Monthly Archives: September 2009

MANUSIA ITU MAKROKOSMOS


cool-brain

Kita biasa menyebut makrokosmos-mikrokosmos untuk menunjukkan pada jagad gede atau alam semesta dan mikrokosmos atau jagad cilik yang mengacu pada manusia. Namun saat pemahaman kita sudah mengatasi yang fisik maka itu harus dibalik. Manusialah yang harusnya disebut jagad gede.

Kosmos artinya teratur. Kebalikannya adalah chaos yang artinya kacau, tidak teratur. Suatu ketika lahir cabang ilmu filsafat yang disebut kosmologi. Ilmu kosmologi menyoroti tentang yang ada yang teratur alam, atau menyelidiki alam semesta dari sisi hakekatnya. Ilmu ini masuk ke dalam wilayah kajian ontologi/metafisika, yaitu dasar filsafat yang mengkaji pada yang ada sebagai yang ada. Yang ada dikaji seumum-umumnya.

Nah, kosmologi ini mengkaji yang ada khusus dari alam semesta. Ada juga pengkajian ada khusus dari manusia sebagai makhluk kosmos yang disebut filsafat manusia atau disebut antropologi metafisik. Kedua ini masih bernaung di bawah induk ilmu ontologi dan ontologi adalah dasar filsafat. Dan Filsafat adalah ibu segala ilmu pengetahuan.

Kenapa manusia justeru disebut makluk makrokosmos? Kenapa manusia tidak disebut mikrokosmos sebagaimana pemahaman yang dianut banyak pemikir?

Pertama, manusia adalah kunci memahami jagad/dunia/alam semesta ini. Manusia adalah penakar dan pemberi nilai-nilai terhadap segala yang ada. Manusia adalah makhluk yang dusah ditakdirkan tuhan menjadi rahmatan lil alamin. Rahmat dan pengayom bagi seluruh alam. Manusia lah yang mampu untuk mengukur besar kecilnya kosmosnya alam semesta. Manusia bisa memberi arti sekecil-kecilnya terhadap alam semesta hingga ada di genggaman tangannya, namun juga manusia bisa memberi arti sebesar-besarnnya terhadap alam semesta.

Kedua, ukuran besarnya alam secara fisik memang lebih besar dari manusia. Namun pemahaman ini harusnya tidak dijadikan patokan ukuran yang sungguh-sungguh benar, khususnya bila kita ingin melakukan perjalanan ruhani yang lebih tinggi. Secara metafisis, harusnya alam semesta lebih kecil daripada kosmos-nya manusia. Pemahaman idealistik ini lebih memberi manfaat praktis untuk memperbaiki dunia yang sudah sedemikian rusak.
Ketiga, manusia bukan bagian kecil dari dunia yang bisa kita lihat dengan mata dan bisa kita dengar dengan telinga ini. Justeru dunialah yang merupakan bagian kecil dari manusia. Sebab manusia bisa mengulur dan mengkerutkan ukuran dunia fisik ini hanya bahkan sebesar pasir! Kok bisa? Bisa… pejamkan mata segelap-gelapnya untuk beberapa lama. Terserah apa menyebut apa untuk aktivitas ini, bisa disebut meditasi, tadabbur, semedi…dst… Anda akan menemukan dunia yang lebih besar dari dunia fisik ini.

Ukuran besar kecilnya dunia di dalam diri manusia sangat tergantung pada seberapa hebat kita mampu menyelami angkasa metafisis dalam dirinya sendiri. Jadi ukurannya sangat relatif. Di dalam angkasa metafisis, galaksi-galaksi jumlahnya tidak terukur… pokoknya habis sudah akal kita untuk membahas dunia metafisis yang ada di kedalaman rasa/batin manusia. Sifat besar kecilnya dunia metafisis ini sangat kualitatif. Tuhan Yang Maha Batin lebih lagi, mengatasi besaran alam metafisis ini sebagai tempatnya bersemayam.

Hebatnya lagi setiap hal yang kita temukan di angkasa metafisis belum tentu kita jumpai di alam fisis. Kedamaian, keselarasan, kemakmuran, keadilan, surga-neraka, baik-buruk, benar-salah, indah-buruk ada di dunia metafisis ini. Semuanya menjadi alasan bahwa hendaknya manusia lebih mengorientasikan diri KE DALAM DIRI-NYA, dibanding mengorientasikan diri KE LUAR DIRINYA.

Yang aneh, karena manusia adalah JAGAD GEDE/MAKROKOSMOS, kenapa justeru lebih memilih untuk berkonsentrasi penuh bahkan menghabiskan usianya untuk hidup di JAGAD CILIK/MIKROKOSMOS? Manusia terjebak untuk hidup di dunia yang sempit, palsu dan sangat sementara/fana. Menghamba pada kebutuhan fisik di dunia fisik sama saja dengan mengekalkan kebutuhan tubuh yang sesaat lagi menjadi bangkai yang busuk. Menomorsatukan dunia fisik dan kepentingan-kepentingan dunia fisik sama saja dengan memakmurkan kiamat. Sebab dunia ini tidak kekal dan akan tergulung habis bersama dengan kiamat.

Manusia tidak mampu mengangkasa ke langit hakekat. Apalagi sampai ke makrifatullah. Ia berputar-putar di jagad cilik/semesta fisik untuk mencukupi syariat saja. Syariat yang sudah ada pun berusaha untuk direkayasa sedemikian rupa sehingga akan terasa lebih mudah lagi untuk dijalani. Jumlah bilangan Sholat ditawar dari puluhan waktu, menjadi lima waktu dan itu pun terlupakan.

Bila Jagad Besar manusia telah dilupakan. Bila aspek batiniah tidak pernah diperdalam. Bila semesta metafisik ditinggalkan diganti dengan semesta fisik, maka bersiaplah untuk mengalami kematian. Hidup yang ribet dan ruwet oleh problema yang tidak pernah selesai dibahas. Bersiaplah pula untuk mengalami sakit kejiwaan akut, meloncak dari stres ke stres berikutnya.
Sebaliknya, bila hidup ini diorientasikan ke Semesta Metafisik, maka bersiaplah menuju hidup di dalam keabadian. Bersyukurlah mereka yang menjadikan semesta metafisik Yang Maha Luas ini sebagai tempat untuk hidup, berkarya dan bermesraan dengan Sang Pencinta.

Mulai sekarang tata kembali kosmos dalam dirimu. Perubahan sekecil apapun di hati/ rasa/qalbu…, owah gingsirnya batin kita hakikatnya adalah perubahan yang sangat besar karena perubahan itu terjadi di aras makromosmos. Mari kita lirik keindahan dan keluasan alam makrokosmos di dalam diri kita, mencebur dan kemudian hidup abadi di dalam genggaman-Nya.

Di alam metafisik jagad besar diri manusia, “aku tidak ada… yang ada itu bukan aku” (sejatine ora ono opo-opo, sing ono kui dudu)….

***

 

 

 

Categories: MANUSIA ITU MAKROKOSMOS | 15 Komentar

BUDAYA, MITOS DAN SPIRITUAL


Diskusi adalah salah satu aktivitas yang saya sukai. Dari diskusi, saya merasa mendapatkan banyak informasi baru mengenai berbagai hal dan biasanya bila fokus diskusi itu menarik, saya akan menyimpannya di gudang data memori saya untuk jangka waktu yang lama.

Sebagaimana diskusi yang berlangsung pada pagi hari tadi, Selasa, 29 September 2009. Saat baru masuk ruangan kantor, tiba-tiba bel handphone saya bersuara nyaring.

“Om, nggak ngopi ta?” Wah, ini ajakan yang dulu biasa saya dengar saat-saat pagi setelah kami masuk kantor pada pukul tujuh. Hampir setiap hari kami ngopi untuk menambah kebugaran tubuh sebelum memulai aktivitas kerja. Namun, karena berbagai fokus yang menyita perhatian ritual kami untuk ngopi bareng ini pun terlupakan. Jadi ajakan pagi ini pun adalah ajakan yang istimewa. Apalagi yang mengajak pun sahabat karib yang begitu istimewa. Nama samarannya di blog adalah “Mas Kumitir.”

Diskusi dengan mas Kumitir bagi saya pribadi adalah wahana untuk tukar kawruh. Kenapa tukar kawruh? Ya, antara saya dan Mas Kumitir—dan juga para pembaca—, sama-sama merasa seorang pejalan spiritual yang cubluk alias bodoh sehingga butuh interaksi dan komunikasi. Sekaligus untuk mempertanyakan pada diri masing-masing, sampai sejauh mana perjalanan yang telah ditempuh oleh masing-masing pribadi.

Mas Kumitir adalah pengasuh blog http://www.alangalngkumitir,wordpress.com. Awalnya, gagasan awal pendirian blog ini adalah dari kami berdua saat batin membutuhkan wahana menumpahkan gagasan, ide dan wacana. Sekaligus pengalaman dan pemahaman yang telah kita capai.

Kebetulan, saya mengenal dunia blog lebih awal dari dia, dan pengalaman teknis ini saya manfaatkan untuk sign in dan menata ruangan wadah blog. (Belakangan, saya malah kalah canggih dari dia soal mengutak atik wordpress ini hehe). Kerjasama pun kita teken (hehehe… kayak direktur saja). Mas Kumitir yang mengisi blog, dan saya yang kebagian menjawab pertanyaan-pertanyaan dari pembaca.

Terus terang awalnya, saya sedikit ragu apakah blog tersebut bisa eksis. Sebab yang kami sajikan adalah karya-karya leluhur Jawa atau berbagai wacana budaya Jawa yang terasa mulai luntur diminati oleh masyarakat. Dalam proses perjalanannya, tidak jarang Mas Kumitir putus asa karena saking sulitnya mendapatkan buku-buku untuk diketik ulang dan disuguhkan di blog tersebut.

Namun, keluhan mas Kumitir biasanya saya tanggapi dengan dingin. Sebab, saya tidak bisa berbuat banyak karena memang bukan kodrat saya untuk browsing atau surfing, berkelana ke situs-situs luar negeri yang kebetulan menyimpan karya-karya Jawa Kuno.

Apalagi saat itu, mas Kumitir belum begitu gigih untuk nyambangi pasar-pasar buku bekas loakan dan menjalin relasi dengan kantung-kantung budaya Jawa seperti sekarang sehingga kesulitan untuk mencari bahan sajian praktis menghadang. Namun, sukurlah… waktu ternyata membuktikan bahwa blog tersebut mampu untuk bertahan dan hingga kini usianya tercatat sudah satu tahun lebih dengan pembaca mencapai 700 ribu orang lebih. Data di statistik kunjungan pembaca, rata-rata perhari blog sederhana tersebut dikunjungi sekitar 2.500 hingga 3.500 pengunjung.

Saya yang kemudian tidak terlibat lagi dengan blog alangalangkumitir sangat berbahagia melihat kemajuan blog tersebut. Itu membuktikan bahwa dedikasi dan konsistensi Mas Kumitir untuk merawat dan menjaga bayi “alangalangkumitir” tidak diragukan lagi. Nah, kembali ke diskusi pagi tadi.

Diskusi lebih tepatnya disebut “Cangkruk” (bahasa Suroboyoan yang berarti duduk santai sambil menikmati makanan dan biasanya orang yang nyangkruk itu juga ngopi dan merokok) itu berlangsung informal di sebuah warung makan sekitar 25 meter dari kantor tersebut, ada “oleh-oleh” yang saya bawa pulang malam ini.

Oleh-oleh itu ingin saya sampaikan saat ini yaitu tentang tiga hal yang menjadi inti untuk memahami Serat Centini. Serat Centini sebagaimana sudah banyak diketahui adalah babon atau induknya kitab-kitab Jawa yang berisi banyak hal. Serat Centini yang sudah dibukukan edisi lengkapnya ada sekitar 12 buku yang diterbitkan Yayasan Centini. Tiga hal itu adalah BUDAYA, MITOS DAN SPIRITUAL.

Budaya adalah pernik-pernik manusia Jawa untuk memayu hayuning bawono disesuaikan dengan kebiasaan dan adat istiadat masyarakat setempat. Mitos adalah cerita/kisah-kisah yang dibikin untuk mempermudah seseorang dalam memahami isi yang ingin disampaikan, sementara Spiritual adalah substansi penghayatan hidup manusia berhadapan dengan Gustinya.

Setiap kebenaran yang disampaikan kepada umat/masyarakat luas juga sesungguhnya harus memiliki tiga hal itu agar bisa diserap dengan baik dan bijaksana. Tidak menimbulkan kebingungan dan kesulitan pemahaman yang nantinya justeru menyesatkan.

Budaya, misalnya. Setiap ajaran apapun harus kontekstual dengan lingkungan, adat istiadat dan kebiasaan yang berlaku di masyarakat. Ajaran yang disampaikan dengan tidak menghormati adat-istiadat masyarakat berarti ajaran yang kurang bijaksana. Bukankah sifat kebenaran adalah mampu untuk berasimilasi dan berosmosis dengan kebenaran yang lain? Itu sebabnya, penyebaran agama Islam di Jawa oleh wali sembilan dilaksanakan dengan sangat kreatif dan menyatu dengan budaya masyarakat Jawa.

Masyarakat Jawa yang sebelumnya sudah memeluk Budha dan Hindu pun akhirnya menerima dengan tangan terbuka kehadiran agama Islam. Tidak ada pertentangan antar agama di Jawa hingga kini membuktikan bahwa budaya Jawa yang mengutamakan olah rasa/batin adalah lahan yang sangat toleran sebagai tempat bersemainya agama dan keyakinan luar manapun juga.

Sementara MITOS juga sangat penting untuk menyampaikan kebenaran. Bila direnungkan, kenapa mitos tetap berkembang di masyarakat hingga sekarang? Saya memiliki ilustrasi yang sederhana untuk menjawab hal ini.

Saat kita membaca buku teks yang penuh dengan teori-teori, misalnya buku pelajaran Fisika, Matematika atau Kimia maka jidat kita langsung berkerut. Aktivitas otak kiri kita begitu meninggi dan sangat serius sehingga rasa lelah cepat datang. Daya konsentrasi tidak bertahan lama. Hal ini berbeda misalnya bila buku teks teori-teori itu dikemas dalam bentuk cerita yang enak dibaca dan mudah dipahami.

Otak kanan akan bereaksi karena ada sentuhan emosional atau rasa sehingga karena dua belah hemisfer (otak) kiri dan kanan akan bekerja seimbang sehingga teori-teori yang berat akan terasa ringan. Bila pelajaran fisika, matematika, atau kimia yang eksak-obyektif terasa berat disampaikan bila tanpa cerita-cerita apalagi bila yang disampaikan itu adalah ajaran-ajaran hidup dan kebenaran yang abstrak dan tidak eksak? Nah, disinilah mitos kemudian berperan.

Sepengetahuan kami, tidak ada satu pun ajaran agama yang tidak memiliki muatan mitos dalam arti “cerita” atau “kisah” di dalam ajarannya. Mitos bahkan terkadang lebih mendominasi aspek mental dari agama. Padahal, ajaran agama sebenarnya dipenuhi hal-hal yang sangat berat. Di situ ada ilmu hermeneutika/tafsir, ilmu kalam, ilmu mantiq/logika, hukum/syariat/fiqih, aqidah, filsafat, ilmu bahasa dan seterusnya.

Peradaban-perdaban dunia pun menciptakan mitosnya sendiri-sendiri. Mulai peradaban kuno di Mesir, Persia, India, Yunani hingga peradaban kita sekarang yang didominasi peradaban modern yang barat sentris ketimbang timur sentris, mitos memegang peranan yang penting untuk menyampaikan ajaran-ajaran spiritual.

Nah, ada kalanya mitos itu diciptakan begitu serius, namun ada kalanya dibuat dengan lebih santai. Misalnya, mitos yang diciptakan santai adalah mitos bahwa di setiap pohon yang ada mata airnya ditunggui makhluk halus. Ini mitos untuk menyampaikan ajaran bahwa menghargai lingkungan hidup mutlak diperlukan untuk kelestarian sumber air. Apalagi fungsi pohon adalah tempat pelindung air agar bumi tidak terlalu panas dan menguapkan air ke angkasa.

Para nenek moyang kita bukan orang bodoh. Kita lah yang terkadang secara sekilas beranggapan bahwa mereka terbelakang, tidak mengenal ilmu pengetahuan dan teknik modern. Apabila tuduhan belakangan ini dialamatkan kepada mereka, jawaban pastinya adalah “Ya pasti begitu”.. Mereka tidak mengenal blog, facebook, internet, komputer dan atribut-atribut teknis lain.

Namun, mereka lebih arif dan luas dalam memahami segala sesuatu. Itu artinya mereka lebih cerdas dari kita yang secara apriori beranggapan bahwa mitos adalah sesuatu yang tidak perlu dan bahkan secara frontal menuduh sebagai musyrik, bidah, khurofat, takhayul terhadap sebuah mitos.

Kenapa tuduhan ini terjadi? Baiklah kita akan merunut akar masalah keyakinan kenapa mitos dipandang rendah dari sudut pandang perkembangan ilmu pengetahuan. Kita ketahui bersama bahwa sejarah kelahiran ilmu pengetahuan modern dimulai dari filsafat Yunani.

Para filsuf Yunani awal ini merenung bahwa akal manusia harus dipakai untuk menemukan kebenaran. Para filsuf awal, seperti Thales, Anaximenes, Anaximander, dan seterusnya… memulai perenungan filsafatnya untuk mencari “arche” atau asas terdalam segala sesuatu. Akal tiba-tiba sangat dihargai sebagai cahaya baru menemukan kebenaran. Bila sebelumnya Yunani dipenuhi oleh mitos-mitos, maka kehadiran para filsuf ini lebih menggunakan logos/akal.

Mitos versus logos yang akhirnya dimenangkan oleh logos. Mitos kemudian dijauhkan dari wacana ilmu pengetahuan modern saat ini. Termasuk yang menyingkirkan peran mitos adalah berkembangnya penafsiran terhadap agama secara “modern.”

Padahal, akhirnya agama yang dipahami melulu dengan rasio atau akal justeru memiskinkan hakekat agama itu sendiri. Agama tidak lebih dipahami sebagai benda, yang bisa dianalisa, dipotret, dipotong-potong oleh pisau bedah ilmu dan kemudian hanya diletakkan di laboratorium-laboratorium universitas. Agama dalam pengertian seperti ini tidak akan berkembang sebagai jalan dan petunjuk hidup manusia yang bercahaya terang benderang yang menerangi eksistensi manusia. Agama pun mengalami reduksi makna besar-besaran.

