NILAI-NILAI ISLAM DAN MODERNITAS


Penulis:
Moch Musoffa Ihsan, alumni Pascasarjana Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta

PERGI ke negeri Barat mungkin bukan pilihan yang salah bagi Nidal. Di sana terbayang dalam benak Nidal sebuah negeri yang mendewakan kebebasan. Atas nama demokrasi, Barat memang telah memberi  keleluasaan bagi warganya untuk berekspresi diri betapa pun “miring”-nya sebuah profesi. Mungkin suatu fakta ganjil ketika Daily Planet, sebuah rumah bordil di Australia, telah listing resmi di bursa saham di Melbourne. Tak sekadar memiliki rumah pelacuran, dengan menjual saham itu bertujuan pula membuka proyek ambisius, yaitu “Sex Disneyland” di Sydney. Atau, kenyataan di negeri Barat lainnya yang memberi tempat bagi perkawinan bagi kaum homoseksual dan seperti di Belanda yang memberi payung hukum dan jaminan sosial terhadap pelacuran.

Dilema tiada bertepi

Dalam situasi apa pun, pelacuran selalu saja hadir, dari yang mengendap-endap hingga yang terang-terangan. Sulit dielak, pelacuran telah beringsut dan menggurita menjadi industri seks yang tak pernah sepi dari hiruk-pikuk konsumen sehingga keberadaannya menjelma bagai “benang ruwet”. Sebab, pelacuran selalu saja berimpitan dengan wilayah sosial, kekuasaan politik, dan ekonomi, bahkan lembaga keagamaan (baca: Tham Dam Truong, Sex, Money and Morality, Terj Ade Armando, LP3ES, 1992). Namun juga, pelacuran berkaitan dengan watak dan tabiat manusia yang seolah menjadikannya sebagai bagian dari hidup. Tak ayal, soal pelacuran sama saja dengan mengunyah masalah yang paling purba di muka bumi ini. Atau, seperti kata Helen Buckingham, Ketua Prostitution Laws Are Non-Sense, pelacuran adalah profesi wanita paling purba, tempat untuk pertama kalinya seorang wanita memperoleh penghasilan yang modalnya adalah tubuhnya sendiri.

Pelacuran adalah sebentuk wajah dari seksualitas manusia. Seksualitas sendiri tentunya sudah berjalan semenjak manusia ada, terutama untuk maksud- maksud reproduksi. Seiring dengan berjalannya waktu dan makin merumitnya kebudayaan, maka melebar pula jangkauan seksualitas. Demikian pula kehadiran pelacuran bersetangkup dengan tersimpuhnya impuls-impuls erotisme yang secara fitrah ada dalam diri manusia. Erotisme merupakan salah satu aspek dari kehidupan batin manusia, suatu aspek langsung dari pengalaman batin yang membedakan dengan seksualitas binatang. Watak dari erotisme adalah kemenyatuan gairah yang melampaui segala penghalang seperti tabu-tabu yang dikonstruksi secara sosial.

Menurut George Bataille (dalam Erotism, Death And Sensuality, City Light Books, San Francisco, 1986, hal 132-133), pelacuran adalah salah satu corak kehidupan sosial yang melanggar normalitas sosial. Di dalam pelacuran sesungguhnya aspek kesucian dan pantangan dalam hubungan seksual tetap berpadu dalam diri sang pelakunya, hanya saja ia menerabas batas. Lahirnya pelacuran yang semata karena kuatnya pertukaran komersial-Bataille menyebutnya dengan “Low Prostitution” (Ibid, hal 135)- disebabkan oleh faktor kemiskinan daripada penjelajahan terhadap tabu-tabu. Kemiskinan menjadi sebab-sebab lain yang membebaskan dari larangan sosial, tetapi bukan melanggar, hanya penampakan dari rasa ketakberdayaan secara sosial ekonomi. Dan, ini bertalian dengan dunia kerja dalam “iron cage” kapitalisme.

Secara sosiologis, suasana lalu lalang pelacuran acap kali menjerat pandang masyarakat yang berstandar ganda. Pelacuran dipandang sebagai kehinaan sehingga dimasukkan dalam patologi sosial. Di sisi lain-menyitir kata-kata Dr J Verkuyl-pelacuran diterima sebagai sesuatu yang tak terelakkan. Apakah itu pelacur yang berjulukan Hetaerae yang cerdas, anggun, dan terhormat di zaman Yunani Kuno, ataukah itu Meretrice yang hina dan dipaksa memakai wig, melata, dan bergelandang di pojok kota dalam masyarakat bawah Romawi.

Beragam pandangan orang terhadap kehidupan pelacuran mengental dalam dimensinya masing-masing, mengutuk atau bersimpati terhadap mereka yang melata dan menggelepar menangguk lembaran-lembaran rupiah dengan modal tubuh itu. Penilaian inilah yang akan melahirkan posisi sosial seorang penjaja seks. Tak urung-menyitir MAW Brouwer-masyarakat bisa terjebak pada sikap munafik. Ini yang dirasakan Nidal dalam pergulatan profesinya di Baghdad: “Laki-laki memang makhluk paling munafik di dunia. Mereka mencemooh, tetapi diam-diam mereka datang”.

Apa pun bentuk penilaian dan tindakan, kegiatan penjajaan seks sebagai komoditas akan tetap berlangsung terus. Secara post-factum, bisa dikatakan bahwa pelacuran yang dianggap sebagai “penyimpangan moral agama” sudah merupakan bagian integral dalam kehidupan manusia, berdampingan dengan jalan normalitas. Dalam kata-kata Thomas Aquinas yang mencuplik St Agustinus, pelacuran ibarat sebuah “selokan” di dalam sebuah istana. Mungkin, tanpa selokan sebuah istana indah nan megah, lambat laun akan mesum karena tidak ada jalan untuk membuang kotoran yang terdapat di dalamnya (Tjahyo Purnomo dan Ashadi Siregar, Dolly, Graffiti Press, 1985, hal 9).

Sementara itu, di Indonesia tidak ada satu pun pasal dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) yang secara tegas mengancam hukuman pidana kepada pelacur. Hanya ada tiga pasal yang memberikan ancaman pidana kepada siapa pun yang mata pencahariannya atau kebiasaannya dengan sengaja mengadakan atau memudahkan perbuatan cabul dengan orang lain (germo). Ini diancam dengan Pasal 296 KUHP. Kemudian, yang memperniagakan perempuan (termasuk laki-laki) yang belum dewasa disebut dalam Pasal 297 KUHP. Dan, yang terakhir adalah pelindung yang berperan sebagai perantara atau calo dalam mempertemukan pelacur dengan pelanggannya serta mengambil keuntungan dari pelacuran diancam dalam Pasal 506 KUHP (R Susilo, KUHP, Politeia, Bogor,1964). Dengan demikian, si pelacur sendiri tidak secara tegas diancam oleh hukum pidana karena memang “Prostitution itself is not crime”, seperti kata Dennise Winn.

Di tengah kenyataan yang menyemak belukar ini, kaum agamawan pun jelas- jelas tertimpuk oleh persoalan krusial sekaligus dilematis. Pelacuran menjadi hal yang problematis karena ia berada pada grey area, wilayah abu-abu yang remang. Di satu sisi, dalam stigma ajaran agama, pelacuran merupakan kemungkaran (munkarat wa al-jarimah). Sementara di sisi lain, pelacuran sulit diberantas, bahkan kian mewabah dengan segala hal yang melatarinya. Di sela-sela keruwetan itu kemudian muncul sikap keagamaan yang sering disebut dengan fundamentalisme agama. Fundamentalisme agama ini tidak selalu muncul dalam bentuk tunggal, tetapi beragam, baik dari strategi gerakan, maupun pemikiran dan ideologi yang dikembangkan, sehingga ada yang pragmatis, revolusioner, maupun asketis-isolatif. Mereka menawarkan resep untuk mengobati krisis sosial, politik, moral, dan budaya yang dialami oleh masyarakat modern. Munculnya sikap ini tampak kian menggejolak di berbagai negeri Muslim. Tak hanya di Irak, juga di negeri kita.

Pada dasarnya, fundamentalisme Islam bergelora melalui penggunaan bendera jihad untuk memperjuangkan agama. Suatu ideologi yang kerap kali mempunyai fungsi menggugah militansi dan radikalisasi umat. Selanjutnya, fundamentalisme ini diwujudkan dalam konteks pemberlakuan syariat Islam yang dianggap sebagai solusi alternatif terhadap krisis bangsa. Mereka hendak melaksanakan syariat Islam secara kafah dengan pendekatan tafsir literal atas Al Quran. Pelaksanaan syariat Islam ini termasuk hukum rajam bagi segala bentuk perzinahan.

Benturan peradaban

Apa yang pernah digegerkan oleh Huntington dengan “benturan peradaban” (clash of civilization) ternyata tak hanya menyangkut arena demokrasi. Dalam perkembangannya telah meluas pada soal-soal kemanusiaan yang lebih kompleks, seperti perceraian, aborsi, persamaan gender, hak-hak kaum gay dan lesbian, serta prostitusi. Di sinilah terjadi garis pemisah yang makin menebal antara Barat dan dunia Islam, yang intinya pada soal liberalisasi seksual. Dengan kata lain, nilai-nilai yang memisahkan keduanya lebih banyak berkait dengan eros daripada demos.

Model negara-bangsa dan globalisasi yang diciptakan oleh Barat dan telah merambah di berbagai bidang serta memberi pengaruh perilaku budaya terhadap masyarakat Muslim, telah menancapkan sudut pandang lain pada sebagian Muslim, yakni telah terjadi dominasi Barat atas Islam. Dalam ungkapan Ziauddin Sarder, kenyataan ini adalah cermin menguatnya “imperialisme epistemologis”.

Dalam perspektif inilah, lahirnya fundamentalisme Islam tak lepas dari bingkai pandangan yang terbentuk secara konfrontatif tersebut. Mengutip Prof Bassam Tibi (Ancaman Fundamentalisme, Rajutan Islam Politik Dan Kekacauan Dunia Baru, Tiara Wacana, 2000, hal 8), fundamentalisme Islam merupakan gejala ideologi yang muncul sebagai respons atas masalah-masalah globalisasi, fragmentasi, dan benturan peradaban.

Inilah gambaran betapa telah terjadi ketegangan dalam pergumulan umat Islam dengan modernitas, yakni Musykilah al-ashalah wa al-hadasah, berputar- putar pada persoalan keautentikan dan kemodernan. Modernisasi yang kemudian didukung oleh globalisasi adalah suatu paket besar dari Barat yang di dalamnya terdapat teknologi, ekonomi, agama, bahkan budaya. Ketegangan ini terlimpah antara desa lawan kota, buta huruf versus pendidikan, kepasrahan versus ambisi, kesalehan versus kemungkaran, dan sebagainya.

Penolakan kaum fundamentalis terhadap dominasi konsep Barat ini bukan semata karena ia merupakan solusi yang diimpor (al-hulul al-mustauradah), seperti dinyatakan oleh Yusuf Qardhawi (al-Hulul al-Mustauradah Waqaif Janat `Ala Ummatina, Beirut, 1995, hal 49 dan 307), tetapi juga karena lebih mencerminkan prototipe negara sekuler. Konsep ini, menurut mereka, bertentangan dengan doktrin Islam dan formalisasi syariat Islam.

Sebaliknya, mereka mengusung pandangan teosentris Islam yang tanpa batas dengan menolak ide tentang manusia sebagai jiwa yang bebas untuk menentukan diri sendiri. Sebab itu, mereka membutuhkan wilayah kekuasaan yang dibayangkan sebagai tempat implementasi hukum syariat. Akan tetapi, mereka menolak Daulah Qaumiyah (sistem negara-bangsa), serta menginginkan Daulah Islamiyah (negara Islam) sesuai dengan interpretasi mereka.

Karena itu, mereka terpincuk untuk melakukan purifikasi secara radikal dalam segala hal, termasuk terhadap apa yang disebut penyakit sosial. Dengan semangat jihad fi sabilillah, mereka mengibarkan bendera perang terhadap segala bentuk maksiat dengan tindakan radikal seperti mengobrak-abrik tempat-tempat hiburan atau malah membunuh pelacur, seperti kasus di Irak. Suatu tindakan yang dituding oleh sebagian Muslim lain sebagai antidemokrasi serta kepicikan (jumud) terhadap konsep rahmatan lil `alamin dalam Islam.

Dalam kasus di Indonesia, kita diingatkan, misalnya, ketika sejumlah LSM menuntut segera disusun UU tentang aborsi sebagai salah satu langkah melindungi hak-hak reproduksi perempuan, kemudian memicu protes sebagian masyarakat bahwa itu merupakan usaha melegalkan perilaku seks bebas. Ketika sebagian pihak mengusulkan perlunya lokalisasi pelacuran, sebagian masyarakat bereaksi bahwa itu merupakan usaha mengabsahkan pelacuran.

Beberapa waktu berselang, dalam kongresnya, Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) di antaranya menghasilkan keputusan yang idealistik, yaitu akan berupaya memperjuangkan secara konstitusi adanya tindakan hukum terhadap pelaku perzinahan. Tentunya, dalam iklim kebebasan berpendapat, hal ini sah- sah saja sebagai wujud dari keinginan hendak melakukan pengaturan sosial melalui pendekatan agama.

Akan tetapi, hal ini di samping merupakan perjuangan yang amat melelahkan, yang lebih substansial adalah perlunya menimbang berbagai faktor-faktor sosial, kultural, dan ekonomi, termasuk juga adanya perbedaan pendapat sendiri di kalangan umat Islam. Kalau kita merujuk pada para ulama kuno (salaf), betapa terlihat secara arif, mereka telah meletakkan dasar tindakan keagamaan seperti terungkap dalam nomenklatur Ushul Fikih: “Jalbul Mashalih Muqaddamun `Ala Dar’il Mafasid “, menarik kebaikan perlu diutamakan daripada menolak kejelekan.

Di samping itu, terlihat sering kali upaya gerakan islamisasi konstitusi terlampau bertumpu pada “semangat jihad” melalui cara pandang sempit dan militan, tanpa pembekalan pemikiran ijtihadi sehingga sering kali pula sulit membedakan secara clear and distinct antara hal-hal yang perlu dielaborasi (dzanni al-dilalah) dan yang dogma (qhat’I al-dilalah), atau yang dini (ajaran keagamaan) dan mana yang tarikhi atau tsaqafi (historis- kultural). Mereka hanya bersemboyan: “La hukma Illa Allah”, tidak ada hukum kecuali hukum dari Allah. Dan, diktum amar makruf nahi mungkar lebih ditafsirkan sebagai upaya mencari kebenaran dengan pedang. Suatu tindakan keagamaan yang mengingatkan kepada kelompok Khawarij yang muncul pada awal-awal pergolakan pemikiran Islam.

Pada praktiknya masih terlihat fragmentaris ketika formalisasi ajaran Islam dioperasikan. Klaim penerapan syariat Islam masih berkutat pada pemahaman masing- masing sehingga pada tingkat antarnegara yang saling mengklaim itu pun esensinya berbeda-beda ketika dibenturkan pada hal-hal yang aplikatif. Akhirnya, syariat Islam dilaksanakan secara simbolik oleh negara tertentu dan ini dipandang justru mempersempit ruang gerak syariat itu sendiri.

Belum lagi persoalan penyimpangan moral yang terjadi secara sembunyi-sembunyi yang dilakukan oleh warganya akibat pengekangan negara melalui rigiditas hukum agama, seperti perkosaan atau “pornografi malu-malu” yang intinya mengarah pada perilaku seks serampangan. Afganistan, pada masa Taliban yang menerapkan hukum Islam secara puritan dan rigid, ternyata menyisakan banyak kisah soal perkosaan sebagai akibat dari penindasan terhadap kaum wanita.

Alih-alih dapat meraih nilai universal syariat, formalisasi Islam justru menimbulkan pemahaman yang sempit. Misalnya, di Arab Saudi dalam hal pelarangan perempuan menyetir mobil atau pelarangan warga Afganistan mendengarkan musik pada zaman rezim Taliban. Akibatnya, menjadi pemandangan biasa jika satu negara terlalu ketat dalam menerapkan syariat Islam, sedangkan negara lain agak longgar walaupun sama- sama mengklaim sebagai negara Islam yang menerapkan syariat Islam.

Demikian pula dalam hal sulitnya menindak pelacuran. Agama tidak bisa langsung bertindak sebagai “lembaga inkuisisi” dengan menjatuhkan sanksi (`uqubat) terhadap pelacuran. Dalam fikih Islam sendiri terdapat ragam beda pendapat, misalnya dalam kasus pelacuran. Menurut Abu Hanifah, perbuatan seks dengan wanita bayaran tidak bisa dikenai hukum Hadd karena hukum transaksinya (al-Ijarah) masih samar (syubhat), sedangkan pelaksanaan hukum Hadd, seperti disabdakan nabi, harus bebas dari segala kesamaran, (Sirajuddin Abu Hafsh, Al-Ghurrah al-Munifah, Maktabah Imam Abu Hanifah, Beirut, 1988, hal 169-170, Cet II).

Pemikiran fikih ini tampak pula dari hasil penjelajahan hukum (istinbath) KH Sahal Mahfudz yang kini menjadi Ketua MUI. Khusus mengenai pelacuran, KH Sahal Mahfudz lebih menggunakan “paradigma jalan tengah”. Sempat terjadi polemik ketika KH Sahal Mahfudz mendukung sentralisasi lokasi pelacuran di Jawa Tengah yang diusulkannya untuk ditempatkan di Nusakambangan dan Karimunjawa. Menurut KH Sahal Mahfudz, pelacuran bagaimanapun tidak dapat dihapuskan, yang bisa dilakukan adalah meminimalisasi.

Dalam kata-kata KH Sahal Mahfudz, “Apabila pelacuran dipandang sebagai sebuah dosa, maka perluasan industri seks baik melalui turisme seks atau lainnya harus pula dipandang sebagai refleksi kegagalan untuk mempertahankan tindakan moral yang ideal. Sebab, apalah artinya ‘membenci dosa’, tapi mencintai ‘pelaku dosa’. Dengan demikian, penanganan industri seks harus dilihat dari berbagai aspek dan perlu melibatkan banyak pihak” (Sumanto al-Qurthubi, KH MA Sahal Mahfudz, Era Baru Fikih Indonesia, Cermin, Yogyakarta, 1999, hal 101-102).

Pada tataran teoretis bisa lebih dijelaskan bahwa dalam hukum Islam terdapat istilah hukum pokok (al-ahkam al-ashliyyah), yaitu inti-inti ajaran hukum yang terdapat dalam syariah dan hukum pendukung (al-ahkam al-muayyidah). Kasus hukum rajam bagi pelaku zina, umpamanya, bukanlah inti ajaran yang dikehendaki syariah. Yang inti adalah larangan perbuatan zina. Adapun hukum rajam adalah hukum pendukung dalam menegakkan larangan zina. Jadi, cukup hukum pokok saja yang diakomodir. Karena, seperti dinyatakan oleh Wahbah Zuhailli, hukum pendukung tidak selamanya bisa dilaksanakan di tempat dan waktu yang berbeda (al-Fiqh al-Islamy, Darul Fikr, Beirut, 1986, juz IV, hal 280). Maka, hukum rajam tersebut tidak harus dipaksakan keberlakuannya. Yang penting, tidak bertentangan dengan inti ajaran syariah, yang berarti win-win solution dalam rangka pemeliharaan agama dan kemaslahatan dunia (haratsah al-din wa siyasah al-dunya).

