Assalamualaikum wr wb.

Jajaran pengurus blog KWA telah selesai melaksanakan pelatihan Private MASTER KWA dan peserta mendapatkan gelar penghormatan MASTER KWA  ANGKATAN XXXXIII/ 43

KI GUSTI NYAWIJI FIAN PENANGGUNGAN – MAKASSAR

KI GUSTI NYAWIJI WAHYU PENANGGUNGAN – BOYOLALI

Mohon doa restu agar beliau bisa berkarya untuk masyarakat. 

Terima kasih dan salam paseduluran. @@@

Categories: >>PERPUSTAKAAN UTAMA

PEMBERSIHAN AURA NEGATIF DIRI UNTUK PENDEKAR TINGKAT TINGGI YANG AKAN MULAI LAKU BATIN


IJASAH GUS ITSNA
Pengasuh PP Darul ‘Ulum Selotumpuk Wlingi Blitar

Salam takzim menjura kepada semua anggota maupun anggota KWA. lama saya tidak bertegur saya sama sedulur semua. Pada kesempatan kali ini, sy mau ijasahkan ilmu PEMBERSIHAN AURA NEGATIF DIRI UNTUK PENDEKAR TINGGAT TINGGI YANG AKAN MULAI LAKU BATIN. Berikut adalah doanya:

  1. Istighfar 200x
  2.  SHOLLALLOHU ‘ALA MUHAMMAD 200x
  3. La ilaha illalloh 200x

Tata laku: Lakukan Setiap habis sholat 5 waktu. Puasa 3 hari mulai Rabu Pon-kamis wage, jumat kliwon.

Keterangan: PUASA 3 HARI ITU SETARA DENGAN 40 HARI DARI SISI ILMU JAWA. HARI RABU ADALAH HARI yang BAIK untuk memulai hal-hal baik sebagaimana keterangan kitab ta’lim muta’allim.

Ini termasuk ilmu pendekar tingkat tinggi yang mulai laku batin.

Sejak saya belajar kehebatan dan keampuhan dunia persilatan. berikut tingkatan yg pernah saya jalani:

Masuk tingkat pendekar pertama. Petentang petenteng seperti tidak punya musuh. Naik pentas pencak umum dan suka atraksi. Ilmu bawaannya masih jurus2 fisik dan tenaga dalam. Terasa ampuhnya.

Sepuluh tahun berlalu. Masuk tingkat pendekar kedua. Lebih tunduk. Bekalnya jurus2 teknik dan ilmu2 pernafasan dan tenaga dalam tinggi. Sudah mulai khusyu’ tapi perasaan hebat masih ada.

Tahun berikutnya masuk tingkat pendekar terakhir/ guru besar/ tingkat tiga. Bekalnya ilmu jurus super kunci. Ilmu pernafasan dan tenaga dalam terakhir/ tertinggi. Dan laku2 batin dengan wirid, puasa, melek. Ilmunya pasrah kepada Allah. Mulai laku batinnya dengan pembersihan aura negatif seperti yang saya ijazahkan tadi.

Silahkan bagi yang mau amalkan.

@KWA,2016

Categories: PEMBERSIHAN AURA NEGATIF DIRI UNTUK PENDEKAR TINGGAT TINGGI YANG AKAN MULAI LAKU BATIN | 41 Komentar

KEKUATAN ENERGI KEHADIRAN ILAHI DI DALAM HATI ( HUDHUR AL-QALB )


Bagaimana supaya hati punya KEKUATAN? Saya yakin seyakin-yakinnya bahwa KEKUATAN yang sejati dalam diri manusia itu tiada lain adalah dengan cara mengingat Allah SWT. Untuk mengingat Allah, bisa kita latih dengan mengulang-ulang kalimat doa di dalam hati dan boleh juga (tidak selalu harus) diucapkan melalui mulut.

Dari sudut pandang lain, Kasih sayang dan rahmat-Nya diatas ancaman dan siksa-Nya. Kalau kita berniat mendekati  Allah, maka Allah akan menyongsong dekati kita jauh sebelum niat kita terlahirkan. Kalau kita berniat punya kekuatan yang tak terbatas maka caranya adalah PASRAH pada ALLAH sehingga DIA akan memberikan kekuatan NYA berlipat-lipat yang tidak pernah kita duga sangka sebelumnya.

Berikut doa yang biasanya dizikirkan dalam hati di setiap saat, dengan jumlah seikhlasnya agar bisa membantu kita untuk merasakan ‘HUDUR’ (kebersamaan bersama ALLAH) juga merasakan ‘dekat dan diperhatikan Allah SWT. Doa itu adalah:

ALLAH HADIRI — Allah hadir bersamaku

ALLAH SYAHIDI — Allah menyaksikanku

ALLAH MA’I — Allah bersamaku

ALLAH NADHIRUN ILAYYA — Allah selalu melihatku

ALLAH QARIBUN MINNI — Allah dekat denganku

Ada ulama yang menganjurkan dibaca sebelum tidur sebanyak 11 kali.  Ulama Syaikh Umar Al-Faruqi  kepada keponakannya berpesan agar menanamkan dalam jiwanya kalimat Allahu Ma’i , Allahu Syahidi, Allahu Nadirun Ilayya.

Hakekatnya, dengan memahami makna yang terkandung dalam kalimat-kalimat tersebut, maka kita akan merasa malu untuk bermaksiat kepada Allah. Karena setiap gerak-gerik kita akan selalu terpantau oleh Allah.

Dengan demikian, hal itu bisa menghantarkan kita menjadi kaum muslimin sebagaimana yang Allah kehendaki dan ridhoi yang termaktub dalam Al-Qur’an: Kuntum khoiro ummatin ukhrijat linnasi ta’muruna bil makruf, watanhauna ‘anil munkar.

Seorang ulama terkemuka, Imam Sahl bin Abdullah Al-Tastari menuturkan kisah dirinya ketika berumur tiga tahun saat ikut pamannya yang bernama Muhammad bin Sanwar yang rajin untuk melakukan sholat malam.

Suatu hari, paman berkata kepadaku: “Apakah kau mengingat Allah, yang menciptakanmu?
Aku menjawab: “Bagaimana caranya aku mengingat-Nya?”

Beliau menjawab: “Anakku, jika berganti pakaian dan ketika hendak tidur, katakanlah tiga kali dalam hatimu, tanpa menggerakkan lisanmu:  “Allahu Ma’i, Allahu Naadhiri, Allahu Syahidi” (Allah bersamaku, Allah melihatku, Allah menyaksikan aku!).

Aku menghafalkan kalimat itu, lalu mengucapkannya bermalam-malam. kemudian aku menceritakan hal ini kepada paman. Pamanku berkata: “Mulai sekarang, ucapkan zikir itu sepuluh kali setiap malam”.  Aku melakukannya, aku resapi maknanya, dan aku merasakan ada kenikmatan dalam hatiku. Pikiran terasa terang, aku merasa senantiasa bersama Allah SWT.

Satu tahun setelah itu, paman berkata: “jagalah apa yang aku ajarkan kepadamu, dan langgengkanlah sampai kau masuk kubur. Zikir itu akan bermanfaat bagimu di dunia dan di akhirat.” Pamanku melanjutkan nasehatnya: “hai Sahl, orang yang merasa selalu disertai dan dilihat Allah, dan disaksikan Allah, akankah dia melakukan maksiat?’

Kalimat Allahu ma’i, Allahu naadhiri, Allahu syahidi terkenal dikalangan ulama arif billah. Bahkan Syeikh Al-Azhar, Imam Abdul Halim Mahmud, yang terkenal dengan ulama arif billah menganjurkan kepada kaum muslimin untuk menancapakan kalimat ini didalam hati. Maknanya yang dahsyat, jika dihayati dengan sungguh-sungguh, akan mendatangkan rasa ma’iyatullah (selalu merasa disertai, dilihat, dan disaksikan oleh Allah Swt, dimana dan kapan saja).

Pada akhirnya, rasa ini akan menumbuhkan takwa yang tinggi kepada Allah SWT Kalau sudah begitu, apakah orang yang merasa selalu disertai, dilihat, dan disaksikan Allah akan melakukan maksiat? Dia akan senantiasa berbuat POSITIF, berpikir POSITIF, berhati POSITIF dan ini pasti akan merubah pandangan HIDUP kita menjadi HIDUP yang POSITIF. Sehingga pada akhirnya kita akan menili kehidupan ini dengan SELAMAT dan DIRIDHOI ALLAH SWT di akhirat dan tentu saja di dunia ini.

@kwa,2016

Categories: KEKUATAN ENERGI KEHADIRAN ILAHI DI DALAM HATI ( HUDHUR AL-QALB ) | 17 Komentar

KISAH SUFI DZUN NUN AL MISHRI


Abul Faiz Tsuban bin Ibrahim al-Mishri, yang dijuluki Dzun Nun, lahir di kota Ekhmim yang terletak di pedalaman Mesir, sekitar tahun 180 H/796 M. Banyak guru-guru yang telah diikuti Dzun Nun dan banyak pengembaraan yang telah dilakukannya di negeri Arab dan Syria. Pada tahun 214 H/829 M, Dzun Nun ditangkap dengan tuduhan bid’ah dan dikirim ke kota Baghdad untuk dipenjarakan di sana. Setelah diadili, khalifah memerintahkan agar ia dibebaskan dan dikembalikan ke Kairo. Di kota ini ia meninggal tahun 246 H/861 M. Kuburan Dzun Nun sampai kini masih terpelihara dengan baik. Secara legendaris ia dianggap sebagai seorang ahli al-kimia yang mempunyai kekuatan-kekuatan ghaib dan telah mengetahui rahasia tulisan Hiroglif Mesir. Serangkaian syair dan risalat diduga sebagai karya-karyanya, tetapi kebanyakannya masih diragukan.

KISAH PERTAUBATANNYA

Mengenai pertaubatan Dzun Nun si orang Mesir dikisahkannya sebagai berikut:

Suatu hari aku mendengar bahwa di suatu tempat berdiam seorang pertapa. Maka pergilah aku ke pertapaan itu. Sesampainya di sana kudapati si pertapa sedang bergantung pada sebatang pohon dan berseru kepada dirinya sendiri:

“Wahai tubuh, bantulah aku dalam mentaati perintah Allah. Kalau tidak, akan kubiarkan engkau tergantung seperti ini sampai engkau mati kelaparan”.
Menyaksikan hal itu aku tak dapat menahan tangis sehingga tangisku terdengar oleh si pertapa pengabdi Allah itu. Maka bertanya lah ia:
“Siapakah itu yang telah menaruh belaskasihan kepada diriku yang tidak mempunyai malu dan banyak berbuat aniaya ini?”
Aku menghampirinya dan mengucapkan salam kepadanya. Kemudian aku bertanya: “Mengapakah engkau berbuat seperti ini?”
“Tubuhku ini telah menghalang-halangiku untuk mentaati perintah Allah”, jawabnya. “Tubuhku ini ingin bercengkerama dengan manusia-manusia lain”.
Tadi aku mengira bahwa ia telah menumpahkan darah seorang Muslim atau melakukan dosa besar semacam itu.
Si pertapa melanjutkan: “Tidakkah engkau menyadari bahwa begitu engkau bergaul dengan manusia-manusia ramai, maka segala sesuatu dapat terjadi?”
“Engkau benar-benar seorang pertapa yang kukuh!” kataku kepadanya.
“Maukah engkau menemui seorang pertapa yang lebih daripadaku?”, tanyanya kepadaku. “Ya”, jawabku.
“Pergilah ke gunung yang berada di sana itu. Di situlah engkau akan menemuinya”, si pertapa menjelaskan.
Maka pergilah aku ke gunung yang ditunjukkannya. Di sana kujumpai seorang pemuda yang sedang duduk di dalam sebuah pertapaan. Sebuah kakinya telah terkutung putus dan dilemparkan ke luar, cacing-cacing sedang menggerogotinya. Aku menghampirinya lalu mengucapkan salam, kemudian kutanyakan perihal dirinya.
Si pertapa berkisah kepadaku: “Suatu hari ketika aku sedang duduk di dalam pertapaan ini, seorang wanita kebetulan lewat di tempat ini. Hatiku bergetar menginginkannya dan jasmaniku mendorongku agar mengejarnya. Ketika sebuah kakiku telah melangkah ke luar dari ruang pertapaan ini terdengarlah olehku sebuah seruan: ‘Setelah mengabdi dan mentaati Allah selama tiga puluh tahun, tidakkah engkau merasa malu untuk mengikuti syaitan dan mengejar seorang wanita lacur?’. Karena menyesal kupotonglah kaki yang telah kulangkahkan itu. Kini aku duduk menantikan apa yang akan terjadi menimpa diriku. Tetapi apakah yang telah mendorong dirimu untuk menemui orang berdosa seperti aku ini? “Jika engkau ingin menjumpai seorang hamba Allah yang sejati, pergilah ke puncak gunung ini”.
Puncak gunung itu terlampau tinggi untuk kudaki. Oleh karena itu aku hanya dapat bertanya-tanya tentang dirinya.
Seseorang mengisahkan kepadaku: “Memang ada seorang lelaki yang sudah sangat lama mengabdi kepada Allah di dalam pertapaan di puncak gunung itu. Pada suatu hari seseorang mengunjunginya dan berbantah-bantah dengannya. Orang itu berkata bahwa setiap manusia harus mencari makanannya sendiri sehari-hari. Si pertapa kemudian bersumpah tidak akan memakan makanan yang telah diusahakan. Berhari-hari lamanya ia tidak makan sesuatu pun. Tetapi akhirnya Allah mengutus sekawanan lebah yang melayang-layang mengelilinginya kemudian memberikan madu kepadanya”.
Segala sesuatu yang telah kusaksikan dan segala kisah yang telah kudengar itu sangat menyentuh hatiku. Sadarlah aku bahwa barangsiapa memasrahkan diri kepada Allah, niscaya Allah akan memeliharanya dan tidak akan menyia-nyiakan penderitaannya. Di dalam perjalanan menuruni gunung itu aku melihat seekor burung yang sedang bertengger di atas pohon. Tubuhnya kecil dan setelah kuamati ternyata matanya buta. Aku lantas berkata dalam hati: “Dari manakah makhluk lemah yang tak berdaya ini memperoleh makanan dan minumannya?”

Seketika itu juga si burung melompat turun. Dengan mematuk-matukkan paruhnya, dicungkilnya tanah dan tidak berapa lama kemudian terlihatlah olehku dua buah cawan. Yang sebuah dari emas dan penuh biji gandum, sedang yang lainnya dari perak dan penuh dengan air mawar. Setelah makan sepuasnya, burung itu meloncat kembali ke atas dahan sedang cawan-cawan tadi hilang kembali tertimbun tanah. Dzun Nun sangat heran meyaksikan keanehan tersebut. Sejak saat itulah ia mempercayakan jiwa-raganya dan benar-benar bertaubat kepada Allah.

Setelah beberapa lama berjalan, Dzun Nun dan para sahabatnya sampai di sebuah padang pasir. EH sana mereka menemukan sebuah guci berisi kepingan-kepingan emas dan batu permata dan di atas tutupnya terdapat sebuah papan yang bertuliskan nama Allah. Sahabat-sahabatnya membagi-bagi emas dan permata-permata
tersebut di antara sesama mereka sedang Dzun Nun hanya meminta: “Berikanlah kepadaku papan yang bertuliskan nama Sahabatku itu!”.

Papan itu diterimanya, siang malam diciuminya. Berkat papan itu ia memperoleh kemajuan yang sedemikian pesatnya sehingga pada suatu malam ia bermimpi. Dalam mimpi itu ia mendengar suara yang berseru kepadanya: “Semua sahabat-sahabatmu lebih suka memilih emas dan permata karena benda-benda itu mahal harganya. Tetapi engkau telah memilih nama-Ku yang lebih berharga daripada emas dan permata. Oleh karena itu Aku bukakan untukmu pintu pengetahuan dan kebijaksanaan!”

Setelah itu Dzun Nun kembali ke kota. Kisahnya berlanjut pula sebagai berikut ini.

Suatu hari aku berjalan-jalan sampai ke tepian sebuah sungai, di situ kulihat sebuah villa. Di sungai itu aku bersuci, setelah selesai, tanpa sengaja aku memandang ke loteng villa itu. Di atas balkon sedang berdiri seorang dara jelita. Karena ingin mempertegasnya aku pun bertanya: “Upik, siapakah engkau ini?”

Si dara menjawab: “Dzun Nun, dari kejauhan kukira engkau seorang gila, ketika agak dekat kukira engkau seorang terpelajar. Dan ketika sudah dekat kukira engkau seorang mistikus. Tetapi kini jelas bagiku bahwa engkau bukan gila, bukan seorang terpelajar dan bukan pula seorang mistikus.”

Aku bertanya: “Mengapakah engkau berkata demikian?”

Si dara menjawab: “Seandainya engkau gila, niscaya engkau tidak bersuci. Seandainya engkau terpelajar niscaya engkau tidak memandang yang tak boleh dipandang. Dan seandainya engkau seorang mistikis pasti engkau tidak akan memandang sesuatu pun juga selain dari Allah”.

Setelah berkata demikian dara itu pun hilang. Sadarlah aku bahwa ia bukan manusia biasa. Sesungguhnya ia .telah diutus Allah untuk memberi peringatan kepada diriku. Api sesal membakar hatiku. Maka aku teruskan pengembaraanku ke arah pantai.

Sesampainya di pantai, aku melihat orang-orang sedang naik ke atas sebuah kapal. Akupun berbuat seperti mereka. Beberapa lama berlalu, seorang saudagar yang menumpang kapal itu kehilangan permata miliknya. Satu persatu para penumpang digeledah. Akhirnya mereka menarik kesimpulan bahwa permata itu ada di tanganku. Berulangkali mereka menyiksa dan memperlakukan diriku sedemikian hinanya, tetapi aku tetap membisu. Akhirnya aku tak tahan lagi lalu berseru:

“Wahai Sang Pencipta, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Tahu!” Seketika itu juga beribu-ribu ekor ikan mendongakkan kepala ke atas permukaan air dan masing-masing membawa sebuah permata di mulutnya.

Aku mengambilnya sebuah dan memberikannya kepada si saudagar. Menyaksikan keajaiban ini semua orang yang berada di atas kapal berlutut dan meminta maaf padanya. Karena peristiwa inilah aku dijuluki Dzun Nun (“Manusia Ikan”).

DZUN NUN DITANGKAP

Dzun Nun telah mencapai tingkat keluhuran yang tinggi tetapi tak seorang pun menyadari ini. Orang-orang di negeri Mesir bahkan sepakat mencap dirinya bid’ah dan melaporkan segala perbuatannya kepada khalifah al-Mutawakkil. Mutawakkil segera mengirim para perwiranya untuk membawa Dzun Nun ke kota Baghdad. Ketika memasuki istana khalifah, Dzun Nun berkata: “Baru saja kupelajari Islam yang sebenarnya dari seorang wanita tua dan sikap satria tulen dari seorang kuli pemikul air”.
“Bagaimana?”, tanya mereka kepadanya.

Dzun Nun menjawab: “Sesampainya di istana khalifah dan menyaksikan kemegahan istana dengan para pengurus dan pelayan yang hilir mudik di koridor-koridornya, aku berpikir alangkah baik-nya seandainya terjadi sedikit perubahan pada wajahku ini. Tiba-tiba seorang wanita tua dengan sebuah tongkat di tangannya menghampiriku. Sambil menatapku dengan tajam ia berkata kepadaku: ‘Jangan engkau takuti jasad-jasad yang akan engkau hadapi, karena mereka dan engkau adalah sama-sama hamba Allah Yang Maha Besar. Kecuali apabila dikehendaki Allah, mereka tidak dapat berbuat sesuatu pun terhadapmu”.

“Di tengah perjalanan tadi aku bertemu dengan seorang pemikul air. Aku diberinya seteguk air yang menyegarkan. Kepada seorang teman yang menyertaiku aku memberi isyarat agar ia memberikan sekeping uang dinar kepadanya. Tetapi si pemikul air menolak, tidak mau menerima uang itu dan berkata kepadaku: ‘Engkau adalah seorang yang terpenjara dan terbelenggu. Bukanlah suatu kekesatriaan yang sejati apabila menerima sesuatu dari seseorang yang terpenjara seperti engkau ini, seorang asing yang sedang terbelenggu’ “.

Setelah itu diperintahkan supaya Dzun Nun dijebloskan ke dalam penjara. Empat puluh hari empat puluh malam lamanya ia mendekam dalam kurungan itu. Setiap hari saudara perempuannya mengantarkan sekerat roti yang telah dibelinya dengan upah dari pekerjaan memintal benang. Ketika Dzun Nun dibebaskan, ditemu-kan empat puluh potong roti di kamar kurungannya dan tak satu pun di antara roti-roti itu yang telah disentuhnya. Ketika saudara perempuan Dzun Nun mendengar hal ini, ia menjadi sangat sedih.

“Engkau tahu bahwa roti-roti itu adalah halal dan tidak kuperoleh dengan jalan meminta-minta. Mengapa engkau tidak mau memakan roti-roti pemberianku itu?”
“Karena pinggannya tidak bersih”, jawab Dzun Nun. Yang dimaksudkannya dalah bahwa pinggan tersebut telah terpegang oleh penjaga penjara.

Ketika keluar dari penjara itu, Dzun Nun tergelincir dan dahinya terluka. Diriwayatkan bahwa lukanya itu banyak mengeluarkan darah tetapi tak setetes pun yang mengotori muka, rambut maupun pakaiannya. Setiap tetes darah yang terjatuh ke tanah, seketika itu juga lenyap dengan izin Allah.

Kemudian Dzun Nun dibawa menghadap khalifah. Ia diharuskan menjawab tuduhan-tuduhan yang memberatkan dirinya. Maka dijelaskannyalah doktrin-doktrinnya sedemikian rupa sehingga Mutawakkil menangis tersedu-sedu sedang menteri-menterinya terpesona mendengar kefasihan Dzun Nun. Khalifah menganugerahinya dengan kehormatan yang besar.

DZUN NUN DAN SEORANG MURID

Dzun Nun mempunyai seorang murid yang telah bertapa selama empat puluh kali, masing-masing selama empat puluh hari. Empat puluh kali ia telah berdiri di Padang Arafah dan selama empat puluh tahun ia telah mengendalikan hawa nafsunya. Suatu hari si murid datang menghadap Dzun Nun dan berkata:

“Semua itu telah kulakukan. Tetapi untuk semua jerih payahku Sang Sahabat tidak pernah mengucapkan sepatah kata pun dan tidak pernah memandang diriku. Dia tidak memperdulikanku dan tak mau memperlihatkan keghaiban-keghaiban-Nya padaku. Semua itu kukatakan bukan untuk memuji diriku sendiri, aku semata-mata menyatakan hai yang sebenarnya. Aku telah melakukan segala sesuatu yang dapat dilakukan oleh diriku yang malang ini. Aku tidak mengeluh kepada Allah. Aku hanya menyatakan hai yang sebenarnya bahwa aku telah mengabdikan jiwa ragaku untuk berbakti kepada-Nya. Aku hanya menyampaikan kisah sedih dari nasibku yang malang ini, kisah ketidakberuntungan diriku ini. Semua itu kukemukakan bukan karena hatiku telah jemu untuk mematuhi Allah. Aku kuatir jika masa-masa mendatang aku mengalamt hai yang sama. Seumur hidup aku telah mengetuk dengan penuh harap, namun tak ada jawaban. Sangat berat bagiku untuk lebih lama menanggungkan. Karena engkau adalah tabib bagi orang-orang yang sedang berduka dan penasehat tertinggi bagi orang-orang suci, sembuhkanlah duka citaku ini”.

“Malam ini niakanlah dengan sepuas-puasnya”, kata Dzun Nun menasehati “Tinggalkanlah shalat ‘Isa dan tidurlah dengan nyenyak sepanjang malam. Dengan demikian jika Sang Sahabat selama ini tidak memperlihatkan diri-Nya dengan kebajikan, maka se tidak-tidaknya Dia akan memperlihatkan diri-Nya dengan penyesalan terhadapmu. Jika selama ini Dia tidak mau memandangmu dengan kasih sayang maka Dia akan memandangmu dengan kemurkaan”.

Si murid pun pergi dan pada malam itu ia makan dengan sepuas-puasnya. Tetapi untuk melalaikan shalat ‘Isa hatinya tidak mengizinkan. Ia tetap melakukan shalat dan setelah itu ia pun tidur. Malam itu di dalam mimpinya ia bertemu dengan Nabi dan berkata kepadanya:

“Sahabatmu mengucapkan salam kepadamu. Dia berkata: ‘Hanya seorang malang yang lemah serta bukan manusia sejatilah yang datang ke hadirat-Ku dan cepat merasa puas. Inti permasalahan adalah hidup lurus tanpa keluhan’. Allah Yang Maha Besar menyatakan: ‘Telah Kuberikan empat puluh tahun keinginan kepada hatimu dan Aku jamin bahwa engkau akan memperoleh segala sesuatu yang engkau harapkan dan memenuhi segala keinginanmu itu. Tetapi sampaikan pula salam-Ku kepada Dzun Nun, si manusia bajingan dan suka berpura-pura itu. Katakanlah kepadanya. wahai manusia pen-dusta yang suka berpura-pura, jika tidak Aku bukakan malumu kepasa seluruh penduduk kota, maka Aku bukanlah Tuhanmu. Awas, janganlah engkau sesatkan kekasih-kekasihku yang malang dan janganlah engkau jauhkan mereka dari hadirat-Ku”.

Si murid terjaga dari tidurnya lalu menangis. Kemudian ia pergi kepada Dzun Nun dan mengisahkan segala sesuatu yang disaksikan dan didengarnya dalam mimpi itu. Ketika Dzun Nun mendengar kata-kata ‘Tuhan mengirim salam dan menyatakan bahwa engkau adalah seorang pendusta yang suka berpura-pura’, ia pun berguling-guling kegirangan dan menangis penuh kebahagiaan.

KISAH-KISAH DZUN NUN

Dzun Nun mengisahkan: Ketika aku sedang berjalan-jalan di gunung, terlihat olehku sekumpulan orang-orang yang menderita sakit. Aku bertanya kepada mereka: “Apakah yang telah terjadi terhadap kalian?”

Mereka menjawab: “Di dalam pertapaan yang terletak di tempat ini berdiam seorang yang saleh. Setahun sekali ia keluar dari pertapaannya, meniup orang-orang ini lalu semuanya sembuh. Setelah itu ia pun kembali ke dalam pertapaannya dan setahun kemudian barulah ia keluar lagi”.

Dengan sabar aku menantikan si pertapa itu ke luar dari dalam pertapaannya. Ternyata yang kusaksikan adalah seorang lelaki ber-wajah pucat, berbadan kurus dan bermata cekung. Tubuhku gemetar karena kagum memandang dirinya. Dengan penuh kasih si pertapa memandangi orang banyak itu, kemudian menengadahkan pandangannya ke atas. Setelah itu semua orang-orang yang menderita sakit itu ditiupnya beberapa kali. Dan semuanya sembuh dari penyakitnya.
Ketika si pertapa hendak kembali ke dalam pertapaannya, aku segera meraih pakaiannya dan berseru:

“Demi kasih Allah engkau telah menyembuhkan penyakit-penyakit lahiriah, tetapi sembuhkanlah sekarang penyakit di dalam batinku ini”.

Sambil memandang diriku si pertapa berkata:
“Dzun Nun lepaskanlah tanganmu dariku. Sang Sahabat sedang mengawasi dari puncak kebesaran dan keagungan. Jika Dia lihat berapa engkau bergantung kepada seseorang selain daripada-Nya, pasti Dia akan meninggalkan dirimu bersama orang itu maka celakalah engkau di tangan orang itu”.
Setelah berkata demikian ia pun kembali ke dalam pertapaannya.

ooo

Suatu hari sahabat-sahabatnya mendapati Dzun Nun sedang menangis.

“Mengapa engkau menangis?”, tanya mereka.

“Kemarin malam ketika bersujud di dalam shalat, mataku tertutup dan aku pun tertidur. Terlihat olehku Allah dan Dia berkata kepadaku: ‘Wahai Abul Faiz, Aku telah menciptakan semua makhluk terbagi dalam sepuluh kelompok. Kepada mereka aku berikan harta kekayaan dunia. Semuanya berpaling kepada kekayaan dunia kecuali satu kelompok. Kelompok ini terbagi pula menjadi sepuluh kelompok. Kepada mereka Aku berikan surga. Semuanya berpaling kepada surga kecuali satu kelompok. Kemudian kelompok ini terbagi pula menjadi sepuluh kelompok. Kepada mereka aku tonjukkan neraka. Semua lari menghindar kecuali satu kelompok yaitu orang-orang yang tidak tergoda oleh harta kekayaan dunia, tidak mendambakan surga dan tak takut pada neraka. Apakah sebenarnya yang kalian kehendaki?’ Semuanya menengadahkan kepalanya sambil berseru: “Sesungguhnya Engkau lebih mengetahui apa yang kami kehendaki!”.

ooo

Pada suatu hari seorang anak lelaki menghampiri Dzun Nun lalu berkata: “Aku mempunyai uang seribu dinar. Aku ingin menyumbangkan uang ini untuk kebaktianmu kepada Allah. Aku ingin agar uangku ini dapat digunakan oleh murid-muridmu dan para guru sufi”.
“Apakah engkau sudah cukup umur?”, tanya Dzun Nun. “Belum”, jawab anak itu.
“Jika demikian engkau belum berhak untuk mengeluarkan uang tersebut. Bersabarlah hingga engkau cukup dewasa”, Dzun Nun menjelaskan.
Setelah dewasa, anak itu kembali menemui Dzun Nun. Dengan pertolongan Dzun Nun ia bertaubat kepada Allah dan semua uang dinar emas itu diberikannya untuk para guru sufi, sahabat-sahabat Dzun Nun.
Suatu ketika para guru sufi itu mengalami kesulitan sedang mereka tak memiliki apa-apa lagi karena uang telah habis dipergunakan.

Anak lelaki yang telah menyumbangkan uangnya itu berkata: “Sayang sekali, aku tak mempunyai uang seratus ribu dinar lagi untuk membantu manusia-manusia berbudi ini”. Kata-kata ini terdengar oleh Dzun Nun, maka sadarlah ia bahwa anak tersebut belum menyelami kebenaran sejati dari kehidupan rrristik karena kekayaan dunia masih penting dalam pandangannya. Anak itu dipanggil Dzun Nun dan berkata kepadanya:

“Pergilah ke tabib Anu, katakan padanya bahwa aku menyuruh dia untuk menyerahkan obat seharga tiga ribu dirham kepadamu”.

Si pemuda segera pergi ke tabib itu dan tak lama kemudian ia telah kembali lagi.
“Masukkanlah obat-obat itu ke dalam lumpang dan tumbuklah sampai lumat”, Dzun Nun menyuruh si pemuda.. “Kemudian tuangkanlah sedikit minyak sehingga obat-obat itu berbentuk pasta. Kemudian kepal-kepallah ramuan itu menjadi tiga buah butiran, dan dengan sebuah jarum lobangilah ketiga-tiganya. Setelah itu bawalah ketiga butirnya kepadaku”.

Si pemuda melaksanakan seperti yang diperintahkan kepadanya. Setelah selesai, ketiga butiran itu dibawanya kepada Dzun Nun. Butir-butir tersebut diusap-usap oleh Dzun Nun kemudian ditiupnya, tiba-tiba butir-butir itu berubah menjadi tiga buah batu mirah delima dari jenis yang belum pernah disaksikan manusia. Kemudian Dzun Nun berkata kepada si pemuda:
“Bawalah permata-permata ini ke pasar dan tanyakanlah harga-nya, tetapi jangan engkau jual”.
Si pemuda membawa batu-batu permata itu ke pasar. Ternyata setiap butirnya berharga seribu dinar. Si pemuda kembali untuk mengabarkan hai ini kepada Dzun Nun. Dzun Nun berkata: “Sekarang masukkanlah permata-permata itu ke dalam lesung, tumbuklah sampai halus dan setelah itu lemparkanlah ke dalam air”.
Si pemuda melakukan seperti yang disuruhkan, melemparkan tumbukan permata itu ke dalam air. Setelah itu Dzun Nun berkata kepadanya: “Anakku, para guru sufi itu bukan lapar karena kekurangan. Semua ini adalah kemauan mereka sendiri”.
Si pemuda bertaubat lalu jiwanya terjaga. Dunia ini tak berharga lagi dalam pandangannya.

ooo

Dzun Nun berkisah sebagai berikut:

Selama tiga puluh tahun aku mengajak manusia untuk bertaubat, tetapi hanya seorang yang telah menghampiri Allah dengan segala kepatuhan. Beginilah peristiwanya:
Pada suatu hari sewaktu aku berada di ‘pintu sebuah masjid, seorang pangeran beserta para pehgiringnya lewat di depanku. Kuucapkan kata-kata: “Tak ada yang lebih bodoh daripada si lemah yang bergulat me la wan si kuat”.
Si pangeran bertanya kepadaku: “Apakah makna kata-katamu itu?”
“Manusia adalah makhluk yang lemah, tetapi ia bergulat melawan Allah Yang Maha Kuat”, jawabku.
Wajah si pangeran remaja itu berubah pucat. Ia bangkit lalu meninggalkan tempat itu. Keesokan harinya ia kembali menemuiku dan bertanya: “Manakah jalan menuju Allah?”
“Ada jalan yang kecil dan ada jalan yang besar, yang manakah yang engkau sukai?. Jika engkau menghendaki jalan yang kecil, tinggalkanlah dunia dan hawa nafsu, setelah itu jangan berbuat dosa lagi. Jika engkau menghendaki jalan yang besar, tinggalkanlah segala sesuatu kecuali Allah lalu kosongkanlah hatimu”.
“Demi Allah akan kupilih jalan yang besar”, jawab si pangeran.
Esoknya ia mengenakan jubah yang terbuat dari bulu domba dan mengambil jalan mistik. Di kemudian hari ia menjadi seorang manusia suci.

ooo

Kisah berikut ini diriwayatkan oleh Abu Ja’far yang bermata satu.
Aku bersama Dzun Nun dengan sekelompok murid-muridnya berada di suatu tempat. Mereka sedang membicarakan bahwa sesungguhnya manusia dapat memerintah benda-benda mati,
“Inilah sebuah contoh”, kata Dzun Nun, “bahwa benda-benda mati mematuhi perintah-perintah manusia-manusia suci. Jika kukatakan kepada sofa itu ‘menarilah mengelilingi rumah ini maka ia pun menari”.
“Belum lagi Dzun Nun selesai dengan kata-katanya, sofa itu mulai bergerak kemudian mengelilingi rumah lalu membalik ke tempatnya semula. Seorang pemuda yang menyaksikan peristiwa ini tidak dapat menahan ledakan tangisnya dan tak berapa lama kemudian menemui ajalnya. Mereka memandikan mayat si pemuda di atas sofa itu kemudian menguburkannya.

ooo

Pada suatu ketika seorang lelaki datang kepada Dzun Nun dan berkata:
“Aku mempunyai hutang tetapi aku tidak mempunyai uang” untuk melunasinya”,
Dzun Nun memurigut sebuah batu. Batu itu berubah menjadi zamrud. Dzun Nun menyerahkannya kepada lelaki itu. Ia membawa-nya ke pasar dan menjualnya dengan harga empat ratus dirham kemudian ia melunasi hutangnya.

ooo

Ada seorang pemuda yang seringkali mencemoohkan kaum sufi. Suatu hari Dzun Nun melepaskan cincin di jarinya kemudian memberikan cincin itu kepada si pemuda sambil berkata:
“Bawalah cincin ini ke pasar dan gadaikanlah dengan harga satu dinar”.
Si pemuda membawa cincin itu ke pasar tetapi tak seorang pun mau menerimanya dengan harga di atas satu dirham. Si pemuda kembali dan menyampaikan hal itu kepada Dzun Nun.
“Sekarang bawalah cincin ini kepada pedagang permata dan t any akan harganya”, Dzun Nun berkata kepada si pemuda.
Ternyata pedagang-pedagang permata menaksir harga cincin itu seribu dinar. Ketika si pemuda kembali, Dzun Nun berkata kepadanya:

“Engkau hanya mengetahui kaum sufi seperti pemilik-pemilik warung di pasar tadi mengetahui harga cincin ini”.
Si pemuda bertaubat dan ia tak mau lagi mencemooh para sufi.

ooo

Telah sepuluh tahun lamanya Dzun Nun ingin memakan Sekbaj, tetapi keinginan itu tak pernah dilampiaskannya. Kebetulan esok hari adalah hari raya dan batinnya berkata: “Bagaimana jika esok engkau memberi kami sesuap sekbaj sekedar untuk menyambut hari raya?”
“Wahai hatiku, jika demikian yang engkau kehendaki, maka biarkanlah aku membaca seluruh ayat al-Qur’an di dalam shalat sunnat dua raka’at malam nanti”.

Hatinya mengizinkan. Keesokan harinya Dzun Nun mempersiapkan sekbaj di depannya. Ia telah membasuh tangan tetapi sekbaj itu tidak disentuhnya; ia segera melakukan shalat.

“Apakah yang telah terjadi?”, seseorang yang menyaksikan hal itu bertanya kepada Dzun Nun.
“Barusan, hatiku berkata kepadaku”, jawab Dzun Nun. ‘Akhirnya setelah sepuluh tahun lamanya barulah tercapai keinginanku!’, tetapi segera kujawab: ‘Demi Allah, keinginanmu tidak akan tercapai’ “.

Yang meriwayatkan kisah ini me ny at akan bahwa begitu Dzun Nun mengucapkan kata-kata itu, masuklah seorang yang membawakan semangkuk sekbaj ke hadapannya dan berkata:

“Guru, aku tidak datang kemari atas kehendakku sendiri, tetapi sebagai utusan. Baiklah kujelaskan duduk persoalannya kepadamu. Aku mencari nafkah sebagai seorang kuli padahal aku mempunyai beberapa orang anak, Telah beberapa lamanya mereka meminta sekbaj dan untuk itu aku telah menabung uang. Kemarin malam kubuatkan sekbaj ini untuk menyambut hari raya. Tadi aku bermimpi melihat wajah Rasulullah yang cerah menerangi bumi. Rasulullah berkata kepadaku: ‘Jika engkau ingin me lihat ku di hari berbangkit nanti, bawalah sekbaj itu kepada Dzun Nun dan katakan kepadanya bahwa Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muththalib telah memohon ampun untuk dirinya agar ia untuk sementara dapat berdamai dengan hatinya dan memakan sekbaj ini dengan sekedarnya”.

