Diproteksi: PENGIJASAHAN HIZIB MAGHNATIS dan DOA MAGHNATIS (DIIJAZAHKAN SAAT MILAD KWA APRIL 2016)


Konten ini diproteksi dengan kata sandi. Untuk melihatnya cukup masukkan kata sandi Anda di bawah ini:

Categories: HIZIB MAGHNATIS (HIZIB MAGNET) | Masukkan kata sandi Anda untuk melihat komentar.

PENGIJASAHAN HIZIB ASHABUL KAHFI


Screenshot_2016-02-20-13-32-35-1

KARO KARONDII, SARO SARONDII, SABAR SABARTUNNA.

AQSAMTU ALAYKUM YAA KHUDDAMA HADIHIL ASMAA’I ANTAKHBITSAL BAIDALA YA’TIINA WALQORIIBAALAA YA’DIINA BIHAQQINNABIYII ALAIHISHOLATU WASSALAMU WABIHAQQI ALFI ALFI LA HAWLA WALA QUWWATA ILLA BILLAHIL ALIYYIL ADHIIMI WASHOLLALLAHU ALA SAYYIDINA MUHAMMADIN WAALA AALIHI WASHAHBIHI WASSALAMA. ASSALAMUALAYKUM YAA AYYUHAL ASHABUL KAHFI YAMLIIKHA MAKTSALIINA MATSLIINA MARNUUSYIN SYADANUSYIN DABARNUUSYIN KAFSYATOTNUSYIN KHITMIR.

MASYAA’ALLAHU KANA WAMAALAM YASYAA’LAM YAKUN  FAYAKUN.

Dibaca usai sholat fardhu 3 x selama 3 hari atau seikhlasnya.

Fadilah untuk semua hajat.

Monggo diamalkan bagi yang berminat.

@kwa,2016

Categories: HIZIB ASHABUL KAHFI | 21 Komentar

PENGIJASAHAN ULANG MENYAMBUT MILAD: ASMAK JALJALUT


dibaca 313x 7 hari

==Biajin ahuujin yaa ilaahii muhawwajin yaa zalzaliyaati bil iijaabati halhalat==

FADHILAH SEMUA HAJAT BIIDZNILLAH.

@KWA,2016

 

Categories: ASMA JALJALUT | 26 Komentar

ASMAK 313 NABI


Categories: ASMAK 313 NABI | 7 Komentar

ILMU KEREJEKIAN AT TAUBAH


IJASAH KH MUHAMMAD ITSNA HAMBALI,
Pengasuh Pondok Pesantren Darul ‘Ulum Selotumpuk Wlingi Blitar

وَلَوْ أَنَّهُمْ رَضُوْاْ مَا آتَاهُمُ اللّهُ وَرَسُولُهُ وَقَالُواْ حَسْبُنَا اللّهُ سَيُؤْتِينَا اللّهُ مِن فَضْلِهِ وَرَسُولُهُ إِنَّا إِلَى اللّهِ رَاغِبُونَ} [التوبة 59]

At-Taubah ayat 59. Dibaca 10x dalam satu majlis. Terutama selesai sholat 5 waktu. Untuk kerezekian  joss top markotop.. monggo2 yang mau mengamalkan. Waktunya bebas dalam sehari semalam.

@@@

 

 

Categories: ILMU KEREJEKIAN AT TAUBAH | 52 Komentar

“MATA AIR DARI KAMPUNG DANAU RUNDA”


WASIAT-WASIAT SHAIKH ABDUL WAHAB ROKAN AL-KHOLIDI NAQSYABANDI

Sheykh Abdul Wahab RokanSelalu saja rahmat Allah mengalir ke setiap kaum, agar suatu kaum itu terselamatkan dari kesesatan. Cara Allah SWT member rahmat, salah satunya adalah meng-ada-kan orang-orang yang bisa memberikan pencerahan di suatu kaum.

Salah satu yang bisa memberikan pencerahan dan meluruskan kaum di Propinsi Riau itu adalah Shaikh Abdul Wahab Rokan Al-Kholidi Naqsyabandi, yang lebih dikenal dengan sebutan Tuan Guru Besilam (Babussalam).

Beliau lahir pada tanggal 19 Rabiul Akhir 1230 H bertepatan dengan tanggal 28 September 1811 M. Tempat kelahiran beliau bernama Kampung Danau Runda, Rantau Binuang Sakti, Negeri Tinggi, Rokan Tengah, Kabupaten Kampar, Propinsi Riau. Ayahandanya bernama Abdul Manap bin M.Yasin bin H.Abdullah bin Edek, suku Tembusai. Ibundanya bernama Arbaiyah binti Datuk Dagi binti Tengku Perdana Menteri bin Sultan Ibrahim, kepenuhan (Riau). Beliau wafat pada tanggal 21 jumadil Awal 1345 H bertepatan dengan tanggal 27 Desember 1926 M.

Abdul Wahab dilahirkan dan dibesarkan dikalangan keluarga bangsawan yang taat beragama, berpendidikan dan dihormati. Masa remajanya dipenuhi dengan mencari dan menambah ilmu pengetahuan. Pada awalnya ia belajar dengan Tuan Baqi di tanah kelahirannya Kampung Danau Runda, Kampar, Riau. Kemudian ia menamatkan pelajaran Alquran pada H.M. Sholeh, seorang ulama besar yang berasal dari Minangkabau.

Setelah menamatkan pelajarannya dalam bidang al-Quran, Abdul Wahab melanjutkan studinya ke daerah Tambusei dan belajar pada Maulana Syekh Abdullah Halim serta Syekh Muhammad Shaleh Tembusei. Dari kedua Syekh inilah, ia mempelajari berbagai ilmu seperti tauhid, tafsir dan fiqh. Disamping itu ia juga mempelajari “ilmu alat” seperti nahwu, sharaf, balaghah, manthiq dan ‘arudh.

Diantara Kitab yang menjadi rujukan adalah Fathul Qorib, Minhaj al–Thalibin dan Iqna’. Karena kepiawaiannya dalam menyerap serta penguasaannya dalam ilmu-ilmu yang disampaikan oleh guru-gurunya, ia kemudian diberi gelar “Faqih Muhammad”, orang yang ahli dalam bidang ilmu fiqh.

Syekh Abdul Wahab kemudian melanjutkan pelajarannya ke Semenanjung Melayu dan berguru pada Syekh Muhammad Yusuf Minangkabau. Ia menyerap ilmu pengetahuan dari Syekh Muhammad Yusuf selama kira-kita dua tahun, sambil tetap berdagang di Malaka.

Hasrat belajarnya yang tinggi, membuat ia tidak puas hanya belajar sampai di Malaka. Ia seterusnya menempuh perjalanan panjang ke Mekah dan menimba ilmu  pengetahuan selama enam tahun pada guru-guru ternama pada saat itu. Di sini pulalah ia memperdalam ilmu tasawuf dan tarekat pada Syekh Sulaiman Zuhdi sampai akhirnya ia memperoleh ijazah sebagai “Khalifah Besar Thariqat Naqsyabandiyah al-Khalidiyah”.

Syekh Abdul Wahab juga memperdalam Tarekat Syaziliyah. Hal ini terbukti dari pencantuman namanya sendiri ketika ia menulis buku 44 Wasiat yakni “Wasiat Syekh Abdul Wahab Rokan al-Khalidi Naqsyabandi as-Syazali…”. Selain itu, pada butir kedua dari 44 Wasiat, ia mengatakan “apabila kamu sudah baligh berakal hendaklah menerima Thariqat Syazaliyah atau Thariqat Naqsyabandiyah supaya sejalan kamu dengan aku”.

Alkisah, saat belajar di Mekah, Syekh Abdul Wahab dan murid-murid yang lain pernah diminta untuk membersihkan wc dan kamar mandi guru mereka. Saat itu, kebanyakan dari kawan-kawan seperguruannya melakukan tugas ini dengan ketidakseriusan bahkan ada yang enggan. Lain halnya dengan Syekh Abdul Wahab. Ia melaksanakan perintah gurunya dengan sepenuh hati. Setelah semua rampung, Sang Guru lalu mengumpulkan semua murid-muridnya dan memberikan pujian kepada Syekh Abdul Wahab sambil mendoakan, mudah-mudahan tangan yang telah membersihkan kotoran ini akan dicium dan dihormati oleh termasuk para raja.

Salah satu kekhasan Syekh Abdul Wahab dibanding dengan sufi lainnya adalah bahwa ia telah meninggalkan lokasi perkampungan bagi anak cucu dan murid-muridnya. Daerah yang bernama “Babussalam” ini di bangun pada 12 Syawal 1300 H (1883 M) yang merupakan wakaf muridnya sendiri Sultan Musa al-Muazzamsyah, Raja Langkat pada masa itu. Disinilah ia menetap, mengajarkan Tarekat Naqsyabandiyah sampai akhir hayatnya.

Di sela-sela kesibukannya sebagai pimpinan Tarekat Naqsyabandiyah, Syekh Abdul Wahab masih menyempatkan diri untuk menuliskan pemikiran sufistiknya, baik dalam bentuk khutbah-khutbah, wasiat, maupun syair-syair yang ditulis dalam aksara Arab Melayu. Tercatat ada dua belas khutbah yang ia tulis dan masih terus diajarkan pada jamaah di Babussalam. Sebagian khutbah-khutbah tersebut -enam buah diantaranya- diberi judul dengan nama-nama bulan dalam tahun Hijriyah yakni Khutbah Muharram, Khutbah Rajab, Khutbah Sya’ban, Khutbah Ramadhan, Khutbah Syawal, dan Khutbah Dzulqa’dah. Dua khutbah lain tentang dua hari raya yakni Khutbah Idul Fitri dan Khutbah Idul Adha. Sedangkan empat khutbah lagi masing-masing berjudul Khutbah Kelebihan Jumat, Khutbah Nabi Sulaiman, Khutbah Ular Hitam, dan Khutbah Dosa Sosial.

Wasiat atau yang lebih dikenal dengan nama “44 Wasiat Tuan Guru” adalah kumpulan pesan-pesan Syekh Abdul Wahab kepada seluruh jamaah tarekat, khususnya kepada anak cucu / dzuriyat-nya. Wasiat ini ditulisnya pada hari Jumat tanggal 13 Muharram 1300 H pukul 02.00 WIB  kira-kira sepuluh bulan sebelum dibangunnya Kampung Babussalam.

Karya tulis Syekh Abdul Wahab dalam bentuk syair, terbagi pada tiga bagian yakni Munajat, Syair Burung Garuda  dan Syair Sindiran. Syair Munajat yang berisi pujian dan doa kepada Allah, sampai hari ini masih terus dilantunkan di Madrasah Besar Babussalam oleh setiap muazzin sebelum azan dikumandangkan. Dalam Munajat ini, terlihat bagaimana keindahan syair Syekh Abdul Wahab dalam menyusun secara lengkap silsilah Tarekat Naqsyabandiyah yang diterimanya secara turun temurun yang terus  bersambung  kepada  Rasulullah Saw.  Sedangkan  Syair Burung Garuda berisi kumpulan petuah dan nasehat yang diperuntukkan khusus bagi anak dan remaja. Sayangnya, sampai saat ini Syair Burung Garuda tidak diperoleh naskahnya lagi. Sementara itu, naskah asli Syair Sindiran telah diedit dan dicetak ulang dalam Aksara Melayu (Indonesia) oleh Syekh Haji Tajudin bin Syekh Muhammad Daud al-Wahab Rokan pada tahun 1986.

Selain khutbah-khutbah, wasiat maupun syair-syair, Syekh Abdul Wahab juga meninggalkan berbait-bait pantun nasehat. Pantun-pantun ini memang tidak satu baitpun tertulis namun sebagian diantaranya masih dihafal oleh sebagian kecil anak cucunya secara turun temurun. Menurut Mualim Said, -salah seorang cucu Syekh Abdul Wahab yang menetap di Babussalam saat ini- ia sendiri masih hafal beberapa bait pantun tersebut, seperti halnya dengan Syekh H. Hasyim el-Syarwani, Tuan Guru Babussalam sekarang. Dalam karya-karya tulisnya inilah, akan terlihat pemikiran-pemikiran sufistik Syekh Abdul Wahab seperti yang akan dijelaskan lebih lanjut.

Martin van Bruinessen  menggambarkan sosok  Syekh Abdul Wahab sebagai khalifahnya Sulaiman Zuhdi yang paling menonjol di Sumatera, seorang Melayu dari Pantai Timur… Ia mengangkat seratus dua puluh khalifah di Sumatera dan delapan orang di Semenanjung Malaya. Syekh Melayu ini memiliki pengaruh yang demikian luas di kawasan Sumatera dan Malaya sebanding dengan apa yang dicapai para Syekh Minangkabau seluruhnya…”

Bahkan menurut Zikmal Fuad, mengutip pernyataan Nur A.Fadhil Lubis dalam sebuah seminar “Perbandingan Pendidikan Indonesia Amerika” di Aula 17 Agustus, Pesantren Darul Arafah Medan, tahun 1992 nama Syekh Abdul Wahab sangat dikenal dan diperhitungkan dikalangan Misionaris dan Orientalis di Amerika.

44 wasiat

ulama 1Sebelum meninggal dunia Syekh Abdul Wahab sempat menulis wasiat yang terdiri dari 44 pasal. Wasiat ini ditujukan kepada anak cucunya, baik anak kandung maupun anak murid. Beliau berpesan kepada anak cucunya untuk menyimpan buku wasiat ini dan sering-sering membacanya, seminggu sekali, atau sebulan sekali dan sekurang-kurangnya setahun sekali, serta diamalkan segala apa yang tersebut didalamnya.

Menurut wasiatnya itu kalau sering-sering dibaca dan kemudian diamalkan segala yang termaktub didalamnya, mudah-mudahan beroleh martabat yang tinggi, kemuliaan yang besar dan kekayaan dunia dan akhirat. Naskah asli dari wasiat itu berbunyi sebagai berikut :

Alhamdulillah Al-Lazi Afdholana ‘Ala Katsiri ‘Ubbadihi Tafdhila. Washsholatu Wassalamu ‘Ala Sayyidina Muhammadin Nabiyyan Warosula, Wa alihi Wa Ashabihi Hadiyan Wa Nashiran. Amin, Mutalazimaini daiman Abada. Amma Ba’du, maka masa hijrah Nabi kita Muhammad saw 1300 dan kepada 13 hari bulan Muharram makbul dan kepada hari jum’at jam 2.00, masa itulah saya Haji Abdul Wahab Rokan Al-Khalidi Naqsyabandi Asy-Syazili bin Abd.Manaf, Tanah Putih bin Yasin bin Al-Haj Abdullah Tambusai, membuat surat wasiat ini kepada anak dan cucu saya laki-laki atau perempuan, sama ada anak kandung atau anak murid.

Maka hendaklah taruh surat wasiat ini satu surat satu orang dan baca se jum’at sekali, atau sebulan sekali. Dan sekurang-kurangnya setahun sekali. Dan serta amalkan seperti yang tersebut di dalam wasiat ini, supaya dapat martabat yang tinggi dan kemuliaan yang besar dan kaya dunia akhirat.

Dan adalah wasiatku ini 44 wasiat. Dan lagi hai sekalian anak cucuku, sekali-kali jangan kamu permudah -mudah dan jangan kamu peringan-ringan wasiatku ini, karena wasiatku ini datang daripada Allah dan Rasul dan guru-guru yang pilihan. Dan lagi telah kuterima kebajikan wasiat ini sedikit-dikit dan tetapi belum habis aku terima kebajikannya, sebab taqshir daripada aku, karena tiada habis aku kerjakan seperti yang tersebut didalam wasiat ini. Dan barangsiapa mengerjakan sekalian wasiat ini tak dapat tiada dapat kebajikan sekaliannya dunia akhirat.

Wasiat yang pertama, hendaklah kamu sekalian masygul dengan menuntut ilmu Quran dan kitab kepada guru-guru yang mursyid dan rendahkan dirimu kepada guru-guru kamu. Dan perbuat apa-apa yang disuruhkan, jangan bertangguh-tangguh. Dan banyak-banyak bersedekah kepadanya. Dan i’tikadkan diri kamu itu hambanya. Dan jika sudah dapat ilmu itu, maka hendaklah kamu ajarkan kepada anak cucuku. Kemudian maka orang yang lain. Dan kasih sayang kamu akan muridmu seperti kasih sayang akan anak cucu kamu. Dan jangan kamu minta upah dan makan gaji sebab mengajar itu. Tetapi pinta upah dan gaji itu kepada Tuhan Yang Esa lagi kaya serta murah, yaitu Allah Ta’ala.

Wasiat kedua, apabila sudah kamu baligh, berakal, hendaklah menerima thariqat Syaziliyah atau thariqat Naqsyabandiah, supaya sejalan kamu dengan aku.

Wasiat yang ketiga, jangan kamu berniaga sendiri, tetapi hendaklah berserikat. Dan jika hendak mencari nafkah, hendaklah dengan jalan tulang gega (dengan tenaga sendiri), seperti berhuma dana berladang dan menjadi amil. Dan didalam mencari nafkah itu maka hendaklah bersedekah pada tiap-tiap hari supaya segera dapat nafkah. Dan jika dapat ringgit sepuluh maka hendaklah sedekahkan satu dan taruh sembilan. Dan jika dapat dua puluh, sedekahkan dua. Dan jika dapat seratus sedekahkan sepuluh, dan taruh sembilan puluh. Dan apabila cukup nafkah kira-kira setahun maka hendaklah berhenti mencari itu dan duduk beramal ibadat hingga tinggal nafkah kira-kira 40 hari, maka barulah mencari.

Wasiat yang keempat, maka hendaklah kamu berbanyak sedekah sebilang sehari, istimewa pada malam jum’at dan harinya. Dan sekurang-kurangnya sedekah itu 40 duit pada tiap-tiap hari. Dan lagi hendaklah bersedekah ke Mekah pada tiap-tiap tahun.

Wasiat yang kelima, jangan kamu bersahabat dengan orang yang jahil dan orang pasik. Dan jangan bersahabat dengan orang kaya yang bakhil. Tetapi bersahabatlah kamu dengan orang-orang ‘alim dan ulama dan shalih-shalih.

Wasiat keenam, jangan kamu hendak kemegahan dunia dan kebesarannya, seperti hendak menjadi kadhi dan imam dan lainnya, istimewa pula hendak menjadi penghulu-penghulu. Dan lagi jangan hendak menuntut harta benda banyak-banyak. Dan jangan dibanyakkan memakai pakaian yang harus.

Wasiat yang ketujuh, jangan kamu menuntut ilmu sihir seperti kuat dan kebal dan pemanis dan lainnya, karena sekalian ilmu ada di dalam Al-Quran dan kitab.

Wasiat kedelapan, hendaklah kamu kuat merendahkan diri kepada orang Islam. Dan jangan dengki khianat kepada mereka itu. Dan jangan diambil harta mereka itu melainkan dengan izin syara’.

Wasiat kesembilan, jangan kamu menghinakan diri kepada kafir laknatullah serta makan gaji serta mereka itu. Dan jangan bersahabat dengan mereka itu, melainkan sebab uzur syara’.

Wasiat kesepuluh, hendaklah kamu kuat menolong orang yang kesempitan sehabis-habis ikhtiar sama ada tolong itu dengan harta benda atau tulang gega, atau bicara atau do’a. Dan lagi apa-apa hajat orang yang dikabarkannya kepada kamu serta dia minta tolong, maka hendaklah sampaikan seboleh-bolehnya.

Wasiat yang kesebelas, kekalkan air sembahyang dan puasa tiga hari pada tiap-tiap bulan.

Wasiat yang kedua belas, jika ada orang berbuat kebajikan kepada kamu barang apa kebajikan, maka hendaklah kamu balas akan kebajikan itu.

Wasiat yang ketiga belas, jika orang dengki khianat kepada kamu, telah dipeliharakan Allah kamu dari padanya, maka hendaklah kamu sabar dan jangan dibalas dan beri nasihat akan dia dengan perkataaan lemah lembut, karena mereka itu orang yang bebal.

Wasiat yang keempat belas, jika kamu hendak beristeri, jangan dipinang orang tinggi bangsa seperti anak datuk-datuk. Dan jangan dipinang anak orang kaya-kaya. Tetapi hendaklah pinang anak orang fakir-fakir dan miskin.

Wasiat yang kelima belas, jika memakai kamu akan pakaian yang lengkap, maka hendaklah ada didalamnya pakaian yang buruk. Dan yang aulanya yang buruk itu sebelah atas.

Wasiat yang keenam belas, jangan disebut kecelaan orang, tetapi hendaklah sembunyikan sehabis-habis sembunyi.

Wasiat yang ketujuh belas, hendaklah sebut-sebut kebajikan orang dan kemuliaannya.

Wasiat yang kedelapan belas, jika datang orang ‘alim dan guru-guru kedalam negeri yang tempat kamu itu, istimewa pula khalifah thariqat Naqsyabandiah, maka hendaklah kamu dahulu datang ziarah kepadanya dari pada orang lain serta beri sedekah kepadanya.

Wasiat yang kesembilan belas, jika pergi kamu kepada suatu negeri atau dusun dan ada didalam negeri itu orang alim dan guru-guru khususnya khalifah thariqat Naqsyabandiah, maka hendaklah kamu ziarah kepadanya kemudian hendaklah membawa sedekah kepadanya.

Wasiat yang kedua puluh, jika hendak pergi orang alim itu daripada tempat kamu itu atau engkau hendak pergi dari pada tempat itu, maka hendaklah kamu ziarah pula serta memberi sedekah supaya dapat kamu rahmat yang besar.

Wasiat yang kedua puluh satu, sekali-kali jangan kamu kawin dengan janda guru kamu, khususnya guru thariqat. Dan tiada mengapa kawin dengan anak guru, tetapi hendaklah bersungguh-sungguh membawa adab kepadanya serta jangan engkau wathi akan dia, melainkan kemudian daripada meminta izin. Dan lebihkan olehmu akan dia daripada isterimu yang lain, karena dia anak guru, hal yang boleh dilebihkan.

Wasiat yang kedua puluh dua, hendaklah segala kamu yang laki-laki beristeri berbilang-bilang. Dan sekurang-kurangnya dua, dan yang baiknya empat. Dan jika isterimu tiada mengikut hukum, ceraikan, cari yang lain

Wasiat yang kedua puluh tiga, hendaklah kamu yang perempuan banyak sabar, jika suami kamu beristeri berbilang-bilang. Janganlah mengikut seperti kelakuan perempuan yang jahil, jika suaminya beristeri berbilang, sangat marahnya, dan jika suaminya berzina tiada marah.

Wasiat yang kedua puluh empat, jika ada sanak saudara kamu berhutang atau miskin dan sempit nafkahnya dan kamu lapang nafkah, maka hendaklah kamu beri sedekah sedikit-sedikit seorang supaya sama kamu. Inilah makna kata orang tua-tua, jika kamu kaya maka hendaklah bawa sanak saudara kamu kaya pula, dan jika kamu senang, maka hendaklah berikan senang kamu itu kepada sanak saudara kamu.

Wasiat yang kedua puluh lima, mana-mana sanak saudara kamu yang beroleh martabat dan kesenangan, maka hendaklah kamu kuat-kuat mendo’akannya supaya boleh kamu bernaung dibawah martabatnya.

Wasiat yang kedua puluh enam, hendaklah kasih akan anak-anak dan sayang akan fakir miskin dan hormat akan orang tua-tua.

Wasiat kedua puluh tujuh, apabila kamu tidur, hendaklah padamkan pelita, jangan dibiarkan terpasang, karena sangat makruh, sebab demikian itu kelakuan kafir Yahudi.

Wasiat yang kedua puluh delapan, jika kiamu hendak bepergian, maka hendaklah ziarah kepada ibu bapa dan kepada guru-guru dan orang saleh-saleh. Minta izin kepada mereka itu serta minta tolong do’akan,dan lagi hendaklah mengeluarkan sedekah supaya dapat lapang.

Wasiat yang kedua puluh sembilan, jangan berasah gigi laki-laki dan perempuan. Dan jangan bertindik telinga jika perempuan, karena yang demikian itu pekerjaan jahiliah.

Wasiat yang ketiga puluh, jangan kuat kasih akan dunia, hanya sekedar hajat. Siapa kuat kasih akan dunia banyak susah badannya dan percintaan hatinya dan sempit dadanya. Siapa benci akan dunia, sentosa badannya dan senang hatinya dan lapang dadanya.

Wasiat yang ketiga puluh satu, hendaklah kasih sayang akan ibu bapa seperti diikut apa kata-katanya dan membuat kebajikan kepada keduanya sehabis-habis ikhtiar. Dan jangan durhaka pada keduanya, seperti tiada mengikut perintah keduanya dan kasar perkataan kepada keduanya dan tiada terbawa adabnya.

Wasiat yang ketiga puluh dua, jika mati kedua ibu bapa kamu atau salah seorang, maka hendaklah kamu kuat-kuat mendoa’akannya pada tiap-tiap sembahyang dan \ziarah pada kuburnya pada tiap-tiap hari jum’at.

Wasiat yang ketiga puluh tiga, hendaklah kuat membuat kebajikan serta dengan yakin kepada guru-guru dan jangan durhaka kepadanya.

Wasiat yang ketiga puluh empat, hendaklah berkasih-kasihan dengan orang sekampung dan jika kafir sekalipun dan jangan berbantah-bantah dan berkelahi de ngan mereka itu.

Wasiat yang ketiga puluh lima, jangan diberi hati kamu mencintai akan maksiat, artinya membuat kejahatan, karena yang demikian itu percintaan hati. Dan jika banyak percintaan hati, membawa kepada kurus badan.

Wasiat yang ketiga puluh enam, jangan kamu jabatkan tangan kamu kepada apa-apa yang haram, karena yang demikian itu mendatangkan bala.

Wasiat yang ketiga puluh tujuh, jika datang bala dan cobaan, maka hendaklah mandi tobat mengambil air sembahyang, dan meminta do’a kepada Allah Ta’ala. Dan banyak-banyak bersedekah kepada fakir dan miskin dan minta tolong do’akan kepada guru-guru dan shalih-shalih karena mereka itu kekasih Allah Ta’ala.

Wasiat yang ketiga puluh delapan, apabila hampir bulan Ramadhan, maka hendaklah selesaikan pekerjaan dunia supaya senang beramal ibadat didalam bulan Ramadhan dan jangan berusaha dan berniaga didalam bulan Ramadhan, tetapi hendaklah bersungguh-sungguh beramal dan ibadat dan membuat kebajikan siang dan malam, khususnya bertadarus Quran dan bersuluk.

Wasiat yang ketiga puluh sembilan, hendaklah kuat bangun pada waktu sahur, beramal ibadat dan meminta do’a , karena waktu itu tempat do’a yang makbul, khususnya waktu sahur malam jum’at.

Wasiat yang ke empat puluh, hendaklah kuat mendo’akan orang Islam, sama ada hidup atau mati.

Wasiat yang keempat puluh satu, apabila bertambah-tambah harta benda kamu dan bertambah-tambah pangkat derjat kamu, tetapi amal ibadat kamu kurang, maka jangan sekali-kali kamu suka akan yang demikian itu, karena demikian itu kehendak setan dan iblis dan lagi apa faedah harta bertambah-tambah dan umur berkurang-kurang.

Wasiat yang keempat puluh dua, maka hendaklah kamu i’tikadkan dengan hati kamu, bahwasanya Allah Ta’ala ada hampir kamu dengan tiada bercerai-cerai siang dan malam. Maka Ia melihat apa-apa pekerjaan kamu lahir dan batin. Maka janganlah kamu berbuat durhaka kepada-Nya sedikit jua, karena Ia senantiasa melihat juga tetapi hendaklah senantiasa kamu memohonkan keridhaan-Nya lahir dan batin. Dan lazimkan olehmu i’tikad ini supaya dapat jannatul ‘ajilah artinya sorga yang diatas dunia ini.

Wasiat yang keempat puluh tiga, maka hendaklah kamu ingat bahwa malikal maut datang kepada setiap seorang lima kali dalam sehari semalam, mengabarkan akan kamu bahwa aku akan mengambil nyawa kamu, maka hendaklah kamu ingat apabila sudah sembahyang tiada sampai nyawa kamu kepada sembahyang kedua, demikian selama-lamanya.

Wasiat yang keempat puluh empat, hendaklah kamu kuat mendo’akan hamba yang dha’if ini dan sekurang-kurangnya kamu hadiahkan kepada hamba pada tiap-tiap malam jum’at dibaca fatihah sekali dan Qul Huwallahu Ahad sebelas kali, atau Yasin sekali pada tiap-tiap malam jum’at atau ayatul Kursi 7 kali dan aku mendo’akan pula kepada kamu sekalian.

Inilah wasiat hamba yang empat puluh empat atas jalan ikhtisar dan hamba harap akan anak cucu hamba akan membuat syarahnya masing-masing dengan kadarnya yang munasabah, supaya tahu dha’ifut thullab wa qashirul fahmi. Wallahu Khairul Hakimin, wa Maqbulus Sailin. Amin.

Demikianlah bunyi wasiat beliau, dengan tidak merobah redaksinya. Apabila kita perhatikan dengan seksama, maka akan kita dapati, bahwa isi wasiat itu sesuai benar dengan firman Allah dan sabda Rasulullah saw. Kita yakin dan percaya apabila wasiat itu kita amalkan, niscaya kita memperoleh keberuntungan dan kebahagiaan hidup dunia dan akhirat.

(sumber: dari artikel  dari H.M.Fahmi El Fuad, cicit Syekh Abdul Wahab Rokan Al-Khalidi Naqsyabandi, Tuan Guru Babussalam. Artikel ini pernah dimuat di media online).

Categories: >>PERPUSTAKAAN UTAMA | 5 Komentar

WIRID KYAI ABDULAH


Doa wirid untuk perbendaharaan kita bersama, yaitu wirid rotib dari Al-Habib Abdullah bin Abubakar Alaydrus (1391-1445) adalah leluhur para pemilik marga Alaydrus di seluruh dunia. Abdullah adalah putra dari Abubakar As-Sakran bin Imam Abdurrahman Assegaf (datuknya marga Assegaf).

Al-Imam Al-Habib Abdullah Alaydrus adalah keturunan ke-24 dari Nabi Muhammad SAW.

Silsilah Abdullah Alaydrus adalah sebagai berikut: Abdullah bin Abubakar As-Sakran bin  Abdurrahman Assegaf bin Muhammad  Mauladawillah bin Ali bin Alwi bin Muhammad Al-Faqih Muqadam bin Ali bin Muhammad Shahib Mirbath  bin Ali Khali’ Qasam bin Alwi bin Muhammad bin Alwi bin Ubaidillah bin Ahmad Al-Muhajir bin Isa An-Naqib Ar-Rumi bin Muhammad An-Naqib bin Ali Al-Uraidli bin Ja’far Shodiq bin Muhammad Al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Husein (cucu Nabi Muhammad SAW, anak dari pasangan Fatimah Az-Zahra-Ali Bin Abi Thalib).

Berikut wiridnya:

WIRID KYAI ABDULLAH

Categories: >>PERPUSTAKAAN UTAMA | 6 Komentar

ILMU KESELAMATAN TATA CARA KEJAWEN WARISAN LELUHUR


tarik napas dan tahan baca
Bismillahirrohmanirrohim 1 x
Ila ku mati wa ila ku mati alif ora mati 5x
hembuskan napas.

FADHILAH: insya allah kita akan mendapatkan perlindungan dari Allah SWT dan apapun yang kita lakukan (rejeki/masalah/asmara dll) akan lancar dan tidak ada jalan buntu alias selalu hidup.

demikian khasanah ilmu-ilmu batin yang ada di nusantara.
@@@

Categories: ILMU KESELAMATAN TATA CARA KEJAWEN WARISAN LELUHUR | 44 Komentar

SHODAKOH IJASAH MENYAMBUT MILAD KWA: SAYAP JIBRIL


IJASAH KH MUHAMMAD ITSNA HAMBALI,
Pengasuh Pondok Pesantren Darul ‘Ulum Selotumpuk Wlingi Blitar

Doa ini tertulis pada sayap malaikat jibril ‘alaihis salam. Bacalah doa ini atas hajat2 kalian.

Bismillahirrahmanirrahim..

Doa tertulis di bagian dalam sayap malaikat jibril ketika Nabi Isa ‘alaihis salam diangkat ke langit.

ALLOHUMMA INNII AD’UUKA BI ISMIKAL WAAHIDIL A’AZZI, WA AD’UUKALLOHUMMA BI ISMIKAS-SHOMADI, WA AD’UUKA BI ISMIKAL ‘ADZIIMIL WATRI, WA AD’UUKA BI ISMIKAL KABIIRIL MUTA’AALIL LADZII  TSABATA BI HII ARKAANUHAA KULLUHAA AN TAKSYIFA ‘ANNII MAA ASHBAHTU WA MAA AMSAITU FIIHI

Nabi Isa As kemudian membaca doa tersebut. Lalu Allah memberikan wahyu kepada malaikat jibril, ” angkatlah hamba-Ku ke langit”.

Nabi Muhammad Saw bersabda: “wahai bani Abdul Mutholib bermohonlah kalian kepada Tuhan kalian dg kalimat doa ini. Maka demi Zat yang diriku berada di Tangan-Nya, tidaklah seorang hamba berdoa dengan doa tersebut dengan ikhlas kecuali ‘Arsy berguncang sehingga Allah berfirman kepada Para malaikat-Nya, “persaksikanlah oleh kalian semua, sungguh, Aku telah mengabulkan permohonan hamba itu dengan sebab kalimat2 tadi. Dan Aku pasti akan memperkenankan permohonannya sebentar lagi ketika masih di dunia”..

Silahkan diamalkan.. semoga bermanfaat dan barokah.. ki wong alus, silahkan kalau mau di upload ke blog.. ini doa yang sangat bagus.. sebenarnya juga masuk “sinengker” atau dirahasiakan supaya tidak di salahgunakan..

Salam silaturahmi dan hormat takdzim katur dumateng semua sesepuh dan selulur KWA.

Wassalamualaikum wr wb.

@@@

Categories: DOA SAYAP JIBRIL | 49 Komentar

PENGIJASAHAN HIZIB MAGHNATIS TATAP MUKA bagi SEDULUR YANG BERDOMISILI DI JAKARTA DAN SEKITARNYA


Setelah pengijasahan tatap muka di Markas KWA di Sidoarjo  pada hari Jumat  5 Januari 2016, dan dalam alam rangka menyemarakkan  acara Milad Kampus Wong Alus (KWA) VII, KWA Jayakarta akan mengadakan PENGIJASAHAN ILMU HIZIB MAGHNATIS DENGAN MAHAR SEIKHLASNYA. Pengijasahan ini dilaksanakan di Ibukota Jakarta agar sedulur yang berdomisili di Jakarta, Jawa Barat dan sekitarnya bisa menikmati pengijasahan ilmu ini.

Hizib ini bersifat ekslusif karena belum pernah ada di internet dan di perguruan manapun, kecuali di Blog KWA. Fadillahnya untuk pengobatan, keselamatan, pageran, penyerangan goib jarak jauh.

ILMU HIZIB MAGHNATIS ADALAH JENIS ILMU HIKMAH YANG SANGAT JARANG DIMILIKI PENDEKAR. KARENA INI ADALAH SEJENIS ILMU GOIB “LAMPAH LUMPUH”. DIMANA DALAM KEADAAN MENDESAK MUSUH YANG TERKENA AKAN MENGALAMI KELUMPUHAN.

KARENA BERBAHAYA, MESKI SIAPA SAJA BISA MENDAPATKAN PENGIJASAHAN DARI KAMI, NAMUN PESERTA WAJIB DIBAI’AT DAN BERTEMU LANGSUNG DENGAN KAMI SEBELUMNYA.

Dan bagi yang berminat, silakan bawa air aqua gelas dan garam secukupnya untuk diminum setelah proses pembaiatan selesai dilakukan.

Pengijasahan dan Penyelarasan Hizib Maghnatis akan dilaksanakan pada  :

Hari, Tanggal     :  Minggu, 14 Februari  2016

Waktu                  :  Pukul 16:00-  18:00  WIB

Tempat              :  Gelanggang Olah Raga (GOR) Senam Buaran

                                   Jl. Radin Inten, Buaran, Jakarta Timur

                                   (200 meter dari Mall Buaran)
Mahar                :   Seiklhasnya  yang kami gunakan untuk sewa tempat.

PEMBAIATAN:

Sohibul Ijasah dengan posisi saling berjabat tangan, mengucapkan  :

“Saya baiat sumpah ke anda agar menggunakan Hizib Magnatis ini di jalan Allah dengan melaksanakan shalat minta petunjuk/istikharoh kepada Allah SWT dan berdasarkan syariat Islam terlebih dahulu.”

Selanjutnya penerima Ijasah mengucapkan  :

“Saya berbaiat untuk melaksanakan Hizib Maghnatis dijalan Allah sesuai syariat islam”.

Untuk informasi lebih lanjut mengenai Hizib Maghnatis ini dapat menghubungi  (Telpon/SMS/Whatsapp) Ki Ageng Bayu Penanggungan aka Anyabrea Valentine  (0877 7557 3775).

Silakan datang untuk bersilaturahmi dengan sedulur lainnya.

Categories: >>PERPUSTAKAAN UTAMA | 9 Komentar

PENGIJASAHAN HIZIB MAGHNATIS MENYAMBUT MILAD DI MABES KWA


MERAMAIKAN MILAD KWA APRIL MENDATANG MAKA MARKAS KWA AKAN MENGADAKAN PENGIJASAHAN GRATIS ILMU HIZIB MIGHNATIS DENGAN PENGIJASAH KI WONGALUS UTK KESELAMATAN, KEKUATAN, MENYERANG MUSUH JARAK JAUH.

ILMU HIZIB MIGHNATIS ADALAH JENIS ILMU HIKMAH YANG SANGAT JARANG DIMILIKI PENDEKAR. KARENA INI ADALAH SEJENIS ILMU GOIB “LAMPAH LUMPUH” DIMANA DALAM KEADAAN MENDESAK MUSUH YANG TERKENA AKAN MENGALAMI KELUMPUHAN

KARENA BERBAHAYA, MESKI SIAPA SAJA BISA MENDAPATKAN PENGIJASAHAN DARI KAMI MAKA PESERTA WAJIB DIBAI’AT DAN BERTEMU LANGSUNG DENGAN KAMI SEBELUMNYA.

IJASAHAN DAN PENYELARASAN AKAN DILAKSANAKAN PADA:

HARI JUMAT 5 FEBRUARI 2016

PUKUL 20.00 WIB (MALAM)

TEMPAT MARKAS KWA, MUSHOLA BALAI DIKLAT JL MAJAPAHIT 5 SIDOARJO

SILAHKAN HADIR UNTUK BERSILATURAHIM DULUR… GRATIS TANPA BIAYA. SUWUN.

=KWA=

Categories: >>PERPUSTAKAAN UTAMA | 12 Komentar

ILMU KEBAL PEMBANGKITAN HAKIKAT BESI


Hakikat besi adalah besi yang dibuat Allah di inti bintang, trus jatuh ke bumi yg masih labil krn lembek. Bumi itu personifikasi Adam. Kejadian besi itu di bintang Sirius. Orang Arab menyebutnya Asy Sya’ra dan sblm Islam orang Arab menyembah ini. Bamgsa mesir kunopun meyembah bintang ini. Allah dlm surat An Najm menyebut diriNya Rabba Sya’ra atau Rabb-nya bintang Sirius.

Utk bangkitkan hakikat besi, setiap habis solat 5 waktu selama 7 hari berturut2 bacalah:

1. Hai binta sya’ra … 57x, lalu baca mantra sslanjutnya sekali saja

2. Bismillahir rahmanir rahim. Assalamualaikum ibu bosi, aku memakai doa daud yang nabi
Terdirilah engkau di alif semula jadi
Togaklah engkau di tiang maligai
Waalaikumsalam binta sya’ra, aku memakai doa daud yang raja
Tahankan anak turunmu di mana ada
Pulangkan musuh seterumu ke asalnya
Kabul berkat kalimah la ilaha illallah

Binta sya’ra namanya, krn hakikat besi itu anak perempuan bintang sirius. Dia yg melahirkan logam lain, trmasuk besi, air raksa, timah, tembaga dll.

Wassalam.

Tukang Besi Kursani

Categories: ILMU BANGKITKAN HAKIKAT BESI | 24 Komentar

PENGIJASAHAN JARAK JAUH (PJJ) DALAM RANGKA MILAD KWA 2016


Dalam rangka pengumpulan dana untuk pelaksanaan Milad Kampus Wong Alus (KWA) VII di Puri Maerokoco, PRPP (Pusat Rekreasi dan Promosi Pembangunan), Semarang, Jawa Tengah, KWA akan mengadakan Pengijasahan Keilmuan Jarak Jauh (PJJ) bermahar bagi siapapun yang membutuhkannya, terutama Bolo Wong Alus yang tidak dapat menghadiri acara Milad KWA VII di Puri Maerokoco pada tanggal 9 – 10 April 2016.

IMG_0401

             Keilmuan yang diijasahkan dalam PJJ ini adalah ilmu yang langka dan tidak kalah fadillahnya  (manfaat) dibandingkan dengan ilmu-ilmu lainnya. Di dalam acara Milad KWA VII nanti, keilmuan ini akan diijsahkan dengan mahar yang lebih rendah daripada di PJJ ini. Adapun Sohibul Ijasah dalam PJJ ini adalah Alumni Program Guru KWA, Senior KWA serta Guru Besar Padepokan, yang tergabung dalam KWA.

                Seperti di tahun lalu (2015) dan dua tahun sebelumnya (2014), PJJ hanya akan dilaksanakan 1 x dan tidakakan ada penambahan gelombang berikutnya. Oleh karena itu pergunakanlah kesempatan baik ini untuk menambah ilmukebatinan Sedulur sekalian.

                Mahar ditetapkan Rp 150.000 untuk setiap keilmuan. Diperbolehkan mengambil lebih dari 1 keilmuan dengan memberitahukan sebelumnya ke Sohibul Ijasah yang bersangkutan. Adapunnama Sohibul Ijasah, nama keilmuan beserta fadillah dari keilmuan yang ada di PJJ adalah sebagai berikut  :

  1. Ki Agus Aleq Kurniawan aka Abine Roro Afrizal (Jepara) –>Aji Idhu Putih

Aji Idhu Putih adalah salah satu ilmu kebal. Kita dapat menahan panasnya logamdengan jilatan ludah saja.Hebat kan,tapi tingkat keberhasilan dari ritual ini mayoritas tergantung pada keikhlasan dan keyakinan dari sang pelaku yang mengamalkannya. Apabila ilmu ini berhasil Anda kuasai, Insya Allah logampanas jenis apapun itu akan bisa Anda jilat dangan leluasa tanpa merasakan rasa panas sedikitpun.

  1. Ki AgengBayuPenanggungan (Jakarta) –>IlmuAsmak Raja Harimau Tingkat I  (ada 5 tingkat)

Fadillahnya untuk berbagai keperluan  :  pengobatan, pemagaran, kekuatan, kemandirian, kewibawaan, keperkasaan, penaklukan musuh dan lain sebagainya. Penggunaannya bisa anda gunakan dengan banyak media, misalnya air, telur, batu akik dll.

Khodam Asmak Raja Harimau ini Insya Allah akan datang ke anda. Mohon diamalkan untuk menebarkan kebaikan dan mencegah kemungkaran dengan bijaksana dan tidak melanggar hukum.

  1. Ki DaengPangruktiWisesa (Bekasi)  –>AsmaTunggulManik

Asma Tunggul Manik merupakan keilmuan yang tersohor pada zaman-nya bagi para jawara. Keilmuan ini bermanfaat untuk keselamatan bagi pengamalnya, selain untuk kekebalan tubuh, juga dapat dipergunakan sebagai pagar gaib, melapisi tubuh, anti santet dan bahkan bisa merasakan/melihat adanya makhluk ghaib pada tempat tertentu.

  1. Ki Rakamas Jaludro (Sidoarjo)
  1. Asmak Suruk Jagat

Asma Suruk Jagat ini merupakan inti sari dari semua ilmu hikmah dan kunci rahasia dari segala keilmuan yang mampu menghubungkan antara pengamal dengan semua ilmuapapun, baik yang bersifat kejadukan, kanuragan, dayatarik, dayatolak, hikmah, energi alam, benda ataupun azimah.

Cara menggunakan ilmu ini untuk berbagai keperluan simpel sekali, yaitu dengan merubah energi asmak ini menjadi bola energi atau cahaya sesuai keperluan masing-masing. Tanda-tanda manjingny ailmu ini ada rasa kebahagiaan dan ketenangan serta visual lebih jelas. Dengan asmak ini kita tidak perlu repot lagi dengan mengamalkan ilmulain, yang masih ribet dengan tata laku ritual.

