DEKONSTRUKSI: FACEBOOK ITU HALAL


Sabtu (23/5) pagi ini saya begitu kaget membaca berita di Koran sebuah surat kabar terkenal di Jawa Timur. Facebook, sebuah situs jejaring sosial yang lagi ngetrend di semua kalangan di tanah air tiba-tiba dinyatakan haram. Tidak tanggung-tanggung, pernyataan itu tidak disampaikan oleh Cak Rakmat, Cak Iwil dan Cak Ali yang terbiasa cangkrukan di pinggir alun-alun sambil melirik cewek-cewek berangkat kerja. Atau disampaikan oleh Ki Bejo Sinting yang biasanya ngoceh sambil telanjang di tengah bundaran Waru, di depan City of Tomorrow, Surabaya.

Tidak. Pernyataan itu resmi itu dikeluarkan oleh Forum Musyawarah Pondok Pesantren Putri Se Jawa Timur, Bahtsul Masail IX di Pondok Pesantren Putri Hidayatul Mubtadi—At Lirboyo Kediri, 20-21 Mei yang lalu: dalam pernyataan resminya forum menyepakati bahwa hukum facebook dinyatakan HARAM. “Jika facebook digunakan untuk pendekatan dengan lawan jenis, hukumnya haram,” begitu kata Masruhan, perumus bahtsul masail yang diikuti 50 pondok pesantren se Jawa Timur tersebut.

Membaca berita ini, terus terang saya kaget, hampir-hampir emosi saya naik ke ubun ubun. Untunglah, sesaat kemudian Sang Kekasih, Tuhan Semesta Alam memberikan petunjuk agar saya tetap tenang dan mengharapkan agar saya menuliskan ketidaksetujuan saya terhadap pernyataan/fatwa tersebut di blog saja. Alhamdulillah, Matur Nuwun Gusti Ingkang Welas Asih…

Begini. Islam atau agama dan kepercayaan manapun yang itu sumbernya dari sumber yang sama, pastilah tidak menghendaki hubungan lintas jenis maupun sesama jenis secara tidak beraturan. Ada etika yang harus ditaati manakala hubungan antar manusia terjadi. Entah itu etika berkomunikasi, etika berpolitik, etika jual beli, dan etika-etika yang lain.

Siapa yang melanggar etika, akan ada dampak yang harus ditanggung. Siapa yang berada di jalur etika, akan aman. Ada sanksi bagi yang melanggar dan sanksi itu bisa tertulis maupun ungkapan verbal dan bisa jadi sebuah tindakan sosial. Tergantung kesepakatan yang dibikin secara sengaja atau tidak antar individu di sebuah komunitas. Etika akan terus menerus berkembang sesuai dengan kemajuan atau kemunduran peradaban. Sifatnya yang plastis dan mudah mulur mungkret tersebut menjadikan etika berada di taraf syariat saja. Perlu ditafsirkan terus disesuaikan dengan semangat dekade, centurion, atu millenium-nya.

Yang jadi masalah adalah bila satu komunitas tersebut kurang mampu membaca tanda-tanda jaman seperti komunitas para Pengasuh Pondok Pesantren Se Jawa Timur tersebut. Di jaman ini, di mana alat dan sarana komunikasi sudah sedemikian hebat, tidak diperlukan lagi cara membentengi diri seperti di era tahun 1960-an seperti era perang ideologi, apalagi dengan fatwa-fatwa seperti itu. Saya khawatir justeru yang mengeluarkan fakta itu nanti yang akan menjadi bahan cibiran dan tertawaan masyarakat. Dan setelah dinyatakan oleh Forum Bahtsul Masail bahwa Facebook itu haram, apakah nanti bisa efektif untuk meredam para pengakses internet agar menjauhi situs jejaring sosial itu? Saya sangat mencintai saudara-saudara yang kini menjadi pegiat pendidikan agama di Pondok-Pondok Pesantren sehingga pada kesempatan kali ini ijinkan untuk mengkritik dan memberikan masukan.

Saya pun tidak melihat adanya segi negatif penggunaan facebook yang berlebihan. Mana sih yang bisa menimbulkan dampak negatif dari facebook, friendster, plurk, atau situs jejaring sosial yang lain? Yang jelas, bahwa sebagai sarana komunikasi untuk saling mengenal antar manusia, jejaring sosial sungguh sangat bermanfaat dan justeru akan mempererat ikatan silaturahmi.  Jadi saya menyimpulkan bahwa FACEBOOK ITU HALAL.

Saya malah beruntung di era sekarang internet bisa merambah dengan cepat hingga perdesaan. Internet adalah komunikasi dua arah, hal ini berbeda dengan televisi dan radio yang hanya satu arah. Satu pihak mendiktekan ke pihak yang lain. Televisi oleh karenanya justeru tidak lebih mendidik daripada internet. Di internet, setiap pengakses masih ada upaya untuk browsing dan surfing, mencari sesuai kebutuhan informasi. Di layar televisi yang hanya ada sekitar sepuluh stasiun tersebut, kita tidak bisa menolak dan mengelak oleh kehadiran iklan-iklan yang menghipnotis. Anda dan saya hanya bisa pasif menerima tanpa mampu untuk membalas ataui memberikan input. Benar-benar sebuah pembodohan bagi bangsa yang masih berusia muda ini. Bila cara berpikir kita hitam-putih, saya lebih cenderung mengatakan bahwa TELEVISI OLEH SEBAB ITU SANGAT LEBIH HARAM DARIPADA FACEBOOK.

Internet adalah mimbar yang paling demokratis dan mampu melewati bangsa dan negara yang lain tanpa batas. Mampu mencari teman tanpa harus bingung diisibukkan oleh latarbelakang pekerjaan, status sosial, pakaian, kaya miskin, dan lain-lain. SI SANTRI BISA MENDEKONSTRUKSI DAN MENGGURI USTADZ-NYA YANG GAGAP TEKNOLOGI, SANG KYAI JUGA BISA BELAJAR TENTANG TEKNOLOGI INFORMASI; BROWSING CHATTING, BER-FACEBOOK RIA. BUKANKAH INTERNET ADALAH PERPUSTAKAN TERBESAR DAN TERLENGKAP DI PLANET BUMI dan bukankah Islam adalah agama yang anti kasta?

Konon, dilarangnya facebook disebabkan karena situs ini bisa disalahgunakan untuk membicarakan hal-hal yang intim, tidak senonoh dan anti agama. Hmm..Begitu sempitkah pikiran kita, yang menganggap bahwa alat itu lebih berbahaya daripada penggunanya? Celurit itu berbahaya bila dipegang untuk anak usia dua tahun, tapi bagi petani tebu justeru mendatangkan manfat yang luar biasa lho. Justeru berkomunikasi melalui dunia maya itu lebih baik daripada kumpul kebo atau pacaran secara sembunyi-sembunyi. Di dunia maya, bukankah eksistensi manusia hanya bisa dibayangkan saja yang juga berarti sebuah permainan simulasi pikiran belaka? Di Facebook, bukankan setiap obrolan akan diketahui oleh para pengakses lain sehingga terbuka kontrol publik secara otomatis?

Yang harusnya dilakukan oleh kaum agamawan tidak terkecuali yang sekarang menjadi pengasuh di pondok-pondok pesantren, atau di sekolah-sekolah biarawan jaman sekarang adalah mentransfer contoh kepada para anak didiknya agar memiliki mental yang kuat, hati nurani yang jernih serta pikiran yang cemerlang. Mental yang mampu dengan sendirinya untuk memfilter mana yang benar dan mana yang salah secara otodidak dan otomatis. Pikiran yang bersemangat untuk mencari kebijaksanaan hingga liang lahat. Inilah sejatinya fungsi lembaga-lembaga pendidikan berbasis agama di Indonesia.

Saat ini, lembaga pendidikan termasuk yang berbasis agama hanya menyibukkan dirinya dengan bagaimana agar anak didiknya melahap sebanyak-banyaknya materi pendidikan yang kesemuanya hanya untuk menuruti target yang telah ditetapkan pemerintah. Ini diperparah lagi dengan komersialisasi di dunia pendidikan sehingga para pengasuh lembaga pendidikan tidak terkecuali yang berbasis keagamaan cenderung untuk mengutamakan pencapaian laba sebesar-besarnya saja.

Otak hanya dijejali pengetahuan untuk peningkatan kognitif dan kemampuan menganalisa, namun tidak dilatih untuk menyerap dan merangkum berbagai mata pelajaran itu menjadi sebuah kesimpulan penghayatan hidup yang selanjut-lanjutnya. Untuk kemudian anak didik memiliki kesiapan dan kemandirian untuk mencari jati dirinya masing-masing yang sesuai dengan budaya, sejarah dan semangat nasionalisme keindonesiaan yang luar biasa. Pendidikan yang hanya berorientasi pada penyiapan Sumber Daya Manusia agar mampu menemukan lapangan kerja yang sesuai berarti tidak memahami akar filosofis kenapa pendidikan itu ada. Ini adalah tradisi kaum sofis di era Yunani Kuno yang hanya menjual ilmu dengan kepandaian bersilat lidah namun mengabaikan aspek moralitas dan religiusitas manusia.

Inilah makna PENDIDIKAN AGAMA. Agama diciptakan untuk manusia agar dia menemukan jalan hidupnya ke arah yang benar. Menerobos langit dan menyelami rahasia samudera. Menjadikan manusi lebih manusiawi memandang sesama, lebih membinatang dalam memandang binatang, dan membertuhankan Tuhan Seru Sekalian Alam secara proporsional. Tidak hanya diajari syariat, namun juga aspek-aspek mental yang lain sehingga akhirnya mampu menemukan RUH AGAMA yaitu RUH KEHIDUPAN itu sendiri.

Ngapunten bila ada yang kurang berkenan.

Wong alus

Categories: FATWA HALAL HARAM | Tags: , , , , , | 35 Komentar

TINGKAT KEBERADAAN TUHAN


Saya sering mendapat pertanyaan dari para sabahat; Tuhan itu ada atau tidak ada? Ini barangkali gara-gara para sahabat saya itu mengetahui bahwa yang ada di depannya adalah lulusan dari Fakultas Filsafat sehingga mereka –entah sekedar iseng atau sungguh-sungguh —ingin mengerti jawabannya dari mulut saya.

Ibarat dokter yang mendapatkan keluhan akan suatu penyakit, saya biasanya merasa bertanggungjawab untuk melontarkan jawaban. Bila dokter siap dengan obat, maka saya siap dengan jawaban. Mungkin ini adalah kesetaraan profesi: dokter dan lulusan filsafat. Hehehe…. Bedanya padahal jelas.

Saran, anjuran dan obat dari dokter ada imbalan uangnya, tapi lulusan filsafat tidak. Boro-boro mengucapkan rasa terima kasih, biasanya malah sebaliknya; membantah, mencibir dan mendebat. Terserah saja… yang penting, saya dan para teman yang rajin diskusi ini akhirnya semakin cerdas dan terampil untuk menggunakan argumentasi untuk menyusun sebuah pandangan dunia.

Terus terang, saya kangen bila dalam sehari tidak dipertanyakan Tuhan itu ada atau tidak. Sejak dulu saat saya masih duduk di bangku SMA kelas 1, atau kuliah di semester-semester awal hingga lulus, atau saat saya sudah memasuki dunia kerja, pertanyaan ini selalu menjadi pertanyaan yang menemani. Dan ini hebatnya, berbeda dengan pertanyaan lain yang jawabannya eksak dan pasti — misalnya berapa tambah berapa sama dengan berapa – jawaban atas pertanyaan Tuhan itu ada atu tidak itu tidak pernah sama terlontar dari mulut saya.

Pasti ada perkembangan, ada penyusutan, ada variasi jawaban. Terkadang semakin berkualitas, namun terkadang semakin dangkal dan tidak bermutu. Bagi saya pribadi, hal ini tidak jadi soal karena saya percaya bahwa otak, pikiran, keyakinan, ide, intuisi kita akan semakin berkembang dan semakin tajam bila diasah terus menerus. Pada satu saat, jawaban itu bisa mandeg dan kasar, namun pada saat yang lain bisa berbinar dan akhirnya menemukan sisik melik tentang hakikat ketuhanan. Semoga!

Bila kebetulan pertanyaan itu berlanjut ke sebuah diskusi yang serius dan situasinya mendukung misalnya bertemu dengan habitat para pemikir handal, saya biasanya menyesuaikan diri. Pertanyaan “Tuhan itu Ada atau Tidak?” di kepala para pemikir handal berkecamuk lebih keras dan lebih kritis daripada kepala saya yang bloon dan tolol. Namun untunglah, biasanya saya tidak kehabisan jurus silat untuk menandingi para pemikir era postmodern yang berkecepatan memori 4 Giga, dan prosesor Intel Dual Core.

Baiklah pada kesempatan kali ini, saya ingin berbagi sekaligus mengajak jagongan dengan para blogger yang budiman untuk membahas bersama-sama jawaban atas pertanyaan “Tuhan itu Ada atau Tidak?…” Agar tidak menjadi diskusi yang tanpa ujung pangkal, hanya ngalor-ngidul dan tidak menghasilkan pengetahuan baru, marilah kita membuat kesepakatan-kesepakatan istilah terlebih dulu.

Marilah kita sepakati dulu istilah YANG ADA. Menurut buku-buku Filsafat yang sudah lusuh dan usang, Istilah YANG ADA, merupakan istilah yang paling umum serta yang paling sederhana di antara semua predikat. Karena YANG ADA maka dapat dikatakan sesuatu mengenai barang-barang yang nyata. Ilustrasinya sbb: kata BARANG dapat diterpkan pada buku, meja, kursi, manusia, KUCING. Nah, ada kata yang lebih umum bahkan paling umum yaitu YANG ADA. Apapun yang dapat kita jumpai dan kita pikirkan, kita bisa menyebutnya YANG ADA. Mudah bukan???

Dalam bahasa Inggris, YANG ADA disebut BEING, bahasa Perancisnya ETRE, bahasa Jermannya SEIN, bahasa latinnya ETRE. Ada kecenderungan masyarakat awam memandang YANG ADA sebagai hal yang pasif yang menyamakannya dengan TERLETAK, TERBENTANG. Padahal, pada hakikatnya, Tuhan Semesta Alam ini sudah menggariskan bahwa YANG ADA ITU AKTIF. Tinggi rendahnya aktivitas tersebut tergantung pada tinggi rendahnya tingkat keberadaan: benda-benda seperti batu, berbeda dengan tumbuhan, hewan, sampai manusia. Untuk menamai sifat aktif YANG ADA ini, biasanya dipakai istilah PENGADA yang artinya YANG ADA yang sedang mengada.

Almarhum dosen saya, Doktor Anton Bakker, semakin mengkongkretisasikan kata YANG ADA dengan arti yang lebih personal, konkret yang menunjuk pada substansi yang hidup dan unik. Dia menyebutnya dengan PENGADA. Nah, untuk mengenali PENGADA ini, caranya adalah mengenali AKU karena AKU-lah sarana untuk menggali dan mengungkapkan hakikat PENGADA tersebut.

Dengan penemuan ini, berarti manusia sudah mampu untuk membuat definisi yang bagus tentang YANG ADA. Bahwa YANG ADA itu terus mengalami pembaharuan meskipun ada sisi-sisi permanensinya. YANG ADA bersifat unik individual, YANG ADA itu satu yang melebur dalam SEMUA. Dan seterusnya….

Untuk lebih mengenal YANG ADA dan semakin memahami bahasa metafisika umum, ada baiknya juga memiliki kejelasan tentang klasifikasi YANG ADA. Sebab di sinilah kita mampu mendudukkan sesuatu hal sesuai dengan klasifikasinya. Pengetahuan ini juga bermanfaat untuk menjawab pertanyaan; TUHAN ITU ADA ATAU TIDAK?

Almarhum Profesor Notonagoro secara gamblang menjelaskan TINGKAT-TINGKAT KEBERADAAN. Dia membagi YANG ADA dalam dua kategori yaitu YANG NYATA ADA dan YANG ADA DALAM KHAYALAN. YANG NYATA ADA dibagi lagi menjadi ADA YANG MUNGKIN dan ADA YANG AKTUAL. Sedangkan YANG ADA DALAM KHAYALAN bisa dipilah menjadi YANG ADA DALAM KHAYALAN yang berupa KEMUNGKINAN dan YANG ADA DALAM KHAYALAN yang bersifat AKALI.

ADA YANG AKTUAL mempunyai esensi abstrak atau hakikat yang mengacu pada eksistensi sesuatu tanpa spesifikasi bentuk sebagai yang independen atau tidak. Esensi individual atau universal itu bukan hal yang kongkret dan bereksistensi melainkan prinsip yang dengannya segala sesuatu itu bereksistensi sebagai sesuatu jenis tertentu. Sementara ESENSI KONGKRET ini bersifat INDIVIDUAL dengan semua determinasi riil yang ada padanya.

Lain lagi yang diungkapkan oleh dosen Ontologi/Metafisika Umum lain, yaitu Doktor Dibyasuharda. Biar nggak ribet dan rumit untuk memahami YANG ADA, dia lebih cenderung menyukai kategori YANG ADA dengan membaginya hanya menjadi tiga; ADA OBYEK, ADA SUBYEK dan ADA AN SICH. ADA OBYEK dapat dikenali manusia karena ia berada di luar subyek atau AKU. Kedua, ada SUBYEK yang dikenali manusia di dalam dirinya sendiri atau AKU yang berhadapan dengan DIRIKU. Ketiga ADA AN SICH yang dikenal subyek, namun tidak dihinggapi dan terlepas dari KEOBYEKANNYA. ADA AN SICH tidak terbuka bagi subyek, karena pada pangkal usaha untuk mengenalinya maka subyek telah menjadikannya ADA OBYEK.

Nah, uraian ini bisa dipakai sebagai bingkai, cara pandang, pola pikir atau paradigma untuk menjawab pertanyaan TUHAN itu ada atau tidak? Jawabannya jelas bahwa TUHAN ITU ADA. Ada di mana? karena TUHAN ITU ADA AN-SICH maka kita tidak bisa menjawab karena pada pangkal untuk menjawabnya kita akan terjebak pada mengobyekkan Tuhan. Namun bila sang penanya sangat penasaran dan daripada nanti kita dianggap pelit untuk menjawab, maka ada baiknya kita menjawab dengan cara pandang Profesor Notonagoro.

Demikian semoga ada manfaatnya meski kecil. Salam damai di wajah, tubuh dan gerakan serta damai pula di hati, mohon maaf bila salah.

Wong Alus

Categories: TINGKAT KEBERADAAN TUHAN | Tags: , , , , , , , | 8 Komentar

SAYUR LODEH PAK DAMAR (bagian 4)


Untuk melengkapi tulisan terdahulu, pada kesempatan kali ini penulis ingin berbagi soal pandangan Prof Dr Damardjati Supadjar tentang tradisi tolak bala. Berbeda dengan para penceramah yang sering kita dengar di mimbar-mimbar yang lebih cenderung berpikir hitam-putih dalam memandang tradisi tolak bala, Pak Damar lebih cenderung untuk memandang persoalan dari aspek positifnya. Dia memilih menyelami kenapa masyarakat melakukan sebuah upacara tradisi dan mengambil intisari serta makna yang terkandung dari sebuah fenomena budaya tersebut.

Apalagi masyarakat Jawa terkenal dengan kegemarannya untuk mengolah perilaku serta pikirannya. Kepribadian orang Jawa itu tercermin dalam digunakannya berbagai taraf bahasa mulai Krama Inggil yang halus hingga Jawa Ngoko yang cenderung vulgar, nakal dan lucu. Kecenderungan lain orang Jawa adalah kesukaannya untuk ”otak atik gathuk”, menghubung-hubungkan sebuah fenomena atau gejala alam dengan keberuntungan, musibah, atau pertanda. Menyadari akan tipologi, karakter, kepribadian orang Jawa yang seperti itu, Pak Damar tidak serta merta menolak. Justeru dia menggunakan jurus yang sama: ”otak atik gathuk” untuk kemudian dibingkai dengan frame Agama dan disesuaikan dengan ajaran Ketauhidan.

Syahdan beberapa tahun lalu masyarakat Yogyakarta, terutama yang tinggal di bagian selatan was-was. Kekhawatiran muncul menyusul pengumuman Badan Meteorologi dan Geofisika akan kemungkinan terjadinya badai tropis di laut selatan pulau Jawa yang bisa menghantam Yogyakarta. Pengumuman itu tak pelak membuat sebagian besar masyarakat memilih menjauhi pantai. Misalnya, di desa Kanigoro yang berada di pinggir pantai, terdapat lebih dari 210 nelayan dan 100 pedagang pergi meninggalkan pantai. Arus pengungsian warga menjauh dari pantai sangat beralasan karena banyak warga trauma menyaksikan gempa dan gelombang tsunami dan lain sebagainya.

Sebagaimana kebiasaan masyarakat Jawa yang gemar untuk mengadakan upacara selamatan, saat itu entah bagaimana asalnya tiba-tiba masyarakat Yogyakarta memasak sayur lodeh dua belas macam, menanam uang seratus rupiah bergambar gunungan sebagai syarat tola bala di depan rumah dan hal-hal unik lainnya. Tidak hanya itu, masyarakat juga berebut air yang diambil dari tujuh sumber mata air untuk “keslametan”. Berita ini tersiar luas dan sangat cepat. Lalu banyak masyarakat mempraktekkannya, bahkan di kantor-kantor banyak orang memasak sayur lodeh.

Sayur lodeh adalah sayur bersantan yang terdiri dari 12 macam bahan pokok, yaitu waluh (labu) kuning, kacang panjang, terong, kluwih, daun so, kulit mlinjo, jipang, kates muda, gori, kobis, bayung dan kecambah kedelai. Sayur ini biasanya dimakan dengan bubur. Bagi kalangan penceramah agama yang hitam-putih, ini bisa jadi dianggap bertentangan dengan ajaran Islam karena mengurangi kemurnian akidah. Di berbagai masjid, para dai men-cap praktik tradisi ”tolak-bala” seperti itu dianggap bertentangan dengan ”kemurnian” akidah.

Sadar akan kemelut keyakinan masyarakat yang berbeda mensikapi adanya ancaman badai tropis akidah di aras publik masarakat Yogyakarta tersebut, Pak Damar turun gunung untuk menyejukkan suasana. Dia diminta menulis artikel di koran Kedaulatan Rakyat, yang dimuat tanggal 6 Februari 2005.

Menurut Pak Damar, tradisi ”tolak-bala” di atas bermakna untuk menggugah kembali semangat ke-dhiri-an, menyelami hidup, mawas diri serta mengkoreksi diri menghadapi situasi yang mutawatiri (mengkhawatirkan) masyarakat. ”Sayur lodeh sebagai makanan terkait dengan kata “madhang” (makan). “Madhang” tidak sekedar makan secara lahir, tetapi sebuah laku mencari “pepadhang” atau jalan terang kehidupan agar selamat. Sebab sekarang ini situasi masyarakat sedang “peteng” (gelap). Sehingga sayur lodeh menjadi simbol masyarakat dianjurkan untuk mencari “pepadhang”, mencari kebaikan, atau jalan terang,” tulis Pak  Damar.

Dalam kondisi yang tidak menentu, tulis Pak Damar, filosofi Jawa menganjurkan manusia untuk kembali ke alam “madhang” sayur lodeh 12 macam.