“Aku taati”, sahut Dzun Nun sambil menangis.

ooo

Ketika Dzun Nun terbaring menunggu ajalnya, sahabat-sahabatnya bertanya:
“Apakah yang engkau inginkan pada saat ini?”
Dzun Nun menjawab: “Keinginanku adalah walau untuk sesaat saja, aku dapat mengenal-Nya”. Kemudian Dzun bersyair:
Takut telah meletihkan diriku,
Hasyrat telah membakar diriku,
Cinta telah memperdayakanku,
Tetapi Allah telah menghidupkan aku kembali.
Pada suatu hari “ketika Dzun Nun tidak sadarkan diri. Pada malam kematiannya, tujun puluh orang telah bertemu dengan Nabi Muhammad di dalam mimpi mereka. Semuanya mengisahkari bahwa di dalam mimpi itu Nabi berkata: “Sahabat Allah sudah tiba. Aku datang untuk menyambut kedatangannya”.
Ketika Dzun Nun meninggal dunia, orang-orang menyaksikan tulisan berwarna hijau di dahinya: “Inilah sahabat Allah. Ia mati di dalam kasih Allah. Inilah manusia yang telah dijagal Allah dengan pedang-Nya”.
Ketika orang-orang mengusung mayatnya ke pemakaman, matahari sedang bersinar dengan sangat teriknya. Burung-burung turun dari angkasa dan dengan sayap-sayap mereka meneduhi peti mati Dzun Nun sejak dari rumah sampai ke pemakaman. Ketika mayatnya diusung itu seorang muadzin menyerukan adzan. Sewaktu si muadzin mengucapkan kata-kata syahadah, dari balik kain kafan terlihat jari tangan Dzun Nun mengacung ke atas.
“Ia masih hidup!”, orang-orang berseru kaget.
Mereka menurunkan usungan itu. Memang jari tangan Dzun Nun mengacung ke atas, tetapi ia telah mati. Betapa pun mereka mencoba namun mereka tak dapat membenarkan jarinya yang mengacung itu. Ketika orang-orang Mesir mendengar hal ini, mereka semua merasa malu dan bertaubat dari kejahatan-kejahatan yang telah mereka lakukan terhadap Dzun Nun. Sebagai tanda penyesalan, di atas kuburan Dzun Nun telah mereka lakukan berbagai hal yang tak dapat diterangkan dengan kata-kata.

@sumber: kitab tadzkiratul awlia

Categories: KISAH SUFI DZUN NUN AL MISHRI | 2 Komentar

KISAH ASHABUL UHDUD: “Bismillahi Rabbil Ghulam”


DAHULU kala, ada seorang raja dari kalangan orang-orang sebelum kalian yang memiliki seorang ahli sihir, begitu Rasulullah memulai kisahnya di depan para sahabat sebagaimana dikisahkan Imam Ahmad dalam Musnad-nya (IV/16-17).

Ketika ahli sihir itu–lanjut Nabi–sudah lanjut usia, dia berkata kepada sang raja, Sesungguhnya aku sudah uzur, maka kirimkan seorang pemuda kepadaku untuk aku ajarkan kepadanya ilmu sihir. Maka sang raja pun mengirimkan seorang pemuda kepadanya untuk diajari ilmu sihir.

Ketika di tengah jalan yang dilaluinya untuk pergi berguru pada tukang sihir, terdapat seorang rahib ahli ibadah. Pemuda itu singgah, duduk di dekatnya dan mendengarkan ucapannya hingga membuatnya kagum dan heran.

Ketika mendatangi ahli sihir, dia selalu melewati si rahib itu dan singgah di tempatnya untuk berguru. Suatu ketika dia mendatangi ahli sihir dan melaporkan kebiasaannya itu, dan ahli sihir itu marah bahkan memukulnya. Pemuda itu melaporkan perkaranya pada sang rahib.

Jika engkau takut pada ahli sihir maka katakan, Keluargaku menahanku. Dan jika engkau takut kepada keluargamu, maka katakan, ahli sihir itu menahanku! Kata sang rahib.

Dalam keadaan demikian, datanglah seekor binatang yang sangat besar menahan orang-orang, maka pemuda itu berkata, Sekarang aku akan mengetahui yang lebih baik, ahli sihir atau rahib? Kemudian dia mengambil sebuah batu seraya berkata, “Ya Allah, jika ajaran rahib itu Engkau sukai daripada ajaran ahli sihir, maka bunuhlah binatang ini sehingga orang-orang dapat melanjutkan perjalanan mereka.”

Lalu di lemparkan batu itu hingga mengenai dan membunuh binatang raksasa itu, dan orang-orang pun dapat melanjutkan perjalanan.

Selanjutnya, pemuda itu mendatangi si rahib dan memberitahu pristiwa tersebut. Sang rahib berkata, “Wahai anakku, sekarang ini kamu lebih baik daripada diriku. Sebab, urusanmu telah mencapai apa yang kusaksikan. Sesungguhnya kamu kelak akan diuji, jika engkau diuji janganlah sekali-kali menyebut namaku.”

KAROMAH

Pemuda itu, memiliki banyak kelebihan dan keutamaan (karomah) dengan menyembuhkan segala jenis penyakit, tak terkecuali penyakit buta dan kusta. Hingga suatu saat orang kepercayaan sang raja yang buta mendengar berita tentang dirinya.

Ia lalu mendatangi pemuda itu sambil membawa hadiah yang banyak, dan berkata, “Semua yang ada di sini akan menjadi milikmu jika berhasil menyembuhkan diriku. Pemuda itu pun menjawab, Sesungguhnya aku tidak dapat menyembuhkan seseorang. Yang menyembuhkan adalah Allah Subhanahu Wata’ala. Jika kamu beriman kepada Allah yang Maha Tinggi, maka aku akan berdoa kepada-Nya, lalu Dia akan menyembuhkanmu. Maka dia pun beriman kepada Allah Yang Maha Tinggi, dan Allah menyembuhkannya.”

Selanjutnya, orang kepercayaan raja itu mendatangi sang raja dan duduk seperti biasanya. Raja bertanya, “Siapa yang menyembuhkan penglihatanmu?” “Tuhanku, “ jawabnya. “Apakah kamu memiliki tuhan selain diriku? Tanya raja. “Tuhanku dan Tuhanmu adalah Allah, “ jawabnya.

Raja itu langsung menghukum orang kepercayaannya, dan terus menyiksanya hingga ia menunjuk pemuda yang mengobatinya. Dan raja meminta agar pemuda itu dihadirkan. Raja berkata, “Wahai anakku, sihirmu luar biasa hebatnya hingga dapat menyembuhkan orang buta dan kusta. Kamu juga telah melakukan ini dan itu.”

Maka, pemuda itu berkata, “Sesungguhnya aku tidak dapat menyembuhkan seorang pun, sebenarnya yang menyembuhkan mereka adalah Allah.”

Rasulullah melanjutkan sabdanya, maka pemuda itu pun dihukum dan terus disiksa hingga pemuda itu menunjuk si rahib. Lalu raja meminta agar rahib saleh itu dihadirkan, ketika hadir, sang raja bertitah, “Kembalilah ke dalam agamamu semula.” Namun ia menolak.

Raja naik pitam dan meminta gergaji lalu diletakkan di atas kepala si rahib dan membelahnya hingga kedua belah tubuhnya terjatuh. Dipanggil pula orang kepercayaannya dan dikatakan padanya, Kembalilah kamu ke dalam agamamu semula. Tapi dia menolak, dan si raja meletakkan gergaji di atas kepalanya, kemudian membelah tubuhnya hingga terjatuh.

DIMINTALAH supaya mendatangkan pemuda itu, dan raja bertitah padanya, “Kembalilah kepada agamamu.” Namun dia tetap menolak. Maka dia menyerahkannya kepada para pengawalnya. Lalu berkata, “Pergi dan bawalah pemuda ini ke gunung ini dan itu, dan bawalah ia naik ke atas gunung. Jika kalian telah sampai di puncaknya dan dia kembali kepada agamanya, maka tidaklah masalah. Namun jika tidak, maka lemparlah dia.

Kemudian para pengawal itu membawa sang pemuda naik ke gunung.” Dan, pemuda itu berdo’a, “Ya Allah, lindungilah diriku dari kejahatan mereka sesuai dengan kehendak-Mu.”. Maka gunung itu goncang. Kemudian pemuda itu dengan berjalan kaki datang menemui sang raja.

Raja lalim itu bertanya padanya, “Apa yang dilakukan oleh pengawalku yang membawamu?”

“Allah yang Maha Tinggi telah menghindarkan diriku dari kejahatan mereka.” Maka, pemuda itu diserahkan kepada pasukan lain seraya bertitah, “Pergilah kalian dan bawa pemuda ini dengan sebuah perahu ke tengah-tengah laut. Jika ia mau kembali ke agamanya semula, maka dia akan selamat, jika tidak, maka lemparkanlah ke tengah lautan.”

Lalu mereka berangkat dengan membawa pemuda tersebut. Selanjutnya, pemuda itu berdoa, “Ya Allah, selamatkanlah aku dari mereka sesuai dengan kehendak-Mu.” Maka kapal itu pun terbalik dan para pasukan raja tertelam lautan ombak. Lalu, pemuda itu kembali sambil berjalan kaki menemui sang raja.

Raja zalim bertanya padanya, “Apa yang telah dilakukan oleh orang-orang yang bersamamu tadi?” Pemuda menjawab! “Allah yang Maha Tinggi telah menyelamatkanku dari kejahatan mereka.” Lebih lanjut, pemuda itu berkata pada raja, “Sesungguhnya kamu tidak akan dapat membunuhku hingga kamu mengerjakan apa yang aku perintahkan padamu.”

“Apa yang harus kukerjakan?, “ tanya sang raja. “Kamu harus mengumpulkan orang-orang di tanah lapang, lalu kamu menyalibku di sebuah batang pohon. Ambillah anak panah dari tempat anak panahku, letakkan pada busurnya, kemudian ucapkan, Bismillah, rabbil-ghulam. Dengan menyebut nama Allah, Tuhan pemuda ini. Lalu lepaskanlah anak panah itu ke arahku. Sesungguhnya jika kamu telah melakukan hal itu, maka kamu akan dapat membunuhku, “ kata sang pemuda.

Raja lalu mengumpulkan segenap warga negara di satu tanah lapang. Ia menyalib pemuda itu di atas sebatang pohon, lalu mengambil satu anak panah dari milik pemuda itu. Selanjutnya, dia meletakkan anak panah pada busurnya, lalu mengucapkan, bismillahi rabbil-ghulam, Dengan menyebut nama Allah, Tuhan pemuda ini. Ia pun melepaskan anak panah itu, pas mengenai bagian pelipis, pemuda itu meletakkan tangannya di pelipisnya, dan ia pun meninggal dunia. Pada saat itu orang ramai menyaksikan, berkata, Kami beriman kepada Tuhan pemuda ini. Amantu birabbi-ghulam.

Datanglah seseorang menghadap raja dan melapor, “Tahukah kamu, apa yang engkau khawatirkan? Demi Allah, kekhawatiranmu telah menjadi kenyataan. Orang-orang telah beriman.”

Raja pun memerintahkan untuk membuat parit besar di setiap persimpangan jalan, sambil menyalakan api.

Raja bertitah, “Barangsiapa tidak kembali kepada agama semula, maka lemparkanlah dia ke dalam parit berapi itu! Atau akan dikatakan kepadanya, Ceburkanlah dirimu!”

Maka orang-orang pun melakukan hal tersebut, hingga datanglah seorang wanita menggendong bayinya sambil menyusu. Wanita itu berhenti dan menghindar agar tidak terperosok ke dalamnya. Maka bayi itu pun berbicara, “Wahai ibuku, bersabarlah, sesungguhnya engkau berada dalam kebenaran.”

***

Kisah heroik di atas, tidak hanya diabadikan oleh Nabi dan para sejarawan muktabar sekaliber Al-Hafidz Ibnu Katsir dalam “Al-Bidayah wan-Nihayah” tapi juga dalam Al-Qur’an.

Al-Qur’an menyebutnya sebagai “Ashabul-Uhdud” berlandaskan firman Allah, binasa dan terlaknatlah orang-orang yang membuat parit yang berapi dinyalakan dengan kayu bakar, ketika mereka duduk di sekitarnya, sedang mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang yang beriman, dan mereka menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah yang Maha perkasa lagi Maha terpuji(QS. Al-Buruj: 4-8).

@@@

Penulis: Ilham Kadir, Kandidat Doktor Pendidikan Islam UIKA Bogor, pernah dimuat di Hidayatullah.

Categories: Kisah Ashabul Uhdud | 3 Komentar

ILMU HIKMAH ITU ILMUNYA ULUL ALBAB


“ILMU HIKMAH” ITU TIDAK SAMA DENGAN ILMU KANURAGAN, TIDAK SAMA DENGAN ILMU KESAKTIAN, TIDAK SAMA DENGAN HIZIB DAN WIFIQ MESKIPUN MEREKA BISA JADI BAGIAN DARI ILMU HIKMAH. ILMU HIKMAH ADALAH ILMU YANG MAMPU MENGANTARKAN PEMILIKNYA UNTUK MA’RIFAT. AHLI SHOLAT DAN SENANTIASA BERDZIKIR KEPADA ALAH SWT. KARENA DENGAN ILMU HIKMAH ITU SEORANG HAMBA MAMPU MEMBACA RAHASIA DI BALIK SEMUA YANG ADA ATAS IJIN ALLAH SWT.

Dasar dari Ilmu Hikmah adalah Kitabullah Al Qur’an: “Allah memberikan hikmah kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barang siapa yang diberi hikmah, sungguh telah diberi kebajikan yang banyak. Dan tak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali ulul-albab.” (QS. 2:269)

Maka yang bisa memahami ilmu hikmah adalah kaum Ulul-albab. Siapa kaum Ulul-albab?.  Ulul-albab disebut belasan kali dalam Al-Quran. Menurut Al-Quran, ulul-albab adalah kelompok manusia yang diberi keistimewaan oleh Allah swt. Diantara keistimewaannya ialah mereka diberi hikmah, kebijaksanaan, dan pengetahuan dalam arti luas—tidak hanya pengetahuan yang diperoleh dari empiris dan rasio — namun juga pengetahuan yang tercerahkan oleh Nur Ilahiah.

Disebutkan pula dalam Al-Quran bahwa: “Mereka adalah orang yang bisa mengambil pelajaran dari sejarah umat manusia.” (QS. 12:111). Dipelajarinya sejarah berbagai bangsa, kemudian disimpulkannya satu pelajaran yang bermanfaat, yang dapat dijadikan petunjuk dalam mengambil keputusan di dalam kehidupan ini. “Mereka itulah orang-orang yang mendapatkan petunjuk dari Allah, dan mereka itulah ulul-albab.” (QS. 3:7)

Ulul-albab lebih luas dari sekedar seorang sarjana S1, S2, S3 maupun kaum cerdik cendekia, ilmuwan dan intelektual bentukan institusi pendidikan. Namun bisa jadi sarjana ilmuwan, intelektual itu adalah ulul albab.  Mereka adalah kelompok orang yang merasa terpanggil untuk memperbaiki masyarakatnya, menangkap aspirasi mereka, merumuskannya dalam bahasa yang dapat dipahami, menawarkan strategi dan alternatif pemecahan masalah yang ada di masyarakat.

Apa tanda-tanda ulul-albab?  Tanda pertama: Bersungguh-sungguh mencari ilmu, seperti disebutkan dalam Al-Quran: “Dan orang yang bersungguh-sungguh dalam ilmu pengetahuan mengembangkannya dengan seluruh tenganya, sambil berkata: ‘Kami percaya, ini semuanya berasal dari hadirat Tuhan kami,’ dan tidak mendapat peringatan seperti itu kecuali ulul-albab.” (QS.3:7)

Termasuk dalam bersungguh-sungguh mencari ilmu ialah kesenangannya menafakuri ciptaan Allah di langit dan di bumi. Allah menyebutkan tanda ulul-albab ini sebagai berikut: “Sesungguhnya dalam proses penciptaan langit dan bumi, dalam pergiliran siang dan malam, adalah tanda-tanda bagi ulul-albab.” (QS.3:190).

Abdus Salam, seorang Muslim pemenang hadiah Nobel, berkat teori unifikasi gaya yang disusunnya, berkata, “Al-Quran mengajarkan kepada kita dua hal: tafakur dan tasyakur. Tafakur adalah merenungkan ciptaan Allah di langit dan di bumi, kemudian menangkap hukum-hukum yang terdapat di alam semesta. Tafakur inilah yang sekarang disebut sebagai science. Tasyakur ialah memanfaatkan nikmat dan karunia Allah dengan menggunakan akal pikiran, sehingga kenikmatan itu makin bertambah. Ulul-albab merenungkan ciptaan Allah di langit dan bumi, dan berusaha mengembangkan ilmunya sedemikian  rupa, sehingga karunia Allah ini dilipatgandakan nikmatnya.”

Tanda kedua: Mampu memisahkan yang jelek dari yang baik, kemudian ia pilih yang baik, walaupun ia harus sendirian mempertahankan kebaikan itu dan walaupun kejelekan itu dipertahankan oleh sekian banyak orang. Allah berfirman: “Katakanlah, tidak sama kejelekan dan kebaikan, walaupun banyaknya kejelekan itu mencengangkan engkau. Maka takutlah kepada Allah, hai ulul-albab.” (QS.5:100)

Tanda ketiga: Kritis dalam mendengarkan pembicaraan, pandai menimbang-nimbang ucapan, teori, proposisi atau dalil yang dikemukakan oleh orang lain: “Yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk dan mereka itulah ulul-albab.” (QS.39:18)

Tanda keempat: Bersedia menyampaikan ilmunya kepada orang lain untuk memperbaiki masyarakatnya; diperingatkannya mereka kalau terjadi ketimpangan, dan diprotesnya kalau terdapat ketidakadilan. Dia tidak duduk berpangku tangan di labolatorium; dia tidak senang hanya terbenam dalam buku-buku di perpustakaan; dia tampil di hadapan masyarakat, terpanggil hatinya untuk memperbaiki ketidakberesan di tengah-tengah masyarakat…: “(Al-Quran) ini adalah penjelasan yang cukup bagi manusia, dan supaya mereka diberi peringatan dengan dia, dan supaya mereka mengetahui bahwasannya Dia adalah Tuhan Yang Maha esa dan agar ulul-albab mengambil pelajaran.” (QS.14:52)

“Hanyalah ulul-albab yang dapat mengambil pelajaran, (yaitu) orang-orang yang memenuhi janji Allah dan tidak merusak perjanjian, dan orang-orang yang menghubungkan apa-apa yang Allah perintahkan Supaya dihubungkan, dan mereka takut kepada Tuhannya dan takut kepada hisab yang buruk. Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridhaan Tuhannya, mendirikan salat dan menafkahkan sebagian rezki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik).” (QS. 13:19-22)

Tanda kelima: Tidak takut kepada siapa pun kecuali kepada Allah. Berkali-kali Al-Quran menyebutkan bahwa ulul-albab hanya takut kepada Allah: “Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baiknya bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai ulul-albab.” (QS 2:197)

“Maka bertakwalah kepada  Allah hai ulul-albab, agar kamu mendapat keberuntungan.” (QS 5:179) “Allah menyediakan bagi mereka azab yang keras, maka bertakwalah kepada Allah hai ulul-albab.” (QS. 65:10)

Seorang ulul-albab bersungguh-sungguh mempelajari ilmu, mau mempertahankan keyakinannya, dan merasa terpanggil untuk memperbaiki masyarakatnya. Dalam ayat lain, Allah swt dengan jelas membedakan seorang ulul-albab dengan kaum intelektual: “Apakah orang yang bangun di tengah malam, lalu bersujud dan berdiri karena takut menghadapi hari akhirat, dan mengharapkan rahmat Tuhannya: samakah orang yang berilmu seperti itu dengan orang-orang yang tidak berilmu dan tidak memperoleh perinagtan seperti itu kecuali ulul-albab.” (QS. 39:9)

Dengan merujuk kepada firman Allah di atas, inilah “tanda khas” yang membedakan ulul-albab dengan ilmuwan atau intelektual lainnya. Ulul-albab rajin bangun tengah malam untuk bersujud dan rukuk di hadapan Allah. Dia merintih pada waktu dini hari, mengajukan segala derita dan segala permohonan ampunan kepada Allah Swt, semata-mata hanya mengharapkan rahmat-Nya.

Tanda khas yang lain disebutkan dalam Al-Quran: “Dia zikir kepada Allah dalam keadaan berdiri, dalam keadaan duduk, dan keadaan berbaring.” (QS 3:191)

Maka dapat disimpulkan dalam diri ulul-albab berpadu sifat-sifat ingin tahu dan dengan demikian dia gemar belajar dan meneliti untuk melahirkan solusi agar kehidupan masyarakat dan kebudayaan manusia menjadi semakin Islami dalam pandangan Allah SWT. @@@

Categories: ILMU HIKMAH ITU ILMUNYA ULUL ALBAB | 3 Komentar

WIRID WABAL UNTUK MENGHADAPI SEMUA KEADAAN YANG MENDESAK DALAM HIDUP KITA


Cak-NunIjazah Budayawan Cak Nun (Emha Ainun Nadjib) dalam acara majelis maiyahan.  Untuk Cak Nun, lahumul fatihah..

Berikut rangkaian wiridnya:

  • Tawassul kirim AL FATIHAH terutama KANJENG NABI MUHAMMAD SAW (bisa ditambahkan kepada siapa Anda kirim alfatihah, misalnya untuk guru kita: Emha Ainun Najib)
  • YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA HALIM YA HADI YA MUBIN, YA ALLAH KABULKANLAH HAJAT KAMI …….. (isi dengan hajat anda dengan menggunakan bahasa yang anda pahami bisa diucapkan dan bisa dibatin saja)  ALHAMDULILLAHIROBBILALAMIN
  • LA HAULA WA LA QUWWATA WA LA SULTHONA ILLALLAH  ( siapkan air minum dan minumlah) lanjutkan dengan:
  • Wirid dimulai baca SURAT AL-FATIHAH 1x , SURAT AL-IKHLAS 1 x, AL-FALAQ 1x dan AN-NAAS 1 x
  • DOA WABAL: BISMILLAHI AUDZUBIKA YA DZAL WABALI, BISMILLAHI AUDZUBIKA YA SYADIDAL ‘IQABI, BISMILLAHI AUDZUBIKA YA DZAL ‘ADLI WAL QHISTI, BISMILLAHI SHODAQTA SHODAQTA SHODAQTA SHODAQTA SHODAQTA YA DZAL WABAL YA DZAL WABAL YA DZAL WABAL.
  • INNAMA AMRUHU IDZA ARODA SYAIAN AYYAQULA LAHU KUN FAYAKUN.

Wirid selesai. Bisa dijadikan rutinitas sesuai dengan kebutuhan anda.

@ kwa,2015

Categories: WIRID WABAL UNTUK MENGHADAPI SEMUA KEADAAN YANG MENDESAK DALAM HIDUP KITA | 20 Komentar

BAKTI SOSIAL KWA JAYAKARTA: PENGIJASAHAN AJI GINENG — AJIAN SETARA AJI PANCASONA


DSC02565Assalamu alaikum Warohmatullahu Wabarokatuh.

KWA Jayakarta (dahulu bernama KWA Jakarta) adalah perwakilan KWA Pusat (Sidoarjo, Jawa Timur), yang meliputi area Jakarta, Bogor, Depok dan Tangerang. Dan sebagai bentuk kepedulian kami terhadap permasalahan yang ada di dalam masyarakat yang menyangkut bidang spiritual maupun metafisika, maka kami akan mengadakan acara Pengijasahan Keilmuan dan Bakti Sosial KWA Jayakarta.

Acara ini mengenakan biaya seikhlasnya tanpa adanya ketentuan nominal tertentu untuk semua pelayanan kami, baik itu pengijasahan keilmuan (khusus anggota KWA), pengobatan, terapi ataupun konsultasi, yang mana biaya ini akan kami pergunakan untuk komsumsi panitia dan biaya operasiona lkepanitiaanlainnya.

DSC02548Kegiatan ini terbuka untuk umum dan dapat diikuti oleh masyarakat umum dan sekitarnya. Adapun kegiatan Pengijasahan Keilmuan dan Bakti Sosial ini akan diadakan pada  :

Hari / Tanggal            :  Sabtu, 23 Januari  2016

Waktu                         :  Pukul  19:00 – 22:00WIB

Tempat           :  Halaman  Museum  Fatahillah

                        Jl. Taman  Fatahillah  No. 1, Kota,  Jakarta  Barat

 AcaraBakti Sosial ini meliputi kegiatan  :

  1. Pengobatan Medis dan non Medis
  2. PengobatanMetodeRuqyah
  3. PengobatanMetodePijat&Totok
  4. PengobatanGurah (Mata, Tubuh)
  5. Pembersihan Aura Tubuh
  6. Pengisian& Booster Tenaga Dalam
  7. Konsultasiberbagaipermasalahanhidup
  8. Pengisian energi ke benda-benda pusaka (keris/tombak, dll)
  9. Konsultasi Supranatural semua masalah (rejeki, pengasihan, keselamatan, dll)
  10. Pengijasahan Keilmuan secara langsung oleh Sesepuh/Senior/AnggotaKWA Jayakarta

 Pengijasahan  Keilmuan  (khusus anggota KWA):

  1. Aji Gineng  Tingkat  I–>Ki  Sabdo  Sejati

Pada masa silam, Bekel Mada yang pada akhirnya dikenal dengan sebutan Mahapatih Gajah Mada dan merupakan murid kinasih Bhgawan Amongraga menerima warah berupa ajian sakti Aji Gineng yang konon juga dikuasai dengan sempurna oleh Satria Panegak Pandawa, Bimasena. — konon, ajian ini diterima langsung dari sang ayah yang begitu mencintainya, Dewa Bayu.

Khasiat dari ajian yang satu ini adalah, tubuh menjadi kuat sentosa serta kebal terhadap serangan senjata tajam. Jadi bukan tidak mungkin, di samping memiliki ajian-ajian yang lain, ajian ini juga merupakan salah satu andalan sang Mahapatih dari kerajaan Majapahit. Kita dapat membayangkan, dengan segala keberanian serta ketegarannya, Mahapatih Gajah Mada di dampingi Empu Nala yang merupakan Panglima Angkatan Laut beserta dengan ribuan prajurit lainnya mengarungi lautan dan menjelajahi daratan untuk menaklukkan negeri-negeri tetangganya. Bahkan sampai ke Madagaskar. Pada saat inilah keampuhan Aji Gineng berhasil dibuktikan oleh Mahapatih Gajah Mada. Ia berhasil mempersatukan nusantara di bawah panji-panji Gula Kelapa yang merupakan kebesaran dari Wilwatikta.

DSC02528Jika diperhatikan dengan saksama, maka khasiat dari ajian ini setara dengan aji Pancasona. Betapa tidak, selagi tubuh yang menguasai ilmu ini masih tersentuh oleh empat unsur, yakni api, air, udara dan tanah, maka ia takkan dapat pralaya. Walau tujuannya baik, tetapi entah kenapa, tak banyak orang yang berminat untuk mengkaji ataupun mendalami Aji Gineng. Mungkin hal ini disebabkan, si penghayat dilarang keras melanggar tatanan keluarga, masyarakat, negara dan agama yang dianutnya — di samping sepanjang hidupnya ia tak boleh berbohong walau sekalipun. Jika dilanggar, maka si penghayat harus memulai ritual (puasa) lagi agar kadar ilmu tersebut tidak berkurang.

Ubo Rampe (syarat) untuk pengijasahan Aji Gineng  :

–  7  macam sayuran merambat (Buncis, Kecipir, Kacang Panjang, Mentimun, Pare, Tomat, Kangkung, Labu Siam)  –>  (dimasak)

–  Taoge(dimasak)

–  Telor ayam kampung  (direbus)

–  Nasi dari ketan hitam, ketan merah dan ketan putih  (dikukus)

–  Ikan asin  (digoreng)

–  Sambal gula jawa kelapa  (terbuat dari parutan kelapa setengah tua, dikasih bumbu gula merah, garam, bawang putih, cabe. Setelah itu diuleg rata dan dikukus).

Dipersilahkan calon peserta penerima pengijasahan Aji Gineng mempersiapkan sendiri-sendiri ubo rampenya.

  1. Attunement Reiki  Tingkat  I–>Ki  Sabdo  Sejati

DSC02583Reiki berasal dari bahasa jepang.Reiki adalah gabungan dari kata “Rei” yang berarti alam semesta dan “Ki” berarti energi. Dengan kata lain Reiki adalah energi alam semesta atau biasa disebut para praktisi Reiki sebagai Energi Ilahi dan mempunyai tingkat getaran yang sangat tinggi juga energinya sangat halus dibanding energi Prana atau energi tenaga dalam lainnya. Orang yang pertama kali menemukan Reiki adalah seorang pendeta Budha yang bernama Dr.Mikao Usui setelah bermeditasi selama 21 hari di gunung Kurama. Ada juga sumber yang mengatakan Reiki sebetulnya sudah dipergunakan para Pendeta Tibet jauh sebelum Master Mikao Usui menemukan Reiki.

  1. Keilmuan dari Ki  Ageng  JJ  Tajir  aka  Ki  Ageng  Banyu  Biru

Untuk Contac Person (CP) bisa menghubungi saya di nomor Handphone 0877 7557 3775 (Telpon/SMS/Whatsapp). Silakan datang, lihat dan beri komentar setelah sedulur sekalian melihat kiprah KWA Jayakarta dengan formasi baru ini dalam mengadakan acara ini. Terima kasih atas perhatian Sedulur sekalian untuk meluangkan waktu membaca tulisan ini.

Wassalamu Alaikum Warohmatullahu Wabarokatuh.

Jakarta,  15 Januari  2016

Ketua  KWA  Jayakarta/Panitia,

(Anyabrea Valentine / Ki Ageng Bayu Penanggungan)

Categories: >>PERPUSTAKAAN UTAMA | 19 Komentar

DOA ANGKAT AL QURAN DI ATAS KEPALA: MUSTAJABAH UNTUK SEMUA HAJAT


Berikut saya ijasahkan doa untuk semua hajat kepada sedulur-sedulur pembaca kwa yang berminat mengamalkannya. Tata cara:

  1. Boleh dilakukan kapan saja waktu dan tempatnya.
  2. Bersihkan diri dengan ber wudhu .
  3. Ambil Al Quran dan baca Surah Al Anam ayat 124.

WA-IDZAA JAA-AT-HUM AAYATUN QAALUU LAN NU/MINA HATTAA NU/TAA MITSLA MAA UUTIYA RUSULU ALLAAHI  (…………. )  ALLAAHU A’LAMU HAYTSU YAJ’ALU RISAALATAHU SAYUSHIIBU ALLADZIINA AJRAMUU SHAGHAARUN ‘INDA ALLAAHI WA’ADZAABUN SYADIIDUN BIMAA KAANUU YAMKURUUNA .

  1. Isi titik-titik dengan hajat anda (bisa diucapkan/bisa dibatin saja) dengan bahasa apapun sesuai kemampuan anda  dan angkatlah Al Quran di atas kepala Anda sesaat.
  2. Kemudian turunkan Al Quran dan lanjutkan lagi baca 1 ayat tersebut sampai selesai.

Arti ayat tersebut: Apabila datang sesuatu ayat kepada mereka, mereka berkata: “Kami tidak akan beriman sehingga diberikan kepada kami yang serupa dengan apa yang telah diberikan kepada utusan-utusan Allah”. Allah lebih mengetahui di mana Dia menempatkan tugas kerasulan. Orang-orang yang berdosa, nanti akan ditimpa kehinaan di sisi Allah dan siksa yang keras disebabkan mereka selalu membuat tipu daya.

Setiap ayat dan surat dalam Kitabullah memiliki keistimewaan. Dan salah satu keistimewaan  Al An’am  ayat 124  adalah  hanya ada satu ayat yang kata ALLAH bergandengan seperti itu.

Ijasahan selesai.

@KWA,2016

Categories: DOA ANGKAT AL QURAN DI ATAS KEPALA: MUSTAJABAH UNTUK SEMUA HAJAT | 33 Komentar

MENYIKAPI ALIRAN SESAT


Akhir-akhir ini, media massa dicecar pemberitaan tentang aliran yang dianggap sesat. Bagaimana kita menyikapinya? Berikut artikel yang bisa kita jadikan bahan perenungan yang ditulis oleh Kyai Muhammad Luthfi Ghozali, pengasuh Ponpes “Al Fithrah” Gunungpati Semarang yang sudah pernah dimuat di koran Suara Merdeka, 3-2-2006.

SEJAK manusia diturunkan di muka bumi, Allah SWT berfirman kepada Nabi Adam as. dan istrinya,”Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama, sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Maka jika datang kepadamu petunjuk dari-Ku, barang siapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka “.( QS Toha 123). Yang demikian itu adalah sunatullah yang sejak diciptakan-Nya tidak akan ada perubahan lagi untuk selama-lamanya.

Sejak itu manusia dengan dunianya terbagi menjadi dua golongan, golongan yang baik dan yang jelek, golongan yang lurus dan yang sesat. Masing-masing golongan sebagai musuh yang akan mendapat bala bantuan, golongan yang lurus dengan malaikat dan yang sesat dengan setan.

Selama kehidupan manusia masih ada, maka keburukan dan kejelekan akan tetap ada, bahkan menjadi satu bagian yang tidak dapat dipisahkkan menjadi satu sistem yang saling terkait. Artinya kalau tidak ada yang namanya sesat maka tidak ada yang namanya lurus.

Oleh karena itu yang dikatakan kesesatan, kemungkaran dan kemaksiatan, selama tidak membahayakan bagi keselamatan jiwa manusia, tidak seharusnya diperangi dan dihancurkan (kecuali pada masa perang), tapi diantisipasi dampak negatifnya dan dijadikan tolak ukur serta peringatan.

Supaya yang lurus dan yang makruf, mengetahui kebenaran dirinya dan kemudian mampu disyukuri oleh manusia, bahwa dirinya telah dimasukkan di dalam golongan yang terbaik dan “selamat”.

Yang sesat bisa saja menjadi sesuatu yang positif dan bermanfaat manakala yang lurus mampu menyikapinya dengan tepat. Seperti kotoran binatang ternak yang menjijikkan dan najis, manakala manusia mampu memanfaatkannya dengan benar, kotoran itu akan dapat menyuburkan tanaman.

Demikian pula iman, ia harus teruji, sedangkan realita (keburukan dan kebaikan) adalah sarana ujian yang sangat efektif supaya iman menjadi semakin kuat. Setan dan nafsu sahwat, walau keduanya adalah bagian yang buruk dan musuh utama bagi manusia, akan bermanfaat bagi kehidupan orang-orang yang beriman manakala mereka mampu memperlakukannya dengan benar.

Sebagai kalifah bumi, manusia harus menentukan pilihan jalan hidupnya, supaya manusia mendapatkan pahala atau dosa, di sinilah letak kemanfaatan yang sesat. Seandainya yang ada hanya yang lurus saja, berarti manusia telah kehilangan fungsi hidupnya. Selanjutnya kehidupan akan menjadi mandul dan tidak bergairah. Oleh karenanya, setiap pribadi yang beriman tertantang untuk meningkatkan ilmu dan imannya, lebih-lebih para ulama.

Ketika mereka melihat yang sesat, sebagai penyeimbang kehidupan, seharusnya mereka juga mampu memperlihatkan yang lurus. Supaya manusia mampu memilih jalan hidupnya sendiri. Supaya manusia mampu bermujahadah untuk meningkatkan hak kebebasannya dalam memilih, dengan itu manusia akan mendapatkan “peningkatan derajat” di sisi Allah

Mencegah kemungkaran itu tidak selamanya dengan menghancurkan “sarang kemungkaran” yang terjadi di dalam realita saja. Yang lebih penting adalah menghilangkan “penyebab kemungkaran” yang ada dalam hati manusia sendiri, yaitu “potensi untuk berbuat jahat” yang setiap manusia pasti memilikinya.

Dengan membangun amal makruf, meningkatkan kekuatan iman dengan jalan beribadah dan mujahadah di jalan Allah, bagaimana supaya “potensi kejelekan” itu dapat dihindari.

Kerugian

Kalau manusia hanya mengubah kemungkaran yang ada di luar jiwanya saja, maka manusia akan mengalami kerugian dalam beberapa hal.

Pertama, melupakan potensi kemungkaran yang ada dalam dirinya sehingga manusia cenderung terjebak untuk berbuat sombong. Kedua, amar makruf menjadi terabaikan.

Ketiga, oleh karena terbitnya setiap kemungkaran pasti dari limbah kehidupan, maka selama kehidupan masih ada berarti kemungkaran pasti juga ada. Dengan asumsi demikian, maka perbuatan itu – menghancurkan sarang kemungkaran – akan menjadi sia-sia belaka.

Sebaliknya, manakala orientasi ibadah dibangun di dalam aspek amar makruf, hasilnya pasti sangat berbeda. Pertama, secara otomatis saat itu bagian kemungkaran yang ada dalam diri manusia terisi dengan kebaikan. Selanjutnya ketika yang lurus dan yang sesat berjalan seimbang, manusia dengan ilmu dan imannya dapat menentukan pilihan untuk melaksanakan fungsi kekalifahannya. Hasilnya, dengan izin Allah kemungkaran akan ditinggalkan.

Kalau kemudian sebagian manusia ada yang memilih mengerjakan kemungkaran dan meninggalkan amal makruf, itu adalah salahnya sendiri dan untuk itulah neraka telah disiapkan jauh sebelum manusia diciptakan. Kalau semua manusia mengikuti jalan yang lurus, karena setiap kesesatan telah berhasil dihancurkan, berarti tujuan proyek pembangunan neraka menjadi gagal total.

Komunitas Eden yang dipimpin Lia Aminuddin hanyalah sekelompok kecil manusia lemah yang sedang dimabukkan bayangan imajinasi yang telah meracuni kesadaran basyariah. Adalah contoh kecil yang telah mampu dimunculkan oleh keanekaragaman kehidupan yang menarik untuk disimak sebagai pelajaran dan penelitian.

Bagaikan manik-manik kehidupan yang mewarnai samudra kehidupan yang terbentang luas, keberadaannya hanyalah seperti sepercik bintang kecil di tengah-tengah taburan gemerlap bintang yang menghiasi langit.

