HAKIKAT SURGA


Sekurang-kurangnya sekali dalam hidup ini, pasti pernah terlintas di benak kita pertanyaan sebagai berikut: kenapa alam ini diciptakan dan siapa yang ‘iseng’ mencipta alam semesta ini?

Apa Anda setuju bila ada yang berpendapat jika alam semesta ini tercipta dengan sendirinya tanpa ada yang menciptakan? Tiba-tiba seperti kilat langsung jadi begitu saja tanpa ada proses pendahuluannya? Jelas tidak mungkin karena segala sesuatu pasti ada penciptanya. Seperti sebuah pesawat, pasti ada pabriknya. Di pabrik itu ada banyak insinyur penerbangan, ahli mekaniknya, ahli bahan logamnya dan sebagainya. Lha kalau alam semesta, pabriknya dimana dan apa ada banyak otak untuk menciptakannya?

Kayaknya alam semesta ini tidak mungkin ada pabrik dengan banyak otak. Cukup satu “otak” yang ada di satu “insinyur” yang sangat cerdas. Orang menyebutnya Tuhan, Allah, Hyang Widi, Gusti, Ingsun, Yahweh, God, dan sebagainya. Banyak sebutan/nama namun sejatinya menunjuk pada satu Dzat saja. Satu Dzat dengamn banyak nama/asma. God itu juga tidak marah bila disebut dengan Yahweh. God juga tidak marah bila disebut Allah, God juga tidak marah bila disebut Wyang Widi. Pendeknya, terserah pada yang menyebut. Dia mengetahui isi hati penyebut tersebut.

Dia adalah causa prima, sebab terakhir dari deretan sebab. Karena terakhir, maka tidak ada yang yang menciptakan God tersebut. God itu tidak diketahui susunan biologisnya, susunan fisikanya seperti apa, susunan kimianya bagaimana. God itu God, Tuhan itu Tuhan. Kalaupun selama ini Tuhan biasa “digambar” oleh manusia dengan Dzat, Asma, Sifat, dan Af’al maka itu sesungguhnya hanya untuk mempermudah kita untuk memahaminya saja.

Semua gambar itu sebenarnya tidak menunjuk pada asli Dzat-Nya. Gambar tentang kerbau berbeda dengan kerbau aslinya. Apalagi bila hanya digambar/dipotret dengan kamera satu dimensi. Kerbau yang dishoting juga beda dengan kerbau aslinya yang berdimensi tiga. Apalagi Tuhan. Berapa dimensi Tuhan? Satu dua tiga? Atau berdimensi tidak terhingga? Ya, Dia adalah pencipta dimensi itu sendiri sehingga semua penggambaran dan penangkapan imaji tentang-Nya pasti SALAH BESAR.

Itu sebabnya, tidak ada satupun manusia di muka bumi ini boleh disebut paling tahu tentang Tuhan. Tidak jin, tidak malaikat, tidak biksu, tidak kyai khos, tidak pendeta, tidak pedanda, tidak politikus, tidak ekonom, tidak psikolog, tidak bromocorah, tidak menteri agama. Semuanya sama-sama tidak tahu apa dan bagaimana Tuhan sesungguhnya. Maka, bila ada seseorang mengaku yang paling tahu tentang apa dan bagaimana Tuhan sesungguhnya dia termasuk orang yang patut dikasihani.

Itu sebabnya, maka kita diharapkan untuk berendah hati terhadap wujud-Nya yang misterius tersebut. Kita tetap diperkenankan untuk berdiskusi, memikirkan, menghayati, memaknai hakikat Tuhan sebab diskusi-diskusi tingkat tinggi semacam ini akan memperkaya pemahaman dan memperdalam keyakinan.

Yang jelas, yang bisa kita lihat dengan mata adalah jejak-jejak Tuhan. Apa jejak-jejak Tuhan itu? Yairu keberadaan alam. Sejatinya, alam adalah suatu sistem celupan-Nya yang berdiri di atas prinsip keikhlasan. Alam ini adalah derivat dari Alif Lam Mim. Alam tidak mengenal sampah/residu karena di alam ada proses daur ulang otomatis. “Digelarnya” alam semesta dan “digulungnya” alam bukan tanpa tujuan. Tujuannya sangat jelas yaitu SYAHADAT; KESAKSIAN. Saksi apa? Saksi Keberadaan Tuhan. Itulah hakikat alam semesta.

Dalam hubungannya dengan alam ini, Tuhan berkenan menyatakan atau memperlihatkan Diri sebagai Rabbul Alamin (tercakup di dalamnya Rabbul Falaq dan Rabbin Nas) sedangkan terhadap APA-APA yang ada di dalamnya, termasuk di sana langit dan bumi, Tuhan menyatakan diri sebagai PENCIPTA. Jadi, kalau manusia ingin mengetahui maka dia perlu mengenal Tuhan. Melalui apa? Ya melalui dirinya sendiri karena diri ini adalah Ciptaan Tuhan.

Mengenal Tuhan berarti juga mendekati Tuhan, mendekati Tuhan tidak sama dengan mendekati benda. Maka, bila ingin mendekati Tuhan caranya adalah mengenal diri sejati. Sebab di dalam diri sejati itulah sesungguhnya ada “kehendak dan keinginan Tuhan”.

Berapa bentangan panjang alam semesta? Seujung debu di “mata” Tuhan. Berapa bentangan usia/umur alam? Sekejap “mata” Tuhan. Puji sukur Tuhan bahwa semua pergelaran alam semesta ini masih ADA DI DALAM CIPTA, “PENGAWASAN PIKIRAN TUHAN”. Kita tidak dibiarkan hidup sak karepe dhewe. Alam semesta juga tidak dibiarkan berjalan dalam ketidakpastian. Sebab di sana juga diciptakan sebuah HUKUM/PRINSIP KEBERADAAN sehingga alam ini bisa teratur rapi dan pergerakannya tidak berloncatan ke sana kemari. Jadi Tuhan sangat bersungguh-sungguh terhadap apa yang diciptakan-Nya yaitu manusia dan alam semesta ini. Tapi coba kita balik, bagaimana manusia bersungguh-sungguh terhadap alam semesta?

Hmmm….. rasa-rasanya kita masih belum pantas disebut manusia. Lha wong membuang sampah saja sembarangan, lha wong semut itu ciptaan Tuhan, kecil lagi ee kok tega-teganya dibunuh? Padahal semut tidak pernah berdosa dan salah. Dimanapun di muka bumi ini, yang berbuat SALAH hanya MANUSIA. Bukan jin, bukan iblis, bukan setan. Ya, sikap kita terhadap alam semesta ciptaan Tuhan ini masih sembrono.

Bagaimana manusia bersungguh-sungguh terhadap dirinya sendiri? Setali tiga uang. Manusia biasanya hanya merawat bentuk tubuhnya, merawat wajahnya, merawat penampilannya, memanjakan keinginannya, merawat kedudukannya, kerawat jabatannya. Namun manusia belum sungguh-sungguh merawat dirinya sendiri. Bagaimana kita bisa disebut telah merawat dirinya sendiri lha wong jati diri atau diri sejatinya saja dia tidak tahu?

Merawat jelas dibutuhkan rasa ingin tahu sehingga nanti dia memiliki pengetahuan, bila sudah memiliki pengetahuan maka dia akan mampu mengenal sekaligus mengakrapi dan kemudian mencintai dan melebur dalam diri sejatinya. Tahukah Anda apa ciri-ciri orang yang sudah ikhsan dan sudah makrifat? Yaitu orang yang sudah mampu melebur dengan diri sejatinya. Ini bisa dikenali bila antara buah pikiran, kehendak hati nurani yang suci, dan kelakuannya sudah satu dan sama. Antara gerakan sadar dan bawah sadar sudah sepenuhnya berada di dalam kontrol satu pusat kesadaran. Yairu KESADARAN DIRI SEJATI.

Bagaimana mengenal diri sejati ini? Nah, ada seseorang yang berniat kuat bertapa, menjalani laku meditasi (tidak makan minum dan bergerak selama 40 hari 40 malam) untuk mengenal diri yang paling sejati. Hari pertama hingga hari 30 dia mendapati banyak tantangan.

Tantangan itu berupa datangnya makhluk-makhluk gaib yang berniat untuk menggugurkan niatnya. Ada raja tuyul menawari kekayaan berlimpah, ada raja jin menawarkan keberlimpahan harta, tahta, wanita. Apabila si pertapa mengentikan lakunya saat itu maka dia sudah jadi kaya raya hidup enak di dunia. Namun dia tidak bergeming dengan rayuan itu, dia terus melakukan apa yang jadi tekadnya meskipun tubuhnya sudah lemah lunglai.

Pada hari 39 muncul sinar beraneka warna menyinari tubuhnya yang sudah hampir mati ini. Sinar ini adalah “Malaikat” yang menawarkan semua kenikmatan hidup dunia bahkan akhirat dan jaminan masuk surga. Namun pertapa ini tidak mau, dia terus bertekad untuk menemukan jawaban siapa diri sejatinya. Pada hari dan detik terakhir di hari ke-40 tubuhnya sudah hampir mati, gelombang otaknya sudah sampai di titik nadir. Nafasnya tinggal sejengkal lagi. Tapi dia masih hidup. Sebab ruhnya belum lepas dari raga. Saat genting itu apa yang dicari orang ini pun datang. Tiba-tiba dari dalam dirinya muncul sosok yang sama persis dengan dirinya. Terjadilah percakapan batin berikut ini:

-Kamu siapa
+ aku guru sejatimu
-Inilah hasilku mengenal diri sejati?
+Ya, kau akan mengenali kehendak dan keinginanku
-Kamu berkehendak apa terhadap aku?
+Kehendakku adalah menuntunmu dan ikutilah aku
-Kenapa?
+Agar kau mengenal Tuhan
-Siapa Tuhan?
+Aku
-Jadi kau itu tuhan? Aku tidak percaya.
+Kau tidak akan mampu melihat Dzat Tuhan, maka aku mewakiliNya agar kau bisa tetap hidup dengan pikiran-pikiranmu. Jangan pikirkan Tuhan karena sesungguhnya Dia tidak bisa dipikirkan. Pikiranmu untuk mengenali-Nya sesungguhnya adalah proses awal dari pemahamanmu terhadapku.
-Baiklah aku sekarang jadi tahu siapa diri sejatiku, terima kasih dan apa saranmu?
+Ikuti aku, aku akan selalu menuntunmu menuju pada jalan hidup yang lurus.

Pertapa itu kemudian menghentikan meditasinya dan kembali meniti hidup sebagaimana manusia biasa dan normal. Sebagaimana Anda semua. Apa yang bisa ditangkap dari pengalaman nyata di atas? Yaitu, kenalilah diri sejatimu maka kau akan mengenal Tuhanmu.

Manusia pada hakikatnya adalah “alam makro”. Bukan alam mikro. Sebab bentangan panjang pendeknya usia, panjang pendeknya fisik alam semesta ini sepenuhnya berada di dalam jangkauan pengetahuan dan kesadaran manusia. Kok bisa? Lha coba Anda tanyakan panjang alam semesta kepada seorang astronom dan kepada seorang politikus. Maka, jawabannya pasti beda.

Maka bentangan panjang alam semesta ini DITENTUKAN dan DIUKUR oleh manusia sendiri. Jadi MANUSIA LEBIH BESAR DARI ALAM SEMESTA. Sehingga saya berpendapat bahwa ALAM SEMESTA ini adalah MIKROKOSMOS, sementara MANUSIA adalah MAKROKOSMOS. Tidak sebaliknya sebagaimana yang biasa disebut orang banyak. Dari sini bila diteruskan kita akan mendapatkan banyak pengetahuan dan pengalaman baru.

Maka konsep Tuhan yang sering kita sebut sehari-hari dan alam semesta yang kita nalar ini pada hakikatnya berada di dalam “genggaman pengetahuan” manusia. Yang tidak ada di dalam genggaman pengetahuan manusia adalah Tuhan dan alam semesta yang TIDAK KITA PIKIRKAN NAMUN KITA RASAKAN. Mengenai RASA ini ada dua macam keadaan yaitu RASA PANGRASA artinya rasa yang bercabang/tersebar dan rasa yang menyatu. Rasa yang tersebar disebut PANGRASA (panging rasa/cabangnya rasa, adalah seperti cabang ranting pohon. Sedangkan rasa yang utuh sebagai kesatuan (maligi) adalah seperti “deleg” pohon sebagai kesatuan.

Untuk mencapai upaya MALIGINING RASA, menurut serat Kacawirangi ada 4 tingkatan. Pertama, mengupayakan agar rasa pangrasa jangan terlalu menyebar. Kedua, dengan teliti dan kontinyu mengikuti “ugering dumadi” pandam, pandom dan panduming dumadi). Ketiga, mangastuti (manembah) kepada Tuhan. Keempat, pada saat khusus misalnya saat malam hari yang sangat hening maka lakukan patrap “panunggal samadhi”. Yaitu menghentikan angan-angan dan nafsu agar MENYATU ANTARA BUDI, RASA DAN NAFAS.

Apabila budi sudah tidak terhalang lagi oleh gerak angan-angan, serta rasa sudah tidak terliputi getarnya sendiri, maka tercapailah PRAMANA. Keadaan manusia yang pramana seperti itu ibarat CERMIN YANG JERNIH dari “KAHANAN JATI.”

Tahap akhir perjalanan RASA setelah tercapai PRAMANA, adalah kembali ke asal mula atau SANGKAN PARANING DUMADI, yaitu menyaksikan “alam lami” yang karenanya dituntun oleh diri sejati yang merupakan guru sejati ini akan menumbuhkan kualitas surga. Di sini kita mencapai PAMUNGKASING DUMADI yang merupakan SAMPURNANING PATRAP yaitu LULURING DIRI PRIBADI atau LULURING RAOS AKU. Disitulah lenyapnya tabir/hijab pembungkus kenyataan yang sebenarnya.

Ki Ageng Suryomentaram mengatakan bahwa orang yang sudah sampai tahap itu berarti manusia yang sempurna tanpa cacat. Manusia disebut insan kamil yaitu mereka yang sudah “luluhnya AKU yang DIENGKAUKAN diganti dengan AKU YANG TAK MUNGKIN DIENGKAUKAN (dudu kowe).” Pada titik ini, hal-hal di luar kejadian biasa atau hal-hal yang bertolak belakang dengan prosesi hukum alam tidak lain adalah hakikat primordial Tuhan.

Jadi, Manusia Sempurna adalah manusia yang tanpa angan-angan. Batinnya berada di dalam alam yang tanpa wujud, alam tanpa nilai, alam apa adanya. Inilah ARUPADHATU. Alam bebas tanpa kerangkeng dan penjara. Alam SUNYARURI, ALAM KETIADAAN, ALAM SUWUNG yaitu alam kebahagiaan yang bebas dari segala bentuk baik yang pernah dilihat maupun yang hanya diangankan.

Sebagai hadiah, mereka yang sudah berada di ALAM SUNYARURI ini akan mengalami SWARGA (kebahagiaan yang kekal abadi). Jadi SWARGA tidak “di sana”, melainkan “di sini”:

“Tidak ada seorang pun mengetahui kebahagiaan yang tersembunyi bagi mereka (yang mengenal diri sejati) sebagai anugerah amalan mereka” (QS 32,17).

@wongalus, 2009

Categories: HAKIKAT SURGA | 17 Komentar

HIZBUL BARQI = HIJIB HALILINTAR


Para pejuang kemerdekaan kita dulu memiliki semangat bertempur yang luar biasa. Mereka sangat percaya diri maju ke medan laga tanpa takut mati. Bila memang sudah tiba saatnya takdir dari Tuhan menjemput, saat tidur di kasur empuk pun orang pasti akan menemui ajal.

Pasrah dan ikhlas atas menerima apa yang terjadi memang sebuah keharusan. Namun ini tidak boleh diartikan kita pasif dan kehilangan jati diri. Ya, pada kasus-kasus yang khusus jangan lupakan ikhtiar untuk “mempertahankan diri”. Sebab mempertahankan diri dari serangan adalah sebuah perintah Tuhan juga. Kita ingat bagaimana Rasulullah, Muhammad SAW dulu harus berdarah-darah di medan perjuangan menegakkan kebenaran Tuhan. Bahkan, tidak ada satu pun utusan Tuhan yang bisa hidup melenggang tanpa ada rintangan. Perjalanan hidup mereka tidak seperti melaju di jalan tol yang lurus dan lempang. Tapi berliku dan penuh aral yang melintang.

Kita bisa memaklumi, kenapa dulu para shaolin, siswa vihara Budha harus melatih dirinya dengan berbagai ilmu perang agar bisa mempertahankan diri dari serangan para ninja. Padahal kita tahu, ajaran Budha sangat menonjolkan perdamaian dan menekankan kebersatuan dan harmoni dengan alam (tao).

Selain raga yang terlatih, para pejuang gigih membekali diri dengan olah batin/olah rasa dengan tingkat kedisiplinan yang luar biasa. Hasilnya pasti berbeda bila mereka tidak membekali diri dengan latihan olah batin. Yang gigih mengolah batin dengan amalan khusus akan selamat, dan tidak pernah mengolah batinnya akan celaka.

Salah satu contoh, dalam latihan olah batin Jawa diajarkan bagaimana menghilang dari kejaran musuh dengan amalan khusus yaitu Aji Panglimunan, atau mampu berlari dengan sangat cepat tanpa bisa terkejar musuh dengan amalan Aji Bayu Bajra, Ajian Kulhu Sungsang untuk menolak tenung, ajian Welut Putih untuk berkelit dari kepungan dan sebagainya. Bila pejuang tersebut tidak memiliki dua amalan ampuh ini, dengan mudah mereka tertangkap dan dihukum mati. Ya, hukum alam pasti berlaku. Maka, mereka yang akan maju perang harus bersiap dengan ilmu-ilmu kesaktian.

Bagaimana di jaman sekarang? Apakah masih relevan memiliki amalan-amalan khusus seperti ini? Jawabannya masih. Kenapa? Untuk menjawab pertanyaan ini, saya menggunakan kacamata awam saja. Bahwa kejahatan ada dimana-mana. Setiap hari, perampokan, penculikan, pemerkosaan, pembunuhan, kekerasan ada di sekeliling kita. Kita tidak pernah menduga, kejahatan itu ada begitu dekat dengan keseharian kita. Kalau pun kita sudah “selamat” dari kejahatan jalanan tersebut, kita masih belum benar-benar “aman” dari kejahatan yang dilakukan para koruptor, para makelar kasus, para pemimpin (sejatinya penjahat) yang berkedok pejuang rakyat.

Saya memiliki banyak pengalaman. Dulu, hampir setiap saat menginvestigasi para penjahat jalanan ini. Tidak untuk saya gebuki, namun untuk saya wawancarai agar mengetahui motivasi apa mereka melakukan kejahatan. Saya juga memiliki pengalaman bergaul dengan para pejabat. Hampir setiap saat, saya melihat bagaimana pencurian-pencurian uang negara dan penyalahgunaan wewenang mereka lakukan. Keduanya sama-sama merugikan orang lain untuk memenuhi hasrat/nafsu/egonya pribadi. Tidak ada kata “saya terpaksa melakukan kejahatan”. Sebab pilihan lain yang tanpa kejahatan pasti ada.

Kalau suatu hari perut saya lapar, saya tidak perlu mencuri uang tetangga karena ini kejahatan. Saya bisa mencari makan dengan ikut mencuci piring tetangga, teman, sahabat, atau orang lain yang punya rumah makan. Sehingga akhirnya muncul rasa belas kasihan mereka sehingga saya diberi makan. Jadi tidak ada alasan kita harus melakukan kejahatan dengan mencuri uang. Kalau suatu hari saya butuh mobil maka saya tidak boleh merampok bank untuk membeli mobil. Kenapa? Sebab selalu ada alternatif yang bisa kita pilih agar kita tidak melakukan kejahatan.

Nah, ada situasi yang benar-benar khusus yang mengakibatkan kita tidak punya pilihan selain melakukan “pertahanan diri” atau bahkan diperbolehkan “menyerang”. Daripada jauh-jauh mengambil contoh, saya mencontohkan apa yang pernah saya lakukan saja. Menceriterakan hal telah saya alami, tujuan saya tidak untuk menyombongkan diri namun sekedar berbagi untuk kawan-kawan muda agar tetap termotivasi untuk berjuang menegakkan apa yang diyakini benar menurut hati nurani.

Kejadian ini di tahun 2004. Korupsi gila-gilaan terjadi di sebuah lembaga legislatif lokal. Tercatat sebanyak 21 milyard uang rakyat dikorupsi dengan dalih dana tersebut untuk Pengembangan SDM (jumlah wakil rakyat ada 45 orang).

Saya mencari data akurat korupsi mereka sehingga saya akhirnya bisa melakukan tindakan strategis yaitu melakukan “penyerangan.” Mulailah saya lakukan sebuah operasi intelijen: pertama, mendirikan LSM untuk menggempur kejahatan sistemik itu. Kedua, saya mengkoordinasikan gerakan di tingkat grass root, termasuk menggandeng media-media massa agar demonstrasi kami diliput, hingga menekan kejaksaan aan banyak langkah lain. Hasilnya, seluruh anggota legislatif periode itu masuk bui termasuk Ketua dan Wakil Ketua.

Masih banyak contoh lainnya tindakan saya yang aneh, seperti membongkar kasus KKN para pejabat yang menjijikkan dll.. yang memaksa saya untuk memposisikan diri sebagai penjahatnya penjahat atau malingnya para maling.

Saya termasuk orang yang tidak bisa tinggal diam melihat kebobrokan moral yang dilakukan kaum “atas” yang ada di depan mata. Saya begitu heran, kenapa justeru saya yang bukan dari kalangan agamawan (yang merupakan benteng moral masyarakat) dan bukan dari kalangan aparat penegak hukum yang terpanggil untuk membela kaum yang lemah. Terus terang melihat kejahatan, dosa rasanya bila saya tidak “nyentil” atau mengingatkan mereka.

Pada saat keadaan yang sangat terpaksa saya harus tetap berpikir jernih untuk mengambil keputusan-keputusan penting untuk hajat hidup orang lain. Saya lebih memilih untuk menjadi “iblis” yang banyak dikambing hitamkan manusia karena dianggap sumber kejahatan. Padahal, perilaku manusialah sendirilah yang sesungguhnya jahat. Keberadaan Iblis, bukankah justeru menjadi tetenger agar manusia selalu awas eling dan waspada terhadap perilaku yang tidak berlandaskan garis ketetapan-Nya? Nanti, pada pengadilan akhir Jaman, Tuhan bisa jadi akan berkata seperti ini: Terima kasih, hai Iblis. Kau makhlukku paling konsisten untuk melaksanakan tugas. Sehingga ganjarannya silahkan kamu masuk surga yang pertama kali.

