BUDAYA

SUMPAH BUDAYA II

Situasi mental sosial-budaya bangsa yang cukup memprihatinkan ini harus segera dicarikan jalan keluarnya dan harus ada langkah raksasa agar ada keperdulian dari semua elemen bangsa untuk memelihara dan menjaga budaya nusantara tidak sekedar parsial namun dalam scope nasional secara komprehensif. Perlu pula dilakukan semacam revitalisasi budaya bangsa dengan visi menjadi bangsa Indonesia yang berkarakter (mempunyai jati diri), bermartabat dan terhormat.

Apa pentingnya budaya ?

Budaya merupakan seperangkat nilai yang tak bisa dianggap remeh. Karena kebudayaan merupakan nilai-nilai luhur sebagai hasil adanya interaksi manusia dengan lingkungan alam dan lingkungan sosialnya yang telah terbangun sejak ribuan tahun silam. Nilai-nilai luhur yang telah menjiwai sebuah bangsa dan masyarakat. Sehingga kebudayaan sangat mewarnai sekaligus memberi karakter pada jiwa suatu bangsa (volkgeist). Budaya menjadi cerminan nilai kejiwaan yang merasuk ke dalam setiap celah kesadaran dan aktivitas hidup manusia atau. Oleh sebab itu, sistem budaya sangat berpengaruh ke dalam pola pikir (mind-set) setiap individu manusia. Budaya berkonotasi positif sebagai buah dari budi daya manusia dalam menjalani kehidupan dan meretas kreatifitas hidup yang setinggi-tingginya. Maka budaya pun bisa dikatakan nilai-nilai kearifan dan kebijaksanaan suatu masyarakat atau bangsa yang lahir sebagai hikmah (implikasi positif) dari pengalaman hidup selama ribuan tahun lamanya. Adanya budaya juga membedakan mana binatang mana pula manusia. Manusia tidak disebut binatang karena pada dasarnya memiliki kebudayaan yang terangkum dalam sistem sosial, plitik, ekonomi dan kesadaran spiritualnya. Setuju atau tidak setuju, kenyataannya budaya sangat erat kaitannya dengan moralitas suatu bangsa.

Lantas seperti apakah karakter budaya kita bangsa Indonesia ? Bangsa yang tidak berbudaya maksudnya untuk merujuk suatu bangsa yang sudah bobrok moralitas dan hilang jati dirinya. Budaya kita telah lama mengalami stagnasi kalau tidak boleh disebut kemunduran. Tanda-tandanya tampak terutama dalam pemujaan berlebihan di kalangan masyarakat luas terhadap hal-hal yang bersifat fisik dan material yang datangnya dari luar nusantara. Oleh karena itu, mutlak segera dibahas dan dipecahkan bersama-sama. Kita perlu menyadari bahwa banyaknya persoalan yang dihadapi bangsa ini sangat kompleks menyangkut kehidupan sosial, ekonomi, politik dan lainnya. Namun harus digarisbawahi kalau bidang-bidang tersebut sangat terkait dengan krisis yang berlaku di lapangan kebudayaan.

Kita mengakui budaya bangsa warisan leluhur kita sangat adiluhung. Namun kenapa perhatian semua pihak terhadap budaya bangsa semakin lama semakin rendah? Bangsa ini seakan menjadi bangsa yang tanpa budaya, dan perlahan dan pasti suatu saat nanti bangsa ini pasti lupa akan budayanya sendiri. Situasi ini menunjukan betapa krisis budaya telah melanda negeri ini. Rendahnya perhatian pemerintah untuk menguri-uri budaya bangsanya, menunjukan minimnya pula kepedulian atas masa depan budaya. Yang semestinya budaya senantiasa dilestarikan dan diberdayakan. Muara dari kondisi di atas adalah bangkrutnya tatanan moralitas bangsa. Kebangkrutan moralitas bangsa karena masyarakat telah kehilangan jati dirinya sebagai bangsa besar nusantara yang sesungguhnya memiliki “software” canggih dan lebih dari sekedar “modern”. Itulah “neraka” kehidupan yang sungguh nyata dihadapi oleh generasi penerus bangsa. Kebangkrutan moralitas bangsa dapat kita lihat dalam berbagai elemen kehidupan bangsa besar ini. Rusak dan hilangnya jutaan hektar lahan hutan di berbagai belahan negeri ini. Korupsi, kolusi, nepotisme, hukum yang bobrok dan pilih kasih. Pembunuhan, perampokan, pencurian, pemerkosaan, asusial, permesuman, penipuan dan sekian banyaknya tindak kejahatan dan kriminal dilakukan oleh masyarakat maupun para pejabat. Bahkan oleh para penjaga moral bangsa itu sendiri. Duduk persoalannya, orang kurang memahami jika budaya bersentuhan langsung dengan sendi-sendi kehidupan manusia di segala bidang dengan lingkungan alamnya di mana mereka hidup. Sebagai contoh terjadinya kerusakan alam yang kronis menunjukkan dampak tercerabutnya (disembeded) manusia dengan harmoni lingkungan alamnya.

Undang Undang Dasar Negara RI tahun 1945 (UUD 1945) Pasal 32 ayat (1) dinyatakan, “Negara memajukan kebudayaan nasional di tengah peradaban dunia dengan menjamin kebebasa masyarakat dalam memelihara dan mengembangkan nilai–nilai budayanya”. Sudah sangat jelas konstitusi menugaskan kepada penyelenggara negara untuk memajukan kebudayaan nasional Indonesia. Ini berarti negara berkewajiban memberi ruang, waktu, sarana, dan institusi untuk memajukan budaya nasional dari mana pun budaya itu berasal.

Amanah konstitusi itu, tidak direspon secara penuh oleh pemerintah. Bangsa yang sudah merdeka 65 tahun ini masalah budaya kepengurusannya “dititipkan” kepada institusi yang lain. Pada masa yang lampau pengembangan budaya dititipkan kepada Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, kini Budaya berada dalam satu atap dengan Pariwisata, yakni Departemen Pariwisata dan Budaya. Dari titik ini saja telah ada kejelasan, bagaimana penyelenggara negara menyikapi budaya nasional itu. Budaya nasional hanya dijadikan pelengkap penderita saja.

