SUWUNG MAWAR DI UJUNG SENJA


Mawar
warnanya merah
Daunya hijau segar
Baunya wangi
Ada durinya,

Duhai indah sang bunga
Ingin kupetik
Kuberi pada pujaan hati
Malam ini,
sekuntum saja

Semoga dia,
mampu merasa indahnya
Bukan hanya indah merahnya,
Hijau daunnya
Atau durinya yang menusuk
Tapi KEINDAHAN nya
Hakikat Dzat nya…

Mawar tetap mawar
Apapun tafsir tentang mawar
Apapun nama dan sifat mawar
Tak akan mengubah kemawarannya
Tak akan mengubah apa-nya
Tak akan…

Mawar mewartakan apa?
Keindahannya dari mana berasal?
Dari materinya kah?
Dari bentuknya kah?

Sesungguhnya,
mawar mewartakan keberadaanKU,
Adakah keindahan mawar
bila tidak ada AKU?

AKU adalah pusat pandang
AKU adalah titik gingsir kasih
Semua yang indah terpancar dari indah-KU

IndahKU ada dalam sunyi,
Namun tidak pernah layu

di ujung senja
sekalipun..


(w.a, 15-07-09)

mawar

Categories: PUISI & PROSA | 5 Komentar

SUWUNG SEJATI – SEJATINYA SUWUNG


suwung

Hampir empat puluh enam tahun dia bertapa di Alas Ketangga, kini dia telah datang dengan membaca pencerahan. Inilah catatan pendakian spiritual KI SUWUNG BUWONO setelah mencari SUWUNG SEJATI.

Menurut Ki Suwung, keadaan jiwa atau hati yang telah mendapatkan wahyu atau ilham biasa dianalogikan dengan menerima CAHAYA. “Wahyu atau kata-kata Tuhan diungkapkan ke dalam bahasa manusia dengan kata CAHAYA. Sebab wahyu itu sendiri (an sich) tidak bisa diungkapkan dengan bahasa manusia. Wahyu adalah bahasa Tuhan, yang berbeda dengan bahasa manusia. Namun wahyu alias ilham bisa dipahami oleh orang yang menerimanya, bahkan hewan dan alam pun mampu memahami bahasa Tuhan” katanya menerangkan.

IHLAM menurut Ki Suwung bisa ditafsirkan sebagai: DISUSUPKANNYA KEDALAM HATI YANG MAMPU MENANGKAP VIBRASI/GETARAN YANG DAPAT DIPERGUNAKAN UNTUK MEMBEDAKAN ANTARA YANG SESAT DAN YANG PETUNJUK, dan mungkin hal ini di jaman kita sekarang ini dikenal dengan istilah MATA HATI.

Tibalah Ki Suwung menceriterakan akhir perjalanan spiritualnya. “Mohon maaf bila saya terpaksa harus menjabarkan ILMU MA’RIFAT, yaitu ilmu untuk mengenal dzat, sifat dan perbuatan Tuhan. Selain ilmu, hendaknya melakukan KOMUNIKASI KEPADA TUHAN SERTA PASRAH DIRI SECARA TOTAL. Kepasrahan adalah menggantungkan sikap jiwa untuk patuh kepada Tuhan dengan segenap tata cara ngelmu dan laku yang telah ditentukan, agar kita mendapatkan cahaya keimanan yang lebih dalam..” ujarnya kalem.

Tidak biasa Ki Suwung berkata kata serius seperti pagi ini. Dia biasanya begejekan, suka gojeg dan sesekali biasanya dia membeberkan ilmu kawicaksanan dengan mesam-mesem. Namun kali ini, dia lain. Dia terlihat sangat serius. Matanya sesekali melihat ke langit. Mungkin menunggu petunjuk Tuhan agar dia tidak salah ucap. Berikut wawancara antara saya dengan Ki Suwung:

WONG ALUS: Kenapa Tuhan memberikan perimpamaan petunjuk itu dengan dzat cahaya, kok tidak dengan air, tanah atau yang lain?

KI SUWUNG: “Sebab Tuhan paham sifat-sifat cahaya. Cahaya itu bersemayam di dalam HATI ORANG-ORANG YANG TERPILIH DAN DIKEHENDAKI-NYA. Dengan cahaya itu Tuhan membimbing dan menuntun hati agar mampu memahami ayat-ayat Tuhan serta nasehat-nasehat Tuhan. Tuhan-lah yang akan ‘menghantar’ jiwa kita melayang menemui-Nya dan yang akan menunjukkan ‘jalan ruhani’ kita untuk melihat-Nya secara ‘nyata’. Dengan ‘cahaya-Nya’, kita bisa membedakan petunjuk dari syetan atau dari Tuhan swt. Sehingga kita diharapkan untuk selalu bersungguh-sungguh berjalan di jalan Tuhan, sehingga Dia akan memberi cahaya kepada manusia yang menuju jalan-jalan Tuhan, yaitu jalan kebenaran.

WONG ALUS: Lantas apa syarat untuk mendapatkan cahaya petunjuk?

KI SUWUNG: hendaknya kita melakukan perbuatan yang diwajibkan dan dianjurkan-Nya, terus menerus mengingat-Nya secara kontinyu baik berdiri, duduk, maupun berbaring jiwa selalu terjaga. Sebab didalam setiap perilaku itu sejatinya selalu berhadapan dengan Tuhan.Dan akhirnya Tuhan menyambut ingatan kita, dengan sambutan kasih sayang serta memberinya cahaya penerang bagi hatinya yang merelakan dan membuka untuk menerima Tuhan sebagai junjungannya, dengan ditandai rasa tenang yang luar biasa.

WONG ALUS: Saya masih kurang jelas tentang perjalanan rohani yang katanya penuh dengan hambatan, apa saja hambatan untuk bertemu Tuhan?.

KI SUWUNG: Dalam agama, hambatan ini kerap ditunjuk dengan istilah HIJAB. Istilah ini muncul setelah orang mulai serius mendalami pengetahuan tentang TATA CARA MENGENAL TUHAN dengan segala cara ibadah sampainya seseorang kepada tingkat IKHLAS. Yaitu ORANG YANG BENAR-BENAR BERADA DALAM KEADAAN RELA DAN MENERIMA TUHAN SEBAGAI TUHANNYA SECARA TRANSENDEN.

Hijab adalah tirai penghalang lajunya JIWA menuju SANG PENCIPTA. Penghalang itu adalah kabut yang menutupi MATA HATI, sehingga hati tidak mampu melihat kebenaran yang datang dari Tuhan. CAHAYA TUHAN tidak bisa ditangkap dengan pasti. Dengan demikian manusia akan selalu berada dalam keragu-raguan atau was-was. Karena ketertutupan atau terhijabnya kita atas keberadaan Tuhan disebabkan kebodohan dan sangkaan akan Tuhan yang keliru.

WONG ALUS: Jadi hati merupakan pusat dari segala keburukan juga ya?

KI SUWUNG: Benar, hati memang pusat kemunafikan, kemusyrikan, dan merupakan pusat dari apa yang membuat seorang manusia menjadi manusiawi. Dan pusat ini merupakan tempat dimana mereka bertemu dengan Tuhannya. Merupakan janji Tuhan saat fitrah manusia menanyakan dimanakah Tuhan? Lalu, Tuhan menyatakan diri-Nya berada SANGAT DEKAT. Pertanyaan tentang keberadaan Tuhan sering kali kita mendapatkan jawaban yang tidak memuaskan, bahkan kita mendapatkan cemoohan sebagai orang yang terlalu mengada-ada. Padahal, menanyakan keberadaan Tuhan adalah merupakan pertanyaan dasar manusia.

Didalam kitab suci disebutkan bahwa keberadaan Tuhan sebagai wujud yang sangat dekat. Jawaban atas pertanyaan dimanakah Tuhan diungkap dengan jawaban secara DIMENSIONAL. Jawaban-jawaban tersebut tidak sebatas itu, akan tetapi dilihat dari perspektif seluruh sisi pandangan manusia seutuhnya. Saat pertanyaan itu terlontar “dimanakah Tuhan “, Tuhan menjawab “….Aku ini dekat “, kemudian jawaban meningkat sampai kepada “Aku lebih dekat dari urat leher kalian…atau dimana saja kalian menghadap disitu wujud wajah-Ku ….dan Aku ini maha meliputi segala sesuatu.”

Keempat jawaban tersebut menunjukkan bahwa TUHAN TIDAK BISA DILIHAT HANYA DARI SATU DIMENSI SAJA, AKAN TETAPI TUHAN MERUPAKAN KESEMPURNAAN WUJUD-NYA

Sangat jelas sekali bahwa Tuhan menyebut dirinya “AKU” BERADA MELIPUTI SEGALA SESUATU, dan DIMANA SAJA ENGKAU MENGHADAP DISITU WAJAH-KU BERADA!!! Kalau kita perhatikan jawaban Tuhan, begitu lugas dan tidak merahasiakan sama sekali akan wujud-Nya.

WONG ALUS: Ya, sangat sepakat Ki, namun bagi saya Tuhan masih sulit saya pahami. Mohon pencerahan…

KI SUWUNG: Ilmu Tuhan memang tidak mudah. Karena kesederhanaan Tuhan ini sudah dirusak oleh anggapan bahwa Tuhan sangat jauh. Dan kita hanya bisa membicarakan Tuhan nanti di alam surga. Untuk mengembalikan prasangka kepada pemahaman yang benar kita hendaknya memperhatikan peringatan Tuhan, bahwa Tuhan tidak bisa disetarakan dengan makhluq-Nya.

Tuhan sebagai wujud sejati biasanya ditafsirkan dengan sifat-sifat Nya yang meliputi segala sesuatu. Akan tetapi kalau Tuhan ditafsirkan dengan sifat-sifat-Nya, yang meliputi segala sesuatu akan timbul pertanyaan, kepada apanya kita menyembah? Apakah kepada ilmunya, kepada kekuasaan-Nya atau kepada wujud-Nya? Kalau dijawab dengan kekuasan-Nya atau dengan ilmu-Nya maka akan bertentangan dengan kehendak Tuhan

Sebab manusia diperintahkan menghadapkan wajahnya kepada wajah Dzat yang Maha Mutlak. Sekaligus menghapus pernyataan selama ini yang justru menjauhkan pengetahuan kita tentang dzat, kita menjadi takut kalau membicarakan dzat, padahal kita akan menuju kepada pribadi. TUHAN, BUKAN NAMA, BUKAN SIFAT DAN BUKAN PERBUATAN TUHAN. KITA AKAN BERSIMPUH DIHADAPAN SOSOK-NYA YANG SANGAT DEKAT.

WONG ALUS: Berarti hubungan antara dzat, sifat, nama dan perbuatan Tuhan itu erat ya Ki, mohon penjelasan?

KI SUWUNG: Pemikiran tentang Tuhan pasti menyinggung hubungan antara dzat, sifat, dan perbuatan Tuhan. Diterangkan bahwa dzat meliputi sifat. Sifat menyertai nama. Nama menandai perbuatan. Hubungan-hubungan ini bisa diumpamakan seperti madu dengan rasa manisnya, pasti tidak dapat dipisahkan. Sifat menyertai nama, ibarat matahari dengan sinarnya, pasti tidak bisa dipisahkan. Nama menandai perbuatan, seumpama cermin, orang yang bercermin dengan bayangannya, pasti segala tingkah laku yang bercermin, bayangannya pasti mengikutinya. Perbuatan menjadi wahana dzat, seperti samudra dengan ombaknya, keadaan ombak pasti mengikuti perintah samudra.

Uraian di atas menjelaskan, betapa eratnya hubungan antara dzat, sifat, nama dan perbuatan Tuhan. Hubungan antara dzat, dan sifat ditamsilkan laksana hubungan antara madu dan rasa manisnya. Meskipun pengertian sifat bisa dibedakan dengan dzat namun keduanya tidak bisa dipisahkan satu dengan yang lainnya.

WONG ALUS: Kalimat Tuhan meliputi segala sesuatu adalah kesempurnaan ..dzat , sifat, asma, dan perbuatan. Sebab kalau hanya disebut sifatnya saja yang meliputi segala sesuatu, lantas ada pertanyan, sifat itu bergantung kepada apa atau siapa ?

KI SUWUNG: Ya, jelas akan bergantung kepada pribadi (Aku) yang memiliki sifat. Kemudian kalau sifat yang meliputi segala sesuatu, kepada siapakah kita menghadap? Kepada Dzat atau sifat Tuhan. Kalau sifat Tuhan sebagai obyek ibadah kita, maka kita telah tersesat, sebab sifat, asma dan perbuatan Tuhan bukanlah sosok dzat yang Maha Mutlak itu sendiri. Semua selain Tuhan adalah AKIBAT ADANYA DZAT. Seperti adanya alam, adanya malaikat, adanya jin dan manusia. Semua ada karena adanya DZAT YANG MAHA AWAL. Seperti perumpamaan madu dan manisnya, sifat manis tidak akan ada kalau madu itu tidak ada. Dan sifat manis itu bukanlah madu. Sebaliknya madu bukanlah sifat manis. Artinya sifat manis tergantung kepada adanya “madu”. Apakah Dzat itu, … seperti apa? Apakah ada orang yang mampu menjabarkan keadaannya ?

Singkat kata, dualitas berkaitan dengan sifat diskursus manusia tentang Tuhan. Untuk bisa memahami Tuhan, kita harus mengerti keterbatasan-keterbatasan konsepsi kita sendiri, karena menurut perspektif ketakperbandingan tak ada yang bisa mengenal Tuhan kecuali Tuhan sendiri. Karena itu kita punya pengertian tentang Tuhan, TUHAN KONSEPSI SAYA DAN “TUHAN” KONSEPSI HAKIKI, YANG BERADA JAUH DILUAR KONSEPSI SAYA. Tuhan yang dibicarakan selalu berkaitan dengan Tuhan dalam “konsepsi saya”. Konsepsi Dzat yang hakiki tidak bisa kita fahami, baik oleh saya maupun Anda. Karena itu kita tidak bisa berbicara tentangnya secara bermakna. bagaimana kita bisa memahami tentang Dia, sedang kata-kata yang ada hanya melemparkan kita keluar dari seluruh konsepsi manusia. Seperti, Dia yang Awal dan yang akhir, Dia yang tampak dan yang tersembunyi, cahaya-Nya tidak di timur dan tidak di barat, tidak laki-laki dan tidak tidak perempuan, tidak serupa dengan ciptaan-Nya.

Kenyataan Tuhan tidak bisa dikenal dan diketahui berasal dari penegasan dasar bahwa DIA tidak sama dengan sesuatu. Karena tuhan secara mutlak dan tak terbatas benar-benar Dzat maha tinggi, sementara kosmos berikut segala isinya hanya bersifat RELATIF maka realitas Tuhan berada jauh diluar pemahaman realitas makhluk. Dzat yang maha mutlak tidak bisa dijangkau oleh yang relatif. Kita dan kosmos (alam) berhubungan dengan Tuhan melalui sifat-sifat-Nya yang menampakkan jejak-jejak dan tanda-tandanya dalam eksistensi kosmos. Kita tidak bisa mengenal dan mengetahui Tuhan dalam dirinya sendiri, tetapi hanya sejauh Tuhan mengungkapkan diri-Nya melalui kosmos (sifat, nama, perbuatan). Sifat, nama, dan perbuatan, secara relatif bisa dirasakan dan difahami MAKNANYA. Akan tetapi DZAT adalah realitas mutlak. Dan untuk memahami secara hakiki harus mampu MENIADAKAN ATAU MEMFANAKAN DIRI, … yaitu memahami bahwa KEBERADAAN MAKHLUK BERSIFAT TIADA.

WONG ALUS: ada gambaran yang sederhana Ki, saya sangat bingung?

KI SUWUNG: Ketika kita melihat kereta api berjalan diatas rel, terbetik dibenak kita suatu pertanyaan. Bagaimana roda-roda yang berat itu bisa bergerak dan lari. Tak lama kemudian kita akan sampai kepada pemikiran tetang alat-alat dan mesin-mesin itulah yang menggerakkan roda yang berat itu. Adakah setelah itu kita dibenarkan jika berpendapat bahwa alat kereta itu sendiri yang menggerakkan kereta tersebut. Perkaranya tidak semudah itu, sebab kita tidak boleh mengabaikan bahwa disana ada masinis yang mengendalikan mesin. Kemudian ada insinyur yang menciptakan rancangan dan ketentuan-ketentuan yang ditetapkan, maka pada hakekatnya tak ada wujud bagi kereta itu, dan tidaklah mungkin terjadi gerakan dan perputaran pada roda-roda tanpa kerja insinyur. Mesin-mesin itu bukanlah akhir dari cerita sebuah kereta api, akan tetapi hakikat yang paling akhir adalah akal yang telah mengadakan mesin itu, kemudian menggerakkan menurut rencana yang telah dipersiapkan.

Mengikuti ilustrasi realitas kereta api, mulai dari gerbong yang digerakkan oleh roda-roda, kemudian roda-roda digerakkan oleh mesin, mesin digerakkan oleh masinis, dan semua itu direncanakan, oleh yang menciptakan yaitu insinyur. Pertanyaan terakhir adalah : “Mungkinkah roda-roda, mesin, dan alat-alat kereta api itu mampu melihat yang menciptakan?” Jawabannya adalah insinyur itu sendiri yang mengetahui akan dirinya, sebab kereta api dan insinyur berbeda keadaan dan bukan perbandingan. Realitas instrumen kereta api tidak ada satupun yang serupa jika dibandingkan dengan keadaan realitas insinyur. Kemudian mengetahui keadaan realitas kereta api dari awal sampai akhir, merupakan kefanaan atau penafian bahwa realitas kereta api adalah ciptaan semata.
Realitas bahwa Dzat tuhan tidak bisa dibandingkan dengan sesuatu berlaku sampai di akhirat kelak. Walaupun Tuhan sendiri mengatakan bahwa manusia di alam surga akan melihat realitas Tuhan secara nyata atas eksistensi Tuhan, bukan berarti kita melihat dengan perbandingan pikiran manusia. Yang dimaksud melihat secara hak disini adalah kesadaran jiwa muthmainnah yang telah lepas dari ikatan alam atau kosmos.

WONG ALUS: Inikah yang disebut SUWUNG?

KI SUWUNG: Ya, atau biasa disebut FANA keadaan ini manusia dan alam seperti keadaan sebelum diciptakan yaitu keadaan masih kosong awang uwung atau SUWUNG kecuali DIA sendiri yang ada. Tidak ada yang mengetahui keadaan ini kecuali Tuhan sendiri.

Keadaan awal tidak ada yang wujud selain Tuhan, tidak ada ruang, tidak ada waktu, tidak ada alam apapun yang tercipta. Ada yang menarik dalam peristiwa “pertemuan” nabi Musa dengan Tuhan dulu. Itulah keadaan SUWUNG manusia dan alam. Yakni keadaan hancur luluh lantak keadaan gunung Thursina dan keadaan Musa EKSTASE jatuh PINGSAN. Setelah gunung itu hancur dan Musa-pun jatuh pingsan, TIDAK SATUPUN YANG TERLINTAS REALITAS APAPUN DIDALAM PERASAN MUSA DAN FIKIRANNYA, KECUALI IA TIDAK TAHU APA-APA. Yaitu realitas konsepsi manusia dan alam tidak ada (fana). Dalam keadaan inilah Musa melihat realita Tuhan, bahwa benar Tuhan tidak bisa dibandingkan oleh sesuatu apapun. Kemudian Musa kembali sadar memasuki realitas dirinya sebagai manusia dan alam. Musa berkata :aku orang yang pertama-tama beriman..dan percaya bahwa Tuhan tidak seperti konsepsi “saya”. Setelah kita mengetahui dan faham akan Dzat, sifat, dan perbuatan Tuhan, teranglah fikiran dan batin kita, sehingga secara gamblang kedudukan kita dan Tuhan menjadi jelas, yaitu yang hakiki dan yang bukan hakiki. Terbukalah mata kita dari ketidaktahuan akan Dzat. Ketidaktahuan inilah yang saya maksudkan dengan tertutupnya hijab, sehingga perlu disadarkan oleh kita sendiri dan kemudian mengenal-Nya (ma’rifat)

WONG ALUS: berarti prasangka terhadap Dia merupakan hijab ya ki?

KI SUWUNG: Begitulah kenyataannya. Tiada sesuatu benda yang MENUTUPI engkau dari Tuhan, tetapi yang menghijab engkau adalah PERSANGKAANMU ADANYA SESUATU DISAMPING TUHAN, sebab segala sesuatu selain dari Tuhan itu pada hakikatnya tidak ada sebab yang wajib ada hanya Tuhan, sedang yang lainnya terserah kepada belas kasihan Tuhan untuk diadakan atau ditiadakan.

Seorang arif berkata : Semua makhluk ini bagaikan adanya bayangan pohon di dalam air. Maka ia tidak akan menhalangi jalannya perahu. Maka hakikat yang sebenarnya tiada sesuatu benda apapun disamping Tuhan untuk menutupi pandanganmu dari Tuhan. Hanya engkau sendiri mengira bayangan itu sebagai Tuhan. Ibarat seseorang yang bermalam disuatu tempat, tiba-tiba pada malam hari ketika ia akan buang air, terdengar suara angin yang menderu masuk lobang sehingga persis sama dengan suara harimau, maka ia tidak berani keluar. Tiba pada pagi hari ia tidak melihat bekas-bekas harimau, maka ia tahu bahwa itu hanya tekanan angin yang masuk ke lobang, bukan tertahan oleh harimau, hanya karena perkiraan adanya harimau.

Pertanyaan demi pertanyaan timbul dari ketidaktahuan (hijab), kenyataaan bahwa Tuhan sangat dekat tertutup oleh kebodohan ilmu kita selama ini. Tuhan seakan jauh diluar sana sehingga kita tidak merasakan kehadiran-Nya yang terus menerus berada dalam kehidupan kita. Dari keterangan diatas menyimpulkan bahwa kita ternyata telah salah kaprah mengartikan sosok dzat selama ini, yang kita sangka adalah konsepsi “saya”, bukan konsepsi hakiki, yaitu wujud yang tak terbandingkan oleh perasaan, pikiran , mata hati, dan seterusnya. TUHAN KITA ADALAH TUHANNYA MUSA, … TUHANNYA IBRAHIM, … TUHANNYA ISA, TUHANNYA MUHAMMAD, TUHAN KITA SEMUA … YAITU YANG MAHA TAK TERJANGKAU OLEH APAPUN.

WONG ALUS: Wah, penjelasan Panjenengan sangat gamblang namun sangat sulit saya pahami ki. Saya hanya bisa merekam dalam tape recorder yang saya bawa ini. Mudah-mudahan nanti bila saya tuliskan di blog tidak salah tafsir. Ada pesan ki?

KI SUWUNG: Semoga atas ijin-Nya. Saya hanya berpesan kini saatnya kita KONSENTRASI kepada DZAT…bukan kepada SIFAT: Sembahlah AKU …, sehingga SUWUNGLAH DIRI DAN ALAM SEMESTA. Setelah kita mengetahui dan mengenal Tuhan secara ilmu, maka semakin mudahlah kita untuk memulai berkomunikasi dan berjalan menuju kepada-Nya. KITA TELAH MEYAKINI BAHWA KITA AKAN KEMBALI KEPADA-NYA SEKARANG. TIDAK BESOK LUSA ATAU KAPAN-KAPAN…. ^^^^^

Categories: MAKRIFAT SUWUNG | 31 Komentar

MEMELIHARA TUYUL


abah kyai

Jenis makhluk halus anak-anak ini bisa di minta untuk mencari atau lebih pasnya mencuri uang. Bila Anda mencari dan mampu memeliharanya, Anda tidak usah repot repot bekerja siang dan malam. Cukup menyediakan semua keperluan si tuyul, uang pun mengalir lancar.

“Ketika KKN berjalan 1 minggu di tahun 1994 di daerah Panceng, Gresik, saya terpesona dengan adanya satu gunung yang berkesan angker, dan itu tampak dari kejauhan. Karena penasaran, pada minggu ke 3 (dari jadwal 8 minggu), saya mengiyakan ajakan teman untuk bermain-main di gunung tersebut, dan ternyata memang benar dugaan saya, banyak aura mistis yang mengitari gunung tersebut, yang paling menarik adalah adanya kerajaan tuyul, mencari tuyul amat mudah di sini.. …”

Itu adalah pengalaman seseorang yang kebetulan memiliki indera keenam yang menceriterakan adanya tempat berkumpulnya tuyul di sebuah perbukitan Surowiti, Desa Surowiti, Kecamatan. Panceng, Kabupaten Gresik atau sekitar 15 kilometer dari wisata tanjung kodok, Lamongan, Jawa Timur.

Ada lagi iklan di surat kabar sebagai berikut: “Ditawarkan tuyul yang memiliki kemampuan mencuri uang atau perhiasan, Tuyul yang kami tawarkan adalah tuyul dari spesies khusus yang kami dapatkan dari Desa Krucuk, Kabupaten Klaten. Tuyul ini kira-kira tingginya 5cm – 6cm, tuyul ini dapat dilihat dan diajak ngobrol oleh majikannya saja. Bagaimana merawatnya? Mudah sekali, tuyul ini tidak merepotkan karena tuyul ini tidak membutuhkan kamar khusus atau mainan anak-anak. Tuyul ini hanya butuh lima tetes darah manusia golongan O atau AB. Harga maharnya kami patok 5 Juta.”

Tuyul hidup di berbagai tempat yang angker dan yang paling disukai adalah ditempat-tempat yang jauh dari rumah-rumah ibadah. Di sisa-sisa reruntuhan bangunan tua, maupun di tempat-tempat yang dikeramatkan orang.

Tuyul, adalah salah satu jenis mahluk halus berwujud anak-anak balita. Sebenarnya, tuyul ini tidak ingin dipekerjakan oleh manusia. Dia hanya bermain-main, sama seperti sifat khas yang dimiliki anak kecil yang suka iseng dan ingin mencoba segala hal sebagaimana balita pada umumnya.

Nah, ini lagi repotnya manusia. Sudah mengerti masih anak anak kok tega-teganya dipekerjakan? Apa ini bukan melanggar hukum alam wadag maupun gaib? Jelas melanggar, sehingga pasti nantinya si manusia dan juga si makhluk halus ini mendapatkan akibat dari tidakan melanggar hukum.

Dengan sebuah ritual khusus seorang paranormal menembus wahana gaib dan kemudian berkomunikasi dengan sang tuyul. Ada kesepakatan antara dua makhluk Tuhan ini bila masing-masing mau dan saling membantu. Bila permufakatan sudah oke, maka masing-masing pihak harus tahu diri dan mentaati aturan yang berlaku.

Salah satu yang diminta oleh tuyul adalah “tumbal”. Ini memang syarat utama dalam permufakatan tersebut. Tumbal dalam pesugihan ini bisa bermacam-macam tergantung permufakatan. Namun biasanya, bila tuyulnya profesional maka dia akan meminta tumbal kematian dari para sahabat, saudara, bahkan anak-anaknya sendiri.

Ada pula jenis pesugihan lain yaitu Nyi Roro Kembar Sewu dimana tumbal yang dimintanya bukan kematian, tetapi si tumbal akan menjadi gila atau lebih tepatnya berprilaku seperti anak idiot. Ini dikarenakan bertukarnya jiwa si tumbal dengan salah satu anak dari Nyi roro kembar sewu yang harus dirawat dan diasuh layaknya anak sendiri. Jenis pesugihan ini sangat rumit. Nyi Roro Kembar Sewu hanya meminta jiwa seorang lelaki dewasa dengan ciri-ciri husus, lelaki ini biasa di sebut dengan sebutan “lanang panduso”.

Salah satu yang diminta tuyul adalah sebuah ruangan atau kamar khusus. Seperti ritual-ritual pesugihan lain, ritual ini juga mewajibkan si pelaku pesugihan untuk menyediakan kamar khusus di dalam rumah. Di dalam kamar, perlu dipersiapkan satu ranjang tempat tidur lengkap dengan kelambunya. Satu meja tempat sesaji dengan ukuran tinggi meja kurang lebih setinggi lutut. Tempat uang seperti bakul tempat nasi. Di dalam kamar khusus ini warna hijau haruslah dominan dari warna lainnya pada seprei, sarung bantal, kelambu, taplak meja dan sebagainya dengan warna hijau.

Salah satu yang perlu disediakan dalam kamar adalah adanya dolanan anak-anak, seperti cermin, dakon, boneka-boneka kayu dan lain-lain. Tuyul juga sangat suka untuk diajak gojek dan bermain-main. Setiap hari, pemelihara tuyul diharapkan agar membawa tuyulnya berjalan-jalan agar si tuyul kerasan dan senang.

Setiap hari, kita harus memberinya makan berupa bubur yang merupakan makanan pokok mereka, serta sesajen dan kemenyan. Tuyul bekerja pada seorang majikan sebenarnya karena terpaksa karena tuyul sebenarnya masih belum ingin bekerja, dia memiliki sifat yang sama dengan balita pada umumnya yang ingin bermain.

Adapun tuyul memiliki sifat yang sama seperti anak-anak normal biasa dimana dia harus mencari induk semang sebagai ibu kandungnya. Si induk semang perlu memperlakukan dia sebagaimana anaknya sendiri, bahkan harus rela untuk lebih mencintai tuyul dibanding anaknya sendiri. Tuyul oleh karena itu juga perlu diberi air susu dan kebutuhan-kebutuhan biologis yang lain.
Salah satu khasanah mistik lain di dunia pertuyulan adalah istilah memet. Memet adalah tuyul dari jenis yang lebih pintar dan bentuk berbeda dengan tuyul kebanyakan. Memet memiliki dua buah taring sementara tuyul biasa tidak ada. Selain itu, memet dapat berlari lebih cepat dari pada tuyul biasa. Paranormal biasanya mengakui sulit untuk menangkap memet karena sifatnya yang gesit ini.

Tip dan teknik memiliki tuyul di antaranya: Jangan menyuruh mencuri uang di Bank karena di setiap bank telah ada perewangan atau jin penjaganya. Jangan menyuruh mencuri uang di lingkungan tempat tinggal kita karena jika ada tetangga yang tahu kita bisa malu dibuatnya. Jangan menyuruh mencuri uang di toko emas karena di setiap toko emas terdapat jimat tolak bala. Suruhlah mencuri di tempat perbelanjaan /mall atau ATM yang ada di mall karena ditempat seperti itu banyak peluang dan aman dari pagar gaib.

KESIMPULAN
Kesepakatan antara manusia dan makhluk halus selalu saja ada untung ruginya. Untungnya, manusia bisa kaya mendadak dan tanpa kerja keras dan banting tulang. Tuyul setiap hari sudah menyediakan uang untuk mencukupi kebutuhan hidup kita. Dengan kekayaan, status sosial akan cepat meningkat dan bisa membeli “kebahagiaan” termasuk menjadi politikus terpandang, juga wanita cantik, seksi dan aduai yang selama ini diidam-idamkan.

Namun kerugiannya yaitu orang yang memelihara tuyul akan mendapatkan kesulitan saat menjelang ajal. Dia akan sekarat yang lama dan rasa sakit yang luar biasa, sebuah kematian yang pelan-pelan dan sangat menyakitkan. Hukuman dunia lain pun juga tidak kalah mengerikan. Anda juga perlu waspada dengan hadirnya orang-orang waskita dan sakti yang siap untuk berperang dan membuat celaka hidup Anda. Maka, waspadalah..waspadalah dan waspadalah!

Ditinjau dari segi religiusitas, mereka yang memelihara tuyul akan mendapatkan kerugian. Pertama, pemelihara tuyul jauh dari prinsip-prinsip spiritualitas yang harusnya dipegang teguh seperti harus sabar, nrima, eling dan waspada. Menjauh dari prinsip spiiritualitas lintas agama, akan mengakibatkan kita hidup di dalam pusaran energi dunia yang tiada berujung pangkal. Keruwetan demi keruwetan harus ditanggung demi untuk memenuhi keinginan. Keinginan sifatnya sementara, karena setelah satu keinginan terpenuhi akan muncul keinginan baru yang lebih besar. Bila kita tidak memiliki kendali atas keinginan, otomatis kita selalu merasa miskin dan ini siksaan batin.

Kedua, Tuhan tidak akan memberi kemuliaan hidup bagi manusia yang tidak mau berusaha keras. Berpangku tangan menunggu datangnya uang setoran dari para tuyul ibarat menunggu datangnya rahmat dan hidayah Tuhan tanpa siap untuk bersusah payah. Ingat Serat Wedhatama: ngelmu iku kalakone kanthi laku.

Wong alus

Categories: TUYUL | 89 Komentar

HUJAN KOK DITOLAK


Memindahkan hujan ke satu tempat adalah jasa layanan yang ditawarkan oleh pawang hujan. Mudah memahami cara kerja pawang hujan, yang sulit adalah menakar dengan akal budi, apa tindakan semacam ini bijaksana atau tidak.

pawang

Manusia itu jahat ya??. Dia suka mengeksploitasi alam untuk dipergunakan sesuai dengan kehendaknya, termasuk membengkokkan hukum alam sesuai dengan karep dan bisa jadi tanpa dipikir dan dipertimbangkan masak-masak. Sama seperti kuda yang tanpa akal diminta dan dilatih oleh majikan untuk menyeret cikar. Lha kita ini manusia, masa mau-mau saja diminta untuk menyeret kendaraan tanpa pertimbangan akal dan nalar budi?

Pawang hujan adalah salah satu jenis paranormal yang melayani jasa agar suatu wilayah tidak terjadi hujan. Bisa karena si pemesan jasa ini memiliki hajatan tertentu seperti kampanye, pesta pernikahan, sunatan, ulang tahun dan lain-lain. Ada beragam tarif yang biasanya dipatok oleh pawang hujan. Berkisar antara Rp 1,75 juta hingga Rp 3 juta yang dibayarkan sebelum maupun sesudah hajatan tergantung pada permintaan si pawang.

Yang perlu digaris bawahi bahwa pawang hujan tidaklah menolak datangnya hujan, melainkan hanya memindahkan hujan ke satu tempat yang lain. Persoalannya sekarang, apakah bijaksana kita MEREKAYASA KEHENDAK ALAM untuk mengguyurkan air di sebuah wilayah yang juga berarti membengkok-bengkokkan hukum alam sesuai dengan keinginan manusia?

Mari kita telusuri. Sesungguhnya alam adalah makhluk yang sangat patuh kepada Tuhan. Dia makhluk yang lugu, polos dan tanpa akal untuk merekayasa perintah dari-Nya untuk dipergunakan sesuai dengan kepentingan jangka pendek. Alam tidak memiliki ego atau keakuan seperti manusia dan jin. Alam adalah alam yang hanya mampu untuk bersyukur dan bertasbih, memuji Tuhan siang-malam sampai suatu ketika nanti DIA menggulung pergelaran sangkan paraning dumadi.

ALAM TEGAK ATAS DASAR PRINSIP KEIKHLASAN. Di dalam alam, tidak ada residu atau sampah karena sistem kerja yang salah. Setiap residu akibat peoses kerja alam pasti akan didaur ulang kembali dan menjadi bahan yang bermanfaat bagi keberlangsungan alam selanjutnya. Bakteri-bakteri pengurai siap untuk bekerja dengan ikhlas pula. Justeru karena manusia yang memiliki tata pikir dan tata kerja yang salah, akhirnya membuat keseimbangan alam terganggu. Hotel dan bangunan yang memantulkan cahaya ke atas dibangun, ozon kepanasan dan akhirnya sobek. Asap kendaraan, air conditioning (AC) dan berbagai dzat kimia dilepas ke udara dan akhirnya bumi mengalami pemanasan global. Alam juga sudah memiliki takaran dan jam tertentu untuk mengguyurkan hujan di suatu wilayah.

Kenapa manusia harus merekayasa hujan agar tidak turun di sebuah wilayah demi untuk mensukseskan kehendaknya untuk menyelenggarakan sebuah upacara hajatan? JUSTERU HARUSNYA MANUSIALAH YANG MENYELARASKAN KEINGINANNYA KEPADA JALUR DAN HUKUM ALAM. JUSTERU MANUSIALAH YANG HARUSNYA BELAJAR MENGHARGAI HUKUM ALAM, JUSTERU MANUSIALAH YANG HARUSNYA TAWADUK TERHADAP SAUDARA MAKHLUK TUHAN YANG BERNAMA BUMI INI…. duh sombong dan congkaknya kau, manusia!, sehebat apapun kau, tidak akan pernah kau bisa melahirkan seekor lalat pun!

“Kami mempunyai kemampuan dengan ijin Tuhan untuk memindahkan hujan tersebut yang sekiranya akan menganggu jalannya acara yang akan berlangsung…” Ini iklan salah satu pawang hujan. Kok dengan enak kita menyebut atas ijin Tuhan, hujan bisa dialihkan ke tempat lain? Emangnya Tuhan itu dengan mudah mengijabahi karep dan keinginan satu manusia saja dengan mengabaikan keinginan manusia yang lain?

Belum tentu keinginan seseorang itu sama dengan keinginan orang lain. Contoh, saya ingin agar tidak terjadi hujan, tapi bisa jadi Anda justeru menginginkan hujan. Keinginan manusia berbeda-beda sehingga biarkan alam dengan kearifannya berbicara dengan bahasanya sendiri. Alam lebih arif dari manusia. Alam lebih tua umurnya dari manusia. Jangan gurui alam, namun sebaliknya belajarlah dari alam!

Bila Anda kebetulan akan menyelenggarakan hajatan tertentu, maka lihatlah jadwal alam. Apakah itu saatnya musim hujan atau tidak, bila saatnya musim hujan ada baiknya Anda menyelenggarakan hajatan di dalam gedung saja. Atau bila Anda tidak memiliki dana untuk menyelenggarakan hajatan di dalam gedung, ya ikhlas saja bila sewaktu-waktu terjadi hujan. Tidak usah sakit hati, nelangsa atau gelo bila terjadi hujan. Justeru bila tiba-tiba hujan turun maka yakinlah itu cara alam menyapa hajatan kita, sehingga kita berkewajiban untuk menyapa Makhluk Tua bernama Bumi ini.

Seorang teman seorang pawang hujan menengadahkan wajahnya ke langit. Kaki direnggangkan mulut komat-kamit bermantra. Kedua tangan digerak-gerakkan seperti menyibak awan. Ini ritual pawang hujan untuk menyingkirkan tiap milimeter curah hujan pada luasan puluhan hektar. Jutaan ton air digeserkan ke tempat lain. Ya energi supranatural yang dibutuhkan tentu sangat besar.

Ada yang merasionalisaskan cara kerja pawang hujan sebagai berikut: Doa dan mantra akan menyatukan sebuah energi gaib (energi dari alam, energi dari makhluk halus) dan memancarkan gelombang elektromagnetik ke awan dengan frekuensi tertentu sehingga mampu menggeser mendung. Alhasil, langit yang sebelumnya gelap akan jadi biru lagi. Entahlah,…

Sebelum memiliki kemampuan supranatural sebagai pawang hujan, konon seseorang harus melakukan puasa dan berzikir untuk menjaga dan meningkatkan kemampuannya. Termasuk menghapal dan merapal mantra atau doa-doa untuk mendatangkan atau menolak turunnya hujan. Santri di sebuah pondok diajar doa-doa.

Seorang kyai pernah menjelaskan fenomena mistik hujan sebagai berikut: “uap dari laut yang kena panas matahari akan naik menjadi sinar laki-laki dan uap air dari penguapan dedaunan menjadi sinar perempuan.

Dengan berdoa mengucapkan nama-nama suci Tuhan, akan terbentuk sinar lelaki dan sinar perempuan” Ada beragam teknik ritual, mantra dan doa yang disemburkan pawang hujan. Ada yang menggunakan media bokor berisi kemenyan, garam, lisong, kapur, pinang, dan sirih. Pemesan diminta oleh pawang hujan untuk membuang nasi genggam ke atas genting dan membuang lisong, kemenyan, kembang, dan kapur ke sungai.

Ada juga yang mensyaratkan beberapa kaleng bir untuk minum makhluk halus penggeser awan hujan. Ada pawang yang menggunakan metode zikir. Sang pawang meminta para anggota keluarga yang punya hajat untuk berdoa kepada Allah agar menunda hujan. Salah satu anggota diantaranya harus zikir pada malam hari sebelum hajatan berlangsung. Ada pawang yang minta disediakan beberapa rantang nasi dan sebuah payung hitam.Ada yang membalikkan sapu lidi bekas pakai. Diujung-ujung lidinya ditancapkan bawang merah dan cabai merah.

Ada pula yang cuma minta disediakan berpuluh-puluh batang rokok dari lintingan daun nipah untuk media bertirakat menahan hujan. Sepanjang malam pawang mengelilingi wilayah tertentu sambil mengembus-embuskan asap rokoknya ke langit. Dengan kepulan asap dari linting demi linting yang sudah dimantra-mantrai, pawang menghalau gerakan angin agar hujan deras tidak mengguyur wilayah itu.

Ada pula ilmu pawang hujan yang memiliki ilmu Petak Sayyidina Ali. Caranya menguasainya selama tiga hari puasa mutih dan setiap usai shalat membaca rapalan tertentu. Pada tengah malam, setelah shalat hajat, membaca rapalan sekian ratus kali. Selanjutnya, amalan itu dijadikan wirid rutin.

Ada juga pawang yang menggunakan doa Sabdo Dadi. Doa diwirid pada pagi hari, dan diluar itu mengamalkan zikir rahasia atau sirri. Penggunaannya, jika untuk menyingkirkan hujan, amalan cukup dibaca pada lokasi atau desa yang dimaksud. Sedangkan untuk mendatangkan hujan, amalan dibaca sambil mengitari desa.

Dalam khasanah budaya Jawa setidaknya dikenal dua tradisi ritual tolak hujan. PERTAMA, pawang tidak diperkenankan menyentuh air dan harus puasa ngebleng (tidak makan, minum dan tidur). Sebaliknya, jika yang diminta adalah datangnya hujan, maka yang dilakukan harus banyak kungkum (berendam) di sungai sambil membaca mantranya. Untuk memiliki ilmu ini, sebelumnya harus tirakat sehari semalam pada hari Kamis pada bulan Suro.

Dan mantranya: …Bathara Surya, Surya Kantha, Danyang…(nama desa), Saya minta bantuanmu menyingkirkan hujan, Aku minta sinar Bathara Surya. Sedangkan jika tujuannya untuk meminta turunnya hujan, mantranya dirubah; …Bathara Surya, Surya Kantha, Danyang…(nama desa), Saya minta bantuanmu mendatangkan hujan, Aku minta keringat Bathara Surya. Ketika ada orang datang minta bantuan menyingkirkan atau mendatangkan hujan, mintalah agar membawa rokok.

Selanjutnya, anda berdiri di tengah halaman rumah. Baca mantranya tiga kali, diakhiri dengan menghisap asap rokok. Dan begitu anda menyetujui mempawangi hujan, pada waktu yang ditentukan agar hujang itu menyingkir atau datang. Maka anda harus melakukan pantangan tidak makan, minum dan tidak pula tidur. Itupun masih ditambah menjauhi air (jika menyingkirkan hujan) dan banyak kungkum (jika mendatangkan hujan).

KEDUA, berziarah ke makam leluhur orang yang minta bantuan. Saat berziarah juga melakukanlah ritual ziarah. Membaca doa-doa dan bertawasul, seolah-olah berbicara dengan arwah orang yang sedang diziarahi, “Mbah karena kamu sudah tidak makan nasi dan garam, dan tiap hari kamu makan doa, maka kekuatan batinmu tentu lebih kuat. Karena itu, tolong bantu saya dengan doa, agar apa yang saya inginkan menyingkirkan atau mendatangkan hujan ini, dikabulkan oleh Gusti.”

Pulang dari ziarah,mendatangi ke rumah orang yang minta bantuan itu. Minta sekepal nasi dan garam kasar dan membaca “ Gusti…tidak jadi hujan. Gusti…Gusti…..” Sebaliknya, jika yang dikehendaki orang yang minta bantuan itu datangnya hujan, ucapannya diganti menjadi : “Gusti….., jadi hujan. Gusti…Gusti…Gusti….”

Setelah itu, nasi dan garam kasar itu dibuang di atas genteng. Jika rumahnya terdiri dari dua bangunan, maka tempat yang dipilih adalah atas genteng bagian tengah, dilanjutkan dengan mengucapkan niat yang susunan katanya diciptakan sendiri. Dengan tujuan, mohon diberi kemampuan oleh Tuhan agar hujan yang semestinya turun, untuk sementara disingkirkan ke arah barat desa yang jauh, begitu halnya untuk arah utara, timur, selatan dan barat.

Saat melakukan ilmu ini, tidak perlu puasa. Cukup berpantang tidak makan minum di rumah orang yang minta bantuan. Namun jika ingin melakukan puasa sebagai bentuk dari kesungguhan dalam meminta kepada Tuhan juga bagus, ya itung-itung latihan ikhlas membantu orang lain.

SEMUANYA KEBAIKAN HARUSNYA DIMULAI DARI NIAT DAN CARA YANG BERSIH. NIAT DAN CARA HARUSNYA DIOLAH DENGAN NALAR BUDI YANG JEMBAR DAN JERO, SEHINGGA LAHIR KEPUTUSAN YANG BIJAKSANA.@@@

Wong Alus

Categories: RITUAL TOLAK HUJAN | 21 Komentar

JUMAT SUWUNG


Setahu saya yang tidak tahu apa-apa ini, ada salah satu kata di antara trilyunan kata yang berjumpalitan di otak manusia yang sulit untuk dijabarkan maknanya. Kata itu adalah IKHLAS. Biasanya ikhlas didefinisikan sebagai perbuatan atau memberikan sesuatu tanpa pamrih/tendensi apa-apa.

nelayan

Lalu seandainya., misalnya, andaikata, kita sepakat dengan dengan definisi ini apakah ada perbuatan atau memberikan sesuatu tanpa pamrih itu? Mungkinkah kita beraktivitas tanpa pamrih? Misalnya pamrih untuk mendapatkan sesuatu sesuai dengan apa yang kita berikan sebagaimana ungkapan: Siapa yang menanam maka dia akan menuai hasil. Atau pamrih untuk masuk surga, atau pamrih untuk mengharapkan keridhaan Tuhan.

Lantas bila ada satu perbuatan dilandasi dengan niat yang tanpa pamrih itu, contohnya perbuatan apa ya? Ada satu pendapat yang sedikit banyak bernada kelakar, yaitu berbuat ikhlas tanpa pamrih itu seperti saat seseorang buang air besar. Dia tidak mengharapkan kembalian dari perbuatannya. Sekaligus tidak mengingat-ingat lagi kemana arah dan tujuan dari apa yang kita keluarkan (maaf, kotoran) itu. Inikah makna ikhlas?

Saya kurang begitu sepakat dengan contoh perbuatan ikhlas yang ini. Buktinya, bahkan saat seseorang itu memulai untuk masuk ke –WC setelah merasa perutnya tidak nyaman, bukankah dia memiliki niat agar tubuhnya kembali bugar dan rasa perutnya bisa kembali nyaman? Jelas niatnya tidak diucapkan dan sebuah tindakan yang terkoordinasi di alam bawah sadarnya.

Sehingga, contoh perbuatan apa yang bisa disebut perbuatan ikhlas? Sering kita dengar di berbagai forum keagamaan: beribadah lah dengan ikhlas hanya untuk mendapatkan keridhoan Tuhan. Saya memaknai, perbuatan yang masih ada tendensi untuk mendapatkan keridhoan Tuhan ini berarti belum IKHLAS.

Ikhlas, bagi saya, sungguh sesuatu yang adiluhung dan sangat ideal yang tidak boleh dikotori oleh tendensi apa-apa termasuk mengharapkan pemberian dan keridhoan Tuhan. Bila sebuah perbuatan memiliki tendensi untuk mengharapkan apa-apa termasuk keridhoan Tuhan, atau agar dapat pahala, bisa memperberat timbangan amal perbuatan sehingga bisa masuk surga dan terhindar dari neraka.. bukankah ini berarti tidak ikhlas?

Bila pegang tesis bahwa perbuatan IKHLAS berarti tidak mengharapkan apa-apa, tanpa terkecuali berarti harusnya ya sudah, tidak usah memiliki niat untuk mencari makna, arti, hakikat dan alasan sebuah tindakan. Berarti tindakan ikhlas itu diluar jangkauan akal sehat yang ingin selalu mencari tahu alasan-alasan tindakan. Ikhlas berarti SUWUNG, ORA ISO DIJELASKE OPO KAREPE… KOYO WONG EDAN. Mungkin Plato benar saat mengatakan dekat-dekatlah dengan kegilaan karena kegilaan dekat dengan Tuhan. Jadi???

YO ORA USAH MACUL OPO-OPO MASIO PANJENENGAN DUWE PACUL. PACUL IKU WATAKE AKAL. TERMASUK ORA USAH MACULI LANGIT, NGAREP-AREP RAHMATE GUSTI KANG MAHA WIKAN. BUWANGEN PACULMU LAN AYO SUWUNG SOKO NIAT NOPO KEMAWON PARA SANAK KADANG!

Mungkin juga saya salah dalam memaknai ikhlas ini. Jadi mohon Pencerahan dari Pembaca yang Budiman.

Salam alus.

Categories: MAKNA IKHLAS | 20 Komentar

AVATAR DARI TANAH JAWA


Bila Anda sedang lemah, lemes, letih dan lesu seakan kehilangan semangat untuk hidup, belajarlah kepada tokoh hebat ini. Dia adalah avatar bagi masyarakat Jawa. Pahlawan yang pilih tanding dalam hal kesaktian dan keberanian berjuang menegakkan kebenaran, harga diri dan martabat. Hidup memang untuk berjuang, tidak untuk merenungi penderitaan dan mengalah pada nasib!


DIPONEGORO

Dor…dor…dor… terdengar letusan senjata tiga kali dari luar tembok. Ya, itu tanda perang dimulai. Sisi utara, timur dan selatan telah dikepung pasukan Kumpeni Belanda bersenjata lengkap. Laskar yang tinggal di sisi barat melakukan perlawanan keras. Korban berjatuhan dari kedua belah pihak. Di bawah pimpinan Joyomustopo dan Joyoprawiro, laskar terdesak mundur. Kekuatan jauh berbeda. Laskar wong Jowo mengandalkan keahlian bertempur menggunakan senjata tradisional tombak dan keris, Pasukan Kumpeni Belanda memakai senjata api laras panjang Kareben.

Melihat laskar Jawa terdesak, tiba-tiba seorang pria berjubah dengan sorban putih yang terlilit di kepalanya, dengan tenang matek ajian yang dimilikinya. Blar…..Sebuah pukulan jarak jauh yang dahsyat menjebol tembok barat puri yang tebalnya sekitar satu meter. Mengendarai kuda putih, dia memberi komando agar laskar yang tersisa memilih menjauh ke barat. Sebuah keputusan berat demi keselamatan laskar dan keluarganya. “Perang sesungguhnya baru saja akan dimulai” ujarnya dalam hati.

Itulah situasi pada tanggal 20 Juni 1825 di Yogyakarta saat pasukan Belanda menyerang Puri Tegalrejo. Itu adalah awal perang yang dikenal dengan nama Perang Diponegoro (1825 – 1830).

Pada masa itu Kerajaan Mataram Yogyakarta dipegang oleh Patih Danurejo bersama Para Reserse dari Pemerintahan Kolonial Belanda. Penyerangan Puri ini adalah sebagai buntut tuduhan pihak Belanda bahwa Pangeran Diponegoro akan memberontak. Itu setelah Belanda membuat jalan yang menghubungkan Yogyakarta dan Magelang melewati puri halaman rumah Beliau.

Belanda beralasan Pangeran Diponegoro memberontak sehingga mengepung kediaman beliau. Dengan kesaktiannya, Pangeran Diponegoro beserta keluarga dan pasukannya mampu menyelamatkan diri menuju barat hingga Desa Dekso di Kabupaten Kulonprogo, dan meneruskan ke arah selatan hingga tiba di Goa Selarong yang terletak lima kilometer arah barat dari Kota Bantul.

Belanda yang tidak berhasil menangkap Pangeran Diponegoro akhirnya melampiaskan kemarahannya dengan membakar habis puri Pangeran….

Pangeran Diponegoro, si manusia sakti mandraguna ini memiliki nama kecil Bendoro Raden Mas Ontowiryo, lahir di Yogyakarta tanggal 11 Nopember 1785. Berbeda dengan anak kaum bangsawan, masa kecil dihabiskannya di sebuah desa yang asri, di Desa Tegalrejo sebelah barat Keraton Mataram. Sejak kecil dia berkumpul dengan rakyat jelata dan menghayati religiusitasnya bersama para kawulo alit.

Itu sebabnya, dalam hidupnya yang penuh perjuangan Pangeran Diponegoro lebih tertarik pada kehidupan keagamaan dan kesetaraan dengan rakyat, daripada bergelimang harta, tahta dan wanita sebagaimana biasa yang terjadi di kalangan keluarga istana. Meskipun tidak tinggal di Keraton, Sang Ayah mengetahui bahwa Raden Mas Ontowiryo memiliki jiwa kepemimpinan yang kokoh kuat. Apalagi dia gentur bertapa, mengolah batin sehingga hidupya jejeg dan jejer, lurus dengan garis Sangkan Paraning Dumadi.

Sang ayah, Sultan Hamengku Buwono III akhirnya memutuskan mengangkatnya sebagai raja Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Tapi apa tanggapan sang pangeran? “Saya menolak. Biarlah yang lain saja bopo” ujarnya dengan mimik tenang. Ya, Diponegoro menolak karena merasa bahwa ibunya bukan permaisuri dan hanya selir Sang Raja. Ibunya bernama Raden Ayu Mangkorowati, seorang puteri Bupati Pacitan.

Situasi penjajahan kolonial Belanda saat itu memang menyebalkan. Sejak tahun 1820-an kompeni Belanda sudah mencampuri urusan kerajaan-kerajaan di nusantara tidak terkecuali Mataram, Yogyakarta. Peraturan tata tertib dibuat oleh pemerintah Belanda yang sangat merendahkan martabat raja-raja Jawa. Para bangsawan diadu domba. Tanah-tanah kerajaan banyak yang diambil untuk perkebunan milik pengusaha-pengusaha Belanda. Rakyat yang mempergunakan jalan untuk transportasi perdagangan dibebankan pajak yang tinggi.

Kesabaran Pangeran Diponegoro untuk diam akhirnya berakhir ketika pematokan dilaksanakan Belanda pada sawah-sawah rakyat terlebih lagi melintasi kompleks pemakaman bekas leluhur para Raja Jawa. Saat itu Raja adalah Sri Sultan Hamengkubuwono V yang dinobatkan ketika dia baru berumur 3 tahun.

Pemeritahan Kasultanan saat itu tidak berdaya, karena ternyata kekuasaan yang sebenarnya terselubung dan berkoloberasi dengan Pemerintahan Kolonial. Pangeran Diponegoro akhirnya menyusun rencana untuk melawan penjajahan biadab tersebut. Beliau mengajak Kyai Mojo seorang ulama Islam yang sekaligus guru spiritualnya yang juga pamannya. Kyai Mojo ini mempunyai banyak pengikut dan disegani, di antaranya Tumenggung Zees Pajang Mataram, Tumenggung Reksonegoro dan lain-lain.

Kharisma Diponegoro yang kuat menjadi daya tarik bagi para pemuda. Di antara pemoda yang siap untuk menjadi tameng dada adalah Sentot Prawirodirdjo. Sentot adalah pemuda yang pemberani. Ayahnya bernama Ronggo Prawirodirjo adalah ipar Sultan Hamengku Buwono IV. Sang Ayah Sentot ini pernah mengadakan pemberontakan melawan Belanda tapi berhasil dibunuh oleh Gubernue Jendral Daendles. Dengan kematian ayahnya, Sentot Prawirodirdjo merasa harus balas dendam.

