SYEKH JANGKUNG YANG PENUH KAROMAH: Catatan perjalanan KWA ke Makamnya di Pati Jawa Tengah


Istimewanya perjalanan ‘spiritual’ kali ini adalah mengunjungi makam seorang wali sakti mandraguna yang menjadi ikon/penanda kekuatan lelaku para ahli tirakat, wirid dan dzikir. Dialah makam Syekh Jangkung (Saridin) di Pati Jawa Tengah. Syekh Jangkung dikenal sebagai murid para wali: Sunan Kudus, Sunan Muria, dan Sunan Kalijaga (Syekh Malaya) — Syekh Jangkung memanggil gurunya ini dengan sebutan “guru sejati” 

img-20161126-wa0019

img-20161126-wa0022-1Karomah Syekh Jangkung bernama asli Saridin ini melegenda hingga saat ini. Terungkaplah apa rahasia dibalik sosok sederhana yang sejak kecil dikenal wali ‘njadab’ ini dalam ajaran Syekh Jangkung yang ditulis Syekh Jangkung yaitu “Suluk Saridin”.

Suluk ini adalah bukti bahwa Syekh Jangkung adalah sosok penyebar Agama Islam di wilayah Grobogan (masa hidup Syekh Jangkung muda dan wilayan Pati (ketika dewasa) dan sekitarnya. Ajaran-ajaran Islam yang diajarkan para gurunya diteladani dan disebarkan di desa-desa dari mulut ke mulut. Tuah karomah sejarah hidupnya menjadi daya tarik bagi orang-orang Jawa. Mereka yang awalnya beragama Budha, Hindu dan animisme berdatangan ke Syekh Jangkung untuk belajar agama Islam.

Namun Syekh Jangkung adalah sosok guru yang sederhana. Selama hidupnya dia memilih untuk menjadi seorang petani lugu yang tinggal di Desa Landoh, Pati hingga akhir hayatnya. Masa kecil, dia dipanggil Saridin alias Raden Syarifudin putra dari Raden Singa Parna (Syeh Syafi’i) bersama ibu Robi’ah Attaji (Sekar Tanjung). Makam beliau berada di Ds. Landoh kec. Kayen Kab. Pati. Disekitar makam tersebut juga terdapat beberapa makam: Makam istri-istri beliau RA. Retno Jinoli dan RA. Pandan Arum dan Makam bakul legen, Prayoguna dan Bakirah.

KWA mendapatkan kehormatan memakai blangkon asli yang pernah dipakai selama hidupnya oleh Syekh Jangkung dan duduk di tempat duduk beliau

KWA mendapatkan kehormatan memakai blangkon asli yang pernah dipakai selama hidupnya oleh Syekh Jangkung

LUGU DAN SEDERHANA Dikisahkan dalam  Babad Tanah Jawa dan kesaksian dari mulut ke mulut di masyarakat, semasa kanak-kanak Saridin adalah seseorang yang lugu dan karena keluguannya itu pula dia sering ditipu dan dimanfaatkan oleh orang lain.

Syahdan pada suatu hari, dia dan saudara iparnya yang bernama Branjung, diberi oleh orang tuanya warisan satu pohon durian yang banyak buahnya. Kesepakatan terjadi, Saridin memperoleh jatah duren yang jatuh pada saat malam hari, dan Branjung mendapat jatah duren yang jatuh siang hari. Tapi sesungguhnya itu kesepakatan itu hanya akal-akalan Branjung.  Saat malam tiba, Branjung menyamar sebagai harimau dengan tujuan menakut-nakuti Saridin mendekati pohon duren yang saat itu ditunggu Saridin.  Alih-alih berlari, Saridin  yang saat itu membawa batang pohon tebu memukul  sampai mati harimau yang datang padanya –padahal, Harimau itu tidak lain Branjung.

Berita kematian Branjung  dengan cepat menyebar ke seantero Pati. Saridin lah yang membunuh Branjung. Saridin pun diadili dan dihukum setimpal oleh pengadilan di Pati yaitu  penjara. Sadirin menjalani masa hukuman tersebut dengan sabar.

Keluar dari penjara setelah menjalani hukuman, Saridin mulai mencari ilmu dengan nyantri di pondok di Kudus yang saat itu diasuh oleh Sunan Kudus.

Himg-20161126-wa0016ubungan santri – kyai antara Saridin dan Sunan Kudus menghasilkan hubungan yang unik. Sunan Kudus mengakui bahwa Saridin adalah santri yang penuh karomah karena memiliki ilmu Kun Fayakun, ilmu Sabdo Dadi, apa yang diucapkan langsung terkabul.

Dikisahkan percakapan yang melegenda antara keduanya.

Sunan Kudus: “Apakah setiap air  harrus ada ikannya, Din?”

Saridin: “Ada, guru “

Mendengar jawaban dari Saridin, Sunan Kudus terheran-heran dan mengutus santri lain untuk mengambil pohon kelapa untuk membuktikan jawaban Saridin.

Begitu kelapa dipecah terjadilah keajaiban: di dalam batok kelapa itu  ada ikannya sungguhan.

Sunan Kudus diam-diam kagum dengan karomah Sarridin. Namun, dibalik kekagumannya itu, Sunan Kudus iri karena khawatir nantinya akan kalah popular dari Saridin. Namun rasa gengsi sang kyai tidak mungkin mengutarakan isi hatinya yang kagum.

Kejadian lain terkait karomah Saridin pada suatu ketika, di pondok Sunan Kudus ada kerja bakti mengisi bak mandi.  Para santri bahu membahu mengisinya dengan ember. Saridin yang berniat membantu harus kecewa karena ember sudah habis dipakai santri lain. Para Santri mengolok-olok Saridin agar membantu mengisi bak mandi namun menggunakan keranjang dari bambu yang jelas tidak mungkin bisa dipakai untuk menampung air.

Saridin yang lugu pun mengambil keranjang dan secepat kilat digunakannya keranjang itu untuk mengisi bak mandi. Sekali keranjang bambu dimasukkan air sumur dan diguyurkan ke bak mandi tiba-tiba bak mandi langsung terisi penuh. Semua santri terheran-heran, takjub dengan kejadian diluar akal ini.

Banyak karomah dari  Saridin membuat Sunan Kudus memutuskan untuk mengusir santri ini dari pondoknya. “Saridin orang yang suka pamer, di pondok ini untuk belajar agama Islam, bukan untuk pamer kesaktian” kata Sunan Kudus kepada  santri –santrinya.

Gundah gulana dalam pengusirannya, Saridin memutuskan untuk belajar langsung ke Syekh Malaya alias Sunan Kalijaga yang saat itu terkenal sebagai wali yang penuh karomah dan bijaksana. Dalam waktu singkat Saridin lulus dari belajar agama. Saridin memutuskan pulang ke desa asalnya dan mendirikan pondok  bersama anaknya.

Sebelum pulang, Saridin diberi nasehat dan wejangan kepada Saridin agar pandai-pandai menyimpan karomahnya. “Ngger anakku Saridin, kamu saya berikan gelar Syekh Jangkung yang artinya doa agar kamu bisa njangkung lan njampangi kaum disekitar tempat tinggalmu kelak. Semua karomahmu terjadi atas ijin Allah SWT dan simpanlah baik-baik karomahmu untuk berdakwah. Jangan pernah sombong dan mempertunjukkan karomahmu bila tidak perlu,” kata Sunan Kalijaga.

“Baik Bopo Guru Sejatiku,” kata Saridin.

Singkat cerita,  Saridin pulang ke kampung halamannya di Pati melintasi hutan roban yang saat itu sangat ditakuti karena kerajaan siluman. Banyak korban dari masyarakat yang hilang di hutan karena menjadi makanan siluman-siluman di hutan besar yang angker ini. Dalam waktu singkat Saridin berhasil mengalahkan raja siluman dan membuat masyarakat di sekitar hutan aman bisa membangun rumah-rumah di sana. Atas jasanya ini, raja Mataram saat itu menghadiahi Saridin dengan menikahi Retno Jinoli, kakak dari Sultan Agung.

Pasangan Saridin-Retno Jinoli ini akhirnya memiliki keturunan, sang anak yang dinamakan: Momok. Sedangkan Retno Jinoli dipanggil dengan panggilan kesayangan Mbokne Momok.

Dikisahkan, Saridin dan sang anak lelakinya, Momok membangun pondok pesantren di Desa Landoh –ini desa terakhir sampai Saridin wafat. Untuk menghidupi pondok, mereka babat alas dan membuat sawah serta menjadi petani. Untuk memudahkan pekerjaan, Saridin memiliki kerbau untuk membajak sawah.

Suatu hari, karena kelelahan dipakai untuk membajak sawah maka kerbau ini mati. Saridin pun datang dan meniup kepala kerbau. Ajaib, kerbau itu bangun dan hidup kembali. Kerbau itu disebut kerbau landoh –karena berasal dari kerbau Desa Landoh.  Kerbau yang didoakan saridin agar hidup kembali ini memang istimewa karena setelah kerbau ini benar-benar mati karena usia tua, bila seseorang memiliki jimat berupa sisa kulit dan tulang belulangnya maka seseorang itu bisa kebal terhadap semua jenis senjata.  Hingga saat ini, sisa bangkai kerbau landoh itu masih disimpan di museum sederhana di area makam Syekh Jangkung/ Saridin.