Kita ingat beberapa saat yang lalu kejadian yang menyita perhatian yaitu klaim oleh negara Malaysia terhadap produk budaya bangsa Indonesia yang diklaim sebagai budaya negara Jiran tersebut, antara lain lagu Rasa Sayange, Batik, Reog Ponorogo, Tari Bali, dan masih banyak lainnya. Apakah kejadian seperti ini akan dibiarkan terus berulang?

Seharusnya peristiwa tragis tersebut dapat menjadi martir kesadaran dan tanggungjawab yang ada di atas setiap pundak para generasi bangsa yang masih mengakui kewarganegaraan Indonesia. Negara atau pemerintah Indonesia semestinya berkomitmen untuk mengembangkan kebudayaan nasional sekaligus melindungi aset-aset budaya bangsa, agar budaya Indonesia yang dikenal sebagai budaya adi luhung, tidak tenggelam dalam arus materialistis dan semangat hedonisme yang kini sedang melanda dunia secara global. Sudah saatnya negara mempunyai strategi dan politik kebudayaan yang berorientasi pada penguatan dan pengukuhan budaya nasional sebagai budaya bangsa Indonesia.

Sebagai bangsa yang merasa besar, kita harus meyakini bahwa para leluhur telah mewariskan pusaka kepada bangsa ini dengan keanekaragaman budaya yang bernilai tinggi. Warisan adi luhung itu tidak cukup bila hanya berhenti pada tontonan dan hanya dianggap sebagai warisan yang teronggok dalam musium, dan buku buku sejarah saja. Bangsa ini mestinya mempunyai kemampuan memberikan nilai nilai budaya sebagai aset bangsa yang mesti terjaga kelestarian agar harkat martabat sebagai bangsa yang berbudaya luhur tetap dapat dipertahankan sepanjang masa.

Dalam situasi global, interaksi budaya lintas negara dengan mudah terjadi. Budaya bangsa Indonesia dengan mudah dinikmati, dipelajari, dipertunjukan, dan ditemukan di negara lain. Dengan demikian, maka proses lintas budaya dan silang budaya yang terjadi harus dijaga agar tidak melarutkan nilai nilai luhur bangsa Indonesia. Bangsa ini harus mengakui, selama ini pendidikan formal hanya memberi ruang yang sangat sempit terhadap pengenalan budaya, baik budaya lokal maupun nasional. Budaya sebagai materi pendidikan baru taraf kognitif, peserta didik diajari nama-nama budaya nasional, lokal, bentuk tarian, nyanyian daerah, berbagai adat di berbagai daerah, tanpa memahami makna budaya itu secara utuh. Sudah saatnya, peserta didik, dan masyarakat pada umumnya diberi ruang dan waktu serta sarana untuk berpartisipasi dalam pelestarian, dan pengembangan budaya di daerahnya. Sehingga nilai-nilai budaya tidak hanya dipahami sebagai tontonan dalam berbagai festival budaya, acara seremonial, maupun tontonan dalam media elektronik.

Masyarakat, sesungguhnya adalah pemilik budaya itu. Masyarakatlah yang lebih memahami bagaimana mempertahankan dan melestarikan budayanya. Sehingga budaya akan menjadi bagian dalam kehidupan sehari-hari. Dengan adanya pemeliharaan budaya oleh masyarakat, maka klaim-klaim oleh negara lain dengan mudah akan terpatahkan. Filter terhadap budaya asing pun juga dengan aman bisa dilakukan. Pada gilirannya krisis moral pun akan terhindarkan. Sudah saatnya, pemerintah pusat dan daerah secara terbuka memfasilitasi partisipasi masyarakat dalam upaya penguatan budaya nasional.

Dengan dasar di atas, kami bagian dari elemen bangsa ini bersumpah untuk:
IKUT SERTA MEMELIHARA WARISAN BUDAYA BANGSA (NATIONAL HERITAGE).
MENDESAK KEPADA PEMERINTAH UNTUK SERIUS MEMPERHATIKAN PEMBANGUNAN BUDAYA DAN MENSOSIALISASIKANNYA DI DUNIA PENDIDIKAN.
MENGELUARKAN KEBIJAKAN YANG MENDUKUNG LESTARINYA NILAI-NILAI BUDAYA LOKAL DAN NASIONAL YANG POSITIF DAN KONSTRUKTIF. (4) MENYARING BUDAYA ASING YANG MASUK MELALUI AKTUALISASI BUDAYA.
MENYARING BUDAYA ASING YANG MASUK MELALUI AKTUALISASI BUDAYA NUSANTARA.
MENGGALANG SEMUA POTENSI BUDAYA YANG ADA MELALUI “MANAJEMEN BUDAYA” TATA KELOLA KEBUDAYAAN YANG BAIK DAN BENAR (GOOD CULTURAL MANAGEMENT/ GOOD CULTURAL GOVERNANCE).

TERTANDA

KI WONG ALUS,

KI SABDALANGIT,

MAS KUMITIR,

Bagi saudara sebangsa dan setanah air, silahkan bergabung dan sebarkan sumpah budaya ini dengan mengcopy paste dan mengisi nama anda dibawah Sumpah Budaya ini. Demikian pernyataan kami. Terima kasih. Salam Berbudaya. Asah asih asuh.

XXXX

KRITIK MEMBANGUN UNTUK RAJA JAWA
Pernyataan bersama Mas Kumitir & Wong Alus

Bagaimana memajukan negeri kita agar bisa setara dengan negeri-negeri lainnya seperti China dan Jepang yang memiliki cadangan devisa terbesar di dunia? Salah satu hal yang kami sepekati adalah diperlukan sebuah revolusi budaya di negeri kita. Kenapa harus budaya? Sebab intisari budaya adalah pola pikir, perilaku, kebiasaan yang sudah berakar urat dalam kurun waktu yang panjang. Pola pikir para anak bangsa yang cenderung tidak kreatif, tidak inovatif dan secara salah menafsirkan harapan hidup pada akhirnya melahirkan generasi yang tidak memahami sangkan paraning dumadi.

Inilah masa sekarang. Generasi yang dimanja oleh situasi yang memang membius mereka dalam kemudahan dan tidak mengenal proses perjuangan untuk merengkuh kebebasan dan kemerdekaan. Pengembangan diri bersifat pragmatis dan materialistik yang hanya ditujukan untuk meraih prestasi dan melupakan pengembangan diri yang bertumpu pada budaya keindonesiaan kita.