  1. Ilmu Semula JadiAsmak Malaikat Hafadhoh

Asma kini adalah rahasia dan simpanan para kiai yang memang mempunyai sifat khusus dan berfungsi untuk kekekuatan, perlindungan dan keselamatan, baik dari benda tajam dan tumpul dengang ridho Alloh.

Ilmu ini butuh penyelarasan sebelum mengamalkan dan menggunakannya, yang mana penyelarasan tersebut antara lain untuk  sambung sanad keilmuan sekaligus ijin mengamalkan keilmuan pada para wali yang pertama kali menciptakan dan mengamalkan asmak ini.

  1. Ki Gede Panembahan Suntika Penanggungan (Tangerang) –>Syahadat Pemuka Alam dan Kalimah Pambeber

Syahadat dan kalimah ini adalah warisan karuhun tanah pasundan.  Insya Allah berfadillahuntuk membuka hijab dan membeber alam ghaib dan memiliki khadam pendamping.

  1. Ki Sudjono  Kahfi  (Sidoarjo)  –>  Ilmu Pelemah Amarah Orang

Fadillahnya khusus untuk meredam dan melemahkan amarah seseorang.  Jika seseorang akan marah maka begitu bertemu dengan pengamal ilmu ini ia akan lemah dan segan. Apabila pengamal ilmu ini masuk ke hutan, maka binatang buas/ular akan segan kepadanya.

  1. Lintang Kusumo  (Yogyakarta)  –>Tameng Pamungkas  (ada 3 tingkat)

Ilmu yang dibuat khusus untuk acara Milad KWA VII dan masih “fresh from oven” dari Guru Besar Padepokan Haryo Kusumo. Ilmu Tameng Pamungkas berfungsi untuk proteksi dengan proteksi berbentuk naga putih, yang akan memproteksi dari serangan negatif ataupun serangan langsung dari orang yang berniat jahat.

Untuk tingkat paling tinggi (tk 3) akan bisa menahan serangan langsung dan mementalkan yang menyerang. Dan begitu juga seandainya ada “kiriman” akan langsung berbalik ke pengirim tanpa kita ketahui siapa pengirimnya. Semua atas izin Allah semata.

  1. Shang Jalak Jiwo (Semarang) –>AjiPuserBumi

AjiPuserBumiiniberasaldarienergialam yang akan berpusat pada diri kita. Energinya melingkar seperti pusaran yang melingkar, baik dari atas maupun dari bawah. Energi puser bumi bisa dibandingkan dengan asma keilmuan lainnya.

 Selain itu Insya Allah, ilmu ini berfungsi untuk menghalau santet, untuk pengamanan bila masuk ke tempat angker (wingit), memperlancar rejeki, mematahkan/menaikkan sebuah perusahaan.

*****************************************************

 PJJ akan dilaksanakan pada  :

Hari, Tanggal    :  Senin Kliwon,  15  Februari  2016

Waktu                  :  Pukul  22:00 WIB  – selesai

Tempat                :  Di kediaman masing-masing


*****************************************************

 Persiapan yang perludilakukanolehPenerimaIjasah  :

  1. Sediakan ruangan yang bersih, lebih bagus kalau di tempat terbuka
  2. Ruangan harus tenang dan tidak berisik
  3. Cahaya ruangan remang-remang
  4. Posisi duduk bersila (posisimeditasi)

Mahar dapat ditransfer ke nomor rekening BCA 274 116 0937  a/n  BayuWicoroDjati, SH. Setelah melakukan transfer konfirmasikan transfer melalui SMS kenomor HP 0877 7557 3775 beserta data diri yang berisi  :

  • Nama Lengkap
  • Tempat, TanggalLahir
  • Nama IbuKandung
  • Keilmuan yang dipilih

Untuk informasi lebih lanjut mengenai keilmuan dalam PJJ ini, dapat menghubungi Sohibul Ijasahny amasing-masing (Telpon/SMS/Whatsapp)  :

  1. Ki AgusAleqKurniawan aka Abine Roro Afrizal (08813865803)
  2. Ki AgengBayuPenanggungan aka AnyabreaValentine (0877 7557 3775)
  3. Ki Daeng Pangrukti Wisesa (08158039992)
  4. Ki Rakamas Jaludro (0888 5009 569)
  5. Ki Gede Panembahan Suntika Penanggungan aka Suhu Bobby Kinasih (0856 9599 1274)
  6. Ki SudjonoKahfi  (0877 0285 3596)
  7. LintangKusumo (0878 8299 3890)
  8. Shang JalakJiwo aka Ken Thol Phamungkas (089503777508)

@@@

Categories: MILAD KWA 2016 | 28 Komentar

RITUAL WIRID DAN DZIKIR DI BERBAGAI TAREKAT


sulukTarekat (Bahasa Arab: طرق, transliterasi: Tariqah) berarti “jalan” atau “metode”, dan mengacu pada aliran kegamaan tasawuf atau sufisme dalam Islam. Ia secara konseptual terkait dengan ḥaqīqah atau “kebenaran sejati”, yaitu cita-cita ideal yang ingin dicapai oleh para pelaku aliran tersebut. Seorang penuntut ilmu agama akan memulai pendekatannya dengan mempelajari hukum Islam, yaitu praktik eksoteris atau duniawi Islam, dan kemudian berlanjut pada jalan pendekatan mistis keagamaan yang berbentuk ṭarīqah. Melalui praktik spiritual dan bimbingan seorang pemimpin tarekat, calon penghayat tarekat akan berupaya untuk mencapai ḥaqīqah(hakikat, atau kebenaran hakiki).

Kata tarekat berasal dari bahasa Arab thoriqoh, jamaknya thoraiq, yang berarti: (1) jalan atau petunjuk jalan atau cara, (2) Metode, system (al-uslub), (3) mazhab, aliran, haluan (al-mazhab), (4) keadaan (al-halah), (5) tiang tempat berteduh, tongkat, payung (‘amud al-mizalah).

suluk (1)Menurut Al-Jurjani ‘Ali bin Muhammad bin ‘Ali (740-816 M), tarekat ialah metode khusus yang dipakai oleh salik (para penempuh jalan) menuju Allah Ta’ala melalui tahapan-tahapan/maqamat.

Dengan demikian tarekat memiliki dua pengertian, pertama ia berarti metode pemberian bimbingan spiritual kepada individu dalam mengarahkan kehidupannya menuju kedekatan diri dengan Tuhan. Kedua, tarekat sebagai persaudaraan kaum sufi (sufi brotherhood) yang ditandai dengan adannya lembaga formal seperti zawiyah, ribath, atau khanaqah.

Bila ditinjau dari sisi lain tarekat itu mempunyai tiga sistem, yaitu: sistem kerahasiaan, sistem kekerabatan (persaudaraan) dan sistem hirarki seperti khalifah tawajjuh atau khalifah suluk, syekh atau mursyid, wali atau qutub. Kedudukan guru tarekat diperkokoh dengan ajaran wasilah dan silsilah. Keyakinan berwasilah dengan guru dipererat dengan kepercayaan karamah, barakah atau syafa’ah atau limpahan pertolongan dari guru.

Pengertian diatas menunjukkan Tarekat sebagai cabang atau aliran dalam paham tasawuf. Pengertian itu dapat ditemukan pada al-Thoriqoh al-Mu’tabarah al-Ahadiyyah, Tarekat Qadiriyah, thoriqoh Naqsabandriyah, Tarekat Rifa’iah, Tarekat Samaniyah dll. Untuk di Indonesia ada juga yang menggunakan kata tarekat sebagai sebutan atau namapaham mistik yang dianutnya, dan tidak ada hubungannya secara langsung dengan paham tasawuf yang semula atau dengan tarekat besar dan kenamaan. Misalnya Tarekat Sulaiman Gayam (Bogor), Tarekat Khalawatiah Yusuf (Suawesi Selatan) boleh dikatakan hanya meminjam sebutannya saja. Bahkan di Manado ada juga Biara Nasrani yang menggunakan istilah Tarekat, seperti Tarekat SMS Joseph.

Empat tingkatan spiritual

94tarekatKaum sufi berpendapat bahwa terdapat empat tingkatan spiritual umum dalam Islam, yaitu syari’at, tariqah, haqiqah, dan tingkatan keempat ma’rifat yang merupakan tingkatan yang ‘tak terlihat’. Tingkatan keempat dianggap merupakan inti dari wilayah hakikat, sebagai esensi dari seluruh tingkatan kedalaman spiritual beragama tersebut.

Mempelajari tarekat

Muhammad Hasyim Asy’ari sebagaimana dikutip oleh Muhammad Sholikhin, seorang peng-analisis tarekat dan sufi mengatakan bahwa ada delapan syarat dalam mempelajari tarekat:

  • Qashd shahih, menjalani tarekat dengan tujuan yang benar. Yaitu menjalaninya dengan sikap ubudiyyah, dan dengan niatan menghambakan diri kepada Tuhan.
  • Shidq sharis, haruslah memandang gurunya memiliki rahasia keistimewaan yang akan membawa muridnya ke hadapan Ilahi.
  • Adab murdhiyyah, orang yang mengikuti tarekat haruslah menjalani tata-krama yang dibenarkan agama.
  • Ahwal zakiyyah, bertingkah laku yang bersih/sejalan dengan ucapan dan tingkah-laku Nabi Muhammad SAW.
  • Hifz al-hurmah, menjaga kehormatan, menghormati gurunya, baik ada maupun tidak ada, hidup maupun mati, menghormati sesama saudaranya pemeluk Islam, hormat terhadap yang lebih tua, sayang terhadap yang lebih muda, dan tabah atas permusuhan antar-saudara.
  • Husn al-khidmah, mereka-mereka yang mempelajari tarekat haruslah mempertinggi pelayanan kepada guru, sesama, dan Allah SWT dengan jalan menaati segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.
  • Raf’ al-himmah, orang yang masuk tarekat haruslah membersihkan niat hatinya, yaitu mencari khashshah(pengetahuan khusus) dari Allah, bukan untuk tujuan duniawi.
  • Nufudz al-‘azimah, orang yang mempelajari tarekat haruslah menjaga tekat dan tujuan, demi meraih makrifatkhashshah tentang Allah.

Tujuan

Tujuan tarekat adalah membersihkan jiwa dan menjaga hawa-nafsu untuk melepaskan diri dari pelbagai bentuk ujub, takabur, riya’, hubbud dunya (cinta dunia), dan sebagainya. Tawakal, rendah hati/tawadhu’, ridha, mendapat makrifat dari Allah, juga menjadi tujuan tarekat.

Ada yang menganggap mereka yang menganggap orang-orang sufi dan tarekat sebagai orang yang bersih (shafa) dari kekotoran, penuh dengan pemikiran “dan yang baginya sama saja antara nilai emas dan batu-batuan,” tulis Muhammad Sholikhin dalam bukunya. Ada pula yang menganggap mereka mencapai makna orang yang berkata benar, semulia-mulianya manusia setelah para Nabi sebagaimana firman Allah dalam QS. An-Nisa (4):69.[2] Namun, Ibnu Taimiyahmengatakan pendapat ini salah sama sekali. Yang benar, adalah “orang-orang yang berijtihad dalam ketaatannya kepada Allah.”

Tarekat-tarekat di Indonesia

Berikut ini adalah Thoriqoh-thoriqoh utama yang ada dan berkembang di Indonesia:

  • Tarekat Alawiyyah
  • Tarekat Idrisiyah
  • Tarekat Khalwatiyah
  • Tarekat Nahdlatul Wathan
  • Tarekat Naqsyabandiyah
  • Tarekat Qodiriyah wa Naqsyabandiyah
  • Tarekat Qodiriyah
  • Tarekat Rifa’iah
  • Tarekat Samaniyah
  • Tarekat Shiddiqiyyah
  • Tarekat Syadziliyah
  • Tarekat Syattariyah
  • Tarekat Tijaniyah

Dan lain sebagainya..

Tumbuhnya tarekat dalam Islam bersamaan dengan kelahiran agama Islam yaitu sejak Nabi Muhammad Saw. diutus menjadi Rasul. Fakta sejarah menunjukkan bahwa pribadi Nabi Muhammad Saw. sebelum diangkat menjadi Rasul telah berulang kali melakukan tahannust dan khalwat di Gua Hira’ di samping untuk mengasingkan diri dari masyarakat Makkah yang sedang mabuk mengikuti hawa nafsu keduniaan. Tahannust dan khalwat Nabi adalah untuk mencari ketenangan jiwa dan kebersihan hati dalam menempuh problematika dunia yang kompleks tersebut. Proses khalwat Nabi yang kemudian disebut tarekat tersebut sekaligus diajarkannya kepada Sayyidina Ali ra. sebagai cucunya. Dan dari situlah kemudian Ali mengajarkan kepada keluarga dan sahabat-sahabatnya sampai kepada para guru tarekat.

Suluk berarti berzikir terus-menerus mengingat Allah SWT. Baik zikir ismal-dzat atau menyebut Allah, maupun dzikir naif itsbat dengan menyebut La Ila Ha Illa Allah. Dalam Tarekat Naqsyabandiyah, misalnya, zikir suluk terdapat 7 tingkatan. Mula-mula zikir dengan menyebut nama Allah dalam hati sebanyak 5.000 kali sehari semalam. Berikutnya, jemaah menaikkan zikir menjadi 6.000 kali sehari semalam. Kemudian setelah melaporkan perasaan yang dialami dalam berzikir itu, maka dinaikkan zikirnya menjadi 7000. Demikian seterusnya menjadi 8.000, 9.000 hingga 10.000 kali sehari semalam.

Berikut ini adalah rangkuman ritual berbagai wirid dan dzikir di beberapa tarekat sebagaimana yang pernah dimuat di media pejalan ruhani yang dalam istilah tarekat disebut SULUK.

SULUK TAREKAT QODIRIYAH

Syaikh Abdul Qadir al-Jilani adalah mursyid tarekat Qadiriyah. Sebagaimana dalam silsilah tarekat Qadiriyah yang merujuk pada Sayyidina Ali ra. dan Syaikh Abdul Qadir al-Jilani dan seterusnya adalah dari Nabi Muhammad Saw., dari Malaikat Jibril dan dari Allah SWT.

Tarekat Qadiriyah didirikan oleh Syaikh Abdul Qadir al Jilani (wafat 561 H/1166M) yang bernama lengkap Muhy al-Din Abu Muhammad Abdul Qadir ibn Abi Shalih Zango Dost al-Jilani. Lahir di Jilan tahun 470 H/1077 M dan wafat di Baghdad pada 561 H/1166 M. Dalam usia 8 tahun ia sudah meninggalkan Jilan menuju Baghdad pada tahun 488 H/1095 M. Karena tidak diterima belajar di Madrasah Nizhamiyah Baghdad, yang waktu itu dipimpin Ahmad al-Ghazali, yang menggantikan saudaranya Abu Hamid al-Ghazali. Tapi, al-Ghazali tetap belajar sampai mendapat ijazah dari gurunya yang bernama Syaikh Abu Yusuf al-Hamadani (440-535 H/1048-1140 M) di kota yang sama itu sampai mendapatkan ijazah.

Pada tahun 521 H/1127 M, dia mengajar dan berfatwa dalam semua madzhab pada masyarakat sampai dikenal masyarakat luas. Selama 25 tahun Syaikh Abdul Qadir al-Jilani menghabiskan waktunya sebagai pengembara sufi di Padang Pasir Iraq dan akhirnya dikenal oleh dunia sebagai tokoh sufi besar dunia Islam. Selain itu dia memimpin madrasah dan ribath di Baghdad yang didirikan sejak 521 H sampai wafatnya di tahun 561 H. Madrasah itu tetap bertahan dengan dipimpin anaknya Syaikh Abdul Wahab (552-593 H/1151-1196 M), diteruskan anaknya Syaikh Abdul Salam (611 H/1214 M). Juga dipimpin anak kedua Syaikh Abdul Qadir al-Jilani, Syaikh Abdul Razaq (528-603 H/1134-1206 M), sampai hancurnya Baghdad pada tahun 656 H/1258 M.

Sejak itu tarekat Qadiriyah terus berkembang dan berpusat di Iraq dan Syria yang diikuti oleh jutaan umat yang tersebar di Yaman, Turki, Mesir, India, Afrika dan Asia. Namun meski sudah berkembang sejak abad ke-13, tarekat ini baru terkenal di dunia pada abad ke 15 M. Di India misalnya, baru berkembang setelah Syaikh Muhammad Ghawsh (w. 1517 M) juga mengaku keturunan Syaikh Abdul Qadir al-Jilani. Di Turki oleh Ismail Rumi (w 1041 H/1631 M) yang diberi gelar (mursyid kedua). Sedangkan di Makkah, tarekat Qadiriyah sudah berdiri sejak 1180 H/1669 M.

Tarekat Qadiriyah ini dikenal luwes. Yaitu bila murid sudah mencapai derajat syaikh, maka murid tidak mempunyai suatu keharusan untuk terus mengikuti tarekat gurunya. Bahkan dia berhak melakukan modifikasi tarekat yang lain ke dalam tarekatnya. Hal itu seperti tampak pada ungkapan Syaikh Abdul Qadir al-Jilani sendiri, “Bahwa murid yang sudah mencapai derajat gurunya, maka dia jadi mandiri sebagai syaikh dan Allah-lah yang menjadi walinya untuk seterusnya.”

Mungkin karena keluwesannya tersebut, sehingga terdapat puluhan tarekat yang masuk dalam kategori Qadiriyah di dunia Islam. Seperti Banawa yang berkembang pada abad ke-19, Ghawtsiyah (1517), Junaidiyah (1515 M), Kamaliyah (1584 M), Miyan Khei (1550 M), Qumaishiyah (1584), Hayat al-Mir, semuanya di India. Di Turki terdapat tarekat Hindiyah, Khulusiyah, Nawshahi, Rumiyah (1631 M), Nablusiyah, Waslatiyyah. Dan di Yaman ada tarekat Ahdaliyah, Asadiyah, Mushariyyah, ‘Urabiyyah, Yafi’iyah (718-768 H/1316 M) dan Zayla’iyah. Sedangkan di Afrika terdapat tarekat Ammariyah, Bakka’iyah, Bu’Aliyyah, Manzaliyah dan tarekat Jilala, nama yang biasa diberikan masyarakat Maroko kepada Syaikh Abdul Qadir al-Jilani. Jilala dimasukkan dari Maroko ke Spanyol dan diduga setelah keturunannya pindah dari Granada, sebelum kota itu jatuh ke tangan Kristen pada tahun 1492 M dan makam mereka disebut “Syurafa Jilala”.

Dari ketaudanan Nabi dan sahabat Ali ra. dalam mendekatkan diri kepada Allah SWT tersebut, yang kemudian disebut tarekat, maka tarekat Qadiriyah menurut ulama sufi juga memiliki tujuan yang sama. Yaitu untuk mendekat dan mendapat ridho dari Allah SWT. Oleh sebab itu dengan tarekat manusia harus mengetahui hal-ikhwal jiwa dan sifat-sifatnya yang baik dan terpuji untuk kemudian diamalkan, maupun yang tercela yang harus ditinggalkannya.

Misalnya dengan mengucapkan kalimat tauhid, dzikir “Laa ilaha Illa Allah” dengan suara nyaring, keras (dhahir) yang disebut (nafi istbat) adalah contoh ucapan dzikir dari Syaikh Abdul Qadir al-Jilani dari Sayidina Ali bin Abi Thalib ra., hingga disebut tarekat Qadiriyah. Selain itu dalam setiap selesai melaksanakan shalat lima waktu (Dhuhur, Asar, Maghrib, Isya’ dan Subuh), diwajibkan membaca istighfar tiga kali atau lebih, lalu membaca shalawat tiga kali, Laa ilaha illa Allah 165 (seratus enam puluh lima) kali. Sedangkan di luar shalat agar berdzikir semampunya.

Dalam mengucapkan lafadz Laa pada kalimat “Laa Ilaha Illa Allah” kita harus konsentrasi dengan menarik nafas dari perut sampai ke otak. Kemudian disusul dengan bacaan Ilaha dari arah kanan dan diteruskan dengan membaca Illa Allah ke arah kiri dengan penuh konsentrasi, menghayati dan merenungi arti yang sedalam-dalamnya, dan hanya Allah SWT-lah tempat manusia kembali. Sehingga akan menjadikan diri dan jiwanya tentram dan terhindar dari sifat dan perilaku yang tercela.

Menurut ulama sufi (al-Futuhat al-Rubbaniyah), melalui tarekat mu’tabarah tersebut, setiap muslim dalam mengamalkannya akan memiliki keistimewaan, kelebihan dan karomah masing-masing. Ada yang terkenal sebagai ahli ilmu agama seperti sahabat Umar bin Khattab ra., ahli syiddatil haya’ sahabat Usman bin Affan ra., ahli jihad fisabilillah sahabat Hamzah ra. dan Khalid bin Walid ra., ahli falak Zaid al-Farisi ra., ahli syi’ir Hasan bin Tsabit ra., ahli lagu Al Qur’an sahabat Abdillah bin Mas’ud ra. dan Ubay bin Ka’ab ra., ahli hadis Abi Hurairah ra., ahli adzan sahabat Bilal ra. dan Ibni Ummi Maktum ra., ahli mencatat wahyu dari Nabi Muhammad Saw. adalah sahabat Zaid bin Tsabit ra., ahli zuhud Abi Dzarr ra., ahli fiqh Mu’ad bin Jabal ra., ahli politik peperangan sahabat Salman al-Farisi ra., ahli berdagang adalah Abdurrahman bin A’uf ra. dan sebagainya.

Untuk mengamalkan tarekat Qadiriyah, harus melalui tahapan-tahan seperti; pertama, adanya pertemuan guru (syaikh) dan murid, murid mengerjakan shalat dua raka’at (sunnah muthalaq) lebih dahulu, diteruskan dengan membaca surat al-Fatihah yang dihadiahkan kepada Nabi Muhammad Saw. Kemudian murid duduk bersila di depan guru dan mengucapkan istighfar, lalu guru mengajarkan lafadz Laa ilaha Illa Allah, dan guru mengucapkan “infahna binafhihi minka” dan dilanjutkan dengan ayat mubaya’ah (QS. Al-Fath 10).

Kemudian guru mendengarkan kalimat tauhid (Laa Ilaha Illa Allah) sebanyak tiga kali sampai ucapan sang murid tersebut benar dan itu dianggap selesai. Kemudian guru berwasiat, membai’at sebagai murid, berdoa dan minum.

Kedua, tahap perjalanan. Tahapan kedua ini memerlukan proses panjang dan bertahun-tahun. Karena murid akan menerima hakikat pengajaran, ia harus selalu berbakti, menjunjung segala perintahnya, menjauhi segala larangannya, berjuang keras melawan hawa nafsunya dan melatih dirinya (mujahadah-riyadhah) hingga memperoleh dari Allah seperti yang diberikan pada para nabi dan wali.

Tarekat (thariqah) secara harfiah berarti “jalan” sama seperti syari’ah, sabil, shirath dan manhaj. Yaitu jalan menuju kepada Allah guna mendapatkan ridho-Nya dengan mentaati ajaran-Nya. Semua perkataan yang berarti jalan itu terdapat dalam Al Qur’an, seperti QS. Al-Jin:16, “Kalau saja mereka berjalan dengan teguh di atas thariqah, maka Kami (Allah) pasti akan melimpahkan kepada mereka air (kehidupan sejati) yang melimpah ruah”.

Istilah thariqah dalam perbendaharaan kesufian, merupakan hasil makna semantik perkataan itu, semua yang terjadi pada syari’ah untuk ilmu hukum Islam. Setiap ajaran esoterik/bathiniah mengandung segi-segi eksklusif. Jadi, tak bisa dibuat untuk orang umum (awam). Segi-segi eksklusif tersebut misalnya menyangkut hal-hal yang bersifat “rahasia” yang bobot keruhaniannya berat, sehingga membuatnya sukar dimengerti. Oleh sebab itu mengamalkan tarekat itu harus melalui guru (mursyid) dengan bai’at dan guru yang mengajarkannya harus mendapat ijazah, talqin dan wewenang dari guru tarekat sebelumnya. Seperti terlihat pada silsilah ulama sufi dari Rasulullah Saw., sahabat, ulama sufi di dunia Islam sampai ke ulama sufi di Indonesia.

Dalam dunia tasawuf, olah spiritual riyadhah memiliki dimensi yang sangat luas. Apalagi olah spiritual itu menyangkut dimensi yang tak tersentuh oleh indera. Jiwa, hati, dan nafsu adalah merupakan satu dari rahasia Allah yang terus coba digali oleh para pencari kebenaran.

Banyak bentuk diungkapkan guna memperjelas jalan dan mempertegas alur menuju kemurnian tauhid dan ketulusan ubudiyah. Termasuk ikhtiar yang dilakukan melalui berbagai bentuk untuk mendapatkan hakikat makna kehidupan dan arti hubungan antara seorang hamba dan Sang Khalik.

Syekh Abdul Qadir Al-Jailani, yang dijuluki pemimpin para wali Allah (quthb al-auliya), menuangkan gagasan dan hasil kontemplasi dalam salah satu kitabnya yang bertajuk Al-Fath Ar-Rabbani Wa Al-Faidl Ar-Rahmani.

Kitab ini memuat tentang olah spiritual dalam rangka mencari keridhaan Allah SWT. Nasehat-nasehat yang tertuang dalam 62 dua majelis. Tema-tema yang diangkat berputar pada cara mengelola dan mendidik jiwa, hawa nafsu, dan membersihkan hati.

Perkara yang perlu ditekankan pertama kali adalah memahami arti tauhid yang merupakan inti dari ajaran agama. Al-Jailani menegaskan, berpaling kepada Allah SWT ketika takdir turun berarti ketiadaan agama, tauhid nihil, dan sirnalah arti tawakal dan keikhlasan. Akal manusia tidak mampu mencerna bagaimana dan kenapa Allah menakdirkan sesuatu kepada hamba-Nya. Bahkan, seringkali akal sehat dan hati kecil manusia menentang dan tidak rela dengan ketentuan yang telah diberikan kepadanya.

Oleh karena itu, Al-Jailani memberikan nasehat agar terhindar dari keburukan nafsu dengan cara terus melatih dan menempanya. Tatkala nafsu berhasil ditaklukkan maka segalanya akan menjadi baik dan berada dalam koridor kebaikan selalu. Nafsu pun akan selaras dengan segala bentuk ketaatan dengan meninggalkan maksiat. Sebagaiman firman Allah, “Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya.” (QS. Al-Fajr: 27- 28).

Al-jailani meminta agar tetap menjaga kemurnian hati, jika hati baik maka seluruh tindakan akan baik pula seperti yang disabdakan Rasulullah dalam hadis berikut: “Ada segumpal darah di tubuh anak Adam yang apabila dia baik, maka seluruh jasadnya akan baik pula. Dan jika hatinya rusak, maka rusaklah semua jasadnya, yaitu hati.” Agar hati selalu terjaga maka ketakwaan, tawakal, tauhid dan ikhlas beramal untuk Allah semata penting ditekankan. Selama perkara tersebut ditanamkan maka niscaya hati akan terhindar dari kerusakan.

SULUK TAREKAT NAQSYABANDIYAH

Seperti tarekat-tarekat yang lain, Tarekat Naqsyabandiyah juga mempunyai sejumlah tata-cara peribadatan, teknik spiritual dan ritual tersendiri. Memang dapat juga dikatakan bahwa Tarekat Naqsyabandiyah terdiri atas ibadah, teknik dan ritual, sebab demikianlah makna asal dari istilah thariqah, “jalan” atau “marga”. Hanya saja kemudian istilah itu pun mengacu kepada perkumpulan orang-orang yang mengamalkan “jalan” tadi.

Tarekat Naqsyabandiyah, sebagai tarekat terorganisasi, punya sejarah dalam rentangan masa hampir enam abad, dan penyebaran yang secara geografis meliputi tiga benua. Maka tidaklah mengherankan apabila warna dan tata cara Naqsyabandiyah menunjukkan aneka variasi mengikuti masa dan tempat tumbuhnya. Adaptasi terjadi karena keadaan memang berubah, dan guru-guru yang berbeda telah memberikan penekanan pada aspek yang berbeda dari asas yang sama, serta para pembaharu menghapuskan pola pikir tertentu atau amalan-amalan tertentu dan memperkenalkan sesuatu yang lain. Dalam membaca pembahasan mengenai berbagai pikiran dasar dan ritual berikut, hendaknya selalu diingat bahwa dalam pengamalannya sehari-hari variasinya tidak sedikit.

Pada zaman Sayyidina Abu Bakar as-Shiddiq ra. hingga zaman Syaikh Abu Yazid al-Busthami, tarekat ini dikenal dengan nama Shiddiqiyyah, amalan khususnya adalahdzikir khafi (dzikir dalam hati). Ketika dikenal dengan nama Taifuriyah, tarekat ini mengedepankan tema khusus yakni cinta dan makrifat. Periode setelahnya, Khwajaganiyah, Tarekat Naqsyabandiyah diperkuat dengan delapan asas yang dirumuskan oleh Syaikh ‘Abd al-Khaliq Ghujdawani. Lalu, pada zaman ketika Naqsyabandiyah mulai menjadi nama tarekat ini, Syaikh Baha’uddin Naqsyabandimenambahkan 3 asas lagi. Asas-asas ini disebutkan satu per satu dalam banyak risalah, termasuk dalam dua kitab pegangan utama para penganut Khalidiyah, Jami al-‘Ushul Fi al-‘Auliya. Kitab karya Syaikh Ahmad Dhiya’ al-Din Gumusykhanawi itu dibawa pulang dari Makkah oleh tidak sedikit jamaah haji Indonesia pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Kitab yang satu lagi, yaitu Tanwir al-Qulub oleh Syaikh Muhammad Amin al-Kurdi, dicetak ulang di Singapura dan di Surabaya, dan masih dipakai secara luas. Uraian dalam karya-karya ini sebagian besar mirip dengan uraian Syaikh Taj al-Din Zakarya (“Kakek” spiritual dari Syaikh Yusuf Makassar) sebagaimana dikutip Trimingham. Masing-masing asas dikenal dengan namanya dalam bahasa Parsi (bahasa para Khwajagan dan kebanyakan penganut Naqsyabandiyah India).

Asas-asasnya Syaikh ‘Abd al-Khaliq adalah:

  1. Hush dar dam: “sadar sewaktu bernafas”

Suatu latihan konsentrasi: sufi yang bersangkutan haruslah sadar setiap menarik nafas, menghembuskan nafas, dan ketika berhenti sebentar di antara keduanya. Perhatian pada nafas dalam keadaan sadar akan Allah, memberikan kekuatan spiritual dan membawa orang lebih hampir kepada Allah; lupa atau kurang perhatian berarti kematian spiritual dan membawa orang jauh dari Allah (al-Kurdi).

  1. Nazar bar qadam: “menjaga langkah”

Sewaktu berjalan, sang murid haruslah menjaga langkah-langkahnya, sewaktu duduk memandang lurus ke depan, demikianlah agar supaya tujuan-tujuan (ruhani)-nya tidak dikacaukan oleh segala hal di sekelilingnya yang tidak relevan.

  1. Safar dar watan: “melakukan perjalanan di tanah kelahirannya”

Melakukan perjalanan batin, yakni meninggalkan segala bentuk ketidaksempurnaannya sebagai manusia menuju kesadaran akan hakikatnya sebagai makhluk yang mulia. [Atau, dengan penafsiran lain: suatu perjalanan fisik, melintasi sekian negeri, untuk mencari mursyid yang sejati, kepada siapa seseorang sepenuhnya pasrah dan dialah yang akan menjadi perantaranya dengan Allah (Gumusykhanawi)].

  1. Khalwat dar anjuman: “sepi di tengah keramaian”

Berbagai pengarang memberikan bermacam tafsiran, beberapa dekat pada konsep “innerweltliche askese” dalam sosiologi agama Max Weber. Khalwat bermakna menyepinya seorang pertapa, anjuman dapat berarti perkumpulan tertentu. Beberapa orang mengartikan asas ini sebagai “menyibukkan diri dengan terus menerus membaca dzikir tanpa memperhatikan hal-hal lainnya bahkan sewaktu berada di tengah keramaian orang”; yang lain mengartikan sebagai perintah untuk turut serta secara aktif dalam kehidupan bermasyarakat sementara pada waktu yang sama hatinya tetap terpaut kepada Allah saja dan selalu wara’. Keterlibatan banyak kaum Naqsyabandiyah secara aktif dalam politik dilegitimasikan (dan mungkin dirangsang) dengan mengacu kepada asas ini.

  1. Yad kard: “ingat”, “menyebut”

Terus-menerus mengulangi nama Allah, dzikir tauhid (berisi formula la ilaha illallah), atau formula dzikir lainnya yang diberikan oleh seorang guru, dalam hati atau dengan lisan. Oleh sebab itu, bagi penganut Naqsyabandiyah, dzikir itu tidak dilakukan sebatas berjama’ah ataupun sendirian sehabis shalat, tetapi harus terus-menerus, agar di dalam hati bersemayam kesadaran akan Allah yang permanen.

  1. Baz gasyt: “kembali”, “memperbarui”

Demi mengendalikan hati supaya tidak condong kepada hal-hal yang menyimpang (melantur), sang murid harus membaca setelah dzikir tauhid atau ketika berhenti sebentar di antara dua nafas, formula ilahi anta maqsudi wa ridlaka mathlubi (Ya Tuhanku, Engkaulah tempatku memohon dan keridlaan-Mulah yang kuharapkan). Sewaktu mengucapkan dzikir, arti dari kalimat ini haruslah senantiasa berada di hati seseorang, untuk mengarahkan perasaannya yang halus kepada Tuhan semata.

  1. Nigah dasyt: “waspada”

Yaitu menjaga pikiran dan perasaan terus-menerus sewaktu melakukan dzikir tauhid, untuk mencegah agar pikiran dan perasaan tidak menyimpang dari kesadaran yang tetap akan Tuhan, dan untuk memelihara pikiran dan perilaku seseorang agar sesuai dengan makna kalimat tersebut. Al-Kurdi mengutip seorang guru (anonim): “Kujaga hatiku selama sepuluh hari; kemudian hatiku menjagaku selama dua puluh tahun.”

  1. Yad dasyt: “mengingat kembali”

Penglihatan yang diberkahi: secara langsung menangkap Dzat Allah, yang berbeda dari sifat-sifat dan nama-namanya; mengalami bahwa segalanya berasal dari Allah Yang Esa dan beraneka ragam ciptaan terus berlanjut ke tak berhingga. Penglihatan ini ternyata hanya mungkin dalam keadaan jadzbah: itulah derajat ruhani tertinggi yang bisa dicapai.

Asas-asas Tambahan dari Syaikh Baha’uddin Naqsyabandi:

  1. Wuquf-i zamani: “memeriksa penggunaan waktu”

Mengamati secara teratur bagaimana seseorang menghabiskan waktunya. (Al-Kurdi menyarankan agar ini dikerjakan setiap dua atau tiga jam). Jika seseorang secara terus-menerus sadar dan tenggelam dalam dzikir, dan melakukan perbuatan terpuji, hendaklah berterima kasih kepada Allah, jika seseorang tidak ada perhatian atau lupa atau melakukan perbuatan berdosa, hendaklah ia meminta ampun kepada-Nya.

  1. Wuquf-i ‘adadi: “memeriksa hitungan dzikir”

Dengan hati-hati beberapa kali seseorang mengulangi kalimat dzikir (tanpa pikirannya mengembara ke mana-mana). Dzikir itu diucapkan dalam jumlah hitungan ganjil yang telah ditetapkan sebelumnya.

  1. Wuquf-i qalbi: “menjaga hati tetap terkontrol”

Dengan membayangkan hati seseorang (yang di dalamnya secara batin dzikir ditempatkan) berada di hadirat Allah, maka hati itu tidak sadar akan yang lain kecuali Allah, dan dengan demikian perhatian seseorang secara sempurna selaras dengan dzikir dan maknanya. Taj al-Din menganjurkan untuk membayangkan gambar hati dengan nama Allah terukir di atasnya.

Di luar semua asas tersebut, terdapat pula dua kaidah jalan yang diperkenalkan para masyayikh tarekat setelah itu sebagai bekal perjalanan mencapai kebenaran hakiki. Keduanya adalah tarekat nafsani dan tarekat ruhani. Tarekat nafsani, mengambil pendekatan dengan mendidik diri dan menundukkan ke-aku-an, yakni ego yang ada dalam diri manusia. Dalam mengamalkan tarekat ini, seseorang harus melakukan segala sesuatu yang berlawanan dengan kehendak ego. Karenanya ia dimaknai sebagai perang atau jihad dalam diri seorang mukmin. Sedangkan tarekat ruhani berarti pensucian ruh. Hal itu dimaksudkan agar ruh yang telah disucikan mengenali hakikat diri yang sebenarnya, sehingga ego akan menuruti dan mentaatinya.

Tarekat Naqsyabandiyah memiliki tujuan menjadi kekal berkepanjangan dalam memperhambakan diri secara lahir dan batin, serta dalam menghadirkan Allah ke dalam hati. Para sufi yang mengamalkan tarekat ini tidak bertujuan menjadi mulia, kaya, sakti, dan sebagainya, melainkan untuk mendekatkan diri dan mengharap ridha Allah semata.

Dzikir dan Wirid

Teknik dasar Naqsyabandiyah, seperti kebanyakan tarekat lainnya, adalah dzikir yaitu berulang-ulang menyebut nama Tuhan ataupun menyatakan kalimat la ilaha illallah. Tujuan latihan itu ialah untuk mencapai kesadaran akan Tuhan yang lebih langsung dan permanen. Pertama sekali, Tarekat Naqsyabandiyah membedakan dirinya dengan aliran lain dalam hal dzikir yang lazimnya adalah dzikir diam (khafi, “tersembunyi”, atau qalbi, ” dalam hati”), sebagai lawan dari dzikir keras (jahri) yang lebih disukai tarekat-tarekat lain. Kedua, jumlah hitungan dzikir yang mesti diamalkan lebih banyak pada Tarekat Naqsyabandiyah daripada kebanyakan tarekat lain.

Dzikir dapat dilakukan baik secara berjama’ah maupun sendiri-sendiri. Banyak penganutNaqsyabandiyah lebih sering melakukan dzikir secara sendiri-sendiri, tetapi mereka yang tinggal dekat seseorang syaikh cenderung ikut serta secara teratur dalam pertemuan-pertemuan di mana dilakukan dzikir berjama’ah. Di banyak tempat pertemuan semacam itu dilakukan dua kali seminggu, pada malam Jum’at dan malam Selasa; di tempat lain dilaksanakan tengah hari sekali seminggu atau dalam selang waktu yang lebih lama lagi.

Secara keseluruhan, ajaran tarekat Naqsyabandiyah terdiri dari 17 tingkat mata pelajaran. Ke-17 tingkat mata pelajaran tersebut adalah;

  1. Dzikir Ismu Dzat: “mengingat yang Haqiqi”

Pengucapan asma Allah berulang-ulang dalam hati, ribuan kali (dihitung dengan tasbih), sambil memusatkan perhatian kepada Allah semata.

  1. Dzikir Latha’if: “mengingat Asma Allah pada tujuh titik halus pada tubuh”

Seseorang yang berdzikir memusatkan kesadarannya (dan membayangkan nama Allah itu bergetar dan memancarkan panas) berturut-turut pada tujuh titik halus pada tubuh. Titik-titik ini, lathifah (jamak latha’if), adalah;

– qalb (hati), terletak selebar dua jari di bawah puting susu kiri

– ruh (jiwa), selebar dua jari di bawah puting susu kanan

– sirr (nurani terdalam), selebar dua jari di atas puting susu kiri

– khafi (kedalaman tersembunyi), dua jari di atas puting susu kanan

– akhfa (kedalaman paling tersembunyi), di tengah dada

– nafs nathiqah (akal budi), di otak belahan pertama

– kullu jasad, luasnya meliputi seluruh tubuh, bila seseorang telah mencapai tingkat dzikir yang sesuai dengan lathifah terakhir ini, seluruh tubuh akan bergetar dalam Asma Allah.

  1. Dzikir Nafi Itsbat: “mengingat keesaan”

Bacaan perlahan disertai dengan pengaturan nafas, kalimat La Ilaha Illallah, yang dibayangkan seperti menggambar jalan (garis) melalui tubuh. Bunyi La permulaan digambar dari daerah pusar terus ke hati sampai ke ubun-ubun. Bunyi Ilaha turun ke kanan dan berhenti pada ujung bahu kanan. Di situ, kata berikutnya, Illa dimulai dengan turun melewati bidang dada, sampai ke jantung, dan ke arah jantung inilah kata Allah di hujamkan dengan sekuat tenaga. Orang membayangkan jantung itu mendenyutkan nama Allah dan membara, memusnahkan segala kotoran.

  1. Dzikir Wuquf: “diam dengan semata-mata mengingat Allah”

Mengingat Dzat Allah yang bersifat dengan segala sifat sempurna dan suci, atau jauh dari segala sifat kekurangan. Dzikir Wuquf ini dirangkaikan setelah selesai melaksanakan dzikir Ismu Dzat atau dzikir Latha’if, atau dzikir Nafi Itsbat. Pelaksanaan dzikir Wuquf ini sebelum menutup dzikir-dzikir tersebut.

  1. Dzikir Muraqabah Ithla’

Seseorang berdzikir dan ingat kepada Allah SWT bahwa Ia mengetahui keadaan-keadaannya dan melihat perbuatan-perbuatannya, serta mendengar perkataan-perkataannya.

  1. Dzikir Muraqabah Ahadiyatul Af’al

Berkekalannya seorang hamba menghadap serta memandang Allah SWT yang memiliki sifat sempurna serta bersih dari segala kekurangan, serta Maha Berkehendak.

  1. Dzikir Muraqabah Ma’iyah

Berkekalannya seorang hamba yang bertawajjuh serta memandang kepada Allah SWT yang mengintai di mana saja hamba itu berada.

  1. Dzikir Muraqabah Aqrabiyah

Keadaan mengingat betapa dekatnya Allah dengan hamba-Nya.

  1. Dzikir Muraqabah Ahadiyatuzzati

Mengingat sifat Allah yang esa dan menjadi tempat bergantungnya segala sesuatu.

  1. Dzikir Muraqabah Zatissyarfi wal Bahti

Berkaitan dengan sumber timbulnya kesempurnaan kenabian, kerasulan dan ‘ulul azmi, yakni dari Allah semata.

  1. Maqam Musyahadah

Kondisi di mana seseorang berdzikir seolah-olah dalam tahap berpandang-pandangan dengan Allah.

  1. Maqam Mukasyafah

Kondisi di mana seolah terbuka rahasia ketuhanan bagi seseorang yang berdzikir. Bila berdzikir pada maqam ini dilaksanakan dengan baik, sempurna, dan ikhlas, maka seorang hamba akan memperoleh hakikat kasyaf dan rahasia-Nya.

  1. Maqam Muqabalah

Dalam tahap berhadap-hadapan dengan wajah Allah yang wajibul wujud.

  1. Maqam Mukafahah

Tahap ruhaniah seseorang yang berdzikir berkasih sayang dengan Allah. Dalam maqam ini, kecintaan pada selain Allah telah hilang sama sekali.

  1. Maqam Fana’ Fillah

Kondisi di mana rasa keinsanan seseorang melebur ke dalam rasa ketuhanan, serta secara fana melebur dalam keabadian Allah.

  1. Maqam Baqa’ Billah

Pencapaian tahap dzikir, di mana kehadiran hati seorang hamba hanya bersama Allah semata.

  1. Tahlil Lisan

Melaksanakan dzikir Nafi Itsbat yang diucapkan secara kedengaran, atau jahar. Dzikir Tahlil Lisan ini dilaksanakan pada waktu-waktu yang telah ditetapkan oleh syaikh mursyid.

