>>PERPUSTAKAAN UTAMA

HAKEKAT KEMENANGAN — KHUTBAH IDUL FITRI 1435 H


Oleh Ki Nanang Masaudi, M.Pd

Puji syukur layak terpanjatkan kehadirat Allah SWT yang Maha Agung, penguasa kerajaan langit dan bumi yang tiada henti mencurahkan rahmat-Nya untuk kita sekalian. Dia-lah yang telah menganugerahkan fajar cerah di pagi ini yang memancarkan sinarnya menghampar ke segala penjuru bumi, sinar yang menghembuskan hawa kebahagiaan hingga wajah-wajah kita terlihat begitu menawan dengan senyuman kebahagiaan dan hati-hati kita terasa begitu damai dan tenteram. Inilah dampak kemenangan yang telah kita raih, kemenangan atas hawa nafsu dan kemenangan atas iblis yang terkutuk serta bala tentaranya, namun di antara semua itu hikmah dari kemenangan yang terpenting bagi kita adalah keberhasilan meraih pakaian taqwa yang menjadikan kita begitu mulia di sisi Allah SWT.

Idul Fitri, inilah hari besar yang kita rayakan, inilah hari yang penuh cinta, inilah hari yang telah sanggup menghalangi manusia dari berbagai perbuatan mudharat. Hari ini, tindak kriminalitas menurun secara drastis, perbuatan maksiat dan fahisyah turun hingga ke titik nadir, hampir tak ada penjahat yang ditangkap, pengadilan atas kejahatan terhenti untuk sejenak. Peperangan, pembantaian, penindasan juga sirna untuk sebentar. Orientasi keduniaan kita yang cenderung menghiasi kehidupan kita di ruang-ruang kerja, di kantor, di tempat hiburan, di pusat-pusat perbelanjaan, di darat dan di lautan juga untuk sementara waktu kita redam. Kebisingan kota, hilir mudik kendaraan di jalanan, keriuhan di pasar-pasar dan mall-mall, juga kesibukan di perkantoran, di pabrik-pabrik untuk sejenak juga lengang berganti dengan riuh suara takbir, tahmid dan tahlil.

Di hari yang penuh berkah ini, dunia dipenuhi kedamaian dalam indahnya nuansa silaturahim. Saling berbagi dan saling menyapa menghias di tengah gema takbir, tahmid dan tahlil yang terus berkumandang. Itulah pekik kemenangan kita setelah berpuasa sebulan penuh, tidak hanya sekedar kemenangan fisik belaka dengan sekedar mengalahkan hawa nafsu perut kita dan hawa nafsu seksual kita, akan tetapi lebih dari itu kita telah berhasil memenangkan orientasi atau tujuan ukhrawi kita atas syahwat duniawi kita.
Jamaah ‘Ied rahimakumullah …,

Sebagai orang beriman tentu kita memahami bahwa segala anugerah dan nikmat batin yang kita rasakan di hari raya ini tidak terjadi begitu saja. Allah SWT jualah yang telah menghendaki kemenangan ini, Dia yang telah menghendaki hadirnya rasa bahagia di hati ini, Dia yang telah menghendaki kelapangan di dada ini hingga kita menjadi begitu pemurah dan mudah memaafkan kesalahan orang, Dia pulalah yang menghendaki hadirnya rasa haru di hati kita tatkala membayangkan wajah-wajah orang yang kita kasihi tidak lagi bersama kita di hari yang penuh bahagia ini. Bagi sanak famili yang jauh, Alhamdulillah dengan kecanggihan alat komunikasi di era modern ini kita dapat berkomunikasi dengan orang-orang tercinta kita dengan erat walau tangan ini tak sanggup untuk terjabat. Namun bagi orang-orang terkasih yang telah mendahului kita maka apalah daya, hanya doa yang dapat kita panjatkan sebagai bentuk salam kerinduan kita untuk mereka yang dulu pernah kita kecup tangannya yang terbalut keriput, dan dulu pernah kita peluk erat tubuhnya yang telah tua renta. Kini kebersamaan itu tiada lagi, sosok orang-orang yang kita kasihi itu kini terkulai di bawah seonggok tanah berbatu nisan, makamnya yang belum tentu dapat kita ziarahi setiap saat. Semoga Allah merahmati mereka yang telah mendahului kita.
Marilah kita merefleksi dan merenungkan sejenak kemenangan dari hasil perjuangan kita yang dianugerahkan Allah SWT melalui romadhon-Nya yang insya Allah sanggup kita pertahankan dalam keseharian hidup sebagai ciri ketaqwaan kita. Di antara kemenangan itu adalah:

1. Kemurahan Hati Kita yang Mengalahkan Sifat Kikir dan Tamak
Ketamakan dan kekikiran adalah adalah sisi buruk dari perilaku manusia yang mendatangkan mudharat. Inilah sumber malapetaka sosial yang melanda umat negeri ini. Ketimpangan ekonomi dan kesenjangan sosial yang melanda negeri ini telah memporak-porandakan pranata sosial di tengah-tengah masyarakat. Jurang pemisah antara kaya dan miskin, pejabat dan rakyat, ulama dan umatnya semakin terasa begitu menganga. Di tengah maraknya kemewahan yang dipertontonkan oleh kalangan elit yang semakin materialistik di atas negeri yang bertebaran 60 juta orang miskin ini sangat mungkin menimbulkan ‘kekecewaan sosial’ dan melahirkan ‘kemarahan massal’ dari mereka secara langsung ataupun tidak menjadi korban ketamakan dan kebakhilan kalangan elit di negeri ini.
Ramadhan telah mengantarkan manusia lebih dekat kepada nilai-nilai kemanusiaannya. Membangun kecintaan kepada sesama manusia, menebarkan kasih sayang, silaturahim, serta menebar kemurahan hati akan menciptakan pranata sosial yang bersahaja karena akan terjadi harmoni yang indah antara semua elemen dalam masyarakat; antara kaya dan miskin, konglomerat dan kaum melarat, pejabat dan rakyat jelata, pemimpin dan bawahan, ulama dan umat dan seterusnya. Di bulan Ramadhan kepekaan sosial kita terasah. Dengan puasa, kita terlatih untuk melakukan pengorbanan dan bermurah hati.

Dr. Carl Gustav Jung, seorang psikoanalis mengatakan, “untuk mencapai peningkatan yang simultan dan menyeluruh harus diikuti dengan pengorbanan dan ketulusan. Kemurnian jiwa hanya dapat dicapai dengan mengorbankan materi dan popularitas. Pengorbanan diri adalah kebiasaan orang-orang yang memahami keadilan dan kebenaran iman kepada Allah. Orang yang mengorbankan jiwa mereka untuk keadilan, cinta dan keharmonisan telah mampu mengawinkan antara akal, cinta serta kasih sayang. Pada keadaan inilah manusia akan mencapai puncak mega keindahan, cahaya kebenaran dan keadilan.” Mungkin inilah yang sering kita anggap dengan kepuasan batin yang tak dapat dinilai dengan harta.
Rasulullah SAW bersabda: “Orang yang murah hati dan berakhlak baik selalu berada di bawah lindungan Allah. Allah selalu dekat dengan mereka dan akan membimbing mereka menuju kebahagiaan . Tidak ada seorang yang adil yang tidak memiliki sifat pemurah dan kasih sayang”.
Mari kita renungkan sebuah kisah bagaimana ketika Sayyidina Ali bin Abi Thalib RA telah mengajarkan kemurahan hati pada keluarganya yang pernah diriwayatkan oleh Ibnu Abbas RA, bahwa pada suatu ketika kedua putra Ali bin Abi Thalib , Hasan dan Husain sedang sakit parah, maka Ali dan istrinya Fathimah binti Rasulullah bernazar apabila kedua putra mereka sembuh maka mereka akan berpuasa 3 hari sebagai tanda syukur. Atas karunia Allah SWT kedua anak merekapun sembuh. Keduanya pun mulai berpuasa nazar. Akan tetapi mereka tidak memiliki sesuatu walau sekedar untuk makan sahur dan berbuka. Mereka berpuasa dalam keadaan sangat lapar. Pada pagi harinya, Ali pergi kepada seorang Yahudi bernama Syam’un. Ali kemudian berkata kepadanya: ‘Jika engkau ingin menyuruh seseorang untuk memintal wol dengan imbalan, maka istriku bersedia melakukannya’. Orang Yahudi itu menyetujui dengan kesepakatan satu gulung wol dihargai tiga sha’ gandum. Pada hari pertama, Fathimah memintal sepertiga bagian wol, kemudian ditukarkan dengan 1 sha’ gandum, lalu ditumbuk dan dimasaknya menjadi 5 potong roti kering, yakni untuk Ali, Fathimah, Hasan, Husain, dan seorang hamba sahaya perempuannya bernama Fidhdhah. Ketika waktu berbuka puasa tiba. Ali baru saja kembali dari shalat maghrib berjamaah dengan Rasulullah. Fathimah pun dalam keadaan letih setelah bekerja seharian penuh kemudian menyiapkan hidangan untuk keluarganya, tikar alas makan telah dibentangkan, di atasnya telah disiapkan roti dan air. Ali mengambil roti bagiannya, tiba-tiba terdengar sayup-sayup suara seorang fakir dari balik pintu rumah sederhana mereka yang mengharap belas kasih agar diberi makanan, ‘ Wahai keluarga Muhammad, aku seorang fakir, berilah makanan kepadaku, semoga Allah SWT memberimu makan dari makanan surga’. Ali kemudian mendatangi pengemis itu dan memberikan roti keringnya. Seluruh keluarganya juga tak tinggal diam, mereka juga memberikan roti mereka. Ali memberitahukan bahwa dia telah memberikan rotinya kepada pengemis itu. Namun mereka menjawabnya, ‘kami juga ingin memperoleh kehormatan di sisi Allah seperti engkau, biarkanlah kami memberikan milik kami’. Akhirnya merekapun hanya berbuka dengan segelas air pada hari itu. Allah menguji mereka dengan keadaan itu selama tiga hari, dengan berturut-turut didatangi oleh anak yatim dan seorang tawanan dan merekapun melakukan hal yang sama.

