KEMUKUS


Datanglah ke Gunung Kemukus setiap Kamis Pahing, Malam Jumat Pon. Anda akan mendapati tradisi turun temurun yang menyenangkan:  Ritual Seks Bebas!

Namun yang paling banyak kunjungan adalah pada bulan Suro. Tiap tahun orang yang berziarah ke Gunung Kemukus tidak pernah surut bahkan cenderung semakin banyak. Tercatat semalam yang datang ke gunung yang terletak di Sragen, Jawa tengah ini bisa mencapai 15 ribu pengunjung. Pada hari-hari biasa, pengunjung rata-rata antara 50 sampai 150-an orang. Puncak rame-ramenya pada malam 1 Suro saat dilakukan ritual membuka kelambu makam Pangeran Samodro.

Apa pesona daya tarik gunung yang lebih tepat disebut perbukitan ini? Tak lain karena di sana kita akan menjumpai “peradaban Indonesia” yang sesungguhnya. Yaitu banyaknya pengunjung dengan motif gado-gado dan sebagian besar adalah mereka yang bertujuan mencari berkah. Pengetahuan masyarakat akan hal-hal mistis yang masih dipahami sebagai klenik, serta pesona seks.

Sebenarnya, mencari berkah adalah tujuan yang mulia bila yang dicari adalah berkah dari Gusti Allah. Bila mencari berkahnya dengan cara meminta ke roh orang yang meninggal, ke jin-jin, ke batu-batu, ke kuburan keramat, mencari tuyul, dan meniduri isteri orang, maka yang terjadi jelas adalah kesesatan keyakinan.

Batin tidak akan pernah menjadi jernih laksana kaca. Batin akan tetap kotor oleh lumpur-lumpur keduniawian karena pencarian berkah, tirakat, akan bercampur baur dengan motif lain seperti selingkuh atau mencari kepuasan seksual dengan teman kencan.. Di Kemukus, kita bisa denga mudah menemukan teman kencan dan bahkan ada keyakinan bila kita mendapatkan teman kencan maka kita akan sukses karena tirakat kita diijabahi Tuhan.

Entahlah, apa ini merupakan bentuk tradisi hasil dari local genius (kearifan lokal) yang tetap harus dilestarikan atau tidak. Namun, sebagai sebuah fakta sosial keberadaan ritual seks Kemukus bisa merupakan sarana hiburan bagi masyarakat bawah laki-laki dan perempuan. Melalui ritual inilah kebebasan seks juga bisa dinikmati, bukan hanya hak pria saja namun juga perempuan.

Suasana di Kemukus memang menawarkan magnet bagi masyarakat.. kawasan yang pada hari-hari biasa gelap tiba-tiba menjadi terang seperti pasar malam. Penjual pernik-pernik mainan, penjual kacang rebus, rokok, penjual bakso hingga mie ayam menggelar dagangannya. Banyak juga yang menyewakan tikar untuk pasangan yang ingin indehoi. Di sini, indehoi sekali setahun selama tujuh tahun diyakini sarana menjadi sukses, makmur dan kaya.

Akan tidak bijaksana bila kita melihat fenomena kemukus dengan kaca mata hitam dan putih, halal dan haram… sebab sesuatu gejala memiliki latar belakang yang berlainan. Yang jelas, baik di tingkat nasional maupun lokal telah terjadi dominasi nilai-nilai ekonomis jangka pendek melebihi nilai-nilai adi luhung nenek moyang kita. Tradisi telah menjadi tradisionalisme yang tidak memiliki penggerak energi kemanusiaan ke arah yang lebih luhur.

Di Kemukus antara nasib baik dengan mengumbar syahwat memang tidak terpisahkan. Ini dilestarikan dengan sebuah keyakinan bersama yang dilakukan oleh mereka yang percaya dengan sepenuh hati. Bagaimana legenda Kemukus kok bisa jadi tradisi nyentrik seperti ini?

Syahdan, dikisahkan saat masa-masa akhir kejayaan jaman Majapahit sekitar abad 14 akibat munculnya kerajaan Islam di Jawa Tengah hiduplah di Gunung Kemukus dua manusia yang dimabuk asmara. Bukan dimabuk bir maupun mabuk dunia. Ya, mabuk asmara…

Mereka adalah Pangeran Samodro putra Raja Brawijaya Majapahit. Serta ibu tirinya yang juga selir Brawijaya, Nyai Ontrowulan. Menginjak dewasa Pangeran Samudro tiba-tiba punya krenteg atau keinginan untuk berhubungan asmara dengan Nyai Ontrowulan yang meskipun sudah berusia matang namun terlihat masih seksi.

Hubungan asmara di hati keduanya yang semakin mekar, akhirnya diputuskan untuk menikah agar terhindar dari dosa. Tempat pernikahan sudah ditentukan yaitu di Demak Bintoro. Namun, sampai di tempat tujuan pernikahan ada banyak duda kaya dan prajurit Demak jatuh hati kepada Nyai Ontrowulan yang parasnya cantik.

Para duda keren yang berduit pun berupaya menggagalkan pernikahan keduanya…. Khawatir rencana terganggu, Pangeran Samodro dan Nyai Ontrowulan lantas mengubah rencana pernikahan dan diam-diam mengadakan perjalanan ke arah selatan.

Saat berada di Gunung Kemukus, mereka tak bisa lagi menahan birahi. Di bawah pohon nagasari, mereka berhubungan seks. Masih asyik-asyiknya bercinta dan belum sampai orgasme, pasukan Demak Bintoro tiba-tiba melintas dan menghentikan dua makhluk yang dilanda hasrat ini. Terlibat adu mulut hingga berakhir pada perang kecil yang tidak seimbang.

Singkatnya, melihat Pangeran Samudro tewas di tangan prajurit demak, Nyai Ontrowulan memutuskan untuk bunuh diri dengan cundrik. Keduanya dikubur dalam satu lubang dan dalam lubang tempat terbunuhnya mereka itulah muncul sebuah sumber air jernih yang kini disebut sebagai Sendang Ontrowulan. Air sendang ini dipercaya memiliki bisa bikin orang awet muda, banyak rejeki dan tahan seks.

Dalam legenda juga dipaparkan munculnya asap, disusul suara dari atas makam Pangeran Samodro dan Nyai Ontrowulan yang baru dikuburkan. ”Barang siapa mau datang ke Kemukus dan bisa menyelesaikan hubungan seks tujuh kali, maka segala permintaanmu akan dikabulkan!!!”

Hmm… Kemukus..Kemukus…

wong alus

Categories: KEMUKUS | 33 Komentar

TEKNIK BERKOMUNIKASI DENGAN ROH ORANG MENINGGAL


Mohon dimaafkan, artikel ini berangkat dari pengalaman yang saya alami saja. Sebab akan lebih mantap perjalanan menembus dimensi yang gaib ini bila tidak hanya dibaca dan diyakini melalui kitab suci maupun buku-buku referensi, namun dialami sendiri.

Entah kenapa, ada kecenderungan dari dalam diri untuk selalu memberontak untuk tidak yakin begitu saja terhadap apa yang dipaparkan dalam kitab suci maupun buku. Menurut saya (ini adalah bentuk egoisme dan kesombongan lho… jadi mohon dimaafkan), sudah waktunya saat itu menutup buku-buku teori.

Maklum, sejak kecil, remaja hingga lulus bangku kuliah tahun 1996, atau bila dihitung, SD 6 tahun, SMP 3 tahun, SMA 3 tahun, dan es lain ada sekitar 18 tahun. Masa selama itu, pengetahuan yang saya kumpulkan hanya melalui buku tok? dan akhirnya saya mengalami kejenuhan… dan kesimpulannya: harus melalui pengalaman.. bukankah “pengalaman lebih kaya dari pengetahuan,” begitu kata A.N, Whitehead, si bapak filsafat proses dari Negeri Paman Sam.

Hingga suatu ketika, saya beranggapan sudah waktunya untuk menempuh jalur lain untuk mendapatkan pengetahuan/kawruh tentang kasunyatan. Entah itu kasunyatan yang bisa dilihat mata, hingga kasunyatan yang gaib. Yang gaib ini pun pasti bertingkat tingkat…

Maka, terbukalah kesempatan untuk membuktikan dunia gaib tersebut.

Pada suatu kesempatan, sekitar tahun 1990-an saya melayat seorang sanak keluarga yang meninggal di Kuburan Karngkajen, Pasartelo, Yogyakarta. Setelah menguburkan pak de yang meninggal dunia karena sakit, saya berjalan kaki sekitar dua puluh meter ke arah timur sisi paling utara kuburan yang hampir penuh. Kuburan karangkajen adalah kuburan yang tergolong tua. Buktinya, di sana tempat beberapa tokoh nasional yang dimakamkan. Salah satunya adalah Kyai Haji Ahmad Dahlan, tokoh pendiri organisasi sosial kemasyarakatan Muhammadiyah.

Entah kenapa, tiba-tiba muncul keinginan untuk bertemu dan bertamu dengan roh beliau. Tanpa pikir panjang, saya pun mengambil segelintir batu di atas kuburannya. Batu itu berwarna putih bersih dan saya bawa pulang ke gubuk. Tiba di rumah, saya letakkan batu itu di atas meja dan saya pun menghabiskan hari untuk bekerja disebuah bengkel las. Malam harinya, setelah saya menunaikan kewajiban sholat saya menggenggam batu tersebut. Batu adalah selain sarana pangeling-eling juga sebagai media yang pernah menyerap energi ruhani yang dipancarkan oleh roh sang mendiang, yaitu KH Ahmad Dahlan. Harap dimengerti karena batu adalah makhluk tuhan juga yang sesungguhnya dia “hidup”…

Sejenak kemudian, masih di atas sajadah saya yang masih menggenggam batu tersebut tertidur pulas oleh sebuah keheningan dzikir yang untuk meluruhkan hati dan panca indera. Ini fase saat memasuki dimensi batiniah. Apa yan terjadi kemudian, saya ditemui oleh Roh beliau dan setelah saya sampaikan niat awal untuk berguru kebijaksanaan dengan beliau.. maka saya pun mendapat wewarah agar terus nglakoni hidup sederhana, terus giat menuntut ilmu, dan memberikan kemanfaatan pada sesama makhluk tuhan yang lain. Saya pun meminta beliau untuk terus mengawal saya, dan mengingatkan bila saya melenceng dari ajaran pemurnnian tauhid kepada Allah SWT.

Setelah pertemuan dengan roh KH Ahmad Dahlan, dimensi gaib terasa begitu terang benderang. Saya memiliki sekitar 30 teman jin yang selalu nyangkruk di sekitar gubuk dan sesekali minta saran, kebanyakan bertanya tentang hal-hal yang bersangkutan dengan keyakinan. Maklum saja, untuk soal kawruh agama dari sisi hakekat para jin ini kebanyakan lebih banyak bodohnya dari pada pintarnya.

Komunikasi dengan roh memiliki banyak cara dan metode ritual. Namun, saya lebih memilih menggunakan cara yang paling sederhana. Yaitu mengambil tanah di atas kuburan, bahkan pernah mengambil kain cungkup yang dipergunakan untuk menutupi maesan yang sudah usang. Tanah dan kain tersebut saya pergunakan sebagai medium untuk berkomunikasi dengan para roh leluhur.

Tahap selanjutnya setelah kita memiliki tanah, atau benda-benda yang telah menyerap energi roh di kuburan adalah meletakkan di tempat tertentu. Setelah itu, saya biasanya bermeditasi/diam diri untuk mengheningkan seluruh panca indera dengan jangka waktu yang tidak terukur dengan masih memegang tanah yang saya masukkan ke pastik/ atau kain cungkup. Kalau bosan duduk dan berdiri, atau setelah sholat wajib saya biasanya menggunakan waktu untuk merebahkan badan. Entah ritual apa ini namanya,… yang jelas kita sampaikan niat awal bahwa kita ingin bertemu dengan roh penghuni kuburan.

Oleh sebab itu, pilihlah tanah dari kuburan orang yang Anda nilai baik, bijaksana, waskita dan winasis. Jangan asal ambil tanah kuburan karena bisa jadi roh mereka nanti malah terganggu dengan ulah Anda. Biasanya saya memilih berkomunikasi dengan para roh leluhur yang sudah terbukti memiliki track record kemuliaan dunia dan di akhirat.

Dulu, antara tahun 1999 sd tahun 2001 saya hampir setiap minggu tugas keluar kota untuk liputan kasus pembunuhan. Di setiap kuburan yang saya kunjungi, saya pergunakan kesempatan untuk mengambil tanah kuburan dan berkomunikasi dengan roh nenek moyang sebuah wilayah. Ya, hampir di setiap kuburan kita akan mendapatkan mereka yang semasa hidupnya berjasa besar untuk masyarakat. Inilah yang saya pilih untuk ngangsu kawruh pada mereka. Berguru pada mereka bagi saya lebih memuaskan karena yang ada adalah kejujuran dan tanpa pamrih keduniaan lagi. So, pasti… yang saya serap adalah nasehat-nasehat yang bagus: seperti hendaknya bertakwa pada Gusti Allah, berbuat baik pada sesama, tidak merusak lingkungan, menjaga kehidupan berkeluarga, harus selalu eling dan waspada hidup di dunia, dan hal-hal ideal yang lain…

Atau kalau kebetulan kita beruntung menemukan tokoh yang memiliki kesaktian, dia akan menurunkan ilmu-ilmu yang masih tersisa alias belum tersampaikan semasa mereka hidup di dunia. Kalau ini terjadi dan Anda merasa mampu untuk menggenggam amanah mereka, apa Anda siap?

Ini terjadi saat saya berkomunikasi dengan roh seorang tokoh yang winasis di Salakan Sewon Bantul, Yogyakarta. Namanya mbah Abu Sujak yang meninggal sekitar tahun 1980-an. Pada suatu hari saat saya berkomunikasi dengan roh Mbah Abu Sujak ini, dia ingin mengajarkan ilmu kawaskitaan pada saya. Dia bilang bahwa di alam kelanggengan (alam kubur) dia sudah tidak lagi memegang ilmu-ilmu kesaktian lagi. “Ilmu kasekten semuanya sudah saya wariskan ke anak-anak saya ngger.. sekarang saya hanya punya ilmu kawaskitan yang saya sampaikan ini, yaitu nasehat-nasehat saja. Saya ingin agar angger tahu bahwa ilmu yang manfaat adalah ilmu nasehat-nasehat yang baik… disebarkan ya ngger…kau akan selamat,” demikian sepotong ucapan beliau yang sampai sekarang masih saya ingat.

Ah, saya yang bodoh ini pun berandai-andai, misalnya dulu Mbah Abu Sujak menurunkan saya ngelmu kasekten tertentu… saya pasti sudah kondang sekarang. Sebab saya bisa mengobati berbagai penyakit, memiliki ilmu kebal, ngerti sakdurunge winarah, dan seterusnya… Akhirnya, saya menjadi dukun sakti. Tapi ternyata, apa yang saya inginkan ini tidak terjadi…

Allahu Akbar, Tuhan sepertinya memberikan saya kesempatan untuk menjadi yang bukan seperti yang saya inginkan. Dia akhirnya memberikan sesuatu katakanlah jalan nasib, yang saya yakini kelurusannya hingga saya dipilihkan jalan terbaik-Nya: jadi wong alus yang tidak tahu apa-apa saja…

Nuwun, Rahayu dan Salam sayang kagem sedulur sedaya….

wongalus

Categories: KOMUNIKASI DENGAN ROH | 66 Komentar

BERTEMAN DENGAN JIN


Berkawan dengan jin itu sah dan boleh-boleh saja. Tidak ada satu larangan pun dalam kitab suci maupun hadits untuk berteman dengan makhluk-Nya ini. Asal satu sama lain saling menghormati, kenapa tidak?

Bila hubungan antar manusia hendaknya dijaga, maka hubungan antar sesama makhluk Tuhan hendaknya juga dijalin dengan erat. Makhluk Tuhan meliputi semua yang kita lihat dan rasakan saat kita hidup. Mulai makhluk bersel satu hingga makhluk dengan tingkat kecerdasan yang tinggi.

Makhluk Tuhan bisa dilihat bila mereka memiliki panjang gelombang dan kepadatan materinya bisa membuat mata merespon keberadaannya. Makhluk dikatakan tidak kasat mata karena mereka memiliki panjang gelombang dan kerenggangan materi yang membuat mata tidak mampu meresponnya.

Jin adalah salah satu makhluk yang tidak kasat mata. Bila dikatakan “melihat” jin itu berarti kita tidak melihat dengan mata fisik seperti kita melihat benda-benda. Sebenarnya lebih tepat kita hanya bisa merasakan keberadaan jin dengan rasa yang tidak menipu dan tidak direkayasa. Yaitu rasa yang jujur, polos, apa adanya yang berada pada kondisi kejiwaan tanpa keakuan, atau berada pada posisi nol.

Namun, berbeda dengan benda-benda yang pasif, jin memiliki sifat aktif sebagaimana manusia yang memiliki kehendak dan nafsu tertentu. Salah satu kehendak jin, dalam konteks hubungan antar dimensi adalah menampakkan diri ke dalam wujud fisik sehingga panjang gelombang dan kerapatan materinya bisa tertangkap oleh mata manusia.

Berbeda dengan jin yang dikaruniai mata untuk bisa melihat dunia fisik yang dihuni manusia, manusia secara umum tidak bisa melihat jin, merasakan keberadaan jin, apalagi berkomunikasi secara intensif dengan jin. Meskipun demikian, manusia manusia juga diberkahi sebuah alat canggih untuk meraba, merasa, menangkap eksistensi yang tidak kasat mata. Alat canggih itu semacam radar yang ditanamkan di otak manusia. Terletak pada sistem limbik dimana di sana juga menjadi pengendali emosional, rasa, batiniah manusia.

Bila radar itu telah ditemukan, kemudian dilatih dan dirawat baik-baik maka radar akan mengenali setiap pergerakan obyek metafisik di yang melintas dalam radius tertentu. Jauh dekatnya radius obyek yang tertangkap radar, sangat bergantung pada jenis dan kualitas radar yang Anda miliki. Jenis dan kualitas radar yang baik adalah mampu menjangkau dimanapun obyek metafisis berada.

Namun sekali lagi, di alam metafisis ruang dan waktu bisa sangat relatif. Jarak ruang dan waktu masa lalu, masa kini dan masa depan tidak menjadi soal karena radar bisa disetel sesuai keinginan. Manusia sungguh luar biasa, dengan alat radar yang canggih dia bisa mengakses kawruh kapanpun dia mau.

Kenapa? Sebab setiap peristiwa di dunia fisik sebenarnya tidak pernah hilang begitu saja. Setiap peristiwa akan abadi terekam secara metafisis di alam semesta. (Akan dibahas di laun waktu)

Kembali ke soal jin. Secara garis besar, kita sudah mengerti bagaimana teknik berkomunikasi dengan jin yaitu dimulai dengan menajamkan intuisi untuk menangkap hakikat obyek-obyek metafisis. Keahlian itu adalah keahlian untuk olah batin kita untuk melakukan tiga reduksi (artikel sebelumnya: Teknik Berkomunikasi dengan Jin).

Hubungan manusia dengan jin yang ideal adalah hubungan pertemanan, kita bisa meminta mereka untuk melakukan sesutu dengan sukarela. Bila mereka mau ya monggo namun bila mereka tidak mau ya jangan dipaksa. Kecuali bila jin sudah mengganggu kita, maka manusia wajib untuk mempertahankan diri dan meminta mereka dengan cara yang santun dan beretika.

Sayangnya, kebanyakan jin adalah makhluk yang berangasan, ngamukan, ngawur, suka melanggar aturan Tuhan. Ini sama dengan manusia bukan? Bukankah manusia sekarang lebih banyak mengedepankan emosi daripada pikiran yang adem dan tenang untuk menyelesaikan sebuah perkara?

Bila demikian halnya yang kita jumpai di alam metafisik, yaitu bertemu dengan jin-jin yang berangasan semacam ini maka diharapkan kita tidak ikut terpancing ikut-ikutan emosional. Tetaplah tenang, tidak boleh goyah.. apalagi takut. Sedikit ketakutan dalam hati akan membuat jin mampu dengan mudah menyerang dan merobek pertahanan diri kita.

Saya menemukan banyak paranormal yang tidak bijaksana. Misalnya saat ada pasien datang untuk meminta menyantet seseorang, dukun tersebut tidak memberikan pilihan alternatif yang lebih bijaksana kecuali hanya menuruti keinginan pasien. Padahal, keinginan pasien adalah keinginan akibat sifat-sifat setan yang bersemayam dalam dirinya.

Berbeda dengan hubungan antar dua makhluk Tuhan yang hendaknya dilakukan secara suka rela, dukun meminta jin untuk melakukan sesuatu dengan imbalan. Sebelumnya, antara dukun dan jin telah mengadakan sebuah kesepakatan hitam untuk saling bantu membantu, memberi dan menerima dengan imbalan atau hadiah tertentu.

Saya memiliki pengalaman bergaul secara tidak wajar dengan jin dan astaghfirullah pengalaman itu jelas berdosa sehingga saya harus menyesali dan tidak lagi mengulangi perbuatan keji dan munkar tersebut..

Saya ingat kejadian ini tiga belas tahun yang lalu. Suatu ketika, saat Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa Secang, Magelang, Jateng, pacar saya sebut saja A –yang sudah tiga tahun saya pacari– “diambil” orang lain, teman KKN di A. Perebut pacar saya ini sebut saja J adalah seorang santri yang sangat taat beragama.

Berbagai upaya lahiriah saya lakukan, mulai dari meminta baik-baik agar J tidak meneruskan usahanya merebut A, sampai upaya marah-marah dan berkelahi adu fisik. Si J ini rupanya seorang yang sangat istiqomah dengan tekadnya. Apalagi saat itu, orang tua A akhirnya menjodohkan mereka berdua. Bagaimana dengan A? Ya, A sang pacar saya ini tidak bisa berbuat banyak menghadapi intervensi orang tua… akhirnya, keduanya bertunangan….

Hati saya benar-benar keruh dan hancur. Butuh waktu lama untuk meratapi kebodohan dan kelemahan saya saat itu…

Jelas saya protes pada Tuhan ….

Dan entah sebuah energi muncul dari dalam diri saya untuk tidak hanya meratapi nasib saja. Ya, saya harus berjuang!!!

Pada suatu malam, dalam sebuah kondisi jiwa yang penuh kepasrahan saya mengumpulkan benda-benda milik A yang masih ada di gubuk saya. Mulai foto, buku, hingga baju dan helai rambutnya yang tidak sengaja terjatuh saat berkunjung…

Benda-benda milik A itu kemudian saya kumpulkan di sebuah kotak kayu. Di dalam kotak kayu saya beri lampu tempel dinding yang menyala, dupa wangi yang kalau malam saya bakar di dalamnya. Mulailah saya melakukan kontak dengan “ruh’ si A dan berkomunikasi dengannya. Serta memohon pada-Nya agar dibantu agar A kembali menjadi pacar saya.

Dan kepada J, saya melakukan ritual penghancuran. Pada suatu tengah malam, secara sembunyi-sembunyi saya mendatangi rumah A, dan menancapkan paku yang sudah berkarat di pintu gerbang depan rumahnya, di kanan dan kiri masing-masing satu paku. Setelah itu, saya pulang ke gubuk.

Untuk apa paku itu? Ya, saya meminta jin untuk menjaga rumah A dengan tetenger sebuah paku. Bila J berkunjung ke rumah A dan melewati pintu gerbang, maka tidak bisa tidak J akan diganggu batinnya hingga mengalami serangan-serangan mulai lemah mental hingga sakit mental yang akut.

Apa yang terjadi? Akhirnya J benar-benar mengalami serangan mental yang luar biasa.. Padahal J termasuk orang taat ibadah dan yang kuat spiritualnya. Beruntung, Tuhan masih melindunginya dari akibat yang lebih fatal. Meskipun demikian hubungan A dan J yang sudah tunangan itu pun akhirnya bubar dan A akhirnya menjadi isteri saya hingga sekarang….

Astaghfirullah, alhamdulillah…. mengingat kejadian ini, saya harus ngomong apa ya.. bingung..

Ini adalah salah satu pengalaman saya berhubungan dengan jin. Semoga kita semua semakin arif untuk menempatkan diri di lingkungan sosial antar dimensional ini. Jin adalah sahabat kita, bukan musuh (yang musuh adalah sifat setan yang ada pada jin dan manusia) dan dengan sahabat kita harus menjalin hubungan yang wajar. Bukan hubungan yang saling mengeksploitasi dan saling mengalahkan dengan kekuasaan, namun hubungan antar sesama makhluk yang rendah hati karena sesungguhnya kita semua membutuhkan petunjuk dan hidayah-Nya semata sebagai bekal perjalanan hidup yang panjang.

wongalus

Categories: JIN SAHABAT KITA | 62 Komentar

TEKNIK BERKOMUNIKASI DENGAN JIN


Segala sesuatu adalah ciptaan Tuhan. Mereka bisa berkomunikasi satu sama lain secara intuitif. Maka, manusia bisa mengajak berkomunikasi dengan apapun juga termasuk makhluk gaib karena mereka sesungguhnya makhluk yang hidup seperti kita.

Agar kita dengan intuisi kita dapat berbicara satu sama lain, maka dibutuhkan pengetahuan khusus. Yaitu sejenis keahlian untuk menangkap hakikat obyek-obyek di luar diri manusia. Salah satu obyek itu adalah JIN.

Keahlian itu adalah keahlian untuk olah batin kita untuk melakukan tiga reduksi. Reduksi itu diperlukan sebagai tahap penyingkiran semua tabir/hal yang mengganggu pandangan kita sehingga nantinya kita bisa menangkap secara jelas penampakan obyek kita yaitu jin.

Reduksi pertama: menyingkirkan segala sesuatu yang subyektif. Singkirkan dulu keakuan kita. Keakuan adalah salah satu pintu penutup kita melihat kegaiban. Sikap kita harus obyektif, terbuka untuk gejala-gejala yang akan diajak bicara.

Reduksi kedua: menyingkirkan seluruh pengetahuan tentang obyek yang diselidiki yang diperoleh dari sumber yang lain, semua teori dan hipotesis yang sudah ada. Untuk sementara, setelah kita mampu melakukan penyingkiran keakuan/ego maka semua teori tentang jin harus ditinggalkan. Tahap Anda harus “tidak tahu apa-apa tentang jin” ini.

Reduksi ketiga: menyingkirkan seluruh tradisi pengetahuan termasuk pengetahuan dan praktik mistik dan mengalaminya dengan totalitas penghayatan. Segala sesuatu yang sudah dikatakan tentang jin harus untuk sementara dilupakan. Kita memasuki kondisi nol. Yaitu kondisi ketika kita tidak berpikir apa-apa tentang jin, dan tidak memiliki pengetahuan apa-apa namun mengalami dengan seluruh totalitas pengalaman “ku terhadap ada mu (jin)”

Kalau reduksi-reduksi ini berhasil, gejala penampakan jin akan terlihat dengan sendirinya. Metode sederhana ini saya rasakan terbukti sangat efektif untuk berkomunikasi dengan jin. Terserah Anda mau dengan cara/ritual/metode atau mantra/doa apapun juga, monggo saja. Intinya bahwa semua metode, matra dan doa-doa itu hanyalah sebagai sarana untuk memantapkan tahap reduksi pertama, kedua dan ketiga.

Yang saya paparkan ini hanya dasar tangga menuju komunikasi dengan jin. Makhluk Tuhan ini juga seperti kita, sehingga kita jadikan dia teman belajar untuk berbagi kebijaksanaan.

Yang perlu diperhatikan berhubungan agar ketauhidan atau keimanan kepada Allah SWT terjaga, maka dilarang keras untuk saling mengeksploitasi. Semua harus berlandaskan etika untuk saling menghormati dan menghargai satu sama lain.  Selamat mencoba dan Terima kasih.

wongalus

Categories: KOMUNIKASI JIN | 41 Komentar

SEPARUH HATI


Maha Pemurah KAU yang telah memperkenankan si bodoh ini menulis apa yang terasakan khususnya terkait dengan hubungan-hubunganku dengan-MU. Hubungan dengan peradaban dalam waktu dan ruang yang menyejarah yang merupakan pemaparan ayat-ayat-Mu pada hidup kami.

Sebuah hubungan khusus yang tidak setiap saat manusia dapatkan. Hanya pada kesempatan-kesempatan khusus pula manusia diperkenankan untuk menyampaikan perasaan ini. Tidak ada maksud lain selain ingin berbagi pengalaman sehingga bisa diambil apa yang dirasa bermanfaat dan membuang apa yang dirasa kurang bermanfaat.

Memang cukup berat yang manusia rasakan untuk mengungkapkan secara jernih, bening dan detail hubungan antara manusia dengan Dia. Sebab, mengungkapkan rasa harus melalui saringan akal dan akal sepertinya memiliki watak untuk memanipulasi dan membiaskan maksud yang sesungguhnya. Namun, semoga Dia melindungi tulisan ini dari penyesatan-penyesatan akibat “aku” manusia yang cenderung mengarah pada mementingkan diri sendiri.

Pada kesempatan langka ini, sedikit banyak batin manusia ingin mengunci untuk sementara peran akalnya. Mengunci dan tidak membuka-buka gudang memori di otak terkait dengan apa terasa, mengubur untuk sementara bahasa-bahasa baku yang biasanya manusia gunakan. Menutup gudang wacana dan kemudian mengalirkan udara kebebasan rasa untuk memilih arti dan maknanya sendiri-sendiri.

Sejak pertama manusia mendaftarkan blog ini ada sesuatu yang menggedor-gedor di dada ini untuk berbagi sesuatu yang entah namanya apa. Mungkin kebenaran dan kebijaksanaan yang berasal dari keprihatinan manusia melihat begitu banyak nilai-nilai absolut dan abadi yang sudah rusak, baik disadari maupun ikut-ikutan merusak secara sengaja untuk kemudian melanggeng dalam ketidaktahuan menuju kehancuran peradaban. Barangkali ini adalah utopia dari manusia, sehingga manusia mohon maaf. Namun, manusia mohon untuk tidak apriori terlebih dahulu.

Manusia percaya sesuatu yang muncul dari rasa terdalam akan sampai pada pembacanya dengan mendalam pula. Sesuatu itu bisa diserap dan bersenyawa kuat serta diakui sebagai kebenaran bila memang benar. Namun bila salah, maka lambat laun akan menguap dan hilang begitu saja seiring dengan berubah-ubahnya hati kita. Watak diterimanya kebenaran memang sangat sulit namun bila sudah bisa diterima dengan hati dan rasa batin maka akan mengakar kuat.

Manusia merasakan suasana batin kita sekarang sudah tidak kondusif lagi untuk dihirup. Resapan energi alam yang suci sudah sedemikian polutif oleh hawa nafsu/keinginan/kehendak yang dipendarkan setiap individu. Kemana-mana manusia melangkah, terasa menyakitkan dan menyesakkan. Tidak ada rasa syukur, tenang, ikhlas yang memancar. Kedekatan manusia dengan alam tidak terasa sebagai hubungan silaturahim antar makhluk-Nya, namun sebaliknya. Sebuah hubungan di mana yang satu (manusia) berkeinginan untuk membohongi, mencengkeram untuk menguasai dan kemudian dijual. Ujungnya hanyalah untuk kepentingan diri sendiri, sementara kepentingan alam untuk melestarikan dirinya diabaikan. Dimana-mana manusia menjumpai hal ini…. hanya pada saat khusus di tempat khusus dan ini pun langka, manusia hanya bisa menjumpai segelintir momen dan orang yang masih “suci” dari kotoran-kotoran duniawi.

Justeru, biasanya orang-orang suci yang manusia temui ini bukan berasal dari kalangan terpandang, terpelajar dan berkuasa. Meskipun ada juga satu dua orang yang dari kalangan ini yang masih memancarkan sinar pemberontakan habis-habisan terhadap kondisi batin peradaban yang polutif. Mereka berkeinginan untuk merubah secara revolusioner namun manusiangnya dia hanya sendiri dan belum memiliki kekuatan sosial. Artinya, dengan kekuatan satu porang suci mustahil untuk dilakukannya perubahan besar. Dia butuh kekuatan besar masal meski awalnya dilakukan diam-diam.

Sementara orang suci lainnya tidak memiliki kekuatan untuk melakukan perubahan batiniah masyarakat. Dia ibarat nabi, yang suci dan hanya bisa diteladani saja. Dia tidak memiliki energi yang begitu kuat untuk melakukan perubahan struktural masyarakat. Dia hanya mengajarkan di forum-forum kecil dan informal. Inipun terkadang masih ditentang oleh pengikutnya sendiri karena ada pengikut yang kurang bijaksana. Di sisi lain, peradaban ini membutuhkan kekuatan batin yang dahsyat untuk berubah.

Namun, Malaikatmu mengingatkan bahwa kini orang suci tidak seterusnya suci. Suci tidak inheren melekat pada semua sifat-sifat kemanusiaannya. Kini kesucian hanyalah menempel pada saat khusus dan sesaat lenyap. Para Nabi dan para wali kini mungkin sudah tamat seiring dengan sudah terasa cukupnya ajaran kebenaran disampaikan.

Entah, ini hanya keyakinan saja. Bahwa kelak akan ada sebuah energi besar yang datang tidak dari jauh, melainkan dari “dalam” peradaban sendiri untuk berubah menjadi baik sesuai dengan kehendak Tuhan. Kekuatan batiniah yang kuat ini akan menggelontor peradaban yang polutif dan sakit sehingga peradaban ini akan benar-benar bersih kembali seperti sedia kala. Peradaban yang tidak kotor oleh tangan-tangan jahil, oleh otak-otak koruptif dan manipulatif. Semoga dalam waktu dekat hal ini akan terwujud.

Namun, harapan ini bisa jadi juga hanya harapan, sebab bila kita rasakan secara jernih maka yang terasa hanyalah kekotoran batin peradaban yang menjadi-jadi dari hari ke hari….

Terbayang jelas seperti layar putih membentang: ada peperangan ekonomi, peperangan fisik berkecamuk, bencana alam yang bertubi-tubi, kekalahan manusia, kemunafikan para pemimpinnya, penderitaan panjang yang mengakibatkan putus asa, gelap sungguh gelap peradaban kita. Iniah suatu masa yang menjadi kekhawatiran kita bersama sehingga marilah kita semua mencegah agar jangan sampai bayangan manusia ini menjadi kenyataan.

Pencegahan hanya bisa dilakukan bila batin/jiwa/rasa kita semua menjadi suci. Bila tidak suci atau masih abu-abu maka akibatnya akan sangat mengerikan. Sebab malaikat sudah memegang kitab-kitab yang berisi daftar hitam kebodohan manusia. Ketololan manusia, bagi malaikat adalah bahan informasi kepada Tuhan untuk mendatangkan hukuman. Malaikat adalah makhluk yang tertib dan tidak menilai benar-salah dengan hati nurani. Malaikat adalah makhluk mekanis deterministik seperti robot yang siap apapun karena memang sudah diprogram Tuhan untuk melaksanakan perintah-Nya tanpa protes.

Sekali Tuhan memberi perintah, selanjutnya malaikat akan melaksanakan dengan sepenuh energi yang dimilikinya untuk taat dan patuh. Ini beda dengan makhluk iblis yang terasa begitu cerdas. Kecerdasan iblis adalah menyerang setiap ide dengan apriori tanpa memperhitungkan akibat tindakannya. Iblis tidak memiliki kebijaksanaan dan hanya manusia yang memiliki kebijaksanaan dan kedalaman untuk menakar nilai-nilai berdasarkan kehendak Tuhan. Allah Maha Bijaksana!