Pembacaan tidaklah berhenti pada dzikir; pembacaan aurad (Indonesia: wirid), meskipun tidak wajib, sangatlah dianjurkan. Aurad merupakan doa-doa pendek atau formula-formula untuk memuja Tuhan dan atau memuji Nabi Muhammad Saw., dan membacanya dalam hitungan sekian kali pada jam-jam yang sudah ditentukan dipercayai akan memperoleh keajaiban, atau paling tidak secara psikologis akan mendatangkan manfaat. Seorang murid dapat saja diberikan wirid khusus untuk dirinya sendiri oleh syaikhnya, untuk diamalkan secara rahasia (diam-diam) dan tidak boleh diberitahukan kepada orang lain; atau seseorang dapat memakai kumpulan aurad yang sudah diterbitkan. Naqsyabandiyah tidak mempunyai kumpulan aurad yang unik. Kumpulan-kumpulan yang dibuat kalangan lain bebas saja dipakai; dan kaum Naqsyabandiyah di tempat yang lain dan pada masa yang berbeda memakai aurad yang berbeda-beda. Penganut Naqsyabandiyah di Turki, umpamanya, sering memakai Al-Aurad Al-Fathiyyah, dihimpun oleh Syaikh Ali Hamadani, seorang sufi yang tidak memiliki persamaan sama sekali dengan kaum Naqsyabandiyah.

SULUK  TAREKAT TIJANIYAH

Sejauh ini Syaikh Ahmad at-Tijani tidak meninggalkan karya tulis tasawuf yang diajarkan dalam tarekatnya. Ajaran-ajaran tarekat ini hanya dapat dirujuk dalam bentuk buku-buku karya murid-muridnya, misalnya Jawahir al-Ma’ani wa Biligh al-Amani fi-Faidhi as-Syekh at-Tijani, Kasyf al-Hijab Amman Talaqqa Ma’a at-Tijani min al-Ahzab, dan As-Sirr al-Abhar fi-Aurad Ahmad at-Tijani. Dua kitab yang disebut pertama ditulis langsung oleh murid at-Tijani sendiri, dan dipakai sebagai panduan para muqaddam dalam persyaratan masuk ke dalam Tarekat Tijaniyah pada abad ke-19.

Meskipun at-Tijani menentang keras pemujaan terhadap wali pada upacara peringatan hari tertentu, dan bersimpati kepada gerakan reformis kaum Wahabi, tetapi dia sendiri tidak menafikan perlunya wali (perantara) tersebut. At-Tijani sangat menekankan perlunya perantara (wali) antara Tuhan dan manusia, yang berperan sebagai wali zaman. Oleh karena itu, buku panduan Tijani kalimatnya dimulai dengan, “Segala puji bagi Allah yang telah memberikan sarana kepada segala sesuatu dan menjadikan sang Syaikh perantara sarana untuk manunggal dengan Allah”. Dalam hal ini, perantara itu tak lain adalah dia sendiri dan penerusnya. Dan sebagaimana tarekat lain, tarekat ini juga menganjurkan agar anggotanya mengamalkan ajaran dengan menggambarkan wajah syaikh dalam ingatan mereka (rabithah), dan mengikuti seluruh nasehat syaikh dengan tenang.

Tarekat Tijaniyah mempunyai wirid yang sangat sederhana dan wadhifah yang sangat mudah. Wiridnya terdiri dari Istighfar, Shalawat dan Tahlil yang masing-masing dibaca sebanyak 100 kali. Boleh dilakukan dua kali dalam sehari, setelah shalat Shubuh dan Ashar. Wadhifahnya terdiri dari Istighfar (astaghfirullah al-adzim alladzi laa ilaha illa huwa al hayyu al-qayyum) sebanyak 30 kali, Shalawat Fatih (Allahumma shalli ‘ala sayyidina Muhammad al-fatih lima ughliqa wa al-khatim lima sabaqa, nasir al-haqq bi al-haqq wa al-hadi ila shirat al-mustaqim wa’ala alihi haqqaqadruhu wa miqdaruh al-adzim) sebanyak 50 kali, Tahlil (La ilaaha illallah) sebanyak 100 kali, dan ditutup dengan doa Jauharatul Kamal sebanyak 12 kali.

Pembacaan wadhifah ini juga paling sedikit dua kali sehari semalam, yaitu pada sore dan malam hari, tetapi lebih afdlal dilakukan pada malam hari. Selain itu, setiap hari Jum’at membaca Haylalah, yang terdiri dari dzikir tahlil dan Allah, Allah.. setelah shalat Ashar sampai matahari terbenam. Dalam hal dzikir ini, at-Tijani menekankan dzikir cepat secara berjama’ah. Beberapa syarat yang ditekankan tarekat ini untuk prosesi pembacaan wirid dan wadhifah: berwudlu, bersih badan, pakaian dan tempat, menutup aurat, tidak boleh berbicara, berniat yang tegas, serta menghadap kiblat.

Satu hal yang penting dicatat dari dzikir Tarekat Tijaniyah — yang  membedakannya dengan tarekat lain — adalah bahwa tujuan dzikir dalam tarekat ini, sebagaimana dalam Tarekat Idrisiyyah, lebih menitikberatkan pada kesatuan dengan ruh Nabi Muhammad Saw., bukan kemanunggalan dengan Tuhan, hal mana merupakan perubahan yang mempengaruhi landasan kehidupan mistik. Oleh karena itu, anggota tarekat ini juga menyebut tarekat mereka dengan sebutan At-Thariqah Al-Muhammadiyyah atau At-Thariqah al-Ahmadiyyah, termanya merujuk langsung kepada nama Nabi Muhammad Saw. Akibatnya, jelas tarekat ini telah memunculkan implikasi yang ditandai dengan perubahan-perubahan mendadak terhadap asketisme dan lebih menekankan pada aktivitas-aktivitas praktis. Hal ini tampak sekali dalam praktik mereka yang tidak terlalu menekankan pada bimbingan yang ketat, dan penolakan atas ajaran esoterik, terutama ekstatik dan metafisis sufi.

Berikut petikan dari kitab As-sirr al-Abhar Ahmad at-Tijani yang menyangkut berbagai tata tertib, aturan dan dzikir dalam tarekat ini:

“Anda haruslah seorang muslim dewasa untuk melaksanakan awrad, sebab hal (awrad) itu adalah karya Tuhannya manusia. Anda harus meminta izin kepada orang tua sebelum mengambil thariqah, sebab ini adalah salah satu sarana untuk wushul kepada Allah. Anda harus mencari seseorang yang telah memiliki izin murni untuk mentasbihkan Anda ke dalam awrad, supaya Anda dapat berhubungan baik dengan Allah.

Anda sebaiknya terhindar sepenuhnya dari awrad lain manapun selain awrad dari Syaikh Anda, sebab Tuhan tidak menciptakan dua hati di dalam diri Anda. Jangan mengunjungi wali manapun, yang masih hidup maupun yang sudah meninggal, sebab tidak seorang pun dapat melayani dua mursyid sekaligus. Anda harus disiplin dan menjalankan shalat lima waktu dalam jamaah dan disiplin dalam menjalankan ketentuan-ketentuan syari’at, sebab semua itu telah ditetapkan oleh makhluk terbaik (Nabi Muhammad Saw.). Anda harus mencintai Syaikh dan khalifahnya selama hidup Anda, sebab bagi makhluk biasa cinta semacam itu adalah sarana untuk kemanunggalan: dan jangan berfikir bahwa Anda mampu menjaga diri Anda sendiri dari Kreativitas Tuhan Semesta, sebab ini adalah salah satu ciri dari kegagalan.

Anda dilarang untuk memfitnah, atau menimbulkan permusuhan terhadap Syaikh Anda, sebab hal itu akan membawa kerusakan pada diri Anda. Anda dilarang berhenti untuk melantunkan awrad selama hidup Anda, sebab awrad itu mengandung misteri-misteri Sang Pencipta. Anda harus yakin bahwa Syaikh mengatakan kepada Anda tentang kebijakan-kebijakan, sebab itu semua termasuk ucapan-ucapan Tuhan Yang Awal dan Yang Akhir.

Anda dilarang mengkritik segala sesuatu yang tampak aneh dalam thariqah ini, atau Penguasa Yang Adil akan mencabut Anda dari kebijakan-kebijakan.

Jangan melantunkan wirid Syaikh kecuali sesudah mendapat izin dan menjalani pentasbihan (talqin) yang selayaknya, sebab itu keluar dalam bentuk ujaran yang lugu. Berkumpullah bersama untuk wadhifah dan dzikir Jum’at dengan persaudaraan, sebab itu adalah penjagaan terhadap muslihat syetan. Anda dilarang membaca Jauharat al-Kamal kecuali dalam keadaan suci dari hadats, sebab Nabi Muhammad Saw. akan hadir dalam pembacaan ketujuh.

Jangan menginterupsi (pelantunan yang dilakukan oleh) siapa pun, khususnya oleh sesama sufi, sebab interupsi semacam itu adalah cara-cara syetan. Jangan kendur dalam wirid Anda, dan jangan pula menundanya dengan dalih apa pun atau yang lain, sebab hukuman akan jatuh kepada orang yang mengambil wirid lantas meninggalkan sama sekali atau melupakannya, dan dia akan menjadi hancur. Jangan pergi dan mengalihkan awrad tanpa izin yang layak untuk malakukan itu, sebab orang yang melakukan hal itu dan tidak bertaubat niscaya akan sampai kepada kejahatan dan kesengsaraan akan menimpanya. Anda dilarang memberitahukan wirid kepada orang lain kecuali saudara Anda dalam thariqah, sebab itu adalah salah satu pokok etika sains spiritual”.

Setiap tarekat memiliki satu atau lebih doa kekuatan khusus, misalnya Hizb al-Bahr milik Tarekat Syadziliyah, Subhan ad-Daim Isawiyah, Wirid as-Sattar milik Khalwatiyah, Awrad Fathiyyah milik Hamadaniyyah, dan lain-lain. Ciri khusus dari dzikir dan wirid yang menjadi andalan milik penuh tarekat ini adalah Shalawat Fatih dan Jauharat al-Kamal. Mengenai Shalawat Fatih, Syaikh Ahmad at-Tijani mengatakan bahwa dirinya telah diperintahkan untuk mengucapkan doa-doa ini oleh Nabi Muhammad Saw. sendiri. Meskipun pendek, doa itu dianggap mengandung kebaikan dalam delapan jenis: orang yang membaca sekali, dijamin akan menerima kebahagiaan dari dua dunia; juga membaca sekali akan dapat menghapus semua dosa dan setara dengan 6000 kali semua doa untuk memuji kemuliaan Tuhan, semua dzikir dan doa, yang pendek maupun yang panjang, yang pernah dibaca di alam raya. Orang yang membacanya 10 kali, akan memperoleh pahala yang lebih besar dibanding yang patut diterima oleh sang wali yang hidup selama 10 ribu tahun tetapi tidak pernah mengucapkannya. Mengucapkannya sekali setara dengan doa seluruh malaikat, manusia, jin sejak awal penciptaan mereka sampai masa ketika doa tersebut diucapkan, dan mengucapkannya untuk yang kedua kali adalah sama dengannya (yaitu setara dengan pahala dari yang pertama) ditambah dengan pahala dari yang pertama dan yang kedua, dan seterusnya.

Tentang Jauharat al-Kamal, yang juga diajarkan oleh Nabi Muhammad Saw. sendiri kepada Syaikh Ahmad at-Tijani, para anggota tarekat ini meyakini bahwa selama pembacaan ketujuh Jauharat al-Kamal, asalkan ritual telah dilakukan sebagaimana mestinya, Nabi Muhammad Saw. beserta keempat sahabat atau khalifah Islam hadir memberikan kesaksian pembacaan itu. Wafatnya Nabi Muhammad Saw. tidaklah menjadi tirai yang menghalangi untuk selalu hadir dan dekat kepada mereka. Bagi at-Tijani dan anggota tarekatnya, tidak ada yang aneh dalam hal kedekatan ini. Sebab wafatnya Nabi Muhammad Saw. hanya mengandung arti bahwa Beliau tidak lagi dapat dilihat oleh semua manusia, meskipun Beliau tetap mempertahankan penampilannya sebelum Beliau wafat dan tetap ada di mana-mana: dan Beliau muncul dalam impian atau di siang hari di hadapan orang yang disukainya.

Akan tetapi kaum muslim ortodoks membantah penyataan Syaikh Ahmad at-Tijani dan para pengikutnya yang menyangkut pengajaran Nabi Muhammad Saw. ini kepadanya. Sebab jika Nabi Muhammad Saw. secara pribadi mengajari at-Tijani rumusan-rumusan doa tertentu maka itu berarti bahwa Nabi Muhammad Saw. telah “wafat” tanpa menyampaikan secara sempurna pesan kenabiannya, dan mempercayai hal ini sama dengan tindak kekafiran, kufr.

Tentu saja, alasan kaum muslim ortodoks ini masih bisa diperdebatkan, misalnya tanpa bermaksud membela tarekat ini dengan mempertanyakan kembali, apakah betul pengajaran Nabi Muhammad Saw. melalui mimpi itu berarti mengurangi kesempurnaan kenabiannya? Bukankah substansi dari pengajaran itu lebih tertuju kepada perintah bershalawat yang masih dalam bingkai pesan kenabian (syari’at), dan bukan merupakan hal yang baru? Bukankah Nabi Muhammad Saw. pernah bersabda bahwa mimpi seorang mukmin seperempat puluh enam dari kenabian? Menyangkut pahala pembacaannya, bukankah rahmat dan anugerah Allah yang tak terhingga akan tercurahkan kepada umat Islam yang senantiasa mewiridkan shalawat kepada sang hamba paripurna, kekasih dan pujaan-Nya, Muhammad Rasulullah Saw?

SULUK  TARIKAT KHALWATIYAH

Ajaran tarekat sufi yang disampaikan oleh Syaikh Musthafa ibn Kamal Al-Din Al-Bakri banyak diambil dari sang guru, Syaikh Abdul Latif bin Syaikh Husamuddin Al-Halabi. Berbagai ritual yang dijalankan oleh Syaikh Abdul Latif telah memberi pengaruh pada pemikiran ataupun praktik kehidupan Al-Bakri sehari-hari. Tiga unsur dalam ajaran Al-Bakri-lah yang barangkali turut memberi andil dalam menghidupkan kembali Tarekat Khalwatiyah.

Ketiga unsur tersebut adalah tuntutan kepatuhan yang eksklusif pada tarekat dan disiplin yang ketat dalam menjalankan amalan Khalwatiyah; partisipasi orang awam dalam ritual tarekat; dan ketaatan pada syari’at.

Sebagai tarekat yang berorientasi pada syari’at, Khalwatiyah menekankan penggabungan pengetahuan (‘ilm) dan praktik (‘amal). Ia juga menuntut pengikatan hati (rabth al-qalb) seorang murid kepada guru (syaikh) sedemikian rupa sehingga hubungan antara keduanya harus lebih erat daripada hubungan antara seorang ayah dan anak.

Selain melakukan khalwah (mengasingkan diri), berbagai amalan praktis lainnya yang diajarkan dalam Khalwatiyah adalah berdiam diri (shamt), menjaga diri (sahar), mengingat Allah SWT (dzikir), dan membaca secara berjama’ah (wirid alsattar). Wirid ini merupakan pusat dan puncak ritual Khalwatiyah.

Seperti tarekat sufi lainnya, Tarekat Khalwatiyah juga mengenal sebuah amalan yang disebut Al-Asma’ As-Sab’ah (tujuh nama). Yakni, tujuh macam dzikir atau tujuh tingkatan jiwa yang harus dibaca oleh setiap murid (salik).

Dzikir pertama adalah La Ilaaha Illallah (pengakuan bahwa tiada tuhan selain Allah SWT). Dzikir pada tingkat pertama ini disebut an-Nafs al-Ammarah (nafsu yang bermuara pada keburukan dan amarah). Jiwa pada tingkatan ini dianggap sebagai jiwa yang paling kotor dan selalu menyuruh pemiliknya untuk melakukan perbuatan dosa dan maksiat, seperti mencuri, berzina, membunuh, dan sebagainya.

Kedua, Allah SWT. Pada tingkatan kedua ini disebut an-Nafs al-Lawwamah (jiwa yang menegur). Jiwa ini dianggap sebagai jiwa yang sudah bersih dan selalu menyuruh kebaikan-kebaikan pada pemiliknya serta menegurnya jika ada keinginan untuk melakukan perbuatan-perbuatan buruk.

Ketiga, Huwa (Dia). Dzikir pada tingkatan ketiga ini disebut an-Nafs al-Mulhamah (jiwa yang terilhami). Jiwa ini dianggap yang terbersih dan telah diilhami oleh Allah SWT sehingga bisa memilih mana yang baik dan mana yang buruk.

Keempat, Haq (Maha Benar). Tingkatan jiwa ini disebut an-Nafs al-Muthma’innah (jiwa yang tenang). Jiwa ini, selain bersih, juga dianggap tenang dalam menghadapi segala problem hidup ataupun guncangan jiwa lainnya.

Kelima, Hayy (Maha Hidup). Dzikir pada tingkatan ini disebut juga dzikir an-Nafs ar-Radliyah (jiwa yang ridha). Jiwa ini semakin bersih, tenang, dan ridha (rela) terhadap apa yang menimpa pemiliknya, karena semua itu semata-mata pemberian Allah SWT.

Keenam, Qayyum (Maha Jaga). Tingkatan jiwa ini disebut juga an-Nafs Mardliyah (jiwa yang diridhai). Jiwa ini semakin bersih, tenang, dan ridha terhadap semua pemberian Allah SWT serta juga mendapatkan keridhaan-Nya.

Ketujuh, Qahhar (Maha Perkasa). Jiwa ini disebut juga an-Nafs al-Kamilah (jiwa yang sempurna). Dan, inilah jiwa terakhir atau puncak jiwa yang paling sempurna yang akan terus mengalami kesempurnaan selama hidup pemiliknya.

Inti dari tujuh tingkatan dzikir tersebut didasarkan kepada ayat-ayat Al Qur’an. Tingkatan pertama didasarkan pada Surah Yusuf ayat 53, ”Sesunguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada keburukan.” Tingkatan kedua dari Surah Al-Qiyamah ayat 2, ”Dan, Aku tidak bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali.”

Tingkatan ketiga dari Surah As-Syams ayat 7 dan 8, ”Demi jiwa dan yang menyempurnakannya. Allah SWT mengilhami jiwa tersebut kejahatan dan ketakwaannya.”

Tingkatan keempat dari Surah Al-Fajr ayat 27, ”Wahai jiwa yang tenang.” Tingkatan kelima dan keenam dari Surah Al-Fajr ayat 28, ”Kembalilah kepada Tuhanmu dengan keridhaan dan diridhai.”

Sementara itu, untuk tingkatan ketujuh yang sudah sempurna atau yang berada di atas semua jiwa, secara eksplisit tidak ada dalam Al Qur’an karena kitab suci ini seluruhnya merupakan kesempurnaan dari semua dzikir dan jiwa pemiliknya.

SULUK TARIKAT SYATARIYAH

Bila menyebut sebuah ajaran tarekat, yang paling banyak diajarkan dalam ritualnya adalah dzikir. Dan dzikir adalah salah satu amalan yang paling utama dalam sebuah tarekat. Dalam salah satu hadisnya, Rasulullah Saw. bersabda, ”Ketahuilah bahwa sesungguhnya dzikir itu akan menenangkan hati. Sebaik-baik dzikir adalah dengan membaca Laa Ilaha Illallah.”

Karena itulah, dzikir dan wirid, untuk mendekatkan diri kepada Allah, menjadi hal yang paling utama dalam sebuah tarekat. Demikian halnya dengan Tarekat Syattariyah. Dalam ajaran dan ritualnya, tarekat ini juga banyak melafalkan kalimat-kalimat tauhid dan Asmaul Husna sebagai bagian dari wirid dan dzikir.

Para pengikut tarekat ini akan mencapai tujuan-tujuan mistik (kesufian) melalui kehidupan asketisme atau zuhud. Untuk menjalaninya, seseorang terlebih dahulu harus mencapai kesempurnaan pada tingkat akhyar (orang-orang terpilih) dan abrar (orang-orang terbaik) serta menguasai rahasia-rahasia dzikir.

Perkembangan mistik tarekat ini ditujukan untuk mengembangkan suatu pandangan yang membangkitkan kesadaran akan Allah SWT di dalam hati, tetapi tidak harus melalui tahap fana’. Tarekat Syattariyah percaya bahwa jalan menuju Allah SWT itu sebanyak gerak nafas makhluk, tetapi yang paling utama di antaranya adalah jalan yang ditempuh oleh kaum Akhyar, Abrar, dan Syattar. Ketiga kelompok tersebut memiliki metode masing-masing dalam berdzikir dan bermeditasi untuk mencapai intuisi ketuhanan, penghayatan, dan kedekatan terhadap Allah SWT.

Kaum Akhyar melakukannya dengan menjalani shalat dan puasa, membaca Al Qur’an, melaksanakan haji, dan berjihad. Sedangkan, kaum Abrar menyibukkan diri dengan latihan-latihan kehidupan zuhud yang keras, latihan ketahanan menderita, menghindari kejahatan, dan berusaha selalu menyucikan hati. Menurut para tokoh Tarekat Syattariyah, jalan tercepat untuk sampai kepada Allah SWT adalah jalan yang ditempuh oleh kaum Syattar karena mereka memperoleh bimbingan langsung dari roh para wali.

Ada sepuluh aturan yang harus dilalui untuk mencapai tujuan tarekat ini, yaitu tobat, zuhud, tawakal, qana’ah, uzlah, muraqabah, sabar, ridha, dzikir, dan musyahadah (menyaksikan keindahan, kebesaran, dan kemuliaan Allah SWT). Dzikir dalam Tarekat Syattariyah terbagi dalam tiga kelompok yang semuanya menitikberatkan pada pelafalan Asma’ul Husna (nama-nama Allah SWT). Ketiga kelompok tersebut menyebut nama-nama Allah SWT yang berhubungan dengan keagungan-Nya, menyebut nama-nama Allah SWT yang berhubungan dengan keindahan-Nya, dan menyebut nama-nama Allah SWT yang merupakan gabungan dari kedua sifat tersebut.

Para pengikut ajaran Tarekat Syattariyah meyakini bahwa menyebut nama-nama Allah SWT yang berhubungan dengan keagungan-Nya akan menjadikan seorang salik (murid) lebih tunduk kepada-Nya. Nama-nama yang dimaksud adalah Al-Qahhar, Al-Jabbar, Al-Mutakabbir. Setelah merasakan dirinya semakin tunduk kepada Allah SWT, murid dapat menyebut nama-nama Allah SWT yang berhubungan dengan keindahan-Nya, yaitu Al-Malik, Al-Quddus, dan Al-Alim. Sedangkan, nama-nama Allah SWT yang berhubungan dengan kedua sifat tersebut di atas adalah Al-Mukmin dan Al-Muhaimin.

Menurut aturan Tarekat Syattariyah, pelafalan dzikir dengan menyebut nama-nama Allah SWT harus dilakukan secara berurutan. Artinya, terlebih dahulu menyebut nama-nama yang berhubungan dengan keagungan-Nya, kemudian diikuti dengan nama-nama yang berhubungan dengan keindahan-Nya, dan nama-nama yang merupakan gabungan kedua sifat tersebut.

Proses ini dilakukan secara terus-menerus dan berulang-ulang hingga hati menjadi bersih dan semakin teguh dalam berdzikir. Apabila hati telah mencapai tahap seperti itu, ia akan dapat merasakan realitas segala sesuatu, baik yang bersifat jasmani maupun ruhani.

Di dalam tarekat ini, dikenal tujuh macam dzikir muqaddimah, sebagai pelataran atau tangga untuk masuk ke dalam Tarekat Syattariyah, yang disesuaikan dengan tujuh macam nafsu pada manusia. Ketujuh macam dzikir ini diajarkan agar cita-cita manusia untuk kembali dan sampai ke Allah dapat selamat dengan mengendarai tujuh nafsu itu. Ketujuh macam dzikir itu sebagai berikut:

  1. Dzikir thawaf, yaitu dzikir dengan memutar kepala, mulai dari bahu kiri menuju bahu kanan, dengan mengucapkan laa ilaha sambil menahan nafas. Setelah sampai di bahu kanan, nafas ditarik lalu mengucapkan illallah yang dipukulkan ke dalam hati sanubari yang letaknya kira-kira dua jari di bawah susu kiri, tempat bersarangnya nafsu lawwamah.
  2. Dzikir nafi itsbat, yaitu dzikir dengan laa ilaha illallah, dengan lebih mengeraskan suara nafi-nya, laa ilaha, ketimbang itsbat-nya, illallah, yang diucapkan seperti memasukkan suara ke dalam yang Empu-Nya Asma Allah.
  3. Dzikir itsbat faqat, yaitu berdzikir dengan Illallah, Illallah, Illallah, yang dihujamkan ke dalam hati sanubari.
  4. Dzikir Ismu Dzat, dzikir dengan Allah, Allah, Allah, yang dihujamkan ke tengah-tengah dada, tempat bersemayamnya ruh yang menandai adanya hidup dan kehidupan manusia.
  5. Dzikir Taraqqi, yaitu dzikir Allah-Hu, Allah-Hu. Dzikir Allah diambil dari dalam dada dan Hu dimasukkan ke dalam bait al-makmur (otak, markas pikiran). Dzikir ini dimaksudkan agar pikiran selalu tersinari oleh Cahaya Ilahi.
  6. Dzikir Tanazul, yaitu dzikir Hu-Allah, Hu-Allah. Dzikir Hu diambil dari bait al-makmur, dan Allah dimasukkan ke dalam dada. Dzikir ini dimaksudkan agar seorang salik senantiasa memiliki kesadaran yang tinggi sebagai insan Cahaya Ilahi.
  7. Dzikir Isim Ghaib, yaitu dzikir Hu, Hu, Hu dengan mata dipejamkan dan mulut dikatupkan kemudian diarahkan tepat ke tengah-tengah dada menuju ke arah kedalaman rasa.

Ketujuh macam dzikir di atas didasarkan kepada firman Allah SWT di dalam Surat al-Mukminun ayat 17: “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan di atas kamu semua tujuh buah jalan, dan Kami sama sekali tidak akan lengah terhadap ciptaan Kami (terhadap adanya tujuh buah jalan tersebut)”. Adapun ketujuh macam nafsu yang harus ditunggangi tersebut, sebagai berikut:

  1. Nafsu Ammarah, letaknya di dada sebelah kiri. Nafsu ini memiliki sifat-sifat berikut:

Senang berlebihan, hura-hura, serakah, dengki, dendam, bodoh, sombong, pemarah, dan gelap, tidak mengetahui Tuhannya.

  1. Nafsu Lawwamah, letaknya dua jari di bawah susu kiri. Sifat-sifat nafsu ini: enggan, acuh, pamer, ‘ujub, ghibah, dusta, pura-pura tidak tahu kewajiban.
  2. Nafsu Mulhimah, letaknya dua jari dari tengah dada ke arah susu kanan. Sifat-sifatnya: dermawan, sederhana, qana’ah, belas kasih, lemah lembut, tawadlu, tobat, sabar, dan tahan menghadapi segala kesulitan.
  1. Nafsu Muthmainnah, letaknya dua jari dari tengah-tengah dada ke arah susu kiri. Sifat-sifatnya: senang bersedekah, tawakkal, senang ibadah, syukur, ridla, dan takut kepada Allah SWT.
  2. Nafsu Radhiyah, letaknya di seluruh jasad. Sifat-sifatnya: zuhud, wara’, riyadlah, dan menepati janji.
  3. Nafsu Mardliyah, letaknya dua jari ke tengah dada. Sifat-sifatnya: berakhlak mulia, bersih dari segala dosa, rela menghilangkan kegelapan makhluk.
  4. Nafsu Kamilah, letaknya di kedalaman dada yang paling dalam. Sifat-sifatnya: Ilmul yaqin, ainul yaqin, dan haqqul yaqin.

Khusus dzikir dengan nama-nama Allah (al-asma’ al-husna), tarekat ini membagi dzikir jenis ini ke dalam tiga kelompok. Yakni;

  1. a) menyebut nama-nama Allah SWT yang berhubungan dengan keagungan-Nya, seperti al-Qahhar, al-Jabbar, al-Mutakabbir, dan lain-lain.
  2. b) menyebut nama Allah SWT yang berhubungan dengan keindahan-Nya seperti, al-Malik, al-Quddus, al-’Alim, dan lain-lain.
  3. c) menyebut nama-nama Allah SWT yang merupakan gabungan dari kedua sifat tersebut, seperti al-Mu’min, al-Muhaimin, dan lain-lain. Ketiga jenis dzikir tersebut harus dilakukan secara berurutan, sesuai urutan yang disebutkan di atas.

Dzikir ini dilakukan secara terus menerus dan berulang-ulang, sampai hati menjadi bersih dan semakin teguh dalam berdzikir. Jika hati telah mencapai tahap seperti itu, ia akan dapat merasakan realitas segala sesuatu, baik yang bersifat jasmani maupun ruhani.

Satu hal yang harus diingat, sebagaimana juga di dalam tarekat-tarekat lainnya, adalah bahwa dzikir hanya dapat dikuasai melalui bimbingan seorang pembimbing spiritual, guru atau syaikh. Pembimbing spiritual ini adalah seseorang yang telah mencapai pandangan yang membangkitkan semua realitas, tidak bersikap sombong, dan tidak membukakan rahasia-rahasia pandangan batinnya kepada orang-orang yang tidak dapat dipercaya. Di dalam tarekat ini, guru atau yang biasa diistilahkan dengan wasithah dianggap berhak dan sah apabila terangkum dalam mata rantai silsilah tarekat ini yang tidak putus dari Nabi Muhammad Saw. lewat Sayyidina Ali bin Abi Thalib ra, hingga kini dan seterusnya sampai kiamat nanti; kuat memimpin mujahadah Puji Wali Kutub; dan memiliki empat martabat yakni mursyidun (memberi petunjuk), murbiyyun (mendidik), nashihun (memberi nasehat), dan kamilun (sempurna dan menyempurnakan). Secara terperinci, persyaratan-persyaratan penting untuk dapat menjalani dzikir di dalam Tarekat Syattariyah adalah sebagai berikut: makanan yang dimakan haruslah berasal dari jalan yang halal; selalu berkata benar; rendah hati; sedikit makan dan sedikit bicara; setia terhadap guru atau syaikhnya; kosentrasi hanya kepada Allah SWT; selalu berpuasa; memisahkan diri dari kehidupan ramai; berdiam diri di suatu ruangan yang gelap tetapi bersih; menundukkan ego dengan penuh kerelaan kepada disiplin dan penyiksaan diri; makan dan minum dari pemberian pelayan; menjaga mata, telinga, dan hidung dari melihat, mendengar, dan mencium segala sesuatu yang haram; membersihkan hati dari rasa dendam, cemburu, dan bangga diri; mematuhi aturan-aturan yang terlarang bagi orang yang sedang melakukan ibadah haji, seperti berhias dan memakai pakaian berjahit.

Sanad atau Silsilah Tarekat Syattariyah

Sebagaimana tarekat pada umumnya, tarekat ini memiliki sanad atau silsilah para wasithahnya yang bersambungan sampai kepada Rasulullah Saw. Para pengikut tarekat ini meyakini bahwa Nabi Muhammad Saw., atas petunjuk Allah SWT, menunjuk Sayyidina Ali bin Abi Thalib ra. untuk mewakilinya dalam melanjutkan fungsinya sebagai Ahl adz-dzikr, tugas dan fungsi kerasulannya. Kemudian Ali menyerahkan risalahnya sebagai Ahl adz-dzikir kepada putranya, Hasan bin Ali ra., dan demikian seterusnya sampai sekarang. Pelimpahan hak dan wewenang ini tidak selalu didasarkan atas garis keturunan, tetapi lebih didasarkan pada keyakinan atas dasar kehendak Allah SWT yang isyaratnya biasanya diterima oleh sang wasithah jauh sebelum melakukan pelimpahan, sebagaimana yang terjadi pada Nabi Muhammad Saw. sebelum melimpahkan kepada Sayyidina Ali bin Abi Thalib ra.

Berikut contoh sanad Tarekat Syattariyah yang dibawa oleh para mursyid atau wasithahnya di Indonesia:

Nabi Muhammad SAW kepada Sayyidina Ali bin Abi Thalib, kepada Sayyidina Hasan bin Ali asy-Syahid, kepada Imam Zainal Abidin, kepada Imam Muhammad Baqir, kepada Imam Ja’far Syidiq, kepada Abu Yazid al-Busthami, kepada Syekh Muhammad Maghrib, kepada Syekh Arabi al-Asyiqi, kepada Qutb Maulana Rumi ath-Thusi, kepada Qutb Abu Hasan al-Hirqani, kepada Syekh Hud Qaliyyu Marawan Nahar, kepada Syekh Muhammad Asyiq, kepada Syekh Muhammad Arif, kepada Syekh Abdullah asy-Syattar, kepada Syekh Hidayatullah Saramat, kepada Syekh al-Haj al-Hudhuri, kepada Syekh Muhammad Ghauts, kepada Syekh Wajihudin, kepada Syekh Sibghatullah bin Ruhullah, kepada Syekh Ibnu Mawahib Abdullah Ahmad bin Ali, kepada Syekh Muhammad Ibnu Muhammad, Syekh Abdul Rauf Singkel, kepada Syekh Abdul Muhyi (Safarwadi, Tasikmalaya), kepada Kiai Mas Bagus (Kiai Abdullah) di Safarwadi, kepada Kiai Mas Bagus Nida’ (Kiai Mas Bagus Muhyiddin) di Safarwadi, kepada Kiai Muhammad Sulaiman (Bagelan, Jateng), kepada Kiai Mas Bagus Nur Iman (Bagelan), kepada Kiai Mas Bagus Hasan Kun Nawi (Bagelan) kepada Kiai Mas Bagus Ahmadi (Kalangbret, Tulungagung), kepada Raden Margono (Kincang, Maospati), kepada Kiai Ageng Aliman (Pacitan), kepada Kiai Ageng Ahmadiya (Pacitan), kepada Kiai Haji Abdurrahman (Tegalreja, Magetan), kepada Raden Ngabehi Wigyowinoto Palang Kayo Caruban, kepada Nyai Ageng Hardjo Besari, kepada Kiai Hasan Ulama (Takeran, Magetan), kepada Kiai Imam Mursyid Muttaqin (Takeran), kepada Kiai Muhammad Kusnun Malibari (Tanjunganom, Nganjuk) dan kepada KH Muhammad Munawar Affandi (Nganjuk).

SULUK TARIKAT RIFA’IYAH

Setiap tarekat memiliki amalan dzikir atau wirid. Dzikir dan wirid ini merupakan amalan ‘pokok’ yang harus dilaksanakan oleh setiap anggotanya.

Dalam keseharian, mereka harus menjalankan praktik dzikir atau wirid ini. Umumnya, hal itu dilaksanakan setelah shalat fardhu.

Tentu saja, wirid dan dzikir antara satu tarekat dengan lainnya berbeda-beda. Termasuk dalam hal ‘lelaku’ atau gerakan dzikir ini.

Namun, satu hal yang menjadi kesamaan hampir dalam seluruh tarekat adalah dzikir kalimat tahlil, yakni La ilaha illallah (Tiada Tuhan kecuali Allah). Kalimat ini senantiasa dibaca secara berulang-ulang.

Bentuk lainnya berupa dzikir vokal yang diucapkan secara teratur oleh kaum Rifa’iyah dalam zawiyah mereka. Dalam beberapa cabang Rifa’iyah, para pengikut mengucapkan berbagai doa dan selalu melafalkan nama-nama Allah (Asma’ul Husna). Misalnya, Allah, Hu (Dia), Hayy (Yang Hidup), Haqq (Yang Nyata), Qayyum (Yang Mandiri), Rahman (Yang Pengasih), Rahim (Yang Penyayang), dan lainnya.

Ciri khas Tarekat Rifa’iyah terletak pada dzikirnya. Dzikir kaum Rifa’iyah ini disebut ‘darwis melolong’ karena dilakukan bersama-sama dan diiringi oleh suara gendang yang bertalu-talu. Dzikir tersebut dilakukannya sampai mencapai suatu keadaan.

Saat itu, mereka dapat melakukan perbuatan-perbuatan yang menakjubkan, misalnya berguling-guling dalam bara api, tetapi tidak terbakar sedikit pun.

Sebelumnya, menurut John L Esposito dalam Ensiklopedia Oxford: Dunia Islam Modern, sebagian kaum Rifa’iyah terkenal karena mengikutkan praktik upacara, seperti menusuk kulit dengan pedang dan makan kaca.

Praktik seperti ini menyebar bersama Tarekat Rifa’iyah hingga ke kepulauan Melayu. Namun, pada masa kini, praktik-praktik tersebut tidak lagi dijalankan oleh para pengikut Rifa’iyah karena dianggap menyimpang dari ajaran Islam yang sebenarnya.

Di wilayah Sumatera, para pengikut Rifa’iyah memainkan dabus, yaitu menikam diri dengan sepotong senjata tajam yang diiringi dengan dzikir-dzikir tertentu. Dabus dalam bahasa Arab artinya besi yang tajam.

Christian Snouck Hurgronje dalam De Acehers mengatakan, dabus dan rebana yang kerap dimainkan di wilayah Sumatera ini sangat erat hubungannya dengan Tarekat Rifa’iyah.

Debus ini juga berkembang di Tanah Sunda, sebagaimana diungkapkan oleh C. Poensen dalam bukunya, Het Daboes van Santri Soenda. Di Sumatera Barat, kesenian dabus ini dikenal dengan badabuih. Dalam Encyclopedia van Nederlandsch Oost India, disebutkan bahwa perkembangan Tarekat Rifa’iyah ini bersama-sama dengan permainan dabus.

Tiga ajaran dasar

Dalam beberapa cabang, pengikut Rifa’iyah harus mengasingkan diri dan melakukan penyendirian spiritual (khalwat). Praktik ini biasanya dilakukan paling sedikit selama satu pekan pada awal Muharram.

Menurut Sayyid Mahmud Abul Al-Faidl Al-Manufi,Tarekat Rifa’iyah mempunyai tiga ajaran dasar, yaitutidak meminta sesuatu, tidak menolak, dan tidak menunggu.

Sementara itu, menurut Asy-Sya’rani, tarekat ini menekankan pada ajaran asketisme (zuhud) dan makrifat (puncak tertinggi dalam ajaran tasawuf).

Dalam pandangan Syaikh Ar-Rifa’i, sebagaimana diriwayatkan Asy-Sya’rani, asketisme merupakan landasan keadaan-keadaan yang diridhai dan tingkatan-tingkatan yang disunnahkan.

Asketisme adalah langkah pertama orang menuju kepada Allah, mendapat ridha dari Allah, dan bertawakal kepada Allah. “Barangsiapa belum menguasai landasan kezuhudan, langkah selanjutnya belum lagi benar,” kata Syaikh Ar-Rifa’i.

Mengenai makrifat, Syaikh Ar-Rifa’i berpendapat bahwa penyaksian adalah kehadiran dalam makna kedekatan kepada Allah disertai ilmu yakin dan tersingkapnya hakikat realitas-realitas secara benar-benar yakin. Menurutnya, cinta mengantar rindu dendam, sedangkan makrifat menuju kefanaan ataupun ketiadaan diri.

Irhamni MA dalam tulisannya mengenai Syaikh Ahmad Ar-Rifa’i mengungkapkan bahwa pendiri Tarekat Rifa’iyah ini semasa hidupnya pernah mengubah sebuah puisi bertema Cinta Ilahi.

“Andaikan malam menjelang, begitu gairah kalbuku mengingat-Mu. Bagai merpati terbelenggu atau meratap tanpa jemu. Di atasku awan menghujani derita dan putus asa. Di bawahku lautan menggelorai kecewa.

Tanyalah atau biarlah mereka bernyawa. Bagaimana tawanan-Nya bebaskan tawanan lainnya. Sementara dia bisa dipercaya tanpa-Nya. Dan dia tidak terbunuh, kematian itu istirah baginya. Bahkan, dia tidak dapat maaf sampai bebas karenanya.”

Syair di atas merupakan salah satu bentuk asketisme yang dilakukan Syaikh Ahmad Rifa’i dalam mencapai hakikat tertinggi mengenal Allah, yakni makrifat.

SULUK TAREKAT MAWLAWIYAH

Suatu saat Mawlana Syaikh Jalaluddin ar-Rumi tengah tenggelam dalam kemabukannya dalam tarian Sama’, ketika itu seorang sahabatnya memainkan biola dan ney (seruling), beliau mengatakan, “Seperti juga ketika shalat kita berbicara dengan Tuhan, maka dalam keadaan ekstase (mabuk spiritual) para darwis juga berdialog dengan Tuhannya melalui cinta. Musik Sama’ yang merupakan bagian Shalawat atas Baginda Nabi Muhammad Saw adalah merupakan wujud musik cinta demi cinta Nabi Saw dan pengetahuan-Nya.

Rumi mengatakan bahwa ada sebuah rahasia tersembunyi dalam Musik dan Sama’, dimana musik merupakan gerbang menuju keabadian dan Sama’ adalah seperti electron yang mengelilingi intinya bertawaf menuju Sang Maha Pencipta. Semasa Rumi hidup, tarian “Sama” sering dilakukan secara spontan disertai jamuan makanan dan minuman. Rumi bersama teman darwisnya selepas shalat Isya’ sering melakukan tarian sama’ di jalan-jalan kota Konya.

Terdapat beberapa puisi dalam Matsnawi yang memuji Sama’ dan perasaan harmonis alami yang muncul dari tarian suci ini. Dalam bab ketiga Matsnawi, Rumi menuliskan puisi tentang kefanaan dalam Sama’, “Ketika gendang ditabuh seketika itu perasaan ekstase merasuk bagai buih-buih yang meleleh dari debur ombak laut”. Tarian Sama’ ini sebagai tiruan dari keteraturan alam raya yang diungkap melalui perputaran planet-planet.

Perayaan Sama’ dari tarekat Mawlawiyah dilakukan dalam situasi yang sangat sakral dan ditata dalam penataan khusus pada abad ke-17. Perayaan ini untuk menghormati wafatnya Rumi, suatu peristiwa yang Rumi dambakan dan ia lukiskan dalam istilah-istilah yang menyenangkan. Para anggota Tarekat Mawlawiyah belajar menarikan tarian ini dengan bimbingan Mursyidnya. Tarian ini dalam bentuknya sekarang dimulai dengan seorang peniup suling yang memainkan Ney, seruling kayu.

Para penari masuk mengenakan pakaian putih sebagai simbol kain kafan, dan jubah hitam besar sebagai simbol alam kubur dan topi panjang merah atau abu-abu yang menandakan batu nisan. Seorang Syaikh masuk paling akhir dan menghormat para Darwis lainnya. Mereka kemudian balas menghormati. Ketika Syaikh duduk dialas karpet merah menyala yang menyimbolkan matahari senja merah tua yang mengacu pada keindahan langit senja sewaktu Rumi wafat. Syaikh mulai bershalawat untuk Rasulullah Saw yang ditulis oleh Rumi disertai iringan musik, gendang, marawis dan seruling ney.

Peniup seruling dan penabuh gendang memulai musiknya, maka para darwis memulai dengan tiga putaran secara perlahan yang merupakaan simbolisasi bagi tiga tahapan yang membawa manusia menemui Tuhannya. Pada putaran ketiga, Syaikh kembali duduk dan para penari melepas jubah hitamnya dengan gerakan yang menyimbulkan kuburan untuk mengalami “mati sebelum mati”, kelahiran kedua. Ketika Syaikh mengijinkan para penari menari, mereka mulai dengan gerakan perlahan memutar seperti putaran tawaf dan putaran planet-planet mengelilingi matahari.

Ketika tarian hampir usai, maka Syaikh berdiri dan alunan musik dipercepat. Proses ini diakhiri dengan musik penutup dan pembacaan ayat suci Al Qur’an. Sekalipun beberapa gerakan tarian ini pelan dan terasa lambat, tetapi orang-orang yang menyaksikannya mengatakan penampilan ini sangat magis dan menawan. Kedalaman konsentrasi, atau perasaan dzawq dan ketulusan para darwis menjadikan gerakan mereka begitu menghipnotis. Pada akhir penampilan para hadirin diminta untuk tidak bertepuk tangan karena Sama’ adalah sebuah ritual spiritual bukan sebuah pertunjukan seni.

Pada abad ke-17, Tarekat Mawlawiyah dikendalikan oleh kerajaan Utsmaniyah. Meskipun Tarekat Mawlawiyah kehilangan sebagian besar kebebasannya ketika berada dibawah dominasi Ustmaniyah, tetapi perlindungan Sang Raja memungkinkan Tarekat Mawlawiyah menyebar luas ke berbagai daerah dan memperkenalkan kepada banyak orang tentang tatanan musik dan tradisi puisi yang unik dan indah. Pada Abad ke-18, Salim III – seorang Sultan Utsmaniyah – menjadi anggota Tarekat Mawlawiyah dan kemudian dia menciptakan musik untuk upacara-upacara Mawlawi.