Artinya, manusia hidup dalam suatu rangkaian upaya menangkap gelar atau agenda Ilahi. Untuk menangkap gelar atau agenda Ilahi manusia harus menangkap gelagat alam, di samping menangkap gelagat sesama, masyarakat di mana ia berada. ”Angka 12, berjumlah tiga (1+2), dalam filosofi Jawa berarti upaya meraih kehidupan masyarakat yang “jinangkung-jinampangan” (dilindungi Allah yang maha kuasa). Sayur lodeh 12 macam dengan bahan utama waluh (dari kata uwal-luh) kuning berarti “uwal” (lepas), dari ‘luh’ (air mata); maksudnya membebaskan manusia dari tetes air mata, peluh atau penderitaan. Santan sayur kelapa hijau biasa digunakan oleh masyarakat tradisional untuk penawar racun. Santan dalam sayur ini juga menjadi simbol penawar racun duniawi. Kemewahan dunia tidak disadari oleh masyarakat telah menjadi racun.” tulis Pak Damar. ***

Wong alus

Categories: DAMARDJATI SUPADJAR 4 | Tags: , , , , , , | 19 Komentar

HANYA ADA TUHAN


Aku mohon perlindungan-Mu,…. duh Gusti Allah dari sifat-sifat yang terkutuk dan menyesatkan…

Salam sejahtera,
Semoga semua makhluk berbahagia
Assalamualaikum Wr..Wb,

Jalan untuk bertemu Tuhan adalah jalan kemuliaan yang terangnya melebihi tujuh triliun sinar matahari. Namun di jalan itu terselubung penghalang, tirai, hijab yang tebalnya melebihi tujuh triliun tubuh matahari pula. Itu adalah jalan penaklukan keinginan yang luar biasa banyaknya. Bila tidak dibantu oleh Sang Konseptor Kehidupan ini (Tuhan) dijamin tidak mungkin kita dan semua makhluk mampu untuk menemui-Nya. Beruntunglah, Tuhan tidak pelit untuk menampakkan diri-Nya. Dia siap untuk membuka diri bagi mereka yang rindu perjumpaan.

Perjalanan untuk bertemu dengan Tuhan memerlukan proses, tahapan, tingkatan. Ini bertujuan agar manusia memiliki kesiapan mental, kesadaran dan pengetahuan sehingga mampu untuk melangkah ke tingkat-tingkat selanjutnya. Berikut akan aku paparkan proses yang kulalui untuk bertemu Tuhan. Karena urusan Ketuhanan sangat subyektif maka di sini tidak ada bahasa obyektif. Bila ada kesalahan itu semata-mata oleh kebodohan saya, dan bila ada benarnya itu semua karena hidayah dan petunjuk dari Tuhan.

Proses awal untuk bertemu Tuhan adalah memiliki niat untuk bertemu Tuhan. Ibarat engkau ingin bertemu dengan kekasih, maka pertama engkau harus memiliki niat awal dan memelihara niat itu seterusnya. Niat itu haruslah niat yang mantap, konsisten, tidak berubah-ubah. Tinggalkan niat-niat lain yang sifatnya sementara dan temporer. Engkau harus percaya bahwa memiliki niat untuk bertemu dengan Tuhan berarti memiliki niat untuk bertemu dengan Sumber dari Segala Sumber Hidup. Apabila niat sudah ditancapkan dalam hati, Tuhan tidak tinggal diam. Dia akan memberi petunjuk dan jalan yang harus dilalui oleh manusia. Satu petunjuk diberikan, manusia harus bersyukur dan selanjutnya dia perlu meneguhkan niat kedua untuk menjalani perjalanan selanjutnya. Perjalanan masih sangat sangat sangat panjang.

Apa tujuan untuk bertemu dengan Tuhan? Ingin sakti? Ingin memperoleh mukjizat? Ingin kebahagiaan? Ingin kekayaan? Ingin berkuasa melebihi kekuasaan yang dimiliki orang lain? Ingin keselamatan dunia dan akhirat? Ingin hidup kekal dan abadi? Ingin mencintai-Nya secara tulus? Itu semua adalah keinginan-keinginan yang biasanya hadir pada diri engkau sebagai manusia.

Bila tujuan engkau bertemu Tuhan masih diseputar keinginan-keinginan tersebut, Tuhan tidak mungkin ditemukan. Semua keingian di atas adalah hijab/tirai/penghalang yang mengganggu perjalanan. Menetapkan tujuan untuk bertemu dengan Tuhan sangat sulit untuk dijelaskan, sebab menetapkan tujuan membutuhkan pemurnian kehendak-kehendak manusia yang cenderung kotor, egois dan hanya untuk kepentingan sementara yang ujung-ujungnya sangat sepele dan iseng.

Menetapkan tujuan oleh karenanya membutuhkan pengetahuan. Pengetahuan itu diolah dengan pikiran, rasa, pancaindera yang tuntas dan total. Pengetahuan untuk menghayati darimana manusia berasal, dimana dia sekarang dan kemana engkau akan pergi. Pengetahuan tentang agama cukup penting untuk menetapkan tujuan bertemu Tuhan sebab agama menawarkan keluasan pengetahuan tentang hal-hal yang ghaib. Namun pengetahuan agama saja tanpa dihayati dan dijalani dengan sepenuh hati juga sia-sia karena bisa terjebak pada dogmatisme yang sempit. Bila diperkenankan oleh Tuhan, pada kesempatan kali ini saya ingin mengatakan kepada Pembaca yang Budiman bahwa tujuan untuk bertemu dengan Tuhan adalah “tidak ada tujuannya” kecuali untuk pertemuan itu sendiri. Bukan karena dilatarbelakangi oleh embel-embel keinginan apapun karena saat muncul keinginan di situ jebakan nafsu akan terjadi.

Bila tujuan untuk bertemu Tuhan sudah diketahui, sampailah engkau di tahap berikutnya yaitu memulai perjalanan. Daya-daya kemanusiaan yang sudah mulai hidup, kemudian dijalankan. Ada beragam cara untuk memulai perjalanan. Engkau perlu menjalani syariat agama sesuai dengan keyakinan terdalam di hati. Syariat adalah rambu-rambu/hukum boleh tidak boleh/ halal haram dan seterusnya. Namun, engkau boleh memiliki cara lain memulai perjalanan. Misalnya, engkau belum mengenal agama atau engkau tidak percaya lembaga-lembaga formal keagamaan karena merasa terhegemoni kebebasanmu untuk mencari dan mengekspresikan diri secara total, maka engkau boleh tidak memakai agama apapun.

Yang perlu engkau lakukan adalah memiliki cara otentik yang sesuai dengan jati dirimu. Perlu diketahui bahwa Tuhan Maha Suci, Maha Besar, Maha Segala Maha… tidak seperti manusia yang memiliki kesempitan pandangan dan keyakinan. Sehingga tidak pada tempatnya untuk menyalahkan dan memberi stempel dan cap kepada mereka yang tidak menggunakan cara-cara agama untuk bertemu dengan Tuhan. Sama dengan perjalanan menuju tempat dan waktu tertentu, maka perjalanan bertemu dengan Tuhan membutuhkan bekal. Bahkan bekalnya tidak sulit ditemui karena hanya perlu hati yang ikhlas dan sabar. Ikhlas dan sabar mudah diucapkan tapi sulit dilaksanakan bila belum sampai pada tahap spiritual selanjutnya.

Perjalanan untuk bertemu Tuhan bukanlah perjalanan meninggalkan dunia, meninggalkan keramaian, meninggalkan isteri dan anak. Perjalanan bertemu Tuhan adalah perjalanan hidupmu dan hidupku sehari-hari, mengarahkan tujuan dan menjalaninya sesuai dengan tahapan-tahapan perjalanan. Bila perjalanan kita masih sampai di dunia, ya berarti kita mengolahnya agar tujuan yang ditetapkan tidak salah arah. Dunia ini adalah terminal sementara untuk kemudian berlanjut ke perjalanan akhirat. Sebelum di dunia, kita berada di alam ruhani yang lain. Itulah sebabnya, alam dunia ini ruhani kita diberi tempat yang berupa jasad atau tubuh kita. Saat kita lahir di dunia, ruh itu ditiupkan Tuhan untuk kemudian menghuni rumah yaitu jasad. Umur jasad tidak lama dan ruh kemudian secara otomatis mengembara ke alam lain yang ghaib, yang tidak kasat mata, yang halusnya tidak bisa diraba. Namun bisa dirasakan keberadaannya dengan hati nurani yang hidup. Insya Allah…

Salah satu alat ruh untuk berkomunikasi dengan ruh-ruh yang lain adalah dengan kesadaran. Kesadaran yang hidup oleh pemberian dan karunia Tuhan. Tanpa ijin Tuhan, ruhmu dan ruhku tidak mampu untuk berbuat banyak untuk menimbang dan menilai apapun yang ada di semesta ini. Alam ruh adalah alam yang tiada batas, alam yang tidak mampu dirangkum lagi oleh keterbatasan ruang dan waktu, Alam ruh adalah alam yang tanpa dimensi lagi, alam yang tidak mampu dibahasakan lagi oleh otak dan pikiranku yang terbatas sebab ruh itu dalam genggaman-Nya.

Perjalanan hidup adalah perjalanan untuk bertemu dengan Tuhan. Rahasia demi rahasia pun terungkap satu demi satu. Kita menemukan makna dan makna itu memberikan kemanfaatan buat perjalanan hidup yang kekal. Tidak hanya kemanfaatan bagi hidupku, namun kemanfaatan bagi hidupmu, hidup semua ruh dan semua kekasih Tuhan. Aku ada demi engkau, demi mereka, demi alam semesta ciptaan Tuhan.

Akhirnya kita sampai pada akhir perjalanan bertemu Tuhan. Perjalanan itu ternyata perjalanan ruhani berakhir ke satu titik. Konsentrasi ke satu pusat pandangan namun menyebar seluruh titik di alam semesta. Tidak ada kau, tidak ada mereka, tidak ada aku dan tidak ada semuanya! SEMUANYA TIDAK ADA….

Ya Allah, aku tersungkur

Ya Allah, aku tidak merasakan apa-apa

Ya Allah, aku tidak ada

Ya Allah, mereka tidak ada

Ya Allah, semuanya tidak ada

Tidak ada apa-apa …

ALLAH, ALLAH, ALLAH…….KAU, KAU, KAU

21 Mei 2009
Wong Alus

Categories: HANYA ADA TUHAN | 23 Komentar

BANGKIT DARI KETERPURUKAN (Bagian 3)


Dua bagian tulisan sebelumnya tentang Prof Damardjati Supadjar mengangkat biografi sederhana serta Konsep Ketuhanannya (GERIMIS KENANGAN DARI PENCARI YANG TERLUPAKAN dan MEMAHAMI DAMARDJATI SUPADJAR). Artikel kali ini membahas tentang bagaimana agar Bangsa Indonesia bisa bangkit dari keterpurukan. Namun sebelumnya akan dijelaskan terlebih dulu peran Sri Sultan di dunia.

Menurut Pak Damar, Kenapa Yogyakarta disebut daerah istimewa karena peran kosmis dan universal Sultan sebagai Kalifatullah. “Gelar Sultan tak ada duanya di dunia. Gelar itu beresensi pada istimewanya hati, spiritualitas. Keistimewaan itu se-analog dengan hati. Kalau hati baik, perbuatan dan keistimewaan juga akan menjadi baik. Demikian pula bila laku atau jalannya hati-hati, hasilnya juga akan baik dan selamat”, ujarnya.

Menurut Pak Damar, keraton adalah lambang struktur manusia dengan segala konsep kesadaran sangkan paraning dumadi, sedulur papat lima pancer, kiblat papat lima pancer jalma limpat seprapat tamat. Makna Keraton menjadi sangat penting dan melekat di hati rakyat, karena Sultan dan Keraton masih memiliki atau memenuhi kualitas seperti yang tergambarkan dalam sanepo itu yang bersifat spiritual dan bermakna sangat mendalam.

Sanepo tersebut menyiratkan sebuah kearifan seorang pemimpin dan kesadaran illahi yang tinggi. Namun, lanjut Pak Damar, konsep keratuan Raja Jawa yang spiritual itu tidak dihayati secara sungguh-sungguh. “Kualitas kita ini masih sebatas raga. Maka, masih berjalan di tempat. Kesadaran kita masih kesadaran api, yang dengan demikian adalah kesadaran iblis di mana manusia tak pernah bisa sujud. Manusia itu terlena dengan aktifitas menjumlah dan menghitung, yang sebenarnya tidak akan pernah mencapai bilangan infinitum,”

Barangsiapa hendak njongko, njangkah, ujung jangka harus lebih tajam dari sebilah jarum. Padahal, terangnya, ketajaman jarum itu masih saja tumpul bila dilihat dengan mikroskop. Maka untuk bisa benar benar tajam, harus dengan hati, yakni ning nong. Artinya heningkan hati atau rasa. Dengan begitu, baru bisa mendapatkan bilangan nol. Tajam sejatinya tajam dan seimbang. “Barangsiapa bisa membagi bilangan nol, manusia baru akan bisa mbobot (mengandung) ruh, yakni janji Illahi. Karena itu, saya menekankan pentingnya sebuah revolusi spiritual, perang bratayudha. Perang besar antara raga dan jiwa.”

Inilah yang seharusnya dilakukan oleh kita semua agar bisa lahir di dunia secara baru. Buah dari mbobot dan meteng-nya ibu. Dua istilah yang dalam bahasa Jawa berarti hamil atau mengandung. “Mbobot dalam bahasa Jawa juga bisa diartikan sebagai bobot yang berarti berat atau beban. Misalnya ketika perawan suci Maria yang tak pernah bersentuhan dengan lelaki tiba-tiba hamil, sang malaikat memberitahu, bahwa Maria bukannya sedang mbobot dalam pengertian terbebani. Tapi, justru terangkat oleh kuasa ruh.

Ketika seorang ibu hamil, pengertiannya bukan karena dihamili. Tapi, sang ibu yang memang sedang mbobot ilmu amal suaminya. Harus dibuktikan Agar bangsa Indonesia bisa bangkit dari keterpurukan di berbagai bidang, Pak Damar memiliki pemahaman yang menarik. Yaitu para cendekiawan harus semakin gigih meneliti sebagai pertimbangan untuk membuat kebijakan.

“Tanpa mengurangi rasa hormat kepada para pahlawan, yang darahnya memang mulia, dan dengan mengingat tinta atau kalam alim-ulama itu lebih mulia. Namun bila mulianya darah syuhada pahlawan itu sudah terbukti, lebih mulianya kalam alim-ulama masih harus dibuktikan. Kiranya tidak berlebihan, bila dikatakan Indonesia berjalan di tempat.

Agenda ‘pemindahan kekuasaan’ sebagaimana tersurat dalam teks proklamasi itu sedemikian dominan. Sehingga, agenda ‘dan lain-lain’ dalam teks proklamasi yang merujuk pada ranah budaya, spiritualitas, pendidikan, keadilan, kesejahteraan dan seterusnya, menjadi sekunder atau bahkan terabaikan. Padahal, semua itu terikat pada kualitas ‘kesaksamaan’ dan ‘dalam tempo sesingkat-singkatnya’.

Semua itu kata kuncinya adalah mutu, yang dalam filsafat Jawa harus berlaku bagi mereka yang sudah tua dan menimang putu atau cucu. Menurut Pak Damar, putu dalam bahasa Jawa juga disebut wayah, berkonotasi waktu. Kesemuanya itu tampak jelas pada kasus aktual di Jogjakarta, yakni wacana keistimewaan Jogjakarta yang terfokus pada kekuasaan kegubernuran.

Padahal, hakikat Keistimewaan Jogjakarta itu terutama terletak pada agenda ke-Khalifatullah-an (gelar Sultan Jogja), yang nilai raportnya istimewa (nilai A plus atau 10). Bila Indonesia berjalan di tempat, itu karena dunia juga berjalan di tempat. Dunia berjalan di tempat pada bahasa Tongkat Nabi Musa, Kalimullah, a.s. berupa ekonomi, politik dan teknologi. Padahal, setelah bahasa makluk yakni Tongkat Nabi Musa, segera disusul oleh bahasa Khalik, yakni bahasa Ruh, yang dipersonifikasikan oleh Kanjeng Nabi Isa, Ruhullah, a.s. Dunia jauh dari memahami bahasa Ruh tersebut.

Apa lagi, bahasa terpuji, penghubung makluk dan Khalik, akhlak, Ahmad-Hamid-Mahmud-Muhammad, sikap dan cara hidup Hamemayu Hayuningrat. Maka demi keistimewaan Qolbu tubuh organik ke-Indonesia-an, kita harus menjemput bola. Bukan menunggu datangnya Isa, Ruhullah dari langit. Tapi, membobot ulang firman yang mem-badan, Jiwa Kang Kajawi.

Dalam pandangan hidup Jawa, mbobot atau menimbang janji Kawula-Gusti itu jauh berbeda konotasinya dengan meteng, yang berkonotasi main main dengan weteng atau perut di kegelapan kesadaran peteng atau gelap, sehingga akibatnya meteng atau hamil. “Titik 0 (nol) sebagai lambang mbobot janji Kawulo-Gusti adalah inti Wuquf, yang bila paripurna segera akan diikuti oleh laku Waqaf. Justru laku waqaf itu dicontohkan oleh wanita yang mbobot, sedemikian rupa sehingga Surga itu terletak di telapak kaki ke-Ibu-an.

Indonesia yang ‘feminim’ menemukan landasan pada istilah ibu jari, ibukota, nomor induk, dan menemukan landasan formalnya pada term Ummul Kitab, yang disiplinnya disebut Ilmu Filsafat, induk segala ilmu,” katanya. Ketika filsafat lahir di Ionia Yunani, wacana mitologis terhapus oleh pencerahan akal budi. Sedemikian rupa, sehingga Atlas yang semula nama Dewa, berubah menjadi Peta.

Nah, bagaimana supaya dunia tidak berjalan di tempat dan seolah-olah hanya mengolah fakta atau membaca fakta yang di tingkat SD untuk faktor, di SLTP untuk fungsi, di SLTA dan di Perguruan Tinggi untuk olah peran, yang sebenarnya semua itu hanya peran objek penderita?

Tak lain, kata Pak Damar, “modernisme harus berganti menjadi olah peran sebagai subjek pelaku. Koreksi makmum atas kesalahan Imam, yakni ungkapan subhanallah bagi kaum pria, menjadi tepukan paha bagi wanita. Itulah Filsafat Nareswari. Bila orang laku njangka, maka ujung jangkanya harus tajam dan seimbang, yakni titik 0 (nol). Dengan demikian, luas lingkarannya tak terhingga. Setiap poin, pun menjadi syah sebagai pusat semesta. Biarkanlah rakyat tidak ke mana-mana dan tetap ada di mana-mana. Vox Dei akan terungkap melalui Vox Populi, dan berkembanglah tradisi penemuan, dan Ratu Adil bukan omong kosong atau tinggal wacana. Tapi, ada karena ditegakkan bersama” ujarnya. (HABIS)

Categories: DAMARDJATI SUPADJAR 3 | 10 Komentar

MEMAHAMI DAMARDJATI SUPADJAR (BAG 2)


Pada bagian yang lalu, saya menulis di blog ini tentang setetes kenangan dari seorang guru yang pernah menjadi bagian dari hidup saya, yaitu Prof Dr Damardjati Supadjar, Guru Besar Filsafat UGM. (Baca: GERIMIS KENANGAN DARI PENCARI YANG TERLUPAKAN).  Agar semakin jelas tentang sosok beliau, marilah kita telusuri secara lebih mendalam apa dan siapa dia. Pak Damar—begitu kami memanggil– sering mengutip pernyataan filsuf dari Amerika Serikat, Alfred North Whitehead. Ternyata, disertasi S-3 Pak Damar adalah tentang pemikiran-pemikiran Whitehead.

Pada kesempatan kali ini, saya ingin menyampaikan salah satu hal yang sering dikutip Pak Damar tentang titik. Kata Whitehead, Tuhan bisa dinalar misalnya dengan mengandaikan adanya titik bergantung pada garis, garis pada bidang, bidang pada ruang dan seterusnya.

Alfred North Whitehead berkata, bahwa 2000 tahun yang akan datang, kehidupan manusia akan dipengaruhi oleh ilmu pasti yang akhirnya semoga saja bisa semakin mengenal tentang Tuhan. Dari pemikiran Whitehead, kita bisa mendapatkan penjelasan tentang Tuhan dari yang hanya sekedar mistik menjadi lebih rasional.

Dalam kehidupan ini menurut Alfred, ada dua kutub yang saling berhubungan antara yang satu dan yang lainnya. Yaitu kutub nilai dan kutub fakta.

Kutub nilai adalah sesuatu yang selalu aktual tetapi tidak mengalami pemudaran dan tidak mengalami masa lampau. Dia sifatnya abadi. Sedangkan kutub fakta adalah sesuatu yang mengalami aktual dan mengalami pemudaran. Dia sifatnya tidak abadi, berarti dia mengalami masa lampau.
Disinilah yang oleh Whitehead disebut sebagai becoming and perishing (menjadi dan memudar). Kutub nilai antara lain indah, benar, baik dan lain-lain. Dialah yang selalu aktual dan tidak akan memudar sampai kapanpun. Nilai berada dalam batin.

Sedangkan segala yang tergelar didunia ini adalah fakta (lahir). Karena sifatnya yang lahir itulah dia mengalami aktual dan pemudaran. Kita mengambil contoh type-type merk sepeda motor, misalnya honda. Pada jamannya Astrea 800 adalah merk yang aktual dan indah. Tetapi setelah dibuatnya astrea prima, astrea 800 menjadi sesuatu yang lampau dan tidak lagi aktual. Demikian pula setelah astrea grand keluar, maka astrea prima menjadi barang yang lampau dan memudar. Mungkin saat jamannya astrea grand adalah barang dengan desain yang indah dan sempurna, tetapi tidak setelah ada astrea supra. Begitulah seterusnya.

Kita kembali ke kutub nilai dan fakta. Atau biar lebih mudah dalam pengucapan kita kembali ke lahir dan batin. Karena sifat nilai yang kekal dan abadi itulah maka pada hakekatnya manusia membutuhkan. Dan karena butuh maka manusia menyebutnya sebagai Tuhan. Coba kita sebut nama Tuhan dalam hati (maha benar, maha indah …).

Jika lahir dan batin dihubungkan maka akan terdapat sebuah garis. Dan disitulah sebuah titik berada. Dan manusia menjadi titik tengahnya. Sebagai titik yang berada di tengah maka manusia bisa memilih akan ke mana arah tuju hidupnya.

Misalnya sebagai contoh, Antara Banyuwangi (jawa timur/anggaplah lahir) sampai merak(Banten/batin) adalah sebuah garis, kita anggap yogyakarta adalah tengahnya. Dan diyogyalah terdapat titik itu berada.

Jika manusia memilih untuk berjalan ke arah merak(batin), maka sesungguhnya dia menuju ke sesuatu yang abadi yaitu Tuhan. Dan bila dia menuju ke arah banyuwangi (lahir) maka dia menuju ke arah yang materialistik. Semakin dia dekat dengan banyuwangi (lahir) maka dia semakin jauh dari Tuhan. Sampai dia sangat dekat dan sampai banyuwangi (lahir) dia semakin jauh dari Tuhan dan semakin tidak mengenal Tuhan. Dan dari sinilah atheis bermula. “Atheis bermula dari materialisme.” Kata Whitehead

Jadi pergerakan kita ke arah lahir, adalah pergerakan kita menjauhi Tuhan. Dan semakin kita tidak mengenal Tuhan. Dan bila yang kita pilih adalah ke arah Tuhan, agamalah yang lebih dalam mengajarkan tentang nilai-nilai (Tuhan). Pergerakan kita menjauhi Tuhan akan membuat kemurkaan Tuhan.

“Kalau seseorang awam yang membuat pernyataan mengenai tembok rumahnya, maka pada umumnya pernyataanya semata-mata lahiriah, misalnya bahwa tembok putih. Sementara sang pemborong akan membuat pernyataan yang lebih “batini”, misalnya “tembok itu anti gempa”

“Atas dasar keilmuwannya yang memahami penuh konstruksi kedalaman si tembok. Namun insinyur pengendali project memiliki “sesuatu” yang lebih “batini”, yakni semacam “kekuasaan” menetapkan bahwa suatu gedung yang anti gempa, bisa jadi tidak anti project dan karenanya bisa runtuh oleh suatu project. Demikianlah maka Tuhan itu maha batin, menguasai segala, mengendalikan semua saja,” kata pak Damar ***

WONG ALUS

Categories: DAMARDJATI SUPADJAR 2 | 11 Komentar

GERIMIS KENANGAN DARI PENCARI YANG TERLUPAKAN


Yogyakarta tahun 1990. Kesaksian samar-samar ini bermula dalam sebuah ruangan bersekat triplek ukuran kecil yang dilabur dengan apu. Ruangan ini dipergunakan untuk sholat para mahasiswa di belakang kampus. Saat itu saya hadir saat untuk menjalani masa Opspek, atau masa perkenalan sebagai mahasiswa baru di Fakultas Filsafat, Universitas Gadjah Mada.