Di akhir hayatnya, Syekh Jangkung/Saridin  berpesan agar kelak kalau dirinya wafat maka kerbau landoh itu juga harus disembelih. Para santri dan keluarganya benar-benar melaksanakan pesan ini ketika Syekh Jangkung wafat. Daging kerbau landoh dibagi-bagikan ke warga sekitar pondok dan hingga saat ini kebiasaan membagi-bagikan daging kerbau itu masih dilestarikan masyarakat Pati bagian selatan khusunya desa Kayen, Sukolilo, Gabus, dan Winong.

Demikian sedikit riwayat hidup Syekh Jangkung dan akhirnya akan kita coba mengungkapkan inti dari pelajaran yang disampaikan beliau yang terangkum dalam Suluk Saridin/Syekh Jangkung berikut ini:

SULUK SARIDIN (SYEKH JANGKUNG) — –sebagaimana yang telah ditulis ulang oleh sahabat Mas Kumitir dalam blognya alangalangkumitir. —

Bismillah, wengi iki ingsung madep, ngawiti murih pakerti, pakertining budi kang fitri, sujud ingsun, ing ngarsané Dzat Kang Maha Suci. — Bismillah,malam ini hamba menghadap, mengawali meraih hikmah/ hikmah budi yang suci, hamba bersujud, di hadapan Keagungan Yang Mahasuci.

Bismillah ar-rahman ar-rahim, rabu mbengi, malam kamis, tanggal lima las, wulan poso, posoning ati ngilangi fitnah, posoning rogo ngeker tingkah. — Bismillâh ar-Rahmân ar-Rahîm, Rabu malam Kamis, tanggal 15 bulan Ramadhan, puasa hati menghilangkan fitnah, puasa raga mencegah tingkah buruk.

Bismillah, dhuh Pangeran Kang Maha Suci, niat ingsun ndalu niki, kawula kang ngawiti, nulis serat kang ingsun arani, serat Hidayat Bahrul Qalbi, anggayuh Sangkan Paraning Dumadi. — Bismillâh, wahai Tuhan Yang Mahasuci, niat hamba malam ini, hamba yang mengawali, menulis surat yang dinamai, surat Hidayat Bahrul Qalbi, untuk memahami asal tujuan hidup ini.

Bismillah, dhuh Pangeran mugi hanebihna, saking nafsu ingsun iki, kang nistha sipatipun, tansah ngajak ing laku drengki, ngedohi perkawis kang wigati. —- Bismillâh, wahai Tuhan semoga Engkau menjauhkan, dari nafsu hamba ini, yang buruk sifatnya, senantiasa mengajak berlaku dengki, menjauhi perkara yang baik.

Bismillah, kanthi nyebut asmaning Allah, Dzat ingkang Maha Welas, Dzat ingkang Maha Asih, kawula nyenyuwun, kanthi tawasul marang Gusti Rasul, Rasul kang aran Nur Muhammad, mugiya kerso paring sapangat, kanthi pambuka ummul kitab. — Bismillâh, dengan menyebut nama Allah, Dzat Yang Maha Pengasih, Dzat Yang Maha Penyayang, hamba memohon, melalui perantara Rasul, Rasul yang bernama Nur Muhammad, semoga berkenan memberi syafaat, dengan pembukaan membaca ummul kitab.

Sun tulis kersaneng rasa, rasaning wong tanah Jawa, sun tulis kersaneng ati, atining jiwa kang Jawi, ati kang suci, tanda urip kang sejati, sun tulis kersaning agami, ageming diri ingkang suci. — Hamba tulis karena rasa, perasaan orang tanah Jawa, hamba tulis karena hati, hati dari jiwa yang keluar, hati yang suci, tanda hidup yang sejati, hamba tulis karena agama, pegangan diri yang suci.

Kang tinulis dudu ajaran, kang tinulis dudu tuntunan, iki serat sakdermo mahami, opo kang tinebut ing Kitab Suci, iki serat amung mangerteni, tindak lampahé Kanjeng Nabi. —  Yang tertulis bukan ajaran,yang tertulis bukan tuntunan,surat ini sekadar memahami,apa yang tersebut dalam Kitab Suci,surat ini sekadar mengetahui,perilaku hidup Kanjeng Nabi.

Apa kang ana ing serat iki, mong rasa sedehing ati, ati kang tanpa doyo, mirsani tindak lampahing konco, ingkang tebih saking budi, budining rasa kamanungsan, sirna ilang apa kang dadi tuntunan.— Apa yang ada di surat ini,hanya rasa kesedihan hati,hati yang tiada berdaya,melihat sikap perilaku saudara,yang jauh dari budi,budi rasa kemanusiaan,hilang sudah apa yang menjadi tuntunan.

Mugi-mugi dadiho pitutur, marang awak déwé ingsun, syukur nyumrambahi para sadulur, nyoto iku dadi sesuwun, ing ngarsane Dzat Kang Luhur. — Semoga menjadi petunjuk,terhadap diri hamba sendiri,syukur bisa berguna untuk sesama, itulah yang menjadi permohonan,di hadapan Dzat Yang Mahaagung.

SYARIAT

Mangertiyo sira kabéh, narimoho kanthi saréh, opo kang dadi toto lan aturan, opo kang dadi pinesténan, anggoning ngabdi marang Pangeran — Mengertilah kalian semua,terimalah dengan segala kerendahan jiwa,terimalah dengan tulus dan rela,apa yang menjadi ketetapan dan aturan,apa yang telah digariskan,untuk mengabdi pada Keagungan Tuhan.

Basa sarak istilah ‘Arbi, tedah isarat urip niki, mulo kénging nampik milih, pundhi ingkang dipun lampahi, anggoning ngabdi marang Ilahi. — Istilah syarak adalah bahasa Arab,yang berarti petunjuk atau pedoman untuk menjalani kehidupan ‘agama’,untuk itulah diperbolehkan memilih,mana yang akan dijalani sesuai dengan kemampuan diri,guna mengabdi pada Keagungan Ilahi.

Saréngat iku tan ora keno, tininggal selagi kuwoso, ageming diri kang wigati, cecekelan maring kitab suci, amrih murih rahmating Gusti. — Apa yang telah di-syari‘at-kan hendaknya jangan kita tinggal,selama diri ini mampu untuk menjalankan,aturan yang menjadi pegangan hidup kita,aturan yang sudah dijelaskan dalam kitab suci al-Qur’an,Itu semua, tidak lain hanya usaha kita untuk mendapat rahmat, dan pengampunan dari Yang Maha Kuasa.

Saréngat iku keno dén aran, patemoné badan lawan lésan, ono maneh kang pepiling, sareh anggoné kidmat, nyembah ngabdi marang Dzat. –— Syariat juga diartikan, sebuah pertemuan antara badan dengan lisan,bertemunya raga dengan apa yang dikata,ada juga yang memberi pengertian,bahwa syariat adalah pasrah dalam berkhidmat,menyembah dan mengabdi pada Keagungan Yang Mahasuci.

Saréngat utawi sembah raga iku, pakartining wong amagang laku, sesucine asarana saking warih, kang wus lumrah limang wektu, wantu wataking wawaton. — Syari`at atau Sembah Raga itu,merupakan tahap persiapan, di mana seseorang harus melewati proses pembersihan diri,dengan cara mengikuti peraturan-peraturan yang ada,dan yang sudah ditentukan—rukun Islam.

Mulo iling-ilingo kang tinebut iki, sadat, sholat kanthi kidmat, zakat bondo lawan badan, poso sak jroning wulan ramadhan, tinemu haji pinongko mampu, ngudi luhuring budi kang estu. — Maka ingat-ingatlah apa yang tersebut di bawah ini, syahadat dengan penuh keihklasan, shalat dengan khusuk dan penuh ketakdhiman, mengeluarkan zakat harta dan badan untuk sesame, puasa pada bulan ramadhan atas nama pengabdian pada Tuhan, menunaikan ibadah haji untuk meraih kehalusan budi pekerti.

Limo cukup tan kurang, dadi rukune agami Islam, wajib kagem ingkang baligh, ngaqil, eling tur kinarasan, menawi lali ugi nyauri. — Lima sudah tersebut tidak kurang, menjadi ketetapan sebagai rukun Islam, wajib dilakukan bagi orang ‘Islam’ yang sudah baligh, berakal, tidak gila dan sehat, adapun, jika lupa menjalankan hendaknya diganti pada waktu yang lain.

Syaringat ugi kawastanan, laku sembah mawi badan, sembah suci maring Hyang, Hyang ingkang nyipto alam, sembahyang tinemu pungkasan. — Syariat juga dinamakan, melakukan penyembahan dengan menggunakan anggota badan, menyembah pada Keagungan Tuhan, Tuhan yang menciptakan alam, Sembah Hyang, begitu kiranya nama yang diberikan.

SYAHADAT

Sampun dados pengawitan, tiyang ingkang mlebet Islam, anyekseni wujuding Pangeran, mahos sadat kanthi temenan, madep-manteb ananing iman. —- Sudah menjadi pembukaan, bagi orang yang ingin masuk Islam, bersaksi akan wujudnya Tuhan, bersungguh-sungguh membaca syahadat, disertai ketetapan hati untuk beriman.

