K.H. MUHAMMAD SYARWANI ABDAN BANGIL AL BANJARI : Sang Ahli Hikmah yang Rendah Hati


buru bangil kwaK.H Muhammad Syarwani Abdan Al-Banjari atau biasa dikenal Tuan Guru Bangil (lahir di Martapura, Kalimantan Selatan tahun 1915 – meninggal di Bangil, Pasuruan, Jawa Timur, 11 September 1989 pada umur 74 tahun) adalah seorang ulama yang dikenal di Kalimantan Selatan hingga Jawa Timur khususnya Bangil tempatnya mendirikan Pondok Pesantren Datu Kalampayan. Ia merupakan keturunan ke-6 Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari.

@ sumber:  alkisah no 03/9-22 Feb 2009

Setiap ahad ketiga bulan shafar terlihat pemandangan istimewa dikota Bangil,saat itu ribuan umat islam dari pulau Kalimantan,khususnya suku Banjar berbondong bondong menyeberangi lautan luas dan membanjiri kota kecil di Jawa Timur. Bukan hanya masyarakat biasa,bahkan para pembesarnya pun baik kalangan ulama maupun kalangan pejabat ada diantara mereka,tidak tanggung tanggung ketika hari itu tiba,dari mulai para Bupati di sejumlah daerah di Kalsel hingga orang nomor satu dipemda provinsi tersebut yaitu Gubernur Kalimantan selatan setiap tahunnya selalu menyempatkan diri turut mengunjungi Bangil kota Bordir

Tidak ketinggalan kaum muslimin pecinta ulama dan aulia diseluruh Indonesia bahkan banyak yang datang dari luar negeri turut larut pada hari itu meskipun mereka bukan dari etnis Banjar.barangkali fenomena kecintaan yang begitu besar hingga membuat ribuan orang dari satu pulau menyeberang lautan untuk ikut menghadiri haul tokoh putra daerahnya dipulau lain,hanya ada terhadap sosok Tuan Guru Bangil julukan bagi alm K.H M.Syarwani Abdan bin Haji Muhammad Abdan bin Haji Muhammad Yusuf bin Haji Muhammad Shalih Siam bin Haji Ahmad bin Haji Muhammad Thahir bin Haji Syamsuddin bin saidah binti Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari,

Beliau dilahirkan pada tahun 1334 H/1915 M dikampung Melayu Ilir Martapura. Sejak kecil ia memiliki semangat yang tinggi untuk belajar ilmu agama dan tekun belajar sehingga disayangi oleh para gurunya.  Ketika masih berdomisili di Martapura guru beliau adalah pamannya sendiri yaitu  KH.M.Kasyful Anwar ,Qadhi haji Muhammad Thaha, KH Ismail Khatib Dalam Pagar dan banyak lagi yang lainnya.

Pada usia masih muda beliau meninggalkan kampung halamannya Martapura menuju pulau Jawa dan bermukim di Bangil dengan maksud memperdalam ilmu agama kepada beberapa ulama dikota Bangil dan Pasuruan.  Di antara guru beliau adalah KH.Muhdhar (gondang Bangil), KH.Abu Hasan (Wetan Alun Bangil), KH.Bajuri (Bangil) dan KH.Ahmad Jufri (Pasuruan) orang tua beliau sendiri pada saat itu memang sudah lama berdiam di kota Bangil untuk berniaga.

Saat beliau berumur 16 tahun pamannya Syekh Muhammad Kasyful Anwar seorang alimul Allamah (seorang yang sangat luas dan mendalam ilmu agamanya)  hingga Tuan Guru Syekh Muhammad Zaini bin H.Abdul Ghani Al Banjari  (Abah Guru Sekumpul)  pernah menyebutnya sebagai seorang Mujaddid (pembaharu). Oleh pamannya, beliau di bawa pergi ke Tanah Suci Mekkah bersama saudara sepupunya yaitu Syekh Muhammad Sya’rani arif yang dikemudian hari juga dikenal sebagai seorang ulama besar di Martapura.

Ia dan sepupunya tersebut melanjutkan pelajaran ilmu agamanya dibawah bimbingan dan pengawasan langsung pamannya ini. Selama berada di Tanah Suci kedua pemuda ini dikenal sangat tekun mengisi waktu dengan menuntut ilmu ilmu agama. Keduanya benar benar mmanfaatkan waktunya dengan mendatangi majelis majelis ilmu para ulama besar Mekkah pada waktu itu,diantara guru guru beliau Sayyid Amin Kutby ,Sayyid Alwi Al-Maliki, Syeikh Umar Hamdan, Syeikh Muhammad al-araby,Sayyid Hasan Al-Masysyath,Syeikh Abdullah Al-Bukhari,Syeikh Saifullah Daghestani, Syeikh syafi’i asal Kedah,Syeikh Sulaiman asal Ambon,dan Syekh Ahyad asal Bogor.

Rupanya ketekunan belajar dua keponakan Syeikh Muhammad Kasyful Anwar ini diperhatikan oleh para guru-gurunya. Diceritakan, para gurunya itu sangat menyayangi keduanya, ketekunan dan kecerdasan mereka sangat menonjol hingga dalam beberapa tahun saja keduanya sudah dikenal di kota Mekkah hingga keduanya di juluki “dua Mutiara dari Banjar.” Tak mengherankan jika keduanya dibawah bimbingan Sayyid Muhammad Amin Kutby bahkan sempat mendapatkan kepercayaan mengajar selama beberapa tahun di Mesjidil Haram.

Selain mempelajari ilmu-ilmu syariat ia juga mengambil bai’at tarekat dari para masyayikh (guru) di sana, di antaranya bai’at Tarekat Naqsyabandiyah dari syekh umar Hamdan dan Tarekat Samaniyah dari Syeikh Ali bin Abdullah Al-Banjari. Setelah kurang lebih sepuluh tahun menuntut ilmu-ilmu agama di Makkah pada tahun 1939 bersama sepupunya iapun kembali pulang ke Indonesia dan langsung menuju tanah kelahirannya Martapura.

Beliau dikenal sebagai seorang yang hafal Al-qur’an dan di dalam dirinya terkumpul ilmu syariat tarekat hakikat dan ma’rifat namun demikian hal tersebut justru menjadikannya sebagai seorang alim yang semakin tawadhu’, Sepulang kepulangan beliau dari Mekkah ia menyelenggarakan mejelis ilmu di rumahnya. Beliau sempat juga mengajar di Madrasah Darussalam.

Suatu saat, ia diminta untuk menjadi seorang qadhi namun hal tersebut ditolak karena beliau lebih senang dakwah tanpa terikat dengan lembaga apapun. Tahun 1943 ia pergi ke kota Bangil dan membuka majelis untuk lingkungan sendiri hingga tahun 1944 dan sempat berguru pula dengan Syeikh Muhammad Mursydi Mesir.

Setahun di Bangil beliau lalu kembali lagi ke Martapura, kemudian pada tahun 1950 ia sekeluarga memutuskan untuk hijrah kekota Bangil, sewaktu menetap di Bangil kali inipun beliau tidak membuka majelis secara terbuka kecuali kalangan sendiri. Ia cendrung mempelajari dahulu keadaan lingkungan penduduk dikota tersebut,dikemudian hari sikapnya ini menjadikan dirinya sebagai sosok yang disegani oleh para ulama di Jawa Timur,

Namun demikian ia selalu berusaha menyembunyikan keunggulan yang dimilikinya pada akhirnya para ulama Bangil pun mengetahui keistemewaan pribadi ulama yang satu ini. Guru Bangil demikian Alm Abah Guru Sekumpul memanggil beliau dimanapun beliau tinggal senantiasa berada dalam keseharian yang sangat sederhana. Tak banyak yang tahu bahwa sekalipun telah menjadi tokoh besar,selain pakaiannya yang sederhana di kamar tidurnya pun ia tidak menggunakan ranjang ia juga tidak mempunyai lemari khusus untuk pakaiannya. Pakaian miliknya diletakkan menumpang pada bagian lemari kitabnya,

Ia mengambil jalan Khumul (menjauh dari keramaian) dan tak berharap akan kemasyuran, hingga kyai hamid pasuruan (seorang wali ditanah jawa) pernah mengatakan “saya ingin sekali seperti kyai syarwani. Dia itu alim tapi Mastur tidak Masyhur kalau saya ini sudah terlanjur Masyhur,jadi saya sering kerepotan karena harus menemui banyak orang.

Menjadi orang masyhur itu tidak mudah, bebannya berat, kalau Kyai Syarwani itu enak,jadinya tidak banyak didatangi orang. Suatu ketika sejumlah kiai berkumpul dan berinisiatif untuk mendalami ilmu agama dalam halaqah khusus kepada Kyai Hamid Pasuruan. Namun setelah hal tersebut disampaikan kepada kyai Hamid beliau menolak permintaan itu seraya menyarankan supaya mereka hendaknya mendatangi KH Syarwani Abdan.

Berdasarkan arahan Kyai Hamid merekapun mendatangi KH.Syarwani Abdan dan menyiapkan beberapa pertanyaan untuk sekdar mengetahui seberapa dalam ilmu dari KH Syarwani Abdan,ketika mereka datang. Guru Bangil sedang duduk sambil membaca sebuah kitab, diawal pembicaraan sebelum mereka sempat membuka pertanyaan yang telah mereka persiapkan,Guru Bangil mendahului bertanya kepada mereka.

“Antum ke sini ingin bertanya masalah ini dan itu ,kan?..ia menanyakan hal itu sambil menunjuk kitab yang masih terbuka tadi. Kontan hal ini membuat mereka takjub sekaligus kagum kepadanya tak cukup sampai disitu, Ternyata semua pertanyaan yang telah mereka persiapkan dengan tepat terjawab dalam halaman kitab yang masih terbuka di tangan beliau.

Setelah mengalami kejadian tersebut merekapun meyakini keluasan ilmu serta ketajaman batin Guru Bangil pada akhirnya mengertilah mereka mengapa Kyai Hamid pasuruan menganjurkan mereka agar mendatangi KH Syarwani Abdan,setelah yakin akan hal itu mereka akhirnya meminta kepada Guru Bangil untuk membuka majelis untuk mereka, Saat itu beliau tidak serta merta mengabulkan permintaan mereka tetapi terlebih dahulu menanyakan hal tersebut kepada KH Hamid.

Setelah KH Hamid memberi isyarat persetujuan barulah ia bersedia membuka majelis untuk para Kiai ini. Subhanallah kedua kiai besar yang tawadhu’ ini memang saling mencintai dan menghormati satu sama lain.

Kiai Hamid adalah ulama besar yang kharismatis dan menjadi tujuan kedatangan banyak orang karenanya tak jarang orang yang datang kesulitan menemui beliau. Tapi anehnya berdasarkan pengalaman orang orang yang pernah bertemu beliau, mereka akan mudah menemui Kiai Hamid bila sebelumnya orang tersebut menemui KH Syarwani Abdan. Tak jarang baru sampai di depan pintu, Kiai hamid sendiri yang membukakan pintu kepada para tamu. Entah Sirr (rahasia) apa yang didapat oleh para tamu Kiai  Syarwani Abdan, hingga kiai hamid selalu menyambut mereka dengan penuh suka cita padahal pada saat itu belum ada alat komunikasi seperti sekarang.

Akhirnya mulai banyak yang menimba ilmu kepadanya, Dan atas dasar dorongan para ulama serta rasa tanggung jawabnya untuk menyiarkan ilmu ilmu agama sebagai amanah Allah dan Rasulullah maka pada tahun 1970 ia memutuskan mendirikan pesantren yang ia beri nama PP Datuk Kalampayan nama yang diambil untuk mengambil berkah julukan datuknya yaitu Syekh Muhammad arsyad Al-Banjari, para santrinya banyak berasal dari Banjar hingga Pondok Pesantren itu sendiri sering disebut orang Pondok Banjar.

Di antara salah satu karangan beliau adalah risalah yang sangat terkenal yaitu Adz-Dzakhiratuts Tsaminah li-Ahlil Istiqamah (simpanan berharga) risalah yang berisi masalah Talqin, tahlil dan tawasul, Di samping tulisan tulisan itu beliau juga meninggalkan karya hidup yaitu murid murid beliau diantaranya adalah yang mulia Syekh Muhammad Zaini bin Abdul Ghani Al-Banjari dan melalui lisan beliaulah maka Syekh Muhammad Syarwani Abdan sering disebut Guru Bangil.

Kiai Abdurrahim,Kiai Abdul Mu’thi,Kiai Khairan(daerah Jawa), KH.Prof.Dr.Ahmad Syarwani Zuhri (Pimpinan PP.Syeikh Muhammad Arsyad al-Banjari Balikpapan), KH.Muhammad Syukri Unus (Pimpinan MT sabilal Anwar al-Mubarak Martapura), KH.Zaini Tarsyid (Pengasuh MT Salafus Shaleh Tunggul Irang seberang Martapura) yang juga menantu beliau, KH.Ibrahim bin KH.Muhammad Aini (Guru Ayan) Rantau, KH.AhmadBakeri (Pengasuh PP al-Mursyidul Amin Gambut), KH.Syafii Luqman Tulung Agung, KH.Abrar Dahlan (Pimpinan PP di Sampit Kalimantan Tengah). Safwan zuhri (Pimpinan PP sabilut Taqwa Handil 6 Muara Jawa Kutai Kertanegara) dan banyak lagi tokoh tokoh lainnya yang tersebar dipenjuru indonesia, Guru Sekumpul sendiri datang ke Bangil bersama paman beliau seorang ulama tersohor Syeikh Saman Mulia.

Lantaran menghormati sosok Guru Bangil bahkan Syeikh Saman Mulia menganggap Guru Bangil adalah Gurunya. Padahal Guru Bangil sendiri mengakui ketinggian maqam Syeikh Saman Mulia,dalam suatu kesempatan. Guru Bangil mengatakan  bahwa maqam Syeikh Saman Mulia sangat tinggi hingga nasi pun berdzikir di hadapan syeikh Saman.

Namun kebersahajaan hidup Guru Bangil membuat keluarga beliau sendiri tidak banyak mengetahui keistemewaan di balik kebesaran namanya, Mengomentari hal tersebut Guru Saman Mulia mengatakan kepada salah satu putra guru Bangil : kalau kita berdiri di dekat sebuah pohon, kadang kala kita tidak mengetahui tingginya pohon tersebut,tapi kita akan tahu tingginya pohon tersebut ketika kita memandangnya dari jauh.

Di usia senja, ketika berumur 76 tahun malam selasa jam 20.00 bertepatan 12 syafar 1410 H/11-12 september 1989 M di kediaman beliau di jalan Kauman bangil Jawa Timur roh nya yang suci kembali ke rahmatullah. Sementara tubuhnya dimakamkan di pemakaman keluarga dan para habaib berbangsa Al-Haddad di dekat makam habib Muhammad bin Ja’far Al-Haddad di Dawur Bangil kurang lebih 1 km dari kediaman beliau.

Berdasarkan wasiat tertulisnya putra tertuanya yang ia beri nama dengan nama gurunya Kasyful Anwar saat ini meneruskan kiprahnya dalam mengasuh Pondok Pesantren Datuk Kalampayan Bangil. Mudah mudahan rahmat Allah selalu tercurah buat beliau dan seluruh keluarganya.

@@@

Categories: >>PERPUSTAKAAN UTAMA | 8 Komentar

IJASAH SHOLAWAT HABIB SHOLEH TANGGUL JEMBER


ijasah habib sholeh KWA

 ======================================

“Allohumma sholi ‘alaa sayyidinaa Muhammadin sholaatan taghfiru bihaa dzunub watushlihu bihaal quluub watantholiqu bihaal ‘ushub wataliinu bihaa shu’ub wa ‘alaa aalihi wa shohbihi wa man ilaihi mansub.”

Sholawat ini ada yang menyebut sholawat mansub, ijasah dari dari Habib Sholeh bin Muhsin Al Hamid (Habib Sholeh Tanggul).
“Beliau berkata ; sholawat ini dibaca 3 atau 11 atau 41 kali dengan niat untuk memperoleh kemudahan dan terkabulnya semua hajat, insya Alloh akan mendapatkannya”.

=================================

MENGENAL PENGIJASAH HABIB SHOLEH BIN MUHSIN AL HAMID

KH soleh KWAUlama Karismatik yang berasal dari Hadramaut Yaman ini pertama kali melakukan da’wahnya ke Indonesia sekitar tahun 1921 M dan menetap di wilayah Tanggul, Jember Jawa Timur. Habib Sholeh lahir tahun 1313 H dikota Korbah, ayahnya bernama Muhsin bin Ahmad juga seorang tokoh Ulama dan Wali yang sangat di cintai masyarakat, Ibunya bernama Aisyah ba umar.

Sejak Kecil Habib sholeh gemar sekali menuntut ilmu , beliau banyak belajar dari ayahandanya yang memang seorang Ahli ilmu dan Tashauf, berkat gembelengan dan didikan dari ayahnya Habib sholeh memilki kegelisahan Batiniyah yang rindu akan Alloh SWT dan Rindunya Kepada Rosululloh SAW, akhirnya beliau melakukan Uzlah ( Mengasingkan diri) selama hampir 7 tahun. Sepanjang waktu selama beruzlah Habib Sholeh memperbanyak Baca al quran, Dzikir dan membaca Sholawat. Suatu ketika Habib Sholeh didatangi Ulama yang juga Wali Quthub Habib Abu bakar bin Muhammad Assegaf dari Gresik, Habib Sholeh diberi sorban hijau yang katanya sorban tersebut dari Rosululloh SAW.

Menurut Habib Abu Bakar Assegaf adalah suatu isyarat bahwa gelar wali Qhutub yang selama ini di sandang oleh habib Abubakar Assegaf akan diserahkan Kepada Habib Sholeh Bin Muhsin , Namun Habib sholeh Tanggul merasa bahwa dirinya merasa tidak pantas mendapat gelar Kehormatan tersebut. Sepanjang Hari habib Sholeh tanggul Menangis memohon kepada Alloh Swt agar mendapat Petunjuknya.

Dan suatu ketika habib Abyubakar Bin Muhammad assegaf gresik mengundang Habib sholeh tanggul untuk berkunjung kerumahnya , setelah tiba dirumah habib Abubakar Bin Muhammad assegaf menyuruh Habib Sholeh tanggul untuk melakukan Mandi disebuah kolam Milik Habib Abu bakar Assegaf , setelah mandi habib Sholeh tanggul di beri Ijazah dan dipakaikan Sorban kepadanya. Dan hal tersebut merupakan Isyarat Bahwa habib Abubakar Bin Muhammad Assegaf telah memberikan Amanat kepada Habib sholeh tanggul untuk melanjutkan Da’wak kepada masyrakat.

Habib Sholeh mulai melakukan berbagai aktifitas dakwahnya kepada Masyarakat, dengan menggelar berbagai Pengajian-pengajian . Kemahiran beliau dalam penyampaian dakwahnya kepada masyarakat membuat beliau sangat dicintai , dan Habib sholeh Mulai dikenal dikalangan Ulama dan habaib karena derajat keimuan serta kewaliaan yang beliau miliki. Habib sholeh tanggul sering mendapat Kunjungan dari berbagai tokoh ulama serta habaib baik sekedar untuk bersilahturahim ataupun untuk membahas berbagai masalah keaganmaan, bahkan para ulama serta habaib di tanah air selalu minta didoakan karena menurut mereka doa Habib sholeh tanggul selalu di kabulkan oleh alloh SWt, Pernah suatu ketika habib Sholeh tanggul berpergian dengan habib Ali Al habsy Kwitang dan Habib ali bungur dalam perjalanan Beliau melihat kerumunan Warga yang sedang melaksanakan sholat Istisqo’ ( Sholat minta hujan ) karena musim kemarau yang berkepanjangan , lalu Habib sholeh Memohon kepada alloh Untuk menurunkan Hujan maka seketika itupula hujan turun. Beliau berpesan kepada jama’ah Majlis ta’limnya apabila do’a-doa kita ingin dikabulkan oleh Alloh Swt jangan sekali-kali kita membuat alloh murka dengan melakukan Maksiyat, Muliakan orang tua mu dan beristiqomalah dalam melaksanakan sholat subuh berjama’ah.

Habib Sholeh berpulang kerahmatulloh pada tanggal 7 sawal 1396 h atau sekitar tahun 1976, hingga sekarang Karomah beliau yang tampak setelah beliau meninggal adalah bahwa maqom beliau tidak pernah sepi dari para jamaah yang datang dari berbagai daerah untuk berziarah. @@

Categories: IJASAH SHOLAWAT HABIB SHOLEH TANGGUL JEMBER | 30 Komentar

MENGENANG KYAI ACHMAD ASRORI AL ISHAQI: ANAK MACAN YANG AKHIRNYA JADI MACAN


KH. ASRORI BIN UTSMAN AL-ISHAQI  memang telah dipanggil Allah SWT pada 26 Sya’ban 1430 H./18 Agustus 2009 pukul 02:20 WIB di tempat mukimnya Kedinding Surabaya. Namun kepribadiannya yang istimewa meninggalkan banyak kenangan.

Pengetahuan agamanya dalam dan kharisma memancar dari sosoknya yang sederhana. Tutur katanya lembut namun seperti menerobos relung-relung di kedalaman hati pendengarnya. Menurut keluarga dekatnya, sewaktu muda Kiai Asrori telah menunjukkan keistimewaan-keistimewaan. Mondhoknya tak teratur. Ia belajar di Rejoso satu tahun, di Pare satu tahun, dan di Bendo satu tahun. Di Rejoso ia malah tidak aktif mengikuti kegiatan ngaji. Ketika hal itu dilaporkan kepada pimpinan pondok, Kiai Mustain Romli, ia seperti memaklumi, “biarkan saja, anak macan akhirnya jadi macan juga.” Meskipun belajarnya tidak tertib, yang sangat mengherankan, Kiai Asrori mampu membaca dan mengajarkan kitab Ihya’ Ulum al-Din karya Al-Ghazali dengan baik. Di kalangan pesantren, kepandaian luar biasa yang diperoleh seseorang tanpa melalui proses belajar yang wajar semacam itu sering disebut ilmu ladunni (ilmu yang diperoleh langsung dari Allah SWT). Adakah Kiai Asrori mendapatkan ilmu laduni sepenuhnya adalah rahasia Tuhan, wallahu a’lam. Ayahnya sendiri juga kagum atas kepintaran anaknya. Suatu ketika Kiai Utsman pernah berkata “seandainya saya bukan ayahnya, saya mau kok ngaji kepadanya.” Barangkali itulah yang mendasari Kiai Utsman akhirnya menunjuk Kiai Asrori (bukan kepada anak-anaknya yang lain yang lebih tua) sebagai penerus kemursyidan Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah pada usia 30 tahun.

Salah seorang penerus Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah (TQN) yang terkenal adalah Kyai Achmad Asrori al-Ishaqi, pendiri dan pengasuh pondok pesantren al-Fithrah Kedinding Surabaya, Jama‟ah pengajian al-Khidmah yang tersebar di berbagai pelosok  nusantara. Kyai Ahcmad Asrori  lahir di Surabaya, 17 Agustus 1957. Ahmad Asrori al-Ishaqi adalah putera Kyai Utsman al-Ishaqi, mursyid Thariqah Qadiriyah wa Naqsyabandiyah (TQN), ulama besar dari Surabaya. Achmad Asrori memiliki darah keturunan hingga Rasulullah saw, tepatnya keturunan yang ke 38, dari garis Husain bin Ali. Nama al-Ishaqi dinisbatkan kepada Maulana Ishaq (Sunan Giri), adik Maulana Malik Ibrahim, Walisongo yang dikenal sebagai Sunan Gresik.  

kh-asrori-KWASebelum lebih jauh mengenal Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah ini, terlebih dahulu harus diketahui mengenai Qadiriyah dan Naqsyabandiyah itu sendiri. Pada awalnya, tarekat ini berdiri sendiri-sendiri, yaitu tarekat Naqsyabandiyah dan tarekat Qadiriyah. Untuk itu, berikut ini sekilas tentang tarekat masing-masing:

QADIRIYAH: Tarekat ini adalah tarekat yang didirikan dan dibangsakan kepada Sayyid Abdul Qadir Jailani di negeri Baghdad. Beliau lahir pada tahun 470 H (1255) dan meninggal di tahun 561 H (1164). Jadi berusia 90 tahun. Penganut tarekat ini amat banyak dan pengaruhnya amat besar sampai ke Maroko dan tanah Hindustan. Tarekat Qadiriyah beredar di seputar ibadah dan suluk dengan tetap menyebut zikir yang berhubungan dengan nama Allah dengan kaifiat tertentu

Praktek ibadah tarekat ini tidak hanya merefleksikan kepercayaan kelompok itu sendiri tetapi juga pendirian sufi secara umum berdasarkan peranan dan keajaiban sang guru dari pengalaman mystik yang bermacam-macam. Prosedur keanggotaan berisi bai‟at dengan “berdzikir dalam ketaatan kepada syeikh dan syeikh menerima keanggotaannya sebagai seorang anak.

Tujuan utama tarekat ini – seperti pada umumnya tarekat tarekatialah menekan hawa nafsu yang menjadikan manusia jauh dari Tuhannya. Untuk itu, wirid berupa salat sunnah, zikir, dan do‟a senantiasa dipraktekkan sepanjang waktu. Seperti di waktu pagi, sore, siang dan malam

TAREKAT NAQSYABANDIYAH:  salah satu tarekat sufi yang paling luas penyebarannya, dan terdapat banyak di wilayah Muslim Asia serta Turki, Bosnia Herzegovina dan wilayah Dagestan Russia. Kata Naqsyabandiyah/Naqsyabandi/Naqshbandi berasal dari Bahasa Arab yakni Murakab Bina-i dua kalimah Naqsh dan Band yang berarti suatu ukiran yang terpateri, atau mungkin juga dari Bahasa Persia, atau diambil dari nama pendirinya yaitu Bahauddin Naqhband Bukhari.  Sebagian orang menerjemahkan kata tersebut sebagai “pembuat gambar”, “pembuat hiasan”. Sebagian lagi menerjemahkannya sebagai “Jalan Rantai”, atau “Rantai Emas”. Perlu dicatat pula bahwa dalam Tarekat Naqsyabandiyah, silsilah spiritualnya kepada Nabi Muhammad adalah melalui khalifah Abu Bakar, sementara kebanyakan tarekat-tarekat lain silsilahnya melalui khalifah Ali bin Abu Thalib.

Pendiri Tarekat ini adalah Muhammad Bahauddin Naqshband AlBukhari Al-Uwaisi Rahmatullah „alaih, dilahirkan pada bulan Muharram tahun 717 Hijrah bersamaan 1317 M, Yaitu pada abad ke 8 Hijriyah bersamaan dengan abad ke 14 Masehi, di sebuah perkampungan bernama Qasrul „Arifan dekat Bukhara. Ia menerima pendidikan awal Tariqat secara Zahir dari gurunya Hadhrat Sayyid Muhammad Baba As-Sammasi Rahmatullah „alaih dan seterusnya menerima rahasia-rahasia Tariqat dan

Khilafat dari Syeikhnya, Hadhrat Sayyid Amir Kullal Rahmatullah alaih. Ia menerima limpahan Faidhz dari Nabi Muhammad Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam melanjtkan Abdul Khaliq Al-Ghujduwani Rahmatullah alaih yang telah 200 tahun mendahuluinya secara Uwaisiyah Sesudah Abad kedelapan tumbuhlah tarekat laksana tumbuhnya cendawan. Ajaran tarekat itu berkembang dan diterima oleh para pemeluk  Islam di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Sekitar abad XVII M hingga XIX, para tokoh sufi di Indonesia mulai bermunculan. Tarekat-tarekat baru pun mulai muncul. Tarekat-tarekat ini merupakan penggabungan dari tarekat-tarekat pada abad VI H dan VII H, seperti  Syeikh Yusuf Makassari, yang memasukkan unsur-unsur dari Naqsabandiyah yang telah dipilihnya kedalam versi Khalwatiyyah-nya.

Kemudian gabungan tarekat Naqsabandiyah dengan tarekat Syattariyah pernah populer untuk sekian lama di Jawa pada abad XVII dan XVIII. Gabungan tarekat Qadiriyah dengan Naqsabandiyah pun telah diamalkan oleh beberapa syekh termasyhur. Dan juga Sammaniyah (penggabungan tarekat khalwatiyah dengan Qadiriyah, Naqsabandiyah dan Syadziliyah oleh Muhammad ibn „Abd al-Karim al-Samman.). Tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyah mungkin sekali didirikan oleh tokoh asal Indonesia, Ahmad Khatib ibn Abd Al-Ghaffar Sambas yang bermukim dan mengajar di Makkah pada pertengahan abad XIX17

Semasa hidupnya, Syekh Ahmad Khatib Sambas mengangkat banyak khalifah (wakil), namun posisi pewaris utamanya setelah beliau meninggal dipegang oleh Syekh Abdul Karim Banten. Selain Syekh Abdul Karim, dua wakil penting lainnya adalah Syekh Thalhah Kalisapu Cirebon, dan Syekh Ahmad Hasbullah Ibn Muhammad Madura. Pada awalnya semuanya mengakui otoritas Syekh Abdul Karim, namun setelah Syekh Abdul Karim meninggal, tidak ada lagi kepemimpinan pusat, dan karenanya TQN menjadi terbagi dengan otoritas sendiri-sendiri.

Syekh Thalhah mengembangkan kemursyidan sendiri di Jawa Barat. Penerusnya yang paling penting adalah Syekh Abdullah bin Muhammad Nur atau “Abah Sepuh” dari Suryalaya dan putranya yang kharismatik Syekh Ahmad Shahibul Wafa‟ Taj Al-Arifin. Khalifah lain di Jawa Barat adalah Kyai Falak, yang juga berasal dari Banten, yang mengembangkan TQN di daerah Pagentongan, Bogor Jawa Barat

Untuk daerah Jawa Tengah, penerus TQN yang penting adalah K.H. Muslih Adburrahman (Mbah Muslih), yang menerima ijazah TQN dari K.H. Ibrahim al-Brumbungi, seorang khalifah dari Syekh Abdul Karim, melalui Mbah Abd Rahman Menur. Salah satu murid Kyai Muslih, yakni Kyai Abu Nur Jazuli menyebarkan TQN di Brebes. Murid lainnya, K. H. Durri Nawawi mengajarkan TQN di Kajen, Pati .

AJARAN TASAWUF KYAI ASRORI

Sosok Kiyai Asrori sendiri selaku Mursyid Thariqah Qadiriyah Wan Naqsabandiyah Al Utsmaniyah (dinisbatkan kepada Kiai Utsman). Konon, almarhum KH. Utsman adalah salah satu murid kesayangan KH. Romli Tamim (ayah KH. Musta’in) Rejoso, Jombang, Jawa Timur. Beliau dibaiat sebagai mursyid bersama Kiyai Makki Karangkates Kediri dan Kiai Bahri asal Mojokerto. Kemudian sepeninggal Kiai Musta’in (sekitar tahun 1977), beliau mengadakan kegiatan sendiri di kediamannya Sawah Pulo Surabaya.

Maka, jadilah Sawah Pulo sebagai sentra aktifitas thariqah di kota metropolis di samping Rejoso sendiri dan Cukir Jombang. Sepeninggal Kiai Utsman, tongkat estafet kemursyidan kemudian diberikan kepada putranya, Kiai Minan, sebelum akhirnya ke Kiai Asrori (konon pengalihan tugas ini berdasarkan wasiat Kiai Utsman menjelang wafatnya). Di tangan Kiai Asrori inilah jama’ah yang hadir semakin membludak. Uniknya, sebelum memegang amanah itu, Kiai Asrori memilih membuka lahan baru, yakni di kawasan Kedinding Lor yang masih berupa tambak pada waktu itu.

Dakwahnya dimulai dengan membangun masjid, secara perlahan dari uang yang berhasil dikumpulkan, sedikit demi sedikit tanah milik warga di sekitarnya ia beli, sehingga kini luasnya mencapai 2,5 hektar lebih. Dikisahkan, ada seorang tamu asal Jakarta yang cukup ternama dan kaya raya bersedia membantu pembangunan masjid dan pembebasan lahan sekaligus, tapi Kiai Asrori mencegahnya. “Terima kasih, kasihan orang lain yang mau ikutan menyumbang, pahala itu jangan diambil sendiri, lebih baik dibagi-bagi”, ujarnya.