Kalau toh ada penyimpangan di sana, barangkali hanyalah penyimpangan pribadi yang teramat kecil yang tidak membahayakan bagi kehidupan umat manusia, dibandingkan dengan penyimpangan yang diperbuat oleh sekelompok manusia lain yang ada di sekeliling mereka yang jauh lebih membahayakan. Seperti budaya korupsi yang telah mampu memunculkan kecemburuan sosial dan bahkan telah memakan banyak korban.

Dengan penanganan yang arif dan bijaksana serta penuh rahmatan lil alamin dari para penyelenggara negara yang terhormat, barangkali akan lebih bermanfaat dan lebih menunjukkan tingkat kepribadian yang tinggi serta kedewasaan dalam menentukan sikap dan sudut pandang. Baik secara khusus untuk kehidupan Lia dan komunitasnya maupun secara umum bagi keseimbangan kehidupan manusia secara universal, daripada harus menghancurkan bagian kehidupan yang secara hakiki memang tidak dapat dihilangkan itu yang malah akan menimbulkan penilaian yang negatif dari berbagai pihak, baik dari dalam negri sendiri maupun dari luar negri.

Seleksi Alam

Inilah bagian ujian hidup dan sistem seleksi alam yang harus mampu diselesaikan dan dilewati oleh setiap manusia, maka hanya Ulul Albab yang dapat mengambil pelajaran.

Allah telah memberikan solusi dengan firman-Nya, “Dan katakanlah, kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir”.QS.aI-Kahfi/29.

Oleh karena itu manusia harus membekali hidupnya dengan ilmu pengetahuan yang tinggi dan iman yang kuat serta pelaksanaan akhlak yang mulia supaya mereka dapat mensikapi aliran sesat dengan cara yang tidak sesat.

@@@

Categories: MENYIKAPI ALIRAN SESAT | 5 Komentar

K.H. MUHAMMAD SYARWANI ABDAN BANGIL AL BANJARI : Sang Ahli Hikmah yang Rendah Hati


buru bangil kwaK.H Muhammad Syarwani Abdan Al-Banjari atau biasa dikenal Tuan Guru Bangil (lahir di Martapura, Kalimantan Selatan tahun 1915 – meninggal di Bangil, Pasuruan, Jawa Timur, 11 September 1989 pada umur 74 tahun) adalah seorang ulama yang dikenal di Kalimantan Selatan hingga Jawa Timur khususnya Bangil tempatnya mendirikan Pondok Pesantren Datu Kalampayan. Ia merupakan keturunan ke-6 Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari.

@ sumber:  alkisah no 03/9-22 Feb 2009

Setiap ahad ketiga bulan shafar terlihat pemandangan istimewa dikota Bangil,saat itu ribuan umat islam dari pulau Kalimantan,khususnya suku Banjar berbondong bondong menyeberangi lautan luas dan membanjiri kota kecil di Jawa Timur. Bukan hanya masyarakat biasa,bahkan para pembesarnya pun baik kalangan ulama maupun kalangan pejabat ada diantara mereka,tidak tanggung tanggung ketika hari itu tiba,dari mulai para Bupati di sejumlah daerah di Kalsel hingga orang nomor satu dipemda provinsi tersebut yaitu Gubernur Kalimantan selatan setiap tahunnya selalu menyempatkan diri turut mengunjungi Bangil kota Bordir

Tidak ketinggalan kaum muslimin pecinta ulama dan aulia diseluruh Indonesia bahkan banyak yang datang dari luar negeri turut larut pada hari itu meskipun mereka bukan dari etnis Banjar.barangkali fenomena kecintaan yang begitu besar hingga membuat ribuan orang dari satu pulau menyeberang lautan untuk ikut menghadiri haul tokoh putra daerahnya dipulau lain,hanya ada terhadap sosok Tuan Guru Bangil julukan bagi alm K.H M.Syarwani Abdan bin Haji Muhammad Abdan bin Haji Muhammad Yusuf bin Haji Muhammad Shalih Siam bin Haji Ahmad bin Haji Muhammad Thahir bin Haji Syamsuddin bin saidah binti Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari,

Beliau dilahirkan pada tahun 1334 H/1915 M dikampung Melayu Ilir Martapura. Sejak kecil ia memiliki semangat yang tinggi untuk belajar ilmu agama dan tekun belajar sehingga disayangi oleh para gurunya.  Ketika masih berdomisili di Martapura guru beliau adalah pamannya sendiri yaitu  KH.M.Kasyful Anwar ,Qadhi haji Muhammad Thaha, KH Ismail Khatib Dalam Pagar dan banyak lagi yang lainnya.

Pada usia masih muda beliau meninggalkan kampung halamannya Martapura menuju pulau Jawa dan bermukim di Bangil dengan maksud memperdalam ilmu agama kepada beberapa ulama dikota Bangil dan Pasuruan.  Di antara guru beliau adalah KH.Muhdhar (gondang Bangil), KH.Abu Hasan (Wetan Alun Bangil), KH.Bajuri (Bangil) dan KH.Ahmad Jufri (Pasuruan) orang tua beliau sendiri pada saat itu memang sudah lama berdiam di kota Bangil untuk berniaga.

Saat beliau berumur 16 tahun pamannya Syekh Muhammad Kasyful Anwar seorang alimul Allamah (seorang yang sangat luas dan mendalam ilmu agamanya)  hingga Tuan Guru Syekh Muhammad Zaini bin H.Abdul Ghani Al Banjari  (Abah Guru Sekumpul)  pernah menyebutnya sebagai seorang Mujaddid (pembaharu). Oleh pamannya, beliau di bawa pergi ke Tanah Suci Mekkah bersama saudara sepupunya yaitu Syekh Muhammad Sya’rani arif yang dikemudian hari juga dikenal sebagai seorang ulama besar di Martapura.

Ia dan sepupunya tersebut melanjutkan pelajaran ilmu agamanya dibawah bimbingan dan pengawasan langsung pamannya ini. Selama berada di Tanah Suci kedua pemuda ini dikenal sangat tekun mengisi waktu dengan menuntut ilmu ilmu agama. Keduanya benar benar mmanfaatkan waktunya dengan mendatangi majelis majelis ilmu para ulama besar Mekkah pada waktu itu,diantara guru guru beliau Sayyid Amin Kutby ,Sayyid Alwi Al-Maliki, Syeikh Umar Hamdan, Syeikh Muhammad al-araby,Sayyid Hasan Al-Masysyath,Syeikh Abdullah Al-Bukhari,Syeikh Saifullah Daghestani, Syeikh syafi’i asal Kedah,Syeikh Sulaiman asal Ambon,dan Syekh Ahyad asal Bogor.

Rupanya ketekunan belajar dua keponakan Syeikh Muhammad Kasyful Anwar ini diperhatikan oleh para guru-gurunya. Diceritakan, para gurunya itu sangat menyayangi keduanya, ketekunan dan kecerdasan mereka sangat menonjol hingga dalam beberapa tahun saja keduanya sudah dikenal di kota Mekkah hingga keduanya di juluki “dua Mutiara dari Banjar.” Tak mengherankan jika keduanya dibawah bimbingan Sayyid Muhammad Amin Kutby bahkan sempat mendapatkan kepercayaan mengajar selama beberapa tahun di Mesjidil Haram.

Selain mempelajari ilmu-ilmu syariat ia juga mengambil bai’at tarekat dari para masyayikh (guru) di sana, di antaranya bai’at Tarekat Naqsyabandiyah dari syekh umar Hamdan dan Tarekat Samaniyah dari Syeikh Ali bin Abdullah Al-Banjari. Setelah kurang lebih sepuluh tahun menuntut ilmu-ilmu agama di Makkah pada tahun 1939 bersama sepupunya iapun kembali pulang ke Indonesia dan langsung menuju tanah kelahirannya Martapura.

Beliau dikenal sebagai seorang yang hafal Al-qur’an dan di dalam dirinya terkumpul ilmu syariat tarekat hakikat dan ma’rifat namun demikian hal tersebut justru menjadikannya sebagai seorang alim yang semakin tawadhu’, Sepulang kepulangan beliau dari Mekkah ia menyelenggarakan mejelis ilmu di rumahnya. Beliau sempat juga mengajar di Madrasah Darussalam.

Suatu saat, ia diminta untuk menjadi seorang qadhi namun hal tersebut ditolak karena beliau lebih senang dakwah tanpa terikat dengan lembaga apapun. Tahun 1943 ia pergi ke kota Bangil dan membuka majelis untuk lingkungan sendiri hingga tahun 1944 dan sempat berguru pula dengan Syeikh Muhammad Mursydi Mesir.

Setahun di Bangil beliau lalu kembali lagi ke Martapura, kemudian pada tahun 1950 ia sekeluarga memutuskan untuk hijrah kekota Bangil, sewaktu menetap di Bangil kali inipun beliau tidak membuka majelis secara terbuka kecuali kalangan sendiri. Ia cendrung mempelajari dahulu keadaan lingkungan penduduk dikota tersebut,dikemudian hari sikapnya ini menjadikan dirinya sebagai sosok yang disegani oleh para ulama di Jawa Timur,

Namun demikian ia selalu berusaha menyembunyikan keunggulan yang dimilikinya pada akhirnya para ulama Bangil pun mengetahui keistemewaan pribadi ulama yang satu ini. Guru Bangil demikian Alm Abah Guru Sekumpul memanggil beliau dimanapun beliau tinggal senantiasa berada dalam keseharian yang sangat sederhana. Tak banyak yang tahu bahwa sekalipun telah menjadi tokoh besar,selain pakaiannya yang sederhana di kamar tidurnya pun ia tidak menggunakan ranjang ia juga tidak mempunyai lemari khusus untuk pakaiannya. Pakaian miliknya diletakkan menumpang pada bagian lemari kitabnya,

Ia mengambil jalan Khumul (menjauh dari keramaian) dan tak berharap akan kemasyuran, hingga kyai hamid pasuruan (seorang wali ditanah jawa) pernah mengatakan “saya ingin sekali seperti kyai syarwani. Dia itu alim tapi Mastur tidak Masyhur kalau saya ini sudah terlanjur Masyhur,jadi saya sering kerepotan karena harus menemui banyak orang.

Menjadi orang masyhur itu tidak mudah, bebannya berat, kalau Kyai Syarwani itu enak,jadinya tidak banyak didatangi orang. Suatu ketika sejumlah kiai berkumpul dan berinisiatif untuk mendalami ilmu agama dalam halaqah khusus kepada Kyai Hamid Pasuruan. Namun setelah hal tersebut disampaikan kepada kyai Hamid beliau menolak permintaan itu seraya menyarankan supaya mereka hendaknya mendatangi KH Syarwani Abdan.

Berdasarkan arahan Kyai Hamid merekapun mendatangi KH.Syarwani Abdan dan menyiapkan beberapa pertanyaan untuk sekdar mengetahui seberapa dalam ilmu dari KH Syarwani Abdan,ketika mereka datang. Guru Bangil sedang duduk sambil membaca sebuah kitab, diawal pembicaraan sebelum mereka sempat membuka pertanyaan yang telah mereka persiapkan,Guru Bangil mendahului bertanya kepada mereka.

“Antum ke sini ingin bertanya masalah ini dan itu ,kan?..ia menanyakan hal itu sambil menunjuk kitab yang masih terbuka tadi. Kontan hal ini membuat mereka takjub sekaligus kagum kepadanya tak cukup sampai disitu, Ternyata semua pertanyaan yang telah mereka persiapkan dengan tepat terjawab dalam halaman kitab yang masih terbuka di tangan beliau.

Setelah mengalami kejadian tersebut merekapun meyakini keluasan ilmu serta ketajaman batin Guru Bangil pada akhirnya mengertilah mereka mengapa Kyai Hamid pasuruan menganjurkan mereka agar mendatangi KH Syarwani Abdan,setelah yakin akan hal itu mereka akhirnya meminta kepada Guru Bangil untuk membuka majelis untuk mereka, Saat itu beliau tidak serta merta mengabulkan permintaan mereka tetapi terlebih dahulu menanyakan hal tersebut kepada KH Hamid.

Setelah KH Hamid memberi isyarat persetujuan barulah ia bersedia membuka majelis untuk para Kiai ini. Subhanallah kedua kiai besar yang tawadhu’ ini memang saling mencintai dan menghormati satu sama lain.

Kiai Hamid adalah ulama besar yang kharismatis dan menjadi tujuan kedatangan banyak orang karenanya tak jarang orang yang datang kesulitan menemui beliau. Tapi anehnya berdasarkan pengalaman orang orang yang pernah bertemu beliau, mereka akan mudah menemui Kiai Hamid bila sebelumnya orang tersebut menemui KH Syarwani Abdan. Tak jarang baru sampai di depan pintu, Kiai hamid sendiri yang membukakan pintu kepada para tamu. Entah Sirr (rahasia) apa yang didapat oleh para tamu Kiai  Syarwani Abdan, hingga kiai hamid selalu menyambut mereka dengan penuh suka cita padahal pada saat itu belum ada alat komunikasi seperti sekarang.

Akhirnya mulai banyak yang menimba ilmu kepadanya, Dan atas dasar dorongan para ulama serta rasa tanggung jawabnya untuk menyiarkan ilmu ilmu agama sebagai amanah Allah dan Rasulullah maka pada tahun 1970 ia memutuskan mendirikan pesantren yang ia beri nama PP Datuk Kalampayan nama yang diambil untuk mengambil berkah julukan datuknya yaitu Syekh Muhammad arsyad Al-Banjari, para santrinya banyak berasal dari Banjar hingga Pondok Pesantren itu sendiri sering disebut orang Pondok Banjar.

Di antara salah satu karangan beliau adalah risalah yang sangat terkenal yaitu Adz-Dzakhiratuts Tsaminah li-Ahlil Istiqamah (simpanan berharga) risalah yang berisi masalah Talqin, tahlil dan tawasul, Di samping tulisan tulisan itu beliau juga meninggalkan karya hidup yaitu murid murid beliau diantaranya adalah yang mulia Syekh Muhammad Zaini bin Abdul Ghani Al-Banjari dan melalui lisan beliaulah maka Syekh Muhammad Syarwani Abdan sering disebut Guru Bangil.

Kiai Abdurrahim,Kiai Abdul Mu’thi,Kiai Khairan(daerah Jawa), KH.Prof.Dr.Ahmad Syarwani Zuhri (Pimpinan PP.Syeikh Muhammad Arsyad al-Banjari Balikpapan), KH.Muhammad Syukri Unus (Pimpinan MT sabilal Anwar al-Mubarak Martapura), KH.Zaini Tarsyid (Pengasuh MT Salafus Shaleh Tunggul Irang seberang Martapura) yang juga menantu beliau, KH.Ibrahim bin KH.Muhammad Aini (Guru Ayan) Rantau, KH.AhmadBakeri (Pengasuh PP al-Mursyidul Amin Gambut), KH.Syafii Luqman Tulung Agung, KH.Abrar Dahlan (Pimpinan PP di Sampit Kalimantan Tengah). Safwan zuhri (Pimpinan PP sabilut Taqwa Handil 6 Muara Jawa Kutai Kertanegara) dan banyak lagi tokoh tokoh lainnya yang tersebar dipenjuru indonesia, Guru Sekumpul sendiri datang ke Bangil bersama paman beliau seorang ulama tersohor Syeikh Saman Mulia.

Lantaran menghormati sosok Guru Bangil bahkan Syeikh Saman Mulia menganggap Guru Bangil adalah Gurunya. Padahal Guru Bangil sendiri mengakui ketinggian maqam Syeikh Saman Mulia,dalam suatu kesempatan. Guru Bangil mengatakan  bahwa maqam Syeikh Saman Mulia sangat tinggi hingga nasi pun berdzikir di hadapan syeikh Saman.

Namun kebersahajaan hidup Guru Bangil membuat keluarga beliau sendiri tidak banyak mengetahui keistemewaan di balik kebesaran namanya, Mengomentari hal tersebut Guru Saman Mulia mengatakan kepada salah satu putra guru Bangil : kalau kita berdiri di dekat sebuah pohon, kadang kala kita tidak mengetahui tingginya pohon tersebut,tapi kita akan tahu tingginya pohon tersebut ketika kita memandangnya dari jauh.

Di usia senja, ketika berumur 76 tahun malam selasa jam 20.00 bertepatan 12 syafar 1410 H/11-12 september 1989 M di kediaman beliau di jalan Kauman bangil Jawa Timur roh nya yang suci kembali ke rahmatullah. Sementara tubuhnya dimakamkan di pemakaman keluarga dan para habaib berbangsa Al-Haddad di dekat makam habib Muhammad bin Ja’far Al-Haddad di Dawur Bangil kurang lebih 1 km dari kediaman beliau.

Berdasarkan wasiat tertulisnya putra tertuanya yang ia beri nama dengan nama gurunya Kasyful Anwar saat ini meneruskan kiprahnya dalam mengasuh Pondok Pesantren Datuk Kalampayan Bangil. Mudah mudahan rahmat Allah selalu tercurah buat beliau dan seluruh keluarganya.

@@@

Categories: >>PERPUSTAKAAN UTAMA | 8 Komentar

IJASAH SHOLAWAT HABIB SHOLEH TANGGUL JEMBER


ijasah habib sholeh KWA

 ======================================

“Allohumma sholi ‘alaa sayyidinaa Muhammadin sholaatan taghfiru bihaa dzunub watushlihu bihaal quluub watantholiqu bihaal ‘ushub wataliinu bihaa shu’ub wa ‘alaa aalihi wa shohbihi wa man ilaihi mansub.”

Sholawat ini ada yang menyebut sholawat mansub, ijasah dari dari Habib Sholeh bin Muhsin Al Hamid (Habib Sholeh Tanggul).
“Beliau berkata ; sholawat ini dibaca 3 atau 11 atau 41 kali dengan niat untuk memperoleh kemudahan dan terkabulnya semua hajat, insya Alloh akan mendapatkannya”.

=================================

MENGENAL PENGIJASAH HABIB SHOLEH BIN MUHSIN AL HAMID

KH soleh KWAUlama Karismatik yang berasal dari Hadramaut Yaman ini pertama kali melakukan da’wahnya ke Indonesia sekitar tahun 1921 M dan menetap di wilayah Tanggul, Jember Jawa Timur. Habib Sholeh lahir tahun 1313 H dikota Korbah, ayahnya bernama Muhsin bin Ahmad juga seorang tokoh Ulama dan Wali yang sangat di cintai masyarakat, Ibunya bernama Aisyah ba umar.

Sejak Kecil Habib sholeh gemar sekali menuntut ilmu , beliau banyak belajar dari ayahandanya yang memang seorang Ahli ilmu dan Tashauf, berkat gembelengan dan didikan dari ayahnya Habib sholeh memilki kegelisahan Batiniyah yang rindu akan Alloh SWT dan Rindunya Kepada Rosululloh SAW, akhirnya beliau melakukan Uzlah ( Mengasingkan diri) selama hampir 7 tahun. Sepanjang waktu selama beruzlah Habib Sholeh memperbanyak Baca al quran, Dzikir dan membaca Sholawat. Suatu ketika Habib Sholeh didatangi Ulama yang juga Wali Quthub Habib Abu bakar bin Muhammad Assegaf dari Gresik, Habib Sholeh diberi sorban hijau yang katanya sorban tersebut dari Rosululloh SAW.

Menurut Habib Abu Bakar Assegaf adalah suatu isyarat bahwa gelar wali Qhutub yang selama ini di sandang oleh habib Abubakar Assegaf akan diserahkan Kepada Habib Sholeh Bin Muhsin , Namun Habib sholeh Tanggul merasa bahwa dirinya merasa tidak pantas mendapat gelar Kehormatan tersebut. Sepanjang Hari habib Sholeh tanggul Menangis memohon kepada Alloh Swt agar mendapat Petunjuknya.

Dan suatu ketika habib Abyubakar Bin Muhammad assegaf gresik mengundang Habib sholeh tanggul untuk berkunjung kerumahnya , setelah tiba dirumah habib Abubakar Bin Muhammad assegaf menyuruh Habib Sholeh tanggul untuk melakukan Mandi disebuah kolam Milik Habib Abu bakar Assegaf , setelah mandi habib Sholeh tanggul di beri Ijazah dan dipakaikan Sorban kepadanya. Dan hal tersebut merupakan Isyarat Bahwa habib Abubakar Bin Muhammad Assegaf telah memberikan Amanat kepada Habib sholeh tanggul untuk melanjutkan Da’wak kepada masyrakat.

Habib Sholeh mulai melakukan berbagai aktifitas dakwahnya kepada Masyarakat, dengan menggelar berbagai Pengajian-pengajian . Kemahiran beliau dalam penyampaian dakwahnya kepada masyarakat membuat beliau sangat dicintai , dan Habib sholeh Mulai dikenal dikalangan Ulama dan habaib karena derajat keimuan serta kewaliaan yang beliau miliki. Habib sholeh tanggul sering mendapat Kunjungan dari berbagai tokoh ulama serta habaib baik sekedar untuk bersilahturahim ataupun untuk membahas berbagai masalah keaganmaan, bahkan para ulama serta habaib di tanah air selalu minta didoakan karena menurut mereka doa Habib sholeh tanggul selalu di kabulkan oleh alloh SWt, Pernah suatu ketika habib Sholeh tanggul berpergian dengan habib Ali Al habsy Kwitang dan Habib ali bungur dalam perjalanan Beliau melihat kerumunan Warga yang sedang melaksanakan sholat Istisqo’ ( Sholat minta hujan ) karena musim kemarau yang berkepanjangan , lalu Habib sholeh Memohon kepada alloh Untuk menurunkan Hujan maka seketika itupula hujan turun. Beliau berpesan kepada jama’ah Majlis ta’limnya apabila do’a-doa kita ingin dikabulkan oleh Alloh Swt jangan sekali-kali kita membuat alloh murka dengan melakukan Maksiyat, Muliakan orang tua mu dan beristiqomalah dalam melaksanakan sholat subuh berjama’ah.

Habib Sholeh berpulang kerahmatulloh pada tanggal 7 sawal 1396 h atau sekitar tahun 1976, hingga sekarang Karomah beliau yang tampak setelah beliau meninggal adalah bahwa maqom beliau tidak pernah sepi dari para jamaah yang datang dari berbagai daerah untuk berziarah. @@

Categories: IJASAH SHOLAWAT HABIB SHOLEH TANGGUL JEMBER | 30 Komentar

MENGENANG KYAI ACHMAD ASRORI AL ISHAQI: ANAK MACAN YANG AKHIRNYA JADI MACAN


KH. ASRORI BIN UTSMAN AL-ISHAQI  memang telah dipanggil Allah SWT pada 26 Sya’ban 1430 H./18 Agustus 2009 pukul 02:20 WIB di tempat mukimnya Kedinding Surabaya. Namun kepribadiannya yang istimewa meninggalkan banyak kenangan.

Pengetahuan agamanya dalam dan kharisma memancar dari sosoknya yang sederhana. Tutur katanya lembut namun seperti menerobos relung-relung di kedalaman hati pendengarnya. Menurut keluarga dekatnya, sewaktu muda Kiai Asrori telah menunjukkan keistimewaan-keistimewaan. Mondhoknya tak teratur. Ia belajar di Rejoso satu tahun, di Pare satu tahun, dan di Bendo satu tahun. Di Rejoso ia malah tidak aktif mengikuti kegiatan ngaji. Ketika hal itu dilaporkan kepada pimpinan pondok, Kiai Mustain Romli, ia seperti memaklumi, “biarkan saja, anak macan akhirnya jadi macan juga.” Meskipun belajarnya tidak tertib, yang sangat mengherankan, Kiai Asrori mampu membaca dan mengajarkan kitab Ihya’ Ulum al-Din karya Al-Ghazali dengan baik. Di kalangan pesantren, kepandaian luar biasa yang diperoleh seseorang tanpa melalui proses belajar yang wajar semacam itu sering disebut ilmu ladunni (ilmu yang diperoleh langsung dari Allah SWT). Adakah Kiai Asrori mendapatkan ilmu laduni sepenuhnya adalah rahasia Tuhan, wallahu a’lam. Ayahnya sendiri juga kagum atas kepintaran anaknya. Suatu ketika Kiai Utsman pernah berkata “seandainya saya bukan ayahnya, saya mau kok ngaji kepadanya.” Barangkali itulah yang mendasari Kiai Utsman akhirnya menunjuk Kiai Asrori (bukan kepada anak-anaknya yang lain yang lebih tua) sebagai penerus kemursyidan Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah pada usia 30 tahun.

Salah seorang penerus Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah (TQN) yang terkenal adalah Kyai Achmad Asrori al-Ishaqi, pendiri dan pengasuh pondok pesantren al-Fithrah Kedinding Surabaya, Jama‟ah pengajian al-Khidmah yang tersebar di berbagai pelosok  nusantara. Kyai Ahcmad Asrori  lahir di Surabaya, 17 Agustus 1957. Ahmad Asrori al-Ishaqi adalah putera Kyai Utsman al-Ishaqi, mursyid Thariqah Qadiriyah wa Naqsyabandiyah (TQN), ulama besar dari Surabaya. Achmad Asrori memiliki darah keturunan hingga Rasulullah saw, tepatnya keturunan yang ke 38, dari garis Husain bin Ali. Nama al-Ishaqi dinisbatkan kepada Maulana Ishaq (Sunan Giri), adik Maulana Malik Ibrahim, Walisongo yang dikenal sebagai Sunan Gresik.  

kh-asrori-KWASebelum lebih jauh mengenal Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah ini, terlebih dahulu harus diketahui mengenai Qadiriyah dan Naqsyabandiyah itu sendiri. Pada awalnya, tarekat ini berdiri sendiri-sendiri, yaitu tarekat Naqsyabandiyah dan tarekat Qadiriyah. Untuk itu, berikut ini sekilas tentang tarekat masing-masing:

QADIRIYAH: Tarekat ini adalah tarekat yang didirikan dan dibangsakan kepada Sayyid Abdul Qadir Jailani di negeri Baghdad. Beliau lahir pada tahun 470 H (1255) dan meninggal di tahun 561 H (1164). Jadi berusia 90 tahun. Penganut tarekat ini amat banyak dan pengaruhnya amat besar sampai ke Maroko dan tanah Hindustan. Tarekat Qadiriyah beredar di seputar ibadah dan suluk dengan tetap menyebut zikir yang berhubungan dengan nama Allah dengan kaifiat tertentu

Praktek ibadah tarekat ini tidak hanya merefleksikan kepercayaan kelompok itu sendiri tetapi juga pendirian sufi secara umum berdasarkan peranan dan keajaiban sang guru dari pengalaman mystik yang bermacam-macam. Prosedur keanggotaan berisi bai‟at dengan “berdzikir dalam ketaatan kepada syeikh dan syeikh menerima keanggotaannya sebagai seorang anak.

Tujuan utama tarekat ini – seperti pada umumnya tarekat tarekatialah menekan hawa nafsu yang menjadikan manusia jauh dari Tuhannya. Untuk itu, wirid berupa salat sunnah, zikir, dan do‟a senantiasa dipraktekkan sepanjang waktu. Seperti di waktu pagi, sore, siang dan malam

TAREKAT NAQSYABANDIYAH:  salah satu tarekat sufi yang paling luas penyebarannya, dan terdapat banyak di wilayah Muslim Asia serta Turki, Bosnia Herzegovina dan wilayah Dagestan Russia. Kata Naqsyabandiyah/Naqsyabandi/Naqshbandi berasal dari Bahasa Arab yakni Murakab Bina-i dua kalimah Naqsh dan Band yang berarti suatu ukiran yang terpateri, atau mungkin juga dari Bahasa Persia, atau diambil dari nama pendirinya yaitu Bahauddin Naqhband Bukhari.  Sebagian orang menerjemahkan kata tersebut sebagai “pembuat gambar”, “pembuat hiasan”. Sebagian lagi menerjemahkannya sebagai “Jalan Rantai”, atau “Rantai Emas”. Perlu dicatat pula bahwa dalam Tarekat Naqsyabandiyah, silsilah spiritualnya kepada Nabi Muhammad adalah melalui khalifah Abu Bakar, sementara kebanyakan tarekat-tarekat lain silsilahnya melalui khalifah Ali bin Abu Thalib.

Pendiri Tarekat ini adalah Muhammad Bahauddin Naqshband AlBukhari Al-Uwaisi Rahmatullah „alaih, dilahirkan pada bulan Muharram tahun 717 Hijrah bersamaan 1317 M, Yaitu pada abad ke 8 Hijriyah bersamaan dengan abad ke 14 Masehi, di sebuah perkampungan bernama Qasrul „Arifan dekat Bukhara. Ia menerima pendidikan awal Tariqat secara Zahir dari gurunya Hadhrat Sayyid Muhammad Baba As-Sammasi Rahmatullah „alaih dan seterusnya menerima rahasia-rahasia Tariqat dan

Khilafat dari Syeikhnya, Hadhrat Sayyid Amir Kullal Rahmatullah alaih. Ia menerima limpahan Faidhz dari Nabi Muhammad Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam melanjtkan Abdul Khaliq Al-Ghujduwani Rahmatullah alaih yang telah 200 tahun mendahuluinya secara Uwaisiyah Sesudah Abad kedelapan tumbuhlah tarekat laksana tumbuhnya cendawan. Ajaran tarekat itu berkembang dan diterima oleh para pemeluk  Islam di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Sekitar abad XVII M hingga XIX, para tokoh sufi di Indonesia mulai bermunculan. Tarekat-tarekat baru pun mulai muncul. Tarekat-tarekat ini merupakan penggabungan dari tarekat-tarekat pada abad VI H dan VII H, seperti  Syeikh Yusuf Makassari, yang memasukkan unsur-unsur dari Naqsabandiyah yang telah dipilihnya kedalam versi Khalwatiyyah-nya.

Kemudian gabungan tarekat Naqsabandiyah dengan tarekat Syattariyah pernah populer untuk sekian lama di Jawa pada abad XVII dan XVIII. Gabungan tarekat Qadiriyah dengan Naqsabandiyah pun telah diamalkan oleh beberapa syekh termasyhur. Dan juga Sammaniyah (penggabungan tarekat khalwatiyah dengan Qadiriyah, Naqsabandiyah dan Syadziliyah oleh Muhammad ibn „Abd al-Karim al-Samman.). Tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyah mungkin sekali didirikan oleh tokoh asal Indonesia, Ahmad Khatib ibn Abd Al-Ghaffar Sambas yang bermukim dan mengajar di Makkah pada pertengahan abad XIX17

Semasa hidupnya, Syekh Ahmad Khatib Sambas mengangkat banyak khalifah (wakil), namun posisi pewaris utamanya setelah beliau meninggal dipegang oleh Syekh Abdul Karim Banten. Selain Syekh Abdul Karim, dua wakil penting lainnya adalah Syekh Thalhah Kalisapu Cirebon, dan Syekh Ahmad Hasbullah Ibn Muhammad Madura. Pada awalnya semuanya mengakui otoritas Syekh Abdul Karim, namun setelah Syekh Abdul Karim meninggal, tidak ada lagi kepemimpinan pusat, dan karenanya TQN menjadi terbagi dengan otoritas sendiri-sendiri.

Syekh Thalhah mengembangkan kemursyidan sendiri di Jawa Barat. Penerusnya yang paling penting adalah Syekh Abdullah bin Muhammad Nur atau “Abah Sepuh” dari Suryalaya dan putranya yang kharismatik Syekh Ahmad Shahibul Wafa‟ Taj Al-Arifin. Khalifah lain di Jawa Barat adalah Kyai Falak, yang juga berasal dari Banten, yang mengembangkan TQN di daerah Pagentongan, Bogor Jawa Barat

Untuk daerah Jawa Tengah, penerus TQN yang penting adalah K.H. Muslih Adburrahman (Mbah Muslih), yang menerima ijazah TQN dari K.H. Ibrahim al-Brumbungi, seorang khalifah dari Syekh Abdul Karim, melalui Mbah Abd Rahman Menur. Salah satu murid Kyai Muslih, yakni Kyai Abu Nur Jazuli menyebarkan TQN di Brebes. Murid lainnya, K. H. Durri Nawawi mengajarkan TQN di Kajen, Pati .

AJARAN TASAWUF KYAI ASRORI

Sosok Kiyai Asrori sendiri selaku Mursyid Thariqah Qadiriyah Wan Naqsabandiyah Al Utsmaniyah (dinisbatkan kepada Kiai Utsman). Konon, almarhum KH. Utsman adalah salah satu murid kesayangan KH. Romli Tamim (ayah KH. Musta’in) Rejoso, Jombang, Jawa Timur. Beliau dibaiat sebagai mursyid bersama Kiyai Makki Karangkates Kediri dan Kiai Bahri asal Mojokerto. Kemudian sepeninggal Kiai Musta’in (sekitar tahun 1977), beliau mengadakan kegiatan sendiri di kediamannya Sawah Pulo Surabaya.

Maka, jadilah Sawah Pulo sebagai sentra aktifitas thariqah di kota metropolis di samping Rejoso sendiri dan Cukir Jombang. Sepeninggal Kiai Utsman, tongkat estafet kemursyidan kemudian diberikan kepada putranya, Kiai Minan, sebelum akhirnya ke Kiai Asrori (konon pengalihan tugas ini berdasarkan wasiat Kiai Utsman menjelang wafatnya). Di tangan Kiai Asrori inilah jama’ah yang hadir semakin membludak. Uniknya, sebelum memegang amanah itu, Kiai Asrori memilih membuka lahan baru, yakni di kawasan Kedinding Lor yang masih berupa tambak pada waktu itu.

Dakwahnya dimulai dengan membangun masjid, secara perlahan dari uang yang berhasil dikumpulkan, sedikit demi sedikit tanah milik warga di sekitarnya ia beli, sehingga kini luasnya mencapai 2,5 hektar lebih. Dikisahkan, ada seorang tamu asal Jakarta yang cukup ternama dan kaya raya bersedia membantu pembangunan masjid dan pembebasan lahan sekaligus, tapi Kiai Asrori mencegahnya. “Terima kasih, kasihan orang lain yang mau ikutan menyumbang, pahala itu jangan diambil sendiri, lebih baik dibagi-bagi”, ujarnya.

Kini, di atas lahan seluas 2,5 hektar itu Kiai Asrori mendirikan Pondok Pesantren Al Fithrah dengan ratusan santri putra putri dari berbagai pelosok tanah air. Untuk menampungnya, pihak pesantren mendirikan beberapa bangunan lantai dua untuk asrama putra, ruang belajar mengajar, penginapan tamu, rumah induk dan asrama putri (dalam proses pembangunan) serta bangunan masjid yang cukup besar.

Itulah Kiai Asrori, keberhasilannya boleh jadi karena kepribadiannya yang moderat namun ramah, di samping kapasitas keilmuan tentunya. Murid-muridnya yang telah menyatakan baiat ke Kiai Asrori tidak lagi terbatas kepada masyarakat awam yang telah berusia lanjut saja, akan tetapi telah menembus ke kalangan remaja, eksekutif, birokrat hingga para selebritis ternama. Jama’ahnya tidak lagi terbatas kepada para pecinta thariqah sejak awal, melainkan telah melebar ke komunitas yang pada mulanya justru asing dengan thariqah.

Walaupun tak banyak diliput media massa, namanya tak asing lagi bagi masyarakat thariqah. Namun demikian, sekalipun namanya selalu dielu-elukan banyak orang, dakwahnya sangat menyejukkan hati dan selalu dinanti, Kiai Asrori tetap bersahaja dan ramah, termasuk saat menerima tamu. Beliau adalah sosok yang tidak banyak menuntut pelayanan layaknya orang besar, bahkan terkadang ia sendiri yang menyajikan suguhan untuk tamu.

Tanda tanda menjadi panutan sudah nampak sejak masa mudanya. Masa mudanya dihabiskan untuk menuntut ilmu ke berbagai pondok pesantren di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Kala itu Kiai Asrori muda yang badannya kurus karena banyak tirakat dan berambut panjang memiliki geng bernama “orong-orong”, bermakna binatang yang keluarnya malam hari. Jama’ahnya rata-rata anak jalanan alias berandalan yang kemudian diajak mendekatkan diri kepada Allah lewat ibadah pada malam hari. Meski masih muda, Kiai Asrori adalah tokoh yang kharismatik dan disegani berbagai pihak, termasuk para pejabat dari kalangan sipil maupun militer.

Jika dirunut, Kiai Ahmad Asrori memiliki darah keturunan hingga Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam yang ke 38, yakni Ahmad Asrori putra Kiai Utsman Al Ishaqi. Namanya dinisbatkan pada Maulana Ishaq ayah Sunan Giri. Karena Kiai Utsman masih keturunan Sunan Giri. Kiai Utsman berputra 13 orang. Berikut silsilahnya :

Ahmad Asrori Al Ishaqi – Muhammad Utsman – Surati – Abdullah – Mbah Deso – Mbah Jarangan – Ki Ageng Mas – Ki Panembahan Bagus – Ki Ageng Pangeran Sedeng Rana – Panembahan Agung Sido Mergi – Pangeran Kawis Guo – Fadlullah Sido Sunan Prapen – Ali Sumodiro – Muhammad Ainul Yaqin Sunan Giri – Maulana Ishaq – Ibrahim Al Akbar – Ali Nurul Alam – Barokat Zainul Alam – Jamaluddin Al Akbar Al Husain – Ahmad Syah Jalalul Amri – Abdullah Khan – Abdul Malik – Alawi – Muhammad Shohib Mirbath – Ali Kholi’ Qasam – Alawi – Muhammad – Alawi – Ubaidillah – Ahmad Al Muhajir – Isa An Naqib Ar Rumi – Muhammad An Naqib – Ali Al Uraidli – Ja’far As Shodiq – Muhammad Al Baqir – Ali Zainal Abidin – Hussain Bin Ali – Ali Bin Abi Thalib / Fathimah Binti Rasulullah SAW.

yai asrori kwaKini, ulama yang sudah menghadap Alah SWT itu menjadi magnet tersendiri bagi kaum sufi-  ahli thariqah. Karena kesibukannya melakukan pembinaan jama’ah yang tersebar di seluruh pelosok tanah air hingga mancanegara. Kiai Rori menyediakan waktu khusus buat para tamu, yakni tiap hari Ahad. Sedangkan untuk pembaiatan, baik bagi jama’ah baru maupun lama dilakukan seminggu sekali. (ada tiga macam pembaiatan, yaitu Baiat Bihusnidzdzan, bagi tingkat pemula, Baiat Bilbarokah, tingkat menengah dan Baiat Bittarbiyah, tingkat tinggi).