Asyhadu an-lâ ilâha illâ Allâh wa asyhadu anna Muhammad Rasulullah, Tinucapo mawi lisan, Sareh legowo tanpa pameksan, Mlebet wonten njroning ati, Dadiho pusoko anggoning ngabdi. — Asyhadu an-lâ ilâha illâ Allâh wa asyhadu anna Muhammad Rasulullah, ucapkanlah dengan lisan, penuh kesadaran tanpa paksaan, masukkan maknanya ke dalam hati, semoga menjadi pusaka untuk terus mengabdi.

Tan ana Pangeran, kang wajib dén sembah, kejawi amung Gusti Allah, semanten ugi Rasul Muhammad, kang dadi lantaran pitulungé umat. — Hamba bersaksi bahwa tak ada tuhan, yang wajib disembah, kecuali Allah swt, begitu pula dengan Nabi Agung Muhammad saw, yang menjadi perantara pertolongan umat.

SHALAT

Syarat limo ajo lali, kadas najis, badan kedah suci, nutup aurat kanti kiat, jumeneng panggonan mboten mlarat, ngerti wektu madep kiblat, sampurno ingkang dipun serat. — Lima syarat jangan lupa, badan harus suci dari hadats dan najis, menutup aurat jika tidak kesulitan, dilaksanakan di tempat yang suci, mengerti waktu untuk melakukan shalat, lalu menghadap kiblat, sempurna sudah yang ditulis.

Wolu las kang dadi mufakat, rukun sahe nglakoni shalat, niat nejo, ngadek ingkang kiat, takbir banjur mahos surat, al-fatihah ampun ngantos lepat. — Delapan belas yang menjadi mufakat, rukun sahnya menjalankan shalat, niat melakukan shalat, berdiri bagi kita yang mampu, mengucapkan takbiratul ikhram membaca surat, al-Fatichah jangan sampai keliru.

Rukuk, tumakninah banjur ngadek, aran iktidal kanti jejek, tumakninah semanten ugi, banjur sujud tumurun ing bumi, sareng tumakninah ingkang mesti, kinaranan ing tumakninah, meneng sedelok sak wuse obah. — Rukuk dengan tenang lalu berdiri, disebut i’tidal dengan tegap, hendaknya juga tenang seperti rukuk, lalu sujud turun ke bumi, bersama thumakninah yang benar, dinamakan thumakninah, diam sebentar setelah bergerak.

Sewelas iku lungguh, antarane rong sujudan, tumuli tumakninah, kaping telulas lungguh akhir, banjur maos pamuji dikir. — Sebelas itu duduk, di antara dua sujud, disertai thumakninah, tiga belas duduk akhir, lalu membaca pujian dzikir.

Limolas iku moco sholawat, kagem Gusti Rosul Muhammad, tumuli salam kang kawitan, sertane niat rampungan, tertib sempurna dadi pungkasan. —- Lima belas membaca shalawat, kepada Rasul Muhammad, kemudian salam yang pertama, bersama niat keluar shalat, tertib menjadi kesempurnaan.

ZAKAT

Zakat iku wus dadi prentah, den lampahi setahun pindah, tumprap wong kang rijkine torah, supados bersih awak lan bondo, ojo pisan-pisan awak déwé leno. —- Zakat sudah menjadi perintah, dilakukan setahun sekali, bagi orang yang hartanya berlimpah, supa bersih raga dan harta, jangan sekali-kali kita lupa.

Umume wong dho ngenthoni, malem bodho idul fitri, zakat firah den arani, bersihaké badan lawan ati, zakat maal ugo mengkono, nanging kaprahing dho orak lélo. — Umumnya orang mengeluarkan, malam Hari Raya Idul Fitri, zakat fitrah dinamai, membersihkan raga dan hati, zakat harta juga begitu, namun umumnya pada tidak rela.

Ampun supé niating ati, nglakoni rukun pardune agami, lillahi ta`ala iku krentekno, amrih murih ridaning Gusti, supados dadi abdi kang mulyo. — Jangan lupa niat di hati, menjalankan rukun fradhunya agama, karena Allah tanamkanlah, untuk mendapat keridhaan-Nya, supaya menjadi hamba yang mulia.

PUASA

Islam, balék, kiat, ngakal, papat sampun kinebatan, wonten maleh ingkang lintu, Islam, balék lawan ngakal, dados sarat nglampahi siam. — Islam, baligh, kuat, berakal, empat sudah disebutkan, ada juga yang mengatakan, Islam, baligh, dan berakal, menjadi syarat menjalankan puasa.

Kados sarat rukun ugi sami, kedah dilampai kanthi wigati, niat ikhlas jroning ati, cegah dahar lawan ngombé, nejo jimak kaping teluné, mutah-mutah kang digawé. —- Seperti syarat, rukun juga sama, harus dijalanlan dengan hati-hati, niat ikhlas di dalam hati, mencegah makan dan minum, jangan bersetubuh nomor tiga, jangan memuntahkan sesuatu karena sengaja.

Papat jangkep sampun cekap, dadus sarat rukuné pasa, ngatos-ngatos ampun léna, mugiyo hasil ingkang dipun seja, tentreming ati urip kang mulya. — Empat genap sudah cukup, menjadi syarat rukunnya puasa, hati-hati jangan terlena, semoga berhasil apa yang diinginkan, tentramnya hati hidup dengan mulia.

HAJI

Limo akhir dadi kasampurnan, ngelampahi rukun parduné Islam, bidal zaroh ing tanah mekah, menawi kiat bandane torah, lego manah tinggal pitnah kamanungsan. —  Lima terakhir menjadi kesempurnaan, menjalankan rukun fardhunya Islam, pergi ziarah ke tanah Makah, jika kuat dan hartanya berlimpah, hati rela menjauhi fitnah kemanusiaan.

Pitu dadi sepakatan, sarat kaji kang temenan, Islam, balik, ngakal, merdeka, ananing banda lawan sarana, aman dalan sertané panggonan. — Tujuh jadi kesepakatan, syarat haji yang betulan, Islam, baligh, berakal, merdeka, adanya harta dan sarana, aman jalan beserta tempat.

Ikram sertané niat, dadi rukun kang kawitan, wukuf anteng ing ngaropah, towaf mlaku ngubengi kakbah, limo sangi ojo lali, sopa marwah pitu bola-bali. — Ikhram beserta niat, menjadi rukun yang pertama, thawaf berjalan mengelilingi ka‘bah, lima sa’i jangan lupa, safa-marwah tujuh kali.

THARIQAT

Muji sukur Dzat Kang Rahman, tarékat iku sak dermo dalan, panemoné lisan ing pikiran, nimbang nanting lawan heneng, bener luputé sira kanthi héling. — Puji syukur Dzat Yang Penyayang,tarekat hanyalah sekadar jalan,bertemunya ucapan dalam pikiran,menimbang memilih dengan tenang,benar tidaknya engkau dengan penuh kesadaran.

Tarékat ugi kawastanan, sembah cipto kang temenan, nyegah nafsu kang ngambra-ambra, ngedohi sipat durangkara, srah lampah ing Bathara. — Tarekat juga dinamakan, sembah cipta yang sebenarnya, mencegah nafsu yang merajalela, menjauhi sifat keburukan, berserah di hadapan Tuhan.

Semanten ugi aweh pitutur, makna tarékat ingkang luhur, den serupaaken kados segoro, minongko saréngat dadus perahu, kang tinemu mawi ngélmu. — Kiranya juga memberi penuturan,makna tarekat yang luhur,diibaratkan laksana samudera,dengan syariat sebagai perahunya,yang ditemukan dengan ilmu.

Mila ampun ngantos luput, dingin nglampahi saréngat, tumuli tarékat menawi kiat, namung kaprahé piyambak niki, supe anggenipun ngawiti. — Maka jangan sampai keliru, mendahulukan menjalani syariat, kemudian tarekat jika mampu, namun umumnya kita ini, lupa saat memulai.

Mila saksampunipun, dalem sawek sesuwunan, mugiya tansah pinaringan, jembaring dalan kanugrahan, rahmat welas asihing Pangeran. — Maka setelahnya, hamba senantiasa memohon, semoga terus mendapat, lapangnya jalan anugerah, cinta dan kasih sayang Tuhan.

SYAHADAT

Lamuno sampun kinucapan, rong sadat kanthi iman, kaleh puniko dereng nyekapi, kangge ngudari budi pekerti, basuh resék sucining ati. —- Jika sudah diucapkan, dua syahadat dengan iman, dua ini belumlah cukup, untuk mengurai budi pekerti, membasuh bersih sucinya hati.

Prayuginipun ugi mangertosi, sifat Agungé Hyang Widhi, kaleh doso gampil dipun éngeti, wujud, kidam lawan baqa, mukalapah lil kawadisi. — Seyogyanya juga mengerti, sifat Keagungan Tuhan, dua puluh mudah dimengerti, wujud, qidam, dan baqa, mukhalafah lil hawâdis.

Limo qiyam binafsihi, wahdaniyat, kodrat, irodat, songo ilmu doso hayat, samak basar lawan kalam, pat belas iku aran kadiran — Lima qiyâmuhu bi nanafsihi, wahdaniyat, qodrat, iradat, sembilan ilmu, sepuluh hayat, sama&lsquo, bashar, kalam, empat belas qadiran.