Sebagai penutup artikel ini ijinkan kami untuk memaparkan sebuah amalan olah batin khusus untuk “menyerang” yaitu AMALAN HIZBUL BARQI atau HIJIB HALILINTAR. Khasiat Hijib ini antara lain bisa membutakan musuh, menulikan dan membungkan mulut mereka sehingga menghalangi agar mereka tidak berbuat kejahatan. Lafal hijib tersebut adalah:

ASYHADU ALLA ILAAHA ILLALLAHU. WA ASYHADU ANNA MUHAMMADARRASULULLAHI. NARUDDU BIKAL ADAA A MINKULLI WIJHATIN, WABIL ISMI NARMIIHIM MINAL BU’DI BISY SYATAAT FA ANTA RAJAA II YA ILAAHII WASAYYIDII, FAFARRIQ LAMIIMAL JAYSYI IN RAMAA BII GHALAT

“Aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Dengan nama-Mu kami menolak musuh musuh dari segala arah. Dengan nama Allah kami melempari mereka dari jauh agar tercerai berai. Engkau adalah tempat aku berharap, Ya Tuhanku dan Tuanku, maka ceraiberaikanlah persatuan musuh, bila mereka bermaksud jahat padaku, maka didihkanlah mereka.”

Cara mengamalkannya: Puasa ngrowot (tidak makan nasi, telur dan daging) selama 7 hari. Selama puasa baca rijib ini rutin setelah sholat maghrib dan subuh 77 kali. @@

@wongalus,2009

Categories: HIZBUL BARQI | 85 Komentar

ILMU KARATONING WALI PITU


Iki Ilmu Karatoning Wali Pitu, waris saka panjenengane para wali kang pada sumare ing tanah Jawa kabeh.

Kang dingin, waris saka Ingkang Sinuhun Ngampeldenta
Waris saka Kanjeng Susuhunan Benang
Waris saka Kanjeng Susuhunan Prawata
Waris saka Kanjeng Susuhunan Lepenjaga
Waris saka Kanjeng Susuhunan Adi
Waris saka Kanjeng Susuhunan Kudus
Waris saka Kanjeng Susuhunan Bagadas

Ilmu kadadekake siji, mung kajumput kang luwih prelu bae, kabeh padha nganggo kawitan. Bismillahirrachmanirrakhimi. Ing ngisor iki ilmu-ilmune.

IKI PANUWUN TETEPING IMAN
“Jati pralina urip ing rahina, tunggangane sang buwana, syati saelah aku lan anakku lan rakyatku kabeh, reksanen sadina sawengi, ila masaalah aku lan anakku lan rakyatku kabeh, reksanen salawase”

KAWRUH MARANG PANUWUN
“Bumi camretan kasiya ginantang ing jalantara, sirnaning raga ilang nurja ilang, ilang karsaning Allah”

IKI MARANG KAWRUHE NGAURIP
“Wajib badan pasrahena ing leburen, rehina dadekna ati wajib, kalbine ing leburen atinira, dadekna roh wajib, bulpasraha nuli lembut, rahina wengi sirnaning badan, rokhani sifat leburen, atinira dadekna wahyu, den kasebut pangan tulis”

UGA KAWRUHING NGAURIP
“Papan lebur tulis ilang, apa kang jumeneng dzat utlak, chak ing piyambake”

KAWRUH MARANG PAMUJI
“Asasahu la ilaha karnuhu. Muhammadan Rasulullah sallallahu alaihi wasalam”

UGA MARANG PAMUJI
Allahu masaallah, ya Allah. Ya alam, ya kun la khaula wa la kuwwata ila billahil alayyil adiim”

IKI MARANG KAWRUH
Sechuallah ing ngarepku, walinullah ing buriku, aminullah ing tengenku, senurullah ing kiwaku”

IKI PEPUJIAN
“Siksa Allah, amit aku lan anakku lan rakyatku kabeh, aturu sadina sawengi, insya Allah aku lan anakku lan rakyatku kabeh, reksanen sadina sawengi, iya masaalah aku lan anakku lan rakyatku kabeh, reksanen salawase”

IKI KALIMAH LORO
“Caya caya mur caya, cahyaning Nabi Adam, mulane ana lanang wadon teka, Babu Kawa sakatahing caya preg mendeng ing cahyaku, la ilaha ilallahu, urip ing dewekira

IKI LANGIT LAPIS PITU
Gedonging suksma, pasebaning enur suksma mulya

IKI KHAKULLAH
Kala masa Allahu, ora ana nefsune, karo Allahu ora ana nabine, karo rabbahu ora ana rohe la ilaha ilalallahu ora ana pangerane

IKI PIKUKUHING SARIRA
“Kulhu balik ambekta Jabarail luputena pancabaya kulhu balik kulhu balik”

PURBA KARO WASESA
“Ashadu ing ananingsun, kebanuk ing araningsun”

TETULAK MARANG PIALA UTAWA MARANG WISA
“Tulak daya balik, luput kang dinaya kena kang andaya, jahil jahilullah sapa jahil dadi satruning Allah, tutup kunci mata kalbu, Ia ilaha ilallah, Muhammadar Rasulullah” (Pasa mutih 7 ndina 7 wengi, diwaca kaping 100)

IKI PANGASIHAN
“Puter giling mungguh ing giri wisesa, anuruhaken sarining bayu, guruning pangucap, guruning paningal, guruning pamiyarsa, guruning rasa, iya rasa iya rasul, ya Allah, ya Muhammad, roh idlafi ratuning nyawa sakelir, rohe sang prabu sumuyuda maring rohku, roh sumuyuda maring rohe sang prabu, sang prabu yen ningali yen angrasakaken maring rohku, teka welas teka asih maring aku, la ilaha ilallah, muhammadar rasulullah saw”

IKI PANGADEPAN KARO PANGASIHAN
“Puter giling mungguh ing giri wisesa, anuruhaken sarining bayu, guruning pangucap, guruning paningal, guruning pamiyarsa, guruning rasa, iya rasa iya rasul, ya Allah, ya Muhammad, roh idlafi ratuning nyawa sakelir, rohe wong sajagad pada sumuyuda maring rohku, roh sumuyuda maring rohe wong sajagad, wong sajagad yen ningali yen angrasakaken maring aku, pada idep tetep wedi welas asih marang aku, preg mandeg ing ngarepku la ilaha ilallahu urip ing dewekira”

IKI PANGADEPAN KARO PANGASIHAN
“Puter giling mungguh ing giri wisesa, anuruhaken sarining bayu, guruning pangucap, guruning paningal, guruning pamiyarsa, guruning rasa, iya rasa iya rasul, ya Allah, ya Muhammad, roh idlafi ratuning nyawa sakelir, rohe wong sabrang sumuyuda maring rohku, roh sumuyuda maring rohe wong sabrang, wong sabrang yen ningali yen angrasakaken maring aku, pada idep ngarepku aku, la ilaha ilallahu urip ing dewekira”

IKI PANGADEPAN MARANG KAWULA LAN KUTU KUTU WALANG TAGA
“Sechullah ing ngarepku, walinullah ing buriku, aminullah ing tengenku, senurullah ing kiwaku, ana kabeh wedi menyang aku”

PANGADEPAN SAWARNANING LELEMBUT
“Allahumma bahung kulon, malaekat satus punjul papat, kang rumeksa ing awakku, awakku ing anakku ing rakyatku kabeh, Allahumma bahung wetan malaekat satus punjul papat, kang rumeksa ing awakku, awakku ing anakku ing rakyatku kabeh, Allahumma bahung kidul malaekat satus punjul papat, kang rumeksa ing awakku, awakku ing anakku ing rakyatku kabeh, Allahumma bahung lor malaekat satus punjul papat, kang rumeksa ing awakku, awakku ing anakku ing rakyatku kabeh, Allahumma bahung ngisor malaekat satus punjul papat, kang rumeksa ing awakku, awakku ing anakku ing rakyatku kabeh, Allahumma bahung ndhuwur malaekat satus punjul papat, kang rumeksa ing awakku, awakku ing anakku ing rakyatku kabeh, la ilaha ilallah muhammadar rasulullah. (menawa ngapalake ora kena cedhak bocah cilik)

IKI PANGADEPAN KARO KAROSAN
“Gelap sayuta pangucapku, buta salekta ing swaraku alad alad ilad ilad ing jenengku, gunung rubuh segara asat, nyep aku jati wisesa purba mulya langgeng”

IKI PANGAGEMAN
Allah, Pangeran, iya Ingsun

IKI MARANG KAWRUNG PANGAGEMAN
“Badaningsun sir, nyawaningsun cipta, napasingsun rasa, iya ingsun kang jumeneng hidayatullah jengengingsun asmaning dzat, sifatingsun amarullah, nur rahmatullah, iya Ingsun azal kodratullah, kang suci tetep ing bumi suci, manik maya putih, manik maya suci, manik maya langgeng, Allah uripingsun, Ahmad nyaningsun, Rasulullah rasaningsun, iya badan iya nyawa, Iya Allah, Iya Ahmad Iya Rasulullahu alaihi wassalam”

ASMA DZAT KODRAT AF’AL
“Bismillahirrahmanirrahimi, hu iya Ingsun Sajatining Urip”

SALAT DAIM
Ana rasa sajroning obah, ana obah sajroning polah, Ingsun Polahe Allah”

SALAT MUTLAK
Ya ingsun Ila ning, Ingsun ning ing Allah

SALAT KUSTA
Sang ireng meneng osik pangrasane Sang eneng, meneng sajatining angrasa, Ingsun sajatining angrasa”

SALAT ISMU ALAM
“Metu murub Rasulullah, urub-uruh Dzatullah Allah mosik sajroning ati, Allah mobah sajroning ngrasa ya rasa ya Rasul, ya Rasul, ya Rasul

SALAT BATIN
“Adegku manusa kurda, rukukku jati sampurna, sujudku wujuding suksma, lungguhku barenging nyawa gleger jager wangsul nugraha”

SALAT WUJUD NING
“Ana ning sajroning eneng, ana ning sajroning langgeng, Ingsun dzating langgeng”

@wongalus, 2009

Categories: ILMU KARATONING WALI PITU | 15 Komentar

SHOLAT BATIN KANGGO NYENYUWUN NUGRAHANING PANGERAN


“Adegku manusa kurda, rukukku jati sampurna, sujudku wujuding suksma, lungguhku barenging nyawa, gleger jager wangsul nugraha”

Kapatrapake saben jam 3 bengi ngadeg ana satengahing latar utara satengahing ara-ara. Insya Allah ora suwe enggal katularan sih wahyu nugrahaning Pangeran kang metu saka ing kaelokan.

@wongalus,2009

Categories: DOA NYENYUWUN WAHYU | 8 Komentar

AMALAN MABUK CINTA DARI ACEH


Ini amalan mabuk cinta dari Negeri Serambi Mekah, Aceh Darussalam. Lebih tepat dipraktekkan para pemuda yang sudah siap menikah dan sudah punya calon pacar agar tergila-gila dengan kita.

Caranya:
Puasa 3 hari: Selasa, Rabu dan Kamis dan saat berbuka hindari makanan yang bergaram. Para Kamis malam, berdiri di halaman rumah menghadap orang yang dikasihi. Bila kita tidak tahu tempat tinggalnya maka harus menghadap ke empat penjuru mata angin secara bergantian dengan membaca mantra ini:

NERANJI ALAM TERHEMPAS DI BATANG NYIUR
SAMPAIKAN DOAKU MALAM HARI INI KEPADA RUH … (Nama orang yang dituju), JANGANLAH IA ….. (namanya lagi) DIBERI TETAP TIDUR. APABILA BANGUN DISURUH BERDIRI. APABILA IA BERDIRI DISURUH TERJUN. TIADA BERTANGGA MABUK GILA, MABUK BERCINTA. DATANGLAH RUH ….. BERKAT DOA INI MIMPI ALLAH MIMPI BAGINDA RASULULLAH.

Lalu baca: Laa Ilaaha illallah Muhammadar Rasulullah.

Perhatian: Selama puasa tidak boleh kencing berdiri.
@wongalus,2009

Categories: AMALAN MABUK CINTA | 92 Komentar

NGRAGA SUKMA BERTEMU PARA WALI


Orang yang sudah meninggal, sebenarnya jasad fisiknya saja mati. Ruh/Arwahnya masih tetap hidup di kelanggengan. Kita masih bisa bertemu dengan mereka.

Begitu juga dengan para leluhur penyebar agama Islam. Arwah mereka hingga kini masih bisa kita temui untuk ngangsu kawruh dan kita bisa meminta nasehat pada mereka. Ini amalan untuk bertemu dan terhubung dengan para wali waskita dari tersebut.

Sholat tahajud, 2 rokaat. Selesai sholat dan dalam posisi duduk maka baca Al Fatihah 41 X (empat puluh satu kali) yang ditujukan pada wali yang akan ditemui. Setelah itu baca ayat ini 1000 X:

Alaa ya’lamu man khalaqa wahuwallathiiful khabiir
(QSAl Mulk, 14).

Ucapkan dalam hati doa sebagai berikut: Ya Allah, temukan aku dengan yang terkasih wali……….

Pejamkan mata dan meditasi sehening heningnya. Tunggu sampai wali …. muncul di depan Anda dan sampaikan maksud Anda untuk menemuinya.

@wongalus,2009

Categories: NGRAGA SUKMA BERTEMU WALI | 95 Komentar

AMALAN ANTI SIHIR


Ilmu hitam atau sihir memiliki banyak tingkatan. Semakin tinggi ilmu sihir, maka semakin sulit ditangkal/disembuhkan. Ini amalan untuk mengatasi sihir yang tergolong berat.

Baca ayat kursi sebanyak 1.707 kali setiap malam Senin dan Kamis. Bila perlu lakoni puasa biasa 7 atau 40  hari dimulai pada hari weton penderita sihir. Insya Allah sihir seberat apapun akan sembuh dan tawar dengan ijin-Nya.

@wongalus,2009

 

 

Categories: AMALAN ANTI SIHIR | 23 Komentar

AMALAN JAHAT MENCELAKAI ORANG LAIN


Semoga kita selalu awas eling dan waspada agar terhindar dari apapun jenis kejahatan yang dipancarkan orang lain. Selalu berlindung kepada Allah SWT dan giat berlatih olah batin.

Kita beber di forum ini dengan tujuan agar dengan memiliki “pengetahuan” maka kita akan semakin bijaksana dan justeru tidak membuat kita melakukannya. Kita perlu pengendalian emosi karena orang yang tingkat spiritualnya tinggi pasti tidak akan melakukan perbuatan yang keji dan munkar sebagaimana orang-orang beraliran ilmu hitam.

Cara mereka yang berilmu hitam untuk  ngerjai orang lain dengan mudah sebagai berikut:
1. Usahakan foto/gambar orang yang akan dikerjai
2. Tanam foto di tanah dengan ditindih batu/bata di dekat tungku yang terbuat dari tanah (Jawa: tumang, luweng).
3. Sebelumnya, batu bata ditempeli dengan kertas yang ditulisi ayat yang bunyinya sebagai berikut:
Innamaa amruhuu idzaa araada syayan an yaquula lahuu kun fayakun (QS Yasin, 82).

Setelah ditanam, para dukun berpuasa selama 7 hari. Maka, orang yang akan dicelakai pun akan mendapat musibah.

Astaghfirullahaladzim, semoga kita selalu mampu untuk bersabar. Selalu menegakkan sholat karena sholat akan mencegah perbuatan yang keji dan munkar.  Dan ingatlah bahwa apa yang Anda lakukan ini nanti akan mendapat HUKUM KARMA: YAITU BALASAN DARI TUHAN SEBAGAI AKIBAT PERBUATAN KEJI YANG TELAH KITA LAKUKAN.

Untuk mereka yang masih mempraktekkan cara-cara mencelakai orang lain, mohon agar Anda segera bertobat kepada Tuhan Yang Maha Welas Asih.  Salam.

@wongalus, 2009

Categories: CARA JAHAT MENGERJAI ORANG | 141 Komentar

AMALAN MENGAMBIL “PULUNG” KEPALA DESA


Mencalonkan diri menjadi kepala desa membutuhkan “pulung” yaitu energi gaib yang ada di alam semesta atas ijin Allah SWT.

Tanpa upaya batin untuk mendapatkan ijin-Nya, maka usaha lahiriah semata tidak akan mendatangkan keberuntungan lahir dan batin. Amalan yang perlu dilakukan oleh Calon Kepala Desa adalah:

Puasa sunah 7 hari
Saat puasa, setiap sholat subuh dan ashar membaca ayat ini 21 kali dan ayat itu bunyinya;

WA ALQAYTU ALAYKA MAHABBATAM MINNI WALITUSHNA A ALAA AYNI. (QS Thaaha, 39)

Selesai puasa, bacalah ayat di atas 5000 kali saat malam hari mulai jam 23.00 sd selesai

Sejak mengamalkan amalan di atas hingga pelaksanaan Pilkades, Calon Kades dan isteri menyimpan di dalam dompet atau saku dan dibawa kemanapun bepergian yaitu nama-nama ashabul kahfi yaitu:

Maksalmiina,

Tamliikha,

Marthuunis,

Naynuunis,

Saribunis,

Dzuunawaanis,

Falyastathyuunis, dan

Qithmiir.

(nama ini ditulis di kertas/kain. Lebih afdol memakai bahasa Arab.

Semoga cita-cita menjadi Kepala Desa tercapai atas ijin Allah SWT.

@wongalus, 2009

Categories: AMALAN MENJADI KEPALA DESA | 36 Komentar

AMALAN MENGETAHUI DAN MENCARI PENCURI


Ini amalan yang banyak dipraktekkan para kyai jaman kuno. Yaitu amalan untuk mengetahui siapa pencuri barang yang hilang.

Cara untuk mengetahuinya sebagai berikut:
Sediakan piring yang diolesi sedikit minyak kelapa.
Sediakan lampu teplok yang menyala
Baca surat al fatihan (3 X) dan baca sholawat (3X) dengan batin ingin memohon pertolongan Allah.
Angkat piring di atas lampu teplok dan minta kepada seorang anak yang belum di khitan untuk berkaca pada piring tersebut
Pegang bagian belakang lehernya dan baca doa ini (3X):

“Walmalakulladzii bilaa abin wa-ummin. Laa akla laa syurba walaa nawma lahum”

Suruhlah anak tadi memperhatikan permukaan piring, dengan Ijin Allah SWT akan tampak wajah pencuri barang Anda. Bila anak tersebut belum melihat wajah pencuri, ulangi langkah ini dari awal.

@wongalus, 2009

Categories: AMALAN MENGETAHUI SI PENCURI | 79 Komentar

SEMUA DAUN BAMBU MEMPUNYAI BAYANGAN


Senin kemarin (2/11) pukul 20.23 WIB dalam sebuah perjalanan naik sepeda motor malam hari dari rumah menuju kantor untuk mengerjakan pekerjaan yang belum tuntas, saya mengalami sebuah kejadian tidak terduga.

Di sebuah jalan di tengah semak dan area pertambakan yang tenang dan disinari cahaya bulan, dalam hitungan kedipan mata tiba-tiba “sukma” saya terbang meluncur ke langit. Saya bisa merasakan pecahnya raga dengan sukma ini setelah sekilas melihat tubuh saya menjauh dari diri saya. Tubuh saya naik sepeda motor di jalan lengang, dan saya yang digapai sesosok ruh yang lain.

Dia kemudian menggapai tangan saya dan mengajak terbang ke sebuah awan. Di satu awan yang diliputi cahaya bulan itu, kami kemudian berhenti. Dia mengucapkan salam dan perkenalkan diri sebagai ruh binatang “wergul” (sejenis musang). Awan yang lembut dan basah itu menjadi permadani kami berdua untuk berdialog.

“Kamu tahu siapa aku?”

+Tidak tahu.

Aku ruhnya wergul

+Salam sejahtera untukmu

Sama-sama. Kau tahu untuk apa kau kuajak naik ke awan?

+ Tidak tahu

Kau kuajak sholat bersama ruh lain

+Alhamdulillah, terima kasih

Lihatlah di sekeliling sana, semua pada sujud di hadapan Ilahi. Yang berwarna coklat itu ruh para binatang, yang bewarna hijau itu ruhnya pepohonan, yang berwarna putih bersinar itu para malaikat-Nya… dan ruh manusia seperti kau lihat dirimu sekarang ini. Saat itu saya menyaksikan ruh saya sendiri tidak berwarna.

+ Allahu Akbar, ya saya benar-benar menyaksikan mereka…(Terlihat awan beriring yang jumlahnya sangat banyak tidak terhitung. Di awan-awan itu, tampak dari kejauhan bayangan beragam jenis makhluk Tuhan yang beraneka rupa. Ada yang duduk bersila, ada yang sedang sujud, ada yang sedang berdiri. Bayangan itu semakin jauh sehingga mata saya tidak lagi bisa menyaksikan mereka lagi.

Marilah kita sekarang menunaikan sholat.

+ Baiklah ya makhluk Tuhan, saya menjadi makmummu.

LALU KAMI SHOLAT DUA ROKAAT. DALAM SHOLAT SAYA LANGSUNG TIDAK SADARKAN DIRI BLANK, KOSONG, SUWUNG. Saya tidak mampu lagi mengingat apa yang terjadi saat sholat itu. Setelah mengakhiri sholat dengan salam, saya menunggu apa yang dikatakannya.

Sudahlah. Inilah tujuanku mengajakmu kemari. Menyaksikan betapa Maha Kuasanya Allah. Berterima kasihlah setiap hembusan nafasmu. Jangan pernah lalai, sombong dan tidak menyadari siapa dirimu.

+Terima kasih ya makhluk Tuhan. (Berkali kali dalam hati saya bersyukur yang tidak terhingga atas anugerah-Nya sehingga saya mendapatkan pengalaman gaib luar biasa ini. Rasa-rasanya tak pantas bila saya tidak menceriterakan pengalaman saya berhubungan dengan para makhuk Tuhan ke semua orang termasuk ke Anda, pembaca. Saya ingin bercerita agar Anda semua yang mungkin belum mengalami hal ini percaya sepenuhnya pada kegaiban makhluk Tuhan)

Baiklah, saya akan mengajakmu kembali (Dalam hitungan sepersekian detik, saya dituntun ruh wergul itu kembali ke bumi, Saya masuk tubuh saya kembali seperti sedia kala yang sedang mengendarai sepeda motor).

MENDAPATKAN JAWABAN
Sangat irasional, tidak masuk akal, bagaimana saya bisa terbang padahal saya bukan pesawat terbang? Saya juga tidak punya sayap, namun kenapa tiba-tiba saya bisa mengangkasa ke langit? Bukankah ini berlawanan dengan hukum newton mengenai gravitasi?

Semua itu terjadi dalam hitungan kecepatan yang tidak bisa diprediksi. Waktu di bumi begitu cepat, sementara saya diterbangkan begitu cepat dan bisa melaksanakan sholat. Saya hingga artikel ini ditulis menduga bahwa waktu kita dengan waktu ruhani itu sangat berbeda. Buktinya, saat itu saya bisa masuk kembali ke tubuh saya seperti sedia kala tepat dimana saya mulai keluar dari tubuh fisik saya.

Allahu Akbar…

Awalnya, saya enggan menceriterakan pengalaman gaib ini ke orang lain. Namun akhirnya saya mendapat petunjuk agar pengalaman gaib ini ditulis saja di blog dengan maksud agar pembaca bisa mengetahui bahwa alam gaib itu sungguh-sungguh nyata dan sangat bisa dipercaya.

Tiba di kantor, saya bertemu dengan Ki Kumitir, sahabat karib saya dan menceriterakan sedikit apa yang saya alami ini kepadanya. Sambil menyelesaikan pekerjaan kantor, kami pun terlibat diskusi ngalor ngidul padanya. Hari semakin larut dan Ki Kumitir pulang naik sepeda gunung hijau kesayangannya.

