yang namanya laku

Yang pertama alam nasut

Yakni alam manusia

Syariat tata kramanya

Kedua alam malakut

Yang tinggal hanya satu keinginan yang tak bergeming

Tak menoleh kepada yang lain-lain

Yang ketiga alam jabarut

Itu alamnya ruh utama

Tak lepas dari puja

Yang keempat alam lahut namanya

Orang mati bersemayam padanya

Sudah tak ada tatakrama

Yang dibicarakanpun tak ada

Jiwa, badan, sembah dan puja

Hilang,tatakrama

Tak ada yang dibincangkan

Yang di dalamnya tak dua

Melainkan yang berkuasa juga yang ada

Lesu raganya,gairah tak ada

Seperti mayat bentuk dan warnanya

Tinggal denyut jantung saja

Nyi Centini memandangnya

Hingga amat sedih hatinya

Tuannya mati raga

Tak ada lagi geraknya

Tinggal denyut jantungnya saja

Maka ia sembahlah tuannya

Sambil menangis amat kerasnya

Terbangun Nyi Selobrangti

Mendengar tangis Centini

Terjaga dari tapa

Tersadar karena mendengar suara

Tangis yang terus menerus mendera

Segera ia beri pertolongan

Centini yang hilang kesadaran

Tangannya menjulur menggapai pembantunya

Dan berkata

Pelan dan berbisik kata-katanya

Halus lembut meluncur dari mulutnya

Demikianlah betapa lesu letih ia

Maka halus tuturnya

Jangan menangis wahai Centini

Tak ada gunanya dilakukan

Tak ada gunanya dibicarakan

Inilah memang tujuan sejak permulaan

Nyi Centini memohon kepada tuannya

Agar bersedia pulang ke rumah saja

SULUK PAESAN WAJIB

Maskumambang

1

Cermin wajib dalam melangkah bersama

Dengan kedewasaanmu

Hendaknya pikirkanlah Ia

Yang dipertuhan dan Mahamulia

2

Dipertuhan dengan kata hati

Mempercayai

Tuhan qadim hakiki

Yang wajib ditaati

3

Ditaati dengan hati yang jernih

Penglihatan yang sempurna

Arah tak mendua

Memusat kepada allah yang Maha Kuasa

SULUK GEDHONG

Menyembah untuk melihat

Dengan cara memandang yang khas

Menyembah seperti berkaca dalam cermin

Berjuang menemukan rupa yang hakiki

Karena yang diperlihatkan oleh kaca

Tidaklah sejati

Ketika engkau menyembah memuji

Tajamkan penglihatan

Kepada yang menggerakan sembahyang

Yakni Allah sejati

Kau sembah Ia dengan pasti

Tidak setengah hati

Menatap ini dan menatap itu

Sampai pula segala sesuatu

Tak ada yang kosong olehNya

Ia meliputi dan memenuhi apa saja

Bahkan ZatNya tampak

Bagi setiap mata yang waspada

Lainnya tiada, kecuali yang terlihat

Apabila sudah arif makrifat

Namun jika rabun oleh segala rupa

Yang tampak itu hakiki disangkanya

Lantaran tak tahu ajaran yang benar

Bingung yang terlihat dan terdengar

Tak bingung kalau tahu yang sejati

Bagi yang ingin melihatnya

Sirnakan segala rupa

Yakni dinding yang menutupi batin mata

Kalau sudah tercapai ia

Itulah makrifat namanya

Menempuh jalan, mencari

WajahNya yang kelihatan

Demikian engkau tahu menemukan Tuhan

Demikian engkau menempuh jalan

Yang sejak sediakala disediakan

Kalau dipandang tiada. Ia tiada

Maka jangan ragukan tempatNya

Kalau dipandang tiada, Ia tiada selamanya

Dari awal hingga akhir

Tak ada yang mengerti

Karena itulah dicari

Kalau dipandang ada, Ia ada, anakku

Hendaklah engkau waspada menatapNya

Lantaran tak ada lagi selain Ia

Tinggal bagai sepi

Satu wujud Abadi

SULUK SYEH MADEKUR

….

Orang yang tiba di gelombang Cinta

Gagap hendak menjelaskannya

Kalau merasa sebagai hamba

Wujud menjadi dua

Kalau merasa sebagai Tuhan

Ia tersekutukan

SULUK GEDHONG

Mijil

1

Sesungguhnya tidaklah ada yang tahu

Bahwa umpamanya Ia bersemayam di gedung itu

Tapi diketahuiNya ia yang tahu

Serta bagaimana segala mahluk berperilaku

Sungguh sebelum terjadi

Ia telah mengerti

2

Ketahuilah Sebelum segalanya terjadi

Ketika jagad kosong tanpa isi

Bahkan sebelum awang-uwung itu sendiri

Yang ada hanya Tuhan Sang Maha Widi

Hanya Ia pula yang mengetahui

Zat Mahaluhur dan Suci

3

Maka dibikinNya semua mahkluk ini

Agar ada yang mengenali

Diciptakannya jagat semesta

Dengan hanya satu sabda

Segalanya mengada seketika :

“Kun”

4

Sempurna tak ada kekurangan

Karena Tuhan yang menciptakan

Ia berkuasa karena DiriNya sendiri

Tanpa kesalahan sama sekali

Demikianlah tatkala semua terjadi

Bertahap menjadi dan menjadi

5

Maka bersabdalah Ia

Kenapa segenap alam yang dijadikanNya nyata

“Sungguh tak Kujadikan Jin dan manusia

Kecuali untuk satu:

Menyembah kepadaKu”