Kini, di atas lahan seluas 2,5 hektar itu Kiai Asrori mendirikan Pondok Pesantren Al Fithrah dengan ratusan santri putra putri dari berbagai pelosok tanah air. Untuk menampungnya, pihak pesantren mendirikan beberapa bangunan lantai dua untuk asrama putra, ruang belajar mengajar, penginapan tamu, rumah induk dan asrama putri (dalam proses pembangunan) serta bangunan masjid yang cukup besar.

Itulah Kiai Asrori, keberhasilannya boleh jadi karena kepribadiannya yang moderat namun ramah, di samping kapasitas keilmuan tentunya. Murid-muridnya yang telah menyatakan baiat ke Kiai Asrori tidak lagi terbatas kepada masyarakat awam yang telah berusia lanjut saja, akan tetapi telah menembus ke kalangan remaja, eksekutif, birokrat hingga para selebritis ternama. Jama’ahnya tidak lagi terbatas kepada para pecinta thariqah sejak awal, melainkan telah melebar ke komunitas yang pada mulanya justru asing dengan thariqah.

Walaupun tak banyak diliput media massa, namanya tak asing lagi bagi masyarakat thariqah. Namun demikian, sekalipun namanya selalu dielu-elukan banyak orang, dakwahnya sangat menyejukkan hati dan selalu dinanti, Kiai Asrori tetap bersahaja dan ramah, termasuk saat menerima tamu. Beliau adalah sosok yang tidak banyak menuntut pelayanan layaknya orang besar, bahkan terkadang ia sendiri yang menyajikan suguhan untuk tamu.

Tanda tanda menjadi panutan sudah nampak sejak masa mudanya. Masa mudanya dihabiskan untuk menuntut ilmu ke berbagai pondok pesantren di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Kala itu Kiai Asrori muda yang badannya kurus karena banyak tirakat dan berambut panjang memiliki geng bernama “orong-orong”, bermakna binatang yang keluarnya malam hari. Jama’ahnya rata-rata anak jalanan alias berandalan yang kemudian diajak mendekatkan diri kepada Allah lewat ibadah pada malam hari. Meski masih muda, Kiai Asrori adalah tokoh yang kharismatik dan disegani berbagai pihak, termasuk para pejabat dari kalangan sipil maupun militer.

Jika dirunut, Kiai Ahmad Asrori memiliki darah keturunan hingga Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam yang ke 38, yakni Ahmad Asrori putra Kiai Utsman Al Ishaqi. Namanya dinisbatkan pada Maulana Ishaq ayah Sunan Giri. Karena Kiai Utsman masih keturunan Sunan Giri. Kiai Utsman berputra 13 orang. Berikut silsilahnya :

Ahmad Asrori Al Ishaqi – Muhammad Utsman – Surati – Abdullah – Mbah Deso – Mbah Jarangan – Ki Ageng Mas – Ki Panembahan Bagus – Ki Ageng Pangeran Sedeng Rana – Panembahan Agung Sido Mergi – Pangeran Kawis Guo – Fadlullah Sido Sunan Prapen – Ali Sumodiro – Muhammad Ainul Yaqin Sunan Giri – Maulana Ishaq – Ibrahim Al Akbar – Ali Nurul Alam – Barokat Zainul Alam – Jamaluddin Al Akbar Al Husain – Ahmad Syah Jalalul Amri – Abdullah Khan – Abdul Malik – Alawi – Muhammad Shohib Mirbath – Ali Kholi’ Qasam – Alawi – Muhammad – Alawi – Ubaidillah – Ahmad Al Muhajir – Isa An Naqib Ar Rumi – Muhammad An Naqib – Ali Al Uraidli – Ja’far As Shodiq – Muhammad Al Baqir – Ali Zainal Abidin – Hussain Bin Ali – Ali Bin Abi Thalib / Fathimah Binti Rasulullah SAW.

yai asrori kwaKini, ulama yang sudah menghadap Alah SWT itu menjadi magnet tersendiri bagi kaum sufi-  ahli thariqah. Karena kesibukannya melakukan pembinaan jama’ah yang tersebar di seluruh pelosok tanah air hingga mancanegara. Kiai Rori menyediakan waktu khusus buat para tamu, yakni tiap hari Ahad. Sedangkan untuk pembaiatan, baik bagi jama’ah baru maupun lama dilakukan seminggu sekali. (ada tiga macam pembaiatan, yaitu Baiat Bihusnidzdzan, bagi tingkat pemula, Baiat Bilbarokah, tingkat menengah dan Baiat Bittarbiyah, tingkat tinggi).

Untuk menapaki level level itu, tiap jama’ah diwajibkan dzikir rutin yang harus diamalkan oleh murid yang sudah berbaiat berupa dzikir jahri (dengan lisan) sebanyak 160 kali dan dzikir khafi (dalam hati) sebanyak 1000 kali tiap usai sholat. Kemudian ada dzikir mingguan berupa khususi yang umumnya dilakukan jama’ah per wilayah seperti kecamatan.

Thariqah yang diajarkan Kiai Rori memang dirasakan berbeda dengan thariqah atau mursyid mursyid lainnya pada umumnya. Jika kebanyakan para mursyid setelah membaiat kepada murid baru, untuk amaliyah sehari-hari diserahkan kepada murid yang bersangkutan di tempat masing-masing untuk pengamalannya, tidak demikian dengan Kiai Rori. Beliau sebagai Mursyid Thariqah Qadiriyah Wan Naqsabandiyah Al Utsmaniyah memiliki tanggung jawab besar, yakni tidak sekedar membaiat kepada murid baru kemudian tugasnya selesai, akan tetapi beliau secara terus-menerus melakukan pembinaan secara rutin melalui majelis khususi mingguan, pengajian rutin bulanan setiap Ahad awal bulan hijriyah dan kunjungan rutin ke berbagai daerah.

Untuk membina jama’ah yang telah melakukan baiat, khususnya di wilayah Jawa Tengah, Kiai Rori telah menggunakan media elektronik yaitu Radio Siaran untuk penyebaran dakwahnya, sehingga murid muridnya tidak lagi akan merasa kehilangan kendali. Ada lima radio di Jawa Tengah yang dimilikinya setiap pagi, siang dan malam selalu memutar ulang dakwahnya Kiai Rori, yakni Radio Rasika FM dan “W” FM berada di Semarang, Radio Citra FM di Kendal, Radio Amarta FM di Pekalongan dan Radio Suara Tegal berada di Slawi.

Radio radio inilah setiap harinya mengumandangkan dakwahnya yang sangat khas dan disukai oleh banyak kalangan, meski mereka tidak atau belum berbaiat, bahkan ketemu saja belum pernah, toh tidak ada halangan baginya untuk menikmati suara merdu yang selalu mengumandang lewat istighotsah di awal dan tutup siaran radio. Kemudian juga dapat didengar lewat manaqib rutin mingguan dan bulanan serta acara-acara khusus seperti Haul Akbar di Kota Pekalongan beberapa waktu lalu disiarkan langsung oleh tiga radio ternama di Kota Pekalongan dan Batang.

Dalam setiap memberikan siraman rohani, Kiai Rori menggunakan rujukan Kitab Nashaihul Ibad karya Syekh Nawawi Al Bantani, Al Hikam karya Imam Ibnu Atha’illah dan lain lain. Selain pengajian yang lebih banyak mengupas soal tasawuf, Kiai Rori juga sering menyisipkan masalah fiqih sebagai materi penunjang. Seorang ulama asal Ploso Kediri Jawa Timur, KH. Nurul Huda pernah bertutur, sulit mencari ulama yang cara penyampaiannya sangat mudah dipahami oleh semua kalangan dan do’anya sanggup menggetarkan hati seperti Kiai Asrori. Hal senada diakui oleh KH. Abdul Ghofur seorang ulama asal Pekalongan, Kiai Asrori seorang figur yang belum ada tandingnya, baik ketokohannya maupun kedalaman ilmunya.

Sadar bahwa manusia tidak akan hidup di dunia selamanya, Kiai Asrori telah berfikir jauh ke depan untuk keberlangsungan pembinaan jama’ah yang sudah jutaan jumlahnya. Perkembangan jumlah murid cukup menggembirakan ini sekaligus mengundang kekawatiran. Apa pasal ? banyaknya murid yang berbaiat di Thariqah Qadiriyah wan Naqsabandiyah Al Utsmaniyah menunjukkan bahwa ajaran ini memiliki daya tarik tersendiri. Apalagi murid murid yang telah berbaiat terus dibina melalui berbagai majelis, sehingga amalan-amalan dari sang guru tetap terpelihara.

Di sisi lain banyaknya murid juga mengundang kekhawatiran sang guru. Karena mereka tidak terurus dan terorganisir dengan baik, sehingga pembinaannya pun kurang termonitor. Kondisi inilah yang mendorong beberapa murid senior memiliki gagasan untuk perlunya membentuk wadah di samping dorongan yang cukup kuat dari Kiyai Asrori sendiri, sehingga diharapkan dengan terbentuknya wadah bagi para murid-muridnya dapat lebih mudah melaksanakan amalan amalan dari gurunya.

Maka dibentuklah wadah bernama “Jama’ah Al Khidmah”. Organisasi ini resmi dideklarasikan tanggal 25 Desember 2005 kemarin di Semarang Jawa Tengah, dengan kegiatan utamanya ialah menyelenggarakan Majelis Dzikir, Majelis Khotmil Al Qur’an, Maulid dan Manaqib serta kirim do’a kepada orang tua dan guru-gurunya. Kemudian menyelenggarakan Majelis Sholat Malam, Majelis Taklim, Majelis Lamaran, Majelis Akad Nikah, Majelis Tingkepan, Majelis Memberi nama anak dan lain lain.

  1. Hasanuddin menjelaskan, organisasi ini sengaja dibentuk bukan karena latah apalagi berorientasi ke politik praktis, akan tetapi semata mata agar pembinaan jama’ah lebih terarah dan teratur. Siapapun bisa menjadi anggotanya, baik yang sudah baiat atau yang belum baiat. Seperti kegiatan kegiatan Haul Akbar di Kota Pekalongan tempo hari merupakan salah satu bukti bahwa kegiatan Jama’ah Al Khidmah banyak diminati oleh berbagai kalangan khususnya di wilayah Pekalongan dan sekitarnya.

Meskipun di wilayah ini belum banyak yang menyatakan baiat ke Kiai Asrori, ternyata magnet kiai yang berpenampilan kalem dan sederhana ini dapat menghadirkan puluhan ribu ummat Islam untuk duduk bersimpuh bersama-sama dengan para kiyai, ulama, habaib dan ratusan undangan lainnya untuk bersama-sama melakukan dzikir dan mendoa’akan istri Rasulullah Ummil Mukminin Sayyidatina Siti Khodijah Al Kubro yang kini telah mulai banyak dilupakan ummat Islam.

Acara ini memang tergolong khusus, pasalnya kegiatan Haul Sayyidatina Siti Khodijah tidak lazim dilaksanakan oleh ummat Islam. sehingga banyak yang tidak menyangka kegiatan ini akan mendapat perhatian yang cukup besar. Bahkan Habib Umar Bin Salim cucu Rasulullah SAW asal Hadramaut Yaman Yordania yang hadir dalam secara khusus di majelis dzikir itu mengatakan, sudah selayaknya ummat Islam mendoakan istri Rasulullah, karena beliau mempunyai peranan yang sangat penting dan banyak jasanya membantu Rasulullah dalam pengembangan ajaran Islam. ”Kami siap hadir setiap majelis ini digelar”, ujarnya usai acara.

GARIS BESAR PEMIKIRAN K.H. ACHMAD ASRORI AL-ISHAQY

K.H. Achmad Asrori al-Ishaqy adalah seorang mursyid Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah al-Ustmaniyah. Didaulat menjadi mursyid, ketika ia masih berusia 30 tahun. Usia yang tergolong sangat muda untuk dijadikan sebagai panutan umat. Akan tetapi, sebelum menjadi mursyid, ia telah memulai dakwahnya dengan cara mendirikan masjid dan mengelolanya di lingkungan tempat tinggalnya. Masjid inilah yang kemudian menjadi markas besar pengembangan tarekat yang dipimpinnya. Berawal dari masjid ini, pengembangan tarekat diusahakannya sedemikian rupa, hingga berdiri lembaga pendidikan, yayasan dan organisasi al-Khidmah. Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah Al-Ustmaniyah, terutama saat di bawah kepemimpinan K.H. Achmad Asrori, merupakan organsasi tarekat yang cukup pesat perkembangannya, di dalam dan luar negeri. Apalagi jika melihat perkembangan Jama‟ah Al-Khidmah yang didirikannya, tidak terbatas pada kaum tua, melainkan telah banyak diminati oleh generasi muda. Fenomena ini perlu dikaji lebih jauh, agar dapat diperoleh pemahaman yang bermakna .

Pemikiran tasawuf K.H. Achmad Asrori al-Ishaqy tidak terlalu jauh berbeda dengan para pendahulunya dalam rangkaian struktural Tarekat Qadiriyah wan Naqsyabandiyah. Hal ini ditandai dengan berbagai penjelasannya tentang maqamat dan ahwal, yang senantiasa mengikuti apa yang telah disampaikan oleh para ulama shufiyah, seperti al-Ghazali, al-Thusi, al-Sakandary, dan lainlain. Ini menunjukkan bahwa pemikiran tasawufnya, bercorak Sunni. Kedua, Melalui kajian tentang pola pengembangan tarekatnya, K.H. Achmad Asrori mengikuti pengembangan ala neosufisme. Hal ini ditandai oleh kecenderungannya dalam mengembangkan tarekat dengan cara-cara modern, rasional dan moderat, melalui Lima Pilar ajarannya.

Trend dunia saat ini memasuki era baru yang dinamakan era digital, segala sesuatu diukur dengan banyaknya frekuensi angka-angka, semakin banyak angka yang digunakan atau diperoleh, maka derajat manusia akan semakin berharga. Manusia di era ini tak ubahnya bagai robot-robot pencetak angka, yang bekerja siang dan malam untuk menghasilkan nominal, dengan digit yang terbatas yang dimiliki. Akibatnya, banyak sekali yang karena tidak kuat untuk mengikuti trend yang ada, maka terjadilah penyimpanganpenyimpangan perilaku dan sikap dalam hidupnya.

Menurut M. Amin Syukur, manusia sekarang ini, sebaiknya lebih mengedepankan akhlak sebagai ajaran mengenai moral, yang hendaknya diterapkan dalam kehidupan sehari-hari guna memperoleh kebahagiaan yang optimal. Ajaran-ajaran akhlak dalam tasawuf, terutama tasawuf akhlaki (perilaku baik), membimbing seseorang untuk memiliki akhlak dan sopan santun baik terhadap diri sendiri, orang lain maupun terhadap Tuhannya.

Ajaran tasawuf, dewasa ini lebih banyak dikenal dalam organisasi-organisasi tasawuf yang disebut dengan tarekat. Terutama di Indonesia, banyak sekali tarekat-tarekat yang termasyhur, di antaranya Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah (TQN). Tarekat yang dimunculkan oleh Syeikh Acmad Khatib Sambas ini, terus terkembang sedemikian rupa, hingga saat ini. Perkembangannya demikian pesat, nampaknya melebihi tarekat-tarekat lain yang ada di Nusantara.

Ajaran tasawuf K.H. Achmad Asrori al-Ishaqy, nampaknya sederhana dan mengena ke masyarakat. Ini terbukti dengan hadirnya ribuan jama‟ah, mana kala ia menyampaikan taushiyah. Meski jama‟ah ini juga merupakan bentukannya, namun tak dapat dipungkiri bahwa banyak di antara mereka hanya simpatisan, yang bukan merupakan anggota tarekat yang dipimpinnya, yang tertarik mengikuti kegiatan karena dorongan kebutuhan akan spiritualitas, dan sosok santun sang kiyai K.H. Achmad Asrori al-Ishaqy dalam ajaran tasawufnya, terlihat lebih menekankan adab. Menurutnya, “Adab adalah kunci pintu menuju Allah, jika tidak ada adab, maka kita tidak dapat memasuki pintu menuju Allah, dan kita tidak bisa sampai dan disampaikan bersimpuh di hadirat Allah SWT. Meski demikian, ajaran tasawuf Kyai Achmad Asrori al-Ishaqy, cenderung praktis. Ia memberikan bimbingan kepada para jama‟ah atau murid tarekat untuk menyelaraskan kehidupan duniawi dengan senantiasa ingat kepada Allah SWT melalui dzikir. Dzikir yang diajarkan adalah dzikir tauhid yang dapat menguatkan akidah dan keimanan seseorang, jiwa akan hidup dan akal akan selamat. Selain itu fisik akan selalu sehat, karena keimanan merupakan tulang yang mampu membawa manusia dari keputusasaan kepada semangat yang kuat dan dari kekacauan kepada ketenteraman. Seseorang yang beriman akan merasakan bahwa ketenteraman itu memenuhi ruang jiwanya

Di tengah berbagai krisis kehidupan yang serba materialis, sekular serta kehidupan yang sangat sulit secara ekonomi maupun psikologis, ajaran tasawuf Kyai Achmad Asrori al-Ishaqy dapat menjadi obat penawar ruhaniah.

Perkembangan tarekat yang satu ini, menarik untuk dibahas lebih lanjut, sebab di lapangan, banyak sekali upaya yang dilakukannya dalam pengembangan tarekat, agar dapat diterima oleh masyarakat di satu sisi, dan memenuhi kehausan masyarakat akan spiritualitas di sisi lain.

Tarekat yang dikomandoi oleh Kyai Achmad Asrori al-Ishaqy yang mengalami perkembangan cukup pesat dalam waktu yang relatif singkat (1978 – 2009), yang gerakannya nampak hampir ada di seluruh provinsi di Indonesia, bahkan sampai ke luar negeri, ini sungguh menarik. Bagaimana hal itu bisa terjadi?

Dimulai dari Kyai Mustain  Romli masuk Golkar menjelang pemilu 1977. Menarik untuk dicatat, bahwa KH. Achmad Asrori al-Ishaqy juga memiliki hubungan keguruan dengan Kyai Mustain Romli ini. Pemikiran KH. Achmad Asrori melalui ceramah-ceramahnya yang diputar di Radio Rasika FM. Lokus dari Radio Rasika FM ini mencakup Jawa Tengah, representasi pemikiran KH. Achmad Asrori al-Ishaqy yang diperuntukkan bagi jama‟ah al-Khidmah Jawa Tengah. Sebab, hampir menjadi kesepakatan umum, bahwa Radio Rasika FM ini menjadi sarana komunikasi dan informasi berkenaan dengan al-Khidmah yang ditujukan kepada para jama‟ah di tingkat Jawa Tengah. Namun demikian, ini telah menyinggung pemikiran tasawuf KH. Achmad Asrori al-Ishaqy.

Secara historis, pada tahun 1970-an, tarekat Qadariyah wa Naqsabandiyah merupakan tarekat yang paling berwibawa di Jawa Timur, termasuk Madura, dan mengalami perkembangan di berbagai wilayah di Indonesia, terutama di Pesantren Darul Ulum Rejoso Jombang yang didirikan oleh Kyai Tamim asal Madura, merupakan pusatnya. Tarekat ini diperkenalkan kepada menantu laki-lakinya, Kyai Khalil yang telah memperoleh ijazah dari dari Syekh Ahmad Hasbullah di Makkah. Kyai Khalil memberikan jubah kepemimpinannya kepada putra Kyai Tamim yaitu Kyai Romli Tamim, yang pada gilirannya digantikan oleh putranya, Kyai Mustain Romli .

Kyai Utsman al-Ishaqi Surabaya adalah khalifah senior Kyai Romli yang wafat pada tahun 1984. Sebelum wafat, beliau sudah menunjuk salah seorang putranya, Kyai Achmad Asrori al-Ishaqi, sebagai penggantinya sebagai mursyid dalam tarekatnya karena menurut beliau, Asrorilah yang pantas mengajar fiqh dan tasawuf. Sebetulnya Kyai Asrori al-Ishaqi sudah dilantik sebagai khalifah oleh ayahnya pada tahun 1978. Sejak wafatnya sang ayah, Kyai Achmad Asrori al-Ishaqi yang memimpin semua kegiatan, termasuk ketarekatan di Pesantren Sawahpulo Surabaya dan selanjutnya mendirikan pula Pesantren al-Fithrah di Kedinding Lor Surabaya. Seiring dengan jalannya waktu, jama‟ahnya semakin bertambah hingga ribuan orang, bahkan jutaan orang, karena tarekat ini merupakan tarekat fenomenal yang akan menjadi oase dunia karena terbukti perkembangannya yang begitu cepat, sudah sampai ke luar negeri, Singapore, Malaysia, Bruney Darusalam, Thailand, Arab Saudi dan Australia. Inilah tarekat Qadariyah wa Naqsabandiyah al-Utsmaniyah

Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah ini, pada awal abad XV H (saat ini) banyak dikenal oleh masyarakat melalui tangan halus K.H. Achmad Asrori al-Ishaqy. Tarekat ini populer melalui organisasi keagamaan yang bernama al-Khidmah, dan Pondok Pesantren al-Fithrah.

Hal yang menarik dalam ajaran Tarekat Qadariyah wa Naqsyabandiyah Utsmaniyah ini, termasuk ajaran tarekat K.H. Achmad Asrori al-Ishaqy, di mana mereka cenderung mengagungkan Rasulullah, para sahabat dan ahlul bait-nya, segala bentuk pemahaman maqamat dan ahwal, senantiasa dikaitkan dengan cinta rasul. Yang terpenting dan merupakan inti ajaran Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah adalah dzikir, yakni dzikir lisan dan dzikir qalbu. Dzikir lisan atau disebut juga dzikir nafi itsbat yaitu ucapan lâ ilâha illa Allah. Pada kalimat ini terdapat hal yang menafikan yang lain dari pada Allah dan mengitsbatkan Allah. Sedangkan dzikir qalbu yaitu dzikir yang tersembunyi di dalam hati, tanpa suara dan kata-kata. Dzikir ini hanya memenuhi qalbu dengan kesadaran yang sangat dekat dengan Allah, seirama dengan detak jantung serta mengikuti keluar masuknya nafas.

Sementara dzikir qalbu atau dzikir ismu dzat adalah dzikir kepada Allah dengan menyebut Allah, Allah, Allah secara sirr atau khafi (dalam hati) dzikir ini juga disebut dengan dzikir lathâif yang merupakan ciri khas Tarekat Naqsyabandiyah.

umum, semua ajaran Kyai Achmad Asrori al-Ishaqi, dalam hal praktek ketarekatan, telah tersusun melalui 5 (lima) pilar utama yang telah ditetapkan sebagai soko guru, tuntunan, bimbingan dan wasiatnya sebagai mursyid tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah Utsmaniyah. Berdasarkan lima pilar utama tersebut, dapat ditelusuri mengenai apa dan bagaimana pemikiran Kyai Achmad Asrori al-Ishaqy dalam mengembangkan TQN. Lima pilar yang dimaksud adalah: Pertama, hal yang berkenaan dengan alThariqah; Kedua, hal yang berkenaan dengan Pondok Pesantren Assalafi AlFithrah; Ketiga, hal yang berkenaan dengan Yayasan Al-Khidmah Indonesia; Keempat, hal yang berkenaan dengan Perkumpulan Jama‟ah Al-Khidmah; dan, Kelima, hal yang berkenaan dengan Keluarga Hadlratus Syaikh Achmad Asrori Al-Ishaqi RA, yaitu istri serta putra-putri keturunannya.

Lima pilar yang disebutkan di atas, merupakan pokok ajaran dan tuntunan serta bimbingan yang harus dijadikan sebagai pedoman bagi para pengikutnya. Sebab, Jamaah Thariqah al-Qadiriyyah Wa alNaqsyabandiyyah,Pondok Pesantren Assalafi Al-Fithrah, Yayasan AlKhidmah Indonesia, Perkumpulan Jama‟ah Al-Khidmah dan Keluarga dihimpun dalam satu wadah tersebut. Diberikannya pedoman Lima Pilar Utama ini, memiliki maksud dan tujuan sebagai sokoguru tuntunan dan bimbingan Hadlratus Syaikh agar dijadikan dasar dan pegangan serta pedoman dan landasan yang kuat, bagi dan oleh setiap dan segenap murid TQN serta jamaahnya di dalam ber-khidmah.

Adapun pokok-pokok pikiran yang merupakan pemikiran Kyai Achmad Asrori al-Ishaqy, antara lain: ketarekatan, kependidikan, keorganisasian, keummatan, dan kekeluargaan. Masing-masing pokok pikiran tersebut akan diuraikan sebagai berikut:

Pilar I : Ketarekatan

Kyai Achmad Asrori al-Ishaqy memahami, bahwa masih banyak orang yang anti terhadap tarekat. Hal ini disebabkan oleh berbagai faktor, di antaranya terjadi kesalahpahaman dalam memaknai tarekat. Kesalahpahaman itu antara lain, masih banyak yang memandang bahwa amalan-amalan tarekat sangat ketat dan berat, sehingga diperlukan waktu yang cukup untuk mengamalkannya. Kemudian,untuk memasuki tarekat, seseorang haruslah memiliki tingkat kesucian lahiriah dan batiniah tertentu.

Padahal, menurut Kyai Asrori, akan terjadi dampak negatif yang luar biasa dalam umat Islam, jika mereka enggan memasuki tarekat. Dampak negatif itu antara lain: Pertama, merosotnya penghayatan keagamaan, akibat makin meningkatnya semangat sektarianisme dan formalisme. Kedua, melemahnya dimensi spiritualisme akibat pendewaan terhahadap rasionalisme, positivisme dan ilmu pengetahuan. Ketiga, melemahnya kesalehan sosial akibat melemahnya semangat saling menghargai, saling menyayangi dan saling menolong antar sesama manusia. Oleh karena itu, diperlukan institusi yang khusus menangani masalah spiritualitas. Dalam hal ini, tarekatlah yang lebih membidangi persoalan ini.

Bila dibandingkan dengan alasan-asalan yang dikemukakan oleh para cendekiawan berkenaan dengan urgensi spiritualitas pada umumnya dan sufisme serta tarekat pada khususnya, maka tampak sekali ada kesamaan. Bahwa di samping memberi kemudahan bagi manusia, manusia juga terasing dari dimensi spiritualitasnya. Ketika manusia melepaskan diri dari koneksi spiritualitas, maka ia akan seperti layang-layang yang putus dari benangnya, tidak menyangkut ke langit dan tidak pula ke bumi. Kondisi masyarakat modern berada pada tepi eksistensi yang sesungguhnya, bukan pada pusat eksistensi, oleh karena itu menimbulkan kegelisahan-kegelisahan yang berasal dari dirinya sendiri.

Sebab-sebab kegelisahan itu dapat diklasifikasi menjadi empat macam, yaitu: Pertama, karena takut kehilangan apa yang dimiliki; Kedua, timbulnya rasa khawatir terhadap masa depan yang tidak disukai (trauma akibat imajinasi masa depan); Ketiga, rasa kecewa terhadap hasil kerja yang tidak mampu memenuhi harapan dan kepuasan; dan, Keempat, banyak melakukan pelanggaran dan dosa. Karena itu wajar bila kehidupan modern sekarang ini tampil dengan wajah antagonistik. Di satu pihak modernisme telah mendatangkan kemajuan spektakuler dalam bidang material. Tetapi di lain pihak modernisme menghasilkan wajah kemanusiaan yang buram, seperti terlihat pada akibat-akibat kemanusiaan yang ditimbulkannya. Beberapa akibat tersebut antara lain, manusia modern semakin tidak mengenal dan terasing dari dirinya sendiri dan Tuhannya setelah mengalami kehidupan yang sedemikian mekanistik; munculnya kegelisahan dan kegersangan batiniah dan krisis tentang makna dan tujuan hidup.

Dengan demikian, mendesak bagi tiap individu untuk menemukan dirinya secara utuh, mulai dari dimensi fisik, mental dan spiritual. Tapi mereka tidak memiliki keberanian yang cukup untuk memasuki tarekat, karena sejumlah alasan yang telah disebutkan di atas. Maka berdirinya Jama‟ah al-Khidmah ini dapat menjadi salah satu jawabannya. Secara umum, jamaah ini bertujuan untuk mewadahi mereka yang belum siap secara mental dan spiritual untuk masuk ke dalam tarekat, tetapi sangat membutuhkan dzikir-dzikir dengan bimbingan orang-orang yang memiliki genealogi spiritual yang jelas.

Baik alasan-alasan yang dikemukakan oleh Kyai Asrori maupun para cendekiawan pada umumnya berkenaan dengan urgensi sufisme dan tarekat di era modern ini, sama-sama bertumpu pada sisi negative kemanusiaan. Dengan kata lain, sufisme dan tarekat dibutuhkan pada saat manusia kehilangan salah satu dimensi kemanusiaannya. Sehingga dapat disimpulkan, bahwa ketika manusia mampu menemukan dirinya secara utuh, maka sufisme dan tarekat tidak dibutuhkan. Kesimpulan ini ada benarnya. Sehingga beberapa orang menganggap bahwa sufisme dan apalagi tarekat tidak diperlukan. Namun demikian, akan lebih tepat kiranya bila dinyatakan bahwa sufisme dan tarekat diperlukan dalam kondisi apapun, baik dalam kondisi senang maupun susah, dalam kondisi utuh maupun tidak utuh. Sebab sufisme dan tarekat, dalam arti spiritualismenya, merupakan bagian tak terpisahkan dari keberadaan manusia, agar manusia dalam kondisi tertentu akan tampak tingkatan-tingkatan ruhaniahnya, yang disebut ”maqamat”, sedang hasil yang dicapai karena karunia Allah disebut ”ahwal”.

Menurut K.H. Achmad Asrori, hati yang baik dan bagus (Jawa, genah) merupakan kemaslahatan yang agung. Sedangkan hati yang rusak (bobrok) merupakan kerusakan yang sangat dahsyat. Sehingga mengetahui hal-hal yang menjadikan hati baik dan bagus merupakan keharusan yang harus dicari. Demikian juga mengetahui halhal yang menyebabkan rusak dan bobroknya hati, agar dijauhi. Hal-hal yang menjadikan hati baik dan bagus itu ada tiga tahapan: Pertama, ilmu, yakni mengetahui dan mengerti Allah, sifat-sifat Allah dan asma-asma Allah, membenarkan semua yang dibawa oleh para rasul, desertai dengan mengetahui hukum-hukum dan pengertiannya, mengetahui gerak-gerik tujuan dan maksud hati, serta prilaku yang terpuji dan prilaku yang tercela. Kedua, amal perbuatan yakni menghiasi hati dengan prilaku yang terpuji, membersihkannya dari prilaku yang tercela, mendudukkan hati pada maqam pendakian dan meningkatkannya menuju pendakian yang lebih utama. Ketiga, prilaku batin (ahwal) yakni merasa diawasi oleh Allah atau menyaksikan Allah sesuai dengan kadar kesiapan dan persiapannya. Sebagaimana dalam penjabaran sabda rasulullah saw ”Menyembah Allah seakan-akan engkau melihatnya”.

Modal utama dalam kebaikan dan kebagusan hati adalah memperhatikan makanan yang halal dan menjauhi hal-hal yang syubhat, karena makanan yang haram dan syubhat akan mengakibatkan hati menjadi gelap, keras dan sikap tidak mudah menerima kebenaran.

Dalam al-Maqshadul Asna fi Syarhi Asmail Husna (al-Ghazali) dari hadits Nabi: ”Berahklaklah dengan akhlak-akhlak Allah”, dan “Sesungguhnya Allah memiliki 117 (seratus tujuh belas) akhlak, barang siapa berbudi dengan salah satunya, maka ia akan masuk surga” juga dapat diartikan: Wujudnya maqam baqa‟ setelah maqam fana‟, sehingga sifat-sifat seorang hamba akan lebur dan terlipat, sebab adanya tajalliyyat (penampakan) sifat-sifat ketuhanan kepadanya. Sehingga dapat di simpulkan bahwa fana‟ itu ada tiga, yaitu: sirna, semua perbuatannya sebab perbuatan-perbuatan Allah, sirna, semua sifatnya sebab sifat-sifat Allah, dan sirna, dzatnya sebab Dzat Allah. Oleh karena itu, ketika kecintaan dan kedekatan hamba kepada Allah telah menyirnakannya dari dirinya, maka Allah akan mendudukkannya pada maqam baqa‟. Fana‟ adalah jalan untuk menuju baqa‟.