Di ruangan tersebut, kami dikumpulkan untuk mendengarkan ceramah dari PROF. DR Damardjati Supadjar. Pak Damar– begitu kami para mahasiswa menyebut—menyampaikan tema tentang pentingnya menuntut ilmu. “Pencari ilmu itu seperti detektif yang menyelidiki sebuah fakta, gejala, peristiwa lalu menyampaikan hipotesa, menguji dan akhirnya menemukan hubungan antar fakta sehingga kemudian mengambil kesimpulan,” Ini adalah salah satu bahasan dari sekian gagasan yang disampaikan oleh Pak Damar saat itu.

Pak Damar menyampaikan dengan bahasa yang kami semua mungkin hanya bisa meraba-raba maknanya sepotong sepotong. Tidak seluruhnya bisa kami pahami karena keterbatasan pengetahuan kami. Namun sebagai pengantar untuk belajar tentang ilmu kebijaksanaan, uraian Pak Damar saat itu cukup inspiratif dan mampu menggugah semangat kami untuk bertempur memasuki rimba belantara filsafat yang rimbun dan berseluk beluk.

Perawakannya cenderung jangkung, tidak tegap, tidak gagah. Matanya cenderung sipit, sorotnya lembut. Menandakan dia bukan sosok yang perlu ditakuti, dipuja dan mengagung-agungkan KEAKUAN-nya. Bila berjalan cerderung menunduk dan tidak segan-segan mengangguk bila kebetulan berpapasan dengan orang lain. Gaya bicaranya lucu, kocak, cerdas, suka berkelakar, inspiratif dan jauh dari kesan angkuh.

Sosok yang santun ini kemudian dikenal publik sebagai penasehat spiritual Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, penceramah di berbagai forum, budayawan, narasumber diskusi majlis taklim keagamaan, guru besar UGM, penulis dan nara sumber di radio maupun koran. Wali kesepuluh di Jawa—kata Budayawan Emha Ainun Nadjib.

Pak Damar tinggal di Dusun Randujayan, Pakem, Sleman dekat lereng gunung Merapi, Daerah Istimewa Yogyakarta. Rumahnya mungil dan sangat-sangat biasa. Pemandangannya indah dan hijau. Di sebelah rumahnya, berdiri semacam rumah gebyok sederhana berdinding bambu. Ini adalah tempat para mahasiswa berjualan Tahu Telupat, Magelang.

Konon, Pak Damar sengaja mendirikan usaha ini agar para mahasiswa bisa mencari uang untuk menghidupi kuliahnya tanpa tergantung oleh orang tua. Untuk mobilitasnya sehari-hari, setelah Pak Damar memiliki kecukupan rezeki, dia memakai mobil kesukaannya: FIAT BALITA. “Bawah lima juta” katanya berseloroh.

Dulu sebelum dia pindah ke Randujayan, dia menempati sebuah rumah lawas di Jalan Kaliurang, sekitar dua kilometer dari kampus. Ruang tamunya sederhana, ada satu-dua buku Jawa lawas yang menumpuk tidak beraturan. Di sebelah kursi tamu yang tampak kusam, sebuah sepeda motor vespa biru yang renta dimakan usia. Di pekarangan depan rumah yang sana-sini temboknya sudah mengelupas ini, tampak seonggok pasir dan anak Pak Damar yang bermain-main menghabiskan waktu di sini. Isteri Pak Damar menyambut kami dengan hangat. Menyuguhkan teh dan makanan kecil. Perempuan ini tampak biasa sekali. Tidak seperti para perempuan glamour yang berlimpah harta. Sebuah keluarga yang sangat bersahaja dan biasa-biasa saja.

Damardjati Kecil lahir di lereng utara Gunung Merbabu, tepatnya di desa paling utara Kabupaten Magelang sekitar tahun 1941. Di wilayah itu ada beberapa desa yang namanya ada kata “Sari”, yaitu banjar Sari, Losari dan Nawangsari. Di Desa Nawangsari inilah Pak Damar sering menyertai sang ayah untuk nyekar ke makam seseorang yang dipercayai sebagai prajurit Diponegoro dari kesatuan Wirapati. Makam itu berada di sebuah perbukitan kecil…. “Saya bisa melihat hal-hal yang jauh, menerawang me masa-masa yang silam di sela-sela kisah kepahlawanan yang telah lalu. Untuk menjangkah ke depan sesuai dengan apa yang dijangka oleh orang-orang tua,” tulis Pak Damar dalam bukunya NAWANGSARI.

Sebelum menjadi dosen, Pak Damar adalah seorang sopir colt yang narik penumpang dari sleman ke kampus pulang balik. Mungkin masa-masa yang cukup sulit ini dilaluinya sambil nyambi kuliah di Fakultas Filsafat. Ya, Pak Damar adalah mahasiswa pertama di fakultas yang terletak di sisi paling timur Kampus Bulaksumur tersebut. Entah bagaimana awalnya, Pak Damar kemudian menjadi dosen.

Di Fakultas Filsafat, Pak Damar adalah salah satu dosen Jurusan Filsafat Timur. Selain dosen, dia juga pernah menjadi Ketua Jurusan, hingga berlanjut sampai mendapatkan gelar guru besar (Profesor). Spesialisasinya mengajar mata kuliah Filsafat Ketuhanan. Nah, karena mengajar Filsafat Ketuhanan, maka pada kesempatan kali ini kami ingin memaparkan sekelumit pandangan beliau yang pernah kami dengar saat mengikuti mata kuliah yang cukup berat tersebut.

Kebetulan saya (Juga sahabat Sabda Langit dll) adalah salah satu dari beberapa mahasiswa yang dosen pembimbingnya adalah Pak Damar. Di fakultas kami, dosen pembimbing juga berperan juga sebagai orang tua yang membimbing laku spiritual kami. Mungkin agar kami tidak salah arah, kesasar dan akhirnya menjadi kurang waras alias gila. Dan meskipun akhirnya saya mengambil jurusan Filsafat Barat dengan fokus pada Filsafat Idealisme, namun sampai akhir studi kekaguman saya pada sosok inspiratif ini tidak pudar.

Nawangsari

Menurut Pak Damar, tujuan belajar filsafat adalah untuk NAWANGSARI. Yang artinya menjaring dan menyaring segala pandangan sampai kepada sari-sari esensi, yaitu hal-hal yang hakiki, yang sedalam-dalamnya, selanjut-lanjutnya. Proses manusia untuk menemukan esensi tersebut tentu terus berproses hingga akhir hayat. Penghayatan itu hendaknya sampai kepada hal-hal yang mencakup dimensi spasial (lahir-batin) dan temporal (awal-akhir).

Sebab, lanjut Pak Damar, badanku di dunia namun ruhku di tangan-Nya. Seperti sabda Nabi: Perkataanku itu syariat, perbuatanku itu tarekat, hatiku itu hakekat. Kelanjutannya adalah: RUH-ku itu makrifat. Mengapa Muhammad SAW itu nabi besar? Karena Muhammad itu bukan hanya nama diri, akan tetapi juga kualitas pribadi, yakni yang terpuji karena selalu memuji Allah. Sari sari segala sesuatu itu ialah puja dan puji untuk Allah, Tuhan seru sekalian alam. Enaknya makanan itu lahiriah. Batiniah atau sarinya ialah La haula wa la quwwata ila bil-Lah.

Ilmu Ketuhanan

Manusia, menurut Pak Damar, karena welttoffen (keterbukaan umwelt—dunia) selalu ingin mengetahui atau mempelajari segala persoalan, menjawabnya satu persatu, mengoreksi kesalahan-kesalahan, menanyakan kembali jawaban yang semula seolah-olah sudah final tentang Tuhan, manusia dan lainnya. Sehingga lahirlah theologia (ilmu ketuhanan dalam rangka agama), theodicea (ilmu ketuhanan dalam rangka filsafat), serta theosofi (sebagai organisasi spiritual).

“Nama theofani yaitu pengejawantahan ilahi/tajalli secara langsung ternyata berlaku secara khusus bagi para nabi dan rasul-Nya. Semuanya secar sinkronik diakronik mewartakan risalah tauhid: La ilaha ilal-Lah” Secara tidak langsung, kata Pak Damar, kita juga menangkap pewartaan ilahi itu pada tata tertib alam, hukum-hukum alam, sebagai ayat-ayat-NYA yang obyektif menjadi percikan dari rahasia takdir-Nya dan ilmu pasti di sisi-Nya.

Oleh sebab itu, untuk mengenal Tuhan paling pas adalah menggunakan pendekatan relijius islami, Qurani, juga filsafati sehingga terkandung kemungkinan untuk tidak berhenti pada tingkat verbalis/kognitif, melainkan berlanjut kepada tingkatan psikomotor sebagai sebuah konspirasi total. La ilaha ilal-Lah Kalimat pernyataan LA ILAHA ILAL-LAH adalah tesis akbar, terbesar sepanjang masa, menyeru sekalian alam, rumus abadi, proklamasi kemerdekaan.

Menurut Pak Damar, kalimat ini bobot kualitatifnya melebihi seluruh petala langit dan bumi. Rumusan LA ILAHA ILAL-LAH ini dapat dibedakan menjadi dua. Sebagian yang menegasikan/menidakkan (nafi LA ILAHA) dan sebagian lagi mengafirmasikan/mengiyakan (isbat: ILA-LAH). Arti populernya: TIDAK ADA TUHAN SELAIN ALLAH. Tidak ada segala yang ada ini yang pantas disembah selain ALLAH.

Secara singkat, kita hanya akan membatasi diri pada tiga sistem, yaitu SISTEM KEBERADAAN (BEING/ORDO ESSENDI), SISTEM NILAI/ KUALITAS (HAVING/ ORDO COGNOSCENDI), dan SISTEM KERJA (BEHAVING/ORDO FIENDI), yang kesemuanya itu dicakup oleh NIAT KETAKWAAN (ORDO AGENDI). Artinya, sesungguhnya YANG BEKERJA, YANG HIDUP, YANG ADA itu semata-mata karena ALLAHU AKBAR. Allah bersumpah untuk itu dalam kita suci bahwa: KEBERADAAN, NILAI, KEHIDUPAN DI LUAR itu adalah MAIN-MAIN/PERMAINAN yang akan tampak sebagai fatamorgana. “Harus bisa membedakan dengan jelas antara kesungguhan Allah dengan ciptaan-Nya, dengan kehidupan manusia yang bermain-main,” ujar Pak Damar.

Maka langkah yang perlu kita lakukan adalah penyucian diri dari segala praduga, anggapan yang keliru, paham yang salah yang merupakan kesalahan besar di pelupuk mata—fallacy of misplaced concreteness—mengutip A.N. WHITEHEAD, bapak filsafat proses.

Menurut Pak Damar, pendekatan matematis merupakan latihan yang baik untuk mengoreksi kesalahan tersebut, dengan menjawab pertanyaan misalnya: “Titik itu ada, apa tidak?” “Titik sesungguhnya tidak ada, kecuali dalam rangka garis. Artinya adanya titik itu bergantung pada adanya garis. Pada garis dapat ditampung titik yang jumlahnya tidak terhingga, dan seterusnya” Hubungan antara titik dan garis, pararel dengan hubungan antara garis terhadap bidang, bidang terhadap ruang, jadi hubungan antar dimensional. Kita akan mendapat petunjuk bahwa SEMESTA TIGA DIMENSI ini adanya bergantung pada REALITAS BERDIMENSI EMPAT, demikian seterusnya…..

Hubungan antara dunia dan akhirat, hubungan antara lahir dan batin, semestinya dipandang sebagai hubungan partialitas terhadap totalitasnya secara antar dimensional/transendental. Sebaliknya, yang superlatif mematerikan pesan imperatif kepada realitas di bawahnya, sebagai sesuatu yang imanen.

Nah, bagamiana kedudukan manusia? “Sungguh luar biasa, kata Pak Damar, karena MAN IS THE MEETING POINT OF VARIOUS STAGES OF REALITY. Manusia adalah titik temu dari beragam tingkat realitas. Ya, realitas itu bertingkat, kesadaran itu bertingkat, abstraksi juga bertingkat,”

Sebagai penutup, Pak Damar, mengakui ketidakmampuannya untuk menyimpulkan apa itu LA ILAHA ILAL-LAH. Sebab, “KALIMAT INI ADALAH KESIMPULAN DARI KESIMPULAN. Sesuatu hal yang memungkinkan kita membuat tali simpul baik yang berkekuatan tiada berhingga, sebagai THE DYNAMIC OF INNER STABILITY”

Maka, imbuh Pak Damar, Terbuka kesempatan yang seluas-luasnya untuk mencapai hal itu, baik secara desentratif ataupun konsentratif, sambil menjaga kesadaran bergelombang alpha rythmic, meningkatkan diri bertutut-turut melalui pernyataan “LA HAULA WALA QUWWATA ILA BIL-LAH, INNA LIL-LAHI WA INNA ILAIHI RAJI’UN, LA ILAHA ILAL-LAH”

Inilah sedikit kenangan tentang sosok guru yang inspiratif. Pencari yang sampai sekarang tidak terlupakan. Meskipun mungkin kami tidak bisa lagi bertemu di dunia, semoga kelak di akhirat kami bisa bertemu lagi. (bersambung).

WONG ALUS

Categories: DAMARDJATI SUPADJAR | 13 Komentar

REFLEKSI DIRI


Alhamdulillah, saya masih diberi Yang Maha Hidup usia. Meski belum tua-tua amat, namun usia saya juga tidak bisa dikatakan muda lagi. Empat puluh tahun kurang dua merupakan jumlah yang bagi saya cukup miris dan berbahaya. Betapa tidak, hampir dua tahun lagi saya memasuki pintu gerbang tahap dimana Muhammad dulu menjadi nabi di usianya yang empat puluh tahun. Sebelumnya, Muhammad gigih untuk mengolah hidupnya dengan kesadaran yang tinggi bahwa suatu saat dia akan mendapat hidayah dan petunjuk untuk bisa membedakan antara yang benar dan yang salah. Konon, sebelum diangkat menjadi Nabi dan rasul, Muhammad selain sibuk dengan urusan bisnis mendampingi isterinya juga sibuk untuk melakukan olah batin, nyepi hingga di gua hira yang sunyi dan menakutkan.

Kenapa Muhammad begitu yakin bahwa suatu saat dia akan menemukan sesuatu yang dicarinya? Jawabannya adalah KEYAKINAN. Hanya keyakinanlah yang menuntun calon nabi terakhir ini untuk terus berpikir dan olah rasa. Menyatukan, menata dan merangkai gelombang-gelombang ketuhanan yang berserak di otaknya agar menjadi sirkuit yang dahsyat agar bisa terkoneksi dengan jaringan gelombang ketuhanan yang terpapar di alam semesta. Saya membayangkan nabi saat itu juga manusia seperti saya dan Anda, pembaca. Yang tidak tahu bagaimana cara terbaik untuk berkomunikasi dengan Tuhan. Apalagi Muhammad, si calon nabi ini konon tidak bisa baca tulis dan juga ngeblog, hehe he.. Tidak pernah mengenyam pondok pesantren, juga tidak punya pengalaman untuk berguru dengan pembimbing spiritual manapun. Apalagi dia juga tidak pernah melahap bangku sekolah dan kuliah. Meskipun begitu, Muhammad yang sangat minim pengetahuan dan informasi dunia luar ini jelas tidak tinggal diam dan bodoh menyikapi situasi sekelilingnya. Peradaban yang busuk dan kotor tidak membuatnya ikut-ikutan arus apalagi sampai larut. Tidak.. Muhammad adalah jenis manusia yang SIKAP TEGAS. Dia memiliki keberanian untuk berjalan, menjauh dan melihat ke bukit yang lebih tinggi. Membuat jarak terhadap masyarakat dan peradaban untuk kemudian bertekad untuk memperbaikinya.

Muhammad bukanlah orang yang bodoh. Dia orang yang jeli, telaten, kreatif dan jujur. Kejeliannya mengamati, menganalisa dan menyimpulkan gejala-gejala alam semesta pada akhirnya menuntunnya untuk mencari jawaban yang final, total dan selanjut-lanjutnya: Bahwa Tuhan hanya satu yaitu ALLAH SWT! Berbeda dengan para nabi lain yang harus mencari-cari jawaban SIAPA PENCIPTA SEJATI dengan cara membandingkan anasir yang satu dengan yang lain, Muhammad hanya pasrah dengan kehendak hati nuraninya bahwa PASTI ADA SATU PENCIPTA SEMESTA ALAM SEMESTA, entah apa namanya…. Akhirnya, pada suatu ketika di usianya yang empat puluh tahun tersebut: Muhammad dilantik menjadi nabi setelah mendapatkan wahyu yang intinya agar dia tidak berhenti untuk membaca. Membaca kitab yang tergelar di alam semesta yang di dalamnya ada milyaran bahkan trilyunan rumus Tuhan ini…. Wahyu yang turun itu menekankan pada satu hal penting: BACALAH DENGAN NAMA TUHANMU…

Jadi sekarang, Muhammad diperintahkan untuk tidak asal baca, melainkan MEMBACA DENGAN EMBEL-EMBEL: NAMA TUHAN. Apa ini artinya? Artinya, bahwa KEBENARAN SEJATI/MUTLAK akan bisa ditemukan apabila manusia membaca dalam frame bahwa semua yang dibaca, dipikir, dianalisa, disintesa tersebut semuanya adalah CIPTAAN ALLAH SWT. Itulah inti, dasar, substansi dari turunnya wahyu yang kemudian bertubi-tubi mendatangi Muhammad setelah dia menjadi utusanNya. LA ILAHA ILLALLAH, MUHAMMADAR RASULULLAH hingga akhirnya di usia yang enam puluh tiga tahun itu Muhammad dipanggil menghadap SANG KHALIK.

Bagaimana dengan saya? Apakah siap jadi nabi di usia menjelang empat puluh tahun ini? Rasa-rasanya tidak mungkin. Jangankan menjadi nabi, menjadi manusia saja saya merasa sangat sulit. Terus terang saya mengagumi mereka yang gagah menyertakan di depan namanya kata Camat, Bupati, Kepala Badan, Presiden, Kolonel, Profesor, Ulama, Kiai, Ustadz. Gelar itu di satu sisi itu adalah track record perjalanan kemuliaan, di sisi lain itu adalah perhiasan dunia yang sebenarnya permainan dan senda gurau.

Begitulah… sangat sulit menjadi manusia bila kita tanyakan: Adakah kaki telah melangkah sebagaimana yang dimaksudkan dulu oleh Peciptanya. Adakah tangan telah mengerjakan mendekati gagasan Pembikinnya. Adakah mata telah melihat, telinga telah mendengar, akal telah mengolah visi, ilmu dan wacana, mulut telah memakan segala sesuatu sesuai sang Konseptor ?. Dalam kamus, seseorang distempel Nabi karena nubuwah. Rasul karena risalah. Wali karena walayah. Dan adalah manusia karena khilafah. Keempat stempel itu milik Allah, dilimpahkan dan diamanahkan kepada makhluk dengan strata dan kualitas yang Ia bikin berbeda. Khilafah itu titipan atau pelimpahan bagi semua dan setiap manusia: tidak relevan, tidak rasional dan tidak realistis dan a-historis untuk diambil sebagai ‘icon’ suatu golongan.

Begitu kita bukan dimaksudkan Tuhan sebagai Malaikat, Iblis, Jin, hewan atau alam, maka kita Khalifah yang menyandang khilafah. Tugasnya adalah menghimpun ilmu, melakukan pemetaan, menyusun disain dan metodologi, menggambar dan mensimulasikan sistem dan managemen untuk memproduksi “rahmatan lil’alamin”. Bagaimana tugas manusia? Ternyata realitas berbeda dengan konsep awal.

Sejarah manusia dihiasi dengan pertumpahan darah yang terlalu banyak, dusta dan peperangan yang selalu berlebihan, kepalsuan yang bertele-tele, kebodohan ilmu dan kemandegan akal, kekerdilan mental dan kebutaan spiritual. Manusia tidak bisa disebut pernah sungguh-sungguh, konstan dan konsisten mempelajari Tuhan, setan, demokrasi, nafsu, kebenaran, kemuliaan, dan terutama mempelajari dirinya sendiri. Manusia melangkah serabutan, berpikir sepenggal, bertindak instan, menimbang dengan menipu timbangan…

Sekolah dan universitas tidak pernah benar-benar menyiapkan perjalanan tafakkur, tadzakur dan tadabbur melalui tahap-tahap pola berpikir linier, zigzag, spiral hingga thawaf siklus. Universitas hanya mewisuda Sarjana Fakultatif meskipun kampusnya bernama Universitas. Belum tuntas kaum muda menjadi murid — orang yang menghendaki ilmu–dipaksakan naik ke bangku kecongkakan dengan menggelari diri mahasiswa. Para pembelajar dan pencari ilmu bersemayam di ‘koma’ — begitu dia maha, finallah dan titiklah sudah perjalanan ilmiahnya.

Di manakah pintu ilmu? Pertanyaan ini sangat mungkin tidak menarik lagi bagi kaum terpelajar. Bagi kaum muda Indonesia, cukuplah belajar demokrasi, world class society, pilkada, clean government. Pemuda kita sepertinya semakin tak suka bila ditanya soal Tuhan sehingga mereka lebih memilih memenangkan Olimpiade Fisika dan cuek terhadap lautan lumpur yang meluap, situ yang jebol, tsunami, gempa sampai ke urat syaraf otak manusianya yang tumpul. Padahal kapasitas sistem saraf otak manusia itu takkan pernah sanggup dirumuskan atau dikuasai oleh si manusia sendiri. Pendaran-pendaran elektromagnetik CAHAYA ALLAH yang bertebaran bertaburan keseluruh permukaan bumi, memusat menggumpal di seputar bagian atas ubun-ubun kepala setiap manusia.

Hmmm…Siapakah yang tak sesat di antara kita? Makan saja sesat sampai kena kolesterol, asam urat, jantungan, gagal ginjal, ganti hati dan stroke. Kehidupan berbangsa dan bernegara kita adalah panggung demi panggung kesesatan nasional. Pemilu menjadi festival salah pilih wakil dan pemimpin. 240 juta manusia tersesat ke satu lorong cita-cita: mau kaya, eksis dan berkuasa. Jalannya beribu-ribu, profesinya berbagai-bagai, icon-nya berjenis-jenis, namun menuju satu lorong itu juga. Kesesatan sistem. Kesesatan moral. Kesesatan budaya. Kesesatan ilmu. Kesesatan bermacam-macam kesesatan, dengan kadar yang juga berbeda-beda. Sesat moral atau akhlak. Sesat hukum. Sesat sosial. Setiap keputusan ekonomi yang menjerumuskan orang banyak, policy politik yang kontraproduktif terhadap keharusan kemajuan dan pembangunan, adalah kesesatan yang nyata.

Diam-diam saya menemukan bahwa alhamdulillah kesesatan-kesesatan hidup saya tidak diketahui umum atau yang berwajib. Itu semua karena sampai usia menjelang empat puluh tahun ini, Tuhan memperkenankan saya menjadi orang yang tak diperhatikan, tak didengarkan, selalu diletakkan di luar garis-garis pemetaan dalam hal apapun saja. Segala yang saya dan kami lakukan, prestasi dan kualitas apapun saya tetap di luar peta. Maka tak pernah ada keberanian pada diri saya untuk mengajak orang lain, apalagi untuk meyakini apa yang saya yakini, untuk berpikir seperti saya berpikir, untuk menganut apa yang saya anut.. Pandanglah Allah, Muhammad, Yesus, Budha, Sang Hyang Widhi: take it or leave it. Atau tak usah memandang siapapun kecuali dirimu sendiri, kepentinganmu sendiri, sebagaimana Firaun. Engkau merdeka bahkan untuk menjadi Firaun. Itu urusanmu dengan Tuhan dan dirimu sendiri.