Muridan kaping limolas, aliman, hayan pitulasé, lawan samian ampun supé, banjur basiron madep manteb, mutakalliman ingkang tetep. — Muridan nomor lima belas, aliman, hayan nomor tujuh belas, kemudian samian jangan lupa, terus bashiran dengan mantab, mutakalliman yang tetap.

Nuli papat kinanggitan, dadi sifat mulyané utusan, sidik, tablik ora mungkur, patonah sabar kanthi srah, anteng-meneng teteping amanah. — Kemudian empat disebutkan, menjadi sifat kemuliaan utusan, sidiq, tabligh tidak mundur, fathanah sabar dengan berserah, diam tenang bersama amanah.

Kaleh doso sampun kasebat, mugiyo angsal nikmating rahmat, tambah sekawan tansah ingeti, dadiho dalan sucining ati, ngertosi sir Hyang Widhi. —- Dua puluh sudah disebut, semoga mendapat nikmatnya rahmat, ditambah empat teruslah ingat, jadilah jalan mensucikan hati, mengetahui rahasia Yang Mahasuci.

SHALAT

Limang waktu dipun pesti, nyekel ngegem sucining agami, agami budi kang nami Islam, rasul Muhammad dadi lantaran, tumurune sapangat, rahmat lan salam. — Lima waktu sudah pasti, memegang kesucian agama,agama budi yang bernama Islam,rasul Muhammad yang menjadi perantara,turunnya pertolongan, rahmat, dan keselamatan.

Rino wengi ojo nganti lali, menawi kiat anggoné nglampahi, kronten salat dadi tondo, tulus iklasing manah kito, nyepeng agami tanpo pamekso. — Siang malam jangan lupa, jika kuat dalam menjalani, karena shalat menjadi tanda, tulus ikhlasnya hati kita, mengikuti agama tanpa dipaksa.

Ngisak, subuh kanthi tuwuh, tumuli luhur lawan asar, dumugi maghrib ampun kesasar, lumampahano srah lan sabar, jangkep gangsal unénan Islam.— Isyak, Shubuh dengan penuh, kemudian Luhur dan Ashar,sampai Maghrib jangan kesasar, jalanilah dengan pasrah dan sabar, genap lima disebut Islam.

Kanthi nyebut asmané Allah, Sak niki kita badé milai, ngudari makna ingkang wigati, makna saéstu limang wektu, pramila ingsun sesuwunan, tambahing dungo panjengan. — Dengan menyebut nama Allah, sekarang kita akan mulai, mengurai makna yang tersembunyi,makna sesungguhnya lima waktu,karenanya hamba memohon,tambahnya doa Anda sekalian.

ISYAK

Sun kawiti lawan ngisak, wektu peteng jroning awak, mengi kinancan cahya wulan, sartané lintang tambah padang, madangi petengé dalan. — Hamba mulai dengan isyak,waktu gelap dalam jiwa,malam bersama cahaya bulan,bersanding bintang bertambah terang,menerangi gelapnya jalan.

Semono ugi awak nira, wonten jroning rahim ibu, dewekan tanpa konco, amung cahyo welasing Gusti, ingkang tansah angrencangi. — Seperti itu jasad kamu,di dalam rahim seorang ibu,sendirian tanpa teman, hanya cahaya kasih Tuhan, yang senantiasa menemani.

SHUBUH

Tumuli subuh sak wusé fajar, banjur serngéngé metu mak byar, padang jinglang sedanten kahanan, sami guyu awak kinarasan, lumampah ngudi panguripan. — Kemudian shubuh setelah fajar,lalu matahari keluar bersinar,terang benderang semua keadaan,bersama tertawa badan sehat,berjalan mencari kehidupan.

Duh sedulur mangertiya, iku dadi tanda lahiring sira, lahir saking jroning batin, batin ingkang luhur, batin ingkang agung. —  Wahai saudara mengertilah, itu menjadi tanda kelahiranmu, lahir dari dalam batin, batin yang luhur, batin yang agung.

ZHUHUR

Luhur teranging awan, tumancep duwuring bun-bunan, panas siro ngraosaké, tibaning cahyo serngéngé, lérén sedélok gonmu agawé. — Zhuhur terangnya siang,menancap di atas ubun-ubun, panas kiranya kau rasakan, jatuhnya cahaya matahari, berhenti sebentar dalam bekerja.

Semono ugo podho gatékno, lumampahing umur siro, awet cilik tumeko gedé, tibaning akal biso mbedakké, becik lan olo kelakuné. —  Seperti itu juga pahamilah, perjalanan hidup kamu,dari kecil hingga dewasa,saat akal bisa membedakan, baik dan buruk perbuatanmu.

ASHAR

Ngasar sak durungé surup, ati-ati noto ing ati, cawésno opo kang dadi kekarep, ojo kesusu ngonmu lumaku, sakdermo buru howo nepsu. — Ashar sebelum terbenam, hati-hatilah menata hati, persiapkan apa yang menjadi keinginan, jangan tergesa-gesa kamu berjalan,hanya sekadar menuruti hawa nafsu.

Mulo podho waspadaha, dho dijogo agemaning jiwa, yo ngéné iki kang aran urip, cilik, gedé tumeko tuwo, bisoho siro ngrumangsani, ojo siro ngrumongso biso. — Maka waspadalah, jagalah selalu pegangan jiwa,ya seperti ini yang namanya hidup, kecil, besar, sampai tua,bisalah engkau merasa,janganlah engkau merasa bisa.

MAGHRIB

Maghrib kalampah wengi, serngéngé surup ing arah kéblat, purna oléhé madangi jagad, mego kuning banjur jedul, tondo rino sampun kliwat. —  Maghrib mendekati malam,matahari terbenam di arah kiblat, selesai sudah menerangi dunia, mega kuning kemudian keluar, tanda siang sudah terlewat.

Duh sedérék mugiyo melok, bilih urip mung sedélok, cilik, gedé tumeko tuwa, banjur pejah sak nalika, wangsul ngersané Dzat Kang Kuwasa. — Wahai saudara saksikanlah, bahwa hidup hanya sebentar, kecil, besar, sampai tua, kemudian mati seketika, kembali ke hadapan Yang Kuasa.

ZAKAT

Lamuno siro kanugrahan, pikantuk rijki ora kurang, gunakno kanthi wicaksono, ampun supé menawi tirah, ngedalaken zakat pitrah. — Jika engkau diberi anugerah, mendapat rezeki tidak kurang, gunakanlah dengan bijaksana, jangan lupa jika tersisa, mengeluarkan zakat fitrah.

Zakat lumantar ngresiki awak, lahir batin boten risak, menawi bondo tasih luwih, tumancepno roso asih, zakat mal kanthi pekulih. — Zakat untuk membersihkan diri, lahir batin tidak rusak, jika harta masih berlimpah, tanamkanlah rasa belas kasih, zakat kekayaan tanpa pamrih.

Pakir, miskin, tiyang jroning paran, ibnu sabil kawastanan, lumampah ngamil, tiyang katah utang, rikab, tiyang ingkang berjuang, muallap nembé mlebu Islam. — Fakir, miskin, orang berpergian,ibn sabil dinamakan,kemudian amil, orang yang banyak hutang, budak, tiyang ingkang berjuang,muallaf yang baru masuk Islam.

Zakat nglatih jiwo lan rogo, tumindak becik kanthi lélo, ngraosaken sarané liyan, ngudari sifat kamanungsan, supados angsal teteping iman. — Zakat melatih jiwa dan raga,menjalankan kebajikan dengan rela,merasakan penderitaan sesame,mengurai sifat kemanusiaan, supaya mendapat tetapnya iman.

PUASA

Posoning rogo énténg dilakoni, cegah dahar lan ngombé jroning ari, ananging pasaning jiwa, iku kang kudhu dén reksa, tumindak asih sepining cela.— Puasa badan mudah dilakukan,mencegah makam dan minum sepanjang hari,namun puasa jiwa,itu yang seharusnya dijaga,menebar kasih sayang menjauhi pencelaan.

Semanten ugi pasaning ati, tumindak alus sarengé budi, supados ngunduh wohing pakerti, pilu mahasing sepi, mayu hayuning bumi. — Demikian pula puasa hati, sikap lemah lembut sebagai cermin kehalusan budi, supaya mendapat kebaikan sesuai dengan apa yang dingini, tiada harapan yang diinginkan, kecuali hanya ketentraman dan keselamatan dalam kehidupan.

HAJI

Kaji dadi kasampurnan, rukun lima kinebatan, mungguhing danten tiyang Islam, zarohi tanah ingkang mulyo, menawi tirah anané bondo. — Haji menjadi kesempurnaan,rukum lima yang disebutkan, untuk semua orang Islam, mengunjungi tanah yang mulia, jika ada kelebihan harta.

Nanging ojo siro kliru, mahami opo kang dén tuju, amergo kaji sakdermo dalan, dudu tujuan luhuring badan, pak kaji dadi tembungan. — Tapi janganlah engkau keliru,memahami apa yang dituju,karena haji hanya sekadar jalan,bukan tujuan kemuliaan badan, jika pulang dipanggil Pak Haji.