Saya meneruskan bekerja di depan layar komputer meskipun pikiran saya terpecah. Terus terang konsentrasi saya justeru pada pengalaman aneh tadi. Dalam hati saya bertanya soal jati diri siapa yang mengajak saya terbang ke angkasa tadi. Ya memang dia sudah memperkenalkan diri sebagai ruhnya wergul. Tapi benarkan ruh binatang itu ada? Aneh juga. Selama ini saya hanya mengenal dari buku atau dari informasi orang lain dan saya yakin begitu saja tanpa saya mampu membuktikannya. Ee… apa ini jin siluman binatang ya?

Beberapa jam kemudian, tiba-tiba komputer saya byar pet. Wah gangguan nih, apa voltase listrik kantor yang menurun ya? Saya bertanya dalam hati. Namun, tiba-tiba komputer nyala lagi dan tanpa saya sadari jari-jari tangan bergerak tanpa kendali, membuka koneksi internet dan langsung ke portal google. Di situ jari saya menulis kata kunci, klik enter dan langsung mengunduh tiga file yang total bermuatan tujuh belas buku elektronik yang terformat dalam bentuk Zip. Kalau ditotal, jumlah halaman buku itu sekitar 2000 halaman lebih. Saya membayangkan, kalau buku ini harus saya beli di toko buku berapa uang yang harus saya keluarkan ya?

Dalam waktu sangat singkat, satu persatu buku itu kemudian terdownload secara sempurna. Saya pun bersyukur Tuhan telah memberikan sebuah pengajaran yang langsung pada hari Senin malam itu. Pertama pengalaman spiritual dan kedua, jawaban pengalaman spiritual itu langsung dalam bentuk buku. Meskipun hingga kini belum semua buku tuntas saya baca, namun di salah satu buku itu saya telah menemukan jawaban bahwa yang mengajak saya mengangkasa adalah ruh binatang Wregul (sejenis musang).

Ya, dalam buku itu tertulis sebagai berikut: “Mereka bertanya kepada saya tentang ruh anak hasil aborsi. Apakah ada ruh anak hasil aborsi? Saya menjawab: SEMUA DAUN BAMBU MEMPUNYAI BAYANGAN (mungkin artinya semua yang menjadi makhluk Tuhan itu mempunyai ruh sesuai tingkat derajat masing-masing) Apakah ada gunanya memberi persembahan kepada ruh anak hasil aborsi? Hidup ini hanya ilusi. Begitu pula persembahan. Hanya mimpi belaka. Namun, ini adalah solusi terbaik untuk kedua belah pihak. Ruh anak hasil aborsi itu memiliki tempat tinggal, sedangkan si ibu mendapat ketenangan”

Dalam khasanah spiritualitas bangsa Jepang, semua yang ada memiliki ruh. Bahkan ruh binatang itu oleh orang Jepang disebut dewa. Salah satu dewa itu adalah dewa Daoh Hee (dewa yang berbentuk binatang musang). Di Jepang dewa ini sangat dielu-elukan, di Cina juga begitu. Mereka percaya bahwa dewa ini mampu mendatangkan rezeki yang banyak. Tubuh mereka memancarkan sinar harmoni ke lingkungan. Mata mereka jernih dan dalam. Meski berbentuk musang, namun mereka terlihat anggun dan senyumnya seperti gadis Jepang yang sipit dan sopan. Itu berarti yang mengajak saya untuk sholat di awan adalah benar-benar ruh binatang musang.

Akhirnya, saat menerima jawaban langsung dari Tuhan, saya hanya bisa pasrah menerima apa yang terjadi. Pengetahuan saya tentang dunia nyata dan gaib ini begitu terbatas dan kini saya tidak bisa berkata apa-apa selain mengimani sebuah ayat Allah yang baru saja dihamparkan di depan mata.

“Sesungguhnya Tuhanmu hanyalah Allah, yang tidak ada Tuhan selain Dia. Pengetahuan-Nya meliputi segala sesuatu.” [Surat Thaahaa: 98] ***

@wongalus,2009

Categories: BERKELANA KE ALAM RUH | 36 Komentar

MENEMBUS RUANG GAIB YANG TERSUCI DI LAPISAN CAHAYA MAHA CAHAYA


Meneruskan laku spiritual hingga tingkat tertinggi tidak boleh meninggalkan syariat. Misalnya, saat saya memeluk agama Islam, untuk mencapai taraf makrifat maka saya tidak boleh meninggalkan syariat sholat lima waktu. Banyak orang berpendapat, bila sudah mencapai taraf spiritual yang tinggi maka diperkenankan untuk meninggalkan syariat yang merupakan “kulit” untuk meraih makrifat atau “isi”. Bagi saya, orang yang demikian berarti belum mampu menghayati dan menyelami hakikat “sangkan paraning dumadi” yang sejati.

Hidup adalah proses belajar. Belajar menghayati semua fenomena hidup sehingga kita akhirnya bisa meminum segarnya menjadi wakil dan utusan Tuhan di bumi.Tubuh fisik kita terbuat dari empat anasir (air, api, udara, tanah) dan panca skanda. Untuk mencapai pencerahan sempurn, kita (orang-orang yang membina diri) menggunakan tubuh fisik (bagian dari diri kita yang semu) untuk menemukan diri kita yang sejati (diri sejati/guru sejati). Kita melahih diri kita terus menerus sehingga sifat diri sejati kita menampakkan diri. Penekanannya adalah kata MEMBINA DIRI.

Makrifat adalah satu momentum. Bukan kondisi yang berlangsung tetap. Meskipun kondisi spiritual kita telah mencapi tahap ini, namun itu tidak berlangsung tetap melainkan terjadi pada saat-saat khusus. Sementara tubuh fisik kita harus terus dilatih untuk mencicipi saat-saat untuk ekstasis itu. Sholat adalah bentuk meditasi (visualisasi) tertinggi dalam Islam. Dengan sholat, diri sejati akan menampakkan diri di hadapan kita dalam bentuk gerakan-gerakan sholat. Maka, sholat sebenarnya adalah bentuk latihan fisik dengan metode “menggunakan jasad fisik yang palsu untuk melatih yang asli.”

Penolakan para spiritualis untuk sholat, karena mereka secara epistemologis salah anggapan. Mereka beranggapan bahwa dunia ini sesungguhnya sesuatu yang riil dan terlepas dari pengamatan kita (realisme mutlak). Padahal dunia adalah berasal dari pikiran (idealisme) sehingga secara filsafati, tidak akan muncul kontroversi apabila kita melakukan syariat dengan benar.

Ya, syariat dengan tetek bengek ritualnya adalah sesuatu yang semu. Begitu juga dengan KEBENARAN sebenarnya adalah sesuatu yang semu. Namun dengan membayangkan bahwa hal tersebut tidak semu, maka benar-benar terjadi bahwa hal tersebut tidak semu. Supaya hal itu menjadi efektif, maka kita harus memiliki KEYAKINAN bahwa sholat, zakat, puasa, pergi haji dan syariat Islam lainnya adalah suatu hal yang bernilai dan nyata. Perlu diketahui bahwa Tuhan sebagai subyek persembahan kita sebenarnya memang menginginkan agar kita menyadari obyektivitas diri kita. Bahwa kita adalah obyek-Nya, merasa “diamati” oleh Sang Maha Subyek, sehingga secara etis dan filosofis adalah sebuah tindakan yang benar bilakita melaksanakan syariat untuk menyampaikan rasa hormat dan ikhlas kita kepada Tuhan.

Maka, dalam konteks itu akan terpetakan dua hal: OBYEK (hamba/kawulo) dan SUBYEK (Tuhan/Gusti./Ingsun). Keduanya memiliki tujuan dan kehendak yang berbeda. Sehingga untuk mencapai MANUNGGALING KAWULO GUSTI, tidak ada cara lain selain harus ada KESEPAKATAN antara subyek dan obyek. Kesepakatan itu bisa terjadi saat sang obyek harus manembah/sujud kepada subyek karena hanya subyeklah semua ini KUN atau terjadi. Obyek ada karena diadakan oleh Subyek. Subyek satu-satunya dasar kenyataan sehingga ketika kita (Obyek) melakukan dan menjalankan syariat, yang terjadi sesungguhnya yang terjadi adalah kita meluluhkan obyektivitas kita untuk bermanunggal menjadi subyek sejati.

Menundukkan kepala, menempelkan wajah di sajadah, menyebut nama Allah dan membayangkan bertemu serta berkomunikasi dengan Allah, semuanya itu agar mempunyai tujuan yang sama yaitu melatih kekuatan kemauan dan pikiran kita.  Bersujud saat sholat dengan menggunakan kekuatan pikiran secara hakiki adalah sebuah kunci pembuka hijab mata kita agar terbuka pada Kehadiran-Nya yang Maha Dekat di dalam ruang gaib yang tersuci di lapisan Cahaya Maha Cahaya.

@wongalus, 2009

Categories: RUANG GAIB TERSUCI | 17 Komentar

MENGHILANGKAN KEKUATAN PELET


Telah dipaparkan pada kesempatan terdahulu bagaimana amalan dan cara memiliki ilmu pelet pengasihan. Tidak arif rasanya bila kita tidak memaparkan pula amalan untuk menolak dan menawarkan pengaruh ilmu pelet.

Senin malam (2/11) sekitar pukul 23. 00 WIB, dalam sebuah olah rasa, Tuhan telah mempertemukan saya dengan seorang guru spiritual yang luar biasa. Salah satu dari sekian banyak hal yang diajarkannya adalah bertahan dari serangan ilmu sihir . Bisa dipraktekkan untuk menyembuhkan DIRI SENDIRI dan ORANG LAIN yang terkena pelet/guna-guna. Inilah caranya:

POSISI: Duduk meditasi. Buka Mata. Tangan kanan diturunkan. Tangan kiri di depan dada, telapak tangan menghadap keluar dan lurus mengarah ke depan.

VISUALISASI: Tubuh berubah menjadi gunung besar yang duduk tenang kokoh di atas bumi

MANTRA: Om Erna-Erna Peina Nanshiya Suara (7 x)

Latihan 7 hari di depan cermin yang menggambarkan bahwa DIRI KITA SEKOKOH GUNUNG BESAR DI BUMI. Para dukun akan tahu, bahwa dia telah berhadapan dengan seorang ahli esoterik. Ilmu sihir akan kehilangan kekutannya.

@wongalus, 2009

Categories: AMALAN ANTI PELET | 52 Komentar

MENGAKSES ENERGI ALAM SEMESTA UNTUK KEDAMAIAN HIDUP DAN MELENYAPKAN PENDERITAAN


Ini adalah salah satu amalan mengakses energi alam semesta dan digunakan untuk melenyapkan penderitaan yang kita alami, hidup dinamis dan mencapai kedamaian hidup.

Pejamkan mata, duduk santai dan visualisasikan sebuah teratai di dalam hati kita memancarkan cahaya putih ke semua anggota tubuh kita. Lalu, lantunkan puisi mantra ini di dalam hati.

“HATIKU ADALAH HATIMU
SEMUA HATI ADALAH SATU HATI
SATU HATI ADALAH HATI ALAM SEMESTA”

Lalu diam dan rasakan aliran energi alam semesta yang begitu dahsyat merambat di nadi, darah, tulang dan seluruh tubuh kita selama 5 menit. Sederhana dan mudah bukan? Ya, memang ini cara yang sangat sederhana dan tidak perlu diperumit. Mengakses energi alam ini ada di semua agama semua tradisi spiritual dan aliran kepercayaan manapun di dunia. Cara boleh berbeda namun, tentu saja hakikatnya sama: MENYADARI SEMUA YANG ADA BERASAL DARI SATU SUMBER. YAITU TUHAN YANG MAHA SEGALANYA YANG MERUPAKAN CAUSA PRIMA (SUMBER SEBAB TERAKHIR YANG TIDAK DISEBABKAN LAGI).

Praktek rutin visualisasi ini sangat efektif dapat melenyapkan semua penderitaan yang kita alami dan menghilangkan hawa nafsu serta mendapatkan pencerahan hakiki. Bahwa sesungguhnya manusia adalah bagian dari dinamika alam semesta. Dinamika kosmologis yang terhubung oleh satu kesadaran rasa/batin untuk selalu bersujud pada Tuhan.

Mengapa efektif? Sebab visualisasi ini secara esoterik akan menyapa alam semesta (Alam semesta adalah makhluk terbesar ciptaan Tuhan) secara tulus sehingga alam semesta juga menyapa kita dan terjadi transfer energi alam semesta yang luar biasa dahsyat.

Bila kita tidak mengirim getaran sinyal rasa welas asih pada mereka, bagaimana mereka dapat menerima sinyal kita? Karena itu hati yang tulus sangat penting kita pancarkan ke alam semesta. Hati yang tulus dapat menggugah hati alam semesta untuk menyelimuti kita dan memberikan energinya (yang sejatinya bersumber dari energi-Nya) pada kita. Sebaliknya, hati yang tertutup dan keras membatu akan memancarkan energi penolakan sehingga antara kita dan alam semesta tidak bisa nyambung dan alam juga tidak akan membuka pintu energinya untuk kita.

@wongalus, 2009

Categories: AMALAN MENYERAP ENERGI ALAM SEMESTA | 231 Komentar

HAKIKAT KIAMAT


“Pa, apa benar kiamat terjadi tahun 2012?”

Pertanyaan ini begitu mengusik saya. Betapa tidak, yang melontarkan pertanyaan adalah anak saya sendiri yang masih berusia 8 tahun. Saat saya tanya informasi itu datang dari mana, anak saya menjawab dari teman-teman sekolah.

Anak usia sekolah mendapatkan pengetahuan dari buku, dari  “katanya si peramal A, B, C” atau dari “buku A, B, C”. Orang Jawa mengatakan JARE. Pengetahuan yang berasal dari TEMBUNG JARE ini kemudian terus berkembang seiring dengan perkembangan usia anak.

Kini, saat kita sudah memasuki fase berada pada lingkaran puncak kedewasaan mental harusnya pengetahuan yang berasal dari JARE itu sudah tidak boleh diugemi lagi. Harusnya seseorang bisa mengalami bagaimana beragama, bagaimana beriman, bagaimana berperilaku. Apek implementasi dari JARE itulah yang harusnya didahulukan.

Bila di kitab suci dikatakan kita perlu yakin bahwa hari akhir/kiamat itu ada. Maka pengetahuan tentang keyakinan itu sudah harus bisa dibuktikan. Jangan mengaku beriman kalau belum membuktikan. Misalnya kita diberitahu bahwa Tuhan itu ada, namun apabila kita belum menemukan ada-Nya Tuhan maka iman kita tingkatannya masih sangat rendah. Ibarat kita percaya bahwa api itu panas namun apabila belum pernah keslomot merasakan panasnya api maka kita belum bisa dikatakan beriman secara sempurna.

Kita harus berikhsan, kita perlu makrifat, kita perlu mengalami dan menyaksikan sendiri dengan akal budi, jiwa, batin, rasa. Amat sangat disayangkan bila umur kita dihabiskan hanya untuk mengumpulkan pengetahuan namun tidak mampu mengolahnya dan mengalaminya. Seperti kita bisa mengumpulkan banyak uang namun tidak bisa menikmati uang tersebut untuk kebahagiaan. Buat apa? Mending memiliki sedikit uang, mending memiliki sedikit pengetahuan namun bisa memberikan kemanfaatan bagi hidup kita yang sejati.

Tuhan Maha Adil dan Bijaksana. Masing-masing orang diberi rezeki dengan ukuran yang berbeda-beda. Namun setiap orang diberi kesempatan yang sama untuk menemukan cahaya kebenaran yang akan menjadi pencerahan di gelapnya hidup di dunia materi apus-apus (tipuan) ini.

Pemahaman terhadap kiamat juga harusnya tidak sekedar diyakini karena kitab suci mengatakan seperti itu. Kiamat juga harusnya juga bisa dialami oleh masing individu sehingga kita benar-benar yakin. Tidak hanya tembung JARE. Dan apa hakikat kiamat tersebut?

Untuk sementara tinggalkan dulu dan masukkan dulu pemahaman dan pengetahuan lama yang tentang kiamat yang kita dapatkan dari guru-guru agama SD, dari buku-buku dan informasi-informasi dari para agamawan. Marilah kita sejenak menjadi petualang spiritual dengan menelusuri dengan pengalaman mendapatkan kiamat yang sudah kita alami.

Kita mulai dengan pertanyaan apa itu kiamat? Menurut saya, kiamat adalah berkurangnya unsur penciptaan yang berproses secara evolutif. Seperti saat dulu kita ada untuk pertama kali di dalam KUN awal: IDE atau RENCANA TUHAN. Saat kita berada di alam ide itu mengalami kesempurnaan maka kita kemudian mengalami kiamat sedikit demi sedikit hingga kemudian ada di rahim ibu. Dan saat janin sudah mengalami kesempurnaan maka kita akhirnya mengalami kiamat hingga kemudian dilahirkan di dunia.

Dunia kita berkembang mengiringi kesempurnaan kesadaran ruh(ani) kita. Saat ruhani sudah mengalami puncak kesempurnaan, lama-lama kita akan mengalami kiamat berupa muksa yaitu transformasi ruh menuju alam ruhani sejati (alam kelanggengan). Ini kiamat diri pribadi. Bagaimana dengan kiamatnya dunia dan seisinya?

Saya beranggapan bahwa dunia ini sesungguhnya tidak ada bila saya tidak ada. Saya berpikir/ merasa (tentang adanya dunia) maka saya ada (dan dunia pun ada).  Sehingga penghubung antara adanya saya dengan adanya dunia adalah kesadaran tentang keberadaan. Kesadaran sebagai jembatan penghubung inilah yang dalam dunia kebatinan disebut rasa pangrasa.

Sekarang soalnya adalah kesadaran/rasa pangrasa. Apakah kita masih menganggap bahwa kita merasa ada sehingga kemudian dunia pun ada? Sebaliknya, apakah kita sudah mengakhiri dengan kesadaran bahwa kita sejatinya tidak ada sehingga dunia ini tidak ada?

Dalam ajaran sangkan paran makrifat, kita diberitahu bahwa sejatinya kita ini tidak ada. Hanya Tuhan/Gusti/Ingsun yang ada. Sehingga dunia pun sejatinya tidak ada. Inilah tingkat pengetahuan paling hakiki, paling inti, paling substansial yang ditemukan oleh manusia yang sudah mencapai tahap Wakil Tuhan.

Diri yang sudah tidak menyadari keberadaannya, diri yang sudah tidak mengakui dia berada, diri yang sudah tidak merasa memiliki rasa punya (ora duwe rasa duwe), hanya DIRI-NYA yang ada sehingga proses kemudian berjalan terus, kiamat pun akhirnya terjadi lagi setelah datangnya kesempurnaan.

Inilah hakikat kiamat. Sehingga saya berani bertaruh dengan semua paranormal hebat sedunia meskipun mereka meramalkan bahwa kiamat akan terjadi pada tahun 2012, namun saya yakin tidak akan terjadi kiamat pada tahun itu. Sebab apakah masing-masing dari kita sudah mengalami masa kesempurnaan kesadaran pribadi?

Selama masih ada bayi yang dilahirkan di dunia ini, selama itu pula Tuhan memberi kesempatan mereka untuk mengalami masa kesempurnaan diri. Tidak mungkin ujug-ujug datang kiamat sebelum dia memberi pengajaran pada setiap pribadi hingga mencapai sempurna. Nah, ada sedikit bocoran: tanda-tanda kiamat adalah tidak ada bayi yang lahir. Kapan itu? Tidak pernah ada bukan saat manusia tidak melahirkan bayi?

Maka sejatinya kiamat sebagaimana yang dipahami seperti bom meledak itu untuk sementara tidak perlu dikhawatirkan kedatangannya. Kecuali kalau kita sudah sempurna, maka bersiap-siaplah mengalami kiamat.

Ya, hidup sebagaimana yang kita alami sekarang ini sesungguhnya adalah sebuah panggung game maya di layar komputer. Hidup yang riil, kongkret, nyata adalah berada di luar komputer itu terus meruang-mewaktu bersama ruang-waktu-kehendak INGSUN YANG MAHA SEMPURNA-HIDUP KEKAL ABADI. Di situlah makna bahwa saat pribadi (kawulo) sudah bisa manunggal dengan Tuhan (Gusti), maka di situlah sejatinya kiamat itu tidak pernah ada.  Karena kesempurnaan Dzat, Sifat dan Perbuatan-Nya tidak akan menyusut dan memudar.

@wongalus, 2009

Categories: HAKIKAT KIAMAT | 15 Komentar

LOLOS DARI APARAT


Lupa adalah karunia dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Lupa adalah mekanisme otak agar bisa tetap fokus di satu hal dan agar otak kita tidak kelebihan beban yang bisa berakibat stress. Bahkan dalam hukum Tuhan pun, lupa tidak ada dasar hukumnya sehingga tidak berdosa orang yang lupa mengerjakan ibadah apapun termasuk sholat.

Namun hukum di dunia berkata lain. Lupa tetap dianggap sebagai kesalahan dan harus menanggung konsekuensinya. Misalnya, bila Anda kebetulan lupa tidak membawa surat-surat kendaraan, maka Anda tetap dinyatakan bersalah oleh aparat penegak hukum.

Tuhan Maha Adil Bijaksana dan Maha Pelindung. Hukum-Nya melindungi manusia dari jeratan hukum dunia (yang sebenarnya dibikin oleh manusia sendiri). Nah, apabila kebetulan suatu ketika Anda lupa membawa surat-surat kendaraan padahal sedang ada pemeriksaan aparat penegak hukum maka lakukan amalan di bawah ini:

Hapalkan dan baca doa ini dengan hati khusyuk kepada Tuhan saat Anda melihat ada operasi pemeriksaan kelengkapan surat-surat kendaraan:

Ta’azzaztu birabbil izzati wal jabaruut, watawakaltu alal hayyilladzii la yamuutu syahatil wujuuhu (3 x), wa’amatil abshaaru (3 X) tawakaltu alal wajhil qahhaari walaa hawla walaa quwwata illa billaahil aliyil adziim.

“Aku menjadi kuat dengan pertolongan Tuhan yang memiliki kekuatan dan kekuasaan dan aku berserah diri kepada Tuhan Yang Maha Hidup, Yang tidak pernah mati. Merunduklah wajah-wajah dan butalah pengelihatan-pengelihatan. Aku berserah diri kepada Dzat Yang Maha Memaksa dan tidak ada daya serta upaya kecuali dengan pertolongan Allah Yang Maha Luhur lagi Maha Agung.”

Lalu tiupkan ke arah dimana Bapak Aparat berada. Insya allah Anda akan lolos dari cegatan atau pemeriksaan. Doa ini terbukti benar-benar efektif. Kendaraan kita akan lolos dari operasi penegak hukum.

Semoga Tuhan Yang Maha Pelindung akan selalu melindungi kita semua dari urusan hukum yang menyita banyak energi. Buat Bapak-bapak pembaca yang kebetulan berprofesi sebagai aparat penegak hukum, karena saya sudah membuka rahasia ilmu kebatinan dan olah rasa Islam jadi ya ngapunten alias mohon maaf sebanyak-banyaknya…

@wongalus,2009

Categories: AMALAN LOLOS DARI APARAT | 73 Komentar

CARA MENUNDUKKAN SANTET


Ada banyak metode menyembuhkan orang dari santet. Ini adalah cara seorang pertapa Tibet sebagai tambahan wacana untuk kita.