Hal ini membuktikan bahwa fikih dengan pluralisme pendapat (qaul) tidak bisa langsung dijadikan sebagai hukum positif negara. Artinya, fikih bukan sebagai “kebenaran ortodoksi”, tetapi lebih sebagai “pemaknaan sosial” dan “alat rekayasa sosial” sekaligus sebagai “etika sosial”. Dengan demikian, masalahnya adalah bagaimana meramu hukum Islam agar kehadirannya tidak bertentangan dengan modernitas, tetapi sejalan dengan semangat dan ruh wahyu sebagai sumber fikih.

 

Kalau dikaitkan dengan persoalan dosa dan iman, kita bisa menengok kembali pada teologi Islam yang pernah menjadikan persoalan tersebut sebagai perdebatan teologis yang seru. Perdebatan ini kemudian melahirkan sekte-sekte (firqah) yang masing-masing berpegang pada argumennya. Kelompok Khawarij menganggap bahwa seorang mukmin yang berbuat dosa besar berarti layak dikafirkan. Sementara itu, kelompok Sunni mendasarkan pandangan bahwa orang mukmin tersebut masih tetap dalam bingkai mukmin, bukan kafir. Sementara kelompok Murji’ah tidak memberikan sikap yang pasti: apakah mereka tetap mukmin atau kafir.

Mereka beralasan bahwa permasalahan tersebut merupakan wilayah otoritatif dan hak prerogatif Tuhan. Berarti, keputusannya menunggu nanti di akhirat yang akan dihakimi sendiri oleh Tuhan. Sekali lagi, ini membuktikan bahwa di dalam Islam tindakan pengafiran (takfir), lebih-lebih pengafiran secara akidah, tidak boleh dilakukan secara gegabah karena masih menjadi lapangan ijtihadi.

Kebaikan universal

Tegasnya, yang dibutuhkan saat ini dalam meretas apa yang kerap disebut sebagai “problem modernitas” adalah fikih sosial, bukan konstitusionalisasi hukum Islam yang dioperasikan secara paksa. Fungsi fikih sosial ini sangatlah progresif, di antaranya menjadi “counter discourse” terhadap hegemoni pola pemikiran lama yang konservatif. Sebab, konsep kunci seluruh pemikiran hukum dalam Islam adalah mashalih al-`ammah, kebaikan universal.

Dengan cara pandang dan wacana fikih sosial ini, maka penyikapan yang dilakukan secara radikal terhadap segala bentuk patologi sosial, termasuk pelacuran, tidak akan terjadi. Sebaliknya, akan mewujud penyikapan secara moderat (tawasuth), bijaksana (tawazun), dan selalu memberikan jalan pemecahan, tidak tergesa melakukan tindakan yang justru bisa membawa pada dampak destruktif yang berkesinambungan.

Maka, kalau dibesut dari apa yang dilakukan oleh kaum fundamentalisme, adalah terpancangnya kepelikan yang tersimpuh dalam operasionalisasi pelembagaan syariat Islam. Karena, yang dihadapi adalah masalah kemanusiaan yang semakin kompleks. Syariat Islam dalam doktrin dan praksisnya sesungguhnya selalu memperhatikan aspek-aspek esoteris, bukan semata eksoteris. Artinya, Islam amat peduli pada segi religiusitas manusia yang bersifat subtil dan lebih berkaitan dengan spiritualitas (ruhaniyyah). Hal ini seperti terungkap dalam sabda nabi bahwa Allah tidak melihat segi lahiriah manusia, melainkan hati atau segi batin manusia.

Secara aplikatif, Islam telah memberikan rumusan kemanusiaan, seperti yang tersurat dalam konsep al-kulliyah al-khamsah, yakni lima prinsip universal yang meliputi: menjaga kebebasan beragama (hifdz din); memelihara kelangsungan hidup (hifdz nafs); menjamin kelangsungan keturunan (hifdz nasl); melindungi kepemilikan harta benda (hifdz mal); dan menjamin kreativitas berpikir, kebebasan berekspresi, dan mengeluarkan pendapat (hifdz `aql).

Aktualisasi kelima prinsip ini bisa dikembangkan menjadi kerangka konsep HAM serta pelaksanaan pemerintahan yang demokratis. Karena itu, tidak ada alasan untuk membenturkan nilai-nilai Islam dengan HAM ataupun demokrasi. Melalui paradigma ini pula, syariat Islam justru tampak jelas memiliki sisi universalitas dan kosmopolitan, yakni merupakan pranata yang progresif untuk menciptakan kesalehan sosial dan mewujudkan visi peradaban Islam yang hanif.

Umat Islam haruslah tetap menjadi umat yang “berada di tengah” (ummatan wasathan) dalam ikhtiar membebaskan umat manusia dari keterbelengguan. Dan, pelacuran yang telah menjasad dalam kehidupan sosial tidak mesti didekati secara verbalistik dan radikal. Pelacuran lagi-lagi adalah persoalan kemanusiaan (ahwal al-syakhshiyah), yang membutuhkan cara-cara manusiawi dengan mendasarkan pada kesamaan martabat.

Dalam konsep dakwah Islam, sesungguhnya yang perlu dikedepankan adalah amar ma’ruf (mengajak pada kebaikan), bukannya lebih mengobarkan nahi munkar (melarang kemungkaran). Oleh sebab itu diperlukan pendekatan kausatif-sosiologis (akhaffu dhararain wa sadz dzari’ah) dengan melihat latar belakang pelaku pelacuran. Karena, sesungguhnya yang turut melestarikan pelacuran bukan semata kaum perempuan, tetapi juga kaum laki-laki, masyarakat, penguasa bahkan pemimpin agama sendiri. @@@

Categories: ISLAM DAN MODERNITAS | 2 Komentar

MENJELANG IDUL FITRI


Adzan sayup-sayup terdengar di tengah padang gurun yang tandus itu. Bilal, sang budak negro berkulit legam melantunkan suara adzan yang membuat bulu kuduk siapapun yang mendengarnya berdiri. Merdu…orisinal… seakan mampu membawa pendengarnya menembus tujuh aras langit diatas sana.

Seribu empat ratusan tahun silam keluarga kecil itu berbuka dengan segelas air putih. Sebenarnya mereka memiliki tiga takar gandum mentah upah dari memintal bulu domba. Saat berbuka hari pertama, ketika keluarga sederhana itu berkumpul dengan dua putranya yang masih bocah, ketika secuil roti hendak dinikmati bersama, pintu rumah mereka diketuk orang.

“Aku saudara muslim kalian. Aku sangat lapar. Berilah aku makan seperti yang kalian makan. Semoga Allah memberi kalian hidangan di surga.” Begitu mendengar keluh kesah orang tiada dikenal ini, kepala rumah tangga itu membuka pintu dan semua roti jatah berbuka puasa keluarga diserahkannya. “kita berbuka dengan segelas air putih,” katanya.

isteri dan dua anaknya terdiam….

Hari kedua keluarga ini masih memiliki dua takar gandum. Dimasaknya satu takar untuk berbuka. Menunggu maghrib tiba, mereka sudah siap berbuka dengan secuil roti di meja. Tiba-tiba, pintu rumah diketuk. “Saya anak yatim yang lapar. Adakah makanan yanag bisa saya makan?” Untuk yang kedua kalinya laki-laki kepala rumah tangga itu menyerahkan begitu saja roti mereka.

isteri dan dua anaknya termangu….

Puasa hari ketiga dengan perut yang teramat lapar mereka hendak berbuka dengan sisa gandum yang dimilikinya. Dua anak laki-laki mereka yang turut berpuasa sejak hari pertama terlihat pucat dan lesu. Dua hari belum makan roti secuil pun, hanya air putih untuk berbuka.

“Aku tawanan perang yang baru dibebaskan. Berhari-hari aku belum makan,” tiba-tiba terdengar suara dari luar sambil mengetok pintu.

Kali ini justeru sang isteri yang bergerak mengulurkan bungkusan roti kepada sang tamu asing. “Kita tidak mempunyai sisa gandum lagi. Anak-anakku sudah sangat lapar. Ya Allah, selamatkanlah anak-anakku dari bencana kelaparan,” kata sang istri kepada suami sepeninggal tamu itu pergi.

Laki-laki kepala rumah tangga yang nekad itu adalah Sayyidina Ali Al Murtadlo. Istrinya adalah Sayyidatina Fatimah, putri Rasulullah. Dua bocah kecil berwajah pucat yang belum makan selama tiga hari itu adalah Hasan dan Husain.

Keesokan harinya Ali bersama Hasan dan Husain menemui Rasulullah SAW. Alangkah kaget Rasulullah menujumpai menantu dan kedua cucunya berwajah pucat dengan badan gemetar. Sayyidina Ali pun menceritakan bagaimana keadaan keluarganya selama tiga hari yang berbuka puasa tanpa makanan secuilpun.

Bergegas Rasulullah berangkat ke rumah putrinya yang dijumpai sedang munajat. Fatimah menyambut ayahnya dengan badan gemetaran. Mata Rasulullah berkaca-kaca dan pipi beliau basah oleh air mata. Dipeluknya Fatimah sambil bersabda, “Ya Allah, tolonglah Ahlul-Bait rasul-Mu yang hampir mati kelaparan.”

Saking dahsyatnya peristiwa ini, Al-Qur’an suci memotretnya secara jelas: “Mereka menunaikan nazar dan takut akan hari yang azab siksanya merata dimana-mana. Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, serta orang yang ditawan. Sesungguhnya kami memberi makan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan ridlo Allah. Kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih.” =Al Insaan 7-9

kwa11Sejarah bondo nekat ‘bonek’ nya keluarga Sayyidina Ali dan Siti Fatimah menanggung derita lapar untuk melayani orang lain yang lebih lapar merupakan gambaran insan kamil: kemuliaan tertinggi derajat spiritualitas manusia yang telah selesai dengan urusan bundelan ego diri. Bundelan yang kerap nyrimpeti dan menyerimpung kaki manusia ketika dia dalam proses menemukan diri.

Kita terjebak bahwa gambaran diri ideal adalah dari cerita-cerita, dari televisi yang mengurai tentang tokoh-tokoh idola, dari buku-buku yang kita baca dan dari pidato para motivator atau pendakwah agama.

Sementara di saat yang sama ladang kesejatian diri yang hakiki tak pernah disiram, diri menjadi kering tandus karena tidak pernah disapa ……. Kita malas berpikir kenapa diri kita ini lemah? padahal kita tahu, sumber lemahnya diri karena jiwa tidak memperoleh suplai energi Allah.

Stamina hidup dan daya juang pun menjadi lunglai. Ibadah nggak pernah istiqomah. malas bergerak karena diri diliputi lemak-lemak informasi yang palsu. Tujuan hidup pun tak pernah sungguh-sungguh ketemu.

Bagaimana kita akan menemukan diri bila di dalam diri masih ada diri?…..

Kalau di dalam diri masih ada beban diri maka diri tak akan bisa terbang ke aras langit. Di dalam diri jangan ada diri. Kebanyakan orang, di dalam dirinya hanya ada ego dan eksistensinya. Dia tidak suwung ===kosong=== sehingga dalam diri hanya ada kehendak/iradah Allah.

Untuk itulah puasa Romadhon diperintahkan karena kita membutuhkan pelemahan diri secara terstruktur dan terprogram hingga sampai pada derajat taqwa, yaitu “kematian” diri dan hanya Allah yang hidup dalam diri —-mati sajroning urip.

Kenapa kita wajib sholat lima waktu? Sholat adalah upaya memi’rajkan diri, melepas kepalsuan, meneguhkan kembali bahwa kita adalah pelayan Dia dan untuk melayani sesama dengan berbagai masalahnya karena kita mutlak memerlukan pertolongan-Nya.

Sholat merupakan perjalanan spiritual menengok ke belakang untuk menerangi kegelapan tentang siapa diri kita. Terang yang dihasilkan dari lelaku spritual kembali ke belakang adalah tahu dari mana kita berasal dan kemana kita akan berakhir: kita sesungguhnya adalah pelayan Allah yang dilahirkan bersama peran dan fungsinya masing-masing.

Mereka yang shalatnya khusyuk ditandai dengan manfaatnya secara sosial. Sebab Allah di dalam diri senantiasa memayuni orang yang kehujanan, memberi makan orang yang lapar, memberi baju orang yang telanjang dan memberi petunjuk mereka yang buta.

Hakekat hidup yang sejati adalah menjadi pelayan dan hanya Allah Juragan kita. Kita tidak punya lagi tenaga untuk meng-akui, meng-ada, atau meng-eksis kan diri karena diri kita telah mati dalam diri-NYA. Kita menjadi hamba yang diperjalankan oleh-Nya.

Konsekuensinya: Kita akan dipekerjakan oleh persoalan banyak orang: kasus-kasus, bentrok, problem ekonomi orang kecil, masalah rumah tangga orang bergilir dari hari ke hari, melayani forum-forum, menjadi keranjang sampah berbagai buangan masalah orang

Keadaan orang yang sudah “mati” tidak akan terpesona oleh apapun. Dunia sudah diceraikan… Talak tiga sudah dijatuhkan. Ia akan tampil tanpa mempertahankan martabat dan harga dirinya dan tidak pula mengandalkan apa apa —harta benda tahta ilmu juga popularitas—. Nilai tauhidnya adalah bahwa ia telah mendapatkan Allah yang Maha Nomor Satu dan Rasulullah utusan NYA yang amat kasih pada umatnya.

Allahu Akbar,.. cakrawalanya menjadi sangat amat luas. Tidak ada lagi yang menakutkan dan mencemaskan para kekasih Allah. Mereka tegak dike-kini-an merespon sapaan demi sapaan dari Allah untuk rajin menempuh perjalanan pulang menggapai terang diri…..

Idul Fitri, kembali pulang ke kampung tempo doeloe bahkan sebelum kita lahir untuk kembali memulai dari yang awal. Untuk bergabung kembali dengan Huwa Al-Awwalu, Allah Yang Maha Awal. Belajar kembali mengeja Asma-Nya sebagaimana Allah mengajari Nabi Adam nama-nama.

Kita bertauhid kepada Allah dengan dua cara: manunggal kepada Sang Gusti Allah yang maha Esa dan manunggal dengan dinamika problematika hamba-hamba-Nya.

Berhadapan dengan sesama hamba, kita menebar Cinta untuk melakukan perubahan yang lebih baik disegala bidang kerja. Berhadapan dengan Allah di dalam hati yang selalu bersujud sunyi, kita haturkan doa umat kepada-Nya….

@@@

ilmu

Categories: MENJELANG IDUL FITRI | 4 Komentar

MAHALNYA MALAM ITU, SAYANG BILA TERLEWATKAN…..


kwaSesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam qadr (kemuliaan) (1) Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? (2) Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan (3) Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan (4) Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar (5). —QS. Al-Qadr 1 – 5.

Tidak terasa, sampailah kita di sepuluh hari terakhir Romadhon dulur… meski bersusah payah untuk menahan lapar dan haus di siang hari, tapi insya Allah puasa kita tidak sia-sia. Kita yakini hal itu. nah, ada satu hadits yang mengungkapkan keistimewaan sepuluh hari terakhir Romadhon salah satunya adalah: “Lailatul qadar itu pada malam 27 atau 29, sungguh malaikat yang turun pada saat itu ke bumi lebih banyak dari jumlah batu kerikil”.

Apa yang perlu kita lakukan di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan? Nah, tidak ada tuntunannya di akhir romadhon ini kita malah mengendurkan semangat puasa dan malah ada yang tidak berpuasa. Justeru kita repot sibuk persiapan ini itu menyambut hari raya. Tentu saja hal ini memprihatinkan.

Rasulullah SAW, sang nabi panutan kita, memiliki kebiasaan rutin saat Romadhon dan dia memberikan saran dan nasehat pada umat muslim yaitu: Pertama, menghidupkan malam di sini mengandung kemungkinan bahwa beliau menghidupkan seluruh malamnya atau kemungkinan pula beliau menghidupkan sebagian besar darinya. Aisyah ra berkata: “Tidak pernah aku melihat beliau (Nabi SAW) melakukan ibadah pada malam hari hingga pagi harinya dan berpuasa selama satu bulan penuh kecuali di bulan Ramadhan.” (HR. Muslim).

Amalan kedua ini menjelaskan bahwa Rasulullah SAW membangunkan keluarganya untuk mengerjakan shalat sunnah pada malam-malam sepuluh hari yang terakhir. Padahal, hal demikian tidak beliau lakukan di malam-malam yang lain.

Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib: ia berkata: “Rasulullah SAW membangunkan keluarganya di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.” (HR. Turmudzi).

Ketiga, menjauhkan diri dari menggauli istri-istrinya. Diriwayatkan bahwa beliau tidak kembali ke tempat tidurnya sampai rampungnya bulan Ramadhan. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Anas disebutkan bahwa beliau melipat ranjangnya dan menjauhkan diri dari menggauli istri.

Keempat, mandi antara maghrib dan isyak. Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Aisyah, ia berkata: “Di bulan Ramadhan, Rasulullah biasanya tidur dan bangun malam, namun jika telah masuk sepuluh hari terakhir, beliau mengencangkan ikat pinggang, menjauhi istri-istrinya, dan mandi di waktu antara Magrib dan Isya.”

Kelima, I’tikaf. Aisyah berkata: “Nabi SAW melakukan i’tikaf di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan sampai beliau meninggal. Kemudian, istri-istrinya yang melakukan i’tikaf sepeninggal beliau.” (HR. Bukhari-Muslim).
Tujuan nabi melakukan i’tikaf pada sepuluh hari terakhir ialah untuk menghentikan berbagai rutinitas kesibukannya, mengosongkan pikiran, mengasingkan diri demi bermunajat kepada Allah, berdzikir dan berdoa kepada-Nya.

Jika kita teliti perilaku hidup Rasul Saw. dan para Sahabat di bulan Ramadhan, kita menemukan berbagai keajaiban. Di antaranya ialah, saat memasuki 10 hari terakhir Ramadhan mereka habiskan waktunya di Masjid untuk melakukan I’tikaf. Apa yang mereka lakukan sangat kontras dengan apa yang terjadi pada umat Islam saat ini. 10 hari terakhir Ramadhan mereka habiskan di pasar, tempat kerja, di pabrik, kunjungan ke daerah dan sebagainya.

Perilaku masyarakat saat ini, 10 hari terakhir Ramadhan itu adalah kesempatan berbelanja untuk mempersiapkan keperluan lebaran dan pulang kampung, kendati mengakibatkan harga-harga semua barang naik dan melambung. Anehnya, mereka tetap semangat berbelanja. Sebab itu, mereka meninggalkan masjid-masjid di malam hari dan tumpah ruah ke tempat-tempat perbelanjaan sejak dari yang tradisional sampai ke mall-mall moderen.