Semua Nabi dan Rasul, umpamanya Adam atau Yunus, hanya berani menyebut dirinya dholim, “Robbana dholamna anfusana”, “Inni kuntu minadh-dholimin”. Maka siapakah aku, sehingga mantap untuk tak melihat diriku tersesat? Kesesatan adalah milikku sehari-hari. Oleh karena itu mengaku diri manusiapun rasa belum pantas. Saya hanya ingin kita semua berdoa agar kita selalu menyadari kesesatan diri sendiri. Sebab berdoa adalah menyapa Allah. Kalau kita tiap saat minta-minta terus kepada Tuhan, menurut suatu logika berpikir: tak akan lebih dikasihi oleh Allah dibanding kalau kita rajin menyapaNya, rajin bercengkrama sama Dia, ‘mentuhankan’ Tuhan sebagaimana memanusiakan manusia. Tetangga lebih simpatik kepada kita yang suka menyapanya dibanding yang sering meminta-minta.

Di usia menjelang empat puluh ini, perkenankan saya memohon maaf atas perjalanan hidup saya yang banyak merepotkan Anda, menjegal Anda, saya yang sudah banyak mendebat kebenaran yang meluncur dari mulut Anda, saya yang sudah dendam dan mendamprat kejujuran Anda dan saya yang sudah banyak mencolong uang di dompet Anda. Sekali lagi saya mohon maaf yang sebesar-besarnyA.

SALAM DAMAI DI BUMI, DAMAI DI LANGIT

Wong alus

Categories: REFLEKSI USIA 40 | 14 Komentar

SEBELAS TAHUN REFORMASI


Mengenang gerakan reformasi, saya teringat Nabi Musa. Saat Musa menentang kesewenang – wenangan Fir’aun, mengadakan sebuah gerakan pembangkangan melawan kekuasaan. Banyak airmata yang tumpah, banyak darah tercecer. Memang untuk menghancurkan peradaban, harus melalui penyakit – penyakit akut yang menggerogoti peradaban tersebut laiknya rayap.

Penyakit itu akan terus melukai dan secara kontinu dan menjadi kanker bagi kehidupan peradaban itu. Pada akhirnya peradaban tersebut jatuh tersungkur. maka itulah yang harus dibuat pada masa itu. Kesewenangan, kezhaliman harus terus digerogoti. Kita perlu menjadi penyakit – penyakit bagi peradaban barbar ini. Sekecil apapun sakit yang kita buat, maka ada kontribusi perih yang bisa kita sumbangan, maka jadilah orang yang gelisah ini, jadilah penyakit bagi peradaban zhalim…

Pada 12 Mei 1998, empat mahasiswa Universitas Trisakti tewas tertembak di kampusnya saat demonstrasi. Mereka adalah Hafidhin Royan (mahasiswa Teknik Sipil), Hendriawan (Ekonomi), Elang Mulia Lesmana (Arsitektur) dan Hery Hartanto (Teknik Mesin). Kejadian itu memicu kemarahan warga. Sehari setelah itu, kerusuhan besar melanda Jakarta dan kota-kota lain.

Seolah ada kekuatan gelap yang merayap dan mengendalikan, ribuan orang menjadi begitu beringas dan angkara murka pun merajalela. Mereka menjarah dan membakar pertokoan atau pusat perbelanjaan. Juga mobil dan sepeda motor di jalan raya. Banyak orang tewas terpanggang. Aparat keamanan menghilang. Api dan asap dimana-mana.

Akhirnya, situasi chaos ini terus berkembang… dolar mengalami lonjakan tajam… Gelombang ketidakpuasan berkembang dan Soeharto memutuskan turun dari jabatannya.

Kini, sebelas tahun reformasi di Indonesia. Ketidakadilan kembali menggerogoti bangsa kita. Seluruh elemen bangsa pasti tidak suka dengan peradaban yang carut marut begini. Tuhan, KAU kembali menjadi tempat untuk mengaduh dan mengeluh…… Dasar manusia, ingatnya bila membutuhkan saja.

Wong Alus

Categories: PUISI & PROSA | 5 Komentar

TUHAN TIDAK BERTANGGUNGJAWAB PADA KEDAMAIAN BUMI


Kasus penembakan Nasrudin Zulkarnain, direktur anak perusahaan PT Putra Rajawali Banjaran menjadi tetenger kita semua. Bagaimana cara-cara kekerasan semakin mendarah daging untuk memecahkan masalah antar individu di tanah air di semua kalangan, baik kalangan elite maupun kalangan sandal jepit. Semakin jauhlah kita dari kata damai karena masih ada ketidakadilan dan penindasan Hak Asasi Manusia……

“If there is some corner of the world which has remained peaceful, but with a peace based on injustices-the peace of a swamp with rotten matter fermenting in its depths-we may be sure that peace is false” (Spiral of Violence, Helder Camara)

Helder Camara, adalah pejuang anti kekerasan. Dia mengungkapkan meski tidak ada perang, namun bila ketidakadilan dan penindasan merajalela, itu bukan damai sejati. Keadaan itu digambarkan sebagai air rawa yang permukaannya tenang, namun di bawahnya menyimpan barang busuk. Tidak bisa kita pungkiri bahwa saat ini suasana damai menjadi harga yang mahal. Sebab damai sejati membutuhkan situasi yang bebas dari ketidakadilan yang masih terjadi di mana-mana dan penindasan yang menghampiri kita dalam hidup sehari-hari.

Adalah Nabi Isa AS, nabi pejuang yang luar biasa menegakkan kedamaian tanpa cara kekerasan. Jauh sebelum Gandhi lahir, dia sudah menjadi tonggal sejarah untuk menegakkan bagaimana manusia bisa berjuang menegakkan kedamaian tanpa harus berdarah-darah untuk menghapus ketidakadilan.

Isa putera Maryam, lahir semasa Kaisar Agustus memerintah yang terkenal dengan kebijakan politik Pax Romana. Kaisar ambisius itu melakukan ekspansi besar-besaran dan agresi militer ke Timur dan Barat sehingga saat meninggal, daerah kekuasaannya seluas 3.340.000 mil persegi atau lebih luas dari Amerika Serikat. Karena penaklukannya itu, memang tidak ada perang selama 200 tahun. Kemakmuran, ketertiban, dan stabilitas nasional yang begitu lama belum ada tandingannya dalam sejarah. Namun, keadaan damai itu tidak ditopang moralitas elite politik dan keadilan bagi kaum tertindas. Akhirnya Pax Romana rapuh, digerogoti dari dalam, dan bubar sendiri. Demikian dalam kata- kata sejarawan Will Durant . Damai tetapi gersang adalah kata lain untuk damai di atas imoralitas, penindasan, dan eksploitasi.

Epictetus, seorang filsuf Stoa, melukiskan Pax Romana, “meski kaisar bisa memberikan damai tanpa perang di darat dan di laut, ia tidak mampu memberikan damai tanpa hawa nafsu, dukacita, dan rasa iri. Ia tidak mampu memberikan damai di hati, yang dirindukan manusia lebih daripada damai secara lahiriah.” Damai adalah dambaan manusia kapan dan di mana pun. Damai adalah situasi dimana manusia mampu mengendalikan hawa nafsu yang berkobar-kobar. Karenanya, manusia harus menegakkan akal sehat.

Itulah Makna Idul Fitri, yaitu setelah manusia digembleng untuk mampu mengendalikan hawa nafsu dan oleh karenanya dia kembali di jalan yang benar. Dalam konteks menegakkan kedamaian ala Pax Romana, kata Durant, dibangun di atas ambisi dan kejahatan politik, oligarki untuk kepentingan sendiri atau kelompok, korupsi, kekerasan, eksploitasi, agama yang tidak berpihak pada kemanusiaan.

Nah, yang jadi pertanyaan bagaimana dengan kedamaian yang harus diciptakan dengan semena-mena? Misalnya mengembuskan isu axis of evil, menjalankan politik agresif atas Irak, dan tetap menutup mata atas ketidakadilan di Timur Tengah seperti yang dijalankan oleh Amerika Serikat?…. Di tanah air…agaknya, kedamaian masih menjadi barang yang mahal. Eskalasi kekerasan horizontal di dalam aras warga sipil semakin meningkat meskipun rezim Orde Baru sudah runtuh dan militer sudah terdepolitisasi. Teror bom menjadi gejala anarki sosial yang semakin biasa. Tinggal menunggu waktu lagi kapan Bom-bom meledak setelah bom Bali, Makassar dan seterusnya.

Kekhusyukan umat beragama untuk merayakan hari-hari besar agama terganggu karena ancaman ledakan-ledakan bom. Korban jiwa, luka, dan cacat seumur hidup tidak dapat diganti dengan materi. Kerugian materi juga tak terhitung banyaknya. Semua itu menyisakan tanda tanya. Pasti ada masalah serius dengan etika hidup bersama dari bangsa yang sedang menjalani masa peralihan. Dulu terkungkung, kini relatif bebas. Namun kebebasan itu belum membebaskan bangsa ini dari teror kekerasan. Sebagian kita belum menghayati makna kehadiran sesama sebagai subyek yang harus dihormati, sebab menjadikan sesama sebagai korban kekerasan hanya menurunkan derajatnya menjadi obyek.

Gabriel Marcel (1889-1973), filsuf eksistensialis Perancis, memandang amat penting penghayatan kehadiran sesama (présence) sebagai jalan menghayati kehadiran Ada. Intersubyektivitas menjadi inti filsafat Marcel guna menghayati misteri Ada di mana TUHAN adalah ADA DARI SEGALA ADA. Segala klaim yang mengatasnamakan agama atau TUHAN menjadi kosong saat kehadiran sesama yang kasatmata itu direduksi menjadi obyek.

Bagi Marcel, ESSE adalah CO ESSE. Kehadiran TUHAN, MANUSIA DAN ALAM harus menjadi obyek cinta dan segala bentuk tindakan yang positif. Bila tidak, cepat atau lambat sesama akan direduksi menjadi obyek yang pada gilirannya mudah DIMANIPULASI menjadi sasaran kekerasan, diskriminasi SARA, diskriminasi jender, pelecehan seksual. Kemunduran etika hidup bersama menggejala ketika sesama hanya dipandang dan diperlakukan sebagai obyek belaka. Perjumpaan antarpribadi yang menyapa dan mengasihi sesama sesuai martabatnya (RENCONTRE) tidak terjadi. Sebaliknya, dengan bahasa kekerasan seseorang menempatkan diri sebagai pelakunya dan orang lain sebagai korban.

Setelah selama beberapa tahun terakhir ini konflik di Indonesia dalam ekskalasi yang besar sebenarnya sudah menurun. Terakhir di Aceh yang menewaskan lebih dari 4.000 orang. Kita semua patut bersyukur atas Kesepakatan Penghentian Permusuhan itu. Momentum kesepakatan damai itu akhirnya ditindaklanjuti dengan kebijakan politik proeksistensi. Hak-hak politik mantan anggota atau petinggi GAM harus dipulihkan dan mereka dilibatkan secara aktif dalam pembangunan Nanggroe Aceh Darussalam (NAD).

Kesepakatan damai harus segera diisi keadilan sosial sebab pada dasarnya konflik di daera adalah tidak lain buah kekecewaan daerah terhadap ketidakadilan pemerintah pusat. Kalau tidak, seperti kata Camara di atas, keadilan yang didasarkan pada ketidakadilan akan berbuah REKONSILIASI PALSU. Keadilan merupakan prasyarat mutlak damai sejati. Harus diakui, agresivitas masyarakat sipil di Tanah Air sebagian dikarenakan keadilan yang jauh dari adil. Adil untuk satu pihak, tetapi amat tidak adil untuk pihak lain. Bila damai di Aceh bisa terwujud, harus diteruskan dengan damai di Papua, Poso, Ambon, Kalbar, Kalteng, dan di tempat-tempat lain. Damai di seluruh Tanah Air seharusnya bukan utopia Mencermati berbagai tragedi kemanusiaan jujur harus diakui, kita semua gagal mempromosikan etika proeksistensi. Tidak hanya pemerintah yang bertanggungjawab melainkan kita semua. Eskalasi kekerasan ini merupakan cermin merosotnya etika kehidupan berbangsa rakyat Indonesia. Ini tanggung jawab kita semua. MAKA, KEDAMAIAN BUKAN TANGGUNGJAWAB TUHAN SANG PENCIPTA ALAM SEMESTA!

SALAM DAMAI SELALU DAN PANTA RHEI…

Wong Alus

Categories: TUHAN TIDAK BERTANGGUNGJAWAB | 7 Komentar

TANGAN TANGAN SETAN MANUSIA


Porong, 2009. Trilyunan kata-kata berjumpalitan ke sana kemari. Gerakannya erotis mirip sperma yang siap muntah; liar, beringas tapi misterius. Kata-kata menari riang tapi sekonyong-konyong mengeluarkan jurus yang mematikan. Wush,… kata-kata melayang pelan di angkasa, lalu turun dengan cepatnya membabat sudut sudut bumi, blaaarrrr!!!! meledaklah ia di kampung-kampung disertai kabut pekat.

Kenapa kata-kata kini berubah absurd menakutkan seperti itu? Inilah yang terpikir di benak warga kampung Jatirongko. Padahal, dulu kata-kata adalah sosok yang santun jinak bahkan sering berubah menjadi petuah, pitutur, dan menjadi oase yang menyejukkan kegelisahan.

Di saat warga bergerombol diselimuti tanda tanya kenapa kata-kata tidak lagi bersahabat seperti dulu, naiklah Sarip, penjual bakso keliling di atas sebuah truk trailer yang kehabisan bensin. Rombong baksonya ditinggal begitu saja di pinggir jalan.

Bak ahli bahasa, dia menceriterakan muasal kata-kata turun ke bumi dan menjadi sahabat karib manusia. Konon, menurut Sarip, dari segi historis kata-kata mulanya tidak ada. Dia ada karena masyarakat membutuhkan sebagai saran komunikasi yang ampuh.

“Dulu, manusia purba masih hidup individualis di hutan-hutan yang sunyi. Mereka tidak butuh bersosialisasi dengan kata-kata. Hanya ada bahasa isyarat, bahasa tubuh, bahasa perasaan, bahasa telepati. Seperti hewan, manusia purba hidup di taraf yang paling dasar. Tidak butuh aktualisasi diri, tidak perlu barang mewah untuk mendongkrak harga diri, tidak perlu juga spiritualitas yang ritmis magis,” papar Sarip dengan mimik serius.

Akibat dari belum adanya kata-kata kotor, imbuh Sarip, bumi masih tenang. Tuhan belum murka oleh tangan-tangan setan manusia. Tidak ada rekayasa. Semuanya dibiarkan alamiah. “Bagaimana mau merekayasa? Lha wong manusia purba masih belum menyadari keberbedaannya dengan alam,”

Di sela paparan Sarip yang sok filosofis seperti itu, mendadak sebuah mobil jip warna putih, berroda besar berhenti tepat di depan trailer. Keluarlah seorang pria parlente. Ganda Riya namanya. Pria paruh baya yang sehari-hari berprofesi sebagai lurah ini sudah sejak lama memendam kebencian dengan Sarip yang sok tahu, keminter dan suka menggurui.

Sebetulnya, sang lurah tidak sedang mood untuk memberi komentar terhadap aksi panggung Sarip. Namun, melihat gelagat yang mencurigakan Ganda Riya memastikan Sarip sedang memprovokasi warga dengan kata-katanya. Maka rem mobilnya segera diinjak dan serta merta dia naik trailer.

“Penjual bakso sukanya membual, he…Rip, kamu ini munafik. Piawai berkata-kata tapi susah melaksanakan kata-katamu sendiri” setengah teriak Ganda Riya berujar.

Disergap dengan tuduhan sepihak yang menohok, Sarip kaget. Tanpa dinyana muncullah satori *)-nya yang heroik untuk membela diri.

“Aku tidak sedang bermunafik, saudara lurah. Coba lihat mana yang bijaksana, memberikan penjelasan yang rasional seperi diriku atau membodohi warga dengan janji-janji mulukmu. Mana bisa warga yang sudah melek informasi ini dibodohi dengan janji akan diberikan ganti uang, alih alih ganti untung mereka malah buntung! “ Sarip balik menyerang.

Warga mulai bingung dengan silang sengkarutnya kata-kata dari dua orang berbeda kasta ini. Apalagi sekarang Sarip dan Ganda Riya mulai memakai bahasa tubuh untuk melengkapi ekspresi mereka. Sarip mengacung-acungkan alat pemukul dari pring*) yang biasa digunakannya untuk membunyikan kentongan kecil yang dibelah sehingga berbunyi tik tok tik tok.

Lain lagi dengan Ganda Riya. Dengan gerakan lincah dan spontan dia menggerakkan jari-jarinya sambil mengempit rokok yang lupa dinyalakan. Sementara tangan lainnya masih menggenggam korek api. Di satu jari manisnya, terselip cincin emas lima gram bertahtakan berlian hasil pemberian isteri simpanannya yang kini sudah membuahkan satu momongan.

Semakin lama, debat kusir itu semakin panas. Kata-kata yang meluncur dari mulut mereka semakin garang bergairah. Mulailah umpat mengumpat, mata mendelik hingga bola mata yang nyaris berloncatan keluar dari contongnya. Ludah dua orang dewasa ini saling mengguyur lawan bicaranya. Baunya menyengat, busuk minta ampun.

Lalat dari sampah di sudut kampung sebelah mulai ikut nimbrung, semakin lama semakin banyak. Satu lalat mengontak satu batalion lalat. Dua lalat yang lain mengajak sekaligus empat batalion lalat. Pendeknya, siang terik itu langit kampung Jatirongko akhirnya dihiasi milyaran batalion lalat dari seluruh penjuru kota, akibat dari dua mulut busuk beradu pintar itu.

Tiba-tiba, bumi bergetar, kata-kata yang lebih besar muntah dari perut bumi….

Warga Jatirongko panik dan bingung oleh kejadian tidak terduga. Debat Sarip versus Ganda Riya terhenti sejenak. Bagaimana bisa kata-kata meluber ke ruang tamu, ruang keluarga, kamar mandi, kamar untuk bersenggama? Dengan gerakan tanpa rencana, warga mengambil apa saja untuk menyumbat luapan kata-kata yang busuk disertai lalat ini. Cangkul untuk membuat tanggul kecil dari tanah di depan pintu, sekop untuk memperdalam got agar bisa mengalirkan kata-kata secara lancar. Malah ada seorang ibu yang panik tiba-tiba keluar rumah dengan membawa sutil*).

Musibah apa lagi ini? Apakah Tuhan sudah bosan untuk memberi pelajaran dengan cara-cara yang lebih manusiawi dan beradab? Begitu kata Karmo Sengkala, seorang ulama terkenal dari kampung seberang sungai yang biasa manggung di forum-forum ceramah agama dan termasuk rajin menyambangi pemirsa di layar kaca televisi. Sambil mendaras doa, Karmo mengajak warga untuk kembali kepada jalan yang lurus.

Renungan Karmo tidak sedikitpun menyurutkan keberanian kata-kata untuk terus menyerang dengan caranya yang membabi buta. Tanpa kenal ampun, kata-kata melumat apa saja yang ada di dekatnya. Unik tapi membunuh.

Ratusan orang kelimpungan melihat harta benda yang bertahun-tahun akrab menemani itu kini menjadi rusak. Banyak yang stress dan akhirnya gila. Penguasa tanggap, mereka yang gila dimasukkan ke rumah sakit jiwa. Bagi yang tingkatnya setengah gila masih diperkenankan untuk berkata-kata, asal tidak mengganggu stabilitas keamanan. Bagi yang masih waras, penguasa tinggal memantau saja. Penguasa sengaja membiarkan mulut mereka berbusa dengan kata-kata nylekitnya, toh lama kelamaan akan capek juga dengan sendirinya.

Luberan kata-kata semakin luas, bahkan kini mengancam kampung-kampung sebelah. Setidaknya menurut perhitungan tim nasional penanggulangan kata-kata —tim bentukan penguasa pusat ini— ada delapan kampung yang nantinya akan dihapus dari peta. Itu pun masih perhitungan kasar. Bisa jadi perhitungan itu berubah sesuai selera kata-kata untuk membesarkan jangkauannya.

Yang paling parah adalah Jatirongko, kampung tempat Sarip dilahirkan, dibesarkan dan tempatnya mencari penghasilan. Rumah Sarip ada di sisi paling selatan kampung yang kini mendadak menjadi tempat wisata baru tersebut.

Memandang rumahnya ditelan kata-kata dan lama kelamaan hanya terlihat gentengnya, Sarip tercenung. Tapi rupanya ia tegar, tidak ikut-ikutan meratap. Namun tiba-tiba, matanya berkaca-kaca.

Dia mengingat ruangan-ruangan di dalam rumahnya. Untuk mencapai dapur rumah dia biasanya harus sedikit memiringkan tubuh bila kebetulan ada sang isteri lewat. Tak lupa, Sarip sengaja menggoda isteri dengan mencubit pantatnya yang bahenol.

Selain itu, di kamar yang sangat jelas diingat Sarip adalah bentuknya yang kotak dengan ornamen lubang yang di bagian atas dilengkapi relief-relief bergaya etnik. Di kamar ukuran 3 x 3 meter itulah dia biasanya tidur dengan isteri dan anaknya yang belum genap enam tahun.

Tidak seperti warga desa lain yang kebingungan menyelamatkan rumah, keluarga dan harta bendanya dari bencana, pria tanpa kumis ini malah lupa keberadaan isteri dan seorang anak laki-lakinya sekarang.

Malah kini debat kusir Sarip versus Ganda Riya kembali diteruskan. Dan tiba pada suatu pernyataan panjang dari Sarip yang akhirnya menyadarkan sang lurah. Pernyataan itu lengkapnya begini;

Kini, Anda dan saya sudah menyaksikan betapa dahsyatnya kata-kata. Kata-kata tidak sekedar gambaran kenyataan. Tapi kata-kata sudah menjelma menjadi kenyataan. Itulah hebatnya. Sadarlah kawan, kata-kata adalah kehendak untuk mengada namun juga meniadakannya.”

Akibat dari adanya kata-kata yang bijak, simpul Sarip, bumi menjadi indah berpelangi, bermandikan cahaya kebenaran, damai nan tenteram. Kebalikannya, kata-kata dari banyak mulut busuk telah menjadikan ruang di bumi ini dipenuhi kotoran, laut diluberi tumpahan minyak, langit sesak oleh persik satelit yang mati.

Porong, 2037. Trilyunan kata-kata yang muntah itu akhirnya membeku. Benar-benar membeku. Kata-kata melunak jinak. Mereka kembali ke gorong-gorong, kembali ke got, ke comberan dan ke sawah.

Semua rumah dan pepohonan sudah rata dengan tanah. Habis tiada sisa. Siang itu, angin kering menerpa bumi, menerbangkan debu-debu. Terlihat pula sesobek koran lawas dengan headline “Kota Sidoarjo Lenyap Ditelan Bumi, 380 Kampung Rata dengan Kata-Kata” diterbangkan angin. Entah menuju kemana…

Di sudut-sudut kampung yang lain, kondisinya sama. Semuanya makhluk hidup menghilang termasuk manusia. Termasuk Sarip dan Ganda Riya, yang telah melumer oleh kata-katanya yang berbusa, kata-kata yang meniadakan keberadaannya. ***

Sidoarjo, 1 Mei 2009

Wong Alus

Catatan:

*) Satori adalah pencerahan ala Zen Budhisme. Munculnya Satori tidak terduga, seperti sekelebat cahaya yang hadir kapan saja dan dimana saja seseorang berada.

*) Pring: bambu (bahasa Jawa)

*) Sutil: alat untuk menggoreng. Terbuat dari besi yang dibentuk sedemikian rupa menyerupai sekop kecil.

Categories: PUISI & PROSA | 1 Komentar

MISTERI TUHAN DI BALIK TRAGEDI LUMPUR


Namanya Solekhudin. Usianya sekitar 33-an. Dia ganteng dan tubuhnya atletis, ringan senyum dan tangan. Tidak suka belanja dan membawa uang. Pikiran-pikirannya berat, idealis dan mbulet. Bapaknya pelukis almarhum. Sejak belia suka memberontak dan meronta. Jalanan baginya adalah ruang berekspresi menentang ketidakadilan. Jauh sebelum maraknya demo-demo di Sidoarjo, dia sudah terlebih dulu hadir dengan tuntutan sederhana; apa yang menjadi hak si kecil maka berikanlah.