6

Menyembah untuk melihat

Dengan cara memandang yang khas

Menyembah seperti berkaca dalam cermin

Berjuang menemukan rupa yang hakiki

Karena yang diperlihatkan oleh kaca

Tidaklah sejati

9

Ketika engkau menyembah memuji

Tajamkan penglihatan

Kepada yang menggerakan sembahyang

Yakni Allah sejati

Kau sembah Ia dengan pasti

Tidak setengah hati

10

Menatap ini dan menatap itu

Sampai pula segala sesuatu

Tak ada yang kosong olehNya

Ia meliputi dan memenuhi apa saja

Bahkan ZatNya tampak

Bagi setiap mata yang waspada

11

Lainnya tiada, kecuali yang terlihat

Apabila sudah arif makrifat

Namun jika rabun oleh segala rupa

Yang tampak itu hakiki disangkanya

Lantaran tak tahu ajaran yang benar

Bingung yang terlihat dan terdengar

12

Tak bingung kalau tahu yang sejati

Bagi yang ingin melihatnya

Sirnakan segala rupa

Yakni dinding yang menutupi batin mata

Kalau sudah tercapai ia

Itulah makrifat namanya

13

Menempuh jalan, mencari

WajahNya yang kelihatan

Demikian engkau tahu menemukan Tuhan

Demikian engkau menempuh jalan

Yang sejak sediakala disediakan

14

Kalau dipandang tiada. Ia tiada

Maka jangan ragukan tempatNya

Kalau dipandang tiada, Ia tiada selamanya

Dari awal hingga akhir

Tak ada yang mengerti

Karena itulah dicari

15

Kalau dipandang ada, Ia ada, anakku

Hendaklah engkau waspada menatapNya

Lantaran tak ada lagi selain Ia

Tinggal bagai sepi

Satu wujud Abadi

@wongalus, 2009

Categories: SULUK PESISIRAN | 4 Komentar

AJARAN KEPEMIMPINAN PANCASETYA


Tidak hanya presiden, para menteri, pejabat eselon maupun bos atau manajer perusahaan saja yang disebut pemimpin. Setiap individu hakikatnya adalah pemimpin. Maka, dia perlu memegang ajaran kepemimpinan ini.

Ajaran kepemimpinan Jawa itu terdiri dari lima hal yang merupakan nilai-nilai yang paling prinsip. Kelima ajaran itu adalah:

1. SETYA BUDAYA
2. SETYA WACANA
3. SETYA SEMAYA
4. SETYA LAKSANA
5. SETYA MITRA

SETYA BUDAYA: Seorang pemimpin harus menghargai adat istiadat dan budaya masyarakat setempat. Dia harus mau untuk beradaptasi dengan lingkungan sosial setempat. Pemimpin harus mengetahui hakikat budaya. Budaya adalah sebuah proses manusia untuk hidup yang lebih bijaksana, adil, selamat dan sejahtera. Proses itu tidak mengenal titik henti, sehingga pemimpin yang baik harus terus beradaptasi dan berasimilasi dengan budaya dimana dia memimpin.

SETYA WACANA: Seorang pemimpin harus mampu memegang teguh ucapannya. Bersatunya kata atau ucapan dan perbuatan nyata harus selaras. Tidak munafik dan membohongi masyarakat. Dia harus pandai berdiplomasi dan mengerti perkembangan situasi sosial, politik, ilmu pengetahuan dan wacana-wacana lain sehingga dia mampu memimpin dengan cerdas.

SETYA SEMAYA: Seorang pemimpin harus bisa melaksanakan janjinya semasa belum jadi pemimpin/kampanye. Janji adalah hutang yang harus dibayar setelah dia menjadi pemimpin. Janji memang diperlukan agar masyarakat berpikir optimis dan punya harapan untuk hidup yang lebih baik, namun janji harus dilaksanakan.

SETYA LAKSANA: Seorang pemimpin harus bertanggungjawab terhadap tugas yang diembannya. Tugas adalah kewajiban, bukan hak. Sehingga menunaikan kewajiban merupakan prinsip seorang pemimpin. Pemimpin harus bertanggungjawab kepada masyarakat, namun juga kepada Tuhan. Tanggungjawab iu tidak hanya di dunia, namun juga di akhirat maka tanggungjawabnya akan dipertanyakan. Tugas apapun yang diembankan oleh masyarakat harus dilaksanakan dengan ikhlas.

SETYA MITRA: Seorang pemimpin harus mampu membangun jaringan persahabatan dan perkawanan. Dia harus memiliki watak setia kawan yang setinggi-tingginya. Tidak boleh berkhianat kepada kawan. Tidak boleh culas dan egois. Seorang pemimpin perlu membangun sebuah kehidupan sosial yang kondusif dan membawa kemanfaatan bersama-sama. Kemanfaatan tidak boleh hanya bisa dirasakan oleh kelompok/kaumnya melainkan harus bisa dirasakan oleh semua golongan.

@. Wongalus, 2009

Categories: AJARAN KEPEMIMPINAN PANCASETYA | 19 Komentar

PENGOBATAN ALTERNATIF ALA SUNAN KALIJAGA


Pengobatan menggunakan kekuatan batin sudah demikian banyak dikenal di nusantara ini sejak lama. Berbagai teknik dan metode sudah dikenal di era kerajaan-kerajaan Sriwijaya, Maapahit, Mataram.

Era sekarang, kita mengenal juga banyak pengobatan alternatif modern, ditambah menggunakan ramuan herbal dan lain-lain. Ini jelas merupakan kekayaan budaya spiritual yang harus dilestarikan dan dikembangkan. Teknik dan metodenya yang beragam membantu masyarakat untuk memilih pengobatan alternatif yang sesuai dengan keinginannya.

Salah satu metode pengobatan kuno dengan pengerahan daya batin adalah sebagaimana yang diajarkan oleh Sunan Kalijaga. Yaitu menyampaikan doa pada Tuhan Yang Maha Kuasa dengan keyakinan penuh bahwa doanya akan diijabahi oleh-Nya dengan diiringi sikap pasrah total dan ikhlas.

Doa yang diajarkan Sunan Kalijaga itu berbahasa Jawa. Doa yang disampaikan dengan bahasa Jawa, akan lebih meresap ke dalam hati sanubari masyarakat sehingga diharapkan sang pendoanya memahami makna dan tujuan doa tersebut.

Sebelum doa disampaikan, maka didahului oleh amalan PUASA MUTIH selama tiga atau tujuh hari. Puasa mutih yaitu puasa seperti biasa kita melaksanakan puasa Ramadhan. Namun pada saat berbuka, kita hanya memakan nasi dan air putih saja.

Tujuan puasa mutih ini adalah agar tubuh, pikiran, rasa pangrasa kita semakin manunggal untuk menggerakkan daya batin sehingga mampu untuk menggerakkan cinta kasih-Nya dan memberi ijabah pada doa yang akan disampaikan.