Selama abad ke-19, Mawlawiyah merupakan salah satu dari sekitar 19 aliran sufi di Turki dan sekitar 35 kelompok semacam itu di kerajaan Utsmaniyah. Karena perlindungan dari raja mereka, Mawlawi menjadi kelompok yang paling berpengaruh di seluruh kerajaan, dan prestasi kultural mereka dianggap sangat murni. Kelompok itu menjadi terkenal di barat., Di Eropa dan Amerika, pertunjukkan keliling mereka menyita perhatian publik. Selama abad 19, sebuah panggung pertunjukkan yang didirikan di Turki menarik perhatian banyak kelompok wisatawan Eropa yang datang ke Turki.

Pada tahun 1925, Tarekat Mawlawiyah dipaksa membubarkan diri di tanah kelahiran mereka Turki, setelah Kemal Attaturk, pendiri modernisasi Turki melarang semua kelompok darwis lengkap dengan upacara serta pertunjukkan mereka. Pada saat itu makam Rumi di Konya di ambil alih pemerintah dan diubah menjadi museum Negara. Motivasi utama Attatutrk adalah memutuskan hubungan Turki dengan masa pertengahan guna mengintegrasikan Turki dengan dunia modern seperti demokrasi ala barat. Bagi Attaturk, tarekat sufi menjadi ancaman bagi modernisasi Turki.

Hingga saat ini makam Rumi di Konya tetap terpelihara dan dikelola oleh pemerintah Turki sebagai tempat wisata. Meskipun demikian pengunjung yang datang kesana yang terbanyak adalah para peziarah dan bukan wisatawan. Pada tahun 1953 melalui sebuah kesepakatan, pemerintah Turki akhirnya menyetujui tarian Sama’ Tarekat Mawlawiyah dipertontonkan lagi di Konya dengan syarat pertunjukan tersebut bersifat kultural untuk para wisatawan.

Rombongan darwis juga diijinkan untuk berkelana secara internasional. Meskipun demikian secara keseluruhan berbagai aspek sufisme tetap menjadi praktek yang ilegal di Turki dan para sufi banyak diburu sejak Attaturk melarang agama mereka.

@@@

Categories: RITUAL WIRID DAN DZIKIR DI BERBAGAI TAREKAT | 3 Komentar

MILAD KAMPUS WONG ALUS (KWA) KE VII TAHUN 2016


AJANG TERBESAR TAHUNAN PARA PENDEKAR YANG TERGABUNG DALAM KELUARGA BESAR KAMPUS WONG ALUS DAN JUGA PARA GURU MASTER KWA UNTUK ‘TURUN GUNUNG’ MENDARMABAKTIKAN DIRI KE MASYARAKAT.

milad kwa

====================================

milad kwa 3Assalamu alaikum Warohmatullahu Wabarokatuh.
Dengan Hormat, Kepada Pendiri KAMPUS WONGALUS, Muhammad Wildan, para Pinisepuh, Sesepuh, yang yang kami hormati dan anggota KWA lainnya yang tidak dapat kami sebutkan satu persatu.

Kampus Wong Alus (KWA) adalah blog supranatural terbesar di Indonesia dan telah dikunjungi oleh 62.552.154 orang (data per tanggal 31Januari  2016 pukul 14:17:45 WIB) dengan jumlah kunjungan 20.000- 30.000 orang perhari. (data terlampir)

Untitled

Dengan jumlah kunjungan itu KWA memiliki banyak pembaca setia blog yang tersebar di seluruh penjuru dunia. Untuk menjalin tali silaturahmi dan saling mengenal diantara para pembaca blog KWA ini maka akan diadakan Milad KWA VI.

Dalam Milad ini akan diadakan kegiatan Bakti Sosial dari seluruh civitas akademika KWA. Kegiatan ini terbuka untuk umum dan dapat diikuti oleh masyarakat umum dan sekitarnya.

Selain sebagai ajang silaturahmi sesama anggota KWA, bagi yang membawa anggota keluarganya dapat menikmati rekreasi di dalam area Puri Maerokoco yang memiliki luas 23,84 Ha dengan anjungan dari 35 daerah kabupaten/ kotamadya Dati II se-Jateng. Selain itu hanya berjarak 15 menit berjalan kaki dari Pantai Marina. Bagi yang membawa keluarga,tersediatempatpenginapan yang murah mulai dari yang bertarifRp50 – 300 rb/kamar/hari. Makanan tersedia24jam non stop di luar area Puri Maerokoco. Jadi bagi yang membawa keluarga tidak perlu khawatir karena semua tetap nyamanbagianggotakeluarga yang tidakmengikuti acara Milad Nasional KWA ini.

Kegiatan Bakti Sosial ini akan diadakan pada :
Hari / Tanggal : Sabtu – Minggu, 9 – 10 April 2016
Waktu : Hari Sabtu Pukul 08:00 – Hari Minggu Pukul 13:00
Tempat : Puri Maerokoco
PRPP (Pusat Rekreasi dan Promosi Pembangunan)
Jl. Puri Anjosmoro, Semarang, Jawa Tengah

Taman Wisata Puri Maerokoco
Nama Puri Maerokoco diambil dari salah satu bagian epos Mahabarata yang menceritakan tentang keinginan salah seorang dewi memiliki seribu bangunan hanya dalam waktu satu malam. “Taman Mini” Maerokoco diresmikan pada tahun 1980an oleh Gubernur Ismail. Puri mareokoco merupakan perwujudan dari miniature propinsi jateng yang terletak di sebelah barat PRPP-Tawang Mas, Semarang, 3 km dari Bandara Achmad Yani ke timur atau di jalan lingkar utara kota semarang. Taman ini dibangun pada tahun 1993. Miniatur ini menempati areal seluas 23,84 ha. Yang terdiri dari anjungan-anjungan dari 35 daerah kabupaten/ kotamadya Dati II se-Jateng, dengan desain bercirikan arsitektur khas Jateng. Taman ini diwujudkan dengan pulau yang merupakan gambaran miniatur Jawa Tengah dibatasi oleh laut Jawa dan Samudra Indonesia dan lahan Jawa Barat serta Jawa Timur. Di luar miniatur ini terdapat jalan keliling lebar 6 m yang bisa dipakai untuk kereta mini dan sebagainya.

Puri-maerokocoPuri Maerokoco atau sering disebut Taman Mini Jawa Tengah Indah adalah sebuah objek wisata yang berada di Jalan Yos Sudarso, Semarang, kurang lebih 5 Km dari Tugu Muda, adalah salah satu bagian taman dari kawasan PRPP (Pusat Rekreasi dan Promosi Pembangunan) Jawa Tengah. Sebagai Taman Mini Jawa Tengah yang merangkum semua rumah adat yang disebut dengan anjungan dari 35 kabupaten dan kota yang ada di Jawa Tengah. Di dalam rumah-rumah tersebut digelar hasil–hasil industri dan kerajinan yang diproduksi oleh masing-masing daerah. Selain menampilkan rumah-rumah adat, objek wisata ini dilengkapi dengan fasilitas rekreasi air seperti : sepeda air, perahu, juga kereta bagi pengunjung. Dibuka untuk umum dari jam 08.00 sampai 18.00. Dapat dijangkau dengan kendaraan umum maupun kendaraan pribadi.

AcaraBakti Sosial ini meliputi kegiatan :
1. Donor Darah
2. Pengobatan Non Medis
3. PengobatanMetodeRuqyah
4. PengobatanMetodePijat&Totok
5. PengobatanGurah (Mata, Tubuh)
6. Pembersihan Aura Tubuh
7. Pengisian& Booster Tenaga Dalam
8. Tarot Reading
9. Konsultasiberbagaipermasalahanhidup
10. Pengisian energi ke benda-benda pusaka (keris/tombak, dll)
11. Konsultasi Supranatural semua masalah (rejeki, pengasihan, keselamatan, dll)
12. Pengijasahan Keilmuan secara langsung oleh Sesepuh/Senior/Anggota KWA

SusunanPanitiaMilad KWA VI :

Sohibul Bait :Ki Wongalus / Muhammad Wildan
KetuaPanitia : Ki Ageng Bayu Penanggungan
MC : Bengawan Candhu
SeksiPenggalanganDana &Humas : Ki AgengBayuPenanggungan, Ki IswantoPenanggungan
SeksiPendaftaranPesertaMilad : Takiyan
SeksiPendaftaranAnggota KWA : Garuda99
SeksiPendaftaranPanitia : Ki Daeng Pangrukti
SeksiPendaftaran P B : TeguhParjiyanto, A.A. Kurniawan
SeksiDokumentasi : TeguhParjiyanto
SeksiKomsumsi : Dedy Suhendar
SeksiPerlengkapan : WaKasan
SeksiWara-Wiri : WaKasan
SeksiKeamanan&PenjagaanBarangPeserta : Ki Imam, Ki Adi, Ki SudjonoKahfi, Suhu Bobby

KoordinatorJabodetabek :
1) Anyabrea Valentine/Ki Ageng Bayu Penanggungan (087775573775)

Wilayah Bandung :
1) Ki Selor (0813 3220 4258)

Wilayah Garut :
1) Ki GedePanembahanUsepPenanggungan (0877 2495 7546)

Wilayah Semarang,Salatiga,Solo Raya :
1) Shang JalakJiwo(0895 0377 7508)

Wilayah Jepara, Kudus :
1) AgusAleqKurniawan aka Abine Roro Afrizal(0881 3865 803)

Wilayah DIY dan Magelang :
1) Garuda 99 (081802764393)
2) Ki Taskiyan (085729029789)

Wilayah Jatim :
1) Wa Kasan Mbelink (089672117505)
2) Gus Duro (08885009569)

Dan Berikut kami sampaikan daftar sementara para sohibul ijazah yang berkenan mendarmabaktikan ilmu dan kasepuhannya buat disampaikan dan diberikan kepada para bolo wongalus nusantara.

PengijasahanKeilmuan(Gratis) :
1) …..
2) …..
3) …..

PengijasahanKeilmuan(Berbayar) :
1) …..
2) …..
3) …..
Dana yg diperoleh dari Pengijasahan Berbayar (PB),

sebagian besar akan disumbangkan ke :
Yayasan Al Hidayah (MajelisShalawat, Majelis Mujahadah dan beladiri Al Hikmah)
Jl. Anjasmoro Tengah I No. 9a, Karangayu, Semarang, Jawa Tengah
Lingkup Usaha : Bergerak di bidang dakwah dan pendidikan Islam, baik mengaji maupun hadits fiqih.

Sasaran : Orang kurang mampu, anak kolong yang rawan pemurtadan agama
Tujuan : – Melengkapi sarana&prasarana di tempat pengajian tersebut
– Membangun gedung Yayasan AlHidayah menjadi dua tingkat

PelatihanSingkat :
1) …..
2) …..
3) …..
LapakKonsultasi :
1. ….. –>…..
2. ….. –>…..

LapakDagang :
1. ….. –>…..
2. ….. –>…..
3. …..–>…..

Doorprize :
a) ….. –> …..
b) ….. –>…..
c) ….. –>…..

RutekeLokasiMiladVII :

UntKWitled
1. Bandara Achmad Yani (Semarang)
Naiktaxi kePuri MaerokocoRp 30 rb.

2. KeretaApi
Jakarta-Semarang (ekonomi) –>turun di stasiunPoncol
Jakarta-Semarang (bisnis) –>turun di stasiunTawang

Surabaya -Semarang (ekonomi) –>turun di stasiunPoncol
Surabaya -Semarang (bisnis) –>turun di stasiunTawang

3. Bisekonomimaupun AC
Jakarta- Semarang AC/Non AC –>turundi terminal Terboyo
Surabaya – Semarang AC/Non AC –>turundi terminal Terboyo

Naik bus jurusanKarangayuRp 3.500 atau, turun di gerbang PRPP, sambungnaikojek (kalaumau).
Naik bus jurusanBojaRp 5 rb, turun di gerbang PRPP, sambungnaikojek (kalaumau).
3. Kendal dansekitarnya, dapatnaikbis Semarang turun di Terminal Mangkang. Naik bus jurusanKarangayuRp 3.500, turun di gerbang PRPP, sambungnaikojek (kalaumau).

4. Ojek
Dari PoncolRp 30 rb
PasarKarangayuRp 10 rb

Begitusudahsampaidi Puri Maerokoco,adabiayarestribusi :
a. Orang –>Rp7.500/orang
b. Motor –>Rp5.000/malam
c. Mobil –>Rp7.000/malam

Tarifsewapenginapan :
1. Memakai kamar di dalam area PuriMaerokoco :
– Non AC = Rp250 rb/hr
– AC = Rp350 rb/hr
2. Penginapan di luar area PuriMaerokoco
– Sekitaran 10 menitdrlokasiacara : Hotel Siliwangi (Rp 200 rb/hr), dll
– SekitaranStasiunPoncol : Hotel Arjuna (Rp 50 rb/hr), dll

Ataubagi yang inginmenginapekonomis, bisalesehandantidurbersama di pendopo yang telahdisewaolehpanitiamilad.

Perlu kami sampaikandisinibahwaudara diarea Puri Maerokococukuppanas mengingat kota semarang adalah kota yg memiliki pantai. Kami menyarankanuntuk membawa lotion anti nyamuk (mengingat tidak jauh dari lokasi ada areal tambak sehingga banyak nyamuknya), perlengkapanshalatdanobat-obatanpribadi.
Bagi yang tinggal di dalamwilayahJakarta, Bogor, Tangerang, Bekasi(Jabodetabek) yang akanberangkatkelokasiMiladKampus Wong Alus (KWA) VII di Puri Maerokoco, Semarang, Jawa Tengah padatanggal9 – 10 April 2016, dapatmemilihalternatifperjalanansebagaiberikut :
Pemberangkatan Kolektif (bersama-sama) :
i) Bersama saya menggunakan kendaraan carteran, kapasitas tempat duduk 8 orang. Saweran sudah
termasuk tiket masuk Taman Maerokoco.
Titik penjemputan : di bawah flyover, seberang gedung Wijaya Karya (Wika), Cawang
Saweran : Rp 350 rb/orang

Silahkan datang karena acara ini adalah acara tahunan yang bersifat sosial dengan pengijasahan keilmuan secara gratis ataupun dengan mahar terjangkau. Dan pengumuman diatas silahkan dibaca dengan teliti dan lengkap,demi keamanan kenyaman dan kejelasan perjalanan Panjenengan semuanya. Dan sekalilagi kami ingatkan untuk menyiapkan rencana dan ajukan cuti mulai dari sekarang bila memang diperlukan.

Panitia Milad KWA VII menerima semua bentuk sumbangan baik itu atas nama perorangan, institusi ataupun perusahaan. Sumbangan dapat berbentuk materi, uang, tenaga maupun pikiran.

Panitia juga menerima hibahan berupa benda untuk acara door prize dan menerima siapapun yang berkenan untuk menjadi Sohibul Ijasah yang akan mengijasahkan keilmuannya.


Apabila Sedulur berminat untuk menyumbang, membantu pengijasahan dan menghibahkan untuk pelaksanaan Milad KWA VII ini dapat menghubungi saya:

Anyabrea Valentine aka Ki Ageng Bayu Penanggungan (Alumni Program Guru KWA  Angkatan I, Feb 2013) di nomor 0877 7557 3775.

Wassalamu Alaikum Warohmatullahu Wabarokatuh.

Jakarta, 31 Januari 2016

Ketua Panitia Milad KWA VII,
(Anyabrea Valentine / Ki Ageng Bayu Penanggungan)

Categories: MILAD KWA 2016 | 13 Komentar

UPDATE NAMA-NAMA MASTER KWA FEBRUARI 2016


Assalamualaikum wr wb.

Jajaran pengurus blog KWA telah selesai melaksanakan pelatihan Private MASTER KWA dan peserta mendapatkan gelar penghormatan MASTER KWA 

ANGKATAN XXXX IV/ 44

KI AGENG SATRIA HAYUNINGRAT, — SUMEDANG  — 089679121237

IMG-20160130-WA0016

Mohon doa restu agar beliau bisa berkarya untuk masyarakat dan dengan demikian maka KWA telah memiliki MASTER KWA – ALUMNI PELATIHAN PROGRAM MASTER  KWA sebanyak 44  ANGKATAN.

==============================================

DAFTAR NAMA MASTER KWA

ANGKATAN  I/ 1

  1. KI AGENG BAYU PENANGGUNGAN , Jakarta  0877 7557 3775
  2.  KI AGENG AGUNG PENANGGUNGAN, Kediri    0854 9183 905
  3.  KI AGENG ISLANUDIN PENANGGUNGAN, Indramayu
  4.  KI AGENG AGUS PENANGGUNGAN, Bekasi
  5.  KI AGENG YOHAN PENANGGUNGAN, Cirebon

=============================================

ANGKATAN  II/ 2

  1.  KI AGENG WAN MUHAMMAD PENANGGUNGAN, Malaysia tokkutan@gmail.com

==============================================


Angkatan  III/ 3

  1. KI CAKRA RASYID PENANGGUNGAN, Jakarta 0977 8008 0019
  2. KI CAKRA SARYANTO PENANGGUNGAN, Purworejo 0857 4315 4447
  3. KI CAKRA MELSANOFRI PENANGGUNGAN, Palembang 0812 7854 474
  4. KI CAKRA WASLAN PENANGGUNGAN, Mimika Papua 0852 4490 0456
  5.  KI CAKRA SAMSUL PENANGGUNGAN, Lampung Timur 0812 6601 4575
  6.  KI CAKRA WIDODO PENANGGUNGAN, Pati Jateng 0856 4085 9477
  7. KI CAKRA AKBAR PENANGGUNGAN, Enrekang Sulsel 0819 4426 0882

======================================


ANGKATAN  IV/ 4

  1. KI NENGGALA DEDY PENANGGUNGAN, Jakarta 021 7169 4925
  2. KI NENGGALA CAHYA PENANGGUNGAN, Palembang 0812 7482 7071

===========================================


ANGKATAN  V/ 5 

  1. KI CAHYANTO PASOPATI TROWULAN, Kalimantan Selatan 0858 1414 7433

ANGKATAN  VI/ 6

  1.  KI ONTOREJO MUHAMMAD PENANGGUNGAN, Jambi 0896 9642 6286
  2.  KI ONTOREJO SONI PENANGGUNGAN, Sidoarjo 0856 4848 4545
  3.  KI ONTOREJO ADI PENANGGUNGAN, Tangerang 0813 8172 4964
  4.  KI  ONTOREJO GATOT PENANGGUNGAN, Magelang 0856 4330 1388

=======================================

 

ANGKATAN VII/ 7 

  1.  KI ANOM ‘INDRIAWAN’ PENANGGUNGAN, Pacitan 0823 3156 0636
  2.  KI ANOM ‘TAHIR’ PENANGGUNGAN, Mimika – Papua 0815 4776 614
  3.  KI ANOM ‘MURSALIM PENANGGUNGAN’, Tanah Merah – Papua 0812 8999 8118
  4.  KI BIMO “S.A” PENANGGUNGAN, Surabaya

=============================================

ANGKATAN  VIII/ 8 

  1. KI “LU” KUSUMO YUDHO NEGORO, Jawa Timur
  2. KI “SU” KUSUMO YUDHO NEGORO, Bali
  3. KI “YU” KUSUMO YUDHO NEGORO, Yogyakarta
  4. KI “YA” KUSUMO YUDHO NEGORO, Jakarta 0812 9676 6923
  5. KI “BU” KUSUMO YUDHO NEGORO, Jawa Timur
  6. KI “DODI” KUSUMO YUDHO NEGORO, Bekasi
  7. KI “RO” KUSUMO YUDHO NEGORO, Jawa Barat

============================================

ANGKATAN IX/ 9 

  1. KI KUSUMO ASHARI MONGROGO, Sumatera
  2. KI KUSUMO EKO  MONGROGO, Jakarta
  3. KI KUSUMO S.S MONGROGO, Sumatra

==============================================

ANGKATAN X/ 10

  1. KI RAINAN  SOERJO MENTARAM, Blitar – Jatim, rainan44@gmail.com
  2. KI SUJONO SOERJO MENTARAM, Sidoarjo – Jatim.

Phone 087702853596

=================================

ANGKATAN XI/ 11

  1. KI NAWAWI SUROPATI, Pasuruan, Phone 082334079399
  2. KI IRVAN SUROPATI, Belitung Timur, Phone  081949200806
  3. KI SIGIT SUROPATI, Sidoarjo, Phone 082245301000
  4. KI ZAKI SUROPATI, Malaysia. Phone +60167762132.

======================================

ANGKATAN XII/ 12

  1. KI GEDE PANEMBAHAN SUNTIKA PENANGGUNGAN – TANGERANG – 085780472021

    2. KI GEDE PANEMBAHAN GANDA PENANGGUNGAN – BEKASI – 081297055737


    3. KI GEDE PANEMBAHAN USEP PENANGGUNGAN – GARUT – 087724957546


    4. KI GEDE PANEMBAHAN ISWANTO “SULING” PENANGGUNGAN – SIDOARJO – 085334991908

=======================================

ANGKATAN XIII /13 

  1. HAMBA ALLAH
  2. HAMBA ALLAH
  3. HAMBA ALLAH
  4. HAMBA ALLAH
  5. HAMBA ALLAH
  6. HAMBA ALLAH
  7. HAMBA ALLAH

====================================


ANGKATAN XIV/ 14

  1. KI AGENG SUWIIN TROWULAN– PASURUAN– 082302103075
  2. KI AGENG DONO TROWULAN– PEKALONGAN– 087733416495
  3. KI  AGENG GUNAWAN TROWULAN– JOGJA
  4. KI AGENG PRASETYA TROWULAN –JAKARTA– 087878600863
  5. KI AGENG SARIJAN TROWULAN — PONOROGO — 081332688199
  6. KI AGENG IRAWAN TROWULAN –TEGAL– 085642620113
  7. KI AGENG RISTIAWAN TROWULAN– SEMARANG– 087876102440
  8. KI AGENG ARGO TROWULAN — SEMARANG — 081372675850

==========================================

ANGKATAN XV / 15

  1. KI BACHTARUDIN PENANGGUNGAN, PADANG SUMBAR, 081-1666083
  2. KI SISWANTO PENANGGUNGAN, BANDUNG.

==========================================

ANGKATAN XVI/ 16

  1. KI SURATNO PENANGGUNGAN, LUAR NEGERI (LAOS), 0852054408017 dan CILACAP (081392697466/082242014149)
  2. KI PUJI PENANGGUNGAN, SRAGEN (081226198670).

================================

ANGKATAN XVII/ 17

  1. KI AGENG GIMAN PENANGGUNGAN, Pekanbaru Riau (085272942597)
  2. KI AGENG ANDI PENANGGUNGAN, Jakarta (08111288280)
  3. KI AGENG SUPRIYADI PENANGGUNGAN, Tangerang (0811952698)
  4. KI AGENG HERY PENANGGUNGAN, Sidoarjo (081230008898).

=========================================

ANGKATAN XVIII/ 18

  1. KI AGENG DUNAL JOLOTUNDO, Salatiga (085713339086)
  2. HAMBA ALLAH, Sidoarjo (0816530039)

===========================================

ANGKATAN XIX/ 19

  1. KI AGENG NYOMAN ALIT PENANGGUNGAN, Surabaya (081332332777)
  2. HAMBA ALLAH

============================================

ANGKATAN XX  / 20    ——    9 AGUSTUS 2014

  1. KI ADI PANATAGAMA JOLOTUNDO, Jombang – Jatim
  2. KI TEDDY PANATAGAMA JOLOTUNDO, Berau – Kaltim
  3. KI ROHMAN PANATAGAMA JOLOTUNDO, Makassar, Sulsel

==============================================

ANGKATAN XXI / 21

  1. KI ANDRI PANATAGAMA PENANGGUNGAN

==============================================

ANGKATAN XXII / 22

  1. KI PUNTODEWO BAGUS PENANGGUNGAN, JAKARTA  08997777717
  2. KI PUNTODEWO  S PENANGGUNGAN, Lampung
  3. KI PUNTODEWO KARYANI PENANGGUNGAN, PAPUA, 082197564321

==============================================

ANGKATAN XXIII/ 23

KI SADEWA NURZAKI PENANGGUNGAN, TEGAL 

==============================================

ANGKATAN XXIV/ 24

KI AGENG IMAM PENANGGUNGAN, PONOROGO, PHONE 082230107210

==============================================

ANGKATAN XXV/ 25

  1. KI SASTRO HARTONO PENANGGUNGAN –SOLO
  2. KI SASTRO WIRAWAN PENANGGUNGAN — KALIMANTAN
  3. KI SASTRO SUNARKO PENANGGUNGAN– TULUNGAGUNG

==============================================

ANGKATAN XXVI/  26

KI SUNAN ANWAR PENANGGUNGAN –KALIMANTAN

==============================================

ANGKATAN XXVII/ 27

KI SUNAN IRZAN TROWULAN —– SINGAPORE, Phone +6582181612

==============================================

ANGKATAN XXVIII/ 28

KI AGENG WAHYU JENGGALA — (JAKARTA), 081286008922

KI AGENG FANNY JENGGALA –(TANGERANG)

KI AGENG RIZA JENGGALA — (BANJARMASIN, KALSEL), 08565184403

=============================================

ANGKATAN XXIX/ 29

  1. KI SAMPANG SUGITO, Purwokerto
  2. KI ALFAN JENGGALA, Makassar

==============================================

ANGKATAN XXX/ 30

KI JAKFAR JENGGALA, LAMPUNG

==============================================

ANGKATAN XXXI/ 31

  1. KI AGENG JOHAN PADJADJARAN — SUKABUMI, PHONE 085759332006
  2. KI AGENG BAMBANG BETAWI — JAKARTA, PHONE 087880632722

==========================================

ANGKATAN XXXII/ 32

  1. KI PANEMBAHAN YUS MATARAM (YOGYAKARTA) 
  2. KI PANEMBAHAN RAMLAN MATARAM (KUALA LUMPUR, MALAYSIA) 
  3. KI PANEMBAHAN SHYGIT MATARAM (BANJARNEGARA)

==========================================

ANGKATAN XXXIII/ 33

  1. KI WICAKSONO DONI PENANGGUNGAN — BALIKPAPAN— (08115442754)
  2. KI WICAKSONO JAROT PENANGGUNGAN –LAMPUNG (081279951110)
  3. KI WICAKSONO RUDIANTO PENANGGUNGAN –SULAWESI

==========================================

ANGKATAN XXXIV/  34

SRIKANDI NUSANTARA PENANGGUNGAN —–D.I.Y

==============================================

ANGKATAN XXXV/  35

KI  DAENG ASRUL PENANGGUNGAN ——-MAKASSAR

==============================================

ANGKATAN XXXVI/ 36

KI  SUNAN BAEHAQI PENANGGUNGAN ——- ABU DHABI (UNI EMIRAT ARAB)

=============================================

ANGKATAN XXXVII / 37

KI SULTAN HADI PENANGGUNGAN ———- SINTANG (KALBAR)

=============================================

ANGKATAN XXXVIII / 38

KI JATI AZHAR PENANGGUNGAN — YOGYAKARTA

KI JATI DIMAS PENANGGUNGAN — SIDOARJO

KI JATI WIDIO PENANGGUNGAN — BEKASI

KI JATI ADEN PENANGGUNGAN — BEKASI

=============================================

ANGKATAN XXXIX

RADEN PANGERAN YULIANTO — DEPOK  JABAR (081318005690)

================================

ANGKATAN XXXX / 40

KI WERKUDORO PENANGGUNGAN, DKI JAKARTA

================================

ANGKATAN XXXXI/ 41

KI  EKO SENOPATI BANG WETAN, SURABAYA

=================================

ANGKATAN XXXXII/ 42

KI SUNAN ANOM ABDURRAHMAN,  KUWAIT 

==================================

ANGKATAN XXXXIII/ 43

KI GUSTI NYAWIJI FIAN PENANGGUNGAN – MAKASSAR

KI GUSTI NYAWIJI WAHYU PENANGGUNGAN – BOYOLALI

==================================

ANGKATAN XXXX IV/ 44

KI AGENG SATRIA HAYUNINGRAT, — SUMEDANG  — 089679121237

=======================================

KETUA ALUMNI PROGRAM MASTER KWA 

KI AGENG BAYU PENANGGUNGAN , Jakarta  0877 7557 3775

Terima kasih dan salam paseduluran. @@@

Categories: >>PERPUSTAKAAN UTAMA | 2 Komentar

DOA NABI YUNUS MENYIBAK TIGA KEGELAPAN


Pada suatu ketika  di hadapat umat, Rasulullah Muhammad SAW  memuji Nabi Yunus AS: “Tidak layak seseorang mengatakan, “Saya (Nabi Muhammad SAW) lebih baik daripada Yunus bin Mata.” (Muttafaq ‘alaih)

Apa keistimewaan Nabi Yunus sehingga disebut-sebut mulia oleh Nabi Muhammad? Marilah kita telusuri.

SURAH YUNUS

Adalah surah ke-10 dalam al-Qur’an. Surah ini terdiri atas 109 ayat dan termasuk golongan surah Makkiyah kecuali ayat 40, 94, 95, yang diturunkan pada Madinah.

Dalam penggolongan surah, surah Yunus termasuk kategori surah Al-Mi’un, yaitu surah-surah Al-Qur’an yang ayatnya berjumlah seratusan karena surah ini terdiri dari 109 ayat. Namun ada juga yang berpendapat surah ini termasuk golongan surah as-Sab’ut Thiwal atau “Tujuh Surah yang Panjang”.

Dalam mushaf Utsmani, surah ini merupakan surah ke-51 yang diturunkan setelah surah Al-Isra’, surah ke-17 dalam al-Qur’an dan sebelum surah Hud, surah ke-11. Seluruh isi surah ini masuk ke dalam Juz 11 dan diletakkan setelah surah At-Taubah dan sebelum surah Hud. Surah ini terdiri atas 11 ruku’. Sedangkan topik utama yang dibahas dalam surah ini meliputi masalah akidah, iman kepada Allah, kitab-kitab dan rasul-Nya, serta Hari kebangkitan dan pembalasan.

Surah Yunus diawali dengan ayat Mutasyabihat ALI LAM RA dan diakhiri dengan ayat yang membahas perlunya mengikuti aturan Allah dan bersabar baik dalam ketaatan maupun musibah. Surah ini dinamakan Yunus merupakan sebuah simbolikal dan bukan berarti surah ini berisi kisah Nabi Yunus AS. Bahkan, kisah terpanjang dalam surah ini adalah kisah Musa dan Bani Israil dengan Fir’aun yaitu pada ayat 75 hingga 93. Hanya ayat ke-98 dari surah inilah yang menyebut kata “Yunus”.

Ada pendapat dari Ahli Hikmah bahwa ayat 98 merupakan bagian terpenting dari surah ini. Inilah ayat yang bila diwiridkan mampu menghilangkan azab bencana dengan kebahagiaan:

FALAWLAA  KAANAT QARYATUN  AAMANAT, FANAFA’AHAA  IIMAANUHAA  ILLAA  QAWMA YUUNUSA LAMMAA  AAMANUU KASYAFNAA  ‘ANHUM ‘ADZAABA  ALKHIZYI FII ALHAYAATI  ALDDUNYAA  WAMATTA’NAAHUM ILAA HIININ

Surat Yunus Ayat 98:  Dan mengapa tidak ada (penduduk) suatu kota yang beriman, lalu imannya itu bermanfaat kepadanya selain kaum Yunus? Tatkala mereka (kaum Yunus itu), beriman, Kami hilangkan dari mereka azab yang menghinakan dalam kehidupan dunia, dan Kami beri kesenangan kepada mereka sampai kepada waktu yang tertentu.

NABI YUNUS BIN MATA

Yunus AS dipanggil juga dalam banyak bahasa. Misalnya Dzun Nun dan Yunaan (Arab), Jonah (Inggris), Yonah (Ibrani) Ionas, (Latin). Dia hidup sekitar 820-750 Sebelum Masehi dan Yunus  adalah salah seorang nabi dalam agama Samawi (Islam, Yahudi, Kristen),  yang disebutkan dalam Al-Qur’an dalam Surah Yunus dan dalam Alkitab dalam Kitab Yunus.

Ia ditugaskan berdakwah kepada orang Assyiria di Ninawa di kawasan Iraq. Namanya disebutkan sebanyak 6 kali di dalam Al-Quran dan wafat di Ninawa. Dari segi keturunan, dia mendapatkan panggilan Yunus bin Matta dari keturunan Benyamin bin Ya’qub.

Yunus bin Mata diutus oleh Allah untuk menghadapi penduduk Ninawa, suatu kaum yang keras kepala, penyembah berhala, dan suka melakukan kejahatan. Secara berulang kali Yunus memperingatkan mereka, tetapi mereka tidak mau berubah, apalagi karena Yunus bukan dari kaum mereka. Hanya ada 2 orang yang bersedia menjadi pengikutnya, yaitu Rubil dan Tanuh. Rubil adalah seorang yang alim bijaksana, sedang Tanuh adalah seorang yang tenang dan sederhana.

Ajaran-ajaran Nabi Yunus itu bagi para penduduk Ninawa merupakan hal yang baru yang belum pernah mereka dengar sebelumnya. Karenanya mereka tidak dapat menerimanya untuk menggantikan ajaran dan kepercayaan yang telah diwariskan oleh nenek moyang mereka yang sudah menjadi adat kebiasaaan mereka turun temurun. Apalagi pembawa agama itu adalah seorang asing tidak seketurunan dengan mereka.

Mereka berkata kepada Nabi Yunus:

“Apakah kata-kata yang engkau ucapkan itu dan kedustaan apakah yang engkau anjurkan kepada kami tentang agama barumu itu? Inilah tuhan-tuhan kami yang sejati yang kami sembah dan disembahkan oleh nenek moyang kami sejak dahulu. Alasan apakah yang membenarkan kami meninggalkan agama kami yang diwariskan oleh nenek moyang kami dan menggantikannya dengan agama barumu? Engkau adalah orang asing yang datang pada kami agar kami merubah keyakinan kami. Apakah kelebihanmu sehingga mengajari dan menggurui kami. Hentikan perbuatan sia-siamu itu. Penduduk Ninawa tidak akan mengikutimu karena kami teguh dengan ajaran moyang kami”.

Nabi Yunus berkata:

” Aku hanya mengajakmu beriman dan bertauhid sesuai dengan amanah Allah yang wajib kusampaikan padamu. Aku hanyalah pesuruh Allah yang ditugaskan mengeluarkanmu dari kesesatan dan menuntunmu di jalan yang lurus. Aku sekali-kali tidak mengharapkan upah atas apa yang kukerjakan ini. Aku tidak bisa memaksamu mengikutiku. Namun jika kamu tetap bertahan pada aqidah moyangmu itu, maka Allah akan menunjukkan tanda-tanda kebenaran akan risalahku dengan menurunkan adzab yang pedih padamu, seperti yang terjadi pada kaum-kaum sebelum kamu, yaitu kaum Nuh, Aad, dan Tsamud.

Mereka menjawab dengan menantang: “Kami tetap tidak akan mengikuti kemauanmu dan tidak takut ancamanmu. Tunjukkan ancamanmu jika kamu termasuk orang yang benar!”

Nabi Yunus tidak tahan lagi dengan kaum Ninawa yang keras kepala. Ia pergi dengan marah dan jengkel sambil meminta Allah menghukum mereka. Nah, disinilah menurut Allah SWT, Yunus dianggap tidak taat terhadap tugasnya: HANYA MENYAMPAIKAN RISALAH DARI ALLAH SWT, SOAL HIDAYAH ITU URUSAN ALLAH SWT.

Sebab Tugas seorang nabi adalah hanya MENYAMPAIKAN RISALAH TAUHID. Oleh sebab itu, nabi tidak boleh kecewa dan putus asa bila berdakwah meskipun tidak ada yang mengikuti ajarannya. Kepergian Nabi Yusuf dari kaumnya ini, oleh Allah SWT dianggap sebuah perilaku yang melampaui batas  (DHOLIM).

Sepeninggal Nabi Yunus, kaum Ninawa gelisah karena kawasan itu mendung gelap binatang peliharaan gelisah, wajah mereka pucat pasi, dan angin bertiup kencang yang membawa suara bergemuruh. Mereka takut ancaman Yunus benar-benar terjadi.

Akhirnya mereka mulai membuka kesadaran  bahwa Yunus adalah orang yang benar, dan ajarannya berasal dari Allah. Mereka kemudian beriman dan bertaubat, menyesali perbuatan mereka sehingga mengakibatkan Yunus meninggalkan mereka.

Mereka mencari Yunus sambil berteriak meminta pengampunan Allah SWT atas kesalahan mereka.

Allah Yang Maha Pemaaf pun mengampuni mereka, dan segera seluruh keadaan pulih seperti sedia kala. Penduduk Ninawa kemudian tetap berusaha mencari Yunus agar ia bisa mengajari agama dan menuntun mereka di jalan yang benar.

Dalam kekecewaannya, Yunus tiba di sebuah pantai, dan melihat sebuah kapal yang akan menyeberangi laut. Tekadnya bulat, yaitu pergi sejauh-jauhnya dari kaum yang dianggapnya durhaka kepada Allah SWT.

Setelah membayar upeti ke Kapten Kapal maka ia menumpang kapal itu. Di tengah laut tiba-tiba terjadi badai topan yang hebat. Kapal bergoncang-goncang hampir tenggelam tersapu badai. Sang Kapten yakin bahwa kejadian seperti itu harus ada tumbal yang terjun ke laut agar seluruh isi kapal selamat.

Dengan penuh keyakinan, Kapten kapal mengumumkan undian:  Siapa yang terkena undian maka dia harus terjun ke laut sebagai tumbal. Sekalian bisa mengurangi beban kapal sehingga selamat dari tenggelam.

Keanehan terjadi: Undian pertama jatuh pada Yunus, ketika undian diulang nama Yunus keluar lagi. Untuk memantapkan keputusan, digelar undian ketiga dan nama Yunus keluar lagi.

Yunus sadar itu adalah kehendak Allah, ia kemudian rela menjatuhkan diri ke laut dan atas kehendak Allah, seekor ikan Nun (paus) besar langsung menyambar dan menelan Yunus.

Di dalam perut ikan Nun, Yunus bertobat meminta ampun dan pertolongan Allah, ia bertasbih selama 40 hari dengan membaca:

“LAA ILAAHA ILLA ANTA, SUBHANAKA, INNI KUNTU MINADZH DZHALIMIIN

Tiada tuhan melainkan Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah orang yang telah berbuat dhalim.

Dan tentang doa Nabi Yunus itu , Rasulullah  bersabda,

 “Doa Dzunnun (Nabi Yunus ‘alaihissalam) ketika di perut ikan adalah “Tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Engkau. Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim.” Sesungguhnya tidak seorang muslim pun yang berdoa dengannya dalam suatu masalah, melainkan Allah akan mengabulkan doanya.” (HR. Tirmidzi, dan dishahihkan oleh Syaikh Al Albani).

Dalam perut ikan itu, otomatis Yunus berada dalam tiga kegelapan; kegelapan perut ikan, kegelapan lautan, dan kegelapan malam.

Hal ini sebagaimana yang difirmankan Allah Ta’ala, “Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya), maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap, “Bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim.”–Maka Kami telah memperkenankan doanya dan menyelamatkannya dari pada kedukaan. Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman.” (QS. Al Anbiyaa’: 87-88)

Allah mendengar doa Yunus, dan memerintahkan ikan nun mendamparkan Yunus di sebuah pantai.

Kemudian Allah memerintahkan ikan itu memuntahkan Yunus ke pinggir pantai, lalu Allah tumbuhkan di sana sebuah pohon sejenis labu yang memiliki daun yang lebat yang dapat menaungi Nabi Yunus dan menjaganya dari panas terik matahari. AllahTa’ala berfirman,

“Kemudian Kami lemparkan dia ke daerah yang tandus, sedang ia dalam keadaan sakit.– Dan Kami tumbuhkan untuk dia sebatang pohon dari jenis labu.” (QS. ash-Shaaffaat: 145-146)

Ketika Yunus dimuntahkan dari perut ikan yang keadaannya seperti anak burung yang telanjang dan tidak berambut. Lalu Allah menumbuhkan pohon sejenis labu, dimana ia dapat berteduh dengannya dan makan darinya. Selanjutnya pohon itu kering, lalu Yunus menangis karena keringnya pohon itu. Kemudian Allah berfirman kepadanya, “Apakah kamu menangis karena pohon itu kering. Namun kamu tidak menangis karena seratus ribu orang atau lebih yang ingin engkau binasakan.”

Selanjutnya, Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan Yunus agar kembali kepada kaumnya untuk memberitahukan mereka, bahwa Allah Ta’ala telah menerima taubat mereka dan telah ridha kepada mereka. Maka Nabi Yunus ‘alaihissalam melaksanakan perintah itu, ia pergi mendatangi kaumnya dan memberitahukan kepada mereka wahyu yang diterimanya dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Kaumnya pun telah beriman dan Allah memberikan berkah kepada harta dan anak-anak mereka, sebagaimana yang diterangkan Allah dalam firman-Nya,

“Dan Kami utus dia kepada seratus ribu orang atau lebih.–Lalu mereka beriman, karena itu Kami anugerahkan kenikmatan hidup kepada mereka hingga waktu yang tertentu.” (QS. ash-Shaaffaat: 147-148)

Allah Subhanahu wa Ta’ala memuji Nabi Yunus ‘ailaihissalam dalam Alquran, Dia berfirman,

“Dan Ismail, Alyasa’, Yunus, dan Luth. Masing-masing Kami lebihkan derajatnya di atas umat (di masanya).” (QS. Al An’aam: 86).

@@@

Categories: DOA YUSUF | 8 Komentar


Assalamualaikum wr wb.

Jajaran pengurus blog KWA telah selesai melaksanakan pelatihan Private MASTER KWA dan peserta mendapatkan gelar penghormatan MASTER KWA  ANGKATAN XXXXIII/ 43

KI GUSTI NYAWIJI FIAN PENANGGUNGAN – MAKASSAR

KI GUSTI NYAWIJI WAHYU PENANGGUNGAN – BOYOLALI

Mohon doa restu agar beliau bisa berkarya untuk masyarakat. 

Terima kasih dan salam paseduluran. @@@

Categories: >>PERPUSTAKAAN UTAMA

PEMBERSIHAN AURA NEGATIF DIRI UNTUK PENDEKAR TINGKAT TINGGI YANG AKAN MULAI LAKU BATIN


IJASAH GUS ITSNA
Pengasuh PP Darul ‘Ulum Selotumpuk Wlingi Blitar

Salam takzim menjura kepada semua anggota maupun anggota KWA. lama saya tidak bertegur saya sama sedulur semua. Pada kesempatan kali ini, sy mau ijasahkan ilmu PEMBERSIHAN AURA NEGATIF DIRI UNTUK PENDEKAR TINGGAT TINGGI YANG AKAN MULAI LAKU BATIN. Berikut adalah doanya:

  1. Istighfar 200x
  2.  SHOLLALLOHU ‘ALA MUHAMMAD 200x
  3. La ilaha illalloh 200x

Tata laku: Lakukan Setiap habis sholat 5 waktu. Puasa 3 hari mulai Rabu Pon-kamis wage, jumat kliwon.

Keterangan: PUASA 3 HARI ITU SETARA DENGAN 40 HARI DARI SISI ILMU JAWA. HARI RABU ADALAH HARI yang BAIK untuk memulai hal-hal baik sebagaimana keterangan kitab ta’lim muta’allim.

Ini termasuk ilmu pendekar tingkat tinggi yang mulai laku batin.

Sejak saya belajar kehebatan dan keampuhan dunia persilatan. berikut tingkatan yg pernah saya jalani:

Masuk tingkat pendekar pertama. Petentang petenteng seperti tidak punya musuh. Naik pentas pencak umum dan suka atraksi. Ilmu bawaannya masih jurus2 fisik dan tenaga dalam. Terasa ampuhnya.

Sepuluh tahun berlalu. Masuk tingkat pendekar kedua. Lebih tunduk. Bekalnya jurus2 teknik dan ilmu2 pernafasan dan tenaga dalam tinggi. Sudah mulai khusyu’ tapi perasaan hebat masih ada.

Tahun berikutnya masuk tingkat pendekar terakhir/ guru besar/ tingkat tiga. Bekalnya ilmu jurus super kunci. Ilmu pernafasan dan tenaga dalam terakhir/ tertinggi. Dan laku2 batin dengan wirid, puasa, melek. Ilmunya pasrah kepada Allah. Mulai laku batinnya dengan pembersihan aura negatif seperti yang saya ijazahkan tadi.

Silahkan bagi yang mau amalkan.