Metafisika ‘ilmu hitam’ berprinsip bahwa segala sesuatu yang ada di alam semesta mempunyai kecerdasan dan kesadaran tersendiri. Sebagian baik dan sebagian jahat. Kecerdasan atau kesadaran ada di semua makhluk hidup di alam semesta, tidak terkecuali makhluk hidup yang ada di alam gaib.

Paranormal adalah orang orang yang mempunyai kemampuan untuk berkomunikasi dengan makhluk gaib dan dapat memerintahkan mereka untuk mencelakakan orang, dan dapat menyiksa korbannya sampai tunduk kepada mereka. Ilmu hitam tradisional amat banyak ragamnya dan semuanya berkaitan erat dengan jagad lelembut tadi.

Ini kisah seorang yang terkena santet yaitu seorang wanita sebut saja namanya Yeni. Sekitar matanya kuyu kehitaman. Pandangannya kosong. Dia mengatakan, selama satu minggu terakhir ini sekitar jam 3 pagi dia tiba-tiba bangun.

“Seolah olah ada orang lain di kamar saya. Jantung saya deg-degan dan gelisah tidak menentu. Saya mungkin akan mati karena sakit jantung. Setiap hari pikiran melayang entah kemana. Makan dan tidur tidak enak. Entah harus berbuat apa. Saya tidak pernah mengalami hal seperti ini sebelumnya” paparnya.

Yeni akhirnya berkonsultasi dengan seorang Pertapa yang lama hidup di Tibet. Sang pertapa kemudian meminta sebuah baju bekas Yeni. Kemudian pergi ke persimpangan jalan di dekat rumah Yeni. Dia menancapkan tiga batang dupa di jalanan dan menyalakan lilin merah. Lalu, membaca nama dan tanggal lahir Yeni dan membaca mantra. Kemudian membakar beberapa lembar “kertas emas” dan selembar “kertas kuda”.

Pertapa yang gentur meditasi itu kemudian berdiri di persimpangan jalan sambil memegang baju bekas Yeni itu. “Saya menunggu terus sampai rohnya kembali dengan menunggangi kuda. Kemudian saya menyuruh yeni itu mengenakkan baju bekas yang sudah dimasuki rohnya itu. Si nona telah kembali normal seperti biasa kan..,” ujarnya.

Setelah sembuh dari guna-guna, Yeni menceritakan awalnya kena guna-guna. Suatu hari, dia menemani keluarganya pergi ke seorang dukun di luar kota. Disana, rupanya Yeni ikut ngobrol dengan si dukun dan terang-terangan menyatakan tidak yakin bahwa dukun itu memiliki kemampuan supranatural. Rupanya, sang dukun sakit hati dan pura-pura meramal Yeni dengan minta tanggal lahirnya. Secara tidak sadar, Yeni memberikan tanggal lahirnya dan perempuan cantik ini pun dikerjai dukun.

Ya, dukun ini telah menggunakan GUNA GUNA atau SANTET. Banyak metode untuk menyantet. Misalnya memakai mangkuk yang setengah terisi air bersih. Didepan mangkuk, sebatang lilin putih kecil dinyalakan. Si dukun membaca nama dan tanggal lahir calon korban, lalu membaca mantra. Jika si dukun telah dapat melihat bayangan kabur dari si korban muncul didalam air, maka berarti si korban telah digaet ruhnya.

Ada yang menggunakan orang orangan yang terbuat dari rumput. Sepotong kertas yang ditulis dengan tanggal lahir si korban dimasukkan ke bagian hati dari orang orangan itu. Lalu, didepan orang orangan itu, dupa dan lilin dinyalakan. Mantra dibaca sampai rumput pada orang orangan itu dapat bergerak sendiri seperti ditiup angin. Pada saat itu, ruh si korban telah berhasil diambil masuk kedalam orang orangan itu.

Ada lagi yang memakai batok kelapa. Didalamnya, rambut dan kuku si korban di masukkan, bisa juga menggunakan perhiasan yang sering dipakai si korban. Dupa dan lilin dinyalakan didepan batok kelapa itu. Mantra dibaca sampai ada hawa keluar dari mulut batok kelapa itu. Batok kelapa kemudian ditutup rapat. Ini berarti ruh si korban telah terkurung didalam batok kelapa itu.

Orang yang telah diambil ruhnya akan tampak seperti linglung, akan sakit-sakitan, pusing, dan lesu. Akhirnya, bila tidak diobati maka akan pingsan. Jika tidak segera ditolong, ruhnya bisa melayang. GUNA GUNA SANTET yang tertinggi adalah menggunakan batok kelapa untuk mengurung ruh si korban dan kemudian menutup mulut batok kelapa itu dengan “hu”. Ilmu ini sungguh sadis dan dapat mematikan orang.

Sang pertapa Tibet menggunakan cara esoterik untuk menundukkan GUNA GUNA SANTET dengan cara sebagai berikut:

SEDIAKAN BENANG LIMA WARNA DAN TARUH DIATAS LANTAI. KEDUA TELAPAK TANGAN TERBUKA KE ATAS.

VISUALISASIKAN TUHAN MEMANCARKAN SINAR PUTIH YANG MENYOROT BENANG LIMA WARNA ITU. LALU, VISUALISASIKAN SINAR MERAH MENYOROT BENANG PANCA WARNA ITU. TERAKHIR, VISUALISASIKAN SINAR BIRU MENYOROT BENANG ITU.

Mantranya:  “OM PADMAPASA HUM TISTA SOHA” sebanyak 108 kali.

Benang panca warna itu kemudian dikantongi atau digunakan sebagai ikat rambut atau dililitkan di tangan. Maka, GUNA GUNA SANTET tidak akan mampu mencelakakannya.

GUNA GUNA SANTET bekerja berdasarkan kekuatan batin. Orang yang tidak memiliki daya tahan mudah atau batin lemah mudah sekali terkenal SANTET. Orang yang lemah seperti itu sebaiknya banyak melakukan ibadah dan banyak berdoa. Sebab  ibadah dan doa adalah sebuah bentuk olah batin yang baik. Orang yang ruhnya sudah bisa keluar dari tubuh fisiknya (ngraga sukma) tak bisa lagi terkena ilmu santet seperti ini sehingga tidak menjadi masalah bila tanggal lahirnya diketahui orang lain. @@@

Categories: ILMU PEMUSNAH SANTET | 60 Komentar

MENCARI PETUNJUK DENGAN ISTIKHARAH


Hidup adalah pilihan. Setiap hari, kita dihadapkan pada berbagai alternatif pilihan. Kadang dalam suatu persoalan, pilihannya tidak selalu baik dan buruk, benar dan salah.

Namun kadang adanya jelek dan sangat jelek, bagus dan sangat bagus. Pada situasi-situasi khusus, kita memerlukan bantuan untuk memilih dua, tiga, atau empat alternatif sekaligus. Misalnya memilih calon isteri atau suami yang pilihannya lebih dari satu.

Adalah sebuah kewajaran bila dalam tindakan memilih tersebut harus hati-hati. Jangan salah pilih sebab bisa-bisa menyesal di kemudian hari. Penyesalan sebenarnya tidak boleh terjadi sebab kita lah yang telah memutuskan menentukan pilihan dengan sadar. Termasuk konsekuensi-konsekuensi yang muncul dari sebuah tindakan memilih.

Salah satu upaya batiniah agar kita tidak salah memilih adalah dengan melakukan istikharah yaitu meminta petunjuk Allah SWT agar berkenan membantu untuk menentukan pilihan terbaik. Terbaik di “mata” Allah, bisa jadi berbeda dengan terbaik di “mata” kita. Sehingga kitalah yang harusnya menuruti kehendak/karep-Nya. Bukan sebaliknya. Banyak cara beristikharah, antara lain dengan cara berikut ini:

1. BERWUDHU dan ambil Al Qur’an dengan sikap tawadhu’ dan ikhlas.
2. Baca Surat Al Fatihah (1 x)
3. Baca Surat Al Ikhlas (3 x)
4. Baca Surat Al Falaq (1 x)
5. Baca Surat An Nas (1 x)

Lanjutkan dengan membaca doa: “Bismillahirrohmanirrohim. Allahumma innii tawakkaltu alayka fii ghaybika waqultu bikitaabika fa-arinii ma huwal maktuubi fii sirrikal maknuuni fii ghaybikal mahzuuni. Allahumma Antal haqqu anzilil haqqa alal haqqi birahmatika yaa arhamarraahimiin.”

Lanjutkan dengan Sholawat Nabi (10 x)

Selanjutnya: Buka Al Quran sekenanya, lalu buka lagi tujuh lembar berikutnya. Kemudian lihat baris ke-7 dari atas. Pada baris itu, carilah huruf yang berdiri sendiri (tidak gandeng dengan yang lain) yang pertama kali. Huruf itulah yang akan menjadi petunjuk. Adapun keterangan setiap rinci arti yang ditunjukkan oleh huruf sebagai berikut:

ALIF: tanda apa yang Anda lakukan itu baik dan dapat dilakukan dengan sempurna
BA: tanda apa yang Anda lakukan itu baik dan dapat dilakukan dengan sempurna dan dikabulkan Allah.
TA: tanda Anda harus segera bertobat agar selamat
TSA: tanda akan mendapatkan pekerjaan yang mulia
JIM; tanda harus bersabar menjalani agar selamat
HA: tanda mendapatkan kemenangan dari segala upaya orang lain yang ingin menjatuhkan atas ijin Allah.
KHA: tanda harus betul-betul menjaga diri bila tidak akan menyesal
DAL: tanda akan mendapatkan pekerjaan yang mulia
DZAL; tanda akan mendapatkan kemenangan
RA: tanda akan mendapatkan keagungan
ZA: tanda apa yang Anda lakukan tidak baik. Bila dilakukan akan mendapatkan kesulitan dan penyesalan
SIN: tanda apa yang Anda lakukan itu baik dan dapat dilakukan dengan sempurna
SYIN: tanda akan bertemu musuh maka hati-hati
SHAD: tanda apa yang Anda lakukan itu baik dan akan mendapat kemenangan
DHAT: tanda apa yang Anda lakukan tidak baik dan tidak sesuai
THA: tanda apa yang anda lakukan itu baik dan akan mendapatkan apa yang diinginkan
ZHA: tanda akan mendapatkan pertolongan Allah.
AIN: tanda akan diberi kemudahan oleh Allah
GHAIN: tanda bila Anda rajin dan ikhlas maka Tuhan memberikan pertolongan
QAF: tanda kebaikan karena mendapatkan perlindungan Allah
KAF: tanda Anda akan banyak memberi sedekah dan ikhlas
LAM: tanda akan mendapatkan kebaikan dan keselamatan dari musuh-musuh
MIM: tanda akan mendapatkan pangkat derajat serta kesehatan, tercapai keinginan
NUN: tanda mendapatkan anugerah dan rajin ibadah
WAWU: tanda mendapatkan kebaikan dan rezeki asal sabar
HA: tanda kehancuran musuh Anda dan tanda mendapatkan kebahagiaan
HAMZAH: tanda mendapatkan pekerjaan yang baik namun harus sabar, rendah diri dan perbanyak bersedekah
YA: tanda bahwa sesuatu yang jauh akan mendekat dan mudah, akan mendapatkan untung banyak dan rezeki berlimpah.

Ini adalah salah satu laku untuk memohon petunjuk Allah SWT melalui sarana olah kebatinan Islam. Masih banyak cara lain yang sesuai dengan agama, tradisi, adat istiadat dimana kita tinggal. Marilah kita memohon perlindungan hanya pada-NYA dari petunjuk yang sesat dan kabur yang akan membuat kita memilih pilihan yang salah dan keliru. Semoga bermanfaat .

@wongalus,2009

Categories: ISTIKHARAH | 39 Komentar

MENUMBAL RUMAH DAN PEKARANGAN


Apabila Anda membeli tanah pekarangan dan ingin agar nanti dalam membangun rumah dan menempati rumah tersebut bisa aman tidak ada gangguan, atau Anda merasa bahwa di pekarangan Anda terasa sangar dan ada sesuatu yang tidak beres, maka ada baiknya dilakukan laku untuk menumbal pekarangan/rumah tersebut.

Menumbal pada hakikatnya adalah menselaraskan energi “chi” negatif yang ada agar menjadi netral, bahkan menjadi positif sehingga nantinya apabila tanah pekarangan tersebut dihuni maka penghuninya tidak mengalami godaan atau bila digunakan untuk kepentingan bisnis dan lain-lain akan mendatangkan keuntungan.

Laku untuk menumbal rumah yaitu puasa 2 hari, dilanjutkan dengan patigeni sehari semalam. Perlu disediakan uyah/garam 4 genggam serta membaca doa 4 x saat jam 1 malam sambil mengitari pekarangan/rumah. Garam 4 genggam tadi ditabur-taburkan hingga habis. Jadi kita berkeliling rumah tersebut 4 kali. Doanya sebagai berikut:

“Danyang smara bumi, ingsun pakuning bumi, asuning rijeki mring sira sanak putumu salawase, sira sun pitaya njaga karas iki, sira sun waleri tan kena angganngu gawe, sira manggona ing pernah pojok papat; slamet slamet slamet soko kersaning Allah”

Setelah selesai membaca doa dan berkeliling pekarangan 4 kali, kemudian duduk di belakang rumah, menghadap menurut arah rumah/pekaranga menghadap. Kalau rumah menghadap ke selatan, maka duduknya menghadap ke selatan juga. Duduknya ditata yang paling nyaman kemudian diam hening meditasi mengheningkan cipta, nanti kita akan mendapatkan bisikan gaib dalam hati. Bila sudah mendapat bisikan gaib, maka kita boleh mengakhiri laku tersebut untuk makan atau tidur. Namun bila belum, maka laku diteruskan sampai pagi, dan boleh makan dan tidur.

Maka, pekarangan/tanah yang energinya “chi” negatif akan berubah menjadi positif, bila ada makhluk halus maka mereka tidak akan mengganggu atau bila rumah tersebut untuk dihuni/untuk keperluan bisnis maka akan mendatangkan menguntungkan atas kehendak Tuhan Yang Maha Kuasa.

@wongalus,2009

Categories: MENUMBAL RUMAH PEKARANGAN | 12 Komentar

AJI PANGLIMUNAN: MENGHILANG DARI PANDANGAN MATA


Diciptakan untuk dijalani. Diciptakan untuk dicoba dan berhasil. Inilah prinsip siswa perguruan olah batin. Bagaimanapun juga diciptakannya banyak ajian oleh para leluhur kita dulu tidak hanya untuk menjadi perbendaharaan ilmu kesaktian saja. Namun, berbagai ajian itu diciptakan agar dilakoni/dijalani dan memberikan kemanfaatan.

Pada suatu kurun waktu, adalah sebuah suratan takdir bila seseorang harus mengalami sebuah kejadian yang tidak diharapkannya. Misalnya, apa yang dialami oleh nenek atau kakek kita dulu, atau simbahnya kakek atau nenek kita dulu. Kalau di suruh memilih, mungkin mereka akan memilih hidup di jaman sekarang yang serba enak dan mudah. Namun, karena takdir akhirnya mereka harus dilahirkan pada jaman peperangan, jaman sengsara, jaman dimana seleksi alam berlaku: yang kuat akan menang dan yang lemah akan kalah.

Dalam khasanah perbendaharaan ilmu kesaktian Jawa, kita mengenal Aji Panglimuman. Pemilik ajian ini benar-bila bisa menghilang dari pandangan mata sehingga tidak bisa dideteksi keberadaannya. Para pendekar yang memiliki aji panglimunan dipastikan mereka yang ilmu kesaktiannya sudah sampai tataran tinggi. Olah rasa/batinnya sudah benar-benar bisa dibuktikan. Sebab ajian ini sebenarnya untuk njangkepi/melengkapi semua ajian yang sudah ada.

Ajian panglimunan adalah jenis ajian yang tidak digunakan untuk menyerang, namun untuk menghindar dari serangan fisik dan metafisik. Maka sifat Aji panglimunan ini adalah untuk bertahan dan menjauh tanpa diketahui oleh pihak lawan. Meskipun begitu, Aji Panglimunan juga bisa digunakan untuk memasuki wilayah-wilayah musuh untuk mencuri informasi penyerangan. Maka ajian ini cocok untuk para telik sandi namun tidak boleh digunakan untuk mencuri. Sebab, bila digunakan untuk mencuri untuk kepentingan pribadi, maka si pemiliknya akan mendapatkan celaka.

Untuk mendapatkan ajian langka ini, para murid paguron harus melaksanakan laku sebgai berikut: Puasa ngebleng 7 hari 7 malam, dimulai pada hari Selasa Kliwon. Mantra ajian ini sebagai berikut:

“Sir ora katon, sirep berkat saking nabi Muhammad la illaha illallahu yahu anta anta hem, iyo iyo hum nasrum hu allah”

Setelah usai menjalani laku, pagi harinya saat matahari terbit para murid ini merapalkan mantra aji panglimunan dan membuktikan apakah mereka sudah bisa menghilang dengan cara melihat bayangannya sendiri. Tanda-tanda ajian ini sudah bekerja dengan baik adalah bila tubuhnya sudah tidak ada bayangannya lagi. Ini artinya mata manusia biasa sudah tidak bisa melihat dirinya lagi.

Namun, bila belum berhasil menghilangkan tubuh, itu berarti dia masih belum menguasai aji panglimunan dan harus kembali menjalani laku puasa ngebleng dari awal.

Bila sudah berhasil menguasai ajian hebat ini termasuk juga ajian lin, oleh para leluhur kita disarankan untuk menggunakannya dengan bijaksana yang disertai dengan sikap rendah hati dan mampu menguasai emosi sebaik-baiknya. Bhirawa Anoraga: Perkasa tapi rendah hati. Sebab sebaik-baik manusia adalah manusia yang berbudi luhur dengan memeri kemanfaatan pada sesama, mengayomi/melindungi mereka yang lemah dan tidak menebar permusuhan. Kebaikan pasti akan mengalahkan kejahatan. “Suradira jayadiningrat, lebur dening pangastuti.”

@wongalus,2009

Categories: AJI PANGLIMUNAN | 155 Komentar

HARI YANG PALING BERBAHAYA


“dalane waskita saka niteni”

Salah satu karya para leluhur Jawa dalam membaca tanda-tanda atau gejala alam kosmis adalah Primbon. Membaca ILMU TITEN yang berbentuk Primbon, kita seakan diajak untuk membuka kamus tentang hidupnya orang Jawa yang penuh dengan ‘petung’ atau hitung-hitungan. Misalnya, kapan kita tidak boleh bepergian, kapan kita boleh melaksanakan hajatan, apa makna di balik mimpi, cara berdoa dan lain sebagainya.

Tidak salah kiranya kita membaca primbon dengan niat agar kita juga bisa menyerap kearifan nenek moyang kita dulu dalam mengolah hidupnya dan berjuang di dunia yang keras ini. Para nenek moyang kini tentu sudah tiada, namun mereka meninggalkan warisan yang tidak ternilai harganya. Kemerdekaan bangsa, tata nilai dan peradaban yang adi luhung, kesadaran antropologis-kosmis, bahkan nilai-nilai religiusitas yang kita anut bukankah itu juga peninggalan nenek moyang?

Pada kesempatan kali ini, akan dipaparkan apa HARI YANG PALING BERBAHAYA karena mengandung bahaya atau naas sehingga kita diminta untuk tidak bepergian jauh, maupun menyelenggarakan hajatan. Hari itu adalah:

1. RABU LEGI
2. MINGGU PAING
3. KAMIS PON
4. SELASA WAGE
5. SABTU KLIWON

Sementara yang juga dikategorikan HARI BAHAYA adalah:

1. MINGGU PAING
2. SABTU PON
3. JUMAT WAGE
4. SELASA KLIWON
5. SENIN LEGI
6. KAMIS WAGE

Pada hari-hari itu, kita diminta untuk banyak berdoa dan melaksanakan ibadah agar diberi keselamatan hidup dunia akhirat, lahir dan batin. Nah, sebuah anjuran yang bagus bukan?

Ada juga jam-jam larangan agar pasangan suami-isteri tidak melaksanakan saresmi/bersetubuh karena akan mengakibatkan hal-hal yang tidak diinginkan. Jam-jam itu siang dan malam yaitu:

HARI MINGGU: Jam 10 s/d Jam 11 dan Jam 5 s/d Jam 6
HARI SENIN: Jam 8 s/d jam 9 dan Jam 3 s/d Jam 4
HARI SELASA: Jam 6 s/d jam 7 dan Jam 1 s/d jam 2
HARI RABU: Jam 12 s/d jam 1 dan Jam 6 s/d Jam 6
HARI KAMIS: Jam 10 s/d Jam 11 dan Jam 3 s/d jam 4
HARI JUMAT: Jam 8 s/d jam 9 dan jam 1 s/d jam 2
HARI SABTU: Jam 6 s/d jam 7 dan jam 11 s/d jam 12.

Sebagai tambahan, sebelum melakukan persetubuhan, kita disarankan untuk membaca doa sebagai berikut:
“Niyatingsun munggah ing girikumala angengakake lawang kancana tinampan mbok dewi Pertimah, ashaduallah illa haillallah waas hadu anna MuhammadarRasulullah”

Diteruskan membaca:
Aku lanang sejati, anurukake rasa tumiba rachmatullah, kang linuku racuk garu, kang ginaru lacuk luku, kang thukul ing krakatoilah, kang sinung kanugrahane Allah, lailla haillallah Muhammadarrasulullah.

Setelah selesai melakukan persetubuhan, membaca:
Niyatingsun mudhun saka girikumala, anginebake lawang kancana atas Gusti Kang Agung, atas Gusti Rasulullah, lailla haillallah Muhammadarrasulullah.

@wongalus, 2009

Categories: HARI YANG BERBAHAYA | 10 Komentar

AJIAN NINI BLORONG: MENDATANGKAN REZEKI


Hidup seperti roda yang berputar. Kadang di atas namun kadang pula di bawah. Suatu ketika, kita merasa mendapatkan rezeki yang berlimpah namun pada kesempatan lain kita merasa rezeki yang kita terima sangat sedikit.

Namun sesungguhnya, rezeki dari-Nya tidak pernah benar-benar habis bahkan bila kita mau mensyukurinya setiap detik, maka kita akan bisa merasakan betapa Dia Maha Pemberi Rezeki yang tidak pernah melupakan kita. Detik ini, coba hitung berapa banyak kita menerima rezeki-Nya secara gratis: udara yang kita hirup, kesehatan, panjang umur, maupun Nyawa….

Bersyukur adalah sebuah maqam yang tinggi. Namun, bila masih belum mampu bersyukur dengan merasakan banyaknya rezeki yang kita terima, ini ada amalan untuk memohon rezeki. Yang perlu disadari, rezeki yang kita terima tidak serta merta gratis begitu saja. Rezeki adalah akibat dari kerja keras banting tulang. Maka, amalan ini tidak berlaku bagi mereka yang pemalas.