Du Gusti, hubunganku denganmu adalah hubungan asmara yang abadi. Keabadian ini tidak akan lenyap oleh kekuranganku akibat kebodohan pikiranku untuk menghayati setiap inti sel kebenaran yang terpancar jelas sebagai petunjuk. Engkau yang Maha Pecinta akan selalu memberi aku kepercayaan bahwa semua yang Engkau sabdakan adalah benar dan paling benar. Tidak pernah salah karena Engkau mengukurnya dengan tingkat akurasi hukum-hukum ciptaanmu sendiri yang tidak mampu kami pahami.

Ya Gusti, meniadakanku untuk selama-lamanya di dalam alam yang sudah kotor oleh nafsu-nafsu ini adalah sebuah kebahagiaan. Namun dengan kau tundanya manusia untuk menikmati kebahagiaan ini adalah bukti kecintaanmu pada ciptaan-Mu sendiri. Tidak mungkin kau adakan manusia bila kau tidak memiliki maksud agar semua yang ada ini bisa seimbang kembali tatanan kosmis lahir dan batin sebagaimana yang engkau ijinkan. Sekecil apapun peran setiap sel di alam semesta ini, pada hakikatnya adalah memiliki peran dan fungsi untuk menjaga keadilan dan kesejahteraan bersama.

Apa yang diperankan manusia sesuai dengan kehendakMU menciptakan kami adalah sebuah kemuliaan yang sangat berarti. Sedikit banyak kami bisa ikut merasakan betapa nikmat berada di dalam bumi-Mu, alam-alamMu, dan surga-Mu kelak. Ungkapan rasa syukur dan kata-kata saja sangat tidak mencukupi untuk membalas betapa Engkau Maha Pemberi Kenikmatan yang tiada terkira. Sangat luar biasa… sangat sangat luar biasa… Maha Suci Engkau dari segala yang kami persekutukan.

Kini, tidak layak lagi “aku” mengaku “aku”. Sangat sangat malu rasanya mengakui bahwa aku ini layak untuk tampil dan mengatakan sesuatu. Hubunganku dengan-MU terlalu khusus dan mungkin tidak mampu diceritakan kenikmatannya. Terima kasih, Ya Allahku… sesuatu/dzat/tuhan satu satunya yang tiada tara… Namun aku menyadari bahwa “aku mencintaimu masih dengan separuh hati”, karena terkadang aku dholim telah dengan sengaja melupakanmu. Astaghfirullah…

wongalus

Categories: SEPARUH HATI | 6 Komentar

KOMUNIKASI DENGAN GUSTI


Dengan akal atau intuisi?

Sejarah lahirnya modernitas yang dimulai dari belahan dunia bagian barat, kita tahu sangat mendewakan akal budi (rasio) untuk memecahkan semua problem, tidak terkecuali untuk menalar hal-hal yang sifatnya batiniah, spiritualitas dan ketuhanan. Cukup menarik bila kita sedikit menggelar latar belakang wong barat kok sangat gemar memakai left hemisphere (otak kiri) ini.

Jembatan antara abad pertengahan dan jaman modern disebut dengan renaissance, atau “kelahiran kembali”. Periode ini berawal sekitar tahun 1400 hingga tahun 1600 masehi. Di masa renaissance, manusia seakan akan dilahirkan kembali dari tidur abad pertengahan yang lebih cenderung untuk menyerah kalah pada Tuhan. Semua hasil karya pikiran manusia, pada abad pertengahan selalu harus jadi budak agama formal. Ilmu pengetahuan menjadi abdi agama. Bila ada hasil penemuan baru, harus disesuaikan dengan doktrin-doktrin yang ada pada kitab suci. Bila bertentangan, maka penemuan baru ini harus dianggap sebagai kafir. Para ilmuwan dikejar-kejar dan bila tertangkap maka otoritas agama menyeretnya ke tiang gantungan. Atau paling ringan bila ketangkap adalah digebuki di kamar-kamar pengap di bawah tanah.

Namun, di jaman renaissance semua itu berubah. Seluruh kebudayaan barat tiba-tiba dibangunkan dari keadaan mandeg dan statis yang berlangsung seribuan tahun. Di negara-negara Eropa, kita bisa melihat gerakan bangkitnya ilmu-ilmu, sastra, gaya hidup, peradaban masyarakat yang tidak dikenal sebelumnya. Manusia mulai berpikir dengan cara baru untuk mengenal dirinya. Manusia tidak menganggap lagi diriya hanya mampir ngombe di dunia, melainkan manusia harus menciptakan air-air minum untuk diombe. Artinya, manusia tidak hanya boleh kerasan tinggal di bumi Tuhan melainkan hendaknya menciptakan temat-tempat baru agar kerasan meskipun tanpa memikirkan Tuhan. Manusia menganggap dirinya pusat kasunyatan.

Tiga hal yang menjadi tonggal awal kelahiran jaman kelahiran kembali / renaissance ini adalah ditemukannya mesiu atau bubuk peluru, mein cetak dan kompas. Mesiu menandai akhir kekuasaan feodalisme yang bersemayam di benteng-benteng/kastil-kastil yang sakral. Mesin cetak menandai bahwa ilmu pengetahuan bisa disebarkan secara cepat ke masyarakat umum dan tidak lagi milik eksklusif kaum elite bangsawan dan intelektual. Sementara kompas menandai terbukanya jalur-jalur pelayaran dan moda transportasi umum yang aman dna memungkinkan manusia mengadakan perjalanan-perjalanan jauh melintasi benua-benua.

Bila di abad awal kelahiran peradaban Yunani pengetahuan manusia lebih terarah pada bagaimana menemukan substansi/ arkhe/asal mula segala sesuatu dari alam semesta (kosmos), abad tengah lebih cenderung kepada Tuhan sentris (Teosentris), maka era kelaahiran kembali pikiran terarah pada manusia (antroposentris). Inilah awal jaman modern, dimana manusia menemukan subyektivitasnya yang membabi buta. Sebab “aku’ adalah pusat kenyataan, pusat pemikiran, pusat kenyataan, pusat tindakan, pusat perasaan.

Puncak pematangan jaman modern adalah jaman aufklarung (pencerahan) di mana manusia barat merasa bahwa rasio atau nalar telah mencapai puncak pendewasaan. Manusia merasa mampu untuk benar-benar hidup tanpa Tuhan. Bahkan, Tuhan disingkirkan dalam ilmu-ilmu pengetahuan baru yang genit dan seksi. Lahirnya ilmu sosiologi, ilmu psikologi, psikiatri dan ilmu-ilmu kemanusiaan juga terjadi di jalam aufklarung yang berlangsung di abad 18.

Abad 20, modernitas orang barat untuk menalar kasunyatan sudah benar-benar keterlaluan. Sekarang orang sudah tidak lagi menalar berdasarkan acuan-acuan besar yang telah ditemukan para pendahulunya. Modernisme yang awalnya adalah proyek pencerahan yang membebaskan manusia dari mitos, pada akhirnya justeru terjebak pada memitoskan rasio/nalar untuk menemukan kebenaran sejati. Mulailah kultur barat memasuki fase kejenuhan dan kebosanan sehingga lahir era baru yang dianggap mewakili semangat jaman edan ini. Lahirlah era Post Modernisme.

Post modernisme memiliki konvergensi keyakinan yang unik dan menyebar. Kebenaran absolut tidak ada lagi, diganti dengana kebenaran-kebenaran relatif yang lincah dan liar. Konvergensi ideologi,wacana maupun grand narratives berganti divergensi. Tidak ada pusat, yang “pusat” sekarang harus didesentralisasikan ke “pinggir” karena “pinggir” mampu otonom.

Peran nalar sekarang hanya untuk menganalisa dan ngotak atik gathuk berbagai mosaik atau pecahan kasunyatan. Melalui bahasa, manusia perlu untuk merongrong kebenaran yang semakin susah ditemukan. Konsentrasi pengetahuan sekarang tidak lagi pada Kosmosentris (memikirkan asal penciptaan), Teosentris (memikirkan Tuhan), Antoposentris (memikirkan “aku” manusia), namun sekarang disibukkan dengan memikirkan bahasa atau LOGOSENTRISME. Kebenaran itu bukan milik “Yang ada” melainkan milik “Yang Lain” bahkan “Yang lain dari yang lain”.

Makanya, jangan salah bila sekarang “kebenaran absolut” atau “kebenaran yang tidak relatif” tidak mendapat konsetrasi utama lagi. Orang tidak disibukkan lagi untuk mencari apa dan bagaimana sesungguhnya hakikat kenyataan, siapa pencipta kenyataan dan untuk apa kenyataan. Orang sekarang lebih cenderung untuk berpikir apakah kenyataan itu bisa saya pakai dan saya fungsikan agar saya mendapatkan kesenangan dan kebahagiaan. Yang muncul kemudian kepalsuan-kepalsuan kasunyatan/realitas dan melebih-lebihkan kenyataan yang sesungguhnya atau disebut Hiperrealitas.

Inilah jaman hiperrealitas. Kasunyatan kalah oleh pencitraan yang dibuat. Ini adalah Tuhan baru manusia postmodern yang sak karepe dhewe asalnya laku dijual. Siapa yang menang mengunggulkan diri melalui pencitraan, maka dia yang menang. Ini adalah era dimana prinsip andap asor, sugih tanpa banda, menang tanpa ngasorake, ngluruk tanpa bala tidak mendapat tempat. Konsumtivisme yang melanda masyarakat karena pencitraan/iklan adalah salah satu akibat dari hiperrealitas. Realitas semu, main-main dan tidak sejati.

Bagaimana peran rasio di era postmodernisme di awal abad 21 ini? Tadi sudah dipaparkan bahwa era modern sangat mendewakan akal budi (rasio) untuk memecahkan semua problem, tidak terkecuali untuk menalar hal-hal yang sifatnya batiniah, spiritualitas dan ketuhanan. Di era ini ternyata rasio masih mendapat tempat yang sangat kuat. Rasio tidak mampu dikalahkan lagi. Dia menjadi raja dan menjadi Tuhan yang sangat berkuasa. Namun hebatnya, rasio enggan mengakui ketololannya ini. Rasio era postmodern memang dikenal cerdas memluntir kenyataan. Repotnya, kritik sudah tidak mendapatkan tempat lagi. Sebab kritik dinilai ideologi yang usang. Maka rasio tetap berjalan sambil menggerus setiap kesangsian yang lahir…

Kapan akhirnya manusia menyadari ketololan yang dibuatnya sendiri? Tidakkah harusnya peradaban post modern ini lebih arif mensikapi ketiadaan spiritualitasnya?

Wahai manusia supra modern yang berjumlah sekian milyar… kembalilah menyadari bahwa akalmu sangat terbatas. Akalmu bukan lagi raja yang arus kau turuti kemana arahnya. Kemauan adalah bidang rasa, dan bidang rasa yang kau kalahkan oleh nalarmu berakibat dirimu buta! Ketahuilah sesugguhnya… Bahwa seluruh kenyataan ini sesungguhnya satu jalinan mistik yang substansinya satu kesatuan yang berbeda wujudnya. Yang satu adalah Ciptaan dan yang lain adalah Pencipta. Allah berbeda dengan alam dan alam berbeda dengan Allah. Menjumbuhkan kedua dzat ini mengakibatkan kita berada pada kebimbangan menentukan peta. Lihatlah peta dari jarak dan jangan masuk dirimu dalam peta tersebut. Memasukkan dirimu dan alam di “dalam Tuhan” adalah kesesatan!!!

Kita boleh rasionalis karena memang ini adalah alat canggih untuk hidup berdasarkan hukum-hukum alam yang matematis, eksak dan terukur. Namun jangan dilupakan peran logika batinmu. Batinmu memiliki alasan-alasan yang tidak diketahui oleh akal. Hati/batin/rasa akan memunculkan kesadaran tentang kesatuan dalam keberagaman kasunyatan. Semua untuk satu dan satu untuk semua.

Aktivitas tertinggi dari akal adalah mengakui bahwa akal itu terbatas. Ia hanya salah satu sumber pengetahuan yang ada. Ada banyak pengetahuan yang sangat miskin bila hanya memakai akal/nalar/rasio untuk menganalisanya. Bukan bidang rasio untuk menalar Kebijaksanaan Tuhan, keadilan, kemanusiaan, kesetaraan, kebebasan dan seterusnya. Ada sumber pengetahuan lain yang jauh lebih penting. Dialah INTUISI. Ini adalah alat canggih untuk mengajari seluruh jaringan kemanusiaan kita agar selamat dunia akhirat, lahir dan batin.

Intuisi adalah kepekaan batin untuk mencari secara otomatis kedamaian dan keselamatan hidup di dunia yang sementara ini. Dengan intuisi kita akan mendapatkan KEPASTIAN tentang darimana, dimana dan kemana perjalanan hidup seluruh alam semesta dan manusia ini. Dengan intuisi kita mengadakan kontak intensif dengan Tuhan Semesta Alam yang sangat dekat. Bila kita menggunakan nalar, Tuhan berada di langit ketujuh… Namun dengan intuisi yang merupakan gabungan dari ketajaman rasa, batin, hati, kita akan menyadari bahwa Tuhan Yang Esa ini begitu dekat. Tidak di sana, bahkan tidak di sini, karena hakekat ada-nya DIA adalah mengatasi di sana dan di sini.

Ya, dengan intuisi kita mampu merangkum pengetahuan sangkan paraning dumadi ini DENGAN PERILAKU DAN PERBUATAN YANG NYATA. Bukan hanya teori dan konsep yang ada di angan-angan saja.

Wongalus

Categories: KOMUNIKASI KE GUSTI | 16 Komentar

KEBODOHAN SPIRITUAL: MENYEMBAH KEAKUAN KITA SENDIRI DI ATAS KEAKUAN GUSTI ALLAH


Setiap orang diberi kecerdasan spiritual menurut kadar yang telah ditentukan. Repotnya, setiap orang malah memelihara dan menjaga dengan rapi kebodohan spiritualnya. Bagaimana agar kebodohan kita tidak dominan?

Masih ingat Firaun yang akhirnya sadar bahwa dia manusia biasa? Firaun yang selama hidupnya mengaku Tuhan dan memaksakan kehendak kepada rakyat akhirnya harus karam di laut merah. Saat terakhir akan diemut lautan ganas itulah, dia baru sadar ketidakberdayaannya. Kebodohan Firaun ini harus ditebus dengan kegagalan dia untuk bertaubat. Taubat yang terlambat, sama saja dengan tidak bertaubat dan dia digolongkan Tuhan sebagai manusia yang gagal dalam hidup.

Dari segi sumber daya manusia (SDM) Firaun tidak kekurangan suatu apa. Dia cerdas dan lihai. Buktinya, dia bisa juga menjadi raja dalam jangka waktu sekian lama. Kecerdasan emosinya juga baik karena saat dia menghukum siti Masyitoh dengan memasukkan ke belanga besar yang diisi air mendidih, dia masih menawarkan Masyitoh untuk kembali mengakui Firaun sebagai Tuhan. Namun, kecerdasan spiritual yang rendahlah, yang akhirnya tidak menyelamatkan akidahnya. Dengan kata lain kebodohan spiritualnya lebih dominant dari kecerdasan spiritual.

Apa itu kecerdasan spiritual? Kecerdasan spiritual adalah tingkat kesadaran manusia untuk mengakui sesuatu yang adikodrati, mengakui sesuatu yang transenden, mengakui ada sesuatu yang menciptakan segala yang ada. Sesuatu itu tidak diciptakan lagi oleh sesuatu yang lain. “Sesuatu” yang tidak bisa dinalar oleh akal pikiran karena keberadaannya yang mengatasi hukum alam karena “Sesuatu” itu berada di “luar alam” namun berada di “dalam alam” (imanen), bahkan tidak “berjarak” dengan alam.

Sementare kebodohan spiritual saya definisikan sebagai tingkat kesadaran manusia yang tidak mengakui sesuatu yang adikodrati. Pikiran yang melulu hanya menganalisa gejala-gejala yang tampak di mata (benda-benda) dan menafikan atau menolak adanya kegiatan rasa/batin sebagai aktivitas kejiwaan untuk menemukan kebenaran. Gejala ini sangat tampak dari paham positivistik, materialisme yang akhirnya berakibat nihilisme.

Kalau kita amati, gejala umum masyarakat “modern” yang pandai untuk mengolah hidupnya dengan berbagai teknologi untuk berperilaku “modern” justeru kebingungan untuk menata pandangan hidup yang jauh dan mendalam. Pandangan hidup masyarakat modern umumnya sekular, menjauhkan hal-hal yang sifatnya spiritual dengan urusan dunia. Urusan dunia bahkan lebih cenderung dinomorsatukan sementara urusan akhirat yang abstrak biasanya dinomorsekiankan. Ya, masyarakat modern lebih dominant kebodohan spiritualnya daripada kecerdasan spiritual.

Kenapa soal-soal spiritual semacam ini ditulis berulang-ulang dalam blog kita ini? Terus terang… mumpung masih ada waktu untuk merenung, mumpung masih punya kesempatan untuk membelokkan orientasi hidup yang keliru, mumpung kita masih hidup. Siapa yang menjamin bahwa saya dan Anda besok masih bisa bangun dari tidur? Siapa yang bisa menjamin bahwa besok kita masih bisa membaca dan menulis di blog? Yang bisa menjamin hanyalah Sang Pemilik dan Perancang Hidup. Tuhan semesta alam yang Maha Tahu rencana-rencana di balik keberadaan saya dan Anda diciptakan di dunia ini.

Menyadari akibat bila kita salah memikirkan sesuatu, menyadari akibat bila otak kita secara tidak sadar hanya dijejali oleh “urusan-urusan” yang tidak ada sangkut pautnya dengan RENCANA TUHAN pada kita, akan mengakibatkan kita mendapatkan KESADARAN. Kesadaran untuk memanfaatkan waktu yang tersisa untuk hidup ini untuk menyelesaikan peta/desain awal kenapa kita diciptakan yaitu untuk rahmat bagi seluruh alam semesta karena kita adalah WAKIL yang ditunjuk-Nya untuk menyelesaikan agenda-agenda besar ketuhanan.

Apa agenda-agenda besar ketuhanan itu?

• Pertama, Merencanakan Penciptaan Sesuatu dari Ketiadaan
• Kedua, Memproses terciptanya Ciptaan atau mengadakan sesuatu
• Ketiga, Memelihara Penciptaan dengan hukum-hukum kepastian Tuhan
• Keempat, Menuntaskan Penciptaan dengan menempatkan kembali pada ketiadaan

Kembali pada tema Kebodohan spiritual. Kebodohan spiritual tidak sampai menjangkau hal-hal yang abstrak tersebut. Akal dan pikiran hanya disibukkan dengan, misalnya, bagaimana caranya mendapatkan keuntungan dan uang sebanyak-banyaknya untuk dinikmati. Uang adalah raja atau bahkan tuhan di dunia ini. Dengan uang, kebahagiaan bisa dibeli. Inilah cara berpikir kaum rasionalistis, pragmatis, hedonis, cara berpikir rasional yang dilanjutkan dengan pada praktek yang tujuan akhirnya hanyalah pada kebahagiaan di dunia saja.

Padahal, ada begitu banyak hal yang abstrak di sekeliling manusia. Bahkan, bukankah manusia adalah makhluk yang abstrak dan justeru yang abstrak itu menjadi dasar yang primer dari hal yang kongkret? Kenapa pada akhirnya yang kongkret saja yang menjadi fokus otak kita bahkan kemudian menjadi dominan? Duh manusia, kapan kau akan sadar bahwa sejatinya kebahagiaanmu tidak ditentukan oleh “adanya” sesuatu. Namun ditentukan oleh bagaimana kau mensikapi “adanya” sesuatu itu untuk disesuaikan dengan agenda-agenda besar ketuhanan tadi.

Adanya mobil di rumahmu yang mewah tidak akan mampu membuat hatimu senang untuk jangka waktu yang lama. Pada suatu saat, kau akan jenuh dan bosan sehingga kau berniat untuk menjualnya dan menggantikannya dengan yang lebih baru. Atau malah membeli lagi mobil yang lebih nyaman dan mewah. Begitu seterusnya, sehingga dunia ini penuh dengan mobil-mobilmu yang tidak terbatas. Bumi jadi penuh polusi asap nafsumu. Hingga umurmu berakhir untuk sesuatu yang kongkret (benda mobil) padahal adanya mobilmu karena nafsumu/keinginan memiliki (yang abstrak)….

Inilah gejala kebodohan spiritual yang menjadi tanda-tanda kiamat. Nilai-nilai keabadian yang telah dijungkirbalikkan oleh manusia kemudian pada suatu saat akan menjungkirbalikkan kembali tataran yang telah sedemikian polutif. Inilah momentum kiamat akbar yaitu ujung hancurnya nilai-nilai ketuhanan. Sementara momentum kiamat kecil adalah hancurnya nilai-nilai ketuhanan yang telah diinstal dalam otak kita saat kita masih belum dilahirkan oleh ibu kita. Yaitu tatkala ruh kita telah meneken Memorandum of Understanding (MOU) dengan Tuhan… “Alastu Birobbikum Qaalu Bala Syahidna …” Hancurnya nilai-nilai ketuhanan itulah yang harus diwaspadai oleh kita semua.

Bagaimana menyelamatkan otak (hardware) yang berisi “file-file” pikiran dan keyakinan terhadap nilai-nilai ketuhanan yang telah sengaja dirusak oleh kita sendiri?

Ada satu hal yang bisa mengubah kita menjadi baik. Yaitu mulailah sekarang dan disini. Saat saya menulis ini dan Anda membacanya, yakinlah bahwa ini adalah “Petunjuk Allah SWT” telah datang pada kita untuk menyadari kebodohan spiritual yang selama telah kita pendam, kita jaga dan kita rawat baik-baik. Selanjutnya akan disusul dengan menata niat untuk bertaubat. Menyadari kesalahan dan kebodohan itu dan seterusnya melangkah berdasarkan agenda-agenda Tuhan kepada kita semua.

Maka, Just do it!!!, Laksanakan sekarang!!!

Ya, kita memang masih menjadi firaun-firaun yang menyembah “keakuan” kita sendiri di atas keakuan-Nya, Gusti Allah. Astaghfirullahal adzim…

@@@

wongalus

Categories: KEBODOHAN vs KEPINTARAN SPIRITUAL | 23 Komentar

CINTA PADAMU, PACAR TERAKHIRKU


purple_lotus_flowerSekarang, apapun kehendak-Mu pada diriku akan aku ikuti saja tanpa protes, tanpa bertanya-tanya. Apakah karena kehendak-Mu itu hatiku menjadi senang atau sedih, susah atau gembira, derita atau bahagia, terserah. Bencana dan keberuntungan bagiku sama saja asalkan itu semua adalah demi untuk melayani-MU.

Hati yang peka, mampu menangkap getaran keberadaan serta petunjuk Tuhan. Sebaliknya, hati yang keras membatu, tidak akan mampu merasakan keberadaan dan petunjuk Tuhan. Itu sebabnya di dalam agama, kita diminta untuk melembutkan hati. Hati yang lembut adalah modal dasar agar seseorang itu mampu untuk merasakan berbagai sifat-sifat-Nya dan membuat seseorang itu mengalami KESAKSIAN.

Sebenarnya, Tuhan sudah menganugerahi setiap manusia yang hidup di dunia hati yang peka. Cobalah amati anak-anak, bagaimana dia rebutan mainan dengan temannya. Bagaimana dia sedih dan menangis bila tiba-tiba ditinggal ibunya pergi ke pasar. Itu karena, anak-anak memiliki hati yang peka.

Seiring berjalannya waktu, anak-anak akan tumbuh remaja dan menjadi dewasa. Kepekaan hati anak-anak itu semakin berkurang sedikit demi sedikit. Akibat dominannya otak untuk merasionalisasikan kejadian-kejadian. Misalnya, buat apa menangisi ibu yang pergi ke pasar? Toh, dia nanti akan pulang ke rumah juga. Buat apa sedih ditinggal pacar? Toh kita bisa cari lagi yang lebih cantik dan sebagainya.

Otak pada orang dewasa kemudian berkuasa di atas hati. Hati tersisihkan dan terpinggirkan bahkan kemudian bisa jadi kalau bisa ditekan dan dihilangkan. Hanya pada saat-saat tertentu saja, orang dewasa merasa butuh untuk menggunakan hatinya. Namun secara umum, mereka adalah makhluk rasional (animal rationale) yang suka bermain-main dengan otaknya.

Kecerdasan intelektual lebih dominan dibandingkan kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual. Di dunia kerja, orang dewasa dituntut untuk pintar dan cerdas dibanding tuntutan untuk mampu menguasai emosi dan tuntutan untuk mampu mengerti hakikat-hakikat (kecerdasan spiritual).

Celakanya, bila manusia dewasa tidak mampu untuk menggerakkan otaknya, rasionya, nalarnya untuk menghayati betapa perlunya kita kembali mengolah kepekaan hati dan rasa maka lambat laun hatinya akan menjadi mati. Penderitaan orang lain dipahami sebagai hubungan sebab akibat dari sebuah hukum alam semata, ketimbang sebagai fenomena yang harus dibantu dan ditolong untuk dientaskan dari penderitaan.

Manusia itu seperti daun. Lambat laun daun yang hijau bugar akan menguning, tua dan gugur ke tanah. Di tanah, daun yang gugur akan diurai lagi oleh cacing dan bakteri-bakteri mikroba untuk menjadi tanah lagi. Persis manusia.

Sangat celaka bila pada masa senja dan mati, manusia tidak pernah mampu mengenal siapa Tuhan. Tidak memiliki referensi dan wacana yang holistik tentang hakikat perjalanan hidupnya di dunia yang hanya sesaat ini. Tidak memiliki pengetahuan dan kesadaran bahwa tujuan hidupnya adalah untuk mengabdi pada kehendak Tuhan.

Untunglah Tuhan Maha Welas Asih, sehingga Tuhan memberi manusia petunjuk-petunjuk yang nyata. Bisa berupa kegelisahan, penderitaan, sakit, bencana alam dan sebagainya sehingga manusia pada akhirnya mampu menalar secara logis: ada faktor X yang berada di luar logika sebab dan akibat. Tidak semua mampu diprediksi oleh manusia meskipun dia sudah mengarahkan semua potensi kecerdasannya.

Namun bagi si manusia, bencana dan derita jelas merupakan pukulan berat, bagaimana bisa terjadi bencana alam yang datangnya tiba-tiba tanpa mampu untuk bersiap-siap. Pikiran yang deterministik yang melihat segala sesuatu dalam hubungan sebab akibat, ternyata tidak mampu memprediksi apa yang akan terjadi. Pola pikir seperti ini yang kemudian dibuat secara kuantitatif dengan data-data matematis kemudian melahirkan ilmu statistik.

Ilmu statistik itu sangat arogan dan congkak. Seolah-olah semua persoalan manusia dan alam itu mampu diolah menjadi data-data matematis. Prediksi letusan gunung berapi, misalnya ditulis dalam garis-garis melalui sebuah pencatat pergerakan gunung yang kemudian dikenal engan nama seimograf. Di rumah sakit dan balai-balai pengobatan, perkembangan kesehatan pasien dicatat dalam rekam medis, hingga sedikit banyak diketahui kapan nyawa si pasien akan meninggalkan badan. Padahal, kadang-kadang prediksi itu salah. Banyak orang sakit kanker stadium empat yang telah divonis mati dalam jangka waktu tertentu ternyata bisa sehat kembali!

Ilmuwan yang dibangun dengan basis ilmu positivistik semacam ini menggejala di dunia yang serba modern. Orang modern lupa bahwa ternyata pendekatan deterministik berdasarkan hukum sebab akibat saja tidaklah cukup. Ada faktor-faktor penentu sebuah kejadian yang sering dikenal dengan invisible hand, alias tangan-tangan yang tidak terlihat.

Tangan-tangan yang tidak terlihat (bagi kacamata ilmuwan) itulah sesungguhnya takdir Gusti Allah. Hanya manusia yang peka hati, batin dan rasanya, mampu meraba apa yang akan terjadi berdasarkan atas fakta-fakta batiniah juga. Bukan berdasarkan atas fakta-fakta yang bisa dirasionalisasikan.

Persoalannya sekarang, bagaimana sebenarnya melatih agar kita memiliki kepekaan hati yang sudah luntur saat kita beranjak dewasa?

Ada banyak cara untuk latihan. Salah satunya yang sedang kita jalankan saat ini yaitu puasa. Namun kesemuanya haruslah dilakukan dengan niat yang sungguh-sungguh, bahwa latihan itu bukan tujuan melainkan hanya sarana untuk mencapai tujuan. Tujuan dari latihan adalah mencapai derajat manunggaling kawulo lan gusti. Artinya bersatunya kehendak manusia dengan kehendak Tuhan yang dalam agama dikatakan manusia yang bertakwa.

Selain latihan-latihan “resmi” sebagaimana yang dituntunkan dalam agama, kita juga mengenal berbagai latihan “tidak resmi” yang diajarkan oleh para leluhur pendahulu kita. Apalagi di Jawa yang konon gudangnya aliran kebatinan. Para sesepuh paguron ngelmu batin itu memiliki cara-cara tertentu untuk mengasah kepekaan batin dan hati.

Sebenarnya bila dipahami dalam kerangka yang lebih luas, dalam semua kegiatan hidup manusia itu sesungguhnya merupakan latihan kejiwaan dan latihan ruhani agar kita memiliki rasa yang landep/tajam.

Contohnya, dulu kita saat remaja asyik memadu kasih atau berpacaran. Pacaran itu juga bisa merupakan latihan olah rasa bila di dalamnya kita menghayati persinggungan rasa antara “aku” dengan “engkau”, bagaimana “aku” tidak ingin menyakiti “hatimu”, bagaimana “aku” ingin toleran, tidak memaksakan kehendak, dan ingin membahagiakan”mu”, dan bagaimana “aku” tidak egois dan meleburkan “aku” dan “engkau” dalam “kita”.

Bila kita sudah mampu untuk menggali hakikat hubungan asmara dengan kekasih hati, maka seiring dengan berjalannya waktu maka “pacaran” kita juga hendaknya meningkat kualitasnya. Yaitu tidak mencintai karena alasan-alasan yang hanya melulu karena dia cantik/ganteng, kaya, terpandang, berstatus dan sebagainya. Sebab alasan-alasan yang seperti itu masih berada di taraf benda. Padahal, bukankah di atas wujud jasad manusia ada yang namanya dimensi batiniah? Apalagi ruhaniah? Apalagi… apalagi … dan seterusnya.

Itu sebabnya, di dalam agama kita diperintahkan untuk memilih calon suami atau calon iseri bukan karena dia cantik/ganteng, kaya, terpandang, berstatus. Namun karena AGAMA. Sebab agama adalah keyakinan yang paling luhur yang dipegang oleh seseorang. Keyakinan wujudnya abstrak, tidak bisa dipegang dan dilihat. Namun kita yakin ada.

Bila diteruskan lagi, maka kisah kasih asmara kita hendaknya berlanjut. Berlanjut tidak hanya berada di taraf wujud fisik, jasad dan benda-benda. Naik meninggi ke taraf yang lebih substantif: abstrak, umum, universal. Meninggalkan asmara kongkret, individual, khusus.

Bila dulu “aku” mencintai “kamu” karena wajahmu yang cantik maka sekarang “aku” mencintai “kamu” karena kehalusan budi pekertimu. Selanjutnya, bila budi pekertimu sudah bagus, maka sekarang “aku” mencintaimu karena “kau” adalah memancarkan kecantikan-Nya. Bila “kau” adalah pancaran kecantikan-Nya maka sekarang “aku” mencintaimu karena “kau” adalah “Kau Gusti Allah, yang Maha Segala-Galanya”, bila “Kau Gusti Allah, yang Maha Segala-Galanya”, maka sekarang “aku” mencintaimu karena cintaku sumbernya dari Cinta-Mu. Bila “aku” mencintaimu karena cintaku sumbernya dari Cinta-Mu maka tidak bisa tidak selain “aku harus pasrah kepada kehendak-Mu….

Sekarang, apapun kehendakMu pada diriku akan aku ikuti saja tanpa protes, tanpa bertanya-tanya. Apakah karena kehendak-Mu itu hatiku menjadi senang atau sedih, susah atau gembira, derita atau bahagia, terserah. Bencana dan keberuntungan bagiku sama saja asalkan itu semua adalah demi untuk melayani-MU.

Kepada saudara-saudaraku yang kini sedang dirundung kesedihan, derita dan bencana… yakinlah bahwa itu adalah ujian bagaimana kita akhirnya harus yakin bahwa apa yang kita miliki itu sesungguhnya hanyalah milik-Nya. Apa yang selama ini kia anggap “milik” kita apakah itu anak, isteri, keluarga, rumah, kendaraan, status, pangkat, diri, pacar, kekasih gelap atau terang, hewan ternak, tanah kaplingan, sawah maupun kerbau itu sesungguhnya hanyalah “perhiasan”-Nya semata-mata.

Ya, saudaraku, bencana alam yang sedang kau alami saat ini di belahan bumi selatan, dan kegembiraan di belahan bumi utara semuanya adalah perhiasan. Keduanya tetap sebagai bukti cintaNya kepada kita. Itu sebenarnya hakekat cinta…Bahwa sejatinya yang harus kita cintai adalah pemilik perhiasan, bukan perhiasannya itu sendiri.

Wong alus

Categories: PACAR TERAKHIR | 14 Komentar

TERHORMAT DI MATA TUHAN


tariSungguh, tidak ada hidup yang paling mulia selain menjadi terhormat di mata Tuhan. Bila ini sudah jadi prinsip hidup dan menerangi dalam perilaku sehari-hari, yakinlah bahwa Anda sudah berada di pintu surga. Lirik lagu “Nyanyian Suara Hati” yang dinyanyikan Ebiet G. Ade menggambarkan sesungguhnya manusia yang terhormat.

Seringkali aku merasa jengah dan sungkan
bicara tentang saudara kita
yang terhimpit derita kemiskinan
Sebab sesungguhnya mereka mungkin
lebih terhormat di mata alam
Sebab sesungguhnya mereka mungkin
lebih berharga di mata Tuhan

Kadangkala aku bahkan merasa cemburu
melihat senyum polos dan lepas
meski sambil menahan kelaparan
Maka sesungguhnya mereka lebih kaya
meskipun tanpa harta
Maka sesungguhnya mereka lebih bahagia
Dapat mensyukuri yang dimiliki

Sesungguhnyalah aku ingin belajar
sikap mereka menjalani hidup
Angin, tolonglah bawakan aku
sepotong kertas dan pena tajam
Akan kutulis tebal-tebal
pelajaranmu lewat diam

Kadangkala aku bahkan merasa cemburu
melihat senyum polos dan lepas
meski sambil menahan kelaparan
Maka sesungguhnya mereka lebih kaya
meskipun tanpa harta
Maka sesungguhnya mereka lebih bahagia
Dapat mensyukuri yang dimiliki

Sesungguhnyalah aku ingin belajar
sikap mereka menjalani hidup
Angin, tolonglah bawakan aku
sepotong kertas dan pena tajam
Akan kutulis tebal-tebal
pelajaranmu lewat diam
Akan kusimpan dalam-dalam
pelajaranmu lewat diam. @@@

Apa yang dicari oleh manusia sepanjang hidupnya, tentu saja banyak dan bertingkat. Mulai harta, benda, makan, minum, ilmu pengetahuan, cinta kasih sayang kepada anak dan pasangan hidup, kebutuhan untuk tenteram damai dan aman, kebutuhan untuk aktualisasi diri, kebutuhan bermasyarakat, kebutuhan berkuasa, kebutuhan untuk menjalani hidup adikodrati dan seterusnya, dan sebagainya.

