Monthly Archives: Desember 2015

INTISARI AJARAN DALAM FENOMENA PERTEMUAN PANEMBAHAN SENOPATI DAN KANJENG RATU KIDUL DALAM KEPUSTAKAAN BUDAYA JAWA


krkpsenopatikwaBUDAYA JAWA MEMILIKI KEKAYAAN KEPUSTAKAAN YANG DITULIS OLEH PARA EMPU DALAM BENTUK BABAD-BABAD, SERAT -SERAT, TEMBANG-TEMBANG DAN SEBAGAINYA. SALAH SATUNYA ADALAH “BABAD TANAH JAWA  PANEMBAHAN SENOPATI” YANG MENCERITAKAN PERTEMUAN ANTARA PANEMBAHAN SENOPATI RAJA  MATARAM  PERTAMA DENGAN KANGJENG RATU KIDUL, RATU PANTAI SELATAN.

APAKAH INI NYATA ATAU HANYA FIKSI, WALLAHAU A’LAM. YANG JELAS PARA EMPU YANG MENULIS BABAD INI PASTI ADA TUJUANNYA YAITU AGAR PEMBACA MENGAMBIL INTISARI MAKNANYA BAGI KEHIDUPAN SEHARI-HATI. YAITU AGAR KITA HATI-HATI DAN TIDAK TERBUAI KEDUNIAWIAN: MABUK DUNIA-MABUK KEKUASAAN. APALAGI BILA KEKUASAAN, KESAKTIAN DAN KEKUATAN ITU DIRAIH DENGAN CARA-CARA YANG TIDAK WAJAR. MISALNYA BERKOALISI DENGAN PARA MAKHLUK HALUS.

FILSAFAT JAWA BERBEDA DENGAN FILSAFAT BARAT YANG KAKU KETAT DAN KERING KARENA HANYA BERTEORI DAN KADANG SEAKAN TERLEPAS DARI KEHIDUPAN SEHARI-HARI. SEMENTARA FILSAFAT JAWA LEBIH KE ARAH FILSAFAT PRAKSIS KEHIDUPAN. FILSAFAT JAWA BIASANYA DIBUNGKUS DENGAN BUMBU MITOLOGI, AGAR LEBIH ENAK DIBACA DAN TIDAK MEMBOSANKAN.

BERIKUT ADALAH  “BABAD TANAH JAWA  PANEMBAHAN SENOPATI” YANG VERSI ASLINYA ADALAH BERBAHASA JAWA (KROMO INGGIL) YANG KAMI AMBIL DARI KEPUSTAKAAN BUDAYA JAWA ALANG ALANG KUMITIR (terima kasih untuk yang mulia Mas kumitir) DENGAN TUJUAN AGAR MENAMBAH PERBENDAHARAAN PENGETAHUAN KITA TENTANG BUDAYA JAWA SEBAGAI SALAH SATU BUDAYA DI ANTARA SEKIAN RIBU BUDAYA YANG ADA DI NUSANTARA.

WUJUD KERAJAAN PANTAI SELATAN

Suatu ketika dalam pengembaraan spiritualnya saat bermeditasi di atas sebuah Batu di Cepuri Parangkusumo Yogyakarta, Panêmbahan Senopati akhirnya ditemui Kanjeng Ratu Kidul. Awalnya Panêmbahan Senopati melihat wujud Kanjeng Ratu seperti wanita tua. Tiba-tiba wujudnya berubah sangat menarik hati, sehingga Senopati terpesona dalam hati, menyaksikan wujud bagaikan Dewi Ratih. Keduanya saling mencuri pandang malu-malu.

Mereka berjalan bergandengan di atas laut dan sesampai  di istana mereka saling melepas genggaman tangan dan duduk di atas ranjang keemasan. Saat ratu menggeliat, Panembahan Senopati terus melirik. Kepada wujud Ratu  yang memikat hatinya mendadak teringat, jikalau ia bukanlah jenis manusia. Seketika dialihkannya perhatian untuk melepaskan diri dari hasrat, dengan berkeliling melihat-lihat keasrian istana.

Mendapati pemandangan asri, sebuah ranjang kencana berasal dari jaman dulu, saat terjadi perebutan, antara Gathutkaca dan Kera Putih, berkelahi di angkasa, ranjang terlempar ke samudera.  Jatuh di tengah-tengah samudera raya, yang dikuasai oleh Jin, tampak juga halaman yang tertata asri, yang ditebarani intan indah dan megah, biduri mutiara merah delima, emas dan jamrud berwarna-warni.

Lantainya-pun dihiasi, dengan emas yang dibuat begitu indah, dan diselingi hiasan dari kencana, serta ditambah perak putih dipinggirnya, dibentuk berwujud bunga-bunga mekar, indah terukir gemerlap. Terlihat sejuk berkilauan, hiasan ranjang tersebut, sinarnya menggapai angkasa, gemerlapnya hiasan megah, membuat redup cahaya matahari, tersaingi keindahan istana. Gapuranya besar dan tinggi, puncaknya berhias intan yang indah, bersinar memancarkan cahaya, bagai sinar matahari, jika malam seperti siang, siang maupun malam tiada beda.

Cukup sudah menikmati keindahan istana, nampak Sang Panembahan Senapati, terus dikuntit Sang Ratu Wanita, yang tidak mau berjauhan terus mengikut dibelakang, tak mau berpisah bagai pasangan abadi, (Sang Ratu Wanita) berbuat demikian agar supaya mendapatkan cinta. Apabila diperhatikan wajah Sang Ratu, sudah berubah bagai penari surga, berna,a Sang Dyah Wilutama karena bercahaya manakala disaksikan, dan setiap gerakannya sangat memikat birahi. Sebuah kecantikan yang benar-benar menawan hati.

Kesaktian Sang Ratu dalam merubah wujud, sehari mampu berubah wujud tujuh kali, kecantikannya tiada cacat, kadang terlihat sangat-sangat tua, manakala muncul matahari, terlihat Sang Dyah bagai perawan suci. Apabila tengah memberi perintah, menakutkan bagaikan seorang janda yang kehilangan anaknya karena mati, ketika menjelang pagi hari, wujud seperti bidadari, saat matahari sepenggalah bagai (putri) Dyah (dari kerajaan) Ngurawan, seorang pemudi yang tetap cantik walau sedang bersusah hati.

Ketika menjelang tengah hari Sang Kusuma Ayu (Sang Bunga Cantik), mirip putri dari (kerajaan) Kedhiri, ketika matahari condong ke barat bagai Dewi Banowati, ketika menjelang asar bagai (Dewi) Ratih, genap tujuh kali sehari, apabila malam hari sangat-sangat tua sekali. Dan lagi dianugerahi kesaktiaan yang lebih, melebihi sesama Jin, mampu merubah diri seribu wujud, berwujud laki-laki pun bisa, oleh karenanya disegani diseluruh dunia, karena sangat saktinya Sang Dewi. Siapa yang tidak tunduk, seluruh mahluk halus di pulau Jawa, para Raja-nya sudah takluk semua, kepada Ratu Kidul menganggap orang tua, ditakuti dicintai dan menjadi tempat mengabdi, diberi persembahan setiap tahun.

Penguasa Gunung Merapi dan Gunung Lawu, tunduk kepada Penguasa Samudera, Penguasa Pace dan Nglodhaya, Penguasa Gunung Kelut dan Gunung Wilis, Penguasa Tuk Sanga dan Bledug, bahkan Ratu Kuwu pun mengabdi. Penguasaa Wringin Pitu dan Wringin Rubuh, Penguasa Wringin Uwok dan Wringin Putih, yang berada di Landheyan dan Hutan Roban, semua telah takluk kepada Penguasa Samudera, Penguasa Kabareyan Penguasa Tegal Layang, Penguasa di Pacitan dan Penguasa (Kahyangan) Dlepih.

Merata yang ada di seluruh Jawa, para Raja dari mahluk halus, semua menghaturkan persembahan pengabdian, hanya daerah Galuh yang tidak takluk, karena dikuasai (Kerajaan) Guwatrusan, yang diperintah oleh Aji (Raja) Krendhawahana.

Ratu  Kidul mengajak Panembahan Senapati tengah menikmati makan bersama. Dihidangkan minuman keras dan minuman yang manis, yang melayannya adalah para wanita cantik, lengkap dengan busana mereka yang indah. Para penari bedhaya maju kedepan, alunan gending Semang berbunyi nyaring, membuat terhanyut perasaan bagi yang melihat, gemulai tarian menawan hati, banyak macam gerak tarian, berbagai tarian yang indah semua.

Panembahan Senopati terpesona melihatnya, melihat gerakan Dyah yang tengah ikut menari, gerakannya menyatu seiringin alunan gamelan, ditambah untaian merdu bunyi gamelan yang menentramkan hati, hingga lama terpesona, melihat wujud para Dyah yang cantik-cantik.

Tiada lagi yang diingini, hanya Ratu Wanita semata, hasrat hati semakin membara, karena hanya Sang Dyah yang paling cantik, dibandingkan dengan para penari yang lain, cahayanya bagaikan cahaya emas yang murni.

