Monthly Archives: November 2010

SBY KEHILANGAN PERSPEKTIF BHINEKA TUNGGAL IKA


MAS KUMITIR & KI WONG ALUS

PRESIDEN TELAH KEHILANGAN PERSPEKTIF BHINEKA TUNGGAL IKA DAN MEMAKSAKAN SISTEM DEMOKRASI BARAT YANG BERTENTANGAN DENGAN NILAI-NILAI DEMOKRASI PANCASILA. DEMOKRASI PANCASILA TIDAK PERNAH MENGENAL SISTEM OLIGARKI. DEMOKRASI PANCASILA DIBANGUN BERDASARKAN ATAS PENGHARGAAN YANG SETINGGI-TINGGINYA PADA ADAT ISTIADAT DAN BUDAYA MASYARAKAT. UNTUK MEMBANGUN BANGSA INI, ADA HAL-HAL YANG HARUS DIPERHATIKAN, SALAH SATUNYA ADALAH KEKHUSUSAN DAN KERAGAMAN DAERAH YAITU PRINSIP BHINEKA TUNGAL IKA YANG TERMAKTUB DALAM PASAL 18 A UUD 1945. DENGAN DASAR KEBHINEKAAN, KEKHUSUSAN DAN KERAGAMAN INILAH MUNCULNYA DAERAH ISTIMEWA ACEH, YOGYAKARTA DAN OTONONOMI KHUSUS PAPUA.

Hari Jumat, 26 November 2010 kemarin Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menggelar rapat terbatas di Kantor Presiden. Agendanya, mendengarkan pemaparan dari Mendagri Gamawan Fauzi tentang perkembangan empat RUU yang akan segera dirampungkan oleh pemerintah, di antaranya RUU Keistimewaan DIY yang telah lama terbengkalai. Ternyata rapat itu menuai kontroversi saat SBY mengungkapkan pandangannya mengenai RUU Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Dalam sambutannya Presiden menyebut tidak mungkin sistem monarki dapat diterapkan di negara demokrasi seperti Indonesia. “Tidak mungkin ada sistem monarki yang bertabrakan baik dengan konstitusi maupun nilai demokrasi,” kata Presiden SBY. SBY lalu menjelaskan Indonesia adalah negara hukum dan demokrasi, sehingga nilai demokrasi tidak boleh diabaikan. Oleh karenanya terkait penggodokan RUU Keistimewaan DIY, pemerintah akan memprosesnya bersama Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) untuk mendapatkan satu UU yang tepat.

Pendapat Presiden ini tak pelak menimbulkan kontroversi. Partai oposisi PDIP, melalui kadernya Ganjar Pranowo menyebut ungkapan Presiden ini adalah indikasi keinginan SBY untuk melaksanaan pilkada di DIY secara langsung, tidak seperti saat ini yang dilakukan penunjukan langsung kepada Sultan Yogyakarta. “Kalau itu sikapnya (SBY) begitu, pasti dia menghendaki gubernur dipilih langsung. Maka keistimewaan Yogya selama ini akan diakhiri oleh SBY,” kata Ganjar Pranowo.

Ganjar menjelaskan, penetapan Gubernur DIY seperti yang berlangsung sampai saat ini adalah bagian dari kekhususan dan keragaman daerah, sebagaimana tertulis dalam pasal 18A ayat 1 UUD 1945. Kekhususan dan keragaman ini juga yang melandasi diberlakukannya hukum syariah di Aceh, otonomi khusus Papua, dan ditunjuknya Walikota di Provinsi DKI Jakarta.

Mendapat sorotan, pernyataan SBY tersebut coba untuk dijelaskan oleh Staf Khusus Presiden Bidang Pembangunan Daerah dan Otonomi Daerah, Velix Vernando Wanggai. Menurut pria asli Papua ini, Presiden SBY menghargai keistimewaan DIY. Velix meminta bentuk keistimewaan DIY tidak dimaknai secara sempit pada rekrutmen kepala daerah saja.

“Karena itu, pernyataan Presiden SBY yang lalu perlu dimaknai sebagai upaya pengakuan dan penghormatan warisan tradisi, kekhususan, dan kebudayaan keraton dalam konteks demokrasi yang sedang kita konsolidasikan dewasa ini,” jelasnya.

Sementara keluarga Sultan Hamengkubuwono X bersuara pedas menanggapi pendapat Presiden SBY. Adik Sultan, GBPH Joyokusumo mempertanyakan pernyataan SBY. Penyataan SBY dinilai bisa menhancurkan kesatuan NKRI karena menafikan aspek historis. “Dengan pernyataan yang tidak punya dasar sejarah, konstitusi, dan demokrasi itu, sadar atau tidak sadar, SBY mau menghancurkan NKRI,” kata Joyokusumo.

Pernyataan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang mengibaratkan kondisi keistimewaan Yogyakarta sebagai bentuk monarki adalah sebuah pernyataan yang ahistoris. Selama ini Sultan sebagai kepala daerah bagi Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta telah menjalankan tugas, peran, dan fungsi sebagaimana kepala daerah lainnya. Bahkan kewajibannya. Perangkat DIY sebagai provinsi pun tidak berbeda, ada sekretaris daerah, kepala dinas, pengawasan DPRD, adanya peraturan daerah sebagai produk legislatif, dan penyusunan APBD. Jadi, DIY sama sekali bukan sebuah ‘monarki’ DIY, tapi sebuah provinsi.

Yang berbeda di DIY hanyalah penetapan kepala daerah. Namun, bukankah pengaturan tentang kepala daerah pun sudah mendapat legitimasi oleh negara? Jika pernyataan SBY bermaksud mempersoalkan tata cara penetapan kepala daerah, maka pernyataan tersebut berdampak jauh dalam konteks NKRI karena pernyataan tentang monarki seolah menempatkan DIY bukan bagian dari NKRI.

Pernyataan SBY tentang keistimewaan DIY, seolah mengabaikan pesan konstitusi tentang kekhususan dan keistimewaan. Mengibaratkan keberadaan keistimewaan DIY sebagai monarki dalam NKRI tentu saja mengganggu spirit NKRI dimana DIY adalah salah satu provinsi dalam negara Indonesia. Ada sejarah yang telah kita lalui dimana memang menghendaki Yogyakarta sebagai Daerah Istimewa. Sebutan sistem monarki yang dikemukakan SBY dengan begitu juga dianggap terlalu menyederhanakan persoalan dalam memandang sistem kerajaan dan politik modern.

AA GN Ari Dwipayana, dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada menjelaskan yang terjadi di DIY bukanlah sistem monarki, tetapi lebih pada tradisi budaya yang secara eksis berkembang dan mengakar kuat. Harus diakui, eksistensi keraton sangat kuat. Persoalannya, bagaimana menempatkan keraton dalam sistem pemerintahan modern. Itu yang harus dijawab dalam Rancangan Undang-Undang Keistimewaan (Yogyakarta).

Menurut dia, Yudhoyono terlalu terpaku pada makna keistimewaan sebatas perekrutan kepala daerah. Akibatnya, dengan mudah menyebut sistem pemerintahan DIY sebagai sistem monarki. Masih banyak isu keistimewaan lain yang harus mendapat perhatian, seperti isu pertanahan dan tata ruang wilayah.

Ari juga mengkritisi pernyataan Yudhoyono yang menyebutkan sistem monarki bertabrakan dengan demokrasi. Menurut dia, pengalaman sejumlah negara, sistem monarki bisa berdampingan dengan politik modern. Misalnya, di Inggris, Belanda, dan Malaysia. ”Tidak seharusnya monarki ditabrakkan dengan demokrasi,” katanya.

Secara terpisah, dosen Hukum Tata Negara Fakultas Hukum Universitas Atma Jaya Yogyakarta, Hestu Cipto Handoyo, mengatakan, dengan menyebut sistem monarki, Yudhoyono tidak memahami konsep keistimewaan DIY. ”SBY (Yudhoyono) tampaknya salah menafsirkan keistimewaan DIY,” ujarnya.

Sejarah, menurut Handoyo, harus dipakai sebagai referensi utama dalam menyusun undang- undang yang mengatur tentang tata negara. Keistimewaan DIY, katanya, muncul karena adanya hak privilege yang diberikan Pemerintah Indonesia yang berkuasa saat itu kepada Sultan Hamengku Buwono IX dan Sri Paku Alam VII.

Hak itu diberikan karena Keraton Ngayogyakarto dan Pakualaman merupakan daerah merdeka yang memilih untuk menjadi bagian dari Indonesia. ”Kontrak politik antara DIY dan Indonesia itu mestinya tidak diingkari. Hak privilege semacam itu bahkan juga diakui oleh Pemerintah Belanda dan Jepang yang pernah menduduki wilayah Indonesia,” kata Handoyo menambahkan.

Anggota Komisi II DPR Akbar Faisal menyebut SBY tak paham substansi kesitimewaan Yogyakarta. “Bagi saya pribadi Presiden keliru. Karena (keistimewaan) itu ada dalam undang-undang,” ujarnya. Dikatakannya, Sultan menyadari bahwa Provinsi DIY bukan pemerintahan monarki sebagaimana diungkapkan Presiden. Menurut Sultan, Provinsi DIY ini sama dengan sistem organisasi manajemen provinsi lain. “Yang saya agak bingung dari istilah monarki yang dikatakan, Presiden seperti mendramatisir kesitimewaan Yogyakarta. Padahal banyak daerah yang diperlakukan sejenis,” jelasnya.

“Keistimewaan DIY lebih cenderung pada sejarah dan budaya yang melekat pada Yogyakarta. Jadi, saya kira wajar jika Sultan dan rakyat Yogyakarta tersinggung dengan pernyataan Presiden itu,” imbuh dia. Tak hanya itu, lanjut Akbar, statement Presiden soal monarki ini juga dianggap cukup merugikan. “Karena seakan-akan ini suara Jakarta. Padahal DPR tidak sepakat dengan ini,” katanya.

APA KATA SRI SULTAN?
”Kalau sekiranya saya dianggap pemerintah pusat menghambat proses penataan DIY, jabatan gubernur yang ada pada saya ini akan saya pertimbangkan kembali,” Demikianlah pernyataan Sri sultan Hamengkubuwono X dalam jumpa pers di kantor Gubernur Kepatihan, Yogyakarta. Pernyataan Sultan yang juga gubernur DIY itu agak terasa keras dan ditujukan langsung kepada SBY.

Sumber petaka tidak harmonisnya hubungan Yogya dengan pemerintah pusat sebenarnya berpuncak dari RUU Keistimewaan Yogyakarta yang tak pernah terselesaikan, dalam RUU tersebut pemerintah pusat berkeinginan agar Gubernur DIY dipilih langsung oleh rakyat, sama seperti apa yang diberlakukan terhadap daerah propinsi lainnya. Draft RUU tersebut hingga hari ini tak kunjung diajukan oleh pemerintah ke DPR, hingga membuat nasib Yogyakarta menjadi terkatung-katung tanpa ketentuan yang jelas. Dan ini merupakan bentuk keteledoran pemerintah pusat terhadap daerah istimewa yogyakarta.

Tiba-tiba muncul pernyataan presiden yang seolah-olah Yogyakarta dengan segenap keistimewaannya selama ini dianggap sebagai sebuah pemerintah daerah yang dijalankan dengan sistem monarki dan bertabrakan dengan sistem demokrasi yang dijalankan oleh pemerintah pusat.

Sultan sendiri membantah bahwa tidak ada perbedaan antara pemerintahan DI Yogyakarta dan propinsi lainnya, Gubernur diangkat bukan melalui sistem baku yang berlaku dikraton, tapi menurut tatanan yang diatur oleh pemerintah disaat itu. Namanya diusulkan oleh DPRD dan diangkat menjadi Gubernur dengan SK dari presiden yang waktu itu dijabat oleh Habibie, dan dilanjutkan pula oleh Megawati, sedikitpun tak ada campur tangan kraton dan kerabatnya. Namun secara kebetulan saat ini Gubernurnya dijabat oleh seorang Sultan.

KEHILANGAN PERSPEKTIF
Pengamat politik Asmari Rahman menilai demokrasi itu penting untuk membangun bangsa ini, tapi bukan berarti segala-galanya, ada hal-hal yang harus diperhatikan dalam menjalankannya dinegeri ini, salah satunya adalah kekhususan dan keragaman daerah yang selalu kita sebut dengan istilah Bhineka Tungal Ika dan ketentuan sebagaimana yang termaktub dalam pasal 18 A UUD 1945. Dengan dasar kebhinekaan, kekhususan dan keragaman inilah munculnya Daerah Istimewa Aceh, Yogyakarta dan Otononomi khusus Papua.

Di Aceh dan Otonomi khusus untuk Papua memang tidak terkait dengan apa yang disebut dengan Monarkhi, tapi jika negara ini ingin dijalankan menurut faham Demokrasi secara utuh maka hukum yang diberlakukan di Aceh adalah hukum nasional, dan tidak ada lagi istilah Partai Lokal, demikian juga halnya dengan istilah Otsus Papua, jika Papua mendapat perlakuan khusus maka seluruh Propinsi juga harus diberikan Otononomi khusus, bila perlu kita anut sistem federal sekalian.

Jika presiden memaknai Demokrasi itu dengan pengangkatan kepala daerah melalui pilihan rakyat bagaimana dengan jabatan walikota yang ada di DKI, mereka ini semuanya diangkat bukan dipilih, padahal semua bupati dan walikota yang ada dinegeri ini dipilih langsung oleh rakyat, mengapa walikota di DKI Jakarta tidak ?

Khusus mengenai urusan DI Yogyakarta ini, sebaiknya presiden selaku kepala pemerintahan memanggil Sultan sebagai Gubernur, bicara face to face untuk membahas persoalan ini terutama soal RUU keistimewaan Yogyakarta yang sudah lama terbengkalai, sehingga ada solusi yang terbaik bagi penyelesaian darft RUU tersebut, dan tidak menjadi topik pembahasan yang bertele-tele serta menjadi perdebatan publik yang tak berkesudahan.

Dan satu hal yang perlu dicatat adalah jika Gubernur DI Yogyakarta dipilih secara langsung pada saat ini maka tak dapat diragukan lagi bahwa pilihan rakyat adalah Sri Sultan HB X, bahkan mungkin jika diberikan kesempatan secara terbuka bertarung dalam pemilihan presiden saya perkirakan Sri Sultan Hamengkubuwono akan mengungguli calon lainnya, termasuk SBY sendiri. Intinya adalah bukan soal monarki atau tidaknya DI Yogyakarta, tapi bagaimana kita memaknai dan menghargai kebhinekaan dan keberagaman berbagai daerah yang ada di Nusantara ini, dan sudah sejak lama Sri Sultan HB X menunggu RUU keistimewaan Yogyakarta tapi tak kunjung selesai juga sehingga pernah terlintas dibenak Sultan untuk menanyakannya secara langsung kepada rakyat lewat referendum.

Demokrasi tetap penting untuk membangun negeri ini, tapi jangan pernah demokrasi ala barat. Demokrasi kita adalah demokrasi Pancasila. Demokrasi ala Barat sudah terbukti tidak sempurna sebagaimana yang dibayangkan. Buktinya Bupati dan Gubernur yang dipilih langsung oleh rakyat belum tentu menjadi pemimpin yang baik yang mampu meningkatkan kesejahteraan rakyat yang dipimpinnya, bahkan tak sedikit diantaranya menjadi pesakitan dikursi terdakwa karena melakukan tindak pidana korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan.

Bahan informasi dihimpun dari berbagai sumber: koran tempo, kompas, detik.com, vivanews, dan lainnya @@@

Categories: >>PERPUSTAKAAN UTAMA | 277 Komentar

MISTERI KANKER PAYUDARA


risang mukti
risang.mukti@gmail.com

Assalamu alaikum kepada wongalus para sesepuh dan pembaca yang saya hormati. Saya akan mencoba sedikit menguak penyakit kanker payudara yang selama ini sangat ditakuti bagi kaum hawa karena prosentase orang yang kena kanker payudara mengalami gagal penyembuhan.Berangkat dari kakak saya sendiri yang tidak tertolong akibat serangan kanker payudara beberapa tahun yang lalu dalam benak saya ingin menguak apa yang terjadi dibalik kanker payudara. Syukur2 saya bisa memberikan solusi kepada orang lain sehingga kejadian seperti yang dialami almarhumah kakak saya tidak terulang pada saudara2 kita.

Sebelum saya menulis lebih jauh tentang kanker payudara akan saya ceritakan berbagai macam terapi yang dijalankan kakak saya yang belum ada yg membuahkan hasil.Ya kalau diputus itu sebuah takdir alloh memang semua sudah takdir.Namun bagi saya ada rasa penasaran dan ingin tahu yang kuat apa yg terjadi dibalik proses terjangkitnya penyakit kanker payudara.Saya berpikir pasti ada hukum sunatulloh/ketetapan alloh dibalik proses terjadinya kanker payudara.Ketika kakak saya terkena kanker payudara saya berusaha mencarikan solusi keberbagai kenalan praktisi supranatural namun sebelumnya dia telah konsumsi buah merah.Sesepuh yg pertama saya temui menganjurkan menggunakan keladi tikus.Hasilnya cukup melegakan karena walaupun benjolanya blm hilang namun2 keluhan2 seperti panas badan dan rasa nyeri sdh tidak terasa.Namun setahun kemudian walaupun walau kakak sy masih rutin konsumsi keladi tikus keluhanya terasa lagi.Lalu kakak berganti ramuan atas saran sesepuh yg lain.Tiap hari merubus kelapa hijau dlm kelapa itu diberi daun tembaga dan ramuan lain selain kakak minum berbagai produk MULTI LEVEL sebagai konsumsi harian.Namun sepertinya berbagai ramuan dan obat sudah tdk ada pengaruhnya sama sekali.Lalu saya ajak kakak mendatangi tempat terapi penyakit dg metode transfer penyakit ke kambing.Saya beserta rombongan yg kebetulan 5 org punya keluhan kanker semua walau tempat kankernya berbeda2.Tapi anehnya ke 5 orang tersebut setelah ditransfer penyakitnya ke kambing dan melakukan terapi lanjutan selama 3 bulan dan harus mendatangi tempat tersebut tiap minggu semua tdk ada perubahan.Akhirnya bosan dan pilih menghentikan terapi.Kakaku masih tetap mengkonsumsi berbagai ramuan dg tujuan menghambat pertumbuhan kankernya.Termasuk konsumsi buah sirsak atas saran dokter dokter ahli kanker lulusan kanada.

Karena seringnya berkonsultasi dg dokter tersebut ditempat prakteknya saya beranikan diri bertanya tentang penyakit kanker.Dia menjawab:sampai saat ini seluruh dokter didunia belum bisa mengetahui secara pasti apa penyebab
kanker.Bahkan dia mengecam terapi kemo yg masih di gunakan di indonesia krn diluar negri terapi kemo sdh lama ditinggalkan dan dia malah menganjurkan kpd saya agar kakak menghindari operasi.Karena berbagai macam ramuan dan terapi baik medis maupun alternatif belum membuahkan hasil termasuk terapi reiki yg dilakukan teman2 saya juga doa bersama oleh seluruh anggota keluarga dan para sahabat yg ikut prihatin atas penderitaan kakak namun belum diberi kesembuhan.Akhirnya kakak dioprasi.Namun setelah dioprasi keadaanya malah semakin parah sampai akhirnya dia menghadap kehadirat illahi.Atas kejadian tersebut saya semakin ingin tahu apa sebenarnya kanker payudara.Walaupun melalui proses yang panjang dengan menghubungi para saudara yang kena kanker payudara baik yg telah sembuh maupun yang belum sembuh.Testimoni mereka yang telah sembuh saya coba bagikan kepada yang belum sembuh.Proses itu saya lalukan berulang2.Dan akhirnya ada sedikit kesimpulan bahwa penyakit kanker payudara ini ada dua jenis yaitu KANKER PAYUDARA BIASA:kanker payudara yang ini sangat mudah disembuhkan asal sabar dan telaten dg meminum ramuan apa saja yang penting arahnya ke penyembuhan kanker cepat sembuh.Yang mudah dicari dan praktis konsumsi daun dewa mentah2.Bisa juga ramuan yang lain. KANKER PAYUDARA NON MEDIS:Mungkin jenis ini dulu yang menimpa kakak saya sehingga uang ratusan juta lebih dikeluarkan alloh blm memberi kesembuhan juga.Untuk membedakan itu kanker payudara non medis lakukan titip sebagai berikut:hafalkan dua buah doa yg akan sy tulis dibawah.

Bertawakalah pada alloh dengan banyak bertaubat mengakui kesalahan kita.Lalu letakan telapak tangan kanan di titik antara 2 alis scr perlahan bacalah doanya masing2 11x.Setelah itu tempelkan telapak tangan kanan dipusar lalu bclah doanya masing2 11x.Lalu tempelkan telapak tangan di bwh pusar diatas kemaluan bc doanya sebelas 11x.Kl memang anda terkena jenis kanker payudara non medis maka akan ada yg janggal waktu melakukan pendeteksian mandiri seperti diatas diantaranya ngantuk mendadak atau seluruh badan kesemutan atau ditempat sakit terasa getar berdenyut atau perut seperti ditusuk2 jarum dan seperti ada yg terasa lari kesana kemari atau merasakan gempa bumi lokal.Semua prosesi pendeteksian bs dilakukan dg berbaring tenang.Dan ini khusus unt mendeteksi kanker payudara dan tdk berlaku unt kanker lain.Inilah doa yang saya maksud:

AUDZUBINUURILLAHI WABIL WAJHIL KARIM.WA BIKALIMATILLAHI TAMMATI LATTI LAA YUJAWIZU HUNNA BARUN WALAA FAJIRUN MIN SYARRI MAA KHOLAQ.WA DARO’A WA BARO’. WA MIN SYARRY MAA YANZILU MINAS SAMAA’I WA MIN SYARRI MAA YAKHRUJU FIIHAA.WA MIN SYARRI MAA DARO’A FIL ARDHI WA MIN SYARRI MAA YAKHRUJU MINHAA.WA MIN SYARRI FITANIL LAILI WANAHARI. WA MIN SYARRI THOWARIQIL LAILI WA NAHARI ILLA THORIQON YADRUKHU BI KHOIRIN YAA ARHAMA ROHIMIN 11X.

dan doa ini:YAA WADUDU YAA DZAL ARSYIL MAJID YA MUBDIU YAA MU’ID.YAA FA’ALU LIMAA YURID.AS’ALUKA BINUURI WAJHIKAL LADZII MALA’A ARKANA ARSYIK.WA AS’ALUKA BIQUDROTIKAL LADZII QODARTA BIHA ALA KHOLQIKA WA BIROHMATIKAL LATTI WASI’AT KULLA SYAI’.LAA ILAHA ILLA ANTA YAA MUGHIST.AGHISNI…AGHISNI..AGHISNI.

Untuk penyembuhan kanker payudara non medis silahkan email saya tentang doa lanjutanya.Saya tidak akan menarik mahar.Insya alloh kalau kena kanker payudara non medis kalau anda bertaubat tawakal kpd illahi akan diberi kesembuhan. Waktu terapi mandiri berkisar 3 sampai 4 bulan.Tapi ada juga yg seminggu pecah.Yang lama biasanya kempes secara perlahan tanpa pecah.Untuk kanker/tumor yg lain sy tdk berani melakukan pendeteksian jarak jauh.Karena yg saya pahami jenis tumor itu puluhan dilihat dr sudut pandang supranatural.Ada yang mudah ada yang sulit.Bisanya menentukan jenisnya setelah dilakukan pendeteksian langsung yang agak rumit.Dan saya juga setuju dg komentar saudara kita disini yang mengatakan dia kena kanker dan katanya kanker itu juga makluk alloh.Saya sendiri merasakan seolah kanker itu ada nyawanya.Demikian semoga bisa menambah wawasan @@@

Categories: >>PERPUSTAKAAN UTAMA | 241 Komentar

INDAHNYA ALAM KUBUR


Iwan Kun
iwan.fajarbp@gmail.com

Suatu Kehormatan untuk Diri Saya Pribadi dapat Berbagi Pengalaman Cerita Pribadi Saya dalam Mengarungi Dunia dimana Dunia sulit Terjangkau Oleh Pikiran Dan nalar Kebanyakan Orang, Saya akan menceritakan pengalaman yang pernah saya alami Beberapa Tahun Yang Lalu pada Kampus Tercinta Kampus Wong Alus.

Saya mempunyai Tetangga yang posisi rumahnya tidak berjauhan dari rumah saya , saya Tinggal Di Desa Jatisari Bekasi Selatan, Sebut Saja Teman Saya bernama Si “A”, Suatu Hari Si”A” datang kerumah Saya untuk Menceritahan Keluh kesahnya Mengenai Kedaan Orang Tua Dari Pihak Istri ( Mertua ), yang sedang Sakit yang tidak Kunjung Sembuh, Sebut Saja Orang Tua Istri Dari Teman saya Si “ B “

Si “B” berusia 30 tahun Diatas saya, saat Sekarang usia saya 43 Tahun, Teman Saya Si A Ingin Memperkenalkan diri saya kepada Si B hanya sekedar bersilaturahmi menjalin hubungan kekeluargaan. Si B adalah seorang Mualaf Etnis Tiongha, karena si B berpindah Keyakinan maka si B tidak mendapat Posisi di dalam keluarga yang telah berbeda Aqidah , Akirnya Si B mendalami Aqidahnya dari Pesantren Ke Pesantren Untuk Mendalami dan meluruskan aqidah Yang diJalani sampai akhir Hayatnya.

Banyak Nasihat yang saya dapat dari Si B dalam mengarungi Bahtera Kehidupan Prinsip Welas Asih terhadap sesama Mahluk dan Sebagai Hamba Allah SWT selalu dijunjung tinggi terakhir petuah yang diberikan kepada saya untuk keselamatan di dunia dan untuk bekal di akhirat nanti petuah itu selalu ada dalam ingatan saya. Suatu Petuah Hidup Yang Luhur.yang diajarkan dari si B kepada diri saya.