Berbagakwa2i syahwat cinta dunia tidak berhasil dikendalikan, dan bahkan cenderung dimanjakan di bulan yang seharusnya dikendalikan. Pada waktu yang sama, semangat beramal ibadahpun tidak terbangun dengan baik sehingga kehilangan banyak momentum dan keistimewaan yang dijanjikan Allah dan Rasulnya.

Mari kita renungkan janji Allah yang bernama Lailatul Qadr yang nilainya lebih baik dari 1.000 bulan. Kalau masih belum tertarik juga, janji siapa lagi yang kita yakini? Jika kita tertarik kepada janji Allah mari kita kejar sekuat tenaga dan upaya di masjid pada 10 hari terakhir Ramadhan dengan cara beri’tikaf di dalamnya secara penuh seperti yang dicontohkan Rasul Saw.

Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu, ia berkata : Sesungguhnya Nabi Saw. I’tikaf pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan. (HR. Imam Bukhari). Imam Muslim meriwayatkan : Siapa yang shaum (melakukan puasa / manajemen syahwat) di bulan Ramadhan didasari iman (keyakinan penuh pada Allah) dan ihtisab (tujuannya hanya mencari ridha Allah), maka diampunkan dosanya yang lalu. Siapa yang Qiyam (beribadah) di malam lailatul qadr didasari iman (keyakinan penuh pada Allah) dan ihtisab (tujuannya hanya mencari ridha Allah), maka diampunkan dosanya yang lalu.

Jadi, tidak ada alasan kita untuk tidak bisa I’tikaf 10 hari terakhir Ramadhan, karena 10 hari itulah umur kita yang paling mahal nilainya. Ampunan semua dosa yang kita lakukan dan bernilai lebih baik dari 1.000 bulan atau sekitar 83 tahun.

Dalam sebuah hadits Rasulullah Muhammad beri’tikaf 10 hari terakhir Ramadhan. Pada tahun terakhir berjumpa Ramadhan, Beliau i’tikaf selama 20 hari.  Itulah jalan yang harus ditempuh sebagai bagian dari sistem Allah  untuk mendapatkan tingkat taqwa, sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah yang berusaha dan berhasil meraih kebahagian dan kemenangan di dunia dan akhirat.

kwa5selamat berjuang, dulur….

selamat mendapatkan kemenangan….

@@@

Categories: >>PERPUSTAKAAN UTAMA | 10 Komentar

INTROSPEKSI DIRI


JANGAN PERCAYA DENGAN UANG GHAIB, semuanya BOHONG! saya orang beragama dan bisa terbilang taat, tapi terjebak dengan penarikan uang ghaib, karna terlibat hutang 1,5M. pegawai saya meyakinkan saya untuk datang ke abah UJUG. Rupiah demi rupiah saya keluarkan, saya ikuti dengan sabar dan dengan hati bersih. saya coba ikuti semua prosesnya. sampai berbulan – bulan dan menghabiskan dana hampir 100 juta! Orang yang saya datangi yaitu abah UJUG adalah orang tua, yang penampilannya polos dan lugu. sehingga saya selalu berpositif thinking padanya. Sekarang saya sedang urus hitung-hitungannya sama dia. semoga Allah mengampuni dosa saya dan keluarga saya, karna kebodohan saya. Dan semoga Allah mempermudah jalan saya mencari rizki yang barokah, amiin. Saya sempatkan memberi komentar di blog ini, untuk SEMUA saudaraku… Ikhtiar dengan dunia kita, lebih jelas barang nya dan insyaallah di ridhai Allah SWT.

Tulisan diatas ini adalah komentar salah seorang pembaca blog KWA, yang menguraikan apa yang pernah dialaminya terkait dengan upayanya membebaskan diri dari hutang dengan cara pencarian uang goib.  Dibantu oleh seseorang yang awalnya diyakini bisa membantu menarik uang goib menjadi nyata, akhirnya jelas: uang tidak kunjung diperoleh dan mengalami kerugian yang cukup besar.

Penarikan uang goib memang ada dan bisa dilakukan oleh seorang yang ahli. Beberapa orang yang saya kenal bisa melakukannya dengan mudah. Namun, semua itu memerlukan keahlian yang tidak semua orang bisa melakukannya. Ada yang sudah bertirakat sekian waktu, usaha keras untuk memiliki ilmu uang goib disertai dengan riyadhoh yang berat, namun semua akhirnya harus tunduk pada hukum Ilahi. Allah SWT belum mengijinkannya.

Seorang yang tidak memiliki pengetahuan tentang uang goib, bisa dengan mudah tertipu. Mungkin awalnya mencoba-coba karena tidak memiliki pengalaman terkait hal ini. Sekedar dari mulut ke mulut informasi tentang seorang yang (diduga) memiliki keahlian untuk melakukan penarikan uang goib dan karena dia terpaksa/kepepet akhirnya membuat keputusan untuk menyerahkan uang kepada seseorang yang awalnya dianggap bisa menarik uang goib. Sekali penyerahan mahar, dua kali kurang, tiga kali, empat kali dan seterusnya dengan dalin untuk ubo rampe dan lain sebagainya. Ujung-ujungnya baru sadar bahwa uang yang diserahkan ke seseorang yang konon untuk biaya proses penarikan uang goib itu  sudah menggunung.

Manusia memang cenderung keliru mengambil keputusan. Juga terbiasa terlambat untuk menyadari bahwa jalan yang ditempuh kakinya melenceng dari arah yang semestinya. Mari kita “Introspeksi/berkaca diri/merenungkan” kejadian-kejadian yang dialami karena hal itu menjadi pengalaman berharga buat kita semua.  Yang namanya ilmu rezeki dalam koridor ilmu hikmah itu bukanlah ilmu penarikan uang goib. Juga bukan ilmu uang balik –dimana uang yang kita belanjakan akan kembali utuh seperti sedia kala. Bukan itu!

Ilmu rezeki yang sejati adalah sebagaimana yang disabdakan Rasulullah: “Pergilah ke hutan, carilah kayu bakar dan juallah ke pasar. Itu lebih mulia daripada kamu jadi pengemis” 

Hamparan hikmah kita dapatkan ketika merenungkan hal ini. Kerja keras dengan menggunakan akal sehat serta doa dan kepasrahan adalah jawaban yang paling baik ketika seseorang dirundung masalah rezeki seret. Meskipun Rasulullah saat itu bisa mendoakan siapapun agar rezekinya lancar, namun ajaran sosial yang harus ditanamkan kepada setiap muslim adalah: bekerjalah secara wajar. Insya allah, rejeki kita juga akan senantiasa datang.

Nah, sayangnya.. manusia cenderung untuk pengen cepat memperoleh hasil dengan proses yang (kalau bisa) paling mudah. Hal ini wajar dan manusiawi. Apalagi kalau keadaan pikiran ruwet dan emosi sedang kalut.

PUASA ADALAH JAWABAN UNTUK MENGEMBALIKAN KONDISI PIKIRAN EMOSI AGAR KEMBALI NORMAL, AKAL BUDI KEMBALI SEHAT ATAS BIMBINGAN ALLAH SWT.  SEHINGGA KITA TERBIMBING SECARA LANGSUNG PADA SANG PEMILIK KEBENARAN ABSOLUT/KEBENARAN SEJATI.

terima kasih dan salam.

@wongalus,2015

Categories: INTROSPEKSI DIRI | 8 Komentar

WISUDA ANGKATAN XXXIV DAN ANGKATAN XXXV GURU KWA


Assalamualaikum wr wb, di bulan Ramadhan yang mulia ini, Kampus Wong Alus kembali mewisuda 2 Guru KWA. Mereka adalah…

ANGKATAN XXXIV/ 34

SRIKANDI NUSANTARA PENANGGUNGAN —–D.I.Y

dan 

ANGKATAN XXXV/ 35

KI  DAENG ASRUL PENANGGUNGAN ——-MAKASSAR

Beliau telah selesai melaksanakan pelatihan private GURU KWA dan mohon doa restu untuk mengabdi ke masyarakat sesuai dengan profesinya masing-masing.

Sekaligus kami sampaikan bahwa sampai saat ini, KAMPUS WONG ALUS telah memiliki GURU sebagai berikut….

ANGKATAN  I/ 1

  1. KI AGENG BAYU PENANGGUNGAN, Jakarta  0877 7557 3775
  2.  KI AGENG AGUNG PENANGGUNGAN, Kediri    0854 9183 905
  3.  KI AGENG ISLANUDIN PENANGGUNGAN, Indramayu
  4.  KI AGENG AGUS PENANGGUNGAN, Bekasi
  5.  KI AGENG YOHAN PENANGGUNGAN, Cirebon

=============================================


ANGKATAN  II/ 2

  1.  KI AGENG WAN MUHAMMAD PENANGGUNGAN, Malaysia tokkutan@gmail.com

===============================================


Angkatan  III/ 3

  1. KI CAKRA RASYID PENANGGUNGAN, Jakarta 0977 8008 0019
  2. KI CAKRA SARYANTO PENANGGUNGAN, Purworejo 0857 4315 4447
  3. KI CAKRA MELSANOFRI PENANGGUNGAN, Palembang 0812 7854 474
  4. KI CAKRA WASLAN PENANGGUNGAN, Mimika Papua 0852 4490 0456
  5.  KI CAKRA SAMSUL PENANGGUNGAN, Lampung Timur 0812 6601 4575
  6.  KI CAKRA WIDODO PENANGGUNGAN, Pati Jateng 0856 4085 9477
  7. KI CAKRA AKBAR PENANGGUNGAN, Enrekang Sulsel 0819 4426 0882

======================================


ANGKATAN  IV/ 4

  1. KI NENGGALA DEDY PENANGGUNGAN, Jakarta 021 7169 4925
  2. KI NENGGALA CAHYA PENANGGUNGAN, Palembang 0812 7482 7071

===========================================


ANGKATAN  V/ 5 

  1. KI CAHYANTO PASOPATI TROWULAN, Kalimantan Selatan 0858 1414 7433

ANGKATAN  VI/ 6

  1.  KI ONTOREJO MUHAMMAD PENANGGUNGAN, Jambi 0896 9642 6286
  2.  KI ONTOREJO SONI PENANGGUNGAN, Sidoarjo 0856 4848 4545
  3.  KI ONTOREJO ADI PENANGGUNGAN, Tangerang 0813 8172 4964
  4.  KI  ONTOREJO GATOT PENANGGUNGAN, Magelang 0856 4330 1388

=======================================

 

ANGKATAN VII/ 7 

  1.  KI ANOM ‘INDRIAWAN’ PENANGGUNGAN, Pacitan 0823 3156 0636
  2.  KI ANOM ‘TAHIR’ PENANGGUNGAN, Mimika – Papua 0815 4776 614
  3.  KI ANOM ‘MURSALIM PENANGGUNGAN’, Tanah Merah – Papua 0812 8999 8118
  4.  KI BIMO “S.A” PENANGGUNGAN, Surabaya

=============================================


ANGKATAN  VIII/ 8 

  1. KI “LU” KUSUMO YUDHO NEGORO, Jawa Timur
  2. KI “SU” KUSUMO YUDHO NEGORO, Bali
  3. KI “YU” KUSUMO YUDHO NEGORO, Yogyakarta
  4. KI “YA” KUSUMO YUDHO NEGORO, Jakarta 0812 9676 6923
  5. KI “BU” KUSUMO YUDHO NEGORO, Jawa Timur
  6. KI “DODI” KUSUMO YUDHO NEGORO, Bekasi
  7. KI “RO” KUSUMO YUDHO NEGORO, Jawa Barat

============================================


ANGKATAN IX/ 9 

  1. KI KUSUMO ASHARI MONGROGO, Sumatera
  2. KI KUSUMO EKO  MONGROGO, Jakarta
  3. KI KUSUMO S.S MONGROGO, Sumatra

===============================================


ANGKATAN X/ 10

  1. KI RAINAN  SOERJO MENTARAM, Blitar – Jatim, rainan44@gmail.com
  2. KI SUJONO SOERJO MENTARAM, Sidoarjo – Jatim.

Phone 087752903466

=================================


ANGKATAN XI/ 11

  1. KI NAWAWI SUROPATI, Pasuruan, Phone 082334079399
  2. KI IRVAN SUROPATI, Belitung Timur, Phone  081949200806
  3. KI SIGIT SUROPATI, Sidoarjo, Phone 082245301000
  4. KI ZAKI SUROPATI, Malaysia. Phone +60167762132.

======================================


ANGKATAN XII/ 12

  1. KI GEDE PANEMBAHAN SUNTIKA PENANGGUNGAN – TANGERANG – 085780472021

    2. KI GEDE PANEMBAHAN GANDA PENANGGUNGAN – BEKASI – 081297055737


    3. KI GEDE PANEMBAHAN USEP PENANGGUNGAN – GARUT – 087724957546


    4. KI GEDE PANEMBAHAN ISWANTO “SULING” PENANGGUNGAN – SIDOARJO – 085334991908

=======================================


ANGKATAN XIV/ 14

  1. KI AGENG SUWIIN TROWULAN– PASURUAN– 082302103075
  2. KI AGENG DONO TROWULAN– PEKALONGAN– 087733416495
  3. KI  AGENG GUNAWAN TROWULAN– JOGJA
  4. KI AGENG PRASETYA TROWULAN –JAKARTA– 087878600863
  5. KI AGENG SARIJAN TROWULAN — PONOROGO — 081332688199
  6. KI AGENG IRAWAN TROWULAN –TEGAL– 085642620113
  7. KI AGENG RISTIAWAN TROWULAN– SEMARANG– 087876102440
  8. KI AGENG ARGO TROWULAN — SEMARANG — 081372675850

==========================================


ANGKATAN XIII /13 

  1. HAMBA ALLAH
  2. HAMBA ALLAH
  3. HAMBA ALLAH
  4. HAMBA ALLAH
  5. HAMBA ALLAH
  6. HAMBA ALLAH
  7. HAMBA ALLAH


==========================================


ANGKATAN XV / 15

  1. KI BACHTARUDIN PENANGGUNGAN, PADANG SUMBAR, 081-1666083
  2. KI SISWANTO PENANGGUNGAN, BANDUNG.

=============================================

ANGKATAN XVI/ 16

  1. KI SURATNO PENANGGUNGAN, LUAR NEGERI (LAOS), 0852054408017 dan CILACAP (081392697466/082242014149)
  2. KI PUJI PENANGGUNGAN, SRAGEN (081226198670).

================================

ANGKATAN XVII/ 17

  1. KI AGENG GIMAN PENANGGUNGAN, Pekanbaru Riau (085272942597)
  2. KI AGENG ANDI PENANGGUNGAN, Jakarta (08111288280)
  3. KI AGENG SUPRIYADI PENANGGUNGAN, Tangerang (0811952698)
  4. KI AGENG HERY PENANGGUNGAN, Sidoarjo (081230008898).

=========================================

ANGKATAN XVIII/ 18

  1. KI AGENG DUNAL JOLOTUNDO, Salatiga (085713339086)
  2. HAMBA ALLAH, Sidoarjo (0816530039)

===========================================

ANGKATAN XIX/ 19

  1. KI AGENG NYOMAN ALIT PENANGGUNGAN, Surabaya (081332332777)
  2. HAMBA ALLAH

============================================

ANGKATAN XX  / 20    ——    9 AGUSTUS 2014

  1. KI ADI PANATAGAMA JOLOTUNDO, Jombang – Jatim
  2. KI TEDDY PANATAGAMA JOLOTUNDO, Berau – Kaltim
  3. KI ROHMAN PANATAGAMA JOLOTUNDO, Makassar, Sulsel

=====================================================

ANGKATAN XXI / 21

  1. KI ANDRI PANATAGAMA PENANGGUNGAN

=====================================================

ANGKATAN XXII / 22

  1. KI PUNTODEWO BAGUS PENANGGUNGAN, JAKARTA  08997777717
  2. KI PUNTODEWO  S PENANGGUNGAN, Lampung
  3. KI PUNTODEWO KARYANI PENANGGUNGAN, PAPUA, 082197564321

======================================================

ANGKATAN XXIII/ 23

KI SADEWA NURZAKI PENANGGUNGAN, TEGAL 

=====================================================

ANGKATAN XXIV/ 24

KI AGENG IMAM PENANGGUNGAN, PONOROGO, PHONE 082230107210

================================================

ANGKATAN XXV/ 25

  1. KI SASTRO HARTONO PENANGGUNGAN –SOLO
  2. KI SASTRO WIRAWAN PENANGGUNGAN — KALIMANTAN
  3. KI SASTRO SUNARKO PENANGGUNGAN– TULUNGAGUNG

==============================================

ANGKATAN XXVI/  26

KI SUNAN ANWAR PENANGGUNGAN –KALIMANTAN

==============================================

ANGKATAN XXVII/ 27

KI SUNAN IRZAN TROWULAN —– SINGAPORE, Phone +6582181612

================================================

ANGKATAN XXVIII/ 28

KI AGENG WAHYU JENGGALA — (JAKARTA), 081286008922

KI AGENG FANNY JENGGALA –(TANGERANG)

KI AGENG RIZA JENGGALA — (BANJARMASIN, KALSEL), 08565184403

=============================================

ANGKATAN XXIX/ 29

  1. KI SAMPANG SUGITO, Purwokerto
  2. KI ALFAN JENGGALA, Makassar

==============================================

ANGKATAN XXX/ 30

KI JAKFAR JENGGALA, LAMPUNG

==============================================

ANGKATAN XXXI/ 31

  1. KI AGENG JOHAN PADJADJARAN — SUKABUMI, PHONE 085759332006
  2. KI AGENG BAMBANG BETAWI — JAKARTA, PHONE 087880632722

==========================================

ANGKATAN XXXII/ 32

  1. KI PANEMBAHAN YUS MATARAM (YOGYAKARTA) 
  2. KI PANEMBAHAN RAMLAN MATARAM (KUALA LUMPUR, MALAYSIA) 
  3. KI PANEMBAHAN SHYGIT MATARAM (BANJARNEGARA)

==========================================

ANGKATAN XXXIII/ 33

  1. KI WICAKSONO DONI PENANGGUNGAN — BALIKPAPAN— (08115442754)
  2. KI WICAKSONO JAROT PENANGGUNGAN –LAMPUNG (081279951110)
  3. KI WICAKSONO RUDIANTO PENANGGUNGAN –SULAWESI

==========================================

ANGKATAN XXXIV/  34

SRIKANDI NUSANTARA PENANGGUNGAN —–D.I.Y

==============================================

ANGKATAN XXXV/  35

KI  DAENG ASRUL PENANGGUNGAN ——-MAKASSAR

==============================================

Terima kasih dan salam paseduluran. @@@

Categories: >>PERPUSTAKAAN UTAMA

HIDUPNYA RUH RAMADHAN


Assalamualaikum wr wb. Apa kabar dulur? Semoga kita masih semangat untuk beribadah menggapai ridho Ilahi dan inilah saat yang tepat karena ada bulan Ramadan yang mulia ini, untuk menyandarkan diri dengan banyak melakukan kontemplasi zikir sehingga unsur-unsur “listrik” yang ada dalam diri manusia yang terkadang bertegangan tinggi tidak lagi membuatnya konslet dan terjatuh pada situasi ekstrem.