Kaji ugi dadi latihan, pisahing siro ninggal kadonyan, bojo, anak lan keluarga, krabat karéb, sederek sedaya, kanca, musuh dho lélakna. — Haji juga untuk latihan, perpisahanmu meninggalkan keduniaan, istri, anak, dan keluarga,karib kerabat, semua saudara, teman dan musuh relakanlah.

@kwa,2016

Iklan

PENGASIHAN KHAROMAH NABIYULLAH YUSUF AS


artikel kiriman
kadir embun jalilu
kadirembunjalilu@gmail.com

Ilmu langkah dan bila tidak terbukti silahkan hapus nama saya dari pertemanamu.
Ilmu ini bermahar, maharnya Al Fatihah 33 untuk saya dan bila anda telah berhasil silahkan juga maharkan minimal 1 jt,ckckck…. Dipakai untuk mandi boleh selamanya karena ilmu pengasihan mengalahkan ilmu kedikdayaan.
Ini bukan ilmu panggerung,pangabarang jadi tidak menghalangi datangnya rezki bahkan rezki anda juga akan bersinar.

CARANYA:
Sebelum mandi ketika memandang air,ucapkan salam ;
Assalamualaikum ya Nabiyullah Khidir as,
Assalamualaikum ya Nabiyullah Yusuf as,
Assalamualaikum ya Nafsi (sebut nama anda).
Al fatihah 1x.
Ambil air segayung,lalu bacalah ;
* { HA_MIM,13 x.
INNI...nama anda…,ROAETU AHADA ASYARA KAOBANG WASSYAMSAH WALKAMARA…nama target…,bila untuk umum cukup baca,dan semua orang yang memandanku…ROAETUHUMLII SAAJIDIN },3x #.
Tiup airnya lalu baca lagi,YAA BUDDUHUN 21x,tiup airnya lagi lalu siram bahu kanan.
Ambil lagi air segayung lalu bacakan ayat yang terdapat antara tanda * & # dengan cara yang sama,lalu bacakan lagi asma YAA ROHIM 11x,tiup lagi airnya lalu siram bahu kiri.
Ambil lagi air segayung lalu baca ayat yang terdapat dalam tanda * & # dengan cara yang sama,lalu baca asma ALLAH 7x,tiup lagi airnya lalu siram kepala.
Mandilah seperti biasa sambil zikirkan dalam hati kalimat ini sampai akhir mandi :
INNA RABBI LATIFUNLLIMA YASYAAAU,INNAHU HUWAL ALIIMUL HAKIIM.
Akhiri mandi,ambil air segayung lalu bacakan :
…sebut nama anda dalam hati…,MIN KABELU BILBAYYINATI,FALAMMA ROAENAHU...nama target…bila untuk khusus kalau untuk umum langsung sambung saja ayatnya,AKBARNAHU WAQOTHO’NA AEDIYAHUNNA,WAKULNA HAASYA LILLAHI MAA HAAZAA BASYARAN,INNA HAAZAAA ILLA MALAKUNG KARIIM,3x lalu tiup airnya dan siram kepala.
Ketika menyiram kepala baca dalam hati :
WALLAHU GALIBUNG ALAAA AMERIHII.

Lakukan minimal 7 hari untuk pengasihan khusus,maksimal 21 hari.

Untuk umum lalukan selamanya karena amalan ini juga dapat meningkatkan IQ.

@KWA,2016

PEMBERIAN GELAR MASTER KWA ANGKATAN 54


SEBAGAI TANDA RASA PERSAUDARAAN YANG PENUH CINTA MAKA KAMPUS WONG ALUS MEMBERIKAN  GELAR  KEPADA PESERTA PROGRAM PELATIHAN MASTER KWA ANGKATAN LIV / 54 YANG DISELENGGARAKAN PADA 25 DAN 27 NOVEMBER 2016 BERTEMPAT DI MAKAM SYEKH JANGKUNG PATI, MAKAM KI AGENG SELO GROBOGAN DAN DI SIDOARJO DENGAN GELAR:

KI DIPATI JATMIKO (SURABAYA)

KI DIPATI HERU  (TERNATE)

SEMOGA PELATIHAN MASTER KWA INI BERMANFAAT UNTUK KITA SEMUA DALAM NAUNGAN RIDHO ALLAH SWT. AMIN.

HORMAT KAMI, SALAM PASEDULURAN.

wongalus

@@@

DOA PENYEMPURNA RIYADHOH ILMU DAN AMALAN AGAR ‘MANJING’/MERASUK KE BADAN


Doa ini biasa saya gunakan usai melakukan riyadhoh/tirakat agar ilmu apapun yang saya riyadhohi bermanfaat dan berkah. Saya yakin bahwa Allah pasti mendengar doa yang saya panjatkan dan saya yakin semua ilmu yang saya riyadhohi manjing/merasuk ke badan.

Baca  doa tersebut sambil jari telunjuk dimasukkan ke segelas air putih. Setelah selesai membaca maka saya tiup segelas air itu dan selanjutnya saya minum separuh dan separuhnya dibuat mandi.

berikut doanya:

Allohulladzii kholaqa sab’a samaawaatin waminaal ardhi mitslahunna yatanazzalul amru baynahunna lita’lamuu annallooha ‘alaa kulli syay-in q0diiruw wa annallooha qod ahatho bikulli syay-in ‘ilmaan.

Artinya adalah: Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu.

Demikian ritual yang saya biasa lakukan, semoga bermanfaat. Terima kasih dan salam paseduluran.

@wongalus,2016

 

RENUNGAN PAGI


Walillaahi maa fii alssamaawaati wamaa fii al-ardhi liyajziya alladziina asaauu bimaa ‘amiluu wayajziya alladziina ahsanuu bialhusnaa

Dan hanya kepunyaan Allah-lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi supaya Dia memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat jahat terhadap apa yang telah mereka kerjakan dan memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik dengan pahala yang lebih baik (syurga).
Alladziina yajtanibuuna kabaa-ira al-itsmi waalfawaahisya illaa allamama inna rabbaka waasi’u almaghfirati huwa a’lamu bikum idz ansya-akum mina al-ardhi wa-idz antum ajinnatun fii buthuuni ummahaatikum falaa tuzakkuu anfusakum huwa a’lamu bimani ittaqaa

(Yaitu) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji yang selain dari kesalahan-kesalahan kecil. Sesungguhnya Tuhanmu maha luas ampunanNya. Dan Dia lebih mengetahui (tentang keadaan)mu ketika Dia menjadikan kamu dari tanah dan ketika kamu masih janin dalam perut ibumu; maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.

QS An Najm 31-32

ISIM NARIYAH


artikel kiriman:
Bajang Lombok
muhrikaizi@gmail.com

Salam hormat buat sesepuh kampus wong alus dan juga kepada semua kelurga besar kwa dimana saja berada. Dengan ini ijinkan saya yang doif ini berbagi sedikit pengetahuan tentang  isim nariyah yang saya nukil dari kitab al ajnas  halaman 41. Isim nariyah ini tertulis dihatinya matahari , isim nariyah ini sangat ampuh untuk menghancurkan jin yang jahat, mengganggu, jangan dibaca didekat orang yang mempunyai khodam karena akan menyiksanya ( khodamnya ) isim naryah ini berpungsi insya alloh  untuk perlindungan dari segala macam kejahatan, kebal segala jenis senjata  ,melindungi rumah dari pencurian,untuk mahabbah,menghancurkan santet,mengobati kesurupan dan lain- lain sesuai niat .

Cara mengamalkannya cukup dibaca 100 kali selama ,7 malam sehabis shalat hajat,setelah selesai yang 7 malam tingal diamalkan baca 1/3 kali sehabis sholat ,5 waktu , sewaktu mengamalkannya jangan memakan makanan dan minuman yang haram baik itu zatnya maupun cara mendapatkannya dan jangan memakan atau meminum yang keluar dari makhluk yang beryawa misalnya daging,ikan,susu,telur,madu.  untuk tawassulnya,1).nabi muhammad saw beserta semua keluarganya 2).kedua ibu dan bapak 3).semua kaum muslimin dan muslimat ,mukminin dan mukminat 4).diri sendiri .

Jangan heran nanti waktu sedang mengamalkan karena napas yang keluar dari mulut atau hidung terasa panas, sekujur tubuh juga terasa panas, itu menandakan energi isim nariayahnya  sedang meyelaraskan diri dengan tubuh,Bila energi isim nariyahnya sudah menyatu, insya alloh waktu mengamalkan tubuh akan terasa dingin, sejuk, napas yang keluar dari hidung atau mulut akan terasa sejuk.
Pesan saya, bila sudah mengamalkan isim nariyah ini jangan sombong/takabur. ringan tangan untuk membantu sesama, bila ada orang  minta tolong pengobatan jangan patok tarip/bayaran, bila dikasih terima dan bila tidak dikasih jangan minta, ikhlas saja.
Untuk lebih mantap dalam menguasai isim nariyah ini sering –  seringlah bangun sholat tahajjud  dan urutan tata cara mengamalkan:
1 ).sholat hajat / tahajjud
2 ).baca tawassul seperti di atas,lalu membaca sholawat atas nabi dan keluarganya(allo humma sholli ala muhammad wa ali muhammad ) baca 11 kali , lalu membaca ( allo humma inni as aluka bihaqqi muhammadin  wa ali muhammad ) baca 3 kali, lalu berdo,a kepada alloh swt. Supaya isim nariyah yang akan diamalkan ini menyatu dengan tubuh kita dan supaya kita mendapatkan keberkahannya.
3 ). Setelah itu barulah mulai  mengamalkan isim naryahnya.
Semoga ini semua dihitung sebagai ladang amal sholeh  khususnya  bagi saya dan keluarga saya dan bagi kita semua, silahkan di amalkan untuk kebaikan. Inilah dia isim nariyahnya.