Hasrat hati coba untuk dia tutupi, tiada begitu mengumbar tatapan mata, tiada henti terus menahan hasrat, demikianlah Sang Panembahan Senopati, terus mengingatkan diri bahwa bukan dari jenis Teringat seketika, keinginannya yang semakin menjadi, tidak akan terlaksana, kehendaknya untuk menguasai dunia (jika dia tetap berada di istana ini), akan tetapi Ratu Wanita bisa membaca, apa yang tengah dipikirkan Panembahan Senopati.

Berbicara dalam hati, Ratu Penguasa samudera, Jikalau aku tidak menikah, tidak seharusnya aku seorang wanita, lebih baik aku adalah seorang pria, sebab tidak bakalan ada yang menggangguku. Sudah menjadi niatku dulu, aku tidak akan menikah selamanya, demi mengharapkan keinginan yang lebih, tetapi ternyata malah sia-sia, coba aku akan merayunya, aku akan mencairkan keangkuhannya.

Manusia Agung dari Mataram (Panembahan Senopati), agar supaya melupakan negaranya, dan kerasan tinggal didalam samudera. Terlontar senyum Sang Dewi, sembari menundukkan kepala seolah tiada peduli, namun sesungguhnya hati Panembahan Senopati tergetar dibuatnya.

Mendapati lirikan manja Sang Rum (Yang Wangi/Ratu Kidul), berdebar tiada menentu hatinya, lantas berkata pelan, Duh cantik sesungguhnya keinginanku sekarang, sudah terlalu lama aku menyaksikan, keindahan istana ini.

Akan tetapi tempat tidurmu aku belum melihatnya, bagaimanakah wujudnya? (Sang) Dyah menjawab Tidak bagus wujudnya, jika ingin melihat silakan, karena sesungguhnya ranjang tersebut tiada yang memiliki, selama ini saya bagaikan sekedar menjadi penjaga ranjang semata. Segera mereka beranjak bersama, Sang Panembahan Senopati dan sang Ratu Dewi, masuk ke tempat tidur yang nyaman, keduanya pelahan duduk, diatas permadani yang indah, Panembahan Senopati kagum melihatnya.

Bermacam-macan hiasan Sri Kumendhung terpajang, sungguh bagai surga yang berpindah tempat (ke bumi), Sang Dyah berkata kepada sang pria Panembahan Senopati), Inilah keadaannya, tempat tidur seorang janda yang kesepian, sunyi seolah tiada yang memiliki.

Sang pria (Panembahan Senopati) tersenyum bisiknya manis, Kamu terlalu merendah Yayi (dinda), kamu bilang dirimu seorang janda, padahal sesungguhnya lebih dari itu, seluruh istana para Raja, tiada menandingi istana yayi (dinda). Bahkan hiasan Sri Kumendhung, baru kali ini aku melihatnya, ditambah tempat tidur yang sangat indah, sesuai benar dengan pemiliknya, sangat cantik dan sangat menarik, sungguh pandai sekali kamu menatanya.

Menjadi malas aku untuk pulang, ke negeri Mataram, terpesona setelah menyaksikan istana, tapi kekuranganmu hanya satu, istana seindah ini tiada seorang pria-pun yang mendampingimu, apabila memiliki seorang pria pendamping itu lebih bagus lagi.

Seorang wanita yang cantik, seharusnya didampingi oleh laki-laki yang tampan, yang setia dan bisa membimbing seorang istri, sedang sang wanita patuh kepada suami, dan suka memiliki banyak anak, Panembahan Senopati dilirik tajam dengan lirikan manja.

Ratu lantas sengaja duduk dengan menundukkan kepala, sembari tersenyum ujarnya lembut, Lebih baik tidak ada lelaki, apa keuntungannya menikah? Lebih enak merawat diri sendiri, tidak ada yang membuat kerepotan.

Lebih enak tidur bergulingan, diatas ranjang dengan hanya ditemani guling, dan tidak harus dilayani melayani siapapun, Panembahan Senapati tersenyum dan berkata, Benar Yayi (dinda) apa yang kamu katakan, memang lebih enak sendirian.

Hanya yang membuat aku menjadi heran oh Nimas, ada seorang yang tengah sendirian ditepi pantai, seorang lelaki yang sangat menghiba hati, tengah berjalan menghibur diri dipinggir pantai, malahan digandeng dengan paksa, dibawa mampir ke dalam istana.

Ratu  Kidul terpana malu mendengar ucapan tersebut, benar-benar mengena dihatinya, seketika dicubitnya Panembahan Senopati, melirik manja sembari tersenyum dan tak dapat berkata apa-apa, Panembahan Senopati terpikat hatinya, lantas berucap lirih.

Lebih gampangnya oh permata hatiku, kedatanganku di tengah samudera ini, karena aku tengah menderita sakit, sudah lama tak mendapatkan obat, bagaimana caranya, mengobati sakit cinta? Berkeliling dunia aku telah berusaha, mencari obat penyembuh, tiada lain hanya engkau oh permataku, yang pantas disebut sang tabib, karena mampu mengobati sakit cintaku, dengan kasih tulusmu kepadaku.

Sang Dyah sengaja cemberut, tahu maksud Panembahan Senapati, tahu watak laki-laki yang suka berbohong merayu, dalam hati Sang Dewi berkata, Ini orang hanya bermanis-manis dimulut saja, perkiraanku pasti tidak salah.

Meminta obat katanya? Padahal bukan sakit cinta maksud dia sesungguhnya, tapi sakit karena berkeinginan besar untuk menjadi seorang Raja, segan karena harus berhadapan dengan orang tua (angkat), yang sudah menganggap dirinya bagai anak sendiri, yaitu dia penguasa negara Pajang.

Akhirnya (Sang) Dyah berkata: apa kekurangan dari Sang Tampan, yang duduk di Mataram, sehingga harus berkelana ditepian samudera, tidak bisa aku memberikan obat penyembuh, kepada yang tengah sakit hatinya. Sungguh saya bukan dukun, api cinta dalam hati, tidak akan menyebabkan kematian bukan? Bukankah (engkau kangmas) bakal menjadi Raja yang besar, yang menguasai tanah Jawa, ditakuti oleh sesama Aji (Raja).

Sang penguasa Mataram, masa kekurangan wanita, yang cantik-cantik? Para kawula wanita yang seperti apapun, bersedia memasrahkan diri, jika memang (kangmas) inginkan. Selama ini dalam kesendirian saya, memang ingin memiliki seorang suami, yang bisa membantu mengabdikan diri kepada kerajaan, bagaimanapun juga pengabdian seorang wanita sebagai Ratu, tak akan mampu menyamai seorang pria, karena terjerat oleh kemben busana kewanitaannya (terbatas karena kodrat kewanitaannya).

Namun apabila memang hamba dibutuhkan, serta hamba diijinkan mendampingi, maka saya rela melayani Gusti (Penguasa) dari Mataram, demikianlah Sang Panembahan Senapati, begitu mendengar sabda Sang Dyah, yang sangat-sangat manis tersebut.

Semakin tak bisa menahan hasrat, digenggamnya tangan (Sang) Dyah dengan lembut, Sang Ratna (Intan) berkata sendu, Aduh sakit Pangeran, apa sih maunya, menggenggam jari jemari hamba? Jari jemari hamba kecil dan rapuh bagai daun kelor, kalau sampai putus siapa yang akan mengganti, walaupun Manusia Agung dari Mataram, tidak akan mungkin bisa menciptakan jari-jemari, sang pria (Panembahan Senopati) tersenyum pelan bisiknya, Jangan marah cantik.

Aku menggenggam tanganmu, jangan salah sangka, hanya ingin melihat cincin yang kamu kenakan, Ratu Dyah berkata lirih, Kalau memang hanya ingin melihat cincin yang hamba kenakan, dari kejauhan sebetulnya bisa kan? Pasti (kangmas) berbohong, hanya berpura-pura menggenggam jari, padahal menginginkan sesuatu yang lain, terlihat jelas gemetaran, sebelum terlanjur jauh, berikanlah hamba janji cinta yang bisa meyakinkan hamba.

Sang pria (Panembahan Senopati) tersenyum lantas bernyanyi, suaranya merayu merdu menghanyutkan hati, Ratu Wanita terpikat, kepada sang pria (Panembahan Senopati) cintanya meluap, senyum manisnya memabukkan, Panembahan Senopati luluh hatinya.

Ratu Wanita ditarik lembut, dipangku dengan mesranya, Sang Dyah tidak menolak, apa yang diinginkan hati (Panembahan Senopati), hasrat alami seluruh makhluk, yang diimpikan sekarang terwujud. Bagaikan keinginan Sang Hyang Wiku, yang menguasai seluruh alam, begitulah Panembahan Senopati tiada yang bisa menghalangi kehendaknya, terhanyun kecantikan Ratu Wanita, terus ditatapnya dia yang ada dipangkuan, bagai melihat boneka cantik yang indah. Dibopong menuju ketempat tidur, ditutuplah kelambu, sang pria (Panembahan Senopati) melepaskan hasrat, bagaikan kumbang, yang menikmati bunga yang tengah mekar, menikmati sari yang berada ditengah kuncup kelopak bunga gading.

