SAYUR LODEH PAK DAMAR (bagian 4)


Untuk melengkapi tulisan terdahulu, pada kesempatan kali ini penulis ingin berbagi soal pandangan Prof Dr Damardjati Supadjar tentang tradisi tolak bala. Berbeda dengan para penceramah yang sering kita dengar di mimbar-mimbar yang lebih cenderung berpikir hitam-putih dalam memandang tradisi tolak bala, Pak Damar lebih cenderung untuk memandang persoalan dari aspek positifnya. Dia memilih menyelami kenapa masyarakat melakukan sebuah upacara tradisi dan mengambil intisari serta makna yang terkandung dari sebuah fenomena budaya tersebut.

Apalagi masyarakat Jawa terkenal dengan kegemarannya untuk mengolah perilaku serta pikirannya. Kepribadian orang Jawa itu tercermin dalam digunakannya berbagai taraf bahasa mulai Krama Inggil yang halus hingga Jawa Ngoko yang cenderung vulgar, nakal dan lucu. Kecenderungan lain orang Jawa adalah kesukaannya untuk ”otak atik gathuk”, menghubung-hubungkan sebuah fenomena atau gejala alam dengan keberuntungan, musibah, atau pertanda. Menyadari akan tipologi, karakter, kepribadian orang Jawa yang seperti itu, Pak Damar tidak serta merta menolak. Justeru dia menggunakan jurus yang sama: ”otak atik gathuk” untuk kemudian dibingkai dengan frame Agama dan disesuaikan dengan ajaran Ketauhidan.

Syahdan beberapa tahun lalu masyarakat Yogyakarta, terutama yang tinggal di bagian selatan was-was. Kekhawatiran muncul menyusul pengumuman Badan Meteorologi dan Geofisika akan kemungkinan terjadinya badai tropis di laut selatan pulau Jawa yang bisa menghantam Yogyakarta. Pengumuman itu tak pelak membuat sebagian besar masyarakat memilih menjauhi pantai. Misalnya, di desa Kanigoro yang berada di pinggir pantai, terdapat lebih dari 210 nelayan dan 100 pedagang pergi meninggalkan pantai. Arus pengungsian warga menjauh dari pantai sangat beralasan karena banyak warga trauma menyaksikan gempa dan gelombang tsunami dan lain sebagainya.

Sebagaimana kebiasaan masyarakat Jawa yang gemar untuk mengadakan upacara selamatan, saat itu entah bagaimana asalnya tiba-tiba masyarakat Yogyakarta memasak sayur lodeh dua belas macam, menanam uang seratus rupiah bergambar gunungan sebagai syarat tola bala di depan rumah dan hal-hal unik lainnya. Tidak hanya itu, masyarakat juga berebut air yang diambil dari tujuh sumber mata air untuk “keslametan”. Berita ini tersiar luas dan sangat cepat. Lalu banyak masyarakat mempraktekkannya, bahkan di kantor-kantor banyak orang memasak sayur lodeh.

Sayur lodeh adalah sayur bersantan yang terdiri dari 12 macam bahan pokok, yaitu waluh (labu) kuning, kacang panjang, terong, kluwih, daun so, kulit mlinjo, jipang, kates muda, gori, kobis, bayung dan kecambah kedelai. Sayur ini biasanya dimakan dengan bubur. Bagi kalangan penceramah agama yang hitam-putih, ini bisa jadi dianggap bertentangan dengan ajaran Islam karena mengurangi kemurnian akidah. Di berbagai masjid, para dai men-cap praktik tradisi ”tolak-bala” seperti itu dianggap bertentangan dengan ”kemurnian” akidah.

Sadar akan kemelut keyakinan masyarakat yang berbeda mensikapi adanya ancaman badai tropis akidah di aras publik masarakat Yogyakarta tersebut, Pak Damar turun gunung untuk menyejukkan suasana. Dia diminta menulis artikel di koran Kedaulatan Rakyat, yang dimuat tanggal 6 Februari 2005.

Menurut Pak Damar, tradisi ”tolak-bala” di atas bermakna untuk menggugah kembali semangat ke-dhiri-an, menyelami hidup, mawas diri serta mengkoreksi diri menghadapi situasi yang mutawatiri (mengkhawatirkan) masyarakat. ”Sayur lodeh sebagai makanan terkait dengan kata “madhang” (makan). “Madhang” tidak sekedar makan secara lahir, tetapi sebuah laku mencari “pepadhang” atau jalan terang kehidupan agar selamat. Sebab sekarang ini situasi masyarakat sedang “peteng” (gelap). Sehingga sayur lodeh menjadi simbol masyarakat dianjurkan untuk mencari “pepadhang”, mencari kebaikan, atau jalan terang,” tulis Pak  Damar.

