EMPAT PENDEKAR GAIB SUNAN KALIJAGA


Siang dan malam keempat pendekar gaib ini setia menunggu kita. Saat genting dan bahaya, dia menyeret kita ke tempat yang aman. Saudara penjaga gaib ini bukan jin bukan pula gendruwo.

Semakin lama belajar ajaran-ajaran leluhur Jawa, kita akan semakin terkagum-kagum pada para nenek moyang. Ilmu yang mereka ajarkan tidak bertentangan dengan agama, bahkan sesuai dan memperkaya pemahaman agama yang kita anut.

Sayangnya banyak yang masih memandang sebelah mata ajaran para leluhur Jawa ini. Bahkan ada yang menuduhnya sebagai syirik, khurofat dan takhayul. Para penuduh ini mungkin lupa, bahwa ajaran Jawa disampaikan secara sederhana agar mudah dipahami orang Jawa. Memang, para leluhur kita kadang tidak fasih melafalkan kata-kata Arab. Para leluhur ini juga orang yang masih gagap iptek. Namun, jangan salah sangka dulu.

Dari segi kebijaksanaan, ngelmu batin dan olah rasa para nenek moyang kita dulu bisa diandalkan. Mereka adalah para waskita yang mampu membangun candi Borobudur, Prambanan dan mampu membuat sebuah bangunan dengan ketepatan geometris dan geologis. Tidak kalah oleh nenek moyang bangsa Mesir yang mampu membangun piramida, atau nenek moyang suku Inca, bangsa Peru yang bisa membangun Manchu Picchu.

Saat agama Islam masuk ke nusantara, sementara di Jawa saat itu sudah berkembang agama Hindu, Budha dan berbagai kepercayaan animisme, dinamisme, politeisme. Islam melebur secara pelan dan damai, berasimilasi serta berosmosis tanpa pertumpahan darah. Islam agama damai dan tidak memaksa. Orang Jawa bersifat pasrah, sumeleh, sumarah, ikhlas dan mengandalkan rasa pangrasa. Jadi? Klop sudah!

Bagi orang Jawa, masuknya Agama Islam yang kaya dengan aspek kebatinan (tasawuf) sangatlah tepat. Orang Jawa pun tidak kebingungan dengan ajaran-ajaran mistik yang ada di dalamnya. Namun orang Jawa berhasil menyederhanakan ajaran-ajaran mistik ini dengan terminologi dan kalimat-kalimat sederhana dan mudah dimengerti. Harap maklum saja, orang Jawa dulu mayoritas hidup di pedesaan yang sederhana dan tidak banyak berwacana ilmiah.

Salah satu ajaran Kejawen yang membahas tentang adanya malaikat pendamping hidup manusia adalah SEDULUR PAPAT LIMO PANCER. Pancer adalah tonggak hidup manusia yaitu dirinya sendiri. Diri kita dikelilingi oleh empat makhluk gaib yang tidak kasat mata (metafisik). Mereka adalah saudara yang setia menemani hidup kita. Mulai dilahirkan di dunia hingga kita nanti meninggal dunia menuju alam barzakh (alam kelanggengan).

Sebelum hadirnya agama Islam, orang Jawa tidak memahami konsep malaikat. Maka mereka menyebut malaikat penjaga manusia dengan sedulur papat. Konsep “sedulur papat” ini oleh orang Jawa ditamsilkan melalui sebuah pengamatan/niteni.

Mulai saat janin tumbuh di perut ibu, janin dilindungi di dalam rahim oleh ketuban. Selanjutnya adalah ari-ari, darah dan pusar. Itulah saudara manusia sejak awal dia hidup dan selanjutnya “empat saudara” ini kemudian dikubur. Namun orang Jawa Percaya bahwa “empat saudara” ini tetap menemani diri manusia hingga ke liang lahat.

Karena Air Ketuban adalah yang pertama kali keluar saat ibu melahirkan, orang Jawa menyebutnya SAUDARA TUA. Saudara ini melindungi jasad fisik dari bahaya. Maka ia adalah SANG PELINDUNG FISIK.

Selanjutnya yang lebih MUDA adalah ari-ari, tembuni atau plasenta. Pembungkus janin dalam rahim. Ia melingkupi tindakan janin dalam rahim yang kemudian mengantarkan kita ke tujuan. Maka ia adalah SANG PENGANTAR.

Saudara kita selanjutnya adalah DARAH. Darah ini membantu janin kecil untuk tumbuh berkembang menjadi bayi lengkap. Darah adalah SARANA DAN WAHANA IRADAT-NYA pada manusia. Darah bisa disebut nyawa bagi janin. Maka, darah disebut dengan PEMBANTU SETIA MANUSIA MENEMUKAN JATI DIRINYA SEBAGAI HAMBA TUHAN, CERMIN TUHAN (Imago Dei).

Saudara gaib kita terakhir adalah pusar. Menurut pemahaman Kejawen, pusar adalah NABI. Pusar secara biologis adalah tali yang menghubungkan perut bayi dalam rahim dan ari-ari. Pusar mendistribusikan makanan yang dikonsumsi ibu ke bayi. Pusar dengan demikian MENDISTRIBUSIKAN WAHYU “IBU” MANUSIA yaitu Gusti Allah SWT kepada diri kita.

Keempat saudara gaib ini sesungguhnya adalah EMPAT MALAIKAT PENJAGA manusia. Yang berada di kanan-kiri, depan-belakang kita. Maka, tidak salah bila Anda menyapa dan bersahabat akrab dengan mereka. Secara gaib, Tuhan mmeberikan pengajaran tidak langsung kepada hati kita. Namun melalui mereka pengajaran itu disampaikan.

Keempat penjaga (malaikat) itu adalah:

JIBRIL (Penerus informasi Tuhan untuk kita),
IZRAFIL (Pembaca Buku Rencana Tuhan untuk kita),
MIKAIL (Pembagi Rezeki untuk kita) dan
IZRAIL (Penunggu berakhirnya nyawa untuk kita).

Keempat malaikat itu oleh orang Jawa dianggap sebagai SEDULUR karib hidup manusia. Bila kita paham bahwa perjalanan hidup untuk bertemu dengan Tuhan hakikatnya adalah perjalanan menuju “ke dalam” bukan “ke luar”. Perjalanan menembus langit ketujuh hakikatnya adalah perjalanan “diri palsu” menuju “diri sejati” dan menemukan SANG AKU SEJATI, YAITU DIRI PRIBADI/ TUHAN.

Untuk menemukan SANG AKU SEJATI (limo pancer) itulah kita ditemani oleh EMPAT SAUDARA GAIB/MALAIKAT PENUNGGU (sedulur papat). Lantas dimana mereka sekarang? Mereka sekarang sedang mengawasi Anda. Berdzikir mengagungkan asma-Nya. Kita bisa menjadikan mereka sedulur paling akrab bila paham bagaimana cara berkomunikasi dengan mereka. Caranya? Pejamkan mata, matikan seluruh aktivitas listrik di otak kiri dan kanan dan hidupkan sang AKU SEJATI yang ada di dalam diri Anda. Ya, hanya diri sendirilah yang mampu untuk berkomunikasi dengan para sedulur gaib nan setia ini.

Bagaimana tidak setia, bila kemanapun kita berada disitu keempatnya berada. Bila kita berjalan, mereka terbang. Bila jasad kita tidur, mereka akan tetap melek ngobrol dengan ruh kita. Maka, saat bangun tidur di siang hari pikiran kita akan merasa fresh sebab ruh kita akan kembali menjejerkan diri kita dengan iradat-Nya. Sayang, saat waktu beranjak siang polusi nafsu/ego lebih dominan sehingga kebeningan akal pikiran semakin tenggelam.

Bagaimana agar hidup kita selalu ingat oleh kehadiran sedulur papat ini yang setia menjaga kita? Sunan Kalijaga memiliki kidung bagus:

Ana kidung akadang premati
Among tuwuh ing kuwasanira
Nganakaken saciptane
Kakang kawah puniku
Kang rumeksa ing awak mami
Anekakaken sedya
Pan kuwasanipun adhi ari-ari ika
Kang mayungi ing laku kuwasaneki
Anekaken pangarah

Ponang getih ing rahina wengi
Angrowangi Allah kang kuwasa
Andadekaken karsane
Puser kuwasanipun
Nguyu uyu sambawa mami
Nuruti ing panedha
Kuwasanireku
Jangkep kadang ingsun papat
Kalimane pancer wus dadi sawiji
Nunggal sawujudingwang

(Ada nyanyian tentang saudara kita yang merawat dengan hati-hati. Memelihara berdasarkan kekuasaannya. Apa yang dicipta terwujud. Ketuban itu menjaga badan saya. Menyampaikan kehendak dengan kuasanya. Adik ari-ari tersebut memayungi perilaku berdasar arahannya.

Darah siang malam membantu Allah Yang Kuasa. Mewujudkan kehendak-Nya. Pusar kekuasaannya memberi perhatian dengan kesungguhan untuk saya. Memenuhi permintaan saya. Maka, lengkaplah empat saudara itu. Kelimanya seagai pusat sudah jadi satu. Manunggal dalam perwujudan saya saat ini)

@.wongalus.2009

Categories: SEDULUR PAPAT LIMO PANCER | 80 Komentar

TATA CARA NGELMU SANGKAN PARAN


“Ingsun tojalining Dzat Kang Maha Suci, Kang murba amasesa, Kang kuwasa Angandika Kun Fayakun mandi sakucapingsun, dadi saksiptaningsun, katurutan sakarsaningsun, kasembadan saksedyaningsun karana saka Kodratingsun. Ingsun Dzating manungsa sejati, saiki eling besuk ya eling. Saningmaya araning Muhamad , Sirkumaya araningsun, Sir Dzat dadi sak sirku, yaiku sejatining manungsa, urip tan kena ing pati,langgeng tan keno owah gingsir ing kahanan jati, ing donya tumeka jagad langgeng. Ingsun mertobat lan nalangsa marang Dzat ingsun dewe, regede badaningsun, gorohe atiningsun, laline uripingsun, salahe panggaweningsun, ing salawas lawase dosaningsun kabeh sampurna saka kodratingsun.”

“Ilmu iku kalakone kanthi laku”: ilmu itu terlaksana karena dilakukan di dalam perbuatan yang nyata. Dalam konteks khasanah falsafah Jawa, kata “ngelmu” menunjuk pada ajaran hidup menuju kesempurnaan diri pribadi. Ajaran itu teori dan teori tidak akan membawa manfaat apa-apa bila tidak dipkraktekkan dalam hidup sehari-hari.

Di dalam sebuah ajaran ada perintah dan larangannya. Tujuan perintah larangan adalah untuk mendisiplinkan diri agar diri yang sebelumnya “liar” menjadi “jinak”, diri yang sebelumnya memperturutkan keinginan “diri”/ego/keakuan menjadi diri yang bisa menurut dengan diri-Nya/Ego-Nya.

Kenapa diri ini harus manut dengan keinginan atau kehendak-Nya? Ada sebuah analogi yang gampang dicerna. Misalnya, sebuah mobil BMW diciptakan dan diproduksi oleh pabrik BMW di Jerman. Pabrik sudah mengeluarkan petunjuk penggunaan, aturan perintah dan larangan.

Pabrik tidak asl bikin petunjuk penggunaan. Sang insinyurnya sudah memiliki prediksi agar mesin dan bodi mobil itu awet, maka oli harus dignti saat mobil sudah mencapai sekian kilometer. Insinyur juga memiliki prediksi bahwa usia efektif mobil tersebut sekian tahun. Hingga mencapai batas usia tertentu, maka mobil akan digolongkan istimewa dan menjadi barang antik.

Begitu pula manusia. Manusia diciptakan oleh Tuhan dan Sang Insinyur Manusia ini sudah mengeluarkan buku panduan lengkap, tata cara hidup dan berkelakuan agar dipedomani sebagai arahan hidup mulai o tahun hingga semilyar tahun mendatang.

Beda dengan benda yang “ada”nya begitu sederhana. “Adanya” manusia ini sungguh luar biasa. Manusia diberikan kebijaksanaan untuk menentukan masa depannya sendiri sebelum dia dilahirkan di dunia. Manusia diberi kekuasaan-Nya untuk merancang sendiri dia nantinya akan jadi apa, akan kemana, apa tujuan hidupnya. Ya, karena Tuhan Maha Pemurah, maka manusia dijinkan menjadi insinyur yang bebas merancang dirinya sendiri.

Ruh yang merupakan “manusia sejati” dan “sejatinya manusia” itu, sebelum ada di dunia telah merancang dirinya sendiri dengan menulis di buku kitabnya masing-masing. Tuhan hanya memberikan kata “ACC” dan membubuhkan “stempel” saja. Tuhan pun menekankan bahwa yang berlaku nanti di bumi adalah hukum sebab akibat. Hukum karma, sunatullah atau disebut juga dengan hukum alam.

Jadi, salah bila dikatakan bahwa adanya sial, bencana, bahaya, ketidaksuksesan hidup itu karena Tuhan. Tuhan tidak cawe-cawe sama sekali. Itu murni urusan manusia yang tidak paham dan malah mungkin melanggar pantangan hukum sebab akibat.

Keberhasilan dan kesuksesan adalah akibat dari sebuah sebab. Sebab keberhasilan/kesuksesan adalah kerja keras. Untuk bekerja keras butuh motivasi kerja yang tinggi dan niat yang teguh. Tubuh/Raga yang rajin bergerak mencari rezeki yang halal, asalnya adalah jiwa/batin yang tenang, nyaman dan bahagia.

Kembali ke tema awal. Apa saja tata cara ngelmu sangkan paran? Di dalam khasanah Kejawen, dalam buku “Cipta Brata Manunggal” karangan Ki Brotokesawa disebutkan laku yang perlu dijalani:

1. Sabar, tawakal, tekun, dan nrimo

2. Jaga kebersihan lahir batin

3. Olah raga

4. Olah nafas

5. Berpakaian yang pantas dan bersih.

7. Olah cipta, banyak membaca dan menggali ilmu pengetahuan

8. Bekerja rajin

9. Sore hari belajar untuk tambahan pengetahuan

10. Makan teratur dan higienis.

11. Minum air putih dingin pagi, siang, malam

13. Istirahat selama 6 atau 8 jam sehari semalam.

14. Perasaan dan pikiran terarah.

16. Tidak terlalu banyak bicara. Tidak bicara kotor dan berbicara seperlunya. Bila akan tidur hendaklah instropeksi diri sambil berdoa sebagaimana yang tertera di kalimat pembuka.

Dalam buku “Cipta Brata Manunggal” juga dipaparkan proses tingkat-tingkat manembah/sembah kepada Gusti. Berikut tingkatan itu:

A. SEMBAH RAGA yaitu tapaning badan jasad kita. Tubuh, jasad bergerak atas perintah batin. Batin diperintah oleh dua unsur, baik (nur Ilhiah) dan buruk (nar Iblis). Agar tubuh disiplin, terarah dan terkendali maka perlu dilatih. Tingkatnya adalah syariat. Tubuh tetap melakukan disiplin ibadah.

B. SEMBAHING CIPTA, di Islam dinamai Tarekat, sembahnya hati yang luhur. Untuk mencapai hati luhur perlu kesadaran nalar (logika). Diperlukan olah nalar yang bagus sesuai dengan prinsip-prinsip logika. Tujuan sembah cipta adalah  mengerti akan “kasunyatan”. Ilmu pengetahuan harus dikuasai agar memiliki perbandingan baik dan buruk. Kebijaksanaan akan lahir bila kita mampu menekan dan mengendalikan hawa nafsu. Memahami Ilmu Ketuhanan diperlukan syarat berupa cipta yang bersih dari hawa nafsu dan olah nalar yang mumpuni. Ilmu Ketuhanan adalah ilmu yang “sangat halus” yang bisa ditangkap dengan kegigihan memperhalus batin dan mentaati prinsip-prinsip berpikir yang lurus.

Tujuan dari sembah cipta itu mengendalikan dua macam sifat: angkara( yang menimbulkan watak adigang, adigung, adiguna, kumingsun dsb.) dan watak keinginan mengusai akan kepunyaan orang lain (kemelikan-jw). Cipta yang bersih yaitu kalau sudah bisa mengendalikan angkara murka, Tandanya bila cipta sudah “manembah”, yaitu waspada terhadap bisikan jiwa.

Jadi sembah itu intinya melatih cara kerja cipta, dengan cara Tata, Titi, Ngati ati, Telaten, dan Atul. Atul adalah pembiasaan diri agar mendarah daging menjadi kebiasaan dan watak yang akhirnya terbiasa mengetahui sejatinya penglihatan (sejatine tingal) yaitu Pramana, bisa dikatakan sampai kepada jalan sejati, yaitu penglihatan pramana (tingal pramana).

Tanda sudah sempurna sembah cipta adalah berda di dalam kondisi kejiwaan sepi dari pamrih apapun.  Seperti tidak ingat apapun itu pertanda sudah sampai batas, yaitu batas antara tipuan dan kenyataan (kacidran lan kasunyatan – jw), jadi sudah ganti jaman, dari jaman tipuan menjadi jaman kenyataan.

Rasa badan ketiga (saka penggorohan maring kasunyatan Rasaning badan tetelu), wadag astral dan mental tadi seketika tidak bekerja. Disitulah lupa, tetapi masih dikuati oleh kesadaran jiwa (elinging jiwa), dan waktu itu menjadi eneng, ening, dan eling.  Artinya eneng: diamnya raga, Ening : heningnya cipta, Eling: ingatnya budi rasa yang sejati.

C. SEMBAH JIWA. di Islam dinamai Hakekat. Kalau sudah bisa melaksanakan sembah cipta baru bisa melaksanakan sembah jiwa. Artinya: rasakan dengan menggunakan rasa “kasukman” yang bisa ditemui dalam eneng, ening dan eling tadi. Tandanya adalah semua sembah, panembah batin yang tulus tidak tercampuri oleh rasa lahir sama sekali.

Bila sudah melihat cahaya yang terang tanpa bisa dibayangkan tetapi tidak silau, pertanda telah sampai kepada kekuasaan “kasunyatan”(kesejatian), yang juga disebut Nur Muhamad, yaitu tiada lain Cahaya Pramana sendiri, karena dinamai pramana karena cahayanya yang saling bertautan dengan rasa sejati dan budi, disitu rasa jati dan budi akan berkuasa(jumeneng), sudah sampai kepada kebijaksanaan. Artinya kebijaksanaan merasa sampai mengerti yang melakukan semadi tadi, saling berkaitan tak terpisahkan dengan cahaya yang terang benderang yang tidak bisa dibayangkan.

D. SEMBAH RASA, di Islam dinamai Makrifat. Sembah rasa itu adalah mengalami Rasa Sejati. Inilah rasa manusia yang paling halus, tempat semua rasa dan perasaan dan bisa merasakan perlunya menjadi manusia  yang berbudi luhur dan menyadari bahwa dia adalah pribadi yang merupakan Wakil-Nya. Bahkan pada tahap akhir pemahaman makrifat, dia akan “menjadi” Tuhan itu sendiri (Gusti amor ing Kawulo). Rasa hidup adalah rasa Tuhan, rasa Ada, ya diri pribadi, bersatu tanpa batas dengan rasa semua ciptaan Nya. Tanda bila sudah mencapai kasunyatan, sudah hilang ilah-ilah yang lain hingga sampai mencapai TAUHID MURNI.  @@@

@.wongalus.2009

Categories: TATA CARA NGELMU SANGKAN PARAN | 17 Komentar

AMALAN MENEMBUS ALAM KELANGGENGAN


Ini amalan untuk menembus alam gaib secara cepat dan bertemu dengan roh orang yang telah meningal di alam kelanggengan

Sholat sunnah 13 rokaat sekaligus. Lanjutkan dengan mengambil/menggunakan benda-benda milik orang yang telah meninggal (baju, cincin, topi dll) dan baca doa ini dengan hati dan batin yang penuh kesungguhan mengharapkan uluran tangan-Nya.

“Duh Gusti, kulo nyuwun bertemu dan silaturahim kaliyan ruh pak/bu/mbak/mbah…….. (nama orang yang telah meninggal) ingkang manfaat kagem  kulo dunia akhirat”

Selesai berdoa, lanjutkan dengan tidur dan Insya Allah Anda akan cepat menemui orang tersebut di alam kelanggengan. Sapa dia dengan rendah hati, ramah dan santun dan doakan dia agar ruhnya selalu aman sentausa dalam genggaman “tangan” Allah SWT.

@.wongalus.2009

Categories: AMALAN MENEMBUS ALAM KELANGGENGAN | 31 Komentar

AMALAN SEMAR MESEM


Ini amalan untuk meluluhkan hati seseorang yang membenci kita, misalnya bos/atasan/kekasih pujaan hati.

Amalannya:  Sholat sunnah 5 rokaat sekaligus. Lanjutkan dengan melihat foto orang yang akan dituju dan baca doa ini dengan hati dan batin yang penuh kesungguhan mengharapkan uluran tangan-Nya.

“Duh Gusti, kulo nyuwun silaturahim raket kaliyan …….. (nama orang yang akan dituju) ingkang manfaat kagem sukses kulo dunia akhirat”

Selesai berdoa, lanjutkan dengan menemui orang tersebut. Sapa dia dengan rendah hati, ramah dan santun. Insya Allah, hatinya akan luluh dan penuh belas kasih pada Anda atas ijin Allah SWT.

@.wongalus.2009

Categories: AMALAN SEMAR MESEM | 216 Komentar

AMALAN BANYAK REZEKI


Sholat sunnah 7 rakaat sekaligus. Lanjutkan dengan mengambil segenggam tanah di depan rumah dan baca doa ini dengan hati dan batin yang penuh kesungguhan mengharapkan uluran tangan-Nya.

“Duh Gusti, kulo nyuwun rezeki ingkang manfaat kagem keluarga kulo lan kaliyan sesami”

Selesai berdoa, lanjutkan dengan menyebarkan tanah tersebut ke depan pagar/pintu rumah. Insya Allah, doa panjenengan semua akan diijabahi Allah SWT.  Ingat, jangan lupa beramal sebanyak-banyaknya juga.

@wongalus, 2009

Categories: AMALAN BANYAK REZEKI | 95 Komentar

AJARAN MISTIS DALAM SULUK PESISIRAN


sulukAsal kata “suluk” yaitu kata Arab “salaka thoriq” yang berarti menempuh jalan (tasawuf) atau tarikat. Ilmunya sering disebut ilmu suluk . Namun di Jawa, “suluk”  diartikan sebuah ajaran mistik yang diungkapkan dalam bentuk tembang/lagu sedangkan bila diungkapkan dalam bentuk prosa, umumnya dinamakan wirid.

Suluk Pesisiran adalah sebuah buku terjemahan suluk-suluk klasik Jawa yang ditulis dalam bentuk puisi oleh Emha Ainun Nadjib. Kumpulan suluk itu merupakan terjemahan naskah suluk cirebonan berkode LOr 7375. Lor singkatan dari Codese Leidse Orientalis, yakni istilah bagi kumpulan naskah yang berasal dari belahan dunia timur yang masih tersimpan di perpustakaan Universitas Leiden, Belanda.

Naskah asli Suluk Cirebonan ditulis dalam hurup arab pegon dan huruf Jawa dengan pengarang “anonim”. Naskah suluk cirebonan itu adalah sedikit naskah Islam klasik yang berhasil “dibawa” pulang ke negeri kita setelah sekian lama “tercuri” di Universitas Leiden, Belanda.

Menurut seorang peneliti Islam Klasik Mufti Ali, PhD., hanya 7 % dari 2 juta naskah Islam klasik dalam bahasa Arab maupun Persia yang terdapat di Timur Tengah, Turki, India, dan di beberapa negara yang sudah diedit dan dipublikasikan. 93 % sisanya masih menumpuk di rak-rak penyimpanan naskah.

Naskah islam Klasik itu telah menjadi komoditas yang punya nilai jual tinggi untuk diperjualbelikan. Puluhan juta Euro uang ditransfer dari beberapa perpustakaan di beberapa negeri Teluk, seperti Qatar, Bahrain, Uni Emirat Arab yang kaya minyak, ke beberapa Toko Buku Antik yang menjual naskah-naskah Islam klasik di Belanda.

Berbagai naskah Arab Islam klasik yang unik dan sangat tua, berpindah tangan dari satu kolektor kepada kolektor lain. Karena concern terhadap naskah yang sedemikian tinggi tersebut maka wajar sejumlah perpustakaan dan Museum di Eropa memiliki koleksi naskah yang sangat kaya. Perpustakaan Universitas Leiden saja memiliki lebih dari 50 ribu koleksi naskah Islam klasik yang diakuisisi dalam jangka waktu lebih dari 400 tahun.

Perpustakaan Nasional Jerman di Berlin menyimpan lebih dari 80 ribu naskah Islam klasik. Puluhan ribu naskah Islam klasik lainnya disimpan di beberapa perpustakaan di Prancis, Rusia, Spanyol, Italia, dll. Karena ‘kekayaan’ ini, ribuan peneliti (sejarah) Islam datang dari berbagai negara ke Eropa untuk membaca dan meneliti serta memiliki reproduksi naskah.

Demikian sedikit uraian mengeni naskah Islam Klasik yang menjadi pembuka artikel ini. Berikut beberapa Suluk dalam buku “Suluk Pesisiran” yang mengajarkan ajaran-ajaran mistis yang bernilai sangat tinggi. Termasuk apa dan bagaimana sesungguhnya makrifat itu.

SULUK SELOBRANGTI

Selobrangti terbangun karena kaget

Oleh burung yang bergembira ria

Tegak tubuhnya, memesona pandangan matanya

Seperti telah begitu terlatih hidupnya

Burung itu seolah menegurnya

Menegur birahinya

Kepada Allah yang Agung

Sehingga seperti pendeta raja yang berkelana

Dan tatkala sampai di hutan ia kekang nafsunya

Nyi Selobrangti turun perlahan-lahan

Akan mengambil air sembahyang

Shalat ashar hendak ditegakkan

Nyi Centini mengikuti

Telah diambilnya air pamujan

Mengikutinya bersembahyang

Siap memuja, sajadah dihamparkan

Berdiri dengan bersidekap tangan

Tawajjuh, yang lain disingkirkan

Yang lain tak diperhatikan

Hati terpusat kesatu tujuan

Sempurna berdirinya

Menghadap kiblat

Tatakrama sempurna

Kepada amar dihadapkan hatinya

Menyadari puji-puja

Semoga sembahnya diterima

Tepat sudah niatnya Dipusatkan maksud dan tujuannya

Bersamaan dengan takbirnya

Hanya huruf 8 yang tampak olehnya

Pikiran berhenti pada Nama

Dan Allah yang perkasa

Dekat dengan yang disembah

Sembahnya telah mi’raj tanpa terlihat

Tanpa tertabiri oleh keinginan menyembah

Seucapan rindu nantinya

Akan sebanyak puji yang terbilang-bilang

Itu sebagi sembahnya

Sembah hamba

Tujuan yang sebenarnya

Menyebut diri

Pada dirinya sendiri

Itulah sembah yang menikmatkan

Seperti angin bertiup sepoi

Dalam menyembah dan memuji

Itulah yang disebut tubadil

Adapun maknanya

Ialah sembah berhenti,diganti

Karena tertimpa oleh kasih

Sembah hamba menjadi hilang

Seperti awan dan matahari

Ibaratnya

Ia sama dengan matahari

Namun dalam tidurnya

Awan tak menjadi matahari

Demikianlah sembah utama

Setelah Selobrangti mengucapkan

Bacaan takbir

Mukanyapun dihadapkan

Kepada Mahabesar Tuhan

Yang membuat langit dan bumi

Kemudian sesudahnya

Fatihah wajib dibaca

Ialah yang dimulai dengan menyebut nama

Yang kasih di dunia, kasih kepada mukmin

Kelak di akhirat

Al hamdu segala puji

Dipanjatkan kepada Tuhan

Allah semesta alam

Yang kasih kepada orang mukmin

Yang memberi surga

Ialah Raja

Raja di hari kiamat

Yang disembah dan dimintai tolong

Yang Mahaagung dan senantiasa Santun

Tunjukkan jalan kebenaran

Tuntun ke tempat yang terang

Seperti jalanan

Hamba yang patuh

Orang saleh dan para wali

Dan para Nabi

Jangan Seperti

Langkah orang yang kau benci

Orang yang sesat dan kau murkai

Hendaklah paduka Allah terima ini

Bacaan Fatihah mudah dilakukan

Selobrangti lantas membaca ayat-ayat

Itu sunnat

Kemudian ia be ruku’,wajib

Kemudian Selobrangti duduk

Menenangkan badan

Sambil memenuhi

Menyerah pada perintah Tuhan

Ikhlas dan diberi ampunan

Dan akhirnya ia angkat kepala

Selobrangti tegak dan mengangkat kepala

Hendaklah Allah mendengar

Hatur hamba

Sujud tanpa henti

Pasrah raga untuk mengenali dunia

Yang tujuh macamnya

Dan sungguh-sungguh merendahkan

Anggota badan yang utama

Direndahkan seperti air turun ke dunia

Memasuki samudera

Mengangkat kepala,kemudian duduk

Tenang duduknya

Ikhlas segala tingkah lakunya

Percaya kepada Tuhan

Yang adil dan penuh ampunan

Kemudian sujud yang kedua

Kemudian berdiri,rakaat yang pertama

Lengkap,menuju rakaat kedua

Dengan sunnat dimulainya

Ketahuilah perbuatan sunnah af’al

Yakni tahiyyat awal

Bahwa perbuatan sunnat

Tiga macamnya

Kalau terlupa, sujud sahwi gantinya

Hal ini termuat dalam surat

Hendaklah diketahui denga cermat

Bahwa duduk tahiyyat dan shalawat

Itu yang disebut af’al sejati

Sehingga lengkaplah tiga perkara tadi

Dengan nama-Nya engkau memulai

Rakaat yang semula

Dua rakaat banyaknya

Adapun shalat ashar

Empat rakaat maka jadilah

Empat rakaat, kemudian

Tahiyyat wajib

Rukun enam wajib yaitu

Duduk di antara tahiyyat dan tertib

Salam disertai niat

Selobrangti mengakhiri shalat

Salam memungkasinya

Salam itu wajib kedudukannya.

Adapun bangun pada malamnya

Sunnah,dan sesudah salam akhir

Yakni seusai sembahyang

Memuji dengan lirih

Membaca tasbih,berdo’a

Pengucapan perlahan-lahan

Namun hati penuh gelombang

Itulah sembah utama

Nabi terpilih berkata

Ketahuilah jangan memuji dengan suara

Yang keras bunyinya

Demikianlah tuntunan Rasul duta

Jangan engkau keras-keras memuja

Sedang Allah

Telah mendengarnya

Tuhan mendengar hati bersuara

Bukan lahiriah, Ia mendengar dan mengetahui

Tak pilih kasih, tak jatuh hati

Nyi Centini juga melakukan takbir

Namun hatinya tertutup oleh panca indera

Tampak segala gerak-geriknya

Diikuti oleh hatinya

Niat diulang-ulang

Sedang dalam niat

Dalam ucapan

Mesti bersama dengan takbir

Ihramnya jauh mendahului hatinya

Ia baru shalat ditengah-tengahnya

Sebagian orang melakukan shalat

Tak mengerti sempurnanya sembah

Tak tahu liku-likunya

Salah ucapannya

Sunnah wajib tak dibedakannya

Tak mau bertanya

Batin orang bodoh adanya

Menghadap ke masalah dunia

Tak tahu ditolak sembahnya

Terhalang puja-pujinya

Adapun bagaimana mengelola birahi

Selobrangti menyirnakan keinginan

Yang peluang tumbuhnya tak diberi

Hutan belantara dimasuki

Centini si pembantu mengikuti

Dari belakang selalu mengikuti

Menghilangkan rasa cinta dunia

Mematikan badan sebelum mati

Kepada Allah percaya sekali

Dengan menatap batu di tepian jurang

Nyi Selobrangti bertapa

Di dalam gua istirahatnya

Malam tak tidur

Siang tak makan

Keras berusaha

Memerangi nafsunya

Lupa akan badan dan jiwa

Menjadi lesu raganya

Seperti mayat disiksa

Dengan sungguh-sungguh memusatkan pandang

Pucuk hidung yang kelihatan

Napasnya ditahan

Tak mengetahui keluar masuknya

Tak terasa lagi zikirnya

Tak berhenti pujinya

Hening pikirannya

Empat alam dikuasai

Segala arah menyatu

Itu yang namanya laku

Yang pertama alam nasut

Yakni alam manusia

Syariat tata kramanya

Kedua alam malakut

Yang tinggal hanya satu keinginan yang tak bergeming

Tak menoleh kepada yang lain-lain

Yang ketiga alam jabarut

Itu alamnya ruh utama

Tak lepas dari puja

Yang keempat alam lahut namanya

Orang mati bersemayam padanya

Sudah tak ada tatakrama

Yang dibicarakanpun tak ada

Jiwa, badan, sembah dan puja

Hilang,tatakrama

Tak ada yang dibincangkan

Yang di dalamnya tak dua

Melainkan yang berkuasa juga yang ada

Lesu raganya,gairah tak ada

Seperti mayat bentuk dan warnanya

Tinggal denyut jantung saja

Nyi Centini memandangnya

Hingga amat sedih hatinya

Tuannya mati raga

Tak ada lagi geraknya

Tinggal denyut jantungnya saja

Maka ia sembahlah tuannya

Sambil menangis amat kerasnya

Terbangun Nyi Selobrangti

Mendengar tangis Centini

Terjaga dari tapa

Tersadar karena mendengar suara

Tangis yang terus menerus mendera

Segera ia beri pertolongan

Centini yang hilang kesadaran

Tangannya menjulur menggapai pembantunya

Dan berkata

Pelan dan berbisik kata-katanya

Halus lembut meluncur dari mulutnya

Demikianlah betapa lesu letih ia

Maka halus tuturnya

Jangan menangis wahai Centini

Tak ada gunanya dilakukan

Tak ada gunanya dibicarakan

Inilah memang tujuan sejak permulaan

Nyi Centini memohon kepada tuannya

Agar bersedia pulang ke rumah saja

SULUK PAESAN WAJIB

Maskumambang

1

Cermin wajib dalam melangkah bersama

Dengan kedewasaanmu

Hendaknya pikirkanlah Ia

Yang dipertuhan dan Mahamulia

2

Dipertuhan dengan kata hati

Mempercayai

Tuhan qadim hakiki

Yang wajib ditaati

3

Ditaati dengan hati yang jernih

Penglihatan yang sempurna

Arah tak mendua

Memusat kepada allah yang Maha Kuasa

SULUK GEDHONG

Menyembah untuk melihat

Dengan cara memandang yang khas

Menyembah seperti berkaca dalam cermin

Berjuang menemukan rupa yang hakiki

Karena yang diperlihatkan oleh kaca

Tidaklah sejati

Ketika engkau menyembah memuji

Tajamkan penglihatan

Kepada yang menggerakan sembahyang

Yakni Allah sejati

Kau sembah Ia dengan pasti

Tidak setengah hati

Menatap ini dan menatap itu

Sampai pula segala sesuatu

Tak ada yang kosong olehNya

Ia meliputi dan memenuhi apa saja

Bahkan ZatNya tampak

Bagi setiap mata yang waspada

Lainnya tiada, kecuali yang terlihat

Apabila sudah arif makrifat

Namun jika rabun oleh segala rupa

Yang tampak itu hakiki disangkanya

Lantaran tak tahu ajaran yang benar

Bingung yang terlihat dan terdengar

Tak bingung kalau tahu yang sejati

Bagi yang ingin melihatnya

Sirnakan segala rupa

Yakni dinding yang menutupi batin mata

Kalau sudah tercapai ia

Itulah makrifat namanya

Menempuh jalan, mencari

WajahNya yang kelihatan

Demikian engkau tahu menemukan Tuhan

Demikian engkau menempuh jalan

Yang sejak sediakala disediakan

Kalau dipandang tiada. Ia tiada

Maka jangan ragukan tempatNya

Kalau dipandang tiada, Ia tiada selamanya

Dari awal hingga akhir

Tak ada yang mengerti

Karena itulah dicari

Kalau dipandang ada, Ia ada, anakku

Hendaklah engkau waspada menatapNya

Lantaran tak ada lagi selain Ia

Tinggal bagai sepi

Satu wujud Abadi

SULUK SYEH MADEKUR

….