Setelah Tegalrejo jatuh ke pihak musuh pada tanggal 20 Juni 1825 itu, Pangeran Diponegoro membangung pusat pertahanan di Gua Selarong dengan strategi perang gerilya. Belanda kewalahan karena sulit menghancurkan kekuatan kecil-kecil yang hanya sesekali datang menyerang dan setelah itu cepat menghilang. Senjata yang dipakai untuk gerilya sangat beragam mulai dari senjata perang tombak, keris, pedang, panah, “bandil” (semacam martil yang terbuat dari besi), “patrem” (senjata prajurit perempuan), hingga “candrasa” (senjata tajam yang bentuknya mirip tusuk konde) yang biasa digunakan “telik sandi” (mata-mata) perempuan.

Dua senjata keramat semasa Perang Diponegoro adalah sebuah keris dengan lekukan 21 bernama Kyai Omyang, buatan seorang empu yang hidup pada masa Kerajaan Majapahit dan pedang yang berasal dari Kerajaan Demak. Kedua senjata tersebut memiliki energi kesaktian yang hebat. Namun sayangnya, keris milik Pangeran Diponegoro justeru tidak ada di Indonesia dan hingga kini masih disimpan di Belanda.

gua selarong

Di kawasan gua, pangeran menempati goa sebelah barat yang disebut Goa Kakung, yang juga menjadi tempat pertapaan beliau. Sedangkan Raden Ayu Retnaningsih (selir yang paling setia menemani Pangeran setelah dua istrinya wafat) dan pengiringnya menempati Goa Putri di sebelah timur.

Di Goa putri ini ditemukan sejumlah alat rumah tangga yang terbuat dari kuningan terdiri dari tempat sirih dan “kecohan”-nya (tempat mebuang ludah), tempat “canting” (alat untuk membatik), teko “bingsing”, bokor hingga berbagai bentuk “kacip” (alat membelah pinang untuk makan sirih).

Perang Diponegoro yang oleh kalangan Belanda disebut Java Oorlog (Perang Jawa), berlangsung hingga tahun 1830. Dalam perang ini, kerugian pihak Belanda tidak kurang dari 15.000 tentara serta menghabiskan dana hingga 20 juta gulden. Beberapa tokoh perlawanan dibujuk oleh Belanda sehingga mereka bersedia menghentikan peperangan. Sejak tahun 1829 perlawanan semakin berkurang, tapi masih berlanjut terus. Belanda mengumumkan akan memberi hadiah sebesar 50.000 golden kepada siapa saja yang dapat menangkap Diponegoro.

Pasukan dan kekuatan Diponegoro melemah, tapi ia tidak pantang menyerah. Karena Belanda tidak berhasil menangkap Pangeran Diponegoro, lalu Belanda menjalankan cara yang licik yaitu dengan cara mengundang Pangeran Diponegoro untuk berunding di Magelang tanggal 28 Maret 1830. Itulah akhir perjuangan perang Sang Avatar dari tanah Jawa. Diponegoro ditangkap dan dibuang ke Menado, kemudian dipindahkan ke Ujungpandang/Makasar.

Perang Diponegoro tercatat memakan korban luar biasa besar. Dipihak Belanda sebanyak 8.000 serdadu, 7.000 prajurit pribumi, dan 200.000 orang Jawa, sehingga mengakibatkan penyusutan penduduk Jawa pada waktu itu.

Sementara itu Sentot Prawirodirdjo berhasil dibujuk Belanda, dan meletakkan senjata pada tanggal 17 October 1829, dan dia dikirim Belanda ke Sumatra Selatan untuk melawan pembrontakan para ulama dalam perang Paderi, kemudian wafat di Bengkulu pada tanggal 17 April 1855 dalam usia 48 tahun.

Diponegoro2

Pangeran Diponegoro meninggal dunia di benteng Rotterdam Ujungpandang, pada tanggal 8 Januari 1855 dan dimakamkan disana. Kini apabila kita berkunjung ke makam di Jalan Pangeran Diponegoro Kelurahan Melayu, Wajo, Makasar, kita akan mengelus dada. Makam pahlawan nasional ini tidak terawat dan berada di antara ruko-ruko yang semakin menjamur. Bangunan ruko-ruko yang berada di jalan tersebut nyaris menutup makam tersebut. Hanya sebuah bendera merah putih yang bisa menandai adanya makam tersebut.

Perawatan makam juga tidak maksimal. 3 orang pekerja yang menjaga makam ini hanya digaji Rp 15 ribu per minggu. Pemkot Makassar mengeluarkan bantuan tiap bulannya Rp 200 ribu per bulan. Bantuan inipun baru ada sejak tahun 2005.

KRONOLOGI PERANG DIPONEGORO

16 FEBRUARI 1830, Kolonel Cleerens menemui Pangeran Diponegoro di Remo Kamal, Bagelan, Purworejo, untuk mengajak berunding di Magelang. Usul ini disetujui Pangeran.

28 MARET 1830, bersama laskarnya, Pangeran Diponegoro menemui Letnan Gubernur Jenderal Markus de Kock. Pada pertemuan tersebut De Kock memaksa Pangeran untuk menghentikan perang. Permintaan itu ditolak Pangeran. Tetapi Belanda, melalui Kolonel Du Perron telah menyiapkan penyergapan dengan teliti. Pangeran dan seluruh laskarnya berhasil dilumpuhkan. Hari itu juga Pangeran diasingkan ke Ungaran kemudian dibawa ke Gedung Karesidenan Semarang.

5 APRIL 1830 dibawa ke Batavia menggunakan Kapal Pollux.

11 APRIL 1830 sesampainya di Batavia, beliau ditahan di Stadhuis (sekarang Gedung Museum Fatahillah).

30 APRIL 1830, Gubernur Jenderal Van den Bosch menjatuhkan hukuman pengasingan atas Pangeran Diponegoro, Retnaningsih, Tumenggung Diposono dan istri, serta pengikut lainnya seperti Mertoleksono, Banteng Wereng juga Nyai Sotaruno ke Manado.

3 MEI 1830, rombongan Pangeran diberangkatkan dengan Kapal Pollux dan ditawan di Benteng Amsterdam. Belanda yang merasa Pangeran masih menjadi ancaman, karena di tempat ini masih bisa melakukan komunikasi dengan rakyat.

1834 diasingkan secara terpisah. Pangeran bersama Retnaningsih diasingkan ke Makassar, Sulawesi Selatan, dan di tahan di Benteng Roterdam dalam pengawasan ketat. Di benteng ini, Pangeran tidak lagi bebas bergerak. Menghabiskan hari-harinya bersama Retnaningsih, Pangeran Diponegoro akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya pada tanggal 8 Januari 1855. Jasad beliau disemayamkan berdampingan dengan makam Retnaningsih. (BERSAMBUNG)

Wong Alus

Categories: KEPAHLAWANAN DIPONEGORO | 19 Komentar

BELAJAR MUSYARAWARAH DARI MINAHASA


prajurit minahasa

Minahasa tercinta
Dengar kedong hatiku.
Karna ontongmu kuminta
Limpa berkat pada Huw.
Mana dapat, djauh dan rapat,
Tanah lebih ejlok trang?
Tagal itu, sabagitu
Bejta tjinta angkau grang.

(LAGU PATRIOTIK ANAK-ANAK SEKOLAH MINAHASA ABAD KE-19)

Sebuah kuburan tua menjadi tetenger bagaimana etnis Minahasa mempercayai adanya ROH. Kuburan itu disebut WARUGA, yang berlokasi di Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara. Waruga berasal dari dua kata yakni Waru yang berarti rumah dan Ruga artinya badan. Jadi, secara gamblang, Waruga adalah rumah tempat badan yang akan kembali ke surga.

Makam yang terbuat dari batu yang dipahat dan dibentuk seperti rumah tersebut telah ada sejak tahun 1600-an. Pada zaman itu masing-masing keluarga memiliki makam sendiri yang terbuat dari batu. Makam batu untuk keluarga tersebut pada awalnya terpencar di beberapa desa di Kabupaten Minahasa. Ketika muncul wabah kolera dan tipus, di mana sumbernya diduga dari makam keluarga tersebut, akhirnya seluruh makam batu tersebut dikumpulkan di suatu tempat.

Bentuk makam batu menunjukkan pekerjaan atau profesi seseorang yang dimakamkan. Kalau ada gambar binatang, maka orang yang meninggal adalah pemburu. Dotu Tangkudung di waruga tersebut misalnya berprofesi sebagai hakim karena di situ ada gambar orang sedang bermusyawarah dan dipimpin oleh Tangkudung. Di setiap makam yang terbuat dari batu dengan lebar satu meter dan tinggi satu meter hingga dua meter tersebut hampir semuanya ada tanda-tanda atau profesinya. Demikian pula mengenai jarak kematian dari satu keluarga yang dimakamkan dalam satu waruga tersebut.

Satu waruga bisa terdiri dari lima jenazah atau lebih. Tapi masuknya tentu saja tidak bersamaan, karena meninggalnya berbeda. Namun, pada setiap waruga ada tanda-tandanya, sehingga akan diketahui berapa jumlah orang yang dimakamkan serta jarak meninggalnya. Orang yang meninggal dikuburkan berikut barang-barang berharga miliknya seperti cincin, kalung, gelang, anting yang terbuat dari emas, perak dan tembaga. Bahkan ada keramik dari Dinasti Ming dan Dinasti Ching.

Dari Waruga ini dapat digali mengenai sejarah keturunan Minahasa. Sayangnya, minat peneliti kita masih minim untuk menelusuri fakta sejarah tersebut. Buktinya, kini dari 104 waruga cuma puluhan yang berhasil diidentifikasi.

kuburan

Salah satu kepercayaan mistis yang ada di Minahasa adalah Burung Manguni. Arti MAUNI adalah mengamati. Burung ini dipercaya masyarakat sebagai binatang suci yang memiliki kekuatan gaib yang sengaja ditugaskan oleh leluhur untuk selalu memberi petunjuk kepada bangsa Minahasa.

Konon, suatu ketika terjadi bencana alam banjir besar yang menimpa suku bangsa Minahasa. Setelah reda, mereka disuruh pergi ketanah yang dijanjikan oleh leluhur nenek moyang dengan dibimbing oleh Burung Manguni.

Sebagai tanda telah ditemukan tanah yang dijanjikan tersebut, burung sakti ini berbunyi nyaring mengalun dan dilakukan berturut tiga kali sembilan atau TELU MAKASIOU. Tiga memiliki arti tiga kekuatan Tuhan, Alam, Manusia. Tiga itu sendiri mengandung arti sembilan kekuatan, 3 x 3 = 9 . Angka suci suku Minahasa 999 yaitu angka sempurna kebalikan dari angka manusia 6.

Suku Minahasa adalah salah satu suku bangsa yang berasal dari kabupaten Minahasa, provinsi Sulawesi Utara. Suku Minahasa sebagian besar tersebar di seluruh provinsi Sulawesi Utara. Suku ini terbagi atas sembilan subsuku: Babontehu, Bantik, Pasan Ratahan (Tounpakewa), Ponosakan, Tonsea, Tontemboan, Toulour, Tonsawang, dan Tombulu.

MINAHASA berasal dari kata dasar ESA yang berarti Satu Minahasa berkembang dari Malesung, Maesaan, Minaesaan, Mahasa, Minahasa, yang pada intinya berarti MENJADI SATU. Istilah ini dipakai oleh sub-etnis Minahasa yang hidup di ujung utara pulau Sulawesi, untuk pertama kali disebut MINHASA (Minahasa) pada abad ke-18.

Pengertian awal nama Minahasa oleh karena itu bukanlah nama etnis melainkan PERSATUAN DARI SEJUMLAH SUKU. Perkembangan selanjutnya, pengertian nama Minahasa berubah menjadi sebuah komunitas Bangsa atau Etnis. Seringkali etnis/bangsa/suku-bangsa Minahasa disamakan dengan orang Manado atau orang dari ex Keresidenan Manado atau ex Afdeling Manado atau KAWANUA (teman sekampung).

Menurut mitos, nenek moyang suku Minahasa adalah Dewi Bumi dan Dewa Matahari yang akhirnya melahirkan keturunan Minahasa. Mitologi ini diceritakan saat upacara RUMAGES. TOAR adalah nama Dewa Matahari yang selalu menyinari Minahasa dan Dewi Bumi bernama LUMIMU’UT yang memberikan kesuburan pada tanah Minahasa.

Konon pasangan TOAR dan LUMIMUUT sampai ke tanah Minahasa dan berdiam disekitar gunung WULUR MAHATUS, dan berpindah ke WATUNIUTAKAN –dekat Tompaso Baru —. Keturunan dua dewa tersebut kemudian menyebar sehingga Sampai pada suatu saat keluarga bertambah jumlahnya maka perlu diatur mengenai interaksi sosial didalam komunitas tersebut, yang melalui kebiasaan peraturan dalam keturunannya nantinya menjadi kebudayaan Minahasa.

Mitos ini sangat rahasia yang diceritakan secara turun temurun. TOU MINAHASA merupakan turunan RAJA MING dari tanah Mongolia yang datang berimigrasi ke Minahasa. Arti dari MIN NAN TOU adalah orang turunan Raja Ming dari pulau itu. Seperti diketahui Dinasti Ming bukanlah orang Mongolia justru Dinasti Ming adalah yang mengganti Dinasti Yuan yang dipimpin bangsa Mongol, oleh Kubilai Khan.

Akunturasi berbagai aliran etnis berlangsung cepat di sini. Manusia Minahasa sudah tidak murni dari Mongol namun bercampur dengan Spanyol, Portugis, dan Belanda. Termasuk bangsa Yahudi. Suku Minahasa yang asli Mongol terkenal dengan kehebatan perang dan dari Yahudi mengadopsi budaya kecerdasannya. Satu pengaruh Yahudi adalah berdirinya tempat ibadah Sinagog di Tondano.

Tingkatan atau strata sosial dibagi sebagai berikut: GOLONGAN MAKASIOW atau pengatur ibadah yang disebut WALIAN/ TONAAS. Istilah yang dipakai adalah 2 X 9 ( 9 orang tonaas yang menempati posisi antara Sang penguasa dengan Surga dan Bumi, Baik tidak Baik, dan semua hal tentang keseimbangan GOLONGAN MAKATELU PITU atau pengatur yang jadi pemerintah dengan gelar PATU’AN atau Teterusan/ kepala desa dan pengawal desa disebut Waranei dan GOLONGAN MAKASIOW TELU 9 X 9.

Keturunan TOAR LUMIMUUT kemudian berpencar untuk membuka lahan baru atau istilahnya TUMANI untuk kelangsungan keluarga/ TARANAK mereka yang kemudian terbentuklah Golongan Rakyat atau disebut PASIYOWAN TELU. Sejak awal, suku bangsa Minahasa tiada pernah membentuk kerajaan atau mengangkat seorang raja sebagai kepala pemerintahan.

Kepala pemerintah adalah salah satu keluarga yang gelarnya adalah PAEDON TU’A atau Patu’an yang sekarang kita kenal dengan sebutan HUKUM TUA. Kata ini berasal dari UKUNG TUA yang berarti Orang tua yang melindungi. Ukung artinya kungkung = lindung = jaga. TUA: dewasa dalam usia, berpikir, serta didalam mengambil keputusan. UKUNG TUA tidak boleh memerintah rakyat dengan sewenang-wenang karena rakyat itu adalah anak-anak dan cucu-cucunya, keluarganya sendiri.

Ukung tua memimpin musyawarah di WATU PINAWETENGAN yaitu batu tempat dimana mereka bersatu untuk kemudian membagi keputusan. Suatu ketika terjadi musyawarah yang menghasilkan sembilan pokok hasil musyawarah yaitu: KEPALA PEMERINTAHAN DIPILIH DARI YANG TUA, JUJUR, BERANI, WIBAWA, KUAT DAN BERANI MAJU DALAM SEGALA HAL, SEGALA USAHA HARUS DIMUSYAWARAHKAN.

Ini sesuai dengan hakikat nama Minahasa yaitu SUATU KESEPAKATAN MULIA DARI PARA LELUHUR MELALUI MUSYARAWARAH DENGAN IKRAR BAHWA SEGENAP TOU MINAHASA DAN KETURUNANNYA AKAN SELALU MENJUNJUNG KERJASAMA DALAM SEMANGAT BUDAYA SITOU TIMOU TUMOU TOU. Dengan kata lain TOU MINAHASA akan tetap bersatu (MAESA) dimanapun berada dengan dilandasi sifat MAESA-ESAAN (saling bersatu, seia sekata), MALEO-LEOSAN (saling mengasihi dan menyayangi), MAGENANG-GENANGAN (saling mengingat), MALINGA-LINGAAN (saling mendengar), MASAWANG-SAWANGAN (saling menolong) dan MATOMBO-TOMBOLOAN (saling menopang).

Inilah landasan satu kesatuan suku etnis Minahasa yang kesemuanya bersumber dari nilai-nilai tradisi budaya asli Minahasa. Sebagaimana yang pernah dijelaskan oleh seorang tetua suku: “KETURUNAN KALIAN AKAN HIDUP TERPISAH OLEH GUNUNG DAN HUTAN RIMBA. NAMUN, AKAN TETAP ADA KEMAUAN UNTUK BERSATU DAN BERJAYA.”

Wong Alus

Categories: MUSYAWARAH DI MINAHASA | 4 Komentar

TEISME MANUSIA TANA TORAJA


kematian

Kepercayaan terhadap Sesuatu yang Adikodrati dan melakukan ritual-ritual khusus untuk berhubungan dengan yang Adikodrati agaknya dikenal di setiap suku bangsa. Tidak terkecuali suku Toraja di Sulawesi Selatan. Inilah keyakinan manusia Tana Toraja.

Budaya nenek moyang manusia Toraja terbentuk dengan latar belakang suatu sistem religi atau agama suku yang oleh masyarakat Toraja disebut PARANDANGAN ADA’ (harfiah: Dasar Ajaran/Peradaban) atau ALUK TO DOLO . ALUK TO DOLO percaya satu dewa yaitu PUANG MATUA. Di samping itu dikenal juga DEATA (dewa-dewa) yang berdiam di alam, yang dapat mendatangkan kebaikan maupun malapetaka, tergantung perilaku manusia terhadapnya.

Semua aktifitas manusia memiliki nilai sakral mulai dari persoalan tidur sampai membangun rumah. Demikian halnya keberadaan manusia dari lahir sampai mati, aturan-aturan etis dan ritus serta simbol-simbol yang berhubungan dengan kesakralan itu selalu mengiringi keberadaan manusia Toraja. Aturan-aturan etis dan ritus serta simbol-simbol itu menghubungkan manusia secara khas dengan dengan tatanan faktual, baik dengan yang ilahi, maupun dengan sesama manusia dan alam. Kepercayaan inilah yang membentuk pandangan hidup manusia Toraja dan menjadi budaya yang melekat dengan begitu kuatnya.

Petunjuk nenek moyang tetap menjadi pegangan, masyarakat lebih takut melanggap pamali (pantangan yang diajarkan budaya) Mereka taat kepada pemuka adat dan pelanggaran terhadap pamali akan langsung berhadapan dengan nasib buruk.

Dalam budaya nenek moyang manusia Toraja, ada stratifikasi sosial yang cukup menonjol. Ketika perbudakan masih berlaku di Toraja, dikenal golong puang (penguasa, tuan) dan kaunan (budak). Namun pada zaman kolonial hal itu dilarang. Tetapi dalam prakteknya, masyarakat adat Toraja tetap membedakan empat kasta dalam masyarakat yang diurut dari yang tertinggi yaitu TANA’ BULAAN (Keturunan Raja. Bulaan artinya Emas); TANA’ BASSI (Keturunan bangsawan. Bassi artinya Besi), TANA’ KARURUNG (Bukan bangsawan, tetapi bukan juga manusia kebanyakan. Karurung adalah sejenis kayu yang keras) dan yang terendah adalah TANA’ KUA-KUA (kua-kua, sejenis kayu yang rapuh). Dalam hubungan dengan upacara-upacara adat, dikenal pula golongan imam (to minaa atau to parenge’) dan manusia awam (to buda).

Semangat kebersamaan manusia Toraja yang terkenal dengan SEMBOYAN MISA’ KADA DI POTUO PANTAN KADA DI PO MATE (artinya kurang lebih sama dengan “bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh). Ini tercermin dalam salah satu upacara adat Toraja yaitu upacara pemakaman (RAMBU SOLO). Dari luar kita bisa melihat adanya nilai budaya yang besar dalam upacara ini. Ada pondok-pondok yang dirikan secara gotong royong. Hewan korban (kerbau dan babi) disiapkan untuk menjamu tetamu yang datang sekaligus simbol penghargaan kepada yang meninggal.

Setelah itu sanak famili dan kenalan mengungkapkan tanda dukacita melalui kehadiran dalam upacara itu sekaligus membawa babi atau kerbau sebagai tanda simpati. Pada akhir pesta biasanya 3 sampai 4 hari, ada juga hewan korban yang disisihkan untuk disumbangkan kepada tempat ibadat.

Martabat di mata masyarakat dijunjung tinggi. Keluarga mempersiapkan pesta dengan hewan korban sebanyak mungkin. Sementara itu, sumbangan dukacita (dalam bentuk hewan korban) yang dibawa famili yang lain atau kenalan, dianggap sebagai hutang. Jika sekali waktu kenalan tersebut menggelar upacara yang sama, maka mau tidak mau hutang itu harus dibayar. Jika tidak, harga diri menjadi taruhan.

RAMBU SOLO bertujuan untuk menghormati dan mengantarkan arwah manusia yang meninggal dunia menuju alam roh, yaitu kembali kepada keabadian bersama para leluhur mereka di sebuah tempat peristirahatan, disebut dengan Puya, yang terletak di bagian selatan tempat tinggal manusia. Upacara ini sering juga disebut upacara penyempurnaan kematian. Manusia yang meninggal baru dianggap benar-benar meninggal setelah seluruh prosesi upacara ini digenapi. Jika belum, maka manusia yang meninggal tersebut hanya dianggap sebagai manusia “sakit” atau “lemah”, sehingga ia tetap diperlakukan seperti halnya manusia hidup, yaitu dibaringkan di tempat tidur dan diberi hidangan makanan dan minuman, bahkan selalu diajak berbicara.

Masyarakat setempat menganggap upacara ini sangat penting, karena kesempurnaan upacara ini akan menentukan posisi arwah manusia yang meninggal tersebut, apakah sebagai arwah gentayangan (BOMBO), arwah yang mencapai tingkat dewa (to-membali puang), atau menjadi dewa pelindung (DEATA). Dalam konteks ini, upacara Rambu Solo menjadi sebuah “kewajiban”, sehingga dengan cara apapun masyarakat Tana Toraja akan mengadakannnya sebagai bentuk pengabdian kepada manusia tua mereka yang meninggal dunia.

Kemeriahan upacara Rambu Solo ditentukan oleh status sosial keluarga yang meninggal, diukur dari jumlah hewan yang dikorbankan. Semakin banyak kerbau disembelih, semakin tinggi status sosialnya. Biasanya, untuk keluarga bangsawan, jumlah kerbau yang disembelih berkisar antara 24-100 ekor, sedangkan warga golongan menengah berkisar 8 ekor kerbau ditambah 50 ekor babi.

Dulu, upacara ini hanya mampu dilaksanakan oleh keluarga bangsawan. Namun seiring dengan perkembangan ekonomi, strata sosial tidak lagi berdasarkan pada keturunan atau kedudukan, melainkan berdasarkan tingkat pendidikan dan kemampanan ekonomi. Saat ini, sudah banyak masyarakat Toraja dari strata sosial rakyat biasa menjadi hartawan, sehingga mampu menggelar upacara ini.

Puncak dari upacara Rambu Solo disebut dengan UPACARA RANTE yang dilaksanakan di sebuah lapangan khusus. Dalam upacara Rante ini terdapat beberapa rangkaian ritual yang selalu menarik perhatian para pengunjung, seperti proses pembungkusan jenazah (MA‘TUDAN, MEBALUN), pembubuhan ornamen dari benang emas dan perak pada peti jenazah (MA‘ROTO), penurunan jenazah ke lumbung untuk disemayamkan (MA‘POPENGKALO ALANG), dan proses pengusungan jenazah ke tempat peristirahatan terakhir (MA‘PALAO).

Selain itu, atrakasi budaya dipertontonkan, di antaranya: adu kerbau (MAPPASILAGA TEDONG), kerbau-kerbau yang akan dikorbankan diadu terlebih dahulu sebelum disembelih; dan adu kaki (SISEMBA). Dalam upacara tersebut juga dipentaskan beberapa musik, seperti pa‘pompan, pa‘dali-dali dan unnosong; serta beberapa tarian, seperti PA‘BADONG, PA‘DONDI, PA‘RANDING, PA‘KATIA, PA‘PAPANGGAN, PASSAILO dan PA‘PASILAGA TEDONG.

Kerbau disembelih dengan cara yang unik dan merupakan ciri khas mayarakat Tana Toraja, yaitu MENEBAS LEHER KERBAU HANYA DENGAN SEKALI TEBASAN. Jenis kerbau yang disembelih pun bukan kerbau biasa, tetapi kerbau bule (tedong bonga) yang harganya berkisar antara 10–50 juta per ekor. Selain itu, juga terdapat fenomena menakjubkan, yaitu ketika iring-iringan para pelayat yang sedang mengantarkan jenazah menuju Puya, dari kejauhan tampak kain merah panjang bagaikan selendang raksasa membentang sebagaimana yang disaksikan dalam gambar di atas.

Wong Alus

Categories: TEISME MANUSIA TORAJA | 9 Komentar

MENGADOPSI KONSEP KEKESATRIAAN PERANG UNTUK PERTAHANAN DAN KEAMANAN NEGARA


Ada sebuah tradisi kekesatriaan yang luar biasa. Bisa dijadikan teladan oleh Bangsa Indonesia untuk menghadapi ancaman dan rongrongan dari bangsa lain serta untuk membela Negara. Tradisi ini berasal dari etnis Dayak di Kalimantan.

etnik

KONSEP PERTAHANAN PERTAMA ADALAH ADANYA PEMIMPIN YANG DIPERCAYA OLEH MASYARAKAT MAMPU MENGAYOMI,  MELINDUNGI DAN KHARISMATIK.

Pemimpin yang berjiwa kesatria ini dipercaya sangat sakti yang menghuni gunung di pedalaman Kalimantan, bersinggungan dengan alam gaib. Wujudnya bisa pemimpin spiritual, panglima perang, guru, dan tetua yang diagungkan. Dia disebut Pangkalima oleh orang Dayak pedalaman atau dikenal oleh masyarakat luas sebagai PANGLIMA BURUNG.

Ia telah hidup selama ratusan tahun dan tinggal di pedalaman Kalimantan. Panglima Burung juga bisa berwujud gaib dan bisa berbentuk laki-laki atau perempuan. Bisa jadi dia dulu merupakan tokoh masyarakat Dayak yang telah tiada, namun rohnya dapat diajak berkomunikasi lewat suatu ritual. Hingga cerita yang menyebutkan ia adalah penjelmaan dari Burung Enggang, burung yang dianggap keramat dan suci di Kalimantan.

Selain sakti mandraguna, Panglima Burung juga adalah sosok yang kalem, tenang, penyabar, dan penjaga perdamaian. Dia adalah tipe ideal orang Dayak yang juga ramah dan penyabar, bahkan kadang sedikit pemalu.

Orang Dayak bukan orang yang kejam, ganas, dan beringas. Dalam kehidupan bermasyarakat, orang Dayak bahkan cukup pemalu, tetap menerima para pendatang dengan baik-baik, dan senantiasa menjaga keutuhan warisan nenek moyang baik religi maupun ritual.

Seperti Penglima Burung yang bersabar dan tetap tenang mendiami pedalaman, masyarakat Dayak pun banyak yang mengalah ketika penebang kayu dan penambang emas memasuki daerah mereka. Meskipun tetap kukuh memegang ajaran leluhur, tak pernah ada konflik ketika ada anggota masyarakatnya yang beralih ke agama-agama yang dibawa oleh para pendatang.

Kesederhanaan pun identik dengan sosok Panglima Burung. Walaupun pemimpin, ia tidak bertempat tinggal di istana atau bangunan yang mewah. Ia bersembunyi dan bertapa di gunung dan menyatu dengan alam.

Panglima Burung jarang menampakkan dirinya, karena sifatnya yang tidak suka pamer kekuatan. Begitupun orang Dayak, yang tidak sembarangan masuk ke kota sambil membawa mandau, sumpit, atau panah. Senjata-senjata tersebut pada umumnya digunakan untuk berburu di hutan, dan mandau tidak dilepaskan dari kumpang (sarung) jika tak ada perihal yang penting atau mendesak.

Tidak ada kamus dalam masyarakat dayak agar melanggengkan budaya kekerasan dan keberingasan. Sebab Panglima Burung adalah sosok yang penyabar. Namun saat kesabaran demi kesabaran sudah habis maka dia akan turun gunung dan berubah menjadi seorang dewa syiwa.

Panglima Burung yang akan segera turun gunung dan mengumpulkan pasukannya. Dia pun menggelar sebuah ritual yang dinamakan Mangkok Merah. Ritual yang dilakukan untuk mengumpulkan prajurit Dayak. Tarian-tarian perang bersahut-sahutan, mandau melekat erat di pinggang. Mereka terhipnotis dan siap perang.

Penglima Burung sebagaimana halnya orang Dayak tetap berpegang teguh pada norma dan aturan yang mereka yakini. Antara lain tidak mengotori kesucian tempat ibadah–agama manapun–dengan merusaknya atau membunuh di dalamnya. Karena kekerasan dalam masyarakat Dayak sebenarnya hanyalah untuk MEMBELA DIRI. Pembunuhan JELAS tak boleh dilakukan, tetapi HANYA OPSI UNTUK MEMPERTAHANKAN DIRI.

KONSEP PERTAHANAN KEDUA ADALAH GOTONG ROYONG BAHU MEMBAHU, MERASA SENASIB SEPENANGGUNGAN.

MANGKOK MERAH adalah alat komunikasi mistis yang berfungsi sebagai pembawa pertanda bahwa ada sekelompok masyarakat yang membutuhkan bantuan dari seluruh masyarakat sehingga seluruh masyarakat harus bahu membahu dan bergotong royong memberikan bantuan.

Selain sebagai alat komunikasi, Mangkok Merah juga berfungsi sebagai penghubung dengan roh nenek moyang. Orang Dayak percaya bahwa melalui Mangkok Merah roh para leluhur akan membantu mereka dari serangan pihak luar.

Roh leluhur dalam adat Dayak Kanayatn (sub-etnik mayoritas di Kalbar) disebut Dewa Sakti yang terdiri atas tujuh roh bersaudara. Mereka bernama Bujakng Nyangko Samabue, Kamang Muda Santulangan, Sarukng Sampuro, Sansa Lalu Samarawe, Bujang Gila Palepak, Nyaro Nyantakng Pajamuratn dan Bensei Sampayangan. Tujuh roh leluhur ber saudara ini tinggal di tujuh tempat yang berlainan. Untuk memanggil roh-roh Dewa Sakti ini, hanya Panglima Adat yang berwenang melakukannya.

Sejumlah perangkat harus disiapkan oleh Panglima Adat sebelum upacara pemanggilan roh Dewa Sakti. Mangkok yang terbuat dari teras bambu (ada yang mengatakan terbuat dari tanah liat) yang didesain dalam bentuk bundar segera dibuat. Untuk menyertai mangkok ini disediakan juga perlengkapan lainnya seperti ubi jerangau merah (acorus calamus) yang melambangkan keberanian (ada yang mengatakan bisa diganti dengan beras kuning), bulu ayam merah untuk terbang, lampu obor dari bambu untuk suluh (ada yang mengatakan bisa diganti dengan sebatang korek api), daun rumbia (metroxylon sagus) untuk tempat berteduh dan tali simpul dari kulit kepuak sebagai lambang persatuan. Perlengkapan tadi dikemas dalam mangkok dari bambu itu dan dibungkus dengan kain merah.

Mangkok Merah dibawa Panglima ke panyugu yakni sebuah tempat yang dianggap keramat pada saat matahari terbenam. Di panyugu, Panglima meminta petunjuk roh Dewa Sakti. Roh Dewa Sakti akan menjawab dengan tanda-tada alam yang oleh Panglima akan diterjemahkan apakah Mangkok Merah sudah saatnya atau belum untuk diedarkan.

Jika Panglima turun ke kampung dengan teriakan-teriakan magis tertentu yang diteriakkan dengan suara nyaring, maka Dewa Sakti sudah mengijinkan Mangkok Merah diedarkan. Roh salah satu tujuh bersaudara Dewa Sakti tadi mempengaruhi tubuh sang Panglima dan masyarakat segera merespon. Mereka berkumpul di lapangan memegang mandau, perisai dan senjata lantak dengan kain merah terikat di kepala, siap untuk berperang.

Dalam sekejab, Panglima menularkan roh Dewa Sakti kepada prajurit. Pangarah (kurir) ditunjuk Panglima untuk mengantarkan bungkusan kain merah itu ke kampung lain. Pangarah terbang dan dalam waktu sekejab disertai teriakan ritual sampai di kampung lain.

Panglima kampung tetangga, dengan kekuatan supranaturalnya, akan mengetahui kedatangan pangarah dan menjemputnya bersama masyarakat. Pangarah mengabarkan siapa musuh yang harus dihadapi. Panglima kampung tersebut kemudian menularkan roh Dewa Sakti kepada masyarakat yang telah berkumpul.

Upacara seperti itu terus berlangsung di seluruh wilayah yang bisa dijangkau hingga dianggap cukup untuk menghadapi musuh. Jika perang dianggap selesai upacara pengembalian Roh Dewa Sakti yang disebut Nyaru Semangat akan dilakukan. Dengan sejumlah upacara adat induk roh (induk Tariu) tersebut dikembalikan ke tempat asalnya.

Mangkok Merah di kalangan suku Dayak Kanayatn juga dipercaya menambah kesaktian. Dengan ikat kepala warna merah, orang-orang Dayak yang merasa roh para leluhur itu telah berkarya di dalam tubuhnya bisa mengenali mana lawan dan kawan hanya dengan indra penciumannya.

Dampak beredarnya Mangkok Merah ini memang dasyat. Ribuan orang Dayak, laki-laki dan perempuan yang terkena pengaruh magis Mangkok Merah bergerak di bawah komando panglima perang. Para panglima perang biasanya menggunakan nama-nama alam seperti Panglima Burung, Panglima Halilintar atau Panglima Angin. Panglima perang tertua dan terkenal dari suku Dayak Kanayatn bernama Panglima Burung.

Daya magis Mangkok Merah membuat prajurit Dayak tak mempan dibacok, tahan lapar hingga sebulan dan bisa melesat cepat di dalam hutan. Hampir tiap hari, pasukan ABRI menemukan sekelompok orang Dayak di sebuah tempat yang jaraknya ratusan kilometer dari tempat asal mereka. Dengan sejumlah truk ABRI mengembalikan para prajurit Dayak yang “terdampar” di suatu tempat ke tempat asal mereka.

Mangkok Merah biasanya digunakan jika orang Dayak benar-benar terpaksa. Segala macam akibat yang akan ditimbulkan akan dipertimbangkan masak-masak karena korban jiwa dalam jumlah besar sudah pasti akan berjatuhan.

Tradisi Mangkok Merah pernah digunakan untuk menangkap tokoh komunis yang dipimpin Sofyan tahun 1967, pasukannya berhasil mengenali dan membunuh kaum komunis.

KESIMPULAN

SEBELUM BANGSA INDONESIA MENGANUT SISTEM PERTAHANAN DAN KEAMANAN RAKYAT SEMESTA, TERNYATA TRADISI BUDAYA SUKU BANGSA DAYAK TELAH MENGENALNYA SEJAK RATUSAN TAHUN SILAM. KEARIFAN INI BISA DIJADIKAN TELADAN BANGSA KITA UNTUK MEMBELA NEGARA.

BUDAYA DAYAK MENGAJARKAN AGAR NEGARA KITA TIDAK BOLEH KEHILANGAN SEMANGAT JUANG UNTUK MEMBELA TANAH AIR.

PARA PAHLAWAN KITA YANG TELAH GUGUR TIDAK AKAN SIA-SIA BILA DI DALAM DADA SETIAP WARGA NEGARA MEMILIKI SEMANGAT JUANG UNTUK MEMBANGUN BANGSA INDONESIA AGAR LEBIH BAIK DAN SEJAHTERA.

Wong Alus

Categories: KONSEP KEKESATRIAAN DAYAK | 22 Komentar

PERNIKAHAN PANEMBAHAN SENOPATI DAN KANJENG RATU KIDUL


Bagi Wong Jowo, bulan ini agaknya bulan yang baik untuk menyelenggarakan hajatan. Undangan pernikahan banyak mampir ke rumah. Jalan-jalan di desa kadang harus ditutup bila ada satu rumah yang duwe gawe.

Tidak hanya sebuah ritual budaya dan agama, pernikahan juga memiliki arti politik dan ekonomi. Bahkan juga memiliki makna simbolik berupa pertemuan dua jiwa yang dimabuk rasa cinta dan kasih, untuk menjadi satu, melebur dan mencair dalam satu ikatan untuk mencapai kesempurnaan.

Dalam khasanah Jawa, mitologi yang terkenal tentang perkawinan adalah perkawinan antara Panembahan Senopati, Raja Mataram pertama dengan Kanjeng Ratu Kidul. Ada beragam penafsiran tentang makna perkawinan dua makhluk berlainan spesies ini. Panembahan Senopati berspesies manusia dan Kanjeng Ratu Kidul berspesies lelembut.

NIKAH

Ada yang menafsirkan bahwa perkawinan itu hanya upaya legitimasi politik Panembahan Senopati agar semakin ditakuti dan disegani lawan-lawan politiknya, sehingga dia merekayasa cerita tidak masuk akal.

Ada pula yang menafsirkan secara filosofis, bahwa perkawinan Panembahan Senopati dengan Kanjeng Ratu Kidul itu sesungguhnya sebuah upaya Gusti agar manunggal dengan Kawulo dengan cara ngayomi lahir dan batin para kawulo sehingga Raja menjadi RATU ADIL.

Ada pula yang menafsirkan bahwa perkawinan itu benar-benar terjadi sebagaimana pernikahan Pangeran Charles dengan Lady Diana, atau Anda dengan Pasangan hidup Anda. Bila ini benar-benar terjadi, pastilah ini kejadian luar biasa yang hanya dilakukan oleh manusia yang sakti mandraguna.

Terserah Anda, mau percaya pada penafsiran yang mana. Ada baiknya akan kita runut asal muasal perkawinan Panembahan Senopati dengan Kanjeng Ratu Kidul yang fenomenal tersebut.

Siapa Panembahan Senopati?

dc8b

Danang Sutawijaya nama kecilnya. Ayahnya bernama Ki Ageng Pemanahan yang berjasa besar membantu Jaka Tingkir membunuh Aryo Penangsang, adipati Jipangpanolan dalam krisis politik di Kesultanan Demak Bintoro pada masa akhir pemerintahan Sultan Trenggana.

Setelah Jaka Tingkir menjadi Raja bergelar Sultan Hadiwijaya yang akhirnya mendirikan Kesultanan Pajang, Sutawijaya kemudian dianugerahi tanah Mentaok –Kotagede, Jogja sekarang.

Bersama-sama ayahnya ia babat alas kawasan yang kini terkenal dengan kerajinan perak tersebut. Karena keraton Sutawijaya berada di sebelah utara pasar maka dia bergelar Ngabehi Loring Pasar. Setelah Ki Gede Pemanahan meninggal tahun 1575 M, Sutawijaya memberontak ke Pajang saat di Pajang terjadi konflik elite tahun 1582 M dan membuat Mataram merdeka dari Pajang.

Konflik elite yang terjadi yaitu anak Sultan Hadiwijaya, Pangeran Benowo yang merupakan pewaris Pajang di kudeta oleh Aryo Pangiri adipati Demak. Merasa terdesak Pangeran Benowo meminta bantuan Sutawijaya di Mataram. Setelah berhasil mengalahkan Aryo Pangiri, Pangeran Benowo menyerahkan pusaka Pajang pada Sutawijaya. Setelah Pajang runtuh ia menjadi Raja Mataram Islam pertama dan bergelar Panembahan Senopati Khalifatullah Sayyidin Penatagama.

Panembahan Senopati dikisahkan dalam babad Tanah Jawa memiliki kebiasaan yang hebat dalam olah rasa, meditasi dan gentur bertapa. Salah satu ritual wajib yang dilakukannya untuk melatih kesabaran adalah membuang cincinnya sendiri ke sungai dan kemudian mencarinya hingga ketemu. Tindakan unik dan nyeleneh diluar kebiasaan ini membuahkan hasil berupa diperolehnya kawicaksanan tertinggi, ilmu-ilmu ketuhanan yang mumpuni serta kesaktian yang pilih tanding.

Saben mendra saking wisma
Lelana laladan sepi
Ngisep sepuhing sopana
Mrih para pranaweng kapti

Setiap kali keluar rumah
Wisata ke wilayah sunyi sepi
Menghidup napas kerokhanian
Agar arif kebulatan awal akhir,

Dialah tokoh yang berhasil membuat anyaman mistik dan politik, yang keteladanannya memandu alam pikiran Kejawen untuk menggapai pemahaman tertinggi Ketuhanan yaitu MANGGALIH, artinya mengenai soal-soal esensial, pasca MANAH (dipersonifikasikan Ki Ageng Pemanahan) artinya membidikkan anak panah, mengenai soal-soal problematis di jantung kehidupan, pusat lingkaran.

Panembahan Senopati yang cerdas memahami psiko sosial masyarakatnya. Ia pun menganyam serat-serat kehidupan yang dianyam dengan amat simbolik mistik berupa kisah Asmara dengan Penguasa Laut, dengan Empu Laut Kanjeng Ratu Kidul sehingga Panembahan Senopati memperoleh dataran baru, daratan ke-Mataram-an.

kanjengratu

Dikisahkan, Panembahan Senopati saat babad alas Mentaok menghadapi Raja Jin bernama Jalumampang. Merasa kesulitan mengalahkannya, Panembahan Senopati kemudian bertapa di laut selatan. Dalam bertapa, dia di datangi oleh Kanjeng Ratu Kidul yang terpikat oleh ketampanannya. Kanjeng Ratu Kidul berjanji akan membantu melawan Jalumampang asal Panembahan Senopati dan keturunannya mau menjadi suami dari Kanjeng Ratu Kidul.

Perkawinan Panembahan Senopati dan Kanjeng Ratu Kidul pada dasarnya adalah perkawinan yang strategis. Panembahan Senopati memperoleh kedaulatan atas wilayah Mataram yang wilayahnya berdampingan dengan Laut Selatan yang tak terbatas. Dengan perkawinan tersebut, Panembahan Senopati mampu untuk menguasai juga para lelembut yang tak terbilang banyaknya sebab Kanjeng Ratu Kidul adalah raja para lelembut tersebut.

Panembahan Senopati oleh sebab itu mampu membangun sebuah kekuatan psikologis untuk memperkokoh legitimasi pemerintahannya. Selama pemerintahan Panembahan Senopati, Kerajaan Mataram tercatat harus berperang menundukkan bupati-bupati daerah di antaranya Kasultanan Demak, Ponorogo, Pasuruan, Kediri, Surabaya. Cirebon pun berada di bawah pengaruhnya.

Perkawinan Panembahan Senopati dengan Kanjeng Ratu Kidul, oleh sebab itu diyakini terus dipertahankan oleh para Raja Mataram mulai Sri Sultan Hamengko Buwono I hingga Sri Sultan Hamengku Buwono X saat ini.

Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, 5 Juli 2009
Wong Alus

Categories: PANEMBAHAN SENOPATI & KANJENG RATU KIDUL | 59 Komentar

KHASANAH MISTIK: ILMU KEBAL


    Kepercayaan pada kekebalan menyebar di berbagai wilayah Indonesia. ilmu tersebut banyak digunakan tokoh nasional semasa revolusi. dalam islam, kekebalan masih diragukan keberadaannya.

Peristiwa Mbah Suro tahun 1967 di Nginggil dan peristiwa Lampung adalah dua peristiwa nasional tentang kekebalan. Benarkah ada manusia tak mempan ditembak, dibacok, atau dibakar? Guru kekebalan mensyratkan dikubur hidup-hidup 3 hari untuk menjadi manusia super. Toh ia rontok kalau disabet daun kelor atau digores padi.

Sungguh fantastis. Meski peluru petugas memberondong, para perusuh itu malah maju, dan maju dan sangat dekat. Beberapa orang di antara mereka malahan berteriak, “Ayo, tembak lagi.” sambil menunjukkan peluru yang tak menembusi tubuhnya. Pertempuran berlangsung makin seru dan aneh. Akhirnya, gelap malam melilit kawasan yang rawan itu. Dalam kesunyian, beberapa orang tampak terkapar, tewas. Mereka adalah sebagian dari orang-orang yang kabarnya: tak mempan peluru. Yang lain telah mundur, menyusup ke hutan Gunung Balak. “Kebal”, kata itu kemudian melompat dari mulut ke mulut, penduduk Lampung. Apa sebenarnya yang telah terjadi? Berapa sebenarnya jumlah korban? Bentrok tentara dengan sekelompok orang — oleh pemerintah disebut “GPK Warsidi” —  memang mengagetkan. Bisa membikin orang tersedak.

Peristiwa itu telah menjadi pembicaraan hangat. Khusus persoalan “kekebalan”, Pangdam Sriwijaya Mayor Jenderal Sunardi berkata, “Ah, kebal apa. Buktinya mereka ditembak, ya, mati.” Pernyataan Pak Mayor Jenderal itu benar. Tetapi masyarakat masih meyakini bahwa Warsidi dan sejumlah anak buahnya memang mempunyai ilmu kebal. Dengar saja penuturan Bambang Saputro, tukang ojek di Way Jepara, Lampung. Ia mengaku menyaksikan dengan “mata kepala” sendiri keanehan tersebut. Dialah orangnya yang mengantar petugas ke sana. Di Talangsari, ia melihat bagaimana Kapten Sutiman, Danramil Way Jepara, menembak langsung orang-orang itu, namun, kata Bambang, “Mereka yang ditembak tidak apa-apa.” Malah kemudian Sutiman yang tewas, terhunjam anak panah.

Suprapto, Kepala SMA Muhammadiyah Sidorejo di Lampung, percaya soal kekebalan dalam kasus GPK Warsidi itu. Ia mendengarkan kisah semacam dari sejumlah saksi mata: bahwa Jamjuri (ini juga anggota GPK Warsidi) tak terlukai peluru. Padahal, Serma. Sudargo telah menembaki Jamjuri hingga peluru habis. Hasilnya hanya luka tak berarti pada kaki Jamjuri, sedang nyawa Sudargo sendiri melayang lantaran dikeroyok. Benarkah ada orang kebal? Dalam sejarah Indonesia, bertaburan kisah kekebalan. Pada perlawanan “Barisan Bambu Runcing” atau “Barisan Muslimin Temanggung” terhadap tentara NICA dan Sekutu, misalnya. Siapa pun yang terlibat pada masa itu pasti mengenal nama Kiai Subkhi.

Seorang kiai yang — menurut K.H. Muhaiminan Gunardho dari Parakan, Jawa Tengah “selalu berada di depan jika menyerang musuh.” Ketika itu, seruan takbir sahut-menyahut. Rakyat bergelombang-gelombang menyerang Belanda yang bersenjata lengkap, cuma dengan senjata bambu runcing. Tetapi toh mereka maju terus. Termasuk Kiai Subkhi yang menjadi pucuk pasukan. Kendati demikian, kiai asal Parakan, Temanggung, itu selamat.

Menurut Muhaiminan, bukan hanya Kiai Subkhi yang tidak apa-apa. Semua orang yang memegang bambu runcing — seperti Pak Kiai — memang kebal. Tentu saja senjata itu bukan sembarang bambu yang diruncingkan lalu dibawa maju perang. Melainkan bambu runcing yang sudah “diisi” atau istilah lainnya “disepuh”. Yang bertugas menyepuh adalah Kiai R. Sumomihardho, ayah Muhaiminan. Namun, sebelum bambu runcing yang bakal dipakai untuk melawan penjajah itu disepuh, pembawanya harus menghadap tiga kiai lain. Yakni K.H. Abdur Rohman, Kiai Ali, dan K.H. Subkhi. Kiai Abdur Rohman akan memberi nasi manis — nasi yang ditaburi gula putih — pada para prajurit amatiran itu. Ini bukan nasi buat mengenyangkan perut, tapi sebuah asma, yang kadang juga disebut isim. Semacam jimat yang dalam hal ini untuk kekebalan. Kiai Ali memberi asma air wani (wani = berani), yang membikin orang-orang itu menjadi berani dan tak capek-capek. Sedang Kiai Subkhi mengajarkan hafalan doa.

Bismillahi bi aunillah. Allahu ya khafidhu. Allahu Akbar. Masing-masing dibaca tiga kali, lalu menyandang bambu runcingnya. Dengan bimbingan para kiai itu, rakyat bertempur habis-habisan. Ini nampaknya peristiwa sepele. Sebab, tak tercantum dalam buku sejarah — yang memang hampir tak pernah menulis gerakan rakyat. Tetapi banyak tokoh nasional yang telah memanfaatkan jasa para kiai itu: agar memperoleh kekebalan dan keberanian dalam masa revolusi.

Tak kurang dari Jenderal Soedirman, menurut Muhaiminan, pernah datang ke Parakan guna menyepuhkan bambu runcing untuk “Palagan Ambarawa” — pertempuran di Ambarawa. Selain itu, masih ada sederetan nama lain. Misalnya Wongsonegoro (dulu Gubernur Jawa Tengah), Roeslan Abdul Gani, K.H. Wahid Hasyim, Moch. Roem, juga Kasman Singodimedjo. Kiai Muhaiminan, yang menikahi cucu Kiai Subkhi, amat berkesan dengan kekebalan cara Parakan yang banyak menyumbang jasa bagi berdirinya republik ini.

Maka, Pak Kiai pun menamai pesantren yang kini diasuhnya dengan sebutan Pondok Pesantren “Kiai Parak Bambu Runcing.” Cerita kekebalan juga memerciki peristiwa G30SPKI. Dalam kisah ini, bukan para kiai yang jadi peran utama, tapi justru dari kalangan kaum abangan PKI. Mereka yang ditumpas. Seorang yang dulu santri di pesantren daerah Kediri berkisah. Ia sempat menjadi anggota Banser Barisan Serba Guna, yang banyak membantai PKI. Satu saat ia dan kawan-kawannya berhadapan dengan orang-orang PKI yang dijejerkan untuk dieksekusi. “Saya yang mendorong orang-orang itu satu per satu,” paparnya.

Setiap orang PKI yang didorong langsung disambut dengan tebasan pedang algojo. Potongan kepala dan tubuh mereka pun mengotori aliran Sungai Brantas, menggemukkan ikan-ikan di sana. Tiba-tiba para anak muda yang tengah “menumpas” itu menjumpai keganjilan: salah seorang PKI tak mempan dibacok. “Bunyinya trang …, seperti besi yang beradu,” kata santri itu mengenang. Algojo jadi kebingungan. Sesaat kemudian ia meletakkan pedangnya. Lalu menerkam leher korban dan menggiyit tenggorokannya hingga putus. Cerita kekebalan di sekitar peristiwa 1965 terasa semakin hebat lantaran bumbu pengisahannya.

Di Bali, ada yang terpaksa dimintai baik-baik untuk melepaskan nyawanya, karena tak mempan dieksekusi. Memang ajaib. Begitu juga pada eksekusi Mbah Kahar di Pulung, Ponorogo, Jawa Timur. Daerah yang terkenal karena reog serta warok — jagoan setempat. Atau pada mitos Mbah Suro dari Nginggil, desa tepian Bengawan Solo di perbatasan Jawa Timur-Jawa Tengah. Banyak beredar bumbu yang membaurkan antara mimpi, dongeng, dan kenyataan yang konkret. “Mbah Kahar tidak mempan ditembak maupun dipenggal kepalanya,” kata Mislan, yang mengaku menjadi algojo Kahar. Petugas pun bingung. Lalu menyerahkan tugas itu pada Mislan. Sebab, ia juga kebal setelah “bertapa di sebuah gua”. Dengan pedangnya, ia menetak leher Mbah Kahar yang duduk bersila. Dell…, kepala putus, menggelinding sekitar lima meter. Namun, kata Mislan, ajaib. “Pelan-pelan kepala itu menyatu kembali dengan tubuhnya.”

Suasana kacau. Sebab, tak ada lagi orang setempat yang dianggap melebihi “ilmu” Mislan. Algojo itu kemudian mencoba lagi. Begitu kepala korban putus, Mislan membawa kepala itu menyeberangi sungai. Kedengarannya seperti cerita komik. Kalau cerita Mislan benar, Mbah Kahar (juga Mislan) jelas lebih hebat ketimbang Mbah Suro. Tahun 1967, Mbah Suro mencoba membangkitkan PKI. Konon, dukun itu dan pasukannya tak mempan tembakan dan bacokan, asal memakai piandel barang yang diandalkan. Yakni pakaian hitam-hitam, kolor (ikat pinggang Jawa), dan kenthes (pentungan). Setelah geger PKI, ribuan orang berdatangan ke rumah Mbah Suro, mengharap keselamatan. Maka, daerah hutan jati yang kering dan minus itu menjadi semarak. Setiap pendatang pasti membeli tiga piandel, dan minum air dari Gentong Kemiri, agar tak mempan peluru bedil.

Padahal, menurut Mbah Sumi — adik kandung Mbah Suro, semua itu akal-akalan bisnis penduduk setempat. Mbah Suro sebenarnya “hanya dukun biasa”. Kepentingan bisnis dan kepercayaan bercampur baur. Ketika ribuan orang PKI telah dibantai, para pengikut Mbah Suro masih berteriak gagah, “hidup PKI!” Anak-anak, yang berharap agar diberi uang, menjawab, “hidup!” Dengan hanya bersenjatakan kenthes, pasukan hitam-hitam itu berani menghadapi petugas yang menggerebeknya. Pertempuran pecah. Lalu Mbah Suro menyerah. Untuk keperluan eksekusi, dukun itu harus menanggalkan pakaian hitamnya dan mengganti dengan sarung hijau.

Sejenak setelah kematian Mbah Suro, cerita tentang orang kebal pun surut. Namun, rupanya mustahil pupus sama sekali. Pada kenyataannya, kisah kekebalan juga sering menjadi catatan kaki riwayat para tokoh sejarah. Masuk dalam perbincangan, tak soal, apa benar atau sekadar musik pengiring. Tak kurang dari tokoh Teuku Umar, misalnya. Masyarakat Aceh meyakini, tokoh itu tak mungkin ditembus peluru. Begitu kental keyakinan itu. Maka, konon, Belanda sampai merasa perlu membuat peluru emas buat membunuhnya. Eros Djarot juga tak menyingkirkan cerita “peluru emas” itu untuk filmnya, Tjoet Nja’ Dhien. Bung Karno, di mata pengagum fanatiknya, juga kebal. Berulangkali ia menghadapi percobaan pembunuhan, dan… lolos.

Misalnya dalam peristiwa Cikini, atau sewaktu ditembak saat sembahyang Idhul Adha. Lima puluh tahun lagi, siapa tahu cerita di sekitar percobaan pembunuhan itu tumbuh terus, berbunga-bunga. Nama lain yang dianggap memiliki keistimewaan demikian adalah Kahar Muzakar dan Supriadi. Hingga kini, sejumlah penduduk pedesaan Sulawesi Selatan sulit percaya bahwa Kahar sudah lama tewas ditembak. Mereka mengganggap, Kahar masih berkelana entah di hutan sebelah mana. Sedang Supriadi, tokoh pemberontakan Peta di Blitar, bukan hanya dianggap kebal, tapi juga bisa menghilang, raib, tanpa kembali lagi. Manusia Indonesia di masa lalu agaknya sangat akrab dengan soal kekebalan. Di Indragiri Hulu, Riau, Haji Bustami — sebelum bertobat dan menunaikan ibadah haji — mengaku pernah kebal, bisa menundukkan harimau, dan punya tenaga yang mampu untuk mengangkat seekor kerbau. “Ilmu itu saya peroleh dari orang Sakai,” ujarnya.