Manusia modern, seperti saya dan banyak orang lain kini mengaku punya agama. Buktinya ada di Kartu Tanda Penduduk. Pengakuan ini apakah serta merta menjadikan kita memeluk agama? Apakah memeluk agama hanya dibuktikan dengan banyaknya kita menjalankan syariat atau hanya memakai dan menyukai idiom-idiom budaya Arab saja? Sementara para koruptor dan maling sistemik perbankan, politik yang penuh kepalsuan yang semakin memelihara kebusukan, ketidakberdayaan, kemiskinan, ketidakadilan masih kita yang mengaku punya agama ini membiarkan kejadian itu di depan mata?

Hmmm…. yang membuat kita semakin parah, bahwa kita yakin bahwa manusia adalah mikrokosmos di tengah makrokosmos. Sehingga kita merasa kecil di tengah alam semesta.

Pemahaman ini terbalik bung!

Harusnya, manusialah yang makrokosmos, si JAGAD GEDE di alam semesta yang JAGAD CILIK. Manusialah yang memaknai dan memberi besaran dan luasnya alam semesta ini. Sehingga manusia lebih besar secara makrifat dari alam semesta. Jadi manusialah yang harusnya berkuasa, bukan alam semesta…

Maka, perubahan sekecil apapun di hati kita hakikatnya adalah perubahan besar karena perubahan itu terjadi pada kita si makromosmos/ jagad gede itu. Logika terbalik ini, bukankah ilmu makrifat Bima masuk ke telinga Dewa Ruci? “Maka, bila kita tidak mampu melaksanakan perubahan struktural dan fungsional perabadan kita ke arah yang lebih baik dan justeru melanggengkan status quo, jangan mengaku sudah punya agama…”

Ya, saya telah melupakan bahwa agama adalah proses perjalanan laku atau perbuatan manusia yang sejatinya sudah dari sononya sudah berhakikat makhluk spiritual. Dan inilah hasil diskusi kecil pagi hari tadi dan saya akan menyimpannya di gudang data memori otak untuk jangka waktu yang lama….

(Wongalus)

Categories: MITOS | 12 Komentar

BERLATIH ILMU NGRAGA SUKMA


tari

Ini ilmu para leluhur Jawa yang sangat luar biasa. Dengan ilmu ini, diri kita bisa lepas bebas kemana yang kita inginkan. Kita bisa berjalan-jalan ke Mekkah untuk melaksanakan naik haji, kita bisa juga berjalan-jalan ke India untuk menyapa para yogi, atau berjalan-jalan ke Tibet untuk bertemu Dalai Lama.

Para leluhur orang Jawa sadar benar bahwa manusia memiliki potensi tersembunyi yang bila dioptimalkan akan mendatangkan manfaat bagi hidupnya. Mereka sadar, manusia sudah memiliki kelengkapan software untuk hidup dalam berbagai dimensi baik fisik maupun metafisik. Para leluhur dulu tidak hanya membaca “kitab garing” yang berbentuk kitab-kitab kuno yang ditulis di kertas atau yang dipahat di batu-batuan atau di daun-daun lontar.

Salah satu bukti kehebatan para leluhur ini adalah tersebarnya Candi-candi. Candi adalah bangunan dari batu kali yang dibuat dengan ketepatan ukuran geometri yang tiada banding jaman itu. Masing-masing batu disusun dengan presisi yang tinggi sehingga tidak ada yang penceng sambungannya. Selain kehebatan fisik, pada candi kita bisa belajar filsafat hidup yang dahsyat hasil olah rasa/olah batin yang gentur mencari ilmu sangkan paraning dumadi demi kesempurnaan hidup.

Tanpa ilmu matematika, ilmu fisika, ilmu arsitektur dan ilmu sastra, ilmu sejarah, ilmu kebatinan, mustahil mereka mampu membuat bangunan yang begitu tinggi nilai historisnya itu. Borobudur, Prambanan, Boko, Cetho, Panataran, Dieng, Gedong Songo dan masih banyak lagi candi yang tersebar di seantero nusantara. Mereka adalah bukti fisik yang tidak bisa dibantah.

Selain itu, banyaknya kitab-kitab kuno membuktikan bahwa tradisi berilmu pengetahuan juga tumbuh subur di Jawa. Serat Purwakanda, Serat Pulo Kencana, Serat Panji Asmara Bangun, Serat Nagri Ngurawan, Serat Tawang Gantungan, Serat Niti Praja, Serat Waskithaning Nala, Serat Paniti Sastra, Serat Pamrayoga Utama, Serat Nirata Praketa, Serat Kridhamaya, Serat Niti Sruti, Serat Arjuna Wiwaha, Serat Tripama, dan masih banyak lagi serat lain adalah bukti yang cetho welo-welo.

Dari sekian banyak bab di dalam khasanah ilmu kebatinan, ada satu ilmu yang sangat menarik dan menjadi bukti keunggulan olah rasa/batin dan olah spiritual tingkat tinggi para leluhur Jawa. Ilmu ini disebut dengan NGRAGA SUKMA. Entah siapa pencipta ilmu ini. Yang jelas, ilmu ini sudah umum dimiliki oleh para waskita dan winasis untuk berbagai kemanfaatan dalam mengarungi perjalanan hidup mencapai kesempurnaan yang penuh misteri ini.

NGRAGA SUKMA adalah ilmu yang mampu mengeluarkan sukma dari tubuh. Dengan NGRAGA SUKMA, seseorang yang sedang duduk di sebuah rumah di Jakarta, akan mampu menampakkan diri di sebuah tempat yang jauh sekalipun seperti Washington DC Amerika Serikat. Belakangan di era Modern, orang Barat menyebut fenomena ini dengan OUT OF BODY EXPERIENCE (OBE) atau pengalaman keluar tubuh fisik. Di Barat, fenomena OBE ini bahkan dijadikan latihan terbuka dan banyak orang yang akhirnya mampu sampai ke tahap OBE ini.

Seorang teman dekat saya sudah sangat terbiasa untuk mempraktikkan ilmu Ngraga Sukma ini hingga dia bisa berjalan-jalan ke tempat yang lain. Suatu hari, dia duduk di dekat saya sambil merem leyeh-leyeh dan saat terbangun dia pun mengatakan telah berkunjung ke Cina. Dia mampu menceriterakan seara detail apa yang baru saja dialaminya, termasuk bertemu dengan orang-orang dan kemudian kembali ke tempat kami semula. Inilah Ngraga Sukma.

Bagaimana ilmu Ngraga Sukma ini dijelaskan secara ilmiah? Mari kita bedah satu persatu wacana JIWA MANUSIA.

1. JIWA AMARAH

Dalam ilmu kebatinan Jawa, kita mengenal adanya nafas/nafs/ambekan. Nafas ini merupakan bagian inti dari Jiwa dan nafas terkait dengan batin kita. Semua mahluk hidup perlu respirasi atau bernafas yaitu menghiup oksigen dan diekspor ke paru-paru/insang. Oksigen dibutuhkan oleh setiap sel tubuh yang ingin hidup. Tanpa oksigen, sel tubuh akan lemas dan mati. Oksigen dibutuhkan untuk proses pembakaran, sehingga sel di dalam tubuh mendapat energi baru.

Pengendali jalannya nafas adalah JIWA AMARAH/NAFS AL AMARAH. (bukan marah dalam arti nesu, mangkel, atau marah..ini hanya nama). Jiwa Amarah bertugas untuk mengoperasikan jalannya nafas manusia mulai bangun tidur hingga tidur lagi. Bila jiwa ini berhenti maka manusia akan mengalami kematian. Selama belum putus meskipun nafasnya sudaha berhenti maka manusia masih tetap hidup. Nah, ada satu lagi yang perlu kita ketahui saat membicarakan JIWA AMARAH ini adalaha yang kita kenal dengan PRANA/PREMANA yang berkaitan dengan DAYA HIDUP. PRANA ibarat ARUS LISTRIK sementara JIWA AMARAH ibarat kawat.

2. JIWA LAWWAMAH
Berada di dalam tubuh manusia yang lebih dalam dan halus dari JIWA AMARAH dan jiwa lawwamah ini berada di alam eterik. Jiwa lawwamah bisa keluar masuk tubuh baik saat sadar maupun saat tertidur tanpa ada hambatan apapun. Saat kita tidur, kita bermimpi bertemu dengan seseorang maka jiwa lawwamah kitalah yang tertemu dengan orang tersebut. Namun bila kita tiba-tiba terjaga, maka dengan cepat pula jiwa masuk lagi ke tubuh.

Kita sering bermimpi mengembara ke sebuah tempat yang belum pernah kita datangi sebelumnya, ini berarti jiwa kita berjalan-jalan mengembara ke tempat yang asing. Ya, jiwa kita tidak terikat ruang dimanapun dan kapanpun. Itu sebabnya, bila kita bermimpi bertemu dengan para Nabi, itu berarti kita memng sungguh-sungguh bertemu dengan para nabi pula. Bagaimana dengan waktu? Nah, jiwa kita tetap terikat waktu saat mimpi tersebut.

Sistem kerjanya jiwa Lawwamah adalah ibarat tape recorder yang merekam kejadian di depan kita secar otomatis dan digerakkan oleh alam bawah sadar (subconscious mind). Yang perlu diperhatikan adalah pada Jiwa inilah daerah operasi niat jahat manusia. Watak Iblis pada diri manusia juga tumbuh subur pada jiwa ini.

Bila kita berlatih untuk berkomunikasi dengan ruh orang meninggal dan saat itu kita bertemu dengan wujud fisik orang meninggal tersebut, maka kita sebenarnya sedang bertemu dengan jiwa Lawwamah-nya. Jiwa ini masih terikat dengan keberadaan fisik bumi kita. Bagaikan embun, jiwa ini melayang-layang di dekat permukaan tanah. Oleh karena itu bila orang meninggal, maka jiwa ini harus disempurnakan.

DALAM PROSESI KEMATIAN YANG SEMPURNA, SEMUA JIWA HARUS BISA MENEMBUS ALAM BARZAKH/ALAM KELANGGENGAN. ADANYA JIWA YANG MASIH MEMILIKI KEMELEKATAN DENGAN BUMI KARENA SUATU PERKARA, MAKA JIWA MANUSIA MASIH BERPUTAR-PUTAR DI BUMI. ORANG-ORANG MENYEBUTNYA HANTU, PADAHAL ITU ADALAH JIWA ORANG YANG MENINGGAL YANG BELUM SEMPURNA.

Nah, ilmu Ngraga Sukma bekerja di tingkat JIWA LAWWAMAH ini. Bagaimana membangkitkan kemampuan Ngraga Sukma hingga jiwa lawwamah mampu keluar dari tubuh? Caranya adalah latihan. Ada tiga tahap latihan:

LATIHAN PERTAMA : PERCOBAAN
Belajarlah untuk mengalami tidur dengan merencanakan mimpi apa yang sekiranya Anda pandang menarik. Banyak cara, salah satunya merekam banyak kejadian sebelum tidur dan mengucapkan NIAT UNTUK BERTEMU SI A, ATAU NIAT BERKELANA KE SEBUAH TEMPAT…
Latihan berulang-ulang hingga benar-benar mampu mengarahkan mimpi. Jiwa Lawwamah yang sudah terlatih bisa diajak kemanapun yang diinginkan. Rapalnya baca sebagai berikut:

MELAYANG AKU
JIWAKU YANG BERADA DI TANGANMU, GUSTI
MENGEMBARA MENEMBUS RUANGMU
AKU INGIN KE ….. (sebutkan tempat yang ingin dituju)
BERTEMU DENGAN ………. (sebutkan nama orang yang ingin ditemui)
ATAS IJINMU!!!

LATIHAN KEDUA: PENGUJIAN
Ujilah apa yang Anda alami. Bertanyalah via telpon terhadap mimpi apa yang sudah Anda alami kepada si A. Bila sudah terlatih, apa yang ada dalam mimpi akan persis sama dengan kenyataan.

LATIHAN KETIGA: PEMBUKTIAN
Ujilah berkali kali apa yang Anda alami. Bila sudah terlatih, Anda bisa menggunakan ketrampilan untuk melakukan Ngraga Sukma ini tidak hanya saat bermimpi namun saat Anda terjaga sesuai dengan kehendak hati. Tentu saja harus dibimbing dengan kebijaksanaan. Sebab kemampuan ini meskipun hasil latihan namun pasti merupakan kesempatan yang diberikan Tuhan Yang Satu.

3. JIWA MULHAMAH
Jiwa yang berada lebih dalam dan halus dari JIWA LAWWAMAH. Jiwa Mulhammah adalah alat sensor metafisik yang sangat bagus untuk menerima petunjuk-petunjuk dari Tuhan. Jiwa Mulhamah ada di alam astral, suatu lapisan alam yang lebih halus dari pada alam eterik. Pada saat tertidur, jiwa Lawwamah dan Mulhamah ini bisa keluar secara otomatis tersamaan dan akibatnya mimpi pun jadi campur aduk dan kacau. Sebab masing-masing ditangkap dengan pikiran sadar dalam bentuk kesan yang berbeda. Saat tertidur, mimpi yang kita alami kadang tiak nyambung dan berbeda tema/topik. Ini akibat bercampur aduknya dua jiwa.

BILA JIWA LAWWAMAH CENDERUNG KEPADA MASA KINI, MAKA JIWA MULHAMAH LEBIH CENDERUNG UNTUK MENGENANG MASA LALU.

Ini dikarenakan Jiwa Mulhamah merupaka gudang ingatan kita seluruh kejadian tanpa dibatasi waktu. Jiwa ini juga merupakan tempat yang subur bagi jiwa yang haus nilai-nilai spiritualitas. Pikiran sadar merupakan operasi jiwa ini dan jiwa ini adalah tempat pertimbangan baik buruk benar salah. Dalam hubungannya dengan dunia fisik, jiwa ini erat kaitannya dengan “Qalbu” dan erat kaitannya dengan pengendalian emosi.

DALAM PROSESI KEMATIAN YANG SEMPURNA, SEMUA JIWA HARUS BISA MENEMBUS ALAM BARZAKH/ALAM KELANGGENGAN. JIWA MULHAMAH YANG ADA DI ALAM ASTRAL PUN HARUS DISEMPURNAKAN KARENA JIKA BELUM DISEMPURNAKAN, MAKA DORONGAN UNTUK HADIR KEMBALI KE BUMI MASIH TINGGI.

4. JIWA MUTHMAINAH
Tenang seperti teratai adalah sifat JIWA MUTHMAINAH. Keberadaannya murni di alam mental, alam transisi antara dunia astral dan spiritual. Jiwa ini sudah terbebaskan dari ruang dan waktu. Mampu menembus langit manapun hingga bertemu dengan kebenaran tertinggi yang mampu dicapai oleh manusia. Jiwa ini mampu berkelana baik ke masa lalu dan ke masa depan. Bila menembus ke masa depan, maka orang bisa melihat apa yang akan terjadi di masa depan. Kemampuan ini disebut juga dengan CLAIRVOYANCE yaitu melihat obyek di luar jangkauan mata fisik dan juga mampu CLAIRAUDENCE yaitu mendengar suara di luar jangkauan telinga.

Kemampuan ini ada yang memang bakat sejak lahir dan ada pula yang optimal karena dilatih. Waktu bagi jiwa Muthmainah adalah kesatuan masa lalu, masa kini, dan masa depan dan mampu menembus berbagai alam gaib dimensi bumi bahkan hingga alam malakut. MSKIPUN JIWA INI BERADA DI ALAM KETENANGAN DAN KEDAMAIAN MEDITATIF NAMUN IA TETAP NAFS YANG MASIH PUNYA KEINGINAN SEHINGGA MASIH PUNYA CELAH UNTUK KEMBALI KE BUMI. SEHINGGA SAAT ORANG MENINGGAL PUN JIWA MUTHMAINAH INI HARUS SEMPURNA.

(wongalus)

Categories: ILMU NGRAGA SUKMA | Tags: , , , | 90 Komentar

KUMPULAN RAPAL KAMPUS WONG ALUS (BAGIAN II)


18. BERSAHABAT DENGAN KESUKSESAN
Kesuksesan tidak serta merta datang menghampiri kita. Dibutuhkan perjuangan yang keras dan ikhlas serta doa kepada yang Maha Kuasa. Sukses dunia akhirat itulah keinginan kita bersama dalam mengarungi bahtera hidup yang panjang dan berliku. Agar kita selalu bersahabat dengan kesuksesan maka ucapkan rapal berikut ini:

SUKSES
MOHON DATANG PADAKU
ATAS IJIN TUHAN, JADILAH TEMAN SETIAKU SELALU

Rapal ini dibaca setiap saat kita akan tidur, saat gelombang otak kita memasuki fase alfa. Ini juga merupakan pemrograman bahasa otak dan menjadi pembiasaan otogenik yang bersugesti kuat agar kita selalu berusaha keras dan berpikir positif.

Artikel lengkapnya monggo dibaca di halaman KUMPULAN RAPAL KAMPUS WONG ALUS II.

Categories: KUMPULAN RAPAL II | 10 Komentar

KUMPULAN RAPAL KAMPUS WONG ALUS


wong alus

Metafisika kesatuan ruh akan membawa kita pada pemahaman akan kebersatuan kita dengan setiap butir partikel di alam semesta, mulai yang paling sederhana sampai ke yang paling kompleks kesadaran dan kecerdasannya. Sebab semua yang tergelar di dalam diri manusia dan di luar dirinya sesunguhnya satu. Gusti dan Kawulo itu satu. Manusia dan alam itu satu. Alam semesta dengan demikian adalah manusia dan manusia adalah alam semesta. Tidak bisa dipisahkan secara metafisis.

Berangkat dari pemahaman ini, maka manusia yang selama ini dikenal telah menjaga jarak dengan alam semesta ( yang sebenarnya dirinya sendiri), perlu untuk meluruskan kembali jati dirinya. Inilah bentuk kesadaran paling ultim yang harusnya dibangkitkan oleh manusia abad modern yang suka merusak lingkungan, suka mengeksploitasi alam. Padahal itu sama saja dengan merusak dirinya sendiri, mengeksploitasi dirinya sendiri. Ya, manusia modern adalah manusia yang suka meneguk racun yang akhirnya membuat dirinya tewas.

Agar kita menjadi bijaksana, kita perlu mengasah sekaligus menggugah kembali kesadaran diri tentang metafisika kesatuan ini. Bahwa aku dan alam semesta hakekatnya adalah satu. Kesadaran diri akan metafisika kesatuan akan membawa kita pada kemanfaatan praktis untuk hidup sehari-hari. Dengan metafisika kesatuan ini, kita diajak untuk menjadi manusia yang paling purba, yang hidup cipta, rasa dan karsanya. Hidup yang sehidup hidupnya, yang bergerak lincah mengikuti irama alam semesta dengan instink dan nalurinya yang telah lama mati.