Orang yang tiba di gelombang Cinta

Gagap hendak menjelaskannya

Kalau merasa sebagai hamba

Wujud menjadi dua

Kalau merasa sebagai Tuhan

Ia tersekutukan

SULUK GEDHONG

Mijil

1

Sesungguhnya tidaklah ada yang tahu

Bahwa umpamanya Ia bersemayam di gedung itu

Tapi diketahuiNya ia yang tahu

Serta bagaimana segala mahluk berperilaku

Sungguh sebelum terjadi

Ia telah mengerti

2

Ketahuilah Sebelum segalanya terjadi

Ketika jagad kosong tanpa isi

Bahkan sebelum awang-uwung itu sendiri

Yang ada hanya Tuhan Sang Maha Widi

Hanya Ia pula yang mengetahui

Zat Mahaluhur dan Suci

3

Maka dibikinNya semua mahkluk ini

Agar ada yang mengenali

Diciptakannya jagat semesta

Dengan hanya satu sabda

Segalanya mengada seketika :

“Kun”

4

Sempurna tak ada kekurangan

Karena Tuhan yang menciptakan

Ia berkuasa karena DiriNya sendiri

Tanpa kesalahan sama sekali

Demikianlah tatkala semua terjadi

Bertahap menjadi dan menjadi

5

Maka bersabdalah Ia

Kenapa segenap alam yang dijadikanNya nyata

“Sungguh tak Kujadikan Jin dan manusia

Kecuali untuk satu:

Menyembah kepadaKu”

6

Menyembah untuk melihat

Dengan cara memandang yang khas

Menyembah seperti berkaca dalam cermin

Berjuang menemukan rupa yang hakiki

Karena yang diperlihatkan oleh kaca

Tidaklah sejati

9

Ketika engkau menyembah memuji

Tajamkan penglihatan

Kepada yang menggerakan sembahyang

Yakni Allah sejati

Kau sembah Ia dengan pasti

Tidak setengah hati

10

Menatap ini dan menatap itu

Sampai pula segala sesuatu

Tak ada yang kosong olehNya

Ia meliputi dan memenuhi apa saja

Bahkan ZatNya tampak

Bagi setiap mata yang waspada

11

Lainnya tiada, kecuali yang terlihat

Apabila sudah arif makrifat

Namun jika rabun oleh segala rupa

Yang tampak itu hakiki disangkanya

Lantaran tak tahu ajaran yang benar

Bingung yang terlihat dan terdengar

12

Tak bingung kalau tahu yang sejati

Bagi yang ingin melihatnya

Sirnakan segala rupa

Yakni dinding yang menutupi batin mata

Kalau sudah tercapai ia

Itulah makrifat namanya

13

Menempuh jalan, mencari

WajahNya yang kelihatan

Demikian engkau tahu menemukan Tuhan

Demikian engkau menempuh jalan

Yang sejak sediakala disediakan

14

Kalau dipandang tiada. Ia tiada

Maka jangan ragukan tempatNya

Kalau dipandang tiada, Ia tiada selamanya

Dari awal hingga akhir

Tak ada yang mengerti

Karena itulah dicari

15

Kalau dipandang ada, Ia ada, anakku

Hendaklah engkau waspada menatapNya

Lantaran tak ada lagi selain Ia

Tinggal bagai sepi

Satu wujud Abadi

@wongalus, 2009

Categories: SULUK PESISIRAN | 4 Komentar

AJARAN KEPEMIMPINAN PANCASETYA


Tidak hanya presiden, para menteri, pejabat eselon maupun bos atau manajer perusahaan saja yang disebut pemimpin. Setiap individu hakikatnya adalah pemimpin. Maka, dia perlu memegang ajaran kepemimpinan ini.

Ajaran kepemimpinan Jawa itu terdiri dari lima hal yang merupakan nilai-nilai yang paling prinsip. Kelima ajaran itu adalah:

1. SETYA BUDAYA
2. SETYA WACANA
3. SETYA SEMAYA
4. SETYA LAKSANA
5. SETYA MITRA

SETYA BUDAYA: Seorang pemimpin harus menghargai adat istiadat dan budaya masyarakat setempat. Dia harus mau untuk beradaptasi dengan lingkungan sosial setempat. Pemimpin harus mengetahui hakikat budaya. Budaya adalah sebuah proses manusia untuk hidup yang lebih bijaksana, adil, selamat dan sejahtera. Proses itu tidak mengenal titik henti, sehingga pemimpin yang baik harus terus beradaptasi dan berasimilasi dengan budaya dimana dia memimpin.

SETYA WACANA: Seorang pemimpin harus mampu memegang teguh ucapannya. Bersatunya kata atau ucapan dan perbuatan nyata harus selaras. Tidak munafik dan membohongi masyarakat. Dia harus pandai berdiplomasi dan mengerti perkembangan situasi sosial, politik, ilmu pengetahuan dan wacana-wacana lain sehingga dia mampu memimpin dengan cerdas.

SETYA SEMAYA: Seorang pemimpin harus bisa melaksanakan janjinya semasa belum jadi pemimpin/kampanye. Janji adalah hutang yang harus dibayar setelah dia menjadi pemimpin. Janji memang diperlukan agar masyarakat berpikir optimis dan punya harapan untuk hidup yang lebih baik, namun janji harus dilaksanakan.

SETYA LAKSANA: Seorang pemimpin harus bertanggungjawab terhadap tugas yang diembannya. Tugas adalah kewajiban, bukan hak. Sehingga menunaikan kewajiban merupakan prinsip seorang pemimpin. Pemimpin harus bertanggungjawab kepada masyarakat, namun juga kepada Tuhan. Tanggungjawab iu tidak hanya di dunia, namun juga di akhirat maka tanggungjawabnya akan dipertanyakan. Tugas apapun yang diembankan oleh masyarakat harus dilaksanakan dengan ikhlas.

SETYA MITRA: Seorang pemimpin harus mampu membangun jaringan persahabatan dan perkawanan. Dia harus memiliki watak setia kawan yang setinggi-tingginya. Tidak boleh berkhianat kepada kawan. Tidak boleh culas dan egois. Seorang pemimpin perlu membangun sebuah kehidupan sosial yang kondusif dan membawa kemanfaatan bersama-sama. Kemanfaatan tidak boleh hanya bisa dirasakan oleh kelompok/kaumnya melainkan harus bisa dirasakan oleh semua golongan.

@. Wongalus, 2009

Categories: AJARAN KEPEMIMPINAN PANCASETYA | 19 Komentar

PENGOBATAN ALTERNATIF ALA SUNAN KALIJAGA


Pengobatan menggunakan kekuatan batin sudah demikian banyak dikenal di nusantara ini sejak lama. Berbagai teknik dan metode sudah dikenal di era kerajaan-kerajaan Sriwijaya, Maapahit, Mataram.

Era sekarang, kita mengenal juga banyak pengobatan alternatif modern, ditambah menggunakan ramuan herbal dan lain-lain. Ini jelas merupakan kekayaan budaya spiritual yang harus dilestarikan dan dikembangkan. Teknik dan metodenya yang beragam membantu masyarakat untuk memilih pengobatan alternatif yang sesuai dengan keinginannya.

Salah satu metode pengobatan kuno dengan pengerahan daya batin adalah sebagaimana yang diajarkan oleh Sunan Kalijaga. Yaitu menyampaikan doa pada Tuhan Yang Maha Kuasa dengan keyakinan penuh bahwa doanya akan diijabahi oleh-Nya dengan diiringi sikap pasrah total dan ikhlas.

Doa yang diajarkan Sunan Kalijaga itu berbahasa Jawa. Doa yang disampaikan dengan bahasa Jawa, akan lebih meresap ke dalam hati sanubari masyarakat sehingga diharapkan sang pendoanya memahami makna dan tujuan doa tersebut.

Sebelum doa disampaikan, maka didahului oleh amalan PUASA MUTIH selama tiga atau tujuh hari. Puasa mutih yaitu puasa seperti biasa kita melaksanakan puasa Ramadhan. Namun pada saat berbuka, kita hanya memakan nasi dan air putih saja.

Tujuan puasa mutih ini adalah agar tubuh, pikiran, rasa pangrasa kita semakin manunggal untuk menggerakkan daya batin sehingga mampu untuk menggerakkan cinta kasih-Nya dan memberi ijabah pada doa yang akan disampaikan.

Setelah puasa mutih tiga atau tujuh hari dilaksanakan maka pemohon membaca doa sebagaimana berikut ini:

Ana kidung rumeksa ing wengi

Teguh hayu luputa ing lara

Luputa bilahi kabeh

Jim setan datan purun

Paneluh tan ana wani

Wiwah panggawe ala

Gunanung wong luput

Geni atemahan tirta

Maling adoh tan ana ngarah ing mami

Guna duduk pan sirna

Sakehing lara pan samya bali

Sakeh ngama pan sami miruda

Welas asih pandulune

Sakehing braja luput

Kadi kapuk tibaning wesi

Sakehing wisa tawa

Sato galak tutut

Kayu aeng lemah sangar

Songing landhak guwaning

Wong lemah miring

Myang pakiponing merak

Pangupakaning warak sakalir

Nadyan arca myang seraga asat

Temahan rahayu kabeh

Apan sarira ayu

Ingideran kang widadari

Rineksa malaekat

Lan sagung pra rasul

Pinayungan ing Hyang Suksma

Ati Adam utekku

Baginda Esis Pangucapku

ya Musa Napasku

Nabi Isa linuwih

Nabi Yakub pamiyarsaningwang

Dawud suwaraku mangke

Nabi Ibrahim nyawaku

Nabi Sleman kasekten mami

Nabi Yusup rupeng wang

Edris ing rambutku

Baginda Ngali kuliting wang

Abubakar getih daging

Ngumar singgih

Balung baginda Ngusman

Sumsumingsun Patimah linuwih

Siti Aminah bayuning angga

Ayup ing ususku mangke

Nabi Nuh ing jejantung

Nabi Yunus ing otot mami

Netraku ya Muhammad

Pamuluku Rasul Pinayungan Adam Kawa

Sampun pepak sakathahe para nabi

Dadya sarira tunggal

Inilah pengobatan alternatif untuk segala penyakit menggunakan teknik berpuasa dilanjutkan dengan berdoa. Pengobatan ala Sunan Kalijaga ini tidak bertentangan dengan akidah Tauhid bahkan bila diresapi dengan penghayatan yang mendalam, akan menambah iman kita pada Tuhan Yang Maha Kuasa.

Kita yakin penyembuh semua penyakit adalah Dia sehingga kita sampaikan doa setulus-tulusnya padaNya agar mengijabahi permohonan kita

@ wongalus, 2009.

Categories: DOA SUNAN KALIJAGA | 28 Komentar

MENJADI GUSTI ALLAH


Menuju derajat “takwa” yang hakiki perlu perjuangan yang berat. Nglakoni tahap demi tahap dengan sabar, awas, eling dan waspada agar “ngelmu” kita semakin sempurna.

Adalah sebuah keharusan bila kita ingin peningkatan kualitas spiritual kita, maka kita dianjurkan untuk mengarahkan orientasi dari “luar” menuju ke “dalam”, kemudian mengarah lagi ke “luar” dan terakhir ke “dalam” lagi. Berikut keempat tahap itu:

I.

Sebagaimana perjalanan para nabi dalam sejarah, Adam, Nuh, Ibrahim, Musa, Isa, Muhammad SAW dan seterusnya…atau nabi Budha. Lahir, anak-anak dan beranjak remaja dia mengamati lingkungan sekitarnya. Tarafnya adalah olah indera dan raga, latihan kepekaan dan penajaman indera mata, telinga, perabaan kulit, menyerap dan menghembuskan nafas dan mulut untuk merasakan sesuatu. Berbagai pengalaman luar dirasakan oleh indera. Mata melihat bagaimana perjalanan kehidupan manusia: Lahir, remaja, dewasa, sakit, tua, mati…. Ini adalah tahap pemusatan ke luar… ke benda-benda / obyek-obyek khusus  SAMANTA BHAVANA.

II.

Tahap selanjutnya, mengarahkan pemusatan perhatian atau orientasi hidup ke “dalam”. Mulailah kita merenungkan hubungan sebab akibat, kenapa ada orang hidup..kenapa ada orang mati.. kenapa manusia dihidupkan, apa hakikat hidup… Apa penyebab semua yang hidup? Bila ada Sang Pencipta, kenapa dia menciptakan kita? …. Konsentrasi diarahkan ke pergerakan akal yang diliputi oleh batin/rasa pangrasa. Akal menemukan hakikat, rasa melanjutkan dengan penghayatan. Tuhan ditemukan melalui logika, dilanjutkan dengan mengakui dan mengimani keberadaannya. Terjadi evolusi pada setiap fase.

Ruhani manusia terus bermetamorfosis; dari orientasi jasad fisik, kemudian beralih konsentrasi ke batin. Dia mengolah batinnya, kejadian demi kejadian yang dialami dalam pengalaman nyata berhasil diambil kesimpulan bahwa SEMUA YANG ADA INI ADA HIKMAHNYA. Hikmah apa? Hikmah untuk memaknai perjalanan hidup ini dengan benar, lurus dan terbukanya pintu kebenaran. Shiratal mustaqim yakni jalan yang lurus. Jalan apa? Jalan kehendak, akal, nafsu menuju iradat Gusti. Jalan yang mengarah lurus itulah yang benar. Tanda-tanda orang yang sudah mencapai tahap benar ini adalah terbuka terhadap semua pandangan yang berbeda. Mampu meresapi semua keyakinan yang dianggap benar oleh setiap orang, dan kemudian mampu mengambil sari kebenaran tersebut. Dia telah mendapatkan PANDANGAN TERANG… VIPASSANA BHAVANA.

Inilah tahap IQRA sang Muhammad SAW, atau saat nabi Budha mendapatkan Pencerahan di bawah Pohon Bodhi. Mereka ditemui Ruhul Quddus, Malaikat Jibril. Gerak batin kita padu, serasi dan selaras dengan gerak batin-Nya. Mampu membaca keinginan Tuhan dalam hidupnya setiap hari. Batin kita tidak hanya mengingat-Nya dalam setiap tarikan/hembusan nafas dan detak nadi. Namun juga batin kita berkomunikasi intensif berbicara, berbincang-bincang, berdiskusi dengan batin-Nya. Seperti orang berkasih-kasihan. Keduanya saling menakar, mempertimbangkan dan menilai masing-masing.

III.

Tahap selanjutnya perjalanan spiritual yang lebih tinggi lagi adalah meditasi ke semua titik. Mengarahkan konsentrasi indera, batin dalam perbuatan nyata. Tapa ngrame. Beramal sosial. Menyempurnakan penciptaan Tuhan. Memayu hayuning bawono untuk Memayu Hayuningrat. Pada tahap ini, semua sudah terang benderang di depan semua inderanya, di dalam batinnya. Ibadah sosial ini dilakukan tanpa pamrih apa-apa, kecuali netepi titahing Gusti. Apa saja titah gusti pada kawolo/hamba akan dilaksanakan tanpa malas. Bila tidak dilaksanakan, dia akan terkena hukuman. Pengajaran Tuhan disampaikan secara langsung tanpa utusan gaib lagi. Ini tahap saat Nabi berjuang untuk memberi kabar Tuhan, berdakwah terang-terangan ke segenap sedulur papat/semua arah penjuru bumi. Menyebarkan kasih sayang-Nya. Tuhan mewartakan apa saja, sang hamba berkewajiban melanjutkan sabda-Nya.

Dia sudah berderajat para nabi dengan pencapaian ruhani yang sangat tinggi. Namun dia sadar tetap manusia biasa yang masih punya jasad. Kesadaran bahwa kita tetap manusia harus dimiliki. Syariat agama tidak boleh ditinggalkan. Semua nabi telah mencapai derajat ketiga ini. Dia sudah ada di langit ketujuh, langit diri pribadi tertinggi…

IV.

Tahap selanjutnya meditasi adalah mengarahkan diri ke “dalam” lagi. Manusia sudah tinggal aku sejati/ruhnya saja. Ngracut, mencair dan menguap bersama Gusti. Ia sudah mukso. Menjadi cahaya bersama-Nya. Hidupnya abadi. Tidak mengenal kematian. Kematian sudah bisa ditentukan kapan dan dimana. Manusia bisa melihat apa yang akan terjadi. Rentangan kejadian yang ada di alam semesta dilihatnya dengan diam. Semua gerakan batin yang menggelora ada di kekuasaannya. Sang diri pribadi mampu membaca buku “agenda” yang dibuat bersama antara ruh kawulo dengan Gustinya lagi.

Bila selama ini dia hanya bisa meraba-raba, sekarang dia sudah dengan sangat gamblang membaca agenda tersebut. Komunikasi dengan Gusti sudah tidak ada. Kenapa? Bukankah komunikasi butuh dua kehendak yang berbeda? Sementara di tahap akhir ini, dua kehendak itu sudah menjadi satu kehendak saja. Pada tahap ini, Kawulo sudah manunggal/jumbuh dengan Gustinya. Manunggal apanya? Semuanya. Ya iradatnya, ya sifat-sifat-Nya, ya asma-Nya, ya af’Alnya/perbuatannya.

Dia adalah Sumber dari Segala Sumber Cahaya Kebenaran itu sendiri. Apapun yang diinginkannya, adalah Kun Fayakun. Dia mengalami suwung… fana…..dalam kesatuan-Nya…. inilah hakikat takwa: yaitu “benar-benar” menjadi Gusti Allah… Ini hanya dicapai oleh pribadi yang telah tersinari oleh Nur Muhammad, diri pribadi yang memancarkan nilai-nilai terpuji. Sudah tidak ada langit lagi yang harus didaki, bahkan langit dan bumi sudah manunggal dalam satu titik lagi.

@2009. wongalus

Categories: MENJADI GUSTI ALLAH | 13 Komentar

WUJUD ALLAH MENURUT SEMBILAN WALI


Makrifatullah sebagai pengenalan tertinggi kawulo/hamba pada gusti telah dialami oleh para wali penyebar agama Islam di Nusantara. Mereka adalah suri tauladan pencapaian pendakian spiritual bagi kita, pencari jalan Ilahi. Apa dan bagaimana makrifat dari para wali  dan bagaimana wujud Tuhan yang sebenarnya?

Makrifat adalah sebuah situasi mental dan kondisi kejiwaan yang  dialami oleh siapapun yang menginginkan adanya perjumpaan dengan Tuhan Semesta Alam. Salah satu momen makrifat yang paling fenomenal dalam sejarah para nabi adalah apa yang dialami Nabi Musa As saat ekstase/ fana/jatuh tersungkur di bukit Sinai saat “menatap” wajah-Nya setelah gunung yang ada di depannya hancur karena tidak sanggup ditempati pancaran cahaya-Nya.

Makrifat bisa diraih dengan perjuangan dan laku yang berat.Dalam khasanah tasawuf, kita akan diajari bagaimana laku yang berat tersebut harus dijalankan untuk menyingkirkan dan menerobos hijab menuju langit. Hijab adalah tirai selubung penutup batin kita sehingga kita tidak mampu menggapai wujud-Nya.

Hijab di dalam perbendaharaan kaum sufi bisa dikategorikan menjadi sepuluh besar. Hijab ini berasal dari empat unsur, yaitu unsur jiwa, dunia, hawa nafsu, dan setan:

Hijab ta’thil, yaitu meniadakan asma’ dan sifat Allah.

Hijab berupa kemusyrikan, yaitu manembah kepada selain Allah.

Hijab bid’ah qauliyah yang tidak ada pijakannya dalam agama).

Hijab bid’ah ‘amaliah atau perbuatan yang menyimpang dari kebenaran iman dan ikhsan

Hijab batiniyah: takabur, ujub, riya, hasad, bangga diri, sombong dan iri dengki dan lain-lain.

Hijab lahiriyah: Perbuatan Ibadah yang tidak diniatkan untuk berjumpa dengan-Nya.

Hijab dosa kecil. Melakukan perbuatan dosa-dosa kecil namun banyak.

Hijab mubah. Melakukan perbuatan mubah namun tidak dianggap sebagai sebuah dosa.

Hijab lalai dari misi penciptaan dan iradat Allah.

Hijab penempuh jalan spiritual yang bersusah-payah, tetapi namun tidak sampai tujuan.

“Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka pada hari itu benar-bena tehijab dari (melihat) Rabb mereka. Kemudian, sesungguhnya mereka benar-benar masuk neraka”
(Al-Muthaffifin: 15-16)

Setelah semua hijab terbuka dan seseorang pejalan spiritual sudah sampai ke langit ketujuh di dalam diri sejatinya, maka seseorang akan kebingungan dan berada di alam “suwung”/ ora ono opo-opo. Semua pendamping kini telah meninggalkannya termasuk diri, malaikat dan para rasul. Dia kemudian dibimbing oleh Tuhan sendiri untuk berjumpa dengan  Dzat-Nya.

Apa yang terjadi sesudah kita bermakrifatullah? Tidak ada kata yang mampu menjelaskan situasi dan kondisi fana tersebut. Namun, kita bisa mendapatkan penjelasan dari para wali saat mengalami fana tersebut. Bagaimana wujud Allah SWT?

Sunan Kalijaga: “Allah itu adalah seumpama memainkan wayang.”

Syekh Majagung: “Allah itu bukan disana atau disitu, tetapi ini.”

Syekh Maghribi: “Allah itu meliputi segala sesuatu.”

Syekh Bentong: “Allah itu itu bukan disana sini, ya inilah.”

Sunan Bonang: , “Allah itu tidak berwarna, tidak berupa, tidak berarah, tidak bertempat, tidak berbahasa, tidak bersuara, wajib adanya, mustahil tidak adanya.”

Sunan Kudus: “Jangan suka terlanjur bahasa menurut pendapat hamba adapun Allah itu tidak bersekutu dengan sesama.”

Sunan Giri berpendapat, “Allah itu adalah jauhnya tanpa batas, dekatnya tanpa rabaan.”

Syekh Siti Jenar: “Allah itu adalah keadaanku. Sesungguhnya aku inilah haq Allah pun tiada wujud dua, nanti Allah sekarang Allah, tetap dzahir batin Allah”

Sunan Gunung Jati:  “Allah itu adalah yang berwujud haq”

***

@. wongalus, 2009

Categories: WUJUD ALLAH MENURUT PARA WALI | 79 Komentar

MAKRIFAT SUNAN KALIJAGA


Jeng Sunan Kalijaga ngling
Amdehar ing pangawikan
Den waspada ing mangkene
Sampun nganggo kumalamat
Den awas ing pangeran
Kadya paran awasipun
Pangeran pan ora rupa

Nora arah nora warni
Tan ana ing wujudira
Tanpa mangsa tanpa enggon
Sajatine nora nana
Lamun ora anaa
Dadi jagadipun suwung
Nora nana wujudira


(Sunan Kalijaga berkata, memaparkan pengetahuannya.
Hendaknya waspada pada yang berikut ini.
Janganlah ragu-ragu. Lihatlah Tuhan secara jelas.
Tapi, bagaimana melihat-Nya.
Karena Tuhan itu tidak memiliki rupa.

Tuhan tidak berarah dan tidak berwarna.
Tidak ada wujud-Nya. Tidak terikat oleh waktu dan tempat.
Sebenarnya Ada-Nya itu tiada.
Seandainya Dia tidak ada,
maka alam raya ini kosong dan tidak ada wujudnya.)

–Serat Siti Jenar, Tan Khoen Swie Kediri 1922

Pendakian spiritual itu mulai dari mana? Mulai dari syariat dulu, kemudian menuju tarikat, hakikat dan akhirnya sampai pada makrifat? Atau Makrifat (mengenal Tuhan) dulu, kemudian penghayatan hakikat, kemudian menjalankan tarikat dan melaksanakan syariat? Menurut saya, pendakian spiritual bisa dari mana-mana. Kita tidak perlu kebingungan terhadap mana yang harus terlebih dulu kita jalani. Semuanya boleh sebagai titik pijak untuk memulai perjalanan.
Ada banyak teman yang memulai perjalanan spiritual dengan “tidak percaya” terhadap adanya Tuhan. Lalu belajar tentang ilmu ketuhanan, dan setelah kedewasaan intelektualnya mengalami kemapanan dan kemudian dia yakin adanya Tuhan dan kemudian menjalankan syariat. Yang demikian ini hebat.

Ada yang memulai dengan menjalankan syariat agama. Sebab dari kecil dia berada di dalam lingkungan yang taat beragama. Oleh orang tuanya, dia dididik untuk menjalankan syariat agama secara leterluks. Kemudian seiring perjalanan usianya, dia mulai mencari tahu dengan banyak belajar tentang agama, yang telah dijalaninya selama ini. Himngga kemudian pengetahuan dan perenungannya sampai pada hakikat. Kemudian dia menjalani laku suluk/tasawuf dan akhirnya mendapatkan pencerahan Makrifat. Yang demikian ini luar biasa.

Ada pula yang tidak mulai apa-apa. Ya tidak menjalankan syariat agama, ya tidak berusaha mencari tahu tentang Tuhan. Dia skeptis dan agnostik terhadap berbagai wacara agama serta kerokhanian. Dia seakan puas dengan apa yang ada pada dirinya. Otaknya tidak digunakan untuk berpikir tentang Tuhan. Namun, di tengah hidupnya dia dipaksa untuk menerima banyak hal yang tidak mauk akal hingga suatu ketika kesadarannya mengalami “BYAR”. Tiba-tiba dia sadar apa yang telah dijalaninya selama ini. Dia pun menemukan Tuhan di dalam hidupnya. Sukur alhamdulillah.

Suatu saat dalam hidupnya, Tuhan pasti akan datang membawa cahaya-Nya yang suci. Dia akan menerangi diri pribadi kita sehingga yang sebelumnya hanya mampu melihat fakta-fakta dengan inderanya, maka setelah pencerahan Tuhan itu datang maka dia mampu untuk melihat hubungan antar fakta dan akhirnya menemukan kesimpulan bahwa hanya ada satu Tuhan yang wajib disembah oleh manusia.

Tuhan itu bukan benda-benda. Tuhan ya Tuhan. Adanya berbeda dengan apa yang pernah diketahui oleh manusia. Yang pernah diketahui oleh manusia berasal dari pengalaman inderanya. Nah, wujud Tuhan ini tidak ada di dalam gudang memori manusia. Sehingga mengatakan Tuhan seperti A, B, C pasti jelas bukan Tuhan. Tuhan sebagaimana yang dibayangkan oleh manusia, tentu berbeda dengan Tuhan sebagaimana wujud-Nya yang asli. Anggapan tentang Tuhan beda dengan Tuhan yang sebenarnya. Sama seperti anggapan saya tentang mobil Mercy, tidak sama dengan mobil Mercy yang sebenarnya. Sebab saya buta tentang mobil, apalagi tidak pernah memiliki mercy sebelumnya sehingga penggambaran saya tentang Mercy berbeda dengan Mercy yang sebenarnya.

Dikatakan oleh Sunan Kalijaga, sebenarnya wujud Tuhan sangat jelas… sangat sangat jelas! Nah, kejelasan ini pasti tidak dimaknai sebagaimana kejelasan benda-benda. Benda bisa dilihat oleh indera. Namun wujud Tuhan? Disinilah kita akan semakin beranjak arif bahwa Tuhan yang tidak bisa digambarkan oleh kata-kata manusia itu harusnya tidak dilihat dengan indera. Namun oleh “sesuatu” yang adanya jauh berada di dalam diri manusia. Yaitu batin yang intuitif yang disebut dengan guru sejati. Guru sejatilah yang mampu mengantarkan kita untuk melihat dengan jelas diri pribadi. (sukma sejati) Diri sejati adalah tempat bersemayam Tuhan dalam diri manusia. Di situlah Tuhan duduk di atas arasy.

Sukma sejati atau Diri Sejati berasal dari Cahaya Yang Terpuji yaitu dari NUR MUHAMMAD. Nur Muhammad hanya ada SATU. Dan NUR MUHAMMAD inlah yang selalu mendapatkan PANCARAN ILAHI. Semua yang ada ini pada mulanya satu, termasuk manusia. Asal cahaya itu satu. Pancarannya ke segenap arah inilah yang menyebabkan terjadinya “aku” yang jumlahnya banyak. Meski sekarang kita melihat YANG BANYAK namun itu semua adalah perwujudan dari satu CAHAYA.

Melatih kepekaan batin yang intuitif oleh karenanya sangat penting. Berbagai macam cara dilakukan oleh peradaban manusia untuk menemukan Tuhan di dalam diri manusia. Misalnya dengan berkhalwat, atau mengadakan perjalanan spiritual ke tempat-tempat yang sepi untuk kemudian berdzikir hingga dia merasakan kefanaan.

Dalam kesendiriannya, sang pejalan spiritual akan menemui banyak ilusi/bayangan yang mempesona batin. Namun dia tidak boleh menggap bayangan itulah kenyataan Tuhan. Perjalanan diteruskan hingga pendakian memasuki godaan besar. Dia ditawari berbagai macam kemuliaan dunia. Egonya yang masih melekat pada harta, benda, tahta dan wanita ditantang agar dituruti namun dengan imbalan dia harus menghentikan perjalanannya. Ini tahap berbahaya menuju final.

Bila perjalanan diteruskan lagi, dia akan sampai pada kesendirian dan kesenyapan, Tiba-tiba semua yang nggandoli egonya terlepas begitu saja. Dia tidak butuh apa-apa lagi. Di tahap ini, semua pendamping perjalanan yang selama ini menemaninya satu persatu otomatis terlepas. Pengiring batin terlepas, Malaikat lepas karena tidak sanggup menemani lagi, semua saudara gaib melepaskan dirinya. Ya, dia polos seorang diri menuju Tuhan. Dia kini sudah dituntun oleh Tuhan sendiri untuk melihat Sang Penuntun, yaitu AKU. Ya, manusia sudah bisa melihat AKU SEJATI-NYA tanpa was-was tanpa samar-samar lagi. AKU SEJATI itu begitu terang benderang.

Inilah saat mind/pikiran/budi/rasa sudah tidak lagi digunakan. Atau disebut dengan NO MIND. Dia sampai tahap SUWUNG atau FANA. Kata tidak lagi mampu untuk membahasakan apa fana itu. Sebab kata sangatlah terbatas untuk menggambarkan sesuatu. Apalagi ini menunjuk pada kata yang bukan kata benda, bukan kata sifat, bukan kata keterangan, bukan kata kerja, bukan apa-apa…. ya paling gampang kita sebut saja SUWUNG alias MBUH ORA WERUH. Sebab kita tidak membutuhkan berbagai alat indera dan batin lagi. Kita hanya pasrah, sumeleh, sumarah saja pada Iradat GUSTI. **

(wongalus)

Categories: MAKRIFAT SUNAN KALIJAGA | 71 Komentar

ILMU SEJATI MENURUT SYEKH SITI JENAR


“Sajati jatining ngelmu
Lungguhe cipta pribadi
Pustining pangestinira
Gineleng dadya sawiji,
Wijaning ngelmu dyatmika
Neng kahanan ening-ening”

Hakikat ilmu yang sejati
Letaknya pada cipta pribadi
Maksud dan tujuannya,
Disatukan adanya,
Lahirnya ilmu unggul,
Dalam keadaan hening seheningnya

— “Serat Siti Jenar”

Dalam paradigma filsafat ilmu, definisi dari ilmu adalah pengetahuan yang telah diproses sedemikian rupa menggunakan metode, sistematisasi, memiliki obyek forma/sudut tinjau (point of view) dll. Metode ilmu berbeda-beda. Tergantung pada obyek material/materi yang diteliti. Namun, ilmu dalam pemahaman kalangan spiritualis biasanya dipahami lebih kompleks dari itu. Ilmu tidak hanya pengetahuan yang telah diproses dengan metode, sietematisasi, obyek dll… melainkan lebih luas. Meliputi wilayah ilmu sebagai teori dan juga praktik sebagai sarana untuk manembah ke diri pribadi yang merupakan pengejawantahan DIRI-NYA Gusti Inkang Akaryo Jagad.

SYEKH SITI JENAR juga menghayati ilmu seperti pemahaman ini. Terwujudnya ilmu/ngelmu karena ada usaha dan aspek tindakan nyata dari teori. (Ngelmu iku kalakone kanthi laku) Untuk mendapatkan ngelmu, Siti Jenar mensyaratkan adanya perjuangan yang berat, sungguh-sungguh, teliti dan sabar. Bahkan ada syarat khusus yaitu pelaku ngelmu tersebut harus meper hawa nafsunya. Ilmu yang dicari oleh Siti Jenar adalah ilmu sejati, yaitu ilmu yang harus dihayati dan memberikan kemanfaatan hidup di dunia dan diakhirat. Jadi ilmu harus memiliki dimensi pragmatis/kemanfaatan/kegunaan yang besar.

Teori itu penting namun lebih penting lagi adalah mampu mempraktikkan ilmu tersebut untuk kemanfaatan sesame makhluk Tuhan. Ibarat insinyur, teori membangun gedung itu penting. Namun yang lebih penting adalah bagaimana insinyur tersebut mampu mengaplikasikan teori tersebut untuk membangun gedung. Syekh Siti Jenar membimbing orang untuk mampu mengetahui ilmu dari Gusti Yang Maha Tunggal dengan mengetahui kenyataan ini adalah sebuah perwujudan kodrat-Nya. Siapa yang mampu memiliki ilmu ini? Tidak lain pribadi yang tahu, paham dan mempraktekkan kodrat, iradat dan ilmunya.

Ilmu yang sebenarnya/ilmu sejati menurut Siti Jenar berada di dalam cipta pribadi. Ide dan kreasi yang lahir dari dalam diri sendiri. Yang adanya di dalam diri yang paling dalam. Biasanya, kita mengetahui sesuatu itu berasal dari luar, melalui indera/pengalaman indera dan melalui pengajaran-pengajaran dari orang lain/guru/dosen. Namun, kata Siti Jenar, ilmu sejati yang memberi pengajaran adalah DIRI SEJATI. Diri Sejati itu berada di dalam lapisan diri yang paling dalam. Maka, pengetahuan tentang ilmu sejati, menurut Siti Jenar, hanya bisa ditemukan melalui ketajaman batin yang sumbernya dari hening dan sepinya diri. Sebab ilmu sejati memang adanya di kedalaman kesadaran manusia yang paling dalam.

Untuk mendapatkan ilmu sejati, manusia harus sepi ing pamrih rame ing gawe. Bebas dari nafsu dan ego pribadi apapun juga. Batin benar-benar menyatu dalam irama keheningan samadi. Hati dan pikiran tertuju pada fokus: Hu Allah! Itu saja, sehingga tidak ada konflik batin karena semuanya hakikatnya SATU. Susah-senang, baik-buruk, benar-salah, hitam-putih semuanya sumbernya satu dan tidak saling mengalahkan. Semuanya bisa diresapi dalam diamnya pribadi kita untuk selalu menyatu dengan pribadi-Nya. Sedulur papat limo pancer: Empat saudara yaitu ketuban, ari-ari, tali pusat dan darah yang menyertai kelahiran bayi ke alam dunia. Keempat saudara itu secara simbolik akan mati dan bersifat sementara, tinggal Pancernya—Ruh—Pribadi yang hidup. Pancer yang berupa ruh itulah DIRI PRIBADI MANUSIA.

