Diproteksi: SURAT TERBUKA KEPADA KANCIL MALAYSIA


Konten ini diproteksi dengan password. Untuk melihatnya cukup masukkan password Anda di bawah ini:

Categories: MEMBELA TANAH AIR | Masukkan password Anda untuk melihat komentar.

KEADILAN TUHAN: SEBUAH DISKUSI


“Hanya saja, kenapa ada orang yg memiliki talenta lebih dari yang lainnya ? Dan ada pendapat maqom tiap org berbeda ? Sejauh yg saya tahu, hal ini sudah menyangkut derivasi hukum sebab akibat. Artinya, bukan standar kekamilan manusia dari Tuhan, melainkan ada unsur kreatifitas dan tekad manusia dalam menggapai kesempurnaan hidup. Ibarat menanam pohon mangga, buahnya tidak hanya dinikmati sendiri oleh yg menanam saja, namun bisa LUMUNTUR dipanen oleh anak cucu, atau anak turunnya…” (Ki Sabda Langit)

Matur nuwun ki sabda yang telah turut serta mbeber keruwetan hakikat manusia ideal yaitu manusia yang jadi diri sejatinya sendiri — yang dalam terminologi agama sering disebut insan kamil itu. Sehingga semakin jelas arah perjuangan hidup manusia yaitu perlu disesuaikan dengan potensi-potensi awal yang dimilikinya untuk menyelesaikan misi hidup berdasarkan atas visi yang telah dituliskan-Nya untuk kita.

Yang saya maksud dengan potensi awal adalah bakat bawaan lahir dan karakter/sifat tetap pada diri manusia yang tidak akan berubah-ubah. Potensi awal yang berupa hardware dan software ini juga menjadi modal manusia yang memiliki ukuran maksimal meskipun sudah dioptimalkan seoptimal-optimalnya. Misalnya, sak hebat-hebatnya saya dalam olah matematika pasti masih lebih bodoh daripada Albert Instein. Sak hebat-hebatnya ilmu kebatinan yang saya miliki, masih kalah hebat dengan para pembaca dan seterusnya.

Yang bisa mengukur seberapa jauh seseorang itu mampu mengoptimalkan potensi terselubung kemanusiaan adalah melalui PERCOBAAN. Kalau belum dicoba… kita tidak akan bisa mengukurnya. Misalnya, tukang becak seperti saya mungkin hanya mampu sangat kreatif dalam bidang perbecakan, misalnya cara mengayuh dengana paling sedikit tenaga… ada batas kemampuan yang tidak bisa saya lampaui lagi meskipun otak, tenaga, dan kreativitas saya sudah pol…

Kecuali bila saya sejak awal sudah dibisiki oleh malaikat atau mungkin malah Tuhan sendiri untuk mengerti seberapa hebat saya nanti mampu mengoptimalkan diri… Orang yang sudah dibisiki BERARTI NGERTI SAKDURUNGE WINARAH, mengerti takdir sebelum terjadi berarti manusia yang hebat karena atas perkenaan-Nya dia diperbolehkan membuka kitab GBHN, Garis Besar Haluan Ngauripe Jalma Manungso.

Namun bila pengetahuan saya dan pembaca pas-pasan saja.. ya logikanya mungkin sebagai berikut; Ibaratnya saya diciptakan Tuhan menjadi sepeda motor yang kapasitas mesinnya hanya 100 CC, maka mustahil saya bisa menyalip saudara-saudara yang diciptakan menjadi motor yang mesinnya 200 CC. Meskipun sudah habis-habisan saya mengoptimalkan mesin, menguprek karburator dan mengupgrade tongkrongan motor hingga aerodinamisnya hebat.. tentu saja masih kalah dengan sepeda motor yang mesinnya 200 CC, apalagi bila ikut-ikutan diuprek… dan seterusnya.

Untunglah Tuhan Maha Adil dan Bijaksana. Sehingga tidak mungkin memperlombakan motor 100 CC dengan 200 CC dalam satu arena balap motor. Bila dikatakan maqom-nya berbeda, ya mungkin saja benar. Maqom adalah kategori CC mesin sepeda motor. Namun saya kurang sepakat bila maqom yang lebih tinggi pasti lebih nyaman, aman dan selamat. Bisa jadi malah sebaliknya.

Kita juga tidak perlu menggugat kenapa Tuhan menciptakan saya yang hanya bermaqom/bermesin 100 CC, sebab Tuhan akan mengukur baik-nya kualitas motor bukan dari kecepatannya di arena balap (dimensi dunia), namun berdasarkan atas bagaimana seseorang pengendara (ruh/jiwa manusia) itu mengelola motor (badan-nya) sebaik mungkin (dimensi akhirat).

Bagaimana motor itu dicat, dimodifikasi sedemikian rupa hingga terlihat indah dan apik sehingga lebih enak dinikmati dan disewa oleh tukang ojek. Dan juga yang tidak kalah penting adalah aspek kemanfaatan manusia.. oleh karenanya adalah bagaimana dia bermanfaat sebagai alat angkut peradaban ke arah yang lebih baik. Belum tentu yang maqom-nya tinggi lebih bermanfaat dibandingkan dengan kita yang maqomnya hanya 100 CC.

Apalagi bila kita mengingat bahwa dimensi pragmatis/Kemanfaatan seseorang itu adalah amal sholeh kita di dunia. Semakin seseorang itu mampu mendatangkan manfaat untuk perbaikan peradaban dan semakin memuliakan kemanusiaan (hak-hak/kewajiban-kewajiban asasinya), membangun negara agar gemah ripah loh jinawi tata tentrem karto raharjo, hingga yang amal yang terkecil misalnya menyingkirkan duri di jalan umum maka di situlah derajat kita akan melambung dan meninggi.

Kalau diperdalam lagi dengan pertanyaan, KENAPA TUHAN MENCIPTAKAN MAQOM/TINGKAT-TINGKAT/DERAJAT manusia secara berbeda-beda, kok tidak satu saja sehingga lebih mencerminkan aspek keadilan? Terus terang saya tidak mampu mengetahui secara pasti iradat-Nya yang seperti ini. Mungkin sah-sah saja bila kita katakan bahwa Gusti adalah MAHA SAK KAREPE DHEWE… Logika saya tidak mampu lagi menjangkau keinginan-Nya secara utuh dan lengkap. Mungkin juga karena jawaban ini berasal dari saya yang belum mampu untuk MANUNGGALING KAWULO LAN GUSTI…

Kalau logika ini diibaratkan pada sepeda motor, maka jawabannya mudah. Namun pasti tidak tepat. Misalnya, Kenapa bangsa Jepang menciptakan beragam sepeda motor dengan besarnya isi silinder/ CC dan model yang beragam? Jawabannya mudah, yaitu memenuhi selera pasar yang beragam sehingga pundit-pundi masuk ke bangsa mereka. Namun bila analogi ini diterapkan pada kenapa Tuhan menciptakan manusia yang beragam maqom/tingkat/derajat, kesadaran yang bertingkat dst… Waduh amat tidak terpujinya saya bila menjawab bahwa ini untuk memenuli selera pasar keduniawian hehehe…. Mungkin Ki Sabda Sendiri yang harus menjelaskan kepada kita, kenapa Tuhan berperilaku SAK KAREPE DHEWE?

Jadi ya, pada akhirnya saya hanya bisa pasrah total, sumeleh dan sumarah saja terhadap kehendak Sang Maha Penilai. Mau diberi mesin 100 CC, 125 CC atau 250 CC atau malah 1000 CC, semuanya adalah anugerah pemberian-Nya yang perlu disyukuri. Apalagi kita diberi gratis tanpa membayar. Kecuali kalau mesin kita rusak, maka kita bertanggungjawab untuk memasukkannya ke bengkel dengan biaya kita sendiri. Pemberian adalah cobaan kita, apakah kita mampu dinilai menjadi yang terbaik berdasarkan atas ukuran-ukuran-Nya sendiri.

Dalam kitab suci dikatakan bahwa ukuran kemanusiaan yang sempurna adalah KETAKWAANNYA, MANUTNYA KITA PADA KAREP/IRADAT/KEHENDAK YANG MAHA KUASA. Begitu sederhananya ukuran kemuliaan maqom seseorang itu. Sehingga dengan begitu saya dan panjenengan semua bisa menyalip derajat ketakwaan mereka yang maqomnya lebih tinggi, misalnya Adam, Nuh, Isa, Musa bahkan Muhammad SAW.

Mungkin di sinilah letak keadilan Tuhan. Dia tidak membedakan apakah saya hanya bermesin 100 CC atau 1000 CC. Semuanya sama di hadapan-Nya sehingga pastilah terbuka kemungkinan kelak saya dan Anda lebih bertakwa daripada para Nabi/Rasul dan lebih mulia derajat/maqom-nya. Maka kita tidak perlu heran bila suatu ketika surga (mungkin hanya simbolisasi dari “tempat yang indah” setelah adanya pengadilan akhir setelah jagad raya ini digulung habis) itu dipenuhi oleh orang-orang yang mengakui bahwa dirinya daif/lemah/bodoh kemudian bergegas untuk membuka buku alam semesta dan belajar untuk menjadi arif bijaksana seperti panjenengan semua … insya allah.

Para nabi dikatakan sebagai manusia yang sempurna, namun kenapa tidak bisa merumuskan hukum alam dan mengolahnya untuk kemanfaatan hidup sebagaimana para penemu alat-alat/insinyur mesin/arsitek dan seterusnya?

Menurut saya, justeru dari kebodohan/ketololan kognitif para nabi inilah tampak kepolosan budi pekerti mereka. Pengetahuan yang para nabi dapatkan oleh karenanya bukanlah berasal dari olah pikir dalam paradigma ilmu pengetahuan sebagaimana para filsuf yang sudah ada sebelum para nabi dilahirkan. Ini membuktikan sesungguhnya yang bisa diteladani dari seseorang bukan karena kemampuannya mengolah akal pikirannya semata-mata melainkan karena seseorang itu telah ditunjuk-Nya menjadi utusan untuk menyampaikan risalah Tuhan. Salah satu caranya adalah BERBUDI PEKERTI YANG LUHUR…

Jelas tidak mungkin bila hanya seorang Muhammad SAW dan para nabi sebelumnya bisa merekayasa peradaban sedemikian hebatnya hingga mampu mempengaruhi bumi yang diisi oleh milyaran manusia ini bila tanpa campur tangan DIA YANG SERBA SAK KAREPE DHEWE. Satu kepala/satu otak secerdas apapun tidak mampu membuat milyaran manusia bisa tunduk patuh sujud menghadap kiblat untuk menundukkan keakuannya masing-masing dan mengakui Dia Yang Maha Akbar.

Apalagi ketundukan individual tersebut tidak hanya berada di aras kognitif saja (sebagaimana pengakuan kita pada kehebatan para pemikir) tapi juga keasyikan batiniah untuk berkomunikasi dan bermesraan dengan sesuatu yang adikodrati dan Maha Superpower.

Pada titik tertentu, menurut saya, para Rasul/Nabi itu hanyalah berfungsi sebagai SANG PENYAMPAI saja. Dia adalah kurir pembawa surat-surat Tuhan yang kemudian dibukukan menjadi KITAB SUCI oleh manusia yang hidup di dunia pada masa itu. Jelaslah, SANG PENYAMPAI dibutuhkan sifat-sifat yang terpuji, sifat tidak bisa berbohong, lugu dan bisa dipercaya.
Para Nabi dan Rasul tidak perlu menjadi pintar dan bisa ngakali orang lain. Kemampuan ngakali orang lain dengan kehebatan argumentasi dan keahlian bernegosiasi biarlah dimiliki oleh kaum politikus dan kaum intelektual kampus yang sibuk berteori namun belepotan untuk ngelakoni teori tersebut. Hehehe… Para Nabi dan Rasul yang tidak bisa goroh dan lugulah yang bisa dipercaya.. Dan ini disebut manusia yang sempurna. Yang ukuran kesempurnaannya bukan pada bagaimana dia menghasilkan sesuatu dan mampu merumuskan hukum alam, namun mampu menggunakan hukum alam itu demi kemanfaatan kemanusiaan melintasi ruang dan waktu.

Dari sisi tertentu, para rasul itu terbukti juga sudah mengeluarkan energi potensi kemanusiaan (hardware dan software) habis-habisan juga sesuai dengan yang mereka miliki. Pertolongan Tuhan datang setelah dia kehabisan energi akal, nafsu dan kehendak untuk berjuang. Ini berarti perjuangan mereka sudah habis-habisan, entek entekan… Dan Tuhan Yang Maha Terpuji akhirnya mengulurkan tangan-Nya dengan kasih sayang dan pengharapan.

Berbeda dengan para penemu/orang brilian dan jenius yang diakui sejarah. Mereka menemukan sesuatu alat, yang belum tentu terbukti kemanfaatannya untuk kemajuan lahir dan batinnya peradaban ini. Banyak penemuan alat-alat baru yang terbukti malah membuat peradaban ini terseok-seok dan hampir memusnahkan manusia sendiri. Penemuan alat komunikasi misalnya Handphone.. mungkin membuat kemudahan kita berkomunikasi, namun pada akhirnya bisa jadi menumpulkan kemampuan manusia untuk berkomunikasi batin dengan orang lain. Bukankah dulu manusia berkomunikasi dengan telepati dan hasilnya tidak mengeluarkan ongkos mahal? Kemampuan manusia untuk berkomunikasi lintas dimensi ini yang sekarang semakin tumpul seiring dengan kemudahan-kemudahan yang kita terima…

Penemuan mobil atau kendaraan seakan mempermudah pergerakan manusia antar ruang dan waktu. Bumi dianggap semakin sempit. Namun belum tentu membawa manusia pada jalur kemanusiaan yang lebih lengkap. Justeru tanpa mobil dan kendaraan manusia bisa jadi semakin mampu menghayati hidupnya secara lebih baik karena kendaraan fisik justeru memiskinkan kendaraan batin untuk mengakui bahwa bumi ini luas dan alam semesta ini misterius.

Mungkin begitu ki sabda, alur logika saya yang awur awuran dan kurang trapsila ini. Monggo dikoreksi bersama kesalahannya dan Semoga kita semua selalu berada dalam angan-angan-Nya setiap saat. Nuwun dan ngapunten bila ada kata yang kurang berkenan.

Salam sih katresnan.

Wongalus

Yth Kagem Mas Tomy, matur nuwun tambahan pencerahannya. Semoga kita bisa terbebas dari kungkungan  segera…

Categories: KEADILAN TUHAN | 15 Komentar

JATI DIRI MANUSIA IDEAL


Apa yang akan terjadi bila manusia sudah sesuai dengan iradat atau kehendak-Nya? Ya, dia akan menjadi insan sempurna atau disebut Insan Kamil. Lantas apa dan bagaimana potret manusia ideal yang tersebut? Apakah sesuai dengan jati dirinya sendiri atau diri yang mencontoh para Nabi/Rasul sehingga jati diri kita hilang?

Artikel ini dimaksudkan sebagai upaya (meski kecil) untuk memperteguh keimanan kita, bahwa sesungguhnya keyakinan kita adanya manusia sempurna yang bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa itu bukanlah utopia atau angan-angan kosong. Sehingga upaya kita untuk berproses dan bermetamorfosis untuk menjadi insan kamil sebagai tujuan hidup itu tidaklah sia-sia belaka.

Kami ingin agar Pembaca yang budiman mengkritik dan memberi sanggahan atas alur berpikir saya yang dinilai salah, sehingga tidak terjadi dominasi alur berpikir. Sebab saya yakin, rumusan kebenaran bersama yang dipikirkan oleh banyak kepala derajatnya akan lebih sempurna dan lebih lengkap dibandingkan dengan berpikir sendiri atau dengan hanya sekelompok kecil keyakinan yang tidak disanggah melalui argumentasiyang matang dan masuk akal.

Ada sebuah tesis bahwa sebuah upaya perjalanan spiritual pasti memiliki titik henti. Titik henti itu merupakan tujuan proses perjalanan spiritual yaitu menjadi manusia sempurna/insan kamil di dunia ini. Tanpa adanya insan kamil atau manusia sempurna di dunia ini berarti proses perjalanan spiritual kita bisa dikatakan tidak masuk akal. Ibarat kita sedang mencari dan ingin menjadi sosok idola sementara sosok idola itu tidak ada dalam kenyataan. Bukankah hal ini merupakan kekonyolan?

Bila kita yakin bahwa tujuan pencarian kita adalah menjadi manusia sempurna, insan kamil, atau manusia yang sudah bertakwa, atau manusia yang sudah mampu manunggal dengan kehendak dan iradatnya itu ada. Lantas seperti apa adanya itu? Sifat-sifatnya? Dan siapa contoh manusia sempurna itu?

Ya benar, bahwa para nabi/rasul yang tersebut dalam kitab suci adalah manusia yang sempurna. Sehingga kita diminta untuk mencontoh/mensuritauladani sepak terjang mereka di dunia. Lantas pertanyaan kita, bagaimana dengan perilaku mereka bisa diterapkan oleh kita yang sangat tidak ideal ini?

Nanti bila kita sudah ditiadakan di dunia ini, atau meninggal dunia dan ditanya oleh malaikat; maka pertanyaannya mungkin sebagai berikut: Apakah kamu sudah berperan sebagai Karto, Karso, Karno yang ideal sesuai dengan jati dirimu sendiri? Pasti kita tidak ditanya, apakah kamu (Karto, Karso, dan Karno) sudah berperilaku dan bersifat seperti Para Nabi/Rasul yang hidup ratusan atau ribuan tahun lalu?

Inilah yang perlu digarisbawahi, bahwa kita diharapkan untuk menjadi DIRI SENDIRI dengan sifat, watak, karakter yang asli diri kita. Diri yang mampu mengolah seluruh potensi kemanusiaan kita yang paling baik, berperilaku yang terbaik dan berkarya sesuai dengan apa yang sudah kita miliki sekarang ini. Tidak mungkin kita berkarya dengan potensi-potensi yang bukan diri kita. Misalnya, kita diharapkan berkarya menciptakan pesawat terbang bila kita tidak memiliki potensi keilmuan yang mendukung terciptanya pesawat terbang.

Jadi manusia yang sempurna dan ideal sesungguhnya adalah manusia sesuai dengan JATI DIRI Karto, Karso, Karno, …. atau sesuai dengan titah Anda diciptakan-Nya. Sehingga sangat masuk akal bila kita bertanya dalam rangka untuk menjadi manusia sempurna sebagai berikut: Apakah saya sudah menjadi sebagaimana yang Tuhan kehendaki, apakah kaki saya sudah melangkah sesuai dengan karep atau kehendak sang Pencipta kaki? Apakah akal sudah untuk berpikir sesuai dengan Sang Pemrakarsa? Apakah tangan saya sudah memegang dan menyentuh sebagaimana yang dikehendaki Sang Maha Penyentuh?

Ini berarti yang dikehendaki Tuhan adalah: Jadilah diri Anda sendiri, sebab inilah yang dicontohkan oleh para Rasul dan Nabi kita dulu. Sebagaimana Muhammad SAW juga tidak mencontoh Nuh, Isa, Musa, Ibrahim maupun Adam. Isa juga tidak mencontoh Ibrahim, Ibrahim juga tidak mencontoh Nuh, dan seterusnya… Mereka tidak mencontoh siapa-siapa, dan mereka yakin bahwa Tuhan sudah menciptakan diri mereka sendiri sangat sempurna. Tinggal bagaimana SESEORANG ITU MEMUNCULKAN POTENSI KEMANUSIAAN YANG PALING SEMPURNA YANG ADA PADA DIRINYA.

Keyakinan ini sangat ideal, saya kira, karena lebih menghargai prinsip keadilan Tuhan. Karena Tuhan Maha Adil pula dia tidak membeda-bedakan manusia kecuali ketakwaannya, kecuali perilakunya, kecuali amal perbuatannya. Amal perbuatan juga pasti disesuaikan dengan potensi kemanusiaan yang sudah diberikan Tuhan kepada kita.

Tidak mungkin saya stau mungkin Anda dituntut untuk memimpin sebuah umat misalnya, sebab kita dilahirkan dengan sifat-sifat introvet, tidak mampu berbicara di depan umum, tidak memiliki sumber daya yang mendukung untuk diyakini oleh banyak orang. Bukankah sekarang ini jamannya bahwa pemimpin umat adalah mereka yang memiliki segudang kelebihan? Wajar para Nabi dan Rasul dipercaya oleh banyak orang sebab mereka dibekali dengan mukjizat-mukjizat untuk meneguhkan kepercayaan orang terhadap eksistensi kenabian/kerasulan. Para nabi dan rasul itu juga memiliki tanda-tanda kenabian/kerasulan yang bisa dilihat secara obyektif dan meyakinkan.

Sementara kita?

Jangankan mukjizat, wahyu dan Jibril juga tidak pernah dan mungkin pula hingga akhir hayat tidak mungkin akan mendatangi kita… Duh, gimana ini?

Jangan putus asa dari rahmat dan hidayah Allah SWT. Sebab dia telah memberikan kita kemudahan-kemudahan yang luar biasa banyak. Semua telah diberikan gratis pada kita. Boleh dikatakan kita ini manusia gratisan. Tubuh gratis, nyawa gratis, otak, batin, udara gratis pula… Nah, kenapa pula kita masih mengeluh bahwa kita manusia yang tidak sempurna dan gudang kebodohan?

Yakinlah sekarang, bahwa sesungguhnya kita adalah manusia yang serba sempurna. Manusia sempurna bukan manusia yang memiliki mobil, rumah, pekarangan, sawah, gunung, lautan, kaal pesiar, hotel, penjara, kekuasaan, uang beratus juta, tabungan, kartu kredit, isteri cantik, dan sebagainya… Manusia sempurna adalah manusia yang menyadari kesempurnaan wujudnya sebagai pemberian lengkap dari Tuhan untuk disyukuri sekaligus dimanfaatkan untuk tujuan yang sesuai dengan kehendak-Nya. Berbuat sebaik-baiknya sesuai dengan JATI DIRI-nya masing-masing.

Oleh sebab itu, manusia sempurna bisa datang mana saja… Bisa datang dari Gang Buntu di ujung RT becek sana, bisa datang orang yang tinggal di sepetak tanah di tengah area persampahan, bisa datang dari bawah kolong jembatan yang berdindingkan kardus dan tidur dengan kertas koran, namun bisa juga datang dari sebuah kamar hotel mewah berbintang tujuh.

Ada sebuah kata yang bijaksana yang dilontarkan oleh Socrates dan di dalam kitab Suci juga ada: KENALILAH DIRIMU SENDIRI, MAKA KAU AKAN MENGENAL TUHANMU. Ya, kita tidak diminta mengenal Para Nabi/Rasul/Para Sahabat/Para Ulama/Para Pemimpin Sekte dan seterusnya untuk mengenal Tuhan. Tapi justeru mengenal DIRI SENDIRI YANG SEJATI. Ada apa sesungguhnya dengan diri ini? Apakah kita sudah mengenal benar-benar siapa diri kita? Jangan-jangan apa yang telah kita anggap diri sendiri selama ini ternyata belum diri sejati kita? Pantaslah bila akhirnya kita belum mengenal Tuhan… Lha wong mengenal diri sendiri saja belum, gitu kok mau mengenal Tuhan…

Parahnya, bila kita tidak mengenal diri sendiri, maka kita tidak akan mengenal Tuhan. Namun kita akan mengenal antitesis dari Tuhan yaitu setan. Kalau ini terjadi, pasti yang kita kenal bukan diri sendiri tapi diri orang lain atau malah diri setan itu sendiri. Ya, ampun deh…

Monggo kita diskusikan bersama, jangan sampai kita terjebak dalam anggapan bahwa diri kita sudah menjadi diri sejati kita. Bila kita yakin bahwa diri kita sudah menjadi diri sejati kita, ini berarti diri kita sudah dibisiki oleh setan. Diri sejati lah yang hanya bisa mengenal Tuhan Yang Sejati yang digambarkan oleh para ahli kebatinan sebagai TAN KENA KINAYA NGAPA… Yang tidak bisa digambar oleh pikiran dan kata-kata. Bila Anda kebetulan pada suatu ketika merasa sudah mengenali Tuhan, yakinlah itu bukan Tuhan yang sesungguhnya…sebab Dia tidak bisa digambar oleh otak, qalbu dan mulut Anda.

Ini sedikit tips sholat khusyuk: Jangan menggambar Tuhan dengan kekuatan pikiran. Seberapa kuat pikiran Anda menggambar Tuhan dalam angan-angan? Menggambar benda yang ada di depan mata saja saya yakin tidak sempurna kok, mana mungkin mampu menggambarkan Tuhan dengan kekuatan fokus pikiran dan fokus batin kita.. Bukankah Tuhan juga tidak berwujud sebagaimana yang ada dalam gudang data/memori di otak? TUHAN MEMILIKI SIFAT BERBEDA DENGAN SEMUA HAL YANG PERNAH DIKETAHUI DAN DIANGANKAN OLEH MANUSIA. Sehingga sholat khusyuk justeru tidak perlu konsentrasi macam-macam. Pikiran dan batin kita hanya sumarah, pasrah total, sumeleh saja…

Salam sih katresnan

wongalus

Categories: JATIDIRI MANUSIA IDEAL | 15 Komentar

GELANDANGAN FAKIR HE-MEN


gelandanganku

Orang-orang memangilnya He-Men. Dia adalah salah satu pejalan spiritual yang mendapatkan perintah guru spiritual untuk menjadi gelandangan. Inilah sekelumit kisah perjalanan mereka yang tangguh dan teguh menjalani laku suluk. Jadi gelandangan fakir di jalan Allah.

Melanjutkan posting terdahulu KENAPA GURU SPIRITUAL MENYURUH MURID JADI GELANDANGAN? Saya ingin berbagi kisah nyata saudara-saudara saya yang alhamdulillah, saya kenal dan saksikan apa dan bagaimana mereka mendapatkan perintah dari para guru spiritual untuk menjadi “gelandangan” tersebut.

Pertama, guru mistik yang saya maksud dalam postingan pertama tidak selalu berbentuk manusia nyata, yang bisa dipegang, diraba dan dilihat. Guru spiritual ini bisa berwujud makhluk Tuhan yang sudah meninggal dunia, apakah itu malaikat atau mungkin juga roh leluhur yang ditugaskan Tuhan untuk membimbing manusia agar saleh, bertakwa dan baik.

Kedua, kehadiran guru mistik ini biasanya tanpa dinyana dan tanpa direkayasa. Tiba-tiba saja mereka hadir menjadi teman perjalanan spiritual seseorang yang telah bertobat dan bertekad untuk menjalani jalan suluk yang panjang dan mengerikan.

Ketiga, guru mistik ini datang atas perintah Tuhan. Bila Tuhan menghendaki seseorang itu katakanlah X menjadi beriman dan beramal saleh, bertakwa pada-Nya sekaligus biasanya ditunjuk untuk menyebarkan kebenaran maka Tuhan mengutus sesuatu hal: apakah itu seonggok batu, serangga, malaikat, jin, setan, roh leluhur atau makhluk lain yang namanya tidak kita ketahui untuk menjadi guru spiritual dan penyadar X yang telah ditunjuk-Nya. Tuhan Maha berkekendak, dan kehendaknya melampaui logika normal manusia seperti kita. Jadi, ya terserah Dia saja.

Yang unik, bahasa guru spiritual untuk berkomunikasi dengan si X juga bermacam-macam sarananya, Bisa jadi dengan telepon genggam dan memerintahkan secara langsung seperti kita menyuruh siapa untuk melakukan sesuatu. Bisa jadi melewati mimpi saat kita tertidur, bisa jadi guru spiritual ini masuk ke raga seseorang untuk sementara dipinjamnya dan berkomunikasi dengan X.

Pernah suatu ketika ada seseorang pejalan spiritual (salah seorang sahabat saya, pemilik blog sebelah) diuji guru spiritualnya dan bercerita kepada saya (wongalus): “Saat itu saya sudah janjian dengan kakek (sebutannya untuk guru spiritual) di sebuah taman yang sepi. Saya tunggu di sana kok tidak ada yang datang dan saya sudah gelisah. Tiba-tiba saya didatangi seorang wanita cantik dan eh,.. saya digoda. Dasar pria, keimanan saya terus terang sedikit goyah dengan godaannya untuk mengajak kencan… Entah kenapa, feeling saya akhirnya mengatakan jangan turuti dan saya diam saja dengan ulah nakalnya. Ternyata benar, sang wanita cantik yang sudah menggerayangi bagian-bagian tubuh saya itu lantas tertawa dan mengatakan bahwa dia adalah kakek, guru spiritual saya… Saya benar-benar malu, ternyata kakek sudah masuk ke jasad wanita tersebut.”

Kejadian seperti ini berulang berkali-kali hingga kemudian si murid spiritual ini hapal benar karakter sang guru spiritual ini suka dengan selera humor anak muda dan suka menggoda sang murid dengan masuk ke jasad manusia yang karakter dan wataknya berlainan.

Nah, di awal artikel saya telah menyebut seorang yang bernama samaran He-Men. Siapa dia? Dia adalah salah seorang keturunan pewaris sebuah pondok pesantren Siwalan Panji di kawasan Buduran, Sidoarjo, Jawa Timur. Bila orang paham silsilah atau nasab, ini adalah pondok pesantren yang sepuh dari sisi ilmu. Di pondok pesantren ini pula, KH Hasyim Asyari, pendiri NU pernah berguru dan memperisteri salah satu anak kyai di sana. Itu sebabnya, bila Gus Dur ke Sidoarjo maka dia menyempatkan untuk mengunjungi Ponpes ini dan menyapa kerabatnya yang tinggal segelintir hidup di sana dengan sebutan: “Kangmas” sebutan untuk menghormati saudara Gus Dur yang lebih tua.

Yang terkenal ustad pengasuh ponpes yang saat ini masih hidup adalah Gus Hasyim Mudjib dan seseorang yang namanya saya sebut tadi, He-Men. Beda dengan Gus Mujib, bila dia berada di jalur formal dan juga memasuki kancah politik dengan pernah menjadi anggota DPRD, namun He Men ini mengikuti jalur nyeleneh. Sejak kecil dia ditempa tidak dilingkungan Pondok. Dia malas belajar kitab-kitab kuning sebagaimana para santri-santri lain. Dia malah menjadi mahasiswa umum di sebuah perguruan tinnggi namun entah karena apa, bangku kuliah ini juga tidak dituntaskannya.

Kesukaan He-Men adalah mengkritik, memprotes, demonstrasi di jalanan mengkritik pemerintah. Menentang ketidakadilan, kekotoran dan kebusukan politikus-politikus dan penguasa yang dianggapnya lalim dan dzalim. Pakaiannya pasti unik, nyeleneh dan gayanya eksentrik. Coba bayangkan, saat yang lain berpakaian jeans dan berkaos oblong sebagaimana kesukaan anak muda; tiba-tiba dia datang mengenakan baju resmi berwarna merah, bercelana pantalon, bersepatu hitam mengkilap, berdasi kupu-kupu warna kuning, rambut dicat seperti anak muda kota, bahkan alisnya dihitamkan…. Menyaksikan keanehan penampilan si He-Men yang usianya sekitar tujuh tahun di bawah saya, biasanya saya dan beberapa teman hanya mbatin: Kok bisa ya…. tapi juga enggan untuk melontarkan secara langsung khawatir yang bersangkutan tersinggung.

Tiba-tiba He Men yang selama ini menemani kami menghilang….. kami pun melupakannya. Kejadian ini terjadi awal tahun 2001 yang lalu. Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh tahun eh… si nyeleneh He Men datang lagi dengan penampilan yang sudah berubah. Serba hitam. Pakaian muslim hitam, kopyah hitam, celana panjang hitam. Bicaranya pun sudah berubah total. Saya yakin, Nur… cahaya Allah sudah menerangi dia. Setiap butir kata yang meluncur dari mulutnya mencerminkan hikmah dan kebenaran ayat-ayat ilahi yang diperolehnya dari nglakoni menjadi gelandangan, sang fakir yang hanya berserah diri kepada Allah SWT.

Kisahnya selama melakoni jadi sang fakir alias gelandangan ini sangat panjang. Sering kami bertemu hanya untuk bersilaturahim antar sesama muslim. Kadang dia beranjangsana ke rumah pada tengah malam hingga subuh untuk berbagi cerita. Dan kebetulan saya menyukai kisah-kisahnya yang luar biasa. Rasa-rasanya setiap jengkal pengalaman yang dikisahkannya kepada saya menjadi sangat berarti dan semuanya terang benderang oleh cahaya Tuhan. Sayang saya sepertinya tidak mampu menuliskannya lagi karena keterbatasan energi memori saya yang sangat kecil ini.

Secara garis besar, perjalanan si gelandangan He Men dimulai dari Sidoarjo, Jawa Timur…. menuju Kudus, lantas ke selatan singgah di Solo dan kemudian jalan kaki dilanjut ke barat Klaten bertemu Mbah Lim Imam Puro pengasuh Ponpes terkenal di sana, dan menuju ke Jogja terus ke barat… hingga ke ibukota negara Jakarta. Di sana dia menetap untuk beberapa tahun. Selanjutnya perjalanan dimulai lagi di Sumatra. Mulai Lampung hingga Aceh.. kembali lagi melewati jalan yang sama… balik ke Jakarta, kemudian ngubek-ubek kota-kota di Kalimantan…. Dengan berjalan kaki dan tanpa uang sepersenpun. Hanya memiliki harta berupa pakaian yang menempel di badan dan sepatu. Singgah di masjid, surau dan langgar… kadang menjadi imam sholat, kadang menjadi makmum, kadang tiba-tiba ikut jadi tukang bersih-bersih masjid. Tidak ada jadwal waktu dan hari kapan dia akan bergerak lagi memulai perjalanan ….

Kata He Men: “Rezeki Allah luar biasa banyak. Kita kadang lupa untuk bersyukur ya.. Udara gratis, tubuh gratis, nyawa gratis… eh nasi gratis. Dalam perjalanan, saya tidak boleh meminta makanan dan minuman dari siapapun juga. Kecuali kalau saya dikasih, maka akan saya terima…” “Setiap butir nasi bungkus pemberian Gusti Allah melalui tangan orang lain saya rasakan sangat berarti. Bahkan bila sudah saking laparnya, saya diperintahkan Gusti Allah untuk mengambil makanan sisa orang di sampah… saya nikmati…. dan luar biasa… saya hidup pasrah karena Dia Maha Pemberi Rezeki…” ungkap He Men.

Tidak terhitung mengalaman mistik supranatural yang dijumpai si He Men ini. Barangkali jin dan hantu-hantu sudah pada malas menggoda si manusia fakir pilih tanding ini. Olah rasa dan olah batinnya ditempa sekian lama oleh penderitaan dan kepasrahan kepada Tuhan satu-satunya pencipta Semesta Alam. Setiap titik yang disinggahi, apakah itu di surau, masjid, langgar, gang kumuh di kota, lokalisasi, atau di dekat istana negara…selalu saja dia menjadi bahan tertawaan bahkan menuduhnya kurang waras. Itu konon, pikiran dan alur logikanya memang sudah dianggap ketinggalan jaman padahal menyuarakan kebenaran.

Misalnya: saat bertemu dengan seorang serdadu/tentara yang bergerombol menjaga istana negara suatu malam. He Men: Pak apa yang Anda jaga… presiden atau istara presiden?” Serdadu: Presiden!!! He Men: Presiden kan tidak tidur di sana? Serdadu: Kok tahu… sok tahu kamu!!! He Men: Ya tahu aja, nggak mungkin dia tidur di istana lha wong ini cuma gedung simbol negara… Serdadu: diam, mungkin mikir ini anak gelandangan agak gila tapi benar juga omongannya. He Men: Daripada jaga gedung dan mikir masalah duniaaaa terus… mending dzikir pak… Ingat Tuhan, Ingat yang menciptakan Anda, pasti ada manfaatnya. Dia akan ingat juga sama sampean… dan sampean bisa meminta apapun karena dia Maha Pemberi….. Serdadu: Terima kasih. Tapi tolong Anda pergi dari sini… He Men: Ya sudah… assalamualaikum….

Saat di Jakarta itulah, kata He Men, dia sehari-hari tidur di kantor Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Hingga suatu ketika ada seseorang yang mengenalinya sebagai cucu seorang ulama sepuh di Jawa Timur dan dianggap anak angkat seorang anggota DPR/MPR. Si gelandangan He Men juga memiliki bejibun kisah mistis. Banyak kisah mistik supranatural yang kadang enggan diceriterakan He Men ke orang lain dengan alasan kalau nanti justeru dianggap sombong dan takabur. Namun karena berbagai hal juga, dia bisa menceriterakan dengan gamblang sebagaimana dituturkan kepada saya (wongalus) bagaimana dia dia mempersunting seorang gadis desa.

“Saat itu perjalanan saya melewati sebuah desa malam hari sunyi. Sudah di atas jam duabelas malam. Tidak ada satupun orang terlihat melintas. Tiba-tiba ada ikan menggelepar di depan saya…. Karena lapar sudah sehari nggak ada yang ngasih makan, saya ambil ikan itu siapa tahu bisa saya makan… Saat akan saya ambil, eh tiba-tiba dia bisa ngomong… Saya bukan jatahmu, saya hanya memberitahu suatu saat kalau kamu lewat di jalan ini lagi, maka itulah saatnya kamu menikah disini… Ikan kemudian tidak jadi saya ambil. Dua tahun kemudian, saat suatu malam saya melewati jalan itu lagi… eh, ikan itu muncul lagi di tempat yang sama dan saya ditagih untuk menikah. Akhirnya, saya duduk di pinggir jalan untuk bertanya ke sana kemari apa ada seorang perempuan yang ingin menikah… Ternyata ada seorang perempuan guru ngaji yang belum menikah dan membutuhkan suami. Berdasarkan informasi dari orang tersebut, Saya datangi rumahnya dan saya tembung orang tuanya… anaknya pun suka dengan saya… ya akhirnya saya menikah…” kisah He Men.