Setelah puasa mutih tiga atau tujuh hari dilaksanakan maka pemohon membaca doa sebagaimana berikut ini:

Ana kidung rumeksa ing wengi

Teguh hayu luputa ing lara

Luputa bilahi kabeh

Jim setan datan purun

Paneluh tan ana wani

Wiwah panggawe ala

Gunanung wong luput

Geni atemahan tirta

Maling adoh tan ana ngarah ing mami

Guna duduk pan sirna

Sakehing lara pan samya bali

Sakeh ngama pan sami miruda

Welas asih pandulune

Sakehing braja luput

Kadi kapuk tibaning wesi

Sakehing wisa tawa

Sato galak tutut

Kayu aeng lemah sangar

Songing landhak guwaning

Wong lemah miring

Myang pakiponing merak

Pangupakaning warak sakalir

Nadyan arca myang seraga asat

Temahan rahayu kabeh

Apan sarira ayu

Ingideran kang widadari

Rineksa malaekat

Lan sagung pra rasul

Pinayungan ing Hyang Suksma

Ati Adam utekku

Baginda Esis Pangucapku

ya Musa Napasku

Nabi Isa linuwih

Nabi Yakub pamiyarsaningwang

Dawud suwaraku mangke

Nabi Ibrahim nyawaku

Nabi Sleman kasekten mami

Nabi Yusup rupeng wang

Edris ing rambutku

Baginda Ngali kuliting wang

Abubakar getih daging

Ngumar singgih

Balung baginda Ngusman

Sumsumingsun Patimah linuwih

Siti Aminah bayuning angga

Ayup ing ususku mangke

Nabi Nuh ing jejantung

Nabi Yunus ing otot mami

Netraku ya Muhammad

Pamuluku Rasul Pinayungan Adam Kawa

Sampun pepak sakathahe para nabi

Dadya sarira tunggal

Inilah pengobatan alternatif untuk segala penyakit menggunakan teknik berpuasa dilanjutkan dengan berdoa. Pengobatan ala Sunan Kalijaga ini tidak bertentangan dengan akidah Tauhid bahkan bila diresapi dengan penghayatan yang mendalam, akan menambah iman kita pada Tuhan Yang Maha Kuasa.

Kita yakin penyembuh semua penyakit adalah Dia sehingga kita sampaikan doa setulus-tulusnya padaNya agar mengijabahi permohonan kita

@ wongalus, 2009.

Categories: DOA SUNAN KALIJAGA | 28 Komentar

MENJADI GUSTI ALLAH


Menuju derajat “takwa” yang hakiki perlu perjuangan yang berat. Nglakoni tahap demi tahap dengan sabar, awas, eling dan waspada agar “ngelmu” kita semakin sempurna.

Adalah sebuah keharusan bila kita ingin peningkatan kualitas spiritual kita, maka kita dianjurkan untuk mengarahkan orientasi dari “luar” menuju ke “dalam”, kemudian mengarah lagi ke “luar” dan terakhir ke “dalam” lagi. Berikut keempat tahap itu:

I.

Sebagaimana perjalanan para nabi dalam sejarah, Adam, Nuh, Ibrahim, Musa, Isa, Muhammad SAW dan seterusnya…atau nabi Budha. Lahir, anak-anak dan beranjak remaja dia mengamati lingkungan sekitarnya. Tarafnya adalah olah indera dan raga, latihan kepekaan dan penajaman indera mata, telinga, perabaan kulit, menyerap dan menghembuskan nafas dan mulut untuk merasakan sesuatu. Berbagai pengalaman luar dirasakan oleh indera. Mata melihat bagaimana perjalanan kehidupan manusia: Lahir, remaja, dewasa, sakit, tua, mati…. Ini adalah tahap pemusatan ke luar… ke benda-benda / obyek-obyek khusus  SAMANTA BHAVANA.

II.

Tahap selanjutnya, mengarahkan pemusatan perhatian atau orientasi hidup ke “dalam”. Mulailah kita merenungkan hubungan sebab akibat, kenapa ada orang hidup..kenapa ada orang mati.. kenapa manusia dihidupkan, apa hakikat hidup… Apa penyebab semua yang hidup? Bila ada Sang Pencipta, kenapa dia menciptakan kita? …. Konsentrasi diarahkan ke pergerakan akal yang diliputi oleh batin/rasa pangrasa. Akal menemukan hakikat, rasa melanjutkan dengan penghayatan. Tuhan ditemukan melalui logika, dilanjutkan dengan mengakui dan mengimani keberadaannya. Terjadi evolusi pada setiap fase.

Ruhani manusia terus bermetamorfosis; dari orientasi jasad fisik, kemudian beralih konsentrasi ke batin. Dia mengolah batinnya, kejadian demi kejadian yang dialami dalam pengalaman nyata berhasil diambil kesimpulan bahwa SEMUA YANG ADA INI ADA HIKMAHNYA. Hikmah apa? Hikmah untuk memaknai perjalanan hidup ini dengan benar, lurus dan terbukanya pintu kebenaran. Shiratal mustaqim yakni jalan yang lurus. Jalan apa? Jalan kehendak, akal, nafsu menuju iradat Gusti. Jalan yang mengarah lurus itulah yang benar. Tanda-tanda orang yang sudah mencapai tahap benar ini adalah terbuka terhadap semua pandangan yang berbeda. Mampu meresapi semua keyakinan yang dianggap benar oleh setiap orang, dan kemudian mampu mengambil sari kebenaran tersebut. Dia telah mendapatkan PANDANGAN TERANG… VIPASSANA BHAVANA.

Inilah tahap IQRA sang Muhammad SAW, atau saat nabi Budha mendapatkan Pencerahan di bawah Pohon Bodhi. Mereka ditemui Ruhul Quddus, Malaikat Jibril. Gerak batin kita padu, serasi dan selaras dengan gerak batin-Nya. Mampu membaca keinginan Tuhan dalam hidupnya setiap hari. Batin kita tidak hanya mengingat-Nya dalam setiap tarikan/hembusan nafas dan detak nadi. Namun juga batin kita berkomunikasi intensif berbicara, berbincang-bincang, berdiskusi dengan batin-Nya. Seperti orang berkasih-kasihan. Keduanya saling menakar, mempertimbangkan dan menilai masing-masing.

III.

Tahap selanjutnya perjalanan spiritual yang lebih tinggi lagi adalah meditasi ke semua titik. Mengarahkan konsentrasi indera, batin dalam perbuatan nyata. Tapa ngrame. Beramal sosial. Menyempurnakan penciptaan Tuhan. Memayu hayuning bawono untuk Memayu Hayuningrat. Pada tahap ini, semua sudah terang benderang di depan semua inderanya, di dalam batinnya. Ibadah sosial ini dilakukan tanpa pamrih apa-apa, kecuali netepi titahing Gusti. Apa saja titah gusti pada kawolo/hamba akan dilaksanakan tanpa malas. Bila tidak dilaksanakan, dia akan terkena hukuman. Pengajaran Tuhan disampaikan secara langsung tanpa utusan gaib lagi. Ini tahap saat Nabi berjuang untuk memberi kabar Tuhan, berdakwah terang-terangan ke segenap sedulur papat/semua arah penjuru bumi. Menyebarkan kasih sayang-Nya. Tuhan mewartakan apa saja, sang hamba berkewajiban melanjutkan sabda-Nya.

Dia sudah berderajat para nabi dengan pencapaian ruhani yang sangat tinggi. Namun dia sadar tetap manusia biasa yang masih punya jasad. Kesadaran bahwa kita tetap manusia harus dimiliki. Syariat agama tidak boleh ditinggalkan. Semua nabi telah mencapai derajat ketiga ini. Dia sudah ada di langit ketujuh, langit diri pribadi tertinggi…

IV.