Cara mengamalkannya: puasa mutih 7 hari 7 malam dan dilanjutkan dengan puasa patigeni sehari semalam. Mulai puasa pada hari Jum’at Pahing. Mantranya dibaca setiap jam 12 malam di muka rumah (halaman/teras). Ini mantranya:

“Ingsun amatek ajiku si nini blorong,
Nini blorong tak tempuhake anyukupi sandhang pangan kang agung, Amboyongo sri sadono wadahono ing gedhong rojobrono,
Sakehing pangan lebokno ing lumbung gumuling,
Ojo asat ing saklawase soko kersaning Allah”

@wongalus,2009

Categories: AJIAN NINI BLORONG | 17 Komentar

AJIAN SUKET KALANJANA: MELIHAT ALAM GAIB


Bagi para leluhur Jawa yang waskita, memiliki kemampuan melihat alam gaib adalah suatu keharusan.

Para leluhur yang waskita ini adalah mereka yang menggunakan seluruh potensi yang sudah dimiliki sejak awal. Potensi itu berupa rasio/akal, budi, rasa/batin hingga kesadaran ruh. Dengan menggunakan seluruh potensi yang tersedia, maka kita tidak hanya memiliki kecerdasan akal, kecerdasan mental/emosi namun juga kecerdasan spiritual. Semuanya terangkum dalam kata; menjadi orang yang Bijaksana atau Wicaksana.

Di Jawa, kita mengenal sebuah ajian yang sangat langka untuk melihat alam gaib yang dihuni oleh makhluk halus gendruwo, buto ijo dan teman-temannya. Nama ajian itu Aji Suket Kalanjana. Ajian ini adalah untuk mengoptimalkan potensi rasa pangrasa/batin hingga bisa “melihat” apa yang tidak bisa “dilihat” oleh orang lain.

Untuk memiliki ajian ini maka orang harus menjalani laku yang berat yaitu puasa 40 hari, patigeni sehari semalam mulai hari Kamis Kliwon. Mantra dibaca setiap jam 12 malam selama menjalani puasa dan patigeni.

Mantranya sebagai berikut:
“Niat ingsun amatek ajiku si suket kalanjana, aji pengawasan soko sang hyang pramana, byar padhang jumengglang paningalingsun, sakabehing sipat podho katon saking kersaning Allah”

Cara matek aji kalanjana: mantra dibaca dalam hati.  Tangan kanan ditempelkan di ulu hati dan tangan kiri diusapkan ke mata 3 x.

@wongalus,2009

Categories: AJIAN SUKET KALANJANA | 47 Komentar

AJI DIPA: PENOLAK AJI BEGANANDA


Ini ajian anti pencurian. Bila para pencuri sudah memulai menggunakan Aji Sirep Begananda, maka Aji Dipa mampu menawarkan sirep yang disebar tersebut sehingga penghuni rumah akan otomatis terbangun bila pencuri mempraktekkan sirepnya.

Untuk memiliki Aji Dipa perlu laku puasa mutih 21 hari atau 40 hari, ditambah dengan puasa patigeni 3 hari 3 malam atau 7 hari 7 malam. Memulainya hari JUmat Paing. Selain itu, selama menjalani laku puasa tidak boleh grenengan atau sambat/mengeluh. Apabila kepanasan atau kehujanan tidak boleh ngiyup/berteduh. Apabila bertemu wanita tidak boleh menoleh. Sabar nrima welas asih kepada sesama manusia  serta tidak membuat orang lain sakit hati.

Mantra aji dipa sbb:
Hong ingsun amatek ajiku si Aji Dipa kang Ana Bibisana, murup sacakrawalaning panggilingan, apa kang malang-malang ana ing ngarep ingsun, mburi kiwa tengen utawa ngungkul-ngungkuli, lah padha suminggaha, yen nganti kasebet aku si Aji Dipa, lebur dadi awu sirna saking kersaning Allah.

Mantra diucapkan sambil menahan napas serta ucapkan Hu Allah 3 x dalam hati.

Aji Dipa dipraktekkan menjelang tidur setiap hari sehingga penghuni rumah langsung otomatis terbangun bila Aji Begananda dipraktekkan. Membaca mantra dilakukan di depan pintu rumah membelakangi pintu. Semoga kita semua selalu dilindungi oleh-Nya dari kejahatan apapun juga.

@wongalus,2009

Categories: AJI DIPA PENOLAK SIREP | 23 Komentar

AJIAN SIREP BEGANANDA


Ini ilmu para maling  atau pencuri  saat  akan melakukan aksi masuk rumah korban pada malam hari tanpa diketahui karena seluruh penghuni rumah tidak akan mampu bangun karena terlelap tidur.  Ya, para pencuri memiliki ajian ampuh yang bernama AJI SIREP BEGANANDA.

Untuk memiliki ajian hebat ini, mereka harus puasa mutih 21 hari atau 40 hari dan meneruskan dengan puasa pati geni 3 hari atau 7 hari, yang dimulai dengan hari Rabu Pon.

Mantra Aji Begananda sebagai berikut:

Hong ingsun amatak ajiku sirep begananda kang ana indrajit, kumelun nglimuti ing mega malang, bul peteng dhedet alimengan upas racun daribesi, pet pepet kemput bawur wora wari aliweran tekane wimasara, kang katempuh jim setan peri prayangan, gandarwa, jalma manungsa tan wurung ambruk lemes wuta tan bisa krekat, blek sek turu kepati saking kersane Allah.

Saat membaca aji, pencuri berdiri di depan rumah yang akan disirep, setelah membaca mantra, dia menunggu sesaat sambil  mengundang turunnya khodam sirep tersebut.

Untuk mengundang khodam, baca:

hong mret mret nuli tumungkul ing pratiwi

sambil menjejakkan kaki ke tanah tiga kali tanpa bernafas.

Ingin mempraktekkan  ajian ini? Sabar dulu… sebab jangan-jangan sang penghuni rumah sudah memiliki ajian penawar ajian sirep begananda yang bernama Aji Dipa.

Salam. Rahayu.

@wongalus, 2009

Categories: AJIAN SIREP BEGANANDA | 36 Komentar

DOA SEKARAT


Apabila kita mendapati ada orang yang sudah sekarat dalam jangka waktu yang lama, maka kita perlu mendoakan dia agar secepatnya bisa menghadap Tuhan dengan cepat.  Sebab sekarat adalah saat-saat  yang paling menyakitkan.

Doa diucapkan di dekat tempatnya berbaring. Bunyi doanya sebagai berikut:

Bis longit, miltuyaha, Allah musna, walhistinja kang karihin, banyu suci metu saka pangkon Allah, banyu erang metu saka roh ilapi, dat sahadatu datolah, kedhop-kedhop bur les bur les bur les.

@wongalus,2009

Categories: DOA SEKARAT LAMA | 11 Komentar

MEMINDAHKAN MAKHLUK HALUS PENGHUNI PEKARANGAN


Apabila Anda ingin membeli dan memiliki tanah pekarangan, maka rasakanlah apa ada makhluk halus yang hidup di sana.

Apabila tanah pekarangan tersebut ternyata dihuni oleh makhluk-makhluk halus maka yang perlu Anda lalukan adalah tidak perlu memaksakan diri untuk membelinya. Sebab nanti diperkirakan makhluk halus tersebut akan mengganggu kehidupan Anda.

Namun apabila memang sangat terpaksa Anda membeli tanah pekarangan tersebut, maka langkah yang perlu dilakukan adalah meminta agar mereka untuk pindah sebelum dibangun rumah. Sebab bila tidak, dikhawatirkan akan terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan. Misalnya ada anggota keluarga yang mengalami gangguan sakit, rumah tangga bercerai berai dan lain-lain.

Untuk memindahkan makhluk halus, yang perlu dilakukan adalah: Puasa 3 hari atau 7 hari dan saat malam tidak tidur. Baca sholawat 100 kali setiap malam jam 12 setelah itu diakhiri dengan bacaan astagfirullahhal adzim. Setelah semua amalan itu dilakukan maka baca rapalan sebagai berikut:

“Ya dayina yani yanu yamarkaba yasiyata yasiyara ya’amusa yarimua yadibuda yadibaya”

Setelah itu, di setiap pojok bidang tanah ditanam jimat yang ditulis di kertas atau kain. Jimatnya sebagai berikut:

tundung jin

@wongalus,2009

 

Categories: MEMINDAHKAN MAKHLUK HALUS | 20 Komentar

AJIAN GELAP NGAMPAR DAN AJIAN LEMBU SEKILAN


Melongok Tanah Jawi masa silam, kita akan tahu bahwa di dalam sejarahnya, di Jawa yang tidak pernah sepi dari konflik baik berupa intrik terbuka maupun peperangan, memaksa setiap wong Jowo untuk mempersiapkan diri dari bahaya baik dari dalam maupun dari luar.Bisa dikatakan Sejarah Jawa adalah sejarah perjuangan manusia untuk bisa hidup damai, tentram dan bahagia namun juga harus bersiap menghadapi segala tantangan. Sikap nrimo dan pasrah itu perlu, namun yang juga perlu adalah bahwa manusia Jawa adalah manusia yang siap untuk struggle for survive (bertahan hidup) di tengah berkecamuknya kepentingan yang berbeda-beda. Itu sebabnya, di Jawa memiliki ilmu-ilmu kesaktian hampir bisa dipastikan menjadi bagian yang tidak bisa dipisahkan dari hidup seseorang.

Salah satu orang Jawa yang terkenal kesaktiannya adalah Raden Rangga. Siapa dia? Raden Rangga adalah anak satu-satunya Panembahan Senopati dan Ratu Kali Nyamat. Sejak kecil hingga remaja, Raden Rangga sudah bakat menjadi pendekar sakti dan tangguh. Sayangnya, dia memiliki watak buruk yaitu pemarah dan suka memukul.

Suatu ketika seorang pendekar pilih tanding dari Banten datang untuk menantang adu kesaktian Panembahan Senopati, sang ayah yang juga pendiri dinasti Mataram ini. Raden Rangga tahu kedatangan pendekar Banten ini dan meminta pada Panembahan Senopati agar dirinya saja yang menghadapi. Permintaan dari sang anak pun dituruti sekaligus untuk mengetahui sampai seberapa hebat ilmu kesaktian Raden Rangga.

Adu kekuatan pun terjadi antara Raden Rangga vs Pendekar Banten. Mulai menggunakan tenaga biasa hingga tenaga dalam tingkat tinggi. Akhirnya, dengan pukulan tenaga dalam, sang pendekar Banten tewas berkalang tanah.

Raden Rangga memiliki segudang ilmu kesaktian. Salah satunya adalah kekuatan jari tangannya untuk menusuk-nusuk batu. Batu yang keras terasa oleh Raden Rangga seperti menusuk tanah lunak. Suatu ketika, dia diperintahkan oleh sang ayah untuk berguru ke Ki Juru Martani. “Aku ini sudah sakti mandraguna, tapi kenapa masih diperintahkan untuk berguru ke eyang Juru, saya akan mendapatkan apa?” begitu katanya dalam hati.

Singkatnya, Raden Rangga pun menurut dan pergi menghadap Ki Juru Martani. Sesampai di depan rumah Ki Juru yang ada masjid kecil di teras, dia terpaksa menunggu. Sebab Ki Juru sedang sholat dhuhur. Raden Rangga pun duduk di trap mesjid yang terbuat dari batu kumalasa dan iseng jarinya ditusuk-tusukkan. Batu itu pun berlobang-lobang.

Usai sholat, Ki Juru keluar masjid. Dia langsung menyapa Raden Rangga. “Cucuku, apa jarimu tidak sakit menusuk batu yang keras itu?” Seketika itu pula, batu itu menjadi keras dan kesaktian Raden Rangga hilang seketika. “Benar kata ayah bahwa saya harus berguru pada panjenengan eyang Juru Martani. Saya sadar, orang muda seperti saya tidak boleh menyombongkan ilmu kesaktian pada orang yang lebih tua”

Ki Juru Martani kemudian mengajari raden Rangga berbagai ilmu kesaktian. Salah satu yang diajarkannya adalah Aji Lembu Sekilan. Ajian ini untuk menghadapi lawan di dalam peperangan. Senjata tajam dan tumpul tidak akan mampu melukai tubuh bagi pemilik ajian ini. Untuk melakukan penyerangan pukulan, aji lembu sekilan sangat efektif karena bisa melipat gandakan tenaga ratusan kali tenaga biasa.

Bagi para pendekar yang ingin memiliki ajian ini, dia tidak boleh memanggil lembu (sapi) dan tidak diperkenankan memakan dagingnya. Dia harus menjalani laku berupa puasa 40 hari hanya makan dedaunan yang dikulup dengan bumbu garam. Minumnya air kendi dan apabila sudah selesai 40 hari lalu dia kemudian erlu nglowong tiga hari tiga malam mulai hari Kamis Wage. Cara matek aji ini yaitu membaca mantra di bawah ini:

Niat ingsun amatek ajiku si lembu sekilan,
Rosulku lungguh ibrahim nginep babahan,
Kep karekep barukuut kinemulan wesi kuning,
Wesi mekakang, secengkang sakilan sadepo,
Sakehing brojo ora nedhasi bedil pepet mriyem
Buntu tan tumomo songko kersaning Allah.

Seketika itu pula daya gaib ajian ini bekerja.

Raden Rangga juga dibekali ajian penutup yang sangat hebat. Nama ajian pemberian Ki Juru Martani ini adalah Ajian Gelap Ngampar. Ajian yang konon milik salah seorang sahabat Rasulullah, yaitu Baginda Ali ini untuk menghadapi peperangan massal. Sekali matek aji dan berteriak maka nyali musuh akan ciut dan mereka akan buyar lari tunggang langgang ketakutan. Pendekar pemilik Ajian Gelap Ngampar sangat ditakuti karena tubuhnya kebal senjata dan memiliki mata yang bisa memancarkan sinar sangat kuat sampai yang dilihat terbakar.

Cara mendapatkan Ajian Gelap Ngampar ini dituturkan Ki Juru Martani sebagai berikut:
“Puasa mutih 40 hari, makan hanya sekali tiap 12 malam. Setelah puasa selesai, maka dia harus nglowong (tidak tidur dan begadang di luar rumah) selama 7 hari 7 malam dan mulai puasa pada hari sabtu Kliwon” Ajian ini otomatis bekerja bila dalam peperangan sang pendekar membaca mantra di bawah ini:

“Niat ingsun amatek ajiku si gelap ngampar,
gebyar-gebyar ono ing dadaku,
ulo lanang guluku
macan galak ono raiku
suryo kembar ono netraku
durgodeg lak ono pupuku,
gelap ngampar ono pangucapku
gelap sewu suwaraku
yo aku si gelap ngampar”

Demikian sedikit sejarah dua ajian dahsyat unggulan para pendekar Jawa masa silam ini. Tidak salah kita belajar berbagai ilmu kesaktian dengan harapan agar kita semakin bijaksana bahwa samudra ilmu Tuhan begitu luasnya. Sementara ilmu manusia hanya memiliki sedikit ilmu seperti setitik air saja. Namun, setitik air ilmu itu pun bila dimanfatkan secara optimal dengan tujuan luhur akan mendatangkan berkah. Berbagai ilmu ajian warisan para leluhur ini pun bisa mendatangkan manfaat yang besar. Misalnya, untuk menghadapi kejahatan yang kini semakin banyak terjadi, atau menghadapi bahaya musuh yang mengancam wilayah negara kita. Wallahu a’lam.

@wongalus, 2009

Categories: AJIAN GELAP NGAMPAR DAN AJIAN LEMBU SEKILAN | 71 Komentar

ILMU PUTER GILING SUKMA


Puter Giling Sukma adalah salah satu jenis ilmu pelet pengasihan untuk menarik kembali anggota keluarga, suami atau isteri dan kekasih yang pergi meninggalkan kita dan enggan pulang. Ilmu ini merupakan salah satu warisan budaya mistik di nusantara yang masih dipercaya dan masih eksis di tengah masyarakat.

Suatu ketika, ada seorang perempuan asal Jakarta sebut saja Rena, ditinggal Dicky, kekasihnya pergi begitu saja tanpa alasan yang jelas. Tentu Rena merasa hidupnya tiada arti. Semangat hidup menurun drastis dan kesehatannya melemah. Yang bisa dilakukan adalah termenung di kamar seorang diri. Kamar dikunci rapat-rapat dan hanya isak tangisannya  yang sesekali terdengar. Rena membutuhkan pertolongan tapi sayang tidak anggota keluarga yang mampu mengembalikan kondisi kejiwaan dan fisiknya seperti sedia kala.

Pada suatu hari datanglah Nilam. Sahabat akrab Rena ini berhasil membujuk agar mau datang dan ke seorang paranormal, sebut saja Ki Lemah. Problem Rena yaitu menghilangnya sang kekasih kemudian dicarikan solusi oleh Ki Lemah dengan menggunakan aji Puter Giling Sukma.

Ilmu pelet Puter Giling didapat oleh Ki Lemah dari gurunya yang kini telah meninggal. Untuk memiliki ilmu tersebut, Sang Guru memerintahkan Ki Lemah agar nglakoni puasa mutih dan berada di atas pohon sawo selama sehari semalam. Selama sehari itu, dia tidak boleh tertidur karena bila tertidur pasti akan jatuh dan akan menggagalkan uji lakunya. Singkatnya, ilmu yang didambakan pun akhirnya bisa benar-benar dimiliki Ki Lemah.  Banyak yang sudah klien yang menggunakan jasa pelet ampuh tersebut, salah satunya yang kini ada di hadapan Ki Lemah; Rena. Seorang mahasiswi perguruan tinggi swasta semester delapan.

Ritual matek ajian pelet Puter Giling pun dilaksanakan. Mula-mula, Ki Lemah pergi ke kamar mandi belakang rumahnya. Di dalam kamar mandi tepatnya di atas gentong (tempat air dari tanah) yang berisi air dia membaca mantra sambil melihat air isi dalam gentong dan sambil memegang benda milik Dicky yaitu sebuah jam tangan merk Seiko yang diberikan kepada Rena:

Bismillahirrohmanirrohim

Sun matek ajiku puter giling sukma

tak jaluk guru kuasamu jabang bayine ……  ( Nama kekasih Rena)

Sukmamu linglung koyo peksi muter

Muliho  sangkan paran asalmu yoiku jabang bayine…… (Rena)

Soko kersaning gusti

Putergiling-gumiling pitung bumi pitung langit

agulung-gulung padang terawangan

katon teka lenging Qodrat Allah

 Allahu Akbar 3x

Usai matek aji, Ki Lemah kembali ke ruang tamu dan mengatakan kepada Rena bahwa Dicky akan datang ke rumah Rena paling lambat hari Jumat minggu depan. Usai transaksi, Rena yang didampingi Nilam pulang ke rumahnya dengan hati berdebar-debar menunggu kedatangan sang kekasih pujaan hati.

Apa yang terjadi pada Dicky yang sedang berada di Palembang saat Ki Lemah matek Aji Puter Giling? Yang dirasakan pria ganteng yang sudah tiga bulan meninggalkan Rena dan sudah memiliki gebetan baru ini adalah muncul rasa kangen kepada Rena. Rasa kangen yang luar biasa disertai dengan terbayang-bayang wajah Rena setiap saat.

Dicky mencoba untuk rasional dan cuek dengan perasaan aneh yang tiba-tiba datang ini.  Sebagai lelaki dia merasa kuat untuk menindas perasaannya, apalagi dia termasuk pria yang mudah gonta ganti pasangan tanpa keterlibatan perasaan. Rasa rindu kepada seorang perempuan baginya merupakan pantangan. Namun anehnya, kali ini dia merasakan rindu. Semakin dia menolak, semakin rasa kangen ini terasa menghimpit dada. Hingga tubuh fisiknya menderita sakit panas dingin. Tulang tulangnya terasa pegel linu. Akhirnya, tidak tahan dengan kangen yang membakar jiwanya Dicky terbang ke Jakarta dan kembali ke rumah Rena, tepat pada hari Jumat.

Inilah cara kerja ilmu pelet Puter Giling Sukma yaitu “memaksa” perasaan si terpelet agar mengingat-ingat kembali masa silam, membuka memori catatan-catatan lama yang sudah terlupa dan memunculkan rasa kangen, sebuah ilmu yang bisa menarik orang-orang terkasih yang menghilang agar kembali pulang. Berapa uang yang dikeluarkan Rena sebagai balas jasa kepada Ki Lemah, pemilik ilmu Puter Giling tersebut? “Sssttt…jangan keras-keras, cuma 500 ribu,” ujar Rena yang kini bisa tersenyum karena sudah berhasil ‘jalan bareng’ Dicky lagi.

Kejadian dua tahun lalu itu masih terekam di ingatan. Terlintas wajah cantik Rena yang kemerahan. Terbayang pula gurat-gurat di wajah Ki Lemah yang kini semakin renta dimakan usia.

@wongalus,2009

Categories: ILMU PUTER GILING SUKMA | 83 Komentar

HAKIKAT RUWATAN


Demi waktu, sesungguhnya manusia berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan berbuat kebajikan serta saling menasehati untuk kebenaran dan saling menasehati untuk kesabaran (QS 103; 3)

Kenapa orang Jawa menggelar acara ruwatan dan apa falsafah di balik upacara ruwatan yang bagi sebagian kalangan dianggap berbau klenik dan ditafsirkan negatif itu? Marilah kita bersama-sama menelusuri hakikat di balik tradisi ruwatan. Awalnya, kita perlu tahu siapa saja yang harus diruwat karena mengandung unsur negatif/kesalahan/bencana. Menurut kepustakaan “Pakem Ruwatan Murwa Kala” yang bersumber dari Serat Centhini (Sri Paku Buwana V) orang yang harus diruwat ada 60 jenis yaitu:

1. ONTANG-ANTING, yaitu anak tunggal laki-laki atau perempuan.

2. UGER-UGER LAWANG, yaitu dua orang anak yang kedua-duanya laki-laki dengan catatan tidak anak yang meninggal.

3. SENDHANG KAPIT PANCURAN, yaitu 3 orang anak, yang sulung dan yang bungsu laki-laki sedang anak yang ke 2 perempuan.

4. PANCURAN KAPIT SENDHANG, yaitu 3 orang anak, yang sulung dan yang bungsu perempuan sedang anak yang ke 2 laki-laki.

5. ANAK BUNGKUS, yaitu anak yang ketika lahirnya masih terbungkus oleh selaput pembungkus bayi (placenta).

6. ANAK KEMBAR, yaitu dua orang kembar putra atau kembar putri atau kembar “dampit” yaitu seorang laki-laki dan seorang perempuan (yang lahir pada saat bersamaan).