Kisah mistik lain adalah perjumpaannya dengan seorang tokoh kyai Mbah Lim Imam Puro. Mbah Lim adalah kyai yang misterius dan tidak setiap saat mau ditemui para tamu. Konon, Mbah Lim yang dikenal sebagai seorang kyai “khos” ini kadang entah kenapa melempar para tamu dengan benda apa saja untuk menunjukkan keengganannya ditemui para tamu yang datang ke rumahnya. Bahkan tidak jarang dia mengambil sapu dan dipukuli para tamu itu… Iki kakean (kebanyakan) dosa… hayo tobat!!! Namun uniknya, dengan mudah dia mendatangi He Men yang nunggu di depan rumah pada suatu malam… dia tidak ngamuk apapun dan meminta agar He Men secepatnya pulang ke rumah. “Perintah Mbah Lim itu kemudian saya laksanakan.. saya nggandol pulang naik kereta api…., tiba di pondok (Ponpes Siwalan Panji), ternyata ibu saya sakit dan setelah bertemu saya, dia dipanggil Allah. Ibu berwasiat agar saya meneruskan menjadi ustad mengasuh pondok,” ujar He-Men.

Inilah sedikit kisah yang bisa saya sampaikan kepada para Pembaca budiman yang sempat mampir di blog ini. Masih banyak kisah mistik yang dialami He Men. Namun karena keterbatasan saya, tidak sempat saya tuliskan. Alhamdulillah dan insyaallah He Men diberi rahmat Gusti Allah untuk jujur dan mampu membedakan dari mana kata yang mengandung kebenaran dan mana kata yang menyesatkan. Apakah itu sumbernya dari membaca buku, dari sekolah, dari katanya teman, atau langsung dari Nur Allah…. Dan kata-kata He Men, saya yakin benar-benar dari Nur Allah…. Alhamdulillah, Tuhan sudah memberikan pengajaran yang begitu kaya kepada saudara kita yang satu ini.

Sayangnya, saya kembali merasa kehilangan jejak kemana si He-Men sekarang berada. Dia jarang terdengar di peredaran dan ternyata informasi dari beberapa teman dekatnya mengatakan bahwa sekarang dia mengembara lagi ke Kalimantan, Sulawesi dan entah kemana lagi.

Untuk saudaraku He Men… selamat jalan, kepasrahanmu kepada-Nya menjadi inspirasi kami semua. Bila Tuhan satu-satunya yang jadi perisai pelindungmu, siapa lagi yang dikhawatirkan dan ditakutkan??? Terima kasih dan selamat menjalankan ibadah di bulan Ramadhan,… dan bila ada kata yang dirasa kurang pas dan kurang berkenan, ini semata-mata karena kebodohan saya pribadi untuk “meringkas” dan memaknai kasunyatan ini dengan pemilihan kata-kata yang pas.

wongalus

Catatan: naskah ini sudah mengalami penyuntingan dari naskah awalnya. Terima kasih sedalam-dalamnya kepada Saudara saya Ki M4stono (www.kanktono.blogspot) yang berkenan melakukan koreksi sebagaimana yang ada di saran. Kesalahan itu semata-mata karena kekuranghatian saya dan Matur  Nuwun Ki. Gusti Allah yang membalas kebaikan Anda.

Categories: SI GELANDANGAN FAKIR HE MEN | 21 Komentar

KENAPA GURU SPIRITUAL MENYURUH MURID JADI GELANDANGAN?


Salah satu yang dianjurkan dalam meniti jalan spiritual adalah menghilangkan keakuan/ego/diri. Proses ini harus dilalui agar diri yang masih diliputi hasrat kebendaan sedikit demi sedikit terangkat menemukan DIRI SEJATI-NYA.

Dalam tradisi tasawuf atau mistik Islam, kita mengenali tahap ini sebagai tahap pembersihan diri dari berbagai hawa nafsu yang masih melekat kuat pada diri seseorang. Tanpa dilakukan pembersihan, diri kita tidak akan mampu membuka mata terhadap petunjuk/rambu-rambu hidup yang diberikan-Nya. Bila kita sudah mampu membaca rambu-rambu/petunjuk-Nya, otomatis kita pun mampu terus berjalan di jalan yang telah digelar untuk kita.

Cara kaum sufi –sebutan bagi mereka yang menempuh jalan tasawuf sebagai pilihan hidup untuk pendakian spiritual— untuk proses penghilangan diri ini bermacam-macam. Semua sufi besar sepanjang masa, melakoni tidak dengan cara yang sama. Masing-masing disesuaikan dengan kadar ego/keakuan yang dimiliki masing-masing individu. Siapa yang mampu melihat berat ringan melekat dan tidak melekatnya diri pada dunia benda, hasrat egoistik, dan keinginan hawa nafsu?

Disinilah orang terkadang mengharuskan para penempuh jalan suluk untuk berguru kepada seorang guru yang diyakini ilmunya lebih tinggi. Hubungan guru dan murid, adalah hubungan antar teman konsultasi berbagi pencapaian tahap spiritual termasuk keluhan-keluhan apa yang dihadapi selama menjalani olah batin. Murid akan diarahkan untuk tetap tegar dan tenang sekaligus akan disembuhkan secara batiniah oleh sang guru bila terjadi kegagalan fokus dan gangguan-gangguan oleh pihak luar apakah itu manusia, jin maupun hal lain.

Guru lebih mengerti daripada murid karena mereka sudah terlebih dulu memiliki pengalaman menempuh jalan spiritual tertentu. Ibarat sang guru akan memberikan pengertian bagaimana cara naik sepeda karena dia pernah dan sering naik sepeda. Dalam konteks perjalanan spiritual mistik, guru tidak hanya memberi pengertian teoritis saja sebagaimana guru sekolah-sekolah formal, melainkan ikut menceburkan diri dalam laku sang murid.

Guru atau pembimbing spiritual kemudian menyarankan agar sang murid menjalani proses penghilangan diri ini. Ini adalah proses kedua setelah seorang murid benar-benar berniat untuk tobat kembali ke jalan Tuhan. Atau sang murid sudah benar-benar mau dan bertekad sangat kuat untuk menjalani proses laku yang panjang. Tobat oleh sebab itu merupakan tahap awal.

Nah asal muasal seseorang itu tobat dan benar-benar sadar semuanya hak istimewa Tuhan. Tidab bisa diganggu gugat dan tidak bisa direspon oleh siapapun untuk bertobat. Maka, bila kita sudah ada kesadaran untuk bertobat maka harusnya disyukuri dan lekas-lekas untuk berterima kasih pada-Nya. Jangan sampai hidayah pemberian tobat ini ditarik lagi gara-gara kita tidak bersyukur.

Wujud syukur adalah menerima dengan ikhlas dan kemudian melaksanakan perubahan diri itu. Apabila Tuhan menghendaki, maka Dia kan memberi guru spiritual yang sesuai. Guru tiba-tiba akan datang membimbing kita dan hendaknya kita menyambut dengan kuat untuk menjalani pengajaran-pengajaran Tuhan Yang Maha Memberi Petunjuk tersebut.

Masih ingat bagaimana proses yang dijalani oleh Sunan Kalijaga sewaktu belum menjadi wali? Sang guru spiritual Sunan Bonang atas “dawuh” atau petunjuk-Nya menyuruh agar Sunan Kalijaga meditasi/tapa duduk bersila di pinggir sungai untuk sekian waktu dengan fokus pikiran pada sebuah tongkat yang ditancapkan Sunan Bonang. Apabila nanti Sunan Bonang sudah mencabut tongkat tersebut, maka itu tanda bahwa Sunan Kalijaga sudah selesai menjalani laku penghilangan diri ini.

Ada pengalaman beberapa sufi yang diperintahkan seorang gurunya untuk hidup menjadi pengemis dan menggelandang bertahun-tahun. Mereka harus hidup dalam kesengsaraan dan kemiskinan, dengan pakaian seadanya, tidak boleh melanggar wewarah misalnya dilarang meminta makanan. Boleh makan asalkan diberi oleh siapapun juga.

Sang pelaku atau murid ini diminta untuk tidak mengaku nama, alamat, asal usul-nya bila ditanya oleh orang lain. Tidak melanggar semua aturan yang telah disampaikan guru. Semua ini pada hakikatnya agar sang diri murid yang penuh kekotoran dan kemunafikan dihilangkan, dan diganti dengan diri yang sama sekali baru. Diri yang sepenuhnya mendapatkan tuntunan Tuhan.

Sesungguhnya, perintah puasa Ramadhan dan melaksanakan semua tata cara beribadah dalam agama Islam selama sebulan penuh itu pada hakikatnya sama dengan laku penghilangan diri. Pelaku puasa ditatar, didril, dibersihkan dari kekotoran dan kerak yang menyebabkan batin menjadi buram. Sang aku dan diri dihilangkan kemudian diganti dengan Diri yang sama sekali dipenuhi oleh sinar pencerahan. Namun sayangnya, puasa yang kebanyakan dilaksanakan oleh kaum muslimin masih belum sepenuhnya dihayati secara mendalam dan dilaksanakan sepenuh jiwa. Inilah yang menjadi kritik bersama, semoga puasa Ramadhan tahun ini menjadi pemicu kita untuk menjadikannya sarana penyucian diri.

Saya juga menemukan beberapa orang yang diharuskan oleh guru spiritualnya untuk menjalani laku jadab seperti ini. Berjalan keliling Jawa, Sumatra, Kalimantan tanpa bekal apapun kecuali PASRAH KEPADA TUHAN. Setelah mereka pulang dari pengembaraan, mereka pasti akan berubah total. Diri mereka tersucikan, mulut, tubuh dan perilaku mereka tidak seperti sebelumnya yang sak karepe dhewe. Melainkan sebaliknya, tertuntun oleh sebuah kekuatan ghaib dari Tuhan Yang Maha Kuasa.

Bisa disimpulkan penghilangan diri adalah sebuah proses kepasrahan yang kaya dengan pengalaman mistik. Sebab setelah diri/keakuan hilang maka Tuhan Gusti Allah akan mengisi keakuan kita yang sudah hilang tersebut dengan DIRI SEJATI-NYA. Ini adalah pengalaman kebersatuan dan kemanunggalan dengan iradat Gusti Allah. Oleh sebab itu pengalaman yang demikian ini pasti akan kaya dengan certia yang bagi kalangan awam dianggap tidak masuk akal dan sangat supranatural. Siapa yang berniat menetapkan tujuan hidup untuk berjumpa dengan Tuhan, pasti akan melalui proses yang berat ini.

wongalus

Categories: GURU SPIRITUAL | 31 Komentar

SATU UNTUK SEMUA


PANGESTU-2

Bangsa ini didirikan di atas beragam agama dan ratusan

bahkan mungkin ribuan aliran kepercayaan/kebatinan

yang berserak di seantero penjuru tanah air.

Aliran kepercayaan dan kebatinan tersebut

telah berakar urat di dalam nadi bangsa kita

bahkan jauh sebelum negeri kita medeka..

Mereka adalah saudara kita,

yang ikut serta gigih berjuang agar bangsa kita merdeka

Tidak terhitung berapa nyawa harus dikorbankan

Demi meraih Kemerdekaan

Itu sebabnya,

para founding fathers merumuskan

bahwa pandangan hidup bangsa Indonesia adalah Pancasila

Pancasila mengakui keragaman agama dan

kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa

Prinsip kita adalah BHINNEKA TUNGGAL IKA

Luar biasa bijaksana…

Semua penganut agama,

apakah itu Islam, Kristen, Hindu, Budha,

serta aliran kepercayaan/kebatinan

diakui menjadi bagian dari anak bangsa

yang gigih berjuang demi tegaknya merah putih

Kita semua hidup berdampingan

guyub rukun penuh toleransi

Wahai para saudaraku semua

Hiduplah terus dengan ragam corak

keyakinanmu pada Tuhan Yang Maha Esa

Kami mendukungmu

menjalankan ibadah dan keyakinan yang kau anut

menjalankan kewajiban dan hak-hakmu

Kami berpendapat

Meskipun kepercayaan dan keyakinan kita berbeda

Namun semuanya bersumber dari

Tuhan Yang satu

Tuhan Yang Menaungi Kita

Tuhan yang memberikan pencerahan

Tuhanlah yang menganugerahi banyaknya

jalan dan cara menuju Dia yang Maha Segalanya…

SEMUA UNTUK SATU –

SATU UNTUK SEMUA


(wongalus, 2009)

Categories: SEMUA UNTUK SATU | Tags: , , , | 8 Komentar

AJARAN KEROKHANIAN SAPTA DARMA


SAPTAsapta2

Di tembok rumah sang pendirinya, tiba-tiba muncul gambar-gambar dan tulisan yang kelak menjadi lambang, nama, serta ajaran-ajaran pokok Sapta Darma…

Bagi kalagan umum disebut aliran kebatinan, bagi penganut Sapta Darma disebut ajaran kerokhanian. Diantara berbagai aliran kebatinan lain yang ada di tanah air, umur Sapta Darma tergolong muda dan modern. Meskipun sudah diakui pemerintah, namun hingga kini masih saja ada saja yang masih mempermasalahkannya dengan berbagai tuduhan yang miring.

Apa yang salah dengan aliran Sapta Darma? Bukankah negeri ini dasarnya adalah Pancasila dimana dalam sila pertamanya tercantum Ketuhanan Yang Maha Esa dan aliran ini bahkan mewajibkan warganya menyembah Tuhan yang satu, Allah Yang Maha Kuasa dan penganutnya berkewajiban menjalankan hidupnya berdasarkan tujuh kewajiban suci (darma), agar selamat hidup dunia dan akhirat.

Sapta Dharma bukanlah aliran sesat yang menyembah berhala dan meminum darah musuh demi mendapatkan kesaktian, Sapta Darma adalah aliran yang ingin agar penganutnya menjadi manusia yang berbudi luhur dan Pancasilais.

Tapi, lihatlah banyak fakta yang terjadi dimana masyarakat yang mengaku beragama tertentu menyerang para penganut aliran kebatinan tersebut dengan berbagai dalih. Kenapa hingga kini berbagai aliran kepercayaan/ aliran kebatinan itu masih dipandang sebelah mata? Bukankah mereka tumbuh berkembang sebagai hasil interaksi manusia asli Indonesia dengan alam dan Tuhan?

Sejarah adalah bukti bagaimana pemerintah kita mengakui eksistensi berbagai aliran kebatinan di nusantara. Dimulai pada tanggal 19 dan 20 Agustus 1955 di Semarang diadakan kongres dari berpuluh-puluh aliran kebatinan yang ada di berbagai daerah dilanjut dengan Kongres berikutnya pada tanggal 7 Agustus 1956 di Surakarta dan dua kongres serta seminar mengenai masalah kebatinan dalam tahun 1959, 1961 dan 1962.

Aliran kepercayaan/ kebatinan merupakan budaya lokal dengan anggota yang jumlahnya berkisar antara 200 orang hingga ribuan orang. Yang termasuk aliran kecil adalah berjumlah 200 orang misalnya PANCASILA HANDAYANINGRATAN dari Surakarta; ILMU KEBATINAN KASUNYATAN dari Yogyakarta; ILMU SEJATI dari Madiun; dan TRIMURTI NALURI MAJAPAHIT dari Mojokerto, PENUNGGALAN, PERUKUNAN KAWULA MANEMBAH GUSTI, JIWA AYU dan dan lain-lain.

Ada pula aliran kebatinan yang tergolong besar yang beranggotakan lebih dari 1000 orang yang tersebar di berbagai daerah. Yang termasuk aliran dengan banyak pengikut di antaranya HARDOPUSORO dari Purworejo, Susila Budi Darma (SUBUD) yang asalnya berkembang di Semarang, Paguyuban Ngesti Tunggal (PANGESTU) dari Surakarta, Paguyuban SUMARAH dan SAPTA DHARMA dari yogyakarta.

HARDOPUSORO adalah yang tertua diantara kelima gerakan yang terbesar itu, didirikan oleh Kyai KUSUMOWIDJITRO, seorang kepala desa di desa Kemanukan, Purworejo pada tahun 1895. Ia menerima wahyu yang semula disebut KAWRUH KASUNYATAN GAIB. Ajaran-ajarannya termaktub dalam dua buah buku ynag oleh para pengikutnya sudah hampir dianggap keramat, yaitu Buku KAWULA GUSTI dan WIGATI.

Susila budi (SUBUD) didirikan pada tahun 1925 di semarang, pusatnya sekarang berada di jakarta. Mereka tidak menyebut diri sebagai aliran kebatinan, melainkan “pusat latihan kejiwaan”. Anggota-anggotanya yang berjumlah beberapa ribu itu tersebar di berbagai kota diseluruh indonesia dan mempunyai sebanyak 87 cabang di luar negeri. Banyak dari para pengikutnya adalah orang Asia, Eropa, Australia dan Amerika. Doktrin ajaran organisasi itu dimuat dalam buku berjudul SUSILA BUDHI DHARMA.

PAGGUYUBAN NGESTI TUNGGAL, atau lebih terkenal dengan nama PANGESTU adalah sebuah budaya kebatinan lain yang luas jangkauannya. Gerakan ini didirikan oleh Soenarto, yang di antara tahun 1932 dan 1933 menerima wangsit yang oleh kedua orang pengikutnya dicatat dan kemudian diterbitkan menjadi buku Serat Sasangka Jati.

Pangestu didirikan di surakarta pada bulan mei 1949, dan anggota-anggotanya berkisar antara 50.000 orang tersebar di banyak kota di Indonesia. Anggota yang berasal dari daerah pedesaan banyak yang tinggal di pemukiman transmigrasi di Sumatera dan Kalimantan. Majalah yang dikeluarkan organisasi itu DWIJAWARA merupakan tali pengikat persaudaraan Pangestu.

PAGUYUBAN SUMARAH diprakarsai oleh R. Ng. Sukirno Hartono dari Yogyakarta. Ia mengaku menerima wahyu pada tahun 1935. Pada akhir tahun 1940 mengalami kemunduran, namun berkembang kembali tahun 1950 di yogyakarta. Jumlah anggotanya kini sudah mencapai 115.000 orang baik yang berasal dari golongan priyayi maupun dari kelas-kelas masyarakat lain.

SAPTA DARMA adalah yang termuda dari kelima gerakan kebatinan yang terbesar di jawa yang didirikan pada 27 Desember tahun 1952 oleh Hardjosapuro yang kemudian mengganti namanya menjadi Panuntun Sri Gutomo. Beliau berasal dari desa Keplakan, Pare, Kediri. Berbeda dengan keempat organisasi yang lain, SAPTA DARMA beranggotakan orang-orang dari daerah pedesaan dan orang-orang pekerja kasar yang tinggal di kota-kota. Walaupun demikian para pemimpinnya hampir semua priyayi. Buku yang berisi ajarannya adalah KITAB PEWARAH SAPTA DARMA.

AJARAN SAPTA DARMA

Pemeluk SAPTA DARMA mendasarkan apa saja yang dilakukan sebagai suatu ibadah, baik makan, tidur, dan sebagainya. Tetapi ibadah utama yang wajib dilakukan adalah SUJUD, RACUT, ENING dan ULAH RASA. SUJUD, adalah ibadah menyembah Tuhan; sekurang-kurangnya dilakukan sekali sehari.

RACUT, adalah ibadah menghadapnya Hyang Maha Suci/Roh Suci manusia ke Hyang Maha Kuwasa. Dalam ibadah ini, Roh Suci terlepas dari raga manusia untuk menghadap di alam langgeng/surga. Ibadah ini sebagai bekal perjalanan Roh setelah kematian. ENING, adalah semadi, atau mengosongkan pikiran dengan berpasrah atau mengikhlaskan diri kepada Sang Pencipta. ULAH RASA, adalah proses relaksasi untuk mendapatkan kesegaran jasmani setelah bekerja keras/olah raga.

Warga Sapta Darma tidak membicarakan surga dan neraka, tetapi mempersilahkan warga Sapta Darma untuk melihat sendiri adanya surga dan neraka tersebut dengan cara racut. Kejahatan, kesemena-menaan, dan sebagainya mencerminkan neraka dengan segenap reaksi yang ditimbulkannya. Begitu juga dengan kebaikan seperti bersedekah, mengajarkan ilmu, menolong sesama mencerminkan surga.

SAPTA DARMA lebih fokus pada pengembangan budi pekerti yang saat ini semakin terdegradasi di negeri kita. Seperti tawuran pelajar ada di mana-mana, pemerkosaan terhadap anak-anak dan perempuan, perdagangan manusia, semua terjadi hampir tiap hari. Semua catatan segala penyimpangan akan terus bertambah dan barangkali bisa menjadi daftar panjang tidak berkesudahan. Belum lagi apabila ditambah dengan korupsi yang dilakukan para politikus dan pejabat negeri ini.

Salah satu upaya untuk memperbaiki situasi adalah dengan terus menumbuhkembangkan budi pekerti sebagaimana yang dilakukan oleh aliran kerohanian Sapta Dharma. Inti dari ajaran aliran yang asal-muasalnya dari tanah Jawa itu adalah menyelaraskan kehidupan manusia dengan alam, sesama, dan Sang Maha Pencipta.

Ketua Badan Pengurus Yayasan Srati Dharma Pusat Yogyakarta Subiyantoro mengungkapkan, aliran yang intinya pada penggalian budi pakarti luhur itu diterima kali pertama oleh Hardjosapuro yang setelah menerima wahyu bergelar rohani Sri Gutomo pada Desember 1952 di Pare, Kediri.

Dikisahkan saat proses awal Hardjosapuro menerima wahyu. Sewaktu dia Waktu itu, dia merasa tidak enak badan, lantas mengambil tikar dan berusaha tidur di lantai. Tiba-tiba dia merasakan suatu getaran hebat dan tergerak untuk menghadap ke timur. Di tengah-tengah situasi menggetarkan itu, dia beberapa kali merasa meneriakkan sesuatu. Setelah mengalami peristiwa aneh, dia kemudian menceritakan kepada teman-temannya.

Semula tidak ada yang percaya tetapi setelah semua ikut mengalami akhirnya percaya bahwa ada kekuatan yang mendorong mereka untuk menumbuhkembangkan budi pekerti luhur. Bukan sebatas itu, yang fenomenal adalah di tembok rumah Harjosapuro muncul gambar-gambar dan tulisan yang kelak menjadi lambang, nama, serta ajaran-ajaran pokok Sapta Dharma.

Semenjak itulah, berkembang aliran kerohanian yang bernama Sapta Dharma hingga kini sudah tersebar di seluruh propinsi di Indonesia.

Menurut Subiyantoro ajaran SAPTA DARMA terbuka bagi siapa saja dengan latar belakang berbeda-beda. Tidak ada diskriminasi dalam ajaran kerokhanian tersebut. Dijelaskan Subiyantoro, Ritual SAPTA DARMA adalah Ritual Sujud seperti layaknya orang berdoa untuk melakukan penggalian rohani. Dalam sujud tersebut, para penganut meluhurkan Allah yang Mahakuasa, mengakui kesalahan dan bertobat tidak melakukan kesalahan lagi.

SETIAP KALI SUJUD, SESEORANG BISA MEMAKAN WAKTU 1,5 JAM BAHKAN LEBIH. WAKTU TIDAK BISA MEMBATASI SESEORANG HARUS SELESAI SUJUD, TERGANTUNG PADA GETARAN YANG MEREKA RASAKAN. PADA TAHAPAN TERTENTU, SESEORANG BISA BERUBAH POSISI DARI SEMULA DUDUK BERSILA PERLAHAN-LAHAN TERTUNDUK SAMPAI KEPALA MENYENTUH LANTAI. “Ajaran Sapta Darma yang pada intinya budi pekerti luhur memang untuk menumbuhkan pikiran, sikap, dan perilaku berbudi pekerti luhur setiap insan,” tuturnya.

Sujud dan Dua Belas Saudara

Dalam sujud manembah yang telah diuraikan
Turunnya getaran dari kepala benar dirasakan
Terutama sewaktu melintasi jalur di dada
Tempat adanya bentuk tiga belah ketupat
Satu di atas, satu di tengah, dan satu di bawah
Yaitu yang disebut dengan istilah radar

Maka pada tiap belah ketupat itu
Terdapat getaran-getaran perwujudan
Dari sifat khusus kedua-belas saudara
Getaran berwarna hitam adalah aluwamah
Yang merah amarah, kuning suwiyah, putih mutmainah

Adapun letak dan sifat dua belas saudara itu demikian:
Hyang Maha Suci di ubun-ubun, sarana untuk menghadap
Hyang Maha Kuwasa dalam sujud dan dalam hening
Premana di dahi di antara kedua mata, untuk melihat
Segala hal yang tak tampak oleh mata biasa

Jatingarang atau Suksmajati di bahu kiri tempatnya
Gandarwaraja di bahu kanan dan bersifat kejam
Sering bertengkar serta tamak
Brama di tengah, senang marah sifatnya
Bayu di dada kanan, cirinya adalah keteguhan

Endra di dada kiri dan berpembawaan malas
Mayangkara di pusar, seperti kera suka mencuri
Merampas, mengejek, dan menghina
Suksmarasa di pinggang kiri dan kanan
Memiliki sifat halus perasaan

Suksmakencana di tulang tungging
Pengaruhnya pada gairah kebirahian
Nagatahun atau Suksmanaga di tulang belakang
Seperti ular sifatnya berbelit-belit dan berbisa
Baginda Kilir atau Nur Rasa bergerak sifatnya
Letaknya di ujung jari dan dapat digunakan
Oleh warga untuk menyembuhkan penyakit

Maka dalam sujud Sapta darma
Segala sifat saudara yang baik itu
Dikembangkan kepada kesempurnaan
Dan sifat saudara yang buruk
Diruwat agar menjadi tawar

Demikianlah ajaran Sapta Darma
Yang datang dari Panuntun Agung Sri Gutomo
Baik untuk didengar, dipahami, dan dijalankan
Supaya dapat seseorang menjadi satria berbudi
Yang berpegang pada Wewarah Tujuh dan Sesanti:

Ing ngendi bae Warga Sapta Darma
Kudu sumunar pinda baskara!

Dengan demikian para warga itu
Sesungguhnya juga mengikut pada petuah:
Sepi ing pamrih rame ing gawe!

@@@

wongalus

Categories: SAPTA DHARMA | 126 Komentar

PAGUYUBAN KEJAWEN HARDOPUSORO


Paguyuban ilmu mistik kebatinan berlatar belakang budaya dan filsafat Jawa (Kejawen) ini tergolong tua usianya. Paguyuban ini banyak melahirkan kaum waskita dan paling berpengaruh pada masa akhir Kolonialisme di Indonesia.

Lebih mudah menelusuri aliran kebatinan dari riwayat hidup para pendirinya. Sebab dari para pendiri paguyuban, kita bisa mengetahui apa dan bagaimana awalnya mereka mendapatkan WAHYU (saya menggunakan pendekatan internal dengan menggunakan bahasa kalangan kebatinan. Dalam khasanah agama Islam, Wahyu hanya diturunkan kepada para Nabi, sedangkan sesuatu yang turun kepada manusia biasa yang khusus diberikan oleh Tuhan karena sebab-sebab tertentu biasa disebut dengan Ilham atau intuisi yang sangat jelas dari Tuhan. wongalus). Dan dari turunnya WAHYU kepada seseorang tokoh pendiri kebatinan itulah, kita bisa mengetahui latarbelakang sosiologis dan filosofisnya.

HARDOPUSORO didirikan oleh KUSUMOWIDJITRO. Siapa Kusumowidjitro? Dia adalah salah seorang Kepala Desa di daerah Purworejo, Jawa Tengah. Purworejo adalah kota arah barat yang berbatasan dengan Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Kisahnya, pada tahun 1880 Kusumowidjitro tidak tahan dengan perlakuan kolonial yang menindas rakyat. Ia tinggalkan jabatannya dan pergi meninggalkan desanya karena melaksanakan aksi menolak membayar pajak.

Selama berpuluh-puluh tahun, dia mengembara ke berbagai hutan di Jawa Timur. Pengembaraan dihabiskan untuk berpuasa dan bertapa di dalam belantara yang penuh tantangan. Tidak ada guru spiritual khusus yang dipercayai menuntun perjalanan spiritualnya. Pada suatu hari, WAHYU turun setelah dia mencapai situasi PASRAH TOTAL pada Tuhan. Wahyu juga berbunyi agar dia menyebarkan kebaikan sekaligus ajaran-ajaran kebaikan kepada sesama manusia.

Hadirnya wahyu yang merupakan DAWUH dari GUSTI KANG AKARYO JAGAD ini jelas merupakan hal menandai berakhirnya satu era perjalanan spiritual untuk memasuki era baru yang lebih kompleks. Kusumowidjitro merasa itulah saat dia hidup kembali sebagai manusia yang sesungguhnya dititahkan mengemban tugas mulia: sebagai hamba-Nya. Dan dia pun mulai muncul di berbagai kota.

Pada tahun 1907, dia sudah diikuti oleh banyak pengikut di Banyuwangi. Namun sayangnya di tahun itu pula dia diusir oleh Pemerintah Kolonial Belanda karena khawatir melihat tanda-tanda gerakan kebatinan ini berbahaya dan bisa merongrong kewibawaan pemerintah kolonial. Untuk sementara waktu Kusumowidjitro mengasingkan diri ke hutan di wilayah pegunungan antara Malang, Blitar dan Kediri. Kharisma dan aura spiritual Kusumowidjitro tetap berbinar sehingga dia mendapatkan pengikut di era pengasingan diri ini.

Pada tahun 1913, Kusumowidjitro tercatat sudah muncul lagi di berbagai kesempatan. Salah satunya adalah hadir dalam forum paguyuban Masyarakat Teosofi –salah satu aliran kebatinan juga— dan dia berkhutbah di sana tentang praktik spiritual yang dijalaninya.

Hampir semua bagian ajarannya diakui masih misterius dan cukup sulit untuk dipaparkan. Sumber-sumber di paguyuban ini enggan memberikan keterangan. Bisa jadi ini dikarenakan sikap waspada para penganut paguyuban HARDOPUSORO karena saat itu pengawasan Belanda terhadap berbagai penganut aliran kepercayaan semakin ketat.

Penganut aliran kebatinan yang ada di paguyuban HARDOPUSORO melakukan kegiatan spiritual secara sembunyi-sembunyi dan menutupi aktivitas spiritual mereka dengan dalih acara SLAMETAN. Secara internal, ajarannya termasuk sulit sebagaimana paguyubannya yang tidak mudah dijumpai. Ajaran spiritual (wiridan) HARDOPUSORO pun dilarang untuk diamalkan bagi yang belum menjadi anggota. Segala pertanyaan menyangkut paguyuban ini juga dilarang untuk dijawab.

Biasanya Kusumowidjitro menyampaikan ajaran-ajaran mistik kebatinan pada tengah malam dengan memakai jubah putih. Pada setiap pertemuan, biasanya dilaksanakan tujuh tingkatan inisiasi atau pembaiatan. Setelah merampungkan pembacaan masing-masing jenjang wiridan tadi, hanya para anggota yang telah dibaiat pada level itu yang diijinkan keluar. Dalam satu sesi, hanya mereka yang telah menerima tujuh kali baiatan yang diijinkan tetap di tempat sampai akhir acara. Kemajuan melalui tingkat baiatan tergantung pada hafalan wirid dan pengamalan beberapa teknik tertentu yang berhubungan dengan tiap level.

Ajaran mistik HARDOPUSORO memang rumit. Dipenuhi dengan paradoks, dijejali dengan simbol-simbol dan mengatasi segala macam tataran akal. Berbagai macam teknik pada masing-masing baiatan itu diarahkan untuk membangkitkan kesaktian yang bersemayam di dalam tubuh.

TEKNIK UTAMA PEMBANGKITAN KESAKTIAN dilalui dengan cara KUNGKUM atau semedi dengan mengucap mantra, sambil duduk merendam diri sampai leher di sumber air yang dianggap memiliki daya keramat atau pertemuan antara dua aliran sungai yang oleh masyarakat biasa disebut dengan “tempuran”.

Pelahan-lahan latihan yang keras itu mengendur hingga akhirnya hanya cukup dengan SEMEDI atau MEDITASI dengan KAKI YANG DICELUPKAN DI DALAM SEMANGKUK AIR saja. Meskipun kekuatan magis atau KASEKTEN merupakan elemen pencapaian pada setiap jenjang baiatan, sesungguhnya TUJUAN AKHIR PERJALANAN SPIRITUAL PAGUYUBAN HARDOPUSORO adalah MELEBURNYA ANASIR FISIK DAN JIWA dari DIRI atau yang dikenal dengan MOKSA alias SUWUNG

Belum diketahui secara pasti, apakah paguyuban aliran kebatinan HARDOPUSORO ini masih ada di negeri kita atau tidak. Semoga masih ada sehingga kita tidak kepaten obor eksistensi saudara-saudara kita yang gigih berjuang untuk menemukan DIRI SEJATI ini.

wongalus

Categories: HARDOPUSORO | 75 Komentar

SUSILA BUDHI DHARMA


Salah satu aliran kepercayaan asli Indonesia bernafaskan Kejawen Islam ini sudah menyebar ke seluruh penjuru dunia. Jauh sebelum era globalisasi dan pasar bebas, SUSILA BUDHI DHARMA telah tersebar di 80 negara dengan anggota 20 ribu orang.

subuh

Nama Indonesia sebenarnya tidak jelek di dunia internasional. Negeri yang gemah ripah loh jinawi tata tentrem karta raharja dan kini sedang sedih karena berbagai aksi radikalisme, anarkisme dan nasionalisme yang memudar ini, sebenarnya menyimpan kekuatan spiritual yang justeru diakui di dunia internasional. Kekuatan spiritual ini bisa jadi cara olah batin untuk mengubah dunia. Salah satu bukti statemen itu adalah diterimanya salah satu aliran kebatinan Jawa (Kejawen) di dunia internasional sejak puluhan tahun yang lalu.

Subud didirikan oleh almarhum R. M. Muhammad Subuh Sumohadiwijoyo. Bapak (panggilan akrabnya di kalangan Subud) menerima latihan secara spontan (dalam khasanah internal Kebatinan dikatakan telah menerima WAHYU. Sebutan ini dari kacamata Agama Islam dinilai agak kurang PAS karena yang menerima wahyu hanya para nabi. Lebih tepatnya menerima ilham) pada tahun 1925, saat berumur 24 tahun. Subuh bercerita saat dia menerima wahyu: “Saat itu Bapak (Subuh menyebut dirinya sendiri dengan sebutan Bapak bukan “saya” atau “Kami” seperti kebanyakan orang) bekerja di kantor melaksanakan tugas yang menjadi tanggung jawabnya. Tahu-tahu semua itu berhenti, berakhir. Akal tidak bekerja lagi. Kemudian Bapak menerima seperti yang akan Saudara terima di dalam latihan. Bapak tidak mencari ilmu, karena tidak mempunyai guru atau pengajar. Bapak hanya sekadar menerima, dan itu disebut Mukjizat Allah, Anugerah Tuhan. Itu hanya diberikan kepada orang kalau orang itu tidak mencarinya, sepi ing pamrih. Kalau seseorang menyerah dan pasrah dalam menerima Anugerah Tuhan, maka Tuhan akan memberi Anugerah-Nya…”

Inilah awal sejarah Subud yaitu ketika almarhum R. M. Muhammad Subuh Sumohadiwijoyo mendapatkan pengajaran langsung dari Tuhan. Kontak ini disusul dengan masa tiga tahun yang ditandai gejolak luar biasa di dalam jiwanya. Pada akhir masa itu, doanya terkabul dengan diperolehnya petunjuk bahwa karunia yang telah diterima beliau tidak hanya untuk dirinya sendiri dan dapat dibagi-bagikan kepada siapa saja yang berminat. Hanya disyaratkan bahwa anggota tidak boleh dicari-cari. Delapan tahun kemudian sejak diterimanya wahyu pertama tersebut, pada tahun 1933 Muhammad Subuh menamakan apa yang diterimanya ini sebagai LATIHAN KEJIWAAN. Subud sebagai organisasi kemudian dibentuk dan resmi berdiri tanggal 1 Pebruari tahun 1947 di Yogyakarta. Pada tanggal 23 Juni 1987, Muhammad Subuh dipanggil Sang Khalik di Jakarta dalam usia 86 tahun.

Muhammad Subuh dikenal para pengikutnya sebagai orang yang winasis, sakti dan waskita. Salah satu hal yang penting sebagai tonggak yang membesarkan organisasi ke dunia Internasional yang dipimpin Subuh ini adalah peristiwa sembuhnya Eva Bartok, artis Inggris setelah sakit bertahun tahun. Secara pribadi Subuh dikenal pula bertangan dingin dan mampu mengobati berbagai macam penyakit hanya dengan memasrahkan segala penyakit ke Tuhan. Apa komentar Subuh saat bisa menyembuhkan Eva Bartok? “Itu bukan Bapak yang menolong atau menyembuhkannya. Bapak hanya menunjukkan cara berbakti kepada Tuhan Allah, dan dia sembuh. Eva menjadi sehat, dan segala-galanya berakhir dengan baik. Bapak hanya menunjukkan cara berbakti. Kesehatan seseorang adalah perkara antara orang itu dan Tuhan Allah. Orang lain tidak dapat turut campur tangan…”

Bagi pengagumnya, figur Subuh tak hanya pribadi yang mempesona auranya, tapi lebih-lebih pesona spiritualnya. Maklum, Subuh bisa di-artikan sebagai Subud, nama kondang di peta spiritualitas. Subud adalah sejenis latihan spiritual yang diperoleh Subuh melalui sebuah pengalaman gaib pada 1925. Jalan spiritual itu kemudian disebut latihan kejiwaan Subud, kependekan dari Susila Budhi Dharma. Inti latihan kejiwaan itu berupa pasrah kepada Tuhan.