Pada kesempatan kali ini, kami ingin memaparkan manfaat praktis metafisika kesatuan ini untuk berbagai tujuan dalam bentuk rapal. Rapal adalah kalimat yang diucapkan saat jiwa berada pada saat kondisi kejiwaan puncak. Kondisi puncak semangat, permohonan, pengharapan. permintaan dan kehendak. Rapal yang diucapkan dalam kondisi puncak itu akan menyerap energi supranatural yang berada di sekitar kita dan kemudian akan masuk ke tubuh kita. Rapal yang diucapkan asal-asalan dan tanpa kejiwaan puncak tidak akan membawa dampak yang diinginkan.

Rapal adalah ajakan pada alam semesta untuk kembali bersahabat, kembali menyatu dalam satu irama, kembali menyatu dalam satu kehendak besar, satu penghormatan, satu sujud kepada Gusti dan kembali menyatu untuk menyadari kediriannya, sekaligus juga menyadari bahwa antara “aku” dan “alam semesta” dan “Gusti” itu secara metafisik sesungguhnya hanya satu.

Kalimat lengkap dan sempurna rapalan terdiri dari tiga bagian pokok. Namun tidak selalu diucapkan secara lengkap. Tiga bagian itu adalah UCAPAN SALAM PENGHORMATAN, PERMOHONAN, dan TERIMA KASIH.

1. BERSAHABAT DENGAN BUMI
Tidurlah di tanah lapang, rumput atau ladang terbuka setiap ada kesempatan baik. Tinggalkan kesibukan harian untuk sejenak mendengarkan apa yang diinginkan bumi pada kita. Arahkan telinga ke bumi dan dengarkan baik-baik apa yang dikatakannya. Namun sebelumnya ucapkan:

BUMI
AKU DATANG KEMBALI
TERIMALAH AKU MENJADI BAGIAN DIRIMU
AKU ADALAH KAU
KAU ADALAH AKU
KITA MENYATU LAGI
ATAS IJIN TUHAN, MOHON KEIKHLASANMU UNTUKKU

Rapalan ini dibaca ketika pikiran tidak tenang, kesepian, atau saat tubuh serta pikiran kita membutuhkan banyak energi……

Artikel lengkapnya monggo dibaca di halaman ANTAR PEMBACA: KUMPULAN RAPAL KAMPUS WONG ALUS.

Categories: PENGANTAR RAPAL METAFISIK | 15 Komentar

METAFISIKA KESATUAN RUH


Bagian paling sejati dari manusia adalah ruh. Keabadian ruh adalah paling nyata terlihat pada mereka yang telah menggunakan kesadaran makrifatnya dengan lurus. Bismillah…

Ruh tidak melekat pada tubuh manusia. Meskipun dia dikatakan berada “di dalam” diri manusia, namun ia tidak sungguh-sungguh dibatasi oleh tubuh yang berada di dalam ruang dan waktu. Ruh adalah sebuah bentuk yang tanpa waktu dan berada di luar waktu, yang berlaku kekal dan abadi sejak sebelum penciptaan alam. Untuk dikenali, ruh kemudian “masuk” ke dalam tubuh/jasad yang ada di dalam ruang dan waktu.

Bisa dikatakan ruh menjelma menjadi manusia yang berjasad dan berjiwa. Bentuk dan rupa ruh hingga kini tidak diketahui. Apakah bentuknya seperti manusia namun seperti bayangan belaka ataukah seperti asap, tidak diketahui. Kita hanya bisa mengatakan bahwa ruh adalah bagian manusia yang paling halus. Kenapa tidak diketahui? Itu sebab kita tidak pernah melihat, mendengar, meraba ruh sebelumnya. Sehingga bentuknya tidak ada di dalam gudang memori manusia. Pada tulisan terdahulu yang berjudul HIDUP YANG SEMENTARA telah sedikit diulas bahwa pengetahuan kia tentang ruh itu bukan berasal dari pengamatan/pengalaman.

Pengetahuan tentang ruh sudah diinstal secara otomatis ke dalam diri manusia. Manusia tinggal membuka program dan kemudian mengaplikasikannya. Alat untuk mengetahui tentang ruh adalah akal budi yang merupakan sumber hidup manusia yang sesungguhnya. Meskipun mendiskusikan soal ruh adalah sebuah upaya yang sia-sia, namun ruh juga tidak sepenuhnya menutup diri dari pengetahuan akal. Adalah watak dasar manusia untuk ingin tahu tentang segala hal, termasuk soal ruh ini. Ruh kemudian diletakkan sebagai barang atau benda yang berada di “luar” diri dan kemudian diteliti secara obyektif.

Salah satu cara untuk mendekati keberadaan ruh ini adalah menganalisa mereka yang sudah mengalami NEAR DEATH EXPERIENCE yang kemudian memberikan banyak pengetahuan tentang ruh. Banyaknya kejadian orang yang mengalami NEAR DEATH EXPERIENCE atau pengalaman saat mengalami kematian sementara ini membuktikan satu keyakinan: bahwa ada “sesuatu” yang hidup saat tubuh jasad fisik ini tidak berfungsi. “Sesuatu” yang menyadari, mengetahui, dan bisa menceriterakan kembali kejadian-kejadian runtut itulah akhirnya bisa disimpulkan bahwa ada satu entitas metafisis dalam diri manusia. Entitas itu kemudian disebut dengan RUH. RUH ADALAH TUHAN DALAM DIRI MANUSIA. Tidak ada dualitas karena sesungguhnya RUH MANUSIA DAN DZAT TUHAN TIDAK BERBEDA. KEDUANYA SESUNGGUHNYA SATU KESATUAN.

Bagaimana sejarah awal “kesatuan” antara ruh manusia dengan ruh Tuhan? Sebenarnya secara logika, pertanyaan ini pun juga mengandung kesalahan. Kenapa juga kita selalu memisahkan antara dua ruh yang sesungguhnya cuma satu? Inilah akibatnya bila kita menggunakan akal untuk menakar sebuah perkara. Adalah watak akal untuk memilah-milah/ menganalisa/memotong-motong obyek sebagaimana halnya sebuah benda atau barang saja. Padahal obyek kajian kita kali ini adalah ruh yang bersifat metafisis! Ah, sebelum pembicaraan kita mengenai ruh ini menjadi meaningless/tidak bermakna tidak salah kita teruskan saja membaca tanpa apriori terlebih dulu. Jangan dulu ditanya benar atau salah pendapat saya kali ini. Yang jelas, ayo dibaca saja tanpa prasangka dulu baru kemudian dikritik. Monggo, lha wong ini cuma pendapat/opini kok.

Semua hal terjadi karena sebuah proses. Bumi, matahari, bulan, galaksi tercipta karena proses ledakan besar. Begitu pula dengan ruh. Ruh juga mengalami proses penciptaan sehingga menjadi seperti sekarang ini. Syahdan diungkap dalam “kitab teles” kasunyatan, awalnya hanya ada satu dzat saja yang Ada. Dzat itu tidak punya nama sebab dia tidak dikenal. Lha siapa yang mengenal kalau hanya satu dzat saja? Bukankah nama-nama tersebut ada karena ada dua atau lebih sesuatu sehingga perlu diberi nama? Coba kalau hanya satu, maka tidak perlu dberi nama. Lha siapa juga yang memberi nama kalau hanya ada satu diri di “alam awang uwung?” Boleh dikatakan saat itu hanya ada satu ruh saja. Ruh yang satu ini memiliki energi kreatif yang berlimpah. Dia kemudian ingin “dikenal”.

Hmm… kata “dikenal” ini sebenarnya tidak tepat. Kata ini sama sekali tidak mewakili apa yang sebenarnya “diinginkan”-Nya. Apalagi kata “dikenal” sudah mengalami pemiskinan makna seperti abad sekarang. Dia bukanlah selebritis sebagaimana yang kita kenal di dunia sinetron. Namun, apa ada kata lain yang mewakili ya? Yang jelas, Dia Yang Satu ini kemudian berkata “Kun Fayakun”… “terjadilah”… kata ini mengandung maksud bahwa Yang Satu ini ingin menjadi Yang Banyak. Yang Satu ingin mengejawantah menjadi Yang Banyak. Yang banyak ini kemudian menjadi partikel-partikel mulai yang terkecil yang tingkat kesadarannya sederhana hingga yang paling sempurna tingkat kesadarannya.

Yang Satu oleh karena itu berusaha melepaskan diri dari kesendiriannya. Ruh Yang Satu mulai berpindah dari situasi “berada di luar dirinya” ke dalam situasi “berada bagi dirinya.” Sebab “berada bagi dirinya” bisa terjadi karena ada kesadaran-kesadaran Yang lain dari Yang Satu. Perlu diingat bahwa yang terjadi saat itu adalah Ruh Yang Satu kemudian membebaskan dirinya untuk diinterpretasi oleh Yang Lain Yang Bukan Diri-Nya. Proses ini ibarat manusia menciptakan komputer yang cerdas yang bisa melakukan perlawanan termasuk pengakuan bahwa komputer itu bikinan manusia. Setelah proses Kun Fayakun tersebut: Kini sudah ada dua ruh. Ruh Yang Satu dan Ruh Yang Lain.

Kehendak Ruh Yang Satu kemudian memasrahkan kepada Ruh Yang Lain untuk berkarya. Yang terjadi dalam peradaban manusia saat itu adalah lahirnya kesadaran bahwa dia berbeda dengan alam sekitarnya. Dia tidak bisa sepenuhnya disamakan dengan kosmos-nya alam. Dia beranggapan manusia harus memiliki kehendak bebas sendiri dan kesadaran inilah yang akhirnya membuat dia merasa memiliki otonomi diri yang tidak ada korelasinya dengan Tuhan. Kehendak rasional manusia kemudian mengalami subyektivasi. Manusia menjadi hipokrit, dipenuhi selubung nafsu dan kenistaan. Nilai-nilai diputarbalikkan sedemikian rupa karena semakin tidak menyadari dunungnya. Eksistensinya menjadi absurd dan konyol. Itu karena dia tidak memahami bahwa awal muasal semua yang bereksistensi ini sejatinya hanya Yang Satu.

Mulailah manusia menata peradaban berdasarkan bentuk-bentuk hidup dengan prinsip subyektivitas. Kenapa subyektif? Sebab dia tidak melibatkan Yang Satu dlam proses penciptaan selanjutnya….. Bentuk dan nafsu-nafsu manusiawi dilembagakan secara formal. Diciptakan kebiasaan, diciptakan adat istiadat, diciptakan peradaban, diciptakan filsafat hidup dan ilmu pengetahuan, diciptakan tata kenegaraan, diciptakan sistem nilai-nilai yang dijadikan perangkap eksistensi manusia. Merasa hidup dalam sosialitas yang belakangan diketahui sangat mengerikan akibat ulahnya sendiri itu, manusia kemudian menciptakan agama! Dengan agama, manusia sebenarnya sedang membuat dogma dan mitos-mitos baru.

Siapa bilang agama diciptakan Tuhan untuk manusia? Manusia sendirilah yang menciptakan agama untuk dirinya sendiri. Tuhan tidak beragama. Tuhan tidak butuh agama. Jangan libatkan urusan Tuhan untuk mengungkung kebodohannya. Tuhan terlalu suci dari dosa-dosa manusia yang terbiasa merekayasa kebutuhan-kebutuhan dirinya dan merasa seolah-olah paling tahu apa yang dia butuhkan. Manusia memang sudah sedemikian egois. Astaghfirullah!!!

Inilah tahap yang terjadi saat ini. Manusia sengaja melemparkan dirinya, menjauh sejauh jauhnya dari kesatuan dengan Ruh Yang Satu. Diri manusia yang menjelma dalam ego perorangan memasuki kawasan yang lebih rumit lagi. Ruhnya terpendam di dasar diri dan tidak mampu untuk bergerak. Kecuali apabila nanti jasad manusia sudah dinyatakan mati, maka nyawa ruh akan kembali menyatu dengan Yang Satu. Sebelum mati, diri manusia membuat suatu tata tertib yang lebih rumit lagi. Manusia harus berkeluarga, manusia harus bermasyarakat, manusia harus bernegara, manusia harus memiliki pandangan hidup yang benar dan lurus, manusia hidupnya harus melaksanakan rencana-rencana A, B, C, D, dan seterusnya….

“Keharusan-keharusan” itu secara sengaja kemudian menciptakan peradaban dan sejarah dunia. Sejarah dunia yang dipenuhi dengan pertumpahan darah, egoisme dan pemuasan nafsu jasad saja. Bila proses penghancuran jagad cilik dan jagad gede oleh si jagad cilik ini terus berlangsung maka jangan harap ruh manusia akan mampu menemukan kesatuan dengan ruh Yang Satu. Dibutuhkan sebuah proses penghancuran kesadaran secara massif alias proses laku utama: “Mati dalam Hidup” sehingga manusia menemukan kembali jati dirinya. Inilah jalan makrifat tertinggi yang harusnya ditempuh oleh kita semua: KAWULO DENGAN GUSTI SEBENARNYA MANUNGGAL DAN JUMBUH. SEBAB SEMUANYA ASALNYA DARI YANG SATU DAN KESATUAN ITU KINI SUDAH DIHANCURKAN DAN DIRUSAK OLEH MANUSIA.

Dalam kitab suci kata “ruh” itu selalu dinyatakan dalam bentuk tunggal, bukan jamak. Juga dinyatakan sebagai ruh-Nya. Tidak ada satupun ayat di dalam Al Quran yang menyatakan bahwa ruh itu diciptakan oleh Tuhan. Sebab Ruh-Nya hanya satu yang kemudian nitis kepada manusia agar manusia dapat membangkitkan kesadaran dirinya sendiri bahwa dia adalah citra-Nya. “Maka, apabila Aku telah menyempurnakannya, dan Aku tiupkan ruh-Ku ke dalamnya, tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud”

Ini salah satu ayat dalam kitab suci yang memaparkan bahwa Yang Satu (Tuhan) mentamsilkan “tiupan” ruh ke dalam diri manusia. Nah, karena Tuhan tidak bermulut, maka kita perlu memahami kata “tiupan” itu sebagai limpahan, pancaran, emanasi ruh-Nya. Itulah sebabnya semua mahluk tidak terkecuali jin dan malaikat dulu diminta untuk sujud kepada manusia. Kenapa? Sebab manusia adalah limpahan Ruh Tuhan. Ia selalu suci, tidak tersentuh ego karena dipancarkan dari “pribadi” yang menjadi manifestasi yang menyejarah di bumi.

Jasmani manusia kini jumlahnya bermilyar-milyar yang terbentang dari barat ke timur, namun berapa jumlah manusia yang menyadari bahwa dia sejatinya adalah diri ruhani yang merupakan pancarah Ruh-Nya? Teramat sedikit dan mungkin bisa dihitung dengan jari dan yang kita kenal hanyalah para Rasul, nabi, wali, avatar, atau apapun namanya yang berperan untuk kembali menuntun umat manusia agar menyadari perannya sebagai pribadi manifestasi Ilahi. Pribadi yang tidak menyadari perannya sebagai manifestasi Ilahi berakibat fatal.

Dunia akan kiamat dan yang mampu menyelamatkan hanya manusia yang kembali menjadi pribadi yang terkendali oleh ruh. Jika jiwa/nafs merupakan substansi yang menyebabkan makhluk menjadi hidup dan menjalankan kodratnya maka ruh merupakan substansi yang mampu mewujudkan iradat manusia. Bila manusia hidup memiliki kodrat dan iradat, maka iradat manusia hanya bisa bekerja dengan benar bila dibimbing oleh ruh. Iradat yang benar bukan hasil dorongan dari luar yang palsu, tapi tumbuh dari dasar pribadinya.

Ingatlah bahwa manusia sudah dibekali dengan kesempurnaan penciptaan. Dibekali dengan sarana dan prasarana, baik fisik dan metafisik untuk manunggal kembali dengan iradat-Nya. Bukankah KAWULO SESUNGGUHNYA ADALH GUSTI???? “Kemudian Dia menyempurnakannya dan meniupkan ruh-Nya ke dalamnya. Dia menjadikan bagimu pendengaran, pengelihatan dan perabaan. Tapi sedikit sekali kamu yang bisa bersyukur!”

Terakhir, memohon maaf bila interpretasi tentang ruh ini ternyata salah dan melenceng dari kebenaran. Itu semata-mata proses yang saya lakoni masih sangat terbatas dan semoga akan terus berproses hingga akhir hayat. Sehingga tercapai benar-benar pengetahuan makrifatullah tentang METAFISIKA RUH YANG SEJATINYA HANYA SATU DAN TIDAK ADA YANG LAIN. “Timur dan Barat adalah kepunyaan Allah. Maka kemana saja menghadap disitulah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas dan Maha Tahu”

(Wong Alus)

Categories: METAFISIKA KESATUAN RUH | 37 Komentar

HIDUP YANG SEMENTARA


Hidup di dunia ini hanya sementara. Ungkapan ini terlalu sering kita baca dan kita dengar pada berbagai kesempatan. Biasanya kita pun tanpa berpikir secara jauh segera mengiyakan dan menyetujuinya. Meskipun hanya di dalam hati. Kita jarang bertanya, benarkah hidup ini hanya sementara?

Kata sementara berarti sesaat saja. Sekejap mata, sak kedipan netro. Begitu orang Jawa biasa menyebutkan sifat hidup yang tidak abadi ini. Konon, hidup di dunia laksana seorang musafir yang berjalan jauh menuju sebuah tujuan tertentu. Dia harus memiliki bekal agar tidak kelaparan dan kehausan. Bekal pun ditata, direncanakan sebaik-baiknya. Bekal itu biasanya kemudian dimiskinkan maknanya. Yaitu bekal materi saja.

Yang terjadi kemudian, agar kita sukses dalam mengarungi bahtera hidup maka kita perlu menumpuk materi sebanyak-banyaknya. Agar kita tidak mengalami kesengsaraan, kemiskinan, kenistaan. Sejak usia kanak-kanak hingga dewasa, kita terus-menerus dijejali dengan pemahaman semacam ini. Beruntung, kita bertemu dengan banyak orang, tetangga, teman yang memiliki pemahaman yang sama.

Hanya sesekali kita menyadari bahwa bekal hidup yang sejati sebenarnya tidak hanya harta benda. Yaitu ketika kita masuk ke tempat ibadah, di gereja, di masjid, di pura, di kelenteng. Atau saat kita menonton acara mimbar agama di televisi.