Barang siapa sempurna maqam fana‟nya, maka sempurnalah maqam baqa‟nya. Dan barang siapa sirna dari selain Allah, maka baqa‟nya hanya dengan Allah Fana‟ menjadikan mereka diampuni, sedangkan baqa‟ menjadikan mereka mendapat pertolongan. Fana‟ dapat menghadirkan apapun bersama Allah, maka mereka tidak akan pernah putus oleh sebab apapun.  Fana‟ dapat mematikan mereka, sedangkan baqa‟ dapat menghidupkan mereka.

Masih berhubungan dengan fana‟ adalah rabithah, merupakan istilah dari ikatan dan jalinan ruhani seorang salik dengan gurunya, dengan selalu menjaga dan menghadirkan guru mursyidnya dalam hatinya, atau dengan membayangkan suatu sosok bahwa ia adalah guru mursyidnya. Ketika rabithah sudah mewarnai seorang salik, maka ia akan dapat melihat guru mursyidnya pada segala sesuatu. Hanya berdzikir saja tanpa disertai dengan rabithah (membayangkan wajah guru ketika berdzikir) dan tanpa disertai dengan fana‟ pada guru mursyid tidak akan pernah mendekatkan, menghantarkan dan menyampaikan salik di sisi Allah SWT. Adapun rabithah yang  disertai dengan adab-adab, karena adab adalah kunci pintu menuju Allah, jika tidak ada adab, maka tidak adapat memasuki pintu menuju Allah, dan tidak bisa sampai dan disampaikan bersimpuh di hadirat Allah SWT

Tingkatan (maqomat) menurut Kyai Asrori,  ada empat macam yang harus dilakukan oleh seorang salik untuk menuju maqamat di atas, yaitu maqam cinta dan rindu terlebih dahulu. Untuk bisa sampai ke kedua maqam ini, si salik harus memenuhi syarat-syarat berikut:

  1. Seseorang salik yang ingin mengenal, melihat dan bersimpuh di hadapan Allah hendaknya bisa menjalankan prilaku tirakat, mengurangi makan (taqlilu al-tha‟am), menjalankan ibadah baik waktu siang maupun malam, seperti shalat hajad, shalat tahajud, dan shalat sunnah lainnya.
  2. Seorang salik hendaknya mampu menjalankan, menghurangi tidur memperbanyak ibadah baik siang maupun malam hari (taqlilu almanam), menjalankan ibadah baik waktu siang maupun malam, seperti shalat hajad, shalat tahajud, dan shalat sunnah lainnya.
  3. Seorang salik harus mampu mengurangi, menghindari masalah keduawian (i‟tizal al-anam) memperbanyak ibadah, tidak silau dengan keadaan, pernik keindahan, permasalahan kebutuhan dunia, kecuali hanya sekedarnya bisa hidup, dan menghidupi.
  4. Seorang salik hendaknya senang berkorban dalam mengarungi bahtera hidupnya dengan menghiasi dirinya dengan mahabbah, taqarrub, kumpul dengan orang-orang shaleh (wa shahbatu ahli al-kamal). kumpul dapat di artikan, seperti kumpul dalam majelis dzikir, yasin, tahlil, shalawat, manaqib, maulid al- rasul, bahkan majelis kirim doa (dalam bahasa jawa, kirim dongo, andum dongo) kepada Rasulullah, sahabat-sahabatnya, para auliya‟ dan ulama‟ salafus shaleh, kepada guru-guru, kepada saudara-saudara, teman-teman, baik teman bermain (masa kecil), teman-teman kerja, dan teman-teman sekarang, kepada tetangga, dan kirim doa kepada keluarga sendiri.

Dengan demikian, sesungguhnya K.H. Achmad Asrori al-Ishaqy, hendak menunjukkan bahwa tidak ada yang negatif dari perilaku tarekat, sebaliknya justru merupakan sesuatu yang sangat urgent dalam kehidupan modern saat ini. Namun bagaimanapun juga, karena ketakutan dan kesalahpahaman terhadap keberadaan tarekat itu sudah demikian mengakar, maka diperlukan strategi yang tepat untuk mengatasinya. Salah satunya, apa yang dilakukan oleh Kyai Asrori, yakni dengan mendirikan organisasi keagamaan al-Khidmah, yang didukung pula dengan lembaga pendidikan formal dan non-formal, seperti al-Fithrah.

Pilar II: Kependidikan

Kyai Achmad Asrori al-Ishaqy, menjadi mursyid TQN, ketika ia baru berusia 30 tahun. Ia ditunjuk langsung oleh ayahnya, Kyai Usman alIshaqy, dengan wasiat sebelum wafat. Sebelumnya, tonggak kepemimpinan TQN dipegang oleh Kyai Minan, kakak Kyai Asrori, namun setahun kemudian diserahkan kepadanya. Tidak diketahui secara pasti menganai penyerahan ini. Sebagai pemimpin yang baik, Kyai Asrori ternyata tidak main-main dalam menjalankan amanah. Sebelum menjadi mursyid, ia telah membuat sebuah gerakan spektakuler, yaitu mendirikan pondok pesantren, yang bermula dari jama‟ah kecil di masjid dekat rumahnya. Kemudian, setelah pesantren berdiri, ia melanjutkan program pembinaannya, sesuai dengan gaya ketarekatan.

Hal ini sangat luar biasa, nampaknya Kyai Asrori sadar betul bahwa untuk membina jama‟ah, diperlukan sebuah wadah yang tepat.  Pesantren, adalah suatu lembaga, yang selama ini memang „identik‟ dengan tasawuf dengan tarekatnya. Melalui pesantren inilah, disinyalir ajaran tasawuf melalui tarekat berkembang pesat di Indonesia.

Menurut Alwi Shihab, pesantren merupakan penjabaran real system pendidikan dalam tasawuf. Oleh karena itu, melalui pesantren,  tasawuf maju pesat di Indonesia, sejak dahulu hingga kini. Pesantren menawarkan pengajaran ilmu-ilmu agama dan nilai-nilainya dari segala aspek, dengan pemusatan pada penerapan ilmu-ilmu dan nilai-nilai tersebut dengan mengharap ridha Allah SWT dan Rasul-Nya35

Lebih lanjut, peranan pesantren dalam memantapkan aqidah ahlu al-sunnah wa al-jama‟ah, melalui cara ribath sufi, mewajibkan murid ta‟at kepada syaikh dan menjadikannya suri tauladan untuk menuju kepada ridha Allah SWT, dengan jalan yang dirumuskan syaikh melalui wirid, dzikir, dan disiplin melaksanakan sunnah yang diajarkan oleh syaikh yang bersambung kepada sahabat dan Rasulullah saw., merupakan bukti konkrit bahwa semua aspek dalam tradisi pesantren bersumber dari tasawuf, khususnya tarekat.

Mungkin ada kaitannya dengan pengajaran dari gurunya terdahulu ketika belajar di Rejoso Jombang. Kyai Musta‟in Romli, yang juga seorang syeikh tarekat Qadiriya wa Naqsyabandiyah, telah membuka lembaga pendidikan, mulai dari tingkat dasar hingga ke perguruan tinggi, ternyata cukup berhasil dalam mengembangkan tarekat, bahkan menjadi pusat pendidikan umum yang bernafaskan Islam. Menurut Alwi Shihab, para pengamat sepakat bahwa keberadaan Darul Ulum – (di mana Kyai Asrori pernah belajar di sana, pen) – diharapkan dapat mewujudkan tujuan yang diinginkan sebagai benteng tarekat, pusat pendidikan, dan pengajaran di Indonesia.

Mengawali karir sebagai mursyid tarekat, dengan cara mendirikan pesantren, merupkan suatu langkah yang sangat tepat. Melalui pesantren, Kyai Asrori akan dapat mengembangkan ajaran tarekat yang menjadi misinya. System pesantren yang sejak dulu telah bersifat baku, yakni terpusat pada kyai, akan memudahkan Kyai Asrori dalam menerapkan system tarekat yang dianutnya. Nampaknya, perkembangan TQN sampai saat ini, salah satunya karena didukung oleh keberadaan pesantren yang didirikan oleh Kyai Asrori, yaitu pesantren Al-Fithrah.

Untuk mewujudkan misinya, pondok pesantren ini membuat kegiatan sendiri yang lain dari pada yang lain. Secara umum, kegiatan-kegiatan yang ada pada Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah digolongkan menjadi tiga, yaitu syiar, wadlifah dan tarbiyah. Syi‟ar, meliputi minggu manaqib awal, pengajian ahad kedua, haul, majlis dzikir dan maulidur Rasul SAW. Wadlifah Yaitu kegiatan yang bersifat berangkat (Suatu kegiatan yang berkaitan langsung dengan Allah SWT., Baginda Habibillah Rasulilah Muhammad saw Sulthanul Aulia‟ Syaikh Abdul Qodir al Jilany ra. dan Kyai Achmad Asrori al-Ishaqi dan berguna untuk menanamkan dan melatih tanggung jawab dan kejujuran hati kepada Allah SWT, Baginda Habibillah Rasulilah Muhammad saw., Sulthanul Aulia‟ Syaikh Abdul Qodir al -Jailany ra. dan Kyai Achmad Asrori al –Ishaqy.

Kegiatan Wadlifah ini tidak boleh dirubah oleh siapapun dan kapanpun (Majelis Lima Pilar) yaitu:

  1. Jama‟ah maktubah, Shalat sunah (qobliyah dan ba‟diyah, isyraq, dhuha, isti‟adah, tsubutil Iman, hajat dan tasbih);
  2. Aurad-Aurad yang telah di Tuntunkan dan dibimbingkan.
  3. Qiro‟atul Qur‟an Al Karim (dilakukan setelah tahlil subuh, diawal dengan al-Fatihah 3 kali, membaca al-Qur‟an dengan sendiri-sendiri satu juz ditutup dengan kalamun dan do‟a al-Qur‟an.
  4. Maulid (dilakukan : setiap malam jum‟at , diawali dengan Al-Fatihah 3 kali , kemudian membaca Ya Rabby , Inna Fatahna , Yaa Rasulallah, dengan dipandu oleh pembaca, kemudian membaca rawi mulai dari alHamdulillahi al Qowiyyil al Gholib dengan dibaca sendiri – sendiri sampai Fahtazzal Arsyu, lalu Fahtazzal Arsyu sampai Mahallul Qiyaam dibaca dengan dipandu oleh pembaca kemudian Wawulida dan rowi – rowi setelahnya dibaca dengan sendiri – sendiri sampai doa, kemudian membaca nasyid dengan diiringi dengan dzikir.
  5. Manaqib (dilakukan setiap malam ahad, diawali dengan al-Fatihah 3 kali , kemudian membaca manaqib sendiri – sendiri selama 20 menit lalu doa kemudian membaca Ibadallah, Yaa Arhamarrohimin dan nasyid sampai selesai kira – kira 10 – 15 menit .

Nampaknya, melalui kegiatan khusus lembaga pendidikan ini, dapat disimpulkan bahwa Kyai Asrori hendak menancapkan nilai-nilai akhlak al-karimah kepada para siswanya. Mungkin ia sadar, bahwa kemerosotan akhlak di kalangan pelajar, saat ini hampir mencapai puncaknya. Melalui lembaga pendidikan ini, ia ingin menciptakan generasi berakhlak mulia.

  1. Pilar III: Keorganisasian

Berdirinya organisasi (al-Khidmah), secara umum dilatarbelakangi oleh kenyataan bahwa demikian sulitnya mencetak generasi saleh yang dapat menyenangkan kedua orang tua, sahabat, tetangga, guruguru sampai Rasulullah saw. Selain itu masih banyak persoalan yang mendasar, sehingga mendesak didirikannya sebuah organisasi, yang juga dikemukakan sendiri oleh Kyai Asrori al-Ishaqi.

Organisasi itu, tidak langsung bernama tarekat, tapi dengan nama lain yang lebih bisa diterima oleh masyarakat awam. Oleh karenanya, didirikanlah al-Khidmah. Meskipun demikian, Kyai Asrori bukan orang yang buta masalah organisasi. Terbukti, melalui al-Khidmah, Kyai Asrori menetapkan sistem kepengurusan yang jelas dan aplikatif. Menejemen organisasi ditata sedemikian rupa, mengikuti sistem modern, yang jelas-jelas tidak terjadi dalam kepemimpinan tarekat. Akan tetapi, memang ada sedikit yang diselipkan mengenai sistem tarekat, misalnya kewenangan Imam Khususi. Hal ini terlihat dari struktur organisasi al-Khidmah yang minimal terdiri dari ketua, sekretaris, bendahara, koordinator dan seksi-seksi sesuai kebutuhan.

  1. Pilar IV: Keummatan

Sampai akhir hayatnya, Kyai Asrori belum sempat menunjuk salah seorang muridnya untuk menggantikan kedudukannya sebagai mursyid TQN. Tidak juga keluarganya, sebagai penerus estapet kepemimpinan tarekat sebagaimana lazimnya. Hal ini menarik, karena umumnya seorang mursyid telah mengangkat pengganti sebelum ia meninggal.

Ketua Pusat Thariqah, Abdur Rosyid, memaparkan tentang kethariqahan, menjelaskan bahwa: Pertama, pada pengajian Ahad ke-II tanggal 12 Rajab 1430 H / 5 Juli 2009, Kyai Asrori menyatakan tidak ada orang yang bisa menggantikannya sebagai guru mursyid penerus beliau.  Namun, ia menjelaskan tentang syarat-syarat menjadi mursyid, antara lain:

1) Mengetahui dan meyakini „Aqidah Ahl al-Sunnah Wa al-Jama‟ah dalam bidang Tauhid; 2) Mengetahui dan mengerti Allah (ma‟rifat billah); 3) Mengetahui hukum-hukum fardhu „ain; 4) Mengetahui dan mengerti adab-adab dalam hati, cara membersihkannya, menyempurnakannya, melirik dan melihat terhadap penyakit-penyakit jiwa; dan, 5) Telah diberi restu dan izin dari gurunya.

Selanjutnya, Kyai Asrori telah menetapkan imam khususi di masing-masing wilayah. Imam Khushushi adalah orang-orang yang telah ditunjuk oleh Hadlratus Syaikh Achmad Asrori Al-Ishaqi r.a. untuk menjadi imam Khushushy. Hanya murid thariqah yang telah ditunjuk oleh mursyid/guru thariqah-nya sajalah yang dapat dan diperbolehkan menjadi dan sebagai imam khushushi untuk/dari jama‟ah thariqah yang bersangkutan. Seorang imam Khushushi yang ditunjuk dan telah ditetapkan oleh seorang mursyid/guru thariqah, tidak diberi kekuasaan dan/atau kewenangan sama sekali, dan oleh karenanya, dia tidak diperbolehkan untuk menunjuk dan/atau mengangkat seseorang, atau orang lain sebagai pengganti dirinya dan/atau untuk mewakili dirinya selaku imam khushushy.

Tentang organisasi thariqah merujuk kepada buku Pedoman Kepemimpinan dan kepengurusan dalam kegiatan dan Amaliah alThariqah dan Al-Khidmah. Hadlratus Syaikh telah menetapkan kepengurusan jamaah yang terdiri dari kepengurusan Jama‟ah Thariqah, Pondok Pesantren Assalafi Al-Fithrah, Yayasan Al-Khidmah Indonesia dan Perkumpulan Jamaah Al-Khidmah.

Hadlratus Syaikh (K.H. Achmad Asrori) mewajibkan seluruh murid dan jama‟ah untuk tunduk dan taat kepada ketentuan yang telah ditentukan oleh pengurus. Hadlratus Syaikh telah menegaskan dalam majlis sowanan terakhir hari Ahad tanggal 19 Juli 2009 (27 Rajab 1430 H) ….bahwa ia tidak meridloi orang yang ingkar terhadap kepengurusan dan melarang seluruh murid dan jamaah untuk menghadiri majlis yang diadakan oleh orang tersebut (yaitu orang yang ingkar terhadap kepengurusan)”

Berdasarkan uraian-uraian di atas, maka jelaslah bahwa persoalan keummatan telah diserahkan oleh Kyai Asrori kepada para Imam Khususi.  Merekalah yang bertanggung jawab terhadap umatnya di wilayahnya masing-masing. Pertanyaannya kemudian adalah, bagaimana kelanjutan kekuasaan kepemimpinan TQN, sepeninggal Kyai Asrori? Apakah para imam khususi itu, sementara mereka tidak diberi kewenangan untuk mengangkat murid?

Nampaknya, Kyai Asrori mencoba membuat system baru dalam keorganisasian tarekat. System baru itu berbentuk sebuah organisasi modern yang memiliki struktur dan pembagian kerja, yang jelas-jelas kolektif – kolegial. Demokratisasi pun juga melekat dan system ini, dan akan sangat berbeda dengan system kepemimpinan tarekat sebelumnya.

Namun yang lebih menarik lagi, mursyid tarekat masih berpusat padanya. Dengan demikian, sampai kapan pun posisi tertinggi dari kepemimpinan TQN Usmaniyah, tetap akan mengacu kepadanya. TQN Usmaniyah akan terus berkembang melalui para Imam Khususi yang akan terus bertambah, mengikuti perkembangan jama‟ah al-Khidmah. Dari sini, persoalan keumatan (khususnya jama‟ah TQN) akan dapat terayomi dan terpelihara dengan baik.

  1. Pilar V: Kekeluargaan

Satu hal yang dipesankan Kyai Asrori berkenaan dengan keluarganya, yaitu tentang tempat pemakaman. Selain itu tidak ada yang dikhususkan bagi keluarga dan orang-orang terdekatnya. Sesuai dengan bunyi ketetapan lima pilar utama, bahwa yang dimaksud dengan keluarganya adalah Istri dan putra-putrinya. Akan tetapi, Kyai Asrori telah memberikan suatu pengertian yang sama sekali berbeda dengan yang pernah ada. Ketika berbicara tentang kekeluargaan, maka dapat ditelusuri melalui term „jama‟ah‟ dalam istilah “Jama‟ah al-Khidmah”. Term Jamaah, yang ditulis dengan ”J” (huruf besar) menunjuk kepada organisasi atau keluarga besar yang meliputi dewan penasehat, pengurus dan jama‟ah (dengan j huruf kecil). Sedang  jamaah dengan ”j” (huruf kecil) menunjuk pada anggota al-Khidmah, yang dikategorikan menjadi muridin, muhibbin.

Menurut Kyai Asrori sendiri, bahwa istilah Jamaah di sini merujuk kepada seluruh keluarga, sedang istilah yang merujuk pada aspek keorganisasiannya, merujuk kepada pengelolaan organisasi secara profesional. Sementara istilah al-Khidmah mengacu kepada pelayanan yang memang sangat ditekankan di dalam jamaah ini. Baik pelayanan dalam pengertian ruhaniah, maupun pelayanan dalam bentuk jasmaniah. Oleh karena itu, berdasarkan uraian di atas, jelas bahwa secara umum, jama‟ah al-Khidmah adalah keluarga besar Kyai Asrori. Meski ada perbedaan ”J” Besar dan ”j” Kecil. Secara kekeluargaan, tentu jama‟ah ini merupakan satu ikatan yang kuat dalam TQN Usmaniyah Kyai Asrori.

Demikian ketentuan lima pilar utama yang merupakan pemikiran kyai Asrori al-Ishaqy, yang sampai saat ini tetap dijadikan sebagai soko guru dalam menjalankan aktifitas oleh kelima pilar yang telah ditetapkan oleh Kyai Asrori. Kelima pilar tersebut adalah TQN Usmaniyah, Pesantren Al-Fithrah, Yayasan Al-Khidmah, Jama‟ah al-Khidmah, dan Keluarganya. @@@

Categories: KH. ASRORI BIN UTSMAN AL-ISHAQI | 5 Komentar

WIRID KWA MINGGU INI


WIRID KWA MINGGU INI

 

ALFATIHAH

 Bismillahirrohmanirrohim

 Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar

Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar

 Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar

Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar

 Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar

Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar

 Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar

Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar

 Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar

Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar

Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar

Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar

 Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar

Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar

Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar

Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar

Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar

Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar

 Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar

Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar

 Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar

Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar

 Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar

Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar

Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar

Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar

 Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar

Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar

 Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar

Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar

 Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar

Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar

 Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar

Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar

 Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar

Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar

 Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar

Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar

 Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar

Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar

 Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar

Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar

 Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar

Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar

Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar

Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar

Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar

Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar

 Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar

Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar

 Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar

Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar

 Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar

Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar

 Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar

Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar

==============

MAKNA DAN MANFAAT.

Ada kisah asmak Ya Jabbar Ya Qahhar terkait pembentukan NU. Syahdan, sejak Kiai Cholil menyerahkan “tongkat simbolik dukungan”  untuk mendirikan NU kepada kyai Hasyim Asyari, rupanya dirasa berjalan cukup lama. Setahun waktu berlalu sejak Kiai Cholil menyerahkan tongkat itu, jamiyyah yang diidam-idamkan tak kunjung lahir juga.

Tongkat “Musa” yang diberikan Kiai Cholil, masih tetap dipegang erat-erat oleh Kiai Hasyim. Tongkat itu tak kunjung dilemparkannya sehingga berwujud “sesuatu” yang nantinya bakal berguna bagi ummat Islam.

Sampai pada suatu hari, Kyai As’ad muncul lagi di kediaman Kiai Hasyim dengan membawa titipan khusus dari Kiai Cholil Bangkalan. “Kiai, saya diutus oleh Kiai Cholil untuk menyerahkan tasbih ini,” kata Kyai As’ad sambil menyerahkan tasbih. “Kiai juga diminta untuk mengamalkan bacaan Ya Jabbar Ya Qahhar setiap waktu,” tambah Kyai As’ad.

Di balik pemberian tasbih dan amalan bacaan dua Asmak Allah dari Kiai Cholil itu merupakan isyarat agar Kiai Hasyim lebih memantapkan hatinya untuk melaksanakan niatnya mendirikan jamiyyah. Sedangkan bacaan Asma Allah itu adalah doa agar niat mendirikan jamiyyah tidak terhalang oleh upaya orang-orang dzalim yang hendak menggagalkannya.

Qahhar dan Jabbar adalah dua Asma Allah yang memiliki arti hampir sama. Qahhar berarti Maha Memaksa (kehendaknya pasti terjadi, tidak bisa dihalangi oleh siapapun) dan Jabbar kurang lebih memiliki arti yang sama, tetapi adapula yang mengartikan Jabbar dengan Maha Perkasa (tidak bisa dihalangi/dikalahkan oleh siapapun). Dikalangan pesantren, dua Asma Allah ini biasanya dijadikan amalan agar memenangkan segala urusan/perkara, menjatuhkan wibawa, keberanian, dan kekuatan musuh yang bertindak sewenang-wenang.

Setelah menerima tasbih dan amalan itu, tekad Kiai Hasyim untuk mendirikan jamiyyah semakin mantap. Meski demikian, sampai Kiai Cholil meninggal pada 29 Ramadhan 1343 H (1925 M),jamiyyah yang diidamkan masih belum berdiri. Barulah setahun kemudian, pada 16 Rajab 1344 H, organisasi yang ditunggu-tunggu itu lahir dan diberi nama Nahdlatul Ulama (NU).

maka, KITA BUTUH KEMENANGAN-KEMENANGAN DALAM HIDUP KITA, KITA TERIAKKAN ALLAHU Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar!

@@

Categories: >>PERPUSTAKAAN UTAMA | 4 Komentar

KEKUATAN ITU ADA DI HATI DAN PIKIRANMU


SUATU MALAM NAN SUNYI DAN JAUH, SAAT LARUT DALAM DZIKIR “YA QOWIYYU YA MATIN” AKU BERTEMU MAKHLUK ALLAH DI SUATU TEMPAT.  TAK MENYIA-NYIAKAN KESEMPATAN YANG LANGKA ITU, AKU BERTANYA KEPADA PRIA YANG USIANYA LEBIH DARI 6000 TAHUN ITU.

(………..YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN………….)

HAMBA ALLAH SWT, JELASKAN KEPADAKU ARTI DARI ASMAK ALLAH YA QOWIYYU YA MATIN.

Pelajarilah sifat-sifat Allah khususnya sifat Qowi karena ini adalah salah satu sifat Ilahi yang artinya kuatnya intensitas kodrat dan kekuasaan. Mengingat bahwa seluruh hal tercipta dalam hubungannya dengan kodrat Ilahi, jelas bahwa tiada kekuataan yang menggungguli kekuatan dan Kekuasaan Allah SWT. Karena itu, segala sesuatu selain Allah adalah lemah. Silsilah kekuataan Tuhan tidak punya ujung pada satu titikdan tidak ada titik lemah pada diri-Nya.

Ketika seseorang mengalunkan dzikir dengan asmak YA QOWIYYU, maka itu artinya menghidupkan daya quwwah Allah dalam dirinya. Sifat Qawi yaitu inti dari quwwah artinya dahsyatnya sifat kekuatan-NYA sebagaimana yang bisa kau baca dalam  Al Quran: “Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi amat keras siksaan-Nya.”   “Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa.”  “Sesungguhnya Allah, Dia-lah Maha Pemberi Rezeki yang mempunyai kekuatan lagi sangat kukuh.”  Dzu al-quwwah merupakan salah satu nama Allah Swt dan juga bermakna qawi..

(………..YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN………….)

BIASANYA DZIKIR ASMAK YA QOWIYYU DIGABUNG DENGAN YA MATIN. APAKAH ARTI YA MATIN?

Matin juga merupakan salah satu nama Allah Swt yang bermakna kokoh yang tiada satu pun yang tidak dapat dilakukannya.  Ungkapan ini menujukkan pemberi rezeki hanyalah Allah dan Dia memberikan pemahaman bahwa dalam menyampaikan rezeki kepada para pemakan rezeki – berapa pun banyaknya –Allah Sang Pemberi Rezeki tidak akan pernah lemah.

Lafaz Quwwah terkadang digunakan bermakna kodrat sebagaimana disebutkan dalam al-Quran: “Peganglah teguh  apa yang telah Kami berikan kepadamu.”  Maka dapat disimpulkan bahwa  Quwwah adalah tingkatan paling dahsyat dari kekuataan dan kekokohan, entah itu kekuatan badan sebagaimana yang disebutkan dalam al-Quran, “Siapakah yang lebih besar kekuatannya daripada kami?” atau kekuatan mental sebagaimana pada ayat lainnya, “Hai Yahya, ambillah al-Kitab itu dengan kuat dan sungguh-sungguh.”  atau maksudnya adalah kekuatan-kekuatan penolong sebagiamana yang diharapkan oleh Nabi Luth yang berkata, “sekiranya ada kekuatan sehingga dapat mencegah perbuatan-perbuatan tercela pada pelaku kejahatan.“ Luth berkata, ‘Seandainya aku mempunyai kekuatan untuk menolakmu’ dan seperti ucapan para menteri Ratu Saba yang mendeskripsikan diri mereka “Kita adalah orang-orang yang memiliki kekuatan dan memiliki keberanian yang sangat dalam peperangan.”

(………..YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN………….)

Tuhan kita yang Mahabesar nan Maha Agung disebut Qowi karena ciptaan-Nya agung dan kukuh yang telah menciptakan bumi dan segala apa yang ada di dalamnya, gunung-gunung, laut-laut, pasir-pasir dan pepohonan serta apa yang diciptakan yaitu segala yang bergerak di dalamnya dari kalangan manusia dan hewan, Dialah yang menggerakkan angin, menahan awan-awan yang mengandung hujan yang berat dari air, matahari, bulan, dan kebesaran keduanya serta kebesaran cahayanya yang tidak dapat dilihat oleh mata biasa manusia dan tidak terbatas, dan bintang gemintang, planet-planet  berputaran dan langit yang mahaluas menggantung di atas kita dan bumi yang menjuntai dan segala yang dikandungnya dan segala yang diciptakan dengan demikian Dia disebut qowi, bukan dari apa yang kita kenal dari ciptaan-ciptaan, yang digenggam dan dicengkram kuat dan apabila kekuatan-Nya mirip dengan kekuatan ciptaan maka akan ada yang mirip dengan-Nya dan dan kemungkinan Tuhan itu banyak dan apabila banyak maka hal itu menunjukkan kekurangan dan apa yang kurang itu  tidak sempurna dan apa yang tidak sempurna itu tidak mampu dan tidak berdaya sementara Allah tidak ada yang serupa dengan-Nya dan sesungguhnya kita wajib berkata “Dia kuat bagi ciptaan yang kukuh dan demikian kita berkata, agung dan besar”.

(………..YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN………….)

 APAKAH CIRI KHAS  KEKUATAN DARI ALLAH SWT?

Kujelaskan ciri-ciri Kuat-Nya: Segala puji bagi Allah yang menguasai segala sesuatu dan kekuasaannya pada segala sesuatu dan berasal dari-Nya. “Ya Tuhanku! Engkau hidup tidak akan mati. engkau kuat dan tidak akan lemah, engkau tabah dan tidak tergesa-gesa.”

Tuhanku! Aku bermohon kepadamu.. dengan kekuatan-Mu yang dengannya Engkau taklukkan segala sesuatu dan segala sesuatu tunduk pada-Nya dan segala sesuatu tunduk di hadapan-Nya. Maka kuucapkan Allahu Akbar dalam adzan, artinya bahwa Allah Swt berkuasa atas segala sesuatu dan berkehendak atas segala sesuatu. Kekuasaan-Nya disebabkan oleh kekuatan-Nya dan sangat berkuasa atas ciptaan-ciptaan-Nya, berkuasa pada dzat-Nya. Kekuasaannya kokoh di atas segala sesuatu. Tatkala Engkau menginginkan sesuatu hanya berkata, KUN FAYAKUN.

SAYA ADA PERTANYAAN LAGI BUATMU, MOHON JAWABLAH: ALLAH MAHA PENCIPTA SEGALANYA,TAPI ADA SATU HAL YANG TIDAK INGIN ALLAH CIPTAKAN. APAKAH ITU?

Tuhan bersifat permanen dan sekali-kali tidak akan pernah terputus. Allah adalah dzat yang murni dan kesempurnaan. Dzat-Nya muncul karena cinta untuk dapat ber-tajalli. Maka Allah adalah identik dengan cinta dan mahabbah. Sesuatu yang paling dicintai di sisi Allah adalah memandang zat-Nya melalui hakekat-Nya. Dan kesempurnaannya tidak akan pernah tercapai kecuali Dia telah tampak pada setiap hal.

Karena itu, Allah Swt adalah Maha kuasa atas segala sesuatu, Maha pemurah, Maha penyayang dan sekali-kali tidak pernah bakhil terhadap  segala sesuatu yang memiliki potensi untuk berwujud, yaitu tidak mustahil secara akal. Makhuk yang memiliki potensi mewujud dan proses pewujudannya tidak mustahil secara esensial, maka dia akan menjadi sasaran kemurahan dan kemuliaan Tuhan dan pada gilirannya akan diciptakan oleh Allah melalui kasih sayangnya.

(………..YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN………….)

KENAPA ALLAH SWT MENCIPTAKAN WAKTU DAN APA HAKEKAT WAKTU ITU?

 Zaman atau waktu adalah jumlah yang bersambung yang berdiam pada satu benda melalui perantara gerak. Artinya zaman atau waktu itu adalah satuan gerak dan ruang lingkup geraknya pada alam materi. Karena itu apa yang Anda tanyakan apakah ada suatu waktu dimana hanya ada Allah di situ dan tiada satu pun yang ada? Sejatinya, Anda berasumsi tentang waktu sebelum adanya waktu; karena waktu itu merupakan sebuah ekstensi yang melintas yang terdapat pada setiap benda dan materi. Di samping itu, awal dan akhir waktu itu merupakan urusan waktu dan tiada satu pun halyang berada di atas ufuk waktu. Hubungan waktu, kini, dulu dan akan datang itu adalah sama bagi-Nya. Hal-hal lainnya yang sifatnya menyebar dalam satuan waktu akan berkumpul di hadapannya.