Pada hari ke empat mereka memang tidak berpuasa, tetapi apalah juga yang mau dimakan. Hari itu tak ada makanan apapun di rumah mereka. Ali RA kemudian membawa kedua anaknya Hasan dan Husain sambil berjalan tertatih-tatih karena menahan lapar mengunjungi Rasulullah SAW sekedar untuk menghibur hati. Rasulullah SAW kemudian bersabda: ‘Sungguh menyedihkan hatiku melihat kalian menderita kekurangan dan kesengsaraan. Mari kita temui Fathimah’. Rasulullah SAW menemui putrinya Fathimah yang dilihatnya sedang mengerjakan shalat nafil. Mata Fathimah terlihat cekung. Perutnya tertarik sampai menempel ke punggung karena sangat lapar. Rasulullah SAW kemudian memeluk putrinya dengan penuh kasih sayang dan mendoakan rahmat Allah baginya dan keluarganya. Pada saat itulah malaikat Jibril AS mendatangi Rasulullah SAW untuk menyampaikan kabar dan wahyu.
Kejadian itu telah menggetarkan ‘Arsy Allah karena para Malaikat bertasbih memuji perilaku keluarga yang mulia itu. Kisah inilah yang menjadi asbab nuzulnya Surat al-Insan, di mana pada ayat ke-8 dan 9 Allah SWT berfirman:
وَيُطْعِمُونَ الطَّعَامَ عَلَى حُبِّهِ مِسْكِينًا وَيَتِيمًا وَأَسِيرًا . إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللَّهِ لا نُرِيدُ مِنكُمْ جَزَاء وَلا شُكُورً
“Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan. Sesungguhnya Kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, Kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih.” (QS. Al-Insan: 8 – 9)

2. Keikhlasan Kita yang Mengalahkan Sifat Riya
Mukhlisin adalah golongan orang-orang yang Allah SWT begitu ridha dengan mereka. Namun seikhlas-ikhlasnya dalam setiap amal tidak boleh sedikitpun merasa aman dari penyakit riya. Di sinilah peran kesabaran dalam ketaatan menjalankan perintah Allah SWT. Kesabaran adalah proses puncak menuju maqam mukhlisin. Puasa mengajarkan kita tentang bagaimana sebuah amal yang kita kerjakan hanya diketahui oleh Allah SWT. Keadaan kita berpuasa atau keadaan tidak berpuasa menjadi rahasia antara kita dengan Allah semata. Inilah hikmah penting ibadah puasa kita. Melalui puasa sebulan penuh Allah men-tarbiyah kita untuk belajar meluruskan niat beramal agar tak tersusupi oleh sifat riya, ujub dan sum’ah. Riya menjadi penyebab rusaknya amal seseorang hingga tidak bernilai sama sekali di sisi Allah SWT. Bahkan Rasulullah SAW menyampaikan kekhawatirannya di depan para sahabat utamanya, “Sesungguhnya hal yang paling aku takutkan atas kalian adalah syirik kecil, maka para sahabat bertanya: ‘apakah syirik kecil itu wahai Rasulullah?’. Beliaupun bersabda: ‘Syirik kecil itu adalah riya’. Pada hari kiamat ketika manusia dibalas dengan amal perbuatannya maka Allah akan berkata kepada orang-orang yang berbuat riya: ‘pergilah kalian kepada apa-apa yang kalian berbuat riya’, maka lihatlah apakah kalian mendapat balasan dari mereka”. (HR. Ahmad).
Tak ada seorangpun yang dapat merasa aman dari perbuatan syirik kecil ini bahkan para sahabat utama sekalipun seperti Abu Bakar dan Umar bin Khaththab tidak merasa aman darinya apalagi kita yang banyak disibukkan oleh perkara-perkara dunia.
Penyakit riya amatlah berbahaya karena ia menjangkiti seseorang bukan dalam keadaan seseorang bermaksiat tetapi justru ketika seseorang beramal shalih. Selain itu bila seorang yang beriman dalam amal shalihnya ternodai oleh sifat riya, berarti terdapat dalam dirinya satu bagian dari sifat-sifat kaum munafiqun.
Allah SWT berfirman:
إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلَاةِ قَامُوا كُسَالَىٰ يُرَاءُونَ النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلَّا قَلِيلًا
“Dan apabila mereka (kaum munafiq) berdiri mengerjakan shalat, maka mereka berdiri dalam keadaan malas dan riya di hadapan manusia dan tidaklah mereka mengingat Allah kecuali sedikit sekali”. (QS. An-Nisaa’: 142)
Puasa adalah ibadah sirriyyah (tersembunyi) antara hamba dengan Khaliqnya. Di sinilah kita diajarkan untuk mengalahkan sifat riya. Berbeda dengan shalat yang dapat terlihat dari gerakannya, zakat yang nampak dari pemberiannya, dan haji yang nampak dari manasiknya. Banyak dari kalangan ahli ibadah ketika amal-amal kebajikannya ditimbang justru sama sekali tidak membuat mizan itu bergerak. Hal ini dikarenakan amal-amalnya tersebut ternodai oleh sifat riya.
Perbaikilah selalu niat kita dalam beramal, landasilah dengan keikhlasan. Bila terbersit riya di dalam hati maka lawanlah dan jangan menunda amal, karena yakinlah itu adalah godaan syaithan yang meniupkan was-was di dalam hati kita. Pandanglah kecil amal kita dan jangan terjerumus pada kebanggaan terhadap amal.
Firman Allah SWT:
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus…” (QS. Al-Bayyinah: 5)

3. Pengendalian Diri Kita yang Mengalahkan Sifat Menuruti Hawa Nafsu
Bulan Ramadhan yang telah berlalu telah memberikan latihan berharga terhadap seluruh unsur dalam diri kita. Unsur fikrah, jasad, ruh, hati dan harta kita telah kita arahkan menuju kemaslahatan bagi diri kita dan orang lain. Ramadhan telah memberikan banyak ajaran berupa batasan dan rambu-rambu bagi orang yang menjalankan ibadah puasa. Di sinilah peran kesabaran kita dalam menahan diri dari perbuatan melanggar larangan Allah. Bagi orang yang berpuasa maka tantangan terberat yang dihadapi adalah dorongan untuk memenuhi keinginan hawa nafsunya. Namun, karena ketabahan dan kesungguhan kita dalam menjalankan ibadah shaum maka kita dapat mengendalikan keinginan-keinginan hawa nafsu itu. Kegigihan kita dalam menahan pandangan dari perkara-perkara yang diharamkan, keseriusan kita dalam menjaga lisan dari perkataan-perkataan buruk, kehati-hatian kita dalam menghindarkan perut kita dari masuknya makanan-makanan syubhat dan haram, kesungguhan kita membersihkan pikiran dan hati dari prasangka buruk, sifat iri, dengki, dendam, amarah dan kesombongan, ketaatan dalam menjaga kemaluan kita dari hal-hal yang diharamkan, tidak mengumpulkan dan membelanjakan harta pada perkara-perkara yang dilarang oleh agama, mengendalikan tangan dan kaki kita agar tidak menyentuh atau melangkah ke tempat-tempat yang mengandung maksiat, serta menutup pendengaran kita dari ghibah dan perkataan-perkataan jelek dan mengandung cela. Maka ketika semua itu dapat kita kendalikan, barulah kita bisa merasakan manisnya iman. Inilah yang menjadi sebab datangnya hidayah dan taufik Allah SWT kepada kita. Amalan ibadah puasa kita telah membuat hawa nafsu kita lebih stabil dan terkendali. Kita berharap semoga semua anggota tubuh yang telah kita kendalikan itu akan menjadi saksi yang akan membela kita di hadapan pengadilan Qadhi Rabbul Jalil.

Ingatlah firman Allah SWT:
يَوْمَ تَشْهَدُ عَلَيْهِمْ أَلْسِنَتُهُمْ وَأَيْدِيهِمْ وَأَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
Artinya: “Pada hari (ketika), lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.” QS. An Nur: 24.
وَمَا كُنْتُمْ تَسْتَتِرُونَ أَنْ يَشْهَدَ عَلَيْكُمْ سَمْعُكُمْ وَلَا أَبْصَارُكُمْ وَلَا جُلُودُكُمْ وَلَٰكِنْ ظَنَنْتُمْ أَنَّ اللَّهَ لَا يَعْلَمُ كَثِيرًا مِمَّا تَعْمَلُونَ
“Kamu sekali-sekali tidak dapat bersembunyi dari kesaksian pendengaran, penglihatan dan kulitmu kepadamu bahkan kamu mengira bahwa Allah tidak mengetahui kebanyakan dari apa yang kamu kerjakan”. (QS. Fushshilat Ayat: 22)

Inilah tiga hal di antara sekian banyak kemenangan yang telah kita capai di bulan Ramadhan dengan sebuah harapan semoga Allah memberi kemudahan untuk kita mempertahankannya di hari-hari selanjutnya. Tiga kemenangan yang akan senantiasa menyuplai energi amal bagi hadirnya cinta dan harmoni antara miskin dan kaya, atasan dan bawahan, orang tua dan anak, suami dan istri dan di antara seluruh komponen bangsa dan umat ini. Kini kita telah kembali fithrah, jangan nodai ke-fithrah-an ini hingga membuat kemenangan idul fithri ini menjadi sia-sia. Kita senantiasa berlindung kepada Allah dan memohon ampun kepadanya atas segala dosa dan kekhilafan yang kita lakukan.

Demikianlah khutbah ini jamaah sekalian, semoga ini menjadi bahan renungan bagi kita semuanya dan menjadikan kita semakin yakin dan percaya diri untuk menjadi manusia paripurna atau insan kamil dengan kemenangan ini.
Ja’alanallaahu wa iyyaakum minal ‘aa’idiina wal faa’iziin. Taqabbalallahu minna wa minkum. Wassalaamu ‘alaikum wr. Wb. @@@

Categories: >>PERPUSTAKAAN UTAMA | 11 Komentar

DOA BUAT PALESTINA


kwa palestina2

Assalamualaikum wr wb.

Kekejian Israel terhadap Palestina begitu menyayat hati. Lagi-lagi kita disuguhi drama pembantaian yang dilakukan militer Israel sebagai alat negara kepada warga Palestina.

Saya atas nama pribadi MENGUTUK DENGAN SANGAT KERAS tindakan Israel tersebut. Tindakan Israel ini saya yakin akan mendapatkan tindakan balasan yang setimpal karena ini adalah hukum alam.

Siapa yang menabur angin pasti akan menuai badai. Siapa yang berbuat baik akan mendapatkan berlipat kebaikan namun siapa yang berbuat jahat akan mendapatkan balasan yang berlipat pula. Allah SWT tidak tidur. Salam damai. Doaku buatmu, Palestina! ALLAHU AKBAR.. ALLAHU AKBAR… ALLAHU AKBAR!

Wassalamualaikum wr wb.

ttd

kiwongalus

kwa palestina

kwa palestina 3

foto-foto: al jazeera.com

Categories: >>PERPUSTAKAAN UTAMA | 84 Komentar

REPORTASE BATU AMPAR


cropped-sam_7777.jpgAlhamdulillah acara RIYADHOH ASR BERSAMA –MELACAK JEJAK SEBUAH ASMAK—telah selesai dilaksanakan dengan sukses dan lancar. Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang mendukung acara ini, terkhusus kepada para peserta dari berbagai daerah.

Awalnya, keraguan menggelayut di benak kami sebelum acara dilaksanakan. Maklum saja, bulan ini adalah Ramadhan dan terasa berat melakukan perjalanan luar kota. Baik secara teknis maupun materi, acara riyadhoh bersama sungguh merupakan acara yang serius dan tidak main-main. Apakah bisa dan mampu kita mengumpulkan sekian peserta dan memberangkatkan mereka? Bagaimana menyelenggarakan buka bersama di kendaraan dan sahur bersama di tempat riyadhoh? Dan seterusnya…

Konon ragu-ragu adalah tanda bahwa kita masih normal. Ragu-ragu berarti seseorang itu berpikir dan berpikir menandakan seseorang itu berada. Semboyan Filsuf Rene Descartes, COGITO ERGO SUM agaknya cukup tepat menggambarkan bagaimana pikiran kami berproses dan akhirnya menemukan sebuah keyakinan yang jelas dan tegas: Kami harus berada di MADURA!

Dalam hitungan hari, kami bagi tugas. Forum wirid Kamis kami berdayakan. Mbah Wak kasan bagian transportasi, Mbah Duro Jainul bagian mensurvey tempat, Mbah Arya Kusuma Yudha bagian administrasi pendaftaran dan konsumsi, Eyang Sujono (alumni private) dilibatkan sebagai pemangku acara, Mbah Syaiful (alumni private) kita tunjuk sebagai koordinator. Alhamdulillah, salah seorang alumni pelatihan private Eyang Drg. Bachtarudin dari Padang, Sumatera barat berkenan hadir untuk membantu proses riyadhoh.