Manusia, menurut Subud, memiliki akses langsung dan cara yang unik untuk berhubungan dengan Tuhan. Subud, menurut Suryadi Haryono, penasihat Yayasan Susila Dharma Indonesia, bukan agama, ajaran, atau sejenis meditasi. Sebagian kalangan muslim memandang Subud, seperti aliran kebatinan umumnya, mengabaikan syariat. Benarkah? “Subud tidak bermaksud memisahkan manusia dari agamanya. Justru melalui proses pembersihan diri ala Subud, orang semakin mengamalkan ajaran agama,” kata Suryadi.

Idries Shah (1926-1996), penulis tasawuf kelahiran India, pernah menyatakan bahwa Subud adalah bentuk popularisasi dari tasawuf dan latihan kejiwaan. Subud tak ubahnya olah batin cara sufi. Muhammad Subuh memang pernah berguru kepada Kiai Abdurrahman, guru tarekat Naqsabandiyah di Kota Semarang. Namun, Subuh menolak penilaian keterkaitan antara Subud dan tasawuf. Dalam otobiografinya, Subuh menyatakan bahwa latihan kejiwaan tak diperoleh dari manusia. Sebagai organisasi, Subud berdiri secara

resmi pada 1947 di Kota Yogya. Pada 1957, markas Subud berpindah ke kawasan Cilandak, Jakarta. Pengikut Subud hingga 1950-an masih terbatas di Pulau Jawa. Pada 1995, jumlah mereka secara nasional sekitar 15 ribu orang, demikian menurut esai ilmiah Robert J. Kyle dari Jurusan Arkeologi dan Antropologi Universitas Nasional Australia. Mereka tak hanya datang dari berbagai kelas sosial, tapi juga dari penganut agama resmi di Indonesia: Islam, Katolik, Protestan, Buddha, dan Hindu.

Sejak 1957, ratusan orang di Amerika Serikat, Eropa, dan Australia mulai masuk Subud. Penyebaran ini berkat artikel-artikel di koran dan jurnal Eropa tulisan Husein Rofe, ahli bahasa asal Inggris yang pernah berguru kepada Subuh. Juga buku-buku lain. Kini jumlah anggota Subud diperkirakan 20 ribu orang, yang tersebar di 80 negara. Mereka membentuk organisasi nasional di negara masing-masing dan secara internasional mendirikan World Subud Association. Lalu, ada juga organisasi Susila Dharma Internasional, yaitu lembaga swadaya masyarakat yang berafiliasi pada organisasi Perserikatan Bangsa-Bangsa. Di Indonesia, pengikut Subud ber-organisasi di bawah Yayasan Susila Dharma Indonesia. Dan kini pelatih spiritual tertingginya adalah Siti Rahayu Wiryohudoyo, anak tertua Subuh.

Subud adalah bagian dari pertumbuhan mistisisme atau sebut saja gerakan kebatinan di Jawa pasca kemerdekaan. Mereka yang terdaftar di meja birokrasi pemerintah pada 1970-an berjumlah 350 kelompok. Nama kelompok itu antara lain Sumarah, Sapta Darma, dan Pangestu. Hanya Subud yang mendunia. Fenomena itu, menurut studi Robert J. Kyle, adalah bagian dari pencarian identitas budaya menghadapi gemuruh modernitas yang mulai menyentuh Indonesia. Ada berbagai pandangan dari beberapa pengamat, misalnya Koentjaraningrat, tentang faktor kemunculan gerakan kebatinan di Jawa. Ada yang memandang gerakan itu sebagai pelarian psikologis masyarakat dalam menghadapi kerasnya kondisi sosial ekonomi, pe-perangan, kerawanan sosial, dan cepatnya perubahan sosial. Pengamat lain berpendapat itu merupakan bentuk ketidakpuasan terhadap kurangnya toleransi dan kecenderungan ritualistik dari kaum beragama. Kegagalan agama-agama untuk menjadi sumber moralitas juga dituding sebagai biang keladi. “Semua pandangan itu ada benarnya,” kata Robert dalam esai ilmiahnya. Apa pun latar sosiologis kelahirannya, kehadiran Subud terbukti memenuhi dahaga spiritual zaman, terutama di Barat.

***

SUBUD merupakan singkatan SUSILA BUDHI DHARMA. SUSILA menunjukkan sifat insan yang memiliki tabiat manusia yang sempurna sesuai dengan kodrat Tuhan. BUDHI berarti bahwa di dalam diri manusia terdapat suatu daya luhur yang dapat membimbingnya bila ia mampu menginsyafi kehadiran daya tersebut. DHARMA melambangkan penyerahan manusia kepada Kebesaran Tuhan Yang Mahakuasa. Latihan kejiwaan Subud adalah praktek rohani yang merupakan inti eksistensi Persaudaraan Subud. Dalam latihan kejiwaan Subud, si pelatih menyerah sepenuhnya kepada, membuka rasa dirinya kepada, dan mengalami kontak langsung dengan Kekuasaan Tuhan. Selama latihan berlangsung, si pelatih hanya mengikuti apa saja yang timbul dalam rasa dirinya dari saat ke saat. Pengalaman ini bersifat sangat pribadi, sehingga masing-masing pelatih akan mengalami hal-hal yang berbeda-beda. Karena apa yang diterima dalam latihan kejiwaan Subud bersifat sangat khas dan dalam, maka pengalaman-pengalaman para pelatih tidak mungkin digambarkan secara memuaskan dengan kata-kata. Dijelaskan bahwa tujuan utama latihan kejiwaan Subud adalah memberdayakan kita, dengan menyerah kepada Kekuasaan Tuhan serta mengikuti petunjuk-Nya, agar lambat laun dapat mencapai keadaan kodrati kita yang sebenarnya sebagai manusia sempurna, atau insan kamil. Siapa saja boleh masuk persaudaraan Subud asalkan calon anggota sudah mencapai umur 17 tahun, telah menjalankan masa percobaan selama tiga bulan guna mengerti asas dan tujuan Subud, dan tidak ada halangan apa-apa, maka barang siapa akan diterima sebagai anggota Subud.

Subud bukanlah organisasi atau sekte yang eksklusif, karena menerima anggota dari segala macam agama, maupun mereka yang belum beragama. Oleh karena esensi Subud adalah kebaktian kepada Tuhan Yang Mahakuasa, maka tidak ada alasan untuk terjadinya konflik dengan agama yang diyakini. Malah sebaliknya, banyak anggota Subud yang mengaku setelah mengikuti latihan kejiwaan mulai menghayati agamanya sendiri dan menghormati agama-agama orang lain. Latihan kejiwaan Subud dimulai dengan PEMBUKAAN. Selama beberapa bulan setelah dibuka, seseorang yang baru menjadi anggota dianjurkan melakukan latihan dua kali seminggu selama setengah jam. Bila sudah cukup terbiasa menerima latihan, dia akan dibenarkan berlatih tiga kali seminggu.

Latihan kejiwaan Subud dapat dilakukan baik dalam kelompok maupun sendirian. Bila keadaan memungkinkan, idealnya ialah berlatih dua kali seminggu dalam grup dan sekali seminggu seorang diri. Kini, di berbagai komunitas di seluruh dunia terdapat sebanyak 385 grup Subud. Komite-komite setempat mengusahakan sarana latihan. Di sebagian besar negeri tempat Subud berakar ada organisasi nasional yang mengadakan kongres berkala agar para anggota dapat baik bersilatulrahmi maupun berbakti bersama kepada Tuhan Yang Mahaesa. Semua organisasi nasional mengambil bagian dalam Asosiasi Subud Sedunia (World Subud Association, WSA) dan memilih direktur dan pejabatnya. WSA mensponsori kongres internasional yang diselenggarakan tiap empat tahun sekali. Pada tahun 1997 kongres tersebut akan diadakan di kota Spokane, Washington, Amerika Serikat. Kongres-kongres sebelumnya diadakan di Kolombia, Australia, Inggris, Kanada, Jerman, Indonesia, Jepang, dan Amerika Serikat.

Dalam salah satu transkrip ceramahnya kepada para calon anggota Subud di Singapura, pada 16 April 1960 Muhammad Subuh mengatakan bahwa Subud bukanlah agama baru, juga bukan sebagian agama yang sudah ada, apalagi suatu ilmu. Subud hanya merupakan lambang cara hidup manusia sempurna. Susila Budhi Dharma oleh sebab itu merupakan lambang tindak-tanduk manusia di dalam latihan kejiwaan Subud, artinya apa saja yang terjadi di dalam latihan kejiwaan Subud sungguh-sungguh merupakan Kehendak Tuhan dan terjadi karena memang demikianlah Kehendak Tuhan atas diri kita. Itu amat cocok dengan kitab bahwa Tuhan selalu dekat pada manusia, atau bahwa manusia sangat dekat pada Tuhan, bahwa Tuhan memberikan apa saja yang dibutuhkan manusia, dan bahwa manusia dapat menerima apa saja yang diberi oleh Tuhan. Apa yang harus kita serahkan kepada Tuhan? “Bukan harta benda kita, bukan apa yang kita cintai, apalagi apa yang kita miliki, karena Tuhan tidak membutuhkan semua itu. Yang harus kita serahkan ialah akal-pikiran, hati, dan nafsu, karena itu semua merupakan alat-alat yang selalu menghalang-halangi kita kalau mau dekat pada Tuhan..” kata Muhmmad Subuh.

Menurut Subuh, Tuhan memerintah tanpa perkakas atau bahan, sedangkan manusia, kalau mau membuat suatu barang, membutuhkan, misalnya, meja, kayu, paku, martil, dan alat-alat lainnya. Untuk bisa membuat bom atom, manusia membutuhkan alat-alat yang lebih banyak lagi untuk mengubah bahan baku menjadi bom atom. Tetapi semua itu tadi tidak diperlukan Tuhan. Tuhan Allah mencipta tanpa perkakas dan bahan. Di sini terang sekali bahwa untuk dapat mengerti Kehendak Tuhan tidak ada jalan lain buat manusia kecuali betul-betul menyerah, karena hati dan akal pikirannya tidak mungkin akan dapat bertemu dengan Tuhan. “Itulah yang kita lakukan dalam latihan kejiwaan. Kita hanya menyerah saja tanpa menggunakan akal-pikiran, hati, dan nafsu, karena tugas kita ialah hanya sekadar menerima jatah yang Tuhan catukan kepada kita. Demikianlah dapat dimengerti bahwa Subud itu hanya merupakan lambang kehidupan manusia yang wajib menurut Kehendak Tuhan melulu serta melaksanakan Perintah-Nya di dunia, dan demikian pula di akhirat.” Ujar Subuh.

Itulah karenanya maka dalam mengikuti latihan kejiwaan Subud kita tidak mempunyai ajaran, tidak ada yang perlu kita pelajari, karena yang dihendaki tidak lain kecuali sungguh-sungguh menyerah. Siapa saja yang mengatakan bahwa ia tahu di mana jalan menuju ke Tuhan sebenarnya mendahului pemberian Tuhan sebelum ia dapat menerimanya. Tidak ada yang perlu kita lakukan kecuali menerima apa yang diberi-Nya, atau apa yang menjadi Kehendak Tuhan atas diri kita. Itulah sabda sejati para nabi, “Asal engkau pasrah kepada Tuhan dengan ikhlas dan jujur, Tuhan akan memayungi dan menuntun dirimu.”

Di dalam latihan kejiwaan kita tidak mempunyai kemauan satu pun. Menurut Subuh, kita tidak mempunyai permohonan satu pun. Kita hanya sekadar menerima apa saja yang Tuhan berikan. Tidak patut kalau kita meniru atau mencontoh orang lain. Kita masing-masing harus menemukan dan menempuh jalan sendiri ke Tuhan. Biasanya, kalau berguru, seorang murid banyak diajari untuk melakukan persis apa yang dilakukan oleh gurunya, agar ia dapat menggayuh apa yang telah tercapai oleh sang guru. Sebenarnya itu keliru, sebab jangankan di antara guru dan murid-muridnya, di antara saudara kandung saja sudah banyak perbedaannya. Dengan demikian tentunya kita dapat mengerti bahwa jalan yang cocok untuk seorang guru dalam hal menemukan Tuhan, belum tentu cocok untuk murid-muridnya. Subuh menjelaskan kalau kita sungguh-sungguh sudah benar-benar dapat mengenal aspek halus kita, maka di dalam segala hal kita akan dituntun oleh Kekuasaan Tuhan, sebab Kekuasaan Tuhanlah yang bekerja di dalam dan di luar kita, sehingga di mana saja, di kantor atau sedang menyetir mobil, atau melakukan apa saja, kita akan selalu dituntun oleh Kekuasaan Tuhan. Sungguh jelas apa yang tersabda di dalam Alquran, “Sebelum bertindak, ucapkanlah bismillaahir rahmaanir rahiim.

Itu, kata Subuh, mengandung arti bahwa kita mengikuti Tuntunan Tuhan dan hanya akan melakukan apa yang dititahkan-Nya. Saudara tidak akan tergesa-gesa bertindak dan baru setelah itu ingat Tuhan, sehingga menyesal, merasa kecewa dengan apa yang telah Saudara lakukan. Kalau sebelum kita mulai bekerja Tuhan Allah selalu ada di dalam kesadaran kita, maka segala apa yang kita kerjakan nanti akan benar. “Itu juga mengandung arti bahwa kita tidak boleh bertindak tanpa Tuntunan Tuhan, karena jika Tuhan Allah kita lupakan, kita tidak akan mendapat Pertolongan-Nya kalau ternyata tindakan kita salah. Kekuasaan yang kita saksikan, hanya untuk meyakinkan bahwa Kekuasaan Tuhan Yang Mahakuasa bekerja di dalam kita, tidak ada hanya di dalam diri kita, melainkan juga ada di dalam tiap-tiap ciptaan. Itulah sebabnya, maka di dalam latihan kejiwaan kita tidak akan merugikan agama kita masing-masing. Apa yang kita alami dan lakukan akan berasal dari Kehendak Tuhan, dan kita hanya membuka apa yang sudah ada di dalam kita,” ujar Subuh.

Oke deh, salam damai di alam kelanggengan buat Pak Subuh.

wongalus

Categories: SUSILA BUDHI DHARMA | 17 Komentar

SHOLAT DAIM HADAPI 17 RIBU BOM TAUHID


Masih ingat kisah nyata seseorang pahlawan tauhid. Perempuan pula. Namun berani menceburkan diri ke dalam tungku api gara-gara menggenggam keyakinan bahwa Tuhan itu adalah Allah SWT dan bukan yang lain? Ya..Namanya Masyitoh, seorang budak tukang sisir keluarga Firaun di Mesir.

Suatu ketika, Firaun geram dengan meluasnya pengaruh Musa A.S di masyarakat Mesir. Hingga di dalam kerajaan Mesir juga sudah mulai bertebaran pengikut Musa namun mereka masih diam-diam karena ancaman nyawa dari Firaun bila mengingkari bahwa dirinya adalah Tuhan. Sementara ajaran Musa berbunyi Tuhan hanya satu yaitu Allah SWT.

Terkuaknya keimanan Siti Masyitoh ini bermula ketika suatu hari budak perempuan ini menyisir rambut putri Fir’aun. Tiba-tiba sisir itu terjatuh, dan seketika Siti Masyitoh mengucap “Astaghfirullah…” Sehingga terbongkarlah keimanan Siti Masyitoh yang disembunyikannya. Mendengar ceritera putri Firaun bernama Hamman bahwa sang pelayan berani memeluk keyakinan yang dibawa Musa, Fir’aun naik pitam. “Panggil Masyitoh kemari”, perintah Fir’aun kepada pengawalnya. Masyitoh datang menghadap Fir’aun dengan tenang. Tidak ada secuil pun perasaan takut di hatinya. Ia yakin Allah senantiasa menyertainya.

“Masyitoh, apakah benar kamu telah memeluk agama yang dibawa Musa?”. Tanya Fir’aun. “Benar”, jawab Masyitoh mantap. “Kamu tahu akibatnya ? Kamu sekeluarga akan saya bunuh”, bentak Fir’aun. “Saya memutuskan untuk memeluk agama Allah, karena saya telah siap pula menanggung segala akibatnya” “Masyitoh, apa kamu sudah gila…Kamu tidak sayang dengan nyawamu, suamimu dan anak-anakmu” Masyitoh menjawab: “Lebih baik mati daripada hidup dalam kemusyrikan.“

Melihat sikap Masyitoh yang tetap teguh memegang keimanannya, Fir’aun memerintahkan kepada para pengawalnya agar menghadapkan semua keluarga Masyitoh kepadanya. “Siapkan sebuah belanga besar, isi dengan air dan masak hingga mendidih” perintah Fir’aun lagi. Ketika semua keluarga Siti Masyitoh telah diseret di depannya, Fir’aun memulai pengadilan..

“Masyitoh, kamu lihat belanga besar di depanmu itu. Kamu dan keluargamu akan saya rebus. Saya berikan kesempatan sekali lagi, tinggalkan agama yang dibawa Musa dan kembalilah untuk menyembahku. Kalaulkah kamu tidak sayang dengan nyawamu, paling tidak pikirkan keselamatan bayimu. Apakah kamu tidak kasihan padanya” Mendengar kalimat terakhir Fir’aun, Siti Masyitoh sempat bimbang. Tidak ada yang dikhawatirkannya dengan dirinya, suaminya, dan anak-anaknya yang lain, selain anak bungsunya yang masih bayi.

Naluri keibuannya muncul. Ditatapnya bayi mungil dalam gendongannya. “Yakinlah Masyitoh, Allah pasti menyertaimu”, kata sisi batinnya yang lain. Ketika itu terjadilah suatu keajaiban. Bayi yang masih menyusu itu berbicara kepada ibunya, “Ibu, janganlah engkau bimbang. Yakinlah dengan janji Allah” melihat bayinya dapat berkata-kata dengan fasih, menjadi teguhlah iman Siti Masyitoh. Ia yakin hal ini merupakan tanda bahwa Allah tidak meninggalkannya.

Gusti Allahpun membuktikan janji-Nya pada hamba-hamba-Nya yang memegang teguh keimanannya. Ketika Siti Masyitoh dan keluarganya dilemparkan satu persatu pada belanga itu, Allah telah terlebih dahulu mencabut nyawa mereka, sehingga mereka tidak merasakan panasnya air dalam belanga itu.

Ketika Nabi Muhammad SAW ber-Isra dari Masjidil Haram di Mekkah ke Masjidil Aqsa di Palestina, beliau mencium aroma wangi yang berasal dari sebuah kuburan. “Kuburan siapa itu Jibril?” tanya Nabi. “Itu adalah kuburan seorang wanita shalihah yang bernama Siti Masyitoh,” jawab Jibril.

Itulah sedikit kisah nyata yang menggambarkan betapa berat menggenggam keyakinan akan kebenaran ayat-ayat-Nya/rumus-rumus-Nya dan akhirnya mengakui bahwa semua yang ada ini ciptaan-Nya. Ganjarannya adalah kemuliaan hidup abadi yang aromanya menebar di seluruh penjuru langit seperti Siti Masyitoh tersebut. Lain dulu lain pula tantangan di jaman sekarang….

Kini, kita dihadapkan pada berbagai hal yang menggoyahkan keyakinan. Kita ditantang oleh TUJUH BELAS RIBU BOM SIAP MELEDAK, BOM ITU yang sesungguhnya menjadi PENGHANCUR akidah ketauhidan kita bahwa TIADA TUHAN SELAIN ALLAH dan MUHAMMAD ADALAH RASUL-NYA.

PENGHANCUR akidah itu amat banyak dan siap untuk menjerumuskan kita hingga ke taraf binatang. Misalnya mulai yang sederhana: yakin bahwa dokter atau dukun yang menyembuhkan penyakit, uang adalah sumber kebahagiaan, tidak bisa senang tanpa kau disisiku, kedudukan pangkat derajat, harta benda dan wanita cantik mulus aduhai dan seterusnya…

PENGHANCUR akidah yang berat seperti: pengetahuan adalah alat pencerahan, akal budi adalah segala-galanya, agama saya adalah satu-satunya yang paling benar, tidak bisa hidup tanpa kepercayaan A, B, atau C, dan seterusnya…

Perlulah diketahui bahwa BERTAUHID MURNI adalah HANYA MENGAKUI BAHWA ALLAH SWT ADALAH SATU-SATUNYA TUHAN PENGUASA ABSOLUT ALAM SEMESTA. IMPLEMENTASINYA PENGAKUAN TERSEBUT BERPERILAKU YANG MENCERMINKAN KEYAKINAN DIA ADALAH SUMBER SEGALA-GALANYA. BAHWA DIA ADALAH SUMBER KEPERCAYAAN DAN ILMU PENGETAHUAN, SUMBER ENERGI ALAM SEMESTA, SUMBER KEBAHAGIAAN, SUMBER CINTA KASIH, SUMBER KEBERADAAN SEGALA SESUATU, dan seterusnya.

ALLAH SWT adalah SATU-SATUNYA GURU SEJATINYA MANUSIA DAN HANYA KEPADA-NYA BATIN MANUSIA HARUS DIFOKUSKAN, DIARAHKAN, DIKOMUNIKASIKAN, DAN DIPASRAHKAN DETIK DEMI DETIK… TIDAK ADA YANG LAIN. APAKAH ITU DALAM POSISI DUDUK, BERDIRI, BERJALAN, DAN BERBARING. BATIN YANG SELALU MEMANGGIL HU ALLAH…HU ALLAH…. Inilah yang dinamakan SHOLAT DAIM.

Semoga saya, Anda, dan Kita semua kuat untuk memegang ketauhidan yang sangat berat ini dengan perlindungan Gusti Allah. Dan hati kitapun tanpa ragu siap untuk memegang bom di tangan yang pasti meledak seperti Siti Masyitoh.

@@@

wongalus

Categories: SHOLAT DAIM | 27 Komentar

PENGAJARAN-PENGAJARAN TUHAN


Jangan khawatir bila jarak hidup kita dengan para Rasul teramat jauh hingga ratusan bahkan mungkin ribuan tahun. Sebab Tuhan sendirilah yang akan mengajari kita secara langsung tanpa perantara.

Tuhan Maha Adil dan Bijaksana. Tidak ada satu pun ciptaan yang muncul, lahir, dan bermetamorfosa tanpa iradat/kehendak-Nya. Apakah itu sebutir pasir di bawah batu besar di ujung planet di sisi paling timur di ujung galaksi yang ada di jagad raya ini, ataukah Anda dan saya yang kini sedang membaca ataukah menulis kalimat-kalimat ini, semuanya ada karena kehendak-Nya.

Dari kehendaknyalah kita ada, kita muncul dan kita lenyap. Dia pun memiliki rancangan kapan, dimana, dan mengapa sesuatu hal itu harus diadakan dan dilenyapkan. Atau kenapa sesuatu hal itu tidak diadakan dan dilenyapkan. Ibarat robot yang di dalamnya ada tenaga potensial pegas, kapan pegas itu mulai diputar dan kapan akhirnya berhenti bergerak.

Demikian jugalah manusia. Manusia juga memiliki energi potensial yang sudah dirancang oleh Tuhan Yang Maha Mengatur seluruh tatanan ini. Dia akan memulai menghidupkan seorang manusia karena alasan tertentu di satu kurun waktu tertentu, dan kemudian menjalankan hidup manusia tersebut hingga akhirnya Tuhan memanggilnya kembali ke sisi-Nya.

Seyogyanyalah kita mengetahui kenapa Tuhan menciptakan, menggerakkan, merancang, menghidupkan, mematikan manusia. Manusia pada hakekatnya telah dikaruniai kemampuan khusus untuk mengenali sebab dirinya diadakan ini.

Riwayat kerasulan sepanjang masa, mulai dari Adam A.S. hingga Muhammad, S.A.W, sesungguhnya menggarisbawahi satu kesimpulan yang sama membenarkan/menjustifikasikan pesan; BAHWA ADA SATU SANG MAHA PENCIPTA YAITU ALLAH SWT.

Bagaimana dengan kita sekarang yang hidup ratusan bahkan mungkin ribuan tahun jaraknya dengan para Rasul? Kita tidak perlu khawatir kehabisan petunjuk Tuhan.

Petunjuk Tuhan tidak datang dari langit di saat khusus, misalnya bila kita sedang sholat, sedang zakat, sedang puasa atau sedang haji dan seterusnya. Sebab PETUNJUK TUHAN ITU TELAH ADA DISEKELILING KITA, DI DEPAN KITA, DI BELAKANG KITA BAHKAN DI DALAM DIRI KITA.

Hakekat Ibadah sesungguhnya manusia adalah hidup manusia itu sendiri. Seluruh aktivitas hidup manusia detik demi detik sejatinya adalah ibadah yaitu aktivitas yang dipersembahkan kepada Tuhan melalui kesadaran akal budi dan rasa sejatinya.

PETUNJUK TUHAN BISA DIKENALI sejak manusia menyadari bahwa dia memiliki kesadaran. Kesadaran bahwa SEGALA SESUATU ADA YANG MENGATUR, entah itu nafas, gerakan sadar dan bawah sadar, kedipan mata, memanjangnya rambut, dan yang lain.

SIAPA YANG MENGATUR? Yang jelas, YA YANG MEMILIKI KEMAMPUAN MENGATUR SELURUH PERGELARAN ALAM SEMESTA INI, YAITU TUHAN SEMESTA ALAM, GUSTI ALLAH SWT.

Berbahagialah dan bersyukurlah bila Anda hidup di jaman sekarang. Sebagaimana hendaknya manusia bersyukur hidup bersama para Rasul. Kapanpun manusia dihidupkan, dia harus bersyukur.

Bagi saya, Anda, dan semua manusia tidak ada alasan untuk tidak mensyukuri semua pemberian-Nya yang Maha Pemberi Kasih dan Sayang. ANDA, SAYA DAN KITA SEMUA PASTI DIBERIKAN PENGAJARAN OLEH TUHAN SECARA LANGSUNG. TANPA PERANTARA (RASUL) LAGI KARENA DIA TELAH PERCAYA BAHWA KITA MEMANG TELAH MAMPU UNTUK BELAJAR TANPA PERANTARA.

Pengajaran Tuhan dalam hidup kita sangat beragam bentuknya. Ada yang melalui sakit di tubuh, kesedihan, penderitaan, duka nestapa, rasa iba, rasa jengkel, rasa kasih sayang, rasa sehat, rasa sombong congkak, rasa iri dengki, rasa takabur, rasa adigang-adigung adiguna, rasa kalah, rasa menang, rasa dengki… dll. Pendeknya bila biasanya kita mengatakan kita sedang diuji dengan kesenangan dan kesusahan itu hakekatnya adalah pengajaran-pengajaran Tuhan.

Bisa disimpulkan:

Pertama, PETUNJUK TUHAN itu semacam rambu-rambu lalu lintas yang pasif yang sudah teronggok di sekeliling kita.

Kedua, PENGAJARAN TUHAN adalah aktivitas hidup TUHAN UNTUK MENUNTUN KITA AGAR SESUAI DENGAN IRADAT/KEHENDAK-NYA.

Ketiga: HANYA TUHANLAH SATU-SATUNYA PENCIPTA RAMBU-RAMBU LALU LINTAS KEHIDUPAN DAN HANYA TUHANLAH SATU-SATUNYA GURU SEJATI HIDUP MANUSIA.

Wongalus

Categories: PENGAJARAN PENGAJARAN TUHAN | 7 Komentar

KEPADA PARA PENDAKWAH ISLAM


Strategi dakwah haruslah yang komunikatif menghargai universalitas dan pluralitas budaya. Tidak boleh dengan agitasi dan teror.

Di kampung halaman saya, ada beberapa alumnus Ponpes Ngruki, Solo yang terkenal dengan kehebatannya berdakwah. Ponpes yang diketuai Ustad Abu Bakar Baasyir ini di mata para penegak hukum (Polisi) konon dianggap ponpes tempat bersemainya bibit Islam garis keras yang kemudian dicap sebagai penyebar gerakan terorisme di Indonesia.

Selain alumnus Ponpes Ngruki, ada juga alumnus Al-Fatah, Desa Temboro, Kecamatan Keras, Magetan yang juga terkenal dengan para pendakwahnya. Konon, para alumnus ponpes ini terbiasa menggunakan metode dakwah dengan berjalan-jalan dari kampung ke kampung menyebarkan agama Islam. Konon, mereka hidup bergerombol seperti kaum nomaden. Membekali diri dengan kompor dan bahan makanan seadanya untuk diolah dan dikonsumsi di sela kesibukan berdakwah di masjid-masjid kampung.

Dari dua alumnus ponpes di kampung saya tersebut, saya ingin berbagi pengamatan. Setidaknya ada kemiripan kedua alumnus tersebut yaitu PENAMPILAN. Bila sebelum masuk ke Ponpes Ngruki dan Al Fatah hanya mengenakan sarung dan berpeci, maka usai lulus di kedua pondok tersebut penampilan mereka langsung berubah. Memakai jubah putih panjang, memelihara jenggot dan menggunakan penutup kepala putih. Apakah ini pertanda mereka sudah memasuki Islam secara penuh (kaffah), saya tidak berani untuk menjawab.

Yang jelas, secara pribadi saya mencatat hal-hal yang mencolok dari kedua alumnus ini. Setelah lulus dari Pondok, mereka rata-rata MERASA terpanggil dan berkewajiban untuk menyebarkan “agama Islam” kepada orang lain. Biasanya “agama Islam” dipahami dan dihayati hanya sebagai sekte aliran kepercayaan. Bukan sebagai keseluruhan manifestasi bangunan hidup alam semesta dan kemanusiaan.

Saya mencatat beberapa kelemahan mereka:

Pertama, rata-rata alumnusnya merasa lebih benar dan lebih takwa dibanding dengan orang lain. EGO/KEAKUAN-nya lebih tinggi sehingga orang lain dianggap sebagai obyek yang harus diIslamkan. Padahal, bila spiritualitas manusia sudah sedemikian tinggi maka EGO/KEAKUAN ini justeru harus dihilangkan sama sekali hingga sampai di taraf ORA DUWE RASA DUWE.

Kedua, mereka kurang EMPAN PAPAN dan KURANG TOLERAN. Biasanya tanpa mengenal lawan bicara, mereka langsung mengeluarkan jurus-jurus ayat-ayat suci dan mendakwa apa yang ada di luar ayat suci sebagai kafir, bid’ah dan takhayul. Harusnya mereka belajar secara mendalam berbagai “ilmu dunia” untuk mendukung dakwah, misalnya ilmu sosiologi, ilmu komunikasi dan psikologi. Mengeluarkan jurus persamaan dengan kitab suci secara langsung dan secara leterluks/teksbook bisa membawa pada AGITASI dan TEROR.

Ketiga, kurang menghargai UNIVERSALITAS DAN PLURALITAS budaya, adat istiadat masyarakat di sebuah wilayah/perkampungan. Hal ini nampak dari keinginan mereka untuk merubah budaya, adat istiadat lokal setempat yang dinilai belum Islam. Menurut mereka, hanya budaya tertentu saja (misalnya budaya Arab) saja yang dinilai sebagai budaya Islam.

Saya mencatat kelemahan-kelemahan mereka dengan harapan agar mereka memahaminya. Lantas kemudian melakukan koreksi untuk memperbaiki diri. Salah satu saran saya adalah: bila Anda sudah lulus ponpes terkenal tersebut, perbanyaklah terus menuntut ilmu. Hargai perbedaan budaya/adat istiadat dan hargai pula perbedaan sifat karakter masing-masing individu.

Islam diturunkan dengan damai, perlahan, santun dan mengedepankan cinta kasih, memahami prinsip universalitas dengan strategi yang cerdas. Harus menyatu, bersenyawa dan melebur dengan budaya masyarakat setempat. Bukan dengan dakwah yang keras, primordial dan radikal.

Mohon maaf bila pernyataan saya ini menyinggung Anda. Anggap ini sebagai kritik yang membangun dan keinginan saya untuk berbagi rasa welas dan asih karena sangat disayangkan bila niat suci yang ada di dada Anda harus pupus oleh tuduhan yang negatif.

Semoga kita semua selalu diberi-Nya keluasan nalar budi dan kebijaksanaan perilaku sehingga bisa bersenyawa dengan hati orang lain. Terima kasih dan mohon maaf bila ada yang kurang berkenan. Wass…

wongalus

Categories: STRATEGI DAKWAH | 11 Komentar

MAKNA PENGABDIAN PADA NUSA BANGSA


bendera

Yogyanira kang para prajurit Lamun bias sira anulada Duk inguni caritane Andenira Sang Prabu Sasrabhu ing Maespati Aran Patih Suwanda Lelabuhanipun Kang ginelung tri pakara Guna kaya purun ingkang den antepi Nuhoni trah utama Lire lelabuhan tri prakawis Guna bias saniskareng karya Budi dadya nanggule Kaya sayektinipun Du Bantu prang Magada Nagri Amboyong putrid dhomas Katur ratunipun Purune sampun tetela Aprang tandhing lan ditya Ngalengka nagri Suwanda mati ngrana

Terjemahan:

Seyogyanya wahai prajurit Tirulah sebisa-bisanya Cerita di zaman dulu, Yakni tangan kanan Sang Prabu Sasrabahu di Maespati Yang bernama Patih Suwanda Bekal pengabdiannya Meliputi tiga hal Guna, kaya dan purun yang selalu dipegang Sebagai seorang manusia utama Adapun ketiga bekal pengabdian itu GUNA berarti serba bisa Berusaha untuk selalu berhasil (memenangkan Negara/menjunjung tinggi negara) KAYA sesungguhnya Ketika menjadi panglima perang Melawan Negeri Magada Ia sukses memboyong putri domas (kejayaan bangsa) Kemudian dihaturkan kepada rajanya PURUN, ketika bertempur melawan raksasa Alengka Suwanda (berani mempertaruhkan nyawa) gugur di medan laga

Serat Tripama karya
Sri Mangkunegara  IV

Categories: PENGABDIAN NUSA BANGSA | 9 Komentar

MUNGKIN INI HAKIKAT IKHLAS


Salah satu tabir yang menutupi hati kita untuk mampu merasakan getaran cahaya Petunjuk Tuhan adalah ketidakikhlasan. Sebaliknya, bila kita mampu untuk ikhlas berarti terbukalah salah satu hijab dan kemudian insyaallah kita mampu untuk merasakan getaran petunjuk cahaya Keikhlasan-Nya juga. Keuntungan ikhlas yang lain sebagai hadiah dari-Nya jelas banyak. Salah satunya adalah mampu meraba iradat-Nya.

Kisahnya sederhana. Hari Senin kemarin, tanpa diduga sebelumnya tiba-tiba mendadak kami diperintahkan untuk ke Bandung, Jawa Barat untuk sebuah tugas. Sebenarnya kami mampu untuk menolak tugas tersebut karena sifatnya bukan wajib melainkan pilihan. Entah karena apa, kami pun berniat belajar ikhlas saja ditugaskan tanpa embel-embel apapun. Ikhlas ya ikhlas, nggak punya harapan apa-apa.

Menurut penilaian para teman, kami tergolong wong manutan yang tidak punya keberanian untuk menolak permintaan orang lain. Padahal bila menuruti permintaan tugas pergi ke Bandung tersebut, pasti akan kelelahan apalagi tanpa imbalan. Padahal, di hati ini berkata: apa salahnya untuk melaksanakan sesuatu yang bisa menjadi ganjal agar orang lain tidak kecapekan? Biarlah kami saja yang bermandikan keringat daripada orang lain.

Ingat prinsip Rabiah Adawiyah, sufi agung perempuan yang tersirat dalam doanya: “Ya Allah, jadikan tubuhku besar hingga memenuhi neraka agar para saudaraku sesama manusia tidak ada yang masuk neraka”. Ini adalah makna keikhlasan untuk berkorban agar sesamanya tidak celaka. Biarlah diri menjadi bemper agar orang lain selamat…. Apakah pikiran kami seperti Rabiah? Nggak tahu, semoga saja begitu. Hehehe…

Dalam manajemen modern, pikiran seperti ini pasti dianggap tidak efisien dan efektif. Apalagi dilihat dari sisi ekonomis: ini pikirannya wong mlarat dan bila dipertahankan mungkin sampai kapanpun tidak bisa kaya karena tidak menguntungkan. Mungkin saja..

Singkatnya, kami pun akhirnya tetap memutuskan berangkat dan tiba di terminal Bungurasih pukul 4 sore. Sebelumnya, kami disarankan untuk naik bis “Pahala Kencana” karena konon lebih cepat, lebih nyaman dan lebih “selamat.” Meskipun tiketnya lebih mahal dibanding yang lain.

Di depan petugas penjualan tiket, sayang kursi bis sudah penuh penumpang dan hanya menyisakan satu kursi cadangan di pinggir sopir. Oleh petugas penjualan tiket, kami disarankan untuk menunggu bis “Pahala Kencana” yang lain.

Belum sempat memutuskan apapun, dari tempat kami berdiri tampak bis “Bandung Express” yang masih kosong melompong menunggu penumpang. Bis ini konon tidak begitu disuka karena berkelas rakyat bawah sehingga pasti terasa kurang nyaman bagi mereka yang alergi dengan hal-hal yang berbau rakyat.

Ide pun muncul untuk naik bis berwarna putih tersebut. Kami membeli tiket dan masuk ke kendaraan itu. Itung-itung belajar ikhlas untuk naik bis yang kurang bagus. Meskipun resikonya jelas; kurang nyaman, kurang bersih, dan kurang-kurang yang lain…

Hebatnya, bis ini murah meriah harga tiketnya dibanding bis elite satunya tadi. Jumlah penumpang “Bandung Express” saat itu hanya ada delapan. Kursi lain kosong melompong. Dengan delapan penumpang wong cilik tersebut, bis berangkat meninggalkan Surabaya. Sementara bis “Pahala Kencana” sudah terlebih dulu berangkat dengan jeda waktu sekitar satu jam dibanding bis butut yang akhirnya kami tumpangi.