Sifat Allah Swt adalah identik dengan zat-Nya dan segala kesempurnaan perbuatan-Nya yang menjadi sumber perbuatan-perbuatan-Nya seperti kodrat, ilmu, hayat dan lain sebagainya tidak berbeda dengan zat-Nya. Demikian juga tujuan dan motif dalam memberikan limpahan dan sifat pemurah-Nya adalah ilmu-Nya sendiri pada sistem lebih sempurna yang identik dengan zat-Nya. Ilmu terhadap sistem yang lebih sempurna, mencakup sistem alam penciptaan; karena itu limpahan Tuhan senantiasa bersifat permanen.

Limpahan Tuhan itu bersifat permanen, abadi dan mutlak namun kemutlakan dan keabadian-Nya tidak bersifat esensial melainkan sebuah bayangan; artinya sebagaimana pada zat-Nya memerlukan Allah dalam sifat-Nya, dalam keabadian juga membutuhkan Allah. Pada kenyataannya kebutuhan terhadap-Nya bersifat mutlak dan abadi. Karena itu hal ini tidak berseberangan dengan keesaan Tuhan  bahkan penegas dan penyokong tauhid LA ILAHA ILALLAH.

(………..YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN………….)

HAMBA ALLAH YANG MULIA, JELASKAN KEPADAKU CARA MENGINDARI BENCANA?

Gempa bumi dan semisalnya merupakan bencana alam yang menyisakan banyak pengaruh dimana keseluruhannya sebenarnya mengandung kebaikan bagi umat manusia. Supaya masyarakat tidak lalai dan menjadi mengerti akan kelemahan dan ketidakberdayaannya serta supaya ia menjadi takut dan (dengan merasakan kelemahannya dan kekuatan Sang Pencipta) tidak lagi berbuat dosa dan kerusakan. Seluruh bencana dan penderitaan yang menimpa badan dan harta manusia adalah untuk urusan ini. Sejatinya bencana itu adalah demi kepentingan, kemaslahatan dan ketegaran manusia menghadapi semua ini. Sebagai ganti dari kehilangan yang ditimbulkan, di akhirat sedemikian cadangan disediakan untuknya sehingga tidak dapat dibandingkan dengan nikmat apa pun di dunia. Karena itu terkadang kebaikan dan kemaslahatan umum dan khusus yang terpendam di dalamnya sehingga turunnya bencana-bencana di dunia harus disegerakan.

Inti peristiwa di dunia merupakan hal yang pasti; satu dalil nyatanya adalah ayat-ayat al-Quran yang pada satu tempat menyebutkan:“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali ke jalan yang benar “Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi. Tetapi, mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.”

Menentukan secara akurat alasan terjadinya bencana secara akurat tidak mungkin dapat dilakukan oleh orang-orang biasa; melainkan hanya para wali Allah yang dapat menjelaskan kenapa sebab peristiwa itu terjadi. Sebab itu misteri Allah SWT. Yang jelas inti kejadian gempa bumi diperlukan bagi kelangsungan hidup planet bumi.

Manusia bisa menjauhi maksiat agar tidak terjadi bencana. Jauhi zina karena menyebarnya zina merupakan salah satu faktor terjadinya gempa bumi.  Ingatlah setelah menyebarnya empat hal akan muncul empat hal lainnya: Kapan saja zina menyebar maka gempa bumi juga akan terjadi. Kapan saja hukum tidak berdasarkan kebenaran dikeluarkan maka hujan tidak akan turun. Kapan saja perjanjian dengan orang-orang kafir yang hidup dalam tanggungan Islam dilanggar maka pemerintahan akan jatuh di tangan orang-orang musyrik dan memerintah atas kaum Muslim.  Kapan saja zakat tidak dikeluarkan maka kemiskinan akan merajalela.

(………..YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN………….)

Pada suatu ketika, masyarakat mengeluhkan banyaknya terjadi gempa bumi. Saya katakan “Janganlah pindah dari tempat itu. Berpuasalah pada hari Rabu, Kamis dan Jumat. Kemudian mandilah dan kenakan pakaian-pakaian bersih lalu keluarlah dari rumah kalian pada hari Jumat  dan berdoalah kepada Allah Swt maka pasti Allah akan menyelesaikan masalah itu. Alhamdulillah, gempa bumi tidak terjadi lagi. Barang siapa dari kalian yang melakukan dosa maka segeralah bertaubat dan memohonlah kebaikan.

Maka apakah gempa bumi itu maka jawabnya adalah ayat dan sebuah tanda. Ketika Allah ingin menguncangkan bumi maka Dia mewahyukan kepada malaikat itu untuk menggerakan pilar-pilar bumi (gunung-gunung). Kemudian malaikat berdasarkan perintah Allah menggerakannya kemudian bumi dan penduduknya pun terguncang.

Apa yang harus dilakukan jika terjadi bencana?  Saranku, kerjakanlah sholat Kusuf dan tatkala engkau telah selesai mengerjakan salat, sujudlah dan dalam sujudmu bacalah doa: “Wahai yang menahan langit dan bumi supaya tidak menyimpang dan sungguh jika keduanya menyimpang, tidak ada seorang pun yang dapat menahan keduanya selain Allah. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun. Jauhkanlah dari kami keburukan dan kejahatan sesunggurhnya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu”

(………..YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN………….)

***TERAKHIR***
INI ADA IJASAH RANGKAIAN DOA UNTUKMU, SEDULURKU.. KALAU ENGKAU MAU…. :

ALFATIHAH 1000  X

INNA QUWWATIH NAKABAN NATAH KITABAN NATAH 1 X – ASR Madura utara

YA QOWIYYU IRHAM DA’FI   1 x — Wahai Yang Mahakuasa kasihilah kelemahanku.

INNAMA AMRUHU IDZA ARODA SYAI’AN AYYAQULA LAHU KUN ….. (sebutkan hajat anda apa) FAYAKUN  1  x

ALHAMDULILLAHIROBBILALAMIN 1 x

Demikian apa yang bisa saya tuliskan dan  IJASAH SEMPURNA karena ALLAH Taala.

@KWA,2-0-1-6

Categories: >>PERPUSTAKAAN UTAMA | 55 Komentar

WIRID KWA MINGGU INI


ALFATIHAH UNTUK NABI MUHAMMAD SAW

YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN

YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN

YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN

YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN

YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN

YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN

YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN

YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN

YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN

YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN

YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN

YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN

YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN

YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN

YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN

@KWA,2016

Categories: YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN | 3 Komentar

LAPORAN TAHUNAN BLOG KWA 2015


Berikut ini Asisten statistik WordPress.com menyiapkan laporan tahunan 2015 untuk blog KAMPUS WONG ALUS KWA ini.

Berikut ini kutipannya:

Sekitar 2.500.000 orang mengunjungi MoMA di New York setiap tahun. Blog KWA telah dilihat sekitar 7.700.000 kali di 2015. Jika itu adalah pameran MoMA, dibutuhkan sekitar 3 tahun bagi orang sebanyak itu untuk melihatnya.

Klik di sini untuk melihat laporan lengkap.

Categories: >>PERPUSTAKAAN UTAMA | 6 Komentar

WIRID KWA AWAL TAHUN BARU 2016


YAA FATTAH YAA MUTAKABBIR YAA QAHHAAR YAA SYAAFII YAA FATTAH YAA MUTAKABBIR YAA QAHHAAR YAA SYAAFII YAA FATTAH YAA MUTAKABBIR YAA QAHHAAR YAA SYAAFII YAA FATTAH YAA MUTAKABBIR YAA QAHHAAR YAA SYAAFII YAA FATTAH YAA MUTAKABBIR YAA QAHHAAR YAA SYAAFII YAA FATTAH YAA MUTAKABBIR YAA QAHHAAR YAA SYAAFII YAA FATTAH YAA MUTAKABBIR YAA QAHHAAR YAA SYAAFII YAA FATTAH YAA MUTAKABBIR YAA QAHHAAR YAA SYAAFII YAA FATTAH YAA MUTAKABBIR YAA QAHHAAR YAA SYAAFII

YAA FATTAH YAA MUTAKABBIR YAA QAHHAAR YAA SYAAFII YAA FATTAH YAA MUTAKABBIR YAA QAHHAAR YAA SYAAFII YAA FATTAH YAA MUTAKABBIR YAA QAHHAAR YAA SYAAFII YAA FATTAH YAA MUTAKABBIR YAA QAHHAAR YAA SYAAFII YAA FATTAH YAA MUTAKABBIR YAA QAHHAAR YAA SYAAFII YAA FATTAH YAA MUTAKABBIR YAA QAHHAAR YAA SYAAFII YAA FATTAH YAA MUTAKABBIR YAA QAHHAAR YAA SYAAFII YAA FATTAH YAA MUTAKABBIR YAA QAHHAAR YAA SYAAFII YAA FATTAH YAA MUTAKABBIR YAA QAHHAAR YAA SYAAFII

YAA FATTAH YAA MUTAKABBIR YAA QAHHAAR YAA SYAAFII YAA FATTAH YAA MUTAKABBIR YAA QAHHAAR YAA SYAAFII YAA FATTAH YAA MUTAKABBIR YAA QAHHAAR YAA SYAAFII YAA FATTAH YAA MUTAKABBIR YAA QAHHAAR YAA SYAAFII YAA FATTAH YAA MUTAKABBIR YAA QAHHAAR YAA SYAAFII YAA FATTAH YAA MUTAKABBIR YAA QAHHAAR YAA SYAAFII YAA FATTAH YAA MUTAKABBIR YAA QAHHAAR YAA SYAAFII YAA FATTAH YAA MUTAKABBIR YAA QAHHAAR YAA SYAAFII YAA FATTAH YAA MUTAKABBIR YAA QAHHAAR YAA SYAAFII

YAA FATTAH YAA MUTAKABBIR YAA QAHHAAR YAA SYAAFII YAA FATTAH YAA MUTAKABBIR YAA QAHHAAR YAA SYAAFII YAA FATTAH YAA MUTAKABBIR YAA QAHHAAR YAA SYAAFII YAA FATTAH YAA MUTAKABBIR YAA QAHHAAR YAA SYAAFII YAA FATTAH YAA MUTAKABBIR YAA QAHHAAR YAA SYAAFII YAA FATTAH YAA MUTAKABBIR YAA QAHHAAR YAA SYAAFII YAA FATTAH YAA MUTAKABBIR YAA QAHHAAR YAA SYAAFII YAA FATTAH YAA MUTAKABBIR YAA QAHHAAR YAA SYAAFII YAA FATTAH YAA MUTAKABBIR YAA QAHHAAR YAA SYAAFII

YAA FATTAH YAA MUTAKABBIR YAA QAHHAAR YAA SYAAFII YAA FATTAH YAA MUTAKABBIR YAA QAHHAAR YAA SYAAFII YAA FATTAH YAA MUTAKABBIR YAA QAHHAAR YAA SYAAFII YAA FATTAH YAA MUTAKABBIR YAA QAHHAAR YAA SYAAFII YAA FATTAH YAA MUTAKABBIR YAA QAHHAAR YAA SYAAFII YAA FATTAH YAA MUTAKABBIR YAA QAHHAAR YAA SYAAFII YAA FATTAH YAA MUTAKABBIR YAA QAHHAAR YAA SYAAFII YAA FATTAH YAA MUTAKABBIR YAA QAHHAAR YAA SYAAFII YAA FATTAH YAA MUTAKABBIR YAA QAHHAAR YAA SYAAFII

YAA FATTAH YAA MUTAKABBIR YAA QAHHAAR YAA SYAAFII YAA FATTAH YAA MUTAKABBIR YAA QAHHAAR YAA SYAAFII YAA FATTAH YAA MUTAKABBIR YAA QAHHAAR YAA SYAAFII YAA FATTAH YAA MUTAKABBIR YAA QAHHAAR YAA SYAAFII YAA FATTAH YAA MUTAKABBIR YAA QAHHAAR YAA SYAAFII YAA FATTAH YAA MUTAKABBIR YAA QAHHAAR YAA SYAAFII YAA FATTAH YAA MUTAKABBIR YAA QAHHAAR YAA SYAAFII YAA FATTAH YAA MUTAKABBIR YAA QAHHAAR YAA SYAAFII YAA FATTAH YAA MUTAKABBIR YAA QAHHAAR YAA SYAAFII

YAA FATTAH YAA MUTAKABBIR YAA QAHHAAR YAA SYAAFII YAA FATTAH YAA MUTAKABBIR YAA QAHHAAR YAA SYAAFII YAA FATTAH YAA MUTAKABBIR YAA QAHHAAR YAA SYAAFII YAA FATTAH YAA MUTAKABBIR YAA QAHHAAR YAA SYAAFII YAA FATTAH YAA MUTAKABBIR YAA QAHHAAR YAA SYAAFII YAA FATTAH YAA MUTAKABBIR YAA QAHHAAR YAA SYAAFII YAA FATTAH YAA MUTAKABBIR YAA QAHHAAR YAA SYAAFII YAA FATTAH YAA MUTAKABBIR YAA QAHHAAR YAA SYAAFII YAA FATTAH YAA MUTAKABBIR YAA QAHHAAR YAA SYAAFII

YAA FATTAH YAA MUTAKABBIR YAA QAHHAAR YAA SYAAFII YAA FATTAH YAA MUTAKABBIR YAA QAHHAAR YAA SYAAFII YAA FATTAH YAA MUTAKABBIR YAA QAHHAAR YAA SYAAFII YAA FATTAH YAA MUTAKABBIR YAA QAHHAAR YAA SYAAFII YAA FATTAH YAA MUTAKABBIR YAA QAHHAAR YAA SYAAFII YAA FATTAH YAA MUTAKABBIR YAA QAHHAAR YAA SYAAFII YAA FATTAH YAA MUTAKABBIR YAA QAHHAAR YAA SYAAFII YAA FATTAH YAA MUTAKABBIR YAA QAHHAAR YAA SYAAFII YAA FATTAH YAA MUTAKABBIR YAA QAHHAAR YAA SYAAFII

YAA FATTAH YAA MUTAKABBIR YAA QAHHAAR YAA SYAAFII YAA FATTAH YAA MUTAKABBIR YAA QAHHAAR YAA SYAAFII YAA FATTAH YAA MUTAKABBIR YAA QAHHAAR YAA SYAAFII YAA FATTAH YAA MUTAKABBIR YAA QAHHAAR YAA SYAAFII YAA FATTAH YAA MUTAKABBIR YAA QAHHAAR YAA SYAAFII YAA FATTAH YAA MUTAKABBIR YAA QAHHAAR YAA SYAAFII YAA FATTAH YAA MUTAKABBIR YAA QAHHAAR YAA SYAAFII YAA FATTAH YAA MUTAKABBIR YAA QAHHAAR YAA SYAAFII YAA FATTAH YAA MUTAKABBIR YAA QAHHAAR YAA SYAAFII

YAA FATTAH YAA MUTAKABBIR YAA QAHHAAR YAA SYAAFII YAA FATTAH YAA MUTAKABBIR YAA QAHHAAR YAA SYAAFII YAA FATTAH YAA MUTAKABBIR YAA QAHHAAR YAA SYAAFII YAA FATTAH YAA MUTAKABBIR YAA QAHHAAR YAA SYAAFII YAA FATTAH YAA MUTAKABBIR YAA QAHHAAR YAA SYAAFII YAA FATTAH YAA MUTAKABBIR YAA QAHHAAR YAA SYAAFII YAA FATTAH YAA MUTAKABBIR YAA QAHHAAR YAA SYAAFII YAA FATTAH YAA MUTAKABBIR YAA QAHHAAR YAA SYAAFII YAA FATTAH YAA MUTAKABBIR YAA QAHHAAR YAA SYAAFII

@KWA,2016

Categories: >>PERPUSTAKAAN UTAMA | 6 Komentar

AMALAN MEMBUAT HIDUP MUSUH PORAK PORANDA JARAK JAUH


WIRIDKAN 100  X TIAP MALAM —SEMAKIN BANYAK MALAM SEMAKIN KUAT PENGARUHNYA— DENGAN MEMBAYANGKAN WAJAH MUSUH. BERIKUT WIRIDNYA:

Bismillahir Rahmaanir Rahiim.
 Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah Lagi Maha Penyayang.

1.     Idzal samaa-un fatharat.
Apabila langit itu pecah.

2.  Wal idzal kawaakibun tatsarat.
Dan apabila bintang-bintang itu berjatuhan.

3.   Wa idzal bihaaru fujjirat.
 Dan apabila lautan itu diluapkan.
 
 4.   Wa idzal qubuuru bu’tsirat.
 Dan apabila kuburan-kuburan itu dibongkar.
 
 5.    ‘Alimat nafsum maa qaddamat wa akhkharat.
 Maka setiap jiwa mengetahui terhadap apa (kebaikan) yang telah dilakukan dan yang dilengahkan.
 
6. Yaa ayyuhal insaanu maa gharraka birabbikal kariim

 Wahai manusia, apakah yang memperdayakanmu (untuk durhaka) terhadap Tuhanmu Yang Maha Pemurah.

SURAT AL INFITHAAR  AYAT 1-6 INI DIBACA 100 X DALAM HITUNGAN SEKALI DUDUK.

EFEK DARI AMALAN INI BANYAK SEKALI MACAMNYA: mISALNYA… MUSUH HIDUPNYA AKAN SIAL. MUSUH AKAN TERKENA SAKIT YANG TAK KUNJUNG DISEMBUHKAN, APABILA DIA BERUMAH TANGGA MAKA RUMAH TANGGANYA BUBAR/CERAI. EKONOMINYA MORAT MARIT/ PENGHASILANNYA AKAN MENURUN DAN APABILA JOMBLO/SINGLE MAKA DIA TIDAK MENIKAH SEUMUR HIDUP (ADA TAMBAHAN SARANA MISALNYA BENDA-BENDA PRIBADINYA HARUS DIPEGANG SELAMA WIRID) DAN MASIH BANYAK VARIASI LAGI.

AMALAN INI HANYA UNTUK MENAMBAH WAWASAN PENGETAHUAN SAJA DAN ALANGKAH ELOKNYA BILA TIDAK DIGUNAKAN. SEBAB MUSUH ITU SEJATINYA ADALAH DIRIMU SENDIRI YANG BERASAL DI DALAM KEDENGKIAN HATI KITA.

MOHON DISIKAPI SECARA ARIF DAN BIJAKSANA.  TERIMA KASIH DAN SALAM PASEDULURAN .

@KWA,2016

Categories: MEMBUAT HIDUP MUSUH PORAK PORANDA | 37 Komentar

INTISARI AJARAN DALAM FENOMENA PERTEMUAN PANEMBAHAN SENOPATI DAN KANJENG RATU KIDUL DALAM KEPUSTAKAAN BUDAYA JAWA


krkpsenopatikwaBUDAYA JAWA MEMILIKI KEKAYAAN KEPUSTAKAAN YANG DITULIS OLEH PARA EMPU DALAM BENTUK BABAD-BABAD, SERAT -SERAT, TEMBANG-TEMBANG DAN SEBAGAINYA. SALAH SATUNYA ADALAH “BABAD TANAH JAWA  PANEMBAHAN SENOPATI” YANG MENCERITAKAN PERTEMUAN ANTARA PANEMBAHAN SENOPATI RAJA  MATARAM  PERTAMA DENGAN KANGJENG RATU KIDUL, RATU PANTAI SELATAN.

APAKAH INI NYATA ATAU HANYA FIKSI, WALLAHAU A’LAM. YANG JELAS PARA EMPU YANG MENULIS BABAD INI PASTI ADA TUJUANNYA YAITU AGAR PEMBACA MENGAMBIL INTISARI MAKNANYA BAGI KEHIDUPAN SEHARI-HATI. YAITU AGAR KITA HATI-HATI DAN TIDAK TERBUAI KEDUNIAWIAN: MABUK DUNIA-MABUK KEKUASAAN. APALAGI BILA KEKUASAAN, KESAKTIAN DAN KEKUATAN ITU DIRAIH DENGAN CARA-CARA YANG TIDAK WAJAR. MISALNYA BERKOALISI DENGAN PARA MAKHLUK HALUS.

FILSAFAT JAWA BERBEDA DENGAN FILSAFAT BARAT YANG KAKU KETAT DAN KERING KARENA HANYA BERTEORI DAN KADANG SEAKAN TERLEPAS DARI KEHIDUPAN SEHARI-HARI. SEMENTARA FILSAFAT JAWA LEBIH KE ARAH FILSAFAT PRAKSIS KEHIDUPAN. FILSAFAT JAWA BIASANYA DIBUNGKUS DENGAN BUMBU MITOLOGI, AGAR LEBIH ENAK DIBACA DAN TIDAK MEMBOSANKAN.

BERIKUT ADALAH  “BABAD TANAH JAWA  PANEMBAHAN SENOPATI” YANG VERSI ASLINYA ADALAH BERBAHASA JAWA (KROMO INGGIL) YANG KAMI AMBIL DARI KEPUSTAKAAN BUDAYA JAWA ALANG ALANG KUMITIR (terima kasih untuk yang mulia Mas kumitir) DENGAN TUJUAN AGAR MENAMBAH PERBENDAHARAAN PENGETAHUAN KITA TENTANG BUDAYA JAWA SEBAGAI SALAH SATU BUDAYA DI ANTARA SEKIAN RIBU BUDAYA YANG ADA DI NUSANTARA.

WUJUD KERAJAAN PANTAI SELATAN

Suatu ketika dalam pengembaraan spiritualnya saat bermeditasi di atas sebuah Batu di Cepuri Parangkusumo Yogyakarta, Panêmbahan Senopati akhirnya ditemui Kanjeng Ratu Kidul. Awalnya Panêmbahan Senopati melihat wujud Kanjeng Ratu seperti wanita tua. Tiba-tiba wujudnya berubah sangat menarik hati, sehingga Senopati terpesona dalam hati, menyaksikan wujud bagaikan Dewi Ratih. Keduanya saling mencuri pandang malu-malu.

Mereka berjalan bergandengan di atas laut dan sesampai  di istana mereka saling melepas genggaman tangan dan duduk di atas ranjang keemasan. Saat ratu menggeliat, Panembahan Senopati terus melirik. Kepada wujud Ratu  yang memikat hatinya mendadak teringat, jikalau ia bukanlah jenis manusia. Seketika dialihkannya perhatian untuk melepaskan diri dari hasrat, dengan berkeliling melihat-lihat keasrian istana.

Mendapati pemandangan asri, sebuah ranjang kencana berasal dari jaman dulu, saat terjadi perebutan, antara Gathutkaca dan Kera Putih, berkelahi di angkasa, ranjang terlempar ke samudera.  Jatuh di tengah-tengah samudera raya, yang dikuasai oleh Jin, tampak juga halaman yang tertata asri, yang ditebarani intan indah dan megah, biduri mutiara merah delima, emas dan jamrud berwarna-warni.

Lantainya-pun dihiasi, dengan emas yang dibuat begitu indah, dan diselingi hiasan dari kencana, serta ditambah perak putih dipinggirnya, dibentuk berwujud bunga-bunga mekar, indah terukir gemerlap. Terlihat sejuk berkilauan, hiasan ranjang tersebut, sinarnya menggapai angkasa, gemerlapnya hiasan megah, membuat redup cahaya matahari, tersaingi keindahan istana. Gapuranya besar dan tinggi, puncaknya berhias intan yang indah, bersinar memancarkan cahaya, bagai sinar matahari, jika malam seperti siang, siang maupun malam tiada beda.

Cukup sudah menikmati keindahan istana, nampak Sang Panembahan Senapati, terus dikuntit Sang Ratu Wanita, yang tidak mau berjauhan terus mengikut dibelakang, tak mau berpisah bagai pasangan abadi, (Sang Ratu Wanita) berbuat demikian agar supaya mendapatkan cinta. Apabila diperhatikan wajah Sang Ratu, sudah berubah bagai penari surga, berna,a Sang Dyah Wilutama karena bercahaya manakala disaksikan, dan setiap gerakannya sangat memikat birahi. Sebuah kecantikan yang benar-benar menawan hati.

Kesaktian Sang Ratu dalam merubah wujud, sehari mampu berubah wujud tujuh kali, kecantikannya tiada cacat, kadang terlihat sangat-sangat tua, manakala muncul matahari, terlihat Sang Dyah bagai perawan suci. Apabila tengah memberi perintah, menakutkan bagaikan seorang janda yang kehilangan anaknya karena mati, ketika menjelang pagi hari, wujud seperti bidadari, saat matahari sepenggalah bagai (putri) Dyah (dari kerajaan) Ngurawan, seorang pemudi yang tetap cantik walau sedang bersusah hati.

Ketika menjelang tengah hari Sang Kusuma Ayu (Sang Bunga Cantik), mirip putri dari (kerajaan) Kedhiri, ketika matahari condong ke barat bagai Dewi Banowati, ketika menjelang asar bagai (Dewi) Ratih, genap tujuh kali sehari, apabila malam hari sangat-sangat tua sekali. Dan lagi dianugerahi kesaktiaan yang lebih, melebihi sesama Jin, mampu merubah diri seribu wujud, berwujud laki-laki pun bisa, oleh karenanya disegani diseluruh dunia, karena sangat saktinya Sang Dewi. Siapa yang tidak tunduk, seluruh mahluk halus di pulau Jawa, para Raja-nya sudah takluk semua, kepada Ratu Kidul menganggap orang tua, ditakuti dicintai dan menjadi tempat mengabdi, diberi persembahan setiap tahun.

Penguasa Gunung Merapi dan Gunung Lawu, tunduk kepada Penguasa Samudera, Penguasa Pace dan Nglodhaya, Penguasa Gunung Kelut dan Gunung Wilis, Penguasa Tuk Sanga dan Bledug, bahkan Ratu Kuwu pun mengabdi. Penguasaa Wringin Pitu dan Wringin Rubuh, Penguasa Wringin Uwok dan Wringin Putih, yang berada di Landheyan dan Hutan Roban, semua telah takluk kepada Penguasa Samudera, Penguasa Kabareyan Penguasa Tegal Layang, Penguasa di Pacitan dan Penguasa (Kahyangan) Dlepih.

Merata yang ada di seluruh Jawa, para Raja dari mahluk halus, semua menghaturkan persembahan pengabdian, hanya daerah Galuh yang tidak takluk, karena dikuasai (Kerajaan) Guwatrusan, yang diperintah oleh Aji (Raja) Krendhawahana.

Ratu  Kidul mengajak Panembahan Senapati tengah menikmati makan bersama. Dihidangkan minuman keras dan minuman yang manis, yang melayannya adalah para wanita cantik, lengkap dengan busana mereka yang indah. Para penari bedhaya maju kedepan, alunan gending Semang berbunyi nyaring, membuat terhanyut perasaan bagi yang melihat, gemulai tarian menawan hati, banyak macam gerak tarian, berbagai tarian yang indah semua.

Panembahan Senopati terpesona melihatnya, melihat gerakan Dyah yang tengah ikut menari, gerakannya menyatu seiringin alunan gamelan, ditambah untaian merdu bunyi gamelan yang menentramkan hati, hingga lama terpesona, melihat wujud para Dyah yang cantik-cantik.

Tiada lagi yang diingini, hanya Ratu Wanita semata, hasrat hati semakin membara, karena hanya Sang Dyah yang paling cantik, dibandingkan dengan para penari yang lain, cahayanya bagaikan cahaya emas yang murni.

Hasrat hati coba untuk dia tutupi, tiada begitu mengumbar tatapan mata, tiada henti terus menahan hasrat, demikianlah Sang Panembahan Senopati, terus mengingatkan diri bahwa bukan dari jenis Teringat seketika, keinginannya yang semakin menjadi, tidak akan terlaksana, kehendaknya untuk menguasai dunia (jika dia tetap berada di istana ini), akan tetapi Ratu Wanita bisa membaca, apa yang tengah dipikirkan Panembahan Senopati.

Berbicara dalam hati, Ratu Penguasa samudera, Jikalau aku tidak menikah, tidak seharusnya aku seorang wanita, lebih baik aku adalah seorang pria, sebab tidak bakalan ada yang menggangguku. Sudah menjadi niatku dulu, aku tidak akan menikah selamanya, demi mengharapkan keinginan yang lebih, tetapi ternyata malah sia-sia, coba aku akan merayunya, aku akan mencairkan keangkuhannya.

Manusia Agung dari Mataram (Panembahan Senopati), agar supaya melupakan negaranya, dan kerasan tinggal didalam samudera. Terlontar senyum Sang Dewi, sembari menundukkan kepala seolah tiada peduli, namun sesungguhnya hati Panembahan Senopati tergetar dibuatnya.

Mendapati lirikan manja Sang Rum (Yang Wangi/Ratu Kidul), berdebar tiada menentu hatinya, lantas berkata pelan, Duh cantik sesungguhnya keinginanku sekarang, sudah terlalu lama aku menyaksikan, keindahan istana ini.

Akan tetapi tempat tidurmu aku belum melihatnya, bagaimanakah wujudnya? (Sang) Dyah menjawab Tidak bagus wujudnya, jika ingin melihat silakan, karena sesungguhnya ranjang tersebut tiada yang memiliki, selama ini saya bagaikan sekedar menjadi penjaga ranjang semata. Segera mereka beranjak bersama, Sang Panembahan Senopati dan sang Ratu Dewi, masuk ke tempat tidur yang nyaman, keduanya pelahan duduk, diatas permadani yang indah, Panembahan Senopati kagum melihatnya.

Bermacam-macan hiasan Sri Kumendhung terpajang, sungguh bagai surga yang berpindah tempat (ke bumi), Sang Dyah berkata kepada sang pria Panembahan Senopati), Inilah keadaannya, tempat tidur seorang janda yang kesepian, sunyi seolah tiada yang memiliki.

Sang pria (Panembahan Senopati) tersenyum bisiknya manis, Kamu terlalu merendah Yayi (dinda), kamu bilang dirimu seorang janda, padahal sesungguhnya lebih dari itu, seluruh istana para Raja, tiada menandingi istana yayi (dinda). Bahkan hiasan Sri Kumendhung, baru kali ini aku melihatnya, ditambah tempat tidur yang sangat indah, sesuai benar dengan pemiliknya, sangat cantik dan sangat menarik, sungguh pandai sekali kamu menatanya.

Menjadi malas aku untuk pulang, ke negeri Mataram, terpesona setelah menyaksikan istana, tapi kekuranganmu hanya satu, istana seindah ini tiada seorang pria-pun yang mendampingimu, apabila memiliki seorang pria pendamping itu lebih bagus lagi.

Seorang wanita yang cantik, seharusnya didampingi oleh laki-laki yang tampan, yang setia dan bisa membimbing seorang istri, sedang sang wanita patuh kepada suami, dan suka memiliki banyak anak, Panembahan Senopati dilirik tajam dengan lirikan manja.

Ratu lantas sengaja duduk dengan menundukkan kepala, sembari tersenyum ujarnya lembut, Lebih baik tidak ada lelaki, apa keuntungannya menikah? Lebih enak merawat diri sendiri, tidak ada yang membuat kerepotan.

Lebih enak tidur bergulingan, diatas ranjang dengan hanya ditemani guling, dan tidak harus dilayani melayani siapapun, Panembahan Senapati tersenyum dan berkata, Benar Yayi (dinda) apa yang kamu katakan, memang lebih enak sendirian.

Hanya yang membuat aku menjadi heran oh Nimas, ada seorang yang tengah sendirian ditepi pantai, seorang lelaki yang sangat menghiba hati, tengah berjalan menghibur diri dipinggir pantai, malahan digandeng dengan paksa, dibawa mampir ke dalam istana.

Ratu  Kidul terpana malu mendengar ucapan tersebut, benar-benar mengena dihatinya, seketika dicubitnya Panembahan Senopati, melirik manja sembari tersenyum dan tak dapat berkata apa-apa, Panembahan Senopati terpikat hatinya, lantas berucap lirih.