Manusia sejati, menurut Siti Jenar, harus mengetahui GURU SEJATI-nya. Guru Sejati itu semacam intuisi/indera keenam hasil olahan dari RASA yang sangat dalam. Guru sejati adalah RUH yang memperkuat Sukma Sejati/sang pribadi dalam hidup ini. Sementara Sukma Sejati adalah tempat atau wadah bagi dunungnya SANG PRIBADI. Ilmu-ilmu tentang yang demikian itulah oleh Siti Jenar dikatakan sebagai ILMU SEJATI. ***

(wong alus)

Categories: ILMU SEJATI SITI JENAR | 115 Komentar

DOA NURBUWAT


NURBUWAT

“Bismillaahir rohmaanir rohiim. Allahumma dhisshulthanil adziim. Wa dzil mannil qadim wa dzil wajhil kariim wa waliyyil kalimaatit tammaati wad da’awaati mustajaabati ‘aaqilil hasani wal husaini min anfusil haqqi ‘ainil qudrati wannaazhirinna wa ‘ainil insi wal jinni wa in yakadul ladzinna kafaruu la yuzliquunaka bi-abshaarihim lamma sami’udz dzikra wa yaquuluuna innahu lamajnuun wa maa huwa illa dzikrul lil ‘aalamiin wa mustajaabu luqmanil hakiimi wa waritsa sulaimaanu daawuda ‘alaihis salaamu al waduudu dzul ‘arsyil majiid thawwil ‘umrii wa shahhih ajsadii waqdli haajatii waktsir amwaalii wa aulaadii wa habbib linnaasi ajma’in. Watabaa ‘adil ‘adaa wata kullahaa min banii aadama ‘alaihis salaamu man kaana hayya wa yahiqqal baathilu innal baathila kaana zahuuqaa. Wa nunazzilu minal qur’aani maa huwa syifaa-uw wa rahmatul lil mu’miniina. Subhaana rabbika rabbil ‘izzati ‘ammmaa yashifuuna wa salaamun ‘alal murshaliina wal hamdu lillahi rabbil ‘aalamiin.”

*********

(“Ya Allah robb yang memiliki kekuatan yang agung, yang memiliki kemauan yang abadi dan yang memiliki wajah yang mulia dan sebagai pelindung kalimat-kalimat-nya serta pengabul do’a-do’a, kecerdasan hasan dan husein dari jiwa yang benar, pelindung indra mereka yang melihat serta indra jin dan manusia. Dan ketika orang-orang kafir akan menggelincirkan kamu dengan penglihatan sihir mereka tatkala mereka mendengar peringatan lalu mereka berkata-kata, sesungguhnya ia adalah gila. Tiadalah itu semua melainkan sebagai peringatan bagi seluruh alam. Allah yang mengabulkan do’a luqmanul hakim dan mewariskan sulaiman bin daud a.s. Ya allah robb yang maha penuh kasih, ya allah, ya allah, ya allah robb yang memiliki singgasana yang agung, yang dapat berbuat apa yang diinginkan, maka panjangkanlah umurku dan sehatkanlah tubuhku, perkenankanlah hajatku, limpahkanlah hartaku dan anak-anakku, dan berikanlah rasa cinta semua manusia kepadaku, jauhkanlah permusuhan dan pertentangan dari diriku dari semua anak cucu adam a.s. Allah yang hidup dan perkataan itu benar atas orang-orang kafir. Dan katakanlah telah datang yang haq dan telah sirnalah yang bathil karena sesungguhnya yang bathil itu pasti akan sirna. Dan kami telah menurunkan al-qur’an itu sebagai penyembuh dan rahmat untuk orang-orang yang beriman. Dan orang-orang yang dhalim itu tidaklah mendapat sesuatu di dunia ini melainkan kerugian.”)

@ 2009, Wong Alus

Categories: DOA NURBUWAT | 165 Komentar

KEARIFAN BUDAYA MEMBACA BENCANA


Peristiwa alam yang memakan korban manusia disebut bencana, sedangkan peristiwa alam yang tidak berakibat pada manusia bukan merupakan bencana. Budaya masyarakat kita ternyata sudah memiliki cara membaca bencana. Perlu dipadukan dengan perkembangan ilmu pengetahuan.

Kitab Alqur’an surat QS Al Hadid, 22-24 menyatakan sebagai berikut: “TIADA SUATU PUN BENCANA YANG MENIMPA DI BUMI INI ATAU PADA DIRIMU SENDIRI, MELAINKAN SUDAH ADA “KITAB” (CATATAN/BLUE PRINT) SEBELUM KAMI (TUHAN) MEWUJUDKANNYA. SUNGGUH BAGI ALLAH, YANG DEMIKIAN ITU MUDAH”

Apa yang kita pahami dari ayat ini? Saya memahaminya sebagai berikut: Bahwa yang disebut musibah, bencana atau penderitaan semuanya sudah ada cetak biru sebelum semua yang ada ini diciptakan. Tidak ubahnya seorang arsitek yang membuat gambar bangunan sebelum bangunan itu dibangun.

Bedanya: CETAK BIRU BENCANA ITU YANG MEMBUAT MANUSIA SENDIRI. TUHAN yang Maha Kuasa memberikan IRADAT-NYA kepada kita. Dan Dia tidak merugikan manusia sekecil apapun. Ruh manusia sebelum diadakan di dunia ini, berdiskusi dan bernegosiasi dengan Tuhan. Manusia mendapatkan hak prerogratif untuk hidup berdasarkan hukum alam. Inilah saat cetak biru itu dibuat. Cetak biru itu menentukan masa kini dan masa depan manusia.

Kita sekarang ini adalah wujud cetak biru kita di masa lalu. Masa depan adalah wujud cetak biru kita di masa kini. Semuanya sudah tergambar dalam kitab “hukum alam”. Ini berarti kita telah menyetujui bahwa akan terjadi bencana alam bila kita melakukan perbuatan A, B, atau C. Jadi kita tidak selayaknya sedih atau senang bila ada BENCANA ALAM.

Kenapa? Sebab itu adalah HASIL PERBUATAN KITA SENDIRI. Maka, hendaknya kita membuat kebajikan dan amal sholeh sekarang agar masa depan kita akan menjadi baik. Ayat kedua menyatakan alasan-alasan logisnya: “HAL INI DIMAKSUDKAN AGAR KALIAN SEMUA TIDAK BERDUKA CITA TERHADAP APA YANG LUPUT DARI USAHAMU, DAN TIDAK TERLALU GEMBIRA TERHADAP APA YANG KAMU DAPATKAN (DI DALAM HIDUP INI). ALLAH TIDAK MENCINTAI ORANG YANG SOMBONG DAN MEMBANGGAKAN DIRI” “MEREKA ADALAH ORANG-ORANG YANG BAKHIL DAN MENYURUH ORANG LAIN BERBUAT BAKHIL. BARANGSIAPA YANG BERALING DARI KEBENARAN, KETAHUILAH ALLAH ITU MAHA KAYA DAN MAHA TERPUJI”

Tuhan pasti tidak merugikan manusia. Tidak pula memaksa manusia itu menerima perjanjiannya. Dia tawarkan dengan sukarela. Apa yang kita terima dalam hidup sekarang ini, merupakan hasil dari pilihan kita sendiri. Kita diberi kesempatan untuk berkarya buat kehidupan di masa yang akan datang. Soal bencana alam sebagai akibat dari perbuatan manusia tersebut ada alasan ilmiahnya. Sesaat, kita barangkali tidak bisa menghubungkan kejadian bencana alam dengan polah tingkah manusia. Padahal dua hal ini sangat erat hubungannya.

Penjelasannya seperti ini: Bencana alam geologi pada umumnya berukuran besar. Bencana alam terbagi menjadi bencana yang disebabkan murni oleh alam, bencana karena ulah manusia, dan terakhir adalah bencana campuran keduanya. Bencana alam geologi terjadi karena dinamisme kerak bumi yang dalam keberadaannya kurang lebih 5 miliar tahun telah secara terus menerus melepaskan energi panas dalam berbagai bentuk. Pelepasan energi ini tidak lebih karena proses pendinginan bumi sehingga kondisinya memungkinkan untuk dihuni oleh makhluk bumi.

Namun manusialah yang  berkontribusi dalam pemanasan global. Hal ini mengakibatkan bencana alam. Dalam lintasan sejarah, bencana alam geologi sangat akrab dengan budaya manusia. Sebagai contoh, pusat kerajaan Mataram yang harus pindah dari Jawa Tengah ke Jawa Timur karena letusan gunung Merapi. Contoh lainnya adalah kota Pompeii, sebuah kota zaman Romawi kuno yang hancur karena letusan gunung vesuvius.

Sudah sejak lama Gunung berapi juga dipahami sebagai sumber kekuatan, contoh nyatanya adalah Keraton di Yogyakarta, Tugu, dan Gunung Merapi yang berada dalam satu garis lurus. Secara kebetulan atau tidak, Gedung Sate yang notabene dibangun oleh Belanda, Tugu Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat dan Gunung Tangkuban Parahu juga berada dalam satu garis lurus.

Gempa bumi yang beberapa saat lalu menimpa saudara-saudara kita di Sumatra Barat adalah contoh bagaimana sebenarnya gempa tidak pandang bulu. Menimpa masyarakat tanpa memandang kasta, agama, ras suku bangsa apapun. Bahkan, yang paling banyak menjadi korban biasanya justeru masyarakat yang secara ekonomi dikategorikan miskin. Ini juga terjadi di Yogyakarta dan bahkan di Kobe Jepang tahun 1955. Kenapa kaum miskin?.

Ini terjadi karena kaum miskin kebanyakan tinggal di wilayah padat dimana fasilitas jalan di sana dan menuju ke sana kurang layak sehingga bantuan tidak segera datang, karena akses yang kurang ideal. Rumah-rumah warga miskin cenderung berada di sekitar gunung, pesisir atau sungai dan terbangun di atas tanah lempung (silt) atau di wilayah reklamasi. Fondasi di daerah seperti itu tidaklah tahan gempa. Hal ini jauh berbeda jika dibandingkan dengan wilayah hunian kelompok elite, dimana terdapat fasilitas jalan yang bagus dan memadai, rumah-rumah merka berdiri di dataran yang kuat dan sebagainya.

KEARIFAN BUDAYA

Budaya masyarakat biasanya menyesuaikan dengan alam. Budaya adalah kearifan lokal yang bisa dijadikan cara atau alat untuk menyelamatkan diri dari bencana alam. Misalnya bencana tsunani di Aceh 2004. Di Simelue, Aceh kenapa korban yang jatuh di daerah tersebut relatif kecil jika dibandingkan dengan wilayah lain, yaitu hanya sekitar 44 jiwa?

Sebab para orangtua di daerah tersebut telah mengetahui apa yang mereka anggap sebagai pertanda. Jika laut surut tidak seperti biasanya secara mendadak, kemudian banyak ikan yang menggelepar di garis pantai, maka akan terjadi bencana. Para tetua di sana kemudian memerintahkan agar penduduk Simeleu untuk mengungsi ke tempat yang lebih tinggi..

Budaya berkaitan dengan alam. Bahkan dalam banyak peradaban, dikenal ilmu perbintangan dan penanggalan berdasarkan fenomena alam. Misalnya, masyarakat Sunda yang mempunyai kalender Kala Sunda dan masyarakat Jawa memiliki Kalender Pranata Mangsa. Kalender-kalender tersebut tidak hanya sebagai penanda waktu seperti kalender sekarang, namun lebih dari itu, terdapat makna dalam waktu-waktu tertentu.

Dalam Saka Sunda dikenal Kasa pada sekitar Januari, dimana angin bertiup dari barat dan diperkirakan racun terbang tertiup angin. Ciri-cirinya adalah: hujan terus menerus, sumber-sumber air menjadi besar, sungai-sungai banjir. Pohon-pohon yang masih berbuah adalah: Durian, Kepundung, Salak, Nangka Belanda, Lengkeng dan Gandaria. Pada masa ini burung-burung akan sulit mencari makan, makanya akan terjadi migrasi. Untuk petani, kegiatan yang harus dilakukan adalh memperbaiki pematang sawah yang hancur akibat banjir.

Namun berbagai kalender yang disusun oleh para leluhur itu, agaknya kini sudah kurang cocok diterapkan lagi. Ulah tingkah manusia modern yang gemar mengeksploitasi alam habis-habisan membuat pergerakan alam susah untuk dibaca. Kalender itu meskipun kini kurang cocok, namun tidak serta merta harus ditinggalkan.

Kearifan lokal perlu diuji secara empirik dan dikembangkan sehingga menjadi masukan besar bagi pengetahuan, khususnya penanggulangan bencana alam. Sementara itu, manusia yang merupakan “makrokosmos” (lebih besar dari pada alam karena besar/kecilnya alam secara metafisis batiniah ditentukan oleh diri manusia) terap harus berkaca diri: dialah sumber bencana yang sesungguhnya.

(wong alus)

Categories: BENCANA ULAH MANUSIA | 17 Komentar

KESURUPAN


Kesurupan berasal dari kata “Surup” yang artinya sore hari menjelang maghrib. Pada saat surup-surup inilah makhluk halus dengan mudah memasuki dimensi fisis.

Orang Jawa dulu biasanya memberi nasehat kepada anak-anaknya agar tidak keluar rumah menjelang mahgrib tiba. Sebab pada saat itu, para hantu ke luar rumah untuk berjalan-jalan. Bila mereka menemui anak-anak kecil, maka akibatnya anak tersebut akan mengalami kesurupan. Nasehat dan anjuran para sepuh Jawa ini tidak ada yang salah.

Setidaknya, ada aspek positifnya bila diterapkan pada masa sekarang. Yaitu pada saat maghrib, anak-anak diajari untuk tertib. Menghentikan aktivitas bermain dan kemudian diajarkan untuk ngaji, sholat atau beribadah lain. Anak-anak diajari untuk menghargai waktu sehingga mereka kelak akan memaknai waktu sebagai karunia Tuhan yang harus diisi sebaik-baiknya.

Kedua, anak-anak diajari untuk “waskita” atau memiliki kecerdasan kosmis untuk memandang segala sesuatu secara holistik, ya aspek fisik ya aspek metafisiknya. Kelak bila mereka sudah memasuki usia dewasa, akal mereka akan berpikir kenapa orang tua melarang bermain di waktu surup. Pembelajaran kewaskitaan di dunia pendidikan kini sudah tergerus oleh pemonorsatuan aspek kognitif/akal saja. Sementara pembelajaran yang menekankan pada optimalisasi aspek mental dan spiritual tercecer bahkan tidak lagi mendapat prioritas.

Budaya, mitos dan spiritual sesungguhnya adalah tiga aspek yang sangat penting untuk menyampaikan sebuah ajaran. Di dunia pendidikan, budaya harus dikembangkan karena setiap individu harus hidup di lingkungan sosial kemasyarakatan yang sudah ada tata nilai dan keyakinan bersama. Mitos adalah sarana agar ajaran-ajaran spiritual yang luhur tersebut tersampaikan dan mengendap di otak untuk jangka waktu yang panjang. Dengan paradigma BUDAYA, MITOS, dan SPIRITUAL inilah Kampus Wongalus ingin mengadakan perubahan pola pikir dan mindset kita bersama.

Mitos ini bisa disamakan saat kita mendongeng untuk anak-anak kita menjelang tidur. Dengan dongeng-dongeng, anak akan mudah menerima nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Padahal, dongeng itu kadang tidak masuk akal. Ini tidak jadi soal. Sebab kemanfaatan sebuah dongeng terletak bukan pada masuk akal atau tidak. Namun pada nilai-nilai yang dibawanya. Kelak, bila sudah dewasa mereka akan mudah memilah yang masuk akan dan tidak dengan sendirinya.

Fenomena kesurupan yang banyak terjadi di sekolah-sekolah, hakikatnya adalah pengingat pada pengambil kebijakan di dunia pendidikan agar tidak menomorsatukan aspek kognitif saja. Kurikulum pendidikan yang terlalu otak kiri sentris harus ditata kembali. Sehingga pengembangan otak kanan/ aspek emosional dan batiniah yang akan memberi kekayaan ngelmu kebijaksanaan kembali mendapatkan tempat. Apakah Bapak-bapak yang kini jadi Menteri Pendidikan, Dirjen, Para Pejabat Eselon di Departemen Pendidikan Nasional tidak ingat lagi ya… bahwa pendidikan itu obyeknya jelas manusia dan manusia adalah makhluk yang memiliki dimensi cipta, rasa dan karsa?…

Kesurupan adalah sebuah keadaan dimana makhluk halus memasuki jasad fisik seseorang. Makhluk itu akan menguasai pikiran, ucapan dan tindakannya sehingga orang akan hilang kesadarannya. Mahluk yang halus itu ada di mana-mana dan dia siap untuk memasuki tubuh siapa saja yang kesadarannya sedang “blank”.

Apa kesadaran “blank” itu? Yaitu fase dimana gelombang otak seseorang memasuki fase alfa teta. Anak-anak yang masih suka berkhayal paling mudah kena kesurupan/kerasukan/kerauhan. Bila orang dewasa masih suka berkhayal maka boleh jadi dia juga mudah kena kerasukan. Anak indigo yang gelombang otaknya sangat rendah juga sering mengalami kesurupan. Ada apa sesungguhnya di gelombang otak rendah ini kok kita mudah berhubungan dengan makhluk halus? Sebab makhluk halus itu gelombang fisiknya juga rendah dan tertangkap oleh kesadaran kita yang sedang memasuki alam yang ada di gelombang rendah pula.

Ini berbeda dengan meditasi untuk menurunkan gelombang otak hingga mencapai titik hening. Dalam meditasi, diri sejati kita tetap akan menjaga agar tidak ada energi halus dari luar diri yang akan masuk dan menguasai kesadaran kita. Bila orang kesurupan berarti kesadarannya nol persen, maka kesadaran orang meditasi adalah seratus persen. Ini sebab kenapa orang meditasi tidak pernah kesurupan. Kecuali bila memang dikehendaki. Lho kok gitu? Ya, sebab ada pula jenis meditasi yang memang menginginkan agar kesadarannya dimasuki oleh makhluk halus. Jadi memang disengaja demikian.

Jenis meditasi ini bisa kita temui pada teknik perdukunan yang menggunakan teknik perewangan, yaitu seorang medium yang melakukan meditasi dan kemudian mengalami “kesurupan” disengaja. Biasanya, orang-orang dewasa memanfaatkan kesurupan disengaja ini untuk mencari nomor lotre, mencari barang hilang, mencari penjahat (digunakan oleh aparat kepolisian) dan lain-lain.

Sebelum hadirnya agama-agama di nusantara, kepercayaan asli nenek moyang kita dulu ya seperti ini. Yaitu kepercayaan adanya banyak yang adikodrati yang menguasai benda-benda, pohon, gunung, bebatuan dan lain-lainnya. Kini mereka yang masih memiliki keyakinan seperti ini dalam khasanah ilmu antropologi disebut dengan Shamanisme. Keyakinan animisme, dinamisme dan shamanisme ini tidak bisa dipisahkan secara tegas. Sebab, pada praktiknya hampir sama meskipun beda obyek sesembahannya.

Untuk membuka jalur komunikasi yang adikodrati, manusia memerlukan seseorang yang pandai untuk mengalami kesurupan yang disengaja tadi. Oleh masyarakat, orang pandai (wong pinter/wong tuwo) ini kemudian dijadikan pemimpin ritual. Dia dihormati, diajeni, dituakan, ditakuti karena memiliki kelebihan dan dianggap sebagai utusan dari dunia adikodrati. Ucapannya ditaati dan tindak tanduknya dijadikan contoh kebaikan.

Untuk melalukan komunikasi dengan dunia metafisis tadi, si wong pinter yang pemuka adat ini biasanya melalukan ritual. Hakekatnya sama dengan para penganut agama dalam masyarakat modern. Ritual itu adalah cara melakukan kontak (menghubungkan) antara yang adikodrati dan manusia. Setidaknya ada syarat yang harus ada dalam sebuah upacara ritual: doa/mantra, korban sesembahan, harapan/permintaan.

Upacara ritual digunakan untuk memberikan sebuah persembahan kepada yang supranatural dengan mantra-mantra khusus untuk meminta mereka melakukan berbagai aktivitas. Jadi selain bermakna filosofis, upacara ritual juga bermakna mistis. Misalnya penyembuhan, mendatangkan keberuntungan, banyak rezeki, keselamatan dan sebagainya. Sang dukun kemudian “kerasukan.” Bisa juga orang lain sebagai medium yang bersedia badannya dimasuki para makhluk gaib itu. Upacara ritual biasanya juga diadakan untuk membimbing arwah orang yang sudah meninggal menuju alam barzakh/alam kelanggengan.

Terkait dengan teknik kesurupan yang disengaja tadi, ada baiknya kita mengambil rujukan tradisi shamanisme purba yang ada di banyak peradaban kumo. Kenapa? Sebab itulah awal mula tradisi kesurupan yang disengaja.

Kata “shaman” diambil dari bahasa Tungusik yang digunakan oleh suku bangsa Tungusik di wilayah Siberia dan Asia Tengah. Istilah shaman sendiri mulai dipakai secara luas oleh kalangan antropolog sejak diterbitkannya karya Mircea Eliade yang berjudul “Shamanism; Archaic Techniques of Ectasy” (Shamanisme; Teknik Kuno Mencapai Ekstasi). Eliade menyebut shamanisme sebagai teknik ekstasi yang tidak serupa dengan bentuk ilmu hitam, sihir atau bahkan pengalaman ekstasi keagamaan.

Shamanisme telah berusia lebih dari 40 ribu tahun. Kata shaman disamakan dengan “dukun”, “tabib”, “psychopomp”, mistik, dan puitis. Apa yang membedakan shaman dengan para pemimpin spiritual jaman sekarang adalah kemampuannya untuk melakukan teknik trance (kerasukan).

Pada saat tak sadarkan diri, jiwa si dukun akan pergi dari tubuhnya dan menuju alam lain dengan panduan arwah lain. Ia dapat melakukan penyembuhan dalam banyak tingkatan; secara fisik, psikologi, dan spiritual. Dalam konsepnya, jiwa seseorang dianggap sebagai tempat tinggal nafas kehidupan dan raga. Setiap sakit fisik sudah pasti disebabkan sakitnya jiwa. Penyakit pikiran menyebabkan penderitaan diri, kekacauan dan ketidaksadaran diri.

Ada banyak sekali jumlah sembahan yang diyakini masyarakat dulu seperti para dewa, roh-roh dan setan. Dewa tertinggi menjadi raja para dewa yang menguasai alam lain di langit dan gunung. Kepercayaan shamanisme juga meyakini makhluk halus/roh-roh yang mendiami hutan, gua keramat, batu-batuan, rumah-rumah dan desa, juga hantu-hantu orang yang meninggal secara tidak wajar. Roh-roh ini dipercaya mempunyai kekuatan untuk mempengaruhi atau memberi keberuntungan bagi manusia.

Maka, dalam keyakinan shamanisme, kehidupan manusia ini banyak diikuti oleh cawe-cawe para mahkluk gaib untuk membantu hidup manusia. Dan si dukun shaman dianggap orang orang yang berpengaruh dan dijadikan tempat berkonsultasi untuk suatu keperluan. Mulai sakit fisik hingga meramal nasib. Mulai awal tahun 1970-an, ritual-ritual khususnya di Jawa mulai ditinggalkan secara bertahap. Masyarakat modern saat ini menganggap shamanisme hanya sebagai takhayul dan meskipun dianggap takhayul, toh masih banyak yang diam-diam menggunakan jasa para dukun untuk memenuhi kebutuhan dunia mereka.

Untuk meminta petunjuk supranatural setidaknya kita mengenal dua cara kesurupan yang disengaja. Yaitu dengan tari-tarian atau gerakan ritmis tertentu sehingga kesadaran penarinya turun, kondisi jiwa saking “asyiknya” dan kemudian memasuki fase “trance”. Pada pada saat itu, sebenarnya sang penari akan mengalami kesakitan fisik dan jiwa.

Pengalaman ini diyakini adalah upaya penerimaan dan penyatuan secara penuh dengan arwah leluhur sehingga saat sadar nantinya kesehatannya akan semakin baik. Jenis kedua, dukun yang mengalami kerasukan mampu melakukan peramalan melalui tuntunan suara gaib dari dua jenis makhluk. Yaitu dari bisikan mistis makhluk halus maupun dari ruh orang-orang yang sudah meninggal.

BERBAHAYA

Hal utama yang membahayakan terjadi saat proses kesurupan. Bila jiwa kita bersedia untuk dijadikan medium makhluk halus maka jiwa akan mudah mengalami penderitaan yang dicirikan dengan hilangnya nafsu makan, insomnia, serta halusinasi visual dan pendengaran. Untuk menyembuhkan sakit ini diperlukan ritual yang melibatkan dukun yang lain.

Proses kesurupan juga terjadi pada seseorang yang terkena guna-guna atau santet. Yang sering ditemui adalah korban tidak mau makan dan mengalami penurunan kesehatan tubuh. Di jenis yang lain kadang-kadang diikuti sakit psikis, kegoncangan mental. Tubuh mereka akan melemah dan kejang-kejang dalam beberapa kasus diikuti buang air darah. Ia juga akan mengalami sakit jiwa dan halusinasi dengan pikiran yang sangat lelah karena mengalami kontak dengan alam gaib. Makhluk halus yang merasuki korban bahkan dapat bertahan dalam waktu lama, rata-rata 8 tahun dan bahkan puluhan tahun.

Dalam beberapa kasus, korban yang berpenyakit jiwa ini menjadi sangat ekstrim, lari dari rumah dan berkeliaran di mana-mana. Keluarga korban dan para tetangga pun lama-lama jenuh untuk merawat. Bahkan mereka kadang tega untuk memasung korban karena membahayakan akibat perilakunya yang cenderung agresif. Para tetangga pun akhirnya menjauhi keluarga korban yang dianggap tidak mampu merawat korban dengan baik.

Gejala ini tidak dapat disembuhkan dengan pengobatan modern karena akan memperparah sakit jiwanya. Sakit ini harus disembuhkan dengan mengadakan upacara gaib untuk mengembalikan jiwa si korban yang telah keluar dari tubuh dan berkelana entah kemana. Tragis memang…

Maka, bila kita sudah memiliki “agama” sebagai “ageman” atau “pakaian” atau “jalan” yang diyakini sudah lurus, maka alangkah idealnya bila kita juga melaksanakan berbagai ritual di dalamnya. Memasuki dimensi batiniah agama (tasawuf/sufistik), juga menyaratkan kita agar tetap eling dan waspada lho.

Ada kalanya dogma yang dipahami secara keliru akan justeru memasukkan kita dalam kondisi kesurupan. Ini biasa terjadi saat pedzikir diperintahkan oleh sang guru dzikir yang dipercaya sebagai orang suci. Dzikir yang tidak dituntun oleh akal budi hakikatnya juga sama dengan praktik shamanisme. Inginnya mencapai kesadaran/kecerdasan spiritual dan mendapatkan makrifat, namun yang terjadi malah kegilaan. Semoga kita selalu awas, eling dan waspada dengan hal ini.

wongalus

Categories: KESURUPAN | 5 Komentar

MAK EROT: PAHLAWAN PARA PRIA


Sudah diberi yang normal, tetap pengen yang abnormal. Itulah watak dasar nafsu dan keinginan manusia yang tidak puas dengan apa yang dimiliki. Soal kelamin juga. Sudah ukurannya panjang, pengen yang lebih panjang dan besar lagi. Dasar lelaki!

MAK EROT

FOTO: SAEPULOH, PEWARIS ILMU MAK EROT

“Saya ya untuk kawin lagi, pengen ngeseks terus. Nggak cukup bila cuma satu perempuan,” ujar Wak Jo, penjual sepeda di pasar tradisional. Wak Jo adalah pasien Mak Erot yang akhirnya memutuskan menikah lagi setelah membesarkan sang burung.

Pria 45 tahun ini menceriterakan pengalaman seksnya yang membahagiakan setelah si burung miliknya semakin mantap kepada nara sumber saya. “Tiga empat jam ngeseks nggak terasa loyo. Isteri saya yang keteteran… Saya kasihan bila dia sendiri yang ngadepi saya. Mending saya kawin lagi. Sekarang sudah lumayan ada dua musuh tanding (perempuan yang melayani hasrat seks, maksudnya).

Wah..wah… mungkin enak kali ya, hidup seperti Wak Jo. Enteng dan bisa melampiaskan hasrat seksual sesuai keinginan/karep.

Ya, tidak ada nama yang lebih kondang untuk urusan pembesaran alat vital pria ini dibandingkan Mak Erot. Di pinggir-pinggir jalan berbagai papan yang menyebut namanya dipajang. Tidak sedikit yang mengaku sebagai pewaris ilmu metafisis klinis khusus untuk pria tersebut.

Teknik pengobatan alternatif yang dipakai Mak Erot secara sederhana bisa dijelaskan sebagai berikut:  Pertama, pasien yang datang untuk mengungkapkan keinginannya membesarkan alat vital. Mak Erot menyetujui dan kemudian  menawarkan berapa besar ukuran yang diinginkan pasien dengan bambu. Misalnya, ada bambu ada yang berukuran 2,5 cm x 23 cm, ada pula bambu yang berukuran 3 cm x 26 cm dan seterusnya.

Bila pasien sudah menentukan pilihan besarnya kelamin yang diinginkan, maka mulai dilakukan prosesi ritual. Bambu tersebut dimasuki lontong (makanan empuk dari nasi) dan kemudian pasien diminta untuk lontong yang sudah diberi jampi-jampi dan mantra pembesar alat vital yang hanya dimiliki Mak Erot.

Pasien tidak boleh berhubungan seks dan menggunakan alat vitalnya selama tiga hari. Dan setelah tiga hari tersebut, maka si burung akan membesar seperti yang diharapkan pasien. Di hari keempat, pasien sudah boleh test drive kemampuan burungnya untuk bertempur habis habisan.

Nah, apa ada upaya medis kedokteran bisa melakukan pembesaran si burung yang tanpa operasi? Di dunia medis manapun, teknik pengobatan ala Mak Erot ini tidak ditemukan. Kecuali di dunia gaib.

Tentu saja Mak Erot menggunakan kemampuan supranatural. Jampi-jampi dan mantra diolah untuk menyedot energi dari luar diri pasien yaitu energi dari makhluk lain. Ingin membuktikan kehebatan kesaktian ilmu Mak Erot?

Yang jelas, banyak pasien yang sudah terbantu oleh ilmu bikinan Mak Erot. Dari komentar di media dan dengar-dengar dari cerita teman di warung kopi, sudah banyak yang membuktikan keampuhannya. Bahkan, si pasien yang burungnya sudah membesar ini akan kuat dan tahan lama berhubungan seks dengan isterinya.

Siapa sebenarnya Mak Erot? Wanita ini aslinya warga Cigadog, Desa Caringin, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Konon, hingga meninggal pada tahun 2008 kemaren usianya lebih dari 130 tahun lalu. Dia adalah anak dari pasangan Boi dan Layi.

Pengobatan tradisional pembesaran dan pemanjangan alat vital sudah dilakukan Mak Erot sejak zaman penjajahan Jepang. Saat itu, jasanya juga dipakai oleh para serdadu Jepang yang doyan perempuan.

Berbeda dengan pengobatan lain, pengobatan ala Mak Erot adalah murni tradisional, yaitu melalui terapi mantra dan doa. Pengobatannya diklaim tidak mengakibatkan efek samping.

Maraknya pengobatan yang mengatasnamakan Mak Erot membuat keluarga Mak Erot tergugah untuk menggarisbawahi bahwa hanya ada satu Mak Erot dengan satu pewaris tunggal kemampuannya, yaitu H Saepulloh.

Salah satu pemikiran Mak Erot soal pentingnya membuat alat vital pria menjadi sehat adalah karena seks merupakan kebutuhan yang tidak bisa digantikan, kebutuhan sebagai manusia yang secara kodrati memiliki pasangan hidup.

Walau banyak orang yang malu mengaku pernah berobat atau bahkan yang mengolok-olok, pengobatan Mak Erot secara faktual banyak yang sudah membuktikan keampuhannya. Jasanya juga dipakai beragam kalangan mulai warga biasa, pejabat negara hingga kaum selebritis.

Bagaimana dengan meninggalnya pahlawan bagi para pria ini? Anda tidak perlu cemas bila sekarang Mak Erot sudah dipanggil Tuhan Yang Maha Esa. Sebab, ilmunya telah diwariskan kepada H Saepulloh. Dia inilah adalah pewaris tunggal Mak Erot yang dipercaya mampu mendapatkan daya linuwih Mak Erot.

Terlepas boleh- tidak boleh, halal – haram…Jujur saja, siapa ingin  “jimat” nya berubah sekuat besi, sebesar bambu dan selincah emprit?

wongalus

Categories: MAK EROT | 43 Komentar

CARA MEMBUAT RAJAH


Menurut Kamus, Rajah adalah (1) suratan (gambaran, tanda) yang dipakai sebagai azimat (untuk penolak penyakit dan sebagainya ); (2) garis pada tapak tangan; guratan tangan; retak tangan; (3) coreng-coreng (cacahan) pada tubuh yang dibuat dengan benda tajam; tato dengan tujuan menghimpun daya metafisis tertentu.

Dari definisi rajah yang singkat tersebut, bisa dipaparkan bahwa rajah merupakan gambar-gambar/tulisan yang memiliki simbol tertentu. Simbol adalah tanda-tanda khusus yang hanya dibaca oleh mereka yang memiliki kepentingan. Misalnya, rambu-rambu lalu lintas. Kucing, semut atau anjing tidak perlu takut duduk untuk memarkir tubuhnya apabila ada rambu dilarang parkir di pinggir jalan. Hanya manusia yang mengendarai mobil/motor saja yang wajib mentaati rambu tersebut.

Begitu pula rajah. Rajah adalah simbol yang hanya bisa “dibaca” dan diterjemahkan oleh makhluk halus. Maka, manusia jenius sekaliber Albert Einstein pun pasti garuk-garuk kepala bila diminta untuk membaca rajah yang dibuat oleh kaum paranormal kita. Sebab bentuknya aneh, unik dan lebih banyak tidak masuk akalnya dibanding dengan masuk akal. Kadang ada yang berbentuk sesuatu, namun ada yang bentuknya tidak berbentuk alias abstrak. Pokoknya, susah dianalisis dengan akal sehat. Apalagi ditambah tidak adanya ilmu yang bisa dipakai untuk pisau analisa. Sepanjang pengetahuan saya, belum ada di perguruan tinggi manapun yang membuka studi khusus soal cara membuat rajah ini.

Sejarah peradaban manusia mulai peradaban mesir kuno hingga postmodern sekarang ini masih membuktikan bahwa rajah masih tetap eksis dipakai di masyarakat. Bahkan di dinding-dinding gua manusia purba, para arkeolog juga menemukan banyaknya gambar-gambar mistis. Namun, di dalam gambar-gambar mistis manusia purba biasanya malah lebih mudah diterjemahkan artinya dibanding rajah.