Untuk menapaki level level itu, tiap jama’ah diwajibkan dzikir rutin yang harus diamalkan oleh murid yang sudah berbaiat berupa dzikir jahri (dengan lisan) sebanyak 160 kali dan dzikir khafi (dalam hati) sebanyak 1000 kali tiap usai sholat. Kemudian ada dzikir mingguan berupa khususi yang umumnya dilakukan jama’ah per wilayah seperti kecamatan.

Thariqah yang diajarkan Kiai Rori memang dirasakan berbeda dengan thariqah atau mursyid mursyid lainnya pada umumnya. Jika kebanyakan para mursyid setelah membaiat kepada murid baru, untuk amaliyah sehari-hari diserahkan kepada murid yang bersangkutan di tempat masing-masing untuk pengamalannya, tidak demikian dengan Kiai Rori. Beliau sebagai Mursyid Thariqah Qadiriyah Wan Naqsabandiyah Al Utsmaniyah memiliki tanggung jawab besar, yakni tidak sekedar membaiat kepada murid baru kemudian tugasnya selesai, akan tetapi beliau secara terus-menerus melakukan pembinaan secara rutin melalui majelis khususi mingguan, pengajian rutin bulanan setiap Ahad awal bulan hijriyah dan kunjungan rutin ke berbagai daerah.

Untuk membina jama’ah yang telah melakukan baiat, khususnya di wilayah Jawa Tengah, Kiai Rori telah menggunakan media elektronik yaitu Radio Siaran untuk penyebaran dakwahnya, sehingga murid muridnya tidak lagi akan merasa kehilangan kendali. Ada lima radio di Jawa Tengah yang dimilikinya setiap pagi, siang dan malam selalu memutar ulang dakwahnya Kiai Rori, yakni Radio Rasika FM dan “W” FM berada di Semarang, Radio Citra FM di Kendal, Radio Amarta FM di Pekalongan dan Radio Suara Tegal berada di Slawi.

Radio radio inilah setiap harinya mengumandangkan dakwahnya yang sangat khas dan disukai oleh banyak kalangan, meski mereka tidak atau belum berbaiat, bahkan ketemu saja belum pernah, toh tidak ada halangan baginya untuk menikmati suara merdu yang selalu mengumandang lewat istighotsah di awal dan tutup siaran radio. Kemudian juga dapat didengar lewat manaqib rutin mingguan dan bulanan serta acara-acara khusus seperti Haul Akbar di Kota Pekalongan beberapa waktu lalu disiarkan langsung oleh tiga radio ternama di Kota Pekalongan dan Batang.

Dalam setiap memberikan siraman rohani, Kiai Rori menggunakan rujukan Kitab Nashaihul Ibad karya Syekh Nawawi Al Bantani, Al Hikam karya Imam Ibnu Atha’illah dan lain lain. Selain pengajian yang lebih banyak mengupas soal tasawuf, Kiai Rori juga sering menyisipkan masalah fiqih sebagai materi penunjang. Seorang ulama asal Ploso Kediri Jawa Timur, KH. Nurul Huda pernah bertutur, sulit mencari ulama yang cara penyampaiannya sangat mudah dipahami oleh semua kalangan dan do’anya sanggup menggetarkan hati seperti Kiai Asrori. Hal senada diakui oleh KH. Abdul Ghofur seorang ulama asal Pekalongan, Kiai Asrori seorang figur yang belum ada tandingnya, baik ketokohannya maupun kedalaman ilmunya.

Sadar bahwa manusia tidak akan hidup di dunia selamanya, Kiai Asrori telah berfikir jauh ke depan untuk keberlangsungan pembinaan jama’ah yang sudah jutaan jumlahnya. Perkembangan jumlah murid cukup menggembirakan ini sekaligus mengundang kekawatiran. Apa pasal ? banyaknya murid yang berbaiat di Thariqah Qadiriyah wan Naqsabandiyah Al Utsmaniyah menunjukkan bahwa ajaran ini memiliki daya tarik tersendiri. Apalagi murid murid yang telah berbaiat terus dibina melalui berbagai majelis, sehingga amalan-amalan dari sang guru tetap terpelihara.

Di sisi lain banyaknya murid juga mengundang kekhawatiran sang guru. Karena mereka tidak terurus dan terorganisir dengan baik, sehingga pembinaannya pun kurang termonitor. Kondisi inilah yang mendorong beberapa murid senior memiliki gagasan untuk perlunya membentuk wadah di samping dorongan yang cukup kuat dari Kiyai Asrori sendiri, sehingga diharapkan dengan terbentuknya wadah bagi para murid-muridnya dapat lebih mudah melaksanakan amalan amalan dari gurunya.

Maka dibentuklah wadah bernama “Jama’ah Al Khidmah”. Organisasi ini resmi dideklarasikan tanggal 25 Desember 2005 kemarin di Semarang Jawa Tengah, dengan kegiatan utamanya ialah menyelenggarakan Majelis Dzikir, Majelis Khotmil Al Qur’an, Maulid dan Manaqib serta kirim do’a kepada orang tua dan guru-gurunya. Kemudian menyelenggarakan Majelis Sholat Malam, Majelis Taklim, Majelis Lamaran, Majelis Akad Nikah, Majelis Tingkepan, Majelis Memberi nama anak dan lain lain.

  1. Hasanuddin menjelaskan, organisasi ini sengaja dibentuk bukan karena latah apalagi berorientasi ke politik praktis, akan tetapi semata mata agar pembinaan jama’ah lebih terarah dan teratur. Siapapun bisa menjadi anggotanya, baik yang sudah baiat atau yang belum baiat. Seperti kegiatan kegiatan Haul Akbar di Kota Pekalongan tempo hari merupakan salah satu bukti bahwa kegiatan Jama’ah Al Khidmah banyak diminati oleh berbagai kalangan khususnya di wilayah Pekalongan dan sekitarnya.

Meskipun di wilayah ini belum banyak yang menyatakan baiat ke Kiai Asrori, ternyata magnet kiai yang berpenampilan kalem dan sederhana ini dapat menghadirkan puluhan ribu ummat Islam untuk duduk bersimpuh bersama-sama dengan para kiyai, ulama, habaib dan ratusan undangan lainnya untuk bersama-sama melakukan dzikir dan mendoa’akan istri Rasulullah Ummil Mukminin Sayyidatina Siti Khodijah Al Kubro yang kini telah mulai banyak dilupakan ummat Islam.

Acara ini memang tergolong khusus, pasalnya kegiatan Haul Sayyidatina Siti Khodijah tidak lazim dilaksanakan oleh ummat Islam. sehingga banyak yang tidak menyangka kegiatan ini akan mendapat perhatian yang cukup besar. Bahkan Habib Umar Bin Salim cucu Rasulullah SAW asal Hadramaut Yaman Yordania yang hadir dalam secara khusus di majelis dzikir itu mengatakan, sudah selayaknya ummat Islam mendoakan istri Rasulullah, karena beliau mempunyai peranan yang sangat penting dan banyak jasanya membantu Rasulullah dalam pengembangan ajaran Islam. ”Kami siap hadir setiap majelis ini digelar”, ujarnya usai acara.

GARIS BESAR PEMIKIRAN K.H. ACHMAD ASRORI AL-ISHAQY

K.H. Achmad Asrori al-Ishaqy adalah seorang mursyid Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah al-Ustmaniyah. Didaulat menjadi mursyid, ketika ia masih berusia 30 tahun. Usia yang tergolong sangat muda untuk dijadikan sebagai panutan umat. Akan tetapi, sebelum menjadi mursyid, ia telah memulai dakwahnya dengan cara mendirikan masjid dan mengelolanya di lingkungan tempat tinggalnya. Masjid inilah yang kemudian menjadi markas besar pengembangan tarekat yang dipimpinnya. Berawal dari masjid ini, pengembangan tarekat diusahakannya sedemikian rupa, hingga berdiri lembaga pendidikan, yayasan dan organisasi al-Khidmah. Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah Al-Ustmaniyah, terutama saat di bawah kepemimpinan K.H. Achmad Asrori, merupakan organsasi tarekat yang cukup pesat perkembangannya, di dalam dan luar negeri. Apalagi jika melihat perkembangan Jama‟ah Al-Khidmah yang didirikannya, tidak terbatas pada kaum tua, melainkan telah banyak diminati oleh generasi muda. Fenomena ini perlu dikaji lebih jauh, agar dapat diperoleh pemahaman yang bermakna .

Pemikiran tasawuf K.H. Achmad Asrori al-Ishaqy tidak terlalu jauh berbeda dengan para pendahulunya dalam rangkaian struktural Tarekat Qadiriyah wan Naqsyabandiyah. Hal ini ditandai dengan berbagai penjelasannya tentang maqamat dan ahwal, yang senantiasa mengikuti apa yang telah disampaikan oleh para ulama shufiyah, seperti al-Ghazali, al-Thusi, al-Sakandary, dan lainlain. Ini menunjukkan bahwa pemikiran tasawufnya, bercorak Sunni. Kedua, Melalui kajian tentang pola pengembangan tarekatnya, K.H. Achmad Asrori mengikuti pengembangan ala neosufisme. Hal ini ditandai oleh kecenderungannya dalam mengembangkan tarekat dengan cara-cara modern, rasional dan moderat, melalui Lima Pilar ajarannya.

Trend dunia saat ini memasuki era baru yang dinamakan era digital, segala sesuatu diukur dengan banyaknya frekuensi angka-angka, semakin banyak angka yang digunakan atau diperoleh, maka derajat manusia akan semakin berharga. Manusia di era ini tak ubahnya bagai robot-robot pencetak angka, yang bekerja siang dan malam untuk menghasilkan nominal, dengan digit yang terbatas yang dimiliki. Akibatnya, banyak sekali yang karena tidak kuat untuk mengikuti trend yang ada, maka terjadilah penyimpanganpenyimpangan perilaku dan sikap dalam hidupnya.

Menurut M. Amin Syukur, manusia sekarang ini, sebaiknya lebih mengedepankan akhlak sebagai ajaran mengenai moral, yang hendaknya diterapkan dalam kehidupan sehari-hari guna memperoleh kebahagiaan yang optimal. Ajaran-ajaran akhlak dalam tasawuf, terutama tasawuf akhlaki (perilaku baik), membimbing seseorang untuk memiliki akhlak dan sopan santun baik terhadap diri sendiri, orang lain maupun terhadap Tuhannya.

Ajaran tasawuf, dewasa ini lebih banyak dikenal dalam organisasi-organisasi tasawuf yang disebut dengan tarekat. Terutama di Indonesia, banyak sekali tarekat-tarekat yang termasyhur, di antaranya Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah (TQN). Tarekat yang dimunculkan oleh Syeikh Acmad Khatib Sambas ini, terus terkembang sedemikian rupa, hingga saat ini. Perkembangannya demikian pesat, nampaknya melebihi tarekat-tarekat lain yang ada di Nusantara.

Ajaran tasawuf K.H. Achmad Asrori al-Ishaqy, nampaknya sederhana dan mengena ke masyarakat. Ini terbukti dengan hadirnya ribuan jama‟ah, mana kala ia menyampaikan taushiyah. Meski jama‟ah ini juga merupakan bentukannya, namun tak dapat dipungkiri bahwa banyak di antara mereka hanya simpatisan, yang bukan merupakan anggota tarekat yang dipimpinnya, yang tertarik mengikuti kegiatan karena dorongan kebutuhan akan spiritualitas, dan sosok santun sang kiyai K.H. Achmad Asrori al-Ishaqy dalam ajaran tasawufnya, terlihat lebih menekankan adab. Menurutnya, “Adab adalah kunci pintu menuju Allah, jika tidak ada adab, maka kita tidak dapat memasuki pintu menuju Allah, dan kita tidak bisa sampai dan disampaikan bersimpuh di hadirat Allah SWT. Meski demikian, ajaran tasawuf Kyai Achmad Asrori al-Ishaqy, cenderung praktis. Ia memberikan bimbingan kepada para jama‟ah atau murid tarekat untuk menyelaraskan kehidupan duniawi dengan senantiasa ingat kepada Allah SWT melalui dzikir. Dzikir yang diajarkan adalah dzikir tauhid yang dapat menguatkan akidah dan keimanan seseorang, jiwa akan hidup dan akal akan selamat. Selain itu fisik akan selalu sehat, karena keimanan merupakan tulang yang mampu membawa manusia dari keputusasaan kepada semangat yang kuat dan dari kekacauan kepada ketenteraman. Seseorang yang beriman akan merasakan bahwa ketenteraman itu memenuhi ruang jiwanya

Di tengah berbagai krisis kehidupan yang serba materialis, sekular serta kehidupan yang sangat sulit secara ekonomi maupun psikologis, ajaran tasawuf Kyai Achmad Asrori al-Ishaqy dapat menjadi obat penawar ruhaniah.

Perkembangan tarekat yang satu ini, menarik untuk dibahas lebih lanjut, sebab di lapangan, banyak sekali upaya yang dilakukannya dalam pengembangan tarekat, agar dapat diterima oleh masyarakat di satu sisi, dan memenuhi kehausan masyarakat akan spiritualitas di sisi lain.

Tarekat yang dikomandoi oleh Kyai Achmad Asrori al-Ishaqy yang mengalami perkembangan cukup pesat dalam waktu yang relatif singkat (1978 – 2009), yang gerakannya nampak hampir ada di seluruh provinsi di Indonesia, bahkan sampai ke luar negeri, ini sungguh menarik. Bagaimana hal itu bisa terjadi?

Dimulai dari Kyai Mustain  Romli masuk Golkar menjelang pemilu 1977. Menarik untuk dicatat, bahwa KH. Achmad Asrori al-Ishaqy juga memiliki hubungan keguruan dengan Kyai Mustain Romli ini. Pemikiran KH. Achmad Asrori melalui ceramah-ceramahnya yang diputar di Radio Rasika FM. Lokus dari Radio Rasika FM ini mencakup Jawa Tengah, representasi pemikiran KH. Achmad Asrori al-Ishaqy yang diperuntukkan bagi jama‟ah al-Khidmah Jawa Tengah. Sebab, hampir menjadi kesepakatan umum, bahwa Radio Rasika FM ini menjadi sarana komunikasi dan informasi berkenaan dengan al-Khidmah yang ditujukan kepada para jama‟ah di tingkat Jawa Tengah. Namun demikian, ini telah menyinggung pemikiran tasawuf KH. Achmad Asrori al-Ishaqy.

Secara historis, pada tahun 1970-an, tarekat Qadariyah wa Naqsabandiyah merupakan tarekat yang paling berwibawa di Jawa Timur, termasuk Madura, dan mengalami perkembangan di berbagai wilayah di Indonesia, terutama di Pesantren Darul Ulum Rejoso Jombang yang didirikan oleh Kyai Tamim asal Madura, merupakan pusatnya. Tarekat ini diperkenalkan kepada menantu laki-lakinya, Kyai Khalil yang telah memperoleh ijazah dari dari Syekh Ahmad Hasbullah di Makkah. Kyai Khalil memberikan jubah kepemimpinannya kepada putra Kyai Tamim yaitu Kyai Romli Tamim, yang pada gilirannya digantikan oleh putranya, Kyai Mustain Romli .

Kyai Utsman al-Ishaqi Surabaya adalah khalifah senior Kyai Romli yang wafat pada tahun 1984. Sebelum wafat, beliau sudah menunjuk salah seorang putranya, Kyai Achmad Asrori al-Ishaqi, sebagai penggantinya sebagai mursyid dalam tarekatnya karena menurut beliau, Asrorilah yang pantas mengajar fiqh dan tasawuf. Sebetulnya Kyai Asrori al-Ishaqi sudah dilantik sebagai khalifah oleh ayahnya pada tahun 1978. Sejak wafatnya sang ayah, Kyai Achmad Asrori al-Ishaqi yang memimpin semua kegiatan, termasuk ketarekatan di Pesantren Sawahpulo Surabaya dan selanjutnya mendirikan pula Pesantren al-Fithrah di Kedinding Lor Surabaya. Seiring dengan jalannya waktu, jama‟ahnya semakin bertambah hingga ribuan orang, bahkan jutaan orang, karena tarekat ini merupakan tarekat fenomenal yang akan menjadi oase dunia karena terbukti perkembangannya yang begitu cepat, sudah sampai ke luar negeri, Singapore, Malaysia, Bruney Darusalam, Thailand, Arab Saudi dan Australia. Inilah tarekat Qadariyah wa Naqsabandiyah al-Utsmaniyah

Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah ini, pada awal abad XV H (saat ini) banyak dikenal oleh masyarakat melalui tangan halus K.H. Achmad Asrori al-Ishaqy. Tarekat ini populer melalui organisasi keagamaan yang bernama al-Khidmah, dan Pondok Pesantren al-Fithrah.

Hal yang menarik dalam ajaran Tarekat Qadariyah wa Naqsyabandiyah Utsmaniyah ini, termasuk ajaran tarekat K.H. Achmad Asrori al-Ishaqy, di mana mereka cenderung mengagungkan Rasulullah, para sahabat dan ahlul bait-nya, segala bentuk pemahaman maqamat dan ahwal, senantiasa dikaitkan dengan cinta rasul. Yang terpenting dan merupakan inti ajaran Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah adalah dzikir, yakni dzikir lisan dan dzikir qalbu. Dzikir lisan atau disebut juga dzikir nafi itsbat yaitu ucapan lâ ilâha illa Allah. Pada kalimat ini terdapat hal yang menafikan yang lain dari pada Allah dan mengitsbatkan Allah. Sedangkan dzikir qalbu yaitu dzikir yang tersembunyi di dalam hati, tanpa suara dan kata-kata. Dzikir ini hanya memenuhi qalbu dengan kesadaran yang sangat dekat dengan Allah, seirama dengan detak jantung serta mengikuti keluar masuknya nafas.

Sementara dzikir qalbu atau dzikir ismu dzat adalah dzikir kepada Allah dengan menyebut Allah, Allah, Allah secara sirr atau khafi (dalam hati) dzikir ini juga disebut dengan dzikir lathâif yang merupakan ciri khas Tarekat Naqsyabandiyah.

umum, semua ajaran Kyai Achmad Asrori al-Ishaqi, dalam hal praktek ketarekatan, telah tersusun melalui 5 (lima) pilar utama yang telah ditetapkan sebagai soko guru, tuntunan, bimbingan dan wasiatnya sebagai mursyid tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah Utsmaniyah. Berdasarkan lima pilar utama tersebut, dapat ditelusuri mengenai apa dan bagaimana pemikiran Kyai Achmad Asrori al-Ishaqy dalam mengembangkan TQN. Lima pilar yang dimaksud adalah: Pertama, hal yang berkenaan dengan alThariqah; Kedua, hal yang berkenaan dengan Pondok Pesantren Assalafi AlFithrah; Ketiga, hal yang berkenaan dengan Yayasan Al-Khidmah Indonesia; Keempat, hal yang berkenaan dengan Perkumpulan Jama‟ah Al-Khidmah; dan, Kelima, hal yang berkenaan dengan Keluarga Hadlratus Syaikh Achmad Asrori Al-Ishaqi RA, yaitu istri serta putra-putri keturunannya.

Lima pilar yang disebutkan di atas, merupakan pokok ajaran dan tuntunan serta bimbingan yang harus dijadikan sebagai pedoman bagi para pengikutnya. Sebab, Jamaah Thariqah al-Qadiriyyah Wa alNaqsyabandiyyah,Pondok Pesantren Assalafi Al-Fithrah, Yayasan AlKhidmah Indonesia, Perkumpulan Jama‟ah Al-Khidmah dan Keluarga dihimpun dalam satu wadah tersebut. Diberikannya pedoman Lima Pilar Utama ini, memiliki maksud dan tujuan sebagai sokoguru tuntunan dan bimbingan Hadlratus Syaikh agar dijadikan dasar dan pegangan serta pedoman dan landasan yang kuat, bagi dan oleh setiap dan segenap murid TQN serta jamaahnya di dalam ber-khidmah.

Adapun pokok-pokok pikiran yang merupakan pemikiran Kyai Achmad Asrori al-Ishaqy, antara lain: ketarekatan, kependidikan, keorganisasian, keummatan, dan kekeluargaan. Masing-masing pokok pikiran tersebut akan diuraikan sebagai berikut:

Pilar I : Ketarekatan

Kyai Achmad Asrori al-Ishaqy memahami, bahwa masih banyak orang yang anti terhadap tarekat. Hal ini disebabkan oleh berbagai faktor, di antaranya terjadi kesalahpahaman dalam memaknai tarekat. Kesalahpahaman itu antara lain, masih banyak yang memandang bahwa amalan-amalan tarekat sangat ketat dan berat, sehingga diperlukan waktu yang cukup untuk mengamalkannya. Kemudian,untuk memasuki tarekat, seseorang haruslah memiliki tingkat kesucian lahiriah dan batiniah tertentu.

Padahal, menurut Kyai Asrori, akan terjadi dampak negatif yang luar biasa dalam umat Islam, jika mereka enggan memasuki tarekat. Dampak negatif itu antara lain: Pertama, merosotnya penghayatan keagamaan, akibat makin meningkatnya semangat sektarianisme dan formalisme. Kedua, melemahnya dimensi spiritualisme akibat pendewaan terhahadap rasionalisme, positivisme dan ilmu pengetahuan. Ketiga, melemahnya kesalehan sosial akibat melemahnya semangat saling menghargai, saling menyayangi dan saling menolong antar sesama manusia. Oleh karena itu, diperlukan institusi yang khusus menangani masalah spiritualitas. Dalam hal ini, tarekatlah yang lebih membidangi persoalan ini.

Bila dibandingkan dengan alasan-asalan yang dikemukakan oleh para cendekiawan berkenaan dengan urgensi spiritualitas pada umumnya dan sufisme serta tarekat pada khususnya, maka tampak sekali ada kesamaan. Bahwa di samping memberi kemudahan bagi manusia, manusia juga terasing dari dimensi spiritualitasnya. Ketika manusia melepaskan diri dari koneksi spiritualitas, maka ia akan seperti layang-layang yang putus dari benangnya, tidak menyangkut ke langit dan tidak pula ke bumi. Kondisi masyarakat modern berada pada tepi eksistensi yang sesungguhnya, bukan pada pusat eksistensi, oleh karena itu menimbulkan kegelisahan-kegelisahan yang berasal dari dirinya sendiri.

Sebab-sebab kegelisahan itu dapat diklasifikasi menjadi empat macam, yaitu: Pertama, karena takut kehilangan apa yang dimiliki; Kedua, timbulnya rasa khawatir terhadap masa depan yang tidak disukai (trauma akibat imajinasi masa depan); Ketiga, rasa kecewa terhadap hasil kerja yang tidak mampu memenuhi harapan dan kepuasan; dan, Keempat, banyak melakukan pelanggaran dan dosa. Karena itu wajar bila kehidupan modern sekarang ini tampil dengan wajah antagonistik. Di satu pihak modernisme telah mendatangkan kemajuan spektakuler dalam bidang material. Tetapi di lain pihak modernisme menghasilkan wajah kemanusiaan yang buram, seperti terlihat pada akibat-akibat kemanusiaan yang ditimbulkannya. Beberapa akibat tersebut antara lain, manusia modern semakin tidak mengenal dan terasing dari dirinya sendiri dan Tuhannya setelah mengalami kehidupan yang sedemikian mekanistik; munculnya kegelisahan dan kegersangan batiniah dan krisis tentang makna dan tujuan hidup.

Dengan demikian, mendesak bagi tiap individu untuk menemukan dirinya secara utuh, mulai dari dimensi fisik, mental dan spiritual. Tapi mereka tidak memiliki keberanian yang cukup untuk memasuki tarekat, karena sejumlah alasan yang telah disebutkan di atas. Maka berdirinya Jama‟ah al-Khidmah ini dapat menjadi salah satu jawabannya. Secara umum, jamaah ini bertujuan untuk mewadahi mereka yang belum siap secara mental dan spiritual untuk masuk ke dalam tarekat, tetapi sangat membutuhkan dzikir-dzikir dengan bimbingan orang-orang yang memiliki genealogi spiritual yang jelas.

Baik alasan-alasan yang dikemukakan oleh Kyai Asrori maupun para cendekiawan pada umumnya berkenaan dengan urgensi sufisme dan tarekat di era modern ini, sama-sama bertumpu pada sisi negative kemanusiaan. Dengan kata lain, sufisme dan tarekat dibutuhkan pada saat manusia kehilangan salah satu dimensi kemanusiaannya. Sehingga dapat disimpulkan, bahwa ketika manusia mampu menemukan dirinya secara utuh, maka sufisme dan tarekat tidak dibutuhkan. Kesimpulan ini ada benarnya. Sehingga beberapa orang menganggap bahwa sufisme dan apalagi tarekat tidak diperlukan. Namun demikian, akan lebih tepat kiranya bila dinyatakan bahwa sufisme dan tarekat diperlukan dalam kondisi apapun, baik dalam kondisi senang maupun susah, dalam kondisi utuh maupun tidak utuh. Sebab sufisme dan tarekat, dalam arti spiritualismenya, merupakan bagian tak terpisahkan dari keberadaan manusia, agar manusia dalam kondisi tertentu akan tampak tingkatan-tingkatan ruhaniahnya, yang disebut ”maqamat”, sedang hasil yang dicapai karena karunia Allah disebut ”ahwal”.

Menurut K.H. Achmad Asrori, hati yang baik dan bagus (Jawa, genah) merupakan kemaslahatan yang agung. Sedangkan hati yang rusak (bobrok) merupakan kerusakan yang sangat dahsyat. Sehingga mengetahui hal-hal yang menjadikan hati baik dan bagus merupakan keharusan yang harus dicari. Demikian juga mengetahui halhal yang menyebabkan rusak dan bobroknya hati, agar dijauhi. Hal-hal yang menjadikan hati baik dan bagus itu ada tiga tahapan: Pertama, ilmu, yakni mengetahui dan mengerti Allah, sifat-sifat Allah dan asma-asma Allah, membenarkan semua yang dibawa oleh para rasul, desertai dengan mengetahui hukum-hukum dan pengertiannya, mengetahui gerak-gerik tujuan dan maksud hati, serta prilaku yang terpuji dan prilaku yang tercela. Kedua, amal perbuatan yakni menghiasi hati dengan prilaku yang terpuji, membersihkannya dari prilaku yang tercela, mendudukkan hati pada maqam pendakian dan meningkatkannya menuju pendakian yang lebih utama. Ketiga, prilaku batin (ahwal) yakni merasa diawasi oleh Allah atau menyaksikan Allah sesuai dengan kadar kesiapan dan persiapannya. Sebagaimana dalam penjabaran sabda rasulullah saw ”Menyembah Allah seakan-akan engkau melihatnya”.

Modal utama dalam kebaikan dan kebagusan hati adalah memperhatikan makanan yang halal dan menjauhi hal-hal yang syubhat, karena makanan yang haram dan syubhat akan mengakibatkan hati menjadi gelap, keras dan sikap tidak mudah menerima kebenaran.

Dalam al-Maqshadul Asna fi Syarhi Asmail Husna (al-Ghazali) dari hadits Nabi: ”Berahklaklah dengan akhlak-akhlak Allah”, dan “Sesungguhnya Allah memiliki 117 (seratus tujuh belas) akhlak, barang siapa berbudi dengan salah satunya, maka ia akan masuk surga” juga dapat diartikan: Wujudnya maqam baqa‟ setelah maqam fana‟, sehingga sifat-sifat seorang hamba akan lebur dan terlipat, sebab adanya tajalliyyat (penampakan) sifat-sifat ketuhanan kepadanya. Sehingga dapat di simpulkan bahwa fana‟ itu ada tiga, yaitu: sirna, semua perbuatannya sebab perbuatan-perbuatan Allah, sirna, semua sifatnya sebab sifat-sifat Allah, dan sirna, dzatnya sebab Dzat Allah. Oleh karena itu, ketika kecintaan dan kedekatan hamba kepada Allah telah menyirnakannya dari dirinya, maka Allah akan mendudukkannya pada maqam baqa‟. Fana‟ adalah jalan untuk menuju baqa‟.

Barang siapa sempurna maqam fana‟nya, maka sempurnalah maqam baqa‟nya. Dan barang siapa sirna dari selain Allah, maka baqa‟nya hanya dengan Allah Fana‟ menjadikan mereka diampuni, sedangkan baqa‟ menjadikan mereka mendapat pertolongan. Fana‟ dapat menghadirkan apapun bersama Allah, maka mereka tidak akan pernah putus oleh sebab apapun.  Fana‟ dapat mematikan mereka, sedangkan baqa‟ dapat menghidupkan mereka.

Masih berhubungan dengan fana‟ adalah rabithah, merupakan istilah dari ikatan dan jalinan ruhani seorang salik dengan gurunya, dengan selalu menjaga dan menghadirkan guru mursyidnya dalam hatinya, atau dengan membayangkan suatu sosok bahwa ia adalah guru mursyidnya. Ketika rabithah sudah mewarnai seorang salik, maka ia akan dapat melihat guru mursyidnya pada segala sesuatu. Hanya berdzikir saja tanpa disertai dengan rabithah (membayangkan wajah guru ketika berdzikir) dan tanpa disertai dengan fana‟ pada guru mursyid tidak akan pernah mendekatkan, menghantarkan dan menyampaikan salik di sisi Allah SWT. Adapun rabithah yang  disertai dengan adab-adab, karena adab adalah kunci pintu menuju Allah, jika tidak ada adab, maka tidak adapat memasuki pintu menuju Allah, dan tidak bisa sampai dan disampaikan bersimpuh di hadirat Allah SWT

Tingkatan (maqomat) menurut Kyai Asrori,  ada empat macam yang harus dilakukan oleh seorang salik untuk menuju maqamat di atas, yaitu maqam cinta dan rindu terlebih dahulu. Untuk bisa sampai ke kedua maqam ini, si salik harus memenuhi syarat-syarat berikut:

  1. Seseorang salik yang ingin mengenal, melihat dan bersimpuh di hadapan Allah hendaknya bisa menjalankan prilaku tirakat, mengurangi makan (taqlilu al-tha‟am), menjalankan ibadah baik waktu siang maupun malam, seperti shalat hajad, shalat tahajud, dan shalat sunnah lainnya.
  2. Seorang salik hendaknya mampu menjalankan, menghurangi tidur memperbanyak ibadah baik siang maupun malam hari (taqlilu almanam), menjalankan ibadah baik waktu siang maupun malam, seperti shalat hajad, shalat tahajud, dan shalat sunnah lainnya.
  3. Seorang salik harus mampu mengurangi, menghindari masalah keduawian (i‟tizal al-anam) memperbanyak ibadah, tidak silau dengan keadaan, pernik keindahan, permasalahan kebutuhan dunia, kecuali hanya sekedarnya bisa hidup, dan menghidupi.
  4. Seorang salik hendaknya senang berkorban dalam mengarungi bahtera hidupnya dengan menghiasi dirinya dengan mahabbah, taqarrub, kumpul dengan orang-orang shaleh (wa shahbatu ahli al-kamal). kumpul dapat di artikan, seperti kumpul dalam majelis dzikir, yasin, tahlil, shalawat, manaqib, maulid al- rasul, bahkan majelis kirim doa (dalam bahasa jawa, kirim dongo, andum dongo) kepada Rasulullah, sahabat-sahabatnya, para auliya‟ dan ulama‟ salafus shaleh, kepada guru-guru, kepada saudara-saudara, teman-teman, baik teman bermain (masa kecil), teman-teman kerja, dan teman-teman sekarang, kepada tetangga, dan kirim doa kepada keluarga sendiri.

Dengan demikian, sesungguhnya K.H. Achmad Asrori al-Ishaqy, hendak menunjukkan bahwa tidak ada yang negatif dari perilaku tarekat, sebaliknya justru merupakan sesuatu yang sangat urgent dalam kehidupan modern saat ini. Namun bagaimanapun juga, karena ketakutan dan kesalahpahaman terhadap keberadaan tarekat itu sudah demikian mengakar, maka diperlukan strategi yang tepat untuk mengatasinya. Salah satunya, apa yang dilakukan oleh Kyai Asrori, yakni dengan mendirikan organisasi keagamaan al-Khidmah, yang didukung pula dengan lembaga pendidikan formal dan non-formal, seperti al-Fithrah.

Pilar II: Kependidikan

Kyai Achmad Asrori al-Ishaqy, menjadi mursyid TQN, ketika ia baru berusia 30 tahun. Ia ditunjuk langsung oleh ayahnya, Kyai Usman alIshaqy, dengan wasiat sebelum wafat. Sebelumnya, tonggak kepemimpinan TQN dipegang oleh Kyai Minan, kakak Kyai Asrori, namun setahun kemudian diserahkan kepadanya. Tidak diketahui secara pasti menganai penyerahan ini. Sebagai pemimpin yang baik, Kyai Asrori ternyata tidak main-main dalam menjalankan amanah. Sebelum menjadi mursyid, ia telah membuat sebuah gerakan spektakuler, yaitu mendirikan pondok pesantren, yang bermula dari jama‟ah kecil di masjid dekat rumahnya. Kemudian, setelah pesantren berdiri, ia melanjutkan program pembinaannya, sesuai dengan gaya ketarekatan.

Hal ini sangat luar biasa, nampaknya Kyai Asrori sadar betul bahwa untuk membina jama‟ah, diperlukan sebuah wadah yang tepat.  Pesantren, adalah suatu lembaga, yang selama ini memang „identik‟ dengan tasawuf dengan tarekatnya. Melalui pesantren inilah, disinyalir ajaran tasawuf melalui tarekat berkembang pesat di Indonesia.

Menurut Alwi Shihab, pesantren merupakan penjabaran real system pendidikan dalam tasawuf. Oleh karena itu, melalui pesantren,  tasawuf maju pesat di Indonesia, sejak dahulu hingga kini. Pesantren menawarkan pengajaran ilmu-ilmu agama dan nilai-nilainya dari segala aspek, dengan pemusatan pada penerapan ilmu-ilmu dan nilai-nilai tersebut dengan mengharap ridha Allah SWT dan Rasul-Nya35

Lebih lanjut, peranan pesantren dalam memantapkan aqidah ahlu al-sunnah wa al-jama‟ah, melalui cara ribath sufi, mewajibkan murid ta‟at kepada syaikh dan menjadikannya suri tauladan untuk menuju kepada ridha Allah SWT, dengan jalan yang dirumuskan syaikh melalui wirid, dzikir, dan disiplin melaksanakan sunnah yang diajarkan oleh syaikh yang bersambung kepada sahabat dan Rasulullah saw., merupakan bukti konkrit bahwa semua aspek dalam tradisi pesantren bersumber dari tasawuf, khususnya tarekat.

Mungkin ada kaitannya dengan pengajaran dari gurunya terdahulu ketika belajar di Rejoso Jombang. Kyai Musta‟in Romli, yang juga seorang syeikh tarekat Qadiriya wa Naqsyabandiyah, telah membuka lembaga pendidikan, mulai dari tingkat dasar hingga ke perguruan tinggi, ternyata cukup berhasil dalam mengembangkan tarekat, bahkan menjadi pusat pendidikan umum yang bernafaskan Islam. Menurut Alwi Shihab, para pengamat sepakat bahwa keberadaan Darul Ulum – (di mana Kyai Asrori pernah belajar di sana, pen) – diharapkan dapat mewujudkan tujuan yang diinginkan sebagai benteng tarekat, pusat pendidikan, dan pengajaran di Indonesia.

Mengawali karir sebagai mursyid tarekat, dengan cara mendirikan pesantren, merupkan suatu langkah yang sangat tepat. Melalui pesantren, Kyai Asrori akan dapat mengembangkan ajaran tarekat yang menjadi misinya. System pesantren yang sejak dulu telah bersifat baku, yakni terpusat pada kyai, akan memudahkan Kyai Asrori dalam menerapkan system tarekat yang dianutnya. Nampaknya, perkembangan TQN sampai saat ini, salah satunya karena didukung oleh keberadaan pesantren yang didirikan oleh Kyai Asrori, yaitu pesantren Al-Fithrah.

Untuk mewujudkan misinya, pondok pesantren ini membuat kegiatan sendiri yang lain dari pada yang lain. Secara umum, kegiatan-kegiatan yang ada pada Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah digolongkan menjadi tiga, yaitu syiar, wadlifah dan tarbiyah. Syi‟ar, meliputi minggu manaqib awal, pengajian ahad kedua, haul, majlis dzikir dan maulidur Rasul SAW. Wadlifah Yaitu kegiatan yang bersifat berangkat (Suatu kegiatan yang berkaitan langsung dengan Allah SWT., Baginda Habibillah Rasulilah Muhammad saw Sulthanul Aulia‟ Syaikh Abdul Qodir al Jilany ra. dan Kyai Achmad Asrori al-Ishaqi dan berguna untuk menanamkan dan melatih tanggung jawab dan kejujuran hati kepada Allah SWT, Baginda Habibillah Rasulilah Muhammad saw., Sulthanul Aulia‟ Syaikh Abdul Qodir al -Jailany ra. dan Kyai Achmad Asrori al –Ishaqy.

Kegiatan Wadlifah ini tidak boleh dirubah oleh siapapun dan kapanpun (Majelis Lima Pilar) yaitu:

  1. Jama‟ah maktubah, Shalat sunah (qobliyah dan ba‟diyah, isyraq, dhuha, isti‟adah, tsubutil Iman, hajat dan tasbih);
  2. Aurad-Aurad yang telah di Tuntunkan dan dibimbingkan.
  3. Qiro‟atul Qur‟an Al Karim (dilakukan setelah tahlil subuh, diawal dengan al-Fatihah 3 kali, membaca al-Qur‟an dengan sendiri-sendiri satu juz ditutup dengan kalamun dan do‟a al-Qur‟an.
  4. Maulid (dilakukan : setiap malam jum‟at , diawali dengan Al-Fatihah 3 kali , kemudian membaca Ya Rabby , Inna Fatahna , Yaa Rasulallah, dengan dipandu oleh pembaca, kemudian membaca rawi mulai dari alHamdulillahi al Qowiyyil al Gholib dengan dibaca sendiri – sendiri sampai Fahtazzal Arsyu, lalu Fahtazzal Arsyu sampai Mahallul Qiyaam dibaca dengan dipandu oleh pembaca kemudian Wawulida dan rowi – rowi setelahnya dibaca dengan sendiri – sendiri sampai doa, kemudian membaca nasyid dengan diiringi dengan dzikir.
  5. Manaqib (dilakukan setiap malam ahad, diawali dengan al-Fatihah 3 kali , kemudian membaca manaqib sendiri – sendiri selama 20 menit lalu doa kemudian membaca Ibadallah, Yaa Arhamarrohimin dan nasyid sampai selesai kira – kira 10 – 15 menit .