Saya tidak hapal teori-teori psikologi, mana di antara kebutuhan tadi yang merupakan kebutuhan primer, skunder, tersier, maupun yang paling tersier. Di bolak-balik terserah lah, yang jelas intinya bahwa sepanjang hidup manusia akan dihadapkan pada kebutuhan-kebutuhan tadi.

Bila boleh saya sederhanakan (tentu saja boleh dan siapa sih yang melarang manusia untuk sak karepe dhewe dalam hal menyusun pola hidupnya masing-masing?), kebutuhan hidup ada dua: kebutuhan hidup dunia dan kebutuhan hidup akhirat. Kebutuhan hidup dunia terpenuhi sebagai akibat adanya badan / jasad fisik, pemenuhan kepuasan biologis maupun psikologis. Sementara kebutuhan hidup akhirat melampaui kebutuhan hidup yang melulu jasad fisik tersebut. Kebutuhan hidup akhirat menuntut seseorang individu untuk melihat kebutuhan jasad fisik hanya sebagai pijakan kaki yang sifatnya komplementer dan suplementer.

Nah di antara dua kebutuhan hidup dunia dan akhirat ini, mana yang dijadikan tujuan fokus orientasi utama kita?

Sangat mengerikan bila hidup kita diorientasikan hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup dunia saja. Dan mengabaikan atau menomorduakan orientasi kebutuhan hidup akhirat.

Adalah sangat bijaksana bila diminta untuk belajarlah pada sejarah dunia. Bagaimana peradaban dunia terbentuk oleh sosok Hitler, sosok Lenin, sosok Windston Churcil, sosok Che Guevara, sosok Ratu Elisabeth, sosok Jengis Khan, sosok Cheng Hoo, sosok Isa, sosok Muhammad, sosok Aristoteles, sosok Socrates, sosok Plato, sosok Ibnu Rusyd, Ibnu Sina, sosok Budha, sosok Ibrahim, sosok Adam, sosok Gus Dur, sosok Bung Karno, sosok Bill Clinton, sosok Gorobachev, sosok Gajah Mada, sosok Diponegoro, sosok Ronggowarsito, sosok Idi Amin dan lainnya,…..

Sekilas, dari membaca namanya saja kita sudah bisa memperkirakan, sebuah aura sosial yang menyejarah pada sosok-sosok manusia yang menjadi tonggak dimana mereka hidup dan dihidupkan.

Sosok yang berorientasi pada kebutuhan hidup dunia akan membuat peradaban ini kisruh, ruwet, penuh penindasan dan mengabaikan hak asasi manusia, berdarah-darah, mengorbankan yang lemah karena alasan ideologis dan seterusnya. Sementara sosok yang berorientasi pada kebutuhan akhirat akan membuat peradaban ini damai, aman, tenteram, penuh cinta kasih sayang.

Dari sini, oke-lah kita sepakati bahwa yang terbaik adalah menomorsatukan kehidupan akhirat daripada dunia, menomorsatukan kehidupan batin daripada lahir, menomorsatukan kehidupan spiritual mental daripada kebutuhan fisik jasmani. Apalagi bulan puasa ini, adalah momentum yang bijaksana untuk menjahit kembali pandangan hidup kita yang bolong-bolong.

Inti kebutuhan hidup akhirat sebenarnya tersimpul dalam sederet kata namun sangat mendalam maknanya: BAGAIMANA TERHORMAT DI MATA TUHAN. Monggo direnungkan, bila ditafsirkan dengan ilmu-ilmu spiritual, agama, mental apa saja maka kata ini akan merujuk pada sebuah pendakian spiritual yang agung dan luar biasa.

Bila kita terhormat di mata manusia, maka manusia lain akan menganggap kita perlu untuk dihormati karena berbagai kemuliaan dan keluhuran yang kita sandang semasa hidup. Entah karena jasa-jasa kita, apakah karena harta benda kita yang banyak, apakah karena kita mampu berperan besar untuk masyarakat. Lain lagi bila kita terhormat di mata Tuhan, apa ini artinya?

Artinya, kita telah memiliki track record kemuliaan dan keluhuran hidup lurus alias tidak bengkok bengkok memegang janji kita sebelum kita diadakan/dihidupkan Tuhan. Janji ruh kita sebelum hidup ini adalah: Mengakui bahwa Tuhan adalah Gusti Allah yang satu dan kita senantiasa akan memposisikan Dia sebagai Tuhan. Titik. Dia bukan setan, malaikat, nabi, wanita, atau arca-arca.

Memegang janji kita sebelum kita diadakan/dihidupkan Tuhan dengan mengakui bahwa Tuhan adalah Gusti Allah yang satu dan kita senantiasa akan memposisikan Dia sebagai Tuhan. adalah satu-satunya jalan kemuliaan dan menjadi terhormat di Mata Tuhan. Seluruh hidup kita mulai anak-anak, remaja, dewasa, hingga usia senja hendaknya tetap memegang janji ini dan mengimplementasikan janji tersebut dalam perilaku dan perbuatan.

Siapa yang mampu dan berani untuk memegang janji luhur ini dan menyinari hidupnya dengan perbuatan nyata, akan terjamin di masa lalu, masa sekarang dan masa depan. Kita tidak akan pernah miskin dan gelisah karena telah memiliki satu jalinan hubungan yang kuat dengan Tuhan. Boleh saja dia dinilai orang lain tidak memiliki harta benda apa-apa, namun bagi sang kekasih Tuhan ini kebahagiaan dan keluhuran hidup nilainya tidak diukur sama sekali dari sana.

Sehingga, jangan pernah sedikitpun memandang hina dan remeh mereka yang hidupnya sederhana yang barangkali kita menganggapnya miskin, papa dan tersingkir. Sama sekali jangan. Bisa jadi hidup mereka sebenarnya berbinar terang oleh kesederhanaan, kebijaksanaan dan sinar-sinar keluhuran sebagai manusia yang terhormat di mata Tuhan. Kita tidak akan pernah mampu untuk mengukur derajat keluhuran manusia karena hanya Dia yang bisa menilainya.

Kita disarankan untuk rendah hati dan tidak boleh sok tahu. Sebab hidup adalah sebuah misteri yang tidak akan mampu bisa dibuka kecuali dengan kebijaksanaan yang tinggi yang diolah dengan batin yang suci, rasa yang menep dan hening, serta cipta yang sadar-sesadar-sadarnya bahwa kita hanyalah debu di terompah-Nya yang Maha Suci.

Akhirnya, marilah kita semua berkarya, belajar, bekerja, mencari nafkah untuk menghidupi semua orang di muka bumi. Memupuk rasa cinta kasih dan peraudaraan pada semua makhluk Tuhan, pada sesama manusia, pada jin, pada gunung, pada pohon, pada air, pada bumi, bahkan pada semut dan amuba sekalipun.

Jangan pernah menyakiti mereka sebab mereka juga punya rasa dan batin. Mereka ada karena diadakan-Nya. Mereka bukan diadakan untuk dieksploitasi oleh manusia namun mereka diadakan untuk menemani manusia. Manusia harus hidup harmonis, selaras, serasi dengan mereka dengan keseimbangan ukuran yang disesuaikan dengan kadarnya masing-masing.

Terakhir, derajat kemuliaan manusia yang paling tinggi terletak pada bagaimana dia mampu memposisikan dirinya secara terhormat di Mata Tuhan. Manusia dikatakan sebagai makhluk yang derajatnya paling mulia dan lebih mulia dari malaikat yang bisanya hanya bertasbih memuji namanya, karena PERILAKU dan PERBUATANNYA diterangi oleh akal budi dan kebijaksanaan.

Sebaliknya, manusia juga bisa ndlosor atau terpuruk menuju derajat yang paling hina bahkan lebih hina dari seekor lalat karena PERILAKU dan PERBUATANNYA yang disinari oleh sinar hitam kelam keakuan-keiblisan yang penuh kebodohan sehingga batinnya tidak mampu lagi memancarkan sinar-sinar kemuliaan.

Ya Gusti Allah, Tuhan kita semua, sinarilah selalu batin ini dengan sinar cinta-Mu yang Maha Suci… Ulurkan tangan-MU untuk mengangkat kami dari keakuan/ego kami yang bertumpuk-tumpuk ini, dan jadikan kami terhormat di mata-Mu yang Maha Perkasa dan Maha Bijaksana.

Suci yang batin akan menerangi yang lahir. Itulah harapan kita semua.

wongalus

Categories: TERHORMAT DI MATA TUHAN | 3 Komentar

KI NGABEHI: “MENATA HATI SAAT GEMPA”


vxvIni pengalaman KI NGABEHI saat terjadi GEMPA BUMI yang baru saja terjadi di Jawa Barat, Sore 2 September 2009. Menurut Ki Ngabehi, tidak ada cara lain untuk menyelamatkan diri menghadapi bencana gempa selain pasrah total dan menata hati . Hingga kini kita masih bertanya-tanya, kenapa terjadi gempa? Sebuah peringatan dari-Nya bahwa ada yang salah pada diri manusia? Sebuah kejadian normal alamiah? Ataukah saat bumi berdzikir saking khusyuknya hingga tubuhnya berguncang dan lahir gempa??? Mari kita renungkan dan diskusikan. Bagi Ki Ngabehi matur nuwun. Semoga pengalaman panjenengan ini bermanfaat bagi kita semua.  Berikut pengalaman Ki Ngabehi:

“Wah sedikit cerita nggeh Ki, saat terjadi gempa saya sedang berada di lantai 7 dalam acara peresmian gedung baru.Alkisah bapak pimpinan sedang marah sekali kepada para bawahan yang suka kasak kusuk membuat isu, baru saja selesai beliau minta maaf, tiba2 terdengar kreteg….kreteg

Selanjutnya kami seperti diayun ayun kekiri dan kekanan, persis seperti lagi naik pohon yang tinggi kemudian tertiup angin kencang. Bisa dibayangkan suasana yang tadinya hening sepi menjadi gaduh sekali.Dalam hati sebetulnya saya tertawa geli melihat tingkah laku hadirin…

Ada yang lari tunggang langgang menuruni tangga sambil teriak Allahu akbar berkali2, ada yang lemes dan sambil duduk hanya bisa berteriak menyebut tuhan,ada yang shok dan pingsan, yang lucu lagi malah ada yang komentar”eh ini gempa beneran ya, kirain cuma permainan efek gedung”. rupanya orang ini masih trauma waktu ngikutin trainning ESQ.

Jujur aja  saya juga deg degan, tapi saya mengambil keputusan untuk pasrah saja, abis mau lari kemana, mendingan juga menata hati dan siap menghadapi apa yang akan terjadi.Apa lagi ketika saya lihat ternyata Bapak pimpinan masih berdiri di podium dengan tenang dan tetap berusaha menenangkan para tamu.Alhamdulillah gempa mereda, dan para tamu yang trsisa perlahan2 beriringan turun melewati tangga..” (–>>Ki Ngabehi   http://ngajitauhid.wordpress.com)

@@@

Categories: MAKNA GEMPA BUMI | 9 Komentar

APAKAH TUHAN MASIH HIDUP?


gempa

Jawaban yang paling mungkin adalah TIDAK TAHU. Kenapa begitu? Ya karena Tuhan tidak mungkin memiliki sifat dalam terminologi kemanusiaan: suka-tidak suka, rindu –benci, jengkel-mesra, mati-hidup, ada-tidak ada,.. dan sebagainya. Hidup-mati adalah sifat hanya dimiliki oleh makhluk hidup, dan barangkali juga sang manusia yang hingga kini masih mengaku sebagai makhluk paling mulia se jagad ini.

Bagaimana dengan sifat-sifat Tuhan seperti Maha Besar, Maha Suci, Maha Adil, Maha Perkasa, Maha Hidup??? Ya pasti tidak mungkin menyamakan besar, hidup, suci, perkasa, adil-Nya Tuhan seperti besar, hidup, suci, perkasa, adilnya manusia. Sebab Tuhan berbeda dengan semua hal yang ada di pikiran dan pasti tidak pernah ada dalam gudang memori ide kita.

Sebagai manusia yang mengaku beriman (bila ini benar menurut-Nya), adalah sangat pantas bila kita rendah hati dan berhati-hati dalam segala hal. Termasuk pada pengakuan kita sendiri, pada klaim kebenaran yang kita patok pada sesuatu hal termasuk keyakinan kita. Jangan sampai keyakinan malah membutakan mata yang justeru menghalangi atau menjadi tabir penutup kita melihat kebenaran.

Maka, berhati-hatilah dengan iman kita sendiri. Dan tidak haram bila kita, misalnya harus mempertanyakan substansi iman. Terus terang, saya sangat mewaspadai bila semua yang menyangkut hal-hal sakral seperti ini harus diambil dari Kitab Suci. Terlalu memalukan dan naif bila nanti justeru kurang kontekstual dan tidak memuaskan. Padahal, manusia sebagaimana yang saya ketahui memiliki sifat yang tidak mudah puas. Meskipun acuannya sudah jelas dari Kitab Suci.

Nah, daripada nanti muncul klaim kafir, syirik, musyrik atau dholim bagi mereka yang belum puas dengan jawaban yang diambil dari Kitab Suci. Maka saya lebih sepakat untuk tidak gampang sedikit sedikit mengambil atau mengutip satu dua ayat. Lebih baik bergelut dan bergulat duluan dengan olah nalar dan olah rasa saja, yang bisa dikritik disalahbenarkan maupun dilecehkan tanpa harus berdosa bila tidak percaya atau tidak sepakat.

Begitulah, penjelasan bila sumbernya adalah nalar biasanya lebih jernih dan lebih bulat. Sebab nalar dan rasa (batin) adalah suryakanta (kaca pembesar) kita melihat kitab suci yang sesungguhnya, yaitu gumelaring jagad ini.

Terkadang kita merasa agak gimana gitu.. bila ada tukang omong agama (dai) sedikit sedikit mengaku bahwa ucapannya adalah Kalamullah, Kalam atau firman-Nya. Sungguh saya biasanya hanya berpikir, apakah yang bersangkutan memang kurang memahami, belum memahami, atau sudah sampai pada tahap spiritualitas tertinggi hingga tidak ada lagi dualitas antara kawulo lan gusti?

Bila tahapnya masih syariat minded, maka pernyataan dai yang mengaku mengatakan bahwa yang diucapkannya adalah firman Tuhan jelas merupakan absurditas alias tidak masuk akal.

Bila tahapnya belum tahu agama secara kaffah alias sempurna, berarti dia memang jujur dalam ketidaktahuan.

Bila tahapan perjalanan spiritualnya sudah sampai ke taraf spiritualitas tertinggi atau ahli makrifat, maka pernyataan bahwa ucapannya adalah firman-Nya maka ya perlu dimaklumi saja. Dia sudah merasa tidak ada lagi “aku” sebab sang “aku” sudah sedemikian lebur habis alias amblas dalam “keakuan”-Nya. Pernyataan orang yang sudah ada di aras spiritual seperti ini, kok sepertinya tidak perlu dibantah. Sebab jangan-jangan bantahan kita adalah bukti bahwa kitalah yang sebenarnya justeru belum tahu dan perlu belajar banyak lagi.

Kembali ke pertanyaan awal, apakah Tuhan “hidup”? Jawabannya bisa macam-macam tergantung pada acuan apa yang dipakai. Bila acuannya adalah buku Kitab Suci , jelas menganjurkan agar manusia hendaknya beriman pada-Nya. Namun, bila acuannya bukan buku Kitab Suci, maka jawabannya bisa jadi lain.

Nah, saya justeru ingin membahas yang terakhir yaitu mereka yang acuannya bukan buku kitab suci ini. Pasti beriman yang acuannya “Kitab Suci” baik yang beutknya buku maupun pergelaran alam semesta, sudah begitu banyak diulas dan jelas benar (bagi yang percaya). Namun ijinkan, saya memilih untuk membahas dari sudut pandang yang lain saja. Bukannya apa, saya hanya ingin menjelajahi alasan-alasan kenapa seseorang itu merasa bisa hidup meskipun tanpa campur tangan Tuhan.

Sudah begitu banyak diketahui namun belum didalami maknanya adalah pernyataan dari Friedrich Nietzsche bahwa “Gott ist tot” atau diindonesiakan menjadi “Tuhan Sudah Mati.” Ini muncul dalam buku Also sprach Zarathustra.

Nietzsche bukanlah orang tolol dan absurd. Dia adalah pemikir kampiun dari Jerman yang menggulati soal spiritual tidak dengan cara mengimani secara buta saja. Saya yakin, meskipun kaum agamawan mencibir dia sebagai sosok yang kafir, namun menurut saya, dia nantinya juga berhak mencicipi surga. Meskipun barangkali hanya anginnya saja. Kok Bisa?

Mengartikan “Tuhan sudah mati” tidak boleh ditanggapi secara harafiah, seperti misalnya kita mengatakan tikus itu mati, buaya itu mati. Tuhan jelas bukan dzat apapun juga sebagaimana yang saya dan Anda bayangkan. Ini berarti amat tolol bila kita artikan bahwa “Tuhan kini secara fisik biologis sudah mati.”; Sebaliknya, inilah cara Nietzsche untuk mengatakan bahwa gagasan tentang Tuhan tidak lagi mampu untuk berperan sebagai sumber dari semua aturan moral atau teleologi.

Dalam bahasa Nietzsche, “Kematian Tuhan” adalah sebuah cara untuk mengatakan bahwa manusia tidak lagi mampu mempercayai tatanan kosmis apapun yang seperti itu karena mereka sudah tidak lagi mengakuinya. Kematian Tuhan, kata Nietzsche, akan membawa bukan hanya kepada penolakan terhadap keyakinan kosmis atau tatanan fisik tetapi juga kepada penolakan terhadap nilai-nilai mutlak hukum moral yang obyektif dan universal, yang mengikat semua individu.

Ini jelas membawa kepada nihilisme, namun tidak apa sebab dari nihilisme inilah nantinya ditemukan manusia-manusia yang gelisah dan menjadi kritis terhadap nilai-nilai agama yang sudah diklaim sebagai hal yang pasti benar (setidaknya menurut ukuran kacamata pemahaman manusia) dan kemudian mampu untuk pasrah sumarah sebelum menerima cahaya hidayah-Nya.

Dan inilah jasa-jasa besar Nietzsche untuk menemukan suatu pemecahan dengan mengevaluasi kembali dasar-dasar nilai-nilai yang diyakini manusia. Bagi Nietzsche, kita tidak bisa hanya percaya begitu saja pada nilai-nilai tanpa rasionalitas. Dasar-dasar yang jauh lebih dalam daripada nilai-nilai agama yang mana kebanyakan orang malas sekaligus menolak untuk mencari lebih jauh daripada nilai-nilai ini haruslah dibongkar dan didekonstruksi.

Nietzsche mengisahkan sindirannya kepada kaum agamawan dalam bahasanya yang khas di Also Sprach Zarathustra:

“apakah yang dilakukan si orang suci di hutan?” tanya Zarathustra. Si orang suci menjawab: ‘Aku membuat nyanyian dan menyanyikannya; dan ketika aku membuat nyanyian, aku tertawa, menangis dan bersenandung: jadi dengan melakukan semua itu aku memuji Tuhan. Dengan bernyanyi, menangis, tertawa, dan bersenandung aku memuji tuhan yang adalah tuhanku. Tetapi apa yang engkau bawa kepada kami sebagai hadiah?’

Ketika Zarathustra mendengar kata-kata ini ia mengucapkan selamat berpisah dan berkata: ‘Apa yang dapat kumiliki untuk kuberikan kepadamu? Tapi biarkanlah aku pergi dengan segera agar aku tidak mengambil sesuatu daripadamu!’ Dan kemudian mereka berpisah, si orang tua dan lelaki itu, sambil tertawa seperti dua anak lelaki tertawa.

Tetapi ketika Zarathustra sendirian ia berbicara kepada dirinya sendiri: ‘Mungkinkah itu? Si orang suci di hutan ini belum mendengar apa-apa tentang hal ini, bahwa Tuhan sudah mati”…

Kesimpulan:
1. Jasa-jasa Nietzsche adalah mengingatkan kita semua, yang merasa sudah punya agama dan merasa punya iman bahwa kita wajib terus mengasah kebersihan iman kita. Jangan agama dijadikan sekte yang penuh mitologi, sebaliknya memahami agara hendaknya secara rasional dan obyektif.

2. Ungkapan Tuhan Sudah Mati itu pastilah Tuhan menurut kacamata manusia (Nietzsche). Bukan Tuhan an sich (pada dirinya sendiri) di mana pengetahuan kita pun tidak mampu menggapai-Nya, kecuali bila dia memberikan sebuah cahaya keimanan. Inilah kritik yang perlu dilontarkan pada Nietzsche…
3. Monggo didiskusikan….

wongalus

Categories: GOTT IST TOT | 27 Komentar

DALAM HENING DI MALAM SEPI


Nangis rasanya membaca puisi ini. Kita sekarang bisa hidup enak merdeka, karena Tuhan memerintahkan para pejuang kemerdekaan kita dulu mengangkat senjata. Hingga tewas menggelepar ditembus peluru musuh!!!

Duh Gusti, ampuni mereka dan angkat mereka ke tempat tertinggi di sisi-Mu dan berilah kami semua semangat yang sama untuk membela ibu pertiwi yang sekarang sekarat dibalut penyakit jiwa.

chai

KARAWANG-BEKASI ~
CHAIRIL ANWAR

KAMI YANG KINI TERBARING ANTARA KRAWANG-BEKASI
TIDAK BISA TERIAK “MERDEKA” DAN ANGKAT SENJATA LAGI.
TAPI SIAPAKAH YANG TIDAK LAGI MENDENGAR DERU KAMI,
TERBAYANG KAMI MAJU DAN MENDEGAP HATI ?

KAMI BICARA PADAMU DALAM HENING DI MALAM SEPI
JIKA DADA RASA HAMPA DAN JAM DINDING YANG BERDETAK
KAMI MATI MUDA. YANG TINGGAL TULANG DILIPUTI DEBU.
KENANG, KENANGLAH KAMI.

KAMI SUDAH COBA APA YANG KAMI BISA
TAPI KERJA BELUM SELESAI,
BELUM BISA MEMPERHITUNGKAN ARTI 4-5 RIBU NYAWA

KAMI CUMA TULANG-TULANG BERSERAKAN
TAPI ADALAH KEPUNYAANMU
KAULAH LAGI YANG TENTUKAN NILAI TULANG-TULANG BERSERAKAN

ATAU JIWA KAMI MELAYANG UNTUK KEMERDEKAAN
KEMENANGAN DAN HARAPAN
ATAU TIDAK UNTUK APA-APA,
KAMI TIDAK TAHU, KAMI TIDAK LAGI BISA BERKATA
KAULAH SEKARANG YANG BERKATA

KAMI BICARA PADAMU DALAM HENING DI MALAM SEPI
JIKA ADA RASA HAMPA DAN JAM DINDING YANG BERDETAK

KENANG, KENANGLAH KAMI
TERUSKAN, TERUSKAN JIWA KAMI
MENJAGA BUNG KARNO
MENJAGA BUNG HATTA
MENJAGA BUNG SJAHRIR

KAMI SEKARANG MAYAT
BERIKAN KAMI ARTI
BERJAGALAH TERUS DI GARIS BATAS PERNYATAAN DAN IMPIAN

KENANG, KENANGLAH KAMI
YANG TINGGAL TULANG-TULANG DILIPUTI DEBU
BERIBU KAMI TERBARING ANTARA KRAWANG-BEKASI

Chairil Anwar (1948)
Brawidjaja, Jilid 7, No 16, 1957

Categories: PUISI & PROSA | 11 Komentar

Diproteksi: GANJANG MALAYSIA


Konten ini diproteksi dengan password. Untuk melihatnya cukup masukkan password Anda di bawah ini:

Categories: GANJANG MALAYSIA | Masukkan password Anda untuk melihat komentar.

Diproteksi: SURAT TERBUKA KEPADA MALAYSIA (2)


Konten ini diproteksi dengan password. Untuk melihatnya cukup masukkan password Anda di bawah ini:

Categories: SURAT KEPADA MALAYSIA | Masukkan password Anda untuk melihat komentar.

KESAKSIAN DALAM DIAM


“Jangan bertanya, Jangan memuja nabi dan wali-wali, Jangan mengaku Tuhan, Jangan mengira tidak ada padahal ada, Sebaiknya diam, Jangan sampai digoncang oleh kebingungan…”

Kenapa kita disarankan oleh Sunan Bonang untuk diam khususnya saat membicarakan soal-soal makrifatullah sebagaimana yang tertera dalam suluk Jebeng? Sebab, daripada sesat karena bila belum mengalami sendiri keadaan makrifat, maka yang biasa terjadi adalah saling beradu argumentasi untuk nggolek benere dhewe, nggolek menange dhewe padahal kasunyatannya tidak seperti yang digambarkan masing-masing orang…

Maka, kita diminta untuk diam dan suatu saat semoga kita mampu untuk menyaksikan sendiri dan membuat kesaksian terhadap eksistensi-Nya yang maha tidak terhingga atau diistilahkan oleh Sunan Bonang sebagai SYAHADAT DACIM QACIM. Syahadat ini adalah pemberian Tuhan kepada seseorang yang diistimewakannya sehingga ia mampu menyaksikan dirinya bersatu dengan kehendak Tuhan. Marilah kita mencebur lebih dalam hal ini….

Agama dari langit sudah sangat lengkap memadukan aspek lahiriah (syariat/aturan/hukum/fiqih yang mengikat tubuhnya) dan juga aspek perjalanan batin manusia menuju kebersatuan dengan Tuhan Semesta Alam. Memahami dari aspek lahir saja, tidak akan mampu memberikan kedalaman pengalaman batin manusia. Sebaliknya, agama yang dipahami dari sisi batin saja, biasanya cenderung mengabaikan aturan dan hukum kemasyarakatan sehingga bisa jadi dianggap sesat oleh masyarakat.

Yang ideal memang memahami agama sebagai jalan yang lapang menuju Tuhan secara sempurna dengan tidak mengabaikan salah satu aspek, apakah itu aspek lahir maupun aspek batin. Bila aspek lahir dipelajari dalam disiplin ilmu syariat/fiqih/hukum serta ilmu logika/mantiq dan lainnya. Maka aspek batiniah digeluti dengan pendekatan ilmu tasawuf. Bila kita belajar ilmu tasawuf, maka tidak bisa tidak kita akan mempelajari sejarah tasawuf dari masa ke masa, riwayat hidup para sufi dan istilah-istilah ruhaniah manusia.

Tidak mudah untuk belajar tasawuf. Berbeda dengan belajar syariat/fiqih/hukum maupun filsafat yang dasarnya adalah olah pikir atau logika, maka tasawuf dasarnya adalah olah rasa untuk menyelami sesuatu yang metafisis dan abstrak. Kita tidak mampu menggali kedalaman samudera tasawuf jika tidak menyelami sendiri dimensi-dimensi batiniah manusia.

Tasawuf bukanlah ilmu yang teoritis, melainkan praktek (ngelmu)…. Bisa dengan dzikir sejuta kali di mulut, bisa juga dengan dzikir semilyar kali di batin siang malam tanpa henti…. Ini tidak lain untuk menghancurkan kerak-kerak hati yang lalai dan kemudian digelontor dengan puji-pujian kepada-Nya dan seterusnya…. Ini hanya satu latihan ruhani yang harus dilakoni pejalan mistik saja, substansinya justru bukan dzikir atau mengingat-Nya saja. Melainkan bagaimana setelah mengingat-Nya, dan mendapatkan kesaksian akan kebenaran absolut-Nya, seseorang itu kemudian mampu berbuat sesuatu sesuai dengan iradat-Nya!!!

Dimensi batiniah manusia bisa diketahui dari bagaimana seseorang itu menempuh jalan spiritual yang melewati melalui berbagai tahapan (maqom). Dalam setiap tahapan, seseorang akan mengalami keadaan ruhani tertentu, sebelum akhirnya penglihatan batinnya terbuka terang benderang yang dalam khasanah tasawuf disebut disebut makrifat secara mendalam tanpa keraguan.

RASA BATIN yang sering disebut dalam tasawuf yang ialah: • tahap pertama WAJD (EKSTASE seperti Musa AS), selanjutnya • DZAUQ (RASA MENDALAM terhadap kehadiran-Nya), • kemudian SUKUR (KEGAIRAHAN MISTIS untuk bermesraan dengan-Nya), • berlanjut ke perasaan FANA atau menghilangnya diri yang benda lahir, • BAKA (kekekalan di dalam Dzat-Nya  kemudian • FAKIR.

Apa itu FAKIR? yaitu adalah keadaan ruhani  dimana pejalan spiritual menyadari bahwa manusia sebenarnya tidak memiliki apa-apa, kecuali dimiliki-Nya. Seorang fakir tidak memiliki kemelekatan lagi kepada segala sesuatu kecuali Tuhan. Ia bebas dari kungkungan diri jasmani dan kebendaan. Namun demikian, dia tetap tidak melepaskan tanggung jawabnya sebagai khalifah di muka bumi. Inilah esensi Tauhid: Yaitu Tiada Tuhan Selain Allah…

Kita bisa memahami bagaimana hakikat kefakiran itu dari apa yang disampaikan para pejalan spiritual. Sekarang, marilah kita sedikit membuka berbagai karya para pejalan spiritual yang disebut Suluk yaitu satu jenis hasil olah rasa berbentuk prosa atau puisi yang dibuat kaum mistikus Jawa, yang berisi pengalaman perjalanan ruhani saat bercinta dengan Dzat-nya.

Karya Sunan Bonang yang penting untuk menggali bagaimana keadaan atau suasana kesadaran tertinggi kaum sufi yaitu SULUK GENTUR. Gentur berarti teguh dan giat, yaitu sebuah bentuk aktivitas ruhanian yang paling sempurna. Di suluk itu digambarkan bahwa seorang penempuh jalan tasawuf harus melaksanakan SYAHADAT DACIM QACIM. Syahadat ini berupa KESAKSIAN DALAM DIAM, TANPA BICARA. NAMUN BATINNYA MEMBERIKAN KESAKSIAN BAHWA EKSISTENSI DIRINYA ADA KARENA ADA-NYA.

Permisalan yang mudah adalah persenyawaan antara dua dzat. Salah satu dzat tidak akan otomatis hilang, namun masing-masing berdiri sendiri. sebagaimana Kawulo tetap kawulo dan Gusti tetap Gusti. Yang lenyap dalam persenyawaan dua dzat itu hanyalah kesadaran sang kawulo akan keberadaannya yang TIDAK ADA.

Dalam suluknya ini Sunan Bonang juga mengatakan bahwa pencapaian tertinggi seseorang ialah ‘keadaan dapat MERASAKAN DALAM BATINNYA kebenaran hakiki sebagaimana dalam kitab suci: “SEGALA SESUATU BINASA KECUALI WAJAH-NYA”.

Bonang dalam suluknya ini berpesan bahwa, bahwa Hati yang merupakan “RUMAH/DALEM/AKU-NYA TUHAN”. Kehadiran-Nya bisa dirasakan bila hati itu ikhlas, nrimo dan sumarah. Di dalam hati yang seperti itu, antara Kawulo dan Gusti lenyap. Yang terasa adalah kesadaran bahwa sejatinya manusia (obyek) selalu diawasi oleh Tuhan (subyek), yang menyebabkan dia tidak lalai sedetikpun kepada Nya.

Dan terakhir, ….Bonang berpesan:  “Pencapaian sempurna bagaikan orang yang sedang tidur dengan seorang perempuan, kala bercinta… Mereka karam dalam asyik, terlena hanyut dalam berahi… Anakku, terimalah dan pahami dengan baik. Ilmu ini memang sukar dicerna…”

Wong Alus

Categories: AJARAN BONANG | Tags: , , , | 60 Komentar

Diproteksi: SURAT TERBUKA KEPADA KANCIL MALAYSIA


Konten ini diproteksi dengan password. Untuk melihatnya cukup masukkan password Anda di bawah ini:

Categories: MEMBELA TANAH AIR | Masukkan password Anda untuk melihat komentar.

KEADILAN TUHAN: SEBUAH DISKUSI


“Hanya saja, kenapa ada orang yg memiliki talenta lebih dari yang lainnya ? Dan ada pendapat maqom tiap org berbeda ? Sejauh yg saya tahu, hal ini sudah menyangkut derivasi hukum sebab akibat. Artinya, bukan standar kekamilan manusia dari Tuhan, melainkan ada unsur kreatifitas dan tekad manusia dalam menggapai kesempurnaan hidup. Ibarat menanam pohon mangga, buahnya tidak hanya dinikmati sendiri oleh yg menanam saja, namun bisa LUMUNTUR dipanen oleh anak cucu, atau anak turunnya…” (Ki Sabda Langit)

Matur nuwun ki sabda yang telah turut serta mbeber keruwetan hakikat manusia ideal yaitu manusia yang jadi diri sejatinya sendiri — yang dalam terminologi agama sering disebut insan kamil itu. Sehingga semakin jelas arah perjuangan hidup manusia yaitu perlu disesuaikan dengan potensi-potensi awal yang dimilikinya untuk menyelesaikan misi hidup berdasarkan atas visi yang telah dituliskan-Nya untuk kita.

Yang saya maksud dengan potensi awal adalah bakat bawaan lahir dan karakter/sifat tetap pada diri manusia yang tidak akan berubah-ubah. Potensi awal yang berupa hardware dan software ini juga menjadi modal manusia yang memiliki ukuran maksimal meskipun sudah dioptimalkan seoptimal-optimalnya. Misalnya, sak hebat-hebatnya saya dalam olah matematika pasti masih lebih bodoh daripada Albert Instein. Sak hebat-hebatnya ilmu kebatinan yang saya miliki, masih kalah hebat dengan para pembaca dan seterusnya.

Yang bisa mengukur seberapa jauh seseorang itu mampu mengoptimalkan potensi terselubung kemanusiaan adalah melalui PERCOBAAN. Kalau belum dicoba… kita tidak akan bisa mengukurnya. Misalnya, tukang becak seperti saya mungkin hanya mampu sangat kreatif dalam bidang perbecakan, misalnya cara mengayuh dengana paling sedikit tenaga… ada batas kemampuan yang tidak bisa saya lampaui lagi meskipun otak, tenaga, dan kreativitas saya sudah pol…

Kecuali bila saya sejak awal sudah dibisiki oleh malaikat atau mungkin malah Tuhan sendiri untuk mengerti seberapa hebat saya nanti mampu mengoptimalkan diri… Orang yang sudah dibisiki BERARTI NGERTI SAKDURUNGE WINARAH, mengerti takdir sebelum terjadi berarti manusia yang hebat karena atas perkenaan-Nya dia diperbolehkan membuka kitab GBHN, Garis Besar Haluan Ngauripe Jalma Manungso.