Jin Perayangan dan Makhluk halus, diluar berebut ingin mengintip, ingin melihat Gusti-nya yang tengah memadu hati, terdengar suara mereka berbisik berisik, ketika Sang Dyah terkena senjata, tak terasa merintih mengaduh lirih. Terkejut kesakitan manakala tertimpa hasrat, Sang Dyah pecahlah mahkotanya, menyemburat membasahi tempat tidur, berpautan erat jatuhlah sari-sari kenikmatan, tercium bau wangi membersit, mengiringi pecahnya mahkota penguasa istana samudera.

Maka terbaring lemaslah (Sang) Dyah diatas ranjang wangi, seolah tanpa kekuatan, Panembahan Senopati iba melihatnya, dipeluknya Sang Dyah, dibopong menuju tempat mandi, sehabis mandi keduanya duduk berdampingan.  (Sang) Dyah tiduran diatas pangkuan sang pria (Panembahan Senopati), tiada henti-henti terus dicium, oleh sang pria Panembahan Senopati, mengerang mendesis Sang Retna Adi ( Sang Intan yang indah), berpelukan erat keduanya, dipenuhi kenikmatan asmara yang indah.

Singkat diceritakan, kedua insan yang tengah memadu hasrat, hingga sampai tujuh hari, keberadaan Panembahan Senapati didalam samudera, genap tujuh hari berkehendak untuk pulang, kembali ke negara Mataram.

Sang Pria (Panembahan Senopati) bersabda dengan berat hati, Aduh Gusti (Ayu) emas merahku, semoga kamu senantiasa bahagia, aku pamit hendak pulang ke Mataram, sudah terlampau lama berada di (istana) samudera, pastilah aku dinanti-nantikan.

Oleh rakyatku di Mataram, sudah lama menjaga negeri sendirian (tanpa ditemani Raja-nya), Ratu Wanita begitu mendengar, bahwa Sang Pria (Panembahan Senopati) berpamitan hendak pulang ke negerinya, seketika meluap kesedihannya, air matanya keluar deras. Belum puas hasrat hati, kepada Sang Pria yang dicintainya, segera beranjak pelan dari pangkuan, berat dia berkata, Betapa indah rasanya, apabila cinta bisa berimbang saling memberi.

Cinta ini akan terasa lebih sempurna, apabila aku bisa memenuhi, dan memberikan apapun yang dikehendaki kangmas, pasti akan berguna apabila aku bisa membantu, Sang Pria (Panembahan Senopati) menyadari apabila (Sang Ratu Kidul) tengah berniat dalam hati untuk membantunya, hal itu tampak dari ucapan Sang Retna Adi (Sang Intan yang Indah.

Pelan-pelan melepas kain setagen (kain pengikat kemben), berhias bunga-bunga emas, (Sang) Dyah segera dipeluk, dibawa berkeliling, menikmati indahnya taman, sembari terlantun kidung Mijil. Aduh emas merahku janganlah gundah dihati, buktikanlah, aku tidak akan lupa kepadamu, dari hidup sampai mati yayi (dinda), pengabdian cintaku, tulus dan murni.

Walaupun aku banyak memiliki istri, yang sangat cantik-cantik, besarnya cintaku hanya untukmu, yang menjadi cinta utamaku, hanya kamu Gusti (Ayu), aku benar-benar tergila-gila.  (Tidakkah kau lihat) besarnya hasratku diatas ranjang kepadamu, tak lepas-lepas aku memangkumu, hanya saja aku meminta buktikan cintamu, pastilah aku akan tetap menderita sakit, yang tak mendapatkan penyembuhan, hanya kamu obat penyembuhku. Lenyapkanlah gundahnya hati yang menderita, sungguh aku nantikan, walau harus aku menunggu disini, aku akan melakukannya, akan tetapi bagaimana yayi (dinda), dengan para rakyatku?

Bagaikan tertusuk jarum pemintal hati Ratu Wanita, terperangah oleh kata-kata, ucapan manis sang pria (Panembahan Senopati) yang manis, merebaklah cinta Sang Dewi sepenuhnya, kepada Sang pria (Panembahan Senopati0 pelahan dia berkata, Turunkan aku Pangeran.

Sang Dewi telah turun dari pangkuan, pelan duduk berjajar, berkata lagi Sang Dyah kepada Sang pria (Panembahan Senopati), Mohon maafkan hamba, karena telah berani, kepada seorang pria yang hamba berbakti kepadanya. Tiada lain permintaan hamba, hanyalah kesungguhan cinta, jangan sampai terputus hingga anak cucu kangmas nanti, seterusnya menjadi kekasihku, Sang pria (Panembahan Senopati) memeluk sembari berkata, dan memangku kembali serta menciumi mesra.

Baiklah emas merahku janganlah ragu, kelak pasti akan terjadi, lagi Sang Dyah berkata, Terima kasih Pangeran apabila tengah menghadapi bahaya, ditengah peperangan, agar supaya saya bisa secepatnya membantu.

TELUR LUNGSUNG JAGAD DAN MINYAK JAYENG KATON

Sang Dyah mendekatkan wajahnya kepada sang pria (Panembahan Senopati) sembari pelan memberikan petunjuk, sebagai akhir pertemuan mereka, Bersendekaplah kangmas sembari menahan nafas, jejakan kaki ketanah sebanyak tiga kali, pastilah hamba akan datang, bersama para prajurid makhluk halus.

Dan hamba haturkan agar senantiasa unggul dalam peperangan, agar supaya sakti tak terkalahkan, sebutir Telur bernama Lungsung Jagad, makanlah akan besar khasiyatnya, panjang usia, kekuatan tersembunyi akan timbul.

Dan juga Minyak bernama Jayengkatong, pemberian Dewa kepada hamba. Kedua benda telah dipasrahkan kepada Sang pria (Panembahan Senopati), Panembahan Senapati setelah menerima, sangat gembira dihati, karena mendapat sarana ampuh untuk keunggulan dalam perang.

Kembali Sang Dyah memberikan petunjuk kepada sang pria (Panembahan Senapati), Ilmu Keraton Pantai Selatan, agar supaya disegani, seluruh makhluk halus, Panembahan Senapati telah memahami semua petunjuk, setelah itu Sang Dewi, memeluk erat-erat Sang pria (Panembahan Senopati).

Aduh Pangeran jika bersedia, memenuhi permintaan hamba, tundalah kepulangan kangmas, menurut hamba belum saatnya, bagaimana dengan saya nanti, apabila paduka pulang sekarang?

Sang Raka (Kanda) menghibur hati Sang Yayi (Dinda), Aduh emas merahku, cinta kasihku sudah jelas kamu buktikan, bahkan petunjukmu telah aku terima yayi (dinda), bagaimanapun juga aku memaksakan diri untuk pamit, berpisah dengan engkau emas merahku. Jangan tersedihkan oleh karena rindu emas merahku, relakanlah aku, pulang ke Kerajaan Mataram, tidak akan lama aku pasti kembali, ke Istana Samudera, menemui engkau oh emasku. Sungguh sebenarnya tidak tahan aku, berpisah dengan emasku, hanya karena berat tanggung jawab seorang Raja yang memiliki rakyat (maka terpaksa aku harus pulang), Sang Dyah menjatuhkan kepala ke pangkuan dan berkata, Jangan terlalu lama oh Pangeran, segeralah kembali.

Dan pada akhirnya waktu perpisahan tiba, segera keluar Sang Anom (Muda), Ratu Kidul melepas kepulangannya, beriringan sembari bergandeng tangan, tiba di Srimenganti, segera sang pria (Panembahan Senopati) berkata manis.

Sudah cukup aku terima bakti cintamu yayi (dinda), dengan mengantarkan kepergianku, sebelum berpisah aku minta bukti cintamu sekali lagi, sebagai tumbal terampuh untuk mengobati kerinduanku. Sang Dyah menuruti, permintaan Sang pria (Panembahan Senapati).

Segera pasrah menyediakan bibir indahnya, bertaut bibir dan gigi pelan, gemas digigit bibir ranumnya, Sang Dyah terkejut namun segera membalas ciuman, selesailah yang tengah dimabuk cinta, lantas berpisah.

Panembahan Senopati telah sampai diluar, istana Sang Awet Muda (Kangjeng Ratu Kidul), sirna seketika wujud istana dan berganti samudera, Panembahan Senapati saat menapaki air laut, bagaikan berjalan ditanah rata, dia berjalan terus. Sesampainya Panembahan Senopati dipesisir pantai, waspada seketika, manakala melihat siapa yang tengah bertafakur di pantai Parangtritis, jelas terlihat adalah Sang Guru, tak lain adalah Sunan Adilangu (putra Sunan Kalijaga).

PANEMBAHAN SENOPATI TERSADARKAN DIRI

Cepat Panembahan Senapati berlari, mendekati Sang Guru yang mulia, bersujud dikakinya, lantas mencium tangan Sang Yogi, selesai berbakti, segera duduk bersila takjim. Sunan Adilangu segera berkata pelan, Anakku sangat bersyukur diriku, bisa bertemu denganmu disini, sebab aku memang ingin memberikan nasehat kepadamu, tentang perbuatan yang patut, agar selamat senantiasa dirimu.