Dengan suatu Bekal Ke Imanan Si B di Jadikan Panutan bagi warga sekitar maunpun dari luar daerah banyak sekali Orang bersareat ke pada Si B untuk pengobatan dan penyembuhan, tanpa meminta imbalan dari orang yang memerlukan Bantuan kepada Si B
Karena Prinsip Hidup Si B dalam mengarungi suatu ilmu Kita Hanya Memohon Kepada Allah SWT, dan tidak Boleh mengharpkan Imbalan Suatu apapun dari orang yang memerlukan pertolongan. Suatu prinsip yang mulia ini menjadi Bekal hidup untuk Si B dan pada sampai akirnya Si B Jatuh Sakit,selama 3 tahun mungkin karena usianya waktu itu Sudah mencapai berusia 73 Tahun, Akhirnya Si B Meminta Pertolongan Kepada Teman-Teman Seperguruanya diwaktu Menggali Ilmu Di Pesantren, Namun tak seorang Temanpun yang ikhlas membantu Si B, Kalau tidak ada uang Sekian saya tidak mau Menyembuhkan Kamu begitu ucapan teman seperguruan terhadap si B, Dengan Keinginan Untuk Sembuh akhirnya Si B Mengeluarkan Biaya yang di minta oleh teman teman seprguruan waktu dipesantren tak Kunjung sembuh akhirnya dari pihak keluarga memutuskan untuk membawanya ke Rumah Sakit umum daerah Bekasi.

Tak Kunjung Sembuh Setelah beberapa Minggu Di opname di Rumah Sakit Akhirnya Si B Memutuskan untuk dibawa Pulang kerumah saja sampai akhirnya terjalin silaturohmi dengan saya, Sumringah Wajah Si B ketika bertemu dengan saya , 1 Ucapan terakhir yang saya dengar dari Si B “ Bapak Sudah Lelah, Bapak Ingin Pulang “ dan akhirnya saya berunding dengan seluruh anak-anaknya untuk permintaan Si B bahwa beliau Ingin Pulang , Rupanya Si B sudah mempunyai Firasat Kalau Umurnya Tidak Lama Lagi.

Dua Minggu Kemudian Saya mendapat Kabar Bahwa Si B Telah Berpulang Kerahmatullah , Sebelum Berpulang Beliau Menggambil Air Wudhu untuk Menggunakan Kain Kafan Sendiri Berbaring Diatas Tempat Tidur dengan Ditunggui semua Anak-Anak Dan Cucunya, Seluruh Baju yang dipakai Di Lepas Di Ganti Dengan Kain Kaffan Yang Sudah Dipersiapkan Jauh-jauh Hari Oleh Si B, Setelah Kain Kafan Menutupi Seluruh Tubuh Si B , Meniggalkan kata terakhir “ Sudah Bapak Sudah Di Jemput “ Akhirnya Si B Pergi Dengan Ikhlas dan tenang.

Selang Memasuki Hari yang ke-40 saya mengirm Do’a Arwah dan Surat Al-Fatiha Kepada SI B waktu itu saya selesai Sholat Isya langsung Tawasulan, di Tengah-tengah Tawsulan Si B Datang menemui saya , Sambil Berkata Assalamualikum Na Iwan sayapun menjawab Waalaikumsalam, Bapak sudah enak sekarang Na iwan .

Akhirnya Si B mengajak saya untuk sekedar memperlihatkan keadaan suasana yang baru Masya Allah, Allahu Akbar Begitu Indahnya Suasana Di Alam Kubur Kedaan yang Tidak Mempunyai Batasan Saya mencoba untuk lebih jauh merasakan melihat kesekeliling Tidak ada Batasan yang menghalanginya, Putih Redup, Terang Benderang Suasana saat itulah yang saya rasakan di ajak oleh Si B. Tak Lama kemudian Si B Menuntun Saya kembali Ke Asal semula di posisi saya yang sedang Bertawasul, Air Mata Seketika itu Juga membanjiri Sejadah yang saya gunakan Menangis Seperti Anak Yang meminta sesuatu Pada orang Tua.

Kesimpulan dari pengalaman itulah yang menjadi pengalaman yang sangat berarti dalam hidup saya Hanya kepada Allah SWT tempat Kita Memohon dan Meminta, Amaliah Sesorang akan di bawa mendamping ketika kita berada di Alam Penantian. Bisakah Saya seperti Si B, Begitu Luas Alam Kuburnya, Begitu Terang Benderang Alam Kuburnya. Allahu Akbar…Allahu Akbar..Allahu Akbar Waalilla Ilham. @@@

Categories: >>PERPUSTAKAAN UTAMA | 64 Komentar

OBAT TRADISIONAL AMPUH DAN MUJARAB UNTUK SEGALA PENYAKIT RINGAN DAN BERAT


BY:YUSLICH
fathul786@yahoo.com

1. SAKIT LEOKIMIA (KANKER DARAH)
Obatnya sama dengan kanker biasa yaitu:
– Daun mauni
– Buah blimbing sayur (blimbing wuluh)
– Temu ireng

Ketiganya direbus, airnya untuk minum sehari-hari. Masa pengobatan 7 – 21 hari untuk orang usia muda biasanya sudah sembuh. Sedangkan untuk orang yang sudah agak tua bisa mencapai 2 bulan.

2. PENYAKIT TUMOR
Obatnya: Daun Tapak doro yang bunganya putih
Caranya: 20 helai daun direbus untuk minum pagi dan sore masing-masing 1 gelas

3. PENYAKIT DIABETES (KENCING MANIS/KENCING GULA)
– Apabila belum luka: cukup kunyit/kunir dimakan kulit dan ampasnya pagi, siang, dan sore masing-masing 7
– Apabila sudah luka: Maka ditambah kubis mentah tiap pagi, siang, dan sore masing-masing sehelai daun. Insyaalloh dalam waktu 21 hari sudah sembuh

4. PENYAKIT REUMATIK
Faktor penyebabnya:
Tidur di tempat yang dingin
Mandi sebelum tidur (malam hari)
Tidur di saat masih berkeringat
Mandi dalam keadaan berkeringat
Mandi setelah makan/minum yang panas

Macam-macam reumatik:
Reumatik kulit: Rasanya panas seperti kena cabe
Reumatik urat: Rasanya sering kram, kejang-kejang
Reumatik darah: Sering kesemutan (gringgingen)
Reumatik sumsum: Tulangnya semakin lama semakin pendek, bengkok
Reumatik usus: Sering tindihen

Obatnya:
a. Kunyit dan madu tiap pagi, siang, dan sore 7 buah.
b. Berjemur tiap pagi sampai keringat basah kuyub.
Insyaalloh dalam waktu 11 hari sudah sembuh.

5. PENYAKIT KADAS DAN KUDIS
Obatnya: Sirih beserta tangkainya ditambah belerang ditumbuk halus dan direbus dengan minyak kelapa. Mulai merebus diaduk terus-menerus sampai mendidih. Kemudian digunakan obat oles. Dengan pengobatan ini 7 hari sudah sembuh. Tapi pengobatan masih harus dilanjutkan sampai 7 hari lagi. Gunanya untuk membunuh telur-telurnya.

6. PENYAKIT ANEMIA (DARAH RENDAH)
Obatnya: Air kelapa hijau direbus dengan gula batu ditambah madu untuk minum sehari-hari. Untuk mempercepat penyembuhan ditambah makan kurma, pagi 3 buah, siang 6 buah, dan sore 9 buah.

7. PENYAKIT MAG
Obatnya: Air kelapa

8. JERAWAT (Jw. KUKUL)
a. Terjadinya di saat masa puber
b. Penyebabnya terlalu banyak kolesterol
c. Obatnya: Susu kambiing perah dicampur dengan air putih dan gula pasir direbus untuk minum pagi dan sore

9. PENYAKIT CAPLAK
Obanya: Daun kacang panjang (lembayung) digosokkan tiap hari 3 kali.

10. PENYAKIT PANU
Obatnya: Bensin dan tepung belerang dicampur lalu dioles-oleskan tiap ba’da Isya’. Dan ketika Subuh harus mandi. Kekuatan obat ini hanya 3 setengah tahun.

11. PENYAKIT BESER, AMBIEN, HERNIA, ISTIHADZOH, KEPUTIHAN
Obatnya: 7 kunyit dan madu tiap pagi, siang, dan sore. Ditambah lidah buaya untuk pagi dan sore, dan harus berolahraga SKOTJAM

12. PENYAKIT JANTUNG, LIMPA, PARU-PARU, DAN SEMUA PENYAKIT DALAM
Obatnya:
Daun muda pepaya, daun muda beluntas, daun muda bentis (pace), daun muda simbukan dan akar kelapa yang masih muda. Semuanya direbus, airnya diminum, sayurnya dimakan, danakarnya dibuang.

Olahraganya:
Lari sambil jinjit-jinjit di pematang sawah yang banyak rumputnya. Tangan direntangkan dan jari-jari dibuka-ditutup.

13. PENYAKIT KENCING BATU/BATU GINJAL
Obatnya: Daun kejibeling, adas, asam, bawang mmerah, meniran, dan bubuhan kesemuanya direbus. Airnya diminum setiap hari insyaalloh batu hancur dan keluar.

Semua resep di atas kami peroleh dari Almarhum KH. Agus Ma’shum Lirboyo-Kediri. Semoga bermanfaat. Amin.

Categories: >>PERPUSTAKAAN UTAMA | 60 Komentar

DONGKRAK PESONA WANITA DENGAN ZIKIR JALJALUT


Didik Mulyono
mr_sengkreng242@yahoo.com

Assalaamualaikum..wr..wb,kepada kang mas wongalus,poro sesepuh,lan saudara2 semua,ijinkan saya kembali memberikan setitik ilmu yang pernah saya dapat dari seorang ustadz.Pengasuh padepokan Al Barakah,desa kedung pring,Balong panggang gresik.Berupa amalan zikir kidung jaljalut.Dimana zikir ini sangat ampuh untuk mendongkrak pesona wanita…dan juga,sebagai media zikir agar cepat memiliki keturunan bagi yang udah lama merindukan keturunan.Insya Alloh akan segera memiliki keturunan.Amin

Demikian zikirnya:
“BISSMILLAAHIRROHMAANIRROHIIM
WA YAA ASYMAKHIN JALIYYAAN SARII’AN QADINQADHAT 33X

(yaa Alloh,berkat namaMu an Nuur,penuhilah hajatku.wahai Tuhan yang bernama Asymakhin.Jaliyyan(yang maha pencipta)cepatkanlah pemenuhanMu secara nyata)
Digandeng dengan ayat 89 dari surat Al-Ambiyaa’ 1000X..Perlu diketahui,Surat Al-Ambiyyaa’ ayat 89,adalah zikir yang selalu di baca oleh Nabi Zakariyya.Untuk meminta anak kepada Alloh SWT.Jadi Zikir jaljalut jika di gandengkan dengan surat Al-Ambiyaa’ ayat 89,Insya Alloh jika ada seorang wanita yang udah lama merindukan anak,dan ingin segera dikaruniai anak yang sholeh sholikhah,Insya Alloh akan segera dikaruniai momongan oleh Alloh SWT.Seperti halnya Nabi Zakariyya AS,dikaruniai Alloh Putra yaitu,Nabi Yahya AS.

Dan bagi wanita yang ingin terlihat cantik mempesona,memiliki daya tarik yang luar biasa,Dan mungkin yang udah lama merindukan pendamping hidup.Silahkan melanggengkan zikir jaljalut digandeng dengan ayat 31.dari surat AR-Ra’du(petir).Di amalkan setiap habis sholat fardu 3x 3x(zikir jaljalut 3x dan surat Ar-RA’du ayat 31,3x) dan juga setiap usai sholat hajat,tata caranya sama seperti diatas.demikian ilmu ini saya turunkan semoga dapat menambah wawasan ilmu dan bermanfaat bagi saudara2ku sekalian….Wassalam. @@@

Categories: >>PERPUSTAKAAN UTAMA | 49 Komentar

MERCHANDISE KWA JAKARTA


Dengan Hormat, Team KWA Cabang Jakarta mempelopori ide membuat merchandise berupa kaos yang didesain unik dan bagus. Kepada KWA cabang lain kami juga persilahkan berinovasi dengan ide-ide segar demi kemajuan organisasi di wilayah masing-masing. Dana akan digunakan untuk kepentingan sosial kemanusiaan dn tetap mengedepankan paseduluran, silaturahmi dan tidak memberatkan. Kami sgt sng skl atas inisiatif ini,monggo silahkan ditindak lanjuti bagi cabang yg brsangkutan ato ke contact person. trmksh. @@@

Assalamu’alaikum….Salam takdzim kepada para sesepuh semua,
Berdasarkan usulan pada saat acara KWA Jakarta di JIC, yang dilatarbelakangi gagasan bahwa menghidupi organisasi KWA JAKARTA memerlukan dana untuk kegiatan sosial kemanusiaan serta tidak untuk kepentingan pribadi maka dengan ini KWA JAKARTA menyediakan merchandise berupa KAOS KWA Jakarta dengan harga yang pantas. Dana akan dikelola secara mandiri oleh KWA Jakarta.

No. tlp/hp berikut :
0881150922 a/n Ki Toro
08161424502 a/n Hasibuan
081806332879 a/n Angker Ludiarto
02132345408 a/n Ki Dead man

terimakasih
ttd
KWA JAKARTA

Categories: >>PERPUSTAKAAN UTAMA | 97 Komentar

1001 MANFAAT ILMU RAJEH


KI NURJATI

Ni deh ane share beberapa dari manfaat ASR. Karena selama ini menurut ane belum pernah sekalipun di share oleh master2 ASR di forsup secara terbuka

1. Pengasihan Umum : Asma’ dibaca sebanyak 3 kali sambil menahan nafas pada kedua telapak tangan, kemudian tiupkan dan diusapkan ke wajah.

2. Pengasihan Khusus : Asma’ dibaca sebanyak 41 kali diluar rumah, sambil menghadap rumah orang yang dituju. Setiap selesai membaca Asma’ sebanyak 10 kali, bayangkan / terawanglah wajah orang tersebut, lalu tiupkan. Ulangi amalan ini selama 3 hari hingga berhasil dengan sempurna. Dan ketika akan bertemu dengan orang tersebut, bacalah kembali Asma’ sebanyak 3 kali sambil menahan nafas, lalu tiupkan ke arahnya.

3. Keberanian Luar Biasa : Setiap akan berhadapan dengan musuh atau ketika akan mau keluar rumah, bacalah Asma’ sebanyak 3 kali sambil menahan nafas.

4. Pelarisan Usaha Apa Saja : Asma’ dibaca sebanyak 41 kali pada pasir atau gula pasir, lalu tiupkan. Kemudian terbarkanlah pasir atau gula pasir tersebut didepan tempat usaha.

5. Kewibawaan Tingkat Tinggi : Setiap akan berangkat bepergian kemana saja, bacalah Asma’ sebanyak 3 kali sambil menahan nafas.

6. Meredam Amarah Seseorang : Asma’ dibaca sebanyak 41 kali diluar rumah, sambil menghadap rumah orang yang dituju. Setiap selesai membaca Asma’ sebanyak 10 kali, bayangkan / terawanglah wajah orang tersebut, lalu tiupkan. Dan ketika akan bertemu dengan orang tersebut, baca kembali Asma’ sebanyak 3 kali sambil menahan nafas, lalu tiupkan ke arahnya.

7. Kekuatan Pukulan Tangan : Asma’ dibaca sebanyak 3 kali sambil menahan nafas pada kedua telapak tangan, kemudian tiupkan dan pukulkanlah kearah musuh atau benda keras.

8. Menghancurkan Benda Keras : Asma’ dibaca sebanyak 7 kali sambil menahan nafas, lalu ditiupkan ke arah benda keras yang akan dihancurkan tersebut.

9. Kebal Pukulan Tangan Dan Benda Tumpul : Asma’ dibaca sebanyak 3 kali sambil menahan nafas.

10. Mengusir Musuh Lewat Bentakan : Asma’ dibaca sebanyak 3 kali sambil menahan nafas, lalu bentaklah musuh atau lawan tersebut.

11. Terlihat Seperti Raksasa Ketika Akan Dikeroyok : Asma’ dibaca sebanyak 3 kali sambil menahan nafas, kemudian tiupkan ke arah musuh yang hendak mengeroyok atau mengepung.

12. Menghentikan Pendarahan Pada Luka : Asma’ dibaca sebanyak 3 kali sambil menahan nafas, lalu tiupkan ke daerah tubuh yang luka atau berdarah.

13. Mendapatkan Pinjaman Uang : Asma’ dibaca sebanyak 41 kali diluar rumah, sambil menghadap rumah orang yang dituju. Setiap selesai membaca Asma’ sebanyak 10 kali, bayangkan / terawanglah wajah orang tersebut, lalu tiupkan. Dan ketika akan bertemu dengan orang tersebut, baca kembali Asma’ sebanyak 3 kali sambil menahan nafas, lalu tiupkan ke arahnya.

14. Memudahkan Seseorang Sakratul Maut : Asma’ dibaca sebanyak 41 kali pada segelas air putih. Setiap selesai membaca Asma’ sebanyak 1 kali, tiupkanlah ke air putih tersebut. Kemudian teteskanlah air putih itu secara perlahan – lahan pada mulut orang yang sulit meninggal atau sakratul maut tersebut.

15. Naik Kendaraan Umum Tanpa Bayar (Saat Terdesak) : Asma’ dibaca sebanyak 3 kali sambil menahan nafas pada kedua telapak tangan, kemudian tiupkan dan usapkan ke tubuh serta wajah. Lalu bacalah kembali Asma’ sebanyak 3 kali sambil menahan nafas, lalu tiupkan ke arah kondektur atau supir kendaraan umum tersebut.

16. Menambah Kekuatan Fisik : Setiap akan mau melakukan pekerjaan bacalah Asma’ sebanyak 3 kali sambil menahan nafas pada segelas air putih, lalu tiupkan dan minumlah hingga habis.

17. Menambah Keampuhan Ilmu : Setiap selesai sholat fardhu, bacalah Asma’ sebanyak 3 kali.

18. Melumpuhkan Ilmu Kesaktian : Asma’ dibaca sebanyak 3 kali sambil menahan nafas, lalu tiupkan ke arah musuh yang punya ilmu kesaktian tersebut.

19. Selamat Dari Razia Petugas : Setiap akan berangkat bepergian kemana saja, bacalah Asma’ sebanyak 3 kali. Dan jika bertemu dengan razia Polisi atau petugas keamanan lainnya, bacalah kembali Asma’ sebanyak 3 kali sambil menahan nafas, kemudian tiupkan ke arah para petugas razia tersebut.

20. Selamat Dari Serangan Senjata Tajam, Senjata Api Dan Bom : Setiap akan berangkat bepergian kemana saja, bacalah Asma’ sebanyak 3 kali.

21. Selamat Dari Kecelakaan Darat, Laut Dan Udara : Setiap akan berangkat bepergian kemana saja, bacalah Asma’ sebanyak 3 kali.

22. Menundukkan Musuh : Asma’ dibaca sebanyak 41 kali diluar rumah, sambil menghadap rumah orang yang dituju. Setiap selesai membaca Asma’ sebanyak 10 kali, bayangkan / terawanglah wajah orang tersebut, lalu tiupkan. Dan ketika akan bertemu dengan orang tersebut, baca kembali Asma’ sebanyak 3 kali sambil menahan nafas, lalu tiupkan ke arahnya.

23. Menagih Hutang Dan Pinjaman : Asma’ dibaca sebanyak 41 kali diluar rumah, sambil menghadap rumah orang yang dituju. Setiap selesai membaca Asma’ sebanyak 10 kali, bayangkan / terawanglah wajah orang tersebut, lalu tiupkan. Dan ketika akan bertemu dengan orang tersebut, baca kembali Asma’ sebanyak 3 kali sambil menahan nafas, lalu tiupkan ke arahnya.

24. Meluluhkan Hati Seseorang : Asma’ dibaca sebanyak 41 kali diluar rumah, sambil menghadap rumah orang yang dituju. Setiap selesai membaca Asma’ sebanyak 10 kali, bayangkan / terawanglah wajah orang tersebut, lalu tiupkan. Dan ketika akan bertemu dengan orang tersebut, baca kembali Asma’ sebanyak 3 kali sambil menahan nafas, lalu tiupkan ke arahnya.

25. Menetralisir Tempat Angker : Asma’ dibaca sebanyak 41 kali pada garam dan pasir. Setiap selesai membaca Asma’ sebanyak 1 kali, tiupkanlah ke garam dan pasir tersebut. Kemudian tebarkanlah garam dan pasir tersebut ke sekeliling atau ke seluruh lokasi yang hendak dinetralkan.

26. Menetralisir Tempat Yang Dipasangi Sihir : Asma’ dibaca sebanyak 41 kali pada garam dan pasir. Setiap selesai membaca Asma’ sebanyak 1 kali, tiupkanlah ke garam dan pasir tersebut. Kemudian tebarkanlah garam dan pasir tersebut ke sekeliling atau ke seluruh lokasi yang hendak dinetralkan.

27. Menangkal Sihir Dan Ilmu Hitam : Setiap akan berangkat bepergian kemana saja, bacalah Asma’ sebanyak 3 kali sambil menahan nafas.

28. Mengusir Makhluk Ghaib : Asma’ dibaca sebanyak 41 kali pada satu botol air mineral yang sudah dicampuri garam. Setiap selesai membaca Asma’ sebanyak 1 kali, tiupkanlah ke air mineral tersebut. Kemudian percik – percikkanlah air mineral itu pada tempat yang menjadi kediaman atau markasnya para makhluk ghaib yang dianggap mengganggu.

29. Ditakuti Makhluk Ghaib : Setiap akan berangkat bepergian melewati kawasan yang angker, bacalah Asma’ sebanyak 3 kali sambil menahan nafas.

30. Mengobati Diri Sendiri : Asma’ dibaca sebanyak 41 kali pada segelas air putih. Setiap selesai membaca Asma’ sebanyak 1 kali, tiupkanlah ke air putih tersebut. Kemudian minumlah air putih itu sampai habis.

31. Mengobati Seseorang Terkena Sihir Dan Gangguan Jin : Asma’ dibaca sebanyak 41 kali pada segelas air putih yang sudah dicampuri garam. Setiap selesai membaca Asma’ sebanyak 1 kali, tiupkanlah ke air putih tersebut. Kemudian minumkanlah air putih itu sampai habis.

32. Mengobati Penyakit Medis Dan Non Medis : Asma’ dibaca sebanyak 41 kali pada satu botol air mineral. Setiap selesai membaca Asma’ sebanyak 1 kali, tiupkanlah ke air mineral tersebut. Kemudian minumkanlah air mineral itu sampai habis.
33. Mengobati Penyakit Parah : Asma’ dibaca sebanyak 111 kali pada segelas air hujan. Setiap selesai membaca Asma’ sebanyak 1 kali, tiupkanlah ke air hujan tersebut. Kemudian minumkanlah sebagian air hujan itu dan sebagiannya lagi dicampurkan ke dalam air mandi untuk membasuh seluruh anggota badan.

34. Pagaran Ghaib Rumah Dan Lahan : Asma’ dibaca sebanyak 333 kali pada pasir, lalu tiupkan. Kemudian terbarkanlah pasir tersebut disekeliling tempat yang akan dipagari.

35. Menghentikan Badai Dan Angin Topan : Asma’ dibaca sebanyak 3 kali sambil menahan nafas, lalu tiupkan ke arah badai atau angin topan (angin puting beliung).

36. Menghentikan Ombak Ganas : Asma’ dibaca sebanyak 3 kali sambil menahan nafas, lalu tiupkan ke arah ombak laut yang sedang mengganas atau bergelombang besar.

37. Menundukkan Hewan Buas : Asma’ dibaca sebanyak 3 kali sambil menahan nafas, lalu tiupkan ke arah hewan buas atau hewan yang sedang mengamuk.

38. Mengusir Tamu Tak Di Undang : Asma’ dibaca sebanyak 3 kali sambil menahan nafas, lalu tiupkan ke arah tamu yang akan di usir tersebut.

39. Menahan Mendung : Asma’ dibaca sebanyak 3 kali sambil menahan nafas, lalu tiupkan ke arah langit yang sedang mendung atau hujan.

40. Mendatangkan Hujan : Asma’ dibaca sebanyak 3 kali pada tiap – tiap penjuru mata angin, kemudian tiupkan.

41. Agar Disayang Majikan : Asma’ dibaca sebanyak 41 kali pada segelas air putih. Setiap selesai membaca Asma’ sebanyak 1 kali, tiupkanlah ke air putih tersebut. Kemudian berikanlah air putih tersebut secara diam – diam kepada majikan atau dicampurkan ke minuman lain agar di minum olehnya. Dan ketika akan bertemu dengan majikan, bacalah kembali Asma’ sebanyak 3 kali sambil menahan nafas, lalu tiupkan ke arahnya.

42. Mempermudah Persalinan Ibu Melahirkan : Asma’ dibaca sebanyak 41 kali pada segelas air putih. Setiap selesai membaca Asma’ sebanyak 1 kali, tiupkanlah ke air putih tersebut. Kemudian minumkanlah air putih itu kepada wanita yang akan melahirkan.

43. Menghilang Dari Pandangan Musuh : Asma’ dibaca sebanyak 3 kali sambil menahan nafas, lalu tiupkan ke arah musuh. Kemudian Asma’ dibaca kembali sebanyak 3 kali sambil menahan nafas pada kedua telapak tangan, lalu tiupkan dan usapkan ke tubuh serta wajah.

44. Mengisi Azimat Dan Sejenisnya : Asma’ dibaca sebanyak 333 kali pada Azimat atau benda yang akan di isi. Setiap selesai membaca Asma’ sebanyak 111 kali, tiupkanlah ke Azimat atau benda yang akan di isi tersebut.

45. Menghantam Musuh Dari Jarak Jauh : Asma’ dibaca sebanyak 41 kali diluar rumah, sambil menghadap rumah orang yang dituju. Setiap selesai membaca Asma’ sebanyak 10 kali, bayangkan / terawanglah wajah orang tersebut, lalu tiupkan. Ulangi amalan ini selama 7 hari hingga berhasil dengan sempurna.