Siapa yang harusnya memulai untuk mengadakan gerakan REVOLUSI BUDAYA? Menurut hemat kami, yang harus mengawali adalah mereka yang selama ini hidup di sentra, kantong, dan EPISENTRUM BUDAYA. Siapa lagi kalau bukan PARA RAJA dan PARA KERABAT DAN SENTANA DALEM. Raja tidak hanya simbol, merekalah yang menggenggam RUH BUDAYA karena dari sala sesungguhnya dimulainya BUDAYA.

PARA RAJA JAWA (KHUSUSNYA RAJA DI KRATON KASULTANAN NGAYOGYAKARTA HADININGRAT, RAJA DI KRATON PURI PAKUALAMAN, RAJA DI KRATON MANGKUNEGARAN, RAJA DI KRATON KASUNANAN SURAKARTA) kini tidak mampu lagi menempatkan dirinya dalam kancah perubahan budaya di masyarakat modern.

Mereka terpaku dan hanya jadi penonton perubahan budaya yang berlangsung cepat. Mereka tidak mampu menjadi PENGGERAK BUDAYA yang konon sangat adiluhung. Bagaimana bisa menjadi penggerak budaya bila kita semua hidup semakin HEDONISTIK DAN FEODALISTIK?

Para raja itu masih hidup tapi tidak memiliki semangat untuk menjadikan masyarakat yang berbudaya Jawa tersebut maju, berilmu tinggi dan mampu mengolah rasa/dzikir dan pikir mereka sehingga menjadikan budaya sebagai basis pengembangan diri. Masyarakat yang kehilangan JATI DIRI BUDAYA tempat dimana dulu mereka dilahirkan akan tumbuh sebagai masyarakat yang anti peradaban dan cenderung hanya menyerap peradaban modern tanpa disaring.

Budaya membaca, menulis, mengolah diri menjadi manusia yang berbudi pekerti luhur dan sesuai dengan jati diri bangsa kian lama kian hilang. Padahal di dalam khasanah budaya Jawa kita mengenal kearifan lokal bagaimana hidup di tengah perubahan yang cepat.

Kami telah berusaha keras untuk mendapatkan berbagai kitab-kitab Jawa kuno baik berupa manuskrip, fotocopy, atau buku aslinya tapi itu lebih banyak kami dapat dari buku-buku yang dijual di pinggir Jalan. Sementara buku-buku Jawa yang ada di Kraton yang kami yakini masih bertumpuk di gudang-gudang semakin dimakan kutu buku dan rayap.

Keraton –sejauh kami tahu– tidak memiliki niat untuk membuka akses buku-buku babon dari para pujangga Jawa. Para Raja, Para Kerabat dan Para Sentono Dalem tidak memiliki keinginan sedikitpun untuk MBEBER KAWICAKSANAN dan selama ini lebih cenderung untuk HANYA MENYIMPAN DALAM GUDANG SAJA.

Inikah FUNGSI KRATON SEBAGAI SARANA UNTUK NGURI-URI KEBUDAYAAN JAWA YANG ADILUHUNG ITU? Bila Kraton dan juga para Raja menyadari fungsinya sebagai penggerak dan pelumas bergeraknya budaya, harusnya mereka membuka akses kepada masyarakat seluas-luasnya untuk mendapatkan informasi termasuk juga mendapatkan KUNCI MASUK KE PERPUSTAKAAN KRATON.

Menyimpan buku-buku/ naskah-naskah kuno dan menganggapnya sebagai JIMAT adalah sangat bertentangan dengan semangat membangun budaya dan secara umum membangun bangsa. Sebab membangun bangsa diperlukan gotong royong yang erat bersadarkan profesi dan kompetensinya masing-masing. Bila budayawan Jawa saja kesulitan untuk mendapatkan akses ke kraton, mana bisa mereka mengetahui nilai-nilai budaya Jawa jaman dahulu bila tidak dari buku-buku kuno?

BUDAYA bukanlah hanya HASIL, sebagaimana candi-candi, rumah-rumah adat, kitab-kitab kuno, adat istiadat, benda-benda seni dan lainnya. Budaya adalah sebuah PROSES yang terjadi di masyarakat yang harus terus BERINOVASI dan memiliki ENERGI KREATIF yang besar untuk memajukan kemanusiaaan yang lebih manusiawi, yang memiliki rasa kebertuhanan yang lanjut dan hingga sampai kesimpulan penghayatan hidup.

Untuk mengetahui HAKIKAT BUDAYA, kita memerlukan sebuah proses MEMBACA DAN MENULIS. Baik membaca KITAB YANG TERTULIS, maupun membaca dalam arti yang luas yaitu MEMBACA KITAB TIDAK TERTULIS, yaitu ALAM SEMESTA beserta ciptaanNya. Sementara MENULIS berarti mengadakan PERENUNGAN dan MENGOLAH DENGAN AKAL PIKIR hingga kemudian berlanjut ke tahap MELAKUKAN DALAM PERILAKUNYA SENDIRI-SENDIRI.

Sebagai bagian dari semangat untuk NGANGSU KAWRUH itulah maka, sudah pada tempatnya bila PARA RAJA DI RAJA JAWA (KHUSUSNYA RAJA DI KRATON KASULTANAN NGAYOGYAKARTA HADININGRAT, RAJA DI KRATON PURI PAKUALAMAN, RAJA DI KRATON MANGKUNEGARAN, RAJA DI KRATON KASUNANAN SURAKARTA) membuka akses yang seluas-luasnya kepada masyarakat untuk MEMPELAJARI kitab-kitab kuno yang hingga saat ini tersimpan erat dalam gudang-gudang mereka.

Demikian uneg-uneg dari kami, semoga para RAJA JAWA menyadari KEMBALI PERANNYA SEBAGAI PEMIMPIN KHALIFAH DI MUKA BUMI, PENYANGGA BUMI, PENATA AGAMA. Mohon maaf bila tidak berkenan dan MONGGO KEPADA REKAN-REKAN YANG SEGARIS PERJUANGAN UNTUK BERGABUNG DENGAN KAMI DALAM GERAKAN REVOLUSI BUDAYA JAWA INI.