@KWA,2016

Categories: PEMBERSIHAN AURA NEGATIF DIRI UNTUK PENDEKAR TINGGAT TINGGI YANG AKAN MULAI LAKU BATIN | 39 Komentar

KEKUATAN ENERGI KEHADIRAN ILAHI DI DALAM HATI ( HUDHUR AL-QALB )


Bagaimana supaya hati punya KEKUATAN? Saya yakin seyakin-yakinnya bahwa KEKUATAN yang sejati dalam diri manusia itu tiada lain adalah dengan cara mengingat Allah SWT. Untuk mengingat Allah, bisa kita latih dengan mengulang-ulang kalimat doa di dalam hati dan boleh juga (tidak selalu harus) diucapkan melalui mulut.

Dari sudut pandang lain, Kasih sayang dan rahmat-Nya diatas ancaman dan siksa-Nya. Kalau kita berniat mendekati  Allah, maka Allah akan menyongsong dekati kita jauh sebelum niat kita terlahirkan. Kalau kita berniat punya kekuatan yang tak terbatas maka caranya adalah PASRAH pada ALLAH sehingga DIA akan memberikan kekuatan NYA berlipat-lipat yang tidak pernah kita duga sangka sebelumnya.

Berikut doa yang biasanya dizikirkan dalam hati di setiap saat, dengan jumlah seikhlasnya agar bisa membantu kita untuk merasakan ‘HUDUR’ (kebersamaan bersama ALLAH) juga merasakan ‘dekat dan diperhatikan Allah SWT. Doa itu adalah:

ALLAH HADIRI — Allah hadir bersamaku

ALLAH SYAHIDI — Allah menyaksikanku

ALLAH MA’I — Allah bersamaku

ALLAH NADHIRUN ILAYYA — Allah selalu melihatku

ALLAH QARIBUN MINNI — Allah dekat denganku

Ada ulama yang menganjurkan dibaca sebelum tidur sebanyak 11 kali.  Ulama Syaikh Umar Al-Faruqi  kepada keponakannya berpesan agar menanamkan dalam jiwanya kalimat Allahu Ma’i , Allahu Syahidi, Allahu Nadirun Ilayya.

Hakekatnya, dengan memahami makna yang terkandung dalam kalimat-kalimat tersebut, maka kita akan merasa malu untuk bermaksiat kepada Allah. Karena setiap gerak-gerik kita akan selalu terpantau oleh Allah.

Dengan demikian, hal itu bisa menghantarkan kita menjadi kaum muslimin sebagaimana yang Allah kehendaki dan ridhoi yang termaktub dalam Al-Qur’an: Kuntum khoiro ummatin ukhrijat linnasi ta’muruna bil makruf, watanhauna ‘anil munkar.

Seorang ulama terkemuka, Imam Sahl bin Abdullah Al-Tastari menuturkan kisah dirinya ketika berumur tiga tahun saat ikut pamannya yang bernama Muhammad bin Sanwar yang rajin untuk melakukan sholat malam.

Suatu hari, paman berkata kepadaku: “Apakah kau mengingat Allah, yang menciptakanmu?
Aku menjawab: “Bagaimana caranya aku mengingat-Nya?”

Beliau menjawab: “Anakku, jika berganti pakaian dan ketika hendak tidur, katakanlah tiga kali dalam hatimu, tanpa menggerakkan lisanmu:  “Allahu Ma’i, Allahu Naadhiri, Allahu Syahidi” (Allah bersamaku, Allah melihatku, Allah menyaksikan aku!).

Aku menghafalkan kalimat itu, lalu mengucapkannya bermalam-malam. kemudian aku menceritakan hal ini kepada paman. Pamanku berkata: “Mulai sekarang, ucapkan zikir itu sepuluh kali setiap malam”.  Aku melakukannya, aku resapi maknanya, dan aku merasakan ada kenikmatan dalam hatiku. Pikiran terasa terang, aku merasa senantiasa bersama Allah SWT.

Satu tahun setelah itu, paman berkata: “jagalah apa yang aku ajarkan kepadamu, dan langgengkanlah sampai kau masuk kubur. Zikir itu akan bermanfaat bagimu di dunia dan di akhirat.” Pamanku melanjutkan nasehatnya: “hai Sahl, orang yang merasa selalu disertai dan dilihat Allah, dan disaksikan Allah, akankah dia melakukan maksiat?’

Kalimat Allahu ma’i, Allahu naadhiri, Allahu syahidi terkenal dikalangan ulama arif billah. Bahkan Syeikh Al-Azhar, Imam Abdul Halim Mahmud, yang terkenal dengan ulama arif billah menganjurkan kepada kaum muslimin untuk menancapakan kalimat ini didalam hati. Maknanya yang dahsyat, jika dihayati dengan sungguh-sungguh, akan mendatangkan rasa ma’iyatullah (selalu merasa disertai, dilihat, dan disaksikan oleh Allah Swt, dimana dan kapan saja).

Pada akhirnya, rasa ini akan menumbuhkan takwa yang tinggi kepada Allah SWT Kalau sudah begitu, apakah orang yang merasa selalu disertai, dilihat, dan disaksikan Allah akan melakukan maksiat? Dia akan senantiasa berbuat POSITIF, berpikir POSITIF, berhati POSITIF dan ini pasti akan merubah pandangan HIDUP kita menjadi HIDUP yang POSITIF. Sehingga pada akhirnya kita akan menili kehidupan ini dengan SELAMAT dan DIRIDHOI ALLAH SWT di akhirat dan tentu saja di dunia ini.

@kwa,2016

Categories: KEKUATAN ENERGI KEHADIRAN ILAHI DI DALAM HATI ( HUDHUR AL-QALB ) | 14 Komentar

KISAH SUFI DZUN NUN AL MISHRI


Abul Faiz Tsuban bin Ibrahim al-Mishri, yang dijuluki Dzun Nun, lahir di kota Ekhmim yang terletak di pedalaman Mesir, sekitar tahun 180 H/796 M. Banyak guru-guru yang telah diikuti Dzun Nun dan banyak pengembaraan yang telah dilakukannya di negeri Arab dan Syria. Pada tahun 214 H/829 M, Dzun Nun ditangkap dengan tuduhan bid’ah dan dikirim ke kota Baghdad untuk dipenjarakan di sana. Setelah diadili, khalifah memerintahkan agar ia dibebaskan dan dikembalikan ke Kairo. Di kota ini ia meninggal tahun 246 H/861 M. Kuburan Dzun Nun sampai kini masih terpelihara dengan baik. Secara legendaris ia dianggap sebagai seorang ahli al-kimia yang mempunyai kekuatan-kekuatan ghaib dan telah mengetahui rahasia tulisan Hiroglif Mesir. Serangkaian syair dan risalat diduga sebagai karya-karyanya, tetapi kebanyakannya masih diragukan.

KISAH PERTAUBATANNYA

Mengenai pertaubatan Dzun Nun si orang Mesir dikisahkannya sebagai berikut:

Suatu hari aku mendengar bahwa di suatu tempat berdiam seorang pertapa. Maka pergilah aku ke pertapaan itu. Sesampainya di sana kudapati si pertapa sedang bergantung pada sebatang pohon dan berseru kepada dirinya sendiri:

“Wahai tubuh, bantulah aku dalam mentaati perintah Allah. Kalau tidak, akan kubiarkan engkau tergantung seperti ini sampai engkau mati kelaparan”.
Menyaksikan hal itu aku tak dapat menahan tangis sehingga tangisku terdengar oleh si pertapa pengabdi Allah itu. Maka bertanya lah ia:
“Siapakah itu yang telah menaruh belaskasihan kepada diriku yang tidak mempunyai malu dan banyak berbuat aniaya ini?”
Aku menghampirinya dan mengucapkan salam kepadanya. Kemudian aku bertanya: “Mengapakah engkau berbuat seperti ini?”
“Tubuhku ini telah menghalang-halangiku untuk mentaati perintah Allah”, jawabnya. “Tubuhku ini ingin bercengkerama dengan manusia-manusia lain”.
Tadi aku mengira bahwa ia telah menumpahkan darah seorang Muslim atau melakukan dosa besar semacam itu.
Si pertapa melanjutkan: “Tidakkah engkau menyadari bahwa begitu engkau bergaul dengan manusia-manusia ramai, maka segala sesuatu dapat terjadi?”
“Engkau benar-benar seorang pertapa yang kukuh!” kataku kepadanya.
“Maukah engkau menemui seorang pertapa yang lebih daripadaku?”, tanyanya kepadaku. “Ya”, jawabku.
“Pergilah ke gunung yang berada di sana itu. Di situlah engkau akan menemuinya”, si pertapa menjelaskan.
Maka pergilah aku ke gunung yang ditunjukkannya. Di sana kujumpai seorang pemuda yang sedang duduk di dalam sebuah pertapaan. Sebuah kakinya telah terkutung putus dan dilemparkan ke luar, cacing-cacing sedang menggerogotinya. Aku menghampirinya lalu mengucapkan salam, kemudian kutanyakan perihal dirinya.
Si pertapa berkisah kepadaku: “Suatu hari ketika aku sedang duduk di dalam pertapaan ini, seorang wanita kebetulan lewat di tempat ini. Hatiku bergetar menginginkannya dan jasmaniku mendorongku agar mengejarnya. Ketika sebuah kakiku telah melangkah ke luar dari ruang pertapaan ini terdengarlah olehku sebuah seruan: ‘Setelah mengabdi dan mentaati Allah selama tiga puluh tahun, tidakkah engkau merasa malu untuk mengikuti syaitan dan mengejar seorang wanita lacur?’. Karena menyesal kupotonglah kaki yang telah kulangkahkan itu. Kini aku duduk menantikan apa yang akan terjadi menimpa diriku. Tetapi apakah yang telah mendorong dirimu untuk menemui orang berdosa seperti aku ini? “Jika engkau ingin menjumpai seorang hamba Allah yang sejati, pergilah ke puncak gunung ini”.
Puncak gunung itu terlampau tinggi untuk kudaki. Oleh karena itu aku hanya dapat bertanya-tanya tentang dirinya.
Seseorang mengisahkan kepadaku: “Memang ada seorang lelaki yang sudah sangat lama mengabdi kepada Allah di dalam pertapaan di puncak gunung itu. Pada suatu hari seseorang mengunjunginya dan berbantah-bantah dengannya. Orang itu berkata bahwa setiap manusia harus mencari makanannya sendiri sehari-hari. Si pertapa kemudian bersumpah tidak akan memakan makanan yang telah diusahakan. Berhari-hari lamanya ia tidak makan sesuatu pun. Tetapi akhirnya Allah mengutus sekawanan lebah yang melayang-layang mengelilinginya kemudian memberikan madu kepadanya”.
Segala sesuatu yang telah kusaksikan dan segala kisah yang telah kudengar itu sangat menyentuh hatiku. Sadarlah aku bahwa barangsiapa memasrahkan diri kepada Allah, niscaya Allah akan memeliharanya dan tidak akan menyia-nyiakan penderitaannya. Di dalam perjalanan menuruni gunung itu aku melihat seekor burung yang sedang bertengger di atas pohon. Tubuhnya kecil dan setelah kuamati ternyata matanya buta. Aku lantas berkata dalam hati: “Dari manakah makhluk lemah yang tak berdaya ini memperoleh makanan dan minumannya?”

Seketika itu juga si burung melompat turun. Dengan mematuk-matukkan paruhnya, dicungkilnya tanah dan tidak berapa lama kemudian terlihatlah olehku dua buah cawan. Yang sebuah dari emas dan penuh biji gandum, sedang yang lainnya dari perak dan penuh dengan air mawar. Setelah makan sepuasnya, burung itu meloncat kembali ke atas dahan sedang cawan-cawan tadi hilang kembali tertimbun tanah. Dzun Nun sangat heran meyaksikan keanehan tersebut. Sejak saat itulah ia mempercayakan jiwa-raganya dan benar-benar bertaubat kepada Allah.

Setelah beberapa lama berjalan, Dzun Nun dan para sahabatnya sampai di sebuah padang pasir. EH sana mereka menemukan sebuah guci berisi kepingan-kepingan emas dan batu permata dan di atas tutupnya terdapat sebuah papan yang bertuliskan nama Allah. Sahabat-sahabatnya membagi-bagi emas dan permata-permata
tersebut di antara sesama mereka sedang Dzun Nun hanya meminta: “Berikanlah kepadaku papan yang bertuliskan nama Sahabatku itu!”.

Papan itu diterimanya, siang malam diciuminya. Berkat papan itu ia memperoleh kemajuan yang sedemikian pesatnya sehingga pada suatu malam ia bermimpi. Dalam mimpi itu ia mendengar suara yang berseru kepadanya: “Semua sahabat-sahabatmu lebih suka memilih emas dan permata karena benda-benda itu mahal harganya. Tetapi engkau telah memilih nama-Ku yang lebih berharga daripada emas dan permata. Oleh karena itu Aku bukakan untukmu pintu pengetahuan dan kebijaksanaan!”

Setelah itu Dzun Nun kembali ke kota. Kisahnya berlanjut pula sebagai berikut ini.

Suatu hari aku berjalan-jalan sampai ke tepian sebuah sungai, di situ kulihat sebuah villa. Di sungai itu aku bersuci, setelah selesai, tanpa sengaja aku memandang ke loteng villa itu. Di atas balkon sedang berdiri seorang dara jelita. Karena ingin mempertegasnya aku pun bertanya: “Upik, siapakah engkau ini?”

Si dara menjawab: “Dzun Nun, dari kejauhan kukira engkau seorang gila, ketika agak dekat kukira engkau seorang terpelajar. Dan ketika sudah dekat kukira engkau seorang mistikus. Tetapi kini jelas bagiku bahwa engkau bukan gila, bukan seorang terpelajar dan bukan pula seorang mistikus.”

Aku bertanya: “Mengapakah engkau berkata demikian?”

Si dara menjawab: “Seandainya engkau gila, niscaya engkau tidak bersuci. Seandainya engkau terpelajar niscaya engkau tidak memandang yang tak boleh dipandang. Dan seandainya engkau seorang mistikis pasti engkau tidak akan memandang sesuatu pun juga selain dari Allah”.

Setelah berkata demikian dara itu pun hilang. Sadarlah aku bahwa ia bukan manusia biasa. Sesungguhnya ia .telah diutus Allah untuk memberi peringatan kepada diriku. Api sesal membakar hatiku. Maka aku teruskan pengembaraanku ke arah pantai.

Sesampainya di pantai, aku melihat orang-orang sedang naik ke atas sebuah kapal. Akupun berbuat seperti mereka. Beberapa lama berlalu, seorang saudagar yang menumpang kapal itu kehilangan permata miliknya. Satu persatu para penumpang digeledah. Akhirnya mereka menarik kesimpulan bahwa permata itu ada di tanganku. Berulangkali mereka menyiksa dan memperlakukan diriku sedemikian hinanya, tetapi aku tetap membisu. Akhirnya aku tak tahan lagi lalu berseru:

“Wahai Sang Pencipta, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Tahu!” Seketika itu juga beribu-ribu ekor ikan mendongakkan kepala ke atas permukaan air dan masing-masing membawa sebuah permata di mulutnya.

Aku mengambilnya sebuah dan memberikannya kepada si saudagar. Menyaksikan keajaiban ini semua orang yang berada di atas kapal berlutut dan meminta maaf padanya. Karena peristiwa inilah aku dijuluki Dzun Nun (“Manusia Ikan”).

DZUN NUN DITANGKAP

Dzun Nun telah mencapai tingkat keluhuran yang tinggi tetapi tak seorang pun menyadari ini. Orang-orang di negeri Mesir bahkan sepakat mencap dirinya bid’ah dan melaporkan segala perbuatannya kepada khalifah al-Mutawakkil. Mutawakkil segera mengirim para perwiranya untuk membawa Dzun Nun ke kota Baghdad. Ketika memasuki istana khalifah, Dzun Nun berkata: “Baru saja kupelajari Islam yang sebenarnya dari seorang wanita tua dan sikap satria tulen dari seorang kuli pemikul air”.
“Bagaimana?”, tanya mereka kepadanya.

Dzun Nun menjawab: “Sesampainya di istana khalifah dan menyaksikan kemegahan istana dengan para pengurus dan pelayan yang hilir mudik di koridor-koridornya, aku berpikir alangkah baik-nya seandainya terjadi sedikit perubahan pada wajahku ini. Tiba-tiba seorang wanita tua dengan sebuah tongkat di tangannya menghampiriku. Sambil menatapku dengan tajam ia berkata kepadaku: ‘Jangan engkau takuti jasad-jasad yang akan engkau hadapi, karena mereka dan engkau adalah sama-sama hamba Allah Yang Maha Besar. Kecuali apabila dikehendaki Allah, mereka tidak dapat berbuat sesuatu pun terhadapmu”.

“Di tengah perjalanan tadi aku bertemu dengan seorang pemikul air. Aku diberinya seteguk air yang menyegarkan. Kepada seorang teman yang menyertaiku aku memberi isyarat agar ia memberikan sekeping uang dinar kepadanya. Tetapi si pemikul air menolak, tidak mau menerima uang itu dan berkata kepadaku: ‘Engkau adalah seorang yang terpenjara dan terbelenggu. Bukanlah suatu kekesatriaan yang sejati apabila menerima sesuatu dari seseorang yang terpenjara seperti engkau ini, seorang asing yang sedang terbelenggu’ “.

Setelah itu diperintahkan supaya Dzun Nun dijebloskan ke dalam penjara. Empat puluh hari empat puluh malam lamanya ia mendekam dalam kurungan itu. Setiap hari saudara perempuannya mengantarkan sekerat roti yang telah dibelinya dengan upah dari pekerjaan memintal benang. Ketika Dzun Nun dibebaskan, ditemu-kan empat puluh potong roti di kamar kurungannya dan tak satu pun di antara roti-roti itu yang telah disentuhnya. Ketika saudara perempuan Dzun Nun mendengar hal ini, ia menjadi sangat sedih.

“Engkau tahu bahwa roti-roti itu adalah halal dan tidak kuperoleh dengan jalan meminta-minta. Mengapa engkau tidak mau memakan roti-roti pemberianku itu?”
“Karena pinggannya tidak bersih”, jawab Dzun Nun. Yang dimaksudkannya dalah bahwa pinggan tersebut telah terpegang oleh penjaga penjara.

Ketika keluar dari penjara itu, Dzun Nun tergelincir dan dahinya terluka. Diriwayatkan bahwa lukanya itu banyak mengeluarkan darah tetapi tak setetes pun yang mengotori muka, rambut maupun pakaiannya. Setiap tetes darah yang terjatuh ke tanah, seketika itu juga lenyap dengan izin Allah.

Kemudian Dzun Nun dibawa menghadap khalifah. Ia diharuskan menjawab tuduhan-tuduhan yang memberatkan dirinya. Maka dijelaskannyalah doktrin-doktrinnya sedemikian rupa sehingga Mutawakkil menangis tersedu-sedu sedang menteri-menterinya terpesona mendengar kefasihan Dzun Nun. Khalifah menganugerahinya dengan kehormatan yang besar.

DZUN NUN DAN SEORANG MURID

Dzun Nun mempunyai seorang murid yang telah bertapa selama empat puluh kali, masing-masing selama empat puluh hari. Empat puluh kali ia telah berdiri di Padang Arafah dan selama empat puluh tahun ia telah mengendalikan hawa nafsunya. Suatu hari si murid datang menghadap Dzun Nun dan berkata:

“Semua itu telah kulakukan. Tetapi untuk semua jerih payahku Sang Sahabat tidak pernah mengucapkan sepatah kata pun dan tidak pernah memandang diriku. Dia tidak memperdulikanku dan tak mau memperlihatkan keghaiban-keghaiban-Nya padaku. Semua itu kukatakan bukan untuk memuji diriku sendiri, aku semata-mata menyatakan hai yang sebenarnya. Aku telah melakukan segala sesuatu yang dapat dilakukan oleh diriku yang malang ini. Aku tidak mengeluh kepada Allah. Aku hanya menyatakan hai yang sebenarnya bahwa aku telah mengabdikan jiwa ragaku untuk berbakti kepada-Nya. Aku hanya menyampaikan kisah sedih dari nasibku yang malang ini, kisah ketidakberuntungan diriku ini. Semua itu kukemukakan bukan karena hatiku telah jemu untuk mematuhi Allah. Aku kuatir jika masa-masa mendatang aku mengalamt hai yang sama. Seumur hidup aku telah mengetuk dengan penuh harap, namun tak ada jawaban. Sangat berat bagiku untuk lebih lama menanggungkan. Karena engkau adalah tabib bagi orang-orang yang sedang berduka dan penasehat tertinggi bagi orang-orang suci, sembuhkanlah duka citaku ini”.

“Malam ini niakanlah dengan sepuas-puasnya”, kata Dzun Nun menasehati “Tinggalkanlah shalat ‘Isa dan tidurlah dengan nyenyak sepanjang malam. Dengan demikian jika Sang Sahabat selama ini tidak memperlihatkan diri-Nya dengan kebajikan, maka se tidak-tidaknya Dia akan memperlihatkan diri-Nya dengan penyesalan terhadapmu. Jika selama ini Dia tidak mau memandangmu dengan kasih sayang maka Dia akan memandangmu dengan kemurkaan”.

Si murid pun pergi dan pada malam itu ia makan dengan sepuas-puasnya. Tetapi untuk melalaikan shalat ‘Isa hatinya tidak mengizinkan. Ia tetap melakukan shalat dan setelah itu ia pun tidur. Malam itu di dalam mimpinya ia bertemu dengan Nabi dan berkata kepadanya:

“Sahabatmu mengucapkan salam kepadamu. Dia berkata: ‘Hanya seorang malang yang lemah serta bukan manusia sejatilah yang datang ke hadirat-Ku dan cepat merasa puas. Inti permasalahan adalah hidup lurus tanpa keluhan’. Allah Yang Maha Besar menyatakan: ‘Telah Kuberikan empat puluh tahun keinginan kepada hatimu dan Aku jamin bahwa engkau akan memperoleh segala sesuatu yang engkau harapkan dan memenuhi segala keinginanmu itu. Tetapi sampaikan pula salam-Ku kepada Dzun Nun, si manusia bajingan dan suka berpura-pura itu. Katakanlah kepadanya. wahai manusia pen-dusta yang suka berpura-pura, jika tidak Aku bukakan malumu kepasa seluruh penduduk kota, maka Aku bukanlah Tuhanmu. Awas, janganlah engkau sesatkan kekasih-kekasihku yang malang dan janganlah engkau jauhkan mereka dari hadirat-Ku”.

Si murid terjaga dari tidurnya lalu menangis. Kemudian ia pergi kepada Dzun Nun dan mengisahkan segala sesuatu yang disaksikan dan didengarnya dalam mimpi itu. Ketika Dzun Nun mendengar kata-kata ‘Tuhan mengirim salam dan menyatakan bahwa engkau adalah seorang pendusta yang suka berpura-pura’, ia pun berguling-guling kegirangan dan menangis penuh kebahagiaan.

KISAH-KISAH DZUN NUN

Dzun Nun mengisahkan: Ketika aku sedang berjalan-jalan di gunung, terlihat olehku sekumpulan orang-orang yang menderita sakit. Aku bertanya kepada mereka: “Apakah yang telah terjadi terhadap kalian?”

Mereka menjawab: “Di dalam pertapaan yang terletak di tempat ini berdiam seorang yang saleh. Setahun sekali ia keluar dari pertapaannya, meniup orang-orang ini lalu semuanya sembuh. Setelah itu ia pun kembali ke dalam pertapaannya dan setahun kemudian barulah ia keluar lagi”.

Dengan sabar aku menantikan si pertapa itu ke luar dari dalam pertapaannya. Ternyata yang kusaksikan adalah seorang lelaki ber-wajah pucat, berbadan kurus dan bermata cekung. Tubuhku gemetar karena kagum memandang dirinya. Dengan penuh kasih si pertapa memandangi orang banyak itu, kemudian menengadahkan pandangannya ke atas. Setelah itu semua orang-orang yang menderita sakit itu ditiupnya beberapa kali. Dan semuanya sembuh dari penyakitnya.
Ketika si pertapa hendak kembali ke dalam pertapaannya, aku segera meraih pakaiannya dan berseru:

“Demi kasih Allah engkau telah menyembuhkan penyakit-penyakit lahiriah, tetapi sembuhkanlah sekarang penyakit di dalam batinku ini”.

Sambil memandang diriku si pertapa berkata:
“Dzun Nun lepaskanlah tanganmu dariku. Sang Sahabat sedang mengawasi dari puncak kebesaran dan keagungan. Jika Dia lihat berapa engkau bergantung kepada seseorang selain daripada-Nya, pasti Dia akan meninggalkan dirimu bersama orang itu maka celakalah engkau di tangan orang itu”.
Setelah berkata demikian ia pun kembali ke dalam pertapaannya.

ooo

Suatu hari sahabat-sahabatnya mendapati Dzun Nun sedang menangis.

“Mengapa engkau menangis?”, tanya mereka.

“Kemarin malam ketika bersujud di dalam shalat, mataku tertutup dan aku pun tertidur. Terlihat olehku Allah dan Dia berkata kepadaku: ‘Wahai Abul Faiz, Aku telah menciptakan semua makhluk terbagi dalam sepuluh kelompok. Kepada mereka aku berikan harta kekayaan dunia. Semuanya berpaling kepada kekayaan dunia kecuali satu kelompok. Kelompok ini terbagi pula menjadi sepuluh kelompok. Kepada mereka Aku berikan surga. Semuanya berpaling kepada surga kecuali satu kelompok. Kemudian kelompok ini terbagi pula menjadi sepuluh kelompok. Kepada mereka aku tonjukkan neraka. Semua lari menghindar kecuali satu kelompok yaitu orang-orang yang tidak tergoda oleh harta kekayaan dunia, tidak mendambakan surga dan tak takut pada neraka. Apakah sebenarnya yang kalian kehendaki?’ Semuanya menengadahkan kepalanya sambil berseru: “Sesungguhnya Engkau lebih mengetahui apa yang kami kehendaki!”.

ooo

Pada suatu hari seorang anak lelaki menghampiri Dzun Nun lalu berkata: “Aku mempunyai uang seribu dinar. Aku ingin menyumbangkan uang ini untuk kebaktianmu kepada Allah. Aku ingin agar uangku ini dapat digunakan oleh murid-muridmu dan para guru sufi”.
“Apakah engkau sudah cukup umur?”, tanya Dzun Nun. “Belum”, jawab anak itu.
“Jika demikian engkau belum berhak untuk mengeluarkan uang tersebut. Bersabarlah hingga engkau cukup dewasa”, Dzun Nun menjelaskan.
Setelah dewasa, anak itu kembali menemui Dzun Nun. Dengan pertolongan Dzun Nun ia bertaubat kepada Allah dan semua uang dinar emas itu diberikannya untuk para guru sufi, sahabat-sahabat Dzun Nun.
Suatu ketika para guru sufi itu mengalami kesulitan sedang mereka tak memiliki apa-apa lagi karena uang telah habis dipergunakan.

Anak lelaki yang telah menyumbangkan uangnya itu berkata: “Sayang sekali, aku tak mempunyai uang seratus ribu dinar lagi untuk membantu manusia-manusia berbudi ini”. Kata-kata ini terdengar oleh Dzun Nun, maka sadarlah ia bahwa anak tersebut belum menyelami kebenaran sejati dari kehidupan rrristik karena kekayaan dunia masih penting dalam pandangannya. Anak itu dipanggil Dzun Nun dan berkata kepadanya:

“Pergilah ke tabib Anu, katakan padanya bahwa aku menyuruh dia untuk menyerahkan obat seharga tiga ribu dirham kepadamu”.

Si pemuda segera pergi ke tabib itu dan tak lama kemudian ia telah kembali lagi.
“Masukkanlah obat-obat itu ke dalam lumpang dan tumbuklah sampai lumat”, Dzun Nun menyuruh si pemuda.. “Kemudian tuangkanlah sedikit minyak sehingga obat-obat itu berbentuk pasta. Kemudian kepal-kepallah ramuan itu menjadi tiga buah butiran, dan dengan sebuah jarum lobangilah ketiga-tiganya. Setelah itu bawalah ketiga butirnya kepadaku”.

Si pemuda melaksanakan seperti yang diperintahkan kepadanya. Setelah selesai, ketiga butiran itu dibawanya kepada Dzun Nun. Butir-butir tersebut diusap-usap oleh Dzun Nun kemudian ditiupnya, tiba-tiba butir-butir itu berubah menjadi tiga buah batu mirah delima dari jenis yang belum pernah disaksikan manusia. Kemudian Dzun Nun berkata kepada si pemuda:
“Bawalah permata-permata ini ke pasar dan tanyakanlah harga-nya, tetapi jangan engkau jual”.
Si pemuda membawa batu-batu permata itu ke pasar. Ternyata setiap butirnya berharga seribu dinar. Si pemuda kembali untuk mengabarkan hai ini kepada Dzun Nun. Dzun Nun berkata: “Sekarang masukkanlah permata-permata itu ke dalam lesung, tumbuklah sampai halus dan setelah itu lemparkanlah ke dalam air”.
Si pemuda melakukan seperti yang disuruhkan, melemparkan tumbukan permata itu ke dalam air. Setelah itu Dzun Nun berkata kepadanya: “Anakku, para guru sufi itu bukan lapar karena kekurangan. Semua ini adalah kemauan mereka sendiri”.
Si pemuda bertaubat lalu jiwanya terjaga. Dunia ini tak berharga lagi dalam pandangannya.

ooo

Dzun Nun berkisah sebagai berikut:

Selama tiga puluh tahun aku mengajak manusia untuk bertaubat, tetapi hanya seorang yang telah menghampiri Allah dengan segala kepatuhan. Beginilah peristiwanya:
Pada suatu hari sewaktu aku berada di ‘pintu sebuah masjid, seorang pangeran beserta para pehgiringnya lewat di depanku. Kuucapkan kata-kata: “Tak ada yang lebih bodoh daripada si lemah yang bergulat me la wan si kuat”.
Si pangeran bertanya kepadaku: “Apakah makna kata-katamu itu?”
“Manusia adalah makhluk yang lemah, tetapi ia bergulat melawan Allah Yang Maha Kuat”, jawabku.
Wajah si pangeran remaja itu berubah pucat. Ia bangkit lalu meninggalkan tempat itu. Keesokan harinya ia kembali menemuiku dan bertanya: “Manakah jalan menuju Allah?”
“Ada jalan yang kecil dan ada jalan yang besar, yang manakah yang engkau sukai?. Jika engkau menghendaki jalan yang kecil, tinggalkanlah dunia dan hawa nafsu, setelah itu jangan berbuat dosa lagi. Jika engkau menghendaki jalan yang besar, tinggalkanlah segala sesuatu kecuali Allah lalu kosongkanlah hatimu”.
“Demi Allah akan kupilih jalan yang besar”, jawab si pangeran.
Esoknya ia mengenakan jubah yang terbuat dari bulu domba dan mengambil jalan mistik. Di kemudian hari ia menjadi seorang manusia suci.

ooo

Kisah berikut ini diriwayatkan oleh Abu Ja’far yang bermata satu.
Aku bersama Dzun Nun dengan sekelompok murid-muridnya berada di suatu tempat. Mereka sedang membicarakan bahwa sesungguhnya manusia dapat memerintah benda-benda mati,
“Inilah sebuah contoh”, kata Dzun Nun, “bahwa benda-benda mati mematuhi perintah-perintah manusia-manusia suci. Jika kukatakan kepada sofa itu ‘menarilah mengelilingi rumah ini maka ia pun menari”.
“Belum lagi Dzun Nun selesai dengan kata-katanya, sofa itu mulai bergerak kemudian mengelilingi rumah lalu membalik ke tempatnya semula. Seorang pemuda yang menyaksikan peristiwa ini tidak dapat menahan ledakan tangisnya dan tak berapa lama kemudian menemui ajalnya. Mereka memandikan mayat si pemuda di atas sofa itu kemudian menguburkannya.

ooo

Pada suatu ketika seorang lelaki datang kepada Dzun Nun dan berkata:
“Aku mempunyai hutang tetapi aku tidak mempunyai uang” untuk melunasinya”,
Dzun Nun memurigut sebuah batu. Batu itu berubah menjadi zamrud. Dzun Nun menyerahkannya kepada lelaki itu. Ia membawa-nya ke pasar dan menjualnya dengan harga empat ratus dirham kemudian ia melunasi hutangnya.

ooo

Ada seorang pemuda yang seringkali mencemoohkan kaum sufi. Suatu hari Dzun Nun melepaskan cincin di jarinya kemudian memberikan cincin itu kepada si pemuda sambil berkata:
“Bawalah cincin ini ke pasar dan gadaikanlah dengan harga satu dinar”.
Si pemuda membawa cincin itu ke pasar tetapi tak seorang pun mau menerimanya dengan harga di atas satu dirham. Si pemuda kembali dan menyampaikan hal itu kepada Dzun Nun.
“Sekarang bawalah cincin ini kepada pedagang permata dan t any akan harganya”, Dzun Nun berkata kepada si pemuda.
Ternyata pedagang-pedagang permata menaksir harga cincin itu seribu dinar. Ketika si pemuda kembali, Dzun Nun berkata kepadanya:

“Engkau hanya mengetahui kaum sufi seperti pemilik-pemilik warung di pasar tadi mengetahui harga cincin ini”.
Si pemuda bertaubat dan ia tak mau lagi mencemooh para sufi.

ooo

Telah sepuluh tahun lamanya Dzun Nun ingin memakan Sekbaj, tetapi keinginan itu tak pernah dilampiaskannya. Kebetulan esok hari adalah hari raya dan batinnya berkata: “Bagaimana jika esok engkau memberi kami sesuap sekbaj sekedar untuk menyambut hari raya?”
“Wahai hatiku, jika demikian yang engkau kehendaki, maka biarkanlah aku membaca seluruh ayat al-Qur’an di dalam shalat sunnat dua raka’at malam nanti”.

Hatinya mengizinkan. Keesokan harinya Dzun Nun mempersiapkan sekbaj di depannya. Ia telah membasuh tangan tetapi sekbaj itu tidak disentuhnya; ia segera melakukan shalat.

“Apakah yang telah terjadi?”, seseorang yang menyaksikan hal itu bertanya kepada Dzun Nun.
“Barusan, hatiku berkata kepadaku”, jawab Dzun Nun. ‘Akhirnya setelah sepuluh tahun lamanya barulah tercapai keinginanku!’, tetapi segera kujawab: ‘Demi Allah, keinginanmu tidak akan tercapai’ “.

Yang meriwayatkan kisah ini me ny at akan bahwa begitu Dzun Nun mengucapkan kata-kata itu, masuklah seorang yang membawakan semangkuk sekbaj ke hadapannya dan berkata:

“Guru, aku tidak datang kemari atas kehendakku sendiri, tetapi sebagai utusan. Baiklah kujelaskan duduk persoalannya kepadamu. Aku mencari nafkah sebagai seorang kuli padahal aku mempunyai beberapa orang anak, Telah beberapa lamanya mereka meminta sekbaj dan untuk itu aku telah menabung uang. Kemarin malam kubuatkan sekbaj ini untuk menyambut hari raya. Tadi aku bermimpi melihat wajah Rasulullah yang cerah menerangi bumi. Rasulullah berkata kepadaku: ‘Jika engkau ingin me lihat ku di hari berbangkit nanti, bawalah sekbaj itu kepada Dzun Nun dan katakan kepadanya bahwa Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muththalib telah memohon ampun untuk dirinya agar ia untuk sementara dapat berdamai dengan hatinya dan memakan sekbaj ini dengan sekedarnya”.

“Aku taati”, sahut Dzun Nun sambil menangis.

ooo

Ketika Dzun Nun terbaring menunggu ajalnya, sahabat-sahabatnya bertanya:
“Apakah yang engkau inginkan pada saat ini?”
Dzun Nun menjawab: “Keinginanku adalah walau untuk sesaat saja, aku dapat mengenal-Nya”. Kemudian Dzun bersyair:
Takut telah meletihkan diriku,
Hasyrat telah membakar diriku,
Cinta telah memperdayakanku,
Tetapi Allah telah menghidupkan aku kembali.
Pada suatu hari “ketika Dzun Nun tidak sadarkan diri. Pada malam kematiannya, tujun puluh orang telah bertemu dengan Nabi Muhammad di dalam mimpi mereka. Semuanya mengisahkari bahwa di dalam mimpi itu Nabi berkata: “Sahabat Allah sudah tiba. Aku datang untuk menyambut kedatangannya”.
Ketika Dzun Nun meninggal dunia, orang-orang menyaksikan tulisan berwarna hijau di dahinya: “Inilah sahabat Allah. Ia mati di dalam kasih Allah. Inilah manusia yang telah dijagal Allah dengan pedang-Nya”.
Ketika orang-orang mengusung mayatnya ke pemakaman, matahari sedang bersinar dengan sangat teriknya. Burung-burung turun dari angkasa dan dengan sayap-sayap mereka meneduhi peti mati Dzun Nun sejak dari rumah sampai ke pemakaman. Ketika mayatnya diusung itu seorang muadzin menyerukan adzan. Sewaktu si muadzin mengucapkan kata-kata syahadah, dari balik kain kafan terlihat jari tangan Dzun Nun mengacung ke atas.
“Ia masih hidup!”, orang-orang berseru kaget.
Mereka menurunkan usungan itu. Memang jari tangan Dzun Nun mengacung ke atas, tetapi ia telah mati. Betapa pun mereka mencoba namun mereka tak dapat membenarkan jarinya yang mengacung itu. Ketika orang-orang Mesir mendengar hal ini, mereka semua merasa malu dan bertaubat dari kejahatan-kejahatan yang telah mereka lakukan terhadap Dzun Nun. Sebagai tanda penyesalan, di atas kuburan Dzun Nun telah mereka lakukan berbagai hal yang tak dapat diterangkan dengan kata-kata.

@sumber: kitab tadzkiratul awlia

Categories: KISAH SUFI DZUN NUN AL MISHRI | 2 Komentar

KISAH ASHABUL UHDUD: “Bismillahi Rabbil Ghulam”


DAHULU kala, ada seorang raja dari kalangan orang-orang sebelum kalian yang memiliki seorang ahli sihir, begitu Rasulullah memulai kisahnya di depan para sahabat sebagaimana dikisahkan Imam Ahmad dalam Musnad-nya (IV/16-17).

Ketika ahli sihir itu–lanjut Nabi–sudah lanjut usia, dia berkata kepada sang raja, Sesungguhnya aku sudah uzur, maka kirimkan seorang pemuda kepadaku untuk aku ajarkan kepadanya ilmu sihir. Maka sang raja pun mengirimkan seorang pemuda kepadanya untuk diajari ilmu sihir.

Ketika di tengah jalan yang dilaluinya untuk pergi berguru pada tukang sihir, terdapat seorang rahib ahli ibadah. Pemuda itu singgah, duduk di dekatnya dan mendengarkan ucapannya hingga membuatnya kagum dan heran.

Ketika mendatangi ahli sihir, dia selalu melewati si rahib itu dan singgah di tempatnya untuk berguru. Suatu ketika dia mendatangi ahli sihir dan melaporkan kebiasaannya itu, dan ahli sihir itu marah bahkan memukulnya. Pemuda itu melaporkan perkaranya pada sang rahib.

Jika engkau takut pada ahli sihir maka katakan, Keluargaku menahanku. Dan jika engkau takut kepada keluargamu, maka katakan, ahli sihir itu menahanku! Kata sang rahib.

Dalam keadaan demikian, datanglah seekor binatang yang sangat besar menahan orang-orang, maka pemuda itu berkata, Sekarang aku akan mengetahui yang lebih baik, ahli sihir atau rahib? Kemudian dia mengambil sebuah batu seraya berkata, “Ya Allah, jika ajaran rahib itu Engkau sukai daripada ajaran ahli sihir, maka bunuhlah binatang ini sehingga orang-orang dapat melanjutkan perjalanan mereka.”

Lalu di lemparkan batu itu hingga mengenai dan membunuh binatang raksasa itu, dan orang-orang pun dapat melanjutkan perjalanan.

Selanjutnya, pemuda itu mendatangi si rahib dan memberitahu pristiwa tersebut. Sang rahib berkata, “Wahai anakku, sekarang ini kamu lebih baik daripada diriku. Sebab, urusanmu telah mencapai apa yang kusaksikan. Sesungguhnya kamu kelak akan diuji, jika engkau diuji janganlah sekali-kali menyebut namaku.”

KAROMAH

Pemuda itu, memiliki banyak kelebihan dan keutamaan (karomah) dengan menyembuhkan segala jenis penyakit, tak terkecuali penyakit buta dan kusta. Hingga suatu saat orang kepercayaan sang raja yang buta mendengar berita tentang dirinya.

Ia lalu mendatangi pemuda itu sambil membawa hadiah yang banyak, dan berkata, “Semua yang ada di sini akan menjadi milikmu jika berhasil menyembuhkan diriku. Pemuda itu pun menjawab, Sesungguhnya aku tidak dapat menyembuhkan seseorang. Yang menyembuhkan adalah Allah Subhanahu Wata’ala. Jika kamu beriman kepada Allah yang Maha Tinggi, maka aku akan berdoa kepada-Nya, lalu Dia akan menyembuhkanmu. Maka dia pun beriman kepada Allah Yang Maha Tinggi, dan Allah menyembuhkannya.”

Selanjutnya, orang kepercayaan raja itu mendatangi sang raja dan duduk seperti biasanya. Raja bertanya, “Siapa yang menyembuhkan penglihatanmu?” “Tuhanku, “ jawabnya. “Apakah kamu memiliki tuhan selain diriku? Tanya raja. “Tuhanku dan Tuhanmu adalah Allah, “ jawabnya.

Raja itu langsung menghukum orang kepercayaannya, dan terus menyiksanya hingga ia menunjuk pemuda yang mengobatinya. Dan raja meminta agar pemuda itu dihadirkan. Raja berkata, “Wahai anakku, sihirmu luar biasa hebatnya hingga dapat menyembuhkan orang buta dan kusta. Kamu juga telah melakukan ini dan itu.”

Maka, pemuda itu berkata, “Sesungguhnya aku tidak dapat menyembuhkan seorang pun, sebenarnya yang menyembuhkan mereka adalah Allah.”

Rasulullah melanjutkan sabdanya, maka pemuda itu pun dihukum dan terus disiksa hingga pemuda itu menunjuk si rahib. Lalu raja meminta agar rahib saleh itu dihadirkan, ketika hadir, sang raja bertitah, “Kembalilah ke dalam agamamu semula.” Namun ia menolak.

Raja naik pitam dan meminta gergaji lalu diletakkan di atas kepala si rahib dan membelahnya hingga kedua belah tubuhnya terjatuh. Dipanggil pula orang kepercayaannya dan dikatakan padanya, Kembalilah kamu ke dalam agamamu semula. Tapi dia menolak, dan si raja meletakkan gergaji di atas kepalanya, kemudian membelah tubuhnya hingga terjatuh.

DIMINTALAH supaya mendatangkan pemuda itu, dan raja bertitah padanya, “Kembalilah kepada agamamu.” Namun dia tetap menolak. Maka dia menyerahkannya kepada para pengawalnya. Lalu berkata, “Pergi dan bawalah pemuda ini ke gunung ini dan itu, dan bawalah ia naik ke atas gunung. Jika kalian telah sampai di puncaknya dan dia kembali kepada agamanya, maka tidaklah masalah. Namun jika tidak, maka lemparlah dia.

Kemudian para pengawal itu membawa sang pemuda naik ke gunung.” Dan, pemuda itu berdo’a, “Ya Allah, lindungilah diriku dari kejahatan mereka sesuai dengan kehendak-Mu.”. Maka gunung itu goncang. Kemudian pemuda itu dengan berjalan kaki datang menemui sang raja.

Raja lalim itu bertanya padanya, “Apa yang dilakukan oleh pengawalku yang membawamu?”

“Allah yang Maha Tinggi telah menghindarkan diriku dari kejahatan mereka.” Maka, pemuda itu diserahkan kepada pasukan lain seraya bertitah, “Pergilah kalian dan bawa pemuda ini dengan sebuah perahu ke tengah-tengah laut. Jika ia mau kembali ke agamanya semula, maka dia akan selamat, jika tidak, maka lemparkanlah ke tengah lautan.”

Lalu mereka berangkat dengan membawa pemuda tersebut. Selanjutnya, pemuda itu berdoa, “Ya Allah, selamatkanlah aku dari mereka sesuai dengan kehendak-Mu.” Maka kapal itu pun terbalik dan para pasukan raja tertelam lautan ombak. Lalu, pemuda itu kembali sambil berjalan kaki menemui sang raja.