Lebih gampangnya oh permata hatiku, kedatanganku di tengah samudera ini, karena aku tengah menderita sakit, sudah lama tak mendapatkan obat, bagaimana caranya, mengobati sakit cinta? Berkeliling dunia aku telah berusaha, mencari obat penyembuh, tiada lain hanya engkau oh permataku, yang pantas disebut sang tabib, karena mampu mengobati sakit cintaku, dengan kasih tulusmu kepadaku.

Sang Dyah sengaja cemberut, tahu maksud Panembahan Senapati, tahu watak laki-laki yang suka berbohong merayu, dalam hati Sang Dewi berkata, Ini orang hanya bermanis-manis dimulut saja, perkiraanku pasti tidak salah.

Meminta obat katanya? Padahal bukan sakit cinta maksud dia sesungguhnya, tapi sakit karena berkeinginan besar untuk menjadi seorang Raja, segan karena harus berhadapan dengan orang tua (angkat), yang sudah menganggap dirinya bagai anak sendiri, yaitu dia penguasa negara Pajang.

Akhirnya (Sang) Dyah berkata: apa kekurangan dari Sang Tampan, yang duduk di Mataram, sehingga harus berkelana ditepian samudera, tidak bisa aku memberikan obat penyembuh, kepada yang tengah sakit hatinya. Sungguh saya bukan dukun, api cinta dalam hati, tidak akan menyebabkan kematian bukan? Bukankah (engkau kangmas) bakal menjadi Raja yang besar, yang menguasai tanah Jawa, ditakuti oleh sesama Aji (Raja).

Sang penguasa Mataram, masa kekurangan wanita, yang cantik-cantik? Para kawula wanita yang seperti apapun, bersedia memasrahkan diri, jika memang (kangmas) inginkan. Selama ini dalam kesendirian saya, memang ingin memiliki seorang suami, yang bisa membantu mengabdikan diri kepada kerajaan, bagaimanapun juga pengabdian seorang wanita sebagai Ratu, tak akan mampu menyamai seorang pria, karena terjerat oleh kemben busana kewanitaannya (terbatas karena kodrat kewanitaannya).

Namun apabila memang hamba dibutuhkan, serta hamba diijinkan mendampingi, maka saya rela melayani Gusti (Penguasa) dari Mataram, demikianlah Sang Panembahan Senapati, begitu mendengar sabda Sang Dyah, yang sangat-sangat manis tersebut.

Semakin tak bisa menahan hasrat, digenggamnya tangan (Sang) Dyah dengan lembut, Sang Ratna (Intan) berkata sendu, Aduh sakit Pangeran, apa sih maunya, menggenggam jari jemari hamba? Jari jemari hamba kecil dan rapuh bagai daun kelor, kalau sampai putus siapa yang akan mengganti, walaupun Manusia Agung dari Mataram, tidak akan mungkin bisa menciptakan jari-jemari, sang pria (Panembahan Senopati) tersenyum pelan bisiknya, Jangan marah cantik.

Aku menggenggam tanganmu, jangan salah sangka, hanya ingin melihat cincin yang kamu kenakan, Ratu Dyah berkata lirih, Kalau memang hanya ingin melihat cincin yang hamba kenakan, dari kejauhan sebetulnya bisa kan? Pasti (kangmas) berbohong, hanya berpura-pura menggenggam jari, padahal menginginkan sesuatu yang lain, terlihat jelas gemetaran, sebelum terlanjur jauh, berikanlah hamba janji cinta yang bisa meyakinkan hamba.

Sang pria (Panembahan Senopati) tersenyum lantas bernyanyi, suaranya merayu merdu menghanyutkan hati, Ratu Wanita terpikat, kepada sang pria (Panembahan Senopati) cintanya meluap, senyum manisnya memabukkan, Panembahan Senopati luluh hatinya.

Ratu Wanita ditarik lembut, dipangku dengan mesranya, Sang Dyah tidak menolak, apa yang diinginkan hati (Panembahan Senopati), hasrat alami seluruh makhluk, yang diimpikan sekarang terwujud. Bagaikan keinginan Sang Hyang Wiku, yang menguasai seluruh alam, begitulah Panembahan Senopati tiada yang bisa menghalangi kehendaknya, terhanyun kecantikan Ratu Wanita, terus ditatapnya dia yang ada dipangkuan, bagai melihat boneka cantik yang indah. Dibopong menuju ketempat tidur, ditutuplah kelambu, sang pria (Panembahan Senopati) melepaskan hasrat, bagaikan kumbang, yang menikmati bunga yang tengah mekar, menikmati sari yang berada ditengah kuncup kelopak bunga gading.

Jin Perayangan dan Makhluk halus, diluar berebut ingin mengintip, ingin melihat Gusti-nya yang tengah memadu hati, terdengar suara mereka berbisik berisik, ketika Sang Dyah terkena senjata, tak terasa merintih mengaduh lirih. Terkejut kesakitan manakala tertimpa hasrat, Sang Dyah pecahlah mahkotanya, menyemburat membasahi tempat tidur, berpautan erat jatuhlah sari-sari kenikmatan, tercium bau wangi membersit, mengiringi pecahnya mahkota penguasa istana samudera.

Maka terbaring lemaslah (Sang) Dyah diatas ranjang wangi, seolah tanpa kekuatan, Panembahan Senopati iba melihatnya, dipeluknya Sang Dyah, dibopong menuju tempat mandi, sehabis mandi keduanya duduk berdampingan.  (Sang) Dyah tiduran diatas pangkuan sang pria (Panembahan Senopati), tiada henti-henti terus dicium, oleh sang pria Panembahan Senopati, mengerang mendesis Sang Retna Adi ( Sang Intan yang indah), berpelukan erat keduanya, dipenuhi kenikmatan asmara yang indah.

Singkat diceritakan, kedua insan yang tengah memadu hasrat, hingga sampai tujuh hari, keberadaan Panembahan Senapati didalam samudera, genap tujuh hari berkehendak untuk pulang, kembali ke negara Mataram.

Sang Pria (Panembahan Senopati) bersabda dengan berat hati, Aduh Gusti (Ayu) emas merahku, semoga kamu senantiasa bahagia, aku pamit hendak pulang ke Mataram, sudah terlampau lama berada di (istana) samudera, pastilah aku dinanti-nantikan.

Oleh rakyatku di Mataram, sudah lama menjaga negeri sendirian (tanpa ditemani Raja-nya), Ratu Wanita begitu mendengar, bahwa Sang Pria (Panembahan Senopati) berpamitan hendak pulang ke negerinya, seketika meluap kesedihannya, air matanya keluar deras. Belum puas hasrat hati, kepada Sang Pria yang dicintainya, segera beranjak pelan dari pangkuan, berat dia berkata, Betapa indah rasanya, apabila cinta bisa berimbang saling memberi.

Cinta ini akan terasa lebih sempurna, apabila aku bisa memenuhi, dan memberikan apapun yang dikehendaki kangmas, pasti akan berguna apabila aku bisa membantu, Sang Pria (Panembahan Senopati) menyadari apabila (Sang Ratu Kidul) tengah berniat dalam hati untuk membantunya, hal itu tampak dari ucapan Sang Retna Adi (Sang Intan yang Indah.

Pelan-pelan melepas kain setagen (kain pengikat kemben), berhias bunga-bunga emas, (Sang) Dyah segera dipeluk, dibawa berkeliling, menikmati indahnya taman, sembari terlantun kidung Mijil. Aduh emas merahku janganlah gundah dihati, buktikanlah, aku tidak akan lupa kepadamu, dari hidup sampai mati yayi (dinda), pengabdian cintaku, tulus dan murni.

Walaupun aku banyak memiliki istri, yang sangat cantik-cantik, besarnya cintaku hanya untukmu, yang menjadi cinta utamaku, hanya kamu Gusti (Ayu), aku benar-benar tergila-gila.  (Tidakkah kau lihat) besarnya hasratku diatas ranjang kepadamu, tak lepas-lepas aku memangkumu, hanya saja aku meminta buktikan cintamu, pastilah aku akan tetap menderita sakit, yang tak mendapatkan penyembuhan, hanya kamu obat penyembuhku. Lenyapkanlah gundahnya hati yang menderita, sungguh aku nantikan, walau harus aku menunggu disini, aku akan melakukannya, akan tetapi bagaimana yayi (dinda), dengan para rakyatku?

Bagaikan tertusuk jarum pemintal hati Ratu Wanita, terperangah oleh kata-kata, ucapan manis sang pria (Panembahan Senopati) yang manis, merebaklah cinta Sang Dewi sepenuhnya, kepada Sang pria (Panembahan Senopati0 pelahan dia berkata, Turunkan aku Pangeran.

Sang Dewi telah turun dari pangkuan, pelan duduk berjajar, berkata lagi Sang Dyah kepada Sang pria (Panembahan Senopati), Mohon maafkan hamba, karena telah berani, kepada seorang pria yang hamba berbakti kepadanya. Tiada lain permintaan hamba, hanyalah kesungguhan cinta, jangan sampai terputus hingga anak cucu kangmas nanti, seterusnya menjadi kekasihku, Sang pria (Panembahan Senopati) memeluk sembari berkata, dan memangku kembali serta menciumi mesra.

Baiklah emas merahku janganlah ragu, kelak pasti akan terjadi, lagi Sang Dyah berkata, Terima kasih Pangeran apabila tengah menghadapi bahaya, ditengah peperangan, agar supaya saya bisa secepatnya membantu.

TELUR LUNGSUNG JAGAD DAN MINYAK JAYENG KATON

Sang Dyah mendekatkan wajahnya kepada sang pria (Panembahan Senopati) sembari pelan memberikan petunjuk, sebagai akhir pertemuan mereka, Bersendekaplah kangmas sembari menahan nafas, jejakan kaki ketanah sebanyak tiga kali, pastilah hamba akan datang, bersama para prajurid makhluk halus.

Dan hamba haturkan agar senantiasa unggul dalam peperangan, agar supaya sakti tak terkalahkan, sebutir Telur bernama Lungsung Jagad, makanlah akan besar khasiyatnya, panjang usia, kekuatan tersembunyi akan timbul.

Dan juga Minyak bernama Jayengkatong, pemberian Dewa kepada hamba. Kedua benda telah dipasrahkan kepada Sang pria (Panembahan Senopati), Panembahan Senapati setelah menerima, sangat gembira dihati, karena mendapat sarana ampuh untuk keunggulan dalam perang.

Kembali Sang Dyah memberikan petunjuk kepada sang pria (Panembahan Senapati), Ilmu Keraton Pantai Selatan, agar supaya disegani, seluruh makhluk halus, Panembahan Senapati telah memahami semua petunjuk, setelah itu Sang Dewi, memeluk erat-erat Sang pria (Panembahan Senopati).

Aduh Pangeran jika bersedia, memenuhi permintaan hamba, tundalah kepulangan kangmas, menurut hamba belum saatnya, bagaimana dengan saya nanti, apabila paduka pulang sekarang?

Sang Raka (Kanda) menghibur hati Sang Yayi (Dinda), Aduh emas merahku, cinta kasihku sudah jelas kamu buktikan, bahkan petunjukmu telah aku terima yayi (dinda), bagaimanapun juga aku memaksakan diri untuk pamit, berpisah dengan engkau emas merahku. Jangan tersedihkan oleh karena rindu emas merahku, relakanlah aku, pulang ke Kerajaan Mataram, tidak akan lama aku pasti kembali, ke Istana Samudera, menemui engkau oh emasku. Sungguh sebenarnya tidak tahan aku, berpisah dengan emasku, hanya karena berat tanggung jawab seorang Raja yang memiliki rakyat (maka terpaksa aku harus pulang), Sang Dyah menjatuhkan kepala ke pangkuan dan berkata, Jangan terlalu lama oh Pangeran, segeralah kembali.

Dan pada akhirnya waktu perpisahan tiba, segera keluar Sang Anom (Muda), Ratu Kidul melepas kepulangannya, beriringan sembari bergandeng tangan, tiba di Srimenganti, segera sang pria (Panembahan Senopati) berkata manis.

Sudah cukup aku terima bakti cintamu yayi (dinda), dengan mengantarkan kepergianku, sebelum berpisah aku minta bukti cintamu sekali lagi, sebagai tumbal terampuh untuk mengobati kerinduanku. Sang Dyah menuruti, permintaan Sang pria (Panembahan Senapati).

Segera pasrah menyediakan bibir indahnya, bertaut bibir dan gigi pelan, gemas digigit bibir ranumnya, Sang Dyah terkejut namun segera membalas ciuman, selesailah yang tengah dimabuk cinta, lantas berpisah.

Panembahan Senopati telah sampai diluar, istana Sang Awet Muda (Kangjeng Ratu Kidul), sirna seketika wujud istana dan berganti samudera, Panembahan Senapati saat menapaki air laut, bagaikan berjalan ditanah rata, dia berjalan terus. Sesampainya Panembahan Senopati dipesisir pantai, waspada seketika, manakala melihat siapa yang tengah bertafakur di pantai Parangtritis, jelas terlihat adalah Sang Guru, tak lain adalah Sunan Adilangu (putra Sunan Kalijaga).

PANEMBAHAN SENOPATI TERSADARKAN DIRI

Cepat Panembahan Senapati berlari, mendekati Sang Guru yang mulia, bersujud dikakinya, lantas mencium tangan Sang Yogi, selesai berbakti, segera duduk bersila takjim. Sunan Adilangu segera berkata pelan, Anakku sangat bersyukur diriku, bisa bertemu denganmu disini, sebab aku memang ingin memberikan nasehat kepadamu, tentang perbuatan yang patut, agar selamat senantiasa dirimu.

Dirimu diberi anugerah digdaya dan sakti, melebihi manusia umumnya, terbukti ditengah samudera, kamu berjalan diatasnya tanpa terbasahi oleh air sedikitpun, bagaikan kamu berjalan di daratan, walau begitu janganlah sombong.

Riya’ (Pamer) Kibir (Sombong) congkak itu semua tidak sepatutnya, larangan Hyang Manon (Yang Maha Agung), juga larangan para Nabi Wali dan Auliya’ semua, akan mendapatkan neraka sebagai kutuk Hyang Widdhi, begitulah larangan Yang Maha Tersembunyi, tentang keangkuhan.

Manusia yang merasa tinggi dan sombong, siapa yang bisa menandingi aku, benar-benar larangan Hyang Suksma (Yang Maha Samar) Sang Penguasa Sejati, kesombongan, suka pamer serta keangkuhan, agar supaya dipuji lebih dari yang lain, lebih terkenal dari sesama.

Seolah-olah mempersamakan dirinya dengan Hyang Widdhi, manusia yang seperti itu, terkenal di dunia dan kerajaan lainnya, keangkuhan dan ingin memperlihatkan dirinya terus menjadi, agar supaya kagum yang melihat, agar supaya senantiasa dipuji-puji.

Setiap tindakan sudah tidak memiliki pertimbangan, hanya menuruti kepuasan diri sendiri, janganlah seperti itu anakku, ingatlah akan tujuan hidup yang sesungguhnya oh Senapati, dan aku nasehatkan satu hal lagi, bahwa manusia yang benar-benar memegang ilmu. Janganlah bersikap seperti langit, seperti bumi seperti gunung, dan seperti samudera, yang dimaksud bersikap seperti langit, adalah seorang manusia, yang mengandalkan keluhurannya.

Jangan bersikap seperti bumi yang tebal dan luasnya melebihi apapun, jikalau manusia, bersikap seolah tidak ada lagi yang melebihi luasnya kekuasaannya, bersikap seperti gunung merasa besar dan tinggi, bersikap seperti samudera merasa paling dalam pengetahuannya, dan merasa paling dahsyat ombaknya. Semua mengandalkan kedigdayaannya, bumi dan samudera, langit dan gunung adalah seumpama watak-watak jelek manusia, sudah tiada kebaikannya lagi, sesat kelakuan manusia yang seperti itu, kurang luaslah wawasannya.

Jikalau kamu menginginkan untuk menjadi Raja, menguasai seluruh orang, jangan pernah putus usahamu anakku, senantiasa berpasrah kepada Yang Maha Menguasai Bumi, heningkanlah segala keliaran batinmu, agar supaya bisa mengetahui Suksma Agung (Maha Samar Yang Agung).

Pastilah akan gampang terwujud apa yang kamu kehendaki atas kehendak (Hyang) Widdhi, buatlah terang penglihatan kesadaranmu, jangan suka bertindak seenaknya, perbanyak ibadah penuhilah perintah agama, dalam hati senantiasa diingat, agar manis jalan hidupmu.

Dan lagi anakku sungguh aku ingin bertanya, apa yang kamu dapatkan dari tengah samudera? Panembahan Senopati menjawab pelan, Yang saya peroleh, Telur Lungsung Jagad yang harus saya makan, dan Minyak Jayengkatong, kedua benda dihaturkan, Sang Wiku melihat dan berkata, Untunglah belum sempat kamu pakai, jikalau sudah kamu pakai aku tak bisa membayangkan akan menjadi apa kamu?

Hanya akan mendapatkan kesengsaraan hidup, akan gagal keinginanmu untuk menjadi Raja, gagal impianmu menguasai dunia, kamu akan tinggal di dalam samudera, tidak akan bisa pulang ke Mataram, seluruh rakyatmu tidak akan bisa melihatmu, begitu juga istri dan anakmu, karena sudah berganti alam, menjadi pasangan Ratu Kidul, hilanglah wujud manusiamu.

Dan lagi aku sungguh-sungguh bertanya, kamu jatuh hati kepada Ratu Wanita, bagaimanakah wujudnya? Panembahan Senopati menjawab pelan, Wujudnya sangat cantik, seumur hidup belum pernah hamba melihat, wanita secantik Dyah Kidul, Sang Wiku tersenyum dan berkata, Engkau jatuh cinta, terpikat wujud cantik yang sesungguhnya hanyalah sihir belaka.

Sungguh kamu belum awas, dulu aku sudah pernah memasuki Istana (samudera), cincin (Sang) Dyah aku curi, dari jari kelingking Sang Rum (Wangi), lihatlah ini anakku, terkejut Sang Panembahan Senapati, manakala melihat, wujud cincin sedemikian besarnya, sebesar tebok (tampah kecil tempat memilah butiran padi dengan kulitnya setelah ditumbuk, terbuat dari jalinan bambu : Damar Shashangka) lobang lingkarannya, Panembahan Senapati tertunduk.

Masih belum percaya dalam hati, Sunan Adi menangkap ketidak percayaan itu, bimbanglah hati Panembahan Senapati, lantas berkatalah Sang Wiku, Anakku mari kita buktikan, mumpung Ratu Wanita sedang tidur sekarang, akan terlihat wujudnya yang asli, perhatikanlah dengan seksama nanti, setelah itu Jeng Sunan dan Panembahan Senapati, berjalan ketengah samudera.

Sesampainya didalam istana samudera, Ratu Kidul didapati tengah tertidur, tubuhnya rebah dan sangat-sangat besar, bahkan terdengar bunyi dengkurannya, rambut gimbal taringnya tampak mencuat, panjangnya tiga jengkal jari, sebesar carak (ceret/tempat air minum) besarnya taring, payudaranya menggelantung turun, Panembahan Senapati ngeri melihat wujud tersebut, terpaku tak bisa bicara sepatah katapun.

Sunan Adi berkata kepada Panembahan Senopati, Anakku itulah wujud dia yang sesungguhnya, bisa berubah wujud sangat-sangat cantik hanya karena kekuatan sihir belaka, mendapat anugerah dari Hyang Agung, manakala terjaga dari tidur wujud apapun yang diinginkannya bisa dia buat, mampu merubah wujud tujuh kali, dalam sehari dengan wujud cantik yang berbeda-beda, apabila kamu sudah cukup melihat, mari kita segera pulang jangan sampai nanti dia terbangun, tidak enak dihati jadinya nanti.

Setelah itu segera beranjak pulang kedua priyayi (bangsawan) agung, sepanjang jalan Sunan (Adilangu) terus menasehati, Aku tidak bermaksud menghalangi anakku, kedekatanmu, dengan Ratu Wanita terserahlah kepadamu, sesungguhnya sudah benar apa yang kamu lakukan (sebagai seorang Raja), namun aku menyarankan, sebatas pertemanan saja (antara dua orang Penguasa), sebab dialah yang menjaga pulau Jawa, tak ada salahnya jika dimintai bantuan.

Marilah kita pulang ke Mataram, aku ingin mampir sejenak ke istanamu, setelah itu keduanya mempercepat jalan masing-masing, Sunan Adilangu, diiringi Panembahan Senapati, jalannya secepat kilat, hanya sekejap saja sudah sampai, langsung menuju ruang belakang, Sunan Adi dan sang cucu yaitu Panembahan Senapati, hendak membuktikan khasiat benda yang diperoleh dari samudera.

KI JURU TAMAN MENJADI RAKSASA MENGHUNI GUNUNG MERAPI

Tersebutlah Juru Taman Panembahan Senapati, sudah uzur usianya dan suka madat, sehingga terkena sakit batuk badannya kurus, jika kumat batuknya dia tak bisa tidur semalaman, memohon selalu kepada Hyang Widdhi, supaya diberikan kesehatan, agar diberikan panjang umur, setiap berdoa pasti seperti itu permintaannya, saat itu tak disadarinya jika Gustinya menghampiri, berusaha turun dia dari balai dengan susah payah.

Setelah duduk berkatalah Panembahan Senapati, Hai Ki Taman aku tadi melihat, engkau berdoa meminta kekuatan badan, apakah permintaanmu itu sungguh-sungguh? Meminta sembuhnya penyakitmu, meminta panjangnya usiamu, Juru Kebun (Taman) menhaturkan jawaban, Benar Gusti sungguh hamba, siang malam meminta kepada Hyang Widdhi, agar diberikan usia panjang dan kesembuhan.

Kalau memang kamu sungguh-sungguh, aku akan memberikan sarana buat hidupmu, agar supaya sirna segala penyakitmu, Ki Taman menghaturkan terima kasih, bergerak mendekat diberi telur dan diterima sudah, segera disuruh memakan mentahan, segera dimakan seketika itu juga, Ki Taman berputar-putar tubuhnya, bagaikan gangsing dan menggeram keras, suaranya bagaikan pohon yang tumbang dari tempatnya.

Seketika berubah wujudnya sangat-sangat besar, Juru Taman bagaikan gunung anakan besarnya, taring muncul dan rambut berubah gimbal terkejut (Panembahan Senapati), melihat kejadian itu sangat-sangat heran hatinya, Sang Wiku berkata kepada Panembahan Senapati, Seperti itulah kejadiannya, apabila kamu menuruti perkataan Ratu Kidul, Sang Panembahan Sena(pati) tak bisa berkata-kata, tertegun dan kecewa melihat akan hal itu, melihat wujud bagai anakan gunung.

DUA ABDI PEREMPUAN JADI ROH HALUS

Sunan Adi(langu) segera berbicara lagi, Tinggal satu benda lagi anakku buktikanlah, apa yang dinamakan Minyak Jayengkatong tersebut, Sang Panembahan Senapati menurut, lantas memerintahkan untuk memanggil, seorang emban (pelayan wanita), bernama Nini Panggung, dan seorang penabuh gamelan bernama Ki Kosa, tak berapa lama kemudian keduanya telah menghadap, Sang Panembahan Sena(pati) pelan berkata.

Bibi Panggung kamu saya panggil, berikut Ki Kosa kalian berdua akan aku coba, untuk memakai Minyak Jayengkatong, pemberian Ratu Kidul, apabila sudah memakai pasti akan menjadi sakti luar biasa, yang diperintahkan hanya menurut, tidak membantah lagi, (Nini) Panggung (dan) Ki Kosa ditetesi, (Minyak) Jayengkatong seketika tak terlihat keduanya, beralih alam menjadi siluman.

Begitu keduanya sirna tak terlihat heranlah Panembahan Senapati, ketiga abdinya berubah tidak lumrah, lantas pelan dia berkata, Hai (Ki) Kosa (dan) Bibi Panggung, kalian sekarang tidak bisa dilihat oleh mata lagi. Menjawab yang telah tak terlihat, Benarlah demikian Gusti, namun saya tidak akan pergi jauh (dari istana Mataram), semenjak saat diberi Minyak oleh Gusti, walaupun kami tak akan bisa dilihat mata.

Sunan Adi(langu) pelan menyahut, Hai kamu Ni Panggung dan si Kosa, ikhlaskanlah ini semua, sudah menjadi kehendak Hyang Agung, kalian semua dijadikan tumbal oleh Gusti kalian, kalian sekarang bukanlah manusia, sudah tidak bisa dilihat, kalian sudah berubah menjadi Jin, akan tetapi janganlah kalian meninggalkan Mataram, dampingilah Gusti kalian.

Sepertinya akan lebih baik oh anakku Senapati, apabila ketiga abdi ini aku tempatkan, (Nini) Panggung dan (Ki) Kosa, penunggu di pohon Beringin tua, sedangkan Juru Taman aku tempatkan di Gunung Merapi, memimpin seluruh makhluk halus yang ada di gunung tersebut, menjaga keamanan, menghadang musuh yang hendak merusak kerajaan, Juru Taman yang bertugas menghadapi, semua yang diperintah mematuhinya.

Ketiganya sudah menempati tempat yang diperintahkan, (Nini) Panggung (Ki) Kosa dan Juru Taman, setelah selesai membuktikan, kedua priyagung (Sunan Adilangu dan Panembahan Senapati) masuk kedalam istana, Panembahan Senapati terus terheran-heran dalam hati, hasil dari istana samudera, hampir saja membuat dia celaka salah jalan, Sunan Adi(langu) mendadak berkata, Senapati istanamu tanpa pagar pembatas, bagaikan seekor kerbau yang dibiarkan terumbar.

Tanpa kandang, oh anakku Senapati Ngalaga, hal ini adalah kepasrahan yang keliru, bukan kepasrahan kepada Allah yang benar, bahkan angkuh kerajaan Mataram, semua perbuatanmu, selalu didahului kecongkakan, bagai kerbau dan sapi tanpa kandang, menampakkan siapa yang berani dengan aku, akan memancing orang jahat dan musuh.

Kenakanlah kesadaran yang jernih (ening) dan penuh ketenangan (eneng), berjalanlah dengan hati penuh syukur dan tulus, istana dengan diberi pagar (adalah wujud kepasrahan yang benar), ibarat kamu memiliki kerbau dan sapi jika berontak hendak lepas, pegang erat keluh (tali pengikat yang ada dihidung)-nya, apabila didalam kandang, masukkanlah semuanya, kunci rapat pintu kandang, jagalah baik-baik siang maupun malam, itulah bentuk kepasrahan yang benar kepada Sang Penguasa Sejati.

Pilahlah dan pilihlah, apa saja yang pantas bagi sebuah kerajaan, yang sesuai dengan kedudukan dan kecerdasan kamu, perbanyaklah ikhtiar, dan bersandar kepada (Hyang) Widdhi, setiap tindakanmu, warnailah dengan rasa syukur, senantiasa ingat, baik saat berjalan duduk berbicara, ingatlah bahwa kamu adalah Raja.

Nanti akan aku berikan petunjuk anakku, bagaimana membangun kota agar kokoh kerajanmu, selamat sejahtera hingga nanti, ambilkan air anakku, jangan terlalu banyak air didalam kendhi secukupnya saja, Panembahan Senapati memenuhi permintaan, segera menyuruh agar mengambil, air didalam kendhi tanah, yang diperintahkan segeramengambilkan dan tak lama kembali membawa apa yang diminta, air didalam kendhi.

Lantas bergeraklah Sunan Adi(langu), sembari membawa kendhi berisi air, berjalan mengelilingi perbatasan, Panembahan Senapati mengiringi dibelakang, sembari membawa tali, untuk mengukur tanah dimana air dicurahkan, berkata Sang Wiku (Sunan Adilangu), Hai anakku Senapati, ikutilah bekas dimana air aku curahkan, bangunlah tembok kota disitu.

Karena dititahkan menjadi makhluk hidup oh anakku, jangan berhenti menjalankan hati yang dipenuhi syukur, dan seyogyanya bias memperhatikan kebutuhan, dari semua rakyatmu, perlakukan dengan kasih, manakala kurang diperhatikan, bakal mencibpatak rusauhnya kerajaan, disebabkan kurangnya perhatianmu, tidak merasa bahawa semua ini hanyalah pinjaman, pinjaman dari Yang Menguasai Alam.

Dan waspadalah selalu, manakala kamu memberikan perintah kepada seluruh rakyat, buatlah nyaman hati mereka, turutilah nasehatku, lsiramilah hati mereka denga kasih, sekarang mulailah mencetak, suruhlah orang-orang Mataram, dalam bekerja, usahakan mengerjakan sebagus mungkin, sehingga bisa bertahan lama sampai nanti.

Anakku manakala sudah sesuai dengan laku hidup yg sesungguhnya, sungguh bagaikan sudah menjadi Raja, sesuai dengan kelakuan manusia utama, menjadi wakil Hyang Suksma, menguasai alam dunia, yang bernar-benar berkuasa, kepada seluruh yang hidup, karena memang manusia seperti itulah yang berhak memiliki, dan akan kuat tanpa rintangan.

Ketahuila keberadaan (Hyang) Widdhi, oh anakku keberadaan-Nya yang sejati, sesungguhnya tak berpisah dengan segala aktifitasmu, akan tetapi tiada kamu hiraukan, bahkan tiada kamu ketahui, sangat dekat namun samar, tiada bertempat jauh disana, benar-benar nyata didepanmu, Tuhan sesungguhnya ada didepan matamu, tetapi terliputi alam dunia.

Panembahan Senapati mematuhi dan menghaturkan terima kasih atas nasehat Sunan Adilangu. Namun ia gelisah  karena terlanjur tenggelam dalam lautan asmara dengan Kanjeng Ratu Kidul. @@@

Categories: INTISARI AJARAN DALAM FENOMENA PERTEMUAN PANEMBAHAN SENOPATI DAN KANJENG RATU KIDUL DALAM KEPUSTAKAAN BUDAYA JAWA | 9 Komentar

REPORTASE BAKSOS: LAHIRKAN MANUSIA BARU DALAM DIRIMU!


Assalamualaikum wr wb.

Dunia kita adalah dunia yang dibangun dan dibingkai oleh kekuatan otak kiri (logika) yang berakibat pada kecenderungan orang dalam setiap gerak hidupnya lebih mengandalkan logika dan perhitungan rasional. Padahal kenyataan hidup yang dihadapi, begitu banyak fenomena kehidupan tidak mampu dicerna ataupun dikendalikan oleh logika. Akibat lebih jauh seringnya terjadi MASALAH HIDUP YANG BERANEKA RAGAM akibat konflik internal individu maupun konflik eksternal antar individu karena hanya mengandalkan suatu argumentasi yang diperoleh dari pemberdayaan logika belaka. Tidak banyak di antara kita yang menyadari bahwa fenomena hidup adalah adanya daya tarik menarik antara kekuatan rasional (AKAL) dan irasional (EMOSI) untuk MEMECAHKAN MASALAH / PROBLEM SOLVING.

Di bakti sosial parangkusumo 26 Desember 2015 kemarin, kita benar-benar ditantang untuk menggunakan hati nurani. Betapa tidak, saya melakukan perjalanan dari Sidoarjo ke Yogyakarta menggunakan transportasi darat. Biasanya perjalanan ditempuh sekitar 9 jam, namun kali ini 16 jam. Luar biasa macetnya!!! membuat kesabaran kita benar-benar diuji untuk menjalankan kendaraan setapak demi setapak sampai akhirnya selamat sampai tujuan. Alhamdulillah.

Tiba di Jogja, kamar hotel yang biasanya tersedia di banyak titik di kota gudeg itu harus dicari seperti mencari jarum di tumpukan jerami. Walhasil saya harus muter-muter di jogja sekian lama sampai akhirnya ada satu tempat yang bisa kita tempati walau sesaat. Setelah saya tiba duluan di Jogja, saya kabarkan titik kemacetan yang harus dihindari oleh rombongan satu  mobil yang berangkat belakangan dari markas KWA Sidoarjo.