Hormat kami,

Ttd

Mas Kumitir www.alangalangkumitir.wordpress.com

Wong Alus www.wongalus.wordpress.com

40 Komentar

40 thoughts on “BUDAYA

  1. SALAM HORMATKU KEPADA KI WONGALUS & MAS KUMITIR

    Saya selalu menyimak dengan cermat di manapun panjenengan berdua selalu menggores pena, disitulah tampak sumunaring surya, pencerahan demi pencerahan, bagaikan kekuatan aufclarung yang begitu dahsyat. Memang benar apa yg panjenengan katakan. Kerajaan di Nusantara, baik yg ada di pulau jawa dan Luar Jawa, masih banyak sekali terdapat kerajaan. Namun kerajaan bagaikan sangkar yang tiada penghuninya lagi. Kerajaan yg hilang gaungnya. Raja lebih menikmati berbisnis dan berpolitik. Kepedulian terhadap perannya sebagai cagar budaya Jawa, Melayu, dan yang lainnya sudah terbengkelai. Jika di zaman dahulu Raja berperan pula sebagai seorang spiritualis handal, kini hanyalah simbolisme tanpa makna. Ibarat harimau kehilangan taringnya. Padahal, kelak negeri ini akan mencapai kejayaannya kembali, manakala masing2 suku bangsa kembali menghayati dan melestarikan kearifan lokal, memiliki jiwa apresiasi tinggi terhadap seni dan budaya serta tradisi yg indah sekali. Kita telah mendapat pelajaran berharga bagaimana bangsa bangsa di Asia yakni Cina, Jepang, India, Korea, Taiwan, Thailand, mereka dapat eksis berkat kekuatan akan jatidiri bangsa yg tidak mudah terombang-ambing nilai-nilai asing yg melahirkan diskrepansi dengan akar budi daya setempat. Bangsa menjadi kehilangan arah dan jatidiri, bangsa yg serba salah tingkah, tdk sinergis dan harmonis dengan keadaan alam sekitar. Pada gilirannya, bangsa ini benar-benar menjadi bangsa tercerabut dari akarnya, limbung lalu jatuh tersungkur. Semoga pencerahan demi pencerahan disuarakan oleh para generasi muda bangsa, yg masih memiliki semangat dan energi yg tak kenal lelah.

    Dengan adanya uneg-uneg di atas semoga menjadi pintu pembuka kesadaran bagi semua pihak yg bertanggungjawab atas pelestariaan budaya dan ragam kekayaan nusantara peninggalan nenek moyang. Betapa ilmu setinggi apapun tak akan bermanfaat sedikitpun bila hanya tersimpan rapat di “gudang”. Dapat dibayangkan, bila buku2 kuno yg sangat tinggi nilai filosofinya hanya “bermanfaat” untuk pakan rayap dan lengit.

    Salam asah asih asuh
    sabdalangit

  2. dBo

    Luar biasa, sebuah uraian hasil analisa super-kritis dari kadang sutresnaku mas Alus dan mas Kumitir…
    Proses PENGHANCURAN-BUDAYA yang terjadi diberbagai belahan dunia termasuk ‘NKRI’, sebenarnya telah dimulai sejak abad ke-13 (contoh: sejarah Iran dan tentu saja di Jawa/Singhasari) dan lebih meluas lagi pada awal abad pertengahan yang terkenal dengan gerakan Renaisance/Pencerahan (www.dbo911mosaik.wordpress.com/penciptaan adam). Sampai sekarangpun masih berlansung, spt pencurian benda2 purbakala warisan-budaya. Invasi serangan ke Irak, penghancuran pertama adalah musium-purbakala dan 3-hari setelah itu beberapa benda warisan-budaya telah berada diluar-negeri…
    Pencurian di Musium Radya-Pustaka Sala(karta)….
    Seorang Syekh Siti Jenar, sebenarnya sudah melihat/mencium tanda2 penjarahan/perusakan Budaya-Bangsa, dan seorang Bung Karno yang akan merajut kembali NKRI menjadi Mosaik Nuswantara Kertagama Raharja Indonesia.
    Kedua tokoh tsb akhirnya ‘terpancung’ oleh HOLLOW-COURSE, yang pertama oleh’Ajaran Sesat’ dan yang kedua okeh G30S-PKI…
    BUDAYA adalah laksana Akar-Tunggang/Tunjang sebuah Pohon, yang akan menjadikannya TUMBUH BERKEMBANG, KOKOH-RINDANG, BERUMUR-PANJANG…DAN MEMBERIKAN KESEJUKAN SERTA KETEDUHAN…
    Namun apabila Akar-Tunggang/Tunjang ini kita hilangkan, jadilah Pohon-Kerdil (istilah kerennya Bonsai)…
    Dan kita sedang menjalani PROSES PENGKERDILAN BANGSA…
    Contoh nyata, Aborigin, Aztec,Inca, Maya… Dan ini bukannya tidak mungkin menjadi SILENT-GENOCIDE…. Sangat memprihatinkan bahkan mengerikan…….
    Berkait dengan pengamatan saya diatas, ijinkan saya menyampaikan usul thd judul artikel penjenengan REVOLUSI menurut saya (maaf, jelas subyektif) kurang cukup dan kurang pas. Kalau setuju, sekedar urun-rembug, bagaimana kalau diubah “TRIWIKRAMA-BUDAYA”
    Sekali lagi mohon maaf…sekedar usulan saja.

    Mari kita bergandeng-tangan mengembalikan dan mengangkat HARKAT DAN JATI-DIRI BANGSA DISERTAI RASA BANGGA AKAN TITAH/FITRAH SERTA SELALU ELING AKAN SANGKAN PARANING DUMADI…….

    Salam TRIWIKRAMA…kagem panjenengan kekalih
    Rahayu…

  3. Yth KI SABDA, matur nuwun. Urun rembugnya juga saya posting di blog alang alang kumitir. Saya punya usul agar Pernyataan-Pernyataan di blog ini nantinya bisa kita sebarkan ke website-website yang lain dan juga kita print dan kirimkan ke para Raja di (sementara) Empat Kerajaan di Jawa agar mereka menyadari dan melek eksistensinya sebagai panjer hidup budaya.

    Yth Mas dBo; Matur nuwun dukungannya, dan usul TRIWIKRAMA BUDAYA adalah usulan yang tepat mas. Akan kami diskusikan dgn mas kumitir dan bila sepakat, kata REVOLUSI akan diubah dengan TRIWIKRAMA BUDAYA saja. Dan saya usul bagaimana bila para kadang semua yang membuat pernyataan disini dicatat sebagai pembuat pernyataan?. Monggo bila berkenan untuk mempublish bareng2 di blognya masing-masing dan mencantumkan nama pembuat pernyataan termasuk nama Mas dBo.