46. Mengisi Kekuatan Pada Seseorang : Asma’ dibaca sebanyak 41 kali pada segelas air putih. Setiap selesai membaca Asma’ sebanyak 1 kali, tiupkanlah ke air putih tersebut. Kemudian minumkanlah air putih itu kepada orang yang akan di isi.

47. Menetralisir Racun Dan Sejenisnya : Asma’ dibaca sebanyak 3 kali sambil menahan nafas, lalu tiupkan ke makanan, minuman atau benda yang dianggap mengandung racun dan sejenisnya.

48. Mendapat Kepercayaan Seseorang : Asma’ dibaca sebanyak 41 kali diluar rumah, sambil menghadap rumah orang yang dituju. Setiap selesai membaca Asma’ sebanyak 10 kali, bayangkan / terawanglah wajah orang tersebut, lalu tiupkan. Dan ketika akan bertemu dengan orang tersebut, baca kembali Asma’ sebanyak 3 kali sambil menahan nafas, lalu tiupkan ke arahnya.

49. Mengembalikan Barang Hilang : Asma’ dibaca sebanyak 41 kali pada segelas air putih yang sudah dicampuri garam. Setiap selesai membaca Asma’ sebanyak 1 kali, tiupkanlah ke air putih tersebut. Kemudian percik – percikkanlah air itu di sekitar tempat lokasi hilangnya barang.

50. Mempertajam Indera Ke – 6 : Asma’ dibaca sebanyak 1.000 kali pada malam hari diluar rumah sambil menatap bayangan wajah pada genangan air atau pada cermin tanpa berkedip sedikit pun. Setiap selesai membaca Asma’ sebanyak 100 kali, tiupkanlah pada titik antara kedua mata (Cakra ‘Aiinun). Ulangi amalan ini selama 7 malam hingga berhasil dengan sempurna.

51. Mempengaruhi Pikiran Seseorang : Asma’ dibaca sebanyak 41 kali diluar rumah, sambil menghadap rumah orang yang dituju. Setiap selesai membaca Asma’ sebanyak 10 kali, bayangkan / terawanglah wajah orang tersebut, lalu tiupkan. Dan ketika akan bertemu dengan orang tersebut, baca kembali Asma’ sebanyak 3 kali sambil menahan nafas, lalu tiupkan ke arahnya.

52. Memulangkan Seseorang Yang Minggat : : Asma’ dibaca sebanyak 41 kali diluar rumah, sambil menghadap ke arah tempat orang itu pergi pertama kali. Setiap selesai membaca Asma’ sebanyak 10 kali, bayangkan / terawanglah wajah orang tersebut, lalu tiupkan. Kemudian Asma’ dibaca kembali sebanyak 333 kali sambil menahan nafas pada bekas pakaiannya, lalu tiupkan. Kemudian gantunglah bekas pakaiannya tersebut di depan pintu masuk kamarnya atau di atas tempat tidurnya.

53. Pengobatan Jarak Jauh : Asma’ dibaca sebanyak 41 kali, sambil membayangkan atau menerawang wajah orang yang dituju. Setiap selesai membaca Asma’ sebanyak 1 kali, lalu tiupkan ke arah bayangan wajah orang tersebut.

54. Kuat Seks Berjam – Jam : Asma’ dibaca sebanyak 1.000 kali pada segelas madu yang sudah dicampuri dengan sebutir telur ayam kampung. Setiap selesai membaca Asma’ sebanyak 100 kali, tiupkanlah ke madu tersebut. Kemudian minumlah madu itu hingga habis setiap akan mau tidur. Ulangi amalan ini selama 7 hari hingga berhasil dengan sempurna.

55. Meningkatkan Nafsu Birahi Pasangan : Asma’ dibaca sebanyak 41 kali pada segelas air putih. Setiap selesai membaca Asma’ sebanyak 1 kali, tiupkanlah ke air putih tersebut. Kemudian minumkanlah air putih itu kepada Si suami / istri sampai habis sebelum akan melakukan hubungan badan (bersetubuh).

56. Mengubah Rasa Makanan Dan Minuman : Asma’ dibaca sebanyak 3 kali sambil menahan nafas, lalu tiupkan ke arah makanan atau minuman yang akan di ubah rasanya.

57. Menutup Tempat Ramai : Asma’ dibaca sebanyak 3 kali sambil menahan nafas, lalu tiupkan ke arah tempat atau kedai yang akan dibuat sepi dari pengunjung.

58. Mengusir Hama Pengganggu : Asma’ dibaca sebanyak 1.111 kali pada pasir. Setiap selesai membaca Asma’ sebanyak 111 kali, tiupkanlah ke pasir tersebut. Kemudian terbarkanlah pasir itu disekitar tempat / kebun yang terdapat hama pengganggu.

59. Ketenangan Batin Dan Pikiran : Setiap selesai sholat fardhu, bacalah Asma’ sebanyak 7 kali.

60. Memperkuat Aura Tubuh : Asma’ dibaca sebanyak 111 kali setelah selesai sholat Maghrib, lalu tiupkan pada kedua telapak tangan dan usapkan ke seluruh tubuh.

61. Mengatasi Kendaraan Mogok : Asma’ dibaca sebanyak 3 kali sambil menahan nafas, lalu tiupkan ke arah kendaraan yang sedang mogok jalan.

62. Merontokkan Susuk : Asma’ dibaca sebanyak 3 kali sambil menahan nafas, lalu tiupkan ke arah bagian tubuh orang yang memakai susuk tersebut.

63. Mengatasi Anak Rewel : Asma’ dibaca sebanyak 41 kali pada segelas air putih. Setiap selesai membaca Asma’ sebanyak 1 kali, tiupkanlah ke air putih tersebut. Kemudian minumkanlah air putih itu kepada anak yang suka rewel tersebut.

64. Menarik Rezeki Dari Segala Arah : Setiap jam 6 pagi, bacalah Asma’ sebanyak 9 kali pada tiap – tiap penjuru mata angin, kemudian tiupkan.

65. Mendongkrak Perolehan Ikan : Asma’ dibaca sebanyak 7 kali, lalu tiupkan ke arah umpan yang akan digunakan untuk memancing atau menangkap ikan.

66. Kirim SMS Tanpa Pulsa (Saat Terdesak) : Asma’ dibaca sebanyak 3 kali sambil menahan nafas, lalu tiupkan ke arah Handphone (HP).

67. Menghilangkan Penyakit Demam Panggung : Setiap akan berhadapan dengan orang ramai atau sebelum naik ke atas panggung, bacalah Asma’ sebanyak 3 kali sambil menahan nafas. Dan ketika sudah naik ke atas panggung, bacalah kembali Asma’ sebanyak 3 kali sambil menahan nafas, lalu tiupkan ke arah para hadirin.

68. Memenangkan Persidangan : Selama dalam perjalanan menuju tempat persidangan, bacalah Asma’ sebanyak – banyaknya. Dan ketika sudah berhadapan dengan para hakim dan jaksa pengadilan, bacalah kembali Asma’ sebanyak 3 kali sambil menahan nafas, lalu tiupkan ke arah mereka.

69. Menaikkan Jenjang Karir : Setiap akan berhadapan atau bertemu dengan bos / pemimpin, bacalah Asma’ sebanyak 3 kali sambil menahan nafas, lalu tiupkan ke arahnya.

70. Menetralisir Rasa Panas Minyak Goreng : Setiap akan mau memasak, bacalah Asma’ sebanyak 3 kali sambil menahan nafas.

71. Mempercepat Surutnya Air Banjir : Asma’ dibaca sebanyak 3 kali sambil menahan nafas, lalu tiupkan ke arah ujung air banjir atau sungai.

72. Mengeraskan Benda Lunak : Asma’ dibaca sebanyak 7 kali sambil menahan nafas, lalu tiupkan ke arah benda lunak tersebut.

73. Mengangkat Benda Berat : Asma’ dibaca sebanyak 3 kali sambil menahan nafas, kemudian angkatlah benda yang berat tersebut.

74. Memindahkan Penyakit Ke Telur : Asma’ dibaca sebanyak 111 kali sambil menggosok – gosokkan telur ayam ke daerah tubuh yang sakit. Setelah selesai, lalu tiupkan ke arah telur ayam tersebut dan kemudian pecahkan.

75. Kekebalan Tubuh : Asma’ dibaca sebanyak 3 kali sambil menahan nafas, kemudian tusuklah anggota tubuh dengan jarum, pisau, pedang dan berbagai senjata tajam lainnya.

76. Mengisi Kekebalan Tubuh : Asma’ dibaca sebanyak 333 kali pada segelas air putih. Setiap selesai membaca Asma’ sebanyak 1 kali, tiupkanlah ke air putih tersebut. Kemudian minumkanlah air putih itu kepada orang yang akan di isi kekebalan tubuh. Setelah 15 menit, lalu cobalah tusukkan anggota tubuh orang tersebut dengan jarum, pisau, pedang dan berbagai senjata tajam lainnya.
77. Melumpuhkan Badan Musuh : Asma’ dibaca sebanyak 3 kali sambil menahan nafas, lalu tiupkan ke arah musuh.

78. Menghipnotis Seseorang : Asma’ dibaca sebanyak 7 kali sambil menahan nafas, lalu tiupkan ke arah orang yang akan di hipnotis tersebut atau tepuklah bahu kirinya.

79. Memisahkan Pasangan Selingkuh : Asma’ dibaca sebanyak 41 kali pada satu botol air mineral. Setiap selesai membaca Asma’ sebanyak 1 kali, tiupkanlah ke air mineral tersebut. Kemudian berikanlah air putih tersebut secara diam – diam kepada orang yang suka berselingkuh tersebut atau dicampurkan ke minuman lain agar di minum olehnya.

80. Pengasihan Tingkat Tinggi : Asma’ dibaca sebanyak 111 kali setiap tengah malam, lalu tiupkan pada kedua telapak tangan dan usapkan ke seluruh tubuh.

81. Mempercepat Penjualan Tanah Dan Rumah : Asma’ dibaca sebanyak 333 kali pada 1 kg gula pasir. Setiap selesai membaca Asma’ sebanyak 111 kali, tiupkanlah ke gula pasir tersebut. Kemudian terbarkanlah gula pasir itu di sekitar lokasi tanah atau rumah yang hendak di jual.

82. Mengisi Aura Kecantikan : Asma’ dibaca sebanyak 41 kali pada 7 kuntum bunga – bunga harum yang masih segar, lalu tiupkan. Kemudian campurkanlah bunga – bunga itu ke dalam air yang digunakan untuk mandi junub (mandi wajib) oleh wanita yang ingin tampil cantik tersebut.

83. Mengisi Aura Ketampanan : Asma’ dibaca sebanyak 41 kali pada satu botol minyak wangi non alkohol, lalu tiupkan. Kemudian campurkanlah minyak wangi itu itu ke dalam air yang digunakan untuk mandi junub (mandi wajib) oleh pria yang ingin tampil tampan tersebut.

84. Menarik Benda Pusaka : Asma’ dibaca sebanyak 1.000 kali pada malam hari di depan lokasi tersimpannya benda pusaka. Setiap selesai membaca Asma’ sebanyak 100 kali, tiupkanlah pada lokasi tempat benda pusaka tersebut. Ulangi amalan ini selama 3 malam hingga berhasil dengan sempurna.

85. Mengobati Hewan Sakit : Asma’ dibaca sebanyak 41 kali pada segelas air putih. Setiap selesai membaca Asma’ sebanyak 1 kali, tiupkanlah ke air putih tersebut. Kemudian minumkanlah sebagian air putih itu kepada hewan yang sakit tersebut dan sebagian lagi dicampurkan ke dalam air yang digunakan untuk mandinya.

86. Selamat Dari Jeratan Hukum : Asma’ dibaca sebanyak 111 kali pada segelas air putih. Setiap selesai membaca Asma’ sebanyak 1 kali, tiupkanlah ke air putih tersebut. Kemudian minumkanlah air putih itu sampai habis.

87. Dijaga Malaikat Al – Khidhir : Setiap akan berangkat bepergian kemana saja, bacalah Asma’ sebanyak 3 kali sambil menahan nafas di depan pintu.

88. Dikawal Macan Ghaib : Setiap akan berangkat bepergian kemana saja, bacalah Asma’ sebanyak 3 kali sambil menahan nafas di depan pintu.

89. Menarik Ilmu Para Leluhur : Asma’ dibaca sebanyak 1.000 kali pada malam hari di depan makam leluhur. Setiap selesai membaca Asma’ sebanyak 100 kali, tiupkanlah pada makam leluhur tersebut. Ulangi amalan ini selama 3 malam hingga berhasil dengan sempurna.

90. Memperbaiki Kerusakan Barang Elektronik : Asma’ dibaca sebanyak 1.000 kali pada barang elektronik yang sedang rusak. Setiap selesai membaca Asma’ sebanyak 100 kali, tiupkanlah ke barang elektronik tersebut. Kemudian tutuplah barang elektronik itu dengan kain mori warna putih, dan diamkan selama 1 malam hingga benar – benar kembali baik.

91. Memiliki Daya Lembu Sakilan : Asma’ dibaca sebanyak 3.333 kali pada segelas air hujan. Setiap selesai membaca Asma’ sebanyak 100 kali, tiupkanlah ke air hujan tersebut. Kemudian minumlah air hujan itu hingga habis. Ulangi amalan ini selama 7 hari hingga berhasil dengan sempurna.
92. Mendapatkan Keturunan : Asma’ dibaca sebanyak 41 kali pada segelas air hujan. Setiap selesai membaca Asma’ sebanyak 1 kali, tiupkanlah ke air hujan tersebut. Kemudian minumkanlah air hujan itu kepada suami dan istri sampai habis sebelum akan melakukan hubungan badan (bersetubuh).

93. Memenangkan Pemilihan Pejabat : Asma’ dibaca sebanyak 41 kali pada segelas air putih. Setiap selesai membaca Asma’ sebanyak 1 kali, tiupkanlah ke air putih tersebut. Kemudian minumkanlah air putih itu kepada orang yang akan ikut pemilihan pejabat tersebut. Kemudian Asma’ dibaca kembali sebanyak 111 kali pada sebuah cincin, lalu tiupkan. Dan suruhlah orang tersebut mengenakan cincin itu kemana saja dia pergi selama masa pemilihan pejabat.

94. Benteng Dari Serangan Jin Dan Manusia : Setiap akan berangkat bepergian kemana saja, setiap akan tidur dan setiap akan beraktifitas, bacalah Asma’ sebanyak 3 kali.

95. Memenangkan Perlombaan : Asma’ dibaca sebanyak 1.000 kali sebelum akan mengikuti perlombaan. Setiap selesai membaca Asma’ sebanyak 100 kali, bayangkan / terawanglah hadiah perlombaan yang ingin didapatkan, lalu tiupkan.

96. Meredakan Pertengkaran : Asma’ dibaca sebanyak 3 kali sambil menahan nafas, lalu tiupkan ke arah orang yang sedang bertengkar.

97. Memakbulkan Ucapan : Setiap akan mau berbicara dengan seseorang, bacalah Asma’ sebanyak 7 kali sambil menahan nafas.

98. Mengobati Seseorang Yang Kesurupan : Asma’ dibaca sebanyak 7 kali sambil menahan nafas, lalu tiupkan ke ubun – ubun kepala atau ke arah orang yang sedang kesurupan tersebut.

99. Mengisi Keselamatan Lahir Dan Batin : Asma’ dibaca sebanyak 41 kali pada segelas air hujan. Setiap selesai membaca Asma’ sebanyak 1 kali, tiupkanlah ke air hujan tersebut. Kemudian minumkanlah sebagian air hujan itu kepada orang yang akan di isi tersebut dan sebagian lagi dicampurkan ke dalam air yang digunakan untuk mandinya.

100. Dan berbagai manfaat lainnya, sesuai dengan niat dan tujuan Anda. @@@

Catatan: ini adalah email dari zeusarus@yahoo.com. Assalamualaikum wr.wb. Sebelumnya saya minta sebesar2 besarnya kepada Ki NurJati, jika terlambat menyampaikan amanat, pesan Ki Nurjati dalam email baru saya baca dan baru mengerti maksudnya untuk share kiriman email dari beliau. Mohon Kepada Ki Wongalus untuk memposting artikel 1001 manfaat keilmuan rajeh. Wassalam.

Categories: >>PERPUSTAKAAN UTAMA | 160 Komentar

IJAZAH AMALAN MENJAGA DIRI


GUS SANTRI
muhammadmubarok17@gmail.com

Bismillahirrahmanirrahim. Kali ini, saya mengijazahkan amalan perlindungan dari segala mara bahaya. Amalan ini saya peroleh dari Almukarrom KH. IMAM SUGHROWARDI pimpinan pesantren APIS Sanan gondang Talun Blitar. Ketika itu saya masih nyantri di sana. Amalan tersebut hanya simpel dan tidak panjang. Kaifiyahnya (tata cara lakunya) pun gampang. Cukup amalkanlah secara istiqomah setelah selesai sholat 5 waktu. Insyaallah Tuhan kita akan selalu menjaga kita dengan cara-Nya.

Misalnya peristiwa yang saya alami ini mungkin tidak masuk akal. Pada waktu itu saya naik sepeda motor hendak belok ke kanan. Saya pun mulai melambat dan memberi lampu sein kanan sebagai tanda bagi kendaraan di belakang saya. Saya santai saja karena jalanan saat itu memang sepi. Hanya saja hati ini selalu saya usahakan amalan ini saat berkendara.

Praak. Saat sepeda motor saya hampir mencapai sisi sebelah kanan tiba-tiba saja tanpa sadar saya meloncat lepas dari sepeda motor dan mendarat dengan tenang di tempat yang aman. Beberapa detik kemudian saya sadar ternyata saya ditabrak oleh sepeda motor dengan kecepatan tinggi persis tengah motor tempat saya duduk. Motor yang menabrak saya itu dikendarai tukang ojek yang tidak menyadari saya hendak belok kanan.

Walau pun posisi saya tertabrak saya sama sekali tidak luka. Sebab sudah meloncat duluan. Motor saya pun tidak begitu parah. Justru motor penabrak ringsek tidak karu-karuan dan dua penumpang di atasnya luka-luka berat. Sehingga harus digotong ke rumah sakit. Akhirnya kami selesaikan dengan damai.

Inilah amalannya:
YA hAFIIDZ IhFADZNII 3X
(WAHAI DZAT YANG MAHA MENJAGA, JAGALAH DIRIKU)

Semoga ada manfa’at dan barokahnya.
Wassalamu’alaikum wr wb.
@@@

Categories: >>PERPUSTAKAAN UTAMA | 73 Komentar

MENITI JEJAK ANTARA DZIKIR DAN OLAH RASA


Patramantra
tanpamantra@yahoo.com

Mungkin bukan kesalahan kita secara mutlak, jika kurang memahami mengenai olah rasa. Walau sebenarnya Dzikir dan Olah Rasa itu sama. Merupakan dua cara/metode dalam tata laku meditasi. Adapun dua metode meditasi itu antara lain :

1. Dengan metode kosentrasi/isi (yg sering digunakan para pelaku olah rasa),
yaitu menggunakan daya cipta/kosentrasi pada obyek tertentu untuk mengisi bathin, dengan harapan mendapatkan apa yang mereka inginkan. Misalnya seseorang ingin membuka mata bathin/mata ketiga. Mereka berkonsentrasi dengan melihat objek tertentu, kemudian dia membawa gambaran bentuk obyek tersebut ke ruang bathin secara berulang-ulang sampai ia bisa melihat obyek tersebut secara detail sama seperti melihat dengan mata fisik.

2. Dengan cara mengosongkan pikiran (kosong)
yaitu pelaku berusaha mengosongkan pikiran dengan melafalkan doa-doa maupun dzikir tertentu, dengan harapan mendapatkan apa yang mereka inginkan.
Dua cara yang beda, namun bisa memberi hasil yg sama. Dan juga pemahaman yang berbeda sebagai akibat kita seringnya mendapat keilmuan yg sudah matang dari para kyai, ustadz, kitab2 kuno, maupun buku2 yg dijual di emperan toko. Misalnya baca asma/doa/ayat…..1000x dan puasa selama 7 hari anda bisa kebal terhadap jenis senjata apapun. Dan jarang kyai/ustadz yang mengajarkan suatu keilmuan…..baca asma/doa/ayat……secara ikhlas dan puasa selama 7 hari, agar anda bisa mendapatkan kebal….. dsb .

Dengan kebiasaan menerima keilmuan yg sudah matang ini. Telah membuat kita banyak kehilangan moment pengalaman seperti yang didapat oleh para pelaku Olah Rasa. Karena kita sering kali melakukan dzikir hanya berdasarkan hitungan, tanpa berusaha menghayati maupun melakukan peresapan dlm berdzikir.

Namun dewasa ini para pelaku Olah Rasa dalam melakukan meditasi cenderung memilih obyek pada hal-hal yang bersifat ke-Tuhanan. Mereka mengisi bathin dengan gambaran Tuhan melalui rasa nikmat, rasa syukur, rasa ikhlas, rasa cinta dsb. Semua itu dilakukan baik dalam waktu meditasi maupun aktivitas yang lain (hidup dlm meditasi). Sehingga walau dlm keadaan tidur bathin masih tetap terjaga.

Hal seperti ini bisa juga dilakukan oleh para pelaku dzikir. Dengan cara membaca lafal dzikir tertentu/asma/doa/ayat apa aja yang diucapkan tanpa lisan/dalam hati ditujukan untuk mengingat Allah semata. Dan dilakukan secara terus menerus seperti halnya seorang pelaku olah rasa tsb di atas (hidup dlm meditasi). Maka pelaku dzikir akan memperoleh pengalaman yg sama seperti yang diperoleh para pelaku olah rasa. Seperti penglihatan dan pendengaran ghaib, penyembuhan dll. Kemampuan supranatural ini, diperoleh secara tidak disengaja, tetapi sebagai akibat dari perpindahan kesadaran dari tubuh fisik ke kesadaran jiwa (Rosojati basa jawa).
Terlepas dari mencari pembenaran dan penyalahan dari kedua metode penyampaian amalan ilmu hikmah tsb. Mari kita kaji dan diskusikan agar kita memahami tujuan dibalik pembacaan 1000x (metode kesatu). Juga memahami batasan toleransi pembacaan secara ikhlas (metode kedua). Agar kita bisa mencapai makna dzikir yang hakiki (lebih mudah dalam mencapai khusuk). @@@

Categories: >>PERPUSTAKAAN UTAMA | 265 Komentar

INSKRIPSI KERIS/ RAJAH PADA BILAH KERIS


Bengawan.candhu
bintangparikesit@rocketmail.com

Pengertian rajah keris/Inskripsi ato rajah scr umum adlh suatu lukisan ato goresan ato motif yg biasanya trdapat pd bilah keris ato pedang ato badik dsb. Pamor dibuat dr lelehan batu meteor/emas/perak. Klo menggunakan meteor sbg dgn kadar panas tertentu,pamor dpt dlelehkan dan dicairkan kmdn dialirkan,dioleskan maupun diatur sedemikian rupa shg membentuk tulisan,huruf,gambaran semacam motif – motif atopun lukisan-lukisan tertentu yg scr sengaja drancang oleh empunya,ato kekuatan batin ilhamnya menuntun sang empu u/berkarya dgn ukirannya/motifnya yg dgambarkn dlm wujud rajah/symbol/tulisan/gambar. Bs jg menggunakan lapisan emas ato perak yg diukir dan dihiaskan pd bilah keris oleh sang empu. Inskripsi/Rajah dyakini oleh sebagian penggemar keris pusaka selain u/keindahan jg memiliki mksd ato tanda tertentu yg kt sebut “sabda doa” ato klo yg biasa kt kenal sebagai tuah.

Tp kami dsini lbh senang menyebutnya sbg “sabda doa”,krn klo tuah mnrt kami
seakan akan melukiskan suatu fungsi yg paten yg kami khawatirkn mengarah pengkultusan thdp benda pusaka,harapan kami klo yg terlampir ddalam keris disebut sabda doa,kt akan lbh mawas diri,selagi itu adlh sabda doa,kami harap kt akan sll ingat akan kebesaran Tuhan Sang Raja Semesta Alam dlm memandang dan mensikapi sebilah keris,karena mnrt pendapat kami yg namanya sabda doa ada yg akan djawab/dberikan ddunia ato di hari nnt/alam akhirat. Shg kt bersikap lbh hati2 dan bijak dlm menyikapi menyimpulkan sesuatu yg kt sebut sbg “tuah” scr lbh bijak dan berhikmah. Spt saat kt berdoa sehari2sj,ada yg dkabulkan atopun ada yg tdk/belum dkabulkn oleh Allah Swt.

U/memfokuskan pembahasan dsini maka yg kami mksd rajah/inskripsi adlh pd bilah pusaka khususnya keris. Semoga dr wacana ini dpt mjd share yg berguna bagi pendewasaan dan pengetahuan kt u/mengenal pusaka scr lbh baek akan salah satu budaya kekayaan intelektual nenek moyang kita. Pamor ato rajah ato inskripsi ini adlh sesuatu yg dharapkan/diagungkan oleh sang empu u/diabadikan beliau dlm sebilah keris. Bisa dlm berbagai bentuk ato macam gambar jelas,gambar tdk jls,huruf/rajah.

Gambar rajah/pamor dr masa kemasa memiliki perkembangan yg tdk sama. Bhkn mengalami perkembangan dan perubahan sesuai dgn masa atau jamannya.
Gambar rajah pd jaman majapahit bentuk inskripsi ato rajah biasanya adlh binatang2 yg dsucikan,msl naga,garuda,sapi,gajah,harimau,singa. Ato bhkn gmbr2 dewa ato simbo2 dewa yg dsembah raja ato masyarakat pd wkt itu. Pd inskripsi ato gambar rajah tsbt tdpt suatu doa pengharapan penghormatan pengingat ato bhkn suatu panutan/idola klo istilahnya skrg. Yg dilambangkan sbg lambing dr doa keselamatan dan perlindungan jg keberanian dsb.

Kmdn pd saat msknya jaman islam ato transisi ke jaman hindhu ke islam keris pd inskripsinya mengalami penyesuaian lbh didominasi huruf jawa dan arab,ato bhkn symbol bintang daud. Pd jaman majapahit inskripsi ato rajah keris diarahkn kea rah daya linuwih/power krn masa itu mmg masa perluasan kekuasaan ato wilayah ato jaman peperangan. Shg sabda doa yg dtekankan ke keris dharapkn dpt menambah kharisma,wibawa,keberanian dan daya linuwih bagi para pemegangnya.