Sakai adalah suku terasing di Sumatera. Di Kalimantan, suku Dayak sering dibayangkan sebagai orang yang menakutkan. Bukan saja lantaran sumpit beracunnya. Tetapi juga karena ilmu-nya. Masyarakat Kajang yang bermukim di kaki Pulau Sulawesi juga dianggap mempunyai ilmu yang lebih dari sekadar kebal. Di Bali ilmu kekebalan — di sana disebut ilmu kanuragan — juga masih diperdalam. Basisnya tentu saja ajaran Hindu, dengan latihan yoga. Ketika seseorang telah mencapai puncak pemusatan, pengekangan, dan pengaturan pikiran — menurut Anak Agung Putu Suwela, 65 tahun, dari Perkumpulan Raja Yoga Kumala Bhuana, Denpasar — “semua pancaindria akan mati. Tak ada sakit, tak ada panas, tak ada dingin.” Pada tingkat itu, orang luar akan melihat ahli yoga yang demikian ini kebal senjata tajam dan api.

Mencapai tingkat itu tidak gampang. Suwela sendiri baru merasa mantap dengan yoga setelah belajar selama 24 tahun. Ketika seseorang mencapai kesempurnaan, dalam ilmu kebal versi yoga, orang bukan saja tak mempan senjata dan api, juga mampu melihat sesuatu yang bakal terjadi. Plus bisa mengobati orang sakit. Persoalannya adalah, siapa yang tahan bertahun-tahun belajar yoga? Di Bali ada pertunjukan Barong vs Rangda yang diakhiri dengan menikam Rangda bertubi-tubi, dilanjutkan dengan orang mencoba menusukkan keris ke tubuhnya. Namun, dada tak tembus, perut tak sobek. Darah tak mengalir. Lihat juga para penari “Sangyang Jaran” yang kesurupan itu. Bara api pun diinjak-injak dengan kaki telanjang sehingga butir merah memercik-mercik. Sampai sekarang masih bisa dinikmati.

Bagaimana menjelaskan semua itu? Suwela mengatakan, Barong Keris itu bisa dimainkan oleh siapa pun yang kemudian trance dan dikendalikan orang lain yang berilmu. Serupa ini adalah Kuda Lumping dari daerah sekitar Jawa Tengah dan Cirebor. Atau debus dari daerah Banten dan Minangkabau. Inilah satu sisi lain ilmu kebal: seni. Ilmu kebal juga dikejar oleh para peminat seni bela diri. Hampir semua aliran pencak silat di Indonesia meletakkan ilmu kebal atau tenaga dalam di puncak latihannya. Saat ini, sebagian besar peminat ilmu kebal adalah anggota ABRI. Ini diakui oleh para guru seperti halnya Kiai Salik di Banten atau Zen di Jepara. Mislan malah mengaku ikut menyiapkan satu batalyon marinir yang hendak bertempur di Timor Timur (lihat Bisnis Ilmu Kebal). Kepercayaan pada kekebalan menyebar di berbagai wilayah Indonesia, pada berbagai latar belakang etnis maupun agama. Ada ilmu kebal yang ber-setting sangat Jawa, ada yang sangat Dayak.

Ada yang berwajah Islam, Hindu, atau bahkan ada juga Katolik — misalnya pada anggapan bahwa Slamet Riyadi kebal karena membawa rosario (tasbih). Di Jawa, wesi kuning atau kol buntet adalah nama-nama ajimat yang sangat dicari untuk kekebalan pemiliknya. Sedang pada kalangan hitam, para maling dan perampok, aji poncosuno bumi laku keras seperti halnya aji welut putih yang bermanfaat untuk “menghilang”. Konon, bila seseorang punya poncosuno bumi, kalau dibunuh ia akan hidup lagi pada saat tubuhnya menyentuh tanah. Selain itu, cara kebal yang lebih berbau agama banyak disebut dalam berbagai buku mujarobat yang dijual di kaki-kaki lima.

Yang disebut buku-buku itu, antara lain, sepenggal ayat Quran (Surat An-Naml) yang dituliskan pada kulit kijang, lalu dibungkus dengan kulit lembu, dan dipakai untuk ikat pinggang. Para kiai juga sering memberi berbagai bentuk isim, yang semata berbahasa Arab atau campuran bahasa Jawa. Yang agak jauh dari kesan perdukunan adalah yang dipakai anggota GPK Warsidi. Seorang anggota GPK Warsidi mengungkapkan: mereka memperoleh kekebalan setelah menjalani sejumlah amalan. Di antaranya dengan i’tikaf di masjid selama 40 hari terus-menerus. Pada saat itu mereka hanya boleh makan nasi putih sepiring kecil setiap hari. Juga selalu bersalat tahajud di penghujung malam, serta membaca wirid. Adapun wirid-nya antara lain Surat Yassin ayat 89 Al-Maidah ayat 67, Al-Baqarah ayat 3, dan At-Taubah ayat 2. Dengan itu, menurut mereka, “kami betul-betul mendekatkan diri pada-Nya.”

Bila mereka lulus dari tempaan 40 hari itu, dan tidak memakan barang haram (misalnya dari duit korupsi), “karamah akan datang melindungi kami dari serangan musuh.” Kalaupun toh mati juga, begitu keyakinan mereka, itu “mati syahid”. Tak jelas, apakah ada riwayat Nabi yang dijadikan pegangan untuk soal kekebalan diri. Kalaupun ada, tentu hanyalah hadis yang masih dipertanyakan kesahihan atau keautentikannya. Nabi Muhammad pun luka dan berdarah sewaktu hijrah ke Thaif, ditimpuki batu oleh penduduk setempat. Juga pada Perang Uhud. ***

Categories: ILMU KEBAL | 40 Komentar

MAKRIFAT, HAKEKAT, TARIKAT, SYARIAT


Pemahaman yang beredar dalam khasanah sufistik, tasawuf atau mistik Islam bahwa perjalanan spiritual itu dimulai dari menjalankan syariat, memasuki jalan suluk tarekat dengan berdzikir, kemudian berolah pikir di aras hakekat, hingga berujung pada mengenal Tuhan setelah bermakrifat/ bertemu dengan-Nya.

Mohon maaf bila pemahaman tersebut perlu didekonstruksi dan didiskusikan ulang. Sebab keyakinan kita atas hal itu bisa jadi salah.

Menurut saya, proses bahwa perjalanan spiritual itu justeru tidak dimulai dari syari’at, tarekat, hakikat, hingga ma’rifat. Namun lihatlah perjalanan spiritual Nabi Muhammad SAW, teladan umat muslim justeru yang terjadi adalah kebalikannya:

Perjalanan spiritual justeru dimulai dari MA’RIFAT, TAREKAT, HAKIKAT dan akhirnya sampai pada SYARIAT.

MAKRIFAT adalah bertemu dan mencairnya kebenaran yang hakiki: yang disimbolkan saat Muhammad SAW bertemu Jibril, HAKIKAT saat dia mencoba untuk merenungkan berbagai perintah untuk IQRA, TAREKAT saat Muhammad SAW berjuang untuk menegakkan jalanNya dan SYARIAT adalah saat Muhammad SAW mendapat perintah untuk sholat saat Isra Mikraj yang merupakan puncak pendakian tertinggi yang harus dilaksanakan oleh umat muslim.

Itulah sebabnya, SYARIAT SHOLAT ADALAH PUNCAK PENDAKIAN SPIRITUAL yang terkadang justeru dilalaikan oleh kaum sufi dan para ahli spiritual. Padahal, Nabi MUHAMMAD SAW memberi tuntunan tidak seperti itu.

SHOLAT adalah komunikasi tertinggi serta pertemuan antara TUHAN dan MANUSIA. Sholat juga merupakan PERTEMUAN TITIK MODULASI DIMENSI YANG LAHIR DAN BATIN ANTARA TUHAN YANG MAHA LAHIR DAN MAHA BATIN dengan manusia yang merupakan makhluk satu-satunya yang memiliki SDM untuk mempertemukan titik temu dari dua dimensi tersebut dalam dirinya.

TITIK TEMU itu terletak pada KESADARAN. NAH, Bagaimana penjelasan tentang PERJUMPAAN TUHAN dengan MANUSIA? Monggo KITA sholat dengan khusyuk. CARI TITIK PALING HENING dan NIKMATILAH WAJAH TUHAN DAN BERMESRAANLAH DENGAN DIA, YANG MAHA TERKASIH.

MA’RIFAT, HAKIKAT, TAREKAT DIAKSES dengan alat epistemologis PANCAINDERA AKAL-RASA-BUDI dan akhirnya PENDAKIAN SPIRITUAL sampai pada SYARIAT, yaitu DIAKSES DENGAN SEMUA ALAT EPISTEMOLOGIS MANUSIA: PANCAINDERA, AKAL, RASA, BUDI dan ini yang special yaitu HIDAYAH WAHYU untuk kemudian dimanifestasikan dalam PERILAKU…

Itu sebabnya, bila Sholatnya bagus maka PERILAKU PASTI BAIK, SEHINGGA DARI PERILAKULAH KITA BISA MENAKAR APAKAH SESEORANG ITU SUDAH BERMANUNGGAL DENGAN TUHAN. PERILAKU adalah ibadah yang menjadi SYAHADAT manusia yang sudah mencapai taraf INSAN KAMIL, yaitu bermanunggalnya makrokosmos dengan mikrokosmos, jagad alit dan jagad gede, manunggaling kawulo kelawan gusti.

Sampun.Pareng-paren ki sanak..,. ngapunten mbok bilih wonten ingkang lepat. Nuwun gunging ombak samudra pangaksami. Monggo paring pencerahan bersama.

Wong Alus

Categories: MAKRIFAT YANG BENAR | Tags: , , , | 123 Komentar

KEARIFAN PAMALI CARA URANG NAGA


Urang Naga –begitu mereka menyebut dirinya — adalah orang-orang yang sederhana, ramah, menjunjung adat, dan punya semangat gotong royong yang tinggi. Kearifan lokal komunitas ini bisa menjadi contoh, cara menjaga KELESTARIAN ALAM dengan tradisi.

20090518163354

Angin sejuk semilir berhembus di Kampung Naga. Kampung kecil yang terletak jauh dari hiruk pikuk kota ini berselimutkan nuansa alam yang masih perawan. Masyarakatnya hidup dengan rukun, damai dan sejahtera. Hidup berkecukupan dengan kekayaan adat istiadat tradisional yang dijunjung tinggi.

Dalam sejarah Sunda, memegang teguh adat adalah hal yang utama. Jejak kental memegang teguh adat ini masih dapat ditemukan di beberapa kampung adat di daerah Sunda, diantaranya adalah Kampung Naga di Tasikmalaya, Kampung Kuta di Ciamis dan Kampung Kanekes Baduy di Banten. Mereka telah membuktikan bahwa tradisi tradisional Sunda yang dipegang teguh memiliki kekuatan yang sakral dan unik dalam melangengkan kehidupan harmonis dengan alam semesta.

Pesona alamnya masih terpelihara dengan natural, jauh dari polusi dan pencemaran lingkungan. Masyarakat adat Kampung Naga hidup damai dan memiliki banyak kearifan yang patut kita pelajari untuk menciptakan keseimbangan hidup dengan ekosistem alam.

Namun, tiba-tiba saja komunitas yang kebanyakan bekerja sebagai petani ini unjuk sikap pada Bulan Mei 2009 ini. Setelah sekian lama hidup dalam ketenangan, mereka menyatakan memboikot para pengunjung atau wisatawan yang akan berkunjung ke kampungnya. Inilah sikap warga Kampung Naga, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat yang akhirnya diakui bisa mengancam dunia pariwisata di Jabar. Dinas Pariwisata dan Kebudayaan kemudian menawarkan bantuan suryakanta –pembangkit listrik tenaga matahari– kepada warga Kampung Naga agar menghentikan aksi boikotnya.

Aksi boikot wisatawan ini dilakukan warga Kampung Naga itu merupakan bentuk protes terhadap pemerintah dan PT Pertamina karena hingga kini warga Kampung Naga kesulitan memperoleh minyak tanah setelah suplainya dikurangi. Padahal, warga Kampung Naga menjadikan minyak tanah sebagai bahwa untuk masak dan penerangan.

Menurut PT Pertamina, tidak mungkin menyuplai minyak tanah bersubsidi hanya ke Kampung Naga. Pasalnya, akan memicu kecemburuan bagi daerah lain. Untuk menutupi kebutuhan bahan penerangan, Dinas Pariwisata Jabar yang selama ini mengandalkan Kampung naga sebagai daerah tujuan wisata mengusulkan warga Kampung Naga menggunakan suryakanta.

Penggunaan suryakanta ini konon tidak akan mengikis nilai kultural Kampung Naga. Lain halnya dengan listrik yang akan mengubah wajah keaslian Kampung Naga. Untuk itu, wajar bila warga Kampung Naga menolak listrik di kampungnya.

Kampung Naga merupakan suatu perkampungan yang dihuni oleh sekolompok masyarakat yang kuat memegang adat istiadat peninggalan leleuhurnya. Hal ini akan terlihat jelas perbedaannya bila dibandingkan dengan masyarakat lain di luar Kampung Naga. Masyarakat Kampung Naga hidup pada suatu tatanan yang dikondisikan dalam suasana kebersahajaan dan lingkungan kearifan tradisional yang lekat.

Kampung eksotis ini berada di wilayah Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya, Propinsi Jawa Barat tidak jauh dari jalan raya yang menghubungkan kota Garut dengan kota Tasikmalaya. Kampung ini berada di lembah yang subur, di sebelah baratnya hutan yang dikeramatkan karena terdapat makam leluhur masyarakat Kampung Naga. Di sebelah selatan dibatasi oleh sawah-sawah penduduk, dan disebelah utara dan timur dibatasi oleh sungai Ciwulan yang sumber iarnya berasal dari Gunung Cikuray di daerah Garut.

Untuk menuju Kampung Naga dari arah jalan raya Garut – Tasikmalaya harus menuruni tangga yang sudah di tembok (Sunda sengked) sampai ketepi sungai Ciwulan dengan kemiringan sekitar 45 derajat dengan jarak kira-kira 500 meter. Kemudian melaluai jalan setapak menyusuri sungai Ciwulan.

Perkampungan tradisional dengan luas areal kurang lebih empat hektar ini memiliki kehidupan komunitas yang unik. Kehidupan mereka dapat berbaur dengan masyarakat modern, beragama Islam, tetapi masih kuat memelihara Adat Istiadat leluhurnya. Seperti berbagai upacara adat, upacara hari-hari besar Islam misalnya Upacara bulan Mulud atau Alif dengan melaksanakan Pedaran (pembacaan Sejarah Nenek Moyang) Proses ini dimulai dengan mandi di Sungai Ciwulan.

0612ha26

Upacara Adat masyarakat Kampung Naga yang sering selenggarakan di antaranya: MENYEPI. Upacara menyepi dilakukan pada hari Selasa, Rabu, dan Sabtu. Upacara ini sangat penting dan wajib dilaksanakan, tanpa kecuali baik pria maupun wanita. Pelaksanaan upacara menyepi diserahkan pada masing-masing orang, karena pada dasarnya merupakan usaha menghindari pembicaraan tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan adat istiadat. Melihat kepatuhan warga Naga terhadap aturan adat, selain karena penghormatan kepada leluhurnya juga untuk menjaga amanat dan wasiat yang bila dilanggar dikuatirkan akan menimbulkan malapetaka.

HAJAT SASIH. Upacara Hajat Sasih dilaksanakan oleh seluruh warga adat Sa-Naga, baik yang bertempat tinggal di Kampung Naga Dalam maupun di Kampung Naga Luar. Upacara Hajat Sasih merupakan upacara ziarah dan membersihkan makam leluhur. Maksud dan tujuan dari upacara ini adalah untuk memohon berkah dan keselamatan kepada leluhur Kampung Naga, Eyang Singaparna serta menyatakan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala nikmat yang telah diberikan kepada seluruh warga. Pemilihan tanggal dan bulan untuk pelaksanaan upacara Hajat Sasih dilakukan bertepatan dengan hari-hari besar agama Islam.

KAWINAN. Upacara perkawinan bagi masyarakat Kampung Naga adalah upacara yang dilakukan setelah selesainya akad nikah. Upacara ini dilaksanakan dengan sangat sakral mulai dari penentuan tanggal baik untuk perayaan sampai dengan resepsi berakhir. Adapun tahap-tahap dalam upacara perkawinan tersebut adalah sebagai berikut: upacara sawer, nincak endog (menginjak telur), buka pintu, ngariung (berkumpul), ngampar (berhamparan), dan diakhiri dengan munjungan (sungkeman).

Bentuk bangunan di Kampung Naga sama baik rumah, mesjid, patemon (balai pertemuan) dan lumbung padi. Atapnya terbuat dari daun rumbia, daun kelapa, atau injuk sebagi penutup bumbungan. Dinding rumah dan bangunan lainnya, terbuat dari anyaman bambu (bilik). Sementara itu pintu bangunan terbuat dari serat rotan dan semua bangunan menghadap Utara atau Selatan. Selain itu tumpukan batu yang tersusun rapi dengan tata letak dan bahan alami merupakan ciri khas gara arsitektur dan ornamen Perkampungan Naga.

Rumah yang berada di Kampung Naga jumlahnya tidak boleh lebih ataupun kurang dari 108 bangunan secara turun temurun, dan sisanya adalah Masjid, lei (Lumbung Padi) dan patemon (Balai Pertemuan). Apabila terjadi perkawinan dan ingin memiliki rumah tangga sendiri, maka telah tersedia areal untuk membangun rumah di luar perkampungan Kampung Naga Dalam yang biasa disebut Kampung Naga Luar.

Semua peralatan rumah tangga yang digunakan oleh penduduk Kampung Naga pun masih sangat tradisional dan umumnya terbuat dari bahan anyaman. Dan tidak ada perabotan seperti meja atau kursi di dalam rumah. Hal ini tidak mencerminkan bahwa Kampung Naga merupakan kampung yang terbelakang atau tertinggal, akan tetapi mereka memang membatasi budaya modern yang masuk dan selalu menjaga keutuhan adat tradisional agar tidak terkontaminasi dengan kebudayaan luar.

Kampung ini menolak aliran listrik dari pemerintah, karena semua bangunan penduduk menggunakan bahan kayu dan injuk yang mudah terbakar dan mereka khawatir akan terjadi kebakaran. Pemangku adat pun memandang apabila aliran listrik masuk maka akan terjadi kesenjangan sosial diantara warganya yang berlomba-lomba membeli alat elektronik dan dapat menimbulkan iri hati.

Letak daerahnya yang berada pada hamparan tanah yang menyerupai lembah, dicirikan dengan bentuk bangunannya yang seragam. Atap rumahnya yang berwarna hitam terbuat dari bahan ijuk, tampak berjejer teratur menghadap utara-selatan, dibatasi Sungai Ciwulan. Tempat permukiman tersebut tampak seperti diapit dua buah hutan.

Hutan pertama yang terletak di sisi Sungai Ciwulan disebut Leuweung Biuk. Hutan lainnya yang letaknya pada daerah yang lebih tinggi disebut Leuweung Larangan. Leuweung dalam bahasa Sunda artinya hutan. Seperti tempat-tempat lainnya yang dinamakan hutan, seluruh arealnya ditumbuhi tanaman keras yang entah sudah berapa puluh atau ratus tahun umurnya.

Namun, yang membedakan kawasan hutan di daerah itu dengan daerah lainnya di luar Kampung Naga adalah, keadaan tumbuhan Leuweung Biuk dan apalagi tumbuhan di Leuweung Larangan tetap terjaga utuh. Kawasan itu tampak hijau dengan berbagai jenis tumbuhan yang secara sengaja dibiarkan tumbuh secara alami. Terhadap tumbuhan tersebut, tak seorang pun anggota masyarakat Suku Naga berani merusaknya karena kedua areal hutan itu dikeramatkan.

LEUWEUNG LARANGAN YANG LUASNYA KURANG LEBIH TIGA HEKTAR, DIKERAMATKAN KARENA DI SANA DIMAKAMKAN LELUHUR MASYARAKAT SUKU NAGA, SEMBAH DALEM EYANG SINGAPARANA. Di sebelahnya masih terdapat tiga makam lainnya, namun tidak diketahui makam siapa. Kunjungan ke makam tersebut biasanya hanya dilakukan dalam waktu-waktu tertentu, terutama pada saat diselenggarakan upacara hajat sasih setiap dua bulan sekali. Upacara ritual itu hanya diikuti oleh kaum laki-laki dewasa yang sebelumnya mengikuti ketentuan khusus. Misalnya, sudah melakukan beberesih, yakni mandi bersama di Sungai Ciwulan.

Upacara itu dipimpin kuncen yang bertindak sebagai kepala pemangku adat. Para peserta biasanya menggunakan pakaian yang menyerupai jubah warna putih, kepala diikat totopong, yakni sejenis ikat kepala khas Suku Naga. Selain itu mereka tidak boleh menggunakan alas kaki, baik berupa sandal apalagi sepatu. Sementara areal hutan lainnya yang disebut Leuweung Biuk-karena letaknya dekat Saluran Biuk-berada pada kaki bukit curam yang sekaligus menjadi bibir Sungai Ciwulan. Di areal tersebut tumbuh berbagai jenis tanaman keras yang berumur lebih dari 50 tahun lebih.

Berbeda dengan Leuweung Larangan, LEUWEUNG BIUK TERMASUK TABU DIKUNJUNGI. ANGGOTA MASYARAKATNYA TAK SEORANG PUN YANG BERANI MENGINJAKKAN KAKINYA KE AREAL HUTAN TERSEBUT. APALAGI, SAMPAI MENEBANG POHON YANG TUMBUH DI ATASNYA. HAL TERSEBUT KARENA PAMALI.

Pamali sama artinya dengan tabu. Ketentuan yang tidak tertulis itu merupakan dogma yang harus dipatuhi tanpa dijelaskan lagi alasan-alasannya, apalagi sampai diperdebatkan. Sesuatu yang dikatakan pamali merupakan ketentuan dari leluhurnya yang harus dipatuhi. Jika tidak, mereka akan menanggung akibatnya, baik secara individu maupun kelompok.

Peristiwa-peristiwa seperti banjir, kekeringan, serangan hama dan penyakit tanaman padi yang mengakibatkan panen gagal atau berkurang produksinya misalnya, dianggap sebagai peristiwa yang tidak lepas dari HUKUM SEBAB AKIBAT. Karena itu, ketika terjadi perambahan tanah adat yang kemudian dijadikan hutan industri dan perkebunan, masyarakat adat Suku Naga sudah memperkirakan apa yang akan terjadi selanjutnya.

Tanah adat Suku Naga sebenarnya cukup luas yang mencakup wilayah Gunung Sunda, Gunung Satria, Gunung Panoongan, Gunung Raja, Pasir Halang sampai batas jalan raya yang menghubungkan Tasikmalaya-Garut. Daerah itu sekaligus merupakan sub Daerah Aliran Sungai Ciwulan yang harus dijaga kelestariannya.

KEARIFAN LOKAL
Pandangan hidup masyarakat adat Suku Naga yang berkaitan dengan lingkungannya tersebut sebenarnya mengandung kearifan lokal. Misalnya, hanya dengan PAMALI, MASYARAKAT ADAT SUKU NAGA MAMPU MENAHAN DIRI, sehingga tidak terjadi perambahan kawasan hutan. Padahal jika dilihat dari tuntutan kebutuhan dan keterbatasan sumber daya alam yang dimiliki, desakan tuntutan tersebut jauh lebih kuat dibanding masyarakat sekitarnya.

Masyarakat adat Suku Naga tabu membangun rumah dengan menggunakan bahan bangunan industri, kecuali paku. Atap rumahnya terbuat dari ijuk dan dinding-dindingnya terbuat dari anyaman bambu. Seluruh tiang penyangga menggunakan balok kayu. Bahan-bahan lokal tersebut berusaha dipenuhi sendiri tanpa harus merusak kawasan hutannya.

Sayang, nilai-nilai lokal yang mengandung kearifan tersebut, dalam masyarakat sekarang ini kurang diperhatikan lagi. Kegiatan penebangan hutan malah terjadi disekeliling kampung. Ironisnya, perambahan itu dilakukan bukan oleh masyarakat Suku Naga, melainkan oleh masyarakat luar yang selama ini menganggap dirinya memiliki latar belakang pengetahuan lebih maju. Sebaliknya masyarakat adat Suku Naga sendiri tidak seorang pun yang berani memasuki areal kawasan hutan tersebut. Mereka berusaha menjaga kelestariannya. Perusakan hutan lindung Gunung Raja dianggap telah melindas nilai-nilai lokal yang selama ini dianutnya sebab di daerah itu terdapat situs yang memiliki kaitan erat dengan asal-usul masyarakat adat Suku Naga. Selain itu, kawasan hutan tersebut patut dipertahankan mengingat salah satu peran pentingnya sebagai sumber air masyarakat adat Suku Naga.

Masyarakat adat Suku Naga yang menempati wilayah yang disebut Kampung Naga itu, selama ini diakui memiliki potensi budaya yang besar merupakan bagian tidak terpisahkan dari budaya Sunda. Mereka hidup mengelompok tanpa mengisolasi diri dengan lingkungan dan kehidupan daerah sekitarnya, akan tetapi tetap mempertahankan pandangan hidup dan tradisinya di tengah gelombang modernisasi.

TV dengan gempuran sinetron dan acara gosip, serta fasilitas komunikasi yang canggih, ditambah kedatangan turis-turis asing dengan kebiasaan berpakaian mereka yang berbeda, dan kedatangan wisatawan dalam negeri sering kurang ajar dan seenaknya, tidak membuat mereka berubah. adat tetap jadi yang utama. “DA KIEU CARA URANG NAGA MAH…”

URANG NAGA MENYADARI PERUBAHAN DI SEKITAR MEREKA, TAPI MEMILIH UNTUK TIDAK BERUBAH….

wong alus

Categories: SUKU NAGA | Tags: , , , , | 12 Komentar

KOMUNITAS SAMIN, PERINTIS SIASAT PERLAWANAN TANPA KEKERASAN ORISINIL KHAS INDONESIA


Mereka lebih suka disebut Sedulur Sikep. Masyarakat mengenalnya dengan penganut ajaran Samin. Yang luar biasa Logika Pemaknaan Bahasa dijadikan alat perjuangan tanpa kekerasan.

SAMIN

PT Semen Gresik berencana berekspansi modal (sekitar 40% saham asing) ke Kabupaten Pati Jawa Tengah sekitar pertengahan 2008. Pabrik besar akan didirikan tepatnya di Kecamatan Sukolilo, Kabupaten Pati, Jawa Tengah yang merupakan kawasan pertanian.

Tidak seperti warga lain yang biasanya menyukai bila tanah miliknya dibeli pemodal besar karena akan dihargai mahal, warga setempat anehnya menolak. Konon, penolakan warga ini dilatarbelakangi oleh sebuah pandangan hidup yang kita kenal dengan AJARAN SAMIN. Penolakan warga ini berbuntut panjang hingga sampai ke meja para wakil rakyat di Komisi VII DPR.

Untuk menjaring aspirasi warga dan mengetahui latar belakang penolakan tersebut Wakil Ketua Komisi VII DPR Sonny Keraf mengadakan dialog dengan Komunitas Samin atau dikenal sebagai para Sedulur Sikep dan perwakilan dari tujuh desa yang bakal terkena dampak langsung pembangunan pabrik semen. Desa-desa itu diantaranya Desa Kedumulyo, Gadudero, Sukolilo, Baturejo, Sumbersoko, dan Tompe Gunung.

Singkatnya, pertemuan digelar di rumah sesepuh Sedulur Sikep, Mbah Tarno yang usianya sudah mencapai 100 tahun, di Desa Baturejo, Kecamatan Sukolilo, 27 kilometer selatan pusat pemerintahan Kabupaten Pati, Minggu, 7 September 2008 lalu.

Hasil pertemuan itu adalah: Sonny Keraf meminta kepada Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral serta Menteri Negara Lingkungan Hidup menurunkan tim ke Sukolilo bersama-sama lembaga riset untuk mengetahui serta menyelami inspirasi warga setempat.

Kenapa warga menolak pembangunan pabrik semen? Ini berkaitan dengan keinginan warga Sedulur Sikep agar apa yang ada selama ini tidak berubah termasuk pola hidup sederhana yang sudah turun temurun termasuk keseimbangan ekologis yang sudah terjaga.

Sesepuh Sedulur Sikep, Mbah Tarno saat diwawancarai harian Kompas (9/7), mengungkapkan alasan penolakan warga bahwa selama ini bidang pertanian merupakan sumber penghasilan dan kehidupan mereka. ”Dadi opo anak putuku kabeh setuju yen ono pembangunan pabrik semen (Jadi apa keturunanku semua setuju kalau ada pembangunan pabrik semen)?” kata Mbah Tarno. ”Mboten setuju banget (Sangat tidak setuju),” teriak warga yang memenuhi rumahnya.

Itulah gambaran singkat bagaimana warga Sedulur Sikep. Masih banyak keunikan lain apabila kita menyelami pola pikir dan pandangan hidup mereka. Dulu, jaman kolonial, para Sedulur Sikep dicap sebagai SUBVERSIF oleh Pemerintah Kolonial karena menolak membayar pajak dan sistem pendidikan Belanda. Mereka mengembangkan siasat linguistik yang khas untuk melawan sehingga diolok-olok dengan julukan “Wong Samin”. Kini oleh para PEMODAL SEMEN GRESIK para Sedulur Sikep ini difitnah dan dicap sebagai PROVOKATOR karena menolak pembangunan pabrik semen. Padahal, para Sedulur Sikep Komunitas Samin ini adalah perintis siasat perlawanan ACTIVE NON VIOLENCE orisinil yang khas indonesia melawan PENJAJAHAN.

Bagi warga Sedulur Sikep apabila nanti Pabrik Semen Gresik jadi didirikan di wilayahnya, maka akan muncul dampak lingkungan yang mengancam kawasan Gunung Kendeng yang selama ini menjadi sumber ekologi (air, gua, hewan, tanaman) serta mengancam mata pencaharian bertani. Selain itu pegunungan kapur tersebut juga memiliki MAKNA BUDAYA DAN SEJARAH BAGI MASYARAKAT SEDULUR SIKEP YANG MEMILIKI EKOLOGI KULTURAL NYA SANGAT BERELASI DENGAN LINGKUNGAN (GUNUNG).

Peran pegunungan secara kultural bagi masyarakat Sedulur Sikep dan masyarakat lokal lainnya di wilayah Sukolilo, Pati, memiliki ikatan kesadaran simbolis yang terdapat dalam situs-situs kebudayaan yang banyak terdapat di pegunungan Kendeng. Kesadaran masyarakat lokal di wilayah Sukolilo yang mengikat dengan pegunungan Kendengan diantaranya WATU PAYUNG yang merupakan simbolisasi dari sejarah pewayangan Dewi Kunti, dimana beberapa situs narasi pewayangan tersebut terartikulasikan dalam beberapa relief alam yang terdapat di pegunungan Kendeng.

Di sekitar situs watu payung juga terdapat banyak narasi yang berhubungan dengan kisah pewangan seperti kisah tentang cakar kuku bima, dan lain sebainya. Kemudian di sekitar Watu Payung di pegunungan Kendeng juga terdapat WATU KEMBAR yang berisikan tentang kisah Hanoman yang sedang menaiki puncak gunung sambil bermain bintang dilangit, kemudian dewa marah lalu pindahkannya puncak gunung dan kemudian runtuhannya jatuh menjadi Watu Kembar.

Selain kisah pewayangan juga terdapat situs yang memiliki kaitannya dengan ANGLING DHARMA di sekitar lereng pegunungan Kendeng Sukolilo, kemudian ada GUA JOLOTUNDO yang memiliki korelasi dengan kisah Laut Selatan Jawa. Kemudian ke arah Kayen juga terdapat makam SYEH JANGKUNG yang dianggap sebagai salah satu tokoh lokal dalam mitologi masyarakat lokal di wilayah Pati.

Beberapa situs yang ada di pegunungan Kendeng saat ini, masih diyakini oleh para penduduk sebagai bagian dari kesadaran simbolisnya, hal ini terlihat masih banyak peziarah atau para pengunjung yang datang sebagai bagian dari bentuk kesadaran kultural dan spiritualitas. Kekuatan simbolik situs-situs kebudayaan yang ada di wilayah pegunungan Kendeng memiliki ikatan kultural tidak hanya seputar Sukolilo Pati, hal ini terlihat banyaknya peziarah dan para pengunjungan yang hadir di beberapa situs Watu Payung dan lain sebagianya berasal dari wilayah Demak, Jepara, dan sekitarnya.

Kesemua kisah mitologi lokal diatas sangat memiliki basis material pada wilayah pegunungan Kendeng di wilayah Sukolilo Pati. Sebagai proses antara yang natural dengan yang kultural, mitologi lokal ini memang berasal dari tradisi tutur (lisan) yang memiliki kekuatan identitas bagi banyak entitas masyarakat. Dalam prespektif ekologi sosial, MITOLOGI LOKAL TERSEBUT MEREDUKSI ALAM MENJADI BAHASA MASYARAKAT (KEBUDAYAAN) YANG BERBASIS LOKALITAS. SEHINGGA MENJADIKAN LINGKUNGAN (PEGUNUNGAN) BUKAN SAJA MEMILIKI KEKUATAN EKOLOGI PERTANIAN (MATA PENCAHARIAN), NAMUN JUGA TERDAPAT KEKUATAN BUDAYA YANG MENYATU DENGAN KEHIDUPAN MASYARAKAT.

Sedulur Sikep dari bahasa Jawa berarti “Sahabat Sikep” adalah kelompok masyarakat yang berusaha menjalankan kehidupan sehari-hari sesuai dengan ajaran Samin. Komunitas masyarakat yang disebut Sedulur Sikep ini terbanyak ditemukan di daerah daerah dan kota antara Jawa Tengah dan Jawa Timur.

@@@@@

SAMIN SUROSENTIKO adalah pencetus gerakan sosial ini. Dia lahir pada 1859 dengan nama Raden Kohar di Desa Ploso Kedhiren, Randublatung Kabupaten Blora Jawa Tengah. Ayahnya bernama Raden Surowijaya atau Samin Sepuh. Ia mengubah namanya menjadi Samin Surosentiko sebab Samin adalah sebuah nama yang bernafaskan wong cilik. Samin Surosentiko masih mempunyai pertalian darah dengan Kyai Keti di Rajegwesi, Bojonegoro dan Pangeran Kusumoningayu yang berkuasa di Kabupaten Sumoroto (kini menjadi daerah kecil di Kabupaten Tulungagung) pada 1802-1826. Samin wafat dalam pengasingan (ia diasingkan oleh Belanda) di kota Padang, Sumatra Barat pada tahun 1914.

Kyai Samin sejak dini gemar bertapa brata, prihatin, suka mengalah dan mencintai keadilan. Beranjak dewasa, dia terpukul melihat realitas banyaknya nasib rakyat yang sengsara akibat kebijakan Belanda melakukan privatisasi hutan jati dan mewajibkan rakyat untuk membayar pajak. Kyai keturunan bangsawan ini dikenal oleh masyarakat kecil dengan sebutan Kyai Samin yang berasal dari kata “SAMI-SAMI AMIN” yang artinya rakyat sama-sama setuju ketika dia melakukan langkah yang berani untuk membiayai masyarakat miskin dengan caranya sendiri.

Bisa disimpulkan, gerakan sosial ini muncul sebagai akibat atau reaksi dari pemerintah kolonial Belanda yang sewenang-wenang. Perlawanan dilakukan tidak secara fisik tetapi berwujud penentangan terhadap segala peraturan dan kewajiban yang harus dilakukan rakyat terhadap Belanda misalnya dengan tidak membayar pajak. Terbawa oleh sikapnya yang menentang tersebut mereka membuat tatanan, adat istiadat dan kebiasaan-kebiasaan tersendiri.

Komunitas Sedulur Sikep memiliki tiga unsur gerakan; PERTAMA, gerakan mirip organisasi proletariat kuno yang menentang sistem feodalisme dan kolonial dengan kekuatan agraris terselubung; Kedua, gerakan tanpa perlawanan fisik yang mencolok; dan KETIGA, gerakan yang berdiam diri dengan cara tidak membayar pajak, tidak menyumbangkan tenaganya untuk negeri, menjegal peraturan agraria dan pengejawantahan diri sendiri sebagai dewa suci.

Menurut Sejarahwan Sartono Kartodirjo, Gerakan Samin adalah sebuah epos perjuangan rakyat yang berbentuk “kraman brandalan” sebagai suatu babak sejarah nasional, yaitu sebagai gerakan ratu adil yang menentang kekuasaan kulit putih.

Pengikut gerakan sosial Samin awalnya memegang lima prinsip perjuangan untuk meneguhkan identitas melawan kolonial: TIDAK BERSEKOLAH (sekolah kolonial), TIDAK MEMAKAI PECI, TAPI MEMAKAI “IKET”, YAITU SEMACAM KAIN YANG DIIKATKAN DI KEPALA MIRIP ORANG JAWA DAHULU, TIDAK BERPOLIGAMI, TIDAK MEMAKAI CELANA PANJANG, DAN HANYA PAKAI CELANA SELUTUT, TIDAK BERDAGANG DAN PENOLAKAN TERHADAP KAPITALISME. Seiring dengan perubahan jaman, lima prinsip ini mengalami penyesuaian, seperti saat ini warga memiliki kesadaran untuk menuntut ilmu dengan sekolah yang setinggi-tingginya.

Pandangan hidup Samin bersumber dari berbagai keyakinan seperti Hidhu-Dharma dan Syiwa-Budha. Juga dipengaruhi oleh ajaran Islam yang berasal dari ajaran Syeh Siti Jenar yang dibawa yaitu Ki Ageng Pengging sehingga mereka merupakan bagian masyarakat yang berbudaya tinggi dan religius.

Daerah persebaran ajaran Komunitas Samin diantaranya di Tapelan (bojonegara), Nginggil dan Klopoduwur (Blora), Kutuk (Kudus), Gunngsegara (Brebes), Kandangan (Pati), dan Tlaga Anyar (Lamongan) dan lainnya. Ajaran di beberapa daerah ini merupakan sebuah GERAKAN MEDITASI DAN MENGERAHKAN KEKUATAN BATINIAH GUNA MENGUASAI HAWA NAFSU.

Pandangan Sedulur Sikep terhadap para leluhur yaitu Kyai Samin moksa ke kaswargan. Pada momentum perayaan upacara mauludan juga ajang untuk mengenang kepahlawanan Kyai Samin. Setiap pemuka masyarakat berpegangan sejenis primbon (kepek) yang mengatur kehidupan luas, kebijaksanaan, petunjuk dasar ketuhanan, tata pergaulan muda-mudi, remaja, dewasa dan antarwarga.

Bahasa yang digunakan oleh para Sedulur Sikep yaitu bahasa kawi yang ditambah dengan dialek setempat, yaitu bahasa Jawi Ngoko. Mereka memiliki kepribadian yang polos dan jujur, selalu menyuguhkan makanan dan tidak pernah minyimpan makanan yang dimilikinya. Pengatahuan mereka terhadap ritus perkawinan sangat unik. Para Sedulur Sikep menganggap bahwa dengan melalui ritus perkawinan, mereka dapat belajar ILMU KASUNYATAN yang selalu menekankan pada dalih KEMANUSIAAN, RASA SOSIAL DAN KEKELUARGAAN DAN TANGGUNG JAWAB SOSIAL.

Ritus perkawinan itu merupakan alat untuk meraih keluhuran budi yang seterusnya untuk menciptakan “Atmaja (U)Tama” atau anak yang mulia. Pengantin pria mengucapkan kalimat: “Sejak Nabi Adam pekerjaan saya memang kawin. (Kali ini) mengawini seorang perempuan bernama…… Saya berjanji setia kepadanya. Hidup bersama telah kami jalani berdua.”

Demikian beberapa hal yang diajarkan Samin Surosentiko pada pengikutnya yang sampai sekarang masih dipatuhi. Perkawinan sudah dianggap sah walaupun yang menikahkan hanya orang tua pengantin. Ajaran perihal Perkawinan dalam tembang Pangkur orang Samin adalah sebagai berikut (dalam Bahasa Jawa):

“SAHA MALIH DADYA GARAN, (Maka yang dijadikan pedoman), ANGGEGULANG GELUNGANING PEMBUDI, (untuk melatih budi yang ditata), PALAKRAMA NGUWOH MANGUN, (pernikahan yang berhasilkan bentuk), MEMANGUN TRAPING WIDYA (membangun penerapan ilmu), KASAMPAR KASANDHUNG DUGI PRAYOGÂNTUK, (terserempet, tersandung sampai kebajikan yang dicapai), AMBUDYA ATMAJA ‘TAMA (bercita-cita menjadi anak yang mulia), MUGI-MUGI DADI KANTHI (mudah-mudahan menjadi tuntunan).

Kemajuan harus berorientasi pada PROSES yang memakan waktu, tidak serta merta berorientasi pada HASIL. Hal ini dapat dilihat dengan perilaku menolak mesin seperti traktor, huller dan lain-lain. Pakaian yang digunakan adalah kain dengan dominasi warna hitam dengan bahan yang terbuat dari kain kasar.

Kepercayaan dan tata cara hidup juga mengalami perkembangan. Kawasan daerah Pati dan Brebes, terdapat sempalan gerakan sosial yang disebut Samin Jaba dan Samin Anyar yang telah meninggalkan tata cara hidup Samin dahulu. Selain itu, di Klapa Duwur (Blora) Purwosari (Cepu), dan Mentora (Tuban) dikenal wong sikep, mereka ini dulunya fanatik, tapi kini meninggalkan arahan dasar dan memilih agama formal, yakni Budha-Dharma.

Beberapa pandangan hidup Komunitas Samin diantaranya; menguasai adanya kekuasaan tertinggi (sang Hyang Adi budha), ramah dan belas kasih terhadap sesama mahluk, tidak terikat kepada barang-barang dunia-kegembiraan-dan kesejahteraan, serta memelihara keseimbangan batin dikalangan antar warga. Gerakan sosial Samin dengan jelas mencita-citakan membangun negara asli pribumi, yang bebas dari campur tangan kolonialisme, tiada dominasi dunia barat. Ajaran politiknya yaitu cinta dan setia kepada amanat leluhur, kearifan tua, cinta dan hormat akan pemerintahan yang dianggap sebagai orang tua dan sesepuh rohani, hormat dan setia pada dunia intelektual.

Referensi gerakan sosial Samin yang menjadi panduan perilaku adalah SERAT JAMUS KALIMASADA yang terdiri atas beberapa buku, antara lain SERAT PUNJER KAWITAN, SERAT PIKUKUH KASAJATEN, SERAT URI-URI PAMBUDI, SERAT JATI SAWIT, SERAT LAMPAHING URIP, dan merupakan nama-nama serat yang diugemi.

Dengan mempedomani kitab itulah, gerakan sosial/sikap Samin hendak membangun sebuah negara batin yang jauh dari sikap DRENGKI SREI, TUKAR PADU, DAHPEN KEMEREN. Sebaliknya, mereka hendak mewujudkan perintah “LAKONANA SABAR TROKAL. SABARE DIELING-ELING. TROKALI DILAKONI.”

@@@@

Menurut Harry J. Benda dan Lance Castles dalam bukunya THE SAMIN MOVEMENT (1960), ajaran Samin tumbuh tahun 1890-an dan berakar di Randublatung, sebuah kota kecamatan kecil yang dikelilingi lebat hutan jati 25 kilometer sebelah tenggara kota Blora. Pengikut Samin meyakini bahwa jauh sebelum kedatangan orang-orang asing, dari Cina, India, Arab dan Eropa, dengan membawa ajaran agama masing-masing, di Jawa sudah terdapat agama tersendiri. “Ya agama Jawa itu. Agama Adam,” ujar Mbah Karmidi menerangkan.

Keyakinan ini menekankan perlunya dua nilai utama dalam kehidupan, yakni kejujuran dan kebenaran. Inti ajaran Samin yang mengatur tata laku keseharian diabstraksikan dalam konsep Pandom Urip (Petunjuk Hidup) yang mencakup “ANGGER-ANGGER PRATIKEL” (hukum tindak tanduk), “ANGGER-ANGGER PENGUCAP“ (hukum berbicara), serta “ANGGER-ANGGER LAKONANA” (hukum perihal apa saja yang perlu dijalankan). Hukum yang pertama berbunyi “AJA DENGKI SREI, TUKAR PADU, DAHPEN KEMEREN, AJA KUTIL JUMPUT, MBEDOG COLONG.” Maksudnya, warga dilarang berhati jahat, berperang mulut, iri hati pada orang lain, dan dilarang mengambil milik orang.

Hukum ke dua berbunyi “PANGUCAP SAKA LIMA BUNDHELANE ANA PITU LAN PENGUCAP SAKA SANGA BUNDHELANE ANA PITU.” Maknanya, orang harus meletakkan pembicaraannya diantara angka lima, tujuh dan sembilan. Angka-angka tersebut hanyalah simbolik belaka. Jelasnya, kita harus memelihara mulut kita dari segala kata-kata yang tidak senonoh atau kata-kata yang menyakitkan orang lain yang mengakibatkan hidup manusia ini tidak sempurna. Hukum yang paling akhir berbunyi “LAKONANA SABAR TROKAL. SABARE DIELING-ELING. TROKALE DILAKONI.” Warga senantiasa diharap ingat pada kesabaran dan berbuat “ bagaikan orang mati dalam hidup”.

Adapun yang menarik ialah logika berpikir yang bisa terlihat dari pemaknaan bahasanya. Misalnya pengikut gerakan Samin ditanya “umur kakek berapa?” Ia akan menjawab “Satu untuk selamanya”. Artinya umur manusia itu satu. Umur adalah hidup dan hidup adalah nyawa. Manusia hanya punya satu umur dan nyawa. Juga dalam tradisi bertamu, mereka tidak mengenal kata MONGGO (kata yang mempersilahkan tamu untuk duduk atau masuk), karena menurutnya mereka jika SESEORANG INGIN DUDUK, YAH DUDUK SAJA. Juga tidak tak perlu menyatakan terimakasih (matur nuwun dalam bahasa Jawanya) karena pihak pemberi memberikan sesuatu berdasarkan kemauannya sendiri, bukan berdasarkan permintaan dari seseorang lainnya.

LOGIKA PEMAKNAAN BAHASA YANG LUGAS INILAH YANG MEMBAWA GERAKAN SOSIAL INI MENJADI SEBENTUK PERLAWANAN PADA KESEWANG-WENANGAN. Sebagai contoh seorang aparat desa di masa tahun 1900-an meminta agar warga membayar pajak sewa tanah yang digarapnya. Lalu warga menggali tanahnya serta memasukkan uang ke lubang dan menutupnya. “mengapa kamu menguburkan uang di dalam tanah?” tanya aparat desa itu. Para pengikut Samin itu menjawab “tanah itu milik bumi, jadi saya harus bayar sewa tanah pada bumi, bukan pada penjajah”.

Seorang wartawan yang berkunjung ke Rembang pada Desember 1914 (dalam Harry J. Benda dan Lance Castles dalam bukunya THE SAMIN MOVEMENT), mencatat peristiwa seorang patih yang sedang memeriksa seorang Samin di pengadilan karena dirinya tak mau membayar pajak.

+ “Kamu masih hutang 90 sen kepada negara”
– saya tak hutang kepada negara”
+ “Tapi kamu mesti bayar pajak.”
– “Wong Sikep (warga pengikut Samin) tak kenal pajak
+ “Apa kamu gila atau pura-pura gila? “
– “Saya tidak gila dan juga tidak pura-pura gila”
+ “Kamu biasanya bayar pajak, kenapa sekarang tidak?”
– Dulu itu dulu, sekarang itu sekarang. Kenapa negara tak habis-habis minta uang?”
+ Negara mengeluarkan uang juga untuk penduduk pribumi. Kalau negara tak cukup uang, tak mungkin merawat jalan-jalan dengan baik.”
– “Kalau menurut kami keadaan jalan-jalan itu menganggu kami, kami akan membetulkannya sendiri.”
+ Jadi kamu tak mau bayar pajak?”
– Wong Sikep tak kenal pajak.”

Mencermati sejarah gerakan para Sedulur Sikep Komunitas Samin ini, rakyat Indonesia harusnya berguru kepada mereka. Ternyata BAHASA mampu menjadi alat untuk melakukan sebuah perubahan sosial ke arah yang lebih baik. CARA-CARA YANG SANTUN TANPA KEKERASAN dalam berjuang ini mengingatkan kita pada gerakan sosial Mahatma Gandhi di India yang fenomenal itu. SEMOGA SAUDARA SEDULUR SIKEP SELALU DIBERIKAN KEKUATAN OLEH TUHAN UNTUK TETAP MENGEMBANGKAN MODEL PERJUANGAN YANG SANTUN, SALING ASAH ASIH DAN ASUH YANG TELAH DICONTOHKAN PARA PENDAHULU MEREKA YANG KINI TELAH MOKSA.

Wong Alus

–Artikel ini hasil interpretasi yang bersumber dari literatur-literatur skunder. Monggo dikoreksi bersama bila salah dan mohon maaf bila kurang berkenan.

Categories: SEDULUR SIKEP SAMIN | Tags: , , , , , , , | 16 Komentar

MESU BUDI MANUSIA DAYAK


Suku ini memegang teguh kehormatan leluhur, setia kawan, jujur dan tenggang rasa. Kebersatuan mereka terhadap alam sekitar adalah hasil dari kepercayaan terhadap dunia magis.

dayak1

Siapapun tak bisa menyangkal kemampuan batin manusia Dayak sangat kuat. Ini adalah hasil dari keakraban manusia Dayak dengan dirinya sendiri dan lingkungannya dan diolah dengan laku perbuatan yang nyata: membela harkat dan martabat kemanusiaan serta alam sekitarnya dengan cara diam dan simbolik.

Salah satu ketua adat dari Etnis Dayak pedalaman menceriterakan bagaimana dia mendapatkan ilmu kesaktian sehingga dia memiliki sejumlah kelebihan yang tidak dimiliki oleh manusia lain. Salah satu pesan penting dan begitu mendalam adalah apa yang biasa didengar oleh para spiritualis di Jawa yaitu etos yang disebut mesu budi, — dari Serat Wedatama. Yaitu bermakna mengandalkan kekuatan batin dan tidak bertumpu pada kemegahan dunia. Bahwa NILAI SESEMANUSIA TIDAK PERNAH DILIHAT DARI HARTA YANG DIA MILIKI, TETAPI DARI APA YANG TELAH DIA PERBUAT UNTUK MANUSIA DAN ALAM SEKITARNYA.

“Di zaman yang semakin bobrok seperti sekarang ini, seharusnya jangan hanya mengejar dunia. Lihat saja semua tokoh besar yang meninggal, tidak terkenal karena kendaraan mewah yang dia miliki, rumah yang dia punya, tetapi karena karya yang telah dia buat selama hidupnya,” katanya.

ok1

Salah satu adat yang diyakini manusia Dayak adalah menganggap tabu untuk menebang pohon di sekitar daerah itu, sehingga timbul berbagai istilah hutan adat atau hutan keramat yang dikenal sejak zaman nenek moyang mereka. Sayangnya, masih banyak oknum-oknum yang secara membabi buta melakukan penebangan hanya untuk kepentingan pribadi tanpa memikirkan akibat yang timbul dari perbuatannya tersebut.

Tidak sedikit dari wilayah hutan yang diklaim masyarakat Dayak setempat sebagai hutan adat, dijadikan areal penebangan hutan secara liar. Lagi-lagi sangat disayangkan, masyarakat Dayak setempat harus gigit jari terhadap para penebang yang sebenarnya telah melakukan pantangan adat dan pantas menerima hukuman, baik hukum positif maupun adat. Mereka tidak dapat berbuat banyak melihat hal itu. Selain menjadi penonton yang baik mereka lebih banyak diam, karena keterbatasan pengetahuan. Sementara aparat yang seharusnya menjadi pelindung bagi justeru ikut-ikutan menjarah hasil penebangan liar tersebut. Padahal selama ini, jika manusia Dayak memang harus melakukan penebangan kayu untuk membuka lahan atau dijadikan bahan baku membuat rumah, sebelumnya melakukan suatu upacara adat dengan berbagai sesaji.

Itu sebabnya saat terjadi kerusakan hutan yang parah di Kalimantan, manusia Dayak sangat gelisah dan tiada henti memprotes. Salah satu protes itu berbentuk pernyataan bersama menolak perusakan hutan. Misalnya protes yang dilancarkan Forum Kampung Dayak Punan Hulu Kelay yang terdiri dari Kampung Long Suluy, Long Lamcin, Long Lamjan, Long Keluh, Long Duhung, dan Kampung Long Beliu Kabupaten Berau. Mereka memberikan pernyataan:

Bahwa; hutan, air, sungai, pohon buah, pohon madu, tanaman obat, binatang buruan, rotan, emas dan sumber-sumber alam lainnya adalah tempat hidup dan sumber kehidupan kami dan kami harus menjaganya untuk memastikan sumber-sumber alam tersebut, akan
terus ada dan tersedia sebagai amanah pendahulu kami dan untuk kehidupan kami sekarang dan kehidupan generasi penerus kami pada masa yang akan datang, dengan ini kami sampaikan pernyataan kami untuk semua pihak:

1. Menolak penambangan sumberdaya alam, terutama tambang emas dengan menggunakan alat-alat mesin dan zat-zat yang membahayakan, kecuali dilakukan secara tradisional (dulang) seperti yang diajarkan oleh manusia tua kami secara turun-temurun.
2. Tidak menerima segala bentuk perkebunan besar, yang membuka hutan secara luas dan dapat menghabiskan sumberdaya alam sebagai tempat kami menggantungkan hidup dan kehidupan.
3. Menolak segala bentuk kegiatan penebangan liar yang dilakukan oleh siapapun dan dalam bentuk apapun.
4. Menolak segala bentuk perburuan binatang yang dilindungi baik yang dilindungi hukum adat maupun dilindungi hukum positif, kecuali perburuan bintang yang tidak dilindungi untuk kebutuhan hidup kami secara terbatas
5. Meminta pada semua pihak untuk mengakui dan menghargai hak-hak masyarakat secara adat dalam pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya alam
6. Meminta kepada semua masyarakat yang tinggal dikampung-kampung hulu sungai kelay, untuk secara bersama-sama menjaga dan mempertahankan seluruh sumber-sumber kehidupan kita.

ok3

Pernyataan ini adalah pesan serius dari kalangan komunitas Dayak yang selama ini dipandang rendah, hina, dibodoh-bodohkan dan dianggap sebagai “suku terasing” atau “primitif.” Jika kita memahami budaya Dayak, maka kebangkitan untuk tidak diam melihat kerusakan lingkungan ini bisa digambarkan bahwa naga yang tinggal di lubuk sungai telah muncul ke permukaan dan menghempas-hempaskan ekor raksasa perkasanya.

Dalam khasanah Budaya Dayak, manusia harus meyakini adanya konsep hidup-mati: “RENGAN TINGANG NYANAK JATA” (anak enggang, putera-puteri naga), yang dilambangkan oleh enggang dan naga (jata) di seluruh pulau Kalimantan, bukanlah manusia agresif. Tapi jika berkali-kali diagresi dalam berbagai bentuk, mereka akan melakukan perlawanan “ISEN MULANG” yang artinya “takkan pulang kalau tak menang”. Secara fisik terbaca pada “lahap” (pekikan perang) atau “lawung bahandang” (ikat kepala merah) dan “mangkok merah”.