Hari H pun tiba: Sabtu, 5 Juli 2014 satu persatu peserta berkumpul di Markas KWA, Mushola Balai Diklat kab Sidoarjo, Jl Majapahit 5 Sidoarjo. Tepat Pukul 03.00 WIB roda bus kecil berangkat. Sengaja di acara ini kita membatasi jumlah peserta agar peserta nyaman dalam menjalankan riyadhoh bersama. Alhamdulillah, perjalanan lancar. Padahal biasanya sore hari jalan yang kami lewati yaitu pintu exit tol Surabaya menuju jembatan Suramadu macet parah. Namun sore ini sangat beda. Sangat terasa bahwa Tuhan Yang Maha Pengatur sudah merencanakan dan mengatur acara ini secara detail sehingga kami tidak kesulitan melaksanakannya.

Maghrib tiba, saatnya berbuka puasa. Bus berhenti di sebuah masjid di kawasan perbatasan kabupaten Bangkalan – Sampang. Kami sholat dan berbuka nasi kotak dan teh kemasan yang telah dipersiapkan oleh Mbah AG. Sebatang rokok kami sulut… nikmat rasanya…dan bus berangkat meneruskan perjalanan menuju tujuan.

Yang kami tuju adalah makam para waliyullah batu Ampar, Sampang – Madura. Terkhusus Syekh Buju Tumpeng, pengijasah Asmak Sunge Rajeh. Selain syekh Buju, yang paling ramai dikunjungi peziarah adalah makam Syeh Damanhuri, dan beberapa waliyullah yang lain. Biasanya para peziarah membaca tahlil dan berdoa tawasulan. Kompleks makam di Batu Ampar sangat inspiratif dan sakral, bahkan tak jarang saat berziarah disini, kita akan ditemui sosok gaib tertentu. Hal ini dialami juga oleh Gus Dur saat menjabat sebagai presiden RI.

KISAH GUS DUR DI BATU AMPAR
Suatu ketika Gus Dur berziarah ke “Batu Ampar” setelah dibisiki oleh seorang auliya dari Aceh, Abu Ulailah namanya. Padahal, di Madura ada tiga tempat makam auliya, yaitu makam KH Kholil di Demangan Bangkalan, makam “Batu Ampar” Pamekasan, dan makam Sayyid Yusuf di Pulau Talangu Sumenep.

“Beliau meminta saya ke sini, untuk mencari barokah agar keutuhan Indonesia terjamin,” katanya. Gus Dur menceritakan kepada Romli Damanhuri, putra Syekh Damanhuri, ia diperintah oleh KH Abdullah Siddiq dari Kediri untuk menghadap ruh Sunan Kalijogo. Tidak boleh ada orang lain yang ikut masuk ke makam. Saat itu, kata Gus Dur, ia mendengar ada suara dari dalam kuburan. Gus Dur mengaku, baru pertama kali ini dalam seumur hidupnya mengalami nasib berbicara dengan orang yang sudah tidak ada.

Kata Sunan Kalijogo “Cucuku Abdurrahman, kamu percaya atau tidak kepada Abdullah Siddiq yang membawa kamu itu adalah minal auliya’illah,”. “Kamu jangan khawatir menghadapi apapun, karena kammim fiatin kholiilatin gholabats fiatan khatsirotam biidznillaah. Biidznillaah ini yang penting. Pegangan kamu selanjutnya, setiap hari yang harus dibaca yaa ayyuhalladzina ‘amanu kulu kawwamuna bil kisti syuhada ‘alannas walau ala amfusikum,” kata Sunan Kalijogo kepada Gus Dur.

Setelah itu, Gus Dur disuruh oleh Sunan Kalijogo ziarah ke makam KH Hasyim Asy’ari di Tebu Ireng Jombang malam itu juga. Ia disuruh meminta surban pemberian Wali Songo kepada neneknya dulu, saat menjaga Indonesia sewaktu NU didirikan. “Saat di Kadilangu Demak, Sunan Kalijogo mengatakan, kalau kamu dapat yang sifatnya fisik (surban), ya sudah. Tapi kalau tidak, kamu bisa mengambil yang simbolik di rumah Abdullah Siddiq di Kediri,” paparnya.

Setelah sesampainya di Tebu Ireng, kata Gus Dur, ternyata bisikan itu benar. Sebab di sana, sorban tersebut tidak ada. Sebagai fidyah (tebusan, Red), akhirnya Gus Dur meminta adiknya Abdul Hakam bin Khaliq Hasyim untuk membaca surat Al Kahfi di makam KH Hasyim Asy’ari. Menurut cerita Gus Dur, beberapa waktu yang lalu, adiknya Khodijah binti Abdul Wahid ziarah ke makam KH Hasyim Asy’ari dan membaca surat Al Kahfi.

Selesai membaca, dia ketiduran. Dalam mimpinya, muncul KH Hasyim Asy’ari dan mengatakan “Alhamdulilah, sejak saya mati sampai sekarang, baru ada anak cucu saya yang membacakan surat Al Kahfi di sini,” kata Gus Dur. “Saya sendiri waktu mendengar hal itu menangis. Karena saking seringnya kita membaca tahlil, tapi tidak diikuti dengan membaca surat Al Kahfi. Ini peringatan keras dari beliau, bahwa kita harus berhati-hati dengan segala sikap kita,” lanjut Gus Dur.

Dalam mimpi itu, KH Hasyim Asy’ari mengatakan, dia akan berada di surga dengan semua anak cucunya, kecuali satu orang. “Saya menangis mendengar cerita itu,” tambah Gus Dur lagi. Pada suatu ketika, Gus Dur dipanggil oleh KH Abdullah Siddiq. Dia menanyakan apa keinginan Gus Dur. Gus Dur mengaku cuma ingin satu, yaitu agar KH Hasyim Asy’ari bisa berkumpul dengan semua putranya di surga, tidak pandang bulu. Mendengar permintaan itu, KH Abdullah Siddiq masuk ke dalam untuk shalat. Setelah itu ia mengatakan, Insya-Allah permintaan itu bisa terpenuhi bila Gus Dur ziarah ke makam KH Hasyim Asy’ari di Tebu Ireng, tanpa mampir-mampir.

Saat itu, Gus Dur mengaku diberi air agar di siram di atas makam KH Hasyim Asy’ari. Setelah dibacakan surat Al Kahfi, dan air tersebut di siram di atas makam KH Hasyim Asy’ari. Pendamping Gus Dur, H Masnuh, mengatakan kepada Gus Dur kalau ia melihat KH Hasyim Asy’ari berdiri di samping Gus Dur sambil tanganannya memegangi pundak Gus Dur. “Dia mengatakan kalau KH Hasyim Asy’ari melihat kanan kiri dengan senyum-senyum gembira. Saat itu, sorbannya baru, gamisnya baru, sandalnya baru, sarungnya baru, sajadahnya baru, dan tasbihnya baru,” kata Gus Dur menutup pidatonya.

Sebelum meninggalkan makam “Batu Ampar”, Gus Dur menerima kenang-kenangan berupa keris pusaka KH Damanhuri yang disampaikan oleh putranya KH Romli Damanhuri. “Mudah-mudahan dengan kedatangan saya ke tempat ini, bisa mendapatkan berkah dan ridlo Allah untuk menjaga keutuhan bangsa Indonesia,” kata Gus Dur.

DI PEDALAMAN BLEGA….
Di batu ampar, kita tidak berlama-lama. Saya memohon doa agar Allah SWT mengijinkan kami mengamalkan salah satu ilmu doa asmak sunge rajeh yang awalnya dititipkan kepada Syekh Buju Tumpeng. Kita “kulo nuwun” alias mohon ijin — sebagai tata krama kami ….seorang murid yang belajar mengamalkan doa dari sang guru….

Kami meninggalkan Batu Ampar, rombongan bus meluncur menuju pedalaman Blega, sebuah kecamatan di Sampang. Tiba di desa, kami disambut penduduk setempat dengan sangat ramah. Beruntung salah seorang anggota wirid KWA, Mbah Duro Jainul berasal dari desa itu dan memiliki kerabat tokoh desa setempat. Kami dijamu makan sahur, ngopi, teh dan cemilan.

Kami bongkar muatan, alas meditasi, dan bahan-bahan untuk riyadhoh lainnya. Rombongan berjalan di kegelapan malam kawasan hutan pertambakan di pantai madura. Entah, malam itu terasa sangat sangat pekat. Beberapa senter terasa tak cukup untuk menerangi kaki-kaki kami melangkah menyusuri jalan setapak. Kanan kiri kami penuh jebakan yaitu tambak dengan kedalaman tak menentu.

Setengah jam perjalanan, sampailah rombongan di sebuah tempat terbuka. Bermodalkan cahaya bintang-bintang di langit, ijasahan ASR dan riyadhoh dilakukan. Tak lupa dijelaskan pula tata cara praktek asmak untuk berbagai hajat. Misalnya bagaimana menggunakan ASR untuk mengobati orang yang sakit baik medis maupun medis dengan berbagai media. Salah satu media itu adalah bara api dan peserta diminta untuk mempraktekkannya secara langsung. Setelah ijasahan dan riyadhoh, dilakukan pula deteksi power wirid dengan metode deteksi getaran tubuh.

Tak terasa, dini hari hampir habis. Sebelum adzan subuh terdengar kami mengakhiri acara dan bersantap sahur telah dipersiapkan di rumah famili Mbah Duro Jainul. Usai sholat subuh, roda bus berjalan pulang balik menuju markas KWA di Sidoarjo. Alhamdulillah, keseluruhan acara riyadhoh pun selesai dan insya allah kita akan agendakan lagi acara serupa di masa yang akan datang. Semoga Allah SWT meridhoi ini semua. Amin. Wassalamualaikum wr wb.

@KWA,2014

Categories: >>PERPUSTAKAAN UTAMA | 14 Komentar

WIRID REJEKI UNTUK PEDAGANG, PENGUSAHA KECIL MENENGAH, BUKA TOKO-LAPAK-WARUNG DLL AGAR MAMPU MEMBAYAR HUTANG DAN AGAR PEMBELI–KLIEN BERDUYUN-DUYUN DATANG


QULI ALLAAHUMMA MAALIKA ALMULKI TU’TII AL MULKA MAN TASYAAU WATANZI’U ALMULKA MIMMAN TASYAAU WATU’IZZU MAN TASYAAU WATUDZILLU MAN TASYAAU BIYADIKA ALKHAYRU INNAKA ‘ALAA KULLI SYAY-IN QADIIRUN

“Katakanlah: “Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu”

TUULIJU ALLAYLA FII ALNNAHAARI WATUULIJU ALNNAHAARA FII ALLAYLI WATUKHRIJU ALHAYYA MINA ALMAYYITI WATUKHRIJU ALMAYYITA MINA ALHAYYI WATARZUQU MAN TASYAAU BIGHAYRI HISAABIN

“Engkau masukkan malam ke dalam siang dan Engkau masukkan siang ke dalam malam. Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati, dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup. Dan Engkau beri rezki siapa yang Engkau kehendaki tanpa hisab (batas)”

DUA AYAT ALI IMRON 26-27 ITU SEBAGAI WIRID HARIAN DENGAN JUMLAH SEMAMPUNYA. BAGUS DIAMALKAN USAI SHOLAT HAJAT ATAU SHOLAT FARDHU LIMA WAKTU.

RIWAYAT DOA ITU:
“Aku tidak melihatmu di masjid semalam,” Rasulullah SAW menegur Sayidina Muaz Bin Jabal r.a. selepas selesai berjamaah sholat dzuhur.

“Maafkan aku, wahai Rasulullah. Aku tidak menunaikan sholat semalam. Saat dalam perjalanan ke masjid, aku telah bertemu dan dikurung seorang Yahudi di rumahnya dan tidak dibenarkan ke mana-mana,” jawab Saidina Muaz.