Tahap selanjutnya meditasi adalah mengarahkan diri ke “dalam” lagi. Manusia sudah tinggal aku sejati/ruhnya saja. Ngracut, mencair dan menguap bersama Gusti. Ia sudah mukso. Menjadi cahaya bersama-Nya. Hidupnya abadi. Tidak mengenal kematian. Kematian sudah bisa ditentukan kapan dan dimana. Manusia bisa melihat apa yang akan terjadi. Rentangan kejadian yang ada di alam semesta dilihatnya dengan diam. Semua gerakan batin yang menggelora ada di kekuasaannya. Sang diri pribadi mampu membaca buku “agenda” yang dibuat bersama antara ruh kawulo dengan Gustinya lagi.

Bila selama ini dia hanya bisa meraba-raba, sekarang dia sudah dengan sangat gamblang membaca agenda tersebut. Komunikasi dengan Gusti sudah tidak ada. Kenapa? Bukankah komunikasi butuh dua kehendak yang berbeda? Sementara di tahap akhir ini, dua kehendak itu sudah menjadi satu kehendak saja. Pada tahap ini, Kawulo sudah manunggal/jumbuh dengan Gustinya. Manunggal apanya? Semuanya. Ya iradatnya, ya sifat-sifat-Nya, ya asma-Nya, ya af’Alnya/perbuatannya.

Dia adalah Sumber dari Segala Sumber Cahaya Kebenaran itu sendiri. Apapun yang diinginkannya, adalah Kun Fayakun. Dia mengalami suwung… fana…..dalam kesatuan-Nya…. inilah hakikat takwa: yaitu “benar-benar” menjadi Gusti Allah… Ini hanya dicapai oleh pribadi yang telah tersinari oleh Nur Muhammad, diri pribadi yang memancarkan nilai-nilai terpuji. Sudah tidak ada langit lagi yang harus didaki, bahkan langit dan bumi sudah manunggal dalam satu titik lagi.

@2009. wongalus

Categories: MENJADI GUSTI ALLAH | 12 Komentar

WUJUD ALLAH MENURUT SEMBILAN WALI


Makrifatullah sebagai pengenalan tertinggi kawulo/hamba pada gusti telah dialami oleh para wali penyebar agama Islam di Nusantara. Mereka adalah suri tauladan pencapaian pendakian spiritual bagi kita, pencari jalan Ilahi. Apa dan bagaimana makrifat dari para wali  dan bagaimana wujud Tuhan yang sebenarnya?

Makrifat adalah sebuah situasi mental dan kondisi kejiwaan yang  dialami oleh siapapun yang menginginkan adanya perjumpaan dengan Tuhan Semesta Alam. Salah satu momen makrifat yang paling fenomenal dalam sejarah para nabi adalah apa yang dialami Nabi Musa As saat ekstase/ fana/jatuh tersungkur di bukit Sinai saat “menatap” wajah-Nya setelah gunung yang ada di depannya hancur karena tidak sanggup ditempati pancaran cahaya-Nya.

Makrifat bisa diraih dengan perjuangan dan laku yang berat.Dalam khasanah tasawuf, kita akan diajari bagaimana laku yang berat tersebut harus dijalankan untuk menyingkirkan dan menerobos hijab menuju langit. Hijab adalah tirai selubung penutup batin kita sehingga kita tidak mampu menggapai wujud-Nya.

Hijab di dalam perbendaharaan kaum sufi bisa dikategorikan menjadi sepuluh besar. Hijab ini berasal dari empat unsur, yaitu unsur jiwa, dunia, hawa nafsu, dan setan:

Hijab ta’thil, yaitu meniadakan asma’ dan sifat Allah.

Hijab berupa kemusyrikan, yaitu manembah kepada selain Allah.

Hijab bid’ah qauliyah yang tidak ada pijakannya dalam agama).

Hijab bid’ah ‘amaliah atau perbuatan yang menyimpang dari kebenaran iman dan ikhsan

Hijab batiniyah: takabur, ujub, riya, hasad, bangga diri, sombong dan iri dengki dan lain-lain.

Hijab lahiriyah: Perbuatan Ibadah yang tidak diniatkan untuk berjumpa dengan-Nya.

Hijab dosa kecil. Melakukan perbuatan dosa-dosa kecil namun banyak.

Hijab mubah. Melakukan perbuatan mubah namun tidak dianggap sebagai sebuah dosa.

Hijab lalai dari misi penciptaan dan iradat Allah.

Hijab penempuh jalan spiritual yang bersusah-payah, tetapi namun tidak sampai tujuan.

“Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka pada hari itu benar-bena tehijab dari (melihat) Rabb mereka. Kemudian, sesungguhnya mereka benar-benar masuk neraka”
(Al-Muthaffifin: 15-16)

Setelah semua hijab terbuka dan seseorang pejalan spiritual sudah sampai ke langit ketujuh di dalam diri sejatinya, maka seseorang akan kebingungan dan berada di alam “suwung”/ ora ono opo-opo. Semua pendamping kini telah meninggalkannya termasuk diri, malaikat dan para rasul. Dia kemudian dibimbing oleh Tuhan sendiri untuk berjumpa dengan  Dzat-Nya.

Apa yang terjadi sesudah kita bermakrifatullah? Tidak ada kata yang mampu menjelaskan situasi dan kondisi fana tersebut. Namun, kita bisa mendapatkan penjelasan dari para wali saat mengalami fana tersebut. Bagaimana wujud Allah SWT?

Sunan Kalijaga: “Allah itu adalah seumpama memainkan wayang.”

Syekh Majagung: “Allah itu bukan disana atau disitu, tetapi ini.”

Syekh Maghribi: “Allah itu meliputi segala sesuatu.”

Syekh Bentong: “Allah itu itu bukan disana sini, ya inilah.”

Sunan Bonang: , “Allah itu tidak berwarna, tidak berupa, tidak berarah, tidak bertempat, tidak berbahasa, tidak bersuara, wajib adanya, mustahil tidak adanya.”

Sunan Kudus: “Jangan suka terlanjur bahasa menurut pendapat hamba adapun Allah itu tidak bersekutu dengan sesama.”

Sunan Giri berpendapat, “Allah itu adalah jauhnya tanpa batas, dekatnya tanpa rabaan.”