Amalan puasa /thariqah yang dilakukan dengan tenang dan tulus, pelan-pelan akan menumbuhkan kualitas-kualitas kemanusiaan (al-insaniyyah al-amaliyyah as-shaihat) yang menuju ke arah insan kamil, pribadi yang sempurna. Melalui kualitas-kualitas inilah manusia dapat menormalkan ketegangan urat syarafnya untuk membimbing dirinya ke dalam keseimbangan mental. Rohani dan nalar sehingga ia mampu dengan tenang dan akal sehat mencari penyelesaian dan memecahkan problem besar yang selalu mengitarinya.

Inilah yang dimaksud dengan hadis Nabi, “Bahwa ibadah puasa benteng bagi semua orang yang beriman”. Mudah-mudahan dengan ibadah puasa ini akan terbentuk kualitas kemanusiaan yang terbimbing mental, nalar dan rohaniahnya. Dengan demikian, suasana apapun tidak mengarah pada kekerasan.

Sikap-sikap seperti barbarisme ashabiahisme, powerisme, syndromisme, tokohisme, dan golonganisme harus segera disingkirkan dari dalam diri kita juga di dalam negeri yang berakar budaya religius ini. Seiring dengan itu, kita memiliki harapan sebagai bangsa bahwa semua pemimpin yang ada saat ini insya allah kita doakan bisa amanah, berkualitas, profesional, dan berwatak saleh menjadi kenyataan.

Ramadhan ini adalah saat yang bagus untuk “memarkir kendaraan” ego pribadi untuk kemudian mensublimasikan diri ke dalam jiwa jantung dan denyut nadi kehidupan masyarakat. Setiap manusia, apalagi pemimpin yang hakiki itu sejatinya memiliki posisi mulia, karena kekuasaan yang digenggamnya sesungguhnya bukan untuk kepentingannya sendiri melainkan bertugas untuk menjalankan amanah rakyat.

Oleh karenanya, kita semua adalah pemimpin yang wajib menjadikan dirinya diterima oleh seluruh lapisan masyarakat, bukan hanya diterima di golongannya, di dapilnya, di partainya melainkan diterima seluruh partai, diterima seluruh jenis kelamin, seluruh usia, seluruh manusia karena ia adalah pribadi yang berkualitas “bapak” bagi semua anaknya.

Ramadhan juga mengajarkan kepada kita agar memiliki rem yang pakem. Dalam tugas sehari-hari, kita pasti akan menghadapi perbedaan pendapat dengan pihak lain. Jika itu benar-benar muncul didasarkan hasil reasoning (penalaran/ijtihad) atas norma-norma hukum, tanpa didasari oleh sentimen kepentingan yang saling jatuh menjatuhkan masih dipandang wajar, karena dalam wacana hukum islam perbedaan pendapat adalah sebuah dinamika yang harus ditumbuh kembangkan. Sebaliknya, bila konflik itu mengarah pada situasi yang meresahkan masyarakat dan anarkis, islam dengan tegas mengharamkan.

Setiap manusia adalah zoon politicon. Sang pencari solusi pemecahan masalah yang secara politis wajiblah memiliki etika secara bijaksana dan memenuhi rasa keadilan. Begitu pentingnya pemecahan masalah secara bijaksana dan berkeadilan sehingga dalam konteks historis hal itu bisa dicontohkan manakala Rasulullah wafat dan umat Islam menentukan siapa penggantinya secepatnya maka terjadilah diskusi panjang, pemecahan masalah secara bijaksana dan para sahabat menunda pemakaman Nabi dengan mendahulukan pemilihan Iman.

Betapapun mendesaknya mencari solusi pemecahan masalah namun proses harus tetap mengacu pada prinsip nalar yang sehat dan musyawarah yang berorientasi pada kemaslahatan umat. Nah, di dalam lingkungan kita hidup bermasyarakat saat ini kita perlu membentuk satu lembaga yang ahlialhilli wa al-aqdi, yang menghimpun para tokoh/ahli dari berbagai bidang yang berpengetahuan luas (mujtahid), konsisten, jujur dan tidak memihak kepada suatu golongan. (iala thabi’at al-ashabiyyat).

Praktik perpolitikan Islam melalui lembaga ahlu al-Hilli wa al-Aqdi dengan sistem musyawarah yang baik dan lancar, tanpa radikalisme politik telah berlangsung di era sahabat al-Khulafa ar-Rasyidin. Baru setelah era sahabat, proses pengangkatan kepemimpinan, berjalan dalam sistem dinasti yang dilakukan secara turun-temurun. Sistem pemerintahan kemudian dipegang oleh raja yang berwatak otoriter dan absolut (ila’ tahabi’at al-mulk) yang berakhir dengan kehancuran pemerintahan-pemerintahan di dunia Islam.

Kini, saat puasa ramadhan kita lanjutkan hidup bermasyarakat dengan usaha-usaha musyawarah. Dialog-dialog dengan menggunakan nalar sehat dengan semua elemen masyarakat harus terus dilakukan. Kita juga tunggu tanggapan dan kritik dari berbagai pihak dengan sabar sambil terus memikirkan solusi terbaik yang akan lahir dari akal dan hati nurani yang tercerahkan buah puasa Ramadhan. Amin.

@KWA,2015 (*)

Categories: >>PERPUSTAKAAN UTAMA | 3 Komentar

BERPUASA CARA RASULULLAH


sumber: REPUBLIKA.CO.ID

Sebagai umat Islam, kita semua tentu bercita-cita bisa beribadah sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. Shalat seperti yang dicontohkan Rasul, makan, minum, tersenyum, dan amal ibadah lainnya seperti yang diajarkan Rasulullah SAW.

Tak mudah mengikuti seperti apa yang diberikan dan disampaikan oleh Rasul SAW. Sebab, beliau adalah teladan terbaik bagi seluruh umat manusia. Beliau adalah pemimpin yang tak ada bandingannya di dunia ini. Banyak orang mengakui keagungan dan kehebatan Rasulullah. Beliau adalah contoh bagi orang kaya dalam kedermawanannya, beliau adalah contoh bagi orang miskin dalam kesederhanaan dan kezuhudannya, dan Rasulullah SAW adalah teladan bagi pemimpin dalam ketegasan dan kebijaksanaannya.

Dalam Alquran, Allah memuji Rasulullah SAW sebagai suri teladan yang baik bagi umat. “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS al-Ahzab [33]: 21). Hal ini menunjukkan bahwa akhlak dan pribadinya sangat baik dan mulia.

Bahkan, dalam salah satu hadis yang diriwayatkan dari Aisyah RA dinyatakan bahwa akhlak Rasulullah SAW itu senantiasa merujuk pada Alquran. Karena itu, sudah selayaknya umat Islam mencontoh dan meneladani kepribadian Rasulullah SAW dalam segala hal, termasuk puasa. Berikut beberapa cara yang biasa dilakukan Rasulullah SAW dalam menjalankan ibadah puasa dan menghidupkan Ramadhan.

Berniat puasa sejak malam
Diriwayatkan dari Hafsah, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa yang tidak berniat untuk puasa Ramadhan sejak malam, maka tak ada puasa baginya.” (HR Abu Dawud).

Mengawali dengan sahur
Setiap akan berpuasa, Rasul SAW selalu makan sahur dengan mengakhirkannya, yakni menjelang datangnya waktu imsak.

Menyegerakan berbuka dan shalat
Dan ketika berbuka itu, Rasul SAW hanya memakan tiga biji kurma dan segelas air putih, lalu segera berwudhu untuk mengerjakan shalat Maghrib secara berjamaah.

Dari Abu ‘Athiyah RA, dia berkata, “Saya bersama Masruq datang kepada Aisyah RA. Kemudian Masruq berkata kepadanya, “Ada dua sahabat Nabi Muhammad SAW yang masing-masing ingin mengejar kebaikan, dan salah seorang dari keduanya itu segera mengerjakan shalat Maghrib dan kemudian berbuka. Sedangkan yang seorang lagi, berbuka dulu baru kemudian mengerjakan shalat Maghrib.” Aisyah bertanya, “Siapakah yang segera mengerjakan shalat Maghrib dan berbuka?” Masruq menjawab, “Abdullah bin Mas’ud.” Kemudian Aisyah berkata, “Demikianlah yang diperbuat oleh Rasulullah SAW.” (HR Muslim No 1242).

Memberbanyak ibadah
Selama bulan Ramadhan, Rasul SAW senantiasa memperbanyak amalan, seperti shalat malam, tadarus Alquran, zikir, tasbih, dan sedekah.

Iktikaf
Memasuki 10 hari terakhir di bulan Ramadhan, Rasul SAW meningkatkan aktivitas ibadahnya, terutama dengan iktikaf.
@@@

Categories: BERPUASA CARA RASULULLAH | 6 Komentar

SELAMAT RAMADHAN


KELUARGA BESAR KAMPUS WONG ALUS

MENGUCAPKAN

SELAMAT BERPUASA DI BULAN RAMADHAN

1436 HIJRIAH TAHUN 2015

SEMOGA AMAL IBADAH KITA SEMUA

SELAMA BULAN RAMADHAN

DITERIMA DISISI ALLAH SWT.

AMIN.

Categories: >>PERPUSTAKAAN UTAMA | 11 Komentar

MOHON DOA RESTU


GURU KWA ANGKATAN 33

kwa guru

1. KI WICAKSONO DONI PENANGGUNGAN — BALIKPAPAN— (08115442754)

2. KI WICAKSONO JAROT PENANGGUNGAN –LAMPUNG (081279951110)

3. KI WICAKSONO RUDIANTO PENANGGUNGAN –SULAWESI

Bertiga telah selesai melaksanakan pelatihan private GURU KWA dan mohon doa restu untuk mengabdi ke masyarakat. terima kasih dan salam paseduluran. @@@

Categories: >>PERPUSTAKAAN UTAMA

ASHABUL KAHFI


Di BADGE KWA ada tulisan yang berisi tentang nama-nama pemuda Ashabul Kahfi beserta anjingnya. Dirancang khusus oleh IMAM BESAR THARIQAH NAQSABANDIAH,  AULIA MAULANA SYEKH NAZIM ADIL AL HAQONI, maksud penulisan nama itu tiada lain untuk mengenang para pemuda penuh karomah yang diselamatkan Allah setelah melarikan diri dari ancaman raja yang menuhankan dirinya. Bagaimana kisah lengkapnya?

 kwa2Di Perpustakaan Nasional RI tersimpan lebih kurang 900 buah koleksi naskah Arab. Dalam naskah-naskah tersebut memuat berbagai kandungan isi, di antaranya: al-Qur´an, hadis, tauhid dan Tasawuf, fiqh (hukum), biografi, riwayat kenabian, ilmu pengetahuan, ilmu nahwu/sharaf, dan ilmu balaghah (sastra). Dari sejumlah naskah Arab tersebut, terdapat dua buah naskah berjudul “Qissah Ashab al-Kahfi” (Kisah Penghuni Gua) dengan nomor koleksi W 287.

Dalam al-Qur´an, kisah “Qissah Ashab al-Kahfi” terdapat dalam surat al-Kahfi. Berdasarkan penelusuran terhadap berbagai catalog naskah Arab, naskah ini merupakan naskah tunggal, karena hanya satu-satunya yang tersimpan di Perpustakaan Nasional RI.

Qissah Ashab al-Kahfi” ini beraksara Arab, bahasa Arab, bentuk prosa, 14 halaman. Judul Luar teks : Hâdzâ Qishshah Ashhab al-Kahfi wamâ jarâ lahum min al-Ajâib Judul dalam Teks : Akhbar al-Kahfi (hlm. 14). Ukuran sampul : 16 x 19,5 cm., Ukuran teks : 11 x 13 cm., Teks naskah tanpa garis bingkai, setiap halaman terdiri atas 13 baris, tulisan cukup baik dan jelas, ditulis dengan tinta hitam, di atas kertas Eropa yang sudah berwarna kecoklatan. Cap air garis berantai. Naskah dijilid dengan karton tebal, berlapis kertas marmer berwarna coklat, dan ditulis tanpa kolofon.

Syahdan, pada zaman kerasulan Nabi Musa as., ada seorang raja yang berkuasa di kota Tharthus atau Apsus bernama Dakyanus. Raja tersebut mengaku dirinya sebagai tuhan. Semua rakyatnya harus menyembah kepadanya. Akan tetapi ada enam orang pemuda yang beriman kepada Allah, mereka itu bernama: Tamlikha, Maksalina, Nurkasina, Albus, Kasthamina dan Kabsyatathu´an.

Karena tidak mau menuhankan raja Dakyanus, akhirnya dimasukkan ke dalam penjara; kemudian mereka mendapatkan pertolongan dari malaikat Jibril dan Mikail, sehingga bisa keluar dari penjara, kemudian melarikan diri dari raja.

Setelah perjalanan yang cukup jauh, sampailah mereka di suatu gunung, kemudian naik ke atasnya; tiba-tiba terlihat sebuah gua, kemudian masuklah mereka ke dalamnya. Setelah berada di dalam gua, Allah Ta´ala menjadikan mereka semua mengantuk kemudian tertidur; sedangkan raja Dakyanus bersama bala tentaranya mencari dan mengejar keenam pemuda tadi. Akhirnya bala tentara Dakyanus menemukan jejak keenam pemuda yang berada di gua. Akan tetapi bala tentara Dakyanus tidak mampu menuju gua karena di pintu gua dihadang oleh seekor anjing bernama KITHMIR dengan menampakkan kemarahannya, seakan-akan hendak memburu dan menerkam setiap orang yang berani mendekati pintu gua tersebut.   Namun orang yang dicari sedang tertidur di dalam gua selama 309 tahun.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abbas ra., ia ditanya tentang ayat Qur´an sebagaimana firman Allah Ta´ala: “Amhasibta anna ashhâba l-kahfi wa r-ragîmi kânû min âyâtinâ ´ajaban”. (artinya) Atau kamu mengira bahwa orang-orang yang mendiami goa dan (yang mempunyai) raqim/anjing itu mereka termasuk tanda-tanda kekuasaan Kami yang mengherankan. Sahabat bertanya: Ayat apa yang ada di dalam al-Qur´an al-Azhim? Jawabnya: Ayat al-Kahfi.

Pada zaman dahulu ada kota bernama “Tharsus” atau dengan nama lain “Afsus”. Mereka mempunyai raja bernama Dakyanus. Yang punya cerita berkata: Dakyanus itu mendakwakan dirinya sebagai tuhan selain Allah Azza Wajalla. Di dalam kekuasaannya itu terdapat enam orang pemuda yang sudah bersahabat, yaitu: 1. TAMLIKHA, 2. MAKSALINA, 3.NURKASINA,  4.  ALBUS,  5. KASTHAMINA, dan 6. KABSYATUTHA´AN. (di riwayat lain namanya berbeda yaitu:  Maxalmena, Martinus, Kastunus, Bairunus, Danimus, Yathbunus dan Thamlika)

Mereka itulah sebagai penghalangnya. Dan pada masa itu mereka berpegang kepada suhuf nabi Musa ´Alaihi s-Salam.  Pada suatu hari, di akhir malam Tamlikha memandang ke langit sambil memperhatikan bintang-bintang kemudian teman-temannya pun bangun dari tidurnya;  Lalu Tamlikha berkata kepada mereka: “Hai temantemanku! Siapa Tuhan kalian? Dan apa yang kalian sembah?” Mereka menjawab : “Kami menyembah raja Dakyanus.”

Tamlikha : “Apakah langit dan bintang-bintang ini Dakyanus yang membuatnya?” Mereka menjawab: “Tidak.” Tamlikha: “Bumi ini Dakyanuskah yang menghamparkannya?” Mereka menjawab: “Tidak.” Tamlikha: “Laut ini Dakyanuskah yang mengalirkan airnya?” Mereka menjawab: “Tidak.” Tamlikha: “Mengapa kalian menyembah raja Dakyanus; bukannya yang menciptakan alam ini semua?” Mereka menjawab: “Kalau begitu kami akan menyembah yang Maha Kuasa. Dan tentunya pasti ada Tuhan yang terlebih dahulu dari Dakyanus; yaitu Tuhannya Musa serta para nabi sebelumnya.”

Mereka menjawab : “Apa yang kau katakan, itulah pendapat yang benar; namun kami takut kepada harta dan diri kami atas perbuatan zalim raja ini.” Sebaiknya kita menyembah Tuhan yang menciptakan langit di waktu malam, dan melayani raja Dakyanus di siang hari.

Setelah mereka cukup lama menyembah Allah Ta´ala. Pada suatu hari, setelah malam gelap gulita, mereka melepaskan pakaian wol dan sutranya, kemudian memakai baju yang ditenun. Dan sepanjang malam mereka ruku´ dan sujud kepada Allah Ta´ala. Lalu Iblis laknatullah mengetahui perbuatan mereka dan memperhatikan ibadah mereka yaitu telah meninggalkan menyembah berhala. Kemudian iblis menghadap tuan raja Dakyanus; ia tunduk dan sujud di hadapan raja.

Raja berkata : “Hai orang tua! angkatlah kepalamu! hajatmu akan terlaksana.” Iblis: “Hai tuan raja, kedatanganku sebagai penasihat.” Raja: “Apa nasihatmu?” Iblis: “Bahwa Tamlikha dan kawan-kawannya makan rezkimu, tapi mereka menyembah selain kamu.” Raja: “Bawalah mereka ke hadapanku!”

Setelah Tamlikha dan teman-temannya datang menghadap raja; Raja berkata : “Apakah yang kalian sembah?”Mereka : “Kami menyembah yang apabila kami lapar Dialah  yang memberi makan. Apabila kami haus, Dialah yang member minum. Apabila kami tidak berpakaian, Dialah yang memberi pakaian. Apabila kami sakit, Dialah yang menyembuhkannya.”

Raja berkata : “Kalian benar, sayalah yang member makan, memberi minum, member pakaian, dan yang menyembuhkan.” Maka Tamlikha dan teman-temannya berpaling meninggalkan raja dengan rasa gembira. Kemudian pada hari kedua iblis mendatangi raja kembali, lalu sujud di hadapannya; Raja : “Hai orang tua, angkatlah kepalamu! Engkaukah yang berkata kepadaku kemarin; bahwa Tamlikha dengan teman-temannya makan rezki dariku, tetapi mereka menyembah selainku?”