Nampaknya, melalui kegiatan khusus lembaga pendidikan ini, dapat disimpulkan bahwa Kyai Asrori hendak menancapkan nilai-nilai akhlak al-karimah kepada para siswanya. Mungkin ia sadar, bahwa kemerosotan akhlak di kalangan pelajar, saat ini hampir mencapai puncaknya. Melalui lembaga pendidikan ini, ia ingin menciptakan generasi berakhlak mulia.

  1. Pilar III: Keorganisasian

Berdirinya organisasi (al-Khidmah), secara umum dilatarbelakangi oleh kenyataan bahwa demikian sulitnya mencetak generasi saleh yang dapat menyenangkan kedua orang tua, sahabat, tetangga, guruguru sampai Rasulullah saw. Selain itu masih banyak persoalan yang mendasar, sehingga mendesak didirikannya sebuah organisasi, yang juga dikemukakan sendiri oleh Kyai Asrori al-Ishaqi.

Organisasi itu, tidak langsung bernama tarekat, tapi dengan nama lain yang lebih bisa diterima oleh masyarakat awam. Oleh karenanya, didirikanlah al-Khidmah. Meskipun demikian, Kyai Asrori bukan orang yang buta masalah organisasi. Terbukti, melalui al-Khidmah, Kyai Asrori menetapkan sistem kepengurusan yang jelas dan aplikatif. Menejemen organisasi ditata sedemikian rupa, mengikuti sistem modern, yang jelas-jelas tidak terjadi dalam kepemimpinan tarekat. Akan tetapi, memang ada sedikit yang diselipkan mengenai sistem tarekat, misalnya kewenangan Imam Khususi. Hal ini terlihat dari struktur organisasi al-Khidmah yang minimal terdiri dari ketua, sekretaris, bendahara, koordinator dan seksi-seksi sesuai kebutuhan.

  1. Pilar IV: Keummatan

Sampai akhir hayatnya, Kyai Asrori belum sempat menunjuk salah seorang muridnya untuk menggantikan kedudukannya sebagai mursyid TQN. Tidak juga keluarganya, sebagai penerus estapet kepemimpinan tarekat sebagaimana lazimnya. Hal ini menarik, karena umumnya seorang mursyid telah mengangkat pengganti sebelum ia meninggal.

Ketua Pusat Thariqah, Abdur Rosyid, memaparkan tentang kethariqahan, menjelaskan bahwa: Pertama, pada pengajian Ahad ke-II tanggal 12 Rajab 1430 H / 5 Juli 2009, Kyai Asrori menyatakan tidak ada orang yang bisa menggantikannya sebagai guru mursyid penerus beliau.  Namun, ia menjelaskan tentang syarat-syarat menjadi mursyid, antara lain:

1) Mengetahui dan meyakini „Aqidah Ahl al-Sunnah Wa al-Jama‟ah dalam bidang Tauhid; 2) Mengetahui dan mengerti Allah (ma‟rifat billah); 3) Mengetahui hukum-hukum fardhu „ain; 4) Mengetahui dan mengerti adab-adab dalam hati, cara membersihkannya, menyempurnakannya, melirik dan melihat terhadap penyakit-penyakit jiwa; dan, 5) Telah diberi restu dan izin dari gurunya.

Selanjutnya, Kyai Asrori telah menetapkan imam khususi di masing-masing wilayah. Imam Khushushi adalah orang-orang yang telah ditunjuk oleh Hadlratus Syaikh Achmad Asrori Al-Ishaqi r.a. untuk menjadi imam Khushushy. Hanya murid thariqah yang telah ditunjuk oleh mursyid/guru thariqah-nya sajalah yang dapat dan diperbolehkan menjadi dan sebagai imam khushushi untuk/dari jama‟ah thariqah yang bersangkutan. Seorang imam Khushushi yang ditunjuk dan telah ditetapkan oleh seorang mursyid/guru thariqah, tidak diberi kekuasaan dan/atau kewenangan sama sekali, dan oleh karenanya, dia tidak diperbolehkan untuk menunjuk dan/atau mengangkat seseorang, atau orang lain sebagai pengganti dirinya dan/atau untuk mewakili dirinya selaku imam khushushy.

Tentang organisasi thariqah merujuk kepada buku Pedoman Kepemimpinan dan kepengurusan dalam kegiatan dan Amaliah alThariqah dan Al-Khidmah. Hadlratus Syaikh telah menetapkan kepengurusan jamaah yang terdiri dari kepengurusan Jama‟ah Thariqah, Pondok Pesantren Assalafi Al-Fithrah, Yayasan Al-Khidmah Indonesia dan Perkumpulan Jamaah Al-Khidmah.

Hadlratus Syaikh (K.H. Achmad Asrori) mewajibkan seluruh murid dan jama‟ah untuk tunduk dan taat kepada ketentuan yang telah ditentukan oleh pengurus. Hadlratus Syaikh telah menegaskan dalam majlis sowanan terakhir hari Ahad tanggal 19 Juli 2009 (27 Rajab 1430 H) ….bahwa ia tidak meridloi orang yang ingkar terhadap kepengurusan dan melarang seluruh murid dan jamaah untuk menghadiri majlis yang diadakan oleh orang tersebut (yaitu orang yang ingkar terhadap kepengurusan)”

Berdasarkan uraian-uraian di atas, maka jelaslah bahwa persoalan keummatan telah diserahkan oleh Kyai Asrori kepada para Imam Khususi.  Merekalah yang bertanggung jawab terhadap umatnya di wilayahnya masing-masing. Pertanyaannya kemudian adalah, bagaimana kelanjutan kekuasaan kepemimpinan TQN, sepeninggal Kyai Asrori? Apakah para imam khususi itu, sementara mereka tidak diberi kewenangan untuk mengangkat murid?

Nampaknya, Kyai Asrori mencoba membuat system baru dalam keorganisasian tarekat. System baru itu berbentuk sebuah organisasi modern yang memiliki struktur dan pembagian kerja, yang jelas-jelas kolektif – kolegial. Demokratisasi pun juga melekat dan system ini, dan akan sangat berbeda dengan system kepemimpinan tarekat sebelumnya.

Namun yang lebih menarik lagi, mursyid tarekat masih berpusat padanya. Dengan demikian, sampai kapan pun posisi tertinggi dari kepemimpinan TQN Usmaniyah, tetap akan mengacu kepadanya. TQN Usmaniyah akan terus berkembang melalui para Imam Khususi yang akan terus bertambah, mengikuti perkembangan jama‟ah al-Khidmah. Dari sini, persoalan keumatan (khususnya jama‟ah TQN) akan dapat terayomi dan terpelihara dengan baik.

  1. Pilar V: Kekeluargaan

Satu hal yang dipesankan Kyai Asrori berkenaan dengan keluarganya, yaitu tentang tempat pemakaman. Selain itu tidak ada yang dikhususkan bagi keluarga dan orang-orang terdekatnya. Sesuai dengan bunyi ketetapan lima pilar utama, bahwa yang dimaksud dengan keluarganya adalah Istri dan putra-putrinya. Akan tetapi, Kyai Asrori telah memberikan suatu pengertian yang sama sekali berbeda dengan yang pernah ada. Ketika berbicara tentang kekeluargaan, maka dapat ditelusuri melalui term „jama‟ah‟ dalam istilah “Jama‟ah al-Khidmah”. Term Jamaah, yang ditulis dengan ”J” (huruf besar) menunjuk kepada organisasi atau keluarga besar yang meliputi dewan penasehat, pengurus dan jama‟ah (dengan j huruf kecil). Sedang  jamaah dengan ”j” (huruf kecil) menunjuk pada anggota al-Khidmah, yang dikategorikan menjadi muridin, muhibbin.

Menurut Kyai Asrori sendiri, bahwa istilah Jamaah di sini merujuk kepada seluruh keluarga, sedang istilah yang merujuk pada aspek keorganisasiannya, merujuk kepada pengelolaan organisasi secara profesional. Sementara istilah al-Khidmah mengacu kepada pelayanan yang memang sangat ditekankan di dalam jamaah ini. Baik pelayanan dalam pengertian ruhaniah, maupun pelayanan dalam bentuk jasmaniah. Oleh karena itu, berdasarkan uraian di atas, jelas bahwa secara umum, jama‟ah al-Khidmah adalah keluarga besar Kyai Asrori. Meski ada perbedaan ”J” Besar dan ”j” Kecil. Secara kekeluargaan, tentu jama‟ah ini merupakan satu ikatan yang kuat dalam TQN Usmaniyah Kyai Asrori.

Demikian ketentuan lima pilar utama yang merupakan pemikiran kyai Asrori al-Ishaqy, yang sampai saat ini tetap dijadikan sebagai soko guru dalam menjalankan aktifitas oleh kelima pilar yang telah ditetapkan oleh Kyai Asrori. Kelima pilar tersebut adalah TQN Usmaniyah, Pesantren Al-Fithrah, Yayasan Al-Khidmah, Jama‟ah al-Khidmah, dan Keluarganya. @@@

Categories: KH. ASRORI BIN UTSMAN AL-ISHAQI | 5 Komentar

WIRID KWA MINGGU INI


WIRID KWA MINGGU INI

 

ALFATIHAH

 Bismillahirrohmanirrohim

 Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar

Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar

 Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar

Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar

 Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar

Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar

 Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar

Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar

 Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar

Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar

Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar

Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar

 Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar

Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar

Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar

Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar

Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar

Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar

 Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar

Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar

 Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar

Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar

 Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar

Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar

Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar

Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar

 Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar

Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar

 Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar

Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar

 Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar

Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar

 Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar

Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar

 Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar

Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar

 Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar

Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar

 Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar

Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar

 Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar

Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar

 Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar

Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar

Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar

Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar

Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar

Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar

 Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar

Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar

 Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar

Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar

 Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar

Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar

 Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar

Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar

==============

MAKNA DAN MANFAAT.

Ada kisah asmak Ya Jabbar Ya Qahhar terkait pembentukan NU. Syahdan, sejak Kiai Cholil menyerahkan “tongkat simbolik dukungan”  untuk mendirikan NU kepada kyai Hasyim Asyari, rupanya dirasa berjalan cukup lama. Setahun waktu berlalu sejak Kiai Cholil menyerahkan tongkat itu, jamiyyah yang diidam-idamkan tak kunjung lahir juga.

Tongkat “Musa” yang diberikan Kiai Cholil, masih tetap dipegang erat-erat oleh Kiai Hasyim. Tongkat itu tak kunjung dilemparkannya sehingga berwujud “sesuatu” yang nantinya bakal berguna bagi ummat Islam.

Sampai pada suatu hari, Kyai As’ad muncul lagi di kediaman Kiai Hasyim dengan membawa titipan khusus dari Kiai Cholil Bangkalan. “Kiai, saya diutus oleh Kiai Cholil untuk menyerahkan tasbih ini,” kata Kyai As’ad sambil menyerahkan tasbih. “Kiai juga diminta untuk mengamalkan bacaan Ya Jabbar Ya Qahhar setiap waktu,” tambah Kyai As’ad.

Di balik pemberian tasbih dan amalan bacaan dua Asmak Allah dari Kiai Cholil itu merupakan isyarat agar Kiai Hasyim lebih memantapkan hatinya untuk melaksanakan niatnya mendirikan jamiyyah. Sedangkan bacaan Asma Allah itu adalah doa agar niat mendirikan jamiyyah tidak terhalang oleh upaya orang-orang dzalim yang hendak menggagalkannya.

Qahhar dan Jabbar adalah dua Asma Allah yang memiliki arti hampir sama. Qahhar berarti Maha Memaksa (kehendaknya pasti terjadi, tidak bisa dihalangi oleh siapapun) dan Jabbar kurang lebih memiliki arti yang sama, tetapi adapula yang mengartikan Jabbar dengan Maha Perkasa (tidak bisa dihalangi/dikalahkan oleh siapapun). Dikalangan pesantren, dua Asma Allah ini biasanya dijadikan amalan agar memenangkan segala urusan/perkara, menjatuhkan wibawa, keberanian, dan kekuatan musuh yang bertindak sewenang-wenang.

Setelah menerima tasbih dan amalan itu, tekad Kiai Hasyim untuk mendirikan jamiyyah semakin mantap. Meski demikian, sampai Kiai Cholil meninggal pada 29 Ramadhan 1343 H (1925 M),jamiyyah yang diidamkan masih belum berdiri. Barulah setahun kemudian, pada 16 Rajab 1344 H, organisasi yang ditunggu-tunggu itu lahir dan diberi nama Nahdlatul Ulama (NU).

maka, KITA BUTUH KEMENANGAN-KEMENANGAN DALAM HIDUP KITA, KITA TERIAKKAN ALLAHU Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Jabbar Ya Qahhar!

@@

Categories: >>PERPUSTAKAAN UTAMA | 4 Komentar

KEKUATAN ITU ADA DI HATI DAN PIKIRANMU


SUATU MALAM NAN SUNYI DAN JAUH, SAAT LARUT DALAM DZIKIR “YA QOWIYYU YA MATIN” AKU BERTEMU MAKHLUK ALLAH DI SUATU TEMPAT.  TAK MENYIA-NYIAKAN KESEMPATAN YANG LANGKA ITU, AKU BERTANYA KEPADA PRIA YANG USIANYA LEBIH DARI 6000 TAHUN ITU.

(………..YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN………….)

HAMBA ALLAH SWT, JELASKAN KEPADAKU ARTI DARI ASMAK ALLAH YA QOWIYYU YA MATIN.

Pelajarilah sifat-sifat Allah khususnya sifat Qowi karena ini adalah salah satu sifat Ilahi yang artinya kuatnya intensitas kodrat dan kekuasaan. Mengingat bahwa seluruh hal tercipta dalam hubungannya dengan kodrat Ilahi, jelas bahwa tiada kekuataan yang menggungguli kekuatan dan Kekuasaan Allah SWT. Karena itu, segala sesuatu selain Allah adalah lemah. Silsilah kekuataan Tuhan tidak punya ujung pada satu titikdan tidak ada titik lemah pada diri-Nya.

Ketika seseorang mengalunkan dzikir dengan asmak YA QOWIYYU, maka itu artinya menghidupkan daya quwwah Allah dalam dirinya. Sifat Qawi yaitu inti dari quwwah artinya dahsyatnya sifat kekuatan-NYA sebagaimana yang bisa kau baca dalam  Al Quran: “Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi amat keras siksaan-Nya.”   “Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa.”  “Sesungguhnya Allah, Dia-lah Maha Pemberi Rezeki yang mempunyai kekuatan lagi sangat kukuh.”  Dzu al-quwwah merupakan salah satu nama Allah Swt dan juga bermakna qawi..

(………..YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN………….)

BIASANYA DZIKIR ASMAK YA QOWIYYU DIGABUNG DENGAN YA MATIN. APAKAH ARTI YA MATIN?

Matin juga merupakan salah satu nama Allah Swt yang bermakna kokoh yang tiada satu pun yang tidak dapat dilakukannya.  Ungkapan ini menujukkan pemberi rezeki hanyalah Allah dan Dia memberikan pemahaman bahwa dalam menyampaikan rezeki kepada para pemakan rezeki – berapa pun banyaknya –Allah Sang Pemberi Rezeki tidak akan pernah lemah.

Lafaz Quwwah terkadang digunakan bermakna kodrat sebagaimana disebutkan dalam al-Quran: “Peganglah teguh  apa yang telah Kami berikan kepadamu.”  Maka dapat disimpulkan bahwa  Quwwah adalah tingkatan paling dahsyat dari kekuataan dan kekokohan, entah itu kekuatan badan sebagaimana yang disebutkan dalam al-Quran, “Siapakah yang lebih besar kekuatannya daripada kami?” atau kekuatan mental sebagaimana pada ayat lainnya, “Hai Yahya, ambillah al-Kitab itu dengan kuat dan sungguh-sungguh.”  atau maksudnya adalah kekuatan-kekuatan penolong sebagiamana yang diharapkan oleh Nabi Luth yang berkata, “sekiranya ada kekuatan sehingga dapat mencegah perbuatan-perbuatan tercela pada pelaku kejahatan.“ Luth berkata, ‘Seandainya aku mempunyai kekuatan untuk menolakmu’ dan seperti ucapan para menteri Ratu Saba yang mendeskripsikan diri mereka “Kita adalah orang-orang yang memiliki kekuatan dan memiliki keberanian yang sangat dalam peperangan.”

(………..YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN………….)

Tuhan kita yang Mahabesar nan Maha Agung disebut Qowi karena ciptaan-Nya agung dan kukuh yang telah menciptakan bumi dan segala apa yang ada di dalamnya, gunung-gunung, laut-laut, pasir-pasir dan pepohonan serta apa yang diciptakan yaitu segala yang bergerak di dalamnya dari kalangan manusia dan hewan, Dialah yang menggerakkan angin, menahan awan-awan yang mengandung hujan yang berat dari air, matahari, bulan, dan kebesaran keduanya serta kebesaran cahayanya yang tidak dapat dilihat oleh mata biasa manusia dan tidak terbatas, dan bintang gemintang, planet-planet  berputaran dan langit yang mahaluas menggantung di atas kita dan bumi yang menjuntai dan segala yang dikandungnya dan segala yang diciptakan dengan demikian Dia disebut qowi, bukan dari apa yang kita kenal dari ciptaan-ciptaan, yang digenggam dan dicengkram kuat dan apabila kekuatan-Nya mirip dengan kekuatan ciptaan maka akan ada yang mirip dengan-Nya dan dan kemungkinan Tuhan itu banyak dan apabila banyak maka hal itu menunjukkan kekurangan dan apa yang kurang itu  tidak sempurna dan apa yang tidak sempurna itu tidak mampu dan tidak berdaya sementara Allah tidak ada yang serupa dengan-Nya dan sesungguhnya kita wajib berkata “Dia kuat bagi ciptaan yang kukuh dan demikian kita berkata, agung dan besar”.

(………..YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN………….)

 APAKAH CIRI KHAS  KEKUATAN DARI ALLAH SWT?

Kujelaskan ciri-ciri Kuat-Nya: Segala puji bagi Allah yang menguasai segala sesuatu dan kekuasaannya pada segala sesuatu dan berasal dari-Nya. “Ya Tuhanku! Engkau hidup tidak akan mati. engkau kuat dan tidak akan lemah, engkau tabah dan tidak tergesa-gesa.”

Tuhanku! Aku bermohon kepadamu.. dengan kekuatan-Mu yang dengannya Engkau taklukkan segala sesuatu dan segala sesuatu tunduk pada-Nya dan segala sesuatu tunduk di hadapan-Nya. Maka kuucapkan Allahu Akbar dalam adzan, artinya bahwa Allah Swt berkuasa atas segala sesuatu dan berkehendak atas segala sesuatu. Kekuasaan-Nya disebabkan oleh kekuatan-Nya dan sangat berkuasa atas ciptaan-ciptaan-Nya, berkuasa pada dzat-Nya. Kekuasaannya kokoh di atas segala sesuatu. Tatkala Engkau menginginkan sesuatu hanya berkata, KUN FAYAKUN.

SAYA ADA PERTANYAAN LAGI BUATMU, MOHON JAWABLAH: ALLAH MAHA PENCIPTA SEGALANYA,TAPI ADA SATU HAL YANG TIDAK INGIN ALLAH CIPTAKAN. APAKAH ITU?

Tuhan bersifat permanen dan sekali-kali tidak akan pernah terputus. Allah adalah dzat yang murni dan kesempurnaan. Dzat-Nya muncul karena cinta untuk dapat ber-tajalli. Maka Allah adalah identik dengan cinta dan mahabbah. Sesuatu yang paling dicintai di sisi Allah adalah memandang zat-Nya melalui hakekat-Nya. Dan kesempurnaannya tidak akan pernah tercapai kecuali Dia telah tampak pada setiap hal.

Karena itu, Allah Swt adalah Maha kuasa atas segala sesuatu, Maha pemurah, Maha penyayang dan sekali-kali tidak pernah bakhil terhadap  segala sesuatu yang memiliki potensi untuk berwujud, yaitu tidak mustahil secara akal. Makhuk yang memiliki potensi mewujud dan proses pewujudannya tidak mustahil secara esensial, maka dia akan menjadi sasaran kemurahan dan kemuliaan Tuhan dan pada gilirannya akan diciptakan oleh Allah melalui kasih sayangnya.

(………..YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN………….)

KENAPA ALLAH SWT MENCIPTAKAN WAKTU DAN APA HAKEKAT WAKTU ITU?

 Zaman atau waktu adalah jumlah yang bersambung yang berdiam pada satu benda melalui perantara gerak. Artinya zaman atau waktu itu adalah satuan gerak dan ruang lingkup geraknya pada alam materi. Karena itu apa yang Anda tanyakan apakah ada suatu waktu dimana hanya ada Allah di situ dan tiada satu pun yang ada? Sejatinya, Anda berasumsi tentang waktu sebelum adanya waktu; karena waktu itu merupakan sebuah ekstensi yang melintas yang terdapat pada setiap benda dan materi. Di samping itu, awal dan akhir waktu itu merupakan urusan waktu dan tiada satu pun halyang berada di atas ufuk waktu. Hubungan waktu, kini, dulu dan akan datang itu adalah sama bagi-Nya. Hal-hal lainnya yang sifatnya menyebar dalam satuan waktu akan berkumpul di hadapannya.

Sifat Allah Swt adalah identik dengan zat-Nya dan segala kesempurnaan perbuatan-Nya yang menjadi sumber perbuatan-perbuatan-Nya seperti kodrat, ilmu, hayat dan lain sebagainya tidak berbeda dengan zat-Nya. Demikian juga tujuan dan motif dalam memberikan limpahan dan sifat pemurah-Nya adalah ilmu-Nya sendiri pada sistem lebih sempurna yang identik dengan zat-Nya. Ilmu terhadap sistem yang lebih sempurna, mencakup sistem alam penciptaan; karena itu limpahan Tuhan senantiasa bersifat permanen.

Limpahan Tuhan itu bersifat permanen, abadi dan mutlak namun kemutlakan dan keabadian-Nya tidak bersifat esensial melainkan sebuah bayangan; artinya sebagaimana pada zat-Nya memerlukan Allah dalam sifat-Nya, dalam keabadian juga membutuhkan Allah. Pada kenyataannya kebutuhan terhadap-Nya bersifat mutlak dan abadi. Karena itu hal ini tidak berseberangan dengan keesaan Tuhan  bahkan penegas dan penyokong tauhid LA ILAHA ILALLAH.

(………..YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN………….)

HAMBA ALLAH YANG MULIA, JELASKAN KEPADAKU CARA MENGINDARI BENCANA?

Gempa bumi dan semisalnya merupakan bencana alam yang menyisakan banyak pengaruh dimana keseluruhannya sebenarnya mengandung kebaikan bagi umat manusia. Supaya masyarakat tidak lalai dan menjadi mengerti akan kelemahan dan ketidakberdayaannya serta supaya ia menjadi takut dan (dengan merasakan kelemahannya dan kekuatan Sang Pencipta) tidak lagi berbuat dosa dan kerusakan. Seluruh bencana dan penderitaan yang menimpa badan dan harta manusia adalah untuk urusan ini. Sejatinya bencana itu adalah demi kepentingan, kemaslahatan dan ketegaran manusia menghadapi semua ini. Sebagai ganti dari kehilangan yang ditimbulkan, di akhirat sedemikian cadangan disediakan untuknya sehingga tidak dapat dibandingkan dengan nikmat apa pun di dunia. Karena itu terkadang kebaikan dan kemaslahatan umum dan khusus yang terpendam di dalamnya sehingga turunnya bencana-bencana di dunia harus disegerakan.

Inti peristiwa di dunia merupakan hal yang pasti; satu dalil nyatanya adalah ayat-ayat al-Quran yang pada satu tempat menyebutkan:“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali ke jalan yang benar “Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi. Tetapi, mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.”

Menentukan secara akurat alasan terjadinya bencana secara akurat tidak mungkin dapat dilakukan oleh orang-orang biasa; melainkan hanya para wali Allah yang dapat menjelaskan kenapa sebab peristiwa itu terjadi. Sebab itu misteri Allah SWT. Yang jelas inti kejadian gempa bumi diperlukan bagi kelangsungan hidup planet bumi.

Manusia bisa menjauhi maksiat agar tidak terjadi bencana. Jauhi zina karena menyebarnya zina merupakan salah satu faktor terjadinya gempa bumi.  Ingatlah setelah menyebarnya empat hal akan muncul empat hal lainnya: Kapan saja zina menyebar maka gempa bumi juga akan terjadi. Kapan saja hukum tidak berdasarkan kebenaran dikeluarkan maka hujan tidak akan turun. Kapan saja perjanjian dengan orang-orang kafir yang hidup dalam tanggungan Islam dilanggar maka pemerintahan akan jatuh di tangan orang-orang musyrik dan memerintah atas kaum Muslim.  Kapan saja zakat tidak dikeluarkan maka kemiskinan akan merajalela.

(………..YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN………….)

Pada suatu ketika, masyarakat mengeluhkan banyaknya terjadi gempa bumi. Saya katakan “Janganlah pindah dari tempat itu. Berpuasalah pada hari Rabu, Kamis dan Jumat. Kemudian mandilah dan kenakan pakaian-pakaian bersih lalu keluarlah dari rumah kalian pada hari Jumat  dan berdoalah kepada Allah Swt maka pasti Allah akan menyelesaikan masalah itu. Alhamdulillah, gempa bumi tidak terjadi lagi. Barang siapa dari kalian yang melakukan dosa maka segeralah bertaubat dan memohonlah kebaikan.

Maka apakah gempa bumi itu maka jawabnya adalah ayat dan sebuah tanda. Ketika Allah ingin menguncangkan bumi maka Dia mewahyukan kepada malaikat itu untuk menggerakan pilar-pilar bumi (gunung-gunung). Kemudian malaikat berdasarkan perintah Allah menggerakannya kemudian bumi dan penduduknya pun terguncang.

Apa yang harus dilakukan jika terjadi bencana?  Saranku, kerjakanlah sholat Kusuf dan tatkala engkau telah selesai mengerjakan salat, sujudlah dan dalam sujudmu bacalah doa: “Wahai yang menahan langit dan bumi supaya tidak menyimpang dan sungguh jika keduanya menyimpang, tidak ada seorang pun yang dapat menahan keduanya selain Allah. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun. Jauhkanlah dari kami keburukan dan kejahatan sesunggurhnya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu”

(………..YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN YA QOWIYYU YA MATIN………….)

***TERAKHIR***
INI ADA IJASAH RANGKAIAN DOA UNTUKMU, SEDULURKU.. KALAU ENGKAU MAU…. :

ALFATIHAH 1000  X

INNA QUWWATIH NAKABAN NATAH KITABAN NATAH 1 X – ASR Madura utara

YA QOWIYYU IRHAM DA’FI   1 x — Wahai Yang Mahakuasa kasihilah kelemahanku.

INNAMA AMRUHU IDZA ARODA SYAI’AN AYYAQULA LAHU KUN ….. (sebutkan hajat anda apa) FAYAKUN  1  x

ALHAMDULILLAHIROBBILALAMIN 1 x

Demikian apa yang bisa saya tuliskan dan  IJASAH SEMPURNA karena ALLAH Taala.

@KWA,2-0-1-6

Categories: >>PERPUSTAKAAN UTAMA | 55 Komentar

WIRID KWA MINGGU INI


ALFATIHAH UNTUK NABI MUHAMMAD SAW

YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN

YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN

YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN

YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN

YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN

YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN

YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN

YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN

YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN

YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN

YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN

YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN

YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN

YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN

YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN

@KWA,2016

Categories: YA ROHMAN YA ROHIM YA FATTAH YA ALIM YA HADI YA MUBIN | 3 Komentar

LAPORAN TAHUNAN BLOG KWA 2015


Berikut ini Asisten statistik WordPress.com menyiapkan laporan tahunan 2015 untuk blog KAMPUS WONG ALUS KWA ini.

Berikut ini kutipannya:

Sekitar 2.500.000 orang mengunjungi MoMA di New York setiap tahun. Blog KWA telah dilihat sekitar 7.700.000 kali di 2015. Jika itu adalah pameran MoMA, dibutuhkan sekitar 3 tahun bagi orang sebanyak itu untuk melihatnya.

Klik di sini untuk melihat laporan lengkap.

Categories: >>PERPUSTAKAAN UTAMA | 6 Komentar

WIRID KWA AWAL TAHUN BARU 2016


YAA FATTAH YAA MUTAKABBIR YAA QAHHAAR YAA SYAAFII YAA FATTAH YAA MUTAKABBIR YAA QAHHAAR YAA SYAAFII YAA FATTAH YAA MUTAKABBIR YAA QAHHAAR YAA SYAAFII YAA FATTAH YAA MUTAKABBIR YAA QAHHAAR YAA SYAAFII YAA FATTAH YAA MUTAKABBIR YAA QAHHAAR YAA SYAAFII YAA FATTAH YAA MUTAKABBIR YAA QAHHAAR YAA SYAAFII YAA FATTAH YAA MUTAKABBIR YAA QAHHAAR YAA SYAAFII YAA FATTAH YAA MUTAKABBIR YAA QAHHAAR YAA SYAAFII YAA FATTAH YAA MUTAKABBIR YAA QAHHAAR YAA SYAAFII

YAA FATTAH YAA MUTAKABBIR YAA QAHHAAR YAA SYAAFII YAA FATTAH YAA MUTAKABBIR YAA QAHHAAR YAA SYAAFII YAA FATTAH YAA MUTAKABBIR YAA QAHHAAR YAA SYAAFII YAA FATTAH YAA MUTAKABBIR YAA QAHHAAR YAA SYAAFII YAA FATTAH YAA MUTAKABBIR YAA QAHHAAR YAA SYAAFII YAA FATTAH YAA MUTAKABBIR YAA QAHHAAR YAA SYAAFII YAA FATTAH YAA MUTAKABBIR YAA QAHHAAR YAA SYAAFII YAA FATTAH YAA MUTAKABBIR YAA QAHHAAR YAA SYAAFII YAA FATTAH YAA MUTAKABBIR YAA QAHHAAR YAA SYAAFII

YAA FATTAH YAA MUTAKABBIR YAA QAHHAAR YAA SYAAFII YAA FATTAH YAA MUTAKABBIR YAA QAHHAAR YAA SYAAFII YAA FATTAH YAA MUTAKABBIR YAA QAHHAAR YAA SYAAFII YAA FATTAH YAA MUTAKABBIR YAA QAHHAAR YAA SYAAFII YAA FATTAH YAA MUTAKABBIR YAA QAHHAAR YAA SYAAFII YAA FATTAH YAA MUTAKABBIR YAA QAHHAAR YAA SYAAFII YAA FATTAH YAA MUTAKABBIR YAA QAHHAAR YAA SYAAFII YAA FATTAH YAA MUTAKABBIR YAA QAHHAAR YAA SYAAFII YAA FATTAH YAA MUTAKABBIR YAA QAHHAAR YAA SYAAFII

YAA FATTAH YAA MUTAKABBIR YAA QAHHAAR YAA SYAAFII YAA FATTAH YAA MUTAKABBIR YAA QAHHAAR YAA SYAAFII YAA FATTAH YAA MUTAKABBIR YAA QAHHAAR YAA SYAAFII YAA FATTAH YAA MUTAKABBIR YAA QAHHAAR YAA SYAAFII YAA FATTAH YAA MUTAKABBIR YAA QAHHAAR YAA SYAAFII YAA FATTAH YAA MUTAKABBIR YAA QAHHAAR YAA SYAAFII YAA FATTAH YAA MUTAKABBIR YAA QAHHAAR YAA SYAAFII YAA FATTAH YAA MUTAKABBIR YAA QAHHAAR YAA SYAAFII YAA FATTAH YAA MUTAKABBIR YAA QAHHAAR YAA SYAAFII

YAA FATTAH YAA MUTAKABBIR YAA QAHHAAR YAA SYAAFII YAA FATTAH YAA MUTAKABBIR YAA QAHHAAR YAA SYAAFII YAA FATTAH YAA MUTAKABBIR YAA QAHHAAR YAA SYAAFII YAA FATTAH YAA MUTAKABBIR YAA QAHHAAR YAA SYAAFII YAA FATTAH YAA MUTAKABBIR YAA QAHHAAR YAA SYAAFII YAA FATTAH YAA MUTAKABBIR YAA QAHHAAR YAA SYAAFII YAA FATTAH YAA MUTAKABBIR YAA QAHHAAR YAA SYAAFII YAA FATTAH YAA MUTAKABBIR YAA QAHHAAR YAA SYAAFII YAA FATTAH YAA MUTAKABBIR YAA QAHHAAR YAA SYAAFII

YAA FATTAH YAA MUTAKABBIR YAA QAHHAAR YAA SYAAFII YAA FATTAH YAA MUTAKABBIR YAA QAHHAAR YAA SYAAFII YAA FATTAH YAA MUTAKABBIR YAA QAHHAAR YAA SYAAFII YAA FATTAH YAA MUTAKABBIR YAA QAHHAAR YAA SYAAFII YAA FATTAH YAA MUTAKABBIR YAA QAHHAAR YAA SYAAFII YAA FATTAH YAA MUTAKABBIR YAA QAHHAAR YAA SYAAFII YAA FATTAH YAA MUTAKABBIR YAA QAHHAAR YAA SYAAFII YAA FATTAH YAA MUTAKABBIR YAA QAHHAAR YAA SYAAFII YAA FATTAH YAA MUTAKABBIR YAA QAHHAAR YAA SYAAFII

YAA FATTAH YAA MUTAKABBIR YAA QAHHAAR YAA SYAAFII YAA FATTAH YAA MUTAKABBIR YAA QAHHAAR YAA SYAAFII YAA FATTAH YAA MUTAKABBIR YAA QAHHAAR YAA SYAAFII YAA FATTAH YAA MUTAKABBIR YAA QAHHAAR YAA SYAAFII YAA FATTAH YAA MUTAKABBIR YAA QAHHAAR YAA SYAAFII YAA FATTAH YAA MUTAKABBIR YAA QAHHAAR YAA SYAAFII YAA FATTAH YAA MUTAKABBIR YAA QAHHAAR YAA SYAAFII YAA FATTAH YAA MUTAKABBIR YAA QAHHAAR YAA SYAAFII YAA FATTAH YAA MUTAKABBIR YAA QAHHAAR YAA SYAAFII

YAA FATTAH YAA MUTAKABBIR YAA QAHHAAR YAA SYAAFII YAA FATTAH YAA MUTAKABBIR YAA QAHHAAR YAA SYAAFII YAA FATTAH YAA MUTAKABBIR YAA QAHHAAR YAA SYAAFII YAA FATTAH YAA MUTAKABBIR YAA QAHHAAR YAA SYAAFII YAA FATTAH YAA MUTAKABBIR YAA QAHHAAR YAA SYAAFII YAA FATTAH YAA MUTAKABBIR YAA QAHHAAR YAA SYAAFII YAA FATTAH YAA MUTAKABBIR YAA QAHHAAR YAA SYAAFII YAA FATTAH YAA MUTAKABBIR YAA QAHHAAR YAA SYAAFII YAA FATTAH YAA MUTAKABBIR YAA QAHHAAR YAA SYAAFII

YAA FATTAH YAA MUTAKABBIR YAA QAHHAAR YAA SYAAFII YAA FATTAH YAA MUTAKABBIR YAA QAHHAAR YAA SYAAFII YAA FATTAH YAA MUTAKABBIR YAA QAHHAAR YAA SYAAFII YAA FATTAH YAA MUTAKABBIR YAA QAHHAAR YAA SYAAFII YAA FATTAH YAA MUTAKABBIR YAA QAHHAAR YAA SYAAFII YAA FATTAH YAA MUTAKABBIR YAA QAHHAAR YAA SYAAFII YAA FATTAH YAA MUTAKABBIR YAA QAHHAAR YAA SYAAFII YAA FATTAH YAA MUTAKABBIR YAA QAHHAAR YAA SYAAFII YAA FATTAH YAA MUTAKABBIR YAA QAHHAAR YAA SYAAFII

YAA FATTAH YAA MUTAKABBIR YAA QAHHAAR YAA SYAAFII YAA FATTAH YAA MUTAKABBIR YAA QAHHAAR YAA SYAAFII YAA FATTAH YAA MUTAKABBIR YAA QAHHAAR YAA SYAAFII YAA FATTAH YAA MUTAKABBIR YAA QAHHAAR YAA SYAAFII YAA FATTAH YAA MUTAKABBIR YAA QAHHAAR YAA SYAAFII YAA FATTAH YAA MUTAKABBIR YAA QAHHAAR YAA SYAAFII YAA FATTAH YAA MUTAKABBIR YAA QAHHAAR YAA SYAAFII YAA FATTAH YAA MUTAKABBIR YAA QAHHAAR YAA SYAAFII YAA FATTAH YAA MUTAKABBIR YAA QAHHAAR YAA SYAAFII

@KWA,2016

Categories: >>PERPUSTAKAAN UTAMA | 6 Komentar

AMALAN MEMBUAT HIDUP MUSUH PORAK PORANDA JARAK JAUH


WIRIDKAN 100  X TIAP MALAM —SEMAKIN BANYAK MALAM SEMAKIN KUAT PENGARUHNYA— DENGAN MEMBAYANGKAN WAJAH MUSUH. BERIKUT WIRIDNYA:

Bismillahir Rahmaanir Rahiim.
 Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah Lagi Maha Penyayang.

1.     Idzal samaa-un fatharat.
Apabila langit itu pecah.

2.  Wal idzal kawaakibun tatsarat.
Dan apabila bintang-bintang itu berjatuhan.

3.   Wa idzal bihaaru fujjirat.
 Dan apabila lautan itu diluapkan.
 
 4.   Wa idzal qubuuru bu’tsirat.
 Dan apabila kuburan-kuburan itu dibongkar.
 
 5.    ‘Alimat nafsum maa qaddamat wa akhkharat.
 Maka setiap jiwa mengetahui terhadap apa (kebaikan) yang telah dilakukan dan yang dilengahkan.
 