7. KEMBANG SEPASANG, yaitu sepasang bunga yaitu dua orang anak yang kedua-duanya perempuan.

8. KENDHANA-KENDHINI, yaitu dua orang anak sekandung terdiri dari seorang laki-laki dan seorang perempuan.

9. SARAMBA, yaitu 4 orang anak yang semuanya laki-laki.

10. SRIMPI, yaitu 4 orang anak yang semuanya perempuan.

11. MANCALAPUTRA atau Pandawa, yaitu 5 orang anak yang semuanya laki-laki.

12. MANCALAPUTRI, yaitu 5 orang anak yang semuanya perempuan.

13. PIPILAN, yaitu 5 orang anak yang terdiri dari 4 orang anak perempuan dan 1 orang anak laki-laki.

14. PADANGAN, yaitu 5 orang anak yang terdiri dari 4 orang laki-laki dan 1 orang anak perempuan.

15. JULUNG PUJUD, yaitu anak yang lahir saat matahari terbenam.

16. JULUNG WANGI, yaitu anak yang lahir bersamaan dengan terbitnya matahari.

17. JULUNG SUNGSANG, yaitu anak yang lahir tepat jam 12 siang.

18. TIBA UNGKER, yaitu anak yang lahir, kemudian meninggal.

19. JEMPINA, yaitu anak yang baru berumur 7 bulan dalam kandungan sudah lahir.

20. TIBA SAMPIR, yaitu anak yang lahir berkalung usus.

21. MARGANA, yaitu anak yang lahir dalam perjalanan.

22. WAHANA, yaitu anak yang lahir dihalaman atau pekarangan rumah.

23. SIWAH ATAU SALEWAH, yaitu anak yang dilahirkan dengan memiliki kulit dua macam warna, misalnya hitam dan putih.

24. BULE, yaitu anak yang dilahirkan berkulit dan berambut putih “bule”

25. Kresna, yaitu anak yang dilahirkan memiliki kulit hitam.

26. WALIKA, yaitu anak yang dilahirkan berwujud bajang atau kerdil.

27. WUNGKUK, yaitu anak yang dilahirkan dengan punggung bengkok.

28. DENGKAK, yaitu anak yang dilahirkan dengan punggung menonjol, seperti punggung onta.

29. WUJIL, yaitu anak yang lahir dengan badan cebol atau pendek.

30. LAWANG MENGA, yaitu anak yang dilahirkan bersamaan keluarnya “Candikala” yaitu ketika warna langit merah kekuning-kuningan.

31. MADE, yaitu anak yang lahir tanpa alas (tikar).

32. Orang yang ketika menanak nasi, merobohkan “Dandhang” (tempat menanak nasi).

33. Memecahkan “Pipisan” dan mematahkan “Gandik” (alat landasan dan batu penggiling untuk menghaluskan ramu-ramuan obat tradisional).

34. Orang yang bertempat tinggal di dalam rumah yang tak ada “tutup keyongnya”.

35. Orang tidur di atas kasur tanpa sprei (penutup kasur).

36. Orang yang membuat pepajangan atau dekorasi tanpa samir atau daun pisang.

37. Orang yang memiliki lumbung atau gudang tempat penyimpanan padi dan kopra tanpa diberi alas dan atap.

38. Orang yang menempatkan barang di suatu tempat (dandhang – misalnya) tanpa ada tutupnya.

39. Orang yang membuat kutu masih hidup.

40. Orang yang berdiri ditengah-tengah pintu.

41. Orang yang duduk didepan (ambang) pintu.

42. Orang yang selalu bertopang dagu.

43. Orang yang gemar membakar kulit bawang.

44. Orang yang mengadu suatu wadah/tempat (misalnya dandhang diadu dengan dandhang).

45. Orang yang senang membakar rambut.

46. Orang yang senang membakar tikar dengan bambu (galar).

47. Orang yang senang membakar kayu pohon “kelor”.

48. Orang yang senang membakar tulang.

49. Orang yang senang menyapu sampah tanpa dibuang atau dibakar sekaligus.

50. Orang yang suka membuang garam.

51. Orang yang senang membuang sampah lewat jendela.

52. Orang yang senang membuang sampah atau kotoran dibawah (dikolong) tempat tidur.

53. Orang yang tidur pada waktu matahari terbit.

54. Orang yang tidur pada waktu matahari terbenam (wayah surup).

55. Orang yang memanjat pohon disiang hari bolong atau jam 12 siang (wayah bedhug).

56. Orang yang tidur diwaktu siang hari bolong jam 12 siang.

57. Orang yang menanak nasi, kemuadian ditinggal pergi ketetangga.

58. Orang yang suka mengaku hak orang lain.

59. Orang yang suka meninggalkan beras di dalam “lesung” (tempat penumbuk nasi).

60. Orang yang lengah, sehingga merobohkan jemuran “wijen” (biji-bijian).

Mereka adalah jenis-jenis orang yang di dalam kisah perwayangan disarankan oleh Batara Guru agar dijadikan santapan atau makanan Batara Kala. Dalam Pustaka Raja Purwa karya Ranggawarsito bahkan disebutkan ada 136 macam Sukerta. Menurut kepercayaan Jawa, orang-orang yang tergolong di dalam kriteria tersebut dapat menghindarkan diri dari malapetaka (disimbolkan menjadi makanan Betara Kala) jika ia mengadakan acara ruwatan dengan menggelar wayang dengan lakon Murwakala, Baratayuda, Sudamala, atau Kunjarakarna. Selain Ruwatan Sukerta, terdapat juga “Ruwat Sengkala atau Sang Kala” yang artinya menjadi mangsa “kala” atau “waktu.”

Sebagaimana diketahui dalam kitab Suci bahwa siapa yang tidak bisa memanfaatkan waktu dengan beramal sholeh maka dia termasuk orang-orang yang merugi. Demi waktu, sesungguhnya manusia berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan berbuat kebajikan serta saling menasehati untuk kebenaran dan saling menasehati untuk kesabaran (QS 103; 3)

Apalagi bila jalan kehidupan orang tersebut terbelenggu materi yang akhirnya nyrimpeti “laku”. Dia akan merasa penuh kesulitan karena tidak bisa sejalan harmonis dengan dengan alur hukum alam (ruang dan waktu). Kesalahan-kesalahan perbuatan atau tingkah laku dia sendiri atau orang lain (leluhur masa lalu) jelas memiliki akibat di masa sekarang. Saya menduga, para leluhur kita di Jawa telah ‘niteni’ siapa saja orang-orang yang hidupnya diliputi dengan kesulitan =karena susah memenej dan mengkoordinasi dirinya sehingga muncul kesulitan atau bencana. Yaitu 60 jenis orang yang telah disebutkan di atas, sehingga upacara ruwatan adalah momentum untuk ngelingke (mengingatkan) mereka agar kembali ke jalan yang lurus.

Kenapa dalam ruwatan digelar wayang? Kok tidak ndangdutan, disko, tari tayub/ledhek atau kesenian yang lain? Wayang adalah pertunjukan yang sarat dengan tuntunan ajaran filsafat hidup. Berbeda dengan seni-seni lain yang mudah diapresiasi/ dinikmati dan murni hiburan/entertainment, penonton pergelaran wayang membutuhkan perenungan yang sangat mendalam karena di dalamnya bermuatan ajaran-ajaran hidup bijaksana. Wayang adalah perpaduan berbagai sebagai seni pertunjukan yang merangkum bermacam-macam unsur lambang simbolis, bahasa gerak, suara, warna dan rupa.

Di dalam unsur simbolis ini tercermin pengalaman religius atau perjalanan spiritual sebagaimana yang diperankan tokoh-tokoh wayang tersebut. Pertunjukan wayang idealnya diwariskan secara turun temurun agar menjadi tetenger eksistensi budaya Jawa. Wayang adalah sarana efektif penyampaian ajaran filsafat hidup yang menuntun bagaimana harus bertingkah laku secara bijaksana antar individu maupun individu di dalam masyarakat dan hubungan dengan Gusti. Individu juga diajarkan mengenali hakikat diri sejati dan perjalanan-perjalanan yang harus dilakoninya sebagai kewajiban hidup.

Benarkah mereka yang telah diruwat akan berbebas dari dosa dan kesalahan? Jawaban anak kecil barangkali ya. Namun saat kesadaran kita telah beranjak dewasa, maka tidak mungkin hanya dengan ucapara ruwatan bisa menebus kesalahan dan kesucian orang. Tentu saja, ajaran Jawa yang dianggap klenik semacam ini harus diluruskan sesuai dengan hakikatnya. Hakikat dari upacara (syariat) harus diteruskan untuk mengenali upasana dan upadinya. (hakikatnya sebagai pembelajaran agar terjadi penyadaran).

Selain itu, upacara adalah sebuah tindakan simbolis yang merupakan relasi penghubung antara komunikasi human kosmis dan komunikasi lahir batin dengan Gusti Kang Akaryo Jagad. Tindakan simbolis dalam upacara nerupakan bagian yang sangat penting dan tidak mungkin dibuang begitu saja, karena manusia harus bertindak dan berbuat yang melambangkan sebuah hubungan khusus dengan Tuhan.

Substansi lakon Murwakala pada tradisi ruwatan adalah pembebasan. Pembebasan manusia dari “mangsa” Batara Kala (kala=waktu). Tokoh Batara Kala adalah anak Batara Guru yang lahir karena nafsu yang tidak bisa dikendalikannya atas diri Dewi Uma, yang kemudian spermanya jatuh ketengah laut dan menjelma menjadi raksasa: “Kama salah kendang gumulung”. Ketika Batara Kala menghadap sang ayah Batara Guru untuk meminta makan, oleh Batara Guru diberitahukan agar memakan manusia yang berdosa atau sukerta.

Dalam ruwatan, selain digelar wayang kulit dengan lakon Murwakala diperlukan sesajen beraneka makanan yang merupakan simbol yang harus ditafsirkan. Sarana sesajen ini juga sebagai cara pembelajaran. Berbeda dengan menggunakan buku-buku, penyampaian ajaran hidup yang memakai cara “sesajen” ini pasti mudah diingat dalam waktu lama dan antar generasi.

Menurut Ki Soedarsono sesajen dalam ruwatan adalah:

1. Tuwuhan, yang terdiri dari pisang raja setudun, yang sudah matang dan baik, yang ditebang dengan batangnya disertai cengkir gading (kelapa muda), pohon tebu dengan daunnya, daun beringin, daun elo, daun dadap serep, daun apa-apa, daun alang-alang, daun meja, daun kara, dan daun kluwih yang semuanya itu diikat berdiri pada tiang pintu depan sekaligus juga berfungsi sebagai hiasan/pajangan dan permohonan.

2. Dua kembang mayang yang telah dihias diletakkan dibelakang kelir (layar) kanan kiri, bunga setaman dalam bokor di tempat di muka dalang, yang akan digunakan untuk memandikan Batara Kala, orang yang diruwat dan lain-lainnya.

3. Api (batu arang) di dalam anglo, kipas beserta kemenyan (ratus wangi) yang akan dipergunakan Ki Dalang selama pertunjukan. Kain mori putih kurang lebih panjangnya 3 meter, direntangkan dibawah debog (batang pisang) panggungan dari muka layar (kelir) sampai di belakang layar dan ditaburi bunga mawar dimuka kelir sebagai alas duduk Ki Dalang, sedangkan di belakang layar sebagai tempat duduk orang yang diruwat dengan memakai selimut kain mori putih.

4. Gawangan kelir bagian atas (kayu bambu yang merentang diatas layar) dihias dengan kain batik yang baru 5 (lima) buah, diantaranya kain sindur, kain bango tulak dan dilengkapi dengan padi segedeng (4 ikat pada sebelah menyebelah).

5. Nasi golong dengan perlengkapannya, goreng-gorengan, pindang kluwih, pecel ayam, sayur menir, dsb. Nasi wuduk dilengkapi dengan ikan lembaran, lalaban, mentimun, cabe besar merah dan hijau brambang, dan kedele hitam. Nasi kuning dengan perlengkapan telur ayam yang didadar tiga biji. Srundeng asmaradana.

6. Jenang (bubur) yaitu: jenang merah, putih, jenang kaleh, jenang baro-baro (aneka bubur).

7. Jajan pasar (buah-buahan yang bermacam-macam) seperti : pisang raja, jambu, salak, sirih yang diberi uang, gula jawa, kelapa, makanan kecil berupa blingo yang diberi warna merah, kemenyan bunga, air yang ditempatkan pada cupu, jarum dan benang hitam-putih, kaca kecil, kendi yang berisi air, empluk (periuk yang berisi kacang hijau, kedele, kluwak, kemiri, ikan asin, telur ayam dan uang satu sen).

8. Benang lawe, minyak kelapa dipergunakan untuk lampu blencong, sebab walaupun siang tetap memakai lampu blencong. Yang berupa hewan seperti burung dara satu pasang ayam jawa sepasang, bebek sepasang.

Berupa sesajen antara lain:

1. Rujak ditempatkan pada bumbung, rujak edan (rujak dari pisang klutuk ang dicampur dengan air tanpa garam), bambu gading lima ros. Kesemuanya itu diletakan ditampah yang berisi nasi tumpeng, dengan lauk pauknya seperti kuluban panggang telur ayam yang direbus, sambel gepeng, ikan sungai/laut dimasak anpa garam dan ditempatkan di belakang layar tepat pada muka Kyai Dalang.

2. Sajen buangan yang “ditunjukkan” kepada dahyang (makhluk halus penghuni suatu tempat) yang berupa takir besar atau kroso yang berisi nasi tumpeng kecil dengan lauk-pauk, jajan pasar (berupa buah-buahan mentah serta uang satu sen). Sajen itu diletakkan di tempat dahyang.

3. Sumur atau sendang diambil airnya dan dimasuki kelapa. Kamar mandi yang untuk mandi orang yang diruwat diletakkan kelapa utuh. Selesai upacara ruwat bambu gading yang berjumlah lima ros ditanam pada kempat ujung rumah disertai empluk (tempayan kecil) yang berisi kacang hijau, kedelai hitam, ikan asin, kluwak, kemiri, telur ayam dan uang dan berdoa mohon tercapai apa yang diharapkan. @@

@wongalus,2009

Categories: HAKIKAT RUWATAN | 5 Komentar

AJIAN WARINGIN SUNGSANG


Ajian Waringin Sungsang ini merupakan salah satu “puncak ilmu” kejadukan/ kanoman/ kanuragan yang dimiliki oleh para pendekar digdaya masa lalu.

Ajian Waringin Sungsang memiliki efek yang sangat mematikan. Siapa yang diserang ajian ini akan terserap energi kesaktiannya dan mengalami lumpuh hingga akhirnya roboh tidak berdaya. Dan dengan memiliki ajian ini muncul energi pertahanan kekuatan tubuh yang sangat hebat. Maka, para pendekar yang memiliki Ajian Waringin Sungsang ini bisa dipastikan akan disegani kawan sesama pendekar maupun musuh.

Ajian Waringin Sungsang diciptakan oleh Sunan Kalijaga. Dia juga menciptakan banyak ilmu kedigdayaan lain seperti aji lembu sekilan dan lainnya. Kenapa Sunan Kalijaga menciptakan ilmu kedigdayaan yang begitu banyak?

Salah satu alasan logisnya yaitu pada masa itu banyak kejahatan dari golongan pendekar yang beraliran ilmu hitam dan banyaknya ahli sihir yang mempraktekkan ilmu-ilmu sihir yang menggunakan kekuatan buruk. Mereka berkuasa dan ditakuti oleh masyarakat awam.

Untuk menaklukkan kalangan pendekar berilmu hitam dan meyakinkan kepada masyarakat umum bahwa sumber kekuatan ilmu kanuragan tetap dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Ini terlihat dari rapal-rapal ilmu kedigdayaan ciptaan Sunan Kalijaga selalu bernuansa religius dan menyertakan “nama” Tuhan.

Ajian Waringin Sungsang memiliki falsafah yang mendalam. Waringin Sungsang berarti pohon beringin yang terbalik dimana akarnya berada di atas, seperti pohon kalpataru. Pohon waringin sungsang ini bermakna sumber kehidupan segala yang ada, sumber kebahagiaan, keagungan, serta sumber asal mula kejadian. Maka pohon ini juga disebut pohon purwaning dumadi atau pohon sangkan paran.

Di dalam waringin sungsang, juga terdapat ular yang melilit pohon tersebut. Ini melambangkan jasmani dan rohani yang telah menyatu dalam perilaku. Maka, seorang pendekar pemilik ilmu waringin sungsang ini adalah orang yang sudah manunggal atau menyatu kehendak lahir dan kehendak batinnya. Ilmu ini hanya dimiliki oleh para pendekar sepuh atau ‘tua’ sehingga tidak digunakan sembarangan karena efeknya yang melumpuhkan.

Pohon berasal dari kayu atau kayon, berasal dari bahasa Arab ‘khayyu’ yang artinya hidup. Dalam ilmu kalam ‘khayyu’ hanya merupakan sifat sejatinya Tuhan. Di dalam Al Quran dinyatakan; “Allahu la illaha illa huwal hayyu qayyum” yang artinya Tidak ada Tuhan melainkan Dia, yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus makhluknya. (QS, 2, 255).

Karena begitu tingginya falsafah yang terkandung dalam ajian Waringin Sungsang ini, maka hanya kepada para pendekar yang sudah “menyelesaikan” urusan diri sendirilah ilmu ajian ini boleh diwariskan.

Ajian Waringin Sungsang  dirapalkan sebagai berikut:

Sun amatek ajiku Waringin Sungsang
wayahipun tumuruna, ngaubi awak mami, tur tinuting bala, pinacak suji kembar, pipitu jajar maripit, asri yen siyang, angker kalane wengi.
Duk samana akempal kumpuling rasa, netraku dadi dingin, netra ningsun emas, puputihe mutyara, ireng-ireng wesi manik, ceploking netra, waliker uda ratih.
Idep ingsun kekencang bang ruruwitan, alisku sarpa mandi, kiwa tengen pisan, cupakku surya kembar, kedepku pan kilat tatit, kang munggeng sirah, wesi kekenten adi.
Rambut kawat sinomku pamor anglayap, batuk sela cendani, kupingku salaka, pilingan ingsun gangsa, irungku wesi duaji, pasu kulewang, pipiku wesi kuning.
Watu item lungguhe ing janggut ingwang, untuku rajeg wesi, lidah wesi abang, aran wesi mangangkang, iduku tawa sakalir, lambeku iya, sela matangkep kalih.
Guluku-ningsun paron wesi galigiran, jaja wesi sadacin, pundak wesi akas, walikat wesi ambal, salangku wesi walulin, bauku denda, sikutku pukul wesi.
Asta criga epek-epek ingsun cakra, cakar wok jempol kalih, panuduh trisula, panunggulku musala, mamanisku supit wesi, jentikku iya, ingaran pasopati.
Bebokongku sela ageng kumalasa, akawet wesi gilig, ebol-ingsun karah, luput denda kang tinja, balubukan entut mami, uyuhku wedang, dakarku purasani.
Jembut kawat gantungaku wesi mentah, walakang wesi gapit, pupu kalataka, sungsum ingsun gagala, ototku gungane wesi, ing dalamkan, ingaran kaos wesi.
Sampun pepak sarira-ningsun sadaya, samya pangawak wesi, pan ratuning braja, manjing aneng sarira, tan ana braja ndatengi, dadya wiyana, ayu sarira mami.
Ana kidung sun-angidung bale anyar, tanpa galar asepi, ninis samun samar, patining wuluh kembang, siwur burut tanpa kancing, kayu trisula, gagarannya calimprit.
Sumur bandung sisirah talaga mancar, tibeng jaja ajail, dinding endas parah, ulur-ulur liweran, tatambang jaringing maling, dadal dadnya, gagulung ing gagapit.
Naga raja pangawasan manik kembang, kembang gubel abaji, tajem neng kandutan, udune sarwi nungsang, kurangsangan angutipil, angajak-ajak.”

@wongalus,2009

Categories: AJIAN WARINGIN SUNGSANG | 88 Komentar

SUMPAH BUDAYA 2009


garuda-pancasila

Globalisasi di ranah ide, gagasan, ilmu pengetahuan yang diiringi dengan teknologi berkembang amat pesat. Lebih cepat dari kemampuan manusia untuk merenungkan apa hakikat semuanya untuk kemanfaatan hidup. Orang tidak lagi disibukkan dengan pertanyaan untuk apa kita memiliki ilmu, pengetahuan dan teknologi. Namun lebih menekankan pada fungsi-fungsi kemanfaatan/pragmatisnya semata. Semua pada akhirnya mengikuti arus globalisasi secara latah dan masa bodoh dengan hakikat progress/kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Bahwa hakikat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi adalah untuk penyempurnaan proses hidup manusia menuju kesatuan dan keserasian lahir batin, jiwa dan raga.

Budaya Populer adalah budaya yang berada di pusaran arus global. Sayangnya, perkembangan budaya global justeru mematikan budaya-budaya nasional dan budaya lokal yang ada. Budaya lokal secara substansial tidak mengalami kemajuan yang berarti kecuali hanya untuk sarana komoditas ekonomi dan turisme saja. Budaya yang merupakan hasil manusia untuk mengolah daya cipta, rasa dan karsa berdasarkan atas kehendak dan keinginan masing-masing individu dalam sebuah wilayah tidak mampu lagi dianggap sebagai sebuah kearifan.

Individu yang berada di ruang-ruang budaya pun menjadi tumpul oleh arus pragmatis budaya global yang mungkin dipandang lebih menarik, mudah, cepat dan efisien. Para pengambil kebijakan tidak lagi memiliki semangat yang menyala untuk nguri-uri kebudayaan lokalnya. Apalagi bila semua pihak tidak mendukung lahirnya kreativitas-kreativitas baru berkebudayaan dan berkesenian.

Ini adalah situasi di mana kita mengalami sebuah Degradasi Budaya bahkan kehancuran sistematis budaya lokal. Bhinneka Tunggal Ika sebagai semangat berbudaya dalam rangka kebersatuan berbagai budaya lokal untuk maju dalam frame bangsa dan negara pun hanya sebagai slogan yang kini semakin dilupakan.

Tumbuh berkembang serta kemajuan sebuah budaya ditentukan pada bagaimana kita semua merespon dan menjawab tantangan-tantangan budaya global. Respon dan jawabannya adalah agar kita kembali kreatif, inovatif dan menciptakan wilayah-wilayah perjuangan budaya yang mampu menjadi alternatif budaya global yang terbukti tidak memiliki “ruh” kemanusiaan yang utuh.

Justeru pada budaya lokal, kita menemukan kembali “ruh” kemanusiaan itu. Ruh yang akan menyinari individu agar bisa bergerak secara harmonis antara individu dengan individu yang lain, antara individu dengan alam semesta, bahkan antara individu dengan dirinya sendiri sehingga nantinya individu tersebut akan menemukan diri sejati yang merupakan wakil Tuhan di alam semesta.

Siapa yang harus memulai untuk melakukan penyadaran adanya degradasi budaya ini? Sebuah fakta sejarah terjadi pada 28 Oktober 1928 saat para pemuda mengikrarkan Sumpah Pemuda. Intisari dan hakikat dari Sumpah Pemuda adalah kesadaran bahwa semua elemen bangsa harusnya memiliki kehendak, keinginan, cita-cita yang sama untuk mewujudkan sebuah kesatuan wahana dan ruang kreativitas dan kebebasan ekspresi yang berbeda-beda.

Jembatan untuk memasuki wahana persatuan dan kesatuan tersebut adalah tanah air, bangsa dan bahasa. Setiap babakan sejarah, pemuda selalu menjadi motor penggerak perubahan zaman. Sejarah telah menegaskan tentang kepeloporan pemuda di era kolonial hingga era perjuangan kemerdekaan bahkan di era reformasi. Perjuangan pemuda selalu dihadapkan pada tantangan hambatan dan kesulitan, bahkan darah dan airmata menjadi taruhan.