Rajah dibuat oleh sekelompok manusia yang memiliki kelebihan setelah menjalani laku khusus dan situasi khusus. Biasanya, yang membuat adalah kalangan spiritualis yang bisa berkomunikasi dengan makhluk-makhluk halus karena kalangan ini mampu untuk membuat tanda-tanda gambar dengan tujuan mengajak makhluk-makhluk gaib mengikuti keinginan pembuat rajah. Sehingga ada banyak ragam dan jenis rajah yang dikenal di negeri kita sebanyak jumlah pembuatnya.

Cara membuat rajah sangat sederhana. Setelah bermeditasi sejenak dan koneksi dengan mahluk-mahluk halus terjalin untuk berkomunikasi dengan makhluk bikinan Tuhan tersebut. Selanjutnya, tangan si pembuat rajah mencoret-coret di media kertas/kain/logam atau media lain. Ada juga yang digoreskan di tubuh yang disebut dengan tatto. Jadi tatto dibuat tidak hanya bernilai estetis, namun juga ada maknanya. Tatto yang dibuat oleh seorang paranormal dengan tujuan khusus tentu saja berbeda dengan tatto yang dibuat hanya untuk kepentingan keindahan tubuh. Sama nama, beda tujuan.

Membuat rajah oleh sebab itu tidak sulit. Cukup disediakan bulpen bertinta hitam atau biru. Tinta tersebut digoreskan di berbagai media sesuai dengan keperluan. Misalnya, bila ada seorang yang merasa stress karena banyak persoalan hidup, rajah cukup ditulis di pinggir piring. Piring kemudian dikasih air putih dan air putihnya diminum.

Rajah bisa ditulis di kain atau kertas dan dibungkus dengan kain atau bisa juga dibuka/ditempel di tempat-tempat tertentu. Rajah ini biasanya digunakan bagi mereka yang membutuhkan agar rumah/pekarangan/tempat kerja bebas dari gangguan makhluk halus. Biasanya gedung gedung bank juga diberi rajah agar uang yang disimpan tidak dicuri oleh makhluk halus tuyul. Bisa juga diukir atau disayatkan pada jimat-jimat.

Rajah kadang ditambah dengan Kata dalam berbagai bahasa. Bahasa Arab bisa, Bahasa Inggris bisa, Bahasa Jawa, Bahasa Batak, Bahasa Melayu. Bahkan bahasa jin juga mungkin dibuat kalau paranormalnya bisa. Rajah yang baik itu sederhana, komunikatif dan ampuh. Komunikatif artinya mudah dipahami oleh makhluk halus dan ampuh artinya mampu menyedot perhatian makhluk halus kemudian mengikuti perintah pembuatnya. Rajah yang tidak komunikatif dan tidak ampuh akan diabaikan atau diacuhkan oleh makhuk halus. Berikut ini contoh rajah :

RAJAH AGAR TUYUL TIDAK BERANI MENCURI

RAJAH TUYUL TIDAK MENCURI

RAJAH AGAR MAKHLUK HALUS TIDAK MENGGANGGU RUMAH

RAJAH JIN TIDAK MASUK RUMAH

RAJAH KEWIBAWAAN

RAJAH KEWIBAWAAN

RAJAH KEKUATAN DARI SERANGAN GAIB

RAJAH SERANGAN GAIB

RAJAH PEMIKAT LAWAN JENIS

RAJAH PEMIKAT LAWAN JENIS

Categories: MEMBUAT RAJAH | 82 Komentar

MOMENTUM “BYAR”


satori

Kapan pencerahan spiritual itu datang? Datangnya pencerahan spiritual itu tidak disangka-sangka. Bisa saat kita naik sepeda motor, bisa saat naik angkot, bisa saat duduk melamun, bisa saat mandi, bisa saat tertidur nikmat, bisa di saat apapun…bahkan saat menginjak hak-hak orang lain!

Pencerahan spiritual adalah momentum singkat, padat, jelas, gamblang dan tanpa bisa direkayasa oleh otak kita. Justeru ketika kita sudah merencanakan agar Tuhan berkenan memberikan pencerahan spiritual, malah kita tidak mendapatkan apa-apa.

Cahaya itu datangnya sekelebat, lalu menguap dan menghilang dalam waktu cepat pula. Mengalami kejadian cepat ini, perlulah kita abadikan. Kita tulis, kita ingat-ingat, kita rekam memakai alat apapun agar jangan sampai terlewatkan. Kenapa? Eman, sayang bila sesuatu yang benar-benar petunjuk-Nya itu datang lantas kita abaikan begitu saja.

Membahas soal momentum BYAR atau PENCERAHAN ini saya ingat sebuah tradisi Buddisme Zen. Dalam Zen pencerahan disebut dengan SATORI. Satori didapatkan melalui pengalaman batin pribadi. Bahkan yang menarik, dalam tradisi Zen ada latihan untuk mencapai satori dan diajarkan dalam kuil. Yaitu menerjemahkan teka-teki yand ada disekitar kita.

Menurut pandangan tradisi Zen, pencerahan atau satori ini sama dengan mendapatkan KILATAN SURGA yaitu momentum saat batin kita mengalami kesadaran kosmik yaitu sebuah “Ledakan Besar” yang tidak disangka-sangka.

Ya, Saat yang ditunggu-tunggu itu datang tanpa permisi dan pergi tanpa pamit. Ia hadir sekilas, lantas kemudian pergi setelah kita menerimanya. Bila kita ingin perjalanan spiritual kita meraih kesempurnaan demi kesempurnaan, sudah pada tempatnya kita niteni saat momentum pencerahan spiritual itu datang. Sebab SETIAP MENDAPAT PENCERAHAN, ITU SAAT TUHAN MEMBERI PENGAJARAN-PENGAJARAN.

Niteni adalah bahasa Jawa yang artinya awas dan teliti dengan hal-hal kecil yang ada di dalam diri kita dan di luar diri kita. Konon kata leluhur, DALANE WASKITA SAKA NITENI. Artinya cara untuk menjadi orang yang Waskita adalah dengan cara awas dan teliti. Niteni apa? Ya karena kita biasa menggunakan indera mata dan telinga, maka kita mulai dulu dengan niteli hal-hal kecil yang bisa dilihat dan bisa didengar.

Bila ini dilakukan pun, kita sebenarnya sudah mendapatkan banyak kawruh atau pengetahuan. Dulu, orang berlayar hanya dengan niteni rasi bintang di langit. Petani dulu memulai bertanam dengan niteni perubahan fenomena alam. Misalnya, saat muncul suara serangga garengpung di malam hari maka orang niteni itu adalah saat memasuki musim pancaroba atau pergantian musim.

Lantas, bila perjalanan spiritual kita sudah memasuki wilayah kebatinan maka kita perlu niteni apa yang kita rasakan. Mulai niteni kapan kita sedih, kapan kita senang, kapan rasa sayang tumbuh, kapan rasa benci datang. Kapan tangis hati terenyuh, kapan ego berkobar-kobar. Ini tahap dimana tuhan menyapa kita dengan bahasa batin-Nya.

Selanjutnya, bila perjalanan spiritual dilanjutkan ke tahap yang lebih tinggi dimana kita sudah mampu mengendalikan berbagai rasa yang muncul tadi, maka kita akan memasuki wilayah percintaan dengan Tuhan. Inilah saat yang mendebarkan karena kita harus siap diuji dengan ujian yang tidak disangka-sangka.

Tiba-tiba Anda dituduh selingkuh, tiba-tiba Anda difitnah telah memperkosa isteri tetangga, tiba-tiba Anda dituduh membunuh orang lain, tiba-tiba Anda dituduh berbuat makar dan seterusnya. Anda harus diadili di pengadilan dan masuk penjara,  kita disingkirkan dari pergaulan masyarakat dan sebagainya.

Ingat bagimana AA Gym dituduh memperturutkan hawa nafsu karena menikah lagi? Ini fase dimana Tuhan memberi soal ujian pada kita. Tidak sekedar menyapa.

Setiap ujian ada hasilnya. Ujian disesuaikan dengan kemampuan kapasitas dan kompetensi sang siswa. Siswa yang dinyatakan lulus adalah siswa yang mampu menempuh ujian dengan nilai 100 s/d 70. Nilai di bawah itu dinyatakan tidak lulus dan diwajibkan mengulanginya. Ini tentu ujian yang berat dan gawat. Setelah lulus ujian berat tersebut, kita akan diuji lagi

Tahap selanjutnya adalah saat kita diuji komitmennya untuk berjuang untuk kemanfaatan sosial. Bagaimana kita mampu menegakkan yang kita anggap benar sesuai dengan iradat-Nya. Yang membikin repot, saat itu masyarakat juga bereaksi dengan reaksi yang hampir seragam: tuduhan  sesat, kafir dan musyrik, ngowah-owahi adat akan kita dapatkan. Aneh, memang sebab perintah itu diluar kendali Anda. Tiba-tiba Anda diperintah begitu saja tanpa alasan!!!

Saat itu, ujian Anda sama dengan para avatar tau para nabi. Mereka juga mengalami fase tuduhan-tuduhan sesat itu. Siapapun yang melalui jalan ini, akan mengalami hal yang sama. Saat itu kita bahkan dituduh gila karena sudah dianggap tidak mampu menjaga harkat dan martabat diri. Ini fase dimana nabi Musa disuruh berguru pada Khidir….. tanpa boleh menggunakan akal lagi.  Hanya ikut dan manut titahing Gusti.

Kemudian, apa yang terjadi setelah berbagai tahap ini dijalani? Anda telah menyelesaikan serangkaian pengajaran-pengajaran Tuhan. Semua kurikulum  telah Anda lahap habis. Semua SKS telah Anda telan, ujian demi ujian telah diselesaikan dan terakhir adalah ujian pendadaran pun telah Anda jalani.

Maka Anda berhak untuk diwisuda dan berbahagia telah dijadikan utusan-Nya, setara dengan para nabi atau avatar. Karena itulah saat terindah dalam hidup kita. Diwisuda di kampus saja senangnya minta ampun, apalagi diwisuda Tuhan Maha Penguasa Segala Yang Ada? Anda adalah tokoh pejuang kemanusiaan yang tidak akan mengalami kematian dan menjadi cahaya abadi sepanjang masa.

Yang terkasih Hamka, Munir dan lain-lain sudah sampai tahap ini….. Ini tahap akhir perjalanan spiritual yaitu saat penghayatan hidup sudah sampai pada “Kemarin dan esok adalah hari ini Bencana dan keberuntungan sama saja Langit di luar Langit di badan Bersatu dalam jiwa….” (Rendra)

Terakhir, pencerahan spiritual datang dari mana? Semua sumbernya tetap memancar dari Yang Satu. Namun bisa berwarna hitam, putih biru, ungu, kuning atau oranye.

wongalus

Categories: MOMENTUM BYAR | 15 Komentar

MANUSIA ITU MAKROKOSMOS


cool-brain

Kita biasa menyebut makrokosmos-mikrokosmos untuk menunjukkan pada jagad gede atau alam semesta dan mikrokosmos atau jagad cilik yang mengacu pada manusia. Namun saat pemahaman kita sudah mengatasi yang fisik maka itu harus dibalik. Manusialah yang harusnya disebut jagad gede.

Kosmos artinya teratur. Kebalikannya adalah chaos yang artinya kacau, tidak teratur. Suatu ketika lahir cabang ilmu filsafat yang disebut kosmologi. Ilmu kosmologi menyoroti tentang yang ada yang teratur alam, atau menyelidiki alam semesta dari sisi hakekatnya. Ilmu ini masuk ke dalam wilayah kajian ontologi/metafisika, yaitu dasar filsafat yang mengkaji pada yang ada sebagai yang ada. Yang ada dikaji seumum-umumnya.

Nah, kosmologi ini mengkaji yang ada khusus dari alam semesta. Ada juga pengkajian ada khusus dari manusia sebagai makhluk kosmos yang disebut filsafat manusia atau disebut antropologi metafisik. Kedua ini masih bernaung di bawah induk ilmu ontologi dan ontologi adalah dasar filsafat. Dan Filsafat adalah ibu segala ilmu pengetahuan.

Kenapa manusia justeru disebut makluk makrokosmos? Kenapa manusia tidak disebut mikrokosmos sebagaimana pemahaman yang dianut banyak pemikir?

Pertama, manusia adalah kunci memahami jagad/dunia/alam semesta ini. Manusia adalah penakar dan pemberi nilai-nilai terhadap segala yang ada. Manusia adalah makhluk yang dusah ditakdirkan tuhan menjadi rahmatan lil alamin. Rahmat dan pengayom bagi seluruh alam. Manusia lah yang mampu untuk mengukur besar kecilnya kosmosnya alam semesta. Manusia bisa memberi arti sekecil-kecilnya terhadap alam semesta hingga ada di genggaman tangannya, namun juga manusia bisa memberi arti sebesar-besarnnya terhadap alam semesta.

Kedua, ukuran besarnya alam secara fisik memang lebih besar dari manusia. Namun pemahaman ini harusnya tidak dijadikan patokan ukuran yang sungguh-sungguh benar, khususnya bila kita ingin melakukan perjalanan ruhani yang lebih tinggi. Secara metafisis, harusnya alam semesta lebih kecil daripada kosmos-nya manusia. Pemahaman idealistik ini lebih memberi manfaat praktis untuk memperbaiki dunia yang sudah sedemikian rusak.
Ketiga, manusia bukan bagian kecil dari dunia yang bisa kita lihat dengan mata dan bisa kita dengar dengan telinga ini. Justeru dunialah yang merupakan bagian kecil dari manusia. Sebab manusia bisa mengulur dan mengkerutkan ukuran dunia fisik ini hanya bahkan sebesar pasir! Kok bisa? Bisa… pejamkan mata segelap-gelapnya untuk beberapa lama. Terserah apa menyebut apa untuk aktivitas ini, bisa disebut meditasi, tadabbur, semedi…dst… Anda akan menemukan dunia yang lebih besar dari dunia fisik ini.

Ukuran besar kecilnya dunia di dalam diri manusia sangat tergantung pada seberapa hebat kita mampu menyelami angkasa metafisis dalam dirinya sendiri. Jadi ukurannya sangat relatif. Di dalam angkasa metafisis, galaksi-galaksi jumlahnya tidak terukur… pokoknya habis sudah akal kita untuk membahas dunia metafisis yang ada di kedalaman rasa/batin manusia. Sifat besar kecilnya dunia metafisis ini sangat kualitatif. Tuhan Yang Maha Batin lebih lagi, mengatasi besaran alam metafisis ini sebagai tempatnya bersemayam.

Hebatnya lagi setiap hal yang kita temukan di angkasa metafisis belum tentu kita jumpai di alam fisis. Kedamaian, keselarasan, kemakmuran, keadilan, surga-neraka, baik-buruk, benar-salah, indah-buruk ada di dunia metafisis ini. Semuanya menjadi alasan bahwa hendaknya manusia lebih mengorientasikan diri KE DALAM DIRI-NYA, dibanding mengorientasikan diri KE LUAR DIRINYA.

Yang aneh, karena manusia adalah JAGAD GEDE/MAKROKOSMOS, kenapa justeru lebih memilih untuk berkonsentrasi penuh bahkan menghabiskan usianya untuk hidup di JAGAD CILIK/MIKROKOSMOS? Manusia terjebak untuk hidup di dunia yang sempit, palsu dan sangat sementara/fana. Menghamba pada kebutuhan fisik di dunia fisik sama saja dengan mengekalkan kebutuhan tubuh yang sesaat lagi menjadi bangkai yang busuk. Menomorsatukan dunia fisik dan kepentingan-kepentingan dunia fisik sama saja dengan memakmurkan kiamat. Sebab dunia ini tidak kekal dan akan tergulung habis bersama dengan kiamat.

Manusia tidak mampu mengangkasa ke langit hakekat. Apalagi sampai ke makrifatullah. Ia berputar-putar di jagad cilik/semesta fisik untuk mencukupi syariat saja. Syariat yang sudah ada pun berusaha untuk direkayasa sedemikian rupa sehingga akan terasa lebih mudah lagi untuk dijalani. Jumlah bilangan Sholat ditawar dari puluhan waktu, menjadi lima waktu dan itu pun terlupakan.

Bila Jagad Besar manusia telah dilupakan. Bila aspek batiniah tidak pernah diperdalam. Bila semesta metafisik ditinggalkan diganti dengan semesta fisik, maka bersiaplah untuk mengalami kematian. Hidup yang ribet dan ruwet oleh problema yang tidak pernah selesai dibahas. Bersiaplah pula untuk mengalami sakit kejiwaan akut, meloncak dari stres ke stres berikutnya.
Sebaliknya, bila hidup ini diorientasikan ke Semesta Metafisik, maka bersiaplah menuju hidup di dalam keabadian. Bersyukurlah mereka yang menjadikan semesta metafisik Yang Maha Luas ini sebagai tempat untuk hidup, berkarya dan bermesraan dengan Sang Pencinta.

Mulai sekarang tata kembali kosmos dalam dirimu. Perubahan sekecil apapun di hati/ rasa/qalbu…, owah gingsirnya batin kita hakikatnya adalah perubahan yang sangat besar karena perubahan itu terjadi di aras makromosmos. Mari kita lirik keindahan dan keluasan alam makrokosmos di dalam diri kita, mencebur dan kemudian hidup abadi di dalam genggaman-Nya.

Di alam metafisik jagad besar diri manusia, “aku tidak ada… yang ada itu bukan aku” (sejatine ora ono opo-opo, sing ono kui dudu)….

***

 

 

 

Categories: MANUSIA ITU MAKROKOSMOS | 15 Komentar

BUDAYA, MITOS DAN SPIRITUAL


Diskusi adalah salah satu aktivitas yang saya sukai. Dari diskusi, saya merasa mendapatkan banyak informasi baru mengenai berbagai hal dan biasanya bila fokus diskusi itu menarik, saya akan menyimpannya di gudang data memori saya untuk jangka waktu yang lama.

Sebagaimana diskusi yang berlangsung pada pagi hari tadi, Selasa, 29 September 2009. Saat baru masuk ruangan kantor, tiba-tiba bel handphone saya bersuara nyaring.

“Om, nggak ngopi ta?” Wah, ini ajakan yang dulu biasa saya dengar saat-saat pagi setelah kami masuk kantor pada pukul tujuh. Hampir setiap hari kami ngopi untuk menambah kebugaran tubuh sebelum memulai aktivitas kerja. Namun, karena berbagai fokus yang menyita perhatian ritual kami untuk ngopi bareng ini pun terlupakan. Jadi ajakan pagi ini pun adalah ajakan yang istimewa. Apalagi yang mengajak pun sahabat karib yang begitu istimewa. Nama samarannya di blog adalah “Mas Kumitir.”

Diskusi dengan mas Kumitir bagi saya pribadi adalah wahana untuk tukar kawruh. Kenapa tukar kawruh? Ya, antara saya dan Mas Kumitir—dan juga para pembaca—, sama-sama merasa seorang pejalan spiritual yang cubluk alias bodoh sehingga butuh interaksi dan komunikasi. Sekaligus untuk mempertanyakan pada diri masing-masing, sampai sejauh mana perjalanan yang telah ditempuh oleh masing-masing pribadi.

Mas Kumitir adalah pengasuh blog http://www.alangalngkumitir,wordpress.com. Awalnya, gagasan awal pendirian blog ini adalah dari kami berdua saat batin membutuhkan wahana menumpahkan gagasan, ide dan wacana. Sekaligus pengalaman dan pemahaman yang telah kita capai.

Kebetulan, saya mengenal dunia blog lebih awal dari dia, dan pengalaman teknis ini saya manfaatkan untuk sign in dan menata ruangan wadah blog. (Belakangan, saya malah kalah canggih dari dia soal mengutak atik wordpress ini hehe). Kerjasama pun kita teken (hehehe… kayak direktur saja). Mas Kumitir yang mengisi blog, dan saya yang kebagian menjawab pertanyaan-pertanyaan dari pembaca.

Terus terang awalnya, saya sedikit ragu apakah blog tersebut bisa eksis. Sebab yang kami sajikan adalah karya-karya leluhur Jawa atau berbagai wacana budaya Jawa yang terasa mulai luntur diminati oleh masyarakat. Dalam proses perjalanannya, tidak jarang Mas Kumitir putus asa karena saking sulitnya mendapatkan buku-buku untuk diketik ulang dan disuguhkan di blog tersebut.

Namun, keluhan mas Kumitir biasanya saya tanggapi dengan dingin. Sebab, saya tidak bisa berbuat banyak karena memang bukan kodrat saya untuk browsing atau surfing, berkelana ke situs-situs luar negeri yang kebetulan menyimpan karya-karya Jawa Kuno.

Apalagi saat itu, mas Kumitir belum begitu gigih untuk nyambangi pasar-pasar buku bekas loakan dan menjalin relasi dengan kantung-kantung budaya Jawa seperti sekarang sehingga kesulitan untuk mencari bahan sajian praktis menghadang. Namun, sukurlah… waktu ternyata membuktikan bahwa blog tersebut mampu untuk bertahan dan hingga kini usianya tercatat sudah satu tahun lebih dengan pembaca mencapai 700 ribu orang lebih. Data di statistik kunjungan pembaca, rata-rata perhari blog sederhana tersebut dikunjungi sekitar 2.500 hingga 3.500 pengunjung.

Saya yang kemudian tidak terlibat lagi dengan blog alangalangkumitir sangat berbahagia melihat kemajuan blog tersebut. Itu membuktikan bahwa dedikasi dan konsistensi Mas Kumitir untuk merawat dan menjaga bayi “alangalangkumitir” tidak diragukan lagi. Nah, kembali ke diskusi pagi tadi.

Diskusi lebih tepatnya disebut “Cangkruk” (bahasa Suroboyoan yang berarti duduk santai sambil menikmati makanan dan biasanya orang yang nyangkruk itu juga ngopi dan merokok) itu berlangsung informal di sebuah warung makan sekitar 25 meter dari kantor tersebut, ada “oleh-oleh” yang saya bawa pulang malam ini.

Oleh-oleh itu ingin saya sampaikan saat ini yaitu tentang tiga hal yang menjadi inti untuk memahami Serat Centini. Serat Centini sebagaimana sudah banyak diketahui adalah babon atau induknya kitab-kitab Jawa yang berisi banyak hal. Serat Centini yang sudah dibukukan edisi lengkapnya ada sekitar 12 buku yang diterbitkan Yayasan Centini. Tiga hal itu adalah BUDAYA, MITOS DAN SPIRITUAL.

Budaya adalah pernik-pernik manusia Jawa untuk memayu hayuning bawono disesuaikan dengan kebiasaan dan adat istiadat masyarakat setempat. Mitos adalah cerita/kisah-kisah yang dibikin untuk mempermudah seseorang dalam memahami isi yang ingin disampaikan, sementara Spiritual adalah substansi penghayatan hidup manusia berhadapan dengan Gustinya.

Setiap kebenaran yang disampaikan kepada umat/masyarakat luas juga sesungguhnya harus memiliki tiga hal itu agar bisa diserap dengan baik dan bijaksana. Tidak menimbulkan kebingungan dan kesulitan pemahaman yang nantinya justeru menyesatkan.

Budaya, misalnya. Setiap ajaran apapun harus kontekstual dengan lingkungan, adat istiadat dan kebiasaan yang berlaku di masyarakat. Ajaran yang disampaikan dengan tidak menghormati adat-istiadat masyarakat berarti ajaran yang kurang bijaksana. Bukankah sifat kebenaran adalah mampu untuk berasimilasi dan berosmosis dengan kebenaran yang lain? Itu sebabnya, penyebaran agama Islam di Jawa oleh wali sembilan dilaksanakan dengan sangat kreatif dan menyatu dengan budaya masyarakat Jawa.

Masyarakat Jawa yang sebelumnya sudah memeluk Budha dan Hindu pun akhirnya menerima dengan tangan terbuka kehadiran agama Islam. Tidak ada pertentangan antar agama di Jawa hingga kini membuktikan bahwa budaya Jawa yang mengutamakan olah rasa/batin adalah lahan yang sangat toleran sebagai tempat bersemainya agama dan keyakinan luar manapun juga.

Sementara MITOS juga sangat penting untuk menyampaikan kebenaran. Bila direnungkan, kenapa mitos tetap berkembang di masyarakat hingga sekarang? Saya memiliki ilustrasi yang sederhana untuk menjawab hal ini.

Saat kita membaca buku teks yang penuh dengan teori-teori, misalnya buku pelajaran Fisika, Matematika atau Kimia maka jidat kita langsung berkerut. Aktivitas otak kiri kita begitu meninggi dan sangat serius sehingga rasa lelah cepat datang. Daya konsentrasi tidak bertahan lama. Hal ini berbeda misalnya bila buku teks teori-teori itu dikemas dalam bentuk cerita yang enak dibaca dan mudah dipahami.

Otak kanan akan bereaksi karena ada sentuhan emosional atau rasa sehingga karena dua belah hemisfer (otak) kiri dan kanan akan bekerja seimbang sehingga teori-teori yang berat akan terasa ringan. Bila pelajaran fisika, matematika, atau kimia yang eksak-obyektif terasa berat disampaikan bila tanpa cerita-cerita apalagi bila yang disampaikan itu adalah ajaran-ajaran hidup dan kebenaran yang abstrak dan tidak eksak? Nah, disinilah mitos kemudian berperan.

Sepengetahuan kami, tidak ada satu pun ajaran agama yang tidak memiliki muatan mitos dalam arti “cerita” atau “kisah” di dalam ajarannya. Mitos bahkan terkadang lebih mendominasi aspek mental dari agama. Padahal, ajaran agama sebenarnya dipenuhi hal-hal yang sangat berat. Di situ ada ilmu hermeneutika/tafsir, ilmu kalam, ilmu mantiq/logika, hukum/syariat/fiqih, aqidah, filsafat, ilmu bahasa dan seterusnya.

Peradaban-perdaban dunia pun menciptakan mitosnya sendiri-sendiri. Mulai peradaban kuno di Mesir, Persia, India, Yunani hingga peradaban kita sekarang yang didominasi peradaban modern yang barat sentris ketimbang timur sentris, mitos memegang peranan yang penting untuk menyampaikan ajaran-ajaran spiritual.

Nah, ada kalanya mitos itu diciptakan begitu serius, namun ada kalanya dibuat dengan lebih santai. Misalnya, mitos yang diciptakan santai adalah mitos bahwa di setiap pohon yang ada mata airnya ditunggui makhluk halus. Ini mitos untuk menyampaikan ajaran bahwa menghargai lingkungan hidup mutlak diperlukan untuk kelestarian sumber air. Apalagi fungsi pohon adalah tempat pelindung air agar bumi tidak terlalu panas dan menguapkan air ke angkasa.

Para nenek moyang kita bukan orang bodoh. Kita lah yang terkadang secara sekilas beranggapan bahwa mereka terbelakang, tidak mengenal ilmu pengetahuan dan teknik modern. Apabila tuduhan belakangan ini dialamatkan kepada mereka, jawaban pastinya adalah “Ya pasti begitu”.. Mereka tidak mengenal blog, facebook, internet, komputer dan atribut-atribut teknis lain.

Namun, mereka lebih arif dan luas dalam memahami segala sesuatu. Itu artinya mereka lebih cerdas dari kita yang secara apriori beranggapan bahwa mitos adalah sesuatu yang tidak perlu dan bahkan secara frontal menuduh sebagai musyrik, bidah, khurofat, takhayul terhadap sebuah mitos.

Kenapa tuduhan ini terjadi? Baiklah kita akan merunut akar masalah keyakinan kenapa mitos dipandang rendah dari sudut pandang perkembangan ilmu pengetahuan. Kita ketahui bersama bahwa sejarah kelahiran ilmu pengetahuan modern dimulai dari filsafat Yunani.

Para filsuf Yunani awal ini merenung bahwa akal manusia harus dipakai untuk menemukan kebenaran. Para filsuf awal, seperti Thales, Anaximenes, Anaximander, dan seterusnya… memulai perenungan filsafatnya untuk mencari “arche” atau asas terdalam segala sesuatu. Akal tiba-tiba sangat dihargai sebagai cahaya baru menemukan kebenaran. Bila sebelumnya Yunani dipenuhi oleh mitos-mitos, maka kehadiran para filsuf ini lebih menggunakan logos/akal.

Mitos versus logos yang akhirnya dimenangkan oleh logos. Mitos kemudian dijauhkan dari wacana ilmu pengetahuan modern saat ini. Termasuk yang menyingkirkan peran mitos adalah berkembangnya penafsiran terhadap agama secara “modern.”

Padahal, akhirnya agama yang dipahami melulu dengan rasio atau akal justeru memiskinkan hakekat agama itu sendiri. Agama tidak lebih dipahami sebagai benda, yang bisa dianalisa, dipotret, dipotong-potong oleh pisau bedah ilmu dan kemudian hanya diletakkan di laboratorium-laboratorium universitas. Agama dalam pengertian seperti ini tidak akan berkembang sebagai jalan dan petunjuk hidup manusia yang bercahaya terang benderang yang menerangi eksistensi manusia. Agama pun mengalami reduksi makna besar-besaran.

Manusia modern, seperti saya dan banyak orang lain kini mengaku punya agama. Buktinya ada di Kartu Tanda Penduduk. Pengakuan ini apakah serta merta menjadikan kita memeluk agama? Apakah memeluk agama hanya dibuktikan dengan banyaknya kita menjalankan syariat atau hanya memakai dan menyukai idiom-idiom budaya Arab saja? Sementara para koruptor dan maling sistemik perbankan, politik yang penuh kepalsuan yang semakin memelihara kebusukan, ketidakberdayaan, kemiskinan, ketidakadilan masih kita yang mengaku punya agama ini membiarkan kejadian itu di depan mata?

Hmmm…. yang membuat kita semakin parah, bahwa kita yakin bahwa manusia adalah mikrokosmos di tengah makrokosmos. Sehingga kita merasa kecil di tengah alam semesta.

Pemahaman ini terbalik bung!

Harusnya, manusialah yang makrokosmos, si JAGAD GEDE di alam semesta yang JAGAD CILIK. Manusialah yang memaknai dan memberi besaran dan luasnya alam semesta ini. Sehingga manusia lebih besar secara makrifat dari alam semesta. Jadi manusialah yang harusnya berkuasa, bukan alam semesta…

Maka, perubahan sekecil apapun di hati kita hakikatnya adalah perubahan besar karena perubahan itu terjadi pada kita si makromosmos/ jagad gede itu. Logika terbalik ini, bukankah ilmu makrifat Bima masuk ke telinga Dewa Ruci? “Maka, bila kita tidak mampu melaksanakan perubahan struktural dan fungsional perabadan kita ke arah yang lebih baik dan justeru melanggengkan status quo, jangan mengaku sudah punya agama…”

Ya, saya telah melupakan bahwa agama adalah proses perjalanan laku atau perbuatan manusia yang sejatinya sudah dari sononya sudah berhakikat makhluk spiritual. Dan inilah hasil diskusi kecil pagi hari tadi dan saya akan menyimpannya di gudang data memori otak untuk jangka waktu yang lama….

(Wongalus)

Categories: MITOS | 12 Komentar

BERLATIH ILMU NGRAGA SUKMA


tari

Ini ilmu para leluhur Jawa yang sangat luar biasa. Dengan ilmu ini, diri kita bisa lepas bebas kemana yang kita inginkan. Kita bisa berjalan-jalan ke Mekkah untuk melaksanakan naik haji, kita bisa juga berjalan-jalan ke India untuk menyapa para yogi, atau berjalan-jalan ke Tibet untuk bertemu Dalai Lama.

Para leluhur orang Jawa sadar benar bahwa manusia memiliki potensi tersembunyi yang bila dioptimalkan akan mendatangkan manfaat bagi hidupnya. Mereka sadar, manusia sudah memiliki kelengkapan software untuk hidup dalam berbagai dimensi baik fisik maupun metafisik. Para leluhur dulu tidak hanya membaca “kitab garing” yang berbentuk kitab-kitab kuno yang ditulis di kertas atau yang dipahat di batu-batuan atau di daun-daun lontar.

Salah satu bukti kehebatan para leluhur ini adalah tersebarnya Candi-candi. Candi adalah bangunan dari batu kali yang dibuat dengan ketepatan ukuran geometri yang tiada banding jaman itu. Masing-masing batu disusun dengan presisi yang tinggi sehingga tidak ada yang penceng sambungannya. Selain kehebatan fisik, pada candi kita bisa belajar filsafat hidup yang dahsyat hasil olah rasa/olah batin yang gentur mencari ilmu sangkan paraning dumadi demi kesempurnaan hidup.

Tanpa ilmu matematika, ilmu fisika, ilmu arsitektur dan ilmu sastra, ilmu sejarah, ilmu kebatinan, mustahil mereka mampu membuat bangunan yang begitu tinggi nilai historisnya itu. Borobudur, Prambanan, Boko, Cetho, Panataran, Dieng, Gedong Songo dan masih banyak lagi candi yang tersebar di seantero nusantara. Mereka adalah bukti fisik yang tidak bisa dibantah.

Selain itu, banyaknya kitab-kitab kuno membuktikan bahwa tradisi berilmu pengetahuan juga tumbuh subur di Jawa. Serat Purwakanda, Serat Pulo Kencana, Serat Panji Asmara Bangun, Serat Nagri Ngurawan, Serat Tawang Gantungan, Serat Niti Praja, Serat Waskithaning Nala, Serat Paniti Sastra, Serat Pamrayoga Utama, Serat Nirata Praketa, Serat Kridhamaya, Serat Niti Sruti, Serat Arjuna Wiwaha, Serat Tripama, dan masih banyak lagi serat lain adalah bukti yang cetho welo-welo.

Dari sekian banyak bab di dalam khasanah ilmu kebatinan, ada satu ilmu yang sangat menarik dan menjadi bukti keunggulan olah rasa/batin dan olah spiritual tingkat tinggi para leluhur Jawa. Ilmu ini disebut dengan NGRAGA SUKMA. Entah siapa pencipta ilmu ini. Yang jelas, ilmu ini sudah umum dimiliki oleh para waskita dan winasis untuk berbagai kemanfaatan dalam mengarungi perjalanan hidup mencapai kesempurnaan yang penuh misteri ini.

NGRAGA SUKMA adalah ilmu yang mampu mengeluarkan sukma dari tubuh. Dengan NGRAGA SUKMA, seseorang yang sedang duduk di sebuah rumah di Jakarta, akan mampu menampakkan diri di sebuah tempat yang jauh sekalipun seperti Washington DC Amerika Serikat. Belakangan di era Modern, orang Barat menyebut fenomena ini dengan OUT OF BODY EXPERIENCE (OBE) atau pengalaman keluar tubuh fisik. Di Barat, fenomena OBE ini bahkan dijadikan latihan terbuka dan banyak orang yang akhirnya mampu sampai ke tahap OBE ini.

Seorang teman dekat saya sudah sangat terbiasa untuk mempraktikkan ilmu Ngraga Sukma ini hingga dia bisa berjalan-jalan ke tempat yang lain. Suatu hari, dia duduk di dekat saya sambil merem leyeh-leyeh dan saat terbangun dia pun mengatakan telah berkunjung ke Cina. Dia mampu menceriterakan seara detail apa yang baru saja dialaminya, termasuk bertemu dengan orang-orang dan kemudian kembali ke tempat kami semula. Inilah Ngraga Sukma.

Bagaimana ilmu Ngraga Sukma ini dijelaskan secara ilmiah? Mari kita bedah satu persatu wacana JIWA MANUSIA.