Satu persatu peserta bakti sosial berdatangan dari berbagai penjuru. Saya membuka acara dengan sebuah diskusi tentang bagaimana seharusnya kita menggunakan dua belah otak dalam diri manusia. Otak kiri berfungsi sebagai kekuatan logika dan otak kanan berfungsi sebagai kekuatan rasa/batin/hati sehingga dua-duanya harus dimanfaatkan secara maksimal.

Agama dibangun dengan dua belahan kekuatan otak manusia itu. Perjalanan manusia adalah ibadah dalam arti yang luas meliputi syariat hakekat tarikat dan makrifat. Itu mengandaikan bahwa seseorang wajib memaknai hidupnya secara jelas dan tegas dengan menggunakan semua alat espistemologis yang ada: wahyu, ilmu pengetahuan, mata telinga, hati nurani dan akal budinya.

Kunci sukses dunia akhirat adalah bagaimana dia mengembangkan kreativitas. Dan kreativitas akan lahir bila seseorang menggunakan kekuatan otak kanannya. Untuk melatih penggunaan otak kanan, banyak cara. Salah satu  caranya adalah memilih apa saja yang alternatif yang tidak biasa dilalui dan dilakukan sehari-hari.  Masih banyak lagi cara sehingga apabila hal ini kita biasakan maka kita terbiasa untuk keluar dari pola-pola yang tetap dalam hidup kita.

“Kreativitas dekat dengan kegilaan” dan lakukan hal-hal yang gila dalam hidupmu. Jangan pernah takut dicap aneh-aneh, gendeng, edan, dan sebagainya. Kegilaan adalah laboratorium untuk mengeksplorasi  hidup semaksimal mungkin sehingga kita tahu sampai sebatas mana sesungguhnya bingkai kemampuan kita. Kita tidak akan pernah tahu batas kemampuan kita kalau belum mengetesnya sendiri. Keluarlah dari Zona Nyaman dan bergeraklah bebas!

20151225_095457-1

Semua nabi dan rasul adalah manusia-manusia yang sangat kreatif. Dia bisa mengetahui batas kemampuannya untuk hidup sehingga akhirnya Allah SWT memberikan mukjizat kepada mereka: Ibrahim A.S tidak mempan dibakar api, Muhammad SAW yang ahli bertapa di gua Hira bertemu dengan Jibril, Musa A.S bisa melewati laut tanpa tenggelam, Isa A.S bisa menghidupkan orang mati dan sebagainya.

Para nabi itu disiksa, dimusuhi, dilempari, dicaci maki dan dihina dengan permusuhan yang luar biasa yang belum pernah ada sebelumnya dalam lintasan sejarah kemanusiaan. Namun berkat keuletannya mengolah kreativitas kemanusiaannya dan akhirnya datang pertolongan Allah SWT: mereka tahan uji dengan kesabaran yang juga diluar batas kemanusiaan pada umumnya.

Selepas kepergian Nabi Muhammad SAW, tidak ada nabi baru. Artinya bahwa kualitas kenabian itu sudah sempurna. Kita hanya bisa mencerap dan menghayatinya garis  kualitas kenabian semenjak Adam A.S sampai Muhammad S.A.W secara utuh apabila kita menjadi manusia yang kreatif. Yaitu kreativitas untuk memaknai hidup kita masing-masing yang dimaksudkan untuk menjadi manusia yang sesuai dengan Kehendak AllAh SWT.

Maka kita perlu melahirkan manusia-manusia baru dalam diri kita sendiri-sendiri. Manusia baru itu adalah manusia yang taat pada perintah Allah SWT dan menjauhi larangannya dalam arti yang seluas-luasnya. Melaksanakan secara kaffah/utuh sempurna ibadah wajib dan sunnah-sunnah. Hidup adalah medan yang luas untuk berkarta semaksimal mungkin. Menjadi diri yang sadar kesejatiannya. Awas eling dan waspada semua fenomena dan gejala. Bahasa kita sangat terbatas untuk mengungkapkannya.

Maka sangat sepakat bila dalam bakti sosial kali ini acara ditutup oleh pengijasahan dari Bang Krisna Raka Mas Jambrong yaitu sebuah ilmu trawangan yang menurutku adlah ngelmu sidik paningal; mendengar suara-suara yang sejati dan melihat hal hal yang sejati hingga nanti kita sampai pada akhir hayat masing-masing yaitu menyatu dengan Dzat Yang Maha Segalanya…Yang Maha Mendengar dan yang Maha Melihat “Ya Sami’ Ya Bashir”

 Wassalamualaikum wr wb.

@Kwa,akhir 2015

Categories: REPORTASE BAKSOS 26 DESEMBER 2016 | 10 Komentar

DOKUMENTASI BAKSOS KWA 26 DESEMBER 2015


IMG-20151227-WA0026 (1)IMG-20151226-WA000920151226_133817IMG-20151227-WA0016IMG-20151226-WA0065IMG-20151227-WA0012IMG-20151226-WA005720151226_140903IMG-20151227-WA0009IMG-20151227-WA0022

Categories: DOKUMENTASI BAKSOS KWA 26 DESEMBER 2015 | 6 Komentar

WIRID KWA 23 DESEMBER 2015


ALLAH SWT ITU PUNYA SEKIAN TRILYUN CARA UNTUK MERUBAH DIRI SESEORANG SESUAI DENGAN KEHENDAK-NYA. SALAH SATU CARA ITU ADALAH WIRID/DZIKIR. KULANTUNKAN DZIKIR SIANG MALAM PAGI SORE, MEMIKIRKAN DAN MERESAPI KANDUNGAN-NYA DI DALAM DIRIKU MAUPUN DI ALAM SEMESTA…

JANGAN KAU TANYAKAN APA FADHILAH, APA MANFAAT, APA FUNGSI WIRID INI UNTUK DIRIKU KARENA BAGIKU PERTANYAAN ITU TIDAK PANTAS DISAMPAIKAN. ADANYA ASMAK ALLAH SWT  TIDAK MUNGKIN TIDAK PUNYA MAKSUD DAN TUJUAN…. KUYAKIN SEMUA ASMAK ITU PENTING, DAN ALLAH SWT SENDIRI YANG AKAN MEMBERIKU ARTI, MEMBERIKU MANFAAT, MEMBERIKU HIDAYAH. BUKAN DARI AKALKU ATAU PIKIRANKU.

INILAH WIRIDKU MINGGU INI SAUDARAKU: YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YANG KALAU DI BAHASA INDONESIAKAN YANG PASTI MENGURANGI KEKAYAAN HAKIKAT ASMAK, ARTINYA MENJADI MAHA KAYA MAHA TERPUJI MAHA PERKASA MAHA MENGETAHUI.

===========================================

ALFATIHAH 1 X

YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM

YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM

YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM

YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM

YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM

YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM

YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM

YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM

YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM

YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM

YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM

YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM

YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM

YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM

YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM

YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM

YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM

YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM

YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM

YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM

YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM

YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM

YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM

YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM

@KWA,2015

Categories: >>PERPUSTAKAAN UTAMA | 6 Komentar

REBORN!!!! UNDANGAN TERBUKA RIYADHOH SAPU JAGAD AKHIR TAHUN 2015 BERSAMA KWA


Bakti sosial gratis terbuka untuk umum

DSCN0636Dunia kita adalah dunia yang dibangun dan dibingkai oleh kekuatan otak kiri (logika) yang berakibat pada kecenderungan orang dalam setiap gerak hidupnya lebih mengandalkan logika dan perhitungan rasional. Padahal kenyataan hidup yang dihadapi, begitu banyak fenomena kehidupan tidak mampu dicerna ataupun dikendalikan oleh logika.

Akibat lebih jauh seringnya terjadi MASALAH HIDUP YANG BERANEKA RAGAM akibat konflik internal individu maupun konflik eksternal antar individu karena hanya mengandalkan suatu argumentasi yang diperoleh dari pemberdayaan logika belaka. Tidak banyak di antara kita yang menyadari bahwa fenomena hidup adalah adanya daya tarik menarik antara kekuatan rasional (AKAL) dan irasional (EMOSI) untuk MEMECAHKAN MASALAH / PROBLEM SOLVING.

cropped-cropped-markas-kwa.jpgAcara RIYADHOH SAPU JAGAD AKHIR TAHUN 2915 BERSAMA KWA ini mengarahkan, mengingatkan, menyadarkan adanya kekuatan OTAK KANAN sebagai penyeimbang kekuatan otak kiri sehingga hidup kita akan lebih berkualitas.

Materi:

  1. Ruwatan dengan metode aktivasi simpul-simpul energy
  2. Konsultasi-konsultasi semua masalah hidup (rejeki, mahabbah/pengasihan, pembuka aura/keselamatan-keamanan, kekuatan)
  3. Pengobatan alternatif bagi sedulur yang sakit medis dan non medis menggunakan ENERGI DOA dan bekam/hijamah
  4. Pengisian POWER benda-benda menggunakan ENERGI DOA
  5. BONUS ACARA: IJASAHAN ILMU

cropped-cropped-panitia1.jpgPengisi acara: KI WONGALUS dan Para Alumni pelatihan yang tergabung dalam GURU-GRAND MASTER KWA (pengumuman ini juga sebagai undangan terbuka untuk para alumni program Guru KWA)

Tempat:  Cepuri – Pantai Parangkusumo, Yogyakarta

Jam: pagi 09.00 wib sd selesai

Hari/tanggal: Sabtu  26 Desember 2015

Sifat: Terbuka untuk umum dan gratis/tanpa mahar

Penanda titik kumpul adalah SPANDUK KAMPUS WONG ALUS.

Silahkan hadir untuk menikmati perjumpaan penuh akrab dan insya allah pertemuan kita kali ini adalah REBORN!!! KELAHIRAN KEMBALI DIRI kita masing-masing yang penuh rahmat dan barokah. Amin.

Salam takzim sedulur semua,

@wongalus,2015

Categories: >>PERPUSTAKAAN UTAMA | 6 Komentar

WIRID KWA MINGGU INI: 18 DESEMBER 2015


DSCN2411YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI

@KWA,2015

Categories: WIRID KWA DESEMBER 2015 | 9 Komentar

MISTERI SULUK HATI


Hidup segan mati tak mau. Lelah sudah rasanya mencari tahu dimanakah sumber kebijaksanaan kebenaran dan kebahagiaan itu berada. Timur barat utara selatan sudah aku jelajahi dan ternyata kosong. Tiada pula yang kuanggap paham, ternyata benar-benar paham. Di ujung rasa putus asa, kulanjutkan sedikit waktu yang tersisa untuk menulis. Entah,  ada manfaatnya atau tidak.

Tiba di sebuah kawasan yang tiada berpenghuni lagi di penghujung pulau. Ini desa yang jadi saksi kelahiranku dan sudah puluhan tahun silam kutinggalkan. Perlahan kuayunkan kaki  melangkah menuju sebuah surau mungil di tepi telaga. Malam itu terasa begitu suci dan ajaib. Kekuatan apa yang menyuruh kupergi ke sana, aku tidak tahu. Yang aku tahu, sebuah panggilan dari mimpi bahwa aku harus mendekati surau itu.

Bulan di langit tersenyum tipis, sedikit kuning berlatar kehitaman. Suara binatang-binatang malam menjadi musik ringan yang menggema dari segala penjuru penghantar jiwaku yang kosong melompong. Lolongan-lolongan srigala tiba-tiba muncul tidak terduga.. membuat suasana semakin purba dan mencekam.

Tiba di surau, aku menggelar sajadah. Nafas yang iramanya tersengal kuatur ritmis. Kukonsentrasikan pikiran ke keluar masuknya nafas. Hanya kepada nafas. Mulailah kugerakkan dua tangan dan mengucapkan Allahu Akbar…..Allah Maha Besar…. Yang Maha Besar Kekuasaaannya, Yang Maha Besar Kecintaannya, Yang Maha Besar Kekuatannya, Yang Maha Besar Ilmu Pengetahuannya, Yang Maha Besar semuanya tanpa terkecuali…..

Seketika itulah diriku hilang. Diriku sudah tidak lagi memikirkan apakah aku ada atau tidak, masih hidup atau sudah mati, apakah aku masih aku atau menjadi orang lain, dan aku tak ingat juga diri-diri lain… semua tiba-tiba terasa tidak ada. Dan tiba-tiba lahirlah satu kesadaran aneh yang kutulis berikut ini…:

Sukma yang terbang mengangkasa mencari tahu ada apa?….

Kulihat semua gerakan yang ada berhenti total. Bumi menjadi sunyi dan seluruh alam menjadi diam. Tiada punya suara dan gerakan apa-apa lagi. Mesin-mesin kendaraan tidak lagi menderu. Semuanya berada pada tempatnya. Mati total isi bumi ini sepersekian detik waktu di dunia namun yang kualami terasa begitu lama.

Kucoba melihat teman-teman dekat yang kukenal. Ternyata mereka ada di tempatnya masing-masing, mematung kaku tanpa gerak. Ada yang terlihat bergairah namun sayangnya ia diam mematung meski kutahu mereka masih hidup. Entah, hidup di dimensi yang mana… Ada yang terlihat lemas dan lesu dengan memegang segepok uang, matanya masih melotot dan nadinya terlihat mengeras. Bola matanya nyaris keluar. Nyawanya nyaris tercabut dari ubun-ubun. Penuh hasrat untuk memenuhi keinginannya melampaui kebutuhannya.

Ada lagi teman yang sedang berwirid hatinya.. Nah, di tengah alam yang diam dan tertidur, terlihat gerakan cahaya berpendar dari lubuk hatinya. Hati yang dipenuhi cahaya itu memancar hingga menyilaukanku. Setelah kuucapkan Assalamualaikum maka kuteruskan pengembaraanku. Baru beberapa saat melangkah, aku tertegun dengan sebuah pemandangan mencekam.

Seorang pertapa tegap dan tegar duduk disebuah batu di pinggir pantai. Ia sibuk menyatukan diri dengan diri sejatinya. Masih terlihat gambaran-gambaran pikirannya yang semakin samar seperti asap yang menggantang di atas kepala. Wajahnya tenang dan memancarkan aura terang. Aku tidak bisa menilai, apakah dia sudah berada di jalan yang lurus atau bengkok, namun ada bisikan bahwa dia saat ini harus menjalani ujian yang sangat berat untuk menebus dosanya di masa lalu akibat meniadakan Tuhan dalam hatinya. Maka, aku pun berdoa.. Ya Alloh, berilah petunjuk pada dia agar suatu saat kembali ke jalan-MU. Kemudian kulanjutkan perjalanan…

Tiba di sebuah tempat, terlihat seorang pria di depanku sedang mengasuh anaknya yang masih balita. Namun karena alam sudah diam, maka ia pun menjadi patung dengan posisi duduk. Sementara sang anak yang mematung itu terlihat mencari-cari kebahagiaan sendiri dengan bermain batu-batu kerikil. Hati sang pria tersebut terasa merana setelah ditinggal pergi isteri tercintanya. Menggelegak nyaris mengalir namun belum bergerak. Mungkin baru beberapa saat yang lalu berhenti. Kurasakan uap panas saat mendekati keduanya.

Kupeluk sayang si anak piatu. Ia yang nyaris kepanasan kemudian terasa sejuk. Degup dadanya mengatakan bahwa sang ayah sedang gelisah. Duh Gusti, ingin kubawa pulang dan kuasuh penuh perhatian dia.. namun apa daya memang bukan milikku dan dia adalah milik Alloh Sang Maha Pemilik Sejati…

Kutangisi dan kudukai si mungil itu…Ya Rabb… Tuhan Tercintaku.. kenapa kau sisakan duka di anak-anak milik-MU yang mungil tiada berdosa itu?  Kalau Engkau berkenan Ya Alloh, bunuhlah diriku yang penuh lumuran dosa dan zina sekarang ini sebagai ganti agar mereka yang masih putih dan suci itu bisa melanjutkan hidupnya dengan bahagia sejahtera. Nyaris aku kehilangan keseimbangan diri dari sholatku ketika aku merasakan adanya anak ini didekatku.

Inilah yang terakhir, namun juga berupa awal yang mungkin. Sebagaimana bunga yang layu dan gugur. Musim semi tiba dan kemudian hujan datang adalah bahasa alam tiada akhir yang sesungguhnya. Yang ada adalah berproses dan terus berproses. Itu pertanda adanya Gerak dan Aktif dari Yang Satu dan Kekal.

Di tengah diri yang tenggelam dalam sunyi sepi suwung itu… tergetarlah hati oleh suara khotbah dari ujung angkasa… “Inilah Khotbahku” katanya. Tiada terlihat apa-apa sehingga sulit dikenali siapa yang berucap lantang disukmaku. Tiada gerak lagi. Sukmaku siap menerima perintah apapun.

“Yang kau cari soal kebijaksanaan dan kebenaran itu sejatinya tidak ada…. yang kau cari itu mitos dan semuanya palsu!… hidup itu tidak bermakna sehingga tidak berharga untuk dilanjutkan!” katanya dengan keras.

Aku tidak berpikir lagi, yang ada hanya mengamini perintah dan suara itu. Akalku tak mungkin lagi menganalisis kebenaran ini. Benar atau salah di hatiku pun tiba-tiba melenyap pergi dan aku tak mampu meraihnya lagi. Aku masih menantikan sesuatu yang mungkin terjadi.

“Semuanya tersesat dalam hutan nilai-nilai keakuan sendiri, semua terlempar ke jurang hina nestapa, semua kewajibanmu itu sebuah kebodohan, semua makna yang kau rangkai dan kau bangun menjadi kepercayaan itu sia-sia belaka…agama, surga dan nerakamu itu khayalan… Kalau masih yakin bahwa tafsirmu itu benar, maka kupastikan engkau gagal… Bunuhlah dirimu!” katanya tanpa tedeng aling-aling.

Suara itu berlanjut semakin keras dan detail menjelaskan apa maksud yang sesungguhnya: “Bunuhlah semua hasrat dan keinginanmu… bila masih ingin ketemu AKU itu berarti engkau tidak cinta AKU…..apalagi keinginan mencari AKU!. AKU tidak perlu kau cari karena aku tidak dimana-mana dan tidak kemana-mana.. Aku tidak perlu waktu dan tempat untuk berada, jalanmu jalan nyata jalanku jalan rasa…” terangnya.

Suara itu berlanjut: “…Adaku aneh ajaib bercampur unik diluar jangkauan rekaan akalmu.. caraku mencintai atau membenci adalah cara-KU…bahasa-KU tidak sama dengan bahasamu…. Bahkan aku ada atau tidak ada jangan pernah perdulikan AKU… siapa dirimu? Sok tahunya engkau tentang AKU padahal engkau hanyalah sebutir mahluk yang kau katakan sendiri sebagai makhluk paling mulia padahal nyatanya dihadapan-KU, engkau ini tidak begitu…” kata dia.

Mendengar suara siapa itu yang begitu keras rasa-rasanya jantung yang tinggal satu dua degup ini pun langsung ingin berhenti untuk selama-lamanya. Linglung dan gila diri ini. Kosong… Suwung… Blank… Zero…. Tiba-tiba aku tersadarkan diri dari sholat dan diriku ternyata mungkin masih ada karena masih kurasakan nafas yang bergerak… meskipun nama pun aku merasa malu memakainya lagi….

Ya, kini …. aku tidak punya apa-apa dan siapa-siapa lagi dan aku telah kehilangan segalanya termasuk diriku sendiri tiada berbentuk lagi…. Remuk!

===dan dalam remuk redam penuh kedamaian tiadanya aku .. hatiku bergerak..  tubuhku berguncang…. menikmati suara alam yang mengalun penuh kelembutan yang perkasa maha

wongalusYA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN  YA QOWIYYU YA MATIIN  YA  QOWIYYU YA MATIIN

YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN  YA QOWIYYU YA MATIIN  YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN  YA QOWIYYU YA MATIIN  YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIINYA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN  YA QOWIYYU YA MATIIN  

YA  QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN  YA QOWIYYU YA MATIIN  YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN

YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN  YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN  YA QOWIYYU YA MATIIN  YA  QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN

YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN  YA QOWIYYU YA MATIIN  YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN  YA QOWIYYU YA MATIIN  YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN

YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN  YA QOWIYYU YA MATIIN  YA  QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN  YA QOWIYYU YA MATIIN  YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN

YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN  YA QOWIYYU YA MATIIN  YA  QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN  YA QOWIYYU YA MATIIN  YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN

YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN  YA QOWIYYU YA MATIIN  YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN

YA QOWIYYU YA MATIIN  YA QOWIYYU YA MATIIN  YA  QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN

YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN  YA QOWIYYU YA MATIIN  YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN

YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN  YA QOWIYYU YA MATIIN  YA  QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN

YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN  YA QOWIYYU YA MATIIN  YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN

YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN  YA QOWIYYU YA MATIIN  YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN  YA QOWIYYU YA MATIIN  YA  QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN

YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN  YA QOWIYYU YA MATIIN  YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN

============

 *) ARTIKEL INI SUDAH PERNAH SAYA POSTING TAHUN 2011 DI BLOG KITA INI DENGAN JUDUL “ZERO MIND” DAN DI BAGIAN TERTENTU SAYA EDIT, TERMASUK DI BAGIAN PENUTUP SAYA TAMBAH SESUAI DENGAN NYANYIAN DZIKIR DALAM HATI SAYA YANG TERLANTUN SECARA OTOMATIS HINGGA DETIK INI

Categories: REFLEKSI AKHIR TAHUN 2015 | 8 Komentar

DOA BERPRESTASI UNTUK PARA PELAJAR INDONESIA


Assalamualaikum wr wb.

amanahIni musim belajar. Bagi para siswa sekolah terutama yang akan menghadapi ujian-ujian akhir, maka Anda perlu mempersiapkan diri dengan sebaik baiknya.

Selain syariat wajib harus terpenuhi yaitu BELAJAR YANG KERAS maka jangan dilupakan adalah BERDOA untuk memohon kepada Alah SWT agar diberikan hasil belajar yang memuaskan dan prestasi terbaik. Oleh karena itu, berikut ini bisa anda amalkan secara rutin setelah sholat:

Kepada Nabi Muhammad SAW, Semua Nabi Rasul, Semua Wali/Wasul, Semua para penyebar dan penerus ilmu Allah SWT, kedua orang tua dan diri anda sendiri, kirim  doa AL FATIHAH.

Selanjutnya bacalah doa:

ALLOOHUMMA AKHRIJNAA MIN DZULUMAATILWAHMI WA AKRIMNAA BINUURIL FAHMI WAFTAH’ALAINAA BIMA’RIFATIKA WASAHHIL LANAA ABWAABA FADL-LIKA YA ARHAMAR ROOHIMIINA

(Ya Allah, keluarkanlah kami dari kegelapan prasangka, muliakanlah kami dengan cahaya kepahaman, bukakanlah pengertian ilmu pada kami dan bukakanlah untuk kami pintu-pintu anugerah-Mu, wahai Dzat yang Maha Penyayang)

Selanjutnya akhiri doa dengan membaca:

ALLOOHUMMA INNII ASTAUDI’UKA MAA ‘ALLAMTANIIHI FARDUD-HU ILAYYA ‘INDA HAAJATII WA LAA TANSANIIHI YAA ROBBAL ‘ALAAMIINA

 (Ya Allah sesungguhnya aku menitipkan kepada Engkau ilmu-ilmu yang telah Engkau ajarkan kepadaku, dan kembalikanlah kepadaku sewaktu aku butuh kembali dan janganlah Engkau lupakan aku kepada ilmu itu wahai Tuhan Seru Semua Alam)

Demikian amalan ini dan semoga ada manfaatnya buat anda. Ayo berprestasi untuk Indonesia, Negeri yang kita sayangi ini agar maju sejahtera adil dan makmur.

Salam asah asih dan asuh penuh persaudaraan, Wassalamualaikum wr wb.

@kwa,2015

Categories: DOA BERPRESTASI UNTUK ANAK INDONESIA | 6 Komentar

DOA MUSTAJABAH UNTUK ANAK NAKAL, SAUDARA NAKAL, PACAR NAKAL, SUAMI-ISTERI NAKAL


===UNTUK ANAK NAKAL/PACAR/SAUDARA/SUAMI-ISTERI YANG  NAKAL AGAR KEMBALI KE JALAN YANG BENAR YAITU  JALAN ALLAH SWT===

Rangkaian doa dimulai dari membaca surat  AL FATIHAH 1  x

Lanjutkan dengan baca rangkaian doa sbb:

LAW ANZALNAA HAADZAA ALQUR-AANA ‘ALAA JABALIN LARA-AYTAHU KHAASYI’AN MUTASHADDI’AN MIN KHASYYATI ALLAAHI WATILKA AL-AMTSAALU NADHRIBUHAA LILNNAASI LA’ALLAHUM YATAFAKKARUUNA 

(artinya Kalau sekiranya Kami turunkan Al-Quraan ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan ketakutannya kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir)

THAA-HAA.

MAA ANZALNAA ‘ALAYKA ALQUR-AANA LITASYQAA. 

(artinya Kami tidak menurunkan Al-Qur’an ini kepadamu agar kamu menjadi susah)

ILLAA TADZKIRATAN LIMAN YAKHSYAA. 

(artinya tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah)

TANZIILAN MIMMAN KHALAQA AL-ARDHA WAALSSAMAAWAATI AL’ULAA. 

(artinya yaitu diturunkan dari Allah yang menciptakan bumi dan langit yang tinggi)

ALRRAHMAANU ‘ALAA AL’ARSYI ISTAWAA.

(artinya (Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah. Yang bersemayam di atas ‘Arsy)

INNAMA AMRUHU IDZA ARODA SYAI’AN AYYAQULA LAHU KUN  YA ALLAH LEMBUTKAN HATI  ( sebutkan nama target) SEBAGAIMANA ENGKAU MELEMBUTKAN BESI UNTUK NABI DAUD FAYAKUN

Usai berdoa, Selanjutnya lakukan pilihan cara berikut ini. Pilihlah satu cara yang paling mudah anda lakukan:

Cara 1:

tiupkan ke ubun-ubun target

Cara 2:

baca ke air dan minumkan kepada target

Cara 3:

baca dan tiupkan ke tangan kanan dan letakkan di dada bagian jantung target.

Insya allah hati target akan segera luluh atas ijin Allah SWT. Amin YRA.

@kwa,2015

Categories: SUAMI-ISTERI NAKAL | 19 Komentar

TANGAN YANG TIDAK TERSENTUH API NERAKA


Alkisah, suatu ketika Nabi Muhammad berjumpa dengan Sa’ad bin Mu’adz Al-Anshari. Ketika itu Nabi Muhammad melihat tangan Sa’ad melepuh, kulitnya gosong kehitam-hitaman seperti terpanggang matahari. “Kenapa tanganmu?,” tanya Nabi kepada Sa’ad.

pekerja-keras“Wahai Rasulullah,” jawab Sa’ad, “Tanganku seperti ini karena aku mengolah tanah dengan cangkul itu untuk mencari nafkah keluarga yang menjadi tanggunganku”. Seketika itu Nabi mengambil tangan Sa’ad dan menciumnya seraya berkata, “Inilah tangan yang tidak akan pernah disentuh api neraka”.

Dalam kisah lain disebutkan bahwa ada seseorang yang berjalan melalui tempat Nabi Muhammad. Orang tersebut sedang bekerja dengan sangat giat dan tangkas. Para sahabat kemudian bertanya, “Wahai Rasulullah, andaikata bekerja semacam orang itu dapat digolongkan jihad fi sabilillah, maka alangkah baiknya.” Mendengar itu Nabi pun menjawab, “Kalau ia bekerja untuk menghidupi anak-anaknya yang masih kecil, itu adalah fi sabilillah; kalau ia bekerja untuk menghidupi kedua orangtuanya yang sudah lanjut usia, itu adalah fi sabilillah; kalau ia bekerja untuk kepentingan dirinya sendiri agar tidak meminta-minta, itu juga fi sabilillah.” (HR. Ath-Thabrani).

Kerja adalah perintah suci Allah kepada manusia. Meskipun akhirat lebih kekal daripada dunia, namun Allah tidak memerintahkan hambanya meninggalkan kerja untuk kebutuhan duniawi. Kerja adalah melakukan sesuatu untuk mencari nafkah yang hakekatnya adalah manifestasi dari amal kebajikan.

thumb_kerja_kerasSebagai sebuah amal, maka NIAT dalam menjalankannya akan menentukan penilaian. Dalam sebuah hadits, Nabi Muhammad bersabda, “Sesungguhnya nilai amal itu ditentukan oleh niatnya.” Amal seseorang akan dinilai berdasar apa yang diniatkannya.

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (untuk kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi, dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu. Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi.” (QS. Al-Qashash: 77).

Jadi  budaya kerja  yaitu nilai-nilai sosial atau suatu keseluruhan pola perilaku yang berkaitan dengan akal dan budi manusia dalam melakukan suatu pekerjaan. Jadi setiap individu yang bekerja harus memiliki budaya kerja yang baik. Budaya yang kerja yang baik sangat diperluukan agar menjadi pekerja yang berbudi pekerti dan mengerti nilai-nilai yang dijalaninya dan tidak membawa individu kepada penyimpangan. Jadi itulah perlunya kita memahami budaya kerja yang baik.

Budaya kerja masing-masing individu akan menentukan terbentuknya budaya dimana dia bekerja. Tentu saja hal ini juga dipengaruhi oleh faktor-faktor lain seperti kepemimpinan  yang mengandung nilai-nilai agama karena selalu mendahulukan pembinaan terhadap akhlakul karimah, sejak tahap awal perlu dimantapkan sebagai manifestasi utama yang akan terekspresi dalam seremoni dan ritual yang substansinya adalah substansi agamawi  melalui budaya jujur, sabar, tidak mudah iri dan terpancing untuk melakukan hal-hal yang dimurkai agama.

Para pemimpin akan menentukan bahwa bila tahap pertama upaya menyesuaikan diri agar menghasilkan sukses dalam kerjasama yang harmonis.

 Dalam agama Islam, manusia ditentukan untuk : Berusaha   dengan  sebaik-baiknya agar tercapai suatu tujuan  yang halal. Kita mencoba berusaha untuk  menghasilkan prestasi terbaiknya, apalagi bila penerimaan hasil  dilakukan dengan adil dan objektif. Melakukan pekerjaan dengan ikhlas adalah ajaran utama dalam Islam. Usaha yang diupayakan hanya karena Allah semata. Bekerja  dengan  dilandasi keikhlasan, dapat mencegah dari stres atau jenis emosi lain yang merugikan.

Umat dituntut untuk minta tolong pada Allah dan mengakui keterbatasan dirinya. Allah lebih mencintai orang-orang yang selalu meminta daripada yang enggan meminta, karena seolah-olah manusia itu berkecukupan. Dan Allah  berfirman : “Berdoalah kepadaKu, niscaya akan keperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembahKu akan masuk neraka jahanan dalam keadaan hina dina” (QS. 40:60). Rasullah SAW bersabda : “Sesungguhnya siapa saja yang tidak meminta kepada Allah, maka Allah akan marah kepadanya” (HR. At-Tarmizi dan Abu Hurairoh).

imagesApabila manusia rajin bekerja dan berupaya, ia akan menciptakan budaya kerja yang disiplin, berkemauan keras dan tidak cepat putus asa. Selanjutnya diimbangi dengan  terus menerus berdoa dan meminta tolong kepada Allah, agar usahanya membuahkan hasil. Sifat ini akan membawa manusia ke perilaku rendah hati, tidak takabur dan senantiasa menyadari baik kelemahan maupun kekuatannya.

Demikian saudaraku semua, Agama Islam mengajarkan manusia untuk giat dalam bekerja yang sesuai  syariat yaitu mengedepankan kejujuran, kedisiplinan dan keihklasan. Oleh sebab itu, marilah kita semua bekerja dengan giat  ikhlas serta kerja yang CERDAS (Smart Working) agar kita sukses dunia dan akhirat. Amin yra.

@Wongalus,2015

Categories: KERJA CERDAS | 9 Komentar

APAKAH MASALAH HIDUPMU SUDAH ADA SOLUSINYA?