Namun bila pengetahuan saya dan pembaca pas-pasan saja.. ya logikanya mungkin sebagai berikut; Ibaratnya saya diciptakan Tuhan menjadi sepeda motor yang kapasitas mesinnya hanya 100 CC, maka mustahil saya bisa menyalip saudara-saudara yang diciptakan menjadi motor yang mesinnya 200 CC. Meskipun sudah habis-habisan saya mengoptimalkan mesin, menguprek karburator dan mengupgrade tongkrongan motor hingga aerodinamisnya hebat.. tentu saja masih kalah dengan sepeda motor yang mesinnya 200 CC, apalagi bila ikut-ikutan diuprek… dan seterusnya.

Untunglah Tuhan Maha Adil dan Bijaksana. Sehingga tidak mungkin memperlombakan motor 100 CC dengan 200 CC dalam satu arena balap motor. Bila dikatakan maqom-nya berbeda, ya mungkin saja benar. Maqom adalah kategori CC mesin sepeda motor. Namun saya kurang sepakat bila maqom yang lebih tinggi pasti lebih nyaman, aman dan selamat. Bisa jadi malah sebaliknya.

Kita juga tidak perlu menggugat kenapa Tuhan menciptakan saya yang hanya bermaqom/bermesin 100 CC, sebab Tuhan akan mengukur baik-nya kualitas motor bukan dari kecepatannya di arena balap (dimensi dunia), namun berdasarkan atas bagaimana seseorang pengendara (ruh/jiwa manusia) itu mengelola motor (badan-nya) sebaik mungkin (dimensi akhirat).

Bagaimana motor itu dicat, dimodifikasi sedemikian rupa hingga terlihat indah dan apik sehingga lebih enak dinikmati dan disewa oleh tukang ojek. Dan juga yang tidak kalah penting adalah aspek kemanfaatan manusia.. oleh karenanya adalah bagaimana dia bermanfaat sebagai alat angkut peradaban ke arah yang lebih baik. Belum tentu yang maqom-nya tinggi lebih bermanfaat dibandingkan dengan kita yang maqomnya hanya 100 CC.

Apalagi bila kita mengingat bahwa dimensi pragmatis/Kemanfaatan seseorang itu adalah amal sholeh kita di dunia. Semakin seseorang itu mampu mendatangkan manfaat untuk perbaikan peradaban dan semakin memuliakan kemanusiaan (hak-hak/kewajiban-kewajiban asasinya), membangun negara agar gemah ripah loh jinawi tata tentrem karto raharjo, hingga yang amal yang terkecil misalnya menyingkirkan duri di jalan umum maka di situlah derajat kita akan melambung dan meninggi.

Kalau diperdalam lagi dengan pertanyaan, KENAPA TUHAN MENCIPTAKAN MAQOM/TINGKAT-TINGKAT/DERAJAT manusia secara berbeda-beda, kok tidak satu saja sehingga lebih mencerminkan aspek keadilan? Terus terang saya tidak mampu mengetahui secara pasti iradat-Nya yang seperti ini. Mungkin sah-sah saja bila kita katakan bahwa Gusti adalah MAHA SAK KAREPE DHEWE… Logika saya tidak mampu lagi menjangkau keinginan-Nya secara utuh dan lengkap. Mungkin juga karena jawaban ini berasal dari saya yang belum mampu untuk MANUNGGALING KAWULO LAN GUSTI…

Kalau logika ini diibaratkan pada sepeda motor, maka jawabannya mudah. Namun pasti tidak tepat. Misalnya, Kenapa bangsa Jepang menciptakan beragam sepeda motor dengan besarnya isi silinder/ CC dan model yang beragam? Jawabannya mudah, yaitu memenuhi selera pasar yang beragam sehingga pundit-pundi masuk ke bangsa mereka. Namun bila analogi ini diterapkan pada kenapa Tuhan menciptakan manusia yang beragam maqom/tingkat/derajat, kesadaran yang bertingkat dst… Waduh amat tidak terpujinya saya bila menjawab bahwa ini untuk memenuli selera pasar keduniawian hehehe…. Mungkin Ki Sabda Sendiri yang harus menjelaskan kepada kita, kenapa Tuhan berperilaku SAK KAREPE DHEWE?

Jadi ya, pada akhirnya saya hanya bisa pasrah total, sumeleh dan sumarah saja terhadap kehendak Sang Maha Penilai. Mau diberi mesin 100 CC, 125 CC atau 250 CC atau malah 1000 CC, semuanya adalah anugerah pemberian-Nya yang perlu disyukuri. Apalagi kita diberi gratis tanpa membayar. Kecuali kalau mesin kita rusak, maka kita bertanggungjawab untuk memasukkannya ke bengkel dengan biaya kita sendiri. Pemberian adalah cobaan kita, apakah kita mampu dinilai menjadi yang terbaik berdasarkan atas ukuran-ukuran-Nya sendiri.

Dalam kitab suci dikatakan bahwa ukuran kemanusiaan yang sempurna adalah KETAKWAANNYA, MANUTNYA KITA PADA KAREP/IRADAT/KEHENDAK YANG MAHA KUASA. Begitu sederhananya ukuran kemuliaan maqom seseorang itu. Sehingga dengan begitu saya dan panjenengan semua bisa menyalip derajat ketakwaan mereka yang maqomnya lebih tinggi, misalnya Adam, Nuh, Isa, Musa bahkan Muhammad SAW.

Mungkin di sinilah letak keadilan Tuhan. Dia tidak membedakan apakah saya hanya bermesin 100 CC atau 1000 CC. Semuanya sama di hadapan-Nya sehingga pastilah terbuka kemungkinan kelak saya dan Anda lebih bertakwa daripada para Nabi/Rasul dan lebih mulia derajat/maqom-nya. Maka kita tidak perlu heran bila suatu ketika surga (mungkin hanya simbolisasi dari “tempat yang indah” setelah adanya pengadilan akhir setelah jagad raya ini digulung habis) itu dipenuhi oleh orang-orang yang mengakui bahwa dirinya daif/lemah/bodoh kemudian bergegas untuk membuka buku alam semesta dan belajar untuk menjadi arif bijaksana seperti panjenengan semua … insya allah.

Para nabi dikatakan sebagai manusia yang sempurna, namun kenapa tidak bisa merumuskan hukum alam dan mengolahnya untuk kemanfaatan hidup sebagaimana para penemu alat-alat/insinyur mesin/arsitek dan seterusnya?

Menurut saya, justeru dari kebodohan/ketololan kognitif para nabi inilah tampak kepolosan budi pekerti mereka. Pengetahuan yang para nabi dapatkan oleh karenanya bukanlah berasal dari olah pikir dalam paradigma ilmu pengetahuan sebagaimana para filsuf yang sudah ada sebelum para nabi dilahirkan. Ini membuktikan sesungguhnya yang bisa diteladani dari seseorang bukan karena kemampuannya mengolah akal pikirannya semata-mata melainkan karena seseorang itu telah ditunjuk-Nya menjadi utusan untuk menyampaikan risalah Tuhan. Salah satu caranya adalah BERBUDI PEKERTI YANG LUHUR…

Jelas tidak mungkin bila hanya seorang Muhammad SAW dan para nabi sebelumnya bisa merekayasa peradaban sedemikian hebatnya hingga mampu mempengaruhi bumi yang diisi oleh milyaran manusia ini bila tanpa campur tangan DIA YANG SERBA SAK KAREPE DHEWE. Satu kepala/satu otak secerdas apapun tidak mampu membuat milyaran manusia bisa tunduk patuh sujud menghadap kiblat untuk menundukkan keakuannya masing-masing dan mengakui Dia Yang Maha Akbar.

Apalagi ketundukan individual tersebut tidak hanya berada di aras kognitif saja (sebagaimana pengakuan kita pada kehebatan para pemikir) tapi juga keasyikan batiniah untuk berkomunikasi dan bermesraan dengan sesuatu yang adikodrati dan Maha Superpower.

Pada titik tertentu, menurut saya, para Rasul/Nabi itu hanyalah berfungsi sebagai SANG PENYAMPAI saja. Dia adalah kurir pembawa surat-surat Tuhan yang kemudian dibukukan menjadi KITAB SUCI oleh manusia yang hidup di dunia pada masa itu. Jelaslah, SANG PENYAMPAI dibutuhkan sifat-sifat yang terpuji, sifat tidak bisa berbohong, lugu dan bisa dipercaya.
Para Nabi dan Rasul tidak perlu menjadi pintar dan bisa ngakali orang lain. Kemampuan ngakali orang lain dengan kehebatan argumentasi dan keahlian bernegosiasi biarlah dimiliki oleh kaum politikus dan kaum intelektual kampus yang sibuk berteori namun belepotan untuk ngelakoni teori tersebut. Hehehe… Para Nabi dan Rasul yang tidak bisa goroh dan lugulah yang bisa dipercaya.. Dan ini disebut manusia yang sempurna. Yang ukuran kesempurnaannya bukan pada bagaimana dia menghasilkan sesuatu dan mampu merumuskan hukum alam, namun mampu menggunakan hukum alam itu demi kemanfaatan kemanusiaan melintasi ruang dan waktu.

Dari sisi tertentu, para rasul itu terbukti juga sudah mengeluarkan energi potensi kemanusiaan (hardware dan software) habis-habisan juga sesuai dengan yang mereka miliki. Pertolongan Tuhan datang setelah dia kehabisan energi akal, nafsu dan kehendak untuk berjuang. Ini berarti perjuangan mereka sudah habis-habisan, entek entekan… Dan Tuhan Yang Maha Terpuji akhirnya mengulurkan tangan-Nya dengan kasih sayang dan pengharapan.

Berbeda dengan para penemu/orang brilian dan jenius yang diakui sejarah. Mereka menemukan sesuatu alat, yang belum tentu terbukti kemanfaatannya untuk kemajuan lahir dan batinnya peradaban ini. Banyak penemuan alat-alat baru yang terbukti malah membuat peradaban ini terseok-seok dan hampir memusnahkan manusia sendiri. Penemuan alat komunikasi misalnya Handphone.. mungkin membuat kemudahan kita berkomunikasi, namun pada akhirnya bisa jadi menumpulkan kemampuan manusia untuk berkomunikasi batin dengan orang lain. Bukankah dulu manusia berkomunikasi dengan telepati dan hasilnya tidak mengeluarkan ongkos mahal? Kemampuan manusia untuk berkomunikasi lintas dimensi ini yang sekarang semakin tumpul seiring dengan kemudahan-kemudahan yang kita terima…

Penemuan mobil atau kendaraan seakan mempermudah pergerakan manusia antar ruang dan waktu. Bumi dianggap semakin sempit. Namun belum tentu membawa manusia pada jalur kemanusiaan yang lebih lengkap. Justeru tanpa mobil dan kendaraan manusia bisa jadi semakin mampu menghayati hidupnya secara lebih baik karena kendaraan fisik justeru memiskinkan kendaraan batin untuk mengakui bahwa bumi ini luas dan alam semesta ini misterius.

Mungkin begitu ki sabda, alur logika saya yang awur awuran dan kurang trapsila ini. Monggo dikoreksi bersama kesalahannya dan Semoga kita semua selalu berada dalam angan-angan-Nya setiap saat. Nuwun dan ngapunten bila ada kata yang kurang berkenan.

Salam sih katresnan.

Wongalus

Yth Kagem Mas Tomy, matur nuwun tambahan pencerahannya. Semoga kita bisa terbebas dari kungkungan  segera…

Categories: KEADILAN TUHAN | 15 Komentar

JATI DIRI MANUSIA IDEAL


Apa yang akan terjadi bila manusia sudah sesuai dengan iradat atau kehendak-Nya? Ya, dia akan menjadi insan sempurna atau disebut Insan Kamil. Lantas apa dan bagaimana potret manusia ideal yang tersebut? Apakah sesuai dengan jati dirinya sendiri atau diri yang mencontoh para Nabi/Rasul sehingga jati diri kita hilang?

Artikel ini dimaksudkan sebagai upaya (meski kecil) untuk memperteguh keimanan kita, bahwa sesungguhnya keyakinan kita adanya manusia sempurna yang bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa itu bukanlah utopia atau angan-angan kosong. Sehingga upaya kita untuk berproses dan bermetamorfosis untuk menjadi insan kamil sebagai tujuan hidup itu tidaklah sia-sia belaka.

Kami ingin agar Pembaca yang budiman mengkritik dan memberi sanggahan atas alur berpikir saya yang dinilai salah, sehingga tidak terjadi dominasi alur berpikir. Sebab saya yakin, rumusan kebenaran bersama yang dipikirkan oleh banyak kepala derajatnya akan lebih sempurna dan lebih lengkap dibandingkan dengan berpikir sendiri atau dengan hanya sekelompok kecil keyakinan yang tidak disanggah melalui argumentasiyang matang dan masuk akal.

Ada sebuah tesis bahwa sebuah upaya perjalanan spiritual pasti memiliki titik henti. Titik henti itu merupakan tujuan proses perjalanan spiritual yaitu menjadi manusia sempurna/insan kamil di dunia ini. Tanpa adanya insan kamil atau manusia sempurna di dunia ini berarti proses perjalanan spiritual kita bisa dikatakan tidak masuk akal. Ibarat kita sedang mencari dan ingin menjadi sosok idola sementara sosok idola itu tidak ada dalam kenyataan. Bukankah hal ini merupakan kekonyolan?

Bila kita yakin bahwa tujuan pencarian kita adalah menjadi manusia sempurna, insan kamil, atau manusia yang sudah bertakwa, atau manusia yang sudah mampu manunggal dengan kehendak dan iradatnya itu ada. Lantas seperti apa adanya itu? Sifat-sifatnya? Dan siapa contoh manusia sempurna itu?

Ya benar, bahwa para nabi/rasul yang tersebut dalam kitab suci adalah manusia yang sempurna. Sehingga kita diminta untuk mencontoh/mensuritauladani sepak terjang mereka di dunia. Lantas pertanyaan kita, bagaimana dengan perilaku mereka bisa diterapkan oleh kita yang sangat tidak ideal ini?

Nanti bila kita sudah ditiadakan di dunia ini, atau meninggal dunia dan ditanya oleh malaikat; maka pertanyaannya mungkin sebagai berikut: Apakah kamu sudah berperan sebagai Karto, Karso, Karno yang ideal sesuai dengan jati dirimu sendiri? Pasti kita tidak ditanya, apakah kamu (Karto, Karso, dan Karno) sudah berperilaku dan bersifat seperti Para Nabi/Rasul yang hidup ratusan atau ribuan tahun lalu?

Inilah yang perlu digarisbawahi, bahwa kita diharapkan untuk menjadi DIRI SENDIRI dengan sifat, watak, karakter yang asli diri kita. Diri yang mampu mengolah seluruh potensi kemanusiaan kita yang paling baik, berperilaku yang terbaik dan berkarya sesuai dengan apa yang sudah kita miliki sekarang ini. Tidak mungkin kita berkarya dengan potensi-potensi yang bukan diri kita. Misalnya, kita diharapkan berkarya menciptakan pesawat terbang bila kita tidak memiliki potensi keilmuan yang mendukung terciptanya pesawat terbang.

Jadi manusia yang sempurna dan ideal sesungguhnya adalah manusia sesuai dengan JATI DIRI Karto, Karso, Karno, …. atau sesuai dengan titah Anda diciptakan-Nya. Sehingga sangat masuk akal bila kita bertanya dalam rangka untuk menjadi manusia sempurna sebagai berikut: Apakah saya sudah menjadi sebagaimana yang Tuhan kehendaki, apakah kaki saya sudah melangkah sesuai dengan karep atau kehendak sang Pencipta kaki? Apakah akal sudah untuk berpikir sesuai dengan Sang Pemrakarsa? Apakah tangan saya sudah memegang dan menyentuh sebagaimana yang dikehendaki Sang Maha Penyentuh?

Ini berarti yang dikehendaki Tuhan adalah: Jadilah diri Anda sendiri, sebab inilah yang dicontohkan oleh para Rasul dan Nabi kita dulu. Sebagaimana Muhammad SAW juga tidak mencontoh Nuh, Isa, Musa, Ibrahim maupun Adam. Isa juga tidak mencontoh Ibrahim, Ibrahim juga tidak mencontoh Nuh, dan seterusnya… Mereka tidak mencontoh siapa-siapa, dan mereka yakin bahwa Tuhan sudah menciptakan diri mereka sendiri sangat sempurna. Tinggal bagaimana SESEORANG ITU MEMUNCULKAN POTENSI KEMANUSIAAN YANG PALING SEMPURNA YANG ADA PADA DIRINYA.

Keyakinan ini sangat ideal, saya kira, karena lebih menghargai prinsip keadilan Tuhan. Karena Tuhan Maha Adil pula dia tidak membeda-bedakan manusia kecuali ketakwaannya, kecuali perilakunya, kecuali amal perbuatannya. Amal perbuatan juga pasti disesuaikan dengan potensi kemanusiaan yang sudah diberikan Tuhan kepada kita.

Tidak mungkin saya stau mungkin Anda dituntut untuk memimpin sebuah umat misalnya, sebab kita dilahirkan dengan sifat-sifat introvet, tidak mampu berbicara di depan umum, tidak memiliki sumber daya yang mendukung untuk diyakini oleh banyak orang. Bukankah sekarang ini jamannya bahwa pemimpin umat adalah mereka yang memiliki segudang kelebihan? Wajar para Nabi dan Rasul dipercaya oleh banyak orang sebab mereka dibekali dengan mukjizat-mukjizat untuk meneguhkan kepercayaan orang terhadap eksistensi kenabian/kerasulan. Para nabi dan rasul itu juga memiliki tanda-tanda kenabian/kerasulan yang bisa dilihat secara obyektif dan meyakinkan.

Sementara kita?

Jangankan mukjizat, wahyu dan Jibril juga tidak pernah dan mungkin pula hingga akhir hayat tidak mungkin akan mendatangi kita… Duh, gimana ini?

Jangan putus asa dari rahmat dan hidayah Allah SWT. Sebab dia telah memberikan kita kemudahan-kemudahan yang luar biasa banyak. Semua telah diberikan gratis pada kita. Boleh dikatakan kita ini manusia gratisan. Tubuh gratis, nyawa gratis, otak, batin, udara gratis pula… Nah, kenapa pula kita masih mengeluh bahwa kita manusia yang tidak sempurna dan gudang kebodohan?

Yakinlah sekarang, bahwa sesungguhnya kita adalah manusia yang serba sempurna. Manusia sempurna bukan manusia yang memiliki mobil, rumah, pekarangan, sawah, gunung, lautan, kaal pesiar, hotel, penjara, kekuasaan, uang beratus juta, tabungan, kartu kredit, isteri cantik, dan sebagainya… Manusia sempurna adalah manusia yang menyadari kesempurnaan wujudnya sebagai pemberian lengkap dari Tuhan untuk disyukuri sekaligus dimanfaatkan untuk tujuan yang sesuai dengan kehendak-Nya. Berbuat sebaik-baiknya sesuai dengan JATI DIRI-nya masing-masing.

Oleh sebab itu, manusia sempurna bisa datang mana saja… Bisa datang dari Gang Buntu di ujung RT becek sana, bisa datang orang yang tinggal di sepetak tanah di tengah area persampahan, bisa datang dari bawah kolong jembatan yang berdindingkan kardus dan tidur dengan kertas koran, namun bisa juga datang dari sebuah kamar hotel mewah berbintang tujuh.

Ada sebuah kata yang bijaksana yang dilontarkan oleh Socrates dan di dalam kitab Suci juga ada: KENALILAH DIRIMU SENDIRI, MAKA KAU AKAN MENGENAL TUHANMU. Ya, kita tidak diminta mengenal Para Nabi/Rasul/Para Sahabat/Para Ulama/Para Pemimpin Sekte dan seterusnya untuk mengenal Tuhan. Tapi justeru mengenal DIRI SENDIRI YANG SEJATI. Ada apa sesungguhnya dengan diri ini? Apakah kita sudah mengenal benar-benar siapa diri kita? Jangan-jangan apa yang telah kita anggap diri sendiri selama ini ternyata belum diri sejati kita? Pantaslah bila akhirnya kita belum mengenal Tuhan… Lha wong mengenal diri sendiri saja belum, gitu kok mau mengenal Tuhan…

Parahnya, bila kita tidak mengenal diri sendiri, maka kita tidak akan mengenal Tuhan. Namun kita akan mengenal antitesis dari Tuhan yaitu setan. Kalau ini terjadi, pasti yang kita kenal bukan diri sendiri tapi diri orang lain atau malah diri setan itu sendiri. Ya, ampun deh…

Monggo kita diskusikan bersama, jangan sampai kita terjebak dalam anggapan bahwa diri kita sudah menjadi diri sejati kita. Bila kita yakin bahwa diri kita sudah menjadi diri sejati kita, ini berarti diri kita sudah dibisiki oleh setan. Diri sejati lah yang hanya bisa mengenal Tuhan Yang Sejati yang digambarkan oleh para ahli kebatinan sebagai TAN KENA KINAYA NGAPA… Yang tidak bisa digambar oleh pikiran dan kata-kata. Bila Anda kebetulan pada suatu ketika merasa sudah mengenali Tuhan, yakinlah itu bukan Tuhan yang sesungguhnya…sebab Dia tidak bisa digambar oleh otak, qalbu dan mulut Anda.

Ini sedikit tips sholat khusyuk: Jangan menggambar Tuhan dengan kekuatan pikiran. Seberapa kuat pikiran Anda menggambar Tuhan dalam angan-angan? Menggambar benda yang ada di depan mata saja saya yakin tidak sempurna kok, mana mungkin mampu menggambarkan Tuhan dengan kekuatan fokus pikiran dan fokus batin kita.. Bukankah Tuhan juga tidak berwujud sebagaimana yang ada dalam gudang data/memori di otak? TUHAN MEMILIKI SIFAT BERBEDA DENGAN SEMUA HAL YANG PERNAH DIKETAHUI DAN DIANGANKAN OLEH MANUSIA. Sehingga sholat khusyuk justeru tidak perlu konsentrasi macam-macam. Pikiran dan batin kita hanya sumarah, pasrah total, sumeleh saja…

Salam sih katresnan

wongalus

Categories: JATIDIRI MANUSIA IDEAL | 15 Komentar

GELANDANGAN FAKIR HE-MEN


gelandanganku

Orang-orang memangilnya He-Men. Dia adalah salah satu pejalan spiritual yang mendapatkan perintah guru spiritual untuk menjadi gelandangan. Inilah sekelumit kisah perjalanan mereka yang tangguh dan teguh menjalani laku suluk. Jadi gelandangan fakir di jalan Allah.

Melanjutkan posting terdahulu KENAPA GURU SPIRITUAL MENYURUH MURID JADI GELANDANGAN? Saya ingin berbagi kisah nyata saudara-saudara saya yang alhamdulillah, saya kenal dan saksikan apa dan bagaimana mereka mendapatkan perintah dari para guru spiritual untuk menjadi “gelandangan” tersebut.

Pertama, guru mistik yang saya maksud dalam postingan pertama tidak selalu berbentuk manusia nyata, yang bisa dipegang, diraba dan dilihat. Guru spiritual ini bisa berwujud makhluk Tuhan yang sudah meninggal dunia, apakah itu malaikat atau mungkin juga roh leluhur yang ditugaskan Tuhan untuk membimbing manusia agar saleh, bertakwa dan baik.

Kedua, kehadiran guru mistik ini biasanya tanpa dinyana dan tanpa direkayasa. Tiba-tiba saja mereka hadir menjadi teman perjalanan spiritual seseorang yang telah bertobat dan bertekad untuk menjalani jalan suluk yang panjang dan mengerikan.

Ketiga, guru mistik ini datang atas perintah Tuhan. Bila Tuhan menghendaki seseorang itu katakanlah X menjadi beriman dan beramal saleh, bertakwa pada-Nya sekaligus biasanya ditunjuk untuk menyebarkan kebenaran maka Tuhan mengutus sesuatu hal: apakah itu seonggok batu, serangga, malaikat, jin, setan, roh leluhur atau makhluk lain yang namanya tidak kita ketahui untuk menjadi guru spiritual dan penyadar X yang telah ditunjuk-Nya. Tuhan Maha berkekendak, dan kehendaknya melampaui logika normal manusia seperti kita. Jadi, ya terserah Dia saja.

Yang unik, bahasa guru spiritual untuk berkomunikasi dengan si X juga bermacam-macam sarananya, Bisa jadi dengan telepon genggam dan memerintahkan secara langsung seperti kita menyuruh siapa untuk melakukan sesuatu. Bisa jadi melewati mimpi saat kita tertidur, bisa jadi guru spiritual ini masuk ke raga seseorang untuk sementara dipinjamnya dan berkomunikasi dengan X.

Pernah suatu ketika ada seseorang pejalan spiritual (salah seorang sahabat saya, pemilik blog sebelah) diuji guru spiritualnya dan bercerita kepada saya (wongalus): “Saat itu saya sudah janjian dengan kakek (sebutannya untuk guru spiritual) di sebuah taman yang sepi. Saya tunggu di sana kok tidak ada yang datang dan saya sudah gelisah. Tiba-tiba saya didatangi seorang wanita cantik dan eh,.. saya digoda. Dasar pria, keimanan saya terus terang sedikit goyah dengan godaannya untuk mengajak kencan… Entah kenapa, feeling saya akhirnya mengatakan jangan turuti dan saya diam saja dengan ulah nakalnya. Ternyata benar, sang wanita cantik yang sudah menggerayangi bagian-bagian tubuh saya itu lantas tertawa dan mengatakan bahwa dia adalah kakek, guru spiritual saya… Saya benar-benar malu, ternyata kakek sudah masuk ke jasad wanita tersebut.”

Kejadian seperti ini berulang berkali-kali hingga kemudian si murid spiritual ini hapal benar karakter sang guru spiritual ini suka dengan selera humor anak muda dan suka menggoda sang murid dengan masuk ke jasad manusia yang karakter dan wataknya berlainan.

Nah, di awal artikel saya telah menyebut seorang yang bernama samaran He-Men. Siapa dia? Dia adalah salah seorang keturunan pewaris sebuah pondok pesantren Siwalan Panji di kawasan Buduran, Sidoarjo, Jawa Timur. Bila orang paham silsilah atau nasab, ini adalah pondok pesantren yang sepuh dari sisi ilmu. Di pondok pesantren ini pula, KH Hasyim Asyari, pendiri NU pernah berguru dan memperisteri salah satu anak kyai di sana. Itu sebabnya, bila Gus Dur ke Sidoarjo maka dia menyempatkan untuk mengunjungi Ponpes ini dan menyapa kerabatnya yang tinggal segelintir hidup di sana dengan sebutan: “Kangmas” sebutan untuk menghormati saudara Gus Dur yang lebih tua.

Yang terkenal ustad pengasuh ponpes yang saat ini masih hidup adalah Gus Hasyim Mudjib dan seseorang yang namanya saya sebut tadi, He-Men. Beda dengan Gus Mujib, bila dia berada di jalur formal dan juga memasuki kancah politik dengan pernah menjadi anggota DPRD, namun He Men ini mengikuti jalur nyeleneh. Sejak kecil dia ditempa tidak dilingkungan Pondok. Dia malas belajar kitab-kitab kuning sebagaimana para santri-santri lain. Dia malah menjadi mahasiswa umum di sebuah perguruan tinnggi namun entah karena apa, bangku kuliah ini juga tidak dituntaskannya.

Kesukaan He-Men adalah mengkritik, memprotes, demonstrasi di jalanan mengkritik pemerintah. Menentang ketidakadilan, kekotoran dan kebusukan politikus-politikus dan penguasa yang dianggapnya lalim dan dzalim. Pakaiannya pasti unik, nyeleneh dan gayanya eksentrik. Coba bayangkan, saat yang lain berpakaian jeans dan berkaos oblong sebagaimana kesukaan anak muda; tiba-tiba dia datang mengenakan baju resmi berwarna merah, bercelana pantalon, bersepatu hitam mengkilap, berdasi kupu-kupu warna kuning, rambut dicat seperti anak muda kota, bahkan alisnya dihitamkan…. Menyaksikan keanehan penampilan si He-Men yang usianya sekitar tujuh tahun di bawah saya, biasanya saya dan beberapa teman hanya mbatin: Kok bisa ya…. tapi juga enggan untuk melontarkan secara langsung khawatir yang bersangkutan tersinggung.

Tiba-tiba He Men yang selama ini menemani kami menghilang….. kami pun melupakannya. Kejadian ini terjadi awal tahun 2001 yang lalu. Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh tahun eh… si nyeleneh He Men datang lagi dengan penampilan yang sudah berubah. Serba hitam. Pakaian muslim hitam, kopyah hitam, celana panjang hitam. Bicaranya pun sudah berubah total. Saya yakin, Nur… cahaya Allah sudah menerangi dia. Setiap butir kata yang meluncur dari mulutnya mencerminkan hikmah dan kebenaran ayat-ayat ilahi yang diperolehnya dari nglakoni menjadi gelandangan, sang fakir yang hanya berserah diri kepada Allah SWT.

Kisahnya selama melakoni jadi sang fakir alias gelandangan ini sangat panjang. Sering kami bertemu hanya untuk bersilaturahim antar sesama muslim. Kadang dia beranjangsana ke rumah pada tengah malam hingga subuh untuk berbagi cerita. Dan kebetulan saya menyukai kisah-kisahnya yang luar biasa. Rasa-rasanya setiap jengkal pengalaman yang dikisahkannya kepada saya menjadi sangat berarti dan semuanya terang benderang oleh cahaya Tuhan. Sayang saya sepertinya tidak mampu menuliskannya lagi karena keterbatasan energi memori saya yang sangat kecil ini.

Secara garis besar, perjalanan si gelandangan He Men dimulai dari Sidoarjo, Jawa Timur…. menuju Kudus, lantas ke selatan singgah di Solo dan kemudian jalan kaki dilanjut ke barat Klaten bertemu Mbah Lim Imam Puro pengasuh Ponpes terkenal di sana, dan menuju ke Jogja terus ke barat… hingga ke ibukota negara Jakarta. Di sana dia menetap untuk beberapa tahun. Selanjutnya perjalanan dimulai lagi di Sumatra. Mulai Lampung hingga Aceh.. kembali lagi melewati jalan yang sama… balik ke Jakarta, kemudian ngubek-ubek kota-kota di Kalimantan…. Dengan berjalan kaki dan tanpa uang sepersenpun. Hanya memiliki harta berupa pakaian yang menempel di badan dan sepatu. Singgah di masjid, surau dan langgar… kadang menjadi imam sholat, kadang menjadi makmum, kadang tiba-tiba ikut jadi tukang bersih-bersih masjid. Tidak ada jadwal waktu dan hari kapan dia akan bergerak lagi memulai perjalanan ….

Kata He Men: “Rezeki Allah luar biasa banyak. Kita kadang lupa untuk bersyukur ya.. Udara gratis, tubuh gratis, nyawa gratis… eh nasi gratis. Dalam perjalanan, saya tidak boleh meminta makanan dan minuman dari siapapun juga. Kecuali kalau saya dikasih, maka akan saya terima…” “Setiap butir nasi bungkus pemberian Gusti Allah melalui tangan orang lain saya rasakan sangat berarti. Bahkan bila sudah saking laparnya, saya diperintahkan Gusti Allah untuk mengambil makanan sisa orang di sampah… saya nikmati…. dan luar biasa… saya hidup pasrah karena Dia Maha Pemberi Rezeki…” ungkap He Men.

Tidak terhitung mengalaman mistik supranatural yang dijumpai si He Men ini. Barangkali jin dan hantu-hantu sudah pada malas menggoda si manusia fakir pilih tanding ini. Olah rasa dan olah batinnya ditempa sekian lama oleh penderitaan dan kepasrahan kepada Tuhan satu-satunya pencipta Semesta Alam. Setiap titik yang disinggahi, apakah itu di surau, masjid, langgar, gang kumuh di kota, lokalisasi, atau di dekat istana negara…selalu saja dia menjadi bahan tertawaan bahkan menuduhnya kurang waras. Itu konon, pikiran dan alur logikanya memang sudah dianggap ketinggalan jaman padahal menyuarakan kebenaran.

Misalnya: saat bertemu dengan seorang serdadu/tentara yang bergerombol menjaga istana negara suatu malam. He Men: Pak apa yang Anda jaga… presiden atau istara presiden?” Serdadu: Presiden!!! He Men: Presiden kan tidak tidur di sana? Serdadu: Kok tahu… sok tahu kamu!!! He Men: Ya tahu aja, nggak mungkin dia tidur di istana lha wong ini cuma gedung simbol negara… Serdadu: diam, mungkin mikir ini anak gelandangan agak gila tapi benar juga omongannya. He Men: Daripada jaga gedung dan mikir masalah duniaaaa terus… mending dzikir pak… Ingat Tuhan, Ingat yang menciptakan Anda, pasti ada manfaatnya. Dia akan ingat juga sama sampean… dan sampean bisa meminta apapun karena dia Maha Pemberi….. Serdadu: Terima kasih. Tapi tolong Anda pergi dari sini… He Men: Ya sudah… assalamualaikum….

Saat di Jakarta itulah, kata He Men, dia sehari-hari tidur di kantor Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Hingga suatu ketika ada seseorang yang mengenalinya sebagai cucu seorang ulama sepuh di Jawa Timur dan dianggap anak angkat seorang anggota DPR/MPR. Si gelandangan He Men juga memiliki bejibun kisah mistis. Banyak kisah mistik supranatural yang kadang enggan diceriterakan He Men ke orang lain dengan alasan kalau nanti justeru dianggap sombong dan takabur. Namun karena berbagai hal juga, dia bisa menceriterakan dengan gamblang sebagaimana dituturkan kepada saya (wongalus) bagaimana dia dia mempersunting seorang gadis desa.

“Saat itu perjalanan saya melewati sebuah desa malam hari sunyi. Sudah di atas jam duabelas malam. Tidak ada satupun orang terlihat melintas. Tiba-tiba ada ikan menggelepar di depan saya…. Karena lapar sudah sehari nggak ada yang ngasih makan, saya ambil ikan itu siapa tahu bisa saya makan… Saat akan saya ambil, eh tiba-tiba dia bisa ngomong… Saya bukan jatahmu, saya hanya memberitahu suatu saat kalau kamu lewat di jalan ini lagi, maka itulah saatnya kamu menikah disini… Ikan kemudian tidak jadi saya ambil. Dua tahun kemudian, saat suatu malam saya melewati jalan itu lagi… eh, ikan itu muncul lagi di tempat yang sama dan saya ditagih untuk menikah. Akhirnya, saya duduk di pinggir jalan untuk bertanya ke sana kemari apa ada seorang perempuan yang ingin menikah… Ternyata ada seorang perempuan guru ngaji yang belum menikah dan membutuhkan suami. Berdasarkan informasi dari orang tersebut, Saya datangi rumahnya dan saya tembung orang tuanya… anaknya pun suka dengan saya… ya akhirnya saya menikah…” kisah He Men.

Kisah mistik lain adalah perjumpaannya dengan seorang tokoh kyai Mbah Lim Imam Puro. Mbah Lim adalah kyai yang misterius dan tidak setiap saat mau ditemui para tamu. Konon, Mbah Lim yang dikenal sebagai seorang kyai “khos” ini kadang entah kenapa melempar para tamu dengan benda apa saja untuk menunjukkan keengganannya ditemui para tamu yang datang ke rumahnya. Bahkan tidak jarang dia mengambil sapu dan dipukuli para tamu itu… Iki kakean (kebanyakan) dosa… hayo tobat!!! Namun uniknya, dengan mudah dia mendatangi He Men yang nunggu di depan rumah pada suatu malam… dia tidak ngamuk apapun dan meminta agar He Men secepatnya pulang ke rumah. “Perintah Mbah Lim itu kemudian saya laksanakan.. saya nggandol pulang naik kereta api…., tiba di pondok (Ponpes Siwalan Panji), ternyata ibu saya sakit dan setelah bertemu saya, dia dipanggil Allah. Ibu berwasiat agar saya meneruskan menjadi ustad mengasuh pondok,” ujar He-Men.