Iblis : “Ya! Bahwa mereka menyembah Tuhan di langit yang namanya Allah. Bila Tuan Raja ingin mengetahui apa yang mereka kerjakan, silakan Tuan Raja bersumpah kepada mereka, bila mereka nanti datang kepadamu, apa sesungguhnya yang mereka sembah.” Setelah Tamlikha dan teman-temannya datang menghadap raja; Raja berkata : “Sekarang aku sudah tahu pasti, bahwa kalian menyembah Tuhan yang mempunyai langit, selain aku. Akan tetapi aku sekarang ingin bersumpah atas penghianatan kalian kepada diriku. Kabarkanlah kepadaku (Tuhan yang kalian sembah). Siapa Dia? Dari apa dia dibuat? Dari emaskah atau dari perak?”

Ketika itu pula Tamlikha bangun dan berkata:  Tamlikha : “Hai Tuan Raja! Langit ini Tuankah yang meninggikannya?” Raja : “Tidak.” Tamlikha : “Bumi ini Tuankah yang menghamparkannya?” Raja : “Tidak.” Tamlikha : “Binatang-binatang buas Tuankah yang menjadikannya?” Raja : “Tidak.” Tamlikha : “Karena itu kami tidak mau menyembah engkau hai Tuan raja, selain Allah Yang Maha Kuasa. Dialah yang meninggikan langit serta mengangkatnya, yang menghamparkan bumi serta meratakannya, yang mengadakan gunung serta meneguhkannya, Tuan raja dan yang lainnya lemah.”

Maka dengan kata-kata Tamlikha ini, Tuan Raja menjadi marah. Ia menyuruh pembantunya untuk membelenggu kedua tangan sampai lehernya (Tamlikha dkk.) serta diikat pula kedua kaki mereka, lalu dimasukkan ke dalam penjara.  Abu Abbas radliallahu ´anhu berkata: Adalah Raja Dakyanus pada setiap tahun mengadakan ied (hari raya). Dalam pelaksanaan ied itu, ia keluar dari kota kerajaan bersama seluruh penduduk selama enam hari.

Ketika saatnya tiba, seluruh penduduk kota ikut keluar semua, seorangpun tidak ada yang tinggal di kota, kecuali orang yang tidak sanggup keluar karena lemah, seperti yang yang sudah lanjut usia. Lalu semua pintu kota dikunci. Namun Tamlikha bersama teman-temannya berada di dalam penjara. Setelah Tuan Raja keluar, Tamlikha berdiri menghadap ke arah dua orang penjaga penjara yang rupanya sangat tampan, di tangannya memegang cambuk yang terbuat dari perak dan senjata dari emas. Kemudian salah seorang berkata: “Kenalkah kamu kepada saya?”

Tamlikha : “Tidak.”  Kedua orang : “Aku Jibril, yang satu Mikail. Jika kalian ingin keluar, silahkan melalui dinding ini.” Kemudian Tamlikha menceritakan hal itu kepada teman-temannya. Lalu mereka mendatangi kedua penjaga penjara tadi. Tamlikha berkata : “Hai penjaga penjara! Ketahuilah, sesungguhnya jika kami semua dibunuh, tentu penduduk kota ini banyak yang tidak tega, karena kami ini dari suku bangsa pilihan dan termasuk pembesar kerajaan, kamipun tidak akan selamanya dipenjara; sungguh dia sudah tahu kedudukan serta kemuliaan kami, maka mau tidak mau kami akan kembali lagi kepadanya (raja).

Sekarang bagaimana halmu kepada kami?” Penjaga penjara : “Apa mau kalian? Lakukanlah!” Tamlikha cs. : “Kami ingin supaya keluar dari penjara ini, supaya kami dapat masuk ke rumah kami, makan dan minum bersama keluarga kami, serta bersenang-senang dan tidur di tempat tidur bersama isteri kami dalam minggu ini sampai waktu kembalinya Tuan Raja ke kota kerajaan. Bila Tuan raja akan kembali ke kerajaan, kami kembali lagi dengan segera kepadamu.”

Penjaga penjara : “Aku dengar dan aku turuti.” Kemudian penjaga penjara itu melepaskan ikatan dan belenggu kepada mereka dan membebaskah mereka berjalan keluar, akan tetapi dengan syarat supaya mereka kembali lagi ke penjara sebelum kembalinya Tuan Raja ke dalam kota kerajaan.

Empunya cerita berkata: Kemudian mereka keluar dari penjara dan masing-masing pulang ke rumahnya. Lalu Tamlikha memanggil seorang laki-laki pembuat cambuk serta memerintahkan agar dapat membuatkan cambuk yang akan diberikan bagi setiap temannya dua buah cambuk yang terbuat dari perak dan senjata dari emas. Kemudian pembuat cambuk membuatkan apa yang diminta mereka, lalu ia menerima upahnya.

Setelah itu Tamlikha memberikan kepada setiap temannya dua buah cambuk, lalu mereka lewat di permukaan bumi bagaikan burung terbang (yang amat cepat) dengan gagah perkasa, sehingga mereka semakin menjauh dari kota dan jauh dari keramaian manusia kira-kira 3 farsakh (1 farsakh=  8 km.).

Ibnu Abbas berkata: Orang yang pertama kali menggunakan senjata adalah Tamlikha dengan teman-temannya. Tamlikha berkata kepada teman-temannya:  “Sekarang mari kita keluar dan naik ke gunung ini; lalu apa yang akan kita lakukan dengan pakaian sutra kita ini? Sementara mereka (orang-orang kota) sama dengan kita.”

Ketika mereka memandang ke bawah gunung, tiba-tiba terlihat seorang penggembala yang sedang menggembala kambing, lalu mereka menghampirinya dan berkata: “Hai penggembala! ambillah pakaian (sutra) kami, dan berikanlah pakaianmu kepada kami.” Penggembala terus memandang mereka karena keheranan atas ketampanan dan kegantengan mereka, serta lembutnya pembicaraan mereka.

Penggembala berkata : “Apakah kalian dalam keadaan goncang? Kalau begitu berpalinglah dari saya.” Tamlikha cs. : “Kami takut kepada Allah.” Penggembala : “Beri tahulah halmu kepadaku.” Tamlikha : “Hai penggembala! sungguh kami adalah orang yang melarikan diri dari Tuan Raja di kota ini untuk menuju kepada Allah yang telah menciptakan langit dan bumi.” Empunya cerita berkata: [hlm. 6] Saat itu penggembala menundukkan kepalanya di atas kedua kaki Tamlikha sambil mencium kedua kakinya itu, lalu berkata: “Hai rombongan pemuda! Aku adalah penggembala kambing di kampung ini, dan aku mendapatkan upah dari pemiliknya; bersabarlah kalian, sampai aku mengembalikan kambing-kambing ini kepada pemiliknya dan aku akan datang kembali kepada kalian.”

Kemudian penggembala tadi pergi untuk mengembalikan kambing tersebut kepada tuannya; setelah itu ia kembali lagi dengan segera; sedangkan Tamlikha dkk. menanti sampai penggembala kambing. Kemudian mereka meninggalkan tempat itu bersama penggembala. Mereka berkata : “Akan pergi kemana kamu wahai penggembala?” Penggembala : “Saya ikut melarikan diri bersama kalian menuju kepada Tuhanmu.” Ibnu Abbas berkata: Lalu mereka semua meninggalkan tempat itu, sedangkan penggembala membawa anjing, dan anjing itu pun ikut bersama mereka dan tidak mau berpisah.

Lalu mereka (teman-teman Tamlikha) menoleh kepada anjing sambil berkata: “Hai penggembala! Kami ini adalah orang yang melarikan diri dari Raja Dakyanus; oleh karena itu kembalikan saja anjing ini, agar seorangpun tidak ada yang tahu.” Penggembala “Ketahuilah! bahwa anjing ini apabila aku sujud menghadap Tuhanku iapun ikut sujud; dengan demikian aku malu kepadanya kalau aku mengusirnya. Lalu Tamlikha mengambil keputusan agar anjing tersebut diusir saja dan disambitnya dengan batu. Dengan hal itu secara tiba-tiba Allah Ta´ala menjadikan anjing itu berbicara dengan ucapannya: “Lâ ilâha illallâh Muhammadur rasûhullâh”.

Hai rombongan pemuda! Janganlah kalian mengusir aku, sungguh, aku kenal Allah sebelum kalian mengenal-Nya, tidak mengapa aku mengikuti kalian.” Dengan perkataan anjing tersebut keimanan mereka kepada Allah semakin bertambah. Firman Allah Ta´ala: “Wazidnaahum hudan” Artinya: Kami tambahkan kepada mereka petunjuk, atas perkataan anjing tadi. Kemudian mereka pergi bersama-sama anjing sehingga sampailah di suatu tempat padang rumput yang hijau, lalu mereka mendekati ke sebuah pohon besar, di bawahnya terdapat mata air yang mengalir dari sumbernya bagaikan suatu taman. Kemudian mereka duduk di sisi mata air tersebut sambil makan dan minum; kebetulan penggembala tadi membawa sebuah geribah (tempat air), lalu geribah tadi dipenuhi dengan air, kemudian mereka naik [hlm. 7] ke atas gunung, saat itu mereka berada pada waktu tengah hari dan sangat terik sengatan sinarnya, saat itulah mereka mendapatkan suatu rintangan yang amat berat; tiba-tiba terlihat di sana sebuah goa.

Di antara salah seorang berkata: “Siang ini sangat panas sengatan sinar matahari; bagaimana kalau kita masuk saja ke dalam goa itu?! Agar kita terhindar dari sengatan sinar matahari.” Di antara mereka menjawab: “Itulah pendapat yang benar”. Kemudian mereka semua masuk ke dalam goa; lalu Allah Ta´ala menjadikan mereka semua mengantuk dan tertidur.

Adapun Dakyanus telah kembali ke kota kerajaan, ia mendengar berita bahwa Tamlikha dkk. telah keluar dari penjara. Dengan demikian ia sangat marah dan memerintahkan kepada hulubalang untuk menangkapnya. Maka berangkatlah para hulubalang dan mengejar Tamlikha dkk. dan merekapun mendapati jejak Tamlikha dkk., mereka terus menelusuri sehingga sampai ke suatu tempat mata air yang pada waktu itu mereka duduk-duduk di sisinya sambil makan-makan. Mereka mendapati juga bekas makanan yang dimakan oleh Tamlikha bersama teman-temannya di bawah pohon itu.

Mereka (hulubalang) berkata: “Hai Tuan Raja! mungkin mereka lari saat ini juga; buktinya, inilah bekas-bekas (makanan yang mereka makan).” Tuan Raja : “Ikutilah terus jejak mereka!” Dalam peristiwa itu rajapun ikut mengejar bersama para Hulubalangnya; jumlah mereka lebih kurang tujuh puluh orang laki-laki yang gagah berani. Dan mereka berdiri di tengah jalan dengan pedang terhunus. Ketika mereka hampir sampai di dekat goa, Tuan Raja berkata kepada sebagian menterinya: “Kalau Tamlikha dengan teman-temannya berhenti di gunung ini, pasti mereka berada di dalam goa ini.”

Menteri berkata : “Hai Tuan Raja! sungguh kami dapati serombongan pemuda berjalan menuju goa ini dengan rasa ketakutan.” Lalu mereka semua mendatangi pintu goa; dengan tiba-tiba anjing mereka (Tamlikha dkk.) mengujurkan kedua lengannya di muka pintu goa. Maka Allah menampakkan kehebatan anjing itu di hati Raja Dakyanus dan para menterinya. Kemudian anjing itu kembali di sisi Tamlikha dkk., sehingga datanglah rasa takut di hati mereka (tentara Raja Dakyanus). Lalu mereka melemparkan dirinya ke punggung kudanya masing-masing dan berbalik arah melarikan diri karena ketakutan dengan anjing tadi [hlm. 8] sehingga sampailah mereka pada suatu tempat mata air, lalu Allah ta´ala timpakan pada lidah mereka menjadi bisu; akhirnya seorangpun tidak ada yang dapat berbicara di antara sesama temannya.

Raja berkata kepada mereka yang sudah sampai di pintu goa: “Apakah yang menghalangi kalian untuk masuk ke dalam goa?” Mereka menjawab : “Di sana ada anjing besar yang sedang menoleh dan menakutkan kami, sehingga tidak ada jalan lain bagi kami untuk menangkap mereka.”

Maka sebagian menteri-menterinya mendatangi pintu goa, tiba-tiba hati mereka berubah menjadi takut kepada anjing. Dan mereka melihat kepada Tamlikha bersama teman-temannya, dilihatnya mereka sedang tidur. Namun para menteri itu tidak sanggup mendatangi mereka karena rasa takut kepada anjing; dan mereka melihat baju wol yang dikenakan Tamlikha. Sebagian menteri berkata: “Hai Tuan Raja! bila Tuan mau menyiksa dan memenjarahkan mereka, tidak ada lagi siksaan yang lebih berat dari yang sebelumnya, dan jangan diberikan kepada makanan yang enak serta tempat tidur yang empuk, dan biarkan mereka memilih sengsara.” Empunya cerita berkata: Mereka berpaling pulang ke kota meninggalkan Tamlikha dkk. dengan sia-sia, dan usaha mereka gagal.

Ibnu Abbs ra. berkata: Dakyanus hidup dalam usia 170 tahun. Setelah ia mati, penggantinya adalah anaknya dalam usia 120. Setelah putra Dakyanus meninggal, Allah ta´ala mangutus Isa ´alaihis salam; kemudian mereka mengimaninya. Nabi Isa itu berkuasa selama Tamlikha bersama teman-temannya masih berada di dalam goa. Sesungguhnya mereka berada di dalam goa selama 309 tahun; dan Allah ta´ala mewakilkan kepada mereka kebesaran/kekuasaan yang mereka terima. “Dzaatal yamiini wa dzaatasy syimaali wa kalbuhum baasithun dziraa´aihi bil washiid” Artinya: “Dan Kami balik-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri, sedang anjing mereka mengujurkan kedua lengannya di muka pintu goa.”

Setelah mereka tertidur di dalam goa selama 309 tahun, di antara mereka berkata: “Kam labitstum qaaluu labitsnaa yauman au ba´dla yaumin” Artinya: “Sudah berapa lamakah kamu berada di sini? Mereka menjawab: Kami berada (di sini) sehari atau setengah hari.”

Qasthamina berkata: [hlm. 9] Kita masuk ke goa ketika matahari masih kurang tiga jengkal. Penggembala berkata: “Bersabarlah kalian, sampai aku melihat ke (luar) goa, karena aku mempunyai tanda-tanda; ketahuilah dengan tanda-tanda ini, kita berada di sini hanya beberapa jam pada hari ini juga.” Empunya riwayat berkata: Maka penggembala melihat ke arah itu, lalu ia melihat keadaan siang hari tidak lebih dan tidak kurang ketika mereka masuk ke goa. Lalu mereka menghadap Tamlikha dan berkata: “Sungguh kami sudah lapar, dan aku ini mempunyai uang; sebaiknya salah seorang di antara kita berangkat membeli roti dengan uang ini untuk kita makan bersama.”

Tamlikha berkata : “Siapa yang sanggup pergi ke kota? sedangkan kita takut kalau ada orang yang mengetahui keberadaan kita, tentu ia menangkap kita dan dihadapkan kepada raja. Tapi sudahlah, aku sendiri saja yang keluar, nanti aku bawakan sesuatu untuk kalian makan.”

Empunya riwayat berkata: Maka Tamlikha keluar dari goa, sampailah ia di suatu tempat bekas mata air dan padang rumput; namun tidak didapati bekas keduanya itu. Saat itu ia merasa heran dan berkata di dalam hatinya: “Sebenarnya di sini ada pohon, ada mata air yang mengalir, serta padang rumput yang hijau.” Lalu ia mempelajari bekas-bekas itu; “Ini aneh sekali…”

Maka dengan cepat Tamlikha kembali kepada teman-temannya dan memberitahukan mereka hal-hal yang terjadi. Lalu mereka semua merasa heran atas kejadian itu. Mereka berkata : “Pergilah atas hajatmu dahulu, dan berhati-hatilah dari Tuan Raja serta penduduk kota, jangan sampai mereka mengetahui; setelah itu kembalilah segera karena kami sudah

sangat lapar.”

Empunya riwayat berkata: Maka Tamlikha pergi ke kota, tiba-tiba ia bertemu penggembala kambing, lalu ia bertanya kepadanya: “Tahukah anda tentang Raja Dakyanus? Beliau sudah kembali atau belum dari berhari raya (ied)?” Penggembala : “Apa itu Dakyanus?” Tamlikha: “Raja di kota ini!”

Penggembala : “Yang berkuasa sekarang adalah Isa binti Maryam. Sedangkan nama yang kau sebut tadi aku tidak mengenalnya dan aku tidak pernah mendengarnya, kecuali dari kamu.”

Empunya riwayat berkata: [hlm. 10] Maka Tamlikha pergi meninggalkan penggembala tadi, kemudian ia bertemu dengan dua orang laki-laki; Tamlikha bertanya: “Apakah kalian sudah mendengar berita tentang Raja Dakyanus? beliau sudah kembali atau belum dari berhari raya?!” Mereka menjawab : “Siapa Raja Dakyanus yang kau katakan tadi itu? Kamu mimpi atau sadar?” Tamlikha : “Sungguh aku tidak mimpi.”

Kedua laki-laki : “Umurmu sebaya dengan kami, namun kami tidak pernah mendengar nama yang kamu sebutkan tadi, kecuali dari kamu.”

Tamlikha : “Kalau kamu mimpi sadarlah! Dan kalau kamu mabuk cepat sembuhlah! Siapa

kalian? Masa kalian tidak kenal Raja Dakyanus?” Kedua laki-laki : “Pergilah kepada pekerjaanmu, Allah bersamamu dan akan menunjuki kamu ke jalan yang benar.” Maka Tamlikha pergi meninggalkan laki-laki tadi, kemudian sampailah di gerbang kota; tiba-tiba terlihat olehnya tulisan yang berbunyi: “Laa Ilaaha Illallah ´Isa ruuhullah wa nabiyyuhu wa rasuuluhu wa mablagha risaalatuhu”.

Empunya riwayat berkata: Dengan kejadian itu Tamlikha menjadi heran. Kemudian ia masuk ke kota dan mendatangi warung roti, lalu ia mengeluarkan uang yang tertulis dengan nama dan gambar Raja Dakyanus serta mahkota berada di atas kepalanya, dan mahkota di atas keningnya tertulis “Raja Dakyanus”. Ketika uang itu berada di tangan tukang roti, tukang roti lama sekali menatap kepadanya. Kemudian Tamlikha keluar dari

warung, lalu dipanggil kembali oleh tukang roti: “Hai pemuda! Dari mana kau dapati uang ini? Sungguh uang ini adalah uang kuno; kalau kamu masih punya simpanan keluarkan saja dan serahkan kepada raja, kemudian kamu minta ganti yang sesuai agar menjadi halal.”