Aksi Dayak ini hanya dilakukan jika mereka sampai pada batas kesabaran, apabila bumi dan mereka terus dirusak, apabila “sumpah potong rotan” dan upacara sejenis sudah dilakukan dan terus-menerus dilanggar. Padahal sejatinya, manusia Dayak termasuk manusia pendiam dan banyak bicara dengan bahasa isyarat, tatapan mata dan pengamatan serta mencermati kata oleh adanya tradisi mantera yang kuat di kalangan komunitas mereka. Mantera adalah satunya kata dan tindakan, keyakinan pada makna kata.

Manusia Dayak mengenal zat tertinggi yang menciptakan dunia dan segala isinya. Itu tersirat dalam adat, mitos-mitos tentang kejadian alam semesta dan manusia yang memperlihatkan keterkaitan-keterkaitan antara manusia dengan makhluk-makhluk lain serta alam lingkungan sekitarnya. Keyakinan terhadap zat tertinggi atau Tuhan itu tersurat dalam keyakinan mereka terhadap adanya dunia batin (inner world) yang memiliki kekuatan magis yang mengendalikan alam semesta. Berbagai nama-nama pengetahuan batin manusia Dayak tersebut diantaranya: Parang-maya, Pipit Berunai, Tumbak Gahan, Awoh, Kiwang, Kibang, Pakihang, Panikam Jantung, dan Petak Malai, dan Pantak.

Dalam mitologinya, manusia Dayak mengenal empat tingkatan dewa-dewa sebagai kekuatan alam yang tinggi. Mereka adalah:

(1) NEK PANITAH. Nek Panitah adalah dewa tertinggi. Ia hidup bersama istrinya yang bernama Nek Duniang. Anak Nek Panitah dengan Ne’ Duniang bernama Baruakng Kulub. Panitah = perintah.

(2) JUBATA. Jubata adalah roh-roh yang baik. Jumlah mereka banyak. Tiap sungai, gunung, hutan, bukit mempunyai jubata. Yang terpenting adalah jubata dari bukit bawakng. Apa’ Manto Ari adalah raja dari bukit bawakng.

(3) KAMANG. Kamang adalah roh-roh leluhur dari orang dayak. Ia berpakaian cawat dan kain kepala warna merah dan putih diputar bersama ( tangkulas ). Ini juga pakaian dari pengayau kalau mereka pulang dengan membawa hasil. Kamang pandai melihat, mencium bau dan makanannya darah. Ini terlihat dari upacara-upacara adat. Darah untuk kamang dan beras kuning untuk jubata. Kamang tariu dan kamang 7 bersaudara. Kamang tariu adalah adalah Kamang Nyado dan Kamang Lejak. Sedangkan kamang 7 bersaudara adalah Bujakng Nyangko ( yang tertua ) tinggal dibukit samabue, Bujakng Pabaras, Saikng Sampit, Sasak Barinas, Gagar Buluh, Buluh Layu’ dan Kamang Bungsu ( dari Santulangan ). Bujakng Nyangko adalah kamang yang baik. Sedangkan yang lain terkadang baik dan terkadang jahat. Saikng sampit, Sasak Barinas, Gagar Buluh dan Buluh Layu’ adalah kamang yang sering tidak senang dan menyebabkan pada waktu itu penyakit dan kematian. Kamang Tariu dengan 7 bersaudara itu adalah pelindung dari para pengayau.

(4) ANTU. Jumlah antu ( hantu ) banyak sekali. Dalam arti tertentu, mereka kurang lebih jiwa orang mati. Antu selalu menyebabkan penyakit pada manusia, binatang maupun tumbuhan. Antu cacar menyebabkan penyakit pada manusia. Antu apat menyebabkan penyakit padi dan antu serah menyebabkan banyak tikus makan padi diladang.

Kepercayaan pada 4 tingkat makhluk supranatural inilah yang melahirkan asas-asas kehidupan mereka, yakni:

(1) PAMA. Pama artinya kekuatan yang membawa keuntungan. Pama hanya dimiliki oleh orang besar dan juga pengayau yang berhasil. Mereka mempunyai pama karena dianggap mereka mempunyai hubungan keatas, dengan jubata. Kalau orang yang mempunyai pama meninggal, pama pindah kepantak yang pada akhirnya ditempatkan dipadagi. Kata pama sendiri berasal dari bahasa sanskrit = umpama, berarti gambaran. Pantak adalah gambaran seseorang yang mempunyai pama pada waktu dia hidup.

(2) JIWA. Orang Dayak mengenal ada 7 jiwa. Yaitu :

ok5

NYAWA. Hanya manusia dan binatang yang mempunyai nyawa. Nyawa hilang waktu meninggal.

SUMANGAT. Bukan hanya manusia mempunyai sumangat, tetapi juga binatang, tanaman dan benda-benda. Ini dapat dilihat dari doa-doa persembahan yang selalu diakhir dengan memanggil kembali sumangat manusia, padi, babi, ayam, beras, emas, perak dan semua milik rumah. Sumangat dengan mudah keluar dari tempatnya. Kalau terkejut, sesudah suatu perbuatan yang berbahaya yang didampingi oleh ketakutan, sesudah memandikan anak kecil ( bahaya sumangat anak hilang bersama dengan air ). Sesudah melahirkan juga diadakan upacara nyaru’ sumangat. Cara sederhana untuk memanggil sumangat kembali : kurrr….a’ sumangat. Mimpi disebabkan oleh sumangat, karena itu sumangat berjalan. Kalau kita sebut nama seseorang, sumangatnya pasti datang dengan kita dan kita akan bertemu dengan semangat orang itu dalam mimpi. Tempat sumangat ada dalam badan. Sumangat dikembalikan dalam badan oleh dukun baliatn lewat telinga kiri. Sesudah manusia meninggal, sumangatnya tidak menjadi pidara, tetapi pergi ke subayatn. Sumangat dari orang yang dibuatkan pantak pergi ketempat pantak itu dan bergabung dengan kamang.

AYU. Tempat ayu ada dibelakang badan. Kalau ayu pergi, ayu dikembalikan dipermulaan punggung ( ka’ pungka’ balikakng ), dibawah leher. Ayu melindungi manusia dari belakang. Penyakit yang disebabkan oleh kehilangan/kepergian ayu jauh lebih parah daripada penyakit yang disebebkan oleh kepergian sumangat. Dikatakan “ lapas ayu “ atau rongko’ (sakit ayu ). Sesudah orang meninggal, ayu menjadi pidara dan tetap tinggal bersama dengan badan. Ada hubungan erat antara ayu dengan hantu. Ayu juga disebut hantu.

SUKAT. Dalam doa selalu dikatakan “ sukat nang panyakng satingi diri’ “ artinya sukat yang panjang setinggi kami sendiri. Pertama sukat menunjuk kepada satu bagian dari badan manusia, mulai dari atas kepala lewat otak ke sumsum belakang. Penyakit bisa disebabkan oleh kekurangan sukat.

BOHOL. Bohol bersifat anatomis yakni garis perut dari tulang dada ke pusat atau lebih khusus tempat dibawah tulang dada yang berdenyut. Kurang bohol atau bohol yang tidak lurus adalah sala satu sebab penyakit. “ kakurangan sukat nang manyak, kakurangan bohol nang jarakng “ demikian dukun menyebutkan sebab penyakit pasiennya. Penyakit karena kekurangan bohol terutama dialami oleh anak kecil. Dari wnaita yang sulit beranak dikatakan “ mereng bohol anak “ artinya bohol anak bayi miring. Dukun baliatn pandai mencari bohol yang hilang.

LEO BANGKULE. Leo Bangkule berarti jantung, hati, paru-paru atau semua organ dalam perut manusia. Dalam doa, leo bangkule sering diundang kembali. Bersama dengan leo bangkule selalu dikatakan : tali nyawa atau tali danatn atau tali dane. Untuk manusia, tali nyawa berarti saluran pencernaan.

NENET SANJADI. Nenet Sanjadi disebut juga saluran pernafasan ( tali sengat ), permulaan dari tali mulai dari karukok (kerongkongan ).

Manusia dayak memegang 5 prinsip kehidupan yang ditetapkan berdasarkan adat, yaitu: HIDUP HARUS TOLONG MENOLONG, HARUS HIDUP MEMPERTAHANKAN KEAMANAN RAKYAT DAN DESA, TIDAK BOLEH HIDUP TIPU-MENIPU, HARUS JUJUR DAN ADIL, DAN HARUS HIDUP SETALI SEDARAH. Bagi pelanggar 5 sumpah adat ini, maka akan diberlakukan Hukuman adat bagi manusia

Secara ringkas, Manusia Dayak yakin bahwa ada dua ruang lingkup alam kehidupan, yaitu kehidupan alam nyata dan kehidupan alam maya. Yang berada di alam kehidupan nyata ialah makhluk tak hidup, tumbuh-tumbuhan, hewan dan manusia. Sedangkan yang berada di alam kehidupan maya antara lain: Ibalis, bunyi’an, antu, sumangat urang mati, dan Jubata (Tuhan).

Kedua alam kehidupan ini dapat saling pengaruh-mempengaruhi satu dengan yang lainnya. Kekuatan supranatural yang dimiliki oleh manusia adalah salah satu contoh dari akibat tersebut di atas. Untuk menjaga keseimbangan antara kehidupan alam nyata dan kehidupan alam maya, serta untuk menata seluruh aspek kehidupan warganya, hubungan timbal-balik sesama warganya, hubungan warganya dengan alam lingkungannya, serta penciptanya/Jubata agar tetap serasi dan harmonis, nenek moyang para leluhur mereka telah menyusun secara arif dan bijaksana ketentuan-ketentuan, aturan-aturan yang harus ditaati dan dijadikan pengangan hidup bagi seluruh warganya dan warga keturunannya dari generasi ke generasi sampai kini.

Manusia Dayak dalam menjalani rutinitas kehidupannya tidak lepas dari praktek religius tradisionalnya yang diwarisi oleh para leluhurnya, terutama dalam interaksinya dengan alam lingkungannya. mereka percaya bahwa dalam usaha mendapatkan rejeki, kesehatan dan keselamatan dalam kehidupan ini tidak hanya bertumpu pada usaha kerja keras saja, tetapi juga pada harapan adanya campur tangan dari “apa” yang mereka yakini.

Hal ini dapat dilihat dari doa dalam setiap acara ritual yang disampaikan oleh penyangohotn (imam):

“BUKOTNNYO UNANG I-MANTABOK I-MAROMPOKNG ADAT ATURAN ANYIAN, IO INURUNAN AMPET I NE’ UNTE’ I KAIMANTOTN, NE’ ANCINO I TANYUKNG BUNGO, NE’ SARUKNG I SAMPURO, NE’ RAPEK I SAMPERO’, NE’ SAI I SABAKO’, NE’ RAMOTN I SAA’U, NE’ RANYOH I GANTEKNG SIOKNG. ANGKOWOLAH ANGKENYO KAMI ANAK PARUCU’E MAKE IO DAH TINGOR-KAMANINGOR, DAH PAHIYAK DAH GOEHOTN KAMI IHANE.”

Bukanlah adat dan aturan ini hasil rekayasa semata-mata, namun dia diturunkan oleh mereka (para leluhur) yang bernama Nek Unte’ yang tingggal di kaimantotn, Nek Bancino (leluhur dari etnis cina) di Tanyukng Bungo, Nek Sarukng di bukit sampuro, Nek Rapek di sungai Sapero’, Nek Sai di bukit Sabako’, Nek Ramotn di bukit saba’u Nek Ranyoh di Gantekng Siokng. Karena itu generasinya menggunakannya yang diwarisi dari generasi yang menjadi tuntutan kehidupan kami.

Dalam adat terkandung segala aturan, norma dan etika yang mengatur korelasi manusia dengan manusia, manusia dengan unsur-unsur yang non-manusia dalam sistem kehidupan ini. Ajaran tentang adat (etika) lingkungan hidup yang mengatur korelasi antara manusia dengan alam ini didasarkan pada pandangan dunia yang termuat dalam mitos-mitosnya.

Manusia Dayak memahami alam semesta (kosmos) ini sebagai suatu bentuk kehidupan bersama antara manusia dan yang non-manusia, diluar alam para Jubato (dewa) dan Awo Pamo (arwah para leluhur) yang berada di Subayotn. Bentuk kehidupan itu merupakan suatu sistem yang unsur-unsurnya terdiri dari unsur alam manusia dan alam non-manusia yang saling berkolerasi. Sistem kehidupan itu sendiri merupakan lingkungan hidup manusia dimana manusia hidup dan berkolerasi secara harmonis dan seimbang dengan unsur-unsur lain yang bukan manusia. Hubungan yang harmonis dan seimbang dalam sistem kehidupan dibangun oleh manusia melalui praktik-praktik religi.

Manusia sebagai bagian dari alam memiliki unsur-unsur alam, misalnya, udara, air, dan zat lainnya dalam dirinya. Manusia merupakan mikrokosmos (bagian dari dalam sistem alam semesta (kosmos) ini dan setiap unsur dalam sistem itu masing-masing memiliki nilai dan fungsinya yang saling mendukung dalam satu kesatuan yang harmonis dan seimbang.

Alam berkomunikasi dengan manusia antara lain melalui tanda-tanda yang diberikan. Sebaliknya bentuk komunikasi manusia dengan alam melalui praksis (tindakan nyata dan disadari) dan praktik religiusnya. Beberapa contoh bentuk pemahaman manusia sebagai bagian dari alam yang berkolerasi dalam misalnya, kematian dipahami sebagai peristiwa kembalinya dan menyatunya jasad manusia dengan alam dunia (taino) serta sengat atau ayu (jiwa) dengan Subayotn.

Saat manusia akan meninggalkan dunia, alam mengkomunikasikannya pada mnusia berupa tanda dalam bentuk suara dari sejenis mahluk alam yang disebut Tirantokng. Suara itu menyerupai bunyi sebuah parang besar beradu dengan alas kayu terjadi pada malam hari antara pukul 10.00 hingga 12.00. Tanda ini diartikan bahwa hantu telah memotong-motong badan orang itu hingga meninggal. Orang segera tahu bahwa dalam beberapa hari akan ada yang meninggal dunia di desanya atau desa sekitarnya.

Saat orang itu akan menghembuskan nafasnya yang terakhir (NGOOH), pada malam sebelumnya suara riuh rendah dari mahluk malam di rimba terdengar tidak seperti biasanya. Peristiwa ini bisa dialami oleh mereka yang menunggu durian atau berburu pada malam hari (NERENG). Orang menafsirkannya bahwa alam bersorak-sorai menyambut kedatangan manusia yang akan menyatu kembali dengannya. Tidak ada kebiasaan membersihkan dan menyembahyangi dalam kehidupanmasyarakat Dayak. Pohon-pohon dan semak dibiarkan tumbuh lebat disekitar kuburan. Masyarakat takut untuk membersihkannya karena arwah manusia yang dikubur itu akan marah dan menyakitinya.

Jenasah itu dikubur tanpa nisan. Rangkaian peristiwa kematian yang dialami dalam kehidupannya membuat masyarakat Dayak berkesimpulan bahwa MANUSIA ITU BETUL-BETUL TELAH KEMBALI DAN MENYATU DENGAN ALAM KARENA DIA SESUNGGUHNYA BERASAL DARI ALAM. MANUSIA YANG SUDAH MOMO’ (MENINGGAL DUNIA) ITU SESUNGGUHNYA TELAH KEMBALI KE BINUO (TEMPAT) ASALNYA.

Selain menjalin keakraban kepada makhluk lain yang tidak terlihat, Manusia juga perlu menjalin kerjasama erat dengan binatang sebagai sesama adalah mahluk ciptaan Tuhan. Oleh karena itu ada salah satu suku dayak yaitu Suku Dayak Ngaju menempatkan binatang pada tempat yang istimewa, antara lain:
a. Burung Tingang merupakan lambang kemasyuran dan keagungan.
b. Burung Antang (Elang) merupakan lambang keberanian, kecerdikan serta kemampuan memberikan petunjuk peruntungan baik buruk. Dalam acara ritual “menenung” atau acara “menajah antang” untuk mengetahui “Dahiang-Baya”, maka burung Antang digunakan sebagai mediator.
c. Burung Bakaka diyakini memberikan petunjuk bagi pencari ikan apakah memperoleh banyak ikan atau tidak. Demikian juga burung perintis.
d. Burung Kalajajau/ Kajajau (Murai) dianggap sebagai burung milik dewa. Memperlakukan burung Kalajajau/ Kajajau (Murai) dengan semena-mena dapat membawa malapetaka.
e. Burung Tabalului, Kangkamiak dan kulang-kulit sebagai kelompok burung hantu diyakini sebagai burung iblis.
f. Burung Bubut mampu memberikan informasi bahwa tidak alam lagi permukaan air sungai akan meluap atau terjadi banjir.
g. Tambun (ular besar / ular naga) melambangkan kearifan, kebijakan sarana, dan kekuatan.
h. Buaya sering dianggap sebagai penjelma mahluk alam bawah (jata).
i. Angui (Bunglon) diyakini sebagai perwujudan saudara Ranying Hatala Langit yang bungsu.

Meskipun binatang adalah mahluk ciptaan Tuhan dengan derajad yang lebih rendah dari pada manusia, namun manusia harus tetap menjaga keseimbangan populasinya agar supaya keseimbangan alam tetap terpelihara. Dalam kehidupan Masyarakat Dayak, adat melarang siapapun menganiaya binatang. Sebaliknya adat juga melarang manusia mempunyai hubungan yang lebih dengan binatang atau disetubuhi oleh binatang. Apabila hal itu terjadi maka orang tersebut merupakan manusia terkutuk.

Demikian sedikit uraian tentang dunia mistik Budaya Dayak. Tulisan ini hanya sebagai pintu masuk yang perlu ditindaklanjuti dengan berbagai penelitian mengingat suku Dayak tersebar di hampir seluruh Pulau Kalimantan yang luas. Kekayaan budaya spiritual dan mistik di tanah air kita memang luar biasa dan perlu terus dilestarikan, dilindungi dan  dikembangkan.

Wong Alus

Categories: DAYAK | Tags: , , , , , | 38 Komentar

PARMALIM YANG TERSINGKIR


Ini sepenggal fakta tentang perjuangan sekelompok kaum minoritas agar diakui kepercayaannya. Jauh sebelum sebelum masuknya agama monoteis, mereka telah bereksistensi.

Indonesia Religion

Penganut Parmalim jumlahnya relatif kecil. Saat ini di Kota Medan, ada sekitar 600 orang. Mereka terus gigih berjuang agar eksistensinya tidak hilang. Ironi memang, 63 tahun lamanya Indonesia merdeka dan sudah selama itu pula Undang-Undang Dasar menjamin kebebasan beragama; tapi sampai kini mereka belum bisa menikmati kemerdekaan berkeyakinan.

Tapi, semangat penganut Parmalim tidak padam. Berjuang bagi penganut Parmalim bukan hal baru. Tercatat tokoh besar yang juga menjadi penganut Parmalim adalah pahlawan nasional Raja Sisingamangaraja XII pejuang yang gigih menentang agresi Kolonial.

Sebenarnya, Undang-undang No 23 Tahun 2006 telah memberikan kesempatan kepada Parmalim untuk dicatatkan sebagai warga Negara melalui kantor catatan sipil, namun sayangnya mereka tidak diberi kesempatan menuliskan identitas sebagai Parmalim di Kartu Tanda Penduduk sehingga harus memilih beragama A, B, C, D atau E.

Nasib penganut Parmalim juga semakin tersingkir. Masyarakat khususnya Batak masih menganggap Parmalim aliran sesat. Bahkan, lembaga formal agama masih memberikan stigma buruk kepada Parmalim seperti tidak sesuai dengan jalan kebenaran Tuhan, menyembah berhala (paganisme) dan sebagainya.

Parmalim adalah kepercayaan pertama orang Batak sebelum masuknya agama lain ke kawasan Tapanuli. Pimpinan Parmalim saat ini adalah RAJA MARNANGKOK NAIPOSPOS. Mereka tak punya rumah ibadah, atau disebut dengan RUMAH PARSAKTIAN. Persembahyangan masih dilakukan di rumah salah pimpinan Parmalim.

Pada 2005 lalu, sebetulnya pengangut Parmalim berencana membangun Ruma Parsaktian di Jalan Air Bersih, Ujung Medan. Tapi rumah itu gagal dibangun karena ada penolakan dari warga sekitar.

Pembangunan Ruma Parsaktian tak ayal terbengkalai. Rumah seluas dua kali lapangan bulu tangkis itu dikotori alang-alang, di dalam dan luarnya. Tembok yang sempat dibangun sebagian rubuh. Bahkan pembangunan gedung yang sebetulnya sudah 70 persen selesai itu, sebagian atapnya sudah terlihat copot.

AJARAN-AJARAN PARMALIM.
Budaya Batak sejak dulu sudah memiliki penanggalan istimewa. Hari dihitung setiap bulan sebanyak 29 dan 30 hari yang dihitung atas dasar pengamatan terhadap “parlangitan” siklus bulan dan bintang.

Masing-masing hari beda sebutannya. Dimulai hari pertama yaitu… 1. Artia 2. Suma 3. Anggara 4. Muda 5. Boraspati 6. Singkora 7. Samisara 8. Artia ni Aek 9. Suma ni Mangadop 10.Anggara Sampulu 11. Muda ni mangadop dan seterusnya.

Bulan terakhir setiap tahun dinamai HURUNG (KURUNG) dan hari ke 29 setiap bulan juga disebut Hurung. Setiap hari “hurung” setiap bulannya biasanya dihindari kegiatan yang diharapkan akan berkembang, misalnya menjemput ternak untuk peliharaan, tabur benih, melakukan acara pengesahan perkawinan dan sebagainya.

Mereka biasanya melakukan pendekatan terhadap TUHAN atau disebut DEBATA MULAJADI NABOLON yang artinya pencipta Manusia, Langit, Bumi dan segala isi alam semesta.

Pendekatan terhadap Tuhan biasanya memuncak pada akhir bulan saat dilaksanakan pensucian diri. Setiap bulannya pada hari “hurung” ini manusia akan “ringkar” artinya keluar dari keterkungkungan.

Pada setiap akhir tahun mendapat perhatian yang lebih khusus. Umumnya kegiatan secara total dihentikan. Tidak melakukan tanam benih, tidak melakukan transaksi dagang, tidak saling memberi dan menerima sesuatu barang untuk usaha pengembangan. Tidak melakukan “parhataan” pembahasan atas semua aspek kehidupan bersama. Mereka melakukan kegiatan sendiri, menyendiri dalam kegiatan satu keluarga. Mereka membatasi diri dari hubungan duniawi. Hal ini disebut “MARSOLAM DIRI”, membatasi diri dari hal keduniaan.

Tujuan hidup manusia adalah menuju kepada TUHAN, “SUNDUNG NI HANGOLUAN” adalah ujung dari tujuan kehidupan. Arti kehidupan digambarkan dengan “HARIARA SUNDUNG DILANGIT” yang biasa diukirkan pada sisi rumah Batak, yang mengartikan pohon kehidupan yang tajuknya semakin mengerucut kearah “atas” sebagai simbol keberadaan.

Sejak tahun 1910, penganut Parmalim memperingati “NAPAET”. Napaet arti harafiahnya adalah gabungan dari tumbuhan yang mengandung pahit, asam, pedas, kelat dan asin.

Napaet adalah simbol penderitaan para pengikut Parmalim. Napaet juga merupakan upaya mereka menegakkan hukum kebenaran. Dua bagian pengertian khusus Napaet.

Pertama , karena kesetiaannya mengikuti ajaran Parmalim sehingga sering mengalami penindasan oleh orang-orang disekitarnya, terfitnah dan dituding “sesat”. Kedua, adalah akibat dari kesalahannya sendiri terhadap hukum yang telah ditegakkan parmalim, yang melakukan tindakan yang dapat merusak keutuhan alam semesta dan tatanan kemanusiaan. Ini disebut “dosa”.

Dosa harus dimohonkan pengampunan kepada Tuhan pada akhir tahun, bulan dan hari hurung. Napaet dijalani dengan berpuasa. Tidak mengkonsumsi makanan 24 jam sehingga perilaku ini disebut “MARSOLAM DIRI”, atau membatasi diri dari tuntutan duniawi.

Setelah puasa, hari berikutnya adalah melaksanakan “RINGKAR” menerima anugerah Tuhan berupa ampunan. Pada hari itu penganut Parmalim mengkonsumsi “MANGAN NATONGGI”. Yaitu makanan makanan yang manis-manis secara bersama-sama untuk mengekspresikan kebahagiaan.

Hari Raya Batak adalah PAMELEON BOLON. Yang artinya mengucap syukur Kepada MULAJADI NABOLON atas anugrah sepenjang tahun yang diberikan. Yaitu pada bulan “SIPAHAOPAT” saat penduduk sudah selesai memetik hasil panen. Persembahan akbar disiapkan. Raja lah yang menetapkan hari raya tersebut. Makanan yang dihidangkan di antaranya: Kerbau pilihan yang memiliki empat pusar dan tanduk melingkar, gemuk dan tegar.

Pada saat itu, tokoh agama menghaturkan rasa terima kasih kepada MULAJADI NABOLON menghaturkan sembah, mengucap syukur atas anugrah sepenjang tahun. Kaum parmalim menghantar sajian yang ditata diatas “LANGGATAN” altar persembahan. Diiringi tarian berirama musik tradisi.

KESIMPULAN
Parmalim adalah kepercayaan asli etnis Batak yang hingga kini masih eksis. Kepercayaan asli etnis Batak itu, sangat dekat hubungannya dengan tradisi dan simbol-simbol agama. Parmalim bisa jadi merupakan ajaran yang usianya sudah ribuan tahun dan mengalami asimilasi dan difusi dengan agama-agama lain.

Tercatat saat ini penganut kepercayaan Parmalim memiliki 360 orang dukun yang berfungsi sebagai pembawa upacara keagamaan. Dari 360 dukun itu, separuh di antaranya (180 orang) menggunakan bacaan pembuka dan penutup mantra (tabas). Pembukaan mantra di antaranya; “BINSUMILLAH DIRAKOMAN DIRAKOMIN” dan penutupnya “YASA YASU YAUSA.”

Dalam sejarah disebutkan Raja pertama beretnis Batak bernama Raja Makoeta atau Raja Manghuttal bergelar Sisingamangaraja I yang berkuasa sekira tahun 1550 M. Kekuasaannya hingga ke Aceh dan Minangkabau. Sisingamangaraja I merupakan kemenakan Raja Uti, penguasa Barus. Raja Makoeta merupakan panglima Raja Uti ketika melawan Portugis yang hendak menguasai Barus.

Sisingamangaraja I itu mendirikan kerajaan baru berpusat di Bakkara. Antara Barus dan Bakkara terjadi hubungan persahabatan yang erat. Itu ditandai dengan dibuatnya jalan menghubungkan kedua kerajaan itu.

Dalam menjalankan pemerintahannya Sisingamangaraja I berpedoman pada sejumlah pegangan spiritual bernuansa monotheistis. Misalnya, menyucikan diri, tidak memakan darah dan daging yang tidak disembelih (mate garam). Tidak menenggak minuman yang memabukkan.

Ada beberapa alasan kenapa Parmalim harus menghadapi tekanan keras yang membuat kepercayaan asli itu kian meredup. Pertama, keyakinan monotheisme Parmalim sangat bertolak belakang dengan keyakinan mayoritas etnis Batak modern.
Kedua, kebijakan pemerintah dan agama-agama yang mendominasi di tanah air tidak memberi ruang bagi eksistensi berbagai aliran kepercayaan yang ada, menyebabkan Parmalim dan kepercayaan lainnya terpinggirkan.

Sebagai sebuah warisan budaya spiritual masa lalu di negeri ini, Parmalim seharusnya dipandang sama dengan aliran-aliran kepercayaan yang ada. Berilah ruang lebih terbuka kepada penganut Parmalim menunjukkan eksistensinya di tengah pergaulan antar pemeluk agama. Semestinya toleransi beragama diberikan kepada semua keyakinan, agar tidak muncul prasangka toleransi beragama digunakan untuk kepentingan sempit agama tertentu saja.

Wong Alus

Categories: PARMALIM | Tags: , , , | 10 Komentar

BALI, MOKSALAH KEMBALI


OM, OM OM BHUR BHUWAH SWAH,
TAT SAWITUR WARENYAM,
BHARGO DEWASYA DHIMAHI,
DHIYO YO NAH PRACHODAYAT

Ya Hyang Widhi yang menguasai ketiga dunia ini,
Yang Maha Suci dan Sumber Segala Kehidupan, Sumber Segala Cahaya, Limpahkan pada Budi Nurani kami Penerangan Sinar Cahaya-Mu Yang Maha Suci.

bedugul

Damai dan hening, bebas dari hiruk pikuk polusi duniawi saat meditasi di Pulau Dewata kali ini. Perjalanan melintasi lautan yang membiru, yang kadang tenang membisu kadang pula berdebur sangar memekik garang menghempaskan karang-karang ego sampai luluh dalam tangis penuh kesadaran: Betapa kecilnya kita di tengah alam dan sesama ciptaan Sang Hyang Widi.

Betapa rindu kita akan belai kasih mesra Tuhan. Betapa banyak kasih-Nya yang terlewatkan sia-sia dalam pergumulan hidup kita sehari-hari, sebanyak riak gelombang yang tiada pernah berhenti detik demi detik, dalam ada maupun ketiadaan yang kita alami. Terus mengalir dalam irama pandangan maupun di luar pandangan kita.

Berhentilah sesaat di pura. Pura adalah penanda arah para perjalan spiritual. Terletak di hampir semua pelosok pulau yang dipangku alam yang hijau asri dalam masa penghujan, dan kering menyengat di musim kemarau. Namun demikian, tidaklah sedemikian terasa bedanya dalam naungan kesejukan yang kita rasakan dalam pelukan wibawa dari waktu ke waktu.

Bersujudlah memuja Sang Hyang Widi dan mintalah ampunan. Dia akan memberi petunjuk nyata berupa cermin hidup: tentang kegalauan ambisi, nafsu, emosi, dan hiruk-pikuknya keinginan hidup kita. Perhatikan tingkah yang diperagakan oleh monyet yang kita temui. Tepat seperti itulah ulah kita dalam pandangan Yang Maha Penimbang. Semakin banyak tingkah monyet yang menyesakkan dada, berarti semakin banyak pula yang harus kita sadari, dan kita benahi dalam hidup kita ini. Betapa marahnya murka Tuhan melihat ulah kita, seandainya beliau tidak lagi Maha Pengampun. Berserah dirilah ke hadapan Tuhan, hai manusia sombong!

Pohon-pohon yang rindang dengan akar-akar menjulur, burung-burung yang bersarang nyaman, klarap, bajing berloncatan, kera yang menyusui anaknya adalah fakta. Manusia yang masih percaya bahwa di sebuah pohon itu ada penunggu dan penjaga menjadi sebab kenapa di sana orang tidak gampang menebang dan memangkasnya. Setiap pojok ruang dan wilayah ada makhluk halus yang tidak perlu dimusuhi namun dijadikan teman akrab. Manusia tidak semena-mena melanggar karma, menginjak bumi dengan serakah akan menjadikan bumi tetap hijau dan hutan terjaga, menjadi paru-paru dunia. Seandainya Seluruh Indonesia seperti Bali, alangkah indahnya.

Benar, tidak seluruh petak di Bali ideal. Ada banyak titik yang kini sudah tidak lagi memegang prinsip-prinsip yin-yang tersebut. Meskipun masih ditutupi oleh kain hitam dan putih, namun aroma komersialisasi dan kapitalisasi budaya, adat dan eksotisme alamnya, gaya hidup hedonistik yang serta materialistik tidak terelakkan. Kehadiran mall, ruang-ruang wisata yang tidak berakar dari jati diri Bali akan mengganggu harmoni alam bali yang religius dan magis. Bali, oleh karenanya harus berjuang agar bisa mengembalikan ruh leluhur serta nenek moyang aslinya.

Kenapa manusia Bali bisa harmoni dengan alam, sementara di belahan tanah perdikan nusantara yang lain tidak? Marilah kita berkontemplasi sejenak. Inilah manusia yang sentral sebab sumber kerusakan alam. Manusia yang memahami, menghayati, meresapi dan melaksanakan ajaran Sangkan Paran pasti menjadi sumber kemakmuran. Bukan sebaliknya, menjadi sumber bencana.

Manusia Bali percaya bahwa ada tiga keyakinan yang perlu dihayati untuk mencapai tujuan hidup yang disebut JAGADHITA dan MOKSA. Tiga keyakinan tersebut adalah: TATTWA (FILSAFAT), SUSILA (ETIKA), dan UPACARA-YADNYA

Tattwa bermula dari pencarian kebenaran yang hakiki perjalanan hidup manusia. Tattwa diserap sepenuhnya oleh pikiran manusia melalui beberapa cara dan pendekatan yang disebut PRAMANA. Ada tiga cara pokok yang disebut TRI PRAMANA. Tri Pramana ini, menyebabkan akal budi dan pengertian manusia dapat menerima kebenaran hakiki sehingga berkembang menjadi keyakinan dan kepercayaan baik nyata maupun abstrak yang meliputi:

AGAMA PRAMANA adalah suatu ukuran atau cara yang dipakai untuk mengetahui dan meyakini sesuatu dengan mempercayai ucapan-ucapan kitab suci, karena sering mendengar petuah- petuah dan ceritera para guru, Resi atau orang- orang suci lainnya.

Ceritera- ceritera itu dipercayai dan diyakini karena kesucian batin dan keluhuran budi dari para Maha Resi itu. Apa yang diucapkan atau diceriterakannya menjadi pengetahuan bagi pendengarnya. Misalnya: Guru ilmu pengetahuan alam berceritera bahwa di angkasa luar banyak planet- planet, sebagaimana juga bumi berbentuk bulat dan berputar. Setiap murid percaya kepada apa yang diceriterakan gurunya, oleh karena itu tentang planet dan bumi bulat serta berputar menjadi pengetahuan yang diyakini kebenarannya, walaupun murid- murid tidak pernah membuktikannya.

Demikianlah manusia Bali meyakini Sang Hyang Widhi Wasa berdasarkan kepercayaan kepada ajaran Weda, melalui penjelasan- penjelasan dari para Maha Resi atau guru- guru agama, karena sebagai kitab suci manusia Bali memang mengajarkan tentang Tuhan itu demikian.

ANUMANA PRAMANA
Anumana Pramana adalah cara atau ukuran untuk mengetahui dan meyakini sesuatu dengan menggunakan perhitungan logis berdasarkan tanda- tanda atau gejala- gejala yang dapat diamati. Dari tanda- tanda atau gejala- gejala itu ditarik suatu kesimpulan tentang obyek yang diamati tadi. Cara menarik kesimpulan adalah dengan dalil sebagai berikut: YATRA YATRA DHUMAH, TATRA TATRA WAHNIH: Di mana ada asap di sana pasti ada api.

Contoh lain: Apabila kita memperhatikan sistem tata surya yang harmonis, di mana bumi yang berputar pada sumbunya mengedari matahari, begitu pula bulan beredar mengelilingi matahari pada garis edarnya, tidak pernah bertabrakan, begitu teratur abadi. Kita lalu menjadi kagum dan berpikir bahwa keteraturan itu tentu ada yang mengatur, the force of nature yaitu Sang Hyang Widhi Wasa.

PRATYAKSA PRAMANA
Pratyaksa Pramana adalah cara untuk mengetahui dan meyakini sesuatu dengan cara mengamati langsung terhadap sesuatu obyek, sehingga tidak ada yang perlu diragukan tentang sesuatu itu selain hanya harus meyakini. Misalnya menyaksikan atau melihat dengan mata kepala sendiri, kita jadi tahu dan yakin terhadap suatu benda atau kejadian yang kita amati. Untuk dapat mengetahui serta merasakan adanya Sang Hyang Widhi Wasa dengan pengamatan langsung haruslah didasarkan atas kesucian batin yang tinggi dan kepekaan intuisi yang mekar dengan pelaksanaan yoga samadhi yang sempurna.

Pandangan hidup masyarakat Bali mendidik umatnya untuk yakin akan adanya kemahaagungan Sang Hyang Widhi Wasa. Tuhan merupakan sumber segala yang ada di alam ini baik yang tampak nyata maupun yang abstrak (sekala – niskala). Tuhan berada di mana-mana dan mengatasi segala keadaan, ada tanpa diadakan atau ada karena mengadakan dirinya sendiri (Wibhu Sakti), Maha Pencipta (Krya Sakti), dan maha mengetahui segala- galanya (Jnana Sakti). Brahman adalah Maha Esa, oleh karena itu manusia Bali berkeyakinan Monotheisme.

Dalam menguasai alam semesta Tuhan Yang Maha Esa dikenal dalam berbagai manifestasi sesuai fungsi dan kemahakuasaan- Nya yang disebut DEWA. Dewa berasal dari kata Sanskerta DIW yang artinya Sinar). Di dalam Reg Weda termaktub sbb: EKAM SAT WIPRA BAHUDA WADANTI, AGNIM YAMAM MATARISWANAM yang artinya Tuhan itu hanya satu adanya, namun disebut para Resi dengan berbagai nama seperti: AGNI, YAMA, MATARISWAN.

Di dalam Upanishad disebutkan EKAM EWA ADWITYAM BRAHMAN Tuhan itu hanya satu tidak ada duanya. Narayana Upanishad. NARAYANAD NA DWITYO ‘ASTI KASCIT. Narayana tidak ada dua- Nya yang hamba hormati.

Banyak gelar yang biasa dipakai manusia Bali kepada Tuhan Yang Maha Esa, misalnya: SANG HYANG PARAMESWARA (RAJA TERMULIA), PARAMA WISESA (MAHA KUASA), JAGAD KARANA (PENCIPTA ALAM) dan lain- lainnya. SEBAGAI PENCIPTA Ia bergelar BRAHMA, sebagai PEMELIHARA dan PELINDUNG disebut WISNU dan dalam fungsi atau kekuasaan- Nya MENGEMBALIKAN SEGALA ISI ALAM INI KEPADA SUMBER ASALNYA (PRALINA) Ia bergelar SIWA.

Dalam ketiga perwujudan inilah TUHAN YANG SATU disebut TRI MURTI.

SIFAT – SIFAT TUHAN
sifat- sifat Tuhan disebut Asta Sakti atau Astaiswarya yang artinya delapan sifat kemahakuasaan Tuhan.
1. HANA ANIMA NGARANYA/ Kesaktian Tuhan yang disebut Anima. “Anu” yang berarti “atom”. Anima dari Astaiswarya, ialah sifat yang halus bagaikan kehalusan atom yang dimiliki oleh Sang Hyang Widhi Wasa.
2. HANA LAGHIMA NGARANYA/Kesaktian Tuhan yang disebut Laghima. Laghima berasal dari kata “Laghu” yang artinya ringan. Laghima berarti sifat- Nya yang amat ringan lebih ringan dari ether.
3. HANA MAHIMA NGARANYA/Kesaktian Tuhan yang disebut Mahima. Mahima berasal dari kata “Maha” yang berarti Maha Besar, di sini berarti Sang Hyang Widhi Wasa meliputi semua tempat. Tidak ada tempat yang kosong (hampa) bagi- Nya, semua ruang angkasa dipenuhi.
4. HANA PRAPTI NGARANYA/Kesaktian Tuhan yang disebut Prapti. Prapti berasal dari “Prapta” yang artinya tercapai. Prapti berarti segala tempat tercapai oleh- Nya, ke mana Ia hendak pergi di sana Ia telah ada.
5. HANA PRAKAMYA NGARANYA/Kesaktian Tuhan yang disebut Prakamya/ Prakamya berasal dari kata “Pra Kama” berarti segala kehendak- Nya selalu terlaksana atau terjadi.
6. HANA ISITWA NGARANYA/Kesaktian Tuhan yang disebut Isitwa/ Isitwa berasal dari kata “Isa” yang berarti raja, Isitwa berarti merajai segala- galanya, dalam segala hal paling utama.
7. HANA WASITWA NGARANYA/Kesaktian Tuhan yang disebut Wasitwa. Wasitwa berasal dari kata “Wasa” yang berarti menguasai dan mengatasi. Wasitwa artinya paling berkuasa.
8. HANA YATRAKAMAWASAYITWA NGARANYA/ Kesaktian Tuhan yang disebut Yatrakamawasayitwa Yatrakamawasayitwa berarti tidak ada yang dapat menentang kehendak dan kodrat- Nya.

Kedelapan sifat keagungan Sang Hyang Widhi Wasa ini, disimbulkan dengan singgasana teratai (padmasana) yang berdaun bunga delapan helai (astadala). Singgasana teratai adalah lambang kemahakuasaan- Nya dan daun bunga teratai sejumlah delapan helai itu adalah lambang delapan sifat agung/ kemahakuasaan (Astaiswarya) yang menguasai dan mengatur alam semesta dan makhluk semua.

ATMAN
ATMAN adalah merupakan percikan- percikan kecil (halus) dari BRAHMAN/ Sang Hyang Widhi Wasa yang berada di dalam setiap makhluk hidup. Atman di dalam badan manusia disebut: JIWATMAN yaitu yang menghidupkan manusia. Hubungan atman dengan badan ini ibarat bola lampu dengan listrik. Bola lampu tidak akan menyala tanpa listrik, demikian pula badan jasmani takkan hidup tanpa atman.

ATMAN itu menghidupkan sarwa prani (makhluk di alam semesta ini). Indra manusia tak dapat bekerja bila tak ada atman. Misalnya telinga tak dapat mendengar bila tak ada atman, mata tak dapat melihat bila tak ada atman, kulit tak dapat merasakan bila tak ada atman. Atman itu berasal dari Sang Hyang Widhi Wasa, bagaikan matahari dengan sinarnya. Sang Hyang Widhi Wasa sebagai matahari dan atma- atma sebagai sinar- Nya yang terpencar memasuki dalam hidup semua makhluk.

Di dalam kitab Bhagavad-Gita terdapat penjelasan tentang sifat- sifat atma. Secara singkat sifat- sifat atma itu sebagai berikut:

Achedya=tak terlukai oleh senjata
Adahya=tak terbakar oleh api
Akledya=tak terkeringkan oleh angin
Acesyah=tak terbasahkan oleh air
Nitya=abadi
Sarwagatah=di mana- mana ada
Sthanu=tak berpindah- pindah
Acala= tak bergerak
Sanatana=selalu sama
Awyakta=tak dilahirkan
Acintya=tak terpikirkan
Awikara=tak berubah dan sempurna tidak laki- laki ataupun perempuan.

Atma itu mengatasi segala elemen materi, kekal abadi, dan tidak terpikirkan. Oleh karenanya atma itu tidak dapat menjadi subyek maupun obyek dan tindakan atau pekerjaan. Dengan perkataan lain atma itu tidak terkena oleh akibat perubahan- perubahan yang dialami pikiran, hidup, dan badan jasmani. Semua bentuk ini bisa berubah, datang, dan pergi, tetapi atma itu tetap langgeng untuk selamanya.

KARMAPHALA
Karmaphala terdiri dari dua kata yaitu KARMA dan PHALA, berasal dari bahasa Sanskerta. “Karma” artinya perbuatan dan “Phala” artinya buah, hasil, atau pahala. Jadi Karmaphala artinya hasil dari perbuatan seseorang.

Kita percaya bahwa perbuatan yang baik (subha karma) membawa hasil yang baik dan perbuatan yang buruk (asubha karma) membawa hasil yang buruk. Jadi seseorang yang berbuat baik pasti baik pula yang akan diterimanya, demikian pula sebaliknya yang berbuat buruk, buruk pula yang akan diterimanya. Karmaphala memberi keyakinan kepada kita untuk mengarahkan segala tingkah laku kita agar selalu berdasarkan etika dan cara yang baik guna mencapai cita- cita yang luhur dan selalu menghindari jalan dan tujuan yang buruk.

Phala dari karma itu ada tiga macam yaitu:
1. SANCITA KARMAPHALA/Phala dari perbuatan dalam kehidupan terdahulu yang belum habis dinikmati dan masih merupakan benih yang menentukan kehidupan kita sekarang.
2. PRARABDA KARMAPHALA/Phala dari perbuatan kita pada kehidupan ini tanpa ada sisanya lagi.
3. KRIYAMANA KARMAPHALA/Phala perbuatan yang tidak dapat dinikmati pada saat berbuat sehingga harus diterima pada kehidupan yang akan datang.

Dengan pengertian tiga macam Karmaphala itu maka jelaslah, cepat atau lambat, dalam kehidupan sekarang atau nanti, segala pahala dari perbuatan itu pasti diterima karena sudah merupakan hukum. Karmaphala mengantarkan roh (atma) masuk Surga atau masuk neraka. Bila dalam hidupnya selalu berkarma baik maka pahala yang didapat adalah Surga, sebaliknya bila hidupnya itu selalu berkarma buruk maka hukuman nerakalah yang diterimanya. Dalam pustaka- pustaka dan ceritera- ceritera keagamaan dijelaskan bahwa Surga artinya alam atas, alam suksma, alam kebahagiaan, alam yang serba indah dan serba mengenakkan. Neraka adalah alam hukuman, tempat roh atau atma mendapat siksaan sebagai hasil dan perbuatan buruk selama masa hidupnya. Selesai menikmati Surga atau neraka, roh atau atma akan mendapatkan kesempatan mengalami penjelmaan kembali sebagai karya penebusan dalam usaha menuju Moksa.

SURGA DAN NERAKA.
Segala baik buruk kegiatan (SUBHA KARMA ATAU ASUBHA KARMA) akan membawa akibat tidak saja di dalam hidup sekarang ini tetapi juga di akhirat (Surga dan neraka). Setelah ATMA (roh) dengan SUKSMA SARIRA (badan astral) terpisah dari STULA SARIRA (badan wadag) dan membawa akibat pula dalam penjelmaan yang akan datang (PUNARBHAWA), maka atma bersama dengan suksma sariranya bersenyawa lagi dengan stula sarira. Sang Hyang Widhi Wasa menghukumnya dengan hukum yang bersendikan Dharma. Dan Dia akan merahmati atma seseorang yang berjasa dan yang melakukan amal kebajikan yang suci (subha karma) dan Diapun akan mengampuni atma seseorang yang pernah berbuat dosa, bila ia tobat dan tawakal serta tidak akan melakukan dosa lagi.

Tuhan Yang Maha Tahu bergelar YAMADIPATI (PELINDUNG AGUNG HUKUM KEADILAN) yang selalu menjatuhi hukuman kepada atma yang tiada henti- hentinya melakukan kejahatan atau dosa dan memasukkannya ke dalam neraka. Di sini atma itu menerima hasil perbuatannya berupa neraka. Adapun penjelmaan atma semacam ini adalah sangat nista dan derajatnya pun semakin merosot, jika ia selalu berbuat jahat.

PUNARBHAWA / SAMSARA
Kata punarbhawa terdiri dari dua kata Sanskerta yaitu punar (lagi) dan bhawa (menjelma). Jadi Punarbhawa ialah keyakinan terhadap kelahiran yang berulang-ulang yang disebut juga penitisan atau samsara. Dalam Pustaka suci Weda tersebut dinyatakan bahwa penjelmaan jiwatman berulang- ulang di dunia ini atau di dunia yang lebih tinggi disebut samsara. Kelahirannya yang berulang- ulang ini membawa akibat suka dan duka. Punarbhawa atau samsara terjadi oleh karena jiwatman masih dipengaruhi oleh WISAYA dan AWIDYA sehingga kematiannya akan diikuti oleh kelahiran kembali.

Dalam Bhagavad-Gita Sang Krisna berkata: Wahai Arjuna, kamu dan Aku telah lahir berulang- ulang sebelum ini, hanya Aku yang tahu sedangkan kamu tidak, kelahiran sudah tentu akan diikuti oleh kematian dan kematian akan diikuti oleh kelahiran. Segala perbuatan ini menyebabkan adanya bekas (wasana) pada jiwatma. Bekas- bekas perbuatan (karma wasana) itu ada bermacam- macam, jika yang melekat bekas- bekas keduniawian maka jiwatman akan lebih cenderung dan gampang ditarik oleh hal- hal keduniawian sehingga jiwatman itu lahir kembali.

MOKSA
Tujuan hidup manusia Bali, ialah mendapatkan kebahagiaan lahir dan batin (moksartham jagadhita). KEBAHAGIAAN BATIN YANG TERTINGGI IALAH BERSATUNYA ATMAN DENGAN BRAHMAN YANG DISEBUT MOKSA. Moksa atau mukti atau nirwana berarti kebebasan, kemerdekaan atau terlepas dari ikatan karma, kelahiran, kematian, dan belenggu maya/ penderitaan hidup keduniawian. Moksa adalah tujuan terakhir bagi manusia Bali.

Dengan menghayati dan mengamalkan ajaran hidup dalam kehidupan sehari- hari secara baik dan benar, misalnya dengan menjalankan sembahyang batin dengan menetapkan CIPTA (DHARANA), memusatkan CIPTA (DHYANA) dan mengheningkan CIPTA (SEMADHI), manusia berangsur- angsur akan dapat mencapai tujuan hidupnya yang tertinggi ialah bebas dari segala ikatan keduniawian, untuk mencapai bersatunya Atman dengan Brahman.

Kebebasan yang sulit dicapai bila banyak makhluk akan lahir dan mati serta hidup kembali tanpa kemauannya sendiri. Akan tetapi masih ada satu yang tak tampak dan kekal, tiada binasa dikala semua makhluk binasa. Nah, yang tak tampak dan kekal itulah harus menjadi tujuan utama supaya tidak lagi mengalami penjelmaan ke dunia, tetapi mencapai tempat Brahman yang tertinggi.

Jika kita selalu ingat kepada Brahman, berbuat demi Brahman maka tak usah disangsikan lagi kita akan kembali kepada Brahman. Untuk mencapai ini orang harus selalu berusaha, berbuat baik sesuai dengan pandangan hidupnya yang menjelaskan bagaimana caranya orang melaksanakan pelepasan dirinya dari ikatan maya agar akhirnya Atman dapat bersatu dengan Brahman. Penderitaan dapat dihilangkan dan dunia ini tidak dianggap sebagai hukuman, tetapi sebaliknya sebagai penolong sesama manusia sebagai AWATARA atau AVATAR.

OM SANTI, SANTI, SANTI OM
Semoga damai dihati, damai didunia, damai selalu.

wong alus

Categories: MOKSA | Tags: , , , | 18 Komentar

HAKIKAT SUWUNG


Suatu ketika, saya ingin membuat blog yang isinya tentang puncak-puncak pengetahuan metafisis tertinggi, ilmu-ilmu ketuhanan yang abstrak hasil kontemplasi (perenungan) dan juga hasil meditasi. Blog pun sudah jadi yaitu www.suwung.wordpress.com. Namun, anehnya untuk mengisi blog tersebut, jari tangan ini sangat berat untuk digerakkan. Otak pun terasa malas berpikir. Sampai akhirnya, saya memutuskan untuk menutup saja domain blog tersebut karena hingga akhir hidupnya, blog itu tidak ada isinya sama sekali alias benar-benar SUWUNG.

96714main_DiskPreBurst_lg_web

Hingga suatu ketika, ada salah seorang pengunjung blog wongalus, Ibu/Mbak Annie Soebardjo meminta untuk menulis tentang wacana SUWUNG ini. Saya pun menduga, pasti apa yang dialami oleh Ibu Annie sangat luar biasa sehingga memerlukan sebuah penjelasan yang gamblang. Sebab kondisi SUWUNG susah diungkapkan dengan kalimat-kalimat sederhana.

Biasanya banyak para ahli hidup yang sudah sampai ke tahap SUWUNG ini hanya menuliskan puncak pengalaman mistis spiritual ini dalam bentuk puisi. Kalau disampaikan dalam kalimat-kalimat, sebagaimana yang saya sampaikan kali ini pasti akan mengelami reduksi makna. Padahal, SUWUNG tidak bisa dibahasakan secara sederhana dalam beberapa larik kalimat. Tapi, apakah SUWUNG itu dengan begitu tidak bisa dikomunikasikan?

Hampir semua wacana tentang dunia mistik termasuk sulit dicerna. Kadar keilmiahannya pun terkadang terabaikan lantaran sudah berada ditaraf yang lebih tinggi daripada akal. MISTIK dalam pengertian ini bermakna sebuah perjalanan ruhaniah untuk menggapai kebenaran final total dan eternal. Itu sebabnya, pengalaman mistik seseorang yang sampai menerobos kebenaran mutlak hampir pasti akan melewati tahapan syariat, hukum atau aturan-aturan agama manapun. Para pejalan ruhani akan bertemu dalam satu titik meskipun di awal-awal perjalanan mereka menggunakan “jubah” Islam, Kristen, Protestan, Budha, Hindu, Kong Hu Cu, Taosime, kepercayaan lain-lain.

Mereka yang berjalan terus dalam perjalanan ruhani akan mengalami hal-hal yang mistis dan tidak terduga. Pasti masing-masing orang akan berbeda pengalaman mistisnya sesuai dengan sosio kultural tempat dia mengolah hidup. Pengalaman mistis Jalaluddin Rumi akan berbeda dengan Ronggowarsito, akan berbeda pula pengalaman mistis Al Ghazali dengan Paus Yohanes Paulus. Itu sudah menjadi hukum sejarah kemanusiaan, bahwa setiap manusia ditakdirkan untuk unik, eksistensial dan pasti tidak sama antara satu dengan yang lain.

Salah satu karya mistis yang sangat populer dalam budaya Jawa adalah SERAT DEWA RUCI. Di serat itu, kita bisa menemukan sebuah proses perjalanan ruhani setinggi-tingginya. Pertemuan EKSISTENSI dengan ESENSI, yang juga dikenal sebagai NGLURUH SARIRA atau RACUT, yaitu MENCAIR dan MELAUT.

Transformasi BIMA ke BIMA SUCI , atau pertemuan BIMA dengan jati dirinya (DEWA RUCI), dalam khasanah agama hal ini sama dengan pertemuan MUSA A.S dengan KHIDIR A.S. Hasilnya adalah KESADARAN KOSMIS, KESATUAN LAHIR-BATIN, AWAL-AKHIR.

Tokoh yang menurut saya berhasil membuat anyaman mistik luar biasa di dalam sejarah Jawa adalah Panembahan Senopati. Dia adalah personifikasi tahapan pemahaman tertinggi yaitu MANGGALIH artinya mengenai SOAL-SOAL ESENSIAL, setelah MANAH artinya membidik anak panah mengenai soal-soal problematis di Jantung Kehidupan, Pusat Lingkaran yang dikenal sebagai JANGKA.

Tingkat ini dipersonifikasikan oleh KI AGENG PEMANAHAN. Adapun tingkat sebelumnya mengenai JANGKAH yang masih di aras NALAR dipersonifikasikan dengan KI AGENG GIRING.

Panembahan Senopati adalah pakarnya SUWUNG, setelah mampu mengolah ILMU-ILMU KETUHANAN sedemikian hingga dia mampu MENCAIRKAN DIRINYA DALAM SUWUNG YANG SEJATI. Jimat andalan Panembahan Senopati adalah ILMU MELAUT KE LAUTAN ILMUNYA YANG TIADA BERHINGGA.

Saben mendra saking wisma,
Lelana laladan sepi,
Ngisep sepuhing sopana,
Mrih pana pranaweng kapti

Setiap kali keluar rumah
wisata ke wilayah sunyi sepi (SUWUNG)
menghirup nafas kerokhanian
agar arif kebulatan awal akhir

Bagaimana kita menjelenterehkan makna SUWUNG? Jelaslah yang dimaksud dengan KELUAR RUMAH di situ adalah OUT OF BODY: Keluar dari wilayah jasmani, masuk ke alam misal, menggapai sadar ruhani—SESUNGGUHNYA HANYA RUH- MANUSIALAH YANG MEMAHAMI RUH-NYA.