Raja zalim bertanya padanya, “Apa yang telah dilakukan oleh orang-orang yang bersamamu tadi?” Pemuda menjawab! “Allah yang Maha Tinggi telah menyelamatkanku dari kejahatan mereka.” Lebih lanjut, pemuda itu berkata pada raja, “Sesungguhnya kamu tidak akan dapat membunuhku hingga kamu mengerjakan apa yang aku perintahkan padamu.”

“Apa yang harus kukerjakan?, “ tanya sang raja. “Kamu harus mengumpulkan orang-orang di tanah lapang, lalu kamu menyalibku di sebuah batang pohon. Ambillah anak panah dari tempat anak panahku, letakkan pada busurnya, kemudian ucapkan, Bismillah, rabbil-ghulam. Dengan menyebut nama Allah, Tuhan pemuda ini. Lalu lepaskanlah anak panah itu ke arahku. Sesungguhnya jika kamu telah melakukan hal itu, maka kamu akan dapat membunuhku, “ kata sang pemuda.

Raja lalu mengumpulkan segenap warga negara di satu tanah lapang. Ia menyalib pemuda itu di atas sebatang pohon, lalu mengambil satu anak panah dari milik pemuda itu. Selanjutnya, dia meletakkan anak panah pada busurnya, lalu mengucapkan, bismillahi rabbil-ghulam, Dengan menyebut nama Allah, Tuhan pemuda ini. Ia pun melepaskan anak panah itu, pas mengenai bagian pelipis, pemuda itu meletakkan tangannya di pelipisnya, dan ia pun meninggal dunia. Pada saat itu orang ramai menyaksikan, berkata, Kami beriman kepada Tuhan pemuda ini. Amantu birabbi-ghulam.

Datanglah seseorang menghadap raja dan melapor, “Tahukah kamu, apa yang engkau khawatirkan? Demi Allah, kekhawatiranmu telah menjadi kenyataan. Orang-orang telah beriman.”

Raja pun memerintahkan untuk membuat parit besar di setiap persimpangan jalan, sambil menyalakan api.

Raja bertitah, “Barangsiapa tidak kembali kepada agama semula, maka lemparkanlah dia ke dalam parit berapi itu! Atau akan dikatakan kepadanya, Ceburkanlah dirimu!”

Maka orang-orang pun melakukan hal tersebut, hingga datanglah seorang wanita menggendong bayinya sambil menyusu. Wanita itu berhenti dan menghindar agar tidak terperosok ke dalamnya. Maka bayi itu pun berbicara, “Wahai ibuku, bersabarlah, sesungguhnya engkau berada dalam kebenaran.”

***

Kisah heroik di atas, tidak hanya diabadikan oleh Nabi dan para sejarawan muktabar sekaliber Al-Hafidz Ibnu Katsir dalam “Al-Bidayah wan-Nihayah” tapi juga dalam Al-Qur’an.

Al-Qur’an menyebutnya sebagai “Ashabul-Uhdud” berlandaskan firman Allah, binasa dan terlaknatlah orang-orang yang membuat parit yang berapi dinyalakan dengan kayu bakar, ketika mereka duduk di sekitarnya, sedang mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang yang beriman, dan mereka menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah yang Maha perkasa lagi Maha terpuji(QS. Al-Buruj: 4-8).

@@@

Penulis: Ilham Kadir, Kandidat Doktor Pendidikan Islam UIKA Bogor, pernah dimuat di Hidayatullah.

Categories: Kisah Ashabul Uhdud | 3 Komentar

ILMU HIKMAH ITU ILMUNYA ULUL ALBAB


“ILMU HIKMAH” ITU TIDAK SAMA DENGAN ILMU KANURAGAN, TIDAK SAMA DENGAN ILMU KESAKTIAN, TIDAK SAMA DENGAN HIZIB DAN WIFIQ MESKIPUN MEREKA BISA JADI BAGIAN DARI ILMU HIKMAH. ILMU HIKMAH ADALAH ILMU YANG MAMPU MENGANTARKAN PEMILIKNYA UNTUK MA’RIFAT. AHLI SHOLAT DAN SENANTIASA BERDZIKIR KEPADA ALAH SWT. KARENA DENGAN ILMU HIKMAH ITU SEORANG HAMBA MAMPU MEMBACA RAHASIA DI BALIK SEMUA YANG ADA ATAS IJIN ALLAH SWT.

Dasar dari Ilmu Hikmah adalah Kitabullah Al Qur’an: “Allah memberikan hikmah kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barang siapa yang diberi hikmah, sungguh telah diberi kebajikan yang banyak. Dan tak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali ulul-albab.” (QS. 2:269)

Maka yang bisa memahami ilmu hikmah adalah kaum Ulul-albab. Siapa kaum Ulul-albab?.  Ulul-albab disebut belasan kali dalam Al-Quran. Menurut Al-Quran, ulul-albab adalah kelompok manusia yang diberi keistimewaan oleh Allah swt. Diantara keistimewaannya ialah mereka diberi hikmah, kebijaksanaan, dan pengetahuan dalam arti luas—tidak hanya pengetahuan yang diperoleh dari empiris dan rasio — namun juga pengetahuan yang tercerahkan oleh Nur Ilahiah.

Disebutkan pula dalam Al-Quran bahwa: “Mereka adalah orang yang bisa mengambil pelajaran dari sejarah umat manusia.” (QS. 12:111). Dipelajarinya sejarah berbagai bangsa, kemudian disimpulkannya satu pelajaran yang bermanfaat, yang dapat dijadikan petunjuk dalam mengambil keputusan di dalam kehidupan ini. “Mereka itulah orang-orang yang mendapatkan petunjuk dari Allah, dan mereka itulah ulul-albab.” (QS. 3:7)

Ulul-albab lebih luas dari sekedar seorang sarjana S1, S2, S3 maupun kaum cerdik cendekia, ilmuwan dan intelektual bentukan institusi pendidikan. Namun bisa jadi sarjana ilmuwan, intelektual itu adalah ulul albab.  Mereka adalah kelompok orang yang merasa terpanggil untuk memperbaiki masyarakatnya, menangkap aspirasi mereka, merumuskannya dalam bahasa yang dapat dipahami, menawarkan strategi dan alternatif pemecahan masalah yang ada di masyarakat.

Apa tanda-tanda ulul-albab?  Tanda pertama: Bersungguh-sungguh mencari ilmu, seperti disebutkan dalam Al-Quran: “Dan orang yang bersungguh-sungguh dalam ilmu pengetahuan mengembangkannya dengan seluruh tenganya, sambil berkata: ‘Kami percaya, ini semuanya berasal dari hadirat Tuhan kami,’ dan tidak mendapat peringatan seperti itu kecuali ulul-albab.” (QS.3:7)

Termasuk dalam bersungguh-sungguh mencari ilmu ialah kesenangannya menafakuri ciptaan Allah di langit dan di bumi. Allah menyebutkan tanda ulul-albab ini sebagai berikut: “Sesungguhnya dalam proses penciptaan langit dan bumi, dalam pergiliran siang dan malam, adalah tanda-tanda bagi ulul-albab.” (QS.3:190).

Abdus Salam, seorang Muslim pemenang hadiah Nobel, berkat teori unifikasi gaya yang disusunnya, berkata, “Al-Quran mengajarkan kepada kita dua hal: tafakur dan tasyakur. Tafakur adalah merenungkan ciptaan Allah di langit dan di bumi, kemudian menangkap hukum-hukum yang terdapat di alam semesta. Tafakur inilah yang sekarang disebut sebagai science. Tasyakur ialah memanfaatkan nikmat dan karunia Allah dengan menggunakan akal pikiran, sehingga kenikmatan itu makin bertambah. Ulul-albab merenungkan ciptaan Allah di langit dan bumi, dan berusaha mengembangkan ilmunya sedemikian  rupa, sehingga karunia Allah ini dilipatgandakan nikmatnya.”

Tanda kedua: Mampu memisahkan yang jelek dari yang baik, kemudian ia pilih yang baik, walaupun ia harus sendirian mempertahankan kebaikan itu dan walaupun kejelekan itu dipertahankan oleh sekian banyak orang. Allah berfirman: “Katakanlah, tidak sama kejelekan dan kebaikan, walaupun banyaknya kejelekan itu mencengangkan engkau. Maka takutlah kepada Allah, hai ulul-albab.” (QS.5:100)

Tanda ketiga: Kritis dalam mendengarkan pembicaraan, pandai menimbang-nimbang ucapan, teori, proposisi atau dalil yang dikemukakan oleh orang lain: “Yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk dan mereka itulah ulul-albab.” (QS.39:18)

Tanda keempat: Bersedia menyampaikan ilmunya kepada orang lain untuk memperbaiki masyarakatnya; diperingatkannya mereka kalau terjadi ketimpangan, dan diprotesnya kalau terdapat ketidakadilan. Dia tidak duduk berpangku tangan di labolatorium; dia tidak senang hanya terbenam dalam buku-buku di perpustakaan; dia tampil di hadapan masyarakat, terpanggil hatinya untuk memperbaiki ketidakberesan di tengah-tengah masyarakat…: “(Al-Quran) ini adalah penjelasan yang cukup bagi manusia, dan supaya mereka diberi peringatan dengan dia, dan supaya mereka mengetahui bahwasannya Dia adalah Tuhan Yang Maha esa dan agar ulul-albab mengambil pelajaran.” (QS.14:52)

“Hanyalah ulul-albab yang dapat mengambil pelajaran, (yaitu) orang-orang yang memenuhi janji Allah dan tidak merusak perjanjian, dan orang-orang yang menghubungkan apa-apa yang Allah perintahkan Supaya dihubungkan, dan mereka takut kepada Tuhannya dan takut kepada hisab yang buruk. Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridhaan Tuhannya, mendirikan salat dan menafkahkan sebagian rezki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik).” (QS. 13:19-22)

Tanda kelima: Tidak takut kepada siapa pun kecuali kepada Allah. Berkali-kali Al-Quran menyebutkan bahwa ulul-albab hanya takut kepada Allah: “Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baiknya bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai ulul-albab.” (QS 2:197)

“Maka bertakwalah kepada  Allah hai ulul-albab, agar kamu mendapat keberuntungan.” (QS 5:179) “Allah menyediakan bagi mereka azab yang keras, maka bertakwalah kepada Allah hai ulul-albab.” (QS. 65:10)

Seorang ulul-albab bersungguh-sungguh mempelajari ilmu, mau mempertahankan keyakinannya, dan merasa terpanggil untuk memperbaiki masyarakatnya. Dalam ayat lain, Allah swt dengan jelas membedakan seorang ulul-albab dengan kaum intelektual: “Apakah orang yang bangun di tengah malam, lalu bersujud dan berdiri karena takut menghadapi hari akhirat, dan mengharapkan rahmat Tuhannya: samakah orang yang berilmu seperti itu dengan orang-orang yang tidak berilmu dan tidak memperoleh perinagtan seperti itu kecuali ulul-albab.” (QS. 39:9)

Dengan merujuk kepada firman Allah di atas, inilah “tanda khas” yang membedakan ulul-albab dengan ilmuwan atau intelektual lainnya. Ulul-albab rajin bangun tengah malam untuk bersujud dan rukuk di hadapan Allah. Dia merintih pada waktu dini hari, mengajukan segala derita dan segala permohonan ampunan kepada Allah Swt, semata-mata hanya mengharapkan rahmat-Nya.

Tanda khas yang lain disebutkan dalam Al-Quran: “Dia zikir kepada Allah dalam keadaan berdiri, dalam keadaan duduk, dan keadaan berbaring.” (QS 3:191)

Maka dapat disimpulkan dalam diri ulul-albab berpadu sifat-sifat ingin tahu dan dengan demikian dia gemar belajar dan meneliti untuk melahirkan solusi agar kehidupan masyarakat dan kebudayaan manusia menjadi semakin Islami dalam pandangan Allah SWT. @@@

Categories: ILMU HIKMAH ITU ILMUNYA ULUL ALBAB | 3 Komentar

WIRID WABAL UNTUK MENGHADAPI SEMUA KEADAAN YANG MENDESAK DALAM HIDUP KITA


Cak-NunIjazah Budayawan Cak Nun (Emha Ainun Nadjib) dalam acara majelis maiyahan.  Untuk Cak Nun, lahumul fatihah..

Berikut rangkaian wiridnya:

  • Tawassul kirim AL FATIHAH terutama KANJENG NABI MUHAMMAD SAW (bisa ditambahkan kepada siapa Anda kirim alfatihah, misalnya untuk guru kita: Emha Ainun Najib)
  • YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA HALIM YA HADI YA MUBIN, YA ALLAH KABULKANLAH HAJAT KAMI …….. (isi dengan hajat anda dengan menggunakan bahasa yang anda pahami bisa diucapkan dan bisa dibatin saja)  ALHAMDULILLAHIROBBILALAMIN
  • LA HAULA WA LA QUWWATA WA LA SULTHONA ILLALLAH  ( siapkan air minum dan minumlah) lanjutkan dengan:
  • Wirid dimulai baca SURAT AL-FATIHAH 1x , SURAT AL-IKHLAS 1 x, AL-FALAQ 1x dan AN-NAAS 1 x
  • DOA WABAL: BISMILLAHI AUDZUBIKA YA DZAL WABALI, BISMILLAHI AUDZUBIKA YA SYADIDAL ‘IQABI, BISMILLAHI AUDZUBIKA YA DZAL ‘ADLI WAL QHISTI, BISMILLAHI SHODAQTA SHODAQTA SHODAQTA SHODAQTA SHODAQTA YA DZAL WABAL YA DZAL WABAL YA DZAL WABAL.
  • INNAMA AMRUHU IDZA ARODA SYAIAN AYYAQULA LAHU KUN FAYAKUN.

Wirid selesai. Bisa dijadikan rutinitas sesuai dengan kebutuhan anda.

@ kwa,2015

Categories: WIRID WABAL UNTUK MENGHADAPI SEMUA KEADAAN YANG MENDESAK DALAM HIDUP KITA | 17 Komentar

BAKTI SOSIAL KWA JAYAKARTA: PENGIJASAHAN AJI GINENG — AJIAN SETARA AJI PANCASONA


DSC02565Assalamu alaikum Warohmatullahu Wabarokatuh.

KWA Jayakarta (dahulu bernama KWA Jakarta) adalah perwakilan KWA Pusat (Sidoarjo, Jawa Timur), yang meliputi area Jakarta, Bogor, Depok dan Tangerang. Dan sebagai bentuk kepedulian kami terhadap permasalahan yang ada di dalam masyarakat yang menyangkut bidang spiritual maupun metafisika, maka kami akan mengadakan acara Pengijasahan Keilmuan dan Bakti Sosial KWA Jayakarta.

Acara ini mengenakan biaya seikhlasnya tanpa adanya ketentuan nominal tertentu untuk semua pelayanan kami, baik itu pengijasahan keilmuan (khusus anggota KWA), pengobatan, terapi ataupun konsultasi, yang mana biaya ini akan kami pergunakan untuk komsumsi panitia dan biaya operasiona lkepanitiaanlainnya.

DSC02548Kegiatan ini terbuka untuk umum dan dapat diikuti oleh masyarakat umum dan sekitarnya. Adapun kegiatan Pengijasahan Keilmuan dan Bakti Sosial ini akan diadakan pada  :

Hari / Tanggal            :  Sabtu, 23 Januari  2016

Waktu                         :  Pukul  19:00 – 22:00WIB

Tempat           :  Halaman  Museum  Fatahillah

                        Jl. Taman  Fatahillah  No. 1, Kota,  Jakarta  Barat

 AcaraBakti Sosial ini meliputi kegiatan  :

  1. Pengobatan Medis dan non Medis
  2. PengobatanMetodeRuqyah
  3. PengobatanMetodePijat&Totok
  4. PengobatanGurah (Mata, Tubuh)
  5. Pembersihan Aura Tubuh
  6. Pengisian& Booster Tenaga Dalam
  7. Konsultasiberbagaipermasalahanhidup
  8. Pengisian energi ke benda-benda pusaka (keris/tombak, dll)
  9. Konsultasi Supranatural semua masalah (rejeki, pengasihan, keselamatan, dll)
  10. Pengijasahan Keilmuan secara langsung oleh Sesepuh/Senior/AnggotaKWA Jayakarta

 Pengijasahan  Keilmuan  (khusus anggota KWA):

  1. Aji Gineng  Tingkat  I–>Ki  Sabdo  Sejati

Pada masa silam, Bekel Mada yang pada akhirnya dikenal dengan sebutan Mahapatih Gajah Mada dan merupakan murid kinasih Bhgawan Amongraga menerima warah berupa ajian sakti Aji Gineng yang konon juga dikuasai dengan sempurna oleh Satria Panegak Pandawa, Bimasena. — konon, ajian ini diterima langsung dari sang ayah yang begitu mencintainya, Dewa Bayu.

Khasiat dari ajian yang satu ini adalah, tubuh menjadi kuat sentosa serta kebal terhadap serangan senjata tajam. Jadi bukan tidak mungkin, di samping memiliki ajian-ajian yang lain, ajian ini juga merupakan salah satu andalan sang Mahapatih dari kerajaan Majapahit. Kita dapat membayangkan, dengan segala keberanian serta ketegarannya, Mahapatih Gajah Mada di dampingi Empu Nala yang merupakan Panglima Angkatan Laut beserta dengan ribuan prajurit lainnya mengarungi lautan dan menjelajahi daratan untuk menaklukkan negeri-negeri tetangganya. Bahkan sampai ke Madagaskar. Pada saat inilah keampuhan Aji Gineng berhasil dibuktikan oleh Mahapatih Gajah Mada. Ia berhasil mempersatukan nusantara di bawah panji-panji Gula Kelapa yang merupakan kebesaran dari Wilwatikta.

DSC02528Jika diperhatikan dengan saksama, maka khasiat dari ajian ini setara dengan aji Pancasona. Betapa tidak, selagi tubuh yang menguasai ilmu ini masih tersentuh oleh empat unsur, yakni api, air, udara dan tanah, maka ia takkan dapat pralaya. Walau tujuannya baik, tetapi entah kenapa, tak banyak orang yang berminat untuk mengkaji ataupun mendalami Aji Gineng. Mungkin hal ini disebabkan, si penghayat dilarang keras melanggar tatanan keluarga, masyarakat, negara dan agama yang dianutnya — di samping sepanjang hidupnya ia tak boleh berbohong walau sekalipun. Jika dilanggar, maka si penghayat harus memulai ritual (puasa) lagi agar kadar ilmu tersebut tidak berkurang.

Ubo Rampe (syarat) untuk pengijasahan Aji Gineng  :

–  7  macam sayuran merambat (Buncis, Kecipir, Kacang Panjang, Mentimun, Pare, Tomat, Kangkung, Labu Siam)  –>  (dimasak)

–  Taoge(dimasak)

–  Telor ayam kampung  (direbus)

–  Nasi dari ketan hitam, ketan merah dan ketan putih  (dikukus)

–  Ikan asin  (digoreng)

–  Sambal gula jawa kelapa  (terbuat dari parutan kelapa setengah tua, dikasih bumbu gula merah, garam, bawang putih, cabe. Setelah itu diuleg rata dan dikukus).

Dipersilahkan calon peserta penerima pengijasahan Aji Gineng mempersiapkan sendiri-sendiri ubo rampenya.

  1. Attunement Reiki  Tingkat  I–>Ki  Sabdo  Sejati

DSC02583Reiki berasal dari bahasa jepang.Reiki adalah gabungan dari kata “Rei” yang berarti alam semesta dan “Ki” berarti energi. Dengan kata lain Reiki adalah energi alam semesta atau biasa disebut para praktisi Reiki sebagai Energi Ilahi dan mempunyai tingkat getaran yang sangat tinggi juga energinya sangat halus dibanding energi Prana atau energi tenaga dalam lainnya. Orang yang pertama kali menemukan Reiki adalah seorang pendeta Budha yang bernama Dr.Mikao Usui setelah bermeditasi selama 21 hari di gunung Kurama. Ada juga sumber yang mengatakan Reiki sebetulnya sudah dipergunakan para Pendeta Tibet jauh sebelum Master Mikao Usui menemukan Reiki.

  1. Keilmuan dari Ki  Ageng  JJ  Tajir  aka  Ki  Ageng  Banyu  Biru

Untuk Contac Person (CP) bisa menghubungi saya di nomor Handphone 0877 7557 3775 (Telpon/SMS/Whatsapp). Silakan datang, lihat dan beri komentar setelah sedulur sekalian melihat kiprah KWA Jayakarta dengan formasi baru ini dalam mengadakan acara ini. Terima kasih atas perhatian Sedulur sekalian untuk meluangkan waktu membaca tulisan ini.

Wassalamu Alaikum Warohmatullahu Wabarokatuh.

Jakarta,  15 Januari  2016

Ketua  KWA  Jayakarta/Panitia,

(Anyabrea Valentine / Ki Ageng Bayu Penanggungan)

Categories: >>PERPUSTAKAAN UTAMA | 19 Komentar

DOA ANGKAT AL QURAN DI ATAS KEPALA: MUSTAJABAH UNTUK SEMUA HAJAT


Berikut saya ijasahkan doa untuk semua hajat kepada sedulur-sedulur pembaca kwa yang berminat mengamalkannya. Tata cara:

  1. Boleh dilakukan kapan saja waktu dan tempatnya.
  2. Bersihkan diri dengan ber wudhu .
  3. Ambil Al Quran dan baca Surah Al Anam ayat 124.

WA-IDZAA JAA-AT-HUM AAYATUN QAALUU LAN NU/MINA HATTAA NU/TAA MITSLA MAA UUTIYA RUSULU ALLAAHI  (…………. )  ALLAAHU A’LAMU HAYTSU YAJ’ALU RISAALATAHU SAYUSHIIBU ALLADZIINA AJRAMUU SHAGHAARUN ‘INDA ALLAAHI WA’ADZAABUN SYADIIDUN BIMAA KAANUU YAMKURUUNA .

  1. Isi titik-titik dengan hajat anda (bisa diucapkan/bisa dibatin saja) dengan bahasa apapun sesuai kemampuan anda  dan angkatlah Al Quran di atas kepala Anda sesaat.
  2. Kemudian turunkan Al Quran dan lanjutkan lagi baca 1 ayat tersebut sampai selesai.

Arti ayat tersebut: Apabila datang sesuatu ayat kepada mereka, mereka berkata: “Kami tidak akan beriman sehingga diberikan kepada kami yang serupa dengan apa yang telah diberikan kepada utusan-utusan Allah”. Allah lebih mengetahui di mana Dia menempatkan tugas kerasulan. Orang-orang yang berdosa, nanti akan ditimpa kehinaan di sisi Allah dan siksa yang keras disebabkan mereka selalu membuat tipu daya.

Setiap ayat dan surat dalam Kitabullah memiliki keistimewaan. Dan salah satu keistimewaan  Al An’am  ayat 124  adalah  hanya ada satu ayat yang kata ALLAH bergandengan seperti itu.

Ijasahan selesai.

@KWA,2016

Categories: DOA ANGKAT AL QURAN DI ATAS KEPALA: MUSTAJABAH UNTUK SEMUA HAJAT | 26 Komentar

MENYIKAPI ALIRAN SESAT


Akhir-akhir ini, media massa dicecar pemberitaan tentang aliran yang dianggap sesat. Bagaimana kita menyikapinya? Berikut artikel yang bisa kita jadikan bahan perenungan yang ditulis oleh Kyai Muhammad Luthfi Ghozali, pengasuh Ponpes “Al Fithrah” Gunungpati Semarang yang sudah pernah dimuat di koran Suara Merdeka, 3-2-2006.

SEJAK manusia diturunkan di muka bumi, Allah SWT berfirman kepada Nabi Adam as. dan istrinya,”Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama, sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Maka jika datang kepadamu petunjuk dari-Ku, barang siapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka “.( QS Toha 123). Yang demikian itu adalah sunatullah yang sejak diciptakan-Nya tidak akan ada perubahan lagi untuk selama-lamanya.

Sejak itu manusia dengan dunianya terbagi menjadi dua golongan, golongan yang baik dan yang jelek, golongan yang lurus dan yang sesat. Masing-masing golongan sebagai musuh yang akan mendapat bala bantuan, golongan yang lurus dengan malaikat dan yang sesat dengan setan.

Selama kehidupan manusia masih ada, maka keburukan dan kejelekan akan tetap ada, bahkan menjadi satu bagian yang tidak dapat dipisahkkan menjadi satu sistem yang saling terkait. Artinya kalau tidak ada yang namanya sesat maka tidak ada yang namanya lurus.

Oleh karena itu yang dikatakan kesesatan, kemungkaran dan kemaksiatan, selama tidak membahayakan bagi keselamatan jiwa manusia, tidak seharusnya diperangi dan dihancurkan (kecuali pada masa perang), tapi diantisipasi dampak negatifnya dan dijadikan tolak ukur serta peringatan.

Supaya yang lurus dan yang makruf, mengetahui kebenaran dirinya dan kemudian mampu disyukuri oleh manusia, bahwa dirinya telah dimasukkan di dalam golongan yang terbaik dan “selamat”.

Yang sesat bisa saja menjadi sesuatu yang positif dan bermanfaat manakala yang lurus mampu menyikapinya dengan tepat. Seperti kotoran binatang ternak yang menjijikkan dan najis, manakala manusia mampu memanfaatkannya dengan benar, kotoran itu akan dapat menyuburkan tanaman.

Demikian pula iman, ia harus teruji, sedangkan realita (keburukan dan kebaikan) adalah sarana ujian yang sangat efektif supaya iman menjadi semakin kuat. Setan dan nafsu sahwat, walau keduanya adalah bagian yang buruk dan musuh utama bagi manusia, akan bermanfaat bagi kehidupan orang-orang yang beriman manakala mereka mampu memperlakukannya dengan benar.

Sebagai kalifah bumi, manusia harus menentukan pilihan jalan hidupnya, supaya manusia mendapatkan pahala atau dosa, di sinilah letak kemanfaatan yang sesat. Seandainya yang ada hanya yang lurus saja, berarti manusia telah kehilangan fungsi hidupnya. Selanjutnya kehidupan akan menjadi mandul dan tidak bergairah. Oleh karenanya, setiap pribadi yang beriman tertantang untuk meningkatkan ilmu dan imannya, lebih-lebih para ulama.

Ketika mereka melihat yang sesat, sebagai penyeimbang kehidupan, seharusnya mereka juga mampu memperlihatkan yang lurus. Supaya manusia mampu memilih jalan hidupnya sendiri. Supaya manusia mampu bermujahadah untuk meningkatkan hak kebebasannya dalam memilih, dengan itu manusia akan mendapatkan “peningkatan derajat” di sisi Allah

Mencegah kemungkaran itu tidak selamanya dengan menghancurkan “sarang kemungkaran” yang terjadi di dalam realita saja. Yang lebih penting adalah menghilangkan “penyebab kemungkaran” yang ada dalam hati manusia sendiri, yaitu “potensi untuk berbuat jahat” yang setiap manusia pasti memilikinya.

Dengan membangun amal makruf, meningkatkan kekuatan iman dengan jalan beribadah dan mujahadah di jalan Allah, bagaimana supaya “potensi kejelekan” itu dapat dihindari.

Kerugian

Kalau manusia hanya mengubah kemungkaran yang ada di luar jiwanya saja, maka manusia akan mengalami kerugian dalam beberapa hal.

Pertama, melupakan potensi kemungkaran yang ada dalam dirinya sehingga manusia cenderung terjebak untuk berbuat sombong. Kedua, amar makruf menjadi terabaikan.

Ketiga, oleh karena terbitnya setiap kemungkaran pasti dari limbah kehidupan, maka selama kehidupan masih ada berarti kemungkaran pasti juga ada. Dengan asumsi demikian, maka perbuatan itu – menghancurkan sarang kemungkaran – akan menjadi sia-sia belaka.

Sebaliknya, manakala orientasi ibadah dibangun di dalam aspek amar makruf, hasilnya pasti sangat berbeda. Pertama, secara otomatis saat itu bagian kemungkaran yang ada dalam diri manusia terisi dengan kebaikan. Selanjutnya ketika yang lurus dan yang sesat berjalan seimbang, manusia dengan ilmu dan imannya dapat menentukan pilihan untuk melaksanakan fungsi kekalifahannya. Hasilnya, dengan izin Allah kemungkaran akan ditinggalkan.

Kalau kemudian sebagian manusia ada yang memilih mengerjakan kemungkaran dan meninggalkan amal makruf, itu adalah salahnya sendiri dan untuk itulah neraka telah disiapkan jauh sebelum manusia diciptakan. Kalau semua manusia mengikuti jalan yang lurus, karena setiap kesesatan telah berhasil dihancurkan, berarti tujuan proyek pembangunan neraka menjadi gagal total.

Komunitas Eden yang dipimpin Lia Aminuddin hanyalah sekelompok kecil manusia lemah yang sedang dimabukkan bayangan imajinasi yang telah meracuni kesadaran basyariah. Adalah contoh kecil yang telah mampu dimunculkan oleh keanekaragaman kehidupan yang menarik untuk disimak sebagai pelajaran dan penelitian.

Bagaikan manik-manik kehidupan yang mewarnai samudra kehidupan yang terbentang luas, keberadaannya hanyalah seperti sepercik bintang kecil di tengah-tengah taburan gemerlap bintang yang menghiasi langit.

Kalau toh ada penyimpangan di sana, barangkali hanyalah penyimpangan pribadi yang teramat kecil yang tidak membahayakan bagi kehidupan umat manusia, dibandingkan dengan penyimpangan yang diperbuat oleh sekelompok manusia lain yang ada di sekeliling mereka yang jauh lebih membahayakan. Seperti budaya korupsi yang telah mampu memunculkan kecemburuan sosial dan bahkan telah memakan banyak korban.

Dengan penanganan yang arif dan bijaksana serta penuh rahmatan lil alamin dari para penyelenggara negara yang terhormat, barangkali akan lebih bermanfaat dan lebih menunjukkan tingkat kepribadian yang tinggi serta kedewasaan dalam menentukan sikap dan sudut pandang. Baik secara khusus untuk kehidupan Lia dan komunitasnya maupun secara umum bagi keseimbangan kehidupan manusia secara universal, daripada harus menghancurkan bagian kehidupan yang secara hakiki memang tidak dapat dihilangkan itu yang malah akan menimbulkan penilaian yang negatif dari berbagai pihak, baik dari dalam negri sendiri maupun dari luar negri.

Seleksi Alam

Inilah bagian ujian hidup dan sistem seleksi alam yang harus mampu diselesaikan dan dilewati oleh setiap manusia, maka hanya Ulul Albab yang dapat mengambil pelajaran.

Allah telah memberikan solusi dengan firman-Nya, “Dan katakanlah, kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir”.QS.aI-Kahfi/29.

Oleh karena itu manusia harus membekali hidupnya dengan ilmu pengetahuan yang tinggi dan iman yang kuat serta pelaksanaan akhlak yang mulia supaya mereka dapat mensikapi aliran sesat dengan cara yang tidak sesat.

@@@

Categories: MENYIKAPI ALIRAN SESAT | 5 Komentar

K.H. MUHAMMAD SYARWANI ABDAN BANGIL AL BANJARI : Sang Ahli Hikmah yang Rendah Hati


buru bangil kwaK.H Muhammad Syarwani Abdan Al-Banjari atau biasa dikenal Tuan Guru Bangil (lahir di Martapura, Kalimantan Selatan tahun 1915 – meninggal di Bangil, Pasuruan, Jawa Timur, 11 September 1989 pada umur 74 tahun) adalah seorang ulama yang dikenal di Kalimantan Selatan hingga Jawa Timur khususnya Bangil tempatnya mendirikan Pondok Pesantren Datu Kalampayan. Ia merupakan keturunan ke-6 Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari.

@ sumber:  alkisah no 03/9-22 Feb 2009

Setiap ahad ketiga bulan shafar terlihat pemandangan istimewa dikota Bangil,saat itu ribuan umat islam dari pulau Kalimantan,khususnya suku Banjar berbondong bondong menyeberangi lautan luas dan membanjiri kota kecil di Jawa Timur. Bukan hanya masyarakat biasa,bahkan para pembesarnya pun baik kalangan ulama maupun kalangan pejabat ada diantara mereka,tidak tanggung tanggung ketika hari itu tiba,dari mulai para Bupati di sejumlah daerah di Kalsel hingga orang nomor satu dipemda provinsi tersebut yaitu Gubernur Kalimantan selatan setiap tahunnya selalu menyempatkan diri turut mengunjungi Bangil kota Bordir

Tidak ketinggalan kaum muslimin pecinta ulama dan aulia diseluruh Indonesia bahkan banyak yang datang dari luar negeri turut larut pada hari itu meskipun mereka bukan dari etnis Banjar.barangkali fenomena kecintaan yang begitu besar hingga membuat ribuan orang dari satu pulau menyeberang lautan untuk ikut menghadiri haul tokoh putra daerahnya dipulau lain,hanya ada terhadap sosok Tuan Guru Bangil julukan bagi alm K.H M.Syarwani Abdan bin Haji Muhammad Abdan bin Haji Muhammad Yusuf bin Haji Muhammad Shalih Siam bin Haji Ahmad bin Haji Muhammad Thahir bin Haji Syamsuddin bin saidah binti Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari,

Beliau dilahirkan pada tahun 1334 H/1915 M dikampung Melayu Ilir Martapura. Sejak kecil ia memiliki semangat yang tinggi untuk belajar ilmu agama dan tekun belajar sehingga disayangi oleh para gurunya.  Ketika masih berdomisili di Martapura guru beliau adalah pamannya sendiri yaitu  KH.M.Kasyful Anwar ,Qadhi haji Muhammad Thaha, KH Ismail Khatib Dalam Pagar dan banyak lagi yang lainnya.

Pada usia masih muda beliau meninggalkan kampung halamannya Martapura menuju pulau Jawa dan bermukim di Bangil dengan maksud memperdalam ilmu agama kepada beberapa ulama dikota Bangil dan Pasuruan.  Di antara guru beliau adalah KH.Muhdhar (gondang Bangil), KH.Abu Hasan (Wetan Alun Bangil), KH.Bajuri (Bangil) dan KH.Ahmad Jufri (Pasuruan) orang tua beliau sendiri pada saat itu memang sudah lama berdiam di kota Bangil untuk berniaga.

Saat beliau berumur 16 tahun pamannya Syekh Muhammad Kasyful Anwar seorang alimul Allamah (seorang yang sangat luas dan mendalam ilmu agamanya)  hingga Tuan Guru Syekh Muhammad Zaini bin H.Abdul Ghani Al Banjari  (Abah Guru Sekumpul)  pernah menyebutnya sebagai seorang Mujaddid (pembaharu). Oleh pamannya, beliau di bawa pergi ke Tanah Suci Mekkah bersama saudara sepupunya yaitu Syekh Muhammad Sya’rani arif yang dikemudian hari juga dikenal sebagai seorang ulama besar di Martapura.

Ia dan sepupunya tersebut melanjutkan pelajaran ilmu agamanya dibawah bimbingan dan pengawasan langsung pamannya ini. Selama berada di Tanah Suci kedua pemuda ini dikenal sangat tekun mengisi waktu dengan menuntut ilmu ilmu agama. Keduanya benar benar mmanfaatkan waktunya dengan mendatangi majelis majelis ilmu para ulama besar Mekkah pada waktu itu,diantara guru guru beliau Sayyid Amin Kutby ,Sayyid Alwi Al-Maliki, Syeikh Umar Hamdan, Syeikh Muhammad al-araby,Sayyid Hasan Al-Masysyath,Syeikh Abdullah Al-Bukhari,Syeikh Saifullah Daghestani, Syeikh syafi’i asal Kedah,Syeikh Sulaiman asal Ambon,dan Syekh Ahyad asal Bogor.

Rupanya ketekunan belajar dua keponakan Syeikh Muhammad Kasyful Anwar ini diperhatikan oleh para guru-gurunya. Diceritakan, para gurunya itu sangat menyayangi keduanya, ketekunan dan kecerdasan mereka sangat menonjol hingga dalam beberapa tahun saja keduanya sudah dikenal di kota Mekkah hingga keduanya di juluki “dua Mutiara dari Banjar.” Tak mengherankan jika keduanya dibawah bimbingan Sayyid Muhammad Amin Kutby bahkan sempat mendapatkan kepercayaan mengajar selama beberapa tahun di Mesjidil Haram.

Selain mempelajari ilmu-ilmu syariat ia juga mengambil bai’at tarekat dari para masyayikh (guru) di sana, di antaranya bai’at Tarekat Naqsyabandiyah dari syekh umar Hamdan dan Tarekat Samaniyah dari Syeikh Ali bin Abdullah Al-Banjari. Setelah kurang lebih sepuluh tahun menuntut ilmu-ilmu agama di Makkah pada tahun 1939 bersama sepupunya iapun kembali pulang ke Indonesia dan langsung menuju tanah kelahirannya Martapura.

Beliau dikenal sebagai seorang yang hafal Al-qur’an dan di dalam dirinya terkumpul ilmu syariat tarekat hakikat dan ma’rifat namun demikian hal tersebut justru menjadikannya sebagai seorang alim yang semakin tawadhu’, Sepulang kepulangan beliau dari Mekkah ia menyelenggarakan mejelis ilmu di rumahnya. Beliau sempat juga mengajar di Madrasah Darussalam.

Suatu saat, ia diminta untuk menjadi seorang qadhi namun hal tersebut ditolak karena beliau lebih senang dakwah tanpa terikat dengan lembaga apapun. Tahun 1943 ia pergi ke kota Bangil dan membuka majelis untuk lingkungan sendiri hingga tahun 1944 dan sempat berguru pula dengan Syeikh Muhammad Mursydi Mesir.

Setahun di Bangil beliau lalu kembali lagi ke Martapura, kemudian pada tahun 1950 ia sekeluarga memutuskan untuk hijrah kekota Bangil, sewaktu menetap di Bangil kali inipun beliau tidak membuka majelis secara terbuka kecuali kalangan sendiri. Ia cendrung mempelajari dahulu keadaan lingkungan penduduk dikota tersebut,dikemudian hari sikapnya ini menjadikan dirinya sebagai sosok yang disegani oleh para ulama di Jawa Timur,

Namun demikian ia selalu berusaha menyembunyikan keunggulan yang dimilikinya pada akhirnya para ulama Bangil pun mengetahui keistemewaan pribadi ulama yang satu ini. Guru Bangil demikian Alm Abah Guru Sekumpul memanggil beliau dimanapun beliau tinggal senantiasa berada dalam keseharian yang sangat sederhana. Tak banyak yang tahu bahwa sekalipun telah menjadi tokoh besar,selain pakaiannya yang sederhana di kamar tidurnya pun ia tidak menggunakan ranjang ia juga tidak mempunyai lemari khusus untuk pakaiannya. Pakaian miliknya diletakkan menumpang pada bagian lemari kitabnya,

Ia mengambil jalan Khumul (menjauh dari keramaian) dan tak berharap akan kemasyuran, hingga kyai hamid pasuruan (seorang wali ditanah jawa) pernah mengatakan “saya ingin sekali seperti kyai syarwani. Dia itu alim tapi Mastur tidak Masyhur kalau saya ini sudah terlanjur Masyhur,jadi saya sering kerepotan karena harus menemui banyak orang.

Menjadi orang masyhur itu tidak mudah, bebannya berat, kalau Kyai Syarwani itu enak,jadinya tidak banyak didatangi orang. Suatu ketika sejumlah kiai berkumpul dan berinisiatif untuk mendalami ilmu agama dalam halaqah khusus kepada Kyai Hamid Pasuruan. Namun setelah hal tersebut disampaikan kepada kyai Hamid beliau menolak permintaan itu seraya menyarankan supaya mereka hendaknya mendatangi KH Syarwani Abdan.

Berdasarkan arahan Kyai Hamid merekapun mendatangi KH.Syarwani Abdan dan menyiapkan beberapa pertanyaan untuk sekdar mengetahui seberapa dalam ilmu dari KH Syarwani Abdan,ketika mereka datang. Guru Bangil sedang duduk sambil membaca sebuah kitab, diawal pembicaraan sebelum mereka sempat membuka pertanyaan yang telah mereka persiapkan,Guru Bangil mendahului bertanya kepada mereka.

“Antum ke sini ingin bertanya masalah ini dan itu ,kan?..ia menanyakan hal itu sambil menunjuk kitab yang masih terbuka tadi. Kontan hal ini membuat mereka takjub sekaligus kagum kepadanya tak cukup sampai disitu, Ternyata semua pertanyaan yang telah mereka persiapkan dengan tepat terjawab dalam halaman kitab yang masih terbuka di tangan beliau.

Setelah mengalami kejadian tersebut merekapun meyakini keluasan ilmu serta ketajaman batin Guru Bangil pada akhirnya mengertilah mereka mengapa Kyai Hamid pasuruan menganjurkan mereka agar mendatangi KH Syarwani Abdan,setelah yakin akan hal itu mereka akhirnya meminta kepada Guru Bangil untuk membuka majelis untuk mereka, Saat itu beliau tidak serta merta mengabulkan permintaan mereka tetapi terlebih dahulu menanyakan hal tersebut kepada KH Hamid.

Setelah KH Hamid memberi isyarat persetujuan barulah ia bersedia membuka majelis untuk para Kiai ini. Subhanallah kedua kiai besar yang tawadhu’ ini memang saling mencintai dan menghormati satu sama lain.

Kiai Hamid adalah ulama besar yang kharismatis dan menjadi tujuan kedatangan banyak orang karenanya tak jarang orang yang datang kesulitan menemui beliau. Tapi anehnya berdasarkan pengalaman orang orang yang pernah bertemu beliau, mereka akan mudah menemui Kiai Hamid bila sebelumnya orang tersebut menemui KH Syarwani Abdan. Tak jarang baru sampai di depan pintu, Kiai hamid sendiri yang membukakan pintu kepada para tamu. Entah Sirr (rahasia) apa yang didapat oleh para tamu Kiai  Syarwani Abdan, hingga kiai hamid selalu menyambut mereka dengan penuh suka cita padahal pada saat itu belum ada alat komunikasi seperti sekarang.

Akhirnya mulai banyak yang menimba ilmu kepadanya, Dan atas dasar dorongan para ulama serta rasa tanggung jawabnya untuk menyiarkan ilmu ilmu agama sebagai amanah Allah dan Rasulullah maka pada tahun 1970 ia memutuskan mendirikan pesantren yang ia beri nama PP Datuk Kalampayan nama yang diambil untuk mengambil berkah julukan datuknya yaitu Syekh Muhammad arsyad Al-Banjari, para santrinya banyak berasal dari Banjar hingga Pondok Pesantren itu sendiri sering disebut orang Pondok Banjar.

Di antara salah satu karangan beliau adalah risalah yang sangat terkenal yaitu Adz-Dzakhiratuts Tsaminah li-Ahlil Istiqamah (simpanan berharga) risalah yang berisi masalah Talqin, tahlil dan tawasul, Di samping tulisan tulisan itu beliau juga meninggalkan karya hidup yaitu murid murid beliau diantaranya adalah yang mulia Syekh Muhammad Zaini bin Abdul Ghani Al-Banjari dan melalui lisan beliaulah maka Syekh Muhammad Syarwani Abdan sering disebut Guru Bangil.

Kiai Abdurrahim,Kiai Abdul Mu’thi,Kiai Khairan(daerah Jawa), KH.Prof.Dr.Ahmad Syarwani Zuhri (Pimpinan PP.Syeikh Muhammad Arsyad al-Banjari Balikpapan), KH.Muhammad Syukri Unus (Pimpinan MT sabilal Anwar al-Mubarak Martapura), KH.Zaini Tarsyid (Pengasuh MT Salafus Shaleh Tunggul Irang seberang Martapura) yang juga menantu beliau, KH.Ibrahim bin KH.Muhammad Aini (Guru Ayan) Rantau, KH.AhmadBakeri (Pengasuh PP al-Mursyidul Amin Gambut), KH.Syafii Luqman Tulung Agung, KH.Abrar Dahlan (Pimpinan PP di Sampit Kalimantan Tengah). Safwan zuhri (Pimpinan PP sabilut Taqwa Handil 6 Muara Jawa Kutai Kertanegara) dan banyak lagi tokoh tokoh lainnya yang tersebar dipenjuru indonesia, Guru Sekumpul sendiri datang ke Bangil bersama paman beliau seorang ulama tersohor Syeikh Saman Mulia.

Lantaran menghormati sosok Guru Bangil bahkan Syeikh Saman Mulia menganggap Guru Bangil adalah Gurunya. Padahal Guru Bangil sendiri mengakui ketinggian maqam Syeikh Saman Mulia,dalam suatu kesempatan. Guru Bangil mengatakan  bahwa maqam Syeikh Saman Mulia sangat tinggi hingga nasi pun berdzikir di hadapan syeikh Saman.