== AD UUKUM YA MAKSYAROL ARWAHUTTOHIROTIL MUTHI ATILLAHIROBBIL ALAMIN, BIL ASMAA ILLATI KHOLAQOKUMULLOHUBIHA WAHIAL MAKTU BATU ALA PALAKISSYAMSI BISYAHSYAHIN HAILIN THOSIKIN THOSYI ILIN BIWAHIN YA SHOIMAWIYYIN YA WAIUDIN BAHYALYUHIN ARKAYAZHIN BAHYABUHIN HAIBUHIN NURIN NURIN HAISABUHIN KASYROYAWABIN SYALHUBIN YAKNASYAQUMIN YAKLASYAQUMIN BAKLASYAQUMIN ALSYAQUMIN  SYAUSHOLIN HAIBARSYIN YAD UBIN  TABAROKA NURONNUR  MUDABBIROL UMUR  QOSYIMAL JABAABIROTI  HAIKHIN  AJIBUNI YA MAKSYARONNARIYATI BIHAQQI  MASABAHTABIHIL MALAIKATU PILAKISSYAMSI ==

@kwa,2016

ASMAK TAZALZALAT – IJASAHAN


Bismillahirrohmanirrohim, di pagi yang penuh berkah ini saya ijasahkan  Asmak Tazalzalat dengan hak dan sempurna atas ijin Allah SWT.

Tawassul/kirim Al Fatihah sebagaimana biasa. Mulai Nabi Muhammad SAW, dst.
Akan lebih elok bila Anda juga kirim pengijasah.

Doanya:

Bihaamiim Ainin Tsumma Siinin Waqoofihaa Himayatunaa Minhal Hibaalu Tazalzalat. 

313 x

Amalkan selama 7 hari. Jam, waktu dan  tempat pengamalan bebas.

Asmak ini fadhilahnya sangat besar. Orang yg tujuan jahat/jelek akan merasakan gempa bumi dan tiba-tiba dia merasakan ketakutan bila mendekati kita. Bahkan ada pula yang langsung jatuh tersungkur /lumpuh sebelum orang jahat melakukan aksinya Jadi bersifat pageran/pemagaran/perlindungan diri dari gendam hipnotis, teluh, tenung, santet, perampokan, penjambretan, dan lain-lain.

Usai mengamalkan, bila ingin ada perlindungan cukup dibaca 1 x tahan napas. Namun tidak dibaca pun tidak apa-apa. Insya alloh kita sudah terlindungi atas ijin Allah orang yang berniat buruk.

Ijasah selesai sempurna.

@kwa,2016

REPORTASE KUNJUNGAN KE MAKAM EYANG DJOJODIGDO, PATIH BLITAR, PEMILIK AJIAN PANCASONA


Beberapa hari yang lalu, saya ditemami para alumni Master KWA berkunjung ke Pesanggrahan Djojodigdan di Blitar yang di dalamnya terdapat makam Raden Ngabehi Bawadiman Djojodigdo, Patih Blitar masa kolonial 1877-1895. Beliau ini adalah pemilik ajian Pancasona sehingga makamnya harus digantung di atas tanah agar bisa wafat. Kebalikannya, beliau akan hidup kembali bila jasadnya menyentuh tanah.

img-20161104-wa0047Pesanggrahan yang terletak di Jl. Melati No 43 itu sudah sepi meski jarum jam baru menunjuk ke angka 9 malam. Satu dua mobil melintas di jalan depan pagarnya. Pintu pagar pesanggaran terkunci rapat. Saya mengetuk pintu pagar tiga kali, tidak ada tanda-tanda penunggunya keluar.

Seseorang penjual makanan di depan pesanggaran kita datangi untuk kita mintai tolong mengantarkan ke penunggu pesanggrahan (juru kunci). Sejurus kemudian, dia datang dari kegelapan bersama juru kunci; suami isteri yang sudah berusia 60 an.

20161104_224637Sehari-hari, pagar pesanggaran jarang terbuka lebar, Hanya terbuka sebagian untuk keluar masuk tamu yang datang. Di tengah pekarangan yang luas, terdapat satu rumah induk berarsitektur rumah jawa lama. Di dalamnya masih lengkap perabot meja kursi, foto-foto dan sebagainya. Masuk ke rumah itu, kita akan terasa kembali ke masa silam ketika Indonesia berada di era Hindia Belanda.

Pesanggrahan itu dulunya adalah Dalem Kepatihan atau rumah tempat tinggal Patih (Sekarang Wakil Bupati red.) Bangunan rumah itu hingga kini masih kokoh padahal didirikan pada tahun 1892 alias sudah berusia 124 tahun. Pengunjung dapat memasuki bagian dalam dari dalem kepatihan melalui pintu belakang, dengan didampingi oleh juru pelihara.

Di gedung ini, tersimpan berbagai perabot rumah tangga dari keluarga Patih Blitar, Djojodigdo seperti meja kursi, payung pusaka, ranjang, gentong penyimpan beras, genealogi, dan koleksi foto keluarga Eyang Djojodigdo.

kwa4Di antara foto-foto tersebut terdapat foto salah satu tokoh nasional R. A. Kartini. Djojodigdo merupakan mertua dari R. A. Kartini. Salah satu putera beliau yang bernama KRMAA. Singgih Djojo Adhiningrat menjadi Bupati Rembang. Beliau adalah suami dari R. A. Kartini, pahlawan nasional RI.

Puas berada di dalam gedung, kami lanjutkan dengan berjalan ke belakang untuk berziarah ke makam Djojodigdo, yang terletak di pojok belakang pekarangan pesanggahan. Di Blitar, makam ini dikenal dengan nama “makam gantung”

kwa3Makam Djojodigdo berada di antara makam-makam keluarga besarnya. Namun, bentuk makam beliau paling mencolok yaitu di atas pusara terletak sebuah cungkup berbentuk unik. Keberadaan cungkup inilah yang mungkin membuat makam ini disebut sebagai Makam Gantung.

Menurut penuturan penjaga, disebut makam gantung karena jasad Djojodigdo diletakkan dalam peti besi yang disangga dengan empat tiang sebelum diurug dengan tanah. Sedangkan pada bagian dalam cungkup atas makam itulah tersimpan busana kebesaran, pusaka-pusaka, dan ilmu Pancasona milik Djojodigdo.

Siapakan Eyang Djojodigdo?

djoRaden Ngabehi Bawadiman Djojodigdo lahir di Yogyakarta pada 29 Juli 1827, dengan gelar kebangsawanan R. Ng. (Raden Ngabehi). Pada usia 12 tahun beliau meninggalkan Yogyakarta menyusul paman beliau yang menjabat sebagai Bupati Ngrowo bernama RMT. Notowidjojo III.

Djojodigdo diangkat oleh pemerintah Hindia Belanda sebagai Patih Blitar pada 8 September 1877 mendampingi Bupati Blitar, Raden Adipati Warso Koesoemo. Selama melaksanakan tugas, beliau dinyatakan cakap dan profesonal, sehingga memperoleh dua lencana GM dan ZM dari pemerintah Hindia Belanda. Pada 11 Maret 1909 beliau tutup usia dan dimakamkan pada area pemakaman keluarga di belakang dalem kepatihan.

kwa5Djojodigdo adalah masih keturunan dari Ki Ageng Panjawi. Kalo dirunut lagi ke atas maka beliau masih keturunan Raja Majapahit yang terakhir yakni Brawijaya V (Bhre Kertabhumi).

Ki Ageng Panjawi adalah tiga pendiri Mataram: Ki Ageng Pemanahan, Ki Ageng Panjawi dan Ki Juru Martani dibantu Panembahan Senapati atau Sutawijaya dapat membunuh Ario Penangsang Bupati Jipang Panolan, Ki Panjawi mendapatkan tanah di Pati. Dan Djojodigdo adalah putra dari Raden Tumenggung Kartadiwirja (Adipati Gentan Kulon Progo).

Ng. Kartadiwirja adalah seorang pengikuti pasukan Pangeran Diponegoro sehingga setelah Diponegoro tertangkap, beliau meletakkan jabatannya sebagai Bupati Gentan Kulon Progo yang akhirnya digantikan oleh kakaknya Raden Rangga Bahu Pangarsa.

Kartadiwirja berpangkat Liutenant Der Infanteri van Het Oost Indische Leger (Letnan Infantri Angkatan Darat Hindia Timur) didapat dari Belanda. Konon berdasar cerita dari turun-temurun beliau ikut meletakkan senjata, ketika panglima perang Diponegoro, Sentot dapat dibujuk Belanda untuk menyerah. Sentot menyerah berturut-turut dengan Kyai Maja dan Pangeran Mangkubumi tahun 1829.

img-20161104-wa0064Tahun 1831/1832 bersama Sentot Prawirodirjo dan Kartadiwirja dikirim ke Bonjol Sumatera Barat untuk membantu Belanda memadamkan perang Padri. Tetapi di beberapa dokumen-dokumen resmi Belanda membuktikan kesalahan Sentot yang telah melakukan persekongkolan dengan Kaum Padri sehingga kemudian Sentot dan legiunnya dikembalikan ke Pulau Jawa.

Di Jawa, Sentot juga tidak berhasil menghilangkan kecurigaan Belanda terhadap dirinya, dan Belanda pun juga tidak ingin ia tetap berada di Jawa dan mengirimnya kembali ke Sumatera. Namun di tengah perjalanan, Sentot diturunkan dan ditahan di Bengkulu, lalu ditinggal sampai meninggal sebagai orang buangan. Sedangkan pasukannya dibubarkan kemudian direkrut kembali menjadi tentara Belanda. Kemungkinan R. Ng. Kartadiwirja tidak ikut kembali ke Sumatera saat itu. Kartadiwirja saat meninggal dimakamkan di makam Potrobangsan Magelang.

 Sejak Kecil Suka Tirakat

img-20161104-wa0068Sejak anak-anak, Djojodigdo sudah ditinggal wafat ayahnya dan usia 12 tahun, Djojodigdo sudah merantau ke Jawa Timur, beliau meninggalkan Yogyakarta menyusul paman beliau yang menjabat sebagai Bupati Ngrowo bernama RMT. Notowidjojo III.

Kontribusi Djojodigdo terhadap masyarakat Blitar erat kaitannya dengan perannya sebagai Patih Blitar — priyayi Jawa pada masa pemerintahan Hindia-Belanda. Sebagai Patih pada tahun 1877—1895, dia berkontribusi besar dalam mendampingi Adipati Blitar Warso Koesoemo mengelola puncak pemerintahan dan pembangunan Regentschap Blitar hingga membentuk kawasan Gemeente/Kota Blitar.

Kontribusi Djojodigdo terhadap masyarakat Regentschap Blitar (1877—1895) dapat dibuktikan dengan berbagai hasil peninggalan fisik dan infrastruktur di kawasan Kota Blitar.

Ajaran Filsafat

img-20161104-wa0059Djojodigdo memiliki ajaran priyayi Jawa yang disebut T- Pitu  untuk orang Jawa yaitu Toto (tahu aturan), Titi (teliti), Tatag (bertanggungjawab), Titis (tepat analisanya), Temen (jujur), Taberi (rajin), dan Telaten (sabar).

Ajaran itu ternyata bisa ditelusuri dari masa mudanya. Syahdan, sejak muda, Djojodigdo suka tirakat dan berguru ke orang yang punya ilmu. Salah satu gurunya adalah Eyang Djugo, (yang dimakamkan di gunung Kawi, Malang) yang memberinya ilmu berupa ajian Pancasona. Ajian Pancasona adalah ajian yang sering digunakan oleh orang zaman dahulu untuk memperkuat diri dan pertahanannya ketika berperang untuk melawan penjajah.

Dengan ajian pancasona, seseorang akan bisa terus hidup meski dibunuh dengan cara apapun. Dia hanya akan mati jika tubuhnya dipisah menyebrang sungai dan digantung agar tidak menyentuh tanah. Jika jasadnya menyentuh tanah, bagian-bagian tubuh tersebut dapat kembali bersatu, dan bisa hidup lagi.

kwa7Djojodigdo tidak bisa dikalahkan ketika berperang tanding. Tubuhnya yang terluka saat duel bisa dengan sekejap kembali pulih, tubuhnya yang terputus bisa kembali menyatu, bahkan saat ia mati, ia bisa hidup kembali.

Tentara-tentara Belanda sering kewalahan jika berperang secara fisik dengan jawara-jawara tanah air. Bukan hanya kulit mereka yang tak tembus peluru, tulang mereka juga sekeras baja.

Syahdan ketika Eyang Djojodigdo sudah merasa mempunyai ilmu cukup, beliau membentuk laskar kecil rakyat untuk melakukan perlawanan kepada Pasukan Belanda. Beberapa kali tertangkap dan ditembak tapi dia selamat. Maka untuk mengalahkan sang pemilik pancasona ini, ditempuhlah cara yang lebih cerdas.

Melalui Adipati, dibujuklah Djojodigdo untuk datang ke pendopo hingga dua kali dan ditawari posisi sebagai Patih, akhirnya Djojodigdo bersedia menerima tawaran Adipati Blitar yang merupakan kepanjangan tangan dari pemerintah Hindia Belanda.

Sebagai seorang keturunan darah biru dan pernah tinggal di keraton serta pernah ikut pamannya yakni RMT. Notowidjojo di Ngrowo, ketika diangkat menjadi patih di Kadipaten Blitar, Djojodigdo sudah tak asing lagi dengan pemerintahan. Maka sang patih pun mampu mengambil kebijakan yang sangat cakap. Hal inilah yang membuat salut sang Adipati Blitar. Karena kecakapan ini, kemudian sang Adipati memberinya sebidang tanah yang luas untuk gedung kepatihan di Jalan Melati nomor 43 Kota Blitar.

Sebagai manusia biasa, di usianya yang sudah sepuh Djojodigdo wafat pada tahun 1909. Yang menarik adalah kisah ketika menjelang wafat. Konon, tiga kali dikubur dan tiga kali itu pula mayatnya bangun lagi karena efek Ajian Pancasona.

Akhirnya didatangkanlah sang guru, Eyang Djugo dan keluarga disarankan agar membuat makam dengan cara digantung dan tidak menyentuh tanah. Jasadnya dimasukan ke dalam peti besi yang kuat beserta pusaka dan pakaiannya. Peti kemudian disangga dengan empat penyangga yang juga terbuat dari besi sebagaimana yang ada saat ini.

kwaMakam Eyang Djojodigdo menjadi saksi atas kisah perjuangan dan kepahlawanan bangsa kita merebut kebebasan yang sangat mahal harganya dan juga menjadi saksi atas kedahsyatan Ilmu Pancasona, salah satu ilmu di antara samudra ilmu Allah yang disebarkan kepada siapa saja yang dikehendaki-NYA.

@Kwa,2016

ILMU SEJATI DALAM “SERAT WEDHATAMA” KARYA KGPAA MANGKUNEGARA IV


Bait-bait yang ada dalam Serat Wedhatama ini, merupakan inti dari ajaran Panembahan Senopati, Pendiri Kesultanan Mataram tentang Ilmu yang sejati. Ilmu kasepuhan yang membimbing seseorang meraih tujuan hidup.

 

NULADA LAKU UTAMA

TUMRAPE WONG TANAH JAWI,

WONG AGUNG ING NGEKSIGANDA,

PANEMBAHAN SENOPATI,

KEPATI AMARSUDI,

SUDANE HAWA LAN NEPSU,

PINEPSU TAPA BRATA,

TANAPI ING SIYANG RATRI,

AMAMANGUN KARYENAK TYASING SESAMA.

Mencontoh perilaku utama,

bagi kalangan orang Jawa (Nusantara),

orang besar dari Ngeksiganda (Mataram),

Panembahan Senopati,

yang tekun, mengurangi hawa nafsu, dengan jalan prihatin (bertapa),

serta siang malam

selalu berkarya membuat hati tenteram bagi sesama (kasih sayang)

 

SABEN MENDRA SAKING WISMA,

LELANA LALADING SEPI,

NGINGSEP SEPUHING SUPANA,

MRIH PANA PRANAWENG KAPTI,

TIS TISING TYAS MARSUDI,

MARDAWANING BUDYA TULUS,

MESU REH KASUDARMAN,

NENG TEPINING JALANIDHI,

SRUNING BRATA KATAMAN WAHYU DYATMIKA

Setiap mengembara meninggalkan rumah (istana),

berkelana ke tempat yang sunyi (dari hawa nafsu),

menghirup  tingginya ilmu,

agar jelas apa yang menjadi tujuan (hidup) sejati.

Hati bertekad selalu berusaha dengan tekun,

memperdayakan akal budi

menghayati cinta kasih,

ditepinya samudra.

Kuatnya bertapa diterimalah wahyu dyatmika (hidup yang sejati).

 

SAMANGSANE PASAMUAN, MAMANGUN MARTA MARTANI,

SINAMBI ING SABEN MANGSA,

KALA KALANING ASEPI,

LELANA TEKI-TEKI,

NGGAYUH GEYONGANING KAYUN,

KAYUNGYUN ENINGING TYAS,

SANITYASA PINRIHATIN,

PUGUH PANGGAH CEGAH DHAHAR LAWAN NENDRA.

Dalam setiap pergaulan,

membangun sikap tahu diri.

Setiap ada kesempatan,

Di saat waktu longgar,

mengembara untuk bertapa,

menggapai cita-cita hati,

hanyut dalam keheningan kalbu.

Senantiasa menjaga hati untuk prihatin (menahan hawa nafsu),

dengan tekad kuat, membatasi  makan dan tidur.