Para ulama, pendeta, biksu, dan pemuka agama saat di mimbar akan menyerukan seruan agar kita mempersiapkan bekal hidup yang tidak hanya harta benda kekayaan, pangkat dan jabatan, karier dan pendidikan saja. Tetapi harus dilengkapi dengan ibadah-ibadah yang sudah dituntunkan oleh agama. Kita tidak diperkenankan keluar jalur agama karena nanti bisa tersesat ke jalan yang tidak berpeta. Bukankah bila kita memasuki daerah tanpa peta (kini GPS), kita akan mengalami kebingungan dan akhirnya tersesat?

Selain saat khusus itu, kita terlalu banyak meluangkan waktu untuk menikmati hidup dengan berbagai sarana kebahagiaan yang menunjang kita untuk berperilaku serba cepat, instan dan mencari kemudahan-kemudahan. Hingga pada suatu ketika, kita disadarkan adanya kepastian yang paling tidak membahagiakan.

Satu persatu, orang-orang yang kita cintai pergi meninggalkan kita. Mulai dari buyut, kakek, nenek, ayah dan ibu. Kita juga mendapati ada satu dua tetangga yang meninggal. Bahkan akhirnya, kita melihat ada bencana alam dengan korban nyawa mencapai ribuan. Ya, kita akhirnya sepakat 100 persen bahwa kematian merupakan kepastian. Tak seorang pun dapat menghindar dan melepaskan diri dari cengkeramannya.

“Katakanlah: Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui yang gaib dan yang nyata.”

Kita pun akhirnya menyimpulkan bahwa hidup ini hanya sementara saja sehingga harus diisi dengan banyak melakukan ibadah kepada Tuhan. Benarkah hidup ini hanya sementara? Untuk menjawab ini marilah kita jalani penalaran sederhana dulu.

Manusia ini terdiri dari sesuatu yang lahir atau terlihat yaitu berupa (1) badan biologis/jasad/fisik namun juga sesuatu yang sifatnya tidak terlihat atau batiniah yaitu berupa (1) rasa, hati nurani, nafs, jiwa dan juga (2) ruh. Nah dari tiga hal yang dimiliki oleh substansi manusia ini, manakah yang hidupnya bersifat sementara dan mana yang tidak?

Ukuran hidup dan matinya badan biologis/jasad/ teramat jelas. Yaitu apabila nadi sudah tidak bergerak, gelombang otak sudah tidak terdeteksi dengan EEG, dan bila disapa sudah tidak mampu menjawab. Sehingga kita bisa langsung menyimpulkan bahwa tubuh si D harus secepatnya dimakamkan karena secara medis oleh dokter sudah dinyatakan meninggal. KESIMPULANNYA: BADAN BIOLOGIS HIDUPNYA HANYA SEMENTARA.

Yang kedua ini agak lebih sulit lagi. Apa ukuran hidup dan matinya jiwa, rasa, hati nurani? Kita akan mendapatkan jawaban yang kurang masuk akal bila matinya hati nurani ditandai dengan melemahnya fisik, tubuhnya yang kurus, rumahnya yang reyot. Kaum koruptor, politikus busuk, para maling kelas atas atau teroris umumnya berbadan sehat, tidak ada cacat akal, penalarannya logis.

Namun mereka dikatakan mengalami kematian rasa dan jiwa. Lantas apa ukurannya? Hingga sekarang, tidak ada satupun alat hasil temuan ilmu pengetahuan yang mampu benar-benar mendeteksi secara pasti kematian rasa, batin, jiwa ini. Ilmu psikologi biasanya hanya untuk mengukur kesehatan jiwa saja. Bukan hidup dan matinya jiwa. Bila kita sepakat (sebagaimana yang dipaparkan oleh para psikolog bahwa eksistensi jiwa melekat dalam tubuh) maka kita bisa menyimpulkan bahwa: JIWA HIDUPNYA HANYA SEMENTARA.

Yang ketiga inilah yang paling sulit. Yaitu soal ruh. Kita percaya bahwa ruh itu ada. Ada di mana? Apakah ruh itu melekat di tubuh sebagaimana jiwa/rasa/batin kita? Ataukah adanya di dalam tubuh kita dan sesekali pada kesempatan tertentu ruh bisa terbang ke mana-mana sesuai dengan yang dikehendaki? Pelu dipahami bahwa tidaklah tepat kita memetakan ruh ini dalam konteks bereksistensi di dalam ruang dan waktu. Kitab suci juga memberikan arahan bahwa “Ruh adalah urusan tuhan dan kita hanya diberitahu sedikit.

” Nah, kata “sedikit” ini pasti tidak berarti “dilarang”. Sehingga kita pun tetap diperbolehkan untuk membicarakan dan membeberkannya di khalayak publik. Tentu saja publik yang memiliki kepekaan untuk meraba kebenaran. Bukan publik yang emosional, dogmatis dan menganggap bahwa keyakinan adalah sesuatu yang sudah baku dan tidak boleh dikritisi. Publik yang seperti ini malah jauh dari kebenaran yang merupakan jalan Tuhan memberikan petunjuk kepada manusia.

Siapa menyuruh kita menjadi dogmatis? Tuhan saja bilang pada kita: La ikraha fiddin… Tiada paksaan dalam agama. Memaksakan keyakinan agama dengan paksaan berarti tidak toleran kepada kepercayaan yang lain. Ini justeru sangat dikutuk Tuhan.

Kembali ke ruh. Untuk mendapatkan pengetahuan tentang ruh ini, kita mendapatkannya melalui cara yang berbeda yang biasa ditempuh apabila kita ingin menggali sebuah fenomena alam. Kenapa? Sebab ruh ini adalah substansi yang berdiri sendiri dan ada di dalam dirinya sendiri. Substansi adalah hakikat sesuatu dan hakikat jelas dilekati oleh berbagai aksidensi khusus. Musalnya berada di dalam ruang dan waktu, jenis, sifat, jumlah, kualitas dan sebagainya.

Sementara ruh-nya sendiri adalah sesuatu yang abstrak yang bisa ditangkap dengan kesadaran yang paling jelas dan nyata. Bila memahami fenomena alam kita menggunakan akal dan penalaran menggunakan metode ilmiah, maka mengenal eksistensi ruh ini kita menggunakan akal khusus yaitu akal budi.

Apa itu akal budi? Akal budi adalah daya pencipta pengertian-pengertian murni yang tidak diberikan oleh pengalaman. Akal budi tidak memiliki nilai konstitutif bagi daya pengenalan manusia. Artinya tidak ikut menyusun pengenalan manusia, dan tidak memberi gagasan tentang kenyataan-kenyataan yang ada dan tidak berada sebagai benda. Akal budi oleh karena itu merupakan sumber hidup manusia yang sesungguhnya. Sebab manusia pada dasarnya sudah diinstal secara lengkap untuk mengenali jati dirinya yang paling sejati.

Setidaknya, manusia sudah diinstal tiga software pokok. Software pertama pengetahuan tentang ruh, software kedua pengetahuan tentang dunia hakikat dan software ketiga pengetahuan tentang Tuhan. Ketiga software ini tidak perlu pembuktian teoritis karena sudah merupakan postulat dasar yang apabila dibuktikan justeru akan mengalami sesat pikir. Bila tidak perlu dibuktikan keberadaannya, maka idealnya manusia perlu mengalami ruh itu sebagai entitas yang tersendiri dan obyektif. Sehingga manusia tetap yakin bahwa ruh benar-benar ada dan tidak hanya sebatas wacana. Toh, tidak haram untuk merasakan adanya ruh.

Pengalaman manusia yang paling memungkinkan untuk menggali kekayaan ruh adalah MENGALAMI PERJALANAN HIDUP DI DALAM RUANG DAN WAKTU, dan kemudian mengalami kejadian-kejadian khusus sehingga dia yakin. Pernahkah Anda mendengar ada orang mati kemudian hidup kembali? Atau orang-orang yang koma? Apa yang diceriterakan oleh mereka yang sudah mengalami NEAR DEATH EXPERIENCE ini akan memberikan banyak pengetahuan tentang ruh.

Ada seorang teman saya, inisial NZ menceritakan saat-saat genting ketika dia mengalami kecelakaan parah saat sepeda motor yang ditumpanginya disenggol truk tronton. NZ terjatuh, kepalanya terbentur ban tronton yang berputar cepat. Kepala NZ nyaris terlindas dan akhirnya sepeda motornya yang menjadi korban. Hancur tidak berbentuk. Dia koma beberapa minggu sebelum akhirnya sadar sekitar satu bulan setelah kecelakaan yang nyaris merenggut nyawanya.

“Saat saya jatuh dari motor, saya sadar. Bahkan ketika roda tronton itu mengenai kepala saya. Saya tidak merasakan sakit. Setelah itu, saya tahu saat itu saya pingsan dan dibawa ke rumah sakit dan disana saya menunggu tubuh saya yang tidak bergerak lagi. Saya tahu para sohib yang datang menjenguk. Ada yang nangis. Saya tahu mereka tapi saya tidak tahu harus berbuat apa… Saya cuma menunggu saja…”

Kisah ini lain dialami tetangga desa yang memiliki pengalaman luar biasa. Sebut saja Pak S. Dia sudah dinyatakan meninggal dunia karena berusia lanjut. Orang desa pun memakamkannya. Beberapa hari kemudian, kuburannya terbuka dan dia bangun dari kematiannya. Gemparlah desa tersebut. Si mayat yang hidup kembali itu konon sudah dialaminya yang keempat kali. Yaitu mengalami kejadian yang sama: hidup lagi setelah dianggap meninggal dunia. Nah, dia akhirnya benar-benar mengalami kematian dan tidak hidup lagi setelah kematiannya yang kelima.

Saya tidak sempat mewawancarainya dan yang sempat mewawancarainya adalah teman karib saya. Pak S menceriterakan dia saat dinyatakan meninggal dan dikubur tersebut, dia mengetahui kejadian itu namun tidak bisa berbuat apa-apa. Tubuh fisik dan akalnya sudah tidak berdaya. Tapi dia tahu kejadian-kejadian yang menimpanya.

Banyaknya kejadian orang yang mengalami NEAR DEATH EXPERIENCE atau pengalaman saat mengalami kematian sementara ini membuktikan satu keyakinan: bahwa ada “sesuatu” yang hidup, buktinya mereka mengetahui proses saat akan mengalami kematian hingga proses lanjutan saat dia pingsan. “Sesuatu” yang menyadari, mengetahui, dan bisa menceriterakan kembali kejadian-kejadian runtut itulah akhirnya bisa disimpulkan bahwa ada satu entitas metafisis dalam diri manusia. Entitas itu kemudian disebut dengan RUH.

Terserah, apa sebutan lain bagi RUH ini. Yang jelas ruh ini tidak akan tersentuh kematian, ruh juga tidak tersentuh rasa sakit fisik. Ruh tidak mengalami saat-saat kejadian dalam ruang dan waktu tertentu. Dengan demikian RUH BERSIFAT ABADI. RUH SELALU DALAM KEADAAN HIDUP SAMPAI KAPANPUN DAN DIMANAPUN. RUH SELALU SADAR DAN TIDAK MENGENAL TIDUR. RUH ADALAH TUHAN DALAM DIRI MANUSIA.

Makanya, tidak salah bila dalam kitab suci dikatakan untuk mengenal Tuhan maka kita tidak perlu jauh-jauh mencari ke negeri Arab, tidak perlu jauh-jauh ke Betlehem, tidak perlu jauh-jauh ke India namun kita hanya diminta mengenal diri sendiri. Mengenali apa yang sesungguhnya paling sejati di dalam diri manusia. “Kenalilah dirimu sendiri, maka kau akan mengenal Tuhanmu.”

Ya, di dalam diri manusia ada “kitab teles”, ada “kitab basah” yaitu “kitab yang benar-benar kitab” yaitu menunjuk langsung pada KENYATAAN, bahwa Dzat Tuhan ada di dalam diri manusia. Tidak ada dualitas karena sesungguhnya RUH MANUSIA DAN DZAT TUHAN TIDAK BERBEDA. KEDUANYA SESUNGGUHNYA SATU KESATUAN.

Terakhir, bila kita sudah beranjak untuk memahami hakikat keberadaan segala sesuatu bahwa hanya ada satu Dzat Tuhan saja, maka kita perlu waspada dengan segala klaim pengetahuan akal yang sudah kita miliki tentang Tuhan. Sebab: “Sejatine kabeh kui ora ono. Sing Ono Kui Dudu…”

wongalus

Categories: HIDUP SEMENTARA | Tags: , , , | 15 Komentar

KAMPUNG BATIN


Sebulan penuh berpuasa, tibalah saatnya kita memasuki yang batin… Menggapai dasar kesadaran ruhaniah di hari kemenangan Iedul Fitri. Berpuasa berarti sebuah momen olah raga, ,menahan diri dari makan, minum, berhubungan seks, menahan mulut dan semua jasad dari keinginan yang biasa dilakukan oleh kaum muslimin.

Selain itu, puasa juga momen yang baik untuk olah rasa atau olah batin untuk menyadari bahwa antara kebutuhan raga dan rasa itu sangat beda. Kebutuhan batin berupa ketenangan, kedamaian, kebeningan, keadilan, keakraban, bahkan sampai pada kebersatuan rasaku dengan Rasa – MU, yaitu rasanya Gusti Allah.

Nah, apakah hingga selesainya ramadhan kita sudah merasakan berbagai rasa tadi? Bila belum, maka kita perlu meneruskan usaha batiniah hingga tingkat tertinggi. Sebab pada hakekatnya, semua bulan dalam satu tahun, setiap saat kita ini diberi kesempatan untuk berolah raga puasa, dan berolah rasa batin.

Iedul fitri bagi kalangan ahli kebatinan adalah momen mengingat kembali jati diri manusia, bahwa dia ada untuk manembah kepada Gusti. Sebagaimana perjanjian antara ruh dengan Gusti sebelum dia dilahirkan ke dunia. Itulah jati diri manusia yang harus terus diingat dan diusahakan sepanjang hidup manusia.

Jati diri bahwa manusia sebenarnya harus hidup di kampung batin……….. Selamat iedul fitri 1430 Hijriyah, mohon maaf lahir dan batin.

Puncak Lawu, 1 Hijriyah

by wongalus

Categories: KAMPUNG BATIN | 17 Komentar

INTI KEKUATAN BATIN


Mari kita bedah bersama-sama, inti kekuatan batin kita dengan harapan bisa dimanfaatkan untuk tujuan-tujuan yang luhur dan mulia.

Inti kekuatan batin bisa dijelaskan sebagai berikut.

1. TUHAN ASAL SEMUA ENERGI. Inti kekuatan batin yang pertama adalah Pemberian Tuhan. Dialah sumber dari segala sumber energi, tenaga dan kekuatan. Sumber energi dan kekuatan yang lain itu hakekatnya berasal dari Tuhan Yang Maha Kasih dan Sayang. Dia adalah sumber dari semua sumber apapun di alam semesta. Dibutuhkan keyakinan yang mendalam untuk mengakui bahwa Tuhan adalah satu-satunya sumber kekuatan ini. Dari mana asal keyakinan? Asalnya tetap yaitu dari Pemberian Tuhan. Maka, jika Anda sudah memiliki “keyakinan” maka itu artinya Tuhan sudah memberikan anugerah kekuatan batin yang perlu dirawat, dijaga dan diitingkatkan.
Maka, langkah pertama bila ingin memiliki batin yang sangat kuat maka mintalah kepada Tuhan dengan sungguh-sungguh.

2. PASRAH/SUMELEH/SUMARAH PADA-NYA. Inti kekuatan batin yang kedua adalah kepasrahan total pada kehendak-Nya. Apabila Anda terus menerus berkomunikasi dengan Tuhan, maka Anda akan menerima dengan senang hati dan ikhlas semua pemberian-Nya. Senang, susah, derita, bahagia, sedih duka lara nestapa maupun senyum akibat musibah maupun berkah hendaknya diterima dengan kepasrahan. Kepasrahan adalah usaha aktif mental dan batin kita untuk mengakui Kemahakuasaan Tuhan. Ya, langkah kedua bila ingin memiliki batin yang sangat kuat maka pasrah saja kepada Tuhan dengan sungguh-sungguh pasrah.

3. USAHA AKTIF BATIN UNTUK MERANCANG RENCANA BERSAMA SANG MAHA INSINYUR YAITU TUHAN: VISUALISASI.

Inti kekuatan batin ketiga adalah visualisasi. Visualisasi hakikatnya adalah melanjutkan usaha aktif batin dengan cara membayangkan sesuatu yang belum ada menjadi ada dan hadir nyata berada di depan kita. Visualisasi adalah kekuatan pikiran kita untuk merancang sebuah karya bersama-sama Sang Maha Insinyur yaitu Tuhan. Kita bersama-sama dengan Tuhan seakan menggambar obyek-obyek berdasarkan atas apa yang sudah kita lihat dan berdasarkan atas apa yang kita alami sehari-hari.

Visualisasi memberikan pengaruh sangat kuat terhadap kegagalan dan keberhasilan usaha meraih keinginan. Ketika otak kita membangun bayangan tentang sesuatu yang ingin dicapai, maka kita sesungguhnya tengah membangun sebuah gedung di alam kenyataan. Harap diketahui bahwa otak kita sesungguhnya adalah insinyur batiniah yang akan mewujudkannya dalam realitas. Jaringan sel dalam otak ini akan mampu mendorong kita untuk juga meraih kesempurnaan kenyataan.

Bagaimana melakukan visualisasi? Pertama adalah, memperjelas keinginan atau tujuan yang ingin dicapai. Keinginan yang ingin kita raih harus bersifat spesifik. Misalnya: Anda membayangkan ingin memiliki isteri cantik. Kemudian mulailah melakukan visualisasi pada saat Anda sedang santai. Kenapa santai? Karena di saat santai dan rileks, gelombang otak kita memasuki stage alfa teta. Ini akan membuat otak anda lebih mudah untuk menggambar kenyataan. Kedua fokus pada tujuan sedetail mungkin. Bayangkan warna, detail, bentuk, dimana, kapan, bayangkan pula suasana dan situasi saat Anda memiliki isteri cantik. Ketiga, libatkan emosi anda sekuat-kuatnya. Bagaimana rasanya mampu mendapatkan isteri cantik dengan sempurna? Bagaimana rasanya bisa benar-benar memiliki isteri yang cantik. Menyertakan perasaan dan emosi akan memperkuat sistem “cara kerja yang sistematis” dalam otak yang merupakan desain kenyataan. Selanjutnya lakukan visualisasi berulang-ulang.