Inilah sedikit kisah yang bisa saya sampaikan kepada para Pembaca budiman yang sempat mampir di blog ini. Masih banyak kisah mistik yang dialami He Men. Namun karena keterbatasan saya, tidak sempat saya tuliskan. Alhamdulillah dan insyaallah He Men diberi rahmat Gusti Allah untuk jujur dan mampu membedakan dari mana kata yang mengandung kebenaran dan mana kata yang menyesatkan. Apakah itu sumbernya dari membaca buku, dari sekolah, dari katanya teman, atau langsung dari Nur Allah…. Dan kata-kata He Men, saya yakin benar-benar dari Nur Allah…. Alhamdulillah, Tuhan sudah memberikan pengajaran yang begitu kaya kepada saudara kita yang satu ini.

Sayangnya, saya kembali merasa kehilangan jejak kemana si He-Men sekarang berada. Dia jarang terdengar di peredaran dan ternyata informasi dari beberapa teman dekatnya mengatakan bahwa sekarang dia mengembara lagi ke Kalimantan, Sulawesi dan entah kemana lagi.

Untuk saudaraku He Men… selamat jalan, kepasrahanmu kepada-Nya menjadi inspirasi kami semua. Bila Tuhan satu-satunya yang jadi perisai pelindungmu, siapa lagi yang dikhawatirkan dan ditakutkan??? Terima kasih dan selamat menjalankan ibadah di bulan Ramadhan,… dan bila ada kata yang dirasa kurang pas dan kurang berkenan, ini semata-mata karena kebodohan saya pribadi untuk “meringkas” dan memaknai kasunyatan ini dengan pemilihan kata-kata yang pas.

wongalus

Catatan: naskah ini sudah mengalami penyuntingan dari naskah awalnya. Terima kasih sedalam-dalamnya kepada Saudara saya Ki M4stono (www.kanktono.blogspot) yang berkenan melakukan koreksi sebagaimana yang ada di saran. Kesalahan itu semata-mata karena kekuranghatian saya dan Matur  Nuwun Ki. Gusti Allah yang membalas kebaikan Anda.

Categories: SI GELANDANGAN FAKIR HE MEN | 21 Komentar

KENAPA GURU SPIRITUAL MENYURUH MURID JADI GELANDANGAN?


Salah satu yang dianjurkan dalam meniti jalan spiritual adalah menghilangkan keakuan/ego/diri. Proses ini harus dilalui agar diri yang masih diliputi hasrat kebendaan sedikit demi sedikit terangkat menemukan DIRI SEJATI-NYA.

Dalam tradisi tasawuf atau mistik Islam, kita mengenali tahap ini sebagai tahap pembersihan diri dari berbagai hawa nafsu yang masih melekat kuat pada diri seseorang. Tanpa dilakukan pembersihan, diri kita tidak akan mampu membuka mata terhadap petunjuk/rambu-rambu hidup yang diberikan-Nya. Bila kita sudah mampu membaca rambu-rambu/petunjuk-Nya, otomatis kita pun mampu terus berjalan di jalan yang telah digelar untuk kita.

Cara kaum sufi –sebutan bagi mereka yang menempuh jalan tasawuf sebagai pilihan hidup untuk pendakian spiritual— untuk proses penghilangan diri ini bermacam-macam. Semua sufi besar sepanjang masa, melakoni tidak dengan cara yang sama. Masing-masing disesuaikan dengan kadar ego/keakuan yang dimiliki masing-masing individu. Siapa yang mampu melihat berat ringan melekat dan tidak melekatnya diri pada dunia benda, hasrat egoistik, dan keinginan hawa nafsu?

Disinilah orang terkadang mengharuskan para penempuh jalan suluk untuk berguru kepada seorang guru yang diyakini ilmunya lebih tinggi. Hubungan guru dan murid, adalah hubungan antar teman konsultasi berbagi pencapaian tahap spiritual termasuk keluhan-keluhan apa yang dihadapi selama menjalani olah batin. Murid akan diarahkan untuk tetap tegar dan tenang sekaligus akan disembuhkan secara batiniah oleh sang guru bila terjadi kegagalan fokus dan gangguan-gangguan oleh pihak luar apakah itu manusia, jin maupun hal lain.

Guru lebih mengerti daripada murid karena mereka sudah terlebih dulu memiliki pengalaman menempuh jalan spiritual tertentu. Ibarat sang guru akan memberikan pengertian bagaimana cara naik sepeda karena dia pernah dan sering naik sepeda. Dalam konteks perjalanan spiritual mistik, guru tidak hanya memberi pengertian teoritis saja sebagaimana guru sekolah-sekolah formal, melainkan ikut menceburkan diri dalam laku sang murid.

Guru atau pembimbing spiritual kemudian menyarankan agar sang murid menjalani proses penghilangan diri ini. Ini adalah proses kedua setelah seorang murid benar-benar berniat untuk tobat kembali ke jalan Tuhan. Atau sang murid sudah benar-benar mau dan bertekad sangat kuat untuk menjalani proses laku yang panjang. Tobat oleh sebab itu merupakan tahap awal.

Nah asal muasal seseorang itu tobat dan benar-benar sadar semuanya hak istimewa Tuhan. Tidab bisa diganggu gugat dan tidak bisa direspon oleh siapapun untuk bertobat. Maka, bila kita sudah ada kesadaran untuk bertobat maka harusnya disyukuri dan lekas-lekas untuk berterima kasih pada-Nya. Jangan sampai hidayah pemberian tobat ini ditarik lagi gara-gara kita tidak bersyukur.

Wujud syukur adalah menerima dengan ikhlas dan kemudian melaksanakan perubahan diri itu. Apabila Tuhan menghendaki, maka Dia kan memberi guru spiritual yang sesuai. Guru tiba-tiba akan datang membimbing kita dan hendaknya kita menyambut dengan kuat untuk menjalani pengajaran-pengajaran Tuhan Yang Maha Memberi Petunjuk tersebut.

Masih ingat bagaimana proses yang dijalani oleh Sunan Kalijaga sewaktu belum menjadi wali? Sang guru spiritual Sunan Bonang atas “dawuh” atau petunjuk-Nya menyuruh agar Sunan Kalijaga meditasi/tapa duduk bersila di pinggir sungai untuk sekian waktu dengan fokus pikiran pada sebuah tongkat yang ditancapkan Sunan Bonang. Apabila nanti Sunan Bonang sudah mencabut tongkat tersebut, maka itu tanda bahwa Sunan Kalijaga sudah selesai menjalani laku penghilangan diri ini.

Ada pengalaman beberapa sufi yang diperintahkan seorang gurunya untuk hidup menjadi pengemis dan menggelandang bertahun-tahun. Mereka harus hidup dalam kesengsaraan dan kemiskinan, dengan pakaian seadanya, tidak boleh melanggar wewarah misalnya dilarang meminta makanan. Boleh makan asalkan diberi oleh siapapun juga.

Sang pelaku atau murid ini diminta untuk tidak mengaku nama, alamat, asal usul-nya bila ditanya oleh orang lain. Tidak melanggar semua aturan yang telah disampaikan guru. Semua ini pada hakikatnya agar sang diri murid yang penuh kekotoran dan kemunafikan dihilangkan, dan diganti dengan diri yang sama sekali baru. Diri yang sepenuhnya mendapatkan tuntunan Tuhan.

Sesungguhnya, perintah puasa Ramadhan dan melaksanakan semua tata cara beribadah dalam agama Islam selama sebulan penuh itu pada hakikatnya sama dengan laku penghilangan diri. Pelaku puasa ditatar, didril, dibersihkan dari kekotoran dan kerak yang menyebabkan batin menjadi buram. Sang aku dan diri dihilangkan kemudian diganti dengan Diri yang sama sekali dipenuhi oleh sinar pencerahan. Namun sayangnya, puasa yang kebanyakan dilaksanakan oleh kaum muslimin masih belum sepenuhnya dihayati secara mendalam dan dilaksanakan sepenuh jiwa. Inilah yang menjadi kritik bersama, semoga puasa Ramadhan tahun ini menjadi pemicu kita untuk menjadikannya sarana penyucian diri.

Saya juga menemukan beberapa orang yang diharuskan oleh guru spiritualnya untuk menjalani laku jadab seperti ini. Berjalan keliling Jawa, Sumatra, Kalimantan tanpa bekal apapun kecuali PASRAH KEPADA TUHAN. Setelah mereka pulang dari pengembaraan, mereka pasti akan berubah total. Diri mereka tersucikan, mulut, tubuh dan perilaku mereka tidak seperti sebelumnya yang sak karepe dhewe. Melainkan sebaliknya, tertuntun oleh sebuah kekuatan ghaib dari Tuhan Yang Maha Kuasa.

Bisa disimpulkan penghilangan diri adalah sebuah proses kepasrahan yang kaya dengan pengalaman mistik. Sebab setelah diri/keakuan hilang maka Tuhan Gusti Allah akan mengisi keakuan kita yang sudah hilang tersebut dengan DIRI SEJATI-NYA. Ini adalah pengalaman kebersatuan dan kemanunggalan dengan iradat Gusti Allah. Oleh sebab itu pengalaman yang demikian ini pasti akan kaya dengan certia yang bagi kalangan awam dianggap tidak masuk akal dan sangat supranatural. Siapa yang berniat menetapkan tujuan hidup untuk berjumpa dengan Tuhan, pasti akan melalui proses yang berat ini.

wongalus

Categories: GURU SPIRITUAL | 31 Komentar

SATU UNTUK SEMUA


PANGESTU-2

Bangsa ini didirikan di atas beragam agama dan ratusan

bahkan mungkin ribuan aliran kepercayaan/kebatinan

yang berserak di seantero penjuru tanah air.

Aliran kepercayaan dan kebatinan tersebut

telah berakar urat di dalam nadi bangsa kita

bahkan jauh sebelum negeri kita medeka..

Mereka adalah saudara kita,

yang ikut serta gigih berjuang agar bangsa kita merdeka

Tidak terhitung berapa nyawa harus dikorbankan

Demi meraih Kemerdekaan

Itu sebabnya,

para founding fathers merumuskan

bahwa pandangan hidup bangsa Indonesia adalah Pancasila

Pancasila mengakui keragaman agama dan

kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa

Prinsip kita adalah BHINNEKA TUNGGAL IKA

Luar biasa bijaksana…

Semua penganut agama,

apakah itu Islam, Kristen, Hindu, Budha,

serta aliran kepercayaan/kebatinan

diakui menjadi bagian dari anak bangsa

yang gigih berjuang demi tegaknya merah putih

Kita semua hidup berdampingan

guyub rukun penuh toleransi

Wahai para saudaraku semua

Hiduplah terus dengan ragam corak

keyakinanmu pada Tuhan Yang Maha Esa

Kami mendukungmu

menjalankan ibadah dan keyakinan yang kau anut

menjalankan kewajiban dan hak-hakmu

Kami berpendapat

Meskipun kepercayaan dan keyakinan kita berbeda

Namun semuanya bersumber dari

Tuhan Yang satu

Tuhan Yang Menaungi Kita

Tuhan yang memberikan pencerahan

Tuhanlah yang menganugerahi banyaknya

jalan dan cara menuju Dia yang Maha Segalanya…

SEMUA UNTUK SATU –

SATU UNTUK SEMUA


(wongalus, 2009)

Categories: SEMUA UNTUK SATU | Tags: , , , | 8 Komentar

AJARAN KEROKHANIAN SAPTA DARMA


SAPTAsapta2

Di tembok rumah sang pendirinya, tiba-tiba muncul gambar-gambar dan tulisan yang kelak menjadi lambang, nama, serta ajaran-ajaran pokok Sapta Darma…

Bagi kalagan umum disebut aliran kebatinan, bagi penganut Sapta Darma disebut ajaran kerokhanian. Diantara berbagai aliran kebatinan lain yang ada di tanah air, umur Sapta Darma tergolong muda dan modern. Meskipun sudah diakui pemerintah, namun hingga kini masih saja ada saja yang masih mempermasalahkannya dengan berbagai tuduhan yang miring.

Apa yang salah dengan aliran Sapta Darma? Bukankah negeri ini dasarnya adalah Pancasila dimana dalam sila pertamanya tercantum Ketuhanan Yang Maha Esa dan aliran ini bahkan mewajibkan warganya menyembah Tuhan yang satu, Allah Yang Maha Kuasa dan penganutnya berkewajiban menjalankan hidupnya berdasarkan tujuh kewajiban suci (darma), agar selamat hidup dunia dan akhirat.

Sapta Dharma bukanlah aliran sesat yang menyembah berhala dan meminum darah musuh demi mendapatkan kesaktian, Sapta Darma adalah aliran yang ingin agar penganutnya menjadi manusia yang berbudi luhur dan Pancasilais.

Tapi, lihatlah banyak fakta yang terjadi dimana masyarakat yang mengaku beragama tertentu menyerang para penganut aliran kebatinan tersebut dengan berbagai dalih. Kenapa hingga kini berbagai aliran kepercayaan/ aliran kebatinan itu masih dipandang sebelah mata? Bukankah mereka tumbuh berkembang sebagai hasil interaksi manusia asli Indonesia dengan alam dan Tuhan?

Sejarah adalah bukti bagaimana pemerintah kita mengakui eksistensi berbagai aliran kebatinan di nusantara. Dimulai pada tanggal 19 dan 20 Agustus 1955 di Semarang diadakan kongres dari berpuluh-puluh aliran kebatinan yang ada di berbagai daerah dilanjut dengan Kongres berikutnya pada tanggal 7 Agustus 1956 di Surakarta dan dua kongres serta seminar mengenai masalah kebatinan dalam tahun 1959, 1961 dan 1962.

Aliran kepercayaan/ kebatinan merupakan budaya lokal dengan anggota yang jumlahnya berkisar antara 200 orang hingga ribuan orang. Yang termasuk aliran kecil adalah berjumlah 200 orang misalnya PANCASILA HANDAYANINGRATAN dari Surakarta; ILMU KEBATINAN KASUNYATAN dari Yogyakarta; ILMU SEJATI dari Madiun; dan TRIMURTI NALURI MAJAPAHIT dari Mojokerto, PENUNGGALAN, PERUKUNAN KAWULA MANEMBAH GUSTI, JIWA AYU dan dan lain-lain.

Ada pula aliran kebatinan yang tergolong besar yang beranggotakan lebih dari 1000 orang yang tersebar di berbagai daerah. Yang termasuk aliran dengan banyak pengikut di antaranya HARDOPUSORO dari Purworejo, Susila Budi Darma (SUBUD) yang asalnya berkembang di Semarang, Paguyuban Ngesti Tunggal (PANGESTU) dari Surakarta, Paguyuban SUMARAH dan SAPTA DHARMA dari yogyakarta.

HARDOPUSORO adalah yang tertua diantara kelima gerakan yang terbesar itu, didirikan oleh Kyai KUSUMOWIDJITRO, seorang kepala desa di desa Kemanukan, Purworejo pada tahun 1895. Ia menerima wahyu yang semula disebut KAWRUH KASUNYATAN GAIB. Ajaran-ajarannya termaktub dalam dua buah buku ynag oleh para pengikutnya sudah hampir dianggap keramat, yaitu Buku KAWULA GUSTI dan WIGATI.

Susila budi (SUBUD) didirikan pada tahun 1925 di semarang, pusatnya sekarang berada di jakarta. Mereka tidak menyebut diri sebagai aliran kebatinan, melainkan “pusat latihan kejiwaan”. Anggota-anggotanya yang berjumlah beberapa ribu itu tersebar di berbagai kota diseluruh indonesia dan mempunyai sebanyak 87 cabang di luar negeri. Banyak dari para pengikutnya adalah orang Asia, Eropa, Australia dan Amerika. Doktrin ajaran organisasi itu dimuat dalam buku berjudul SUSILA BUDHI DHARMA.

PAGGUYUBAN NGESTI TUNGGAL, atau lebih terkenal dengan nama PANGESTU adalah sebuah budaya kebatinan lain yang luas jangkauannya. Gerakan ini didirikan oleh Soenarto, yang di antara tahun 1932 dan 1933 menerima wangsit yang oleh kedua orang pengikutnya dicatat dan kemudian diterbitkan menjadi buku Serat Sasangka Jati.

Pangestu didirikan di surakarta pada bulan mei 1949, dan anggota-anggotanya berkisar antara 50.000 orang tersebar di banyak kota di Indonesia. Anggota yang berasal dari daerah pedesaan banyak yang tinggal di pemukiman transmigrasi di Sumatera dan Kalimantan. Majalah yang dikeluarkan organisasi itu DWIJAWARA merupakan tali pengikat persaudaraan Pangestu.

PAGUYUBAN SUMARAH diprakarsai oleh R. Ng. Sukirno Hartono dari Yogyakarta. Ia mengaku menerima wahyu pada tahun 1935. Pada akhir tahun 1940 mengalami kemunduran, namun berkembang kembali tahun 1950 di yogyakarta. Jumlah anggotanya kini sudah mencapai 115.000 orang baik yang berasal dari golongan priyayi maupun dari kelas-kelas masyarakat lain.

SAPTA DARMA adalah yang termuda dari kelima gerakan kebatinan yang terbesar di jawa yang didirikan pada 27 Desember tahun 1952 oleh Hardjosapuro yang kemudian mengganti namanya menjadi Panuntun Sri Gutomo. Beliau berasal dari desa Keplakan, Pare, Kediri. Berbeda dengan keempat organisasi yang lain, SAPTA DARMA beranggotakan orang-orang dari daerah pedesaan dan orang-orang pekerja kasar yang tinggal di kota-kota. Walaupun demikian para pemimpinnya hampir semua priyayi. Buku yang berisi ajarannya adalah KITAB PEWARAH SAPTA DARMA.

AJARAN SAPTA DARMA

Pemeluk SAPTA DARMA mendasarkan apa saja yang dilakukan sebagai suatu ibadah, baik makan, tidur, dan sebagainya. Tetapi ibadah utama yang wajib dilakukan adalah SUJUD, RACUT, ENING dan ULAH RASA. SUJUD, adalah ibadah menyembah Tuhan; sekurang-kurangnya dilakukan sekali sehari.

RACUT, adalah ibadah menghadapnya Hyang Maha Suci/Roh Suci manusia ke Hyang Maha Kuwasa. Dalam ibadah ini, Roh Suci terlepas dari raga manusia untuk menghadap di alam langgeng/surga. Ibadah ini sebagai bekal perjalanan Roh setelah kematian. ENING, adalah semadi, atau mengosongkan pikiran dengan berpasrah atau mengikhlaskan diri kepada Sang Pencipta. ULAH RASA, adalah proses relaksasi untuk mendapatkan kesegaran jasmani setelah bekerja keras/olah raga.

Warga Sapta Darma tidak membicarakan surga dan neraka, tetapi mempersilahkan warga Sapta Darma untuk melihat sendiri adanya surga dan neraka tersebut dengan cara racut. Kejahatan, kesemena-menaan, dan sebagainya mencerminkan neraka dengan segenap reaksi yang ditimbulkannya. Begitu juga dengan kebaikan seperti bersedekah, mengajarkan ilmu, menolong sesama mencerminkan surga.

SAPTA DARMA lebih fokus pada pengembangan budi pekerti yang saat ini semakin terdegradasi di negeri kita. Seperti tawuran pelajar ada di mana-mana, pemerkosaan terhadap anak-anak dan perempuan, perdagangan manusia, semua terjadi hampir tiap hari. Semua catatan segala penyimpangan akan terus bertambah dan barangkali bisa menjadi daftar panjang tidak berkesudahan. Belum lagi apabila ditambah dengan korupsi yang dilakukan para politikus dan pejabat negeri ini.

Salah satu upaya untuk memperbaiki situasi adalah dengan terus menumbuhkembangkan budi pekerti sebagaimana yang dilakukan oleh aliran kerohanian Sapta Dharma. Inti dari ajaran aliran yang asal-muasalnya dari tanah Jawa itu adalah menyelaraskan kehidupan manusia dengan alam, sesama, dan Sang Maha Pencipta.

Ketua Badan Pengurus Yayasan Srati Dharma Pusat Yogyakarta Subiyantoro mengungkapkan, aliran yang intinya pada penggalian budi pakarti luhur itu diterima kali pertama oleh Hardjosapuro yang setelah menerima wahyu bergelar rohani Sri Gutomo pada Desember 1952 di Pare, Kediri.

Dikisahkan saat proses awal Hardjosapuro menerima wahyu. Sewaktu dia Waktu itu, dia merasa tidak enak badan, lantas mengambil tikar dan berusaha tidur di lantai. Tiba-tiba dia merasakan suatu getaran hebat dan tergerak untuk menghadap ke timur. Di tengah-tengah situasi menggetarkan itu, dia beberapa kali merasa meneriakkan sesuatu. Setelah mengalami peristiwa aneh, dia kemudian menceritakan kepada teman-temannya.

Semula tidak ada yang percaya tetapi setelah semua ikut mengalami akhirnya percaya bahwa ada kekuatan yang mendorong mereka untuk menumbuhkembangkan budi pekerti luhur. Bukan sebatas itu, yang fenomenal adalah di tembok rumah Harjosapuro muncul gambar-gambar dan tulisan yang kelak menjadi lambang, nama, serta ajaran-ajaran pokok Sapta Dharma.

Semenjak itulah, berkembang aliran kerohanian yang bernama Sapta Dharma hingga kini sudah tersebar di seluruh propinsi di Indonesia.

Menurut Subiyantoro ajaran SAPTA DARMA terbuka bagi siapa saja dengan latar belakang berbeda-beda. Tidak ada diskriminasi dalam ajaran kerokhanian tersebut. Dijelaskan Subiyantoro, Ritual SAPTA DARMA adalah Ritual Sujud seperti layaknya orang berdoa untuk melakukan penggalian rohani. Dalam sujud tersebut, para penganut meluhurkan Allah yang Mahakuasa, mengakui kesalahan dan bertobat tidak melakukan kesalahan lagi.

SETIAP KALI SUJUD, SESEORANG BISA MEMAKAN WAKTU 1,5 JAM BAHKAN LEBIH. WAKTU TIDAK BISA MEMBATASI SESEORANG HARUS SELESAI SUJUD, TERGANTUNG PADA GETARAN YANG MEREKA RASAKAN. PADA TAHAPAN TERTENTU, SESEORANG BISA BERUBAH POSISI DARI SEMULA DUDUK BERSILA PERLAHAN-LAHAN TERTUNDUK SAMPAI KEPALA MENYENTUH LANTAI. “Ajaran Sapta Darma yang pada intinya budi pekerti luhur memang untuk menumbuhkan pikiran, sikap, dan perilaku berbudi pekerti luhur setiap insan,” tuturnya.

Sujud dan Dua Belas Saudara

Dalam sujud manembah yang telah diuraikan
Turunnya getaran dari kepala benar dirasakan
Terutama sewaktu melintasi jalur di dada
Tempat adanya bentuk tiga belah ketupat
Satu di atas, satu di tengah, dan satu di bawah
Yaitu yang disebut dengan istilah radar

Maka pada tiap belah ketupat itu
Terdapat getaran-getaran perwujudan
Dari sifat khusus kedua-belas saudara
Getaran berwarna hitam adalah aluwamah
Yang merah amarah, kuning suwiyah, putih mutmainah

Adapun letak dan sifat dua belas saudara itu demikian:
Hyang Maha Suci di ubun-ubun, sarana untuk menghadap
Hyang Maha Kuwasa dalam sujud dan dalam hening
Premana di dahi di antara kedua mata, untuk melihat
Segala hal yang tak tampak oleh mata biasa

Jatingarang atau Suksmajati di bahu kiri tempatnya
Gandarwaraja di bahu kanan dan bersifat kejam
Sering bertengkar serta tamak
Brama di tengah, senang marah sifatnya
Bayu di dada kanan, cirinya adalah keteguhan

Endra di dada kiri dan berpembawaan malas
Mayangkara di pusar, seperti kera suka mencuri
Merampas, mengejek, dan menghina
Suksmarasa di pinggang kiri dan kanan
Memiliki sifat halus perasaan

Suksmakencana di tulang tungging
Pengaruhnya pada gairah kebirahian
Nagatahun atau Suksmanaga di tulang belakang
Seperti ular sifatnya berbelit-belit dan berbisa
Baginda Kilir atau Nur Rasa bergerak sifatnya
Letaknya di ujung jari dan dapat digunakan
Oleh warga untuk menyembuhkan penyakit

Maka dalam sujud Sapta darma
Segala sifat saudara yang baik itu
Dikembangkan kepada kesempurnaan
Dan sifat saudara yang buruk
Diruwat agar menjadi tawar

Demikianlah ajaran Sapta Darma
Yang datang dari Panuntun Agung Sri Gutomo
Baik untuk didengar, dipahami, dan dijalankan
Supaya dapat seseorang menjadi satria berbudi
Yang berpegang pada Wewarah Tujuh dan Sesanti:

Ing ngendi bae Warga Sapta Darma
Kudu sumunar pinda baskara!

Dengan demikian para warga itu
Sesungguhnya juga mengikut pada petuah:
Sepi ing pamrih rame ing gawe!

@@@

wongalus

Categories: SAPTA DHARMA | 127 Komentar

PAGUYUBAN KEJAWEN HARDOPUSORO


Paguyuban ilmu mistik kebatinan berlatar belakang budaya dan filsafat Jawa (Kejawen) ini tergolong tua usianya. Paguyuban ini banyak melahirkan kaum waskita dan paling berpengaruh pada masa akhir Kolonialisme di Indonesia.

Lebih mudah menelusuri aliran kebatinan dari riwayat hidup para pendirinya. Sebab dari para pendiri paguyuban, kita bisa mengetahui apa dan bagaimana awalnya mereka mendapatkan WAHYU (saya menggunakan pendekatan internal dengan menggunakan bahasa kalangan kebatinan. Dalam khasanah agama Islam, Wahyu hanya diturunkan kepada para Nabi, sedangkan sesuatu yang turun kepada manusia biasa yang khusus diberikan oleh Tuhan karena sebab-sebab tertentu biasa disebut dengan Ilham atau intuisi yang sangat jelas dari Tuhan. wongalus). Dan dari turunnya WAHYU kepada seseorang tokoh pendiri kebatinan itulah, kita bisa mengetahui latarbelakang sosiologis dan filosofisnya.

HARDOPUSORO didirikan oleh KUSUMOWIDJITRO. Siapa Kusumowidjitro? Dia adalah salah seorang Kepala Desa di daerah Purworejo, Jawa Tengah. Purworejo adalah kota arah barat yang berbatasan dengan Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Kisahnya, pada tahun 1880 Kusumowidjitro tidak tahan dengan perlakuan kolonial yang menindas rakyat. Ia tinggalkan jabatannya dan pergi meninggalkan desanya karena melaksanakan aksi menolak membayar pajak.

Selama berpuluh-puluh tahun, dia mengembara ke berbagai hutan di Jawa Timur. Pengembaraan dihabiskan untuk berpuasa dan bertapa di dalam belantara yang penuh tantangan. Tidak ada guru spiritual khusus yang dipercayai menuntun perjalanan spiritualnya. Pada suatu hari, WAHYU turun setelah dia mencapai situasi PASRAH TOTAL pada Tuhan. Wahyu juga berbunyi agar dia menyebarkan kebaikan sekaligus ajaran-ajaran kebaikan kepada sesama manusia.

Hadirnya wahyu yang merupakan DAWUH dari GUSTI KANG AKARYO JAGAD ini jelas merupakan hal menandai berakhirnya satu era perjalanan spiritual untuk memasuki era baru yang lebih kompleks. Kusumowidjitro merasa itulah saat dia hidup kembali sebagai manusia yang sesungguhnya dititahkan mengemban tugas mulia: sebagai hamba-Nya. Dan dia pun mulai muncul di berbagai kota.

Pada tahun 1907, dia sudah diikuti oleh banyak pengikut di Banyuwangi. Namun sayangnya di tahun itu pula dia diusir oleh Pemerintah Kolonial Belanda karena khawatir melihat tanda-tanda gerakan kebatinan ini berbahaya dan bisa merongrong kewibawaan pemerintah kolonial. Untuk sementara waktu Kusumowidjitro mengasingkan diri ke hutan di wilayah pegunungan antara Malang, Blitar dan Kediri. Kharisma dan aura spiritual Kusumowidjitro tetap berbinar sehingga dia mendapatkan pengikut di era pengasingan diri ini.

Pada tahun 1913, Kusumowidjitro tercatat sudah muncul lagi di berbagai kesempatan. Salah satunya adalah hadir dalam forum paguyuban Masyarakat Teosofi –salah satu aliran kebatinan juga— dan dia berkhutbah di sana tentang praktik spiritual yang dijalaninya.

Hampir semua bagian ajarannya diakui masih misterius dan cukup sulit untuk dipaparkan. Sumber-sumber di paguyuban ini enggan memberikan keterangan. Bisa jadi ini dikarenakan sikap waspada para penganut paguyuban HARDOPUSORO karena saat itu pengawasan Belanda terhadap berbagai penganut aliran kepercayaan semakin ketat.

Penganut aliran kebatinan yang ada di paguyuban HARDOPUSORO melakukan kegiatan spiritual secara sembunyi-sembunyi dan menutupi aktivitas spiritual mereka dengan dalih acara SLAMETAN. Secara internal, ajarannya termasuk sulit sebagaimana paguyubannya yang tidak mudah dijumpai. Ajaran spiritual (wiridan) HARDOPUSORO pun dilarang untuk diamalkan bagi yang belum menjadi anggota. Segala pertanyaan menyangkut paguyuban ini juga dilarang untuk dijawab.

Biasanya Kusumowidjitro menyampaikan ajaran-ajaran mistik kebatinan pada tengah malam dengan memakai jubah putih. Pada setiap pertemuan, biasanya dilaksanakan tujuh tingkatan inisiasi atau pembaiatan. Setelah merampungkan pembacaan masing-masing jenjang wiridan tadi, hanya para anggota yang telah dibaiat pada level itu yang diijinkan keluar. Dalam satu sesi, hanya mereka yang telah menerima tujuh kali baiatan yang diijinkan tetap di tempat sampai akhir acara. Kemajuan melalui tingkat baiatan tergantung pada hafalan wirid dan pengamalan beberapa teknik tertentu yang berhubungan dengan tiap level.

Ajaran mistik HARDOPUSORO memang rumit. Dipenuhi dengan paradoks, dijejali dengan simbol-simbol dan mengatasi segala macam tataran akal. Berbagai macam teknik pada masing-masing baiatan itu diarahkan untuk membangkitkan kesaktian yang bersemayam di dalam tubuh.

TEKNIK UTAMA PEMBANGKITAN KESAKTIAN dilalui dengan cara KUNGKUM atau semedi dengan mengucap mantra, sambil duduk merendam diri sampai leher di sumber air yang dianggap memiliki daya keramat atau pertemuan antara dua aliran sungai yang oleh masyarakat biasa disebut dengan “tempuran”.

Pelahan-lahan latihan yang keras itu mengendur hingga akhirnya hanya cukup dengan SEMEDI atau MEDITASI dengan KAKI YANG DICELUPKAN DI DALAM SEMANGKUK AIR saja. Meskipun kekuatan magis atau KASEKTEN merupakan elemen pencapaian pada setiap jenjang baiatan, sesungguhnya TUJUAN AKHIR PERJALANAN SPIRITUAL PAGUYUBAN HARDOPUSORO adalah MELEBURNYA ANASIR FISIK DAN JIWA dari DIRI atau yang dikenal dengan MOKSA alias SUWUNG

Belum diketahui secara pasti, apakah paguyuban aliran kebatinan HARDOPUSORO ini masih ada di negeri kita atau tidak. Semoga masih ada sehingga kita tidak kepaten obor eksistensi saudara-saudara kita yang gigih berjuang untuk menemukan DIRI SEJATI ini.

wongalus

Categories: HARDOPUSORO | 75 Komentar

SUSILA BUDHI DHARMA


Salah satu aliran kepercayaan asli Indonesia bernafaskan Kejawen Islam ini sudah menyebar ke seluruh penjuru dunia. Jauh sebelum era globalisasi dan pasar bebas, SUSILA BUDHI DHARMA telah tersebar di 80 negara dengan anggota 20 ribu orang.

subuh

Nama Indonesia sebenarnya tidak jelek di dunia internasional. Negeri yang gemah ripah loh jinawi tata tentrem karta raharja dan kini sedang sedih karena berbagai aksi radikalisme, anarkisme dan nasionalisme yang memudar ini, sebenarnya menyimpan kekuatan spiritual yang justeru diakui di dunia internasional. Kekuatan spiritual ini bisa jadi cara olah batin untuk mengubah dunia. Salah satu bukti statemen itu adalah diterimanya salah satu aliran kebatinan Jawa (Kejawen) di dunia internasional sejak puluhan tahun yang lalu.

Subud didirikan oleh almarhum R. M. Muhammad Subuh Sumohadiwijoyo. Bapak (panggilan akrabnya di kalangan Subud) menerima latihan secara spontan (dalam khasanah internal Kebatinan dikatakan telah menerima WAHYU. Sebutan ini dari kacamata Agama Islam dinilai agak kurang PAS karena yang menerima wahyu hanya para nabi. Lebih tepatnya menerima ilham) pada tahun 1925, saat berumur 24 tahun. Subuh bercerita saat dia menerima wahyu: “Saat itu Bapak (Subuh menyebut dirinya sendiri dengan sebutan Bapak bukan “saya” atau “Kami” seperti kebanyakan orang) bekerja di kantor melaksanakan tugas yang menjadi tanggung jawabnya. Tahu-tahu semua itu berhenti, berakhir. Akal tidak bekerja lagi. Kemudian Bapak menerima seperti yang akan Saudara terima di dalam latihan. Bapak tidak mencari ilmu, karena tidak mempunyai guru atau pengajar. Bapak hanya sekadar menerima, dan itu disebut Mukjizat Allah, Anugerah Tuhan. Itu hanya diberikan kepada orang kalau orang itu tidak mencarinya, sepi ing pamrih. Kalau seseorang menyerah dan pasrah dalam menerima Anugerah Tuhan, maka Tuhan akan memberi Anugerah-Nya…”

Inilah awal sejarah Subud yaitu ketika almarhum R. M. Muhammad Subuh Sumohadiwijoyo mendapatkan pengajaran langsung dari Tuhan. Kontak ini disusul dengan masa tiga tahun yang ditandai gejolak luar biasa di dalam jiwanya. Pada akhir masa itu, doanya terkabul dengan diperolehnya petunjuk bahwa karunia yang telah diterima beliau tidak hanya untuk dirinya sendiri dan dapat dibagi-bagikan kepada siapa saja yang berminat. Hanya disyaratkan bahwa anggota tidak boleh dicari-cari. Delapan tahun kemudian sejak diterimanya wahyu pertama tersebut, pada tahun 1933 Muhammad Subuh menamakan apa yang diterimanya ini sebagai LATIHAN KEJIWAAN. Subud sebagai organisasi kemudian dibentuk dan resmi berdiri tanggal 1 Pebruari tahun 1947 di Yogyakarta. Pada tanggal 23 Juni 1987, Muhammad Subuh dipanggil Sang Khalik di Jakarta dalam usia 86 tahun.