Sedang pd jaman islam,krn pd masa ini lbh cenderung stabil damai dan dominasi para wali dalam pemerintahan dan kraton dan kepiawaian mrk msk dlm struktur social budaya masyarakat wkt itu. shg fungsi keris inskripsinya lbh cenderung kearah syiar ato dakwah. Shg byk menggunakan gambar rajah arab ato bhkn jawa. Krn pd jaman2 tsbt kebudayaan keris hampir dimiliki dan keharusan dimiliki oleh stp lapisan masyarakat. Pd jaman ini inskripsi ato rajah pd bilah keris bs sj huruf arab berupa surat-surat pendek,msl alfatihah,alfalaq,al ikhlas,asmaul husnah,annas dsb. Diharapkan dgn adanya penempelan rajah pd bilah keris tsbt org akan sll ingat akan kewajibannya sbg mns thdp Tuhannya.

Inskripsi ato rajah ini mrpkn suatu sugesti bagi pemilik2nya buat sugesti positif thinking yg trs menerus,brupa visualisasi energi yg positif kpd ilahiah brupa ketentraman yg sll dlantunkan dan diingat sang pemilik. Shg factor ini bs jd yg membawa kebaikan dan keberuntungan bagi sang pemilik krn hatinya sll ingat dan berdzikir krn Allah. Inskripsi rajah arab kmungkinan besar mengalami perkembangan yg cukup pesat pd jamannya wali songo ato pd jaman kasultanan demak,pajang dan mataram. Pd jaman mataram inilah puncak dr kesempurnaan pembuatan dan garap dr keris. Krn pd jaman mataram yg pd wkt itu Eyang Prabu Sultan Agung Anyakrakusumo memerintahkn kpd sgenap rakyat u/memiliki hak yg sama dlm menggunakan dan menyandang keris scr bebas. Tnp perlu u/takut diminta ato dirampas oleh para pejabat ato pemerintah. Shg rakyat wkt itu bnr2 bersuka cita dan smkn mencintai rajanya. Shg pd jaman tsbt sdh sgt jamak apbl rakyat biasa menyandang sebilah keris. Jg pd jaman Mataram Sultan Agung,empu2 yg mumpuni dan bnr2 ahli dkumpulkan dan mendapat fasilitas dan tdk jarang kedudukan dlm pemerintahan atas jasa2 mereka membuat dan mempersembahkn keris karya mrk kpd sang raja ato kpd klrg kerajaan. Shg pd jaman ini empu mendapat tmpt trsendiri dlm pemerintahan dan klrg kerajaan.

Sedang pd jaman PB IV dikembangkn kmbl oleh para empu yg ada pd saat itu sbg identitas sang empu,yg kmungkinan dipengaruhi budaya barat/eropa. Shg dibagian pesi/bagian yg dimasukkan kedlm gagang keris sdh mulai dituliskan nama empu pembuatnya. Biasanya yg membuat identitas diri dlm keris tsbt adlh empu2 dr keratin yg biasanya lbh revolusioner. Diantaranya adlh empu brajakaryo,brojo sentiko,empu japan,empu singo wijoyo dsb. Pamor ato rajah inskripsi pd jaman sekarang mengalami penyesuaian kmbl sbg suatu hal yg menambah nilai seni yg antik,unik dan menempati tempat trsendiri bagi para penggemar keris dtanah air maupun manca Negara. Memiliki nilai eksoteris yg bernilai tinggi dan indah. Suatu karya estetika yg adi luhung dan berseni tinggi. Berbahagialah,krn keris mrpkn satu2nya seni tempa,seni batin,seni karya cipta rasa karsa yg mjd satu dgn daya batin spiritual positif bagi generasi2 penerus di bawahnya. Tidak semua bangsa memiliki budaya spt budaya keris ini,shg UNESCO pun terketuk dan mengakui shg memutuskan bhw keris adlh budaya ASLI INDONESIA. Dan menyebutnya sbg MASTERPIECE OF THE ORAL AND INTANGIBLE HERITAGE OF HUMANITY ,ato KARYA AGUNG WARISAN KEMANUSIAAN BAGI SELURUH BANGSA DI DUNIA. Marilah kt jaga buadaya kt ini dgn sebaik2nya. Dgn menghormati dan menjaga budaya ini dgn sebaik2nya dan scr wajar.

Demikian setetes wacana perkembangan rajah/inskripsi pusaka dr jaman hindhu ke jaman islam. Smg dpt dsikapi dgn bijak dan diambil manfaatnya. Ada kurang lbhnya mhn dimaafkan,krn dsini kami bknnya merasa lbh bs dari para sesepuh dan pinisepuh tetapi semata keinginan kami u/napak tilas saja dr tuntunan kilas balik kami.
Insya allah,pd kesempatan berikutnya Kami akan membahas berbagai macam dan bentuk pamor,shg menambah referensi dan kajian bagi kt bersama.

Magelang, Bhumi Menoreh Pranan…..Mgg I November 2010.

Categories: >>PERPUSTAKAAN UTAMA | 262 Komentar

KHODAM JIN DAN KHODAM MALAIKAT


Ustadz Helmi andrian
helmi.andrian17@gmail.com
Yang dimaksud khodam dalam uraian ini adalah penjaga yang didatangkan dari dunia ghaib untuk manusia, bukan untuk benda bertuah. Didatangkan dari rahasia urusan Ilahiyah yang terkadang banyak diminati oleh sebagian kalangan ahli mujahadah dan riyadlah tetapi dengan cara yang kurang benar. Para ahli mujahadah itu sengaja berburu khodam dengan bersungguh-sungguh. Mereka melakukan wirid-wirid khusus, bahkan datang ke tempat-tempat yang terpencil. Di kuburan-kuburan tua yang angker, di dalam gua, atau di tengah hutan.
Ternyata keberadaan khodam tersebut memang ada, mereka disebutkan di dalam al-Qur’an al-Karim. Diantara mereka ada yang datang dari golongan Jin dan ada juga dari Malaikat, namun barangkali pengertiannya yang berbeda. Karena khodam yang dinyatakan dalam Al-Qur’an itu bukan berupa kelebihan atau linuwih yang terbit dari basyariah manusia yang disebut “kesaktian”, melainkan berupa sistem penjagaan dan perlindungan yang diperuntukkan bagi orang-orang yang beriman dan beramal shaleh sebagai buah ibadah yang mereka lakukan. Sistem perlindungan tersebut dibangun oleh rahasia urusan Allah s.w.t yang disebut “walayah”, dengan itu supaya fitrah orang beriman tersebut tetap terjaga dalam kondisi sebaik-baik ciptaan. Allah s.w.t menyatakan keberadaan khodam-khodam tersebut dengan firman-Nya:
لَهُ مُعَقِّبَاتٌ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ يَحْفَظُونَهُ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ
“Bagi manusia ada penjaga-penjaga yang selalu mengikutinya, di muka dan di belakangnya, menjaga manusia dari apa yang sudah ditetapkan Allah baginya. Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum, sehingga mereka merubahnya sendiri”. (QS. ar-Ra’d; 13/11)
Lebih jelas dan detail adalah sabda Baginda Nabi s.a.w dalam sebuah hadits shahihnya:
حَدِيثُ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ عَبْدًا دَعَا جِبْرِيلَ فَقَالَ إِنِّي أُحِبُّ فُلَانًا فَأَحِبَّهُ قَالَ فَيُحِبُّهُ جِبْرِيلُ ثُمَّ يُنَادِي فِي السَّمَاءِ فَيَقُولُ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ فُلَانًا فَأَحِبُّوهُ فَيُحِبُّهُ أَهْلُ السَّمَاءِ قَالَ ثُمَّ يُوضَعُ لَهُ الْقَبُولُ فِي الْأَرْضِ رواه البخاري و مسلم *
“Hadits Abi Hurairah r.a berkata: Rasulullah s.a.w bersabda: “Sesungguhnya Allah apabila mencintai seorang hamba, memanggil malaikat Jibril dan berfirman : “Sungguh Aku mencintai seseorang ini maka cintailah ia”. Nabi s.a.w bersabda: “Maka Jibril mencintainya”. Kemudian malaikat Jibril memanggil-manggil di langit dan mengatakan: “Sungguh Allah telah mencintai seseorang ini maka cintailah ia, maka penduduk langit mencintai kepadanya. Kemudian baginda Nabi bersabda: “Maka kemudian seseorang tadi ditempatkan di bumi di dalam kedudukan dapat diterima oleh orang banyak”. (HR Bukhori dan Muslim )
Dan juga sabdanya:
حَدِيثُ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ : أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يَتَعَاقَبُونَ فِيكُمْ مَلَائِكَةٌ بِاللَّيْلِ وَمَلَائِكَةٌ بِالنَّهَارِ وَيَجْتَمِعُونَ فِي صَلَاةِ الْفَجْرِ وَصَلَاةِ الْعَصْرِ ثُمَّ يَعْرُجُ الَّذِينَ بَاتُوا فِيكُمْ فَيَسْأَلُهُمْ رَبُّهُمْ وَهُوَ أَعْلَمُ بِهِمْ كَيْفَ تَرَكْتُمْ عِبَادِي فَيَقُولُونَ تَرَكْنَاهُمْ وَهُمْ يُصَلُّونَ وَأَتَيْنَاهُمْ وَهُمْ يُصَلُّونَ
“Hadits Abi Hurairah r.a Sesungguhnya Rasulullah s.w.t bersabda: “Mengikuti bersama kalian, malaikat penjaga malam dan malaikat penjaga siang dan mereka berkumpul di waktu shalat fajar dan shalat ashar kemudian mereka yang bermalam dengan kalian naik (ke langit), Tuhannya bertanya kepada mereka padahal sesungguhnya Dia lebih mengetahui keadaan mereka: di dalam keadaan apa hambaku engkau tinggalkan?, mereka menjawab: mereka kami tinggalkan sedang dalam keadaan shalat dan mereka kami datangi sedang dalam keadaan shalat”. (HR Buhori dan Muslim)
Setiap yang mencintai pasti menyayangi. Sang Pecinta, diminta ataupun tidak pasti akan menjaga dan melindungi orang yang disayangi. Manusia, walaupun tanpa susah-susah mencari khodam, ternyata sudah mempunyai khodam-khodam, bahkan sejak dilahirkan ibunya. Khodam-khodam itu ada yang golongan malaikat dan ada yang golongan Jin. Diantara mereka bernama malaikat Hafadhoh (penjaga), yang dijadikan tentara-tentara yang tidak dapat dilihat manusia. Konon menurut sebuah riwayat jumlah mereka 180 malaikat. Mereka menjaga manusia secara bergiliran di waktu ashar dan subuh, hal itu bertujuan untuk menjaga apa yang sudah ditetapkan Allah s.w.t bagi manusia yang dijaganya.
Itulah sistem penjagaan yang diberikan Allah s.w.t kepada manusia yang sejatinya akan diberikan seumur hidup, yaitu selama fitrah manusia belum berubah. Namun karena fitrah itu terlebih dahulu dirubah sendiri oleh manusia, hingga tercemar oleh kehendak hawa nafsu dan kekeruhan akal pikiran, akibat dari itu, matahati yang semula cemerlang menjadi tertutup oleh hijab dosa-dosa dan hijab-hijab karakter tidak terpuji, sehingga sistem penjagaan itu menjadi berubah.
KHODAM JIN DAN KHODAM MALAIKAT
‘Setan’, menurut istilah bahasa Arab berasal dari kata syathona yang berarti ba’uda atau jauh. Jadi yang dimaksud ‘setan’ adalah makhluk yang jauh dari kebaikan. Oleh karena hati terlebih dahulu jauh dari kebaikan, maka selanjutnya cenderung mengajak orang lain menjauhi kebaikan. Apabila setan itu dari golongan Jin, berarti setan Jin, dan apabila dari golongan manusia, berarti setan manusia. Manusia bisa menjadi setan manusia, apabila setan Jin telah menguasai hatinya sehingga perangainya menjelma menjadi perangai setan. Rasulullah s.a.w menggambarkan potensi tersebut dan sekaligus memberikan peringatan kepada manusia melalui sabdanya:
لَوْلاَ أَنَّ الشَّيَاطِيْنَ يَحُوْمُوْنَ عَلَى قُلُوْبِ بَنِى آَدَمَ لَنَظَرُوْا اِلَى مَلَكُوْتِ السَّمَاوَاتِ
“Kalau sekiranya setan tidak meliputi hati anak Adam, pasti dia akan melihat alam kerajaan langit”.
Di dalam hadits lain Rasulullah s.a.w bersabda:
إِنَّ الشَّيْطَانَ لَيَجْرِى مِنِ ابْنِ آَدَمَ مَجْرَى الدَّمِ فَضَيِّقُوْا مَجَاِريَهُ ِبالْجُوْعِ.
“Sesungguhnya setan masuk (mengalir) ke dalam tubuh anak Adam mengikuti aliran darahnya, maka sempitkanlah jalan masuknya dengan puasa”.
Setan jin menguasai manusia dengan cara mengendarai nafsu syahwatnya. Sedangkan urat darah dijadikan jalan untuk masuk dalam hati, hal itu bertujuan supaya dari hati itu setan dapat mengendalikan hidup manusia. Supaya manusia terhindar dari tipu daya setan, maka manusia harus mampu menjaga dan mengendalikan nafsu syahwatnya, padahal manusia dilarang membunuh nafsu syahwat itu, karena dengan nafsu syahwat manusia tumbuh dan hidup sehat, mengembangkan keturunan, bahkan menolong untuk menjalankan ibadah.
Dengan melaksanakan ibadah puasa secara teratur dan istiqomah, di samping dapat menyempitkan jalan masuk setan dalam tubuh manusia, juga manusia dapat menguasai nafsu syahwatnya sendiri, sehingga manusia dapat terjaga dari tipudaya setan. Itulah hakekat mujahadah. Jadi mujahadah adalah perwujudan pelaksanaan pengabdian seorang hamba kepada Tuhannya secara keseluruhan, baik dengan puasa, shalat maupun dzikir. Mujahadah itu merupakan sarana yang sangat efektif bagi manusia untuk mengendalikan nafsu syahwat dan sekaligus untuk menolak setan. Allah s.w.t berfirman:
إِنَّ الَّذِينَ اتَّقَوْا إِذَا مَسَّهُمْ طَائِفٌ مِنَ الشَّيْطَانِ تَذَكَّرُوا فَإِذَا هُمْ مُبْصِرُونَ
“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa, bila mereka ditimpa was-was dari setan, mereka berdzikir kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat”. (QS.al-A’raaf.7/201)
Firman Allah s.w.t di atas, yang dimaksud dengan lafad “Tadzakkaruu” ialah, melaksanakan dzikir dan wirid-wirid yang sudah diistiqamahkan, sedangkan yang dimaksud “Mubshiruun”, adalah melihat. Maka itu berarti, ketika hijab-hijab hati manusia sudah dihapuskan sebagai buah dzikir yang dijalani, maka sorot matahati manusia menjadi tajam dan tembus pandang.
Jadi, berdzikir kepada Allah s.w.t yang dilaksanakan dengan dasar Takwa kepada-Nya, di samping dapat menolak setan, juga bisa menjadikan hati seorang hamba cemerlang, karena hati itu telah dipenuhi Nur ma’rifatullah. Selanjutnya, ketika manusia telah berhasil menolak setan Jin, maka khodamnya yang asalnya setan Jin akan kembali berganti menjadi golongan malaikat.
إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ(30)نَحْنُ أَوْلِيَاؤُكُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَشْتَهِي أَنْفُسُكُمْ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَدَّعُونَ
“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan) “Janganlah kamu merasa takut janganlah kamu merasa sedih dan bergembiralah kamu dengan memperoleh surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu”(30)Kamilah pelindung-pelindungmu di dalam kehidupan di dunia maupun di akherat”. (QS. Fushilat; 41/30-31)
Firman Allah s.w.t di atas yang artinya: “Kami adalah pelindung-pelindungmu di dalam kehidupan di dunia maupun di akherat”, itu menunjukkan bahwa malaikat-malaikat yang diturunkan Allah s.w.t kepada orang yang istiqamah tersebut adalah untuk dijadikan khodam-khodam baginya.
Walhasil, bagi pengembara-pengembara di jalan Allah, kalau pengembaraan yang dilakukan benar dan pas jalannya, maka mereka akan mendapatkan khodam-khodam malaikat. Seandainya orang yang mempunyai khodam Malaikat itu disebut wali, maka mereka adalah waliyullah. Adapun pengembara yang pas dengan jalan yang kedua, yaitu jalan hawa nafsunya, maka mereka akan mendapatkan khodam Jin. Apabila khodam jin itu ternyata setan maka pengembara itu dinamakan walinya setan. Jadi Wali itu ada dua (1) Auliyaaur-Rohmaan (Wali-walinya Allah), dan (2) Auliyaausy-Syayaathiin (Walinya setan). Allah s.w.t menegaskan dengan firman-Nya:
اللَّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ ءَامَنُوا يُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَوْلِيَاؤُهُمُ الطَّاغُوتُ يُخْرِجُونَهُمْ مِنَ النُّورِ إِلَى الظُّلُمَاتِ أُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
“Dan orang-orang yang tidak percaya, Wali-walinya adalah setan yang mengeluarkan dari Nur kepada kegelapan. Mereka itu adalah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya”. (QS.al-Baqoroh.2/257)
Dan juga firman-Nya:
إِنَّا جَعَلْنَا الشَّيَاطِينَ أَوْلِيَاءَ لِلَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ
“Sesungguhnya kami telah menjadikan setan-setan sebagai Wali-wali bagi orang yang tidak percaya “. (QS. Al-A’raaf; 7/27)
Seorang pengembara di jalan Allah, baik dengan dzikir maupun wirid, mujahadah maupun riyadlah, kadang-kadang dengan melaksanakan wirid-wirid khusus di tempat yang khusus pula, perbuatan itu mereka lakukan sekaligus dengan tujuan untuk berburu khodam-khodam yang diingini. Khodam-khodam tersebut dicari dari rahasia ayat-ayat yang dibaca. Semisal mereka membaca ayat kursi sebanyak seratus ribu dalam sehari semalam, dengan ritual tersebut mereka berharap mendapat¬kan khodamnya ayat kursi.
Sebagai pemburu khodam, mereka juga kadang-kadang mendatangi tempat-tempat yang terpencil, di kuburan-kuburan yang dikeramatkan, di dalam gua di tengah hutan belantara. Mereka mengira khodam itu bisa diburu di tempat-tempat seperti itu. Kalau dengan itu ternyata mereka mendapatkan khodam yang diingini, maka boleh jadi mereka justru terkena tipudaya setan Jin. Artinya, bukan Jin dan bukan Malaikat yang telah menjadi khodam mereka, akan tetapi sebaliknya, tanpa disadari sesungguhnya mereka sendiri yang menjadi khodam Jin yang sudah didapatkan itu. Akibat dari itu, bukan manusia yang dilayani Jin, tapi merekalah yang akan menjadi pelayan Jin dengan selalu setia memberikan sesaji kepadanya.
Sesaji-sesaji itu diberikan sesuai yang dikehendaki oleh khodam Jin tersebut. Memberi makan kepadanya, dengan kembang telon atau membakar kemenyan serta apa saja sesuai yang diminta oleh khodam- khodam tersebut, bahkan dengan melarungkan sesajen di tengah laut dan memberikan tumbal. Mengapa hal tersebut harus dilakukan, karena apabila itu tidak dilaksanakan, maka khodam Jin itu akan pergi dan tidak mau membantunya lagi. Apabila perbuatan seperti itu dilakukan, berarti saat itu manusia telah berbuat syirik kepada Allah s.w.t. Kita berlindung kepada Allah s.w.t dari godaan setan yang terkutuk.
Memang yang dimaksud khodam adalah “rahasia bacaan” dari wirid-wirid yang didawam¬kan manusia. Namun, apabila dengan wirid-wirid itu kemudian manusia mendapatkan khodam, maka khodam tersebut hanya didatangkan sebagai anugerah Allah s.w.t dengan proses yang diatur oleh-Nya. Khodam itu didatangkan dengan izin-Nya, sebagai buah ibadah yang ikhlas semata-mata karena pengabdian kepada-Nya, bukan dihasilkan karena sengaja diusahakan untuk mendapatkan khodam.
Apabila khodam-khodam itu diburu, kemudian orang mendapatkan, yang pasti khodam itu bukan datang dari sumber yang diridlai Allah s.w.t, walaupun datang dengan izin-Nya pula. Sebab, tanda-tanda sesuatu yang datangnya dari ridho Allah, di samping datang dari arah yang tidak disangka-sangka, bentuk dan kondisi pemberian itu juga tidak seperti yang diperkiraan oleh manusia. Demikian¬lah yang dinyatakan Allah s.w.t:
وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا(2)وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ
“Dan barangsiapa bertakwa kepada Allah. Allah akan menjadikan jalan keluar baginya (untuk menyelesaikan urusannya) (2) Dan memberikan rizki kepadanya dari arah yang tidak terduga”. (QS. ath-Tholaq; 65/2-3)
Khodam-khodam tersebut didatangkan Allah s.w.t sesuai yang dikehendaki-Nya, dalam bentuk dan keadaan yang dikehendaki-Nya pula, bukan mengikuti kehendak hamba-Nya. Bahkan juga tidak dengan sebab apa-apa, tidak sebab ibadah dan mujahadah yang dijalani seorang hamba, tetapi semata sebab kehendakNya. Hanya saja, ketika Allah sudah menyatakan janji maka Dia tidak akan mengingkari janji-janji-Nya.

Categories: >>PERPUSTAKAAN UTAMA | 65 Komentar

NUR DI ATAS NUR (part-1)


Ustadz Helmi Andrian
helmi.andrian17@gmail.com

Allah SWT adalah Nur langit dan Nur bumi. Dengan nur-Nya Allah menerangi dua alam, alam bumi dan alam langit. Allah Menerangi alam bumi dengan NUR LANGIT dan menerangi alam langit dengan NUR BUMI. Bumi diterangi dengan ‘MATAHARI LANGIT’ dan langit diterangi dengan ‘MATAHARI BUMI’.

Yang dimaksud MATAHARI BUMI adalah Nur yang memancar dari hati para kekasih Allah yang mulia, para Nabi dan para Rasul serta para Ulama’ pilihan-Nya. Sebagai Khalifah Bumi Zamannya, keberadaan mereka dimana-mana mampu membangkitkan iman dan semangat pengabdian manusia. Hati para kekasih Allah itu bahkan bagaikan kuburan rahasia ketuhanan dan sekaligus menjadi simpul pengendali kehidupan bumi dan isinya.

Hati yang suci itu seperti tangan kanan yang melipat langit (QS. az-Zumar; 67), maka kehidupan dan kematian di bumi terkadang terjadi mengikuti rahasia gerakan yang ada di dalamnya. Dengan izin Allah mereka mengeluarkan orang-orang beriman dari kegelapan kepada cahaya, menyelesaikan segala urusan kehidupan manusia, menyembuhkan kesedihan, mengabulkan segala do’a dan permohonan, mendatangkan hajat-hajat, bahkan di tangan mereka ada kehidupan dan kematian. Allah Penciptanya, semua itu dari Allah dan hanya untuk Allah, adapun yang selain-Nya hanyalah fatamorgana ciptaan-Nya.
Yang dimaksud Nur di atas Nur adalah mengikuti apa yang dapat digali dari makna firman Allah dalam Qur’an Surat an-Nur Ayat 35-40. Dengan ayat tersebut Allah telah membuat perumpamaan terhadap sesuatu yang keberadaannya ada di dunia dalam, padahal di dunia luar tidak ada contohnya. Dengan ayat itu dan ayat-ayat sejenisnya, seorang hamba wajib menggali maknanya. Lalu, di samping menindaklanjuti isyaroh yang tertangkap, baik melalui rasa maupun rasio, juga beri’tibar dan menakwilkannya semampu mungkin dengan cara yang dibenarkan Allah.

Tanpa Nur Allah, berarti hati manusia menjadi gelap gulita : “Seperti gelap gulita di lautan yang dalam, yang diliputi ombak, yang di atasnya ombak (pula), di atasnya (lagi) awan; gelap gulita yang tindih-bertindih, apabila dia mengeluarkan tangannya, tiadalah dia dapat melihatnya, (dan) barangsiapa yang tiada diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah tiadalah dia mempunyai cahaya sedikitpun” (QS.an Nur/40). Meski hati tersebut sudah mendapat kehidupan, hal itu ditandai dengan adanya ilmu yang setinggi langit misalnya, sehingga mampu menerangi jagat raya, namun ilmu tersebut tidak mampu menerangi hati sendiri. Ilmu itu hanya berguna untuk mengoreksi kesalahan orang tapi tidak bisa menunjukkan kesalahan sendiri, bahkan untuk sombong-sombongan, merasa paling benar sendiri, suka menghina orang lain dan sedikitpun tidak mau menerima pendapat temannya sendiri, meski pendapat itu disampaikan dengan kasih sayang.

Akibatnya, dimana-mana orang tersebut hanya mampu menciptakan perpecahan diantara umat manusia. Itulah pertanda, meski hati orang tersebut sesungguhnya sudah dihidupi dengan ilmu, tapi tetap saja dalam keadaan gelap gulita karena tidak mendapat NUR atau hidayah dari Allah SWT. Ayat tersebut adalah berikut ini:
اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ مَثَلُ نُورِهِ كَمِشْكَاةٍ فِيهَا مِصْبَاحٌ الْمِصْبَاحُ فِي زُجَاجَةٍ الزُّجَاجَةُ كَأَنَّهَا كَوْكَبٌ دُرِّيٌّ يُوقَدُ مِنْ شَجَرَةٍ مُبَارَكَةٍ زَيْتُونَةٍ لَا شَرْقِيَّةٍ وَلَا غَرْبِيَّةٍ يَكَادُ زَيْتُهَا يُضِيءُ وَلَوْ لَمْ تَمْسَسْهُ نَارٌ نُورٌ عَلَى نُورٍ يَهْدِي اللَّهُ لِنُورِهِ مَنْ يَشَاءُ وَيَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ (35) فِي بُيُوتٍ أَذِنَ اللَّهُ أَنْ تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ يُسَبِّحُ لَهُ فِيهَا بِالْغُدُوِّ وَالْآَصَالِ

“Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah adalah seperti sebuah lubang yang tidak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timurnya (sesuatu) dan tidak pula di sebelah baratnya, yang minyaknya hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu (35) Bertasbih kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan petang(56)”. (QS. an-Nur; 24/35-36).