 

WIKAN WENGKONING SAMODRA,

KEDERAN WUS DEN IDERI,

KINEMAT KAMOT HING DRIYA,

RINEGAN SEGEGEM DADI,

DUMADYA ANGRATONI,

NENGGIH KANGJENG RATU KIDUL,

NDEDEL NGGAYUH NGGEGANA,

UMARA MARAK MARIPIH,

SOR PRABAWA LAN WONG AGUNG NGEKSIGANDA

Memahami kekuasaan di dalam samodra seluruhnya sudah dijelajahi,

“kesaktian” melimputi indera

Ibaratnya cukup satu genggaman saja sudah jadi, berhasil berkuasa,

Kangjeng Ratu Kidul,

Naik menggapai awang-awang,

(kemudian) datang menghadap dengan penuh hormat,

Kepada Wong Agung Ngeksigondo

 

DAHAT DENIRA AMINTA,

SINUPEKET PANGKAT KANTHI,

JRONING ALAM PALIMUNAN, ING PASABAN SABEN SEPI,

SUMANGGEM ANYANGGEMI,

ING KARSA KANG WUS TINAMTU,

PAMRIHE MUNG AMINTA,

SUPANGATE TEKI-TEKI,

NORA KETANG TEKEN JANGGUT SUKU JAJA.

Memohon dengan sangat lah beliau,

agar diakui sebagai sahabat setia, di dalam alam gaib,

tempatnya berkelana setiap sepi.

Bersedialah menyanggupi,

kehendak yang sudah digariskan.

Harapannya hanyalah meminta

restu dalam bertapa,

Meski dengan susah payah.

 

PRAJANJINE ABIPRAYA,

SATURUN-TURUNING WURI,

MANGKONO TRAHING NGAWIRYA,

YEN AMASAH MESU BUDI,

DUMADYA GLIS DUMUGI,

IYA ING SAKARSANIPUN,

WONG AGUNG NGEKSIGANDA,

NUGRAHANE PRAPTENG MANGKIN,

TRAH TUMERAH DHARAHE PADHA WIBAWA.

Perjanjian sangat mulia,

untuk seluruh keturunannya di kelak kemudian hari.

Begitulah seluruh keturunan orang luhur,

bila mau mengasah akal budi

akan cepat berhasil,

apa yang diharapkan orang besar Mataram, anugerahnya hingga kelak dapat mengalir di seluruh darah keturunannya, dapat memiliki wibawa

 

AMBAWANI TANAH JAWA,

KANG PADHA JUMENENG AJI,

SATRIYA DIBYA SUMBAGA,

TAN LYAN TRAHING SENOPATI,

PAN IKU PANTES UGI,

TINELAD LABETIPUN,

ING SAKUWASANIRA,

ENAKE LAN JAMAN MANGKIN,

SAYEKTINE TAN BISA NGEPLEKI KUNA.

Menguasai tanah Jawa (Nusantara),

yang menjadi raja (pemimpin),

satria sakti tertermasyhur,

tak lain keturunan Senopati,

hal ini pantas pula sebagai tauladan budi  pekertinya,

Sebisamu, terapkan di zaman nanti,

Walaupun tidak bisa

persis sama seperti di masa silam.

 

LOWUNG KALAMUN TINIMBANG,

NGAURIP TANPA PRIHATIN,

NANGING TA ING JAMAN MANGKYA,

PRA MUDHA KANG DEN KAREMI,

MANULAD NELAD NABI,

NAYAKENGRAT GUSTI RASUL,

ANGGUNG GINAWE UMBAG,

SABEN SEBA MAMPIR MASJID,

NGAJAB-AJAB TIBANING MUKJIJAT DRAJAT

Mending bila dibanding orang hidup tanpa prihatin,

namun di masa yang akan datang (masa kini),

yang digemari anak muda,

meniru-niru nabi, rasul utusan Tuhan,

yang hanya dipakai untuk menyombongkan diri,

setiap akan bekerja singgah dulu di masjid,

Mengharap mukjizat agar mendapat derajat (naik pangkat).

 

ANGGUNG ANGGUBEL SARENGAT,

SARINGANE TAN DEN WRUHI,

DALIL DALANING IJEMAK,

KIYASE NORA MIKANI,

KETUNGKUL MUNGKUL SAMI,

BENGKRAKAN MRING MASJID AGUNG,

KALAMUN MACA KUTBAH,

LELAGONE DANDANGGENDIS,

SWARA ARUM NGUMANDHANG CENGKOK PALARAN

Hanya memahami sariat (kulitnya) saja, sedangkan hakekatnya tidak dikuasai,

Pengetahuan untuk memahami makna dan suri tauladan tidaklah mumpuni

Mereka lupa diri, (tidak sadar)

bersikap berlebih-lebihan di masjid besar,

Bila membaca khotbah

berirama gaya dandanggula (menghanyutkan hati),

suara merdu bergema gaya palaran (lantang  bertubi-tubi).

 

KANG WUS WASPADHA ING PATRAP,

MANGANYUT AYAT WINASIS,

WASANA WOSING JIWANGGA,

MELOK TANPA ALING-ALING,

KANG NGALINGI KALINGLING,

WENGANING RASA TUMLAWUNG,

KEKSI SALIRING JAMAN,

ANGELANGUT TANPA TEPI,

YEKU INGARAN TAPA TAPAKING HYANG SUKSMA.

Yang sudah paham tata caranya,

Menghayati ajaran utama,

Jika berhasil merasuk ke dalam jiwa,

akan melihat tanpa penghalang,

Yang menghalangi tersingkir,

Terbukalah rasa sayup menggema.

Tampaklah seluruh cakrawala,

Sepi tiada bertepi,

Yakni disebut  tapa tapaking Hyang Sukma.

MANGKONO JANMA UTAMA,

TUMAN TUMANEM ING SEPI,

ING SABEN RIKALA MANGSA,

MASAH AMEMASUH BUDI,

LAIRE ANETEPI,

ING REH KASATRIYANIPUN,

SUSILO ANOR RAGA,

WIGNYA MET TYASING SESAMI,

YEKU ARAN WONG BAREK BERAGAMA.

Demikianlah manusia utama,

Gemar terbenam dalam sepi (meredam nafsu),

Di saat-saat tertentu,

Mempertajam dan membersihkan budi,

Bermaksud memenuhi tugasnya sebagai satria,

berbuat susila rendah hati,

pandai menyejukkan hati pada sesama,

itulah sebenarnya yang disebut menghayati agama.

 

NGELMU IKU

KALAKONE KANTHI LAKU

LEKASE LAWAN KAS

TEGESE KAS NYANTOSANI

SETYA BUDAYA PANGEKESE DUR ANGKARA

Ilmu (hakekat) itu

diraih dengan cara menghayati dalam setiap perbuatan,

dimulai dengan kemauan.

Artinya, kemauan membangun kesejahteraan terhadap sesama,

Teguh membudi daya

Menaklukkan semua angkara

 

ANGKARA GUNG

NENG ANGGA ANGGUNG GUMULUNG

GEGOLONGANIRA

TRILOKA LEKERI KONGSI

YEN DEN UMBAR AMBABAR DADI RUBEDA.

Nafsu angkara yang besar

ada di dalam diri, kuat menggumpal,

menjangkau hingga tiga zaman,

jika dibiarkan berkembang akan

berubah menjadi gangguan.

 

BEDA LAMUN KANG WUS SENGSEM

REH NGASAMUN

SEMUNE NGAKSAMA

SASAMANE BANGSA SISIP

SARWA SAREH SAKING MARDI MARTATAMA

Berbeda dengan yang sudah menyukai dan menjiwai,

Watak dan perilaku memaafkan

pada sesama

selalu sabar berusaha

menyejukkan suasana,

 

ROSING RASA KANG RINURUH

LUMEKETING ANGGA

ANGGERE PADHA MARSUDI

KANA KENE KAANANE NORA BEDA

hakekat ilmu yang dicari,

sebenarnya ada di dalam diri.

Asal mau berusaha

sana sini (ilmunya) tidak berbeda,

NGELMU MUPAKATE LAN PANEMUNE

PASAHE LAN TAPA

YEN SATRIYA TANAH JAWI

KUNA KUNA KANG GINILUT TRIPAKARA

Yang namanya ilmu, dapat berjalan bila sesuai dengan cara pandang kita.

Dapat dicapai dengan usaha yang gigih.

Bagi satria tanah Jawa,

dahulu yang menjadi pegangan adalah tiga perkara yakni;

 

LILA LAMUN KELANGAN NORA GEGETUN

TRIMA YEN KETAMAN

SAKSERIK SAMENG DUMADI

TRI LEGAWA NALANGSA SRAH ING BATHARA

Ikhlas bila kehilangan tanpa menyesal,

Sabar jika hati disakiti sesama,

Ketiga ; lapang dada sambil

berserah diri pada Tuhan.

 

BATHARA GUNG

INGUGER GRANING JAJANTUNG

JENEK HYANG WISESA

SANA PASENEDAN SUCI

NORA KAYA SI MUDHA MUDHAR ANGKARA

Tuhan Maha Agung

diletakkan dalam setiap hela nafas

Menyatu dengan Yang Mahakuasa

Teguh mensucikan diri

Tidak seperti yang muda,

mengumbar nafsu angkara.

@KWA,2016