Author Archives: wongalus

MEMBACA ULANG SUNAN BONANG


pasujudan sunan bonang

Pasujudan Sunan Bonang

Sunan Bonang diperkirakan lahir pada pertengahan abad ke-15 dan wafat pada awal abad ke-16 M. Ada yang memperkirakan wafat pada tahun 1626 atau 1630, ada yang memperkirakan pada tahun 1622.

800px-pintu_menuju_pasujudan_sunan_bonangDia adalah ulama sufi, ahli dalam berbagai bidang ilmu agama dan sastra, juga dikenal ahli falak, musik, dan seni pertunjukan. Sebagai sastrawan dia menguasai bahasa dan kesusastraan Arab, Persia, Melayu, dan Jawa Kuno. Nama aslinya ialah Makhdum Ibrahim. Dalam suluk-suluknya dan dari sumber-sumber sejarah lokal ia disebut dengan berbagai nama gelaran seperti Ibrahim Asmara, Ratu Wahdat, Sultan Khalifah, dan lain-lain (Djajadiningrat, 1913; Purbatjaraka, 1938; Drewes, 1968). Nama Sunan Bonang diambil dari nama tempat sang wali mendirikan pesujudan (tempat melakukan uzlah) dan pesantren di Desa Bonang, tidak jauh dari Lasem di perbatasan Jawa Tengah-Jawa Timur sekarang ini. Tempat ini masih ada sampai sekarang dan ramai diziarahi pengunjung untuk menyepi, seraya memperbanyak ibadah seperti berzikir, mengaji Al-Quran dan tirakat (Abdul Hadi, 2000: 96-107).

Kakeknya bernama Ibrahim al-Ghazi bin Jamaluddin Husain, seorang ulama terkemuka keturunan Turki-Persia dari Samarkand. Syekh Ibrahim al-Ghazi sering dipanggil Ibrahim Asmarakandi (Ibrahim al-Samarqandi), nama takhallus atau gelar yang kelak juga disandang oleh cucunya. Sebelum pindah ke Campa pada akhir abad ke-14, Syekh Ibrahim al-Ghazi tinggal di Yunan, Cina Selatan. Pada masa itu Yunan merupakan tempat singgah utama ulama Asia Tengah yang akan berdakwah ke Asia Tenggara. Di Campa dia kawin dengan seorang putri Campa keturunan Cina dari Yunan. Pada tahun 1401 lahirlah putranya Makhdum Rahmat, yang kelak akan menjadi masyhur sebagai wali terkemuka di pulau Jawa dengan nama Sunan Ampel. Setelah dewasa Rahmat pergi ke Surabaya, mengikuti jejak bibinya Putri Dwarawati dari Campa yang diperistri oleh raja Majapahit Prabu Kertabhumi. Di Surabaya, ayah Sunan Bonang ini, mendapat tanah di daerah Ampel, Surabaya, tempat dia mendirikan masjid dan pesantren. Dari perkawinannya dengan seorang putri Majapahit, yaitu anak Adipati Tuban, Tumenggung Arya Teja, dia memeroleh beberapa putra dan putri. Seorang di antaranya yang masyhur ialah Makhdum Ibrahim alias Sunan Bonang. (Djajadiningrat ,1983: 23; Sunyoto, 1995: 48).

Sejak muda Makhdum Ibrahim adalah seorang pelajar yang tekun dan mubalig yang handal. Setelah mempelajari bahasa Arab dan Melayu, serta berbagai cabang ilmu agama yang penting seperti fiqih, usuluddin, tafsir Quran, hadis dan tasawuf; bersama saudaranya Sunan Giri dia pergi ke Mekah dengan singgah terlebih dahulu di Malaka, kemudian ke Pasai. Di Malaka dan Pasai mereka mempelajari bahasa dan sastra Arab lebih mendalam. Sejarah Melayu merekam kunjungan Sunan Bonang dan Sunan Giri ke Malaka sebelum melanjutkan perjalanan ke Pasai. Sepulang dari Mekah, melalui jalan laut dengan singgah di Gujarat, India, Sunan Bonang ditugaskan oleh ayahnya untuk memimpin Masjid Singkal di Daha, Kediri (Kalamwadi, 1990: 26-30). Di sini dia memulai kariernya pertama kali sebagai pendakwah. Ketika Masjid Demak berdiri pada 1498, Sunan Bonang menjadi imamnya untuk yang pertama. Dalam menjalankan tugasnya itu dia dibantu oleh Sunan Kalijaga, Ki Ageng Selo, dan para wali yang lain. Di bawah pimpinannya masjid agung itu berkembang cepat menjadi pusat keagamaan dan kebudayaan terkemuka. Tetapi sekitar tahun 1503 M, dia berselisih paham dengan Sultan Demak dan memutuskan untuk meletakkan jabatannya sebagai imam masjid agung. Dari Demak Sunan Bonang pindah ke Lasem, dan memilih Desa Bonang sebagai tempat kegiatannya yang baru. Di sini dia mendidirikan persujudan dan pesantren. Beberapa karya Sunan Bonang, khususnya Suluk Wujil, mengambil latar kisah di persujudannya ini. Di tempat inilah dia mengajarkan tasawuf kepada salah seorang muridnya, Wujil, seorang cebol namun terpelajar dan bekas abdi dalem keraton Majapahit (Abdul Hadi, 2000: 96-107).

Setelah cukup lama tinggal di Bonang dan telah mendidik banyak murid, dia pun pulang ke Tuban. Di sini dia mendirikan masjid besar dan pesantren, meneruskan kegiatannya sebagai seorang mubalig, pendidik, budayawan, dan sastrawan terkemuka hingga masa akhir hayatnya. Dalam sejarah sastra Jawa Pesisir, Sunan Bonang dikenal sebagai penyair yang prolifik dan penulis risalah tasawuf yang ulung. Dia juga dikenal sebagai pencipta beberapa tembang (metrum puisi) baru dan mengarang beberapa cerita wayang bernafaskan Islam. Sebagai musikus dia menggubah beberapa gending (komposisi musik gamelan) seperti gending Dharma yang sangat terkenal. Di bawah pengaruh wawasan estetika sufi yang diperkenalkan para wali termasuk Sunan Bonang dan Sunan Kalijaga, gamelan Jawa berkembang menjadi oskestra polifonik yang sangat meditatif dan kontemplatif. Sunan Bonang pula yang memasukkan instrumen baru seperti rebab Arab dan kempul Campa (yang kemudian disebut Bonang, untuk mengabadikan namanya) ke dalam susunan gamelan Jawa.

Karya-karya Sunan Bonang yang dijumpai hingga sekarang dapat dikelompokkan menjadi dua. Pertama, suluk-suluk yang mengungkapkan pengalamannya menempuh jalan tasawuf dan beberapa pokok ajaran tasawufnya yang disampaikan melalui ungkapan-ungkapan simbolik yang terdapat dalam kebudayaan Arab, Persia, Melayu, dan Jawa. Di antara suluk-suluknya ialah Suluk Wujil, Suluk Khalifah, Suluk Kaderesan, Suluk Regol, Suluk Bentur, Suluk Wasiyat, Suluk Pipiringan, Gita Suluk Latri, Gita Suluk Linglung, Gita Suluk ing Aewuh, Gita Suluk Jebang, Suluk Wregol(Drewes, 1968). Kedua, karangan prosa seperti Pitutur Sunan Bonang yang ditulis dalam bentuk dialog antara seorang guru sufi dengan muridnya yang tekun. Bentuk semacam ini banyak dijumpai sastra Arab dan Persia.

Suluk-suluk Sunan Bonang

800px-tempat_pasujudan_sunan_bonangSebagaimana telah dikemukakan suluk adalah salah satu jenis karangan tasawuf yang dikenal dalam masyarakat Jawa dan Madura dan ditulis dalam bentuk puisi dengan metrum (tembang) tertentu seperti sinom, wirangrong, kinanti, smaradana, dandanggula dan lain-lain. Seperti halnya puisi sufi umumnya, yang diungkapkan ialah pengalaman atau gagasan ahli-ahli tasawuf tentang perjalana kerohanian (suluk) yang mesti ditempuh oleh mereka yang ingin mencapai kebenaran tertinggi, Tuhan, dan berkehendak menyatu dengan Rahasia Sang Wujud. Jalan itu ditempuh melalui berbagai tahapan rohani (maqam) dan dalam setiap tahapan seseorang akan mengalami keadaan rohani (ahwal) tertentu, sebelum akhirnya memeroleh kasyf (tersingkapnya cahaya penglihatan batin) dan makrifat, yaitu mengenal Yang Tunggal secara mendalam tanpa syak lagi (haqq al-yaqin). Di antara keadaan rohani penting dalam tasawuf yang sering diungkapkan dalam puisi ialah wajd (ekstase mistis), dzawq (rasa mendalam), sukr (kegairahan mistis), fana’(hapusnya kecenderungan terhadap diri jasmani), baqa’ (perasaan kekal di dalam Yang Abadi), dan faqr (Abdul Hadi, 2002:18-19).

Faqr adalah tahapan dan sekaligus keadaan ruhani tertinggi yang dicapai seorang ahli tasawuf, sebagai buah pencapaian keadaan fana’ dan baqa’. Seorang faqir, dalam artian sebenarnya menurut pandangan ahli tasawuf, ialah mereka yang demikian menyadari bahwa manusia sebenarnya tidak memiliki apa-apa, kecuali keyakinan dan cinta yang mendalam terhadap Tuhannya. Seorang faqir tidak memiliki keterpautan lagi kepada segala sesuatu kecuali Tuhan. Ia bebas dari kungkungan “diri jasmani” dan hal-hal yang bersifat bendawi, tetapi tidak berarti melepaskan tanggung jawabnya sebagai khalifah Tuhan di muka bumi. Sufi Persia abad ke-13 M menyebut bahwa jalan tasawuf merupakan Jalan Cinta (mahabbah atau `isyq). Cinta merupakan kecenderungan yang kuat terhadap Yang Satu, asas penciptaan segala sesuatu, metode kerohanian dalam mencapai kebenaran tertinggi, jalan kalbu bukan jalan akal dalam memeroleh pengetahuan mendalam tentang Yang Satu (ibid).

Sebagaimana puisi para sufi secara umum, jika tidak bersifat didaktis, suluk-suluk Sunan Bonang ada yang bersifat lirik. Pengalaman dan gagasan ketasawufan yang dikemukakan, seperti dalam karya penyair sufi di mana pun, biasanya disampaikan melalui ungkapan simbolik (tamsil) dan ungkapan metaforis (mutasyabihat). Demikian dalam mengemukakan pengalaman kerohanian di jalan tasawuf, dalam suluk-suluknya Sunan Bonang tidak jarang menggunakan kias atau perumpamaan, serta citraan-citraan simbolik. Citraan-citraan tersebut tidak sedikit yang diambil dari budaya lokal.

Kecenderungan tersebut berlaku dalam sastra sufi Arab, Persia, Turki, Urdu, Sindhi, Melayu, dan lain-lain, dan merupakan prinsip penting dalam sistem sastra dan estetika sufi (Schimmel, 1983). Karena tasawuf merupakan jalan cinta, maka sering hubungan antara seorang salik (penempuh suluk) dengan Yang Satu dilukiskan atau diumpamakan sebagai hubungan antara pencinta (`asyiq) dan Kekasih (mahbub, ma`syuq). Drewes (1968, 1978) telah mencatat sejumlah naskah yang memuat suluk-suluk yang diidentifikasikan sebagai karya Sunan Bonang atau Pangeran Bonang, khususnya yang terdapat di Museum Perpustakaan Universitas Leiden, dan memberi catatan ringkas tentang isi suluk-suluk tersebut.

Penggunaan tamsil pencinta dan Kekasih misalnya terdapat dalam Gita Suluk Latri yang ditulis dalam bentuk tembang wirangrong. Suluk ini menggambarkan seorang pencinta yang gelisah menunggu kedatangan Kekasihnya. Semakin larut malam kerinduan dan kegelisahannya semakin mengusiknya, dan semakin larut malam pula berahinya (`isyq) semakin berkobar. Ketika Kekasihnya datang dia lantas lupa segala sesuatu, kecuali keindahan wajah Kekasihnya. Demikianlah sestelah itu sang pencinta akhirnya hanyut dibawa ombak dalam lautan ketakterhinggaan wujud. Dalam Suluk KhalifahSunan Bonang menceritakan kisah-kisah kerohanian para wali dan pengalaman mereka mengajarkan kepada orang yang ingin memeluk agama Islam. Suluk ini cukup panjang. Sunan Bonang juga menceritakan pengalamannya selama berada di Pasai bersama guru-gurunya serta perjalanannya menunaikan ibadah haji ke Mekah.

Karya yang tidak kalah penting ialah Suluk Gentur atau Suluk Bentur. Suluk ini ditulis di dalam tembang wirangrong dan cukup panjang. Gentur atau bentur berarti lengkap atau sempurna. Di dalamnya digambarkan jalan yang harus ditempuh seorang sufi untuk mencapai kesadaran tertiggi. Dalam perjalanannya itu ia akan berhadapan dengan maut dan dia akan diikuti oleh sang maut ke mana pun ia melangkah. Ujian terbesar seorang penempuh jalan tasawuf atau suluk ialah syahadat dacim qacim. Syahadat ini berupa kesaksian tanpa bicara sepatah kata pun dalam waktu yang lama, sambil mengamati gerik-gerik jasmaninya dalam menyampaikan isyarat kebenaran dan keunikan Tuhan. Garam jatuh ke dalam lautan dan lenyap, tetapi tidak dapat dikatakan menjadi laut. Pun tidak hilang ke dalam kekosongan (suwung). Demikian pula apabila manusia mencapai keadaan fana’ tidak lantas tercerap dalam Wujud Mutlak. Yang lenyap ialah kesadaran akan keberadaan atau kewujudan jasmaninya.

p-sunan_bonang1Dalam suluknya ini Sunan Bonang juga mengatakan bahwa pencapaian tertinggi seseorang ialah fana’ ruh idafi, yaitu “keadaan dapat melihat peralihan atau pertukaran segala bentuk lahir dan gejala lahir, yang di dalamnya kesadaran intuitit atau makrifat menyempurnakan penglihatannya tentang Allah sebagai Yang Kekal dan Yang Tunggal”. Pendek kata dalam fana’ ruh idafi seseorang sepenuhnya menyaksikan kebenaran hakiki ayat Al-Quran 28:88, “Segala sesuatu binasa kecuali wajah-Nya”. Ini digambarkan melalui perumpamaan asyrafi (emas bentukan yang mencair dan hilang kemuliannya, sedangkan substansinya sebagai emas tidak lenyap). Syahadat dacim qacim adalah kurnia yang dilimpahkan Tuhan kepada seseorang sehingga ia menyadari dan menyaksikan dirinya bersatu dengan kehendak Tuhan (sapakarya). Menurut Sunan Bonang, ada tiga macam syahadat:

  1. mutawilah (muta`awillah);
  2. mutawassitah (Mutawassita);
  3. mutakhirah (muta`akhira).

Yang pertama, syahadat (penyaksian) sebelum manusia dilahirkan ke dunia yaitu dari Hari Mitsaq (Hari Perjanjian) sebagaimana dikemukakan di dalam ayat Al-Quran 7: 172, “Bukankah Aku ini Tuhanmu? Ya, aku menyaksikan” (Alastu bi rabbikum? Qawl bala syahidna). Yang kedua, ialah syahadat ketika seseorang menyatakan diri memeluk agama Islam dengan mengucap, “Tiada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad adalah utusan-Nya”. Yang ketiga, adalah syahadat yang diucapkan para nabi, wali, dan orang mukmin sejati.

Bilamana tiga syahadat ini dipadukan menjadi satu maka dapat diumpamakan seperti kesatuan transenden antara tindakan menulis, tulisan, dan lembaran kertas yang mengandung tulisan itu. Juga dapat diumpamakan seperti gelas, isinya dan gelas yang isinya penuh. Bilamana gelas bening, isinya akan tampak bening sedang gelasnya tidak kelihatan. Begitu pula hati seorang mukmin yang merupakan tempat kediaman Tuhan, akan memperlihatkan kehadiran-Nya bilamana hati itu bersih, tulus, dan jujur. Di dalam hati yang bersih, dualitas lenyap. Yang kelihatan ialah tindakan cahaya-Nya yang melihat. Artinya, dalam melakukan perbuatan apa saja seorang mukmin senantiasa sadar bahwa dia selalu diawasi oleh Tuhan, yang menyebabkannya tidak lalai menjalankan perintah agama.. Perumpamaan ini dapat dirujuk kepada perumpamaan serupa di dalam Futuh al-Makkiyah karya Ibn `Arabi dan Lamacat karya `Iraqi.

Karya Sunan Bonang juga unik ialah Gita Suluk Wali, untaian puisi-puisi lirik yang memikat. Dipaparkan bahwa hati seorang yang ditawan oleh rasa cinta itu seperti laut pasang menghanyutkan atau seperti api yang membakar sesuatu sampai hangus. Untaian puisi-puisi ini diakhiri dengna pepatah sufi: “Qalb al-mukmin bait Allah” (Hati seorang mukmin adalah tempat kediaman Tuhan).

Suluk Jebeng

Ditulis dalam tembang Dhandhanggula dan dimulai dengan perbincangan mengenai wujud manusia sebagai khalifah Tuhan di bumi dan bahwasanya manusia itu dicipta menyerupai gambaran-Nya (mehjumbh dinulu). Hakikat diri yang sejati ini mesti dikenal supaya perilaku dan amal perbuatan seseorang di dunia mencerminkan kebenaran. Persatuan manusia dengan Tuhan diumpamakan sebagai gema dengan suara. Manusia harus mengenal sukma (roh) yang berada di dalam tubuhnya. Roh di dalam tubuh seperti api yang tak kelihatan. Yang nampak hanyalah bara, sinar, nyala, panas, dan asapnya. Roh dihubungkan dengan wujud tersembunyi, yang pemunculan dan kelenyapannya tidak mudah diketahui.

Ujar Sunan Bonang:

Puncak ilmu yang sempurna

Seperti api berkobar

Hanya bara dan nyalanya

Hanya kilatan cahaya

Hanya asapnya kelihatan

Ketahuilah wujud sebelum api menyala

Dan sesudah api padam

Karena serba diliputi rahasia

Adakah kata-kata yang bisa menyebutkan?

Jangan tinggikan diri melampaui ukuran

Berlindunglah semata kepada-Nya

Ketahui, rumah sebenarnya jasad ialah roh

Jangan bertanya

Jangan memuja nabi dan wali-wali

Jangan mengaku Tuhan

Jangan mengira tidak ada padahal ada

Sebaiknya diam

Jangan sampai digoncang

Oleh kebingungan

Pencapaian sempurna

Bagaikan orang yang sedang tidur

Dengan seorang perempuan, kala bercinta

Mereka karam dalam asyik, terlena

Hanyut dalam berahi

Anakku, terimalah

Dan pahami dengan baik

Ilmu ini memang sukar dicerna

Satu-satunya karangan prosa Sunan Bonang yang dapat diidentifikasi sampai sekarang ialah Pitutur Seh Bari. Salah satu naskah yang memuat teks karangan prosa Sunan Bonang ini ialah MS Leiden Cod. Or. 1928. Naskah teks ini telah ditransliterasi ke dalam tulisan Latin, serta diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda oleh Schrieke dalam disertasi doktornya Het Boek van Bonang (1911). Hoesein Djajadiningrat juga pernah meneliti dan mengulasnya dalam tulisannya ”Critische Beschouwing van de Sedjarah Banten” (1913). Terakhir naskah teks ini ditransliterasi dan disunting oleh Drewes, dalam bukunya The Admonotions of Seh Bari (1978), disertai ulasan dan terjemahannya dalam bahasa Inggris.

Kitab ini ditulis dalam bentuk dialog atau tanya-jawab antara seorang penuntut ilmu suluk, Syaful Rijal, dengan gurunya, Syekh Bari. Nama Syaiful Rijal, yang artinya “pedang yang tajam”, biasa dipakai sebagai julukan kepada seorang murid yang tekun mempelajari tasawuf (al-Attas, 1972). Mungkin ini adalah sebutan untuk Sunan Bonang sendiri ketika menjadi seorang penuntut ilmu suluk. Syekh Bari diduga adalah guru Sunan Bonang di Pasai dan berasal dari Bar, Khurasan, Persia Timur Daya (Drewes, 1968:12).

Secara umum ajaran tasawuf yang dikemukakan dekat dengan ajaran dua tokoh tasawuf besar dari Persia, Imam al-Ghazali (w. 1111) dan Jalaluddin al-Rumi (1207-1273). Nama-nama ahli tasawuf lain dari Persia yang disebut ialah Syekh Sufi (mungkin Harits al-Muhasibi), Nuri (mungkin Hasan al-Nuri) dan Jaddin (mungkin Junaid al-Baghdadi). Ajaran ketiga tokoh tersebut merupakan sumber utama ajaran Imam al-Ghazali (al-Taftazani, 1985:6). Istilah yang digunakan dalam kitab ini, yaitu ”wirasaning ilmu suluk” (jiwa atau inti ajaran tasawuf) mengingatkan pada pernyataan Imam al-Ghazali bahwa tasawuf merupakan jiwa ilmu-ilmu agama.

Suluk Wujil

Di antara suluk karya Sunan Bonang yang paling dikenal dan relevan bagi kajian ini ialah Suluk Wujil (SW). Dari segi bahasa dan puitika yang digunakan, serta konteks sejarahnya dengan perkembangan awal sastra Pesisir, SW benar-benar mencerminkan zaman peralihan Hindu ke Islam (abad ke-15 dan ke-16) yang sangat penting dalam sejarah Jawa Timur. Teks SW dijumpai antara lain dalam MS Bataviasche Genotschaft 54 (setelah RI merdeka disimpan di Museum Nasional, kini di Perpustakaan Nasional Jakarta) dan transliterasinya ke dalam huruf Latin dilakukan oleh Poerbatjaraka dalam tulisannya ”De Geheime Leer van Soenan Bonang (Soeloek Woedjil)” (majalah Djawa vol. XVIII, 1938). Terjemahannya dalam bahasa Indonesia pernah dilakukan oleh Suyadi Pratomo (1985), tetapi karena tidak memuaskan, maka untuk kajian ini kami berusaha menerjemahkan sendiri teks hasil transliterasi Poerbatjaraka.

Sebagai karya zaman peralihan Hindu ke Islam, pentingnya karya Sunan Bonang ini tampak dalam hal-hal seperti berikut:

Pertama, dalam SW tergambar suasana kehidupan badaya, intelektual, dan keagamaan di Jawa pada akhir abad ke-15, yang sedang beralih kepercayaan dari Hindu ke Islam. Di arena politik peralihan itu ditandai denga runtuhnya Majapahit, kerajaan besar Hindu terakhir di Jawa, dan bangunnya Demak, kerajaan Islam pertama. Demak didirikan oleh Raden Patah, putera raja Majapahit Prabu Kertabumi (dalam babad diidentikkan dengan  Brawijaya V) dari perkawinannya dengan seorang putri Cina Muslim.

Dengan runtuhnya Majapahit terjadilah perpindahan kegiatan budaya dan intelektual dari sebuah kerajaan Hindu ke sebuah kerajaan Islam, dan demikian pula tata nilai kehidupan masyarakat pun berubah. Di lapangan sastra peralihan ini dapat dilihat dengan berhentinya kegiatan sastera Jawa Kuna setelah penyair terakhir Majapahit, Mpu Tantular dan Mpu Tanakung, meninggal dunia pda pertengahan abad ke-15 tanpa penerus yang kuat. Kegiatan pendidikan pula mula beralih ke pusat-pusat baru di daerah pesisir. Dari segi bahasa suluk ini memperlihatkan “keanehan-keanehan bahasa Jawa Kuna zaman Hindu” (Purbatjaraka, 1938) karena memang ditulis pada zaman permulaan munculnya bahasa Jawa Madya. Dari segi puitika pula, cermin zaman peralihan begitu ketara. Penulisnya menggunakan tembang Aswalalita yang agak menyimpang, selain tembang Dhandhanggula. Aswalalita adalah metrum Jawa Kuno yang dicipta berdasarkan puitika Sanskerta. Setelah wafat Sunan Bonang, tembang ini tidak lagi digunakan oleh para penulis tembang di Jawa. Sunan Bonang sebagai seorang penulis Muslim awal dalam sastra Jawa, menunjukkan sikap yang sangat berbeda dengan para penulis Muslim awal di Sumatra. Yang terakhir sudah sejak awal kegiatan kreatifnya menggunakan huruf Jawi atau Arab Melayu, sedangkan Sunan Bonang dan penulis-penulis Muslim Jawa yang awal masih menggunakan huruf Jawa, dan baru ketika agama Islam telah tersebar luas huruf Arab digunakan untuk menulis teks-teks berbahasa Jawa.

Dalam penulisan puisinya, Sunan Bonang juga banyak menggunakan tamsil-tamsil yang tidak asing dalam kebudayaan Jawa pada masa itu. Misalnya tamsil wayang, dalang, dan lakon cerita pewayangan seperti Perang Bharata antara Kurawa dan Pandawa. Selain itu dia juga masih mempertahankan penggunaan bentuk tembang Jawa Kuno, yaitu aswalalita, yang didasarkan pada puitika Sansekerta. Dengan cara demikian, kehadiran karyanya tidak dirasakan sebagai sesuatu yang asing bagi pembaca sastra Jawa, malahan dipandangnya sebagai suatu kesinambungan.