Dalam kondisi yang tidak menentu, tulis Pak Damar, filosofi Jawa menganjurkan manusia untuk kembali ke alam “madhang” sayur lodeh 12 macam.

Artinya, manusia hidup dalam suatu rangkaian upaya menangkap gelar atau agenda Ilahi. Untuk menangkap gelar atau agenda Ilahi manusia harus menangkap gelagat alam, di samping menangkap gelagat sesama, masyarakat di mana ia berada. ”Angka 12, berjumlah tiga (1+2), dalam filosofi Jawa berarti upaya meraih kehidupan masyarakat yang “jinangkung-jinampangan” (dilindungi Allah yang maha kuasa). Sayur lodeh 12 macam dengan bahan utama waluh (dari kata uwal-luh) kuning berarti “uwal” (lepas), dari ‘luh’ (air mata); maksudnya membebaskan manusia dari tetes air mata, peluh atau penderitaan. Santan sayur kelapa hijau biasa digunakan oleh masyarakat tradisional untuk penawar racun. Santan dalam sayur ini juga menjadi simbol penawar racun duniawi. Kemewahan dunia tidak disadari oleh masyarakat telah menjadi racun.” tulis Pak Damar. ***

Wong alus

Iklan

19 Comments Add yours

  1. yang-kung berkata:

    Kangmas DamarDjati yth.

    Makasih ya atas hidangan menunya yang ciamik & sedap.Inilah yang membuat aku sering main di cafe ini.
    Memang sebagian besar bangsa kita ini lebih percaya dengan simbol2 alam dibanding dng realitas kehidupan.

    SEBAGAI ORANG BERIMAN KITA DIPANGGIL UNTUK MAMPU BERPIKIR,BERTINDAK,DAN BER-KATA2 DENGAN BIJAK.

    sugeng karaharjan.

  2. wongalus berkata:

    Kagem Yang Kung, ngapunten raosipun hidangannya taksih ngalor-ngidul…. Simbol melambangkan sesuatu, namun sayangnya interpretasi atas simbol yang biasanya kurang tajam karena kurang diasah. Simbol-simbol yang dipancarkan oleh Gusti Kang Welas Asih kepada kita sangat nyata tujuannya: yaitu agar manusia menemukan jati dirinya masing-masing: Kenapa Tuhan menciptakan Slamet, Agus, Eko, Wahyu, Sri, maupun Paulus dengan tingkat kesadaran dan kadar kompetensi yang berbeda…

    Era modern yang kapitalistik mengglobalkan citra-citra ideal dan gaya hidup yang cenderung seragam, dan kita dengan nyaman dipaksa memakannya mentah mental tanpa perenungan yang mendalam.
    Tuhan disingkirkan dari diskusi-diskusi publik dan wacana kehidupan sehari-hari. Tuhan dibunuh sebagaimana pikiran Frederich Nietschze, dan diganti dengan superioritas manusia.

    Inilah saatnya kita merevolusi cara berpikir, cara berperilaku, dan cara beriman. Tuhan tidak pernah mempersulit kita untuk memberi ampun dan memberikan kekuatan dalam memperbaiki diri, sebagaimana kita tidak sungkan untuk berbuat dosa. “menjadi Bijak itu pilihan, menjadi tua itu pasti”..

    Mohon maaf Yang Kung, yang lebih muda dari panjenengan ini terlalu banyak memberi komentar. Maklum, tong kosong nyaring bunyinya….Semoga yangkung selalu diberi-Nya kesehatan, keikhlasan dan keintiman untuk berasyik masuk dengan-Nya.

    Salam jauh di mata, lebih dekat dari rasa dekat…
    wong alus

  3. m4stono berkata:

    sayur lodeh ya?
    hmmm… salah satu kesukaan saya, jujur aja waktu ada isu badai tropis pada waktu itu memang saya kurang percaya mosok sayur lodeh bisa utk tolak bala, untung saja saya belum sampai pada tahap mencibir, tapi memang kalo dilihat secara maknawi memang lodeh 12 macem itu artinya kalo ndak salah karo welas lan asih, jadi memang kita harus menjadi alat tuhan dalam rangka rahman&rahimNya yg indah tanpa batas, upacara memang penting tapi lebih penting makna yg dikandung dibalik upacara tsb, jadi memang sudah menjadi tugas kita untuk merekonstruksi dan menjelaskan makna2 simbolik dibalik upacara2 adat dsb agar org2 tidak terjebak kedalam penyekutuan tuhan…sehingga nantinya kita bisa mempertemukan antara agama dan budaya/kejawen agar kedua hal tsb tidak saling dipertentangkan…
    nuwun