Dirimu diberi anugerah digdaya dan sakti, melebihi manusia umumnya, terbukti ditengah samudera, kamu berjalan diatasnya tanpa terbasahi oleh air sedikitpun, bagaikan kamu berjalan di daratan, walau begitu janganlah sombong.

Riya’ (Pamer) Kibir (Sombong) congkak itu semua tidak sepatutnya, larangan Hyang Manon (Yang Maha Agung), juga larangan para Nabi Wali dan Auliya’ semua, akan mendapatkan neraka sebagai kutuk Hyang Widdhi, begitulah larangan Yang Maha Tersembunyi, tentang keangkuhan.

Manusia yang merasa tinggi dan sombong, siapa yang bisa menandingi aku, benar-benar larangan Hyang Suksma (Yang Maha Samar) Sang Penguasa Sejati, kesombongan, suka pamer serta keangkuhan, agar supaya dipuji lebih dari yang lain, lebih terkenal dari sesama.

Seolah-olah mempersamakan dirinya dengan Hyang Widdhi, manusia yang seperti itu, terkenal di dunia dan kerajaan lainnya, keangkuhan dan ingin memperlihatkan dirinya terus menjadi, agar supaya kagum yang melihat, agar supaya senantiasa dipuji-puji.

Setiap tindakan sudah tidak memiliki pertimbangan, hanya menuruti kepuasan diri sendiri, janganlah seperti itu anakku, ingatlah akan tujuan hidup yang sesungguhnya oh Senapati, dan aku nasehatkan satu hal lagi, bahwa manusia yang benar-benar memegang ilmu. Janganlah bersikap seperti langit, seperti bumi seperti gunung, dan seperti samudera, yang dimaksud bersikap seperti langit, adalah seorang manusia, yang mengandalkan keluhurannya.

Jangan bersikap seperti bumi yang tebal dan luasnya melebihi apapun, jikalau manusia, bersikap seolah tidak ada lagi yang melebihi luasnya kekuasaannya, bersikap seperti gunung merasa besar dan tinggi, bersikap seperti samudera merasa paling dalam pengetahuannya, dan merasa paling dahsyat ombaknya. Semua mengandalkan kedigdayaannya, bumi dan samudera, langit dan gunung adalah seumpama watak-watak jelek manusia, sudah tiada kebaikannya lagi, sesat kelakuan manusia yang seperti itu, kurang luaslah wawasannya.

Jikalau kamu menginginkan untuk menjadi Raja, menguasai seluruh orang, jangan pernah putus usahamu anakku, senantiasa berpasrah kepada Yang Maha Menguasai Bumi, heningkanlah segala keliaran batinmu, agar supaya bisa mengetahui Suksma Agung (Maha Samar Yang Agung).

Pastilah akan gampang terwujud apa yang kamu kehendaki atas kehendak (Hyang) Widdhi, buatlah terang penglihatan kesadaranmu, jangan suka bertindak seenaknya, perbanyak ibadah penuhilah perintah agama, dalam hati senantiasa diingat, agar manis jalan hidupmu.

Dan lagi anakku sungguh aku ingin bertanya, apa yang kamu dapatkan dari tengah samudera? Panembahan Senopati menjawab pelan, Yang saya peroleh, Telur Lungsung Jagad yang harus saya makan, dan Minyak Jayengkatong, kedua benda dihaturkan, Sang Wiku melihat dan berkata, Untunglah belum sempat kamu pakai, jikalau sudah kamu pakai aku tak bisa membayangkan akan menjadi apa kamu?

Hanya akan mendapatkan kesengsaraan hidup, akan gagal keinginanmu untuk menjadi Raja, gagal impianmu menguasai dunia, kamu akan tinggal di dalam samudera, tidak akan bisa pulang ke Mataram, seluruh rakyatmu tidak akan bisa melihatmu, begitu juga istri dan anakmu, karena sudah berganti alam, menjadi pasangan Ratu Kidul, hilanglah wujud manusiamu.

Dan lagi aku sungguh-sungguh bertanya, kamu jatuh hati kepada Ratu Wanita, bagaimanakah wujudnya? Panembahan Senopati menjawab pelan, Wujudnya sangat cantik, seumur hidup belum pernah hamba melihat, wanita secantik Dyah Kidul, Sang Wiku tersenyum dan berkata, Engkau jatuh cinta, terpikat wujud cantik yang sesungguhnya hanyalah sihir belaka.

Sungguh kamu belum awas, dulu aku sudah pernah memasuki Istana (samudera), cincin (Sang) Dyah aku curi, dari jari kelingking Sang Rum (Wangi), lihatlah ini anakku, terkejut Sang Panembahan Senapati, manakala melihat, wujud cincin sedemikian besarnya, sebesar tebok (tampah kecil tempat memilah butiran padi dengan kulitnya setelah ditumbuk, terbuat dari jalinan bambu : Damar Shashangka) lobang lingkarannya, Panembahan Senapati tertunduk.

Masih belum percaya dalam hati, Sunan Adi menangkap ketidak percayaan itu, bimbanglah hati Panembahan Senapati, lantas berkatalah Sang Wiku, Anakku mari kita buktikan, mumpung Ratu Wanita sedang tidur sekarang, akan terlihat wujudnya yang asli, perhatikanlah dengan seksama nanti, setelah itu Jeng Sunan dan Panembahan Senapati, berjalan ketengah samudera.

Sesampainya didalam istana samudera, Ratu Kidul didapati tengah tertidur, tubuhnya rebah dan sangat-sangat besar, bahkan terdengar bunyi dengkurannya, rambut gimbal taringnya tampak mencuat, panjangnya tiga jengkal jari, sebesar carak (ceret/tempat air minum) besarnya taring, payudaranya menggelantung turun, Panembahan Senapati ngeri melihat wujud tersebut, terpaku tak bisa bicara sepatah katapun.

Sunan Adi berkata kepada Panembahan Senopati, Anakku itulah wujud dia yang sesungguhnya, bisa berubah wujud sangat-sangat cantik hanya karena kekuatan sihir belaka, mendapat anugerah dari Hyang Agung, manakala terjaga dari tidur wujud apapun yang diinginkannya bisa dia buat, mampu merubah wujud tujuh kali, dalam sehari dengan wujud cantik yang berbeda-beda, apabila kamu sudah cukup melihat, mari kita segera pulang jangan sampai nanti dia terbangun, tidak enak dihati jadinya nanti.

Setelah itu segera beranjak pulang kedua priyayi (bangsawan) agung, sepanjang jalan Sunan (Adilangu) terus menasehati, Aku tidak bermaksud menghalangi anakku, kedekatanmu, dengan Ratu Wanita terserahlah kepadamu, sesungguhnya sudah benar apa yang kamu lakukan (sebagai seorang Raja), namun aku menyarankan, sebatas pertemanan saja (antara dua orang Penguasa), sebab dialah yang menjaga pulau Jawa, tak ada salahnya jika dimintai bantuan.

Marilah kita pulang ke Mataram, aku ingin mampir sejenak ke istanamu, setelah itu keduanya mempercepat jalan masing-masing, Sunan Adilangu, diiringi Panembahan Senapati, jalannya secepat kilat, hanya sekejap saja sudah sampai, langsung menuju ruang belakang, Sunan Adi dan sang cucu yaitu Panembahan Senapati, hendak membuktikan khasiat benda yang diperoleh dari samudera.

KI JURU TAMAN MENJADI RAKSASA MENGHUNI GUNUNG MERAPI

Tersebutlah Juru Taman Panembahan Senapati, sudah uzur usianya dan suka madat, sehingga terkena sakit batuk badannya kurus, jika kumat batuknya dia tak bisa tidur semalaman, memohon selalu kepada Hyang Widdhi, supaya diberikan kesehatan, agar diberikan panjang umur, setiap berdoa pasti seperti itu permintaannya, saat itu tak disadarinya jika Gustinya menghampiri, berusaha turun dia dari balai dengan susah payah.

Setelah duduk berkatalah Panembahan Senapati, Hai Ki Taman aku tadi melihat, engkau berdoa meminta kekuatan badan, apakah permintaanmu itu sungguh-sungguh? Meminta sembuhnya penyakitmu, meminta panjangnya usiamu, Juru Kebun (Taman) menhaturkan jawaban, Benar Gusti sungguh hamba, siang malam meminta kepada Hyang Widdhi, agar diberikan usia panjang dan kesembuhan.

Kalau memang kamu sungguh-sungguh, aku akan memberikan sarana buat hidupmu, agar supaya sirna segala penyakitmu, Ki Taman menghaturkan terima kasih, bergerak mendekat diberi telur dan diterima sudah, segera disuruh memakan mentahan, segera dimakan seketika itu juga, Ki Taman berputar-putar tubuhnya, bagaikan gangsing dan menggeram keras, suaranya bagaikan pohon yang tumbang dari tempatnya.

Seketika berubah wujudnya sangat-sangat besar, Juru Taman bagaikan gunung anakan besarnya, taring muncul dan rambut berubah gimbal terkejut (Panembahan Senapati), melihat kejadian itu sangat-sangat heran hatinya, Sang Wiku berkata kepada Panembahan Senapati, Seperti itulah kejadiannya, apabila kamu menuruti perkataan Ratu Kidul, Sang Panembahan Sena(pati) tak bisa berkata-kata, tertegun dan kecewa melihat akan hal itu, melihat wujud bagai anakan gunung.