Dari ayat di atas, marilah kita mencari makna lafal “Nur “ tersebut di dalam dua pengertian sebagai berikut:
1. Allah adalah Dzat yang menghilangkan gelap dan mendatangkan terang.
2. Allah adalah Dzat yang memasukkan hidayah dan iman ke dalam hati seorang hamba.

NUR DI ATAS NUR (part-2) (NUR dalam Arti Mendatangkan Terang)
NUR DI ATAS NUR (part-2) (NUR dalam Arti Mendatangkan Terang)
Untuk lebih memudahkan pemahaman, marilah kita mencari makna firman Allah di atas dengan metode tafsiriah sebagaimana yang digunakan oleh para Ulama’ salafush shaleh:
1. Firman Allah:
(اللَّهُ نُورُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْض)
“Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi”.

Maksudnya, Allah SWT dengan segala Kehendak, Perbuatan, Kebesaran dan Kekuasaan-Nya adalah Dzat yang memberi Petunjuk dan Hidayah kepada seluruh makhluk-Nya, baik makhluk yang di langit maupun yang di bumi. Karena hanya Allah yang Maha Pencipta dan Maha Pengatur, demikian itulah yang tertangkap dari isyarat Rasulullah SAW saat Beliau berdo’a di dalam shalat malamnya. Rasulullah SAW bersabda:
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَامَ مِنَ الَّيْلِ يَقُوْلُ: “اَللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ نُوْرُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ وَمَنْ فِيْهِنَّ وَلَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ قَيُّوْمُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ وَمَنْ فِيْهِنَّ” الحديثَ
“Dari Ibnu Abbas RA berkata: Adalah Rasulullah SAW ketika shalat malam dan berdo’a : Wahai Allah hanya untuk-Mu segala puji. Engkau adalah Nur langit dan Bumi dan orang-orang di dalamnya, dan hanya untuk-Mu segala puji. Engkau adalah yang menegakkan dan bertanggungjawab terhadap langit dan bumi dan orang-orang di dalamnya – Al-hadits” (HR. Bukhori-Muslim)
Allah SWT telah menyampaikan Petunjuk dan Hidayah-Nya baik di langit maupun di bumi. Dengan sinar matahari untuk kehidupan di muka bumi dan dengan firman-firman-Nya untuk kehidupan di dunia dan di akherat. Itulah Nur langit dan Nur bumi, di samping sebagai petunjuk bagi manusia juga merupakan perhiasan bagi alam persada.

Dengan pengertian seperti itu, maka hakekat Nur langit dan Nur bumi itu menerangi empat tempat:
1) Di langit dengan sinar matahari, bulan dan bintang-bintang.
2) Di bumi dengan ilmu dan akhlak para Nabi dan para Wali serta para Ulama’-Nya.
3) Di akal dan pikiran dengan ilmu pengetahuan yang berupa pemahaman, keterangan, dalil-dalil, bukti-bukti dan argumentasi.
4) Di hati dan ruh dengan cinta kasih, iman, yakin dan ma’rifatullah.
Allah SWT melalui al-Qur’an al-Karim telah membuat perumpamaan agar manusia dapat memahami segala kehendak-Nya. Artinya bahwa melalui firman-Nya Allah berkehendak bicara kepada manusia dengan bahasa manusia, bukan bahasa makhluk lainnya. Oleh karena baginda Nabi Muhammad SAW dilahirkan sebagai orang Arab, maka al-Qur’an al-Karim diturunkan dengan bahasa Arab agar manusia mudah memahami kandungan isinya. Meskipun demikian, al-Qur’an diturunkan bukan hanya untuk orang arab, melainkan untuk seluruh umat manusia bahkan sebagai RAHMATAN LIL ALAMIN. Jadi, sebagai orang Jawa kita tidak seharusnya berkecil hati, tidak perlu merasa mengikuti AGAMA IMPORT dengan memeluk Agama Islam, karena ajaran al-Qur’an diturunkan untuk menyempurnakan segala keyakinan nenek moyang kita.

Lafad “Nur” di dalam ayat di atas sejatinya hanyalah istilah, sebagai “bahasa bantu”. Dengan istilah itu supaya manusia memahami apa yang dikehendaki Allah dengan firman-Nya itu. Oleh karena itu, apabila orang memahami firman di atas dengan membayangkan Dzat Allah sebagai cahaya yang dapat dirasakan indera mata, berarti pemaham tersebut telah terpeleset kepada kesalahan fatal. Maha Suci Allah dari segala imajinasi manusia. Jadi, yang dimaksud Allah dengan ayat: اللَّهُ نُورُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْض ialah bahwa Allah pemberi petunjuk baik di langit dan di bumi dan Allah pula yang mengatur keduanya.
2. Firman Allah:
مَثَلُ نُورِهِ كَمِشْكَاةٍ فِيهَا مِصْبَاحٌ الْمِصْبَاحُ فِي زُجَاجَةٍ
“Perumpamaan Nur Allah, seperti Misykat di dalamnya ada pelita dan pelita di dalam kaca..”.
Perumpamaan Nur Allah itu seperti misykat (lubang yang tidak tembus) yang di dalamnya ada pelita dan pelita itu di dalam kaca. Itulah gambaran dada orang yang beriman. Di dalam dada orang beriman itu berisi ilmu pengetahuan, argumentasi, penalaran, kasih sayang, iman, yakin dan ma’rifatullah yang diibaratkan seperti pelita. Ketika pelita itu dibungkus dengan pelaksanaan amal ibadah, pengabdian dan akhlakul karimah, yang ibaratnya seperti kaca kristal, maka alam yang ada di sekitarnya menjadi terang benderang.
Itulah “Nur di atas Nur”, yaitu “hakekat Nur” yang terpancarkan dari bumi dan mampu menerangi ufuk langit. Nur yang pertama kali telah dipancarkan melalui akhlak manusia pilihan, panutan umat sepanjang zaman, Rasulullah Muhammad SAW yang kemudian akan menerangi kehidupan manusia sepanjang zaman. Kini Nur itu telah diwariskan pada Ulama’ pewaris para Nabi, yaitu khalifah bumi zamannya. Mereka itulah para guru mursyid yang suci lagi mulia dan nyata-nyata telah mampu membimbing murid-murid dan pengikutnya menuju jalan keridlaan Allah. Semoga Allah meridlai mereka.
“Nur di atas Nur” itu bukan sekedar ilmu saja, meski itu ilmu agama, terlebih ilmu agama yang diperjualbelikan dengan harga dunia, melainkan ilmu agama yang benar-benar telah terbukti mampu menerangi jalan hidup manusia. Pemahaman yang mampu menghapus keraguan dan menancapkan keyakinan di hati umat manusia. Yaitu ilmu agama yang mampu menyelamatkan manusia dari jurang neraka dan mengantarkan menuju hidayah dan ridla Allah. Selain para Nabi dan para Rasul SAW tidak ada yang mampu berbuat seperti itu kecuali mereka itu, yakni para guru mursyid yang suci lagi mulia.
Allah menamakan kitab-Nya juga dengan istilah Nur melalui firman-Nya:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَكُمْ بُرْهَانٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكُمْ نُورًا مُبِينًا
“Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu bukti kebenaran dari Tuhanmu, (Muhammad dengan mu`jizatnya) dan telah Kami turunkan kepadamu cahaya yang terang benderang (Al Qur’an).”(QS. An-Nisa’; 4/174)
Juga memberikan nama nabi-Nya dengan Nur di dalam firman-Nya:
يَا أَهْلَ الْكِتَابِ قَدْ جَاءَكُمْ رَسُولُنَا يُبَيِّنُ لَكُمْ كَثِيرًا مِمَّا كُنْتُمْ تُخْفُونَ مِنَ الْكِتَابِ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ قَدْ جَاءَكُمْ مِنَ اللَّهِ نُورٌ وَكِتَابٌ مُبِينٌ (15) يَهْدِي بِهِ اللَّهُ مَنِ اتَّبَعَ رِضْوَانَهُ سُبُلَ السَّلَامِ وَيُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِهِ وَيَهْدِيهِمْ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ
“Wahai Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan kitab yang menerangkan. – Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus.”. (QS. Al-Ma’dah; 5/15)
Oleh karena sifat Kitab dan sifat Nabi sama yaitu menerangkan dan menunjukkan jalan bagi manusia, maka yang dimaksud dengan “misykat” tentunya bukan kitab tapi dada manusia. Maka “mishbaah” adalah ilmu dan imannya, “zujajaah” adalah hatinya dan “zaitun” atau minyak adalah dalil-dalil, bukti dan hikmah yang dapat menguatkan ilmu dan iman itu.
Adapun yang dimaksud “syajaroh” (yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya) adalah potensi sumber ilham atau potensi komunikasi atau potensi wushul antara seorang hamba dengan Allah, yang sifatnya seperti tumbuhan. Artinya, potensi hubungan antara seorang hamba kepada Allah itu, semula seperti bibit, ketika bibit itu mampu dikembangkan dengan baik maka bibit itu akan menjadi tumbuhan yang kuat dan berbuah. Itulah hakekat ma’rifatullah. Maka yang dimaksud dengan “asy-syajaroh” adalah dasar pemahaman manusia akan tuhannya, itu adalah sebagai pembawaan manusia sejak lahir. Apabila dasar pemahaman itu mampu dikembangkan dengan ilmu dan amal, maka akan menjadi ma’rifatullah yang mampu menyinari perilaku kehidupan manusia.
3. Firman Allah:
لَا شَرْقِيَّةٍ وَلَا غَرْبِيَّةٍ
“tidak di timurnya sesuatu dan tidak di baratnya sesuatu”.
MA’RIFATULLAH (asy-syajaroh), kedudukannya tidak di dataran bumi maupun di ufuk langit, tidak di timurnya sesuatu dan tidak pula di baratnya, melainkan di dalam jati diri manusia, yaitu dalam relung rongga dadanya sendiri, hal itu sebagai pembawaan manusia sejak dilahirkan ibunya. Oleh karena itu, apapun yang tumbuh di dalam hati, baik ilmu pengetahuan, iman, yakin dan ma’rifatullah, apabila masing-masing itu kemudian menjadi kuat, sejatinya potensinya sudah tersedia sejak zaman azali. Ibarat orang menggosok mutiara, bukannya batu kali digosok menjadi mutiara, namun aslinya memang sudah mutiara, hingga meski digosok sedikit saja, sinarnya sudah mampu menyilaukan mata. Seperti juga air hujan yang menghidupkan tanah tandus hingga menjadi subur kemudian tumbuh tanaman, bukan air hujan itu yang membawa bibit dari langit, melainkan bibit-bibit itu sejatinya telah tersebar di dataran bumi itu, sehingga ketika musim hujan datang, meski tanpa ditanami benih, tanah yang semula kering itu seketika menjadi hijau dan tumbuh subur.
Itulah perumpamaan potensi iman dan ma’rifatullah yang tumbuh di dalam dada orang-orang beriman, seperti minyak pohon yang seakan-akan telah menerangi walau tanpa tersentuh api. Artinya, iman itu sudah bersinar meski belum dimasuki ilmu pengetahuan, dan ketika disentuh ilmu, maka iman itu menjadi semakin memancarkan sinarnya. Itulah Nur hidayah Allah dalam dada hamba pilihan, sinarnya mampu menyalakan obor iman, menghidupkan semangat pengabdian dan jihad di jalan Allah. Bahkan seperti sungai bermata air, meski musim kemarau panjang, airnya bahkan semakin jernih dan tetap mengalir sepanjang zaman.
4. Firman Allah:
” زَيْتُونَةٍ لَا شَرْقِيَّةٍ وَلَا غَرْبِيَّةٍ “
“Minyak dari pohon yang banyak berkahnya, pohon zaitun, yang tidak di timurnya sesuatu dan tidak pula di baratnya sesuatu”.
Gambaran lain tentang iman itu seperti daun yang berada di tengah rerimbunan dedaunan. Tidak terkena sinar matahari dari timur dan barat sehingga menjadi daun yang hijau segar dan berkilau. Seperti itulah keadaan hati orang yang beriman. Hati itu tidak menjadi layu sebab penderitaan dan tidak angkuh dan keras sebab penghormatan dan kenikmatan. Hati yang demikian itu dapat dilihat dari empat tanda-tanda; (1) apabila berkata, benar; (2) apabila memutuskan adil; (3) apabila mendapat musibah, sabar, dan (4) apabila mendapatkan kenikmatan, bersyukur. Keberadaan orang yang hatinya seperti itu di tengah-tengah manusia seperti seorang lelaki yang sedang berjalan di antara pekuburan orang mati.
Jadi yang dimaksud “asy-syajaroh” itu tempatnya bukan di muka bumi bukan pula di langit, tapi di dalam hati orang-orang yang beriman. Yaitu pohon yang mampu menjadikan seorang hamba mencintai dan dicintai Allah. Ketika pohon itu disuburkan dengan ilmu, iman, amal shaleh dan akhlakul karimah, maka dengan izin Allah, buahnya dapat dimakan setiap saat. Itulah buah ma’rifatullah yang oleh ahlinya dikatakan “surga ma’rifat”. Allah memberikan perumpamaan dengan firman-Nya yang lain:
أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ (24) تُؤْتِي أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍ بِإِذْنِ رَبِّهَا وَيَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ
Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit (24) pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat (25). (QS.Ibrahim/24-25)
5. Firman Allah:
“نُوْرٌ عَلَى نُوْرٍ”
(Nur di atas Nur) hakekatnya adalah perpaduan antara Ilmu dan Iman. Apabila ilmu dan iman sudah diaktualisasikan dalam bentuk ibadah dan pengabdian yang hakiki, maka akan memancarkan cahaya yang cemerlang melalui karakter dan perilaku manusia sehingga amal dan pengabdian mereka mudah mendapat peneriman di tengah umat, selanjutnya akan mengangkat derajat pemiliknya pada derajat yang tinggi di sisi Allah.
Hal tersebut bisa terjadi, karena Nur Ilahiyah itu memancar dari tiga indera manusia, pendengaran, penglihatan dan hatinya. Oleh karena ketiga indera itu selalu mendapatkan pancaran hidayah Allah, maka apapun yang diperbuat oleh orang tersebut mampu memancarkan kembali hidayah itu kepada umat manusia. Kongkritnya, dengan Nur itu menjadikan mereka mampu mendengar, melihat, dan merasakan hanya dengan dasar kasih sayang yang bersih. Itulah buah ibadah, yang tidak hanya mampu memberikan kemanfaatan kepada diri sendiri, namun juga kepada sesama manusia dan menjadi “rahmatan lil ‘aalamiin”.
6. Firman Allah:
” يَكَادُ زَيْتُهَا يُضِيءُ وَلَوْ لَمْ تَمْسَسْهُ نَارٌ ”
“Seakan-akan minyaknya sudah menerangi walaupun tidak disentuh api”.
Itulah minyak abadi yang menyalakan pelita iman di hati para hamba pilihan yang tanda-tandanya dapat terbaca dari pemiliknya. Berupa sinar yang selalu memancar dari air muka dan budi pekerti menyejukkan. Itulah air muka para kekasih Allah, sehingga hanya dengan memandang sinar wajahnya saja, kadang-kadang menjadikan sebab orang mendapatkan hidayah dari-Nya. Air muka yang sejuk itu bahkan mampu membangkitkan rasa rindu kepada Allah, menghidupkan harapan dengan terbitnya suatu permintaan di dalam hati: “Ya Allah, kalau seandainya aku sudah tidak mungkin menjadi orang seperti dia, oh semoga, barangkali anakku saja”. Bahkan hanya bertemu dan bertatap muka saja, orang yang hatinya sedang susah dapat terobati dengan sendirinya.
Oleh karena itu, seandainya Baginda Nabi Muhammad SAW tidak pernah mengaku sebagai Nabi sekalipun, dengan kebaikan budi pekerti yang disinari dengan keteduhan sinar wajah yang menyejukkan, manusia yang hatinya selamat pasti mengerti bahwa sesungguhnya beliau itu adalah seorang Nabi. Yang demikian itu telah dibuktikan sejarah, sehingga Beliau mendapat julukan al-Amin jauh hari sebelum diangkat menjadi seorang Nabi.
Jadi, tanda-tanda orang yang mendapat Nur Ilahiyah itu bukan hanya orang yang pandai menulis dan berbicara tentang NUR saja, terlebih jika isinya tidak mencerminkan akhlak yang mulia, tetapi juga orang yang mampu menunjukkan perilaku dan ucapan yang dapat memberi kemanfaat kepada orang lain, bukan sebaliknya. Yang ditulis dan diucapkan itu sekedar ungkapan, mengungkapkan keadaan hati orang tersebut.
Makanya, jika ada orang hobby-nya suka menghina orang lain, baik dalam tulisan ataupun ucapan, apalagi jika orang yang selalu dihina itu tidak pernah berbuat salah kepada orang tersebut, itu jelas menunjukkan, bahwa hati orang tersebut sesungguhnya sedang sakit kronis. Dia sesunguhnya orang yang hina, bukan orang yang dihina. Oleh karena hatinya RINGKIH dan sakit-sakitan, maka tidak kuat ketika melihat orang yang dibenci itu dihormati oleh orang lain. Berarti fungsi hidup orang tersebut hanya untuk menyebarkan penyakit masyarakat, … kecuali dia itu memang seorang DOKTER yang sedang mengimunisasi orang banyak, supaya masyarakat tidak terkena wabah penyakit…….., semoga memang demikian.

NUR DI ATAS NUR (part-3 ) – “NUR” Dalam Arti Hidayah
NUR DI ATAS NUR (part-3 ) – “NUR” Dalam Arti Hidayah
Firman Allah SWT:
(اللَّهُ نُورُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْض)
“Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi”.
Allah SWT adalah Dzat yang memasukkan hidayah dan iman di dalam hati seorang hamba. Hanya Allah yang menghendaki adanya iman di dalam hati seorang hamba. Seandainya tidak, maka tidak ada lagi yang mampu menjadikan orang beriman kepada-Nya, bahkan Malaikat sekalipun. Allah menegaskan hal tersebut dengan firman-Nya:
وَلَوْ أَنَّنَا نَزَّلْنَا إِلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةَ وَكَلَّمَهُمُ الْمَوْتَى وَحَشَرْنَا عَلَيْهِمْ كُلَّ شَيْءٍ قُبُلًا مَا كَانُوا لِيُؤْمِنُوا إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَهُمْ يَجْهَلُونَ
“Kalau sekiranya Kami turunkan malaikat kepada mereka, dan orang-orang yang telah mati berbicara dengan mereka dan Kami kumpulkan (pula) segala sesuatu ke hadapan mereka niscaya mereka tidak (juga) akan beriman, kecuali jika Allah menghendaki, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui”. (QS. al-An’am; 111)
Seperti orang yang matanya buta, meski matahari sedang tinggi, tetap saja alam dalam keadaan gelap gulita. Seperti itu keadaan orang yang hatinya ingkar, meski Kitab-Kitab langit sudah diturunkan di muka bumi, Rasul dan Nabi diutus untuk membimbing manusia, Ulama’ disebarkan dengan membawa “ilmu warisan”, tetap saja orang tersebut tidak mau beriman kepada Allah dan rasul-Nya. Itu bisa terjadi, karena yang buta bukan mata yang di kepala, tapi “matahati” yang ada dalam rongga dada. Allah telah menegaskan dengan firman-Nya yang artinya:
أَفَلَمْ يَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَتَكُونَ لَهُمْ قُلُوبٌ يَعْقِلُونَ بِهَا أَوْ آَذَانٌ يَسْمَعُونَ بِهَا فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى الْأَبْصَارُ وَلَكِنْ تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ
“Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada.”. (QS. Al Hajj; 46)
Oleh sebab itu, tidak semua orang mempunyai ilmu agama Islam pasti memiliki iman. Karena kedudukan ilmu di akal sedangkan kedudukan iman di hati. Mengapa demikian … ? karena yang dikelola hanya “ilmu” bukan “iman”. Terlebih dengan orientasi duniawi, sehingga tidak segan-segan orang Islam menimba ilmu Agama Islam kepada orang yang bukan Islam, sekedar secara formal agar lebih mendapatkan pengakuan. Bahkan untuk mencukupi kebutuhan hidup duniawi, ilmu agama Islam ini kini marak dijual murahan di panggung-panggung pengajian yang dikelola seperti panggung hiburan. Bukannya mengajak manusia ke jalan Allah, tetapi malah untuk mengocak perut dengan dagelan sambil menjual ayat dengan dikolaborasikan musik dangdutan agar sajian laku terjual.
Apabila niat di dalam hati ternyata benar-benar hanya untuk mencari keuntungan duniawi, bukan ibadah, berarti sama saja orang tersebut telah berkhianat kepada amanat ilmunya sendiri. Akibatnya, boleh jadi orang tersebut akan dimasukkan neraka akibat penerapan ilmu agama yang mereka miliki itu. Gambarannya seperti lilin, memberikan penerangan kepada orang lain tapi menghancurkan diri sendiri. Itulah kerugian yang nyata, rugi dunia dan akherat.
Adapun “Nur” dalam arti Hidayah atau sampainya iman ke dalam hati seorang hamba, telah ditegaskan Allah dalam firman-Nya:
اللَّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ آَمَنُوا يُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ
“Allah Pelindung orang-orang yang beriman ; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya”. (QS. al-Baqoroh; 2/257)
Karena Allah mencintai orang-orang yang percaya (iman), maka Allah senantiasa menolong mereka dengan mengeluarkan dari kegelapan kafir dan syirik menuju cahaya tauhid. Bahkan menghidupkan hati mereka yang asalnya sudah mati disebabkan oleh kerak dosa yang menempel bagai karat hingga menjadi suci dan bersih dan kembali disinari hidayah iman. Allah telah menegaskan hal itu dengan firman-Nya:
أَوَمَنْ كَانَ مَيْتًا فَأَحْيَيْنَاهُ وَجَعَلْنَا لَهُ نُورًا يَمْشِي بِهِ فِي النَّاسِ كَمَنْ مَثَلُهُ فِي الظُّلُمَاتِ لَيْسَ بِخَارِجٍ مِنْهَا كَذَلِكَ زُيِّنَ لِلْكَافِرِينَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
“Dan bukankah mereka adalah mati, kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya”.(QS. al-An’am; 6/122)
Dengan Nur iman itu, hati yang asalnya kaku dan keras, menjadi lunak dan lentur. Hati yang mati menjadi hidup kembali. Bahkan yang asalnya bodoh menjadi mengerti. Hasilnya, hati itu kian peka kepada keadaan sekelilingnya sekaligus juga gampang menerima pendapat orang lain walau kadang kala tidak sefaham dan bertentangan dengan pendapatnya sendiri. Selanjutnya, berkat kebaikan budi pekerti yang disinari iman itu, akhirnya lingkungannya pun menjadi baik karenanya.
*********
Allah SWT berfirman:
وَكَذَلِكَ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ رُوحًا مِنْ أَمْرِنَا مَا كُنْتَ تَدْرِي مَا الْكِتَابُ وَلَا الْإِيمَانُ وَلَكِنْ جَعَلْنَاهُ نُورًا نَهْدِي بِهِ مَنْ نَشَاءُ مِنْ عِبَادِنَا وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ
“Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu “Ruh” (Al-Qur’an) dari urusan Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al-Kitab (Al-Qur’an) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al-Qur’an itu cahaya, yang Kami tunjuki dengannya siapa yang Kami kehendaki diantara hamba-hamba Kami”. (QS. asy-Syuura.42/52)
Di dalam ayat di atas, “Nur Hidayah” yang mampu menghidupkan iman dan hati yang mati disebut “Ruh”. Nur tersebut asal kejadiannya hanya satu, yaitu “Nur Muhammad SAW”, makhluk yang pertama kali diciptakan Allah dari “Nur-Nya”. Ketika Nur itu dipancarkan di alam semesta, Nur itu kemudian bercabang dan menjadi bermacam-macam bentuk kebutuhan hidup manusia.
Bentuk kebutuhan itu di antaranya ialah; untuk mencukupi mata, maka Nur itu menjadi cahaya yang dipancarkan matahari. Untuk mencukupi kebutuhan akal dan fikir, maka Nur itu menjadi ilmu pengetahuan yang dipancarkan al-Qur’an dan hadits Nabi. Untuk menyediakan kebutuhan hati maka Nur itu menjadi sifat kasih-sayang yang dipancarkan sifat Rahman Allah. Dan untuk menyediakan kebutuhan ruh, maka Nur itu menjadi iman, yakin dan ma’rifatullah yang dipancarkan sifat Rahim Allah. Selanjutnya, dengan keempat indera tersebut (mata, akal, hati dan ruh) Ulama’ sebagai pewaris para Nabi dan Khalifah bumi zamannya bertugas memancarkan kembali Nur itu kepada alam yang ada di sekelilingnya. Allah menegaskan hal tersebut dengan firman-Nya:
إِنَّ رَحْمَةَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنَ الْمُحْسِنِينَ
“Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat dari orang-orang yang berbuat baik”.(QS. Al-A’raaf; 56)
Hanya Allah yang mampu berbuat demikian, menancapkan hidayah dalam hati manusia sehingga orang tersebut beriman kepada Allah dan rasul-Nya. Adapun para khalifah bumi itu adalah pengganti Allah di muka bumi. Sebagai pelaksana kehendak dan takdir yang sudah ditetapkan-Nya sejak zaman azali, menyampaikan rahmat Allah yang sudah mereka terima kepada alam semesta menjadi rahmat yang universal yaitu “rahmatan lil ‘aalamiin”, baik rahmat lahir yang berupa ilmu pengetahuan maupun rahmat batin berupa iman, yakin dan ma’rifatullah. Para Kholifah Bumi itu tidak hanya menyampaikan ilmu Agama saja, terlebih dengan cara debat kusir yang tidak ada ujung pangkalnya. Disamping mereka itu selalu mengajarkan ilmu pengetahuan dan pemahaman hatinya dengan sabar, juga menuntun umatnya dalam pelaksanaan amal ibadah dengan didasari akhlak mulia untuk berjalan bersama menuju keridhoan Ilahi Rabby.