Nah, inilah sebabnya kenapa akal kita tidak mampu untuk menjangkau apalagi menceriterakan pesona SUWUNG yang memang sangat luar biasa. Begitu luar biasanya sehingga akal kita tidak akan mampu menuliskannya. Hal ini sepadan dengan apa yang dipikirkan oleh MUSA saat melihat pertanda TAJALLI ILAHI di Bukit Sinai? MUSA jatuh tersungkur tidak sadarkan diri. Itulah momentum EKSTASE seorang hamba Tuhan dalam mengarungi pengalaman spiritual.

SUWUNG adalah sebuah pengalaman mistis, spiritual yang berada pada puncak intuisi yang efektif dan transendental. Ini hanya bisa dialami apabila seseorang itu menggeser SEMESTA KESADARANNYA DARI YANG INDERAWI MENUJU KE ATASNYA. Dalam SUWUNG itulah, dunia inderawi ditinggalkan dan digantikan oleh SEMESTA yang lain, sehingga SAMPAI PADA SATU TITIK KESEIMBANGAN SEMUA DIMENSI DI JAGAD RAYA.

Fariuddin at Tar, sufi agung, menjelaskan tahapan agar sampai di SUWUNG tadi dalam tujuh lembah yaitu: LEMBAH PENCARIAN, LEMBAH CINTA, LEMBAH KEINSYAFAN, LEMBAH PEMEBEBASAN, LEMBAH EKSTASE, LEMBAH TAKJUB dan terakhir LEMBAH FANA FI ILAH.

LEMBAH PENCARIAN adalah saat seseoran mencari unsur-unsur ketuhanan dalam dirinnya, gelombang getar khusus akhirnya ditemukan dan dia pun mengaku sebagai HAMBA TUHAN/KAWULA GUSTI. LEMBAH CINTA yaitu Yang Dicari sudah ketemu dan bersenyawa diri dengan SANG KEKASIH sehingga dia masuk ke LEMBAH KEINSYAFAN. Berikutnya adalah LEMBAH PEMBEBASAN yaitu berada di “TANAH SUCI” dan sudah tanpa diri yang beralaskan kaki apapun. Berikutnya adalah EKSTASE atau JATUH TERSUNGKUR, SUJUD PENUH SYUKUR. Lembah berikutnya adalah LEMBAH KETAKJUBAN yaitu kemana pun wajah kita tertuju, di sana yang tampak dalah WAJAH-NYA. Akhirnya orang pun akan sampai ke LEMBAH TERAKHIR yaitu FANA FI IL-LAH.

Demikian tentang SUWUNG. Keterbatasan akal saya yang membuat penjelasan di sini begitu sederhana. Salam Suwung.

Wong Alus.

Categories: SUWUNG | Tags: , , | 46 Komentar

JAUHI SIHIR DAN SANTET!


Pengetahuan yang baik dan benar apalagi disertai dengan kebijaksanaan akan memancarkan kedamaian dan mendatangkan manfaat. Sebaliknya, mempraktekkan pengetahuan yang diperoleh secara sepotong-sepotong apalagi dilakukan ceroboh dan tidak disinari dengan cahaya kebijaksanaan pasti akan menjerumuskan diri sendiri, dan bisa jadi melukai orang lain.

DSCN7391

Pernyataan di atas terasa penting karena pada kesempatan kali ini akan dibahas tentang praktek SIHIR atau tenung. Kita akan memaparkan sesuatu yang berbahaya agar pengetahuan kita tidak sepotong-sepotong yang justeru membuat penasaran dan malah mempraktikkannya. Padahal kita tahu, mempraktikkan SIHIR ada resiko yang sangat berat. Selain siksa di neraka, juga siksa di dunia akibat bermain-main dengan makhluk jahat.

Praktek SIHIR sudah dikenal luas oleh masyarakat dan peradaban manapun di dunia. Sejarah praktek SIHIR yang paling terkenal konon telah dikenal sejak era Nabi Musa empat ribu tahun sebelum Masehi, bahkan saat Nabi Sulaiman. Di era Musa A.S., SIHIR menjadi bagian tidak terpisahkan dari kekuasaan. Untuk menguatkan legitimasinya di masyarakat Mesir, Fir’aun yang mengaku Raja di Raja di Bumi ini memiliki komunitas ahli SIHIR.

Konon, sebelumnya ilmu SIHIR juga telah dipraktekkan semasa Nabi Sulaiman. Setidaknya ada dua ayat di kitab suci yang menguas tentang bagaimana kesaktian IFRIT, jin yang mampu untuk memindahkan istana dalam waktu sangat cepat sehingga Ratu Balqis mengakui kehebatan Sulaiman (King Solomon). Sebagaimana yang tertera dalam kitab Suci: “Berkata IFRIT (yang cerdik) dari golongan jin: “Aku akan datang kepadamu (Sulaiman) dengan membawa singgasana itu kepadamu sebelum kamu berdiri dari tempat dudukmu; sesungguhnya aku benar-benar kuat untuk membawanya lagi dapat dipercaya” (QS An Naml 39).

Namun tawaran IFRIT ini ditandingi oleh seseorang yang lebih tinggi kesaktiannya yang mempunyai ilmu dari Al Kitab: “Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip”. Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, iapun berkata: “Ini termasuk kurnia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). Dan barang siapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barang siapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia”. (QSAn Naml 40)

IFRIT adalah jenis jin yang memiliki kesaktian tinggi, suka menggoda dan jahil. Bahkan seorang nabi terakhir pun, Muhammad Rasulullah SAW pernah diganggu jin ini. Sebagaimana sabdanya: “Kemarin jin IFRIT menggoda dalam salatku supaya aku lalai. Akan tetapi Allah berkenan membantuku berlindung darinya sehingga aku dapat mencekiknya. Aku ingin mengikatnya di sebuah dinding mesjid hingga kalian dapat melihatnya, kemudian aku ingat doa saudaraku, nabi Sulaiman as.: Tuhanku, ampunilah aku. Berikanlah aku suatu kekuasaan yang tidak layak bagi seorang pun sesudahku. Sehingga Allah mengusirnya dalam keadaan rugi.” (Shahih Muslim No.842)

Bagaimana asal muasal SIHIR dalam peradaban dunia? Marilah kita telusuri dalam Kitab Suci. Dalam Surat Al Baqarah ayat 102, telah tertera di sana: ….”Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan-setan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan SIHIR), padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan SIHIR), hanya setan-setan itulah yang kafir (mengerjakan SIHIR).

Mereka mengajarkan SIHIR kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil yaitu HARUT DAN MARUT, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorang pun sebelum mengatakan: “Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir”.

MAKA MEREKA MEMPELAJARI DARI KEDUA MALAIKAT ITU APA YANG DENGAN SIHIR ITU, MEREKA DAPAT MENCERAIKAN ANTARA SEORANG (SUAMI) DENGAN ISTRINYA. Dan mereka itu (ahli SIHIR) tidak memberi mudarat dengan SIHIRnya kepada seorang pun kecuali dengan izin Allah. Dan mereka mempelajari sesuatu yang memberi mudarat kepadanya dan tidak memberi manfaat. Demi, sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa barang siapa yang menukarnya (kitab Allah) dengan SIHIR itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat dan amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya dengan SIHIR, kalau mereka mengetahui.

Jelaslah awal muasalnya, bahwa ada sekelompok manusia yang mempelajari SIHIR dari kedua malaikat di negeri Babil yaitu HARUT DAN MARUT. Padahal, dua malaikat ini memiliki SIHIR untuk tujuan baik yang disertai dengan kebijaksanaan.

Sekarang bagaimana praktek SIHIR dalam peradaban modern? Tidak bisa dipungkiri bahwa sekarang masih banyak kaum yang memiliki, menyimpan dan mempraktekkan SIHIR untuk berbagai keperluan. SIHIR memiliki banyak bentuk variasi dan nama. Jenis yang paling ganas ada tiga yaitu TENUNG, JENGGES dan SANTET.

Untuk melakukan SIHIR tenung, seorang dukun sebelumnya harus melakukan sebuah RITUAL yang merupakan slametan bohong-bohongan. Dukun duduk mengucapkan matra di tengah sajen-sajen yang membentuk setengah lingkaran. Sajen ini untuk makanan makhluk halus yang jahat—disertai permohonan untuk menghancurkan korban.

Sajen terdiri dari sebongkah kemenyan yang utuh dan candu, disertakan cermin (benda kesukaan makluk halus). Kalau orang bermaksud membunuh korban dan tidak sekedar membuatnya sakit, maka kemenyan itu diremukkan menjadi butiran-butiran kecil yang lalu dibungkus dengan kain mori putih, diikat di tiga tempat seolah-olah itu adalah mayat. Dukun membacakan doa-doa ritual yang biasanya dilakukan saat upacara pemakaman mayat.

Dalam JENGGES dan SANTET upacaya seperti itu dilakukan juga. Tetapi dalam upacara harus disertakan juga paku, rambut, pecahan kaca, kawat panjang, potongan-potongan besi, serta jarum di tengah sajen tadi. Dukum mengucapkan mantra dan memusatkan perhatian pada maksud jahatnya. Membujuk makhluk halus agar memasukkan benda-benda berbahaya itu ke perut korban. Korban maupun orang sekeliling korban akan menengar suara letusan mendadak dan kemudian si korban jatuh sakit parah.

Namun, spesifik untuk SANTET dukun itu sendiri yang harus mendatangi korban secara sembunyi-sembunyi dan melakukan praktek dengan meraba biji-bijian di tangannya sambil berkali kali membaca mantra dalam hati tanpa bersuara. Si Korban akan terkena sakit yang tidak bisa diobati.

TENUNG, JENGGES dan SANTET intinya adalah mengubah energi menjadi benda serta benda menjadi energi, energi inilah yang dipakai untuk melukai korban dengan keterlibatan makhluk halus.

Ada berbagai macam proses atau teknik untuk melancarkan tiga jenis SIHIR ini namun semuanya memilki tujuan yang sama yaitu membuat lawan takluk atau sakit. Seorang dukun pernah berceritera saat dia ingin menyantet korban: “Carilah photo, atau pakaian bekas korban, atau pernah dipakainya. Buat upacara slametan untuk makhluk halus dengan meletakkan foto dan pakaian itu. Upacara dilakukan pada malam hari……. tepat di hari weton korban. Janga lupa bakarlah kemenyan agar para mahluk jahat datang membantu, setelah itu bacalah mantra santet dan setelah selesai tulisilah rajah gaib di photo atau pakain korban dengan darah ayam dan bakarlah ke api.

Sambil membakar sampaikan keinginan kepada mahluk halus. Apabila makhluk halus mau membantu maka dalam beberapa hari akan kelihatan hasilnya, korban akan jatuh sakit, atau apabila guna-guna pelet agar di cintai maka sasaran akan takluk dan tergila-gila.

Pada saat itu juga dicurahkan kekuatan batin dengan kekuatan VISUALISASI (pembayangan) yang kuat dari pelaku. Misalnya santet dengan menggunakan media bambu apus yang ketika hendak digunakan terlebih dahulu dibacakan mantera-mantera tertentu, setelah itu PELAKU SANTET MEMUSATKAN KONSENTRASI, VISUALISASI DAN BERNIAT MENYAKITI SI KORBAN.

Ada lagi jenis SANTET yang sangat dikenal di masyarakat sekitar Banyuwangi, Jawa Timur tepatnya di wilayah yang dihuni subkultur Osing. Yaitu santet jenis SABUK MANGIR DAN JARAN GOYANG. Kedua jenis santet ini yang paling disukai dan sering diinternalisasikan masyarakat suku ini dalam aktivitas sehari-hari.

Kedua jenis Santet ini, sama-sama memiliki daya kekuatan untuk mempengaruhi objek yang disantet, tetapi dalam proses dan hasil keduanya berbeda. SABUK MANGIR terkesan halus, pelan dan membutuhkan beberapa hari untuk menuai tujuan penyantet. Dari sifatnya yang lambat nan pasti itu, resiko terdeteksinya penyantet oleh keluarga korban Santet, lebih kecil dan memerlukan waktu yang cukup lama untuk membongkar sindikat intervensi terselubung tersebut.

Berbeda dengan JARAN GOYANG, hasil dan tujuan penyantet terhadap korban santet lebih cepat bereaksi tanpa membutuhkan waktu yang cukup lama hingga berhari-hari. Tetapi, jenis ini yang tergolong kasar, sehingga lebih besar kemungkinan penyantet dapat segera terdeteksi. Pasalnya, selain para keluarga korban santet cenderung cepat menaruh kecurigaan terhadap tingkah laku korban yang tiba-tiba berubah dari kebiasaannya sehari-hari, korban penyantetan berkemauan kuat untuk segera mencari dan ingin bersanding selamanya dengan penyantet.

Apabila korban tidak sanggup mencari atau menemukan penyantet dirinya, korban akan selalu terlihat murung dan menyebut-nyebut nama penyantet, bahkan dalam kondisi yang paling parah korban tidak segan-segan mencari dan menanyakan nama penyantet diiringi pernyataan cinta, menyesal dengan suara-suara yang keras dan teriak-teriak.

Dari perbedaan efek yang ditimbulkan kedua jenis mantra SABUK MANGIR DAN JARAN GOYANG tersebut, dipengaruhi oleh potensi kekuatan magi yang berbeda-beda pula. Magi adalah sesuatu yang diyakini dapat menimbulkan kekuatan gaib dan dapat menguasai alam sekitar, termasuk alam pikiran dan tingkah laku manusia.

Yang perlu diketahui dalam khasanah SIHIR ini adalah soal MANTRA. Mantra sesungguhnya adalah untaian doa yang ditujukan kepada Tuhan Semesta Alam. Namun dalam praktik dunia hitam, kata ini mengalami penyempitan makna menjadi : “perkataan atau ucapan yang dapat mendatangkan daya ghaib, atau susunan kata berunsurkan puisi yang dianggap mengandung kekuatan ghaib yang biasanya diucapkan oleh dukun atau pawang.” Untuk mempraktekkan SIHIR, diperlukan mantra yang tepat sehingga mampu membujuk makhluk halus untuk bergotong royong membunuh atau menyakiti korban.

REFLEKSI
Ada beragam saran untuk mengobati santet, yaitu pergi ke ahlinya (kyai, pendeta, paranormal, dukun, dll) bila kita belum mampu menyembuhkan sendiri. Banyak-banyaklah mengingat Tuhan dalam waktu apapun baik saat posisi duduk, berdiri maupun berbaring. Hanya Tuhan sumber segala sumber kekuatan. Bukankah setiap saat kita memang diwajibkan untuk memohon pertolonganNya dalam segala situasi?

Bagi yang sudah mampu untuk menyembuhkan diri atau menolak santet dengan kekuatan spiritual sendiri diperlukan sifat andap asor dan OJO DUMEH, kita perlu menetapkan kesabaran dan tidak perlu untuk membalas perlakuan yang sama. Sebab membalas dendam adalah LOGIKA SETAN. Ini yang membedakan kita dengan makhluk jahat yaitu memiliki KESADARAN, AKAL BUDI DAN KEBIJAKSANAAN.

Niat jahat apalagi bila disertai dengan perilaku jahat hasilnya juga sebuah kejahatan. SIHIR dengan berbagai variannya sudah sejak lama berakar urat dalam peradaban manusia, tidak terkecuali Indonesia. Di satu sisi penggunaan SIHIR jenis santet, tenung, jengges adalah juga salah satu kekayaan tradisi spiritual di nusantara. Namun, apakah membunuh dan menyakiti korban dengan cara dari dunia hitam seperti ini dibenarkan? Kembali ke HATI NURANI MASING-MASING.

Dunia ini terlalu sempit dan buruk bila diisi dengan NAFSU, KESERAKAHAN, KEDURJANAAN, KEANGKARAMURKAAN. Dunia akan terasa luas indah bila kita semua hidup dengan SALING KASIH SAYANG, TOLONG MENOLONG dan TANPA PAMRIH.

Selain itu, ada pesan khusus bagi umat Muslim sebagaimana disabdakan Rasulullah saw dalam hadits: Jauhilah TUJUH HAL yang merusak. Yaitu: MENYEKUTUKAN ALLAH, SIHIR, MEMBUNUH MANUSIA, MAKAN HARTA ANAK YATIM, MAKAN RIBA, LARI DARI MEDAN PERTEMPURAN DAN MENUDUH BERZINA KAUM WANITA.

wong alus

Categories: santet | Tags: , , , , , , , , | 19 Komentar

SANTET POLITIK


DSC05038Dunia politik adalah dunia kepentingan. Siapa ingin mengalahkan siapa. Siapa ingin mengangkat dan menjatuhkan siapa. Saya ingin berkuasa dan mengalahkan pihak lain dengan berbagai cara. Fitnah dan menghembuskan isu negatif kepada pihak lawan menjadi sesuatu yang halal dan diperbolehkan. Intinya, TUJUAN MENANG itu menjadi TUHAN YANG HARUS DIUTAMAKAN, sementara CARA adalah STRATEGI APA SAJA YANG BISA DITEMPUH TANPA BOLEH MENYIMPANG DARI TUJUAN. POKOKNYA HARUS MENANG!!!

Itulah logika politik yang tanpa etika.

Beberapa saat yang lalu saat menjelang pemilihan legislatif, paranormal juga kebanjiran order dari para calon legislatif dan partai . Sayangnya tidak semua calon legislatif dan partai itu menang . Padahal, jutaan rupiah melayang ke tangan para paranormal tersebut. Ongkos mistik haruskah dibayar mahal?

Santet adalah cara yang biasa dilakukan oleh paranormal untuk melumpuhkan kekuatan. Tidak hanya kekuatan personal melainkan juga kekuatan sosial. Tidak percaya? Inilah yang terjadi di Kabupaten Sidoarjo. Sebuah partai politik yang sudah sekian lama mendominasi kota lumpur ini disantet. Entah apakah karena santet itu akhirnya partai politik tersebut kalah telak oleh partai lain. Ataukah sebaliknya, isu santet itu justeru dijadikan ajang untuk membunuh karakter partai yang menang.

Pada suatu pagi, seorang petugas keamanan di DPRD Kab Sidoarjo menemukan bungkusan santet yang isinya seonggok benda yang dibentuk sedemikian rupa seperti salib yang dibungkus dengan kain putih. Di dalamnya ada tulisan: Partai XXX

Dari kasus yang ditemukan ini, setidaknya kita bisa menggartisbawahi bahwa fenomena mistik masih berakar urat di dalam benak psikologi massa di Indonesia. Entah untuk tujuan apa…. Semoga kita tidak terbawa untuk mengartikan dan mengolah tata cara mistik dalam arti yang sempit dan kriminal untuk tujuan kepentingan jangka pendek.

Wong Alus

DSC05028

DSC05032

Categories: SANTET PARPOL | Tags: , , | 1 Komentar

PUISI KEMATIAN


images

IBU ITU

Seorang tetangga mati sore kemarin
Pagi tadi dikuburkan
Dia ibu beranak satu
Anaknya itu teman anakku

Ibu itu buruh pabrik PT MMUJ
dibunuh karena tidak mampu membayar hutang
Jumlahnya hanya 500 ribu

Dia tewas di tangan teman kerjanya:
–Dipukul besi, dimasukkan tong sampah
Di pabrik tempat kerjanya—
anaknya menangis,
bapaknya menangis

Akal sehat, kau nyungsep dimana?
Nurani, melenyap kemana kau?

Bumi, kekasihku..
Angkasa, sahabatku..
Angin, jiwaku
Duh Gusti, segalaku!

Perih rasaku, malam ini

Gebang, 17 Juni 2009

WONG ALUS

Categories: PUISI & PROSA | 15 Komentar

RAGAM JENIS PARANORMAL


Berdasarkan temuan ilmiah dibidang parapsikologi, ternyata gelombang-gelombang otak tertentu berperan melakukan berbagai kegiatan metafisis yang biasa dimiliki kaum paranormal. Jadi, sekarang untuk sakti tidak perlu puasa mutih, ngalong, ngrowot dan lain-lain. Ini jenis paranormal modern. Wah, dasar orang modern maunya yang serba instan dan serba malas berjuang!

psychic

Suatu ketika saya pergi ke seorang perempuan tua di pelosok Kabupaten Bantul dan mewawancarainya untuk Tabloid Mistik, media metafisika yang terbitan Jakarta sekitar tahun 1998. Perempuan yang dipanggil “Yu Yah” ini berprofesi sebagai paranormal.

Cara Yu Yah matek aji sangat sederhana; MEDITASI di dalam kamar sesaat dan membawa sedikit syarat seperti paku, uyah (garam) dan beberapa benda kecil lain. Benda ini diyakini Yu Yah mampu membawa kekuatannya dan diberikan ke pasien untuk berbagai keperluan.

Rata-rata kaum paranormal di negeri ini juga harus bermeditasi meskipun dengan BENTUK dan GAYA yang bermacam-macam. Ada yang sekedar ngobrol saja dengan pasien, ada yang harus trance dulu untuk berhubungan dengan roh makhluk halus, ada pula yang cukup dengan diam memejamkan mata dan menyuruh pasiennya pulang.

Berdasarkan gaya dan cara kaum paranormal melakukan semedi, menangani pasien, dan mengambil energi/kekuatan alam saya menggolongkan mereka menjadi dua jenis. Pertama, paranormal yang memakai bantuan makhluk halus, perewangan, khodam dll. Kedua, paranormal yang menggunakan murni energi alam yang sudah diolah sedemikian rupa dengan OLAH BATINNYA sehingga akhirnya bersenyawa kuat pada diri seorang paranormal.

Apapun energi yang diambil, seorang paranormal selalu menggunakan teknik meditasi. Yaitu menyesuaikan gelombang otaknya sehingga akan muncul intuisi tertentu untuk memasuki sebuah dimensi gaib.

Dari banyaknya kaum paranormal yang saya wawancarai umumnya memperoleh ilmu dengan berbagai macam cara yang tidak terduga. Ada yang datang begitu saja saat dia tertidur lalu tiba-tiba bermimpi didatangi leluhurnya dan mengirimkan benda tertentu untuk dipergunakan sebagai medium. Ada yang harus berpuasa dan berguru ke seseorang yang linuwih sehingga suatu ketika mendapatkan ilmu yang diharapkan (ini jumlahnya paling banyak) dan ada pula paranormal yang sejak lahir sudah dikaruniai bakat alam (jumlahnya paling sedikit).

Dan ini yang perlu diketahui, bahwa paranormal itu bukan manusia yang tahu segalanya. Paranormal juga manusia biasa seperti kita yang memiliki kelebihan di bidang tertentu saja. Bisa jadi di bidang lain dia tidak tahu apa-apa. Seperti kemampuan meramal, kemampuan menyembuhkan sakit, kemampuan melakukan santet, kemampuan melakukan pembersihan energi negatif di suatu tempat, kemampuan menyembuhkan orang pingsan, kemampuan untuk mengambil benda-benda bertuah, kemampuan mentransfer ilmu kebal, kemampuan untuk memanggil khodam dan lain-lain.

Maka, sangat berlebihan kiranya bila seorang paranormal mengaku menguasai segala jenis ilmu. Paranormal harusnya justeru perlu rendah hati dan tidak mengklaim dirinya paling sakti di alam semesta. Paranormal harusnya memegang KODE ETIK PARANORMAL yaitu ingin membantu mereka yang kesulitan dan membutuhkan bantuan dengan MEMPERCAYAI bahwa kekuatan yang dimilikinya berasal dari Tuhan Yang Maha Esa.

Sepengetahuan saya, paranormal yang sudah dikaruniai bakat alam sejak awal, biasanya memiliki kekuatan yang lebih kuat dari paranormal yang harus melalui proses belajar untuk memperoleh kesaktian. Namun ada juga yang sudah dari sononya memiliki bakat alam namun tidak malas terus mengasah dengan proses belajar dan laku prihatin. Untuk jenis paranormal terakhir ini, jumlahnya sedikit.

PARANORMAL MODERN MEMAKAI METODA ILMIAH

Lain dulu lain sekarang. Kini, perkembangan ilmu pengetahuan khususnya parapsikologi sampai para pertanyaan kenapa seseorang memiliki kemampuan linuwih yang membedakan dengan orang kebanyakan?

Berdasarkan temuan ilmiah dibidang parapsikologi, ternyata gelombang-gelombang otak tertentu berperan melakukan berbagai kegiatan metafisis yang biasa dimiliki kaum paranormal. Jadi, sekarang untuk sakti tidak perlu puasa mutih, ngalong, nrowot dan lain-lain. Ini jenis paranormal modern.

Dasarnya adalah bagaimana menstimulasi otak dengan gelombang suara yang unik. Sebagaimana yang pernah diungkap oleh lembaga sains dan penelitian tentang otak, suara memiliki pengaruh besar terhadap kinerja otak. Contohnya efek musik Klasik berbeda pengaruhnya ke tingkat keriangan seseorang dibanding musik Jazz. Berdasarkan pada konsep frekwensi suara inilah, para pakar menemukan alat stimulasi otak yang mampu menghasilkan frekwensi suara khusus. Alat itu dikenal dengan nama Binaural Beat Frequency.

Alat ini akan mengeluarkan suara dengan frekwensi tertentu yang dihasilkan melalui perhitungan matematika yang kompleks sehingga mampu menginterferensi dan menstimulasi gelombang otak untuk memasuki kondisi “trance” (frekwensi theta). Alat ini konon diklaim memiliki pengaruh yang kuat dalam menstimulasi gelombang otak manusia memasuki frekwensi tertentu, seperti alpha, theta & delta.

Entah apakah alat tersebut benar-benar hebat sehingga bisa segera mengantar penggunanya untuk mampu memunculkan energi tertentu yang tersimpan dari bawah sadar kita atau tidak jelas, masih perlu pembuktian. Saya sendiri belum pernah mencoba alat tersebut.

Namun teorinya, dengan menyelaraskan gelombang otak pada frekwensi tertentu maka kita mampu atau bisa memiliki kekuatan metafisika yang sangat berguna bagi kehidupan kita sehari-hari. Pendapat ini ditemukan sudah sejak tahun 1960 yang dilakukan oleh berbagai ilmuwan neurosains yang menyimpulkan bahwa frekwensi suara tertentu dapat menpengaruhi keadaan seseorang.

Seseorang yang gelombang otak pada frekwensi beta (12 – 25 cps) melakukan kegiatan berpikir, berinteraksi, dan menjalani kehidupan sehari. Gelombang otak pada frekwensi alfa (8 12 cps) menyadari keberadaan mimpi dan keadaan meditasi dalam karena gelombang alfa adalah jembatan penghubung antara pikiran sadar dan bawah sadar. Sedangkan gelombang otak pada frekwensi theta (4 – 8 cps) memasuki alam bawah sadar yang mengalami kondisi meditasi sangat mendalam.

Seseorang yang berprofesi sebagai paranormal dan penyembuh gelombang otaknya lebih banyak mengandung frekwensi delta (0,1 – 4 cps). Frekwensi delta bertindak sebagai “radar” yang mendasari kerja intuisi, empati dan tidakan yang bersifat instink sehingga membangkitkan energi tubuh (kundalini/cakra/aura/chi), mata bathin, terawangan, psikometri ESP (Extra Sensory Perception), telepathy, telekinetis, psychokinetis, lepas sukma, peningkat daya seksual, peningkat metabolisme tubuh dan bahkan membantu mencapai tingkat kesadaran dan kebijakan tertinggi.

HIPNOSIS

Satu lagi kemampuan yang kerap dihubung-hubungkan dengan paranormal adalah kemampuan hipnosis. Konsep hipnosis telah ada sejak awal peradaban manusia, hipnosis selalu dihubungkan dengan berbagai ritual keagamaan dan kepercayaaan, kekuatan magis dan supranatural.

Hipnosis secara konvensional adalah salah satu kondisi kesadaran (state of consciousness), dimana dalam kondisi ini manusia lebih mudah menerima saran (informasi). Konsep hipnosis terus berkembang seiring dengan perkembangan jaman. Hipnosis secara modern adalah teknik untuk membypass atau mempekecil ’critical factor’ dari conscious, sehingga RAS (Reticular Activating System) terbuka, dan informasi dapat memasuki sub-conscious.

Sinyal beta merupakan sinyal paling dominan di antara sinyal yang tertangkap Elektro Encepalograph –sebuah alat pendeteksi gelombang otak—sehingga ini menjelaskan bahwa pada saat kondisi hipnosis 1 dan hipnosis 2, pikiran tetap terjaga atau sadar. Sinyal alpha meningkat pada kondisi hipnosis 1 dimana pikiran akan terasa rileks dan santai namun terfokus, Sinyal theta meningkat pada kondisi hipnosis 2 setelah pikiran dibimbing untuk berimajinasi melakukan suatu kegiatan atau berada di suatu tempat yang mudah dirasakan oleh pikiran. Sinyal delta relatif kecil pada semua kondisi karena sinyal delta meningkat pada keadaan tidur lelap.

Setiap hari manusia pasti masuk ke kondisi hipnosis. Misalnya, saat kita sedang nonton TV, kita fokus pada 1 hal yaitu film yang sedang kita tonton. Pada saat membaca buku, mengetik komputer, kita pun fokus pada hal yang sedang kita kerjakan. Oleh karena itu bila kita ukur gelombang otak kita, kita sedang berada dalam kondisi Alfa, kita sedang dalam kondisi hypnosis. Pada saat kita meditasi, jika pikiran kita sudah tidak kesana kemari dan kita mulai konsentrasi pada 1 fokus maka gelombang otak kita berada dalam kondisi Alfa atau Teta. Bahkan setiap kita tidur kita harus melewati kondisi hipnosis sebelum tertidur pulas, yaitu dari gelombang Beta ke Alfa – Teta akhirnya Delta.

Lalu mengapa kita perlu mencapai gelombang Alfa atau Teta ? Karena bila kita berada dalam gelombang Beta (fokus yang terpecah) kita tidak akan bisa belajar atau menerima apapun. Bayangkan seperti ini, bila anda sedang berada di ruangan mesin yang ribut, anda tidak akan bisa mendengar suara teman anda, anda harus menurunkan suara mesin itu lalu fokus pada suara teman anda baru bisa mengerti apa yang ia katakan.

Sama seperti itu, hipnotis adalah metode untuk menurunkan gelombang sibuk anda (Beta) supaya mencapai Alfa atau Teta agar kita bisa lebih fokus. Bahkan kita sangat perlu berada di gelombang Alfa atau Teta untuk bisa belajar misal pada saat kuliah, mendengar ceramah, membaca buku, dan sebagainya.

Ada sebuah pengalaman unik yang terjadi pada anak saya. Suatu ketika dia ditakut-takuti oleh tetangga akan ditabrak sepeda motor. Sehingga dia menjadi trauma terhadap raungan suara motor yang melintas. Kenapa hal ini terjadi? Karena pada saat ia mendengar suara tersebut, otaknya berada di kondisi Alfa atau Teta sehingga ia menjadi reseptif terhadap suara. Lalu bagaimana yang terjadi di acara-acara hiburan di TV yang menampilkan orang terhipnotis lalu diubah namanya atau berperilaku aneh? Apakah kesadarannya dilemahkan dengan hipnotis? Prosesnya sama, yang dilakukan oleh para hipnotis adalah dengan menggunakan metode hipnosis menurunkan gelombang otak orang itu menjadi Alfa atau Teta sehingga ia menjadi reseptif pada sugesti sang hipnotis.

Lalu kemanakah kesadarannya ? Apakah hilang ? Tidak hilang! Kesadarannya tetap ada bahkan ia sangat sadar. Misalnya, seorang lelaki bernama Eko diubah namanya menjadi Ria. Eko masih sangat sadar bahkan pada saat ia bilang namanya adalah Ria tetapi kesadarannya tidak cukup kuat untuk menolak sugesti sang hipnotis. Lalu apakah kesadaran Eko sedang dilemahkan melalui hipnotis? TIDAK! Memang kesadarannya sudah lemah dari awalnya dan melalui hipnosis jadi terlihat.

Jika begitu apa bedanya kita semua dengan yang terhipnotis di televisi itu? Ketika kemarahan menguasai kita, kita menjadi terfokus pada hal yang menyebabkan kita marah, lalu kita bereaksi galak dan mengomeli orang lain. Bukankah kita saat itu terhipnotis oleh kemarahan kita? Bukankah saat itu kesadaran kita pun lemah sehingga tidak bisa menyadari kemarahan yang muncul?

Jika demikian mengapa kita bisa menyimpulkan bahwa hipnosis membuat kesadaran kita melemah jika setiap harinya kesadaran kitapun lemah dan terlarut dalam kemarahan, keserakahan, kebencian, irihati? Lalu kemanakah kesadaran kita saat itu? Jika memang hipnosis bisa melemahkan kesadaran maka sesungguhnya kita sedang melemahkan kesadaran kita dengan menonton TV, dan kesibukan-kesibukan otak lainnya. Bukankah berdoa juga berada dalam kondisi hipnotis?

Hipnosis sesungguhnya sangat bermanfaat karena ini adalah metode komunikasi untuk mencapai gelombang otak Alfa atau Teta. Melalui relaksasi dalam, kita bisa mensugestikan sebuah kebijaksanaan hidup.

Hipnosis hanyalah suatu metode, yang jika kita bisa mengolahnya dapat kita gunakan untuk meningkatkan kebijaksanaan kita. Jadi semuanya itu menjadi pilihan anda, mau menggunakan hipnosis untuk melihat kehidupan lalu dan mengambil kebijaksanaannya atau mau tidak menggunakannya.

Seperti sebilah pisau, ia bisa digunakan untuk kejahatan tetapi juga bisa kita pakai untuk membantu untuk membantu kegiatan masak untuk menghasilkan berbagai makanan bergizi. Tetapi pisau hanyalah pisau, ia tidak termasuk barang baik atau buruk. Sama seperti hipnosis, ia bisa digunakan untuk hal negatif tapi bisa juga digunakan untuk meningkatkan kualitas hidup.

Seorang rekan saya bereksperimen dengan hipnoterapi terhadap anaknya yang masih SD. Ketika sang anak sedang dibuai untuk tidur maka dia menyampaikan pesan-pesan baru ke alam bawah sadar anaknya dengan mengatakan bahwa sang anak adalah anak yang rajin, pintar, baik hati, selalu bisa dalam belajar, dan hal-hal baik lainnya. Sekitar dua minggu kemudian mendadak prestasi belajar anaknya meningkat drastis. Rekan saya pun terkejut dengan hasil yang tidak disangkanya tersebut.

Semacam dengan hal tersebut adalah efek dongeng sebelum tidur bagi anak. Dongeng-dongeng dengan pesan moral biasanya sangat membekas dalam ingatan anak bahkan hingga dewasa. Karena itu sangat penting untuk menyempatkan diri mendongeng kepada anak dengan pilihan dongeng-dongeng yang bermoral baik, karena secara langsung dongeng tersebut akan masuk ke dalam alam bawah sadar anak. Sebaliknya sangatlah buruk memberi pengantar tidur dengan memarahi anak, memberi tontonan seram, dan perlakuan kasar, karena hal itu akan membekas saat anak hampir tidur.

Yang juga penting dilakukan adalah self hipnoterapi, yaitu dengan menyatakan kalimat-kalimat positif kepada diri sendiri. Salah satu cara adalah dengan tiduran, atau duduk rileks memejamkan mata, kemudian menenangkan diri tidur-tiduran, lalu menyatakan kalimat positif , “Wong Alus (ganti nama Anda) kamu sukses, kamu sehat, kamu luar biasa…”

Ikutilah dengan membuat ANCHOR/TRIGGER/PEMICU/ sebuah peristiwa kesuksesan yang pendah Anda buat. Misalnya sambil menepuk dada atas kiri, bahu belakang kanan, atau paha kanan. Mengapa di daerah itu? Itu adalah daerah yang hanya orang terdekat yang menyentuhnya, seperti ibu, sahabat, dan keluarga yang pernah menyentuh kita saat kita berada di puncak sukses.

Pada saat daerah tersebut disentuh maka alam bawah sadar akan mengatakan ‘ini pesan dari orang yang dekat denganku’ dan dia menjadi terbuka untuk menerima pesan tersebut. Dengan demikian apapun yang disampaikan tadi menjadi bagian alam bawah sadar dan diingat olehnya.

wong alus

Categories: RAGAM JENIS PARANORMAL | 19 Komentar

DHAMPAR KENCANA


Anggaplah dirimu sebagai buku yang terbuka, bisa dibaca, dikritik dan sekaligus dicerca. Siapa yang menganggap dirinya buku yang tertutup, bersiap-siaplah untuk ditutupi debu dan dimakan kutu. Inilah sejarah sebuah kursi.

Semasa kuliah tahun 1990-1996, saya memiliki sebuah kursi yang saya gunakan sekaligus untuk tempat tidur. Kursi itu terbuat dari kayu bersandar, panjangnya tanggung muat untuk dua setengah orang. Saya menambahkan empat batang kayu berdiri memanjang ke atas dan atasnya dibentuk menyerupai rangka atap rumah. Di atas rangka “atap” kursi kayu tersebut, saya letakkan begitu saja kardus-kardus bekas. Saya namakan singgasana saya itu dengan DHAMPAR KENCANA.

Saya tinggal di sebuah gubuk. Gubuk itu berdinding setengah bata, setengahnya lagi dari anyaman bambu. Gubuk itu terletak di sebidang tanah di belakang sebuah bengkel di kawasan Pasar Telo, Bantul, Yogyakarta. Nama bengkel itu BENGKEL LAS MBAH LANGUT.

Yang unik dari gubuk kenangan tersebut, di satu dindingnya ada pohon asem yang masih hidup menjulang ke atas. Tingginya sekitar sepuluh meter. Jadi, gubuk saya itu menempel di pohon asem. Lebar gubuk sekitar 2 kali 2,5 meter. Isi gubuk sebagai berikut: Satu kursi/tempat tidur DHAMPAR KENCANA tadi, meja besi, sedikit buku, mesin ketik manual karatan. Di DHAMPAR KENCANA tadi saya letakkan bantal, kloso, dan sebuah radio kecil AM.

Gubuk itu terlihat kotor. Bukan karena kemalasan saya membersihkannya, tapi karena hembusan debu setiap saat dari sebidang tanah di depan gubuk tersebut. Debu dengan leluasa masuk melalui rongga-rongga anyaman bambu dinding kemudian menempel di mana-mana. Di meja, di lantai, dan juga di baju-baju yang saya gantung di sebuah paku. Ada satu tempat yang volume debunya paling minim yaitu di dalam DHAMPAR KENCANA tadi.

Itu karena kursi/tempat tidur itu saya bungkus dengan kain lurik ditambah dengan jas hujan yang sudah tidak terpakai. Kenapa harus direkayasa sedemikian rupa sehingga bagian dalamnya tidak terlihat konon ada “sejarahnya.” Suatu malam saat nyenyak tidur, tiba-tiba sebuah tikus jatuh dari atap dan mendarat persis di kepala. Tentu saja kaget campur jengkel menjadi satu. Keesokan harinya, ide muncul untuk membungkus kursi kesayangan tersebut.

Setiap hari, usai kuliah saya bekerja di bengkel las tersebut. Menggergaji, mengebor, membengkokkan, meluruskan lonjoran besi-besi dan mengelasnya untuk dibentuk sedemikian rupa sesuai pesanan: teralis, pagar, dan lainnya. Selain itu, terkadang saya juga diminta untuk menagih piutang ke para pelanggan. Dari hasil bekerja, uang saya gunakan untuk menambah biaya kuliah yang saat itu SPP per semester mencapai Rp 105.000,-.

Itulah ruang hidup ”LIEBENSRAUM” saat berjuang di Jogja sekitar sepuluh tahun. Liku-liku hidup terlalu padat saya alami di kota Gudeg yang penuh kenangan tersebut. Itu adalah satu kurun waktu dimana proses pencarian jati diri mencapai tahap penemuan batu pijakan (milestone) untuk melangkah.

Melangkah kemana? Saya jawab melangkah kemana-mana, sebab setelah masa kuliah itu saya terus berpetualang –istilah ini lebih tepat daripada bekerja— hingga sekarang ini.

DHAMPAR KENCANA milik saya yang ada atap dari kardus-kardus bekas yang dibungkus dengan jas hujan yang sudah robek-robek serta kain lurik yang sudah amoh itu memiliki makna simbolik: SIMBOL MASIH BANYAKNYA RAKYAT MISKIN YANG HARUS SEGERA DIUBAH NASIBNYA.

SEMOGA INDONESIA MENJADI BANGSA YANG LEBIH ADIL, MAKMUR, SEJAHTERA SECEPATNYA.

Wong alus

Categories: DHAMPAR KENCANA

TIGA TAHUN KESUNYIAN


SEJAK kelas satu SMA hingga lulus, saya tinggal di sebuah rumah kontrakan sendirian. Teman hanya sesekali datang dan pergi. Praktis, tiga tahun saya tinggal seorang diri untuk mendengarkan bahasa diri dan bahasa alam. Inilah sejarah hidup saya dua puluh dua tahun silam yang saya tulis kembali dengan tujuan memetakan hidup kembali demi menjangkah ke gigir waktu di masa depan.

googTiga tahun semenjak saya memasuki bangku SMA, saya ditinggal kedua orang tua untuk merantau di pulau seberang. Tiga tahun pula saya harus berdialog, bernegosiasi untuk mengambil keputusan-keputusan seorang diri. Untuk menghibur diri yang saat itu dalam masa pencarian jati diri, saya terpaksa menenggelamkan diri dengan sebuah pencarian spiritual. Pencarian spiritual saya saat itu sangat sederhana. Yaitu menjawab pertanyaan, kenapa saya dilahirkan di dunia? Untuk menjawabnya, saya harus mengolah pikir, mencari referensi di perpustakaan, berdzikir di masjid, cangkruk di pinggir jalan dan duduk terpencil di dalam rumah. Kebetulan saya dikaruniai Tuhan sifat tidak menyukai keramaian, suka sibuk dengan diri sendiri, atau dalam bahasa psikologinya disebut autis.

Hampir tiap malam, saya duduk di belakang rumah di sebuah petak yang terbuka. Melihat ke langit dan mendengarkan bahasa kesunyian. Suara jangkrik dan binatang-binatang malam sangat akrab di indera dengar. Dan yang paling tidak saya sukai adalah cahaya lampu. Sehingga setiap malam, saya matikan semua lampu di dalam rumah hanya duduk terpaku berjam-jam hingga hari berubah. Saya benar-benar alami saat itu. Radio, tape dan televisi saya rasakan sangat mengganggu dan mengotori pikiran. Sehingga saya lebih suka untuk mematikan alaat-alat penghibur tersebut dan sekali lagi duduk, berdiri, tiduran tanpa alat buatan manusia yanag menurut saya tidak berguna tersebut.

Pagi hari saya mempersiapkan diri untuk berangkat ke sekolah. Saya harus berjalan kaki sekitar dua kilometer melewati sebuah rel kereta api. Ya, saya berjalan di tengah rel kereta api tanpa sedikitpun merasa takut bahwa kereta api akan datang menyambar tubuh ringkih saya sewaktu-waktu. Saya percaya, seluruh hidup saya: tubuh, jiwa, ruh tidak akan tinggal diam bila kereta api datang. Sehingga dalam hitungan detik, saat ketera api melintas cepat naluri dan insting saya bergerak untuk menghindar. Itulah ritual wajib saya setiap pagi dan siang, berjalan melintasi rel kereta api. Saya sangat kreatif saat itu. Kreativitas artinya berpikir untuk menjelajahi berbagai dimensi yang ada di alam semesta, menyelami hakikat makna dan arti dari semua hal yang ada di depan saya.

Kreatif untuk menciptakan ide-ide baru dengan cara pandang baru. Ya, saya ingat saat masih SMA itu, saya mengubah-ubah sendiri tata cara atau syariat sholat. Saya ubah syariat dzikir dan mencari-cari doa yang pas untuk berkomunikasi dengan DZAT PALING HEBAT DI JAGAD RAYA. Saya kerap mengubah-ubah posisi benda-benda di dalam ruangan. Bahkan kursi dan meja sering saya tata terbalik.

Dari bekal masa lalu, dalam tiga tahun kesunyian itulah saya ingin berbagi kunci-kunci kreativitas yang barangkali ada manfaatnya kepada Pembaca Blog yang saya bingkai dalam bingkai Neurolingusitic Programming atau dialihbahasakan dengan bebas menjadi Pemrograman Bahasa Otak.

meditationPernah duduk di sebuah tempat, ingin menyelesaikan sebuah masalah tapi solusi tidak kunjung datang? Atau duduk di sebuah tempat berusaha memikirkan sebuah ide tapi tidak bisa kreatif? Ini bisa jadi erat kaitannya dengan ANCHOR (trigger/pemicu terhadap sebuah pemikiran dan perilaku) Anda terhadap posisi duduk atau berdiri Anda, entah itu kursi kerja, ruangan dan lain-lain.

Bisa jadi, pada saat Anda berada di posisi tersebut, Anda sudah ter-ANCHOR untuk sebuah pola pikir dan perilaku tertentu, sehingga Anda sulit untuk memikirkan sesuatu yang berbeda. Misalnya di kursi kerja Anda, yang setiap hari Anda lakukan adalah memeriksa file-file arsip, keuangan, neraca, dan lain-lain. Bahkan Anda pernah menghasilkan sebuah prestasi hebat dari tugas Anda tersebut di kursi tersebut.

Namun pada saat Anda diminta untuk mengkreasikan sesuatu, pikiran Anda bisa saja buntu dan macet. Anda tidak menemukan kreasi baru dan berputar-putar dengan ide yang lama. Bagaimana menjelaskan fenomena tersebut?

Marilah kita cek satu persatu. Mulai dimana Anda duduk. Kursi Anda bisa jadi telah ter-asosiasikan dengan proses pemeriksaan, yang di NLP (Disney Strategy) dikenal sebagai posisi CRITICS. Padahal untuk berkreasi Anda butuh ANCHOR kreatif, yakni posisi DREAMER dalam Disney Strategy.

Kalau sampai ini terjadi pada Anda, dimana Anda tahu bahwa sebuah posisi telah menyebabkan Anda ter-ANCHOR terhadap sebuah proses pemikiran, SESUAIKANLAH posisi Anda. Pindahlah ke sebuah tempat atau posisi. Ini bisa saja Anda lakukan dengan sekedar berdiri menjauh dari kursi Anda sejenak untuk memperoleh pemikiran yang berbeda.

Kalau Anda sekedar berjalan-jalan atau yang menurut Anda cari angin, yang terjadi hanyalah BREAK STATE, atau pemutusan ANCHOR sementara. Begitu Anda kembali duduk, ANCHOR-nya juga kembali, dan belum pasti bisa maksimal. Jadi kalau Anda seringkali mengalami kesulitan berpikir dan berperilaku tertentu di sebuah posisi atau tempat duduk Anda, coba cek kembali, di posisi tersebut ANCHOR apa yang telah tercipta untuk Anda.

Lalu pilihan sikap Anda adalah mempertimbangkan posisi yang berbeda untuk pola pikir berbeda. Dalam Disney Strategy, ada 3 posisi, yakni DREAMER, REALIST, dan CRITICS. Di posisi berbeda, kita bisa memaksimalkan potensi berpikir masing-masing.

Albert Einstein, mbahnya kaum fisikawan berkata bahwa sebuah masalah yang ditimbulkan dari sebuah proses berpikir tidak bisa diselesaikan dengan proses berpikir yang sama. Karena itu kita sulit mencari solusi masalah dengan pola pikir yang sama dimana masalah itu timbul. Perlu pola berpikir yang berbeda. ANCHOR tidak jauh berbeda dengan prinsip ini.

Di sebuah titik kita bisa begitu kreatif, tapi di titik yang sama kita sulit melihat kesalahan dari kreatifitas kita. Di sebuah titik kita bisa begitu kritis, tapi di titik yang sama kita sulit maksimal dalam berkreasi. Di sebuah titik dimana kita begitu terorganisir, sulit bagi kita untuk maksimal dalam berkreasi. Di kursi kerja Anda, apakah ANCHOR yang telah tercipta untuk Anda?

Maka pilihan sikap hari ini adalah memeriksa ANCHOR POSISI Anda dan menyesuaikan dengan keinginan berpikir dan berperilaku Anda. Seperti pola pikir di NLP untuk FLEKSIBEL dan merubah pendekatan menuju HASIL AKHIR. Untuk MENGUBAH TITIK KEBERADAAN, kita membutuhkan sedikit pengetahuan tentang DIMENSI.

Dimensi berarti parameter atau pengukuran yang dibutuhkan untuk mendefinisikan sifat-sifat suatu objek yaitu panjang, lebar, dan tinggi atau ukuran dan bentuk. Dalam matematika, dimensi adalah parameter yang dibutuhkan untuk menggambarkan posisi dan sifat-sifat objek dalam suatu ruang.

Dalam konteks khusus, satuan ukur dapat pula disebut “dimensi” meter atau inci dalam model geografi, atau biaya dan harga dalam model ekonomi. Sebagai contoh, untuk menggambarkan suatu titik pada bidang (misalnya sebuah kota pada peta) dibutuhkan dua parameter lintang dan bujur. Dengan demikian, ruang bersangkutan dikatakan berdimensi dua, dan ruang itu disebut sebagai bersifat dua dimensi.

Menggambarkan posisi pesawat terbang (relatif terhadap bumi) membutuhkan sebuah dimensi tambahan (ketinggian), maka posisi pesawat terbang tersebut dikatakan berada dalam ruang tiga dimensi (sering ditulis 3D). Jika waktu ditambahkan sebagai dimensi ke-4, “kecepatan” pesawat terbang tersebut dapat dihitung dengan membandingkan waktu pada dua sembarang posisi.

Untuk mempermudah pemahaman terhadap DIMENSI, kita bagi dua saja. Yang pertama DIMENSI FISIS dan DIMENSI METAFISIS.

DIMENSI FISIS adalah parameter-parameter yang dibutuhkan untuk menjawab pertanyaan di manakah dan bilamanakah sesuatu terjadi; misalnya: Kapankah Napoleon meninggal? Pada tanggal 5 Mei 1821 di pulau Saint Helena (15°56′LS 5°42′BB). Dimensi fisis memainkan peran mendasar dalam persepsi seseorang terhadap sekitarnya. Teori-teori fisika klasik mendeskripsikan tiga dimensi fisis: dari titik tertentu dalam ruang, arah pergerakan dasar yang mungkin adalah ke atas atau ke bawah, ke kiri atau ke kanan, dan ke depan atau ke belakang. Sembarang pergerakan dapat diungkapkan dengan hanya tiga dimensi tersebut. Bergerak ke bawah samalah dengan bergerak ke atas secara negatif. Bergerak diagonal ke depan atas samalah dengan bergerak dengan kombinasi linear ke depan dan ke atas.

Dimensi fisis ruang dapat dinyatakan paling sederhana sebagai berikut: suatu garis menggambarkan satu dimensi, suatu bidang datar menggambarkan dua dimensi, dan sebuah kubus menggambarkan tiga dimensi. (Sistem koordinat Cartesian.)

Waktu sering disebut sebagai DIMENSI KEEMPAT.Hal ini menyediakan jalan bagi pengukuran perubahan aspek-aspek fisika. Hal ini dilihat secara berbeda bahwa dari tiga dimensi spasial hanya ada satu dimensi, dan pergerakannya terlihat selalu memiliki nilai pasti dan sejajar dengan waktu (searah). Persamaan-persamaan yang digunakan oleh ahli fisika untuk menyatakan model realitas seringkali tidak memperlakukan waktu sebagaimana manusia memandangnya.

Misalnya, persamaan klasikal mekanik yang adalah T-simetri (bersimetri dengan waktu) dengan persamaan dari mekanika kuantum sebenarnya bersimetri jika waktu dan kuantitas lain (seperti C-simetri (charge)) dan fisika paritas dibalikkan.Pada model ini, persepsi waktu mengalir kesatu arah adalah artefak dari hukum-hukum termodinamika.(Kita melihat waktu mengalir kearah peningkatan (entropi).

Orang yang paling terkenal memandang waktu sebagai dimensi adalah Albert Einstein dengan teori relativitas umum yang memandang ruang dan waktu sebagai bagian dari dimensi ke empat.

Teori fisika seperti TEORI UNTAI (string theory) meramalkan bahwa ruang tempat kita hidup sesungguhnya memiliki banyak dimensi sering disebutkan 10, 11, atau 26, namun SEMESTA YANG DIUKUR PADA DIMENSI-DIMENSI TAMBAHAN INI BERUKURAN SUBATOM. Akibatnya, kita hanya mampu mencerap KETIGA DIMENSI RUANG YANG MEMILIKI UKURAN MAKROSKOPIK.

DIMENSI METAFISIS. Dalam metafisika, tidak ada satupun definisi yang adekuat/meyakinkan untuk menyatakan konsep dalam segala situasi, dimana mungkin kita akan menggunakan nya. Konsekuensinya, para ahli membagi sejumlah definisi dimensi kedalam tipe-tipe yang berbeda .

Semuanya didasari oleh konsep dimensi Euclidean N-SPASI E N. TITIK E 0 ADALAH 0-DIMENSIONAL. GARIS E E 1 ADALAH 1-DIMENSIONAL. BIDANG E 2 ADALAH 2-DIMENSIONAL. DAN SECARA UMUM E N ADALAH N-DIMENSIONAL.

Konsep waktu dalam metafisika, dan ini yang lebih SPIRITUAL bahwa waktu sangat tergantung pada eksistensi yang menyadari esensinya. Eksistensi yang tidak menyadari eksistensinya akan tenggelam dalam waktu ekonomi, waktu politik, waktu sosial dan lain-lain sehingga waktu tidak memiliki makna apapun selain menjalani dalam kesibukan dan kesementaraan. Namun, eksistensi yang menyadari esensinya akan memaknai detik-demi detik menjadi sesuatu yang berharga. Sangat sangat berharga.

Sekarang, dimana titik Anda akan ditempatkan? Semua tergantung kebutuhan. Bila Anda menempatkan titik Anda UNTUK MERUANG DAN MEWAKTU dalam RUANG DAN WAKTU TUHAN, ANDA BISA BERADA PADA TITIK EKSISTENSI DIMANA-MANA , KAPAN SAJA. INILAH EKSISTENSI YANG MENUJU PADA KEABADIAN.

Wong Alus

Categories: KREATIVITAS BEREKSISTENSI | 6 Komentar

REFLEKSI FILOSOFIS BERBAGAI MISTERI


Ini adalah kelanjutan dari artikel sebelumnya yang berjudul TIDAK ADA MISTERI DI DUNIA yang mengulas tentang spekulasi-spekulasi terkait hilangnya ratusan pesawat dan kapal yang melintas di segitiga Bermuda. Hingga sekarang, bulan Juni tahun 2009 ini, ribuan nyawa meregang di wilayah laut paling angker di dunia yang juga disebut SEGITIGA SETAN itu.

Sebutan SEGITIGA BERMUDA pertama kali disebut dalam artikel yang ditulis oleh Vincent H. Gaddis dalam majalah ARGOSY yang terbit tahun 1964. Di artikelnya, Gaddis menulis bahwa wilayah lautan ini berabad-abad lamanya sudah menelan sejumlah besar kapal dan juga pesawat tanpa penjelasan yang pasti.

Gaddis bukanlah orang yang pertama menyimpulkan hal ini, sebelumnya di tahun 1952, George X. Sands, melaporkan di majalah Fate sejumlah besar kejadian di wilayah itu. Langkah dua penulis itu dilanjutkan pada tahun 1969 oleh John Wallace Spencer yang menulis sebuah buku tentang SEGITIGA SETAN dan selanjutnya dipublikasikan lagi pada tahun 1974 dengan judul buku LEGENDA LAUTAN MISTERIUS.