Singkatnya, sore berganti pagi. Bis memasuki kawasan Sumedang…. Eh, di pinggir jalan kami lihat bis “Pahala Kencana” berhenti. Kelihatan kru bis sedang memperbaiki mesin dan para penumpangnya ada yang keluar bis duduk di pinggir jalan, ada pula yang masih berada di dalam bis menunggu. Ya, bis elite itu rusak. Sementara bis butut yang kami naiki malah mulus meluncur Surabaya-Bandung dengan selamat dan tidak kurang apapun. Lebih cepat lagi hehe…Alhamdulillah.

Perjalanan bis menuju Bandung adalah analogi yang baik bagaimana sesungguhnya menuju tujuan hidup. Marilah kita renungkan, kira-kira apa sih tingkat puncak kenikmatan dari hidup? Pelan menjalani proses di dalam hidup seperti bis “Bandung Express” meskipun onderdil dan bentuk bis (Ibadah dan niat compang camping) tapi tetap berada di jalan yang benar atau pengin cepat-cepat sampai tujuan hidup namun akhirnya malah macet karena sopirnya ulan-ugalan bahkan fatal tidak sampai tujuan seperti bis “Pahala Kencana” tadi?

Begitu pula dengan ibadah. Mana yang kita pilih… jumlah atau frekuensi ibadah yang banyak namun malah justeru yang timbul kebosanan dan bahkan akhirnya pengingkaran dari tujuan ibadah, ataukah sedikit pelan namun ikhlas dan sesuai dengan tujuan ibadah yaitu bentuk simbolik pengabdian tulus dan total pada-Nya?

Benarlah Rabiah Adawiyah. Katanya; dia beribadah bukan berharap surga dan bukan pula takut neraka. Ya, kita beribadah bukan mengharapkan itu. Bahkan jika surga dan neraka tak pernah ada, pasti kita tetap sujud pada-Nya.

Satu hal yang bisa digarisbawahi, bahwa dalam melakoni garis, tata cara dan jalan kehendak Tuhan (agama/kepercayaan/yang lain) terletak pada tujuan murni yang hendak dicapai. Dalam setiap tindak tanduk keseharian kita, semua berjalan dalam rangka pengabdian ibadah. Dan semuanya diikat kembali dengan tali keikhlasan.

Perintah tentang ibadah dalam kitab suci jelas terangkai dengan kata ikhlas. Dan sebagai motivasi, beribadah perlu dilanjutkan dengan berinovasi dalam amal. Beribadah seolah melihat Gusti Allah, sekiranya pun kita masih belum mampu merasakan bahwa Dia melihat kita, boleh juga memantapkan keyakinan bahwa Dia akan melihat apa yang kita kerjakan.

Di sinilah peran ikhlas tersebut. Ikhlas bukan pasrah negatif, tapi ikhlas adalah tujuan tanpa batas kemakhlukan yang sarat kebendaan. Sebab objek yang dituju adalah Sang Maha Ikhlas. Ia yang transenden tak dapat terlihat tapi bisa dirasakan, berarti setiap langkah usaha yang dibuat, harus terus akan berjalan dengan dalih keberadaan-Nya. Selama masih ada kesempatan hidup, maka inovasi harus ada. Biarlah semua hanya Gusti Allah yang menilai usaha kita.

Berbuatlah tanpa embel-embel dibelakang. Tujuannya, bukan untuk dipuji, jadi kaya, terhormat, dapat kekuasaan, jabatan atau lainnya. Arahkan selalu tujuan hanya kepada Gusti Sang Maha Tunggal. Kita pasti tidak akan mengeluh, bosan, jenuh dan sebagainya. Justru, jika tujuan itu berhasil keridhaan-Nya sudah dijamin.

Mungkin ini hakikat ikhlas. Bukan ikhlas yang ateis. Bukan pula ikhlas yang absurd.

wongalus

Categories: HAKIKAT IKHLAS | 26 Komentar

JANGAN MENGABDI PADA HARTA BENDA


Gesang ing ndonya pirantosipun brana, nanging sampun mangeran, wujudipun kerem, yen kerem memalangi.

Mangka tetepipun saking Khaq, wonten ing Sanubari.

Mangke angsal tuntunan saking Allah pribadi alelantaran Rasa Suci, inggih Khaqiqi, inggih Dewa Ruci wonten salebeting rasa gaib.
Junun iku ayem tentrem wujudipun, iku kang prayoga, amamardi Ngelmu Suci.
Kukuming tiyang Iman ingkang teguh santosa, mung siji mripatipun nuju mring Allah.

Lara penak tumraping wong kang sumarah kudu dilakoni, iku warahing para Nabi. Lakonira iya mangkana, lakune luwih sangsara katimbang sira.

Mung Allah kang den kawulani, nadyan tekan pati, Nabi kuna ora wigah-wigih. Mung pasrah jia raga mring Gusti. Sumarah iku warising Nabi.
Ja lali mungguhing umat, yen sira antuk Sihing Gusti, ywa rumangsa punjul, kudu rumangsa kawula, ingkang tansah enget idheping Hyang Mahaagung, rumangsa yen kapurba ngawaki ngaras ing Gusti.

Mila makaten Karsa Allah ingkang dipun karsakaken Imanipun sampun luwar saking hawanapsu. Manawi sampun mboten kaiket badhe gampil ngidhep ing Allah. Mila sakselaning pandamelan lerem, kendel ngantos sumarah.

Cak-cakanipun kaliyan lenggahan, tileman, jumeneng, kenging. Perlu lajeng saged kulina lerem. Yen sampun kulina lerem, lajeng dumugi Jinem, mboten gampil kagodha.

Wajibe kang lugu amung mujud ing Rasa Suci, eling yen kapardi ngarseng Hyang Mahaagung, manut sakrehira, aja kongsi susah yen binabar suci, mung pasraha kewala.

Marma kudu emut, lamun ana krenteging ati kang rumangsa bisa mulang tuwin muruk, iku pangajaking Ati Batal, kang tetep aran egois.
Marmanira yen kurang satiti, sok keplantrang ngaku dwija tama, bisa mulang sabarang reh, ing lahir batin putus, mumpuni saliring gaib, iku Drubiksa nyata Bataling Ati Setan lugu.

Sarating Khaq rujukira tentreming manah mung sungkem ing Allah.
Rujuke ana ngilmu aja nglakoni nistip, aja srakah, aja kerep nepsu, ora kena sira uja, iki pepalang.

Dhudhuking Khaq neng Sanubari, hawanapsu ora ana yen wus lenggah neng Sanubari. Anane mung kari Iman ngawula ngarseng Hyang Widdi.
###

Artinya:

Hidup di dunia sarananya adalah harta benda, tetapi jangan sampai mengabdi, wujudnya tenggelam di dalam harta benda, apabila tenggelam menjadi penghalang.
Khaq tetap berada di dalam Sanubari.
Akan menerima Bimbingan dari Allah SWT sendiri dengan perantaraan Rasa Suci, atau Khaqiqi, atau Dewa Ruci di dalam rasa gaib.
Junun itu berwujud tenang tenteram, itu yang baik untuk menjalani Ilmu Suci.
Hukum orang beriman yang teguh sentosa hanya satu matanya selalu tertuju kepada Allah.
Menderita dan Senang bagi orang yang telah berserah diri kepada Allah SWT haruslah dijalani, itu petunjuk dari para Nabi. Kehidupan para Nabi juga demikian itu, hidup mereka lebih sengsara daripada engkau. Hanya Allah saja yang mereka abdi, walaupun sampai mati mereka tidak gentar menjalaninya. Hanya berserah diri total hanya kepada Allah saja. Sumarah itu warisan dari para Nabi.
Janganlah sampai engkau semua lupa, apabila menerima Kasih Allah SWT, jangan sampai merasa lebih dari umat lain atau sesama, haruslah tetap merasa bahwa dirimu adalah abdi, yang harus selalu tetap ingat akan menghadapmu kepada Hyang Mahaagung, merasa bahwa selalu berada di dalam Kuasa Allah SWT selalu menjalani menghadap di hadapan Allah SWT.
Yang dikehendaki Allah SWT itu orang yang Imannya sudah lepas dari hawa nafsu. Apabila sudah tidak terikat akan sangat mudah menghadap kepada Allah SWT.

Maka sebaiknya di antara sela-sela bekerja tenang, diam sampai sumarah berserah diri total kepada Allah SWT . Pelaksanaannya dengan sambil duduk-duduk, sambil tiduran, berdiri, dapat saja.

Penting sekali dapat membiasakan diri tenang. Apabila sudah terbiasa tenang, lalu sampai ke berserah diri total hanya kepada Allah SWT saja, tidak akan mudah digodha.

Yang penting haruslah hanya berwujud di dalamRasa Suci, selalu ingat bahwa selalu di hadapan Allah yang Mahaagung, selalu taat akan semua Perintah dan Kehendak-Nya, jangan sampai merasa susah apabila sedang disucikan oleh Allah SWT, hanya berserah dirilah saja kepada-Nya.

Haruslah selalu ingat bahwa apabila sewaktu-waktu ada gerak di dalam hati merasa dapat memberikan pelajaran dan petunjuk, itu adalah gerak dari Hati Setan atau Hati Batal, yang selalu tetap egois sifatnya.

Apabila kurang teliti, sering mengaku sebagai Sang Mahaguru, dapat mengajarkan semua ilmu lahir dan batin sempurna, sempurna menguasai segala yang gaib, itu Hati Setan atau Hati Batal.

Sarat untuk dapat menjalankan hubungan dengan Khaq adalah tenteramnya hati hanya bersujud di hadapan Allah SWT

Supaya dapat menjalani Ilmu dengan baik janganlah sampai berbuat yang menyimpang dari Jalan Allah, janganlah serakah, jangfanlah sering marah-marah, janganlah semua itu engkau turuti saja, itu semua adalah penghalang.

Tempatnya Khaq adalah di dalam Sanubari,hawanafsu sudah tidak ada apabila sudah berada di dalam Sanubari. Adanya hanya Iman kepada Allah SWT mengabdi hanya kepada Allah SWT saja.

(wewarah dari Raden Ngabehi Soekinohartono)

###

Categories: WEWARAH | 16 Komentar

RITUAL PECANDU INTERNET


Internet telah menjadi bagian hidup sehari-hari manusia modern. Ia menjadi ritual wajib yang harus dilaksanakan untuk menghabiskan hari. Pagi bukan Facebook dan game online, siang buka blog dan website, malam beselancar search engine. Hati-hati, kecanduan!

Ini kebetulan hari Minggu. Dalam postingan kali ini, mohon maaf rasanya jari susah diajak kompromi untuk menulis hal-hal yang spiritual. Mungkin, karena tarikan magnet dunia benda yang luar biasa. Padahal, di kepala ada banyak hal spiritual yang ingin disampaikan. Mungkin pula karena kondisi tubuh yang agak lemes gara-gara masuk angin. Maka lebih baik menulis tentang hal yang ringan. Sekedar tambahan sedikit informasi tentang bagaimana seharusnya kita mensikapi internet.

Di kepala, terlintas banyak pikiran apakah itu kejadian-kejadian berskala nasional yang baru terjadi maupun agenda pribadi: penangkapan orang yang diduga gembong teroris Nurdin M. Top oleh Densus 88, wafatnya penyair handal Si Burung Merak W.S. Rendra dan Mbah Surip, Kecelakaan Pesawat, Lumpur Lapindo yang mengganas, kerja bakti di RT menyambut tujuh belasan HUT RI, harus merampungkan dua pekerjaan sampingan, siap-siap bekerja keras besok senin di kantor, rekreasi. Keluarga yang ingin jalan-jalan menikmati hari Minggu dan seterusnya.

Semuanya tumplek blek di sel-sel otak… Semuanya akhirnya hanya jadi pikiran. Tubuh agaknya malas diajak mengikuti agenda-agenda dunia yang banyak itu. Akhirnya, ya seperti yang diketahui saya hanya duduk saja. Saya mohon ijin ke anak isteri untuk tidak mampu mengantar mereka jalan-jalan. Saya mohon ijin ke para tetangga tidak bisa ikut kerja bakti bersih-bersih gorong-gorong air yang mampet, saya mohon ijin kepada Tuhan hanya bisa melaksanakan ibadah dunia sesuai dengan kemampuan saya. Mohon maaf.

Saya buka laptop dan internet. Rasanya kangen dengan para blogger yang tetap bersemangat untuk nggayuh kawicaksanan. Di blog, kita juga bisa bersilaturahim dengan cara berdiskusi mengeluarkan gagasan ide-ide yang panjang dan mendalam. Di blog, kita bisa belajar untuk mengungkapkan ide di kepala secara kreatif dengan bahasa yang mudah dipahami dan sedikit agak ngawur tanpa khawatir diprotes oleh dosen. Ini beda ketika kita bikin karya ilmiah, salah menggunakan kata, kalimat dan bahasa maka dosen langsung mencoret. Di blog, salah menulis tidak terlalu beresiko kecuali bila kita melanggar semacam katakanlah etika, unggah ungguh, sopan santun. Di blog, ada kebebasan mengekspresikan gagasan dan pembelajaran kreatif.

Di era informasi seperti sekarang, kita semua dimudahkan untuk mencari pengetahuan. Tidak hanya mencari pengetahuan, namun juga ikut berpartisipasi menyumbangkan pengetahuan entah itu hasil perenungan sederhana sehari-hari, perenungan olah rasa setelah mendapat wangsit, hasil analisa yang njlimet, hasil penelitian yang menambah perbendaharaan ilmu pengetahuan, dan seterusnya.

Ada pula kebiasaan baru dari perkembangan era komunikasi internet. Yaitu kehadiran facebook. Kehadiran facebook, kita tahu semakin membuat seseorang mudah berbagi ide, gagasan singkat dan interaktif. Komentar-komentar pun bermunculan, cukup menarik. Facebook mewabah di hampir semua kalangan usia dan profesi. Sayangnya facebook hanya bisa dijejali dengan pesan-pesan pendek singkat, chatting yang bisa jadi apus-apus, munafik dan dangkal sehingga tidak membuat kita beranjak dewasa dengan perenungan yang mendalam, intens dan kaya.

Ada lagi yang dampak internet yang lebih negatif dibanding facebook, yaitu game online. Di banyak warnet, para pelajar malah banyak yang bolos sekolah hanya untuk main game online. Ini tentu saja harus dipikirkan bersama, bagaimana solusinya agar internet bisa dikembalikan ke fungsinya yang benar. Warnet-warnet penuh dengan pelajar main game online, handphone khusus untuk berfacebook semakin banyak, pelayan jasa telekomunikasi kebanjiran untung. Satu penyakit baru muncul yaitu: KECANDUAN INTERNET.

Penyakit ini mungkin belum banyak disadari oleh kita yang tinggal di Indonesia. Di China lain lagi. Akibat semakin banyaknya pengguna internet dan kebiasaan berinternet tanpa mengenal waktu, maka didirikanlah KLINIK BAGI PECANDU INTERNET. Konon, semakin banyak orang yang sakit gara-gara internetan tanpa mengenal waktu. Duduk lama di depan komputer, mata kelelahan melihat layar komputer, kurang gerak tubuh, mengkonsumsi makanan dan minuman cepat saji mengakibatkan derajat kesehatan badan dan kesehatan pikiran menurun drastis.

Internet adalah dunia ide yang awalnya sebagai alat tukar menukar informasi dalam jaringan komputer yang dibentuk oleh Departemen Pertahanan Amerika Serikat di tahun 1969, melalui proyek yang disebut ARPANET (Advanced Research Project Agency Network). Mereka mendemonstrasikan bagaimana dengan hardware dan software komputer yang berbasis UNIX, bisa melakukan komunikasi dalam jarak yang tidak terhingga melalui saluran telepon. Proyek ARPANET merancang bentuk jaringan informasi yang dapat dipindahkan, dan akhirnya semua standar yang mereka tentukan menjadi cikal bakal pembangunan protokol baru yang sekarang dikenal sebagai Internet Protocol.

Tujuan awal dibangunnya proyek itu adalah untuk keperluan militer. Pada saat itu Departemen Pertahanan (US Department of Defense) membuat sistem jaringan komputer dengan menghubungkan komputer di daerah-daerah untuk mengatasi masalah bila terjadi serangan nuklir dan untuk menghindari terjadinya informasi terpusat, yang apabila terjadi perang dapat mudah dihancurkan. Pada mulanya ARPANET hanya menghubungkan 4 situs saja yaitu Stanford Research Institute, University of California, Santa Barbara, University of Utah, di mana mereka membentuk satu jaringan terpadu. Meski sudah dimulai sejak 1969, secara umum ARPANET diperkenalkan pada bulan Oktober 1972.

Tidak lama kemudian proyek ini berkembang pesat di seluruh daerah, dan semua universitas di negara tersebut ingin bergabung, sehingga membuat ARPANET kesulitan untuk mengaturnya. Oleh sebab itu ARPANET dipecah manjadi dua, yaitu “MILNET” untuk keperluan militer dan “ARPANET” baru yang lebih kecil untuk keperluan non-militer seperti, universitas-universitas. Gabungan kedua jaringan akhirnya dikenal dengan nama DARPA Internet, yang kemudian disederhanakan menjadi Internet.

Yang perlu digarisbawahi adalah, internet bukanlah dunia sesungguhnya. Internet adalah wahana tukar menukar informasi, ide atau gagasan. Tidak lebih. Menjadikan internet sebagai wahana mencari hiburan hingga membuatnya kecanduan, bisa membuat kita tenggelam dalam hidup yang main-main belaka. Resikonya ada, yaitu membuat kita kekurangan waktu untuk menikmati hidup aktual, menikmati kehangatan sapaan komunikasi dengan keluarga, dan menikmati sapaan alam.

Dulu, setiap potong informasi harus dicari di perpustakaan-perpustakaan. Orang harus berjalan kaki ke gedung perpustakaan, mendaftar jadi anggota, dan melongok-longok kemudian mengambil buku yang diinginkan. Itu pun belum tentu mendapatkan potongan informasi yang dicari. Kini? Hanya tinggal masuk ke search engine, mengetik kata yang diinginkan maka dalam hitungan beberapa kejap mata search engine akan memunculkan ribuan potong informasi yang kita inginkan. Luar biasa cepat.

Sama seperti kehadiran remote televisi. Tanpa remote, kita harus berdiri dari tempat duduk, berjalan dan ke arah televisi untuk mencari stasiun televisi yang dibutuhkan. Ada tenaga yang dikeluarkan. Ada keringat yang keluar. Berarti tubuh tetap bergerak dan berolah raga. Dengan adanya remote, kita bisa sambil tiduran atau duduk manis dengan memencet tombol remote. Namun tubuh tidak bergerak dan tidak ada olah raga. Nah, dari dua kebiasaan: memakai remote dan tanpa remote, sehat yang mana dampaknya pada tubuh biologis kita?

Sekali lagi. Setiap hal pasti ada dampak baik buruknya. Ada dampak yang harus ditanggung akibat kemudahan itu. Kemudahan mencari informasi di internet membuat setiap potong informasi yang harusnya sangat berharga menjadi seakan tidak bernilai. Dengan tidak lagi susah berjuang untuk memperoleh informasi. orang menjadi malas, rapuh dan manja. Bertambahnya informasi dan banyaknya pengetahuan di kepala tidak serta merta membuat kita semakin bijaksana. Tidak ada jaminan orang yang pengetahuannya banyak, naluri kemanusiaannya juga serta-merta meningkat. Menolong orang lain, memberikan harta benda untuk kemanfaatan masyarakat tidak serta merta harus dibarengi dengan banyaknya informasi yang mengumpul di otak. Justeru terkadang, naluri kemanusiaan hidup pada mereka yang sedikit informasi, miskin dan terbelakang pengetahuannya.

Hidup yang tidak mampu menghayati proses perjuangan adalah hidup yang instan dan terasa cepat. Orientasi orang bukan lagi bagaimana menikmati proses, namun bagaimana mendapatkan hasil secepatnya. Bila hasil sudah diperoleh, maka dia akan mencari hasil-hasil lain. Orang tidak pernah mampu puas dengan satu hasil saja. Dia akan mencari hasil lain yang lebih besar. Hingga akhirnya waktu hidup kita habis dalam perbandingan-perbandingan serta pencarian-pencarian yang tiada berujung pangkal.

Berorientasi pada hasil, bukannya tidak baik. Baik-baik saja asalkan proses dilalui dengan sabar dan benar. Mengorientasikan diri hanya pada hasil tanpa melihat prosesnya, membuat derajat kemanusiaannya menurun ke tingkat binatang. Binatang tidak perlu memikirkan bagaimana mendapatkan makanan dengan cara yang halal, baik dan bijak. Binatang hanya mengerti bagaimana makanan diraih secepatnya.

Ya begitulah, daripada ritual internetan terus tanpa mengenal waktu mending hidup yang aktual: melaksanakan ritual sholat wajib bersama mbah Bejo atau ritual meditasi diam bersama Ki Atmodjo, atau ritual melihat langit, matahari atau bulan khusyuk yang lama bersama mas Sasongko. Membuka rasa sejati untuk bertemu, bertamu dan berkomunikasi dengan Gusti, mengheningkan cipta, menyatukan rasa sejati kita kepada iradat-Nya. ###

Categories: RITUAL PECANDU INTERNET | 11 Komentar

PULANG KE BATIN


Setiap kali pulang ke rumah orang tua di lereng Gunung Lawu, perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur saya biasanya menyempatkan diri untuk mendaki sebuah perbukitan kecil dan menyempatkan diri duduk di atas sebuah gua. Membebaskan batin untuk mengangkasa bersama semilir angin yang berhembus sepoi-sepoi…

Tempat orang tua saya berdomisili ini adalah sebuah desa terpencil di utara Gunung Lawu. Namanya Desa Kuniran, Kecamatan Sine yang berada di Kabupaten Ngawi, Jawa Timur. Inilah desa paling akhir di ujung Kabupaten yang berbatasan dengan Kabupaten Sragen, Jawa Tengah itu.

Untuk memasuki wilayah Desa Kuniran, Kecamatan Sine, ada beberapa alternatif jalan. Ada yang harus melewati Kecamatan Jogorogo yang relatif berkelok-kelok, ada yang landai yaitu yang melalui kawasan Tunjungan dekat Sragen, ada pula yang melalui Kecamatan Mantingan. Bisa pula melewati Alas Ketangga lantas terus ke selatan. Alas ini terkenal bagi kalangan mistikus untuk mencari sandi-sandi rohani. Bagi kalangan mistikus, Alas Ketangga adalah “Ibu” sementara Alas Purwo di Banyuwangi adalah “ayah”. Konon, bila ingin melengkapi laku spiritual, bergurulah ke “ayah dan ibu” ini, maka sang anak yaitu Anda akan “lengkap” ngelmu-nya.

Bagi saya pribadi, tidak terlalu ribet untuk percaya dengan kepercayaan mistik yang demikian itu. Untunglah, Tuhan memberikan saya kebodohan untuk memahami bahasa-bahasa sandi yang demikian sehingga tidak terlalu kebingungan untuk menjalani laku yang mereka percaya. Barangkali pula, Tuhan akan menunjukkan cara dan jalan yang lain untuk memahami ngelmu kasunyatan versi saya. Saya yakin, Tuhan Maha Memberi Petunjuk setiap saya mengarahkan rasa dan menggeluti dunia batin-Nya yang Maha Tidak Terjangkau.

Salah satu jalan yang ditunjukkan-Nya adalah jalan pulang ke rumah orang tua. Biasanya saya pergunakan kesempatan yang langka tersebut untuk mengembalikan dan membersihkan diri dari segala macam polusi mental yang keruh akibat terlalu banyak bersinggungan dengan dunia fisik. Semesta fisik, material, benda bila terlalu banyak berada di dalam pikiran memang akan cenderung membuat pikiran dan batin kita keruh. Pikiran dan batin tidak mampu untuk melihat dan merasakan kehadiran hal-hal yang gaib, mistik, supranatual, adikodrati dan transendental. Itulah sebabnya, saya merasa perlu untuk mengosongkan mental, batin dan pikiran agar mampu mengakses energi Tuhan yang Maha Hebat.

Perjalanan dari Surabaya menuju Ngawi saya simbolkan perjalanan ruhani dari yang dangkal menuju yang tinggi. Surabaya berada di dataran rendah lambat laun meninggi pelan-pelan, berproses setapak demi setapak menggapai kedamaian semedi. Hingga akhirnya menuju lereng Lawu yang berada di sekitar 2000 meter di atas permukaan laut.

Saat melewati kota-kota, saya mengibaratkan sebagai sebuah titik-titik perjalanan ruhani yang harus disinggahi. Terkadang harus istirahat hanya untuk menghela nafas, menunggu tarikan ruhani yang menyedot energi kebenaran yang ada di mana-mana. Lantas kemudian, saya harus bergegas-gegas untuk sebuah pengalaman spiritual baru. Perjalanan baru yang harus saya tempuh, saya berusaha atasi dengan sabar ikhlas, nrimo dan SUMARAH. Terkadang pula, saya harus jatuh tersungkur karena sebuah sebab dimana saya harus menanggung kebodohan akibat pola pikir, mindset dan keliru untuk berolah rasa. Namun kemudian bangkit lagi dengan cara baru memandang kasunyatan ini.

Perjalanan dari yang lahir menuju yang batin adalah sebuah proses yang unik. Bukan harus mengalahkan yang lahir demi kemenangan yang batin, namun perjuangan yangh batin untuk menguasai yang lahir agar tidak ngawur dan membabi buta cakil. Kecenderungan yang lahir ini bergerak sembarangan karena tarikan yang lahir juga luar biasa besar. Benda-benda di bumi ini memiliki kekuatan magnetik untuk menarik dan menyedot benda-benda lain. Benda akan bersinggungan kemudian lengket dan susah untuk dipisahkan. Bila tubuh jasmani yang benda ini berdekatan dengan benda tubuh jasmani yang lain maka pasti akan terjadi saling tarik menarik yang kuat. Begitu pula bila tubuh jasmani yang hanya benda ini berdekatan dengan benda lain seperti cincin indah, kendaraan mewah dan mahal, atau tubuh jasmani lain yang indah maka dipastikan terjadi ketertarikan dan akhirnya lengket susah terpisah.

Bila ini terjadi dalam waktu sekian lama dan titik orientasi kesadaran kita tidak beranjak dari semesta tarik menarik seperti ini, saya beranggapan hidup kita sia-sia. Sebab harusnya kesadaran kita terangkat semakin tinggi, bahkan harus mentransendensikan yang lahir oleh yang batin. Oleh karenanya, usaha untuk memfokuskan dan lebih menomorsatukan yang batin daripada yang lahir adalah sebuah perjuangan berat yang harus diperjuangkan oleh manusia. Bukankah manusia adalah titik tengah antara yang lahir dan batin? Malaikat, jin, dan beragam variannya, kejujuran, kebijaksanaan, keikhlasan adalah serba batin. Hewan, tumbuhan, batu-batu mulia, mobil, mall, logam mulia, uang, eknonomi, politik, DPR, Presiden, Jabatan, Kekuasaan, Korupsi semuanya serba lahir.

Tuhan adalah Dzat yang awal dan akhir, yang lahir dan yang batin. Sama seperti manusia. Itu sebabnya manusia berderajat tertinggi karena hanya dialah yang mampu “Menyamai Peran Tuhan”, ditunjuk menjadi WAKIL, HAMBA, PELAYAN, KEKASIH-NYA. Luar biasanya manusia tidak terletak pada akalnya-ciptanya (Ilmu Pengetahuan), namun juga rasa (spiritualitas, agama, kepercayaan), juga Karsa (kelakuan untuk menjalani perannya). Karena posisisnya yang sangat strategis itulah manusia harusnya terus memfokuskan diri tanpa sedetikpun melupakan TUHAN. Kita harus mengorientasikan hidup kita untuk selalu NGESTI TUNGGAL.

Banyak orang pintar namun kurang bermoral, banyak orang bermoral namun kurang pintar. Banyak orang pintar, bermoral namun kurang bijaksana. Justeru terkadang kebijaksanaan lahir dari orang yang tidak pintar namun bermoral. Sesungguhnya, kebijaksanaan lahir dari sebuah keutuhan bangunan kemanusiaan yang harusnya terus dicari karena kebijaksanaan tidak pernah mengenal titik henti. Kebijaksanaan akan terus berproses dan terus menjadi (BECOMING) tidak bisa hanya berada di satu titik eksistensi (BEING) saja namun lebih ke memudar (PERISHING) dan menyatu kembali dalam wujud yang berlainan. Untuk menggambarkan apa dan bagaimana luas cakupan Kebijaksanaan ada baiknya saya mengutip sebuah ilustrasi sederhana. Ilustrasi hanya ilustrasi yang hanya sekedar cara untuk memahami bahwa kebijaksanaan lebih luas dari ilmu pengetahuan.

Pada suatu saat ada dua orang murid, yang satu bernama Yan Juan, murid yang paling pandai, yang satunya lagi tidak disebutkan namanya, katanya murid yang paling tidak pandai. Dua-duanya berguru kepada Kong Cu atau Konfusius yang oleh umat Konghucu disebut sebagai Nabi Kong Cu. Kisahnya begini, Yan Juan, si murid pandai, dengan murid satunya lagi sedang bercakap-cakap. Murid yang tidak pandai menantang murid yang pandai. “Mari kita berlomba?” “Apa Maksudnya?” “Saya mengajukan pertanyaan, 8 kali 3 berapa?” Yan Juan menjawab, “24.” “Salah, yang betul 23.” “24 dong.” “Salah, kamu katanya pandai, ternyata jawabannya 24, yang betul 23.”

Berdebat di situ. Yang tidak pandai menantang, mari kita datang ke guru. “Kalau saya yang salah, jawabanmu yang benar 24, saya akan memotong leher saya sendiri. Kalau kamu yang benar ternyata jawabannya 24, topimu kamu lepas.” Topi melambangkan kecendekiawanan, kepandaian seseorang waktu itu. Yan Juan tidak ingin seperti itu, karena khawatir dan cemas, kalau ada apa-apa dengan temannya itu.

Singkat kata, karena tidak mencapai titik temu, datanglah ke Nabi Kong Cu. Sampai di tempat itu Kong Cu berkata, “ada apa?” Dijelaskanlah oleh dua-duanya tentang lomba itu. Dengan berdebar-debar dua-duanya menunggu jawaban Kong Cu. “Yang benar berapa, Guru? 8 kali 3 itu berapa?” “Yang benar ya 23.” Mendengar itu Yan Juan, murid yang paling pandai kecewa sekali, marah, bahkan menuduh sang guru telah berbohong. Akhirnya ia memutuskan untuk meninggalkan tempat itu dan mengancam akan keluar dari perguruan itu dan tidak ingin menjadi muridnya.

Sang Guru Kong Cu tersenyum, “Silakan. Cuma begini Yan Juan, kamu akan jalan barangkali ada hujan lebat, hujan besar, jangan deket-deket dengan pohon yang besar, atau berlindung karena pohon itu akan tumbang.” Keluar dia dari situ. beberapa saat hujan lebat, badai angin kencang. Ketika mendekati pohon, ingat kembali pesan Kong Cu, dengan cepat dia meninggalkan pohon itu dan betul saja dalam hitungan detik pohon tumbang menghancurkan semua yang ada di sekitarnya.

Dia terhenyak, dia mengatakan Kong Cu bukan orang sembarangan. Ia kembali, kepada Kong Cu memohon maaf atas kekasarannya dan kemudian barangkali ada nasihat. Yan Juan dengarkan, “Kalau saya ditanya 8 kali 3 yang benar ya 24, tetapi bayangkan kalau saya mengatakan 24 waktu itu, kamu akan menyesal seumur hidup, kamu akan merasa berdosa, karena ada seorang temanmu yang nyawanya hilang karena kamu.” 8 kali 3 atau 24 dalam konteks ini adalah kebenaran kecil, kebenaran matematis. Kebenaran besarnya adalah berapa nyawa orang yang harus diselamatkan.

Kisah di atas bisa diambil hikmah bahwa ilmu pengetahuan memang benar mampu membuka cakrawala kenyataan secara eksak, pasti dan tidak terbantahkan. Semua orang tahu itu. Tetapi, ilmu pengetahuan tidak mampu untuk menangkap hakikat pergelaran alam semesta yang begitu kompleks ini. Kebenaran kecil adalah kebenaran rasio, akal dan matematis. Kebenaran besar adalah bagaimana kita mampu mengolah akal, rasa, hati nurani, dan budi pekerti kita untuk berperilaku yang baik dan sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan untuk menggapai kebenaran dan kebijaksanaan Tuhan.

Akhirnya, sampailah saya di rumah orang tua di lereng Gunung Lawu. Setelah duduk bersimpuh di hadapan orang tua, bercengkrama sambil meminum teh hangat dan menyedot rokok menikmati masa lalu, saya mendaki sebuah perbukitan kecil di dekat rumah. Di atas sebuah gua, batin mengangkasa bersama semilir angin yang berhembus sepoi, bergerak terbang, sayapnya mengepak menuju entah ke mana …

wongalus

Categories: PULANG KE BATIN | 34 Komentar

NGELMU KASUCIAN


SUMARAH

Ini adalah wewarah dari Raden Ngabehi SOEKINOHARTONO, pendiri Paguyuban Sumarah. Sengaja saya sampaikan apa adanya  dengan tujuan agar kita bisa menyimak secara obyektif tanpa interpretasi dari subyektivitas saya pribadi. Terima kasih. (wongalus)

Tiyang ngudi ngelmu kasucian punika gawat kaliwat-liwat, menawi kita kirang titi lan waspada, saged tergelincir wonten margining panasaran. Kamangka lampahing Ngelmu Sumarah kita punika tansah lumampah terus. Lampahing ngelmu sering nglangkungi gawat lan rumpil. Saklebeting Iman kita wonten lelampahan ingkang tansah lelawanan ( ngaler-ngidul ), inggih punika Khaqiqi lan Batal, leres lan lepat, sae lan awon, lan sapiturutipun.
Manah Batal sering mowor sambu, ngaken manawi piyambakipun ugi Allah utawi Khaqiqi, mangka wujudipun tunggal saawak kita, ugi saged suka piwulang, tuntunan, dhawuh, keterangan ingkang mawarni-warni sanget, menawi kirang titi lan waspada, saged dipun pengaruhi dening ingkang mowor sambu wau.
Menawi ingkang mowor sambu wau ingkang pidhato, sadaya para kadang ingkang mirengaken raosipun mboten sakeca sarta mboten pitados maksud ingkang dipun andharaken wau, satemah nukulaken manah gela, cuwa, bimbang, mboten marem sarta mboten pitados.
Akibatipun lajeng sami mangu-mangu anggenipun badhe ngudi Ngelmuning Allah. Punika sadaya dhedhasar saking kenyataan, sauger tiyang ingkang dipun tunggangi dening ingkang mowor sambu wau, inggih punika akibatipun ingkang mirengaken tetep sami mekaten.
Menawi saking Allah lumantar Khaqiqi, raosipun sakeca lerem tentrem ayem. Warahipun saged ngengingi dhateng para hadirin kanthi tenang, suraosipun wewarah saged katampi kanthi cetha lan terang.
Menawi sampun kathah wewarahipun, kedah ngatos-atos saha titi waspada sampun ngantos wonten ingkang mowor sambu ngaken-aken Allah. Sarehning dereng mangertos pundi ingkang leres lan pundi ingkang lepat, menawi wonten kenyataanipun, punika saking Allah lumantar Khaqiqi, menawi mboten wonten kenyataanipun, punika saking ingkang mowor sambu wau.
Wewarah saking ingkang mowor sambu kalawau, adhakanipun asring anonjolaken dhiri, rumaos celak dipun sihi dening Allah piyambak, remen mandhiri, rumaos leres piyambak, remen dipun sanjung-sanjung ing liyan, ingalembana, dipun puji-puji, dipun aosi sanget, jalaran dipun tuntun dhateng kaluhuran lan kemakmuran, remen sugih raja-brana, remen anjamah dhateng wanita ingkang dipun kajengaken. Menawi sampun termashur lajeng anggadhahi watak sapa sira sapa ingsun, makaten sapiturutipun. Menawi lepat dipun bucal ing liyan, menawi leres dipun anggep saking pakartinipun piyambakipun. Tuntunan saking ingkang mowor sambu punika menawi dipun gega, saya dangu saya berkembang, kumaluhur, egois. Punika tumrap dhateng sok sintena kemawon.