NUR DI ATAS NUR (part-4 ) – (Nur Kehidupan)
NUR DI ATAS NUR (part-4) – (Nur Kehidupan)
Manusia dikatakan hidup apabila seluruh indera yang dimiliki—baik yang lahir maupun yang batin—hidup. Apabila indera-indera tersebut mati (tidak berfungsi sebagaimana mestinya), terlebih indera yang batin, berarti manusia itu hakekatnya mati meski masih bernyawa. Sebab, meski indera lahirnya hidup, dengan matinya indera batin, sungguh tidak ada lagi yang dapat diperbuat oleh manusia tersebut kecuali hanya makan dan bersenang-senang. Selanjutnya kenikmatan itu harus dipertanggungjawabkan dengan siksa neraka Jahanam. Allah menggambarkan keadaan mereka itu melalui firman-Nya:
وَالَّذِينَ كَفَرُوا يَتَمَتَّعُونَ وَيَأْكُلُونَ كَمَا تَأْكُلُ الْأَنْعَامُ وَالنَّارُ مَثْوًى لَهُمْ
“Dan orang-orang yang kafir itu bersenang-senang (di dunia) dan mereka makan seperti makannya binatang-binatang. Dan neraka adalah tempat tinggal mereka”. (QS. Muhammad; 12)
Makan seperti cara makan binatang ternak itu artinya ‘hidup untuk makan’ bukan ‘makan untuk hidup’. Akibat dari itu, meski badan mereka sehat tapi hatinya penuh dengan penyakit dan bahkan mati. Di dalam firman-Nya yang lain, Allah menggambarkan keadaan mereka di neraka:
رُبَمَا يَوَدُّ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْ كَانُوا مُسْلِمِينَ (2) ذَرْهُمْ يَأْكُلُوا وَيَتَمَتَّعُوا وَيُلْهِهِمُ الْأَمَلُ فَسَوْفَ يَعْلَمُونَ
“Orang-orang yang kafir itu seringkali (nanti di akherat) menginginkan, kiranya mereka dahulu (di dunia) menjadi orang-orang muslim(2) Biarkanlah mereka (di dunia ini) makan dan bersenang-senang dan dilalaikan oleh angan-angan (kosong), maka kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatan mereka itu)”. (QS. Al Hijr; 2-3)
Itulah gambaran kehidupan orang yang tidak beriman kepada Allah dan rasul-Nya, meski secara lahir kelihatannya hidup bahkan mampu mengelola dunia dengan baik, namun sejatinya itu adalah kehidupan yang mati.
أَوَمَنْ كَانَ مَيْتًا فَأَحْيَيْنَاهُ وَجَعَلْنَا لَهُ نُورًا يَمْشِي بِهِ فِي النَّاسِ كَمَنْ مَثَلُهُ فِي الظُّلُمَاتِ لَيْسَ بِخَارِجٍ مِنْهَا كَذَلِكَ زُيِّنَ لِلْكَافِرِينَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
“Dan bukankah mereka adalah mati, kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya”. (QS. al-An’am; 6/122)
Yang dimaksud ‘orang mati’ dalam ayat di atas bukan orang yang nyawanya sudah dicabut sehingga jasadnya harus segera dikubur, tapi hatinya sedang beku dan kaku, sehingga meski jasad itu masih dalam segar bugar, namun tidak dapat memberikan manfaat yang berarti bagi dirinya sendiri. Hal itu bisa terjadi, karena matahatinya sedang ditutupi mendung kerak dosa dan kabut sifat-sifat duniawi yang terlanjur menjadi karakter dasar perilaku hidupnya sehari-hari.
Dikatakan mati karena orientasi hidupnya pendek dan sempit, hanya dibatasi oleh kematian di dunia namun panjang angannya, penuh fatamorgana yang menggoda. Artinya, setelah batas kematian itu terlewati, tidak ada lagi kehidupan menyenangkan baginya, yang tertinggal hanya siksa neraka yang pedih untuk selama-lamanya.
“Nur hidayah Allah”, melalui indera-indera lahir manusia tersebut seharusnya mampu menghidupkan kembali hati yang mati itu, dengan cara memadukan antara iman dan amal shaleh dalam pelaksanaan pengabdian hakiki. Adapun indera manusia pada hakekatnya hanya ada dua yaitu; (1) Bashoro atau indera lahir yang meliputi panca indera dan rasio (akal dan fikir) dan (2) Bashiroh atau indera batin (perasa) yang meliputi perasaan hati dan ruh atau ruhaniah. Dari kedua indera tersebut (bashoro dan bashiroh), indera manusia bercabang-cabang dengan cabang yang tidak terhitung, di mana masing-masing indera itu membutuhkan Nur kehidupan.
Untuk menyingkat uraian maka kedua indera tersebut (bashoro dan bashiroh) masing-masing dibagi menjadi dua cabang.
1. Bashoro atau indera lahir yang terdiri dari dua indera:
a) Indera mata; membutuhkan Nur atau cahaya yaitu sinar matahari. Oleh karena itu, meski mata dalam keadaan melek dan sempurna, tanpa adanya sinar matahari, mata itu tidak dapat berfungsi sehingga tidak bermanfaat bagi manusia.
b) Indera akal; membutuhkan Nur berupa ilmu pengetahuan yang bersumber dari al-Qur’an dan hadis. Sebagaimana mata tanpa sinar matahari yang tidak membawa kemanfaatan, akal juga demikian, tanpa ilmu al-Qur’an berarti akal menjadi mati. Untuk itulah fungsi Ilmu Al-Qur’an adalah sebagai Nur bagi akal sebagaimana fungsi matahari sebagai Nur bagi indera mata.
2. Bashiroh juga meliputi dua Indera:
a) Hati (القُلب); membutuhkan Nur yang berupa “rahmah” atau kasih sayang dan cinta kasih sebagaimana diisyaratkan Allah di dalam firman-Nya:
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ
“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma’afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu”. (QS. Ali Imran; 3/159)
وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً
“Dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih sayang” (QS. ar-Rum; 30/21)
وَجَعَلْنَا فِي قُلُوبِ الَّذِينَ اتَّبَعُوهُ رَأْفَةً وَرَحْمَةً
“Dan Kami jadikan dalam hati orang-orang yang mengikutinya rasa santun dan kasih sayang”. (QS. al-Hadid; 57/27)
Hati tanpa kasih sayang menjadikan kehidupan seseorang kaku, sama dengan mata tanpa sinar matahari yang menjadi buta. Orang seperti itu hidupnya hanya mengutamakan diri sendiri tanpa peduli kepada orang lain. Bahkan ketika hatinya telah dipenuhi rasa dendam, seringkali manusia mampu berbuat kejam melebihi binatang buas. Itulah binatang paling tidak disukai Allah sebagaimana terungkap dalam firman-Nya:
إِنَّ شَرَّ الدَّوَابِّ عِنْدَ اللَّهِ الصُّمُّ الْبُكْمُ الَّذِينَ لَا يَعْقِلُونَ
“Sesungguhnya binatang (makhluk) yang seburuk-buruknya pada sisi Allah ialah orang-orang yang pekak dan tuli yang tidak mengerti apa-apapun”. (QS. Al-Anfal; 22)
Adapun hati yang lemah lembut karena ada Nur kehidupan di dalamnya, sekiranya tidak, niscaya hati itu akan menjadi kasar dan keras. Ketika hati itu kasar dan keras maka orang-orang di sekitarmu akan menjauhimu. (Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu).
Tanda-tanda hati yang telah mendapatkan Nur kehidupan itu ialah hati yang gemar memberi maaf kepada manusia dengan memohonkan ampunan kepada Allah, sebagaimana firman-Nya:
وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
“Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema`afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan”. (QS. Ali Imran; 3/134)
b) Ruh (Ruhaniah); Setelah ruh mendapatkan “Nur kehidupan” pertama yaitu iman, ruh juga membutuhkan Nur lagi yang disebut dengan “Nur Nubuwah” atau “Nur Walayah”. Nur kehidupan yang kedua itu berfungsi agar iman yang sudah ada menjadi semakin kuat dan yakin hingga menjelma ma’rifatullah. Tentang Nur Nubuwah ini telah dinyatakan Allah dengan Firman-Nya:
أُولَئِكَ الَّذِينَ آَتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ وَالْحُكْمَ وَالنُّبُوَّةَ
“Mereka itulah orang-orang yang telah Kami berikan kepada mereka kitab, hikmah, dan Nubuwah”. (QS. al-An’am; 6/89)
Nur Iman ibarat penglihatan, sedangkan Nur Nubuwah atau Nur Walayah itu ibarat mataharinya. Tanpa Nur yang pertama (iman), berarti sama saja seperti orang menjadi buta, maka Nur yang kedua (Nur Nubuwah atau Nur Walayah) itu tidak akan berguna bagi manusia. Oleh sebab itu, ilmu agama saja tidak cukup bagi manusia, tanpa iman, orang yang memiliki Ilmu Agama itu seperti orang buta sehingga ilmu agama itu sedikitpun tidak mampu memberikan petunjuk (hidayah) bagi hatinya sendiri. Seperti itulah gambaran orang yang hatinya ingkar, sehingga ilmu agamanya cenderung hanya dijadikan alat mencari kehidupan duniawi. Mengapa demikian itu bisa terjadi, karena sesunguhnya yang buta bukan akal dan matanya akan tapi hatinya:
فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى الْأَبْصَارُ وَلَكِنْ تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ
“Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada”. (QS. Al Hajj; 46)
Namun demikian, orang yang sudah memiliki Nur Iman, tanpa Nur Nubuwah atau Nur Walayah, Nur Iman itu tidak dapat berkembang sempurna bahkan malah mati. Adapun satu-satunya jalan untuk menguatkan Nur Iman adalah amal shaleh, karena iman itu dapat bertambah dan berkurang dan bahkan juga dapat mati.
@@

Categories: >>PERPUSTAKAAN UTAMA | 40 Komentar

DIBANTU KHODAM


risang mukti
risang.mukti@gmail.com

Assalamu alaikum kepada wongalus para sesepuh dan pembaca yang saya hormati. Pengalaman antara individu satu dengan individu lainya kadang beda kadang juga sama.Sampai saat ini tentang khodam memang masih simpang siur apalagi khodam termasuk makluk tak kasat mata. Saya bukanlah orang yang paham betul tentang seluk beluk khodam. Saya hanya mau bercerita masa lalu saya yang pernah ditemui makluk gaib. Entah khodam entah jin entah ilusi namun untuk memudahkan sebut saja khodam.

PENGALAMAN PERTAMA: Beberapa tahun yang lalu istriku sakit mendadak tiba2 badanya panas kepala pusing melihat rumah katanya rumahnya berputar2.Perutnya tegang dan mengeras.Saya menangkap sinyal ini sakit tak wajar.Lalu saya berusaha menerapkan doa2 hikmah yang pernah saya pahami namun reaksinya sembuh sehari besoknya kambuh lagi.Dalam benaku bingung apa yang harus saya lakukan.Semula saya akan mencari bantuan kepada orang lain unt menyembuhkan istriku namun hal itu saya urungkan karena saya ingat nasehat ayahku SAK MANDI MANDINE LAKUNE WONG LIYO ISIH MANDI LAKUNE DEWE(SEMANJUR2NYA LAKU ORANG PINTAR/PARANORMAL MASIH AMPUH LAKU KITA SENDIRI).

Lalu saya membaca buku kecil dan tipis berisi tentang doa nurbuat yg kubeli dibis. Saya berusaha menghafal scr kilat wl doanya agak panjang.Lalu dalam benaku ada komitmen tdk akan berhenti wirid doa nurbuat sebelum istri saya sembuh.Saya sholat hajar 2 rokaat lalu mengamalkan doa nurbuat sesuai petunjuk buku waktu itu saya baca 100x.Dalam hati tak terbersit sedikitpun minta bantuan malaikat atau makluk alloh apapun.Saya hanya berdoa yaa alloh sembuhkanlah istri saya.Itu saya ucapkan setelah saya wirid nurbuat 100x.Mungkin langkah saya waktu itu salah tp sy tdk tahu
harus berbuat apa.Singkat kata saya kepepet tahunya cuma metode itu.Itupun dari buku murah yg saya beli dibis. Dihari ke 9 saat saya wirid nurbuat dikamar sholat tiba2 istiku mengetuk2 kamar sholat lalu wiridku saya hentikan.Dia cerita ada orang pakae jubah menembus tembok mengusap kepalanya saat ditemui dia tdk ketakutan tp setelah orang pakai jubah itu berlalu dia takut luar biasa.Lalu saya khatamkan wirid nurbuat didekat istri yg sedang berbaring sampai katam 100x. Dihari yang ke 10 makluk berjubah itu menemuai istriku lg saat saya wirid dikamar namun kali ini makluk itu berbicara kpd istri sy. Saat diajak bicara dia tdk ketakutan.Makluk itu mengatakan dihalaman rumahmu ada kotoran ayam yang telah dicampur kapur/gamping ambilah dan buanglah jauh2.Dan dia sepertinya mengambil sesuatu ditelapak kaki istriku.Setelah makluk itu hilang lagi2 istriku ketakutan dan menceritakan semua kejadian yang baru saja dialami.Malam itu juga saya kehalaman rumah mencari benda yg ditunjuk.Benar ada kotoran ayam bercampur kapur di 3 lokasi yg sudah mengering dan bercampur tanah.Benda tsb saya ambil dan paginya saya buang jauh2 dan alhamdulilah istriku sembuh.Dan selanjutnya makluk tsb tidak pernah muncul lg.

PENGALAMAN KE DUA:
Terosebsi kata teman yang mengatakan khodam bisa membantu kesulitan hidup lalu saya diajak menemui sesepuh di mangkang semarang untuk minta ijazah menghadirkan khodam ayat kursi.Doanya hampir mirip diblog2 dan di kwa ini sepertinya pernah ada yg menulis Kalau tdk salah HIZIB AYAT KURSI doanya sama cuma lakunya berbeda.Karena saat itu saya terjepit masalah ekonomi walau lakunya berat saya jalankan juga dg harapan kesulitan ekonomi bisa teratasi.Waktu itu diharuskan puasa dan mandi malam sebelum wirid dan memakai wangi2an non alkohol selama 40hr kl gagal diulang dr awal.Setelah sy jalani dihari2 pertama tidak ada apapun. Dihari yg ke 21 keatas saat wirid ada suara lemari berjalan dan benda2 seisi rumah seolah berjalan.Dihari yg ketigapuluh ke atas setiap kali wirid diatas tempat wirid seolah ada blower AC dan menjadikan tubuh sangat dingin sekali.Sampai hari terakhir puasa yg saya rasakan sangat kedinginan tidak ada kejadian apapun. Saat sudah selesai riyadhoh tidak ada yg sy harapkan tp sy jg tidak menyesal.Namun dihari yg ke 41 setelah riyadhoh saat saya sholat dhuha sehabis salam tiba2 ada makluk besar dan tinggi dg sikap tangan sungkem dihadapanku dg kaget jg takut saya ucapkan salam namun dia tdk menjawab dia hanya mengangguk dan semakin merunduk.Lalu aku tanya apakah kamu jin atau khodam ayat kursi?

Dia hanya sungkem tdk menjawab.Lalu saya katakan lagi kalau kamu jin jahat enyahlah dari hadapanku dia hanya diam dan tanganya tetap bersikap seperti orang menyembah.Karena gugup lalu saya katakan kalau kamu membantuku lariskanlah daganganku.Saat itu sy dan istri dagang beras dipasar.Dia langsung sungkem lg dan mengangguk dan pergi.Lalu saya kepasar membantu istri saya.Benar hari itu penjualan beras laris sekali.Sampai saya pinjam stock kanan kiri sesama pedagang.Dihari kedua dan ke 3 setelah sy ditemui makluk itu penjualan memang luar biasa. Namun dihari ke 4 dan seterusnya berjalan biasa cenderung sepi krn saat itu memang puncak2nya krisis ekonomi.Lalu sy menemui sesepuh yg memberi ijazah dan sy ceritakan semua kejadian.Dia berkata seharusnya waktu itu kamu minta uang tunai apa emas.Padahal waktu sblm riadhoh niatnya minta uang tp entah belum rejeki entah gugup dan takut rencana itu hilang mendadak.Itulah pengalaman saya masa lalu semoga bisa menambah wasasan tentang khodam walaupun mungkin yg saya temui jin sy jg tidak tahu. Namun sekarang setelah diberi wawasan dari berbagai pihak dan dalam benak menyimpulkan berbagai wawasan saya tidak berani lagi mengundang khodam.Saya jg tidak menilai khodam itu buruk namun secara pribadi mempunyai pendapat minta langsung kepada sang pencipta dengan mengabaikan khodam. @@@

Categories: >>PERPUSTAKAAN UTAMA | 664 Komentar

SAMBUTAN REKTOR KWA


Asswrwb….Innalillah lahawla wala quwwata illa billah….Segala sesuatu adlh milik allah dan tiada daya dan kekuatan kecuali Allah….

Kepada segenap sesepuh dan pini sepuh yg snantiasa kami hormati dan kami muliakan….
Kepada segenap dewan pakar dan sohibul ijazah yg snantiasa kami cintai…
Kepada segenap bolowongalus dan pecinta blogwongalus dimanapun panjenengan smua berada….
Salam dan salim takzim dan hormat Kami buat semuanya…..

Trmksh dan Innalillah…sblmnya atas sgenap kepercayaan dan amanah sebagai rektor kampus wongalus tlh diamantkn kpd kami. Suatu amanat dan tanggung jwab yg slm ini tdk prnh terkilas dan terfikir dalam fikiran sy. Aplg ambisi menduduki jabatan spt ini. Kami mmg prnh kuliah,tp kami sndr krg “ngeh”dgn hal jabatan rektor ini. Kami fikir malah sekedar semacam menteri dlm kabinet pemerintahan dgn tugas membantu tugas2 dr presiden. Gak taunya rektor itu malah presidennya sndr.

Waduh,smp gak bisa ngomong wkt itu….hanya mengucap innalillahi wa ‘inna ilaihi rajiun…subhanallah…lahawla wala quwwata illa billah….krn ini trjd hanya dlm diskusi kecil sy dgn sesepuh,sy mnt wkt buat menimbang dan memutuskan dan sy pun mnt tempo satu bulan buat memutuskn sy fikir hanya sbg bantu2 admin dan upload, malah tdk mengira yg dkasihkan adlh boomnya. Krn sy pribadi merasa empaty thdp tugas dan tanggung jawab kiwongalus sbg admin,uploader ,pemilik dan ketua blog. Sy hanya mencoba membantu meringankan tugas dan tanggung jwb beliau sj. Ttp yg diputuskan adlh hal2 tsbt. Mskpn dgn setengah ngeyel dan mbalelo, ttp ya sdh, krn ini mmg sdh diputuskan oleh kiwongalus dan sesepuyh yg laen,sy mencoba berbesar hati dan mensikapi ini scr lbh legowo jg positif,dan sy insya allah akan brsh menjalankan amanah ini semaksimal mgkn dgn tentunya dbantu dgn kehadiran panjenengan smuanya.

Mohon maaf sy smpkn kpd yg mengucapkn selamat kpd sy via sms maupun via chat, ada yg sy balas bahkan ada yg sy diamkan trlebih dahulu tnp jawaban apapun smp dgn saat ini. Krn jujur sy msh menunggu dan memberi kesempatan kpd sgenap sedulur yg mgkn ingin “mengkoreksi” dan lebih“merasa mampu” u/mengemban amanat ini,akan dgn sangat legowo dan lbh berbesar hati akan sy serahkn kepemimpinan ini dgn disetujui dan di sepakati oleh poro sedulur dan kiwongalus sbg pemilik blog. Ada perasaan sungkan yg dalam atas pengangkatan ini thdp diri sy. Shg sy mencoba berdiam diri,intropeksi diri dan menata batin ini u/mjd pribadi yg lbh baek. Sy tetap memantau segenap aktivitas blog dr hp dan komputer,tp mmg jarang koment. Bukan krn sy bermaksud menjaga jarak dgn panjenengan trutama jajaran bolo rame rame blog yg slm ini menemani hari2 sy dgn ceria. Tp semata2 sy ingin lbh banyak melihat kedalam diri sy pribadi ttg arti semua ini.

Blog ini mskpn milik pribadi dan perseorangan ttp kt gunakan bersama2,mari kt jaga bersama agar suasananya ttp kondusif,sehat dan terpelihara agar nyaman dkunjungi. Selagi ini masalah diskusi,perbedaan pendapat,pro dan kontra adlh hal biasa dan lumrah dalam kehidupan sehari hari trmsk dlm kehidupan berorganisasi. Krn ini merupakan slh satu cara agar kt bs mensikapi segala sesuatunya lbh bijaksana dan obyektif. Mrpkn salah satu alam membentuk pendewasaan bagi kt apbl kita bs mensikapi pro dan kontra dgn lbh adem dan bijak. Karena dmuka bumi ini tdk ada kebenaran yg abadi dan mutlak,kecuali kebenaran dr Sang Raja Diraja Semesta dan Rajanya para Raja di dunia ini.

Silahkan share,diskusi dan informasi dsmpkn semaksimal mgkn dan dgn dtelaah scr bersama2 agar pola fikir kt dapat lbh berkembang. BUDAYAKAN U/BERTANYA JGN HANYA QABILTU sj krn dgn kt bertanya maka informasi yg akan kt trm akan smkn jls dan akan smkn byk. Giring dan peras dlm situasi diskusi yg unik dan menarik,agar stp artikel yg sdh dposting mjd lbh bernilai dan berarti dalam alurnya. Shg apbl kt kangen,maka kt spt akan me refresh dan melihat catatan2 penting yg prnh kt lalui dgn senyam senyum dan pnh arti dan makna. Krn mgkn inget dgn cengengesan dan guyonan kt dsela2 pertanyaan dan diskusi kt. Monggo dlihat kmbl catatan2 diskusi kt yg lalu klo kangen,agar kt mendapat sesuatu yg baru dan lbh bernilai u/mengembangkan diskusi yg hidup dan bernilai lbh kmbl.
Kepada segenap sesepuh dan sohibul ijazah,kami mhn bantuan u/share dan diskusinya biar dimaksimalakn,krn ini insya allah akan jd catatan sepanjang masa kt. Mjd amal kt yg ikhlas disepanjang masa. Hanya Gusti Allah Sang Raja semesta yg akan membalas budi baek panjenengan di masanya nnt. Dan akan memberkahkan ilmu ,pengetahuan,wawasan dan hikmah dlm diri panjenengan smua. Mohon bantuan support,inputan kpd sedulur smua u/kemajuan dan kebersamaan dlm blog wongalus ini dr semua lapisan pengunjung maupun bolowongalus dan sgenap sesepuh yg exist maupun msh menyembun yikan diri maupun menyembunyikan identitasnya.

Akhirul kata…tak ada gading yg tak retak..mati satu tumbuh seribu…smg mjd motivasi kt u/lbh mawas diri dan memacu kita u/lbh semangat lg dlm berkarya. Smg apa yg sy smpkn ini dpt kt ambil manfaatnya klo mmg ada,klo mmg tdk ada manfaatnya biar mjd catatan pribadi sy sbg pendewasaan dlm jiwa sy.

Bismillah…Semoga ini mjd sarana silaturahmi dan menjalin paseduluran dan pendewasaan bagi kt smua,dan mampu mencetak generasi yg smkn bersyukur dan mengenal akan Tuhan dgn lbh baek dan lbh berimbang. Amin.

Dedicated for : peace love respect and bolowongalus dmnpun berada.
Salam takzim…salam hormat…salam pamuji rahayu….

BENGAWAN.CANDHU

Categories: >>PERPUSTAKAAN UTAMA | 439 Komentar

SAMPURNANING SEMBAH


SAMPURNANING SEMBAH LAWAN PUJI
TAN HANDULU MUNGGUH ANANING HYANG
TAN DINULU ING ANANE
PAPAN TULIS WUS LEBUR
SIPATING RO TAN ANA KARI
MUNG MANTAP ANANIRA
APA KANG DEN DULU
PAN TAN PARAN PINARANAN
PRANAWENG TYAS TAN KAWORAN BANGSA PIKIR
SANGKING NENG NINGING NALA

LUWIH GAWAT GAWATING PAKARTI
NORA KENA RASAN RINASANAN
TAN KENA GINUROKAKE
REKE PRIYAN DEN RAMPUNG
PANGRASUKE HENENG LAN HENING
IKU NUGRAHANING PANGERAN
RASA KANG PITUDUH
DENE KASIDAYANING SEDYA
AMUNG SIRA DHEWE DEDALANE DADI
SANGKING HENENG NINGIRO.