    Tanggapan Panjenengan ini juga kami posting di blognya mas kumitir.

    Terima kasih. Salam perjuangan TRIWIKRAMA BUDAYA!

  4. celetukansegar

    Saya salut dengan panjenengan. Namun saya khawatir kitab-kitab kuno itu sudah tidak ada di perpustakaan kraton. Kalaupun yang masih ada, mungkin hanya kitab yang tidak begitu penting.
    Karena sejak perhubungan kita dengan bangsa asing, banyak kitab-kitab kuno yang dibawa keluar, khususnya ke negeri Belanda dan Inggris.
    Tempat-tempat yang menyimpan naskah kuno tersebut, antara lain : Universitas Leiden dan Utrecht di Belanda. Sedangkan di Inggris, yaitu British Library, Universitas John Rylands Manchester, dan Universitas Oxford.
    Sebenarnya pihak Indonesia sudah meminta kembali naskah-naskah kuno tersebut, paling tidak dalam bentuk microfilm-nya. Namun masih mengalami kendala. Selain itu, jika menyimpan sendiri, pihak pemerintah tidak mempunyai tempat dan staf khusus. Karena naskah kuno tadi, sangat mudah mengalami kerusakan.

    Salam Brrrrr juang
    El pueblo unido jamás será vencido!
    (Rakyat Bersatu Tak Dapat Dikalahkan)

  5. Yth Mas Segar, Bisa jadi memang sebagian besar sudah raib ke luar negeri . Kebetulan Mas Kumitir memiliki kontak person dan link khusus ke perpustakaan Leiden Belanda dan sebagian besar yang dimuat di blog alangalangkumitir itu juga berasal dari sana. Jadi inilah upaya kita untuk mempersembahkan kepada tanah air, upaya mengembalikan buku-buku babon budaya yang berupa serat, suluk, kekidungan dll. Sehingga bisa di kopi paste secara bebas untuk masyarakat luas.

    Keprihatinan kita adalah kenapa justeru kita yang tidak memiliki dana, tidak memiliki kuasa, dan tidak berada di kalangan kampus yang justeru perduli mengembalikan karya-karya leluhur ke ibu pertiwi? Kenapa bukan para raja jawa, atau bahkan pemerintah Indonesia saja yang jelas-jelas memiliki akses luas dan mampu bergerak leluasa?

    Semoga kita semua perduli kepada BUDAYA-BUDAYA SUKU BANGSA yang kaya dengan nilai-nilai luhur dan menjaga serta mengembangkannya sebagai basis pengembangan nilai-nilai pembangunan bidang kebudayaan di tanah air.

    Salam perjuangan tak kenal lelah…

  6. Anonim

    salam hormat utk bpk.alang2 kumitir dan wong alus..saya pendosa dan org gila sangat kagum dg ide anda2 yg sangat hebat menurut saya..tp apa qta pnya hak utk itu smua,dan apakah qta sudah sdkt brsyukur dg napas,nupus ini,apakah sudah selesai kwajban dan tugas qta djagad gedhe dan kecil ini,maafkan saya bila kata2 saya tdk sopan kpd bpk2 smuanya..sekali lg maaf dan salam kangen dan hormat saya..

    Ansor

  7. wongalus

    Terima kasih mas Anonymous, yang mengingatkan kita semua tentang kewajiban untuk bersukur dengan nafas ini…

    Hak kita adalah menentukan kebijakan berdasarkan ketajaman visi dan pengetahuan kita tentang misi hidup manusia mas. Kebijakan harus disinari kebijaksanaan. Kebijaksanaan harus ditelorkan dari nilai-nilai tertentu yang kita yakini. Nilai jadi penimbang mana yang baik-buruk (etika), benar-salah (logika), indah-tidak indah (estetika). Kewajiban kita adalah memayu hayuning bawono, memayu hayuningrat.

    Salam hormat ya mas.. tugas kita semua belum selesai.

  8. Anonim

    assalaam..yg trkasih bpk wong alus dan mas kumitir…maafkan klancangan hamba allahu ta’ala yg bdoh dan pnuh kkurangan ini…saya sangat bingung mmbaca artikel2 yg bpk2 tulis diblog..sangat smpurna,ttp mengapa?!!!maaf…rambu2 dijlan yg lurus ini hrz dilanggar oleh si pembuat rambu2 itu sndiri…bpk yg trhormat dan terkasih,saya hamba allahu ta’ala mohon maaf yg sebesar2nya.salam asih…….

  9. hmm.. saya sekali lagi mohon ijin copas halaman ini seperti mBah DBO911.. TRIWIKRAMA BUDAYA sarana mengembalikan jati diri bangsa..

  10. Silahkan buat kang boed tersayaaaaang.. Salam rindu selalu untuk panjenengan.

  11. Hendri

    saya sendiri pernah kerja di arsip daerah DIY, ernah merawat arsip kraton Jogja. keadaan arsip, buku, dan semua pustaka kraton hanya tinggal menunggu waktu saja, mungkin sekitar 25 tahun lagi sudah punah karena hanya ditumpuk di gudang tanpa standar enyimpanan arsip yg benar. kami hanya membantu kraton, tapi pihak kraton sendiri sama sekali tak peduli, masih anggap sebagai jimat dan para abdi dalem feodal, kami PNS aja harus jongkok ngesot saat masuk di tempat peyimpanan arsip di gudang kraton. Perlu diketahui, kraton jogja sebentar lagi punah karena sultan aja lebih suka bisnis

  12. Hendri

    arsip perjanjian giyanti saja saya pernah memegang yg asli dan kami merawatnya, kemudian kami simpan di gudang arsip karton Yogya yg sama sekali tidak terawat (ac tidak nyala karena kurang daya) dan beberapa arsip penting lainnya hanya disimpan seadanya.

  13. ratno

    Maaf saya hanya orang awam bolehlah ikut berkomentar
    kenapa tidak pakai doa2 saja agar Raja2 jawa bisa memberi akses seluas luasnya tentang budaya jawa yang banyak tersimpan di perpustakaan keraton? Seperti doa2 yang diajarkan di Blognya WongAlus.

  14. danang_paramarta

    java never die …. tancep kayon tetap semangat mas…! nuwun

  15. mantaaaap..?