Tamlikha : “Uang ini adalah uang kerajaan Dakyanus, aku keluar meninggalkan Raja Dakyanus dari kota ini tadi sore, tukang roti serta para pedagang lainnya berjual beli menggunakan uang ini.” Empunya riwayat berkata: Maka tukang roti mengambil uang tadi dari tangan Tamlikha, lalu ia pergi bersama Tamlikha menghadap raja dan menceritakan tentang uang tadi. Raja : “Dari mana uang ini? Simpanan uangku tidak ada yang serupa dengan uang ini, [hlm. 11] dan aku tidak pernah memerintah untuk mencetaknya.” Tamlikha : “Tuan Raja! aku keluar dari kota ini tadi sore, dan aku pergi meninggalkan Tuan Raja Dakyanus.” Raja : “Hai pemuda! Kalau betul kamu keluar dari kota ini tadi sore, apakah kamu kenal salah seorang dari keluargamu? Tamlikha : “Ya! Aku kenal isteriku, keluargaku, tetanggaku dan rumahku.” Raja : “Berangkatlah kamu kepada mereka, lihatlah keluargamu, tetanggamu dan rumahmu!”

Empunya riwayat berkata: Kemudian berangkatlah Tuan Raja, para hakim, dan penduduk kota; mereka berjalan di belakang Tamlikha. Semua berjalan melalui jalan raya dan jalan sempit untuk menyelidiki kebenarannya. Namun tidak ada seorangpun dari mereka yang mengenalnya, dan mereka semua tidak ada yang tahu jalan menuju rumahnya. Maka Tamlikha mengeluh di dalam hatinya, kemudian ia mengangkat matanya ke langit dan melontarkan pandangannya sambil berkata: “Hai Tuhan yang menciptakan langit dan bumi! tunjukanlah aku jalan menuju rumahku!” Lalu Allah ta´ala berwahyu kepada Jibril ´alaihis salam supaya turun kepada hamba-Ku Tamlikha dengan sifat (wajah) tetangganya.

Ibnu Abbas berkata: Maka Jibril turun dan berhenti di sisi Tamlikha, kemudian ia hampiri dan dipeluknya, lalu ia menunjuki jalan menuju rumahnya. Tamlikha berkata : “Hai Tuan Raja! Inilah rumahku.”  Maka Tuan Raja memanggil penguni rumah serta para tetangganya. Tuan Raja berkata kepada mereka: “Kenalkah kalian kepada pemuda ini?” Mereka : “Tidak, demi Allah, kami tidak mengenalnya, dan kami belum pernah melihatnya kecuali sekarang ini.”

Raja : “Siapakah penghuni rumah ini? Dan dimana orangnya?” Mereka : “Penghuni rumah ini seorang laki-laki yang sudah tua, dan usianya sudah 120 tahun.” Raja : “Hadapkan orang tua tersebut kepadaku!”  Maka datanglah orang tua itu dan menghadap Tuan Raja. Raja : “Hai orang tua! Pemuda ini mengaku bahwa rumah ini miliknya, bukan milikmu.” Orang tua: “Cukuplah pertanyaanmu sampai di sini. [him. 12] Hai pemuda! Tidakkah kamu lihat, aku ini sudah tua, tulangku sudah rapuh, badanku sudah kurus, tulang belulangku sudah bongkok, alisku sudah turun, lantaran sudah lanjut usiaku. Sungguh rumahku ini diwariskan dari ayahku, dan ayahku dari kakekku sampai hari ini. Apakah pemuda ini mau menyingkirkan aku; lantas kau mengakui rumah ini? Kau masih kecil; mengapa kau tidak malu atas pengakuanmu itu tanpa  ada keterangan yang nyata, tanpa saksi dan bukti?”

Raja : “Hai pemuda! Dengarkah kamu yang diucapkan orang tua ini? Demi Allah, urusanmu ini aneh sekali. Di kota ini seorangpun tidak ada yang mengenal kamu. Aku tidak tahu apa yang akan kau lakukan di kota ini.”  Tamlikha : “Tuan Raja! Aku mempunyai tanda-tanda di dalam rumah ini. Dan betul ini adalah rumahku. Demi Tuhan yang menciptakan langit dan bumi.”

Raja : “Apakah tanda-tandamu itu?”  Tamlikha : “Di dalam rumah ini ada dua buah tiang yang terukir di tengah majlis, tiang yang satu dipenuhi dengan uang emas, dan yang lain dipenuhi dengan mata uang semacam ini, yaitu uang Raja Dakyanus.” Empunya cerita berkata: Ketika Tuan Raja mendengar perkataan Tamlikha tadi, lalu ia masuk ke dalam rumah bersama penduduk kota dan mendatangi kedua buah tiang yang terukir sebagaimana yang diucapkan Tamlikha. Raja : “Hai orang tua! Pemuda ini lebih tahu dari

kamu, dan dialah yang lebih berhak atas rumah ini.”

Maka saat itu juga orang tua masuk ke dalam rumah dan mengambil peti yang terbuat dari perak, di atas peti itu ada kunci terbuat dari emas, lalu dibukanya peti itu kemudian dikeluarkan dari dalamnya sebuah kain berwarna merah, dari dalam kain itu diambil sebuah surat dan dibentangkannya; ternyata surat itu berisi peringatan (yang berbunyi) “Sesungguhnya Allah yang menciptakan langit dan bumi dan yang menjadikan makhluk semuanya, Maha Bijaksana Lagi Maha Adil”. Kemudian orang tua itu menatap Tamlikha sambil membaca surat, lalu ia menangis.

Raja bertanya : “Apa yang kau tangisi hai orang tua?” Orang tua : “Aku menangisi apa yang ada di dalam surat ini.” [hlm. 13] Empunya riwayat berkata: Maka orang tua itu menoleh kepada Tamlikha sambil berkata: “Hai kesayanganku, Siapa namamu?” Tamlikha : “Nama saya Tamlikha.” Dengan demikian orang tua itu mencium kedua tangan dan kaki Tamlikha.

Raja : “Mengapa begini hai orang tua?” Orang tua : “Ini adalah kakekku.” Demikianlah cerita di dalam sejarah pemuda ini keluar dari kota selama 309 tahun. Ia meninggalkan isterinya yang sedang mengandung anak. Di kota ini ada seorang raja bernama Dakyanus. Dia adalah termasuk orang yang hidup pada zaman dahulu (zaman Nabi Musa) Dia mengaku dirinya sebagai Tuhan selain Allah ta´ala. Maka pemuda ini melarikan diri bersama-sama temannya dari Raja Dakyanus. Empunya riwayat berkata: Dengan kejadian semacam ini, Tuan Raja serta penduduk kota datang mencium kedua tangan dan kaki Tamlikha, kemudian mengucapkan selamat kepadanya serta akan menjamin kehidupannya.

Raja berkata : “Mari kita pergi kepada teman-temanmu (Tamlikha), kami ingin melihat wajah mereka.” Maka Tuan Raja, para hakim dan penduduk kota keluar menuju goa tersebut. Tamlikha berkata : “Berhentilah di tempat ini, saya akan masuk menemui teman-temanku dan aku beritahu kejadian ini kepada mereka; karena mereka menyangka bahwa zaman ini adalah masih zaman Raja Dakyanus; sudah barang tentu mereka takut

kepadanya.”

Kemudian raja dan kaumnya berhenti semua, sampai Tamlikha masuk menemui teman-temannya. Tamlikha berkata kepada mereka: “Hai saudaraku! Tahukah kalian, sudah berapa lama kita di sini?” Mereka menjawab : “Kita berada di tempat ini satu hari atau setengah hari.” Tamlikha : “Bahkan kalian di sini 309 tahun. Dan sekarang semua penduduk kota mengimani Nabi Isa binti Maryam ´alaihis salam. Dan pada hari ini mereka semua termasuk orang yang baik, shaleh dan beragama yang tetap.”

Mereka berkata : “Bangunlah kalian! mari kita berdoa: “Hai Tuhan kami, kembalikanlah kami ke masing-masing tempat tidur kami, karena kami tidak perlu hidup lagi”. Ibnu Abbas berkata: Maka Allah ta´ala memanggil mereka, lalu dicabutnya arwah mereka semua. Empunya riwayat berkata: Ketika Tamlikha berjalan perlahan-lahan  menuju Tuan Raja dan pengikutnya, Tuan Rajapun serta pengikutnya mendatangi goa tersebut. Tiba-tiba nampak bagi mereka di pintu goa itu suatu kehebatan dengan izin Allah ta´ala, sehingga seorangpun di antara mereka tidak ada yang sanggup memasukinya. Mereka hanya dapat memberikan salam dengan ujung jarinya saja. Kemudian mereka semua pulang ke kota dalam keadaan terheran-heran atas qadrat Allah ta´ala.

Selesailah sampai di sini kabar “Ahlul Kahfi” Rahimahullahu ta´ala ´ala t-tamam, wal hamdu Lillahi Rabbil ´Alamin, washallallahu ´ala sayyidina Muhammadin wa alihi wa shahbihi wa sallam tasliman katsiran thayyiban mubarakan. Amiin.

@2015,kwa

Categories: KISAH ASHABUL KAHFI | 7 Komentar

GATHERING KWA JAYAKARTA


Alhamdullilah, acara Gathering KWA Jkt pd hari Selasa 2 Juni 2015 berjalan dengan lancar. Walau masih banyak kekurangan disana-sini, tetapi hal itu masih bisa dimaklumi mengingat ini adalah acara yg pertama kali diadakan sejak th 2013.

Terima kasih kami ucapkan kepada sedulur sekalian yg telah menyempatkan diri untuk hadir dan meluangkan waktu di acara Gathering ini.

Salah satu hal penting dlm acara Gathering KWA Jkt kemarin adalah pergantian posisi Ketua KWA Jkt. Dimana posisi Ketua KWA Jkt yg sebelumnya dipegang oleh Bapak Eko Sutopo (Ki Thanmustthepost), untuk sementara dipegang oleh KI Bayu sampai terpilihnya Ketua baru di bulan Agustus nanti. Terima kasih atas pengabdian ki thanmustthepost selama ini.

Dan sebagai Pjs Ketua KWA Jkt maka nama KWA Jakarta diubah menjadi KWA Jayakarta (Jykt). Hal ini untuk mengganti semangat lama menjadi semangat baru dan untuk menandakan kebangkitan serta perubahan manajemen di dlm tubuh KWA Jayakarta sendiri.

Sampai bertemu di kegiatan KWA Jykt selanjutnya.

Catatan :
Akan diadakan acara Silaturahmi KWA Jayakarta yg direncanakan akan diadakan pd hari Minggu tgl 9 Agustus 2015, bertempat di Kebun Binatang Ragunan. Dengan Agenda pembentukan pengurus baru KWA Jykt dan program kerja ke depan.

ttd

Bayu

DSC02583DSC02569DSC02566DSC02565DSC02562DSC02561DSC02528 DSC02534DSC02543DSC02546DSC02548DSC02550DSC02560

Categories: >>PERPUSTAKAAN UTAMA | 9 Komentar

IJASAHAN ULANG ILMU KALIMAH TIGA 2015


TANDA SEORANG PENDEKAR ILMU HIKMAH YANG MUMPUNI: SEMAKIN TINGGI ILMU MAKA DIA AKAN SEMAKIN MERUNDUK, BISA ‘NGEMONG’ ATAU MEMBIMBING ORANG LAIN DAN BANYAK MENGALAH. MAKA SEDULUR… JADIKANLAH ILMU INI SEBAGAI SARANA UNTUK MENDEKATKAN DIRI KEPADA ALLAH SWT. BUKAN UNTUK PAMER KEKEBALAN, BUKAN UNTUK PAMER KEKUATAN, PAMER KESAKTIAN DAN KESOMBONGAN.

DI AWAL JUNI 2015 INI SAYA  MENGADAKAN IJASAHAN ULANG ILMU KALIMAH TIGA  KEPADA PARA SEDULUR YANG MEMBUTUHKANNYA DENGAN HAK DAN SEMPURNA ATAS IJIN ALLAH SWT….

BERIKUT TATA CARANYA:

TAWASSUL SEMPURNA (KIRIM AL FATIHAH KE RASULULLAH, SEMUA NABI SEMUA WALI SEMUA MUSLIMIN DAN MUSLIMAT BAIK YANG SUDAH MENINGGAL MAUPUN YANG MASIH HIDUP), PARA PENGIJASAH, AYAH IBU DAN LELUHUR ANDA SERTA DIRI ANDA SENDIRI…..

###TINGKAT PERTAMA UNTUK KEKEBALAN – KEKUATAN SEMPURNA SEBAGAI SARANA IBADAH, KEKUATAN KONSENTRASI PIKIRAN.

BISMILLAHIRROHMANIRROHIM.

LA BULU DAN KULIT, ILAHA DARAH DAN DAGING, ILA URAT DAN TULANG, ALLAH OTAK DAN SUMSUM BERKAT KALIMAH LA ILAHA ILALLAH  1000 X selama 10 hari

=================================================

#####TINGKAT KEDUA UNTUK KESELAMATAN LAHIR BATIN SEMPURNA, REJEKI TAK TERBATAS, MAHABBAH/PENGASIHAN/JODOH IDEAL KARENA ALLAH BUKAN KARENA NAFSU, KEKUATAN SANDARAN HIDUP HANYA PADA ALLAH, MEMBUKA JALUR KHUSUS HUBUNGAN DENGAN ILAHI, PELENYAPAN DIRI EGO DAN ADANYA ALLAH DALAM HIDUP KITA

BISMILLAHIRROHMANIRROHIM.

ZIKIRKU DI KANDUNG ALLAH, BADANKU DI KANDANG RASULULLAH, PINTU QALBI HIDAYATULLAH, TERANGKANLAH JALANKU WARAHMATULLAH, AKU TIDUR DI DALAM BAITULLAH, BANTAL AKU LAM JALALLAH, LENYAPKAN AKU DALAM KALIMAH LA ILAHA ILALLAH 1000 x selama 10 hari

==================================================

####### TINGKAT KETIGA UNTUK MENDAPATKAN PEMBIMBING GOIB DAN NYATA/ LAHIR DAN BATIN AGAR SUKSES HIDUP KITA DI AKHIRAT DAN DUNIA

BISMILLAHIRROHMANIRROHIM.

YAA ALLAH YAA RASULULLAH  YAA KHIDIR YAA QODIR YAA SYADZILI  YAA  ANA  1000 x selama 10 hari

===============================================================

TATA CARA DAN SYARIAT:

Hayatilah dan hapalkan tingkatan ilmu ini dan resapilah sesempurna-sempurnanya. Jauhi dosa dan maksiat. Sukailah puasa dan riyadhoh-riyadhoh lain sebagaimana yang dituntunkan agama. Laksanakan amar makruf dan nahi munkar dan bertindaklah dewasa. Semakin anda mampu menyempurnakan hidup sesuai dengan amal perbuatan maka Insya allah Anda akan mampu menguasai ilmu hikmah ini dengan sempurna atas ijin Allah SWT.

==========================================================================

@PENYELARASAN@

Bagi sedulur yang membutuhkan penyelarasan ILMU KALIMAH TIGA, kami sampaikan bahwa kami akan mengadakan penyelarasan jarak jauh SEBELUM ATAU SETELAH ANDA MENJALANI LAKU ILMU INI pada:

HARI: KAMIS
TANGGAL: 4 JUNI 2015
PUKUL: 21.00 WIB S/D 21.15 WIB
TEMPAT: RUMAH ATAU LOKASI MASING MASING. BOLEH DI LUAR RUMAH/ALAM TERBUKA INSYA ALLAH AKAN LEBIH TERASA POWERNYA…

Kami mohon saudara pada jam itu untuk:

1. duduk diam (POSISI MEDITASI / POSISI WIRID.

2. membaca ISTIGHFAR selama kurang lebih 5 menit

3. LANJUTKAN DENGAN NIAT DALAM HATI sbb: SAYA TERIMA PANCARAN TENAGA KALIMAH TIGA JARAK JAUH DENGAN HAK DAN SEMPURNA DARI KI WONGALUS ATAS IJIN ALLAH SWT.

4. Selanjutnya  lanjutkan dengan WIRID ILMU KALIMAH TIGA tingkat pertama dan seterusnya (terserah sesuai kemampuan). Kalau belum hapal, boleh dengan membaca wirid di kertas.

Demikian terima kasih.

@WONGALUS@

Categories: IJASAHAN ULANG ILMU KALIMAH TIGA 2015 | 58 Komentar

PROGRAM PELATIHAN PARANORMAL PROFESIONAL (TINGKAT GURU)


kwaDalam rangka menunjang kesiapan SDM yang berminat di bidang jasa keparanormalan maka bersama ini kami sampaikan bahwa PROGRAM PELATIHAN PARANORMAL PROFESIONAL (TINGKAT GURU) akan digelar lagi pada tanggal 6 sd 7 Juni 2015 bertempat di SIDOARJO.

WAKTU DAN TEMPAT PELAKSANAAN

Program Pelatihan akan dilangsungkan mulai pada hari SABTU PAGI JAM 08.00 WIB tanggal 6 MEI sampai MINGGU PAGI JAM 08.00 WIB tanggal 7 MEI 2015 atau selama 24 JAM pelatihan intensif bertempat di wilayah SIDOARJO (tempat dirahasiakan).

TEMPAT BERKUMPUL:

Peserta BERKUMPUL di markas KWA, Mushola Balai Diklat jl Majapahit 5 Sidoarjo sebelah kompi senapan 516 selatan RSUD Sidoarjo. Dari markas, peserta bersama-sama menuju lokasi dengan kendaraan yang disediakan panitia.

PESERTA
Peserta pelatihan untuk masyarakat UMUM dengan jumlah kami batasi  agar pemberian materi bisa maksimal.

TRAINER
Trainer Pelatihan ini adalah Ki Wong Alus dari CV Motivasindo Perkasa —usaha jasa berbadan hukum yang menangani pelatihan pengembangan SDM, pengelola dan pendiri http://www.wongalus.wordpress.com, pemegang sertifikasi TOT/TOC yang telah berpengalaman dalam bidang pengembangan SDM.

MATERI DAN METODE

Materi pelatihan ini adalah PENGIJAZAHAN ILMU-ILMU KEPARANORMALAN meliputi di antaranya: ILMU NGESTI, ILMU PENGOBATAN, ILMU KEREJEKIAN, ILMU PELET/PENGASIHAN/PERJODOHAN, ILMU KEKUATAN-KEKEBALAN, ILMU TERAWANGAN, ILMU MERAGA SUKMA (OUT OF BODY EXPERIENCE), INTI BESI QURSANI, PEMANGGILAN KHODAM AYAT KURSI, ILMU PENGISIAN ENERGI KE BENDA-BENDA, ILMU TARIK BENDA MUSTIKA dan ILMU-ILMU HIKMAH LAINNYA yang dilanjutkan dengan pengamalan langsung bersama trainer dan asistensi/pendampingan langsung.

Metode pelatihan ini menganut ‘Two Way Active System’ yang melibatkan semaksimal mungkin interaksi dua arah antara trainer dan peserta. Peserta mendapatkan bimbingan intensif dan CARA-CARA PRAKTIS MENGUASAI ILMU-ILMU tersebut. Sekaligus konsultasi tahapan perkembangan spiritual secara pribadi dan mendalam. Program pelatihan memadukan ilmu, teori, tanya jawab dan sekaligus praktik tahapan kemajuan yang berlangsung dengan komposisi secara berimbang.

kwa-private2INVESTASI
Pembiayaan program pelatihan ini dilakukan secara otonom dan mandiri. Tidak ada donatur dari siapapun sehingga peserta dikenakan biaya total sebesar Rp 5.700.000,- (lima juta tujuh ratus ribu rupiah).