Di era masa lalu, gerakan kepemudaan lebih berorientasi pada bidang politik. Kini tantangan kaum muda masa kini justeru lebih banyak berupa rongrongan budaya global yang sangat berpengaruh pada pola pikir dan gaya hidup mereka sehingga harusnya gerakan kepemudaan kini lebih diorientasikan pada bidang budaya local (local wisdom).

Pemuda harus memiliki semangat untuk bersatu, lepas dari penindasan dan penguasaan budaya global. Kita berharap agar bangsa Indonesia bisa menghidupkan kembali budaya-budaya lokal yang ada sehingga nanti terwujud bangsa yang maju berkembang tanpa kehilangan jati dirinya. Kita buka mata dan hati kita, lihatlah bangsa India, Cina, Jepang, Thailand, dan Korea telah membuktikan sendiri. Bangsa yang meninggalkan pola hidup taklid hanya ikut-ikutan, ela-elu. Kini telah tumbuh menjadi macam Asia, dihormati dan segani masyarakat dunia, bangkit meraih kejayaan dengan berlandaskan loyalitasnya terhadap nilai-nilai kearifan lokal (local wisdom) yang terdapat dalam tradisi dan budayanya. Bangsa yang tahu karakter diri sejatinya, sangat tahu tindakan apa yang harus dilakukannya.

Sumpah Pemuda merupakan momentum yang berhasil menyatukan pemuda se-Indonesia dalam satu ikatan kebangsaan, perasaan senasib, sepenanggungan yang diderita oleh pemuda khususnya, telah memberikan kesadaran kritis terhadap situasi yang dihadapinya yaitu adanya sebagai tantangan bersama telah membangkitkan kesadaran kolektif pemuda untuk melawan penindasan budaya global. Diperlukan gerakan massif untuk menghidupkan kembali budaya-budaya lokal (baca; kearifan lokal) di tanah air secara terus menerus sebagai bentuk nyata dari perjuangan kaum muda.

Perjuangan kaum muda di bidang budaya diharapkan akan membawa perubahan sosial yang mendalam bagi masyarakat, terutama di bidang pendidikan. Dari pendidikan ini muncullah pejuang-pejuang muda yang kaya akan ide dan konsep untuk melawan budaya global.

Untuk mewujudkan ide tersebut maka dengan ini kami menyerukan kapada SEMUA PEMUDA DI TANAH AIR untuk bersatu dalam gerakan SUMPAH BUDAYA 2009:

1. MENGHIDUPKAN KEMBALI BUDAYA DAERAH SEBAGAI DASAR PENGEMBANGAN BUDAYA NUSANTARA

2. MENJADIKAN BUDAYA DAERAH SEBAGAI DASAR PIJAKAN IDE-IDE KREATIF PEMBANGUNAN

3. MENGEMBANGKAN KEARIFAN BUDAYA DAERAH SEBAGAI NILAI-NILAI PEMBANGUNAN NASIONAL

4. MENGEMBANGKAN NILAI-NILAI MORAL, MENTAL DAN AJARAN HIDUP BERMASYARAKAT YANG ADA DI BUDAYA DAERAH DALAM RANGKA MENDUKUNG PERKEMBANGAN BUDAYA NUSANTARA.

5. MENGURANGI PENGARUH NEGATIF BUDAYA GLOBAL DENGAN MENGEMBANGKAN BUDAYA NUSANTARA

MOTTO :THINK LOCALLY ACT GLOBALLY !!

SUMPAH BUDAYA:

BERBUDAYA SATU, BUDAYA NUSANTARA

BERJATI DIRI SATU, JATI DIRI BANGSA INDONESIA

KASIH SAYANG SATU, SATU KASIH SAYANG LINTAS AGAMA

Indonesia, 28 Oktober 2009

Tertanda:

1. KI WONG ALUS (www.wongalus.wordpress.com)

2. KI ALANG ALANG KUMITIR (www.alangalangkumitir.wordpress.com)

3. KI SABDA LANGIT (www.sabdalangit.wordpress.com)

4. KI AGUNG HUPUDHIO

5.  (SILAHKAN MENGISI SENDIRI REKAN-REKAN YANG INGIN MENERUSKAN PERJUANGAN BUDAYA INI DAN BEBAS DISEBARKAN TANPA IJIN, TERIMA KASIH).

Categories: SUMPAH BUDAYA 2009 | 14 Komentar

ARS EROTICA JAVANESE WOMAN


karon

Ada banyak tipe perempuan. Salah satunya bertipe SURYA SUMURUP yaitu perempuan yang memiliki dua lapis bibir yang berwarna merah jambu. Sorot matanya kebiru-biruan. Ada sinom (rambut yang tumbuh di dahi) yang menggumpal. Kedua alisnya nanggal sepisan (laksana bulan sabit). Perempuan seperti ini konon menjadi idaman kaum lelaki karena memiliki kesetiaan tak diragukan lagi. Ia tipe perempuan yang serasi dalam bermain asmara, sehingga dapat mencapai derajat marlupa (orgasme) bersama-sama.


Tipe perempuan lainnya di antaranya adalah:…


BULAN DADARI yaiku sing raine sumringah rada bunder, awake sedengan alise kandel, rambute ireng lemes, merit kencete.PISANG SULUH, awak imut, kulit kuning, pasuryane ketok ana otot semburat ijo, sinom ketel, mata amba rada belo, mranani ati saben pria sing nyawang, tindak tanduke merak ati, gawe welas asih.

SEMONGGO WARU iku sing awake lencir, kulite ireng manis, bangekane merit, payudarane montok dan mata rada amba, atine rada nyengit nek rambute kriting basane pinter nyimpen rahasia seneng dijak selingkuh.

LINTANG KARAINAN iku sing awak imut, rambut ireng kandel, kulit sawo mateng, alis kandel, montok lan bangkekan merit, bisa nyimpen wadi, atine alus gampang tersinggung tapi gampang tresna.

DURGASARI, awak ipel-ipel nanging dempal, kulit sawo matang, rambut tipis, bangkekan sedengan, sikil kandel, dlamakan njebebeh (ketoke cah panekan merga sering munggah gunung), susu gede montok, nek omong ceplas-ceplos, tandang gawene sak kepenake, nanging jujur apa anane.

SUBONDRIO: awak rada langsing lan lencir, kulit kuning bangkekan cilik, rambut kandel, sabar, setia, gak gampang kena goda.

RAKSASA DURGA, badan dempal, kulit ireng, rambute kriting, susu gede sikile cilik mlakune oyag-ayig.

MRICA PECAH, badan ramping/singset,kulit kuning rada putih,rambut biasa dan awak rada montok, bisa nyimpan rahasia.

MACAN KETAWAN, raine sumringah, mata mblalak, badan rada gedhe, kulit bang-bang awak, adate keras, tabah ngadhepi goda,seneng nulung lan bisa sabar.

CIRI WANITA YANG COCOK DIJADIKAN ISTERI:

Bentuk sirahe bunder. Wajah bunder kaya wulan purnama. Jidate rata lan serasi. Matanya rada amba/njahit, tapi enak disawang. Sorotan mripate cumleret tajem, arang-arang kedep lan gak seneng lirak-lirik. Alise rada lurus dan idepe rapi. Irunge lurus lan rada mbangir garis sisi kiwa tengen irung katon jelas.

Ambane tutuk (cangkem) sederhana. Lambene mingkem rapet untune gak ketok. Nanging ketok sumringah. Lambene rata gak ketok cembung. Kupinge kandel lan apik.

Janggute menarik dan daging nang janggut ketok kandel. Driji-drijine lancip, tapi kukune kandel. Tapak tangankandel. Tapi bagian tengah alus kaya sutera.

Bentuk tapak kaki dan drijine apik, tapi drijine kandel tebal tapi lembut dan kaku nenawa lagi midak lemah. Kuku kandel. Badannya amba lan daging punggunya kandel (mentek). Balung-balunge rangka sederhana utawa alus, kulitnya ya alus lan lemes, tapi singset. Nek ngguyu awake ora melok obah-obah, utawa ajrut-ajrutan.

Lungguhe teratur rapi. Nek lungguh timpuh, sikile rapet lan rapi. Nek lungguh anteng ora pencilakan. Nek mlaku lembeyane kaya blarak sempal maksude gak nganti mbukak ketek lan awake gak melok lenggak-lenggok.

Benarkah analisis  yang tertera di Serat Centhini ini ya? Ya, daya tarik perempuan dan daya tarik erotiknya tidak akan pernah habis dibicarakan. Bagi kaum pria akan ngobrol soal seks secara lebih bebas daripada kaum wanita yang lebih suka bisik-bisik. Seks merupakan naluri instingtif manusia yang paling dasar. Tak heran kalau banyak upaya dilakukan untuk mempelajari, menganalisis, menyusun manual (panduan), atau mengungkapkannya lewat karya sastra maupun karya tulis lainnya sejak dahulu kala.

Beberapa karya kuno yang pernah ada di dunia di antaranya Ars Amatoria (The Art of Love) karya penyair Romawi, Publius Ovidius Naso (43 SM – 17 M) atau Kama Sutra karya Vatsyayana dari India, yang ditaksir hidup di zaman Gupta (sekitar abad ke 1 – 6 M). Keduanya adalah kitab klasik petunjuk untuk menikmati seks. Sementara di Jawa pada awal abad ke-19 ditulis karya sastra yang hebat yaitu Serat Centhini (nama resminya Suluk Tembangraras). Serat ini digubah pada sekitar 1815 oleh tiga orang pujangga istana Kraton Surakarta, yaitu Yasadipura 11, Ranggasutrasna, dan R. Ng. Sastradipura (Haji Ahmad ilhar) atas perintah K.G.P.A.A. Amengkunegara II atau Sinuhun Paku Buwana V.

Otto Sukatno CR dalam bukunya Seks Para Pangeran: Tradisi dan Ritualisasi Hedonisme Jawa  memaparkan satu bab dalam Serat Centhini yang terdiri atas 722 tembang antara lain memang bicara soal seks. Dalam Serat Centhini, masalah seksual diungkap secara verbal dan terbuka, tanpa tedeng aling-aling.

Dalam Centhini II (Pupuh Asmaradana) diuraikan dengan gamblang soal OLAH ASMARA yang berhubungan dengan lokasi genital yang sensitif dalam kaitannya dengan permainan seks. Misalnya, cara membuka atau mempercepat orgasme bagi perempuan, serta mencegah agar lelaki tidak cepat ejakulasi.

Lalu dalam Centhini IV (Pupuh Balabak) diuraikan secara blak-blakan bagaimana PRATINGKAHING CUMBANA (gaya persetubuhan) serta sifat-sifat perempuan dan bagaimana cara membangkitkan nafsu asmaranya. Perempuan tidak selamanya bersikap lugu, pasif dalam masalah seks sebagaimana stereotipe pandangan Jawa yang selama ini kita terima. Mereka juga memiliki kebebasan yang sama dalam mengungkapkan pengalaman seksualnya. Padahal mereka selalu digambarkan pasrah, nrima kepada lelaki.

Hal itu tampak dalam Centhini V (Dhandhanggula). Di ruang belakang di rumah pengantin perempuan pada malam menjelang hari H perkawinan antara Syekh Amongraga dan Nike Tembangraras, para perempuan tua-muda sedang duduk-duduk sambil ngobrol. Ada yang membicarakan pengalamannya dinikahi lelaki berkali-kali, pengalaman malam pertama, serta masalah-masalah seksual lainnya yang membuat mereka tertawa cekikikan.

Salah satu percakapan itu misalnya seperti ini, “Nyai Tengah menjawab sambil bertanya, Benar dugaanku, Ni Daya, dia memang sangat kesulitan, napasnya tersengal. Saya batuk saja, eh lepas Mak bul mudah sekali lepasnya. Tak pernah kukuh di tempatnya. Susahnya sangat terasa, karena meski besar seakan mati.”

Soal katuranggan juga banyak diungkapkan dalam Serat Centhini. Dalam kaitannya dengan perempuan, katuranggan dapat diartikan sebagai watak, sifat, atau tanda-tanda berdasarkan penampakan lahiriahnya. Dalam budaya katuranggan, terdapat beberapa ciri perempuan yang menjadi idealitas lelaki untuk dijadikan istri. Tipe-tipe perempuan demikian, di antaranya disebut guntur madu, merica pecah, tasik madu, sri tumurun, puspa megar, surya surup, menjangan ketawan, amurwa tarung, atau mutyara.

Sebagai gambaran, perempuan bertipe surya sumurup itu perempuan yang memiliki dua lapis bibir yang berwarna merah jambu. Sorot matanya kebiru-biruan. Ada sino m (rambut yang tumbuh di dahi) yang menggumpal. Kedua alisnya nanggal sepisan (laksana bulan sabit). Perempuan seperti ini menjadi idaman kaum lelaki karena memiliki kesetiaan tak diragukan lagi. Lebih dari itu ia tipe perempuan yang serasi dalam bermain asmara, sehingga dapat mencapai derajat marlupa (orgasme) bersama-sama.

Sementara itu dalam Kitab Primbon Lumanakim Adammakna terungkap ciri perempuan yang menggairahkan secara seksual antara lain, bertubuh kecil, wajahnya merah bersemu biru manis, rambut hitam panjang, sinom menggumpal. Atau, bertubuh kecil, pandangan dan wajahnya nguwung (agak melengkung), kulit kuning bersemu hijau, sinom menggumpal. Atau, bertubuh tinggi langsing, badan mbambang (padat berisi), roman mukanya galak, dan rambutnya panjang.

Etika Bersenggama
Menurut Ki Kumitir, etika bersenggama diungkap secara jelas dalam “NITISAKE WIJINING DUMADI”. Setidaknya saat bersenggama ada empat perkara yang harus diperhatikan yaitu “eneng, ening, awas, eling.”

1. Eneng, iya iku wektu karon-sih atine kudu eneng (menep), dene paedahe bisa suwe wetuning rahsa, lan gawe kandeling wiji,. Amarga ati kang menep mau bisa ngenthelake wiji (jiwa), kentheling jiwa bisa mahanani kandeling wiji, ing wusana dadining anak ing tembe bisa dawa umure.

(Saat bersenggama hati harus tenang ‘menep’. Manfaatnya agar rahsa yang tersatukan itu bisa beproses lama dan membuat Jiwa kuat sehingga nanti anak yang akan dilahirkan bisa panjang umur.)

2. Ening, iya iku atine kudu ening, dene paedahe bisa nikmat rasane lan manfaat. Amarga kaweningan mau bisa gawe weninging wiji (tetep trimurti), wiji kang tetep trimurti mau ing wiji ala apa becik, dene panengerane wujud cahya kaya kawasa.

(Hati harus hening, agar tercapai kenikmatan dan manfaat. Keheningan bisa membuat Jiwa juga jernih)

3. Awas, iya iku kudu mulat kedep-liringing rabine, wektu karon-sih, kendho apa mempeng, utawa ngulatake tumitising wiji ala apa becik, dene panengerane wujud cahya kaya kang wis kapratelakake ing dhuwur.

(Mengawasi pasangannya saat bersenggama, apakah santai atau serius. Ini juga berpengaruh pada jiwa apakah itu baik atau buruk)

4. Eling, iya iku aja mikir liya-liyane, kajaba eling yen wektu iku lagi nitisake wiji, mula yen rabine semu kendho ing karon-sih, wajib eling, manawa durung binuka bakuning rasa, tumuli duweya osik sumedya mbuka kadatoning rahsa, supaya rabine mau gumregut rasane, lan maneh yen nyumurupi cahyaning wiji ala kang bakal tumitis, banjur enggal-enggal bisa nglebur sarana laku nusupake utawa mutahake menyang ing jaba. Dene manawa uninga wiji becik kang bakal tumitis, iya banjur bisa mrenahake ing papan samestine.

(Tidak berpikir macam-macam, konsetrasi sedang berhubungan jiwa raga. Ini akan membuka kerajaan rasa dan memberikan cahaya terang pada jiwa yang akan dilahirkan…)

***

Categories: WANITA MENGGAIRAHKAN | 4 Komentar

NGUDI KAWRUH KASUNYATAN


Ajaran hidup menuju kesempurnaan hidup lahir batin harus terus dijalani untuk mencari kemudian menemukan pengetahuan sejati tentang kenyataan mutlak (NGUDI KAWRUH KASUNYATAN). KAWRUH KASUNYATAN itu kemudian hendaknya dihayati dalam satu kesatuan sistem pemahaman sehingga pemahaman kita tidak bercerai berai…

Apakah hakikat menuntut ilmu? Apakah hanya bermakna membolak balik dan ‘menthelengi’ buku-buku, membaca kitab-kitab (baik garing maupun teles), merenungkan fakta demi fakta yang kita alami saja? Kalau jawabannya “iya” berarti kita pikiran kita masih seperti pikirannya anak-anak.

Pikiran yang lebih maju dan lebih lengkap pasti tidak seperti itu. Harusnya kita melanjutkan pemahaman-pemahaman mitologis yang terpelihara di dalam gudang data pengetahuan di kepala kita dengan cara lebih kritis lagi.

Setelah kita membaca atau merenung harus diteruskan dengan mengolah diri. Bila membaca bersifat pasif: menerima bahan-bahan ajaran, maka mengolah diri bersifat aktif: membuktikan apakah ajaran yang disampaikan para cerdik cendekia itu memang mengandung kebenaran-kebenaran atau justeru mengandung kesalahan. Berarti seorang pencari ilmu harus berani untuk ‘nglakoni’ atau ‘memulai perjalanan laku.’

Di JAwa ada istilah GURU BAKAL dan GURU DADI. Bila GURU BAKAL menunjuk pada pelajaran-pelajaran, buku-buku, ceramah-ceramah atau data-data mentah. Maka GURU DADI-nya adalah MULATSARA DIRI (mengolah diri).

Sudah banyak dipaparkan bagaimana ajaran cara mengolah diri agar kita mampu untuk menjalani hidup ‘sangkan paraning dumadi’ mulai dari bayi, masa kanak-kanak, dewasa, masa tua. Bahkan saat menuju ajal datang pun ada ajarannya. Bahkan sudah terlalu banyak kita dijejali oleh berbagai ajaran hidup menuju kesempurnaan, tinggal apakah kita siap untuk ‘Mulatsara Diri’.

Ajaran hidup menuju kesempurnaan hidup lahir batin harus terus dijalani untuk mencari kemudian menemukan pengetahuan sejati tentang kenyataan mutlak (NGUDI KAWRUH KASUNYATAN). KAWRUH KASUNYATAN itu kemudian hendaknya dihayati dalam satu kesatuan sistem pemahaman sehingga pemahaman kita tidak bercerai berai. Kita hendaknya bisa menyusun fakta demi fakta yang kita alami dalam hidup dengan hati-hati. Ini memerlukan KEHALUSAN PERASAAN, INTENSITAS KEMAUAN dan TINGKATAN-TINGKATAN OLAH RASA.

Dalam SERAT MADU RASA karangan Ki Soedjonoredjo, ada dua tingkat olah rasa.

Tingkat pertama, MADU BASA yang meliputi sopan santun, tata cara, adat istiadat. Intinya adalah bagaimana kita menyusun pengetahuan-pengetahuan lahir atau tata ‘bahasa’ agar mendapatkan ‘kemanisan madu’

Tingkat kedua, MADU RASA yang meliputi tepa sarira, tepa palupi, unggah ungguh, eguh-tangguh, tuju-panuju, empan-papan, kala-mangsa, duga-prayuga, lambe-ati. Kemanisan rasa yang dialami pada tingkat kedua ini lebih mendalam, lebih asyik dan berlangsung dalam waktu yang lebih lama dari tingkatan kedua dan sangat-sangat menyenangkan.

Menurut Ki Soedjonoredjo, ada 13 macam ‘kesenangan’ untuk NGUDI KAWRUH yaitu:

1. Dalam hal mencari keterangan, tanda-tanda atau urusan, kesenangan yang diperolehnya sepanjang jalan seperti kesenangan agen ‘telik sandi’ yang yang mencari ‘SISIK MELIK’.
2. Terpeliharanya DAYA RASA seperti petani yang memelihara tanaman dengan penuh kegembiraan namun belum menemukan hasilnya, yaitu WATAK.
3. Dalam hal melatih PANCA INDERA, kesenangan yang kita peroleh seperti kesenangan joki saat melatih kuda atau seperti pawang melatih gajah, atau kesenangan guru mendidik anak didiknya.
4. MENABUNG DAYA GAIB; kesenangan yang diperolehnya seperti menabung uang, atau pada waktu ditemukannya pedoman-pedoman tertentu sama seperti tukang kayu memperoleh tatah, bur, jangka, penggaris.
5. MENGURAI DAN MENYUSUN DAYA BATIN. Apabila diperoleh rasa dan daya baru, rasa baru itu diolah lagi dan diperhalus lagi. Misalnya untaian ratna. Kesenangan seperti itu sama sekali tidak terhingga, kecuali oleh yang sudah mengalami.
6. MEMBAGI, MENGATUR, MENYUSUN PIKIRAN DAN DISELARASKAN DENGAN RASA dan bisa menghasilkan karya yang indah.
7. MENJUMBUHKAN RASA YANG BERMACAM-MACAM, diatur menurut urutan tingkatan, diselaraskan sehingga tercapai rasa yang indah. Seperti juru masak yang ahli meracik masakan. “Rasa kang sumingit ana layang kikidungan anggitane para linuwih apa dene kang ana ing candi, wayang, gamelan, pakem lan liya-liyane, kabeh wujud gugubahan utawa oncen-oncen (anyar) kang banget endahe. Rasa kang digubah pada maujud ana ing kaalusan, dadi rerenggan sajroning gaib, kang ora kena kinaya ngapa endahe”
8. Orang yang sedang NGELMU dengan penuh ketekunan akan merasakan dan memperhatikan kemajuan yang dicapai, selalu MENDAPAT PETUNJUK DARI PRIBADINYA SENDIRI. Kesenangannya seperti anak sekolah, rasa dan budinya seperti guru, alam semesta ini sebagai pelajaran. “Kabeh pada aweh pitutur marang kang ahli sasmita: kaya-kaya sarupaning kang tumuwuh pada muni dewe-dewe, sarta unine laras kaya gending kang banget kepenake”
9. Penuntut ngelmu akan gemar berbuat baik kepada sesama. Tumbuh niatnya seperti itu dari kehendak yang luhur dan niat itu akan memperbesar DAYA KELUHURAN. Hasilnya langsung akan mengenai diri pribadinya juga; yaitu lenyapnya penyakit watak dan tumbuhnya perasaan dan budi yang luhur.
10. Penuntut ngelmu mempunyai kesenangan seperti pengadu ayam, jangkrik, permainan. Sebab setiap hari selalu menghayati PERANGNYA ANASIR-ANASIR BAIK BURUK. Apabila yang buruk dikalahkan yang baik, kepuasannya melebihi pengadu ayam sebab ia memperoleh ganjaran berupa: DAYA HALUS. Sedangkan pemain ayam asuan hanya memperoleh uang.
11. Penuntut ngelmu yang gentur/gigih mempelajari RAHASIA KEHIDUPAN juga memiliki kesenangan yang sama dengan kesenangan raja yang berperang menaklukkan negara lain. Yaitu bila kekuatan “setan” dikalahkan oleh unsur ILAHIAH pada pribadi kita.
12. Orang yang ngelmu pelajaran kebijaksanaan hidup juga mempunyai kepuasan dan rasa bebas seperti orang yang berhasil melenyapkan KLILIP atau kotoran di pelupuk mata, atau belenggu yang mengganggu perjalanan hidup. Dia terbebas dari ikatan KECANDUAN DUNIA dan RASA BEBAS DARI KEKANGAN. Seperti anak yang tidak lagi menangis karena disapih.
13. Ahli ngelmu mengerti dengan jelas bahwa berbuat baik sangat besar manfaatnya untuk dijalankan. Misalnya kita kehilagan 2 sen dan dapat ganti 100 rupiah, menanam satu biji kelapa dapat hasil banyak dan terus-terusan bagi orang yang AHLI RASA. Mengerti saja sudah senang seperti memperoleh keuntungan yang besar, sebab kenyataannya tidak banyak orang yang menghayati kalimat-kalimat ‘mandes’ hingga ke lubuk hati: “KANG AKEH MUNG KUMAMBANG DIANGGO KEMBANG LAMBE, ORA BISA YAKIN SAJRONING ATI. APA MANEH PANGERTI BAB RASA TRESNA MARANG DAT, DADI WOT MARANG SEGARA RAHMAT. MANUNGSA KANG BISA NGREGANI MARANG PANGERTI KANG SAMAR IKU NGRASA NEMU KANUGRAHAN GEDE, SUKA SUKURE NGUNGKULI KANG NEMU EMAS”

@wongalus, 2009

Categories: NGUDI KAWRUH KASUNYATAN | 7 Komentar

TUNGGAL RASA KAWULA GUSTI


UNSUR PEMBENTUK DIRI MANUSIA

Sajatine Ingsun Dat kang amurba amisesa,
kang kuwasa anitahake sawiji-wiji,
dadi padha sanalika,
sampurna saka ing kodrating-Sun,
ing kono wus kanyatahan Pratandhaning apngaling-Sun,
minangka bubukaning iradating-Sun,
kang dhingin Ingsun anitahake kayu,
aran sajaratul yakin,
tumuwuh ing sajroning ngalam
ngadam-makdum ajali abadi,
nuli cahya aran Nur Muhammad,
nuli kaca aran miratul kayai,
nuli nyawa aran roh ilapi,
nuli dammar aran kandil,
nuli sosotya aran darrah,
nuli dhinding jalal aran kijab,
kang minangka warananing kalarating-Sun

(Sesungguhnya Aku Dzat yang Maha Pencipta dan Maha Kuasa,
yang berkuasa menciptakan sesuatu, terjadi dalam seketika,
sempurna lantaran kodratku, sebagai pertanda perbuatan-Ku,
merupakan kenyataan kehendak-Ku, Mula-mula Aku menciptakan
hayyu bernama sajaratul yakin, tumbuh dalam alam makdum yang azali abadi, setelah itu cahaya bernama Nur Muhammad, kemudian kaca bernama miratul kayai, selanjutnya nyawa bernama roh idlafi, lampu bernama kandil, lalu permata bernama dharrah, kemudian dinding jalal bernama hijab, yang menjadi penutup kehadirat-Ku.)