  16. Semar me'sem

    Mas Kumitir….,yang saya hormati…,
    Disaat jaman yang sudah instan ini masih ada sosok orang yang peduli dengan keaadaan dan situasi jaman ini, saya angkat topi untuk mas Kumitir, dan saya ikut serta dalam GGbarisan tersebut. saya sangat berkehendak dan bekerja untuk membangun jagad Nusantoro, agar cita2 leluhur kita tetap terjaga yaitu: ” Gemah Ripah Loh Jinawi, Toto Tentrem Kerta Raharja., Mudah2an semua niat kita akan terlaksana dan terwujud.

  17. sopo iki

    mantap bro..

  18. arek`e

    iyo wes

  19. Dinasti Syailendra
    Bhanu (752-775)
    Wisnu (775-782)
    Indra (782-812)
    Samaratungga (812-833)
    Pramodhawardhani (833-856), menikah dengan Rakai Pikatan (Dinasti Sanjaya)

    Dinasti Sanjaya
    Sanjaya (732-7xx)
    Rakai Panangkaran
    (tidak diketahui)
    Rakai Patapan (8xx-838)
    Rakai Pikatan (838-855), mendepak Dinasti Syailendra
    Rakai Kayuwangi (855-885)
    Dyah Tagwas (885)
    Rakai Panumwangan Dyah Dewendra (885-887)
    Rakai Gurunwangi Dyah Badra (887)
    Rakai Watuhumalang (894-898)
    Rakai Watukura Dyah Balitung (898-910)
    Daksa (910-919)
    Tulodong (919-921)
    Dyah Wawa (924-928)
    Mpu Sindok (928-929), memindahkan pusat kerajaan ke Jawa Timur (Medang)

    Medang
    Mpu Sindok (929-947)
    Sri Isyanatunggawijaya (947-9xx)
    Makutawangsawardhana (9xx-985)
    Dharmawangsa Teguh (985-1006)

    Kahuripan
    Airlangga (1019-1045), mendirikan kerajaan di reruntuhan Medang
    (Airlangga kemudian memecah Kerajaan Kahuripan menjadi dua: Janggala dan Kadiri)

    Janggala
    (tidak diketahui silsilah raja-raja Janggala hingga tahun 1116)

    Kediri
    (tidak diketahui silsilah raja-raja Kadiri hingga tahun 1116)
    Kameswara (1116-1135), mempersatukan kembali Kadiri dan Panjalu
    Jayabaya (1135-1159)
    Rakai Sirikan (1159-1169)
    Sri Aryeswara (1169-1171)
    Sri Candra (1171-1182)
    Kertajaya (1182-1222)

    Singhasari
    Ken Arok (1222-1227)
    Anusapati (1227-1248)
    Tohjaya (1248)
    Ranggawuni (Wisnuwardhana) (1248-1254)
    Kertanagara ( 1254-1292)

    Majapahit
    Raden Wijaya (Kertarajasa Jayawardhana) (1293-1309)
    Jayanagara (1309-1328)
    Tribhuwana Wijayatunggadewi (1328-1350)
    Hayam Wuruk (Rajasanagara) (1350-1389)
    Wikramawardhana (1390-1428)
    Suhita (1429-1447)
    Dyah Kertawijaya (1447-1451)
    Rajasawardhana (1451-1453)
    Girishawardhana (1456-1466)
    Singhawikramawardhana (Suraprabhawa) (1466-1474)
    Bhre Kertabhumi (Brawijaya) (1468-1478)
    Girindrawardhana (1474-1519)

    Demak
    Raden Patah (1478 – 1518)
    Pati Unus (1518 – 1521)
    Sultan Trenggono (1521 – 1546)
    Sunan Prawoto (1546 – 1561)

    Pajang
    Jaka Tingkir, dikenal juga sebagai Sultan Hadiwijoyo (1561 – 1575?)

    Mataram Islam
    Ki Ageng Pemanahan, menerima tanah perdikan Mataram dari Jaka Tingkir
    Panembahan Senapati (Raden Sutowijoyo) (1575 – 1601)
    Sunan Prabu Hanyakrawati (1601 – 1613), dikenal juga sebagai Sunan Seda Krapyak
    Sultan Agung (Prabu Hanyakrakusuma) (1613 – 1645)
    Amangkurat I (1645 – 1677), dikenal juga sebagai Sinuhun Tegal Arum
    Amangkurat II (1677 – 1703)
    Amangkurat III (1703 – 1705)
    Pakubuwana I (1705 – 1719), dikenal juga sebagai Sunan Puger
    Amangkurat IV (1719 – 1727), memindahkan istana ke Kartasura

    Kasunanan Surakarta
    Pakubuwana II (1727 – 1749), memindahkan kraton Kartasura ke Surakarta pada tahun 1745
    Pakubuwana III (1749 – 1788)
    Pakubuwana IV (1788 – 1820)
    Pakubuwana V (1820 – 1823)
    Pakubuwana VI (1823 – 1830), juga dikenal dengan nama (Pangeran Bangun Tapa)
    Pakubuwana VII (1830 – 1858)
    Pakubuwana VIII (1859 – 1861)
    Pakubuwana IX (1861 – 1893)
    Pakubuwana X (1893 – 1939)
    Pakubuwana XI (1939 – 1944)
    Pakubuwana XII (1944 – 2004)
    Pakubuwana XIII (Tedjowulan) (2005-sekarang)

    Kasultanan Yogyakarta
    Hamengkubuwana I (Sultan Mangkubumi) (1755 – 1792)
    Hamengkubuwana II (1793 – 1828)
    Hamengkubuwana III (1810 – 1814)
    Hamengkubuwana IV (1814 – 1822)
    Hamengkubuwana V (1822 – 1855)
    Hamengkubuwana VI (1855 – 1877)
    Hamengkubuwana VII (1877 – 1921)
    Hamengkubuwana VIII (1921 – 1939)
    Hamengkubuwana IX (1939 – 1988)
    Hamengkubuwana X (1988 – sekarang)

    Kadipaten Mangkunegaran
    Mangkunagara I (Raden Mas Said) (1757 – 1795)
    Mangkunagara II (1796 – 1835)
    Mangkunagara III (1835 – 1853)
    Mangkunagara IV (1853 – 1881)
    Mangkunagara V (1881 – 1896)
    Mangkunagara VI (1896 – 1916)
    Mangkunagara VII (1916 -1944)
    Mangkunagara VIII (1944 – 1987)
    Mangkunagara IX (1987 – sekarang)