TATA CARA PENDAFTARAN

SMS kan niat anda mengikuti program ini ke 081-234588111 (ki wongalus). Kami hanya menerima peserta yang SERIUS dengan mengirim SMS dan kami tidak menerima tanya jawab via telepon.

Selanjutnya Transfer biaya pelatihan lengkap sebesar Rp 5,700.000,- sebelum pelaksanaan (biaya PALING LAMBAT kami terima  dua hari sebelum pelatihan.

BANK BNI (kode transfer 009) nomor rekening: 0339523244  atas Nama Muhammad Wildan.

SAMSUNG CAMERA PICTURESPENUTUP

Demikian rencana ini disampaikan agar saudara bisa mempertimbangkannya secara bijaksana. Diharapkan dengan terselenggaranya Program Terbatas ini nantinya peserta akan menjadi paranormal yang profesional dan bertanggungjawab dalam melayani klien/costumer masyarakat dan ikut serta berpartisipasi dalam pembangunan nasional.

Demikian untuk menjadikan periksa dan terima kasih.
Penanggung Jawab Program
ttd

KI WONGALUS

Categories: >>PERPUSTAKAAN UTAMA

HADIRI GATHERING KAMPUS WONG ALUS (KWA) JAKARTA 2015


——————————————————————————-

Dari Anggota, Oleh Anggota dan Untuk Anggota KWA Jakarta

——————————————————————————-

 Ass Wr Wb.

Dengan Hormat,

Kepada Bapak Muhammad Wildan selaku Pemilik &Pendiri KAMPUS WONGALUS, Bapak Eko Sutopo (thanthemusthepost) selaku ketua KWA Jakarta, para Pinisepuh, Sesepuh, Senior, Alumni KWA, anggota KWA dan calon anggota KWA yang tidak dapat disebutkan satu persatu.

Kampus Wong Alus (KWA) sebagai blog supranatural terbesar di Indonesia dan telah dikunjungi oleh 57,341,477 Orang pembaca (data per tgl 19 Mei 2015 pukul 10:54 WIB). Dengan jumlah kunjungan itu sudah bisa dipastikan KWA memiliki banyak pembaca setia blog. Untuk menjalin tali silaturahmi dan saling mengenal diantara para pembaca blog KWA, khususnya KWa Jakarta, maka akan diadakan Gathering KWA Jakarta. Dalam acara Gathering ini akan diadakan kegiatan Bakti Sosial dari, oleh dan untuk anggota KWA Jakarta. Kegiatan ini terbuka untuk umum dan dapat diikuti oleh masyarakat umum dan sekitarnya.

Acara Gathering KWA Jakarta ini diharapkan dapat dijadikan sebagai MOMENTUM bagi KWA daerah lainnya untuk bangkit kembali dan mendarmabaktikan potensi yang dimilikinya dalam bentuk bakti sosial ke masyarakat umum.

 Acara Gathering KWA Jakarta ini akan diadakanpada :

Hari / Tanggal    :  Selasa / 2 Juni  2015 (hari libur nasional)

Waktu                  :  Pukul  08:00 WIB  – selesai

Tempat                :  Lapangan Monas Sisi Barat  (berseberangan dengan Museum Gajah)

                                Jakarta  Pusat

Dress  Code        :  –  Mengenakan Kemeja/Kaos KWA atau

                                   –  Mengenakan atribut KWA

Dan Berikut kami sampaikan daftar para Pengisi Acara dan Pengisi Lapak yang berkenan mendarma baktikan ilmu dan kasepuhannya untuk disampaikan dan diberikan kepada para Bolo Wongalus Jakarta.

 Pengisi  Acara:

  • Ki Angker Ludiarto– >Bedah buku “Jawaahirul Lammaa’ah” (Cara untuk mendatangkan Raja Jin pada setiap saat dan waktu)
  • Ki Dagoel Badrayana –>Totok Gaib untuk booster tenaga dalam
  • Ki Dedy Nenggala –>Talk Show “Pelatihan yoga untuk meningkatkan kemampuan ilmu kebatinan”
  • Ki Nurjati –>Talk show “Cara memaksimalkan power ilmu Rajeh Dirajeh (RDR)”

 

Lapak  Pengobatan:

  • Ki Angker Ludiarto –>Pengobatan dengan metode Ruqyah
  • Bayu Agni  –>Pengobatan Gurah Mata dengan tiupan
  • Jaka RD  –>Pengobatan dengan metode Bekam
  • Ki Nurjati –>  Pengobatan Medis & Non Medis

 

 Susunan  AcaraGathering KWA Jakarta

Jam 08:00 -09:00 WIB 

Acara : Menerima kedatangan peserta Gathering, absensi peserta dan informasi tentang Gathering KWA Jakarta

Perlengkapan : Alat tulis menulis, formulir absensi peserta dan jadwal acara.

Pos  Absensi        :  Teguh Parjianto, Leni Marlina

Jam 09:00 – 09:30 WIB

Acara          : Pembukaan acara Gathering KWA Jakarta yang akan diisi oleh sambutan Ketua KWA Jakarta (Bapak Eko Sutopo) dan do’a bersama.  Dalam acara ini juga akan                                              diperkenalkan Panitia Gathering

Perlengkapan                    :  Sound System

Pos  Pembukaan              : Eko Sutopo, Ki Angker Ludiarto

 Jam 09:30-10:15 WIB

Acara                                     :  Talk Show“Pelatihan yoga untuk meningkatkan kemampuan ilmu kebatinan”

Pos  Talk Show                  :  Ki Nenggala Dedy Penanggungan

 Jam 10:15- 11:00 WIB

Acara                                     :  Bedah Buku “Jawaahirul Lammaa’ah” (Cara untuk mendatangkan Raja Jin pada

                                                setiap saat dan waktu)

Pos  Bedah  Buku             :  Ki Angker Ludiarto

 Jam 11:00-11:45 WIB

Acara                                     :  Talk Show “Cara memaksimalkan power ilmu Rajeh Dirajeh (RDR)”

Pos  Talk  Show                 :Ki Nurjati

 Jam 11:45-12:30 WIB

Acara  Diskusi                     :  Mengenai KWA Jakarta (mau dibawa kemana dan apa saja kegiatannya)

Pos  Diskusi                         :  Seluruh Pengurus KWA Jkt dan peserta yang hadir

 Jam 12:30-13:30 WIB

ISHOMA (Istirahat, Shalat, Makan)

 Jam 13:30 -15:30 WIB

Acara                                     :  Pengarahan &Pembukaan  Lapak  Pengobatan

PosLapak  Pengobatan  :Ki Angker Ludiarto, Bayu Agni, Ki Dagoel Badrayana, Jaka RD dan Ki Nurjati

 Jam 15:30 – 16:00 WIB

Acara                                     :Penutupan acara Gathering KWA Jakarta yang akan diisi oleh Sesepuh KWA

                                                    Jakarta dan do’a bersama

Perlengkapan                    :  Sound System

Pos  Penutupan                :  Sesepuh KWA Jakarta, Ki Angker Ludiarto

  Bagi Alumni KWA, anggota lama maupun calon anggota KWA Jakarta, diharapkan kehadirannya pada acara Gathering KWA Jakarta ini, agar terjalin tali silaturahmi diantara sesama warga KWA.

 Untuk warga KWA yang ingin menjadi Pengisi Acara, Pengisi Lapak ataupun ingin menghibahkan untuk pelaksanaan Gathering KWA Jakarta ini dapat menghubungi saya, Anyabrea Valentine aka Ki Ageng Bayu Penanggungan di nomor 0877 7557 3775.

Categories: GATHERING KWA JAKARTA 2015 | 44 Komentar

KEMBALI KE ALAM


KEMBALI KE ALAM ADALAH MENYATU DENGAN ALAM, YAITU PERSATUAN KEHENDAK, KEINGINAN DAN HARAPAN ANTARA MANUSIA DAN ALAM.

(Sebagai dasar metafisis memahami ilmu sangkan paraning dumadi, ilmu sejati, ilmu putih, ilmu kebatinan,  dan semua ilmu gaib yang diciptakan dan dikarang oleh manusia).

Kita sering mendengar istilah BACK TO NATURE atau kembali ke alam. Apa hakikat sebenarnya “kembali ke alam” tersebut? Sejak jaman romantik yaitu sekitar tahun 1750 sebagai reaksi terhadap semua tekanan penggunaan rasio (akal) dan empiri (indera pengamatan), muncul kecenderungan di peradaban barat peranan penggunaan perasaan, feeling, intuisi untuk mengetahui hakikat manusia, dunia dan seisinya serta Tuhan. Penggunaan akal dan indera pengamatan yang berlebihan dianggap menumpulkan naluri kemanusiaan dan melahirkan kemandegan kemajuan peradaban manusia. Maka jaman romantic adalah jaman di mana lahir sebuah gerakan di dalam agama, seni, puisi rakyat, sastra (Rousseau, Victor Hugo, Walter Scott, Keats, Shelley, Herder, Holderlin) dan musik (Beethoven, Mozart, Schubert, Chopin, Bahms), termasuk menyentuh ke wilayah teologi dan filsafat.

Peradaban yang melulu dibangun dengan akal dan empiri memang pada akhirnya akan membawa pada kehancuran. Kita terasa hidup dalam sebuah wilayah yang penuh fasade-fasade beton, akal-akalan, kucing-kucingan dimana di sana yang ada hanya manusia yang sebenarnya srigala yang siap memakan manusia yang lain. Manusia yang begitu luhur karena memiliki kekayaan budi pekerti, susila dan spiritualitas berketuhanan yang begitu tinggi akan terperosok derajatnya menjadi binatang. Binatang yang hanya mengandalkan naluri untuk membunuh (tanpa akal) bila dilepas berkeliaran akan berbahaya. Apalagi kalau manusia yang memiliki akal? Sangat berbahaya….

Maka, kemunculan jaman romantik ini mengisi ruang-ruang kosong manusia barat yang haus kedamaian dan keheningan. Manusia barat sedemikian rindu karena lama ditinggal perasaan, feeling dan intuisinya sendiri. Terlalu lama mereka hidup dalam kalkulasi otak dan pencapaian tujuan hidup yang hanya diisi dan dipenuhi oleh materi, benda dan wadag-wadag. Manusia kangen kesejatian dirinya yang asli. Terlalu lama dia diperbudak untuk menuruti akal dan matanya. Mata batin dan perasaannya kosong melompong. Hidupnya terasa hampa dan ciut. Keluasan manusia untuk mencari-cari sisi luas dari hati nurani hilanglah sudah. Dia terasa terasing tumpul di sebuah dunia akal yang dibuatnya sendiri.

Maka, RETORNOUS A LA NATURE! (marilah kita kembali ke alam) begitu disuarakan secara lantang oleh Jean Jacques Rousseau yang lahir di Swiss tahun 1712. Kembali ke alam… apa maksud istilah ini? Apa maksudnya adalah kita kembali menjadi monyet-monyet yang bergelantungan di hutan-hutan tanpa mengenakan selembar pakaian pun seperti kaum hippies atau para penganut paham nudis/naturist? Apa kita kembali menjadi manusia yang hidup pada jaman batu seperti film flintstone yang lucu itu, tanpa mobil, tanpa alat-alat dan teknologi canggih?

Tentu saja tidak demikian. Kembali ke alam adalah menghayati alam sebagaimana adanya. Alam semesta adalah makhluk Tuhan Yang Maha Hidup yang diperintahkan oleh Tuhan untuk bekerjasama dengan manusia sebagai KHALIFAH DI BUMI ini untuk menyelesaikan AGENDA PENCIPTAANNYA yang belum sempurna dan belum selesai. Manusia tidak bisa hidup tanpa alam semesta dan alam semesta tidak berarti dan bermakna apa-apa tanpa ada manusia yang ada di dalamnya. Kenapa bila alam semesta ini tidak ada manusia menjadi tidak berarti? Jelas tidak berarti sebab manusialah yang diberi kuasa untuk menafsirkan arti dan makna atas segala sesuatu. Bukankah manusia pertama yaitu Nabi Adam AS diberi kuasa Tuhan untuk hidup dengan bekal “NAMA-NAMA SEGALA BENDA”, yaitu manusia yang merupakan satu makhluk mulia karena manusia adalah penafsir dan pemberi makna segala hal. Manusia dikatakan animal symbolicum karena dia adalah penafsir simbol dan kemampuan ini khas manusia. Kucing dan cindil tidak perlu untuk menafsirkan apa arti rambu-rambu lalu lintas. Yang bisa menafsirkan hanya manusia karena dia diberi alat untuk menafsirkan/menginterpretasi simbol, kata, bahasa, pengertian, statistik dan sebagainya.

Karena alam semesta ini adalah MAKHLUK HIDUP, maka dia punya kehendak dan punya tekad, niat dan keinginan. Apa keinginan Alam Semesta? Tiada lain untuk melaksanakan perintah Tuhan yaitu BERTASBIH: MENSUCIKAN NAMA TUHAN SEMESTA ALAM, SUMBER DARI SEMUA SUMBER ENERGI DAN PENCIPTA SEGALA YANG ADA. Tuhan adalah rentetan terakhir dari semua sebab yang menjadikan akibat-akibat ada di alam semesta. Sebab yang tidak disebabkan lagi, CAUSA PRIMA, yang tidak bisa digambarkan ada-Nya, dimana dan kapan-Nya, Dia yang tidak terjangkau oleh semesta pengetahuan manusia.

Kenapa kehendak alam semesta ini hanya mensucikan nama Tuhan? Kok tidak ada tugas lainnya? Jawabannya terletak pada kebersatuan kehendak antara manusia dengan alam semesta. Meskipun sejatinya manusia dan alam semesta ini dua hal, sebenarnya intinya adalah SATU KESATUAN METAFISIS, Bahwa RUH MANUSIA adalah RUH ALAM SEMESTA dan juga percikan atau bagian dari RUH TUHAN. Sehingga Tugas Manusia pula adalah mensucikan NAMA-NAMA TUHAN. Yaitu sebuah tugas dalam rangka mengemban sistem keselamatan universal, dimana “nama-nama” segala benda di alam semesta dan juga dalam tataran konseptual harus konform dengan NAMA-NAMA-NYA. Sebagai suatu subyek, khalifatullah harus OBYEKTIF PLUS: bahwa subyektivitasnya harus subordinatif terhadap SUBYEKTIVITAS-NYA. Subyek yang seperti inilah yang atas perkenaan-Nya mendukung amanat untuk mewakili-Nya, mendapatkan pantulan dari wajah-Nya.

Maka bolehlah kita anggap bahwa alam semesta inilah SAUDARA TUA MANUSIA. Bahkan dari alam semesta inilah Tuhan menciptakan manusia dari berbagai unsur yang ada di dalamnya, yaitu TANAH, AIR, API, UDARA. Semua unsur itu kini tetap ada di tubuh manusia dan kini bila kita teliti kode-kode DNA manusia, maka kita akan menemukan unsur-unsur tanah, air, api, dan udara ini dalam jumlah yang pada setiap tubuh manusia tidak sama satu dengan yang lainnya. Tanah, air, api dan udara adalah sedulur papatnya manusia: sementara limo pancernya adalah unsur PERCIKAN BUNGA API ILAHI YANG DIPANCARKAN KE DALAM RUH MANUSIA. Ruh manusia adalah ruh Tuhan juga. Ruh adalah bagian dari diri Tuhan yang ada di dalam diri kita. Ruh adalah AKU SEJATI, DIRI SEJATI, INGSUNG SEJATI di dalam diri manusia. Maka, hormatilah diri sendiri maka dirimu juga berarti menghormati Tuhan. Sehingga kita akan paham bahwa MENGHORMATI AKU SEJATI ADALAH IBADAH, MANEMBAH, SHOLAT, SEMBAHYANG, MAKRIFAT TERTINGGI dari MANUSIA.

Kita tidak mungkin mampu menjangkau DZAT TUHAN karena jangan anggap kata Dzat ini seperti dzat dalam pengertian ilmu kimia atau fisika. Dzat Tuhan meskipun tidak terpahami oleh akal pikiran manusia, namun dzat Tuhan benar-benar bila kita hayati dan nikmati dalam kesekaranganku ini!! Bukankah Tuhan sangat dekat dengan diri kita, lebih dekat dari urat merih di leher, lebih dekat dari rasa dekat, Tuhan juga tidak pernah menyembunyikan dirinya dari manusia?? Manusia sendirilah yang menyembunyikan diri Tuhan di dalam pengetahuannya. Di dalam kebodohan dirinya sendiri? Di dalam ego atau keakuannya? Di dalam pantai-pantai dan membatasi lingkup pengetahuannya? Kita memang terbiasa menghilangkan berjuta-juta kilometer pengetahuan tentang Tuhan dengan dalih kita tidak mengetahui Tuhan. Duh manusia, betapa engkau bodoh dan hina justeru karena engkau menyukai dalam mandi lumpur keakuanmu yang kau ciptakan sendiri!!!!! Dengan kebodohan pula engkau mengaku bahagia, dengan keabsurdanmu sendiri kau mengaku menemukan jati dirimu dan membungkusnya dengan kepalsuan dan kesementaraan…..

Maka, jangan pernah menentang dan bertolak belakang dari hukum-hukum, prinsip-prinsip bekerjanya alam semesta. Apa prinsip bekerjanya Alam semesta ini? PRINSIPNYA ADALAH KEIKHLASAN. IKHLAS UNTUK MEMBERI TANPA BERHARAP UNTUK MENERIMA, SEPERTI MATAHARI, SEPERTI BUMI, SEPERTI UDARA YANG KITA HIRUP DAN NIKMATI SEHARI-HARI. Hukum dagang timbal balik antar unsur-unsur di alam semesta pasti semuanya berlangsung dengan adil dan berimbang. Tata cara kerja alam semesta sangat bermutu tinggi sedemikian hingga tidak pernah ada RESIDU atau SAMPAH lahir maupun batin.

Ini juga merupakan prinsip dasar yang menjadi basis untuk memahami apa dan bagaimana alam semesta bekerja. Kita perlu mengetahui prinsip-prinsip bekerjanya alam ini sebab ini menjadi INTI DAN SUBSTANSI SEMUA ILMU YANG ADA DI SEMESTA PENGETAHUAN MANUSIA BAIK ILMU PENGETAHUAN YANG KITA KENAL MAUPUN ILMU-ILMU GAIB.

SUBYEKTIF YANG TIDAK OBYEKTIF
Manusia yang sadar akan hakikat dirinya, berarti manusia yang juga menghayati keberadaan alam semesta, menghayati semua hal yang ada di pikiran-pikirannya, yang menghayati Tuhan adalah manusia yang selaras, serasi, harmonis, dan singkron dengan alam semesta . Inilah hakikat dari RETORNOUS A LA NATURE! (marilah kita kembali ke alam), TAO yang SEJATI…. Yaitu gerakan mengembalikan manusia pada titik orientasi yang sangat handal dimana penampilan subyektivitasnya yang benar-benar mendukung amanah mewakili-Nya.