RIYADHOH SAPU JAGAD AKHIR TAHUN 2015 BERSAMA KWA: Bakti sosial gratis terbuka untuk umum

DSCN0636Dunia kita adalah dunia yang dibangun dan dibingkai oleh kekuatan otak kiri (logika) yang berakibat pada kecenderungan orang dalam setiap gerak hidupnya lebih mengandalkan logika dan perhitungan rasional. Padahal kenyataan hidup yang dihadapi, begitu banyak fenomena kehidupan tidak mampu dicerna ataupun dikendalikan oleh logika.

Akibat lebih jauh seringnya terjadi MASALAH HIDUP YANG BERANEKA RAGAM akibat konflik internal individu maupun konflik eksternal antar individu karena hanya mengandalkan suatu argumentasi yang diperoleh dari pemberdayaan logika belaka. Tidak banyak di antara kita yang menyadari bahwa fenomena hidup adalah adanya daya tarik menarik antara kekuatan rasional (AKAL) dan irasional (EMOSI) untuk MEMECAHKAN MASALAH / PROBLEM SOLVING.

Acara RIYADHOH SAPU JAGAD AKHIR TAHUN 2915 BERSAMA KWA ini mengarahkan, mengingatkan, menyadarkan adanya kekuatan OTAK KANAN sebagai penyeimbang kekuatan otak kiri sehingga hidup kita akan lebih berkualitas.

Materi:

  1. Ruwatan dengan metode aktivasi simpul-simpul energy
  2. Konsultasi-konsultasi semua masalah hidup (rejeki, mahabbah/pengasihan, pembuka aura/keselamatan-keamanan, kekuatan)
  3. Pengobatan alternatif bagi sedulur yang sakit medis dan non medis menggunakan ENERGI DOA dan bekam/hijamah
  4. Pengisian POWER benda-benda menggunakan ENERGI DOA

cropped-cropped-panitia1.jpgPengisi acara: KI WONGALUS dan Para Alumni pelatihan yang tergabung dalam GURU-GRAND MASTER KWA (pengumuman ini juga sebagai undangan terbuka untuk para alumni program Guru KWA)

Tempat:  Cepuri – Pantai Parangkusumo, Yogyakarta

Jam: pagi 09.00 wib sd selesai

Hari/tanggal: Sabtu  26 Desember 2015

Sifat: Terbuka untuk umum dan gratis/tanpa mahar

Penanda titik kumpul adalah SPANDUK KAMPUS WONG ALUS.

Silahkan hadir untuk menikmati perjumpaan penuh akrab dan insya allah pertemuan kita kali ini adalah KELAHIRAN KEMBALI DIRI kita masing-masing yang penuh rahmat dan barokah. Amin.

Salam takzim sedulur semua,

@wongalus,2015

Categories: RIYADHOH SAPU JAGAD AKHIR TAHUN 2015 | 21 Komentar

AMALAN PARA WALI AUTAD: SHOLAWAT AL HIMAYAH


===Ya Allah limpahkan sholawat kepada Nabi Muhammad, nabi yang ummi, dan keluarganya serta para sahabatnya kesejahteraannya dengan Sholawat ini Engkau Mengampuni dosa-dosa kami, dosa orang tua kami, dosa orang-orang yang beragama Islam, laki-laki dan perempuan, dan orang mukmin, laki-laki dan perempuan  yang masih hidup maupun yang telah mati dan memperbaiki kepada ulama dan umat serta pemimpin dan rakyat, dan satukanlah hati-hati mereka, dan  menjauhi segala keburukan diantara mereka  dan dari segala yang kami takuti dan kami khawatirkan.===

ALLAHUMMA SHOLLI ALAA SAYIDINAA MUHAMMADIN NABIYYIL UMMI WA ‘ALAA ALIHI WA SHAHBIHI WA SALIM SHALATAN WA AN TAGHFIRALII BIHA WALIWALIDAYYAA WAL MU’MININA WAL MU’MINAT WAL MUSLIMINA WAL MUSLIMAT AL-AHYA’I MINHUM WAL AMWAAT AYNAMAKANU FII JAMI’IL JIHAD WAL BILAD, WA ASHLIH BIHAA AL IMAMA WAL UMMATA WAR RA’IYA WAR RA’IYYATA WA ALLIF BAYNA QULUBIHIM WADFA’ SYARRA BADHIHIM ‘AN BADH WA MIM MA NAKHAFU WA NAHDZAR.

Sholawat ini merupakan amalannya para Wali Abdal, Autad dan Aqthab. Sholawat ini mempunyai banyak faedah, manfaat dan khasiatnya serta keajaiban yang tidak bisa dihitung dan tak terbatas. Diantara keuntungan itu adalah Allah SWT akan melimpahkan  maghfirah-ampunan  dan memperbaiki, melindungi, mendapatkan perlindungan, keamanan, penjagaan dari segala fitnah serta kesulitan yang keluar dari dalam bumi maupun turun dari langit, perlindungan dari segala keburukan seperti penyakit dan akibat dari perbuatan buruk yang mengenai fisik dan jiwa, juga mendapatkan keselamatan dari segala urusan lahir dan batin di dalam urusan agama, dunia dan akhirat. Boleh dibaca kapan saja, sebanyak sekali, tiga kali atau tujuh kali, boleh setiap sehabis sholat, setiap pagi dan malam, atau setiap hari. ***

Categories: AMALAN PARA WALI AUTAD: SHOLAWAT AL HIMAYAH | 30 Komentar

DOA PAGI YANG ISTIMEWA UNTUK KELAPANGAN, KEDALAMAN DAN KELUASAN HIDUP


kwa hutYa Allah, sebagaimana Engkau bersikap lemah lembut dalam keagungan-Mu melebihi segala yang lemah lembut, dan Engkau Maha Tinggi degan kegungan-Mu atas segala yang agung, dan Engkau Maha Mengetahui apa yang ada di dalam buni-Mu sebagaimana Engkau mengetahui apa yang ada di atas ‘arsy-Mu, dan bisikan hati di sisi-Mu sama seperti ucapan terang-terangan, dan ucapan terang-terangan sama di sisi-Mu dengan bisikan hati, dan tunduklah segala sesuatu kepada keagungan-Mu, dan merendahlah segala yang memiliki kekuasaan kepada kekuasaan-Mu, dan jadilah perkara dunia dan akhirat berada di tangan-Mu, jadikanlah bagiku dari segala keluh-kesah yang menimpaku pada sore / pagi hari kelapangan dan jalan keluar darinya. Ya Allah, sesungguhnya kemaafan-Mu atas dosa-dosaku, dan penghapusan-Mu atas semua kesalahanku, dan penutupan-Mu atas perbuatan burukku, kesemuanya itu mendorongku untuk memohon kepada-Mu apa-apa yang aku tak pantas menerimanya dari apa-apa yang aku teledor padanya, aku memohon kepada-Mu dalam keadaan aman, dan aku meminta kepada-Mu denga keadaan rasa senang hati, sedangkan Engkau adalah selalu berbuat baik kepadaku, dan aku selalu berbuat jahat terhadap diriku sendiri dalam masalah yang menyangkut hubungan aku dengan Engkau, Engkau selalu membuatku menyayangi-Mu dengan senantiasa memberi nikmat-Mu kepadaku meskipun Engkau tidak membutuhkan aku, dan aku selalu membuat-Mu murka dengan bermaksiat kepada-Mu, akan tetapi kepercayaanku kepada-Mu membawaku untuk berani (memohon) kepada-Mu, maka jenguklah aku dengan karunia dan kebaikan-Mu kepadaku, dan terimalah taubatku, sesungguhnya Engkau Maha Penerima taubat, lagi Maha Penyayang.

َاللَّهُمَّ كَمَا لَطَفْتَ فِيْ عَظَمَتِكَ دُوْنَ اللُّطَفَاءِ، وَعَلَوْتَ بِعَظَمَتِكَ عَلَى الْعُظَمَاءِ، وَعَلِمْتَ مَا تَحْتَ أَرْضِكَ كَعِلْمِكَ بِمَا فَوْقَ عَرْشِكَ، وَكَانَتْ وَسَاوِسُ الصُّدُوْرِ كَالْعَلاَنِيَةِ عِنْدَكَ، وَعَلاَنِيَةُ الْقَوْلِ كَالسِّرِّ فِيْ عِلْمِكَ، وَانْقَادَ كُلُّ شَيْءٍ لِعَظَمَتِكَ وَخَضَعَ كُلُّ ذِيْ سُلْطَانٍ لِسُلْطَانِكَ، وَصَارَ أَمْرُ الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ بِيَدِكَ، اِجْعَلْ لِيْ مِنْ كُلِّ هَمٍّ أَمْسَيْتُ / أَصْبَحْتُ[3] فِيْهِ فَرَجًا وَمَخْرَجًا. اَللَّهُمَّ إِنَّ عَفْوَكَ عَنْ ذُنُوْبِيْ، وَتَجَاوُزَكَ عَنْ خَطِيْئَتِيْ، وَسَتْرَكَ عَلَى قَبِيْحِ عَمَلِيْ، أَطْمَعَنِيْ أَنْ أَسْأَلَكَ مَا لاَ أَسْتَوْجِبُهُ مِمَّا قَصَّرْتُ فِيْهِ، أَدْعُوْكَ آمِنًا، وَأَسْأَلُكَ مُسْتَأْنِسًا، وَإِنَّكَ الْمُحْسِنُ إِلَيَّ وَأَنَا الْمُسِيْءُ إِلَى نَفْسِيْ فِيْمَا بَيْنِيْ وَبَيْنَكَ، تَتَوَدَّدُ إِلَيَّ بِنِعْمَتِكَ مَعَ غِنَاكَ عَنِّيْ، وَأَتَبَغَّضُ إِلَيْكَ بِالْمَعَاصِيْ مَعَ فَقْرِيْ إِلَيْكَ، وَلَكِنِ الثِّقَةُ بِكَ حَمَلَتْنِيْ عَلَى الْجَرَاءَةِ عَلَيْكَ، فَعُدْ بِفَضْلِكَ وَإِحْسَانِكَ عَلَيَّ وَتُبْ عَلَيَّ إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ.
DOA INI ADALAH DOA NABI KHIDIR AS yang mana siapa yang membaca doa tersebut pagi dan sore maka akan gugurlah dosa-dosanya, dan beroleh kebahagiaannya, dihapuskanlah segala kesalahannya, dikabulkan doanya, diluaskan rezqinya, terkabul segala cita-citanya, ditolong atas segala musuhnya, dan ditulis di sisi Allah sebagai seorang Shiddiq –yang kuat keimanannya, dan tidaklah ia mati kecuali dalam keadaan syahid.
 
Sumber: Ihya’ ‘ulumudin Imam AlGhozali.
@@@
 
Categories: DOA KHIDIR REZEKI LANCAR | 12 Komentar

DOKUMENTASI BAKSOS KWA KAMIS 12 NOVEMBER 2015


IMG_0380IMG_0397

IMG_0403IMG_0437IMG_0463IMG_0457IMG_0440IMG_0401IMG_0415IMG_0468IMG_0427IMG_04247ab7d09c-7343-4474-8242-6a077b11f0c5IMG_0389IMG_0451IMG_0442 Alhamdulillah bakti sosial KWA telah selesai dilaksanakan pada kamis malam 12 November 2015, kemarin. Beragam acara  menarik dilaksanakan sesuai dengan agenda yaitu pengisian power benda pusaka, pengobatan medis/non medis, pembukaan aura mahabbah.

Disampaikan oleh ki wongalus, bahwa Bakti Sosial kembali rutin dilaksanakan setiap hari kamis malam, mulai pukul 20.00 wib sampai selesai bertempat di markas KWA, Mushola Balai Diklat Jl majapahit 5 Sidoarjo.

Pada kesempatan baksos itu sebagai wujud ucapan terima kasih kepada partisipasi panitia , Ki Wongalus memberikan 12 MEDALI KWA yang telah diasmak.

Kepada panitia, peserta baksos dan semua pihak yang tidak bisa disebutkan satu persatu, pengurus keluarga besar KWA mengucapkan terima kasih. Wassalamualaikum wr wb.

@kwa,2015IMG_0393
MEDALI KWA 2

Categories: BAKSOS KWA NOVEMBER 2015 | 6 Komentar

DOA BAGI PEGAWAI/KARYAWAN AGAR NAIK PANGKAT DAN NAIK JABATAN


Amalan berikut ini untuk anda pegawai/karyawan agar pekerjaan anda tidak sia-sia. Berupa mendapatkan penghargaan dari perusahaan/instansi dimana anda bekerja. Sehingga dengan penghargaan itu anda akan mendapatkan promosi/kenaikan jabatan dari yang sekarang.

Amalan batiniah berupa doa berikut ini monggo diamalkan:

YAA AYYUHAA AL-INSAANU INNAKA KAADIHUN ILAA RABBIKA KADHAN FAMULAAQIIHI   
(Al-Insyiqaaq Ayat : 6)

11 x usai sholat fardhu lima waktu selama 3 hari atau 7 hari atau semampunya. Dimulai dari Sholat subuh.

@CATATAN: Akan lebih bagus kalau sebelum mengamalkan amalan tersebut, terlebih dulu sholat hajat 2 rokaat.

Bekerjalah sesuai dengan syariat/sesuai dengan aturan yang ada di perusahaan. Tekun dan sabar serta pandai-pandailah untuk mengendalikan emosi. Bekerja serius dan hindari menjadi orang yang terkesan ambisius dan hanya mencari nama semata. Jadikan pekerjaan anda sebagai sarana IBADAH dalam arti yang luas. Insya allah keberuntungan menjadi milik Anda. Terima kasih.

@kwa,2015

Categories: AMALAN NAIK PANGKAT UNTUK KARYAWAN | 31 Komentar

BAKTI SOSIAL KWA UNTUK MASYARAKAT UMUM


Assalamualaikum wr wb. KWA kembali menggelar acara BAKTI SOSIAL, berupa:

  1. Pengobatan gratis untuk MASYARAKAT UMUM penyakit medis/non medis dengan metode pengobatan BEKAM.
  2. Buka AURA MAHABBAH/pengasihan. Syarat peserta membawa sendiri-sendiri bunga setaman secukupnya.
  3. Hypnoterapi untuk pengobatan penyakit MENTAL/STRESS/ Galau dll.
  4. Pengisian benda-benda pusaka (keris, sabuk, akik dll) dengan ENERGI AL HIKMAH . Silahkan membawa benda-benda pusaka pribadi anda masing-masing.
  5. DOA BERSAMA UNTUK SEGALA HAJAT.

BAKSOS akan diadakan pada hari KAMIS 12 NOVEMBER 2015, mulai pukul 19.30 WIB sd 23.00 WIB bertempat di MARKAS KWA, Mushola Balai Diklat Sidoarjo, Jl Majapahit 5 Sidoarjo.

Baksos TIDAK DIPUNGUT BIAYA / GRATIS. Peserta hanya cukup mengisi daftar hadir saja.

@PANITIA MENYEDIAKAN BENDA-BENDA BERMAHAR (Sabuk merah KWA, AZHIMAH LELANANGING JAGAD, UANG MAGNET KWA)

Demikian pengumuman dari kami. Terima kasih. Wassalamualaikum wb wb.

PANITIA.

Categories: >>PERPUSTAKAAN UTAMA | 3 Komentar

KHASANAH ISLAM: HADRAMAUT YANG PANAS MEMBAKAR


Saya sudah lupa, siapa penulis artikel yang dikirimkan ke redaksi KWA beberapa tahun yang lalu. Artikel ini kami share dengan tujuan agar memperkaya pengetahuan kita terhadap khasanah Islam di jazirah timur tengah. (redaksi)

 

Kata Hadramaut menurut prasasti penduduk asli Hadramaut adalah “panas membakar”, sesuai dengan pendapat Moler dalam bukunya Hadramaut, mengatakan bahwa Hadramaut sebenarnya berarti negeri yang panas membakar. Sebuah legenda yang dipercayai masyarakat Hadramaut bahwa negeri ini diberi nama Hadramaut karena dalam negeri tersebut terdapat sebuah pohon yang disebut al-Liban semacam pohon yang baunya menurut kepercayaan mereka sangat mematikan. Oleh karena itu, setiap orang yang datang (hadar) dan menciumnya akan mati (maut).

Makam Nabi Hud berada di Hadramaut. Nabi Hud merupakan salah satu nabi yang berbangsa Arab selain Nabi Saleh, Nabi Ismail dan Nabi Muhammad SAW. Nabi Hud diutus kepada kaum ‘Ad yang merupakan generasi keempat dari Nabi Nuh, yakni keturunan Aus bin Aran bin Sam bin Nuh. Mereka tinggal di Ahqaf yakni jalur pasir yang panjang berbelok-belok di Arab Selatan, dari Oman di Teluk Persia hingga Hadramaut dan Yaman di Pantai Selatan Laut Merah. Dahulu Hadramaut dikenal dengan Wadi Ahqaf, Sayidina Ali bin Abi Thalib berkata bahwa al-Ahqaf adalah al-Khatib al-Ahmar.

Makam Nabi Hud  ada di Hadramaut bagian Timur dan pada tanggal 11 Sya’ban banyak dikunjungi orang untuk berziarah ke makam tersebut dengan membaca tiga kali surah Yasin dan doa nisfu Sya’ban. Ziarah nabi Hud pertama kali dilakukan oleh al-Faqih al-Muqaddam Muhammad bin Ali dan setelah beliau wafat, ziarah tersebut dilakukan oleh anak keturunannya.

Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad semasa hidupnya menganjurkan kaum muslimin untuk berziarah ke sana, bahkan beliau mewanti-wanti, “Barangsiapa berziarah ke (makam) Nabi Hud dan di sana ia menyelenggarakan peringatan maulid Nabi Muhammad SAW, ia akan mengalami tahun yang baik dan indah.” Menurut sebagian ulama kasyaf, makam Nabi Hud merupakan tempat penobatan para waliyullah.

Setibanya di syi’ib Nabi Hud (lembah antara dua bukit tempat pusara nabi Hud), Imam al-Haddad bertemu dengan beberapa orang sayyid dan waliyullah, sehingga pertemuan itu menjadi majlis pertukaran ilmu dan pandangan. Dalam bahasa Ibrani asal nama Hadramaut adalah ‘Hazar Maweth’ yang berdasarkan etimologi, rakyat mengaggapnya berhubungan dengan gagasan “hadirnya kematian” yaitu berkaitan dengan hadirnya Nabi Saleh as ke negeri itu, yang tidak lama kemudian meninggal dunia.

Di Hadramaut, tepatnya di lembah yang terletak antara Syibam dan Tarim dengan Saiyun di antaranya terdapat lebih dari sepertiga penduduk Hadramaut. Dari sini pula kebanyakan orang Arab di Indonesia. Di antara penduduk Hadramaut terdapat kaum Alawiyin yang lebih dikenal dengan golongan Sayid. Golongan Sayid sangat besar jumlah anggotanya di Hadramaut terutama di kota Tarim dan Saiyun, mereka membentuk kebangsawanan beragama yang sangat dihormati, sehingga secara moral sangat berpengaruh pada penduduk. Mereka terbagi dalam keluarga-keluarga (qabilah), dan banyak di antaranya yang mempunyai pemimpin turun temurun yang bergelar munsib.

Munsib merupakan perluasan dari tugas ‘Naqib’ yang mulai digunakan pada zaman Imam Ahmad al-Muhajir sampai zaman Syekh Abu Bakar bin Salim. Seorang ‘naqib’ adalah mereka yang terpilih dari anggota keluarga yang paling tua dan alim.

Dari waktu ke waktu tugas ‘naqib’ semakin berat, hal itu disebabkan banyak keluarga dan mereka menyebar ke berbagai negeri yang memerlukan perjalanan berhari-hari untuk bertemu ‘naqib’ jika mereka hendak bertemu untuk menyelesaikan masalah yang timbul. Untuk meringankan tugas ‘naqib’ tersebut, maka terbentuklah ‘munsib’. Para munsib berdiam di lingkungan keluarga yang paling besar atau di tempat asal keluarganya. Jabatan munsib diterima secara turun menurun, dan di antara tugasnya selalu berusaha mendamaikan suku-suku yang bersengketa, menjamu tamu yang datang berkunjung, menolong orang-orang lemah, memberi petunjuk dan bantuan kepada mereka yang memerlukan.

Sebagaian besar munsib Alawiyin muncul pada abad sebelas dan abad ke dua belas hijriyah, diantaranya keluarga bin Yahya mempunyai munsib di al-Goraf, keluarga al-Muhdar di al-Khoraibah, keluarga al-Jufri di dzi-Asbah, keluarga al-Habsyi di khala’ Rasyid, keluarga bin Ismail di Taribah, keluarga al-Aidrus di al-Hazm, Baur, Salilah, Sibbi dan ar-Ramlah, keluarga Syekh Abu Bakar di Inat, keluarga al-Attas di al-Huraidah, keluarga al-Haddad di al-Hawi dan keluarga Aqil bin Salim di al-Qaryah.

Keluarga golongan sayid.

Keluarga golongan Sayid yang berada di Hadramaut adalah:
Aal-Ibrahim Al-Ustadz al-A’zhom Asadullah fi Ardih
Aal-Ismail Aal-Bin Ismail Al-A’yun
Aal-Albar Aal-Battah Aal-Albahar
Aal-Barakat Aal-Barum Aal-Basri
Aal-Babathinah Aal-Albaiti Aal-Babarik
Aal-Albaidh Al-Turobi Aal-Bajahdab
Jadid Al-Jaziroh Aal-Aljufri
Jamalullail Aal-Bin Jindan Al-Jannah
Aal-Junaid Aal-Aljunaid Achdhor Aal-Aljailani
Aal-Hamid Aal-Alhamid Aal-Alhabsyi
Aal-Alhaddad Aal-Bahasan Aal-Bahusein
Hamdun Hamidan Aal-Alhiyyid
Aal-Khirid Aal-Balahsyasy Aal-Khomur
Aal-Khaneiman Aal-Khuun Aal-Maula Khailah
Aal-Dahum Maula al-Dawilah Aal-Aldzahb
Aal-Aldzi’bu Aal-Baraqbah Aal-Ruchailah
Aal-Alrusy Aal-Alrausyan Aal-Alzahir
Aal-Alsaqqaf Al-Sakran Aal-Bin Semith
Aal-Bin Semithan Aal-Bin Sahal Aal-Assiri
Aal-Alsyatri Aal-Syabsabah Aal-Alsyili
Aal-Basyamilah Aal-Syanbal Aal-Syihabuddin
Al-Syahid Aal-Basyaiban Al-Syaibah
Aal-Syaikh Abi Bakar Aal-Bin Syaichon Shahib al-Hamra’
Shahib al-Huthoh Shahib al-Syubaikah Shahib al-Syi’ib
Shahib al-Amaim Shahib Qasam Shahib Mirbath
Shahib Maryamah Al-Shodiq Aal-Alshofi Alsaqqaf
Aal-Alshofi al-Jufri Aal-Basuroh Aal-Alshulaibiyah
Aal-Dhu’ayyif Aal-Thoha Aal-Al thohir
Aal-Ba’abud Al-Adeni Aal-Al atthas
Aal-Azhamat Khan Aal-Aqil Aal-Ba’aqil
Aal-Ba’alawi Aal-Ali lala Aal-Ba’umar
Aal-Auhaj Aal-Aydrus Aal-Aidid
Al-Ghozali Aal-Alghozali Aal-Alghusn
Aal-Alghumri Aal-Balghoits Aal-Alghaidhi
Aal-Fad’aq Aal-Bafaraj Al-Fardhi
Aal-Abu Futaim Al-Faqih al-Muqaddam Aal-Bafaqih
Aal-Faqih Aal-Bilfaqih Al-Qari’
Al-Qadhi Aal-Qadri Aal-Quthban
Aal-Alkaf Kuraikurah Aal-Kadad
Aal-Karisyah Aal-Mahjub Al-Muhdhar
Aal-Almuhdhar Aal-Mudhir Aal-Mudaihij
Abu Maryam Al-Musawa Aal-Almusawa
Aal-Almasilah Aal-Almasyhur Aal-Masyhur Marzaq
Aal-Musyayakh Aal-Muzhahhir Al-Maghrum
Aal-Almaqdi Al-Muqlaf Aal-Muqaibil
Aal-Maknun Aal-Almunawwar Al-Nahwi
Aal-Alnadhir Al-Nuqa’i Aal-Abu Numai
Al-Wara’ Aal-Alwahath Aal-Hadun
Aal-Alhadi Aal-Baharun Aal-Bin Harun
Aal-Hasyim Aal-Bahasyim Aal-Bin Hasyim
Aal-Alhaddar Aal-Alhinduan Aal-Huud
Aal-Bin Yahya

Keluarga Alawiyin di atas adalah keturunan dari Alwi bin Ubaidillah bin Ahmad bin Isa bin Muhammad bin Ali al-Uraidhi, sedangkan yang bukan dari keturunan Alwi bin Ubaidillah bin Ahmad bin Isa bin Muhammad bin Ali al-Uraidhi, adalah:
Aal-Hasni Aal-Barakwan Aal-Anggawi
Aal-Jailani Aal-Maqrabi Aal-Bin Syuaib
Aal-Musa al-Kadzim Aal-Mahdali Aal-Balakhi
Aal-Qadiri Aal-Rifai Aal-Qudsi

Sedangkan yang tidak berada di Indonesia kurang lebih berjumlah 40 qabilah, diantaranya qabilah Abu Numai al-Hasni yaitu leluhur Almarhum Raja Husein (Yordania) dan sepupunya Almarhum Raja Faisal (mantan raja Iraq) dan qabilah al-Idrissi, yaitu leluhur mantan raja-raja di Tunisia dan Libya.

Akhlaq dan kebiasaan kaum Alawiyin.

Kaum Alawiyin tetap dalam kebiasaan mereka menuntut ilmu agama, hidup zuhud di dunia (tidak bergelimang dalam kesenangan duniawi) dan mereka juga menghindar dari popularitas (syuhrah). Imam Abdullah bin Alwi al-Haddad berkata: ” Syuhrah bukan adat kebiasaan kami, kaum Alawiyin … ” selanjutnya beliau berkata: ” kedudukan kami para sayid Alawiyin tidak dikenal orang. Jadi tidak seperti yang ada pada beberapa wali selain mereka (kaum Alawiyin), yang umumnya mempunyai sifat-sifat berlainan dengan sifat-sifat tersebut. Sifat tersebut merupakan soal besar dalam bertaqarrub kepada Allah dan dalam memelihara keselamatan agama (kejernihan iman).”

Imam al-Haddad berkata pula: ” Dalam setiap zaman selalu ada wali-wali dari kaum Alawiyin, ada yang dzahir (dikenal) dan ada yang khamil (tidak dikenal). Yang dikenal tidak perlu banyak, cukup hanya seorang saja dari mereka, sedangkan yang lainnya biarlah tidak dikenal. Dari satu keluarga dan dari satu negeri tidak perlu ada dua atau tiga orang wali yang dikenal. Soal al-sitru (menutup diri) berdasarkan dua hal: pertama, seorang wali menutup dirinya sendiri hingga ia sendiri tidak tahu bahwa dirinya adalah wali. Kedua, wali yang menutup dirinya dari orang lain, yakni hanya dirinya sendiri yang mengetahui bahwa dirinya wali, tetapi ia menutup (merahasiakan) hal itu kepada orang lain. Orang lain tidak mengetahui sama sekali bahwa ia adalah wali.

Sehubungan dengan tidak tampaknya para wali, Habib Abdullah al-Haddad menulis syair: “Apakah mereka semua telah mati, apakah mereka semua telah musnah, ataukah mereka bersembunyi, karena semakin besarnya fitnah.”

Tidak tampaknya para wali merupakan hikmah Allah, begitu pula tampaknya para wali. Tampak atau tidak tampak, para wali bermanfaat bagi manusia. Habib Ali bin Muhammad al-Habsyi ditanya: “Apakah manfaat dari ketidak tampakan para wali ?”. Beliau menjawab: “Tidak tampaknya para wali bermanfaat bagi masyarakat dan juga bagi wali itu sendiri. Sebab, sang wali dapat beristirahat dari manusia dan manusia tidak beradab buruk kepadanya. Mungkin kau meyakini kewalian seseorang, tetapi setelah melihatnya kau lalu berprasangka buruk. Seorang yang saleh bukanlah orang yang mengetahui kebenaran melalui kaum sholihin. Akan tetapi orang saleh adalah orang yang mengenal kaum sholihin melalui kebenaran.”
Sayid Ahmad bin Toha berkata kepada Habib Ali bin Muhammad al-Habsyi, “Aku tidak tahu bagaimana para salaf kita mendapatkan wilayah (kasyaf), padahal usia mereka masih sangat muda. Adapun kita, kita telah menghabiskan sebagian besar umur kita, namun tidak pernah merasakan walau sedikitpun. Aku tidak mengetahui yang menyebabkan itu ?”.

Habib Ali lalu menjawab:”Ketaatan dari orang yang makannya haram, seperti bangunan didirikan di atas gelombang. Karena ini dan juga karena berbagai sebab lain yang sangat banyak. Tidak ada yang lebih berbahaya bagi seseorang daripada bergaul dengan orang-orang jahat. Majlis kita saat ini menyenangkan dan membangkitkan semangatmu. Ruh-ruh mengembara di tempat ini sambil menikmati berbagai makanan hingga ruh-ruh itu menjadi kuat. Namun, sepuluh majlis lain kemudian mengotori hatimu dan merusak apa yang telah kau dapatkan. Engkau membangun, tapi seribu orang lain merusaknya. Apa manfaatnya membangun jika kemudian dirusak lagi ? kau ingin meningkat ke atas tapi orang lain menyeretmu ke bawah.”

Menurut ulama ahlul kasyaf , wali quthub adalah pemegang pimpinan tertinggi dari para wali. Ia hanya satu orang dalam setiap zaman. Quthub biasa pula disebut Ghauts (penolong), dan termasuk orang yang paling dekat dengan Tuhan. Selain itu, ia dipandang sebagi pemegang jabatan khalifah lahir dan bathin. Wali quthub memimpin pertemuan para wali secara teratur, yang para anggotanya hadir tanpa ada hambatan ruang dan waktu. Mereka datang dari setiap penjuru dunia dalam sekejap mata, menembus gunung, hutan dan gurun.

Wali quthub dikelilingi oleh dua orang imam sebagai wazirnya. Di samping itu, ada pula empat orang autad (pilar-pilar) yang bertugas sebagai penjaga empat penjuru bumi. Masing-masing dari empat orang autad itu berdomisili di arah Timur, Barat, Utara dan Selatan dari Ka’bah. Selain itu, terdapat pula tiga orang nuqaba’, tujuh abrar, empat puluh wali abdal, tiga ratus akhyar dan empat ribu wali yang tersembunyi. Para wali adalah pengatur alam semesta, setiap malam autad mengelilingi seluruh alam semesta dan seandainya ada suatu tempat yang terlewatkan dari mata mereka, keesokkan harinya akan tampak ketidaksempurnaan di tempat itu dan mereka harus memberitahukan hal ini kepada wali quthub, agar ia dapat memperhatikan tempat yang tidak sempurna tadi dan dengan kewaliannya ketidaksempurnaan tadi akan hilang.

Seorang wali quthub, al-Muqaddam al-Tsani, Syaikh Abdurahman al-Saqqaf beliau terkenal di mana-mana, ia meniru cara hidup para leluhurnya (aslaf), baik dalam usahanya menutup diri agar tidak dikenal orang lain maupun dalam hal-hal yang lain. Dialah yang menurunkan beberapa Imam besar seperti Syaikh Umar Muhdhar, Syaikh Abu Bakar al-Sakran dan anaknya Syaikh Ali bin Abu Bakar al-Sakran, Syaikh Abdullah bin Abu Bakar yang diberi julukan al-‘Aidrus.

Syaikh Abdurahman al-Saqqaf selalu berta’abbud di sebuah syi’ib pada setiap pertiga terakhir setiap malam. Setiap malam ia membaca Alquran hingga dua kali tamat dan setiap siang hari ia membacanya juga hingga dua kali tamat. Makin lama kesanggupannya tambah meningkat hingga dapat membaca Alquran empat kali tamat di siang hari dan empat kali tamat di malam hari. Ia hampir tak pernah tidur. Menjawab pertanyaan mengenai itu ia berkata, “Bagaimana orang dapat tidur jika miring ke kanan melihat surga dan jika miring ke kiri melihat neraka ?”. Selama satu bulan beliau beruzlah di syi’ib tempat pusara Nabi Hud, selama sebulan itu ia tidak makan kecuali segenggam (roti) terigu.