1. JIWA AMARAH

Dalam ilmu kebatinan Jawa, kita mengenal adanya nafas/nafs/ambekan. Nafas ini merupakan bagian inti dari Jiwa dan nafas terkait dengan batin kita. Semua mahluk hidup perlu respirasi atau bernafas yaitu menghiup oksigen dan diekspor ke paru-paru/insang. Oksigen dibutuhkan oleh setiap sel tubuh yang ingin hidup. Tanpa oksigen, sel tubuh akan lemas dan mati. Oksigen dibutuhkan untuk proses pembakaran, sehingga sel di dalam tubuh mendapat energi baru.

Pengendali jalannya nafas adalah JIWA AMARAH/NAFS AL AMARAH. (bukan marah dalam arti nesu, mangkel, atau marah..ini hanya nama). Jiwa Amarah bertugas untuk mengoperasikan jalannya nafas manusia mulai bangun tidur hingga tidur lagi. Bila jiwa ini berhenti maka manusia akan mengalami kematian. Selama belum putus meskipun nafasnya sudaha berhenti maka manusia masih tetap hidup. Nah, ada satu lagi yang perlu kita ketahui saat membicarakan JIWA AMARAH ini adalaha yang kita kenal dengan PRANA/PREMANA yang berkaitan dengan DAYA HIDUP. PRANA ibarat ARUS LISTRIK sementara JIWA AMARAH ibarat kawat.

2. JIWA LAWWAMAH
Berada di dalam tubuh manusia yang lebih dalam dan halus dari JIWA AMARAH dan jiwa lawwamah ini berada di alam eterik. Jiwa lawwamah bisa keluar masuk tubuh baik saat sadar maupun saat tertidur tanpa ada hambatan apapun. Saat kita tidur, kita bermimpi bertemu dengan seseorang maka jiwa lawwamah kitalah yang tertemu dengan orang tersebut. Namun bila kita tiba-tiba terjaga, maka dengan cepat pula jiwa masuk lagi ke tubuh.

Kita sering bermimpi mengembara ke sebuah tempat yang belum pernah kita datangi sebelumnya, ini berarti jiwa kita berjalan-jalan mengembara ke tempat yang asing. Ya, jiwa kita tidak terikat ruang dimanapun dan kapanpun. Itu sebabnya, bila kita bermimpi bertemu dengan para Nabi, itu berarti kita memng sungguh-sungguh bertemu dengan para nabi pula. Bagaimana dengan waktu? Nah, jiwa kita tetap terikat waktu saat mimpi tersebut.

Sistem kerjanya jiwa Lawwamah adalah ibarat tape recorder yang merekam kejadian di depan kita secar otomatis dan digerakkan oleh alam bawah sadar (subconscious mind). Yang perlu diperhatikan adalah pada Jiwa inilah daerah operasi niat jahat manusia. Watak Iblis pada diri manusia juga tumbuh subur pada jiwa ini.

Bila kita berlatih untuk berkomunikasi dengan ruh orang meninggal dan saat itu kita bertemu dengan wujud fisik orang meninggal tersebut, maka kita sebenarnya sedang bertemu dengan jiwa Lawwamah-nya. Jiwa ini masih terikat dengan keberadaan fisik bumi kita. Bagaikan embun, jiwa ini melayang-layang di dekat permukaan tanah. Oleh karena itu bila orang meninggal, maka jiwa ini harus disempurnakan.

DALAM PROSESI KEMATIAN YANG SEMPURNA, SEMUA JIWA HARUS BISA MENEMBUS ALAM BARZAKH/ALAM KELANGGENGAN. ADANYA JIWA YANG MASIH MEMILIKI KEMELEKATAN DENGAN BUMI KARENA SUATU PERKARA, MAKA JIWA MANUSIA MASIH BERPUTAR-PUTAR DI BUMI. ORANG-ORANG MENYEBUTNYA HANTU, PADAHAL ITU ADALAH JIWA ORANG YANG MENINGGAL YANG BELUM SEMPURNA.

Nah, ilmu Ngraga Sukma bekerja di tingkat JIWA LAWWAMAH ini. Bagaimana membangkitkan kemampuan Ngraga Sukma hingga jiwa lawwamah mampu keluar dari tubuh? Caranya adalah latihan. Ada tiga tahap latihan:

LATIHAN PERTAMA : PERCOBAAN
Belajarlah untuk mengalami tidur dengan merencanakan mimpi apa yang sekiranya Anda pandang menarik. Banyak cara, salah satunya merekam banyak kejadian sebelum tidur dan mengucapkan NIAT UNTUK BERTEMU SI A, ATAU NIAT BERKELANA KE SEBUAH TEMPAT…
Latihan berulang-ulang hingga benar-benar mampu mengarahkan mimpi. Jiwa Lawwamah yang sudah terlatih bisa diajak kemanapun yang diinginkan. Rapalnya baca sebagai berikut:

MELAYANG AKU
JIWAKU YANG BERADA DI TANGANMU, GUSTI
MENGEMBARA MENEMBUS RUANGMU
AKU INGIN KE ….. (sebutkan tempat yang ingin dituju)
BERTEMU DENGAN ………. (sebutkan nama orang yang ingin ditemui)
ATAS IJINMU!!!

LATIHAN KEDUA: PENGUJIAN
Ujilah apa yang Anda alami. Bertanyalah via telpon terhadap mimpi apa yang sudah Anda alami kepada si A. Bila sudah terlatih, apa yang ada dalam mimpi akan persis sama dengan kenyataan.

LATIHAN KETIGA: PEMBUKTIAN
Ujilah berkali kali apa yang Anda alami. Bila sudah terlatih, Anda bisa menggunakan ketrampilan untuk melakukan Ngraga Sukma ini tidak hanya saat bermimpi namun saat Anda terjaga sesuai dengan kehendak hati. Tentu saja harus dibimbing dengan kebijaksanaan. Sebab kemampuan ini meskipun hasil latihan namun pasti merupakan kesempatan yang diberikan Tuhan Yang Satu.

3. JIWA MULHAMAH
Jiwa yang berada lebih dalam dan halus dari JIWA LAWWAMAH. Jiwa Mulhammah adalah alat sensor metafisik yang sangat bagus untuk menerima petunjuk-petunjuk dari Tuhan. Jiwa Mulhamah ada di alam astral, suatu lapisan alam yang lebih halus dari pada alam eterik. Pada saat tertidur, jiwa Lawwamah dan Mulhamah ini bisa keluar secara otomatis tersamaan dan akibatnya mimpi pun jadi campur aduk dan kacau. Sebab masing-masing ditangkap dengan pikiran sadar dalam bentuk kesan yang berbeda. Saat tertidur, mimpi yang kita alami kadang tiak nyambung dan berbeda tema/topik. Ini akibat bercampur aduknya dua jiwa.

BILA JIWA LAWWAMAH CENDERUNG KEPADA MASA KINI, MAKA JIWA MULHAMAH LEBIH CENDERUNG UNTUK MENGENANG MASA LALU.

Ini dikarenakan Jiwa Mulhamah merupaka gudang ingatan kita seluruh kejadian tanpa dibatasi waktu. Jiwa ini juga merupakan tempat yang subur bagi jiwa yang haus nilai-nilai spiritualitas. Pikiran sadar merupakan operasi jiwa ini dan jiwa ini adalah tempat pertimbangan baik buruk benar salah. Dalam hubungannya dengan dunia fisik, jiwa ini erat kaitannya dengan “Qalbu” dan erat kaitannya dengan pengendalian emosi.

DALAM PROSESI KEMATIAN YANG SEMPURNA, SEMUA JIWA HARUS BISA MENEMBUS ALAM BARZAKH/ALAM KELANGGENGAN. JIWA MULHAMAH YANG ADA DI ALAM ASTRAL PUN HARUS DISEMPURNAKAN KARENA JIKA BELUM DISEMPURNAKAN, MAKA DORONGAN UNTUK HADIR KEMBALI KE BUMI MASIH TINGGI.

4. JIWA MUTHMAINAH
Tenang seperti teratai adalah sifat JIWA MUTHMAINAH. Keberadaannya murni di alam mental, alam transisi antara dunia astral dan spiritual. Jiwa ini sudah terbebaskan dari ruang dan waktu. Mampu menembus langit manapun hingga bertemu dengan kebenaran tertinggi yang mampu dicapai oleh manusia. Jiwa ini mampu berkelana baik ke masa lalu dan ke masa depan. Bila menembus ke masa depan, maka orang bisa melihat apa yang akan terjadi di masa depan. Kemampuan ini disebut juga dengan CLAIRVOYANCE yaitu melihat obyek di luar jangkauan mata fisik dan juga mampu CLAIRAUDENCE yaitu mendengar suara di luar jangkauan telinga.

Kemampuan ini ada yang memang bakat sejak lahir dan ada pula yang optimal karena dilatih. Waktu bagi jiwa Muthmainah adalah kesatuan masa lalu, masa kini, dan masa depan dan mampu menembus berbagai alam gaib dimensi bumi bahkan hingga alam malakut. MSKIPUN JIWA INI BERADA DI ALAM KETENANGAN DAN KEDAMAIAN MEDITATIF NAMUN IA TETAP NAFS YANG MASIH PUNYA KEINGINAN SEHINGGA MASIH PUNYA CELAH UNTUK KEMBALI KE BUMI. SEHINGGA SAAT ORANG MENINGGAL PUN JIWA MUTHMAINAH INI HARUS SEMPURNA.

(wongalus)

Categories: ILMU NGRAGA SUKMA | Tags: , , , | 101 Komentar

KUMPULAN RAPAL KAMPUS WONG ALUS (BAGIAN II)


18. BERSAHABAT DENGAN KESUKSESAN
Kesuksesan tidak serta merta datang menghampiri kita. Dibutuhkan perjuangan yang keras dan ikhlas serta doa kepada yang Maha Kuasa. Sukses dunia akhirat itulah keinginan kita bersama dalam mengarungi bahtera hidup yang panjang dan berliku. Agar kita selalu bersahabat dengan kesuksesan maka ucapkan rapal berikut ini:

SUKSES
MOHON DATANG PADAKU
ATAS IJIN TUHAN, JADILAH TEMAN SETIAKU SELALU

Rapal ini dibaca setiap saat kita akan tidur, saat gelombang otak kita memasuki fase alfa. Ini juga merupakan pemrograman bahasa otak dan menjadi pembiasaan otogenik yang bersugesti kuat agar kita selalu berusaha keras dan berpikir positif.

Artikel lengkapnya monggo dibaca di halaman KUMPULAN RAPAL KAMPUS WONG ALUS II.

Categories: KUMPULAN RAPAL II | 11 Komentar

KUMPULAN RAPAL KAMPUS WONG ALUS


wong alus

Metafisika kesatuan ruh akan membawa kita pada pemahaman akan kebersatuan kita dengan setiap butir partikel di alam semesta, mulai yang paling sederhana sampai ke yang paling kompleks kesadaran dan kecerdasannya. Sebab semua yang tergelar di dalam diri manusia dan di luar dirinya sesunguhnya satu. Gusti dan Kawulo itu satu. Manusia dan alam itu satu. Alam semesta dengan demikian adalah manusia dan manusia adalah alam semesta. Tidak bisa dipisahkan secara metafisis.

Berangkat dari pemahaman ini, maka manusia yang selama ini dikenal telah menjaga jarak dengan alam semesta ( yang sebenarnya dirinya sendiri), perlu untuk meluruskan kembali jati dirinya. Inilah bentuk kesadaran paling ultim yang harusnya dibangkitkan oleh manusia abad modern yang suka merusak lingkungan, suka mengeksploitasi alam. Padahal itu sama saja dengan merusak dirinya sendiri, mengeksploitasi dirinya sendiri. Ya, manusia modern adalah manusia yang suka meneguk racun yang akhirnya membuat dirinya tewas.

Agar kita menjadi bijaksana, kita perlu mengasah sekaligus menggugah kembali kesadaran diri tentang metafisika kesatuan ini. Bahwa aku dan alam semesta hakekatnya adalah satu. Kesadaran diri akan metafisika kesatuan akan membawa kita pada kemanfaatan praktis untuk hidup sehari-hari. Dengan metafisika kesatuan ini, kita diajak untuk menjadi manusia yang paling purba, yang hidup cipta, rasa dan karsanya. Hidup yang sehidup hidupnya, yang bergerak lincah mengikuti irama alam semesta dengan instink dan nalurinya yang telah lama mati.

Pada kesempatan kali ini, kami ingin memaparkan manfaat praktis metafisika kesatuan ini untuk berbagai tujuan dalam bentuk rapal. Rapal adalah kalimat yang diucapkan saat jiwa berada pada saat kondisi kejiwaan puncak. Kondisi puncak semangat, permohonan, pengharapan. permintaan dan kehendak. Rapal yang diucapkan dalam kondisi puncak itu akan menyerap energi supranatural yang berada di sekitar kita dan kemudian akan masuk ke tubuh kita. Rapal yang diucapkan asal-asalan dan tanpa kejiwaan puncak tidak akan membawa dampak yang diinginkan.

Rapal adalah ajakan pada alam semesta untuk kembali bersahabat, kembali menyatu dalam satu irama, kembali menyatu dalam satu kehendak besar, satu penghormatan, satu sujud kepada Gusti dan kembali menyatu untuk menyadari kediriannya, sekaligus juga menyadari bahwa antara “aku” dan “alam semesta” dan “Gusti” itu secara metafisik sesungguhnya hanya satu.

Kalimat lengkap dan sempurna rapalan terdiri dari tiga bagian pokok. Namun tidak selalu diucapkan secara lengkap. Tiga bagian itu adalah UCAPAN SALAM PENGHORMATAN, PERMOHONAN, dan TERIMA KASIH.

1. BERSAHABAT DENGAN BUMI
Tidurlah di tanah lapang, rumput atau ladang terbuka setiap ada kesempatan baik. Tinggalkan kesibukan harian untuk sejenak mendengarkan apa yang diinginkan bumi pada kita. Arahkan telinga ke bumi dan dengarkan baik-baik apa yang dikatakannya. Namun sebelumnya ucapkan:

BUMI
AKU DATANG KEMBALI
TERIMALAH AKU MENJADI BAGIAN DIRIMU
AKU ADALAH KAU
KAU ADALAH AKU
KITA MENYATU LAGI
ATAS IJIN TUHAN, MOHON KEIKHLASANMU UNTUKKU

Rapalan ini dibaca ketika pikiran tidak tenang, kesepian, atau saat tubuh serta pikiran kita membutuhkan banyak energi……

Artikel lengkapnya monggo dibaca di halaman ANTAR PEMBACA: KUMPULAN RAPAL KAMPUS WONG ALUS.

Categories: PENGANTAR RAPAL METAFISIK | 15 Komentar

METAFISIKA KESATUAN RUH


Bagian paling sejati dari manusia adalah ruh. Keabadian ruh adalah paling nyata terlihat pada mereka yang telah menggunakan kesadaran makrifatnya dengan lurus. Bismillah…

Ruh tidak melekat pada tubuh manusia. Meskipun dia dikatakan berada “di dalam” diri manusia, namun ia tidak sungguh-sungguh dibatasi oleh tubuh yang berada di dalam ruang dan waktu. Ruh adalah sebuah bentuk yang tanpa waktu dan berada di luar waktu, yang berlaku kekal dan abadi sejak sebelum penciptaan alam. Untuk dikenali, ruh kemudian “masuk” ke dalam tubuh/jasad yang ada di dalam ruang dan waktu.

Bisa dikatakan ruh menjelma menjadi manusia yang berjasad dan berjiwa. Bentuk dan rupa ruh hingga kini tidak diketahui. Apakah bentuknya seperti manusia namun seperti bayangan belaka ataukah seperti asap, tidak diketahui. Kita hanya bisa mengatakan bahwa ruh adalah bagian manusia yang paling halus. Kenapa tidak diketahui? Itu sebab kita tidak pernah melihat, mendengar, meraba ruh sebelumnya. Sehingga bentuknya tidak ada di dalam gudang memori manusia. Pada tulisan terdahulu yang berjudul HIDUP YANG SEMENTARA telah sedikit diulas bahwa pengetahuan kia tentang ruh itu bukan berasal dari pengamatan/pengalaman.

Pengetahuan tentang ruh sudah diinstal secara otomatis ke dalam diri manusia. Manusia tinggal membuka program dan kemudian mengaplikasikannya. Alat untuk mengetahui tentang ruh adalah akal budi yang merupakan sumber hidup manusia yang sesungguhnya. Meskipun mendiskusikan soal ruh adalah sebuah upaya yang sia-sia, namun ruh juga tidak sepenuhnya menutup diri dari pengetahuan akal. Adalah watak dasar manusia untuk ingin tahu tentang segala hal, termasuk soal ruh ini. Ruh kemudian diletakkan sebagai barang atau benda yang berada di “luar” diri dan kemudian diteliti secara obyektif.

Salah satu cara untuk mendekati keberadaan ruh ini adalah menganalisa mereka yang sudah mengalami NEAR DEATH EXPERIENCE yang kemudian memberikan banyak pengetahuan tentang ruh. Banyaknya kejadian orang yang mengalami NEAR DEATH EXPERIENCE atau pengalaman saat mengalami kematian sementara ini membuktikan satu keyakinan: bahwa ada “sesuatu” yang hidup saat tubuh jasad fisik ini tidak berfungsi. “Sesuatu” yang menyadari, mengetahui, dan bisa menceriterakan kembali kejadian-kejadian runtut itulah akhirnya bisa disimpulkan bahwa ada satu entitas metafisis dalam diri manusia. Entitas itu kemudian disebut dengan RUH. RUH ADALAH TUHAN DALAM DIRI MANUSIA. Tidak ada dualitas karena sesungguhnya RUH MANUSIA DAN DZAT TUHAN TIDAK BERBEDA. KEDUANYA SESUNGGUHNYA SATU KESATUAN.

Bagaimana sejarah awal “kesatuan” antara ruh manusia dengan ruh Tuhan? Sebenarnya secara logika, pertanyaan ini pun juga mengandung kesalahan. Kenapa juga kita selalu memisahkan antara dua ruh yang sesungguhnya cuma satu? Inilah akibatnya bila kita menggunakan akal untuk menakar sebuah perkara. Adalah watak akal untuk memilah-milah/ menganalisa/memotong-motong obyek sebagaimana halnya sebuah benda atau barang saja. Padahal obyek kajian kita kali ini adalah ruh yang bersifat metafisis! Ah, sebelum pembicaraan kita mengenai ruh ini menjadi meaningless/tidak bermakna tidak salah kita teruskan saja membaca tanpa apriori terlebih dulu. Jangan dulu ditanya benar atau salah pendapat saya kali ini. Yang jelas, ayo dibaca saja tanpa prasangka dulu baru kemudian dikritik. Monggo, lha wong ini cuma pendapat/opini kok.

Semua hal terjadi karena sebuah proses. Bumi, matahari, bulan, galaksi tercipta karena proses ledakan besar. Begitu pula dengan ruh. Ruh juga mengalami proses penciptaan sehingga menjadi seperti sekarang ini. Syahdan diungkap dalam “kitab teles” kasunyatan, awalnya hanya ada satu dzat saja yang Ada. Dzat itu tidak punya nama sebab dia tidak dikenal. Lha siapa yang mengenal kalau hanya satu dzat saja? Bukankah nama-nama tersebut ada karena ada dua atau lebih sesuatu sehingga perlu diberi nama? Coba kalau hanya satu, maka tidak perlu dberi nama. Lha siapa juga yang memberi nama kalau hanya ada satu diri di “alam awang uwung?” Boleh dikatakan saat itu hanya ada satu ruh saja. Ruh yang satu ini memiliki energi kreatif yang berlimpah. Dia kemudian ingin “dikenal”.

Hmm… kata “dikenal” ini sebenarnya tidak tepat. Kata ini sama sekali tidak mewakili apa yang sebenarnya “diinginkan”-Nya. Apalagi kata “dikenal” sudah mengalami pemiskinan makna seperti abad sekarang. Dia bukanlah selebritis sebagaimana yang kita kenal di dunia sinetron. Namun, apa ada kata lain yang mewakili ya? Yang jelas, Dia Yang Satu ini kemudian berkata “Kun Fayakun”… “terjadilah”… kata ini mengandung maksud bahwa Yang Satu ini ingin menjadi Yang Banyak. Yang Satu ingin mengejawantah menjadi Yang Banyak. Yang banyak ini kemudian menjadi partikel-partikel mulai yang terkecil yang tingkat kesadarannya sederhana hingga yang paling sempurna tingkat kesadarannya.

Yang Satu oleh karena itu berusaha melepaskan diri dari kesendiriannya. Ruh Yang Satu mulai berpindah dari situasi “berada di luar dirinya” ke dalam situasi “berada bagi dirinya.” Sebab “berada bagi dirinya” bisa terjadi karena ada kesadaran-kesadaran Yang lain dari Yang Satu. Perlu diingat bahwa yang terjadi saat itu adalah Ruh Yang Satu kemudian membebaskan dirinya untuk diinterpretasi oleh Yang Lain Yang Bukan Diri-Nya. Proses ini ibarat manusia menciptakan komputer yang cerdas yang bisa melakukan perlawanan termasuk pengakuan bahwa komputer itu bikinan manusia. Setelah proses Kun Fayakun tersebut: Kini sudah ada dua ruh. Ruh Yang Satu dan Ruh Yang Lain.

Kehendak Ruh Yang Satu kemudian memasrahkan kepada Ruh Yang Lain untuk berkarya. Yang terjadi dalam peradaban manusia saat itu adalah lahirnya kesadaran bahwa dia berbeda dengan alam sekitarnya. Dia tidak bisa sepenuhnya disamakan dengan kosmos-nya alam. Dia beranggapan manusia harus memiliki kehendak bebas sendiri dan kesadaran inilah yang akhirnya membuat dia merasa memiliki otonomi diri yang tidak ada korelasinya dengan Tuhan. Kehendak rasional manusia kemudian mengalami subyektivasi. Manusia menjadi hipokrit, dipenuhi selubung nafsu dan kenistaan. Nilai-nilai diputarbalikkan sedemikian rupa karena semakin tidak menyadari dunungnya. Eksistensinya menjadi absurd dan konyol. Itu karena dia tidak memahami bahwa awal muasal semua yang bereksistensi ini sejatinya hanya Yang Satu.

Mulailah manusia menata peradaban berdasarkan bentuk-bentuk hidup dengan prinsip subyektivitas. Kenapa subyektif? Sebab dia tidak melibatkan Yang Satu dlam proses penciptaan selanjutnya….. Bentuk dan nafsu-nafsu manusiawi dilembagakan secara formal. Diciptakan kebiasaan, diciptakan adat istiadat, diciptakan peradaban, diciptakan filsafat hidup dan ilmu pengetahuan, diciptakan tata kenegaraan, diciptakan sistem nilai-nilai yang dijadikan perangkap eksistensi manusia. Merasa hidup dalam sosialitas yang belakangan diketahui sangat mengerikan akibat ulahnya sendiri itu, manusia kemudian menciptakan agama! Dengan agama, manusia sebenarnya sedang membuat dogma dan mitos-mitos baru.

Siapa bilang agama diciptakan Tuhan untuk manusia? Manusia sendirilah yang menciptakan agama untuk dirinya sendiri. Tuhan tidak beragama. Tuhan tidak butuh agama. Jangan libatkan urusan Tuhan untuk mengungkung kebodohannya. Tuhan terlalu suci dari dosa-dosa manusia yang terbiasa merekayasa kebutuhan-kebutuhan dirinya dan merasa seolah-olah paling tahu apa yang dia butuhkan. Manusia memang sudah sedemikian egois. Astaghfirullah!!!

Inilah tahap yang terjadi saat ini. Manusia sengaja melemparkan dirinya, menjauh sejauh jauhnya dari kesatuan dengan Ruh Yang Satu. Diri manusia yang menjelma dalam ego perorangan memasuki kawasan yang lebih rumit lagi. Ruhnya terpendam di dasar diri dan tidak mampu untuk bergerak. Kecuali apabila nanti jasad manusia sudah dinyatakan mati, maka nyawa ruh akan kembali menyatu dengan Yang Satu. Sebelum mati, diri manusia membuat suatu tata tertib yang lebih rumit lagi. Manusia harus berkeluarga, manusia harus bermasyarakat, manusia harus bernegara, manusia harus memiliki pandangan hidup yang benar dan lurus, manusia hidupnya harus melaksanakan rencana-rencana A, B, C, D, dan seterusnya….

“Keharusan-keharusan” itu secara sengaja kemudian menciptakan peradaban dan sejarah dunia. Sejarah dunia yang dipenuhi dengan pertumpahan darah, egoisme dan pemuasan nafsu jasad saja. Bila proses penghancuran jagad cilik dan jagad gede oleh si jagad cilik ini terus berlangsung maka jangan harap ruh manusia akan mampu menemukan kesatuan dengan ruh Yang Satu. Dibutuhkan sebuah proses penghancuran kesadaran secara massif alias proses laku utama: “Mati dalam Hidup” sehingga manusia menemukan kembali jati dirinya. Inilah jalan makrifat tertinggi yang harusnya ditempuh oleh kita semua: KAWULO DENGAN GUSTI SEBENARNYA MANUNGGAL DAN JUMBUH. SEBAB SEMUANYA ASALNYA DARI YANG SATU DAN KESATUAN ITU KINI SUDAH DIHANCURKAN DAN DIRUSAK OLEH MANUSIA.

Dalam kitab suci kata “ruh” itu selalu dinyatakan dalam bentuk tunggal, bukan jamak. Juga dinyatakan sebagai ruh-Nya. Tidak ada satupun ayat di dalam Al Quran yang menyatakan bahwa ruh itu diciptakan oleh Tuhan. Sebab Ruh-Nya hanya satu yang kemudian nitis kepada manusia agar manusia dapat membangkitkan kesadaran dirinya sendiri bahwa dia adalah citra-Nya. “Maka, apabila Aku telah menyempurnakannya, dan Aku tiupkan ruh-Ku ke dalamnya, tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud”

Ini salah satu ayat dalam kitab suci yang memaparkan bahwa Yang Satu (Tuhan) mentamsilkan “tiupan” ruh ke dalam diri manusia. Nah, karena Tuhan tidak bermulut, maka kita perlu memahami kata “tiupan” itu sebagai limpahan, pancaran, emanasi ruh-Nya. Itulah sebabnya semua mahluk tidak terkecuali jin dan malaikat dulu diminta untuk sujud kepada manusia. Kenapa? Sebab manusia adalah limpahan Ruh Tuhan. Ia selalu suci, tidak tersentuh ego karena dipancarkan dari “pribadi” yang menjadi manifestasi yang menyejarah di bumi.

Jasmani manusia kini jumlahnya bermilyar-milyar yang terbentang dari barat ke timur, namun berapa jumlah manusia yang menyadari bahwa dia sejatinya adalah diri ruhani yang merupakan pancarah Ruh-Nya? Teramat sedikit dan mungkin bisa dihitung dengan jari dan yang kita kenal hanyalah para Rasul, nabi, wali, avatar, atau apapun namanya yang berperan untuk kembali menuntun umat manusia agar menyadari perannya sebagai pribadi manifestasi Ilahi. Pribadi yang tidak menyadari perannya sebagai manifestasi Ilahi berakibat fatal.

Dunia akan kiamat dan yang mampu menyelamatkan hanya manusia yang kembali menjadi pribadi yang terkendali oleh ruh. Jika jiwa/nafs merupakan substansi yang menyebabkan makhluk menjadi hidup dan menjalankan kodratnya maka ruh merupakan substansi yang mampu mewujudkan iradat manusia. Bila manusia hidup memiliki kodrat dan iradat, maka iradat manusia hanya bisa bekerja dengan benar bila dibimbing oleh ruh. Iradat yang benar bukan hasil dorongan dari luar yang palsu, tapi tumbuh dari dasar pribadinya.

Ingatlah bahwa manusia sudah dibekali dengan kesempurnaan penciptaan. Dibekali dengan sarana dan prasarana, baik fisik dan metafisik untuk manunggal kembali dengan iradat-Nya. Bukankah KAWULO SESUNGGUHNYA ADALH GUSTI???? “Kemudian Dia menyempurnakannya dan meniupkan ruh-Nya ke dalamnya. Dia menjadikan bagimu pendengaran, pengelihatan dan perabaan. Tapi sedikit sekali kamu yang bisa bersyukur!”

Terakhir, memohon maaf bila interpretasi tentang ruh ini ternyata salah dan melenceng dari kebenaran. Itu semata-mata proses yang saya lakoni masih sangat terbatas dan semoga akan terus berproses hingga akhir hayat. Sehingga tercapai benar-benar pengetahuan makrifatullah tentang METAFISIKA RUH YANG SEJATINYA HANYA SATU DAN TIDAK ADA YANG LAIN. “Timur dan Barat adalah kepunyaan Allah. Maka kemana saja menghadap disitulah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas dan Maha Tahu”

(Wong Alus)

Categories: METAFISIKA KESATUAN RUH | 40 Komentar

HIDUP YANG SEMENTARA


Hidup di dunia ini hanya sementara. Ungkapan ini terlalu sering kita baca dan kita dengar pada berbagai kesempatan. Biasanya kita pun tanpa berpikir secara jauh segera mengiyakan dan menyetujuinya. Meskipun hanya di dalam hati. Kita jarang bertanya, benarkah hidup ini hanya sementara?

Kata sementara berarti sesaat saja. Sekejap mata, sak kedipan netro. Begitu orang Jawa biasa menyebutkan sifat hidup yang tidak abadi ini. Konon, hidup di dunia laksana seorang musafir yang berjalan jauh menuju sebuah tujuan tertentu. Dia harus memiliki bekal agar tidak kelaparan dan kehausan. Bekal pun ditata, direncanakan sebaik-baiknya. Bekal itu biasanya kemudian dimiskinkan maknanya. Yaitu bekal materi saja.

Yang terjadi kemudian, agar kita sukses dalam mengarungi bahtera hidup maka kita perlu menumpuk materi sebanyak-banyaknya. Agar kita tidak mengalami kesengsaraan, kemiskinan, kenistaan. Sejak usia kanak-kanak hingga dewasa, kita terus-menerus dijejali dengan pemahaman semacam ini. Beruntung, kita bertemu dengan banyak orang, tetangga, teman yang memiliki pemahaman yang sama.

Hanya sesekali kita menyadari bahwa bekal hidup yang sejati sebenarnya tidak hanya harta benda. Yaitu ketika kita masuk ke tempat ibadah, di gereja, di masjid, di pura, di kelenteng. Atau saat kita menonton acara mimbar agama di televisi.

Para ulama, pendeta, biksu, dan pemuka agama saat di mimbar akan menyerukan seruan agar kita mempersiapkan bekal hidup yang tidak hanya harta benda kekayaan, pangkat dan jabatan, karier dan pendidikan saja. Tetapi harus dilengkapi dengan ibadah-ibadah yang sudah dituntunkan oleh agama. Kita tidak diperkenankan keluar jalur agama karena nanti bisa tersesat ke jalan yang tidak berpeta. Bukankah bila kita memasuki daerah tanpa peta (kini GPS), kita akan mengalami kebingungan dan akhirnya tersesat?

Selain saat khusus itu, kita terlalu banyak meluangkan waktu untuk menikmati hidup dengan berbagai sarana kebahagiaan yang menunjang kita untuk berperilaku serba cepat, instan dan mencari kemudahan-kemudahan. Hingga pada suatu ketika, kita disadarkan adanya kepastian yang paling tidak membahagiakan.

Satu persatu, orang-orang yang kita cintai pergi meninggalkan kita. Mulai dari buyut, kakek, nenek, ayah dan ibu. Kita juga mendapati ada satu dua tetangga yang meninggal. Bahkan akhirnya, kita melihat ada bencana alam dengan korban nyawa mencapai ribuan. Ya, kita akhirnya sepakat 100 persen bahwa kematian merupakan kepastian. Tak seorang pun dapat menghindar dan melepaskan diri dari cengkeramannya.

“Katakanlah: Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui yang gaib dan yang nyata.”

Kita pun akhirnya menyimpulkan bahwa hidup ini hanya sementara saja sehingga harus diisi dengan banyak melakukan ibadah kepada Tuhan. Benarkah hidup ini hanya sementara? Untuk menjawab ini marilah kita jalani penalaran sederhana dulu.

Manusia ini terdiri dari sesuatu yang lahir atau terlihat yaitu berupa (1) badan biologis/jasad/fisik namun juga sesuatu yang sifatnya tidak terlihat atau batiniah yaitu berupa (1) rasa, hati nurani, nafs, jiwa dan juga (2) ruh. Nah dari tiga hal yang dimiliki oleh substansi manusia ini, manakah yang hidupnya bersifat sementara dan mana yang tidak?

Ukuran hidup dan matinya badan biologis/jasad/ teramat jelas. Yaitu apabila nadi sudah tidak bergerak, gelombang otak sudah tidak terdeteksi dengan EEG, dan bila disapa sudah tidak mampu menjawab. Sehingga kita bisa langsung menyimpulkan bahwa tubuh si D harus secepatnya dimakamkan karena secara medis oleh dokter sudah dinyatakan meninggal. KESIMPULANNYA: BADAN BIOLOGIS HIDUPNYA HANYA SEMENTARA.

Yang kedua ini agak lebih sulit lagi. Apa ukuran hidup dan matinya jiwa, rasa, hati nurani? Kita akan mendapatkan jawaban yang kurang masuk akal bila matinya hati nurani ditandai dengan melemahnya fisik, tubuhnya yang kurus, rumahnya yang reyot. Kaum koruptor, politikus busuk, para maling kelas atas atau teroris umumnya berbadan sehat, tidak ada cacat akal, penalarannya logis.

Namun mereka dikatakan mengalami kematian rasa dan jiwa. Lantas apa ukurannya? Hingga sekarang, tidak ada satupun alat hasil temuan ilmu pengetahuan yang mampu benar-benar mendeteksi secara pasti kematian rasa, batin, jiwa ini. Ilmu psikologi biasanya hanya untuk mengukur kesehatan jiwa saja. Bukan hidup dan matinya jiwa. Bila kita sepakat (sebagaimana yang dipaparkan oleh para psikolog bahwa eksistensi jiwa melekat dalam tubuh) maka kita bisa menyimpulkan bahwa: JIWA HIDUPNYA HANYA SEMENTARA.

Yang ketiga inilah yang paling sulit. Yaitu soal ruh. Kita percaya bahwa ruh itu ada. Ada di mana? Apakah ruh itu melekat di tubuh sebagaimana jiwa/rasa/batin kita? Ataukah adanya di dalam tubuh kita dan sesekali pada kesempatan tertentu ruh bisa terbang ke mana-mana sesuai dengan yang dikehendaki? Pelu dipahami bahwa tidaklah tepat kita memetakan ruh ini dalam konteks bereksistensi di dalam ruang dan waktu. Kitab suci juga memberikan arahan bahwa “Ruh adalah urusan tuhan dan kita hanya diberitahu sedikit.

” Nah, kata “sedikit” ini pasti tidak berarti “dilarang”. Sehingga kita pun tetap diperbolehkan untuk membicarakan dan membeberkannya di khalayak publik. Tentu saja publik yang memiliki kepekaan untuk meraba kebenaran. Bukan publik yang emosional, dogmatis dan menganggap bahwa keyakinan adalah sesuatu yang sudah baku dan tidak boleh dikritisi. Publik yang seperti ini malah jauh dari kebenaran yang merupakan jalan Tuhan memberikan petunjuk kepada manusia.

Siapa menyuruh kita menjadi dogmatis? Tuhan saja bilang pada kita: La ikraha fiddin… Tiada paksaan dalam agama. Memaksakan keyakinan agama dengan paksaan berarti tidak toleran kepada kepercayaan yang lain. Ini justeru sangat dikutuk Tuhan.