Di sisi yang lain, kita juga melihat penampilan subyektif yang tidak obyektif sebagaimana disimbolkan oleh adanya IBLIS. Subyektivitas IBLIS adalah kebanggaan atas kelebihannya terhadap asal mula manusia. Iblis berasal dari api, sementara manusia dari tanah. Pemahaman IBLIS ini sungguh teramat dangkal karena tidak patut menjadi makhluk yang paling mulia. IBLIS LUPA, BAHWA YANG DIKEHENDAKI TUHAN UNTUK MENJADI WAKIL-NYA BUKAN HANYA KENYATAAN OBYEKTIF MANUSIA YANG BERASAL DARI TANAH TADI. Melainkan KENYATAAN OBYEKTIF PLUS: Bahwa TANAH itu sudah ditambah dengan ILMU (nama-nama segala benda) dan RUH dari SISI-NYA.

MAKRIFAT MATAHARI
Dari penjelasan ini, kita bisa menyimpulkan secara sederhana: bahwa bila Anda menginginkan sesuatu, berniat sesuatu, berkehendak sesuatu, mengupayakan sesuatu, maka hendaknya SELARASKAN dan HARMONIKAN dengan KEHENDAK ALAM SEMESTA. Bila pemahaman kita sudah berada di taraf tinggi, maka tanda-tanda kehendak yang selaras dengan alam adalah tidak adanya amalan atau akibat-akibat yang kembali pada diri kita. Sebab prinsip kerja alam semesta adalah keikhlasan: sebuah mekanisme yang alamiah yaitu peleburan antara aku dan alam, peleburan antara kawulo dan gusti, antara aku dengan AKU, tidak ada lagi wacana surga atau neraka… tapi cinta yang hanya ikhlas memberi tanpa keinginan menerima kembali…inilah MAKRIFAT MATAHARI. Inilah yang harusnya menjadi dasar ilmu sangkan paraning dumadi, ilmu sejati, ilmu putih, ilmu kebatinan, ilmu putih, dan semua ilmu gaib yang diciptakan dan dikarang oleh manusia.

Namun, bila pemahaman kita masih sederhana: bolehlah kita berpendapat bahwa kehendak akan memantulkan diri dalam wujud lain yang akan kita terima. Bisa cepat atau bisa juga lambat. Semua tergantung mekanisme alam yang berlaku. Bila kita memancarkan permusuhan, maka permusuhan pula yang akan kita terima. Bila kita memancarkan niat jahat, maka kejahatan pula yang akan kita terima. Bila kita menarik sesuatu (pelet) dengan energi yang kuat, maka tarikan kuat yang membalik pula yang akan kita dapatkan. Bila kita memberi kebahagiaan dan kedamaian pada orang lain maka kedamaian dan kebahagiaan pula yang akan kita terima. Seperti seutas karet, kita menarik dengan keras maka kita akan mendapatkan daya pantul akibat tarikan keras kita tersebut. Adanya surga atau neraka adalah mekanisme pembalasan hukum sebab akibat terakhir setelah penggulungan alam semesta.

Sekarang tinggal pilih, kita akan menjadi manusia macam apa. Pada mulanya adalah NIAT namun kemudian dilanjutkan dengan PERBUATAN yang yang akan membentuk kita untuk “menjadi” dan kita tunggu bersama “kejadian-kejadian” berikutnya…

 

Categories: >>PERPUSTAKAAN UTAMA | 4 Komentar

BERINFAK DI PAGI HARI DAN DOA MALAIKAT SUBUH UNTUK KELANCARAN REZEKI KITA


Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu berkata sesungguhnya Nabi Muhammad shollallahu ‘alahi wa sallam bersabda: “TIDAK ADA SATU SUBUH-PUN YANG DIALAMI HAMBA-HAMBA ALLAH KECUALI TURUN KEPADA MEREKA DUA MALAIKAT. SALAH SATU DI ANTARA KEDUANYA BERDOA: “YA aLLAH, BERILAH GANTI BAGI ORANG YANG BERINFAQ”, SEDANGKAN YANG SATU LAGI BERDO’A “YA ALLAH, BERILAH KERUSAKAN BAGI ORANG YANG MENAHAN (HARTANYA)”
(HR Bukhari 5/270)

Hadits di atas menganjurkan kita untuk berinfak di pagi hari agar malaikat mendoakan kelapangan rizqi yang memang sangat kita perlukan untuk memperlancar hidup dalam rangka ibadah dan amal sholeh di dunia. Sia-sia rasanya jika pagi berlalu tanpa berinfaq.

Banyaknya jumlah infak tentu penting, namun sebagai sarana belajar maka yang kita kejar adalah istiqomah/kontinunya yaitu Berinfaq secara teratur dalam jumlah tertentu. Orang yang konstan berinfaq tidak bakal dipengaruhi oleh musim. Dalam masa susah tetap berinfaq, dan ketika kaya tentu lebih pasti berinfak lebih banyak. Semoga kita senang dan akhirnya menjadikan berinfak menjadi hobi tanpa ada rasa berat.

Terima kasih dan salam paseduluran.
@@@

Categories: >>PERPUSTAKAAN UTAMA | 6 Komentar

KUMPULAN DOA MEMBAGUSKAN REJEKI (DIAKHIRI DENGAN AYAT SERIBU DINAR)


Doa ini bagus dibaca mulai pertama hingga terakhir, namun bagus juga dibaca satu persatu. Diamalkan setiap hari, baik setelah shalat wajib, atau di waktu senggang yang lainnya, secara rutin. Lebih baik jika dibaca setelah shalat hajat atau shalat dhuha.

Berikut doanya…

Audzubillahiminasyaitonirrojim bismillahirrohmanirrohim.

===ALLAHUMMA MALIKAL MULKI TU’TIL MULKA MAN TASYA’ WA TANZI’UL MULKA MIM MAN TASYA’ WA TU’IZZU MAN TASYA’ WA TUDZILLU MAN TASYA’ BIYADIKAL KHOIR INNAKA ‘ALA KULLI SYAI-IN QODIR======

Artinya:  Katakanlah: “Wahai Tuhan yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki, dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki.”Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki.” “Di tangan Engkaulah segala kebajikan.” “Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS 3 Ali ‘Imron ayat 26)

====QOOLA RABBIGHFIRLI WAHABLI MULKA LA YAMBAGHILI AHADHIM MIM BA’DHI INNAKA ANTAL WAHHAAB. =======

Ia berkata, Ya Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh seorang jua pun sesudahku, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Pemberi. (Shaad:35).

======ALLAAHUMMA MAALIKAL-MULKI TU’THIL MULKA MAN TASYAAA’U WA TANZI’UL MULKA MIMMAN TASYAAA’U WA TU’IZZU MAN TASYAAA’U WA TUDZILLU MAN TASYAAA’U BI YADIKAL KHAIRU INNAKA ‘ALLA KULLI SYAI’IN QADIIR. TUULIJULLAILA FINNAHAARI WA TUULIJUNNAHAARA FILLAILI WA TUKHRIJUL CHAYYA MINAL MAYYITI WA TUKHRIJUL MAYYITA MINAL CHAYYI WA TARZUQU MAN TASYAAA’U BI GHOII CHISAAB. ROHMAANAD DUNYAA WAL AAKHIRATI WA ROHIIMAHUMAA. TU’THII MAN TASYAAA’U MIN HUMAA WA TAMNA’U MAN TASYAA’URHAMNII RAHMATAN TUGHNIINII BIHAA ‘AN RAHMATI MAN SIWAAK.====== (*)

 =====FATAQOBBALAHAA ROBBUHAA BIQOBUULIN HASANIW WA AMBATAHAA NABAATAN HASANAW WAKAFFALAHAA ZAKARIYYAA, KULLAMAA DAKHOLA ‘ALAIHAA ZAKARIYYAL MIHROOBA WAJADA ‘INDAHAA RIZQOO, QOOLA YAA MARYAMU ANNAA LAKI HAADZAA, QOOLAT HUWA MIN ‘INDILLAAH, INNALLOOHA YARZUQU MAY YASYAA’U BIGHOIRI HISAAB.=====

Maka diterimalah (permohonannya itu) oleh Tuhannya dengan penerimaan yang baik. Dan Dia pertumbuhkan dia dengan pertumbuhan yang baik. Dan mengasuh akan dia Zakaria. Tiap-tiap masuk Zakaria ke tempatnya di mihrab, didapatinya ada makanan di sisinya. Berkata dia: wahai Maryam Dari mana engkau dapat ini? Dia menjawab. dia adalah dari Allah, karena sesungguhnya Allah memberikan rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki dengan tidak berkira. (Al-Imran:37).

=====RABBANA ANZIL ‘ALAINAA MAA IDHATAMMINASSAMAA ITAKUUNULANA ‘IIDHALLIAUWALINA WA AAKHIRINAA WA AAYATAMMINGKA WAR ZHUQNA WA ANTA KHAIRURRAAZHIKIIN======

Ya tuhan kami turunkanlah kiranya kepada kami suatu hidangan dari langit (yang hari turunnya) akan menjadi hari raya bagi kami yaitu orang-orang yang bersama kami dan yang datang sesudah kami, dan menjadi tanda bagi kekuasaan Engkau; beri rezekilah kami, dan Engkaulah pemberi rezki Yang Paling Utama. (Al-Ma’idah:114).

====WAMAYYATAQILLAHA YAJJ’ALLAHUU MAKHROJAA. WAYARZUQHU MIN HAITSU LAA YAHTASIB, WAMAYYATAWAKAL ALALLAHI FAHUWA HASBUHUU. INNALLAHA BAALIGHUL AMRIH. QOD JA’ALALLAHU LIKULLI SYAI’ING QODROO.======

Barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya dia akan mengadakan baginya jalan ke luar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki) Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu. (Q.S. at-talaq:2-3).

Alhamdulillahirobbilalamin.

@@@

(*) keterangan Dari Mu’adz bin Jabal, “Sesungguhnya Rasulullah SAW pernah mencari-cari Mu’adz bin Jabal yang absen dari shalat Jumat. Setelah shalat, Rasulullah SAW mendatangi Mu’adz untuk berkata ‘hai Mu’adz kenapa saya tadi tidak melihat kau hadir?.” Mu’adz menjawab, “Karena ada orang Yahudi yang menagih hutang emas satu uqiyah padaku. Saya berusaha menemui baginda, namun dia menghalang-halangi, agar saya tidak berhasil menemui baginda.” Rasulullah SAW bersabda, “Hai Mu’adz! Bukankah kau mau? Saya ajar doa untuk kau baca? Kalau hutang yang membebani kau semisal gunung Shabir (صَبِرٌ), Allah pasti membuat kau mampu melunasi hutang itu. Berdoalah dengan doa itu hai Mu’adz)
Categories: DOA MEMBAGUSKAN REJEKI HINGGA AYAT SERIBU DINAR | 37 Komentar

ANGKATAN 32 GURU KWA MOHON DOA RESTU


masterkwa32.dKAMPUS WONG ALUS MENGUCAPKAN SELAMAT  KEPADA

1. KI PANEMBAHAN YUS MATARAM (YOGYAKARTA) 

2. KI PANEMBAHAN RAMLAN MATARAM (KUALA LUMPUR, MALAYSIA) 

3. KI PANEMBAHAN SHYGIT MATARAM (BANJARNEGARA)

masterkwa32ATAS KEIKUTSERTAANNYA DALAM PROGRAM GURU KWA ANGKATAN KE – 32 YANG TELAH DILANGSUNGKAN PADA 2-3 MEI DI PANTAI PARANGKUSUMO YOGYAKARTA. SEKALIGUS MOHON DOA RESTU AGAR ILMU-ILMU MEREKA BERMANFAAT UNTUK MASYARAKAT. TERIMA KASIH DAN SALAM PASEDULURAN.

KI WONGALUS

Categories: >>PERPUSTAKAAN UTAMA

ANEKA CARA MENDAPATKAN KESAKTIAN


sadhuKita semua warga KAMPUS WONG ALUS sudah banyak yang paham, bahwa untuk mendapatkan kesaktian maka seseorang membutuhkan perjuangan yang berat dan ringannya sangat relatif.  Bagi yang tidak terbiasa untuk riyadhoh maka akan terasa berat, namun bagi yang terbiasa untuk riyadhoh maka akan terasa ringan. Namun saya yakin semua sepakat bahwa tidak pernah ada yang sia-sia ketika kita mengamalkan sebuah ilmu dan amalan bila niatnya adalah untuk mencari Ridho Allah SWT.

Kesaktian yang baik (ilmu putih) diperoleh dengan cara yang baik dan bisa untuk menolak bahaya maupun mengobati orang sakit dan sebagainya. Sementara kesaktian yang buruk (ilmu hitam) biasanya digunakan untuk maksud pamer kesombongan kekuatan (adigang adigung adiguno) dan menaklukkan musuh dengan tujuan nafsu/hasrat duniawi.

Berikut ini adalah kisah seorang yang memiliki ilmu menguasai jin dan bagaimana dia memperoleh kesaktiannya.

Kejadian ini terjadi tahun 1898 di kota Amritsar Punjab India yaitu ketika masyarakat disana kena wabah sakit pes. Saat itu belum ada obat yang mampu untuk meredam jenis penyakit menular tersebut. Masyarakat gempar sebab dengan cepat penyakit pes membunuh dengan cepat satu persatu orang tanpa bisa dicegah.  Setiap orang hanya bisa menunggu datangnya ajal tanpa bisa lari dari kenyataan yang mengerikan itu.

Suatu ketika, datangnya seorang pertapa yogi  ke Amritsar India. Tiba di pinggir kota Punjab, dia duduk di sebelah ember air terbuat dari kayu. Dia memerintahkan seorang murid yang mengiringinya agar mengumumkan ke masyarakat bahwa dia bisa menghilangkan wabah pes dengan meminta imbalan uang sepantasnya.

Uang itu akan digunakannya untuk shodakoh memberi makan orang-orang miskin. Akhirnya orang-orang kaya disana mengumpulkan uang dan diberikan kepada pertapa yogi tersebut. Keesokan harinya dengan tiba-tiba wabah pun menghilang dan kota Amritsar kembali pulih seperti sedia kala.

Siapa pertapa yogi itu? Ternyata dia adalah Hassan Khan seorang yang beragama Islam. Pria sederhana ini membuka kunci bagaimana dia mampu untuk memiliki kesaktian, sehingga dengan mudah mampu mengusir wabah penyakit dan kesaktian-kesaktian yang lain yang tidak dimiliki orang kebanyakan. Misalnya, ketika ada orang minta minum kepada Hassan, tiba-tiba seketika itu juga datang sebotol anggur di hadapannya.

Apa kunci kesaktian Hasan? Hassan yang ahli bertapa itu menceritakan masa mudanya:

Ketika aku masih muda tinggal di sebuah desa namanya desa Bita. Saya kedatangan seorang Sadhu, pertapa yogi India, yang akhirnya menjadi guru saya. Rambutnya gondrong wajahnya kotor lusuh jelek. Entah kenapa saya tertarik dengan perilakunya yang aneh. Sadhu ini menawarkan satu ilmu kesaktian yaitu menguasai benda-benda dengan bantuan jin dengan syarat mau untuk mengikuti  apapun perintahnya. Yaitu bertapa 40 hari di sebuah tempat yang tidak pernah dijamah manusia.

Saya pun menjalani apa perintahnya. Setelah saya bertapa selama itu, saya diperintahkan lagi untuk masuk gua yang gelap di sebuah gunung. Setelah sekian lama berada di gua sesuai perintahnya maka saya menemuinya dan saya ditanya apa yang kutemui disana. Saya sampaikan bahwa saya hanya  melihat wujud samar mata yang besar dan bersinar melihat ke arah saya. Yogi itu menjawab bahwa riyadhoh saya sudah betul. Saya masih belum paham apa yang dikatakannya.

Yogi itu kemudian memerintahkan saya untuk mengacungkan ujung jari ke arah batu-batu di jalan dan memerintahkan saya untuk mendoakan batu-batu itu. Tidak terjadi apa apa saat itu. Usai berdoa, Yogi itu memerintahkan saya untuk pulang ke rumah dan masuk ke kamar.  Yogi itu mengatakan seandainya saya menginginkan batu itu hadir di hadapanmu pasti akan terwujud segera. Akhirnya saya pun pulang mengikuti sarannya dengan hati yang berdebar-debar.

Tiba di rumah, saya mengikuti perintah sang yogi masuk ke kamar dan saya memerintahkan jin agar mendatangkan batu-batu tadi. Tidak berapa lama, dengan kaget saya melihat wujud batu-batu bertumpuk satu demi satu di depan kaki saya.

Saya pun kembali menemui guru yogi itu dan menceritakan apa yang saya alami. Guruku itu menjawab: Sekarang engkau sudah bisa menguasai semua benda-benda, kau harus menggunakannya untuk menggunakan ilmu itu dengan hati-hati dan gunakankan di jalan yang benar yang member manfaat untuk sesama manusia”

Demikianlah bagaimana Hassan Khan mendapatkan ilmu kesaktian menguasai benda-benda dengan bantuan jin. Banyak cara untuk mendapatkan kesaktian, salah satunya telah disampaikan oleh Hassan di atas.

Saya pun ingat beberapa saat yang lalu, paparan yang disampaikan beberapa orang paranormal untuk mendapatkan kesaktian, misalnya dengan cara berguru ke seseorang dan oleh gurunya diperintahkan menyepi di gua-gua, di hutan-hutan, di makam-makam dan di gunung-gunung. Di pinggir-pinggir sungai yang bercabang  tiga. Ada pula yang lebih memilih riyadhoh di tempat yang lebih aman misalnya di tempat-tempat ibadah.

Pada kesempatan kali ini, saya tidak berhak menilai apakah kesaktian yang didapatkan itu baik atau kurang baik. Apakah dengan meminta tolong jin itu melanggar syariat atau tidak. Bukan kapasitas saya untuk membahas itu sebab saya anggap kita semua sudah dewasa dan HAK setiap manusia hanyalah berusaha, soal hasil maka kita pasrahkan kepada Allah SWT. Sebagaimana kita berusaha untuk “menjadi”  manusia sebagaimana yang dituntunkan oleh Rasulullah SAW, namun tentu saja hasilnya hanya Allah SWT yang tahu.

Yang jelas, pilihlah tempat dan guru sesuai dengan hati nurani kita masing-masing. Gunakanlah untuk kebaikan dan kemanfaatan. Insya allah jalan kita nantinya akan menjadi terang dan ilmu pun “menjadi” ilmu putih yang barokah fiidunya wal akhiroh. Amin.

@KWA, 2015

Categories: ANEKA CARA DAPATKAN KESAKTIAN | 14 Komentar

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com. The Adventure Journal Theme.