Artinya:

Orang menjalani Ilmu Kesucian itu sungguh sangat gawat sekali, apabila kita kurang teliti dan waspada, dapat tergelincir masuk ke dalam jalan yang sesat. Jalannya Ilmu Sumarah terus berjalan. Jalannya Ilmu sering sekali melalui jalan yang gawat dan sangat sulit. Di dalam Iman kita selalu ada perjalanan yang selalu berlawanan, yaitu Khaqiqi dan Hati Setan, benar dan salah, baik dan buruk, dan seterusnya.
Hati Setan sering kali menyamar, mengaku bahwa dia juga Allah atau Khaqiqi, padahal selalu berada menyatu di dalam tubuh kita, dapat juga memberikan pelajaran, tuntunan, sabda, keterangan yang bermacam-macam sekali, apabila kita kurang teliti dan waspada, kita dapat dipengaruhi Hati Setan yang menyamar itu.
Apabila Hati Setan yang menyamar itu yang berbicara, semua saudara yang mendengarkan akan merasa tidak enak dan tidak percaya akan maksud yang dikatakannya itu, sehingga akan menimbulkan rasa kecewa, bimbang, tidak puas dan tidak percaya. Akibatnya lalu menjadi ragu-ragu di dalam akan menjalani Ilmu-Nya Allah. Ini semua berdasarkan kenyataan bahwa apabila yang berbicara itu orang yang digerakkan oleh Hati Setan yang menyamar itu yang mendengarkan selalu demikian itu.
Apabila dari Allah dengan perantaraan Khaqiqi, rasanya enak tenang tenteram. Yang diajarkannya dapat menyentuh hati para hadirin dengan tenang, maknanya dapat diterima dengan terang dan jelas.
Apabila Pelajarannya sudah banyak, haruslah berhati-hati, teliti dan waspada, jangan sampai ada Pelajaran yang berasal dari Hati Setan yang menyamar itu.
Pelajaran dari Hati Setan yang menyamar itu sering kali berwujud menonjolkan diri , merasa yang paling dekat dan dikasihi oleh Allah, senang menonjolkan namanya sendiri, merasa yang paling benar sendiri, senang disanjung-sanjung oleh orang lain, dipuji-puji, sangat dihargai dan dihormati karena dibimbing ke keluhuran dan kemakmuran, senang kaya harta benda, senang bermain perempuan, apabila sudah termashur lalu mempunyai sifat sombong, arogan, apabila salah dilemparkan ke orang lain, apabila benar diakuinya dari tindakannya atau pekerjaannya sendiri.
Tuntunan dari Hati Setan yang menyamar itu apabila dipercaya dan diikuti akan membuat sifat orang yang digerakkan oleh Hati Setan yang menyamar itu menjadi semakin berkembang menjadi semakin merasa luhur martabatnya, egois. Hal tersebut berlaku untuk siapa saja.

Categories: WEWARAH SUMARAH | 11 Komentar

PAGUYUBAN NGESTI TUNGGAL


Salah satu saat yang paling saya sukai saat malam hari adalah berkumpul dengan rekan-rekan wong Jowo yang menamakan dirinya Paguyuban Ngesti Tunggal (Pangestu). Jangan bayangkan paguyuban seperti ini semacam sekte tertutup, eksklusif dan wingit tapi sebaliknya. Mereka adalah sama seperti kita yang terbiasa diskusi ngalor ngidul secara ilmiah maupun batiniah.

Seperti Senin malam kemaren. Saya bergabung dengan komunitas ini untuk membahas satu buku induk Paguyuban Ngesti Tunggal yang bernama SERAT SASONGKO JATI. Setelah membaca dan mengartikan kata demi kata buku babon berbahasa Jawa itu, kami terlibat dalam diskusi tentang spiritualitas ketuhanan lintas agama dan kepercayaan.

Mulailah kami membahas tentang tingkatan-tingkatan untuk memahami hakikat sholat, mulai dari SEMBAH RAGA, SEMBAH CIPTA DAN SEMBAH RASA. Sholat diartikan sembah raga, karena di dalam sholat kita melakukan aktivitas fisik tertentu yang sesuai dengan syariat agama. Mulai dari apa arti dari mengangkat tangan saat takbir sampai sujud. Sholat diartikan sembah cipta apabila pikiran kita terfokus pada satu titik yaitu Gusti Allah. Dan yang terakhir adalah sholat sebagai sembah rasa, yaitu sholat adalah sebagai sarana rasa sejati kita untuk bertemu dengan Tuhan Yang Maha Dekat.

Mengartikan sholat semacam ini tentu saja tepat dan mendalam. Sholat tidak hanya aktivitas fisik, melainkan psikis dan juga ruhani kita haruslah madep mantep tanpa mikir ngalor ngidul lagi Semuanya bersatu dalam fokus dalam suasana batiniah yang hening untuk bertemu dan bertamu, menghadap wajah-Nya, berkomunikasi rasa antara aku sejati dengan Engkau Sejati yaitu, Allah.

Intinya, bahwa sholat adalah wahana dan sarana kita untuk manunggaling kawulo Gusti, bersatunya aku dengan AKU-NYA Tuhan. Persenyawaan ini bisa dipahami karena dalam sholat sesungguhnya kita sedang membuka kulit-kulit perasaan manusiawi kita yang kasar sehingga tinggallah dalam diri kita satu perasaan dasar yang murni atau rasa, yang merupakan jati diri seorang individu (aku). Aku Sejati inilah manifestasi Tuhan dalam individu tersebut. “Rasa adalah aku dan aku adalah Gusti”

Dalam sholat juga terungkap adanya tujuan hidup manusia yaitu untuk TAHU dan MERASAKAN. Rasa tertinggi dalam dirinya sendiri. Pengakuan akan rasa tertinggi ini dicapai dengan cara memiliki kehendak yang murni dengan cara memusatkan kehidupan batinnya, mengintensifkan dan memusatkan semua sumber spiritualnya pada satu fokus kecil namun mampu menghasilkan energi terbesar.

Pada tingkat pengalaman sholat yang merupakan kebersatuan dengan eksistensi tertinggi, kita bisa merasakan semua yang ada ini sejatinya SATU DAN SAMA, keakuan kita hilang dalam individualitasnya. Ini disebabkan karena rasa aku itu bersumber dari Gusti Allah, sebuah obyek abadi yang dialami semua subyek manusia.

Pengetahuan tentang rasa tertinggi merupakan tujuan pencarian mistik yang luhur dan harusnya menjadi tujuan keagamaan semua kepercayaan dan semua agama. Tindakan pemahaman ini sering dianggap memiliki dua tahap utama: NING harafiah berarti HENING, diam yang menunjuk kepada emosi yang setenang-tenangnya dan kemundian NING KEJERNIHAN dan PENGETAHUAN yang dalam, GERAK HATI yang mengikuti keheningan dan yang bisa merupakan sesuatu yang sangat emosional. Biasanya hal ini dilukiskan sebagai SUWUNG atau KOSONG atau KABEH KUI SEJATINE ORA ONO, SING ONO KUI DUDU. (Semua itu hakikatnya tidak ada, yang ada itu sesungguhnya tidak ada…)

Untuk mencapai sholat sekhusyuk-khusyuknya, seseorang harus NGESTI TUNGGAL. Ngesti artinya menyatakan semua kekuatan individu dan mengarahkannya langsung kepada sesuatu tujuan tunggal, pemusatan kemampuan fisik, psikologis dan ruhaniah ke ALLAH SWT saja. Hal ini merupakan penggalian mental yang intens pencarian pengertian yang didukung oleh kehendak yang tidak tertahankan dan suatu penggabungan ke dalam suatu kesatuan sederhana dari berbagai kekuatan di dalam individu tersebut. Semua indera, emosi, seluruh proses fisik psikis tubuh dibawa ke satu persenyaraan dan dipusatkan kepada SATU TUJUAN TUNGGAL, GUSTI ALLAH SWT…..

Akhirnya, tanpa kami sadari diskusi sedemikian gayeng. Malam yang dingin berganti pagi. Adzan subuh bergema dan kami bergegas untuk Ngesti Tunggal.

Wong Alus

Categories: PAGUYUBAN NGESTI TUNGGAL | 42 Komentar

TIGA BELAS AYAT


AYAT NOL

Kecerdikan adalah salah satu kemampuan dasar yang dimiliki oleh makhluk hidup untuk mempertahankan diri menghadapi berbagai macam rintangan dan tantangan yang membahayakan dirinya. Baik binatang maupun manusia, memiliki kecerdikan ini.

Kecerdikan berpusat dari gerakan tidak sadar, yang telah berpola sekian lama sehingga menimbulkan refleks yang sekonyong-konyong demi mempertahankan diri. Tanpa perlu dipikir lagi. Yang akhirnya menjadi semacam kemampuan yang melekat pada makhluk hidup. Otak tanpa perlu lagi menganalisanya terlalu lama untuk memunculkan “tenaga dalam” yang tersembunyi ini.

Karena asal muasal kecerdikan adalah gerakan, maka kita perlu lebih lanjut menelaah apa dan bagaimana setiap gerakan dari makhluk hidup ini. Ditinjau dari asal muasal katanya, “gerakan” berasal dari kata “gerak” yang artinya berubahan letak, posisi, dan letak dari A ke B, A ke C, C ke D, dan seterusnya.

Setiap gerakan dimulai dari keinginan, maksud atau kehendak baik yang disadari maupun yang tidak disaradi. Gerak merupakan respons atas gejala (fenomena) yang muncul saat “indera” makhluk hidup menangkan sesuatu. Misalnya, saat kita melihat cahaya yang datang terlalu silau, maka mata kita kemudian menutupnya secara spontan.

Karena kehebatanku menguasai ilmu kecerdikan inilah akhirnya mengantarkan aku pada satu profesi: PERAMPOK.

AYAT SATU

“Milikilah cinta abadiku, ciptakanlah selalu damai di hatimu dan hiduplah dalam bara api semangat untuk pulang menemuiku” itulah selarik pesan yang disampaikan dari bibir merah Rose sebelum aku pergi. Hanya pesan itu yang sungguh-sungguh kumiliki. Sebuah pesan singkat yang menjadi kristal bersinar yang terus tersimpan dalam ruang rahasia jiwaku yang terdalam.

Namaku Iblis dan profesiku perampok. Dan Rose adalah isteriku. Dadanya montok, pinggulnya kecil, pantatnya padat berisi, periang dan suka senam. Wajahnya ayu, posturnya anggun. Dialah ibu muda, usianya 28 tahun yang kerap menjadi incaran mata para pria.

Anakku memangilku ayah. Orang-orang memangilku bajingan. Tapi apa salahnya menjadi bajingan. Toh dunia dan sejarah ini ada karena para bajingan yang besar dan yang kroco ikut andil dalam mengoyak sesuatu yang di anggap benar.

Benar, tho? Coba anda bayang kan dunia ini tanpa para bajingan, penjahat atau bromocorah, apa masih bisa di sebut dunia. Lagi pula tanpa sesuatu yang jahat tidak akan mungkin lahir sesuatu yang dianggap baik, patut atau teladan. Di sini sebenarnya kebenaran itu ada, bahwa kejahatan adalah tidak lebih dari obyek penderita bagi kebaikan. Artinya semakin parah kejahatan itu, semakin bersinar mahluk yang dianggap kebenaran.

Tanpa kejahatan apakah surga dan neraka akan ada? Coba pikir itu. Dan apakah mereka orang-orang suci itu, yang suka menudingkan telunjuk di antara mata kami, akan ada jika kami tidak ada?

Dan perut adalah maharaja yang paling berkuasa. Segala suara yang di gaungkannya membuat manusia kelimpungan. Ia mencari dan menggali, mengaduk gunung dan laut agar sang maharaja tidak bersuara. Setiap manusia punya satu maharaja yang harus ia penuhi kebutuhannya. Sebab ia bukan malaikat yang mempersetankan perut dan kelamin. Akhirnya apa aku salah jika aku menjadi perampok demi maharaja ku.

AYAT DUA

Sebuah tembakan dari polisi mengenai kepalaku. Desing peluru tajam dari senapan laras panjang itu meluncur dengan kecepatan tinggi meledakkan otaknya. Darah menyembur membasahi wajah.

Aku mati sebagai seorang pejuang (bagi keluarga), tapi juga sebagai seorang pengedar narkoba (bagi warga kota ) pada hari Selasa, tanggal 7 bulan 7 tahun 2007, pukul 01.29 WIB. Terpampang jelas tanggal kematianku di nisan yang kini berlumut hijau dan hampir tidak terbaca lagi.  Menyemak lukar kuburku di tengah ilalang bukit yang terlupa. Mungkin, hanya pencari rumput yang sambil lalu berjalan mencari makanan buat domba-dombanya yang kadang melihat kuburanku.

Itupun hanya dilihat dengan sekilas saja, sebab di makamku sudah tidak ada lagi hal yang menarik. Sebaliknya, barangkali menyeramkan dengan aroma mistis magis yang diciptakan oleh benak mereka sendiri.

AYAT TIGA

Dengan kematianku ini, pupus pula harapan untuk kembali ke halaman rumahku yang rindang oleh dedaunan pohon. Pepohonan yang dulu aku tanam bersama isteriku kala santai menikmati senja dan pagi di hari-hari libur. Aku menikah pada tanggal 7 bulan 7 tahun 1997 atau tujuh tahun setelah kami berpacaran. Pacaranku tergolong lama karena kami sama-sama saling menikmati indahnya masa muda.

AYAT EMPAT

Untuk kembali ke kehidupanku bersama orang-orang yang aku kasihi; isteri dan anak lelakiku satu-satunya dengan kondisi begini jelas mustahil. Aku hanya bisa melihat wajah lucu anakku saat bermain dengan teman sepermainannya. Isteriku yang menikmati persetubuhan dengan lelaki yang ternyata adalah musuhku, seorang perwira polisi yang dulu menembak mati diriku.

AYAT LIMA

Cintaku tetap hidup hingga kini. Cintaku jelas tidak mampu memiliki dan dimiliki. Cintaku hanya memberi dan tidak menerima. Memancar ke segenap arah hidup manusia namun aku tidak mampu berbuat apapun.

AYAT ENAM

Aku bangkit lagi dari kematianku setelah aku menemukan mantra bagaimana caranya aku yang kini hanya berwujud ruh masuk ke badan jasmani seseorang. Mantra ini aku temukan dalam tulisan setelah anakku membaca skripsi sarjanaku dan aku ikut membacanya.  “Semua mengada berasal dari ide, dan ide berasal dari kehendak.” Dengan mantera itu, aku menggedor langit, bernegosiasi dengan Tuhan.

Tuhan mengijinkan aku bertemu dengan isteri dan anakku kembali tapi dengan syarat bila aku nanti masih dibakar nafsu keduniawian maka aku tidak akan masuk sorga yang dijanjikanNya. Perjanjian lainnya; aku boleh kembali ke dunia namun pada ruang dan waktu yang ditentukan Tuhan sendiri yaitu di era masa lalu, tepatnya di era pergolakan revolusi Indonesia

AYAT TUJUH

Badan yang aku pakai untuk masuk ke dunia normal adalah seorang biksu Budha saat dia bermeditasi di sebuah tempat sunyi di dalam hutan. Aku ucapkan salam ke ruh-nya lalu aku diberbolehkan untuk memakai tubuhnya.

Hari itu Senin, tanggal 7 bulan 7 tahun 1947 Aku lantas keluar dari hutan dengan berpakaian ala Biksu Budha. Di tengah perjalanan, aku bertemu gerombolan penyamun. Hampir saja aku terbunuh kembali bila aku tidak segera melarikan diri masuk ke sebuah gua yang ternyata masih ada bekas tentara Jepang berbadan kurus kehilangan masa depan.

AYAT DELAPAN

Sebuah perjumpaan yang mengharukan sekaligus menyakitkan. Aku (Iblis) bertemu kembali dengan isteriku (Rose) dalam keadaan aku sudah tua renta. Bayangkan usiaku saat usiaku menginjak 85 tahun! Sementara isteriku berusia 28 tahun….Saat aku menjadi pengemis yang papa di depan rumah keluarga perwira Polisi itu…

AYAT SEMBILAN

Hatiku bergolak memberontak, cemburu ingin lagi menikmati masa-masa indah yang sudah terampas. Aku lempari rumah polisi itu dengan recehan dan tiba-tiba nafasku tersengal, jatuh dan mati. Tuhan mengirimku kembali ke alam baka untuk menunggu neraka menyala. Inikah keadilan terakhir bagi seorang pencari?

AYAT SEPULUH

Kita hidup ini sebenarnya telah membawa bangkai, tubuh kita yang dianggap sempurna sebenarnya barang najis apalagi sorga dan neraka hanyalah rekaan angan manusia. Padahal itu semua salah, salah dan salah.

AYAT SEBELAS

Aku bukanlah siapa-siapa. Derita dan akhirnya merana adalah perjumpaan hidup yang akrab bagiku. Namun tak ada yang tak berakhir jika semuanya sudah saatnya. Kini tubuh ini mulai menuju pelabuhannya… cinta bahagia, wangi aroma cinta terasa makin dekat. Kawan nikmatilah apa yang kini ingin kau rasakan.

AYAT DUA BELAS

Ibarat Mencintai Perempuan, walaupun itu sudah terikat dalam suatu perkawinan atau tidak itu sah-sah saja. Karena cinta kasih itu murni adanya tidak terikat budaya, dogma atau hukum karena cinta dan karena kasih sudah terbawa sebelum menjadi manusia dan masih dalam wujud sperma dan sel telur. 

AYAT TIGA BELAS

Tuhan yang azali identik dengan gelap. Lihatlah Tuhan di dalam sebuah tutupan mata sederhana. Kini, aku sudah tidak kebingungan lagi kemana harus menemukan Engkau ya Tuhan. Karena sesungguhnya Dirimu tidak perlu dicari, engkau ada dalam diriku. Dan diriku ini adalah Engkau. Tidak perlu aku melacak ke sebuah perenungan yang mendaki, tidak perlu ditemukan dalam sebuah keriaan ibadah yang memagut. Karena Engkau Maha dan Sungguh Dekat.

Wong Alus

Categories: PUISI & PROSA | 19 Komentar

MENSYUKURI HIDAYAH IMAN


daun

Iman secara sederhana diartikan sebagai percaya adanya Allah SWT, Malaikat-Nya, Rasul-Nya, Kitab Suci-Nya, Hari Akhir (kiamat) dan takdir-Nya. Ada orang yang tidak beriman. Ada orang yang beriman. Ada yang kadang-kadang beriman namun kadang-kadang tidak.

Mana yang lebih banyak apakah orang beriman atau tidak beriman, tidak ada data statistik yang akurat. Kecuali mungkin para malaikat yang setiap hari sibuk meraba-raba isi dada seseorang. Orang yang beriman dan tidak beriman susah dikenali tanda-tanda dari luar. Tidak ada tanda-tanda spesifik misalnya celananya harus pendek dibawah lutut berbaju gamis, jenggot gondrong, atau dahi hitam yang menandakan seseorang itu beriman atau tidak.

Iman ada dalam qalbu seseorang. Qalbu bukanlah hati atau jantung biologis. Qalbu adalah hati metafisik yang mampu untuk merasakan sesuatu getaran hati metafisik yang lain. Orang yang cinta dan sayang kepada sesuatu hal yang bergerak adalah qalbunya, rasanya, hatinya, jiwanya. Begitu juga dengan iman.

Iman adalah manifestasi spiritualitas seseorang yang berhubungan dengan sesuatu yang transenden (transcendere: mengatasi dirinya), adikodrati, dan mistik. Iman berhubungan dengan penghayatan diri terhadap nilai-nilai absolut yang diyakini berada di dalam diri manusia (immanere: berada di dalam) karena yang transenden mampu mendatangkan sesuatu yang lebih berkuasa dari dirinya.

Iman lebih dari sekedar percaya akan adanya sesuatu. Iman selain percaya, juga menuntut seseorang untuk ikhlas mengabdikan diri ke sesuatu tersebut sekaligus juga menunaikan hak dan kewajiban-kewajiban berdasarkan atas konsensus keimanannya. Keimanan saya kepada Tuhan akhirnya membawa saya pada ketaatan pada kewajiban religius yang harus ditunaikan atau juga kewajiban menghindari larangan.

Iman berasal dari cahaya petunjuk Allah yang menyinari qalbu manusia. Cahaya petunjuk dalam bahasa agama disebut hidayah. Hidayah turun karena kehendak-Nya. Petunjuk Allah sudah ada di dalam diri maupun di luar diri manusia karena Allah memiliki sifat Ar Rahman (pemberi). Namun tanpa hidayah yang merupakan hak prerogratif-Nya maka petunjuk itu tidak mampu dibaca oleh manusia. Inilah buah dari sifat Ar Rahim (Penyayang).

Kepada siapa dia menyayangi seseorang maka dia memberikan hidayah berupa iman. Hidayah ini tidak diterima oleh sembarang orang. Hanya orang-orang yang dipilih-Nya saja, yang diberi hidayah berupa iman. Maka, logis bila seseorang yang beriman hendaknya bersyukur. Bersyukur atas iman membawa konsekuensi bahwa seseorang itu harus menjaga serta memupuk keimanannya dengan mengimplementasikan keimanannya itu untuk kemanfaatan ciptaan-ciptaan-Nya yang lain (terminologi agamanya: amal sholeh).

Semoga kita semua mampu bersyukur atas iman yang bercahaya di dada kita masing-masing dan bila belum mendapatkan hidayah iman, marilah memohon kepada-Nya agar dia secepatnya memberikan kita hidayah iman yang tidak ternilai harganya itu. ###

Categories: HIDAYAH IMAN | 16 Komentar

AKU SEJATI


Tuhan mengingatkan bahwa sebelum mengenal Dia (Tuhan) maka manusia diminta untuk memahami “Aku” nya sendiri sebagai sarana atau jalan untuk menuju pengenalan AKU-TUHAN? Itu karena dalam “Aku” termuat rahasia AKU-NYA.

Pembahasan tentang pengenalan diri ini adalah kunci jalan spiritual. Sehingga menyelami kesadaran diri yang sebenarnya, dan mengenali hakikat ruh yang biasa menyebut dirinya “Aku” adalah cukup penting dan menjadi bangunan suci ibadah hidup manusia. Saya tidak akan lagi bicara soal dalil-dalil. Ibaratnya kita melakukan shalat, kita tidak lagi butuh dalil, akan tetapi kita tinggal memasuki keadaan shalat yang sebenarnya. Diskusi kita sudah selesai dalam hal hukum-hukum kebenaran Tuhan.

Perenungan tentang hakikat ruh ini mau tidak mau membawa kita pada khasanah filsafat manusia. Namun tidak perlu kita masuki terlalu dalam wacana filsafat apa hakekat manusia sesungguhnya. Yang jelas, bahwa manusia adalah makhluk sempurna yang telah diberi mandat untuk menjadi wakil Tuhan di muka bumi.

Selain unsur biologis fisik yang sangat kompleks mulai dari kaki hingga otak, susunan dalam mental dan kerohaniannya terdapat sifat yang tertinggi meskipun masih terdapat daya kemauan yaitu KEKUATAN SANG “AKU”, yang merupakan KEKUATAN yang diterima dari Yang Maha Mutlak.

Tubuh biologis dan mental keinginan nafsu adalah milik manusia. Namun bukan manusia itu sendiri. Sebelum manusia (“Aku”) dapat menguasai atau mengalahkan atau mengarahkan benda yang menjadi miliknya terlebih dahulu ia harus menyadari dirinya secara benar. Ia harus dapat membedakan mana yang merupakan Aku dan mana yang merupakan milik Aku, dapat membedakan mana yang Aku dan mana yang bukan Aku.

Yang harus disadari: SANG AKU BERSIFAT ABADI – TIDAK BISA MATI -TIDAK BISA RUSAK. AKU MEMILIKI KEKUASAAN, KEBIJAKSANAAN DAN KENYATAAN. AKU INILAH YANG AKAN KEMBALI POSISI ASALNYA: SESUNGGUHNYA AKU ADALAH BERASAL DARI ALLAH DAN KEPADA-NYA-LAH AKU KEMBALI….

Orang modern yang sejak lahir hingga dewasa selalu hidup dan mengarahkan dirinya dalam kesemestaan benda-benda material beranggapan bahwa rasa keakuan mereka hanya merupakan kesadaran mengenai nafsu badani pemenuhan keinginan, pemuasan kesenangan, memperoleh kenyamanan bagi dirinya. Bagian bawah dari batin naluri merupakan tempat rasa keakuan orang-orang primitif. Bila seorang primitif mengatakan “Aku”, maka yang dimaksud adalah badannya. Badan ini mempunyai perasaan, keinginan dan nafsu. Mereka menggunakan daya pikirnya guna memenuhi nafsu dan keinginan fisiknya, padahal mereka sebenarnya hidup dalam tingkat batin naluri.

Setelah menyadari ketololannya dan beranjak tua, manusia harusnya semakin tinggi pendakian spiritualnya. Mulailah ia mempunyai konsep tentang Aku nya yang lebih lengkap. Bila ia mulai menggunakan akalnya, maka ia pindah dari tingkat batin naluri ke tingkat batin mental. Ia mulai merasakan bahwa batinnya adalah lebih nyata bagi dirinya dari pada badannya, bahkan kadang ia melupakan badannya bila sedang terbenam dalam pemikiran secara serius.

Setelah kesadaran orang meningkat yaitu kesadarannya berpindah dari tingkat mental ke tingkat kerohanian ia menyadari bahwa “Aku” yang sebenarnya adalah sesuatu yang lebih tinggi dari pada pikiran, perasaan dan badan fisiknya, bahwa semuanya ini dapat digunakan sebagai alat saja. Hingga akhirnya orang benar-benar merasakan sebagai Aku yang sebenarnya (AKU SEJATI).

Berikut cara mengembangkan atau membangkitkan kesadaran Aku yang fitrah. Ini merupakan latihan yang harus disadari, sebab kita tidak akan bisa melakukan pendekatan kepada Allah kalau tidak menyadari hakekat diri yang hakiki. Kesadaran “Aku” ini merupakan langkah pertama pada jalan menuju mendapatkan PENCERAHAN yang merupakan realisasi hubungan Aku dengan Yang Maha Agung.

Monggo praktekkan latihan ini di berbagai tahapan perjalanan sampai memperoleh penerangan jiwa.

MENEMUKAN AKU SEJATI
Carilah tempat atau ruangan, yang terbebas dari gangguan, agar batin anda merasa aman dan tenang. Anda boleh duduk, berbaring, maupun berdiri yang enak agar anda dapat mengendorkan otot-otot dan membebaskan ketegangan syaraf. Lepaskan ketegangan dan biarkan otot-otot menjadi lemas, sampai terasa tenang dan damai meresapi seluruh tubuh. Istirahatkan badan dan pasrahkan seluruh jiwa raga. Atau lakukanlah dengan posisi berdiri, hal ini dilakukan untuk menghindari mudah terlena dan tertidur …

Setelah berpengalaman hendaknya mampu melakukan pengendoran badan dan menenangkan pikiran dimana pun dan kapanpun anda memerlukannya. Ingat bahwa keadaan dzikir harus berada di bawah penguasaan kemauan yang keras. Di dalam melakukan praktek dzikir harus diterapkan pada waktu yang tepat dan atas kemauan sendiri. SADARI BAHWA AKU ADALAH HAKIKI NYA MANUSIA YANG TIDAK PERNAH TIDUR – TIDAK MATI – ABADI, …SELALU SADAR TIDAK PERNAH MENGALAMI SEDIH DAN TAKUT … AKU SANG ROH SUCI (FITRAH) YANG MAMPU MENEMBUS ALAM MIMPI, ALAM MALAKUT DAN ALAM ULUHIYAH…

Sekarang anda memasuki tahapan yang menyebabkan Aku merasa sebagai makhluk mental. Kalau anda memejamkan mata anda akan merasakan dan bisa membedakan mana Aku yang sebenarnya … disitu ada aku yang memperhatikan sensasi badan, seperti misalnya : lapar, haus, sakit, sensasi yang menyenangkan, kesedihan. Anda akan merasakan ternyata bukan aku sebenarnya yang lapar, sakit dan sedih, akan tetapi itu adalah sensasi badan yang dimiliki oleh sang Aku. Aku sejati mengatasi semua itu tadi…

MUlai sekarang, melepaskan diri dari yang bukan hakiki, agar tidak diombang-ambingkan oleh tubuh anda sendiri. Sadari AKU ADALAH YANG MENGUASAI PERASAAN DAN PIKIRAN, JADILAH TUAN ATAS DIRI ANDA … keluarlah anda seperti melepaskan baju, lalu tinggalkan dan jangan anda memikirkan semuanya itu. Karena badan anda mempunyai batin naluri yang akan bergerak menurut fungsinya. Perhatikan saat anda tidur … Aku anda meninggalkan tubuh anda tanpa harus memikirkan bagaimana nantinya badanku, kenyataannya tubuh bekerja menurut yang dikehendaki oleh nalurinya sendiri.

SADARKAN SANG AKU. HUBUNGKAN DENGAN DZAT YANG MAHA MUTLAK …HADIRLAH DIHADAPAN-NYA SEBAGAIMANA KESAKSIAN AKU DIALAM `AZALI…PANGGILLAH …PENUH SANTUN YA ALLAH … YA ALLAH … TUNDUKKAN JIWA ANDA DENGAN HORMAT … DAN DATANGLAH KEHADIRAT-NYA DENGAN TERUS MEMANGGIL YA ALLAH …YA ALLAH … TIMBULKAN RASA CINTA YANG DALAM …HADIRLAH TERUS DALAM DZIKIR … BIARKAN SENSASI PIKIRAN DAN PERASAAN MELAYANG-LAYANG …SADARKAN DAN KEMBALIKAN BAHWA AKU BUKAN ITU SEMUA … AKU ADALAH YANG MENYAKSIKAN SEMUANYA … BERSAKSILAH DENGAN MENGUCAPKAN DUA KALIMAT SYAHADAT … SAMPAIKAN DO’A SALAWAT UNTUK RASULULLAH .DAN KELUARGANYA. TERUSKAN AKU MELAYANG MENEMBUS SEMUA ALAM-ALAM YANG MENGHALANGI, BIARKAN AKU BERJALAN MENUJU YANG MAHA TAK TERHINGGA … ###

Categories: AKU SEJATI | 74 Komentar

ILMU LADUNI


Dalam khasanah makrifat, pejalan spiritual akan bersinggungan dengan istilah ILMU LADUNI. Yaitu pengetahuan yang diperolehi tidak melalui proses kegiatan belajar mengajar dan membaca buku-buku, namun melalui PANDANGAN MATA HATI YANG DITERIMA LANGSUNG DARI ALLAH.

Tuhan hanya bisa dikenal jika Dia sendiri berkehendak untuk dikenali. Jika Dia ingin memperkenalkan Diri-Nya kepada hamba-Nya maka hati hamba itu akan dipersiapkan untuk dilakukan pembersihan. Selanjutnya, Hati hambanya tersebut diterangi dengan CAHAYA atau Nur-Nya. Nur-Nya adalah kendaraan bagi hati untuk sampai ke SISI-Nya.

HATI ADALAH BADAN DAN RUH ADALAH NYAWANYA. RUH PULA YANG LANGSUNG TERKAIT DENGAN TUHAN DAN KETERKAITAN ITU DINAMAKAN AS-SIR (RAHASIA). RUH ADALAH NYAWANYA HATI DAN SIR ADALAH NYAWANYA RUH. BOLEH JUGA DIKATAKAN BAHWA HAKIKAT HATI ADALAH RUH DAN HAKIKAT RUH ADALAH SIR. SIR ATAU RAHASIA YANG SAMPAI KEPADA TUHAN DAN SIR YANG MASUK KE HADRAT-NYA. SIR INILAH MAMPU UNTUK YANG MENGENAL ALLAH KARENA SIR ADALAH HAKIKAT SEMUA YANG BERWUJUD.

Cahaya Ilahi menerangi hati, ruh dan Sir. Cahaya Ilahi akan membuka hakikat-hakikat. Amal dan ilmu tidak mampu menyingkap rahasia hakikat-hakikat. Cahaya Ilahi berperanan menyingkap tabir hakikat. Orang yang mengambil hakikat dari buku atau memahami dari ucapan orang lain belumlah dikatakan mengetahui hakikat yang sebenarnya. Mereka hanyalah menyangka atau mengkhayal sudah mengetahui hakikat padahal sesungguhnya belum.

Hakikat akan diketahui apabila seseorang gigih mendalami pengetahuan tentang hakikat dari perenungan-perenungannya sendiri (berarti dia menggunakan akalnya sebagaimana yang dianjurkan Tuhan dalam agama) dan kemudian mempraktekkannya dalam perbuatan sehari-hari dengan mempertimbangkan dengan hati nuraninya. Ditambah dengan memohon ampunan, memuji Nama Tuhan sebagai pembersih hati. Kemudian bersabar menanti hadirnya sinar kebijaksanaan sambil terus juga berharap.

Alam ini pada hakikatnya adalah gelap. Alam menjadi terang karena ada kenyataan Tuhan padanya. Misalnya kita berdiri di atas puncak sebuah bukit pada waktu malam yang gelap gelita. Apa yang dapat dilihat hanyalah kegelapan. Apabila hari siang, matahari bersinar, akan terlihat tumbuh-tumbuhan dan hewan yang menghuni bukit itu. Yang terlihat di atas bukit itu menjadi nyata karena diterangi oleh cahaya matahari. Cahaya mewujudkan yang gelap menjadi benda-benda yang nyata.

Sesungguhnya cahaya hanya satu jenis saja dan datangnya dari sumber yang satu jua. Begitu juga halnya pandangan mata hati. Mata hati melihat banyaknya hakikat karena banyaknya hakikat yang tercermin dari ragam Cahaya Ilahi, sedangkan Cahaya Ilahi datangnya dari cahaya  yang satu yang bersumberkan Zat Yang Maha Esa.

Kegelapan yang menutupi mata hati menyebabkan hati terpisah daripada kebenaran. Hatilah yang tertutup sedangkan kebenaran tidak tertutup. Dalil atau bukti yang dicari bukanlah untuk menyatakan kebenaran tetapi untuk mengeluarkan hati dari lembah kegelapan kepada cahaya yang terang benderang. Cahayalah yang menerangi atau membuka hijab hati.

Nur Ilahi adalah cahaya yang menerangi hati dan mengeluarkannya dari kegelapan serta membawanya untuk menyaksikan sesuatu dalam keadaannya yang asli. Apabila cahaya Ilahi sudah membuka tirai dan cahaya terang telah bersinar maka mata hati dapat memandang kebenaran dan keaslian yang selama ini disembunyikan oleh alam nyata. Semakin terang cahaya Ilahi yang diterima oleh hati akan menambah jelas kebenaran yang dapat dilihatnya.

Pengetahuan yang diperolehi melalui pandangan mata hati yang bersumber dari Cahaya Ilahi dinamakan ILMU LADUNI ATAU ILMU YANG DITERIMA DARI ALLAH SWT SECARA LANGSUNG. KEKUATAN ILMU YANG DIPEROLEHI BERGANTUNG KEPADA KEKUATAN HATI MENERIMA CAHAYA ILAHI.

Para pejalan spiritual awal yang hatinya belum cukup bersih, maka cahaya Ilahi yang diperolehinya tidak begitu terang. Oleh itu ILMU LADUNI yang diperolehinya masih belum mencapai peringkat yang halus. Pada tahap ini hati terkadang masih mudah goyah dan sewaktu-waktu mengalami kekeliruan. Kadang-kadang hati masih cenderung menuju yang samar-samar dan abu-abu.

Orang yang tataran spiritualnya pada peringkat ini memang perlu mendapatkan bimbingan dan penjelasan dari ahli makrifat yang ilmunya lebih tinggi. Apabila hatinya semakin bersih cahaya Ilahi semakin bersinar meneranginya dan dia mendapat ilmu yang lebih jelas. Lalu hatinya menghadap kepada yang lebih benar, sehinggalah dia menemui kebenaran hakiki.

TERBUKANYA MATA HATI MEMPERLIHATKAN KEPADA ANDA AKAN KEBERADAAN ALLAH. KESAKSIAN MATA HATI MEMPERLIHATKAN KEPADA ANDA KETIADAAN DIRI SELAIN WUJUD NYA. KESAKSIAN HAKIKI MATA HATI MEMPERLIHATKAN KEPADA ANDA BAHWA HANYA TUHAN YANG WUJUD, TIDAK TERLIHAT LAGI KETIADAAN DAN WUJUD ANDA.

Apabila hati sudah menjadi bersih maka hati akan menyinarkan cahayanya. Cahaya hati ini dinamakan Cahaya Qalbu. Ia akan menerangi AKAL lalu AKAL dapat memikirkan dan merenung tentang HAKIKAT KETUHANAN yang menguasai alam dan juga dirinya sendiri. Renungan akal terhadap dirinya sendiri membuatnya menyadari perjalanan hal-hal ketuhanan yang menguasai dirinya. Kesadaran ini membuatnya merasakan dengan mendalam betapa dekatnya ALLAH dengannya.

Lahirlah di dalam hati nuraninya perasaan bahwa DIA sentiasa mengawasi gerak-gerik kita, mendengar pembicaraan dan mengetahui bisikan hati kita. Jadilah dia seorang yang CERMAT, ELING DAN WASPADA.

Di antara sifat yang dimiliki oleh orang yang sampai kepada MARTABAT ini ialah: 1. CERMAT DALAM MELAKSANAKAN HUKUM TUHAN. 2. HATI TIDAK CENDERUNG KEPADA HARTA,  CUKUP DENGAN APA YANG ADA DAN BAHAGIA BILA BISA MEMBANTU ORANG LAIN DENGAN HARTA YANG DIMILIKINYA. 3. BERTAUBAT DENGAN SEBENARNYA (TAUBAT NASUHA) DAN TIDAK KEMBALI LAGI KEPADA KEJAHATAN. 4. RUHANINYA CUKUP KUAT UNTUK MENANGGUNG KESUSAHAN DENGAN SABAR DAN BERTAWAKAL  5. KEHALUSAN RUHANINYA MEMBUATNYA MERASA MALU KEPADA TUHAN DAN MERENDAHKAN DIRI KEPADA-NYA SAJA.

Orang yang taat kepada perintah-NYA senantiasa kuat melakukan ibadah dan meningkatlah kekuatan ruhaninya. Dia akan kuat untuk menyerahkan semua urusan kehidupannya kepada TUHAN saja. Dia tidak lagi takut apapun yang menimpanya. Dia tidak lagi tergantung kepada sesama makhluk. Hatinya teguh dan ikhlas dengan semua ketentuan-NYA.

BAHAYA dan BENCANA SEHEBAT APAPUN tidak lagi menggugat imannya dan KENIKMATAN DUNIA tidak lagi menggelincirkannya. Baginya SUKA dan DUKA, BENCANA dan KEBERUNTUNGAN sama saja, karena ini takdir yang SUDAH DITENTUKAN TUHAN untuknya dan takdir-NYA kepada kita pasti yang terbaik.