Muhammad Subuh dikenal para pengikutnya sebagai orang yang winasis, sakti dan waskita. Salah satu hal yang penting sebagai tonggak yang membesarkan organisasi ke dunia Internasional yang dipimpin Subuh ini adalah peristiwa sembuhnya Eva Bartok, artis Inggris setelah sakit bertahun tahun. Secara pribadi Subuh dikenal pula bertangan dingin dan mampu mengobati berbagai macam penyakit hanya dengan memasrahkan segala penyakit ke Tuhan. Apa komentar Subuh saat bisa menyembuhkan Eva Bartok? “Itu bukan Bapak yang menolong atau menyembuhkannya. Bapak hanya menunjukkan cara berbakti kepada Tuhan Allah, dan dia sembuh. Eva menjadi sehat, dan segala-galanya berakhir dengan baik. Bapak hanya menunjukkan cara berbakti. Kesehatan seseorang adalah perkara antara orang itu dan Tuhan Allah. Orang lain tidak dapat turut campur tangan…”

Bagi pengagumnya, figur Subuh tak hanya pribadi yang mempesona auranya, tapi lebih-lebih pesona spiritualnya. Maklum, Subuh bisa di-artikan sebagai Subud, nama kondang di peta spiritualitas. Subud adalah sejenis latihan spiritual yang diperoleh Subuh melalui sebuah pengalaman gaib pada 1925. Jalan spiritual itu kemudian disebut latihan kejiwaan Subud, kependekan dari Susila Budhi Dharma. Inti latihan kejiwaan itu berupa pasrah kepada Tuhan.

Manusia, menurut Subud, memiliki akses langsung dan cara yang unik untuk berhubungan dengan Tuhan. Subud, menurut Suryadi Haryono, penasihat Yayasan Susila Dharma Indonesia, bukan agama, ajaran, atau sejenis meditasi. Sebagian kalangan muslim memandang Subud, seperti aliran kebatinan umumnya, mengabaikan syariat. Benarkah? “Subud tidak bermaksud memisahkan manusia dari agamanya. Justru melalui proses pembersihan diri ala Subud, orang semakin mengamalkan ajaran agama,” kata Suryadi.

Idries Shah (1926-1996), penulis tasawuf kelahiran India, pernah menyatakan bahwa Subud adalah bentuk popularisasi dari tasawuf dan latihan kejiwaan. Subud tak ubahnya olah batin cara sufi. Muhammad Subuh memang pernah berguru kepada Kiai Abdurrahman, guru tarekat Naqsabandiyah di Kota Semarang. Namun, Subuh menolak penilaian keterkaitan antara Subud dan tasawuf. Dalam otobiografinya, Subuh menyatakan bahwa latihan kejiwaan tak diperoleh dari manusia. Sebagai organisasi, Subud berdiri secara

resmi pada 1947 di Kota Yogya. Pada 1957, markas Subud berpindah ke kawasan Cilandak, Jakarta. Pengikut Subud hingga 1950-an masih terbatas di Pulau Jawa. Pada 1995, jumlah mereka secara nasional sekitar 15 ribu orang, demikian menurut esai ilmiah Robert J. Kyle dari Jurusan Arkeologi dan Antropologi Universitas Nasional Australia. Mereka tak hanya datang dari berbagai kelas sosial, tapi juga dari penganut agama resmi di Indonesia: Islam, Katolik, Protestan, Buddha, dan Hindu.

Sejak 1957, ratusan orang di Amerika Serikat, Eropa, dan Australia mulai masuk Subud. Penyebaran ini berkat artikel-artikel di koran dan jurnal Eropa tulisan Husein Rofe, ahli bahasa asal Inggris yang pernah berguru kepada Subuh. Juga buku-buku lain. Kini jumlah anggota Subud diperkirakan 20 ribu orang, yang tersebar di 80 negara. Mereka membentuk organisasi nasional di negara masing-masing dan secara internasional mendirikan World Subud Association. Lalu, ada juga organisasi Susila Dharma Internasional, yaitu lembaga swadaya masyarakat yang berafiliasi pada organisasi Perserikatan Bangsa-Bangsa. Di Indonesia, pengikut Subud ber-organisasi di bawah Yayasan Susila Dharma Indonesia. Dan kini pelatih spiritual tertingginya adalah Siti Rahayu Wiryohudoyo, anak tertua Subuh.

Subud adalah bagian dari pertumbuhan mistisisme atau sebut saja gerakan kebatinan di Jawa pasca kemerdekaan. Mereka yang terdaftar di meja birokrasi pemerintah pada 1970-an berjumlah 350 kelompok. Nama kelompok itu antara lain Sumarah, Sapta Darma, dan Pangestu. Hanya Subud yang mendunia. Fenomena itu, menurut studi Robert J. Kyle, adalah bagian dari pencarian identitas budaya menghadapi gemuruh modernitas yang mulai menyentuh Indonesia. Ada berbagai pandangan dari beberapa pengamat, misalnya Koentjaraningrat, tentang faktor kemunculan gerakan kebatinan di Jawa. Ada yang memandang gerakan itu sebagai pelarian psikologis masyarakat dalam menghadapi kerasnya kondisi sosial ekonomi, pe-perangan, kerawanan sosial, dan cepatnya perubahan sosial. Pengamat lain berpendapat itu merupakan bentuk ketidakpuasan terhadap kurangnya toleransi dan kecenderungan ritualistik dari kaum beragama. Kegagalan agama-agama untuk menjadi sumber moralitas juga dituding sebagai biang keladi. “Semua pandangan itu ada benarnya,” kata Robert dalam esai ilmiahnya. Apa pun latar sosiologis kelahirannya, kehadiran Subud terbukti memenuhi dahaga spiritual zaman, terutama di Barat.

***

SUBUD merupakan singkatan SUSILA BUDHI DHARMA. SUSILA menunjukkan sifat insan yang memiliki tabiat manusia yang sempurna sesuai dengan kodrat Tuhan. BUDHI berarti bahwa di dalam diri manusia terdapat suatu daya luhur yang dapat membimbingnya bila ia mampu menginsyafi kehadiran daya tersebut. DHARMA melambangkan penyerahan manusia kepada Kebesaran Tuhan Yang Mahakuasa. Latihan kejiwaan Subud adalah praktek rohani yang merupakan inti eksistensi Persaudaraan Subud. Dalam latihan kejiwaan Subud, si pelatih menyerah sepenuhnya kepada, membuka rasa dirinya kepada, dan mengalami kontak langsung dengan Kekuasaan Tuhan. Selama latihan berlangsung, si pelatih hanya mengikuti apa saja yang timbul dalam rasa dirinya dari saat ke saat. Pengalaman ini bersifat sangat pribadi, sehingga masing-masing pelatih akan mengalami hal-hal yang berbeda-beda. Karena apa yang diterima dalam latihan kejiwaan Subud bersifat sangat khas dan dalam, maka pengalaman-pengalaman para pelatih tidak mungkin digambarkan secara memuaskan dengan kata-kata. Dijelaskan bahwa tujuan utama latihan kejiwaan Subud adalah memberdayakan kita, dengan menyerah kepada Kekuasaan Tuhan serta mengikuti petunjuk-Nya, agar lambat laun dapat mencapai keadaan kodrati kita yang sebenarnya sebagai manusia sempurna, atau insan kamil. Siapa saja boleh masuk persaudaraan Subud asalkan calon anggota sudah mencapai umur 17 tahun, telah menjalankan masa percobaan selama tiga bulan guna mengerti asas dan tujuan Subud, dan tidak ada halangan apa-apa, maka barang siapa akan diterima sebagai anggota Subud.

Subud bukanlah organisasi atau sekte yang eksklusif, karena menerima anggota dari segala macam agama, maupun mereka yang belum beragama. Oleh karena esensi Subud adalah kebaktian kepada Tuhan Yang Mahakuasa, maka tidak ada alasan untuk terjadinya konflik dengan agama yang diyakini. Malah sebaliknya, banyak anggota Subud yang mengaku setelah mengikuti latihan kejiwaan mulai menghayati agamanya sendiri dan menghormati agama-agama orang lain. Latihan kejiwaan Subud dimulai dengan PEMBUKAAN. Selama beberapa bulan setelah dibuka, seseorang yang baru menjadi anggota dianjurkan melakukan latihan dua kali seminggu selama setengah jam. Bila sudah cukup terbiasa menerima latihan, dia akan dibenarkan berlatih tiga kali seminggu.

Latihan kejiwaan Subud dapat dilakukan baik dalam kelompok maupun sendirian. Bila keadaan memungkinkan, idealnya ialah berlatih dua kali seminggu dalam grup dan sekali seminggu seorang diri. Kini, di berbagai komunitas di seluruh dunia terdapat sebanyak 385 grup Subud. Komite-komite setempat mengusahakan sarana latihan. Di sebagian besar negeri tempat Subud berakar ada organisasi nasional yang mengadakan kongres berkala agar para anggota dapat baik bersilatulrahmi maupun berbakti bersama kepada Tuhan Yang Mahaesa. Semua organisasi nasional mengambil bagian dalam Asosiasi Subud Sedunia (World Subud Association, WSA) dan memilih direktur dan pejabatnya. WSA mensponsori kongres internasional yang diselenggarakan tiap empat tahun sekali. Pada tahun 1997 kongres tersebut akan diadakan di kota Spokane, Washington, Amerika Serikat. Kongres-kongres sebelumnya diadakan di Kolombia, Australia, Inggris, Kanada, Jerman, Indonesia, Jepang, dan Amerika Serikat.

Dalam salah satu transkrip ceramahnya kepada para calon anggota Subud di Singapura, pada 16 April 1960 Muhammad Subuh mengatakan bahwa Subud bukanlah agama baru, juga bukan sebagian agama yang sudah ada, apalagi suatu ilmu. Subud hanya merupakan lambang cara hidup manusia sempurna. Susila Budhi Dharma oleh sebab itu merupakan lambang tindak-tanduk manusia di dalam latihan kejiwaan Subud, artinya apa saja yang terjadi di dalam latihan kejiwaan Subud sungguh-sungguh merupakan Kehendak Tuhan dan terjadi karena memang demikianlah Kehendak Tuhan atas diri kita. Itu amat cocok dengan kitab bahwa Tuhan selalu dekat pada manusia, atau bahwa manusia sangat dekat pada Tuhan, bahwa Tuhan memberikan apa saja yang dibutuhkan manusia, dan bahwa manusia dapat menerima apa saja yang diberi oleh Tuhan. Apa yang harus kita serahkan kepada Tuhan? “Bukan harta benda kita, bukan apa yang kita cintai, apalagi apa yang kita miliki, karena Tuhan tidak membutuhkan semua itu. Yang harus kita serahkan ialah akal-pikiran, hati, dan nafsu, karena itu semua merupakan alat-alat yang selalu menghalang-halangi kita kalau mau dekat pada Tuhan..” kata Muhmmad Subuh.

Menurut Subuh, Tuhan memerintah tanpa perkakas atau bahan, sedangkan manusia, kalau mau membuat suatu barang, membutuhkan, misalnya, meja, kayu, paku, martil, dan alat-alat lainnya. Untuk bisa membuat bom atom, manusia membutuhkan alat-alat yang lebih banyak lagi untuk mengubah bahan baku menjadi bom atom. Tetapi semua itu tadi tidak diperlukan Tuhan. Tuhan Allah mencipta tanpa perkakas dan bahan. Di sini terang sekali bahwa untuk dapat mengerti Kehendak Tuhan tidak ada jalan lain buat manusia kecuali betul-betul menyerah, karena hati dan akal pikirannya tidak mungkin akan dapat bertemu dengan Tuhan. “Itulah yang kita lakukan dalam latihan kejiwaan. Kita hanya menyerah saja tanpa menggunakan akal-pikiran, hati, dan nafsu, karena tugas kita ialah hanya sekadar menerima jatah yang Tuhan catukan kepada kita. Demikianlah dapat dimengerti bahwa Subud itu hanya merupakan lambang kehidupan manusia yang wajib menurut Kehendak Tuhan melulu serta melaksanakan Perintah-Nya di dunia, dan demikian pula di akhirat.” Ujar Subuh.

Itulah karenanya maka dalam mengikuti latihan kejiwaan Subud kita tidak mempunyai ajaran, tidak ada yang perlu kita pelajari, karena yang dihendaki tidak lain kecuali sungguh-sungguh menyerah. Siapa saja yang mengatakan bahwa ia tahu di mana jalan menuju ke Tuhan sebenarnya mendahului pemberian Tuhan sebelum ia dapat menerimanya. Tidak ada yang perlu kita lakukan kecuali menerima apa yang diberi-Nya, atau apa yang menjadi Kehendak Tuhan atas diri kita. Itulah sabda sejati para nabi, “Asal engkau pasrah kepada Tuhan dengan ikhlas dan jujur, Tuhan akan memayungi dan menuntun dirimu.”

Di dalam latihan kejiwaan kita tidak mempunyai kemauan satu pun. Menurut Subuh, kita tidak mempunyai permohonan satu pun. Kita hanya sekadar menerima apa saja yang Tuhan berikan. Tidak patut kalau kita meniru atau mencontoh orang lain. Kita masing-masing harus menemukan dan menempuh jalan sendiri ke Tuhan. Biasanya, kalau berguru, seorang murid banyak diajari untuk melakukan persis apa yang dilakukan oleh gurunya, agar ia dapat menggayuh apa yang telah tercapai oleh sang guru. Sebenarnya itu keliru, sebab jangankan di antara guru dan murid-muridnya, di antara saudara kandung saja sudah banyak perbedaannya. Dengan demikian tentunya kita dapat mengerti bahwa jalan yang cocok untuk seorang guru dalam hal menemukan Tuhan, belum tentu cocok untuk murid-muridnya. Subuh menjelaskan kalau kita sungguh-sungguh sudah benar-benar dapat mengenal aspek halus kita, maka di dalam segala hal kita akan dituntun oleh Kekuasaan Tuhan, sebab Kekuasaan Tuhanlah yang bekerja di dalam dan di luar kita, sehingga di mana saja, di kantor atau sedang menyetir mobil, atau melakukan apa saja, kita akan selalu dituntun oleh Kekuasaan Tuhan. Sungguh jelas apa yang tersabda di dalam Alquran, “Sebelum bertindak, ucapkanlah bismillaahir rahmaanir rahiim.

Itu, kata Subuh, mengandung arti bahwa kita mengikuti Tuntunan Tuhan dan hanya akan melakukan apa yang dititahkan-Nya. Saudara tidak akan tergesa-gesa bertindak dan baru setelah itu ingat Tuhan, sehingga menyesal, merasa kecewa dengan apa yang telah Saudara lakukan. Kalau sebelum kita mulai bekerja Tuhan Allah selalu ada di dalam kesadaran kita, maka segala apa yang kita kerjakan nanti akan benar. “Itu juga mengandung arti bahwa kita tidak boleh bertindak tanpa Tuntunan Tuhan, karena jika Tuhan Allah kita lupakan, kita tidak akan mendapat Pertolongan-Nya kalau ternyata tindakan kita salah. Kekuasaan yang kita saksikan, hanya untuk meyakinkan bahwa Kekuasaan Tuhan Yang Mahakuasa bekerja di dalam kita, tidak ada hanya di dalam diri kita, melainkan juga ada di dalam tiap-tiap ciptaan. Itulah sebabnya, maka di dalam latihan kejiwaan kita tidak akan merugikan agama kita masing-masing. Apa yang kita alami dan lakukan akan berasal dari Kehendak Tuhan, dan kita hanya membuka apa yang sudah ada di dalam kita,” ujar Subuh.

Oke deh, salam damai di alam kelanggengan buat Pak Subuh.

wongalus

Categories: SUSILA BUDHI DHARMA | 17 Komentar

SHOLAT DAIM HADAPI 17 RIBU BOM TAUHID


Masih ingat kisah nyata seseorang pahlawan tauhid. Perempuan pula. Namun berani menceburkan diri ke dalam tungku api gara-gara menggenggam keyakinan bahwa Tuhan itu adalah Allah SWT dan bukan yang lain? Ya..Namanya Masyitoh, seorang budak tukang sisir keluarga Firaun di Mesir.

Suatu ketika, Firaun geram dengan meluasnya pengaruh Musa A.S di masyarakat Mesir. Hingga di dalam kerajaan Mesir juga sudah mulai bertebaran pengikut Musa namun mereka masih diam-diam karena ancaman nyawa dari Firaun bila mengingkari bahwa dirinya adalah Tuhan. Sementara ajaran Musa berbunyi Tuhan hanya satu yaitu Allah SWT.

Terkuaknya keimanan Siti Masyitoh ini bermula ketika suatu hari budak perempuan ini menyisir rambut putri Fir’aun. Tiba-tiba sisir itu terjatuh, dan seketika Siti Masyitoh mengucap “Astaghfirullah…” Sehingga terbongkarlah keimanan Siti Masyitoh yang disembunyikannya. Mendengar ceritera putri Firaun bernama Hamman bahwa sang pelayan berani memeluk keyakinan yang dibawa Musa, Fir’aun naik pitam. “Panggil Masyitoh kemari”, perintah Fir’aun kepada pengawalnya. Masyitoh datang menghadap Fir’aun dengan tenang. Tidak ada secuil pun perasaan takut di hatinya. Ia yakin Allah senantiasa menyertainya.

“Masyitoh, apakah benar kamu telah memeluk agama yang dibawa Musa?”. Tanya Fir’aun. “Benar”, jawab Masyitoh mantap. “Kamu tahu akibatnya ? Kamu sekeluarga akan saya bunuh”, bentak Fir’aun. “Saya memutuskan untuk memeluk agama Allah, karena saya telah siap pula menanggung segala akibatnya” “Masyitoh, apa kamu sudah gila…Kamu tidak sayang dengan nyawamu, suamimu dan anak-anakmu” Masyitoh menjawab: “Lebih baik mati daripada hidup dalam kemusyrikan.“

Melihat sikap Masyitoh yang tetap teguh memegang keimanannya, Fir’aun memerintahkan kepada para pengawalnya agar menghadapkan semua keluarga Masyitoh kepadanya. “Siapkan sebuah belanga besar, isi dengan air dan masak hingga mendidih” perintah Fir’aun lagi. Ketika semua keluarga Siti Masyitoh telah diseret di depannya, Fir’aun memulai pengadilan..

“Masyitoh, kamu lihat belanga besar di depanmu itu. Kamu dan keluargamu akan saya rebus. Saya berikan kesempatan sekali lagi, tinggalkan agama yang dibawa Musa dan kembalilah untuk menyembahku. Kalaulkah kamu tidak sayang dengan nyawamu, paling tidak pikirkan keselamatan bayimu. Apakah kamu tidak kasihan padanya” Mendengar kalimat terakhir Fir’aun, Siti Masyitoh sempat bimbang. Tidak ada yang dikhawatirkannya dengan dirinya, suaminya, dan anak-anaknya yang lain, selain anak bungsunya yang masih bayi.

Naluri keibuannya muncul. Ditatapnya bayi mungil dalam gendongannya. “Yakinlah Masyitoh, Allah pasti menyertaimu”, kata sisi batinnya yang lain. Ketika itu terjadilah suatu keajaiban. Bayi yang masih menyusu itu berbicara kepada ibunya, “Ibu, janganlah engkau bimbang. Yakinlah dengan janji Allah” melihat bayinya dapat berkata-kata dengan fasih, menjadi teguhlah iman Siti Masyitoh. Ia yakin hal ini merupakan tanda bahwa Allah tidak meninggalkannya.

Gusti Allahpun membuktikan janji-Nya pada hamba-hamba-Nya yang memegang teguh keimanannya. Ketika Siti Masyitoh dan keluarganya dilemparkan satu persatu pada belanga itu, Allah telah terlebih dahulu mencabut nyawa mereka, sehingga mereka tidak merasakan panasnya air dalam belanga itu.

Ketika Nabi Muhammad SAW ber-Isra dari Masjidil Haram di Mekkah ke Masjidil Aqsa di Palestina, beliau mencium aroma wangi yang berasal dari sebuah kuburan. “Kuburan siapa itu Jibril?” tanya Nabi. “Itu adalah kuburan seorang wanita shalihah yang bernama Siti Masyitoh,” jawab Jibril.

Itulah sedikit kisah nyata yang menggambarkan betapa berat menggenggam keyakinan akan kebenaran ayat-ayat-Nya/rumus-rumus-Nya dan akhirnya mengakui bahwa semua yang ada ini ciptaan-Nya. Ganjarannya adalah kemuliaan hidup abadi yang aromanya menebar di seluruh penjuru langit seperti Siti Masyitoh tersebut. Lain dulu lain pula tantangan di jaman sekarang….

Kini, kita dihadapkan pada berbagai hal yang menggoyahkan keyakinan. Kita ditantang oleh TUJUH BELAS RIBU BOM SIAP MELEDAK, BOM ITU yang sesungguhnya menjadi PENGHANCUR akidah ketauhidan kita bahwa TIADA TUHAN SELAIN ALLAH dan MUHAMMAD ADALAH RASUL-NYA.

PENGHANCUR akidah itu amat banyak dan siap untuk menjerumuskan kita hingga ke taraf binatang. Misalnya mulai yang sederhana: yakin bahwa dokter atau dukun yang menyembuhkan penyakit, uang adalah sumber kebahagiaan, tidak bisa senang tanpa kau disisiku, kedudukan pangkat derajat, harta benda dan wanita cantik mulus aduhai dan seterusnya…

PENGHANCUR akidah yang berat seperti: pengetahuan adalah alat pencerahan, akal budi adalah segala-galanya, agama saya adalah satu-satunya yang paling benar, tidak bisa hidup tanpa kepercayaan A, B, atau C, dan seterusnya…

Perlulah diketahui bahwa BERTAUHID MURNI adalah HANYA MENGAKUI BAHWA ALLAH SWT ADALAH SATU-SATUNYA TUHAN PENGUASA ABSOLUT ALAM SEMESTA. IMPLEMENTASINYA PENGAKUAN TERSEBUT BERPERILAKU YANG MENCERMINKAN KEYAKINAN DIA ADALAH SUMBER SEGALA-GALANYA. BAHWA DIA ADALAH SUMBER KEPERCAYAAN DAN ILMU PENGETAHUAN, SUMBER ENERGI ALAM SEMESTA, SUMBER KEBAHAGIAAN, SUMBER CINTA KASIH, SUMBER KEBERADAAN SEGALA SESUATU, dan seterusnya.

ALLAH SWT adalah SATU-SATUNYA GURU SEJATINYA MANUSIA DAN HANYA KEPADA-NYA BATIN MANUSIA HARUS DIFOKUSKAN, DIARAHKAN, DIKOMUNIKASIKAN, DAN DIPASRAHKAN DETIK DEMI DETIK… TIDAK ADA YANG LAIN. APAKAH ITU DALAM POSISI DUDUK, BERDIRI, BERJALAN, DAN BERBARING. BATIN YANG SELALU MEMANGGIL HU ALLAH…HU ALLAH…. Inilah yang dinamakan SHOLAT DAIM.

Semoga saya, Anda, dan Kita semua kuat untuk memegang ketauhidan yang sangat berat ini dengan perlindungan Gusti Allah. Dan hati kitapun tanpa ragu siap untuk memegang bom di tangan yang pasti meledak seperti Siti Masyitoh.

@@@

wongalus

Categories: SHOLAT DAIM | 27 Komentar

PENGAJARAN-PENGAJARAN TUHAN


Jangan khawatir bila jarak hidup kita dengan para Rasul teramat jauh hingga ratusan bahkan mungkin ribuan tahun. Sebab Tuhan sendirilah yang akan mengajari kita secara langsung tanpa perantara.

Tuhan Maha Adil dan Bijaksana. Tidak ada satu pun ciptaan yang muncul, lahir, dan bermetamorfosa tanpa iradat/kehendak-Nya. Apakah itu sebutir pasir di bawah batu besar di ujung planet di sisi paling timur di ujung galaksi yang ada di jagad raya ini, ataukah Anda dan saya yang kini sedang membaca ataukah menulis kalimat-kalimat ini, semuanya ada karena kehendak-Nya.

Dari kehendaknyalah kita ada, kita muncul dan kita lenyap. Dia pun memiliki rancangan kapan, dimana, dan mengapa sesuatu hal itu harus diadakan dan dilenyapkan. Atau kenapa sesuatu hal itu tidak diadakan dan dilenyapkan. Ibarat robot yang di dalamnya ada tenaga potensial pegas, kapan pegas itu mulai diputar dan kapan akhirnya berhenti bergerak.

Demikian jugalah manusia. Manusia juga memiliki energi potensial yang sudah dirancang oleh Tuhan Yang Maha Mengatur seluruh tatanan ini. Dia akan memulai menghidupkan seorang manusia karena alasan tertentu di satu kurun waktu tertentu, dan kemudian menjalankan hidup manusia tersebut hingga akhirnya Tuhan memanggilnya kembali ke sisi-Nya.

Seyogyanyalah kita mengetahui kenapa Tuhan menciptakan, menggerakkan, merancang, menghidupkan, mematikan manusia. Manusia pada hakekatnya telah dikaruniai kemampuan khusus untuk mengenali sebab dirinya diadakan ini.

Riwayat kerasulan sepanjang masa, mulai dari Adam A.S. hingga Muhammad, S.A.W, sesungguhnya menggarisbawahi satu kesimpulan yang sama membenarkan/menjustifikasikan pesan; BAHWA ADA SATU SANG MAHA PENCIPTA YAITU ALLAH SWT.

Bagaimana dengan kita sekarang yang hidup ratusan bahkan mungkin ribuan tahun jaraknya dengan para Rasul? Kita tidak perlu khawatir kehabisan petunjuk Tuhan.

Petunjuk Tuhan tidak datang dari langit di saat khusus, misalnya bila kita sedang sholat, sedang zakat, sedang puasa atau sedang haji dan seterusnya. Sebab PETUNJUK TUHAN ITU TELAH ADA DISEKELILING KITA, DI DEPAN KITA, DI BELAKANG KITA BAHKAN DI DALAM DIRI KITA.

Hakekat Ibadah sesungguhnya manusia adalah hidup manusia itu sendiri. Seluruh aktivitas hidup manusia detik demi detik sejatinya adalah ibadah yaitu aktivitas yang dipersembahkan kepada Tuhan melalui kesadaran akal budi dan rasa sejatinya.

PETUNJUK TUHAN BISA DIKENALI sejak manusia menyadari bahwa dia memiliki kesadaran. Kesadaran bahwa SEGALA SESUATU ADA YANG MENGATUR, entah itu nafas, gerakan sadar dan bawah sadar, kedipan mata, memanjangnya rambut, dan yang lain.

SIAPA YANG MENGATUR? Yang jelas, YA YANG MEMILIKI KEMAMPUAN MENGATUR SELURUH PERGELARAN ALAM SEMESTA INI, YAITU TUHAN SEMESTA ALAM, GUSTI ALLAH SWT.

Berbahagialah dan bersyukurlah bila Anda hidup di jaman sekarang. Sebagaimana hendaknya manusia bersyukur hidup bersama para Rasul. Kapanpun manusia dihidupkan, dia harus bersyukur.

Bagi saya, Anda, dan semua manusia tidak ada alasan untuk tidak mensyukuri semua pemberian-Nya yang Maha Pemberi Kasih dan Sayang. ANDA, SAYA DAN KITA SEMUA PASTI DIBERIKAN PENGAJARAN OLEH TUHAN SECARA LANGSUNG. TANPA PERANTARA (RASUL) LAGI KARENA DIA TELAH PERCAYA BAHWA KITA MEMANG TELAH MAMPU UNTUK BELAJAR TANPA PERANTARA.

Pengajaran Tuhan dalam hidup kita sangat beragam bentuknya. Ada yang melalui sakit di tubuh, kesedihan, penderitaan, duka nestapa, rasa iba, rasa jengkel, rasa kasih sayang, rasa sehat, rasa sombong congkak, rasa iri dengki, rasa takabur, rasa adigang-adigung adiguna, rasa kalah, rasa menang, rasa dengki… dll. Pendeknya bila biasanya kita mengatakan kita sedang diuji dengan kesenangan dan kesusahan itu hakekatnya adalah pengajaran-pengajaran Tuhan.

Bisa disimpulkan:

Pertama, PETUNJUK TUHAN itu semacam rambu-rambu lalu lintas yang pasif yang sudah teronggok di sekeliling kita.

Kedua, PENGAJARAN TUHAN adalah aktivitas hidup TUHAN UNTUK MENUNTUN KITA AGAR SESUAI DENGAN IRADAT/KEHENDAK-NYA.

Ketiga: HANYA TUHANLAH SATU-SATUNYA PENCIPTA RAMBU-RAMBU LALU LINTAS KEHIDUPAN DAN HANYA TUHANLAH SATU-SATUNYA GURU SEJATI HIDUP MANUSIA.

Wongalus

Categories: PENGAJARAN PENGAJARAN TUHAN | 7 Komentar

KEPADA PARA PENDAKWAH ISLAM


Strategi dakwah haruslah yang komunikatif menghargai universalitas dan pluralitas budaya. Tidak boleh dengan agitasi dan teror.

Di kampung halaman saya, ada beberapa alumnus Ponpes Ngruki, Solo yang terkenal dengan kehebatannya berdakwah. Ponpes yang diketuai Ustad Abu Bakar Baasyir ini di mata para penegak hukum (Polisi) konon dianggap ponpes tempat bersemainya bibit Islam garis keras yang kemudian dicap sebagai penyebar gerakan terorisme di Indonesia.

Selain alumnus Ponpes Ngruki, ada juga alumnus Al-Fatah, Desa Temboro, Kecamatan Keras, Magetan yang juga terkenal dengan para pendakwahnya. Konon, para alumnus ponpes ini terbiasa menggunakan metode dakwah dengan berjalan-jalan dari kampung ke kampung menyebarkan agama Islam. Konon, mereka hidup bergerombol seperti kaum nomaden. Membekali diri dengan kompor dan bahan makanan seadanya untuk diolah dan dikonsumsi di sela kesibukan berdakwah di masjid-masjid kampung.

Dari dua alumnus ponpes di kampung saya tersebut, saya ingin berbagi pengamatan. Setidaknya ada kemiripan kedua alumnus tersebut yaitu PENAMPILAN. Bila sebelum masuk ke Ponpes Ngruki dan Al Fatah hanya mengenakan sarung dan berpeci, maka usai lulus di kedua pondok tersebut penampilan mereka langsung berubah. Memakai jubah putih panjang, memelihara jenggot dan menggunakan penutup kepala putih. Apakah ini pertanda mereka sudah memasuki Islam secara penuh (kaffah), saya tidak berani untuk menjawab.

Yang jelas, secara pribadi saya mencatat hal-hal yang mencolok dari kedua alumnus ini. Setelah lulus dari Pondok, mereka rata-rata MERASA terpanggil dan berkewajiban untuk menyebarkan “agama Islam” kepada orang lain. Biasanya “agama Islam” dipahami dan dihayati hanya sebagai sekte aliran kepercayaan. Bukan sebagai keseluruhan manifestasi bangunan hidup alam semesta dan kemanusiaan.

Saya mencatat beberapa kelemahan mereka:

Pertama, rata-rata alumnusnya merasa lebih benar dan lebih takwa dibanding dengan orang lain. EGO/KEAKUAN-nya lebih tinggi sehingga orang lain dianggap sebagai obyek yang harus diIslamkan. Padahal, bila spiritualitas manusia sudah sedemikian tinggi maka EGO/KEAKUAN ini justeru harus dihilangkan sama sekali hingga sampai di taraf ORA DUWE RASA DUWE.

Kedua, mereka kurang EMPAN PAPAN dan KURANG TOLERAN. Biasanya tanpa mengenal lawan bicara, mereka langsung mengeluarkan jurus-jurus ayat-ayat suci dan mendakwa apa yang ada di luar ayat suci sebagai kafir, bid’ah dan takhayul. Harusnya mereka belajar secara mendalam berbagai “ilmu dunia” untuk mendukung dakwah, misalnya ilmu sosiologi, ilmu komunikasi dan psikologi. Mengeluarkan jurus persamaan dengan kitab suci secara langsung dan secara leterluks/teksbook bisa membawa pada AGITASI dan TEROR.

Ketiga, kurang menghargai UNIVERSALITAS DAN PLURALITAS budaya, adat istiadat masyarakat di sebuah wilayah/perkampungan. Hal ini nampak dari keinginan mereka untuk merubah budaya, adat istiadat lokal setempat yang dinilai belum Islam. Menurut mereka, hanya budaya tertentu saja (misalnya budaya Arab) saja yang dinilai sebagai budaya Islam.

Saya mencatat kelemahan-kelemahan mereka dengan harapan agar mereka memahaminya. Lantas kemudian melakukan koreksi untuk memperbaiki diri. Salah satu saran saya adalah: bila Anda sudah lulus ponpes terkenal tersebut, perbanyaklah terus menuntut ilmu. Hargai perbedaan budaya/adat istiadat dan hargai pula perbedaan sifat karakter masing-masing individu.

Islam diturunkan dengan damai, perlahan, santun dan mengedepankan cinta kasih, memahami prinsip universalitas dengan strategi yang cerdas. Harus menyatu, bersenyawa dan melebur dengan budaya masyarakat setempat. Bukan dengan dakwah yang keras, primordial dan radikal.

Mohon maaf bila pernyataan saya ini menyinggung Anda. Anggap ini sebagai kritik yang membangun dan keinginan saya untuk berbagi rasa welas dan asih karena sangat disayangkan bila niat suci yang ada di dada Anda harus pupus oleh tuduhan yang negatif.

Semoga kita semua selalu diberi-Nya keluasan nalar budi dan kebijaksanaan perilaku sehingga bisa bersenyawa dengan hati orang lain. Terima kasih dan mohon maaf bila ada yang kurang berkenan. Wass…

wongalus

Categories: STRATEGI DAKWAH | 11 Komentar

MAKNA PENGABDIAN PADA NUSA BANGSA


bendera

Yogyanira kang para prajurit Lamun bias sira anulada Duk inguni caritane Andenira Sang Prabu Sasrabhu ing Maespati Aran Patih Suwanda Lelabuhanipun Kang ginelung tri pakara Guna kaya purun ingkang den antepi Nuhoni trah utama Lire lelabuhan tri prakawis Guna bias saniskareng karya Budi dadya nanggule Kaya sayektinipun Du Bantu prang Magada Nagri Amboyong putrid dhomas Katur ratunipun Purune sampun tetela Aprang tandhing lan ditya Ngalengka nagri Suwanda mati ngrana

Terjemahan:

Seyogyanya wahai prajurit Tirulah sebisa-bisanya Cerita di zaman dulu, Yakni tangan kanan Sang Prabu Sasrabahu di Maespati Yang bernama Patih Suwanda Bekal pengabdiannya Meliputi tiga hal Guna, kaya dan purun yang selalu dipegang Sebagai seorang manusia utama Adapun ketiga bekal pengabdian itu GUNA berarti serba bisa Berusaha untuk selalu berhasil (memenangkan Negara/menjunjung tinggi negara) KAYA sesungguhnya Ketika menjadi panglima perang Melawan Negeri Magada Ia sukses memboyong putri domas (kejayaan bangsa) Kemudian dihaturkan kepada rajanya PURUN, ketika bertempur melawan raksasa Alengka Suwanda (berani mempertaruhkan nyawa) gugur di medan laga

Serat Tripama karya
Sri Mangkunegara  IV

Categories: PENGABDIAN NUSA BANGSA | 9 Komentar

MUNGKIN INI HAKIKAT IKHLAS


Salah satu tabir yang menutupi hati kita untuk mampu merasakan getaran cahaya Petunjuk Tuhan adalah ketidakikhlasan. Sebaliknya, bila kita mampu untuk ikhlas berarti terbukalah salah satu hijab dan kemudian insyaallah kita mampu untuk merasakan getaran petunjuk cahaya Keikhlasan-Nya juga. Keuntungan ikhlas yang lain sebagai hadiah dari-Nya jelas banyak. Salah satunya adalah mampu meraba iradat-Nya.