4. DOA. Inti kekuatan batin keempat adalah doa. Doa adalah adalah kalimat afirmasi/penegasan yang diulang-ulang dan nyaris monoton. Hakekat doa adalah sebuah kesaksian kita di depan Sang Hakim, yaitu Tuhan. Kata-kata afirmasi yang membentuk kalimat “khusus” yang akan memunculkan energi gaib yang luar biasa dahsyat. Kata akan menjadi mantra yang mampu menghimpun semua daya yang ada di alam semesta untuk menyatu dan mengarah pada obyek doa. Mantra itu ibarat sinar laser yang terkumpul dari jutaan, milyaran bahkan trilyunan energi menjadi satu garis energi yang mampu menembus baja tebal.

Doa atau mantra yang merupakan energi spiritual kemudian akan memunculkan energi fisik yang luar biasa. Energi itu berwujud dan berbentuk macam-macam. Di Jawa, kita mengenal beragam bentuk energi yang bisa dikenali dari warnanya. Energi yang ada di alam berasal dari semua elemen pembentuknya, misalnya dari Cahaya, Api, Air, Angin, Tanah dan seterusnya. Tuhan juga membentuk semua yang ada di alam semesta ini dari elemen-elemen tersebut. Manusia diciptakan dari tanah, malaikat diciptakan dari cahaya, jin dari api, begitu pula dengan hewan di hutandan tumbuhan serta segala sesuatu yang ada di bumi ini diciptakan Tuhan dari unsur-unsur di dalam bumi sendiri.

Doa yang kita panjatkan akan memproses delapan zat yang ada di alam (permata, emas, perak, timah, tembaga, besi, garam, belerang). Doa yang dipanjatkan untuk kemuliaan hidup dunia akan memproses saripati emas dan tembaga menjadi cahaya gaib yang dinamai “Pulung” , bercahaya warna biru kehijau- hijauan, turun kepada manusia yang berbudi mulia, mempunyai watak welas asih.

Doa yang dipanjatkan untuk kemuliaan hidup di akhirat akan memproses saripati saripati perak dan timah, menjadi cahaya gaib yang dinamai “Wahyu” , bercahaya warna putih kekuningan, turun kepada manusia yang berhati bersih, berwatak tanpa pamrih, berbudi pada sikapnya.

Doa yang dipanjatkan untuk mencapai kepemimpinan akan memproses saripati emas, perak dan besi, menjadi cahaya gaib yang dinamai “Daru” , bercahaya warna kuning besar seukuran buah kelapa, turun kepada manusia yang berhati bersih, sabar, tawakal, berjuang demi sesama, dan bersikap adil paramaarta.

Doa yang dipanjatkan untuk kehancuran makhluk-Nya akan memproses saripati timah, tembaga dan besi, menjadi cahaya gaib yang dinamai “Teluh”, bercahaya warna merah keunguan, turun kepada manusia yang asusila, jail, ugal ugalan, tidak mengerti hakekat benar dan salah.

Doa yang dipanjatkan untuk menuruti kesenangan hidup dunia dan akhirat akan memproses saripati besi, garam dan belerang, menjadi cahaya gaib yang dinamai “Guntur” , bercahaya warna ungu gelap, turun kepada manusia yang hanya menuruti hawa nafsu, angkara murka, dan tidak bersyukur.

Bagi para pejalan spiritual, yang perlu diketahui bahwa setiap pengharapan yang ada di hati kita merupakan doa. Itu adalah wujud kasih sayang Tuhan sang Pencipta yang maha mendengarkan setiap keinginan dan harapan manusia. Benar bila dikatakan bahwa manusia adalah makhluk yang paling sempurna diantara makhluk lain ciptaan-Nya, sebab dia diberi budi luhur yang lebih sempurna. Oleh sebab itu, manusia wajib mengetahui akan hakekat kemanusiaannya sehingga dia mengerti akan sangkan paraning dumadi.

5. METODE ATAU CARA. Ini adalah kunci terakhir inti kekuatan batin. Kekuatan Batin bisa dicapai dengan banyak metode atau cara. Kita mengenal ribuan metode atau cara untuk menggali kekuatan batin yang tersembunyi pada diri manusia. Di India, kita mengenal tradisi Yoga, di Barat kita mengenal tradisi meditation, di Indonesia kita mengenal semedhi, maladehing, manekung, maneges. Di negara-negara arab, kita mengenal tradisi bertahanut dan seterusnya. Cara boleh berbeda namun semuanya bermuara pada inti yang sama; yaitu bagaimana kita memfokuskan keinginan agar nyambung dan menyatu dengan iradat-Nya.

Wongalus

Categories: INTI KEKUATAN BATIN | 44 Komentar

MEMBUAT PAGAR GAIB


Olah rasa atau batin yang kuat akan memunculkan energi spiritual yang kuat pula. Bisa disalurkan untuk membentengi diri dan barang-barang milik kita dari pencurian dan serangan gaib pihak lain. Dalam khasanah ngelmu kebatinan dikenal dengan membuat pagar gaib. Caranya?

Kemusyrikan berawal dari ketidaktahuan. Ketidaktahuan inilah yang harus diganti dengan pengetahuan sehingga kita bisa terbebas dari kemusyrikan. Kemusyrikan adalah penyembahan kepada kepada makhluk baik makhluk hidup berupa pohon, binatang, jin, manusia maupun makhluk yang “tidak hidup” atau yang tidak memiliki nyawa bisa berupa benda-benda khusus seperti jimat, patung, komputer, uang, jabatan, kekayaan dan sebagainya.

Ajaran agama jelas melarang segala bentuk kemusyrikan atau dikenal dengan ajaran tauhid. Yaitu yang terangkum dalam satu kesimpulan penghayatan total, final dan eternal pergelaran yang ada. Kalimat itu adalah La ilaha ilallah, yang diartikan sebagai TIDAK ADA TUHAN (sesembahan yang patut disembah) selain ALLAH. Ini membutuhkan sebuah kondisi psikologis yang khusus dan berat: yaitu kepasrahan total, sumarah, sumeleh kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.

Bagaimana bila kita percaya kepada dokter agar sembuh dari penyakit? Ini sama saja dengan musyrik atau mempersekutukan Tuhan. Bagaimana bila kita percaya kepada kekayaan agar bisa sukses? Ini juga disebut musyik. Bagaimana bila kita percaya bahwa sekolah dan pendidikan, gelar, jabatan kekuasaan sebagai cara untuk mencapai kemuliaan hidup? Ini juga termasuk mempersekutukan Tuhan. Bagaimana bila kita masih percaya pada akal budi, dan batin kita sendiri sebagai sumber pengetahuan yang bebas dari kemusyrikan? Ini juga termasuk musyrik…..

Harus diakui, pada derajat-derajat tertentu, kita masih termasuk golongan yang mempersekutukan Tuhan. Sehingga untuk mencapai TAUHID yang murni, yaitu hanya percaya bahwa satu-satunya Dzat yang wajib disembah dan diyakini sebagai SATU-SATUNYA SUMBER KEBAHAGIAAN, KESUKSESAN, KEMULIAAN adalah sebuah derajat kemanusiaan tertinggi. Makrifat kepada Allah SWT tercapai bila kita sudah mampu untuk bertauhid secara murni.

Tugas berat namun mulia. Berat karena kita butuh perjuangan untuk yakin bahwa akal budi, batin, serta semua nilai-nilai maupun benda-benda tersebut sesungguhnya hanyalah alat dan cara. Mereka semua bukan TUJUAN. Dokter adalah alat dan cara, uang adalah alat dan cara, kekuasaan dan kebahagiaan adalah alat dan cara untuk memperoleh keselamatan, dan seterusnya. Sehingga mau tidak mau kondisi bertauhid adalah menjadikan semua alat dan cara itu perlu untuk mencapai tujuan. Kebahagiaan, kesuksesan, kemuliaan adalah tangga menaiki tujuan. Tanpa adanya tangga, mustahil kita mampu mendaki untuk mencapai TAUHID.

Setelah kita memahami paradigma ketauhidan, maka pada kesempatan kali ini, ijinkah saya untuk membeberkan sebuah teknik untuk memagari diri dan semua yang masih kita klaim sebagai milik kita (padahal sesungguhnya semua ini termasuk milik-Nya) dari serangan gaib pihak yang lain. Ya, kita tetap perlu hati-hati agar terhindar dari menyeleweng dari keyakinan bahwa semua ini sumbernya tetap Allah SWT.

Pada suatu kesempatan saat saya di Gianyar Bali, saya mewawancarai seorang pemuka adat. Saya menanyakan kenapa rumah-rumah di Bali selalu ditunggu penjaga yang berupa makhluk halus (jin) di depan rumah.

Saya mendapatkan jawaban sebagai berikut: “Makhluk halus ini bagi warga Bali bukan diposisikan sebagai musuh. Mereka teman kita yang bisa untuk menjaga rumah. Kami memberi mereka sesajen setiap hari.. selain sebagai bentuk sukur pada Hyang Widi, juga sebagai bentuk penghormatan kami kepada makhluk ciptaan-Nya, di antaranya mahluk halus…mereka akan menjaga rumah kita karena kita juga menghormati keberadaannya”

Sebuah jawaban yang sangat bijaksana. Semua makhluk (baik yang hidup dan nyata maupun makhluk yang tidak kasat mata/makhluk halus) sebenarnya juga wajib dihargai dan dihormati. Manusia harus bertoleransi dan tidak saling menyakiti. Itu sebabnya, di Bali setiap pohon yang ada penghuni makhluk halus diberi kain kotak hitam putih dan diberi sesajen. Dalam konteks pagar gaib, maka orang Bali sudah membentengi benda dan barang-barang miliknya dengan menggunakan makhluk halus…

Bagaimana di Jawa? Bisa kita saksikan di lingkungan sekitar kita, rumah-rumah rata-rata orang Jawa tidak memiliki pagar gaib. Jangankan makhluk halus, pohon-pohon besar saja sekarang sudah banyak yang ditebangi digantikan pohon-pohon perdu, bunga-bunga yang hanya berfungsi estetis belaka. Padahal, ditilik dari segi kelestarian lingkungan hidup keberadaan pohon-pohon besar jelas sangat menguntungkan hidup manusia. Ya, penghormatan kita terhadap alam semesta memang mengalami degradasi…. bahkan kita tega bila hutan dirusak dan kayunya dijual.

Bila penghargaan terhadap lingkungan hidup jangan diharap kita bisa mendapatkan kekuatan alam sebagai pelindung hidup kita. Sebaliknya, pertahanan gaib manusia akan jebol dan bersiap-siap saja menunggu datangnya serangan balik dari lingkungan. Buktinya, situ gintung yang jebol, tanah longsor dan banjir menjadi fakta yang kita temui sehari-hari di kampung kita sendiri. Benar-benar mengerikan.

Pergaulan antar sesama juga mengalami degradasi. Kita menganggap orang lain sebagai musuh dan saingan untuk mencapai kesuksesan. Paling-paling, keberadaan orang lain hanyalah sarana agar kita bisa menjalin relasi yang ujung-ujungnya untuk egoisme pribadi. Kebaikan dan keakraban kita kebanyakan dilatarbelakangi oleh motif kita agar dikagumi, dipuja dan sukur-sukur mau untuk kita jadikan kuda tunggangan suksesnya bisnis kita. Wah, manusia macam apa kita ini?

Di tengah keruhnya situasi dan kacaunya nilai-nilai kemanusiaan yang seperti di atas itulah muncul banyaknya para dukun dan paranormal untuk menyediakan jasa menjual PAGAR GHAIB. Pagar gaib versi paranormal dan dukun jelas untuk kepentingan individual dan sesaat belaka. Pagar gaib itu akan melindungi pemiliknya dari pencurian, perampokan dan pengerusakan. Rumah yang diberi pagar gaib akan terhindar dari orang lain yang berniat jahat. Kalaupun toh masih ada pencuri yang bisa masuk ke pekarangan rumah, misalnya, maka pencuri akan kebingungan dan merasa tidak memiliki keberanian untuk mengambil benda-benda milik kita.

Bila kita sudah memiliki kedewasaan mental spiritual dan situasi/kondisi psikologis kita sudah siap untuk tidak masuk ke wilayah MEMPERSEKUTUKAN TUHAN, maka tidak salah untuk membuat PAGAR GAIB sendiri yang terbebaskan dari syirik. Bagaimana caranya? Metode yang dipaparkan dibawah ini menggunakan cara yang sederhana dan tanpa menggunakan makhluk halus namun memanfaatkan energi alam semesta agar alamiah dan terhindar dari ketergantungan akut pada makhluk yang lain.

Pertama, tetapkan niat bahwa semuanya ini sumbernya dari Allah SWT, dan kekuatan yang dimiliki oleh makhluk-makhluk-Nya ini sumbernya juga dari DIA juga.

Kedua, SERAP DAN SATUKAN energi Anda dengan energi alam semesta yang ada di sekeliling Anda. Dan berdoa dalam hati kepada Tuhan Yang Maha Perkasa agar niat Anda diijinkan-Nya. Tanpa ijin-Nya, semua upaya Anda pasti akan gagal…

Ketiga, lakukan kontak energi berupa menyerap dan mengarahkan energi batiniah Anda untuk memagari benda-benda milik Anda. Caranya sederhana: heningkan cipta sesaat dan bayangkan sebuah bola kristal berada di kedua tangan Anda. Masukkan benda-benda yang ingin Anda lindungi tersebut ke dalam bola kristal tersebut dan berikan pancaran energi batiniah dengan mengatakan dalam hati:

“MOBIL/RUMAH/SPD MOTOR/DIRI ANDA SENDIRI ini sudah ada dalam bola kristal gaib pemberian-Nya… kau akan aman terhadap segala bentuk kejahatan”

Selanjutnya adalah lemparkan bola kristal yang berisi bayangan benda-benda milik Anda tersebut ke angkasa dan setelah itu lupakan.

Kenapa bola kristal gaib ini harus dilupakan sesaat setelah diterbangkan ke udara? Sebab bola kristal itu akan memasuki langit keikhlasan. Tanpa memasuki langit keikhlasan, maka bola kristal yang Anda buat tidak memiliki kekuatan gaib.

Ya, Anda harus ikhlas bahwa Anda sudah berusaha secara batiniah dengan pasrah total apapun hasilnya kepada Tuhan. Semakin Anda ikhlas, maka semakin kuat energi batiniah Anda. Jin dan makhluk halus yang ingin memasuki pagar gaib Anda akan terlempar dan menjauh. Manusia yang memiliki niat jahat pun akan mengurungkan niatnya. Semuanya pasti ATAS IJIN ALLAH SWT.

Langkah terakhir setelah Anda berupaya secara gaib adalah melakukan pengamanan harta milik Anda secara standar sebagaimana biasanya. Baik itu menggunakan gembok, dikunci dan diletakkan dengan benar dan sebagainya. Sebab, setelah berdoa Rasulullah juga mengikat unta agar tidak lepas dari tangannya. Nah, mudah bukan?

wongalus

Categories: PAGAR GAIB | 30 Komentar

TEKNIK MENDETEKSI BENDA BERTUAH


Kata “bertuah” seakan sudah menjadi kata milik jagad perdukunan alias jagad perklenikan. Terus terang, awalnya saya sangat ragu menggunakan kata “tuah” ini. Sebab kata ini mungkin sudah masuk daftar wajib sensor dan diharamkan. Kepada para Pembaca santri dan pak kyai yang budiman, saya mohon maaf…

Namun, kata inilah yang paling “umum” dan dikenal luas oleh masyarakat. Mohon maaf sebelumnya, bila saya terpaksa harus ikut-ikutan menggunakan kata “bertuah” ini. Tidak ada maksud sama sekali untuk ikut serta melanggengkan kepercayaan yang mungkin kurang pada tempatnya tersebut. Saya justeru berharap dengan artikel ini nantinya pembaca semakin mengenal hakikat benda-benda. Marilah kita mulai saja.

Pertama, benda-benda pada dirinya sendiri (das ding an sich) itu bebas nilai. Ia ada dan keberadaannya obyektif. Sementara yang memberi muatan nilai adalah manusia, sebagai sosok sang penilai. (sebenarnya ini juga bisa diperdebatkan,,… namun saya batasi dengan kalimat ini untuk kemudian nanti bisa didiskusikan bersama). Contoh: “celurit tetap celurit.” Substansinya ya celurit. Obyektif artinya kita semua bisa melihat celurit bersama-sama tanpa berubah substansinya.

Kedua, manusia sebagai sang penilailah yang memberi arti, makna, fungsi yang disesuaikan dengan fakta, faktor dan perannya masing-masing. Karena manusia yang memberi penilaian maka benda bisa bermuatan subyektif. Celurit bagi saya merupakan benda yang bermanfaat untuk membabat rumput yang liar tumbuh di halaman. Bagi polisi yang menyelidiki kasus pembunuhan, ditemukannya celurit yang bersimbah darah akan menjadi barang bukti yang memiliki nilai tinggi di pengadilan. Bagi orang tua, celurit adalah benda berbahaya yang harus dijauhkan dari anak-anak. Dan seterusnya…

Kembali ke tema awal: apa benda “bertuah” alias “berenergi” itu?

Benda bertuah adalah benda yang sudah diberi muatan nilai tertentu oleh seseorang, nilai itu bisa berupa “kesaktian”, “kemanfaatan”, “keberkahan” dan seterusnya. Sifatnya jelas subyektif tergantung pada keyakinan dan pengalaman seseorang bersinggungan dengan nilai-nilai tersebut.

Ada yang menjawab bahwa benda dikatakan bertuah bila memiliki energi tertentu. Tolok ukur yang eksak misalnya yaitu sudut tinjau ilmu fisika. Bahwa setiap benda memiliki kerapatan atom, energi dan massa tertentu yang berbeda-beda sehingga materi benda bisa diukur dengan alat ukur tertentu.

Yang jelas, bila benda sudah diberi muatan nilai akan memiliki nilai subyektivitas tertentu…Marilah kita memperdalam sudut pandang ini.

Benda apapun itu, pasti memiliki sebuah “energi spiritual” tertentu. Benda tertentu akan memiliki keterlibatan dengan sejarah hidup seseorang. Saat melihat sebuah cincin kawin, ingatan saya langsung melayang pada saat pertama kali melamar isteri saya. Saat melihat keris, ingatan saya langsung melayang pada bagaimana hebatnya empu nenek moyang kita berjuang mati-matian untuk membuat benda cagar budaya tersebut. Dan seterusnya…

Energi spiritual yang melekat pada benda-benda oleh karenanya bisa dideteksi dengan mempelajari latarbelakang ‘ada’-nya benda tersebut. Itu sebabnya tombak kyai pleret yang tersimpan di Kraton Yogyakarta dipercaya “sangat bertuah” karena memiliki sejarah yang panjang. Atau Keris Kyai Sengkelat, atau yang lain dan seterusnya….