Kembali ke ruh. Untuk mendapatkan pengetahuan tentang ruh ini, kita mendapatkannya melalui cara yang berbeda yang biasa ditempuh apabila kita ingin menggali sebuah fenomena alam. Kenapa? Sebab ruh ini adalah substansi yang berdiri sendiri dan ada di dalam dirinya sendiri. Substansi adalah hakikat sesuatu dan hakikat jelas dilekati oleh berbagai aksidensi khusus. Musalnya berada di dalam ruang dan waktu, jenis, sifat, jumlah, kualitas dan sebagainya.

Sementara ruh-nya sendiri adalah sesuatu yang abstrak yang bisa ditangkap dengan kesadaran yang paling jelas dan nyata. Bila memahami fenomena alam kita menggunakan akal dan penalaran menggunakan metode ilmiah, maka mengenal eksistensi ruh ini kita menggunakan akal khusus yaitu akal budi.

Apa itu akal budi? Akal budi adalah daya pencipta pengertian-pengertian murni yang tidak diberikan oleh pengalaman. Akal budi tidak memiliki nilai konstitutif bagi daya pengenalan manusia. Artinya tidak ikut menyusun pengenalan manusia, dan tidak memberi gagasan tentang kenyataan-kenyataan yang ada dan tidak berada sebagai benda. Akal budi oleh karena itu merupakan sumber hidup manusia yang sesungguhnya. Sebab manusia pada dasarnya sudah diinstal secara lengkap untuk mengenali jati dirinya yang paling sejati.

Setidaknya, manusia sudah diinstal tiga software pokok. Software pertama pengetahuan tentang ruh, software kedua pengetahuan tentang dunia hakikat dan software ketiga pengetahuan tentang Tuhan. Ketiga software ini tidak perlu pembuktian teoritis karena sudah merupakan postulat dasar yang apabila dibuktikan justeru akan mengalami sesat pikir. Bila tidak perlu dibuktikan keberadaannya, maka idealnya manusia perlu mengalami ruh itu sebagai entitas yang tersendiri dan obyektif. Sehingga manusia tetap yakin bahwa ruh benar-benar ada dan tidak hanya sebatas wacana. Toh, tidak haram untuk merasakan adanya ruh.

Pengalaman manusia yang paling memungkinkan untuk menggali kekayaan ruh adalah MENGALAMI PERJALANAN HIDUP DI DALAM RUANG DAN WAKTU, dan kemudian mengalami kejadian-kejadian khusus sehingga dia yakin. Pernahkah Anda mendengar ada orang mati kemudian hidup kembali? Atau orang-orang yang koma? Apa yang diceriterakan oleh mereka yang sudah mengalami NEAR DEATH EXPERIENCE ini akan memberikan banyak pengetahuan tentang ruh.

Ada seorang teman saya, inisial NZ menceritakan saat-saat genting ketika dia mengalami kecelakaan parah saat sepeda motor yang ditumpanginya disenggol truk tronton. NZ terjatuh, kepalanya terbentur ban tronton yang berputar cepat. Kepala NZ nyaris terlindas dan akhirnya sepeda motornya yang menjadi korban. Hancur tidak berbentuk. Dia koma beberapa minggu sebelum akhirnya sadar sekitar satu bulan setelah kecelakaan yang nyaris merenggut nyawanya.

“Saat saya jatuh dari motor, saya sadar. Bahkan ketika roda tronton itu mengenai kepala saya. Saya tidak merasakan sakit. Setelah itu, saya tahu saat itu saya pingsan dan dibawa ke rumah sakit dan disana saya menunggu tubuh saya yang tidak bergerak lagi. Saya tahu para sohib yang datang menjenguk. Ada yang nangis. Saya tahu mereka tapi saya tidak tahu harus berbuat apa… Saya cuma menunggu saja…”

Kisah ini lain dialami tetangga desa yang memiliki pengalaman luar biasa. Sebut saja Pak S. Dia sudah dinyatakan meninggal dunia karena berusia lanjut. Orang desa pun memakamkannya. Beberapa hari kemudian, kuburannya terbuka dan dia bangun dari kematiannya. Gemparlah desa tersebut. Si mayat yang hidup kembali itu konon sudah dialaminya yang keempat kali. Yaitu mengalami kejadian yang sama: hidup lagi setelah dianggap meninggal dunia. Nah, dia akhirnya benar-benar mengalami kematian dan tidak hidup lagi setelah kematiannya yang kelima.

Saya tidak sempat mewawancarainya dan yang sempat mewawancarainya adalah teman karib saya. Pak S menceriterakan dia saat dinyatakan meninggal dan dikubur tersebut, dia mengetahui kejadian itu namun tidak bisa berbuat apa-apa. Tubuh fisik dan akalnya sudah tidak berdaya. Tapi dia tahu kejadian-kejadian yang menimpanya.

Banyaknya kejadian orang yang mengalami NEAR DEATH EXPERIENCE atau pengalaman saat mengalami kematian sementara ini membuktikan satu keyakinan: bahwa ada “sesuatu” yang hidup, buktinya mereka mengetahui proses saat akan mengalami kematian hingga proses lanjutan saat dia pingsan. “Sesuatu” yang menyadari, mengetahui, dan bisa menceriterakan kembali kejadian-kejadian runtut itulah akhirnya bisa disimpulkan bahwa ada satu entitas metafisis dalam diri manusia. Entitas itu kemudian disebut dengan RUH.

Terserah, apa sebutan lain bagi RUH ini. Yang jelas ruh ini tidak akan tersentuh kematian, ruh juga tidak tersentuh rasa sakit fisik. Ruh tidak mengalami saat-saat kejadian dalam ruang dan waktu tertentu. Dengan demikian RUH BERSIFAT ABADI. RUH SELALU DALAM KEADAAN HIDUP SAMPAI KAPANPUN DAN DIMANAPUN. RUH SELALU SADAR DAN TIDAK MENGENAL TIDUR. RUH ADALAH TUHAN DALAM DIRI MANUSIA.

Makanya, tidak salah bila dalam kitab suci dikatakan untuk mengenal Tuhan maka kita tidak perlu jauh-jauh mencari ke negeri Arab, tidak perlu jauh-jauh ke Betlehem, tidak perlu jauh-jauh ke India namun kita hanya diminta mengenal diri sendiri. Mengenali apa yang sesungguhnya paling sejati di dalam diri manusia. “Kenalilah dirimu sendiri, maka kau akan mengenal Tuhanmu.”

Ya, di dalam diri manusia ada “kitab teles”, ada “kitab basah” yaitu “kitab yang benar-benar kitab” yaitu menunjuk langsung pada KENYATAAN, bahwa Dzat Tuhan ada di dalam diri manusia. Tidak ada dualitas karena sesungguhnya RUH MANUSIA DAN DZAT TUHAN TIDAK BERBEDA. KEDUANYA SESUNGGUHNYA SATU KESATUAN.

Terakhir, bila kita sudah beranjak untuk memahami hakikat keberadaan segala sesuatu bahwa hanya ada satu Dzat Tuhan saja, maka kita perlu waspada dengan segala klaim pengetahuan akal yang sudah kita miliki tentang Tuhan. Sebab: “Sejatine kabeh kui ora ono. Sing Ono Kui Dudu…”

wongalus

Categories: HIDUP SEMENTARA | Tags: , , , | 15 Komentar

KAMPUNG BATIN


Sebulan penuh berpuasa, tibalah saatnya kita memasuki yang batin… Menggapai dasar kesadaran ruhaniah di hari kemenangan Iedul Fitri. Berpuasa berarti sebuah momen olah raga, ,menahan diri dari makan, minum, berhubungan seks, menahan mulut dan semua jasad dari keinginan yang biasa dilakukan oleh kaum muslimin.

Selain itu, puasa juga momen yang baik untuk olah rasa atau olah batin untuk menyadari bahwa antara kebutuhan raga dan rasa itu sangat beda. Kebutuhan batin berupa ketenangan, kedamaian, kebeningan, keadilan, keakraban, bahkan sampai pada kebersatuan rasaku dengan Rasa – MU, yaitu rasanya Gusti Allah.

Nah, apakah hingga selesainya ramadhan kita sudah merasakan berbagai rasa tadi? Bila belum, maka kita perlu meneruskan usaha batiniah hingga tingkat tertinggi. Sebab pada hakekatnya, semua bulan dalam satu tahun, setiap saat kita ini diberi kesempatan untuk berolah raga puasa, dan berolah rasa batin.

Iedul fitri bagi kalangan ahli kebatinan adalah momen mengingat kembali jati diri manusia, bahwa dia ada untuk manembah kepada Gusti. Sebagaimana perjanjian antara ruh dengan Gusti sebelum dia dilahirkan ke dunia. Itulah jati diri manusia yang harus terus diingat dan diusahakan sepanjang hidup manusia.

Jati diri bahwa manusia sebenarnya harus hidup di kampung batin……….. Selamat iedul fitri 1430 Hijriyah, mohon maaf lahir dan batin.

Puncak Lawu, 1 Hijriyah

by wongalus

Categories: KAMPUNG BATIN | 17 Komentar

INTI KEKUATAN BATIN


Mari kita bedah bersama-sama, inti kekuatan batin kita dengan harapan bisa dimanfaatkan untuk tujuan-tujuan yang luhur dan mulia.

Inti kekuatan batin bisa dijelaskan sebagai berikut.

1. TUHAN ASAL SEMUA ENERGI. Inti kekuatan batin yang pertama adalah Pemberian Tuhan. Dialah sumber dari segala sumber energi, tenaga dan kekuatan. Sumber energi dan kekuatan yang lain itu hakekatnya berasal dari Tuhan Yang Maha Kasih dan Sayang. Dia adalah sumber dari semua sumber apapun di alam semesta. Dibutuhkan keyakinan yang mendalam untuk mengakui bahwa Tuhan adalah satu-satunya sumber kekuatan ini. Dari mana asal keyakinan? Asalnya tetap yaitu dari Pemberian Tuhan. Maka, jika Anda sudah memiliki “keyakinan” maka itu artinya Tuhan sudah memberikan anugerah kekuatan batin yang perlu dirawat, dijaga dan diitingkatkan.
Maka, langkah pertama bila ingin memiliki batin yang sangat kuat maka mintalah kepada Tuhan dengan sungguh-sungguh.

2. PASRAH/SUMELEH/SUMARAH PADA-NYA. Inti kekuatan batin yang kedua adalah kepasrahan total pada kehendak-Nya. Apabila Anda terus menerus berkomunikasi dengan Tuhan, maka Anda akan menerima dengan senang hati dan ikhlas semua pemberian-Nya. Senang, susah, derita, bahagia, sedih duka lara nestapa maupun senyum akibat musibah maupun berkah hendaknya diterima dengan kepasrahan. Kepasrahan adalah usaha aktif mental dan batin kita untuk mengakui Kemahakuasaan Tuhan. Ya, langkah kedua bila ingin memiliki batin yang sangat kuat maka pasrah saja kepada Tuhan dengan sungguh-sungguh pasrah.

3. USAHA AKTIF BATIN UNTUK MERANCANG RENCANA BERSAMA SANG MAHA INSINYUR YAITU TUHAN: VISUALISASI.

Inti kekuatan batin ketiga adalah visualisasi. Visualisasi hakikatnya adalah melanjutkan usaha aktif batin dengan cara membayangkan sesuatu yang belum ada menjadi ada dan hadir nyata berada di depan kita. Visualisasi adalah kekuatan pikiran kita untuk merancang sebuah karya bersama-sama Sang Maha Insinyur yaitu Tuhan. Kita bersama-sama dengan Tuhan seakan menggambar obyek-obyek berdasarkan atas apa yang sudah kita lihat dan berdasarkan atas apa yang kita alami sehari-hari.

Visualisasi memberikan pengaruh sangat kuat terhadap kegagalan dan keberhasilan usaha meraih keinginan. Ketika otak kita membangun bayangan tentang sesuatu yang ingin dicapai, maka kita sesungguhnya tengah membangun sebuah gedung di alam kenyataan. Harap diketahui bahwa otak kita sesungguhnya adalah insinyur batiniah yang akan mewujudkannya dalam realitas. Jaringan sel dalam otak ini akan mampu mendorong kita untuk juga meraih kesempurnaan kenyataan.

Bagaimana melakukan visualisasi? Pertama adalah, memperjelas keinginan atau tujuan yang ingin dicapai. Keinginan yang ingin kita raih harus bersifat spesifik. Misalnya: Anda membayangkan ingin memiliki isteri cantik. Kemudian mulailah melakukan visualisasi pada saat Anda sedang santai. Kenapa santai? Karena di saat santai dan rileks, gelombang otak kita memasuki stage alfa teta. Ini akan membuat otak anda lebih mudah untuk menggambar kenyataan. Kedua fokus pada tujuan sedetail mungkin. Bayangkan warna, detail, bentuk, dimana, kapan, bayangkan pula suasana dan situasi saat Anda memiliki isteri cantik. Ketiga, libatkan emosi anda sekuat-kuatnya. Bagaimana rasanya mampu mendapatkan isteri cantik dengan sempurna? Bagaimana rasanya bisa benar-benar memiliki isteri yang cantik. Menyertakan perasaan dan emosi akan memperkuat sistem “cara kerja yang sistematis” dalam otak yang merupakan desain kenyataan. Selanjutnya lakukan visualisasi berulang-ulang.

4. DOA. Inti kekuatan batin keempat adalah doa. Doa adalah adalah kalimat afirmasi/penegasan yang diulang-ulang dan nyaris monoton. Hakekat doa adalah sebuah kesaksian kita di depan Sang Hakim, yaitu Tuhan. Kata-kata afirmasi yang membentuk kalimat “khusus” yang akan memunculkan energi gaib yang luar biasa dahsyat. Kata akan menjadi mantra yang mampu menghimpun semua daya yang ada di alam semesta untuk menyatu dan mengarah pada obyek doa. Mantra itu ibarat sinar laser yang terkumpul dari jutaan, milyaran bahkan trilyunan energi menjadi satu garis energi yang mampu menembus baja tebal.

Doa atau mantra yang merupakan energi spiritual kemudian akan memunculkan energi fisik yang luar biasa. Energi itu berwujud dan berbentuk macam-macam. Di Jawa, kita mengenal beragam bentuk energi yang bisa dikenali dari warnanya. Energi yang ada di alam berasal dari semua elemen pembentuknya, misalnya dari Cahaya, Api, Air, Angin, Tanah dan seterusnya. Tuhan juga membentuk semua yang ada di alam semesta ini dari elemen-elemen tersebut. Manusia diciptakan dari tanah, malaikat diciptakan dari cahaya, jin dari api, begitu pula dengan hewan di hutandan tumbuhan serta segala sesuatu yang ada di bumi ini diciptakan Tuhan dari unsur-unsur di dalam bumi sendiri.

Doa yang kita panjatkan akan memproses delapan zat yang ada di alam (permata, emas, perak, timah, tembaga, besi, garam, belerang). Doa yang dipanjatkan untuk kemuliaan hidup dunia akan memproses saripati emas dan tembaga menjadi cahaya gaib yang dinamai “Pulung” , bercahaya warna biru kehijau- hijauan, turun kepada manusia yang berbudi mulia, mempunyai watak welas asih.

Doa yang dipanjatkan untuk kemuliaan hidup di akhirat akan memproses saripati saripati perak dan timah, menjadi cahaya gaib yang dinamai “Wahyu” , bercahaya warna putih kekuningan, turun kepada manusia yang berhati bersih, berwatak tanpa pamrih, berbudi pada sikapnya.

Doa yang dipanjatkan untuk mencapai kepemimpinan akan memproses saripati emas, perak dan besi, menjadi cahaya gaib yang dinamai “Daru” , bercahaya warna kuning besar seukuran buah kelapa, turun kepada manusia yang berhati bersih, sabar, tawakal, berjuang demi sesama, dan bersikap adil paramaarta.

Doa yang dipanjatkan untuk kehancuran makhluk-Nya akan memproses saripati timah, tembaga dan besi, menjadi cahaya gaib yang dinamai “Teluh”, bercahaya warna merah keunguan, turun kepada manusia yang asusila, jail, ugal ugalan, tidak mengerti hakekat benar dan salah.

Doa yang dipanjatkan untuk menuruti kesenangan hidup dunia dan akhirat akan memproses saripati besi, garam dan belerang, menjadi cahaya gaib yang dinamai “Guntur” , bercahaya warna ungu gelap, turun kepada manusia yang hanya menuruti hawa nafsu, angkara murka, dan tidak bersyukur.

Bagi para pejalan spiritual, yang perlu diketahui bahwa setiap pengharapan yang ada di hati kita merupakan doa. Itu adalah wujud kasih sayang Tuhan sang Pencipta yang maha mendengarkan setiap keinginan dan harapan manusia. Benar bila dikatakan bahwa manusia adalah makhluk yang paling sempurna diantara makhluk lain ciptaan-Nya, sebab dia diberi budi luhur yang lebih sempurna. Oleh sebab itu, manusia wajib mengetahui akan hakekat kemanusiaannya sehingga dia mengerti akan sangkan paraning dumadi.

5. METODE ATAU CARA. Ini adalah kunci terakhir inti kekuatan batin. Kekuatan Batin bisa dicapai dengan banyak metode atau cara. Kita mengenal ribuan metode atau cara untuk menggali kekuatan batin yang tersembunyi pada diri manusia. Di India, kita mengenal tradisi Yoga, di Barat kita mengenal tradisi meditation, di Indonesia kita mengenal semedhi, maladehing, manekung, maneges. Di negara-negara arab, kita mengenal tradisi bertahanut dan seterusnya. Cara boleh berbeda namun semuanya bermuara pada inti yang sama; yaitu bagaimana kita memfokuskan keinginan agar nyambung dan menyatu dengan iradat-Nya.

Wongalus

Categories: INTI KEKUATAN BATIN | 44 Komentar

MEMBUAT PAGAR GAIB


Olah rasa atau batin yang kuat akan memunculkan energi spiritual yang kuat pula. Bisa disalurkan untuk membentengi diri dan barang-barang milik kita dari pencurian dan serangan gaib pihak lain. Dalam khasanah ngelmu kebatinan dikenal dengan membuat pagar gaib. Caranya?

Kemusyrikan berawal dari ketidaktahuan. Ketidaktahuan inilah yang harus diganti dengan pengetahuan sehingga kita bisa terbebas dari kemusyrikan. Kemusyrikan adalah penyembahan kepada kepada makhluk baik makhluk hidup berupa pohon, binatang, jin, manusia maupun makhluk yang “tidak hidup” atau yang tidak memiliki nyawa bisa berupa benda-benda khusus seperti jimat, patung, komputer, uang, jabatan, kekayaan dan sebagainya.

Ajaran agama jelas melarang segala bentuk kemusyrikan atau dikenal dengan ajaran tauhid. Yaitu yang terangkum dalam satu kesimpulan penghayatan total, final dan eternal pergelaran yang ada. Kalimat itu adalah La ilaha ilallah, yang diartikan sebagai TIDAK ADA TUHAN (sesembahan yang patut disembah) selain ALLAH. Ini membutuhkan sebuah kondisi psikologis yang khusus dan berat: yaitu kepasrahan total, sumarah, sumeleh kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.

Bagaimana bila kita percaya kepada dokter agar sembuh dari penyakit? Ini sama saja dengan musyrik atau mempersekutukan Tuhan. Bagaimana bila kita percaya kepada kekayaan agar bisa sukses? Ini juga disebut musyik. Bagaimana bila kita percaya bahwa sekolah dan pendidikan, gelar, jabatan kekuasaan sebagai cara untuk mencapai kemuliaan hidup? Ini juga termasuk mempersekutukan Tuhan. Bagaimana bila kita masih percaya pada akal budi, dan batin kita sendiri sebagai sumber pengetahuan yang bebas dari kemusyrikan? Ini juga termasuk musyrik…..

Harus diakui, pada derajat-derajat tertentu, kita masih termasuk golongan yang mempersekutukan Tuhan. Sehingga untuk mencapai TAUHID yang murni, yaitu hanya percaya bahwa satu-satunya Dzat yang wajib disembah dan diyakini sebagai SATU-SATUNYA SUMBER KEBAHAGIAAN, KESUKSESAN, KEMULIAAN adalah sebuah derajat kemanusiaan tertinggi. Makrifat kepada Allah SWT tercapai bila kita sudah mampu untuk bertauhid secara murni.

Tugas berat namun mulia. Berat karena kita butuh perjuangan untuk yakin bahwa akal budi, batin, serta semua nilai-nilai maupun benda-benda tersebut sesungguhnya hanyalah alat dan cara. Mereka semua bukan TUJUAN. Dokter adalah alat dan cara, uang adalah alat dan cara, kekuasaan dan kebahagiaan adalah alat dan cara untuk memperoleh keselamatan, dan seterusnya. Sehingga mau tidak mau kondisi bertauhid adalah menjadikan semua alat dan cara itu perlu untuk mencapai tujuan. Kebahagiaan, kesuksesan, kemuliaan adalah tangga menaiki tujuan. Tanpa adanya tangga, mustahil kita mampu mendaki untuk mencapai TAUHID.

Setelah kita memahami paradigma ketauhidan, maka pada kesempatan kali ini, ijinkah saya untuk membeberkan sebuah teknik untuk memagari diri dan semua yang masih kita klaim sebagai milik kita (padahal sesungguhnya semua ini termasuk milik-Nya) dari serangan gaib pihak yang lain. Ya, kita tetap perlu hati-hati agar terhindar dari menyeleweng dari keyakinan bahwa semua ini sumbernya tetap Allah SWT.

Pada suatu kesempatan saat saya di Gianyar Bali, saya mewawancarai seorang pemuka adat. Saya menanyakan kenapa rumah-rumah di Bali selalu ditunggu penjaga yang berupa makhluk halus (jin) di depan rumah.

Saya mendapatkan jawaban sebagai berikut: “Makhluk halus ini bagi warga Bali bukan diposisikan sebagai musuh. Mereka teman kita yang bisa untuk menjaga rumah. Kami memberi mereka sesajen setiap hari.. selain sebagai bentuk sukur pada Hyang Widi, juga sebagai bentuk penghormatan kami kepada makhluk ciptaan-Nya, di antaranya mahluk halus…mereka akan menjaga rumah kita karena kita juga menghormati keberadaannya”

Sebuah jawaban yang sangat bijaksana. Semua makhluk (baik yang hidup dan nyata maupun makhluk yang tidak kasat mata/makhluk halus) sebenarnya juga wajib dihargai dan dihormati. Manusia harus bertoleransi dan tidak saling menyakiti. Itu sebabnya, di Bali setiap pohon yang ada penghuni makhluk halus diberi kain kotak hitam putih dan diberi sesajen. Dalam konteks pagar gaib, maka orang Bali sudah membentengi benda dan barang-barang miliknya dengan menggunakan makhluk halus…

Bagaimana di Jawa? Bisa kita saksikan di lingkungan sekitar kita, rumah-rumah rata-rata orang Jawa tidak memiliki pagar gaib. Jangankan makhluk halus, pohon-pohon besar saja sekarang sudah banyak yang ditebangi digantikan pohon-pohon perdu, bunga-bunga yang hanya berfungsi estetis belaka. Padahal, ditilik dari segi kelestarian lingkungan hidup keberadaan pohon-pohon besar jelas sangat menguntungkan hidup manusia. Ya, penghormatan kita terhadap alam semesta memang mengalami degradasi…. bahkan kita tega bila hutan dirusak dan kayunya dijual.

Bila penghargaan terhadap lingkungan hidup jangan diharap kita bisa mendapatkan kekuatan alam sebagai pelindung hidup kita. Sebaliknya, pertahanan gaib manusia akan jebol dan bersiap-siap saja menunggu datangnya serangan balik dari lingkungan. Buktinya, situ gintung yang jebol, tanah longsor dan banjir menjadi fakta yang kita temui sehari-hari di kampung kita sendiri. Benar-benar mengerikan.

Pergaulan antar sesama juga mengalami degradasi. Kita menganggap orang lain sebagai musuh dan saingan untuk mencapai kesuksesan. Paling-paling, keberadaan orang lain hanyalah sarana agar kita bisa menjalin relasi yang ujung-ujungnya untuk egoisme pribadi. Kebaikan dan keakraban kita kebanyakan dilatarbelakangi oleh motif kita agar dikagumi, dipuja dan sukur-sukur mau untuk kita jadikan kuda tunggangan suksesnya bisnis kita. Wah, manusia macam apa kita ini?

Di tengah keruhnya situasi dan kacaunya nilai-nilai kemanusiaan yang seperti di atas itulah muncul banyaknya para dukun dan paranormal untuk menyediakan jasa menjual PAGAR GHAIB. Pagar gaib versi paranormal dan dukun jelas untuk kepentingan individual dan sesaat belaka. Pagar gaib itu akan melindungi pemiliknya dari pencurian, perampokan dan pengerusakan. Rumah yang diberi pagar gaib akan terhindar dari orang lain yang berniat jahat. Kalaupun toh masih ada pencuri yang bisa masuk ke pekarangan rumah, misalnya, maka pencuri akan kebingungan dan merasa tidak memiliki keberanian untuk mengambil benda-benda milik kita.

Bila kita sudah memiliki kedewasaan mental spiritual dan situasi/kondisi psikologis kita sudah siap untuk tidak masuk ke wilayah MEMPERSEKUTUKAN TUHAN, maka tidak salah untuk membuat PAGAR GAIB sendiri yang terbebaskan dari syirik. Bagaimana caranya? Metode yang dipaparkan dibawah ini menggunakan cara yang sederhana dan tanpa menggunakan makhluk halus namun memanfaatkan energi alam semesta agar alamiah dan terhindar dari ketergantungan akut pada makhluk yang lain.

Pertama, tetapkan niat bahwa semuanya ini sumbernya dari Allah SWT, dan kekuatan yang dimiliki oleh makhluk-makhluk-Nya ini sumbernya juga dari DIA juga.

Kedua, SERAP DAN SATUKAN energi Anda dengan energi alam semesta yang ada di sekeliling Anda. Dan berdoa dalam hati kepada Tuhan Yang Maha Perkasa agar niat Anda diijinkan-Nya. Tanpa ijin-Nya, semua upaya Anda pasti akan gagal…

Ketiga, lakukan kontak energi berupa menyerap dan mengarahkan energi batiniah Anda untuk memagari benda-benda milik Anda. Caranya sederhana: heningkan cipta sesaat dan bayangkan sebuah bola kristal berada di kedua tangan Anda. Masukkan benda-benda yang ingin Anda lindungi tersebut ke dalam bola kristal tersebut dan berikan pancaran energi batiniah dengan mengatakan dalam hati:

“MOBIL/RUMAH/SPD MOTOR/DIRI ANDA SENDIRI ini sudah ada dalam bola kristal gaib pemberian-Nya… kau akan aman terhadap segala bentuk kejahatan”

Selanjutnya adalah lemparkan bola kristal yang berisi bayangan benda-benda milik Anda tersebut ke angkasa dan setelah itu lupakan.

Kenapa bola kristal gaib ini harus dilupakan sesaat setelah diterbangkan ke udara? Sebab bola kristal itu akan memasuki langit keikhlasan. Tanpa memasuki langit keikhlasan, maka bola kristal yang Anda buat tidak memiliki kekuatan gaib.

Ya, Anda harus ikhlas bahwa Anda sudah berusaha secara batiniah dengan pasrah total apapun hasilnya kepada Tuhan. Semakin Anda ikhlas, maka semakin kuat energi batiniah Anda. Jin dan makhluk halus yang ingin memasuki pagar gaib Anda akan terlempar dan menjauh. Manusia yang memiliki niat jahat pun akan mengurungkan niatnya. Semuanya pasti ATAS IJIN ALLAH SWT.

Langkah terakhir setelah Anda berupaya secara gaib adalah melakukan pengamanan harta milik Anda secara standar sebagaimana biasanya. Baik itu menggunakan gembok, dikunci dan diletakkan dengan benar dan sebagainya. Sebab, setelah berdoa Rasulullah juga mengikat unta agar tidak lepas dari tangannya. Nah, mudah bukan?

wongalus

Categories: PAGAR GAIB | 31 Komentar

TEKNIK MENDETEKSI BENDA BERTUAH


Kata “bertuah” seakan sudah menjadi kata milik jagad perdukunan alias jagad perklenikan. Terus terang, awalnya saya sangat ragu menggunakan kata “tuah” ini. Sebab kata ini mungkin sudah masuk daftar wajib sensor dan diharamkan. Kepada para Pembaca santri dan pak kyai yang budiman, saya mohon maaf…

Namun, kata inilah yang paling “umum” dan dikenal luas oleh masyarakat. Mohon maaf sebelumnya, bila saya terpaksa harus ikut-ikutan menggunakan kata “bertuah” ini. Tidak ada maksud sama sekali untuk ikut serta melanggengkan kepercayaan yang mungkin kurang pada tempatnya tersebut. Saya justeru berharap dengan artikel ini nantinya pembaca semakin mengenal hakikat benda-benda. Marilah kita mulai saja.

Pertama, benda-benda pada dirinya sendiri (das ding an sich) itu bebas nilai. Ia ada dan keberadaannya obyektif. Sementara yang memberi muatan nilai adalah manusia, sebagai sosok sang penilai. (sebenarnya ini juga bisa diperdebatkan,,… namun saya batasi dengan kalimat ini untuk kemudian nanti bisa didiskusikan bersama). Contoh: “celurit tetap celurit.” Substansinya ya celurit. Obyektif artinya kita semua bisa melihat celurit bersama-sama tanpa berubah substansinya.

Kedua, manusia sebagai sang penilailah yang memberi arti, makna, fungsi yang disesuaikan dengan fakta, faktor dan perannya masing-masing. Karena manusia yang memberi penilaian maka benda bisa bermuatan subyektif. Celurit bagi saya merupakan benda yang bermanfaat untuk membabat rumput yang liar tumbuh di halaman. Bagi polisi yang menyelidiki kasus pembunuhan, ditemukannya celurit yang bersimbah darah akan menjadi barang bukti yang memiliki nilai tinggi di pengadilan. Bagi orang tua, celurit adalah benda berbahaya yang harus dijauhkan dari anak-anak. Dan seterusnya…

Kembali ke tema awal: apa benda “bertuah” alias “berenergi” itu?

Benda bertuah adalah benda yang sudah diberi muatan nilai tertentu oleh seseorang, nilai itu bisa berupa “kesaktian”, “kemanfaatan”, “keberkahan” dan seterusnya. Sifatnya jelas subyektif tergantung pada keyakinan dan pengalaman seseorang bersinggungan dengan nilai-nilai tersebut.

Ada yang menjawab bahwa benda dikatakan bertuah bila memiliki energi tertentu. Tolok ukur yang eksak misalnya yaitu sudut tinjau ilmu fisika. Bahwa setiap benda memiliki kerapatan atom, energi dan massa tertentu yang berbeda-beda sehingga materi benda bisa diukur dengan alat ukur tertentu.

Yang jelas, bila benda sudah diberi muatan nilai akan memiliki nilai subyektivitas tertentu…Marilah kita memperdalam sudut pandang ini.

Benda apapun itu, pasti memiliki sebuah “energi spiritual” tertentu. Benda tertentu akan memiliki keterlibatan dengan sejarah hidup seseorang. Saat melihat sebuah cincin kawin, ingatan saya langsung melayang pada saat pertama kali melamar isteri saya. Saat melihat keris, ingatan saya langsung melayang pada bagaimana hebatnya empu nenek moyang kita berjuang mati-matian untuk membuat benda cagar budaya tersebut. Dan seterusnya…

Energi spiritual yang melekat pada benda-benda oleh karenanya bisa dideteksi dengan mempelajari latarbelakang ‘ada’-nya benda tersebut. Itu sebabnya tombak kyai pleret yang tersimpan di Kraton Yogyakarta dipercaya “sangat bertuah” karena memiliki sejarah yang panjang. Atau Keris Kyai Sengkelat, atau yang lain dan seterusnya….

Mempelajari riwayat atau sejarah sebuah benda jelas memerlukan ilmu pengetahuan misalnya arkeologi, ilmu sejarah dan lain-lain. Ilmu yang demikian adalah hasil dari olah pikir para sarjana yang gentur membaca buku referensi dan akhirnya memiliki keluasan pengetahuan tentang sejarah sesuatu.

Namun, kita tidak menutup mata dengan adanya ilmu batiniah untuk menerawang benda-benda bertuah ini. Ilmu batiniah adalah sebuah fakta yang ada di masyarakat dan hingga kini masih lestari. Ini adalah budaya spiritual nusantara Indonesia yang adiluhung lho. Kita tidak boleh menutup mata dengan menganggap budaya asing lebih bernilai. Menghargai budaya asing disarankan, namun lebih luhur lagi juga menghargai budaya nenek moyang.

Untuk itu, ijinkan saya mengangkat kembali pengalaman para leluhur dulu untuk mendeteksi apakah sebuah benda itu bertuah atau tidak.

Benda yang dipercaya “bertuah” banyak wujudnya. Misalnya cincin berakik yang dipakai sebagai jimat, keris dan senjata tradisional lain yang dipakai sebagai piandel (pegangan), berbagai jenis bebatuan alami.

Terkait dengan soal bahan alamiah, biasanya mengandung unsur bio elektrik tertentu yang memang bisa dimanfaatkan sebagai alat kesehatan. Ada benda-benda yang mengandung unsur magnet alam sehingga bermanfaat untuk memperlancar peredaran darah dan sebagainya… Cara mengenalinya dengan membuka-buka buku untuk mencari info tentangnya.

Ada juga cara mendeteksi dengan jalan mengoptimalkan peran batin kita. Batin sesungguhnya selain mampu untuk diajak mengenali hal-hal gaib juga mampu mengenali nilai esoteris dari benda-benda. Cara yang saya lakukan biasanya sebagai berikut:

Mengenali benda “bertuah”
1. Lihatlah dengan cermat benda tersebut.
2. Pakai atau pegang benda tersebut pelan-pelan saja
3. Bukalah mata “batin” yang intuitif, dan ketahui apa yang ada di dalam cincin… Rasakan energi batin apa yang muncul…dingin, panas, damai, kisruh, celaka, harapan, kasih sayang…dan seterusnya… Benda pasti memancarkan sejarah tertentu. Ia merekam dan menyerap sebuah fakta-fakta dan riwayat sejarah yang panjang. Ingat benda adalah saksi bisu yang bisa “bicara” yaitu bahasa alam.
4. Benda bertuah bisa mendatangkan efek negatif yang tidak kita sadari. Ini bisa akibat energi alamiah benda tersebut, namun juga ulah “sesuatu” yang metafisis.
5. Lebih dalam lagi, bila terasa ada “sesuatu” di dalam benda tersebut maka lakukan terus pendeteksian. “Sesuatu” yang saya maksud adalah makhluk halus. (Makhluk ini bisa mendatangkan perasaan gelisah, anak isteri tiba-tiba nakal, penghuni keluarga sakit-sakitan,… disamping mendatangkan efek, misalnya mudah cari uang, enteng jodoh dan sebagainya)
6. Bila pendeteksian belum berhasil, maka boleh menggunakan cara ini: Letakkan benda bertuah tadi di bawah bantal dan mohonkan pada Tuhan agar berkenan untuk memberikan informasi terkait benda tersebut. Makhluk halus biasanya muncul dalam mimpi…
7. Bila Anda mampu berkomunikasi dengan makhluk halus “penunggu” benda tersebut akan lebih baik. Anda bisa berbagi kebijaksanaan, dan mengajaknya untuk mengutarakan kenapa dia setia menunggui benda tersebut dan seterusnya.