DUA ABDI PEREMPUAN JADI ROH HALUS

Sunan Adi(langu) segera berbicara lagi, Tinggal satu benda lagi anakku buktikanlah, apa yang dinamakan Minyak Jayengkatong tersebut, Sang Panembahan Senapati menurut, lantas memerintahkan untuk memanggil, seorang emban (pelayan wanita), bernama Nini Panggung, dan seorang penabuh gamelan bernama Ki Kosa, tak berapa lama kemudian keduanya telah menghadap, Sang Panembahan Sena(pati) pelan berkata.

Bibi Panggung kamu saya panggil, berikut Ki Kosa kalian berdua akan aku coba, untuk memakai Minyak Jayengkatong, pemberian Ratu Kidul, apabila sudah memakai pasti akan menjadi sakti luar biasa, yang diperintahkan hanya menurut, tidak membantah lagi, (Nini) Panggung (dan) Ki Kosa ditetesi, (Minyak) Jayengkatong seketika tak terlihat keduanya, beralih alam menjadi siluman.

Begitu keduanya sirna tak terlihat heranlah Panembahan Senapati, ketiga abdinya berubah tidak lumrah, lantas pelan dia berkata, Hai (Ki) Kosa (dan) Bibi Panggung, kalian sekarang tidak bisa dilihat oleh mata lagi. Menjawab yang telah tak terlihat, Benarlah demikian Gusti, namun saya tidak akan pergi jauh (dari istana Mataram), semenjak saat diberi Minyak oleh Gusti, walaupun kami tak akan bisa dilihat mata.

Sunan Adi(langu) pelan menyahut, Hai kamu Ni Panggung dan si Kosa, ikhlaskanlah ini semua, sudah menjadi kehendak Hyang Agung, kalian semua dijadikan tumbal oleh Gusti kalian, kalian sekarang bukanlah manusia, sudah tidak bisa dilihat, kalian sudah berubah menjadi Jin, akan tetapi janganlah kalian meninggalkan Mataram, dampingilah Gusti kalian.

Sepertinya akan lebih baik oh anakku Senapati, apabila ketiga abdi ini aku tempatkan, (Nini) Panggung dan (Ki) Kosa, penunggu di pohon Beringin tua, sedangkan Juru Taman aku tempatkan di Gunung Merapi, memimpin seluruh makhluk halus yang ada di gunung tersebut, menjaga keamanan, menghadang musuh yang hendak merusak kerajaan, Juru Taman yang bertugas menghadapi, semua yang diperintah mematuhinya.

Ketiganya sudah menempati tempat yang diperintahkan, (Nini) Panggung (Ki) Kosa dan Juru Taman, setelah selesai membuktikan, kedua priyagung (Sunan Adilangu dan Panembahan Senapati) masuk kedalam istana, Panembahan Senapati terus terheran-heran dalam hati, hasil dari istana samudera, hampir saja membuat dia celaka salah jalan, Sunan Adi(langu) mendadak berkata, Senapati istanamu tanpa pagar pembatas, bagaikan seekor kerbau yang dibiarkan terumbar.

Tanpa kandang, oh anakku Senapati Ngalaga, hal ini adalah kepasrahan yang keliru, bukan kepasrahan kepada Allah yang benar, bahkan angkuh kerajaan Mataram, semua perbuatanmu, selalu didahului kecongkakan, bagai kerbau dan sapi tanpa kandang, menampakkan siapa yang berani dengan aku, akan memancing orang jahat dan musuh.

Kenakanlah kesadaran yang jernih (ening) dan penuh ketenangan (eneng), berjalanlah dengan hati penuh syukur dan tulus, istana dengan diberi pagar (adalah wujud kepasrahan yang benar), ibarat kamu memiliki kerbau dan sapi jika berontak hendak lepas, pegang erat keluh (tali pengikat yang ada dihidung)-nya, apabila didalam kandang, masukkanlah semuanya, kunci rapat pintu kandang, jagalah baik-baik siang maupun malam, itulah bentuk kepasrahan yang benar kepada Sang Penguasa Sejati.

Pilahlah dan pilihlah, apa saja yang pantas bagi sebuah kerajaan, yang sesuai dengan kedudukan dan kecerdasan kamu, perbanyaklah ikhtiar, dan bersandar kepada (Hyang) Widdhi, setiap tindakanmu, warnailah dengan rasa syukur, senantiasa ingat, baik saat berjalan duduk berbicara, ingatlah bahwa kamu adalah Raja.

Nanti akan aku berikan petunjuk anakku, bagaimana membangun kota agar kokoh kerajanmu, selamat sejahtera hingga nanti, ambilkan air anakku, jangan terlalu banyak air didalam kendhi secukupnya saja, Panembahan Senapati memenuhi permintaan, segera menyuruh agar mengambil, air didalam kendhi tanah, yang diperintahkan segeramengambilkan dan tak lama kembali membawa apa yang diminta, air didalam kendhi.

Lantas bergeraklah Sunan Adi(langu), sembari membawa kendhi berisi air, berjalan mengelilingi perbatasan, Panembahan Senapati mengiringi dibelakang, sembari membawa tali, untuk mengukur tanah dimana air dicurahkan, berkata Sang Wiku (Sunan Adilangu), Hai anakku Senapati, ikutilah bekas dimana air aku curahkan, bangunlah tembok kota disitu.

Karena dititahkan menjadi makhluk hidup oh anakku, jangan berhenti menjalankan hati yang dipenuhi syukur, dan seyogyanya bias memperhatikan kebutuhan, dari semua rakyatmu, perlakukan dengan kasih, manakala kurang diperhatikan, bakal mencibpatak rusauhnya kerajaan, disebabkan kurangnya perhatianmu, tidak merasa bahawa semua ini hanyalah pinjaman, pinjaman dari Yang Menguasai Alam.

Dan waspadalah selalu, manakala kamu memberikan perintah kepada seluruh rakyat, buatlah nyaman hati mereka, turutilah nasehatku, lsiramilah hati mereka denga kasih, sekarang mulailah mencetak, suruhlah orang-orang Mataram, dalam bekerja, usahakan mengerjakan sebagus mungkin, sehingga bisa bertahan lama sampai nanti.

Anakku manakala sudah sesuai dengan laku hidup yg sesungguhnya, sungguh bagaikan sudah menjadi Raja, sesuai dengan kelakuan manusia utama, menjadi wakil Hyang Suksma, menguasai alam dunia, yang bernar-benar berkuasa, kepada seluruh yang hidup, karena memang manusia seperti itulah yang berhak memiliki, dan akan kuat tanpa rintangan.

Ketahuila keberadaan (Hyang) Widdhi, oh anakku keberadaan-Nya yang sejati, sesungguhnya tak berpisah dengan segala aktifitasmu, akan tetapi tiada kamu hiraukan, bahkan tiada kamu ketahui, sangat dekat namun samar, tiada bertempat jauh disana, benar-benar nyata didepanmu, Tuhan sesungguhnya ada didepan matamu, tetapi terliputi alam dunia.

Panembahan Senapati mematuhi dan menghaturkan terima kasih atas nasehat Sunan Adilangu. Namun ia gelisah  karena terlanjur tenggelam dalam lautan asmara dengan Kanjeng Ratu Kidul. @@@

Categories: INTISARI AJARAN DALAM FENOMENA PERTEMUAN PANEMBAHAN SENOPATI DAN KANJENG RATU KIDUL DALAM KEPUSTAKAAN BUDAYA JAWA | 10 Komentar

REPORTASE BAKSOS: LAHIRKAN MANUSIA BARU DALAM DIRIMU!


Assalamualaikum wr wb.

Dunia kita adalah dunia yang dibangun dan dibingkai oleh kekuatan otak kiri (logika) yang berakibat pada kecenderungan orang dalam setiap gerak hidupnya lebih mengandalkan logika dan perhitungan rasional. Padahal kenyataan hidup yang dihadapi, begitu banyak fenomena kehidupan tidak mampu dicerna ataupun dikendalikan oleh logika. Akibat lebih jauh seringnya terjadi MASALAH HIDUP YANG BERANEKA RAGAM akibat konflik internal individu maupun konflik eksternal antar individu karena hanya mengandalkan suatu argumentasi yang diperoleh dari pemberdayaan logika belaka. Tidak banyak di antara kita yang menyadari bahwa fenomena hidup adalah adanya daya tarik menarik antara kekuatan rasional (AKAL) dan irasional (EMOSI) untuk MEMECAHKAN MASALAH / PROBLEM SOLVING.

Di bakti sosial parangkusumo 26 Desember 2015 kemarin, kita benar-benar ditantang untuk menggunakan hati nurani. Betapa tidak, saya melakukan perjalanan dari Sidoarjo ke Yogyakarta menggunakan transportasi darat. Biasanya perjalanan ditempuh sekitar 9 jam, namun kali ini 16 jam. Luar biasa macetnya!!! membuat kesabaran kita benar-benar diuji untuk menjalankan kendaraan setapak demi setapak sampai akhirnya selamat sampai tujuan. Alhamdulillah.