“Kenapa?” tanya Rasulullah SAW.

“Aku telah banyak berhutang kepadanya,” ujar Sayidina Muaz. “Sehinggalah aku merayu dan berjanji akan melunasi hutang apabila dapat duit,”

Rasulullah SAW tersenyum sambil menepuk-nepuk bahu Saidina Muaz dan berkata, “Aku ajarkan kepadamu dua potong ayat. Jika engkau mau mengamalkannya, Allah akan meluaskan rezekimu untuk melunasi semua hutangmu, walaupun hutangmu sebesar gunung banyaknya.”

“Mau..ya Rasulullah,” jawab Saidina Muaz bersungguh-sungguh.

Rasulullah SAW pun membacakan dua ayat al-Quran dari Surah Ali Imran ayat 26 – 27. Sayidina Muaz mendengarnya dengan cermat dan teliti, dan menjadikan ayat tersebut sebagai wirid harian hingga Allah SWT mengabulkan doanya melunasi hutang dan meluaskan rejeki baginya

@wongalus,2014

@@@

Categories: >>PERPUSTAKAAN UTAMA | 48 Komentar

RIYADHOH BERSAMA BULAN RAMADHAN 2014: MENCARI JEJAK TIRAKAT SYECH BUJU’ TOMPENG (Napak Tilas Perjalanan Sebuah Asmak)


Assalamualaikum Wr. Wb. Para Sedulur,…

Asmak Songe Rajeh (ASR), sebuah asmak sederhana, singkat, mudah dihapal tetapi mengandung energy spiritual yang tidak enteng. Doa ini sangat karib dengan sebagian besar sedulur-sedulur KWA. Bahkan bagi beberapa orang asma’ini menjadi jalan mistik paten bagi segala hajatnya.

Namun Asma’ Songe Rajeh masih menjadi sebuah misteri. Dia adalah sahabat akrab yang pendiam dan penyimpan rahasia yang baik. Kita hanya bisa menyimpan dalam hati masing-masing dan menyapanya dalam diam pada keheningan bilik riyadoh.

Pada 1 Mei 2014 kemarin kita telah berziarah di Makam pengamal dan pengijazah pertama ASR Madura, Syech buju’ Tompeng, Batu Ampar. Selanjutnya kita akan mencoba untuk menelusuri perjalanan Syech buju’ Tompeng dalam tirakat Asma’Songe Rajeh di sebuah pantai yang dekat dengan daerah Batu Ampar. Pantai yang dimaksud adalah pantai Camplong + 1 jam perjalanan dari Batu Ampar.

Berkaitan dengan hal diatas akan diadakan kegiatan RIYADOH BERSAMA ASMA’SONGE RAJEH dengan rincian sebagai berikut:

Waktu Riyadoh                 : hari Sabtu, 5 Juli 2014 S/d Minggu, 6 Juli 2014

Materi                        : Ijasahan ASR dan pemberian “Kunci Khusus” Pengamalan ASR —- Riyadhoh ASR di Pantai Laut Madura —  Praktek gemblengan ASR untuk berbagai hajat (ruqyah, pengobatan, pelancar rejeki, pelet mahabbah, penghancur teluh tenung santet, kekuatan/kekebalan dll)

Jadwal                                  : sebagaimana terlampir dibawah

Tempat berkumpul           :  MARKAS KWA, MUSHOLA BALAI DIKLAT KAB SIDOARJO, JL MAJAPAHIT 5 — SEBELAH SELATAN KOMPI SENAPAN 516 — 100 METER SELATAN RSUD SIDOARJO.

Rute                                      : Sidoarjo – Batu Ampar – Pantai Camplong – Sidoarjo

Pendaftaran                       : 19 Juni 2014 s/d 2 Juli 2014

Partisipasi Peserta           : Rp. 500.000 (sudah termasuk transport, konsumsi, tasbih dan kaos)

Kelengkapan peserta     : peserta diharapkan membawa sarung dan perlengkapan sholat

SEGERA DAFTARKAN DIRI ANDA DAN IKUTI ACARA INI…..

CARA MENDAFTAR:

SILAHKAN SMS  Arya Kusuma Yudha

PHONE  0838 5690 1337

Selanjutnya transfer ke rekening:

BANK BNI (kode transfer 009) nomor rekening: 0339523244  atas Nama Muhammad Wildan (KI WONG ALUS).

=================

JADWAL PERJALANAN

NO HARI TANGGAL KEGIATAN PUKUL
   
1 Sabtu 05 Juli 2014 Peserta berkumpul di Mushola Diklat dan Technical Meeting 14.00 s/d 15.00
2 Sabtu 05 Juli 2014 Perjalanan ke Batu Ampar 15.00 s/d 18.00
3 Sabtu 05 Juli 2014 Buka Puasa 18.00 s/d 19.00
4 Sabtu 05 Juli 2014 Mohon doa restu mengamalkan ASR/ ziarah ke makam Syech Buju’ Tompeng 19.00 s/d 20.00
5 Sabtu 05 Juli 2014 Perjalananan menuju pantai 20.00 s/d 21.00
6 Sabtu 05 Juli 2014 Riyadoh Pantai sesi 1 21.00 s/d 24.00
7 Minggu 06 Juli 2014 Sholat tarawih 24.00 s/d 1.00
8 Minggu 06 Juli 2014 Materi gemblengan pengamalan ASR untuk berbagai hajat 1.00 s/d 1,30
9 Minggu 06 Juli 2014 Riyadoh Pantai sesi 2 1.30 s/d 3.00
10 Minggu 06 Juli 2014 Sahur dan kembali ke Sidoarjo 3.00 s/d —-

 

Salam Salim dan Salam Tahdzim

ttd

Panitia

@wongalus,2014

Categories: >>PERPUSTAKAAN UTAMA

LATIHAN DAN KONSULTASI GRATIS DI MARKAS KWA TIAP KAMIS MALAM


cropped-1424484_458535154264407_1094535726_n.jpgGANDRING DHARMA BHAKTI adalah kegiatan bersifat sosial dan nirlaba yang dilaksanakan oleh civitas academica KWA.

GANDRING berasal dari bahasa Jawa Kawi yang berarti pertemuan. DHARMA adalah bahasa sansekerta berarti kewajiban dan BHAKTI artinya perbuatan yang menyatakan kesetiaan dalam bentuk kasih dan hormat. Kegiatan ini bertujuan untuk “mengembalikan “ ilmu dan amalan yang dilakukan selama ini kepada yang berhak, yaitu masyarakat dan alam selebihnya.

Kenapa harus dikembalikan? Menyitir pernyataan Ki Wong Alus dalam Temu Wirid kamis 15 Mei 2014, bahwa ilmu itu hanya bersifat titipan dari Illahi yang harus bisa dipertanggungjawabkan dihadapan Tuhan dan manusia untuk membantu mengatasi problema di masyarakat.

BENTUK KEGIATAN

  1. Konsultasi Spiritual untuk masalah asmara, perjodohan dan rumah tangga
  2. Konsultasi Spiritual untuk pekerjaan dan rejeki
  3. Konsultasi Spiritual dan ruqyah untuk penyakit non medis
  4. Riyadoh dan doa bersama

DSCN1623SIFAT KEGIATAN:  BAKTI SOSIAL KEMANUSIAAN/ NIRLABA

WAKTU KEGIATAN

GANDRING DHARMA BHAKTI dilaksanakan pukul 20.00 WIB s/d selesai setiap HARI KAMIS MALAM, minggu kedua, minggu ketiga dan minggu keempat SETIAP BULAN.

TEMPAT KEGIATAN

DI MARKAS KWA, MUSHOLA BALAI DIKLAT KAB SIDOARJO, JL MAJAPAHIT 5 — SEBELAH SELATAN KOMPI SENAPAN 516 — 100 METER SELATAN RSUD SIDOARJO.

1395969_10200569467067866_1440194131_n

SUSUNAN PELAKSANA KEGIATAN

Penasihat            :               Ki Wong Alus
Koordinator        :              Ki Juru Suling
Pelaksana            :               1. Ki Sujono Soerjo Mentaram, 2. Ki Sigit Suropati, 3. Mbah Duro, 4. Gus AG, 5. Para anggota Forum Wirid dan 
6.  Para Alumni  yang berkenan hadir

PESERTA KEGIATAN

Peserta kegiatan adalah seluruh elemen masyarakat PRIA DAN WANITA tanpa batasan usia


KEWAJIBAN PESERTA KEGIATAN

  1. Mengisi daftar yang disediakan Pelaksana;
  2. Memberi penjelasan yang benar dan bisa dipertanggungjawabkan selama proses konsultasi;
  3. Melaksanakan bentuk ritual/ibadah yang dipersyaratkan oleh Pelaksana selama dan sesudah proses konsultasi atau ruqyah;
  4. Membawa air putih satu botol dan telur dengan sesuai kemampuan/kebutuhan untuk proses ruqyah;
  5. Bersikap tenang dan tidak menimbulkan kegaduhan yang bersifat merugikan pihak lain selama proses kegiatan;
  6. Untuk proses konsultasi/ruqyah yang mengharuskan peserta dan pelaksana keluar dari tempat kegiatan, peserta harus didampingi muhrim/saksi dari pihak keluarga. Sementara untuk pelaksana akan didampingi oleh satu personel Forum Wirid.

 DSCN1153

KEWAJIBAN PELAKSANA KEGIATAN

  1. Melaksanakan proses konsultasi dengan benar dan sesusai kebutuhan peserta
  2. Meminta penjelasan yang benar kepada peserta
  3. Untuk proses konsultasi/ruqyah yang mengharuskan peserta dan pelaksana keluar dari tempat kegiatan, Pelaksana akan didampingi oleh satu personel Forum Wirid.
  4. Menjaga nama KWA selama kegiatan berlangsung

 

KEGIATAN YANG DIHINDARI SELAMA KEGIATAN

 Selama kegiatan ini Pelaksana GANDRING DHARMA BHAKTI tidak melayani:

  1. Mengirim tenung/santet atau apapun yang bersifat ghoib dengan bertujuan menyakiti fisik/spiritual pada pihak lain.
  2. Mengirim balik tenung/santet atau apapun yang bersifat ghoib.
  3. Mahabah, pengasihan, pelet yang bertujuan merugikan pihak lain.
  4. Penyakit-penyakit bersifat medis dan herbal.
  5. Pesugihan menggunakan sarana tuyul, uang balik, dll
  6. Pengijazahan ilmu, asma atau amalan yang bersifat kanuragan.
  7. Konsultasi terhadap kegiatan yang bertentangan dengan hukum yang berlaku.

 

 Sidoarjo , 16 Mei 2014

Salam salim dan salam tahzim

 

Pelaksana Kegiatan GANDRING DHARMA BHAKTI

Categories: >>PERPUSTAKAAN UTAMA | 13 Komentar

ANGKATAN 17 GURU KWA


Alhamdulillahirrobbilalamin.
Sukur kami panjatkan kepada Allah SWT atas rahmat dan petunjuk-Nya sehingga kami telah selesai melaksanakan program pelatihan PARANORMAL KWA ANGKATAN 17 untuk menggembleng peserta dengan kualifikasi GURU/MASTER . Kami mengucapkan terima kasih atas kepercayaan anda mengikuti program ini dan harapan kami semoga ilmu-ilmu yang telah anda dapatkan bisa bermanfaat bagi masyarakat.