Banyak benda bertuah yang diisi oleh paranormal/dukun dengan makhluk halus untuk tujuan macam-macam. Misalnya untuk jimat penglaris dagangan, enteng jodoh, pagar gaib dan sebagainya… Ini tentu saja perlu dicermati kemanfaatannya. Bila Anda merasa tergantung dengan cincik akik yang Anda pakai, apakah ini mendatangkan manfaat atau tidak baik di dunia maupun di akhirat? Benda tersebut mendatangkan kemanfaatan apa tidak dengan perkembangan spiritual kita khususnya berkaitan dengan ketauhidan kita pada Gusti Allah… Boleh jadi di dunia kita mendapatkan manfaat dengan keberadaan benda-benda tersebut, namun nanti di dunia kita akan mendapatkan celaka karena sudah masuk ke wilayah “Mempersekutukan Tuhan”.. jadi ya.. hati-hati…

Bila Anda merasa tidak bermanfaat dan Anda menyadari kesalahan bahwa Anda sudah terjebak dalam perilaku syirik, maka langkah Anda adalah melakukan penyingkiran makhluk halus penunggu benda-benda tersebut. Benda-bendanya sendiri tetap boleh dipakai dan dipergunakan sebagaimana biasanya. Toh, benda kan bebas nilai… yang memberi nilai kan kita sendiri. Jadi sesungguhnya OTAK MANUSIA lah yang syirik. Bukan keris, cincin akik, dan benda-benda budaya tersebut.

Tetap lestarikan budaya spiritual nusantara yang Adiluhung! Kepada semua saudara dari Sabang sampai Merauke…dari yang agamanya Islam, Hindu, Budha, Kristen, Kong Hu Cu, Taoisme, Aliran Kepercayaan apapun yang Anda anut..marilah kita bersama-sama hidup guyub dan rukun. Tuhan kita semua Satu, cara kita menyembahnya saja yang beda-beda….

wongalus

Categories: DETEKSI BENDA BERTUAH | 149 Komentar

Teknik Berkomunikasi dengan Jin Memakai Perewangan


Ada salah satu teknik untuk berkomunikasi dengan jin yang paling mudah untuk mengetahui keinginan jin. Yaitu memasukkan jin ke dalam tubuh seseorang. Di Jawa, kita mengenalnya dengan ilmu perewangan.

Perewangan berasal dari kata Jawa “rewang” yang artinya menolong. Maka, “rewang” mengacu pada seseorang yang bersedia jasadnya untuk dijadikan medium makhluk jin. Ilmu perewangan sangat umum dipakai untuk berkomunikasi dengan jin seperti bila kita berbicara dengan sesama manusia. Jin jelas membutuhkan sarana bantu untuk memasuki dunia fisik. Sebab dia adalah makhluk yang sebenarnya makhluk metafisik. Bahasa yang mereka pergunakan juga sebenarnya sangat berbeda dengan bahasa yang kita pergunakan sehari-hari. Bahasa jin memiliki susunan kata-kata dan struktur kalimat yang berbeda dengan yang kita pakai dalam pergaulan antar manusia.

Dengan kata lain apabila kita berkomunikasi dengan wujud asli mereka, maka yang kita pergunakan sebenarnya adalah bahasa “rasa”, dan yang mereka mengerti adalah “kehendak”, “niat,” “kemauan” kita saja. Mereka memahami kita bukan karena susunan kata-kata yang kita pergunakan. Sama seperti kita berbicara dengan seseorang yang tidak bisa mendengar atau tuna rungu dan tuna wicara, yang kita pahami dari mereka agar mereka dan kita bisa nyambung adalah bahasa rasa dan “keinginan” saja.

Di manapun manusia yang hidup di suatu wilayah tertentu dan memiliki bahasa tertentu pula, maka jin yang hidup di sana juga mengenali bahasa manusia. Begitu pula dengan seorang paranormal/dukun akan mengerti bahasa jin dari “kemauan” jin yang dimengerti sang dukun. Nah, untuk berkomunikasi dengan jin maka tidak ada cara lain selain kita perlu mendalami bahasa “rasa” atau bahasa “batin”

Apa itu batin/rasa? Terus terang untuk menjawab ini saya tidak mengacu pada khasanah ngelmu Jawa. Saya akan mengacu pada apa yang saya alami saja dan saya akan menjelaskan melalui hal-hal yang sederhana.

Pertama, ketika Anda ingin mendeteksi benda padat inera apa yang Anda gunakan? Kedua, ketika Anda ingin mendeteksi benda cair apa indera apa yang Anda gunakan? Ketiga, ketika Anda ingin mendeteksi gas, indera apa yang Anda gunakan?

Jelas bahwa kita mempergunakan indera yang berbeda untuk merasakan kehadiran mereka. Zat padat menggunakan mata untuk mengawali pendeteksian kemudian diteruskan ke otak. Zat cair menggunakan indera peraba: kulit atau lidah kemudian diteruskan ke otak. Zat gas menggunakan indera hidung kemudian diteruskan ke otak.

Benda ada yang terlihat dan terasa oleh kulit (benda padat/cair), namun ada pula yang tidak terlihat, juga tidak terasa oleh kulit namun kita yakin ada, sebab hidung bisa mengenali zat tersebut. Nah, semakin abstrak tingkat zat, maka kita menggunakan indera yang berbeda pula.

Bagaimana bila benda tersebut sama sekali tidak bisa diindera oleh mata, kulit, hidung, lidah, telinga?

Jin adalah jenis mahluk Tuhan yang ghaib. Ghaib bisa diartikan sebagai sesuatu yang tidak bisa ditangkap oleh indera fisik. Namun manusia juga dibekali oleh Tuhan indera untuk mendeteksi yang gaib ini. Indera itu disebut dengan batin/rasa yang sama sekali bukan bersifat fisik.

Batin/rasa inilah yang menjadi modal manusia untuk mengenali dimensi metafisik atau kegaiban. Kegaiban itu bertingkat-tingkat, mulai gaibnya jin, gaibnya malaikat, gaibnya takdir, dan seterusnya…hingga gaibnya Tuhan Yang Serba Gaib.

Dzat yang gaib bisa dirasakan keberadaannya dan bisa pula kita berkomunikasi dengan mereka. Asalkan kita rajin untuk olah rasa/ olah batin maka manusia yang merupakan makhluk yang lengkap ini (berdimensi fisik dan metafisik: punya jasad namun juga punya yang gaib) pasti akan mampu berkomunikasi… inilah kehebatan manusia.

Sekarang ini, yang ditonjolkan dalam hidup sehari-hari hanya olah raga. Sepertinya manusia hanyalah memiliki raga saja. Bagaimana dengan rasa? Hampir tidak pernah disentuh dalam wacana-wacana publik sebagai hal yang perlu untuk didiskusikan, dilatih, dipertajam. Padahal, sebelum ada jasad bukankah manusia adalah ruh? Ruh lah yang akan abadi melintasi waktu hingga akhir jaman. Sementara umur jasad?? Ya usia 50-an tahun saja sudah sakit-sakitan dan bau tanah…

Kita juga terbiasa menggunakan ungkapan yang lebih mengedepankan aspek fisik daripada batin. Misalnya saat kita mengucapkan SELAMAT HARI RAYA, MOHON MAAF LAHIR BATIN… Lho mengapa kok yang batin diletakkan setelah yang lahir?? Harusnya, kita berani mengatakan MOHON MAAF BATIN LAHIR…

Inilah ironi jaman sekarang. Yang lebih cenderung untuk melihat segala sesuatu dari sudut pandang materialisme. Paham yang lebih cenderung untuk menomorsatukan materi sebagai satu-satunya kenyataan terdalam (ultimate reality). Jadinya apa? Ya akhirnya manusia tidak lebih melihat dirinya hanya sebagai “bangkai” yang tanpa “ruh”…

Kembali ke tema awal, yaitu tentang jin tadi. Bahwa karena jin adalah dzat yang gaib maka mereka hanya bisa dideteksi bila kita menggunakan indera rasa/batin saja. Kita sebenarnya sudah terbiasa untuk menggunakan indera rasa/hati/batin ini dalam hidup sehari-hari.

Marilah kita lebih fokus lagi untuk membahas yang batin ini sekaligus juga untuk mempertajam ngelmu kebatinan kita:
1. Apa yang Anda rasakan saat melihat ada teman yang sedih? Ikut sedih..
2. Apa yang Anda rasakan saat melihat ada teman yang bahagia? Ikut senang..
3. Apa yang Anda rasakan saat melihat ada bunga mekar? Takjub..
4. Apa yang Anda rasakan saat melihat matahari terbit? Tergetar…

Ini respon hati setelah “melihat” hal-hal yang tampak oleh mata. Bagaimana respon hati bila “melihat” atau “merasakan” hal-hal yang tidak tampak atau belum pernah tampak oleh mata namun kita yakin ada?

Dari sini, kita hanya bisa mengatakan: tidak mungkin…. Sebab pengetahuan kita, pandangan hidup kita dan “dunia kita” sesungguhnya dibangun oleh indera mata, telinga, hidung, peraba kulit lidah dan seterusnya… Itu sebabnya, untuk mengenali dunia ghaib, kita tidak menggunakan semua indera-indera tadi. Kita hanya menggunakan satu indera saja untuk mengenali Jin yaitu: rasa/batin yang akhirnya menimbulkan keyakinan yang haqqul yakin. Rasa/batin adalah jalur lain indera manusia yang lalu lintasnya tidak melalui indera fisik namun sudah diinstal Tuhan di dalam otak kita.

Untuk mengenali rasa/batin yang merupakan software yang sudah diinstal di otak ini, maka banyak sarana membukanya. Misalnya, para ahli yoga menggunakan sarana meditasi yaitu diam/meneng. Menutup indera mata dan membuka indera mata hati/batin/rasa dalam jangka yang lama.

Seberapa lama Anda menutup mata namun tidak tidur? Kebanyakan dari kita hanya menutup mata kalau tidur… bagaimana dengan menutup mata namun hati dan otak masih terjaga? Atau kalau ngantuk baru menurup mata. Cobalah sekarang mulai berlatih untuk menutup mata namun posisi tubuh tetap duduk, atau berjalan.

Bila kesulitan, Anda bisa menggunakan sarana kain hitam untuk menutupi mata Anda. Kemudian duduklah di kursi dengan santai selama mungkin. Bila Anda sudah terbiasa melakukan hal ini, berlatihlah untuk menutupi mata dengan kain hitam namun posisinya sekarang tidak lagi duduk di kursi, melainkan di tempat-tempat yang sepi.

Saya bahkan terbiasa duduk diam dengan mata tertutup di atas almari di kamar yang sepi… bahkan duduk diam di dalam lemari kosong yang sudah tidak dipergunakan lagi berjam-jam… Terkadang, berjalan di ruang kosong atau tempat tempat sepi..

Ini tentu saja upaya untuk mengendurkan peran jasad fisik/ raga dan menguatkan peran rasa agar semakin tajam…dan mendeteksi gerakan-gerakan batin lain yang ada di sekitar kita.. termasuk gerakan jin..

Setelah Anda terbiasa berlatih hal ini yang harus kita lakukan adalah menata niat. Niat haruslah yang baik dan pasrah total, sumarah dan sumeleh pada Tuhan.

Sekian lama berlatih, rasa batin akan secara otomatis bergetar…. bila dilatih terus… akan semakin bergerak… batin akan semakin tajam mendeteksi gerakan yang ghaib…. jin pun akan terasa berada di sekeliling kita, di depan kita, di belakang kita, di kanan kita… di kiri kita…

dan akhirnya batin kita akan sangat awas dan bisa melihat sebagaimana kita melihat dengan mata…

Bila kita melihat jin dan dia juga melihat kita maka yang perlu dilakukan sebagai berikut:

Pertama, ucapkan salam apa saja dalam hati
Kedua, sampaikan maksud Anda dalam hati
Ketiga, ucapkan selamat berpisah dalam hati

Untuk menguji keberadaan jin sekaligus untuk membuktikan apakah indera batin kita tidak menipu, maka yang perlu dilakukan adalah mengajak seseorang yang siap menjadi medium/perantara/perewangan.

Ajaklah jin yang untuk masuk ke dalam tubuh si perewangan/medium… kemudian suruh orang lain yang sudah menguasai ilmu kebatinan untuk mewawancarainya… Untuk awal, jangan terlalu lama menggunakan tubuh sang perewang. Sebab tubuh si perewang yang sudah dimasuki jin ini akan mudah capek. Sebab dia dipaksa untuk mengalahkan otaknya yang normal untuk menuruti kehendak otak lain (otak jin) yang abnormal..

Bila Anda sudah bisa membuktikan dengan eksak keberadaan jin dan mampu berkomunikasi dengannya, maka yang perlu digarisbawahi adalah menggunakan kemampuan tersebut untuk disesuaikan dengan kehendak Tuhan …yakni untuk tujuan ngelmu kebaikan yang luhur dan mulia.

Jangan mencampuradukkan antara urusan jin dengan urusan manusia. Tidak pada tempatnya manusia meminta bantuan jin untuk mendapatkan kekayaan, kekuasaan, kesaktian dan urusan keduniaan lain. Manusia harus bisa berdiri tegak untuk menuntaskan problem-problemnya sendiri, dan sebagai makhluk Tuhan dia harus pasrah total hanya pada Tuhan saja. Manusia tidak boleh takluk apalagi dikuasai oleh makhluk-makhluk-Nya. Matur nuwun dan salam apa saja…

Wong Alus

Categories: JIN: TEKNIK PEREWANGAN | 25 Komentar

KEMUKUS


Datanglah ke Gunung Kemukus setiap Kamis Pahing, Malam Jumat Pon. Anda akan mendapati tradisi turun temurun yang menyenangkan:  Ritual Seks Bebas!

Namun yang paling banyak kunjungan adalah pada bulan Suro. Tiap tahun orang yang berziarah ke Gunung Kemukus tidak pernah surut bahkan cenderung semakin banyak. Tercatat semalam yang datang ke gunung yang terletak di Sragen, Jawa tengah ini bisa mencapai 15 ribu pengunjung. Pada hari-hari biasa, pengunjung rata-rata antara 50 sampai 150-an orang. Puncak rame-ramenya pada malam 1 Suro saat dilakukan ritual membuka kelambu makam Pangeran Samodro.

Apa pesona daya tarik gunung yang lebih tepat disebut perbukitan ini? Tak lain karena di sana kita akan menjumpai “peradaban Indonesia” yang sesungguhnya. Yaitu banyaknya pengunjung dengan motif gado-gado dan sebagian besar adalah mereka yang bertujuan mencari berkah. Pengetahuan masyarakat akan hal-hal mistis yang masih dipahami sebagai klenik, serta pesona seks.

Sebenarnya, mencari berkah adalah tujuan yang mulia bila yang dicari adalah berkah dari Gusti Allah. Bila mencari berkahnya dengan cara meminta ke roh orang yang meninggal, ke jin-jin, ke batu-batu, ke kuburan keramat, mencari tuyul, dan meniduri isteri orang, maka yang terjadi jelas adalah kesesatan keyakinan.

Batin tidak akan pernah menjadi jernih laksana kaca. Batin akan tetap kotor oleh lumpur-lumpur keduniawian karena pencarian berkah, tirakat, akan bercampur baur dengan motif lain seperti selingkuh atau mencari kepuasan seksual dengan teman kencan.. Di Kemukus, kita bisa denga mudah menemukan teman kencan dan bahkan ada keyakinan bila kita mendapatkan teman kencan maka kita akan sukses karena tirakat kita diijabahi Tuhan.

Entahlah, apa ini merupakan bentuk tradisi hasil dari local genius (kearifan lokal) yang tetap harus dilestarikan atau tidak. Namun, sebagai sebuah fakta sosial keberadaan ritual seks Kemukus bisa merupakan sarana hiburan bagi masyarakat bawah laki-laki dan perempuan. Melalui ritual inilah kebebasan seks juga bisa dinikmati, bukan hanya hak pria saja namun juga perempuan.

Suasana di Kemukus memang menawarkan magnet bagi masyarakat.. kawasan yang pada hari-hari biasa gelap tiba-tiba menjadi terang seperti pasar malam. Penjual pernik-pernik mainan, penjual kacang rebus, rokok, penjual bakso hingga mie ayam menggelar dagangannya. Banyak juga yang menyewakan tikar untuk pasangan yang ingin indehoi. Di sini, indehoi sekali setahun selama tujuh tahun diyakini sarana menjadi sukses, makmur dan kaya.

Akan tidak bijaksana bila kita melihat fenomena kemukus dengan kaca mata hitam dan putih, halal dan haram… sebab sesuatu gejala memiliki latar belakang yang berlainan. Yang jelas, baik di tingkat nasional maupun lokal telah terjadi dominasi nilai-nilai ekonomis jangka pendek melebihi nilai-nilai adi luhung nenek moyang kita. Tradisi telah menjadi tradisionalisme yang tidak memiliki penggerak energi kemanusiaan ke arah yang lebih luhur.

Di Kemukus antara nasib baik dengan mengumbar syahwat memang tidak terpisahkan. Ini dilestarikan dengan sebuah keyakinan bersama yang dilakukan oleh mereka yang percaya dengan sepenuh hati. Bagaimana legenda Kemukus kok bisa jadi tradisi nyentrik seperti ini?

Syahdan, dikisahkan saat masa-masa akhir kejayaan jaman Majapahit sekitar abad 14 akibat munculnya kerajaan Islam di Jawa Tengah hiduplah di Gunung Kemukus dua manusia yang dimabuk asmara. Bukan dimabuk bir maupun mabuk dunia. Ya, mabuk asmara…

Mereka adalah Pangeran Samodro putra Raja Brawijaya Majapahit. Serta ibu tirinya yang juga selir Brawijaya, Nyai Ontrowulan. Menginjak dewasa Pangeran Samudro tiba-tiba punya krenteg atau keinginan untuk berhubungan asmara dengan Nyai Ontrowulan yang meskipun sudah berusia matang namun terlihat masih seksi.

Hubungan asmara di hati keduanya yang semakin mekar, akhirnya diputuskan untuk menikah agar terhindar dari dosa. Tempat pernikahan sudah ditentukan yaitu di Demak Bintoro. Namun, sampai di tempat tujuan pernikahan ada banyak duda kaya dan prajurit Demak jatuh hati kepada Nyai Ontrowulan yang parasnya cantik.

Para duda keren yang berduit pun berupaya menggagalkan pernikahan keduanya…. Khawatir rencana terganggu, Pangeran Samodro dan Nyai Ontrowulan lantas mengubah rencana pernikahan dan diam-diam mengadakan perjalanan ke arah selatan.

Saat berada di Gunung Kemukus, mereka tak bisa lagi menahan birahi. Di bawah pohon nagasari, mereka berhubungan seks. Masih asyik-asyiknya bercinta dan belum sampai orgasme, pasukan Demak Bintoro tiba-tiba melintas dan menghentikan dua makhluk yang dilanda hasrat ini. Terlibat adu mulut hingga berakhir pada perang kecil yang tidak seimbang.

Singkatnya, melihat Pangeran Samudro tewas di tangan prajurit demak, Nyai Ontrowulan memutuskan untuk bunuh diri dengan cundrik. Keduanya dikubur dalam satu lubang dan dalam lubang tempat terbunuhnya mereka itulah muncul sebuah sumber air jernih yang kini disebut sebagai Sendang Ontrowulan. Air sendang ini dipercaya memiliki bisa bikin orang awet muda, banyak rejeki dan tahan seks.

Dalam legenda juga dipaparkan munculnya asap, disusul suara dari atas makam Pangeran Samodro dan Nyai Ontrowulan yang baru dikuburkan. ”Barang siapa mau datang ke Kemukus dan bisa menyelesaikan hubungan seks tujuh kali, maka segala permintaanmu akan dikabulkan!!!”

Hmm… Kemukus..Kemukus…

wong alus

Categories: KEMUKUS | 33 Komentar

TEKNIK BERKOMUNIKASI DENGAN ROH ORANG MENINGGAL


Mohon dimaafkan, artikel ini berangkat dari pengalaman yang saya alami saja. Sebab akan lebih mantap perjalanan menembus dimensi yang gaib ini bila tidak hanya dibaca dan diyakini melalui kitab suci maupun buku-buku referensi, namun dialami sendiri.

Entah kenapa, ada kecenderungan dari dalam diri untuk selalu memberontak untuk tidak yakin begitu saja terhadap apa yang dipaparkan dalam kitab suci maupun buku. Menurut saya (ini adalah bentuk egoisme dan kesombongan lho… jadi mohon dimaafkan), sudah waktunya saat itu menutup buku-buku teori.

Maklum, sejak kecil, remaja hingga lulus bangku kuliah tahun 1996, atau bila dihitung, SD 6 tahun, SMP 3 tahun, SMA 3 tahun, dan es lain ada sekitar 18 tahun. Masa selama itu, pengetahuan yang saya kumpulkan hanya melalui buku tok? dan akhirnya saya mengalami kejenuhan… dan kesimpulannya: harus melalui pengalaman.. bukankah “pengalaman lebih kaya dari pengetahuan,” begitu kata A.N, Whitehead, si bapak filsafat proses dari Negeri Paman Sam.

Hingga suatu ketika, saya beranggapan sudah waktunya untuk menempuh jalur lain untuk mendapatkan pengetahuan/kawruh tentang kasunyatan. Entah itu kasunyatan yang bisa dilihat mata, hingga kasunyatan yang gaib. Yang gaib ini pun pasti bertingkat tingkat…

Maka, terbukalah kesempatan untuk membuktikan dunia gaib tersebut.

Pada suatu kesempatan, sekitar tahun 1990-an saya melayat seorang sanak keluarga yang meninggal di Kuburan Karngkajen, Pasartelo, Yogyakarta. Setelah menguburkan pak de yang meninggal dunia karena sakit, saya berjalan kaki sekitar dua puluh meter ke arah timur sisi paling utara kuburan yang hampir penuh. Kuburan karangkajen adalah kuburan yang tergolong tua. Buktinya, di sana tempat beberapa tokoh nasional yang dimakamkan. Salah satunya adalah Kyai Haji Ahmad Dahlan, tokoh pendiri organisasi sosial kemasyarakatan Muhammadiyah.

Entah kenapa, tiba-tiba muncul keinginan untuk bertemu dan bertamu dengan roh beliau. Tanpa pikir panjang, saya pun mengambil segelintir batu di atas kuburannya. Batu itu berwarna putih bersih dan saya bawa pulang ke gubuk. Tiba di rumah, saya letakkan batu itu di atas meja dan saya pun menghabiskan hari untuk bekerja disebuah bengkel las. Malam harinya, setelah saya menunaikan kewajiban sholat saya menggenggam batu tersebut. Batu adalah selain sarana pangeling-eling juga sebagai media yang pernah menyerap energi ruhani yang dipancarkan oleh roh sang mendiang, yaitu KH Ahmad Dahlan. Harap dimengerti karena batu adalah makhluk tuhan juga yang sesungguhnya dia “hidup”…

Sejenak kemudian, masih di atas sajadah saya yang masih menggenggam batu tersebut tertidur pulas oleh sebuah keheningan dzikir yang untuk meluruhkan hati dan panca indera. Ini fase saat memasuki dimensi batiniah. Apa yan terjadi kemudian, saya ditemui oleh Roh beliau dan setelah saya sampaikan niat awal untuk berguru kebijaksanaan dengan beliau.. maka saya pun mendapat wewarah agar terus nglakoni hidup sederhana, terus giat menuntut ilmu, dan memberikan kemanfaatan pada sesama makhluk tuhan yang lain. Saya pun meminta beliau untuk terus mengawal saya, dan mengingatkan bila saya melenceng dari ajaran pemurnnian tauhid kepada Allah SWT.

Setelah pertemuan dengan roh KH Ahmad Dahlan, dimensi gaib terasa begitu terang benderang. Saya memiliki sekitar 30 teman jin yang selalu nyangkruk di sekitar gubuk dan sesekali minta saran, kebanyakan bertanya tentang hal-hal yang bersangkutan dengan keyakinan. Maklum saja, untuk soal kawruh agama dari sisi hakekat para jin ini kebanyakan lebih banyak bodohnya dari pada pintarnya.

Komunikasi dengan roh memiliki banyak cara dan metode ritual. Namun, saya lebih memilih menggunakan cara yang paling sederhana. Yaitu mengambil tanah di atas kuburan, bahkan pernah mengambil kain cungkup yang dipergunakan untuk menutupi maesan yang sudah usang. Tanah dan kain tersebut saya pergunakan sebagai medium untuk berkomunikasi dengan para roh leluhur.

Tahap selanjutnya setelah kita memiliki tanah, atau benda-benda yang telah menyerap energi roh di kuburan adalah meletakkan di tempat tertentu. Setelah itu, saya biasanya bermeditasi/diam diri untuk mengheningkan seluruh panca indera dengan jangka waktu yang tidak terukur dengan masih memegang tanah yang saya masukkan ke pastik/ atau kain cungkup. Kalau bosan duduk dan berdiri, atau setelah sholat wajib saya biasanya menggunakan waktu untuk merebahkan badan. Entah ritual apa ini namanya,… yang jelas kita sampaikan niat awal bahwa kita ingin bertemu dengan roh penghuni kuburan.

Oleh sebab itu, pilihlah tanah dari kuburan orang yang Anda nilai baik, bijaksana, waskita dan winasis. Jangan asal ambil tanah kuburan karena bisa jadi roh mereka nanti malah terganggu dengan ulah Anda. Biasanya saya memilih berkomunikasi dengan para roh leluhur yang sudah terbukti memiliki track record kemuliaan dunia dan di akhirat.

Dulu, antara tahun 1999 sd tahun 2001 saya hampir setiap minggu tugas keluar kota untuk liputan kasus pembunuhan. Di setiap kuburan yang saya kunjungi, saya pergunakan kesempatan untuk mengambil tanah kuburan dan berkomunikasi dengan roh nenek moyang sebuah wilayah. Ya, hampir di setiap kuburan kita akan mendapatkan mereka yang semasa hidupnya berjasa besar untuk masyarakat. Inilah yang saya pilih untuk ngangsu kawruh pada mereka. Berguru pada mereka bagi saya lebih memuaskan karena yang ada adalah kejujuran dan tanpa pamrih keduniaan lagi. So, pasti… yang saya serap adalah nasehat-nasehat yang bagus: seperti hendaknya bertakwa pada Gusti Allah, berbuat baik pada sesama, tidak merusak lingkungan, menjaga kehidupan berkeluarga, harus selalu eling dan waspada hidup di dunia, dan hal-hal ideal yang lain…

Atau kalau kebetulan kita beruntung menemukan tokoh yang memiliki kesaktian, dia akan menurunkan ilmu-ilmu yang masih tersisa alias belum tersampaikan semasa mereka hidup di dunia. Kalau ini terjadi dan Anda merasa mampu untuk menggenggam amanah mereka, apa Anda siap?

Ini terjadi saat saya berkomunikasi dengan roh seorang tokoh yang winasis di Salakan Sewon Bantul, Yogyakarta. Namanya mbah Abu Sujak yang meninggal sekitar tahun 1980-an. Pada suatu hari saat saya berkomunikasi dengan roh Mbah Abu Sujak ini, dia ingin mengajarkan ilmu kawaskitaan pada saya. Dia bilang bahwa di alam kelanggengan (alam kubur) dia sudah tidak lagi memegang ilmu-ilmu kesaktian lagi. “Ilmu kasekten semuanya sudah saya wariskan ke anak-anak saya ngger.. sekarang saya hanya punya ilmu kawaskitan yang saya sampaikan ini, yaitu nasehat-nasehat saja. Saya ingin agar angger tahu bahwa ilmu yang manfaat adalah ilmu nasehat-nasehat yang baik… disebarkan ya ngger…kau akan selamat,” demikian sepotong ucapan beliau yang sampai sekarang masih saya ingat.

Ah, saya yang bodoh ini pun berandai-andai, misalnya dulu Mbah Abu Sujak menurunkan saya ngelmu kasekten tertentu… saya pasti sudah kondang sekarang. Sebab saya bisa mengobati berbagai penyakit, memiliki ilmu kebal, ngerti sakdurunge winarah, dan seterusnya… Akhirnya, saya menjadi dukun sakti. Tapi ternyata, apa yang saya inginkan ini tidak terjadi…

Allahu Akbar, Tuhan sepertinya memberikan saya kesempatan untuk menjadi yang bukan seperti yang saya inginkan. Dia akhirnya memberikan sesuatu katakanlah jalan nasib, yang saya yakini kelurusannya hingga saya dipilihkan jalan terbaik-Nya: jadi wong alus yang tidak tahu apa-apa saja…

Nuwun, Rahayu dan Salam sayang kagem sedulur sedaya….

wongalus

Categories: KOMUNIKASI DENGAN ROH | 66 Komentar

BERTEMAN DENGAN JIN


Berkawan dengan jin itu sah dan boleh-boleh saja. Tidak ada satu larangan pun dalam kitab suci maupun hadits untuk berteman dengan makhluk-Nya ini. Asal satu sama lain saling menghormati, kenapa tidak?

Bila hubungan antar manusia hendaknya dijaga, maka hubungan antar sesama makhluk Tuhan hendaknya juga dijalin dengan erat. Makhluk Tuhan meliputi semua yang kita lihat dan rasakan saat kita hidup. Mulai makhluk bersel satu hingga makhluk dengan tingkat kecerdasan yang tinggi.

Makhluk Tuhan bisa dilihat bila mereka memiliki panjang gelombang dan kepadatan materinya bisa membuat mata merespon keberadaannya. Makhluk dikatakan tidak kasat mata karena mereka memiliki panjang gelombang dan kerenggangan materi yang membuat mata tidak mampu meresponnya.

Jin adalah salah satu makhluk yang tidak kasat mata. Bila dikatakan “melihat” jin itu berarti kita tidak melihat dengan mata fisik seperti kita melihat benda-benda. Sebenarnya lebih tepat kita hanya bisa merasakan keberadaan jin dengan rasa yang tidak menipu dan tidak direkayasa. Yaitu rasa yang jujur, polos, apa adanya yang berada pada kondisi kejiwaan tanpa keakuan, atau berada pada posisi nol.

Namun, berbeda dengan benda-benda yang pasif, jin memiliki sifat aktif sebagaimana manusia yang memiliki kehendak dan nafsu tertentu. Salah satu kehendak jin, dalam konteks hubungan antar dimensi adalah menampakkan diri ke dalam wujud fisik sehingga panjang gelombang dan kerapatan materinya bisa tertangkap oleh mata manusia.

Berbeda dengan jin yang dikaruniai mata untuk bisa melihat dunia fisik yang dihuni manusia, manusia secara umum tidak bisa melihat jin, merasakan keberadaan jin, apalagi berkomunikasi secara intensif dengan jin. Meskipun demikian, manusia manusia juga diberkahi sebuah alat canggih untuk meraba, merasa, menangkap eksistensi yang tidak kasat mata. Alat canggih itu semacam radar yang ditanamkan di otak manusia. Terletak pada sistem limbik dimana di sana juga menjadi pengendali emosional, rasa, batiniah manusia.

Bila radar itu telah ditemukan, kemudian dilatih dan dirawat baik-baik maka radar akan mengenali setiap pergerakan obyek metafisik di yang melintas dalam radius tertentu. Jauh dekatnya radius obyek yang tertangkap radar, sangat bergantung pada jenis dan kualitas radar yang Anda miliki. Jenis dan kualitas radar yang baik adalah mampu menjangkau dimanapun obyek metafisis berada.

Namun sekali lagi, di alam metafisis ruang dan waktu bisa sangat relatif. Jarak ruang dan waktu masa lalu, masa kini dan masa depan tidak menjadi soal karena radar bisa disetel sesuai keinginan. Manusia sungguh luar biasa, dengan alat radar yang canggih dia bisa mengakses kawruh kapanpun dia mau.

Kenapa? Sebab setiap peristiwa di dunia fisik sebenarnya tidak pernah hilang begitu saja. Setiap peristiwa akan abadi terekam secara metafisis di alam semesta. (Akan dibahas di laun waktu)

Kembali ke soal jin. Secara garis besar, kita sudah mengerti bagaimana teknik berkomunikasi dengan jin yaitu dimulai dengan menajamkan intuisi untuk menangkap hakikat obyek-obyek metafisis. Keahlian itu adalah keahlian untuk olah batin kita untuk melakukan tiga reduksi (artikel sebelumnya: Teknik Berkomunikasi dengan Jin).

Hubungan manusia dengan jin yang ideal adalah hubungan pertemanan, kita bisa meminta mereka untuk melakukan sesutu dengan sukarela. Bila mereka mau ya monggo namun bila mereka tidak mau ya jangan dipaksa. Kecuali bila jin sudah mengganggu kita, maka manusia wajib untuk mempertahankan diri dan meminta mereka dengan cara yang santun dan beretika.

Sayangnya, kebanyakan jin adalah makhluk yang berangasan, ngamukan, ngawur, suka melanggar aturan Tuhan. Ini sama dengan manusia bukan? Bukankah manusia sekarang lebih banyak mengedepankan emosi daripada pikiran yang adem dan tenang untuk menyelesaikan sebuah perkara?

Bila demikian halnya yang kita jumpai di alam metafisik, yaitu bertemu dengan jin-jin yang berangasan semacam ini maka diharapkan kita tidak ikut terpancing ikut-ikutan emosional. Tetaplah tenang, tidak boleh goyah.. apalagi takut. Sedikit ketakutan dalam hati akan membuat jin mampu dengan mudah menyerang dan merobek pertahanan diri kita.

Saya menemukan banyak paranormal yang tidak bijaksana. Misalnya saat ada pasien datang untuk meminta menyantet seseorang, dukun tersebut tidak memberikan pilihan alternatif yang lebih bijaksana kecuali hanya menuruti keinginan pasien. Padahal, keinginan pasien adalah keinginan akibat sifat-sifat setan yang bersemayam dalam dirinya.

Berbeda dengan hubungan antar dua makhluk Tuhan yang hendaknya dilakukan secara suka rela, dukun meminta jin untuk melakukan sesuatu dengan imbalan. Sebelumnya, antara dukun dan jin telah mengadakan sebuah kesepakatan hitam untuk saling bantu membantu, memberi dan menerima dengan imbalan atau hadiah tertentu.

Saya memiliki pengalaman bergaul secara tidak wajar dengan jin dan astaghfirullah pengalaman itu jelas berdosa sehingga saya harus menyesali dan tidak lagi mengulangi perbuatan keji dan munkar tersebut..

Saya ingat kejadian ini tiga belas tahun yang lalu. Suatu ketika, saat Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa Secang, Magelang, Jateng, pacar saya sebut saja A –yang sudah tiga tahun saya pacari– “diambil” orang lain, teman KKN di A. Perebut pacar saya ini sebut saja J adalah seorang santri yang sangat taat beragama.

Berbagai upaya lahiriah saya lakukan, mulai dari meminta baik-baik agar J tidak meneruskan usahanya merebut A, sampai upaya marah-marah dan berkelahi adu fisik. Si J ini rupanya seorang yang sangat istiqomah dengan tekadnya. Apalagi saat itu, orang tua A akhirnya menjodohkan mereka berdua. Bagaimana dengan A? Ya, A sang pacar saya ini tidak bisa berbuat banyak menghadapi intervensi orang tua… akhirnya, keduanya bertunangan….

Hati saya benar-benar keruh dan hancur. Butuh waktu lama untuk meratapi kebodohan dan kelemahan saya saat itu…

Jelas saya protes pada Tuhan ….

Dan entah sebuah energi muncul dari dalam diri saya untuk tidak hanya meratapi nasib saja. Ya, saya harus berjuang!!!