Bagi para aktivis, Khud adalah legenda hidup yang mudah dijumpai di saat-saat yang genting. Saat demo menentang korupsi, kolusi dan nepotisme di lembaga-lembaga pemerintahan, misalnya, dengan mudah kita melihat pria bersahaja ini memegang poster. Dia tidak begitu fasih berorasi, juga tidak menjadi macan podium. Tapi, buat para aktivis yang membutuhkan pengkayaan lahan untuk mengembangkan pikiran-pikiran liar yang humanis, dia adalah “dukun”nya.

“Dukun” ini memiliki mantera dengan perangkat yang apa adanya, tapi mampu memindahkan mimpi para aktivis ke tempat yang benar. Sehingga mereka tidak salah arah dan kebablasan. Dia mampu pula menjadikan panggung demo menjadi altar magis. Bila yang lain sibuk mencari kata yang pas untuk meneriakkan kata agar didengar orang, Khud cenderung diam diri; menjadi arsitek batin yang sibuk bermeditasi.

Tapi Khud adalah korban lumpur Porong. Rumah dan tanahnya di Jatirejo seluas 5000 meter persegi kini tinggal kenangan. Suatu kali, kata Khud, ia rindu kampung halaman yang kini dilumeri lumpur panas. Inilah kerinduan seorang pemuda desa terhadap ruang yang pernah membesarkan eksistensinya. Diciptakanlah perahu dari empat tong yang dilas berjajar, lalu dia mendayung bersama teman. Rumahnya yang berjarak sekitar 100 meter dari bibir tanggul ditempuh selama delapan jam. “Capek karena perahu tidak bisa bergerak, lumpurnya terlalu dalam,” cerita awal Khud.

Mengenai Jatirejo yang kini hilang dari peta itu, Khud memiliki catatan menarik. Di desa yang awalnya dilupakan orang ini, ada pelatuk yang tersembunyi. Di dalamnya tersimpan puluhan ton bahan peledak yang setiap saat siap melumat Sidoarjo. Konon, di sisi utara desa berdiri kokoh pabrik minuman keras terbesar. Pemodalnya kuat dan banyak. Ada yang dari lingkungan Cendana, Jakarta hingga konglomerat dan birokrat asal Papua. Di sini pula tempat kos para begenggek yang lelah menjajakan diri. Di sudut desa yang lain, pondok pesantren dan masjid sibuk mendaras ayat-ayat Tuhan.

Pabrik miras itu pula yang menghidupi ratusan jiwa warga Jatirejo. Sehingga saat ada ribut-ribut dari kalangan agamawan yang merekomendasi untuk menutup pabrik ini, warga justeru membelanya. Di mata kaum agamawan yang hitam-putih, desa jelas menampakkan wajah yang paradoks dan berdosa. Tidak demikian dengan Khud. Baginya, peristiwa ini bukanlah pertempuran antara kebaikan dan kejahatan, antara hitam dan putih dan barangkali abu-abu, antara yang santri dan abangan dan seterusnya. Tapi sebuat pergelutan mereka yang berpandangan hitam-putih, mereka yang ingin mengeksploitasi Jatirejo menjadi komoditas untuk melanggengkan bisnis dan politik, dan ragam wajah lain.

Keruwetan itu malah sengaja dipelihara bahkan dipertahankan kaum “pembesar” dengan berbagai alasan yang ujung-ujungnya sangat klasikal; kepentingan pribadi. Tidak lama dari peristiwa ramenya pro-kontra pabrik minuman keras, bom waktu pun meledak. Sidoarjo jadi headline media selama berbulan-bulan (bahkan bisa jadi bertahun-tahun?). Lumpur yang muntah tanpa kompromi itu penanda bumi protes dengan caranya sendiri. Dia kesakitan tubuhnya dibor kaum yang munafik, serakah dan palsu.

Saat warga Jatirejo, Renokenongo, Siring dan lainnya sibuk menyelamatkan harta bendanya, Khud, juga terlihat sibuk. Tapi yang dibawanya hanya lukisan-lukisan Bapak almarhum. Sementara gebyok kayu, kursi dan meja antiknya dibiarkan begitu saja diterjang lumpur. “Bapak dulu melukisnya dengan jiwa, ini harta paling mahal keluarga kami,” ujarnya. Begitulah catatan Khud.

Akhirnya, “Saya kini tiap hari duduk di pinggir tanggul, menghisap kretek, memandangi rumah dan kehidupan kami di masa lalu dan misteri Tuhan yang masih tersisa, kenapa kami yang miskin ini yang dilindas bencana???”.

(Wong alus)***

lump4

Categories: TUHAN DIBALIK LUMPUR | 10 Komentar

PERSIAPAN OPTIMAL BERTEMU DENGAN DZAT TUHAN


“yang bisa saya mengerti, itu esensiku; yang saya percayai itu eksistensiku: Tuhan saya itu ADAku, saya ADA, sebagaimana saya mencintai”

Artikel ini untuk menjawab pertanyaan yang sering diajukan para blogger di blog-blog yang bernuansa spiritual. Yaitu pertanyaan “apa itu Tuhan?” Meskipun artikel ini jauh dari memadai untuk menjawab pertanyaan tersebut, namun setidaknya bisa menjadi satu referensi bagi kita semua, yang sedang mencari jawaban yang cukup sulit namun penting ini.

Kutipan di atas adalah pernyataan mistikus Jerman, Karl Jaspers (1883-1969), yang terkait dengan pemikirannya tentang Tuhan. Sebelumnya, akan dipaparkan siapa Jaspers. Pemikir brilian ini lahir di Oldenburg, Jerman Utara pada 23 Februari 1883, bersekolah di Gymnasium Oldenburg, meneruskan di Universitas Heidelberg, dan Munchen. Jaspers memiliki minat besar pada psikiatri dan filsafat. Ia juga pada akhirnya terseret ke dalam dunia mistik saat menerbitkan buku “Der Philosophische Glaube angesichts der Offenbarung” Salah satu hasil pikiran Jaspers yang saya pandang cukup penting untuk disampaikan di blog WONG ALUS ini adalah jawaban dari pertanyaan APA ITU TUHAN?. Menurut Jaspers, TUHAN adalah EKSISTENSI, juga disebut ROH. Selain EKSISTENSI, TUHAN juga bersifat TRANSENDENSI. Manusia ada di dunia, tetapi ADANYA (Dasein) ini belum merupakan EKSISTENSI. Adanya manusia termasuk bidang empiris, berada dalam ruang dan waktu. Sebagai DASEIN kita akan meninggal, tetapi EKSISTENSI kita masih bersifat KEMUNGKINAN.

EKSISTENSI itu suatu panggilan untuk mengisi kebebasan. Di dalam waktu, kata Jaspers, manusia harus memutuskan bagaimana MANUSIA bisa ABADI dan BISA MENJADI TUHAN. Maka “Saya menjadi seperti yang saya percaya”. Menurut mistikus kondang ini, manusia memiliki kecenderungan untuk tidak mengetahui banyak hal. KETIDAKTAHUAN ini memaksa manusia untuk mengambil keputusan-keputusan. Salah satu keputusan yang cukup penting adalah ketika dia ingin menjadi AKU YANG SEJATI. Keputusan inilah yang akan menciptakan DIRI menjadi EKSISTENSI atau TUHAN. Adanya manusia selalu dibatasi oleh situasi-situasi tertentu. Situasi situasi di mana manusia bisa menemukan diri sebagai EKSISTENSI atau AKU YANG SEJATI itu disebut dengan pengalaman dalam SITUASI-SITUASI BATAS. Dalam kegelisahannya memikirkan KEMATIAN, PENDERITAAN, KESALAHAN, dst.. manusia merasa betapa fana hidupnya.

SITUASI PERBATASAN memperlihatkan bahwa hidup kita di dunia tidak merupakan kenyataan terakhir. Ternyata, ada kenyataan yang lebih besar, sesuatu yang akan membawa manusia entah kemana. Yang ada di seberang batas-batas hidup, dunia, dan pengetahuan kita disebut dengan TRANSENDENSI atau KEILAHIAN. Di sini, konsep Jaspers tentang Tuhan yang BEREKSISTENSI dan TRANSENDENSI ini bisa dikatakan sama dengan konsep ketuhanan bahwa TUHAN itu bersifat LAHIR dan juga BATIN.

Bagaimana dzat TUHAN? Kata “TUHAN”, menurut Jaspers, hanya merupakan simbol KEILAHIAN dibelakang semua nama dan konsep. KEILAHIAN selalu berbicara dengan memakai simbol-simbol (Chiffer) atau dalam bahasa Arab disebut dengan Sifr yang merupakan terjemahan dari Sansekerta, SUNYA atau KEKOSONGAN. Manusia tidak mungkin untuk mengetahui dzat Tuhan pada dirinya sendiri. Manusia harus menerjemahkan dan mengisi simbol-simbol bila ingin mengetahui SUBSTANSI KETUHANAN.

Menerjemahkan KEHENDAK TUHAN adalah tugas manusia yang mulia dan hal ini ditentukan oleh IMAN dan KEYAKINAN kita. IMAN mendapat artinya melalui cara hidup kita. Manusia oleh sebab itu bisa MEMBACA dan MENAFSIRKAN SIMBOL dengan syarat dirinya mampu mengisi KEBEBASAN. Kata Jaspers, manusia bebas karena Tuhan menyembunyikan diri. Ini berarti Segala sesuatu itu dapat menjadi WAHYU ILAHI, menjadi GEMA atau JEJAK dari TRANSENDENSI/TUHAN. Segala sesuatu dapat menjadi TEMBUS CAHAYA, BENING dan JERNIH. (Dalam bahasa mistik Jawa, segala sesuatu itu adalah KITAB TELES, terj. penulis)

Fakta sejarah dibeber oleh Jaspers. Dua kali dalam sejarah, kata Jaspers, diperlihatkan oleh TUHAN apa yang terjadi bila manusia mencoba untuk mengetahui DZAT TUHAN diseberang semua SIMBOL. Yang pertama adalah CANDI BOROBUDUR sedangkan yang kedua adalah pemikiran seorang mistikus bernama MEISTER ECKHART (1260-1327). CANDI BOROBUDUR memperlihatkan kepada manusia bagaimana sesudah semua gambaran tentang DZAT TUHAN ( simbol, konsep, kata-kata) ditinggalkan akhirnya yang tertinggal adalah KESUNYIAN / KASUNYATAN. Bila jiwa manusia telah kosong setelah semua kesadaran terlewati dan SIMBOL-SIMBOL ( simbol, konsep, kata-kata) ditinggalkan, berarti itu merupakan persiapan optimal untuk BERTEMU dengan DZAT TUHAN.

Yang kedua adalah pemikiran MEISTER ECKHART yang salah satu tema besarnya terpapar dalam kalimatnya yang berbunyi: WHEN GOD MADE MAN, THE INNERMOST HEART OF GODHEAD WAS PUT INTO MAN. Artinya “Saat Tuhan Menciptakan Manusia, Inti Ketuhanan telah Dipaterikan di Hati Terdalamnya.” Apa dan bagaimana penjelasan lengkapnya, akan dipaparkan dalam artikel selanjutnya. SALAM PANTA RHEI…

Wong Alus

Categories: SIAP BERTEMU TUHAN | 23 Komentar

SPIRITUALITAS ABSURD MAS KUMITIR


Blog-blog bernuansa spiritualisme bermunculan di jagad maya. Salah satunya adalah blog alangalang kumitir yang dibidani oleh seorang anak muda yang gandrung terhadap sastra Jawa.

Mas Kumitir –demikian dia dipanggil oleh antar blogger– dikenal memiliki minat luas terhadap budaya, falsafah dan sastra Jawa.  Sebelum dia mengenal blog, dia lebih suka untuk menulis renungannya di kertas seadanya, bahkan di kertas rokok dan sobekan koran. Setelah kini ia punya blog, dia menumpahkan perenungannya di jagad maya tersebut dan hasilnya, banyak blogger yang terbantu dengan kehadiran alangalang kumitir.

Yang aneh, mas Kumitir termasuk buta kampus, sama sekali ia tidak terbiasa dengan karya-karya ilmiah, makalah maupun skripsi.  Ia lebih cenderung mengenal puisi, suluk dan kekidungan yang bentuk nya lebih bebas, tidak kaku dan kering.

Itu sebabnya, ia lebih suka untuk diam dan mendengarkan bila kebetulan ada diskusi tentang hal-hal yang berbau spiritual yang dihadirinya. Sambil sesekali memberi komentar. Itupun bila diminta oleh yang lain. Sebab, bahasa, menurut mas Kumitir,  sebenarnya mereduksi kekayaan realitas menjadi sekedar representasi belaka. “Bahasa itu hanya simbol dan simbol tidak mewakili apa yang sesungguhnya. Yang spiritual itu ya RASA. Bukan kata-kata dan bahasanya,” terang mas Kumitir.

Ia kini menetap di sebuah gubuk di tengah sawah yang sunyi berbaur dengan kodok dan kadal. Mungkin, kandang kambing di sampingnya lebih bersih. Tapi ia mencuri perhatian dunia budaya Jawa. Barangkali Mas Kumitir lebih cocok bila disebut sebagai pekerja budaya spiritual Jawa ketimbang hanya sebagai pengamat pasif saja.

Itu gara-gara ia rajin mengumpulkan serat, babad, suluk dari buku-buku bekas yang diperolehnya di berbagai kota dan kampus. Kadang ia juga sedikit mencoret-coret kertas untuk menulis laku dan perjalanan spiritualnya. Coretannya kadang berbentuk puisi sederhana tapi ”magis” dan menyentuh.

Hasil tulisan para pujangga jawa kuno itu diketik lagi, dan juga coretannya sendiri selanjutnya diupload diblog. Sejak pertengahan tahun 2008 mas Kumitir rutin mendokumentasi kegiatan spiritual yang pernah dilakoni. Sebelum kenal blog, dia lebih banyak menyimpan pengalamannya di ingatan saja.

Rekan-rekan dan kenalan yang kebetulan membuka blog tersebut rupanya iseng-iseng memberi komentar. ”Tadinya saya khawatir karena terkadang agak menyinggung perasaan Mas Kumitir. Namun ternyata dia menanggapinya dengan bijaksana,” tutur sang teman mengenang.

Isi blog mas kumitir banyak yang berbentuk macapat dan kekidungan. Alur logikanya melompat ke depan. Kadang memang seperti diluar akal sehat sepadan dengan hidup sehari-hari Mas Kumitir yang meskipun senang dengan kesederhanaan, namun mengesankan, nyeleneh dan unik. Yang mengesankan dari seorang Mas Kumitir adalah melakoni pencarian jati diri dan sangkan paraning dumadi secara total. Tidak ingin pikirannya terlena oleh urusan dunia yang fana ini, Mas Kumitir bahkan rela untuk memilih hidup yang merdeka.

Waktunya dihabiskan dengan berkelana di tempat tempat yang sunyi dan bila tidak sedang melakukan perjalanan ke luar kota, dia biasanya ada di gubuknya hingga larut malam. Di depan komputer yang mengalunkan gending-gending jawa, Mas Kumitir mengerutkan kening dan jari jemarinya mencakar-cakar tuts. Membuka blog dan mengupload artikel. Itulah ritualnya.

Mas Kumitir punya kebiasaan bersepeda gunung seorang diri. Bila sedang bersepeda, akunya, ia bisa menikmati hidup.  “Ternyata kita ini bukan siapa-siapa. Kita ini kecil dihadapan alam raya yang luasnya tidak kita ketahui,” ujarnya pemilik sepeda gunung warna hijau ini.

Namun, kita akhirnya terheran-heran karena kesukaannya untuk bersepeda itu ternyata menghasilkan karya yang bisa diakses orang banyak.

Ini gara-gara ternyata ada peminat atas karya-karyanya. Seorang pengelola website pernah menawatinya menjadi nara sumber rubrik budaya jawa. Apa komentar Mas Kumitir? “Biar rekan-rekan blog lain saja yang jadi narasumber. Saya tidak bisa berargumentasi dan berdebat,” ujarnya sambil menghisap kretek bercangklong.

Hidup memang harus dinikmati, dan setiap individu memiliki caranya masing-masing untuk memayu hayuning bawono. Begitu pula dengan Mas Kumitir yang lebih memilih untuk mengabdi dan melukis di kanvas jagad mayapada ini dengan caranya sendiri. “Kebenaran milik Gusti Kang Murbeng Jagad. Tidak ada yang tidak mungkin bagi Dia. Apabila Dia berkehendak semuanya menjadi mungkin. Bisa-bisa hukum alam tidak berlaku,” ujarnya.

Malam semakin larut, jarum jam menunjuk ke angka 12.30 WIB. Saya mencoba membuka blog alang-alang kumitir. Ternyata ada salah satu karya yang baru saja diupload. Saya akhirnya membayangkan di kegelapan malam, remang-remang, disinari hanya cahaya bulan Mas Kumitir biasanya duduk sendirian di luar gubuknya. Tangan kanannya memegang bolpen, tangan kirinya menimang-nimang buku jawa lawas. Terlihat serius, ia menulis.

Mas Kumitir, selamat malam.

Wong Alus

Categories: SPIRITUALITAS MAS KUMITIR | 75 Komentar

Mengupas Kulit Spiritualitas


PROLOG
Artikel yang ditulis yudeka ini sangat saya sukai.  Saya berniat menampilkan di blog ini karena ini adalah satu jalan di antara banyak jalan lain menuju pengalaman spiritualitas tiada berhingga…

Pertama, penanya menanyakan dua hal kepada penulis (Yudeka) yaitu:

Pertama, bagaimana pandangan terhadap Reiki Tummo, dan
Kedua, apakah dengan dibukakan (attunement) cakra mahkota kita, kita bisa lebih nyambung ke Alloh?
Dalam pembahasan pertanyaan ini, akan dicoba untuk memberikan pandangan terhadap Reiki Tummo ini hanya sebatas melihat filosopi yang mendasari praktek Reiki ini secara umum.

Nah…., dalam membahas laku spiritual ini, akan dicoba menganalogikannya dengan sebuah proses yang sangat sederhana yaitu proses mengupas kulit bawang. Analogi ini dipakai karena pada sekilas pandang, seperti melihat ada kesamaan-kesamaan tertentu dalam berbagai proses laku spiritual itu. Tak ubahnya saat kita melihat kulit bawang. Kulit bawang itu tatkala dikelupasi lapis perlapis, yang ada ya….kulit-kulit bawang juga. Karena yang akan saya bahas adalah tentang laku spiritual, maka artikel ini saya namakan ”Mengupas Kulit Bawang Spiritualitas”.

kita akan membahas lapisan kulit spiritutal itu lapis demi lapis sesuai dengan pengetahuan dan pengalaman. Kalau kita coba kelupasi kulit bawang spiritual itu lapis demi lapis sampai habis, lalu yang tersisa apa….???.

KULIT OLAH DIRI…
Reiki Tummo adalah sekian banyak dari istilah-istilah dan nama tentang fenomena Reiki yang berkembang di berbagai penjuru dunia. Pada daerah-daerah lain pun muncul pula nama-nama lain dengan sedikit variasi disana-sini. Varian dari India disebut dengan Yoga. Varian di Cina disebut dengan nama yang lebih beragam, misalnya Taichi, Tao, Kung Fu (dengan ditambah kemampuan bela diri). Varian di Philipina dikenal dengan nama Prana. Di Indonesia malah variannya lebih banyak lagi, misalnya Tenaga Dalam, Tenaga Sakti, Tenaga Dasar, Energi Murni. Varian Di Amerika dan Eropa dikenal dengan istilah fenomena “PSYCHIC”. Bahkan dalam praktek agama-agama dunia, fenomena ini secara sepintas terlihat hampir sama. Dalam agama Yahudi ada, dalam agama Nasrani ada, dalam agama Islam pun sepintas juga terlihat seperti ada (seperti yang dipertontonkan oleh para sufi, ustad-ustad tertentu). Note: nanti akan kita bahas bagaimana dengan Rasulullah ??…!.
Pada tatanan MANUSIA, apa-apa yang diolah dalam praktek Reiki dan praktek-praktek sejenisnya seperti yang saya sebutkan di atas, semuanya adalah NYARIS SAMA. Yang diolah adalah NAFS (DIRI) manusia. Diri manusia yang ukurannya hanya segini-gininya ini, ternyata menyimpan rahasia yang sama dahsyatnya dengan alam semesta raya ini. Pantas saja dalam agama Islam Allah memberi tahukan dalam surat Al Jaatsiyah ayat 3-4 bahwa:

Sesungguhnya pada langit dan bumi benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) untuk orang-orang yang beriman.

Dan pada penciptaan kamu dan pada binatang-binatang yang melata yang bertebaran (di muka bumi) terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) untuk kaum yang meyakini,

Ayat di atas dengan lantang menggugah manusia, terutama orang yang beriman, agar mau mengamati dan menyelidiki potensi-potensi dan system apa yang ada pada dirinya sendiri seperti juga kita dimotivasi untuk mengamati apa-apa yang ada di langit dan di bumi, serta pada binatang yang melata. Dengan pengamatan itu diharapkan umat manusia menjadi bertambah-tambah keimanannya kepada Allah.

Ya…, pada diri manusia ternyata ada sistem yang kerumitan dan potensi yang ada di dalamnya sungguh tidak kalah dengan apa yang ada pada alam semesta. Boleh dikatakan diri manusia itu adalah laksana alam semesta (makro kosmos) dalam ukuran mini (mikro kosmos).

Berbilang zaman berlalu, manusia dari berbagai bangsa dan agama sudah mencoba pencarian yang panjang tentang siapa dirinya yang sebenarnya, dan tak lupa menggali potensi-potensi apa yang bisa mucul dari dalam dirinya itu. Dalam perjalanan pengenalan diri itu, terkuaklah misteri demi misteri keajaiban tubuh kita. Fenomena Cakra, Kundalini, Energi Psikokinetik, hanyalah beberapa saja dari sekian banyak rahasia-rahasia yang telah dibukakan oleh Allah buat kita. Fenomena Cakra serta Kundalini beserta segenap turunannya adalah sebuah suasana universal yang bisa dilatih dan dipraktekkan oleh siapa saja dan agama apa saja. Dan hasilnya sangat tergantung pada seberapa keras kita berlatih dan seberapa kuat kita bisa memfokuskan arah fikiran kita kepada cakra-cakra yang diyakini oleh pemrakteknya berada pada titik-titik tubuh yang berada disepanjang tulang belakang manusia, mulai dari bawah sampai ke ujung kepala (ubun-ubun). Dalam hal ini saya tidak akan membahas dimana cakra-cakra itu berada dan bagaimana cara pengolahannya sehingga memunculkan potensi-potensi yang ”boleh jadi” melebihi apa-apa yang dimiliki oleh orang yang tidak melatihnya.

Pengolahan cakra-cakra itu sebenarnya adalah sebuah proses sederhana saja, yaitu dengan mengarahkan fikiran kita pada titik-titik tertentu yang diyakini oleh pemrakteknya sebagai simpul-simpul energi atau getaran untuk beberapa waktu lamanya. Kalau simpul-simpul itu bisa diaktifkan, maka manusia ternyata bisa mengolah dan memanfaatkan getaran yang muncul itu untuk berbagai keperluan. Penggunaan getaran ini sangatlah luas dan beragam sekali. Misalnya, mulai dari tujuan untuk pengobatan sampai dengan kemampuan untuk memunculkan kekuatan dan kemampuan yang sekilas kelihatannya seperti sesuatu yang irrasional. Sebutlah apa saja yang pernah dipublikasikan orang tentang kemampuan irrasional itu, seperti pengalaman tentang adanya tubuh astral, tubuh eterik, pengalaman keluar dari tubuh (OBE=Out of Body Experience) atau meraga sukma, atau fenomena tenaga-tenaga tak kasat mata seperti yang digunakan dalam silat, kung fu, aikido, dsb., maka semua itu hanyalah sebuah konsekwensi logis saja atas berhasilnya sang manusia meningkatkan kesadarannya dari hanya sekedar getaran (vibrasi) di tingkat ketubuhan menjadi kesadaran getaran ditingkat energi-energi yang lebih halus.