Mempelajari riwayat atau sejarah sebuah benda jelas memerlukan ilmu pengetahuan misalnya arkeologi, ilmu sejarah dan lain-lain. Ilmu yang demikian adalah hasil dari olah pikir para sarjana yang gentur membaca buku referensi dan akhirnya memiliki keluasan pengetahuan tentang sejarah sesuatu.

Namun, kita tidak menutup mata dengan adanya ilmu batiniah untuk menerawang benda-benda bertuah ini. Ilmu batiniah adalah sebuah fakta yang ada di masyarakat dan hingga kini masih lestari. Ini adalah budaya spiritual nusantara Indonesia yang adiluhung lho. Kita tidak boleh menutup mata dengan menganggap budaya asing lebih bernilai. Menghargai budaya asing disarankan, namun lebih luhur lagi juga menghargai budaya nenek moyang.

Untuk itu, ijinkan saya mengangkat kembali pengalaman para leluhur dulu untuk mendeteksi apakah sebuah benda itu bertuah atau tidak.

Benda yang dipercaya “bertuah” banyak wujudnya. Misalnya cincin berakik yang dipakai sebagai jimat, keris dan senjata tradisional lain yang dipakai sebagai piandel (pegangan), berbagai jenis bebatuan alami.

Terkait dengan soal bahan alamiah, biasanya mengandung unsur bio elektrik tertentu yang memang bisa dimanfaatkan sebagai alat kesehatan. Ada benda-benda yang mengandung unsur magnet alam sehingga bermanfaat untuk memperlancar peredaran darah dan sebagainya… Cara mengenalinya dengan membuka-buka buku untuk mencari info tentangnya.

Ada juga cara mendeteksi dengan jalan mengoptimalkan peran batin kita. Batin sesungguhnya selain mampu untuk diajak mengenali hal-hal gaib juga mampu mengenali nilai esoteris dari benda-benda. Cara yang saya lakukan biasanya sebagai berikut:

Mengenali benda “bertuah”
1. Lihatlah dengan cermat benda tersebut.
2. Pakai atau pegang benda tersebut pelan-pelan saja
3. Bukalah mata “batin” yang intuitif, dan ketahui apa yang ada di dalam cincin… Rasakan energi batin apa yang muncul…dingin, panas, damai, kisruh, celaka, harapan, kasih sayang…dan seterusnya… Benda pasti memancarkan sejarah tertentu. Ia merekam dan menyerap sebuah fakta-fakta dan riwayat sejarah yang panjang. Ingat benda adalah saksi bisu yang bisa “bicara” yaitu bahasa alam.
4. Benda bertuah bisa mendatangkan efek negatif yang tidak kita sadari. Ini bisa akibat energi alamiah benda tersebut, namun juga ulah “sesuatu” yang metafisis.
5. Lebih dalam lagi, bila terasa ada “sesuatu” di dalam benda tersebut maka lakukan terus pendeteksian. “Sesuatu” yang saya maksud adalah makhluk halus. (Makhluk ini bisa mendatangkan perasaan gelisah, anak isteri tiba-tiba nakal, penghuni keluarga sakit-sakitan,… disamping mendatangkan efek, misalnya mudah cari uang, enteng jodoh dan sebagainya)
6. Bila pendeteksian belum berhasil, maka boleh menggunakan cara ini: Letakkan benda bertuah tadi di bawah bantal dan mohonkan pada Tuhan agar berkenan untuk memberikan informasi terkait benda tersebut. Makhluk halus biasanya muncul dalam mimpi…
7. Bila Anda mampu berkomunikasi dengan makhluk halus “penunggu” benda tersebut akan lebih baik. Anda bisa berbagi kebijaksanaan, dan mengajaknya untuk mengutarakan kenapa dia setia menunggui benda tersebut dan seterusnya.

Banyak benda bertuah yang diisi oleh paranormal/dukun dengan makhluk halus untuk tujuan macam-macam. Misalnya untuk jimat penglaris dagangan, enteng jodoh, pagar gaib dan sebagainya… Ini tentu saja perlu dicermati kemanfaatannya. Bila Anda merasa tergantung dengan cincik akik yang Anda pakai, apakah ini mendatangkan manfaat atau tidak baik di dunia maupun di akhirat? Benda tersebut mendatangkan kemanfaatan apa tidak dengan perkembangan spiritual kita khususnya berkaitan dengan ketauhidan kita pada Gusti Allah… Boleh jadi di dunia kita mendapatkan manfaat dengan keberadaan benda-benda tersebut, namun nanti di dunia kita akan mendapatkan celaka karena sudah masuk ke wilayah “Mempersekutukan Tuhan”.. jadi ya.. hati-hati…

Bila Anda merasa tidak bermanfaat dan Anda menyadari kesalahan bahwa Anda sudah terjebak dalam perilaku syirik, maka langkah Anda adalah melakukan penyingkiran makhluk halus penunggu benda-benda tersebut. Benda-bendanya sendiri tetap boleh dipakai dan dipergunakan sebagaimana biasanya. Toh, benda kan bebas nilai… yang memberi nilai kan kita sendiri. Jadi sesungguhnya OTAK MANUSIA lah yang syirik. Bukan keris, cincin akik, dan benda-benda budaya tersebut.

Tetap lestarikan budaya spiritual nusantara yang Adiluhung! Kepada semua saudara dari Sabang sampai Merauke…dari yang agamanya Islam, Hindu, Budha, Kristen, Kong Hu Cu, Taoisme, Aliran Kepercayaan apapun yang Anda anut..marilah kita bersama-sama hidup guyub dan rukun. Tuhan kita semua Satu, cara kita menyembahnya saja yang beda-beda….

wongalus

Categories: DETEKSI BENDA BERTUAH | 129 Komentar

Teknik Berkomunikasi dengan Jin Memakai Perewangan


Ada salah satu teknik untuk berkomunikasi dengan jin yang paling mudah untuk mengetahui keinginan jin. Yaitu memasukkan jin ke dalam tubuh seseorang. Di Jawa, kita mengenalnya dengan ilmu perewangan.

Perewangan berasal dari kata Jawa “rewang” yang artinya menolong. Maka, “rewang” mengacu pada seseorang yang bersedia jasadnya untuk dijadikan medium makhluk jin. Ilmu perewangan sangat umum dipakai untuk berkomunikasi dengan jin seperti bila kita berbicara dengan sesama manusia. Jin jelas membutuhkan sarana bantu untuk memasuki dunia fisik. Sebab dia adalah makhluk yang sebenarnya makhluk metafisik. Bahasa yang mereka pergunakan juga sebenarnya sangat berbeda dengan bahasa yang kita pergunakan sehari-hari. Bahasa jin memiliki susunan kata-kata dan struktur kalimat yang berbeda dengan yang kita pakai dalam pergaulan antar manusia.

Dengan kata lain apabila kita berkomunikasi dengan wujud asli mereka, maka yang kita pergunakan sebenarnya adalah bahasa “rasa”, dan yang mereka mengerti adalah “kehendak”, “niat,” “kemauan” kita saja. Mereka memahami kita bukan karena susunan kata-kata yang kita pergunakan. Sama seperti kita berbicara dengan seseorang yang tidak bisa mendengar atau tuna rungu dan tuna wicara, yang kita pahami dari mereka agar mereka dan kita bisa nyambung adalah bahasa rasa dan “keinginan” saja.

Di manapun manusia yang hidup di suatu wilayah tertentu dan memiliki bahasa tertentu pula, maka jin yang hidup di sana juga mengenali bahasa manusia. Begitu pula dengan seorang paranormal/dukun akan mengerti bahasa jin dari “kemauan” jin yang dimengerti sang dukun. Nah, untuk berkomunikasi dengan jin maka tidak ada cara lain selain kita perlu mendalami bahasa “rasa” atau bahasa “batin”

Apa itu batin/rasa? Terus terang untuk menjawab ini saya tidak mengacu pada khasanah ngelmu Jawa. Saya akan mengacu pada apa yang saya alami saja dan saya akan menjelaskan melalui hal-hal yang sederhana.

Pertama, ketika Anda ingin mendeteksi benda padat inera apa yang Anda gunakan? Kedua, ketika Anda ingin mendeteksi benda cair apa indera apa yang Anda gunakan? Ketiga, ketika Anda ingin mendeteksi gas, indera apa yang Anda gunakan?

Jelas bahwa kita mempergunakan indera yang berbeda untuk merasakan kehadiran mereka. Zat padat menggunakan mata untuk mengawali pendeteksian kemudian diteruskan ke otak. Zat cair menggunakan indera peraba: kulit atau lidah kemudian diteruskan ke otak. Zat gas menggunakan indera hidung kemudian diteruskan ke otak.

Benda ada yang terlihat dan terasa oleh kulit (benda padat/cair), namun ada pula yang tidak terlihat, juga tidak terasa oleh kulit namun kita yakin ada, sebab hidung bisa mengenali zat tersebut. Nah, semakin abstrak tingkat zat, maka kita menggunakan indera yang berbeda pula.

Bagaimana bila benda tersebut sama sekali tidak bisa diindera oleh mata, kulit, hidung, lidah, telinga?

Jin adalah jenis mahluk Tuhan yang ghaib. Ghaib bisa diartikan sebagai sesuatu yang tidak bisa ditangkap oleh indera fisik. Namun manusia juga dibekali oleh Tuhan indera untuk mendeteksi yang gaib ini. Indera itu disebut dengan batin/rasa yang sama sekali bukan bersifat fisik.

Batin/rasa inilah yang menjadi modal manusia untuk mengenali dimensi metafisik atau kegaiban. Kegaiban itu bertingkat-tingkat, mulai gaibnya jin, gaibnya malaikat, gaibnya takdir, dan seterusnya…hingga gaibnya Tuhan Yang Serba Gaib.

Dzat yang gaib bisa dirasakan keberadaannya dan bisa pula kita berkomunikasi dengan mereka. Asalkan kita rajin untuk olah rasa/ olah batin maka manusia yang merupakan makhluk yang lengkap ini (berdimensi fisik dan metafisik: punya jasad namun juga punya yang gaib) pasti akan mampu berkomunikasi… inilah kehebatan manusia.

Sekarang ini, yang ditonjolkan dalam hidup sehari-hari hanya olah raga. Sepertinya manusia hanyalah memiliki raga saja. Bagaimana dengan rasa? Hampir tidak pernah disentuh dalam wacana-wacana publik sebagai hal yang perlu untuk didiskusikan, dilatih, dipertajam. Padahal, sebelum ada jasad bukankah manusia adalah ruh? Ruh lah yang akan abadi melintasi waktu hingga akhir jaman. Sementara umur jasad?? Ya usia 50-an tahun saja sudah sakit-sakitan dan bau tanah…

Kita juga terbiasa menggunakan ungkapan yang lebih mengedepankan aspek fisik daripada batin. Misalnya saat kita mengucapkan SELAMAT HARI RAYA, MOHON MAAF LAHIR BATIN… Lho mengapa kok yang batin diletakkan setelah yang lahir?? Harusnya, kita berani mengatakan MOHON MAAF BATIN LAHIR…

Inilah ironi jaman sekarang. Yang lebih cenderung untuk melihat segala sesuatu dari sudut pandang materialisme. Paham yang lebih cenderung untuk menomorsatukan materi sebagai satu-satunya kenyataan terdalam (ultimate reality). Jadinya apa? Ya akhirnya manusia tidak lebih melihat dirinya hanya sebagai “bangkai” yang tanpa “ruh”…

Kembali ke tema awal, yaitu tentang jin tadi. Bahwa karena jin adalah dzat yang gaib maka mereka hanya bisa dideteksi bila kita menggunakan indera rasa/batin saja. Kita sebenarnya sudah terbiasa untuk menggunakan indera rasa/hati/batin ini dalam hidup sehari-hari.

Marilah kita lebih fokus lagi untuk membahas yang batin ini sekaligus juga untuk mempertajam ngelmu kebatinan kita:
1. Apa yang Anda rasakan saat melihat ada teman yang sedih? Ikut sedih..
2. Apa yang Anda rasakan saat melihat ada teman yang bahagia? Ikut senang..
3. Apa yang Anda rasakan saat melihat ada bunga mekar? Takjub..
4. Apa yang Anda rasakan saat melihat matahari terbit? Tergetar…

Ini respon hati setelah “melihat” hal-hal yang tampak oleh mata. Bagaimana respon hati bila “melihat” atau “merasakan” hal-hal yang tidak tampak atau belum pernah tampak oleh mata namun kita yakin ada?

Dari sini, kita hanya bisa mengatakan: tidak mungkin…. Sebab pengetahuan kita, pandangan hidup kita dan “dunia kita” sesungguhnya dibangun oleh indera mata, telinga, hidung, peraba kulit lidah dan seterusnya… Itu sebabnya, untuk mengenali dunia ghaib, kita tidak menggunakan semua indera-indera tadi. Kita hanya menggunakan satu indera saja untuk mengenali Jin yaitu: rasa/batin yang akhirnya menimbulkan keyakinan yang haqqul yakin. Rasa/batin adalah jalur lain indera manusia yang lalu lintasnya tidak melalui indera fisik namun sudah diinstal Tuhan di dalam otak kita.

Untuk mengenali rasa/batin yang merupakan software yang sudah diinstal di otak ini, maka banyak sarana membukanya. Misalnya, para ahli yoga menggunakan sarana meditasi yaitu diam/meneng. Menutup indera mata dan membuka indera mata hati/batin/rasa dalam jangka yang lama.

Seberapa lama Anda menutup mata namun tidak tidur? Kebanyakan dari kita hanya menutup mata kalau tidur… bagaimana dengan menutup mata namun hati dan otak masih terjaga? Atau kalau ngantuk baru menurup mata. Cobalah sekarang mulai berlatih untuk menutup mata namun posisi tubuh tetap duduk, atau berjalan.

Bila kesulitan, Anda bisa menggunakan sarana kain hitam untuk menutupi mata Anda. Kemudian duduklah di kursi dengan santai selama mungkin. Bila Anda sudah terbiasa melakukan hal ini, berlatihlah untuk menutupi mata dengan kain hitam namun posisinya sekarang tidak lagi duduk di kursi, melainkan di tempat-tempat yang sepi.

Saya bahkan terbiasa duduk diam dengan mata tertutup di atas almari di kamar yang sepi… bahkan duduk diam di dalam lemari kosong yang sudah tidak dipergunakan lagi berjam-jam… Terkadang, berjalan di ruang kosong atau tempat tempat sepi..

Ini tentu saja upaya untuk mengendurkan peran jasad fisik/ raga dan menguatkan peran rasa agar semakin tajam…dan mendeteksi gerakan-gerakan batin lain yang ada di sekitar kita.. termasuk gerakan jin..

Setelah Anda terbiasa berlatih hal ini yang harus kita lakukan adalah menata niat. Niat haruslah yang baik dan pasrah total, sumarah dan sumeleh pada Tuhan.

Sekian lama berlatih, rasa batin akan secara otomatis bergetar…. bila dilatih terus… akan semakin bergerak… batin akan semakin tajam mendeteksi gerakan yang ghaib…. jin pun akan terasa berada di sekeliling kita, di depan kita, di belakang kita, di kanan kita… di kiri kita…

dan akhirnya batin kita akan sangat awas dan bisa melihat sebagaimana kita melihat dengan mata…

Bila kita melihat jin dan dia juga melihat kita maka yang perlu dilakukan sebagai berikut:

Pertama, ucapkan salam apa saja dalam hati
Kedua, sampaikan maksud Anda dalam hati
Ketiga, ucapkan selamat berpisah dalam hati

Untuk menguji keberadaan jin sekaligus untuk membuktikan apakah indera batin kita tidak menipu, maka yang perlu dilakukan adalah mengajak seseorang yang siap menjadi medium/perantara/perewangan.

Ajaklah jin yang untuk masuk ke dalam tubuh si perewangan/medium… kemudian suruh orang lain yang sudah menguasai ilmu kebatinan untuk mewawancarainya… Untuk awal, jangan terlalu lama menggunakan tubuh sang perewang. Sebab tubuh si perewang yang sudah dimasuki jin ini akan mudah capek. Sebab dia dipaksa untuk mengalahkan otaknya yang normal untuk menuruti kehendak otak lain (otak jin) yang abnormal..

Bila Anda sudah bisa membuktikan dengan eksak keberadaan jin dan mampu berkomunikasi dengannya, maka yang perlu digarisbawahi adalah menggunakan kemampuan tersebut untuk disesuaikan dengan kehendak Tuhan …yakni untuk tujuan ngelmu kebaikan yang luhur dan mulia.

Jangan mencampuradukkan antara urusan jin dengan urusan manusia. Tidak pada tempatnya manusia meminta bantuan jin untuk mendapatkan kekayaan, kekuasaan, kesaktian dan urusan keduniaan lain. Manusia harus bisa berdiri tegak untuk menuntaskan problem-problemnya sendiri, dan sebagai makhluk Tuhan dia harus pasrah total hanya pada Tuhan saja. Manusia tidak boleh takluk apalagi dikuasai oleh makhluk-makhluk-Nya. Matur nuwun dan salam apa saja…

Wong Alus

Categories: JIN: TEKNIK PEREWANGAN | 23 Komentar

KEMUKUS


Datanglah ke Gunung Kemukus setiap Kamis Pahing, Malam Jumat Pon. Anda akan mendapati tradisi turun temurun yang menyenangkan:  Ritual Seks Bebas!

Namun yang paling banyak kunjungan adalah pada bulan Suro. Tiap tahun orang yang berziarah ke Gunung Kemukus tidak pernah surut bahkan cenderung semakin banyak. Tercatat semalam yang datang ke gunung yang terletak di Sragen, Jawa tengah ini bisa mencapai 15 ribu pengunjung. Pada hari-hari biasa, pengunjung rata-rata antara 50 sampai 150-an orang. Puncak rame-ramenya pada malam 1 Suro saat dilakukan ritual membuka kelambu makam Pangeran Samodro.

Apa pesona daya tarik gunung yang lebih tepat disebut perbukitan ini? Tak lain karena di sana kita akan menjumpai “peradaban Indonesia” yang sesungguhnya. Yaitu banyaknya pengunjung dengan motif gado-gado dan sebagian besar adalah mereka yang bertujuan mencari berkah. Pengetahuan masyarakat akan hal-hal mistis yang masih dipahami sebagai klenik, serta pesona seks.