Dalam Serat Wirid Hidayat Jati karya Ranggawarsita tersebut, termuat urutan kejadian Dzat dan Sifat dan Af’al (perbuatan) Tuhan. Yang dimaksud dengan AKU atau INGSUN dalam serat itu tidak lain adalah diri Dzat yang Mutlak. AKU sang Diri Sejati itu mulanya “tersembunyi” atau dumunung di Nukat Ghaib. Nukat artinya Wiji sedangkan Ghaib artinya samar. AKU atau INGSUN kemudian berniat menyatakan diri sebagai PENCIPTA SEGALA SESUATU.

“Niat Ingsun….” begitu doa orang Jawa biasa diucapkan adalah meniru apa yang disampaikan Tuhan untuk memulai proses-proses penciptaan. Akhirnya dimulailah ketujuh pangkat penjelmaan Dzat (tujuh martabat) yang disimbolisasikan ke dalam khasanah Jawa dengan Pohon Dunia, Cahaya, Cermin, Wajawa (roh Idhafi), Dian (kandil), permata (dharrah), dinding jalal (penjelmaan insan kamil).

Keberadaan Dzat Tuhan itu ibarat CERMIN YANG AMAT JERNIH atau KACAWIRANGI. Yaitu DIRI yang diliputi kekosongan yang berisi TYAS CIPTA HENING. Cermin itu tidak ada bandingannya, tidak punya rupa, warna, kosong tidak ada apa-apanya. Namun adalah kesalahan bahwa kekosongan Dzat Tuhan adalah TIDAK ADA, sebab CERMIN itu TETAP ADA.

Ki Soedjonoredjo penulis buku Wewadining Rasa mengatakan kesalahan anggapan bahwa TUHAN ITU TIDAK ADA, sebagai berikut: “Mbok menawa ana sawenehing manungso kang kliru ora percaya marang anane kang murbeng alam. Dadi ananing dhirine lan anane kang gumelar gumandhul karang kabeh, kaanggep gumandul marang suwung kang mangkono iku umpamakna nganggep suwung marang warna rupaning kaca benggela, satemah kaca benggala dipadhakake karo kothongan kang pancen suwung babar pisan. Apa iku bener?”

Wujud cermin sejati atau kacawirangi adalah “wangwung”, tidak ada apa-apa. Pantas bila orang lalu menganggapnya tidak ada sebab cermin itu terlihat begitu jernih, seperti tidak adanya rupa apapun. Tapi cermin itu tetap ada. CERMIN SEJATI ITU SATU TAPI TIDAK TERHINGGA JENIS DAN BILANGANNYA.

Orang yang hubungan MIKROKOSMOS dan MAKROKOSMOS nya masih kacau cenderung menganggap cermin itu tidak ada. Padahal, Hakikat Cermin adalah daya tunggal getar kodrat yang harmonis. Semua yang tunggal daya juga tunggal rasa. Misalnya daya tunggal yang disebut pengelihatan, itu tidak sama dengan dengan pendengaran. Daya tunggal-daya tunggal yang tiada batas jenis dan bilangannya itu dibingkai oleh keadaan sejati.

Di dalam buku Dewa Ruci (Yasadipura) terdapat inti ajaran mengenai “cermin” tersebut di atas sebagai berikut: “Badan njaba wujud kita iki, badan njero mungguwing jroing kaca, ananging dudu pangilon, pangilon jroning kalbu yeku wujud kita pribadi, cumithak jro panyipta, ngeremken pandudu, luwih gedhe barkahira, lamun janma wus gambuh ing badan batin, sasat srisa bathara”

Kisah Dewaruci ini adalah inti Sangkan Paraning Dumadi, sekaligus sebagai pengungkapan ajaran Kawulo Gusti sampai kepada jarak yang sedekat-dekatnya yang dikenal sebagai PAMORING KAWULO GUSTI atau JUMBUHING KAWULO GUSTI. Ajaran tentang sangkan paraning dumadi yang dilaksanakan sebagai pedoman hidup praktis sehari-hari, sebagaimana yang terungkap dalam buku Jati Murti itu merupakan ajaran yang mudah dipahami. Sisi praktisnya terungkap dalam pernyataan yang sering disampaikan oleh Ki Damardjati Supadjar:

“Ora perlu kabotan tresna marang daden-daden, tresnaa marang sing dadi. Nanging aja gething marang daden-daden, sebab ing kono ana sing dadi”

Pernyataan ini, kata Ki Damardjati, menjelaskan hubungan antara KEJADIAN dan YANG MENJADIKAN, atau YANG DIRASA dengan YANG MERASA. Yang menghubungkan keduanya adalah RASA. Alam semesta ini adalah yang dirasakan, bukan rasa atau yang merasakan. Yang digunakan untuk merasa ialah rasa bukan yang dirasakan atau yang merasakan. Jadi, kenyataan sejati itu bukan yang dirasakan atau bukan yang dipergunakan untuk merasa, melainkan yang merasa. Yang dirasa disebut MAKROKOSMOS, yang dipakai merasa disebut MIKROKOSMOS. Yang merasa disebut KENYATAAN SEJATI.

Di dalam hubungan ini, ada tiga kemungkinan pengalaman yaitu LUPA, INGAT dan INGATAN SEMPURNA. Lupa = larut ke yang dirasakan, tidak memperhatikan rasanya, apalagi yang merasa. Ingat = waspada tentang rasa, tidak larut ke yang dirasakan. Ingatan sempurna = waspada terhadap yang merasa, tidak larut ke rasanya apalagi yang dirasakan.

Dalam filsafat ketuhanan Jawa, hubungan Manusia dan Tuhan (Kawulo-Gusti) memiliki makna sangat mendalam. Manusia harus merasakan benar-benar bahwa dirinya adalah hamba-Nya atau KUMAWULA yang artinya dirinya merupakan cermin yang sejati, sehingga Tuhan dan bayangan-Nya sungguh-sungguh tidak terhalang oleh kotoran sedikitpun. Hal ini ditandai oleh koreksi terus menerus atas diri “aku” manusia sehingga mencapai kualitas PRAMANA.

Diungkapkan oleh Ki Damardjati, ketika rasa perasaan belum jernih, adalah rasa perasaan itu yang dianggap PRIBADI oleh si rasa perasaan. Artinya si rasa perasaan mengaku aku supaya dianggap: AKU. Jadi rasa perasaan manusia itu ternyata memang tidak bisa melihat yang meliputinya. Jadi dalam perbuatan MERASA, bahkan menghalang halangi. Karenanya, dapatnya manusia melihat terhadap yang meliputinya, tidak ada jalan lain kecuali TIDAK dengan MERASA, yaitu RASA PERASAAN KEMBALI KEPADA YANG MELIPUTI (Pribadi/Rasa Sejati). Apabila sudah tidak terhalang daya rasa perasaan, maka hanya PRIBADI yang ADA, disitulah baru mengetahui terhadapi DIA, yaitu yang MEMILIKI RASA PERASAAN, bukan RASA PERASAAN YANG DIPUNYAI.

Sultan Agung menerangkan perbedaan antara Kawulo Gusti dengan perantaraan 16 terminologi yang memperjelas hubungan antara Gusti (YANG DISEMBAH) dan Kawulo (YANG MENYEMBAH) sebagai berikut: Dzat-sifat, Rasa-pangrasa, Cipta-ripta, Yang disembah-yang menyembah, Kodrat-iradat, Qadim-baru, Sastra-gendhing, Yang Bercermin-bayangannya, Suara-gema, Lautan-ikan, Pradangga-gendhingnya, Papan Tulis-tulisannya, Manikmaya-Hyang Guru, Dalang-wayang, Busur-anak panah, Wisnu-kresna.

Dalam konteks pencapaian pribadi manusia tertinggi atau “pamungkasing dumadi” atau “sampurnaning patrap” adalah LULUHING DIRI PRIBADI, LULUHING RAOS AKU. Itulah pamungkasing dumadi, di situ lenyap tabir kenyataan yang sebenarnya.

Manusia yang sempurna dengan demikian adalah manusia yang luluhnya “aku” yang “diengkaukan” (krodomongso) digantikan dengan “aku” yang tidak mungkin diengkaukan (dudu kowe).

Hubungan antara Kawulo-Gusti ini, akan ditutup dengan pernyataan Ranggawarsita: “Sakamantyan denira angudi, widadaning ingkang saniskara, karana tan kena mleset, surasaning kang ngelmu, nora kena madayeng jangji, jangjine mung sapisan, purihen den kumpul, gusti kalawan kawula, supadine dinadak bisa umanjing, satu munggwing rimbagan” (Upaya untuk mencapai pemahaman haruslah terus menerus sepanjang hidup, agar tercapai keselamatan lahir-batin, yaitu KESESUAIAN HUKUM TUHAN, sebagai suatu janji, bahwa MANUSIA ITU WUJUD PERTEMUAN KAWULA GUSTI, artinya WAKIL TUHAN, sedemikian rupa seperti cincin permata).

Sebagai Wakil Tuhan di alam semesta, manusia telah diberi berbagai perangkat lunak sehingga dia bisa berhubungan secara langsung dan berkomunikasi dengan Tuhan sebagai GURU PALING SEJATI MANUSIA. Dalam Wirid Hidayat Jati dipaparkan ada tujuh unsur pokok penyusun diri manusia itu:

1. Hayyu (hidup) = disebut ATMA, terletak di luar DZAT
2. Nur (cahaya) = disebut PRANAWA terletak di luar Hayyu
3. Sir (Rahsa) = disebut PRAMANA terletak di luar Nur
4. Roh (Nyawa) = disebut Suksma, terletak diluar Rahsa
5. Nafs (Angkara) = letaknya di luar suksma
6. Akal (budi) =letaknya diluar nafsu
7. Jasad (badan) = letaknya di luar budi.

Keterangan: Ada keterpaduan antara unsur di atas yaitu:
• Suksma wahya = patemoning jasad lan napas
• Suksma dyatmika = patemoning napas lan budi
• Suksma lana = patemoning budi lan napsu
• Suksma mulya = patemoning napsu lan nyawa
• Suksma sajati =patemoning nyawa lan rahsa
• Suksma wasesa = patemoning rahsa lan cahya
• Suksma kawekas = patemoning cahya lan urip

Penutup:
Terdapat kesulitan memahami hakekat hubungan antara Kawulo-Gusti dalam jagad filsafat ketuhanan Jawa bila kita hanya membaca dengan kemampuan akal budi. Dalam ajaran Jawa, kita diajari untuk melakukan praktik mistik dengan kepercayaan yang benar-benar penuh sehingga terwujud harmoni dan kesatuan dengan tujuan kosmos. Ini akan membuahkan kondisi-kondisi fisik dan metafisik yang bermanfaat bagi kita semua. Tuhan bersemayam di unsur terdalam pada diri manusia sehingga “Kenalilah diri sendiri, maka kau akan mengenal Tuhanmu.”

@wongalus, 2009

Categories: TUNGGAL RASA KAWULA-GUSTI | 26 Komentar

AMALAN AJI BAYU BAJRA


“Pamuji rahayu.., monggo Ki dipun lanjut ilmunipun … kulo suwun upami mboten awrat penggalih, dipun wedar ngilmu aji maruta…, supaya saya kalu bepergian jauh ndak usah naik kendaraan Ki.. ngirit ongkos hehehe…maklum bensin mahal, aftur juga mahal…,naik piet onthel ga tekan tekan je….hehehe..kesuwen. nyuwun jembaring penggalih pangapunten.matur sembah nuwun. salam sihkatresnan, Rahayu… (Ki Hadi Wirojati, 24 October 2009).

Terima kasih saya sampaikan kepada Ki Hadi Wirojati atas komentarnya di blog ini. Sebagai rasa hormat saya kepada Beliau sekaligus untuk nguri-uri kebudayaan lokal yang kaya dimensi dan penuh dengan kearifan, maka pada kesempatan ini akan dibeber soal ilmu aji bayu bajra yang serupa dengan aji maruta.

Sekitar tahun 80-an di kawasan selatan gunung Semeru, perbatasan Kabupaten Lumajang-Malang, Jatim di hutan lindung yang lebat masih banyak menjumpai orang-orang yang memiliki ilmu Aji Bayu Bajra. Mereka pating gleber seperti burung. Hinggap (Menclok) dari pohon yang satu ke pohon yang lain. Persis seperti di film-film silat. Yang membedakan adalah saat kita dekati, mereka akan menjauh dan sama sekali tidak ingin identitasnya diungkap.

Suatu ketika dalam sebuah maneges, saya menjumpai seseorang pemilik ajian bayu bajra di wilayah itu. Duduk bersila di sebuah batu besar di tengah sungai mengalir gemericik. Saya mencoba menyapanya dengan salam. Dia tidak menjawab. Baru ketika saya mencoba untuk menggunakan bahasa tubuh yang artinya bahwa saya ingin bercakap-cakap dengannya, maka dia akhirnya memberi isyarat. Jari telunjuknya ditempatkan di depan mulut. Matanya memandang santun dan lembut mata saya. Sebuah sorotan yang sejuk namun tegas dan berdaya.

Batin saya langsung membaca ini orang waskita yang tidak sembarangan: dia sedang maneges kepada Gusti. Belum sempat saya meneruskan komunikasi dengan bahasa tubuh yang lain, dia langsung meloncat ke sebuah pohon yang rimbun dan meneruskan melompat ke pohon yang lain. Hingga akhirnya hanya gerakan-gerakan dedaunannya saja yang terlihat. Orang waskita itu pun menghilang.

Saya hanya berujar: Selamat jalan, hamba Gusti Allah yang waskita ….

Orang yang bisa terbang atau meloncat dari dahan yang satu ke dahan yang lain ini bagi para leluhur tanah Jawa adalah soal yang mudah. Gaya hidup keseharian para leluhur yang dekat bahkan menyatu dengan alam membuat mereka mampu menemukan ilmu-ilmu/ajian-ajian yang beraneka rupa. Hobi para leluhur yang gentur olah rasa/batin, menggunakan ilmu titen untuk membaca fenomena alam dan gemar mempersatukan diri dengan semua jenis kekuatan (fisik dan metafisik) membuat mereka digdaya.

Para leluhur tidak perlu membeli handphone dan SMS untuk menghubungi para sedulurnya. Mereka juga tidak bisa menggunakan email atau facebook untuk saling curhat. Dari keterpisahan jarak dan waktu, mereka menggunakan kemampuan intuisi untuk saling berkomunikasi (orang sekarang menyebut telepati). Namun, bila dirasa sangat urgen untuk bertemu dengan sedulurnya, mereka akan berjalan kaki atau menggunakan kuda sebagai alat transportasi. Segelintir leluhur lain yang waskita akan menggunakan ajian Sapu Jagad dan Bayu Bajra untuk bepergian jarak jauh.

Aji Bayu Bajra mensyaratkan agar penggunanya sudah memiliki kedewasaan mental spiritual. Ia haruslah orang yang sudah “berumur” dan tidak ingin menonjolkan diri lagi di depan publik. Dia sepi ing pamrih rame ing gawe. Tubuh fisiknya bisa seringan kapas karena dia tidak lagi diliputi nafsu keduniawian sedikitpun sehingga yang ada dalam hidupnya hanyalah menunggu titah-Nya saja. Jiwa yang masih “berat” condong ke dunia, mustahil memiliki ilmu ini dengan seempurna.

Para pemilik ilmu ajian ini adalah orang yang sangat pendiam. ‘Tapa meneng’ dan hanya boleh berbicara bila sangat terpaksa. Satu dua kalimat pun harus diucapkan dengan bijaksana. Yakni untuk menyampaikan ajaran-ajaran kebajikan yang menjadi tanggungjawab besarnya di dunia. Laku prihatin dan hidupnya harus bisa diteladani oleh orang yang pernah melihat dia walau hanya sekelebat.

Matra untuk matek ajian Bayu Bajra diingatnya di luar kepala. Itu mencerminkan jiwanya yang bebas seperti burung….

“Putune Bayu Bajra yo aku
Sing nduwe angkoso, Nduwe langit
Nduwe awang-awang
Aku mabur koyo manuk
Kemlebat koyo alap-alap
Mabur koyo bidho kang ora nate kesel
Mabur……burrr!!!!!!!!!!!
Maburku luwih banter tinimbang angen-angen..”

Itulah mantra yang dibaca oleh hamba Gusti Allah yang pernah saya jumpai di kawasan selatan gunung Semeru yang kini entah ada di mana.

@wongalus,2009

Categories: AMALAN AJIAN BAYU BAJRA | 52 Komentar

AMALAN PENYERAP ENERGI POCONGAN


Orang yang meninggal namun ruhnya belum mampu menembus alam kelanggengan (alam barzakh) secara otomatis akan masuk ke alam gaib yang paling rendah. Yaitu alam yang dihuni gendruwo, jin, peri, tuyul, buto ijo, kolor ijo, kuntilanak. Ini adalah alam yang khusus diperuntukkan bagi makhluk halus yang tidak memiliki tubuh/raga tapi memiliki hasrat dan nafsu keduniawian/ nafsu untuk “memiliki”.

Badan astral si arwah yang belum masuk ke alam kelanggengan tersebut pada saat-saat khusus bisa dilihat oleh manusia. Di Jawa, orang-orang menyebutnya dengan pocongan atau hantu wedon. Ini tentu saja hal yang sangat tidak diharapkan. Sebab idealnya, arwah orang yang meninggal dunia langsung masuk ke alam barzakh yang lebih suci dari alam gaib terendah. Di alam kelanggengan, tidak ada lagi nafsu keduniawian.

Arwah tersebut menunggu hadirnya orang yang bisa menjadi ‘lantaran’ dia bisa masuk ke alam barzakh. Yaitu orang yang paham, bagaimana agar si arwah bisa menembus dimensi barzakh yang lebih halus dan tenang, damai dan mulia. Tanpa adanya orang yang membantu, maka dia akan terus berupaya dengan berbagai cara untuk mencari perhatian. Salah satunya adalah menakut-nakuti orang agar ada orang yang winasis mau untuk membantunya membuat upacara “wisuda” pelepasan; bisa masuk ke alam barzakh.

Di alam gaib terendah, arwah itu sejatinya menangis dalam kesedihan yang amat sangat. Mereka sangat tersiksa. Yang lebih repot lagi, masih ada saja orang jahat ber-ILMU HITAM yang memanfaatkan badan astral si arwah ngelambrang yang jadi hantu wedon/pocongan ini untuk keperluan mereka.

Maka waspadai bila ada orang duduk di makam orang yang sudah meninggal beberapa hari, terutama orang yang meninggal malam Jumat Kliwon. Mereka menanti kukus, asap atau hawa yang ke luar dari tanah yang sudah bersenyawa dengan mayat. Mereka akan menyedot si arwah agar ikut dengannya karena tarikan mantra yang mereka punyai. Mereka akan membaca mantra yang bunyi intinya sebagai berikut:

Niat ingsun njaluk kekuatanira
supaya cumondhok mring pribadiningsun
Asipat kandel tumraping urip,
asipat madhep tumraping pepeteng.
Sopo nyimpang keliwatan,
Sopo nyanding tan sumingkir
Sopo sing tak cedhaki, atine ajur koyo wedhak
Nyawiji… nyawiji…. Dumugi mring sihing Allah
Tumeka mring sejatining urip linuwih

Setelah diucapkan dengan penghayatan, laku dan kekuatan batin, maka arwah akan ikut menjadi “penjaga gaib” mereka. Si orang yang mengamalkan ilmu Menyerap Energi Pocongan ini akan memiliki “kelebihan” yaitu akan ditakuti orang lain. Orang lain akan gentar dan ciut nyali bila menatap matanya secara langsung sebab di arwah pocong/hantu wedon ini akan menggetarkan hati memunculkan rasa takut di hatinya. Bila ada lawan jenis, maka dia akan ‘kantil’ dan luluh hati serta akan mengikuti pemilik amalan ini bila dikehendaki.

Namun, ilmu ini jelas tidak akan mempan digunakan untuk mereka yang memiliki olah rasa/olah batin yang kuat. Ilmu hitam yang punya karakter buruk, adigang adigung adiguna akan mudah ditaklukkan dengan moral etika/perilaku yang baik dan andap asor yang lahir dari jiwa yang bersih dari nafsu angkara murka.

@wongalus, 2009

Categories: AMALAN PENYERAP POCONGAN | 16 Komentar

Blog di WordPress.com.