Tiba di Jogja, kamar hotel yang biasanya tersedia di banyak titik di kota gudeg itu harus dicari seperti mencari jarum di tumpukan jerami. Walhasil saya harus muter-muter di jogja sekian lama sampai akhirnya ada satu tempat yang bisa kita tempati walau sesaat. Setelah saya tiba duluan di Jogja, saya kabarkan titik kemacetan yang harus dihindari oleh rombongan satu  mobil yang berangkat belakangan dari markas KWA Sidoarjo.

Satu persatu peserta bakti sosial berdatangan dari berbagai penjuru. Saya membuka acara dengan sebuah diskusi tentang bagaimana seharusnya kita menggunakan dua belah otak dalam diri manusia. Otak kiri berfungsi sebagai kekuatan logika dan otak kanan berfungsi sebagai kekuatan rasa/batin/hati sehingga dua-duanya harus dimanfaatkan secara maksimal.

Agama dibangun dengan dua belahan kekuatan otak manusia itu. Perjalanan manusia adalah ibadah dalam arti yang luas meliputi syariat hakekat tarikat dan makrifat. Itu mengandaikan bahwa seseorang wajib memaknai hidupnya secara jelas dan tegas dengan menggunakan semua alat espistemologis yang ada: wahyu, ilmu pengetahuan, mata telinga, hati nurani dan akal budinya.

Kunci sukses dunia akhirat adalah bagaimana dia mengembangkan kreativitas. Dan kreativitas akan lahir bila seseorang menggunakan kekuatan otak kanannya. Untuk melatih penggunaan otak kanan, banyak cara. Salah satu  caranya adalah memilih apa saja yang alternatif yang tidak biasa dilalui dan dilakukan sehari-hari.  Masih banyak lagi cara sehingga apabila hal ini kita biasakan maka kita terbiasa untuk keluar dari pola-pola yang tetap dalam hidup kita.

“Kreativitas dekat dengan kegilaan” dan lakukan hal-hal yang gila dalam hidupmu. Jangan pernah takut dicap aneh-aneh, gendeng, edan, dan sebagainya. Kegilaan adalah laboratorium untuk mengeksplorasi  hidup semaksimal mungkin sehingga kita tahu sampai sebatas mana sesungguhnya bingkai kemampuan kita. Kita tidak akan pernah tahu batas kemampuan kita kalau belum mengetesnya sendiri. Keluarlah dari Zona Nyaman dan bergeraklah bebas!

20151225_095457-1

Semua nabi dan rasul adalah manusia-manusia yang sangat kreatif. Dia bisa mengetahui batas kemampuannya untuk hidup sehingga akhirnya Allah SWT memberikan mukjizat kepada mereka: Ibrahim A.S tidak mempan dibakar api, Muhammad SAW yang ahli bertapa di gua Hira bertemu dengan Jibril, Musa A.S bisa melewati laut tanpa tenggelam, Isa A.S bisa menghidupkan orang mati dan sebagainya.

Para nabi itu disiksa, dimusuhi, dilempari, dicaci maki dan dihina dengan permusuhan yang luar biasa yang belum pernah ada sebelumnya dalam lintasan sejarah kemanusiaan. Namun berkat keuletannya mengolah kreativitas kemanusiaannya dan akhirnya datang pertolongan Allah SWT: mereka tahan uji dengan kesabaran yang juga diluar batas kemanusiaan pada umumnya.

Selepas kepergian Nabi Muhammad SAW, tidak ada nabi baru. Artinya bahwa kualitas kenabian itu sudah sempurna. Kita hanya bisa mencerap dan menghayatinya garis  kualitas kenabian semenjak Adam A.S sampai Muhammad S.A.W secara utuh apabila kita menjadi manusia yang kreatif. Yaitu kreativitas untuk memaknai hidup kita masing-masing yang dimaksudkan untuk menjadi manusia yang sesuai dengan Kehendak AllAh SWT.

Maka kita perlu melahirkan manusia-manusia baru dalam diri kita sendiri-sendiri. Manusia baru itu adalah manusia yang taat pada perintah Allah SWT dan menjauhi larangannya dalam arti yang seluas-luasnya. Melaksanakan secara kaffah/utuh sempurna ibadah wajib dan sunnah-sunnah. Hidup adalah medan yang luas untuk berkarta semaksimal mungkin. Menjadi diri yang sadar kesejatiannya. Awas eling dan waspada semua fenomena dan gejala. Bahasa kita sangat terbatas untuk mengungkapkannya.

Maka sangat sepakat bila dalam bakti sosial kali ini acara ditutup oleh pengijasahan dari Bang Krisna Raka Mas Jambrong yaitu sebuah ilmu trawangan yang menurutku adlah ngelmu sidik paningal; mendengar suara-suara yang sejati dan melihat hal hal yang sejati hingga nanti kita sampai pada akhir hayat masing-masing yaitu menyatu dengan Dzat Yang Maha Segalanya…Yang Maha Mendengar dan yang Maha Melihat “Ya Sami’ Ya Bashir”

 Wassalamualaikum wr wb.

@Kwa,akhir 2015

Categories: REPORTASE BAKSOS 26 DESEMBER 2016 | 10 Komentar

DOKUMENTASI BAKSOS KWA 26 DESEMBER 2015


IMG-20151227-WA0026 (1)IMG-20151226-WA000920151226_133817IMG-20151227-WA0016IMG-20151226-WA0065IMG-20151227-WA0012IMG-20151226-WA005720151226_140903IMG-20151227-WA0009IMG-20151227-WA0022

Categories: DOKUMENTASI BAKSOS KWA 26 DESEMBER 2015 | 6 Komentar

WIRID KWA 23 DESEMBER 2015


ALLAH SWT ITU PUNYA SEKIAN TRILYUN CARA UNTUK MERUBAH DIRI SESEORANG SESUAI DENGAN KEHENDAK-NYA. SALAH SATU CARA ITU ADALAH WIRID/DZIKIR. KULANTUNKAN DZIKIR SIANG MALAM PAGI SORE, MEMIKIRKAN DAN MERESAPI KANDUNGAN-NYA DI DALAM DIRIKU MAUPUN DI ALAM SEMESTA…

JANGAN KAU TANYAKAN APA FADHILAH, APA MANFAAT, APA FUNGSI WIRID INI UNTUK DIRIKU KARENA BAGIKU PERTANYAAN ITU TIDAK PANTAS DISAMPAIKAN. ADANYA ASMAK ALLAH SWT  TIDAK MUNGKIN TIDAK PUNYA MAKSUD DAN TUJUAN…. KUYAKIN SEMUA ASMAK ITU PENTING, DAN ALLAH SWT SENDIRI YANG AKAN MEMBERIKU ARTI, MEMBERIKU MANFAAT, MEMBERIKU HIDAYAH. BUKAN DARI AKALKU ATAU PIKIRANKU.

INILAH WIRIDKU MINGGU INI SAUDARAKU: YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YANG KALAU DI BAHASA INDONESIAKAN YANG PASTI MENGURANGI KEKAYAAN HAKIKAT ASMAK, ARTINYA MENJADI MAHA KAYA MAHA TERPUJI MAHA PERKASA MAHA MENGETAHUI.

===========================================

ALFATIHAH 1 X

YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM

YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM

YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM

YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM

YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM

YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM

YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM

YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM

YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM

YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM

YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM

YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM

YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM

YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM

YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM

YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM

YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM

YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM

YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM

YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM

YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM

YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM

YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM

YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM YA GHONI YA HAMID YA AZIZ YA ALIM

@KWA,2015

Categories: >>PERPUSTAKAAN UTAMA | 6 Komentar

REBORN!!!! UNDANGAN TERBUKA RIYADHOH SAPU JAGAD AKHIR TAHUN 2015 BERSAMA KWA


Bakti sosial gratis terbuka untuk umum

DSCN0636Dunia kita adalah dunia yang dibangun dan dibingkai oleh kekuatan otak kiri (logika) yang berakibat pada kecenderungan orang dalam setiap gerak hidupnya lebih mengandalkan logika dan perhitungan rasional. Padahal kenyataan hidup yang dihadapi, begitu banyak fenomena kehidupan tidak mampu dicerna ataupun dikendalikan oleh logika.

Akibat lebih jauh seringnya terjadi MASALAH HIDUP YANG BERANEKA RAGAM akibat konflik internal individu maupun konflik eksternal antar individu karena hanya mengandalkan suatu argumentasi yang diperoleh dari pemberdayaan logika belaka. Tidak banyak di antara kita yang menyadari bahwa fenomena hidup adalah adanya daya tarik menarik antara kekuatan rasional (AKAL) dan irasional (EMOSI) untuk MEMECAHKAN MASALAH / PROBLEM SOLVING.

cropped-cropped-markas-kwa.jpgAcara RIYADHOH SAPU JAGAD AKHIR TAHUN 2915 BERSAMA KWA ini mengarahkan, mengingatkan, menyadarkan adanya kekuatan OTAK KANAN sebagai penyeimbang kekuatan otak kiri sehingga hidup kita akan lebih berkualitas.