    Pakualaman
    Paku Alam I (1813 – 1829)
    Paku Alam II (1829 – 1858)
    Paku Alam III (1858 – 1864)
    Paku Alam IV (1864 – 1878)
    Paku Alam V (1878 – 1900)
    Paku Alam VI (1901 – 1902)
    Paku Alam VII (1903 – 1938)
    Paku Alam VIII (1938 – 1998)
    Paku Alam IX (1998 – sekarang)

    salam hormat buat sesepuh semua….salam takzm buat ki wong alus,ki sabda,mas kumitir,ki cs,dll..ikut ngekor dibelakang…hehheheee,,

  20. wisa212

    Salam Kinormatan katur Wong Alus, Kumitir sarto Kang Sabdalangit,
    Saya setuju dan mendukung sekali untuk Revolusi Budaya Jawa yang penjenengan lantunkan.
    Hal ini tentunya bukan sesuatu yang mudah karena pada kondisi sekarang ini telah muncul sebuah kekuatan yang sangat besar sedang mengobrak-abrik, mencabik-cabik bahkan akan menghancurkan luluhkan kekuatan budaya di tanah jawa ini, kekuatan itu telah mawujud dan nyata di tengah-tengah kita dengan membentuk kelompok-kelompok, perkumpulan-perkumpulan yang nyata-nyata tidak menghasilkan hal postitif tetapi akhirnya menjadikan satu perpecahan, peperangan bahkan konflik yang berkepanjangan,
    Contoh kecil: PARTAI, idealisme manusia ketika masuk kebagian ini (partai) luar biasa, saudara bisa jadi musuh, tata krama, unggah-ungguh dan otomatis Budaya itu sendiri yang hancur. Ditambah lagi manusia yang bisa menjadi pilar-pilar tegak dan lestarinya Budaya Jawa sudah terkontaminasi dalam alam partai ini dan bisa dihitung dengan jari tangan orang-orang yang memikirkan tentang kelestarian Budaya Jawa ,,,,,,,nah apa jadinya ?
    Akhirnya Alam yang akan menyelesaikan semua persoalan dengan sempurna, misal : Tsunami Aceh, Gempa Sumatera Barat, Wasior, Gempa Bantul, dan masih hangat bagi Erupsi Merapi ……………???? masih tidak sadar ?
    Nah walaupun kita sekarang pada pihak yang boleh dikata lemah untuk revolusi Budaya Jawa tetapi jangan berkecil hati Saudaraku ! Karena dibelakang ada sebuah kekuatan yang amat luar biasa akan mendukung, kita hanya membantu membuka jalan sebatas kemampuan kita masing-masing. “Tanah jawa adalah tanah tertua, karena itu disebut tanah keramat”
    Nah akhir kata selamat berjuang saudaraku, sukses didepan anda.

  21. TA kwa

    INDONESIA adalah NUSANTARA.
    NUSWANTORO adalah JAWA.

    Tidak ada INDONESIA , jika tidak ada JAWA.

    ayo berjuang bersama !!!

  22. Bala$abrang

    Salam hormat sesepuh lan sedulur KWA
    Mohon maaf sebelumnya.Janganlah kita saling menyalahkan keadaan sekarang ini, karena ini merupakan ujian bagi bangsa ini. Dan Ujian ini haruslah kita semua sadari datangnya dari Kehendak Allah.
    Coba renungkan ” Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia ” (QS:13 ayat 11).
    Marilah kita semua merapatkan barisan untuk melakukan TRIWIKRAMA BUDAYA dengan niat tulus ikhlas tanpa ada kepetingan-kepentingan lain.
    Amien.

  23. Adim

    MANTAPPPPP

  24. joko tgl

    salam salim salaman kiwongalus,kirektor bc,kikumitir,kiceletukan segar,kipatibumi minatani dll,kipati bumimina tani,ayo dibabar sekalian sejarah caritane syekh subakir,miturut caritane syekh subakir tanah jawa umurnya hanya 2100 tahun,mulai umur 100 baru ada rajanya,ayo ki pati bumiminatani dan sesepuh dibabar ramalan syek subakir tersebut,buat nambah pengetahuan aja,salam salim salaman

  25. khalifahhitam

    assalamualaikum

    maju terus

    KI WONG ALUS,

    KI SABDALANGIT,

    MAS KUMITIR,

    niat ikhwan semua nya insyaallah khoir

    wassalamualaikum

  26. datok bujang

    assalamualaikum

    salam takdzim kepada pengurus & Keluaga Wong alus..

    mohon lanjutkan apa yang sudah di kerjakan bagi komunitas wong alus se dunia .
    semoga iman kita bertambah & diri kta semua menjadi lebih baik ..
    amin
    wassalamualaikum
    datok bujang

  27. matroji

    assallamualaikum,sedulur kabeh wong Alus semoga dengan keaneka ragaman budaya indonesia kita menjadi bangsa yang maju dan adil makmur gemah ripah lojinawi bagai sumpah gajah mada menyatukan nusantara .

  28. smiet

    Salam Budaya : kami dari Komunitas Pedati palu mendukung Gerakan membangun kembali semangat berbudaya : Pedati adalah kelompok pemerhati budaya dan tradisi Di sulawesi tengah Kota Palu . bila ada masalah ataupun kegiatan budaya tolong hubungi kami ” kami siap dukung dan terlibat didalamnya. Hp. 085241111112

  29. bikin surat aja mas yg ditujukan pada raja-raja tersebut agar jangan diperlakukan sebagai jimat…………..(jiwa mati)…hikhikhik peace

  30. Sunan Praja

    Semoga senantiasa di berkahi.

  31. jalupangna

    assalaamualaikuuum… pertama-tama saya ucapkan syukur alhamdulillah karena bisa menjadi salah satu anggota di kampus wong alus ini. salam kenal dr saya buat para sesepuh di kampus wong alus !
    saya adalah salah satu pemerhati warisan budaya leluhur yang luar biasa sekali dan saya berharap para sesepuh semua bisa melestarikannya. wassalam..