(CENTHINI)

KESEMPURNAAN DARI SEMBAHYANG BUKAN BERARTI MELIHAT TUHAN, KEADAAN-NYA TIDAK KELIHATAN MATA, PAPAN TULIS TELAH LENYAP, KEDUA DUANYA TIDAK MENINGGALKAN BEKAS, HANYA KEMANTAPAN BERADA, BAHWA “TIDAK ADA APA-APA” ITULAH HATI YANG TERANG, TIDAK TERGANGGU OLEH PERSOALAN PIKIRAN. DEMIKIANLAH KETENANGAN KARENA TERANGNYA PANDANGAN. ITULAH SEGAWAT GAWATNYA PEKERJAAN, YANG TIDAK BOLEH HANYA MENJADI BAHAN PEMBICARAAN DAN TIDAK DAPAT DIPERGUNAKAN. MASALAH PENYELESAIANNYA YAITU MENCAPAI ALAM TENANG DAN PANDANGAN YANG TERANG, ADALAH ANUGERAH TUHAN. YANG MENJADI PETUNJUKNYA ADALAH RAHSA. ANDA SENDIRILAH YANG MENEMPUH JALAN SETEPATNYA DAN MENCAPAI TUJUAN ENENG-ENING. @@@

Categories: >>PERPUSTAKAAN UTAMA | 185 Komentar

DOA PARA NABI: DOA PERTOBATAN, PENGAKUAN LEMAH DAN DZHOLIMNYA DIRI


Setidaknya ada empat alasan kenapa kita perlu berdoa.
(1). Doa sebagai sarana dzikir. Allah menyuruh kita berdoa agar kita ingat kepada-Nya. Dengan mengingat Allah, hati jadi tenang dan ini kunci menjalani hidup dengan benar, bijaksana dan bahagia. QS Ar Ra’d 28: orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenang dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenang.
(2). Sadar posisi kita sebagai ciptaan (hamba) dan Allah sebagai Pencipta. Memahami hakikat penghambaan, akan menjadikan kita rendah hati menjauhi sikap sombong, malas, dan menghindari bergantung kepada selain Allah.
(3). Doa adalah pernyataan keinginan dan diteruskan dengan ikhtiar agar tercapai. Maka doa yang benar harus yang disertai dengan ikhtiar yang paling maksimal. Itulah garis perjuangan manusia yang harus dilakukannya: beriman dan beramal saleh.

(4). Doa adalah energizer. Pada saat berdoa, maka muncul harapan, dan harapan akan melahirkan semangat.

Dalam kitab Al Quran, kita akan mendapatkan banyak contoh doa saat para Nabi bermunajah kepada Allah SWT, berikut contoh doa tersebut dan sangat bagus untuk kita amalkan.

@ Adam As @
“ ROBBANA DHOLAMNA ANFUSANA WAILAM TAGFIRLANA WATARHAMANA LANA KUNNANA MINAL KHOSIRIN “
Ya Allah , kami telah mendholimi pada diri kami sendiri, jika tidak engkau ampuni kami dan merahmati kami tentulah kami menjadi orang yang rugi.

ALLAAHUMMA INNAKA TA’LAMU SIRRII WA ‘ALAANIYYATII FAQBAL MA’DZIRATII
Ya Allah, sesungguhnya Engkau tahu apa yg saya rahasiakan dan tidak saya rahasiakan maka terimalah permintaan ampunan saya

WA TA’LAMU HAAJATII FAKTHINII SUKLII
dan Engkau tahu hajatku maka kabulkanlah permintaanku

WA TA’LAMU MAA FII NAFSII FAGHFIR LII DZUNUUBII
dan Engkau tahu apa yang ada dalam jiwaku maka ampunilah dosa-dosaku.

ALLAAHUMMA INNII AS’ALUKA IIMAANAN YUBASYIRU QALBII
Ya Allah, aku meminta kepadaMU iman yang menancap di kalbu

WA YAQIINAN SHAADIQAN
dan -aku minta kepadaMU- keyakinan yang sejati

HATTAA A’LAMU ANNAHUU LAA YUSHIIBUNII
hingga saya tahu bahwa tiada yang menimpa diriku

ILLAA MAA KATABTAHU ‘ALAYYA
kecuali apa yang telah Engkau takdirkan atasku

WARRIDHAA BIMAA QASAMTAHU LII
dan -aku minta kepadaMU- rela dengan apa yang telah Engkau bagikan

YAA DZAL JALAALI WAL IKRAM
wahai Dzat Yang Maha Agung dan Mulia

Doa ini biasa dipakai oleh jamaah haji yang sedang thawaf. KONON, Pada saat Nabi Adam hendak bertobat, sebelumnya beliau thawaf dulu 7 kali, lantas sholat 2 rokaat. Nabi Adam bertobat sambil memanjatkan doa ini.

@ Yunus As @
saat di dalam perut ikan paus :

LAA ILAAHA ILLAA ANTA SUBHAANAKA INNII KUNTU MIN AL-DZAALIMIIN
Tiada Tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang yang dzalim. Al-Anbiya': 87

@ Nuh As @
“ ROBBI INNI AUDZUBIKA AN AS ALAKA MAA LAISALLI BIHI ILMUN WA ILLAM TAGFIRLI WATARHAMNI AKUM MINAL KHOSIRIN “ (surat Hud; 47)
Ya Tuhanku sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari sesuatu yang aku tidak mengetahui hakekatnya, dan sekiranya tidak Engkau ampuni dan belas kasih niscaya aku termasuk orang – orang yang merugi

@ Ibrahim As @
“ ROBBANA TAQOBAL MINNA INNAKA ANTA SAMI’UL ALIM WA TUB ALAINA INNAKA ANTAT TAWWABURROKHIM “ (al baqarah; 128-129)
Ya Tuhan kami terimalah amalan kami sesungguhnya Engkau maha mendengar dan Mengetahui, dan termalah taubat kami, sesungguhnya Engkau penerima taubat lagi Maha Penyayang.

“ ROBBI JA ALNI MUQIMAS SHOLATI WA MIN DZURIYYATI, ROBBANA WA TAQOBAL DOA, ROBBANNAGH FIRLI WA LI WA LI DAYYA WA LI JAMIIL MUKMININA YAUMA YAQUMUL HISAB “ (ibrahim ; 40 -41)
Ya Tuhanku jadikanlah aku dan anak cucuku orang – orang yang tetap mendirikan sholat, ya Tuhanku perkenankanlah doaku , ya Tuhanku beri ampunlah aku dan kedua ibu bapaku dan seluruh orang mukmin, pada hari terjadinya hisab.

@ Zakariya As @
“ ROBBI LATADZARNI WA ANTA CHOIRUL WARISIN “ (an biya ; 89)
Ya Allah janganlah Engkau membiarkan aku hidup seorang diri, sesungguhnya engkau pemberi waris yang paling baik

“ ROBBI HABLI MILADUNKA DURIYATTAN, THOYIBATAN INNAKA SAMI’UD DU’A “ (ali imron;28)
Ya Tuhan berilah aku seorang anak yang baik dari sisiMu, sesungguhnya Engkau maha pendengar Doa

@ Musa As @
“ ROBIS SHROHLI SHODRI WA YA SHIRLI AMRI WAH LUL UQDATAM MIL LISSANI YAH KHOHU KHOULI “ (Thoha ; )
Ya Tuhanku lapangkanlah dadaku, dan lancarkanlah lidahku serta mudahkanlah urusanku

“ ROBBI INNI DHOLAMTU NAFSI FA FIRLHI “ (al qhosos ; 16)
Ya Allah aku menganiaya diri sendiri, ampunilah aku

“ ROBBI NAJ JINI MINAL QUMID DHOLIMIN “
Ya Tuhan lepaskanlah aku dari kaum yang dholim

“ ROBBI INI LIMA ANZALTA ILLAYYA MIN KHOIRIN FAQIR “ (al qhosos; 24)
Ya Tuhanku sesungguhnya aku memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku

“ ROBBI FIRLI WA LI AKHI WA ADKHILNA FI ROHMATIKA, YA ARHAMAR ROKHIMIN “
Ya Tuhanku ampunilah aku dan saudaraku dan masukkanlah kami ke dalam rahmatMu, dan Engkau Maha Penyayang diantara yang menyayangi

@ Isa As @
“ ROBBANA ANZIL ALAINA MA IDATAM MINAS SAMAI TAQUNU LANA IDZAL LI AWALINA, WA AKHIRINA, WA AYYATAM MINKA WAR ZUKNA WA ANTA KHOIRU ROZIQIN “ ( al maidah ; 114)
Ya Tuhanku turunkanlah pada kami hidangan dari langit, yang turunnya akan menjadi hari raya bagi kami, yaitu bagi orang – orang yang bersama kami dan yang datang sesudah kami, menjadi tanda bagi kekuasaan Engkau, berilah kami rejeki dan Engkaulah pemberi rejeki yang paling baik.

@ Syuaib As @
“ ROBBANA TAF BAINANA, WA BAINA KAUMINA BIL HAQQI , WA ANTA KHOIRUL FATIHIN “ (A araf; 89)
Berilah keputusan diantara kami dan kaum kami dengan adil, Engkaulah pemberi keputusan yang sebaik – baiknya.

@ Ayyub As @
“ ROBBI INNI MASYANIYAD DURRU WA ANTA ARHAMUR ROHIMIN “
Bahwasanya aku telah ditimpa bencana, Engkaulah Tuhan yang paling penyayang diantara penyayang.

@ Sulaiman As @
“ ROBBI AUZIDNI AN ASKHURO NI’MATAKALLATI AN AMTA ALLAYA WA ALA WA LI DAYYA WA AN A’MALA SHOLIKHAN TARDHOHU WA AD KHILNI BIRROHMATIKA FI IBADIKAS SHOLIKHIN “ (an naml; 19)
Ya Tuhan kami berilah aku ilham untuk selalu mensyukuri nikmatmu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku, dan kepada kedua ibu bapakku dan mengerjakan amal sholeh yang Engkau ridloi, dan masukkanlah aku dengan rahmatMu kedalam golongan hamba-hambMu yang Sholeh.

@ Luth As @
“ ROBBI NAJ JINI WA AHLI MIMMA YA’MALUN “
Ya Tuhanku selamatkanlah aku beserta keluargaku dari perbuatan yang mereka kerjakan

“ ROBBIN SURNI ALAL KAUMIL MUFSIDIN “ (assyu araa ; 169)
Ya Tuhanku tolonglah aku dari kaum yang berbuat kerusakan

@ Yusuf As @
“ FATIROS SAMAWATI WAL ARDLI ANTA FIDDUNYA WAL AKHIRO TAWWAFFANI MUSLIMAN WA AL HIQNI BISSHOLIHIN “ (yusuf ; 101)
Wahai pencipta langit dan bumi Engkaulah pelindungku di dunia dan akhirat wafatkanlah aku dalam keadaan pasrah (islam), dan masukkanlah aku dengan orang – orang sholeh.

@ Muhammad SAW @
“ ROBBANA ATINA FIDDUNYA HASANAH WA FIL AKHIROTI HASSANAH WA QINA ADZA BANNAR “
Ya Tuhanku berikanlah aku kebaikan di dunia dan akhirat, dan jauhkanlah aku dari api neraka

“ ROBBANA LATUZIG QULLUBANA BA’DAIDZ HADDAITANA WAHABBLANA MILADUNKA, ROHMATAN INNAKA ANTAL WAHAB” (Ali Imron)
Ya Tuhanku janganlah Engkau palingkan hati kami setelah Engkau beri petunjuk, dan berilah kami rahmat, sesungguhnya Engkau adalah dzat yang banyak pemberiannya.

Doa lainnya ……………………………

Do’a Nabi IBRAHIM AS
AL BAQARAH (2): 126-129
Ash Shaaffaat (37): 100
Al Mumtahanah(60): 4-5
IBRAHIM (14): 35-41
MARYAM (19): 47

Do’a Nabi MUSA AS
Yunus (10): 88
THAA-HAA (20): 25-35
Al Qashash (28): 16
Al Qashash (28): 21-22
Al Qashash (28): 24
AL A’RAAF (7): 151
AL A’RAAF (7): 155

Do’a Nabi NUH AS
HUUD (11): 47
AL MU’MINUUN (23): 26
AL MU’MINUUN (23): 28-29
ASY SYU’ARAA’(26): 117-118
Al Qamar (54): 10
NUH (71): 26

Do’a Nabi YUSUF AS
YUSUF (12): 101

Do’a Nabi ZAKARIA
MARYAM (19): 3-6
ALANBIYAA’ (21) :89
ALI ‘IMRAN (3): 38

Do’a MARYAM, ibu dari Nabi Isa AS
MARYAM (19): 18

Do’a istri ‘IMRAN
ALI ‘IMRAN (3): 36

Do’a Nabi AYYUB AS
Al Anbiyaa’ (21): 83
Shaad (38): 41

@@@@

Categories: >>PERPUSTAKAAN UTAMA | 115 Komentar

EXPOSE THE SPIRIT WORLD


Helmi andrian
helmi.andrian17@gmail.com

Kejadian-kejadian luar biasa yang ditampilkan Allah s.w.t di dalam peristiwa Isro’ Mi’roj Nabi Besar Muhammad s.a.w yang sekaligus menjadi tanda-tanda kebesaran-Nya yang wajib diimani oleh setiap pribadi muslim, di antaranya ada tiga kejadian:

1. Dengan Ilmu dan urusan Allah Seorang hamba berpotensi berdialog langsung dengan Tuhannya.

Itulah kejadian yang paling besar dan paling luar biasa dari apa yang terjadi di dalam peristiwa Isro’ Mi’roj Nabi Besar Muhammad s.a.w. Bahwa Baginda Nabi s.a.w adalah satu-satunya manusia sepanjang sejarah kehidupan manusia yang ada, di waktu masih hidup Beliau pernah berdialog langsung dengan Allah s.w.t di suatu dimensi yang lain dari dimensi yang ada di dunia ini dengan tanpa hijab dan tanpa perantara. Setelah pertemuan itu Beliau dapat kembali lagi ke dimensi dunia ini dalam keadaan selamat dan sehat walafiat, bahkan dengan membawa ilmu pengetahuan yang luar biasa. Demikian itu sesuai dengan apa yang diisyaratkan Allah s.w.t dengan firman-Nya:
وَمَا كَانَ لِبَشَرٍ أَنْ يُكَلِّمَهُ اللَّهُ إِلَّا وَحْيًا أَوْ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ أَوْ يُرْسِلَ رَسُولًا فَيُوحِيَ بِإِذْنِهِ مَا يَشَاءُ إِنَّهُ عَلِيٌّ حَكِيمٌ

“Dan tidak ada bagi seorang manusiapun bahwa Allah berkata-kata dengan dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau di belakang tabir atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana”. (QS. asy-Syuraa; 42/51)

Peristiwa itu adalah peristiwa yang sangat luar biasa. Karena sepulang dari perjalanan itu, beliau membawa pengalaman pribadi dan ilmu pengetahuan yang sangat luar biasa pula. Ilmu pengetahuan yang telah mampu membuka tabir rahasia kehidupan yang sebelumnya belum pernah diketahui oleh siapapun. Dengan peristiwa itu kebesaran Allah s.w.t dengan segala ciptaan-Nya yang ada di dimensi lain dari dimensi dunia telah terkuak dengan nyata.

Keadaan yang ada di alam barzah dan alam akherat telah dipertontonkan kepada manusia yang paling dapat dipercaya itu, sehingga ketika peristiwa tersebut harus diceritakan kembali kepada manusia, cerita-cerita itu tidak akan disertai dengan kebohongan-kebohongan manusia, baik yang disengaja maupun tidak. Dalam kaitan itu, seharusnya manusia yang hidup di zaman sesudahnya wajib bersyukur, lebih-lebih bagi umatnya yang beriman. Karena dengan peristiwa itu mereka menjadi tahu serta mengenal jalan-jalan yang harus ditempuh di dalam hidupnya. Yaitu bahwa tujuan akhir dari pengabdian yang dijalani adalah; Manakala seorang hamba telah sampai kepada Tuhannya. Mereka dapat wushul kepada-Nya sehingga dapat mengenal (ma’rifat) kepada-Nya.

Perjalanan Isra’ dan Mi’raj itu merupakan mu’jizat Nabi s.a.w yang terbesar selain mu’jizat besar lainnya. Perjalanan yang tidak dapat masuk di akal manusia. Betapa seorang manusia dengan dimensi manusiawinya mampu memasuki relung dimensi lain sehingga dapat mengetahui dan melihat dengan mata kepala keadaan-keadaan yang ada di dalam dimensi itu. Adapun nilai terbesar dari peristiwa itu adalah; Setelah seorang hamba terlebih dahulu diperlihatkan kepada keajaiban-keajaiban yang ada di dalamnya, di akhir perjalanan itu dia dipertemukan kepada Sang Pencipta Yang Maha perkasa yang telah memperjalankannya.

Mu’jizat besar Nabi akhir zaman itu ternyata bukan dengan memiliki kesaktian yang luar biasa sehingga Beliau selalu dapat mengalahkan musuh-musuh utamanya—seperti mu’jizat Nabi Musa a.s yang dengan kekuatan dari Allah s.w.t, dapat mengalahkan Fir’aun dengan seluruh kekuatannya. Mu’jizat besar itu ialah; Dengan ilmu pengetahuan yang sudah di dapat dari pengalaman hidup yang dijalani, menjadikan seorang hamba mengenal (ma’rifat) kepada Tuhannya. Dengan ma’rifat itu menjadikannya mampu melaksanakan pengabdian yang hakiki kepada-Nya.

Inilah gambaran ‘tujuan akhir’ dari sebuah perjalanan ibadah. Jalan thoriqoh yang ditempuh para salik dalam kehidupan beragama. Tujuan akhir itu bukan supaya manusia menjadi kaya raya, bukan supaya manusia menjadi pimpinan partai politik sebagai jenjang awal kemudian bisa menjadi seorang penguasa Negara atau Daerah, bukan supaya manusia mempunyai karomah-karomah sehingga menjadi orang khowas atau waliyullah, bukan untuk mendapatkan harta karun yang diyakini oleh sebagian orang tersimpan di kuburan-kuburan kuno, bukan supaya orang mendapatkan khodam-khodam dari bacaan yang diwiridkan supaya orang bisa menolong kesulitan orang lain, bukan untuk menjadi tabib-tabib supaya manusia bisa mengobati orang yang sedang sakit, bukan supaya menjadi orang kuat agar bisa menanggulangi orang yang kesurupan. Akan tetapi, dengan perjalanan ibadah itu supaya seorang hamba dapat berbakti kepada Tuhannya dengan pengabdian yang sempurna.

2. Seorang hamba yang masih hidup dengan Ilmu dan Kehendak Allah s.w.t berpotensi untuk bersama-sama melaksanakan satu pekerjaan dalam waktu yang sama dengan orang lain yang sudah mati.

Di dalam peristiwa Isro’, Baginda Nabi s.a.w melaksanakan shalat berjama’ah bersama-sama para Nabi yang sudah meninggal dunia dan ketika bermi’roj Beliau s.a.w juga bertemu dan berdialog dengan mereka, untuk bersama-sama membahas masalah-masalah yang berhubungan dengan kehidupan umat manusia di masa mendatang.

Itulah pertemuan antara dua manusia yang sudah berada pada dimensi yang berbeda, yang satu manusia dengan dimensi basyariah dan yang satunya segolongan manusia dengan dimensi barzahiah atau yang hidup pada dimensi alam barzah. Dengan peristiwa ini menujukkan bahwa manusia yang masih hidup, dengan ilmu Allah s.w.t dan izin-Nya dapat bertemu dan bersama-sama dalam satu pekerjaan dengan orang-orang yang sudah meninggal dunia.

Untuk memahami rahasia yang terkandung di dalam peristiwa tersebut, ada satu pertanyaan; “Manusia yang masih hidup di dunia memasuki dimensi alam barzah ataukah manusia yang sudah meninggal dunia kembali memasuki dimensi alam dunia…?” Kalau kita sudah sepakat bahwa orang mati tidak dapat hidup lagi, maka berarti, di dalam peristiwa isro’ mi’roj itu orang yang masih hidup di dunia dengan dimensi dunianya, berhasil menembus lapisan alam sehingga dapat memasuki dimensi alam barzah.

Sungguh peristiwa ini telah membuka tabir teka-teki dan sekaligus menjadi bukti bahwa orang yang sudah meninggal dunia masih dapat saling memberi kemanfaatan kepada saudaranya yang masih hidup di dunia, dan Rasulullah s.a.w adalah pelopor perjalanan itu. Dengan syafa’at beliau yang sudah ada di tangan serta ilmu Allah dan izinnya, semestinya umat penerus perjuangan Beliau atau Ulama’ pewarisnya dapat mengikuti perjalanan itu walau tentunya di dalam keadaan dan kondisi yang berbeda.

Dalam keadaan sadar mereka mengadakan perjalanan ruhaniah untuk menembus dimensi alam barzah dengan melaksanakan interaksi ruhaniah atau tawasul kepada guru-guru ruhani, yaitu para Nabi, ash-Shiddiq, asy-Syuhada’ dan ash-sholihin yang telah mendahului menghadap kepada Allah s.w.t. Dengan itu seorang hamba mampu merasakan keberadaan mereka di saat bersama-sama dalam pengembaraan tersebut untuk sampai atau wushul kepada Tuhannya.

Allah s.w.t telah mengisyaratkan peristiwa itu dengan firman-Nya:
إِذْ يَغْشَى السِّدْرَةَ مَا يَغْشَى (16) مَا زَاغَ الْبَصَرُ وَمَا طَغَى (17) لَقَدْ رَأَى مِنْ آَيَاتِ رَبِّهِ الْكُبْرَى

“Ketika “Sidrah” diliputi oleh sesuatu yang meliputinya . Penglihatan (manusia) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya . Sesungguhnya dia telah melihat sebahagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar”. QS.an-Najm; 53/16-18

Dengan uraian di atas menyimpulkan; Bahwa orang yang tidak percaya dengan kemanfaatan pelaksanaan tawasul secara ruhaniah berarti telah menafikan arti yang terkandung di dalam hikmah perjalanan Isro’-Mi’roj nabi besar Muhammad s.a.w. Peristiwa besar sepanjang sejarah manusia yang semestinya dapat dipergunakan sebagai acuan serta dasar pijakan bagi perjalanan ruhaniah yang dilaksanakan oleh orang-orang yang mengaku umat Muhammad s.a.w.

3. Seorang hamba dengan Ilmu dan Kehendak Allah s.w.t berpotensi dapat melihat dan mengetahui alam gaib.

Ketika Nabi s.a.w bermi’roj dengan dikawal malaikat Jibril, Beliau dipertontonkan oleh Allah s.w.t kepada alam gaib. Yakni keadaan di surga, di neraka dan keadaan-keadaan yang akan menimpa umatnya di masa yang akan datang. Dengan ini menunjukkan bahwa yang dimaksud alam gaib itu bukan alam Jin atau alam Malaikat dan bahkan alam Ruh (ruhaniah), semua itu sesungguhnya merupakan alam yang masih berada di dalam dimensi alam Syahadah walau berada pada dimensi yang berbeda dari bagian dimensi yang ada di dunia. Yang dimaksud dengan alam gaib adalah masa yang belum terjadi atau alam yang akan datang.

Surga dan Neraka dikatakan gaib karena keberadaannya setelah hari kiamat. Mati dikatakan gaib karena datangnya pada waktu yang akan datang. Jadi, hikmah terbesar dari perjalanan ruhani manusia dengan mengadakan pengembaraan ruhaniah (bertawasul) untuk berisro’ mi’roj kepada Allah s.w.t dengan ruhaninya, adalah terbukanya hijab-hijab basyariah sehingga dengan matahatinya atau firasatnya yang tajam manusia dapat mengetahui alam gaib atau apa-apa yang akan terjadi pada dirinya.

Kejadian-kejadian yang terjadi pada masa dahulu dan yang akan datang dikatakan gaib. Alam barzah dan alam akherat, tentang neraka, tentang shiroth, semuanya dikatakan gaib karena kejadiannya pada masa yang akan datang. Demikian pula sejarah-sejarah para Nabi terdahulu dikatakan gaib, karena terjadi pada masa lampau. Allah s.w.t telah menyatakan dengan firman-Nya:
ذَلِكَ مِنْ أَنْبَاءِ الْغَيْبِ نُوحِيهِ إِلَيْكَ وَمَا كُنْتَ لَدَيْهِمْ

“Yang demikian itu adalah sebagian dari berita-berita gaib yang kami wahyukan kepada kamu (Ya Muhammad) padahal kamu tidak hadir beserta mereka” . (QS. Ali Imran; 3/44)

Tidak ada yang mengetahui hal yang gaib kecuali hanya Allah s.w.t. Kalau ada seseorang ingin mengetahuinya, maka jalannya hanya satu yaitu dengan mengimani apa-apa yang sudah disampaikan oleh Wahyu Allah s.w.t, kemudian ditindaklanjuti dengan amal ibadah (mujahadah dan riyadhah). Selanjutnya, apabila Allah s.w.t menghendaki, maka orang tersebut akan dibukakan matahatinya. Allah s.w.t telah mengisyaratkan demikian dengan firman-Nya:
وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ

“Dan pada sisi Allahlah Kunci-kunci semua yang gaib, tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah”. (QS. al-An’am; 6/59)

Apa yang akan terjadi dalam waktu satu jam mendatang dikatakan gaib. Karena tidak ada yang dapat mengetahuinya kecuali hanya Allah s.w.t. Kalau ada seseorang yang mempunyai firasat tajam kemudian dia seakan-akan mengetahui apa-apa yang akan terjadi, hal itu bisa terjadi, karena yang demikian itu dia melihat dengan “Nur Allah”. Demikianlah yang disebutkan di dalam sabda Rasulullah s.a.w, yang artinya:”Takutlah kamu akan firasatnya orang-orang yang beriman, karena sesungguhnya dia melihat dengan Nur Allah”.

Kadang-kadang hanya dengan kekuatan cinta, firasat seseorang bisa menjadi tajam kepada orang yang dicintainya. Seorang ibu misalnya, yang sedang jauh dengan anaknya, kadang-kadang tanpa sebab, ibu itu mengalami perasaan yang gundah-gulana, ketika dia mencoba menghubungi anaknya, ternyata anaknya sedang sakit. Kalau kekuatan cinta antara sesama makhluk saja—bahkan kadang terjadi dalam kondisi yang masih haram misalnya, mampu menjadikan tajamnya firasat, apalagi cinta seorang hamba terhadap Tuhannya.