6. Yaa ayyuhal insaanu maa gharraka birabbikal kariim

 Wahai manusia, apakah yang memperdayakanmu (untuk durhaka) terhadap Tuhanmu Yang Maha Pemurah.

SURAT AL INFITHAAR  AYAT 1-6 INI DIBACA 100 X DALAM HITUNGAN SEKALI DUDUK.

EFEK DARI AMALAN INI BANYAK SEKALI MACAMNYA: mISALNYA… MUSUH HIDUPNYA AKAN SIAL. MUSUH AKAN TERKENA SAKIT YANG TAK KUNJUNG DISEMBUHKAN, APABILA DIA BERUMAH TANGGA MAKA RUMAH TANGGANYA BUBAR/CERAI. EKONOMINYA MORAT MARIT/ PENGHASILANNYA AKAN MENURUN DAN APABILA JOMBLO/SINGLE MAKA DIA TIDAK MENIKAH SEUMUR HIDUP (ADA TAMBAHAN SARANA MISALNYA BENDA-BENDA PRIBADINYA HARUS DIPEGANG SELAMA WIRID) DAN MASIH BANYAK VARIASI LAGI.

AMALAN INI HANYA UNTUK MENAMBAH WAWASAN PENGETAHUAN SAJA DAN ALANGKAH ELOKNYA BILA TIDAK DIGUNAKAN. SEBAB MUSUH ITU SEJATINYA ADALAH DIRIMU SENDIRI YANG BERASAL DI DALAM KEDENGKIAN HATI KITA.

MOHON DISIKAPI SECARA ARIF DAN BIJAKSANA.  TERIMA KASIH DAN SALAM PASEDULURAN .

@KWA,2016

Categories: MEMBUAT HIDUP MUSUH PORAK PORANDA | 39 Komentar

INTISARI AJARAN DALAM FENOMENA PERTEMUAN PANEMBAHAN SENOPATI DAN KANJENG RATU KIDUL DALAM KEPUSTAKAAN BUDAYA JAWA


krkpsenopatikwaBUDAYA JAWA MEMILIKI KEKAYAAN KEPUSTAKAAN YANG DITULIS OLEH PARA EMPU DALAM BENTUK BABAD-BABAD, SERAT -SERAT, TEMBANG-TEMBANG DAN SEBAGAINYA. SALAH SATUNYA ADALAH “BABAD TANAH JAWA  PANEMBAHAN SENOPATI” YANG MENCERITAKAN PERTEMUAN ANTARA PANEMBAHAN SENOPATI RAJA  MATARAM  PERTAMA DENGAN KANGJENG RATU KIDUL, RATU PANTAI SELATAN.

APAKAH INI NYATA ATAU HANYA FIKSI, WALLAHAU A’LAM. YANG JELAS PARA EMPU YANG MENULIS BABAD INI PASTI ADA TUJUANNYA YAITU AGAR PEMBACA MENGAMBIL INTISARI MAKNANYA BAGI KEHIDUPAN SEHARI-HATI. YAITU AGAR KITA HATI-HATI DAN TIDAK TERBUAI KEDUNIAWIAN: MABUK DUNIA-MABUK KEKUASAAN. APALAGI BILA KEKUASAAN, KESAKTIAN DAN KEKUATAN ITU DIRAIH DENGAN CARA-CARA YANG TIDAK WAJAR. MISALNYA BERKOALISI DENGAN PARA MAKHLUK HALUS.

FILSAFAT JAWA BERBEDA DENGAN FILSAFAT BARAT YANG KAKU KETAT DAN KERING KARENA HANYA BERTEORI DAN KADANG SEAKAN TERLEPAS DARI KEHIDUPAN SEHARI-HARI. SEMENTARA FILSAFAT JAWA LEBIH KE ARAH FILSAFAT PRAKSIS KEHIDUPAN. FILSAFAT JAWA BIASANYA DIBUNGKUS DENGAN BUMBU MITOLOGI, AGAR LEBIH ENAK DIBACA DAN TIDAK MEMBOSANKAN.

BERIKUT ADALAH  “BABAD TANAH JAWA  PANEMBAHAN SENOPATI” YANG VERSI ASLINYA ADALAH BERBAHASA JAWA (KROMO INGGIL) YANG KAMI AMBIL DARI KEPUSTAKAAN BUDAYA JAWA ALANG ALANG KUMITIR (terima kasih untuk yang mulia Mas kumitir) DENGAN TUJUAN AGAR MENAMBAH PERBENDAHARAAN PENGETAHUAN KITA TENTANG BUDAYA JAWA SEBAGAI SALAH SATU BUDAYA DI ANTARA SEKIAN RIBU BUDAYA YANG ADA DI NUSANTARA.

WUJUD KERAJAAN PANTAI SELATAN

Suatu ketika dalam pengembaraan spiritualnya saat bermeditasi di atas sebuah Batu di Cepuri Parangkusumo Yogyakarta, Panêmbahan Senopati akhirnya ditemui Kanjeng Ratu Kidul. Awalnya Panêmbahan Senopati melihat wujud Kanjeng Ratu seperti wanita tua. Tiba-tiba wujudnya berubah sangat menarik hati, sehingga Senopati terpesona dalam hati, menyaksikan wujud bagaikan Dewi Ratih. Keduanya saling mencuri pandang malu-malu.

Mereka berjalan bergandengan di atas laut dan sesampai  di istana mereka saling melepas genggaman tangan dan duduk di atas ranjang keemasan. Saat ratu menggeliat, Panembahan Senopati terus melirik. Kepada wujud Ratu  yang memikat hatinya mendadak teringat, jikalau ia bukanlah jenis manusia. Seketika dialihkannya perhatian untuk melepaskan diri dari hasrat, dengan berkeliling melihat-lihat keasrian istana.

Mendapati pemandangan asri, sebuah ranjang kencana berasal dari jaman dulu, saat terjadi perebutan, antara Gathutkaca dan Kera Putih, berkelahi di angkasa, ranjang terlempar ke samudera.  Jatuh di tengah-tengah samudera raya, yang dikuasai oleh Jin, tampak juga halaman yang tertata asri, yang ditebarani intan indah dan megah, biduri mutiara merah delima, emas dan jamrud berwarna-warni.

Lantainya-pun dihiasi, dengan emas yang dibuat begitu indah, dan diselingi hiasan dari kencana, serta ditambah perak putih dipinggirnya, dibentuk berwujud bunga-bunga mekar, indah terukir gemerlap. Terlihat sejuk berkilauan, hiasan ranjang tersebut, sinarnya menggapai angkasa, gemerlapnya hiasan megah, membuat redup cahaya matahari, tersaingi keindahan istana. Gapuranya besar dan tinggi, puncaknya berhias intan yang indah, bersinar memancarkan cahaya, bagai sinar matahari, jika malam seperti siang, siang maupun malam tiada beda.

Cukup sudah menikmati keindahan istana, nampak Sang Panembahan Senapati, terus dikuntit Sang Ratu Wanita, yang tidak mau berjauhan terus mengikut dibelakang, tak mau berpisah bagai pasangan abadi, (Sang Ratu Wanita) berbuat demikian agar supaya mendapatkan cinta. Apabila diperhatikan wajah Sang Ratu, sudah berubah bagai penari surga, berna,a Sang Dyah Wilutama karena bercahaya manakala disaksikan, dan setiap gerakannya sangat memikat birahi. Sebuah kecantikan yang benar-benar menawan hati.

Kesaktian Sang Ratu dalam merubah wujud, sehari mampu berubah wujud tujuh kali, kecantikannya tiada cacat, kadang terlihat sangat-sangat tua, manakala muncul matahari, terlihat Sang Dyah bagai perawan suci. Apabila tengah memberi perintah, menakutkan bagaikan seorang janda yang kehilangan anaknya karena mati, ketika menjelang pagi hari, wujud seperti bidadari, saat matahari sepenggalah bagai (putri) Dyah (dari kerajaan) Ngurawan, seorang pemudi yang tetap cantik walau sedang bersusah hati.

Ketika menjelang tengah hari Sang Kusuma Ayu (Sang Bunga Cantik), mirip putri dari (kerajaan) Kedhiri, ketika matahari condong ke barat bagai Dewi Banowati, ketika menjelang asar bagai (Dewi) Ratih, genap tujuh kali sehari, apabila malam hari sangat-sangat tua sekali. Dan lagi dianugerahi kesaktiaan yang lebih, melebihi sesama Jin, mampu merubah diri seribu wujud, berwujud laki-laki pun bisa, oleh karenanya disegani diseluruh dunia, karena sangat saktinya Sang Dewi. Siapa yang tidak tunduk, seluruh mahluk halus di pulau Jawa, para Raja-nya sudah takluk semua, kepada Ratu Kidul menganggap orang tua, ditakuti dicintai dan menjadi tempat mengabdi, diberi persembahan setiap tahun.

Penguasa Gunung Merapi dan Gunung Lawu, tunduk kepada Penguasa Samudera, Penguasa Pace dan Nglodhaya, Penguasa Gunung Kelut dan Gunung Wilis, Penguasa Tuk Sanga dan Bledug, bahkan Ratu Kuwu pun mengabdi. Penguasaa Wringin Pitu dan Wringin Rubuh, Penguasa Wringin Uwok dan Wringin Putih, yang berada di Landheyan dan Hutan Roban, semua telah takluk kepada Penguasa Samudera, Penguasa Kabareyan Penguasa Tegal Layang, Penguasa di Pacitan dan Penguasa (Kahyangan) Dlepih.

Merata yang ada di seluruh Jawa, para Raja dari mahluk halus, semua menghaturkan persembahan pengabdian, hanya daerah Galuh yang tidak takluk, karena dikuasai (Kerajaan) Guwatrusan, yang diperintah oleh Aji (Raja) Krendhawahana.

Ratu  Kidul mengajak Panembahan Senapati tengah menikmati makan bersama. Dihidangkan minuman keras dan minuman yang manis, yang melayannya adalah para wanita cantik, lengkap dengan busana mereka yang indah. Para penari bedhaya maju kedepan, alunan gending Semang berbunyi nyaring, membuat terhanyut perasaan bagi yang melihat, gemulai tarian menawan hati, banyak macam gerak tarian, berbagai tarian yang indah semua.

Panembahan Senopati terpesona melihatnya, melihat gerakan Dyah yang tengah ikut menari, gerakannya menyatu seiringin alunan gamelan, ditambah untaian merdu bunyi gamelan yang menentramkan hati, hingga lama terpesona, melihat wujud para Dyah yang cantik-cantik.

Tiada lagi yang diingini, hanya Ratu Wanita semata, hasrat hati semakin membara, karena hanya Sang Dyah yang paling cantik, dibandingkan dengan para penari yang lain, cahayanya bagaikan cahaya emas yang murni.

Hasrat hati coba untuk dia tutupi, tiada begitu mengumbar tatapan mata, tiada henti terus menahan hasrat, demikianlah Sang Panembahan Senopati, terus mengingatkan diri bahwa bukan dari jenis Teringat seketika, keinginannya yang semakin menjadi, tidak akan terlaksana, kehendaknya untuk menguasai dunia (jika dia tetap berada di istana ini), akan tetapi Ratu Wanita bisa membaca, apa yang tengah dipikirkan Panembahan Senopati.

Berbicara dalam hati, Ratu Penguasa samudera, Jikalau aku tidak menikah, tidak seharusnya aku seorang wanita, lebih baik aku adalah seorang pria, sebab tidak bakalan ada yang menggangguku. Sudah menjadi niatku dulu, aku tidak akan menikah selamanya, demi mengharapkan keinginan yang lebih, tetapi ternyata malah sia-sia, coba aku akan merayunya, aku akan mencairkan keangkuhannya.

Manusia Agung dari Mataram (Panembahan Senopati), agar supaya melupakan negaranya, dan kerasan tinggal didalam samudera. Terlontar senyum Sang Dewi, sembari menundukkan kepala seolah tiada peduli, namun sesungguhnya hati Panembahan Senopati tergetar dibuatnya.

Mendapati lirikan manja Sang Rum (Yang Wangi/Ratu Kidul), berdebar tiada menentu hatinya, lantas berkata pelan, Duh cantik sesungguhnya keinginanku sekarang, sudah terlalu lama aku menyaksikan, keindahan istana ini.

Akan tetapi tempat tidurmu aku belum melihatnya, bagaimanakah wujudnya? (Sang) Dyah menjawab Tidak bagus wujudnya, jika ingin melihat silakan, karena sesungguhnya ranjang tersebut tiada yang memiliki, selama ini saya bagaikan sekedar menjadi penjaga ranjang semata. Segera mereka beranjak bersama, Sang Panembahan Senopati dan sang Ratu Dewi, masuk ke tempat tidur yang nyaman, keduanya pelahan duduk, diatas permadani yang indah, Panembahan Senopati kagum melihatnya.

Bermacam-macan hiasan Sri Kumendhung terpajang, sungguh bagai surga yang berpindah tempat (ke bumi), Sang Dyah berkata kepada sang pria Panembahan Senopati), Inilah keadaannya, tempat tidur seorang janda yang kesepian, sunyi seolah tiada yang memiliki.

Sang pria (Panembahan Senopati) tersenyum bisiknya manis, Kamu terlalu merendah Yayi (dinda), kamu bilang dirimu seorang janda, padahal sesungguhnya lebih dari itu, seluruh istana para Raja, tiada menandingi istana yayi (dinda). Bahkan hiasan Sri Kumendhung, baru kali ini aku melihatnya, ditambah tempat tidur yang sangat indah, sesuai benar dengan pemiliknya, sangat cantik dan sangat menarik, sungguh pandai sekali kamu menatanya.

Menjadi malas aku untuk pulang, ke negeri Mataram, terpesona setelah menyaksikan istana, tapi kekuranganmu hanya satu, istana seindah ini tiada seorang pria-pun yang mendampingimu, apabila memiliki seorang pria pendamping itu lebih bagus lagi.

Seorang wanita yang cantik, seharusnya didampingi oleh laki-laki yang tampan, yang setia dan bisa membimbing seorang istri, sedang sang wanita patuh kepada suami, dan suka memiliki banyak anak, Panembahan Senopati dilirik tajam dengan lirikan manja.

Ratu lantas sengaja duduk dengan menundukkan kepala, sembari tersenyum ujarnya lembut, Lebih baik tidak ada lelaki, apa keuntungannya menikah? Lebih enak merawat diri sendiri, tidak ada yang membuat kerepotan.

Lebih enak tidur bergulingan, diatas ranjang dengan hanya ditemani guling, dan tidak harus dilayani melayani siapapun, Panembahan Senapati tersenyum dan berkata, Benar Yayi (dinda) apa yang kamu katakan, memang lebih enak sendirian.

Hanya yang membuat aku menjadi heran oh Nimas, ada seorang yang tengah sendirian ditepi pantai, seorang lelaki yang sangat menghiba hati, tengah berjalan menghibur diri dipinggir pantai, malahan digandeng dengan paksa, dibawa mampir ke dalam istana.

Ratu  Kidul terpana malu mendengar ucapan tersebut, benar-benar mengena dihatinya, seketika dicubitnya Panembahan Senopati, melirik manja sembari tersenyum dan tak dapat berkata apa-apa, Panembahan Senopati terpikat hatinya, lantas berucap lirih.

Lebih gampangnya oh permata hatiku, kedatanganku di tengah samudera ini, karena aku tengah menderita sakit, sudah lama tak mendapatkan obat, bagaimana caranya, mengobati sakit cinta? Berkeliling dunia aku telah berusaha, mencari obat penyembuh, tiada lain hanya engkau oh permataku, yang pantas disebut sang tabib, karena mampu mengobati sakit cintaku, dengan kasih tulusmu kepadaku.

Sang Dyah sengaja cemberut, tahu maksud Panembahan Senapati, tahu watak laki-laki yang suka berbohong merayu, dalam hati Sang Dewi berkata, Ini orang hanya bermanis-manis dimulut saja, perkiraanku pasti tidak salah.

Meminta obat katanya? Padahal bukan sakit cinta maksud dia sesungguhnya, tapi sakit karena berkeinginan besar untuk menjadi seorang Raja, segan karena harus berhadapan dengan orang tua (angkat), yang sudah menganggap dirinya bagai anak sendiri, yaitu dia penguasa negara Pajang.

Akhirnya (Sang) Dyah berkata: apa kekurangan dari Sang Tampan, yang duduk di Mataram, sehingga harus berkelana ditepian samudera, tidak bisa aku memberikan obat penyembuh, kepada yang tengah sakit hatinya. Sungguh saya bukan dukun, api cinta dalam hati, tidak akan menyebabkan kematian bukan? Bukankah (engkau kangmas) bakal menjadi Raja yang besar, yang menguasai tanah Jawa, ditakuti oleh sesama Aji (Raja).

Sang penguasa Mataram, masa kekurangan wanita, yang cantik-cantik? Para kawula wanita yang seperti apapun, bersedia memasrahkan diri, jika memang (kangmas) inginkan. Selama ini dalam kesendirian saya, memang ingin memiliki seorang suami, yang bisa membantu mengabdikan diri kepada kerajaan, bagaimanapun juga pengabdian seorang wanita sebagai Ratu, tak akan mampu menyamai seorang pria, karena terjerat oleh kemben busana kewanitaannya (terbatas karena kodrat kewanitaannya).

Namun apabila memang hamba dibutuhkan, serta hamba diijinkan mendampingi, maka saya rela melayani Gusti (Penguasa) dari Mataram, demikianlah Sang Panembahan Senapati, begitu mendengar sabda Sang Dyah, yang sangat-sangat manis tersebut.

Semakin tak bisa menahan hasrat, digenggamnya tangan (Sang) Dyah dengan lembut, Sang Ratna (Intan) berkata sendu, Aduh sakit Pangeran, apa sih maunya, menggenggam jari jemari hamba? Jari jemari hamba kecil dan rapuh bagai daun kelor, kalau sampai putus siapa yang akan mengganti, walaupun Manusia Agung dari Mataram, tidak akan mungkin bisa menciptakan jari-jemari, sang pria (Panembahan Senopati) tersenyum pelan bisiknya, Jangan marah cantik.

Aku menggenggam tanganmu, jangan salah sangka, hanya ingin melihat cincin yang kamu kenakan, Ratu Dyah berkata lirih, Kalau memang hanya ingin melihat cincin yang hamba kenakan, dari kejauhan sebetulnya bisa kan? Pasti (kangmas) berbohong, hanya berpura-pura menggenggam jari, padahal menginginkan sesuatu yang lain, terlihat jelas gemetaran, sebelum terlanjur jauh, berikanlah hamba janji cinta yang bisa meyakinkan hamba.

Sang pria (Panembahan Senopati) tersenyum lantas bernyanyi, suaranya merayu merdu menghanyutkan hati, Ratu Wanita terpikat, kepada sang pria (Panembahan Senopati) cintanya meluap, senyum manisnya memabukkan, Panembahan Senopati luluh hatinya.

Ratu Wanita ditarik lembut, dipangku dengan mesranya, Sang Dyah tidak menolak, apa yang diinginkan hati (Panembahan Senopati), hasrat alami seluruh makhluk, yang diimpikan sekarang terwujud. Bagaikan keinginan Sang Hyang Wiku, yang menguasai seluruh alam, begitulah Panembahan Senopati tiada yang bisa menghalangi kehendaknya, terhanyun kecantikan Ratu Wanita, terus ditatapnya dia yang ada dipangkuan, bagai melihat boneka cantik yang indah. Dibopong menuju ketempat tidur, ditutuplah kelambu, sang pria (Panembahan Senopati) melepaskan hasrat, bagaikan kumbang, yang menikmati bunga yang tengah mekar, menikmati sari yang berada ditengah kuncup kelopak bunga gading.

Jin Perayangan dan Makhluk halus, diluar berebut ingin mengintip, ingin melihat Gusti-nya yang tengah memadu hati, terdengar suara mereka berbisik berisik, ketika Sang Dyah terkena senjata, tak terasa merintih mengaduh lirih. Terkejut kesakitan manakala tertimpa hasrat, Sang Dyah pecahlah mahkotanya, menyemburat membasahi tempat tidur, berpautan erat jatuhlah sari-sari kenikmatan, tercium bau wangi membersit, mengiringi pecahnya mahkota penguasa istana samudera.

Maka terbaring lemaslah (Sang) Dyah diatas ranjang wangi, seolah tanpa kekuatan, Panembahan Senopati iba melihatnya, dipeluknya Sang Dyah, dibopong menuju tempat mandi, sehabis mandi keduanya duduk berdampingan.  (Sang) Dyah tiduran diatas pangkuan sang pria (Panembahan Senopati), tiada henti-henti terus dicium, oleh sang pria Panembahan Senopati, mengerang mendesis Sang Retna Adi ( Sang Intan yang indah), berpelukan erat keduanya, dipenuhi kenikmatan asmara yang indah.

Singkat diceritakan, kedua insan yang tengah memadu hasrat, hingga sampai tujuh hari, keberadaan Panembahan Senapati didalam samudera, genap tujuh hari berkehendak untuk pulang, kembali ke negara Mataram.

Sang Pria (Panembahan Senopati) bersabda dengan berat hati, Aduh Gusti (Ayu) emas merahku, semoga kamu senantiasa bahagia, aku pamit hendak pulang ke Mataram, sudah terlampau lama berada di (istana) samudera, pastilah aku dinanti-nantikan.

Oleh rakyatku di Mataram, sudah lama menjaga negeri sendirian (tanpa ditemani Raja-nya), Ratu Wanita begitu mendengar, bahwa Sang Pria (Panembahan Senopati) berpamitan hendak pulang ke negerinya, seketika meluap kesedihannya, air matanya keluar deras. Belum puas hasrat hati, kepada Sang Pria yang dicintainya, segera beranjak pelan dari pangkuan, berat dia berkata, Betapa indah rasanya, apabila cinta bisa berimbang saling memberi.

Cinta ini akan terasa lebih sempurna, apabila aku bisa memenuhi, dan memberikan apapun yang dikehendaki kangmas, pasti akan berguna apabila aku bisa membantu, Sang Pria (Panembahan Senopati) menyadari apabila (Sang Ratu Kidul) tengah berniat dalam hati untuk membantunya, hal itu tampak dari ucapan Sang Retna Adi (Sang Intan yang Indah.

Pelan-pelan melepas kain setagen (kain pengikat kemben), berhias bunga-bunga emas, (Sang) Dyah segera dipeluk, dibawa berkeliling, menikmati indahnya taman, sembari terlantun kidung Mijil. Aduh emas merahku janganlah gundah dihati, buktikanlah, aku tidak akan lupa kepadamu, dari hidup sampai mati yayi (dinda), pengabdian cintaku, tulus dan murni.

Walaupun aku banyak memiliki istri, yang sangat cantik-cantik, besarnya cintaku hanya untukmu, yang menjadi cinta utamaku, hanya kamu Gusti (Ayu), aku benar-benar tergila-gila.  (Tidakkah kau lihat) besarnya hasratku diatas ranjang kepadamu, tak lepas-lepas aku memangkumu, hanya saja aku meminta buktikan cintamu, pastilah aku akan tetap menderita sakit, yang tak mendapatkan penyembuhan, hanya kamu obat penyembuhku. Lenyapkanlah gundahnya hati yang menderita, sungguh aku nantikan, walau harus aku menunggu disini, aku akan melakukannya, akan tetapi bagaimana yayi (dinda), dengan para rakyatku?

Bagaikan tertusuk jarum pemintal hati Ratu Wanita, terperangah oleh kata-kata, ucapan manis sang pria (Panembahan Senopati) yang manis, merebaklah cinta Sang Dewi sepenuhnya, kepada Sang pria (Panembahan Senopati0 pelahan dia berkata, Turunkan aku Pangeran.

Sang Dewi telah turun dari pangkuan, pelan duduk berjajar, berkata lagi Sang Dyah kepada Sang pria (Panembahan Senopati), Mohon maafkan hamba, karena telah berani, kepada seorang pria yang hamba berbakti kepadanya. Tiada lain permintaan hamba, hanyalah kesungguhan cinta, jangan sampai terputus hingga anak cucu kangmas nanti, seterusnya menjadi kekasihku, Sang pria (Panembahan Senopati) memeluk sembari berkata, dan memangku kembali serta menciumi mesra.

Baiklah emas merahku janganlah ragu, kelak pasti akan terjadi, lagi Sang Dyah berkata, Terima kasih Pangeran apabila tengah menghadapi bahaya, ditengah peperangan, agar supaya saya bisa secepatnya membantu.

TELUR LUNGSUNG JAGAD DAN MINYAK JAYENG KATON

Sang Dyah mendekatkan wajahnya kepada sang pria (Panembahan Senopati) sembari pelan memberikan petunjuk, sebagai akhir pertemuan mereka, Bersendekaplah kangmas sembari menahan nafas, jejakan kaki ketanah sebanyak tiga kali, pastilah hamba akan datang, bersama para prajurid makhluk halus.

Dan hamba haturkan agar senantiasa unggul dalam peperangan, agar supaya sakti tak terkalahkan, sebutir Telur bernama Lungsung Jagad, makanlah akan besar khasiyatnya, panjang usia, kekuatan tersembunyi akan timbul.

Dan juga Minyak bernama Jayengkatong, pemberian Dewa kepada hamba. Kedua benda telah dipasrahkan kepada Sang pria (Panembahan Senopati), Panembahan Senapati setelah menerima, sangat gembira dihati, karena mendapat sarana ampuh untuk keunggulan dalam perang.

Kembali Sang Dyah memberikan petunjuk kepada sang pria (Panembahan Senapati), Ilmu Keraton Pantai Selatan, agar supaya disegani, seluruh makhluk halus, Panembahan Senapati telah memahami semua petunjuk, setelah itu Sang Dewi, memeluk erat-erat Sang pria (Panembahan Senopati).

Aduh Pangeran jika bersedia, memenuhi permintaan hamba, tundalah kepulangan kangmas, menurut hamba belum saatnya, bagaimana dengan saya nanti, apabila paduka pulang sekarang?

Sang Raka (Kanda) menghibur hati Sang Yayi (Dinda), Aduh emas merahku, cinta kasihku sudah jelas kamu buktikan, bahkan petunjukmu telah aku terima yayi (dinda), bagaimanapun juga aku memaksakan diri untuk pamit, berpisah dengan engkau emas merahku. Jangan tersedihkan oleh karena rindu emas merahku, relakanlah aku, pulang ke Kerajaan Mataram, tidak akan lama aku pasti kembali, ke Istana Samudera, menemui engkau oh emasku. Sungguh sebenarnya tidak tahan aku, berpisah dengan emasku, hanya karena berat tanggung jawab seorang Raja yang memiliki rakyat (maka terpaksa aku harus pulang), Sang Dyah menjatuhkan kepala ke pangkuan dan berkata, Jangan terlalu lama oh Pangeran, segeralah kembali.

Dan pada akhirnya waktu perpisahan tiba, segera keluar Sang Anom (Muda), Ratu Kidul melepas kepulangannya, beriringan sembari bergandeng tangan, tiba di Srimenganti, segera sang pria (Panembahan Senopati) berkata manis.

Sudah cukup aku terima bakti cintamu yayi (dinda), dengan mengantarkan kepergianku, sebelum berpisah aku minta bukti cintamu sekali lagi, sebagai tumbal terampuh untuk mengobati kerinduanku. Sang Dyah menuruti, permintaan Sang pria (Panembahan Senapati).

Segera pasrah menyediakan bibir indahnya, bertaut bibir dan gigi pelan, gemas digigit bibir ranumnya, Sang Dyah terkejut namun segera membalas ciuman, selesailah yang tengah dimabuk cinta, lantas berpisah.

Panembahan Senopati telah sampai diluar, istana Sang Awet Muda (Kangjeng Ratu Kidul), sirna seketika wujud istana dan berganti samudera, Panembahan Senapati saat menapaki air laut, bagaikan berjalan ditanah rata, dia berjalan terus. Sesampainya Panembahan Senopati dipesisir pantai, waspada seketika, manakala melihat siapa yang tengah bertafakur di pantai Parangtritis, jelas terlihat adalah Sang Guru, tak lain adalah Sunan Adilangu (putra Sunan Kalijaga).

PANEMBAHAN SENOPATI TERSADARKAN DIRI

Cepat Panembahan Senapati berlari, mendekati Sang Guru yang mulia, bersujud dikakinya, lantas mencium tangan Sang Yogi, selesai berbakti, segera duduk bersila takjim. Sunan Adilangu segera berkata pelan, Anakku sangat bersyukur diriku, bisa bertemu denganmu disini, sebab aku memang ingin memberikan nasehat kepadamu, tentang perbuatan yang patut, agar selamat senantiasa dirimu.

Dirimu diberi anugerah digdaya dan sakti, melebihi manusia umumnya, terbukti ditengah samudera, kamu berjalan diatasnya tanpa terbasahi oleh air sedikitpun, bagaikan kamu berjalan di daratan, walau begitu janganlah sombong.

Riya’ (Pamer) Kibir (Sombong) congkak itu semua tidak sepatutnya, larangan Hyang Manon (Yang Maha Agung), juga larangan para Nabi Wali dan Auliya’ semua, akan mendapatkan neraka sebagai kutuk Hyang Widdhi, begitulah larangan Yang Maha Tersembunyi, tentang keangkuhan.

Manusia yang merasa tinggi dan sombong, siapa yang bisa menandingi aku, benar-benar larangan Hyang Suksma (Yang Maha Samar) Sang Penguasa Sejati, kesombongan, suka pamer serta keangkuhan, agar supaya dipuji lebih dari yang lain, lebih terkenal dari sesama.

Seolah-olah mempersamakan dirinya dengan Hyang Widdhi, manusia yang seperti itu, terkenal di dunia dan kerajaan lainnya, keangkuhan dan ingin memperlihatkan dirinya terus menjadi, agar supaya kagum yang melihat, agar supaya senantiasa dipuji-puji.

Setiap tindakan sudah tidak memiliki pertimbangan, hanya menuruti kepuasan diri sendiri, janganlah seperti itu anakku, ingatlah akan tujuan hidup yang sesungguhnya oh Senapati, dan aku nasehatkan satu hal lagi, bahwa manusia yang benar-benar memegang ilmu. Janganlah bersikap seperti langit, seperti bumi seperti gunung, dan seperti samudera, yang dimaksud bersikap seperti langit, adalah seorang manusia, yang mengandalkan keluhurannya.

Jangan bersikap seperti bumi yang tebal dan luasnya melebihi apapun, jikalau manusia, bersikap seolah tidak ada lagi yang melebihi luasnya kekuasaannya, bersikap seperti gunung merasa besar dan tinggi, bersikap seperti samudera merasa paling dalam pengetahuannya, dan merasa paling dahsyat ombaknya. Semua mengandalkan kedigdayaannya, bumi dan samudera, langit dan gunung adalah seumpama watak-watak jelek manusia, sudah tiada kebaikannya lagi, sesat kelakuan manusia yang seperti itu, kurang luaslah wawasannya.

Jikalau kamu menginginkan untuk menjadi Raja, menguasai seluruh orang, jangan pernah putus usahamu anakku, senantiasa berpasrah kepada Yang Maha Menguasai Bumi, heningkanlah segala keliaran batinmu, agar supaya bisa mengetahui Suksma Agung (Maha Samar Yang Agung).

Pastilah akan gampang terwujud apa yang kamu kehendaki atas kehendak (Hyang) Widdhi, buatlah terang penglihatan kesadaranmu, jangan suka bertindak seenaknya, perbanyak ibadah penuhilah perintah agama, dalam hati senantiasa diingat, agar manis jalan hidupmu.

Dan lagi anakku sungguh aku ingin bertanya, apa yang kamu dapatkan dari tengah samudera? Panembahan Senopati menjawab pelan, Yang saya peroleh, Telur Lungsung Jagad yang harus saya makan, dan Minyak Jayengkatong, kedua benda dihaturkan, Sang Wiku melihat dan berkata, Untunglah belum sempat kamu pakai, jikalau sudah kamu pakai aku tak bisa membayangkan akan menjadi apa kamu?

Hanya akan mendapatkan kesengsaraan hidup, akan gagal keinginanmu untuk menjadi Raja, gagal impianmu menguasai dunia, kamu akan tinggal di dalam samudera, tidak akan bisa pulang ke Mataram, seluruh rakyatmu tidak akan bisa melihatmu, begitu juga istri dan anakmu, karena sudah berganti alam, menjadi pasangan Ratu Kidul, hilanglah wujud manusiamu.

Dan lagi aku sungguh-sungguh bertanya, kamu jatuh hati kepada Ratu Wanita, bagaimanakah wujudnya? Panembahan Senopati menjawab pelan, Wujudnya sangat cantik, seumur hidup belum pernah hamba melihat, wanita secantik Dyah Kidul, Sang Wiku tersenyum dan berkata, Engkau jatuh cinta, terpikat wujud cantik yang sesungguhnya hanyalah sihir belaka.

Sungguh kamu belum awas, dulu aku sudah pernah memasuki Istana (samudera), cincin (Sang) Dyah aku curi, dari jari kelingking Sang Rum (Wangi), lihatlah ini anakku, terkejut Sang Panembahan Senapati, manakala melihat, wujud cincin sedemikian besarnya, sebesar tebok (tampah kecil tempat memilah butiran padi dengan kulitnya setelah ditumbuk, terbuat dari jalinan bambu : Damar Shashangka) lobang lingkarannya, Panembahan Senapati tertunduk.

Masih belum percaya dalam hati, Sunan Adi menangkap ketidak percayaan itu, bimbanglah hati Panembahan Senapati, lantas berkatalah Sang Wiku, Anakku mari kita buktikan, mumpung Ratu Wanita sedang tidur sekarang, akan terlihat wujudnya yang asli, perhatikanlah dengan seksama nanti, setelah itu Jeng Sunan dan Panembahan Senapati, berjalan ketengah samudera.

Sesampainya didalam istana samudera, Ratu Kidul didapati tengah tertidur, tubuhnya rebah dan sangat-sangat besar, bahkan terdengar bunyi dengkurannya, rambut gimbal taringnya tampak mencuat, panjangnya tiga jengkal jari, sebesar carak (ceret/tempat air minum) besarnya taring, payudaranya menggelantung turun, Panembahan Senapati ngeri melihat wujud tersebut, terpaku tak bisa bicara sepatah katapun.

Sunan Adi berkata kepada Panembahan Senopati, Anakku itulah wujud dia yang sesungguhnya, bisa berubah wujud sangat-sangat cantik hanya karena kekuatan sihir belaka, mendapat anugerah dari Hyang Agung, manakala terjaga dari tidur wujud apapun yang diinginkannya bisa dia buat, mampu merubah wujud tujuh kali, dalam sehari dengan wujud cantik yang berbeda-beda, apabila kamu sudah cukup melihat, mari kita segera pulang jangan sampai nanti dia terbangun, tidak enak dihati jadinya nanti.

Setelah itu segera beranjak pulang kedua priyayi (bangsawan) agung, sepanjang jalan Sunan (Adilangu) terus menasehati, Aku tidak bermaksud menghalangi anakku, kedekatanmu, dengan Ratu Wanita terserahlah kepadamu, sesungguhnya sudah benar apa yang kamu lakukan (sebagai seorang Raja), namun aku menyarankan, sebatas pertemanan saja (antara dua orang Penguasa), sebab dialah yang menjaga pulau Jawa, tak ada salahnya jika dimintai bantuan.

Marilah kita pulang ke Mataram, aku ingin mampir sejenak ke istanamu, setelah itu keduanya mempercepat jalan masing-masing, Sunan Adilangu, diiringi Panembahan Senapati, jalannya secepat kilat, hanya sekejap saja sudah sampai, langsung menuju ruang belakang, Sunan Adi dan sang cucu yaitu Panembahan Senapati, hendak membuktikan khasiat benda yang diperoleh dari samudera.

KI JURU TAMAN MENJADI RAKSASA MENGHUNI GUNUNG MERAPI

Tersebutlah Juru Taman Panembahan Senapati, sudah uzur usianya dan suka madat, sehingga terkena sakit batuk badannya kurus, jika kumat batuknya dia tak bisa tidur semalaman, memohon selalu kepada Hyang Widdhi, supaya diberikan kesehatan, agar diberikan panjang umur, setiap berdoa pasti seperti itu permintaannya, saat itu tak disadarinya jika Gustinya menghampiri, berusaha turun dia dari balai dengan susah payah.

Setelah duduk berkatalah Panembahan Senapati, Hai Ki Taman aku tadi melihat, engkau berdoa meminta kekuatan badan, apakah permintaanmu itu sungguh-sungguh? Meminta sembuhnya penyakitmu, meminta panjangnya usiamu, Juru Kebun (Taman) menhaturkan jawaban, Benar Gusti sungguh hamba, siang malam meminta kepada Hyang Widdhi, agar diberikan usia panjang dan kesembuhan.

Kalau memang kamu sungguh-sungguh, aku akan memberikan sarana buat hidupmu, agar supaya sirna segala penyakitmu, Ki Taman menghaturkan terima kasih, bergerak mendekat diberi telur dan diterima sudah, segera disuruh memakan mentahan, segera dimakan seketika itu juga, Ki Taman berputar-putar tubuhnya, bagaikan gangsing dan menggeram keras, suaranya bagaikan pohon yang tumbang dari tempatnya.

Seketika berubah wujudnya sangat-sangat besar, Juru Taman bagaikan gunung anakan besarnya, taring muncul dan rambut berubah gimbal terkejut (Panembahan Senapati), melihat kejadian itu sangat-sangat heran hatinya, Sang Wiku berkata kepada Panembahan Senapati, Seperti itulah kejadiannya, apabila kamu menuruti perkataan Ratu Kidul, Sang Panembahan Sena(pati) tak bisa berkata-kata, tertegun dan kecewa melihat akan hal itu, melihat wujud bagai anakan gunung.

DUA ABDI PEREMPUAN JADI ROH HALUS

Sunan Adi(langu) segera berbicara lagi, Tinggal satu benda lagi anakku buktikanlah, apa yang dinamakan Minyak Jayengkatong tersebut, Sang Panembahan Senapati menurut, lantas memerintahkan untuk memanggil, seorang emban (pelayan wanita), bernama Nini Panggung, dan seorang penabuh gamelan bernama Ki Kosa, tak berapa lama kemudian keduanya telah menghadap, Sang Panembahan Sena(pati) pelan berkata.