Kepada seluruh sedulur KWA, mohon doa restunya untuk kami agar bisa untuk memberi manfaat dan bantuan sesuai dengan kompetensi kami di bidang solusi-solusi alternatif. Datangilah mereka. Mintailah SARAN dan KONSULTASI terkait dengan masalah-masalah hidup yang mendera ANDA. Insya Allah, Anda menemukan solusi yang benar dan terpercaya biidznillah. Mereka adalah:

KI GIMAN PENANGGUNGAN, Pekanbaru Riau (085272942597)

KI ANDI PENANGGUNGAN, Jakarta (08111288280)

KI SUPRIYADI, Tangerang (0811952698)

KI HERY PENANGGUNGAN, Sidoarjo (081230008898).

171Demikian apa yang bisa saya sampaikan dan terima kasih. Wawwahul muwaffiq ilaa aqwamit thoriq. Wassalamualaikum wr wb.

Salam paseduluran. Rahayu..rahayu..rahayu…

KI WONGALUS

Categories: >>PERPUSTAKAAN UTAMA

TAK MENYESALKAH KAMU MEMILIH JALAN SUNYI?


Wongalus

islam-prayer-window-lightAlhamdulillah, rasa sukur kita panjatkan kepada Allah SWT yang telah memberikan kekuatan sehingga hari ini kita masih bisa hadir menyapa siapa saja yang membaca blog KWA ini. Di tengah kesibukan sehari-hari, kita merasakan bahwa waktu sangat pendek dan tidak cukup. Semua serba cepat sekarang, dan kita merasakan dikuasai oleh waktu. Semua inginnya serba instan. Berkejaran kita terhadap target-target duniawi hingga terasa tidak ada waktu lagi untuk merenung, tiada waktu untuk memaknai dan tidak ada waktu untuk mengendapkan peristiwa-peristiwa sehingga inti sari hakekat peristiwa itu tidak terlihat.

Kapan kita akan hidup wajar? Normal dan apa adanya? Kita bisa menguasai waktu. Kita bisa menjalani proses demi proses dengan kesabaran dan ketelitian yang pada akhirnya tujuan akan tercapai dengan memahami inti sari setiapa kejadian?

Allah Maha segalanya. Waktu dan juga pasangan abadinya, yaitu ruang sesungguhnya ciptaanAllah SWT juga. Keduanya adalah makhluk misterius yang sabar mendidik kita untuk menjadi pribadi. Kita perlu berkolaborasi dengan dua dimensi ini agar terbebaskan dari penguasaan secara sepihak. Kepenatan, kebosananan dan juga kekeringan oase dalam hidup umumnya terjadi ketika seseorang tidak mampu menguasai ruang dan waktu.

Beruntung, Allahu Akbar… Allah Maha Akbar, begitu kita ucapakan, terasa dada kita longgar, terasa kesesakan terurai, terasa ada semangat untuk mampu menguasai diri dari keterhimpitan hidup. Ini rejeki yang besar, yang dipupuk dengan iman karena kita mendapatkan rezeki yang selama ini jarang kita hayati: kesadaran, rasa eling dan waspada terhadap kehadiran NYA melintas ruang dan waktu. Hidup pun bersinar karena kita berani menjalani hidup dengan terad untuk mewujudkan yang terbaik.

Kebersihan hati itu mengundang rahmat daripada Allah. Begitu juga hidayah, yakni sebuah petunjuk yang membimbing seseorang itu untuk dekat kepada Allah. Namun, andainya hati itu sarat dengan dosa dan perilaku dipenuhi noda-noda maksiat, maka mana mungkin kita bisa menjadi kepanjangan tangan untuk berbagi ruang kepada orang lain untuk menerima hidayah…..

Pernah dengar orang yang semakin sesat apabila dia semakin mendalami sesuatu ilmu? Pernah dengar ilmu mantik yakni ilmu logik? Ada manusia yang menjadikan sains itu tuhan, sehingga merasakan kehidupan beragama itu adalah suatu perkara yang kuno, jadul dan kolot. Semua karena dia merasa bahwa logika itu segala-segalanya. Manusia merasa mampu membentuk bahagia dengan uang yang didapat dari hukum ekonomi yang matematis, menyembuhkan penyakit dengan ilmu sains, mencipta tumbuh-tumbuhan, dan juga meramal cuaca.

Semakin bertambah ilmunya, semakin banyak harta bendanya, semakin angkuh dia karena merasa semua bisa dibeli dengan uang. Termasuk kebijaksanaan dan hakekata hidup. Tanpa sedikit dia sadar, ada mata hati yang memberikan simpati karena sedih melihat kebodohannya. Orang punya agama juga, pernah suatu masa menjadi sesat dengan ilmu logikanya. Padahal agama mengajarkan untuk hidup sempurna, jangan hanya berpikir tapi rawatlah yang lebih dari itu yaitu hati nurani….. tafakkur— tadzakkur/berdzikir—tadabbur… itulah tiga aspek untuk menyempurnakan agama.

Ibadah-ibadah akan mampu untuk memberikan ketenangan spiritual. Zikir akan mampu membuat kita menyelami samudra hakikat sejati alam ruhani yang tidak mampu dijangkau oleh dunia logika yang dangkal…..

Saya pernah bertanya pada diri sendiri, “tak menyesalkan memilih jalan sunyi?” Walaupun kadang-kadang jujur saya merasa sangat amat berat dan payah, setiap hari mengaduk-aduk keikhlasan diri. Bahkan harus semakin bersyukur dan sentiasa terus berdoa kepada Allah agar hati itu diperteguh untuk memilih jalan keimanan agar semakin disempurnakan lagi.

Hijrah atau revolusi adalah sebuah pilihan bebas. Dengan kebebasan, kita menentukan pilihan untuk berubah. Perubahan harus terus menerus dilakukan karena semua ini adalah proses. Kita akan semakin peka terhadap kemandegan proses bila senantiasa menyadari bahwa semua ini adalah sementara dan relatiF. Hanya Allah SWT yang Maha Abadi dan Absolut dengan segala kuasanya dalam mendampingi proses manusia untuk berubah.

“Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.” [Ar-Ra’d, 13:11]

Ada orang yang mencari hidayah sepanjang hidupnya, dan menemukan secercah cahaya di akhir hayatnya. Tetapi adakah hidupnya sia-sia? Tidak sesekali, bahkan itulah kehidupan yang paling mulia. Mati di dalam keadaan hadirnya cinta kepada Allah yang maha Mencintai Siapapun dan Apapun.

Monggo kita tetapkan langkah dan tekad untuk berproses menyempurnakan diri. Allah itu Maha sabar dan Pengampun. Dakwahilah diri sendiri agar sabar berjalan di jalan sunyi…. setapak demi setapak, karena tongkat sakti sim salabim itu sesungguhnya tidak ada… perubahan tidak bisa dilakukan dalam sekejap mata…. Setiap perubahan memerlukan waktu yang berproses secara alami di dalam ruang….. Maka bersabarlah..

Semoga kita mampu menjaga tali persaudaraan yang sangat kuat yang menghubungkan hati nurani setiap manusia…tali silaturahim kemanusiaan tanpa membedakan kulit, ras, keturunan, suku bangsa, karena semua perbedaan ini hanyalah aksidensia semata… Dihadapan Allah, kita semua sama…kecuali amal ibadahnya dalam arti yang seluas-luasnya, yaitu perilakunya menebarkan salam dan perdamaian…. Hingga kita bisa merasakan setitik rasaa surgawi ….“dalam syurga yang tinggi, tidak kamu dengar di dalamnya perkataan yang tidak berguna.” [Al-Ghaasyiyah, 88:10-11]… Wasaalamualaikum wr wb….

@wongalus,2014

Categories: >>PERPUSTAKAAN UTAMA | 15 Komentar

ANGKATAN 16 MOHON DOA RESTU


Alhamdulillahirrobbilalamin.
16cSukur kami panjatkan kepada Allah SWT atas rahmat dan petunjuk-Nya sehingga kami telah selesai melaksanakan program pelatihan PARANORMAL KWA ANGKATAN 16 untuk menggembleng peserta dengan kualifikasi GURU/MASTER . Kami mengucapkan terima kasih atas kepercayaan anda mengikuti program ini dan harapan kami semoga ilmu-ilmu yang telah anda dapatkan bisa bermanfaat bagi masyarakat.

Kepada seluruh sedulur KWA, mohon doa restunya untuk kami agar bisa untuk memberi manfaat dan bantuan sesuai dengan kompetensi kami di bidang solusi-solusi alternatif. Datangilah mereka. Mintailah SARAN dan KONSULTASI terkait dengan masalah-masalah hidup yang mendera ANDA. Insya Allah, Anda menemukan tempat konsultasi yang benar dan terpercaya biidznillah. Mereka adalah:

KI SURATNO PENANGGUNGAN, LUAR NEGERI (LAOS), 0852054408017 dan CILACAP (081392697466/082242014149)

KI PUJI PENANGGUNGAN, SRAGEN (081226198670).

16aDemikian apa yang bisa saya sampaikan dan terima kasih. Wawwahul muwaffiq ilaa aqwamit thoriq. Wassalamualaikum wr wb.

Salam paseduluran. Rahayu..rahayu..rahayu…

KI WONGALUS

@@@

Categories: >>PERPUSTAKAAN UTAMA

MOHON DOA RESTU


Alhamdulillahirrobbilalamin.
Sukur kami panjatkan kepada Allah SWT atas rahmat dan petunjuk-Nya sehingga kami telah selesai melaksanakan program pelatihan PARANORMAL KWA ANGKATAN 15 untuk menggembleng peserta dengan kualifikasi GURU/MASTER pada 25 Mei 2014. Kami mengucapkan terima kasih atas kepercayaan anda mengikuti program ini dan harapan kami semoga ilmu-ilmu yang telah anda dapatkan bisa bermanfaat bagi masyarakat.

Kepada seluruh sedulur KWA, mohon doa restunya untuk kami agar bisa untuk memberi manfaat dan bantuan sesuai dengan kompetensi kami di bidang solusi-solusi alternatif. Begurulah dan belajarlah kepada mereka karena saya mengenal mereka ini adalah orang-orang yang memiliki karakter dan dedikasi yang tinggi untuk membantu sesama. Mintailah SARAN, MASUKAN dan INFORMASI terkait dengan masalah-masalah hidup yang mendera ANDA. Insya Allah, Anda menemukan tempat konsultasi yang benar dan terpercaya biidznillah. Mereka adalah:

KI BACHTARUDIN PENANGGUNGAN, PADANG SUMBAR, 081-1666083

KI SISWANTO PENANGGUNGAN, BANDUNG.

unnamed3Demikian apa yang bisa saya sampaikan dan terima kasih. Wawwahul muwaffiq ilaa aqwamit thoriq. Wassalamualaikum wr wb.

Salam paseduluran. Rahayu..rahayu..rahayu…

KI WONGALUS

@@@

Categories: >>PERPUSTAKAAN UTAMA

MEMBUKA PINTU AMPUNAN ALLAH


Pernahkan anda salah? Selama hidupnya, seseorang pasti mengalami kesalahan. Jangankan kita, para nabi saja pernah salah koq. Kenapa begitu? Sebab tolok ukur kesalahan itu bukan pada kita, masyarakat, negara, atau pun yang lain melainkan tolok ukurnya adalah petunjuk Allah SWT. Nah, apa yang perlu kita lakukan apabila kita salah? Hal yang paling logis adalah MEMOHON AMPUNAN ALLAH SWT. Apabila setiap hari kita memohon ampun, insya allah, Tuhan Yang Maha Kuasa akan semakin mencintai dan menyayangi kita. Berikut ini adalah doa sholawat untuk membuka pintu ampunan dari Allah SWT dan disusun oleh SYEKH AL QUTUB AHMAD DARDIR AL KHALAWATI R.A.