Syekh Siti Jenar: “Allah itu adalah keadaanku. Sesungguhnya aku inilah haq Allah pun tiada wujud dua, nanti Allah sekarang Allah, tetap dzahir batin Allah”

Sunan Gunung Jati:  “Allah itu adalah yang berwujud haq”

***

@. wongalus, 2009

Categories: WUJUD ALLAH MENURUT PARA WALI | 66 Komentar

MAKRIFAT SUNAN KALIJAGA


Jeng Sunan Kalijaga ngling
Amdehar ing pangawikan
Den waspada ing mangkene
Sampun nganggo kumalamat
Den awas ing pangeran
Kadya paran awasipun
Pangeran pan ora rupa

Nora arah nora warni
Tan ana ing wujudira
Tanpa mangsa tanpa enggon
Sajatine nora nana
Lamun ora anaa
Dadi jagadipun suwung
Nora nana wujudira


(Sunan Kalijaga berkata, memaparkan pengetahuannya.
Hendaknya waspada pada yang berikut ini.
Janganlah ragu-ragu. Lihatlah Tuhan secara jelas.
Tapi, bagaimana melihat-Nya.
Karena Tuhan itu tidak memiliki rupa.

Tuhan tidak berarah dan tidak berwarna.
Tidak ada wujud-Nya. Tidak terikat oleh waktu dan tempat.
Sebenarnya Ada-Nya itu tiada.
Seandainya Dia tidak ada,
maka alam raya ini kosong dan tidak ada wujudnya.)

–Serat Siti Jenar, Tan Khoen Swie Kediri 1922

Pendakian spiritual itu mulai dari mana? Mulai dari syariat dulu, kemudian menuju tarikat, hakikat dan akhirnya sampai pada makrifat? Atau Makrifat (mengenal Tuhan) dulu, kemudian penghayatan hakikat, kemudian menjalankan tarikat dan melaksanakan syariat? Menurut saya, pendakian spiritual bisa dari mana-mana. Kita tidak perlu kebingungan terhadap mana yang harus terlebih dulu kita jalani. Semuanya boleh sebagai titik pijak untuk memulai perjalanan.
Ada banyak teman yang memulai perjalanan spiritual dengan “tidak percaya” terhadap adanya Tuhan. Lalu belajar tentang ilmu ketuhanan, dan setelah kedewasaan intelektualnya mengalami kemapanan dan kemudian dia yakin adanya Tuhan dan kemudian menjalankan syariat. Yang demikian ini hebat.

Ada yang memulai dengan menjalankan syariat agama. Sebab dari kecil dia berada di dalam lingkungan yang taat beragama. Oleh orang tuanya, dia dididik untuk menjalankan syariat agama secara leterluks. Kemudian seiring perjalanan usianya, dia mulai mencari tahu dengan banyak belajar tentang agama, yang telah dijalaninya selama ini. Himngga kemudian pengetahuan dan perenungannya sampai pada hakikat. Kemudian dia menjalani laku suluk/tasawuf dan akhirnya mendapatkan pencerahan Makrifat. Yang demikian ini luar biasa.

Ada pula yang tidak mulai apa-apa. Ya tidak menjalankan syariat agama, ya tidak berusaha mencari tahu tentang Tuhan. Dia skeptis dan agnostik terhadap berbagai wacara agama serta kerokhanian. Dia seakan puas dengan apa yang ada pada dirinya. Otaknya tidak digunakan untuk berpikir tentang Tuhan. Namun, di tengah hidupnya dia dipaksa untuk menerima banyak hal yang tidak mauk akal hingga suatu ketika kesadarannya mengalami “BYAR”. Tiba-tiba dia sadar apa yang telah dijalaninya selama ini. Dia pun menemukan Tuhan di dalam hidupnya. Sukur alhamdulillah.

Suatu saat dalam hidupnya, Tuhan pasti akan datang membawa cahaya-Nya yang suci. Dia akan menerangi diri pribadi kita sehingga yang sebelumnya hanya mampu melihat fakta-fakta dengan inderanya, maka setelah pencerahan Tuhan itu datang maka dia mampu untuk melihat hubungan antar fakta dan akhirnya menemukan kesimpulan bahwa hanya ada satu Tuhan yang wajib disembah oleh manusia.

Tuhan itu bukan benda-benda. Tuhan ya Tuhan. Adanya berbeda dengan apa yang pernah diketahui oleh manusia. Yang pernah diketahui oleh manusia berasal dari pengalaman inderanya. Nah, wujud Tuhan ini tidak ada di dalam gudang memori manusia. Sehingga mengatakan Tuhan seperti A, B, C pasti jelas bukan Tuhan. Tuhan sebagaimana yang dibayangkan oleh manusia, tentu berbeda dengan Tuhan sebagaimana wujud-Nya yang asli. Anggapan tentang Tuhan beda dengan Tuhan yang sebenarnya. Sama seperti anggapan saya tentang mobil Mercy, tidak sama dengan mobil Mercy yang sebenarnya. Sebab saya buta tentang mobil, apalagi tidak pernah memiliki mercy sebelumnya sehingga penggambaran saya tentang Mercy berbeda dengan Mercy yang sebenarnya.

Dikatakan oleh Sunan Kalijaga, sebenarnya wujud Tuhan sangat jelas… sangat sangat jelas! Nah, kejelasan ini pasti tidak dimaknai sebagaimana kejelasan benda-benda. Benda bisa dilihat oleh indera. Namun wujud Tuhan? Disinilah kita akan semakin beranjak arif bahwa Tuhan yang tidak bisa digambarkan oleh kata-kata manusia itu harusnya tidak dilihat dengan indera. Namun oleh “sesuatu” yang adanya jauh berada di dalam diri manusia. Yaitu batin yang intuitif yang disebut dengan guru sejati. Guru sejatilah yang mampu mengantarkan kita untuk melihat dengan jelas diri pribadi. (sukma sejati) Diri sejati adalah tempat bersemayam Tuhan dalam diri manusia. Di situlah Tuhan duduk di atas arasy.

Sukma sejati atau Diri Sejati berasal dari Cahaya Yang Terpuji yaitu dari NUR MUHAMMAD. Nur Muhammad hanya ada SATU. Dan NUR MUHAMMAD inlah yang selalu mendapatkan PANCARAN ILAHI. Semua yang ada ini pada mulanya satu, termasuk manusia. Asal cahaya itu satu. Pancarannya ke segenap arah inilah yang menyebabkan terjadinya “aku” yang jumlahnya banyak. Meski sekarang kita melihat YANG BANYAK namun itu semua adalah perwujudan dari satu CAHAYA.

Melatih kepekaan batin yang intuitif oleh karenanya sangat penting. Berbagai macam cara dilakukan oleh peradaban manusia untuk menemukan Tuhan di dalam diri manusia. Misalnya dengan berkhalwat, atau mengadakan perjalanan spiritual ke tempat-tempat yang sepi untuk kemudian berdzikir hingga dia merasakan kefanaan.

Dalam kesendiriannya, sang pejalan spiritual akan menemui banyak ilusi/bayangan yang mempesona batin. Namun dia tidak boleh menggap bayangan itulah kenyataan Tuhan. Perjalanan diteruskan hingga pendakian memasuki godaan besar. Dia ditawari berbagai macam kemuliaan dunia. Egonya yang masih melekat pada harta, benda, tahta dan wanita ditantang agar dituruti namun dengan imbalan dia harus menghentikan perjalanannya. Ini tahap berbahaya menuju final.

Bila perjalanan diteruskan lagi, dia akan sampai pada kesendirian dan kesenyapan, Tiba-tiba semua yang nggandoli egonya terlepas begitu saja. Dia tidak butuh apa-apa lagi. Di tahap ini, semua pendamping perjalanan yang selama ini menemaninya satu persatu otomatis terlepas. Pengiring batin terlepas, Malaikat lepas karena tidak sanggup menemani lagi, semua saudara gaib melepaskan dirinya. Ya, dia polos seorang diri menuju Tuhan. Dia kini sudah dituntun oleh Tuhan sendiri untuk melihat Sang Penuntun, yaitu AKU. Ya, manusia sudah bisa melihat AKU SEJATI-NYA tanpa was-was tanpa samar-samar lagi. AKU SEJATI itu begitu terang benderang.

Inilah saat mind/pikiran/budi/rasa sudah tidak lagi digunakan. Atau disebut dengan NO MIND. Dia sampai tahap SUWUNG atau FANA. Kata tidak lagi mampu untuk membahasakan apa fana itu. Sebab kata sangatlah terbatas untuk menggambarkan sesuatu. Apalagi ini menunjuk pada kata yang bukan kata benda, bukan kata sifat, bukan kata keterangan, bukan kata kerja, bukan apa-apa…. ya paling gampang kita sebut saja SUWUNG alias MBUH ORA WERUH. Sebab kita tidak membutuhkan berbagai alat indera dan batin lagi. Kita hanya pasrah, sumeleh, sumarah saja pada Iradat GUSTI. **

(wongalus)

Categories: MAKRIFAT SUNAN KALIJAGA | 71 Komentar

ILMU SEJATI MENURUT SYEKH SITI JENAR


“Sajati jatining ngelmu
Lungguhe cipta pribadi
Pustining pangestinira
Gineleng dadya sawiji,
Wijaning ngelmu dyatmika
Neng kahanan ening-ening”

Hakikat ilmu yang sejati
Letaknya pada cipta pribadi
Maksud dan tujuannya,
Disatukan adanya,
Lahirnya ilmu unggul,
Dalam keadaan hening seheningnya

— “Serat Siti Jenar”

Dalam paradigma filsafat ilmu, definisi dari ilmu adalah pengetahuan yang telah diproses sedemikian rupa menggunakan metode, sistematisasi, memiliki obyek forma/sudut tinjau (point of view) dll. Metode ilmu berbeda-beda. Tergantung pada obyek material/materi yang diteliti. Namun, ilmu dalam pemahaman kalangan spiritualis biasanya dipahami lebih kompleks dari itu. Ilmu tidak hanya pengetahuan yang telah diproses dengan metode, sietematisasi, obyek dll… melainkan lebih luas. Meliputi wilayah ilmu sebagai teori dan juga praktik sebagai sarana untuk manembah ke diri pribadi yang merupakan pengejawantahan DIRI-NYA Gusti Inkang Akaryo Jagad.

SYEKH SITI JENAR juga menghayati ilmu seperti pemahaman ini. Terwujudnya ilmu/ngelmu karena ada usaha dan aspek tindakan nyata dari teori. (Ngelmu iku kalakone kanthi laku) Untuk mendapatkan ngelmu, Siti Jenar mensyaratkan adanya perjuangan yang berat, sungguh-sungguh, teliti dan sabar. Bahkan ada syarat khusus yaitu pelaku ngelmu tersebut harus meper hawa nafsunya. Ilmu yang dicari oleh Siti Jenar adalah ilmu sejati, yaitu ilmu yang harus dihayati dan memberikan kemanfaatan hidup di dunia dan diakhirat. Jadi ilmu harus memiliki dimensi pragmatis/kemanfaatan/kegunaan yang besar.

Teori itu penting namun lebih penting lagi adalah mampu mempraktikkan ilmu tersebut untuk kemanfaatan sesame makhluk Tuhan. Ibarat insinyur, teori membangun gedung itu penting. Namun yang lebih penting adalah bagaimana insinyur tersebut mampu mengaplikasikan teori tersebut untuk membangun gedung. Syekh Siti Jenar membimbing orang untuk mampu mengetahui ilmu dari Gusti Yang Maha Tunggal dengan mengetahui kenyataan ini adalah sebuah perwujudan kodrat-Nya. Siapa yang mampu memiliki ilmu ini? Tidak lain pribadi yang tahu, paham dan mempraktekkan kodrat, iradat dan ilmunya.

Ilmu yang sebenarnya/ilmu sejati menurut Siti Jenar berada di dalam cipta pribadi. Ide dan kreasi yang lahir dari dalam diri sendiri. Yang adanya di dalam diri yang paling dalam. Biasanya, kita mengetahui sesuatu itu berasal dari luar, melalui indera/pengalaman indera dan melalui pengajaran-pengajaran dari orang lain/guru/dosen. Namun, kata Siti Jenar, ilmu sejati yang memberi pengajaran adalah DIRI SEJATI. Diri Sejati itu berada di dalam lapisan diri yang paling dalam. Maka, pengetahuan tentang ilmu sejati, menurut Siti Jenar, hanya bisa ditemukan melalui ketajaman batin yang sumbernya dari hening dan sepinya diri. Sebab ilmu sejati memang adanya di kedalaman kesadaran manusia yang paling dalam.

Untuk mendapatkan ilmu sejati, manusia harus sepi ing pamrih rame ing gawe. Bebas dari nafsu dan ego pribadi apapun juga. Batin benar-benar menyatu dalam irama keheningan samadi. Hati dan pikiran tertuju pada fokus: Hu Allah! Itu saja, sehingga tidak ada konflik batin karena semuanya hakikatnya SATU. Susah-senang, baik-buruk, benar-salah, hitam-putih semuanya sumbernya satu dan tidak saling mengalahkan. Semuanya bisa diresapi dalam diamnya pribadi kita untuk selalu menyatu dengan pribadi-Nya. Sedulur papat limo pancer: Empat saudara yaitu ketuban, ari-ari, tali pusat dan darah yang menyertai kelahiran bayi ke alam dunia. Keempat saudara itu secara simbolik akan mati dan bersifat sementara, tinggal Pancernya—Ruh—Pribadi yang hidup. Pancer yang berupa ruh itulah DIRI PRIBADI MANUSIA.