Pada suatu malam, dalam sebuah kondisi jiwa yang penuh kepasrahan saya mengumpulkan benda-benda milik A yang masih ada di gubuk saya. Mulai foto, buku, hingga baju dan helai rambutnya yang tidak sengaja terjatuh saat berkunjung…

Benda-benda milik A itu kemudian saya kumpulkan di sebuah kotak kayu. Di dalam kotak kayu saya beri lampu tempel dinding yang menyala, dupa wangi yang kalau malam saya bakar di dalamnya. Mulailah saya melakukan kontak dengan “ruh’ si A dan berkomunikasi dengannya. Serta memohon pada-Nya agar dibantu agar A kembali menjadi pacar saya.

Dan kepada J, saya melakukan ritual penghancuran. Pada suatu tengah malam, secara sembunyi-sembunyi saya mendatangi rumah A, dan menancapkan paku yang sudah berkarat di pintu gerbang depan rumahnya, di kanan dan kiri masing-masing satu paku. Setelah itu, saya pulang ke gubuk.

Untuk apa paku itu? Ya, saya meminta jin untuk menjaga rumah A dengan tetenger sebuah paku. Bila J berkunjung ke rumah A dan melewati pintu gerbang, maka tidak bisa tidak J akan diganggu batinnya hingga mengalami serangan-serangan mulai lemah mental hingga sakit mental yang akut.

Apa yang terjadi? Akhirnya J benar-benar mengalami serangan mental yang luar biasa.. Padahal J termasuk orang taat ibadah dan yang kuat spiritualnya. Beruntung, Tuhan masih melindunginya dari akibat yang lebih fatal. Meskipun demikian hubungan A dan J yang sudah tunangan itu pun akhirnya bubar dan A akhirnya menjadi isteri saya hingga sekarang….

Astaghfirullah, alhamdulillah…. mengingat kejadian ini, saya harus ngomong apa ya.. bingung..

Ini adalah salah satu pengalaman saya berhubungan dengan jin. Semoga kita semua semakin arif untuk menempatkan diri di lingkungan sosial antar dimensional ini. Jin adalah sahabat kita, bukan musuh (yang musuh adalah sifat setan yang ada pada jin dan manusia) dan dengan sahabat kita harus menjalin hubungan yang wajar. Bukan hubungan yang saling mengeksploitasi dan saling mengalahkan dengan kekuasaan, namun hubungan antar sesama makhluk yang rendah hati karena sesungguhnya kita semua membutuhkan petunjuk dan hidayah-Nya semata sebagai bekal perjalanan hidup yang panjang.

wongalus

Categories: JIN SAHABAT KITA | 62 Komentar

TEKNIK BERKOMUNIKASI DENGAN JIN


Segala sesuatu adalah ciptaan Tuhan. Mereka bisa berkomunikasi satu sama lain secara intuitif. Maka, manusia bisa mengajak berkomunikasi dengan apapun juga termasuk makhluk gaib karena mereka sesungguhnya makhluk yang hidup seperti kita.

Agar kita dengan intuisi kita dapat berbicara satu sama lain, maka dibutuhkan pengetahuan khusus. Yaitu sejenis keahlian untuk menangkap hakikat obyek-obyek di luar diri manusia. Salah satu obyek itu adalah JIN.

Keahlian itu adalah keahlian untuk olah batin kita untuk melakukan tiga reduksi. Reduksi itu diperlukan sebagai tahap penyingkiran semua tabir/hal yang mengganggu pandangan kita sehingga nantinya kita bisa menangkap secara jelas penampakan obyek kita yaitu jin.

Reduksi pertama: menyingkirkan segala sesuatu yang subyektif. Singkirkan dulu keakuan kita. Keakuan adalah salah satu pintu penutup kita melihat kegaiban. Sikap kita harus obyektif, terbuka untuk gejala-gejala yang akan diajak bicara.

Reduksi kedua: menyingkirkan seluruh pengetahuan tentang obyek yang diselidiki yang diperoleh dari sumber yang lain, semua teori dan hipotesis yang sudah ada. Untuk sementara, setelah kita mampu melakukan penyingkiran keakuan/ego maka semua teori tentang jin harus ditinggalkan. Tahap Anda harus “tidak tahu apa-apa tentang jin” ini.

Reduksi ketiga: menyingkirkan seluruh tradisi pengetahuan termasuk pengetahuan dan praktik mistik dan mengalaminya dengan totalitas penghayatan. Segala sesuatu yang sudah dikatakan tentang jin harus untuk sementara dilupakan. Kita memasuki kondisi nol. Yaitu kondisi ketika kita tidak berpikir apa-apa tentang jin, dan tidak memiliki pengetahuan apa-apa namun mengalami dengan seluruh totalitas pengalaman “ku terhadap ada mu (jin)”

Kalau reduksi-reduksi ini berhasil, gejala penampakan jin akan terlihat dengan sendirinya. Metode sederhana ini saya rasakan terbukti sangat efektif untuk berkomunikasi dengan jin. Terserah Anda mau dengan cara/ritual/metode atau mantra/doa apapun juga, monggo saja. Intinya bahwa semua metode, matra dan doa-doa itu hanyalah sebagai sarana untuk memantapkan tahap reduksi pertama, kedua dan ketiga.

Yang saya paparkan ini hanya dasar tangga menuju komunikasi dengan jin. Makhluk Tuhan ini juga seperti kita, sehingga kita jadikan dia teman belajar untuk berbagi kebijaksanaan.

Yang perlu diperhatikan berhubungan agar ketauhidan atau keimanan kepada Allah SWT terjaga, maka dilarang keras untuk saling mengeksploitasi. Semua harus berlandaskan etika untuk saling menghormati dan menghargai satu sama lain.  Selamat mencoba dan Terima kasih.

wongalus

Categories: KOMUNIKASI JIN | 41 Komentar

SEPARUH HATI


Maha Pemurah KAU yang telah memperkenankan si bodoh ini menulis apa yang terasakan khususnya terkait dengan hubungan-hubunganku dengan-MU. Hubungan dengan peradaban dalam waktu dan ruang yang menyejarah yang merupakan pemaparan ayat-ayat-Mu pada hidup kami.

Sebuah hubungan khusus yang tidak setiap saat manusia dapatkan. Hanya pada kesempatan-kesempatan khusus pula manusia diperkenankan untuk menyampaikan perasaan ini. Tidak ada maksud lain selain ingin berbagi pengalaman sehingga bisa diambil apa yang dirasa bermanfaat dan membuang apa yang dirasa kurang bermanfaat.

Memang cukup berat yang manusia rasakan untuk mengungkapkan secara jernih, bening dan detail hubungan antara manusia dengan Dia. Sebab, mengungkapkan rasa harus melalui saringan akal dan akal sepertinya memiliki watak untuk memanipulasi dan membiaskan maksud yang sesungguhnya. Namun, semoga Dia melindungi tulisan ini dari penyesatan-penyesatan akibat “aku” manusia yang cenderung mengarah pada mementingkan diri sendiri.

Pada kesempatan langka ini, sedikit banyak batin manusia ingin mengunci untuk sementara peran akalnya. Mengunci dan tidak membuka-buka gudang memori di otak terkait dengan apa terasa, mengubur untuk sementara bahasa-bahasa baku yang biasanya manusia gunakan. Menutup gudang wacana dan kemudian mengalirkan udara kebebasan rasa untuk memilih arti dan maknanya sendiri-sendiri.

Sejak pertama manusia mendaftarkan blog ini ada sesuatu yang menggedor-gedor di dada ini untuk berbagi sesuatu yang entah namanya apa. Mungkin kebenaran dan kebijaksanaan yang berasal dari keprihatinan manusia melihat begitu banyak nilai-nilai absolut dan abadi yang sudah rusak, baik disadari maupun ikut-ikutan merusak secara sengaja untuk kemudian melanggeng dalam ketidaktahuan menuju kehancuran peradaban. Barangkali ini adalah utopia dari manusia, sehingga manusia mohon maaf. Namun, manusia mohon untuk tidak apriori terlebih dahulu.

Manusia percaya sesuatu yang muncul dari rasa terdalam akan sampai pada pembacanya dengan mendalam pula. Sesuatu itu bisa diserap dan bersenyawa kuat serta diakui sebagai kebenaran bila memang benar. Namun bila salah, maka lambat laun akan menguap dan hilang begitu saja seiring dengan berubah-ubahnya hati kita. Watak diterimanya kebenaran memang sangat sulit namun bila sudah bisa diterima dengan hati dan rasa batin maka akan mengakar kuat.

Manusia merasakan suasana batin kita sekarang sudah tidak kondusif lagi untuk dihirup. Resapan energi alam yang suci sudah sedemikian polutif oleh hawa nafsu/keinginan/kehendak yang dipendarkan setiap individu. Kemana-mana manusia melangkah, terasa menyakitkan dan menyesakkan. Tidak ada rasa syukur, tenang, ikhlas yang memancar. Kedekatan manusia dengan alam tidak terasa sebagai hubungan silaturahim antar makhluk-Nya, namun sebaliknya. Sebuah hubungan di mana yang satu (manusia) berkeinginan untuk membohongi, mencengkeram untuk menguasai dan kemudian dijual. Ujungnya hanyalah untuk kepentingan diri sendiri, sementara kepentingan alam untuk melestarikan dirinya diabaikan. Dimana-mana manusia menjumpai hal ini…. hanya pada saat khusus di tempat khusus dan ini pun langka, manusia hanya bisa menjumpai segelintir momen dan orang yang masih “suci” dari kotoran-kotoran duniawi.

Justeru, biasanya orang-orang suci yang manusia temui ini bukan berasal dari kalangan terpandang, terpelajar dan berkuasa. Meskipun ada juga satu dua orang yang dari kalangan ini yang masih memancarkan sinar pemberontakan habis-habisan terhadap kondisi batin peradaban yang polutif. Mereka berkeinginan untuk merubah secara revolusioner namun manusiangnya dia hanya sendiri dan belum memiliki kekuatan sosial. Artinya, dengan kekuatan satu porang suci mustahil untuk dilakukannya perubahan besar. Dia butuh kekuatan besar masal meski awalnya dilakukan diam-diam.

Sementara orang suci lainnya tidak memiliki kekuatan untuk melakukan perubahan batiniah masyarakat. Dia ibarat nabi, yang suci dan hanya bisa diteladani saja. Dia tidak memiliki energi yang begitu kuat untuk melakukan perubahan struktural masyarakat. Dia hanya mengajarkan di forum-forum kecil dan informal. Inipun terkadang masih ditentang oleh pengikutnya sendiri karena ada pengikut yang kurang bijaksana. Di sisi lain, peradaban ini membutuhkan kekuatan batin yang dahsyat untuk berubah.

Namun, Malaikatmu mengingatkan bahwa kini orang suci tidak seterusnya suci. Suci tidak inheren melekat pada semua sifat-sifat kemanusiaannya. Kini kesucian hanyalah menempel pada saat khusus dan sesaat lenyap. Para Nabi dan para wali kini mungkin sudah tamat seiring dengan sudah terasa cukupnya ajaran kebenaran disampaikan.

Entah, ini hanya keyakinan saja. Bahwa kelak akan ada sebuah energi besar yang datang tidak dari jauh, melainkan dari “dalam” peradaban sendiri untuk berubah menjadi baik sesuai dengan kehendak Tuhan. Kekuatan batiniah yang kuat ini akan menggelontor peradaban yang polutif dan sakit sehingga peradaban ini akan benar-benar bersih kembali seperti sedia kala. Peradaban yang tidak kotor oleh tangan-tangan jahil, oleh otak-otak koruptif dan manipulatif. Semoga dalam waktu dekat hal ini akan terwujud.

Namun, harapan ini bisa jadi juga hanya harapan, sebab bila kita rasakan secara jernih maka yang terasa hanyalah kekotoran batin peradaban yang menjadi-jadi dari hari ke hari….

Terbayang jelas seperti layar putih membentang: ada peperangan ekonomi, peperangan fisik berkecamuk, bencana alam yang bertubi-tubi, kekalahan manusia, kemunafikan para pemimpinnya, penderitaan panjang yang mengakibatkan putus asa, gelap sungguh gelap peradaban kita. Iniah suatu masa yang menjadi kekhawatiran kita bersama sehingga marilah kita semua mencegah agar jangan sampai bayangan manusia ini menjadi kenyataan.

Pencegahan hanya bisa dilakukan bila batin/jiwa/rasa kita semua menjadi suci. Bila tidak suci atau masih abu-abu maka akibatnya akan sangat mengerikan. Sebab malaikat sudah memegang kitab-kitab yang berisi daftar hitam kebodohan manusia. Ketololan manusia, bagi malaikat adalah bahan informasi kepada Tuhan untuk mendatangkan hukuman. Malaikat adalah makhluk yang tertib dan tidak menilai benar-salah dengan hati nurani. Malaikat adalah makhluk mekanis deterministik seperti robot yang siap apapun karena memang sudah diprogram Tuhan untuk melaksanakan perintah-Nya tanpa protes.

Sekali Tuhan memberi perintah, selanjutnya malaikat akan melaksanakan dengan sepenuh energi yang dimilikinya untuk taat dan patuh. Ini beda dengan makhluk iblis yang terasa begitu cerdas. Kecerdasan iblis adalah menyerang setiap ide dengan apriori tanpa memperhitungkan akibat tindakannya. Iblis tidak memiliki kebijaksanaan dan hanya manusia yang memiliki kebijaksanaan dan kedalaman untuk menakar nilai-nilai berdasarkan kehendak Tuhan. Allah Maha Bijaksana!

Du Gusti, hubunganku denganmu adalah hubungan asmara yang abadi. Keabadian ini tidak akan lenyap oleh kekuranganku akibat kebodohan pikiranku untuk menghayati setiap inti sel kebenaran yang terpancar jelas sebagai petunjuk. Engkau yang Maha Pecinta akan selalu memberi aku kepercayaan bahwa semua yang Engkau sabdakan adalah benar dan paling benar. Tidak pernah salah karena Engkau mengukurnya dengan tingkat akurasi hukum-hukum ciptaanmu sendiri yang tidak mampu kami pahami.

Ya Gusti, meniadakanku untuk selama-lamanya di dalam alam yang sudah kotor oleh nafsu-nafsu ini adalah sebuah kebahagiaan. Namun dengan kau tundanya manusia untuk menikmati kebahagiaan ini adalah bukti kecintaanmu pada ciptaan-Mu sendiri. Tidak mungkin kau adakan manusia bila kau tidak memiliki maksud agar semua yang ada ini bisa seimbang kembali tatanan kosmis lahir dan batin sebagaimana yang engkau ijinkan. Sekecil apapun peran setiap sel di alam semesta ini, pada hakikatnya adalah memiliki peran dan fungsi untuk menjaga keadilan dan kesejahteraan bersama.

Apa yang diperankan manusia sesuai dengan kehendakMU menciptakan kami adalah sebuah kemuliaan yang sangat berarti. Sedikit banyak kami bisa ikut merasakan betapa nikmat berada di dalam bumi-Mu, alam-alamMu, dan surga-Mu kelak. Ungkapan rasa syukur dan kata-kata saja sangat tidak mencukupi untuk membalas betapa Engkau Maha Pemberi Kenikmatan yang tiada terkira. Sangat luar biasa… sangat sangat luar biasa… Maha Suci Engkau dari segala yang kami persekutukan.

Kini, tidak layak lagi “aku” mengaku “aku”. Sangat sangat malu rasanya mengakui bahwa aku ini layak untuk tampil dan mengatakan sesuatu. Hubunganku dengan-MU terlalu khusus dan mungkin tidak mampu diceritakan kenikmatannya. Terima kasih, Ya Allahku… sesuatu/dzat/tuhan satu satunya yang tiada tara… Namun aku menyadari bahwa “aku mencintaimu masih dengan separuh hati”, karena terkadang aku dholim telah dengan sengaja melupakanmu. Astaghfirullah…

wongalus

Categories: SEPARUH HATI | 6 Komentar

KOMUNIKASI DENGAN GUSTI


Dengan akal atau intuisi?

Sejarah lahirnya modernitas yang dimulai dari belahan dunia bagian barat, kita tahu sangat mendewakan akal budi (rasio) untuk memecahkan semua problem, tidak terkecuali untuk menalar hal-hal yang sifatnya batiniah, spiritualitas dan ketuhanan. Cukup menarik bila kita sedikit menggelar latar belakang wong barat kok sangat gemar memakai left hemisphere (otak kiri) ini.

Jembatan antara abad pertengahan dan jaman modern disebut dengan renaissance, atau “kelahiran kembali”. Periode ini berawal sekitar tahun 1400 hingga tahun 1600 masehi. Di masa renaissance, manusia seakan akan dilahirkan kembali dari tidur abad pertengahan yang lebih cenderung untuk menyerah kalah pada Tuhan. Semua hasil karya pikiran manusia, pada abad pertengahan selalu harus jadi budak agama formal. Ilmu pengetahuan menjadi abdi agama. Bila ada hasil penemuan baru, harus disesuaikan dengan doktrin-doktrin yang ada pada kitab suci. Bila bertentangan, maka penemuan baru ini harus dianggap sebagai kafir. Para ilmuwan dikejar-kejar dan bila tertangkap maka otoritas agama menyeretnya ke tiang gantungan. Atau paling ringan bila ketangkap adalah digebuki di kamar-kamar pengap di bawah tanah.

Namun, di jaman renaissance semua itu berubah. Seluruh kebudayaan barat tiba-tiba dibangunkan dari keadaan mandeg dan statis yang berlangsung seribuan tahun. Di negara-negara Eropa, kita bisa melihat gerakan bangkitnya ilmu-ilmu, sastra, gaya hidup, peradaban masyarakat yang tidak dikenal sebelumnya. Manusia mulai berpikir dengan cara baru untuk mengenal dirinya. Manusia tidak menganggap lagi diriya hanya mampir ngombe di dunia, melainkan manusia harus menciptakan air-air minum untuk diombe. Artinya, manusia tidak hanya boleh kerasan tinggal di bumi Tuhan melainkan hendaknya menciptakan temat-tempat baru agar kerasan meskipun tanpa memikirkan Tuhan. Manusia menganggap dirinya pusat kasunyatan.

Tiga hal yang menjadi tonggal awal kelahiran jaman kelahiran kembali / renaissance ini adalah ditemukannya mesiu atau bubuk peluru, mein cetak dan kompas. Mesiu menandai akhir kekuasaan feodalisme yang bersemayam di benteng-benteng/kastil-kastil yang sakral. Mesin cetak menandai bahwa ilmu pengetahuan bisa disebarkan secara cepat ke masyarakat umum dan tidak lagi milik eksklusif kaum elite bangsawan dan intelektual. Sementara kompas menandai terbukanya jalur-jalur pelayaran dan moda transportasi umum yang aman dna memungkinkan manusia mengadakan perjalanan-perjalanan jauh melintasi benua-benua.

Bila di abad awal kelahiran peradaban Yunani pengetahuan manusia lebih terarah pada bagaimana menemukan substansi/ arkhe/asal mula segala sesuatu dari alam semesta (kosmos), abad tengah lebih cenderung kepada Tuhan sentris (Teosentris), maka era kelaahiran kembali pikiran terarah pada manusia (antroposentris). Inilah awal jaman modern, dimana manusia menemukan subyektivitasnya yang membabi buta. Sebab “aku’ adalah pusat kenyataan, pusat pemikiran, pusat kenyataan, pusat tindakan, pusat perasaan.

Puncak pematangan jaman modern adalah jaman aufklarung (pencerahan) di mana manusia barat merasa bahwa rasio atau nalar telah mencapai puncak pendewasaan. Manusia merasa mampu untuk benar-benar hidup tanpa Tuhan. Bahkan, Tuhan disingkirkan dalam ilmu-ilmu pengetahuan baru yang genit dan seksi. Lahirnya ilmu sosiologi, ilmu psikologi, psikiatri dan ilmu-ilmu kemanusiaan juga terjadi di jalam aufklarung yang berlangsung di abad 18.

Abad 20, modernitas orang barat untuk menalar kasunyatan sudah benar-benar keterlaluan. Sekarang orang sudah tidak lagi menalar berdasarkan acuan-acuan besar yang telah ditemukan para pendahulunya. Modernisme yang awalnya adalah proyek pencerahan yang membebaskan manusia dari mitos, pada akhirnya justeru terjebak pada memitoskan rasio/nalar untuk menemukan kebenaran sejati. Mulailah kultur barat memasuki fase kejenuhan dan kebosanan sehingga lahir era baru yang dianggap mewakili semangat jaman edan ini. Lahirlah era Post Modernisme.

Post modernisme memiliki konvergensi keyakinan yang unik dan menyebar. Kebenaran absolut tidak ada lagi, diganti dengana kebenaran-kebenaran relatif yang lincah dan liar. Konvergensi ideologi,wacana maupun grand narratives berganti divergensi. Tidak ada pusat, yang “pusat” sekarang harus didesentralisasikan ke “pinggir” karena “pinggir” mampu otonom.

Peran nalar sekarang hanya untuk menganalisa dan ngotak atik gathuk berbagai mosaik atau pecahan kasunyatan. Melalui bahasa, manusia perlu untuk merongrong kebenaran yang semakin susah ditemukan. Konsentrasi pengetahuan sekarang tidak lagi pada Kosmosentris (memikirkan asal penciptaan), Teosentris (memikirkan Tuhan), Antoposentris (memikirkan “aku” manusia), namun sekarang disibukkan dengan memikirkan bahasa atau LOGOSENTRISME. Kebenaran itu bukan milik “Yang ada” melainkan milik “Yang Lain” bahkan “Yang lain dari yang lain”.

Makanya, jangan salah bila sekarang “kebenaran absolut” atau “kebenaran yang tidak relatif” tidak mendapat konsetrasi utama lagi. Orang tidak disibukkan lagi untuk mencari apa dan bagaimana sesungguhnya hakikat kenyataan, siapa pencipta kenyataan dan untuk apa kenyataan. Orang sekarang lebih cenderung untuk berpikir apakah kenyataan itu bisa saya pakai dan saya fungsikan agar saya mendapatkan kesenangan dan kebahagiaan. Yang muncul kemudian kepalsuan-kepalsuan kasunyatan/realitas dan melebih-lebihkan kenyataan yang sesungguhnya atau disebut Hiperrealitas.

Inilah jaman hiperrealitas. Kasunyatan kalah oleh pencitraan yang dibuat. Ini adalah Tuhan baru manusia postmodern yang sak karepe dhewe asalnya laku dijual. Siapa yang menang mengunggulkan diri melalui pencitraan, maka dia yang menang. Ini adalah era dimana prinsip andap asor, sugih tanpa banda, menang tanpa ngasorake, ngluruk tanpa bala tidak mendapat tempat. Konsumtivisme yang melanda masyarakat karena pencitraan/iklan adalah salah satu akibat dari hiperrealitas. Realitas semu, main-main dan tidak sejati.

Bagaimana peran rasio di era postmodernisme di awal abad 21 ini? Tadi sudah dipaparkan bahwa era modern sangat mendewakan akal budi (rasio) untuk memecahkan semua problem, tidak terkecuali untuk menalar hal-hal yang sifatnya batiniah, spiritualitas dan ketuhanan. Di era ini ternyata rasio masih mendapat tempat yang sangat kuat. Rasio tidak mampu dikalahkan lagi. Dia menjadi raja dan menjadi Tuhan yang sangat berkuasa. Namun hebatnya, rasio enggan mengakui ketololannya ini. Rasio era postmodern memang dikenal cerdas memluntir kenyataan. Repotnya, kritik sudah tidak mendapatkan tempat lagi. Sebab kritik dinilai ideologi yang usang. Maka rasio tetap berjalan sambil menggerus setiap kesangsian yang lahir…

Kapan akhirnya manusia menyadari ketololan yang dibuatnya sendiri? Tidakkah harusnya peradaban post modern ini lebih arif mensikapi ketiadaan spiritualitasnya?

Wahai manusia supra modern yang berjumlah sekian milyar… kembalilah menyadari bahwa akalmu sangat terbatas. Akalmu bukan lagi raja yang arus kau turuti kemana arahnya. Kemauan adalah bidang rasa, dan bidang rasa yang kau kalahkan oleh nalarmu berakibat dirimu buta! Ketahuilah sesugguhnya… Bahwa seluruh kenyataan ini sesungguhnya satu jalinan mistik yang substansinya satu kesatuan yang berbeda wujudnya. Yang satu adalah Ciptaan dan yang lain adalah Pencipta. Allah berbeda dengan alam dan alam berbeda dengan Allah. Menjumbuhkan kedua dzat ini mengakibatkan kita berada pada kebimbangan menentukan peta. Lihatlah peta dari jarak dan jangan masuk dirimu dalam peta tersebut. Memasukkan dirimu dan alam di “dalam Tuhan” adalah kesesatan!!!

Kita boleh rasionalis karena memang ini adalah alat canggih untuk hidup berdasarkan hukum-hukum alam yang matematis, eksak dan terukur. Namun jangan dilupakan peran logika batinmu. Batinmu memiliki alasan-alasan yang tidak diketahui oleh akal. Hati/batin/rasa akan memunculkan kesadaran tentang kesatuan dalam keberagaman kasunyatan. Semua untuk satu dan satu untuk semua.

Aktivitas tertinggi dari akal adalah mengakui bahwa akal itu terbatas. Ia hanya salah satu sumber pengetahuan yang ada. Ada banyak pengetahuan yang sangat miskin bila hanya memakai akal/nalar/rasio untuk menganalisanya. Bukan bidang rasio untuk menalar Kebijaksanaan Tuhan, keadilan, kemanusiaan, kesetaraan, kebebasan dan seterusnya. Ada sumber pengetahuan lain yang jauh lebih penting. Dialah INTUISI. Ini adalah alat canggih untuk mengajari seluruh jaringan kemanusiaan kita agar selamat dunia akhirat, lahir dan batin.

Intuisi adalah kepekaan batin untuk mencari secara otomatis kedamaian dan keselamatan hidup di dunia yang sementara ini. Dengan intuisi kita akan mendapatkan KEPASTIAN tentang darimana, dimana dan kemana perjalanan hidup seluruh alam semesta dan manusia ini. Dengan intuisi kita mengadakan kontak intensif dengan Tuhan Semesta Alam yang sangat dekat. Bila kita menggunakan nalar, Tuhan berada di langit ketujuh… Namun dengan intuisi yang merupakan gabungan dari ketajaman rasa, batin, hati, kita akan menyadari bahwa Tuhan Yang Esa ini begitu dekat. Tidak di sana, bahkan tidak di sini, karena hakekat ada-nya DIA adalah mengatasi di sana dan di sini.

Ya, dengan intuisi kita mampu merangkum pengetahuan sangkan paraning dumadi ini DENGAN PERILAKU DAN PERBUATAN YANG NYATA. Bukan hanya teori dan konsep yang ada di angan-angan saja.

Wongalus

Categories: KOMUNIKASI KE GUSTI | 16 Komentar

KEBODOHAN SPIRITUAL: MENYEMBAH KEAKUAN KITA SENDIRI DI ATAS KEAKUAN GUSTI ALLAH


Setiap orang diberi kecerdasan spiritual menurut kadar yang telah ditentukan. Repotnya, setiap orang malah memelihara dan menjaga dengan rapi kebodohan spiritualnya. Bagaimana agar kebodohan kita tidak dominan?

Masih ingat Firaun yang akhirnya sadar bahwa dia manusia biasa? Firaun yang selama hidupnya mengaku Tuhan dan memaksakan kehendak kepada rakyat akhirnya harus karam di laut merah. Saat terakhir akan diemut lautan ganas itulah, dia baru sadar ketidakberdayaannya. Kebodohan Firaun ini harus ditebus dengan kegagalan dia untuk bertaubat. Taubat yang terlambat, sama saja dengan tidak bertaubat dan dia digolongkan Tuhan sebagai manusia yang gagal dalam hidup.

Dari segi sumber daya manusia (SDM) Firaun tidak kekurangan suatu apa. Dia cerdas dan lihai. Buktinya, dia bisa juga menjadi raja dalam jangka waktu sekian lama. Kecerdasan emosinya juga baik karena saat dia menghukum siti Masyitoh dengan memasukkan ke belanga besar yang diisi air mendidih, dia masih menawarkan Masyitoh untuk kembali mengakui Firaun sebagai Tuhan. Namun, kecerdasan spiritual yang rendahlah, yang akhirnya tidak menyelamatkan akidahnya. Dengan kata lain kebodohan spiritualnya lebih dominant dari kecerdasan spiritual.

Apa itu kecerdasan spiritual? Kecerdasan spiritual adalah tingkat kesadaran manusia untuk mengakui sesuatu yang adikodrati, mengakui sesuatu yang transenden, mengakui ada sesuatu yang menciptakan segala yang ada. Sesuatu itu tidak diciptakan lagi oleh sesuatu yang lain. “Sesuatu” yang tidak bisa dinalar oleh akal pikiran karena keberadaannya yang mengatasi hukum alam karena “Sesuatu” itu berada di “luar alam” namun berada di “dalam alam” (imanen), bahkan tidak “berjarak” dengan alam.

Sementare kebodohan spiritual saya definisikan sebagai tingkat kesadaran manusia yang tidak mengakui sesuatu yang adikodrati. Pikiran yang melulu hanya menganalisa gejala-gejala yang tampak di mata (benda-benda) dan menafikan atau menolak adanya kegiatan rasa/batin sebagai aktivitas kejiwaan untuk menemukan kebenaran. Gejala ini sangat tampak dari paham positivistik, materialisme yang akhirnya berakibat nihilisme.

Kalau kita amati, gejala umum masyarakat “modern” yang pandai untuk mengolah hidupnya dengan berbagai teknologi untuk berperilaku “modern” justeru kebingungan untuk menata pandangan hidup yang jauh dan mendalam. Pandangan hidup masyarakat modern umumnya sekular, menjauhkan hal-hal yang sifatnya spiritual dengan urusan dunia. Urusan dunia bahkan lebih cenderung dinomorsatukan sementara urusan akhirat yang abstrak biasanya dinomorsekiankan. Ya, masyarakat modern lebih dominant kebodohan spiritualnya daripada kecerdasan spiritual.

Kenapa soal-soal spiritual semacam ini ditulis berulang-ulang dalam blog kita ini? Terus terang… mumpung masih ada waktu untuk merenung, mumpung masih punya kesempatan untuk membelokkan orientasi hidup yang keliru, mumpung kita masih hidup. Siapa yang menjamin bahwa saya dan Anda besok masih bisa bangun dari tidur? Siapa yang bisa menjamin bahwa besok kita masih bisa membaca dan menulis di blog? Yang bisa menjamin hanyalah Sang Pemilik dan Perancang Hidup. Tuhan semesta alam yang Maha Tahu rencana-rencana di balik keberadaan saya dan Anda diciptakan di dunia ini.

Menyadari akibat bila kita salah memikirkan sesuatu, menyadari akibat bila otak kita secara tidak sadar hanya dijejali oleh “urusan-urusan” yang tidak ada sangkut pautnya dengan RENCANA TUHAN pada kita, akan mengakibatkan kita mendapatkan KESADARAN. Kesadaran untuk memanfaatkan waktu yang tersisa untuk hidup ini untuk menyelesaikan peta/desain awal kenapa kita diciptakan yaitu untuk rahmat bagi seluruh alam semesta karena kita adalah WAKIL yang ditunjuk-Nya untuk menyelesaikan agenda-agenda besar ketuhanan.

Apa agenda-agenda besar ketuhanan itu?

• Pertama, Merencanakan Penciptaan Sesuatu dari Ketiadaan
• Kedua, Memproses terciptanya Ciptaan atau mengadakan sesuatu
• Ketiga, Memelihara Penciptaan dengan hukum-hukum kepastian Tuhan
• Keempat, Menuntaskan Penciptaan dengan menempatkan kembali pada ketiadaan

Kembali pada tema Kebodohan spiritual. Kebodohan spiritual tidak sampai menjangkau hal-hal yang abstrak tersebut. Akal dan pikiran hanya disibukkan dengan, misalnya, bagaimana caranya mendapatkan keuntungan dan uang sebanyak-banyaknya untuk dinikmati. Uang adalah raja atau bahkan tuhan di dunia ini. Dengan uang, kebahagiaan bisa dibeli. Inilah cara berpikir kaum rasionalistis, pragmatis, hedonis, cara berpikir rasional yang dilanjutkan dengan pada praktek yang tujuan akhirnya hanyalah pada kebahagiaan di dunia saja.

Padahal, ada begitu banyak hal yang abstrak di sekeliling manusia. Bahkan, bukankah manusia adalah makhluk yang abstrak dan justeru yang abstrak itu menjadi dasar yang primer dari hal yang kongkret? Kenapa pada akhirnya yang kongkret saja yang menjadi fokus otak kita bahkan kemudian menjadi dominan? Duh manusia, kapan kau akan sadar bahwa sejatinya kebahagiaanmu tidak ditentukan oleh “adanya” sesuatu. Namun ditentukan oleh bagaimana kau mensikapi “adanya” sesuatu itu untuk disesuaikan dengan agenda-agenda besar ketuhanan tadi.

Adanya mobil di rumahmu yang mewah tidak akan mampu membuat hatimu senang untuk jangka waktu yang lama. Pada suatu saat, kau akan jenuh dan bosan sehingga kau berniat untuk menjualnya dan menggantikannya dengan yang lebih baru. Atau malah membeli lagi mobil yang lebih nyaman dan mewah. Begitu seterusnya, sehingga dunia ini penuh dengan mobil-mobilmu yang tidak terbatas. Bumi jadi penuh polusi asap nafsumu. Hingga umurmu berakhir untuk sesuatu yang kongkret (benda mobil) padahal adanya mobilmu karena nafsumu/keinginan memiliki (yang abstrak)….

Inilah gejala kebodohan spiritual yang menjadi tanda-tanda kiamat. Nilai-nilai keabadian yang telah dijungkirbalikkan oleh manusia kemudian pada suatu saat akan menjungkirbalikkan kembali tataran yang telah sedemikian polutif. Inilah momentum kiamat akbar yaitu ujung hancurnya nilai-nilai ketuhanan. Sementara momentum kiamat kecil adalah hancurnya nilai-nilai ketuhanan yang telah diinstal dalam otak kita saat kita masih belum dilahirkan oleh ibu kita. Yaitu tatkala ruh kita telah meneken Memorandum of Understanding (MOU) dengan Tuhan… “Alastu Birobbikum Qaalu Bala Syahidna …” Hancurnya nilai-nilai ketuhanan itulah yang harus diwaspadai oleh kita semua.

Bagaimana menyelamatkan otak (hardware) yang berisi “file-file” pikiran dan keyakinan terhadap nilai-nilai ketuhanan yang telah sengaja dirusak oleh kita sendiri?

Ada satu hal yang bisa mengubah kita menjadi baik. Yaitu mulailah sekarang dan disini. Saat saya menulis ini dan Anda membacanya, yakinlah bahwa ini adalah “Petunjuk Allah SWT” telah datang pada kita untuk menyadari kebodohan spiritual yang selama telah kita pendam, kita jaga dan kita rawat baik-baik. Selanjutnya akan disusul dengan menata niat untuk bertaubat. Menyadari kesalahan dan kebodohan itu dan seterusnya melangkah berdasarkan agenda-agenda Tuhan kepada kita semua.

Maka, Just do it!!!, Laksanakan sekarang!!!

Ya, kita memang masih menjadi firaun-firaun yang menyembah “keakuan” kita sendiri di atas keakuan-Nya, Gusti Allah. Astaghfirullahal adzim…

@@@

wongalus

Categories: KEBODOHAN vs KEPINTARAN SPIRITUAL | 23 Komentar

Blog di WordPress.com.