Kalau tubuh ini kita perhatikan walau dengan mengunakan kesadaran ilmu fisika biasa saja, maka dengan mudah dapat kita sadari bahwa tubuh kita ini adalah kumpulan atom-atom dari berbagai unsur yang saling terikat satu sama lainnya. Misalnya atom dari unsur oksigen, hidrogen, nitrogen, dan unsur-unsur lainnya. Interaksi dari unsur-unsur pembangun tubuh tersebut akan menimbulkan pancaran energi, baik itu berupa getaran-getaran maupun cahaya-cahaya dengan panjang gelombang dari bisa terlihat oleh mata sampai dengan yang tidak bisa dilihat dengan mata telanjang.

Nah…, untuk mampu merasakan dan melihat fenomena-fenomena getaran dan cahaya tadi itu seseorang harus mampu meningkatkan kesadarannya dari sekedar hanya kesadaran tubuh ketingkat kesadaran getaran-getaran.

Misalnya, untuk melihat sekedar adanya lingkaran cahaya yang berpendar disekitar jari-jari kita, kita tinggal memandang jari kita dengan tidak fokus kearah jari itu. Fokuskanlah pandangan mata kita melampaui jari itu. Jangan pandang jari itu. Pandanglah ruangan yang melampaui tangan kita itu beberapa cm didepan. Tidak berapa lama kita akan melihat pendaran cahaya yang menyelimuti jari kita tersebut. Tanaman pun, kalau dilihat dengan cara yang sama seperti diatas, akan terlihat juga seperti diliputi oleh cahaya yang berpendar yang meliputi daun-daunnya. Orang lalu menyebut pendaran cahaya ini dengan nama AURA. Atau ada juga yang menamakannya dengan tubuh astral, tubuh eterik, dan sebagainya, yang tentu saja dengan karakter dan getaran yang berbeda pula.

Kemampuan memandang pendaran cahaya ini dapat dilatih dan ditingkatkan untuk dapat memandang pendaran cahaya dari tubuh manusia secara utuh. Bahkan kemampuan itu dapat pula ditingkatkan untuk mengetahui tentang berbeda-beda cahaya yang muncul untuk berbagai emosi dan rasa, yang berbeda pula, bahkan dapat pula digunakan untuk mengetahui mana-mana bagian tubuh yang sehat maupun yang sakit.

Dulu-dulu (sebelum ikut patrap), di wilayah beladiri, saya juga pernah melatih bagaimana cara untuk menggunakan kemahiran tentang getaran ini untuk mengenali benda-benda dengan mata tertutup. Dan juga getaran itu dapat pula digunakan untuk mematahkan benda keras dengan hanya menyentuh beda tersebut dengan lembut tanpa bertenaga. Benda keras itu patah hanya dengan cara ”membayangkan” kita sedang mengirimkan kepada benda itu getaran gelombang transversal dan longitudinal secara bergantian beberapa saat lamanya. Lalu gelombang itu kita bayangkan pula mampu mempengaruhi posisi atom-atom pada benda keras tersebut ke posisi yang terlemah. Lalu dengan tanpa menggunakan kekuatan yang besar seperti yang digunakan para kuli panggul barang, maka kita akan sanggup mematahkan benda itu. Jadi dalam hal ini yang digunakan adalah afirmasi (penegasan) dengan menggunakan kekuatan fikiran yang terfokus dan keyakinan yang tinggi akan keberhasilan atas apa-apa yang kita inginkan.

Kemudian di wilayah praktek sebuah tarekat (juga sebelum saya ikut patrap), saya juga pernah mengalami apa yang disebut orang dengan fenomena OBE (out of body experience) saat saya melakukan SULUK di penghujung Ramadhan tahun 2000. Ketika itu, dengan mudah rasanya saya bisa seperti pulang ke rumah, datang ke Mekkah, datang ke kuburan Nabi di Madinah, bahkan pada saat itu rasanya kening saya ke cium oleh Rasulullah. Mursyid saya ketika itu, begitu saya ceritakan tentang hal ini, beliau malah balik menciumi kening saya. Saya hanya bisa terheran-heran saja saat itu. Akan tetapi semua itu ternyata juga hanyalah sensasi-sensasi yang muncul saat kita mampu mengarahan fikiran dan keinginan kita menuju ke tempat yang kita inginkan, atau berjalan ke tempat-tempat yang ceritanya dan bayangannya pernah masuk ke dalam otak kita.

Sungguh banyak sekali fenomena yang bisa digali dan diolah tentang kemampuan yang diberikan oleh ALLAH terhadap NAFS manusia. Tidak terbatas. Karena semua datangnya adalah dari yang punya ilmu yang Maha TIDAK TERBATAS, yaitu Allah. Jadi…, alangkah angkuh dan jumawanya kita jika ada diantara kita yang sampai tidak mengakui tentang keberadaan ilmu-ilmu dan fenomena-fenomena ”aneh” di atas yang hanya setitik kecil saja dari lautan ilmu Tuhan yang tak terhingga banyaknya.

DARI KULIT KE KULIT …

Untuk reiki, tarekat, dan kemampuan-kemampuan supranatural lain, umumnya terdapat titik kesamaan yang sangat dekat dalam hal cara pengolahan dan pelatihannya. Yaitu mengolahnya dengan menggunakan fikiran dan gerakan fisik tertentu terhadap titik-titik yang berada disepanjang tulang belakang dan sekitarnya, mulai dari ujung ekor sampai ke ubun-ubun. Kosa kata dalam bahasa umumnya adalah titik-titik CAKRA (baik cakra MAYOR yang berada diwilayah tulang belakang, tembus muka dan belakang, maupun cakra MINOR yang berada disekitar wilayah tulang belakang) yang punya getaran tertentu untuk masing-masing titiknya. Pada beberapa praktek tarekat, titik-titik itu dinamakan orang dengan istilah LATHAIF, akan tetapi titik-titik yang diambil adalah yang berada diwilayah ulu hati (dada, yang diyakini banyak orang sebagai tempat beradanya HATI atau QALB), bergerak ke atas sampai ke kening, dan pada tahap akhirnya adalah seluruh tubuh itu sendiri.

Titik-titik OBJEK OLAH PIKIR ini di bersihkan, digetarkan, dan di olah dengan cara mengarahkan fikiran (berkonsentrasi) kepada titik-titik CAKRA atau LATHAIF tersebut. Proses ini biasanya distimulasi dan diperkuat dengan menambahkan simbol-simbol, bunyi-bunyian atau suara-suara tertentu dengan frekuensi yang monoton pula. Pada reiki, simbol objek fikir itu biasanya adalah dalam bentuk garis melingkar-lingkar dan warna-warni dengan pola tertentu. Setiap pola itu diyakini oleh pemrakteknya mempunyai vibrasi tertentu pula. Adapula kemudian yang ditambah dengan berbagai teknik penahanan dan pengeluaran nafas yang diatur sedemikian rupa. Ada juga yang menambahnya dengan gerakkan-gerakan tubuh, kaki, dan tangan dengan pola tertentu. Dan ada pula yang mengikut sertakan suara-suara dan irama monoton tertentu dengan durasi yang cukup lama. Pada praktek YOGA ataupun meditasi-meditasi lainnya, yang dilakukan orang juga sama saja (walau dengan kadar dan teknik yang berbeda-beda). Semua punya titik objek fikir, simbol-simbol, gerakan-gerakan, dan bentuk-bentuk posisi tubuh tertentu yang gunanya tak lain adalah sebagai ”SARANA” bagi pemrakteknya untuk mengolah arah fikirnya.

MAU DIKELUPASI APANYA LAGI …?.

Di dalam tarekat pun, objek untuk praktek mengolah arah fikir ini nyaris sama saja. Pada salah satu tarekat, misalnya, titik objek fikir itu mirip sekali, kalau tidak mau dikatakan sama, dengan titik-titik objek fikir yang dipakai dalam praktek reiki, taichi, dan yoga. Objek fikir di dalam tarekat ini disebut dengan istilah LATHAIF. Misalnya, ada lathaif Qalbi (yang terletak dekat jantung, 2 jari di bawah susu kiri, 2 jari lagi ke arah tengah dada), lathaif Roh (yang terletak 2 jari di bawah susu kanan, agak 2 jari lagi ke tengah dada), lathaif Sirri (yang terletak 2 jari di atas susu kiri, agak 2 jari lagi ke tengah dada), lathaif Khafi (yang terletak 2 jari di atas susu kanan, agak 2 jari lagi ke tengah dada), lathaif Akhfa (yang berada di tengah dada), lathaif Nafsun Natiqah (yang berada di antara 2 alis), lathaif Kullu Jasad (yang berada 2 jari di atas pusar, tembus menuju ubun-ubun, lantas meliputi seluruh tubuh). Dan secara kasat mata pun, beberapa lokasi lathaif ini sama persis dengan posisi-posisi cakra yang ada dalam reiki, yoga, dan meditasi. Dan ternyata memang masing-masing posisi lathaif atau cakra itu mempunyai sensasi sendiri-sendiri.

Kemudian dalam riyadah rutin, pemrakteknya menambahkan (dalam istilah tarekatnya MENGHUNJAMKAN atau MENUSUKKAN) simbol tunggal, yaitu TULISAN HURUF ALLAH (dalam bahasa Arab) setiap kali kita ”singgah” ke lathaif tertentu. Menusukkan simbol huruf ALLAH itu harus diulang-ulang dengan jumlah yang berbeda bagi setiap lathaif. Hunjaman kalimat Allah di lathaif-lathaif itu kemudian diafirmasi (diperkuat) lagi dengan tambahan ucapan Allah atau Laa ilaha illallaah dengan irama suara yang cepat dan monoton.

SEUNTAI BENANG MERAH…!

Berangkat dari pembahasan di atas, maka sebuah benang merah sepertinya mulai dapat kita tarik, bahwa pada dasarnya praktek reiki, taichi, yoga, meditasi, dzikir di tarekat atau rumah dzikir tertentu, latihan tenaga dalam, dan latihan-latihan kesaktian lainnya sedikit banyaknya ada kesamaannya, kalau tidak mau dikatakan serupa banget. Pada semua itu ada ”sesuatu (titik)” yang dipakai sebagai objek tempat mengarahkan fikiran, ada simbol-simbol sebagai penambah kemampuan berkonsentrasi, ada suara-suara monoton yang dipakai, dan ada pula bentuk-bentuk tubuh tertentu yang dipakai selama proses pengolahan jiwa sang pemrakteknya.

Karena yang diolah dalam reiki, taichi, yoga, meditasi, dan tarekat tertentu adalah tubuh-tubuh (NAFS) juga, maka hasilnyapun nyaris sama. Misalnya, seseorang yang telah mempraktekkannya beberapa waktu lamanya, maka hampir semua praktikannya mengalami sensasi dapat merasakan getaran-getaran tertentu. Dan ternyata getaran itu, dengan teknik pengarahan fikiran tertentu, bisa dipakai untuk berbagai hal. Seperti untuk pengobatan, untuk kesaktian, untuk melanglang buana di alam-alam penuh getaran, sensasi-sensasi, rupa-rupa dan pandangan-pandangan tidak kasat mata lainnya.

Lalu semua fenomena itu tadi, kemudian dianggap sebagai fenomena spiritual. Maka jadilah makna spiritual itu terpangkas dan mengecil. Dan pada tatanan kehidupan praktis ”spiritualis” Hindu, Budha, Islam, pemraktek yoga, reiki, meditasi, tenaga dalam (kesaktian) menjadi sulit untuk dibedakan antara satu dengan yang lainnya. (Hampir) SAMA SAJA. Ya…, KULITNYA SAMA SAJA !!!. Bedanya, paling-paling bisa dilihat dalam hal tata cara berpakaian, berbicara, praktek-praktek ibadah dan simbol-simbol yang dipakai oleh mereka masing-masing.

Ada yang menarik untuk diamati pada tatanan spiritualitas seperti ini, bahwa hampir selalu para pemrakteknya terlihat lebih lembut, lebih sabar, lebih tenang, dan lebih cool dari orang kebanyakan. Seringkali pemrakteknya berkata: ”Saya ikut praktek ini… itu…!. Dalam sebulan saja saya bisa merasakan perubahan yang besar dalam diri saya. Saya menjadi lebih tenang, lebih sabar, lebih damai, lebih sehat…, dan blaaa…, blaaaa”. Yakin benar para pemrakteknya dalam menceritakan hasil latihannya itu. Na lho kok sama hasilnya…?. Realitas macam apa ini sebenarnya….???. Kalau dilihat ciri-cirinya di atas, misalnya, pemrakteknya bisa merasa lebih tenang, damai, luas, bahagia, cool, sehat, tidak banyak merasakan permasalahan walau pun dia sedang dirundung masalah, maka realitasnya kok sama dengan suasana yang disebutkan dalam Al Qur’an yaitu suasana JIWA YANG TENANG (NAFSUL MUTHMAINNAH)….

KULIT NAFSUL MUTHMAINNAH (JIWA, DIRI YANG TENANG)…

Dalam istilah agama Islam, ada sebuah sifat jiwa (diri) yang disebut dengan JIWA YANG TENANG (Nafsul Muthmainnah). CIRI-CIRI Nafsul Muthmainnah ini hanya sederhana saja, yaitu pada Nafs ini tiada lagi rasa kekhawatiran dan tiada kesedihan padanya (la khaufun ‘alaihim wala hum yah zanun). Siapa saja dapat merasakannya. Realitas suasana diri yang bersifat universal ini kalau dibahasakan secara populer adalah, bahwa pada diri itu, otaknya tidak lagi dihantam oleh gelombang badai fikirannya, dadanya tidak lagi dihantam oleh galaunya perasaannya. Ya…, otak sang diri ini sudah tidak lagi terkotak-kotak dalam berbagai persepsi yang sangat beragam dari orang ke orang, dan dada sang diri itu juga sudah tidak bergolak lagi dengan berbagai amukan perasaan baik perasaan senang maupun perasaan susah.

Ada diantara kita yang bisa sampai pada suasana otak dan dada yang tenang ini saja sebenarnya sudah sangat bagus sekali. Karena banyak juga diantara kita yang mengaku-ngaku sudah beragama, tapi fikiran dan dada kita masih dipenuhi oleh badai fikiran dan amukan rasa sehingga kita sibuk sendiri dengan apa-apa yang kita fikirkan dan rasakan itu.

Karena suasana jiwa yang tenang itu adalah sebuah sunatullah, atau bisa juga disebut sebagai hukum positif yang diturunkan oleh Sang Pencipta kepada seluruh umat manusia, maka semua manusia juga akan bisa mendapatkannya. Ya…, SEMUA manusia, tak tergantung pada agama dan suku bangsa, akan mampu meraih suasana otak dan dada yang tenang itu. Karena manusia ini diciptakan Tuhan memang beragam, maka cara untuk mendapatkan ketenangan otak dan dada itu juga bisa bermacam-macam. Boleh dikatakan cara untuk mendapatkan jiwa yang tenang itu akan sama banyaknya dengan jumlah manusia itu sendiri. Tak terbatas.

Salah satu cara yang dianggap orang dapat menciptakan sensasi rasa tenang itu adalah dengan cara meyakini, bahkan sampai benar-benar mengalami, apa yang dinamakan oleh pemraktek reiki, taichi, yoga, dan meditasi lainnya itu dengan proses terbukanya CAKRA MAHKOTA, begitu juga CAKRA DADA. Proses terbukanya cakra-cakra utama (mayor) ini ternyata memunculkan fenomena-fenomena, dimana pemrakteknya seperti mampu merasakan dirinya lepas dari sensasi ketubuhannya dan kemudian berubah menjadi sensasi alam semesta. Terbukanya Cakra Mahkota, diyakini orang bisa menimbulkan sensasi keluasan otak yang akan membuat otak itu menjadi tenang. Seperti juga halnya sensasi keluasan dan kelapangan dada yang dipercaya orang dapat muncul dengan telah bersihnya Cakra Dada.

Pasal apakah dengan terbukanya Cakra Mahkota akan mempermudah orang untuk nyambung ke Allah, seperti pertanyaan Pak Rizki, saya tidak dapat menjawabnya. Karena tentang Allah ini setiap agama bahkan setiap orang punya persepsi sendiri-sendiri. Tentang Allah ini, setiap orang mempunyai hubungan yang sangat pribadi sekali dengan-Nya. Sangat pribadi sekali. Hal ini akan saya kupas lebih pada uraian “Kulit Sang Aku Diri”.

Akan tetapi, Cakra Mahkota yang sudah terbuka boleh jadi memang dapat mempercepat hilangnya badai fikiran di otak kita. Begitu juga dengan terbukanya Cakra Dada yang akan mengurangi amukan berbagai perasaan. Boleh jadi pula orang yang telah mendapatkan keluasan dan ketenangan fikiran dan dada itu dapat lebih mudah untuk menjadi manusia universal.

Dari sekian banyak metoda itu, lalu ada beberapa metoda yang menonjol. Ya…, wajar saja !!!. Karena di atas awan memang masih ada awan. Beberapa metoda yang menonjol itu lalu dipasarkan oleh pemrakteknya ke penjuru dunia. Dengan berbagai nama. Setiap nama itu mempunyai ciri khasnya sendiri-sendiri. Siapa tahu ada yang mau nyobain juga. Nah…, metoda-metoda yang sudah kita bahas di atas tadi adalah beberapa contoh saja diantara metoda-metoda yang ada.

Bahkan dalam agama Islam, selain praktek tarekat di atas, masih banyak metoda-metoda lainnya yang bisa dipakai. Misalnya puasa, zakat, sedekah, haji, yang tujuannya adalah untuk mengolah diri (tadzkiyatunnafs) agar bisa menjadi tenang. Shalat pun ternyata tujuannya adalah untuk membawa peshalat kepada suasana jiwa yang tenang itu, sehingga sang jiwa itu bisa tercegah dari badai fikiran dan rasa, yang dalam istilah agamanya disebut sebagai: “si peshalat bisa tercegah dari perbuatan yang keji dan mungkar”.

Jadi dalam semua praktek-praktek agama (agama apa saja) maupun praktek pengolahan dan penyucian diri yang begitu beragamnya itu, pada tatanan DIRI (NAFS) itu sendiri akan mempunyai dampak yang hampir sama. Semuanya menawarkan cara-cara untuk mencapai ketenangan diri, yang realitasnya adalah lepasnya sang diri dari jebakan badai fikiran di otaknya dan amukan perasaan di dadanya. Ya…, semua masih berada di kulit nafsul muthmainnah saja sebenarnya. Jadi barangkali wajar saja kalau ada yang orang memilih agama tertentu (bahkan sampai ada yang mau bertukar agama) atau memilih praktek pengolahan diri tertentu karena dia mampu merasakan MANFAAT dari apa-apa yang dia praktekkan dalam agama atau pengolahan dirinya itu.

Tapi kemudian muncul lagi pertanyaan. Setelah diri itu tenang, lalu diri itu mau diapain…???. Dan buat apa agama ini sebenarnya…???.

KULIT SANG AKU DIRI…!!

Pada jiwa yang tenang (universal) itu ternyata tetap saja masih “ada yang tahu”, yang sadar, bahwa diri itu sudah berada dalam wilayah ketenangan, bahwa diri itu sangat luas. Diri itu juga tahu bahwa yang melihat itu ternyata bukan mata, tetapi diri yang luas itu sendiri. Diri itu juga sadar bahwa yang mendengar itu ternyata bukan telinga, tetapi diri yang luas itu sendirilah yang mendengar. Jadi pada diri yang universal ini ada bentuk pengakuan, dimana pengakuan ini ternyata adalah rahmat yang diberikan oleh Allah buat semua manusia. Ya…, pada diri yang universal itu ada “aku”, yaitu “sang aku diri”. Dan sang aku diri inilah yang mengaku-ngaku, bahwa aku ini luas tak terbatas, aku ini damai, aku ini melihat, aku ini mendengar, aku ini tahu. Dan puncak dari pengakuan itu adalah: ”aku ini ada (exist) … !!!!”.

Karena merasa ada (exist), maka sang aku diri itu lalu punya keinginan…!.

Keinginan itu yang sangat dominan diantaranya adalah:

1. Sang aku diri “ingin” meninggalkan realitas ketubuhannya (MOKSA).

Pada keinginan seperti ini, sang aku diri ini merasa bahwa tubuhnya ternyata adalah unsur yang penuh dengan suasana yang tidak menyenangkan, sehingga sang aku diri ingin lepas dari tarikan sifat-sifat ketubuhannya. Lalu sang aku diri ini ingin lari dari realitas ketubuhannya menuju, misalnya, ke syurga. Karena sang aku diri ingin lari ke syurga, maka tidak jarang bayangan syurga itu seperti benar-benar datang menghampirinya. Padahal gambaran perjalanan ke syurga itu hanyalah sekedar memori-memori tentang syurga yang telah duluan bersarang di otak sang aku diri itu. Karena gambaran dan realitas tentang syurga itu hanya Allah dan Rasulnya sajalah yang tahu.

Begitu juga saat sang aku diri “ingin” bertemu dengan para malaikat, para nabi-nabi, dan orang-orang shaleh lainnya, maka semua wujud yang ingin ditemuinya itu akan datang silih berganti menjambanginya. Dan anehnya kualitas pertemuan itu kadangkala lebih hebat dan lebih spektakuler dibandingkan dengan cerita-cerita yang pernah ada.

Tak jarang dari pertemuan-pertemuan imajiner itu sang aku diri merasa bahwa dirinya diangkat oleh malaikat menjadi Nabi baru, menjadi utusan Tuhan yang suci di zamannya. Menjadi orang-orang yang terpilih. Dan kesemuanya itu seperti benar-benar terjadi, REAL, NYATA. Dan untuk lebih meyakinkan lagi, maka anehnya sang aku diri itu seperti mempunyai berbagai kelebihan yang mencengangkan pula.

Lalu sang aku diri itu menjadi sibuk dengan berbagai pandangan-pandangan, kalimat-kalimat, huruf-huruf, suara-suara, dan pertemuan-pertemuan dengan apa yang diinginkan oleh sang aku diri itu tadi. Pertemuan yang seperti apapun dengan siapa pun dan sesulit apapun seperti bisa terjadi dengan mudahnya. Lalu jadilah sang aku diri itu menjadi sangat sibuk….!!!.

2. Sang aku diri “ingin” bertemu dengan Tuhannya…!

Pada tingkat yang lebih rumit, sang aku diri itu ada pula yang “INGIN” bertemu dengan Tuhannya. Lalu sang aku diri itu berusaha pula melakukan perjalanan MI’RAJ (MOKSA) seperti yang disebutkan dalam uraian di atas. Akan tetapi ternyata realitas Tuhan tidak akan pernah bisa diketahui dengan kualitas MI’RAJ seperti itu. Kemana pun sang aku diri itu menghadap, yang ditemukannya tetap saja suasana luas tak terhingga dan tidak ada apa-apanya. KOSONG. Lalu sang aku diri itu merasa bahwa hanya dirinyalah yang ada. Hanya aku yang ada….!!!, dan aku diri itu lalu “merasa” menjadi Aku Yang Hakiki (Allah).

Dengan suasana seperti ini, maka kemudian muncullah pemahaman yang mengarah pada konsep dua menjadi satu. Adakalanya, sang aku diri merasa BERSATU dengan Sang Aku Hakiki (Allah). Adakalanya juga sang aku diri itu merasa bahwa Tuhan beremanasi, menjelma kedalam dirinya. Ya…, “sang aku diri” lalu merasa menjadi “Aku”…!!!, dan mulai ia mengaku : “Aku adalah Dia, Dia adalah Aku; Aku adalah kebenaran…, Ana Allah…, Maha Suci Aku…, dan berbagai pengakuan lainnya”.

Dan pengakuan pada wilayah kulit sang aku diri ini, apalagi bagi yang sampai masuk ke dalam suasana penuh keinginan seperti diatas, ternyata sangatlah menyiksa. Pengakuan di wilayah ini malah bisa melahirkan keangkuhan baru bagi kita, sebuah keangkuhan spiritual.

KEANGKUHAN SPIRITUAL … !!