Namun kebersahajaan hidup Guru Bangil membuat keluarga beliau sendiri tidak banyak mengetahui keistemewaan di balik kebesaran namanya, Mengomentari hal tersebut Guru Saman Mulia mengatakan kepada salah satu putra guru Bangil : kalau kita berdiri di dekat sebuah pohon, kadang kala kita tidak mengetahui tingginya pohon tersebut,tapi kita akan tahu tingginya pohon tersebut ketika kita memandangnya dari jauh.

Di usia senja, ketika berumur 76 tahun malam selasa jam 20.00 bertepatan 12 syafar 1410 H/11-12 september 1989 M di kediaman beliau di jalan Kauman bangil Jawa Timur roh nya yang suci kembali ke rahmatullah. Sementara tubuhnya dimakamkan di pemakaman keluarga dan para habaib berbangsa Al-Haddad di dekat makam habib Muhammad bin Ja’far Al-Haddad di Dawur Bangil kurang lebih 1 km dari kediaman beliau.

Berdasarkan wasiat tertulisnya putra tertuanya yang ia beri nama dengan nama gurunya Kasyful Anwar saat ini meneruskan kiprahnya dalam mengasuh Pondok Pesantren Datuk Kalampayan Bangil. Mudah mudahan rahmat Allah selalu tercurah buat beliau dan seluruh keluarganya.

@@@

Categories: >>PERPUSTAKAAN UTAMA | 7 Komentar

IJASAH SHOLAWAT HABIB SHOLEH TANGGUL JEMBER


ijasah habib sholeh KWA

 ======================================

“Allohumma sholi ‘alaa sayyidinaa Muhammadin sholaatan taghfiru bihaa dzunub watushlihu bihaal quluub watantholiqu bihaal ‘ushub wataliinu bihaa shu’ub wa ‘alaa aalihi wa shohbihi wa man ilaihi mansub.”

Sholawat ini ada yang menyebut sholawat mansub, ijasah dari dari Habib Sholeh bin Muhsin Al Hamid (Habib Sholeh Tanggul).
“Beliau berkata ; sholawat ini dibaca 3 atau 11 atau 41 kali dengan niat untuk memperoleh kemudahan dan terkabulnya semua hajat, insya Alloh akan mendapatkannya”.

=================================

MENGENAL PENGIJASAH HABIB SHOLEH BIN MUHSIN AL HAMID

KH soleh KWAUlama Karismatik yang berasal dari Hadramaut Yaman ini pertama kali melakukan da’wahnya ke Indonesia sekitar tahun 1921 M dan menetap di wilayah Tanggul, Jember Jawa Timur. Habib Sholeh lahir tahun 1313 H dikota Korbah, ayahnya bernama Muhsin bin Ahmad juga seorang tokoh Ulama dan Wali yang sangat di cintai masyarakat, Ibunya bernama Aisyah ba umar.

Sejak Kecil Habib sholeh gemar sekali menuntut ilmu , beliau banyak belajar dari ayahandanya yang memang seorang Ahli ilmu dan Tashauf, berkat gembelengan dan didikan dari ayahnya Habib sholeh memilki kegelisahan Batiniyah yang rindu akan Alloh SWT dan Rindunya Kepada Rosululloh SAW, akhirnya beliau melakukan Uzlah ( Mengasingkan diri) selama hampir 7 tahun. Sepanjang waktu selama beruzlah Habib Sholeh memperbanyak Baca al quran, Dzikir dan membaca Sholawat. Suatu ketika Habib Sholeh didatangi Ulama yang juga Wali Quthub Habib Abu bakar bin Muhammad Assegaf dari Gresik, Habib Sholeh diberi sorban hijau yang katanya sorban tersebut dari Rosululloh SAW.

Menurut Habib Abu Bakar Assegaf adalah suatu isyarat bahwa gelar wali Qhutub yang selama ini di sandang oleh habib Abubakar Assegaf akan diserahkan Kepada Habib Sholeh Bin Muhsin , Namun Habib sholeh Tanggul merasa bahwa dirinya merasa tidak pantas mendapat gelar Kehormatan tersebut. Sepanjang Hari habib Sholeh tanggul Menangis memohon kepada Alloh Swt agar mendapat Petunjuknya.

Dan suatu ketika habib Abyubakar Bin Muhammad assegaf gresik mengundang Habib sholeh tanggul untuk berkunjung kerumahnya , setelah tiba dirumah habib Abubakar Bin Muhammad assegaf menyuruh Habib Sholeh tanggul untuk melakukan Mandi disebuah kolam Milik Habib Abu bakar Assegaf , setelah mandi habib Sholeh tanggul di beri Ijazah dan dipakaikan Sorban kepadanya. Dan hal tersebut merupakan Isyarat Bahwa habib Abubakar Bin Muhammad Assegaf telah memberikan Amanat kepada Habib sholeh tanggul untuk melanjutkan Da’wak kepada masyrakat.

Habib Sholeh mulai melakukan berbagai aktifitas dakwahnya kepada Masyarakat, dengan menggelar berbagai Pengajian-pengajian . Kemahiran beliau dalam penyampaian dakwahnya kepada masyarakat membuat beliau sangat dicintai , dan Habib sholeh Mulai dikenal dikalangan Ulama dan habaib karena derajat keimuan serta kewaliaan yang beliau miliki. Habib sholeh tanggul sering mendapat Kunjungan dari berbagai tokoh ulama serta habaib baik sekedar untuk bersilahturahim ataupun untuk membahas berbagai masalah keaganmaan, bahkan para ulama serta habaib di tanah air selalu minta didoakan karena menurut mereka doa Habib sholeh tanggul selalu di kabulkan oleh alloh SWt, Pernah suatu ketika habib Sholeh tanggul berpergian dengan habib Ali Al habsy Kwitang dan Habib ali bungur dalam perjalanan Beliau melihat kerumunan Warga yang sedang melaksanakan sholat Istisqo’ ( Sholat minta hujan ) karena musim kemarau yang berkepanjangan , lalu Habib sholeh Memohon kepada alloh Untuk menurunkan Hujan maka seketika itupula hujan turun. Beliau berpesan kepada jama’ah Majlis ta’limnya apabila do’a-doa kita ingin dikabulkan oleh Alloh Swt jangan sekali-kali kita membuat alloh murka dengan melakukan Maksiyat, Muliakan orang tua mu dan beristiqomalah dalam melaksanakan sholat subuh berjama’ah.

Habib Sholeh berpulang kerahmatulloh pada tanggal 7 sawal 1396 h atau sekitar tahun 1976, hingga sekarang Karomah beliau yang tampak setelah beliau meninggal adalah bahwa maqom beliau tidak pernah sepi dari para jamaah yang datang dari berbagai daerah untuk berziarah. @@

Categories: IJASAH SHOLAWAT HABIB SHOLEH TANGGUL JEMBER | 25 Komentar

MENGENANG KYAI ACHMAD ASRORI AL ISHAQI: ANAK MACAN YANG AKHIRNYA JADI MACAN


KH. ASRORI BIN UTSMAN AL-ISHAQI  memang telah dipanggil Allah SWT pada 26 Sya’ban 1430 H./18 Agustus 2009 pukul 02:20 WIB di tempat mukimnya Kedinding Surabaya. Namun kepribadiannya yang istimewa meninggalkan banyak kenangan.

Pengetahuan agamanya dalam dan kharisma memancar dari sosoknya yang sederhana. Tutur katanya lembut namun seperti menerobos relung-relung di kedalaman hati pendengarnya. Menurut keluarga dekatnya, sewaktu muda Kiai Asrori telah menunjukkan keistimewaan-keistimewaan. Mondhoknya tak teratur. Ia belajar di Rejoso satu tahun, di Pare satu tahun, dan di Bendo satu tahun. Di Rejoso ia malah tidak aktif mengikuti kegiatan ngaji. Ketika hal itu dilaporkan kepada pimpinan pondok, Kiai Mustain Romli, ia seperti memaklumi, “biarkan saja, anak macan akhirnya jadi macan juga.” Meskipun belajarnya tidak tertib, yang sangat mengherankan, Kiai Asrori mampu membaca dan mengajarkan kitab Ihya’ Ulum al-Din karya Al-Ghazali dengan baik. Di kalangan pesantren, kepandaian luar biasa yang diperoleh seseorang tanpa melalui proses belajar yang wajar semacam itu sering disebut ilmu ladunni (ilmu yang diperoleh langsung dari Allah SWT). Adakah Kiai Asrori mendapatkan ilmu laduni sepenuhnya adalah rahasia Tuhan, wallahu a’lam. Ayahnya sendiri juga kagum atas kepintaran anaknya. Suatu ketika Kiai Utsman pernah berkata “seandainya saya bukan ayahnya, saya mau kok ngaji kepadanya.” Barangkali itulah yang mendasari Kiai Utsman akhirnya menunjuk Kiai Asrori (bukan kepada anak-anaknya yang lain yang lebih tua) sebagai penerus kemursyidan Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah pada usia 30 tahun.

Salah seorang penerus Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah (TQN) yang terkenal adalah Kyai Achmad Asrori al-Ishaqi, pendiri dan pengasuh pondok pesantren al-Fithrah Kedinding Surabaya, Jama‟ah pengajian al-Khidmah yang tersebar di berbagai pelosok  nusantara. Kyai Ahcmad Asrori  lahir di Surabaya, 17 Agustus 1957. Ahmad Asrori al-Ishaqi adalah putera Kyai Utsman al-Ishaqi, mursyid Thariqah Qadiriyah wa Naqsyabandiyah (TQN), ulama besar dari Surabaya. Achmad Asrori memiliki darah keturunan hingga Rasulullah saw, tepatnya keturunan yang ke 38, dari garis Husain bin Ali. Nama al-Ishaqi dinisbatkan kepada Maulana Ishaq (Sunan Giri), adik Maulana Malik Ibrahim, Walisongo yang dikenal sebagai Sunan Gresik.  

kh-asrori-KWASebelum lebih jauh mengenal Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah ini, terlebih dahulu harus diketahui mengenai Qadiriyah dan Naqsyabandiyah itu sendiri. Pada awalnya, tarekat ini berdiri sendiri-sendiri, yaitu tarekat Naqsyabandiyah dan tarekat Qadiriyah. Untuk itu, berikut ini sekilas tentang tarekat masing-masing:

QADIRIYAH: Tarekat ini adalah tarekat yang didirikan dan dibangsakan kepada Sayyid Abdul Qadir Jailani di negeri Baghdad. Beliau lahir pada tahun 470 H (1255) dan meninggal di tahun 561 H (1164). Jadi berusia 90 tahun. Penganut tarekat ini amat banyak dan pengaruhnya amat besar sampai ke Maroko dan tanah Hindustan. Tarekat Qadiriyah beredar di seputar ibadah dan suluk dengan tetap menyebut zikir yang berhubungan dengan nama Allah dengan kaifiat tertentu

Praktek ibadah tarekat ini tidak hanya merefleksikan kepercayaan kelompok itu sendiri tetapi juga pendirian sufi secara umum berdasarkan peranan dan keajaiban sang guru dari pengalaman mystik yang bermacam-macam. Prosedur keanggotaan berisi bai‟at dengan “berdzikir dalam ketaatan kepada syeikh dan syeikh menerima keanggotaannya sebagai seorang anak.

Tujuan utama tarekat ini – seperti pada umumnya tarekat tarekatialah menekan hawa nafsu yang menjadikan manusia jauh dari Tuhannya. Untuk itu, wirid berupa salat sunnah, zikir, dan do‟a senantiasa dipraktekkan sepanjang waktu. Seperti di waktu pagi, sore, siang dan malam

TAREKAT NAQSYABANDIYAH:  salah satu tarekat sufi yang paling luas penyebarannya, dan terdapat banyak di wilayah Muslim Asia serta Turki, Bosnia Herzegovina dan wilayah Dagestan Russia. Kata Naqsyabandiyah/Naqsyabandi/Naqshbandi berasal dari Bahasa Arab yakni Murakab Bina-i dua kalimah Naqsh dan Band yang berarti suatu ukiran yang terpateri, atau mungkin juga dari Bahasa Persia, atau diambil dari nama pendirinya yaitu Bahauddin Naqhband Bukhari.  Sebagian orang menerjemahkan kata tersebut sebagai “pembuat gambar”, “pembuat hiasan”. Sebagian lagi menerjemahkannya sebagai “Jalan Rantai”, atau “Rantai Emas”. Perlu dicatat pula bahwa dalam Tarekat Naqsyabandiyah, silsilah spiritualnya kepada Nabi Muhammad adalah melalui khalifah Abu Bakar, sementara kebanyakan tarekat-tarekat lain silsilahnya melalui khalifah Ali bin Abu Thalib.

Pendiri Tarekat ini adalah Muhammad Bahauddin Naqshband AlBukhari Al-Uwaisi Rahmatullah „alaih, dilahirkan pada bulan Muharram tahun 717 Hijrah bersamaan 1317 M, Yaitu pada abad ke 8 Hijriyah bersamaan dengan abad ke 14 Masehi, di sebuah perkampungan bernama Qasrul „Arifan dekat Bukhara. Ia menerima pendidikan awal Tariqat secara Zahir dari gurunya Hadhrat Sayyid Muhammad Baba As-Sammasi Rahmatullah „alaih dan seterusnya menerima rahasia-rahasia Tariqat dan

Khilafat dari Syeikhnya, Hadhrat Sayyid Amir Kullal Rahmatullah alaih. Ia menerima limpahan Faidhz dari Nabi Muhammad Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam melanjtkan Abdul Khaliq Al-Ghujduwani Rahmatullah alaih yang telah 200 tahun mendahuluinya secara Uwaisiyah Sesudah Abad kedelapan tumbuhlah tarekat laksana tumbuhnya cendawan. Ajaran tarekat itu berkembang dan diterima oleh para pemeluk  Islam di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Sekitar abad XVII M hingga XIX, para tokoh sufi di Indonesia mulai bermunculan. Tarekat-tarekat baru pun mulai muncul. Tarekat-tarekat ini merupakan penggabungan dari tarekat-tarekat pada abad VI H dan VII H, seperti  Syeikh Yusuf Makassari, yang memasukkan unsur-unsur dari Naqsabandiyah yang telah dipilihnya kedalam versi Khalwatiyyah-nya.

Kemudian gabungan tarekat Naqsabandiyah dengan tarekat Syattariyah pernah populer untuk sekian lama di Jawa pada abad XVII dan XVIII. Gabungan tarekat Qadiriyah dengan Naqsabandiyah pun telah diamalkan oleh beberapa syekh termasyhur. Dan juga Sammaniyah (penggabungan tarekat khalwatiyah dengan Qadiriyah, Naqsabandiyah dan Syadziliyah oleh Muhammad ibn „Abd al-Karim al-Samman.). Tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyah mungkin sekali didirikan oleh tokoh asal Indonesia, Ahmad Khatib ibn Abd Al-Ghaffar Sambas yang bermukim dan mengajar di Makkah pada pertengahan abad XIX17

Semasa hidupnya, Syekh Ahmad Khatib Sambas mengangkat banyak khalifah (wakil), namun posisi pewaris utamanya setelah beliau meninggal dipegang oleh Syekh Abdul Karim Banten. Selain Syekh Abdul Karim, dua wakil penting lainnya adalah Syekh Thalhah Kalisapu Cirebon, dan Syekh Ahmad Hasbullah Ibn Muhammad Madura. Pada awalnya semuanya mengakui otoritas Syekh Abdul Karim, namun setelah Syekh Abdul Karim meninggal, tidak ada lagi kepemimpinan pusat, dan karenanya TQN menjadi terbagi dengan otoritas sendiri-sendiri.

Syekh Thalhah mengembangkan kemursyidan sendiri di Jawa Barat. Penerusnya yang paling penting adalah Syekh Abdullah bin Muhammad Nur atau “Abah Sepuh” dari Suryalaya dan putranya yang kharismatik Syekh Ahmad Shahibul Wafa‟ Taj Al-Arifin. Khalifah lain di Jawa Barat adalah Kyai Falak, yang juga berasal dari Banten, yang mengembangkan TQN di daerah Pagentongan, Bogor Jawa Barat

Untuk daerah Jawa Tengah, penerus TQN yang penting adalah K.H. Muslih Adburrahman (Mbah Muslih), yang menerima ijazah TQN dari K.H. Ibrahim al-Brumbungi, seorang khalifah dari Syekh Abdul Karim, melalui Mbah Abd Rahman Menur. Salah satu murid Kyai Muslih, yakni Kyai Abu Nur Jazuli menyebarkan TQN di Brebes. Murid lainnya, K. H. Durri Nawawi mengajarkan TQN di Kajen, Pati .

AJARAN TASAWUF KYAI ASRORI

Sosok Kiyai Asrori sendiri selaku Mursyid Thariqah Qadiriyah Wan Naqsabandiyah Al Utsmaniyah (dinisbatkan kepada Kiai Utsman). Konon, almarhum KH. Utsman adalah salah satu murid kesayangan KH. Romli Tamim (ayah KH. Musta’in) Rejoso, Jombang, Jawa Timur. Beliau dibaiat sebagai mursyid bersama Kiyai Makki Karangkates Kediri dan Kiai Bahri asal Mojokerto. Kemudian sepeninggal Kiai Musta’in (sekitar tahun 1977), beliau mengadakan kegiatan sendiri di kediamannya Sawah Pulo Surabaya.

Maka, jadilah Sawah Pulo sebagai sentra aktifitas thariqah di kota metropolis di samping Rejoso sendiri dan Cukir Jombang. Sepeninggal Kiai Utsman, tongkat estafet kemursyidan kemudian diberikan kepada putranya, Kiai Minan, sebelum akhirnya ke Kiai Asrori (konon pengalihan tugas ini berdasarkan wasiat Kiai Utsman menjelang wafatnya). Di tangan Kiai Asrori inilah jama’ah yang hadir semakin membludak. Uniknya, sebelum memegang amanah itu, Kiai Asrori memilih membuka lahan baru, yakni di kawasan Kedinding Lor yang masih berupa tambak pada waktu itu.

Dakwahnya dimulai dengan membangun masjid, secara perlahan dari uang yang berhasil dikumpulkan, sedikit demi sedikit tanah milik warga di sekitarnya ia beli, sehingga kini luasnya mencapai 2,5 hektar lebih. Dikisahkan, ada seorang tamu asal Jakarta yang cukup ternama dan kaya raya bersedia membantu pembangunan masjid dan pembebasan lahan sekaligus, tapi Kiai Asrori mencegahnya. “Terima kasih, kasihan orang lain yang mau ikutan menyumbang, pahala itu jangan diambil sendiri, lebih baik dibagi-bagi”, ujarnya.

Kini, di atas lahan seluas 2,5 hektar itu Kiai Asrori mendirikan Pondok Pesantren Al Fithrah dengan ratusan santri putra putri dari berbagai pelosok tanah air. Untuk menampungnya, pihak pesantren mendirikan beberapa bangunan lantai dua untuk asrama putra, ruang belajar mengajar, penginapan tamu, rumah induk dan asrama putri (dalam proses pembangunan) serta bangunan masjid yang cukup besar.

Itulah Kiai Asrori, keberhasilannya boleh jadi karena kepribadiannya yang moderat namun ramah, di samping kapasitas keilmuan tentunya. Murid-muridnya yang telah menyatakan baiat ke Kiai Asrori tidak lagi terbatas kepada masyarakat awam yang telah berusia lanjut saja, akan tetapi telah menembus ke kalangan remaja, eksekutif, birokrat hingga para selebritis ternama. Jama’ahnya tidak lagi terbatas kepada para pecinta thariqah sejak awal, melainkan telah melebar ke komunitas yang pada mulanya justru asing dengan thariqah.

Walaupun tak banyak diliput media massa, namanya tak asing lagi bagi masyarakat thariqah. Namun demikian, sekalipun namanya selalu dielu-elukan banyak orang, dakwahnya sangat menyejukkan hati dan selalu dinanti, Kiai Asrori tetap bersahaja dan ramah, termasuk saat menerima tamu. Beliau adalah sosok yang tidak banyak menuntut pelayanan layaknya orang besar, bahkan terkadang ia sendiri yang menyajikan suguhan untuk tamu.

Tanda tanda menjadi panutan sudah nampak sejak masa mudanya. Masa mudanya dihabiskan untuk menuntut ilmu ke berbagai pondok pesantren di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Kala itu Kiai Asrori muda yang badannya kurus karena banyak tirakat dan berambut panjang memiliki geng bernama “orong-orong”, bermakna binatang yang keluarnya malam hari. Jama’ahnya rata-rata anak jalanan alias berandalan yang kemudian diajak mendekatkan diri kepada Allah lewat ibadah pada malam hari. Meski masih muda, Kiai Asrori adalah tokoh yang kharismatik dan disegani berbagai pihak, termasuk para pejabat dari kalangan sipil maupun militer.

Jika dirunut, Kiai Ahmad Asrori memiliki darah keturunan hingga Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam yang ke 38, yakni Ahmad Asrori putra Kiai Utsman Al Ishaqi. Namanya dinisbatkan pada Maulana Ishaq ayah Sunan Giri. Karena Kiai Utsman masih keturunan Sunan Giri. Kiai Utsman berputra 13 orang. Berikut silsilahnya :

Ahmad Asrori Al Ishaqi – Muhammad Utsman – Surati – Abdullah – Mbah Deso – Mbah Jarangan – Ki Ageng Mas – Ki Panembahan Bagus – Ki Ageng Pangeran Sedeng Rana – Panembahan Agung Sido Mergi – Pangeran Kawis Guo – Fadlullah Sido Sunan Prapen – Ali Sumodiro – Muhammad Ainul Yaqin Sunan Giri – Maulana Ishaq – Ibrahim Al Akbar – Ali Nurul Alam – Barokat Zainul Alam – Jamaluddin Al Akbar Al Husain – Ahmad Syah Jalalul Amri – Abdullah Khan – Abdul Malik – Alawi – Muhammad Shohib Mirbath – Ali Kholi’ Qasam – Alawi – Muhammad – Alawi – Ubaidillah – Ahmad Al Muhajir – Isa An Naqib Ar Rumi – Muhammad An Naqib – Ali Al Uraidli – Ja’far As Shodiq – Muhammad Al Baqir – Ali Zainal Abidin – Hussain Bin Ali – Ali Bin Abi Thalib / Fathimah Binti Rasulullah SAW.

yai asrori kwaKini, ulama yang sudah menghadap Alah SWT itu menjadi magnet tersendiri bagi kaum sufi-  ahli thariqah. Karena kesibukannya melakukan pembinaan jama’ah yang tersebar di seluruh pelosok tanah air hingga mancanegara. Kiai Rori menyediakan waktu khusus buat para tamu, yakni tiap hari Ahad. Sedangkan untuk pembaiatan, baik bagi jama’ah baru maupun lama dilakukan seminggu sekali. (ada tiga macam pembaiatan, yaitu Baiat Bihusnidzdzan, bagi tingkat pemula, Baiat Bilbarokah, tingkat menengah dan Baiat Bittarbiyah, tingkat tinggi).

Untuk menapaki level level itu, tiap jama’ah diwajibkan dzikir rutin yang harus diamalkan oleh murid yang sudah berbaiat berupa dzikir jahri (dengan lisan) sebanyak 160 kali dan dzikir khafi (dalam hati) sebanyak 1000 kali tiap usai sholat. Kemudian ada dzikir mingguan berupa khususi yang umumnya dilakukan jama’ah per wilayah seperti kecamatan.

Thariqah yang diajarkan Kiai Rori memang dirasakan berbeda dengan thariqah atau mursyid mursyid lainnya pada umumnya. Jika kebanyakan para mursyid setelah membaiat kepada murid baru, untuk amaliyah sehari-hari diserahkan kepada murid yang bersangkutan di tempat masing-masing untuk pengamalannya, tidak demikian dengan Kiai Rori. Beliau sebagai Mursyid Thariqah Qadiriyah Wan Naqsabandiyah Al Utsmaniyah memiliki tanggung jawab besar, yakni tidak sekedar membaiat kepada murid baru kemudian tugasnya selesai, akan tetapi beliau secara terus-menerus melakukan pembinaan secara rutin melalui majelis khususi mingguan, pengajian rutin bulanan setiap Ahad awal bulan hijriyah dan kunjungan rutin ke berbagai daerah.

Untuk membina jama’ah yang telah melakukan baiat, khususnya di wilayah Jawa Tengah, Kiai Rori telah menggunakan media elektronik yaitu Radio Siaran untuk penyebaran dakwahnya, sehingga murid muridnya tidak lagi akan merasa kehilangan kendali. Ada lima radio di Jawa Tengah yang dimilikinya setiap pagi, siang dan malam selalu memutar ulang dakwahnya Kiai Rori, yakni Radio Rasika FM dan “W” FM berada di Semarang, Radio Citra FM di Kendal, Radio Amarta FM di Pekalongan dan Radio Suara Tegal berada di Slawi.

Radio radio inilah setiap harinya mengumandangkan dakwahnya yang sangat khas dan disukai oleh banyak kalangan, meski mereka tidak atau belum berbaiat, bahkan ketemu saja belum pernah, toh tidak ada halangan baginya untuk menikmati suara merdu yang selalu mengumandang lewat istighotsah di awal dan tutup siaran radio. Kemudian juga dapat didengar lewat manaqib rutin mingguan dan bulanan serta acara-acara khusus seperti Haul Akbar di Kota Pekalongan beberapa waktu lalu disiarkan langsung oleh tiga radio ternama di Kota Pekalongan dan Batang.

Dalam setiap memberikan siraman rohani, Kiai Rori menggunakan rujukan Kitab Nashaihul Ibad karya Syekh Nawawi Al Bantani, Al Hikam karya Imam Ibnu Atha’illah dan lain lain. Selain pengajian yang lebih banyak mengupas soal tasawuf, Kiai Rori juga sering menyisipkan masalah fiqih sebagai materi penunjang. Seorang ulama asal Ploso Kediri Jawa Timur, KH. Nurul Huda pernah bertutur, sulit mencari ulama yang cara penyampaiannya sangat mudah dipahami oleh semua kalangan dan do’anya sanggup menggetarkan hati seperti Kiai Asrori. Hal senada diakui oleh KH. Abdul Ghofur seorang ulama asal Pekalongan, Kiai Asrori seorang figur yang belum ada tandingnya, baik ketokohannya maupun kedalaman ilmunya.

Sadar bahwa manusia tidak akan hidup di dunia selamanya, Kiai Asrori telah berfikir jauh ke depan untuk keberlangsungan pembinaan jama’ah yang sudah jutaan jumlahnya. Perkembangan jumlah murid cukup menggembirakan ini sekaligus mengundang kekawatiran. Apa pasal ? banyaknya murid yang berbaiat di Thariqah Qadiriyah wan Naqsabandiyah Al Utsmaniyah menunjukkan bahwa ajaran ini memiliki daya tarik tersendiri. Apalagi murid murid yang telah berbaiat terus dibina melalui berbagai majelis, sehingga amalan-amalan dari sang guru tetap terpelihara.

Di sisi lain banyaknya murid juga mengundang kekhawatiran sang guru. Karena mereka tidak terurus dan terorganisir dengan baik, sehingga pembinaannya pun kurang termonitor. Kondisi inilah yang mendorong beberapa murid senior memiliki gagasan untuk perlunya membentuk wadah di samping dorongan yang cukup kuat dari Kiyai Asrori sendiri, sehingga diharapkan dengan terbentuknya wadah bagi para murid-muridnya dapat lebih mudah melaksanakan amalan amalan dari gurunya.

Maka dibentuklah wadah bernama “Jama’ah Al Khidmah”. Organisasi ini resmi dideklarasikan tanggal 25 Desember 2005 kemarin di Semarang Jawa Tengah, dengan kegiatan utamanya ialah menyelenggarakan Majelis Dzikir, Majelis Khotmil Al Qur’an, Maulid dan Manaqib serta kirim do’a kepada orang tua dan guru-gurunya. Kemudian menyelenggarakan Majelis Sholat Malam, Majelis Taklim, Majelis Lamaran, Majelis Akad Nikah, Majelis Tingkepan, Majelis Memberi nama anak dan lain lain.

  1. Hasanuddin menjelaskan, organisasi ini sengaja dibentuk bukan karena latah apalagi berorientasi ke politik praktis, akan tetapi semata mata agar pembinaan jama’ah lebih terarah dan teratur. Siapapun bisa menjadi anggotanya, baik yang sudah baiat atau yang belum baiat. Seperti kegiatan kegiatan Haul Akbar di Kota Pekalongan tempo hari merupakan salah satu bukti bahwa kegiatan Jama’ah Al Khidmah banyak diminati oleh berbagai kalangan khususnya di wilayah Pekalongan dan sekitarnya.

Meskipun di wilayah ini belum banyak yang menyatakan baiat ke Kiai Asrori, ternyata magnet kiai yang berpenampilan kalem dan sederhana ini dapat menghadirkan puluhan ribu ummat Islam untuk duduk bersimpuh bersama-sama dengan para kiyai, ulama, habaib dan ratusan undangan lainnya untuk bersama-sama melakukan dzikir dan mendoa’akan istri Rasulullah Ummil Mukminin Sayyidatina Siti Khodijah Al Kubro yang kini telah mulai banyak dilupakan ummat Islam.

Acara ini memang tergolong khusus, pasalnya kegiatan Haul Sayyidatina Siti Khodijah tidak lazim dilaksanakan oleh ummat Islam. sehingga banyak yang tidak menyangka kegiatan ini akan mendapat perhatian yang cukup besar. Bahkan Habib Umar Bin Salim cucu Rasulullah SAW asal Hadramaut Yaman Yordania yang hadir dalam secara khusus di majelis dzikir itu mengatakan, sudah selayaknya ummat Islam mendoakan istri Rasulullah, karena beliau mempunyai peranan yang sangat penting dan banyak jasanya membantu Rasulullah dalam pengembangan ajaran Islam. ”Kami siap hadir setiap majelis ini digelar”, ujarnya usai acara.

GARIS BESAR PEMIKIRAN K.H. ACHMAD ASRORI AL-ISHAQY

K.H. Achmad Asrori al-Ishaqy adalah seorang mursyid Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah al-Ustmaniyah. Didaulat menjadi mursyid, ketika ia masih berusia 30 tahun. Usia yang tergolong sangat muda untuk dijadikan sebagai panutan umat. Akan tetapi, sebelum menjadi mursyid, ia telah memulai dakwahnya dengan cara mendirikan masjid dan mengelolanya di lingkungan tempat tinggalnya. Masjid inilah yang kemudian menjadi markas besar pengembangan tarekat yang dipimpinnya. Berawal dari masjid ini, pengembangan tarekat diusahakannya sedemikian rupa, hingga berdiri lembaga pendidikan, yayasan dan organisasi al-Khidmah. Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah Al-Ustmaniyah, terutama saat di bawah kepemimpinan K.H. Achmad Asrori, merupakan organsasi tarekat yang cukup pesat perkembangannya, di dalam dan luar negeri. Apalagi jika melihat perkembangan Jama‟ah Al-Khidmah yang didirikannya, tidak terbatas pada kaum tua, melainkan telah banyak diminati oleh generasi muda. Fenomena ini perlu dikaji lebih jauh, agar dapat diperoleh pemahaman yang bermakna .

Pemikiran tasawuf K.H. Achmad Asrori al-Ishaqy tidak terlalu jauh berbeda dengan para pendahulunya dalam rangkaian struktural Tarekat Qadiriyah wan Naqsyabandiyah. Hal ini ditandai dengan berbagai penjelasannya tentang maqamat dan ahwal, yang senantiasa mengikuti apa yang telah disampaikan oleh para ulama shufiyah, seperti al-Ghazali, al-Thusi, al-Sakandary, dan lainlain. Ini menunjukkan bahwa pemikiran tasawufnya, bercorak Sunni. Kedua, Melalui kajian tentang pola pengembangan tarekatnya, K.H. Achmad Asrori mengikuti pengembangan ala neosufisme. Hal ini ditandai oleh kecenderungannya dalam mengembangkan tarekat dengan cara-cara modern, rasional dan moderat, melalui Lima Pilar ajarannya.

Trend dunia saat ini memasuki era baru yang dinamakan era digital, segala sesuatu diukur dengan banyaknya frekuensi angka-angka, semakin banyak angka yang digunakan atau diperoleh, maka derajat manusia akan semakin berharga. Manusia di era ini tak ubahnya bagai robot-robot pencetak angka, yang bekerja siang dan malam untuk menghasilkan nominal, dengan digit yang terbatas yang dimiliki. Akibatnya, banyak sekali yang karena tidak kuat untuk mengikuti trend yang ada, maka terjadilah penyimpanganpenyimpangan perilaku dan sikap dalam hidupnya.

Menurut M. Amin Syukur, manusia sekarang ini, sebaiknya lebih mengedepankan akhlak sebagai ajaran mengenai moral, yang hendaknya diterapkan dalam kehidupan sehari-hari guna memperoleh kebahagiaan yang optimal. Ajaran-ajaran akhlak dalam tasawuf, terutama tasawuf akhlaki (perilaku baik), membimbing seseorang untuk memiliki akhlak dan sopan santun baik terhadap diri sendiri, orang lain maupun terhadap Tuhannya.

Ajaran tasawuf, dewasa ini lebih banyak dikenal dalam organisasi-organisasi tasawuf yang disebut dengan tarekat. Terutama di Indonesia, banyak sekali tarekat-tarekat yang termasyhur, di antaranya Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah (TQN). Tarekat yang dimunculkan oleh Syeikh Acmad Khatib Sambas ini, terus terkembang sedemikian rupa, hingga saat ini. Perkembangannya demikian pesat, nampaknya melebihi tarekat-tarekat lain yang ada di Nusantara.

Ajaran tasawuf K.H. Achmad Asrori al-Ishaqy, nampaknya sederhana dan mengena ke masyarakat. Ini terbukti dengan hadirnya ribuan jama‟ah, mana kala ia menyampaikan taushiyah. Meski jama‟ah ini juga merupakan bentukannya, namun tak dapat dipungkiri bahwa banyak di antara mereka hanya simpatisan, yang bukan merupakan anggota tarekat yang dipimpinnya, yang tertarik mengikuti kegiatan karena dorongan kebutuhan akan spiritualitas, dan sosok santun sang kiyai K.H. Achmad Asrori al-Ishaqy dalam ajaran tasawufnya, terlihat lebih menekankan adab. Menurutnya, “Adab adalah kunci pintu menuju Allah, jika tidak ada adab, maka kita tidak dapat memasuki pintu menuju Allah, dan kita tidak bisa sampai dan disampaikan bersimpuh di hadirat Allah SWT. Meski demikian, ajaran tasawuf Kyai Achmad Asrori al-Ishaqy, cenderung praktis. Ia memberikan bimbingan kepada para jama‟ah atau murid tarekat untuk menyelaraskan kehidupan duniawi dengan senantiasa ingat kepada Allah SWT melalui dzikir. Dzikir yang diajarkan adalah dzikir tauhid yang dapat menguatkan akidah dan keimanan seseorang, jiwa akan hidup dan akal akan selamat. Selain itu fisik akan selalu sehat, karena keimanan merupakan tulang yang mampu membawa manusia dari keputusasaan kepada semangat yang kuat dan dari kekacauan kepada ketenteraman. Seseorang yang beriman akan merasakan bahwa ketenteraman itu memenuhi ruang jiwanya

Di tengah berbagai krisis kehidupan yang serba materialis, sekular serta kehidupan yang sangat sulit secara ekonomi maupun psikologis, ajaran tasawuf Kyai Achmad Asrori al-Ishaqy dapat menjadi obat penawar ruhaniah.

Perkembangan tarekat yang satu ini, menarik untuk dibahas lebih lanjut, sebab di lapangan, banyak sekali upaya yang dilakukannya dalam pengembangan tarekat, agar dapat diterima oleh masyarakat di satu sisi, dan memenuhi kehausan masyarakat akan spiritualitas di sisi lain.

Tarekat yang dikomandoi oleh Kyai Achmad Asrori al-Ishaqy yang mengalami perkembangan cukup pesat dalam waktu yang relatif singkat (1978 – 2009), yang gerakannya nampak hampir ada di seluruh provinsi di Indonesia, bahkan sampai ke luar negeri, ini sungguh menarik. Bagaimana hal itu bisa terjadi?

Dimulai dari Kyai Mustain  Romli masuk Golkar menjelang pemilu 1977. Menarik untuk dicatat, bahwa KH. Achmad Asrori al-Ishaqy juga memiliki hubungan keguruan dengan Kyai Mustain Romli ini. Pemikiran KH. Achmad Asrori melalui ceramah-ceramahnya yang diputar di Radio Rasika FM. Lokus dari Radio Rasika FM ini mencakup Jawa Tengah, representasi pemikiran KH. Achmad Asrori al-Ishaqy yang diperuntukkan bagi jama‟ah al-Khidmah Jawa Tengah. Sebab, hampir menjadi kesepakatan umum, bahwa Radio Rasika FM ini menjadi sarana komunikasi dan informasi berkenaan dengan al-Khidmah yang ditujukan kepada para jama‟ah di tingkat Jawa Tengah. Namun demikian, ini telah menyinggung pemikiran tasawuf KH. Achmad Asrori al-Ishaqy.

Secara historis, pada tahun 1970-an, tarekat Qadariyah wa Naqsabandiyah merupakan tarekat yang paling berwibawa di Jawa Timur, termasuk Madura, dan mengalami perkembangan di berbagai wilayah di Indonesia, terutama di Pesantren Darul Ulum Rejoso Jombang yang didirikan oleh Kyai Tamim asal Madura, merupakan pusatnya. Tarekat ini diperkenalkan kepada menantu laki-lakinya, Kyai Khalil yang telah memperoleh ijazah dari dari Syekh Ahmad Hasbullah di Makkah. Kyai Khalil memberikan jubah kepemimpinannya kepada putra Kyai Tamim yaitu Kyai Romli Tamim, yang pada gilirannya digantikan oleh putranya, Kyai Mustain Romli .

Kyai Utsman al-Ishaqi Surabaya adalah khalifah senior Kyai Romli yang wafat pada tahun 1984. Sebelum wafat, beliau sudah menunjuk salah seorang putranya, Kyai Achmad Asrori al-Ishaqi, sebagai penggantinya sebagai mursyid dalam tarekatnya karena menurut beliau, Asrorilah yang pantas mengajar fiqh dan tasawuf. Sebetulnya Kyai Asrori al-Ishaqi sudah dilantik sebagai khalifah oleh ayahnya pada tahun 1978. Sejak wafatnya sang ayah, Kyai Achmad Asrori al-Ishaqi yang memimpin semua kegiatan, termasuk ketarekatan di Pesantren Sawahpulo Surabaya dan selanjutnya mendirikan pula Pesantren al-Fithrah di Kedinding Lor Surabaya. Seiring dengan jalannya waktu, jama‟ahnya semakin bertambah hingga ribuan orang, bahkan jutaan orang, karena tarekat ini merupakan tarekat fenomenal yang akan menjadi oase dunia karena terbukti perkembangannya yang begitu cepat, sudah sampai ke luar negeri, Singapore, Malaysia, Bruney Darusalam, Thailand, Arab Saudi dan Australia. Inilah tarekat Qadariyah wa Naqsabandiyah al-Utsmaniyah

Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah ini, pada awal abad XV H (saat ini) banyak dikenal oleh masyarakat melalui tangan halus K.H. Achmad Asrori al-Ishaqy. Tarekat ini populer melalui organisasi keagamaan yang bernama al-Khidmah, dan Pondok Pesantren al-Fithrah.

Hal yang menarik dalam ajaran Tarekat Qadariyah wa Naqsyabandiyah Utsmaniyah ini, termasuk ajaran tarekat K.H. Achmad Asrori al-Ishaqy, di mana mereka cenderung mengagungkan Rasulullah, para sahabat dan ahlul bait-nya, segala bentuk pemahaman maqamat dan ahwal, senantiasa dikaitkan dengan cinta rasul. Yang terpenting dan merupakan inti ajaran Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah adalah dzikir, yakni dzikir lisan dan dzikir qalbu. Dzikir lisan atau disebut juga dzikir nafi itsbat yaitu ucapan lâ ilâha illa Allah. Pada kalimat ini terdapat hal yang menafikan yang lain dari pada Allah dan mengitsbatkan Allah. Sedangkan dzikir qalbu yaitu dzikir yang tersembunyi di dalam hati, tanpa suara dan kata-kata. Dzikir ini hanya memenuhi qalbu dengan kesadaran yang sangat dekat dengan Allah, seirama dengan detak jantung serta mengikuti keluar masuknya nafas.

Sementara dzikir qalbu atau dzikir ismu dzat adalah dzikir kepada Allah dengan menyebut Allah, Allah, Allah secara sirr atau khafi (dalam hati) dzikir ini juga disebut dengan dzikir lathâif yang merupakan ciri khas Tarekat Naqsyabandiyah.

umum, semua ajaran Kyai Achmad Asrori al-Ishaqi, dalam hal praktek ketarekatan, telah tersusun melalui 5 (lima) pilar utama yang telah ditetapkan sebagai soko guru, tuntunan, bimbingan dan wasiatnya sebagai mursyid tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah Utsmaniyah. Berdasarkan lima pilar utama tersebut, dapat ditelusuri mengenai apa dan bagaimana pemikiran Kyai Achmad Asrori al-Ishaqy dalam mengembangkan TQN. Lima pilar yang dimaksud adalah: Pertama, hal yang berkenaan dengan alThariqah; Kedua, hal yang berkenaan dengan Pondok Pesantren Assalafi AlFithrah; Ketiga, hal yang berkenaan dengan Yayasan Al-Khidmah Indonesia; Keempat, hal yang berkenaan dengan Perkumpulan Jama‟ah Al-Khidmah; dan, Kelima, hal yang berkenaan dengan Keluarga Hadlratus Syaikh Achmad Asrori Al-Ishaqi RA, yaitu istri serta putra-putri keturunannya.

Lima pilar yang disebutkan di atas, merupakan pokok ajaran dan tuntunan serta bimbingan yang harus dijadikan sebagai pedoman bagi para pengikutnya. Sebab, Jamaah Thariqah al-Qadiriyyah Wa alNaqsyabandiyyah,Pondok Pesantren Assalafi Al-Fithrah, Yayasan AlKhidmah Indonesia, Perkumpulan Jama‟ah Al-Khidmah dan Keluarga dihimpun dalam satu wadah tersebut. Diberikannya pedoman Lima Pilar Utama ini, memiliki maksud dan tujuan sebagai sokoguru tuntunan dan bimbingan Hadlratus Syaikh agar dijadikan dasar dan pegangan serta pedoman dan landasan yang kuat, bagi dan oleh setiap dan segenap murid TQN serta jamaahnya di dalam ber-khidmah.

Adapun pokok-pokok pikiran yang merupakan pemikiran Kyai Achmad Asrori al-Ishaqy, antara lain: ketarekatan, kependidikan, keorganisasian, keummatan, dan kekeluargaan. Masing-masing pokok pikiran tersebut akan diuraikan sebagai berikut:

Pilar I : Ketarekatan

Kyai Achmad Asrori al-Ishaqy memahami, bahwa masih banyak orang yang anti terhadap tarekat. Hal ini disebabkan oleh berbagai faktor, di antaranya terjadi kesalahpahaman dalam memaknai tarekat. Kesalahpahaman itu antara lain, masih banyak yang memandang bahwa amalan-amalan tarekat sangat ketat dan berat, sehingga diperlukan waktu yang cukup untuk mengamalkannya. Kemudian,untuk memasuki tarekat, seseorang haruslah memiliki tingkat kesucian lahiriah dan batiniah tertentu.

Padahal, menurut Kyai Asrori, akan terjadi dampak negatif yang luar biasa dalam umat Islam, jika mereka enggan memasuki tarekat. Dampak negatif itu antara lain: Pertama, merosotnya penghayatan keagamaan, akibat makin meningkatnya semangat sektarianisme dan formalisme. Kedua, melemahnya dimensi spiritualisme akibat pendewaan terhahadap rasionalisme, positivisme dan ilmu pengetahuan. Ketiga, melemahnya kesalehan sosial akibat melemahnya semangat saling menghargai, saling menyayangi dan saling menolong antar sesama manusia. Oleh karena itu, diperlukan institusi yang khusus menangani masalah spiritualitas. Dalam hal ini, tarekatlah yang lebih membidangi persoalan ini.