===ALLAHUMMA SHOLLI WASSALIM WABARIK ALAA SAYYIDINA MUHAMMADIN WAALAA AALIHI ADADA’IN AAMILLAHI WA’IFDHOLIHI===

YA ALLAH BERIKAH SHOLAWAT, SALAM DAN BERKAH KEPADA PEMIMPIN KAMI MUHAMMAD DAN KEPADA KELUARGANYA SEJUMLAH KENIKMATAN ALLAH DAN KARUNIANYA.

Shalawat AL IN’AM ini merupakan doa agar pintu-pintu keni’matan dunia dan akhirat terbuka dan pahala membacanya sangat besar tak terhingga.. demikian dikatakan oleh  Syekh Ahmad Bin Muhammad as-Shawiy.

Kalimat ” sejumlah kenikmatan Allah” artinya: kekuasaan Allah itu berhubungan dengan segala ni’mat dunia maupun akhirat. Sedangkan kalimat ” sejumlah karunia-Nya” artinya: kekuasaan Allah berhubungan dengan seluruh anugerah dunia dan akhirat. Jadi permohonan Shalawat kepada Allah di atas dilimpahkan kepada Nabi Muhammad dengan jumlah shalawat yang tak terhingga.  Tidak ada satu ni’mat maupun anugrah yang ada di alam ini melainkan terjadi dengan kehendak Allah dan anugrah Allah tidak terhingga jumlahnya. Subhanallah.

Semoga pengamal sholawat ini nantinya mendapatkan limpahan rejeki dunia dan akhirat yang tidak terhitung. Amin YRA.

@wongalus,2014

Categories: >>PERPUSTAKAAN UTAMA | 26 Komentar

GEMBLENGAN ANGKATAN 14 GURU MASTER KWA: MOHON DOA RESTU


SAMSUNG CAMERA PICTURESAlhamdulillahirrobbilalamin.
Sukur kami panjatkan kepada Allah SWT atas rahmat dan petunjuk-Nya sehingga kami telah selesai melaksanakan program pelatihan PARANORMAL KWA untuk menggembleng peserta dengan kualifikasi GURU/MASTER pada 17 Mei 2014. Kami mengucapkan terima kasih atas kepercayaan anda mengikuti program ini dan harapan kami semoga ilmu-ilmu yang telah anda dapatkan bisa bermanfaat bagi masyarakat.

Kepada seluruh sedulur KWA, mohon doa restunya untuk kami agar bisa untuk memberi manfaat dan bantuan sesuai dengan kompetensi kami di bidang solusi-solusi alternatif. Begurulah dan belajarlah kepada mereka karena saya mengenal mereka ini adalah orang-orang yang memiliki karakter dan dedikasi yang tinggi untuk membantu sesama. Mintailah SARAN, MASUKAN dan INFORMASI terkait dengan masalah-masalah hidup yang mendera ANDA. Insya Allah, Anda menemukan tempat konsultasi yang benar dan terpercaya biidznillah. Mereka adalah:

KI AGENG SUWIIN TROWULAN– PASURUAN– 082302103075

KI AGENG DONO TROWULAN– PEKALONGAN– 087733416495

KI  AGENG GUNAWAN TROWULAN– JOGJA

KI AGENG PRASETYA TROWULAN –JAKARTA– 087878600863

KI AGENG SARIJAN TROWULAN — PONOROGO — 081332688199

KI AGENG IRAWAN TROWULAN –TEGAL– 085642620113

KI AGENG RISTIAWAN TROWULAN– SEMARANG– 087876102440

KI AGENG ARGO TROWULAN — SEMARANG — 081372675850

Demikian apa yang bisa saya sampaikan dan terima kasih. Wawwahul muwaffiq ilaa aqwamit thoriq. Wassalamualaikum wr wb.

Salam paseduluran. Rahayu..rahayu..rahayu…

KI WONGALUS

@@@

Categories: >>PERPUSTAKAAN UTAMA

GANDRING DHARMA BHAKTI KWA


GANDRING DHARMA BHAKTI adalah kegiatan bersifat sosial dan nirlaba yang dilaksanakan oleh civitas academica KWA.

GANDRING berasal dari bahasa Jawa Kawi yang berarti pertemuan. DHARMA adalah bahasa sansekerta berarti kewajiban dan BHAKTI artinya perbuatan yang menyatakan kesetiaan dalam bentuk kasih dan hormat. Kegiatan ini bertujuan untuk “mengembalikan “ ilmu dan amalan yang dilakukan selama ini kepada yang berhak, yaitu masyarakat dan alam selebihnya.

Kenapa harus dikembalikan? Menyitir pernyataan Ki Wong Alus dalam Temu Wirid kamis 15 Mei 2014, bahwa ilmu itu hanya bersifat titipan dari Illahi yang harus bisa dipertanggungjawabkan dihadapan Tuhan dan manusia untuk membantu mengatasi problema di masyarakat.

BENTUK KEGIATAN

  1. Konsultasi Spiritual untuk masalah asmara, perjodohan dan rumah tangga
  2. Konsultasi Spiritual untuk pekerjaan dan rejeki
  3. Konsultasi Spiritual dan ruqyah untuk penyakit non medis
  4. Riyadoh dan doa bersama

SIFAT KEGIATAN:  BAKTI SOSIAL KEMANUSIAAN/ NIRLABA

WAKTU KEGIATAN

GANDRING DHARMA BHAKTI dilaksanakan pukul 20.00 WIB s/d selesai setiap HARI KAMIS MALAM, minggu kedua, minggu ketiga dan minggu keempat SETIAP BULAN.

TEMPAT KEGIATAN

DI MARKAS KWA, MUSHOLA BALAI DIKLAT KAB SIDOARJO, JL MAJAPAHIT 5 — SEBELAH SELATAN KOMPI SENAPAN 516 — 100 METER SELATAN RSUD SIDOARJO.

SUSUNAN PELAKSANA KEGIATAN

Penasihat            :               Ki Wong Alus

Koordinator        :               Ki Juru Suling

Pelaksana            :               1. Ki Sujono Soerjo Mentaram

                                                2. Ki Sigit Suropati

                                                3. Mbah Duro

                                                4. Gus AG

                                                5. Dibantu oleh seluruh anggota Forum Wirid

  1.                                         6.  Alumni diluar Sidoarjo.

 

PESERTA KEGIATAN

                Peserta kegiatan adalah seluruh elemen masyarakat tanpa batasan apapun.

KEWAJIBAN PESERTA KEGIATAN

  1. Mengisi daftar yang disediakan Pelaksana;
  2. Memberi penjelasan yang benar dan bisa dipertanggungjawabkan selama proses konsultasi;
  3. Melaksanakan bentuk ritual/ibadah yang dipersyaratkan oleh Pelaksana selama dan sesudah proses konsultasi atau ruqyah;
  4. Membawa air putih satu botol dan telur dengan sesuai kemampuan/kebutuhan untuk proses ruqyah;
  5. Bersikap tenang dan tidak menimbulkan kegaduhan yang bersifat merugikan pihak lain selama proses kegiatan;
  6. Untuk proses konsultasi/ruqyah yang mengharuskan peserta dan pelaksana keluar dari tempat kegiatan, peserta harus didampingi muhrim/saksi dari pihak keluarga. Sementara untuk pelaksana akan didampingi oleh satu personel Forum Wirid.

 

KEWAJIBAN PELAKSANA KEGIATAN

  1. Melaksanakan proses konsultasi dengan benar dan sesusai kebutuhan peserta
  2. Meminta penjelasan yang benar kepada peserta
  3. Untuk proses konsultasi/ruqyah yang mengharuskan peserta dan pelaksana keluar dari tempat kegiatan, Pelaksana akan didampingi oleh satu personel Forum Wirid.
  4. Menjaga nama KWA selama kegiatan berlangsung

 

KEGIATAN YANG DIHINDARI SELAMA KEGIATAN

                                Selama kegiatan ini Pelaksana GANDRING DHARMA BHAKTI tidak melayani:

  1. Mengirim tenung/santet atau apapun yang bersifat ghoib dengan bertujuan menyakiti fisik/spiritual pada pihak lain.
  2. Mengirim balik tenung/santet atau apapun yang bersifat ghoib.
  3. Mahabah, pengasihan, pelet yang bertujuan merugikan pihak lain.
  4. Penyakit-penyakit bersifat medis dan herbal.
  5. Pengijazahan ilmu, asma atau amalan yang bersifat kanuragan.
  6. Konsultasi terhadap kegiatan yang bertentangan dengan hukum yang berlaku.

 

 Sidoarjo , 16 Mei 2014

Salam salim dan salam tahzim

 

Pelaksana Kegiatan GANDRING DHARMA BHAKTI

Categories: >>PERPUSTAKAAN UTAMA | 31 Komentar

SEPOTONG FRAGMEN DARI SEBUAH MILAD (2)


OLEH KI JURU SULING

Dan Mereka Pun Berbagi

Cepuri, ba’da isya. Lapangan pendopo barat mendadak ramai. Proses hitung poin selesai. Para peserta terklasifikasi untuk konsultasi atau pengijazahan. Lokasi untuk kegiatan itu sudah ditentukan oleh panitia. Kegiatan ini digelar secara bergilir karena tenaga dan tempat untuk pengijazahan sangat terbatas. Kegiatan pengijazahan ini juga diselingi oleh pembagian door prize sebagaimana yang dijadwalkan.

Adapun ilmu atau doa yang diijazahkan cukup “seram” juga. Untuk poin paling rendah (200) doa yang diijazahkan salah satunya adalah ASR Madura Utara. Semakin tinggi poin yang didapat semakin tinggi pula energy doa yang diijazahkan.

Dilihat dari jumlah peserta pengijazahan beberapa jenis doa menjadi favorit peserta, tengok saja seperti Ngrogo Sukmo atau Harimau Kelud. Penerima ijazah berbaris berbanjar-banjar, berteriak sesuai dengan permintaan pengijazah. Peserta berperan aktif dan seperti tidak punya lelah setelah kegiatan siang panjang.

Sementara peserta yang belum gilirannya duduk tenang dipendopo.

Waktu merangkak menuju tengah malam. Pengijazahan selesai dan peserta berbaris menuju tepi pantai, wisata alam ghaib dan ini adalah Parang Kusumo, pantai kental mistis yang dipercaya gerbang istana Laut kidul.

Peserta duduk berbanjar tiga memanjang menghadap pantai. Pasir basah oleh hujan tadi sore. Barisan berjarak + 50 meter dari garis ombak  yang semakin naik. Pukul 00.30 acara dimulai, panitia melingkar mengelilingi peserta sementara Ki Erik Widodo Pati dan Ki Arya Sidoarjo memulai sebuah ritual doa.

“LA TUDRIKUHUL ABSORU WA HUWA YUDRIKUL ABSORO WA HUWAL LATIFUL KHOBIRU”

Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala penglihatan itu dan Dialah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui….

kami tunduk, takluk, bersimpuh, menyerah dan pasrah pada-Mu wahai Dzat pemilik segala Maha, pemilik segala Nama. Dzikir : Ya Khobir, Ya Khobir, Ya Khobir, Ya Khobir, Ya Khobir.

Buka mata. Tutup mata. Tetap berpegang pada dzikir. Menggenggam Asma-Nya. Menjejak Cahaya-Nya.

Buka mata. Tutup mata. Merasakan kesadaran yang membumbung tinggi kemudian menukik dan meghujam ceruk kelam dalam negeri antah berantah. Menjadi tamu “mereka” atau tamasya dengan mata batin yang runcing.

Buka mata. Tutup mata. Dzikir. Rasakan. Lihat.