Kisahnya sederhana. Hari Senin kemarin, tanpa diduga sebelumnya tiba-tiba mendadak kami diperintahkan untuk ke Bandung, Jawa Barat untuk sebuah tugas. Sebenarnya kami mampu untuk menolak tugas tersebut karena sifatnya bukan wajib melainkan pilihan. Entah karena apa, kami pun berniat belajar ikhlas saja ditugaskan tanpa embel-embel apapun. Ikhlas ya ikhlas, nggak punya harapan apa-apa.

Menurut penilaian para teman, kami tergolong wong manutan yang tidak punya keberanian untuk menolak permintaan orang lain. Padahal bila menuruti permintaan tugas pergi ke Bandung tersebut, pasti akan kelelahan apalagi tanpa imbalan. Padahal, di hati ini berkata: apa salahnya untuk melaksanakan sesuatu yang bisa menjadi ganjal agar orang lain tidak kecapekan? Biarlah kami saja yang bermandikan keringat daripada orang lain.

Ingat prinsip Rabiah Adawiyah, sufi agung perempuan yang tersirat dalam doanya: “Ya Allah, jadikan tubuhku besar hingga memenuhi neraka agar para saudaraku sesama manusia tidak ada yang masuk neraka”. Ini adalah makna keikhlasan untuk berkorban agar sesamanya tidak celaka. Biarlah diri menjadi bemper agar orang lain selamat…. Apakah pikiran kami seperti Rabiah? Nggak tahu, semoga saja begitu. Hehehe…

Dalam manajemen modern, pikiran seperti ini pasti dianggap tidak efisien dan efektif. Apalagi dilihat dari sisi ekonomis: ini pikirannya wong mlarat dan bila dipertahankan mungkin sampai kapanpun tidak bisa kaya karena tidak menguntungkan. Mungkin saja..

Singkatnya, kami pun akhirnya tetap memutuskan berangkat dan tiba di terminal Bungurasih pukul 4 sore. Sebelumnya, kami disarankan untuk naik bis “Pahala Kencana” karena konon lebih cepat, lebih nyaman dan lebih “selamat.” Meskipun tiketnya lebih mahal dibanding yang lain.

Di depan petugas penjualan tiket, sayang kursi bis sudah penuh penumpang dan hanya menyisakan satu kursi cadangan di pinggir sopir. Oleh petugas penjualan tiket, kami disarankan untuk menunggu bis “Pahala Kencana” yang lain.

Belum sempat memutuskan apapun, dari tempat kami berdiri tampak bis “Bandung Express” yang masih kosong melompong menunggu penumpang. Bis ini konon tidak begitu disuka karena berkelas rakyat bawah sehingga pasti terasa kurang nyaman bagi mereka yang alergi dengan hal-hal yang berbau rakyat.

Ide pun muncul untuk naik bis berwarna putih tersebut. Kami membeli tiket dan masuk ke kendaraan itu. Itung-itung belajar ikhlas untuk naik bis yang kurang bagus. Meskipun resikonya jelas; kurang nyaman, kurang bersih, dan kurang-kurang yang lain…

Hebatnya, bis ini murah meriah harga tiketnya dibanding bis elite satunya tadi. Jumlah penumpang “Bandung Express” saat itu hanya ada delapan. Kursi lain kosong melompong. Dengan delapan penumpang wong cilik tersebut, bis berangkat meninggalkan Surabaya. Sementara bis “Pahala Kencana” sudah terlebih dulu berangkat dengan jeda waktu sekitar satu jam dibanding bis butut yang akhirnya kami tumpangi.

Singkatnya, sore berganti pagi. Bis memasuki kawasan Sumedang…. Eh, di pinggir jalan kami lihat bis “Pahala Kencana” berhenti. Kelihatan kru bis sedang memperbaiki mesin dan para penumpangnya ada yang keluar bis duduk di pinggir jalan, ada pula yang masih berada di dalam bis menunggu. Ya, bis elite itu rusak. Sementara bis butut yang kami naiki malah mulus meluncur Surabaya-Bandung dengan selamat dan tidak kurang apapun. Lebih cepat lagi hehe…Alhamdulillah.

Perjalanan bis menuju Bandung adalah analogi yang baik bagaimana sesungguhnya menuju tujuan hidup. Marilah kita renungkan, kira-kira apa sih tingkat puncak kenikmatan dari hidup? Pelan menjalani proses di dalam hidup seperti bis “Bandung Express” meskipun onderdil dan bentuk bis (Ibadah dan niat compang camping) tapi tetap berada di jalan yang benar atau pengin cepat-cepat sampai tujuan hidup namun akhirnya malah macet karena sopirnya ulan-ugalan bahkan fatal tidak sampai tujuan seperti bis “Pahala Kencana” tadi?

Begitu pula dengan ibadah. Mana yang kita pilih… jumlah atau frekuensi ibadah yang banyak namun malah justeru yang timbul kebosanan dan bahkan akhirnya pengingkaran dari tujuan ibadah, ataukah sedikit pelan namun ikhlas dan sesuai dengan tujuan ibadah yaitu bentuk simbolik pengabdian tulus dan total pada-Nya?

Benarlah Rabiah Adawiyah. Katanya; dia beribadah bukan berharap surga dan bukan pula takut neraka. Ya, kita beribadah bukan mengharapkan itu. Bahkan jika surga dan neraka tak pernah ada, pasti kita tetap sujud pada-Nya.

Satu hal yang bisa digarisbawahi, bahwa dalam melakoni garis, tata cara dan jalan kehendak Tuhan (agama/kepercayaan/yang lain) terletak pada tujuan murni yang hendak dicapai. Dalam setiap tindak tanduk keseharian kita, semua berjalan dalam rangka pengabdian ibadah. Dan semuanya diikat kembali dengan tali keikhlasan.

Perintah tentang ibadah dalam kitab suci jelas terangkai dengan kata ikhlas. Dan sebagai motivasi, beribadah perlu dilanjutkan dengan berinovasi dalam amal. Beribadah seolah melihat Gusti Allah, sekiranya pun kita masih belum mampu merasakan bahwa Dia melihat kita, boleh juga memantapkan keyakinan bahwa Dia akan melihat apa yang kita kerjakan.

Di sinilah peran ikhlas tersebut. Ikhlas bukan pasrah negatif, tapi ikhlas adalah tujuan tanpa batas kemakhlukan yang sarat kebendaan. Sebab objek yang dituju adalah Sang Maha Ikhlas. Ia yang transenden tak dapat terlihat tapi bisa dirasakan, berarti setiap langkah usaha yang dibuat, harus terus akan berjalan dengan dalih keberadaan-Nya. Selama masih ada kesempatan hidup, maka inovasi harus ada. Biarlah semua hanya Gusti Allah yang menilai usaha kita.

Berbuatlah tanpa embel-embel dibelakang. Tujuannya, bukan untuk dipuji, jadi kaya, terhormat, dapat kekuasaan, jabatan atau lainnya. Arahkan selalu tujuan hanya kepada Gusti Sang Maha Tunggal. Kita pasti tidak akan mengeluh, bosan, jenuh dan sebagainya. Justru, jika tujuan itu berhasil keridhaan-Nya sudah dijamin.

Mungkin ini hakikat ikhlas. Bukan ikhlas yang ateis. Bukan pula ikhlas yang absurd.

wongalus

Categories: HAKIKAT IKHLAS | 26 Komentar

JANGAN MENGABDI PADA HARTA BENDA


Gesang ing ndonya pirantosipun brana, nanging sampun mangeran, wujudipun kerem, yen kerem memalangi.

Mangka tetepipun saking Khaq, wonten ing Sanubari.

Mangke angsal tuntunan saking Allah pribadi alelantaran Rasa Suci, inggih Khaqiqi, inggih Dewa Ruci wonten salebeting rasa gaib.
Junun iku ayem tentrem wujudipun, iku kang prayoga, amamardi Ngelmu Suci.
Kukuming tiyang Iman ingkang teguh santosa, mung siji mripatipun nuju mring Allah.

Lara penak tumraping wong kang sumarah kudu dilakoni, iku warahing para Nabi. Lakonira iya mangkana, lakune luwih sangsara katimbang sira.

Mung Allah kang den kawulani, nadyan tekan pati, Nabi kuna ora wigah-wigih. Mung pasrah jia raga mring Gusti. Sumarah iku warising Nabi.
Ja lali mungguhing umat, yen sira antuk Sihing Gusti, ywa rumangsa punjul, kudu rumangsa kawula, ingkang tansah enget idheping Hyang Mahaagung, rumangsa yen kapurba ngawaki ngaras ing Gusti.

Mila makaten Karsa Allah ingkang dipun karsakaken Imanipun sampun luwar saking hawanapsu. Manawi sampun mboten kaiket badhe gampil ngidhep ing Allah. Mila sakselaning pandamelan lerem, kendel ngantos sumarah.

Cak-cakanipun kaliyan lenggahan, tileman, jumeneng, kenging. Perlu lajeng saged kulina lerem. Yen sampun kulina lerem, lajeng dumugi Jinem, mboten gampil kagodha.

Wajibe kang lugu amung mujud ing Rasa Suci, eling yen kapardi ngarseng Hyang Mahaagung, manut sakrehira, aja kongsi susah yen binabar suci, mung pasraha kewala.

Marma kudu emut, lamun ana krenteging ati kang rumangsa bisa mulang tuwin muruk, iku pangajaking Ati Batal, kang tetep aran egois.
Marmanira yen kurang satiti, sok keplantrang ngaku dwija tama, bisa mulang sabarang reh, ing lahir batin putus, mumpuni saliring gaib, iku Drubiksa nyata Bataling Ati Setan lugu.

Sarating Khaq rujukira tentreming manah mung sungkem ing Allah.
Rujuke ana ngilmu aja nglakoni nistip, aja srakah, aja kerep nepsu, ora kena sira uja, iki pepalang.

Dhudhuking Khaq neng Sanubari, hawanapsu ora ana yen wus lenggah neng Sanubari. Anane mung kari Iman ngawula ngarseng Hyang Widdi.
###

Artinya:

Hidup di dunia sarananya adalah harta benda, tetapi jangan sampai mengabdi, wujudnya tenggelam di dalam harta benda, apabila tenggelam menjadi penghalang.
Khaq tetap berada di dalam Sanubari.
Akan menerima Bimbingan dari Allah SWT sendiri dengan perantaraan Rasa Suci, atau Khaqiqi, atau Dewa Ruci di dalam rasa gaib.
Junun itu berwujud tenang tenteram, itu yang baik untuk menjalani Ilmu Suci.
Hukum orang beriman yang teguh sentosa hanya satu matanya selalu tertuju kepada Allah.
Menderita dan Senang bagi orang yang telah berserah diri kepada Allah SWT haruslah dijalani, itu petunjuk dari para Nabi. Kehidupan para Nabi juga demikian itu, hidup mereka lebih sengsara daripada engkau. Hanya Allah saja yang mereka abdi, walaupun sampai mati mereka tidak gentar menjalaninya. Hanya berserah diri total hanya kepada Allah saja. Sumarah itu warisan dari para Nabi.
Janganlah sampai engkau semua lupa, apabila menerima Kasih Allah SWT, jangan sampai merasa lebih dari umat lain atau sesama, haruslah tetap merasa bahwa dirimu adalah abdi, yang harus selalu tetap ingat akan menghadapmu kepada Hyang Mahaagung, merasa bahwa selalu berada di dalam Kuasa Allah SWT selalu menjalani menghadap di hadapan Allah SWT.
Yang dikehendaki Allah SWT itu orang yang Imannya sudah lepas dari hawa nafsu. Apabila sudah tidak terikat akan sangat mudah menghadap kepada Allah SWT.

Maka sebaiknya di antara sela-sela bekerja tenang, diam sampai sumarah berserah diri total kepada Allah SWT . Pelaksanaannya dengan sambil duduk-duduk, sambil tiduran, berdiri, dapat saja.

Penting sekali dapat membiasakan diri tenang. Apabila sudah terbiasa tenang, lalu sampai ke berserah diri total hanya kepada Allah SWT saja, tidak akan mudah digodha.

Yang penting haruslah hanya berwujud di dalamRasa Suci, selalu ingat bahwa selalu di hadapan Allah yang Mahaagung, selalu taat akan semua Perintah dan Kehendak-Nya, jangan sampai merasa susah apabila sedang disucikan oleh Allah SWT, hanya berserah dirilah saja kepada-Nya.

Haruslah selalu ingat bahwa apabila sewaktu-waktu ada gerak di dalam hati merasa dapat memberikan pelajaran dan petunjuk, itu adalah gerak dari Hati Setan atau Hati Batal, yang selalu tetap egois sifatnya.

Apabila kurang teliti, sering mengaku sebagai Sang Mahaguru, dapat mengajarkan semua ilmu lahir dan batin sempurna, sempurna menguasai segala yang gaib, itu Hati Setan atau Hati Batal.

Sarat untuk dapat menjalankan hubungan dengan Khaq adalah tenteramnya hati hanya bersujud di hadapan Allah SWT

Supaya dapat menjalani Ilmu dengan baik janganlah sampai berbuat yang menyimpang dari Jalan Allah, janganlah serakah, jangfanlah sering marah-marah, janganlah semua itu engkau turuti saja, itu semua adalah penghalang.

Tempatnya Khaq adalah di dalam Sanubari,hawanafsu sudah tidak ada apabila sudah berada di dalam Sanubari. Adanya hanya Iman kepada Allah SWT mengabdi hanya kepada Allah SWT saja.

(wewarah dari Raden Ngabehi Soekinohartono)

###

Categories: WEWARAH | 16 Komentar

RITUAL PECANDU INTERNET


Internet telah menjadi bagian hidup sehari-hari manusia modern. Ia menjadi ritual wajib yang harus dilaksanakan untuk menghabiskan hari. Pagi bukan Facebook dan game online, siang buka blog dan website, malam beselancar search engine. Hati-hati, kecanduan!

Ini kebetulan hari Minggu. Dalam postingan kali ini, mohon maaf rasanya jari susah diajak kompromi untuk menulis hal-hal yang spiritual. Mungkin, karena tarikan magnet dunia benda yang luar biasa. Padahal, di kepala ada banyak hal spiritual yang ingin disampaikan. Mungkin pula karena kondisi tubuh yang agak lemes gara-gara masuk angin. Maka lebih baik menulis tentang hal yang ringan. Sekedar tambahan sedikit informasi tentang bagaimana seharusnya kita mensikapi internet.

Di kepala, terlintas banyak pikiran apakah itu kejadian-kejadian berskala nasional yang baru terjadi maupun agenda pribadi: penangkapan orang yang diduga gembong teroris Nurdin M. Top oleh Densus 88, wafatnya penyair handal Si Burung Merak W.S. Rendra dan Mbah Surip, Kecelakaan Pesawat, Lumpur Lapindo yang mengganas, kerja bakti di RT menyambut tujuh belasan HUT RI, harus merampungkan dua pekerjaan sampingan, siap-siap bekerja keras besok senin di kantor, rekreasi. Keluarga yang ingin jalan-jalan menikmati hari Minggu dan seterusnya.

Semuanya tumplek blek di sel-sel otak… Semuanya akhirnya hanya jadi pikiran. Tubuh agaknya malas diajak mengikuti agenda-agenda dunia yang banyak itu. Akhirnya, ya seperti yang diketahui saya hanya duduk saja. Saya mohon ijin ke anak isteri untuk tidak mampu mengantar mereka jalan-jalan. Saya mohon ijin ke para tetangga tidak bisa ikut kerja bakti bersih-bersih gorong-gorong air yang mampet, saya mohon ijin kepada Tuhan hanya bisa melaksanakan ibadah dunia sesuai dengan kemampuan saya. Mohon maaf.

Saya buka laptop dan internet. Rasanya kangen dengan para blogger yang tetap bersemangat untuk nggayuh kawicaksanan. Di blog, kita juga bisa bersilaturahim dengan cara berdiskusi mengeluarkan gagasan ide-ide yang panjang dan mendalam. Di blog, kita bisa belajar untuk mengungkapkan ide di kepala secara kreatif dengan bahasa yang mudah dipahami dan sedikit agak ngawur tanpa khawatir diprotes oleh dosen. Ini beda ketika kita bikin karya ilmiah, salah menggunakan kata, kalimat dan bahasa maka dosen langsung mencoret. Di blog, salah menulis tidak terlalu beresiko kecuali bila kita melanggar semacam katakanlah etika, unggah ungguh, sopan santun. Di blog, ada kebebasan mengekspresikan gagasan dan pembelajaran kreatif.

Di era informasi seperti sekarang, kita semua dimudahkan untuk mencari pengetahuan. Tidak hanya mencari pengetahuan, namun juga ikut berpartisipasi menyumbangkan pengetahuan entah itu hasil perenungan sederhana sehari-hari, perenungan olah rasa setelah mendapat wangsit, hasil analisa yang njlimet, hasil penelitian yang menambah perbendaharaan ilmu pengetahuan, dan seterusnya.

Ada pula kebiasaan baru dari perkembangan era komunikasi internet. Yaitu kehadiran facebook. Kehadiran facebook, kita tahu semakin membuat seseorang mudah berbagi ide, gagasan singkat dan interaktif. Komentar-komentar pun bermunculan, cukup menarik. Facebook mewabah di hampir semua kalangan usia dan profesi. Sayangnya facebook hanya bisa dijejali dengan pesan-pesan pendek singkat, chatting yang bisa jadi apus-apus, munafik dan dangkal sehingga tidak membuat kita beranjak dewasa dengan perenungan yang mendalam, intens dan kaya.

Ada lagi yang dampak internet yang lebih negatif dibanding facebook, yaitu game online. Di banyak warnet, para pelajar malah banyak yang bolos sekolah hanya untuk main game online. Ini tentu saja harus dipikirkan bersama, bagaimana solusinya agar internet bisa dikembalikan ke fungsinya yang benar. Warnet-warnet penuh dengan pelajar main game online, handphone khusus untuk berfacebook semakin banyak, pelayan jasa telekomunikasi kebanjiran untung. Satu penyakit baru muncul yaitu: KECANDUAN INTERNET.

Penyakit ini mungkin belum banyak disadari oleh kita yang tinggal di Indonesia. Di China lain lagi. Akibat semakin banyaknya pengguna internet dan kebiasaan berinternet tanpa mengenal waktu, maka didirikanlah KLINIK BAGI PECANDU INTERNET. Konon, semakin banyak orang yang sakit gara-gara internetan tanpa mengenal waktu. Duduk lama di depan komputer, mata kelelahan melihat layar komputer, kurang gerak tubuh, mengkonsumsi makanan dan minuman cepat saji mengakibatkan derajat kesehatan badan dan kesehatan pikiran menurun drastis.

Internet adalah dunia ide yang awalnya sebagai alat tukar menukar informasi dalam jaringan komputer yang dibentuk oleh Departemen Pertahanan Amerika Serikat di tahun 1969, melalui proyek yang disebut ARPANET (Advanced Research Project Agency Network). Mereka mendemonstrasikan bagaimana dengan hardware dan software komputer yang berbasis UNIX, bisa melakukan komunikasi dalam jarak yang tidak terhingga melalui saluran telepon. Proyek ARPANET merancang bentuk jaringan informasi yang dapat dipindahkan, dan akhirnya semua standar yang mereka tentukan menjadi cikal bakal pembangunan protokol baru yang sekarang dikenal sebagai Internet Protocol.

Tujuan awal dibangunnya proyek itu adalah untuk keperluan militer. Pada saat itu Departemen Pertahanan (US Department of Defense) membuat sistem jaringan komputer dengan menghubungkan komputer di daerah-daerah untuk mengatasi masalah bila terjadi serangan nuklir dan untuk menghindari terjadinya informasi terpusat, yang apabila terjadi perang dapat mudah dihancurkan. Pada mulanya ARPANET hanya menghubungkan 4 situs saja yaitu Stanford Research Institute, University of California, Santa Barbara, University of Utah, di mana mereka membentuk satu jaringan terpadu. Meski sudah dimulai sejak 1969, secara umum ARPANET diperkenalkan pada bulan Oktober 1972.

Tidak lama kemudian proyek ini berkembang pesat di seluruh daerah, dan semua universitas di negara tersebut ingin bergabung, sehingga membuat ARPANET kesulitan untuk mengaturnya. Oleh sebab itu ARPANET dipecah manjadi dua, yaitu “MILNET” untuk keperluan militer dan “ARPANET” baru yang lebih kecil untuk keperluan non-militer seperti, universitas-universitas. Gabungan kedua jaringan akhirnya dikenal dengan nama DARPA Internet, yang kemudian disederhanakan menjadi Internet.

Yang perlu digarisbawahi adalah, internet bukanlah dunia sesungguhnya. Internet adalah wahana tukar menukar informasi, ide atau gagasan. Tidak lebih. Menjadikan internet sebagai wahana mencari hiburan hingga membuatnya kecanduan, bisa membuat kita tenggelam dalam hidup yang main-main belaka. Resikonya ada, yaitu membuat kita kekurangan waktu untuk menikmati hidup aktual, menikmati kehangatan sapaan komunikasi dengan keluarga, dan menikmati sapaan alam.

Dulu, setiap potong informasi harus dicari di perpustakaan-perpustakaan. Orang harus berjalan kaki ke gedung perpustakaan, mendaftar jadi anggota, dan melongok-longok kemudian mengambil buku yang diinginkan. Itu pun belum tentu mendapatkan potongan informasi yang dicari. Kini? Hanya tinggal masuk ke search engine, mengetik kata yang diinginkan maka dalam hitungan beberapa kejap mata search engine akan memunculkan ribuan potong informasi yang kita inginkan. Luar biasa cepat.

Sama seperti kehadiran remote televisi. Tanpa remote, kita harus berdiri dari tempat duduk, berjalan dan ke arah televisi untuk mencari stasiun televisi yang dibutuhkan. Ada tenaga yang dikeluarkan. Ada keringat yang keluar. Berarti tubuh tetap bergerak dan berolah raga. Dengan adanya remote, kita bisa sambil tiduran atau duduk manis dengan memencet tombol remote. Namun tubuh tidak bergerak dan tidak ada olah raga. Nah, dari dua kebiasaan: memakai remote dan tanpa remote, sehat yang mana dampaknya pada tubuh biologis kita?

Sekali lagi. Setiap hal pasti ada dampak baik buruknya. Ada dampak yang harus ditanggung akibat kemudahan itu. Kemudahan mencari informasi di internet membuat setiap potong informasi yang harusnya sangat berharga menjadi seakan tidak bernilai. Dengan tidak lagi susah berjuang untuk memperoleh informasi. orang menjadi malas, rapuh dan manja. Bertambahnya informasi dan banyaknya pengetahuan di kepala tidak serta merta membuat kita semakin bijaksana. Tidak ada jaminan orang yang pengetahuannya banyak, naluri kemanusiaannya juga serta-merta meningkat. Menolong orang lain, memberikan harta benda untuk kemanfaatan masyarakat tidak serta merta harus dibarengi dengan banyaknya informasi yang mengumpul di otak. Justeru terkadang, naluri kemanusiaan hidup pada mereka yang sedikit informasi, miskin dan terbelakang pengetahuannya.

Hidup yang tidak mampu menghayati proses perjuangan adalah hidup yang instan dan terasa cepat. Orientasi orang bukan lagi bagaimana menikmati proses, namun bagaimana mendapatkan hasil secepatnya. Bila hasil sudah diperoleh, maka dia akan mencari hasil-hasil lain. Orang tidak pernah mampu puas dengan satu hasil saja. Dia akan mencari hasil lain yang lebih besar. Hingga akhirnya waktu hidup kita habis dalam perbandingan-perbandingan serta pencarian-pencarian yang tiada berujung pangkal.

Berorientasi pada hasil, bukannya tidak baik. Baik-baik saja asalkan proses dilalui dengan sabar dan benar. Mengorientasikan diri hanya pada hasil tanpa melihat prosesnya, membuat derajat kemanusiaannya menurun ke tingkat binatang. Binatang tidak perlu memikirkan bagaimana mendapatkan makanan dengan cara yang halal, baik dan bijak. Binatang hanya mengerti bagaimana makanan diraih secepatnya.

Ya begitulah, daripada ritual internetan terus tanpa mengenal waktu mending hidup yang aktual: melaksanakan ritual sholat wajib bersama mbah Bejo atau ritual meditasi diam bersama Ki Atmodjo, atau ritual melihat langit, matahari atau bulan khusyuk yang lama bersama mas Sasongko. Membuka rasa sejati untuk bertemu, bertamu dan berkomunikasi dengan Gusti, mengheningkan cipta, menyatukan rasa sejati kita kepada iradat-Nya. ###

Categories: RITUAL PECANDU INTERNET | 11 Komentar

PULANG KE BATIN


Setiap kali pulang ke rumah orang tua di lereng Gunung Lawu, perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur saya biasanya menyempatkan diri untuk mendaki sebuah perbukitan kecil dan menyempatkan diri duduk di atas sebuah gua. Membebaskan batin untuk mengangkasa bersama semilir angin yang berhembus sepoi-sepoi…

Tempat orang tua saya berdomisili ini adalah sebuah desa terpencil di utara Gunung Lawu. Namanya Desa Kuniran, Kecamatan Sine yang berada di Kabupaten Ngawi, Jawa Timur. Inilah desa paling akhir di ujung Kabupaten yang berbatasan dengan Kabupaten Sragen, Jawa Tengah itu.

Untuk memasuki wilayah Desa Kuniran, Kecamatan Sine, ada beberapa alternatif jalan. Ada yang harus melewati Kecamatan Jogorogo yang relatif berkelok-kelok, ada yang landai yaitu yang melalui kawasan Tunjungan dekat Sragen, ada pula yang melalui Kecamatan Mantingan. Bisa pula melewati Alas Ketangga lantas terus ke selatan. Alas ini terkenal bagi kalangan mistikus untuk mencari sandi-sandi rohani. Bagi kalangan mistikus, Alas Ketangga adalah “Ibu” sementara Alas Purwo di Banyuwangi adalah “ayah”. Konon, bila ingin melengkapi laku spiritual, bergurulah ke “ayah dan ibu” ini, maka sang anak yaitu Anda akan “lengkap” ngelmu-nya.

Bagi saya pribadi, tidak terlalu ribet untuk percaya dengan kepercayaan mistik yang demikian itu. Untunglah, Tuhan memberikan saya kebodohan untuk memahami bahasa-bahasa sandi yang demikian sehingga tidak terlalu kebingungan untuk menjalani laku yang mereka percaya. Barangkali pula, Tuhan akan menunjukkan cara dan jalan yang lain untuk memahami ngelmu kasunyatan versi saya. Saya yakin, Tuhan Maha Memberi Petunjuk setiap saya mengarahkan rasa dan menggeluti dunia batin-Nya yang Maha Tidak Terjangkau.

Salah satu jalan yang ditunjukkan-Nya adalah jalan pulang ke rumah orang tua. Biasanya saya pergunakan kesempatan yang langka tersebut untuk mengembalikan dan membersihkan diri dari segala macam polusi mental yang keruh akibat terlalu banyak bersinggungan dengan dunia fisik. Semesta fisik, material, benda bila terlalu banyak berada di dalam pikiran memang akan cenderung membuat pikiran dan batin kita keruh. Pikiran dan batin tidak mampu untuk melihat dan merasakan kehadiran hal-hal yang gaib, mistik, supranatual, adikodrati dan transendental. Itulah sebabnya, saya merasa perlu untuk mengosongkan mental, batin dan pikiran agar mampu mengakses energi Tuhan yang Maha Hebat.

Perjalanan dari Surabaya menuju Ngawi saya simbolkan perjalanan ruhani dari yang dangkal menuju yang tinggi. Surabaya berada di dataran rendah lambat laun meninggi pelan-pelan, berproses setapak demi setapak menggapai kedamaian semedi. Hingga akhirnya menuju lereng Lawu yang berada di sekitar 2000 meter di atas permukaan laut.

Saat melewati kota-kota, saya mengibaratkan sebagai sebuah titik-titik perjalanan ruhani yang harus disinggahi. Terkadang harus istirahat hanya untuk menghela nafas, menunggu tarikan ruhani yang menyedot energi kebenaran yang ada di mana-mana. Lantas kemudian, saya harus bergegas-gegas untuk sebuah pengalaman spiritual baru. Perjalanan baru yang harus saya tempuh, saya berusaha atasi dengan sabar ikhlas, nrimo dan SUMARAH. Terkadang pula, saya harus jatuh tersungkur karena sebuah sebab dimana saya harus menanggung kebodohan akibat pola pikir, mindset dan keliru untuk berolah rasa. Namun kemudian bangkit lagi dengan cara baru memandang kasunyatan ini.

Perjalanan dari yang lahir menuju yang batin adalah sebuah proses yang unik. Bukan harus mengalahkan yang lahir demi kemenangan yang batin, namun perjuangan yangh batin untuk menguasai yang lahir agar tidak ngawur dan membabi buta cakil. Kecenderungan yang lahir ini bergerak sembarangan karena tarikan yang lahir juga luar biasa besar. Benda-benda di bumi ini memiliki kekuatan magnetik untuk menarik dan menyedot benda-benda lain. Benda akan bersinggungan kemudian lengket dan susah untuk dipisahkan. Bila tubuh jasmani yang benda ini berdekatan dengan benda tubuh jasmani yang lain maka pasti akan terjadi saling tarik menarik yang kuat. Begitu pula bila tubuh jasmani yang hanya benda ini berdekatan dengan benda lain seperti cincin indah, kendaraan mewah dan mahal, atau tubuh jasmani lain yang indah maka dipastikan terjadi ketertarikan dan akhirnya lengket susah terpisah.

Bila ini terjadi dalam waktu sekian lama dan titik orientasi kesadaran kita tidak beranjak dari semesta tarik menarik seperti ini, saya beranggapan hidup kita sia-sia. Sebab harusnya kesadaran kita terangkat semakin tinggi, bahkan harus mentransendensikan yang lahir oleh yang batin. Oleh karenanya, usaha untuk memfokuskan dan lebih menomorsatukan yang batin daripada yang lahir adalah sebuah perjuangan berat yang harus diperjuangkan oleh manusia. Bukankah manusia adalah titik tengah antara yang lahir dan batin? Malaikat, jin, dan beragam variannya, kejujuran, kebijaksanaan, keikhlasan adalah serba batin. Hewan, tumbuhan, batu-batu mulia, mobil, mall, logam mulia, uang, eknonomi, politik, DPR, Presiden, Jabatan, Kekuasaan, Korupsi semuanya serba lahir.

Tuhan adalah Dzat yang awal dan akhir, yang lahir dan yang batin. Sama seperti manusia. Itu sebabnya manusia berderajat tertinggi karena hanya dialah yang mampu “Menyamai Peran Tuhan”, ditunjuk menjadi WAKIL, HAMBA, PELAYAN, KEKASIH-NYA. Luar biasanya manusia tidak terletak pada akalnya-ciptanya (Ilmu Pengetahuan), namun juga rasa (spiritualitas, agama, kepercayaan), juga Karsa (kelakuan untuk menjalani perannya). Karena posisisnya yang sangat strategis itulah manusia harusnya terus memfokuskan diri tanpa sedetikpun melupakan TUHAN. Kita harus mengorientasikan hidup kita untuk selalu NGESTI TUNGGAL.

Banyak orang pintar namun kurang bermoral, banyak orang bermoral namun kurang pintar. Banyak orang pintar, bermoral namun kurang bijaksana. Justeru terkadang kebijaksanaan lahir dari orang yang tidak pintar namun bermoral. Sesungguhnya, kebijaksanaan lahir dari sebuah keutuhan bangunan kemanusiaan yang harusnya terus dicari karena kebijaksanaan tidak pernah mengenal titik henti. Kebijaksanaan akan terus berproses dan terus menjadi (BECOMING) tidak bisa hanya berada di satu titik eksistensi (BEING) saja namun lebih ke memudar (PERISHING) dan menyatu kembali dalam wujud yang berlainan. Untuk menggambarkan apa dan bagaimana luas cakupan Kebijaksanaan ada baiknya saya mengutip sebuah ilustrasi sederhana. Ilustrasi hanya ilustrasi yang hanya sekedar cara untuk memahami bahwa kebijaksanaan lebih luas dari ilmu pengetahuan.

Pada suatu saat ada dua orang murid, yang satu bernama Yan Juan, murid yang paling pandai, yang satunya lagi tidak disebutkan namanya, katanya murid yang paling tidak pandai. Dua-duanya berguru kepada Kong Cu atau Konfusius yang oleh umat Konghucu disebut sebagai Nabi Kong Cu. Kisahnya begini, Yan Juan, si murid pandai, dengan murid satunya lagi sedang bercakap-cakap. Murid yang tidak pandai menantang murid yang pandai. “Mari kita berlomba?” “Apa Maksudnya?” “Saya mengajukan pertanyaan, 8 kali 3 berapa?” Yan Juan menjawab, “24.” “Salah, yang betul 23.” “24 dong.” “Salah, kamu katanya pandai, ternyata jawabannya 24, yang betul 23.”

Berdebat di situ. Yang tidak pandai menantang, mari kita datang ke guru. “Kalau saya yang salah, jawabanmu yang benar 24, saya akan memotong leher saya sendiri. Kalau kamu yang benar ternyata jawabannya 24, topimu kamu lepas.” Topi melambangkan kecendekiawanan, kepandaian seseorang waktu itu. Yan Juan tidak ingin seperti itu, karena khawatir dan cemas, kalau ada apa-apa dengan temannya itu.

Singkat kata, karena tidak mencapai titik temu, datanglah ke Nabi Kong Cu. Sampai di tempat itu Kong Cu berkata, “ada apa?” Dijelaskanlah oleh dua-duanya tentang lomba itu. Dengan berdebar-debar dua-duanya menunggu jawaban Kong Cu. “Yang benar berapa, Guru? 8 kali 3 itu berapa?” “Yang benar ya 23.” Mendengar itu Yan Juan, murid yang paling pandai kecewa sekali, marah, bahkan menuduh sang guru telah berbohong. Akhirnya ia memutuskan untuk meninggalkan tempat itu dan mengancam akan keluar dari perguruan itu dan tidak ingin menjadi muridnya.

Sang Guru Kong Cu tersenyum, “Silakan. Cuma begini Yan Juan, kamu akan jalan barangkali ada hujan lebat, hujan besar, jangan deket-deket dengan pohon yang besar, atau berlindung karena pohon itu akan tumbang.” Keluar dia dari situ. beberapa saat hujan lebat, badai angin kencang. Ketika mendekati pohon, ingat kembali pesan Kong Cu, dengan cepat dia meninggalkan pohon itu dan betul saja dalam hitungan detik pohon tumbang menghancurkan semua yang ada di sekitarnya.