Sebenarnya, mencari berkah adalah tujuan yang mulia bila yang dicari adalah berkah dari Gusti Allah. Bila mencari berkahnya dengan cara meminta ke roh orang yang meninggal, ke jin-jin, ke batu-batu, ke kuburan keramat, mencari tuyul, dan meniduri isteri orang, maka yang terjadi jelas adalah kesesatan keyakinan.

Batin tidak akan pernah menjadi jernih laksana kaca. Batin akan tetap kotor oleh lumpur-lumpur keduniawian karena pencarian berkah, tirakat, akan bercampur baur dengan motif lain seperti selingkuh atau mencari kepuasan seksual dengan teman kencan.. Di Kemukus, kita bisa denga mudah menemukan teman kencan dan bahkan ada keyakinan bila kita mendapatkan teman kencan maka kita akan sukses karena tirakat kita diijabahi Tuhan.

Entahlah, apa ini merupakan bentuk tradisi hasil dari local genius (kearifan lokal) yang tetap harus dilestarikan atau tidak. Namun, sebagai sebuah fakta sosial keberadaan ritual seks Kemukus bisa merupakan sarana hiburan bagi masyarakat bawah laki-laki dan perempuan. Melalui ritual inilah kebebasan seks juga bisa dinikmati, bukan hanya hak pria saja namun juga perempuan.

Suasana di Kemukus memang menawarkan magnet bagi masyarakat.. kawasan yang pada hari-hari biasa gelap tiba-tiba menjadi terang seperti pasar malam. Penjual pernik-pernik mainan, penjual kacang rebus, rokok, penjual bakso hingga mie ayam menggelar dagangannya. Banyak juga yang menyewakan tikar untuk pasangan yang ingin indehoi. Di sini, indehoi sekali setahun selama tujuh tahun diyakini sarana menjadi sukses, makmur dan kaya.

Akan tidak bijaksana bila kita melihat fenomena kemukus dengan kaca mata hitam dan putih, halal dan haram… sebab sesuatu gejala memiliki latar belakang yang berlainan. Yang jelas, baik di tingkat nasional maupun lokal telah terjadi dominasi nilai-nilai ekonomis jangka pendek melebihi nilai-nilai adi luhung nenek moyang kita. Tradisi telah menjadi tradisionalisme yang tidak memiliki penggerak energi kemanusiaan ke arah yang lebih luhur.

Di Kemukus antara nasib baik dengan mengumbar syahwat memang tidak terpisahkan. Ini dilestarikan dengan sebuah keyakinan bersama yang dilakukan oleh mereka yang percaya dengan sepenuh hati. Bagaimana legenda Kemukus kok bisa jadi tradisi nyentrik seperti ini?

Syahdan, dikisahkan saat masa-masa akhir kejayaan jaman Majapahit sekitar abad 14 akibat munculnya kerajaan Islam di Jawa Tengah hiduplah di Gunung Kemukus dua manusia yang dimabuk asmara. Bukan dimabuk bir maupun mabuk dunia. Ya, mabuk asmara…

Mereka adalah Pangeran Samodro putra Raja Brawijaya Majapahit. Serta ibu tirinya yang juga selir Brawijaya, Nyai Ontrowulan. Menginjak dewasa Pangeran Samudro tiba-tiba punya krenteg atau keinginan untuk berhubungan asmara dengan Nyai Ontrowulan yang meskipun sudah berusia matang namun terlihat masih seksi.

Hubungan asmara di hati keduanya yang semakin mekar, akhirnya diputuskan untuk menikah agar terhindar dari dosa. Tempat pernikahan sudah ditentukan yaitu di Demak Bintoro. Namun, sampai di tempat tujuan pernikahan ada banyak duda kaya dan prajurit Demak jatuh hati kepada Nyai Ontrowulan yang parasnya cantik.

Para duda keren yang berduit pun berupaya menggagalkan pernikahan keduanya…. Khawatir rencana terganggu, Pangeran Samodro dan Nyai Ontrowulan lantas mengubah rencana pernikahan dan diam-diam mengadakan perjalanan ke arah selatan.

Saat berada di Gunung Kemukus, mereka tak bisa lagi menahan birahi. Di bawah pohon nagasari, mereka berhubungan seks. Masih asyik-asyiknya bercinta dan belum sampai orgasme, pasukan Demak Bintoro tiba-tiba melintas dan menghentikan dua makhluk yang dilanda hasrat ini. Terlibat adu mulut hingga berakhir pada perang kecil yang tidak seimbang.

Singkatnya, melihat Pangeran Samudro tewas di tangan prajurit demak, Nyai Ontrowulan memutuskan untuk bunuh diri dengan cundrik. Keduanya dikubur dalam satu lubang dan dalam lubang tempat terbunuhnya mereka itulah muncul sebuah sumber air jernih yang kini disebut sebagai Sendang Ontrowulan. Air sendang ini dipercaya memiliki bisa bikin orang awet muda, banyak rejeki dan tahan seks.

Dalam legenda juga dipaparkan munculnya asap, disusul suara dari atas makam Pangeran Samodro dan Nyai Ontrowulan yang baru dikuburkan. ”Barang siapa mau datang ke Kemukus dan bisa menyelesaikan hubungan seks tujuh kali, maka segala permintaanmu akan dikabulkan!!!”

Hmm… Kemukus..Kemukus…

wong alus

Categories: KEMUKUS | 32 Komentar

TEKNIK BERKOMUNIKASI DENGAN ROH ORANG MENINGGAL


Mohon dimaafkan, artikel ini berangkat dari pengalaman yang saya alami saja. Sebab akan lebih mantap perjalanan menembus dimensi yang gaib ini bila tidak hanya dibaca dan diyakini melalui kitab suci maupun buku-buku referensi, namun dialami sendiri.

Entah kenapa, ada kecenderungan dari dalam diri untuk selalu memberontak untuk tidak yakin begitu saja terhadap apa yang dipaparkan dalam kitab suci maupun buku. Menurut saya (ini adalah bentuk egoisme dan kesombongan lho… jadi mohon dimaafkan), sudah waktunya saat itu menutup buku-buku teori.

Maklum, sejak kecil, remaja hingga lulus bangku kuliah tahun 1996, atau bila dihitung, SD 6 tahun, SMP 3 tahun, SMA 3 tahun, dan es lain ada sekitar 18 tahun. Masa selama itu, pengetahuan yang saya kumpulkan hanya melalui buku tok? dan akhirnya saya mengalami kejenuhan… dan kesimpulannya: harus melalui pengalaman.. bukankah “pengalaman lebih kaya dari pengetahuan,” begitu kata A.N, Whitehead, si bapak filsafat proses dari Negeri Paman Sam.

Hingga suatu ketika, saya beranggapan sudah waktunya untuk menempuh jalur lain untuk mendapatkan pengetahuan/kawruh tentang kasunyatan. Entah itu kasunyatan yang bisa dilihat mata, hingga kasunyatan yang gaib. Yang gaib ini pun pasti bertingkat tingkat…

Maka, terbukalah kesempatan untuk membuktikan dunia gaib tersebut.

Pada suatu kesempatan, sekitar tahun 1990-an saya melayat seorang sanak keluarga yang meninggal di Kuburan Karngkajen, Pasartelo, Yogyakarta. Setelah menguburkan pak de yang meninggal dunia karena sakit, saya berjalan kaki sekitar dua puluh meter ke arah timur sisi paling utara kuburan yang hampir penuh. Kuburan karangkajen adalah kuburan yang tergolong tua. Buktinya, di sana tempat beberapa tokoh nasional yang dimakamkan. Salah satunya adalah Kyai Haji Ahmad Dahlan, tokoh pendiri organisasi sosial kemasyarakatan Muhammadiyah.

Entah kenapa, tiba-tiba muncul keinginan untuk bertemu dan bertamu dengan roh beliau. Tanpa pikir panjang, saya pun mengambil segelintir batu di atas kuburannya. Batu itu berwarna putih bersih dan saya bawa pulang ke gubuk. Tiba di rumah, saya letakkan batu itu di atas meja dan saya pun menghabiskan hari untuk bekerja disebuah bengkel las. Malam harinya, setelah saya menunaikan kewajiban sholat saya menggenggam batu tersebut. Batu adalah selain sarana pangeling-eling juga sebagai media yang pernah menyerap energi ruhani yang dipancarkan oleh roh sang mendiang, yaitu KH Ahmad Dahlan. Harap dimengerti karena batu adalah makhluk tuhan juga yang sesungguhnya dia “hidup”…

Sejenak kemudian, masih di atas sajadah saya yang masih menggenggam batu tersebut tertidur pulas oleh sebuah keheningan dzikir yang untuk meluruhkan hati dan panca indera. Ini fase saat memasuki dimensi batiniah. Apa yan terjadi kemudian, saya ditemui oleh Roh beliau dan setelah saya sampaikan niat awal untuk berguru kebijaksanaan dengan beliau.. maka saya pun mendapat wewarah agar terus nglakoni hidup sederhana, terus giat menuntut ilmu, dan memberikan kemanfaatan pada sesama makhluk tuhan yang lain. Saya pun meminta beliau untuk terus mengawal saya, dan mengingatkan bila saya melenceng dari ajaran pemurnnian tauhid kepada Allah SWT.

Setelah pertemuan dengan roh KH Ahmad Dahlan, dimensi gaib terasa begitu terang benderang. Saya memiliki sekitar 30 teman jin yang selalu nyangkruk di sekitar gubuk dan sesekali minta saran, kebanyakan bertanya tentang hal-hal yang bersangkutan dengan keyakinan. Maklum saja, untuk soal kawruh agama dari sisi hakekat para jin ini kebanyakan lebih banyak bodohnya dari pada pintarnya.

Komunikasi dengan roh memiliki banyak cara dan metode ritual. Namun, saya lebih memilih menggunakan cara yang paling sederhana. Yaitu mengambil tanah di atas kuburan, bahkan pernah mengambil kain cungkup yang dipergunakan untuk menutupi maesan yang sudah usang. Tanah dan kain tersebut saya pergunakan sebagai medium untuk berkomunikasi dengan para roh leluhur.

Tahap selanjutnya setelah kita memiliki tanah, atau benda-benda yang telah menyerap energi roh di kuburan adalah meletakkan di tempat tertentu. Setelah itu, saya biasanya bermeditasi/diam diri untuk mengheningkan seluruh panca indera dengan jangka waktu yang tidak terukur dengan masih memegang tanah yang saya masukkan ke pastik/ atau kain cungkup. Kalau bosan duduk dan berdiri, atau setelah sholat wajib saya biasanya menggunakan waktu untuk merebahkan badan. Entah ritual apa ini namanya,… yang jelas kita sampaikan niat awal bahwa kita ingin bertemu dengan roh penghuni kuburan.

Oleh sebab itu, pilihlah tanah dari kuburan orang yang Anda nilai baik, bijaksana, waskita dan winasis. Jangan asal ambil tanah kuburan karena bisa jadi roh mereka nanti malah terganggu dengan ulah Anda. Biasanya saya memilih berkomunikasi dengan para roh leluhur yang sudah terbukti memiliki track record kemuliaan dunia dan di akhirat.

Dulu, antara tahun 1999 sd tahun 2001 saya hampir setiap minggu tugas keluar kota untuk liputan kasus pembunuhan. Di setiap kuburan yang saya kunjungi, saya pergunakan kesempatan untuk mengambil tanah kuburan dan berkomunikasi dengan roh nenek moyang sebuah wilayah. Ya, hampir di setiap kuburan kita akan mendapatkan mereka yang semasa hidupnya berjasa besar untuk masyarakat. Inilah yang saya pilih untuk ngangsu kawruh pada mereka. Berguru pada mereka bagi saya lebih memuaskan karena yang ada adalah kejujuran dan tanpa pamrih keduniaan lagi. So, pasti… yang saya serap adalah nasehat-nasehat yang bagus: seperti hendaknya bertakwa pada Gusti Allah, berbuat baik pada sesama, tidak merusak lingkungan, menjaga kehidupan berkeluarga, harus selalu eling dan waspada hidup di dunia, dan hal-hal ideal yang lain…

Atau kalau kebetulan kita beruntung menemukan tokoh yang memiliki kesaktian, dia akan menurunkan ilmu-ilmu yang masih tersisa alias belum tersampaikan semasa mereka hidup di dunia. Kalau ini terjadi dan Anda merasa mampu untuk menggenggam amanah mereka, apa Anda siap?

Ini terjadi saat saya berkomunikasi dengan roh seorang tokoh yang winasis di Salakan Sewon Bantul, Yogyakarta. Namanya mbah Abu Sujak yang meninggal sekitar tahun 1980-an. Pada suatu hari saat saya berkomunikasi dengan roh Mbah Abu Sujak ini, dia ingin mengajarkan ilmu kawaskitaan pada saya. Dia bilang bahwa di alam kelanggengan (alam kubur) dia sudah tidak lagi memegang ilmu-ilmu kesaktian lagi. “Ilmu kasekten semuanya sudah saya wariskan ke anak-anak saya ngger.. sekarang saya hanya punya ilmu kawaskitan yang saya sampaikan ini, yaitu nasehat-nasehat saja. Saya ingin agar angger tahu bahwa ilmu yang manfaat adalah ilmu nasehat-nasehat yang baik… disebarkan ya ngger…kau akan selamat,” demikian sepotong ucapan beliau yang sampai sekarang masih saya ingat.

Ah, saya yang bodoh ini pun berandai-andai, misalnya dulu Mbah Abu Sujak menurunkan saya ngelmu kasekten tertentu… saya pasti sudah kondang sekarang. Sebab saya bisa mengobati berbagai penyakit, memiliki ilmu kebal, ngerti sakdurunge winarah, dan seterusnya… Akhirnya, saya menjadi dukun sakti. Tapi ternyata, apa yang saya inginkan ini tidak terjadi…

Allahu Akbar, Tuhan sepertinya memberikan saya kesempatan untuk menjadi yang bukan seperti yang saya inginkan. Dia akhirnya memberikan sesuatu katakanlah jalan nasib, yang saya yakini kelurusannya hingga saya dipilihkan jalan terbaik-Nya: jadi wong alus yang tidak tahu apa-apa saja…

Nuwun, Rahayu dan Salam sayang kagem sedulur sedaya….

wongalus

Categories: KOMUNIKASI DENGAN ROH | 62 Komentar

BERTEMAN DENGAN JIN


Berkawan dengan jin itu sah dan boleh-boleh saja. Tidak ada satu larangan pun dalam kitab suci maupun hadits untuk berteman dengan makhluk-Nya ini. Asal satu sama lain saling menghormati, kenapa tidak?

Bila hubungan antar manusia hendaknya dijaga, maka hubungan antar sesama makhluk Tuhan hendaknya juga dijalin dengan erat. Makhluk Tuhan meliputi semua yang kita lihat dan rasakan saat kita hidup. Mulai makhluk bersel satu hingga makhluk dengan tingkat kecerdasan yang tinggi.

Makhluk Tuhan bisa dilihat bila mereka memiliki panjang gelombang dan kepadatan materinya bisa membuat mata merespon keberadaannya. Makhluk dikatakan tidak kasat mata karena mereka memiliki panjang gelombang dan kerenggangan materi yang membuat mata tidak mampu meresponnya.

Jin adalah salah satu makhluk yang tidak kasat mata. Bila dikatakan “melihat” jin itu berarti kita tidak melihat dengan mata fisik seperti kita melihat benda-benda. Sebenarnya lebih tepat kita hanya bisa merasakan keberadaan jin dengan rasa yang tidak menipu dan tidak direkayasa. Yaitu rasa yang jujur, polos, apa adanya yang berada pada kondisi kejiwaan tanpa keakuan, atau berada pada posisi nol.

Namun, berbeda dengan benda-benda yang pasif, jin memiliki sifat aktif sebagaimana manusia yang memiliki kehendak dan nafsu tertentu. Salah satu kehendak jin, dalam konteks hubungan antar dimensi adalah menampakkan diri ke dalam wujud fisik sehingga panjang gelombang dan kerapatan materinya bisa tertangkap oleh mata manusia.

Berbeda dengan jin yang dikaruniai mata untuk bisa melihat dunia fisik yang dihuni manusia, manusia secara umum tidak bisa melihat jin, merasakan keberadaan jin, apalagi berkomunikasi secara intensif dengan jin. Meskipun demikian, manusia manusia juga diberkahi sebuah alat canggih untuk meraba, merasa, menangkap eksistensi yang tidak kasat mata. Alat canggih itu semacam radar yang ditanamkan di otak manusia. Terletak pada sistem limbik dimana di sana juga menjadi pengendali emosional, rasa, batiniah manusia.

Bila radar itu telah ditemukan, kemudian dilatih dan dirawat baik-baik maka radar akan mengenali setiap pergerakan obyek metafisik di yang melintas dalam radius tertentu. Jauh dekatnya radius obyek yang tertangkap radar, sangat bergantung pada jenis dan kualitas radar yang Anda miliki. Jenis dan kualitas radar yang baik adalah mampu menjangkau dimanapun obyek metafisis berada.

Namun sekali lagi, di alam metafisis ruang dan waktu bisa sangat relatif. Jarak ruang dan waktu masa lalu, masa kini dan masa depan tidak menjadi soal karena radar bisa disetel sesuai keinginan. Manusia sungguh luar biasa, dengan alat radar yang canggih dia bisa mengakses kawruh kapanpun dia mau.

Kenapa? Sebab setiap peristiwa di dunia fisik sebenarnya tidak pernah hilang begitu saja. Setiap peristiwa akan abadi terekam secara metafisis di alam semesta. (Akan dibahas di laun waktu)

Kembali ke soal jin. Secara garis besar, kita sudah mengerti bagaimana teknik berkomunikasi dengan jin yaitu dimulai dengan menajamkan intuisi untuk menangkap hakikat obyek-obyek metafisis. Keahlian itu adalah keahlian untuk olah batin kita untuk melakukan tiga reduksi (artikel sebelumnya: Teknik Berkomunikasi dengan Jin).

Hubungan manusia dengan jin yang ideal adalah hubungan pertemanan, kita bisa meminta mereka untuk melakukan sesutu dengan sukarela. Bila mereka mau ya monggo namun bila mereka tidak mau ya jangan dipaksa. Kecuali bila jin sudah mengganggu kita, maka manusia wajib untuk mempertahankan diri dan meminta mereka dengan cara yang santun dan beretika.

Sayangnya, kebanyakan jin adalah makhluk yang berangasan, ngamukan, ngawur, suka melanggar aturan Tuhan. Ini sama dengan manusia bukan? Bukankah manusia sekarang lebih banyak mengedepankan emosi daripada pikiran yang adem dan tenang untuk menyelesaikan sebuah perkara?