  32. kebetulan saya sudah posting sumpah budaya I dan sumpah budaya II di blog saya, nglengkong.blogspot.com….
    sekalian saya mau tanya, bagaimana ini kelanjutan SEMI WIJININGRAT?
    saya merasa bahwa paguyuban itu bisa merubah sesuatu di Nusantara ini…
    trimakasih buat Mas Kumitir, Ki Sabdalangit, Ki Wongalus, dan satu lagi yang selalu saya buka ketika ngenet, Ki Dalbo. anda-anda adalah guru yang benar-benar wow…
    trimakasih…

  33. ayahe haris

    Nuwun sewu,
    Katur dumateng Mas Kumitir,Wong Alus,Ki Sabdo Langit, para Pinisepuh lan para sederek kawula sedaya. salam ta’zim dumateng panjenengan sedaya. mugi sedaya niat ikhlas lan ikhtiar kita kangge TRIWIKRAMA BUDAYA manggih gangsar tanpa rubeda.Gusti Kang Maha Asih tansah paring kanugrahan dumateng Panjenengan sami.
    kawula nderekaken TUT WURI HANDAYANI.Nuwun

  34. Kris Wanto

    Salam Hormat Ki Wong Alus poro sedulur Ki.Wong Halus.Slm kenal dan silaturominya mohon kiranya silaturomiku di terima.Saya org bodoh dan org terhina pingin rasanya belajar semua ilmu dan kebudayaan,sayang krn kebodohan dan keterbatasan sy org yg miskin ilmu dan matriae.hanya aq berdoa kepd sang ilahi semoga kiranya ada yg mau membimbingku menemukan jati diri dan kebudayaan pritual maupun kebudayaan yg nyata.krn aq dilahirkan dari keluarga kristen dan kini sdg belajar iman islam dan pingin mengenal lebih dalam.saya setiap malam sering buka blog Wong Halus setiap artikel saya baca.sedikit demi sedikit saya pratekan dlm kehidupanku sehari hari.Insya Allah akan menjaga kebudayaan bangsa ini

  35. agus br nyimak.,luar biasa..sy br sadar budaya kita emang sgt luar biasa…
    ikvt mendukung perjuangan budaya jawa.,maju trus…salam hormat kagem sesepuh sedoyo…

  36. garengpung

    Cemerlang..
    Salim sungkem ALL Sesepuh..
    Yakin dengan dukungan dan kebersamaan suatu saat smua pasti bisa..
    Ngapunten baru saged nyimak..
    Salam Budaya..

  37. gondo

    Lha mbok diterawang saja untuk mengetahui isi kitab2 tersebut…,gitu aja kok repot…

  38. SEMAR HITAM DARI TIMUR

    ADHAM artinya hitam pertama, hitam utama, hitam asli
    check: Adam diciptakan dari lumpur hitam (hamaim) yang dibentuk
    check: vedabase.com/en/synonyms-index?original=adyam
    check: thinkbabynames.com/meaning/1/Adham
    check: lihat photo lawas orang jawa (hitam)

    HAMAD artinya tanah lempung hitam pertama
    check: ad artinya pertama (asli)
    check: advaita artinya sebelum duality
    check: adipati artinya saripati tanah pertama
    check: al-hama artinya tanah lempung dari lumpur hitam (humus hara)

    BRAHAM artinya pemancar tanah
    check: Brah/Bhre artinya sumber pancar (pencipta)
    check: ham (al hama) artinya tanah lempung hitam (humus hara)
    check: jibhrel artinya siji bhre illahi (bhre pertama)

    KRISHNA artinya hitam total
    check: en.wikipedia.org/wiki/Krishna
    check: wayang kulit Kresna berwarna hitam

    CHRIST artinya hitam
    check: his feet were like burnished bronze (revelation 1:15)
    check: i am like an olive fruit in the house of god (psalm 52:8)
    check: burn bronze/brass (perunggu gosong) berwarna coklat hitam
    check: buah olive (zaitun matang) berwarna hitam

    BUDDHA juga hitam
    check: adi budha (buddha pertama) adalah black buddha
    check: borobudur terbuat dari batu hitam
    check: rambut coil (berbintik) orang africa
    check: lihat rambut nixau film god must be crazy dari botswana
    check: botswana artinya bo-swa-na. bo (buddha) swa (self) na (ono, anak, ada, keturunan)

    MAULANA MALI KI BRAHMA
    check: Maulana dari Mali titisan Ki Brahma
    check: Mali ada di Afrika Barat (Maghribi)
    check: Maghrib artinya terbenamnya matahari (afrika barat)
    check: Joko Tarub

    HAM MANGKU BUWONO
    check: tanah mangku langit
    check: kham, khem (mesir) artinya yang diciptakan dari tanah
    check: champa, putri champa (hitam)

    SUKU ASMAT
    check: kami adalah original man (manu)
    check: Manu adalah manasputra hyang Brahma penurun manusa
    check: Manu berasal dari kata manuk (burung) artinya ruh
    check: manusia memiliki symbol burung (gurda)
    check: en.wikipedia.org/wiki/Manu_(Hinduism)

    GENTILE (ANAK LONTE) SINA (ANAK HARAM)
    check: gentile artinya genetic mutation, animal in human form, hybrid, synthetic, genital (italy)
    check: gentile meliputi bule (europe) dan sina (asian)
    check: bule (anak mama) bu: mama, le: anak
    check: freemason: anak mama liar (anak lonte)
    check: German (Germ) artinya kuman. Roman (Bactrian) artinya bakteri
    check: sin artinya dosa, Cina: anak dosa (anak haram)
    check: golongan darah rhesus negative (Rh-)
    check: persilangan hewan & jin (anak setan)
    check: dajjal sudah muncul, holy see (vatican)
    check: gog magog (yajuj) sudah muncul dari empat sudut bumi (eropa, asian, afsel, aus)

  39. Kiyai Rogo Runting

    Aduh ………begitu indahnya tulisan diatas …….sangat menyejukkan ……inspiratif bagi kita kita yang cinta negeri ..sangat cinta NKRI dari rongrongan budaya luar yang merusak & destruktif .
    Lanjutkan perjuangan kalian kalian semua , aku mendukungmu !!!

  40. Kiyai Rogo Runting

    @ Pati bumi Mina tani ,
    kiranya mohon penjelasan , dimana posisi TUNGGUL AMETUNG ( pada era Singasari ) , dan AMANGKURAT IV , apakah memang diselingi dengan PAKUBUWONO I ???
    Terima kasih atas penjelasannya ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: