PUSAT STUDI JIN

PUSAT STUDI JIN


Saya pernah berkeinginan mendirikan sebuah pusat studi yang barangkali belum ada di Indonesia: PUSAT STUDI JIN. Untungnya, saya tersadarkan telah memetakan soal yang terlalu rumit dan absurd…

forest01Jelas saya mengalami kesulitan untuk mencari referensi dari ilmu pengetahuan apa yang menelaah soal jin. Ilmu pengetahuan (sepanjang saya tahu) tidak ada yang membahas fenomena yang sedemikian diyakini oleh masyarakat luas ini. Sehingga di dalam psikologi, sosiologi, politik, ekonomi, fisika, kimia, biologi serta cabang-cabang ilmu tersebut tidak ada yang memetakan soal jin ini secara gamblang dan jelas.

Masyarakat banyak yang menganggap soal-soal jin dibahas dalam ilmu metafisika. Padahal, sepanjang saya mengerti metafisika sama sekali tidak membahas soal jin ini. Metafisika adalah dasar dari filsafat yang lahir di Yunani. Istilah metafisika berasal dari Aristoteles yang menunjuk pada ide-idenya setelah membahas soal fisika (Meta-ta physika).

Metafisika dengan demikian adalah hasil perenungan agung para pemikir yang ingin mencari hakikat yang ada dengan tujuan ingin mencari kebijaksanaan. Sementara metafisika yang dipahami secara klenik lebih mengedepankan pada aspek pragmatisnya saja dan tidak ada hubungannya dengan Metafisika dalam frame filsafati.

Kembali ke soal JIN, tidak salah bila akhirnya saya perlu membuka-buka IBU DARI SEGALA ILMU PENGETAHUAN yaitu KITAB SUCI. Mengingat dalam ilmu pengetahuan modern, tema tentang jin ini dianggap tidak rasional. Ilmu mana yang berani unjuk gigi menganalisa jin dari satu obyek forma (sudut tinjau khusus)? Alih-alih membahas secara detail, mendefiniskan jin saja para ilmuwan sudah harus gigit jari.

Itu sebab jin adalah makhluk yang tidak tampak namun bereksistensi dalam ruang dan waktu. Jin tidak hanya konsep abstrak seperti matematika. Namun ia diyakini benar-benar ada. “Dan kami telah menciptakan jin sebelum (Adam) dari api yang sangat panas.” (QS Al-Hijr 15:27).

Makhluk ciptaan Tuhan dapat dibedakan antara yang bernyawa dan tak bernyawa. Di antara yang bernyawa adalah jin. Kata jin menurut bahasa (Arab) berasal dari kata ijtinan, yang berarti istitar (tersembunyi). Jadi jin menurut bahasa berarti sesuatu yang tersembunyi dan halus, sedangkan syetan ialah setiap yang durhaka dari golongan jin, manusia atau hewan.

Dinamakan jin, karena ia tersembunyi wujudnya dari pandangan mata manusia. Itulah sebabnya jin dalam wujud aslinya tidak dapat dilihat mata manusia. Kalau ada manusia yang dapat melihat jin, maka jin yang dilihatnya itu adalah jin yang sedang menjelma dalam wujud makhluk yang dapat dilihat mata manusia biasa. “Sesungguhnya ia (jin) dan pengikut-pengikutnya melihat kalian (hai manusia) dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka.” (QS Al-A’raf 7:27).

Istilah jin ini tercantum di dalam Al-Qur’an, di antaranya:

1. Sebuah makhluk yang tercipta dari kobaran api, berbeda dengan manusia yang diciptakan dari tanah. …Dan Ia menciptakan jin dari kobaran api. (QS. Ar-Rahman [55]: 15)

2. Makhluk ini mempunyai ilmu, daya maham, dan kemampuan untuk menentukan yang hak dan yang batil, serta dapat berargumentasi. (Hal ini terdapat dalam berbagai ayat dari surat Al-Jin).

3. Mempunyai taklif (kewajiban) dan tanggung jawab. (Silahkan rujuk ayat-ayat dari surat Al-Jin dan Ar-Rahman).

4. Sekelompok dari mereka adalah mukmin yang salih, dan sekelompok yang lain adalah kafir. Dan sesungguhnya di antara kami ada orang-orang salih, dan di antara kami ada pula yang tidak demikian. (QS. Al-Jin [72]: 11)

5. Mereka mempunyai Hari Mahsyar, Kebangkitan dan Hari Akhir.
Adapun orang-orang yang menyimpang dari kebenaran, maka mereka menjadi kayu api bagi neraka jahannam. (QS. Al-Jin [72]: 15)

6. Mereka sebelumnya mempunyai kekuatan untuk menembus langit, mendapatkan khabar, dan mencuri pendengaran yang kemudian dilarang oleh Allah swt. Dan sesungguhnya kami dahulu bisa menduduki tempat di langit itu untuk mendengarkan [berita-beritanya]. Akan tetapi, sekarang, barangsiapa [mencoba] untuk mendengarkan [seperti itu] tentu akan menjumpai panah api yang mengintai [untuk membakarnya]. (QS. Al-Jin [72]: 9)

7. Mereka melakukan interaksi dan komunikasi dengan sebagian manusia dan dengan pengetahuannya yang terbatas tentang rahasia Hari Akhir, mereka berusaha menyesatkan manusia. Dan bahwasanya ada beberapa orang lelaki di antara manusia yang meminta perlindungan kepada beberapa lelaki dari golongan jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan. (QS. Al-Jin [72]: 6)

8. Di antara mereka ditemukan individu-individu yang mempunyai kekuatan yang luar biasa, sebagaimana hal ini juga sering didapatkan di dalam dunia manusia. Berkata ‘Ifrit (yang cerdik) dari golongan jin, “Aku akan datang kepadamu dengan membawa singgasana itu sebelum kamu berdiri dari tempat dudukmu, sesungguhnya aku benar-benar kuat untuk membawanya [dan aku] dapat dipercaya. (QS. An-Naml [27]: 39)

9. Mereka mempunyai kekuatan untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan yang menjadi kebutuhan manusia. … dan sebagian dari jin ada yang bekerja di hadapannya [baca: di bawah kekuasaan Nabi Sulaiman a.s.] dengan izin Tuhannya. … Para jin itu membuat untuk Sulaiman apa yang dikehendakinya dari gedung-gedung yang tinggi, patung-patung, dan piring-piring yang [besarnya] seperti kolam, serta periuk yang tetap [berada di atas tungku] …. (QS. Saba’ [34]: 12-13)

10. Penciptaan mereka di atas bumi lebih awal daripada penciptaan manusia….Dan Kami menciptakan jin sebelum [Adam] dari api yang sangat panas. (QS. Al-Hijr [15]: 27)

Selain itu, dengan merujuk kepada beberapa ayat Al-Qur’an bisa dipahami dengan baik bahwa manusia adalah sebuah makhuk yang lebih sempurna dari jin. Ini didukung oleh realitas bahwa seluruh utusan Tuhan diangkat dari kalangan para manusia, tidak ada satupun Rasul dari jin.

Dalam salah satu ayatnya Tuhan berfirman, “Dan [ingatlah] ketika Kami berfirman kepada para malaikat, ‘Sujudlah kamu sekalian kepada Adam.’ Maka, sujudlah mereka kecuali iblis, dan ia adalah dari golongan jin ….” (QS. Al-Kahfi [18]: 50) Jin disini bisa dipahami secara sederhana yaitu merujuk pada makhluk, namun juga bisa diartikan secara lain…

Semua penjelasan yang telah diutarakan adalah pembahasan mengenai makhluk yang tidak bisa diraba ini dari pandangan Kitab Suci yang semua pembahasannya tidak tercemari statemen-statemen non-ilmiah. Sayangnya, banyak beredar pemahaman jin yang tidak berdasarkan kitab suci. Di antaranya, jin dianggap sebagai makhluk yang mempunyai bentuk mengerikan, berbahaya dan senantiasa mengganggu, menimbulkan permusuhan dan kedengkian, melakukan perbuatan yang sangat jelek, dan seterusnya.

Sementara, apabila kajian tentang jin ini dipisahkan dari keyakinan yang keliru maka kajian bisa betul-betul logis. Meskipun jin tidak bisa dilihat, tapi ini bukan alasan untuk menjadikan pembahasan tentang jin disebut tidak rasional. Bukankah banyak makhluk yang bisa diketahui oleh panca indera lebih sedikit dibandingkan dengan makhluk-makhluk yang tidak bisa diketahui oleh panca indera?
Pada kurun terakhir, yaitu sebelum para ilmuwan mampu menemukan adanya makhuk-makhluk hidup yang bisa dilihat dengan mikroskop, tak seorang pun yang percaya bahwa di dalam setetes air atau setetes darah ternyata terdapat beribu-ribu makhluk hidup yang manusia tidak mampu melihatnya. Ini berarti mata kita hanya melihat warna-warna yang terbatas, telinga kita hanya mampu mendengar frekuensi gelombang suara yang terbatas pula.

Yang bisa diketahui dalam hal ini adalah tanda-tanda keberadaan jin. Umpamanya, jin yang menampakkan diri pada seseorang di rumah atau ditempat-tempat tertentu. Atau anggota rumah/kantor yang sering kehilangan uang sementara menurut perkiraan sangat tidak mungkin ada orang yang mencuri. Atau orang sering kesurupan kalau memasuki tempat tersebut. Itu adalah bagian dari indikasi gangguan jin di tempat tersebut.