Manusia sejati, menurut Siti Jenar, harus mengetahui GURU SEJATI-nya. Guru Sejati itu semacam intuisi/indera keenam hasil olahan dari RASA yang sangat dalam. Guru sejati adalah RUH yang memperkuat Sukma Sejati/sang pribadi dalam hidup ini. Sementara Sukma Sejati adalah tempat atau wadah bagi dunungnya SANG PRIBADI. Ilmu-ilmu tentang yang demikian itulah oleh Siti Jenar dikatakan sebagai ILMU SEJATI. ***

(wong alus)

Categories: ILMU SEJATI SITI JENAR | 106 Komentar

DOA NURBUWAT


NURBUWAT

“Bismillaahir rohmaanir rohiim. Allahumma dhisshulthanil adziim. Wa dzil mannil qadim wa dzil wajhil kariim wa waliyyil kalimaatit tammaati wad da’awaati mustajaabati ‘aaqilil hasani wal husaini min anfusil haqqi ‘ainil qudrati wannaazhirinna wa ‘ainil insi wal jinni wa in yakadul ladzinna kafaruu la yuzliquunaka bi-abshaarihim lamma sami’udz dzikra wa yaquuluuna innahu lamajnuun wa maa huwa illa dzikrul lil ‘aalamiin wa mustajaabu luqmanil hakiimi wa waritsa sulaimaanu daawuda ‘alaihis salaamu al waduudu dzul ‘arsyil majiid thawwil ‘umrii wa shahhih ajsadii waqdli haajatii waktsir amwaalii wa aulaadii wa habbib linnaasi ajma’in. Watabaa ‘adil ‘adaa wata kullahaa min banii aadama ‘alaihis salaamu man kaana hayya wa yahiqqal baathilu innal baathila kaana zahuuqaa. Wa nunazzilu minal qur’aani maa huwa syifaa-uw wa rahmatul lil mu’miniina. Subhaana rabbika rabbil ‘izzati ‘ammmaa yashifuuna wa salaamun ‘alal murshaliina wal hamdu lillahi rabbil ‘aalamiin.”

*********

(“Ya Allah robb yang memiliki kekuatan yang agung, yang memiliki kemauan yang abadi dan yang memiliki wajah yang mulia dan sebagai pelindung kalimat-kalimat-nya serta pengabul do’a-do’a, kecerdasan hasan dan husein dari jiwa yang benar, pelindung indra mereka yang melihat serta indra jin dan manusia. Dan ketika orang-orang kafir akan menggelincirkan kamu dengan penglihatan sihir mereka tatkala mereka mendengar peringatan lalu mereka berkata-kata, sesungguhnya ia adalah gila. Tiadalah itu semua melainkan sebagai peringatan bagi seluruh alam. Allah yang mengabulkan do’a luqmanul hakim dan mewariskan sulaiman bin daud a.s. Ya allah robb yang maha penuh kasih, ya allah, ya allah, ya allah robb yang memiliki singgasana yang agung, yang dapat berbuat apa yang diinginkan, maka panjangkanlah umurku dan sehatkanlah tubuhku, perkenankanlah hajatku, limpahkanlah hartaku dan anak-anakku, dan berikanlah rasa cinta semua manusia kepadaku, jauhkanlah permusuhan dan pertentangan dari diriku dari semua anak cucu adam a.s. Allah yang hidup dan perkataan itu benar atas orang-orang kafir. Dan katakanlah telah datang yang haq dan telah sirnalah yang bathil karena sesungguhnya yang bathil itu pasti akan sirna. Dan kami telah menurunkan al-qur’an itu sebagai penyembuh dan rahmat untuk orang-orang yang beriman. Dan orang-orang yang dhalim itu tidaklah mendapat sesuatu di dunia ini melainkan kerugian.”)

@ 2009, Wong Alus

Categories: DOA NURBUWAT | 159 Komentar

KEARIFAN BUDAYA MEMBACA BENCANA


Peristiwa alam yang memakan korban manusia disebut bencana, sedangkan peristiwa alam yang tidak berakibat pada manusia bukan merupakan bencana. Budaya masyarakat kita ternyata sudah memiliki cara membaca bencana. Perlu dipadukan dengan perkembangan ilmu pengetahuan.

Kitab Alqur’an surat QS Al Hadid, 22-24 menyatakan sebagai berikut: “TIADA SUATU PUN BENCANA YANG MENIMPA DI BUMI INI ATAU PADA DIRIMU SENDIRI, MELAINKAN SUDAH ADA “KITAB” (CATATAN/BLUE PRINT) SEBELUM KAMI (TUHAN) MEWUJUDKANNYA. SUNGGUH BAGI ALLAH, YANG DEMIKIAN ITU MUDAH”

Apa yang kita pahami dari ayat ini? Saya memahaminya sebagai berikut: Bahwa yang disebut musibah, bencana atau penderitaan semuanya sudah ada cetak biru sebelum semua yang ada ini diciptakan. Tidak ubahnya seorang arsitek yang membuat gambar bangunan sebelum bangunan itu dibangun.

Bedanya: CETAK BIRU BENCANA ITU YANG MEMBUAT MANUSIA SENDIRI. TUHAN yang Maha Kuasa memberikan IRADAT-NYA kepada kita. Dan Dia tidak merugikan manusia sekecil apapun. Ruh manusia sebelum diadakan di dunia ini, berdiskusi dan bernegosiasi dengan Tuhan. Manusia mendapatkan hak prerogratif untuk hidup berdasarkan hukum alam. Inilah saat cetak biru itu dibuat. Cetak biru itu menentukan masa kini dan masa depan manusia.

Kita sekarang ini adalah wujud cetak biru kita di masa lalu. Masa depan adalah wujud cetak biru kita di masa kini. Semuanya sudah tergambar dalam kitab “hukum alam”. Ini berarti kita telah menyetujui bahwa akan terjadi bencana alam bila kita melakukan perbuatan A, B, atau C. Jadi kita tidak selayaknya sedih atau senang bila ada BENCANA ALAM.