Demikianlah cara mereka bermujahadah dan juga cara mereka ber-istihlak ( mem-fana’-kan diri ) di jalan Allah SWT. Semuanya itu adalah mengenai hubungan mereka dengan Allah. Adapun mengenai amal perbuatan yang mereka lakukan dengan sesama manusia, para sayyid kaum ‘Alawiyin itu tidak menghitung-hitung resiko pengorbanan jiwa maupun harta dalam menunaikan tugas berdakwah menyebarluaskan agama Islam. @@@

Categories: KHASANAH ISLAM: HADRAMAUT | 8 Komentar

MASA SEKARANG ALLAH


RABBANAA INNAKA TA’LAMU MAA NUKHFII WAMAA NU’LINU WAMAA YAKHFAA ‘ALAA ALLAAHI MIN SYAY-IN FII AL-ARDHI WALAA FII ALSSAMAA-I

Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau mengetahui apa yang kami sembunyikan dan apa yang kami lahirkan; dan tidak ada sesuatupun yang tersembunyi bagi Allah, baik yang ada di bumi maupun yang ada di langit. (Ibrahim Ayat : 38)

Menafsirkan ayat itu, sesungguhnya apa yang kita simpan di dalam hati, apa yang kita simpan di dalam lemari rahasia hidup kita, apa yang kita sembunyikan dari orang lain, tetap saja terbuka dihadapan ALLAH SWT YANG MAHA TAHU.

Allah SWT Maha Tahu karena Pengelihatan dan Pendengaran-Nya menembus semua batas. Allah SWT tidak ada yang membatasi dan tidak mungkin bisa dibatasi oleh apapun juga. Ruang dan waktu ada di dalam genggaman kekuasaan-NYA.

ALLAH SWT juga tidak dibatasi oleh masa lalu, masa kini, dan masa yang akan datang.  Allah lah pemilik waktu, oleh sebab itu ketika kita merasakan bahwa masa lalu sudah pernah ada, masa sekarang ini kita jalani dan masa depan belum terjadi maka bagi Allah SWT itu semua tidak berlaku. Bisa jadi waktu Allah itu sekarang saja, tidak ada masa lalu dan masa depan. Terserah pada Allah Yang Maha Berkehendak.

Itu sebabnya waktu Ilahi itu terkesan irasional dan tidak beraturan. Hanya terkesan dalam pandangan manusia biasa, namun pandangan manusia yang sudah mampu berada di maqom khusus, maka waktu Ilahi itu sesungguhnya adalah bentuk dan wujud dari kekekalan NYA.

Muhammad SAW dalam momentum isra’mikraj sudah menyaksikan akhirat melihat adanya neraka dan Surga juga adanya orang-orang di dalamnya. Nabi melompat ke masa depan, setelah pergelaran alam semesta ini berakhir.

Maka, manusia sekarang ini, saya, anda dan semua orang yang saat ini menyadari tulisan ini adalah orde masa lalu dan masa silam dari ALLAH SWT yang Maha aktual, yang tidak pernah ketinggalan kekiniannya, apalagi ketinggalan mode dan zaman.

Kita hakikatnya sudah tidak ada, kita sudah sirna, kita sudah dimakamkan dalam lauh al mahfudz, rekaman yang ada di database kehidupan setiap makhluk.

Kesombongan kita, keserakakan kita, kelupaan kita pada jati diri, kenistaan pilihan hidup kita dan kekotoran/polusi akibat tindakan kita sehari-hari itu sudah selesai. YA ALLAH,…. Masih adakah waktu buat kita untuk memperbaiki diri?

@kwa, 2015

Categories: MASA SEKARANG ALLAH | 7 Komentar

AMALAN MELEMBUTKAN DAN MENAKLUKKAN HATI YANG KERAS


Assalamualaikum wr wb.

Ini adalah amalan untuk menaklukkan/melembutkan hati target agar lebih baik kepada kita. Misalnya bos/juragan/atasan yang semena-mena kepada kita.

caranya:

baca surat al hadiid ayat 17 yang berbunyi:

===i’lamuu anna allaaha yuhyii al-ardha ba’da mawtihaa qad bayyannaa lakumu al-aayaati la’allakum ta’qiluuna===
ARTINYA: Ketahuilah olehmu bahwa sesungguhnya Allah menghidupkan bumi sesudah matinya. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan kepadamu tanda-tanda kebesaran (Kami) supaya kamu memikirkannya.

wiridkan/baca sebanyak 1000 x dan tiupkan ke air lalu usahakan agar target meminum air yang anda wiridkan tersebut. (bisa pula air dipercikkan ke jalan yang tiap hari dilaluinya).

Insya Allah hatinya segera lunak dan manut/mengikuti anda. Anda akan disayangi target.

Demikian semoga bermanfaat dan terima kasih.

Wassalamualaikum wr wb.

@kwa,2015

Categories: AMALAN MELEMBUTKAN DAN MENAKLUKKAN HATI | 37 Komentar

MENYATU DAN MANUNGGAL DENGAN ALLAH


Ini artikel yang menarik yang aslinya berjudul “Wahdatul wujud: berawal dari maksud Allah untuk dikenal” yang ditulis Majelis zikir al Jabbar Ternate. Monggo dijadikan bahan renungan.

Allah telah menciptakan mahlukNya dengan beberapa tingkatan niat. Mula-mula Allah menciptakan makhluk dengan niat sebagaimana tertuang dalam hadits qudsi: “Aku adalah Perbendaharaan Yang Tersembunyi, Aku ingin dikenal, maka Kuciptakan makhluk dan denganKu mereka mengenalKu.” Allah merupakan Al-Awwal yang tidak diawali, Dia bersifat Ada Sedia (Wujud). Kehendak Allah adalah untuk dikenali (untuk dima’rifati).

“Kesendirian” Allah merupakan kebenaran mutlak yang tak bisa ditolak, karena jika ada sesuatu selain Allah, maka Allah bukanlah Yang Awal. Dalam kitab Daqaaiqul Akhbar disebutkan bahwa sebelum Allah menciptakan para malaikat yang bertugas untuk menyebut dan memuji diriNya, Allah memuji diriNya sendiri yang Maha Indah dan Elok. Allah ingin dikenal, sebagai Yang Maha Esa dan itulah yang menjadi misi setiap nabi yang turun dimuka bumi, yaitumemperkenalkan Allah Yang Maha Esa, misalnya surat Hud ayat 84.

Dengan demikian, mengenal Allah merupakan tugas utama makhluk, terutama manusia. Mengenal Allah lebih signifikan dari pada mengenal hukumhukumNya. Hal ini saya sebutkan karena dengan mengenal Allah maka kitapun segera mengetahui apa yang diinginkanNya dan apa yang tidak diinginkanNya. Mengenal Allah haruslah secara kaffah, secara totalitas. Syeh Siti Jenar mengutamakan hal ini dalam persoalan ibadah, dimana dia menyatakan bahwa ibadah tanpa ma’rifat adalah syirik. Bagaimana bisa anda beribadah kepada Allah dengan niatlillahi ta’ala, sementara anda belum mengenal siapa Allah?

Bahkan jika ditanyakan apakah “Allah” adalah namaNya, bagaimana anda menjelaskannya? Jika anda mengatakan “Ya” maka bagaimana mungkin andamemanggil-manggil namaNya dengan namaNya, sedangkan anda begitu menghormati dosen anda dang memanggilnya dengan “pak” atau “prof.” Ini adalah tanda bahwa anda melakukan ibadah tanpa ma’rifat.

Jika anda bersaksi “Saya bersaksi tidak ada Tuhan selain Allah” apakah benar anda menyaksikannya? Atau anda hanya menyebutnya sebagai formalitas masuk Islam saja? Apa benar anda menyaksikan bahwa Allah adalah Esa? Jangan-jangan selama ini kita hanya melakukan persaksian palsu semata. Syeh Siti Jenar  menekankan bahwa bisa jadi kita selama ini menyembah akal budi saja, artinya, pengenalan Tuhan itu tidak bersumber dari kesadaran ruhaniah tetapi karena spekulasi akal budi saja. Ini sangat berbahaya, karena ini sudah termasuk syirik. Yang bisa membawa makhluk (manusia) pada ma’rifatullah secara kaffah adalah dengan melalui pengalaman ruhani, karena Allah tidak akan pernah bisa dikenal dengan logika saja.

Wahdatul Wujud, jangan hanya dipandang dari segi terminologinya saja, menyatunya hamba dengan Tuhan. Lihat makna lebih dalam, hanya dengan “menghilangkan diri” dan segala sesuatu selain Allah barulah kita bisa menggapai ma’rifat. Setelah itu, Allah akan senantiasa berada dalam hati, dan ibadah akan menjadi lebih sejuk. Arti hakiki dari ma’rifat juga bukan sematamata mengenal Allah, tetapi Allah memperkenalkan DiriNya kepada kita, sebagai rahmat, buah dari upaya keras kita melakukan perjalanan menuju dia.

Upaya para sufi adalah untuk bisa mengenal diriNya secara hakiki, bukan hanya hasil pemikiran dan logika saja. Karena secara logika, Allah hanya bisa dikenali perbuatanNya saja, tetapi untuk mengenali secara hakiki, maka kita harus mengenaliNya dari nama, sifat, perbuatan, hingga dzat. Ini memang hanya bisa ditemukan dalam tasawuf, dan ini merupakan hasil perjalanan spiritual dan bukan semata-mata spekulasi filsafat saja.

Untuk bisa ma’rifatullah secara kaffah, seperti yang telah disebutkan, manusia harus mampu “menolak” segala sesuatu selain Allah. Ini hanya bisa dilakukan dengan zuhud, dan kemudian melakukan perjalanan spiritual dengan cara bertarikat. Tarikat maksudnya jalan, dan ibadah merupakan tarikat. Jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Suatu ketika Sayidina Ali bertanya kepada Rasul tentang jalan dekat menuju Allah dan Rasul bersabda “Dzikir.” Ini merupakan landasan sufi untuk bertarikat, yakni dengan melakukan ritual dzikrullah. Mengingat Allah dengan cara khusus, sebagaimana yang Rasulullah lakukan selama berada di Gua Hira atau di kamar khusus yang disebut dengan kamar khalwat; kemudian perjalanan tarikat ini disebut dengan berkhalwat, yakni bersunyi diri untuk berdzikir kepada Allah.

Bagi anda yang suka menafsirkan kalimat sepotong-potong untuk mencari kesalahan orang lain, saya ingatkan, khalwat disini bukan hanya duduk dengan tasbih di tangan, tetapi disertai dengan zuhud, saya sudah menyebutnya di depan. Bersunyi diri agar tidak terganggu, dan para sufi kebanyakan menjauhi keramaian sosial bukan untuk mengisolasi dirim tetapi mengisolasi hati dari segala sesuatu selain Allah. Pada tingkatan tertentu, bahkan diri yang mengingat pun sudah dilupakan, sehingga yang ada hanya yang diingat saja,yakni Allah semata. Mendekat, mendekat, lebih dekat, hingga hakikat melebur; inilah fana’. Apakah selamanya seperti itu? Tidak, pengenalan dan penyatuan itu begitu singkat.

Bagaimana bisa kita tahu bahwa itu Allah? Ini tidak mungkin dijelaskan, karena hanya yang mengalaminya saja yang memahaminya; bisa jadi iblis yang datang? Hakikat iblis tidak setara dengan Allah dan hanya Allah tujuan kita. Dengan demikian, iblis tidak mungkin mampu menembus hijab dzikrullah. Mengapa para sufi tidak dapat menjelaskan hal tersebut secara rinci sehingga dituduh mengada-ngada? Itu karena fana’ diawali dengan lumpuhnya ilmu bahkan diri sendiri. Hanya Nurullah semata yang dapat menjelaskannya kepada anda.

Jika semua yang dipaparkan benar (dan memang benar), maka sungguh celaka tangan-tangan yang menuduh para sufi (waliyullah) sesat, bahkan membunuh mereka, karena yang mereka tuduh dan bunuh adalah para kekasih Allah, para pemegang rahasia ketuhanan terbesar dan terpenting bagi ummat manusia. Alhasil, korupsi kiri-kanan, prostitusi kiri-kanan, intimidasi dan peperangan sana-sini, karena kebenaran sudah diputarbalikkan menjadi kesesatan; manusia tidak lagi menggenggam kebenaran, karena pemegang kebenaran sudah dibunuh, dari karakter hingga jiwa. Mungkin kelak saya juga akan dibunuh karena menganut faham Wihdatul Wujud, Alhamdulillah karena saya juga termasuk daftar orang-orang yang menyampaikan kebenaran tersebut. Wallahu ‘alam bisshawab. Wassalamualaikum wr. wb. @@@

Categories: >>PERPUSTAKAAN UTAMA | 29 Komentar

SELAMAT MENGABDI KE MASYARAKAT


Assalamualaikum wr wb.

Jajaran pengurus blog KWA telah selesai melaksanakan pelatihan Private Paranormal Profesional Tingkat Guru KWA dan sebagai wujud rasa kasih sayang kepada peserta maka digelar penghormatan kepada:

GURU KWA ANGKATAN XXXIX /39

RADEN PANGERAN YULIANTO — DEPOK  JABAR (081318005690)

dan

GURU KWA ANGKATAN XXXX / 40

KI WERKUDORO PENANGGUNGAN, DKI JAKARTA

Mohon doa restu agar beliau bisa maksimal dalam mendarmabaktikan ilmu-ilmu alternatifnya untuk masyarakat. 

Terima kasih dan salam paseduluran. @@@

Categories: >>PERPUSTAKAAN UTAMA

KWA JAWA TENGAH: DUA ACARA SUROAN


Alhamdulillah,pada bulan muharram/suro bagi umat muslim dunia,dan bagi para penggemar dunia hikmah adlh sesuatu bulan yg dianggap memiliki nilai tersendiri scr spiritual. Sehingga tdk jarang pd bulan ini segenap para penggemar hikmah akan melakukan segenap tatacara dan budaya kasepuhan u/meningkatkan nilai keheningan dan kecerahan batin masing2 dalam menapaki hidup dan kehidupan ini.

Kepada Sohibul Bait Ki Wongalus kangmas Muhammad Wildan,selaku owner BLOG KAMPUS WONGALUS senantiasa kami mengucapkan  trmksh krn smp saat ini masih berkenan andum tresno,andum karahayon dan momong semua tmn2 di nusantara dalam wadah blog kampus wongalus,yang smp saat ini masih tetap exist dan tetap berjalan dengan berbagai inovasi dan kegiatan yang tetap terselanggara dengan baik,tertib dan lancar. Semoga kedepannya semakin tumbuh dan berkembang dalam menjalin silaturahmi dan menjalin paseduluran dgn semua rekan2 di nusantara.

Teriring rasa hormat dan khidmat kami kepada sohibul bait dan segenap para sesepuh dan guru dimanapun berada,yg sempat bergabung dan bersilaturahmi di dunia maya blog kampus wongalus ini,kami bermaksud menginformasikan kegiatan2 pd bln ini,khususnya di jateng diy.

Dan pada kesempatan ini ada dua acara di jateng diy yang satunya di semarang dan satunya lagi di yogyakarta,dimana yg sekiranya sesuai atau longgar silahkan bergabung atau mau di estafet ya kami persilahkan.

A)Yang pertama adalah acaranya  Rakamas Jambrong (Abah Krishna Agung) yg berkenan mengadakan mujahadah,pengijazahan dan program asma :

1) Pengisian dan pengijazahan Asma Akbar,suatu pengisian yg pada dasarnya ditujukan u/menjadi dasar/pondasi dari ilmu2 yg nantinya akan di ijazahkan / diturunkan di majelis alhidayah,kmdn ilmu ini bila di amalkan scr rutin akan membangkitkan juga potensi2 dlm diri kita yg pernah mendalami ilmu tertentu isnya allah akan terbangkitkan kembali. Kalau ingin melihat testimoni dr pengisian asma akbar kami persilahkan bergabung di Grup FB “Pendekar Alhidayah Nusantara”,yg ternyata berfungsi dgn baik dalam kondisi tertentu bagi pengamalnya,msl kekebalannya yg muncul,atau pukulannya menjadi berbahaya,atau bahkan spt ada energi yg menebal dan memperkuat tubuh kita apabila kita mengamalkan dgn baik dan ikhlas,krn ini kami mengalami sndr,smg harapan kami ini berlimpah dan bermanfaat bagi rekan2 yg lainnya. Asma akbar mrpkn pondasi penguat dr pengisian dan pengijazahan ilmu2 kedepannya,diantaranya ilmu terawangan,jaljalut,asmaul husnah,saefi angin/lari cepat,tarik
pusaka/emas. Pengijazahan asma akbar bisa diikuti jarak jauh dengan menyalakan FB di link grup alhidayah selama acara tsbt berlangsung.

2) Bagi yg ingin kenang2an dr tempat acr silahkan membawa tasbih atau batu cincin dimajelis nnt insya allah akan diselaraskan dengan asma energi dan doa keselamatan, keberkahan rizki juga kharisma wibawa.

3) Insya Allah kalau mmg nnt tdk ada sesuatu hal,maka akan dibuka juga pengijazahan asma kurung dan asma jaljalut.

Dan alhamdulillah sbg komitmen beliau sbg mujiz u/stp acara beliau dan termasuk acr ini,sebagaimana sesepuh dan guru yang lain beliau mengadakan persiapan pribadi khususnya bertirakat dan berpuasa,sbg bentuk profesionalismme dan keseriusan beliau dalam mendarma baktikan ilmunya kepada rekan2 dimanapun berada.

Hari/Tanggal    :  Sabtu,17 Okt 2015
Jam                     :  19.30 WIB
Alamat          :  Majelis Alhidayah Jl.Anjasmara Tengah Gang 1 No 9A Pasar Karang Ayu/Gerbang Kawasan PRPP Semarang Barat

SEMUA KEGIATAN ADALAH GRATIS TANPA BIAYA.
Demikian sekilas acara atau info buat teritorial sekitar semarang.

apabila ada yg kurang jelas bisa ditanyakan lbh lanjut ustadz abah krishna agung di nmr 08157736941,klo berencana telp janjian saja jamnya,krn beliau adlh karyawan yg bekerja shift di tempat beliau,agar telp atau sms bs terbalas ataupun informasi dengan program2 yang diluar yg kami sampaikan diatas.

B) Kemudian kegiatan yang kedua tmn2 dr berbagai paseduluran dan tmn di KWA akan mengadakan kegiatan Pengijasahan gratis dengan syarat harus datang sendiri:

Lokasi          :  Parang Kusumo Jogja
Tanggal         :  24 oktober jam 19.00 sampe selesai

Materi pengijazahan
– Aji gineng TK.1 bagi yang sudah TK.2 bs melanjutkan ke tingkat selanjutnya,Karena Aji Gineng Ada 7 Tingkatan
– Reiki kundalini
– Ruwatan/rukyah masal ( bawa air mineral sendiri )
– Mengembalikan khodam yg pergi
– Pembukaan 17 cupu kursaini
– pengijazahan Asma’ Sunge Rajeh Madura ( yg tidak boleh dtulis )

Bagi yang mw ikut aji gineng mohon konfirmasinya,karena ada ubo rampe bs yang perlu dipersiapkan oleh panitia.

Bagi yang berencana hadir di jogja bisa menghub :

Shang Jalak Jiwo Hp 089503777508 / 08995905071
Asfar 085784841784

Hormat Kami

BENGAWAN CANDHU
nagakalabuana@yahoo.com

(Team LITBANG KWA)

Categories: >>PERPUSTAKAAN UTAMA | 16 Komentar

DOA DAGANG


Jatiraga

Salam rahayu lan sejahtera selalu kagem sedulur ku yang dimulyakan Alloh SWT.

Ijinkan saya alfakir berbagi DOA khusus untuk mereka para pedagang, doa ini merupakan ihtiar bathin saja jadi jgn lupakan syareat dagang yang lainnya supaya toko atw produk terlihat menarik pembeli serta SODAQOH tiap hari, disamping usaha kita ramah pada pembeli.

Bagi sedulur yang mau mengamalkan doa ini mohon ikhlas ridhonya untuk BERKIRIM alfatiha untuk Saya Sekeluarga dan Seluruh Ciptaan Alloh SWT.

Silahkan dibaca dulu sebekum diamalkan :

Sediakan Air Aqua lalu baca niat :

“Bismillahirohmanirohim
Niat isun mengasmak air aqua utk mengundang pembeli supaya daganganku habis laris amin”

Lalu baca doa dagang :

“Allohumma sholli ala muhammad wa ma’alaa tijaarotii wa bidhaa’atii al musy ariina wal mustariyaati bisy-syiroo’i”

Baca 7x  atw 17x Tiup ke air aqua lalu air aqua dipake pel atw siram kedepan dan dalam toko atw buat semprot air ke etalase.

@@@

Categories: DOA DAGANG | 40 Komentar

==MONGGO PESAN: UANG MAGNET REZEKI BAROKAH KWA==


wangSaat ini usaha/bisnis apa saja mengalami masalah. Rejeki seret dan tidak ada penjualan dialami oleh hampir semua pedagang. Modal bisa sedikit berputar dan bertahan saja sudah bagus. Bila anda sedang mengalami hal ini, maka anda membutuhkan sarana mistik agar rejeki tetap datang. Anda tidak perlu mengikuti Ritual Pengambilan Uang Ghoib sebagaimana yang ditawarkan di iklan-iklan, yang belum tentu anda dapatkan hasilnya.

Untuk mengisi kebutuhan sedulur-sedulur pembaca blog KWA, Kami membuat sarana yang HALAL dan TIDAK MELANGGAR PANTANGAN AGAMA yang bisa digunakan untuk:

  1. Pedagang/penjual/sales apa saja
  2. Pengusaha bidang apa saja
  3. Setiap rumah tangga yang punya usaha bisnis sampingan

Sarana itu berupa UANG MAGNET REZEKI BAROKAH KWA, yaitu berupa selembar uang pecahan Rp 100 ribu dan Rp 50 ribu yang digunakan sebagai PENARIK agar uang-uang yang lain datang segera ke pundi-pundi rekening Anda.

Uang pecahan Rp 100 ribu dan Rp 50 ribu itu kami isi dengan doa ritual yang cukup memakan waktu, memakan tenaga dan menguras daya ruhani agar siapapun yang membawanya/menaruhnya di dompet/di kotak uang maka uang akan berdatangan. Sebagai gambaran agar sedulur tahu bahwa salah satu wirid yang kami gunakan untuk mengisi kekuatan magnetik di uang ini adalah SURAH AL FATIHAH.

Oleh karena itu Insya allah, tidak ada PANTANGAN bila anda memiliki uang magnet rezeki barokah ini. Kami mengisinya dengan ayat-ayat Allah yang diwiridkan sekian kali dengan jumlah khusus dan tata cara khusus selama beberapa hari.

Uang magnet ini kami tawarkan menjadi dua paket:

PAKET BIASA: SATU LEMBAR UANG MAGNET REZEKI BAROKAH KWA PECAHAN Rp 50 ribu kami ritualkan selama 3 hari dengan mahar Rp 2.250.000 ( pemesanaan 3 hari ).

PAKET KHUSUS: SATU LEMBAR UANG MAGNET REZEKI BAROKAH KWA PECAHAN 100 ribu kami ritualkan selama 21 hari dengan mahar Rp 3.500.000 (pemesanan 21 hari).

free/bebas/tanpa ongkos kirim

UANG MAGNET REZEKI BAROKAH KWA ini memerlukan perlakuan KHUSUS sehingga nanti di setiap paket yang dikirimkan itu kami sertakan informasi lengkap penggunaannya.

Cara Mendapatkannya:

SMS ke KWA (SMS saja ya sedulur, mohon maaf kami tidak melayani tanya jawab) sebutkan nama dan alamat anda ke Hp no 081234588111.

Selanjutnya transfer ke rekening:

BANK BNI (kode transfer 009) nomor rekening: 0339523244  atas Nama Muhammad Wildan (ki wongalus).

  1. untuk paket biasa mahar ditransfer penuh bayar dimuka dan paket akan kami kirimkan ke alamat anda 3 hari setelah pemesanan.
  2. untuk paket khusus mahar bisa ditransfer penuh dimuka atau bisa juga dengan DP Rp 1.000.000,- dan nanti setelah 21 hari selesai maka silahkan transfer sisa pembayaran yaitu Rp,2.500.000,-.

Kami menjamin semua paket akan kami kirimkan ke alamat anda dan sampai ke tangan anda.

Anda yang berada di wilayah Sidoarjo silahkan bikin janjian dengan kami (SMS dulu ya dulur agar kami bisa mengatur waktu) dan monggo datang ke Markas KWA, Mushola Balai Diklat Kab Sidoarjo, Jl Majapahit 5 Sidoarjo Jawa Timur.

1Kami berpesan kepada sedulur-sedulur bahwa SEMUA JAMINAN KEPASTIAN ITU MILIK ALLAH SWT. Pengalaman sedulur-sedulur KWA yang telah memiliki UANG MAGNET KWA membuktikan bahwa MEREKA MALAH HERAN DAN KAGET DENGAN DATANGNYA REJEKI YANG DATANG TIBA-TIBA DAN TERUS MENERUS setelah menyimpan uang ini. INILAH KUASA ALLAH SWT bila kita yakin 100 persen pada NYA.

Pesan terakhir adalah SYARAT MEMILIKI UANG MAGNET INI ADALAH ANDA HARUS MEMILIKI BIDANG USAHA (JUALAN) APA SAJA. JADI MOHON MAAF BAGI SEDULUR YANG TIDAK BEKERJA (MENGANGGUR) DAN MALAS MENCARI REJEKI MAKA UANG BIBIT INI JUGA TIDAK ADA FUNGSINYA. KAMI TIDAK MENGISI UANG MAGNET KWA INI DENGAN TUYUL ATAU PESUGIHAN yang jelas HARAM HUKUMNYA. TAPI UANG INI KAMI ISI DENGAN DOA-DOA YANG DIRITUALKAN SECARA KHUSUS.

Demikian sedulur, semoga kita semua menjadi hamba-hamba Allah yang cerdas secara spiritual dan yakin pada kuasa Allah SWT. Amin yra.

@kwa,2015

Categories: UANG MAGNET REJEKI BAROKAH KWA

IJASAH ILMU URUT PIJAT ANGGOTA TUBUH (BAGI TUKANG PIJAT maupun PIJAT TUBUH SENDIRI)


imagesAssalamualaikum wr wb. Ilmu ini sangat bermanfaat bagi saudara yang berprofesi sebagai tukang pijat dan juga untuk rumah tangga kita sendiri.

ADA BEBERAPA CARA, bisa dipilih salah satu:

CARA 1: baca doa 1 x dan tiupkan ke air segelas lalu air diminumkan orang yang sakit.

CARA 2: baca doa 1 x dan tiupkan ke minyak-minyak urut lalu minyak digunakan untuk URUT anggota tubuh yang sakit.

berikut doanya:

BISMILLAHIRROHMANIRROHIM TAMLIKHA MAKHTLINA MATHLINA MASNUSY DARBAMUSY KAFSYATATIYUSY KATMIR BI ISMI ALAH AR ROHMAN AR ROHIM JANNATUN WALDATUN MARYAMA WA MARYAMU WALADATU ISALARDH TAD’U KA’AKHRUJ AYYUHAL MARDULI BI QUDROTIHI TA’ALA.

++CATATAN: Doa ini bisa digunakan untuk seluruh penyakit yang ada di tubuh seseorang pasien. Misalnya bila sakit itu tergolong sakit kanker/tumor, atau penyakit dalam maka doa dibaca ke segelas air dan diminumkan ke orang sakit. 

Demikian semoga bermanfaat buat kehidupan anda, wassalamualaikum wr wb, salam paseduluran dan terima kasih.

@KWA,2015

Categories: ILMU URUT PIJAT SPESIAL KWA | 86 Komentar

ILMU LEPAS PERKARA


ilustrasi pengadilanAssalamualaikum wr wb. Berikut ini akan kami bagi ilmu tentang bagaimana kita bisa lepas dari jeratan hukum di pengadilan. Sebab tidak jarang di antara kita harus berhadapan dengan sidang pengadilan akibat perkara baik perdata maupun pidana. Baik yang berat maupun yang ringan misalnya lupa bawa SIM sehingga ditilang pak polisi dan harus sidang di pengadilan. Yah namanya hidup di dunia pasti beraneka rupa masalah mendatangi kita.

Nah berikut ini ilmu agar kita bisa menang di pengadilan (bila perkara yang kita hadapi berselisih dengan pihak lain) dan kita mendapatkan keadilan.

Nah sebelum berangkat ke pengadilan atau berangkat berselisih dengan pihak lain baca doa ini.

Bismillahirrohmanirrohim
SADUK TEGUH ILA LUPUT ILA TIDAK TERASA
ILLALLAH TIDAK APA-APA
BERKAT DOA LA ILAHA ILLALLAH
BERKAT MUHAMMADUR ROSULULLAH

Untuk wirid sehari-hari ketika kita menghadapi persoalan yang berat silahkan baca ASTAGHFIRULLAHALADZIM 1000 x sekali wirid setiap hari. Berapa hari? tergantung pada masalah. Kalau masalah berat bisa diwiridkan lebih lama terserah berapa hari tergantung keikhlasan hati kita.

Demikian ilmu ini semoga ada manfaatnya buat hidup kita sehari-hari. Terima kasih, wassalamualaikum wr wb dan salam paseduluran.

@kwa,2015

Categories: ILMU LEPAS PERKARA | 10 Komentar

Selamat Hari Raya Idul Adha 1436 H


Ya Allah …
Jadikanlah tiap helaan napas kami sebagai bukti cinta kepada-Mu
Jadikanlah kurban kami sebagai jalan panjang mendekati-Mu.
Untuk semua sedulur pembaca KWA
Selamat Hari Raya Idul Adha 1436 H….

=KWA=

Categories: >>PERPUSTAKAAN UTAMA | 8 Komentar

IJASAH ILMU GENDAM PENUNDUK TUJUH LAPIS BUMI


BERIKUT SAYA IJASAHKAN BAGI SAUDARA PEMBACA BLOG KWA YANG INGIN MEMILIKI ILMU GENDAM

Untuk menjaga kerukunan ada kalanya kita harus menampakkan ketegasan dan disegani oleh mahluk apa saja dan siapa saja, apakah itu pasangan kita(suami/isteri/pacar/bos dll). Apabila bila dia marah dan mengajak bertengkar maka berikut ini ilmu menundukkannya dan mengikuti apa mau kita. Ketika anda selesai membacanya, tidak hanya manusia tapi binatang yang galak sekalipun akan hilang marahnya dan bahkan rela untuk tunduk pada kemauan anda.

Caranya:
Baca doa mantra ini dan setelah berdoa maka hentakkan kaki ke tanah/lantai (bahasa jawanya GEDRUK TANAH 1 x) selanjutnya lihatlah matanya maka dia akan luluh tunduk mengikuti anda seperti kerbau dicocok hidungnya. Inilah mantra doa sekali ucap langsung terjadi kun fayakun.

===
Bismillahirrohmanirrohim  Robbighfirli  1 x

Ya Qowiyyu Ya Matiin  (7X TAHAN NAPAS)

lanjutkan membaca 1 x…

Allah berdiri Muhammad berhenti
Larilah Adam supaya Allah berdiri di hadapanmu
Kau tunduk aku tertawa hak Allah
Karena aku dikandung kalimah Laa Ilaha Ilallah
Muhammadur Rosulullah
Hak semua makhluk di muka bumi
Saya hentakkan ke dalam tujuh lapis bumi
=====

Demikian semoga bermanfaat untuk amar makruf nahi munkar/ menegakkan kebenaran dan menolak/menjauhi kemunkaran.

@kwa,2015

Categories: ILMU GENDAM PENUNDUK TUJUH LAPIS BUMI | 146 Komentar

Blog di WordPress.com. Tema Adventure Journal.