Pada tatanan spiritual, tidak jarang muncul keangkuhan bagi pemrakteknya yang biasa disebut orang sebagai kaum spiritualis. Dalam agama Islam, keangkuhan spiritual ini diwakili, misalnya, oleh kelompok-kelompok yang berbau tasawuf atau kesufian terhadap kelompok lainnya yang dikelompokkan orang sebagai kelompok syariat (non spiritualis). Kaum spiritualis umumnya sangat meremehkan kaum syariat yang mereka anggap sebagai kumpulan orang-orang yang tingkat pemahaman agamanya hanya terbatas pada penerapan hukum-hukum formal saja. Sehingga adakalanya sang spiritualis itu sangat meremehkan sekali syariat agama yang ada. Syariat dianggap mereka hanya untuk orang-orang yang belum mencapai tingkatan pendakian spiritual.

Bahkan sang spiritualis dengan mudahnya melanggar syariat itu sendiri seperti, dia mabuk-mabukan, suka perempuan lain yang bukan istrinya, dan sebagainya. Karena sang spiritualis sudah merasa bahwa sang aku dirinya adalah kebenaran itu sendiri. Apapun yang dia lakukan, maka dia menganggap bahwa hakekatnya semua itu adalah kebenaran. Dalam istilah umumnya suasana spiritualis seperti ini dinamakan orang dengan wilayah sufi yang sedang HELAF.

Pada taraf tertentu pun, terutama bagi spiritualis yang sudah bisa menjalankan kesadarannya atau fikirannya “menembus alam-alam imajinasi”, tidak jarang pula mereka malah melecehkan syariat itu sendiri. Misalnya mereka tidak lagi melakukan shalat. Karena dengan teknik perjalanan rohaninya, sang spiritualis merasa bahwa dirinya telah shalat di Mekkah, padahal saat itu dia masih berada di daerahnya sendiri. Dan biasanya sang spiritualis itu sebaliknya malah bisa dzikir (wirid) dalam waktu yang sangat lama.

Atau bisa juga sang spiritualis tetap menjalankan shalatnya, akan tetapi adakalanya dia dalam shalatnya itu mengalami apa yang disebutnya sebagai fana, dimana di tengah-tengah shalatnya sang spiritualis mengalami suasana perjalanan (moksa) menemui Tuhan. Sang spiritualis itu terjatuh ketika shalatnya dan keadaannya berada dalam suasana seperti pingsan. Keadaan seperti ini yang diyakini oleh pemrakteknya sebagai fana, dapat berlangsung lama. Dan begitu kesadarannya kembali, maka dianggap selesai pulalah shalatnya. Dan pemrakteknya meyakini bahwa inilah tingkatan shalat yang paling tinggi. Dulu, sewaktu menjalani suluk di sebuah tarekat, saya pernah sebentar terjebak dalam suasana seperti ini. Akan tetapi setelah dikelupasi kulitnya seperti ini, ternyata istilah MI’RAJ dalam pengertian seperti ini sama persis dengan MOKSA dalam istilah agama lain.

Tidak jarang pula ada spiritualis yang hanya asyik masyuk dengan Tuhannya. Sehingga setiap saat sang spiritualis dibuat sibuk dengan keasyik-masyukkannya dengan Tuhan itu. Dan biasanya sang aku diri yang seperti ini bawaannya malas-malasan, tidak mau bekerja, inginnya menyepi terus ke tempat-tempat sunyi. Sehingga fungsi kekhalifahannya sudah nyaris hilang sama sekali. Dia menjadi sibuk dengan dirinya sendiri.

MENGAMBIL PELAJARAN…!!

Pada lapisan kulit sang aku diri ini, semua agama dan praktek-praktek riyadah (olah jiwa) boleh jadi masih berada dalam wilayah yang sama, yaitu wilayah sang aku diri. Dapatlah dikatakan bahwa kulit terakhir yang tersisa dari usaha mengupas kulit bawang spiritual ini adalah sang aku diri.

Sekarang pertanyaannya adalah:
“Sudahkah spiritual itu berakhir hanya sampai dikulit terakhir ini…??”.
“Apakah spiritual itu berhenti dipengakuan sang aku diri (nafs)… ini ??”.

MELEPAS KULIT TERAKHIR, KETIADAAN, FANA…

Berada dalam jerat pengakuan sang aku diri ini, tanpa disadari, sangatlah menyibukkan dan bahkan sangat menyiksa, bagi orang yang tinggal di wilayah ini. Padahal kalau orang sudah berada dalam kesadaran sang aku diri ini, dimana orang tersebut tidak lagi terpengaruh dengan berbagai ragam dan perbedaan pemikiran, termasuk perbedaan pemahaman keagamaan, maka sebenarnya tinggal SELANGKAH saja lagi tugas sang aku diri itu. Yaitu PENGEMBALIAN keakuan sang aku diri itu kepada Sang Aku Yang Sebenarnya, yaitu Aku Allah. Ya…, sang aku diri tinggal tidak mengaku saja. Runtuhnya pengakuan sang aku diri inilah yang disebut sebagai FANA yang hakiki. Artinya…, dengan kerendahan hati:
Sang aku diri tidak lagi mengaku luas. Kembalikan luas itu pada Tuhan, karena hanya Tuhanlah Yang Maha Luas. Biarlah Yang Maha Luas itu sendiri yang mengaku Luas.
Sang aku diri tidak lagi mengaku melihat. Kembalikan melihat itu kepada Tuhan, karena hanya Tuhanlah Yang Maha Melihat. Biarlah Sang Maha melihat itu mengaku bahwa Dialah yang mengalirkan rasa melihat kepada sang diri (nafs).
Sang aku diri tidak mengaku mendengar. Kembalikan mendengar itu kepada Tuhan, karena hanya Tuhanlah Yang Maha Mendengar. Biarlah Sang Maha Mendengar itu mengaku bahwa Dialah yang mengalirkan rasa mendengar kepada sang diri (nafs).
Sang aku diri tidak mengaku tahu. Kembalikan tahu itu kepada Tuhan, karena hanya Tuhanlah Yang Maha Tahu. Biarlah Sang Maha Tahu itu mengaku bahwa Dialah yang mengalirkan rasa tahu melihat kepada sang diri (nafs).

Proses sang aku diri untuk tidak mengaku-ngaku inilah sebenarnya makna lain dari “laa ilaaha illallah”.

Tiada yang luas kecuali Dia Yang Luas.
Tiada yang melihat kecuali Dia Yang Melihat.
Tiada yang mendengar kecuali Dia Yang Mendengar.
Tiada yang tahu kecuali Dia Yang Tahu.
Tiada apa-apa yang ada kecuali Dia Itu Yang Ada.

Posisi TIDAK MENGAKU seperti ini persis sama dengan posisi tumbuh-tumbuhan, posisi gunung-gunung, posisi matahari dan bintang-bintang, posisi langit dan bumi, posisi alam semesta, posisi malaikat. Semuanya tunduk dan patuh kepada Kehendak Tuhan. Semua bersikap sebagai hamba yang selalu RELA, RIDHA menerima kehendak dan kemauan dari Tuhan, dan Tuhan pun rela dan ridha berhendak dan berkemauan kepada sang Hamba itu…

“… Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun ridha terhadap-Nya. Itulah keberuntungan yang paling besar”. (Al Maidah 119, dan dibeberapa ayat lainnya).

Suasana wilayah SALING RIDHA antara Hamba dengan Tuhannya inilah yang bisa disebut sebagai wilayah FANA yang hakiki…!!. Dan FANA seperti ini ternyata ADA SUASANANYA, ADA REALITASNYA. Jadi bukan hanya sebatas kata-kata, kalimat-kalimat dan definisi-definisi dari otak kita.

Disamping itu, proses pengembalian keakuan sang aku diri ini haruslah dilakukan dengan tanpa daya dan tanpa usaha kita sendiri…, karena tiada daya dan upaya, kecuali hanya daya dan upaya dari Tuhan. Pengembalian yang hakiki itu hanya dan hanya bisa kalau kita DITUNTUN oleh Allah sendiri. Karena yang tahu tentang Allah, hanya Allah itu sendiri. Makanya kita selalu berdo’a dalam shalat kita: “Ya Allah…, tuntun saya…”. Dan yang paling penting untuk kita luruskan dalam kita berdo’a ketika minta dituntun oleh Allah adalah: kita jangan sekali-kali mengarahkan do’a itu kepada benda-benda, bentuk-bentuk, bayangan-bayangan, dan persepsi-persepsi apapun.

Kalau pengembalian itu masih dengan daya dan usaha dari sang aku diri, maka namanya sang aku diri itu masih ada, masih eksis. Dan sang aku diri itu akan tersiksa sekali, tatkala do’a kita tidak bersambut, yaaa…, seperti kita-kita sekarang ini. Sehingga apa saja bisa berubah menjadi siksa. Beda pendapat jadi siksa. Beda agama jadi siksa. Beda suku jadi siksa.

Begitu juga kalau pengembalian keakuan sang aku diri itu diarahkan kepada benda-benda atau alam-alam, artinya kita mengarah kepada yang BUKAN pencipta alam semesta sendiri, maka kita akan dibuat sibuk oleh Allah dengan segala sesuatu yang bersifat kealaman itu.

Sebaliknya saat mana sang aku diri itu “bersedia” dibimbing oleh Allah untuk tidak mengaku, dan posisi tidak mengaku itu berhasil dia raih, artinya sang aku diri sudah tiada, FANA, maka yang ada tinggal hanya Yang Ada, Yang WUJUD, yaitu Aku Yang Hakiki (Allah). Aku yang bening dan merdeka, artinya Aku yang berkehendak dengan sendirinya. Pada posisi seperti ini, sang aku diri benar-benar hanyalah menjadi seorang HAMBA yang bersedia:
Otaknya “dipakai” oleh Allah untuk berkreasi dan menciptakan peradaban bagi umat manusia…,
Dadanya “dipakai” oleh Allah untuk mengalirkan kehendak dan kemauan-Nya,
Kelaminnya “dipakai” oleh Allah untuk proses pembiakan umat manusia.

Dan…., lalu kita hanya tinggal menjadi SAKSI SAJA atas perbuatan Allah, atas kehendak Allah, atas kreasi Allah, atas grand design Allah dalam meramaikan dan menata alam ciptaan-Nya ini. Sungguh tidaklah sia-sia semua ini berada di dalam genggaman Allah. Semua diatur-Nya, semua di tata-Nya, semua diurus-Nya tanpa henti. Walau kita tidak mau mengakui peran-Nya sekali pun, Dia tidak peduli. Dia akan Maha Sibuk dengan segala ciptaan-Nya, karena memang segala ciptaan-Nya itu hanya bergantung kepada-Nya …

Semua yang ada di langit dan di bumi selalu meminta kepada-Nya. Setiap waktu Dia dalam kesibukan (Ar Rahman 29).

Dan Rasulullah Muhammad SAW, dengan kualitas diri Beliau seperti ini, dimana “sang aku” Beliau, sudah lenyap, Rasulullah ternyata menghadap kepada Allah dengan tidak membawa apa-apa. Tidak membawa ilmu, tidak membawa amal, tidak membawa ibadah, tidak membawa tahu, tidak membawa melihat, tidak membawa mendengar. Beliau semata-mata hanya sebagai HAMBA yang mau menjadi ALAT ALLAH untuk menjadi RAHMAT bagi alam semesta, rahmat bagi segenap umat manusia. Dan peletakan dasar-dasar bagi fungsi rahmatan lil a’lamin itu itu berhasil Beliau bangun.

Hanya sayang…, bahwa generasi-generasi penerus Beliau ternyata banyak yang tidak amanah…!. Sehingga akibatnya sekarang Islam itu seperti dilecehkan oleh dunia. Kasihan Rasulullah….!!!.

Lalu apakah kita juga mau ikut-ikutan menjadi generasi yang tidak amanah itu…?, Lalu apakah kita juga mau mewariskan ketidakamanahan itu berestafet kepada anak cucu kita…???. Padahal banyak sudah pelajaran yang muncul dihadapan kita atas tidak amanahnya kita dan generasi-generasi terdahulu itu. Begitu nyata akibat buruknya…!!. Lalu kenapa akibat buruk itu tidak kita jadikan sebagai bahan pelajaran buat kita untuk merubahnya kembali menjadi baik…??. Betapa sombongnya kita ini dengan tidak mau menjadi penyambung tangan Rasulullah, penyambung lidah Rasullah.

ADA YANG TIDAK KULIT BAWANG…, ADA …!!!

Setelah kulit terakhir sang aku diri ini dikelupasi, sehingga sang aku diri itu sudah kehilangan keakuannya, TIADA, FANA, maka yang tinggal hanya ADA…!, yang tidak sama dengan kulit bawang. Tidak ada kata seperti lagi pada ADA itu…!. ADA itu TIDAK seperti kulit bawang. Yang lain…, ya… TIADA. Sedangkan ADA itu TIDAK seperti apa-apa… !!. Tapi ADA…!!!!. ADA…!!!.

Maka akupun berseru kepada Sang ADA itu:
Subhanaka….!!!. Subhanaka…!!!, Subhanaka…!!.
Maha Suci Engkau…!!!. Maha Suci Engkau…!!!. Maha Suci Engkau…!!!.

Dan Sang Ada itu pun menjawab panggilanku:
Subhanii….!!!. Subhanii…!!!, Subhanii…!!.
Maha Suci Aku …!!!. Maha Suci Aku…!!!. Maha Suci Aku…!!!.

Dan akupun menegaskan lagi:
Laa ilaaha illaa anta..!!!, Laa ilaaha illaa anta…!!!. Laa ilaaha illaa anta…!!!.
Tiada Tuhan selain Engkau…, Tiada Tuhan selain Engkau…, Tiada Tuhan selain Engkau…,

Dan Sang Ada itu pun menjawab dengan ketegasan yang amat sangat:
Laa ilaaha illa Ana … !!, Laa ilaaha illa Ana … !!, Laa ilaaha illa Ana … !!
Tiada Tuhan selain Aku…!!!, Tiada Tuhan selain Aku…!!!, Tiada Tuhan Selain Aku…!!!

Lalu aku berlari merunduk-runduk dan mencoba melihat Wajah-Nya:
Laa ilaaha illa Huu … !!, Laa ilaaha illa Huu … !!, Laa ilaaha illa Huu … !!
Tiada Tuhan selain Dia …!!!, Tiada Tuhan selain Dia …!!!, Tiada Tuhan selain Dia …!!!,

Dan Sang Ada itu pun bernyata dihadapanku:
Ana Allah…!!, Ana Allah …!!, Ana Allah …!!,
Aku Tuhan…!!, Aku Allah…!!!. Aku Allah…!!!

Dan akupun menyambutnya dengan kegembiraan:
Huu …!!, Huu …!!, Huu …!!,
Dia…!!, Dia…!!!, Dia…!!!.

Dan Tuhan-ku lalu menyambutku dengan mesra:
Innani Ana…!!, Ana…!!, Ana…!!, Ana…!!,
Ini Aku….!!, Aku….!!, Aku….!!, Aku…………….

Lalu akupun tenggelam dalam pandang memandang dengan Tuhanku …!!!!.
– – – – – – – – !!!, – – – – – – – – – !!!, – – – – – – – – – !!!,
Diam……., Hening…………………………………………….
…………………………………………………………………………
………………………………………………………………….……..

SANG PENANAM BAWANG…

Lalu Tuhanku pun menyusupkan pencerahan-Nya kedalam dadaku:

Sebelum ada apa-apa….,
Yang ada adalah Wajah Tunggal Yang Meliputi,
Waktu itu masih alam AHADIAT, tidak ada rupa tidak ada warna.
Kemudian alam WAHDAT, semua tumbuh dari Yang Tunggal.
Kemudian Allah punya sir (kemauan):

Aku ini perbendarahaan tersembunyi,
kemudian Aku ingin dikenal,
Kemudian Aku menciptakan makhluk-Ku,
Dengan Allah-lah mereka mengenal Aku. (hadits qudsi)

Dari sebuah keheningan dan kesenyapan abadi, Aku lalu “mengalirkan” segala kehendak-Ku untuk merenda alam semesta, untuk merangkai kehidupan, untuk menganyam kebudayaan umat manusia. Kemudian Aku bersabda: Kun… Jadilah…!!!, Kun fayakun… maka jadilah…!!!.

Kehendak-Ku itu lalu Aku alirkan kedalam “rumah tempat-Ku berkehendak”, yaitu dada hamba-hamba-Ku, sehingga seakan-akan hamba-Ku itulah yang punya kehendak untuk membangun peradabannya sendiri; sehingga seakan-akan hamba-hamba-Ku itu punya kehendak untuk berkembang biak demi melanjutkan keturunannya. Padahal sebenarnya dari Aku lah semua kehendak dan keinginan itu.

Lalu Ku alirkan kedalam “rumah tempat-Ku mencipta”, yaitu otak hamba-Ku segenap sarana, fasilitas, dan kemampuan untuk mewujudkan kehendak-Ku dalam membangun peradabannya itu. Aku aliri otak hamba-hamba-Ku dengan rencana-rencana, dengan rancangan-rancangan, dengan perhitungan-perhitungan; sehingga seakan-akan hamba-hamba-Ku itu bisa merencana, bisa merancang, bisa mencipta dengan sendirinya; sehingga hamba-hamba-Ku itu seperti bisa membangun, bisa merombak, bisa menanam peradabannya sendiri; sehingga hamba-hamba-Ku itu seperti serba bisa ini dan itu…, serba ramai….!!!. Padahal sebenarnya Aku lah yang membangun semua itu, karena memang Aku adalah Sang Grand Designer kesemuanya itu.

Lalu Ku alirkan juga kedalam “rumah tempat-Ku mengembang biakan manusia”, yaitu kelamin hamba-hamba-Ku, segenap sarana, fasilitas, dan kemampuan untuk mewujudkan kehendak-Ku dalam menjaga keturunan umat manusia. Di rumah pembiakan-Ku itu telah Aku siapkan rasa enak, Aku siapkan libido, Aku siapkan daya, Aku siapkan juga Rahim. Aku telah siapkan semua, sehingga seakan-akan manusia itu seperti bisa berbiak dengan sendirinya. Padahal Aku lah Sang Pembiak itu yang sebenarnya.

Tapi ingatlah wahai hamba-hamba-Ku, Aku ini sangatlah pencemburu. Jadi janganlah kalian wahai hamba-hamba-Ku sibuk dengan kulit-kulit bawang itu. Karena kalau kau sibuk dengan kulit-kulit bawang itu, maka kau akan menjadi hamba dari kulit bawang itu, kau akan dibuat sibuk oleh kulit-kulit bawang itu sehingga kau menjadi lupa kepada-Ku.

Maka…, agar kalian wahai hamba-hamba-Ku tidak sibuk dengan kulit bawang itu, Ku-buatkan rasa perih dimatamu setiap kali kalian mengupasnya, sehingga kalian tidak sanggup lagi memandangnya berlama-lama. Lalu Ku-buatkan pula rasa enak saat kalian memakannya, sehingga kalian ingin buru-buru menggorengnya, dan kemudian menikmatinya. Ya… kalian hanya tinggal menikmati saja RASA kulit bawang itu…!!!.

Maka nikmat Tuhanmu yang mana lagi yang akan kamu dustakan wahai hamba-hamba-Ku …?.
Maka dengan pengajaran seperti apa lagi kalian bisa mengerti wahai hamba-Ku…??.

Jadi lihatlah…, Aku lah Sang Penanam bawang itu, dan Aku pulalah yang menjadikan bawang itu mempunyai kulit berlapis-lapis. Semua itu Ku ciptakan untuk kalian, agar kalian wahai hamba-hamba-Ku bisa memetik pelajaran dari setiap kulit bawang yang ku buat itu, sehingga kau bisa menyadari keberadaan-Ku. Adalah dari Ku kesemuanya itu. Aku lah sumber dari segala sesuatunya. Aku lah sumber keberadaan. Karena Aku lah Sang ADA…..!!. Aku lah Allah…..!!!.

Innanii Ana Allah, Laa ilaaha illaa Ana, Fa’budni, wa aqiimishshalata lidzikri, Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku (Thahaa 14).

Maka akupun “datang” merunduk-runduk kepada-Nya, akupun bersimpuh dihadapan-Nya, akupun sujud dan menyembah kepada-Nya, dan akupun memuja kepada-Nya:

Subhanallah
Alhamdulillah,
Laa ilaha illallah,
Allahu Akbar,
Laa haulaa wala quwaata illa billahil ‘aliyyil ‘adhiem,
Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa’ala ali Muhammad…

SANG SPIRITUALIS SEJATI…

Akhirnya sampailah kita pada bagian akhir dari pembahasan tentang perjalanan mengupas kulit bawang spiritual ini. Di penghujung kupasan ini, secara jelas dapat dilihat bahwa sang spiritualis sejati itu ternyata hanyalah manusia-manusia yang berkualitas sebagai HAMBA dihadapan TUHAN. Tidak lebih. Lalu sang hamba itu dengan sadar, rela dan ridha membiarkan otaknya, dadanya, dan kelaminnya dipakai oleh Tuhan untuk mewujudkan kehendak-Nya yang suci dalam membangun peradaban manusia itu sendiri dari zaman ke zaman. Sang Hamba itu tidak membiarkan sedikit pun dorongan-dorongan dari dirinya sendiri (hawa un nafs) untuk mengotori kesucian dan kemurnian kehendak Tuhan yang dialirkan kepadanya.

Jadi…, dari sang spiritualis sejati inilah diharapkan lahir ilmu pengetahuan seperti fisika, kimia, biologi, matematika, ekonomi, perdagangan, industri, kesehatan, hukum, seni, budaya, dan sebagainya. Dan kesemuanya itu dibingkai dengan kesadaran berketuhanan.

Sang spiritualis sejati itu ternyata adalah seorang insinyur, seorang dokter, seorang ekonom, seorang ilmuwan, seorang pedagang, seorang seniman, seorang polisi, seorang hakim, seorang presiden, seorang petani, dan setiap orang yang telah mampu membingkai hari-harinya dengan kesadaran kepada Tuhan (dzikrullah).

Ringkasnya adalah, bahwa spiritualis sejati itu adalah seorang hamba Tuhan yang bekerja dan dia sekaligus juga bersedia menjadi alat Tuhan untuk mampu mempekerjakan hamba-hamba Tuhan lainnya. Spiritualis sejati itu adalah seorang hamba Tuhan yang mampu mengkreasi rizki dan sekaligus dia juga bersedia menjadi alat Tuhan untuk mengalirkan rizki kepada hamba-hamba Tuhan lainnya. Dan…, segala macam aktivitasnya itu TIDAK sedikit pun membuat sang spiritualis sejati itu lalai dari mengingat dan menyadari GERAK TUHAN yang mengalir kepadanya. Seorang berkarakter ULUL ALBAB saja sebenarnya. Seperti omongan Tuhan berikut ini:

“Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah, dan (dari) mendirikan sembahyang, dan (dari) membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang”. (An Nuur 37)

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi ULUL ALBAB (orang-orang yang berakal), (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka”. (Ali Imran 190-191),

Karena, kalau peradaban ini dibangun oleh manusia yang BUKAN berkarakter ULUL ALBAB, maka itu ternyata sangatlah BERBAHAYA sekali …!!!.

SEKEDAR NASEHAT PENDEK…

Alangkah besar siksa Allah jika “TEMPAT SUCI (RUMAH-NYA)” dimana Allah mengalirkan kehendak-Nya untuk berkreasi, menciptakan, dan mengembangbiakkan manusia berikut peradaban yang akan mengiringi manusia itu dari zaman kezaman kita kotori dengan berbagai tindakan yang negatif (fujur) akibat dari dorongan diri (HAWA UN NAFS). Oleh karena itu:
Tatkala sang aku diri mengotori kelaminnya dengan kehendak percabulan yang datang dari dorongan keinginan sang diri itu sendiri (hawa un nafs), maka berbagai perbuatan cabul pun akan dialirkan-Nya sambung menyambung kepada diri itu, tak terkendalikan. Dan hal itu pasti akan membawa rasa tersiksa bagi sang diri itu sendiri.

Tatkala sang aku diri mengotori dadanya dengan kehendak dan keinginan yang diharamkam (misalnya dengan memasukkan makanan dan minuman yang haram), maka apa saja juga bisa menimbulkan keinginan marah, benci, iri, dengki, dan perilaku-perilaku negatif (fujur) lainnya. Dan semua kefujuran ini juga ternyata adalah siksa demi siksa yang sangat pedih bagi sang diri itu sendiri.