Kenapa? Sebab itu adalah HASIL PERBUATAN KITA SENDIRI. Maka, hendaknya kita membuat kebajikan dan amal sholeh sekarang agar masa depan kita akan menjadi baik. Ayat kedua menyatakan alasan-alasan logisnya: “HAL INI DIMAKSUDKAN AGAR KALIAN SEMUA TIDAK BERDUKA CITA TERHADAP APA YANG LUPUT DARI USAHAMU, DAN TIDAK TERLALU GEMBIRA TERHADAP APA YANG KAMU DAPATKAN (DI DALAM HIDUP INI). ALLAH TIDAK MENCINTAI ORANG YANG SOMBONG DAN MEMBANGGAKAN DIRI” “MEREKA ADALAH ORANG-ORANG YANG BAKHIL DAN MENYURUH ORANG LAIN BERBUAT BAKHIL. BARANGSIAPA YANG BERALING DARI KEBENARAN, KETAHUILAH ALLAH ITU MAHA KAYA DAN MAHA TERPUJI”

Tuhan pasti tidak merugikan manusia. Tidak pula memaksa manusia itu menerima perjanjiannya. Dia tawarkan dengan sukarela. Apa yang kita terima dalam hidup sekarang ini, merupakan hasil dari pilihan kita sendiri. Kita diberi kesempatan untuk berkarya buat kehidupan di masa yang akan datang. Soal bencana alam sebagai akibat dari perbuatan manusia tersebut ada alasan ilmiahnya. Sesaat, kita barangkali tidak bisa menghubungkan kejadian bencana alam dengan polah tingkah manusia. Padahal dua hal ini sangat erat hubungannya.

Penjelasannya seperti ini: Bencana alam geologi pada umumnya berukuran besar. Bencana alam terbagi menjadi bencana yang disebabkan murni oleh alam, bencana karena ulah manusia, dan terakhir adalah bencana campuran keduanya. Bencana alam geologi terjadi karena dinamisme kerak bumi yang dalam keberadaannya kurang lebih 5 miliar tahun telah secara terus menerus melepaskan energi panas dalam berbagai bentuk. Pelepasan energi ini tidak lebih karena proses pendinginan bumi sehingga kondisinya memungkinkan untuk dihuni oleh makhluk bumi.

Namun manusialah yang  berkontribusi dalam pemanasan global. Hal ini mengakibatkan bencana alam. Dalam lintasan sejarah, bencana alam geologi sangat akrab dengan budaya manusia. Sebagai contoh, pusat kerajaan Mataram yang harus pindah dari Jawa Tengah ke Jawa Timur karena letusan gunung Merapi. Contoh lainnya adalah kota Pompeii, sebuah kota zaman Romawi kuno yang hancur karena letusan gunung vesuvius.

Sudah sejak lama Gunung berapi juga dipahami sebagai sumber kekuatan, contoh nyatanya adalah Keraton di Yogyakarta, Tugu, dan Gunung Merapi yang berada dalam satu garis lurus. Secara kebetulan atau tidak, Gedung Sate yang notabene dibangun oleh Belanda, Tugu Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat dan Gunung Tangkuban Parahu juga berada dalam satu garis lurus.

Gempa bumi yang beberapa saat lalu menimpa saudara-saudara kita di Sumatra Barat adalah contoh bagaimana sebenarnya gempa tidak pandang bulu. Menimpa masyarakat tanpa memandang kasta, agama, ras suku bangsa apapun. Bahkan, yang paling banyak menjadi korban biasanya justeru masyarakat yang secara ekonomi dikategorikan miskin. Ini juga terjadi di Yogyakarta dan bahkan di Kobe Jepang tahun 1955. Kenapa kaum miskin?.

Ini terjadi karena kaum miskin kebanyakan tinggal di wilayah padat dimana fasilitas jalan di sana dan menuju ke sana kurang layak sehingga bantuan tidak segera datang, karena akses yang kurang ideal. Rumah-rumah warga miskin cenderung berada di sekitar gunung, pesisir atau sungai dan terbangun di atas tanah lempung (silt) atau di wilayah reklamasi. Fondasi di daerah seperti itu tidaklah tahan gempa. Hal ini jauh berbeda jika dibandingkan dengan wilayah hunian kelompok elite, dimana terdapat fasilitas jalan yang bagus dan memadai, rumah-rumah merka berdiri di dataran yang kuat dan sebagainya.

KEARIFAN BUDAYA

Budaya masyarakat biasanya menyesuaikan dengan alam. Budaya adalah kearifan lokal yang bisa dijadikan cara atau alat untuk menyelamatkan diri dari bencana alam. Misalnya bencana tsunani di Aceh 2004. Di Simelue, Aceh kenapa korban yang jatuh di daerah tersebut relatif kecil jika dibandingkan dengan wilayah lain, yaitu hanya sekitar 44 jiwa?

Sebab para orangtua di daerah tersebut telah mengetahui apa yang mereka anggap sebagai pertanda. Jika laut surut tidak seperti biasanya secara mendadak, kemudian banyak ikan yang menggelepar di garis pantai, maka akan terjadi bencana. Para tetua di sana kemudian memerintahkan agar penduduk Simeleu untuk mengungsi ke tempat yang lebih tinggi..

Budaya berkaitan dengan alam. Bahkan dalam banyak peradaban, dikenal ilmu perbintangan dan penanggalan berdasarkan fenomena alam. Misalnya, masyarakat Sunda yang mempunyai kalender Kala Sunda dan masyarakat Jawa memiliki Kalender Pranata Mangsa. Kalender-kalender tersebut tidak hanya sebagai penanda waktu seperti kalender sekarang, namun lebih dari itu, terdapat makna dalam waktu-waktu tertentu.

Dalam Saka Sunda dikenal Kasa pada sekitar Januari, dimana angin bertiup dari barat dan diperkirakan racun terbang tertiup angin. Ciri-cirinya adalah: hujan terus menerus, sumber-sumber air menjadi besar, sungai-sungai banjir. Pohon-pohon yang masih berbuah adalah: Durian, Kepundung, Salak, Nangka Belanda, Lengkeng dan Gandaria. Pada masa ini burung-burung akan sulit mencari makan, makanya akan terjadi migrasi. Untuk petani, kegiatan yang harus dilakukan adalh memperbaiki pematang sawah yang hancur akibat banjir.

Namun berbagai kalender yang disusun oleh para leluhur itu, agaknya kini sudah kurang cocok diterapkan lagi. Ulah tingkah manusia modern yang gemar mengeksploitasi alam habis-habisan membuat pergerakan alam susah untuk dibaca. Kalender itu meskipun kini kurang cocok, namun tidak serta merta harus ditinggalkan.

Kearifan lokal perlu diuji secara empirik dan dikembangkan sehingga menjadi masukan besar bagi pengetahuan, khususnya penanggulangan bencana alam. Sementara itu, manusia yang merupakan “makrokosmos” (lebih besar dari pada alam karena besar/kecilnya alam secara metafisis batiniah ditentukan oleh diri manusia) terap harus berkaca diri: dialah sumber bencana yang sesungguhnya.

(wong alus)

Categories: BENCANA ULAH MANUSIA | 17 Komentar

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com. The Adventure Journal Theme.