Bila demikian halnya yang kita jumpai di alam metafisik, yaitu bertemu dengan jin-jin yang berangasan semacam ini maka diharapkan kita tidak ikut terpancing ikut-ikutan emosional. Tetaplah tenang, tidak boleh goyah.. apalagi takut. Sedikit ketakutan dalam hati akan membuat jin mampu dengan mudah menyerang dan merobek pertahanan diri kita.

Saya menemukan banyak paranormal yang tidak bijaksana. Misalnya saat ada pasien datang untuk meminta menyantet seseorang, dukun tersebut tidak memberikan pilihan alternatif yang lebih bijaksana kecuali hanya menuruti keinginan pasien. Padahal, keinginan pasien adalah keinginan akibat sifat-sifat setan yang bersemayam dalam dirinya.

Berbeda dengan hubungan antar dua makhluk Tuhan yang hendaknya dilakukan secara suka rela, dukun meminta jin untuk melakukan sesuatu dengan imbalan. Sebelumnya, antara dukun dan jin telah mengadakan sebuah kesepakatan hitam untuk saling bantu membantu, memberi dan menerima dengan imbalan atau hadiah tertentu.

Saya memiliki pengalaman bergaul secara tidak wajar dengan jin dan astaghfirullah pengalaman itu jelas berdosa sehingga saya harus menyesali dan tidak lagi mengulangi perbuatan keji dan munkar tersebut..

Saya ingat kejadian ini tiga belas tahun yang lalu. Suatu ketika, saat Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa Secang, Magelang, Jateng, pacar saya sebut saja A –yang sudah tiga tahun saya pacari– “diambil” orang lain, teman KKN di A. Perebut pacar saya ini sebut saja J adalah seorang santri yang sangat taat beragama.

Berbagai upaya lahiriah saya lakukan, mulai dari meminta baik-baik agar J tidak meneruskan usahanya merebut A, sampai upaya marah-marah dan berkelahi adu fisik. Si J ini rupanya seorang yang sangat istiqomah dengan tekadnya. Apalagi saat itu, orang tua A akhirnya menjodohkan mereka berdua. Bagaimana dengan A? Ya, A sang pacar saya ini tidak bisa berbuat banyak menghadapi intervensi orang tua… akhirnya, keduanya bertunangan….

Hati saya benar-benar keruh dan hancur. Butuh waktu lama untuk meratapi kebodohan dan kelemahan saya saat itu…

Jelas saya protes pada Tuhan ….

Dan entah sebuah energi muncul dari dalam diri saya untuk tidak hanya meratapi nasib saja. Ya, saya harus berjuang!!!

Pada suatu malam, dalam sebuah kondisi jiwa yang penuh kepasrahan saya mengumpulkan benda-benda milik A yang masih ada di gubuk saya. Mulai foto, buku, hingga baju dan helai rambutnya yang tidak sengaja terjatuh saat berkunjung…

Benda-benda milik A itu kemudian saya kumpulkan di sebuah kotak kayu. Di dalam kotak kayu saya beri lampu tempel dinding yang menyala, dupa wangi yang kalau malam saya bakar di dalamnya. Mulailah saya melakukan kontak dengan “ruh’ si A dan berkomunikasi dengannya. Serta memohon pada-Nya agar dibantu agar A kembali menjadi pacar saya.

Dan kepada J, saya melakukan ritual penghancuran. Pada suatu tengah malam, secara sembunyi-sembunyi saya mendatangi rumah A, dan menancapkan paku yang sudah berkarat di pintu gerbang depan rumahnya, di kanan dan kiri masing-masing satu paku. Setelah itu, saya pulang ke gubuk.

Untuk apa paku itu? Ya, saya meminta jin untuk menjaga rumah A dengan tetenger sebuah paku. Bila J berkunjung ke rumah A dan melewati pintu gerbang, maka tidak bisa tidak J akan diganggu batinnya hingga mengalami serangan-serangan mulai lemah mental hingga sakit mental yang akut.

Apa yang terjadi? Akhirnya J benar-benar mengalami serangan mental yang luar biasa.. Padahal J termasuk orang taat ibadah dan yang kuat spiritualnya. Beruntung, Tuhan masih melindunginya dari akibat yang lebih fatal. Meskipun demikian hubungan A dan J yang sudah tunangan itu pun akhirnya bubar dan A akhirnya menjadi isteri saya hingga sekarang….

Astaghfirullah, alhamdulillah…. mengingat kejadian ini, saya harus ngomong apa ya.. bingung..

Ini adalah salah satu pengalaman saya berhubungan dengan jin. Semoga kita semua semakin arif untuk menempatkan diri di lingkungan sosial antar dimensional ini. Jin adalah sahabat kita, bukan musuh (yang musuh adalah sifat setan yang ada pada jin dan manusia) dan dengan sahabat kita harus menjalin hubungan yang wajar. Bukan hubungan yang saling mengeksploitasi dan saling mengalahkan dengan kekuasaan, namun hubungan antar sesama makhluk yang rendah hati karena sesungguhnya kita semua membutuhkan petunjuk dan hidayah-Nya semata sebagai bekal perjalanan hidup yang panjang.

wongalus

Categories: JIN SAHABAT KITA | 61 Komentar

TEKNIK BERKOMUNIKASI DENGAN JIN


Segala sesuatu adalah ciptaan Tuhan. Mereka bisa berkomunikasi satu sama lain secara intuitif. Maka, manusia bisa mengajak berkomunikasi dengan apapun juga termasuk makhluk gaib karena mereka sesungguhnya makhluk yang hidup seperti kita.

Agar kita dengan intuisi kita dapat berbicara satu sama lain, maka dibutuhkan pengetahuan khusus. Yaitu sejenis keahlian untuk menangkap hakikat obyek-obyek di luar diri manusia. Salah satu obyek itu adalah JIN.

Keahlian itu adalah keahlian untuk olah batin kita untuk melakukan tiga reduksi. Reduksi itu diperlukan sebagai tahap penyingkiran semua tabir/hal yang mengganggu pandangan kita sehingga nantinya kita bisa menangkap secara jelas penampakan obyek kita yaitu jin.

Reduksi pertama: menyingkirkan segala sesuatu yang subyektif. Singkirkan dulu keakuan kita. Keakuan adalah salah satu pintu penutup kita melihat kegaiban. Sikap kita harus obyektif, terbuka untuk gejala-gejala yang akan diajak bicara.

Reduksi kedua: menyingkirkan seluruh pengetahuan tentang obyek yang diselidiki yang diperoleh dari sumber yang lain, semua teori dan hipotesis yang sudah ada. Untuk sementara, setelah kita mampu melakukan penyingkiran keakuan/ego maka semua teori tentang jin harus ditinggalkan. Tahap Anda harus “tidak tahu apa-apa tentang jin” ini.

Reduksi ketiga: menyingkirkan seluruh tradisi pengetahuan termasuk pengetahuan dan praktik mistik dan mengalaminya dengan totalitas penghayatan. Segala sesuatu yang sudah dikatakan tentang jin harus untuk sementara dilupakan. Kita memasuki kondisi nol. Yaitu kondisi ketika kita tidak berpikir apa-apa tentang jin, dan tidak memiliki pengetahuan apa-apa namun mengalami dengan seluruh totalitas pengalaman “ku terhadap ada mu (jin)”

Kalau reduksi-reduksi ini berhasil, gejala penampakan jin akan terlihat dengan sendirinya. Metode sederhana ini saya rasakan terbukti sangat efektif untuk berkomunikasi dengan jin. Terserah Anda mau dengan cara/ritual/metode atau mantra/doa apapun juga, monggo saja. Intinya bahwa semua metode, matra dan doa-doa itu hanyalah sebagai sarana untuk memantapkan tahap reduksi pertama, kedua dan ketiga.

Yang saya paparkan ini hanya dasar tangga menuju komunikasi dengan jin. Makhluk Tuhan ini juga seperti kita, sehingga kita jadikan dia teman belajar untuk berbagi kebijaksanaan.

Yang perlu diperhatikan berhubungan agar ketauhidan atau keimanan kepada Allah SWT terjaga, maka dilarang keras untuk saling mengeksploitasi. Semua harus berlandaskan etika untuk saling menghormati dan menghargai satu sama lain.  Selamat mencoba dan Terima kasih.

wongalus

Categories: KOMUNIKASI JIN | 41 Komentar

SEPARUH HATI


Maha Pemurah KAU yang telah memperkenankan si bodoh ini menulis apa yang terasakan khususnya terkait dengan hubungan-hubunganku dengan-MU. Hubungan dengan peradaban dalam waktu dan ruang yang menyejarah yang merupakan pemaparan ayat-ayat-Mu pada hidup kami.

Sebuah hubungan khusus yang tidak setiap saat manusia dapatkan. Hanya pada kesempatan-kesempatan khusus pula manusia diperkenankan untuk menyampaikan perasaan ini. Tidak ada maksud lain selain ingin berbagi pengalaman sehingga bisa diambil apa yang dirasa bermanfaat dan membuang apa yang dirasa kurang bermanfaat.

Memang cukup berat yang manusia rasakan untuk mengungkapkan secara jernih, bening dan detail hubungan antara manusia dengan Dia. Sebab, mengungkapkan rasa harus melalui saringan akal dan akal sepertinya memiliki watak untuk memanipulasi dan membiaskan maksud yang sesungguhnya. Namun, semoga Dia melindungi tulisan ini dari penyesatan-penyesatan akibat “aku” manusia yang cenderung mengarah pada mementingkan diri sendiri.

Pada kesempatan langka ini, sedikit banyak batin manusia ingin mengunci untuk sementara peran akalnya. Mengunci dan tidak membuka-buka gudang memori di otak terkait dengan apa terasa, mengubur untuk sementara bahasa-bahasa baku yang biasanya manusia gunakan. Menutup gudang wacana dan kemudian mengalirkan udara kebebasan rasa untuk memilih arti dan maknanya sendiri-sendiri.

Sejak pertama manusia mendaftarkan blog ini ada sesuatu yang menggedor-gedor di dada ini untuk berbagi sesuatu yang entah namanya apa. Mungkin kebenaran dan kebijaksanaan yang berasal dari keprihatinan manusia melihat begitu banyak nilai-nilai absolut dan abadi yang sudah rusak, baik disadari maupun ikut-ikutan merusak secara sengaja untuk kemudian melanggeng dalam ketidaktahuan menuju kehancuran peradaban. Barangkali ini adalah utopia dari manusia, sehingga manusia mohon maaf. Namun, manusia mohon untuk tidak apriori terlebih dahulu.

Manusia percaya sesuatu yang muncul dari rasa terdalam akan sampai pada pembacanya dengan mendalam pula. Sesuatu itu bisa diserap dan bersenyawa kuat serta diakui sebagai kebenaran bila memang benar. Namun bila salah, maka lambat laun akan menguap dan hilang begitu saja seiring dengan berubah-ubahnya hati kita. Watak diterimanya kebenaran memang sangat sulit namun bila sudah bisa diterima dengan hati dan rasa batin maka akan mengakar kuat.

Manusia merasakan suasana batin kita sekarang sudah tidak kondusif lagi untuk dihirup. Resapan energi alam yang suci sudah sedemikian polutif oleh hawa nafsu/keinginan/kehendak yang dipendarkan setiap individu. Kemana-mana manusia melangkah, terasa menyakitkan dan menyesakkan. Tidak ada rasa syukur, tenang, ikhlas yang memancar. Kedekatan manusia dengan alam tidak terasa sebagai hubungan silaturahim antar makhluk-Nya, namun sebaliknya. Sebuah hubungan di mana yang satu (manusia) berkeinginan untuk membohongi, mencengkeram untuk menguasai dan kemudian dijual. Ujungnya hanyalah untuk kepentingan diri sendiri, sementara kepentingan alam untuk melestarikan dirinya diabaikan. Dimana-mana manusia menjumpai hal ini…. hanya pada saat khusus di tempat khusus dan ini pun langka, manusia hanya bisa menjumpai segelintir momen dan orang yang masih “suci” dari kotoran-kotoran duniawi.

Justeru, biasanya orang-orang suci yang manusia temui ini bukan berasal dari kalangan terpandang, terpelajar dan berkuasa. Meskipun ada juga satu dua orang yang dari kalangan ini yang masih memancarkan sinar pemberontakan habis-habisan terhadap kondisi batin peradaban yang polutif. Mereka berkeinginan untuk merubah secara revolusioner namun manusiangnya dia hanya sendiri dan belum memiliki kekuatan sosial. Artinya, dengan kekuatan satu porang suci mustahil untuk dilakukannya perubahan besar. Dia butuh kekuatan besar masal meski awalnya dilakukan diam-diam.

Sementara orang suci lainnya tidak memiliki kekuatan untuk melakukan perubahan batiniah masyarakat. Dia ibarat nabi, yang suci dan hanya bisa diteladani saja. Dia tidak memiliki energi yang begitu kuat untuk melakukan perubahan struktural masyarakat. Dia hanya mengajarkan di forum-forum kecil dan informal. Inipun terkadang masih ditentang oleh pengikutnya sendiri karena ada pengikut yang kurang bijaksana. Di sisi lain, peradaban ini membutuhkan kekuatan batin yang dahsyat untuk berubah.

Namun, Malaikatmu mengingatkan bahwa kini orang suci tidak seterusnya suci. Suci tidak inheren melekat pada semua sifat-sifat kemanusiaannya. Kini kesucian hanyalah menempel pada saat khusus dan sesaat lenyap. Para Nabi dan para wali kini mungkin sudah tamat seiring dengan sudah terasa cukupnya ajaran kebenaran disampaikan.

Entah, ini hanya keyakinan saja. Bahwa kelak akan ada sebuah energi besar yang datang tidak dari jauh, melainkan dari “dalam” peradaban sendiri untuk berubah menjadi baik sesuai dengan kehendak Tuhan. Kekuatan batiniah yang kuat ini akan menggelontor peradaban yang polutif dan sakit sehingga peradaban ini akan benar-benar bersih kembali seperti sedia kala. Peradaban yang tidak kotor oleh tangan-tangan jahil, oleh otak-otak koruptif dan manipulatif. Semoga dalam waktu dekat hal ini akan terwujud.

Namun, harapan ini bisa jadi juga hanya harapan, sebab bila kita rasakan secara jernih maka yang terasa hanyalah kekotoran batin peradaban yang menjadi-jadi dari hari ke hari….

Terbayang jelas seperti layar putih membentang: ada peperangan ekonomi, peperangan fisik berkecamuk, bencana alam yang bertubi-tubi, kekalahan manusia, kemunafikan para pemimpinnya, penderitaan panjang yang mengakibatkan putus asa, gelap sungguh gelap peradaban kita. Iniah suatu masa yang menjadi kekhawatiran kita bersama sehingga marilah kita semua mencegah agar jangan sampai bayangan manusia ini menjadi kenyataan.

Pencegahan hanya bisa dilakukan bila batin/jiwa/rasa kita semua menjadi suci. Bila tidak suci atau masih abu-abu maka akibatnya akan sangat mengerikan. Sebab malaikat sudah memegang kitab-kitab yang berisi daftar hitam kebodohan manusia. Ketololan manusia, bagi malaikat adalah bahan informasi kepada Tuhan untuk mendatangkan hukuman. Malaikat adalah makhluk yang tertib dan tidak menilai benar-salah dengan hati nurani. Malaikat adalah makhluk mekanis deterministik seperti robot yang siap apapun karena memang sudah diprogram Tuhan untuk melaksanakan perintah-Nya tanpa protes.

Sekali Tuhan memberi perintah, selanjutnya malaikat akan melaksanakan dengan sepenuh energi yang dimilikinya untuk taat dan patuh. Ini beda dengan makhluk iblis yang terasa begitu cerdas. Kecerdasan iblis adalah menyerang setiap ide dengan apriori tanpa memperhitungkan akibat tindakannya. Iblis tidak memiliki kebijaksanaan dan hanya manusia yang memiliki kebijaksanaan dan kedalaman untuk menakar nilai-nilai berdasarkan kehendak Tuhan. Allah Maha Bijaksana!

Du Gusti, hubunganku denganmu adalah hubungan asmara yang abadi. Keabadian ini tidak akan lenyap oleh kekuranganku akibat kebodohan pikiranku untuk menghayati setiap inti sel kebenaran yang terpancar jelas sebagai petunjuk. Engkau yang Maha Pecinta akan selalu memberi aku kepercayaan bahwa semua yang Engkau sabdakan adalah benar dan paling benar. Tidak pernah salah karena Engkau mengukurnya dengan tingkat akurasi hukum-hukum ciptaanmu sendiri yang tidak mampu kami pahami.

Ya Gusti, meniadakanku untuk selama-lamanya di dalam alam yang sudah kotor oleh nafsu-nafsu ini adalah sebuah kebahagiaan. Namun dengan kau tundanya manusia untuk menikmati kebahagiaan ini adalah bukti kecintaanmu pada ciptaan-Mu sendiri. Tidak mungkin kau adakan manusia bila kau tidak memiliki maksud agar semua yang ada ini bisa seimbang kembali tatanan kosmis lahir dan batin sebagaimana yang engkau ijinkan. Sekecil apapun peran setiap sel di alam semesta ini, pada hakikatnya adalah memiliki peran dan fungsi untuk menjaga keadilan dan kesejahteraan bersama.

Apa yang diperankan manusia sesuai dengan kehendakMU menciptakan kami adalah sebuah kemuliaan yang sangat berarti. Sedikit banyak kami bisa ikut merasakan betapa nikmat berada di dalam bumi-Mu, alam-alamMu, dan surga-Mu kelak. Ungkapan rasa syukur dan kata-kata saja sangat tidak mencukupi untuk membalas betapa Engkau Maha Pemberi Kenikmatan yang tiada terkira. Sangat luar biasa… sangat sangat luar biasa… Maha Suci Engkau dari segala yang kami persekutukan.

Kini, tidak layak lagi “aku” mengaku “aku”. Sangat sangat malu rasanya mengakui bahwa aku ini layak untuk tampil dan mengatakan sesuatu. Hubunganku dengan-MU terlalu khusus dan mungkin tidak mampu diceritakan kenikmatannya. Terima kasih, Ya Allahku… sesuatu/dzat/tuhan satu satunya yang tiada tara… Namun aku menyadari bahwa “aku mencintaimu masih dengan separuh hati”, karena terkadang aku dholim telah dengan sengaja melupakanmu. Astaghfirullah…

wongalus

Categories: SEPARUH HATI | 6 Komentar

Blog di WordPress.com. The Adventure Journal Theme.