Jika sudah ada gangguan, maka solusi versi agama Islam yaitu Ruqyah Syar’iyyah,  yaitu membaca ayat-ayat Al Qur’an dan doa-doa. Selain cara itu tentu saja masih banyak solusi menurut agama dan keyakinan lainnya. Ada pun jika tidak ada gangguan di rumah atau di tempat kita, maka pendeteksian keberadaan jin-jin jahat tak perlu dilakukan.

Demikian juga masalah deteksi jin pada diri seseorang. Tidak ada orang yang dapat melihat keberadaan jin secara pasti dalam tubuh seseorang. Untuk memastikan keberadaan jin yang memasuki tubuh seseorang bisa dilihat tanda-tanda sebagai berikut:

Gejala waktu terjaga, di antaranya:

  • Badan terasa lemah, loyo, dan tidak ada gairah hidup.
  • Berat dan malas untuk beraktivitas, terutama untuk beribadah kepada Allah.
  • Banyak mengkhayal dan melamun, senyum dan bicara sendiri.
  • Tiba-tiba menangis atau tertawa tanpa sebab.
  • Sering merasa ada getaran, hawa dingin, atau panas, kesemutan, berdebar, dan sesak nafas saat membaca Kitab Suci yang menyebut Nama Tuhan.

Gejala waktu tidur, di antaranya adalah:

  • Banyak tidur dan mengantuk berat, atau sulit tidur tanpa sebab.
  • Sering mengigau dengan kata-kata kotor.
  • Melakukan gerakan-gerakan aneh, seperti mengunyah dengan keras sampai beradu gigi.
  • Sering bermimpi buruk dan seram atau seakan-akan jatuh dari tempat yang tinggi.
  • Bermimpi melihat binatang-binatang seperti ular, kucing, anjing, singa, serigala yang seakan-akan menyerangnya.
  • Bermimpi ditemui jin yang mengaku arwah nenek moyang atau tokoh tertentu.
  • Saat tidur merasa seperti ada yang mencekik lehernya atau menggelitikinya dan menendangnya.

Satu hal penting yang perlu mendapatkan perhatian pula adalah, bahwa jin terkadang mengindikasikan satu arti yang lebih luas; yang meliputi pula makhluk-makhluk hidup yang tidak bisa dilihat, yaitu mereka yang mempunyai kemampuan rasionalitas dan pemahaman maupun mereka yang tidak mempunyai kemampuan tersebut. Bahkan, sekelompok hewan yang bisa dilihat dengan mata telanjang dan biasanya bersembunyi di lubang-lubang termasuk pula ke dalam arti ini.

Bukti atas pernyataan di atas adalah sebuah hadits.  Rasulullah saw bersabda:  “Allah menciptakan jin dalam lima spesis: pertama, spesis seperti angin dan udara (yang tidak bisa diraba), kedua, spesis dengan bentuk ular-ular, ketiga, spesis dengan bentuk kala jengking, keempat, spesis dengan bentuk serangga-serangga bawah tanah, dan kelima, spesis yang mempunyai kedudukan sebagaimana manusia, yang pada kelompok ini terdapat pula hisab dan balasan.”

Dengan memperhatikan riwayat ini dan arti yang begitu luas tentang jin, banyak perkara yang telah dijelaskan dalam riwayat-riwayat dan cerita-cerita berkaitan dengan jin akan menjadi terpecahkan.

Misalnya dalam sebagian riwayat, sahabat nabi Ali bin Abi Thalib a.s. berkata, “Janganlah meminum air dari bagian gelas yang pecah atau dari bagian pegangannya, karena setan duduk pada bagian pegangan dan pada permukaan bagian yang pecah tersebut.”

Dengan memperhatikan bahwa setan adalah jin dan bagian gelas yang pecah serta pegangannya merupakan tempat berkumpulnya kuman dan bakteri, maka sangat tidak mungkin bila jin dan setan dalam arti umumnya meliputi pula makhluk-makhluk semacam ini, walaupun mempunyai makna yang khusus. Yaitu, sebuah makhluk yang mempunyai pemahaman, inteligensia, tanggung jawab, dan kewajiban.

Melihat begitu peliknya soal jin,.. akhirnya saya putuskan untuk menunda gagasan untuk menelorkan ide membuka PUSAT STUDI JIN ini. Barangkali ada pembaca yang ingin mendahului?

Wong Alus

Categories: PUSAT STUDI JIN | 25 Komentar

Buat website atau blog gratis di WordPress,com. The Adventure Journal Theme.