Dan tatkala sang aku diri mengotori otaknya dengan fikiran-fikiran negatif dan kotor, maka apa saja bisa diciptakan oleh sang diri itu untuk merusak peradaban. Dan semua kerusakan peradaban itu juga ternyata adalah siksa yang memiriskan hati bagi sang diri itu sendiri.

Memang, semua pengotoran rumah Allah itu buahnya semata-mata adalah SIKSA….!!!. SIKSA Yang Pedih.

Lalu kenapa kita tidak mau menghormati rumah suci (bait Allah) tempat Allah berkehendak, berkreasi, mencipta, membiakkan diri manusia, dan berikut menganyam peradaban manusia?. Sedangkan malaikat sendiri sampai-sampai tersungkur sujud menghormatinya..?

Duh… Gusti…, betapa sombongnya kami ini …,
Ya Allah…, betapa tidak amanahnya kami…,
Ampuni kami semua Ya Allah…,
Tuntun kami semua ya Allah…,
Rahmati kami semua ya Allah…,

Demikian…, wallahua’lam…

Categories: KULIT-KULIT SPIRITUAL | 19 Komentar

BILA MENGENALI JEJAK TUHAN HANYA DENGAN KECERDASAN INTELEKTUAL


<!– /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:””; margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} @page Section1 {size:612.0pt 792.0pt; margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; mso-header-margin:36.0pt; mso-footer-margin:36.0pt; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} –>


/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;
mso-ansi-language:#0400;
mso-fareast-language:#0400;
mso-bidi-language:#0400;}

Apakah bila semakin cerdas orang akan bisa mengenali dan mengakui keberadaan Tuhan? Atau sebaliknya semakin bodoh maka orang semakin tidak mampu mengenali bayangan jejak-jejak Tuhan? Kami tergelitik untuk menanyakan hal ini karena jaman kita diliputi oleh semangat memaksimalkan peranan kecerdasan otak, tidak hanya di lingkungan lembaga pendidikan formal tetapi juga sampai di sel terkecil hubungan sosial manusia yaitu keluarga.

Tidak bisa dipungkiri, dunia pendidikan saat ini harus merespon tuntutan global untuk bersaing di era pasar bebas. Yaitu sebuah era yang ditandai dengan semakin majunya teknologi karena kreativitas dan inovasi untuk meraih keunggulan finansial dan ekonomi. Dunia pendidikan yang tidak bisa menyesuaikan diri dengan situasi dan kondisi global dipastikan akan gulung tikar dan tidak lagi diminati oleh masyarakat.

Mereka yang tidak kreatif dan inovatif akan juga dilibas jaman. Mereka akan tersingkir dari bursa-bursa lowongan kerja dan kemudian tidak mampu berbuat banyak untuk mengubah keadaan. Kemiskinan itu sangat tidak nyaman sehingga wajar dan manusiawi bila orang berlomba-lomba untuk mendapatkan kerja yang paling ideal dan paling banyak menghasilkan uang.

Bursa-bursa kerja akan terus terbuka bagi mereka yang kreatif, profesional, memiliki dedikasi dan integritas yang tinggi. Apalagi ditunjang dengan pendidikan yang tinggi, bagus dan terkenal. Lihatlah iklan lorongan pekerjaan di media massa. Rata-rata mensyaratkan agar pelamarnya berasal dari perguruan tinggi yang terkenal (ada jaminan otaknya encer?), usia muda, berpenampilan menarik dan sukur-sukur berwajah cantik.

Begitulah, kecerdasan otak menjadi hal yang wajib untuk dipenuhi oleh jaman nanoteknologi saat ini. Dan dalam psikologi, kecerdasan otak memiliki standar yaitu Intelligent Quotient (IQ). Rumus IQ adalah IQ = MA/CA x 100%. MA adalah Usia Mental dan CA adalah usia kronologis. Semakin tinggi Usia Mental dibanding dengan Usia Kronologis maka IQ orang tersebut akan tinggi dan semakin cerdaslah orang tersebut.

Banyak dijumpai saat ini anak jenius, yaitu anak yang usia mentalnya melebihi usia kronologis anak sebayanya, gaya bicara dan berpikirnya seperti orang tua, bahkan banyak yang sudah hapal Kitab Suci. Tapi banyak pula lahir anak idiot, yaitu anak yang usia mentalnya tertinggal dibanding usia kronologis teman-teman sebaya mereka.

Boleh dikatakan abad 21 adalah abad dimana otak telah dijadikan pusat orientasi. Dengan Otak yang encer maka semua solusi hidup bisa dipecahkan, namun sebaliknya dengan otak yang bebal maka solusi menjauh, justeru yang datang adalah masalah demi masalah. Untuk mencapai kebahagiaan dan kepuasan hidup maka tidak ada cara lai selain harus mengasah ketajaman otak setajam-tajamnya.

Kita tidak menyangkal titik orientasi jaman yang sudah berubah ini.

Sejarah membuktikan orientasi manusia telah bergeser dari alam semesta (kosmosentrisme), dari Tuhan (teosentrisme), dari manusia (antroposentrisme), untuk memasuki wahana bahasa (logosentrisme) yang merupakan permainan artikulasi dan representasi dari isi otak dan pikiran manusia. Logosentrisme memiliki ciri utama yaitu reperesentasi, hanya wakil dari realitas. Bukan realitas itu sendiri sehingga yang terjadi adalah realitas maya/jadi-jadian dan dibuat lebih (hiper).

Otak memiliki kecenderungan untuk memilah, memilih, membedakan satu dengan yang lain, mengkanalisasi setiap hal dalam kategori-kategori. Ini adalah kegiatan menganalisa. Otak juga memiliki kemampuan yang hebat untuk mensintesakan, menyimpulkan dari kegiatan menganalisa tersebut. Itulah kedahsyatan otak yang terus menerus diasah di bangku-bangku lembaga pendidikan modern dan tradisional, di pondok-pondok pesantren, perguruan-perguruan, padepokan-padepokan dan seterusnya.

Pertanyaannya sekarang apakah kepintaran selalu simultan/seiring/senyampang dengan perkembangan ruhani untuk mencari hakekat dan jati diri individual untuk kemudian akan bisa mendapatkan jawaban-jawaban tentang soal-soal Ketuhanan, Kemanusiaan, Keadilan, Kebebasan, Keadilan dan nilai-nilai lain, dan seterusnya dan seterusnya. Bila sudah mendapatkan jawaban apakah mereka akan semakin bijaksana dalam berperilaku dan berbuat?

Jawaban sementara yang merupakan hipotesis saya sbb: TIDAK ADA JAMINAN. Banyak orang pintar yang kreatif dan inovatif mengolah hidupnya, menguasai banyak materi untuk memenuhi keinginan hidup (bukan kebutuhan hidup) ternyata miskin dan tidak cerdas secara spiritual. Kemandirian dan otonomi manusia bebas manusia untuk menyimpulkan SANGKAN PARANING DUMADI ternyata tersingkir/tercampakkan untuk memenuhi hasrat manusia akan materi yang dianggapnya sumber kebahagiaan. Manusia seperti ini akan limbung dan berjalan tanpa arah serta tujuan hidup yang lurus. Ia tidak mampu mengenali jejak-jejak kehadiran Tuhan baik yang ada dalam dirinya sendiri (Mikrokosmos) dan juga yang ada di alam semesta (Makrokosmos)

Mari kita amati. Kebetulan, sehari-hari saya bekerja melayani masyarakat dari berbagai kalangan. Mulai yang hanya lulus SD, hingga tamat perguruan tinggi strata dua. Jenis dan jenjang status sosial serta pangkat dan derajat yang beragam pula. Apakah mereka yang berpangkat, memiliki jabatan dan pendidikan tinggi ternyata memiliki jiwa kemanusiaan yang lebih tinggi daripada mereka yang hanya lulus SD? Tidak bukan. Selanjutnya, tidak ada jaminan pula yang satu akan lebih tinggi tahapan pencapaian spiritualitasnya.

Adalah sangat tidak adil bila Tuhan ternyata mengistimewakan yang satu dan bersikap pilih kasih. Bila Tuhan Maha Adil, maka dia akan menciptakan manusia menjadi individu-individu sesuai dengan kapasitasnya dan mengadili sesuai dengan kapasitasnya pula. Misalnya Tuhan menciptakan individu bernama D dan dilahirkan ke dalam keluarga mampu. Sementara di lain tempat dia menciptakan individu bernama S dalam keluarga yang tidak mampu. Nasib selanjutnya kedua individu ini tentusaja sangat tergantung pada batas-batas tertentu meskipun Sumber daya Manusia-nya sudah diolah secara maksimal. Nah, apa dan bagaimana si individu tersebut berhasil untuk menemukan jalan hidup yang sesuai dengan yang digariskan oleh-Nya, terserah kepada individu itu sendiri. Ini tentu sebuah persaingan fair berebut tiket menuju keabadian.

Mengolah hidup tidak hanya dengan memakai akal, pikiran, rasio, otak kiri saja namun juga perasaan, budi, otak kanan untuk mempertimbangkan benar salah. Keduanya perlu dipertajam. Otak kiri dengan cara menganalisa, otak kanan dengan cara merasa, meyakini, mempercayai. Bila keduanya sudah diolah sedemikian hingga tercapai batas maksimal kecerdasan, maka dia pasti akan menemukan apa yang dicari. Berat sebelah menggunakan dua belah otak akan mengakibatkan stress, tertekan, dan bahkan bisa jadi sakit mental.

Adalah sebuah pesan yang perlu dipertimbangkan bahwa bila pikiran kita sedang suntuk maka istirahatkan dengan rekreasi dan refreshing. Bila hati kita sedang gundah dan putus asa maka segarkanlah dengan cara merasakan kedamaian Tuhan. Berkomunikasi intensif sekaligus meminta pertolongan kepada Sang Pemberi Hidayah. Mengenai bagaimana cara yang terbaik untuk berkomunikasi? Terserah Anda.

Wong alus

Categories: AKAL DAN JEJAK TUHAN

KITA PERNAH BERTEMU TUHAN


Bertemu Tuhan????? Mohon bersabar karena jawaban dari pertanyaan ini “sangat tidak ilmiah” sehingga bagi kita yang terbiasa membaca buku-buku agama di sekolah, diktat kuliah maupun literatur agama bisa jadi jawabannya melenceng dari kaidah-kaidah keilmuan.

Biar saja… Toh tanpa buku pun kita bisa menemukan jalan kebenaran sebagaimana yang dianjurkanNya kok. Asalkan kita rajin berusaha untuk selalu “membaca” atau berIqra. Membaca dan buku jelas berbeda. Membaca artinya aktif melihat, mengamati, menganalisa dengan sabar sehingga akhirnya menemukan sesuatu yang tetap disekeliling yang tidak tetap yakni berupa kesimpulan. Sementara buku hanyalah kumpulan huruf mati yang derajatnya sama dengan benda mati yang lain. Pertanyaan selanjutnya kita harus membaca apa? Yaitu membaca gejala-gejala sebagaimana para ilmuwan menemukan hukum-hukum alam, dan akhirnya menemukan yang bukan gejala lagi, atau esensi/hakekat dari sesuatu.

Marilah kita mulai untuk menjawab dengan pertanyaan awal: Apakah pertemuan Tuhan dengan manusia sama dengan pertemuan manusia dengan manusia yang lain? Atau seperti pertemuan antara manusia dengan kucing, kelinci atau singa? Apakah Tuhan itu benda padat, cair atau gas? Bila ya, benda padat yang seperti dinosaurus yang sangat pintarkah? Atau seperti lautankah? Atau seperti gas nitrogen atau hydrogen yang sangat ringankah? Bila tidak, lalu Tuhan itu seperti apa?

Jelas jawabannya, bahwa ketika kita mengatakan Tuhan itu A, B atau C maka kita tidak mungkin merujuk pada hal yang menjadi referensi dan pengalaman kita sebelumnya. Tuhan itu “SEPERTI” tikus, berarti kita mengetahui wujud tikus itu kecil, berwarna gelap dan menjijikkan dan seterusnya-dan seterusnya. Bagaimana dengan Tuhan? Adakah manusia yang pernah bertemu dengan Tuhan dalam wujud benda?

Perlulah kita menyadari keterbatasan mata kita untuk melihat benda-benda. Pengelihatan mata memerlukan syarat yaitu ada cahaya dan jarak jangkau benda tersebut dengan mata. Semakin jauh jarak benda maka benda terlihat semakin mengecil dan akhirnya tidak ada dalam pandangan. Namun, apakah tidak ada dalam pandangan berarti benda itu tidak ada? Hal ini juga berlaku untuk kedekatan. Bila kita melihat benda semakin dekat dengan kita, maka benda itu semakin lama akan semakin membesar dan akhirnya benda itu tidak akan terlihat lagi. Apakah benda itu berarti tidak ada?

Tuhan jelas tidak berwujud benda atau berwujud seperti makhluk baik makhluk hidup maupun makhluk mati (benda-benda). Wujud Tuhan adalah tidak bisa digambarkan dan tidak bisa dikatakan seperti apa karena mengatakan Tuhan seperti apa berarti mengandaikan kita sudah mengetahui wujud Tuhan itu. Tuhan juga tidak bisa didefinisikan apapun juga. Bila dalam kitab-kitab suci menggambarkan sifat-sifat Tuhan: misalnya Tuhan itu Maha Akbar (Besar), itu tidak berarti Tuhan itu lebih besar dari bumi dan galaksi. Bila dikatakan Tuhan itu Maha Perkasa, itu tidak berarti Tuhan lebih perkasa dari Mike Tyson, Senjata Nuklir atau Amerika Serikat.

Bisa dibahasakan secara sederhana, bahwa Tuhan itu berwujud yang tidak berwujud. Dia berbeda dengan yang telah diketahui dan diangankan oleh manusia tentangNya, yang tidak diketahui apa, bagaimana, siapa, dimana, kemana, kapan, kenapaNya. Kita hanya merasakan TUHAN ITU ADA….

Konon, rasul yang diutus ke kaum Yahudi, Musa pernah menanyakan wujud Tuhan kepada Tuhan sendiri. Tuhan mengijinkan Musa untuk melihatNya. Apa yang terjadi? Musa PINGSAN dan EKSTASE melihatNya. Momentumnya adalah sebuah gunung yang meledak hancur berkeping-keping tidak mampu menanggung ketololan makhluk bernama manusia.

Mata manusia tidak mampu melihat wujud-Nya! Ia hanya bisa dialami oleh rasa terdalam dengan sebuah kesadaran yang selanjut-lanjutnya. Rasa yang bertemu dengan Tuhan ibaratnya (pasti tidak persis) yaitu saat kita merasakan percintaan dengan sang kekasih….

Bagaimana merasakan cinta? Ada deg-degan, ada harapan, ada kekecewaan, ada kesedihan, ada kangen yang mencekam, ada mistis yang meronga, ada harapan akan perjumpaan, ada semangat untuk hidup. Itu bila kita bercinta dengan manusia. Bila bercinta dengan TUHAN– SANG MAHA KEKASIH? Jelas aspek negatif rasa itu tidak ada. Yang ada adalah kebahagiaan, ketenangan, kedamaian, semangat hidup yang menyala-nyala TIADA DUANYA !!!!!

Saya dan Anda—saya yakin seyakin yakinnya– jelas-jelas pernah bertemu dengan Tuhan. Bahkan tidak hanya bertemu melainkan pernah berada DI DALAM TUHAN. Dimana dan kapan? Ya saat Anda dan Saya belum dilahirkan dari rahim ibu kita. Terus dimana kita saat itu? Ya masih dalam IDE dan RENCANA TUHAN.

Ada banyak orang yang mengatakan kepada saya bahwa dirinya pernah bertemu dengan Tuhan melalui Mikraj seperti Nabi Muhammad SAW: terbukanya beragam hijab/ atau lipatan-lipatan langit/ nafsu-nafsu kemanusiaan hingga akhirnya berada di satu aras tertinggi dan menemukan sesuatu yang disebutnya Tuhan. Perjalanan mereka untuk sampai ke aras keilahian tersebut harus dilalui dalam sebuah ritual yang bernama meditasi/manekung/semedi dan seterusnya. Ini juga mungkin dianjurkan dalam semua ritual agama dan bagus.

Selain itu, saya juga memiliki cara lain untuk bertemu denganNya . Bahwa untuk bertemu Tuhan maka saya harus bertamu dan berbuat sesuatu untuk makhluk-makhluk yang dicintaiNya. Yaitu makluk yang tertindas, terkekang, tersingkir dan terlupakan….

Itu menurut saya. Bagaimana dengan Anda???

Wong Alus

Categories: BERTEMU TUHAN | 57 Komentar

KENAPA TUHAN HANYA SATU?


Apa bukti bahwa Tuhan itu hanya satu? Sangat mudah membuktikan. Sebab bukti itu ada di depan mata dan bisa dirasakan berapa jumlah tuhan. Yaitu harmoni antar semua unsur alam dan tidak ada satupun yang saling bertentangan. Bumi beredar pada orbit yang telah ditentukan, begitu bulan dan planet-planet, bintang-bintang, galaksi-galaksi, supra galaksis-supra galaksi… semua berputar pada orbitnya. Singa memakan kancil, kancil memakan rumput, semut memakan remah-remah. Ada pagi ada malam, ada siang ada sore, ada cinta ada benci, ada susah ada senang. Harmoninya alam semesta dan semua unsur yang mengisi alam semesta ini sungguh sangat luar biasa karena mengikuti satu hukum Tuhan. Hukum Tuhan selalu tetap. Kecuali bila Tuhan memiliki rencana lain, yang itu merupakan hak prerogatifnya. Bayangkan bagaimana jadinya bila Tuhan itu banyak? Maka antara satu hukum dengan hukumnya bisa jadi saling bertentangan. Planet satu dengan planet yang lain bisa jadi tabrakan, bentuk planet satu dengan yang lain akan beda karena keinginan masing masing Tuhan itu juga beda. Ada yang bulat ada yang kotak, lonjong, jajaran genjang, trapesium dan lain-lain. Wah…. pasti membingungkan. Selain itu, marilah kita membuka buku biologi tentang bagaimana luar biasanya sel-sel dalam tubuh manusia bekerja. Mekanisme yang sungguh membuat kita geleng-geleng kepala karena mengetahui bahwa Tuhan sangat perduli akan akurasi dan ketepatan hubungan antar sel, dan seterusnya dan seterusnya. Akhirnya, kita bisa menyimpulkan: Tuhan ternyata hanya satu. Tuhan menjadi fokus hidup manusia dan seluruh makhluk di alam semesta. Totalitas manusia dan seluruh ciptaan-Nya untuk mengahkan orientasi hidup akan membawa manfaat yang luar biasa. Manfaat yang paling sederhana adalah hidup manusia menjadi harmoni dengan kehendak Tuhan Sang Pencipta. Hidup manusia tidak akan bertentangan dengan hukum Tuhan. Dan Tuhan juga tidak tinggal diam dan pasif melihat serta mendengar manusia-manusia yang sudah selaras dengan hukum yang telah digariskan ini. “Berjalanlah mendekat satu kilometer ke arahku, maka aku akan mendekatimu dalam jarak satu meter… Berjalanlah satu meter ke arahku, maka aku akan mendekatimu lebih dekat dengan urat lehermu. Bahkan aku adalah mata, telinga dan hidungmu sendiri. Bila kamu berusaha untuk mencintai aku, maka aku akan berusaha untuk mencintaimu. Cintaku kepadamu bukanlah cinta gombal yang usang dimakan usia. Cintaku kepadamu akan abadi sepanjang masa dan tidak akan pernah berubah….” begitu kata Tuhan. Bila kita sudah hidup sesuai dengan hukum Tuhan, tidak ada alasan bagi kita untuk diam, berpangku tangan. Hukum Tuhan berbunyi bahwa setiap sel yang ada di alam semesta ini bergerak dinamis, termasuk sel yang ada di otak kita. Maka kita akan menemukan diri kita sebagai manusia baru, dengan pikiran-pikiran yang cemerlang yang berorientasi pada keabadian. Wong alus

Categories: KENAPA TUHAN HANYA SATU | 12 Komentar

Dekatnya Tuhan


Tuhan sangat dekat bahkan lebih dekat dari rasa dekat. Demikian salah satu petuah bijak dari langit. Kedekatan rasa dengan Tuhan ini bisa dicapai manakala kita berjalan mentaati anjuranNya; berbuat baik, membantu yang membutuhkan, memberi manfaat pada dunia dan tidak merusak tatanan dan hukum alam semesta.

Rasa yang dekat dengan Tuhan, itulah yang sesungguhnya dicari dalam setiap pergerakan makhluk hidup, termasuk manusia. Beruntunglah kita, manusia biasa yang memiliki otak untuk berpikir tentang hakekat kedekatan ini. Makluk hidup yang lain tidak mampu melongok apa arti dan hakekat kedekatan dengan Tuhan. Bagi mereka, kedekatan sama artinya dengan hidup itu sendiri. Itu sebabnya, mereka tidak mengenal surga atau neraka dan tidak perlu diadili di akhirat.

Manusia? Ya jelas harus dekat dengan Tuhan. Apabila tidak, maka bersiaplah untuk terlempar ke dalam dunia yang tanpa petunjuk. Hidup yang tanpa arah dan tujuan yang jelas dunia dan akhirat, adalah sebuah kehidupan yang getir, pahit dan meranggas. Namun ada pula manusia yang beranggapan bahwa mendekati Tuhan sama artinya dengan menjauhi kebebasan. Kebebasan, kata mereka, adalah sebuah situasi dimana manusia bisa berkreasi mengukir hidupnya tanpa harus dibatasi oleh petunjuk dan aturan Tuhan. Sayangnya, ini akan membuat manusia terjebak dalam dogmatisme yang kaku dan buta, yang tentu saja jauh dari garis edar Tuhan.

Sayangnya, kelompok manusia yang seperti ini kurang lanjut dan panjang dalam memaknai kebebasan. Kebebasan yang sejati sesungguhnya adalah sebuah ketaatan untuk berjuang menegakkan hukum dan garis Tuhan di alam semesta. Kebebasan yang mutlak bisa dicapai bila kita berjalan di jalan yang abadi dan mutlak pula. Bila kita masih mengandalkan tapak kaki di jalan yang sementara-sementara, di terminal-terminal spiritual yang tidak sampai ke hakekat kebebasan sejati, maka kita harus bersiap untuk memasuki hidup yang gelap dan bengis.

Manusia yang dekat dengan Tuhan berarti mereka sadar bahwa hidup adalah perjalanan menuju keabadian. Boleh disebut, hidup di dunia ini hanya satu titik dari garis panjang perjalanan hidup menempuh satu planet ke planet yang jauhnya tidak bisa diukur. Berapa panjang hidup manusia sesungguhnya? Tidak ada yang mengerti kecuali Tuhan yang serba mengetahui semua rahasia.

Dekatnya kita dengan Tuhan bukanlah kedekatan yang bisa diukur dengan menggunakan penggaris. Kedekatan itu bukanlah diukur dengan satuan ukuran fisika, mili, centi, meter, kilometer dan seterusnya. Kedekatan adalah sebuah penghayatan bahwa kita ini sedang bercengkrama, selalu berkomunikasi di setiap detak jantung dan berada di “pelukan” Tuhan. Rasanya? Setiap individu akan mengalami rasa yang berbeda-beda bila dekat dengan Tuhan. Lidah kita akan mengatakan manis saat merasakan permen, namun sensasi selanjutnya dari manisnya permen tentu berbeda-beda pula komentarnya.

Bagaimana cara bila ingin dekat dengan Tuhan? Tidak ada hal yang lebih mudah untuk mendekati Tuhan. Lebih mudah dari membalik telapak tangan kita. Sebab kedekatanNya tiada berjarak dengan pengetahuan kita. Di tingkat syariat: kedekatan itu masih perlu dipikirkan. Di tingkat hakekat: kedekatan masih perlu didzikirkan. Di tingkat makrifat: kedekatan hanyalah dialami dan tidak perlu dipikirkan dan didzikirkan lagi. Aku adalah Aku!

Wong Alus

Categories: DEKATNYA TUHAN | 8 Komentar

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com. The Adventure Journal Theme.