Air laut merayap mendekati peserta. Sudah satu jam setengah kami bertamasya. Saatnya pulang dari alam sunya ruri ke kesadaran kamadatu. Buka mata, saudara-saudara dan ucapkan tasbih lengkap. Acara selesai.

Saat para peserta berjalan pelan menuju pendopo Cepuri, sesuatu terjadi. Seorang peserta perempuan terkapar kemudian meronta berkeras menuju tengah laut “kesana, kesana” sambil tangan menuding tengah samudera Hindia. Agak kerepotan juga mencegah tenaganya yang mendadak perkasa itu. Namun peristiwa ini tidak berlanjut lama, Pak Sujono turun tangan dan semua kembali normal.

Uap embun pagi mulai terhirup.

SENDRATARI CAH BAGUS

Balung pakel duh mbok gunung

 teja bengkok nginum warih

 sn puwung rabiya kadang

 dadi lok-ing wong sabumi

 rejasa kang mimba warna

 sun temah dadiya krami

Gatot Kaca bersyair nyaring. Dia jatuh cinta. Merayu Pergiwa di suatu taman anta berantah. Ia tidak peduli dengan suasana yang tengah terjadi. Beksan dan tetangkasannya boleh juga walaupun Gatot Kaca yang satu ini hanya pakai kaos oblong, celana pendek, bersandal jepit dan selembar kain selempang bahu.

Pergiwa juga tak kalah tengil. Dengan berpakaian seadanya duduk bersimpuh tidak bergeming mendengar tembang itu.  Terkadang ia tersenyum kecil mencibir. Gatot Kaca yang sedang kasmaran berat tidak peduli dengan sikap pergiwa-nya. Ia tetap saja menari dan menembang. Menembang dan menari. Kain selempangnya seperti sampur mobat-mabit.

Terus terang saya menikmati tontonan dadakan itu. Teriakan Ki Arya tidak saya dengar. Ditengah gumpalan energi yang terkumpar dari doa dan pusaka dan mantera itu “sendratari” dari dua orang yang “dianugerahi” ini lumayan menghibur. Kiranya bukan saya saja yang tersihir. Wajah-wajah yang hadir di pendopo  timur itu mufakat tanpa musyawarah mentelengi kiprah mereka berdua. Masing-masing punya persepsi dalam menyikapi pertunjukan ini.

Lagu yang bercerita tentang rayuan Gatot Koco pada Pergiwa ini memang tidak muncul dari peserta. Benar, Para pembaca, penari yang saya maksud ini adalah Cah bagus dengan sejawat perempuannya. Cah Bagus sedang meng-nggandrung-nya. Mondar-mandir dengan langkah tertata. Menjauh mendekat. Perputar bergelung dengan tatapan sinis sebagian penonton. Kemudian Gatot Kaca meminjamkan sandal jepitnya pada Pergiwa dan menarik tangannya.

Penonton terkesiap tegang. Wah, Gatot Kaca mau berbuat yang bukan-bukan pada Pergiwa.

Ketika birahi Gatot kaca sudah diubun-ubun para penonton pada meneriaki mereka. Pergiwa pergi kearah timur membawa rasa malu. Gatot Kaca yang merasa kehilangan Pergiwa-nya ribut dengan seorang ibu penonton. Si ibu mengancamnya akan menjepretnya dengan karet gelang jika pagelaran dadakan ini dilanjutkan. Gatot kaca merasa Ngeri juga. Daripada kena jepret karet gelang dia beranjak mencari Pergiwa. Pagelaran bubar tanpa tancep kayon.

Pangapunten, mohon maaf, tidak ada maksud saya untuk mengistimewakan mereka berdua dalam hal ini. Peristiwa ini tidak ada kaitannya dengan konteks kegiatan milad dan kesibukan panitia yang menghitung poin di pendopo barat tetapi ini adalah peristiwa yang sempat mampir dalam ingatan saya. Jika ada sebagian pembaca tidak berkenan silahkan hapus tulisan ini.

Cinta atau nafsu yang mengkabut pada Cah Bagus? Sementara dalam kasus ini demarkasinya adalah tingkat kewarasan pikiran seseorang yang kadang Cuma selisih serambut dengan kegilaan. Ah, bukan keahlian saya menjawab itu, hanya ada bisikan lirih dalam nurani saya: Tuhan yang Maha Adil memberi juga rasa itu pada semua mahluk, termasuk pada Cah Bagus tokoh yang sudah diceritakan diatas.

CINTA DALAM SEKARUNG BERAS

(KISAH MESRA KANG SIGIT DAN YUK NGADIYEM)

Simbol kemesraan bisa apa saja, bunga, puisi ataupun beras. Namun cara menyampaikan kemesraan harus dipelajari karena itu juga bentuk keintiman sendiri. Masih dalam wilayah kegiatan milad, ijinkan saya mengangkat cerita kemesraan dua anak manusia lantaran beras.

Kang Sigit dan Yuk Ngadiyem adalah dua sosok yang berbeda asal yang di disatukan tuhan dalam sebuah kejadian. Ibarat pepatah Kang Sigit dari Sidoarjo dan Yuk Ngadiyem dari Jogja bertemu di karung beras. Karena sekarung beras itu juga status mereka berbeda, yang satu menjadi penderita dan lainnya menjadi obyek penderita kawan-kawannya.

Peristiwa ini terjadi setelah kami dari Panti Asuhan Miftahul Jannah.

Seandainya saya ada kesempatan interview dengan Yuk Ngadiyem, bisa jadi inilah penuturannya:

“ Kalau melihat condong matahari saya tahu ini sekitar jam 10 pagi. Saat-saat seperti ini kegiatan saya adalah nginang (mengunyah sirih) sambil duduk bale bambu di depan rumah. Di dekat pertigaan beberapa orang bergerombol di dekat sebuah mobil. Saya tidak tahu pasti siapa mereka dan apa yang dikerjakan.

Dua orang memasuki pekarangan saya. Salah satunya menggendong sekarung beras sementara lainnya tidak membawa apa-apa. Saya waspada, wong tidak satupun dari mereka yang saya kenal, kog beraninya mereka menginjak pekarangan saya. Sesampai didepan saya, orang yang membawa beras mengatakan bahwa beras sekarung ini milik saya, buat saya. Saya kaget dapat beras itu. Nah, Belum sembuh kaget saya dan “huugghh”beras ini ditaruh dipangkuan saya. Ampun gusti….ini orang apa tidak lihat saya ini usianya berapa kog naruh beras tidak kira-kira. Apa sangkanya saya ini seusia dia yang masih kuat mengangkat beras berapapun beratnya. Nafas saya sampai tersengal-sengal.

Ini anak-anak kampung mana punya kelakuan seperti itu. Umpama waktu itu saya lepas sendi atau kursi saya patah, apa saya tidak jatuh ditimpa beras. Apa mereka mau tanggung jawab, terutama itu yang meletakkan beras itu!

Seandainya didekat saya ada bambu pikulan ingin saya ambil pikulan itu. Bukan, bukan untuk angkat beras tapi buat ketok kepala mereka semua.”

Saudara-saudaraku, itulah peristiwa beras yang diperankan Kang Sigit dan Yuk Ngadiyem. Kejadian ini tidak bisa dilupakan oleh pemberi atau penerima beras, juga oleh kami, para saksi peristiwa itu.

Sepanjang jalan kami membicarakan masalah itu. Konferensi dadakan dengan tema TRAGEDI PAK SIGIT DAN NENEK NGADIYEM digelar tanpa moderator tanpa undangan.  Kesimpulan paten: Pak Sigit adalah tersangka, titik! Namanya juga konfrensi insidentil, walaupun kesimpulan sudah jelas masih ramai juga oleh analisa, Geremengan, gugatan, hujatan hingga saran agar si tersangka membaca istighfar dalam perjalanan pulang dari Jogja sampai Sidoarjo.

Dan gugatan tetap meluncur seperti tanggul jebol. Ki Anya mengusulkan pada foto tersangka di blok hitam pada mata. Wak Kasan berpendapat agar sedulur Jogja aktif monitoring kondisi kesehatan Nenek Ngadiyem. Mas Takiyan Jogja usul agar pulang melewati jalan tikus saja demi keselamatan Pak Sigit.

Pak Sigit bergumam “habis dah,”.

Tancep kayon

Jangan coba-coba cari sakti disini, kata Ki Wong Alus pada saya pada suatu ketika. Karena kita tidak punya itu. Kesaktian hanya milik Tuhan dan diserahkan pada manusia yang dikehendaki-Nya. Manusia yang bisa mempertanggungjawabkan kekuatan itu pada sesama mahluk dan kepada-Nya. Kesaktian lebih gampang menelikung kita pada kesombongan dan riya’. Karenanya keangkuhan hanya membuat jiwa kita sungsang.  Itu gerbang dari kehancuran. Karena kekuatan yang berjalan tanpa kontrol akan cenderung binasa dan membinasakan.

Kita tidak punya satu apapun, bahkan sehelai rambut. Sujud adalah pengakuan itu, ketika sejajarnya kepala dengan tapak kaki. Organ yang kita anggap mulia dan kita anggap hina sama rendahnya. Kita yang mahluk compang camping ini hanya punya hak bernafas dan ibadah, itupun atas kehendak-Nya. Segalanya akan dimintai tanggung jawab, termasuk penggunaan nafas kita.

Ki Wong Alus melanjutkan, Tuhan menyediakan ribuan jalan untuk umat yang ingin mendekati-Nya. Dan yang kita lakukan tidak lebih meniti salah satu jalan itu untuk kembali pada upaya menata ulang ibadah kita. Belajar menjadi manusia yang berbakti pada-Nya dan berguna bagi mahluk-mahluk-Nya. Karena kita adalah mahluk yang sudah dibai’at untuk belajar sampai terpisahnya sukma dengan raga. Setiap detik kita menjejak El-Maut.

Sekali lagi, tahapan kita baru belajar. Ilmu Tuhan sangat luas untuk dipelajari, terbumbung pada debu, terkobar pada api, terjejak pada tanah, terhembus pada angin, termenung pada gunung, tersinar pada cahaya, terkelam pada gelap, pada lancip ombak samudera, daun yang melayang, patahan ranting.

Sang Guru Yang Maha Bijaksana telah menggariskan cara belajar tanpa pernah sekalipun ayat-ayat-Nya menyalahkan manusia. Kesalahan adalah sesuatu yang telah melekat pada manusia seumur hidup. Dan Sang Guru telah membuat pula koridor untuk memperbaiki kesalahan itu. Marilah kita berderap dalam khusuk belajar dan meminta ampun.

Belajar untuk menjadi benar tanpa berupaya mencari cacat pihak lain. Karena tak elok jika kita menyalahkan orang lain. Benar atau salah biarlah ditentukan oleh Hakim Yang Maha Adil.

Percakapan berakhir. Ki Wong Alus menuju Cepuri. Cakrawala dan samudera dan garis ombak menantang untuk menggerus aus takaburnya manusia. Menjolok mata agar ingat akan bagian tubuh yang bernama tapak kaki.

Dan Parang Kusumo masih menyatu dalam debur ombak abadi.

Tanah Jenggala, 29 April 2014

Ki Juru Suling

Categories: >>PERPUSTAKAAN UTAMA | 12 Komentar

ALBUM MILAD KELIMA KWA APRIL 2014 DI ANTAI PARANGKUSUMO (BAGIAN 3)


kepekaan diri kwawisata gaib kwawisatagaibkwa2ijasahan khodamijasahana khodam harimau kwadok: ARYAKUSUMAYUDHA.