Materi:

  1. Ruwatan dengan metode aktivasi simpul-simpul energy
  2. Konsultasi-konsultasi semua masalah hidup (rejeki, mahabbah/pengasihan, pembuka aura/keselamatan-keamanan, kekuatan)
  3. Pengobatan alternatif bagi sedulur yang sakit medis dan non medis menggunakan ENERGI DOA dan bekam/hijamah
  4. Pengisian POWER benda-benda menggunakan ENERGI DOA
  5. BONUS ACARA: IJASAHAN ILMU

cropped-cropped-panitia1.jpgPengisi acara: KI WONGALUS dan Para Alumni pelatihan yang tergabung dalam GURU-GRAND MASTER KWA (pengumuman ini juga sebagai undangan terbuka untuk para alumni program Guru KWA)

Tempat:  Cepuri – Pantai Parangkusumo, Yogyakarta

Jam: pagi 09.00 wib sd selesai

Hari/tanggal: Sabtu  26 Desember 2015

Sifat: Terbuka untuk umum dan gratis/tanpa mahar

Penanda titik kumpul adalah SPANDUK KAMPUS WONG ALUS.

Silahkan hadir untuk menikmati perjumpaan penuh akrab dan insya allah pertemuan kita kali ini adalah REBORN!!! KELAHIRAN KEMBALI DIRI kita masing-masing yang penuh rahmat dan barokah. Amin.

Salam takzim sedulur semua,

@wongalus,2015

Categories: >>PERPUSTAKAAN UTAMA | 6 Komentar

WIRID KWA MINGGU INI: 18 DESEMBER 2015


DSCN2411YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI YA FATTAH YA ROZAQ YA WAHAB YA JALIL YA GHONIYYU YA MUGHNI

@KWA,2015

Categories: WIRID KWA DESEMBER 2015 | 9 Komentar

MISTERI SULUK HATI


Hidup segan mati tak mau. Lelah sudah rasanya mencari tahu dimanakah sumber kebijaksanaan kebenaran dan kebahagiaan itu berada. Timur barat utara selatan sudah aku jelajahi dan ternyata kosong. Tiada pula yang kuanggap paham, ternyata benar-benar paham. Di ujung rasa putus asa, kulanjutkan sedikit waktu yang tersisa untuk menulis. Entah,  ada manfaatnya atau tidak.

Tiba di sebuah kawasan yang tiada berpenghuni lagi di penghujung pulau. Ini desa yang jadi saksi kelahiranku dan sudah puluhan tahun silam kutinggalkan. Perlahan kuayunkan kaki  melangkah menuju sebuah surau mungil di tepi telaga. Malam itu terasa begitu suci dan ajaib. Kekuatan apa yang menyuruh kupergi ke sana, aku tidak tahu. Yang aku tahu, sebuah panggilan dari mimpi bahwa aku harus mendekati surau itu.

Bulan di langit tersenyum tipis, sedikit kuning berlatar kehitaman. Suara binatang-binatang malam menjadi musik ringan yang menggema dari segala penjuru penghantar jiwaku yang kosong melompong. Lolongan-lolongan srigala tiba-tiba muncul tidak terduga.. membuat suasana semakin purba dan mencekam.

Tiba di surau, aku menggelar sajadah. Nafas yang iramanya tersengal kuatur ritmis. Kukonsentrasikan pikiran ke keluar masuknya nafas. Hanya kepada nafas. Mulailah kugerakkan dua tangan dan mengucapkan Allahu Akbar…..Allah Maha Besar…. Yang Maha Besar Kekuasaaannya, Yang Maha Besar Kecintaannya, Yang Maha Besar Kekuatannya, Yang Maha Besar Ilmu Pengetahuannya, Yang Maha Besar semuanya tanpa terkecuali…..

Seketika itulah diriku hilang. Diriku sudah tidak lagi memikirkan apakah aku ada atau tidak, masih hidup atau sudah mati, apakah aku masih aku atau menjadi orang lain, dan aku tak ingat juga diri-diri lain… semua tiba-tiba terasa tidak ada. Dan tiba-tiba lahirlah satu kesadaran aneh yang kutulis berikut ini…:

Sukma yang terbang mengangkasa mencari tahu ada apa?….

Kulihat semua gerakan yang ada berhenti total. Bumi menjadi sunyi dan seluruh alam menjadi diam. Tiada punya suara dan gerakan apa-apa lagi. Mesin-mesin kendaraan tidak lagi menderu. Semuanya berada pada tempatnya. Mati total isi bumi ini sepersekian detik waktu di dunia namun yang kualami terasa begitu lama.

Kucoba melihat teman-teman dekat yang kukenal. Ternyata mereka ada di tempatnya masing-masing, mematung kaku tanpa gerak. Ada yang terlihat bergairah namun sayangnya ia diam mematung meski kutahu mereka masih hidup. Entah, hidup di dimensi yang mana… Ada yang terlihat lemas dan lesu dengan memegang segepok uang, matanya masih melotot dan nadinya terlihat mengeras. Bola matanya nyaris keluar. Nyawanya nyaris tercabut dari ubun-ubun. Penuh hasrat untuk memenuhi keinginannya melampaui kebutuhannya.

Ada lagi teman yang sedang berwirid hatinya.. Nah, di tengah alam yang diam dan tertidur, terlihat gerakan cahaya berpendar dari lubuk hatinya. Hati yang dipenuhi cahaya itu memancar hingga menyilaukanku. Setelah kuucapkan Assalamualaikum maka kuteruskan pengembaraanku. Baru beberapa saat melangkah, aku tertegun dengan sebuah pemandangan mencekam.

Seorang pertapa tegap dan tegar duduk disebuah batu di pinggir pantai. Ia sibuk menyatukan diri dengan diri sejatinya. Masih terlihat gambaran-gambaran pikirannya yang semakin samar seperti asap yang menggantang di atas kepala. Wajahnya tenang dan memancarkan aura terang. Aku tidak bisa menilai, apakah dia sudah berada di jalan yang lurus atau bengkok, namun ada bisikan bahwa dia saat ini harus menjalani ujian yang sangat berat untuk menebus dosanya di masa lalu akibat meniadakan Tuhan dalam hatinya. Maka, aku pun berdoa.. Ya Alloh, berilah petunjuk pada dia agar suatu saat kembali ke jalan-MU. Kemudian kulanjutkan perjalanan…

Tiba di sebuah tempat, terlihat seorang pria di depanku sedang mengasuh anaknya yang masih balita. Namun karena alam sudah diam, maka ia pun menjadi patung dengan posisi duduk. Sementara sang anak yang mematung itu terlihat mencari-cari kebahagiaan sendiri dengan bermain batu-batu kerikil. Hati sang pria tersebut terasa merana setelah ditinggal pergi isteri tercintanya. Menggelegak nyaris mengalir namun belum bergerak. Mungkin baru beberapa saat yang lalu berhenti. Kurasakan uap panas saat mendekati keduanya.

Kupeluk sayang si anak piatu. Ia yang nyaris kepanasan kemudian terasa sejuk. Degup dadanya mengatakan bahwa sang ayah sedang gelisah. Duh Gusti, ingin kubawa pulang dan kuasuh penuh perhatian dia.. namun apa daya memang bukan milikku dan dia adalah milik Alloh Sang Maha Pemilik Sejati…

Kutangisi dan kudukai si mungil itu…Ya Rabb… Tuhan Tercintaku.. kenapa kau sisakan duka di anak-anak milik-MU yang mungil tiada berdosa itu?  Kalau Engkau berkenan Ya Alloh, bunuhlah diriku yang penuh lumuran dosa dan zina sekarang ini sebagai ganti agar mereka yang masih putih dan suci itu bisa melanjutkan hidupnya dengan bahagia sejahtera. Nyaris aku kehilangan keseimbangan diri dari sholatku ketika aku merasakan adanya anak ini didekatku.

Inilah yang terakhir, namun juga berupa awal yang mungkin. Sebagaimana bunga yang layu dan gugur. Musim semi tiba dan kemudian hujan datang adalah bahasa alam tiada akhir yang sesungguhnya. Yang ada adalah berproses dan terus berproses. Itu pertanda adanya Gerak dan Aktif dari Yang Satu dan Kekal.

Di tengah diri yang tenggelam dalam sunyi sepi suwung itu… tergetarlah hati oleh suara khotbah dari ujung angkasa… “Inilah Khotbahku” katanya. Tiada terlihat apa-apa sehingga sulit dikenali siapa yang berucap lantang disukmaku. Tiada gerak lagi. Sukmaku siap menerima perintah apapun.

“Yang kau cari soal kebijaksanaan dan kebenaran itu sejatinya tidak ada…. yang kau cari itu mitos dan semuanya palsu!… hidup itu tidak bermakna sehingga tidak berharga untuk dilanjutkan!” katanya dengan keras.

Aku tidak berpikir lagi, yang ada hanya mengamini perintah dan suara itu. Akalku tak mungkin lagi menganalisis kebenaran ini. Benar atau salah di hatiku pun tiba-tiba melenyap pergi dan aku tak mampu meraihnya lagi. Aku masih menantikan sesuatu yang mungkin terjadi.