Bibi Panggung kamu saya panggil, berikut Ki Kosa kalian berdua akan aku coba, untuk memakai Minyak Jayengkatong, pemberian Ratu Kidul, apabila sudah memakai pasti akan menjadi sakti luar biasa, yang diperintahkan hanya menurut, tidak membantah lagi, (Nini) Panggung (dan) Ki Kosa ditetesi, (Minyak) Jayengkatong seketika tak terlihat keduanya, beralih alam menjadi siluman.

Begitu keduanya sirna tak terlihat heranlah Panembahan Senapati, ketiga abdinya berubah tidak lumrah, lantas pelan dia berkata, Hai (Ki) Kosa (dan) Bibi Panggung, kalian sekarang tidak bisa dilihat oleh mata lagi. Menjawab yang telah tak terlihat, Benarlah demikian Gusti, namun saya tidak akan pergi jauh (dari istana Mataram), semenjak saat diberi Minyak oleh Gusti, walaupun kami tak akan bisa dilihat mata.

Sunan Adi(langu) pelan menyahut, Hai kamu Ni Panggung dan si Kosa, ikhlaskanlah ini semua, sudah menjadi kehendak Hyang Agung, kalian semua dijadikan tumbal oleh Gusti kalian, kalian sekarang bukanlah manusia, sudah tidak bisa dilihat, kalian sudah berubah menjadi Jin, akan tetapi janganlah kalian meninggalkan Mataram, dampingilah Gusti kalian.

Sepertinya akan lebih baik oh anakku Senapati, apabila ketiga abdi ini aku tempatkan, (Nini) Panggung dan (Ki) Kosa, penunggu di pohon Beringin tua, sedangkan Juru Taman aku tempatkan di Gunung Merapi, memimpin seluruh makhluk halus yang ada di gunung tersebut, menjaga keamanan, menghadang musuh yang hendak merusak kerajaan, Juru Taman yang bertugas menghadapi, semua yang diperintah mematuhinya.

Ketiganya sudah menempati tempat yang diperintahkan, (Nini) Panggung (Ki) Kosa dan Juru Taman, setelah selesai membuktikan, kedua priyagung (Sunan Adilangu dan Panembahan Senapati) masuk kedalam istana, Panembahan Senapati terus terheran-heran dalam hati, hasil dari istana samudera, hampir saja membuat dia celaka salah jalan, Sunan Adi(langu) mendadak berkata, Senapati istanamu tanpa pagar pembatas, bagaikan seekor kerbau yang dibiarkan terumbar.

Tanpa kandang, oh anakku Senapati Ngalaga, hal ini adalah kepasrahan yang keliru, bukan kepasrahan kepada Allah yang benar, bahkan angkuh kerajaan Mataram, semua perbuatanmu, selalu didahului kecongkakan, bagai kerbau dan sapi tanpa kandang, menampakkan siapa yang berani dengan aku, akan memancing orang jahat dan musuh.

Kenakanlah kesadaran yang jernih (ening) dan penuh ketenangan (eneng), berjalanlah dengan hati penuh syukur dan tulus, istana dengan diberi pagar (adalah wujud kepasrahan yang benar), ibarat kamu memiliki kerbau dan sapi jika berontak hendak lepas, pegang erat keluh (tali pengikat yang ada dihidung)-nya, apabila didalam kandang, masukkanlah semuanya, kunci rapat pintu kandang, jagalah baik-baik siang maupun malam, itulah bentuk kepasrahan yang benar kepada Sang Penguasa Sejati.

Pilahlah dan pilihlah, apa saja yang pantas bagi sebuah kerajaan, yang sesuai dengan kedudukan dan kecerdasan kamu, perbanyaklah ikhtiar, dan bersandar kepada (Hyang) Widdhi, setiap tindakanmu, warnailah dengan rasa syukur, senantiasa ingat, baik saat berjalan duduk berbicara, ingatlah bahwa kamu adalah Raja.

Nanti akan aku berikan petunjuk anakku, bagaimana membangun kota agar kokoh kerajanmu, selamat sejahtera hingga nanti, ambilkan air anakku, jangan terlalu banyak air didalam kendhi secukupnya saja, Panembahan Senapati memenuhi permintaan, segera menyuruh agar mengambil, air didalam kendhi tanah, yang diperintahkan segeramengambilkan dan tak lama kembali membawa apa yang diminta, air didalam kendhi.

Lantas bergeraklah Sunan Adi(langu), sembari membawa kendhi berisi air, berjalan mengelilingi perbatasan, Panembahan Senapati mengiringi dibelakang, sembari membawa tali, untuk mengukur tanah dimana air dicurahkan, berkata Sang Wiku (Sunan Adilangu), Hai anakku Senapati, ikutilah bekas dimana air aku curahkan, bangunlah tembok kota disitu.

Karena dititahkan menjadi makhluk hidup oh anakku, jangan berhenti menjalankan hati yang dipenuhi syukur, dan seyogyanya bias memperhatikan kebutuhan, dari semua rakyatmu, perlakukan dengan kasih, manakala kurang diperhatikan, bakal mencibpatak rusauhnya kerajaan, disebabkan kurangnya perhatianmu, tidak merasa bahawa semua ini hanyalah pinjaman, pinjaman dari Yang Menguasai Alam.

Dan waspadalah selalu, manakala kamu memberikan perintah kepada seluruh rakyat, buatlah nyaman hati mereka, turutilah nasehatku, lsiramilah hati mereka denga kasih, sekarang mulailah mencetak, suruhlah orang-orang Mataram, dalam bekerja, usahakan mengerjakan sebagus mungkin, sehingga bisa bertahan lama sampai nanti.

Anakku manakala sudah sesuai dengan laku hidup yg sesungguhnya, sungguh bagaikan sudah menjadi Raja, sesuai dengan kelakuan manusia utama, menjadi wakil Hyang Suksma, menguasai alam dunia, yang bernar-benar berkuasa, kepada seluruh yang hidup, karena memang manusia seperti itulah yang berhak memiliki, dan akan kuat tanpa rintangan.

Ketahuila keberadaan (Hyang) Widdhi, oh anakku keberadaan-Nya yang sejati, sesungguhnya tak berpisah dengan segala aktifitasmu, akan tetapi tiada kamu hiraukan, bahkan tiada kamu ketahui, sangat dekat namun samar, tiada bertempat jauh disana, benar-benar nyata didepanmu, Tuhan sesungguhnya ada didepan matamu, tetapi terliputi alam dunia.

Panembahan Senapati mematuhi dan menghaturkan terima kasih atas nasehat Sunan Adilangu. Namun ia gelisah  karena terlanjur tenggelam dalam lautan asmara dengan Kanjeng Ratu Kidul. @@@

Categories: INTISARI AJARAN DALAM FENOMENA PERTEMUAN PANEMBAHAN SENOPATI DAN KANJENG RATU KIDUL DALAM KEPUSTAKAAN BUDAYA JAWA | 9 Komentar

REPORTASE BAKSOS: LAHIRKAN MANUSIA BARU DALAM DIRIMU!


Assalamualaikum wr wb.

Dunia kita adalah dunia yang dibangun dan dibingkai oleh kekuatan otak kiri (logika) yang berakibat pada kecenderungan orang dalam setiap gerak hidupnya lebih mengandalkan logika dan perhitungan rasional. Padahal kenyataan hidup yang dihadapi, begitu banyak fenomena kehidupan tidak mampu dicerna ataupun dikendalikan oleh logika. Akibat lebih jauh seringnya terjadi MASALAH HIDUP YANG BERANEKA RAGAM akibat konflik internal individu maupun konflik eksternal antar individu karena hanya mengandalkan suatu argumentasi yang diperoleh dari pemberdayaan logika belaka. Tidak banyak di antara kita yang menyadari bahwa fenomena hidup adalah adanya daya tarik menarik antara kekuatan rasional (AKAL) dan irasional (EMOSI) untuk MEMECAHKAN MASALAH / PROBLEM SOLVING.

Di bakti sosial parangkusumo 26 Desember 2015 kemarin, kita benar-benar ditantang untuk menggunakan hati nurani. Betapa tidak, saya melakukan perjalanan dari Sidoarjo ke Yogyakarta menggunakan transportasi darat. Biasanya perjalanan ditempuh sekitar 9 jam, namun kali ini 16 jam. Luar biasa macetnya!!! membuat kesabaran kita benar-benar diuji untuk menjalankan kendaraan setapak demi setapak sampai akhirnya selamat sampai tujuan. Alhamdulillah.

Tiba di Jogja, kamar hotel yang biasanya tersedia di banyak titik di kota gudeg itu harus dicari seperti mencari jarum di tumpukan jerami. Walhasil saya harus muter-muter di jogja sekian lama sampai akhirnya ada satu tempat yang bisa kita tempati walau sesaat. Setelah saya tiba duluan di Jogja, saya kabarkan titik kemacetan yang harus dihindari oleh rombongan satu  mobil yang berangkat belakangan dari markas KWA Sidoarjo.

Satu persatu peserta bakti sosial berdatangan dari berbagai penjuru. Saya membuka acara dengan sebuah diskusi tentang bagaimana seharusnya kita menggunakan dua belah otak dalam diri manusia. Otak kiri berfungsi sebagai kekuatan logika dan otak kanan berfungsi sebagai kekuatan rasa/batin/hati sehingga dua-duanya harus dimanfaatkan secara maksimal.

Agama dibangun dengan dua belahan kekuatan otak manusia itu. Perjalanan manusia adalah ibadah dalam arti yang luas meliputi syariat hakekat tarikat dan makrifat. Itu mengandaikan bahwa seseorang wajib memaknai hidupnya secara jelas dan tegas dengan menggunakan semua alat espistemologis yang ada: wahyu, ilmu pengetahuan, mata telinga, hati nurani dan akal budinya.

Kunci sukses dunia akhirat adalah bagaimana dia mengembangkan kreativitas. Dan kreativitas akan lahir bila seseorang menggunakan kekuatan otak kanannya. Untuk melatih penggunaan otak kanan, banyak cara. Salah satu  caranya adalah memilih apa saja yang alternatif yang tidak biasa dilalui dan dilakukan sehari-hari.  Masih banyak lagi cara sehingga apabila hal ini kita biasakan maka kita terbiasa untuk keluar dari pola-pola yang tetap dalam hidup kita.

“Kreativitas dekat dengan kegilaan” dan lakukan hal-hal yang gila dalam hidupmu. Jangan pernah takut dicap aneh-aneh, gendeng, edan, dan sebagainya. Kegilaan adalah laboratorium untuk mengeksplorasi  hidup semaksimal mungkin sehingga kita tahu sampai sebatas mana sesungguhnya bingkai kemampuan kita. Kita tidak akan pernah tahu batas kemampuan kita kalau belum mengetesnya sendiri. Keluarlah dari Zona Nyaman dan bergeraklah bebas!

20151225_095457-1

Semua nabi dan rasul adalah manusia-manusia yang sangat kreatif. Dia bisa mengetahui batas kemampuannya untuk hidup sehingga akhirnya Allah SWT memberikan mukjizat kepada mereka: Ibrahim A.S tidak mempan dibakar api, Muhammad SAW yang ahli bertapa di gua Hira bertemu dengan Jibril, Musa A.S bisa melewati laut tanpa tenggelam, Isa A.S bisa menghidupkan orang mati dan sebagainya.

Para nabi itu disiksa, dimusuhi, dilempari, dicaci maki dan dihina dengan permusuhan yang luar biasa yang belum pernah ada sebelumnya dalam lintasan sejarah kemanusiaan. Namun berkat keuletannya mengolah kreativitas kemanusiaannya dan akhirnya datang pertolongan Allah SWT: mereka tahan uji dengan kesabaran yang juga diluar batas kemanusiaan pada umumnya.

Selepas kepergian Nabi Muhammad SAW, tidak ada nabi baru. Artinya bahwa kualitas kenabian itu sudah sempurna. Kita hanya bisa mencerap dan menghayatinya garis  kualitas kenabian semenjak Adam A.S sampai Muhammad S.A.W secara utuh apabila kita menjadi manusia yang kreatif. Yaitu kreativitas untuk memaknai hidup kita masing-masing yang dimaksudkan untuk menjadi manusia yang sesuai dengan Kehendak AllAh SWT.

Maka kita perlu melahirkan manusia-manusia baru dalam diri kita sendiri-sendiri. Manusia baru itu adalah manusia yang taat pada perintah Allah SWT dan menjauhi larangannya dalam arti yang seluas-luasnya. Melaksanakan secara kaffah/utuh sempurna ibadah wajib dan sunnah-sunnah. Hidup adalah medan yang luas untuk berkarta semaksimal mungkin. Menjadi diri yang sadar kesejatiannya. Awas eling dan waspada semua fenomena dan gejala. Bahasa kita sangat terbatas untuk mengungkapkannya.

Maka sangat sepakat bila dalam bakti sosial kali ini acara ditutup oleh pengijasahan dari Bang Krisna Raka Mas Jambrong yaitu sebuah ilmu trawangan yang menurutku adlah ngelmu sidik paningal; mendengar suara-suara yang sejati dan melihat hal hal yang sejati hingga nanti kita sampai pada akhir hayat masing-masing yaitu menyatu dengan Dzat Yang Maha Segalanya…Yang Maha Mendengar dan yang Maha Melihat “Ya Sami’ Ya Bashir”

 Wassalamualaikum wr wb.

@Kwa,akhir 2015

Categories: REPORTASE BAKSOS 26 DESEMBER 2016 | 10 Komentar

DOKUMENTASI BAKSOS KWA 26 DESEMBER 2015


IMG-20151227-WA0026 (1)IMG-20151226-WA000920151226_133817IMG-20151227-WA0016IMG-20151226-WA0065IMG-20151227-WA0012IMG-20151226-WA005720151226_140903IMG-20151227-WA0009IMG-20151227-WA0022

Categories: DOKUMENTASI BAKSOS KWA 26 DESEMBER 2015 | 6 Komentar

WIRID KWA 23 DESEMBER 2015


ALLAH SWT ITU PUNYA SEKIAN TRILYUN CARA UNTUK MERUBAH DIRI SESEORANG SESUAI DENGAN KEHENDAK-NYA. SALAH SATU CARA ITU ADALAH WIRID/DZIKIR. KULANTUNKAN DZIKIR SIANG MALAM PAGI SORE, MEMIKIRKAN DAN MERESAPI KANDUNGAN-NYA DI DALAM DIRIKU MAUPUN DI ALAM SEMESTA…

JANGAN KAU TANYAKAN APA FADHILAH, APA MANFAAT, APA FUNGSI WIRID INI UNTUK DIRIKU KARENA BAGIKU PERTANYAAN ITU TIDAK PANTAS DISAMPAIKAN. ADANYA ASMAK ALLAH SWT  TIDAK MUNGKIN TIDAK PUNYA MAKSUD DAN TUJUAN…. KUYAKIN SEMUA ASMAK ITU PENTING, DAN ALLAH SWT SENDIRI YANG AKAN MEMBERIKU ARTI, MEMBERIKU MANFAAT, MEMBERIKU HIDAYAH. BUKAN DARI AKALKU ATAU PIKIRANKU.

INILAH WIRIDKU MINGGU INI SAUDARAKU: YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YANG KALAU DI BAHASA INDONESIAKAN YANG PASTI MENGURANGI KEKAYAAN HAKIKAT ASMAK, ARTINYA MENJADI MAHA KAYA MAHA TERPUJI MAHA PERKASA MAHA MENGETAHUI.

===========================================

ALFATIHAH 1 X

YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM

YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM

YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM

YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM

YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM

YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM

YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM

YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM

YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM

YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM

YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM

YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM

YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM

YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM

YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM

YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM

YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM

YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM

YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM

YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM

YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM

YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM

YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM

YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM

@KWA,2015

Categories: >>PERPUSTAKAAN UTAMA | 6 Komentar

REBORN!!!! UNDANGAN TERBUKA RIYADHOH SAPU JAGAD AKHIR TAHUN 2015 BERSAMA KWA


Bakti sosial gratis terbuka untuk umum

DSCN0636Dunia kita adalah dunia yang dibangun dan dibingkai oleh kekuatan otak kiri (logika) yang berakibat pada kecenderungan orang dalam setiap gerak hidupnya lebih mengandalkan logika dan perhitungan rasional. Padahal kenyataan hidup yang dihadapi, begitu banyak fenomena kehidupan tidak mampu dicerna ataupun dikendalikan oleh logika.

Akibat lebih jauh seringnya terjadi MASALAH HIDUP YANG BERANEKA RAGAM akibat konflik internal individu maupun konflik eksternal antar individu karena hanya mengandalkan suatu argumentasi yang diperoleh dari pemberdayaan logika belaka. Tidak banyak di antara kita yang menyadari bahwa fenomena hidup adalah adanya daya tarik menarik antara kekuatan rasional (AKAL) dan irasional (EMOSI) untuk MEMECAHKAN MASALAH / PROBLEM SOLVING.

cropped-cropped-markas-kwa.jpgAcara RIYADHOH SAPU JAGAD AKHIR TAHUN 2915 BERSAMA KWA ini mengarahkan, mengingatkan, menyadarkan adanya kekuatan OTAK KANAN sebagai penyeimbang kekuatan otak kiri sehingga hidup kita akan lebih berkualitas.

Materi:

  1. Ruwatan dengan metode aktivasi simpul-simpul energy
  2. Konsultasi-konsultasi semua masalah hidup (rejeki, mahabbah/pengasihan, pembuka aura/keselamatan-keamanan, kekuatan)
  3. Pengobatan alternatif bagi sedulur yang sakit medis dan non medis menggunakan ENERGI DOA dan bekam/hijamah
  4. Pengisian POWER benda-benda menggunakan ENERGI DOA
  5. BONUS ACARA: IJASAHAN ILMU

cropped-cropped-panitia1.jpgPengisi acara: KI WONGALUS dan Para Alumni pelatihan yang tergabung dalam GURU-GRAND MASTER KWA (pengumuman ini juga sebagai undangan terbuka untuk para alumni program Guru KWA)

Tempat:  Cepuri – Pantai Parangkusumo, Yogyakarta

Jam: pagi 09.00 wib sd selesai

Hari/tanggal: Sabtu  26 Desember 2015

Sifat: Terbuka untuk umum dan gratis/tanpa mahar

Penanda titik kumpul adalah SPANDUK KAMPUS WONG ALUS.

Silahkan hadir untuk menikmati perjumpaan penuh akrab dan insya allah pertemuan kita kali ini adalah REBORN!!! KELAHIRAN KEMBALI DIRI kita masing-masing yang penuh rahmat dan barokah. Amin.

Salam takzim sedulur semua,

@wongalus,2015

Categories: >>PERPUSTAKAAN UTAMA | 6 Komentar

WIRID KWA MINGGU INI: 18 DESEMBER 2015


DSCN2411YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI

@KWA,2015

Categories: WIRID KWA DESEMBER 2015 | 9 Komentar

MISTERI SULUK HATI


Hidup segan mati tak mau. Lelah sudah rasanya mencari tahu dimanakah sumber kebijaksanaan kebenaran dan kebahagiaan itu berada. Timur barat utara selatan sudah aku jelajahi dan ternyata kosong. Tiada pula yang kuanggap paham, ternyata benar-benar paham. Di ujung rasa putus asa, kulanjutkan sedikit waktu yang tersisa untuk menulis. Entah,  ada manfaatnya atau tidak.

Tiba di sebuah kawasan yang tiada berpenghuni lagi di penghujung pulau. Ini desa yang jadi saksi kelahiranku dan sudah puluhan tahun silam kutinggalkan. Perlahan kuayunkan kaki  melangkah menuju sebuah surau mungil di tepi telaga. Malam itu terasa begitu suci dan ajaib. Kekuatan apa yang menyuruh kupergi ke sana, aku tidak tahu. Yang aku tahu, sebuah panggilan dari mimpi bahwa aku harus mendekati surau itu.

Bulan di langit tersenyum tipis, sedikit kuning berlatar kehitaman. Suara binatang-binatang malam menjadi musik ringan yang menggema dari segala penjuru penghantar jiwaku yang kosong melompong. Lolongan-lolongan srigala tiba-tiba muncul tidak terduga.. membuat suasana semakin purba dan mencekam.

Tiba di surau, aku menggelar sajadah. Nafas yang iramanya tersengal kuatur ritmis. Kukonsentrasikan pikiran ke keluar masuknya nafas. Hanya kepada nafas. Mulailah kugerakkan dua tangan dan mengucapkan Allahu Akbar…..Allah Maha Besar…. Yang Maha Besar Kekuasaaannya, Yang Maha Besar Kecintaannya, Yang Maha Besar Kekuatannya, Yang Maha Besar Ilmu Pengetahuannya, Yang Maha Besar semuanya tanpa terkecuali…..

Seketika itulah diriku hilang. Diriku sudah tidak lagi memikirkan apakah aku ada atau tidak, masih hidup atau sudah mati, apakah aku masih aku atau menjadi orang lain, dan aku tak ingat juga diri-diri lain… semua tiba-tiba terasa tidak ada. Dan tiba-tiba lahirlah satu kesadaran aneh yang kutulis berikut ini…:

Sukma yang terbang mengangkasa mencari tahu ada apa?….

Kulihat semua gerakan yang ada berhenti total. Bumi menjadi sunyi dan seluruh alam menjadi diam. Tiada punya suara dan gerakan apa-apa lagi. Mesin-mesin kendaraan tidak lagi menderu. Semuanya berada pada tempatnya. Mati total isi bumi ini sepersekian detik waktu di dunia namun yang kualami terasa begitu lama.

Kucoba melihat teman-teman dekat yang kukenal. Ternyata mereka ada di tempatnya masing-masing, mematung kaku tanpa gerak. Ada yang terlihat bergairah namun sayangnya ia diam mematung meski kutahu mereka masih hidup. Entah, hidup di dimensi yang mana… Ada yang terlihat lemas dan lesu dengan memegang segepok uang, matanya masih melotot dan nadinya terlihat mengeras. Bola matanya nyaris keluar. Nyawanya nyaris tercabut dari ubun-ubun. Penuh hasrat untuk memenuhi keinginannya melampaui kebutuhannya.

Ada lagi teman yang sedang berwirid hatinya.. Nah, di tengah alam yang diam dan tertidur, terlihat gerakan cahaya berpendar dari lubuk hatinya. Hati yang dipenuhi cahaya itu memancar hingga menyilaukanku. Setelah kuucapkan Assalamualaikum maka kuteruskan pengembaraanku. Baru beberapa saat melangkah, aku tertegun dengan sebuah pemandangan mencekam.

Seorang pertapa tegap dan tegar duduk disebuah batu di pinggir pantai. Ia sibuk menyatukan diri dengan diri sejatinya. Masih terlihat gambaran-gambaran pikirannya yang semakin samar seperti asap yang menggantang di atas kepala. Wajahnya tenang dan memancarkan aura terang. Aku tidak bisa menilai, apakah dia sudah berada di jalan yang lurus atau bengkok, namun ada bisikan bahwa dia saat ini harus menjalani ujian yang sangat berat untuk menebus dosanya di masa lalu akibat meniadakan Tuhan dalam hatinya. Maka, aku pun berdoa.. Ya Alloh, berilah petunjuk pada dia agar suatu saat kembali ke jalan-MU. Kemudian kulanjutkan perjalanan…

Tiba di sebuah tempat, terlihat seorang pria di depanku sedang mengasuh anaknya yang masih balita. Namun karena alam sudah diam, maka ia pun menjadi patung dengan posisi duduk. Sementara sang anak yang mematung itu terlihat mencari-cari kebahagiaan sendiri dengan bermain batu-batu kerikil. Hati sang pria tersebut terasa merana setelah ditinggal pergi isteri tercintanya. Menggelegak nyaris mengalir namun belum bergerak. Mungkin baru beberapa saat yang lalu berhenti. Kurasakan uap panas saat mendekati keduanya.

Kupeluk sayang si anak piatu. Ia yang nyaris kepanasan kemudian terasa sejuk. Degup dadanya mengatakan bahwa sang ayah sedang gelisah. Duh Gusti, ingin kubawa pulang dan kuasuh penuh perhatian dia.. namun apa daya memang bukan milikku dan dia adalah milik Alloh Sang Maha Pemilik Sejati…

Kutangisi dan kudukai si mungil itu…Ya Rabb… Tuhan Tercintaku.. kenapa kau sisakan duka di anak-anak milik-MU yang mungil tiada berdosa itu?  Kalau Engkau berkenan Ya Alloh, bunuhlah diriku yang penuh lumuran dosa dan zina sekarang ini sebagai ganti agar mereka yang masih putih dan suci itu bisa melanjutkan hidupnya dengan bahagia sejahtera. Nyaris aku kehilangan keseimbangan diri dari sholatku ketika aku merasakan adanya anak ini didekatku.

Inilah yang terakhir, namun juga berupa awal yang mungkin. Sebagaimana bunga yang layu dan gugur. Musim semi tiba dan kemudian hujan datang adalah bahasa alam tiada akhir yang sesungguhnya. Yang ada adalah berproses dan terus berproses. Itu pertanda adanya Gerak dan Aktif dari Yang Satu dan Kekal.

Di tengah diri yang tenggelam dalam sunyi sepi suwung itu… tergetarlah hati oleh suara khotbah dari ujung angkasa… “Inilah Khotbahku” katanya. Tiada terlihat apa-apa sehingga sulit dikenali siapa yang berucap lantang disukmaku. Tiada gerak lagi. Sukmaku siap menerima perintah apapun.

“Yang kau cari soal kebijaksanaan dan kebenaran itu sejatinya tidak ada…. yang kau cari itu mitos dan semuanya palsu!… hidup itu tidak bermakna sehingga tidak berharga untuk dilanjutkan!” katanya dengan keras.

Aku tidak berpikir lagi, yang ada hanya mengamini perintah dan suara itu. Akalku tak mungkin lagi menganalisis kebenaran ini. Benar atau salah di hatiku pun tiba-tiba melenyap pergi dan aku tak mampu meraihnya lagi. Aku masih menantikan sesuatu yang mungkin terjadi.

“Semuanya tersesat dalam hutan nilai-nilai keakuan sendiri, semua terlempar ke jurang hina nestapa, semua kewajibanmu itu sebuah kebodohan, semua makna yang kau rangkai dan kau bangun menjadi kepercayaan itu sia-sia belaka…agama, surga dan nerakamu itu khayalan… Kalau masih yakin bahwa tafsirmu itu benar, maka kupastikan engkau gagal… Bunuhlah dirimu!” katanya tanpa tedeng aling-aling.

Suara itu berlanjut semakin keras dan detail menjelaskan apa maksud yang sesungguhnya: “Bunuhlah semua hasrat dan keinginanmu… bila masih ingin ketemu AKU itu berarti engkau tidak cinta AKU…..apalagi keinginan mencari AKU!. AKU tidak perlu kau cari karena aku tidak dimana-mana dan tidak kemana-mana.. Aku tidak perlu waktu dan tempat untuk berada, jalanmu jalan nyata jalanku jalan rasa…” terangnya.

Suara itu berlanjut: “…Adaku aneh ajaib bercampur unik diluar jangkauan rekaan akalmu.. caraku mencintai atau membenci adalah cara-KU…bahasa-KU tidak sama dengan bahasamu…. Bahkan aku ada atau tidak ada jangan pernah perdulikan AKU… siapa dirimu? Sok tahunya engkau tentang AKU padahal engkau hanyalah sebutir mahluk yang kau katakan sendiri sebagai makhluk paling mulia padahal nyatanya dihadapan-KU, engkau ini tidak begitu…” kata dia.

Mendengar suara siapa itu yang begitu keras rasa-rasanya jantung yang tinggal satu dua degup ini pun langsung ingin berhenti untuk selama-lamanya. Linglung dan gila diri ini. Kosong… Suwung… Blank… Zero…. Tiba-tiba aku tersadarkan diri dari sholat dan diriku ternyata mungkin masih ada karena masih kurasakan nafas yang bergerak… meskipun nama pun aku merasa malu memakainya lagi….

Ya, kini …. aku tidak punya apa-apa dan siapa-siapa lagi dan aku telah kehilangan segalanya termasuk diriku sendiri tiada berbentuk lagi…. Remuk!

===dan dalam remuk redam penuh kedamaian tiadanya aku .. hatiku bergerak..  tubuhku berguncang…. menikmati suara alam yang mengalun penuh kelembutan yang perkasa maha

wongalusYA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN  YA QOWIYYU YA MATIIN  YA  QOWIYYU YA MATIIN

YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN  YA QOWIYYU YA MATIIN  YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN  YA QOWIYYU YA MATIIN  YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIINYA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN  YA QOWIYYU YA MATIIN  

YA  QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN  YA QOWIYYU YA MATIIN  YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN

YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN  YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN  YA QOWIYYU YA MATIIN  YA  QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN

YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN  YA QOWIYYU YA MATIIN  YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN  YA QOWIYYU YA MATIIN  YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN

YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN  YA QOWIYYU YA MATIIN  YA  QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN  YA QOWIYYU YA MATIIN  YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN

YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN  YA QOWIYYU YA MATIIN  YA  QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN  YA QOWIYYU YA MATIIN  YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN

YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN  YA QOWIYYU YA MATIIN  YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN

YA QOWIYYU YA MATIIN  YA QOWIYYU YA MATIIN  YA  QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN

YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN  YA QOWIYYU YA MATIIN  YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN

YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN  YA QOWIYYU YA MATIIN  YA  QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN

YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN  YA QOWIYYU YA MATIIN  YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN

YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN  YA QOWIYYU YA MATIIN  YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN  YA QOWIYYU YA MATIIN  YA  QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN

YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN  YA QOWIYYU YA MATIIN  YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN

============

 *) ARTIKEL INI SUDAH PERNAH SAYA POSTING TAHUN 2011 DI BLOG KITA INI DENGAN JUDUL “ZERO MIND” DAN DI BAGIAN TERTENTU SAYA EDIT, TERMASUK DI BAGIAN PENUTUP SAYA TAMBAH SESUAI DENGAN NYANYIAN DZIKIR DALAM HATI SAYA YANG TERLANTUN SECARA OTOMATIS HINGGA DETIK INI

Categories: REFLEKSI AKHIR TAHUN 2015 | 8 Komentar

DOA BERPRESTASI UNTUK PARA PELAJAR INDONESIA


Assalamualaikum wr wb.

amanahIni musim belajar. Bagi para siswa sekolah terutama yang akan menghadapi ujian-ujian akhir, maka Anda perlu mempersiapkan diri dengan sebaik baiknya.

Selain syariat wajib harus terpenuhi yaitu BELAJAR YANG KERAS maka jangan dilupakan adalah BERDOA untuk memohon kepada Alah SWT agar diberikan hasil belajar yang memuaskan dan prestasi terbaik. Oleh karena itu, berikut ini bisa anda amalkan secara rutin setelah sholat:

Kepada Nabi Muhammad SAW, Semua Nabi Rasul, Semua Wali/Wasul, Semua para penyebar dan penerus ilmu Allah SWT, kedua orang tua dan diri anda sendiri, kirim  doa AL FATIHAH.

Selanjutnya bacalah doa:

ALLOOHUMMA AKHRIJNAA MIN DZULUMAATILWAHMI WA AKRIMNAA BINUURIL FAHMI WAFTAH’ALAINAA BIMA’RIFATIKA WASAHHIL LANAA ABWAABA FADL-LIKA YA ARHAMAR ROOHIMIINA

(Ya Allah, keluarkanlah kami dari kegelapan prasangka, muliakanlah kami dengan cahaya kepahaman, bukakanlah pengertian ilmu pada kami dan bukakanlah untuk kami pintu-pintu anugerah-Mu, wahai Dzat yang Maha Penyayang)

Selanjutnya akhiri doa dengan membaca:

ALLOOHUMMA INNII ASTAUDI’UKA MAA ‘ALLAMTANIIHI FARDUD-HU ILAYYA ‘INDA HAAJATII WA LAA TANSANIIHI YAA ROBBAL ‘ALAAMIINA

 (Ya Allah sesungguhnya aku menitipkan kepada Engkau ilmu-ilmu yang telah Engkau ajarkan kepadaku, dan kembalikanlah kepadaku sewaktu aku butuh kembali dan janganlah Engkau lupakan aku kepada ilmu itu wahai Tuhan Seru Semua Alam)

Demikian amalan ini dan semoga ada manfaatnya buat anda. Ayo berprestasi untuk Indonesia, Negeri yang kita sayangi ini agar maju sejahtera adil dan makmur.

Salam asah asih dan asuh penuh persaudaraan, Wassalamualaikum wr wb.

@kwa,2015

Categories: DOA BERPRESTASI UNTUK ANAK INDONESIA | 6 Komentar

DOA MUSTAJABAH UNTUK ANAK NAKAL, SAUDARA NAKAL, PACAR NAKAL, SUAMI-ISTERI NAKAL


===UNTUK ANAK NAKAL/PACAR/SAUDARA/SUAMI-ISTERI YANG  NAKAL AGAR KEMBALI KE JALAN YANG BENAR YAITU  JALAN ALLAH SWT===

Rangkaian doa dimulai dari membaca surat  AL FATIHAH 1  x

Lanjutkan dengan baca rangkaian doa sbb:

LAW ANZALNAA HAADZAA ALQUR-AANA ‘ALAA JABALIN LARA-AYTAHU KHAASYI’AN MUTASHADDI’AN MIN KHASYYATI ALLAAHI WATILKA AL-AMTSAALU NADHRIBUHAA LILNNAASI LA’ALLAHUM YATAFAKKARUUNA 

(artinya Kalau sekiranya Kami turunkan Al-Quraan ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan ketakutannya kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir)

THAA-HAA.

MAA ANZALNAA ‘ALAYKA ALQUR-AANA LITASYQAA. 

(artinya Kami tidak menurunkan Al-Qur’an ini kepadamu agar kamu menjadi susah)

ILLAA TADZKIRATAN LIMAN YAKHSYAA. 

(artinya tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah)

TANZIILAN MIMMAN KHALAQA AL-ARDHA WAALSSAMAAWAATI AL’ULAA. 

(artinya yaitu diturunkan dari Allah yang menciptakan bumi dan langit yang tinggi)

ALRRAHMAANU ‘ALAA AL’ARSYI ISTAWAA.

(artinya (Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah. Yang bersemayam di atas ‘Arsy)

INNAMA AMRUHU IDZA ARODA SYAI’AN AYYAQULA LAHU KUN  YA ALLAH LEMBUTKAN HATI  ( sebutkan nama target) SEBAGAIMANA ENGKAU MELEMBUTKAN BESI UNTUK NABI DAUD FAYAKUN

Usai berdoa, Selanjutnya lakukan pilihan cara berikut ini. Pilihlah satu cara yang paling mudah anda lakukan:

Cara 1:

tiupkan ke ubun-ubun target

Cara 2:

baca ke air dan minumkan kepada target

Cara 3:

baca dan tiupkan ke tangan kanan dan letakkan di dada bagian jantung target.

Insya allah hati target akan segera luluh atas ijin Allah SWT. Amin YRA.

@kwa,2015

Categories: SUAMI-ISTERI NAKAL | 20 Komentar

TANGAN YANG TIDAK TERSENTUH API NERAKA


Alkisah, suatu ketika Nabi Muhammad berjumpa dengan Sa’ad bin Mu’adz Al-Anshari. Ketika itu Nabi Muhammad melihat tangan Sa’ad melepuh, kulitnya gosong kehitam-hitaman seperti terpanggang matahari. “Kenapa tanganmu?,” tanya Nabi kepada Sa’ad.

pekerja-keras“Wahai Rasulullah,” jawab Sa’ad, “Tanganku seperti ini karena aku mengolah tanah dengan cangkul itu untuk mencari nafkah keluarga yang menjadi tanggunganku”. Seketika itu Nabi mengambil tangan Sa’ad dan menciumnya seraya berkata, “Inilah tangan yang tidak akan pernah disentuh api neraka”.

Dalam kisah lain disebutkan bahwa ada seseorang yang berjalan melalui tempat Nabi Muhammad. Orang tersebut sedang bekerja dengan sangat giat dan tangkas. Para sahabat kemudian bertanya, “Wahai Rasulullah, andaikata bekerja semacam orang itu dapat digolongkan jihad fi sabilillah, maka alangkah baiknya.” Mendengar itu Nabi pun menjawab, “Kalau ia bekerja untuk menghidupi anak-anaknya yang masih kecil, itu adalah fi sabilillah; kalau ia bekerja untuk menghidupi kedua orangtuanya yang sudah lanjut usia, itu adalah fi sabilillah; kalau ia bekerja untuk kepentingan dirinya sendiri agar tidak meminta-minta, itu juga fi sabilillah.” (HR. Ath-Thabrani).

Kerja adalah perintah suci Allah kepada manusia. Meskipun akhirat lebih kekal daripada dunia, namun Allah tidak memerintahkan hambanya meninggalkan kerja untuk kebutuhan duniawi. Kerja adalah melakukan sesuatu untuk mencari nafkah yang hakekatnya adalah manifestasi dari amal kebajikan.

thumb_kerja_kerasSebagai sebuah amal, maka NIAT dalam menjalankannya akan menentukan penilaian. Dalam sebuah hadits, Nabi Muhammad bersabda, “Sesungguhnya nilai amal itu ditentukan oleh niatnya.” Amal seseorang akan dinilai berdasar apa yang diniatkannya.

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (untuk kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi, dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu. Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi.” (QS. Al-Qashash: 77).

Jadi  budaya kerja  yaitu nilai-nilai sosial atau suatu keseluruhan pola perilaku yang berkaitan dengan akal dan budi manusia dalam melakukan suatu pekerjaan. Jadi setiap individu yang bekerja harus memiliki budaya kerja yang baik. Budaya yang kerja yang baik sangat diperluukan agar menjadi pekerja yang berbudi pekerti dan mengerti nilai-nilai yang dijalaninya dan tidak membawa individu kepada penyimpangan. Jadi itulah perlunya kita memahami budaya kerja yang baik.

Budaya kerja masing-masing individu akan menentukan terbentuknya budaya dimana dia bekerja. Tentu saja hal ini juga dipengaruhi oleh faktor-faktor lain seperti kepemimpinan  yang mengandung nilai-nilai agama karena selalu mendahulukan pembinaan terhadap akhlakul karimah, sejak tahap awal perlu dimantapkan sebagai manifestasi utama yang akan terekspresi dalam seremoni dan ritual yang substansinya adalah substansi agamawi  melalui budaya jujur, sabar, tidak mudah iri dan terpancing untuk melakukan hal-hal yang dimurkai agama.