DSC00739DSC00738DSC00740

SAMSUNG CAMERA PICTURESmilad kwa 3

DOK KI AGENG BAYU PENANGGUNGAN
0877 7557 3775
.

dan ARYA KUSUMA YUDHA

BERSAMBUNG…………

Categories: >>PERPUSTAKAAN UTAMA | 22 Komentar

ALBUM MILAD KELIMA KWA APRIL 2014 DI PANTAI PARANGKUSUMO (BAGIAN 2)


DSC00749DSC00753DSC00758DSC00761DSC00762DSC00768DSC00769DSC00774DSC00771DSC00776 DOK:
KI AGENG BAYU PENANGGUNGAN
0877 7557 3775
.

(BERSAMBUNG….)

Categories: >>PERPUSTAKAAN UTAMA | 23 Komentar

SEPOTONG FRAGMEN DARI SEBUAH MILAD (1)


oleh:
KI GEDE PANEMBAHAN ISWANTO PENANGGUNGAN – SIDOARJO – 085334991908

milad kwa

Ancang ancang

Pada awalnya tulisan ini hanya sebuah catatan kumal saya yang bersifat pribadi. Goresan compang camping yang tidak memenuhi standard baku tulisan seorang intelek. Saya berpikir berulang kali untuk mempublikasikannya sampai pada suatu pagi Ki Wong Alus memberi pesan singkat “tulisan tentang milad sudah ditunggu”.

Baiklah, dengan mengucap Basmalah dan Istighfar berkali-kali saya dedikasikan tulisan ini bagi kebesaran Tuhan, perjuangan panitia, ketahanan peserta dan sedulur di KWA, ijinkan tulisan ini sekedar mampir berteduh di blog ini.

Inilah tulisan reportase dari pandangan mata saya yang beranjak rabun.

Menuju barat daya

Jutaan bintik hitam menggumpal dan menyelimuti kami ketika Wak Kasan untuk sekian ratus kalinya menginjak pedal rem mobil. Kendaraan kami terpaku kaku sejenak di sepotong tanah kosong sebelah timur sebuah pendopo. Parang Kusumo, dini hari itu kami yang pertama menghirup udaranya. Jarum berdetak jam 03.30. Azan Subuh beberapa saat lagi akan diterbangkan, alam akan dibangunkan, tetapi jutaan bintik hitam itu belum juga berhenti menghujami kami.

Kami rombongan dari Sidoarjo, tanah Jenggala di Brang Wetan, sebanyak delapan orang ditambah dengan Daeng, saudara yang datang dari Makasar menghuni mobil itu untuk 9 jam lamanya. Komposisi, bangku depan Ki wong Alus kemudian Wak Kasan di kemudi, bangku tengah Pak Jono, Daeng dan Kang Sigit sementara dibangku belakang bergerombolah Ki Arya, Mbah Duro dan Keponakannya serta saya sendiri. Mobil berguncang menembus debu dan kelam, memasuki lingkaran misteri hutan Saradan dan alas Ngawi, menyusup dalam dengkur setiap kota yang dilewati.

Ini bukan rombongan pelancong saudara-saudara, ini rombongan para peziarah, jangan bicara tentang kemewahan atau kenyamanan, tetapi berceritalah tentang kepala dan tapak kaki kita yang sama rendah saat bersujud dihadapan-Nya.

Jam 01.00 kami baru melindas jalanan Jogja setelah makan di Jombang jam 20.00 dan jam 23.30 Sholat di Masjid Agung Ngawi serta mendengar kabar gempa yang kembali mengaduk bumi Mataram. Kejadian lindu ini juga membuat kami mencari dulur dari Pati yang tercecer dari travelnya.

Dan azan subuh belum juga terdengar ketika kami bersiap menggelar spanduk dan tikar. Seorang pria berpostur pendek gempal berkaos lusuh menghampiri kami setelah mengusir beberapa orang yang tidur disitu,

“ayo ngaleh-ngaleh ono dayoh iki lho, ngaleehh” (ayo pergi-pergi ada tamu ini lho, pergiii) pekiknya menutupi suara serangga malam.

“aku cah bagus mas, aku yo biso ngrewangi pasang iki lho mas”(saya anak ganteng mas, saya juga bisa bantu masang ini lho mas) lanjutnya mengenalkan diri. Terus terang saya agak geragapan menyikapi sambutan semesra ini.

Dari jawaban Si Bocah Bagus ini saya tahu bahwa (meminjam istilah Emha Ainun Najib) ini adalah salah satu jenis hamba yang dianugerahi tuhan, karena tidak akan ditimbang amal dan dosanya dihadapan Hakim Yang Maha Segalanya di oro-oro Masyhar nanti.

“Ayo rokok,” kata saya mencoba untuk “mengamankan” situasi dari bocah bagus ini. Diluar perkiraan tangan saya ditampiknya “ora mas, nggarai watuk wae kae” (tidak usah mas, itu hanya bikin batuk saja) jawabnya sambil menggaet spanduk ditangan saya. Ketika ditawari uang dia menjawab kalau dia sudah makan. Tidak ada upaya lagi selain membiarkan dia membantu kami. Kesimpulannya: dia butuh pekerjaan. Kesimpulan lainnya, mungkin dia anggap kalau saya adalah teman sejawatnya……

Dan jutaan bintik hitam belum juga pergi dari kami. Gunung pasir meremang putih di satu jarak. Lampu-lampu rumah penduduk takluk dalam kelam. Azan subuh mulai terdengar dan kemana perginya bocah bagus tadi?

Parang Kusumo, sebuah pantai dibarat Parangtritis ini menjadi arena peziarahan bagi pelaku spiritual. Parang Kusumo, tempat pertemuan Panembahan Senopati dengan Ratu Laut Kidul. Parang Kusumo, gua keheningan jiwa yang mulai dipaksa mengikuti logika pasar dan trend. Parang Kusumo, tempat ini menjadi titik bidik saudara-saudara kita yang sekarang menjadi jaksa bagi keyakinan setiap individu yang tidak sesuai dengan mereka.

EEHH DAYOHE TEKO, EEHH GELARNO KLOSO

Jam 07.00 sedulur dari 7 penjuru berkumpul di pendopo barat, tanpa tempat duduk, menghadap ke utara. Dua tikar tergelar di bawah spanduk. 4-5 orang berbincang-bincang dengan suara rendah, sebagian memejamkan mata mencoba menebus rasa kantuk semalam. Ki Wong Alus bercelana Jeans, berkaos oblong berbasa basi dengan beberapa peserta sepuh. Beliau belum tidur semalaman dan belum tentu sudah sarapan. Batu Karang Cepuri yang diselimuti bunga taburan terkurung dalam pagar separuh badan dengan gerbang menghadap laut.

Suara gedebuk buah siwalan jatuh menjadi selingan. Buah kegemaran dewa itu jatuh dari ketinggian, menetak sejawatnya yang jatuh duluan. Langit dan laut sama birunya ditentang bukit hijau berterasiring. Deretan rumah penduduk disebelah barat pendopo tampak ayem dalam kepasrahan hidup, berlainan dengan pantai sebelahnya yang bergelora dalam pasar plesiran.

Bukit pasir berkolom putih memantulkan cahaya. Menabur debu pasir pada tangga beton dalam panas sengangar. Tapi Parang Kusumo adalah keteduhan.

Rombongan Sunda Kelapa datang dari brang kulon, dentang jam 08.00. koordinasi panitia langsung digelar cepat di pendopo timur. Semua perlengkapan dibagi dengan petugasnya sekali. Ki Bayu, ketua Panitia itu berjalan cepat dan tampak belum istirahat dari perjalanan. Tapi tugas tidak bisa menunggu. Maka berbarislah para panitia ke pendopo barat untuk berkenalan dengan peserta yang sudah lama menunggu. Acara dilanjutkan untuk pembukaan dan sambutan. Sementara panitia berjalan ke posnya masing-masing.

Bersama dengan Pak Sujono dan Ki Agung Kediri, saya berada di pos pendaftaran. Alat yang diperlukan tergelar tanpa meja tanpa kursi, bersila menunggu datangnya peserta yang mendaftar. Benar saja setengah jam kemudian peserta berduyun-duyun kearah kami. Baiklah, cek titik kota keberangkatannya, nomor urutnya dan kasih poin, tugas selesai. Tidak perlulah saya ceritakan tentang pendaftaran itu.

11.30 jumlah peserta sudah mencapai 96 orang. Parang kusumo mendadak sepi karena para peserta menuju pos donor darah. Seorang sedulur mengantar peserta yang terlambat datang, seorang gadis dari Jakarta. Setelah mendaftar kami antar peserta tersebut ke pos donor darah. Saya, pak Sujono dan si gadis melewati jalan paving sepanjang pantai yang menyengat. Mengandalkan tanda penunjuk jalan yang telah dipasang. Beberapa kendaraan melewati kami diselingi cericit riang bocah pantai dan teriakan ibu warung yang mejajakan minuman. Pohon tumbuh jarang-jarang dalam jarak tertentu. Anak-anak muda dengan baju warna warni nongkrong diatas motornya. Beberapa mobil terparkir di pantai, sebagian piknik keluarga, sebagian konsolidasi asmara dan sebagian membakar dupa.

Matahari bermurah hati. Laut bermurah hati. Angin bermurah hati.

Sampai di lokasi donor darah tersiar kabar sebagian besar peserta drop tidak bisa disetujui untuk donor darah karena banyak sebab. Kekecewaan mengambang di wajah peserta gagal. Adzan Dhuhur terdengar.

Karena tidak ada lagi yang saya bisa bantu disana, berjalanlah saya bersama Mbah Duro dan keponakannya setelah saya temukan mereka dalam sebuah warung bakso. Kami menuju Cepuri setelah meninggalkan Pak Jono sebagai pembeli pengganti Mbah Duro.

Cepuri Pendopo barat masih sepi. Hanya tas para peserta yang bergeletakan disana-sini. Sementara di pendopo timur Ki Wong Alus dan beberapa sesepuh bercengkerama gayeng. Sumbangan berdatangan dari air minum mineral sampai kue tart.

Dua peziarah selain kami, bapak tua berpakaian hitam-hitam dan temannya tampak tidak terganggu dengan acara ini. Berbincang diselingi kopi dan rokok tembakau klembak menyan-nya. Dari kokok petok ayam yang berseliweran dan gesekan daun pohon siwalan dapat diketahui bahwa ini bukan acara yang formal dan kaku. Lihatlah, bagaimana tenangnya ibu penjual kacang atau peminta sedekah di gerbang Parang Kusumo. Lihat juga ketika pemilik puluhan ayam itu memanggil ternaknya dengan menepuk rantang lurik bekas.

Musholah dipenuhi peserta yang setelah sholat beristirahat di terasnya. Bapak penunggu toilet menghitung income dari peti Aladdin miliknya, sebuah kotak putih dari kayu. Satu persatu panitia memasuki Cepuri dari arah pantai. Jam menunjuk 14.00.

Saat sore hari semua berkumpul di pantai. Lingkaran para peserta yang mengikuti proses penggemblengan di dekat garis laut. Ki Bayu di tengah lingkaran memberi aba-aba, kain belakang udeng iketnya berkibaran ditiup angin. Baju beberapa peserta dikotori pasir basah dengan latar belakang ombak laut yang menggaris putih dan tidak simetris mencoba merayap ke darat. Nun di pojok sana Mbah Duro bersila dan Ki Jono berdiri menatap samudera Sang Ratu. Rinai mulai turun. Hujan bertambah deras. Matahari bersiap meninggalkan cepuri.

BERSAMBUNG….

Categories: >>PERPUSTAKAAN UTAMA | 9 Komentar

Buat website atau blog gratis di WordPress,com. The Adventure Journal Theme.