REPORTASE BAKSOS: LAHIRKAN MANUSIA BARU DALAM DIRIMU!


Assalamualaikum wr wb.

Dunia kita adalah dunia yang dibangun dan dibingkai oleh kekuatan otak kiri (logika) yang berakibat pada kecenderungan orang dalam setiap gerak hidupnya lebih mengandalkan logika dan perhitungan rasional. Padahal kenyataan hidup yang dihadapi, begitu banyak fenomena kehidupan tidak mampu dicerna ataupun dikendalikan oleh logika. Akibat lebih jauh seringnya terjadi MASALAH HIDUP YANG BERANEKA RAGAM akibat konflik internal individu maupun konflik eksternal antar individu karena hanya mengandalkan suatu argumentasi yang diperoleh dari pemberdayaan logika belaka. Tidak banyak di antara kita yang menyadari bahwa fenomena hidup adalah adanya daya tarik menarik antara kekuatan rasional (AKAL) dan irasional (EMOSI) untuk MEMECAHKAN MASALAH / PROBLEM SOLVING.

Di bakti sosial parangkusumo 26 Desember 2015 kemarin, kita benar-benar ditantang untuk menggunakan hati nurani. Betapa tidak, saya melakukan perjalanan dari Sidoarjo ke Yogyakarta menggunakan transportasi darat. Biasanya perjalanan ditempuh sekitar 9 jam, namun kali ini 16 jam. Luar biasa macetnya!!! membuat kesabaran kita benar-benar diuji untuk menjalankan kendaraan setapak demi setapak sampai akhirnya selamat sampai tujuan. Alhamdulillah.

Tiba di Jogja, kamar hotel yang biasanya tersedia di banyak titik di kota gudeg itu harus dicari seperti mencari jarum di tumpukan jerami. Walhasil saya harus muter-muter di jogja sekian lama sampai akhirnya ada satu tempat yang bisa kita tempati walau sesaat. Setelah saya tiba duluan di Jogja, saya kabarkan titik kemacetan yang harus dihindari oleh rombongan satu  mobil yang berangkat belakangan dari markas KWA Sidoarjo.

Satu persatu peserta bakti sosial berdatangan dari berbagai penjuru. Saya membuka acara dengan sebuah diskusi tentang bagaimana seharusnya kita menggunakan dua belah otak dalam diri manusia. Otak kiri berfungsi sebagai kekuatan logika dan otak kanan berfungsi sebagai kekuatan rasa/batin/hati sehingga dua-duanya harus dimanfaatkan secara maksimal.

Agama dibangun dengan dua belahan kekuatan otak manusia itu. Perjalanan manusia adalah ibadah dalam arti yang luas meliputi syariat hakekat tarikat dan makrifat. Itu mengandaikan bahwa seseorang wajib memaknai hidupnya secara jelas dan tegas dengan menggunakan semua alat espistemologis yang ada: wahyu, ilmu pengetahuan, mata telinga, hati nurani dan akal budinya.

Kunci sukses dunia akhirat adalah bagaimana dia mengembangkan kreativitas. Dan kreativitas akan lahir bila seseorang menggunakan kekuatan otak kanannya. Untuk melatih penggunaan otak kanan, banyak cara. Salah satu  caranya adalah memilih apa saja yang alternatif yang tidak biasa dilalui dan dilakukan sehari-hari.  Masih banyak lagi cara sehingga apabila hal ini kita biasakan maka kita terbiasa untuk keluar dari pola-pola yang tetap dalam hidup kita.

“Kreativitas dekat dengan kegilaan” dan lakukan hal-hal yang gila dalam hidupmu. Jangan pernah takut dicap aneh-aneh, gendeng, edan, dan sebagainya. Kegilaan adalah laboratorium untuk mengeksplorasi  hidup semaksimal mungkin sehingga kita tahu sampai sebatas mana sesungguhnya bingkai kemampuan kita. Kita tidak akan pernah tahu batas kemampuan kita kalau belum mengetesnya sendiri. Keluarlah dari Zona Nyaman dan bergeraklah bebas!

20151225_095457-1

Semua nabi dan rasul adalah manusia-manusia yang sangat kreatif. Dia bisa mengetahui batas kemampuannya untuk hidup sehingga akhirnya Allah SWT memberikan mukjizat kepada mereka: Ibrahim A.S tidak mempan dibakar api, Muhammad SAW yang ahli bertapa di gua Hira bertemu dengan Jibril, Musa A.S bisa melewati laut tanpa tenggelam, Isa A.S bisa menghidupkan orang mati dan sebagainya.

Para nabi itu disiksa, dimusuhi, dilempari, dicaci maki dan dihina dengan permusuhan yang luar biasa yang belum pernah ada sebelumnya dalam lintasan sejarah kemanusiaan. Namun berkat keuletannya mengolah kreativitas kemanusiaannya dan akhirnya datang pertolongan Allah SWT: mereka tahan uji dengan kesabaran yang juga diluar batas kemanusiaan pada umumnya.

Selepas kepergian Nabi Muhammad SAW, tidak ada nabi baru. Artinya bahwa kualitas kenabian itu sudah sempurna. Kita hanya bisa mencerap dan menghayatinya garis  kualitas kenabian semenjak Adam A.S sampai Muhammad S.A.W secara utuh apabila kita menjadi manusia yang kreatif. Yaitu kreativitas untuk memaknai hidup kita masing-masing yang dimaksudkan untuk menjadi manusia yang sesuai dengan Kehendak AllAh SWT.

Maka kita perlu melahirkan manusia-manusia baru dalam diri kita sendiri-sendiri. Manusia baru itu adalah manusia yang taat pada perintah Allah SWT dan menjauhi larangannya dalam arti yang seluas-luasnya. Melaksanakan secara kaffah/utuh sempurna ibadah wajib dan sunnah-sunnah. Hidup adalah medan yang luas untuk berkarta semaksimal mungkin. Menjadi diri yang sadar kesejatiannya. Awas eling dan waspada semua fenomena dan gejala. Bahasa kita sangat terbatas untuk mengungkapkannya.

Maka sangat sepakat bila dalam bakti sosial kali ini acara ditutup oleh pengijasahan dari Bang Krisna Raka Mas Jambrong yaitu sebuah ilmu trawangan yang menurutku adlah ngelmu sidik paningal; mendengar suara-suara yang sejati dan melihat hal hal yang sejati hingga nanti kita sampai pada akhir hayat masing-masing yaitu menyatu dengan Dzat Yang Maha Segalanya…Yang Maha Mendengar dan yang Maha Melihat “Ya Sami’ Ya Bashir”

 Wassalamualaikum wr wb.

@Kwa,akhir 2015

Iklan