Orang yang seperti ini sentiasa di dalam penjagaan TUHAN karena dia telah menyerahkan dirinya kepada TUHAN juga. TUHAN menganugerahi orang ini dengan kemampuan untuk melihat dengan mata hati dan bertindak melalui Petunjuk Laduni, tidak lagi melalui pikiran, kehendak diri sendiri atau angan-angan. Pandangan mata hati kepada hal ketuhanan memberi kesan kuat kepada hatinya (kalbunya). Dia mengalami suasana yang menyebabkan dia menafikan perwujudan dirinya dan diisbatkannya kepada Wujud ALLAH.

Suasana ini timbul akibat hakikat ketuhanan yang dialami oleh hati.. Dia MERASAKAN benar-benar akan keesaan Allah bukan sekadar mempercayainya. Hakikat sesungguhnya hanya bisa dialami dengan mata hati. Mata hati melihat atau menyaksikan keesaan TUHAN dan hati merasakan akan keadaan keesaan itu. Mata hati hanya melihat kepada Wujud-NYA, tidak lagi melihat kepada wujud dirinya.

Orang yang di dalam suasana seperti ini telah transenden dari sifat-sifat kemanusiaan. Orang yang mencapai tingkat ini dikatakan telah mencapai maqam TAUHID SIFAT. Hatinya jelas merasakan bahawa tidak ada yang berkuasa melainkan DIA dan segala sesuatu datangnya dari ALLAH.

Yang perlu digarisbawahi, bahwa perjalanan spiritual manusia akan melalui beberapa tingkatan dalam proses mengenal Tuhan. Pada tahap pertama terbuka mata hati dan cahaya Qalbu memancar menerangi akalnya. Seorang yang akalnya diterangi cahaya Qalbu akan melihat betapa dekatnya TUHAN. Dia melihat dengan ilmunya dan mendapat keyakinan yang dinamakan ILMUL YAQIN.

Pada tahap keduanya mata hati yang telah terbuka. Seseorang tidak lagi melihat dengan mata ilmu tetapi melihat dengan mata hati dan mata hati memandang itu dinamakan KASYAF. KASYAF MELAHIRKAN PENGENALAN ATAU MAKRIFAT. Seseorang yang berada di dalam maqam makrifat dan mendapat keyakinan melalui kasyaf dikatakan memperolehi keyakinan yang dinamakan AINUL YAQIN. Pada tahap AINUL YAQIN seseorang telah menceburkan diri di wilayah kegaiban segala sesuatu termasuk dirinya sendiri. ###

Categories: ILMU LADUNI | 61 Komentar

CAHAYA PETUNJUK-NYA DATANG SETIAP SAAT


Kenapa manusia harus menunggu datangnya Petunjuk Tuhan? Apakah Tuhan begitu kejam sehingga lama memberi petunjuk kepada manusia? Sesungguhnya bukan Tuhan yang enggan memberi petunjuk, tapi manusia sendiri yang sibuk menutupi hatinya sehingga petunjuk-Nya tidak datang.

Di setiap pergerakan alam semikro apapun, kita pasti menemukan jejak yang merupakan tanda-tanda adanya Tuhan Yang Maha Pencipta. Kemampuan kita membaca tanda-tanda yang sejatinya merupakan cahaya petunjuk-Nya ini akan mengantarkan kepada pemahaman yang komprehensif terhadap apa yang seharusnya dilakukan manusia untuk menjalani hidup.

Kita akan semakin banyak mendapati pelajaran yang mengajarkan bagaimana agar kita bisa menangkap cahaya petunjuk Tuhan, yang selama ini, sebenarnya sudah ada. Satu persoalan penting yang membuat kita tidak mampu menangkap cahaya petunjuk tersebut dikarenakan yang kita lakukan sehari-hari justeru menutup datangnya petunjuk. Salah satu penutup tirai datangnya petunjuk adalah keakuan kita.

Untuk mampu menangkap cahaya petunjuk Tuhan, kita dituntut untuk terus mencari “pengetahuan” dengan belajar, mendalami dan mengamalkan makrifat. Menurut Abu Yazid Al-Busthami, “Makrifat itu berarti mengetahui bahwa gerak dan diam manusia bergantung pada Tuhan”. Artinya, dalam kehidupan ini, kita harus selalu menjadikanNya tujuan utama. Mendalami makrifat membutuhkan persiapan yang tidak ringan. Meskipun demikian, justru mereka yang mampu bertahan di “dunia” makrifat, kemudian mengaksentuasikan dan mengamalkan dalam keseharian, akan mendapatkan kebahagiaan lahir maupun batin.

Agar kita bisa menangkap cahaya petunjuk Tuhan tersebut, dibutuhkan proses nglakoni yang panjang. Proses ini akan menjadikan manusia yang dimabuk cinta kepada Allah ini makin tenggelam dalam-Nya. Tatkala proses dikesampingkan, ia hanya mendapatkan kenikmatan yang profan dan hampa. Pasalnya, proses tersebut akan membuatnya terbang menuju ruang bening: sebuah ruang yang tak terbatasi oleh ruang dan waktu, dan di dalam ruangan itu ia senantiasa bermesraan denganNya.

Berjalan di atas api lebih mudah bagi manusia secara kodrati daripada mengikuti jalan makrifat. Mengamalkan satu makrifat berarti harus mempelajari pengetahuan yang paripurna, meskipun ketika dibandingkan dengan ilmu Tuhan itu adalah sebuah titik kecil yang tidak ada apa-apanya. Kita harus memiliki pemahaman yang cukup untuk menyadari bahwa ilmu kita sangat sedikit. Dengan kata lain, manusia mampu mencapai ilmu manusia, bahkan kemanusiaan adalah hijab tertebal antara manusia dan Tuhan. Dalam hal ini ada sebuah syair: “Ketidakmampuan memahami itu adalah pemahaman. Tetapi, berhenti di jalan kesalehan adalah penyembahan berhala”.

Melalui makrifat inilah kita akan selalu tersinari cahaya petunjuk Tuhan. Kita pun akan mampu menyibak bayang-bayang semu yang selama ini menutupi jiwa. Kita juga akan mampu mengatasi ketakutan yang menggumpal-gumpal yang seringkali memerosotkan harga diri. Dengan makrifat, kita akan terjaring dalam pelukanNya yang amat menggairahkan. Cahaya petunjuk Tuhan pun terus menyinari langkah kita, sehingga kita tidak tersesat.

Makrifat akan memberikan peneguhan kepada kita tentang kedirian juga tentang adanya Tuhan: sebuah pengetahuan yang berdasarkan afirmasi atas perbuatan-perbuatan Allah, yang juga berarti pengakuan bahwa Zat Yang Mahatinggi dan Mahasuci adalah Pencipta manusia dan segala tindakan mereka; yang menciptakan dunia dari ketiadaan kepada keberadaan dengan perbuatan-Nya dan Pengatur kebaikan dan keburukan serta Pencipta segala yang berguna dan berbahaya.

Berbagai fenomena kehidupan ini hendaknya menjadikan kita mampu untuk melihat tanda-tanda keberadaan Yang Abadi. Makrifat berfungsi sebagai bekal identifikasi jiwa manusia dan sebagai pendukung dalam rangka mengeliminir sifat dan sikap yang jauh dari nilai-nilai kemanusiaan.

Hidup yang disebabkan makrifat ini memang selalu membuat cinta kepadaNya kian bersenyawa. Cahaya petunjuk itu mampu meluluhkan pelbagai kekotoran yang menempeli pada diri. Dzun Nun Al-Mishri berkata, “Makrifat pada hakekatnya adalah firman Allah tentang cahaya ruhani kepada kalbu kita yang terdalam”, yakni Allah menyinari hati manusia dan menjaganya dari ketercemaran sehingga semua makhluk tidak mempunyai arti biarpun hanya sebiji sawi di dalam hatinya. Kontemplasi tentang rahasia-rahasia Ilahi, lahir dan batin, tidak menguasainya. Dan, bila Allah telah demikian padanya, setiap kejapannya menjadi tindakan kontemplasi..

Barangsiapa yang mendapatkan makrifat ini, ia mendapatkan ledakan kenikmatan: tak terlukis dan di luar rasa biasa. Abu Bakr Wasithi berkata, “Barangsiapa yang diberkati dengan makrifat, (akan) terputus dari segala sesuatu, bahkan dia sepenuhnya bisu”. Nabi Muhammad bersabda, “Aku tidak mampu memuji-Mu dengan tepat”. Padahal, pada saat memuji Allah, Nabi bersabda, “Akulah yang paling fasih di antara orang-orang Arab dan bukan Arab.” Namun, ketika berbicara mengenai Allah, beliau berkata, “Aku tidak tahu bagaimana mengungkapkan pujian kepada-Mu. Aku berbicara kemudian bisu, dari kondisi spiritual kepada keadaan non-spiritual. Engkaulah Engkau. Ucapanku ini entah dariku atau dariMu. Jika aku berbicara dengan bahasaku, aku akan tertabiri oleh pembicaraanku. Jika aku berbicara melaluiMu, kesempurnaanMu akan menjadi cacat. Maka itu, aku tidak akan berbicara”

Demikianlah, kenikmatan tak terperi yang menunjam dalam jiwa seseorang yang mendapatkan makrifat. Cahaya Tuhan akan selalu ditangkupnya dalam dekapan cinta dan rindu yang membakar diri. Bias cahaya ini juga akan menjadikan peraihnya mampu berjalan di garis keseimbangan antara saleh sosial dan saleh ritual. Ganasnya medan kehidupan, kerasnya tantangan hidup dan menderunya kejahatan tiada akan menggoyahkan mereka yang beroleh makrifat. Gerak kehidupannya, bagi penemu cahaya petunjuk Tuhan, merupakan kesan batin: untuk berduaan denganNya.

Bagi mereka, susah senang, bahagia derita, kaya miskin, kehidupan dan kematian tidak berbeda….

Categories: MELIHAT PETUNJUK-NYA | 45 Komentar

MENATA HATI BEKAL MENJELANG MATI


Menjadi manusia normal sungguh sulit dan berat. Ini karena manusia dianggap kuat mengemban amanah kerasulan sepanjang masa. Ia dianggap khalifah yang mampu menjadi pilar tegaknya kebenaran, keadilan dan keindahan.

Dalam sejarah, sebelum amanah ini diberikan kepada manusia Tuhan sudah terlebih dulu menawarkan kepada semua jenis makhluk di muka bumi. Ternyata, semua mahluk mengakui dirinya tidak mampu menggenggam amanah. Kecuali, satu makhluk yang konon memiliki unsur paling lengkap di jagad raya: Manusia.

Karena sudah ketiban sampur memegang amanah inilah, manusia harus mampu mengolah dirinya sedemikian rupa agar mampu melaksanakan dengan seefektif dan seefisien mungkin. Pikirannya harus terus berkarya kreatif untuk keberlanjutan kehidupan bumi, berpikir positif, jangan berbuat kerusakan, hatinya selalu menep dan santun untuk terus menyapa dan berasyik masyuk dengan Gusti Allah.

Dalam diri manusia ada unsur cipta, rasa dan karsa. Ketiganya menjadi alat manusia untuk meraba pergelaran alam semesta ini. Ini alat canggih yang tidak dimiliki oleh malaikat, jin, maupun seonggok batu yang tentu saja juga merupakan makhluk Tuhan.

Manusia perlu menganggap alam semesta sebagai teman dan sahabat, jangan berdiri di atas alam semesta dengan angkuh, congkak dan sombong dan merasa gumede, adigang adigung adiguna. Sikap menganggap diri lebih hebat derajatnya daripada alam semesta akan membawa pada eksploitasi alam. Alam dimanfaatkan sedemikian rupa sehingga akhirnya rusak.

Sehebat apapun manusia mengolah alam agar lestari, pada kenyataannya masih lebih baik bila alam melestarikan dirinya sendiri. Kini, tugas kita adalah menggenggam dan meneruskan amanah kekhalifahan yang mampu menjadi pilar tegaknya kebenaran, keadilan dan keindahan di alam semesta. Sebuah tugas berat dan mulia…

Setidak-tidaknya bila belum mampu berbuat baik, ya jangan berbuat kerusakan. Sebagaimana tahapan awal seorang sufi menempuh salik, yaitu berkhalwat, uzlah. Memisahkan diri dari manusia dengan tujuan menyadari kekotoran dirinya dan agar masyarakat tidak terkotori oleh tangan-tangan jahatnya.

Manusia… manusia… usiamu sangat pendek di dunia, tata hatimu sebagai bekal menjelang mati.

Categories: MENATA HATI | 13 Komentar

KENAL DIA DULU, BARU IBADAH


Sebelum menjalankan ibadah, kita harus tahu dulu kepada siapa kita beribadah. Mengenal Siapa Tuhan oleh karena itu menjadi landasan ibadah.

Dalam kitab suci dikatakan, AWALUDDIN MAKRIFATULLAH (AWAL MULA AGAMA ADALAH MENGENAL ALLAH). Apabila seseorang itu tidak mengenal ALLAH, segala amal perbuatannya tidak akan sampai kepada ALLAH. Sedangkan, segala perintah agama yang dikerjakan baik yang berbentuk fardhu maupun sunat, dan segala perintah larang yang kita jauhi, baik yang berbentuk haram maupun makruh, hendak kita tujukan kepada ALLAH.

Kalau kita tidak MENGENAL ALLAH SWT, maka segala PERBUATAN itu tidak akan sampai kepada-Nya. Ini berarti, sia-sialah segala amalan yang kita perbuat.

Bila seseorang itu sudah MENGENAL ALLAH, barulah semua aktivitas atau perbuatannya akan sampai kepada ALLAH.

Apabila dia berpuasa, puasanya sampai kepada ALLAH. Apabila dia sholat, sholatnya sampai kepada ALLAH. Apabila dia berzakat, zakatnya sampai kepada ALLAH. Apabila dia menunaikan haji, hajinya sampai kepada ALLAH SWT. Apabila dia berjuang, bersedekah dan berkorban, serta segala amal bakti seseorang itu akan sampai kepada ALLAH SWT.

Kerana itulah, MAKRIFATULLAH (MENGENAL ALLAH) ini amat penting. Jika tidak mengenal-NYA, kita bimbang dan ragu apakah segala amal ibadah kita akan sampai kepada-Nya, sehingga menjadi sia-sia belaka.

Boleh jadi kita akan tertipu dengan angan-angan dan harapan yang kosong belaka. Kita mengira amalan yang kita perbuat sudah kita persembahkan kepada ALLAH, padahal itu adalah jebakan nafsu dan keinginan kita sendiri.

Ini karena kita tidak mengenal ALLAH, sehingga kita tidak mampu membedakan ilah (tuhan) yang kita ikuti, apakah itu ALLAH, atau nafsu yang menipu daya. Sebab itulah mengenal ALLAH itu hukumnya FARDHU ‘AIN bagi tiap-tiap mukmin.

MENGENAL ALLAH DAPAT KITA LAKUKAN DENGAN CARA MEMAHAMI SIFAT-SIFAT-NYA. KITA TIDAK DAPAT MENGENAL ALLAH MELALUI ZAT-NYA, KARENA MEMBAYANGKAN ZAT ALLAH ITU ADALAH SUATU PERKARA YANG SUDAH DI LUAR BATAS KESANGGUPAN AKAL KITA SEBAGAI MAKHLUK ALLAH.

Kita dapat mengenal ALLAH melalui sifat-sifat-Nya dengan penghayatan dalam perilaku yang disertai dengan kesadaran dari akal budi yang tercerahkan dengan ilmu dalam berbagai tingkatan sesuai dengan kemampuan manusia!

Untuk memahami sifat-sifat ALLAH itu, kita memerlukan DALIL AQLI DAN DALIL NAQLI. Dalil aqli adalah dalil yang bersumber dari akal (aqli dalam bahasa Arab = akal). Dalil naqli adalah dalil yang bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Melalui dalil aqli dan dalil naqli ini kita dapat mengenal ALLAH. Dua hal itu menjadi jembatan untuk mengetahui sifat-sifat ALLAH.

SIFAT-SIFAT ALLAH

Sifat-sifat Wajib
Sifat kesempurnaan yang pasti dimiliki oleh ALLAH SWT, jumlahnya 20.

Sifat-sifat Mustahil
Sifat yang mustahil dimiliki ALLAH SWT, jumlahnya juga 20.

Sifat Jaiz / Mubah
Sifat yang bebas bagi ALLAH, jumlahnya hanya satu, yaitu ALLAH SWT BERKEHENDAK SESUATU ATAU TIDAK BERKEHENDAK.

TIGA CIRI ORANG YANG TELAH MAKRIFAT

Dzun Nun Al-Misri, berkata :
“Orang yang makrifat kepada Allah SWT adalah orang yang memenuhi janjinya, hatinya cerdas dan amalnya bersih.”

Orang yang makrifat kepada Allah SWT dengan demikian adalah :

1 Orang yang memenuhi janjinya kepada Allah swt. dengan berada DI GARIS ORBIT KETENTUAN YANG TELAH DIGARISKAN-NYA: Mengerjakan semua perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

2 Hatinya bersih dan ikhlas bisa menerima APAPUN KEJADIAN YANG MENIMPANYA.

3 Amalnya perbuatannya DILANDASI KEBENARAN dan semakin bagus dari hari ke hari.

***

Categories: MAKRIFAT DASAR IBADAH | 21 Komentar

RITUAL BERSIH DESA


Bersih Desa adalah sebuah ritual dalam masyarakat kita. Bersih Desa merupakan warisan dari nilai-nilai luhur lama budaya yang menunjukkan bahwa manusia jadi satu dengan alam. Ritual ini juga dimaksudkan sebagai bentuk penghargaan masyarakat terhadap alam yang menghidupi mereka.

Acara ritual Bersih Desa ini biasanya berlangsung satu kali dalam setahun. Acara ini dibagi dalam serangkaian acara. Hari pertama biasanya dikhususkan untuk ritual sesaji dan persiapan-persiapan segala hal untuk hari berikutnya. Sesaji ditaruh di titik yang meliputi pusat-pusat desa, tempat-tempat keramat, tempat-tempat yang berkaitan dengan air (sumur, sungai, mata air), batas-batas desa (utara, selatan, timur, barat), setiap perempatan, dan setiap pertigaan di wilayah tersebut.

Hari kedua, acara berisikan kesenian-kesenian budaya lokal. Acara-acara seperti warok, kuda lumping, dan tari-tarian mendominasi. Di hari ini pula ada acara makan bersama, dimana setiap warga memasak makanan masing-masing, lalu dibawa ke tempat berlangsungnya acara kesenian, dan makan bersama-sama.

Dulu, saat Bersih Desa biasanya digelar Tayub. Tapi kemudian dilarang pemerintah karena berbau komunis. Bisa disimpulkan bahwa Bersih Desa adalah pernyataan masyarakat terhadap identitas, akar budaya, dan idealisme melalui pengalaman otentik orisinal komunitas, dimana komunitas menjadi pencipta budayanya sendiri, bukan hanya obyek yang dicekoki oleh rezim kebudayaan yang menghegemoni, seperti globalisasi budaya kapitalistik ataupun totalitarianisme budaya. ***

Categories: BERSIH DESA | 14 Komentar

ENAM MACAM SAHADAT


SAHADAT

Sahadat artinya kesaksian. Kesaksian manusia terhadap eksistensinya. Bahwa sejatinya dia adalah hamba Tuhan. Dalam khasanah Pengutusan Wahyu sepanjang masa, mulai dari Adam AS hingga Muhammad SAW, setidak-tidaknya kita mengenal ada enam kesaksian. Berikut wawancara saya dengan KI KUMITIR tentang sahadat dan macamnya beberapa saat yang lalu.

WONG ALUS: Apa arti Sahadat bagi Panjenengan Ki?

KI KUMITIR: Sahadat artinya kesaksian seorang hamba setelah dipilih oleh-Nya menjadi wakil Tuhan bagi alam semesta.

WONG ALUS: Wakil Tuhan apa sama dengan Rasul Ki?

KI KUMITIR: Bisa sama tapi bisa juga tidak. Rasul jelas wakil Tuhan, tapi hakikat sesungguhnya bahwa setiap individu adalah wakil Tuhan juga.

WONG ALUS: Saya pernah mendengar bahwa sahadat setiap rasul yang diturunkan Tuhan di muka bumi ini berbeda-beda. Apa demikian Ki?

KI KUMITIR: Beda bunyinya, tapi substansinya sama. Yaitu tetap pengakuan eksistensi Tuhan Gusti Allah SWT. Tuhan Pencipta Semua Yang Ada. Ada kekhususan pada sahadat Muhammad SAW. Nabi terakhir ini mewartakan pertemuan langsung atau Makrifat kepada-Nya. Ini yang beda dengan syahadat para rasul yang lain.

WONG ALUS: Bisa dijelaskan secara rinci bagaimana bunyi sahadat masing-masing rasul Ki?

KI KUMITIR: Baiklah, akan saya paparkan sebagai berikut:

1. SAHADAT ADAM

Rasul yang pertama adalah nabi adam bunyi sahadatnya begini:

ASHADU ALA ILAHA ILLALLAH WA ASHADU ANNA ADAM KHALIFATULAH.

PERINTAH TUHAN: hai adam kamu adalah utusan ku. Kamu jangan mempunyai keinginan ma’rifat kepada ku.

WALLAHU BATINUL INSAN AL INSANNU DOHIRULLAH.

Artinya: ketahuilah wujud kamu. Kenallah diri kamu. Wujud kamu adalah keadaan wujud aku. Hai! Adam setelah kamu memahami dan mengerti wujud kamu adalah wujud aku. Sekarang kamu harus sholat dua raka’at. Maka sholatlah adalah agar kamu menerima kebaikan.

2. SAHADAT NUH

Rasul yang ke dua adalah nabi nuh sahadatnya adalah begini:

ASHADU ALLA ILAHA ILLALLAH WA ASHADU ANNA NUH HABIBBULLAH.

PERINTAH TUHAN: Hai nuh kamu adalah utusan kami. Kamu jangan berkeinginan ma’rifat kepada kami.

Dalilnya SAMA-SAMI’AN. Kenallah pendengaran  kamu. Pendengaran kamu adalah kenyataan pendengaran kami. Tapi sekarang kamu Nuh harus sholat di waktu zuhur empat raka’at dan kamu harus menerima di berikan dua kuping, dua mata. Begitulah sebabnya sholat zuhur empat raka’at.

3. SAHADAT IBRAHIM

Rasul yang ke tiga adalah nabi ibrahim sahadatnya adalah begini:

ASHADU ALLA ILAHA ILLALLAH WA ASHADU ANNA IBRAHIM KHALIFATTULLAH.

PERINTAH TUHAN: Hai ibrahim kamu adalah utusan kami.kamu jangan berkeinginan ma’rifat kepada kami.

Dalilnya (BASYAR dan BASIRON) Ketahuilah penglihatan kamu. Penglihatan kamu adalah kenyataan penglihatan kami. Kamu harus sholat asar empat raka’at dan kamu harus menerima di berikan dua mata, dua tangan. Begitulah sholat asar wajib kepada umat umatnya.

4. SAHADAT ISA

Rasul yang ke empat adalah nabi isa sahadatnya adalah begini:

ASHADU ALLA ILAHA ILALLAH WA ASHADU ANNA ISA ROKHULLAH.

PERINTAH TUHAN: Hai isa ketahuilah bahwa nafas kamu adalah kenyataan hidup aku. Dan kamu harus sholat tiga raka’at di waktu magrib dan kamu harus mengerti bahwa kamu telah di berikan dua lubang hidung dan nafasnya. Begitulah sebabnya fardu sholat magrib tiga raka’at.

5. SAHADAT MUSA

Rasul yang ke lima adalah nabi musa sahadatnya begini: (kata hidup kita kepada suaranya).

ASHADU ALLA ILAHA ILLALLAH WA ASHADU ANNA MUSA KALAMMULLAH.

PERINTAH TUHAN: Hai Musa kamu adalah utusan kami. Kamu jangan berkeinginan ma’rifat kepada kami. Kenalilah ucapan kamu. Ucapan kamu adalah kenyataan ucapan Ku.

Dalilnya KALAM-MUTAKALIMAN tapi kamu sekarang harus sholat empat raka’at di waktu Isya dan kamu harus menerima di berikan depan, belakang, kanan, kiri. Begitulah sebabnya fardu sholat isa empat raka’at.

6. SAHADAT MUHAMMAD

Rasul yang ke enam adalah nabi muhammad. sahadatnya adalah begini:

ASHADU ALLA ILAHA ILALLAH WA ASHADU ANNA MUHAMMADDARASULLULLAH.

PERINTAH TUHAN: Hai muhammad kamu adalah utusan kami. Sekarang kamu harus tajali. Kamu harus ma’rifat kepada kami sebab kamu adalah yang paling dekat kepada kami.

Dalilnya: AL INSANNU SIRRI WA ANNA SIRRUHU. artinya: Muhammad! rasa kamu adalah rasa kami. Maka pangkat mu Rasullulah. rasa kamu-rasa kami. Sekarang kamu adalah kekasih kami. Ini kami memberi cara untuk mendekatkan diri kepada kami. Turunlah kamu kepada anak cucu para wali dan umat-umat mu sampai akhir jaman. Begitulah perjanjian kepada rasul.

WONG ALUS: Terima kasih Ki, semoga membawa manfaat bagi kita semua.

KI KUMITIR: Sama-sama Mas, Saya cuma wong cubluk jadi sorry kalau ada kesalahan. Itu semata-mata karena keterbatasan saya sebagai manungso. ***

Categories: ENAM MACAM SAHADAT | 92 Komentar

PERJALANAN MENEMBUS MALAM


Isra Mi’raj merupakan momen pernyataan-Nya. Bahwa bila Anda berjalan di orbit yang digariskan-Nya, maka Anda akan mampu menjadi diri yang sejati.

Dalam memperingati Isra Mi’raj biasanya kita akan mengingat kembali perjalanan yang dilakukan Rasulullah SAW dari masjidil Haram ke masjidil Aqsa kemudian naik ke Sidrat al Muntaha.

Interpretasi perjalanan ini bisa beragam. Ada yang menafsirkan ini sebagai perjalanan simbolik ruhani Rasulullah untuk menembus hijab-hijab/tirai-tirai kemanusiaan yang menutup selubung ketuhanan. Ada pula yang menafsirkan sebagaimana perjalanan fisis biasa yang dilakukan manusia dengan cara terbang melebihi kecepatan cahaya hingga menembus aras langit sap tujuh yang terletak di atas sana.

Dengan berbagai alasan, saya lebih sepakat dua interpretasi itu podho benere/ dua-duanya benar. Yaitu perjalanan ruhani untuk bertemu dengan SANG PEMEGANG KENDALI KEBENARAN, TUHAN SEMESTA ALAM YANG BERSEMAYAM DEKAT DALAM DIRI MANUSIA. Sekaligus juga PERJALANAN FISIK BELIAU MENUJU KE ISTANA-NYA. Yaitu perjalanan ruhani menuju YANG MAHA BATIN, dan perjalanan fisik menuju YANG MAHA LAHIR/JASAD/FISIK.

Bila dipecah, maka kata Isra Mi’raj ini dapat dibagi pada dua kata yaitu Isra dan Mi’raj. Isra’ berarti perjalanan malam (yang disimbolkan dari masjidil Haram ke masjidil Aqsa), sedangkan Mi’raj berarti NAIKNYA Rasulullah (yang disimbolkan dari masjidil Aqsa naik ke tiap langit sampai Sidratul Muntaha).

Segala ide manusia memiliki HUBUNGAN SEBAB AKIBAT YANG SOSIOLOGIS. Termasuk juga dengan peristiwa Isra’ Mi’raj. Momen Isra’ Mi’raj terjadi saat RASULULLAH DITEMPA UNTUK MENJADI MANUSIA PILIHAN. Yaitu terjadi di masa sang Kekasih Tuhan ini menghadapi cobaan hidup yang sulit penuh kesedihan, ketika nabi kehilangan dua orang yang menjadi pilar perjuangannya, orang yang dicintainya, dikasihi, sangat dihargai, bahkan melebihi rasa sayang pada diri beliau sendiri.

Dua orang tersebut adalah Abu Thalib –paman– dan Siti Khadijah –istri, dua orang yang selalu mendukung dan membantu perjuangannya. INILAH MOMEN PUNCAK COBAAN yang dihadapi Muhammad SAW. Hampir saja dia putus asa dan lupa telah dilantik oleh TUHAN untuk menjadi UTUSAN YANG MENYAMPAIKAN KEBENARAN KEPADA MANUSIA.

TUHAN MAHA TAHU kemudian memerintahkan Jibril untuk memperjalankan Rasulullah dari masjidil Haram (Makkah) ke masjidil Aqsa (Palestina) untuk kemudian menuju SIDRAT AL MUNTAHA. Peristiwa menembus dimensi ruhani dan sekaligus fisik ini berlangsung hanya TEMPO SEMALAM, sebuah waktu yang sangat pendek atau sangat amat luar biasa.

Apa yang Allah SWT inginkan dengan plesir-nya Sang Rasul? Setidaknya, ada dua alasan yaitu PEMBERITAHUAN HAL GHAIB DAN PEMBERIAN PERINTAH SHOLAT. Pemberitahuan hal ghaib dapat dinalar saat dalam Isra Mi;raj itu Rasulullah diperkenankan melihat ke surga dan neraka, pertemuan Rasulullah SAW dengan para nabi terdahulu, Mulai Adam hingga Isa.

Kita tahu, hal ghaib merupakan salah satu yang harus dipercaya.  Entah itu masuk akal, pernah mengalami dengan mata hati atau mata wadag atau tidak. Yang jelas instruksinya: WAJIB PERCAYA. Jadi hal ghaib merupakan aspek yang biasanya masih berada di luar pemetaan nalar manusia, sehingga PENGIMANAN TERHADAP HAL GHAIB MENJADI SUBSTANSI KEIMANAN SESEORANG.

Sedangkan mengenai PERINTAH SHOLAT dapat dimaknai  sebagai keharusan manusia untuk tunduk dan sujud makhluk kepada YANG MAHA TIDAK BISA DIDEFINISIKAN. Dengan tunduk dan sujud kepada GUSTI inilah kehidupan peradaban bisa ditata dan dikonstruksi.

MANUSIA sebagaimana yang DICONTOHKAN RASUL adalah tulang punggung perjuangan menegakkan KASIH SAYANG, KEBENARAN, KEADILAN, KESEJAHTERAAN DAN KESELAMATAN DI ALAM SEMESTA. Substansi inilah yang harusnya dipahami oleh manusia lintas agama dan kepercayaan manapun.

Isra’ Mi’raj setidaknya menunjukkan kepada kita bahwa MANUSIA ADALAH MAKHLUK SPIRITUAL yang merindukan DIRINYA YANG SEJATI. Yaitu diri yang BERTAKWA (Berada di orbit dan ketentuan-Nya) dan AMAL SHOLEH (Perilaku di dalam Orbit-Nya).

SELAMAT MENEMPUH PERJALANAN MALAM: 27 RAJAB 1430 HIJRIYAH.
DAN SENANTIASA ELING LAN WASPADA…

Wong Alus

Categories: ISRA MIKRAJ | 23 Komentar

JUMAT SUWUNG (2)


JW Marriot
Ritz Carlton

darah/ air mata

Jumat:
tujuh belas
bulan tujuh
jam tujuh


ikhlaslah

sujudlah

Ikhlaslah

sujudlah

Inalillahi  wainna ilaihi rojiun

(karena Manusia,
tak bisa memilih
kapan tangisnya meledak
menembus tujuh langit hijab)

Categories: PUISI & PROSA | 10 Komentar

PARTIKEL-PARTIKEL TUHAN


guestarticle_1_quark

Berapa jarak antara Tuhan dengan manusia? Di dalam kitab suci disebutkan sangat dekat. Berapa dekat? “Aku lebih dekat dari urat leher kalian…”atau dimana saja kalian menghadap disitu wujud wajah-Ku ….dan Aku Maha Meliputi Segala Sesuatu.”

Itu berarti TUHAN TIDAK BISA DILIHAT HANYA DARI SATU DIMENSI SAJA, AKAN TETAPI TUHAN MERUPAKAN KESEMPURNAAN WUJUD-NYA
Sangat jelas sekali bahwa Tuhan menyebut dirinya “AKU” BERADA MELIPUTI SEGALA SESUATU, dan DIMANA SAJA ENGKAU MENGHADAP DISITU WAJAH-KU BERADA!!!

Jawaban Tuhan ini begitu lugas dan DIA tidak merahasiakan sama sekali wujud-Nya. Namun dimana? Apakah Tuhan MAHA PEMBOHONG dengan firmanNya ini? Mampukah akal kita menjangkau pernyataan Tuhan yang sedemikian gamblang itu dengan akal?

Yang hebat adalah para ilmuwan fisika. Justeru dari kajian-kajian merekalah, kita mendapatkan referensi tentang pernyataan Tuhan yang bagi kita sangat metafisis dan berada pada wilayah KEYAKINAN BELAKA. Bagi kaum fisikawan modern, Tuhan tidak boleh sekedar dipercaya melainkan harus bisa dipetakan dalam rumus-rumus sehingga HARUS BISA DIBUKTIKAN.

Mari kita membuka literatur-literatur ilmu fisika dan mengolah sedikit nalar dengan pendekatan ala fisikawan untuk menelusur keberadaan Tuhan yang katanya LEBIH DEKAT DARI RASA DEKAT INI.

Kita mulai dengan penalaran sederhana: Bila diandaikan bahwa SATU INTI ATOM ini diperbesar sebesar bola golf, maka dia akan memiliki kulit atom 1 kilometer jauhnya, kulit kedua 4 km dan kulit ketiga 9 km. Sehingga apabila diteruskan maka alam semesta ini lebih banyak KOSONG-nya.

KOSONG adalah keadaan tanpa ada apa-apa, materi=nol + energi=0. Diameter jagat kita katanya mencapai 100 milyar tahun cahaya = 100 milyar x 300,000 km/detik x 365 hari x 24 jam x 60 menit x 60 detik = silahkan dihitung sendiri. Ada yang menghitung bahwa kepadatan masa alam semesta adalah satu per 10 pangkat 26 kg/m3. Dalam sebuah kotak sejuta km x sejuta km x sejuta km cuma ada 1 kg materi kira-kira sekepal logam. Logam inipun mengandung KOSONG dan jika kita remas sampai sebiji kedele. Kesimpulannya, alam semesta ini sesungguhnya didominasi oleh yang KOSONG.

Apakah gerangan KOSONG itu? KOSONG TAK ADA PENCIPTANYA DAN TAK ADA PENYEBABNYA. KOSONG SUDAH ADA SEBELUM ADA EKSISTENSI. KOSONG ITU TANPA AWAL TANPA AKHIR. DILUAR BATAS JAGAT YANG ADA ADALAH KOSONG. KOSONG ADA DI DALAM JAGAT. KOSONG ADA DI DALAM SETIAP MATERI. SEJAK KITA MASIH BERUPA SEL SAMPAI MENINGGAL KITA TAK PERNAH BERPISAH DARI KOSONG.

KOSONG ADA DIMANA-MANA,
MAHA ADA DAN MAHA HADIR.

KOSONG adalah Maha Besar karena biarpun misalnya jagat mekar sampai triliunan kali, selalu saja di luarnya ada KOSONG dan di dalam volume KOSONG akan mendominasi. Sebaliknya, apa yang terjadi jika jagat ini diremas agar tak ada KOSONG dalam jagat? Maka masa jagat menjadi sangat sangat besar, elektron menyentuh inti atom dan yang terjadi adalah kekacauan dan akhirnya, BLARR….meledak!!!!. KOSONG tidak bisa ditiadakan. KOSONG tidak bisa tidak HARUS ADA.

KOSONG memiliki sifat-sifat TUHAN: tak ada penciptanya, tak ada penyebabnya, tak ada batasnya (infinite), kekal, abadi, tak bisa dihilangkan, ada dimana-mana, ada didalam jagat ada diluar jagat, ada manunggal dengan jagat. KOSONG tidak berwarna, tidak berbau, tidak berbobot dan tidak bergerak. Demikian kecilnya jagat sehingga ibarat sebutir debu di padang pasir Biarpun debu beterbangan, KOSONG tetap tak bergerak.

Dulu orang mengira KOSONG itu tidak ada materinya, belakangan ketahuan ada materi-KOSONG dan energi-KOSONG. Materi KOSONG tidak bisa terdeteksi oleh indra bahkan dengan bantuan alat (teleskop x-ray dan infra). Dari mana orang tahu bahwa materi-KOSONG ini ada? Dari perhitungan sebuah galaksi bisa dihitung masanya. Ketika sudah ketemu angkanya tidak klop dengan perputaran galaksi. Tidak klopnya bukan hanya 10-20%, tetapi 400%, maka orang pun curiga bahwa ada materi-KOSONG menyelimuti jagat.

Ketika terjadi tabrakan antara dua galaksi kelihatan. Akibat tabrakan ini materi KOSONG ikut terbakar dan cahayanya lain dengan materi biasa. Yang berwarna kebiruan adalah materi-KOSONG.

Materi KOSONG mempengaruhi gravitasi tetapi tak terpengaruh oleh elektromagnetik sehingga tidak memantulkan cahaya dan akibatnya tidak terdeteksi. Materi KOSONG berinteraksi lemah dengan materi biasa. Belum jelas apakah materi-KOSONG ini memiliki karakteristik sama dengan materi biasa. Yang jelas ternyata masanya lima kali lebih banyak dari materi biasa.

Dulu orang berpendapat bahwa jagat ini statis termasuk Einstein. Belakangan orang yakin bahwa jagat mengembang semakin lama semakin semakin cepat. Apa artinya? Ada energi yang mendorong! Energi ini karena energi-KOSONG. Setelah dihitung ternyata jagat ini 73% energi KOSONG + 23% materi KOSONG = sudah 96%. Gas-gas antar galaktika yang didominasi Helium dan Hidrogen 3.6%. Sisanya barulah bintang, planet, dan massa padat.