Bila dibandingkan dengan alasan-asalan yang dikemukakan oleh para cendekiawan berkenaan dengan urgensi spiritualitas pada umumnya dan sufisme serta tarekat pada khususnya, maka tampak sekali ada kesamaan. Bahwa di samping memberi kemudahan bagi manusia, manusia juga terasing dari dimensi spiritualitasnya. Ketika manusia melepaskan diri dari koneksi spiritualitas, maka ia akan seperti layang-layang yang putus dari benangnya, tidak menyangkut ke langit dan tidak pula ke bumi. Kondisi masyarakat modern berada pada tepi eksistensi yang sesungguhnya, bukan pada pusat eksistensi, oleh karena itu menimbulkan kegelisahan-kegelisahan yang berasal dari dirinya sendiri.

Sebab-sebab kegelisahan itu dapat diklasifikasi menjadi empat macam, yaitu: Pertama, karena takut kehilangan apa yang dimiliki; Kedua, timbulnya rasa khawatir terhadap masa depan yang tidak disukai (trauma akibat imajinasi masa depan); Ketiga, rasa kecewa terhadap hasil kerja yang tidak mampu memenuhi harapan dan kepuasan; dan, Keempat, banyak melakukan pelanggaran dan dosa. Karena itu wajar bila kehidupan modern sekarang ini tampil dengan wajah antagonistik. Di satu pihak modernisme telah mendatangkan kemajuan spektakuler dalam bidang material. Tetapi di lain pihak modernisme menghasilkan wajah kemanusiaan yang buram, seperti terlihat pada akibat-akibat kemanusiaan yang ditimbulkannya. Beberapa akibat tersebut antara lain, manusia modern semakin tidak mengenal dan terasing dari dirinya sendiri dan Tuhannya setelah mengalami kehidupan yang sedemikian mekanistik; munculnya kegelisahan dan kegersangan batiniah dan krisis tentang makna dan tujuan hidup.

Dengan demikian, mendesak bagi tiap individu untuk menemukan dirinya secara utuh, mulai dari dimensi fisik, mental dan spiritual. Tapi mereka tidak memiliki keberanian yang cukup untuk memasuki tarekat, karena sejumlah alasan yang telah disebutkan di atas. Maka berdirinya Jama‟ah al-Khidmah ini dapat menjadi salah satu jawabannya. Secara umum, jamaah ini bertujuan untuk mewadahi mereka yang belum siap secara mental dan spiritual untuk masuk ke dalam tarekat, tetapi sangat membutuhkan dzikir-dzikir dengan bimbingan orang-orang yang memiliki genealogi spiritual yang jelas.

Baik alasan-alasan yang dikemukakan oleh Kyai Asrori maupun para cendekiawan pada umumnya berkenaan dengan urgensi sufisme dan tarekat di era modern ini, sama-sama bertumpu pada sisi negative kemanusiaan. Dengan kata lain, sufisme dan tarekat dibutuhkan pada saat manusia kehilangan salah satu dimensi kemanusiaannya. Sehingga dapat disimpulkan, bahwa ketika manusia mampu menemukan dirinya secara utuh, maka sufisme dan tarekat tidak dibutuhkan. Kesimpulan ini ada benarnya. Sehingga beberapa orang menganggap bahwa sufisme dan apalagi tarekat tidak diperlukan. Namun demikian, akan lebih tepat kiranya bila dinyatakan bahwa sufisme dan tarekat diperlukan dalam kondisi apapun, baik dalam kondisi senang maupun susah, dalam kondisi utuh maupun tidak utuh. Sebab sufisme dan tarekat, dalam arti spiritualismenya, merupakan bagian tak terpisahkan dari keberadaan manusia, agar manusia dalam kondisi tertentu akan tampak tingkatan-tingkatan ruhaniahnya, yang disebut ”maqamat”, sedang hasil yang dicapai karena karunia Allah disebut ”ahwal”.

Menurut K.H. Achmad Asrori, hati yang baik dan bagus (Jawa, genah) merupakan kemaslahatan yang agung. Sedangkan hati yang rusak (bobrok) merupakan kerusakan yang sangat dahsyat. Sehingga mengetahui hal-hal yang menjadikan hati baik dan bagus merupakan keharusan yang harus dicari. Demikian juga mengetahui halhal yang menyebabkan rusak dan bobroknya hati, agar dijauhi. Hal-hal yang menjadikan hati baik dan bagus itu ada tiga tahapan: Pertama, ilmu, yakni mengetahui dan mengerti Allah, sifat-sifat Allah dan asma-asma Allah, membenarkan semua yang dibawa oleh para rasul, desertai dengan mengetahui hukum-hukum dan pengertiannya, mengetahui gerak-gerik tujuan dan maksud hati, serta prilaku yang terpuji dan prilaku yang tercela. Kedua, amal perbuatan yakni menghiasi hati dengan prilaku yang terpuji, membersihkannya dari prilaku yang tercela, mendudukkan hati pada maqam pendakian dan meningkatkannya menuju pendakian yang lebih utama. Ketiga, prilaku batin (ahwal) yakni merasa diawasi oleh Allah atau menyaksikan Allah sesuai dengan kadar kesiapan dan persiapannya. Sebagaimana dalam penjabaran sabda rasulullah saw ”Menyembah Allah seakan-akan engkau melihatnya”.

Modal utama dalam kebaikan dan kebagusan hati adalah memperhatikan makanan yang halal dan menjauhi hal-hal yang syubhat, karena makanan yang haram dan syubhat akan mengakibatkan hati menjadi gelap, keras dan sikap tidak mudah menerima kebenaran.

Dalam al-Maqshadul Asna fi Syarhi Asmail Husna (al-Ghazali) dari hadits Nabi: ”Berahklaklah dengan akhlak-akhlak Allah”, dan “Sesungguhnya Allah memiliki 117 (seratus tujuh belas) akhlak, barang siapa berbudi dengan salah satunya, maka ia akan masuk surga” juga dapat diartikan: Wujudnya maqam baqa‟ setelah maqam fana‟, sehingga sifat-sifat seorang hamba akan lebur dan terlipat, sebab adanya tajalliyyat (penampakan) sifat-sifat ketuhanan kepadanya. Sehingga dapat di simpulkan bahwa fana‟ itu ada tiga, yaitu: sirna, semua perbuatannya sebab perbuatan-perbuatan Allah, sirna, semua sifatnya sebab sifat-sifat Allah, dan sirna, dzatnya sebab Dzat Allah. Oleh karena itu, ketika kecintaan dan kedekatan hamba kepada Allah telah menyirnakannya dari dirinya, maka Allah akan mendudukkannya pada maqam baqa‟. Fana‟ adalah jalan untuk menuju baqa‟.

Barang siapa sempurna maqam fana‟nya, maka sempurnalah maqam baqa‟nya. Dan barang siapa sirna dari selain Allah, maka baqa‟nya hanya dengan Allah Fana‟ menjadikan mereka diampuni, sedangkan baqa‟ menjadikan mereka mendapat pertolongan. Fana‟ dapat menghadirkan apapun bersama Allah, maka mereka tidak akan pernah putus oleh sebab apapun.  Fana‟ dapat mematikan mereka, sedangkan baqa‟ dapat menghidupkan mereka.

Masih berhubungan dengan fana‟ adalah rabithah, merupakan istilah dari ikatan dan jalinan ruhani seorang salik dengan gurunya, dengan selalu menjaga dan menghadirkan guru mursyidnya dalam hatinya, atau dengan membayangkan suatu sosok bahwa ia adalah guru mursyidnya. Ketika rabithah sudah mewarnai seorang salik, maka ia akan dapat melihat guru mursyidnya pada segala sesuatu. Hanya berdzikir saja tanpa disertai dengan rabithah (membayangkan wajah guru ketika berdzikir) dan tanpa disertai dengan fana‟ pada guru mursyid tidak akan pernah mendekatkan, menghantarkan dan menyampaikan salik di sisi Allah SWT. Adapun rabithah yang  disertai dengan adab-adab, karena adab adalah kunci pintu menuju Allah, jika tidak ada adab, maka tidak adapat memasuki pintu menuju Allah, dan tidak bisa sampai dan disampaikan bersimpuh di hadirat Allah SWT

Tingkatan (maqomat) menurut Kyai Asrori,  ada empat macam yang harus dilakukan oleh seorang salik untuk menuju maqamat di atas, yaitu maqam cinta dan rindu terlebih dahulu. Untuk bisa sampai ke kedua maqam ini, si salik harus memenuhi syarat-syarat berikut:

  1. Seseorang salik yang ingin mengenal, melihat dan bersimpuh di hadapan Allah hendaknya bisa menjalankan prilaku tirakat, mengurangi makan (taqlilu al-tha‟am), menjalankan ibadah baik waktu siang maupun malam, seperti shalat hajad, shalat tahajud, dan shalat sunnah lainnya.
  2. Seorang salik hendaknya mampu menjalankan, menghurangi tidur memperbanyak ibadah baik siang maupun malam hari (taqlilu almanam), menjalankan ibadah baik waktu siang maupun malam, seperti shalat hajad, shalat tahajud, dan shalat sunnah lainnya.
  3. Seorang salik harus mampu mengurangi, menghindari masalah keduawian (i‟tizal al-anam) memperbanyak ibadah, tidak silau dengan keadaan, pernik keindahan, permasalahan kebutuhan dunia, kecuali hanya sekedarnya bisa hidup, dan menghidupi.
  4. Seorang salik hendaknya senang berkorban dalam mengarungi bahtera hidupnya dengan menghiasi dirinya dengan mahabbah, taqarrub, kumpul dengan orang-orang shaleh (wa shahbatu ahli al-kamal). kumpul dapat di artikan, seperti kumpul dalam majelis dzikir, yasin, tahlil, shalawat, manaqib, maulid al- rasul, bahkan majelis kirim doa (dalam bahasa jawa, kirim dongo, andum dongo) kepada Rasulullah, sahabat-sahabatnya, para auliya‟ dan ulama‟ salafus shaleh, kepada guru-guru, kepada saudara-saudara, teman-teman, baik teman bermain (masa kecil), teman-teman kerja, dan teman-teman sekarang, kepada tetangga, dan kirim doa kepada keluarga sendiri.

Dengan demikian, sesungguhnya K.H. Achmad Asrori al-Ishaqy, hendak menunjukkan bahwa tidak ada yang negatif dari perilaku tarekat, sebaliknya justru merupakan sesuatu yang sangat urgent dalam kehidupan modern saat ini. Namun bagaimanapun juga, karena ketakutan dan kesalahpahaman terhadap keberadaan tarekat itu sudah demikian mengakar, maka diperlukan strategi yang tepat untuk mengatasinya. Salah satunya, apa yang dilakukan oleh Kyai Asrori, yakni dengan mendirikan organisasi keagamaan al-Khidmah, yang didukung pula dengan lembaga pendidikan formal dan non-formal, seperti al-Fithrah.

Pilar II: Kependidikan

Kyai Achmad Asrori al-Ishaqy, menjadi mursyid TQN, ketika ia baru berusia 30 tahun. Ia ditunjuk langsung oleh ayahnya, Kyai Usman alIshaqy, dengan wasiat sebelum wafat. Sebelumnya, tonggak kepemimpinan TQN dipegang oleh Kyai Minan, kakak Kyai Asrori, namun setahun kemudian diserahkan kepadanya. Tidak diketahui secara pasti menganai penyerahan ini. Sebagai pemimpin yang baik, Kyai Asrori ternyata tidak main-main dalam menjalankan amanah. Sebelum menjadi mursyid, ia telah membuat sebuah gerakan spektakuler, yaitu mendirikan pondok pesantren, yang bermula dari jama‟ah kecil di masjid dekat rumahnya. Kemudian, setelah pesantren berdiri, ia melanjutkan program pembinaannya, sesuai dengan gaya ketarekatan.

Hal ini sangat luar biasa, nampaknya Kyai Asrori sadar betul bahwa untuk membina jama‟ah, diperlukan sebuah wadah yang tepat.  Pesantren, adalah suatu lembaga, yang selama ini memang „identik‟ dengan tasawuf dengan tarekatnya. Melalui pesantren inilah, disinyalir ajaran tasawuf melalui tarekat berkembang pesat di Indonesia.

Menurut Alwi Shihab, pesantren merupakan penjabaran real system pendidikan dalam tasawuf. Oleh karena itu, melalui pesantren,  tasawuf maju pesat di Indonesia, sejak dahulu hingga kini. Pesantren menawarkan pengajaran ilmu-ilmu agama dan nilai-nilainya dari segala aspek, dengan pemusatan pada penerapan ilmu-ilmu dan nilai-nilai tersebut dengan mengharap ridha Allah SWT dan Rasul-Nya35

Lebih lanjut, peranan pesantren dalam memantapkan aqidah ahlu al-sunnah wa al-jama‟ah, melalui cara ribath sufi, mewajibkan murid ta‟at kepada syaikh dan menjadikannya suri tauladan untuk menuju kepada ridha Allah SWT, dengan jalan yang dirumuskan syaikh melalui wirid, dzikir, dan disiplin melaksanakan sunnah yang diajarkan oleh syaikh yang bersambung kepada sahabat dan Rasulullah saw., merupakan bukti konkrit bahwa semua aspek dalam tradisi pesantren bersumber dari tasawuf, khususnya tarekat.

Mungkin ada kaitannya dengan pengajaran dari gurunya terdahulu ketika belajar di Rejoso Jombang. Kyai Musta‟in Romli, yang juga seorang syeikh tarekat Qadiriya wa Naqsyabandiyah, telah membuka lembaga pendidikan, mulai dari tingkat dasar hingga ke perguruan tinggi, ternyata cukup berhasil dalam mengembangkan tarekat, bahkan menjadi pusat pendidikan umum yang bernafaskan Islam. Menurut Alwi Shihab, para pengamat sepakat bahwa keberadaan Darul Ulum – (di mana Kyai Asrori pernah belajar di sana, pen) – diharapkan dapat mewujudkan tujuan yang diinginkan sebagai benteng tarekat, pusat pendidikan, dan pengajaran di Indonesia.

Mengawali karir sebagai mursyid tarekat, dengan cara mendirikan pesantren, merupkan suatu langkah yang sangat tepat. Melalui pesantren, Kyai Asrori akan dapat mengembangkan ajaran tarekat yang menjadi misinya. System pesantren yang sejak dulu telah bersifat baku, yakni terpusat pada kyai, akan memudahkan Kyai Asrori dalam menerapkan system tarekat yang dianutnya. Nampaknya, perkembangan TQN sampai saat ini, salah satunya karena didukung oleh keberadaan pesantren yang didirikan oleh Kyai Asrori, yaitu pesantren Al-Fithrah.

Untuk mewujudkan misinya, pondok pesantren ini membuat kegiatan sendiri yang lain dari pada yang lain. Secara umum, kegiatan-kegiatan yang ada pada Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah digolongkan menjadi tiga, yaitu syiar, wadlifah dan tarbiyah. Syi‟ar, meliputi minggu manaqib awal, pengajian ahad kedua, haul, majlis dzikir dan maulidur Rasul SAW. Wadlifah Yaitu kegiatan yang bersifat berangkat (Suatu kegiatan yang berkaitan langsung dengan Allah SWT., Baginda Habibillah Rasulilah Muhammad saw Sulthanul Aulia‟ Syaikh Abdul Qodir al Jilany ra. dan Kyai Achmad Asrori al-Ishaqi dan berguna untuk menanamkan dan melatih tanggung jawab dan kejujuran hati kepada Allah SWT, Baginda Habibillah Rasulilah Muhammad saw., Sulthanul Aulia‟ Syaikh Abdul Qodir al -Jailany ra. dan Kyai Achmad Asrori al –Ishaqy.

Kegiatan Wadlifah ini tidak boleh dirubah oleh siapapun dan kapanpun (Majelis Lima Pilar) yaitu:

  1. Jama‟ah maktubah, Shalat sunah (qobliyah dan ba‟diyah, isyraq, dhuha, isti‟adah, tsubutil Iman, hajat dan tasbih);
  2. Aurad-Aurad yang telah di Tuntunkan dan dibimbingkan.
  3. Qiro‟atul Qur‟an Al Karim (dilakukan setelah tahlil subuh, diawal dengan al-Fatihah 3 kali, membaca al-Qur‟an dengan sendiri-sendiri satu juz ditutup dengan kalamun dan do‟a al-Qur‟an.
  4. Maulid (dilakukan : setiap malam jum‟at , diawali dengan Al-Fatihah 3 kali , kemudian membaca Ya Rabby , Inna Fatahna , Yaa Rasulallah, dengan dipandu oleh pembaca, kemudian membaca rawi mulai dari alHamdulillahi al Qowiyyil al Gholib dengan dibaca sendiri – sendiri sampai Fahtazzal Arsyu, lalu Fahtazzal Arsyu sampai Mahallul Qiyaam dibaca dengan dipandu oleh pembaca kemudian Wawulida dan rowi – rowi setelahnya dibaca dengan sendiri – sendiri sampai doa, kemudian membaca nasyid dengan diiringi dengan dzikir.
  5. Manaqib (dilakukan setiap malam ahad, diawali dengan al-Fatihah 3 kali , kemudian membaca manaqib sendiri – sendiri selama 20 menit lalu doa kemudian membaca Ibadallah, Yaa Arhamarrohimin dan nasyid sampai selesai kira – kira 10 – 15 menit .

Nampaknya, melalui kegiatan khusus lembaga pendidikan ini, dapat disimpulkan bahwa Kyai Asrori hendak menancapkan nilai-nilai akhlak al-karimah kepada para siswanya. Mungkin ia sadar, bahwa kemerosotan akhlak di kalangan pelajar, saat ini hampir mencapai puncaknya. Melalui lembaga pendidikan ini, ia ingin menciptakan generasi berakhlak mulia.

  1. Pilar III: Keorganisasian

Berdirinya organisasi (al-Khidmah), secara umum dilatarbelakangi oleh kenyataan bahwa demikian sulitnya mencetak generasi saleh yang dapat menyenangkan kedua orang tua, sahabat, tetangga, guruguru sampai Rasulullah saw. Selain itu masih banyak persoalan yang mendasar, sehingga mendesak didirikannya sebuah organisasi, yang juga dikemukakan sendiri oleh Kyai Asrori al-Ishaqi.

Organisasi itu, tidak langsung bernama tarekat, tapi dengan nama lain yang lebih bisa diterima oleh masyarakat awam. Oleh karenanya, didirikanlah al-Khidmah. Meskipun demikian, Kyai Asrori bukan orang yang buta masalah organisasi. Terbukti, melalui al-Khidmah, Kyai Asrori menetapkan sistem kepengurusan yang jelas dan aplikatif. Menejemen organisasi ditata sedemikian rupa, mengikuti sistem modern, yang jelas-jelas tidak terjadi dalam kepemimpinan tarekat. Akan tetapi, memang ada sedikit yang diselipkan mengenai sistem tarekat, misalnya kewenangan Imam Khususi. Hal ini terlihat dari struktur organisasi al-Khidmah yang minimal terdiri dari ketua, sekretaris, bendahara, koordinator dan seksi-seksi sesuai kebutuhan.

  1. Pilar IV: Keummatan

Sampai akhir hayatnya, Kyai Asrori belum sempat menunjuk salah seorang muridnya untuk menggantikan kedudukannya sebagai mursyid TQN. Tidak juga keluarganya, sebagai penerus estapet kepemimpinan tarekat sebagaimana lazimnya. Hal ini menarik, karena umumnya seorang mursyid telah mengangkat pengganti sebelum ia meninggal.

Ketua Pusat Thariqah, Abdur Rosyid, memaparkan tentang kethariqahan, menjelaskan bahwa: Pertama, pada pengajian Ahad ke-II tanggal 12 Rajab 1430 H / 5 Juli 2009, Kyai Asrori menyatakan tidak ada orang yang bisa menggantikannya sebagai guru mursyid penerus beliau.  Namun, ia menjelaskan tentang syarat-syarat menjadi mursyid, antara lain:

1) Mengetahui dan meyakini „Aqidah Ahl al-Sunnah Wa al-Jama‟ah dalam bidang Tauhid; 2) Mengetahui dan mengerti Allah (ma‟rifat billah); 3) Mengetahui hukum-hukum fardhu „ain; 4) Mengetahui dan mengerti adab-adab dalam hati, cara membersihkannya, menyempurnakannya, melirik dan melihat terhadap penyakit-penyakit jiwa; dan, 5) Telah diberi restu dan izin dari gurunya.

Selanjutnya, Kyai Asrori telah menetapkan imam khususi di masing-masing wilayah. Imam Khushushi adalah orang-orang yang telah ditunjuk oleh Hadlratus Syaikh Achmad Asrori Al-Ishaqi r.a. untuk menjadi imam Khushushy. Hanya murid thariqah yang telah ditunjuk oleh mursyid/guru thariqah-nya sajalah yang dapat dan diperbolehkan menjadi dan sebagai imam khushushi untuk/dari jama‟ah thariqah yang bersangkutan. Seorang imam Khushushi yang ditunjuk dan telah ditetapkan oleh seorang mursyid/guru thariqah, tidak diberi kekuasaan dan/atau kewenangan sama sekali, dan oleh karenanya, dia tidak diperbolehkan untuk menunjuk dan/atau mengangkat seseorang, atau orang lain sebagai pengganti dirinya dan/atau untuk mewakili dirinya selaku imam khushushy.

Tentang organisasi thariqah merujuk kepada buku Pedoman Kepemimpinan dan kepengurusan dalam kegiatan dan Amaliah alThariqah dan Al-Khidmah. Hadlratus Syaikh telah menetapkan kepengurusan jamaah yang terdiri dari kepengurusan Jama‟ah Thariqah, Pondok Pesantren Assalafi Al-Fithrah, Yayasan Al-Khidmah Indonesia dan Perkumpulan Jamaah Al-Khidmah.

Hadlratus Syaikh (K.H. Achmad Asrori) mewajibkan seluruh murid dan jama‟ah untuk tunduk dan taat kepada ketentuan yang telah ditentukan oleh pengurus. Hadlratus Syaikh telah menegaskan dalam majlis sowanan terakhir hari Ahad tanggal 19 Juli 2009 (27 Rajab 1430 H) ….bahwa ia tidak meridloi orang yang ingkar terhadap kepengurusan dan melarang seluruh murid dan jamaah untuk menghadiri majlis yang diadakan oleh orang tersebut (yaitu orang yang ingkar terhadap kepengurusan)”

Berdasarkan uraian-uraian di atas, maka jelaslah bahwa persoalan keummatan telah diserahkan oleh Kyai Asrori kepada para Imam Khususi.  Merekalah yang bertanggung jawab terhadap umatnya di wilayahnya masing-masing. Pertanyaannya kemudian adalah, bagaimana kelanjutan kekuasaan kepemimpinan TQN, sepeninggal Kyai Asrori? Apakah para imam khususi itu, sementara mereka tidak diberi kewenangan untuk mengangkat murid?

Nampaknya, Kyai Asrori mencoba membuat system baru dalam keorganisasian tarekat. System baru itu berbentuk sebuah organisasi modern yang memiliki struktur dan pembagian kerja, yang jelas-jelas kolektif – kolegial. Demokratisasi pun juga melekat dan system ini, dan akan sangat berbeda dengan system kepemimpinan tarekat sebelumnya.

Namun yang lebih menarik lagi, mursyid tarekat masih berpusat padanya. Dengan demikian, sampai kapan pun posisi tertinggi dari kepemimpinan TQN Usmaniyah, tetap akan mengacu kepadanya. TQN Usmaniyah akan terus berkembang melalui para Imam Khususi yang akan terus bertambah, mengikuti perkembangan jama‟ah al-Khidmah. Dari sini, persoalan keumatan (khususnya jama‟ah TQN) akan dapat terayomi dan terpelihara dengan baik.

  1. Pilar V: Kekeluargaan

Satu hal yang dipesankan Kyai Asrori berkenaan dengan keluarganya, yaitu tentang tempat pemakaman. Selain itu tidak ada yang dikhususkan bagi keluarga dan orang-orang terdekatnya. Sesuai dengan bunyi ketetapan lima pilar utama, bahwa yang dimaksud dengan keluarganya adalah Istri dan putra-putrinya. Akan tetapi, Kyai Asrori telah memberikan suatu pengertian yang sama sekali berbeda dengan yang pernah ada. Ketika berbicara tentang kekeluargaan, maka dapat ditelusuri melalui term „jama‟ah‟ dalam istilah “Jama‟ah al-Khidmah”. Term Jamaah, yang ditulis dengan ”J” (huruf besar) menunjuk kepada organisasi atau keluarga besar yang meliputi dewan penasehat, pengurus dan jama‟ah (dengan j huruf kecil). Sedang  jamaah dengan ”j” (huruf kecil) menunjuk pada anggota al-Khidmah, yang dikategorikan menjadi muridin, muhibbin.

Menurut Kyai Asrori sendiri, bahwa istilah Jamaah di sini merujuk kepada seluruh keluarga, sedang istilah yang merujuk pada aspek keorganisasiannya, merujuk kepada pengelolaan organisasi secara profesional. Sementara istilah al-Khidmah mengacu kepada pelayanan yang memang sangat ditekankan di dalam jamaah ini. Baik pelayanan dalam pengertian ruhaniah, maupun pelayanan dalam bentuk jasmaniah. Oleh karena itu, berdasarkan uraian di atas, jelas bahwa secara umum, jama‟ah al-Khidmah adalah keluarga besar Kyai Asrori. Meski ada perbedaan ”J” Besar dan ”j” Kecil. Secara kekeluargaan, tentu jama‟ah ini merupakan satu ikatan yang kuat dalam TQN Usmaniyah Kyai Asrori.

Demikian ketentuan lima pilar utama yang merupakan pemikiran kyai Asrori al-Ishaqy, yang sampai saat ini tetap dijadikan sebagai soko guru dalam menjalankan aktifitas oleh kelima pilar yang telah ditetapkan oleh Kyai Asrori. Kelima pilar tersebut adalah TQN Usmaniyah, Pesantren Al-Fithrah, Yayasan Al-Khidmah, Jama‟ah al-Khidmah, dan Keluarganya. @@@

Categories: KH. ASRORI BIN UTSMAN AL-ISHAQI | 5 Komentar

WIRID KWA MINGGU INI


WIRID KWA MINGGU INI

 

ALFATIHAH

 Bismillahirrohmanirrohim

 Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar

Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar

 Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar

Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar

 Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar

Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar

 Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar

Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar

 Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar

Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar

Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar

Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar

 Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar

Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar

Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar

Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar

Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar

Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar

 Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar

Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar

 Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar

Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar

 Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar

Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar

Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar

Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar

 Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar

Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar

 Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar

Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar

 Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar

Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar

 Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar

Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar

 Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar

Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar

 Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar

Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar

 Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar

Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar

 Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar

Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar

 Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar

Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar

Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar

Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar

Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar

Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar

 Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar

Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar

 Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar

Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar

 Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar

Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar

 Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar

Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar

==============

MAKNA DAN MANFAAT.

Ada kisah asmak Ya Jabbar Ya Qahhar terkait pembentukan NU. Syahdan, sejak Kiai Cholil menyerahkan “tongkat simbolik dukungan”  untuk mendirikan NU kepada kyai Hasyim Asyari, rupanya dirasa berjalan cukup lama. Setahun waktu berlalu sejak Kiai Cholil menyerahkan tongkat itu, jamiyyah yang diidam-idamkan tak kunjung lahir juga.

Tongkat “Musa” yang diberikan Kiai Cholil, masih tetap dipegang erat-erat oleh Kiai Hasyim. Tongkat itu tak kunjung dilemparkannya sehingga berwujud “sesuatu” yang nantinya bakal berguna bagi ummat Islam.

Sampai pada suatu hari, Kyai As’ad muncul lagi di kediaman Kiai Hasyim dengan membawa titipan khusus dari Kiai Cholil Bangkalan. “Kiai, saya diutus oleh Kiai Cholil untuk menyerahkan tasbih ini,” kata Kyai As’ad sambil menyerahkan tasbih. “Kiai juga diminta untuk mengamalkan bacaan Ya Jabbar Ya Qahhar setiap waktu,” tambah Kyai As’ad.

Di balik pemberian tasbih dan amalan bacaan dua Asmak Allah dari Kiai Cholil itu merupakan isyarat agar Kiai Hasyim lebih memantapkan hatinya untuk melaksanakan niatnya mendirikan jamiyyah. Sedangkan bacaan Asma Allah itu adalah doa agar niat mendirikan jamiyyah tidak terhalang oleh upaya orang-orang dzalim yang hendak menggagalkannya.

Qahhar dan Jabbar adalah dua Asma Allah yang memiliki arti hampir sama. Qahhar berarti Maha Memaksa (kehendaknya pasti terjadi, tidak bisa dihalangi oleh siapapun) dan Jabbar kurang lebih memiliki arti yang sama, tetapi adapula yang mengartikan Jabbar dengan Maha Perkasa (tidak bisa dihalangi/dikalahkan oleh siapapun). Dikalangan pesantren, dua Asma Allah ini biasanya dijadikan amalan agar memenangkan segala urusan/perkara, menjatuhkan wibawa, keberanian, dan kekuatan musuh yang bertindak sewenang-wenang.

Setelah menerima tasbih dan amalan itu, tekad Kiai Hasyim untuk mendirikan jamiyyah semakin mantap. Meski demikian, sampai Kiai Cholil meninggal pada 29 Ramadhan 1343 H (1925 M),jamiyyah yang diidamkan masih belum berdiri. Barulah setahun kemudian, pada 16 Rajab 1344 H, organisasi yang ditunggu-tunggu itu lahir dan diberi nama Nahdlatul Ulama (NU).

maka, KITA BUTUH KEMENANGAN-KEMENANGAN DALAM HIDUP KITA, KITA TERIAKKAN ALLAHU Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar!

@@

Categories: >>PERPUSTAKAAN UTAMA | 4 Komentar

KEKUATAN ITU ADA DI HATI DAN PIKIRANMU


SUATU MALAM NAN SUNYI DAN JAUH, SAAT LARUT DALAM DZIKIR “YA QOWIYYU YA MATIN” AKU BERTEMU MAKHLUK ALLAH DI SUATU TEMPAT.  TAK MENYIA-NYIAKAN KESEMPATAN YANG LANGKA ITU, AKU BERTANYA KEPADA PRIA YANG USIANYA LEBIH DARI 6000 TAHUN ITU.

(………..YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN………….)

HAMBA ALLAH SWT, JELASKAN KEPADAKU ARTI DARI ASMAK ALLAH YA QOWIYYU YA MATIN.

Pelajarilah sifat-sifat Allah khususnya sifat Qowi karena ini adalah salah satu sifat Ilahi yang artinya kuatnya intensitas kodrat dan kekuasaan. Mengingat bahwa seluruh hal tercipta dalam hubungannya dengan kodrat Ilahi, jelas bahwa tiada kekuataan yang menggungguli kekuatan dan Kekuasaan Allah SWT. Karena itu, segala sesuatu selain Allah adalah lemah. Silsilah kekuataan Tuhan tidak punya ujung pada satu titikdan tidak ada titik lemah pada diri-Nya.

Ketika seseorang mengalunkan dzikir dengan asmak YA QOWIYYU, maka itu artinya menghidupkan daya quwwah Allah dalam dirinya. Sifat Qawi yaitu inti dari quwwah artinya dahsyatnya sifat kekuatan-NYA sebagaimana yang bisa kau baca dalam  Al Quran: “Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi amat keras siksaan-Nya.”   “Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa.”  “Sesungguhnya Allah, Dia-lah Maha Pemberi Rezeki yang mempunyai kekuatan lagi sangat kukuh.”  Dzu al-quwwah merupakan salah satu nama Allah Swt dan juga bermakna qawi..

(………..YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN………….)

BIASANYA DZIKIR ASMAK YA QOWIYYU DIGABUNG DENGAN YA MATIN. APAKAH ARTI YA MATIN?

Matin juga merupakan salah satu nama Allah Swt yang bermakna kokoh yang tiada satu pun yang tidak dapat dilakukannya.  Ungkapan ini menujukkan pemberi rezeki hanyalah Allah dan Dia memberikan pemahaman bahwa dalam menyampaikan rezeki kepada para pemakan rezeki – berapa pun banyaknya –Allah Sang Pemberi Rezeki tidak akan pernah lemah.

Lafaz Quwwah terkadang digunakan bermakna kodrat sebagaimana disebutkan dalam al-Quran: “Peganglah teguh  apa yang telah Kami berikan kepadamu.”  Maka dapat disimpulkan bahwa  Quwwah adalah tingkatan paling dahsyat dari kekuataan dan kekokohan, entah itu kekuatan badan sebagaimana yang disebutkan dalam al-Quran, “Siapakah yang lebih besar kekuatannya daripada kami?” atau kekuatan mental sebagaimana pada ayat lainnya, “Hai Yahya, ambillah al-Kitab itu dengan kuat dan sungguh-sungguh.”  atau maksudnya adalah kekuatan-kekuatan penolong sebagiamana yang diharapkan oleh Nabi Luth yang berkata, “sekiranya ada kekuatan sehingga dapat mencegah perbuatan-perbuatan tercela pada pelaku kejahatan.“ Luth berkata, ‘Seandainya aku mempunyai kekuatan untuk menolakmu’ dan seperti ucapan para menteri Ratu Saba yang mendeskripsikan diri mereka “Kita adalah orang-orang yang memiliki kekuatan dan memiliki keberanian yang sangat dalam peperangan.”

(………..YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN………….)

Tuhan kita yang Mahabesar nan Maha Agung disebut Qowi karena ciptaan-Nya agung dan kukuh yang telah menciptakan bumi dan segala apa yang ada di dalamnya, gunung-gunung, laut-laut, pasir-pasir dan pepohonan serta apa yang diciptakan yaitu segala yang bergerak di dalamnya dari kalangan manusia dan hewan, Dialah yang menggerakkan angin, menahan awan-awan yang mengandung hujan yang berat dari air, matahari, bulan, dan kebesaran keduanya serta kebesaran cahayanya yang tidak dapat dilihat oleh mata biasa manusia dan tidak terbatas, dan bintang gemintang, planet-planet  berputaran dan langit yang mahaluas menggantung di atas kita dan bumi yang menjuntai dan segala yang dikandungnya dan segala yang diciptakan dengan demikian Dia disebut qowi, bukan dari apa yang kita kenal dari ciptaan-ciptaan, yang digenggam dan dicengkram kuat dan apabila kekuatan-Nya mirip dengan kekuatan ciptaan maka akan ada yang mirip dengan-Nya dan dan kemungkinan Tuhan itu banyak dan apabila banyak maka hal itu menunjukkan kekurangan dan apa yang kurang itu  tidak sempurna dan apa yang tidak sempurna itu tidak mampu dan tidak berdaya sementara Allah tidak ada yang serupa dengan-Nya dan sesungguhnya kita wajib berkata “Dia kuat bagi ciptaan yang kukuh dan demikian kita berkata, agung dan besar”.

(………..YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN………….)

 APAKAH CIRI KHAS  KEKUATAN DARI ALLAH SWT?

Kujelaskan ciri-ciri Kuat-Nya: Segala puji bagi Allah yang menguasai segala sesuatu dan kekuasaannya pada segala sesuatu dan berasal dari-Nya. “Ya Tuhanku! Engkau hidup tidak akan mati. engkau kuat dan tidak akan lemah, engkau tabah dan tidak tergesa-gesa.”

Tuhanku! Aku bermohon kepadamu.. dengan kekuatan-Mu yang dengannya Engkau taklukkan segala sesuatu dan segala sesuatu tunduk pada-Nya dan segala sesuatu tunduk di hadapan-Nya. Maka kuucapkan Allahu Akbar dalam adzan, artinya bahwa Allah Swt berkuasa atas segala sesuatu dan berkehendak atas segala sesuatu. Kekuasaan-Nya disebabkan oleh kekuatan-Nya dan sangat berkuasa atas ciptaan-ciptaan-Nya, berkuasa pada dzat-Nya. Kekuasaannya kokoh di atas segala sesuatu. Tatkala Engkau menginginkan sesuatu hanya berkata, KUN FAYAKUN.

SAYA ADA PERTANYAAN LAGI BUATMU, MOHON JAWABLAH: ALLAH MAHA PENCIPTA SEGALANYA,TAPI ADA SATU HAL YANG TIDAK INGIN ALLAH CIPTAKAN. APAKAH ITU?

Tuhan bersifat permanen dan sekali-kali tidak akan pernah terputus. Allah adalah dzat yang murni dan kesempurnaan. Dzat-Nya muncul karena cinta untuk dapat ber-tajalli. Maka Allah adalah identik dengan cinta dan mahabbah. Sesuatu yang paling dicintai di sisi Allah adalah memandang zat-Nya melalui hakekat-Nya. Dan kesempurnaannya tidak akan pernah tercapai kecuali Dia telah tampak pada setiap hal.

Karena itu, Allah Swt adalah Maha kuasa atas segala sesuatu, Maha pemurah, Maha penyayang dan sekali-kali tidak pernah bakhil terhadap  segala sesuatu yang memiliki potensi untuk berwujud, yaitu tidak mustahil secara akal. Makhuk yang memiliki potensi mewujud dan proses pewujudannya tidak mustahil secara esensial, maka dia akan menjadi sasaran kemurahan dan kemuliaan Tuhan dan pada gilirannya akan diciptakan oleh Allah melalui kasih sayangnya.

(………..YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN………….)

KENAPA ALLAH SWT MENCIPTAKAN WAKTU DAN APA HAKEKAT WAKTU ITU?

 Zaman atau waktu adalah jumlah yang bersambung yang berdiam pada satu benda melalui perantara gerak. Artinya zaman atau waktu itu adalah satuan gerak dan ruang lingkup geraknya pada alam materi. Karena itu apa yang Anda tanyakan apakah ada suatu waktu dimana hanya ada Allah di situ dan tiada satu pun yang ada? Sejatinya, Anda berasumsi tentang waktu sebelum adanya waktu; karena waktu itu merupakan sebuah ekstensi yang melintas yang terdapat pada setiap benda dan materi. Di samping itu, awal dan akhir waktu itu merupakan urusan waktu dan tiada satu pun halyang berada di atas ufuk waktu. Hubungan waktu, kini, dulu dan akan datang itu adalah sama bagi-Nya. Hal-hal lainnya yang sifatnya menyebar dalam satuan waktu akan berkumpul di hadapannya.

Sifat Allah Swt adalah identik dengan zat-Nya dan segala kesempurnaan perbuatan-Nya yang menjadi sumber perbuatan-perbuatan-Nya seperti kodrat, ilmu, hayat dan lain sebagainya tidak berbeda dengan zat-Nya. Demikian juga tujuan dan motif dalam memberikan limpahan dan sifat pemurah-Nya adalah ilmu-Nya sendiri pada sistem lebih sempurna yang identik dengan zat-Nya. Ilmu terhadap sistem yang lebih sempurna, mencakup sistem alam penciptaan; karena itu limpahan Tuhan senantiasa bersifat permanen.

Limpahan Tuhan itu bersifat permanen, abadi dan mutlak namun kemutlakan dan keabadian-Nya tidak bersifat esensial melainkan sebuah bayangan; artinya sebagaimana pada zat-Nya memerlukan Allah dalam sifat-Nya, dalam keabadian juga membutuhkan Allah. Pada kenyataannya kebutuhan terhadap-Nya bersifat mutlak dan abadi. Karena itu hal ini tidak berseberangan dengan keesaan Tuhan  bahkan penegas dan penyokong tauhid LA ILAHA ILALLAH.

(………..YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN………….)

HAMBA ALLAH YANG MULIA, JELASKAN KEPADAKU CARA MENGINDARI BENCANA?

Gempa bumi dan semisalnya merupakan bencana alam yang menyisakan banyak pengaruh dimana keseluruhannya sebenarnya mengandung kebaikan bagi umat manusia. Supaya masyarakat tidak lalai dan menjadi mengerti akan kelemahan dan ketidakberdayaannya serta supaya ia menjadi takut dan (dengan merasakan kelemahannya dan kekuatan Sang Pencipta) tidak lagi berbuat dosa dan kerusakan. Seluruh bencana dan penderitaan yang menimpa badan dan harta manusia adalah untuk urusan ini. Sejatinya bencana itu adalah demi kepentingan, kemaslahatan dan ketegaran manusia menghadapi semua ini. Sebagai ganti dari kehilangan yang ditimbulkan, di akhirat sedemikian cadangan disediakan untuknya sehingga tidak dapat dibandingkan dengan nikmat apa pun di dunia. Karena itu terkadang kebaikan dan kemaslahatan umum dan khusus yang terpendam di dalamnya sehingga turunnya bencana-bencana di dunia harus disegerakan.

Inti peristiwa di dunia merupakan hal yang pasti; satu dalil nyatanya adalah ayat-ayat al-Quran yang pada satu tempat menyebutkan:“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali ke jalan yang benar “Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi. Tetapi, mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.”

Menentukan secara akurat alasan terjadinya bencana secara akurat tidak mungkin dapat dilakukan oleh orang-orang biasa; melainkan hanya para wali Allah yang dapat menjelaskan kenapa sebab peristiwa itu terjadi. Sebab itu misteri Allah SWT. Yang jelas inti kejadian gempa bumi diperlukan bagi kelangsungan hidup planet bumi.

Manusia bisa menjauhi maksiat agar tidak terjadi bencana. Jauhi zina karena menyebarnya zina merupakan salah satu faktor terjadinya gempa bumi.  Ingatlah setelah menyebarnya empat hal akan muncul empat hal lainnya: Kapan saja zina menyebar maka gempa bumi juga akan terjadi. Kapan saja hukum tidak berdasarkan kebenaran dikeluarkan maka hujan tidak akan turun. Kapan saja perjanjian dengan orang-orang kafir yang hidup dalam tanggungan Islam dilanggar maka pemerintahan akan jatuh di tangan orang-orang musyrik dan memerintah atas kaum Muslim.  Kapan saja zakat tidak dikeluarkan maka kemiskinan akan merajalela.

(………..YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN………….)

Pada suatu ketika, masyarakat mengeluhkan banyaknya terjadi gempa bumi. Saya katakan “Janganlah pindah dari tempat itu. Berpuasalah pada hari Rabu, Kamis dan Jumat. Kemudian mandilah dan kenakan pakaian-pakaian bersih lalu keluarlah dari rumah kalian pada hari Jumat  dan berdoalah kepada Allah Swt maka pasti Allah akan menyelesaikan masalah itu. Alhamdulillah, gempa bumi tidak terjadi lagi. Barang siapa dari kalian yang melakukan dosa maka segeralah bertaubat dan memohonlah kebaikan.

Maka apakah gempa bumi itu maka jawabnya adalah ayat dan sebuah tanda. Ketika Allah ingin menguncangkan bumi maka Dia mewahyukan kepada malaikat itu untuk menggerakan pilar-pilar bumi (gunung-gunung). Kemudian malaikat berdasarkan perintah Allah menggerakannya kemudian bumi dan penduduknya pun terguncang.

Apa yang harus dilakukan jika terjadi bencana?  Saranku, kerjakanlah sholat Kusuf dan tatkala engkau telah selesai mengerjakan salat, sujudlah dan dalam sujudmu bacalah doa: “Wahai yang menahan langit dan bumi supaya tidak menyimpang dan sungguh jika keduanya menyimpang, tidak ada seorang pun yang dapat menahan keduanya selain Allah. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun. Jauhkanlah dari kami keburukan dan kejahatan sesunggurhnya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu”

(………..YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN………….)

***TERAKHIR***
INI ADA IJASAH RANGKAIAN DOA UNTUKMU, SEDULURKU.. KALAU ENGKAU MAU…. :

ALFATIHAH 1000  X

INNA QUWWATIH NAKABAN NATAH KITABAN NATAH 1 X – ASR Madura utara

YA QOWIYYU IRHAM DA’FI   1 x — Wahai Yang Mahakuasa kasihilah kelemahanku.

INNAMA AMRUHU IDZA ARODA SYAI’AN AYYAQULA LAHU KUN ….. (sebutkan hajat anda apa) FAYAKUN  1  x

ALHAMDULILLAHIROBBILALAMIN 1 x

Demikian apa yang bisa saya tuliskan dan  IJASAH SEMPURNA karena ALLAH Taala.

@KWA,2-0-1-6

Categories: >>PERPUSTAKAAN UTAMA | 53 Komentar

WIRID KWA MINGGU INI


ALFATIHAH UNTUK NABI MUHAMMAD SAW

YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN

YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN

YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN

YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN

YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN

YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN

YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN

YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN

YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN

YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN

YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN

YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN

YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN

YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN

YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN

@KWA,2016

Categories: YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN | 3 Komentar

Blog di WordPress.com. Tema Adventure Journal.