Para pemimpin akan menentukan bahwa bila tahap pertama upaya menyesuaikan diri agar menghasilkan sukses dalam kerjasama yang harmonis.

 Dalam agama Islam, manusia ditentukan untuk : Berusaha   dengan  sebaik-baiknya agar tercapai suatu tujuan  yang halal. Kita mencoba berusaha untuk  menghasilkan prestasi terbaiknya, apalagi bila penerimaan hasil  dilakukan dengan adil dan objektif. Melakukan pekerjaan dengan ikhlas adalah ajaran utama dalam Islam. Usaha yang diupayakan hanya karena Allah semata. Bekerja  dengan  dilandasi keikhlasan, dapat mencegah dari stres atau jenis emosi lain yang merugikan.

Umat dituntut untuk minta tolong pada Allah dan mengakui keterbatasan dirinya. Allah lebih mencintai orang-orang yang selalu meminta daripada yang enggan meminta, karena seolah-olah manusia itu berkecukupan. Dan Allah  berfirman : “Berdoalah kepadaKu, niscaya akan keperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembahKu akan masuk neraka jahanan dalam keadaan hina dina” (QS. 40:60). Rasullah SAW bersabda : “Sesungguhnya siapa saja yang tidak meminta kepada Allah, maka Allah akan marah kepadanya” (HR. At-Tarmizi dan Abu Hurairoh).

imagesApabila manusia rajin bekerja dan berupaya, ia akan menciptakan budaya kerja yang disiplin, berkemauan keras dan tidak cepat putus asa. Selanjutnya diimbangi dengan  terus menerus berdoa dan meminta tolong kepada Allah, agar usahanya membuahkan hasil. Sifat ini akan membawa manusia ke perilaku rendah hati, tidak takabur dan senantiasa menyadari baik kelemahan maupun kekuatannya.

Demikian saudaraku semua, Agama Islam mengajarkan manusia untuk giat dalam bekerja yang sesuai  syariat yaitu mengedepankan kejujuran, kedisiplinan dan keihklasan. Oleh sebab itu, marilah kita semua bekerja dengan giat  ikhlas serta kerja yang CERDAS (Smart Working) agar kita sukses dunia dan akhirat. Amin yra.

@Wongalus,2015

Categories: KERJA CERDAS | 9 Komentar

APAKAH MASALAH HIDUPMU SUDAH ADA SOLUSINYA?


RIYADHOH SAPU JAGAD AKHIR TAHUN 2015 BERSAMA KWA: Bakti sosial gratis terbuka untuk umum

DSCN0636Dunia kita adalah dunia yang dibangun dan dibingkai oleh kekuatan otak kiri (logika) yang berakibat pada kecenderungan orang dalam setiap gerak hidupnya lebih mengandalkan logika dan perhitungan rasional. Padahal kenyataan hidup yang dihadapi, begitu banyak fenomena kehidupan tidak mampu dicerna ataupun dikendalikan oleh logika.

Akibat lebih jauh seringnya terjadi MASALAH HIDUP YANG BERANEKA RAGAM akibat konflik internal individu maupun konflik eksternal antar individu karena hanya mengandalkan suatu argumentasi yang diperoleh dari pemberdayaan logika belaka. Tidak banyak di antara kita yang menyadari bahwa fenomena hidup adalah adanya daya tarik menarik antara kekuatan rasional (AKAL) dan irasional (EMOSI) untuk MEMECAHKAN MASALAH / PROBLEM SOLVING.

Acara RIYADHOH SAPU JAGAD AKHIR TAHUN 2915 BERSAMA KWA ini mengarahkan, mengingatkan, menyadarkan adanya kekuatan OTAK KANAN sebagai penyeimbang kekuatan otak kiri sehingga hidup kita akan lebih berkualitas.

Materi:

  1. Ruwatan dengan metode aktivasi simpul-simpul energy
  2. Konsultasi-konsultasi semua masalah hidup (rejeki, mahabbah/pengasihan, pembuka aura/keselamatan-keamanan, kekuatan)
  3. Pengobatan alternatif bagi sedulur yang sakit medis dan non medis menggunakan ENERGI DOA dan bekam/hijamah
  4. Pengisian POWER benda-benda menggunakan ENERGI DOA

cropped-cropped-panitia1.jpgPengisi acara: KI WONGALUS dan Para Alumni pelatihan yang tergabung dalam GURU-GRAND MASTER KWA (pengumuman ini juga sebagai undangan terbuka untuk para alumni program Guru KWA)

Tempat:  Cepuri – Pantai Parangkusumo, Yogyakarta

Jam: pagi 09.00 wib sd selesai

Hari/tanggal: Sabtu  26 Desember 2015

Sifat: Terbuka untuk umum dan gratis/tanpa mahar

Penanda titik kumpul adalah SPANDUK KAMPUS WONG ALUS.

Silahkan hadir untuk menikmati perjumpaan penuh akrab dan insya allah pertemuan kita kali ini adalah KELAHIRAN KEMBALI DIRI kita masing-masing yang penuh rahmat dan barokah. Amin.

Salam takzim sedulur semua,

@wongalus,2015

Categories: RIYADHOH SAPU JAGAD AKHIR TAHUN 2015 | 21 Komentar

AMALAN PARA WALI AUTAD: SHOLAWAT AL HIMAYAH


===Ya Allah limpahkan sholawat kepada Nabi Muhammad, nabi yang ummi, dan keluarganya serta para sahabatnya kesejahteraannya dengan Sholawat ini Engkau Mengampuni dosa-dosa kami, dosa orang tua kami, dosa orang-orang yang beragama Islam, laki-laki dan perempuan, dan orang mukmin, laki-laki dan perempuan  yang masih hidup maupun yang telah mati dan memperbaiki kepada ulama dan umat serta pemimpin dan rakyat, dan satukanlah hati-hati mereka, dan  menjauhi segala keburukan diantara mereka  dan dari segala yang kami takuti dan kami khawatirkan.===

ALLAHUMMA SHOLLI ALAA SAYIDINAA MUHAMMADIN NABIYYIL UMMI WA ‘ALAA ALIHI WA SHAHBIHI WA SALIM SHALATAN WA AN TAGHFIRALII BIHA WALIWALIDAYYAA WAL MU’MININA WAL MU’MINAT WAL MUSLIMINA WAL MUSLIMAT AL-AHYA’I MINHUM WAL AMWAAT AYNAMAKANU FII JAMI’IL JIHAD WAL BILAD, WA ASHLIH BIHAA AL IMAMA WAL UMMATA WAR RA’IYA WAR RA’IYYATA WA ALLIF BAYNA QULUBIHIM WADFA’ SYARRA BADHIHIM ‘AN BADH WA MIM MA NAKHAFU WA NAHDZAR.

Sholawat ini merupakan amalannya para Wali Abdal, Autad dan Aqthab. Sholawat ini mempunyai banyak faedah, manfaat dan khasiatnya serta keajaiban yang tidak bisa dihitung dan tak terbatas. Diantara keuntungan itu adalah Allah SWT akan melimpahkan  maghfirah-ampunan  dan memperbaiki, melindungi, mendapatkan perlindungan, keamanan, penjagaan dari segala fitnah serta kesulitan yang keluar dari dalam bumi maupun turun dari langit, perlindungan dari segala keburukan seperti penyakit dan akibat dari perbuatan buruk yang mengenai fisik dan jiwa, juga mendapatkan keselamatan dari segala urusan lahir dan batin di dalam urusan agama, dunia dan akhirat. Boleh dibaca kapan saja, sebanyak sekali, tiga kali atau tujuh kali, boleh setiap sehabis sholat, setiap pagi dan malam, atau setiap hari. ***

Categories: AMALAN PARA WALI AUTAD: SHOLAWAT AL HIMAYAH | 30 Komentar

DOA PAGI YANG ISTIMEWA UNTUK KELAPANGAN, KEDALAMAN DAN KELUASAN HIDUP


kwa hutYa Allah, sebagaimana Engkau bersikap lemah lembut dalam keagungan-Mu melebihi segala yang lemah lembut, dan Engkau Maha Tinggi degan kegungan-Mu atas segala yang agung, dan Engkau Maha Mengetahui apa yang ada di dalam buni-Mu sebagaimana Engkau mengetahui apa yang ada di atas ‘arsy-Mu, dan bisikan hati di sisi-Mu sama seperti ucapan terang-terangan, dan ucapan terang-terangan sama di sisi-Mu dengan bisikan hati, dan tunduklah segala sesuatu kepada keagungan-Mu, dan merendahlah segala yang memiliki kekuasaan kepada kekuasaan-Mu, dan jadilah perkara dunia dan akhirat berada di tangan-Mu, jadikanlah bagiku dari segala keluh-kesah yang menimpaku pada sore / pagi hari kelapangan dan jalan keluar darinya. Ya Allah, sesungguhnya kemaafan-Mu atas dosa-dosaku, dan penghapusan-Mu atas semua kesalahanku, dan penutupan-Mu atas perbuatan burukku, kesemuanya itu mendorongku untuk memohon kepada-Mu apa-apa yang aku tak pantas menerimanya dari apa-apa yang aku teledor padanya, aku memohon kepada-Mu dalam keadaan aman, dan aku meminta kepada-Mu denga keadaan rasa senang hati, sedangkan Engkau adalah selalu berbuat baik kepadaku, dan aku selalu berbuat jahat terhadap diriku sendiri dalam masalah yang menyangkut hubungan aku dengan Engkau, Engkau selalu membuatku menyayangi-Mu dengan senantiasa memberi nikmat-Mu kepadaku meskipun Engkau tidak membutuhkan aku, dan aku selalu membuat-Mu murka dengan bermaksiat kepada-Mu, akan tetapi kepercayaanku kepada-Mu membawaku untuk berani (memohon) kepada-Mu, maka jenguklah aku dengan karunia dan kebaikan-Mu kepadaku, dan terimalah taubatku, sesungguhnya Engkau Maha Penerima taubat, lagi Maha Penyayang.

َاللَّهُمَّ كَمَا لَطَفْتَ فِيْ عَظَمَتِكَ دُوْنَ اللُّطَفَاءِ، وَعَلَوْتَ بِعَظَمَتِكَ عَلَى الْعُظَمَاءِ، وَعَلِمْتَ مَا تَحْتَ أَرْضِكَ كَعِلْمِكَ بِمَا فَوْقَ عَرْشِكَ، وَكَانَتْ وَسَاوِسُ الصُّدُوْرِ كَالْعَلاَنِيَةِ عِنْدَكَ، وَعَلاَنِيَةُ الْقَوْلِ كَالسِّرِّ فِيْ عِلْمِكَ، وَانْقَادَ كُلُّ شَيْءٍ لِعَظَمَتِكَ وَخَضَعَ كُلُّ ذِيْ سُلْطَانٍ لِسُلْطَانِكَ، وَصَارَ أَمْرُ الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ بِيَدِكَ، اِجْعَلْ لِيْ مِنْ كُلِّ هَمٍّ أَمْسَيْتُ / أَصْبَحْتُ[3] فِيْهِ فَرَجًا وَمَخْرَجًا. اَللَّهُمَّ إِنَّ عَفْوَكَ عَنْ ذُنُوْبِيْ، وَتَجَاوُزَكَ عَنْ خَطِيْئَتِيْ، وَسَتْرَكَ عَلَى قَبِيْحِ عَمَلِيْ، أَطْمَعَنِيْ أَنْ أَسْأَلَكَ مَا لاَ أَسْتَوْجِبُهُ مِمَّا قَصَّرْتُ فِيْهِ، أَدْعُوْكَ آمِنًا، وَأَسْأَلُكَ مُسْتَأْنِسًا، وَإِنَّكَ الْمُحْسِنُ إِلَيَّ وَأَنَا الْمُسِيْءُ إِلَى نَفْسِيْ فِيْمَا بَيْنِيْ وَبَيْنَكَ، تَتَوَدَّدُ إِلَيَّ بِنِعْمَتِكَ مَعَ غِنَاكَ عَنِّيْ، وَأَتَبَغَّضُ إِلَيْكَ بِالْمَعَاصِيْ مَعَ فَقْرِيْ إِلَيْكَ، وَلَكِنِ الثِّقَةُ بِكَ حَمَلَتْنِيْ عَلَى الْجَرَاءَةِ عَلَيْكَ، فَعُدْ بِفَضْلِكَ وَإِحْسَانِكَ عَلَيَّ وَتُبْ عَلَيَّ إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ.
DOA INI ADALAH DOA NABI KHIDIR AS yang mana siapa yang membaca doa tersebut pagi dan sore maka akan gugurlah dosa-dosanya, dan beroleh kebahagiaannya, dihapuskanlah segala kesalahannya, dikabulkan doanya, diluaskan rezqinya, terkabul segala cita-citanya, ditolong atas segala musuhnya, dan ditulis di sisi Allah sebagai seorang Shiddiq –yang kuat keimanannya, dan tidaklah ia mati kecuali dalam keadaan syahid.
 
Sumber: Ihya’ ‘ulumudin Imam AlGhozali.
@@@
 
Categories: DOA KHIDIR REZEKI LANCAR | 12 Komentar

DOKUMENTASI BAKSOS KWA KAMIS 12 NOVEMBER 2015


IMG_0380IMG_0397

IMG_0403IMG_0437IMG_0463IMG_0457IMG_0440IMG_0401IMG_0415IMG_0468IMG_0427IMG_04247ab7d09c-7343-4474-8242-6a077b11f0c5IMG_0389IMG_0451IMG_0442 Alhamdulillah bakti sosial KWA telah selesai dilaksanakan pada kamis malam 12 November 2015, kemarin. Beragam acara  menarik dilaksanakan sesuai dengan agenda yaitu pengisian power benda pusaka, pengobatan medis/non medis, pembukaan aura mahabbah.

Disampaikan oleh ki wongalus, bahwa Bakti Sosial kembali rutin dilaksanakan setiap hari kamis malam, mulai pukul 20.00 wib sampai selesai bertempat di markas KWA, Mushola Balai Diklat Jl majapahit 5 Sidoarjo.

Pada kesempatan baksos itu sebagai wujud ucapan terima kasih kepada partisipasi panitia , Ki Wongalus memberikan 12 MEDALI KWA yang telah diasmak.

Kepada panitia, peserta baksos dan semua pihak yang tidak bisa disebutkan satu persatu, pengurus keluarga besar KWA mengucapkan terima kasih. Wassalamualaikum wr wb.

@kwa,2015IMG_0393
MEDALI KWA 2

Categories: BAKSOS KWA NOVEMBER 2015 | 6 Komentar

DOA BAGI PEGAWAI/KARYAWAN AGAR NAIK PANGKAT DAN NAIK JABATAN


Amalan berikut ini untuk anda pegawai/karyawan agar pekerjaan anda tidak sia-sia. Berupa mendapatkan penghargaan dari perusahaan/instansi dimana anda bekerja. Sehingga dengan penghargaan itu anda akan mendapatkan promosi/kenaikan jabatan dari yang sekarang.

Amalan batiniah berupa doa berikut ini monggo diamalkan:

YAA AYYUHAA AL-INSAANU INNAKA KAADIHUN ILAA RABBIKA KADHAN FAMULAAQIIHI   
(Al-Insyiqaaq Ayat : 6)

11 x usai sholat fardhu lima waktu selama 3 hari atau 7 hari atau semampunya. Dimulai dari Sholat subuh.

@CATATAN: Akan lebih bagus kalau sebelum mengamalkan amalan tersebut, terlebih dulu sholat hajat 2 rokaat.

Bekerjalah sesuai dengan syariat/sesuai dengan aturan yang ada di perusahaan. Tekun dan sabar serta pandai-pandailah untuk mengendalikan emosi. Bekerja serius dan hindari menjadi orang yang terkesan ambisius dan hanya mencari nama semata. Jadikan pekerjaan anda sebagai sarana IBADAH dalam arti yang luas. Insya allah keberuntungan menjadi milik Anda. Terima kasih.

@kwa,2015

Categories: AMALAN NAIK PANGKAT UNTUK KARYAWAN | 33 Komentar

BAKTI SOSIAL KWA UNTUK MASYARAKAT UMUM


Assalamualaikum wr wb. KWA kembali menggelar acara BAKTI SOSIAL, berupa:

  1. Pengobatan gratis untuk MASYARAKAT UMUM penyakit medis/non medis dengan metode pengobatan BEKAM.
  2. Buka AURA MAHABBAH/pengasihan. Syarat peserta membawa sendiri-sendiri bunga setaman secukupnya.
  3. Hypnoterapi untuk pengobatan penyakit MENTAL/STRESS/ Galau dll.
  4. Pengisian benda-benda pusaka (keris, sabuk, akik dll) dengan ENERGI AL HIKMAH . Silahkan membawa benda-benda pusaka pribadi anda masing-masing.
  5. DOA BERSAMA UNTUK SEGALA HAJAT.

BAKSOS akan diadakan pada hari KAMIS 12 NOVEMBER 2015, mulai pukul 19.30 WIB sd 23.00 WIB bertempat di MARKAS KWA, Mushola Balai Diklat Sidoarjo, Jl Majapahit 5 Sidoarjo.

Baksos TIDAK DIPUNGUT BIAYA / GRATIS. Peserta hanya cukup mengisi daftar hadir saja.

@PANITIA MENYEDIAKAN BENDA-BENDA BERMAHAR (Sabuk merah KWA, AZHIMAH LELANANGING JAGAD, UANG MAGNET KWA)

Demikian pengumuman dari kami. Terima kasih. Wassalamualaikum wb wb.

PANITIA.

Categories: >>PERPUSTAKAAN UTAMA | 3 Komentar

KHASANAH ISLAM: HADRAMAUT YANG PANAS MEMBAKAR


Saya sudah lupa, siapa penulis artikel yang dikirimkan ke redaksi KWA beberapa tahun yang lalu. Artikel ini kami share dengan tujuan agar memperkaya pengetahuan kita terhadap khasanah Islam di jazirah timur tengah. (redaksi)

 

Kata Hadramaut menurut prasasti penduduk asli Hadramaut adalah “panas membakar”, sesuai dengan pendapat Moler dalam bukunya Hadramaut, mengatakan bahwa Hadramaut sebenarnya berarti negeri yang panas membakar. Sebuah legenda yang dipercayai masyarakat Hadramaut bahwa negeri ini diberi nama Hadramaut karena dalam negeri tersebut terdapat sebuah pohon yang disebut al-Liban semacam pohon yang baunya menurut kepercayaan mereka sangat mematikan. Oleh karena itu, setiap orang yang datang (hadar) dan menciumnya akan mati (maut).

Makam Nabi Hud berada di Hadramaut. Nabi Hud merupakan salah satu nabi yang berbangsa Arab selain Nabi Saleh, Nabi Ismail dan Nabi Muhammad SAW. Nabi Hud diutus kepada kaum ‘Ad yang merupakan generasi keempat dari Nabi Nuh, yakni keturunan Aus bin Aran bin Sam bin Nuh. Mereka tinggal di Ahqaf yakni jalur pasir yang panjang berbelok-belok di Arab Selatan, dari Oman di Teluk Persia hingga Hadramaut dan Yaman di Pantai Selatan Laut Merah. Dahulu Hadramaut dikenal dengan Wadi Ahqaf, Sayidina Ali bin Abi Thalib berkata bahwa al-Ahqaf adalah al-Khatib al-Ahmar.

Makam Nabi Hud  ada di Hadramaut bagian Timur dan pada tanggal 11 Sya’ban banyak dikunjungi orang untuk berziarah ke makam tersebut dengan membaca tiga kali surah Yasin dan doa nisfu Sya’ban. Ziarah nabi Hud pertama kali dilakukan oleh al-Faqih al-Muqaddam Muhammad bin Ali dan setelah beliau wafat, ziarah tersebut dilakukan oleh anak keturunannya.

Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad semasa hidupnya menganjurkan kaum muslimin untuk berziarah ke sana, bahkan beliau mewanti-wanti, “Barangsiapa berziarah ke (makam) Nabi Hud dan di sana ia menyelenggarakan peringatan maulid Nabi Muhammad SAW, ia akan mengalami tahun yang baik dan indah.” Menurut sebagian ulama kasyaf, makam Nabi Hud merupakan tempat penobatan para waliyullah.

Setibanya di syi’ib Nabi Hud (lembah antara dua bukit tempat pusara nabi Hud), Imam al-Haddad bertemu dengan beberapa orang sayyid dan waliyullah, sehingga pertemuan itu menjadi majlis pertukaran ilmu dan pandangan. Dalam bahasa Ibrani asal nama Hadramaut adalah ‘Hazar Maweth’ yang berdasarkan etimologi, rakyat mengaggapnya berhubungan dengan gagasan “hadirnya kematian” yaitu berkaitan dengan hadirnya Nabi Saleh as ke negeri itu, yang tidak lama kemudian meninggal dunia.

Di Hadramaut, tepatnya di lembah yang terletak antara Syibam dan Tarim dengan Saiyun di antaranya terdapat lebih dari sepertiga penduduk Hadramaut. Dari sini pula kebanyakan orang Arab di Indonesia. Di antara penduduk Hadramaut terdapat kaum Alawiyin yang lebih dikenal dengan golongan Sayid. Golongan Sayid sangat besar jumlah anggotanya di Hadramaut terutama di kota Tarim dan Saiyun, mereka membentuk kebangsawanan beragama yang sangat dihormati, sehingga secara moral sangat berpengaruh pada penduduk. Mereka terbagi dalam keluarga-keluarga (qabilah), dan banyak di antaranya yang mempunyai pemimpin turun temurun yang bergelar munsib.

Munsib merupakan perluasan dari tugas ‘Naqib’ yang mulai digunakan pada zaman Imam Ahmad al-Muhajir sampai zaman Syekh Abu Bakar bin Salim. Seorang ‘naqib’ adalah mereka yang terpilih dari anggota keluarga yang paling tua dan alim.

Dari waktu ke waktu tugas ‘naqib’ semakin berat, hal itu disebabkan banyak keluarga dan mereka menyebar ke berbagai negeri yang memerlukan perjalanan berhari-hari untuk bertemu ‘naqib’ jika mereka hendak bertemu untuk menyelesaikan masalah yang timbul. Untuk meringankan tugas ‘naqib’ tersebut, maka terbentuklah ‘munsib’. Para munsib berdiam di lingkungan keluarga yang paling besar atau di tempat asal keluarganya. Jabatan munsib diterima secara turun menurun, dan di antara tugasnya selalu berusaha mendamaikan suku-suku yang bersengketa, menjamu tamu yang datang berkunjung, menolong orang-orang lemah, memberi petunjuk dan bantuan kepada mereka yang memerlukan.

Sebagaian besar munsib Alawiyin muncul pada abad sebelas dan abad ke dua belas hijriyah, diantaranya keluarga bin Yahya mempunyai munsib di al-Goraf, keluarga al-Muhdar di al-Khoraibah, keluarga al-Jufri di dzi-Asbah, keluarga al-Habsyi di khala’ Rasyid, keluarga bin Ismail di Taribah, keluarga al-Aidrus di al-Hazm, Baur, Salilah, Sibbi dan ar-Ramlah, keluarga Syekh Abu Bakar di Inat, keluarga al-Attas di al-Huraidah, keluarga al-Haddad di al-Hawi dan keluarga Aqil bin Salim di al-Qaryah.

Keluarga golongan sayid.

Keluarga golongan Sayid yang berada di Hadramaut adalah:
Aal-Ibrahim Al-Ustadz al-A’zhom Asadullah fi Ardih
Aal-Ismail Aal-Bin Ismail Al-A’yun
Aal-Albar Aal-Battah Aal-Albahar
Aal-Barakat Aal-Barum Aal-Basri
Aal-Babathinah Aal-Albaiti Aal-Babarik
Aal-Albaidh Al-Turobi Aal-Bajahdab
Jadid Al-Jaziroh Aal-Aljufri
Jamalullail Aal-Bin Jindan Al-Jannah
Aal-Junaid Aal-Aljunaid Achdhor Aal-Aljailani
Aal-Hamid Aal-Alhamid Aal-Alhabsyi
Aal-Alhaddad Aal-Bahasan Aal-Bahusein
Hamdun Hamidan Aal-Alhiyyid
Aal-Khirid Aal-Balahsyasy Aal-Khomur
Aal-Khaneiman Aal-Khuun Aal-Maula Khailah
Aal-Dahum Maula al-Dawilah Aal-Aldzahb
Aal-Aldzi’bu Aal-Baraqbah Aal-Ruchailah
Aal-Alrusy Aal-Alrausyan Aal-Alzahir
Aal-Alsaqqaf Al-Sakran Aal-Bin Semith
Aal-Bin Semithan Aal-Bin Sahal Aal-Assiri
Aal-Alsyatri Aal-Syabsabah Aal-Alsyili
Aal-Basyamilah Aal-Syanbal Aal-Syihabuddin
Al-Syahid Aal-Basyaiban Al-Syaibah
Aal-Syaikh Abi Bakar Aal-Bin Syaichon Shahib al-Hamra’
Shahib al-Huthoh Shahib al-Syubaikah Shahib al-Syi’ib
Shahib al-Amaim Shahib Qasam Shahib Mirbath
Shahib Maryamah Al-Shodiq Aal-Alshofi Alsaqqaf
Aal-Alshofi al-Jufri Aal-Basuroh Aal-Alshulaibiyah
Aal-Dhu’ayyif Aal-Thoha Aal-Al thohir
Aal-Ba’abud Al-Adeni Aal-Al atthas
Aal-Azhamat Khan Aal-Aqil Aal-Ba’aqil
Aal-Ba’alawi Aal-Ali lala Aal-Ba’umar
Aal-Auhaj Aal-Aydrus Aal-Aidid
Al-Ghozali Aal-Alghozali Aal-Alghusn
Aal-Alghumri Aal-Balghoits Aal-Alghaidhi
Aal-Fad’aq Aal-Bafaraj Al-Fardhi
Aal-Abu Futaim Al-Faqih al-Muqaddam Aal-Bafaqih
Aal-Faqih Aal-Bilfaqih Al-Qari’
Al-Qadhi Aal-Qadri Aal-Quthban
Aal-Alkaf Kuraikurah Aal-Kadad
Aal-Karisyah Aal-Mahjub Al-Muhdhar
Aal-Almuhdhar Aal-Mudhir Aal-Mudaihij
Abu Maryam Al-Musawa Aal-Almusawa
Aal-Almasilah Aal-Almasyhur Aal-Masyhur Marzaq
Aal-Musyayakh Aal-Muzhahhir Al-Maghrum
Aal-Almaqdi Al-Muqlaf Aal-Muqaibil
Aal-Maknun Aal-Almunawwar Al-Nahwi
Aal-Alnadhir Al-Nuqa’i Aal-Abu Numai
Al-Wara’ Aal-Alwahath Aal-Hadun
Aal-Alhadi Aal-Baharun Aal-Bin Harun
Aal-Hasyim Aal-Bahasyim Aal-Bin Hasyim
Aal-Alhaddar Aal-Alhinduan Aal-Huud
Aal-Bin Yahya

Keluarga Alawiyin di atas adalah keturunan dari Alwi bin Ubaidillah bin Ahmad bin Isa bin Muhammad bin Ali al-Uraidhi, sedangkan yang bukan dari keturunan Alwi bin Ubaidillah bin Ahmad bin Isa bin Muhammad bin Ali al-Uraidhi, adalah:
Aal-Hasni Aal-Barakwan Aal-Anggawi
Aal-Jailani Aal-Maqrabi Aal-Bin Syuaib
Aal-Musa al-Kadzim Aal-Mahdali Aal-Balakhi
Aal-Qadiri Aal-Rifai Aal-Qudsi

Sedangkan yang tidak berada di Indonesia kurang lebih berjumlah 40 qabilah, diantaranya qabilah Abu Numai al-Hasni yaitu leluhur Almarhum Raja Husein (Yordania) dan sepupunya Almarhum Raja Faisal (mantan raja Iraq) dan qabilah al-Idrissi, yaitu leluhur mantan raja-raja di Tunisia dan Libya.

Akhlaq dan kebiasaan kaum Alawiyin.

Kaum Alawiyin tetap dalam kebiasaan mereka menuntut ilmu agama, hidup zuhud di dunia (tidak bergelimang dalam kesenangan duniawi) dan mereka juga menghindar dari popularitas (syuhrah). Imam Abdullah bin Alwi al-Haddad berkata: ” Syuhrah bukan adat kebiasaan kami, kaum Alawiyin … ” selanjutnya beliau berkata: ” kedudukan kami para sayid Alawiyin tidak dikenal orang. Jadi tidak seperti yang ada pada beberapa wali selain mereka (kaum Alawiyin), yang umumnya mempunyai sifat-sifat berlainan dengan sifat-sifat tersebut. Sifat tersebut merupakan soal besar dalam bertaqarrub kepada Allah dan dalam memelihara keselamatan agama (kejernihan iman).”

Imam al-Haddad berkata pula: ” Dalam setiap zaman selalu ada wali-wali dari kaum Alawiyin, ada yang dzahir (dikenal) dan ada yang khamil (tidak dikenal). Yang dikenal tidak perlu banyak, cukup hanya seorang saja dari mereka, sedangkan yang lainnya biarlah tidak dikenal. Dari satu keluarga dan dari satu negeri tidak perlu ada dua atau tiga orang wali yang dikenal. Soal al-sitru (menutup diri) berdasarkan dua hal: pertama, seorang wali menutup dirinya sendiri hingga ia sendiri tidak tahu bahwa dirinya adalah wali. Kedua, wali yang menutup dirinya dari orang lain, yakni hanya dirinya sendiri yang mengetahui bahwa dirinya wali, tetapi ia menutup (merahasiakan) hal itu kepada orang lain. Orang lain tidak mengetahui sama sekali bahwa ia adalah wali.

Sehubungan dengan tidak tampaknya para wali, Habib Abdullah al-Haddad menulis syair: “Apakah mereka semua telah mati, apakah mereka semua telah musnah, ataukah mereka bersembunyi, karena semakin besarnya fitnah.”

Tidak tampaknya para wali merupakan hikmah Allah, begitu pula tampaknya para wali. Tampak atau tidak tampak, para wali bermanfaat bagi manusia. Habib Ali bin Muhammad al-Habsyi ditanya: “Apakah manfaat dari ketidak tampakan para wali ?”. Beliau menjawab: “Tidak tampaknya para wali bermanfaat bagi masyarakat dan juga bagi wali itu sendiri. Sebab, sang wali dapat beristirahat dari manusia dan manusia tidak beradab buruk kepadanya. Mungkin kau meyakini kewalian seseorang, tetapi setelah melihatnya kau lalu berprasangka buruk. Seorang yang saleh bukanlah orang yang mengetahui kebenaran melalui kaum sholihin. Akan tetapi orang saleh adalah orang yang mengenal kaum sholihin melalui kebenaran.”
Sayid Ahmad bin Toha berkata kepada Habib Ali bin Muhammad al-Habsyi, “Aku tidak tahu bagaimana para salaf kita mendapatkan wilayah (kasyaf), padahal usia mereka masih sangat muda. Adapun kita, kita telah menghabiskan sebagian besar umur kita, namun tidak pernah merasakan walau sedikitpun. Aku tidak mengetahui yang menyebabkan itu ?”.

Habib Ali lalu menjawab:”Ketaatan dari orang yang makannya haram, seperti bangunan didirikan di atas gelombang. Karena ini dan juga karena berbagai sebab lain yang sangat banyak. Tidak ada yang lebih berbahaya bagi seseorang daripada bergaul dengan orang-orang jahat. Majlis kita saat ini menyenangkan dan membangkitkan semangatmu. Ruh-ruh mengembara di tempat ini sambil menikmati berbagai makanan hingga ruh-ruh itu menjadi kuat. Namun, sepuluh majlis lain kemudian mengotori hatimu dan merusak apa yang telah kau dapatkan. Engkau membangun, tapi seribu orang lain merusaknya. Apa manfaatnya membangun jika kemudian dirusak lagi ? kau ingin meningkat ke atas tapi orang lain menyeretmu ke bawah.”

Menurut ulama ahlul kasyaf , wali quthub adalah pemegang pimpinan tertinggi dari para wali. Ia hanya satu orang dalam setiap zaman. Quthub biasa pula disebut Ghauts (penolong), dan termasuk orang yang paling dekat dengan Tuhan. Selain itu, ia dipandang sebagi pemegang jabatan khalifah lahir dan bathin. Wali quthub memimpin pertemuan para wali secara teratur, yang para anggotanya hadir tanpa ada hambatan ruang dan waktu. Mereka datang dari setiap penjuru dunia dalam sekejap mata, menembus gunung, hutan dan gurun.

Wali quthub dikelilingi oleh dua orang imam sebagai wazirnya. Di samping itu, ada pula empat orang autad (pilar-pilar) yang bertugas sebagai penjaga empat penjuru bumi. Masing-masing dari empat orang autad itu berdomisili di arah Timur, Barat, Utara dan Selatan dari Ka’bah. Selain itu, terdapat pula tiga orang nuqaba’, tujuh abrar, empat puluh wali abdal, tiga ratus akhyar dan empat ribu wali yang tersembunyi. Para wali adalah pengatur alam semesta, setiap malam autad mengelilingi seluruh alam semesta dan seandainya ada suatu tempat yang terlewatkan dari mata mereka, keesokkan harinya akan tampak ketidaksempurnaan di tempat itu dan mereka harus memberitahukan hal ini kepada wali quthub, agar ia dapat memperhatikan tempat yang tidak sempurna tadi dan dengan kewaliannya ketidaksempurnaan tadi akan hilang.

Seorang wali quthub, al-Muqaddam al-Tsani, Syaikh Abdurahman al-Saqqaf beliau terkenal di mana-mana, ia meniru cara hidup para leluhurnya (aslaf), baik dalam usahanya menutup diri agar tidak dikenal orang lain maupun dalam hal-hal yang lain. Dialah yang menurunkan beberapa Imam besar seperti Syaikh Umar Muhdhar, Syaikh Abu Bakar al-Sakran dan anaknya Syaikh Ali bin Abu Bakar al-Sakran, Syaikh Abdullah bin Abu Bakar yang diberi julukan al-‘Aidrus.

Syaikh Abdurahman al-Saqqaf selalu berta’abbud di sebuah syi’ib pada setiap pertiga terakhir setiap malam. Setiap malam ia membaca Alquran hingga dua kali tamat dan setiap siang hari ia membacanya juga hingga dua kali tamat. Makin lama kesanggupannya tambah meningkat hingga dapat membaca Alquran empat kali tamat di siang hari dan empat kali tamat di malam hari. Ia hampir tak pernah tidur. Menjawab pertanyaan mengenai itu ia berkata, “Bagaimana orang dapat tidur jika miring ke kanan melihat surga dan jika miring ke kiri melihat neraka ?”. Selama satu bulan beliau beruzlah di syi’ib tempat pusara Nabi Hud, selama sebulan itu ia tidak makan kecuali segenggam (roti) terigu.

Demikianlah cara mereka bermujahadah dan juga cara mereka ber-istihlak ( mem-fana’-kan diri ) di jalan Allah SWT. Semuanya itu adalah mengenai hubungan mereka dengan Allah. Adapun mengenai amal perbuatan yang mereka lakukan dengan sesama manusia, para sayyid kaum ‘Alawiyin itu tidak menghitung-hitung resiko pengorbanan jiwa maupun harta dalam menunaikan tugas berdakwah menyebarluaskan agama Islam. @@@

Categories: KHASANAH ISLAM: HADRAMAUT | 8 Komentar

MASA SEKARANG ALLAH


RABBANAA INNAKA TA’LAMU MAA NUKHFII WAMAA NU’LINU WAMAA YAKHFAA ‘ALAA ALLAAHI MIN SYAY-IN FII AL-ARDHI WALAA FII ALSSAMAA-I

Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau mengetahui apa yang kami sembunyikan dan apa yang kami lahirkan; dan tidak ada sesuatupun yang tersembunyi bagi Allah, baik yang ada di bumi maupun yang ada di langit. (Ibrahim Ayat : 38)

Menafsirkan ayat itu, sesungguhnya apa yang kita simpan di dalam hati, apa yang kita simpan di dalam lemari rahasia hidup kita, apa yang kita sembunyikan dari orang lain, tetap saja terbuka dihadapan ALLAH SWT YANG MAHA TAHU.

Allah SWT Maha Tahu karena Pengelihatan dan Pendengaran-Nya menembus semua batas. Allah SWT tidak ada yang membatasi dan tidak mungkin bisa dibatasi oleh apapun juga. Ruang dan waktu ada di dalam genggaman kekuasaan-NYA.

ALLAH SWT juga tidak dibatasi oleh masa lalu, masa kini, dan masa yang akan datang.  Allah lah pemilik waktu, oleh sebab itu ketika kita merasakan bahwa masa lalu sudah pernah ada, masa sekarang ini kita jalani dan masa depan belum terjadi maka bagi Allah SWT itu semua tidak berlaku. Bisa jadi waktu Allah itu sekarang saja, tidak ada masa lalu dan masa depan. Terserah pada Allah Yang Maha Berkehendak.

Itu sebabnya waktu Ilahi itu terkesan irasional dan tidak beraturan. Hanya terkesan dalam pandangan manusia biasa, namun pandangan manusia yang sudah mampu berada di maqom khusus, maka waktu Ilahi itu sesungguhnya adalah bentuk dan wujud dari kekekalan NYA.

Muhammad SAW dalam momentum isra’mikraj sudah menyaksikan akhirat melihat adanya neraka dan Surga juga adanya orang-orang di dalamnya. Nabi melompat ke masa depan, setelah pergelaran alam semesta ini berakhir.

Maka, manusia sekarang ini, saya, anda dan semua orang yang saat ini menyadari tulisan ini adalah orde masa lalu dan masa silam dari ALLAH SWT yang Maha aktual, yang tidak pernah ketinggalan kekiniannya, apalagi ketinggalan mode dan zaman.

Kita hakikatnya sudah tidak ada, kita sudah sirna, kita sudah dimakamkan dalam lauh al mahfudz, rekaman yang ada di database kehidupan setiap makhluk.

Kesombongan kita, keserakakan kita, kelupaan kita pada jati diri, kenistaan pilihan hidup kita dan kekotoran/polusi akibat tindakan kita sehari-hari itu sudah selesai. YA ALLAH,…. Masih adakah waktu buat kita untuk memperbaiki diri?

@kwa, 2015

Categories: MASA SEKARANG ALLAH | 7 Komentar

Blog di WordPress.com.