Dari dua tesis ini orang mengira bahwa yang kita pahami sebagai KOSONG tidak benar-benar KOSONG. Adalah fisikawan John Baez telah menghitung berapa kandungan energi pada suatu KOSONG. Hasilnya adalah beberapa kemungkinan. Kandungan energi KOSONG bisa: (1). NOL, (2). KECIL SEKALI MENDEKATI NOL (3). TAK BERHINGGA, (4). BESAR SEKALI TETAPI BERHINGGA, (5). TAK BISA DIHITUNG.

Dari lima kemungkinan itu, yang paling masuk akal adalah nomor 2+5. Partikel subatomik tiba-tiba muncul dan tiba-tiba menghilang tanpa bisa ditebak. 1+1 bisa = 2, bisa = 0, bisa = 3, bisa =4, dan seterusnya. Bagaimana bisa dihitung? Maka suatu KOSONG bisa memiliki kandungan energi dalam semua kemungkinan. Bisa kecil sekali, sampai besar sekali. Artinya yang kita pahami sebagai KOSONG belumlah betul-betul KOSONG sebab KOSONG haruslah materi+energi+YANG TIDAK DIKETAHUI= nol.

Partikel subatomik itu ada banyak sekali, ada yang nyata terdeteksi pirantinya ada yang materi hipotesis, artinya belum jelas apakah materi itu benar-benar ada. Partikel elemeter misalnya FERMION, QUARK, LEPTON, GLUON, BOSON. Ada pula yang berupa gabungan partikel seperti HADRON (PROTON+NUTRON), BARYON, MESON.

Salah satu partikel hipotesis itu ada yang namanya HIGGS BOSON, yang kadang dinamakan PARTIKEL TUHAN, HIGGS BOSON adalah partikel dalam KOSONG yang menyebabkan partikel subatomik memiliki bobot. Yang kita pahami sebagai KOSONG sebenarnya isi yaitu medan Higgs. Dalam analogi, PARTIKEL ADALAH IBARAT ORANG BERJALAN DALAM LUMPUR, QUARK ADALAH PERENANG DI DALAM LUMPUR. QUARK ADALAH IBARAT ORANG BERENANG DENGGAN PAKAIAN MUKENA. ELEKTRON ADALAH DENGAN TOPLESS DAN PROTON ADALAH BELUT. MAKA MEDAN HIGGS ADALAH SEBUAH LAUTAN YANG MENYEBABKAN PARTIKEL PUNYA MASA DAN AKHIRNYA MUNCUL HUKUM GRAVITASI.

Di Eropa para ilmuwan mengadakan percobaan raksasa namanya Large Hadron Collider (LHC). LHC adalah ring pipa-pipa dengan diameter 27 km terpendam di perbatasan Prancis dan Swis. Dalam ring ada hadron, dalam hal ini proton, ditabrakkan pada kecepatan cahaya. Sehabis ditabrakkan, diselidiki apakah benar ada “partikel terkutuk”. Jika benar kesimpulannya adalah tak ada KOSONG. Yang kita pahami sebagai KOSONG adalah sebuah lautan yang menyebabkan partikel subatomik memiliki masa sekaligus wujud sebagai eksistensi. Jika tak terbukti? Semua teori yang bertumpu pada “partikel terkutuk” ini akan ambrol.

Barangkali juga bahwa dalam KOSONG tak hanya ada partikel Higgs tetapi ada yang lain. Barangkali KOSONG = X% KOSONG + Y% YANG TIDAK DIKETAHUI, dimana partikel Higgs adalah anggota YANG TIDAK DIKETAHUI. Jika benar YANG TIDAK DIKETAHUI ada, justru KOSONG yang harus dibuktikan ada. Untuk sementara anggaplah KOSONG justru yang tidak ada, yang ada adalah si YANG TIDAK DIKETAHUI. YANG TIDAK DIKETAHUI sudah ada sebelum apapun eksis, bahkan sebelum Bigbang. YANG TIDAK DIKETAHUI adalah sumber energi dan materi, baik yang tampak maupun yang KOSONG. Diantara inti atom dan elektron bukan ada KOSONG tetapi ada YANG TIDAK DIKETAHUI.

YANG TIDAK DIKETAHUI memenuhi syarat untuk disebut SANG PENCIPTA karena tak ada yang menciptakan, tak ada yang menyebabkan, tak ada awal, tak ada akhir, menjadi penyebab awal terjadinya jagat, CAUSA PRIMA. tak berbentuk, ada dimana-mana, tidak bisa dimusnahkan, tidak bisa dihilangkan, ada di dalam jagat, ada diluar jagat, ada dalam diri manusia, maha besar, dst.

Apapun isi YANG TIDAK DIKETAHUI itu bisa kita sebut TUHAN sepanjang definisi TUHAN adalah yang menyebabkan jagat ini eksis, lepas dari terjadinya jagat karena sengaja atau tidak. Tetapi TUHAN yang seperti ini bukanlah Tuhan Antromorphis — yang punya kehendak, punya emosi, dan tiba-tiba bisa mencipta, minta disembah, menawarkan surga, mau menghukum yang tak percaya, tanpa alasan yang rasional.

Siapa atau apa si YANG TIDAK DIKETAHUI belum sepenuhnya terbuktikan. Statusnya masih membingungkan. Tetapi paling tidak, ada upaya-upaya pencarian bukti-bukti keberadaan-Nya. Berbeda dengan mistisme dalam tradisi keyakinan dan agama. Ada yang bertapa dibawah Bodhi lantas, SUWUNG. Ada yang bertapa di gunung Sinai lantas, SUWUNG. Ada yang bertapa di gua hira lantas, SUWUNG. Sesudahnya tak ada upaya apapun untuk membuktikan dan hanya PERCAYA.

Kaki Manusia menapak dari satu KESALAHAN ke KESALAHAN yang lainnya. Dulu dikiranya bumi datar, dikiranya matahari mengelilingi bumi, dikiranya jagat itu statis, dikiranya ekspansi jagat melambat, dikiranya KOSONG ternyata ada materi dan energi KOSONG. Sekarang proyek LHC yang harganya 10 miliar dollar ingin membuktikan bahwa KOSONG itu ada Higgs Boson. Jika ilmuwan benar, maka yang dulu kita sebut KOSONG adalah SUMBER DARI EKSISTENSI yang kita sebut saja si YANG TIDAK DIKETAHUI.

Lantas ada yang bertanya, siapa yang menciptakan si YANG TIDAK DIKETAHUI? YANG TIDAK DIKETAHUI masih membingungkan karena tidak bisa membuktikan tak ada penciptanya. Tetapi paling tidak manusia sudah mendekati JANTUNG SUMBER EKSISTENSI. Barangkali juga manusia tidak pernah bisa.

Kontroversi kedua adalah bagaimana eksistensi terjadi? Misalnya ada yang berpendapat bahwa terjadinya jagat adalah karena proses yang tidak disengaja. Ada pula yang berpendapat ketidaksengajaan itu adalah INTER KONEKSI dan INTER REAKSI sehingga yang terjadi selanjutnya adalah konsekuensi dari peristiwa yang mengawali. Bukan karena adanya INSINYUR PERANCANG JAGAD.

Ada sebuah kisah saat seseorang berfantasi tentang Tuhan yang maha tahu. Karena mahatahu ia menjadi bosan karena semua peristiwa sudah diketahuinya. Ibarat nonton video ribuan kali, akhirnya bosan. Akirnya dia bunuh diri dengan meledakkan diri. Persis seperti bom bunuh diri. Maka tuhan hancur berkeping-keping.

Menurut kisah ini, tuhan yaitu alam semesta ini dianggap sedang memulihkan diri. Semakin lama semangkin cerdas semakin memiliki kesadaran yang tercermin dalam diri manusia. Tuhan mungkin juga sedang reinkarnasi atau bermetamorfosis seperti kupu.

Namun, Tuhan jelas tidak akan punah karena Tuhan bukanlah hanya Sang Pencipta. Tuhan juga sebagai psikolog bagi yang jiwanya merana. Teman untuk sumber harapan sesudah mati, teman untuk dijadikan kambing hitam atas peristiwa buruk yang dialami, teman yang bisa dijadikan pembenaran atas tindakannya. Teman yang diharapkan agar bisa membalas sakit hatinya atas ketidakadilan yang ia rasakan.

JIKA ADA SATU JUTA ORANG, BARANGKALI ADA SATU TUHAN YANG BENAR-BENAR DITEMPATKAN SEBAGAI TUHAN SEJATI. YANG JELAS, KEBANYAKAN LAINNYA KEMUNGKINAN BESAR ADALAH MENEMPATKAN TUHAN SEBAGAI TEMAN KHAYALAN. TEMAN UNTUK DICINTAI, DIHORMATI, BAHKAN DITAKUTI.

MAKA, ANDA AKAN DIJADIKAN APA TUHAN SEKARANG?

***

Categories: PARTIKEL PARTIKEL TUHAN | 11 Komentar

BIO ELEKTRIK MURNI DAN TAK MURNI


Sebagai Pengantar: Ini adalah artikel yang ditulis oleh Ir. Djoko Ismanu Herlambang yang populer dipanggil Ustadz Danu. Beliau adalah pengasuh acara Bengkel Hati yang disiarkan di TPI tiap minggu pagi jam 5.00 s/d jam 6.00. Acara ini sangat banyak peminatnya, karena dikemas dalam bentuk dialog-dialog. Banyak dari problem-problem kesehatan terpecahkan oleh penjelasan sang Ustadz. Menurut Ustadz Danu, setiap problem kesehatan diawali dari hati. Hati yang berpenyakit seperti iri, dengki,  hasud dll akan mengakibatkan sakit di tubuh. Penyembuhan segala penyakit dimulai dengan menata hati terlebih dulu. Bila berkenan,monggo dibaca bersama-sama latar belakang penyembuhan spiritual ala Ustadz yang kini tinggal di Yogyakarta ini.

(Wong Alus)

Banyak Perguruan Beladiri tenaga dalam yang hampir 100 % katanya menggunakan bio-elektrik murni dengan menampilkan bermacam-macam keistimewaan sendiri-sendiri. Ada yang menawarkan untuk orang-orang sakit biar sakitnya hilang/sembuh, tapi dengan syarat yang sakit harus ikut/masuk ke dalam perguruan tersebut atau latihannya.

Apalagi yang sakit mengidap penyakit yang berat, yang konon katanya hampir semua penyakit tersembuhkan dengan melalui angket yang dibuat oleh “panitianya sendiri”, itu yang sembuh; tapi berapa yang gagal dan berapa banyak yang meninggal atau mati pada waktu latihan, itu yang tidak disebutkan. Ada juga yang menawarkan kesaktian, dibakar api tidak mempan, disiram air keras no problem, ditabrak kendaraan senyum-senyum saja, malah ada yang ditembak/dibedil pakai peluru mesiu tidak apa-apa (meleset). Ada juga yang menawarkan dapat memo-tong-motong besi cor yang disusun 4 (empat) atau lebih; ada juga pernafasan murni, yang sekarang baru dipelajari dan disempurnakan yang dipergunakan untuk menghilang. Asal jangan habis ngutang terus ngilang (bisa dilaporkan polisi).

Dengan mendasarkan pada beberapa realita di atas, kita berupaya membuka mata kepada khalayak apa dan bagaimana bio-elektrik murni dan tak murni itu, sehingga jangan sampai orang awam tertipu oleh suatu perguruan beladiri, apalagi sampai-sampai beladiri tersebut ingkar dari agama, Na’udzubillah mindzalik !

Bio-elektrik/listrik hidup/gelombang listrik adalah listrik/gelombang dinamis (hidup/bio) yang cara kerjanya tidak memakai media/alat tertentu, karena listrik/gelombang ini hanya mempunyai satu pusat perintah kerja yaitu otak. Dinamakan bio-elektrik berarti dia termasuk salah satu bagian dari dimensi 4, dimana dalam dimensi ini tanpa batas ruang dan batas waktu. Sama halnya dengan gelombang infra-merah, ultra-violet, gelombang TV, gelombang radio, gelombang sinar (alpha), (beta) dan (gamma), dll.

Gelombang infra-merah dan ultra-violet terbesar dihasilkan dari sinar matahari, gelombang TV, Radio, radar, dll dihasilkan dengan perangkat elektronik. Sinar , dan dapat dihasilkan dari pemecahan bermacam-macam atom yang ada di dunia.

Yang termasuk di dalam bio-elektrik ini ini ada 2 (dua) jenis; dimana diantaranya pasti sempat membingungkan khalayak ramai yang memang mencari tahu dan ingin mempelajari tentang apa arti tenaga dalam. Kedua jenis bio-elektrik tersebut :

1. Bio-Elektrik Murni

Maksud bio-elektrik murni disini adalah bio-elektrik yang dihasilkan dari latihan gerakan-gerakan tertentu dan timbul dari manusia itu sendiri.

Bio-elektrik ini kalau dilatih sendiri, untuk mencapai berpijarnya listrik di seluruh tubuh (simpul-simpul listrik yang di dalam tubuh manusia ada 52 simpul listrik) memakan waktu 40-50 tahun.

Kenapa manusia dapat mempunyai bio-elektrik, hal ini dapat dijabarkan sebagai berikut :

1. Manusia itu mempunyai ion posisif dan negatif di dalam tubuhnya.
2. Dalam tubuh manusia banyak terdapat atom-atom yang juga terdapat di alam semesta.
3. Manusia adalah makhluk berakal budi sebagai khalifah Allah sehingga dapat menciptakan listrik, gelombang, radar, TV, laser, dsb.
4. Manusia adalah makhluk yang diciptakan paling sempurna oleh Allah sehingga jin dan khadam itu sebenarnya ada di bawah level manusia, juga makhluk-makhluk lain seperti binatang, tumbuhtumbuhan dan juga benda mati seperti batu, besi, dll.
2. Bio-Elektrik Tidak Murni

Bio-elektrik tidak murni adalah bio-elektrik yang dihasilkan bukan dari tubuh manusia, tetapi memakai media lain yang terdapat di dunia ini. Hal mana yang kita kenal dengan jin dan khadam, dimana jenis bio-elektrik ini dapat dilatih sendiri dengan cepat, minimal 1 (satu) hari dapat mempunyai bio-elektrik jenis ini.

Bio-elektrik tak murni dari manusia, adalah bio-elektrik yang timbul/dihasilkan bukan dari diri manusia itu sendiri, disini kita sebutkan misalnya dari jin (penunggu pohon, batu, makam, gunung, dll) dan khadam (penjaga ayat suci).

Mengapa jin dan khadam itu termasuk bio-elektrik ? Hal ini dapat dijelaskan sebagai berikut. Sejak dulu (sewaktu kita kecil), kita telah tahu ada cerita dari orang tua kita, sebagai contoh adalah sebagai berikut.

Ada suatu tempat yang angker. Orang tua kita biasanya pesan kepada kita, “Hati-hati kalau kamu lewat sana. Jangan macam-macam nanti kamu celaka/sakit/kemasukan”, dan biasanya kalau kita pas lewat tempat tersebut secara tidak sadar badan kita seperti merinding, orang sering mengatakan “merinding bulu romaku”. Seperti halnya juga bila kita menggosok-gosokkan penggaris ke rambut kita sendiri, kemudian kita dekatkan pada bulu di lengan kita dan kita akan merasakan bahwa bulu lengan kita berdiri dan terasa di situ ada aliran listrik.

Hal ini merupakan salah satu sisi bahwa pada tempat tersebut terdapat listrik yang tidak tampak. Hal mana apabila ada orang pintar yang dapat melihat dimensi 4 (dimensi tanpa batas ruang dan waktu) atau kita sebut orang tersebut mempunyai mata batin/sukmo sejati, dia kalau jujur dan bijaksana akan mengatakan bahwa ditempat tersebut ada makhluknya (makhluk tidak tampak/jin/khadam) !, dimana mereka juga termasuk bio-elektrik (karena mereka juga hidup).
Dari kedua pernyataan tersebut di atas, kita sebenarnya sudah dapat mengetahui perbedaan-perbedaan antara keduanya. Kemudian bagaimanakah cara mengaktifkan keduanya ? Kok keduanya bisa muncul di dalam kancah ilmu pertenaga-dalaman yang akhir-akhir ini menjamur di negara kita ini ?

Dalam hal ini kami menyuguhkan beberapa hipotesa dan analisa dari hasil yang telah dilaksanakan/dipraktekkan dan juga dilihat oleh para orang pintar dari beberapa golongan keagamaan yang ada di Yogyakarta, hal mana mereka semuanya mempunyai apa yang dinamakan mata batin/sukma sejati yang dapat menembus ruang dan waktu. Hal ini kami lakukan dengan maksud agar orang awam jangan sampai tertipu oleh perguruan-perguruan tenaga dalam yang menampilkan sosok bio-elektrik yang murni. Dan juga penilaian umum agar obyektif, dimana di antara keduanya (bio-elektrik murni dan tidak murni) ada keuntungan dan kerugiannya.

Namun sebelumnya akan kami beberkan/ceritakan dari mana bio-elektrik tersebut muncul.

Bio-Elektrik Murni

Bio-elektrik ini dapat dilakukan dengan sebelumnya melatih beladiri fisik dengan proporsi yang maksimal (kalau silat sampai takaran pendekar), kemudian untuk mendapatkan bio-elektrik murni :

1. Melatih nafas dengan konsentrasi tinggi dengan tidak boleh mmejamkan mata. Karena dengan memejamkan mata, konsentrasi akan menurun dan dapat menyebabkan pikiran kosong sehingga akan membuka jalan masuknya makhluk lain atau jin.

2. Melatih jurus. Dimana jurus tersebut gunanya untuk mengaktifkan ke-52 simpul syaraf bio-elektrik.

3. Dengan metode “karena aksi maka ada reaksi”. Aksi, dari murid yang menyimpan nafas, kemudian bio-elektrik pelatih yang di depan yang bio-elektriknya lebih padat dari bio-elektrik murid, akan beraksi membalikkan bio-elektrik murid itu sendiri, sehingga mengakibatkan terjadinya benturan dua gelombang yang menjadikan bio-elektrik sang murid bertambah padat atau tinggi intensitasnya (panjang gelombang lebih pendek, amplitudonya lebih besar).

4. Ada pembimbing yang mengetahui bio-elektrik murni dengan benar dan jujur (tidak menipu). Karena ada guru beladiri yang tidak tahu/tidak dapat melihat bio-elektrik murni atau tidak murni, tetapi asal bilang, bahwa punya dia adalah bio-elektrik murni (tidak mempunyai referentor lain).
5. Tidak diisi atau disyarati.

6. Tidak menyimpang dari ajaran agama.


Bio-Elektrik Tidak Murni (Dari Jin)

Disini akan kita terangkan masuknya jin ke dalam tubuh manusia, baik itu disengaja oleh manusia itu sendiri atau tidak disengaja.

1. Berpuasa berturut-turut, 3 hari, 21 hari, 40 hari dengan terakhir “ngebleng” dan membaca mantera/aji-aji yang dipergunakan untuk ilmu yang sakti.

2. Kungkum (berendam) di kali/tempuran, karena menginginkan sesuatu (ingin bertemu dengan Sunan Kalijaga almarhum, misalnya).
3. Memasang susuk atau memasukkan emas, intan, besi, dll.
4. Air putih/kembang yang dimanterai dan diminumkan.
5. Membawa rajah atau tulisan Arab atau tulisan lain.
6. Meditasi/semedi/mengosongkan pikiran.
7. Ilmu turunan (eyangnya mempunyai ilmu dan kemudian diturunkan kepada anak/ cucu yang dia sukai/sama wataknya dan penurunan ilmu tersebut terkadang tanpa diketahui sang anak/cucunya).
8. Latihan dengan gerak dan jurus tiap hari sebanyak sekian kali (yang disuruh oleh gurunya), dan kadang-kadang ditutup dengan puasa atau khataman/ syukuran dengan menyembelih semacam kurban (ayam misalnya) dan dibacakan manteranya. Sebagai catatan :

Mantera adalah memanggil jin yang berguna untuk sesuatu yang kita inginkan (kebal misalnya).

Meditasi/semedi/menyatukan diri dengan alam. Sebenarnya manusia itu adalah makhluk yang tinggi derajatnya di hadapan Allah, tapi dengan menyatukan diri dengan alam maka derajat kita akan turun, sehingga levelnya sudah di bawah manusia yang normal sebagai makhluk yang diciptakan paling tinggi derajatnya. yang akhirnya dapat menyebabkan pikiran menjadi kosong.

Mengosongkan pikiran. Dengan adanya pengosongan pikiran akan membuka tabir pembatas dimensi-3 (manusia) dan dimensi-4 (jin), sehingga banyak makhluk lain (jin) yang masuk ke dalam tubuh manusia, seperti kata orang tua “jangan sering melamun (pikiran kosong) nanti kemasukan jin”. Dan itu betul !!

Keuntungan dan Kerugian dari Bio-Elektrik Murni dan Tidak Murni

Keuntungan dari bio-elektrik tidak murni.

1.Sakti. Orang Jawa bilang “ora tedhas tapak paluning pandhe sisaning gurinda, tinatah mendat jinoro menter”. Artinya tidak apa-apa walaupun dibacok dengan senjata tajam dan pukulan benda keras.
Dibakar api tidak apa-apa, disiram minyak mendidih tidak apa-apa, disiram air keras tidak apa-apa, memecah besi cor sampai 9 (sembilan) susunan, ditabrak mobil tidak apa-apa, ditembak dengan peluru bermesiu tidak apa-apa, dan lain-lain.

2.Dapat membuat orang lupa dan mengikuti kehendak kita (pelet, sirep, hipnotis, dll).

3.Dapat memasukkan emas, intan, besi, dll ke dalam tubuh manusia (susuk/santet).

Susuk : dipergunakan untuk memenuhi keinginan yang dipasang susuk, entah itu pengasihan, biar kelihatan cakep atau biar berwibawa/ditakuti.
Santet : dipergunakan untuk merusak sang korban yang diinginkan.

4. Keuntungan-keuntungan lain yang banyak.
Keuntungan bio-elektrik murni.

Oleh karena yang dipergunakan adalah gelombang, maka gelombang tersebut ada panjang gelombang dan amplitudonya (frekuensi). Oleh karena sinar … (gamma) di dalam dunia kedokteran (medis) saja sudah dapat digunakan untuk bermacam-macam hal khususnya pengobatan, apalagi bio-elektrik murni yang mempunyai panjang gelombang lebih pendek dari panjang gelombang sinar (gamma) dan aplitudonya lebih besar dari amplitudo gelombang sinar (gamma), sehingga penggunaan di dalam pengobatan bio-elektrik ini lebih bermanfaat dari pada pengobatan dengan menggunakan gelombang sinar (gamma) yang dihasilkan oleh atom-atom tertentu. Ini telah kita buktikan dengan memberikan pengobatan kepada umum.

Penyakit-penyakit yang telah berhasil diatasi : kanker, tumor, kencing manis (gula), sirosis (pengerasan hati), jantung koroner atau kebocoran klep, pemecahan batu ginjal dan lain-lain. Semua pengobatan dilakukan dengan menggunakan gelombang-gelombang yang kita punyai, tidak disuruh minum air putih, air kembang yang diisi, tidak ditembak dengan jurus (yang biasa dipergunakan oleh perguruan tenaga dalam), dll yang tidak dapat dinalar oleh akal.

Keuntungan lain :

1. Sehat.

2. Menurunkan emosi.

Kerugian bio-elektrik tidak murni (pakai jin)

1. Sering sakit-sakitan, entah nyeri di tangan, nyeri di dada, nyeri di ulu hati, sakit jantung, ginjal, asma atau organ-organ lain atau pusing yang tidak hilang-hilang. Dimana penyakit-penyakit tersebut sudah dicek ke beberapa dokter tetapi tidak ada kemajuannya (dokter tidak mengetahui penyebab-nya). Sakit tersebut disebabkan oleh jin yang ada di dalam tubuh orang itu berontak, karena tidak pernah/jarang dilatih atau diaktifkan lagi.

2. Seseorang yang pingin masuk perguruan tenaga dalam karena sakit parah (jantung, ginjal, kanker, misalnya), bukan tambah sembuh melainkan dapat mengakibatkan tambah parah atau bahkan tidak tertolong lagi, Na’udzubillah mindzalik. Karena jin yang ada di dalam tubuh orang tersebut tidak dapat menyembuhkan penyakit yang dideritanya. Analoginya seperti halnya seorang tukang ledeng (jin) disuruh membuat gedung lantai lima (penyakit) , – …ya otomatis tukang ledeng (jin) tersebut berdiam diri dan bingung. …Lha wong bukan profesinya.

3. Gila, ini karena tidak kuat menuntut ilmu. Hal ini disebabkan hipokampus dan kelenjar hipofisa (yang mengatur seluruh fungsi organ tubuh) dari orang tersebut sudah luka, lecet atau gosong, sehingga keseimbangan fungsi tubuh tidak terkontrol dan mengakibatkan jin yang ada di dalam tubuh orang tersebut akan menggunakan kesempatan untuk menguasai orang tersebut —> gila !!

4. Dapat menjadikan orang yang mentalnya tidak kuat menjadi sombong (karena kesaktiannya).
Kerugian bio-elektrik murni.

1. “Tidak sakti”.

2. Setelah latihan capek.

Dengan artikel ini, masyarakat umum agar mengetahui betul beladiri mana yang akan mereka cari, jangan sampai tertipu oleh beladiri yang mengaku bahwa perguruannya menggunakan bio-elektrik murni, padahal mereka tidak dapat membuktikan dengan nyata atau mereka tidak mempunyai “referentor” dari perguruan lain atau orang lain yang dapat membuktikan adanya bio-elektrik murni atau tidak murni, justru terkadang malah ditutupi kelemahannya.

Semoga dengan adanya tulisan ini, khalayak dapat memilih yang sakti atau yang tidak sakti tapi aman dan yang dapat dinalar oleh akal sehat sebagaimana kita mempunyai otak untuk berpikir. Apalagi kalau kita yang mempunyai disiplin ilmu yang mengutamakan berpikir secara sehat dan normal, sehingga fikiran kita tidak terganggu oleh adanya makhluk lain yang ada di dalam tubuh kita dan yang penting kalau bisa tidak menyimpang dari ajaran agama. ***

Ustadz Danu:  USTADZ

Categories: TENAGA MANUSIA MURNI | 16 Komentar

SUWUNG MAWAR DI UJUNG SENJA


Mawar
warnanya merah
Daunya hijau segar
Baunya wangi
Ada durinya,

Duhai indah sang bunga
Ingin kupetik
Kuberi pada pujaan hati
Malam ini,
sekuntum saja

Semoga dia,
mampu merasa indahnya
Bukan hanya indah merahnya,
Hijau daunnya
Atau durinya yang menusuk
Tapi KEINDAHAN nya
Hakikat Dzat nya…

Mawar tetap mawar
Apapun tafsir tentang mawar
Apapun nama dan sifat mawar
Tak akan mengubah kemawarannya
Tak akan mengubah apa-nya
Tak akan…

Mawar mewartakan apa?
Keindahannya dari mana berasal?
Dari materinya kah?
Dari bentuknya kah?

Sesungguhnya,
mawar mewartakan keberadaanKU,
Adakah keindahan mawar
bila tidak ada AKU?

AKU adalah pusat pandang
AKU adalah titik gingsir kasih
Semua yang indah terpancar dari indah-KU

IndahKU ada dalam sunyi,
Namun tidak pernah layu

di ujung senja
sekalipun..


(w.a, 15-07-09)

mawar

Categories: PUISI & PROSA | 5 Komentar

SUWUNG SEJATI – SEJATINYA SUWUNG


suwung

Hampir empat puluh enam tahun dia bertapa di Alas Ketangga, kini dia telah datang dengan membaca pencerahan. Inilah catatan pendakian spiritual KI SUWUNG BUWONO setelah mencari SUWUNG SEJATI.

Menurut Ki Suwung, keadaan jiwa atau hati yang telah mendapatkan wahyu atau ilham biasa dianalogikan dengan menerima CAHAYA. “Wahyu atau kata-kata Tuhan diungkapkan ke dalam bahasa manusia dengan kata CAHAYA. Sebab wahyu itu sendiri (an sich) tidak bisa diungkapkan dengan bahasa manusia. Wahyu adalah bahasa Tuhan, yang berbeda dengan bahasa manusia. Namun wahyu alias ilham bisa dipahami oleh orang yang menerimanya, bahkan hewan dan alam pun mampu memahami bahasa Tuhan” katanya menerangkan.

IHLAM menurut Ki Suwung bisa ditafsirkan sebagai: DISUSUPKANNYA KEDALAM HATI YANG MAMPU MENANGKAP VIBRASI/GETARAN YANG DAPAT DIPERGUNAKAN UNTUK MEMBEDAKAN ANTARA YANG SESAT DAN YANG PETUNJUK, dan mungkin hal ini di jaman kita sekarang ini dikenal dengan istilah MATA HATI.

Tibalah Ki Suwung menceriterakan akhir perjalanan spiritualnya. “Mohon maaf bila saya terpaksa harus menjabarkan ILMU MA’RIFAT, yaitu ilmu untuk mengenal dzat, sifat dan perbuatan Tuhan. Selain ilmu, hendaknya melakukan KOMUNIKASI KEPADA TUHAN SERTA PASRAH DIRI SECARA TOTAL. Kepasrahan adalah menggantungkan sikap jiwa untuk patuh kepada Tuhan dengan segenap tata cara ngelmu dan laku yang telah ditentukan, agar kita mendapatkan cahaya keimanan yang lebih dalam..” ujarnya kalem.

Tidak biasa Ki Suwung berkata kata serius seperti pagi ini. Dia biasanya begejekan, suka gojeg dan sesekali biasanya dia membeberkan ilmu kawicaksanan dengan mesam-mesem. Namun kali ini, dia lain. Dia terlihat sangat serius. Matanya sesekali melihat ke langit. Mungkin menunggu petunjuk Tuhan agar dia tidak salah ucap. Berikut wawancara antara saya dengan Ki Suwung:

WONG ALUS: Kenapa Tuhan memberikan perimpamaan petunjuk itu dengan dzat cahaya, kok tidak dengan air, tanah atau yang lain?

KI SUWUNG: “Sebab Tuhan paham sifat-sifat cahaya. Cahaya itu bersemayam di dalam HATI ORANG-ORANG YANG TERPILIH DAN DIKEHENDAKI-NYA. Dengan cahaya itu Tuhan membimbing dan menuntun hati agar mampu memahami ayat-ayat Tuhan serta nasehat-nasehat Tuhan. Tuhan-lah yang akan ‘menghantar’ jiwa kita melayang menemui-Nya dan yang akan menunjukkan ‘jalan ruhani’ kita untuk melihat-Nya secara ‘nyata’. Dengan ‘cahaya-Nya’, kita bisa membedakan petunjuk dari syetan atau dari Tuhan swt. Sehingga kita diharapkan untuk selalu bersungguh-sungguh berjalan di jalan Tuhan, sehingga Dia akan memberi cahaya kepada manusia yang menuju jalan-jalan Tuhan, yaitu jalan kebenaran.

WONG ALUS: Lantas apa syarat untuk mendapatkan cahaya petunjuk?

KI SUWUNG: hendaknya kita melakukan perbuatan yang diwajibkan dan dianjurkan-Nya, terus menerus mengingat-Nya secara kontinyu baik berdiri, duduk, maupun berbaring jiwa selalu terjaga. Sebab didalam setiap perilaku itu sejatinya selalu berhadapan dengan Tuhan.Dan akhirnya Tuhan menyambut ingatan kita, dengan sambutan kasih sayang serta memberinya cahaya penerang bagi hatinya yang merelakan dan membuka untuk menerima Tuhan sebagai junjungannya, dengan ditandai rasa tenang yang luar biasa.

WONG ALUS: Saya masih kurang jelas tentang perjalanan rohani yang katanya penuh dengan hambatan, apa saja hambatan untuk bertemu Tuhan?.

KI SUWUNG: Dalam agama, hambatan ini kerap ditunjuk dengan istilah HIJAB. Istilah ini muncul setelah orang mulai serius mendalami pengetahuan tentang TATA CARA MENGENAL TUHAN dengan segala cara ibadah sampainya seseorang kepada tingkat IKHLAS. Yaitu ORANG YANG BENAR-BENAR BERADA DALAM KEADAAN RELA DAN MENERIMA TUHAN SEBAGAI TUHANNYA SECARA TRANSENDEN.

Hijab adalah tirai penghalang lajunya JIWA menuju SANG PENCIPTA. Penghalang itu adalah kabut yang menutupi MATA HATI, sehingga hati tidak mampu melihat kebenaran yang datang dari Tuhan. CAHAYA TUHAN tidak bisa ditangkap dengan pasti. Dengan demikian manusia akan selalu berada dalam keragu-raguan atau was-was. Karena ketertutupan atau terhijabnya kita atas keberadaan Tuhan disebabkan kebodohan dan sangkaan akan Tuhan yang keliru.

WONG ALUS: Jadi hati merupakan pusat dari segala keburukan juga ya?

KI SUWUNG: Benar, hati memang pusat kemunafikan, kemusyrikan, dan merupakan pusat dari apa yang membuat seorang manusia menjadi manusiawi. Dan pusat ini merupakan tempat dimana mereka bertemu dengan Tuhannya. Merupakan janji Tuhan saat fitrah manusia menanyakan dimanakah Tuhan? Lalu, Tuhan menyatakan diri-Nya berada SANGAT DEKAT. Pertanyaan tentang keberadaan Tuhan sering kali kita mendapatkan jawaban yang tidak memuaskan, bahkan kita mendapatkan cemoohan sebagai orang yang terlalu mengada-ada. Padahal, menanyakan keberadaan Tuhan adalah merupakan pertanyaan dasar manusia.

Didalam kitab suci disebutkan bahwa keberadaan Tuhan sebagai wujud yang sangat dekat. Jawaban atas pertanyaan dimanakah Tuhan diungkap dengan jawaban secara DIMENSIONAL. Jawaban-jawaban tersebut tidak sebatas itu, akan tetapi dilihat dari perspektif seluruh sisi pandangan manusia seutuhnya. Saat pertanyaan itu terlontar “dimanakah Tuhan “, Tuhan menjawab “….Aku ini dekat “, kemudian jawaban meningkat sampai kepada “Aku lebih dekat dari urat leher kalian…atau dimana saja kalian menghadap disitu wujud wajah-Ku ….dan Aku ini maha meliputi segala sesuatu.”

Keempat jawaban tersebut menunjukkan bahwa TUHAN TIDAK BISA DILIHAT HANYA DARI SATU DIMENSI SAJA, AKAN TETAPI TUHAN MERUPAKAN KESEMPURNAAN WUJUD-NYA

Sangat jelas sekali bahwa Tuhan menyebut dirinya “AKU” BERADA MELIPUTI SEGALA SESUATU, dan DIMANA SAJA ENGKAU MENGHADAP DISITU WAJAH-KU BERADA!!! Kalau kita perhatikan jawaban Tuhan, begitu lugas dan tidak merahasiakan sama sekali akan wujud-Nya.

WONG ALUS: Ya, sangat sepakat Ki, namun bagi saya Tuhan masih sulit saya pahami. Mohon pencerahan…

KI SUWUNG: Ilmu Tuhan memang tidak mudah. Karena kesederhanaan Tuhan ini sudah dirusak oleh anggapan bahwa Tuhan sangat jauh. Dan kita hanya bisa membicarakan Tuhan nanti di alam surga. Untuk mengembalikan prasangka kepada pemahaman yang benar kita hendaknya memperhatikan peringatan Tuhan, bahwa Tuhan tidak bisa disetarakan dengan makhluq-Nya.

Tuhan sebagai wujud sejati biasanya ditafsirkan dengan sifat-sifat Nya yang meliputi segala sesuatu. Akan tetapi kalau Tuhan ditafsirkan dengan sifat-sifat-Nya, yang meliputi segala sesuatu akan timbul pertanyaan, kepada apanya kita menyembah? Apakah kepada ilmunya, kepada kekuasaan-Nya atau kepada wujud-Nya? Kalau dijawab dengan kekuasan-Nya atau dengan ilmu-Nya maka akan bertentangan dengan kehendak Tuhan

Sebab manusia diperintahkan menghadapkan wajahnya kepada wajah Dzat yang Maha Mutlak. Sekaligus menghapus pernyataan selama ini yang justru menjauhkan pengetahuan kita tentang dzat, kita menjadi takut kalau membicarakan dzat, padahal kita akan menuju kepada pribadi. TUHAN, BUKAN NAMA, BUKAN SIFAT DAN BUKAN PERBUATAN TUHAN. KITA AKAN BERSIMPUH DIHADAPAN SOSOK-NYA YANG SANGAT DEKAT.

WONG ALUS: Berarti hubungan antara dzat, sifat, nama dan perbuatan Tuhan itu erat ya Ki, mohon penjelasan?

KI SUWUNG: Pemikiran tentang Tuhan pasti menyinggung hubungan antara dzat, sifat, dan perbuatan Tuhan. Diterangkan bahwa dzat meliputi sifat. Sifat menyertai nama. Nama menandai perbuatan. Hubungan-hubungan ini bisa diumpamakan seperti madu dengan rasa manisnya, pasti tidak dapat dipisahkan. Sifat menyertai nama, ibarat matahari dengan sinarnya, pasti tidak bisa dipisahkan. Nama menandai perbuatan, seumpama cermin, orang yang bercermin dengan bayangannya, pasti segala tingkah laku yang bercermin, bayangannya pasti mengikutinya. Perbuatan menjadi wahana dzat, seperti samudra dengan ombaknya, keadaan ombak pasti mengikuti perintah samudra.

Uraian di atas menjelaskan, betapa eratnya hubungan antara dzat, sifat, nama dan perbuatan Tuhan. Hubungan antara dzat, dan sifat ditamsilkan laksana hubungan antara madu dan rasa manisnya. Meskipun pengertian sifat bisa dibedakan dengan dzat namun keduanya tidak bisa dipisahkan satu dengan yang lainnya.