Seorang hamba yang selalu bertafakkur, memikirkan Kekuasaan dan Kebesaran Allah s.w.t hal tersebut semata-mata terbit dari dorongan rasa cinta dan rindunya, hatinya akan menjadi bersih dari kotoran-kotoran yang menempel, bersih dari hijab-hijab yang menutupi dinding penyekat alam batinnya sehingga pada gilirannya matahatinya akan menjadi cemerlang dan tembus pandang. Demikian itu telah ditegaskan Allah s.w.t dengan firman-Nya:
وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ

“Orang-orang yang bermujahadah di jalan Kami, benar-benar akan Kami tunjuki kepada mereka jalan-jalan Kami”. (QS. al-Ankabut; 29/69)

Apa saja yang terjadi di waktu yang akan datang, dari urusan rizki, urusan jodoh, urusan mati dan sebagainya, baik penderitaan ataupun kebahagiaan, yang terjadi di dalam kehidupan dunia maupun kehidupan akherat, semua itu dikatakan hal yang gaib, karena tidak ada yang mengetahuinya kecuali hanya Allah. Adapun Jin dan Malaikat dan bahkan Ruh atau ruhaniah tidaklah termasuk dari golongan Alam Gaib dalam arti yang disebut Metafisika akan tetapi termasuk dari golongan Alam Syahadah atau yang disebut Alam Fisika, hanya saja fisiknya berbeda dengan fisik manusia. Bau harum misalnya, walau tidak tampak fisiknya, tidak termasuk Alam Gaib tapi Alam Syahadah, atau alam yang bisa dirasakan, hanya saja untuk merasakannya membutuhkan alat, dan alat itu ialah indera penciuman.

Seandainya ada seseorang yang tidak mempunyai indera penciuman atau indera penciumannya sedang rusak misalnya. Walaupun orang lain dapat merasakan bau harum, dia tidak, yang demikian itu bukan karena bau harum itu tidak ada, tapi karena indera penciuman orang tersebut sedang tidak berfungsi. Demikian juga terhadap suara, akan tetapi untuk merasakan suara membutuhkan alat yang berbeda. Kalau merasakan bebauan dengan alat hidung, maka merasakan suara dengan alat telinga. Orang tidak bisa merasakan bau harum dengan telinga dan suara dengan hidung, masing-masing harus dirasakan dengan alat yang sudah dipersiapkan Allah s.w.t menurut kebutuhan kejadiannya. Seperti itu pulalah keadaan yang ada pada dimensi yang lain, dimensi jin, dimensi malaikat dan bahkan dimensi ruhaniah.

Jin dan malaikat misalnya, sebenarnya mereka juga adalah makhluk fisik, bukan metafisika. Asal kejadian fisik jin diciptakan dari api, sedang fisik malaikat diciptakan dari cahaya. Sebagaimana manusia yang asal kejadiannya diciptakan dari tanah, bentuk kejadian selanjutnya tidaklah tanah lagi, melainkan terdiri dari tulang dan daging, maka demikian juga yang terjadi terhadap makhluk jin dan malaikat.

Meskipun fisik jin diciptakan dari api dan malaikat diciptakan dari cahaya, kejadian selanjutnya tidaklah api dan cahaya lagi, tapi dalam bentuk fisik tertentu yang oleh Allah s.w.t telah ditetapkan tidak bisa dirasakan dengan indera mata manusia. Namun demikian, bentuk fisik jin dan malaikat itu boleh jadi bisa dirasakan oleh manusia dengan indera yang lain selain indera mata. Indera tersebut bisa disebut dengan nama atau istilah apa saja, indera keenam misalnya, atau dengan istilah-istilah atau nama – nama yang lain.

Semisal suara telah ditetapkan oleh Allah s.w.t tidak bisa dirasakan oleh hidung, tapi harus didengar oleh telinga, maka telinga atau hidung hanyalah istilah-istilah yang ditetapkan bagi alat perasa yang dimaksud supaya manusia dapat dengan mudah memahami atau mengenal terhadap alat perasa tersebut. Allah s.w.t berfirman:
إِنَّهُ يَرَاكُمْ هُوَ وَقَبِيلُهُ مِنْ حَيْثُ لَا تَرَوْنَهُمْ

“Sesungguhnya ia (setan jin) dan pengikut-pengikutnya melihat kamu, dari dimensi yang kamu tidak bisa melihatnya “. (QS. 7; 27)

Bukan berarti manusia tidak dapat mengobservasi atau berinteraksi dengan jin karena jin berada pada dimensi yang di atasnya, akan tetapi hanya saja untuk mengobserfasi atau berinteraksi dengan jin itu manusia tidak bisa dengan mempergunakan indera mata. Sebagaimana berinteraksi dengan suara tidak bisa mempergunakan indera hidung, akan tetapi harus mempergunakan alat perasa yang lain yang sesuai menurut kebutuhannya.

Allah s.w.t menghendaki manusia tidak dapat melihat jin, karena sesungguhnya matanya sedang tertutup oleh hijab-hijab basyariah. Ketika penutup mata itu dibuka, maka penglihatan manusia akan menjadi tajam. Artinya mempunyai kekuatan untuk tembus pandang sehingga saat itu manusia dapat merasakan alam-alam yang ada di sekitarnya. Allah s.w.t telah menegaskan hal itu dengan firman-Nya:
فَكَشَفْنَا عَنْكَ غِطَاءَكَ فَبَصَرُكَ الْيَوْمَ حَدِيدٌ

“Maka Kami singkapkan dari padamu tutup (yang menutupi) matamu, maka penglihatanmu pada hari itu menjadi amat tajam “. (QS.Qaaf.; 50/22).

Istilah yang dipergunakan Allah s.w.t untuk membuka penutup penglihatan manusia di dalam ayat di atas adalah firman-Nya: فكشفنا عنك غطاءك “Fakasyafnaa ‘anka ghithooaka” Kami singkapkan darimu penutup matamu, atau penutupnya dihilangi, atau hijabnya dibuka. Ketika manusia tidak dapat berinteraksi dengan dimensi yang lain berarti karena penglihatannya sedang ada penutupnya. Oleh karena itu ketika penutup itu dibuka, maka penglihatannya menjadi tajam atau tembus pandang. Ini adalah rahasia besar yang telah menguak sebuah misteri tentang alam-alam yang ada di sekitar alam manusia.

Bahwa jalan untuk menjadikan mata manusia menjadi tembus pandang supaya kemudian manusia mampu berinteraksi dengan dimensi yang lain,—dengan istilah melihat jin misalnya, adalah hanya dengan mengikuti tata cara yang berkaitan dengan istilah di atas. Tata cara itu ialah dengan jalan melaksanakan mujahadah di jalan Allah. Sebagaimana yang telah disampaikan Allah s.w.t dalam firman-Nya di atas, QS. 29/69 yang artinya: “Dan orang-orang yang bermujahadah di jalan Kami, benar-benar akan Kami tunjuki kepada mereka jalan-jalan Kami”.( QS. 29; 69)

Allah s.w.t yang menciptakan Hukum Alam secara keseluruhan. Maka hanya Allah s.w.t pula yang mampu merubahnya. Seandainya seorang hamba menginginkan terjadi perubahan terhadap hukum-hukum tersebut, maka tidak ada cara lain, dia harus tunduk dan mengikuti hukum-hukum yang sudah ditetapkan pula, meskipun perubahan yang dimaksud tersebut, juga merupakan sunnah yang sudah ditetapkan.

“Mujahadah di jalan Allah”, adalah suatu istilah untuk menyebutkan sesuatu yang dimaksud. Atau nama dari suatu tata cara bentuk sarana untuk mendapatkan petunjuk dari Allah s.w.t. Supaya dengan itu penutup mata manusia dibuka sehingga penglihatannya menjadi tajam. Sedangkan hakekat mujahadah sebagaimana yang dikehendaki oleh Allah s.w.t, hanya Allah s.w.t yang mengetahuinya. Oleh karena itu, kewajiban seorang hamba yang menginginkan terjadinya perubahan-perubahan atas dirinya supaya usahanya dapat berhasil dengan baik, yang harus dikerjakan ialah, terlebih dahulu dia harus mengetahui dan mengenal dengan benar terhadap apa yang dimaksud dengan istilah mujahadah itu.

Oleh karena yang dinamakan mujahadah tersebut tidak hanya berkaitan dengan aspek ilmu pengetahuan saja, melainkan juga amal atau pekerjaan, bahkan mujahadah adalah ibarat kendaraan yang akan dikendarai manusia untuk menyampaikannya kepada tujuan, maka cara mengenalnya, lebih-lebih cara mengendarainya, seseorang harus melalui tahapan praktek dan latihan. Untuk kebutuhan ini—seorang hamba yang akan melaksanakan mujahadah harus dibimbing seorang guru ahlinya. Allohu A’lam.

MENEMBUS GUGUSAN LANGIT DAN GUGUSAN BUMI

Allah s.w.t menantang masyarakat jin dan manusia supaya mereka mau dan mampu bergerak maju dan berkarya. Mereka tidak boleh tinggal diam hanya berpangku tangan tetapi mengharapkan keberuntungan. Mereka bahkan ditantang untuk menembus gugusan langit dan gugusan bumi. Diundang untuk datang ke Istana-Nya, dipersilahkan memasuki haribaan-Nya, menikmati hidangan yang tersedia, namun itu dengan syarat, terlebih dahulu mereka harus mampu menguasai ilmu dan teknologi yang berkaitan dengannya atau dengan istilah Qur’ani disebut “sulthon”. Allah s.w.t berfirman:
يَا مَعْشَرَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ إِنِ اسْتَطَعْتُمْ أَنْ تَنْفُذُوا مِنْ أَقْطَارِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ فَانْفُذُوا لَا تَنْفُذُونَ إِلَّا بِسُلْطَانٍ

“Hai masyarakat jin dan manusia, jika kalian sanggup menembus gugusan langit dan gugusan bumi, maka tembuslah, kalian tidak akan mampu menembusnya kecuali dengan “Sulthon” (QS. ar-Rahman; 55/33)

“Sulthon” dari kata sallatho artinya menguasai, kalau dikaitkan dengan ayat di atas berarti penguasaan. Kadang-kadang Sulthon juga berarti Penguasa atau Raja. Maka maksud ayat ialah: “Kalian tidak akan mampu menembus gugusan langit dan gugusan bumi, sebelum kalian terlebih dahulu mampu menguasai Ilmu pengetahuan dan teknologinya”. Sedangkan lafad “aqthor” adalah kata jamak dari lafad qithrun, artinya gugusan. Jadi “aqthor”, artinya beberapa gugusan. Sedangkan tantangan yang dimaksud adalah menembus gugusan langit dan gugusan bumi yang ada di alam semesta.

Kalau orang mencari makna ‘gugusan langit’ dalam ayat di atas, barangkali mereka masih berpikir untuk menafsirkan ayat tersebut dengan langit bumi yang ada di atas kepala. Langit yang bisa dilihat dengan mata, yang ada mataharinya, ada bulan dan bintangnya. Coba kalau ayat tersebut dikaji lebih luas dan lebih dalam lagi. Di manakah letak gugusan bumi itu? Padahal bumi yang kita pijak hanya satu dan terdiri dari tanah dan batu. Kalau demikian: Bagaimana cara orang bisa menembusnya? Dengan alat apa orang mampu menggali lubang tembus itu? Siapa pula yang pernah berhasil melakukannya?

Padahal Allah s.w.t juga berfirman di dalam QS. ath-Thalaq Ayat 12, bahwa Allah s.w.t menciptakan tujuh langit dan bumi sepertinya. Oleh karena itu, pasti yang dimaksud gugusan langit dan gugusan bumi di dalam ayat tersebut bukan langit dan bumi yang lahir saja, akan tetapi juga gugusan-gugusan langit dan bumi batin yang terletak di dalam keajaiban-keajaiban ciptaan Tuhan yang ada dalam jiwa manusia. Allah s.w.t berfirman:
وَفِي الْأَرْضِ آَيَاتٌ لِلْمُوقِنِينَ (20) وَفِي أَنْفُسِكُمْ أَفَلَا تُبْصِرُونَ

“Dan di bumi terdapat tanda-tanda (Kekuasaan Allah) bagi orang yang telah yakin -Dan juga pada jiwamu, apakah kamu tidak melihat?”.
(QS. Adz-Dzariyaat; 51/20-21)

Jika orang sudah memaklumi bahwa penguasaan ilmu dan teknologi menjadikan syarat utama bagi terwujudnya kemudahan-kemudahan hidup di dunia, maka demikian pula untuk kehidupan manusia di alam ruhaniah. Tidak bisa tidak, seorang hamba harus menguasainya pula untuk memenuhi tantangan Tuhannya bagi pengembaraan ruhaniahnya. Dalam arti menembus belenggu hawa nafsu, mendobrak barak-barak setan yang ada di dalam hati, mencuci hati dan menyepuh ruhani dengan jalan melaksanakan ibadah dan pengabdian di jalan Allah.

Ilmu pengetahuannya adalah mutiara-mutiara wahyu yang teruntai di dalam al-Qur’an maupun al-Hadits Nabi sedangkan teknologinya adalah sunnatullah yang sudah tersedia dalam jiwa manusia itu sendiri. Manusia tinggal menghidupkan kembali teknologi itu dengan melaksanakan pengembaraan ruhaniah yang terbimbing. Pertama adalah usaha yang kuat dan tepat dari seorang hamba untuk menolong di jalan Allah, selanjutnya adalah datangnya pertolongan Allah s.w.t —sebagai buah ibadah yang dijalani itu, guna terpenuhi segala maksud dan segala kebutuhan yang diharapkan.

Yang di luar adalah alam besar dan yang di dalam jiwa manusia adalah alam kecil. Masing-masing alam tersebut penuh dengan rahasia dan misteri. Manakala seorang hamba bermaksud mencari Tuhannya, mengadakan pengembaraan ruhaniah untuk wushul dengan Allah s.w.t. Pencarian itu tidaklah harus dilakukan di alam yang luar, tapi di alam yang dalam. Yaitu dengan melaksanakan mujahadah dan riyadhoh di jalan Allah s.w.t. Merontokkan hijab-hijab basyariah yang menyelimuti hati dengan dzikir dan fikir kepada Tuhannya. Mengekang kendali hawa nafsu dengan kendali ibadah supaya setan tidak mampu memanfaatkannya untuk membelokkan arah perjalanan.

Adapun pelaksanaan tawasul secara ruhaniah di dalam pelaksanaan ibadah tersebut berfungsi untuk mencari penerang jalan yang dilalui. Seperti ketika purnama sedang menampakkan mukanya yang rupawan, ke mana saja sang musafir melangkahkan kaki, dengan senang hati bulan dan bintang selalu mengiringi perjalanan. Seperti itulah gambaran orang bertawasul kepada guru ruhaniah, rahasia ‘nur tawasul’ itu akan setia mengiringi perjalanan sehingga seorang musafir selalu mendapat bimbingan. Sang salik akan selamat sampai tujuan meski setan selalu menghadang dengan segala jebakan di tengah jalan.

MENEMBUS ALAM RUHANIAH

Asy-Syekh Abdul Qodir al-Jailani R.A di dalam kitabnya al-Ghunyah; 1/101, menyebutkan: “Di dalam hati manusia terdapat dua ajakan: Pertama ajakan malaikat. Ajakan malaikat itu mengajak kepada kebaikan dan membenarkan kepada yang benar (haq); dan kedua, ajakan musuh. Ajakan musuh itu mengajak kepada kejahatan, mengingkari kebenaran dan melarang kepada kebajikan”. Yang demikian telah diriwayatkan oleh Abdullah bin Mas’ud R.A.

Al-Hasan al-Bashri R.A berkata: “Sesungguhnya kedua ajakan itu adalah kemauan yang selalu mengitari hati manusia, kemauan dari Allah dan dari musuh, hanya dengan sebab Rahmat Allah, seorang hamba mampu mengontrol kemauan-kemauannya tersebut. Oleh karena itu, apa-apa yang datang dari Allah hendaknya dipegang oleh manusia dengan erat-erat dan apa yang datang dari musuh, dilawannya kuat-kuat “.

Mujahid R.A berkata; Firman Allah s.w.t:
مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ

“Dari kejahatan bisikan setan yang biasa bersembunyi”. (QS. an-Nas; 114/4)

Bisikan itu mencengkram hati manusia, apabila manusia berdzikir kepada Allah, maka setan itu akan melepaskan cengkramannya namun apabila manusia kembali lupa, maka setan itu akan kembali mencengkram hatinya. Muqotil R.A berkata: “Dia adalah setan yang berbentuk babi hutan yang mulutnya selalu menempel di hati manusia, dia masuk melalui jalan darah untuk menguasai manusia lewat hatinya. Apabila manusia melupakan Allah Ta’ala, dia menguasai hatinya dan apabila manusia sedang berdzikir kepada Allah dia melepaskan dan keluar dari jasad manusia itu“.

Asy-Syekh Abdul Qodir al-Jailani R.A berkata, bahwa di dalam hati ada enam bisikan (khotir): (1) Bisikan nafsu syahwat; (2) Bisikan setan; (3) Bisikan ruh; (4) Bisikan malaikat; (5) Bisikan akal; dan (6) Bisikan keyakinan.

1. Bisikan Nafsu Syahwat
Bisikan nafsu syahwat adalah bisikan yang secara qudroti tercipta untuk memerintah manusia mengerjakan kejelekan dan memperturutkan hawa nafsu.

2. Bisikan Setan
Bisikan setan itu adalah perintah agar manusia menjadi kafir dan musyrik (menyekutukan Allah), berkeluh-kesah, ragu terhadap janji Allah s.w.t cenderung berbuat maksiat, menunda-nunda taubat dan apa saja yang menyebabkan kehidupan manusia menjadi hancur baik di dunia maupun di akherat. Ajakan setan ini adalah ajakan paling tercela dari jenis ajakan jelek tersebut.

3. Bisikan Ruh
Bisikan ruh adalah bisikan yang mengajak manusia mengikuti kebenaran dan ketaatan kepada Allah s.w.t dan juga kepada apa saja yang bersesuaian dengan ilmu pengetahuan sehingga menyebabkan keselamatan dan kemuliaan manusia, baik di dunia maupun di akherat. Ajakan ini adalah dari jenis ajakan yang baik dan terpuji.

4. Bisikan Malaikat
Bisikan malaikat sama seperti bisikan ruh, mengajak manusia mengikuti kebenaran dan ketaatan kepada Allah s.w.t dan segala yang bersesuaian dengan ilmu pengetahuan dan juga kepada apa saja yang menyebabkan keselamatan dan kemuliaan.

5. Bisikan Akal

Bisikan akal adalah bisikan yang cenderung mengarahkan pada ajakan bisikan ruh dan malaikat. Dengan bisikan akal tersebut sekali waktu manusia mengikuti nafsu dan setan, maka manusia terjerumus kepada perbuatan maksiat dan mendapatkan dosa. Sekali waktu manusia mengikuti bisikan ruh dan malaikat, maka manusia beramal sholeh dan mendapatkan pahala. Itulah hikmah yang dikehendaki Allah s.w.t terhadap kehidupan manusia. Dengan akalnya, supaya manusia mempunyai kebebasan untuk memilih jalan hidup yang dikehendaki namun kemudian manusia juga harus mampu mempertanggungjawabkan atas kesalahan dan kejahatan dengan siksa dan neraka dan menerima balasan dari amal sholeh dengan pahala dan surga.

6. Bisikan Keyakinan
Bisikan yakin adalah Nur Iman dan buah ilmu dan amal yang datangnya dari Allah s.w.t dan dipilihkan oleh Allah s.w.t. Ia diberikan khusus hanya kepada para kekasih-Nya dari para Nabi, ash-Shiddiq, asy-Shuhada’ dan para Wali-wali-Nya. Bisikan yakin itu berupa ajakan yang selalu terbit dari dalam hati untuk mengikuti kebenaran walau seorang hamba itu sedang dalam lemah wiridnya. Bisikan yakin itu tidak akan sampai kepada siapapun, kecuali terlebih dahulu manusia menguasai tiga hal; (1) Ilmu Laduni; (2) Ahbārul Ghuyūb (khabar dari yang gaib); (3) Asrōrul Umur (rahasia segala urusan).

Bisikan yakin itu hanya diberikan oleh Allah Ta’ala kepada orang-orang yang dicintai-Nya, dikehendaki-Nya dan dipilih-Nya. Yaitu orang-orang yang telah mampu fana di hadapan-Nya. Yang telah mampu gaib dari lahirnya. Yang telah berhasil memindahkan ibadah lahir menjadi ibadah batin, baik terhadap ibadah fardhu maupun ibadah sunnah. Orang-orang yang telah berhasil menjaga batinnya untuk selama-lamanya. Allah s.w.t yang mentarbiyah mereka. Sebagaimana yang telah dinyatakan dengan firman-Nya:
إِنَّ وَلِيِّيَ اللَّهُ الَّذِي نَزَّلَ الْكِتَابَ وَهُوَ يَتَوَلَّى الصَّالِحِي

“Sesungguhnya Waliku adalah Allah, dan Dia mentarbiyah (memberikan Walayah) kepada orang-orang yang sholeh”. (QS. al-A’raaf; 7/196)

Orang tersebut dipelihara dan dicukupi dengan sebab-sebab yang dapat menyampaikan kepada keridlaan-Nya dan dijaga serta dilindungi dari sebab-sebab yang dapat menjebak kepada kemurkaan-Nya. Orang yang setiap saat ilmunya selalu bertambah. Yaitu ketika terjadi pengosongan alam fikir, maka yang masuk ke dalam bilik akalnya hanya yang datangnya dari Allah s.w.t. Seorang hamba yang ma’rifatnya semakin hari semakin kuat. Nurnya semakin memancar. Orang yang selalu dekat dengan yang dicintainya dan yang disembahnya. Dia berada di dalam kenikmatan yang tiada henti. Di dalam kesenangan yang tiada putus dan kebahagiaan tiada habis. Surga baginya adalah apa yang ada di dalam hatinya.

Ketika ketetapan ajal kematiaannya tiba, disebabkan karena masa baktinya di dunia fana telah purna, maka untuk dipindahkan ke dunia baqo’, mereka akan diberangkatkan dengan sebaik-baik perjalanan. Seperti perjalanan seorang pengantin dari kamar yang sempit ke rumah yang luas. Dari kehinaan kepada kemuliaan. Dunia baginya adalah surga dan akherat adalah cita-cita. Selama-lamanya mereka akan memandang wajah-Nya yang Mulia, secara langsung tanpa penghalang yang merintangi. Allah s.w.t menegaskan hal tersebut dengan firman-Nya:
إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي جَنَّاتٍ وَنَهَرٍ (54) فِي مَقْعَدِ صِدْقٍ عِنْدَ مَلِيكٍ مُقْتَدِرٍ

“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu, berada di taman-taman dan sungai-sungai – Di tempat yang disenangi di sisi Tuhannya yangMaha Kuasa” .
(QS. al-Qomar; 54/54)

Dan firman Allah s.w.t:
لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَى وَزِيَادَةٌ

“Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik dan tambahan “. (QS. Yunus; 10/26)

Firman Allah s.w.t di atas: “Ahsanuu”, artinya berbuat baik dengan menta’ati Allah s.w.t dan Rasul-Nya, serta selalu mensucikan hatinya dengan meninggalkan amal ibadah yang selain untuk-Nya. Allah s.w.t akan membalasnya di akherat dengan surga dan kemuliaan. Diberi kenikmatan dan keselamatan. Ditambahi dengan pemberian yang abadi. Yaitu selama-lamanya memandang kepada wajah-Nya yang Mulia.

“Nafsu dan Ruh” adalah dua tempat bagi setan dan malaikat. Keadaannya seperti pesawat penerima yang setiap saat siap menerima signal yang dipancarkan oleh dua makhluk tersebut. Malaikat menyampaikan dorongan ketakwaan di dalam ruh dan setan menyampaikan ajakan kefujuran di dalam nafsu. Oleh karena itu, nafsu selalu mengajak hati manusia untuk melaksanakan perbuatan-perbuatan fujur.

Di antara keduanya ada Akal dan Hawa. Dengan keduanya supaya terjadi proses hikmah dari rahasia kehendak dan keputusan Allah yang azaliah. Yaitu supaya ada pertolongan bagi manusia untuk berbuat kebaikan dan dorongan untuk berbuat kejelekan. Kemudian akal menjalankan fungsinya, memilih menindaklanjuti pertolongan dan menghindari ajakan kejelekan, dengan itu supaya tidak terbuka peluang bagi hawa untuk menindaklanjuti kehendak nafsu dan setan. Sedangkan di dalam hati ada dua pancaran Nur, “Nur Ilmu dan Nur Iman”. itulah yang dinamakan yakin. Kesemuanya indera tersebut merupakan alat-alat atau anggota masyarakat hati. Hati bagaikan seorang raja terhadap bala tentaranya, maka hati harus selalu mampu mengaturnya dengan aturan yang sebaik-baiknya. (Asy-Syekh Abdul Qodir al-Jailani, “Al-Ghunyah”; 1/101)

Walhasil, yang dimaksud alam ruhaniah itu bukan alam jin atau alam ghaib, tetapi alam-alam batin yang ada dalam jiwa manusia. Alam batin yang menyertai alam lahir manusia secara manusiawi. Dengan alam batin, manakala indera-indera yang ada di dalam alam batin itu hidup, maka manusia bisa mengadakan interaksi dengan makhluk batin dengan segala rahasia kehidupan yang ada di dalamnya sebagaimana dengan alam lahir manusia dapat mengadakan komunikasi dengan makhluk lahir dengan segala urusannya.

Untuk menghidupkan indera-indera yang ada di alam batin tersebut, manusia harus mampu mencapainya dengan jalan melaksanakan mujahadah dan riyadhoh di jalan Allah. Mengharapkan terbukanya matahati (futuh) dengan menempuh jalan ibadah (thoriqoh) dengan bimbingan seorang guru mursyid sejati. Perjalanan tersebut bukan menuju suatu tempat yang tersembunyi, melainkan menembus pembatas dua alam yang di dalamnya penuh mesteri. Dengan itu supaya ia mencapai suatu keadaan yang ada dalam jiwa yang dilindungi, supaya dengan keadaan itu ia dapat menemukan rahasia jati diri yang terkadang orang harus mencari setengah mati. Itulah perjalanan tahap awal yang harus dicapai seorang salik dengan sungguh hati. Lalu, dengan mengenal jati diri itu, dengan izin Allah selanjutnya sang pengembara sejati dapat menemukan tujuan akhir yang hakiki, yakni menuju keridhoan Ilahai Rabbi. @@@

Categories: >>PERPUSTAKAAN UTAMA | 49 Komentar

Blog di WordPress.com. The Adventure Journal Theme.