Dia terhenyak, dia mengatakan Kong Cu bukan orang sembarangan. Ia kembali, kepada Kong Cu memohon maaf atas kekasarannya dan kemudian barangkali ada nasihat. Yan Juan dengarkan, “Kalau saya ditanya 8 kali 3 yang benar ya 24, tetapi bayangkan kalau saya mengatakan 24 waktu itu, kamu akan menyesal seumur hidup, kamu akan merasa berdosa, karena ada seorang temanmu yang nyawanya hilang karena kamu.” 8 kali 3 atau 24 dalam konteks ini adalah kebenaran kecil, kebenaran matematis. Kebenaran besarnya adalah berapa nyawa orang yang harus diselamatkan.

Kisah di atas bisa diambil hikmah bahwa ilmu pengetahuan memang benar mampu membuka cakrawala kenyataan secara eksak, pasti dan tidak terbantahkan. Semua orang tahu itu. Tetapi, ilmu pengetahuan tidak mampu untuk menangkap hakikat pergelaran alam semesta yang begitu kompleks ini. Kebenaran kecil adalah kebenaran rasio, akal dan matematis. Kebenaran besar adalah bagaimana kita mampu mengolah akal, rasa, hati nurani, dan budi pekerti kita untuk berperilaku yang baik dan sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan untuk menggapai kebenaran dan kebijaksanaan Tuhan.

Akhirnya, sampailah saya di rumah orang tua di lereng Gunung Lawu. Setelah duduk bersimpuh di hadapan orang tua, bercengkrama sambil meminum teh hangat dan menyedot rokok menikmati masa lalu, saya mendaki sebuah perbukitan kecil di dekat rumah. Di atas sebuah gua, batin mengangkasa bersama semilir angin yang berhembus sepoi, bergerak terbang, sayapnya mengepak menuju entah ke mana …

wongalus

Categories: PULANG KE BATIN | 34 Komentar

NGELMU KASUCIAN


SUMARAH

Ini adalah wewarah dari Raden Ngabehi SOEKINOHARTONO, pendiri Paguyuban Sumarah. Sengaja saya sampaikan apa adanya  dengan tujuan agar kita bisa menyimak secara obyektif tanpa interpretasi dari subyektivitas saya pribadi. Terima kasih. (wongalus)

Tiyang ngudi ngelmu kasucian punika gawat kaliwat-liwat, menawi kita kirang titi lan waspada, saged tergelincir wonten margining panasaran. Kamangka lampahing Ngelmu Sumarah kita punika tansah lumampah terus. Lampahing ngelmu sering nglangkungi gawat lan rumpil. Saklebeting Iman kita wonten lelampahan ingkang tansah lelawanan ( ngaler-ngidul ), inggih punika Khaqiqi lan Batal, leres lan lepat, sae lan awon, lan sapiturutipun.
Manah Batal sering mowor sambu, ngaken manawi piyambakipun ugi Allah utawi Khaqiqi, mangka wujudipun tunggal saawak kita, ugi saged suka piwulang, tuntunan, dhawuh, keterangan ingkang mawarni-warni sanget, menawi kirang titi lan waspada, saged dipun pengaruhi dening ingkang mowor sambu wau.
Menawi ingkang mowor sambu wau ingkang pidhato, sadaya para kadang ingkang mirengaken raosipun mboten sakeca sarta mboten pitados maksud ingkang dipun andharaken wau, satemah nukulaken manah gela, cuwa, bimbang, mboten marem sarta mboten pitados.
Akibatipun lajeng sami mangu-mangu anggenipun badhe ngudi Ngelmuning Allah. Punika sadaya dhedhasar saking kenyataan, sauger tiyang ingkang dipun tunggangi dening ingkang mowor sambu wau, inggih punika akibatipun ingkang mirengaken tetep sami mekaten.
Menawi saking Allah lumantar Khaqiqi, raosipun sakeca lerem tentrem ayem. Warahipun saged ngengingi dhateng para hadirin kanthi tenang, suraosipun wewarah saged katampi kanthi cetha lan terang.
Menawi sampun kathah wewarahipun, kedah ngatos-atos saha titi waspada sampun ngantos wonten ingkang mowor sambu ngaken-aken Allah. Sarehning dereng mangertos pundi ingkang leres lan pundi ingkang lepat, menawi wonten kenyataanipun, punika saking Allah lumantar Khaqiqi, menawi mboten wonten kenyataanipun, punika saking ingkang mowor sambu wau.
Wewarah saking ingkang mowor sambu kalawau, adhakanipun asring anonjolaken dhiri, rumaos celak dipun sihi dening Allah piyambak, remen mandhiri, rumaos leres piyambak, remen dipun sanjung-sanjung ing liyan, ingalembana, dipun puji-puji, dipun aosi sanget, jalaran dipun tuntun dhateng kaluhuran lan kemakmuran, remen sugih raja-brana, remen anjamah dhateng wanita ingkang dipun kajengaken. Menawi sampun termashur lajeng anggadhahi watak sapa sira sapa ingsun, makaten sapiturutipun. Menawi lepat dipun bucal ing liyan, menawi leres dipun anggep saking pakartinipun piyambakipun. Tuntunan saking ingkang mowor sambu punika menawi dipun gega, saya dangu saya berkembang, kumaluhur, egois. Punika tumrap dhateng sok sintena kemawon.

Artinya:

Orang menjalani Ilmu Kesucian itu sungguh sangat gawat sekali, apabila kita kurang teliti dan waspada, dapat tergelincir masuk ke dalam jalan yang sesat. Jalannya Ilmu Sumarah terus berjalan. Jalannya Ilmu sering sekali melalui jalan yang gawat dan sangat sulit. Di dalam Iman kita selalu ada perjalanan yang selalu berlawanan, yaitu Khaqiqi dan Hati Setan, benar dan salah, baik dan buruk, dan seterusnya.
Hati Setan sering kali menyamar, mengaku bahwa dia juga Allah atau Khaqiqi, padahal selalu berada menyatu di dalam tubuh kita, dapat juga memberikan pelajaran, tuntunan, sabda, keterangan yang bermacam-macam sekali, apabila kita kurang teliti dan waspada, kita dapat dipengaruhi Hati Setan yang menyamar itu.
Apabila Hati Setan yang menyamar itu yang berbicara, semua saudara yang mendengarkan akan merasa tidak enak dan tidak percaya akan maksud yang dikatakannya itu, sehingga akan menimbulkan rasa kecewa, bimbang, tidak puas dan tidak percaya. Akibatnya lalu menjadi ragu-ragu di dalam akan menjalani Ilmu-Nya Allah. Ini semua berdasarkan kenyataan bahwa apabila yang berbicara itu orang yang digerakkan oleh Hati Setan yang menyamar itu yang mendengarkan selalu demikian itu.
Apabila dari Allah dengan perantaraan Khaqiqi, rasanya enak tenang tenteram. Yang diajarkannya dapat menyentuh hati para hadirin dengan tenang, maknanya dapat diterima dengan terang dan jelas.
Apabila Pelajarannya sudah banyak, haruslah berhati-hati, teliti dan waspada, jangan sampai ada Pelajaran yang berasal dari Hati Setan yang menyamar itu.
Pelajaran dari Hati Setan yang menyamar itu sering kali berwujud menonjolkan diri , merasa yang paling dekat dan dikasihi oleh Allah, senang menonjolkan namanya sendiri, merasa yang paling benar sendiri, senang disanjung-sanjung oleh orang lain, dipuji-puji, sangat dihargai dan dihormati karena dibimbing ke keluhuran dan kemakmuran, senang kaya harta benda, senang bermain perempuan, apabila sudah termashur lalu mempunyai sifat sombong, arogan, apabila salah dilemparkan ke orang lain, apabila benar diakuinya dari tindakannya atau pekerjaannya sendiri.
Tuntunan dari Hati Setan yang menyamar itu apabila dipercaya dan diikuti akan membuat sifat orang yang digerakkan oleh Hati Setan yang menyamar itu menjadi semakin berkembang menjadi semakin merasa luhur martabatnya, egois. Hal tersebut berlaku untuk siapa saja.

Categories: WEWARAH SUMARAH | 11 Komentar

PAGUYUBAN NGESTI TUNGGAL


Salah satu saat yang paling saya sukai saat malam hari adalah berkumpul dengan rekan-rekan wong Jowo yang menamakan dirinya Paguyuban Ngesti Tunggal (Pangestu). Jangan bayangkan paguyuban seperti ini semacam sekte tertutup, eksklusif dan wingit tapi sebaliknya. Mereka adalah sama seperti kita yang terbiasa diskusi ngalor ngidul secara ilmiah maupun batiniah.

Seperti Senin malam kemaren. Saya bergabung dengan komunitas ini untuk membahas satu buku induk Paguyuban Ngesti Tunggal yang bernama SERAT SASONGKO JATI. Setelah membaca dan mengartikan kata demi kata buku babon berbahasa Jawa itu, kami terlibat dalam diskusi tentang spiritualitas ketuhanan lintas agama dan kepercayaan.

Mulailah kami membahas tentang tingkatan-tingkatan untuk memahami hakikat sholat, mulai dari SEMBAH RAGA, SEMBAH CIPTA DAN SEMBAH RASA. Sholat diartikan sembah raga, karena di dalam sholat kita melakukan aktivitas fisik tertentu yang sesuai dengan syariat agama. Mulai dari apa arti dari mengangkat tangan saat takbir sampai sujud. Sholat diartikan sembah cipta apabila pikiran kita terfokus pada satu titik yaitu Gusti Allah. Dan yang terakhir adalah sholat sebagai sembah rasa, yaitu sholat adalah sebagai sarana rasa sejati kita untuk bertemu dengan Tuhan Yang Maha Dekat.

Mengartikan sholat semacam ini tentu saja tepat dan mendalam. Sholat tidak hanya aktivitas fisik, melainkan psikis dan juga ruhani kita haruslah madep mantep tanpa mikir ngalor ngidul lagi Semuanya bersatu dalam fokus dalam suasana batiniah yang hening untuk bertemu dan bertamu, menghadap wajah-Nya, berkomunikasi rasa antara aku sejati dengan Engkau Sejati yaitu, Allah.

Intinya, bahwa sholat adalah wahana dan sarana kita untuk manunggaling kawulo Gusti, bersatunya aku dengan AKU-NYA Tuhan. Persenyawaan ini bisa dipahami karena dalam sholat sesungguhnya kita sedang membuka kulit-kulit perasaan manusiawi kita yang kasar sehingga tinggallah dalam diri kita satu perasaan dasar yang murni atau rasa, yang merupakan jati diri seorang individu (aku). Aku Sejati inilah manifestasi Tuhan dalam individu tersebut. “Rasa adalah aku dan aku adalah Gusti”

Dalam sholat juga terungkap adanya tujuan hidup manusia yaitu untuk TAHU dan MERASAKAN. Rasa tertinggi dalam dirinya sendiri. Pengakuan akan rasa tertinggi ini dicapai dengan cara memiliki kehendak yang murni dengan cara memusatkan kehidupan batinnya, mengintensifkan dan memusatkan semua sumber spiritualnya pada satu fokus kecil namun mampu menghasilkan energi terbesar.

Pada tingkat pengalaman sholat yang merupakan kebersatuan dengan eksistensi tertinggi, kita bisa merasakan semua yang ada ini sejatinya SATU DAN SAMA, keakuan kita hilang dalam individualitasnya. Ini disebabkan karena rasa aku itu bersumber dari Gusti Allah, sebuah obyek abadi yang dialami semua subyek manusia.

Pengetahuan tentang rasa tertinggi merupakan tujuan pencarian mistik yang luhur dan harusnya menjadi tujuan keagamaan semua kepercayaan dan semua agama. Tindakan pemahaman ini sering dianggap memiliki dua tahap utama: NING harafiah berarti HENING, diam yang menunjuk kepada emosi yang setenang-tenangnya dan kemundian NING KEJERNIHAN dan PENGETAHUAN yang dalam, GERAK HATI yang mengikuti keheningan dan yang bisa merupakan sesuatu yang sangat emosional. Biasanya hal ini dilukiskan sebagai SUWUNG atau KOSONG atau KABEH KUI SEJATINE ORA ONO, SING ONO KUI DUDU. (Semua itu hakikatnya tidak ada, yang ada itu sesungguhnya tidak ada…)

Untuk mencapai sholat sekhusyuk-khusyuknya, seseorang harus NGESTI TUNGGAL. Ngesti artinya menyatakan semua kekuatan individu dan mengarahkannya langsung kepada sesuatu tujuan tunggal, pemusatan kemampuan fisik, psikologis dan ruhaniah ke ALLAH SWT saja. Hal ini merupakan penggalian mental yang intens pencarian pengertian yang didukung oleh kehendak yang tidak tertahankan dan suatu penggabungan ke dalam suatu kesatuan sederhana dari berbagai kekuatan di dalam individu tersebut. Semua indera, emosi, seluruh proses fisik psikis tubuh dibawa ke satu persenyaraan dan dipusatkan kepada SATU TUJUAN TUNGGAL, GUSTI ALLAH SWT…..

Akhirnya, tanpa kami sadari diskusi sedemikian gayeng. Malam yang dingin berganti pagi. Adzan subuh bergema dan kami bergegas untuk Ngesti Tunggal.

Wong Alus

Categories: PAGUYUBAN NGESTI TUNGGAL | 42 Komentar

TIGA BELAS AYAT


AYAT NOL

Kecerdikan adalah salah satu kemampuan dasar yang dimiliki oleh makhluk hidup untuk mempertahankan diri menghadapi berbagai macam rintangan dan tantangan yang membahayakan dirinya. Baik binatang maupun manusia, memiliki kecerdikan ini.

Kecerdikan berpusat dari gerakan tidak sadar, yang telah berpola sekian lama sehingga menimbulkan refleks yang sekonyong-konyong demi mempertahankan diri. Tanpa perlu dipikir lagi. Yang akhirnya menjadi semacam kemampuan yang melekat pada makhluk hidup. Otak tanpa perlu lagi menganalisanya terlalu lama untuk memunculkan “tenaga dalam” yang tersembunyi ini.

Karena asal muasal kecerdikan adalah gerakan, maka kita perlu lebih lanjut menelaah apa dan bagaimana setiap gerakan dari makhluk hidup ini. Ditinjau dari asal muasal katanya, “gerakan” berasal dari kata “gerak” yang artinya berubahan letak, posisi, dan letak dari A ke B, A ke C, C ke D, dan seterusnya.

Setiap gerakan dimulai dari keinginan, maksud atau kehendak baik yang disadari maupun yang tidak disaradi. Gerak merupakan respons atas gejala (fenomena) yang muncul saat “indera” makhluk hidup menangkan sesuatu. Misalnya, saat kita melihat cahaya yang datang terlalu silau, maka mata kita kemudian menutupnya secara spontan.

Karena kehebatanku menguasai ilmu kecerdikan inilah akhirnya mengantarkan aku pada satu profesi: PERAMPOK.

AYAT SATU

“Milikilah cinta abadiku, ciptakanlah selalu damai di hatimu dan hiduplah dalam bara api semangat untuk pulang menemuiku” itulah selarik pesan yang disampaikan dari bibir merah Rose sebelum aku pergi. Hanya pesan itu yang sungguh-sungguh kumiliki. Sebuah pesan singkat yang menjadi kristal bersinar yang terus tersimpan dalam ruang rahasia jiwaku yang terdalam.

Namaku Iblis dan profesiku perampok. Dan Rose adalah isteriku. Dadanya montok, pinggulnya kecil, pantatnya padat berisi, periang dan suka senam. Wajahnya ayu, posturnya anggun. Dialah ibu muda, usianya 28 tahun yang kerap menjadi incaran mata para pria.

Anakku memangilku ayah. Orang-orang memangilku bajingan. Tapi apa salahnya menjadi bajingan. Toh dunia dan sejarah ini ada karena para bajingan yang besar dan yang kroco ikut andil dalam mengoyak sesuatu yang di anggap benar.

Benar, tho? Coba anda bayang kan dunia ini tanpa para bajingan, penjahat atau bromocorah, apa masih bisa di sebut dunia. Lagi pula tanpa sesuatu yang jahat tidak akan mungkin lahir sesuatu yang dianggap baik, patut atau teladan. Di sini sebenarnya kebenaran itu ada, bahwa kejahatan adalah tidak lebih dari obyek penderita bagi kebaikan. Artinya semakin parah kejahatan itu, semakin bersinar mahluk yang dianggap kebenaran.

Tanpa kejahatan apakah surga dan neraka akan ada? Coba pikir itu. Dan apakah mereka orang-orang suci itu, yang suka menudingkan telunjuk di antara mata kami, akan ada jika kami tidak ada?

Dan perut adalah maharaja yang paling berkuasa. Segala suara yang di gaungkannya membuat manusia kelimpungan. Ia mencari dan menggali, mengaduk gunung dan laut agar sang maharaja tidak bersuara. Setiap manusia punya satu maharaja yang harus ia penuhi kebutuhannya. Sebab ia bukan malaikat yang mempersetankan perut dan kelamin. Akhirnya apa aku salah jika aku menjadi perampok demi maharaja ku.

AYAT DUA

Sebuah tembakan dari polisi mengenai kepalaku. Desing peluru tajam dari senapan laras panjang itu meluncur dengan kecepatan tinggi meledakkan otaknya. Darah menyembur membasahi wajah.

Aku mati sebagai seorang pejuang (bagi keluarga), tapi juga sebagai seorang pengedar narkoba (bagi warga kota ) pada hari Selasa, tanggal 7 bulan 7 tahun 2007, pukul 01.29 WIB. Terpampang jelas tanggal kematianku di nisan yang kini berlumut hijau dan hampir tidak terbaca lagi.  Menyemak lukar kuburku di tengah ilalang bukit yang terlupa. Mungkin, hanya pencari rumput yang sambil lalu berjalan mencari makanan buat domba-dombanya yang kadang melihat kuburanku.

Itupun hanya dilihat dengan sekilas saja, sebab di makamku sudah tidak ada lagi hal yang menarik. Sebaliknya, barangkali menyeramkan dengan aroma mistis magis yang diciptakan oleh benak mereka sendiri.

AYAT TIGA

Dengan kematianku ini, pupus pula harapan untuk kembali ke halaman rumahku yang rindang oleh dedaunan pohon. Pepohonan yang dulu aku tanam bersama isteriku kala santai menikmati senja dan pagi di hari-hari libur. Aku menikah pada tanggal 7 bulan 7 tahun 1997 atau tujuh tahun setelah kami berpacaran. Pacaranku tergolong lama karena kami sama-sama saling menikmati indahnya masa muda.

AYAT EMPAT

Untuk kembali ke kehidupanku bersama orang-orang yang aku kasihi; isteri dan anak lelakiku satu-satunya dengan kondisi begini jelas mustahil. Aku hanya bisa melihat wajah lucu anakku saat bermain dengan teman sepermainannya. Isteriku yang menikmati persetubuhan dengan lelaki yang ternyata adalah musuhku, seorang perwira polisi yang dulu menembak mati diriku.

AYAT LIMA

Cintaku tetap hidup hingga kini. Cintaku jelas tidak mampu memiliki dan dimiliki. Cintaku hanya memberi dan tidak menerima. Memancar ke segenap arah hidup manusia namun aku tidak mampu berbuat apapun.

AYAT ENAM

Aku bangkit lagi dari kematianku setelah aku menemukan mantra bagaimana caranya aku yang kini hanya berwujud ruh masuk ke badan jasmani seseorang. Mantra ini aku temukan dalam tulisan setelah anakku membaca skripsi sarjanaku dan aku ikut membacanya.  “Semua mengada berasal dari ide, dan ide berasal dari kehendak.” Dengan mantera itu, aku menggedor langit, bernegosiasi dengan Tuhan.

Tuhan mengijinkan aku bertemu dengan isteri dan anakku kembali tapi dengan syarat bila aku nanti masih dibakar nafsu keduniawian maka aku tidak akan masuk sorga yang dijanjikanNya. Perjanjian lainnya; aku boleh kembali ke dunia namun pada ruang dan waktu yang ditentukan Tuhan sendiri yaitu di era masa lalu, tepatnya di era pergolakan revolusi Indonesia

AYAT TUJUH

Badan yang aku pakai untuk masuk ke dunia normal adalah seorang biksu Budha saat dia bermeditasi di sebuah tempat sunyi di dalam hutan. Aku ucapkan salam ke ruh-nya lalu aku diberbolehkan untuk memakai tubuhnya.

Hari itu Senin, tanggal 7 bulan 7 tahun 1947 Aku lantas keluar dari hutan dengan berpakaian ala Biksu Budha. Di tengah perjalanan, aku bertemu gerombolan penyamun. Hampir saja aku terbunuh kembali bila aku tidak segera melarikan diri masuk ke sebuah gua yang ternyata masih ada bekas tentara Jepang berbadan kurus kehilangan masa depan.

AYAT DELAPAN

Sebuah perjumpaan yang mengharukan sekaligus menyakitkan. Aku (Iblis) bertemu kembali dengan isteriku (Rose) dalam keadaan aku sudah tua renta. Bayangkan usiaku saat usiaku menginjak 85 tahun! Sementara isteriku berusia 28 tahun….Saat aku menjadi pengemis yang papa di depan rumah keluarga perwira Polisi itu…

AYAT SEMBILAN

Hatiku bergolak memberontak, cemburu ingin lagi menikmati masa-masa indah yang sudah terampas. Aku lempari rumah polisi itu dengan recehan dan tiba-tiba nafasku tersengal, jatuh dan mati. Tuhan mengirimku kembali ke alam baka untuk menunggu neraka menyala. Inikah keadilan terakhir bagi seorang pencari?

AYAT SEPULUH

Kita hidup ini sebenarnya telah membawa bangkai, tubuh kita yang dianggap sempurna sebenarnya barang najis apalagi sorga dan neraka hanyalah rekaan angan manusia. Padahal itu semua salah, salah dan salah.

AYAT SEBELAS

Aku bukanlah siapa-siapa. Derita dan akhirnya merana adalah perjumpaan hidup yang akrab bagiku. Namun tak ada yang tak berakhir jika semuanya sudah saatnya. Kini tubuh ini mulai menuju pelabuhannya… cinta bahagia, wangi aroma cinta terasa makin dekat. Kawan nikmatilah apa yang kini ingin kau rasakan.

AYAT DUA BELAS

Ibarat Mencintai Perempuan, walaupun itu sudah terikat dalam suatu perkawinan atau tidak itu sah-sah saja. Karena cinta kasih itu murni adanya tidak terikat budaya, dogma atau hukum karena cinta dan karena kasih sudah terbawa sebelum menjadi manusia dan masih dalam wujud sperma dan sel telur. 

AYAT TIGA BELAS

Tuhan yang azali identik dengan gelap. Lihatlah Tuhan di dalam sebuah tutupan mata sederhana. Kini, aku sudah tidak kebingungan lagi kemana harus menemukan Engkau ya Tuhan. Karena sesungguhnya Dirimu tidak perlu dicari, engkau ada dalam diriku. Dan diriku ini adalah Engkau. Tidak perlu aku melacak ke sebuah perenungan yang mendaki, tidak perlu ditemukan dalam sebuah keriaan ibadah yang memagut. Karena Engkau Maha dan Sungguh Dekat.

Wong Alus

Categories: PUISI & PROSA | 19 Komentar

MENSYUKURI HIDAYAH IMAN


daun

Iman secara sederhana diartikan sebagai percaya adanya Allah SWT, Malaikat-Nya, Rasul-Nya, Kitab Suci-Nya, Hari Akhir (kiamat) dan takdir-Nya. Ada orang yang tidak beriman. Ada orang yang beriman. Ada yang kadang-kadang beriman namun kadang-kadang tidak.

Mana yang lebih banyak apakah orang beriman atau tidak beriman, tidak ada data statistik yang akurat. Kecuali mungkin para malaikat yang setiap hari sibuk meraba-raba isi dada seseorang. Orang yang beriman dan tidak beriman susah dikenali tanda-tanda dari luar. Tidak ada tanda-tanda spesifik misalnya celananya harus pendek dibawah lutut berbaju gamis, jenggot gondrong, atau dahi hitam yang menandakan seseorang itu beriman atau tidak.

Iman ada dalam qalbu seseorang. Qalbu bukanlah hati atau jantung biologis. Qalbu adalah hati metafisik yang mampu untuk merasakan sesuatu getaran hati metafisik yang lain. Orang yang cinta dan sayang kepada sesuatu hal yang bergerak adalah qalbunya, rasanya, hatinya, jiwanya. Begitu juga dengan iman.

Iman adalah manifestasi spiritualitas seseorang yang berhubungan dengan sesuatu yang transenden (transcendere: mengatasi dirinya), adikodrati, dan mistik. Iman berhubungan dengan penghayatan diri terhadap nilai-nilai absolut yang diyakini berada di dalam diri manusia (immanere: berada di dalam) karena yang transenden mampu mendatangkan sesuatu yang lebih berkuasa dari dirinya.

Iman lebih dari sekedar percaya akan adanya sesuatu. Iman selain percaya, juga menuntut seseorang untuk ikhlas mengabdikan diri ke sesuatu tersebut sekaligus juga menunaikan hak dan kewajiban-kewajiban berdasarkan atas konsensus keimanannya. Keimanan saya kepada Tuhan akhirnya membawa saya pada ketaatan pada kewajiban religius yang harus ditunaikan atau juga kewajiban menghindari larangan.

Iman berasal dari cahaya petunjuk Allah yang menyinari qalbu manusia. Cahaya petunjuk dalam bahasa agama disebut hidayah. Hidayah turun karena kehendak-Nya. Petunjuk Allah sudah ada di dalam diri maupun di luar diri manusia karena Allah memiliki sifat Ar Rahman (pemberi). Namun tanpa hidayah yang merupakan hak prerogratif-Nya maka petunjuk itu tidak mampu dibaca oleh manusia. Inilah buah dari sifat Ar Rahim (Penyayang).

Kepada siapa dia menyayangi seseorang maka dia memberikan hidayah berupa iman. Hidayah ini tidak diterima oleh sembarang orang. Hanya orang-orang yang dipilih-Nya saja, yang diberi hidayah berupa iman. Maka, logis bila seseorang yang beriman hendaknya bersyukur. Bersyukur atas iman membawa konsekuensi bahwa seseorang itu harus menjaga serta memupuk keimanannya dengan mengimplementasikan keimanannya itu untuk kemanfaatan ciptaan-ciptaan-Nya yang lain (terminologi agamanya: amal sholeh).

Semoga kita semua mampu bersyukur atas iman yang bercahaya di dada kita masing-masing dan bila belum mendapatkan hidayah iman, marilah memohon kepada-Nya agar dia secepatnya memberikan kita hidayah iman yang tidak ternilai harganya itu. ###

Categories: HIDAYAH IMAN | 16 Komentar

AKU SEJATI


Tuhan mengingatkan bahwa sebelum mengenal Dia (Tuhan) maka manusia diminta untuk memahami “Aku” nya sendiri sebagai sarana atau jalan untuk menuju pengenalan AKU-TUHAN? Itu karena dalam “Aku” termuat rahasia AKU-NYA.

Pembahasan tentang pengenalan diri ini adalah kunci jalan spiritual. Sehingga menyelami kesadaran diri yang sebenarnya, dan mengenali hakikat ruh yang biasa menyebut dirinya “Aku” adalah cukup penting dan menjadi bangunan suci ibadah hidup manusia. Saya tidak akan lagi bicara soal dalil-dalil. Ibaratnya kita melakukan shalat, kita tidak lagi butuh dalil, akan tetapi kita tinggal memasuki keadaan shalat yang sebenarnya. Diskusi kita sudah selesai dalam hal hukum-hukum kebenaran Tuhan.

Perenungan tentang hakikat ruh ini mau tidak mau membawa kita pada khasanah filsafat manusia. Namun tidak perlu kita masuki terlalu dalam wacana filsafat apa hakekat manusia sesungguhnya. Yang jelas, bahwa manusia adalah makhluk sempurna yang telah diberi mandat untuk menjadi wakil Tuhan di muka bumi.

Selain unsur biologis fisik yang sangat kompleks mulai dari kaki hingga otak, susunan dalam mental dan kerohaniannya terdapat sifat yang tertinggi meskipun masih terdapat daya kemauan yaitu KEKUATAN SANG “AKU”, yang merupakan KEKUATAN yang diterima dari Yang Maha Mutlak.

Tubuh biologis dan mental keinginan nafsu adalah milik manusia. Namun bukan manusia itu sendiri. Sebelum manusia (“Aku”) dapat menguasai atau mengalahkan atau mengarahkan benda yang menjadi miliknya terlebih dahulu ia harus menyadari dirinya secara benar. Ia harus dapat membedakan mana yang merupakan Aku dan mana yang merupakan milik Aku, dapat membedakan mana yang Aku dan mana yang bukan Aku.

Yang harus disadari: SANG AKU BERSIFAT ABADI – TIDAK BISA MATI -TIDAK BISA RUSAK. AKU MEMILIKI KEKUASAAN, KEBIJAKSANAAN DAN KENYATAAN. AKU INILAH YANG AKAN KEMBALI POSISI ASALNYA: SESUNGGUHNYA AKU ADALAH BERASAL DARI ALLAH DAN KEPADA-NYA-LAH AKU KEMBALI….

Orang modern yang sejak lahir hingga dewasa selalu hidup dan mengarahkan dirinya dalam kesemestaan benda-benda material beranggapan bahwa rasa keakuan mereka hanya merupakan kesadaran mengenai nafsu badani pemenuhan keinginan, pemuasan kesenangan, memperoleh kenyamanan bagi dirinya. Bagian bawah dari batin naluri merupakan tempat rasa keakuan orang-orang primitif. Bila seorang primitif mengatakan “Aku”, maka yang dimaksud adalah badannya. Badan ini mempunyai perasaan, keinginan dan nafsu. Mereka menggunakan daya pikirnya guna memenuhi nafsu dan keinginan fisiknya, padahal mereka sebenarnya hidup dalam tingkat batin naluri.

Setelah menyadari ketololannya dan beranjak tua, manusia harusnya semakin tinggi pendakian spiritualnya. Mulailah ia mempunyai konsep tentang Aku nya yang lebih lengkap. Bila ia mulai menggunakan akalnya, maka ia pindah dari tingkat batin naluri ke tingkat batin mental. Ia mulai merasakan bahwa batinnya adalah lebih nyata bagi dirinya dari pada badannya, bahkan kadang ia melupakan badannya bila sedang terbenam dalam pemikiran secara serius.

Setelah kesadaran orang meningkat yaitu kesadarannya berpindah dari tingkat mental ke tingkat kerohanian ia menyadari bahwa “Aku” yang sebenarnya adalah sesuatu yang lebih tinggi dari pada pikiran, perasaan dan badan fisiknya, bahwa semuanya ini dapat digunakan sebagai alat saja. Hingga akhirnya orang benar-benar merasakan sebagai Aku yang sebenarnya (AKU SEJATI).

Berikut cara mengembangkan atau membangkitkan kesadaran Aku yang fitrah. Ini merupakan latihan yang harus disadari, sebab kita tidak akan bisa melakukan pendekatan kepada Allah kalau tidak menyadari hakekat diri yang hakiki. Kesadaran “Aku” ini merupakan langkah pertama pada jalan menuju mendapatkan PENCERAHAN yang merupakan realisasi hubungan Aku dengan Yang Maha Agung.

Monggo praktekkan latihan ini di berbagai tahapan perjalanan sampai memperoleh penerangan jiwa.

MENEMUKAN AKU SEJATI
Carilah tempat atau ruangan, yang terbebas dari gangguan, agar batin anda merasa aman dan tenang. Anda boleh duduk, berbaring, maupun berdiri yang enak agar anda dapat mengendorkan otot-otot dan membebaskan ketegangan syaraf. Lepaskan ketegangan dan biarkan otot-otot menjadi lemas, sampai terasa tenang dan damai meresapi seluruh tubuh. Istirahatkan badan dan pasrahkan seluruh jiwa raga. Atau lakukanlah dengan posisi berdiri, hal ini dilakukan untuk menghindari mudah terlena dan tertidur …

Setelah berpengalaman hendaknya mampu melakukan pengendoran badan dan menenangkan pikiran dimana pun dan kapanpun anda memerlukannya. Ingat bahwa keadaan dzikir harus berada di bawah penguasaan kemauan yang keras. Di dalam melakukan praktek dzikir harus diterapkan pada waktu yang tepat dan atas kemauan sendiri. SADARI BAHWA AKU ADALAH HAKIKI NYA MANUSIA YANG TIDAK PERNAH TIDUR – TIDAK MATI – ABADI, …SELALU SADAR TIDAK PERNAH MENGALAMI SEDIH DAN TAKUT … AKU SANG ROH SUCI (FITRAH) YANG MAMPU MENEMBUS ALAM MIMPI, ALAM MALAKUT DAN ALAM ULUHIYAH…

Sekarang anda memasuki tahapan yang menyebabkan Aku merasa sebagai makhluk mental. Kalau anda memejamkan mata anda akan merasakan dan bisa membedakan mana Aku yang sebenarnya … disitu ada aku yang memperhatikan sensasi badan, seperti misalnya : lapar, haus, sakit, sensasi yang menyenangkan, kesedihan. Anda akan merasakan ternyata bukan aku sebenarnya yang lapar, sakit dan sedih, akan tetapi itu adalah sensasi badan yang dimiliki oleh sang Aku. Aku sejati mengatasi semua itu tadi…

MUlai sekarang, melepaskan diri dari yang bukan hakiki, agar tidak diombang-ambingkan oleh tubuh anda sendiri. Sadari AKU ADALAH YANG MENGUASAI PERASAAN DAN PIKIRAN, JADILAH TUAN ATAS DIRI ANDA … keluarlah anda seperti melepaskan baju, lalu tinggalkan dan jangan anda memikirkan semuanya itu. Karena badan anda mempunyai batin naluri yang akan bergerak menurut fungsinya. Perhatikan saat anda tidur … Aku anda meninggalkan tubuh anda tanpa harus memikirkan bagaimana nantinya badanku, kenyataannya tubuh bekerja menurut yang dikehendaki oleh nalurinya sendiri.

SADARKAN SANG AKU. HUBUNGKAN DENGAN DZAT YANG MAHA MUTLAK …HADIRLAH DIHADAPAN-NYA SEBAGAIMANA KESAKSIAN AKU DIALAM `AZALI…PANGGILLAH …PENUH SANTUN YA ALLAH … YA ALLAH … TUNDUKKAN JIWA ANDA DENGAN HORMAT … DAN DATANGLAH KEHADIRAT-NYA DENGAN TERUS MEMANGGIL YA ALLAH …YA ALLAH … TIMBULKAN RASA CINTA YANG DALAM …HADIRLAH TERUS DALAM DZIKIR … BIARKAN SENSASI PIKIRAN DAN PERASAAN MELAYANG-LAYANG …SADARKAN DAN KEMBALIKAN BAHWA AKU BUKAN ITU SEMUA … AKU ADALAH YANG MENYAKSIKAN SEMUANYA … BERSAKSILAH DENGAN MENGUCAPKAN DUA KALIMAT SYAHADAT … SAMPAIKAN DO’A SALAWAT UNTUK RASULULLAH .DAN KELUARGANYA. TERUSKAN AKU MELAYANG MENEMBUS SEMUA ALAM-ALAM YANG MENGHALANGI, BIARKAN AKU BERJALAN MENUJU YANG MAHA TAK TERHINGGA … ###

Categories: AKU SEJATI | 74 Komentar

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.