Para penulis yang telah saya sebutkan tadi kesemuanya sampai pada pertanyaan mendasar kenapa kapal-kapal dan pesawat hilang di wilayah ini tanpa keterangan? Para penulis itu yakin bahwa di SEGITIGA BERMUDA ada sebuah medan magnet yang kuat yang bisa mempengaruhi pergerakan kompas (fakta yang sudah dicatat oleh Colombus sejak pelayarannya tahun 1492).

Spekulasi lain diungkap adalah adanya gas metana dari dalam dasar lautan yang tiba-tiba menyedot semua benda yang melintas di lautan tersebut. Bahkan spekulasi para penulis, segitiga ini sudah sejak 15.000 tahun yang lalu sudah berbahaya.

Di tahun 1975 Larry Kusche, akademisi dari Arizona State University membuat satu kesimpulan yang lain dari para peneliti sebelumnya, dan menuliskan kesimpulannya itu dalam bukunya “The Bermuda Triangle Mystery-Solved.”

Kusche secara hati-hati menggali rekaman yang oleh penulis lain diabaikan. Dia menganalisa satu demi satu kejadian dan antara satu dengan yang lain tidak sama penyebabnya. Meskipun begitu Kusche menyimpulkan bahwa meskipun lautan ini kelihatannya sama dengan lautan yang lain, namun wilayah ini adalah sebuah WILAYAH PELAYARAN LUAS YANG PALING BERBAHAYA DI DUNIA.

Tidak terkecuali apakah itu untuk kapal kecil, kapal komersial, pribadi maupun pesawat militer dari berbagai belahan dunia. Faktor cuaca disebut menjadi penyebab utama. Saat cuaca cerah dan bersahabat tiba-tiba bisa berubah menjadi badai akibat perubahan suhu air laut. Teori Kusche ini tidak membuat misteri segitiga Bermuda hilang begitu saja. Sebab betapa kapal-kapal besar yang canggih harus karam di sana.

Kendaraan-kendaraan yang hilang tanpa bekas itu di antaranya:

KAPAL USS CYCLOPS TERBELAH

usscyclopsTahun 1918 kapal ini hilang di segitiga bermuda. Memiliki panjang 542 kaki kapal ini diluncurkaan tahun 1910 untuk membawa batu bara untuk angkatan laut Amerika Serikat U.S. Navy selama perang dunia I. Tercatat 306 orang penumpang dan kru dari U.S. Navy hilang. Beberapa kejadian setelah tenggelamnya kapal Cyclops terjadi di antara kepulauan Barbados dan Baltimore.

KAPAL TANKER SS MARINE SULPHUR QUEEN

tankerfailureKapal berjenis tanker ini membawa bahan kimia sulphur dan berangkat dari pelabuhan Florida di tahun 1963. Jumlah kru yang hilang ada 39 orang. Kapal itu tiba-tiba terbelah menjadi dua dan terbakar habis. Diyakini, ada sebuah gelombang elektromagnetik yang memaksa kapal tertarik ke dasar laut hingga sampai terbelah.

PESAWAT PENUMPANG DC-3

dc-328 Desember 1948 malam, sebuah pesawat bernomor penerbangan NC16002 dari jenis DC-3 berangkat dari San Juan, Puerto Rico, menuju Miami, Florida. Lima puluh mil penerbangan, pesawat kehilangan kontak dengan menara pengendali di bandara. Tiga kru dan 29 penumpang dipastikan hilang. Dugaan kuat bahwa tiba-tiba pesawat kehilangan tenaga dan komunikasi terganggu.

MISI PENERBANGAN 19 ANGKATAN UDARA AS Catatan kehilangan pesawat di segitiga Bermuda yang paling lengkap adalah misi penerbangan 19 pada 5 Desember 1945 dari Angkatan Udara Amerika Serikat. Lima pesawat bomber berangkat dari Pangkalan Udara Fort Lauderdale, Florida, pada pukul 2:10 sore.

Ini adalah latihan rutin yang diikuti oleh calon penerbang yang dipimpin Letnan Charles Taylor. Saata penerbangan bersama itu berjalan kira-kira satu jam Letnan Robert Cox mendapat pesan dari Taylor. Taylor mengatakan kompasnya tidak bekerja namun dia yakin bahwa dia sudah sampai di atas Florida. Cox mendorongnya agar terbang ke utara mendekati Miami. Saat itu belum ditemukan GPS (Global Positioning Satellites) sehingga untuk mengetahui titik ordinat pesawat masih menggunakan titik awal pemberangkatan berapa jauh dan berapa lama dia terbang.

Jika pilot membuat kesalahan, maka yang paling sering terjadi adalah pesawat bisa kesasar. Taylor menjadi bingung dengan perintah Cox. Meskipun dia pilot berpengalaman, tapi dia tidak memiliki jam terbang tinggi di angkasa Bahama. Pukul 4:45 sore dipastikan Taylor dan satu calon penerbangnya hilang. Namun tiba-tiba saat hari mulai gelap, terjadi kontak dengan pesan pendek: “Saya terbang ke utara agak ke timur…”

Pukul 5:50 Badan Pusat Evaluasi Penerbangan mendapatkan sinyal komunikasi kembali dari rombongan pesawat yang dipimpin Taylor ini. Nampaknya mereka ada angkasa pantai New Smyrna, Florida. Hingga kemudian sinyal komunikasi menghilang perlahan lahan.

Pukul 6:20 dilakukan pencarian dengan kapal cepat dan dua pesawat Martin. Dua pesawat tidak mampu menjangkau wilayah seluas itu dengan bahan bakar yang terbatas dan akhirnya hilang dari kontak juga. Tiba-tiba komunikasi dari Penerbangan 19 tersambung lagi pada pukul 7:04 malam. Namun upaya pencarian dihentikan karena cuaca tidak memungkinkan.

Apalagi pesawat pencari Martin juga lenyap dan komunikasi menghilang. Bagaimana nasib pesawat Martin dan misi Penerbangan 19? Sebuah kapal pencari, SS Gaines Mill menemukan fakta adanya ledakan di atas air dan ditemukan tumpahan minyak. Spekulasi yang berkembang, dari 22 orang penumpang mungkin ada yang memantikkan api seperti rokok yang menyebabkan pesawaat terbakar di udara.

Tak pelak, kehilangan satu skuadron dan misi pencari ini membuat angkatan udara Amerika Serikat pusing. Investigasi hanya menyimpulkan bahwa penerbangan Taylor bersama para calon penerbang ini disebabkan oleh peralatan navigasi yang rusak. Dimana pesawat-pesawat yang tergabung dalam misi penerbangan 19 itu?

Di tahun 1991 para penyelam menemukan 750 kaki di dasar lautan Florida puing-puing pesawat dan menguji nomor penerbangannya. Ternyata itu bukan pesawat dari misi 19 namun pesawat lain yang hingga kini belum teridentifikasi.

Begitulah sedikit dokumentasi yang sempat direkam dari beberapa kasus hilangnya kapal dan pesawat saat melintasi Segitiga Bermuda yang sempat saya tuliskan kembali untuk mengenang fakta-fakta yang pernah terjadi di dalam sejarah manusia. Masih banyak kasus lain yang akhirnya tidak terekam dalam dokumentasi.

Hingga sekarang, bulan Juni tahun 2009 ini, RIBUAN NYAWA tercabut paksa di wilayah laut paling angker di dunia yang juga disebut SEGITIGA SETAN itu. SEBUTAN SEGITIGA SETAN ini konon muncul akibat spekulasi yang sudah dikenal luas adalah adanya KERAJAAN JIN dan DAJJAL di SEGITIGA BERMUDA.

REFLEKSI FILOSOFIS BERBAGAI MISTERI Misteri Segitiga Bermuda hanyalah ENTRI POINT untuk memahami berbagai misteri lain dalam sejarah manusia. Misteri Segitiga Bermuda adalah misteri manusia. Artinya, Hanya manusia yang menganggapnya misteri. Binatang, Tumbuhan, Malaikat, Jin, Semut, dan Burung, Angin, Tanah, Air dan makhluk-makhluk Ciptaan Tuhan yang lain tidak menganggapnya misteri. Manusia menganggap sebuah kejadian yang tidak bisa dipahaminya sebagai MISTERI.

Dari berbagai MISTERI DALAM HIDUP MANUSIA, saya merefleksikan sebagai berikut:

1. Pancaindera kita hanya mampu menangkap sebuah fenomena yang BISA DILIHAT, DIDENGAR, DAN DIRABA/DIRASAKAN. Dalam khasanah Neurolinguistic Programming(NLP) kita mengenal karakter manusia untuk memudahkan berkomunikasi yaitu tipe manusia yang cenderung menggunakan VISUAL (PENGELIHATAN), AUDITORI (PENDENGARAN) dan KINESTETIK (PERASAAN).

2. Setelah MELIHAT, MENDENGAR dan MERASA, maka AKAL/OTAK membuat generalisasi dari berbagai fakta menjadi KESIMPULAN dan KESIMPULAN bisa salah bila logika yang dipergunakan tidak benar. Akal mampu untuk mengangkat fakta-fakta ke tataran KONSEP YANG ABSTRAK

3. ABSTRAKSI tentang sebuah fenomena MISTERIUS bisa bermacam-macam tergantung pada bagaimana seseorang mengolah AKAL, mengorganisasi PENGETAHUAN menjadi ilmu-ilmu. Ilmu-Ilmu terbatas obyek materia dan obyek forma-nya sehingga tidak mampu untuk mencapai tataran PENGETAHUAN tentang KETUHANAN.

4. Di atas bidang AKAL, kita mengenal HATI NURANI. HATI NURANI bisa berbicara lain dengan AKAL.

5. HATI NURANI MAMPU MERASAKAN DAN BERKOMUNIKASI DENGAN GETARAN PERASAAN DARI HATI NURANI YANG LAIN.

6. TUHAN adalah Dzat yang MAHA LAHIR DAN MAHA BATIN. TUHAN bisa dinalar KEBERADAAN-NYA, BAHASA-NYA melalui akal setelah menyimpulkan dari panca indera. untuk berkomunikasi dengan TUHAN, maka alat manusia adalah HATI NURANINYA.

7. TUHAN adalah MISTERI TERBESAR HIDUP MANUSIA. Dan untuk mengenal, berkomunikasi dan merasakan PERCINTAAN DAN PERSENYAWAAN dengan TUHAN sebagai SATU-SATUNYA KEKASIH, maka tidak ada cara yang lebih benar kecuali mempersiapkan HATI NURANI kita untuk selalu SUJUD yaitu MAWAS DIRI, SELALU TERJAGA DAN TIDAK PERNAH TIDUR, RENDAH HATI DAN OJO DUMEH.

Wong Alus

Categories: REFLEKSI FILOSOFIS MISTERI | 8 Komentar

TIDAK ADA YANG MISTERIUS DI DUNIA


Dimana tempat paling misterius yang dipercaya oleh sebagian besar penduduk di bumi ini? Saya berani bertaruh, mereka akan menjawab Bermuda Triangle atau Segitiga Bermuda.

The_Bermuda_Triangle

Wilayah yang berada tengah lautan itu disebut juga Segitiga Setan yang terletak di Samudra Atlantik seluas 1,5 juta mil2 atau 4 juta km2 yang membentuk garis segitiga antara Bermuda, wilayah teritorial Britania Raya sebagai titik di sebelah utara, Puerto Riko, teritorial Amerika Serikat sebagai titik di sebelah selatan dan Miami, negara bagian Florida, Amerika Serikat sebagai titik di sebelah barat.

Kenapa misterius?

KEJADIAN PERTAMA TEREKAM DI TAHUN 1492. Adalah sang petualang penemu benua Amerika Christopher Columbus yang pertama kali mencatat adanya fenomena tidak masuk akal. Tanpa diduga, ketika di tengah bentangan samudera Atlantik yang luas, secara tiba-tiba jarum kompas di kapal Columbus berputar-putar tanpa arah pasti. Padahal, cuaca di luar kapal sangat bersahabat. Tidak ada hujan tidak ada badai dengan petir menyambar-nyambar. Tidak lama saat malam datang, para kelasi dikejutkan dengan kemunculan bola api yang terjatuh ke laut tidak jauh dari kapal.

“Seperti cahaya berkemilau di cakrawala, sesuatu seperti meteor dan peralatan navigasi tidak berfungsi dalam waktu lama” inilah catatan para kelasi yang dengan detail mengamati pergerakan kapal semasa di segitiga bermuda.

Untunglah, ekspedisi Columbus selamat dan tidak mengalami kejadian mengerikan dibanding banyaknya kapal dan pesawat yang melintasi wilayah itu. Tercatat hingga artikel ini saya tulis, sudah ada ratusan kapal dan pesawat terbang lenyap tanpa bisa diketahui keberadaanya.

KEJADIAN BESAR DI SEGITIGA BERMUDA YANG TIDAK BISA TERLUPAKAN OLEH SEJARAH DUNIA ADALAH LENYAPNYA KAPAL PERANG INGGRIS, ATLANTA PADA TAHUN 1880. Kapal perang canggih di jaman itu yang mengangkut 300 pelaut dengan berbagai keahlian itu mengalami kejadian nahas. Hingga kini, pemerintah Inggris tidak mengetahui secara pasti bagaimana kronologis lenyapnya kapal tersebut. bermuda-triangle

Tidak hanya lautnya yang mampu MENELAN kapal yang melintas, namun RUANG UDARANYA yang terdapat dalam lingkungan pertemuan tiga negeri itu juga sangat berbahaya. SEJARAH MENCATAT LIMA JET GRUMMAN TBF AVENGER AL AS YANG TENGAH MELINTAS DI WILAYAH LAUT ITU LENYAP dari pantauan radar pada tanggal 5 Disember 1945. 488px-TBF_(Avengers)_flying_in_formation

Radio komunikasi di pangkalan mencatat adanya pilot mengatakan adanya gangguan radio dan kompas saat pesawat melintas di koordinat lautan tersebut dan beberapa detik kemudian radio terputus.
Kehilangan lima pesawat membuat pemerintah AS geram dan mengirim pesawat Martin PBM-3 Mariner dengan penumpang 13 ahli kecelakaan untuk operasi pencarian. Namun jangankan menemukan serpihan pesawat Grumman pesawat ini pun lenyap tanpa sempat menghubungi menara komando.

TAHUN 1965, sebuah pesawat pengangkut C-119 Flying Boxcar seperti mengikuti nasib pesawat Grumman saat terbang melalui Segitiga Bermuda juga lenyap tanpa jejak sekecil apapun. TAHUN 1990, seorang peneliti membeberkan penemuan menggemparkan. Dia menemukan kerangka pesawat di pantai Fort Launderdale, Florida. Pesawat itu milik TBF Avenger yang hilang lebih 30 tahun lalu.

bermuda_triangle

Kehilangan-demi kehilangan itu terus menjadi MISTERI. Dari berbagai sumber saya menggolongkan MENJADI DUA SPEKULASI MENGENAI MISTERI SEGITIGA BERMUDA yaitu SPEKULASI ILMIAH dan MISTIS.

SPEKULASI ILMIAH:

1. Adanya medan gravitasi yang kuat sehingga mampu menarik benda-benda melintas di atas laut maupun di ruang udara kawasan segitiga bermuda.

2. Terjadinya gempa laut dan gelombang besar. Segitiga Bermuda merupakan pusat bertemunya antara arus air dingin dengan arus air panas,sehingga akan mengakibatkan pusaran air yang besar/dasyat.

3. Adanya lubang hitam (BLACK HOLE) di angkasa SEGITIGA BERMUDA. waterspout_noaa

4. ADANYA GAS METANA. Teori ini dipublikasikan untuk pertama kali tahun 1981 oleh Badan Penyelidikan Geologi Amerika Serikat. Teori ini berhasil diuji coba di laboratorium dan hasilnya memuaskan beberapa orang tentang penjelasan yang masuk akal seputar misteri lenyapnya pesawat-pesawat dan kapal laut yang melintas di wilayah tersebut.

SPEKULASI MISTIS

  1. PENCULIKNYA UFO. Pada tahun 1973, seorang peneliti UFO yang mengutip catatan NASA, menceritakan pada waktu hilangnya pesawat C-119, penerbang melihat sebuah UFO meluncur di udara kepulauan Hawai. Sejak itu, muncul spekulasi mengenai UFO-lah yang ‘menculik’ pesawat-pesawat maupun kapal.
  2. MARKAS DAJJAL, karena di Segitiga bermuda adalah KERAJAAN SETAN sebagaimana yang diyakini oleh kaum agamawan.
  3. Segitiga Bermuda memiliki kekuatan dan sifat khas energi kosmosnya, bisa menarik dan mengumpulkan sinar kosmos, medan energi atau energi gelombang lain yang belum diketahui dan struktur pada bagian dalamnya mungkin adalah resonansi gelombang mikro, yang memiliki efek terhadap suatu benda dan menghimpun sumber energi lainnya. Kesimpulan ini diambil oleh ilmuwan Amerika, Perancis dan negara lainnya pada setelah melakukan survey di area dasar laut Segitiga Bermuda. Mereka menemukan sebuah piramida berdiri tegak di dasar laut. Panjang sisi dasar piramida mencapai 300 meter, tingginya 200 meter, dan jarak ujung piramida ini dari permukaan laut sekitar 100 meter. Jika bicara tentang ukuran, piramida ini lebih besar skalanya dibandingkan dengan piramida Mesir kuno yang ada di darat. Di atas piramida terdapat dua buah lubang yang sangat besar, air laut dengan kecepatan tinggi melalui kedua lubang ini, dan oleh karena itu menggulung ombak yang mengamuk dengan membentuk pusaran raksasa yang membuat perairan disekitar ini menimbulkan ombak yang dahsyat menggelora dan halimun pada permukaan laut. Ilmuwan berpendapat bahwa Piramida ini awalnya dibuat diatas daratan, lalu terjadi gempa bumi dahsyat, dan tenggelam ke dasar laut seiring dengan perubahan di darat. Ilmuwan lainnya berpendapat bahwa beberapa ratus tahun yang silam perairan di area Segitiga Bermuda mungkin pernah sebagai salah satu aktivitas bangsa Atlantis, dan Piramida di dasar laut tersebut mungkin sebuah gudang. Ada juga yang berpendapat bahwa Piramida itu sebuah tanah suci bangsa Atlantis.

    Semua spekulasi itu masih terus berkembang seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan spiritual manusia modern. Namun bagi Tuhan, tidak ada lagi istilah SPEKULASI. SEBAB DALAM GENGGAMAN–NYA –DALAM ILMU MATEMATIKA-NYA — SEMUA INI ADALAH KEPASTIAN. Salam Cinta dari lubuk hati yang terdalam.

Categories: SEGITIGA BERMUDA | Tags: , , , , | 20 Komentar

KEHENDAK SEBAGAI MELODI DASAR HIDUP KITA


Ingatan, badan, dan tabiat semua ditentukan oleh KEHENDAK sebagai MELODI DASAR hidup kita. Oleh karena itulah dalam agama-agama selalu dibicarakan tentang SURGA sebagai balasan untuk KEBAIKAN HATI, KEBAIKAN KEHENDAK. Tidak pernah dibicarakan tentang SURGA untuk orang yang pintar atau cerdas.

the_vitruvian_man_and_womanSemua yang kita hadapi, awalnya tanpa label, tanpa sebutan, tanpa predikat. Tanpa bingkai sama sekali, hanyalah sebuah kejadian. Setelah kita alami, kita memberikannya sebuah bingkai. Kita melihatnya dari sudut pandang tertentu dan merasakannya dari jendela hati kita. Ada yang menyebutkannya sebagai ‘hoki’, ada yang menyebutnya ‘sial’, ‘kebetulan’, ‘saya memang selalu begini’, ‘karma’, ‘beginner’s luck’, ‘dia selalu begitu’, ‘begitulah wanita’ dan seterusnya.

Semua itu adalah bingkai yang kita berikan terhadap sebuah kejadian atau pengalaman kita. Setelah kita memberikan bingkai, atas ‘instruksi’ ini, subconscious kita mencatatnya sebagai sesuatu ‘pembenaran’. Sebagai suatu bingkai yang akan dipakai untuk berbagai kejadian dengan nature yang serupa dan sebagai penuntun ke sebuah jalur perilaku atau sikap yang dianggap subconscious sebagai yang ‘benar’ untuk kita berdasarkan bingkai tersebut.

Bingkai tertinggi dan terkuat dalam proses subconscious adalah apabila ada kata-kata seperti ‘Saya memang begitu’, ‘Dia orangnya begitu’, ‘Ya. Inilah saya’, ‘Ya, begitulah pasangan saya’, dan sejenisnya, yangmana menempatkan kejadian atau pengalaman sebagai ‘identitas’ atau jati diri.

Dengan menempelkan ke bingkai identitas, kita akan berpikir, berperilaku sesuai bingkai tersebut, atau akan merespon terhadap setiap sikap orang lain berdasarkan bingkai yang kita tempelkan kepadanya. Bagus, seandainya bingkai tersebut berguna bagi kita atau dengan bingkai tersebut kita memperoleh apa yang kita inginkan dari hidup.

Berbahaya, apabila dari bingkai tersebut yang kita peroleh hanyalah stress berlebihan, prasangka, dendam, iri, salah paham, sampai yang cukup sering terjadi: kehilangan peluang atau tidak bisa melihat pilihan lain karena kita sudah membatasi diri dengan bingkai tersebut. Seorang yang membingkai dirinya dengan identitas sebagai orang yang selalu sial akan selalu berusaha melihat, mendengar, dan merasakan dirinya sial dalam berbagi situasi.

Bahkan pada saat dia ‘beruntung’ pun, dia akan mempunyai argumentasi bahwa ini ‘bukan dia’. Dalam keadaan paling ekstrim dia seolah menolak keberuntungan tersebut karena merasa dia tidak berhak. Bukti yang paling bisa terlihat misalnya seseorang merasa bahwa dia tidak menarik. Pada saat seseorang kemudian benar-benar tertarik kepadanya, apa yang terjadi? Dia tetap saja tidak percaya diri, karena merasa tahu bahwa dia tidak menarik dan tidak pantas apabila ada yang tertarik kepadanya. And take my word for it, jika kita menghabiskan hidup kita mencari pembenaran untuk sesuatu yang kita percaya mengenai diri kita atau orang lain, kita akan menemukannya!

Seperti kata orang bijak ‘if you want to sing, you will find a song!’. Jadi Anda bisa menentukan apakah berguna bagi Anda untuk mencari pembenaran terhadap sesuatu yang pada akhirnya tidak memberikan apapun untuk kita? Bingkai yang kita berikan tidak sama dengan pengalaman atau kejadian itu sendiri. Saat berikut Anda ingin memberikan bingkai terhadap sebuah kejadian atau pengalaman Anda, baik dengan diri sendiri maupun orang lain, make sure it’s going to be a useful frame.

Yakinkan dahulu bahwa bingkai tersebut adalah positif dan akan berguna bagi Anda. Kedengarannya ‘kok repot’, dan pada awalnya memang Anda akan merasa canggung karena secara conscious berusaha memberikan bingkai terhadap berbagai pengalaman Anda. Setelah satu-dua kali, Anda akan terbiasa dan Anda akan lihat, dengar, dan rasakan bahwa hidup Anda secara perlahan tapi pasti, bergerak sesuai bingkai yang Anda berikan kepadanya. Ini karena bingkai-bingkai Anda telah memberikan instruksi kepada subconscious Anda untuk mengantarkan Anda ke kehidupan berdasarkan bingkai tersebut!

Jadi kali berikut Anda terpeleset, yang mungkin biasanya Anda langsung berkata “how clumsy I am!” atau “saya selalu kepeleset waktu terburu-buru”, lebih berguna kalau memberinya bingkai “Ups! Better be more careful next time!” atau “untung tidak ada yang lecet”. Atau pada saat ribut dengan pasangan, biasanya mungkin Anda berucap “Huh! Dia memang selalu begitu!” atau “Dia memang tidak akan pernah mengerti saya”, lebih berguna kalau memberinya bingkai seperti “Apa yang terjadi dengan dia? Saya tahu dia lebih baik dari ini” atau “Mungkin saya perlu waktu yang lebih tepat untuk berbicara” Lebih POSITIF dan lebih BERGUNA.

Jika Anda cukup sabar, YOU WILL SEE WHAT YOU BELIEVE IN YOUR FRAME. Sekarang, tinggal apakah Anda BERKEHENDAK untuk mengubah bingkai pengalaman apakah NEGATIF atau POSITIF.

Sekarang, apa hakikat KEHENDAK itu sesungguhnya? HAKIKAT MANUSIA tidak terletak pada KESADARAN atau AKAL BUDI. KESADARAN itu hanya bagian kecil dari HAKIKAT MANUSIA. Seperti kita hanya mengenal bagian kecil dari bumi, yaitu bagian paling luar yaitu kulitnya. Demikianlah kita juga hanya mengenal bagian luar dari hakikat kita yaitu KESADARAN, yang hanya merupakan kulit atau permukaan dari sesuatu yang lebih besar dan dalam. KESADARAN ITU SEPERTI PERMUKAAN LAUTAN. Keputusan-keputusan tidak berasal dari KESADARAN tetapi dari bagian dalam lautan ini.

KEPUTUSAN diambil menurut hukum-hukum yang tidak jelas, sebagai hasil dari suatu proses yang sama sekali tidak sadar seperti kita bernafas maupu proses pencernaan. Dunia batin kita, termasuk akal budi dikuasai oleh KEHENDAK. KEHENDAK adalah seperti orang buta yang kuat yang mengangkut orang lumpuh yang dapat melihat. Manusia tidak DITARIK oleh KESADARANNYA, ia justeru didorong oleh kehendak TIDAK SADAR.

Manusia didorong oleh KEHENDAK UNTUK HIDUP. Ingatan, badan, dan tabiat semua ditentukan oleh KEHENDAK sebagai MELODI DASAR hidup kita. Oleh karena itulah dalam agama-agama selalu dibicarakan tentang SURGA sebagai balasan untuk KEBAIKAN HATI, KEBAIKAN KEHENDAK. Tidak pernah dibicarakan tentang SURGA untuk orang yang pintar atau cerdas. KEHENDAK itu sangat kuat. Semua fungsi badan membutuhkan istirahat dan tidur untuk melaksanakan tugas-tugas mereka dengan baik. KEHENDAK TIDAK PERNAH LELAH DAN TIDAK PERNAH TIDUR dan mengurus terus menerus tugas jantung, paru-paru dan organ manusia yang lain.

Apakah Hakikat Kehendak (irâdah) TUHAN ITU SAMA DENGAN HAKIKAT KEHENDAK TUHAN? JELAS TIDAK. Kehendak manusia TIDAK SAMA dengan kehendak (ISTILAH AGAMA: IRADAT) TUHAN. Karena, manusia terlebih dahulu mengkonsepsikan sesuatu. Meminum air, misalnya, lalu ia MEMBERI BINGKAI PENGALAMAN dan manfaat dari meminum air tersebut.

Dan setelah memastikan apa manfaat itu, keinginan dan antusias untuk melakukan tindakan meminum terwujud dalam dirinya. Dan tatkala KEINGINAN MENCAPAI PUNCAKNYA, LAHIRLAH PERINTAH UNTUK MEWUJUDKANNYA. MAKA IA PUN BERGERAK UNTUK MELAKUKAN PEKERJAAN TERSEBUT. Akan tetapi, kita ketahui bahwa tidak satu pun DARI KONSEPSI AFIRMASI, KEINGINAN, PERINTAH, DIRI, DAN GERAKAN ORGAN dapat dilabelkan kepada TUHAN.

Lalu, apakah maksud dari kehendak Tuhan itu? Di dalam filsafat Islam, kita akan sampai pada makna yang sesuai dengan wujud Tuhan yang sederhana; TAK TERSUSUN dan BEBAS DARI SEGALA MACAM PERUBAHAN ini. Para filsuf Islam menyimpulkan bahwa kehendak (Irâdah) Allah swt. terdiri dari dua bagian:

A. IRADAH DZATIYAH (KEHENDAK DALAM TAHAP DZAT).

B. IRADAH FI’LIYAH (KEHENDAK DALAM TAHAP TINDAKAN).

KEHENDAK DZATIYAH KEHENDAK TUHAN TAHAP DZAT adalah ilmu terhadap sistem terbaik pada ALAM PENCIPTAAN, dan kebaikan para hambanya terdapat pada ketaatan pada hukum LOGIKA. Ia mengetahui sebaik-baiknya sistem untuk alam semesta. Dan setiap ADA pada setiap tingkatan harus bersifat baru. Ilmu ini merupakan sumber ADA bagi seluruh ADA.

Dan kebaruan fenomena-fenomena yang terdapat pada setiap zaman adalah berbeda-beda. Demikian juga dari sudut pandang hukum, Dia mengetahui letak APA YANG TERBAIK bagi seluruh makhluk, dan RUH seluruh hukum adalah ilmu-Nya terhadap maslahat dan mafsadat.

KEHENDAK FI’LIYAH (PERBUATAN) TUHAN. adalah PENGADA itu sendiri dan termasuk dalam sifat PERBUATAN. Oleh karena itu, KEHENDAK TUHAN. atas penciptaan bumi dan langit adalah pengadaan bumi dan langit itu sendiri. Dan kehendak-Nya atas kewajiban manusia adalah BERIBADAH dan MENJAUHI LARANGANNYA adalah KEWAJIBAN. Sementara KEHENDAK DZATIYAH TUHAN adalah ilmu-Nya maka KEHENDAK FI’LIYAH TUHAN adalah PENGADA itu sendiri. ***

wong alus

Categories: KEHENDAK TUHAN & MANUSIA | Tags: , , | 7 Komentar

HAKIKAT MENYEBUT NAMA TUHAN


Tuhan Yang Maha SATU memiliki nama atau sebutan yang jumlahnya tiada terhingga. Namun karena akal manusia sangat terbatas, maka hanya ditulis 99 yang terangkum dalam Nama Allah yang Indah, atau Al-Asma ul-Husna.

gDalam hadits disebut sebagai berikut: “Bismillahir rohmaanir rohiim. Tiada tuhan selain Dia: Yang Maha Pemurah; Yang Maha Penyayang; Yang Merajai; Yang Maha Suci; Yang Maha Sejahtera; Yang membenarkan rasul-rasul-Nya dan menepati janji-Nya; Yang menaungi Hamba-Hamba-Nya; Yang Maha Kuasa; Yang dapat Memaksakan Kehendak-Nya; Yang Maha Perkasa; Yang patut Dipuja karena keagungan Sifat-Sifat-Nya; Yang Maha Pencipta; Yang menjadikan segala sesuatu; Yang Memberi Rupa dan Bentuk kepada segala sesuatu; Yang Maha Kuasa Menutupi kesalahan Hamba-Hamba-Nya; Yang dapat Menaklukkan segala sesuatu; Yang Maha Kuasa Memberi segala sesuatu kepada Makhluk-Nya; Yang Memberi Rezeki; Yang Maha Kuasa Membuka Perbendaharaan Rahmat-Nya kepada semua Makhluk; Yang Maha Mengetahui; Yang Maha Kuasa Menyempitkan; Yang Maha Kuasa Melapangkan; Yang Maha Kuasa Merendahkan Martabat sesiapa yang dikehendaki-Nya; Yang Maha Kuasa Mengangkat Martabat sesiapa yang dikehendaki-Nya; Yang meninggikan derajat sesiapa yang dikehendaki-Nya; Yang menghinakan kedudukan sesiapa yang dikehendaki-Nya; Yang Maha Mendengar; Yang Maha Melihat; Yang menetapkan Keputusan-Nya atas segala sesuatu; Yang Maha Adil; Yang Yang Maha Mengetahui segala rahasia yang samar dan pelik; Yang Maha Mengetahui Hakikat segala sesuatu; Yang tetap dapat menahan amarah; Yang Maha Besar; Yang Maha Pengampun; Yang Maha Mensyukuri Hamba-Hamba-Nya yang taat dengan memberikan pahala atas setiap perbuatan yang baik; Yang Maha Tinggi Martabat-Nya; Yang Maha Agung; Yang Memelihara dan Menjaga semua Makhluk-Nya; Yang Menjadikan segala apa yang dibutuhkan oleh Makhluk; Yang memberi kecukupan dengan kadar perhitungan yang tepat; Yang Maha Mulia; Yang melimpahkan karunia kepada Makhluk-Makhluk-Nya tanpa diminta sebelum-Nya; Yang Selalu Mengawasi dan Memperhatikan segala sesuatu; Yang dapat mengabulkan do’a Hamba-Hamba-Nya; Yang Maha Luas Kekayaan-Nya dan Pemberian-Nya kepada Hamba-Hamba-Nya; Yang Maha Bijaksana; Yang Mencintai dan Mengasihi; Yang Maha Mulia dan Maha Besar Kemurahan-Nya kepada Hamba-Hamba-Nya; Yang Maha Kuasa Membangkitkan sesiapa yang sudah wafat; Yang menyaksikan segala sesuatu; Yang Hak; Yang Maha Benar; Yang Menunjukkan Kebenaran; Yang dapat mengurusi dan menyelesaikan segala urusan Hamba-Hamba-Nya; Yang Maha Kuat lagi Perkasa; Yang Maha Kokoh dan Maha Sempurna Kekuatan-Nya; Yang Maha Melindungi dan Menolong serta membela Hamba-Hamba-Nya; Yang Patut dipuja dan dipuji; dengan Ilmu-Nya yang meliputi segala sesuatu, Yang Maha Penghitung dan Pemelihara segala sesuatu; Yang menjadikan segala sesuatu dari tiada; Yang mengembalikan lagi segala sesuatu yang telah lenyap; Yang Maha Kuasa Menghidupkan apapun yang sudah mati; Yang Maha Kuasa mematikan apapun yang hidup; Yang Maha Tetap Hidup; Yang berdiri sendiri dan tetap mengurusi Makhluk-Makhluk-Nya; Yang Maha Kaya dengan Penemuan dan dapat melaksanakan segala sesuatu yang dikehendaki; Yang Mempunyai Kemuliaan dan Maha Tinggi dari segala Kekurangan; Yang Maha Tunggal; Yang Maha Esa; Yang menjadi tujuan segala Makhluk dan tempat meminta sesuatu yang menjadi kebutuhan mereka; Yang sanggup melaksanakan semua hal yang dikehendaki; Yang sangat berkuasa, Kekuasaan-Nya menguasai segala yang kuasa; Yang Maha Kuasa Mendahulukan; Yang Maha Kuasa Mengakhirkan; Yang pertama Ada-Nya sebelum segala sesuatu ada; Yang tetap ada setelah segala sesuatu musnah (berakhir); Yang lahir; Yang batin; Yang mengendalikan dan menguasai segala macam urusan Makhluk; Yang Pencapaian-Nya berada di puncak ketinggian yang amat tinggi; Yang Maha Baik dan membuat segala macam kebajikan; Yang menerima tobat dan memberi maaf kepada Makhluk yang berdosa; Yang Maha Kuasa Menindak Hamba-Nya yang bersalah dengan menyiksa; Yang Maha Memberi Maaf; Yang Maha Belas Kasih dan Penyayang; Yang memiliki segala kekuasaan di alam ini, dan dengan kekuasaan-Nya melaksanakan segala hal yang dikehendaki; Yang memiliki sifat Kebesaran, Keagungan, Kemuliaan serta Kemurahan; Yang Maha Adil dalam Hukum-Nya; Yang dapat mengatur dan mengumpulkan segala sesuatu; Yang tidak membutuhkan sesuatu apapun; Yang dapat memberikan segala kebutuhan Makhluk dan Yang Maha Kuasa Memberikan Kekayaan kepada Hamba-Nya; Yang dapat mencegah dan mempertahankan sesuatu; Yang dapat mendatangkan bahaya dan memberikan kemelaratan; Yang dapat memberikan manfaat; Yang memberi cahaya kepada segala sesuatu; Yang memberi petunjuk; Yang menciptakan alam semesta dalam bentuk yang indah yang belum pernah dibuat oleh siapapun; Yang Maha Kekal Wujud-Nya; Yang tetap ada setelah segala makhluk tiada; Yang Maha Pandai dan Bijaksana; Yang Maha Sabar. Subhana-llah.”

Sekarang marilah kita meninjau nama-nama Tuhan di atas secara lebih cermat. Menurut Kaum Sufi, ketika TUHAN memutuskan untuk menciptakan alam semesta yang bersifat lahir dan kasatmata, maka Ia memulai dengan menunjukkan secara terpisah-pisah Sifat-Nya yang bertalian dengan Nama-Nama-Nya tersebut, ibarat berkas cahaya terpisah menjadi pelangi bila menimpa kaca prisma.

Saling interaksi warna itu menghasilkan berbagai warna baru, dan demikianlah proses penciptaan segala sesuatu—tiap makhluk atau bentuk merupakan titik fokus khusus, tempat berbagai nama dan Sifat Ilahi berkumpul dan menyebabkan berbagai peristiwa menyebar.

David Bohm, ahli fisika membuat rangkaian kejadian itu untuk memahami proses “penarikan dan penguraian simpul-simpul yang memenuhi ruang dan waktu alam semesta.”

Manusia merupakan makhluk yang paling inklusif dan komprehensif, yaitu ruang lingkupnya luas dan lengkap, sehingga ia mampu menjadi dan memiliki sifat-sifat seperti 99 Nama Tuhan, bukan hanya satu-dua. Tiap orang yang berhasil mewujudkan ke-99 Sifat Ilahi tersebut akan memiliki DERAJAT YANG MULIA: menjadi Kalifatullah di bumi.

Seseorang dapat juga mengambil salah satu di antara nama Tuhan Tiap kali ia menyebutnya dalam berzikir. Sifat nama itu akan muncul di dalam dirinya, karena pada titik itu Nama Tuhan dikerahkan, dan Kekuatan-Nya terpusat di tempat itu juga.

Oleh karena itu, seseorang yang mengharapkan Kemurahan Tuhan akan menyebut berulang kali Nama Ar-Rahim, sedangkan dia yang mengharapkan Keadilan-Nya akan menyebut Nama Al-Adlu. Dengan demikian, Sifat Kerahiman atau Keadilan-Nya akan muncul pada pezikir yang membaca berulang kali Nama-Nya.

Itu bukan semacam mantra, melainkan suatu proses penciptaan sifat alam semesta. Jagat raya tidak diciptakan dalam sesaat pada masa silam seperti yang dipahami para penganut mazhab “jagat mesin jam,” yang mengangankan Tuhan sebagai Tukang Arloji Yang Maha Besar.

Alam berubah tiap saat, dan pada saat PERUBAHAN itu pula, seluruh bentuk sebelumnya akan hilang untuk selama-lamanya. Jadi, alam semesta berubah-ubah terus-menerus, dan pada tiap detik mendatang diperbaharui—menjadi lain dari alam sebelumnya serta lain daripada alam yang akan datang . Proses itu tidak jauh berbeda dengan keadaan pita film yang merupakan sederetan gambar foto yang berbeda-beda, meskipun amat kecil perbedaan antara salah satu gambar dengan foto di kiri-kanannya.

Bagi filsuf-filsuf Barat problem itu adalah soal Ada yang stabil, abadi, dan utuh dapat berubah atau kenyataan itu terus-menerus berubah. Para Sufi memecahkannya dengan melihat bahwa wujud itu bersusun menurut peringkat kerumitan atau diferensiasinya. Dengan demikian, perbedaan yang kecil di tuingkat substansi menjadi amat besar setelah sampai di alam kasatmata. Ibarat setitik debu pada transparansi atau film kelihatan besar setelah diproyeksikan kepada layar dalam bentuk cahaya.

Perlu kita catat di sini bahwa dalam hubungan ini yang dimaksudkan dengan “cahaya” itu bukanlah aliran foton elektromagnetik, melainkan “nur akal budi.” Hal yang demikian berarti bahwa tiap saat “Ada” tersebut lahir, dan hampir seketika itu Sang Ada hilang lagi—seperti gerakan air laut yang turun-naik, tercipta dan langsung musnah, timbul dan langsung tenggelam ke dalam samudera Ada .

Demikianlah proses penjelmaan Kejadian terus-menerus. Oleh sebab itu, tidak benar bahwa Tuhan hanya menciptakan alam semesta pada suatu ketika pada awal segala abad. Tuhan senantiasa terlibat dalam kesibukan-Nya Pribadi sebagai Pencipta sekaligus Pemusnah, dan memang itu yang dimaksudkan oleh Syekh Akbar Ibn Arabi dengan istilahnya “penciptaan terus-menerus.”

Maka dari itu, bilamana seseorang mengerahkan salah satu Nama Ilahi dalam bentuk dzikir, maka sifat yang terkandung di dalam Nama yang dipilihnya akan muncul di tempat itu juga, dan akibat—suatu tindakan nyata—dari Sifat tersebut akan menyusul.

Beberapa di antara nama Ilahi itu bersifat saling melengkapi, seperti Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Lahir dan Yang Batin, Yang Maha Penghormat dan Yang Maha Penista. Di antara Nama lainnya terdapat gugus atau urutan, seperti urutan Yang Maha Pencipta (No. 11)—Yang Maha Pencetus (58)—Yang Maha Pembuat (12)—Yang Maha Pemrakarsa (95)—Yang Maha Pembentuk (13)—Yang Maha Pembubuh (64)—Yang Maha Pemberi Hidup (60)—Yang Maha Pelindung (38)—Yang Maha Menopang (39)—Yang Maha Pemberi Rezeki (17)—Yang Maha Pembunuh (61)—Yang Maha Pemusnah (15). Hakiki seluruh proses kejadian alami terkandung di dalam urutan ini.

Segala isi alam semesta dapat dilihat sebagai proses penciptaan yang disusul oleh eksistensi selama periode tertentu dan kemudian berakhir dengan pemusnahannya. Bila Tuhan ber-Kehendak menciptakan sesuatu, maka mula-mula Ia mencetuskannya. Kemudian Dia merencanakan atau membentuknya ibarat seorang penemu ciptaan baru yang merancangnya dalam bentuk skema. Setelah dirancang, Ciptaan baru-Nya langsung dijadikan-Nya di alam kasatmata, dan kemudian, pada tiap tahap kejadiannya, produk baru itu dibentuk-Nya secara aktif sampai berjasad nyata.

Jika produk baru itu bersifat Makhluk hidup, maka Ia menghidupkannya, melindunginya, memberi nafkah kepadanya seumur hidup, dan membantunya jika berkembang biak. Karena tiap awal juga mengandung akhirnya sendiri, maka Tuhan membunuh Makhluk-Nya kalau sudah sampai ajalnya. Di antara nama-nama Ilahi yang berjumlah 99 tersebut, pengamat dapat menemukan banyak gugus lain sejenis.

Bila Nama-Nama Ilahi disusun secara hierarkis, urutan pertama harus jatuh pada Yang Maha Hidup, karena Hayat Abadi Tuhan mendahului segenap Sifat lain-Nya. Urutan Nama Yang Maha Mengetahui hanya kalah dengan Yang Maha Hidup, karena Pengetahuan Tuhan meliputi segala sesuatu, dan Nama itu juga bertalian erat dengan Nama-Nama seperti Yang Maha Melihat, Yang Maha Mendengar, Yang Maha Mengetahui Hakikat segala sesuatu, dan Yang Maha Mengawasi segala sesuatu.

Di bawah ini Ke-99 Nama Tuhan Yang Indah dijelaskan secara lebih terperinci. Pada hakikatnya, urutan Nama-Nya harus dimulai dengan Nama Allah, Nama serba komprehensif yang merupakan asal-usul Nama-Nama lain-Nya. Dengan demikian, jumlahnya meningkat menjadi 100.

AL-ASMA’UL HUSNAA (NAMA-NAMA INDAH DAN AGUNG)
1. ALLAH – Nama Ilahi yang serba komprehensif. Nama panggilan Ketuhanan yang merupakan asal-usul segenap Nama lain-Nya.
2. AR-RAHMAN – Yang Maha Pemurah. Ia yang melimpahkan Kemurahannya kepada segenap Makhluk-Nya.
3. AR-RAHIEM – Yang Maha Penyayang. Ia melimpahkan Kemurahannya kepada semua orang yang beriman.
4. AL-MALIK – Yang Maha Kuasa dan Merajai. Ia Raja seluruh alam semesta.
5. AL-QUDDUS – Yang Maha Suci dari Sifat Kekurangan. Atau Yang Maha Kudus.
6. AS-SALAAM – Yang Maha Sejahtera (memberi keselamatan). Yang Maha Suci dari Sifat Buruk.
7. AL-MUKMIN – Yang membenarkan rasul-rasul-Nya dan menepati Janji-Nya; Yang Memberi keamanan kepada Makhluk-Nya. Atau Maha Pelindung Iman, atau Maha Pelindung Mukminin. Dia mengaktifkan Nama ini di dalam diri mukminin sehingga terpelihara imannya.
8. AL-MUHAIMIN – Yang memperhatikan, menjaga, serta menaungi Hamba-Hamba-Nya dalam segala keadaan. Atau Yang Maha Pelindung, khususnya Pelindung iman.
9. AL-AZIZ – Yang Maha Kuat dan Mengalahkan segala sesuatu dan tidak dapat dikalahkan oleh apapun. Atau Yang Maha Mulia, atau pun Yang Maha Jaya.
10. AL-JABBAR – Yang dapat Memaksakan Kehendak-Nya atas semua Makhluk-Nya; Yang Maha Perkasa. Yang Kehendak-Nya tidak terkalahkan atau diingkari.
11. AL-MUTAKABBIR – Yang patut Dipuja karena Keagungan Sifat-Sifat-Nya; Yang Memiliki Kebesaran. Atau Yang Maha Bangga, atau Yang Maha Agung. Hanya Tuhan, Yang Berkuasa atas segala Hidup, berhak berbangga.
12. AL-KHALIK – Yang Maha Pencipta. Yang Maha Kuasa Menciptakan segala sesuatu, seluruh alam semesta, dan segala Makhluk di dalamnya.
13. AL-BARI’ – Yang menjadikan segala sesuatu. Atau Yang Maha Pengembang. Tuhan merencanakan Makhluk-Nya dan menuntunnya melalui tahap-tahap dalam proses perkembangannya.
14. AL-MUSHAWWIR – Yang Memberi Rupa dan Bentuk kepada segala sesuatu. Secara aktif, Tuhan mencetak segala sesuatu dan membentuknya seraya Ciptaan-Nya menempuh segala tahap dalam proses perkembangannya.
15. AL-GHAFFAR – Yang Maha Kuasa Menutupi segala kesalahan Hamba-Hamba-Nya dengan mengampuni dosa-dosa mereka. Melalui Kuasa Nama ini, Tuhan mengampuni orang yang berdosa.
16. AL-QOHHAR – Yang dapat Menaklukkan segala sesuatu; Yang dapat Memaksakan segala yang menjadi Kehendak-Nya. Atau Yang Maha Penekan. Tuhan menaklukan dan mengakhiri segala sesuatu.
17. AL-WAHHAB – Yang Maha Kuasa Memberi segala sesuatu kepada Makhluk-Nya. Tuhan memberi Kurnia-Nya kepada sesiapa yang dikehendaki-Nya.
18. AR-ROZZAQ – Yang Memberi Rezeki. Tuhan adalah satu-satunya Pemberi Rezeki.
19. AL-FATTAH – Yang Maha Kuasa Membuka Perbendaharaan Rahmat-Nya kepada semua Makhluk. Tuhan jualah yang membuka jalan ke arah segala pengembangan.
20. AL-‘ALIEM – Yang Maha Mengetahui. Atau Yang Serba Mengetahui. Tiada suatu pun yang luput dari Pengetahuan-Nya.
21. AL-QOBIDH – Yang Maha Kuasa Menyempitkan. Dia yang menyempitkan atau menyusutkan sesuatu untuk mempersulit urusan Makhluk-Nya.
22. AL-BASITH – Yang Maha Kuasa Melapangkan. Dia yang mempermudah segala urusan Makhluk-Nya atau sebaliknya membiarkan mereka berkembang.
23. AL-KHOFIDH – Yang Maha Kuasa Merendahkan Martabat sesiapa yang dikehendaki-Nya.
24. AR-ROFI’ – Yang Maha Kuasa Mengangkat Martabat sesiapa yang dikehendaki-Nya.
25. AL-MU’IZZ – Yang meninggikan derajat sesiapa yang dikehendaki-Nya.
26. AL-MUDZILL – Yang menghinakan kedudukan sesiapa yang dikehendaki-Nya. Yang mampu meninggikan martabat juga mampu menurunkannya.
27. AS-SAMIE’ – Yang Maha Mendengar. Tiada suatu pun yang luput dari Pendengaran-Nya.
28. AL-BASHIER – Yang Maha Melihat. Tiada suatu pun yang luput dari Pengamatan-Nya.
29. AL-HAKAM – Yang menetapkan Keputusan-Nya atas segala sesuatu. Tuhan adalah Hakim seluruh umat manusia, terutama pada Hari Kiamat.
30. AL-‘ADLU – Yang Maha Adil. Tuhan adil dalam Keputusan-Nya dan membagikan hukuman dan pahala dengan segala cermat-Nya, sehingga di seluruh alam semesta, termasuk Keputusan-Nya, tidak terdapat ketimpangan atau deviasi yang kecil sekali pun.
31. AL-LATHIEF – Yang Maha Mengetahui segala rahasia yang samar dan pelik. Yang bersifat santun dan lembut kepada Hamba-Hamba-Nya. Ia yang Maha Pemurah, mengagumkan, dan terlalu halus untuk dilihat dengan mata kepala. (“Tuhan Allah sulit ditebak, tetapi Ia tidak jahat.” Albert Einstein.
32. AL-KHOBIER – Yang Maha Mengetahui Hakikat segala sesuatu. Karena Ia Maha Mengetahui, Maha Melihat, dan Maha Mendengar, niscaya Tuhan memantau segala kejadian.
33. AL-HALIEM – Yang tetap dapat menahan amarah. Atau Yang Maha Lemah Lembut. Atau Yang Maha Penyabar. Tuhan baru tega menghukum bila digusarkan terus-menerus.
34. AL-‘ADHIEM – Yang Maha Besar; Yang Maha Luhur; Yang Maha Agung. Ia Raja alam semesta dan Maha Besar dari sudut martabat.
35. AL-GHAFUR – Yang Maha Pengampun. Dia memaafkan segala dosa yang disesali pelakunya.
36. ASY-SYAKUR – Yang Maha Mensyukuri Hamba-Hamba-Nya yang taat dengan memberikan pahala atas setiap perbuatan yang baik.. Tuhan menerima syukur mereka yang bersyukur kepada-Nya. Sampai tingkat tertentu, Ia sekali gus pengucap syukur serta perbuatan mengucapkan syukur.
37. AL-‘ALIY – Yang Maha Tinggi Martabat-Nya. Ia Tuhan Yang bertakhta jauh-jauh di atas.
38. AL-KABIER – Yang Maha Besar. Ia teramat Besar dari sudut ukuran ruang dan waktu.
39. AL-HAFIEDZ – Yang Memelihara dan Menjaga semua Makhluk-Nya. Ia melindungi segala sesuatu, terutama Sabda-Nya (Alquran), sampai tiba ajalnya, dengan pengertian bahwa Alquran akan bertahan sampai akhir segala zaman.
40. AL-MUQIET – Yang Menjadikan segala apa yang dibutuhkan oleh Makhluk-Makhluk-Nya., seperti makanan, minuman dan sebagainya. Atau Yang Maha Pemelihara. Di antara ketiga fase hidup (Kreasi, Hidup, dan Pemusnahan), Nama ini bertalian dengan fase kedua.
41. AL-HASIEB – Yang memberi kecukupan dengan kadar perhitungan yang tepat. Juga berarti Juru Hitung, yang menunjukkan bahwa Tuhan mencipta berdasarkan perhitungan yang amat sangat halus (oleh Al-Muhshi).
42. AL-JALIEL – Yang memiliki segala Sifat kebenaran dan kebesaran. Juga menyangkut segi Ilahi sebagai Yang Maha Pemurka.
43. AL-KARIEM – Yang Maha Mulia, yang melimpahkan karunia kepada Makhluk-Makhluk-Nya tanpa diminta sebelumnya. Karena Ia jua yang memberikan kita segala milik yang kita punyai, maka Kemurahan-Nya tak terhingga.
44. AR-RAQIEB – Yang Selalu Mengawasi dan Memperhatikan segala sesuatu, dan tiada suatu pun yang luput dari Pegawasan-Nya. Ia memantau, menyelia, dan mengontrol. (Banyak di antara penemuan teknologi mutakhir menjelmakan Nama ini.)
45. AL-MUJIEB – Yang dapat mengabulkan doa Hamba-Hamba-Nya. Atau Yang Maha Pengabul Doa.
46. AL-WASI’ – Yang Maha Luas Kekayaan-Nya dan Pemberian-Nya kepada Hamba-Hamba-Nya. Yang Maha Besar dari sudut keluasan atau permuaian.
47. AL-HAKIEM – Yang Maha Bijaksana. Ia Asal-Usul, Pemilik, dan Pembagi segala sifat kearifan.
48. AL-WADUD – Yang Mencintai dan Mengasihi. Tuhan adalah Cinta Kasih dan Pembagi-nya—Pengasih, Kasih, dan Kekasih.
49. AL-MAJIED – Yang Maha Mulia dan Maha Besar Kemurahan-Nya kepada Hamba-Hamba-Nya. Ia teramat Ajaib dan patut dipuja, dan oleh karena itu paling patut diagungkan.
50. AL-BA’ITS – Yang Maha Kuasa Membangkitkan sesiapa yang sudah wafat. Tuhan membangkitkan ahli kubur pada Hari Kiamat. Ia juga menciptakan hidup baru dan menghidupkan kembali segala sesuatu yang hanya dikira mati.
51. ASY-SYAHIED – Yang menyaksikan segala sesuatu. Karena Ia Yang Serba Sadar dan Yang Maha Pengawas, maka Tuhan adalah Saksi akan segala kejadian sejagat raya, termasuk perbuatan kita yang kecil sekali pun.
52. AL-HAQ – Yang Haq; Yang Maha Benar; Yang Menunjukkan Kebenaran. Ia inti terdalam seluruh alam dan sama sekali luput dari segala sifat dusta dan kesilapan.
53. AL-WAKIEL – Yang dapat mengurusi dan menyelesaikan segala urusan Hamba-Hamba-Nya. Melalui Nama ini kita percaya kepada Tuhan, dan melalui Nama ini Ia memberi rezeki asalkan kita telah berusaha sendiri (memenuhi kewajiban dan mengambil tindakan pencegahan seperlunya).
54. AL-QOWIYU – Yang Maha Kuat lagi Perkasa. AtauYang Tak Terbatas.
55. AL-MATIEN – Yang Maha Kokoh dan Maha Sempurna Kekuatan-Nya. Ia Yang Bertahan, yang Maha Melawan, atau Yang Maha Pemberani. (Nama ini terwujud dalam bahan adikeras sebangsa intan.)
56. AL-WALIYU – Yang Maha Melindungi dan Menolong serta membela Hamba-Hamba-Nya. Atau Yang Maha Sahabat lagi Pelindung. Tuhan merupakan Sahabat setia terhadap segenap Sahabat-Nya
57. AL-HAMIED – Yang Patut dipuja dan dipuji. Segala puja dan puji adalah Milik-Nya jua.
58. AL-MUHSHI – Dengan Ilmu-Nya yang meliputi segala sesuatu, Dia menghitung dan memelihara segala yang ada, baik yang besar maupun yang kecil sekali pun, hingga tiada suatu pun yang luput dari Perhitungan dan Pemeliharaan-Nya. Atau Yang Maha Penghitung atau pun Yang Maha Perancang. Ia sumber ilmu matematika, dan oleh sebab itu sumber segala ilmu pengetahuan alam (lihat juga Al-Hasieb). Menurut Leopold Kronecker, seorang ahli matematika tersohor, “Tuhan hanya menciptakan nomor; selain itu, segala sesuatu adalah ciptaan manusia.” Atau, yang lebih tepat, di alam semesta ini Tuhan mewujudkan ilmu matematika-Nya yang tinggi serta Kalkulasi dan Proporsi Ilahi, sehingga tugas manusia ialah hanya menemukan dan meniru Kemuliaan-Nya.
59. AL-MUBDI’U – Yang menjadikan segala sesuatu dari tiada. Segala apa yang diambil oleh Tuhan dapat dikembalikan-Nya.
60. AL-MU’IED – Yang mengembalikan lagi segala sesuatu yang telah lenyap. Melalui Kekuatan Nama ini, semua doa kita untuk arwah tercinta yang telah tiada akan dikabulkan oleh-Nya pada Hari Kebangkitan.
61. AL-MUHYI – Yang Maha Kuasa Menghidupkan segala sesuatu yang sudah mati. Ia memberi hayat kepada segala Makhluk hidup.
62. AL-MUMIET – Yang Maha Kuasa mematikan apapun yang hidup. Atau Yang Maha Pencipta Maut, atau Yang Maha Pemusnah. Segala sesuatu yang hidup akhirnya ditakdirkan mati oleh-Nya.
63. AL-HAYYU – Yang Maha Tetap Hidup. Hanya Tuhan jualah yang mempunyai Hidup abadi, karena Ia tidak lahir dan tidak mati pula.
64. AL-QOYYUM – Yang berdiri sendiri dan tetap mengurusi Makhluk-Makhluk-Nya. Ia untuk selama-lamanya berdiri tegak, siaga, dan awas.
65. AL-WAAJID – Yang Maha Kaya dengan Penemuan dan dapat melaksanakan segala sesuatu yang dikehendaki. Ia memberi bentuk badani kepada segala sesuatu yang terdapat di dunia ini.
66. AL-MAAJID – Yang Mempunyai Kemuliaan dan Maha Tinggi dari segala Kekurangan. Satu-satunya Ada yang patut diagungkan.
67. AL-WAAHID – Yang Maha Tunggal. Atau Yang Maha Tersendiri dalam bentuk dan jenis. Atau Yang Maha Pemersatu. Segala kelipat-gandaan tersatu di dalam Diri-Nya.
68. AL-AHAD – Yang Maha Esa. Yang Maha Tunggal, tanpa salinan, (maksudnya tidak ditinjau dari sudut urutan angka matematika, tetapi sebagai “Ia Yang tidak diserupai oleh sesama satu pun.”)
69. ASH-SHOMAD – Yang menjadi tujuan segala makhluk dan tempat meminta sesuatu yang menjadi kebutuhan mereka. Atau Yang Maha Abadi. Segenap Makhluk menyeru-Nya dalam kekurangan, dan Dia, yang bebas dari segala kebutuhan, menyediakan kebutuhan mereka.
70. AL-QODIR – Yang sanggup melaksanakan semua hal yang dikehendaki. Tuhan Maha Kuasa. (Sezarah dari segala Sifat Nama ini terwujud pada laut lepas, ilmu Ilahi, dan bidang keuangan.)
71. AL-MUQTADIR – Yang sangat berkuasa. Kekuasaan-Nya menguasai segala yang kuasa.
72. AL-MUQODDIM – Yang Maha Kuasa Mendahulukan. Atau Yang Maha Pemercepat. Bila dikehendaki-Nya, Tuhan sanggup mempercepat segala urusan.
73. AL-MU’AKHKHIR – Yang Maha Kuasa Mengakhirkan. Atau Yang Maha Pemerlambat. Sebaliknya, Ia sanggup memperlambat segala urusan.
74. AL-AWWAL – Yang pertama Ada-Nya sebelum segala sesuatu ada.
75. AL-AAKHIR – Yang tetap ada setelah segala sesuatu musnah (berakhir).
76. ADH-DHAHIR – Yang Lahir – Yang dapat dilihat kekuasaan-Nya. Segala sesuatu yang ada di luar.
77. AL-BATHIN – Yang Batin – Yang tidak dapat dilihat Zat-Nya. Segala sesuatu yang ada di dalam.
78. AL-WAALI – Yang mengendalikan dan menguasai segala macam urusan Makhluk-Nya. Direktur seluruh alam.
79. AL-MUTA’AAL – Yang Pencapaian-Nya berada di puncak ketinggian yang amat tinggi dan tidak dapat diatasi atau dilampaui oleh siapa atau apa pun.
80. AL-BARRU – Yang Maha Baik dan membuat segala macam kebajikan. Sumber segala kebaikan. Segala sesuatu yang baik berasal dari-Nya.
81. AL-TAUWAAB – Yang menerima tobat dan memberi maaf kepada Makhluk yang berdosa. Setelah menerima tobatnya, Ia mengampuni mereka.
82. AL-MUNTAQIM – Yang Maha Kuasa Menindak Hamba-Nya yang bersalah dengan menyiksa. Tuhan tidak meridai perbuatan jahat, dan lambat laun mesti membalas dendam-Nya.
83. AL-AFUWWU – Yang Maha Memberi Maaf, asalkan pendosa bertobat.
84. AR-RO’UF – Yang Maha Belas Kasih dan Penyayang. Belas Kasih ialah Tanda-Nya.
85. MALIKUL-MULKI – Yang memiliki segala kekuasaan di alam ini, dan dengan Kekuasaan-Nya melaksanakan segala hal yang dikehendaki. Atau Pemilik Kerajaan. Atau Pemilik Abadi segala Kedaulatan. Atau pun Pemilik Kerajaan Allah.
86. DZUL JALAALI wal IKROM – Yang memiliki sifat Kebesaran, Keagungan, Kemuliaan, serta Kemurahan. Tuhan Segala Keagungan dan Kemurahan. Dia Lebih Besar, Penuh Rahmah, dan Maha Pemurah.
87. AL-MUQSITHU – Yang Maha Adil dalam Hukum-Nya. Ilmu ekonomi juga berasal dari Nama ini. Ekonomi Ilahi bersifat adil dan cermat.
88. AL-JAAMI’U – Yang dapat mengatur dan mengumpulkan segala sesuatu. Tuhan mempersatukan segala sesuatu (yang beraneka segi) di dalam Diri-Nya.
89. AL-GHONIYYU – Yang tidak membutuhkan sesuatu apapun. Yang Maha Mandiri. Sedemikian agung Kekayaan-Nya sehingga besarnya seluruh alam semesta ibarat kepala peniti saja.
90. AL-MUGHNI – Yang dapat memberikan segala kebutuhan Makhluk dan Maha Kuasa Memberikan Kekayaan kepada Hamba-Nya. Ia melimpahkannya kepada siapa saja menurut Kehendak-Nya.
91. AL-MAANI’U – Yang dapat mencegah dan mempertahankan sesuatu. Pada akhirnya, hanya Tuhan jualah yang mampu menahan sesuatu sehingga batal.
92. ADH-DHAARRU – Yang dapat mendatangkan bahaya dan memberikan kemelaratan. Hanya Tuhan jualah yang mampu mengganggu atau menyusahkan Makhluk-Nya.
93. ANN-NAAFI’U – Yang dapat memberikan manfaat. Atau Yang Maha Menguntungkan. Hanya Tuhan jualah yang mampu menolong atau menyembuhkan Makhluk-Nya.
94. AN-NURU – Yang memberi cahaya kepada segala sesuatu. “Allah yang menerangi langit dan bumi.” (Q24.35) Makhluk pertama ialah Nur Ruh Muhammad, yang muncul dari Nur Ilahi Yang Purba. Itu berarti bahwa Rasul adalah Makhluk yang terdekat pada Tuhan, dilihat dari sudut ontologis (hakikat hidup), dan tidak hanya dari sudut temporal (berkenaan dengan waktu).
95. AL-HAADI – Yang memberi petunjuk. Tuhan dapat menuntun kita sepanjang jalan yang lurus (atau benar).
96. AL-BADIE’U – Yang menciptakan alam semesta dalam bentuk yang indah yang belum pernah dibuat oleh siapa pun. Atau Yang Tiada Bertara. Ia yang menimbulkan segala sesuatu.
97. AL-BAQI – Yang Maha Kekal Wujud-Nya. Atau Maha Selamat. Atau Yang Maha Tetap. Meskipun segala sesuatu akan habis, tetapi Ia takkan berkesudahan.