Kedua, pentingnya Suluk Wujil karena renungan-renungannya tentang masalah hakiki di sekitar wujud dan rahasia terdalam ajaran agama, memuaskan dahaga kaum terpelajar Jawa yang pada umumnya menyukai mistisisme atau metafisika, dan seluk beluk ajaran kerohanian. SW dimulai dengan pertanyaan metafisik yang esensial dan menggoda sepanjang zaman, di Timur maupun Barat:

1

Dan warnanen sira ta Pun Wujil (Inilah cerita si Wujil)

Matur sira ing sang Adinira (Berkata pada guru yang diabdinya)

Ratu Wahdat (Ratu Wahdat)

Ratu Wahdat Panenggrane (Ratu Wahdat nama gurunya)

Samungkem ameng Lebu talapakan sang Mahamuni (Bersujud ia di telapak kaki Syekh Agung)

Sang Adhekeh in Benang (Yang tinggal di Desa Bonang)

Mangke atur Bendu (Ia minta maaf)

Sawetnya nedo jinarwan (Ingin tahu hakikat)

Saprapating kahing agama kang sinelit (Dan seluk beluk ajaran agama)

Teka ing rahsya purba (Sampai rahasia terdalam)

 

2

Sadasa warsa sira pun Wujil (Sepuluh tahun lamanya sudah)

Angastupada sang Adinira (Wujil berguru kepada Sang Wali)

Tan antuk warandikane Ri kawijilanipun (Namun belum mendapat ajaran utama)

Sira wujil ing Maospait (Ia berasal dari Majapahit)

Ameng amenganira (Bekerja sebagai abdi raja)

Nateng Majalanggu (Sastra Arab telah ia pelajari)

Telas sandining aksara (Ia menyembah di depan gurunya)

Pun Wujil matur marang Sang Adi Gusti (Kemudian berkata seraya menghormat)

Anuhun pangatpada (Minta maaf)

 

3

Pun Wujil byakteng kang anuhun Sih (Dengan tulus saya mohon)

Ing talapakan sang Jati Wenang (Di telapak kaki Tuan Guru)

Pejah gesang katur mangke sampun manuh pamuruh (Mati hidup hamba serahkan)

Sastra Arab paduka warti (Sastra Arab telah Tuan ajarkan)

Wekasane angladrang (Dan saya telah menguasainya)

Anggeng among kayun (Namun tetap saja saya bingung)

Sabran dina raraketan (Mengembara ke sana-ke mari tak berketentuan)

Malah bosen kawula kang aludrugi (Bosan sudah saya dulu hamba berlakon sebagai pelawak)

Ginawe alan-alan (Menjadi bahan tertawaan orang)

 

4

Ya Pangeran ing sang Adigusti (Ya Syekh al-Mukaram)

Jarwaning aksara tunggal (Uraian kesatuan huruf)

Pengiwa lan panengene (Dulu dan sekarang)

Nora na bedanipun (Yang saya pelajari tidak berbeda)

Dening maksih atata gendhing (Tidak beranjak dari tatanan lahir)

Maksih ucap-ucapan (Tetap saja tentang bentuk luarnya)

Karone puniku (Namun tak menemukan sesuatu apa)

Datan polih anggeng mendra-mendra (Meninggalkan semua yang dicintai)

Atilar tresna saka ring Majapait (Saya meninggalkan Majapahit)

Nora antuk usada (Sebagai penawar)

 

5

Ya marma lunganging kis ing wengi (Diam-diam saya pergi malam-malam)

Angulati sarasyaning tunggal (Mencari rahasia Yang Satu )

Sampurnaning lampah kabeh (Dan jalan sempurna )

Sing pandhita sundhuning (Semua pendeta dan ulama hamba temui)

Angulati sarining urip (Agar terjumpa hakikat hidup)

Wekasing jati wenang (Akhir kuasa sejati)

Wekasing lor kidul (Ujung utara selatan)

Suruping radya wulan (Tempat matahari dan bulan terbenam)

Reming netra lalawa suruping pati (Akhir mata tertutup dan hakikat maut)

Wekasing ana ora (Akhir ada dan tiada)

Pertanyaan-pertanyaan Wujil kepada gurunya merupakan pertanyaan universal dan eksistensial, serta menukik hingga masalah paling inti, yang tidak bisa dijawab oleh ilmu-ilmu lahir. Terbenamnya matahari dan bulan, akhir utara dan selatan, berkaitan dengan kiblat dan gejala kehidupan yang senantiasa berubah. Jawabannya menghasilkan ilmu praktis dan teoritis seperti fisika, kosmologi, kosmogeni, ilmu pelayaran, geografi, dan astronomi. Kapan mata tertutup berkenaan dengan pancaindra dan gerak tubuh kita. Sadar dan tidak sadar, bingung dan gelisah, adalah persoalan psikologi. Ada dan tiada merupakan persoalan metafisika. Setiap jawaban yang diberikan sepanjang zaman di tempat yang berbeda-beda, selalu unik, sebagaimana pertanyaan terhadap hakikat hidup dan kehidupan. Lantas apakah dalam hidupnya manusia benar-benar menguasai dirinya dan menentukan hidupnya sendiri? Siapa kuasa sejati itu? Persoalan tentang rahasia Yang Satu akan membawa orang pada persoalan tentang Yang Abadi, Yang Maha Hidup, Wujud Mutlak yang ada-Nya tidak tergantung pada sesuatu yang lain.

Tampaknya pertanyaan itu memang ditunggu oleh Sunan Bonang, sebab hanya melalui pertanyaan seperti itu dia dapat menyingkap rahasia ilmu tasawuf dan relevansinya, kepada Wujil. Maka Sunan Bonang pun menjawab:

6

Sang Ratu Wahdat mesem ing lathi (Ratu Wahdat tersenyum lembut)

Heh ra Wujil kapo kamangkara (Hai Wujil, sungguh lancang kau)

Tan samanya pangucape (Tuturmu tak lazim)

Lewih anuhun bendu (Berani menagih imbalan tinggi)

Atunira taha managih (Demi pengabdianmu padaku)

Dening geng ing sakarya (Tak patut aku disebut Sang Arif)

Kang sampun alebu (Andai hanya uang yang diharapkan)

Tan padhitane dunya (Dari jerih payah mengajarkan ilmu)

Yen adol warta tuku warta ning tulis (Jika itu yang kulakukan)

Angur aja wahdat (Tak perlu aku menjalankan tirakat)

 

7

Kang adol warta tuhu warti (Siapa mengharap imbalan uang)

Kumisum kaya-kaya weruha (Demi ilmu yang ditulisnya)

Mangke ki andhe-andhene (Ia hanya memuaskan diri sendiri)

Awarna kadi kuntul (Dan berpura-pura tahu segala hal)

Ana tapa sajroning warih (Seperti bangau di sungai)

Meneng tan kena obah (Diam, bermenung tanpa gerak)

Tinggalipun terus (Pandangnya tajam, pura-pura suci)

Ambek sadu anon mangsa (Di hadapan mangsanya ikan-ikan)

Lirhantelu outihe putih ing jawi (Ibarat telur, dari luar kelihatan putih)

Ing jro kaworan rakta (Namun isinya bewarna kuning)

 

8

Suruping arka aganti wengi (Matahari terbenam, malam tiba)

Pun Wujil anuntu maken wraksa (Wujil menumpuk potongan kayu)

Badhi yang aneng dagane (Membuat perapian, memanaskan)

Patapane sang Wiku (Tempat pesujudan Sang Zahid)

Ujung tepining wahudadi (Desa itu gersang)

Aran dhekeh ing Benang (Di tepi pantai sunyi di Bonang)

Saha-saha sunya samun (Bahan makanan tak banyak)

Anggaryang tan ana pala boga (Hanya gelombang laut)

Ang ing ryaking sagara nempuki (Memukul batu karang)

Parang rong asiluman (Dan menakutkan)

 

9

Sang Ratu Wahdat lingira aris (Sang Arif berkata lembut)

Heh ra Wujil marangke den enggal (Ingatlah Wujil, waspadalah, kemarilah!)

Tur den shekel kukuncire (Dipegangnya kucir rambut Wujil)

Sarwi den elus-elus (Seraya dielus-elus)

Tiniban sih ing sabda wadi (Tanda kasih-sayangnya)

Ra Wujil rungokna, sasmita katenggun (Wujil, dengar sekarang)

Lamun sira kalebua (Jika kau harus )

Ing naraka isung dhewek angleboni (masuk neraka karena kata-kataku)

Aja kang kaya sira (Aku yang akan menggantikan tempatmu)

 

… 11

Pangestisun ing sira ra Wujil (Sadarilah dirimu)

Den yatna uripira neng dunya Ywa sumambar angeng gawe (Jangan ceroboh dan gegabah hidup di dunia ini)

Kawruhana den estu (Bukan yang Haqq)

Sariranta pon tutujati Kang jati dudu sira (Dan Yang Haqq bukan dirimu)

Sing sapa puniku weruh rekeh ing sariri (Orang yang mengenal dirinya)

Mangka saksat wruh sira (Asal usul semua kejadian)

Maring Hyang Widi (Akan mengenal Tuhan)

Iku marga utama (Inilah jalan makrifat sejati)

Dalam bait-bait yang telah dikutip dapat kita lihat bahwa pada permulaan suluknya Sunan Bonang menekankan bahwa Tuhan dan manusia itu berbeda. Tetapi karena manusia adalah gambaran Tuhan, maka “pengetahuan diri” dapat membawa seseorang mengenal Tuhannya. Pengetahuan diri di sini terangkum dalam pertanyaan: apa dan siapa sebenarnya manusia itu? Bagaimana kedudukannya di atas bumi? Dari mana ia berasal dan kemana ia pergi setelah mati? Pertama-tama, “diri” yang dimaksud penulis sufi ialah “diri rohani”, bukan “diri jasmani”, karena ruhlah yang merupakan esensi kehidupan manusia, bukan jasmaninya. Kedua kali, sebagaimana dikemukakan dalam Al-Quran, surat al-Baqarah, manusia dicipta oleh Allah sebagai khalifah-Nya di atas bumi’ dan sekaligus sebagai hamba-Nya. Itulah hakikat kedudukan manusia di muka bumi.

Ketiga, persoalan dari mana berasal dan kemana perginya tersimpul dari ucapan Inna li Allah wa inna li Allahi raji’un(Dari Allah kembali ke Allah). Demikianlah sebagai karya bercorak tasawuf paling awal dalam sastra Jawa, kedudukan Suluk Wujil dan suluk-suluk Sunan Bonang yang lain sangatlah penting. Sejak awal pengajarannya tentang tasawuf, Sunan Bonang menekankan bahwa konsep fana’ atau persatuan mistik dalam tasawuf tidak mengisyaratkan kesamaan manusia dengan Tuhan, yaitu yang menyembah dan Yang Disembah. Seperti penyair sufi Arab, Persia ,dan Melayu, Sunan Bonang–dalam mengungkapkan ajaran tasawuf dan pengalaman keruhanian yang dialaminya di jalan tasawuf–menggunakan baik simbol (tamsil) yang diambil dari budaya Islam universal mau pun dari budaya lokal.

Tamsil-tamsil dari budaya Islam universal yang digunakan ialah burung, cermin, laut, Mekah (tempat Kabah atau Rumah Tuhan) berada, sedangkan dari budaya lokal antara lain ialah tamsil wayang, lakon perang Kurawa dan Pandawa (dari Mahabharata), dan bunga teratai. Tamsil-tamsil ini secara berurutan dijadikan sarana oleh Sunan Bonang untuk menjelaskan tahap-tahap perjalanan jiwa manusia dalam upaya mengenal dirinya yang hakiki, yang melaluinya pada akhirnya mencapai makrifat, yaitu mengenal Tuhannya secara mendalam melalui penyaksian kalbunya.

Tasawuf dan Pengetahuan Diri

Secara keseluruhan jalan tasawuf merupakan metode-metode untuk mencapai pengetahuan diri dan hakikat wujud tertinggi, melalui apa yang disebut sebagai Jalan Cinta dan penyucian diri. Cinta yang dimaksudkan para sufi ialah kecenderungan kuat dari kalbu kepada Yang Satu, karena pengetahuan tentang hakikat ketuhanan hanya dicapai tersingkat.

TENTANG SASTRA SULUK

Jawa Timur adalah provinsi tempat kediaman asal dua suku bangsa besar, yaitu Jawa dan Madura, dengan tiga sub-etnik yang memisahkan diri dari rumpun besarnya seperti Tengger di Probolinggo, Osing di Banyuwangi, dan Samin di Ngawi. Dalam sejarahnya, kedua suku bangsa tersebut telah lebih sepuluh abad mengembangkan tradisi tulis dalam berkomunikasi dan mengungkapkan pengalaman estetik mereka.

Pada akhir abad ke-18, masing-masing menggunakan bahasa yang jauh berbeda dalam penulisan kitab dan karya sastra–Jawa dan Madura. Akan tetapi, kesusastraan mereka memiliki akar dan sumber yang sama, serta berkembang mengikuti babakan sejarah yang sejajar. Pada zaman Hindu, kesusastraan mereka satu, yaitu sastra Jawa Kuno yang ditulis dalam bahasa Kawi dan aksara Jawa Kuno. Setelah agama Islam tersebar pada abad ke-16, bahasa Jawa Madya menggeser bahasa Jawa Kuno. Pada periode ini dua aksara dipakai secara bersamaan, yaitu aksara Jawa yang didasarkan tulisan Kawi dan aksara Arab Pegon yang didasarkan huruf Arab Melayu (Jawi).

Pigeaud (1967:4-7) membagi perkembangan sastra Jawa secara keseluruhan ke dalam empat babakan: Zaman Hindu, Zaman Jawa-Bali, Zaman Pesisir, dan Zaman Surakarta dan Yogyakarta.

Zaman Hindu berlangsung pada abad ke-9 hingga ke-15. Puncak perkembangan sastra pada periode ini berlangsung pada zaman Kerajaan Kadiri (abad ke-11 dan 12), dilanjutkan dengan zaman Kerajaan Singasari (1222-1292 M) dan Majapahit (1292-1478 M).

Zaman Jawa-Bali pad abad ke-16 hingga ke-19. Setelah Majapahit diruntuhkan Kerajaan Demak pada akhir abad ke-15, ribuan pengikut dan kerabat raja Majapahit pindah ke Bali. Kegiatan sastra Jawa Kuno dilanjutkan di tempat tinggal mereka yang baru ini.

Zaman Pesisir berlangsung pada abad ke-15 hingga ke-19. Pada zaman ini kegiatan sastra berpindah ke kota-kota pesisir yang merupakan pusat perdagangan dan penyebaran agama Islam.

Zaman Surakarta dan Yogyakarta berlangsung pada abad ke-18 hingga ke-20. Pada akhir abad ke-18 di Surakarta, terjadi renaisans sastra Jawa Kuno dipelopori oleh Yasadipura I. Pada masa itu karya-karya Jawa Kuno digubah kembali dalam bahasa Jawa Baru. Lebih kurang tiga dasawarsa kemudian, karya pesisir juga mulai banyak yang disadur atau dicipta ulang dalam bahasa Jawa Baru di keraton Surakarta.

Khazanah Sastra Jawa Timur

Khazanah sastra zaman Hindu dan Islam Pesisir–dua zaman yang relevan bagi pembicaraan kita–sama melimpahnya. Keduanya telah memainkan peran penting masing-masing dalam kehidupan dalam masyarakat Jawa dan Madura. Pengaruhnya juga tersebar luas tidak terbatas di Jawa, Bali, dan Madura.

Karya-karya pesisir ini juga memengaruhi perkembangan sastra di Banten, Palembang, Banjarmasin, Pasundan, dan Lombok (Pigeaud, 1967:4-8). Di antara karya Jawa Timur yang paling luas wilayah penyebarannya ialah siklus cerita Panji. Versi-versinya yang paling awal diperkirakan ditulis menjelang runtuhnya Kerajaan Majapahit pada akhir abad ke-15 M (Purbatjaraka, 1958). Cerita mengambil latar belakang di lingkungan Kerajaan Daha dan Kadiri. Versi roman ini, dalam bahasa-bahasa Jawa, Sunda, Bali, Madura, Melayu, Siam, Khmer dan lain-lain, sangat banyak. Dalam sastra Melayu terdapat versi yang ditulis dalam bentuk syair, yang terkenal di antaranya ialah Syair Ken Tambuhan dan Hikayat  Andaken Penurat.

Tetapi bagaimana pun, yang dipandang sebagai puncak perkembangan sastra Jawa Kuno ialah kakawin seperti Arjuna Wiwaha (Mpu Kanwa), Hariwangsa (Mpu Sedah), Bharatayudha (Mpu Sedah dan Mpu Panuluh), Gatotkacasraya (Mpu Panuluh), Smaradahana (Mpu Dharmaja), Sumanasantaka (Mpu Monaguna), Kresnayana (Mpu Triguna), Arjunawijaya(Mpu Tantular), Lubdhaka (Mpu Tanakung); atau karya-karya yang ditulis lebih kemudian seperti Nagarakretagama(Mpu Prapanca), Kunjarakarna, Pararaton, Kidung Ranggalawe, Kidung Sorandaka, Sastra Parwa (serial kisah-kisah dari Mahabharata), dan lain-lain (Zoetmulder, 1983: 80-478). Apabila sumber sastra Jawa Kuno  terutama sekali ialah sastra Sansekerta, seperti diperlihatkan oleh puitika dan bahasanya yang dipenuhi kosa kata Sansekerta; sumber sastra pesisir ialah sastra Arab, Parsi, dan Melayu. Bahasa pun mulai banyak meminjam kosa kata Arab dan Parsi, terutama yang berhubungan dengan konsep-konsep keagamaan.

Kegiatan sastra posisir bermula di kota-kota pelabuhan Gresik, Tuban, Sedayu, Surabaya, Demak, dan Jepara. Di kota-kota inilah komunitas-komunitas Muslim Jawa yang awal mulai terbentuk. Mereka pada umumnya terdiri dari kelas menengah yang terdidik, khususnya kaum saudagar kaya. Dari kota-kota ini kegiatan sastra pesisir menyebar ke Cirebon dan Banten di Jawa Barat, dan ke Sumenep dan Bangkalan di Pulau Madura. Pengaruh sastra pesisir ternyata tidak hanya terbatas di Pulau Jawa. Disebabkan mobilitas para pedagang dan penyebar agama Islam yang tinggi, kegiatan tersebut juga menyebar ke luar Jawa seperti Palembang, Lampung, Banjarmasin, dan Lombok. Pada abad ke-18 dan ke-19, dengan pindahnya pusat kebudayaan Jawa ke keraton Surakarta dan Yogyakarta, kegiatan penulisan sastra pesisir juga berkembang di daerah-daerah Surakarta dan Yogyakara, serta tempat lain di sekitarnya seperti Banyumas, Kedu, Madiun, dan Kediri (Pigeaud, 1967: 6-7).

Khazanah sastra pesisir tidak kalah melimpahnya dibanding khazanah sastra Jawa Kuno. Khazanah tersebut meliputi karya-karya yang ditulis dalam bahasa Jawa Madya, Madura, dan Jawa Baru, dan dapat dikelompokkan menurut jenis dan coraknya sebagaimana pengelompokan dalam sastra Melayu Islam, seperti berikut:

  1. Kisah-kisah berkenaan dengan Nabi Muhammad Saw.
  2. Kisah para nabi, di Jawa disebut Serat Anbiya. Dari sumber ini muncul kisah-kisah lepas seperti kisah Nabi Musa, Kisah Yusuf dan Zuleikha, Kisah Nabi Idris, Nuh, Ibrahim, Ismail, Sulaiman, Yunus, Isa.
  3. Kisah Sahabat-sahabat Nabi seperti Umar bin Khattab dan Ali bin Abi Thalib.
  4. Kisah para wali seperti Bayazid al-Bhiztami dan Ibrahim Adam.
  5. Hikayat raja-raja dan pahlawan Islam, seperti Amir Hamzah, Muhammad Hanafiah, Johar Manik, Umar Umayya dan lain-lain. Dalam sastra Jawa, Madura, dan Sunda disebut Serat Menak.
  6. Sastra Kitab, uraian mengenai ilmu-ilmu Islam seperti tafsir Al-Quran, hadis, ilmu fiqih, usuluddin, tasawuf, tarikh (sejarah), nahu (tatabahasa Arab), adab (sastra Islam), dengan menggunakan gaya bahasa sastra.
  7. Karangan-karangan bercorak tasawuf. Dalam bentuk puisi karangan seperti itu di Jawa disebut suluk. Tetapi juga tidak jarang dituangkan dalam bentuk kisah perumpamaan atau alegori. Dalam bentuk kisah perumpamaan dapat dimasukkan kisah-kisah didaktis, di antaranya yang mengandung ajaran tasawuf.
  8. Karya ketatanegaraan, yang menguraikan masalah politik dan pemerintahan, diselingi berbagai cerita.
  9. Karya bercorak sejarah.
  10. Cerita berbingkai, di dalamnya termasuk fabel atau cerita binatang.
  11. Roman, kisah petualangan bercampur percintaan.
  12. Cerita jenaka dan pelipur lara, misalnya cerita Abu Nuwas (Ali Ahmad dan Siti Hajar Che’Man,1996; Pigeaud I, 1967: 83-7).

Yang relevan untuk pembicaraan ini ialah No. 7, karangan-karangan bercorak tasawuf dan roman yang sering digubah menjadi alegori sufi. Karangan-karangan bercorak tasawuf disebut suluk dan lazim ditulis dalam bentuk puisi atau tembang. Jumlah karya jenis ini cukup melimpah. Contohnya ialah Kitab Musawaratan Wali Sanga, Suluk Wali Sanga, Mustika Rancang, Suluk Malang Sumirang, Suluk Aceh, Suluk Walih, Suluk Daka, Suluk Syamsi Tabris, Suluk Jatirasa, Suluk Johar Mungkin, Suluk Pancadriya, Ontal Enom (Madura), Suluk Jebeng. Pun demikian dengan kisah perumpamaan dan didaktis seperti Sama’un dan Mariya, Masirullah, Wujud Tunggal, Suksma Winasa, Dewi Malika, dan Syeh Majenun (Pigeaud I: 84-88).

Agak mengejutkan juga karena dalam kelompok ini ditemukan kisah didaktis berjudul Bustan, yang merupakan saduran karya penyair Parsi terkenal abad ke-13 M, Syekh Sa’di al-Syirazi, yang petikan sajak-sajaknya dalam bahasa Persia terdapat pada makam seorang Muslimah Pasai, Naina Husamuddin yang wafat pada abad ke-14. Dalam khazanah sastra pesisir juga didapati karya ketatanegaraan dan pemerintahan seperti Paniti Sastra dan saduran Tajus Salatin karya Bukhari al-Jauhari (1603) dari Aceh. Saduran Tajus Salatin dalam bahasa Jawa ini ditulis dalam bentuk tembang. Karya-karya kesejarahan tergolong banyak, di antaranya: Babad Giri, Babad Gresik, Babad Demak, Babad Madura, Babad Surabaya, Babad Sumenep, Babad Besuki, Babad Sedayu, Babad Tuban, Kidung Arok, Juragan Gulisman (Madura) dan Kek Lesap (Madura). Ada pun roman yang populer, di antaranya: Cerita Mursada, Jaka Nestapa,Jatikusuma, Smarakandi, Sukmadi; sedangkan dari Madura ialah Tanda Anggrek, Bangsacara Ragapadmi, dan Lanceng Prabhan (ibid). Karya-karya pesisir lain dari Madura yang terkenal ialah Caretana Barakay, Jaka Tole, Tanda Serep, Baginda Ali, Paksi Bayan, Rato Sasoce, Malyawan, Serat Rama, Judasan Arab, Menak Satip, Prabu Rara, Rancang Kancana, Hokomollah, Pandita Rahib, Keyae Sentar, Lemmos, Raja Kombhang, Sesigar Sebak, Sokma Jati, Rato Marbin, Murbing Rama, Barkan, Malang Gandring, Pangeran Laleyan, dan Brangta Jaya. Penulis-penulis pesisir awal pada umumnya ialah para wali dan ahli tasawuf terkemuka seperti Sunan Bonang, Sunan Kalijaga, Sunan Kudus, Sunan Drajat, Sunan Giri, Sunan Muria, Sunan Gunung Jati, Sunan Panggung dan Syekh Siti Jenar.

Yang amat disayangkan ialah karena dalam daftar yang terdapat dalam katalog-katalog naskah Jawa Timur, nama pengarang dan penyalin teks jarang sekali disebutkan. Namun, sejauh mengenai teks-teks dari Madura, terdapat beberapa nama pengarang terkenal pada abad ke-17 hingga ke-19 yang dapat dicatat. Misalnya Abdul Halim (pengarang Tembang Bato Gunung), Mohamad Saifuddin (pegarang Serat Hokomolla dan Nabbi Mosa), Ahmad Syarif, R. H. Bangsataruna, Sasra Danukusuma, Umar Sastradiwirya dan lain-lain (Abdul Hadi, 1981). Penelitian ini tidak akan membahas semua karya yang telah disebutkan, karena apabila dilakukan maka pembicaraan akan menjadi sangat luas. Supaya terfokus, pembicaraan akan ditumpukan pada suluk-suluk karya Sunan Bonang, khususnya Suluk Wujil, yang sedikit banyak mencerminkan kecenderungan umum sastra pesisir awal. Beberapa alasan lain dapat dikemukakan di sini.

Pertama, kajian terhadap karya Jawa Kuno telah banyak dilakukan baik oleh sarjana Indonesia mau pun asing, sedangkan karya pesisir masih sangat sedikit yang memberi perhatian. Padahal pengaruh karya pesisir itu tidak kecil terdahap kebudayaan masyarakat Jawa Timur. Pengaruh tersebut meliputi bidang-bidang seperti metafisika, kosmologi, etika, psikologi, dan estetika, karena yang diungkapkan karya-karya pesisir itu mencakup persoalan-persoalan yang dibicarakan dalam bidang-bidang tersebut.

Kedua, selama beberapa dasawarsa Sunan Bonang hanya dikenal sebagai seorang wali dan belum banyak yang membahas karya-karya serta pemikirannya di bidang kerohanian, kebudayaan, dan agama. Kajian yang cukup mendalam sebagian besar dilakukan oleh sarjana asing seperti Schrieke (1911), Kraemer (1921), dan Drewes (1967). Sarjana Indonesia yang meneliti, namun tidak mendalam ialah Purbatjaraka (1938). Selebihnya pembicaraan mengenai Sunan Bonang hanya menyangkut kegiatannya sebagai wali penyebar agama Islam.

Ketiga, suluk sebagai karangan bercorak tasawuf yang disampaikan dalam bentuk tembang, memunyai pengaruh besar terhadap kehidupan spiritual masyarakat Jawa Timur. Mengingkari peranan suluk dan sastra suluk adalah mengingkari realitas budaya masyarakat Jawa Timur.

Keempat, suluk-suluk Sunan Bonang mencerminkan babakan sejarah yang penting dalam kebudayaan Jawa, yaitu zaman peralihan dari Hindu ke Islam yang berlangsung secara damai.

Kelima, suluk-suluk tersebut merupakan karya bercorak tasawuf paling awal dalam sejarah sastra Jawa secara umum, dan pengaruhnya tidak kecil bagi perkembangan sastra pesisir.

@@@

Kepustakaan

Abdullah Ciptoprawiro. 1984. “Filsafat Jawa dalam Dialog”, ceramah di TIM Jakarta, 11 Juli.

Abdul Hadi W. M. 1981. “Beberapa Informasi tentang Sastra Madura”. Sronen No.2, September 1981:11-15.

——————— 1999. Kembali ke Akar, Kembali ke Sumber. Jakarta: Pustaka Firdaus.

——————— 2000. Islam: Cakrawala Estetik dan Budaya. Jakarta: Pustaka Firdaus.

——————— 2002. Tasawuf yang Tertindas: Kajian Hermeneutik terhadap Karya-karya Hamzah Fansuri. Jakarta: Yayasan Paramadina.

Affifi, Abu’l `Ala. 1964. The Mystical Philosophy of Muhyi al-Din Ibn al-`Arabi. Cambridge: Cambridge University Press.

Agus Sunyoto. 1995. Sunan Ampel. Surabaya: LPLI Sunan Ampel.

Al-Attas, S. Muhammad Naquib. 1971. Concluding Postscript to the Origin of the Malay Sha`ir. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.

Ali Ahmad dan Siti Hajar Che Man. 1996. Sastra Melayu Warisan Islam. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.

de Graff, H. J & Pigeaud, T.H.. 1985. Kerajaan-kerajaan Islam di Jawa: Peralihan dari Majapahit ke Demak. Jakarta: Grafitti Press dan KITLV.

Drewes, G. W. J. 1968. “Javanese Poems dealing with or Attiributed to the Saint of Bonang”, BKI deel 124.

————– 1978. The Admonition of Seh Bari, The Hague: Martinus Nijhoff.

al-Hujwiri, Ali Utsman. 1990. Kasyful Mahjub: Risalah Tasawuf Persia Tertua. Terjemahan Suwardjo Muthary dan Abdul Hadi W. M. Bandung: Mizan.

Hussein Djajadiningrat. 1983. Tinjauan Kritis tentang Sejarah Banten. Jakarta: Jambatan – KITLV..

Kalamwadi, K. 1980. Serat Darmogandul. Semarang: Dahara Press.

Kramer H. 1921. “En Javaansche Primbon uit de Zestiende eeuw”. Disertasi. Leiden.

Mir Valiuddin. 1980. Contemplative Discipline in Sufism. London – The Hague: East- West Publications.

Pegeaud, T. H. 1967. Literature of Java, Vol. I. Leiden: Martinus Nijohoff

Purbatjaraka, R. Ng. 1938. “Soeloek Woedjil: De Geheime Leer van Soenan Bonang”. Djawa 1938, No. 3-5.

———————– 1958. Kapustakan Jawi. Jakarta: Jambatan.

Risvi, S. A. 1978. A History of Sufism in India. Delhi: Munshiram Manoharlal Publishers Pvt. Ltd.

Schimmel, Annemarie. 1981. Mystical Dimensions of Islam. Chapel Hill: The University of North Caroline Press.

Schrieke, B J. O. 1911. “Het Boek van Bonang”. Disertasi. Leiden

Smith, Margareth. 1972. Reading from the Mystics of Islam. London: Luzac & Company Ltd.

Suyadi Pratomo. 1985. Ajaran Rahasia Sunan Bonang. Jakarta: Balai Pustaka.

al-Taftazani, Abu al-Wafa. 1985. Sufi dari Zaman ke Zaman. Terjemahan A. Rofi’ Utsmani. Bandung: Pustaka.

Zoetmulder, P. J. 1983. Kalangwan: Sastra Jawa Kuno Selayang Pandang. Jakarta: Djambatan– KITLV.

=Artikel karya Arif Novianto, kolumnis di Koran Suara Merdeka

@@@

Categories: MEMBACA ULANG SUNAN BONANG | 1 Komentar

SMS PITULINGAN TETAP AKTIF


kwa

ASSALAMUALAIKUM WR WB.

Sehubungan dengan pertanyaan pembaca, maka diberitahukan bahwa KAMPUS WONG ALUS  tetap MEMBUKA program bantuan sosial berupa ikut serta MENGAMINI DAN MENDOAKAN AGAR HARAPAN ANDA TERWUJUD ATAS IJIN ALLAH SWT, TUHAN YANG MAHA MELIHAT DAN MENDENGAR. 

Caranya mudah.

TULISLAH NAMA, USIA, ALAMAT, DAN ISI DOANYA APA. DAN KIRIM KE NOMOR KWA:

081233500577

Silahkan kirim SMS, misalnya: INGIN SEMBUH DARI SAKIT, ASMARA CINTA DITOLAK, REJEKI SERET, KELUARGA KABUR, BARANG HILANG, KEIKHLASAN MENGAMALKAN ILMU DI BLOG KWA, INGIN NAIK JABATAN,  DISANTET/DICELAKAI ORANG dll…

cara-sadap-smsKAMI TIDAK AKAN MEMBALAS SMS ANDA, KAMI HANYA MENGAMINI DAN IKUT MENDOAKANNYA. ALLAH SWT YANG MAHA MENDENGAR DAN MELIHATLAH YANG AKAN MEMBALAS DOA ANDA.

Salam paseduluran.

WASSALAMUALAIKUM WR WB.

@kwa,2016

======================================

TIDAK DIPUNGUT BIAYA (GRATIS),

UNTUK SEGALA USIA DAN SEGALA MASALAH,

KAMI PASTI AKAN JAGA KERAHASIAAN ANDA.

=======================================

Categories: >>PERPUSTAKAAN UTAMA

IKUT BELASUNGKAWA


KELUARGA BESAR KAMPUS WONG ALUS IKUT BERBELASUNGKAWA YANG SEDALAM-DALAMNYA ATAS MUSIBAH GEMPA BUMI DI ACEH,
RABU 7 DESEMBER 2016.

SEMOGA KELUARGA KORBAN TETAP TABAH DAN SABAR DALAM RIDHO DAN LINDUNGAN ALLAH SWT. AMIN 

5847a9a22c477-bencana-gempa-bumi-di-aceh_663_382
gempa-aceh4

Categories: >>PERPUSTAKAAN UTAMA | 4 Komentar

IJAZAH ILMU SABORAT BHUMI (ijazahan ulang)


pernah diijasahkan pada 10 November 2013 by wongalus

Di tanah borneo, kita mengenal ilmu ini dengan nama ilmu saborat bhumi. Tahap sempurna pengamalan, semua kehendak Allah SWT akan menyatu dalam hidup perilaku kita.

Fadhilah: semua kebutuhan

TATA CARA:

TAWASSUL kirim al fatihah untuk Rasulullah SAW dst hingga pengijazah ilmu.

Wiridkan sebagai berikut

=============================================

BISMILLAHIRROHMANIRROHIM

KUP TANGAN KANAN KUP TANGAN KIRI

ALLAH MENGGERAKKAN BUMI DAN LANGIT

BOLEH BERGERAK BARULAH ENGKAU

LEPAS DARI TANGANKU

BERKAT DOA LAA ILAHA ILALLAH

BERKAT MUHAMMADARRASULULLAH

==================

SELAMA 1000 X selama 7 hari

Setiap selesai wirid 1000 x buka telapak tangan kanan dan kiri anda, lalu ludahi dengan ludah anda mulai tangan kanan terlebih dulu dan jangan dibersihkan hingga mengering sendiri.

=cara pengamalan=

baca doa di atas lalu ludahi kedua telapak tangan anda dan arahkan kepada obyek apapun yang anda hajatkan. Misalnya anda ingin banyak rejeki maka arahkan tangan anda ke selembar uang dan tunggu sehari dua hari. Bila butuh pengobatan maka arahkan tangan ke obyek yang sakit dan seterusnya.

@wongalus,2013

Categories: IJAZAH ILMU SABORAT BHUMI (ijazahan ulang) | 5 Komentar

DUA SHOLAWAT BERKAH


SHOLAWAT QULHU GHOIB

ALLOHUMMA SHOLLI WA SALLIM ‘ALAA SAYYIDINA MUHAMMADIN SHOLAATAN TUKHRIJUNII BIHAA MIN DZHULUMAATILWAHMI WA TUKRIMUNII BI NUURILFAHMI WA TUWADHDHIHULII MAA ISYKILA HATTAA YUFHAMA INNAKA TA’LAMU WALAA A’LAMU WA ANTA ‘ALLAAMULGHUYUUBI

=== BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM QUL HUWALLOOHU AHAD ALLOOHUSH SHOMAD LAM YALID WA LAM YUULAD WA LAM YAKULLAHUU KUFUWAN AHAD ===

ANTUSHOLLI ALAA SAYYIDINA MUHAMMADIN SIRRI HAYATILWUJUUD WASSABABIL A’DHOMILII KULLI MAUJUD SHOLAATAN TUSSABBITU FII QOLBI IMAN WA TUHAFFIDUNILQUR’AN WA TUFAHIMUNIL MINHUL AYAT WA TAFTAHULLI BIHAA NUURROLJANNAT WA NUURRONNAIM WA NUURRON NADIRO ILLAA WAJHIKALKARIIM WA ‘ALAA AALIHI WA SHOHBIHI WA SALLAM

SHOLAWAT A’DHOMIL RIJALUL GHOIB

(Pernah diijasahkan di kwa pada 11-1-2011)

ALLOHUMMA INNI ASALUKA BISMIKAL A’DHOOMIL MAKTUUBI MIN NUURI WAJHIKAL A’LAA ALMUABBADIDDAAIMIL BAQIIL MUKHOLLAD. FII QOLBI NABIYYIKA WA ROSUULIKA MUHAMMAD. WA ASALUKA BISMIKAL A’DHOOMI WAAHIDI BIWAHDATIL AHADIL MUTA’AALII ‘AN WAHDATIL KAMMI WAL’ADAD.ALMUQODDASI ‘AN KULLI AHAAD BIHAQQI

=== BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM QUL HUWALLOOHU AHAD ALLOOHUSH SHOMAD LAM YALID WA LAM YUULAD WA LAM YAKULLAHUU KUFUWAN AHAD ===

 AN TUSHOLLIYA ‘ALAA SAYYIDINA MUHAMMADIN SIRRI HAYATIL WUJUUDI WASSABABIL A’DHOOMI LIKULLI MAUJUUDI SHOLAATAN TUTSABBITU FII QOLBI  IMAAN WA TUHAFFIDHUNIL QURAAN, WA TUFAHHIMUNII MINHUL AYAAT  WA TAFTAHULI BIHAA NUUROL JANNATI WA NUURON NA’IIM WA NUURON NADHOORI ILAA WAJHIKAL KARIIMI WA ‘ALAA ALIHI WA SHOHBIHI WA SALLIM.

***Catatan; dua sholawat yang bagus diwirid untuk mencari ridlo Allah.  SHOLLAWAT QULHU GHOIB dan SHOLAWAT A’DHOMIL RIJALUL GHOIB itu mirip meski tuah karomahnya beda. Insya alloh bermanfaat agar kita digolongkan sebagai hamba yang menyayangi Rasulullah SAW. Amin Yra.

@kwa, 2016

Categories: DUA SHOLAWAT BERKAH | 10 Komentar

SYEKH JANGKUNG YANG PENUH KAROMAH: Catatan perjalanan KWA ke Makamnya di Pati Jawa Tengah


Istimewanya perjalanan ‘spiritual’ kali ini adalah mengunjungi makam seorang wali sakti mandraguna yang menjadi ikon/penanda kekuatan lelaku para ahli tirakat, wirid dan dzikir. Dialah makam Syekh Jangkung (Saridin) di Pati Jawa Tengah. Syekh Jangkung dikenal sebagai murid para wali: Sunan Kudus, Sunan Muria, dan Sunan Kalijaga (Syekh Malaya) — Syekh Jangkung memanggil gurunya ini dengan sebutan “guru sejati” 

img-20161126-wa0019

img-20161126-wa0022-1Karomah Syekh Jangkung bernama asli Saridin ini melegenda hingga saat ini. Terungkaplah apa rahasia dibalik sosok sederhana yang sejak kecil dikenal wali ‘njadab’ ini dalam ajaran Syekh Jangkung yang ditulis Syekh Jangkung yaitu “Suluk Saridin”.

Suluk ini adalah bukti bahwa Syekh Jangkung adalah sosok penyebar Agama Islam di wilayah Grobogan (masa hidup Syekh Jangkung muda dan wilayan Pati (ketika dewasa) dan sekitarnya. Ajaran-ajaran Islam yang diajarkan para gurunya diteladani dan disebarkan di desa-desa dari mulut ke mulut. Tuah karomah sejarah hidupnya menjadi daya tarik bagi orang-orang Jawa. Mereka yang awalnya beragama Budha, Hindu dan animisme berdatangan ke Syekh Jangkung untuk belajar agama Islam.

Namun Syekh Jangkung adalah sosok guru yang sederhana. Selama hidupnya dia memilih untuk menjadi seorang petani lugu yang tinggal di Desa Landoh, Pati hingga akhir hayatnya. Masa kecil, dia dipanggil Saridin alias Raden Syarifudin putra dari Raden Singa Parna (Syeh Syafi’i) bersama ibu Robi’ah Attaji (Sekar Tanjung). Makam beliau berada di Ds. Landoh kec. Kayen Kab. Pati. Disekitar makam tersebut juga terdapat beberapa makam: Makam istri-istri beliau RA. Retno Jinoli dan RA. Pandan Arum dan Makam bakul legen, Prayoguna dan Bakirah.

KWA mendapatkan kehormatan memakai blangkon asli yang pernah dipakai selama hidupnya oleh Syekh Jangkung dan duduk di tempat duduk beliau

KWA mendapatkan kehormatan memakai blangkon asli yang pernah dipakai selama hidupnya oleh Syekh Jangkung

LUGU DAN SEDERHANA Dikisahkan dalam  Babad Tanah Jawa dan kesaksian dari mulut ke mulut di masyarakat, semasa kanak-kanak Saridin adalah seseorang yang lugu dan karena keluguannya itu pula dia sering ditipu dan dimanfaatkan oleh orang lain.

Syahdan pada suatu hari, dia dan saudara iparnya yang bernama Branjung, diberi oleh orang tuanya warisan satu pohon durian yang banyak buahnya. Kesepakatan terjadi, Saridin memperoleh jatah duren yang jatuh pada saat malam hari, dan Branjung mendapat jatah duren yang jatuh siang hari. Tapi sesungguhnya itu kesepakatan itu hanya akal-akalan Branjung.  Saat malam tiba, Branjung menyamar sebagai harimau dengan tujuan menakut-nakuti Saridin mendekati pohon duren yang saat itu ditunggu Saridin.  Alih-alih berlari, Saridin  yang saat itu membawa batang pohon tebu memukul  sampai mati harimau yang datang padanya –padahal, Harimau itu tidak lain Branjung.

Berita kematian Branjung  dengan cepat menyebar ke seantero Pati. Saridin lah yang membunuh Branjung. Saridin pun diadili dan dihukum setimpal oleh pengadilan di Pati yaitu  penjara. Sadirin menjalani masa hukuman tersebut dengan sabar.

Keluar dari penjara setelah menjalani hukuman, Saridin mulai mencari ilmu dengan nyantri di pondok di Kudus yang saat itu diasuh oleh Sunan Kudus.

Himg-20161126-wa0016ubungan santri – kyai antara Saridin dan Sunan Kudus menghasilkan hubungan yang unik. Sunan Kudus mengakui bahwa Saridin adalah santri yang penuh karomah karena memiliki ilmu Kun Fayakun, ilmu Sabdo Dadi, apa yang diucapkan langsung terkabul.

Dikisahkan percakapan yang melegenda antara keduanya.

Sunan Kudus: “Apakah setiap air  harrus ada ikannya, Din?”

Saridin: “Ada, guru “

Mendengar jawaban dari Saridin, Sunan Kudus terheran-heran dan mengutus santri lain untuk mengambil pohon kelapa untuk membuktikan jawaban Saridin.

Begitu kelapa dipecah terjadilah keajaiban: di dalam batok kelapa itu  ada ikannya sungguhan.

Sunan Kudus diam-diam kagum dengan karomah Sarridin. Namun, dibalik kekagumannya itu, Sunan Kudus iri karena khawatir nantinya akan kalah popular dari Saridin. Namun rasa gengsi sang kyai tidak mungkin mengutarakan isi hatinya yang kagum.

Kejadian lain terkait karomah Saridin pada suatu ketika, di pondok Sunan Kudus ada kerja bakti mengisi bak mandi.  Para santri bahu membahu mengisinya dengan ember. Saridin yang berniat membantu harus kecewa karena ember sudah habis dipakai santri lain. Para Santri mengolok-olok Saridin agar membantu mengisi bak mandi namun menggunakan keranjang dari bambu yang jelas tidak mungkin bisa dipakai untuk menampung air.

Saridin yang lugu pun mengambil keranjang dan secepat kilat digunakannya keranjang itu untuk mengisi bak mandi. Sekali keranjang bambu dimasukkan air sumur dan diguyurkan ke bak mandi tiba-tiba bak mandi langsung terisi penuh. Semua santri terheran-heran, takjub dengan kejadian diluar akal ini.

Banyak karomah dari  Saridin membuat Sunan Kudus memutuskan untuk mengusir santri ini dari pondoknya. “Saridin orang yang suka pamer, di pondok ini untuk belajar agama Islam, bukan untuk pamer kesaktian” kata Sunan Kudus kepada  santri –santrinya.

Gundah gulana dalam pengusirannya, Saridin memutuskan untuk belajar langsung ke Syekh Malaya alias Sunan Kalijaga yang saat itu terkenal sebagai wali yang penuh karomah dan bijaksana. Dalam waktu singkat Saridin lulus dari belajar agama. Saridin memutuskan pulang ke desa asalnya dan mendirikan pondok  bersama anaknya.

Sebelum pulang, Saridin diberi nasehat dan wejangan kepada Saridin agar pandai-pandai menyimpan karomahnya. “Ngger anakku Saridin, kamu saya berikan gelar Syekh Jangkung yang artinya doa agar kamu bisa njangkung lan njampangi kaum disekitar tempat tinggalmu kelak. Semua karomahmu terjadi atas ijin Allah SWT dan simpanlah baik-baik karomahmu untuk berdakwah. Jangan pernah sombong dan mempertunjukkan karomahmu bila tidak perlu,” kata Sunan Kalijaga.

“Baik Bopo Guru Sejatiku,” kata Saridin.

Singkat cerita,  Saridin pulang ke kampung halamannya di Pati melintasi hutan roban yang saat itu sangat ditakuti karena kerajaan siluman. Banyak korban dari masyarakat yang hilang di hutan karena menjadi makanan siluman-siluman di hutan besar yang angker ini. Dalam waktu singkat Saridin berhasil mengalahkan raja siluman dan membuat masyarakat di sekitar hutan aman bisa membangun rumah-rumah di sana. Atas jasanya ini, raja Mataram saat itu menghadiahi Saridin dengan menikahi Retno Jinoli, kakak dari Sultan Agung.

Pasangan Saridin-Retno Jinoli ini akhirnya memiliki keturunan, sang anak yang dinamakan: Momok. Sedangkan Retno Jinoli dipanggil dengan panggilan kesayangan Mbokne Momok.

Dikisahkan, Saridin dan sang anak lelakinya, Momok membangun pondok pesantren di Desa Landoh –ini desa terakhir sampai Saridin wafat. Untuk menghidupi pondok, mereka babat alas dan membuat sawah serta menjadi petani. Untuk memudahkan pekerjaan, Saridin memiliki kerbau untuk membajak sawah.

Suatu hari, karena kelelahan dipakai untuk membajak sawah maka kerbau ini mati. Saridin pun datang dan meniup kepala kerbau. Ajaib, kerbau itu bangun dan hidup kembali. Kerbau itu disebut kerbau landoh –karena berasal dari kerbau Desa Landoh.  Kerbau yang didoakan saridin agar hidup kembali ini memang istimewa karena setelah kerbau ini benar-benar mati karena usia tua, bila seseorang memiliki jimat berupa sisa kulit dan tulang belulangnya maka seseorang itu bisa kebal terhadap semua jenis senjata.  Hingga saat ini, sisa bangkai kerbau landoh itu masih disimpan di museum sederhana di area makam Syekh Jangkung/ Saridin.

Di akhir hayatnya, Syekh Jangkung/Saridin  berpesan agar kelak kalau dirinya wafat maka kerbau landoh itu juga harus disembelih. Para santri dan keluarganya benar-benar melaksanakan pesan ini ketika Syekh Jangkung wafat. Daging kerbau landoh dibagi-bagikan ke warga sekitar pondok dan hingga saat ini kebiasaan membagi-bagikan daging kerbau itu masih dilestarikan masyarakat Pati bagian selatan khusunya desa Kayen, Sukolilo, Gabus, dan Winong.

Demikian sedikit riwayat hidup Syekh Jangkung dan akhirnya akan kita coba mengungkapkan inti dari pelajaran yang disampaikan beliau yang terangkum dalam Suluk Saridin/Syekh Jangkung berikut ini:

SULUK SARIDIN (SYEKH JANGKUNG) — –sebagaimana yang telah ditulis ulang oleh sahabat Mas Kumitir dalam blognya alangalangkumitir. —

Bismillah, wengi iki ingsung madep, ngawiti murih pakerti, pakertining budi kang fitri, sujud ingsun, ing ngarsané Dzat Kang Maha Suci. — Bismillah,malam ini hamba menghadap, mengawali meraih hikmah/ hikmah budi yang suci, hamba bersujud, di hadapan Keagungan Yang Mahasuci.

Bismillah ar-rahman ar-rahim, rabu mbengi, malam kamis, tanggal lima las, wulan poso, posoning ati ngilangi fitnah, posoning rogo ngeker tingkah. — Bismillâh ar-Rahmân ar-Rahîm, Rabu malam Kamis, tanggal 15 bulan Ramadhan, puasa hati menghilangkan fitnah, puasa raga mencegah tingkah buruk.

Bismillah, dhuh Pangeran Kang Maha Suci, niat ingsun ndalu niki, kawula kang ngawiti, nulis serat kang ingsun arani, serat Hidayat Bahrul Qalbi, anggayuh Sangkan Paraning Dumadi. — Bismillâh, wahai Tuhan Yang Mahasuci, niat hamba malam ini, hamba yang mengawali, menulis surat yang dinamai, surat Hidayat Bahrul Qalbi, untuk memahami asal tujuan hidup ini.

Bismillah, dhuh Pangeran mugi hanebihna, saking nafsu ingsun iki, kang nistha sipatipun, tansah ngajak ing laku drengki, ngedohi perkawis kang wigati. —- Bismillâh, wahai Tuhan semoga Engkau menjauhkan, dari nafsu hamba ini, yang buruk sifatnya, senantiasa mengajak berlaku dengki, menjauhi perkara yang baik.

Bismillah, kanthi nyebut asmaning Allah, Dzat ingkang Maha Welas, Dzat ingkang Maha Asih, kawula nyenyuwun, kanthi tawasul marang Gusti Rasul, Rasul kang aran Nur Muhammad, mugiya kerso paring sapangat, kanthi pambuka ummul kitab. — Bismillâh, dengan menyebut nama Allah, Dzat Yang Maha Pengasih, Dzat Yang Maha Penyayang, hamba memohon, melalui perantara Rasul, Rasul yang bernama Nur Muhammad, semoga berkenan memberi syafaat, dengan pembukaan membaca ummul kitab.

Sun tulis kersaneng rasa, rasaning wong tanah Jawa, sun tulis kersaneng ati, atining jiwa kang Jawi, ati kang suci, tanda urip kang sejati, sun tulis kersaning agami, ageming diri ingkang suci. — Hamba tulis karena rasa, perasaan orang tanah Jawa, hamba tulis karena hati, hati dari jiwa yang keluar, hati yang suci, tanda hidup yang sejati, hamba tulis karena agama, pegangan diri yang suci.

Kang tinulis dudu ajaran, kang tinulis dudu tuntunan, iki serat sakdermo mahami, opo kang tinebut ing Kitab Suci, iki serat amung mangerteni, tindak lampahé Kanjeng Nabi. —  Yang tertulis bukan ajaran,yang tertulis bukan tuntunan,surat ini sekadar memahami,apa yang tersebut dalam Kitab Suci,surat ini sekadar mengetahui,perilaku hidup Kanjeng Nabi.

Apa kang ana ing serat iki, mong rasa sedehing ati, ati kang tanpa doyo, mirsani tindak lampahing konco, ingkang tebih saking budi, budining rasa kamanungsan, sirna ilang apa kang dadi tuntunan.— Apa yang ada di surat ini,hanya rasa kesedihan hati,hati yang tiada berdaya,melihat sikap perilaku saudara,yang jauh dari budi,budi rasa kemanusiaan,hilang sudah apa yang menjadi tuntunan.

Mugi-mugi dadiho pitutur, marang awak déwé ingsun, syukur nyumrambahi para sadulur, nyoto iku dadi sesuwun, ing ngarsane Dzat Kang Luhur. — Semoga menjadi petunjuk,terhadap diri hamba sendiri,syukur bisa berguna untuk sesama, itulah yang menjadi permohonan,di hadapan Dzat Yang Mahaagung.

SYARIAT

Mangertiyo sira kabéh, narimoho kanthi saréh, opo kang dadi toto lan aturan, opo kang dadi pinesténan, anggoning ngabdi marang Pangeran — Mengertilah kalian semua,terimalah dengan segala kerendahan jiwa,terimalah dengan tulus dan rela,apa yang menjadi ketetapan dan aturan,apa yang telah digariskan,untuk mengabdi pada Keagungan Tuhan.

Basa sarak istilah ‘Arbi, tedah isarat urip niki, mulo kénging nampik milih, pundhi ingkang dipun lampahi, anggoning ngabdi marang Ilahi. — Istilah syarak adalah bahasa Arab,yang berarti petunjuk atau pedoman untuk menjalani kehidupan ‘agama’,untuk itulah diperbolehkan memilih,mana yang akan dijalani sesuai dengan kemampuan diri,guna mengabdi pada Keagungan Ilahi.

Saréngat iku tan ora keno, tininggal selagi kuwoso, ageming diri kang wigati, cecekelan maring kitab suci, amrih murih rahmating Gusti. — Apa yang telah di-syari‘at-kan hendaknya jangan kita tinggal,selama diri ini mampu untuk menjalankan,aturan yang menjadi pegangan hidup kita,aturan yang sudah dijelaskan dalam kitab suci al-Qur’an,Itu semua, tidak lain hanya usaha kita untuk mendapat rahmat, dan pengampunan dari Yang Maha Kuasa.

Saréngat iku keno dén aran, patemoné badan lawan lésan, ono maneh kang pepiling, sareh anggoné kidmat, nyembah ngabdi marang Dzat. –— Syariat juga diartikan, sebuah pertemuan antara badan dengan lisan,bertemunya raga dengan apa yang dikata,ada juga yang memberi pengertian,bahwa syariat adalah pasrah dalam berkhidmat,menyembah dan mengabdi pada Keagungan Yang Mahasuci.

Saréngat utawi sembah raga iku, pakartining wong amagang laku, sesucine asarana saking warih, kang wus lumrah limang wektu, wantu wataking wawaton. — Syari`at atau Sembah Raga itu,merupakan tahap persiapan, di mana seseorang harus melewati proses pembersihan diri,dengan cara mengikuti peraturan-peraturan yang ada,dan yang sudah ditentukan—rukun Islam.

Mulo iling-ilingo kang tinebut iki, sadat, sholat kanthi kidmat, zakat bondo lawan badan, poso sak jroning wulan ramadhan, tinemu haji pinongko mampu, ngudi luhuring budi kang estu. — Maka ingat-ingatlah apa yang tersebut di bawah ini, syahadat dengan penuh keihklasan, shalat dengan khusuk dan penuh ketakdhiman, mengeluarkan zakat harta dan badan untuk sesame, puasa pada bulan ramadhan atas nama pengabdian pada Tuhan, menunaikan ibadah haji untuk meraih kehalusan budi pekerti.

Limo cukup tan kurang, dadi rukune agami Islam, wajib kagem ingkang baligh, ngaqil, eling tur kinarasan, menawi lali ugi nyauri. — Lima sudah tersebut tidak kurang, menjadi ketetapan sebagai rukun Islam, wajib dilakukan bagi orang ‘Islam’ yang sudah baligh, berakal, tidak gila dan sehat, adapun, jika lupa menjalankan hendaknya diganti pada waktu yang lain.

Syaringat ugi kawastanan, laku sembah mawi badan, sembah suci maring Hyang, Hyang ingkang nyipto alam, sembahyang tinemu pungkasan. — Syariat juga dinamakan, melakukan penyembahan dengan menggunakan anggota badan, menyembah pada Keagungan Tuhan, Tuhan yang menciptakan alam, Sembah Hyang, begitu kiranya nama yang diberikan.

SYAHADAT

Sampun dados pengawitan, tiyang ingkang mlebet Islam, anyekseni wujuding Pangeran, mahos sadat kanthi temenan, madep-manteb ananing iman. —- Sudah menjadi pembukaan, bagi orang yang ingin masuk Islam, bersaksi akan wujudnya Tuhan, bersungguh-sungguh membaca syahadat, disertai ketetapan hati untuk beriman.

Asyhadu an-lâ ilâha illâ Allâh wa asyhadu anna Muhammad Rasulullah, Tinucapo mawi lisan, Sareh legowo tanpa pameksan, Mlebet wonten njroning ati, Dadiho pusoko anggoning ngabdi. — Asyhadu an-lâ ilâha illâ Allâh wa asyhadu anna Muhammad Rasulullah, ucapkanlah dengan lisan, penuh kesadaran tanpa paksaan, masukkan maknanya ke dalam hati, semoga menjadi pusaka untuk terus mengabdi.

Tan ana Pangeran, kang wajib dén sembah, kejawi amung Gusti Allah, semanten ugi Rasul Muhammad, kang dadi lantaran pitulungé umat. — Hamba bersaksi bahwa tak ada tuhan, yang wajib disembah, kecuali Allah swt, begitu pula dengan Nabi Agung Muhammad saw, yang menjadi perantara pertolongan umat.

SHALAT

Syarat limo ajo lali, kadas najis, badan kedah suci, nutup aurat kanti kiat, jumeneng panggonan mboten mlarat, ngerti wektu madep kiblat, sampurno ingkang dipun serat. — Lima syarat jangan lupa, badan harus suci dari hadats dan najis, menutup aurat jika tidak kesulitan, dilaksanakan di tempat yang suci, mengerti waktu untuk melakukan shalat, lalu menghadap kiblat, sempurna sudah yang ditulis.

Wolu las kang dadi mufakat, rukun sahe nglakoni shalat, niat nejo, ngadek ingkang kiat, takbir banjur mahos surat, al-fatihah ampun ngantos lepat. — Delapan belas yang menjadi mufakat, rukun sahnya menjalankan shalat, niat melakukan shalat, berdiri bagi kita yang mampu, mengucapkan takbiratul ikhram membaca surat, al-Fatichah jangan sampai keliru.

Rukuk, tumakninah banjur ngadek, aran iktidal kanti jejek, tumakninah semanten ugi, banjur sujud tumurun ing bumi, sareng tumakninah ingkang mesti, kinaranan ing tumakninah, meneng sedelok sak wuse obah. — Rukuk dengan tenang lalu berdiri, disebut i’tidal dengan tegap, hendaknya juga tenang seperti rukuk, lalu sujud turun ke bumi, bersama thumakninah yang benar, dinamakan thumakninah, diam sebentar setelah bergerak.

Sewelas iku lungguh, antarane rong sujudan, tumuli tumakninah, kaping telulas lungguh akhir, banjur maos pamuji dikir. — Sebelas itu duduk, di antara dua sujud, disertai thumakninah, tiga belas duduk akhir, lalu membaca pujian dzikir.

Limolas iku moco sholawat, kagem Gusti Rosul Muhammad, tumuli salam kang kawitan, sertane niat rampungan, tertib sempurna dadi pungkasan. —- Lima belas membaca shalawat, kepada Rasul Muhammad, kemudian salam yang pertama, bersama niat keluar shalat, tertib menjadi kesempurnaan.

ZAKAT

Zakat iku wus dadi prentah, den lampahi setahun pindah, tumprap wong kang rijkine torah, supados bersih awak lan bondo, ojo pisan-pisan awak déwé leno. —- Zakat sudah menjadi perintah, dilakukan setahun sekali, bagi orang yang hartanya berlimpah, supa bersih raga dan harta, jangan sekali-kali kita lupa.

Umume wong dho ngenthoni, malem bodho idul fitri, zakat firah den arani, bersihaké badan lawan ati, zakat maal ugo mengkono, nanging kaprahing dho orak lélo. — Umumnya orang mengeluarkan, malam Hari Raya Idul Fitri, zakat fitrah dinamai, membersihkan raga dan hati, zakat harta juga begitu, namun umumnya pada tidak rela.

Ampun supé niating ati, nglakoni rukun pardune agami, lillahi ta`ala iku krentekno, amrih murih ridaning Gusti, supados dadi abdi kang mulyo. — Jangan lupa niat di hati, menjalankan rukun fradhunya agama, karena Allah tanamkanlah, untuk mendapat keridhaan-Nya, supaya menjadi hamba yang mulia.

PUASA

Islam, balék, kiat, ngakal, papat sampun kinebatan, wonten maleh ingkang lintu, Islam, balék lawan ngakal, dados sarat nglampahi siam. — Islam, baligh, kuat, berakal, empat sudah disebutkan, ada juga yang mengatakan, Islam, baligh, dan berakal, menjadi syarat menjalankan puasa.

Kados sarat rukun ugi sami, kedah dilampai kanthi wigati, niat ikhlas jroning ati, cegah dahar lawan ngombé, nejo jimak kaping teluné, mutah-mutah kang digawé. —- Seperti syarat, rukun juga sama, harus dijalanlan dengan hati-hati, niat ikhlas di dalam hati, mencegah makan dan minum, jangan bersetubuh nomor tiga, jangan memuntahkan sesuatu karena sengaja.

Papat jangkep sampun cekap, dadus sarat rukuné pasa, ngatos-ngatos ampun léna, mugiyo hasil ingkang dipun seja, tentreming ati urip kang mulya. — Empat genap sudah cukup, menjadi syarat rukunnya puasa, hati-hati jangan terlena, semoga berhasil apa yang diinginkan, tentramnya hati hidup dengan mulia.

HAJI

Limo akhir dadi kasampurnan, ngelampahi rukun parduné Islam, bidal zaroh ing tanah mekah, menawi kiat bandane torah, lego manah tinggal pitnah kamanungsan. —  Lima terakhir menjadi kesempurnaan, menjalankan rukun fardhunya Islam, pergi ziarah ke tanah Makah, jika kuat dan hartanya berlimpah, hati rela menjauhi fitnah kemanusiaan.

Pitu dadi sepakatan, sarat kaji kang temenan, Islam, balik, ngakal, merdeka, ananing banda lawan sarana, aman dalan sertané panggonan. — Tujuh jadi kesepakatan, syarat haji yang betulan, Islam, baligh, berakal, merdeka, adanya harta dan sarana, aman jalan beserta tempat.

Ikram sertané niat, dadi rukun kang kawitan, wukuf anteng ing ngaropah, towaf mlaku ngubengi kakbah, limo sangi ojo lali, sopa marwah pitu bola-bali. — Ikhram beserta niat, menjadi rukun yang pertama, thawaf berjalan mengelilingi ka‘bah, lima sa’i jangan lupa, safa-marwah tujuh kali.

THARIQAT

Muji sukur Dzat Kang Rahman, tarékat iku sak dermo dalan, panemoné lisan ing pikiran, nimbang nanting lawan heneng, bener luputé sira kanthi héling. — Puji syukur Dzat Yang Penyayang,tarekat hanyalah sekadar jalan,bertemunya ucapan dalam pikiran,menimbang memilih dengan tenang,benar tidaknya engkau dengan penuh kesadaran.

Tarékat ugi kawastanan, sembah cipto kang temenan, nyegah nafsu kang ngambra-ambra, ngedohi sipat durangkara, srah lampah ing Bathara. — Tarekat juga dinamakan, sembah cipta yang sebenarnya, mencegah nafsu yang merajalela, menjauhi sifat keburukan, berserah di hadapan Tuhan.

Semanten ugi aweh pitutur, makna tarékat ingkang luhur, den serupaaken kados segoro, minongko saréngat dadus perahu, kang tinemu mawi ngélmu. — Kiranya juga memberi penuturan,makna tarekat yang luhur,diibaratkan laksana samudera,dengan syariat sebagai perahunya,yang ditemukan dengan ilmu.

Mila ampun ngantos luput, dingin nglampahi saréngat, tumuli tarékat menawi kiat, namung kaprahé piyambak niki, supe anggenipun ngawiti. — Maka jangan sampai keliru, mendahulukan menjalani syariat, kemudian tarekat jika mampu, namun umumnya kita ini, lupa saat memulai.

Mila saksampunipun, dalem sawek sesuwunan, mugiya tansah pinaringan, jembaring dalan kanugrahan, rahmat welas asihing Pangeran. — Maka setelahnya, hamba senantiasa memohon, semoga terus mendapat, lapangnya jalan anugerah, cinta dan kasih sayang Tuhan.

SYAHADAT

Lamuno sampun kinucapan, rong sadat kanthi iman, kaleh puniko dereng nyekapi, kangge ngudari budi pekerti, basuh resék sucining ati. —- Jika sudah diucapkan, dua syahadat dengan iman, dua ini belumlah cukup, untuk mengurai budi pekerti, membasuh bersih sucinya hati.

Prayuginipun ugi mangertosi, sifat Agungé Hyang Widhi, kaleh doso gampil dipun éngeti, wujud, kidam lawan baqa, mukalapah lil kawadisi. — Seyogyanya juga mengerti, sifat Keagungan Tuhan, dua puluh mudah dimengerti, wujud, qidam, dan baqa, mukhalafah lil hawâdis.

Limo qiyam binafsihi, wahdaniyat, kodrat, irodat, songo ilmu doso hayat, samak basar lawan kalam, pat belas iku aran kadiran — Lima qiyâmuhu bi nanafsihi, wahdaniyat, qodrat, iradat, sembilan ilmu, sepuluh hayat, sama&lsquo, bashar, kalam, empat belas qadiran.

Muridan kaping limolas, aliman, hayan pitulasé, lawan samian ampun supé, banjur basiron madep manteb, mutakalliman ingkang tetep. — Muridan nomor lima belas, aliman, hayan nomor tujuh belas, kemudian samian jangan lupa, terus bashiran dengan mantab, mutakalliman yang tetap.

Nuli papat kinanggitan, dadi sifat mulyané utusan, sidik, tablik ora mungkur, patonah sabar kanthi srah, anteng-meneng teteping amanah. — Kemudian empat disebutkan, menjadi sifat kemuliaan utusan, sidiq, tabligh tidak mundur, fathanah sabar dengan berserah, diam tenang bersama amanah.

Kaleh doso sampun kasebat, mugiyo angsal nikmating rahmat, tambah sekawan tansah ingeti, dadiho dalan sucining ati, ngertosi sir Hyang Widhi. —- Dua puluh sudah disebut, semoga mendapat nikmatnya rahmat, ditambah empat teruslah ingat, jadilah jalan mensucikan hati, mengetahui rahasia Yang Mahasuci.

SHALAT

Limang waktu dipun pesti, nyekel ngegem sucining agami, agami budi kang nami Islam, rasul Muhammad dadi lantaran, tumurune sapangat, rahmat lan salam. — Lima waktu sudah pasti, memegang kesucian agama,agama budi yang bernama Islam,rasul Muhammad yang menjadi perantara,turunnya pertolongan, rahmat, dan keselamatan.

Rino wengi ojo nganti lali, menawi kiat anggoné nglampahi, kronten salat dadi tondo, tulus iklasing manah kito, nyepeng agami tanpo pamekso. — Siang malam jangan lupa, jika kuat dalam menjalani, karena shalat menjadi tanda, tulus ikhlasnya hati kita, mengikuti agama tanpa dipaksa.

Ngisak, subuh kanthi tuwuh, tumuli luhur lawan asar, dumugi maghrib ampun kesasar, lumampahano srah lan sabar, jangkep gangsal unénan Islam.— Isyak, Shubuh dengan penuh, kemudian Luhur dan Ashar,sampai Maghrib jangan kesasar, jalanilah dengan pasrah dan sabar, genap lima disebut Islam.

Kanthi nyebut asmané Allah, Sak niki kita badé milai, ngudari makna ingkang wigati, makna saéstu limang wektu, pramila ingsun sesuwunan, tambahing dungo panjengan. — Dengan menyebut nama Allah, sekarang kita akan mulai, mengurai makna yang tersembunyi,makna sesungguhnya lima waktu,karenanya hamba memohon,tambahnya doa Anda sekalian.

ISYAK

Sun kawiti lawan ngisak, wektu peteng jroning awak, mengi kinancan cahya wulan, sartané lintang tambah padang, madangi petengé dalan. — Hamba mulai dengan isyak,waktu gelap dalam jiwa,malam bersama cahaya bulan,bersanding bintang bertambah terang,menerangi gelapnya jalan.

Semono ugi awak nira, wonten jroning rahim ibu, dewekan tanpa konco, amung cahyo welasing Gusti, ingkang tansah angrencangi. — Seperti itu jasad kamu,di dalam rahim seorang ibu,sendirian tanpa teman, hanya cahaya kasih Tuhan, yang senantiasa menemani.

SHUBUH

Tumuli subuh sak wusé fajar, banjur serngéngé metu mak byar, padang jinglang sedanten kahanan, sami guyu awak kinarasan, lumampah ngudi panguripan. — Kemudian shubuh setelah fajar,lalu matahari keluar bersinar,terang benderang semua keadaan,bersama tertawa badan sehat,berjalan mencari kehidupan.

Duh sedulur mangertiya, iku dadi tanda lahiring sira, lahir saking jroning batin, batin ingkang luhur, batin ingkang agung. —  Wahai saudara mengertilah, itu menjadi tanda kelahiranmu, lahir dari dalam batin, batin yang luhur, batin yang agung.

ZHUHUR

Luhur teranging awan, tumancep duwuring bun-bunan, panas siro ngraosaké, tibaning cahyo serngéngé, lérén sedélok gonmu agawé. — Zhuhur terangnya siang,menancap di atas ubun-ubun, panas kiranya kau rasakan, jatuhnya cahaya matahari, berhenti sebentar dalam bekerja.

Semono ugo podho gatékno, lumampahing umur siro, awet cilik tumeko gedé, tibaning akal biso mbedakké, becik lan olo kelakuné. —  Seperti itu juga pahamilah, perjalanan hidup kamu,dari kecil hingga dewasa,saat akal bisa membedakan, baik dan buruk perbuatanmu.

ASHAR

Ngasar sak durungé surup, ati-ati noto ing ati, cawésno opo kang dadi kekarep, ojo kesusu ngonmu lumaku, sakdermo buru howo nepsu. — Ashar sebelum terbenam, hati-hatilah menata hati, persiapkan apa yang menjadi keinginan, jangan tergesa-gesa kamu berjalan,hanya sekadar menuruti hawa nafsu.

Mulo podho waspadaha, dho dijogo agemaning jiwa, yo ngéné iki kang aran urip, cilik, gedé tumeko tuwo, bisoho siro ngrumangsani, ojo siro ngrumongso biso. — Maka waspadalah, jagalah selalu pegangan jiwa,ya seperti ini yang namanya hidup, kecil, besar, sampai tua,bisalah engkau merasa,janganlah engkau merasa bisa.

MAGHRIB

Maghrib kalampah wengi, serngéngé surup ing arah kéblat, purna oléhé madangi jagad, mego kuning banjur jedul, tondo rino sampun kliwat. —  Maghrib mendekati malam,matahari terbenam di arah kiblat, selesai sudah menerangi dunia, mega kuning kemudian keluar, tanda siang sudah terlewat.

Duh sedérék mugiyo melok, bilih urip mung sedélok, cilik, gedé tumeko tuwa, banjur pejah sak nalika, wangsul ngersané Dzat Kang Kuwasa. — Wahai saudara saksikanlah, bahwa hidup hanya sebentar, kecil, besar, sampai tua, kemudian mati seketika, kembali ke hadapan Yang Kuasa.

ZAKAT

Lamuno siro kanugrahan, pikantuk rijki ora kurang, gunakno kanthi wicaksono, ampun supé menawi tirah, ngedalaken zakat pitrah. — Jika engkau diberi anugerah, mendapat rezeki tidak kurang, gunakanlah dengan bijaksana, jangan lupa jika tersisa, mengeluarkan zakat fitrah.

Zakat lumantar ngresiki awak, lahir batin boten risak, menawi bondo tasih luwih, tumancepno roso asih, zakat mal kanthi pekulih. — Zakat untuk membersihkan diri, lahir batin tidak rusak, jika harta masih berlimpah, tanamkanlah rasa belas kasih, zakat kekayaan tanpa pamrih.

Pakir, miskin, tiyang jroning paran, ibnu sabil kawastanan, lumampah ngamil, tiyang katah utang, rikab, tiyang ingkang berjuang, muallap nembé mlebu Islam. — Fakir, miskin, orang berpergian,ibn sabil dinamakan,kemudian amil, orang yang banyak hutang, budak, tiyang ingkang berjuang,muallaf yang baru masuk Islam.

Zakat nglatih jiwo lan rogo, tumindak becik kanthi lélo, ngraosaken sarané liyan, ngudari sifat kamanungsan, supados angsal teteping iman. — Zakat melatih jiwa dan raga,menjalankan kebajikan dengan rela,merasakan penderitaan sesame,mengurai sifat kemanusiaan, supaya mendapat tetapnya iman.

PUASA

Posoning rogo énténg dilakoni, cegah dahar lan ngombé jroning ari, ananging pasaning jiwa, iku kang kudhu dén reksa, tumindak asih sepining cela.— Puasa badan mudah dilakukan,mencegah makam dan minum sepanjang hari,namun puasa jiwa,itu yang seharusnya dijaga,menebar kasih sayang menjauhi pencelaan.

Semanten ugi pasaning ati, tumindak alus sarengé budi, supados ngunduh wohing pakerti, pilu mahasing sepi, mayu hayuning bumi. — Demikian pula puasa hati, sikap lemah lembut sebagai cermin kehalusan budi, supaya mendapat kebaikan sesuai dengan apa yang dingini, tiada harapan yang diinginkan, kecuali hanya ketentraman dan keselamatan dalam kehidupan.

HAJI

Kaji dadi kasampurnan, rukun lima kinebatan, mungguhing danten tiyang Islam, zarohi tanah ingkang mulyo, menawi tirah anané bondo. — Haji menjadi kesempurnaan,rukum lima yang disebutkan, untuk semua orang Islam, mengunjungi tanah yang mulia, jika ada kelebihan harta.

Nanging ojo siro kliru, mahami opo kang dén tuju, amergo kaji sakdermo dalan, dudu tujuan luhuring badan, pak kaji dadi tembungan. — Tapi janganlah engkau keliru,memahami apa yang dituju,karena haji hanya sekadar jalan,bukan tujuan kemuliaan badan, jika pulang dipanggil Pak Haji.

Kaji ugi dadi latihan, pisahing siro ninggal kadonyan, bojo, anak lan keluarga, krabat karéb, sederek sedaya, kanca, musuh dho lélakna. — Haji juga untuk latihan, perpisahanmu meninggalkan keduniaan, istri, anak, dan keluarga,karib kerabat, semua saudara, teman dan musuh relakanlah.

@kwa,2016

Categories: REPORTASE PERJALANAN KWA KE MAKAM SYEKH JANGKUNG DI PATI JAWA TENGAH | 24 Komentar

PENGASIHAN KHAROMAH NABIYULLAH YUSUF AS


artikel kiriman
kadir embun jalilu
kadirembunjalilu@gmail.com

Ilmu langkah dan bila tidak terbukti silahkan hapus nama saya dari pertemanamu.
Ilmu ini bermahar, maharnya Al Fatihah 33 untuk saya dan bila anda telah berhasil silahkan juga maharkan minimal 1 jt,ckckck…. Dipakai untuk mandi boleh selamanya karena ilmu pengasihan mengalahkan ilmu kedikdayaan.
Ini bukan ilmu panggerung,pangabarang jadi tidak menghalangi datangnya rezki bahkan rezki anda juga akan bersinar.

CARANYA:
Sebelum mandi ketika memandang air,ucapkan salam ;
Assalamualaikum ya Nabiyullah Khidir as,
Assalamualaikum ya Nabiyullah Yusuf as,
Assalamualaikum ya Nafsi (sebut nama anda).
Al fatihah 1x.
Ambil air segayung,lalu bacalah ;
* { HA_MIM,13 x.
INNI...nama anda…,ROAETU AHADA ASYARA KAOBANG WASSYAMSAH WALKAMARA…nama target…,bila untuk umum cukup baca,dan semua orang yang memandanku…ROAETUHUMLII SAAJIDIN },3x #.
Tiup airnya lalu baca lagi,YAA BUDDUHUN 21x,tiup airnya lagi lalu siram bahu kanan.
Ambil lagi air segayung lalu bacakan ayat yang terdapat antara tanda * & # dengan cara yang sama,lalu bacakan lagi asma YAA ROHIM 11x,tiup lagi airnya lalu siram bahu kiri.
Ambil lagi air segayung lalu baca ayat yang terdapat dalam tanda * & # dengan cara yang sama,lalu baca asma ALLAH 7x,tiup lagi airnya lalu siram kepala.
Mandilah seperti biasa sambil zikirkan dalam hati kalimat ini sampai akhir mandi :
INNA RABBI LATIFUNLLIMA YASYAAAU,INNAHU HUWAL ALIIMUL HAKIIM.
Akhiri mandi,ambil air segayung lalu bacakan :
…sebut nama anda dalam hati…,MIN KABELU BILBAYYINATI,FALAMMA ROAENAHU...nama target…bila untuk khusus kalau untuk umum langsung sambung saja ayatnya,AKBARNAHU WAQOTHO’NA AEDIYAHUNNA,WAKULNA HAASYA LILLAHI MAA HAAZAA BASYARAN,INNA HAAZAAA ILLA MALAKUNG KARIIM,3x lalu tiup airnya dan siram kepala.
Ketika menyiram kepala baca dalam hati :
WALLAHU GALIBUNG ALAAA AMERIHII.

Lakukan minimal 7 hari untuk pengasihan khusus,maksimal 21 hari.

Untuk umum lalukan selamanya karena amalan ini juga dapat meningkatkan IQ.

@KWA,2016

Categories: PENGASIHAN KHAROMAH NABIYULLAH YUSUF AS | 20 Komentar

PEMBERIAN GELAR MASTER KWA ANGKATAN 54


SEBAGAI TANDA RASA PERSAUDARAAN YANG PENUH CINTA MAKA KAMPUS WONG ALUS MEMBERIKAN  GELAR  KEPADA PESERTA PROGRAM PELATIHAN MASTER KWA ANGKATAN LIV / 54 YANG DISELENGGARAKAN PADA 25 DAN 27 NOVEMBER 2016 BERTEMPAT DI MAKAM SYEKH JANGKUNG PATI, MAKAM KI AGENG SELO GROBOGAN DAN DI SIDOARJO DENGAN GELAR:

KI DIPATI JATMIKO (SURABAYA)

KI DIPATI HERU  (TERNATE)

SEMOGA PELATIHAN MASTER KWA INI BERMANFAAT UNTUK KITA SEMUA DALAM NAUNGAN RIDHO ALLAH SWT. AMIN.

HORMAT KAMI, SALAM PASEDULURAN.

wongalus

@@@

Categories: >>PERPUSTAKAAN UTAMA

DOA PENYEMPURNA RIYADHOH ILMU DAN AMALAN AGAR ‘MANJING’/MERASUK KE BADAN


Doa ini biasa saya gunakan usai melakukan riyadhoh/tirakat agar ilmu apapun yang saya riyadhohi bermanfaat dan berkah. Saya yakin bahwa Allah pasti mendengar doa yang saya panjatkan dan saya yakin semua ilmu yang saya riyadhohi manjing/merasuk ke badan.

Baca  doa tersebut sambil jari telunjuk dimasukkan ke segelas air putih. Setelah selesai membaca maka saya tiup segelas air itu dan selanjutnya saya minum separuh dan separuhnya dibuat mandi.

berikut doanya:

Allohulladzii kholaqa sab’a samaawaatin waminaal ardhi mitslahunna yatanazzalul amru baynahunna lita’lamuu annallooha ‘alaa kulli syay-in q0diiruw wa annallooha qod ahatho bikulli syay-in ‘ilmaan.

Artinya adalah: Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu.

Demikian ritual yang saya biasa lakukan, semoga bermanfaat. Terima kasih dan salam paseduluran.

@wongalus,2016

 

Categories: DOA PENYEMPURNA RIYADHOH ILMU DAN AMALAN AGAR 'MANJING'/MERASUK KE BADAN | 24 Komentar

RENUNGAN PAGI


Walillaahi maa fii alssamaawaati wamaa fii al-ardhi liyajziya alladziina asaauu bimaa ‘amiluu wayajziya alladziina ahsanuu bialhusnaa

Dan hanya kepunyaan Allah-lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi supaya Dia memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat jahat terhadap apa yang telah mereka kerjakan dan memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik dengan pahala yang lebih baik (syurga).
Alladziina yajtanibuuna kabaa-ira al-itsmi waalfawaahisya illaa allamama inna rabbaka waasi’u almaghfirati huwa a’lamu bikum idz ansya-akum mina al-ardhi wa-idz antum ajinnatun fii buthuuni ummahaatikum falaa tuzakkuu anfusakum huwa a’lamu bimani ittaqaa

(Yaitu) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji yang selain dari kesalahan-kesalahan kecil. Sesungguhnya Tuhanmu maha luas ampunanNya. Dan Dia lebih mengetahui (tentang keadaan)mu ketika Dia menjadikan kamu dari tanah dan ketika kamu masih janin dalam perut ibumu; maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.

QS An Najm 31-32

Categories: RENUNGAN PAGI | 2 Komentar

ISIM NARIYAH


artikel kiriman:
Bajang Lombok
muhrikaizi@gmail.com

Salam hormat buat sesepuh kampus wong alus dan juga kepada semua kelurga besar kwa dimana saja berada. Dengan ini ijinkan saya yang doif ini berbagi sedikit pengetahuan tentang  isim nariyah yang saya nukil dari kitab al ajnas  halaman 41. Isim nariyah ini tertulis dihatinya matahari , isim nariyah ini sangat ampuh untuk menghancurkan jin yang jahat, mengganggu, jangan dibaca didekat orang yang mempunyai khodam karena akan menyiksanya ( khodamnya ) isim naryah ini berpungsi insya alloh  untuk perlindungan dari segala macam kejahatan, kebal segala jenis senjata  ,melindungi rumah dari pencurian,untuk mahabbah,menghancurkan santet,mengobati kesurupan dan lain- lain sesuai niat .

Cara mengamalkannya cukup dibaca 100 kali selama ,7 malam sehabis shalat hajat,setelah selesai yang 7 malam tingal diamalkan baca 1/3 kali sehabis sholat ,5 waktu , sewaktu mengamalkannya jangan memakan makanan dan minuman yang haram baik itu zatnya maupun cara mendapatkannya dan jangan memakan atau meminum yang keluar dari makhluk yang beryawa misalnya daging,ikan,susu,telur,madu.  untuk tawassulnya,1).nabi muhammad saw beserta semua keluarganya 2).kedua ibu dan bapak 3).semua kaum muslimin dan muslimat ,mukminin dan mukminat 4).diri sendiri .

Jangan heran nanti waktu sedang mengamalkan karena napas yang keluar dari mulut atau hidung terasa panas, sekujur tubuh juga terasa panas, itu menandakan energi isim nariayahnya  sedang meyelaraskan diri dengan tubuh,Bila energi isim nariyahnya sudah menyatu, insya alloh waktu mengamalkan tubuh akan terasa dingin, sejuk, napas yang keluar dari hidung atau mulut akan terasa sejuk.
Pesan saya, bila sudah mengamalkan isim nariyah ini jangan sombong/takabur. ringan tangan untuk membantu sesama, bila ada orang  minta tolong pengobatan jangan patok tarip/bayaran, bila dikasih terima dan bila tidak dikasih jangan minta, ikhlas saja.
Untuk lebih mantap dalam menguasai isim nariyah ini sering –  seringlah bangun sholat tahajjud  dan urutan tata cara mengamalkan:
1 ).sholat hajat / tahajjud
2 ).baca tawassul seperti di atas,lalu membaca sholawat atas nabi dan keluarganya(allo humma sholli ala muhammad wa ali muhammad ) baca 11 kali , lalu membaca ( allo humma inni as aluka bihaqqi muhammadin  wa ali muhammad ) baca 3 kali, lalu berdo,a kepada alloh swt. Supaya isim nariyah yang akan diamalkan ini menyatu dengan tubuh kita dan supaya kita mendapatkan keberkahannya.
3 ). Setelah itu barulah mulai  mengamalkan isim naryahnya.
Semoga ini semua dihitung sebagai ladang amal sholeh  khususnya  bagi saya dan keluarga saya dan bagi kita semua, silahkan di amalkan untuk kebaikan. Inilah dia isim nariyahnya.

== AD UUKUM YA MAKSYAROL ARWAHUTTOHIROTIL MUTHI ATILLAHIROBBIL ALAMIN, BIL ASMAA ILLATI KHOLAQOKUMULLOHUBIHA WAHIAL MAKTU BATU ALA PALAKISSYAMSI BISYAHSYAHIN HAILIN THOSIKIN THOSYI ILIN BIWAHIN YA SHOIMAWIYYIN YA WAIUDIN BAHYALYUHIN ARKAYAZHIN BAHYABUHIN HAIBUHIN NURIN NURIN HAISABUHIN KASYROYAWABIN SYALHUBIN YAKNASYAQUMIN YAKLASYAQUMIN BAKLASYAQUMIN ALSYAQUMIN  SYAUSHOLIN HAIBARSYIN YAD UBIN  TABAROKA NURONNUR  MUDABBIROL UMUR  QOSYIMAL JABAABIROTI  HAIKHIN  AJIBUNI YA MAKSYARONNARIYATI BIHAQQI  MASABAHTABIHIL MALAIKATU PILAKISSYAMSI ==

@kwa,2016

Categories: ISIM NARIYAH | 29 Komentar

ASMAK TAZALZALAT – IJASAHAN


Bismillahirrohmanirrohim, di pagi yang penuh berkah ini saya ijasahkan  Asmak Tazalzalat dengan hak dan sempurna atas ijin Allah SWT.

Tawassul/kirim Al Fatihah sebagaimana biasa. Mulai Nabi Muhammad SAW, dst.
Akan lebih elok bila Anda juga kirim pengijasah.

Doanya:

Bihaamiim Ainin Tsumma Siinin Waqoofihaa Himayatunaa Minhal Hibaalu Tazalzalat. 

313 x

Amalkan selama 7 hari. Jam, waktu dan  tempat pengamalan bebas.

Asmak ini fadhilahnya sangat besar. Orang yg tujuan jahat/jelek akan merasakan gempa bumi dan tiba-tiba dia merasakan ketakutan bila mendekati kita. Bahkan ada pula yang langsung jatuh tersungkur /lumpuh sebelum orang jahat melakukan aksinya Jadi bersifat pageran/pemagaran/perlindungan diri dari gendam hipnotis, teluh, tenung, santet, perampokan, penjambretan, dan lain-lain.

Usai mengamalkan, bila ingin ada perlindungan cukup dibaca 1 x tahan napas. Namun tidak dibaca pun tidak apa-apa. Insya alloh kita sudah terlindungi atas ijin Allah orang yang berniat buruk.

Ijasah selesai sempurna.

@kwa,2016

Categories: ASMAK TAZALZALAT - IJASAHAN | 104 Komentar

REPORTASE KUNJUNGAN KE MAKAM EYANG DJOJODIGDO, PATIH BLITAR, PEMILIK AJIAN PANCASONA


Beberapa hari yang lalu, saya ditemami para alumni Master KWA berkunjung ke Pesanggrahan Djojodigdan di Blitar yang di dalamnya terdapat makam Raden Ngabehi Bawadiman Djojodigdo, Patih Blitar masa kolonial 1877-1895. Beliau ini adalah pemilik ajian Pancasona sehingga makamnya harus digantung di atas tanah agar bisa wafat. Kebalikannya, beliau akan hidup kembali bila jasadnya menyentuh tanah.

img-20161104-wa0047Pesanggrahan yang terletak di Jl. Melati No 43 itu sudah sepi meski jarum jam baru menunjuk ke angka 9 malam. Satu dua mobil melintas di jalan depan pagarnya. Pintu pagar pesanggaran terkunci rapat. Saya mengetuk pintu pagar tiga kali, tidak ada tanda-tanda penunggunya keluar.

Seseorang penjual makanan di depan pesanggaran kita datangi untuk kita mintai tolong mengantarkan ke penunggu pesanggrahan (juru kunci). Sejurus kemudian, dia datang dari kegelapan bersama juru kunci; suami isteri yang sudah berusia 60 an.

20161104_224637Sehari-hari, pagar pesanggaran jarang terbuka lebar, Hanya terbuka sebagian untuk keluar masuk tamu yang datang. Di tengah pekarangan yang luas, terdapat satu rumah induk berarsitektur rumah jawa lama. Di dalamnya masih lengkap perabot meja kursi, foto-foto dan sebagainya. Masuk ke rumah itu, kita akan terasa kembali ke masa silam ketika Indonesia berada di era Hindia Belanda.

Pesanggrahan itu dulunya adalah Dalem Kepatihan atau rumah tempat tinggal Patih (Sekarang Wakil Bupati red.) Bangunan rumah itu hingga kini masih kokoh padahal didirikan pada tahun 1892 alias sudah berusia 124 tahun. Pengunjung dapat memasuki bagian dalam dari dalem kepatihan melalui pintu belakang, dengan didampingi oleh juru pelihara.

Di gedung ini, tersimpan berbagai perabot rumah tangga dari keluarga Patih Blitar, Djojodigdo seperti meja kursi, payung pusaka, ranjang, gentong penyimpan beras, genealogi, dan koleksi foto keluarga Eyang Djojodigdo.

kwa4Di antara foto-foto tersebut terdapat foto salah satu tokoh nasional R. A. Kartini. Djojodigdo merupakan mertua dari R. A. Kartini. Salah satu putera beliau yang bernama KRMAA. Singgih Djojo Adhiningrat menjadi Bupati Rembang. Beliau adalah suami dari R. A. Kartini, pahlawan nasional RI.

Puas berada di dalam gedung, kami lanjutkan dengan berjalan ke belakang untuk berziarah ke makam Djojodigdo, yang terletak di pojok belakang pekarangan pesanggahan. Di Blitar, makam ini dikenal dengan nama “makam gantung”

kwa3Makam Djojodigdo berada di antara makam-makam keluarga besarnya. Namun, bentuk makam beliau paling mencolok yaitu di atas pusara terletak sebuah cungkup berbentuk unik. Keberadaan cungkup inilah yang mungkin membuat makam ini disebut sebagai Makam Gantung.

Menurut penuturan penjaga, disebut makam gantung karena jasad Djojodigdo diletakkan dalam peti besi yang disangga dengan empat tiang sebelum diurug dengan tanah. Sedangkan pada bagian dalam cungkup atas makam itulah tersimpan busana kebesaran, pusaka-pusaka, dan ilmu Pancasona milik Djojodigdo.

Siapakan Eyang Djojodigdo?

djoRaden Ngabehi Bawadiman Djojodigdo lahir di Yogyakarta pada 29 Juli 1827, dengan gelar kebangsawanan R. Ng. (Raden Ngabehi). Pada usia 12 tahun beliau meninggalkan Yogyakarta menyusul paman beliau yang menjabat sebagai Bupati Ngrowo bernama RMT. Notowidjojo III.

Djojodigdo diangkat oleh pemerintah Hindia Belanda sebagai Patih Blitar pada 8 September 1877 mendampingi Bupati Blitar, Raden Adipati Warso Koesoemo. Selama melaksanakan tugas, beliau dinyatakan cakap dan profesonal, sehingga memperoleh dua lencana GM dan ZM dari pemerintah Hindia Belanda. Pada 11 Maret 1909 beliau tutup usia dan dimakamkan pada area pemakaman keluarga di belakang dalem kepatihan.

kwa5Djojodigdo adalah masih keturunan dari Ki Ageng Panjawi. Kalo dirunut lagi ke atas maka beliau masih keturunan Raja Majapahit yang terakhir yakni Brawijaya V (Bhre Kertabhumi).

Ki Ageng Panjawi adalah tiga pendiri Mataram: Ki Ageng Pemanahan, Ki Ageng Panjawi dan Ki Juru Martani dibantu Panembahan Senapati atau Sutawijaya dapat membunuh Ario Penangsang Bupati Jipang Panolan, Ki Panjawi mendapatkan tanah di Pati. Dan Djojodigdo adalah putra dari Raden Tumenggung Kartadiwirja (Adipati Gentan Kulon Progo).

Ng. Kartadiwirja adalah seorang pengikuti pasukan Pangeran Diponegoro sehingga setelah Diponegoro tertangkap, beliau meletakkan jabatannya sebagai Bupati Gentan Kulon Progo yang akhirnya digantikan oleh kakaknya Raden Rangga Bahu Pangarsa.

Kartadiwirja berpangkat Liutenant Der Infanteri van Het Oost Indische Leger (Letnan Infantri Angkatan Darat Hindia Timur) didapat dari Belanda. Konon berdasar cerita dari turun-temurun beliau ikut meletakkan senjata, ketika panglima perang Diponegoro, Sentot dapat dibujuk Belanda untuk menyerah. Sentot menyerah berturut-turut dengan Kyai Maja dan Pangeran Mangkubumi tahun 1829.

img-20161104-wa0064Tahun 1831/1832 bersama Sentot Prawirodirjo dan Kartadiwirja dikirim ke Bonjol Sumatera Barat untuk membantu Belanda memadamkan perang Padri. Tetapi di beberapa dokumen-dokumen resmi Belanda membuktikan kesalahan Sentot yang telah melakukan persekongkolan dengan Kaum Padri sehingga kemudian Sentot dan legiunnya dikembalikan ke Pulau Jawa.

Di Jawa, Sentot juga tidak berhasil menghilangkan kecurigaan Belanda terhadap dirinya, dan Belanda pun juga tidak ingin ia tetap berada di Jawa dan mengirimnya kembali ke Sumatera. Namun di tengah perjalanan, Sentot diturunkan dan ditahan di Bengkulu, lalu ditinggal sampai meninggal sebagai orang buangan. Sedangkan pasukannya dibubarkan kemudian direkrut kembali menjadi tentara Belanda. Kemungkinan R. Ng. Kartadiwirja tidak ikut kembali ke Sumatera saat itu. Kartadiwirja saat meninggal dimakamkan di makam Potrobangsan Magelang.

 Sejak Kecil Suka Tirakat

img-20161104-wa0068Sejak anak-anak, Djojodigdo sudah ditinggal wafat ayahnya dan usia 12 tahun, Djojodigdo sudah merantau ke Jawa Timur, beliau meninggalkan Yogyakarta menyusul paman beliau yang menjabat sebagai Bupati Ngrowo bernama RMT. Notowidjojo III.

Kontribusi Djojodigdo terhadap masyarakat Blitar erat kaitannya dengan perannya sebagai Patih Blitar — priyayi Jawa pada masa pemerintahan Hindia-Belanda. Sebagai Patih pada tahun 1877—1895, dia berkontribusi besar dalam mendampingi Adipati Blitar Warso Koesoemo mengelola puncak pemerintahan dan pembangunan Regentschap Blitar hingga membentuk kawasan Gemeente/Kota Blitar.

Kontribusi Djojodigdo terhadap masyarakat Regentschap Blitar (1877—1895) dapat dibuktikan dengan berbagai hasil peninggalan fisik dan infrastruktur di kawasan Kota Blitar.

Ajaran Filsafat

img-20161104-wa0059Djojodigdo memiliki ajaran priyayi Jawa yang disebut T- Pitu  untuk orang Jawa yaitu Toto (tahu aturan), Titi (teliti), Tatag (bertanggungjawab), Titis (tepat analisanya), Temen (jujur), Taberi (rajin), dan Telaten (sabar).

Ajaran itu ternyata bisa ditelusuri dari masa mudanya. Syahdan, sejak muda, Djojodigdo suka tirakat dan berguru ke orang yang punya ilmu. Salah satu gurunya adalah Eyang Djugo, (yang dimakamkan di gunung Kawi, Malang) yang memberinya ilmu berupa ajian Pancasona. Ajian Pancasona adalah ajian yang sering digunakan oleh orang zaman dahulu untuk memperkuat diri dan pertahanannya ketika berperang untuk melawan penjajah.

Dengan ajian pancasona, seseorang akan bisa terus hidup meski dibunuh dengan cara apapun. Dia hanya akan mati jika tubuhnya dipisah menyebrang sungai dan digantung agar tidak menyentuh tanah. Jika jasadnya menyentuh tanah, bagian-bagian tubuh tersebut dapat kembali bersatu, dan bisa hidup lagi.

kwa7Djojodigdo tidak bisa dikalahkan ketika berperang tanding. Tubuhnya yang terluka saat duel bisa dengan sekejap kembali pulih, tubuhnya yang terputus bisa kembali menyatu, bahkan saat ia mati, ia bisa hidup kembali.

Tentara-tentara Belanda sering kewalahan jika berperang secara fisik dengan jawara-jawara tanah air. Bukan hanya kulit mereka yang tak tembus peluru, tulang mereka juga sekeras baja.

Syahdan ketika Eyang Djojodigdo sudah merasa mempunyai ilmu cukup, beliau membentuk laskar kecil rakyat untuk melakukan perlawanan kepada Pasukan Belanda. Beberapa kali tertangkap dan ditembak tapi dia selamat. Maka untuk mengalahkan sang pemilik pancasona ini, ditempuhlah cara yang lebih cerdas.

Melalui Adipati, dibujuklah Djojodigdo untuk datang ke pendopo hingga dua kali dan ditawari posisi sebagai Patih, akhirnya Djojodigdo bersedia menerima tawaran Adipati Blitar yang merupakan kepanjangan tangan dari pemerintah Hindia Belanda.

Sebagai seorang keturunan darah biru dan pernah tinggal di keraton serta pernah ikut pamannya yakni RMT. Notowidjojo di Ngrowo, ketika diangkat menjadi patih di Kadipaten Blitar, Djojodigdo sudah tak asing lagi dengan pemerintahan. Maka sang patih pun mampu mengambil kebijakan yang sangat cakap. Hal inilah yang membuat salut sang Adipati Blitar. Karena kecakapan ini, kemudian sang Adipati memberinya sebidang tanah yang luas untuk gedung kepatihan di Jalan Melati nomor 43 Kota Blitar.

Sebagai manusia biasa, di usianya yang sudah sepuh Djojodigdo wafat pada tahun 1909. Yang menarik adalah kisah ketika menjelang wafat. Konon, tiga kali dikubur dan tiga kali itu pula mayatnya bangun lagi karena efek Ajian Pancasona.

Akhirnya didatangkanlah sang guru, Eyang Djugo dan keluarga disarankan agar membuat makam dengan cara digantung dan tidak menyentuh tanah. Jasadnya dimasukan ke dalam peti besi yang kuat beserta pusaka dan pakaiannya. Peti kemudian disangga dengan empat penyangga yang juga terbuat dari besi sebagaimana yang ada saat ini.

kwaMakam Eyang Djojodigdo menjadi saksi atas kisah perjuangan dan kepahlawanan bangsa kita merebut kebebasan yang sangat mahal harganya dan juga menjadi saksi atas kedahsyatan Ilmu Pancasona, salah satu ilmu di antara samudra ilmu Allah yang disebarkan kepada siapa saja yang dikehendaki-NYA.

@Kwa,2016

Categories: PATIH BLITAR PEMILIK AJIAN PANCASONA | 4 Komentar

ILMU SEJATI DALAM “SERAT WEDHATAMA” KARYA KGPAA MANGKUNEGARA IV


Bait-bait yang ada dalam Serat Wedhatama ini, merupakan inti dari ajaran Panembahan Senopati, Pendiri Kesultanan Mataram tentang Ilmu yang sejati. Ilmu kasepuhan yang membimbing seseorang meraih tujuan hidup.

 

NULADA LAKU UTAMA

TUMRAPE WONG TANAH JAWI,

WONG AGUNG ING NGEKSIGANDA,

PANEMBAHAN SENOPATI,

KEPATI AMARSUDI,

SUDANE HAWA LAN NEPSU,

PINEPSU TAPA BRATA,

TANAPI ING SIYANG RATRI,

AMAMANGUN KARYENAK TYASING SESAMA.

Mencontoh perilaku utama,

bagi kalangan orang Jawa (Nusantara),

orang besar dari Ngeksiganda (Mataram),

Panembahan Senopati,

yang tekun, mengurangi hawa nafsu, dengan jalan prihatin (bertapa),

serta siang malam

selalu berkarya membuat hati tenteram bagi sesama (kasih sayang)

 

SABEN MENDRA SAKING WISMA,

LELANA LALADING SEPI,

NGINGSEP SEPUHING SUPANA,

MRIH PANA PRANAWENG KAPTI,

TIS TISING TYAS MARSUDI,

MARDAWANING BUDYA TULUS,

MESU REH KASUDARMAN,

NENG TEPINING JALANIDHI,

SRUNING BRATA KATAMAN WAHYU DYATMIKA

Setiap mengembara meninggalkan rumah (istana),

berkelana ke tempat yang sunyi (dari hawa nafsu),

menghirup  tingginya ilmu,

agar jelas apa yang menjadi tujuan (hidup) sejati.

Hati bertekad selalu berusaha dengan tekun,

memperdayakan akal budi

menghayati cinta kasih,

ditepinya samudra.

Kuatnya bertapa diterimalah wahyu dyatmika (hidup yang sejati).

 

SAMANGSANE PASAMUAN, MAMANGUN MARTA MARTANI,

SINAMBI ING SABEN MANGSA,

KALA KALANING ASEPI,

LELANA TEKI-TEKI,

NGGAYUH GEYONGANING KAYUN,

KAYUNGYUN ENINGING TYAS,

SANITYASA PINRIHATIN,

PUGUH PANGGAH CEGAH DHAHAR LAWAN NENDRA.

Dalam setiap pergaulan,

membangun sikap tahu diri.

Setiap ada kesempatan,

Di saat waktu longgar,

mengembara untuk bertapa,

menggapai cita-cita hati,

hanyut dalam keheningan kalbu.

Senantiasa menjaga hati untuk prihatin (menahan hawa nafsu),

dengan tekad kuat, membatasi  makan dan tidur.

 

WIKAN WENGKONING SAMODRA,

KEDERAN WUS DEN IDERI,

KINEMAT KAMOT HING DRIYA,

RINEGAN SEGEGEM DADI,

DUMADYA ANGRATONI,

NENGGIH KANGJENG RATU KIDUL,

NDEDEL NGGAYUH NGGEGANA,

UMARA MARAK MARIPIH,

SOR PRABAWA LAN WONG AGUNG NGEKSIGANDA

Memahami kekuasaan di dalam samodra seluruhnya sudah dijelajahi,

“kesaktian” melimputi indera

Ibaratnya cukup satu genggaman saja sudah jadi, berhasil berkuasa,

Kangjeng Ratu Kidul,

Naik menggapai awang-awang,

(kemudian) datang menghadap dengan penuh hormat,

Kepada Wong Agung Ngeksigondo

 

DAHAT DENIRA AMINTA,

SINUPEKET PANGKAT KANTHI,

JRONING ALAM PALIMUNAN, ING PASABAN SABEN SEPI,

SUMANGGEM ANYANGGEMI,

ING KARSA KANG WUS TINAMTU,

PAMRIHE MUNG AMINTA,

SUPANGATE TEKI-TEKI,

NORA KETANG TEKEN JANGGUT SUKU JAJA.

Memohon dengan sangat lah beliau,

agar diakui sebagai sahabat setia, di dalam alam gaib,

tempatnya berkelana setiap sepi.

Bersedialah menyanggupi,

kehendak yang sudah digariskan.

Harapannya hanyalah meminta

restu dalam bertapa,

Meski dengan susah payah.

 

PRAJANJINE ABIPRAYA,

SATURUN-TURUNING WURI,

MANGKONO TRAHING NGAWIRYA,

YEN AMASAH MESU BUDI,

DUMADYA GLIS DUMUGI,

IYA ING SAKARSANIPUN,

WONG AGUNG NGEKSIGANDA,

NUGRAHANE PRAPTENG MANGKIN,

TRAH TUMERAH DHARAHE PADHA WIBAWA.

Perjanjian sangat mulia,

untuk seluruh keturunannya di kelak kemudian hari.

Begitulah seluruh keturunan orang luhur,

bila mau mengasah akal budi

akan cepat berhasil,

apa yang diharapkan orang besar Mataram, anugerahnya hingga kelak dapat mengalir di seluruh darah keturunannya, dapat memiliki wibawa

 

AMBAWANI TANAH JAWA,

KANG PADHA JUMENENG AJI,

SATRIYA DIBYA SUMBAGA,

TAN LYAN TRAHING SENOPATI,

PAN IKU PANTES UGI,

TINELAD LABETIPUN,

ING SAKUWASANIRA,

ENAKE LAN JAMAN MANGKIN,

SAYEKTINE TAN BISA NGEPLEKI KUNA.

Menguasai tanah Jawa (Nusantara),

yang menjadi raja (pemimpin),

satria sakti tertermasyhur,

tak lain keturunan Senopati,

hal ini pantas pula sebagai tauladan budi  pekertinya,

Sebisamu, terapkan di zaman nanti,

Walaupun tidak bisa

persis sama seperti di masa silam.

 

LOWUNG KALAMUN TINIMBANG,

NGAURIP TANPA PRIHATIN,

NANGING TA ING JAMAN MANGKYA,

PRA MUDHA KANG DEN KAREMI,

MANULAD NELAD NABI,

NAYAKENGRAT GUSTI RASUL,

ANGGUNG GINAWE UMBAG,

SABEN SEBA MAMPIR MASJID,

NGAJAB-AJAB TIBANING MUKJIJAT DRAJAT

Mending bila dibanding orang hidup tanpa prihatin,

namun di masa yang akan datang (masa kini),

yang digemari anak muda,

meniru-niru nabi, rasul utusan Tuhan,

yang hanya dipakai untuk menyombongkan diri,

setiap akan bekerja singgah dulu di masjid,

Mengharap mukjizat agar mendapat derajat (naik pangkat).

 

ANGGUNG ANGGUBEL SARENGAT,

SARINGANE TAN DEN WRUHI,

DALIL DALANING IJEMAK,

KIYASE NORA MIKANI,

KETUNGKUL MUNGKUL SAMI,

BENGKRAKAN MRING MASJID AGUNG,

KALAMUN MACA KUTBAH,

LELAGONE DANDANGGENDIS,

SWARA ARUM NGUMANDHANG CENGKOK PALARAN

Hanya memahami sariat (kulitnya) saja, sedangkan hakekatnya tidak dikuasai,

Pengetahuan untuk memahami makna dan suri tauladan tidaklah mumpuni

Mereka lupa diri, (tidak sadar)

bersikap berlebih-lebihan di masjid besar,

Bila membaca khotbah

berirama gaya dandanggula (menghanyutkan hati),

suara merdu bergema gaya palaran (lantang  bertubi-tubi).

 

KANG WUS WASPADHA ING PATRAP,

MANGANYUT AYAT WINASIS,

WASANA WOSING JIWANGGA,

MELOK TANPA ALING-ALING,

KANG NGALINGI KALINGLING,

WENGANING RASA TUMLAWUNG,

KEKSI SALIRING JAMAN,

ANGELANGUT TANPA TEPI,

YEKU INGARAN TAPA TAPAKING HYANG SUKSMA.

Yang sudah paham tata caranya,

Menghayati ajaran utama,

Jika berhasil merasuk ke dalam jiwa,

akan melihat tanpa penghalang,

Yang menghalangi tersingkir,

Terbukalah rasa sayup menggema.

Tampaklah seluruh cakrawala,

Sepi tiada bertepi,

Yakni disebut  tapa tapaking Hyang Sukma.

MANGKONO JANMA UTAMA,

TUMAN TUMANEM ING SEPI,

ING SABEN RIKALA MANGSA,

MASAH AMEMASUH BUDI,

LAIRE ANETEPI,

ING REH KASATRIYANIPUN,

SUSILO ANOR RAGA,

WIGNYA MET TYASING SESAMI,

YEKU ARAN WONG BAREK BERAGAMA.

Demikianlah manusia utama,

Gemar terbenam dalam sepi (meredam nafsu),

Di saat-saat tertentu,

Mempertajam dan membersihkan budi,

Bermaksud memenuhi tugasnya sebagai satria,

berbuat susila rendah hati,

pandai menyejukkan hati pada sesama,

itulah sebenarnya yang disebut menghayati agama.

 

NGELMU IKU

KALAKONE KANTHI LAKU

LEKASE LAWAN KAS

TEGESE KAS NYANTOSANI

SETYA BUDAYA PANGEKESE DUR ANGKARA

Ilmu (hakekat) itu

diraih dengan cara menghayati dalam setiap perbuatan,

dimulai dengan kemauan.

Artinya, kemauan membangun kesejahteraan terhadap sesama,

Teguh membudi daya

Menaklukkan semua angkara

 

ANGKARA GUNG

NENG ANGGA ANGGUNG GUMULUNG

GEGOLONGANIRA

TRILOKA LEKERI KONGSI

YEN DEN UMBAR AMBABAR DADI RUBEDA.

Nafsu angkara yang besar

ada di dalam diri, kuat menggumpal,

menjangkau hingga tiga zaman,

jika dibiarkan berkembang akan

berubah menjadi gangguan.

 

BEDA LAMUN KANG WUS SENGSEM

REH NGASAMUN

SEMUNE NGAKSAMA

SASAMANE BANGSA SISIP

SARWA SAREH SAKING MARDI MARTATAMA

Berbeda dengan yang sudah menyukai dan menjiwai,

Watak dan perilaku memaafkan

pada sesama

selalu sabar berusaha

menyejukkan suasana,

 

ROSING RASA KANG RINURUH

LUMEKETING ANGGA

ANGGERE PADHA MARSUDI

KANA KENE KAANANE NORA BEDA

hakekat ilmu yang dicari,

sebenarnya ada di dalam diri.

Asal mau berusaha

sana sini (ilmunya) tidak berbeda,

NGELMU MUPAKATE LAN PANEMUNE

PASAHE LAN TAPA

YEN SATRIYA TANAH JAWI

KUNA KUNA KANG GINILUT TRIPAKARA

Yang namanya ilmu, dapat berjalan bila sesuai dengan cara pandang kita.

Dapat dicapai dengan usaha yang gigih.

Bagi satria tanah Jawa,

dahulu yang menjadi pegangan adalah tiga perkara yakni;

 

LILA LAMUN KELANGAN NORA GEGETUN

TRIMA YEN KETAMAN

SAKSERIK SAMENG DUMADI

TRI LEGAWA NALANGSA SRAH ING BATHARA

Ikhlas bila kehilangan tanpa menyesal,

Sabar jika hati disakiti sesama,

Ketiga ; lapang dada sambil

berserah diri pada Tuhan.

 

BATHARA GUNG

INGUGER GRANING JAJANTUNG

JENEK HYANG WISESA

SANA PASENEDAN SUCI

NORA KAYA SI MUDHA MUDHAR ANGKARA

Tuhan Maha Agung

diletakkan dalam setiap hela nafas

Menyatu dengan Yang Mahakuasa

Teguh mensucikan diri

Tidak seperti yang muda,

mengumbar nafsu angkara.

@KWA,2016

 

Categories: ILMU SEJATI DALAM “SERAT WEDHATAMA” KARYA KGPAA MANGKUNEGARA IV | 2 Komentar

REPORTASE PELATIHAN MASTER KWA: Ilmu sejati dan ilmu karang


Undangan melalui  pesan layanan ‘whatssap’ untuk melatih dua sedulur pembaca blog KWA dalam program Master KWA ke Turkey Eropa awalnya membuat saya kebingungan.

img-20161029-wa0023Betapa tidak? Saya tidak menguasai bahasa Turkey dan Perancis, kewarganegaraan asli para master KWA ini. Otomatis kita berkomunikasi menggunakan bahasa Inggris dan itu pun hanya sepotong-sepotong.

Saat itu saya membayangkan kesulitan apa yang sekiranya saya hadapi untuk melatih sedulur yang tidak memahami bahasa Indonesia. Yang paling utama adalah ketika kita mengajak peserta untuk masuk ke alam goib saat proses pengajaran raga sukma.

Tentu saja saya harus memberikan instruksi  dan arahan menggunakan kalimat-kalimat sugestif sehingga mereka bisa masuk ke alam raga sukma – out of body experience. Nah, kalau peserta tidak memahami bahasa yang saya sampaikan tentu saja merupakan kendala yang sangat berat.

Saya hanya bilang, tunggu waktu yang tepat. Tanpa memiliki alasan yang cukup untuk menolak undangan  mereka, saya hanya bisa mengulur-ulur waktu saat itu. Beruntung, mereka akhirnya memutuskan yang datang ke Indonesia. Alhamdulillah.

Atas ijin dari Allah SWT akhirnya dua tamu agung ini hadir di Sidoarjo pada 28 Oktober 2016. Kesulitan berkomunikasi akhirnya teratasi dengan hadirnya Mas Gusti, yang menjadi penerjemah Indonesia – Turki.

Perjumpaan pertama di PPLH Seloliman itu berlangsung hangat dan akrab. Saya memperkenalkan diri  sendiri dan tim ajudan yang akan membantu proses pelatihan. Tujuan pelatihan master kwa dan proses pelatihan saya jelaskan secara detail dan terperinci kepada mereka. Mereka berdua mengangguk-angguk tanda memahami penjelasan saya.

Sesekali penjelasan saya dipotong, dengan pertanyaan yang kritis. Rasa keingintahuan dua master ini begitu besar. Sehingga saya harus sabar untuk menjelaskan mulai dari awal. Tanya jawab dan diskusi memang proses yang mencerdaskan dan pelatihan Master KWA memang diformat dalam bentuk yang lebih cair dan tidak kaku, sehingga apapun bisa dipertanyakan. Misal pertanyaan sederhana apakah goib itu bisa dilihat oleh mata  sampai  hal-hal yang sulit, misalnya tentang ketuhanan.

Pengijasahan ilmu-ilmu kita berikan secara bertahap kepada master kwa baru ini. Dimulai dengan proses pembersihan diri. Ini adalah syarat wajib seseorang mendapatkan ijasahan dalam program master. Ibarat sebuah piring, syarat wajib piring untuk dipakai sebagai wadah makan adalah piring itu harus dicuci bersih. Setelah piring bersih dan steril, maka baru dipilih kita akan memakan jenis makanan apa.

Tahap selanjutnya setelah pembersihan diri adalah olah energi. Tubuh, pikiran dan hati adalah satu kesatuan. Kesatuan yang unik dan menyatu. Ketika tubuh, pikiran dan hati telah memiliki keselarasan dan harmoni, maka kita bisa khusyuk dan fokus untuk menerima ilmu hikmah.

img-20161031-wa0023Tahap inti dari pelatihan master kwa adalah pengijasahan ilmu-ilmu dasar sampai ilmu-ilmu khusus dan ilmu yang digolongkan menjadi ilmu tingkat tinggi. Selain pemberian ilmu, juga dilatih untuk menggunakan berbagai ilmu tersebut untuk kemanfaatan kehidupan sehari-hari. Misalnya:
Bagaimana menererawang sesuatu yang tidak terlihat secara kasat mata? Masa lalu dan masa depan? Nasib kita sekarang?
Bagaimana menerapkan ilmu rezeki agar rezeki mengalir secara alami? Tempat usaha yang sepi menjadi ramai oleh pembeli?
Bagaimana menarik penyakit yang ada di dalam tubuh seseorang baik penyakit medis maupun non medis? Bagaimana memberikan terapi hipnosis kepada orang yang ketakutan karena penyakit mental?
Bagaimana membuat pemagaran goib di diri sendiri, keluarga dan rumah masing-masing?
Bagaimana agar kita memiliki proteksi diri terhadap santet dan tenung?
Bagaimana agar derajat kita naik, dari zero menjadi hero?
Bagaimana menyadarkan orang kena sawan, kesurupan dan kena santet?
Dan masih banyak lagi ilmu yang lain yang manfaatnya sangat besar.

Tahap terakhir setelah ijasahan adalah semua ilmu itu diriyadhohi di diistighosah serta disempurnakan dalam satu kesatuan tujuan. Itulah yang membuat program master kwa ini tidak bisa dilakukan secara cepat (misalnya satu atau dua jam saja). Tapi perlu waktu setidaknya 24 jam nonstop karena ada tahapan-tahapan dan proses yang perlu dilalui oleh peserta secara bertahap, berurutan dan tidak bisa di bolak-balik.

Semua ilmu itu nantinya bisa diajarkan kepada orang lain, sebab master adalah guru dan guru berhak memberikan ijasahan kepada para muridnya. Dan masih banyak lagi hal-hal yang insya alloh bermanfaat buat kehidupan kita sehari-hari. Bersyukur bila master kwa baru asal Turkey ini berniat untuk membuka KWA di Turkey, Eropa dan berniat akan merekrut para murid untuk diajari berbagai ilmu goib.

Selain pemberian materi yang telah diprogramkan, ada kegiatan tambahan lain yang penting. Misalnya konsultasi permasalahan hidup pribadi beserta solusi pemecahan masalahnya seperti apa.  Saya tidak pernah menolak ketika orang lain meminta bantuan kepada saya. Alhamdulillah, sepanjang saya bisa melakukannya, maka akan saya lakukan sesuai dengan kemampuan. Dan memberi bantuan kepada siapa saja adalah rejeki bagi saya.

Prinsip yang saya pegang adalah: Rejeki Allah yang diberikan kepada kita semua itu bentuknya bereneka rupa. Materi dan uang itu hanyalah salah satu bentuk rejeki. Rejeki  lain berbentuk kesehatan keselamatan dan semua yang kita dapatkan hari ini adalah rejeki.

Saya perluas arti rejeki. Tidak hanya hal-hal yang menyenangkan dan enak yang disebut rejeki. Hal-hal yang membuat kita semakin pintar, cerdas dan mendewasakan kita juga termasuk rejeki. Masalah-masalah, kesulitan-kesulitan, penderitaan-penderitaan, hal-hal yang menjengkelkan hati juga termasuk rejeki.

Kenapa?

img-20161031-wa0022Sebab dari kesulitan dan penderitaan adalah pembelajaran dan pelatihan hidup yang justeru terkadang membuat diri kita sadar dan dewasa. Membuat kita wajib dan harus mempercayai adanya Dzat Yang Maha Kuasa, untuk meminta pertolongan dan bantuan. Membuat kita menyadari kelemahan diri. Membuat kita tidak sombong congkak dan angkuh. Membuat kita akhirnya harus bertaqorrub kepada Allah SWT.

Coba ketika kita ketakutan dan menderita duduk di pesawat terbang. Kita takut dan khawatir jangan-jangan nanti pesawatnya jatuh. Tidak ada yang bisa kita lakukan kecuali hanya pasrah dan berdoa kepada Allah SWT. Maka, penderitaan itu hakekatnya sesuatu yang positif bagi diri kita yaitu ingat kepada Tuhan Yang Maha Melindungi.

Pendek kata, memaknai arti rejeki secara luas akan memberikan kita keluasan, kedalaman dan keberkahan. Meneladani Rasulullah SAW dan semua nabi, kita ini harusnya malu. Betapa kita ini tidak menyadari bahwa kesulitan dan penderitaan itu adalah rejeki yang tiada bernilai harganya.

img-20161030-wa0003Pada diri Rasulullah SAW, kesulitan dan penderitaan adalah rejeki yang mengantarkan mereka untuk mendekat kepada Allah SWT. Bukankah tujuan hidup ini adalah mendekat kepada NYA semata? Oleh sebab itu, mereka tidak khawatir apapun datangnya sesuatu, apakah itu berupa kemudahan dan kesulitan. Kebahagiaan maupun kesedihan. Kematian juga sudah bukan merupakan hal yang menakutkan. Pendeknya: Mati sekarang dan besok sama saja.

Jiwa dan mental para Nabi  adalah ketenangan dan kedamaian. Saat harus berperang menegakkan kalimah tauhid, Rasulullah SAW berada di garis paling depan. Memimpin pasukan Muslim dan memberi contoh kepada semua umat, bagaimana seharusnya menjadi manusia yang gagah berani menghadapi hidup.

Akhirnya, semua proses pelatihan itu harus dilanjutkan di rumah masing-masing dan di antara para master kwa terjalin secara kuat ikatan persaudaraan. Untuk mempermudah komunikasi antar para master kwa maka ada grup whatssap khusus untuk saling tukar informasi dan ijasahan ilmu-ilmu yang lain.

Pelatihan master kwa bukanlah pelatihan yang instan — mana ada ilmu goib yang bisa diisikan secara instan? Kecuali hanya bahasa iklan-iklan di media, saya kira kita semua sudah cerdas bahwa tidak ada ilmu instan yang sekali diisikan langsung bisa. Kalau pun ada, sedikit jenis ilmu yang diisikan secara instan maka hilangnya pun bisa instan atau cepat dan tidak bisa diuji secara ajeg.

Contoh pengisian ilmu kebal  dengan memasukkan gotri ke dalam mulut. Saat itu, oleh sang guru langsung bisa ditajrib di tempat. Nah, saat anda pulang maka tidak ada jaminan anda akan kebal bila disabet senjata. Semua ini tidak ada jaminan. Yang bisa menjamin secara mutlak hanyalah Allah SWT dengan cara dan sikap kita hanya bisa pasrah kepada Allah SWT.  La hawla wala quwwata ila billah.

Ilmu isian semacam inilah yang membuat anda nanti jadi kesulitan menghadapi maut. Khodam jin yang anda panggil dan sembah ketika membaca mantera dan mengisikan ilmu ke dalam tubuh, akan membuat ruh anda stress sepanjang masa.  Anda akan jadi arwah gentayangan dan tersiksa di kubur ketika anda wafat.

Di pelatihan master kwa ini, ilmu semacam itu kita hindari. Ilmu-ilmu master kwa bukan ilmu isian instan. Di pelatihan master KWA ilmu diijasahkan, diajarkan dan diriyadhohi sendiri oleh anda agar ilmu yang kita dapat ini meresap abadi dan tidak akan hilang selamanya. Besar manfaat dan berkahnya bagi kehidupan jangka panjang, di dunia dan akhirat. Amin YRA. Kita pegang tauhid. Kita jauhi larangan Allah SWT dan kita patuhi perintah-NYA.

Inilah ilmu yang sejati. Bukan ilmu karang — ilmu yang dikarang-karang oleh jin sebagai khodam ilmu– dan akhirnya membuat kita tertipu. Ilmu sejati akan menyelamatkan kita, bukan membunuh dan menyiksa. Ilmu sejati akan membuat pemiliknya tenang dan damai serta membuat keyakinan seseorang terhadap kekuasaan Allah SWT itu semakin besar.

Selamat jalan Master KWA pulang ke Turki. Lain waktu kita berjumpa lagi. Salam paseduluran. Wassalamualaikum wr wb.

Berikut link youtube pelatihan master Kwa angkatan 53:

@kwa,2016

 

Categories: REPORTASE PELATIHAN MASTER KWA: Ilmu sejati dan ilmu karang

PEMBERIAN GELAR MASTER KWA ANGKATAN 53


Assalamualaikum wrb wb.

img-20161031-wa0023SEBAGAI TANDA RASA PERSAUDARAAN YANG PENUH CINTA MAKA KAMPUS WONG ALUS MEMBERIKAN  GELAR  KEPADA PESERTA PROGRAM PELATIHAN MASTER KWA ANGKATAN LIII / 53 YANG DISELENGGARAKAN PADA 29 OKTOBER 2016 BERTEMPAT DI GUNUNG PENANGGUNGAN DENGAN GELAR:

KI PRABU ANOM PENANGGUNGAN (TURKEY – EUROPE)

KI PRABU SEPUH PENANGGUNGAN (TURKEY- EUROPE) 

SEMOGA PELATIHAN MASTER KWA INI BERMANFAAT UNTUK KITA SEMUA DALAM NAUNGAN RIDHO ALLAH SWT. AMIN.

HORMAT KAMI, SALAM PASEDULURAN.

wongalus

@@@

Categories: >>PERPUSTAKAAN UTAMA

ASMAK AKWAN


artikel kiriman
BAJANG LOMBOK
muhrikaizi@gmail.com
Salam hormat buat sesepuh kampus wong alus dan juga kepada semua kelurga besar kwa dimana saja berada,Dengan ini ijinkan saya yang doif ini berbagi sedikit pengetahuan tentang asmak akwan yang saya nukil dari kitab al ajnas  halaman 44 ,asmak ini berpungsi insya alloh  untuk perlindungan dari segala macam kejahatan,kebal segala jenis senjata  ,melindungi rumah dari pencurian,untuk mahabbah,menghancurkan santet,mengobati kesurupan dan lain- lain sesuai niat
Cara mengamalkannya cukup dibaca 100 kali selama, 7 malam sehabis shalat hajat,setelah selesai yang 7 malam tingal diamalkan baca 1/3 kali sehabis sholat ,5 waktu ,cara menggunakan untuk perlindungan baca 3 kali sebelum keluar rumah,
Untuk tawassulnya,
1).nabi muhammad saw beserta semua keluarganya
2).kedua ibu dan bapak
3).semua kaum muslimin dan muslimat ,mukminin dan mukminat
4).diri sendiri, semoga bermanfaat bagi yang membutuhkan.
Inilah dia asmak al akwan:
Ajibni ya abal hakim wa anta ya hisyam wa anta ya huhirin wa anta ya syah nitin ya musfarsin ya ibadallohisaholihin  ainama takunu yakti bikumullohu jami,an  in nalloha ala kulli Syai,ing kodir.
@kwa,2016
Categories: ASMAK AKWAN | 15 Komentar

ILMU MEMANGGIL GOIB “PRABU SILIHWANGI”


artikel kiriman ki arya wisesa

Salam welas asih tuk sedulur semua….Semoga senantiasa selalu ada dalam sehat dan dimudahkan rizki oleh Gusti Murbeng alam…sedulurku saya berbagi wawasan melalui blog tercinta ini,semoga kiranya bermanfaat bagi semua makhluk,kali ini saya berbagi sebuah kidung untuk pemanggilan dan penyatuan pada Eyang Ageung Gusti Prabu siliwangi,kidung ini dikemas sebagian besar dalam bahasa sunda kuno/buhun,jadi untuk mereka yg tidak mengerti makna kidung ini,saya sarankan minta bantuan teman untuk di translate ke bhs indonesia

Ini bukti khasanah perbendaharaan ilmu hikmah di KWA begitu banyak warna dan budaya.kidung ini saya dapat dari seseorang di daerah garut disaat saya ziarah ke daerah leuweng/hutan sancang di garut dimana di sana ada sebuah lembah yang langsung berbatas dg pantai selatan,disana ada goa dan digoa itu saya dapat kidung ini.dan untuk tata cara pemanggilanya lebih utama ziarah dulu ke sancang,namun dimensi ghoib dimensi yg tidak terikat oleh ruang dan waktu/tembus tanpa batas,artinya bisa dilakukan dimanapun dg etika ghoib,saya sarankan untuk pemula ilmu hikmah jgn berjalan sendiri,carilah praktisi yg bisa mengarahkan anda,sy yakin tiap daerah ada…

Etika mengundang pada umumnya selalu ada jamuan tuk pihak yg diundang,namun mohon maaf jamuan tidak bisa saya paparkan disini,jk sedulur sdh yakin dan ada dasar mental ghoib silahkan email ke saya
( kiarya.wisesa@yahoo.com ).atau anda bisa tanya praktisi di tempat anda,pada umumnya hampir sama jamuan ghoib yg ini hanya ditambah daging sapi segar.untuk manfaatnya silahkan anda tanya langsung sama eyang baginda prabu
karena tiap orang akan berbeda tergantung karakter si pengamal…Kiranya hanya ini yg bisa saya bagikan,mohon maaf jika ada kata yg kurang berkenan bahkan bukan maksud utk mengajari apalagi pd pinesepuh KWA,ini hanya share dari seorang yg lemah yg berusaha tuk selalu welas asih.terima kasih…SALAM WELAS ASIH….
KIDUNG SILIWANGI
 
SAMPURASUN…3X    KAWULA NUN
BULKUKUS DAWITANANA,
TANDANA KA PARA DEWATA,
SING HADIR KA PARA SANGHYANG,SING HADIR KA PARA DANGHYANG,
ANU LINGGIH CALIK DI KARATON LEUWEUNG SANCANG PADARINCANG
BULKUKUS SING REK HURIP,
DIBUANA PANCA TENGAH,PUN AMPUN AMIT AMPUN,
NEDA AMPUN KAPARALUN,KA LUHUR KA SANG RUMUHUN,
KA HANDAP KA SANG BATARA,KA SING BATARI ANU PASTI
KA SANG BATARA NU NYATA,SANG NU GRAHA
BULKUKUS HIBER KA MANGGUNG,
NYAMBUANG KA AWANG AWANG,
IE KUKUS PANGONDANG EYANG AGEUNG
SRI BADUGA MAHARAJA PRABU SILIWANGI
NU LINGGIH CALIK DI KARATON LEUWEUNG SANCANG PADARINCANG,
….SING HADIR…3X { Sambil gejlig bumi }
NYUWUN PANGABAKTI KA PANGERSA,KAULANUN
NYANGGAKEUN SARI PANGABAKTI,RASA PANGAWASA ,
MUGI KATAMPI SARINA KATEDA RASANA KUPANGERSA,
IE SAJEN PANGABAKTI IE KUKUS PANGABAKTI
YA AMALELES…YA ADEN ADEN…YA KAJAJADEN YA HADIR
AMAGALUH PAKUWON ANU LINGGIH CALIK DI KARATON
LEUWEUNG SANCANG PADARINCANG
EYANG AGEUNG SRI BADUGA MAHA RAJA PRABU SILIWANGI.
@kwa,2016
Categories: ILMU MEMANGGIL GOIB PRABU SILIHWANGI | 7 Komentar

REPORTASE PERJALANAN KE KERATON KASEPUHAN CIREBON


Berbahagia rasanya bisa masuk ke Museum Pusaka di Keraton Kasepuhan Cirebon. Kesempatan langka itu terjadi beberapa hari yang lalu…

20161014_215839Diantar oleh seorang sahabat karib yang juga sesepuh KWA, mbah Jatiraga dan Seorang Sentono Dalem “Kang Sis” yang juga merupakan sesepuh Laskar Macam Ali, kami masuk ke Keraton Kasepuhan Cirebon malam hari. Kami melihat-lihat koleksi-koleksi pusaka kerajaan Cirebon yang dikeramatkan.

Memasuki Keraton Kasepuhan ini, kita melewati tembok berbata ekspose berwarna cokelat, di mana arsitekturnya bernuansa bangunan Bali. Padahal, diketahui, keraton ini ditempati oleh kerajaan Islam yang dipimpin Sunan Gunung Jati.

Arsitektur keraton dibangun dari masa peralihan dua zaman berbeda. Keraton Kasepuhan ini dibangun saat masa kejayaan Hindu ke masuknya Islam, makanya bangunan di sini mirip di Bali.

Kemudian, selama langkah berjalan, kita akan memasuki gerbang utama, di dalamnya terdapat bangunan pusat keraton yang difungsikan pada saat itu sebagai Kesultanan Cirebon. Keraton Kasepuhan ini yang sudah dijadikan museum sejarah, cukup menyuguhkan secara lengkap alat-alat, benda pusaka, kendaraan, hingga lukisan yang dikoleksi oleh Kesultanan Cirebon.

20161014_204149Seperti, kereta barong yang disimpan dalam ruangan. Kereta kencana ini sering digunakan oleh Kesultanan Cirebon saat merayakan tahun baru Islam yang jatuh pada 1 Muharam atau dikenal dengan 1 syuro. Di kanan kirinya kereta terdapat pusaka-pusaka kerajaan.

Menilik ke lebih ke dalam menyusuri lorong, terdapat sebuah lukisan Prabu Siliwangi yang diyakini hasil karya Sunan Gunung Jati. Lukisan ini dibuat setelah beliau bermimpi dengan Prabu Siliwangi yang kemudian ia tuangkan ke dalam sebuah kanvas.

20161014_203829Di lukisan itu terasa aroma mistis yang kuat. Lukisan ini dapat dilihat secara tiga dimensi. Pengunjung hanya melihat dari mata sang tokoh tersebut hingga ke kaki. Maka, setelah itu pengunjung akan melihat obyek lukisan itu membalas pandangan Anda, meski dilihat dari sudut samping kiri maupun samping kanan.

Hal itu bisa terjadi, karena diyakini lukisan ini mengandung muatan mistis, dan bahkan konon menurut pemandu  ada pengunjung yang kesurupan akibat melihat lukisan tersebut dengan pikiran kosong. Selanjutnya bagian dalam keraton ini juga terdapat bangunan utama yang berwarna putih. Di dalamnya terdapat ruang tamu, ruang tidur, dan singgasana raja.

Pernah hilang dicuri 

20161014_204217Konon, beberapa tahun yang lalu, sekitar tahun 2011, pusaka-pusaka Keraton Kasepuhan Cirebon pernah hilang dicuri yaitu jenis keris, pusaka cangak dan tombak. Namun polisi berhasil meringkus pencurinya dan pusaka-pusaka tersebut berhasil dikembalikan lagi ke pihak Keraton.

Setelah puas, saya diantar masuk untuk mandi di Sumur Kejayaan yang letaknya di belakang Museum di dalam tembok keraton. Setelah mandi, saya diajak oleh Ki Jatiraga untuk maladihening sesaat di tempat petilasan Pangeran Cakrabuana dan Petilasan Sunan Gunung Jati.

Saat maladihening, Ki Jatiraga sempat mendapatkan ijazah goib berupa doa Asmak pendek yang diinformasikan kepada saya secara berbisik.

Alhamdulillah….

Prosesi ritual mandi selesai dan kami melanjutkan berjalan menyusuri lorong-lorong Keraton.

20161014_203703Menurut Kang Sis, tiap keraton di Indonesia memiliki nilai adat yang kaya, tidak terkecuali Keraton Kasepuhan di Cirebon. Setiap Maulid Nabi, pihak keraton merayakannya dengan memandikan benda pusaka.

Selain keris maupun kereta, pusaka Kasepuhan Cirebon adalah sebuah piring dengan kaligrafi Arab yang dikeluarkan pada saat upacara Panjang Jimat di Keraton Kasepuhan Cirebon.

Benda pusaka Keraton Kasepuhan yang dikeluarkan pada upacara Panjang Jimat adalah piring bertuliskan kaligrafi Arab yang dalam sejarahnya dibawa langsung oleh Sunan Gunung Jati dari Makkah.

20161014_203650Menurut Kang Sis, Upacara Panjang Jimat dilakukan setahun sekali pada Maulud Nabi untuk memaknai kelahiran Nabi Muhammad SAW. Menjalankan tradisi yang dianut oleh Sunan Gunung Jati, sejumlah persembahan secara simbolik disiapkan untuk mewakili hari kelahiran Nabi.

pusaka-cirebonPanjang itu adalah piring peninggalan Sunan Gunung Jati, sedangkan jimat itu adalah nasinya atau lauk di atas piring. Ibaratnya manusia makan perlu piring sama nasinya.

Dalam ajaran Islam sendiri, panjang juga diibaratkan terus menerus tanpa henti, sedangkan jimat merupakan bahasa Jawa dari ‘satu yang dipelihara.’ Artinya pun merujuk pada dua kalimat syahadat yang menjadi pegangan utama umat Muslim.

Piring atau jimat Keraton Kasepuhan sudah dikeluarkan dan dibersihkan seminggu sebelum puncak perayaan Maulud Nabi. Setelah dibersihkan, piring akan ditaruh di keranda khusus yang disebut meron dan dondang.

Pada malam Upacara Panjang Jimat, ritual diadakan di Bangsal Prabayaksa dan disaksikan sendiri oleh Sultan PRA Arief Natadiningrat. Upacara dimulai dengan pembukaan, kemunculan pimpinan barisan Abdul Mutholib, perangkat upacara, hingga arak-arakan oleh Abdi Dalem dengan obor menuju ke Langgar Agung.

Total bagian upacara terdiri atas sembilan kelompok. Adapun tiap kelompok tersebut memiliki makna tersendiri yang berkaitan dengan kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Sesampainya di Langgar Agung, sejumlah persembahan beserta piring pusaka dikeluarkan. Jamaah Masjid Agung Sang Cipta Rasa kemudian membacakan Kitab Barzanji sampai tengah malam. Usai doa, persembahan akan dibagikan ke para Abdi Dalem, diselesaikan dengan arak-arakan kembali ke Bangsal Prabayaksa.

20161014_203433tiang-sokoguruBegitulah, kami akhirnya harus mengakhiri perjalanan di Keraton Kasepuhan dengan sholat di Masjid yang wingit dan sinengker: Masjid Agung Sang Cipta Rasa

Dan, Cirebon menyisakan kenangan yang tak kan terlupakan ….. terima kasih Ki  Jatiraga  dan Kang Sis!

@KWA, 2016

 

Categories: REPORTASE PERJALANAN KE KERATON KASEPUHAN CIREBON | 12 Komentar

PEMBERIAN GELAR MASTER KWA ANGKATAN 52


Assalamualaikum wrb wb.
SEBAGAI TANDA RASA PERSAUDARAAN YANG PENUH CINTA MAKA KAMPUS WONG ALUS MEMBERIKAN  GELAR  KEPADA PESERTA PROGRAM PELATIHAN MASTER KWA ANGKATAN LII / 52 YANG DISELENGGARAKAN PADA 8 OKTOBER 2016 BERTEMPAT DI GUNUNG PENANGGUNGAN DENGAN GELAR:

KI PRABU RUDI PENANGGUNGAN (CIANJUR)

KI PRABU SLAMET PENANGGUNGAN (KLATEN) 

SEMOGA PELATIHAN MASTER KWA INI BERMANFAAT UNTUK KITA SEMUA DALAM NAUNGAN RIDHO ALLAH SWT. AMIN.

HORMAT KAMI, SALAM PASEDULURAN.

wongalus

@@@

 

Categories: >>PERPUSTAKAAN UTAMA

SELAMAT TAHUN BARU HIJRIYAH 1438 H


KELUARGA BESAR KWA MENGUCAPKAN

SELAMAT TAHUN BARU HIJRIYAH 1438 H.

SEMOGA KEHIDUPAN KITA SEMAKIN BERKAH

DALAM NAUNGAN RIDHO ALLAH SWT. AMIN YRA.

HORMAT SAYA

KI WONGALUS.

==========================================

Tahun baru Hijriyah dalam masyarakat Jawa dikenal dengan tradisi 1 Suro. Sebagai bagian dari masyarakat Nusantara yang memegang tradisi budaya, KWA mengadakan acara Suroan yang dimulai dengan refleksi dan doa bersama agar kita semua, masyarakat, bangsa dan negara kita ini aman damai selamat tenteram dan dijauhkan dari bencana. Amin.
Selain itu, budaya Jawa memiliki tradisi unik yaitu pusaka-pusaka yang isinya adalah doa-doa para Empu yang selama ini disimpan di almari maka di bulan Suro ini dijamasi dan dibersihkan. Berikut beberapa dokumentasi kegiatan jamasan kecil-kecilan PUSAKA-PUSAKA KWA di rumah kami.
Kita ajari diri kita, kita ajari lingkungan di sekitar kita, kita ajari generasi muda agar menghargai dan menghormati tradisi secara cerdas dan bijaksana. Apa falsafah dan makna yang terkandung dalam sebuah aktivitas budaya sebagai local genius bangsa kita. Demikian terima kasih rahayu kang sami pinanggih. Wassalamualaikum wr wb.

img-20161001-wa0074

img-20161001-wa0069

img-20161001-wa0077img-20161001-wa0082img-20161001-wa0064

img-20161001-wa0075

img-20161001-wa0068

img-20161001-wa0073

img-20161001-wa0050

img-20161001-wa0061

img-20161001-wa0048

Categories: >>PERPUSTAKAAN UTAMA | 18 Komentar

KISAH PARA EMPU PEMBUAT KERIS


wempu-keris1BANYAK kisah aneh tentang perilaku empu ketika membuat keris. Empu wanita Ni Sombro, misalnya, suka membuat keris dengan mengambang di permukaan laut. Dia konon mampu membuat keris dengan hanya dipejet-pejet memakai tangan.

keris-sombro-pejetan-pajajaranSetelah jadi, keris dicoblos pakai jari kelingking agar terjadi lubang demi memudahkan untuk merenteng keris buatannya, sebelum kembali ke daratan. Karena itu, keris buatan Ni Sombro dipastikan ada lubangnya. Juga ada bekas pejetan tangan.

Di zaman modern sekarang pun, masih ada Empu yang mengawali pembuatan keris dengan cara menjilat bahan keris dari besi yang  masih panas membara. Suatu ketika Bupati Wonogiri H Begug Poernomosidi SH memesan keris pada empu Mas Ngabehi (MNg) Daliman Solo, besi yang merah membara ketika dibakar di tungku (baselen), serta merta diambilnya dan dijilat pakai lidahnya. Ini dilakukan untuk mengawali pembuatan pamor keris dapur sengkelat yang dia pesan.

Tahukah Anda bagaimana keris Kanjeng Kiai (KK) Jenang Kunto dibuat di zaman kerajaan Mataram ? Saat itu, Raja Mataram memerintahkan semua penduduknya setor masing-masing sebuah jarum ke keraton. Ini untuk sensus penduduk guna mengetahui jumlah warga di Mataram.

Dengan meminta jasa empu Ki Supo Enom (Ki Nom), jarum sebanyak jumlah warga di negeri Mataram itu, kemudian dibuat keris. Jadilah sebilah keris yang diberi nama KK Jenang Kunto.

Lain lagi cara yang dilakukan Raja Surakarta Paku Buwana (PB) IV. Dia memerintahkan semua bedug di tanah Jawa dikumpulkan. Setelah terkumpul, paku bedugnya dipakai untuk bahan membuat keris KK Pakumpulan yang dibuat oleh Empu Brojoguna. Sedangkan kulit bedug dibuat wayang kulit dan diberi nama KK Jimat.

EMPU ERA SEKARANG

mpu-kerisDi dunia tosan aji, Pauzan Pusposukadgo bukanlah nama asing. Saat ini, dialah satu-satunya empu (pembuat keris) paling senior dan masih aktif di Indonesia. Usianya sudah 72 tahun. Namun semangatnya untuk melestarikan keris sebagai salah satu warisan budaya dunia tetap menyala. Tosan aji adalah sebutan untuk senjata tradisional yang terbuat dari besi dengan cara ditempa, seperti tombak dan keris.

Sebelum membuat keris Pauzan menggelar ritual selamatan untuk menandai aksinya menghidupnya kembali besalen (tempat pembuatan keris) milik budayawan Jawa almarhum Panembahan Hardjonagoro (Go Tik Swan). Besalen yang berada di komplek tempat tinggal sang panembahan di kawasan Kratonan, Solo, Jawa Tengah, itu terakhir digunakan untuk membuat keris tahun 1992. Pauzan sendiri dalam 10 tahun terakhir sempat berhenti membuat keris karena sakit.

Besalen ini nantinya tidak hanya untuk membuat keris, tapi juga sebagai tempat bertanya bagi mereka yang ingin tahu tentang tosan aji, terutama keris,” kata Pauzan.

Bagi Pauzan, menghidupkan kembali  besalen ini juga sebagai cara untuk bernostalgia karena dia  pernah lama belajar pada panembahan (Go Tik Swan). “Tahun 1980-an saya nyantrik (magang) di besalen ini. Dia mengajari saya banyak hal tentang tosan aji,” ujar suami dari Sukasmi ini.

Lahir di Desa Grinting, Boyolali, tahun 1941, dari keluar petani yang miskin, Pauzan  hanya mengenyam pendidikan sampai kelas II Sekolah Teknik (setingkat SMP). Setelah droup out, ia bekerja di bengkel sebelum akhirnya menjadi sopir bus malam jurusan Solo-Jakarta. Ketertarikannya terhadap keris berawal ketika seorang temannya memamerkan keris yang baru diperoleh dari orang tuanya.

“Sampai sekarang saya tidak ingat dapur-nya apa, pamor-nya apa, dan tangguh-nya dari mana. Tapi saya ingat keris teman saya itu sangat indah. Sejak itu saya mulai  keranjingan (tergila-gila) dengan keris,” kata Pauzan yang tinggal di Kampung Yosoroto. Solo.

Tahun 1974, Pauzan masuk menjadi anggota Boworoso Tosan Aji Surakarta, sebuah perkumpulan bagi penggemar tosan aji. Dari tempat inilah Pauzan mulai belajar mengenal keris. Selama  8 tahun ia mempelajari bagian-bagian keris, falsafah, dan sejarah keris sambil sesekali belajar menempa besi dan membuat pamor pada Go Tik Swan. Hingga akhirnya pada tahun 1982 ia belajar membuat keris sendiri. Ia bongkar halaman rumahnya yang tak begitu luas untuk dijadikan besalen.

Pauzan menuturkan karena tidak memiliki cukup untuk membeli besi dan bahan membuat keris lainnya, ia sering membeli keris rongsokan di Pasar Antik Triwindu. Keris-keris yang dibeli dengan harga murah itu kemudian diperbaiki di besalen-nya, dan kemudian dijual kembali dengan harga tinggi.

“Hasil jual beli itu kemudian saya pakai modal untuk menghidupkan besalen,” kata dia.

Ketekunan, banyak bertanya, dan di bawah bimbingan langsung Mpu Go Tik Swan, keris karya Pauzan akhirnya berhasil  menarik perhatian para penggemar keris. Tahun 1984, ia berhasil membuat pamor kreasi baru,  Poleng Wengkon, yang ditorehkan pada keris dapur Gumbeng. Pamor adalah motif yang muncul pada bilah keris karena lipatan besi yang berbeda, biasanya logam putih dan hitam atau nikel.

“Pamor itu hasil desain Dietrich Drescher, pecinta keris asal Jerman. Pamor itu kemudian saya torehkan pada bilah keris,” kata empu yang pernah diangkat menjadi mantra pande ((kepala besalen) oleh Paku Buwono XII  di Keraton Kasunanan Surakarta.

Keris karyanya ini langsung menarik perhatian Menko Polkam ketika itu, Jenderal Soerono yang kemudian memberi nama keris itu Kyai Surengkarya.  Tujuh keris dengan pamor serupa juga dipesan oleh beberapa pecinta keris dari Amerika Serikat, Malaysia, Jepang, Australia, dan Belanda.

Selain Poleng Wengkon, Pauzan juga melahirkan pamor-pamor baru, antara lain  kalpataru, daun pepaya, dan tetes banyu (tetes air). “Dietrich Drescher banyak mendorong  sekaligus menginspirasi saya untuk menciptakan pamor pamor baru,” kata Pauzan.

Empu Kreasi Baru

pameran-kerisKarya-karya Pauzan selalu ditunggu para penggemar keris. Selama periode tahun 1983 hingga 1990, Pauzan menggelar pameran karya-karya tosan aji, antara lain di ASKI (sekarang Institut Seni Indonesia Surakarta), Sasana Mulya (Solo), Monumen Pers (Solo), Pusat Keris Jakarta, dan Taman Mini Indonesia Indah. Sebagai empu, Pauzan semakin bersinar ketika karya-karya dipamerkan di Brunai Darusalam.  Karena kepiawaiannya, Pauzan  juga menjadi dosen luar biasa untuk mata kuliah praktek pembuatan keris di Akademi Seni Karawitan Indonesia (ASKI, sekarang ISI) Surakarta.

Ia selama ini dikenal sebagai empu dengan karya-karya keris kreasi baru. Pada awak-awal sebagai mpu, ia lebih banyak mutrani –meniru keris-keris kuno seperti naga sasra sabuk inten, kyai sengkelat, dan sebagainya.  Setelah masa-masa meniru selesai, ia mulai menciptakan kreasi baru.

“Keris itu bukan benda mistis. Keris itu karya seni yang luar biasa warisan leluhur kita. Sekarang ketertarikan orang terhadap keris sudah  bergeser dari sesuatu yang mistis ke aspek estetika,” kata empu yang pernah menerima beberapa penghargaan di bidang budaya dari pemerintah ini.

Pria ini telah membuat ratusan keris. Ia juga melahirkan puluhan empu muda dari besalen-nya. Namun ia tetap sederhana. Ia sangat terbuka untuk mengajarkan ilmu perkerisan kepada kalangan muda yang ingin belajar darinya. Meski karya-karya kerisnya telah mendapat pengakuan dunia, namun Pauzan menolak disebut sebagai empu.

“Saya bukan empu, tapi pengrajin keris,” kata pria yang mendapat gelar Mas Ngabehi Pusposukadgo dari Keraton Kaunanan Surakarta ini.

Menurut Pauzan, untuk menjadi empu seseorang harus memiliki kemampuan spiritual yang tinggi. Seorang empu harus menjalani laku tapa dan ritual kejawen lain. Lagi pula, lanjut Pauzan, gelar empu itu hanya untuk para pembuat keris kraton pada zaman dulu. Bagi dia yang penting adalah melakukan tugas yang juga diwariskan para leluhur kepada generasi berikutnya, yaitu melestarikan budaya.

“Saya gembira karena mulai banyak perajin perajin muda dengan karya yang hebat. ISI (Institut Seni Indonesia) Surakarta memiliki peran besar dalam melahirkan perajin perajin muda. Apalagi di sana sudah ada program studi tosan aji,” ujar Pauzan.

Meningkatnya minat terhadap pembuatan keris ini, lata Pauzan, terutama setelah Unesco  mengukuhkan keris merupakan warisan budaya lisan dan tak benda karya kemanusiaan dari Indonesia.

“Di Indonesia, tradisi membuat keris dan tombak masih berlanjut seperti halnya membuat wayang dan batik. Secara terus menerus selama ratusan tahun tradisi itu masih dilakukan oleh masyarakat kita, bahkan sampai sekarang” kata dia.

Pauzan menyebut tradisi pembuatan keris sudah dilakukan  sejak  masa kerajaan Buda (125-1125), kerajaan Hindu ( 1250-1500), Mataram Islam (1460 M – 1613 ) hingga masa pasca kemerdekaan  (1945 hingg sekarang).

Dari perjalanan panjang itu, lanjut Pauzan, telah lahir empu-empu hebat seperti Empu Gandring  pada masa kerajaan Singasari. Lalu zaman Mataram melahirkan Mpu Warih Anom, Mpu Madrim, Mpu Tundung, Mpu Setrobanyu, hingga Mpu Brojosentiko, Mpu Brojoguno, dan Mpu Japan.

“Mereka empu empu yang luar biasa. Sayang, banyak karya mereka yang hilang karena dijual ke luar negeri,’” kata Pauzan.

Pada masa sekarang ini, menurut Pauzan, keris seharusnya tidak lagi dianggap  sebagai benda yang mistis.  Keris adalah karya seni, sehingga harus dilihat sebagai benda seni. Dengan cara pandang seperti itu, kata dia, maka akan semakin banyak kalangan muda yang  akan belajar mengenal, mencintai dan kemudian melestarikan keris sebagai warisan budaya bangsa.

“Keris itu semuanya indah. Mulai proses pembuatan, kemudian munculnya pamor, sampai akhirnya dibuatkan warangka (sarung keris) dan gagang (pegangan). Saya rela  mengajar tanpa bayaran bagi mereka yang ingin belajar membuat keris, terutama dari kalangan muda, agar keris abadi,” ujar Pauzan.

Sumber: Suara Merdeka

Categories: KISAH PARA EMPU PEMBUAT KERIS | 2 Komentar

ASMAK ISMUL ADZOM MULTIFUNGSI


artikel kiriman pembaca
pamungkasrajeh@gmail.com

Asalamu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh

Salam hormat kagem ki wong alus n sesepuh semuanya serta salam hangat buat para pembaca blok kwa tercinta ini pada kesempatan kali ini saya ingin berbagi ijazah keilmuan golongan rajeh dr guru saya dr padepokan Ilmu Kasepuhan Nusantara yaitu ASR ISMUL ‘ADZOM yang ada di padepokan IKN bagi yang berminat silahkan diamalkan dengan istiqomah.

Caranya mandi taubat siapkan air aqua lbh bagus air masjid di lanjut solat sunah taubat 2 rokaat n solat sunah hajat 2 rokaat dilanjut tawasul
1. Biniyati liridho illahi ta’ala
2. Ila hadroti nabiyyil mushtofa Muhammadin SAW
3. Ila hadroti nabiyullah Khidir AS Balya Bin Malkan, Adam min Hawa AS, Idris AS,
Ibrahim AS, Daud AS, Sulaiman AS Asif Bin Barkhoya, Ilyas AS
4. Ila hadroti Syeikh Abdul Qodir Jaelani wa Syeikh Abi Hasan As Syadzily
5. Ila hadroti jami’il malaikat muqorrobin wa qorribin
6. Ila hadroti wali 9, Syeikh Syarif Hidayatullah, Syeikh Sulthon Murohidin Gusti Amat, Pangeran Cakra Buana, Syeikh Magelung Sakti, Syeikh Bujuk Tumpeng Madura, Syeikh Kholil Bangkalan, Mbah Yai Alawi Madura, Mbah Yai Ishaq Grobogan, Mbah Yai Ali Mustain Campur Darat
7. Khususon sohibul ijazah Fitri Andriadi, Jalu Pembayun Setiadisunu, wa
man ajazani ila muntaha serta semua Anggota Ilmu Kasepuhan Nusatara
8. Ila hadroti li jasadi (sebut keluarga yang masih hidup), semua murid dan tamu tamu
ku
9. Ila Arwahi muslimin wa muslimat semua keluarga, leluhur ku yang sudah
meninggal, semua leluhurnya guru-guru, murid-murid, dan tamu-tamu ku yang
sudah meninggal, dan semua leluhur yang telah babat alas desa… (Tempat saat ini
wirid)
10. Hadza / Hadzihi hadiyatuna khususon ila ruhi …..(nama sendiri)……bin/binti…(nama
ibu kandung)……
11. Assalamu’alaikum Ya Rijalul Ghoib, Assalamu’alaikum Ya Arwahu Mukhodas Ila
Jami’il Khodami Ayat Wal Mu’jizati Karomatil Ayat Wa Bi Barokati Ayat Keramat Lintang Songo (untuk memudahkan / menyebut semua amalan yang dimasukkan)
12. Ilahi anta maksudi wa ridloka madlubi 3x
Al-Fatehah……… 500x( khusus hari pertama) hari kedua seterusnya min 21x

PERMULAAN SEMUA ASMA’
(Ijazah Mbah Yai Ahmad Sholikhin)

Dibaca sebelum mengamalkan asma apapun sebanyak 3x tahan nafas,
Fungsinya untuk memperkuat semua asma yang kita amalkan khususnya yang
berkaitan dengan kejadukan

BISMILLAH HAQULLAH HAQ – HAQ – HAQ 3x  KAF HA YA’ ‘AIN
SHOD KHA MIM ‘AIN SYIN QOF ALLAHU AKBAR 3X

ASR ISMUL A’DZOM ini lafadznya:

INNA QUWWATA QUWWATUKA FAQOWWINI BI ‘IZZATIKAL A’DHOM  1000X

Setelah selesai tarik nafas panjang tahan di perut lalu di kedutkan trus di tiupkan ke air yg sudah disiapkan.

Tutup dengan solawat n hamdalah lakukan selama 3/7 hari untuk faidah multi fungsi. Mf jika ada kata2 yg salah atau khilaf bukan berarti sy berilmu tp saya hnya orang awam yg di tugasi guru saya agar berbagi amalan bagi yg berkenan mohon wejangan n masukanya akhirul kalam wabilahitaufik wal hidayah asalamu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh.

@kwa,2016

Categories: AMALAN MULTIFUNGSI | 59 Komentar

PEMBERIAN GELAR ANGKATAN 51 MASTER KWA


Assalamualaikum wrb wb.
SEBAGAI TANDA RASA PERSAUDARAAN YANG PENUH CINTA MAKA KAMPUS WONG ALUS MEMBERIKAN  GELAR  KEPADA PESERTA PROGRAM PELATIHAN MASTER KWA ANGKATAN LI / 51 YANG DISELENGGARAKAN PADA 17 SEPTEMBER 2016 BERTEMPAT DI PANTAI PRIGI TRENGGALEK JATIM DENGAN GELAR:

KI PRABU DEDI JAYANINGRAT
(LAMPUNG)

SEMOGA PELATIHAN MASTER KWA INI BERMANFAAT UNTUK KITA SEMUA DALAM NAUNGAN RIDHO ALLAH SWT. AMIN.

HORMAT KAMI, SALAM PASEDULURAN.

wongalus

@@@

 

Categories: >>PERPUSTAKAAN UTAMA

KIDUNG BONANG PENOLAK BENCANA


Bagi masyarakat Jawa, Kidung tidaklah sekedar nyanyian sebagaimana makna nyanyian di era sekarang. Akan tetapi mengandung kekuatan batiniah sebagaimana mantra yang dilagukan dengan nada-nada tertentu. Kidung Bonang ini adalah karya dari salah satu Wali Songo yaitu Sunan Bonang, Guru dari Sunan Kalijaga.

Masyarakat tradisional khususnya di Nusantara menggunakan mantra untuk tujuan tertentu. Hal tersebut sebenarnya sangat efektif bagi para penggunanya, Selain merupakan salah satu sarana komunikasi dan permohonan kepada Tuhan, mantra dengan kata yang berirama memungkinkan orang semakin rileks dan masuk pada keadaan trance.

Kalimat mantra yang kaya metafora dengan gaya bahasa yang hiperbola tersebut membantu perapal melakukan visualisasi terhadap keadaan yang diinginkan dalam tujuan mantra. Kalimat mantra yang diulang-ulang menjadi Afirmasi, Pembelajaran di level unconscious dan membangun sugesti diri yang sangat kuat.

Berikut kidung berisi mantra yang bisa dinyanyikan saat malam hari dalam kondisi hening dan sakral. Isinya adalah doa-doa pemagaran agar yang berdoa mendapatkan perlindungan dari Tuhan Yang Maha Kuasa dari penyakit, hama tanaman, teluh, tenung sihir dan bencana lainnya.

Berikut kidungnya :

 

Ana kidung kidunge Paneran

ara namun na sakit

tekane sin sabran

rupane aran aban

kapunah in rasul muji

panakit ilan

kari waluya jati.

Kapayunan in luhur haras

anirnaken paksi

kan teka min sabran

walan lelembin kurikan

tikus celen uti-uti

lolodoh walan

saken ama suminkir.

Pager wetan Jabrail nulak

sakehe inkan mandi

lelenek tutukan

rujek wewerjit minman

kapunah in puji tasbik

bruwan aiyan

pada adoh tan wani.

Pager kidul Mikail anulak

in lara saketi

senkel windu benan

memesus uban-uban

lara roga pada balik

enek apulan

in genahira lami.

Pager kulon Nijrail anulak

guna trahnana weri

teluh kunan-kunan

desti lan japa mantra

suwangi mula kabalik

marin guriyan

ira in biru tasik.

Pager lor Israpil nulak kala

in kala Kalasekti

pejuh wurun kama

lalis lan kamaman gerah

oyod minman tali rawi

ambintan kala

teluh alas suminkir.

Lelemek esor walunsunanin

naga pameluk bumi

anulak muriyan

mudidi(n) pada wenkan

apikukuh lenabu kunin

kan andudulan

bale naras tumawin.

Demikian kidung dari Sunan Bonang. Terakhir kita berpesan pada diri kita masing-masing agar bisa Menebar Keharuman Perilaku sebagaimana falsafah Keris Pudhak Sategal. Menjadikan perilaku kita terpuji dan wangi yang terus menerus tiada henti (angambar-ambar ganda arum) dari ladang yang luas. Keharuman yang menebar memberikan rasa tenang dan meningkatkan kesabaran dan keheningan dalam berfikir dan bertindak.

Keharuman memberikan rasa tenteram dan rasa menyenangkan bagi yang menciumnya. Orang hidup di dunia ini, hendaknya menebarkan aroma harum, seperti harumnya bunga pudhak. Harumnya nama baik manusia sepanjang masa dan selalu dikenang, hanya dapat diperoleh dengan perilaku nyata yang memberikan kebaikan terhadap sesama dan lingkungannya.

Menebar aroma arum harus didasari ulat manis kang mantesi, ruming wicara kang mranani, sinembuh laku utama.  Ulat manis kang mantesi, yaitu bersikap ramah dan menyenangkan hati orang lain, menanggapi seseorang dilandasi dengan kebaikan hati.  Ruming wicara kang mranani, yaitu setiap pembicaraan disampaikan dengan cara yang halus, menarik dan menentramkan hati orang lain, bukan sebaliknya justru membuat suasana menjadi gundah. Sinembuh laku utama, yaitu setiap perbuatan dilandasi dengan keikhlasan dan perilaku yang baik (laku utama). Dengan demikian, diharapkan dapat membuat orang menebarkan keharuman (kebaikan) hidupnya bagi orang lain.

@kwa,2016

Categories: KIDUNG BONANG DOA MINTA PERLINDUNGAN TUHAN YME | 11 Komentar

Selamat Hari Raya Qurban 1437 H (Idul Adha 2016)


ASSALAMUALAIKUM WR WB

Hari Raya Qurban 10 Dzulhijah 1437 H  Insya Alloh bertepatan pada tanggal 12 September 2016,

KELUARGA BESAR KWA mengucapkan selamat beribadah Qurban

Semoga Amal Ibadah kita semua mendapatkan Ridho Allah SWT. Amin YRA.

Belajar dari Ibrahim AS: rela mengorbankan anaknya,
Belajar dari Ismail AS: Ikhlas menerima kehendak Allah SWT.

“pengorbanan dan keikhlasan adalah inti hakikat dari Idul Adha”

WASSALAMUALAIKUM WR WB

Salam paseduluran

ki wongalus

Categories: >>PERPUSTAKAAN UTAMA | 5 Komentar

ILMU SYAH MA’RUF UNTUK MENANG PERANG DAN KEBAL SENJATA


ilustrasi peperangan bangsa melayu terhadap bangsa belanda

ilustrasi peperangan bangsa melayu terhadap bangsa belanda

Ilmu ini untuk menang dalam berperang melawan musuh. Badan kita kebal terhadap senjata apapun dan Insya Allah kita akan selamat. Ilmu ini dimiliki oleh suku-suku bangsa Melayu.

Caranya sebagai berikut:

Berdirilah di tempat yang terkena cahaya matahari langsung dan bukalah telapak tangan biar terkena cahaya matahari. Bayangkan cahaya matahari itu menjadi BOLA CAHAYA dengan besar satu kepal tangan dan mengumpul di telapak tangan.

Selanjutnya, Bacalah doa mantra berikut ini dengan TAHAN NAPAS satu kali  dan HEMBUSKAN ke dalam bola cahaya tadi:

Inilah doanya:

AUDZUBILLAHIMINASSYAITONIRROJIM

BISMILLAHI WA MUJRIHA

BISMILLAHI WAMURSAHA

BISMILLAHI WAMURSALIN

BERKAT AKU MEMAKAI ILMU SYAH MA’RUF

BERKAT DOA LA ILAHA ILALLAH

BERKAT MUHAMMADAR ROSULULLOH

Selanjutnya  pukul dada sambil membayangkan bola cahaya di telapak tangan kita masuk ke tubuh.

Maka tubuh kita akan terlindungi sangat kuat oleh cahaya doa yang tidak bisa ditembus oleh apapun senjata.

Selanjutnya napas normal kembali dan silahkan maju dalam peperangan. Semoga Allah SWT senantiasa melindungi kita semua dari bahaya bala bencana yang datang kepada kita. Salam paseduluran.

@Kwa,2016

Categories: ILMU SYAH MA’RUF UNTUK MENANG PERANG DAN KEBAL SENJATA | 27 Komentar

ILMU MAHABBAH


by Kyai Tunggul Manik

Bismilah. Malam yg mulia ini sy ijasahkan ilmu mahabbah kpd sedulur yg berkenan memilikinya.

WAATHUF QULUUBAL AALAMINA BIASRIHIM ALAYYA AALBISNII QOBUULAN BISALMAHAT 60 X selama 7 malam.

Setelah mengamalkan 7 hari maka anda sdh punya ilmu ini. Utk matek ajian ilmu, baca doa tahan napas dan sampai dikalimat AALAMINA maka bayangkan target ikut kemauan anda.

Baca cukup 1 x saja

Insya alloh target manut dan mengikuti kemauan dan cinta anda. Dia akan terpelet dengan ilmu anda.

Ijasahan selesai.

@kwa,2016

Categories: ILMU MAHABBAH | 83 Komentar

AMALAN POWERFULL SERATUS AL IKHLAS


FADHILAH: SEMUA HAJAT – SEMUA KEBUTUHAN ANDA

KWA khotim shogirAmalan ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Abas RA, dia berkata “ Bersabda Rosulullah SAW Barang siapa yang mempunyai hajat kepada Allah Swt maka hendaklah dia bangun kemudian berwudhu dengan wudhu yang bagus lalu berdiri untuk melakukan sholat sunat hajat empat roka’at dengan sekali salam ditempat yang tidak ada orang yang melihatnya.

Hadits itu memerinci amalan lengkapnya sebagai berikut:

Caranya membaca pada roka’at pertama setelah surat Al Fatihah surat Al Ikhlas 10x

kemudian pada roka’at kedua surat Al Ikhlas 20x

pada roka’at ketiga surat Al Ikhlas 30x

pada roka’at keempat surat Al Ikhlas 40x

(KALAU KITA JUMLAH MAKA DIDALAM SHOLAT KITA SUDAH MEMBACA 100X SURAT AL IKHLAS)

Setelah selesai sholat sebelum berkata-kata dengan ucapan yg lain, maka baca:

Surat Al Ikhlas 50 x

Sholawat 50 x

Istighfar 50 x dan

Lahaula wala quwata ila Billah 50x

Selanjutnya mintalah kepada Allah Swt akan hajat kita (dengan bahasa yang mudah kita bias tahu artinya).

Amalan selesai dan sempurna

KWA khotim KABIRSebagai tambahan informasi, Bacaan Bacaan Surat Al Ikhlas dalam Bahasa Indonesia

1).Qul huwa alloohu ahad,
2).Alloohu shomad,
3).lam yalid walam yuulad,
4).walam yakun lahu kufuwan ahad.

Terjemahan Bacaan Surat Al Ikhlas

1). Katakanlah: Dia-lah Allah, Yang Maha Esa
2). Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu
3). Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan
4). Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia

BACA DENGAN TELITI TATA CARA DI ATAS.

Demikian semoga bermanfaat untuk kehidupan sehari-hari kita. amin

@Kwa,2016

Categories: AMALAN SHOLAT SUNNAH DENGAN POWER 100 AL IKHLAS | 72 Komentar

ILMU BAGI OLAHRAGAWAN MENEMBAK DAN BERBURU BINATANG


Ilmu ini berasal dari khasanah Budaya Melayu Kalimantan Barat, dan kebanyakan ilmu dari Budaya Melayu maka bersifat SEMULA JADI dalam arti untuk memilikinya tidak perlu melakukan riyadhoh. Cukup dibaca doa mantranya saja dan saran saya gunakan secara bijaksana.

Sebab berburu binatang itu sesungguhnya merusak keseimbangan alam. Namun ada kalanya diperlukan misalnya binatang sudah mengganggu kehidupan masyarakat, merusak tanaman padi, bahkan bisa jadi binatang itu membunuh manusia sebagaimana yang pernah terjadi di masyarakat yang tinggal di sekitar hutan di Sumatera, Kalimantan maupun pulau-pulau yang kini sudah ditinggali oleh manusia. Untuk itu, diperlukan ilmu berburu dengan senapan.

Ilmu ini juga bisa dipergunakan untuk sedulur-sedulur yang hobi olah raga menembak tepat dalam kejuaraan-kejuaraan. Meskipun ilmu ini sebenarnya untuk berburu dengan menggunakan senapan/bedil. Caranya adalah membaca mantera berikut ini sebelum melaksanakan aktivitas berburu.

Baca tahan napas dan kembuskan ke peluru/mimis  dan masukkan ke senapan. Selanjutnya adalah bidiklah dan atur napas dengan sebaik-baiknya sebagaimana aktivitas menembak.

=ALUNG ARA MEMBEDIL. SELENGKUNG ARA MEMUNIS. KE JANTUNG TEMPAT TERBANG. KULLU NAFSIN DZAIQOTUL  MAUT. BERAJAL KAU MATI. TAK BERAJAL KAU MATI=

Demikian semoga ilmu ini membawa manfaat dan tidak dipergunakan untuk tujuan-tujuan yang negatif. Jadikan langkah ini untuk menjadi bagian dari pelestarian Budaya Nusantara. Salam paseduluran.

@Kwa,2016

Categories: ILMU BAGI OLAHRAGAWAN MENEMBAK DAN BERBURU BINATANG | 9 Komentar

IJASAHAN ASMAK BAHROINI


wongalus

Bismilah. Dengan menyebut Asma Allah SWT yang mutlak keagungan-NYA dan memohon ijin NYA, bersama ini saya ijasahkan Asmak Bahroini dgn sempurna kpd sedulur2 yg berkenan menerimanya.

WAHUWALLADZI MAROJAL BAHROINI HAADZA ADZBUN FUROOTUN WAHAADZA MILHUN UJAAJUN. WA JA’ALA BAINAHUMAA BARZAKHON WAHIJRON MAKHJUURO.

313 X selama 3 hari.

#fadhilah utk pemagaran/pageran, pemisah yang hak dan yang batil,  panglimunan/halimunan, keselamatan lahir batin dan masih banyak lagi.

Demikian terima kasih dan salam paseduluran KWA.

@kwa,2016

Categories: ASMAK BAHROINI | 37 Komentar

MOHON DOA RESTU


Alhamdulillahirobbilalamin.

IMG-20160813-WA0037Atas ijin Allah SWT dan syafaat Rasulullah SAW, Program pelatihan MASTER KWA yang diselenggarakan mulai Sabtu pagi 13 Agustus sd Minggu pagi 14 Agustus 2016 telah selesai dilaksanakan dengan lancar dan sukses.

Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung acara ini dan mewakili para Master KWA yang baru selesai mengikuti pelatihan, kami:

ALUMNI PELATIHAN MASTER KWA
ANGKATAN L / 50

============================================

KI SULTAN AGUNG PENANGGUNGAN  (KEDIRI)

KI SULTAN DWI PENANGGUNGAN (SOLO)

KI SULTAN ADRILA PENANGGUNGAN (JAKARTA)

KI SULTAN UDIN PENANGGUNGAN (MAGELANG)

KI SULTAN AGUS PENANGGUNGAN (SIDOARJO)

========================================= 

20160813_210645Mohon doa restu dari pembaca KWA, simpatisan KWA dan semua alumni KWA agar pelatihan Master KWA yang telah kami ikuti mendapatkan ridho dari Allah SWT dan bisa mendatangkan manfaat yang besar bagi masyarakat luas, bagi bangsa negara, bagi agama dan bagi keluarga kita. Amin YRA.

Terima kasih dan salam paseduluran.
Wassalamualaikum wr wb. Rahayu kang sami pinanggih.

20160811_171944

ttd

Ki Wongalus

======================================

link daftar para alumni program master:
https://wongalus.wordpress.com/alumni-kwa/

link terkait program Master KWA
https://wongalus.wordpress.com/cs/

======================================

cropped-20160507_120545.jpg

=Ubahlah hidupmu,
Ahli Berkasih Mesra dengan Sang Kekasih,
jadilah AHLI DZIKIR sepanjang usia,
Bergabunglah dengan MASTER KWA=

 

Categories: >>PERPUSTAKAAN UTAMA

ILMU DARI NUSANTARA: PELET PENGASIHAN DENGAN MEDIA MAKANAN MINUMAN


MURID RATU BERINGKAK

Salam paseduluran.

nanga jungkit nanga asarReaksi terkena pelet pengasihan sejenis ini biasanya langsung terjadi. Target yang memakan makanan yang dimantrai tiba-tiba akan menyenangi, menggandrungi, bersimpati dan lama kelamaan akan tumbuh rasa kasih sayang dalam hatinya. Padahal, sebelumnya hatinya biasa-biasa saja bahkan terkadang benci terhadap kita. 

Usahakan agar target memakan makanan yang kita mantrai tersebut. Makanan bisa berupa apa saja, misalnya roti-roti olahan, buah-buahan, permen atau bahkan bisa juga minuman.

Ilmu ini tidak perlu riyadhoh seperti puasa, wirid, dzikir dan lain sebagainya. Usahakan kita menghapal mantranya. Kalau tidak hapal, ya dibaca saja tulisan ini.

Saya mendapatkan ilmu ini dari seorang ketua pahlawan adat di kampung saya, di daerah Kalimantan Barat. Beliau dikenal sebagai ‘dukun’ yang serba bisa. Apabila ada orang sakit, dibawa ke dia. Apabila ada orang membutuhkan bantuan apapun, dibawa ke dia.  Orang yang meminta bantuan kepadanya, membawa makanan/rokok/uang ala kadarnya semampunya. Beliau tidak mematok tarif berapa orang harus bayar bila menggunakan jasanya. Hal ini adalah ciri khas masyarakat desa yaitu suka gotong royong.

Berikut mantranya dan bacalah diam-diam agar target tidak mengetahuinya:

Bismillahirrohmanirrohim  (7 x) 
IBNU SI (nama target) YA PATAH YA PATAH, 
HU PATAHLAH HATI ENGKAU PADAKU,
AKU MEMAKAI JoYo SAMPURNo,
HATI ENGKAU SUDAH KUBELAH,
EMPEDU ENGKAU SUDAH KUPECAH,
JANTUNG ENGKAU SUDAH KUTUMPAH,
MATA ENGKAU SUDAH KUPECAH,
LIDAH ENGKAU SUDAH KUPATAH
(tarik nafas 3 x lalu baca)
KABIRUN KASIRUN YA FATTAH YA FATTAH HU ALLOH
BUKAN KUASAKU KUASA ALLOH
LA ILAHA ILALLAH
MUHAMMADUR ROSULULLOH
(hembuskan 3 x ke makanan).

Baca dan hembuskan ke barang yang akan diberikan ke target dan barang tersebut hendaknya berupa makanan yang nanti dimakan target. Demikian sharring ilmu dari tanah Melayu, semoga ini bisa menjadi upaya membuka wawasan tentang kekayaan budaya Indonesia.

Terima kasih.

@kwa,2016

Categories: ILMU DARI NUSANTARA: PELET PENGASIHAN DENGAN MEDIA MAKANAN MINUMAN | 37 Komentar

Diproteksi: IJAZAH ILMU MEMBUKA PINTU REJEKI YANG TERTUTUP


Konten ini diproteksi dengan password. Untuk melihatnya cukup masukkan password Anda di bawah ini:

Categories: IJAZAH ILMU MEMBUKA PINTU REJEKI YANG TERTUTUP | Masukkan password Anda untuk melihat komentar.

KEGIATAN ALUMNI PELATIHAN KWA (PENGIJASAHAN TINGKAT LANJUT STRATA 4) DAN SYAWALAN BERTEMPAT DI LERENG GUNUNG PENANGGUNGAN TRAWAS MOJOKERTO


Alhamdulillah KEGIATAN PENGIJAZAHAN ALUMNI PELATIHAN MASTER KWA (TINGKAT STRATA 4) DAN SYAWALAN BERTEMPAT DI LERENG GUNUNG PENANGGUNGAN TRAWAS MOJOKERTO telah selesai dilaksanakan pada hari Jumat sd Sabtu (29 Juli -30 Juli 2016).

Ini adalah bentuk keakraban dan keperdulian sesama alumni pelatihan MASTER KWA yang digelar secara berkala dan rutin dengan tujuan agar para peserta alumni bisa menjalin persaudaraan, bisa berkomunikasi dan menambah ilmu yang telah didapatkan saat pelatihan master KWA.

Ketiga pengurus alumni MASTER KWA yaitu KETUA ALUMNI: KI AGENG IMAM PENANGGUNGAN (PONOROGO), WAKIL KETUA: KI YASIN DAENG PENANGGUNGAN (BEKASI), SEKJEN: KI AGENG SATRIA HAYUNINGRAT, (SUMEDANG)  bisa hadir dan mensupport kegiatan ini, dibantu oleh forum Cangkrukan di Markas KWA tiap kamis yang dipimpin oleh Mbah Duro, Wak Kasan dan Mbah Septian.

Sebelum pelaksanaan acara, semua alumni yang tergabung dalam Grup di Whatsapp berdiskusi tentang format yang bagaimana yang akan dilaksanakan dalam acara yang penuh dengan kekhusyukan, kebersamaan serta kehangatan satu keluarga besar dan canda tawa. Akhirnya tersusun acara yaitu: pembukaan doa, pengijazahan tambahan ilmu-ilmu hikmah tajrib tingkat tinggi (S4 sebagai kelanjutan dari ilmu master KWA tingkat S1 – S2 dan S3), diskusi lepas dan bakar jagung serta ditutup dengan doa penutup.

Kami atas nama KWA mengucapkan terima kasih tiada terhingga kepada semua pihak yang telah bekerja mensukseskan acara ini dan semoga kesuksesan lahir batin dunia akhirat bisa didapatkan atas ijin dan ridho dari Allah SWT.

Salam paseduluran, Semakin tinggi ilmu, semakin tinggi pendakian spiritual maka wajib untuk Semakin Tawaduk (rendah hati),  Ikhlas dalam ber-Qonaah kepada Qodha dan Qodar Allah Taala dan semakin kuat menancapkan erat Tauhid – Syahadat di dada masing-masing.  Amin.

ttd

ki wongalus

===============

20160730_100947(0)

IMG-20160730-WA0017

IMG-20160730-WA0015

 

IMG-20160729-WA0027

IMG-20160730-WA0004

IMG-20160729-WA0019

IMG-20160729-WA0035

IMG-20160730-WA0012
20160730_101005

@kwa,2016

Categories: S4 ALUMNI MASTER KWA | 8 Komentar

ILMU KEREJEKIAN HASBUNALLOH dan PENYELARASANNYA


Ini adalah amalan agar kita mendapatkan lancar rezeki dan kekayaan, membuka rejeki yang semula sempit menjadi berkecukupan. Jangan lupa, setelah mengamalkan ilmu ini maka anda wajib tetap kerja keras dan kreatif. Sebagaimana yang dianjurkan dalam ajaran Agama Islam agar kita sebagai muslim/muslimah tetap bekerja keras. 

CARANYA: dilakukan setiap hari dan pengamal rutin (istiqomah) dianjurkan. Tidak ada jumlah berapa hari dalam pengamalannya. Semakin banyak maka akan semakin kuat power rejeki yang ditarik.

AMALANNYA:

Tawassul  kirim alfatihah kepada Nabi Muhammad SAW, Syekh Abu Hasan Asy Syadzili, orang tua dan diri kita sendiri

Selanjutnya baca  450  x

HASBUNALLOHU WA NI’MAL WAKIIL 450 X

Lanjutkan dengan membaca doa di bawah ini 10 x.

QULILLAAHUMMA MAALIKAL MULKI TU’TIL MULKA MIMMAN TASYAA’UWATANZI’UL MULKA MIMMAN TASYAA’U WATU’ZZU MAN TASYAA’U WATUDZILLU MAN TASYAA’U BIYADIKAL KHOIRU INNAKA ‘ALAA KULLI SYA’INQODIIRUN. TUULIJULLAILA FINNAHAARI WATUULIJUNNAHAARO FILLAILIWATUKHRIJUL HAYYA MINAL MAYYITI WATUKHRIJUL MAYYITA MINALHAYYI WATARZUQU MAN TASYAA’U BIGHOIRI HISABBIN. 10 x

 Lanjutkan dengan membaca wirid 1900 X :

YA ROZZAQ  YA WAHHAAB YA FATTAAH YA GHONIYYU YA  MU’THII  1900 x

Setiap sampai 100 x selingi dengan membaca:

QOOLA ‘IISABNU MARYAMALLOHUMMA ROBBANAA ANZIL ‘ALAINAAMAA’IDATAMMINASSAMAA’I TAKUUNU LAANAA ‘IIDALLI AWWALINAA WAAAKHIRINAA WA AAYATAMMIKA WARZUQNAA WA ANTAKHOIRUROOZIQIINA

Mudah-mudahan amalan ini bermanfa’at dan barokah bagi kita semua dengan izin dan ridho ALLAH SWT. Amin.

@KWA,2016

==========================================

SEHUBUNGAN DENGAN PERMINTAAN PARA SEDULUR PEMBACA KWA, MAKA BERSAMA INI SAYA LAKUKAN PENYELARASAN ILMU KEREJEKIAN HASBUNALLOH INI.

PENYELARASAN AKAN SAYA ADAKAN PADA

HARI SABTU

TANGGAL 30 JULI 2016 

JAM 20.00 WIB ( kalau Anda berada di tempat lain (WITA /WIT ) atau di luar negeri silahkan menyesuaikan diri dengan jam kami mengadakan penyelarasan.

=LAMA PENYELARASAN LIMA MENIT=

pada jam itu silahkan sediakan air putih segelas dan duduklah meditasi sekitar 5 menit.

KAMI AKAN MENTRANSTER JARAK JAUH DOA HASBUNALLOH dan selanjutnya silahkan diamalkan ilmu kerejekian tersebut.

Selanjutnya silahkan air minum segelas tersebut diminum. Semoga barokah biidznilah. Amin YRA

Demikian terima kasih

@@@

Categories: ILMU KEREJEKIAN HASBUNALLOH dan PENYELARASANNYA | 60 Komentar

BENTENG LAPIS TUJUH HASBUNALLOH


Fadhilah: membentengi diri dari BAHAYA apapun, melindungi dari musuh, setan, penguasa jahat, kerusakan, kebakaran, kebatilan dan juga hewan buas.

Cara:

Tawassul/kirim Al Fatihah kepada: Nabi Muhammad SAW, Syekh Hasan Syadzili, orang tua kita.

Pada saat pertengahan malam setelah bersuci/wudhu wiridkan:

=HASBUNALLOH  WA NI’MAL WAKIL  450 x empat ratus lima puluh) kali.

Selanjutnya  bacalah doa dibawah ini 7 X :

ALLOOHUMMA INNI AS’ALUKA BISIRRIDDZAATI WA BIDDZAATISSIRRI HUWA ANTA, ANTA HUWA LAA ILAAHA ILLAA ANTA. IHTAJABTU BINUURILLAAHI WA BINUURI ‘ARSYILLAAHI WA BIKULLISMIN HUWALLOOHU MIN ‘ADUWWU WA ‘ADUWWIHI WA MIN SYARRI KULLI KHOLQILLAAHI BI MI’ATI ALFI ALFI LAA HAULA WA LAA QUWWATA ILLAA BILLAAHIL ‘ALIYYIL ‘ADZIIMI. KHOTAMTU ‘ALAA NAFSII WA DIINII WA AHLII WA WALADII WA JAMII’A MAA A’THOONII ROBBII BIKHOOTAMILLAAHIL QUDDUUSIL MANII’ILLADZII KHOTAMA BIHII ‘ALAA AQTHOORISSAMAAWAATI WAL ARDHI  (HASBUNALLOOHU WA NI’MAL WAKIILU) WA LAA HAULA WA LAA QUWWATA ILLAA BILLAAHIL ‘ALIYYIL ‘ADZIIMI. WASHOLLALLOOHU ‘ALAA SAYYIDINAA MUHAMMADIN WA ‘ALAA AALIHI WA SHOHBIHII WA SALLAM

Ya Allah SWT, sesungguhnya aku memohon kepadaMu dengan rahasia Dzatmu dan dengan Dzatmu yang (Engkau) rahasiakan, yaitu Engkau. Engkau adalah Dia yang tidak ada tuhan selain Engkau. Aku berlindung dengan cahaya Allah SWT dan dengan cahaya singgasana-Nya dan dengan tiap nama yang nama itu adalah Allah SWT, dari musuhku dan musuh-Nya dan juga dari kejelekan seluruh makhluk Allah SWT dengan sejuta LAA HAULA WA LAA QUWWATA ILLAA BILLAAHIL ‘ALIYYIL ‘ADZIIMI, aku kunci diriku, agamaku, keluargaku dan semua yang telah diberikan kepadaku dari Allah SWT SWT Tuhanku dengan kunci Allah SWT SWT yang Maha Suci, Maha Mencegah yang dengan itu Allah SWT merawat penjuru langit dan langit. (cukuplah Allah SWT sebagai Tuhan yang mencukupiku dan sebaik-baik Allah SWT sebagai  pelindung). Tidak ada daya dan tidak ada kekuatan selain dengan (pertolongan) Allah SWT.Semoga Allah SWT senantiasa memberikan rahmat ta’dzim dann salam atas  junjungan kita Nabi Muhammad dan keluarga serta para sahabatnya.

Selanjutnya  bacalah doa dibawah ini 7 X :

ASROQO KALAAMULLOOHI WADZOHARO KALAAMULLOOHI WATSABATA AMRULLOOHI WA NAFADZA HUKMULLOOHI ISTA’ANTU BILLAAHI TAWAKKALTU ‘ALALLOOHI MAA SYAA’A ALLOOHU WA LAA HAULA WA LAA QUWWATA ILLAA BILLAAHI. TAHASSHONTU BIKHOFYI LUTHFILLAAHI WA BI LATHIIFI SHUN’ILLAAHI WA BI JAMIILI SITRILLAAHI WA BI ‘ADZIIMI DZIKRILLAAHI WA BIQUWWATI SULTHOONILLAAHI DAKHOLTU FII KANAFILLAAHI WASTAJARTU BIROSUULILLAAHI BARI’TU MIN HAULII WA QUWWATII WASTA’ANTU BIHAULILLAAHI WA QUWWATIHI. ALLOOHUMMASTURNII FII NAFSII WA AHLII WA MAALII WAWALADIII BISITRIKALLADZII SATARTA BIHII DZAATAKA FALAA ‘AINA TAROOKA WA LAA YADA TASHILU ILAIKA YAA ROBBAL ‘AALAMIINA. UHJUBNII ‘ANIL QOUMIDDZOOLIMIINA BIQUWWATIKA YAA QOWIYYU YAA MATIINU. HASBUNALLOOHU WA NI’MAL WAKIILU WALAA HAULA WA LAA QUWWATA ILLAA BILLAAHIL ‘ALIYYIL ‘ADZIIMI. WASHOLLALLOOHU ‘ALAA SAYYIDINAA MUHAMMADIN KHOOTAMINNABIYYIINA WA ‘ALAA AALIHII WASHOHBIHII AJMA’IINA WA SALLAMA TASLIIMAN KATSIIRON DAA’IMAN ILAA YAUMIDDIINA WALHAMDULILLAAHI ROBBIL ‘AALAMIIN

Telah bersinar cahaya Allah SWT, telah jelas kalam Allah SWT, telah ditetapkan ketetapan Allah SWT dan berjalan hukum Allah SWT SWT. Aku meminta pertolongan kepada Allah SWT SWT, aku berserah diri kepada Allah SWT, perkara kehendak Allah SWT, tidak ada daya dan tidak ada kekuatan selain dengan (pertongan) Allah SWT. Aku  berbenteng dengan samarnya kehalusan Allah SWT, dengan kehalusan ciptaan Allah SWT, dengan indahnya tirai Allah SWT, dengan agungnya dzikir kepada Allah SWT, dan dengan kekuatan kekuasaan Allah SWT aku masuk ke perlindungan Allah SWT dan aku berlindung dengan Rasulullah SAW. Aku lepas dari daya dan kekuatanku dan aku bersandar pada daya dan kekuatan Allah SWT. Ya Allah, tutuplah aku dari (nafsu dalam diri)ku (sehingga ia tak mampu menggodaku), dari keluargaku, dari harta dan anakku dengan tiraiMu yang dengan tirai itu Engkau menutup diriMu hingga tak ada mata yang mampu melihatMu, tak ada tangan yang mampu menyentuhMu. Wahai Allah SWT, Tuhan semesta alam, lindungilah aku dari orang-orang dzalim dengan kekuatanMu wahai Allah SWT, Tuhan yang Maha Kuat lagi Maha Kokoh. Cukuplah Allah SWT Tuhan yang mencukupiku dan sebaik-baik Allah SWT sebagi pelindung. Tidak ada daya dan tidak ada kekuatan selain dengan (pertolongan) Allah SWT yang Maha Luhur lagi Maha Mulia. Semoga Allah SWT senantiasa mencurahkan rahmatNya atas junjungan kita Nabi Muhammad SAW, yaitu akhir para Nabi dann juga semoga senantiasa tercurahkan atas seluruh keluarga dan seluruh sahabtnya dan semoga mencurahkan salamNya yaitu salam yang sebanyak-banyaknya untuk selama-lamanya hingga hari Kiamat. Segala puji bagi Allah SWT penguasa alam semesta.

Demikian ijasah amalan  kitab sirrul jalil ini semoga Allah SWT SWT memberikan penunjuk atas perkara yang benar dan kepadaNya tempat kita semua kembali.

@kwa,2016

Categories: BENTENG LAPIS TUJUH HASBUNALLOH | 15 Komentar

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.