“Semuanya tersesat dalam hutan nilai-nilai keakuan sendiri, semua terlempar ke jurang hina nestapa, semua kewajibanmu itu sebuah kebodohan, semua makna yang kau rangkai dan kau bangun menjadi kepercayaan itu sia-sia belaka…agama, surga dan nerakamu itu khayalan… Kalau masih yakin bahwa tafsirmu itu benar, maka kupastikan engkau gagal… Bunuhlah dirimu!” katanya tanpa tedeng aling-aling.

Suara itu berlanjut semakin keras dan detail menjelaskan apa maksud yang sesungguhnya: “Bunuhlah semua hasrat dan keinginanmu… bila masih ingin ketemu AKU itu berarti engkau tidak cinta AKU…..apalagi keinginan mencari AKU!. AKU tidak perlu kau cari karena aku tidak dimana-mana dan tidak kemana-mana.. Aku tidak perlu waktu dan tempat untuk berada, jalanmu jalan nyata jalanku jalan rasa…” terangnya.

Suara itu berlanjut: “…Adaku aneh ajaib bercampur unik diluar jangkauan rekaan akalmu.. caraku mencintai atau membenci adalah cara-KU…bahasa-KU tidak sama dengan bahasamu…. Bahkan aku ada atau tidak ada jangan pernah perdulikan AKU… siapa dirimu? Sok tahunya engkau tentang AKU padahal engkau hanyalah sebutir mahluk yang kau katakan sendiri sebagai makhluk paling mulia padahal nyatanya dihadapan-KU, engkau ini tidak begitu…” kata dia.

Mendengar suara siapa itu yang begitu keras rasa-rasanya jantung yang tinggal satu dua degup ini pun langsung ingin berhenti untuk selama-lamanya. Linglung dan gila diri ini. Kosong… Suwung… Blank… Zero…. Tiba-tiba aku tersadarkan diri dari sholat dan diriku ternyata mungkin masih ada karena masih kurasakan nafas yang bergerak… meskipun nama pun aku merasa malu memakainya lagi….

Ya, kini …. aku tidak punya apa-apa dan siapa-siapa lagi dan aku telah kehilangan segalanya termasuk diriku sendiri tiada berbentuk lagi…. Remuk!

===dan dalam remuk redam penuh kedamaian tiadanya aku .. hatiku bergerak..  tubuhku berguncang…. menikmati suara alam yang mengalun penuh kelembutan yang perkasa maha

wongalusYA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN  YA QOWIYYU YA MATIIN  YA  QOWIYYU YA MATIIN

YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN  YA QOWIYYU YA MATIIN  YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN  YA QOWIYYU YA MATIIN  YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIINYA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN  YA QOWIYYU YA MATIIN  

YA  QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN  YA QOWIYYU YA MATIIN  YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN

YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN  YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN  YA QOWIYYU YA MATIIN  YA  QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN

YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN  YA QOWIYYU YA MATIIN  YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN  YA QOWIYYU YA MATIIN  YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN

YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN  YA QOWIYYU YA MATIIN  YA  QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN  YA QOWIYYU YA MATIIN  YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN

YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN  YA QOWIYYU YA MATIIN  YA  QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN  YA QOWIYYU YA MATIIN  YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN

YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN  YA QOWIYYU YA MATIIN  YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN

YA QOWIYYU YA MATIIN  YA QOWIYYU YA MATIIN  YA  QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN

YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN  YA QOWIYYU YA MATIIN  YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN

YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN  YA QOWIYYU YA MATIIN  YA  QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN

YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN  YA QOWIYYU YA MATIIN  YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN

YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN  YA QOWIYYU YA MATIIN  YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN  YA QOWIYYU YA MATIIN  YA  QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN

YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN  YA QOWIYYU YA MATIIN  YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN YA QOWIYYU YA MATIIN

============

 *) ARTIKEL INI SUDAH PERNAH SAYA POSTING TAHUN 2011 DI BLOG KITA INI DENGAN JUDUL “ZERO MIND” DAN DI BAGIAN TERTENTU SAYA EDIT, TERMASUK DI BAGIAN PENUTUP SAYA TAMBAH SESUAI DENGAN NYANYIAN DZIKIR DALAM HATI SAYA YANG TERLANTUN SECARA OTOMATIS HINGGA DETIK INI

Categories: REFLEKSI AKHIR TAHUN 2015 | 8 Komentar

DOA BERPRESTASI UNTUK PARA PELAJAR INDONESIA


Assalamualaikum wr wb.

amanahIni musim belajar. Bagi para siswa sekolah terutama yang akan menghadapi ujian-ujian akhir, maka Anda perlu mempersiapkan diri dengan sebaik baiknya.

Selain syariat wajib harus terpenuhi yaitu BELAJAR YANG KERAS maka jangan dilupakan adalah BERDOA untuk memohon kepada Alah SWT agar diberikan hasil belajar yang memuaskan dan prestasi terbaik. Oleh karena itu, berikut ini bisa anda amalkan secara rutin setelah sholat:

Kepada Nabi Muhammad SAW, Semua Nabi Rasul, Semua Wali/Wasul, Semua para penyebar dan penerus ilmu Allah SWT, kedua orang tua dan diri anda sendiri, kirim  doa AL FATIHAH.

Selanjutnya bacalah doa:

ALLOOHUMMA AKHRIJNAA MIN DZULUMAATILWAHMI WA AKRIMNAA BINUURIL FAHMI WAFTAH’ALAINAA BIMA’RIFATIKA WASAHHIL LANAA ABWAABA FADL-LIKA YA ARHAMAR ROOHIMIINA

(Ya Allah, keluarkanlah kami dari kegelapan prasangka, muliakanlah kami dengan cahaya kepahaman, bukakanlah pengertian ilmu pada kami dan bukakanlah untuk kami pintu-pintu anugerah-Mu, wahai Dzat yang Maha Penyayang)

Selanjutnya akhiri doa dengan membaca:

ALLOOHUMMA INNII ASTAUDI’UKA MAA ‘ALLAMTANIIHI FARDUD-HU ILAYYA ‘INDA HAAJATII WA LAA TANSANIIHI YAA ROBBAL ‘ALAAMIINA

 (Ya Allah sesungguhnya aku menitipkan kepada Engkau ilmu-ilmu yang telah Engkau ajarkan kepadaku, dan kembalikanlah kepadaku sewaktu aku butuh kembali dan janganlah Engkau lupakan aku kepada ilmu itu wahai Tuhan Seru Semua Alam)

Demikian amalan ini dan semoga ada manfaatnya buat anda. Ayo berprestasi untuk Indonesia, Negeri yang kita sayangi ini agar maju sejahtera adil dan makmur.

Salam asah asih dan asuh penuh persaudaraan, Wassalamualaikum wr wb.

@kwa,2015

Categories: DOA BERPRESTASI UNTUK ANAK INDONESIA | 9 Komentar

DOA MUSTAJABAH UNTUK ANAK NAKAL, SAUDARA NAKAL, PACAR NAKAL, SUAMI-ISTERI NAKAL


===UNTUK ANAK NAKAL/PACAR/SAUDARA/SUAMI-ISTERI YANG  NAKAL AGAR KEMBALI KE JALAN YANG BENAR YAITU  JALAN ALLAH SWT===

Rangkaian doa dimulai dari membaca surat  AL FATIHAH 1  x

Lanjutkan dengan baca rangkaian doa sbb:

LAW ANZALNAA HAADZAA ALQUR-AANA ‘ALAA JABALIN LARA-AYTAHU KHAASYI’AN MUTASHADDI’AN MIN KHASYYATI ALLAAHI WATILKA AL-AMTSAALU NADHRIBUHAA LILNNAASI LA’ALLAHUM YATAFAKKARUUNA 

(artinya Kalau sekiranya Kami turunkan Al-Quraan ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan ketakutannya kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir)

THAA-HAA.

MAA ANZALNAA ‘ALAYKA ALQUR-AANA LITASYQAA. 

(artinya Kami tidak menurunkan Al-Qur’an ini kepadamu agar kamu menjadi susah)

ILLAA TADZKIRATAN LIMAN YAKHSYAA. 

(artinya tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah)

TANZIILAN MIMMAN KHALAQA AL-ARDHA WAALSSAMAAWAATI AL’ULAA. 

(artinya yaitu diturunkan dari Allah yang menciptakan bumi dan langit yang tinggi)

ALRRAHMAANU ‘ALAA AL’ARSYI ISTAWAA.

(artinya (Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah. Yang bersemayam di atas ‘Arsy)

INNAMA AMRUHU IDZA ARODA SYAI’AN AYYAQULA LAHU KUN  YA ALLAH LEMBUTKAN HATI  ( sebutkan nama target) SEBAGAIMANA ENGKAU MELEMBUTKAN BESI UNTUK NABI DAUD FAYAKUN

Usai berdoa, Selanjutnya lakukan pilihan cara berikut ini. Pilihlah satu cara yang paling mudah anda lakukan:

Cara 1:

tiupkan ke ubun-ubun target

Cara 2:

baca ke air dan minumkan kepada target

Cara 3:

baca dan tiupkan ke tangan kanan dan letakkan di dada bagian jantung target.

Insya allah hati target akan segera luluh atas ijin Allah SWT. Amin YRA.

@kwa,2015

Categories: SUAMI-ISTERI NAKAL | 20 Komentar