98. AL-WARITSU – Yang tetap ada setelah segala makhluk tiada. Atau Yang Maha Waris. Pada saat segala sesuatu kembali kepada-Nya, Ia akan berada di tempat untuk menerimanya.
99. AR-ROSYIEDU – Yang Maha Pandai dan Bijaksana. Atau Yang Maha Penyuluh. Atau Yang Maha Pemandu yang merintis Jalan yang Benar. Nama ini dikaruniakan kepada segenap nabi, rasul, wali Allah, ahli hikmah, yang terpercaya
100. ASH-SHOBURU – Yang Maha Sabar. Tuhan adalah sumber segala Kesabaran. Banyak Nama-Nya, namun Dia telah ridha mengungkapkan yang di atas kepada Hamba-Hamba-Nya sebagai Nama-Nya yang paling berguna baginya.

*/ dari salah satu sumber kitab (judulnya saya lupa) dan disampaikan setelah sedikit diselaraskan segi bahasanya, namun tanpa interpretasi dari saya. Mohon maaf bila tidak lengkap.

wong alus

Categories: ASMAUL HUSNA LENGKAP | Tags: , , | 14 Komentar

MERAIH KEBIJAKSANAAN HIDUP


Mohandas_GandhiPernahkah Anda berpikir, apa yang membedakan antara orang yang bijaksana dan orang yang tidak bijaksana? Apakah faktor-faktor yang mempengaruhi kebijaksanaan seseorang? Apakah orang bijaksana adalah akibat dari keturunan?

Faktanya, tidak ada seperangkat gen umum yang ditemukan pada semua orang bijaksana. Orang bijaksana muncul dari berbagai bentuk, ukuran, warna kulit dengan berbagai sifat badan dan jiwa yag berbeda. Tidak ada dua yang persis sama. Orang bijaksana juga bukan melulu akibat dari pendidikan mereka, dan bijaksana juga bukan tidak dijamin oleh faktor lingkungan saja.

Ribuan penelitian filsafat pada dasarnya sampai pada jawaban meyakinkan bahwa kunci KEBIJAKSANAAN terletak dalam cara berpikirnya, CARANYA MENGGUNAKAN LOGIKA DAN AKAL SEHATNYA. BAGAIMANA SESEORANG MENJALANI PROSES BERPIKIR YANG BENAR DENGAN MENGHINDARI KESALAHAN ATAU KESESATAN BERPIKIR.

Yang perlu digarisbawahi bahwa: Kalau Anda mengubah cara berpikir tentang diri Anda, hubungan-hubungan Anda, sasaran-sasaran Anda, maka hidup Anda pasti berubah. Bila Anda mengubah mutu pemikiran Anda, mau tidak mau Anda akan mengubah mutu hidup Anda, dan akhirnya mengubah dunia Anda.

Sebaliknya, kegagalan untuk meraih kebijaksanaan adalah hasil dari gambaran-gambaran yang Anda simpan dalam pikiran Anda. Bila Anda berpikir bahwa diri Anda gagal mencapai kebijaksanaan, buruk, dan pikiran Anda tidak bermutu maka Anda akan mengalami kegagalan.

Pada saat ini, banyak dari kita berdiam diri membiarkan apa yang kita cita-citakan tetap menjadi impian saja tanpa benar-benar berusaha untuk mewujudkannya. Lantas apa yang menyebabkan kita tidak bisa merealisasikan Impian kita? bukankah kita sudah menginginkannya sejak lama bahkan sudah merencanakan berbagai cara maupun strategi untuk mencapai kebijaksanaan dan sudah bekerja keras untuk mengejarnya ?

Setiap orang pasti mempunyai cita-cita dan impian dalam hidupnya… seperti : memiliki banyak teman, menjadi orang yang suka beramal, bisa dekat dengan Tuhan, mengunjungi tempat-tempat yang menyejukkan hati, menikmati pengalaman spiritual yang luar biasa, dan bisa melakukan apa saja yang ingin kita lakukan bersama keluarga dan orang-orang yang paling kita sayangi dalam hidup kita. Kita ingin menjadi orang yang bijaksana yang bisa memberikan pencerahan pada orang lain dan seterusnya…

Tetapi pertanyaannya : “Kenapa banyak dari kita tidak bisa merealisasikan DIRI dari keinginan menjadi BIJAKSANA?”

Pertama : Selalu mengaitkan dengan masa lalu. Disaat kita mempunyai sesuatu yang berarti untuk diwujudkan seringkali kita tidak bisa lepas dari bayangan masa lalu. Kita mengingat kondisi hidup yang susah, serba emosional, uring-uiringan untuk mensikapi keadaan yang tidak membahagiakan, kita berkubang dalam keterbatasan, dan menemukan semua alasan kenapa kita tidak bisa berhasil, dst…

Kedua : Kita mempunyai ketakutan dan kecemasan. Sebelum melakukan sesuatu kita sering kali mempunyai ketakutan dan kecemasan yang berlebihan. Bagaimana kalau saya tidak bijaksana?, apa yang dikatakan orang tentang saya?, mereka akan menertawakan saya? Saya akan tambah frustasi jika saya sudah berusaha dan ternyata tidak mencapainya, dst…

Ketiga : Membiarkan sebuah perkara mengintimidasi kita. Sering kali kita membiarkan perkara mengintimidasi kita. Kita kerap mendengar kata-kata yang menurunkan semangat dan mengacaukan fokus kita bahkan mencuri keinginan kita untuk menjadi bijaksana. Anda tidak mungkin bisa berhasil menjadi bijak, jangan bermimpi, lakukan yang biasa-biasa aja, terlalu besar dan sulit dicapai. Udah terima nasib saja sebagai wong sak karepe dewe, dst…

Keempat : Tidak bisa melakukan sampai tuntas. Ini yang paling sering terjadi dalam hidup kita. Misalnya, memulainya perjalanan spiritual dengan antusias dan semangat yang mengebu-gebu, tetapi ketika menghadapi kendala cepat menyerah, tidak sanggup menderita dan tidak mau bayar harga sehingga melepaskannya begitu saja.

Kelima : Kita mempunyai sifat malas. Salah satu kebiasaan kita dan penyakit lama yaitu suka menunda-nunda tindakan dan rencana tindakan yang sudah ditetapkan. Menganggap masih ada banyak waktu dan masih muda sehingga sering kali tidak pernah memulai apapun bahkan sudah terlambat ketika kita sadar.

Jika kita mau berhasil mewujudkan impian untuk menjadi manusia bijaksana, kita harus segera menghancurkan lima penghalang mental (mental block) yang sudah ditulis diatas dan mengantikannya dengan lima kebiasaan baru yang akan menjadi titik tolak perubahan yang mendorong kita untuk segera merealisasikan keinginan. Saat ini juga !

Pertama : Fokus pada keinginan. Pikirkan APA HAKEKAT KEBIJAKSANAAN, susun rencana, gali potensi dan kelebihan, temukan strategi, cara dan segala kemungkinan untuk mewujudkannya dalam hidup sehari-hari.

Kedua : Yakin dan Percaya 100% bahwa Anda bisa. Keyakinan adalah modal utama untuk mendapatkan apapun yang Anda inginkan untuk menjadi BIJAKSANA. Segala sesuatu yang tidak mungkin dalam hidup ini hanya seringkali belum pernah di coba.

Ketiga : Lakukan saja sesuai dengan keinginan Anda. Ikuti kata hati Anda, LIHATLAH SEMUA FENOMENA DI LUAR ANDA DENGAN MATA HATI dan jangan terpengaruh oleh sesuatu yang akan merontokkan semangat Anda untuk menjadi bijak. Buatlah sejarah baru dalam hidup Anda.

Keempat : Selesaikan apa yang telah Anda mulai. Berani untuk memiliki mental MENJADI SEPERTI YANG TUHAN KEHENDAKI dan Jangan pernah memalingkan mata Anda sedetikpun dari garis finish.

Kelima : Mulailah sekarang, saat ini juga. Lakukan segera apa yang Anda rencanakan, apa saja. Orang bijaksana bukanlah orang yang hebat tetapi mereka adalah orang yang bisa menyadari lebih awal tentang hakekat hidupnya sehingga seringkali satu langkah lebih maju dari yang lain.

BIJAK BISA SEJAK MUDA, KENAPA MENUNGGU TUA?
BIJAK ITU PILIHAN, MENJADI TUA ITU PASTI!

Wah, ngapunten saya ngelantur nih…persis seperti orang gila di pinggir jalan tadi sore…

Wongalus

Categories: MENJADI BIJAKSANA | Tags: , , , | 16 Komentar

MANUSIA PENGADA BENCANA


Entah sudah berapa kali sejak berdirinya Indonesia terjadi kecelakaan. Seingat saya, terlalu sering. Faktor teknis dan human error disebut yang paling sering jadi penyebab kecelakaan transportasi. Tuhan harus bertanggungjawab?

_42650801_planelong_ap416Suatu ketika Pesawat Garuda tujuan dari Jakarta ke Yogyakarta itu terbakar hebat di landasan pacu Bandara Adisucipto, Yogyakarta. Saat landing, pesawat kehilangan kendali, tembok pembatas bandara ditabrak dan jebol, yang berakhir dengan terbakarnya seluruh badan pesawat hingga jadi arang.

Menteri Perhubungan saat itu Hatta Rajasa menuturkan dari total penumpang 133 orang itu, ada sekitar 76 orang sudah bisa dievakuasi luka ringan dan berat, sementara 57 penumpang tewas. Sementara awal kabin selamat.

Ironinya, maskapai penerbangan burung besi bernomor penerbangan GA 200, ini adalah Garuda. Konon, selama ini ia adalah ikon penerbangan di Indonesia, memiliki standar keselamatan yang bagus khususnya dibanding dengan maskapai-maskapai penerbangan lainnya. Kalangan awam akan membanding-bandingkan, bila Garuda saja bila celaka seperti itu, bagaimana dengan yang lain?

Jenis pesawat Boeing 737-400, itu sesungguhnya juga masih tergolong berumur muda, 8-9 tahun. Dengan usia yang belum terlalu tua untuk ukuran pesawat itu, dan bila setiap saat dilakukan perawatan rutin dan pergantian suku cadang yang wajar, sangat mungkin bila mesin dan hardware yang lain kondisinya masih prima. Termasuk software-softwarenya.

Pasca rentetan kecelakaan saat itu, Menhub mengaku pasrah nasibnya sebagai menteri kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Kepasrahan orang nomor satu di jajaran transportasi Indonesia ini terkait berbagai kegetiran kecelakaan transportasi publik yang kian hari kian bertambah.

Belum hilang duka akibat sederet kecelakaan transportasi. Mulai tenggelamnya kapal KM Senopati, raibnya pesawat Adam Air, tergelincirnya kereta api, terbakar dan tenggelamnya KM Levina, pesawat Garuda yang hangus. Hal ini menunjukkan betapa buruknya manajemen transportasi di republik ini.

Transportasi bukanlah tujuan, melainkan sarana untuk mencapai tujuan. Untuk menunjang perkembangan ekonomi yang mantap perlu dicapai keseimbangan antara penyediaan dan permintaan jasa transportasi. Suatu kota atau wilayah akan berkembang apabila tersedia secara memadai sarana dan prasarana transportasi. Tanpa keduanya maka suatu daerah akan terisolir dan tidak berkembang.

Paham materialisme dalam transportasi terlihat lebih mendominasi dalam pengelolaan jasa transportasi publik. Prinsip ekonomi mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya dengan pengorbanan sekecil-kecilnya telah mencekoki cara berpikir para pengusaha negeri ini, termasuk pengusaha jasa transportasi. Lihatlah bagaimana manajemen Adam Air yang tega tidak mengasuransikan karyawan, pramugari dan pilotnya demi efisiensi perusahaan. Bagaimana KM Levina dan Senopati yang memuat manusia dan barang melebihi kapasitasnya tanpa mengindahkan keselamatan penumpangnya.

Meskipun untung merupakan faktor penting dalam manajemen transportasi untuk keberlanjutan pelayanannya, namun apabila faktor keamanan, keselamatan, kecepatan dan kenyamanan menjadi terabaikan maka masyarakat yang menjadi buntung. Menyerahkan sepenuhnya penyediaan jasa layanan transportasi mengikuti mekanisme pasar, mengakibatkan hancurnya sendi-sendi manajemen transportasi publik di negeri ini.

Oleh karena itu perlu dipertanyakan sejauhmana kinerja Departemen Perhubungan RI beserta dinas-dinas jajarannya dalam mengemban amanah. Meskipun pemerintah tidak secara langsung mengelola jasa layanan transportasi, namun wewenang dan tanggung jawabnya melekat dalam peningkatan kualitas layanan transportasi publik.

Berbagai peristiwa kecelakaan transportasi menandai melemahnya sistem kendali pemerintah dalam mengontrol manajemen transportasi publik. Akibatnya perusahaan dan para pelaku jasa layanan transportasi terkesan bebas atau liar dengan mengabaikan standar operasionalnya. Dengan demikian perlu dipertanyakan sejauhmana efektivitas regulasi-regulasi yang ada dan komitmen pemerintah dalam meningkatkan kualitas transportasi publik.

Kendali mutu dalam layanan jasa transportasi belum menjadi prioritas dalam manajemen transportasi publik. Punishment terhadap berbagai pelanggaran pun kurang transparan dan belum efektif dalam meningkatkan kualitas layanan. Akibatnya perjalanan menggunakan transportasi publik menjadi sebuah perjalanan yang mencemaskan dan tidak menyenangkan. Oleh karena itu reformasi di tubuh Departemen Perhubungan mutlak dilakukan.

Selain perbaikan sistemik sistem transportasi, saya ingin menyasar sesuatu yang lebih lembut dari itu, yaitu tentang sesuatu yang sangat dekat dengan diri kita, yaitu sisi spiritual.

Rentetan bencana yang mendera Indonesia, menyeret lamunan kita pada rasa geram; ketika kematian mengayau sewaktu-waktu di manapun, kapanpun, dalam momen apapun kita terseret dalam kesimpulan bahwa ada sesuatu yang salah keliru dan khilaf dengan negeri ini. Ada misteri besar yang menjadi tanda tanya, namun susah untuk dijawab secapa simplistis.

Tuhankan penyebab bencana ini? Pasti tidak. Tuhan bukanlah dzat yang Maha Kejam yang memerintahkan alam untuk membuat hukum yang kaku dan rigid pula. Alam dan Tuhan sejatinya sangat manusiawi. Bukankah Tuhan mendudukkan manusia pada derakat yang paling mulia di semesta?

Begitulah manusia. Kita terbiasa menyalahkan sesuatu pada hal yang ada di luar dirinya….

Alam dan Tuhan diciptakan oleh manusia. Bila manusia tidak ada, maka alam dan Tuhan juga tidak ada. Bagaimana bisa ada, bila tidak ada yang berpikir tentang alam dan Tuhan? Itu alasan, kenapa akhirnya Tuhan menciptakan Adam beserta keturunannya. Yaitu agar Tuhan dikenal dan “ada.” Logika ini juga berlaku terhadap bencana. Bencana ada karena manusia ada. Manusialah yang meng’ada’kan bencana.

Josiah Royce (1844-1912), filsuf Idealisme Amerika yang menelurkan gagasan hukum keempat “Yang Ada” menngatakan semua mengada karena manusia berkehendak. Kehendak akan menciptakan ide dan ide akan menciptakan yang ada. Sehingga semua bencana dan kesalahan ini adalah akibat dari manusia; yaitu perbuatannya.

Yang ada yang menjadi kenyataan buruk ini adalah hasil dari perbuatan dan perilaku yang buruk. Perilaku berakar dari kehendak dan ide yang buruk pula. Sebaliknya, Yang ada itu menjadi kenyataan yang baik bila berasal dari perbuatan baik dan berasal dari kehendak serta ide yang buruk jua. Ini berlaku tidak hanya pada level individual namun juga sosial.

Kesadaran semacam ini sudah sangat umum dalam khazanah spiritualisme sepanjang masa….

Bila dianalisis lebih lanjut, terutama merujuk pada ilmu psikologi kontemporer, maka 88 persen otak manusia dikuasai oleh alam bawah sadar. Sementara hanya 12 persen saja otak manusia yang benar-benar dipakai untuk berpikir rasional.

Dalam kehidupan seseorang alam bawah sadar atau sub-concious mempunyai pengaruh yang lebih besar dibandingkan dengan alam sadar atau level conscious. Coba kita bayangkan kehidupan setiap harinya. Sebagian besar kegiatan, seperti bernafas, tidur, makan, minum, dan seterusnya kita lakukan tanpa harus berpikir lagi. Semua hal itu sudah menjadi kebiasaan. Contoh lain, saat kita mengendarai mobil ke kantor apakah kita memperhatikan berapa halte bus yang dilewati? Tentu tidak. Namun, otak merekam semua hal itu tanpa disadari. Inilah yang dimaksud dengan level sub-concious.

Karena yang paling besar otak kita bekerja di level sub-concious, maka yang tercipta, yaitu “yang ada” pun juga sebagian besar dari level ini. Pada titik inilah, kita bisa mengatakan bahwa bencana kini telah menjadi menu keseharian bangsa Indonesia ini adalah buah karya kehendak, pikiran dan perbuatan kita semua. Nah, sekarang bagaimana caranya menghindar?

Sesuai dengan hukum keempat “Yang Ada” itu, diperlukan sebuah katarsis, penyucian kehendak, pemrograman ulang terhadap alam bawah sadar kita. Diperlukan keberanian bersama untuk mengubah secepatnya, dari negative thingking menjadi positive thingking terhadap segala sesuatu termasuk juga di level bawah sadarnya. Sebagaimana saran dari seorang master hipnotis, bahwa cara termudah untuk menolak pengaruh hypnosis adalah mensugestikan diri disertai dengan perbuatan seketika yang langsung. “Satu,…dua,…tiga,… saya tidak bisa terpengaruh oleh sugesti penghipnotis….”

Nah, apakah kita sekarang akan memelihara lingkungan psikologis yang diliputi debu hitam yang kelam terhadap nasib bangsa kita yang penuh bencana? “Katakan tidak dan beranilah untuk berpikir positif.” Media massa juga memiliki pengaruh yang kuat untuk mempengaruhi dan memelihara ritme kewarasan ini. Jangan malah sebaliknya, menularkan penyakit pesimis dan akhirnya menghipnotis massa agar kalah, negatif serta melahirkan bencana-bencana baru yang lebih dahsyat.

Wong Alus

Categories: BENCANA TRANSPORTASI | Tags: , , , , | 11 Komentar

DILARANG MENYERAH PADA MUSIBAH


Musibah menjadi bagian penting dari kebahagiaan. Tidak ada kebahagiaan tanpa musibah dan tidak ada musibah bila tidak ada kebahagiaan. Dua hal ini mengisi manusia sebagai cara pemenuhan eksistensinya hingga ke liang lahat. Hukuman Tuhan atau bentuk kasih sayang-NYA?

fffSuatu kali dalam hidup kita pasti pernah ditimpa musibah. Musibah hadir baik secara secara individual dan juga sosial. Musibah individual di antaranya saat kita mengalami sakit, kekurangan uang, kegagalan prestasi, menganggur hingga akhirnya kita meninggal dunia. Sementara mujsibah sosial misalnya saat ada anggota keluarga kita yang sakit, bencana alam badai, banjir, menularnya penyakit, kebakaran, tsunami, tanah longsor dan sebagainya.

Saat terkena musibah, kita bisa putus asa. Masyarakat kehilangan harapan tidak memiliki masa depan. Tahap demi tahap apa yang kita bangun seakan tidak ada artinya. Bahkan kita menunjuk Tuhan sebagai biang keladi musibah, Tuhan tidak adil dan bahkan beranggapan bahwa Tuhan sedang marah.

Bagi seorang mukmin, musibah merupakan ujian yang menjadi batu loncatan bagi peningkatan kualitas keimanannya kepada Allah. Semakin arif dan sabar dalam menghadapinya, semakin tinggilah kualitas keimanannya dan semakin dekat dirinya kepada Allah. Tidaklah mengherankan jika segala jeritannya senantiasa didengar Allah. Semakin tinggi keimanan seseorang, akan semakin tinggi pula ujian yang akan Allah berikan kepadanya.

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka akan dibiarkan begitu saja mengatakan, ‘Kami telah beriman, sedang mereka tidak diuji lagi?’ Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka. Maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (Q.S. 29: 2-3).

Untuk mengetahui sebab kehadiran musibah, marilah kita menukik ke hakikat musibah sehingga saat yang tidak menyenangkan ini hadir kita sudah siap dan ikhlas.

MUSIBAH berasal dari kata ASHAABA, YUSHIIBU, MUSHIIBATAN yang berarti segala yang menimpa pada sesuatu baik berupa kesenangan maupun kesusahan. Dari asal kata ini, sesungguhnya kesenangan pun juga merupakan musibah. Begitulah, dalam hidup di dunia kita pasti menerima timpaan yang membuat respon diri apakah menjadi bahagia/senang maupun sedih.

Namun, umumnya dipahami bahwa musibah selalu identik dengan kesusahan. Padahal, kesenangan yang dirasakan pada hakikatnya musibah juga. Dengan musibah, Allah SWT hendak menguji AMAL seeorang. “Sesungguhnya kami telah jadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, karena Kami hendak memberi cobaan kepada mereka, siapakah di antara mereka yang paling baik amalnya.” (QS Al−Kahfi (18): 7)

Membaca ayat ini kita bisa menggaris bawahi bahwa MUSIBAH ADALAH ALAT UNTUK MENGUJI –ATAU BAHAN UJIAN—APAKAH MANUSIA ITU BAIK ATAU BURUK.

Ada tiga respon dalam menghadapi musibah. Pertama, musibah dianggap hukuman dari Tuhan. Kedua musibah dianggap penghapus dosa. Ia tidak pernah menyerahkan apa−apa yang menimpanya kecuali kepada Allah SWT. Ketiga, musibah dianggap ladang peningkatan iman dan takwanya.

Mana di antara ketiga respon ini yang paling benar? Untuk menjawabnya kita analisa sebuah surat Asy-Syura (42), ayat 30: “Dan musibah apa saja yang menimpa Kamu, maka semua itu disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri.”

Pada ayat ini terdapat beberapa poin yang layak mendapat perhatian: Ayat ini dengan baik mengindikasikan bahwa musibah-musibah yang menimpa manusia adalah salah satu jenis hukuman dan peringatan Tuhan. Dengan demikian, salah satu falsafah terjadinya peristiwa yang mengerikan itu akan menjadi jelas.

Menariknya, dalam hadis yang diriwayatkan dari Amirul Mukminin a.s., yang menukil dari Nabi saw., beliau bersabda, “Wahai Ali, ayat ini (Tidaklah menimpa Kamu musibah…) merupakan ayat yang terbaik dalam Al-Qur’an Al-Karim. Setiap goresan kayu yang menghujam ke dalam raga manusia dan setiap lalai dalam langkah terjadi akibat dosa yang dia perbuat. Dan apa yang dimaafkan oleh Tuhan di dunia ini lebih santun dari apa yang dimaafkan oleh-Nya di akhirat.Di akhirat sana terjadi peninjauan kembali, dan apa yang ditimpakan kepada manusia di dunia ini lebih adil ketimbang di akhirat, di mana Tuhan sekali lagi memberikan hukuman kepadanya.

Dengan demikian, musibah semacam ini selain meringankan beban manusia dalam kaitannya dengan masa mendatang, dia juga akan terkendali. Meski ayat ini secara lahiriah bersifat umum, dan seluruh musibah termasuk di dalamnya, akan tetapi pada kebanyakan urusan yang bersifat umum terdapat pengecualian. Umpamanya, musibah-musibah dan kesulitan-kesulitan yang menimpa para nabi dan imam a.s. yang berfungsi untuk meninggikan derajat atau menguji mereka. Demikian juga musibah berupa ujian yang menimpa selain para ma‘shum a.s.

Dengan ungkapan lain, seluruh ayat Al-Qur’an dan riwayat menjawab bahwa ayat ini secara umum merupakan masalah yang mendapatkan takhshîsh (pengecualian), dan tema ini bukanlah sesuatu yang baru di kalangan para mufassir.

Ringkasnya, berbagai musibah dan kesulitan memiliki falsafah yang khas, sebagaimana yang telah disiratkan dalam pembahasan tauhid dan keadilan Ilahi. Berseminya potensi-potensi di bawah tekanan musibah, peringatan akan masa mendatang, ujian Ilahi, sadar dari kelalaian dan arogansi, dan penebus dosa adalah salah satu corak dari falsafah tersebut.

Sebagaimana yang telah dipaparkan di awal artikel ini bahwa ada musibah yang bersifat sosial atau berdimensi kolektif. Hal ini merupakan hasil dari dosa kolektif. Sebagaimana yang tertuang dalam ayat 41, surat Ar-Rum (30), “Telah nampak kerusakan di daratan dan di lautan disebabkan karena perbuatan tangan manusia ….”

Jelas bahwa ayat ini berkenaan dengan sekelompok anak manusia yang -lantaran perbuatan-perbuatan mereka sendiri- terjerembab ke dalam musibah. Dan pada ayat 11, surat Ar-Ra’d (13) disebutkan, “Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum hingga mereka sendiri yang mengubahnya.”

Ayat-ayat yang senada ini memberikan kesaksian bahwa antara perbuatan-perbuatan manusia dan sistem penciptaan dan kehidupannya memiliki hubungan yang berjalin erat, sehingga sekiranya ia menjejakkan kaki berdasarkan kaidah fitrah dan hukum-hukum penciptaan, keberkahan TUHAN akan meliputi kehidupannya. Dan apabila ia berbuat kerusakan, niscaya kehidupannya juga akan mengalami kerusakan.

Bagaimana respon kita untuk menghadapi musibah? Yang perlu dipikirkan bahwa PASRAH dan PASIF saat menghadapi musibah tidak selalu positif bahkan bisa jadi justeru mendapat murka Tuhan. Sebab dalam musibah sesungguhnya terkandung KAIDAH EDUKATIF DAN SEMANGAT KREATIF.

Tidak ada satu ayat pun di dalam Al-Qur’an yang memerintahkan kita pasrah diri dalam menghadapi setiap musibah dan tidak ada satu ayatpun yang melarang kita untuk berusaha memecahkan segala kesulitan. Termasuk justeru dilarangnya diri kita untuk menyerahkan jiwa raga kita kepada para penguasa yang dengan semena-mena menginjak hak asasi manusia. Begitulah, manusia haru mmecahkan persoalannya sendiri dan DILARANG MENYERAH PADA MUSIBAH.

Sebagaimana kata Rasulullah SAW: “Seorang mukmin yang kuat, lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada seorang mukmin yang lemah, walaupun keduanya sama-sama baik (karena keimanannya). Berusaha keraslah untuk mendapatkan yang bermanfaat kepadamu dan memohonlah pertolongan kepada Allah serta jangan menjadi orang yang lemah. Jika suatu (musibah) menimpamu, janganlah kau berkata, ‘Sekiranya aku berbuat demikian, tentulah akan kudapatkan demikian dan demikian’, tetapi katakanlah, ‘Sudahlah ini takdir Allah, dan apa saja yang ia kehendaki pasti itulah yang tejadi’. Sebab ucapan ‘seandainya dan seandainya’ itu dapat membuka (pintu) setan” (H.R. Muslim).

Wong alus

Categories: HAKIKAT MUSIBAH | Tags: , , , , , , | 8 Komentar

REKREASI JIWA PALING NIKMAT


Ada satu satunya cara hidup bila ingin menikmati hidup: SHALAT KHUSYUK. Shalat adalah bentuk KOMUNIKASI DENGAN SANG MAHA TERKASIH ALLAH, PENCERAHAN, REKREASI JIWA yang tidak bisa ditandingi kenikmatannya dengan CARA apapun di alam semesta. Masalahnya, kemana pikiran harus kita arahkan saat kita melakukan ibadah shalat? Bila kita yakin bahwa shalat adalah meditasi tertinggi (meditasi transendental), maka seyogyanya kita pahami bagaimana menciptakan titik pikiran secara tepat sehingga shalat kita dikatakan khusyuk dan benar.

2Agama Islam memiliki satu ritual wajib yang dilakukan lima kali sehari, yaitu SHALAT. Dalam sehari, ada lima WAKTU SHALAT yaitu saat subuh, dhuhur, ashar, maghrib dan Isya. Shalat juga merupakan RUKUN ISLAM artinya sesuatu yang wajib dilakukan bila manusia sudah memeluk agama ini. Rukun Islam ada lima: SYAHADAT, SHALAT, ZAKAT, PUASA dan BERHAJI.

Ada juga shalat yang sifatnya tidak wajib, yaitu Shalat Sunnah. Ada banyak ragam shalat Sunnah yang ada dalam Islam. Namun karena sifatnya Sunnah, maka shalat ini bersifat melengkapi shalat-shalat wajib. Meskipun bersifat melengkapi, shalat sunnah bila dilakukan secara khusyuk disertai dengan niat hanya mengharapkan keridhaan Allah, maka nilainya sungguh luhur. Saking hebatnya ibadah shalat, sehingga dikatakan bahwa SHALAT ADALAH SOKO GURU DAN PONDASI AGAMA.

Yang perlu diperhatikan, kesempurnaan ibadah shalat memiliki dimensi individual dan sosial. Dimensi individual adalah bagaimana shalat itu dijadikan sarana untuk BERKOMUNIKASI dengan Tuhan. Sementara dimensi sosial shalat adalah bagaimana shalat membawa dampak positif bagi lingkungan sosial masyarakat dimana individu yang melakukan shalat itu berada.

Pada dasarnya, hakikat shalat adalah mengajak manusia untuk MENYADARI KEBERADAAN TUHAN ITU DEKAT yang melampaui batasan ruang dan waktu sehingga kemanapun manusia berada maka DIA SELALU HADIR, MENGAWASI, MENJADI TEMAN PALING SETIA, DAN MENJADI KEKASIH YANG TIDAK PERNAH ABSEN SEDIKIT PUN UNTUK BERBAGI SUKA DAN DUKA sekaligus sebagai wujud KETUNDUKAN MANUSIA pada DZAT YANG SERBA MAHA DAN INFINITUM INI.

Kesadaran HAKIKAT SHALAT ini akan memiliki pengaruh kuat dalam mencegah manusia dari melakukan perbuatan yang keji dan mungkar. Sebagaimana dijelaskan dalam Ayat 45 surat Al-‘Ankabut “Sesungguhnya shalat itu mencegah [manusia] dari perbuatan yang keji dan mungkar.” Ini sudah masuk dimensi sosial shalat.

Seseorang yang berdiri untuk melakukan shalat dan mengucapkan TAKBIR, mengakui bahwa Allah swt.; Dzat yang MAHA LEBIH dari segala yang ada dan kita mengingat semua kenikmatan yang telah diberikan-Nya. Dengan mengucapkan syukur, ia memohon curahan kasih dan sayang-Nya, mengingat hari pembalasan, mengakui ketundukan, melakukan penyembahan kepada-Nya, memohon pertolongan-Nya, meminta petunjuk untuk mendapatkan jalan yang lurus, dan memohon perlindungan sehingga tidak termasuk ke dalam golongan orang-orang yang telah dimurkai oleh-Nya serta tidak termasuk ke dalam golongan orang-orang yang tersesat.

Di dalam meditasi transendental shalat, pemusatan pikiran saat kita mengucapkan AL FATIHAH ini adalah MENGOSONGKAN GAMBARAN PIKIRAN APAPUN JUGA KECUALI GAMBARAN PIKIRAN YANG TIDAK DIBUAT OLEH KITA, MELAINKAN BIARKAN KITA MENERIMA GAMBARAN YANG DIBERIKAN OLEH TUHAN.

Kita pasrah, kita tidak lagi berusaha untuk fokus: semua penggambaran wujud Tuhan itu hanya dalam BAHASA, sedangkan saat shalat kita biarkan diri ini mengalir pasrah sehingga hidayah-NYA turun. Hidayah-Nya dalam Shalat ini berupa gambaran yang sangat tentang WUJUD-NYA, selain itu naik pada tingkatan bayangan dan gambaran yang paling dan sulit didapat dalam kehidupan rutin yang terbatas. Oleh karena itu pengalaman dalam psikologi shalat ini disebut meditasi transendental yang susah untuk ditulis.

Awal kesadaran tertinggi tentang shalat sejatinya harus diikuti dengan tafakkur/berpikir tentang obyek-obyek kongkret sebelum akhirnya menuju ke obyek yang abstrak. PENGOSONGAN PIKIRAN DAN MELUPAKAN SEGALA KERUWETAN DALAM BENAK YANG DAPAT MENGGANGGU KEKHUSYUKAN SHALAT DAN KONSENTRASI PADA TUJUAN SHALAT: BAHWA KITA SEDANG BERHADAPAN DAN KOMUNIKASI DENGAN ALLAH.

Sebagaimana semua aktifitas lainnya, shalat juga butuh latihan. Khusyuk memang sulit namun bila berulang-ulang dilatih akhirnya juga akan mampu untuk PASRAH, TIDAK BERPIKIR TENTANG OBYEK SHALAT NAMUN MEMBIARKAN DIRI IKLHAS UNTUK HANYUT DALAM SHALAT.

Dalam taraf belajar shalat, bila pikiran kemudian melayang ke mana-mana maka seorang harus kembali mengonsentrasikan pikiran pada “apa” yang ia pilih sebagai objek pikiran dalam SHALAT. Ia harus mengambil posisi badan yang rileks, otot-otot tidak kaku. Latihan ini harus selalu diulang-ulang, sehingga tahap demi tahap berfikirnya menjadi lebih dalam, badan terasa lebih ringan, pikiran menjadi bersih, jiwa menjadi terbang ke langit yang keluasannya TIADA BERHINGGA. Bersamaan dengan itu, hilang pula segala perasaan gelisah, sedih, galau, dan segala gangguan jasmani yang dirasakan sebelumnya.

Seorang mukmin akan mudah memahami psikologi shalat yang demikian karena memiliki kesamaan yang jelas dengan proses tafakkur tentang penciptaan langit dan bumi yang disertai dzikir dan bertasbih kepada objek yang MAHA TAK TERJANGKAU yaitu Allah, baik berdiri, duduk rileks, berbaring. Tujuannya adalah upaya melepaskan atau menjauhkan dari pengaruh yang menggangu konsentrasi, keruwetan angan-angan pikiran, perasaan, ataupun kebisingan dan keramaian.

Sebagaimana seseorang yang bertafakkur bertasbih, dan bermeditasi akan dapat menangkap makna dan pengetahuan baru yang sebelumnya tidak terlintas dalam hati. Keduanya mengunakan kedalaman tafakkur untuk membersihkan pengetahuan lahiriah dari belenggu penjara rutinitas kehidupan material menuju kebebasan menatap lepas ke atas, menuju pengetahuan yang luas tak terbatas.

Bila shalat kita sudah khusyuk diri kita akan mampu keluar badan kecil ini. Jiwa kita menjadi tidak terikat dalam wujud jasmani, mempunyai keluasan wujud dan kemampuan “melihat tanpa bola mata”, “mendengar tanpa daun telinga” dan merasakan keuniversalam jiwa yang tak terbatas oleh waktu dan ruang. “Inilah jiwa” yang memiliki “watak” yang sama dengan jiwa-jiwa lainnya; dimana hal yang membedakan adalah “kemana akhir kembalinya sang jiwa”

Dalam shalat, ada tahap yang disebut RUKU’ yaitu dengan membungkukkan badan, laksana seorang hamba dan meletakkan dahi di atas permukaan tanah di haribaan suci-Nya untuk MENGAKUI KEBESARAN DAN KEMULIAAN-NYA DAN TENGGELAM DALAM KEAGUNGAN-NYA, SERTA MENGHAPUS SEGALA EGO DAN KESOMBONGAN yang ada pada dirinya.

Lalu ia pun akan mengucapkan syahadat untuk memberikan kesaksian atas keesaan-Nya dan risalah Rasul-Nya. Setelah itu, ia mengirimkan shalawat kepada utusan-Nya yang mulia, Rasulallah saw. dan menengadahkan kedua tangannya di bawah mihrab sucinya-Nya untuk memohon belas kasih supaya dimasukkan ke dalam golongan hamba-hamba-Nya yang salih. Semua faktor ini adalah sebuah rekreasi spiritual yang tidak ada bandingannya, terbakarnya semangat spiritual, sebuah gelombang besar yang mampu melebur ke DZAT TUHAN.

Di dalam salah satu hadis dikisahkan bahwa pada masa Rasulullah saw., terdapat seorang pria muda dari kaum Anshar yang senantiasa mengikuti shalat yang dilakukan oleh Rasul saw. Tetapi, pada sisi lain ia masih senantiasa bergelimang dalam berbagai maksiat. Lalu, hal ini disampaikan kepada Rasul saw. Mendengar laporan ini beliau bersabda, “Suatu hari nanti shalatnya dapat mencegahnya dari perbuatan-perbuatannya tersebut.”

Sedemikian pentingnya pengaruh shalat, hingga pada sebagian riwayat Islam disebutkan bahwa bias yang akan muncul dari pelaksanaan shalat akan menjadi tolok ukur apakah shalat yang dilakukan oleh seseorang telah diterima di sisi-Nya ataukah belum.

Imam Ash-Shadiq a.s. dalam salah satu hadis berkata, “Seseorang yang ingin melihat apakah shalatnya telah diterima oleh Allah swt atau belum, hendaklah ia melihat apakah shalat yang telah dilakukannya ini dapat mencegahnya dari perbuatan yang keji dan mungkar atau tidak? Sejauh mana ia telah tercegah dari hal-hal tersebut, sekadar itu pulalah shalat yang dilakukannya telah dikabulkan di sisi-Nya”.

Bahkan, dapat diakui bahwa unsur utama dari pencegah perbuatan keji dan mungkar adalah mengingat/DZIKIR Allah). Pada prinsipnya, MENGINGAT ALLAH SWT. MERUPAKAN INTI DETAK KEHIDUPAN KALBU MANUSIA DAN PUNCAK KETENANGAN HATI. TIDAK ADA SESUATU PUN SELAINNYA YANG BISA MENCAPAI TINGKATAN SEMACAM INI.

Pembahasan tentang SHOLAT oleh karenanya bisa dirangkum sebagai berikut:
1. Sholat adalah ibadah terpenting dalam agama Islam setelah syahadat.
2. Hakikat dan filsafat shalat adalah mengingat Allah SWT.
3. Shalat merupakan media mengoreksi diri, memperbaiki diri, dan bertaubat.
4. Shalat merupakan media penghibur luka, barutan, dan goresan dosa di dalam ruh dan jiwa manusia akan sembuh karena kemanjuran obat yang berbentuk shalat.
5. Shalat merupakan tanggul penghalang berbuat keji dan jahat
6. Shalat menguatkan iman di dalam kalbu manusia dan menumbuhkan tunas-tunas ketakwaan baru di dalam hati.
7. Shalat akan menghancurkan kelalaian terhadap tujuan penciptaan dan tenggelam dalam kehidupan materi serta kelezatan-kelazatan duniawi yang hanya sekejap.
8. Dengan shalat, kehadiran-Nya terasa dekat.
9. Shalat menghilangkan kesombongan EGO dan merendahkan diri di hadapan-Nya.
10. Shalat itu penyempurnaan akhlak
11. Shalat menghidupkan hakikat keikhlasan dalam beramal
12. Shalat membawa kesucian hidup
13. Shalat itu Penguat Semangat Disiplin

Meskipun tanpa memperhatikan kandungan yang ada di dalam shalat pada hakikatnya ia mengajak manusia untuk hidup dalam kesucian. Hal ini dapat kita ketahui dari syarat tempat yang dipergunakan untuk melakukannya, pakaian yang dikenakan, alas dan air yang dituangkan untuk berwudhu serta mandi. Dan juga tempat yang dipergunakan oleh seseorang untuk mandi dan berwudhu harus merupakan tempat yang betul-betul tidak terkotori oleh ghasab dan tidak diperoleh dengan cara zalim dan melanggar hak-hak orang lain.

Seseorang yang terkotori dengan kezaliman, ternodai oleh sifat-sifat nafsu manusia seperti riba, ghasab, mengurangi timbangan dalam transaksi, korupsi dan usaha-usaha yang dilakukan dengan menggunakan kekayaan dari sumber yang haram, bagaimanapun akan mengotori ruhaninya sehingga akan melunturkan diri yang telah shalat. Oleh karena itu, pengulangan shalat sebanyak lima kali dalam sehari semalam merupakan sebuah AJAKAN UNTUK MENGHORMATI HAK-HAK ORANG LAIN.

Shalat juga akan menguatkan semangat disiplin dalam diri manusia, karena bagaimanapun juga, shalat harus benar-benar dilakukan pada waktu yang telah ditentukan. Pelaksanaan shalat yang dilakukan dengan mengakhirkan atau mempercepat dari waktu yang seharusnya akan menyebabkan batalnya shalat yang dilakukan oleh seseorang. Demikian juga dengan aturan dan hukum-hukum lain dalam masalah niat, berdiri, ruku’, dan sujud. Memperhatikan semua ini akan menumbuhkan kedisiplinan dalam kehidupan sehari-hari menjadi betul-betul mudah dan lancar.

Terakhir, pembahasan tentang shalat akan ditutup dengan sebuah hadis; Imam Ali bin Musa Ar-Ridha a.s. suatu ketika ditanyakan tentang makna shalat “Tujuan disyariatkannya shalat adalah PENGAKUAN TERHADAP KETUHANAN ALLAH SWT, MELAWAN SYIRIK DAN PENYEMBAHAN BERHALA, BERDIRI DI HADAPAN HARIBAAN-NYA DALAM PUNCAK KEKHUSYUKAN DAN KERENDAHAN DIRI, MENGAKUI DOSA-DOSA SERTA MEMOHON PENGAMPUNAN-NYA TERHADAP DOSA-DOSA YANG TELAH DILAKUKANNYA, DAN MELETAKKAN DAHI UNTUK HORMAT KEPADA-NYA.

Demikan juga, tujuan disyariatkannya shalat adalah supaya manusia senantiasa TERJAGA, AWAS ELING DAN WASPADA. Hati yang tercerahkan tanpa ada keakuan yang berlebihan, tidak sombong dan mabuk dengan diri dan hartanya, agar manusia menjadi orang-orang yang khusyu’ dan tawadhu’, serta mencari dan mencintai TUHAN. Selain konsistensi doa-doa kepada Allah sepanjang hari dan malam yang dihasilkan dari sinar shalat, shalat akan membuat manusia menemukan JATI DIRI YANG SESUNGGUHNYA.

Insya Allah.

Wong Alus

Categories: SHOLAT | Tags: , , , | 19 Komentar

MENCAPAI INTI DOA


Awalnya ini adalah jawaban dari pertanyaan Sahabat Terkasih– Ki Sabda Langit tentang HIJIB, yang ternyata mengantarkan perenungan kepada hakikat doa. Atas kekurangbenaran artikel ini, saya mohon maaf karena ini sekedar refleksi dari saya pribadi.

womanbendingSalam saya haturkan kepada Allah SWT, satu-satunya Tuhan di semesta alam, junjungan Nabi Muhammad SAW kekasih-Nya dan keluarga, para Nabi dan Rasul, wali-wali-Nya, umat Islam, umat Kristen, umat Protestan, umat Hindu, umat Budha, umat Kong Hu Chu, macam-macam penganut alirat kepercayaan, ulama, intelektual, kaum sufi, kaum terpinggirkan dan tersisihkan, kaum miskin papa, serta kaum yang tidak saya ketahui dimana pun kini berada. Serta seluruh makhluk penghuni jagad raya….

Ki Sabda, ngapunten sebelumnya. Rasa-rasanya saya kok tidak pantas untuk memberikan penjelasan karena masa sih saya menjelaskan kepada yang lebih tahu? Apakah nanti tidak kuwalat, ki? Tapi sebagai wujud asah asih asuh maka mungkin ada baiknya juga kita sharring pengetahuan.

Ki Sabda bertanya tentang beda antara HIJAB dan HIJIB. Dalam kamus perbendaharaan agama, HIJAB artinya tabir, selubung, dinding yang dalam istilah para sufi lebih mengarah pada sesuatu yang bersifat ruhaniah, sifat-sifat kotor manusia, nafsu (berbagai jenis), keterbelakangan akal, ketersesatan akal, keterbenaran akal yang belum sujud dll.

Adapun HIJIB, Hizb, Hizib artinya DOA atau kumpulan doa dari para alim-ulama, syaikh yang diyakini oleh kalangan tertentu memiliki energi yang hebat untuk mengetuk pintu langit. Membuka kunci gudang kegaiban karena kelembutan dan tuning yang pas dengan kehendak-Nya. Di masyarakat Islam khususnya, kita mengenal banyak hijib. Hijib yang terkenal di antaranya Hizbun Rifa’i oleh Syaikh Ahmad Rifai, Hizbun Nasor oleh Syaikh Abi Hasan Asy Syadili, Hizbun Nawawi oleh Imam Nawawi, dan sebagainya.

Saya sejatinya termasuk orang yang belum begitu paham, kenapa ada doa-doa yang diijabahi/di-ACC oleh Tuhan dan kenapa pula ada doa yang belum/tidak di-ACC. Tapi dengan prasangka yang baik bahwa diijabahinya doa atau tidak, Tuhan sesungguhnya lebih tahu kepantasan apakah satu doa itu harus diterima atau tidak.

Pada kesempatan kali ini ada baiknya kita menganalisis secara filsafati soal doa sehingga akhirnya kita semua memahami hakikatnya. Meskipun kita tetap tidak percuma untuk berdoa meskipun belum mengetahui hakikat doa, tapi saya rasa akan lebih sreg bila kita yang alhamdulillah dikaruniai akal budi ini untuk memikirkannya, sesuatu yang kita ucapkan dalam ibadah sehari-hari. Bukankah kunci ibadah adalah doa? Bukankah dari dari doa tercermin siapa diri kita sesungguhnya? Bukankah dari doa tercermin perilaku dan tata cara kita mengolah kedirian?

Mereka yang tidak mengenal hakikat doa mungkin berpendapat bahwa doa merupakan faktor yang melumpuhkan manusia: “Bukan saatnya lagi hanya menengadahkan tangan untuk meminta sesuatu kepada Tuhan, sudah seharusnya kita melakukan usaha, memanfaatkan sains dan teknologi, serta mengisi kesuksesan yang dicapai justeru dengan doa bukankah membuat orang malas berusaha?”

Ada yang berpendapat sbb: “Pada prinsipnya, apakah berdoa bukan berarti ikut campur dalam pekerjaan-pekerjaan Allah? Padahal kita mengetahui bahwa apapun yang menurut Allah baik untuk dilakukan, maka Dia pasti akan melakukannya. Dia mempunyai rasa kasih sayang kepada kita. Dia lebih mengetahui kebaikan untuk diri kita dibanding diri kita sendiri. Oleh karena itu, mengapa kita harus menginginkan sesuatu dari-Nya setiap saat?”

Di saat lain ada yang berpendapat: “Selain dari semua yang telah tersebut di atas, bukankah doa justru bertentangan dengan keridhaan dan penyerahan diri pada kehendak Allah?”

Kritikan dan sanggahan semacam ini sebenarnya belum memahami kenyataan psikologis, sosial, budaya, pendidikan, dan aspek spiritual doa dan ibadah. Karena pada dasarnya, untuk meningkatkan kemauan dan menghilangkan segala kegelisahan, manusia membutuhkan kehadiran sesuatu yang bisa dijadikan media untuk menyandarkan dan menggantungkan kepercayaannya. Dan doa adalah pelita harapan di dalam diri yang diliputi kegelapan.

Masyarakat yang melupakan doa dan ibadah, pastilah akan berhadapan dengan reaksi yang tidak sesuai dengan psikologi sosial. Ketidaaan ibadah dan doa di tengah-tengah suatu bangsa sama artinya dengan kehancuran dan keruntuhan bangsa tersebut. Sebuah masyarakat yang telah membunuh rasa butuh kepada doa dan ibadah biasanya tidak akan pernah terlepas dari keruntuhan dan kemaksiatan.