WONG ALUS: Kalimat Tuhan meliputi segala sesuatu adalah kesempurnaan ..dzat , sifat, asma, dan perbuatan. Sebab kalau hanya disebut sifatnya saja yang meliputi segala sesuatu, lantas ada pertanyan, sifat itu bergantung kepada apa atau siapa ?

KI SUWUNG: Ya, jelas akan bergantung kepada pribadi (Aku) yang memiliki sifat. Kemudian kalau sifat yang meliputi segala sesuatu, kepada siapakah kita menghadap? Kepada Dzat atau sifat Tuhan. Kalau sifat Tuhan sebagai obyek ibadah kita, maka kita telah tersesat, sebab sifat, asma dan perbuatan Tuhan bukanlah sosok dzat yang Maha Mutlak itu sendiri. Semua selain Tuhan adalah AKIBAT ADANYA DZAT. Seperti adanya alam, adanya malaikat, adanya jin dan manusia. Semua ada karena adanya DZAT YANG MAHA AWAL. Seperti perumpamaan madu dan manisnya, sifat manis tidak akan ada kalau madu itu tidak ada. Dan sifat manis itu bukanlah madu. Sebaliknya madu bukanlah sifat manis. Artinya sifat manis tergantung kepada adanya “madu”. Apakah Dzat itu, … seperti apa? Apakah ada orang yang mampu menjabarkan keadaannya ?

Singkat kata, dualitas berkaitan dengan sifat diskursus manusia tentang Tuhan. Untuk bisa memahami Tuhan, kita harus mengerti keterbatasan-keterbatasan konsepsi kita sendiri, karena menurut perspektif ketakperbandingan tak ada yang bisa mengenal Tuhan kecuali Tuhan sendiri. Karena itu kita punya pengertian tentang Tuhan, TUHAN KONSEPSI SAYA DAN “TUHAN” KONSEPSI HAKIKI, YANG BERADA JAUH DILUAR KONSEPSI SAYA. Tuhan yang dibicarakan selalu berkaitan dengan Tuhan dalam “konsepsi saya”. Konsepsi Dzat yang hakiki tidak bisa kita fahami, baik oleh saya maupun Anda. Karena itu kita tidak bisa berbicara tentangnya secara bermakna. bagaimana kita bisa memahami tentang Dia, sedang kata-kata yang ada hanya melemparkan kita keluar dari seluruh konsepsi manusia. Seperti, Dia yang Awal dan yang akhir, Dia yang tampak dan yang tersembunyi, cahaya-Nya tidak di timur dan tidak di barat, tidak laki-laki dan tidak tidak perempuan, tidak serupa dengan ciptaan-Nya.

Kenyataan Tuhan tidak bisa dikenal dan diketahui berasal dari penegasan dasar bahwa DIA tidak sama dengan sesuatu. Karena tuhan secara mutlak dan tak terbatas benar-benar Dzat maha tinggi, sementara kosmos berikut segala isinya hanya bersifat RELATIF maka realitas Tuhan berada jauh diluar pemahaman realitas makhluk. Dzat yang maha mutlak tidak bisa dijangkau oleh yang relatif. Kita dan kosmos (alam) berhubungan dengan Tuhan melalui sifat-sifat-Nya yang menampakkan jejak-jejak dan tanda-tandanya dalam eksistensi kosmos. Kita tidak bisa mengenal dan mengetahui Tuhan dalam dirinya sendiri, tetapi hanya sejauh Tuhan mengungkapkan diri-Nya melalui kosmos (sifat, nama, perbuatan). Sifat, nama, dan perbuatan, secara relatif bisa dirasakan dan difahami MAKNANYA. Akan tetapi DZAT adalah realitas mutlak. Dan untuk memahami secara hakiki harus mampu MENIADAKAN ATAU MEMFANAKAN DIRI, … yaitu memahami bahwa KEBERADAAN MAKHLUK BERSIFAT TIADA.

WONG ALUS: ada gambaran yang sederhana Ki, saya sangat bingung?

KI SUWUNG: Ketika kita melihat kereta api berjalan diatas rel, terbetik dibenak kita suatu pertanyaan. Bagaimana roda-roda yang berat itu bisa bergerak dan lari. Tak lama kemudian kita akan sampai kepada pemikiran tetang alat-alat dan mesin-mesin itulah yang menggerakkan roda yang berat itu. Adakah setelah itu kita dibenarkan jika berpendapat bahwa alat kereta itu sendiri yang menggerakkan kereta tersebut. Perkaranya tidak semudah itu, sebab kita tidak boleh mengabaikan bahwa disana ada masinis yang mengendalikan mesin. Kemudian ada insinyur yang menciptakan rancangan dan ketentuan-ketentuan yang ditetapkan, maka pada hakekatnya tak ada wujud bagi kereta itu, dan tidaklah mungkin terjadi gerakan dan perputaran pada roda-roda tanpa kerja insinyur. Mesin-mesin itu bukanlah akhir dari cerita sebuah kereta api, akan tetapi hakikat yang paling akhir adalah akal yang telah mengadakan mesin itu, kemudian menggerakkan menurut rencana yang telah dipersiapkan.

Mengikuti ilustrasi realitas kereta api, mulai dari gerbong yang digerakkan oleh roda-roda, kemudian roda-roda digerakkan oleh mesin, mesin digerakkan oleh masinis, dan semua itu direncanakan, oleh yang menciptakan yaitu insinyur. Pertanyaan terakhir adalah : “Mungkinkah roda-roda, mesin, dan alat-alat kereta api itu mampu melihat yang menciptakan?” Jawabannya adalah insinyur itu sendiri yang mengetahui akan dirinya, sebab kereta api dan insinyur berbeda keadaan dan bukan perbandingan. Realitas instrumen kereta api tidak ada satupun yang serupa jika dibandingkan dengan keadaan realitas insinyur. Kemudian mengetahui keadaan realitas kereta api dari awal sampai akhir, merupakan kefanaan atau penafian bahwa realitas kereta api adalah ciptaan semata.
Realitas bahwa Dzat tuhan tidak bisa dibandingkan dengan sesuatu berlaku sampai di akhirat kelak. Walaupun Tuhan sendiri mengatakan bahwa manusia di alam surga akan melihat realitas Tuhan secara nyata atas eksistensi Tuhan, bukan berarti kita melihat dengan perbandingan pikiran manusia. Yang dimaksud melihat secara hak disini adalah kesadaran jiwa muthmainnah yang telah lepas dari ikatan alam atau kosmos.

WONG ALUS: Inikah yang disebut SUWUNG?

KI SUWUNG: Ya, atau biasa disebut FANA keadaan ini manusia dan alam seperti keadaan sebelum diciptakan yaitu keadaan masih kosong awang uwung atau SUWUNG kecuali DIA sendiri yang ada. Tidak ada yang mengetahui keadaan ini kecuali Tuhan sendiri.

Keadaan awal tidak ada yang wujud selain Tuhan, tidak ada ruang, tidak ada waktu, tidak ada alam apapun yang tercipta. Ada yang menarik dalam peristiwa “pertemuan” nabi Musa dengan Tuhan dulu. Itulah keadaan SUWUNG manusia dan alam. Yakni keadaan hancur luluh lantak keadaan gunung Thursina dan keadaan Musa EKSTASE jatuh PINGSAN. Setelah gunung itu hancur dan Musa-pun jatuh pingsan, TIDAK SATUPUN YANG TERLINTAS REALITAS APAPUN DIDALAM PERASAN MUSA DAN FIKIRANNYA, KECUALI IA TIDAK TAHU APA-APA. Yaitu realitas konsepsi manusia dan alam tidak ada (fana). Dalam keadaan inilah Musa melihat realita Tuhan, bahwa benar Tuhan tidak bisa dibandingkan oleh sesuatu apapun. Kemudian Musa kembali sadar memasuki realitas dirinya sebagai manusia dan alam. Musa berkata :aku orang yang pertama-tama beriman..dan percaya bahwa Tuhan tidak seperti konsepsi “saya”. Setelah kita mengetahui dan faham akan Dzat, sifat, dan perbuatan Tuhan, teranglah fikiran dan batin kita, sehingga secara gamblang kedudukan kita dan Tuhan menjadi jelas, yaitu yang hakiki dan yang bukan hakiki. Terbukalah mata kita dari ketidaktahuan akan Dzat. Ketidaktahuan inilah yang saya maksudkan dengan tertutupnya hijab, sehingga perlu disadarkan oleh kita sendiri dan kemudian mengenal-Nya (ma’rifat)

WONG ALUS: berarti prasangka terhadap Dia merupakan hijab ya ki?

KI SUWUNG: Begitulah kenyataannya. Tiada sesuatu benda yang MENUTUPI engkau dari Tuhan, tetapi yang menghijab engkau adalah PERSANGKAANMU ADANYA SESUATU DISAMPING TUHAN, sebab segala sesuatu selain dari Tuhan itu pada hakikatnya tidak ada sebab yang wajib ada hanya Tuhan, sedang yang lainnya terserah kepada belas kasihan Tuhan untuk diadakan atau ditiadakan.

Seorang arif berkata : Semua makhluk ini bagaikan adanya bayangan pohon di dalam air. Maka ia tidak akan menhalangi jalannya perahu. Maka hakikat yang sebenarnya tiada sesuatu benda apapun disamping Tuhan untuk menutupi pandanganmu dari Tuhan. Hanya engkau sendiri mengira bayangan itu sebagai Tuhan. Ibarat seseorang yang bermalam disuatu tempat, tiba-tiba pada malam hari ketika ia akan buang air, terdengar suara angin yang menderu masuk lobang sehingga persis sama dengan suara harimau, maka ia tidak berani keluar. Tiba pada pagi hari ia tidak melihat bekas-bekas harimau, maka ia tahu bahwa itu hanya tekanan angin yang masuk ke lobang, bukan tertahan oleh harimau, hanya karena perkiraan adanya harimau.

Pertanyaan demi pertanyaan timbul dari ketidaktahuan (hijab), kenyataaan bahwa Tuhan sangat dekat tertutup oleh kebodohan ilmu kita selama ini. Tuhan seakan jauh diluar sana sehingga kita tidak merasakan kehadiran-Nya yang terus menerus berada dalam kehidupan kita. Dari keterangan diatas menyimpulkan bahwa kita ternyata telah salah kaprah mengartikan sosok dzat selama ini, yang kita sangka adalah konsepsi “saya”, bukan konsepsi hakiki, yaitu wujud yang tak terbandingkan oleh perasaan, pikiran , mata hati, dan seterusnya. TUHAN KITA ADALAH TUHANNYA MUSA, … TUHANNYA IBRAHIM, … TUHANNYA ISA, TUHANNYA MUHAMMAD, TUHAN KITA SEMUA … YAITU YANG MAHA TAK TERJANGKAU OLEH APAPUN.

WONG ALUS: Wah, penjelasan Panjenengan sangat gamblang namun sangat sulit saya pahami ki. Saya hanya bisa merekam dalam tape recorder yang saya bawa ini. Mudah-mudahan nanti bila saya tuliskan di blog tidak salah tafsir. Ada pesan ki?

KI SUWUNG: Semoga atas ijin-Nya. Saya hanya berpesan kini saatnya kita KONSENTRASI kepada DZAT…bukan kepada SIFAT: Sembahlah AKU …, sehingga SUWUNGLAH DIRI DAN ALAM SEMESTA. Setelah kita mengetahui dan mengenal Tuhan secara ilmu, maka semakin mudahlah kita untuk memulai berkomunikasi dan berjalan menuju kepada-Nya. KITA TELAH MEYAKINI BAHWA KITA AKAN KEMBALI KEPADA-NYA SEKARANG. TIDAK BESOK LUSA ATAU KAPAN-KAPAN…. ^^^^^

Categories: MAKRIFAT SUWUNG | 31 Komentar

MEMELIHARA TUYUL


abah kyai

Jenis makhluk halus anak-anak ini bisa di minta untuk mencari atau lebih pasnya mencuri uang. Bila Anda mencari dan mampu memeliharanya, Anda tidak usah repot repot bekerja siang dan malam. Cukup menyediakan semua keperluan si tuyul, uang pun mengalir lancar.

“Ketika KKN berjalan 1 minggu di tahun 1994 di daerah Panceng, Gresik, saya terpesona dengan adanya satu gunung yang berkesan angker, dan itu tampak dari kejauhan. Karena penasaran, pada minggu ke 3 (dari jadwal 8 minggu), saya mengiyakan ajakan teman untuk bermain-main di gunung tersebut, dan ternyata memang benar dugaan saya, banyak aura mistis yang mengitari gunung tersebut, yang paling menarik adalah adanya kerajaan tuyul, mencari tuyul amat mudah di sini.. …”

Itu adalah pengalaman seseorang yang kebetulan memiliki indera keenam yang menceriterakan adanya tempat berkumpulnya tuyul di sebuah perbukitan Surowiti, Desa Surowiti, Kecamatan. Panceng, Kabupaten Gresik atau sekitar 15 kilometer dari wisata tanjung kodok, Lamongan, Jawa Timur.

Ada lagi iklan di surat kabar sebagai berikut: “Ditawarkan tuyul yang memiliki kemampuan mencuri uang atau perhiasan, Tuyul yang kami tawarkan adalah tuyul dari spesies khusus yang kami dapatkan dari Desa Krucuk, Kabupaten Klaten. Tuyul ini kira-kira tingginya 5cm – 6cm, tuyul ini dapat dilihat dan diajak ngobrol oleh majikannya saja. Bagaimana merawatnya? Mudah sekali, tuyul ini tidak merepotkan karena tuyul ini tidak membutuhkan kamar khusus atau mainan anak-anak. Tuyul ini hanya butuh lima tetes darah manusia golongan O atau AB. Harga maharnya kami patok 5 Juta.”

Tuyul hidup di berbagai tempat yang angker dan yang paling disukai adalah ditempat-tempat yang jauh dari rumah-rumah ibadah. Di sisa-sisa reruntuhan bangunan tua, maupun di tempat-tempat yang dikeramatkan orang.

Tuyul, adalah salah satu jenis mahluk halus berwujud anak-anak balita. Sebenarnya, tuyul ini tidak ingin dipekerjakan oleh manusia. Dia hanya bermain-main, sama seperti sifat khas yang dimiliki anak kecil yang suka iseng dan ingin mencoba segala hal sebagaimana balita pada umumnya.

Nah, ini lagi repotnya manusia. Sudah mengerti masih anak anak kok tega-teganya dipekerjakan? Apa ini bukan melanggar hukum alam wadag maupun gaib? Jelas melanggar, sehingga pasti nantinya si manusia dan juga si makhluk halus ini mendapatkan akibat dari tidakan melanggar hukum.

Dengan sebuah ritual khusus seorang paranormal menembus wahana gaib dan kemudian berkomunikasi dengan sang tuyul. Ada kesepakatan antara dua makhluk Tuhan ini bila masing-masing mau dan saling membantu. Bila permufakatan sudah oke, maka masing-masing pihak harus tahu diri dan mentaati aturan yang berlaku.

Salah satu yang diminta oleh tuyul adalah “tumbal”. Ini memang syarat utama dalam permufakatan tersebut. Tumbal dalam pesugihan ini bisa bermacam-macam tergantung permufakatan. Namun biasanya, bila tuyulnya profesional maka dia akan meminta tumbal kematian dari para sahabat, saudara, bahkan anak-anaknya sendiri.

Ada pula jenis pesugihan lain yaitu Nyi Roro Kembar Sewu dimana tumbal yang dimintanya bukan kematian, tetapi si tumbal akan menjadi gila atau lebih tepatnya berprilaku seperti anak idiot. Ini dikarenakan bertukarnya jiwa si tumbal dengan salah satu anak dari Nyi roro kembar sewu yang harus dirawat dan diasuh layaknya anak sendiri. Jenis pesugihan ini sangat rumit. Nyi Roro Kembar Sewu hanya meminta jiwa seorang lelaki dewasa dengan ciri-ciri husus, lelaki ini biasa di sebut dengan sebutan “lanang panduso”.

Salah satu yang diminta tuyul adalah sebuah ruangan atau kamar khusus. Seperti ritual-ritual pesugihan lain, ritual ini juga mewajibkan si pelaku pesugihan untuk menyediakan kamar khusus di dalam rumah. Di dalam kamar, perlu dipersiapkan satu ranjang tempat tidur lengkap dengan kelambunya. Satu meja tempat sesaji dengan ukuran tinggi meja kurang lebih setinggi lutut. Tempat uang seperti bakul tempat nasi. Di dalam kamar khusus ini warna hijau haruslah dominan dari warna lainnya pada seprei, sarung bantal, kelambu, taplak meja dan sebagainya dengan warna hijau.

Salah satu yang perlu disediakan dalam kamar adalah adanya dolanan anak-anak, seperti cermin, dakon, boneka-boneka kayu dan lain-lain. Tuyul juga sangat suka untuk diajak gojek dan bermain-main. Setiap hari, pemelihara tuyul diharapkan agar membawa tuyulnya berjalan-jalan agar si tuyul kerasan dan senang.

Setiap hari, kita harus memberinya makan berupa bubur yang merupakan makanan pokok mereka, serta sesajen dan kemenyan. Tuyul bekerja pada seorang majikan sebenarnya karena terpaksa karena tuyul sebenarnya masih belum ingin bekerja, dia memiliki sifat yang sama dengan balita pada umumnya yang ingin bermain.

Adapun tuyul memiliki sifat yang sama seperti anak-anak normal biasa dimana dia harus mencari induk semang sebagai ibu kandungnya. Si induk semang perlu memperlakukan dia sebagaimana anaknya sendiri, bahkan harus rela untuk lebih mencintai tuyul dibanding anaknya sendiri. Tuyul oleh karena itu juga perlu diberi air susu dan kebutuhan-kebutuhan biologis yang lain.
Salah satu khasanah mistik lain di dunia pertuyulan adalah istilah memet. Memet adalah tuyul dari jenis yang lebih pintar dan bentuk berbeda dengan tuyul kebanyakan. Memet memiliki dua buah taring sementara tuyul biasa tidak ada. Selain itu, memet dapat berlari lebih cepat dari pada tuyul biasa. Paranormal biasanya mengakui sulit untuk menangkap memet karena sifatnya yang gesit ini.

Tip dan teknik memiliki tuyul di antaranya: Jangan menyuruh mencuri uang di Bank karena di setiap bank telah ada perewangan atau jin penjaganya. Jangan menyuruh mencuri uang di lingkungan tempat tinggal kita karena jika ada tetangga yang tahu kita bisa malu dibuatnya. Jangan menyuruh mencuri uang di toko emas karena di setiap toko emas terdapat jimat tolak bala. Suruhlah mencuri di tempat perbelanjaan /mall atau ATM yang ada di mall karena ditempat seperti itu banyak peluang dan aman dari pagar gaib.

KESIMPULAN
Kesepakatan antara manusia dan makhluk halus selalu saja ada untung ruginya. Untungnya, manusia bisa kaya mendadak dan tanpa kerja keras dan banting tulang. Tuyul setiap hari sudah menyediakan uang untuk mencukupi kebutuhan hidup kita. Dengan kekayaan, status sosial akan cepat meningkat dan bisa membeli “kebahagiaan” termasuk menjadi politikus terpandang, juga wanita cantik, seksi dan aduai yang selama ini diidam-idamkan.

Namun kerugiannya yaitu orang yang memelihara tuyul akan mendapatkan kesulitan saat menjelang ajal. Dia akan sekarat yang lama dan rasa sakit yang luar biasa, sebuah kematian yang pelan-pelan dan sangat menyakitkan. Hukuman dunia lain pun juga tidak kalah mengerikan. Anda juga perlu waspada dengan hadirnya orang-orang waskita dan sakti yang siap untuk berperang dan membuat celaka hidup Anda. Maka, waspadalah..waspadalah dan waspadalah!

Ditinjau dari segi religiusitas, mereka yang memelihara tuyul akan mendapatkan kerugian. Pertama, pemelihara tuyul jauh dari prinsip-prinsip spiritualitas yang harusnya dipegang teguh seperti harus sabar, nrima, eling dan waspada. Menjauh dari prinsip spiiritualitas lintas agama, akan mengakibatkan kita hidup di dalam pusaran energi dunia yang tiada berujung pangkal. Keruwetan demi keruwetan harus ditanggung demi untuk memenuhi keinginan. Keinginan sifatnya sementara, karena setelah satu keinginan terpenuhi akan muncul keinginan baru yang lebih besar. Bila kita tidak memiliki kendali atas keinginan, otomatis kita selalu merasa miskin dan ini siksaan batin.

Kedua, Tuhan tidak akan memberi kemuliaan hidup bagi manusia yang tidak mau berusaha keras. Berpangku tangan menunggu datangnya uang setoran dari para tuyul ibarat menunggu datangnya rahmat dan hidayah Tuhan tanpa siap untuk bersusah payah. Ingat Serat Wedhatama: ngelmu iku kalakone kanthi laku.

Wong alus

Categories: TUYUL | 87 Komentar

HUJAN KOK DITOLAK


Memindahkan hujan ke satu tempat adalah jasa layanan yang ditawarkan oleh pawang hujan. Mudah memahami cara kerja pawang hujan, yang sulit adalah menakar dengan akal budi, apa tindakan semacam ini bijaksana atau tidak.

pawang

Manusia itu jahat ya??. Dia suka mengeksploitasi alam untuk dipergunakan sesuai dengan kehendaknya, termasuk membengkokkan hukum alam sesuai dengan karep dan bisa jadi tanpa dipikir dan dipertimbangkan masak-masak. Sama seperti kuda yang tanpa akal diminta dan dilatih oleh majikan untuk menyeret cikar. Lha kita ini manusia, masa mau-mau saja diminta untuk menyeret kendaraan tanpa pertimbangan akal dan nalar budi?

Pawang hujan adalah salah satu jenis paranormal yang melayani jasa agar suatu wilayah tidak terjadi hujan. Bisa karena si pemesan jasa ini memiliki hajatan tertentu seperti kampanye, pesta pernikahan, sunatan, ulang tahun dan lain-lain. Ada beragam tarif yang biasanya dipatok oleh pawang hujan. Berkisar antara Rp 1,75 juta hingga Rp 3 juta yang dibayarkan sebelum maupun sesudah hajatan tergantung pada permintaan si pawang.

Yang perlu digaris bawahi bahwa pawang hujan tidaklah menolak datangnya hujan, melainkan hanya memindahkan hujan ke satu tempat yang lain. Persoalannya sekarang, apakah bijaksana kita MEREKAYASA KEHENDAK ALAM untuk mengguyurkan air di sebuah wilayah yang juga berarti membengkok-bengkokkan hukum alam sesuai dengan keinginan manusia?

Mari kita telusuri. Sesungguhnya alam adalah makhluk yang sangat patuh kepada Tuhan. Dia makhluk yang lugu, polos dan tanpa akal untuk merekayasa perintah dari-Nya untuk dipergunakan sesuai dengan kepentingan jangka pendek. Alam tidak memiliki ego atau keakuan seperti manusia dan jin. Alam adalah alam yang hanya mampu untuk bersyukur dan bertasbih, memuji Tuhan siang-malam sampai suatu ketika nanti DIA menggulung pergelaran sangkan paraning dumadi.

ALAM TEGAK ATAS DASAR PRINSIP KEIKHLASAN. Di dalam alam, tidak ada residu atau sampah karena sistem kerja yang salah. Setiap residu akibat peoses kerja alam pasti akan didaur ulang kembali dan menjadi bahan yang bermanfaat bagi keberlangsungan alam selanjutnya. Bakteri-bakteri pengurai siap untuk bekerja dengan ikhlas pula. Justeru karena manusia yang memiliki tata pikir dan tata kerja yang salah, akhirnya membuat keseimbangan alam terganggu. Hotel dan bangunan yang memantulkan cahaya ke atas dibangun, ozon kepanasan dan akhirnya sobek. Asap kendaraan, air conditioning (AC) dan berbagai dzat kimia dilepas ke udara dan akhirnya bumi mengalami pemanasan global. Alam juga sudah memiliki takaran dan jam tertentu untuk mengguyurkan hujan di suatu wilayah.

Kenapa manusia harus merekayasa hujan agar tidak turun di sebuah wilayah demi untuk mensukseskan kehendaknya untuk menyelenggarakan sebuah upacara hajatan? JUSTERU HARUSNYA MANUSIALAH YANG MENYELARASKAN KEINGINANNYA KEPADA JALUR DAN HUKUM ALAM. JUSTERU MANUSIALAH YANG HARUSNYA BELAJAR MENGHARGAI HUKUM ALAM, JUSTERU MANUSIALAH YANG HARUSNYA TAWADUK TERHADAP SAUDARA MAKHLUK TUHAN YANG BERNAMA BUMI INI…. duh sombong dan congkaknya kau, manusia!, sehebat apapun kau, tidak akan pernah kau bisa melahirkan seekor lalat pun!

“Kami mempunyai kemampuan dengan ijin Tuhan untuk memindahkan hujan tersebut yang sekiranya akan menganggu jalannya acara yang akan berlangsung…” Ini iklan salah satu pawang hujan. Kok dengan enak kita menyebut atas ijin Tuhan, hujan bisa dialihkan ke tempat lain? Emangnya Tuhan itu dengan mudah mengijabahi karep dan keinginan satu manusia saja dengan mengabaikan keinginan manusia yang lain?

Belum tentu keinginan seseorang itu sama dengan keinginan orang lain. Contoh, saya ingin agar tidak terjadi hujan, tapi bisa jadi Anda justeru menginginkan hujan. Keinginan manusia berbeda-beda sehingga biarkan alam dengan kearifannya berbicara dengan bahasanya sendiri. Alam lebih arif dari manusia. Alam lebih tua umurnya dari manusia. Jangan gurui alam, namun sebaliknya belajarlah dari alam!

Bila Anda kebetulan akan menyelenggarakan hajatan tertentu, maka lihatlah jadwal alam. Apakah itu saatnya musim hujan atau tidak, bila saatnya musim hujan ada baiknya Anda menyelenggarakan hajatan di dalam gedung saja. Atau bila Anda tidak memiliki dana untuk menyelenggarakan hajatan di dalam gedung, ya ikhlas saja bila sewaktu-waktu terjadi hujan. Tidak usah sakit hati, nelangsa atau gelo bila terjadi hujan. Justeru bila tiba-tiba hujan turun maka yakinlah itu cara alam menyapa hajatan kita, sehingga kita berkewajiban untuk menyapa Makhluk Tua bernama Bumi ini.

Seorang teman seorang pawang hujan menengadahkan wajahnya ke langit. Kaki direnggangkan mulut komat-kamit bermantra. Kedua tangan digerak-gerakkan seperti menyibak awan. Ini ritual pawang hujan untuk menyingkirkan tiap milimeter curah hujan pada luasan puluhan hektar. Jutaan ton air digeserkan ke tempat lain. Ya energi supranatural yang dibutuhkan tentu sangat besar.

Ada yang merasionalisaskan cara kerja pawang hujan sebagai berikut: Doa dan mantra akan menyatukan sebuah energi gaib (energi dari alam, energi dari makhluk halus) dan memancarkan gelombang elektromagnetik ke awan dengan frekuensi tertentu sehingga mampu menggeser mendung. Alhasil, langit yang sebelumnya gelap akan jadi biru lagi. Entahlah,…

Sebelum memiliki kemampuan supranatural sebagai pawang hujan, konon seseorang harus melakukan puasa dan berzikir untuk menjaga dan meningkatkan kemampuannya. Termasuk menghapal dan merapal mantra atau doa-doa untuk mendatangkan atau menolak turunnya hujan. Santri di sebuah pondok diajar doa-doa.

Seorang kyai pernah menjelaskan fenomena mistik hujan sebagai berikut: “uap dari laut yang kena panas matahari akan naik menjadi sinar laki-laki dan uap air dari penguapan dedaunan menjadi sinar perempuan.

Dengan berdoa mengucapkan nama-nama suci Tuhan, akan terbentuk sinar lelaki dan sinar perempuan” Ada beragam teknik ritual, mantra dan doa yang disemburkan pawang hujan. Ada yang menggunakan media bokor berisi kemenyan, garam, lisong, kapur, pinang, dan sirih. Pemesan diminta oleh pawang hujan untuk membuang nasi genggam ke atas genting dan membuang lisong, kemenyan, kembang, dan kapur ke sungai.

Ada juga yang mensyaratkan beberapa kaleng bir untuk minum makhluk halus penggeser awan hujan. Ada pawang yang menggunakan metode zikir. Sang pawang meminta para anggota keluarga yang punya hajat untuk berdoa kepada Allah agar menunda hujan. Salah satu anggota diantaranya harus zikir pada malam hari sebelum hajatan berlangsung. Ada pawang yang minta disediakan beberapa rantang nasi dan sebuah payung hitam.Ada yang membalikkan sapu lidi bekas pakai. Diujung-ujung lidinya ditancapkan bawang merah dan cabai merah.

Ada pula yang cuma minta disediakan berpuluh-puluh batang rokok dari lintingan daun nipah untuk media bertirakat menahan hujan. Sepanjang malam pawang mengelilingi wilayah tertentu sambil mengembus-embuskan asap rokoknya ke langit. Dengan kepulan asap dari linting demi linting yang sudah dimantra-mantrai, pawang menghalau gerakan angin agar hujan deras tidak mengguyur wilayah itu.

Ada pula ilmu pawang hujan yang memiliki ilmu Petak Sayyidina Ali. Caranya menguasainya selama tiga hari puasa mutih dan setiap usai shalat membaca rapalan tertentu. Pada tengah malam, setelah shalat hajat, membaca rapalan sekian ratus kali. Selanjutnya, amalan itu dijadikan wirid rutin.

Ada juga pawang yang menggunakan doa Sabdo Dadi. Doa diwirid pada pagi hari, dan diluar itu mengamalkan zikir rahasia atau sirri. Penggunaannya, jika untuk menyingkirkan hujan, amalan cukup dibaca pada lokasi atau desa yang dimaksud. Sedangkan untuk mendatangkan hujan, amalan dibaca sambil mengitari desa.

Dalam khasanah budaya Jawa setidaknya dikenal dua tradisi ritual tolak hujan. PERTAMA, pawang tidak diperkenankan menyentuh air dan harus puasa ngebleng (tidak makan, minum dan tidur). Sebaliknya, jika yang diminta adalah datangnya hujan, maka yang dilakukan harus banyak kungkum (berendam) di sungai sambil membaca mantranya. Untuk memiliki ilmu ini, sebelumnya harus tirakat sehari semalam pada hari Kamis pada bulan Suro.

Dan mantranya: …Bathara Surya, Surya Kantha, Danyang…(nama desa), Saya minta bantuanmu menyingkirkan hujan, Aku minta sinar Bathara Surya. Sedangkan jika tujuannya untuk meminta turunnya hujan, mantranya dirubah; …Bathara Surya, Surya Kantha, Danyang…(nama desa), Saya minta bantuanmu mendatangkan hujan, Aku minta keringat Bathara Surya. Ketika ada orang datang minta bantuan menyingkirkan atau mendatangkan hujan, mintalah agar membawa rokok.

Selanjutnya, anda berdiri di tengah halaman rumah. Baca mantranya tiga kali, diakhiri dengan menghisap asap rokok. Dan begitu anda menyetujui mempawangi hujan, pada waktu yang ditentukan agar hujang itu menyingkir atau datang. Maka anda harus melakukan pantangan tidak makan, minum dan tidak pula tidur. Itupun masih ditambah menjauhi air (jika menyingkirkan hujan) dan banyak kungkum (jika mendatangkan hujan).

KEDUA, berziarah ke makam leluhur orang yang minta bantuan. Saat berziarah juga melakukanlah ritual ziarah. Membaca doa-doa dan bertawasul, seolah-olah berbicara dengan arwah orang yang sedang diziarahi, “Mbah karena kamu sudah tidak makan nasi dan garam, dan tiap hari kamu makan doa, maka kekuatan batinmu tentu lebih kuat. Karena itu, tolong bantu saya dengan doa, agar apa yang saya inginkan menyingkirkan atau mendatangkan hujan ini, dikabulkan oleh Gusti.”

Pulang dari ziarah,mendatangi ke rumah orang yang minta bantuan itu. Minta sekepal nasi dan garam kasar dan membaca “ Gusti…tidak jadi hujan. Gusti…Gusti…..” Sebaliknya, jika yang dikehendaki orang yang minta bantuan itu datangnya hujan, ucapannya diganti menjadi : “Gusti….., jadi hujan. Gusti…Gusti…Gusti….”

Setelah itu, nasi dan garam kasar itu dibuang di atas genteng. Jika rumahnya terdiri dari dua bangunan, maka tempat yang dipilih adalah atas genteng bagian tengah, dilanjutkan dengan mengucapkan niat yang susunan katanya diciptakan sendiri. Dengan tujuan, mohon diberi kemampuan oleh Tuhan agar hujan yang semestinya turun, untuk sementara disingkirkan ke arah barat desa yang jauh, begitu halnya untuk arah utara, timur, selatan dan barat.

Saat melakukan ilmu ini, tidak perlu puasa. Cukup berpantang tidak makan minum di rumah orang yang minta bantuan. Namun jika ingin melakukan puasa sebagai bentuk dari kesungguhan dalam meminta kepada Tuhan juga bagus, ya itung-itung latihan ikhlas membantu orang lain.

SEMUANYA KEBAIKAN HARUSNYA DIMULAI DARI NIAT DAN CARA YANG BERSIH. NIAT DAN CARA HARUSNYA DIOLAH DENGAN NALAR BUDI YANG JEMBAR DAN JERO, SEHINGGA LAHIR KEPUTUSAN YANG BIJAKSANA.@@@

Wong Alus

Categories: RITUAL TOLAK HUJAN | 21 Komentar

JUMAT SUWUNG


Setahu saya yang tidak tahu apa-apa ini, ada salah satu kata di antara trilyunan kata yang berjumpalitan di otak manusia yang sulit untuk dijabarkan maknanya. Kata itu adalah IKHLAS. Biasanya ikhlas didefinisikan sebagai perbuatan atau memberikan sesuatu tanpa pamrih/tendensi apa-apa.

nelayan

Lalu seandainya., misalnya, andaikata, kita sepakat dengan dengan definisi ini apakah ada perbuatan atau memberikan sesuatu tanpa pamrih itu? Mungkinkah kita beraktivitas tanpa pamrih? Misalnya pamrih untuk mendapatkan sesuatu sesuai dengan apa yang kita berikan sebagaimana ungkapan: Siapa yang menanam maka dia akan menuai hasil. Atau pamrih untuk masuk surga, atau pamrih untuk mengharapkan keridhaan Tuhan.

Lantas bila ada satu perbuatan dilandasi dengan niat yang tanpa pamrih itu, contohnya perbuatan apa ya? Ada satu pendapat yang sedikit banyak bernada kelakar, yaitu berbuat ikhlas tanpa pamrih itu seperti saat seseorang buang air besar. Dia tidak mengharapkan kembalian dari perbuatannya. Sekaligus tidak mengingat-ingat lagi kemana arah dan tujuan dari apa yang kita keluarkan (maaf, kotoran) itu. Inikah makna ikhlas?

Saya kurang begitu sepakat dengan contoh perbuatan ikhlas yang ini. Buktinya, bahkan saat seseorang itu memulai untuk masuk ke –WC setelah merasa perutnya tidak nyaman, bukankah dia memiliki niat agar tubuhnya kembali bugar dan rasa perutnya bisa kembali nyaman? Jelas niatnya tidak diucapkan dan sebuah tindakan yang terkoordinasi di alam bawah sadarnya.

Sehingga, contoh perbuatan apa yang bisa disebut perbuatan ikhlas? Sering kita dengar di berbagai forum keagamaan: beribadah lah dengan ikhlas hanya untuk mendapatkan keridhoan Tuhan. Saya memaknai, perbuatan yang masih ada tendensi untuk mendapatkan keridhoan Tuhan ini berarti belum IKHLAS.

Ikhlas, bagi saya, sungguh sesuatu yang adiluhung dan sangat ideal yang tidak boleh dikotori oleh tendensi apa-apa termasuk mengharapkan pemberian dan keridhoan Tuhan. Bila sebuah perbuatan memiliki tendensi untuk mengharapkan apa-apa termasuk keridhoan Tuhan, atau agar dapat pahala, bisa memperberat timbangan amal perbuatan sehingga bisa masuk surga dan terhindar dari neraka.. bukankah ini berarti tidak ikhlas?

Bila pegang tesis bahwa perbuatan IKHLAS berarti tidak mengharapkan apa-apa, tanpa terkecuali berarti harusnya ya sudah, tidak usah memiliki niat untuk mencari makna, arti, hakikat dan alasan sebuah tindakan. Berarti tindakan ikhlas itu diluar jangkauan akal sehat yang ingin selalu mencari tahu alasan-alasan tindakan. Ikhlas berarti SUWUNG, ORA ISO DIJELASKE OPO KAREPE… KOYO WONG EDAN. Mungkin Plato benar saat mengatakan dekat-dekatlah dengan kegilaan karena kegilaan dekat dengan Tuhan. Jadi???

YO ORA USAH MACUL OPO-OPO MASIO PANJENENGAN DUWE PACUL. PACUL IKU WATAKE AKAL. TERMASUK ORA USAH MACULI LANGIT, NGAREP-AREP RAHMATE GUSTI KANG MAHA WIKAN. BUWANGEN PACULMU LAN AYO SUWUNG SOKO NIAT NOPO KEMAWON PARA SANAK KADANG!

Mungkin juga saya salah dalam memaknai ikhlas ini. Jadi mohon Pencerahan dari Pembaca yang Budiman.

Salam alus.

Categories: MAKNA IKHLAS | 20 Komentar

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com. Tema Adventure Journal.