  4. wongalus berkata:

    Leres Kangmas kulo, mas M4stono….
    antara agama dan budaya tidak perlu ada pertentangan. Budaya untuk menari di dunia, agama untuk menari di akhirat. Bila mampu menarikan keduanya secara indah, maka hidup kita juga semakin indah. Kecerdasan dan kesadaran, disertai kehati-hatian untuk menetapkan titik pijakan yang tepat barangkali upaya yang perlu kita lakukan agar tidak kepleset dan kesleo.
    Terima kasih dan salam sih katresnan…

    wong alus

  5. Azzie Iskandar berkata:

    I-IV, alhamdulillah, alhamdulillah, alhamdulillah, alhamdulillah

  6. Hari Brawijaya Murti berkata:

    Matur Sembah Nuwun…

  7. Indri Indraswari berkata:

    Mas Wong Alus, matur nuwun yo sudah mentransfer ilmu dari Pak Prof Damar yang inspiring, profesor filsafat kesayangan Illahi Rabb..

  8. wongalus berkata:

    Yth sdri Indri: Sama-sama. Moga bermanfaat.

  9. Dahrun Marada berkata:

    Tradisi yang mengakar pada kehidupan sosial masyarakat, kalau di lihat secara kasat mata apalagi ditinjau dari segi syariat agama akan sangat bertentangan. Namun kalau kita gali lebih mendalam lagi ada hikmah yang sangat besar di balik tradisi manusia yang mengakar itu. Orang hanya melihat dari luarnya saja seperti para penceramah-penceramah yang mengandalakan dali Al-Qur’an dan Hadist tanpa pendalaman yang kuat – dalam hal men-syirik-kan adat istiadat masyarkat setempat.
    Mereka mengatakan sebagai pemurnian agama.

  10. muna ramadhani berkata:

    prof damardjati s Yth: nwn sewu, prof.. tepang kalih mbah Ridwan jaelani..

  11. Ernest Hidayat berkata:

    Ingat Prof Damarjati terkenang saat beliau mengisi ceramah di musholla kami yg mungil dan sederhana (waktu itu beliau belum S3 apalagi Prof masih gelar SU/S2 ) dan saya sempat sowan ke rumahnya di jalan Kaliurang. Beliau yg sederhana, kocak dan kata-katanya bermakna dalam jadi kami2 ini yg masih mahasiswa yg bukan basic filsafat perlu “tenaga extra” untuk memahaminya. Salam hormat buat Prof Damarjati Supadjar. Terimakasih Wongalus telah membeberkan pemikiran beiau

  12. anwar berkata:

    alhamdulillah berkat rahmat rahmat allah,kami siap membantu saudara yg menderita sakit tp belum mendapat kesebuhan,insyaallah kami siap membantu baik masalah medis maupun non medis
    1)guna guna atau santet
    2)masalah rejeki supaya lancar karena allah
    3)memisahkan pil atau wil
    4)pelet atau wibawa
    5)dll
    kami siap melayani saudara yg membutuhkan jasa kami
    silahkan konsultasi
    anwarmuhamad93@yahoo.co.id
    insyaallah kami siap bantu
    wslm

  13. raden arto berkata:

    rahasia cara mudah menyelesaikan hutang,bg pengusaha atau sedulur yg punya hutang menumpuk
    temukan rahasianya,
    radenarto@yahoo.co.id

  14. wisanggeni berkata:

    alhamdulillah

  15. sukohartoyo berkata:

    maturnuwun kata-kata mutiaranipun

  16. sukohartoyo berkata:

    Salam kenal kagen Bapak Damarjati Supadjar.
    Kula alumni TP UGM. Ndek rumiyin pas ngangsu kawruh dateng Yogya, sanget-sanget kagum dateng acara radio “Bersama Dr. Damardjati Supadjar” jam 5 sonten. pramila kula dumugi sak niki tasih mbikak-mbikak asil panyeratipun Damardjati Supadjar.

  17. mirad jenar berkata:

    mohon doa dari temen2 buat kesehatan dan kesembuhan Bapak Dr,Damardjati supadjar

  18. ki_mapan parijan berkata:

    Semeleh, semeleh, semeleh…………………….mohon semua ikhlas buat pak Damar tuk capai kesempurnaan hidup. Doa ku selalu buat seorang guru, teman tempat curhat ttg makna hidup. Sehat kembali pak Damar mari kita bangun bangsa ini Idhul Fitri.
    Salamku
    Dua pemuda dari Lombok.

  19. sukohartoyo berkata:

    yang pasti, bagi lidah orang jawa sayur lodeh lebih nikmat dari KFC maupur Hamburrrrrger…. kalau mau jujur sich.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s