Tentu saja, jangan kita lupakan bahwa beribadah tidak hanya di saat saat tertentu saja dan menjalani waktu yang ada seperti seekor binatang liar yang membunuh sana-sini tidak ada manfaatnya sedikitpun. Ibadah dan doa harus dilakukan secara terus-menerus, berkesinambungan, pada setiap kondisi, dan melakukannya dengan penuh khidmat sehingga manusia tidak akan kehilangan pengaruh kuat dari doa ini.

Mereka yang setuju dengan dampak negatif yang ditimbulkan oleh doa, tidak memahami hakikatnya. Karena doa bukanlah berarti kita menyingkirkan dan melepaskan tangan dari segala media eksternal dan faktor-faktor alami, lalu menggantikannya dengan berdoa.

Maksud dari doa adalah setelah melakukan segala usaha dalam mengunakan seluruh fasilitas kemanusiaan yang ada, barulah kita berdoa untuk menghidupkan semangat harapan dan gerak dalam diri kita dengan memberikan perhatian dan menyandarkan diri kepada Allah SWT, Sebab Utama Bergeraknya Jagad Raya ini.

Namun sesungguhnya doa tidak hanya dikhususkan pada persoalan-persoalan yang menemui jalan buntu, bukan sebagai sebuah faktor yang menggantikan faktor-faktor natural. Selain akan memberikan ketenangan, doa juga akan menghidupkan gairah batin dalam aktifitas otak manusia, dan terkadang pula akan menggerakkan hakikat manusia sebagai makhluk yang paling mulia.

Dalam kenyataannya, doa akan menampakkan karakternya dengan indikasi-indikasi yang sangat khas dan terbatas dalam diri setiap manusia. Doa akan menampakkan kejernihan pandangan, keteguhan perbuatan, kelapangan dan kebahagiaan batin, wajah yang penuh keyakinan, dan potensi hidayah. Doa oleh karenanya menceritakan tentang bagaimana menyambut sebuah peristiwa. Ini semua merupakan wujud sebuah hazanah harta karun yang tersembunyi di kedalaman ruh kita. Dan di bawah kekuatan ini, harta orang-orang yang mempunyai keterbelakangan mental dan minim bakat sekalipun, akan mampu menggunakan kekuatan akal dan moralnya dan mengambil manfaat yang lebih banyak darinya. Ironisnya, di dunia kita ini sangatlah sedikit orang-orang yang mau untuk mengenali secara mendalam hakikat doa.

Jelaslah sekarang bahwa doa sesungguhnya sejalan dengan ridha (kerelaan) diri kita untuk mengakui keterbatasan, mensyukuri yang sudah ada serta mengarahkan kepasrahan kepada kehendak Tuhan. Dengan perantara doa pula manusia akan menemukan perhatian yang lebih banyak untuk memahami berkah Allah swt. Ini jelas merupakan usaha untuk mencapai kesempurnaan manusia dan sebagai bentuk penyerahan diri pada hukum-hukum penciptaan. Selain itu semua, doa merupakan ibadah, kerendahan hati, dan penghambaan. Dengan perantara doa, manusia akan menemukan cara baru berkomunikasi terhadap Dzat Allah.

Dan apabila dipertanyakan, “Doa berarti campur tangan di dalam pekerjaan Allah. Padahal, Allah akan melakukan apapun yang menurut-Nya bermaslahat”, mereka tidak memperhatikan bahwa karunia Ilahi akan berikan berdasarkan kelayakan yang dimiliki oleh setiap orang. Semakin besar kelayakan seseorang, maka ia akan mendapatkan karunia Allah secara lebih banyak pula. Sebagaimana Imam Ash-Shadiq a.s. dalam salah satu hadis berkata, “Di sisi Allah SWT terdapat sebuah kedudukan di mana seseorang tidak akan sampai ke sana tanpa melakukan doa.”

Sebagai penutup, doa, shalat, dan iman yang kuat terhadap agama akan menghilangkan kegelisahan, ketegangan, dan ketakutan-ketakutan yang merupakan penyebab dari separuh kegundahan manusia dalam peradaban modern yang semakin menjauhkannya dari jati dirinya sendiri sebagai makhluk yang memiliki hati nurani yang mampu menerobos tembus (tadabbur) ke arasy Tuhan.

Salam asah, asih dan asuh dan mohon koreksi dari Pembaca Terkasih.

Wong alus

Categories: HAKEKAT DOA | Tags: , , , | 23 Komentar

70 RIBU JENIS HIJAB


20071230reflectionKenapa Tuhan Yang Maha Kuasa memberi keterbatasan pada manusia sehingga manusia tidak mampu langsung “melihat” Nya? Itu disebabkan karena kebanyakan mata manusia tidak mampu melihat betapa luar biasa “CAHAYA” yang terpancar pada Dzat-Nya. Hanya manusia yang berusaha keras ingin melihat, dan sudah memiliki PERSIAPAN KHUSUS yang mampu untuk melihat CAHAYA MAHA CAHAYA. Kecuali bila Anda diijinkan Tuhan melalui jalan pintas.

Dia akhirnya tersungkur, pingsan, tidak sadarkan diri, ekstase saat ingin melihat Dzat-nya yang sangat terang. Matanya nyaris buta bila dia tidak pingsan. Bahkan bisa-bisa langsung lenyap tanpa bekas. Menjadi arang bahkan debu pun saya rasa masih luar biasa.

Dialah Nabi Musa atau Moses –begitu orang Barat menyebut – saat menantang agar Tuhan menampakkan diri dalam wujud fisik. Bayangkan saja bagaimana bila kita melihat matahari dalam jarak ratusan kilometer sebagaimana jarak Musa melihat Tuhan? Pasti Musa akan terbakar habis, bis! Itu hanya satu matahari, bagaimana bila …dua…tiga…empat… semilyar sinar matahari yang kekuatan membakarnya dijadikan satu?

Sejatinya, Tuhan adalah Dzat yang Bukan Maha Pembakar. Dia adalah Maha Lembut dan Welas Asih, sehingga akhirnya dia menyapa Musa dengan bahasa kasih sayang. Tuhan memberikan cara untuk melihat-Nya: Hai Musa, Kau harus ekstase!. Musa hanya diminta untuk tidak menyadarkan “diri” yang masih diliputi oleh tirai kemanusiaan. Diri yang belum siap untuk bertatap “MUKA” dengan-NYA.

Bagaimana sesungguhya kehebatan CAHAYA TUHAN? Dalam Kitab Suci disebutkan dengan bahasa analogi, bahasa perumpamaan, agar manusia berpikir. Allah adalah cahaya langit dan bumi. Perumpamaan CAHAYA-NYA adalah ibarat misykat. Dalam misykat itu ada PELITA. PELITA itu ada dalam KACA. KACA itu laksana bintang berkilau. Dinyalakan dengan minyak pohon yang diberkati. Pohon zaitun yang bukan di Timur atau di Barat. Yang minyaknya hampir-hampir menyala dengan sendirinya, walaupun tidak ada API yang menyentuhnya. CAHAYA DI ATAS CAHAYA! ALLAH menuntun kepada CAHAYA-NYA, siapa saja yang Ia kehendaki. Dan ALLAH membuat perumpamaan bagi manusia. Sungguh ALLAH mengetahui segala sesuatu. (QS AN NUR, 35).

Kenapa Tuhan membuat perumpamaan dengan MISYKAT, KACA, PELITA, MINYAK DAN POHON? Jawaban ini tercantum dalam Hadits: Allah mempunyai tujuh puluh hijab (Tirai Penutup) CAHAYA dan KEGELAPAN. Seandainya DIA membukanya, niscaya CAHAYA WAJAHNYA akan membakar siapa saja yang melihatnya.

Masalah utama dalam untuk mengenali Dzat Tuhan yang tidak terbatas adalah ilmu dan pengetahuan dan akal kita sebagai manusia yang terbatas. Dia adalah wujud mutlak dari segala dimensi. Dzat-Nya, seperti ilmu, kuasa dan seluruh sifat-sifat-Nya, adalah tak terbatas. Dari sisi lain, kita dan seluruh yang bertalian dengan keberadaan kita, seperti ilmu, kuasa, hidup, ruang dan waktu, semuanya serba terbatas.

Oleh karena itu, dengan segala keterbatasan yang kita miliki, bagaimana mungkin kita dapat mengenal wujud dan sifat yang mutlak dan tak terbatas? Bagaimana mungkin ilmu kita yang terbatas dapat menyingkap wujud nir-batas? Ya, dari satu sisi, kita dapat melihat dari jauh kosmos pikiran dan memberikan isyarat global ihwal Dzat dan sifat Allah swt. Akan tetapi, untuk mencapai hakikat Dzat dan sifat-Nya secara detail adalah mustahil bagi kita.

Dari sisi lain, wujud tanpa batas dari segala dimensi ini tidak memiliki keserupaan dan kesamaan. Dan ketakterbatasan ini hanyalah TUHAN SEMESTA ALAM. Sebab, sekiranya Dia memiliki keserupaan dan persamaan, maka kedua-duanya menjadi terbatas. Sekarang bagaimana kita dapat memahami wujud yang tak memiliki kesamaan dan keserupaan?

Segala sesuatu yang kita lihat selain-Nya adalah wujud yang mungkin, sedangkan sifat- sifat wajib al-Wujud berbeda dengan sifat yang lainnya. Kita tidak berasumsi bahwa kita tidak memiliki pengetahuan tentang hakikat wujud Allah, tentang ilmu, kuasa, kehendak dan hidup-Nya. Akan tetapi, kita berasumsi bahwa kita memiliki pengetahuan global tentang hakikat wujud dan sifat-sifat-Nya. Dan kedalaman serta batin seluruh hal-hal ini tidak akan pernah kita ketahui. Dan kaki akal seluruh orang-orang bijak dunia, tanpa kecuali, dalam masalah ini tampak lumpuh: Dalam hadis yang diriwayatkan dari Imam Ash-Shadiq a.s. dikatakan: “Diamlah bilamana pembahasan sampai pada Dzat Allah”. Artinya, jangan membahas ihwal Dzat Tuhan.

Dalam masalah ini, seluruh akal buntu dan tidak akan pernah mencapai tujuannya. Berpikir tentang DZAT YANG TANPA BATAS melalui akal yang terbatas adalah mustahil. Karena segala yang dirangkum oleh akal bersifat terbatas; dan terbatas bagi Tuhan adalah mustahil. Dengan ungkapan yang lebih jelas, tatkala kita menyaksikan jagad raya dan seluruh keajaiban makhluk-makhluk, dengan segenap kompleksitas dan keagungannya, atau bahkan melihat wujud diri kita sendiri, secara umum,kita memahami bahwa jagad raya ini memiliki pencipta dan Sumber Awal.

Pengetahuan ini adalah pengetahuan global yang merupakan tahapan akhir bagi kekuatan pengenalan manusia tentang Tuhan. Namun, semakin kita mengetahui rahasia-rahasia keberadaan, semakin juga kita mengenal keagungan-Nya serta jalan pengetahuan global tentang-Nya semakin kuat. Akan tetapi, ketika kita bertanya kepada diri kita sendiri apakah hakikat Dia? Dan bagaimanakah Dia?

Ketika kita mengarahkan pikiran ke arah realitas DZAT TUHAN, kita tidak akan mendapatkan sesuatu selain keheranan dan rasa takjub. Kita akan mengatakan bahwa jalan untuk menuju ke arah-Nya adalah terbuka, dan jalan untuk menyentuh hakikatnya adalah tertutup. Itulan sebabnya, DZAT TUHAN dalam kitab suci hanya dipaparkan dalam bahasa perumpamaan saja. Namun perumpamaan dalam kitab suci, kita yakin bukan asal perumpamaan.

Perumpamaan ini hanya bisa bisa diinterpretasi dengan akal yang panjang dan hati nurani yang bersih, bening, tenang dan ikhlas. Pertanyaannya sekarang adalah bagaimana jalan atau cara untuk sampai pada pintu Tuhan, selanjutnya Bertemu dan Mampu untuk “melihat” Dzat-Nya?

Pada artikel saya terdahulu telah disebutkan bahwa jalan untuk menuju Tuhan adalah perjalanan untuk membersihkan hati dari berbagai penyakit, kotoran, nafsu-nafsu kemanusiaan sehingga kita akhirnya hati kita benar-benar bersih, berkilau dan akhirnya memiliki MATA HATI YANG BISA MELIHAT DZAT-NYA. Nurani yang terkoneksi secara otomatis sehingga “KEMANA KAU MENGHADAP DISITULAH WAJAH ALLAH.”

Sekarang, marilah kita menganalisa secara lebih detail apa saja HIJAB/ PENGHALANG/ TABIR PENUTUP/ DINDING yang harus dilewati oleh para pejalan sunyi yang dengan gigih ingin bertemu, bertamu, dan melihat WAJAHNYA YANG MAHA INDAH….

70 RIBU HIJAB

Dalam Hadits disebutkan sebagai berikut: Allah mempunyai tujuh puluh (riwayat lain menyebut tujuh ribu, tujuh puluh ribu) hijab CAHAYA dan KEGELAPAN. Seandainya DIA membukanya, niscaya CAHAYA WAJAHNYA akan membakar siapa saja yang melihatnya. Berarti manusia dari awalnya berstatus MAHJUB: dalam keadaan tertutupi dinding/hijab dari Tuhan. Manusia tidak mampu melihat TAJALLI pada Dzat-Nya (Tajalli: Menyatakan diri setelah hijab-Nya terbuka/tersingkap.

Dari TUJUP PULUH HIJAB tadi, menurut Al Ghazali bisa dikategorikan menjadi TIGA. PERTAMA: YANG TERHIJAB OLEH KEGELAPAN MURNI. KEDUA, YANG TERHIJAB OLEH CAHAYA YANG BERCAMPUR DENGAN KEGELAPAN. KETIGA, YANG TERHIJAB OLEH CAHAYA MURNI SEMATA-MATA.

PERTAMA: YANG TERHIJAB OLEH KEGELAPAN MURNI. (1). Tidak yakin ADA Tuhan (ATEIS). (2). Yakin penyebab segala sesuatu BERASAL DARI MATERI, DAN DARI ALAM. (3). Sibuk dengan DIRI SENDIRI, tidak sempat mempertanyakan penyebab terwujudnya alam semesta. Terlena dengan HAWA NAFSU, sebagaimana Rasulullah SAW bersabda: “Hawa Nafsu adalah sesembahan yang paling dibenci oleh Allah SWT.” Ketiga hijab ini memiliki banyak varian lagi.

KEDUA, YANG TERHIJAB OLEH CAHAYA YANG BERCAMPUR DENGAN KEGELAPAN. Kegelapan berasal dari INDERA, Kegelapan berasal dari DAYA KHAYAL, Kegelapan berasal dari RASIO/ AKAL YANG SALAH.

(1). Menyembah BERHALA hingga percaya TUHAN BERJUMLAH DUA ATAU BANYAK. Termasuk percaya alam semesta itu Tuhan Yang Maha Indah. Percaya bahwa Tuhan bisa dilihat (mahsus). Mereka yang terhijab oleh CAHAYA KETINGGIAN, KECEMERLANGAN, KEKUASAAN, yang kesemuanya memang CAHAYA-CAHAYA ALLAH SWT (seperti menyembah bintang). Percaya bahwa Tuhan itu adalah Matahari, Tuhan adalah semua hal yang bercahaya> percaya bahwa Tuhan adalah CAHAYA MUTLAK YANG MENGHIMPUN SEMUA CAHAYA. Masih banyak lagi variasi hijab tingkat ini.

(2). Menganggap Tuhan bertubuh, yakin bahwa keberadaan Tuhan BISA DITUNJUKKAN di arah tertentu misalnya DI ATAS, termasuk mereka yang percaya bahwa Tuhan berada di luar alam dunia atau di dalam dunia. Sesungguhnya mereka ini tidak mengetahui bahwa persyaratan dasar sesuatu yang dapat dicerna akal adalah kemungkinannya untuk melampaui segenap arah dan ruang.

(3). Mereka yang menyimpulkan dengan akal namun salah KESIMPULAN. Menyimpulkan bahwa Tuhan memiliki sifat mendengar, melihat, mengetahui, menghendaki sesuai dan menyetarakan dengan sifat-sifat manusiawi. Sifat Tuhan adalah sama seperti sifat manusia. Masing masing memiliki variasi hijab.

KETIGA, YANG TERHIJAB OLEH CAHAYA MURNI SEMATA-MATA. Kategori ketiga ini berjumlah sangat banyak, namun untuk mempermudah bisa dipilah sbb:

(1). Mengetahui benar-benar sifat-sifat Allah SWT tidak sama dengan manusia,

(2). Percaya penggerak semua benda planet ini adalah malaikat yang berjumlah banyak. Percaya bahwa Ar Rabb (Tuhan Maha Pengatur dan Pemelihara) adalah Penggerak seluruh benda. Padahal, Ia wajin DINAFIKAN DARI SEGALA BENTUK KEMAJEMUKAN.

(3). Percaya bahwa Perbuatan MENGGERAKKAN BENDA-BENDA SECARA LANGSUNG sepantasnya merupakan bentuk PELAYANAN KEPADA TUHAN. Percaya bahwa TUHAN MAHA PENGATUR ini adalah memiliki penggerak utama lagi dengan cara mengeluarkan perintah bukan menangani secara langsung. Ringkasnya, mereka yang masih terliputi HIJAB TINGKAT TINGGI ini terhijab oleh CAHAYA-CAHAYA MURNI.

(4). Ini adalah hijab bagi ORANG-ORANG YANG TELAH SAMPAI DI AKHIR PERJALANAN (Al Washilun). Mereka percaya AL MUTHA (yang ditaati) ini, bagaimanapun juga masih memiliki sifat yang berlawanan dengan KEESAANNYA YANG MURNI DAN KESEMPURNAAN YANG MUTLAK. Padahal, YANG DITAATI/YANG DIPATUHI yaitu sesuatu yang menjadi penghubung antara Tuhan dengan alam semesta ini, dalam hubungannya dengan AL WUJUD AL HAQQ adalah seperti matahari dengan cahaya murni atau bara api dalam hubungannya dengan substansi api.

Ini juga hijab bagi mereka yang telah sampai di akhir perjalanan. Yaitu pemahaman bahwa TUHAN ADALAH YANG MAHA TERSUCIKAN DARI PARADIGMA KEMANUSIAAN, baik itu oleh mata maupun oleh mata hati. Mereka mengalami keadaan yang menyebabkan TERBAKARNYA SEGALA YANG PERNAH DICERAP OLEH PENGELIHATAN, lalu ia sendiri ikut larut kendati masih terus menatap KEINDAHAN dan KESUCIAN disamping menatap dirinya sendiri dalam KEINDAHAN yang diraihnya dengan telah mencapai HADRAT ILAHIYAH.

Selain itu, masih ada golongan kecil yang sebenarnya sudah sampai di akhir perjalanan spiritual namun ternyatan masih terhijab, yaitu mereka yang berada pada tingkat KHAWASUL KHAWAS (yang spesial di antara yang spesial). Mereka telah TERBAKAR oleh cahaya WAJAH-NYA dan telah TENGGELAM dalam gelombang KEAGUNGAN. Mereka tidak lagi memiliki perhatian pada diri sendiri, karena DIRI TELAH FANA! Tidak ada satupun yang ada kecuali YANG MAHA SATU DALAM KETUNGGALAN: Ini sesuai dengan Firman-Nya: SEGALA SESUATU BINASA KECUALI WAJAH-NYA.

Yang perlu diketahui, ada pula yang tidak menjalani pendakian atau MIKRAJ dengan cara setahap demi setahap untuk menyingkirkan hijab atau penghalang sebagaimana yang harus dilakoni oleh Nabi Ibrahim Khalilullah A.S. (Sahabat Tuhan). Ada yang cepat telah meraih MAKRIFAT yaitu mampu MENSUCIKAN TUHAN DENGAN CARA YANG BENAR. Mereka tiba-tiba bisa diserbu oleh TAJALLI ILAHI (Ketersingkapan Hijab di antara Tuhan dan manusia) sehingga cahaya-cahaya wajah-Nya membakar segala yang bisa dicerap oleh pengelihatan mata indera maupun mata hati sebagaimana jalan yang dilalui oleh Nabi Muhammad SAW, sang Habibullah (Kekasih Tuhan).

Wong Alus

Categories: TUJUH PULUH RIBUHIJAB | Tags: , , , , , | 26 Komentar

PUSAT STUDI JIN


Saya pernah berkeinginan mendirikan sebuah pusat studi yang barangkali belum ada di Indonesia: PUSAT STUDI JIN. Untungnya, saya tersadarkan telah memetakan soal yang terlalu rumit dan absurd…

forest01Jelas saya mengalami kesulitan untuk mencari referensi dari ilmu pengetahuan apa yang menelaah soal jin. Ilmu pengetahuan (sepanjang saya tahu) tidak ada yang membahas fenomena yang sedemikian diyakini oleh masyarakat luas ini. Sehingga di dalam psikologi, sosiologi, politik, ekonomi, fisika, kimia, biologi serta cabang-cabang ilmu tersebut tidak ada yang memetakan soal jin ini secara gamblang dan jelas.

Masyarakat banyak yang menganggap soal-soal jin dibahas dalam ilmu metafisika. Padahal, sepanjang saya mengerti metafisika sama sekali tidak membahas soal jin ini. Metafisika adalah dasar dari filsafat yang lahir di Yunani. Istilah metafisika berasal dari Aristoteles yang menunjuk pada ide-idenya setelah membahas soal fisika (Meta-ta physika).

Metafisika dengan demikian adalah hasil perenungan agung para pemikir yang ingin mencari hakikat yang ada dengan tujuan ingin mencari kebijaksanaan. Sementara metafisika yang dipahami secara klenik lebih mengedepankan pada aspek pragmatisnya saja dan tidak ada hubungannya dengan Metafisika dalam frame filsafati.

Kembali ke soal JIN, tidak salah bila akhirnya saya perlu membuka-buka IBU DARI SEGALA ILMU PENGETAHUAN yaitu KITAB SUCI. Mengingat dalam ilmu pengetahuan modern, tema tentang jin ini dianggap tidak rasional. Ilmu mana yang berani unjuk gigi menganalisa jin dari satu obyek forma (sudut tinjau khusus)? Alih-alih membahas secara detail, mendefiniskan jin saja para ilmuwan sudah harus gigit jari.

Itu sebab jin adalah makhluk yang tidak tampak namun bereksistensi dalam ruang dan waktu. Jin tidak hanya konsep abstrak seperti matematika. Namun ia diyakini benar-benar ada. “Dan kami telah menciptakan jin sebelum (Adam) dari api yang sangat panas.” (QS Al-Hijr 15:27).

Makhluk ciptaan Tuhan dapat dibedakan antara yang bernyawa dan tak bernyawa. Di antara yang bernyawa adalah jin. Kata jin menurut bahasa (Arab) berasal dari kata ijtinan, yang berarti istitar (tersembunyi). Jadi jin menurut bahasa berarti sesuatu yang tersembunyi dan halus, sedangkan syetan ialah setiap yang durhaka dari golongan jin, manusia atau hewan.

Dinamakan jin, karena ia tersembunyi wujudnya dari pandangan mata manusia. Itulah sebabnya jin dalam wujud aslinya tidak dapat dilihat mata manusia. Kalau ada manusia yang dapat melihat jin, maka jin yang dilihatnya itu adalah jin yang sedang menjelma dalam wujud makhluk yang dapat dilihat mata manusia biasa. “Sesungguhnya ia (jin) dan pengikut-pengikutnya melihat kalian (hai manusia) dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka.” (QS Al-A’raf 7:27).

Istilah jin ini tercantum di dalam Al-Qur’an, di antaranya:

1. Sebuah makhluk yang tercipta dari kobaran api, berbeda dengan manusia yang diciptakan dari tanah. …Dan Ia menciptakan jin dari kobaran api. (QS. Ar-Rahman [55]: 15)

2. Makhluk ini mempunyai ilmu, daya maham, dan kemampuan untuk menentukan yang hak dan yang batil, serta dapat berargumentasi. (Hal ini terdapat dalam berbagai ayat dari surat Al-Jin).

3. Mempunyai taklif (kewajiban) dan tanggung jawab. (Silahkan rujuk ayat-ayat dari surat Al-Jin dan Ar-Rahman).

4. Sekelompok dari mereka adalah mukmin yang salih, dan sekelompok yang lain adalah kafir. Dan sesungguhnya di antara kami ada orang-orang salih, dan di antara kami ada pula yang tidak demikian. (QS. Al-Jin [72]: 11)

5. Mereka mempunyai Hari Mahsyar, Kebangkitan dan Hari Akhir.
Adapun orang-orang yang menyimpang dari kebenaran, maka mereka menjadi kayu api bagi neraka jahannam. (QS. Al-Jin [72]: 15)

6. Mereka sebelumnya mempunyai kekuatan untuk menembus langit, mendapatkan khabar, dan mencuri pendengaran yang kemudian dilarang oleh Allah swt. Dan sesungguhnya kami dahulu bisa menduduki tempat di langit itu untuk mendengarkan [berita-beritanya]. Akan tetapi, sekarang, barangsiapa [mencoba] untuk mendengarkan [seperti itu] tentu akan menjumpai panah api yang mengintai [untuk membakarnya]. (QS. Al-Jin [72]: 9)

7. Mereka melakukan interaksi dan komunikasi dengan sebagian manusia dan dengan pengetahuannya yang terbatas tentang rahasia Hari Akhir, mereka berusaha menyesatkan manusia. Dan bahwasanya ada beberapa orang lelaki di antara manusia yang meminta perlindungan kepada beberapa lelaki dari golongan jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan. (QS. Al-Jin [72]: 6)

8. Di antara mereka ditemukan individu-individu yang mempunyai kekuatan yang luar biasa, sebagaimana hal ini juga sering didapatkan di dalam dunia manusia. Berkata ‘Ifrit (yang cerdik) dari golongan jin, “Aku akan datang kepadamu dengan membawa singgasana itu sebelum kamu berdiri dari tempat dudukmu, sesungguhnya aku benar-benar kuat untuk membawanya [dan aku] dapat dipercaya. (QS. An-Naml [27]: 39)

9. Mereka mempunyai kekuatan untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan yang menjadi kebutuhan manusia. … dan sebagian dari jin ada yang bekerja di hadapannya [baca: di bawah kekuasaan Nabi Sulaiman a.s.] dengan izin Tuhannya. … Para jin itu membuat untuk Sulaiman apa yang dikehendakinya dari gedung-gedung yang tinggi, patung-patung, dan piring-piring yang [besarnya] seperti kolam, serta periuk yang tetap [berada di atas tungku] …. (QS. Saba’ [34]: 12-13)

10. Penciptaan mereka di atas bumi lebih awal daripada penciptaan manusia….Dan Kami menciptakan jin sebelum [Adam] dari api yang sangat panas. (QS. Al-Hijr [15]: 27)

Selain itu, dengan merujuk kepada beberapa ayat Al-Qur’an bisa dipahami dengan baik bahwa manusia adalah sebuah makhuk yang lebih sempurna dari jin. Ini didukung oleh realitas bahwa seluruh utusan Tuhan diangkat dari kalangan para manusia, tidak ada satupun Rasul dari jin.

Dalam salah satu ayatnya Tuhan berfirman, “Dan [ingatlah] ketika Kami berfirman kepada para malaikat, ‘Sujudlah kamu sekalian kepada Adam.’ Maka, sujudlah mereka kecuali iblis, dan ia adalah dari golongan jin ….” (QS. Al-Kahfi [18]: 50) Jin disini bisa dipahami secara sederhana yaitu merujuk pada makhluk, namun juga bisa diartikan secara lain…

Semua penjelasan yang telah diutarakan adalah pembahasan mengenai makhluk yang tidak bisa diraba ini dari pandangan Kitab Suci yang semua pembahasannya tidak tercemari statemen-statemen non-ilmiah. Sayangnya, banyak beredar pemahaman jin yang tidak berdasarkan kitab suci. Di antaranya, jin dianggap sebagai makhluk yang mempunyai bentuk mengerikan, berbahaya dan senantiasa mengganggu, menimbulkan permusuhan dan kedengkian, melakukan perbuatan yang sangat jelek, dan seterusnya.

Sementara, apabila kajian tentang jin ini dipisahkan dari keyakinan yang keliru maka kajian bisa betul-betul logis. Meskipun jin tidak bisa dilihat, tapi ini bukan alasan untuk menjadikan pembahasan tentang jin disebut tidak rasional. Bukankah banyak makhluk yang bisa diketahui oleh panca indera lebih sedikit dibandingkan dengan makhluk-makhluk yang tidak bisa diketahui oleh panca indera?
Pada kurun terakhir, yaitu sebelum para ilmuwan mampu menemukan adanya makhuk-makhluk hidup yang bisa dilihat dengan mikroskop, tak seorang pun yang percaya bahwa di dalam setetes air atau setetes darah ternyata terdapat beribu-ribu makhluk hidup yang manusia tidak mampu melihatnya. Ini berarti mata kita hanya melihat warna-warna yang terbatas, telinga kita hanya mampu mendengar frekuensi gelombang suara yang terbatas pula.

Yang bisa diketahui dalam hal ini adalah tanda-tanda keberadaan jin. Umpamanya, jin yang menampakkan diri pada seseorang di rumah atau ditempat-tempat tertentu. Atau anggota rumah/kantor yang sering kehilangan uang sementara menurut perkiraan sangat tidak mungkin ada orang yang mencuri. Atau orang sering kesurupan kalau memasuki tempat tersebut. Itu adalah bagian dari indikasi gangguan jin di tempat tersebut.

Jika sudah ada gangguan, maka solusi versi agama Islam yaitu Ruqyah Syar’iyyah,  yaitu membaca ayat-ayat Al Qur’an dan doa-doa. Selain cara itu tentu saja masih banyak solusi menurut agama dan keyakinan lainnya. Ada pun jika tidak ada gangguan di rumah atau di tempat kita, maka pendeteksian keberadaan jin-jin jahat tak perlu dilakukan.

Demikian juga masalah deteksi jin pada diri seseorang. Tidak ada orang yang dapat melihat keberadaan jin secara pasti dalam tubuh seseorang. Untuk memastikan keberadaan jin yang memasuki tubuh seseorang bisa dilihat tanda-tanda sebagai berikut:

Gejala waktu terjaga, di antaranya:

  • Badan terasa lemah, loyo, dan tidak ada gairah hidup.
  • Berat dan malas untuk beraktivitas, terutama untuk beribadah kepada Allah.
  • Banyak mengkhayal dan melamun, senyum dan bicara sendiri.
  • Tiba-tiba menangis atau tertawa tanpa sebab.
  • Sering merasa ada getaran, hawa dingin, atau panas, kesemutan, berdebar, dan sesak nafas saat membaca Kitab Suci yang menyebut Nama Tuhan.

Gejala waktu tidur, di antaranya adalah:

  • Banyak tidur dan mengantuk berat, atau sulit tidur tanpa sebab.
  • Sering mengigau dengan kata-kata kotor.
  • Melakukan gerakan-gerakan aneh, seperti mengunyah dengan keras sampai beradu gigi.
  • Sering bermimpi buruk dan seram atau seakan-akan jatuh dari tempat yang tinggi.
  • Bermimpi melihat binatang-binatang seperti ular, kucing, anjing, singa, serigala yang seakan-akan menyerangnya.
  • Bermimpi ditemui jin yang mengaku arwah nenek moyang atau tokoh tertentu.
  • Saat tidur merasa seperti ada yang mencekik lehernya atau menggelitikinya dan menendangnya.

Satu hal penting yang perlu mendapatkan perhatian pula adalah, bahwa jin terkadang mengindikasikan satu arti yang lebih luas; yang meliputi pula makhluk-makhluk hidup yang tidak bisa dilihat, yaitu mereka yang mempunyai kemampuan rasionalitas dan pemahaman maupun mereka yang tidak mempunyai kemampuan tersebut. Bahkan, sekelompok hewan yang bisa dilihat dengan mata telanjang dan biasanya bersembunyi di lubang-lubang termasuk pula ke dalam arti ini.

Bukti atas pernyataan di atas adalah sebuah hadits.  Rasulullah saw bersabda:  “Allah menciptakan jin dalam lima spesis: pertama, spesis seperti angin dan udara (yang tidak bisa diraba), kedua, spesis dengan bentuk ular-ular, ketiga, spesis dengan bentuk kala jengking, keempat, spesis dengan bentuk serangga-serangga bawah tanah, dan kelima, spesis yang mempunyai kedudukan sebagaimana manusia, yang pada kelompok ini terdapat pula hisab dan balasan.”

Dengan memperhatikan riwayat ini dan arti yang begitu luas tentang jin, banyak perkara yang telah dijelaskan dalam riwayat-riwayat dan cerita-cerita berkaitan dengan jin akan menjadi terpecahkan.

Misalnya dalam sebagian riwayat, sahabat nabi Ali bin Abi Thalib a.s. berkata, “Janganlah meminum air dari bagian gelas yang pecah atau dari bagian pegangannya, karena setan duduk pada bagian pegangan dan pada permukaan bagian yang pecah tersebut.”

Dengan memperhatikan bahwa setan adalah jin dan bagian gelas yang pecah serta pegangannya merupakan tempat berkumpulnya kuman dan bakteri, maka sangat tidak mungkin bila jin dan setan dalam arti umumnya meliputi pula makhluk-makhluk semacam ini, walaupun mempunyai makna yang khusus. Yaitu, sebuah makhluk yang mempunyai pemahaman, inteligensia, tanggung jawab, dan kewajiban.

Melihat begitu peliknya soal jin,.. akhirnya saya putuskan untuk menunda gagasan untuk menelorkan ide membuka PUSAT STUDI JIN ini. Barangkali ada pembaca yang ingin mendahului?

Wong Alus

Categories: PUSAT STUDI JIN | 25 Komentar

TUHAN MEMBELAH BULAN


Para ilmuwan NASA mendapatkan foto-foto dari pesawat Apollo 10 yang mengasumsikan dengan kuat bahwa bulan pernah terbelah. Sama dengan pernyataan dalam hadits yang menyatakan bahwa salah satu mukjizat utusan Tuhan, Muhammad SAW adalah terbelahnya bulan. Sebuah kebetulan?

Bulan-Terbelah3aFakta tentang bulan yang terbelah itu menjadi bahan diskusi yang serius dari para ahli antariksa Amerika Serikat, NASA. Menelan dana tidak kurang dari 100 juta dollar untuk perjalanan antariksa ke bulan para ilmuwan menemukan kandungan materi termasuk pengetahuan bahwa bulan pernah mengalami pembelahan di suatu saat kemudian menyatu kembali. Ditemukan pula bahwa yang terpotong itu mulai permukaan bulan sampai di dalam perut bulan secara total.

Mekkah seribu empat ratusan tahun yang lalu, di suatu malam yang cerah berkumpullah tokoh-tokoh Quraisy seperti Abu Jahal, Walid bin Mughirah dan Al ‘Ash bin Qail untuk membahas datangnya agama baru yang mengusik eksistensi keyakinan-keyakinan lama bangsa Arab yang paganistik. Pertemuan itu menghadirkan sang pembuat onar: Muhammad SAW.

Singkatnya setelah pertemuan yang bertele-tele dan melelahkan akhirnya pertemuan menyepakati satu HAL. Yaitu agar Muhammad SAW MEMBUKTIKAN bahwa dia benar-benar utusan Tuhan dengan sodoran ide gila yang tidak masuk akal. “Seandainya kamu benar-benar seorang Rasul, maka belahlah bulan yang di atas kita itu menjadi dua,” ujar Abu Jahal.

Muhammad menjawab, “Jika aku benar-benar utusan Tuhan, apakah kalian akan masuk Islam jika aku sanggup melakukannya?” Tanpa pikir panjang, mereka yang yakin bahwa Muhammad tidak mampu melakukan pembuktian yang ganjil itu sontak mengatakan, “Ya.”

Singkatnya, Muhammad berdoa kepada Allah diperkenankan untuk membuktikan kepada umat yang belum yakin terhadap kerasulannya itu agar bulan terbelah menjadi dua. Setelah berdoa, Rasulullah SAW pun mendapat petunjuk untuk mengangkat jarinya ke atas seakan memberi isyarat kepada tokoh-tokoh Qurais tersebut.

Apa yang terjadi kemudian di luar nalar: Tiba-tiba, bulanpun terbelah menjadi dua!.. Selanjutnya sambil menyebut nama setiap tokoh yang hadir, Rasulullah berkata, “Hai ……, bersaksilah kamu. Hai ….., bersaksilah kamu.” Jauhnya jarak belahan bulan itu sangat nyata sehingga gunung Hira nampak berada diantara keduanya.

Sayangnya, meski dibuktikan dengan sebuah fakta yang obyektif dan bisa diamati oleh warga Mekkah, ternyata mereka mengingkari pernyataannya sendiri. Bagi mereka pembelahan bulan itu adalah sihir. Paca kejadian itu turunlah ayat Al Qur’an: “Telah dekat saat itu (datangnya kiamat) dan bulan telah terbelah. Dan jika orang-orang kafir menyaksikan suatu tanda (mukjizat), mereka mengingkarinya dan mengatakan bahwa itu adalah sihir.” (QS. Al Qomar 54:1-2).

Saya percaya tidak pernah ada hal yang kebetulan di alam semesta. Semua ini adalah buah karya Tuhan Sang Kreator. Termasuk terbelahnya bulan di jaman nabi yang akhirnya terbuktikan dengan sains modern saat ini.

REFERENSI FOTO

Bulan-Terbelah1

Bulan-Terbelah2a

http://grin.hq.nasa.gov/ABSTRACTS/GPN-2000-001486.html

http://antwrp.gsfc.nasa.gov/apod/ap021029.html

edited
by wong alus

Categories: TUHAN MEMBELAH BULAN | 15 Komentar

TENTANG DESIR ANGIN SEPOI ITU…


Kembali ke Alam! Sebuah petuah bijak bagi manusia post modern yang penuh rekayasa yang hidup di suatu kumparan peradaban yang kehilangan jati dirinya, kehilangan kepekaan untuk merasakan getaran-getaran alam simbol pancaran kasih sayang-Nya.

Flower-2-13505.jpeg

Pada suatu ketika, di tahun 1996 silam saya pernah tertarik dengan sebuah komunitas penyembuhan psikologi dan spiritual alternatif. Nama komunitas itu adalah Padepokan Lemah Putih di pinggir Kota Solo, yang dipimpin oleh Suprapto Suryodarmo. Komunitas padepokan ini konon sudah kondang hingga di dunia internasional. Justeru di dalam negeri sendiri, keberadaan komunitas ini masih dianggap sebelah mata. Mereka hanya dianggap sebagai perkumpulan para penggiat seni tari yang beraliran spiritualis. Padahal, para cantriknya berasal dari berbagai belahan dunia, mulai Prancis, Amerika Serikat, Inggris, Jerman, hingga dari kota-kota di tanah air namun dengan jumlah yang sangat sedikit.

Di sebuah hari yang redup, saya mendapat kesempatan untuk berkunjung ke padepokan dan ikut merasakan bagaimana komunitas ini mengadakan latihan penyembuhan psikologis dan spiritual. Saya kagum dengan lingkungan padepokan ini. Berada di sebuah lembah yang lumayan luas, asri dan rindang. Di beberapa sudut, berdiri gubuk-gubuk tempat para cantrik tinggal. Senyap oleh lantunan suara alam: desir angin, gemericik air yang menyentuh bebatuan sungai, dan suara gendang bertalu-talu tiada beraturan.

Suara gendang? Ya…Itu adalah salah satu bentuk latihan Padepokan Lemah Putih. Saat gendang ditabuh, sekitar sepuluh cantrik berkewarganegaraan asing menari-nari tiada beraturan. Gerakannya kadang liar, aneh dan tidak terduga. Tidak ada pakem bagaimana jari harus dilengkungkan, bagaimana kaki harus melangkah, bagaimana leher harus melongok ke sana ke mari,…… Mirip ritual sebuah sekte sesat!

Latihan berikutnya: belajar berjalan di atas batu-batu sungai, bergulung-gulung di pantai, menyerap energi purba candi Sukuh, menari di atas batu untuk merasakan gerakan alam. Apa yang alam inginkan, pada saat itulah tubuh bergerak. Konsepnya sederhana: gerakan tubuh tidak perlu direkayasa sedemikian rupa dengan konsep dan persepsi bermacam-macam. ”Jangan berpikir, biarkan tubuhmu terbang oleh angin, biarkan dirimu lepas seperti debu,…” kata Suprapto Suryodarmo, sang guru kepada para cantrik-cantriknya.

Setelah berlatih menjalani hidup yang seiring dengan alam, maka biasanya terjadi diskusi-diskusi informal. Di sana terungkap bahwa para cantrik itu berasal dari latar belakang yang tidak main-main. Ada yang bergelar doktor dari Universitas Sorbonne, Harvard University, Massachusset Institute of technology, dan banyak lagi yang selama ini hidup di komunitas terpelajar, mapan dan kaya di negara-negara maju.

Lantas, kenapa mereka yang sangat rasional, sudah berlebihan dari segi materi dan mungkin mampu membeli kebahagiaan dengan uang dan materi yang mereka miliki justeru berguru dalam sebuah komunitas BACK TO NATURE, yang sangat tradisional dan unik itu?

Saya menyimpulkan bahwa mereka para cantrik datang ke padepokan itu untuk memenuhi keinginan yang sejatinya harus selalu hidup dalam diri manusia: untuk merasakan kembali bagaimana bahasa dan getaran-getaran alam. Kerinduan untuk menyatu dengan alam, menyatu dengan dirinya sendiri dan menyatu dengan Tuhan. Selama ini mereka tidak mendapatkan itu semua. Manusia modern tidak lagi merasakan getaran hidup sehingga otak, perasaan mereka tumpul.

Pada kesempatan kali ini, saya ingin menyampaikan bagaimana manusia hidup di tengah samudera getaran alam yang merupakan BAHASA ALAM. Bila diperhatikan segala gejala alam yang timbul di alam semesta ini adalah merupakan suatu gerakan yang teratur mulai dari galaksi sampai ke bagian terkecil dari struktur benda di alam ini. Kehidupan makluk didunia ini pun mengalami pergerakan mulai dari kehidupan sosial sampai ke organ tubuh terkecil sekalipun.

Demikianlah yang terjadi pada aktivitas makhluk hidup yang ditandai dengan pergerakan ion-ion yang mengakibatkan timbulnya getaran dalam bentuk suatu gelombang yang bergerak secara periodik dengan frekuensi dan simpangan tetap dan tertentu,. kecuali adanya gangguan atau hambatan yang mempengaruhi langsung atau menginduksi gerakan tersebut. Frekuensi yang ditimbulkan tergantung BENTUK, UKURAN DAN STRUKTUR ORGAN bersangkutan, bahkan akan timbul getaran dengan sejumlah frekuensi yang berbeda yang disebut SPEKTRUM.

Makhluk hidup melalui organ-organnya menghasilkan getaran dengan beragam frekuensi. Frekuensi getaran yang dibangkitkan berkisar dari 5 Hrz sampai ke gelombang cahaya tergantung jenis organnya. Frekuensi yang dapat didengar manusia berkisar dari 20 Hz sampai dengan 20 Khz disebut dengan GETARAN SUARA ATAU AKUSTIK. Ada dua sumber getaran yang dibangkitkan makluk hidup yaitu dari pita suara dan organ-organ tubuh lainnya.

Getaran atau suara yang dibangkitkan dari pita suara mempunyai makna tertentu dan merupakan alat komunikasi antar sesamanya. Sedangkan getaran yang timbul dari organ-organ tubuh lainnya menunjukan KONDISI FISIK MAUPUN SPIRITUAL MAKLUK bersangkutan. Demikian pula getaran yang diinduksi ke makluk hidup dapat mempengaruhi tingkah laku dan pertumbuhan baik mempercepat atau memperlambat.

Dalam berkomunikasi, manusia maupun hewan mengeluarkan suara yang dapat dimengerti oleh sesamanya sebagai informasi atau sinyal. Misalnya sinyal adanya serangan musuh agar hewan sekelompoknya dapat menghindar. Demikian pula saat proses kehidupan lainnya seperti proses perkawinan, bertelur atau melahirkan, minta tolong, stres, senang, dan sebagainya setiap jenis hewan akan membangkitkan suara getaran dengan frekuensi dan spektrum tertentu yang dimengeti oleh kelompoknya.

Hal tersebut dapat dibuktikan dengan adanya hasil pengamatan pada ikan yang dilakukan beberapa pakar antara lain, Pada tahun 1998 dan tahun 2001, pakar-pakar dari Intitute for Coastal and Marine Resources, Departement of Biology, Departement of Physics East Carolina University, Greenville, USA, telah melakukan pengamatan getaran suara yang dibangkitkan tbeberapa jenis ikan yaitu weakfish, spotted seatrout dan ikan red drum dalam keadaan normal maupun sedang bertelur.

Demikian pula pada tahun 2002, tim peneliti dari Pusat penelitian sains dan teknologi UI, mengamati getaran yang dibangkitkan sekelompok ikan mas dan ikan bandeng yang sedang bergerombol di Akuarium Seaworld dan hasilnya diperoleh getaran dengan frekuensi rendah yaitu 7 Hz dengan spektrum yang berbeda.

Hal yang sama dilakukan oleh pada serangga dimana para peneliti dari Departemen Pertanian Amerika Serikat bersama tim akhli dari Universita Florida, Universitas Auburn dan Pusat penelitian Universitas Pertanian dan Mekanika, telah mendeteksi getaran suara yang ditimbulkan oleh sejenis hewan serangga bawah tanah (White Grubs) untuk berbagai kondisi antara lain, sedang makan, bergerak, dan bertelur.

Ada pengaruh terhadap pertumbuhan atau tingkah laku makluik hidup bila diberikan getaran dengan spektrum frekuensi tertentu. Misalnya, bila terjadi gesekan antara dua jenis benda misalnya logam, akan menimbulkan perasaan ngilu di gigi, dan bila getaran tersebut dibangkitkan selang waktu yang cukup lama, akan berakibat sress.

Pengamatan yang pernah dilakukan adalah membangkitkan getaran suara dengan frekuensi 11 KHz secara kontinyu akan berakibat terasa pusing, memekakkan telinga manusia, bahkan mungkin dapat mematikan. Demikian pula hasil penelitian lain yang menunjukkan bahwa pembangkitan getaran dengan frekuensi rendah akan mengakibatkan keadaan perut terasa mual dan ingin muntah.

Penelitian yang dilakukan suatu kelompok perternak sapi perah di Wisconsin, USA, menyimpulkan bahwa musik Rock and Roll dapat menyebabkan induk sapi betina menjadi tegang (stres). Selama satu tahun WDFA melakukan studi secara tertutup dan membandingkan level produksi susu induk sapi yang mendengarkan variasi dan tipe-tipe musik. Peternak-peternak sapi perah tertarik untuk mendapatkan satu bentuk musik tertentu lebih produktif daripada bentuk musik lainnya. Jadi mereka dapat menerapkan suatu sistem musik dikandangnya.

Produksi susu ditabulasi setiap minggu, lalu dibandingkan dan diidentifikasi musik mana yang terproduktif bagi induk sapi betina. Hasilnya, artis-artis penyanyi seperti Slipknot, Linkin Park dan Marilyn Manson menghasilkan sedikit susu atau tidak sama sekali. Bagaimanapun suara asli dari penyanyi rock seperti Blink 182 dan Green Day menyebabkan susu mengalir seperti sebuah sungai.

Bagaimana pada tanaman? Dari pengalaman yang pernah dihadapi, tanaman yang terletak di rumah yang tidak dihuni tidak berbuah sedangkan tanaman yang dihuni berbuah lebat (dengan kondisi kedua tanaman tersebut tetap dipelihara). Demikian selanjutnya setelah rumah tersebut dihuni, semua tamanan berbuah dengan lebat.

Getaran yang dibangkitkan secara terus menerus (kontinyu) akan mengakibatkan strees, mual atau pusing tergantung dari frekuensi yang dibangkitkan. Setiap organ tubuh dalam prosesnya membangkitkan getaran dengan frekuensi tertentu tergantung dari ogan tubuhnya. Bila suatu getaran dibangkitkan dari suatu sumber tertentu yang frekuensi sama dengan frekuensi salah satu organ tubuh, maka akan terjadi resonansi pada organ tubuh tersebut dan akibatnya akan timbul gangguan melalui susunan syarafnya seperti mual, pusing, ngilu sakit pada salah satu organ tubuh bersangkutan.

Ada satu teori yang menjelaskan bila suatu organ tubuh mengalami gangguan, maka kekuatan getaran yang ditimbulkan organ yang mengalami gangguan tersebut lebih lemah dari getaran pada keadaan sehat atau dapat juga terjadi frekuensi getaran yang dibangkitkan akan menyimpang dari frekuensi asalnya. Hal tesebut tidak asing lagi karena paramedis telah melakukannya dengan bantuan cardiograf, stetoscope atau alat sejenis lainnya.

Hal ini jelas karena setiap ada suatu proses, tubuh akan membangkitkan getaran dengan frekuensi tertentu. Sedangkan bila ada penyimpangan misalnya jantung tersumbat, maka aliran darah sebelum penyumbatan akan diperlambat dan aliran darah sesudah daerah penyumbatan akan dipercepat yang berarti adanya perubahan frekuensi dari aliran darah tersebut. Bila suatu getaran diberikan pada organ yang mengalami gangguan, maka getaran yang diberikan dengan frekuensi yang sama akan teresonansi dengan getaran organ yang lemah tersebut dan mengakibatkan getaran yang lemah tersebut diperkuat dan akan menyembuhkan organ bersangkutan.

Getaran yang dihasilkan oleh ikan dibangkitkan oleh gerakan dan dari organ ikan itu sendiri seperti gelembungn renang atau standulatory organ. Spektrum frekuensi suara yang dibangkitkan oleh gerakan tergantung dari bentuk, ukuran dan pergerakan dari masing-masing ikan. Semakin pipih bentuk ikan maka semakin cepat penyimpangan gerakan badannya, artinya semakin tinggi frekuensi yang ditimbulkannya. Semakin panjang badan ikan maka semakin tinggi penyimpangan gerakan badannya yang berarti semakin besar amplitudo getaran yang ditimbulkannya. Amplitudo tersebut akan makin besar bila jumlah individu yang terdapat dalam sekawanan jumlahnya semakin banyak. Frekuensi getaran yang ditimbulkan dari gerakan sekelompok ikan tersebut berkisar dari 7 sampai dengan 10 Hertz.

Untuk berkomunikasi, ikan membangkitkan getaran suara dengan menggosok-gosokan bagian badan-tulang, gigi secara bersamaan. Ikan Krapu (Grouper), contohnya, akan menghasilkan bunyi gebukan dengan memukulkan penutup insang ke tubuhnya. Untuk kebanyakan ikan suara yang dibangkitkan akibat gelembung renang yaitu gas berisi gelembung yang menyerupai organ. Dinding elastik gelembung renang dihubungkan ke otot yang dapat memanjang dan berkontraksi untuk meningkatkan dan menurunkan volume gelombang renang.

Getaran ini menggantikan air di sekitar ikan, merambat keluar sebagai gelombang suara yang dapat didengar sebagai dengkuran, siulan atau suara drum, tergantung pada penggunaan otot Frekuensi Spektrum getaran yang dibangkitkan tergantung dari tingkah laku ikan dan struktur gelembung renang setiap ikan, sehingga getaran yang dihasilkan akan berbeda pula untuk setiap jenis ikan bahkan untuk jenis kelamin yang berbeda yang bagian tubuhnya mempunyai perbedaan meskipun sangat kecil.

Pengaruh getaran yang banyak dijumpai pada hewan adalah getaran suara yang ditimbulkan akibat tingkah laku tertentu misalnya bertelur, berkumpul, memberi tanda adanya bahaya dan sebagainya. Untuk hewan menyusui, irama getaran yang diberikan akan mempengaruhi fisiologi hewan tersebut dan secara langsung akan mempengaruhi pertumbuhannya maupun reproduksinya. Jadi dengan menberikan suara dengan irama yang mengalun dan tenang akan memberikan suasana tenang dan nyaman sehingga akan meningkatkan pertumbuhhan dan produksi susunya .

Musik yang didengarkan manusia akan mepengaruhi prilakunya. Demikian pula bila musik rock diperdengarkan pada sapi, sapi akan berperilaku tegang. Mengapa hal tersebut terjadi. Seperti diketahui, hewan tidak mempunyai perasaan seperti halnya manusia. Musik rock yang diperdengarkan bukan iramanya tetapi tingkat kebisingannya. Untuk musik yang bising, sapi bersangkutan akan strees dan secara tidak langsung akan mempengaruhi sistim kelenjar yang berhubungan dengan produksi susu. Sebaliknya, bila diperdengarkan musik-musik romantis, maka akan timbul perasaan tenang.

Hewan menyusui yang mengalami stress akan mempengaruhi kelenjar hypofise, sehingga akan dikeluarkan hormon adrenalin. Hormon adrenalin akan menghambat produksi hormon oxytosin yang berperan merangsang sekresi susu pada sel-sel alveolus kelenjar mammae, sehingga sekresi susu terhambat.

Para pakar dari Departemen Pertanian Amerika Serikat, misalnya melakukan penelitian dengan mendeteksi getaran suara yang ditimbulkan oleh sejenis hewan serangga bawah tanah (White Grubs) untuk berbagai kondisi antara lain, sedang makan, bergerak, dan bertelur. Hasil yang diperoleh adalah spektrum suara yang saling bebeda untuk setiap kondisi. Dengan melakukan analisis terhadap berbagai jarak keberadaan, kekuatan sinyal yang diterima akan menentukan lokasi serangga di dalam tanah.

Serangga menghasilkan suara dengan beberapa cara yaitu dengan sayapnya, dari hentakan kakinya ke substrat, dengan menggesekkan badannya satu sama lain, mengaktivasi membran getar, atau mendenyutkan aliran udara. Hasil penelitian mendapatkan kesimpulan bahwa seekor serangga yang bersayap, bila dibangkitkan getaran dengan frekuensi yang sama dengan frekuensi getaran sayapnya, serangga tersebut akan jatuh.

Berdasarkan atas kesadaran akan pentingnya getaran inilah, para petani jahe di desa Kembang Kecamatan Ampel, Boyolal memiliki cara inovatif dengan memanfaatkan getaran tertentu untuk meningkatkan hasil panennya. Getaran yang digunakan merupakan sistim penyuburan melalui daun dengan memberikan getaran pada frekuensi tinggi (sonar), sehingga merangsang stomata untuk tetap terbuka dan akan meningkatkan kecepatan dan efisiensi penyerapan pupuk yang berguna pada proses pertumbuhan.

Begitulah kenyataannya, kahanannya. Peradaban modern kita semakin sakit, sebuah peradaban yang menjauhkan diri manusia dari dirinya sendiri dan alam sekitarnya. Kita jarang lagi bisa dan mampu mendengarkan getaran yang berada pada frekuensi yang alamiah. Manusia modern lebih suka memasukkan getaran dalam telinganya berbagai getaran rekayasa yang sesungguhnya semakin menjauhkan dirinya dari KESADARAN akan ALAM SEMESTA dan TUHAN SEMESTA ALAM.

Dengarkan bagaimana jangkrik bernyanyi, dengarkan suara desir angin sepoi di malam purnama, dengarkan bagaimana daun-daun bergerak tertiup angin, kicau burung yang bermain dengan anak-anaknya, denyut nadi tubuh kita yang berdetak dan suara air yang mengalir di bebatuan gunung yang misterius ….

Semua itu adalah NYANYIAN ALAM, BAHASA ALAM, BAHASA SIMBOLIK dari KEBERADAAN TUHAN SANG PENCIPTA.

Wong Alus

Categories: VIBRASI ALAM | 15 Komentar

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.